logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Bu Kek Siansu Jilid 19

Gedoran pintu makin keras, teriakan-teriakan makin hebat, sementara Kaisar menanti hasil para komandan pasukan pengawal yang tadi keluar untuk menyabarkan anak buahnya. Penantian yang mencekam dan menegangkan urat syaraf. Tiba-tiba, pekik para komandan pasukan yang keluar dan bicara, suara-suara teriakan dan gedoran pintu terhenti.
Hati Kaisar lega, dia menunduk dan saling pandang dengan kekasihnya. Sepasang mata indah yang tak pernah kehilangan daya pengaruh untuk membuat Kaisar terpesona itu kini berlinang air mata. Akan tetapi hanya sejenak saja hati mereka terhibur dan harapan mereka timbul, karena tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan lebih keras lagi disusul gedoran pada pintu dan dinding. Tak lama kemudian kepala pengawal dan para pembantunya masuk dengan muka pucat.

Serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. "Hamba siap menerima hukuman karena hamba sekalian tidak berhasil menundukkan kemarahan mereka," kata komandan pengawal sambil menunduk.

Kaisar bangkit berdiri dan pada saat itu terdengar suara, "Bunuh siluman Yang Kui Hui! Kalau tidak, mari kita bunuh saja semua!"

"Tidak! Tidaakkk...! Persetan...!!" Kaisar berteriak dan lengan kirinya merangkul leher selirnya, seolah-olah dia hendak melindungi kekasih tercinta itu.

"Dar-dar-darrrr...!" pintu digedor dari luar.

"Hancurkan saja Raja lalim dan lemah...!"

"Bakar saja rumah ini kalau yang Kui Hui tidak dihukum mati!"

Keadaan sudah amat berbahaya dan menegangkan. Semua bangsawan yang berada di situ sudah menjadi pucat. Pangeran Mahkota segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar.

"Dalam keadaan seperti ini, mengapa Paduka masih kukuh?" Putera Mahkota itu menangis.

Para pembesar yang setia kepada kaisar juga membujuk, bahkan kepala thaikam yang menjadi kepercayaan Kaisar dan yang diam-diam secara pribadi memusuhi Yang Kui Hui, berkata, "Harap Paduka suka mempertimbangkan dengan tenang. Memang menyakitkan hati sekali tuntutan mereka. Namun, mereka tidak dapat dibendung dan kalau ditolak, tentu Paduka akan terancam bahaya, bahkan seluruh keluarga Paduka. Apakah Paduka hendak mengorbankan keselamatan Paduka sendiri dan seluruh keluarga hanya untuk satu orang yang toh tidak akan dapat Paduka selamatkan juga?"

Putera Mahkota menoleh kepada Yang Kui Hui dan berkata, suaranya keras dan penuh tuntutan, "Seorang yang selama puluhan tahun memperoleh kemuliaan dan anugerah kebaikan Kaisar, apakah di waktu terancam lalu melupakan budi yang besarnya melebihi nyawa itu?"

Yang Kui Hui menjadi pucat wajahnya. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar, memeluk kaki Kaisar sambil menangis dan berkata, "Biarlah hamba membalas segala budi kebaikan Paduka...."

"Tidak...! Tidak... Ohhh, Kui Hui, tidak...! Jangan...!"

Akan tetapi banyak tangan merenggut tubuh selir cantik itu dari pelukan Kaisar, lalu menyerahkannya kepada kepala thaikam. Selir itu diseret oleh kepala thaikam ke atas pagoda dan tak lama kemudian, terdengarlah sorak-sorai para pasukan melihat tubuh selir cantik jelita itu tergantung di pagoda, tergantung lehernya dan berkelojotan sebentar lalu terdiam.

"Hidup kaisar...!!"

"Biang keladi kelemahan telah tewas...!!"

"Kita akan mengawal Kaisar sampai titik darah terakhir!"

Di sebelah dalam, Kaisar yang tadinya menangis itu terbelalak mendengar teriakan yang sama sekali berlainan itu. Dia bingung tidak tahu apa yang terjadi, memandang ke kanan-kiri. "Di mana dia...? Mana Yang Kui Hui...?!"

Semua keluarganya menjatuhkan diri berlutut. "Dia... telah mengorbankan nyawa demi keselamatan paduka sekeluarga...."

"Kui Hui...!!" Kaisar berlari naik ke loteng, kemudian roboh pingsan melihat tubuh kekasihnya yang diam tidak bergerak, tergantung di pagoda itu.

Peristiwa ini merupakan peristiwa bersejarah yang kemudian terkenal di seluruh Tiongkok sampai berabad-abad lamanya. Bagi mereka yang ikut merasa berduka dan terharu mendengar cerita tentang pemutusan hubungan cinta yang amat menyedikan ini, menganggap Kaisar itu lemah dan telah melakukan kesalahan besar. Peristiwa ini menjadi terkenal sekali ratusan tahun kemudian, bahkan dijadikan cerita drama yang dipanggungkan dan menjadi bahan karangan cerita yang tak terhitung banyaknya. Lebih terkenal sekali setelah sastrawan Po Cu I menulisnya dengan judul ‘Kesalahan Abadi’.

Dengan lesu dan penuh duka, rombongan Kaisar melanjutkan perjalanan mengungsi ke Secuan. Kematian selir tercinta itu melumpuhkan seluruh gairah hidup Kaisar yang sudah tua itu. Akan tetapi, di tengah perjalanan kembali terjadi peristiwa hebat. Ketika rombongan itu sedang beristirahat dan bermalam di sebuah dusun kecil di daerah yang sepi di perbatasan Secuan, malam itu tiba-tiba heboh karena terjadinya pembunuhan atas diri seorang di antara para pangeran yang ikut mengungsi. Pangeran ini adalah adik Pangeran Mahkota.

Di waktu malam yang amat sunyi itu, dua sosok bayangan berkelebat di atas genteng rumah-rumah yang dijadikan tempat mengaso rombongan Kaisar. Mereka ini bukan lain adalah Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki. Setelah berhasil menghasut anak buah pasukan pengawal sehingga terbunuhnya Yang Kui Hui dan kakaknya, sebagai mata-mata An Lu Shan keduanya diam-diam terus mengikuti dan membayangi rombongan itu, mencari kesempatan baik untuk membunuh Kaisar! Inilah tujuan mereka, karena matinya Kaisar akan merupakan kemenangan besar bagi An Lu Shan.

Akan tetapi, mereka berdua salah masuk! Mereka memasuki kamar pangeran muda yang berada di sebelah kamar Kaisar. Ketika dua batang pedang di tangan mereka bergerak, tubuh di atas pembaringan, di dalam kelambu yang tertusuk pedang dan mengeluarkan pekik maut bukanlah tubuh Kaisar, melainkan tubuh pangeran itu! Barulah kedua orang ini tahu bahwa mereka telah keliru. Cepat mereka meloncat dan keluar dari dalam kamar itu melalui jendela.

"Tangkap penjahat!"
"Tangkap pembunuh!!"

Dalam sekejap mata saja kedua orang mata-mata itu dikepung oleh belasan orang pengawal dan disergap. Tentu saja Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki membela diri dan membalas dengan serangan-serangan dahsyat. Terjadilah pertandingan keroyokan di ruangan yang cukup terang itu dan makin lama makin banyaklah pengawal yang datang mengeroyok. Menghadapi pengeroyokan banyak sekali pengawal yang berkepandaian tinggi, dua orang itu menjadi repot juga.

Dengan berdiri saling membelakangi, Swi Nio dan Toan Ki saling melindungi. Pedang mereka bergerak cepat menyambar-nyambar ke depan, kanan dan kiri menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan ke arah mereka. Suara nyaring beradunya senjata diselingi teriakan-teriakan para pengeroyok memecah kesunyian malam di dusun itu. Tidak kurang dari delapan orang pengeroyok roboh oleh pedang mereka dan kini para pengawal atas komando perwira atasan mereka mengurung dan mengatur barisan.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Bu Swi Nio untuk menggeser kakinya mundur sampai punggungnya beradu dengan punggung Liem Toan Ki. Kemudian dia berbisik, suaranya mengandung keharuan, "Maaf, Koko. Aku yang membujukmu ke sini sehingga kau juga menghadapi bahaya maut...."

"Hushhh..., mati atau hidup kita tetap berdua, Moi-moi...."

"Aku tak takut mati, tapi... aku belum sempat membalas segala kebaikanmu, Koko...."

"Tidak ada kebaikan di antara kita. Kita saling mencinta, bukan? Mencinta sampai kita mati bersama!"

Ucapan Toan Ki ini membangkitkan semangat di dalam hati Swi Nio. Sambil memegang pedang erat-erat dan tangan kirinya dikepal, dia berkata. "Aku akan merasa bangga denganmu, Koko!"

Percakapan bisik-bisik itu dihentikan karena kini para pengeroyok yang tadi mengurung mereka telah mulai menyerang. Kini pengeroyokan mereka teratur, dan serangan datang bertubi-tubi, berantai karena mereka mengelilingi dua orang ini sampai tiga empat baris. Swi Nio dan Toan Ki kembali harus menggerakkan pedang masing-masing untuk menangkis dan melindungi tubuh mereka. Namun karena datangnya serangan tidak seperti tadi, kadang-kadang bertubi-tubi dan susul-menyusul, mereka berdua menjadi repot sekali.

Tiba-tiba terdengar Swi Nio mengeluh perlahan ketika bahu kirinya terkena hantaman gagang tombak. Biar pun keduanya telah terluka, namun mereka terus mengamuk, pedang mereka menyambar-nyambar dan kembali robohlah empat orang pengeroyok, sungguh pun mereka berdua sendiri juga mengalami luka-luka bacokan. Maklumlah keduanya, bahwa mereka tidak mungkin dapat meloloskan diri menghadapi pengeroyokan demikian banyak pengawal, maka mereka mengamuk untuk dapat membunuh sebanyak mungkin musuh sebelum mereka berdua dirobohkan. Mereka berdua sudah bertekad untuk melawan sampai mati.

Akan tetapi tiba-tiba terjadi perubahan. Para pengurung dan pengeroyok menjadi kacau-balau. Terdengar pula suara meledak-ledak nyaring serta disusul pekik-pekik kesakitan yang diikuti robohnya beberapa orang pengeroyok terkena sambaran sebatang cambuk berduri. Juga ada para pengeroyok yang dilempar-lemparkan sepasang lengan yang amat kuat.

Swi Nio dan Toan Ki terkejut dan girang sekali karena maklum bahwa ada bala bantuan datang. Mereka tadinya menduga bahwa yang datang tentulah teman-teman mereka, para mata-mata yang disebar oleh An Lu Shan. Akan tetapi mereka menjadi terheran-heran dan kagum sekali ketika menyaksikan bahwa yang mendatangkan kekacauan pada pihak para pengeroyok hanyalah dua orang. Seorang adalah pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, yang menggunakan kedua tangannya melempar-lemparkan para pengawal. Seorang lagi ialah dara yang amat cantik jelita dan gagah, dara yang mengamuk dengan sebatang cambuk berduri dan sebatang pedang, gerakannya cepat dan ganas.

Siapakah dua orang yang tidak dikenal oleh Swi Nio dan Toan Ki itu? Mereka adalah Ouw Soan Cu, gadis Pulau Nereka yang lihai itu, dan pemuda tinggi besar Kwee Lun, murid Lam-hai Seng-jin yang tinggal di Pulau Kura-kura di Laut Selatan.
********************
Seperti telah diceritakan di bagian depan, mereka berdua saling berjumpa di puncak Awan Merah di Pegunungan Tai-hang-san, yaitu di tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw. Ouw Soan Cu gadis Pulau Neraka itu datang bersama Sin Liong sedangkan Kwee Lun yang menjadi teman seperjalanan dan sahabat Swat Hong datang pula bersama gadis itu.

Tadinya, sebelum pergi bersama Swat Hong untuk mencari The Kwat Lin di Bu-tong-pai, Sin Liong yang merasa kasihan kepada Soan Cu menitipkan gadis itu kepada Tee-tok Siangkoan Houw. Akan tetapi melihat Sin Liong pergi bersama Swat Hong, Soan Cu tidak mau tinggal di tempat itu, lalu dia pun pergi hendak mencari ayahnya. Dan Kwee Lun, yang merasa tertarik kepada gadis cantik jelita dan galak serta jujur itu segera berpamit dan cepat lari mengejar Soan Cu. Di kaki pegunungan Tai-hang-san barulah Kwee Lun mampu menyusul Soan Cu karena gadis itu memperlambat larinya dan berjalan dengan termenung.

Setelah kini mulai melakukan perjalanan seorang diri, barulah Soan Cu merasa bingung sekali. Ketika melakukan perjalanan bersama Sin Liong, dia tidak tahu apa-apa, hanya ikut saja dan seluruh hal diputuskan oleh pemuda itu. Setelah kini sadar bahwa dia berada seorang diri di dunia yang luas ini, dia merasa kesepian dan bingung. Dia tidak mengenal tempat dan tidak tahu harus menuju ke mana untuk mencari ayahnya! Teringat akan semua ini, hatinya menjadi kecil dan gelisah, juga marah. Marah kepada Sin Liong yang meninggalkanya.

"Nona Ouw, perlahan dulu....!"

Karena termenung dan hatinya gelisah, Soan Cu sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, maka dia tidak tahu bahwa ada orang membayanginya di belakang. Dia baru terkejut ketika mendengar seruan itu. Cepat dia membalikkan tubuhnya dan memandang. Dia cemberut melihat bahwa yang memanggilnya adalah pemuda tinggi besar yang pernah bertempur dengan dia di Puncak Awan Merah karena pemuda ini memembela Swat Hong dan dia membela Sin Liong. Teringat akan peristiwa itu, tiba-tiba saja dia merasa geli dan menahan ketawanya dengan senyum lebar, lalu menutupi mulutnya.

Melihat gadis itu menahan ketawa, namun jelas sinar mata gadis itu mentertawakannya, Kwee Lun mengerutkan alisnya yang tebal, akan tetapi dia pun tersenyum dan berkata sambil menjura, "Nona Ouw, mengapa engkau menahan ketawa dan menyembunyikan senyum? Menyambut seorang kenalan dengan senyum lebar di bibir merupakan penghormatan paling besar. Senyum adalah seperti matahari pagi, menghidupkan menenteramkan, penuh damai dan bahagia...."

Mendengar ucapan pemuda itu yang diatur seperti orang membaca sajak, Soan Cu tertawa dan dia kagum juga. Terdengar amat indah kata-kata tadi. Akan tetapi timbul pula kenakalannya dan dia menjawab dengan nada mengejek, "Orang She Kwee, aku tertawa bukan menyambutmu, melainkan teringat akan peristiwa yang amat lucu. Engkau datang bersama Han Swat Hong, membelanya mati-matian, akan tetapi sekarang di manakah dia? Engkau ditinggalkan begitu saja! Betapa lucunya! Lucu ataukah menyedihkan?"

Alis tebal itu makin dalam berkerut, akan tetapi kemudian Kwee Lun tersenyum lagi dan mengangguk-angguk. "Memang lucu sekali! Ha-ha-ha-ha, lucu sekali!"

Melihat pemuda itu tidak tersinggung malah tertawa-tawa, Soan Cu menjadi penasaran. "Apa yang lucu?" bentaknya.

"Kau... eh, kita berdua... yang lucu. Mengapa bisa begini kebetulan?"

"Apa yang kebetulan?" Soan Cu makin penasaran karena ejekannya itu kini agaknya malah dibalikkan oleh pemuda itu kepadanya.

"Bukankah kebetulan sekali nasib kita amat serupa? Aku datang bersama Nona Swat Hong dan aku ditinggalkan, sebaliknya engkau pun datang bersama Sin Liong dan engkau ditinggalkan pula. Nasib kita benar serupa, bukankah ini amat lucunya?"

Wajah Soan Cu menjadi merah sekali.

"Srattt!" pedang Coa-kut-kiam yang bersinar-sinar telah berada di tangan kanannya.

Kwee Lun terkejut bukan main, hanya memandang bengong karena sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang dianggapnya jujur dan lincah gembira ini demikian mudah tersinggung! "Eh, Nona Ouw... kau... marah oleh godaanku tadi?"

"Siapa marah? Hayo cabut pedangmu, kita lanjutkan pertempuran kita yang terhenti ketika di Puncak Awan Merah. Aku masih belum kalah olehmu!"

Kwee Lun menarik napas panjang, hatinya lega. Tepat dugaannya, nona ini sama sekali bukan tersinggung oleh godaannya, melainkan karena memiliki watak aneh, ingin melanjutkan pertempuran ketika mereka saling membela sahabat masing-masing di Puncak Awan Merah.

"Wah, berat, Nona. Aku terima kalah. Dalam gebrakan-gebrakan yang pernah kita lakukan itu saja aku sudah tahu bahwa ilmu kepandaianmu jauh lebih tinggi dari-pada aku. Pula kita bukanlah musuh. Terserah kalau Nona hendak menganggap aku musuh, akan tetapi aku Kwee Lun sama sekali tidak menganggap kau sebagai musuhku. Bahkan sebaliknya, di antara kita, mau atau tidak telah terdapat ikatan persahabatan yang amat erat."

"Hemm, jangan kau mencoba untuk membujukku. Persahabatan dari mana? Enak saja kau bicara!"

"Eh, apakah kau hendak menyangkal bahwa engkau adalah sahabat baik dari Kwa Sin Liong, Nona?"

"Memang, dia adalah sahabat baikku, bukan engkau!"

"Nah, kalau engkau sahabat baik dari Kwa Sin Liong, berarti engkau adalah sahabat baikku pula. Kwa Sin Liong adalah Suheng dari Han Swat Hong, dan Nona itu adalah sahabatku. Sahabat dari si Suheng tentu juga menjadi sahabat baik dari sahabat si Sumoi, bukan?"

"Hemm, kau memang pandai bicara." Soan Cu menyarungkan kembali pedangnya. "Bilang saja bahwa kau tidak berani melawan aku!"

"Tentu saja tidak berani, karena memang pedangku bukan untuk melawan, melainkan untuk membantumu mencari kembali Ayahmu. Bukankah kau hendak mencari Ayahmu, Nona? Tahukah kau ke mana kau harus mencarinya?"

Ditegur seperti itu, Soan Cu menjadi bingung lagi. Memang tadi dia sedang termenung bingung, tidak tahu harus pergi ke mana. Dengan matanya yang indah terbelalak gadis itu memandang kepada Kwee Lun dan menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata, "Apakah kau tahu?"

"Tentu saja aku tidak tahu, Nona. Aku belum mengenal Ayahmu itu. Akan tetapi, sebagai seorang gadis muda, sungguh tidak leluasa bagimu untuk mencari sendiri. Aku dapat membantumu. Dahulu aku sering merantau dengan guruku, dan aku banyak mengenal daerah-daerah, tahu pula dunia kang-ouw sehingga agaknya akan lebih menguntungkan bagimu dan menyenangkan bagiku kalau kita melakukan perjalanan bersama. Tentu saja kalau kau suka...."

Sampai lama Soan Cu menatap wajah pemuda itu. Dia menghela napas, kemudian berkata, "Engkau baik sekali, seperti Sin Liong. Tentu saja engkau tidak dapat kuandalkan seperti dia, kepandaianmu tidak sehebat dia. Akan tetapi engkau juga gagah perkasa, jujur dan itu sudah cukup untuk meyakinkan aku bahwa engkau tentu dapat menjadi seorang sahabat."

"Ha-ha-ha, terima kasih, ha-ha-ha! Sudah kuduga bahwa engkau adalah seorang gadis yang luar biasa, polos dan tidak berpura-pura, cantik dan gagah perkasa. Ha-ha-ha!" Kwe Lun tertawa dengan bebas.

Soan Cu menjadi sangat terkejut ketika melihat betapa air mata mengalir di kedua pipi pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan ini. "Eh, kau menangis??"

Kwee Lun menghentikan tawanya, mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya sambil menggeleng kepala. "Ini adalah penyakitku, Nona. Aku selalu mengeluarkan air mata kalau tertawa terlalu gembira. Akan tetapi, kalau dilihat kenyataannya, apa sih bedanya antara tawa dan tangis? Apakah bedanya antara senang dan susah, antara nyeri dan nikmat? Kesemuanya adalah dua muka dari satu tangan, tak terpisahkan. Mencari yang satu, pasti akan ketemu dengan yang ke dua."

"Wah, kau memang seorang manusia aneh, Kwee-toako. Kau gagah perkasa, pemberani, pandai bersajak, pandai filsafat, dan.... cengeng!"

Girang bukan main hatinya mendengar gadis itu menyebutnya toako, tanda bahwa gadis itu benar-benar mau menerima persaudaraan atau persahabatan di antara mereka. "Ouw-siocia... atau engkau lebih senang kusebut adik?"

"Sebut saja namaku Soan Cu."

"Bagus! Kau hebat! Soan Cu kau percayalah, aku Kwee Lun bukanlah seorang yang berhati palsu. Engkau tidak akan kecewa menaruh kepercayaan kepadaku dan sudi menerima uluran tangan persahabatan dariku. Aku akan berdaya upaya sedapat mungkin untuk mencari Ayahmu itu. Siapakah nama beliau?"

"Ayahku bernama Ouw Sian Kok, tokoh besar dari Pulau Neraka yang sudah belasan tahun meninggalkan Pulau Neraka."

Tiba-tiba Kwee Lun memandang dengan mata terbelalak dan mukanya berubah agak pucat, bibirnya bergetar ketika dia menegaskan. "Pu... Pulau... Neraka?"

Soan Cu tersenyum. "Apakah kau masih mau menganggap aku sahabat setelah kau tahu aku adalah seorang gadis dari Pulau Neraka?"

"Eh-eh, jangan salah paham, Soan Cu. Aku... hanya terkejut sekali mendengar ada pulau yang namanya seperti itu. Pernah guruku, Lam-hai Sengjin mengatakan bahwa di dalam dongeng yang tersebar di antara kaum kang-ouw, terdapat sebutan dua pulau. Pertama adalah Pulau Es...."

"Tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong!"

"Benar, dan aku sudah merasa bahagia bukan main telah bertemu dengan seorang puteri Pulau Es. Dan kedua, menurut Suhu adalah pulau yang tentu tidak pernah ada dan hanya ada dalam dongeng, adalah Pulau Neraka...."

"Bukan dongeng. Akulah gadis Pulau Neraka." Ouw Soan Cu lalu menceritakan dengan singkat keadaan Pulau Neraka, juga tentang ayahnya yang minggat dari pulau ketika ibunya tewas melahirkan dia.

"Ah, kasihan sekali engkau, Soan Cu."

"Ayahku yang patut dikasihani."

"Tidak! Ayahmu telah melakukan hal yang amat keliru. Perbuatannya lari dari Pulau Neraka itu jelas membayangkan betapa ayahmu hanyalah mengingat akan dirinya sendiri saja."

"Kwee Lun! Apa yang kau katakan ini? Kau berani menghina nama ayah di depanku?" Soan Cu melotot marah.

"Maaf, Soan Cu. Aku sama sekali tidak menghina siapa pun. Aku hanya bicara berdasarkan kenyataan. Ibumu meninggal dunia ketika melahirkanmu, apakah beliau itu salah? Engkau sendiri yang dilahirkan dan kelahiran itu mengakibatkan kematian ibumu, apakah engkau pun bersalah? Tentu saja tidak! Mendiang ibumu dan engkau sama sekali tidak bersalah dan kematian itu adalah suatu hal yang wajar, yang sudah semestinya dan lumrah karena hidup dan mati adalah hal yang biasa. Akan tetapi ayahmu. Beliau malah lari meninggalkan pulau, meninggalkan anaknya yang baru terlahir! Apakah perbuatan ini harus kubenarkan saja? Kalau aku berbuat demikian, berarti aku bukan membenarkan secara jujur, melainkan menjilat untuk menyenangkan hatimu."

Lenyap kemarahan Soan Cu. Dia menunduk. "Kau aneh, Kwee-toako, aneh dan terlalu terus terang. Habis, andai kata benar seperti yang kau katakan bahwa Ayah terlalu mementingkan diri sendiri, apakah aku sebagai anaknya tidak boleh mencari Ayahku?"

"Bukan begitu, Soan Cu. Tentu saja engkau harus mencari Ayahmu dan aku akan membantumu sampai kita berhasil menemukan Ayahmu. Mudah-mudahan saja kita akan berhasil karena harus diakui betapa akan sukarnya mencari seorang yang tidak kita ketahui berada di mana. Akan tetapi aku percaya, kalau memang Ayahmu yang telah pergi selama belasan tahun itu berada di daratan, sebagai seorang tokoh besar, tentu ada orang kang-ouw yang mengetahuinya."

Demikanlah, kedua orang muda ini melakukan perjalanan bersama dan makin eratlah hubungan di antara mereka. Dalam diri masing-masing mereka menemukan sahabat yang cocok kepribadian dan serasi dengan watak masing-masing, terbuka, jujur dan tidak bisa bermanis-manis muka. Soan Cu mulai tertarik sekali kepada pemuda tinggi besar yang tampan, jujur, jenaka dan biar pun kelihatan kasar, namun ternyata pandai bernyanyi dan membaca sajak-sajak indah. Di lain pihak, Kwee Lun juga tertarik sekali oleh pribadi Soan Cu, seorang gadis yang kadang-kadang kelihatan liar dan ganas, tidak pernah menyembunyikan perasaan, namun kadang-kadang begitu lembut dan penuh sifat keibuan.

Makin akrab hubungan mereka, makin terobatilah hati yang tadinya luka oleh asmara. Kwee Lun mulai dapat melupakan Swat Hong yang dikaguminya, sedangkan Soan Cu mulai dapat melupakan Sin Liong. Kwee Lun bersama Soan Cu melakukan penyelidikan sampai jauh ke barat, karena dia mendengar dari seorang tokoh kang-ouw bahwa nama Ouw Sian Kok pernah muncul di barat. Akan tetapi pada waktu mereka melakukan perjalanan ke barat untuk mencari jejak tokoh Pulau Neraka itu, keadaan sudah kacau-balau oleh perang dan arus manusia ke barat amat banyak. Kedua orang muda itu terbawa arus manusia dan mereka pun terlihat seperti dua orang yang sedang mengungsi ke barat.

Ketika mendengar bahwa rombongan Kaisar yang melarikan diri berada di depan, mendengar pula tentang kematian selir terkenal Yang Kui Hui bersama kakaknya yang menjadi perdana menteri, Kwee Lun berkata kepada temannya, "Soan Cu, mari kita melihat keadaan Kaisar. Aku tidak mencampuri urusan perang, akan tetapi siapa tahu, rombongan keluarga bangsawan tertinggi yang melarikan itu akan menarik perhatian orang-orang kang-ouw, termasuk Ayahmu."

Seperti biasa selama melakukan perjalanan bersama, Soan Cu hanya menyetujui karena dia sendiri tidak tahu apa-apa. Hanya harapan untuk bertemu dengan ayahnya mulai menipis karena sampai saat itu belum juga ada keterangan yang jelas dan meyakinkan tentang diri ayahnya. Malam itu mereka dapat menyusul rombongan Kaisar yang berada dalam keadaan berduka setelah terjadi peristiwa pembunuhan Yang Kui Hui karena Kaisar selalu murung dan berduka sekali.

Dan seperti diceritakan di bagian depan, pada malam itu terjadi lagi peristiwa hebat yang menimpa rombongan Kaisar, ketika Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki diam-diam menyelinap ke dalam tempat penginapan dan hendak membunuh Kaisar akan tetapi salah masuk dan sebaliknya membunuh seorang pangeran muda. Ketika Soan Cu dan Kwee Lun melihat dua orang muda yang dengan gagah perkasa mengamuk dan dikepung ketat oleh para pengawal, telah menderta luka-luka namun masih terus mengamuk hebat, Kwee Lun menjadi kagum.

"Melihat gerakannya, pemuda gagah itu tentu murid Hao-san-pai. Dia adalah orang gagah, pendekar sejati, maka sepatutnya kita menolong mereka."

Soan Cu mengangguk. "Memang tidak adil sekali dua orang dikeroyok puluhan orang prajurit seperti itu. Gadis itu pun gagah dan cantik. Mari, Toako, kita bantu mereka meloloskan diri."

Mereka lalu melayang turun dari atas pohon dari mana mereka tadi mengintai. Tak lama kemudian gegerlah para pengeroyok ketika dua orang muda ini menyerbu dari luar kepungan dan merobohkan para pengeroyok dengan amat mudahnya. Kwee Lun tidak mencabut pedangnya, melainkan menggunakan kedua tangannya yang kuat menangkapi dan melempar-lemparkan pengawal yang menghadang di depannya, sedangkan Soan Cu mengamuk dengan cabuk berduri di tangan kiri dan sebatang pedang di tangan kanan. Gerakan dara ini bukan main ganasnya. Cambuknya meledak-ledak dan setiap ledakan disusul robohnya seorang pengeroyok, pedangnya membuat gerakan cepat sehingga tampak sinar bergulung-gulung yang merontokkan semua senjata lawan.

"Harap Ji-wi mundur dan cepat lari, biar kami menahan mereka!" kata Kwee Lun sambil menggerakkan sikunya yang kuat merobohkan seorang pengawal yang menerjangnya dari belakang.

"Terima kasih atas bantuan Ji-wi (Anda Berdua)!" seru Liem Toan Ki dengan girang karena dia khawatir sekali akan keadaan kekasihnya.

Sambil menggerakkan pedang, mereka lalu mundur dan membuka jalan darah, merobohkan mereka yang berani menghadang. Karena kini para pengawal itu dikacaukan oleh Kwee Lun dan Soan Cu, tidak sukar bagi Swi Nio dan Toan Ki untuk meloloskan diri dari kepungan yang sudah terpecah belah itu. Setelah melihat dua orang itu menghilang, Kwee Lun juga mengajak Soan Cu meninggalkan gelanggang pertempuran dan menghilang di dalam gelap, mengejar bayangan dua orang yang mereka tolong itu. Menjelang pagi, Soan Cu dan Kwee Lun melihat dua orang yang ditolongnya tadi sedang menanti mereka di luar sebuah hutan besar.

Melihat dua orang penolong mereka, Swi Nio dan Toan Ki cepat maju dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk. "Banyak terima kasih kami haturkan atas bantuan Ji-wi yang mulia," kata Toan Ki. "Kalau tidak mendapat bantuan Ji-wi, tentu kami berdua telah tewas di tangan para pengawal Kaisar itu."

"Ah, di antara kita, bantu membantu merupakan hal yang sudah sewajarnya," jawab Kwee Lun. "kami sendiri juga mengharapkan bantuan Ji-wi."

"Bantuan apa? Kami akan bergembira sekali kalau dapat membantu Ji-wi," seru Liem Toan Ki yang telah merasa berhutang budi.

"Kami berdua sedang mencari seorang tokoh bernama Ouw Sian Kok, tokoh dari Pulau Neraka. Barangkali Ji-wi dapat membantu kami di mana adanya Ouw-lo-cianpwe itu?"

Kaget juga Swi Nio dan Toan Ki mendengar disebutnya Pulau Neraka. Mereka saling pandang dan menggelengkan kepala. "Sayang, kami sendiri belum pernah mendengar nama Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka. Akan tetapi kami akan membantu sekuat tenaga. Di manakah adanya beliau yang terakhir kalinya, dan apakah Ji-wi sudah mendapatkan jejaknya?"

"Itulah sukarnya. Kami tidak tahu beliau berada di mana, maka mengharapkan keterangan dari orang-orang kang-ouw."

"Kalau begitu, mari Ji-wi ikut dengan kami ke timur. Saya kira, mencari seorang tokoh besar di dunia kang-ouw akan bisa kita dapatkan keterangan selengkapnya di sekitar kota raja. Apa lagi sekarang, setelah perjuangan An Lu Shan Tai-ciangkun berhasil, tentu banyak tokoh kang-ouw muncul di kota raja dan kita dapat bertanya-tanya kepada mereka."

"Akan tetapi kabarnya di sana terjadi perang, bahkan banyak orang mengungsi ke Secuan."

Toan Ki tersenyum. "Jangan khawatir, kami berdua adalah orang-orang dalam! Kami berdua bekerja untuk An-tai-ciangkun, maka kami mempunyai banyak kenalan di sana. Sekarang Tiang-an telah diduduki, dan agaknya keadaan tentu telah aman kembali."

Mereka bercakap-cakap dan terdapatlah kecocokan di antara mereka. Juga Soan Cu menjadi akrab dengan Swi Nio. Gadis Pulau Neraka yang masih hijau ini senang sekali mendengar penuturan Swi Nio yang sudah berpengalaman, sebaliknya Swi Nio juga kagum terhadap dara cantik yang ternyata adalah seorang dari Pulau Neraka yang hanya dikenal dalam dongeng, kagum menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian Soan Cu tadi dan juga ngeri menyaksikan senjata-senjata yang ampuh dan ganas itu. Berangkatlah mereka berempat kembali ke timur menuju ke Tiang-an, kota raja pertama yang telah terjatuh ke tangan An Lu Shan.

Setelah berhasil menduduki Lok-yang melalui pertempuran yang seru, An Lu Shan memimpin pasukan intinya menuju ke Tiang-an. Kembali dia harus menghadapi perlawanan gigih di Lembah Tung Kuan, akan tetapi setelah lembah ini didudukinya, pasukan-pasukannya terus menekan dan bergerak menuju ke Tiang-an. Demikianlah, Tiang-an, ibu kota yang megah itu, diserbu dan didudukinya dengan amat mudah, hampir tidak ada perlawanan sama sekali.

Hal ini adalah karena banyak kaki tangan dan mata-matanya yang dipimpin oleh Ouwyang Cin Cu dan The Kwat Lin, telah lebih dulu melakukan kekacauan-kekacauan sehingga melemahkan pertahanan. Apa lagi Kaisar juga telah melarikan diri dan meninggalkan kota raja Tiang-an, hal ini membuat para pasukan penjaga menjadi kehilangan semangat dan sebagian besar di antara mereka menyatakan takluk tanpa melalui peperangan yang lama, ada pula yang melarikan diri menyusul rombongan Kaisar ke barat.

Seperti biasa terjadi di waktu perang, dari jaman dahulu sebelum sejarah tercatat sampai sekarang, akibat-akibat yang mengerikan terjadi dan menimpa diri pihak yang kalah perang. Demikian pula nasib para bangsawan di kota raja yang tidak sempat melarikan diri. Banyak orang dibunuh hanya oleh tudingan jari tangan orang lain yang memfitnahnya, mengatakan bahwa orang itu adalah mata-mata pemerintah. Mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dan anggota-anggota pasukan pemberontak yang menang perang itu berpesta pora mengangkuti harta benda dan wanita dari pihak yang kalah.

Jerit tangis wanita-wanita yang dipaksa dan diperkosa, membumbung tinggi ke angkasa, bercampur baur dengan sorak dan tawa kemenangan. Dan An Lu Shan, seorang yang ahli dalam hal memimpin pasukan, sengaja membiarkan saja hal itu terjadi agar darah yang bergolak di dada para anak buahnya dapat diredakan. Beberapa hari kemudian, setelah anak buahnya sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya mengganggu wanita dan merebutkan harta benda yang ditinggal lari, barulah muncul perintah yang melarang perbuatan seperti itu.

Namun An Lu Shan juga tidak melupakan janji-janjinya kepada para pembantunya yang telah berjasa. Dengan royal dia lalu membagi-bagikan pangkat, gedung bekas tempat tinggal para bangsawan yang melarikan diri atau terbunuh, membagi-bagikan harta benda dan para puteri cantik yang menjadi tawanan. Maka selama beberapa bulan lamanya berpesta poralah para kaki tangan An Lu Shan yang menerima hadiah-hadiah itu. Tentu saja An Lu Shan lebih lagi memperhatikan para pembantu yang tangguh dan yang masih diharapkan bantuan mereka. Kepada mereka ini dia memberi hadiah yang lebih besar lagi.

Dia tidak mengingkari janjinya terhadap para pembantu yang berjasa besar seperti The Kwat Lin, bekas Ratu Pulau Es itu. Maka setelah Tiang-an diduduki, putera The Kwat Lin yang bernama Han Bu Ong lalu diberi anugerah pangkat pangeran! The Kwat Lin sendiri diangkat menjadi seorang panglima pengawal, sedangkan Ouwyang Cin Cu diangkat menjadi koksu (guru penasehat negara). Dapat dibayangkan betapa girangnya hati The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai, puteranya telah menjadi pangeran dan kalau dia pandai mengatur kelak siapa tahu terbuka kesempatan bagi para puteranya untuk menjadi Kaisar! Tidaklah mengherankan apa yang terkandung dalam hati The Kwat Lin sebagai cita-cita ini.

Sudah lazim bagi kita manusia di dunia ini untuk selalu menjadi hamba dari cita-cita kita sendiri. Seluruh kehidupan ini seolah-olah dikuasai dan diatur oleh cita-cita kita masing-masing. Kita tenggelam dalam khayal dan cita-cita, tidak tahu betapa cita-cita amatlah merusak hidup kita. Cita-cita membuat pandang mata kita selalu memandang jauh ke depan penuh harapan untuk mencapai sesuatu yang kita cita-citakan. Pandang mata yang selalu ditujukan ke masa depan yang belum ada, tangan yang dijangkaukan ke depan untuk selalu mengejar apa yang belum kita miliki, membuat kita hidup seperti dalam bayangan.

Kita tidak mungkin dapat menikmati hidup, padahal hidup adalah saat demi saat, sekarang ini, bukan masa depan yang merupakan bayangan khayal, bukan pula masa lalu yang sudah mati. Sekali kita menghambakan diri kepada cita-cita, selama hidup kita akan terbelenggu oleh cita-cita karena tidak ada cita-cita yang dapat terpenuhi sampai selengkapnya, dan kita terseret ke dalam lingkaran setan yang tak berkeputusan. Mendapat satu ingin dua, memperoleh dua mengejar tiga dan selanjutnya, itulah cita-cita!

Semua itu akan kita kejar terus sampai kematian merenggut kehidupan kita, bahkan di ambang kubur sekali pun di waktu mendekati kematian, kita masih terus di cengkeram cita-cita, yaitu cita-cita untuk masa depan sesudah mati! Betapa mungkin kita dapat menikmati hidup ini kalau mata kita selalu memandang masa datang yang belum ada? Sebaliknya, orang yang bebas dari cita-cita, bebas dari masa lalu dan masa depan, dapat menghayati hidup ini saat demi saat!

Demikian pula dengan The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai dengan diangkatnya puteranya menjadi pangeran, akan tetapi sudah habis di situ sajakah cita-citanya? Sama sekali belum! jauh dari-pada cukup atau habis! Bahkan cita-cita barunya yang lebih hebat baru saja dia mulai, yaitu cita-cita melihat puteranya menjadi kaisar! Karena cita-cita ini, maka keadaannya pada saat itu tidak terasa membahagiakan, bahkan terasa amat kurang. Hanya pangeran! Hanya panglima pengawal! Jauh dibandingkan dengan puteranya menjadi kaisar dan dia menjadi ibu suri!

Banyak orang membantah, mengatakan bahwa cita-cita mendatangkan kemajuan, tanpa cita-cita kita tidak akan maju. Apakah cita-cita itu? Apakah kemajuan itu? Cita-cita adalah keinginan akan sesuatu yang belum terdapat oleh kita. Dan keinginan seperti ini merupakan dorongan nafsu yang tak mengenal kenyang, makin dituruti makin lapar dan haus, menghendaki yang lebih. Dan akhirnya akan sukar dibedakan lagi dengan ketamakan, kerakusan yang mendatangkan pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan.

Dan apakah kemajuan itu? Sudah menjadi pendapat umum bahwa kemajuan adalah keduniawian, harta benda, kedudukan, nama besar. Apakah ‘kemajuan’ seperti ini mendatangkan kebahagiaan? Hanya mereka yang telah memiliki nama terkenal saja yang mampu menjawab, dan jawabannya pasti TIDAK! Bahkan sebaliknya, makin banyak kedudukan atau nama besar, makin ketat kita melekat kepada duniawi, makin banyak pula kesengsaraan hidup yang kita derita berupa kekecewaan, pertentangan dan kekhawatiran. Karena yang sudah pasti saja, hanya mereka yang masih memiliki lahir batin yang akan kehilangan! Kehilangan berarti kekecewaan, kedukaan sedangkan sebelum terjadi kehilangan, kita digerogoti kekhawatiran.

Akan tetapi pada waktu itu tidak nampak seorang pun, karena pada waktu itu rakyat penghuni ibu kota sedang dicengkeram ketakutan hebat. Seperti biasa setelah perang berakhir, rakyat yang menjadi sasaran mereka yang memperoleh kemenangan. Para anggota pasukan baru berkeliaran keluar masuk perkampungan, keluar masuk rumah orang seperti rumahnya sendiri, bahkan tidak jarang terjadi mereka memasuki kamar tidur orang seperti memasuki kamar tidur sendiri sambil menyeret nyonya rumah yang masih muda atau anak gadis mereka! Seperti para atasannya yang mengadakan pesta besar-besaran, kaum rendahan juga berpesta dengan gayanya tersendiri. Seperti biasanya pula, penduduk hanya pandai menangis dan mengeluh mengadu kepada Thian sebagai hiburan satu-satunya.

Menjelang tengah malam, pesta masih amat ramai. Ouwyang Cin Cu sebagai seorang yang berkedudukan tinggi sekali sekarang, seorang koksu, datang juga hanya sekedar memberi selamat dan tidak tinggal lama. Akan tetapi para pengawal baru, tentu saja mereka yang berpangkat perwira ke atas, masih berpesta pora karena memang The Kwat Lin ingin mengambil hati para rekannya ini yang kelak dia harapkan bantuan mereka. Bahkan ketika para tamu orang penting sudah meninggalkan tempat pesta dalam keadaan setengah mabuk dan tempat itu mulai sepi, The Kwat Lin masih menahan para pembesar pengawal yang jumlahnya belasan orang itu untuk diajak berunding mengenai tugas mereka yang baru sebagai pengawal-pengawal istana, bahkan mereka merupakan dewan pimpinannya.

Lewat tengah malam, para tamu sudah pulang dan yang tinggal hanyalah empat belas orang pimpinan pengawal yang kini dijamu dan diajak berunding di ruangan dalam, ada pun ruangan luar tempat pesta mulai dibersih-bersihkan oleh sejumlah pelayan yang kelihatan lelah dan mengantuk. Pada saat itulah berkelebat bayangan tiga orang. Para pelayan yang membersihkan tempat bekas pesta itu hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu kelihatan dua orang wanita cantik dan seorang laki-laki gagah sudah berdiri dengan sikap angker!

Tentu saja para pelayan terkejut sekali dan mengira bahwa orang-orang aneh yang bergerak amat cepatnya ini tentulah sahabat majikan mereka yang juga terkenal lihai bukan main. Maka seorang di antara mereka menyambut sambil menjura dan berkata, "Sam-wi yang terhormat agak terlambat karena pesta telah bubar."

"Kami tidak ingin pesta," jawab wanita yang setengah tua dengan sikap keren. "Kami ingin berjumpa dengan majikan kalian."

Melihat sikap yang keren penuh wibawa ini, para pelayan menjadi gentar dan dua orang di antara mereka cepat memasuki ruangan dalam di mana The Kwat Lin sedang mengadakan perundingan dengan rekan-rekannya.

Diam-diam wanita itu, Liu Bwee, memberi isyarat dengan matanya kepada Swat Hong, puterinya. Swat Hong mengangguk dan dengan gerakan yang amat cepat dara ini sudah meloncat dan menyelinap lenyap dari situ, sedangkan ibunya dan Ouw Sian Kok sudah menerjang ke dalam ruangan ketika melihat pelayan tadi pergi melapor. Baru saja dua orang pelayan itu memasuki ruangan dalam dan belum sempat mengeluarkan kata-kata, pintu telah terbuka lebar dan Liu Bwee bersama Ouw Sian Kok telah menerjang ke dalam.

"Heiii! Siapa...?!" bentakan The Kwat Lin terhenti dan wajahnya berubah pucat ketika dia melihat munculnya wanita yang tentu saja amat dikenalnya itu.

Dia menjadi pucat ketakutan karena mengira bahwa bekas suaminya, Han Ti Ong Raja Pulau Es yang amat ditakutinya itu muncul. Akan tetapi ketika melihat bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee itu bukanlah Han Ti Ong, hatinya menjadi lega dan dengan tabah dia meloncat ke depan. Dua kali dia menendang, membuat dua orang pelayannya terlempar ke luar ruangan, kemudian menghadapi Liu Bwee sambil tersenyum mengejek. "Aih, kiranya wanita buangan yang datang mengacau dan mengantarkan nyawa!" bentaknya.

"Perempuan hina yang berhati iblis! Engkau telah menerima budi kebaikan dari suamiku, mengangkatmu dari lembah kehinaan ke tempat mulia, malah membalasnya dengan khianat! Engkau dan anak harammu itu harus mampus di tanganku!"

"Mulut busuk!" The Kwat Lin balas memaki dan sekali tanganya bergerak, tampak sinar merah dari Pedang Ang-bwe-kiam di tangan kanannya, kemudian tanpa menanti lagi, sinar merah itu sudah meluncur ke depan menyerang Liu Bwee.

"Cringgg...!!" bunga api berpijar dan The Kwat Lin mundur dua langkah sambil memandang Ouw Sian Kok yang telah menangkis pedangnya dengan sebatang pedang di tangan, tangkisan yang membuat lengannya tergetar, tanda bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee ini memiliki kepandaian tinggi pula.

"Siapa engkau?!" bentaknya, sementara para rekannya, empat belas orang perwira dan panglima pengawal, telah mencabut senjata masing-masing dan mengurung, menanti saat bantuan mereka diperlukan oleh The Kwat Lin.

Ouw Sian Kok yang mengerti bahwa dia bersama Liu Bwee dan Han Swat Hong telah memasuki goa harimau dan berada dalam ancaman bahaya besar, sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada Swat Hong yang oleh ibunya ditugaskan menyelinap ke dalam istana untuk mencari dan merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es. Hanya dengan jalan demikian saja kiranya pusaka-pusaka itu dapat dirampas kembali. Dia tertawa dan mengelus jenggotnya, sedangkan Liu Bwee siap dan berdiri saling membelakangi punggung dengan Ouw Sian Kok, maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan dan karenanya harus dapat saling melindungi.

"Ha-ha-ha! Engkau tanya siapa aku? Aku pun seorang buangan! Namaku Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka!"

Mendengar ini The Kwat Lin diam-diam merasa terkejut dan heran juga. Dia sudah mendengar dari bekas suaminya, Raja Pulau Es, bahwa para buangan di Pulau Neraka bukanlah orang-orang sembarangan, bahkan banyak di antara mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, juga merasa aman berada di antara para pengawal dan lebih lagi dia kini berada di dalam istananya di kota raja, dia memandang rendah. "Huh, kiranya adalah buangan rendah dan hina dari Pulau Neraka."

Ouw Sian Kok yang ingin mengulur waktu kembali tertawa untuk mengalihkan perhatian The Kwat Lin. "Ha-ha-ha! Biar pun kami para penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang buangan, namun kiranya sukar dicari seorang pun di antara kami yang memiliki watak rendah untuk mengkhianati orang yang telah menolong dan melimpahkan kebaikan kepada kami seperti yang dilakukan olehmu, The Kwat Lin!"

"Manusia hina! Mampuslah!!"

"Sing-sing-singggg...!!"

Ouw Sian Kok maklum akan kelihaian wanita ini. Maka cepat ia mengelak, menangkis dan balas menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya. Dia keluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Terjadilah duel yang amat hebat di antara kedua orang berilmu tinggi ini. Melihat betapa Ouw Sian Kok yang memang seperti direncanakan harus menghadapi The Kwat Lin sementara dapat mengimbangi lawan, Liu Bwee cepat memutar pedangnya dan menghadapi pengeroyokan belasan orang pengawal itu. Pedangnya bergerak dahsyat sekali, dan dalam sepuluh jurus saja dia telah merobohkan dua orang pengawal. Yang lain tetap mengepungnya karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani membantu The Kwat Lin, melihat betapa bayangan wanita itu dan bayangan lawannya lenyap menjadi satu digulung oleh sinar pedang mereka.

Mulai cemas rasa hati The Kwat Lin ketika mendapatkan kenyataan bahwa Ouw Sian Kok merupakan lawan yang berat dan seimbang dengannya. Sedangkan para rekannya itu biar pun berjumlah banyak, ternyata tidak mampu mengimbangi amukan Liu Bwee sehingga berturut-turut roboh pula beberapa orang di antara mereka!

"Cari bantuan dari benteng!" terpaksa The Kwat Lin berteriak keras.

Mendengar ini, seorang di antara para pengawal itu segera lari keluar untuk minta bala bantuan. Melihat gelagat yang berbahaya ini, Ouw Sian Kok menjadi khawatir juga. Mengapa Swat Hong belum juga kembali?

"Lekas robohkan mereka dan bantu aku mengalahkan dia ini!" katanya kepada Liu Bwee ketika melihat betapa Liu Bwee tidak begitu sukar untuk mendesak para pengeroyoknya.

Liu Bwee maklum pula akan kelihaian The Kwat Lin. Tahulah dia bahwa betapa pun lihainya Ouw Sian Kok, menghadapi wanita itu masih amat sukar untuk mencapai kemenangan. Maka dia memutar pedangnya makin cepat, merobohkan lagi tiga orang. Pada saat itu berkelebat bayangan yang gesit dan tampaklah Swat Hong yang membawa sebatang pedang dan di punggungnya tampak sebuah buntalan kain sutera merah.

"Ibu, aku berhasil...!" teriak Swat Hong sambil menerjang maju merobohkan dua orang pengeroyok ibunya.

Melihat ini The Kwat Lin menjadi marah sekali. Maklumlah dia bahwa dia kena diakali. Dia dapat menduga apa isi buntalan sutera merah itu, sutera merah yang amat dikenalnya. Pusaka-pusaka Pulau Es telah berada di tangan Swat Hong!

"Bedebah! Kembalikan pusaka-pusaka itu!" bentaknya dan tubuhnya secara tiba-tiba sekali mencelat ke arah Swat Hong, pedangnya menusuk tenggorokan tangan kirinya meraih ke arah punggung.

"Tranggg...!" Liu Bwee terhuyung dan hampir roboh setelah menangkis pedang The Kwat Lin. Seorang pengawal menubruknya, akan tetapi pengawal itu terlempar dengan dada pecah karena ditendang oleh Liu Bwee.

Sedangkan Swat Hong sudah dapat menangkis pedang The Kwat Lin yang kembali menyerangnya. Ouw Sian Kok sudah meloncat pula dan menerjang The Kwat Lin sehingga kembali mereka bertanding dengan hebat.

"Hong-ji, kau selamatkan dulu pusaka-pusaka itu!" tiba-tiba Liu Bwee berteriak kepada puterinya.

"Kita akan cepat menyusul pergi!" kata pula Ouw Sian Kok kepada Swat Hong.

Swat Hong melihat bahwa jumlah pengawal hanya tinggal lima orang dan mereka bukanlah lawan berat bagi ibunya, sedangkan Ouw Sian Kok juga dapat menahan Kwat Lin. Sebab itu dia mengangguk, dan sekali berkelebat dia meloncat ke luar.

"Tahan dia....! Jangan larikan pusaka Pulau Es...!" Kwat Lin berteriak marah, akan tetapi dia tidak dapat mengejar karena sinar pedang Ouw Sian Kok menghalanginya dengan serangan-serangan dahsyat.

Terpaksa The Kwat Lin mengerahkan tenaganya untuk mendesak Ouw Sian Kok dan dalam kemarahan yang amat hebat ini tenaganya bertambah sehingga Ouw Sian Kok berseru kaget dan mundur karena pundak kirinya berdarah, terluka sedikit kena diserempet sinar pedang kemerahan.

Ketika Swat Hong berlari cepat sekali ke luar, dia terkejut setengah mati melihat sepasukan pengawal berbondong datang memasuki istana itu dari pintu luar, bersenjata lengkap, dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu! Bingunglah dia. Pusaka memang harus diselamatkan, akan tetapi betapa mungkin dia meninggalkan ibunya yang terancam bahaya maut?

Selagi dia meragu dan mengintai dari tempat bersembunyi, tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan empat orang. Dia menjadi girang sekali ketika mengenal dua orang di antara mereka adalah Kwee Lun dan Soan Cu. Cepat dia meloncat ke luar, berseru lirih, "Kwee-toako! Soan Cu...!!"

Soan Cu dan Kwee Lun terkejut dan berhenti, juga Swi Nio dan Liem Toan Ki yang datang bersama mereka. Ketika melihat bahwa orang yang muncul dari balik pohon di luar istana itu adalah Swat Hong, Kwee Lun menjadi girang sekali, akan tetapi Soan Cu cemberut. Bagaimana hatinya dapat merasa girang bertemu dengan dara yang menimbulkan iri di hatinya dahulu itu?

Akan tetapi Swat Hong yang girang sekali tentu saja tidak dapat melihat wajah cemberut di tempat yang remang-remang itu, maka cepat dia berkata, "Soan Cu, Ayahmu berada di dalam bersama ibuku, sedang dikepung para pengawal."

Seketika pucat wajah Soan Cu dan dia memandang bengong, sampai lama baru dapat berkata gagap, "A... Ayah... ku...?"

"Benar! Kita harus membantunya," kata lagi Swat Hong.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari kita membantu orang tua kalian!" Kwee Lun berkata.

"Nanti dulu... siapakah dua orang ini?" Swat Hong bertanya sambil menuding kepada Swi Nio dan Liem Toan Ki.

"Namaku Bu Swi Nio, Adik Han Swat Hong. Aku sudah mendengar namamu dari kedua saudara ini dan aku merasa kagum sekali. Ketahuilah bahwa aku dahulu adalah murid The Kwat Lin, akan tetapi sekarang aku hendak mencari dan membunuhnya." Swi Nio berkata penuh semangat. "Dan aku tadinya mata-mata Jenderal An Lu Shan, akan tetapi aku berjuang bukan untuk mencari pangkat, melainkan untuk membalas dendam. Sekarang aku hendak membantu dia... eh, tunanganku ini untuk menghadapi The Kwat Lin."
Tiba-tiba Swat Hong bergerak maju, kedua tangannya bergerak cepat sekali, yang kanan menyerang ke arah leher Liem Toan Ki, sedangkan yang kiri menotok ke arah dada Swi Nio.

"Eiihhh...."

"Haiiiittt.....!"

Toan Ki dan Swi Nio yang terkejut sekali cepat mengelak, namun tetap saja mereka terhuyung dan hampir jatuh terdorong sambaran kedua tangan Swat Hong.

"Eh-eh... apa yang kau lakukan itu?" Kwee Lun dan Soan Cu menegur heran dan juga marah.

"Aku hanya menguji mereka. Maafkan aku, Enci Swi Nio dan Liem-toako. Melihat tingkat kepandaian kalian, lebih baik kalian tidak ikut masuk. Musuh amat kuat, dan ada tugas yang lebih penting lagi bagi kalian, kalau benar kalian suka membantu kami dari Pulau Es."

Swi Nio dan Toan Ki yang tadinya terkejut dan marah, menjadi lega bahwa kiranya gadis yang amat lihai itu hanya menguji mereka. Biar pun ucapan itu merendahkan tingkat kepandaian mereka, namun harus mereka akui bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan Kwee Lun dan Soan Cu, apa lagi Swat Hong ini.

"Kami berdua siap membantu!" Toan Ki berkata, hampir berbareng dengan Swi Nio.

Karena mengkhawatirkan keadaan ibunya, tanpa ragu-ragu lagi Swat Hong melepaskan ikatan buntalan dari punggungnya, menyerahkannya kepada Toan Ki. Dia lebih percaya kepada Toan Ki dari-pada kepada Swi Nio, hal ini karena tadi dia mendengar bahwa Swi Nio adalah bekas murid The Kwat Lin!

"Inilah pusaka kami dari Pulau Es yang seharusnya kuselamatkan. Akan tetapi karena Ibuku dan Ayah Soan Cu terkurung di dalam, aku harus membantu mereka dan kuharap kalian suka menyelamatkan pusaka-pusaka ini jauh dari kota raja. Kelak kita dapat saling bertemu di Puncak Awan Merah di tempat kediaman Tee-tok Siangkoan Houw, di pegunungan Tai-hang-san. Nah, kalian pergilah cepat!"

Liem Toan Ki menerima bungkusan itu dengan hati kaget bukan main, juga Swi Nio terkejut dan cepat dia menyambar tangan kekasihnya.

"Mari kita segera pergi!" Kedua orang muda itu menyelinap lenyap di dalam kegelapan malam.

"Hayo kita bantu Ibu dan Ayahmu!" kata Swat Hong kepada Soan Cu.

Soan Cu mengangguk karena merasa lehernya seperti dicekik oleh sedu-sedan yang naik dari dalam dadanya. Ayahnya! Dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dia lihat itu. Bertemu dalam keadaan terancam bahaya maut! Tampak tiga bayangan berkelebat ketika Soan Cu, Swat Hong, dan Kwee Lun menyerbu ke dalam istana itu.

Ketika mereka tiba di dalam, ternyata Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah dikepung ketat dan kini pertempuran telah berpindah ke ruang luar yang lebih lega. Agaknya, agar dapat melakukan perlawanan dengan leluasa dan mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah pindah keluar dari ruangan dalam yang sempit. Kini dengan saling membelakangi, kedua orang itu mengamuk dengan hebat, dikepung ketat oleh para pengawal istana, sedangkan The Kwat Lin dan Ouwyang Cin Cu menonton di pinggir.

Ketika Swat Hong dan dua orang kawannya masuk, mereka melihat Kwat Lin berlari pergi ke dalam istananya. Swat Hong maklum bahwa wanita itu tentulah hendak memeriksa simpanan pusakanya. Maka dia lalu menyentuh tangan Soan Cu yang dengan mata merah hampir menangis sedang bengong memandang kepada laki-laki setengah tua yang mengamuk dengan gagahnya itu. Soan Cu sadar dan menengok.

"Kita kejar dia! Dialah yang paling jahat dan berbahaya!"

Soan Cu mengangguk dan kedua orang gadis berkelebat pergi mengejar Kwat Lin. Kwee Lun sendiri lalu berteriak keras dan meloncat ke depan, meyerbu para pengeroyok. Sepak terjang pemuda tinggi besar ini memang hebat, tenaganya yang amat kuat itu membuat dia sekali turun tangan merobohkan empat orang pengeroyok. Tentu saja kepungan menjadi buyar dan kacau. Dan ketika mereka membalik untuk mengeroyok Kwee Lun, pemuda yang lihai ini lalu merubah tenaga dahsyat tadi dengan pukulan-pukulan Bian-sin-kun, pukulan kapas yang kelihatannya lemah dan lunak, namun setiap kali menyentuh tubuh para pengeroyok tentu membuat dia terguling.

"Jiwi-lo-cianpwe, saya adalah Kwee Lun, sahabat baik dari Nona Swat Hong dan Nona Soan Cu! Mereka sedang mengejar Si Iblis Betina!" teriak Kwee Lun dengan suara nyaring.

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok terkejut dan girang sekali, terutama Ouw Sian Kok yang mendengar bahwa puterinya juga datang! Akan tetapi malang baginya. Karena dia terlampau girang hendak melihat wajah puterinya, dia menoleh ke sana ke mari mencari-cari.

"Ouw-toako, awas...!!" tiba-tiba Liu Bwee berteriak dan wanita ini berusaha untuk menangkis sinar biru dari pedang Ouwyang Cin Cu.

"Tranggg...aih....!!" Liu Bwee terlambat dan bergulingan untuk menyelamatkan diri, sedangkan Ouw Sian Kok terjungkal karena tamparan tangan kiri Ouwyang Cin Cu mengenai punggungnya.

"Plakk! Aughhhh....!" Ouw Sian Kok muntahkan darah segar dari mulutnya.

"Curang...!!" Kwee Lun membentak dan kipas di tangan kiri serta pedang di tangan kanannya menyambar ganas. Namun dia terlalu lunak bagi Ouwyang Cin Cu. Hanya dengan sekali tangkis, kipas itu robek dan pedangnya hampir terpental.

"Haiiiitttt....!!" Ouw Sian Kok yang marah sekali menerjang maju dengan tangan terbuka.

Melihat serangan ganas ini Ouwyang Cin Cu terkejut dan cepat dia meloncat mundur. Sebelum dia didesak oleh tiga orang lawan itu, para pengawal sudah mengepung lagi. Kini mereka bertiga dikeroyok dan dihujani senjata oleh puluhan orang pengawal.

"Twako... kau... terluka...?" sambil mengamuk dengan pedangnya, Liu Bwee bertanya.

"Tidak apa... mati pun aku rela... pusaka telah diselamatkan...." kata Ouw Sian Kok. "Tapi... tapi anakku...," dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena harus menghadapi pengeroyokan banyak pengawal.

Sementara itu di dalam istana juga terjadi pertempuran yang mati-matian dan hebat sekali. The Kwat Lin yang melihat datangnya bala bantuan yang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu, setelah melihat bahwa dua orang pengacau itu terkepung ketat, lalu teringat akan pusaka yang tadi dibawa Swat Hong. Dia teringat pula akan puteranya yang sudah tidur di kamarnya, maka cepat dia meninggalkan tempat pertempuran untuk memeriksa pusaka dan puteranya.

Dilihatnya Bu Ong masih tidur nyenyak dan terjaga, maka dia cepat lari ke dalam kamarnya sendiri. Seperti telah diduganya, para penjaga sebanyak lima orang yang berada di kamarnya tewas semua dan keadaan kamarnya rusak dan kacau. Sekali saja melihat ke arah peti hitam yang terbuka di depan tempat tidurnya, tahulah dia bahwa semua pusaka telah dirampas oleh Swat Hong, seperti yang dikhawatirkannya.

"Mencari apa, wanita iblis? Pusaka Pulau Es telah aman!"

The Kwat Lin cepat menengok. Dia melihat Swat Hong telah berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis lain yang tak dikenalnya. Kemarahan seperti api membakar dadanya melihat dara ini. Sambil mengeluarkan jerit melengking nyaring, dia lalu menerjang dan menggerakkan pedang merahnya.

"Cring-trang...!!" pedang Swat Hong disusul pedang Coa-kut-kiam di tangan Soan Cu menangkis dan kedua orang dara itu meloncat ke belakang, ke tempat yang lebih lega.

Dengan kemarahan meluap-luap The Kwat Lin meloncat ke luar dan melanjutkan serangannya. Akan tetapi setelah bergerak belasan jurus, wanita ini terkejut dan merasa menyesal mengapa dia menuruti kemarahan hatinya.

The Kwat Lin sadar bahwa dia berada dalam bahaya! Kiranya selain Swat Hong yang telah memiliki kepandaian hebat juga gadis yang gerakan-gerakannya liar dan ganas itu amat berbahaya, apa lagi cambuk ekor ikan Phi yang meledak-ledak dahsyat. Sebentar saja dia tertekan dan terdesak. Beberapa kali dia berusaha untuk meloloskan diri, akan tetapi sambil mengejek Swat Hong selalu menutup jalan keluar dan dia terus digulung oleh sinar dua orang gadis lihai itu.

The Kwat Lin menjadi nekat. Sambil menggigit bibirnya dia menyerang dahsyat kepada Swat Hong, mencurahkan daya serangannya kepada anak tiri yang dibencinya ini. Menghadapi terjangan dahsyat yang bertubi-tubi itu, Swat Hong mundur-mundur juga. Akan tetapi kesempatan baik ini dipergunakan oleh Soan Cu untuk menyerang dari belakang. Cambuk ekor ikan Phi meledak dua kali mengancam ubun-ubun kepala The Kwat Lin. Ketika wanita ini mengelak ke samping sambil melanjutkan serangan pedangnya kepada Swat Hong, Soan Cu menusukkan pedangnya mengarah lambung Kwat Lin.

"Singgg... crat... aihhhhh!!"

Kwat Lin terkejut sekali. Biar pun dia telah mengelak, tetap saja pedang Coa-kut-kiam (Pedang Tulang Ular) itu melukai lambungnya, merobek kulit dan mendatangkan rasa nyeri, panas dan perih sekali. Akan tetapi wanita yang lihai ini sudah membalik sambil juga membalikkan pedangnya menyambar leher Soan Cu. Hal ini tidak disangka-sangka oleh gadis Pulau Neraka ini.

"Awas Soan Cu...!!" Swat Hong berseru dan pedangnya menyambar, yang diarah adalah lengan kanan Kwat Lin karena hanya dengan jalan itulah dia dapat menolong Soan Cu.

"Brettt... crok... aughhhh....!!"

Soan Cu terhuyung, pundaknya berlumuran darah karena terluka parah, sedangkan Kwat Lin cepat memindahkan pedang ke tangan kirinya karena lengan kanannya juga terluka parah, terbacok di bagian bahu hampir putus! Dengan kemarahan meluap-luap dia menubruk Swat Hong, namun gadis Pulau Es ini mengelak ke kiri sambil mengangkat kaki menendang lutut.

"Dukkk! Aduh...!"

Kwat Lin terbelalak ketika tahu-tahu pedang Coa-kut-kiam telah bersarang di perutnya! Kiranya ketika tadi Swat Hong menendangnya Soan Cu yang terluka dengan kemarahan meluap menubruk, maka begitu wanita itu terguling, pedangnya cepat menyambar dan menusuk perut Kwat Lin.

"Bedebah kau...!" tiba-tiba pedang di tangan Kwat Lin meluncur.

"Soan Cu, awas...!!" Swat Hong berteriak kaget.

Namun terlambat! Pedang yang dilempar dari jarak dekat dan tak terduga-duga itu dilakukan dengan dorongan tenaga terakhir, tak dapat dielakkan dengan baik oleh Soan Cu dan menancap di bawah pundak sampai dalam!

"Soan Cu!" Swat Hong melompat dan pedangnya membabat. Kwat Lin memekik dan lehernya hampir putus!

Dengan cepat Swat Hong memeluk tubuh Soan Cu yang tersenyum! “Pergilah... Aku... aku tak berguna lagi...!" katanya.

"Omong kosong!" Swat Hong menghardik, mencabut pedang Ang-bwe-kiam dari pundak Soan Cu. Soan Cu menjerit dan pingsan. Dengan gemas Swat Hong melempar pedang itu, lalu memondong tubuh Soan Cu yang dibawanya ke luar.

Betapa kagetnya ketika ia tiba di ruangan luar. Pertempuran yang masih berlangsung hebat itu ternyata membuat pihak ibunya terdesak. Bahkan ibunya kelihatan terluka di beberapa tempat, juga ayah Soan Cu yang mengamuk dengan gagah telah berlumuran darah seluruh tubuhnya. Kwee Lun juga masih mengamuk. Hanya pemuda inilah yang belum terluka karena Ouwyang Cin Cu menujukan serangan-serangannya kepada Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, karena menganggap ringan kepada Kwee Lun.

"Ibu...!!"

Dengan kemarahan meluap-luap Swat Hong meloncat, melampaui para pengepung dan menurunkan tubuh Soan Cu ke atas lantai. Lalu gadis ini mengamuk dengan pedangnya, merobohkan beberapa orang pengawal. Gerakannya demikian hebat sehigga para pengepung terkejut dan gentar, kemudian bergerak mundur.

"Ibu....!"

"Ayahhhh....!"

Ouw Sian Kok menghentikan amukannya dan menjatuhkan diri berlutut. Tadi dia mengira bahwa puterinya telah tewas, maka panggilan itu menggetarkan jantungnya dan membuat dia lemas. "Kau... kau Soan Cu...?"

"Ayahhhhh.... Hu-hu-hu-huuuu....!!" Soan Cu menangis dalam rangkulan ayahnya yang juga bercucuran air mata. Baru pertama kali Ouw Sian Kok dapat mencucurkan air mata.

"Wutttt... tranggg...!!" dua batang golok terpental oleh tangkisan Ouw Sian Kok tanpa menoleh karena dia sedang mendekat dan menciumi dahi puterinya.

"Ayah, aku puas... dapat bertemu denganmu....!"

"Soan Cu... aihhh, anakku, kau ampunkan dosa ayahmu...." Ouw Sian Kok berkata dengan suara terisak.

"Trang-trang..... dessss!!" dua orang pengawal yang berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang.

"Ah, jangan kau keluarkan tenaga...." kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu memburu.

"Ayah... aku... aku tidak kuat lagi... kau larilah, ayah...."

"Soan Cu...! Soan Cuuuu....!!"

Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembuskan napas dengan bibir tersenyum di dalam dekapnya. Laki-laki gagah perkasa itu masih terus meraung-raung. Ketika dia telah membaringkan tubuh puterinya ke atas lantai, dengan air mata bercucuran kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut di antara pengeroyoknya! Hujan senjata tidak dirasakannya lagi. Pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai ke gagang, bahkan sampai ke lengannya!

Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kehilangan darah juga makin lemas gerakannya, kalau tidak ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu. Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Koksu ini hanya setengah hati saja bertempur, sering-kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang mengeroyok. Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepada The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya. Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin permusuhan dengan orang-orang lihai, apa lagi keluarga dari Pulau Es!

"Swat Hong, cepat kau pergi....!"

"Tidak, Ibu!"

"Kalau tidak, kau akan mati...!"

"Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!"

"Hushh, anak bodoh. Kalau begitu siapa yang akan mengembalikan pusaka? Kau ingat pesan Ayahmu."

"Tapi, Ibu...."

"Kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak akan dapat mati dengan mata meram."

"Ibu....!"

"Lihatlah, dia... dia pun akan mati.... Ibu ada seorang teman yang baik.... Ibu dan dia.... Ahh, kami senang mati bersama... kau jangan ikut-ikut....!"

Mendengarkan ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya itu. Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki perkasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayahnya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain!

"Ibu......"

"Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!"

Sambil bercucuran air mata Swat Hong mengamuk, memutar pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk.

"Toako, hayo kita pergi!!"

"Eh? Ibumu? Soan Cu? Ayahnya....?"

"Ayolah....!!"

"Baik, baik...!"

Dengan membuka jalan darah, mereka berdua akhirnya berhasil meloncat ke luar.

"Jangan kejar mereka! Kepung saja yang berada di dalam!" terdengar Ouwyang Cin Cu berseru.

Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah kehabisan tenaga, juga terlalu banyak mengeluarkan darah. Akhirnya mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu.

Ouwyang Cin Cu menghela napas panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah tewas ini adalah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng! Wanita cantik setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpinan! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan. Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa di lubuk hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan kedudukannya sendiri.

Ouwyang Cin Cu yang telah menjadi Koksu membuat laporan tentang kematian The Kwat Lin kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan. Bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang. "Hemm, sayang sekali, dia merupakan tenaga yang berguna." Kemudian sambil mengelus jenggotnya dia berkata, "Kalau begitu bagaimana dengan puteranya?"

"Menurut pendapat hamba, puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan bahaya."

An Lu Shan mengangguk-angguk. "Habis bagaimana pendapatmu?"

Koksu yang merupakan penasehat utama itu mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata, "Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerah sekitarnya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak akan senang hatinya."

"Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan."

Demikianlah, setelah penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu diberi-tahu bahwa dia oleh Kaisar ‘diangkat’ menjadi ‘raja muda’ yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah dibangun sebuah gedung mewah lengkap dengan semua pelayan dan perabot. Di tempat ini, Han Bu Ong hidup cukup mewah.

Akan tetapi anak ini memang mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Biar pun dia dicukupi hidupnya, diam-diam dia mengerti bahwa dia sengaja setengah ‘dibuang’ oleh Kaisar dan Ouwyang Cin Cu setelah ibunya tewas. Maka dia mencatat di dalam hatinya bahwa selain Swat Hong dan Kwee Lun yang menjadi musuh besarnya, juga Ouwyang Cin Cu sebetulnya bukanlah seorang sahabat yang setia dari ibunya.

Anak kecil ini dengan rajin lalu melatih dirinya dengan ilmu-ilmu peninggalan ibunya yang masih ada padanya. Dia harus menggembleng dirinya dan kelak, selain dia harus membalas kepada musuh-musuhnya, juga dia akan berusaha untuk merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es yang dicuri oleh Swat Hong. Dia merasa bahwa dia berhak memiliki pusaka itu karena bukankah dia putera Raja Pulau Es? Dari ibunya dia dahulu mendengar bahwa siapa yang mewarisi pusaka Pulau Es dan melatih semua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab itu, tentu akan menjadi jago nomor satu di dunia....
********************
Para pembaca yang mengikuti pengalaman Kwa Sin Liong tentu menjadi penasaran kalau pemuda sakti itu sampai tewas dalam keadaan yang demikian mengerikan! Tidak, dia tidak mati! Memang nyaris dia tewas dimakan ratusan ekor ular berbisa yang menjadi penghuni sumur itu. Akan tetapi kalau orang belum tiba saatnya untuk mati, ada saja penolongnya yang bisa dianggap tidak masuk akal, kebetulan atau luar biasa. Dalam halnya Sin Liong tidak ada yang tidak masuk akal atau luar biasa.

Memang tubuhnya yang pingsan itu terlempar ke dalam sumur di mana terdapat ratusan ekor ular berbisa dari segala jenis, akan tetapi tidak ada seekor pun ular yang berani menggigitnya. Jangankan menggigit, mendekati pun mereka itu tidak berani, bahkan begitu tubuh pemuda itu terjatuh, ular-ular itu cepat menyingkir ketakutan. Hal ini adalah karena tanpa sengaja di saku baju Sin Liong terdapat batu mustika hijau dari Pulau Es!

Seperti kita ketahui, batu mustika hijau ini adalah milik Han Swat Hong yang telah menyelamatkan nyawa gadis ini pula ketika terserang racun. Ketika Sin Liong mengobati sumoi-nya itu, dia menyimpan batu mustika ini di dalam saku bajunya sehingga ketika dia terlempar ke dalam sumur, batu mustika itu ikut terbawa olehnya dan menjadi penyelamatnya karena tidak ada ular yang berani mendekatinya.

Sebetulnya pemuda ini menderita luka yang amat parah dan berakibat mematikan bagi orang lain. Namun pemuda ini pada dasarnya memiliki tubuh yang sempurna, bersih darahnya dan kuat tulang dan urat-uratnya. Apa lagi sejak kecil dia menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Han Ti Ong sehingga dia memilki tubuh yang amat kuat dan tahan derita.

Dua hari dua malam dia rebah pingsan di dasar sumur yang lembab, tanpa diusik oleh ular-ular itu yang hanya memandang dari jauh seolah-olah dia merupakan makhluk yang menakutkan. Pada hari ke tiga, nampak tanda hidup pada tubuh yang tadinya tak bergerak-gerak seperti mati itu dengan suara keluhan panjang, kemudian tubuh itu bergerak dan bangkit duduk dengan susah payah.

Sejenak Sin Liong merasa nanar dan bingung melihat bahwa dirinya berada di tempat yang amat gelap. Begitu gelapnya sehingga dengan terkejut dia menyangka bahwa matanya telah menjadi buta. Akan tetapi ketika dia menoleh, tampaklah sedikit cahaya di belakangnya, dan mengertilah dia dengan hati lega bahwa dia tidak buta, melainkan berada di tempat yang amat gelap. Dia tidak tahu bahwa dia dilempar ke sumur dan sumur itu kini telah tertutup oleh batu-batu besar dari atas ketika guha terowongan itu sengaja diruntuhkan oleh Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin.

Melihat cahaya terang di belakangnya, Sin Liong menggerakkan tubuhnya hendak menyelidiki. Akan tetapi dia mengeluh, karena begitu bergerak dadanya terasa nyeri bukan main! Dia teringat akan pertempuran itu dan mulai mengerti bahwa tentu dia telah tertawan dan berada dalam tempat tahanan rahasia yang amat gelap. Maka dia segera duduk bersila mengatur pernapasan di tempat lembab dan pengap itu, menyalurkan tenaga dan hawa sakti di dalam tubuhnya. Memang dia memiliki sinkang yang amat kuat berkat latihan di Pulau Es, maka tak lama kemudian dia telah mengobati luka di dalam tubuhnya dan menyelamatkan rasa nyeri-nyeri di tubuhnya.

Begitu dia menghentikan latihannya, terasa betapa perutnya lapar sekali. Dia tidak tahu bahwa sudah dua hari dua malam perutnya sama sekali tidak diisi apa-apa. Sin Liong bangkit berdiri dengan hati-hati. Tangannya meraih ke atas... kosong. Dia mencoba meloncat dengan kedua tangannya di atas kepala. Tetap saja di sebelah atasnya kosong, tanda bahwa tempat tahanan itu tinggi bukan main! Seperti sumur! Betapa pun dalamnya sumur itu tentu dia akan meloncat ke luar, pikirnya. Dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, kemudian dengan ilmu ginkang-nya yang istimewa, dia melompat lagi ke atas, kedua tangannya tetap menjaga di atas kepala.

"Plakkk!" tubuhnya melayang lagi ke bawah.

Kedua tangannya bertemu dengan batu besar yang amat berat dan menutup lubang sumur itu! Beberapa kali Sin Liong menggunakan kepandaiannya untuk keluar dari dalam sumur, dan setiap kali meloncat, dia menggunakan sinkang di kedua tangannya untuk mendorong batu. Akan tetapi usahanya ini selalu gagal. Tentu saja tidak mungkin bagi seorang manusia, betapa kuat pun dia, untuk meloncat sambil mendorong tumpukan batu-batu besar yang menutup mulut sumur itu, batu-batu sebesar rumah dan yang sebongkah saja beratnya ada yang seribu kati! Akhirnya Sin Liong pun maklum bahwa usahanya meloloskan diri melalui atas tidak mungkin baginya. Maka dia mulai meraba-raba di sekelilingnya.

Sumur itu tidak berapa lebar, paling banyak bergaris tengah tiga meter. Ketika dia mendengar suara mendesis-desis dan mencium bau amis, tahulah dia bahwa di tempat itu terdapat banyak ular berbisa. Kemudian tampak olehnya melalui cahaya redup tadi bahwa di bagian bawah terdapat sebuah lubang dan agaknya dari tempat itulah ular-ular keluar dari sumur. Begitu dia mendekati lubang ini, tampak olehnya di dalam cahaya remang-remang itu seekor ular berkelebat menjauhkan diri. Dia merasa heran mengapa binatang-binatang itu tidak mengganggunya ketika dia pingsan dan kini kelihatan takut kalau didekatinya.

Dia teringat, meraba saku bajunya dan tersenyum mengeluarkan batu hijau yang mengeluarkan sinar di dalam gelap itu. Inilah penolongku, pikirnya. Hatinya menjadi makin tenang. Dengan adanya batu mustika hijau ini, tidak perlu takut menghadapi binatang berbisa apa pun. Akan tetapi melihat batu mustika itu, teringatlah dia kepada Swat Hong dan dia merasa khawatir juga. Musuh demikian lihai, dia sendiri kena ditangkap dan agaknya dilempar ke sumur ini. Bagaimana nasib Swat Hong? Dia harus cepat keluar dari tempat ini untuk menolong Swat Hong. Kekhawatirannya terhadap sumoi-nya itu membuat dia makin bersemangat mencari jalan keluar.

Lubang dari mana ular-ular itu keluar dari sumur terlalu sempit untuk dapat diterobos, maka Sin Liong lalu menggunakan kedua tangannya untuk membongkar batu di lubang itu, memperlebar lubang dengan jalan memukul pecah batu-batu di sekelilingnya. Tidak mudah pekerjaan ini, karena selain tubuhnya masih lemah, juga batu-batu di tempat itu amat keras dan hanya dapat digempurnya sedikit demi sedikit. Namun akhirnya dapat juga dia memperlebar lubang itu sehingga dia dapat merangkak melalui lubang sambil terus menggempur lubang di depan yang merupakan terowongan panjang.

Melihat betapa makin lama cahayanya dari seberang terowongan kecil itu makin terang, hati Sin Ling membesar. Jelas bahwa di seberang itu terdapat tempat terbuka dari mana sinar matahari dapat masuk, pikirnya. Akan tetapi pekerjaan menerobos terowongan kecil yang merupakan liang ular dengan hanya menggunakan kedua tangan kosong, memakan waktu lama juga. Saking hausnya, dia menengadah untuk menerima titik-titk air yang jatuh dari atas, yaitu dari dinding sumur yang mengeluarkan air. Biar pun memakan waktu lama, dapat juga dia mengobati dahaga dengan minum secara demikian.

Namun perutnya yang lapar terpaksa harus berpuasa lagi sampai tiga hari, karena setelah tiga hari, barulah dia berhasil merangkak keluar dari terowongan itu dan tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, akan tetapi juga merupakan tempat tertutup! Bedanya, kalau sumur pertama merupakan tempat sempit dan gelap, maka ruangan kedua ini luas sekali. Garis tengahnya tidak kurang dari sepuluh meter, merupakan sebuah ruang dalam tanah yang aneh. Di sebelah atas, jauh dan tinggi sekali, tertutup oleh tanah atau batu dan ada celah-celah yang merupakan retakan batu-batu dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk.

Sin Liong menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan dalam tanah ini dan harapannya kandas sama sekali. Kalau sumur pertama itu merupakan tempat tahanan yang sukar diterobos adalah tempat ini lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Ular-ular yang banyak sekali dan saling berbelit-belit kelihatan ketakutan, ada yang merayap naik, ada pula yang menerobos terowongan yang sudah melebar itu untuk kembali ke dalam sumur pertama!

Sin Liong termenung. Dari kamar tahanan kecil dia pindah ke kamar tahanan besar! Hanya lebih lebar dan memperoleh penerangan sinar matahari yang tidak seberapa, itulah bedanya! Akan tetapi dia tidak menjadi putus harapan. Dihadapinya kenyataan ini dengan tabah dan dilenyapkannya kekhawatiran di dalam hatinya tentang diri sumoi-nya dengan keyakinan bahwa apa pun yang akan terjadi, terjadilah tanpa dipengaruhi segala kekhawatiran yang tiada gunanya! Dia sendiri menghadapi bencana, menghadapi ancaman maut dan inilah yang terutama harus dihadapi dan diatasi lebih dulu.

Dia mulai memeriksa kalau-kalau ada jalan ke luar dari tempat itu, namun sama sekali tidak ada jalan ke luar. Akan tetapi dia menemukan benda-benda yang sementara dapat menolongnya dari ancaman kelaparan, yaitu jamur yang agaknya bertumbuhan dengan subur di tempat itu karena memperoleh sinar matahari. Perutnya lapar sekali dan pengetahuannya tentang tetumbuhan meyakinkan hatinya. Maka mulailah dia memilih jamur-jamur yang tak mengandung racun, lalu mulai dia makan jamur. Dalam keadaan lapar bukan main, ternyata jamur-jamur mentah itu terasa enak juga! Soal minum dia tidak usah khawatir karena di beberapa tempat pada dinding batu itu terdapat air yang menetes. Ditampungnya tetesan air itu dengan kedua tangannya, lalu diminumnya. Luar biasa segarnya air yang disaring oleh tanah dan batu itu.

Setelah yakin benar bahwa tidak ada jalan ke luar dari tempat itu, Sin Liong menerima kenyataan ini dan dia giat berlatih ilmu. Di dalam kesunyian yang amat hebat itu perasaan dan pikiran Sin Liong menjadi luar biasa tajamnya. Semua ilmu yang pernah dipelajari dan dibacanya dahulu dan sukar dimengerti olehnya karena kitab-kitab kuno Pulau Es memang amat sukar diartikan, kini menjadi jelas dan dapat dia selami intinya. Oleh karena inilah maka di luar dari kesadarannya sendiri, ilmu kesaktiannya bertambah dengan hebat dan cepatnya.

Juga di tempat ini dia mulai mengenal diri sendiri, mengenal arti hidup yang sesungguhnya. Tanpa disadarinya sendiri, dari dalam pribadinya timbul kekuatan mukjijat, kekuatan yang dimiliki oleh setiap orang manusia namun yang selalu terpendam dan tetap tersembunyi sampai saat terakhir dari hidup manusia yang selalu dipermainkan oleh nafsu yang disebut aku. Tanpa terasa oleh Sin Liong sendiri yang selama hidup di dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak pernah memikirkan atau mengenal waktu, pemuda luar biasa ini telah berada di tempat itu selama dua tahun!

Dia mengerti bahwa tanpa bantuan dari luar, tidak mungkin dia meloloskan diri dari tempat itu, maka sudah sejak lama dia tidak lagi berusaha untuk keluar dari situ. Selama itu yang menjadi teman-temannya hanyalah ular-ular berbisa! Ternyata oleh pemuda itu bahwa binatang berbisa seperti ular pun mengenal siapa lawan siapa kawan. Karena selama itu dia tidak pernah mengganggu mereka, ular-ular itu pun jinak dan sama sekali tidak pernah menyerangnya, biar pun dia menjauhkan batu mustika hijau dari tubuhnya. Binatang-binatang ini hanya menyerang untuk menjaga diri saja dari bahaya yang datang mengancam diri mereka.

Juga tanpa disadari sendiri oleh Sin Liong, tubuhnya yang setiap hari hanya dihidupkan oleh sari jamur yang bermacam-macam itu, pertumbuhannya sama sekali berlainan dengan manusia biasa. Makanan amat mempengaruhi tubuh dan sari jamur yang dimakannya selama dua tahun itu mendatangkan kepekaan luar biasa, dan kepekaan tubuh ini pun mempengaruhi pula pertumbuhan batinnya. Dia menjadi seorang manusia luar biasa, tidak menderita apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, karena di dalam keadaan apa pun juga, menghadapi keadaan apa adanya, sewajarnya, sebagaimana adanya yang dianggap sudah semestinya demikian, tidak ada lagi apa yang disebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak ada lagi yang disebut senang atau susah, tidak ada lagi puas atau kecewa.

Dalam keadaan seperti itu, tubuh sehat dan batin tenang, yang ada hanyalah rasa suka ria yang sukar dilukiskan karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesukaan atau kegembiraan yang dapat dicari. Suatu nikmat yang bukan datang dari gairah nafsu atau kesenangan, nikmat hidup yang datang tanpa dicari, yang terasa hanya setelah batin bebas dari segala ikatan, seperti batin Sin Liong di waktu itu.

Pada suatu hari, di sebelah atas dari tempat rahasia ini, terjadilah kesibukan besar. Puluhan orang katai yang tubuhnya pendek akan tetapi besarnya seperti manusia biasa, bertubuh kuat dan bertenaga besar, dipimpin oleh seorang pemuda tanggung sedang membongkari reruntuhan batu-batu di dalam terowongan bawah tanah itu. Pemuda tanggung yang berpakaian mewah itu bukan lain adalah Bu Ong, yang kini telah mengumpulkan sisa orang-orang kerdil bekas taklukan di Rawa Bangkai dan menjadi pimpinan mereka.

Han Bu Hong kini telah menjadi seorang pemuda tanggung yang lihai dan tidak ada seorang pun di antara tokoh-tokoh orang kerdil mampu melawannya. Agaknya, untuk menjadikan mimpi ibunya sebagai kenyataan, dia telah mengangkat diri sendiri menjadi ketua atau lebih tepat lagi menjadi ‘raja’ dari orang-orang katai ini. Gedung di Rawa Bangkai hanya menjadi tempat tinggal umum, akan tetapi diam-diam dia mendirikan ‘kerajaan kecil’ di bawah tanah. Bahkan dia telah membangun sebuah ruang seperti istana di bawah tanah, lengkap dengan kursi kebesaran yang dihiasai dengan sebuah tengkorak di samping hiasan mahal seperti permadani, lukisan dan tulisan indah. Sering-kali dia secara sembunyi mengadakan pertemuan dan rapat rahasia dengan para tokoh orang katai yang menjadi pembantunya, dan pemuda tanggung ini diam-diam merencanakan pekerjaan besar untuk melanjutkan cita-cita ibunya.

Demikianlah, karena dia ingin menggunakan terowongan bawah tanah itu sebagai markas partai orang kerdil, dan juga karena dia ingin mencari kalau-kalau ada harta atau pusaka peninggalan Rawa Bangkai di terowongan itu, dia lalu mengerahkan para anak buahnya untuk membersihkan bagian terowongan yang dahulu diruntuhkan oleh ibunya dan oleh Kiam-mo Cai-li.

"Akan tetapi, Siauw-pangcu (Ketua Cilik)," seorang pembantu membantah sebelum pembongkaran dilakukan. "Tempat ini dahulu sengaja diruntuhkan oleh Ibu Pangcu untuk menutupi sumur ular di mana tubuh musuh Ibu Pangcu dilempar. Karena musuh itu lihai bukan main, maka Ibu Pangcu bersama Kiam-mo Cai-li dan Ouwyang Cin Cu memutuskan untuk menutup saja tempat ini agar pemuda sakti itu tidak mampu hidup kembali."

Han Bu Ong tertawa. "Ha-ha, mana mungkin Kwa Sin Liong dapat hidup kembali? Dia sudah di lempar di sumur ular, andai kata dia tidak mati oleh ular-ular itu, tentu selama dua tahun dikubur hidup-hidup di sumur itu dia kini sudah menjadi setan tengkorak, tinggal rangkanya saja. Mengapa khawatir? Hayo bongkar! Kalau tidak dibongkar, terowongan ini tertutup sampai di sini, padahal kita amat membutuhkan sebagai jalan rahasia yang amat penting bagi perkumpulan kita."

Karena alasan yang dikemukakan ketua cilik ini memang tepat, maka beramai-ramai para manusia katai itu segera bekerja keras, membongkari batu-batu yang besar-besar dan berat itu, menggunakan alat pendongkel dan lain-lain. Hiruk-pikuk suara di dalam terowongan itu, dan pekerjaan yang berat itu biar pun dilakukan oleh hampir lima puluh orang, tetap saja memakan waktu yang cukup lama. Memang sesungguhnyalah bahwa merusak itu mudah membangun itu sukar, mengotori itu mudah membersihkannya tidak semudah itu.

Setelah bekerja keras selama sepekan, barulah batu besar terakhir yang menutupi sumur dapat disingkirkan. Han Bu Ong dan para anak buahnya seperti berlomba lari menghampiri sumur dan melongok ke dalam sumur yang amat gelap itu. Pada saat itu, terdengar suara angin menyambar dari bawah dan berkelebatlah bayangan orang yang melayang dari bawah. Han Bu Ong dan semua orang terkejut.

Ketika mereka menoleh dan memandang bayangan orang yang tadi meloncat melewati kepala mereka, mereka melihat seorang laki-laki muda berdiri di situ sambil tersenyum. Seorang pemuda yang berwajah tampan, yang memiliki sepasang mata yang lembut pandangannya namun bersinar cahayanya, pemuda yang pakaiannya lapuk dan compang camping. Tidak ada orang kerdil yang mengenal pemuda ini karena memang keadaannya jauh berbeda dengan tahun yang lalu.

Akan tetapi Han Bu Ong dengan suara gemetar membentakkan perintah, "Serbu! Bunuh dia...!!"

Orang-orang katai yang tadinya bengong terheran-heran dan ketakutan karena menduga keras bahwa tentu hanyalah siluman saja yang keluar dari sumur tertutup itu, ketika mendengar bentakan ini menjadi sadar. Kini mereka pun ingat bahwa tentu ini pemuda yang dua tahun yang lalu dilempar ke dalam sumur. Mereka bergidik ngeri dan gentar mendapat kenyataan bahwa orang yang dua tahun lalu dilempar ke sumur ular yang tertutup kini ternyata masih hidup. Namun karena maklum bahwa ini adalah musuh mereka dengan teriakan-teriakan ganas mereka menyerang orang itu.

Memang benar dugaan Han Bu Ong. Orang ini bukan lain adalah Kwa Sin Liong. Ketika Sin Liong akhirnya dari bawah mendengar suara hirup pikuk di sebelah atas, kemudian melihat cahaya turun melalui terowongan kecil jalan ular, dia menyeberangi terowongan dan tiba di dasar sumur pertama. Akhirnya dia melihat betapa atap sumur yang tadinya tertutup batu besar itu terbuka dan melayanglah dia ke luar. Karena selama dua tahun dia tidak bertemu orang, begitu melihat Bu Ong dan orang-orang kerdil, dia tersenyum girang.

Akan tetapi orang-orang kerdil itu dengan bermacam senjata telah menyerangnya. Sin Liong hanya mengerahkan sinkang-nya membiarkan belasan senjata tajam menimpa tubuhnya. Terdengarlah teriakan-teriakan kaget karena semua senjata, baik yang tajam mau pun yang tumpul, begitu mengenai tubuh pemuda itu, membalik seperti mengenai gumpalan karet yang amat kuat.

"Adik Bu Ong... bukankah engkau sute (Adik Seperguruan)...?" Sin Liong berkata halus sambil memandang kepada Han Bu Ong.

"Iblis! Siluman! Bunuh dia...!!" Bu Ong berteriak-teriak dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Biar pun hati mereka gentar sekali, namun orang katai itu kembali menyerbu dan hujan senjata menyambar tubuh Sin Liong. Kembali senjata-senjata itu mental, bahkan ada yang terlepas dari pegangan tangan pemiliknya. Sin Liong menarik napas panjang, menunduk dan memandang pakaiannya yang menjadi makin compang-camping akibat terkena bacokan senjata-senajata itu, kemudian sekali bergerak tubuhnya berkelebat melewati kepala para pengeroyoknya yang bertubuh pendek dan lenyap.

Gegerlah para orang katai. Akan tetapi Han Bu Ong menyabarkan dan menenangkan hati mereka. Dia merasa yakin bahwa betapa pun lihainya Sin Liong, pemuda itu agaknya tidak akan mengganggunya. Maka dia melanjutkan rencananya dan melakukan perundingan dengan para anak buahnya. Seperti juga ibunya dahulu, pemuda tanggung ini sudah mulai dengan usahanya untuk mencari kedudukan dengan menghubungi seorang ‘pangeran’ baru yang juga merasa tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya setelah perjuangan mereka berhasil.

Pangeran ini dahulunya adalah seorang pemberontak rakyat petani yang bergabung dengan An Lu Shan, bernama Shi Su Beng yang kini dianugerahi pangkat ‘pangeran’ oleh An Lu Shan. Shi Su Beng bermaksud untuk merebut tahta kerajaan dari An Lu Shan, dan apabila terjadi kegagalan, maka terowongan bawah tanah milik Han Bu Ong itulah yang akan dijadikan tempat persembunyian. Setelah selesai mempersiapkan segala-galanya dan tempat itu ditinjau sendiri oleh Pangeran Shi Su Beng, Han Bu Hong lalu pergi ke kota raja bersama sekutunya itu untuk mulai melaksanakan siasat yang sudah mereka rencanakan lebih dahulu.

Memang selama dua tahun itu terjadi dua hal yang banyak tercatat dalam sejarah. Kemenangan An Lu Shan ternyata tidak mendatangkan kemakmuran atau keamanan, bahkan sebaliknya. Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan dan menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya itu kini menyusun kekuatan di barat untuk menyerbu dan merampas kembali kota raja. Selain itu, di dalam istana pemerintah baru sendiri terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan!

Semua ini terjadi karena memang sesungguhnya para pemimpin pemberontak yang dahulu memberontak terhadap pemerintah dengan dalih ‘demi rakyat’ atau demi keadilan, demi kebenaran, demi negara dan lain istilah muluk-muluk lagi itu sesungguhnya hanyalah ‘berjuang’ demi dirinya sendiri saja! Semua istilah itu tak lain tak bukan hanyalah untuk dijadikan ‘modal’ perjuangannya untuk mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri. Hal ini sudah terlalu sering terjadi di dunia, berulang-ulang, namun sampai sekarang rakyat di seluruh dunia tetap bodoh, mau saja di peralat dan dicatut namanya oleh orang-orang yang berambisi untuk diri pribadi. Betapa banyaknya bukti akan kepalsuan ini dapat dilihat dalam sejarah di negara mana pun di dunia ini. Sekelompok orang berambisi untuk keuntungan mereka sendiri, dengan siasat cerdik menggunakan nama rakyat untuk mencapai tujuan mereka, kalau perlu mereka mengorbankan rakyat.

Rakyat sudah cukup puas memperoleh gelar ‘pahlawan’ kalau sampai tewas dalam perjuangan yang sebenarnya adalah penyalah-gunaan demi keuntungan kelompok yang mempergunakan mereka itu. Inilah sebabnya ketika perjuangan telah berhasil, jika para kelompok pimpinan yang berambisi sudah memperoleh apa yang mereka kejar-kejar, maka rakyat pun dilupakan sudah! Bukan sengaja dilupakan, melainkan karena mereka yang sudah berhasil merampas kedudukan itu pun harus menghadapi lawan atau saingan yang juga ingin merebut kedudukan itu. Rakyat adalah orang yang berada dibawah, dan yang terinjak memang selalu yang berada di bawah. Yang berada di atas tidak akan terinjak, akan tetapi mereka itu saling berebutan di antara mereka sendiri, memperebutkan kedudukan yang lebih enak dan empuk dari-pada kedudukan yang telah dimilikinya.

Demikianlah pula dengan An Lu Shan dan teman-temannya yang telah berhasil dalam ‘perjuangan’ mereka merampas kedudukan tahta kerajaan. Teman-teman yang tadinya berjuang bahu-membahu, menjadi kawan senasib sependeritaan, yaitu di waktu mereka memberontak, kini setelah memperoleh apa yang mereka cita-citakan, berbalik mencurigai, saling iri!

Memang belum ada yang secara berterang berani menentang An Lu Shan, bekas panglima yang masih amat kuat kedudukannya, didukung oleh pasukan-pasukan inti dan tampaknya semua pembantunya sudah menyetujui sebulatnya kalau An Lu Shan menjadi Kaisar. Akan tetapi diam-diam, banyak pula yang mempersoalkan pembagian pangkat dan kedudukan. Tentu saja yang merasa tidak puas adalah mereka yang memperoleh pangkat agak kecil, sedangkan yang menerima pangkat besar merasa curiga dan hati-hati menghadapi bekas teman yang memperoleh pangkat yang lebih kecil. Terjadi dan berlangsunglah konflik sembunyi di antara mereka.
********************
Ke manakah perginya Swat Hong dan Kwee Lun? Di bagian depan telah diceritakan betapa dua orang muda ini berhasil menyelamatkan diri, lari ke luar dari istana The Kwat Lin dan terus keluar dari kota raja Tiang-an. Mereka berlari dengan cepat mempergunakan kegelapan malam, berhasil keluar dari benteng tembok kota raja karena para penjaga yang berada dalam suasana pesta kemenangan itu tidak melakukan penjagaan yang terlampau ketat.

Setelah terang tanah dan mereka tiba di dalam sebuah hutan jauh dari tembok kota raja barulah keduanya berhenti dalam keadaan terengah-engah.

Swat Hong menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar. Wajahnya pucat, muka dan lehernya penuh keringat yang di usapnya dengan ujung lengan bajunya. Pandang matanya merenung jauh sekali, dan dia diam saja, sama sekali tidak berkata-kata, sama sekali tidak bergerak, seperti dalam keadaan setengah sadar.

Kwee Lun juga menghapus peluhnya dan dia pun duduk diam, memandang kepada Swat Hong. Beberapa kali dia menggerakkan bibir hendak bicara namun ditahannya lagi. Pemuda yang biasanya bergembira ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Dia sendiri merasa kehilangan dan amat berduka dengan kematian Soan Cu, gadis yang kini dia tahu adalah wanita yang amat dicintainya.

Akan tetapi, melihat keadaan Swat Hong yang terpaksa harus meninggalkan ibu kandungnya menghadapi kematian, dia melupakan kedukaan hatinya sendiri dan merasa amat iba kepada Swat Hong. Melihat betapa Swat Hong seperti orang kehilangan ingatan, Kwee Lun merasa khawatir sekali. Kalau dibiarkan saja, gadis ini bisa jatuh sakit, kalau hanya sakit badannya masih mending, akan tetapi kalau terserang batinnya lebih berbahaya lagi.

Akhirnya Kwee Lun memberanikan diri berkata lirih dan halus, "Mati hidup adalah berada di tangan Thian, kita manusia tak dapat menguasainya, Nona."

Mendengar kata-kata ini, Swat Hong menengok dan memandang. Akan tetapi pandang matanya tetap kosong, seolah-olah kata-kata itu tidak dimengertinya dan dari mulutnya hanya terdengar suara meragu, "Hemm...?" Suara ini gemetar dan pandang mata itu menusuk perasaan Kwee Lun.

Maka pemuda ini lalu memberanikan diri melangkah lebih jauh lagi dengan kata-kata yang lebih membuka kenyataan, "Ibumu gugur sebagai seorang yang gagah perkasa."

Sepasang mata yang kehilangan sinar itu terbelalak, seolah-olah baru sadar. Bibir yang gemetar itu bergerak, mula-mula lirih makin lama makin keras, "Ibu....? Ibu...., Ibu...!" Swat Hong menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ibunya.

"Tenanglah, Nona. Tenanglah...." Kwee Lun menghibur dan berlutut di depan gadis itu, akan tetapi suaranya sendiri parau dan agak tersedu.

"Ibu...! Mengapa aku meninggalkan ibu mati sendiri...? Ibu...! Hu-hu-huuuuuuuk, Ibuuuuuuuu....!"

Memang menangis merupakan obat terbaik bagi batin gadis itu, pikir Kwee Lun penuh keharuan. Akan tetapi saat melihat Swat Hong menjambak-jambak rambut sendiri, dia merasa khawatir. "Ingatlah, Nona. Ingatlah pesan Ibumu... tentang pusaka Pulau Es...."

Swat Hong mengangkat muka dan melihat wajah pemuda itu juga basah air mata, dia menubruk. "Toako... ahhh, Toako...!" dan menangislah dia tersedu-sedu di dada pemuda itu yang dianggapnya merupakan satu-satunya sahabat di dunia yang baginya kosong ini.

Kwee Lun memejamkan mata dan membiarkan gadis itu menangis terisak-isak.

Dengan sesenggukan Swat Hong berkata, "Ibu tewas... di depan mataku... dan aku tidak dapat menolongnya... hu-hu-huuuuuhhhh...... dan Ayah pun sudah tiada, Suheng juga... hu-huuuuuhhh apa gunanya aku hidup lagi? Apa gunanya aku mencari pusaka dan mengembalikan ke Pulau Es?”

Seperti seorang yang mendadak menjadi kalap Swat Hong merenggutkan dirinya dari dada Kwee Lun, lalu melompat bangun mengepal tinju. "Katakan, Kwee-toako, apa gunanya semua ini? Ayah ibuku sudah meninggal, dan Suheng... satu-satunya orang yang kucinta... dia pun tidak ada lagi...! Katakan, apa perlunya aku hidup lebih lama?"

Kwee Lun teringat akan kematian Soan Cu yang menghancurkan perasaannya. Akan tetapi dia menekan kedukaannya dan berkata, suaranya nyaring bersemangat, "Adik Hong, tidak semestinya seorang perkasa seperti engkau mengeluarkan kata-kata bernada putus asa seperti itu! Engkau adalah puteri dari Pulau Es! Kedukaan apa pun yang menimpa dirimu, harus kau atasi dengan gagah perkasa! Aku dapat memahami pesan mendiang Ibumu yang mulia dan gagah perkasa itu. Kalau pusaka keluargamu dari Pulau Es terjatuh ke tangan orang lain, bukankah itu amat sayang, berbahaya dan juga merendahkan? Pusaka itu telah diselamatkan oleh Nona Bu Swi Nio dan Saudara Liem Toan Ki. Sebaiknya kalau kita segera menyusul mereka dan aku akan membantumu mencari Pusaka Pulau Es."

Ucapan penuh semangat itu benar-benar menyadarkan Swat Hong, menarik gadis itu dari lembah kedukaan yang hampir mematahkan semangatnya. Dia menahan isak, menarik napas panjang dan menghapus air matanya, lalu memandang kepada pemuda itu, memegang tangan Kwee Lun. "Kwee-toako, terima kasih atas peringatanmu. Hampir aku lupa akan tugasku. Memang benar, sudah berani hidup harus berani menghadapi apa pun yang menimpa kita. Engkau sungguh baik sekali, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku...."

Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar... aku mencinta Soan Cu... aku mencintanya...."

"Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Akan tetapi, kau masih mempuyai gurumu, sedangkan aku hanya seorang diri... Ah, sudahlah. Aku akan pergi, Toako. Semoga engkau akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Engkau baik sekali dan terima kasih." Swat Hong berkelebat dan meloncat pergi.

"Nanti dulu! Hong-moi... biarlah aku membantumu...."

"Tidak usah, Kwee-toako. Aku akan menyusul mereka ke Puncak Awan Merah, kemudian aku akan kembali ke Pulau Es... untuk... untuk selamanya. Selamat tinggal!" Swat Hong meloncat dengan cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Kwee Lun yang menjadi lemas.

Pemuda ini menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah dan baru sekarang dia tidak dapat menahan bertitiknya air matanya. Baru sekarang terasa olehnya betapa dia kehilangan Soan Cu, betapa dunia terasa amat hampa dan sunyi. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan teringatlah dia kepada gurunya, Lam-hai Sengjin yang seperti orang tuanya sendiri.

Dia harus kembali ke Pulau Kura-kura di Lam-hai! Terbayang olehnya betapa suhu-nya itu akan terheran-heran mendengar semua pengalamannya dengan keluarga Pulau Es! Dengan perasaan yang kosong dan sunyi, ingatan akan gurunya ini merupakan setitik harapan kegembiraan hidupnya dan perlahan-lahan Kwee Lun meninggalkan hutan itu untuk kembali kepada gurunya yang sudah amat lama ditinggalkannya.

Sementara itu, dengan mata masih merah oleh tangisnya, Han Swat Hong melanjutkan perjalanan seorang diri dengan cepat untuk mengejar Swi Nio dan Toan Ki. Kalau dia dapat menyusul mereka dan minta kembali Pusaka Pulau Es dia dapat langsung kembali ke Pulau Es dan selanjutnya... entah, dia sendiri tidak tahu apakah dia ada niat untuk kembali ke daratan besar.

Tidak, dia akan tinggal di pulau itu, di mana dia terlahir. Biar pun pulau itu sudah kosong, dia akan tinggal di tempat kelahirannya itu sampai mati! Bercucuran pula air matanya ketika dia berpikir sampai di situ dan terkenang kepada suheng-nya. Kalau saja ada suheng-nya di sisinya, tentu tidak akan begini merana hatinya. Akan tetapi, betapa pun cepat Swat Hong melakukan pengejaran, tetap saja dia tidak berhasil menyusul Swi Nio dan Toan Ki.

Ketika tiba di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw, di tempat ini dia hanya disambut oleh Ang-in Mo-ko Thio Sam. Kakek yang menjadi murid kepala Tee-tok itu yang menceritakan bahwa Tee-tok bersama puterinya telah beberapa pekan pergi turun gunung dan bahwa selama itu tidak ada tamu, juga tidak ada Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki seperti yang ditanyakan oleh gadis itu.

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya mulai bertanya-tanya. Celaka, pikirnya, jangan-jangan dia telah salah memilih orang untuk dipercaya menyelamatkan Pusaka Pulau Es! Jangan-jangan dua orang muda itu sengaja melarikan pusaka-pusaka itu dan bersembunyi! Timbul kecurigaan yang diikuti kemarahan di hatinya, dan berbareng dengan perasaan ini timbul pula semangatnya yang tadinya amat menurun itu. Hidupnya masih perlu dan ada gunanya, setidaknya dia harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu agar tidak terjatuh ke tangan orang lain! Perasaan marah dan khawatir ini mendatangkan perasaan bahwa dia masih amat dibutuhkan untuk hidup terus.

Sambil menahan kemarahannya, dia berkata kepada murid kepala Tee-tok itu, "Andai kata ada datang Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki, harap minta kepada mereka untuk menanti saya di sini. Dua bulan lagi saya akan kembali menemui mereka."

Ang-in Mo-ko Thio Sam yang sudah mengetahui kelihaian dara yang pernah menggegerkan Awan Merah ini mengangguk-angguk.

Kemudian Swat Hong meninggalkan Puncak Awan Merah untuk mengambil jalan kembali ke jurusan kota raja untuk mencari kalau-kalau dua orang muda itu dapat berjumpa dengannya di jalan. Namun semua perjalanannya sia-sia belaka. Dua bulan kemudian, kembali dia tiba di Puncak Awan Merah dan untuk kedua kalinya Ang-in Mo-ko (Iblis Tua Awan Merah) menyatakan penyesalannya bahwa dua orang muda yang dicari itu belum juga datang, bahkan gurunya juga belum pulang.

"Saya malah merasa gelisah juga memikirkan Suhu," kata kakek itu. "Keadaan di mana-mana sedang ribut dengan perang, akan tetapi Suhu pergi begitu lamanya belum juga pulang."

Swat Hong menahan kemarahannya. Tidak salah lagi, pikirnya. Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki tentu berlaku khianat, menginginkan pusaka-pusaka itu untuk diri mereka sendiri. Aku harus mencari mereka dan selain merampas kembali pusaka, juga akan kuhajar mereka! Dia berpamit lalu pergi lagi, di sepanjang jalan dia memaki-maki Bu Swi Nio yang tadinya dipercayainya.

"Dasar murid iblis betina itu," gerutunya. "Gurunya sudah mati, kini muridnya yang menyusahkan aku!"

Mulailah Swat Hong mencari-cari kedua orang itu tanpa hasil. Sampai dua tahun dia berkelana mencari-cari kedua orang muda itu namun anehnya, tidak ada seorang pun manusia yang tahu akan mereka. Akhirnya timbullah pikirannya bahwa sangat boleh jadi Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki yang tadinya adalah anak buah An Lu Shan yang kini membalik dan berkhianat itu takut kepada pembalasan pemerintah baru dan telah lari mengungsi ke barat, ke Secuan. Sangat boleh jadi!

Pikiran ini membuat dia mengambil keputusan dan berangkatlah dia ke Secuan. Sambil mencari pusaka, dia pun ingin membantu Kaisar yang kabarnya sedang menyusun kekuatan untuk menyerang dan merebut kembali tahta kerajaan. Sebaiknya kalau dia membantu, pikirnya. Selain untuk mengisi kekosongan hidupnya, juga sekalian untuk mencari Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki, juga untuk menghancurkan semua kaki tangan An Lu Shan termasuk Ouwyang Cin Cu. Mengingat bahwa ayahnya adalah seorang keturunan pangeran atau raja muda, maka sebenarnya dia masih berdarah bangsawan dan masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar sehingga sepatutnyalah kalau dia membantu.
********************
Sementara itu, di ibu kota yang telah diduduki An Lu Shan, di dalam istana di mana An Lu Shan mengangkat diri sendiri menjadi raja, terjadilah hal-hal yang hebat! An Lu Shan sendiri masih melanjutkan wataknya yang kasar dan mau menang sendiri. Satu di antara kesukaannya adalah wanita. Maka begitu dia berhasil menjadi Kaisar, tak pernah berhenti setiap malam dia berganti wanita mana saja yang dipilih dan ditunjuknya, tidak peduli wanita itu masih gadis atau isteri orang lain sekali pun!

Pada suatu malam, dalam keadaan mabuk dan sedang gembira, An Lu Shan lupa diri dan dalam keadaan setengah sadar dia memasuki kamar mantu perempuannya yang sudah lama sekali dia rindukan secara diam-diam. Kalau sadar dan tidak mabuk, dia masih menahan hasrat hatinya. Akan tetapi malam itu, dalam keadaan mabuk, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi dan memasuki kamar mantunya! Tidak ada seorang pun manusia di dalam istana yang berani melarang, dan pada saat itu, putera An Lu Shan sedang tidak berada di situ.

Dengan penuh perasaan duka dan ketakutan, mantu yang muda dan cantik jelita itu tidak kuasa menolak atau memberontak. Sambil menangis dia terpaksa membiarkan dirinya dipeluk dan diciumi mertua yang mabuk itu. Dengan suara lirih dan membujuk dia masih berusaha mengingatkan An Lu Shan, namun seorang laki-laki yang tidak hanya mabuk arak, melainkan juga mabuk cinta birahi, tidak mempedulikan apa pun. Wanita itu hanya dapat merintih dan menangis, diseling suara ketawa gembira dari An Lu Shan.

Ketika pintu kamar itu dengan paksa dibuka dari luar oleh pangeran, An Lu Shan telah tidur mendengkur kelelahan dengan muka merah karena banyak arak, sedangkan isteri pangeran itu menangis terisak-isak, berlutut di atas lantai. Pangeran itu menjadi mata gelap, pedang dicabut dan sekali meloncat dia telah menikam dada ayahnya sendiri.

"Crappp...!"

"Auhhh... haiii... kau... kau....?!"

Biar pun pedang telah menembus dadanya, An Lu Shan yang bertubuh kuat itu masih dapat meloncat dan mencengkeram ke arah puteranya. Akan tetapi pangeran yang sudah mata gelap itu mengelak, kakinya menendang sehingga An Lu Shan terdorong jatuh, membuat pedang itu masuk makin dalam. Dia berkelojotan dan tak bergerak lagi!

"Tangkap pembunuh...!!" teriakan ini keluar dari mulut Shi Su Beng yang bersama dengan Han Bu Ong sudah lari ke dalam kamar.

Shi Su Beng menggerakkan pedangnya dan terdengar teriakan mengerikan ketika pangeran itu roboh pula di dekat mayat ayahnya dalam keadaan tak bernyawa pula karena lehernya hampir putus terbabat pedang Pangeran Shi Su Beng! Gegerlah seluruh istana. Rapat kilat diadakan dan Shi Su Beng yang dianggap membela Kaisar itu mempergunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukan Kaisar! Dalam keadaan kacau-balau itu, Shi Su Beng mengangkat diri sendiri sebagai raja dan Han Bu Ong menjadi raja muda pembantunya yang setia!

Hanya mereka berdua saja yang tahu bahwa semua peristiwa itu memang digerakkan oleh mereka berdua! Shi Su Beng yang membangkitkan birahi An Lu Shan terhadap mantu perempuannya. Bahkan di dalam mabuk, Shi Su Beng yang membujuk supaya Kaisar baru itu memasuki kamar dengan mengatakan bahwa di dalam kamar itu dia telah menyediakan seorang wanita cantik mirip mantunya itu untuk An Lu Shan! Dan selagi An Lu Shan yang mabuk itu menggagahi mantunya sendiri, diam-diam Han Bu Ong menghubungi pangeran dan membisikan bahwa ada penjahat memasuki kamarnya. Maka terjadilah seperti apa yang telah direncanakan oleh mereka berdua, yaitu kematian An Lu Shan di tangan puteranya sendiri dan kemudian kematian pangeran di tangan Shi Su Beng.

Terjadilah pergantian kekuasaan dan perubahan besar-besaran di kota raja. Kembali Han Bu Ong berhasil mengangkat dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan ibunya, yaitu menjadi seorang pangeran yang berkuasa, jauh lebih berkuasa dari-pada di waktu ibunya masih hidup, yaitu menjadi tangan kanan penguasa baru yang menjadi sekutunya! Akan tetapi, jatuhnya An Lu Shan dan berpindahnya kekuasaan ke tangan Shi Su Beng, masih saja belum meredakan ketegangan-ketegangan di kota raja akibat perebutan kekuasaan.

Seperti biasa penguasa baru mengangkat teman-temannya sendiri menduduki jabatan tinggi, melakukan penggeseran-penggeseran sehingga menimbulkan dendam dari kawan-kawan yang berbalik menjadi lawan. Dalam keadaan seperti itu, tidak heran jika timbul rencana-rencana dan intrik perebutan kekuasaan yang kacau-balau, kalau perlu dengan cara halus mau pun kasar.

Sebaliknya, para pemberontak yang kini memegang tampuk kerajaan itu justru menjadi lalai. Mereka terlalu memandang rendah Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan, menganggap keluarga Kaisar lama itu sudah jatuh benar-benar. Kesibukan untuk kepentingan ambisi pribadi membuat mereka lengah dan kurang memperhatikan pertahanan sehingga mereka tidak tahu betapa Kaisar dan keluarganya di Secuan telah membentuk kekuatan baru untuk melakukan pembalasan!

Kaisar Tua Hian Tiong, yang hancur lahir batinnya karena bukan hanya mahkota kerajaan dirampas oleh pemberontak An Lu Shan, akan tetapi terutama sekali karena selirnya tercinta, Yang Kui Hui, harus mati digantung oleh keputusannya sendiri, setibanya di Secuan, menjadi seorang kakek yang patah semangat dan selalu tenggelam dalam duka cita. Dalam keadaan mengungsi itu, di Secuan, keluarga kaisar dan para pengikutnya yang masih setia, menerima keputusan Kaisar Tua untuk mengangkat Kaisar baru, yaitu Putera Mahkota yang bergelar Su Tiong.

Pada waktu itu sisa pasukan pemerintah yang telah kalah perang terhadap An Lu Shan, di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu It, telah menyusul pula ke Secuan. Kaisar Su Tiong lalu menghimpun kekuatan dari rakyatnya di daerah Secuan, dan minta bantuan kepada negara-negara tetangga yang bersahabat. Maka terkumpullah pasukan-pasukan campuran yang terdiri dari bermacam suku, bahkan terdapat pula bangsa Turki, Tibet, dan kemudian sekali datang pula bala bantuan dari pasukan Arab yang dikirim sebagai tanda bersahabat oleh Kaliphu. Pasukan-pasukan itu disusun menjadi barisan besar dan diberi latihan-latihan berat dalam persiapan Kaisar Su Tiong untuk merampas kembali kerajaannya.
********************
Tidak ada hal penting terjadi selama perjalanan Swat Hong menuju ke Secuan. Gadis yang dahulu berwatak periang dan jenaka itu, yang wajahnya selalu berseri dan gembira, kini menjadi pendiam dan ada garis-garis dan bayangan muram di wajahnya yang tetap cantik jelita walau pun tidak pernah bersolek. Perantauan selama dua tahun mencari-cari pusakanya yang hilang tanpa hasil itu membuat dia merasa berduka dan juga penasaran sekali. Di dalam hatinya di berjanji bahwa dia takkan pernah berhenti mencari sebelum mendapatkan pusaka Pulau Es itu.

Dalam perantauannya itu dia mendengar pula tentang kematian An Lu Shan dan puteranya. Ketika dia tiba di Secuan, pada waktu itu Kaisar yang baru, yaitu Kaisar Si Tiong, memang sedang menyusun tenaga di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu It sendiri. Panglima Kok ini menyebarkan para pembantunya, yaitu panglima-panglima bawahan di seluruh daerah Secuan untuk pendaftaran dan penerimaan para suka-relawan yang hendak masuk menjadi tentara.

Seorang di antara bawahannya yang bertugas mengumpulkan bala bantuan, bahkan menghubungi orang-orang asing dari barat ini adalah Panglima Bouw Kiat. Panglima inilah yang telah berjasa menghubungi orang-orang Arab sehingga akhirnya Kaliphu (yang kuasa di Arab) sendiri mengirim pasukan bala bantuan. Bouw Kiat berkedudukan di sebuah dusun daerah selatan dan di sini dia menyusun pasukannya sambil menjamu pasukan dari Arab yang sebagian kecil sebagai pasukan pelopor telah tiba di situ.

Panglima Kok Cu It yang cerdik memisah-misahkan para pasukan asing yang membantunya agar menjauhkan terjadinya bentrokan. Pasukan bantuan dari Turki berada di utara, dari Tibet berada di selatan dan dari timur adalah pasukan yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa.

Pada suatu hari, Swat Hong tiba di daerah yang dikuasai oleh Panglima Bouw Kiat inilah. Dara ini merasa heran ketika melihat ada banyak tentara asing yang bertubuh jangkung, bersikap gagah dan berkulit coklat gelap, bermata tajam dan bercambang bauk berkeliaran di daerah itu. Di tengah jalan, dia melihat seorang laki-laki asing yang tinggi besar dan gagah, memegang gandewa dan anak panah dikelilingi prajurit-prajurit Han dan Arab sambil tertawa-tawa.

Laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang gagah itu berkata dalam bahasa Han yang kaku, "Lihat burung-burung itu! Aku akan menurunkannya sekaligus tiga ekor. Yang mana kalian pilih?"

Swat Hong tertarik, berhenti dan memandang ke atas. Diam-diam dia terkejut dan menganggap orang itu sombong. Mana bisa menjatuhkan burung-burung yang terbang begitu tinggi sekaligus tiga ekor kalau orang ini bukan seorang ahli panah yang sakti?

"Tiga ekor dari depan!" terdengar teriakan.

"Tidak, yang paling belakang adalah paling sukar!" kata orang lain.

Perwira bangsa Arab itu tersenyum dan tampaklah giginya yang rata dan putih berkilauan, kumisnya bergerak-gerak. "Biar aku jatuhkan dua terdepan dan burung terakhir!"

Kelompok burung yang terbang tinggi sudah tiba tepat di atas mereka. Perwira itu memasang tiga batang anak panah pada gendewanya, lalu menarik tali gendewa. Terdengar suara menjepret dan meluncurlah tiga batang anak panah seperti tiga sinar berkilauan ke atas. Dari bawah tidak kelihatan bagaimana burung-burung itu terkena anak panah, namun jelas tampak betapa dua ekor burung terdepan dan seekor paling belakang tiba-tiba runtuh ke bawah. Ketika tiga ekor burung itu jatuh ke tanah dan semua orang melihat bahwa dada burung itu tertusuk anak panah, mereka bersorak dan bertepuk tangan memuji.

"Boleh juga dia," pikir Swat Hong sungguh pun dia maklum bahwa kepandaian memanah seperti itu hanyalah berguna untuk pertempuran jarak jauh dan sama sekali tidak ada artinya untuk pertandingan berhadapan. Tentu kalah cepat oleh am-gi (senjata rahasia) seperti jarum, paku, piauw dan lain-lain.

"Hai, Nona! Tepuk tangan untuk kelihaian Perwira Ahmed!" tiba-tiba ada seorang laki-laki menegur Swat Hong. Laki-laki ini adalah seorang prajurit Han dan sambil menyeringai dia bertepuk tangan dan mendesak Swat Hong untuk ikut bertepuk tangan.

Selanjutnya baca
BU KEK SIANSU : JILID-20
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger