logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Istana Pulau Es Jilid 03

Karena di utara bangsa Yucen terdesak oleh bangsa Nomad lain, yaitu terutama sekali bangsa Mongol yang dibantu bangsa-bangsa Naiman dan Kerait, maka suku bangsa Yucen yang makin kuat kedudukannya itu terus mendesak ke selatan. Bangsa Yucen ini asal mulanya adalah sebuah suku bangsa yang tinggal di sebelah utara Shan-si dan pernah ditundukkan oleh bangsa Khitan. Akan tetapi kini bangsa Yucen menjadi kuat sekali sehingga setelah memenangkan perang terhadap Khitan, mereka mendirikan kerajaan yang mereka sebut Kerajaan Wangsa Cin!
Dengan terjalinnya persahabatan dan persekutuan antara kerajaan baru Cin dan Kerajaan Sung yang terus terdesak makin ke selatan, maka untuk sementara bangsa Mongol yang dibantu bangsa Naiman dan Kerait hanya memusatkan diri di utara, menguasai daerah yang luas sekali, dari Danau Baikal sampai ke tapal batas Mongolia luar, Siberia dan Mancuria!

Perang antar suku-suku kecil masih terus terjadi, bukan lagi perang antara kerajaan yang memperebutkan wilayah, melainkan antar suku-suku kecil yang memperebutkan tanah subur. Karena itu perjalanan yang ditempuh Puteri Maya amatlah berbahaya dan beberapa kali dia harus bersembunyi di atas pohon-pohon besar, dari mana dia menyaksikan perang-perangan kecil sampai perang berakhir dan hutan itu penuh mayat bergelimpangan. Kalau sudah selesai perang dan keadaan sunyi barulah Maya berani turun dari pohon itu, dan ada kalanya dia harus bersembunyi di dalam goa yang lembab dan dingin kotor sampai berhari-hari.

Pada suatu senja, Maya yang kini dalam perjalanannya tanpa tujuan telah tiba di daerah Pegunungan Gobi yang penuh dengan selingan padang pasir luas. Ia merasa bingung ketika melihat dari sebuah lereng bukit ke arah padang pasir yang membentang luas di kaki bukit. Entah berapa luasnya padang pasir itu karena tidak tampak tepinya dan angin senja menggerak-gerakkan permukaan padang pasir sehingga berombak seperti laut!

Ia merasa takut dan bingung harus mengambil jalan mana. Kalau dia harus menyeberangi padang pasir itu, dia tidak berani. Sudah banyak dongeng didengarnya dahulu dari ayah bundanya akan bahaya padang pasir yang kadang-kadang mengamuk atau diamuk badai dan sudah banyak manusia ditelan lenyap oleh padang pasir itu. Bahkan pernah ia mendengar betapa orang-orang yang kehabisan air dan persediaan makan yang kelaparan dan terutama sekali kehausan, tiba-tiba melihat air melimpah-limpah akan tetapi apa bila didekati, air itu akan lenyap! Benar-benar banyak siluman tinggal di tempat itu dan setiap saat siluman-siluman itu mengganggu manusia!

Maka Maya tidak berani ke selatan melalui padang pasir itu, melainkan membelok ke barat melalui pegunungan yang biar pun amat sukar ditempuh, namun setidaknya sudah dikenalnya. Sejak kecil ia sudah biasa berkeliaran di hutan-hutan dan gunung-gunung, maka daerah seperti ini dikenalnya, tidak seperti padang pasir yang gundul dan mengerikan itu.

Malam itu ia bermalam di sebuah hutan di puncak bukit dan dari tempat yang tinggi ini tampaklah olehnya di kaki bukit sebelah barat terdapat sinar-sinar api yang berarti bahwa di sana tentulah terdapat tempat tinggal manusia. Maka hatinya menjadi girang dan pada keesokan harinya berangkatlah ia ke barat. Siapa kira, perjalanan menuruni bukit ini amat sukarnya, melalui jurang-jurang dan anak-anak bukit sehingga sampai matahari naik tinggi belum juga ia sampai ke tempat yang diduganya tentu sebuah dusun yang semalam tampak penerangannya dari puncak bukit.

Ia menjadi girang ketika melihat sebuah bangunan tak jauh di depan. Biar pun dia sudah lelah sekali dan peluhnya membasahi muka dan leher, namun melihat bangunan itu, Maya melupakan kelelahannya dan berjalan lagi menuruni lereng. Tentu di situlah dusun yang dilihatnya semalam dari puncak. Akan tetapi betapa kecewa hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kuil yang dahulunya tentu besar, akan tetapi kini sudah rusak akibat perang lalu ditinggal terlantar. Sebagian atapnya sudah runtuh, lantainya berlumut dan dindingnya menjamur. Biar pun demikian, lumayan untuk tempat mengaso di terik panas membakar seperti itu.

Tiba-tiba Maya cepat memasuki bangunan, menyelinap dan bersembunyi di bawah sebuah meja batu bobrok yang depannya tertutup oleh hancuran bekas arca. Jantungnya berdebar tegang karena hampir saja ia kurang cepat bersembunyi karena berkelebatnya bayangan yang datang itu cepat bukan main. Ternyata mereka adalah dua orang laki-laki, dan salah seorang berpakaian sebagai seorang perwira bangsa Yucen.

Ada pun yang seorang lagi adalah seorang Han yang usianya dua puluh lebih, berpakaian seperti pembesar, seorang pemuda yang mempunyai sepasang mata aneh dan liar gerakannya, akan tetapi yang bicaranya halus dan mukanya berbentuk lonjong menjulur ke muka seperti muka kuda. Muka yang buruk dan tidak menyenangkan! Maya tidak berani bergerak bahkan mengatur napasnya karena ia dapat menduga bahwa kedua orang itu, terutama Si Pemuda muka kuda, tentu memiliki kepandaian tinggi. Terdengar mereka berbisik-bisik.

“Benarkah dia sedang mendatangi ke sini?” 

“Tidak salah,” jawab yang berpakaian perwira Yucen. “Seperti biasa, dia naik kuda seorang diri. Sudah dua kali aku dan kawan-kawan dahulu menyergapnya, namun dia lihai dan selalu berhasil lolos.” 

“Akan tetapi yakin benarkah engkau bahwa dia itulah kurir (utusan) yang menghubungkan Panglima Khu dengan gurunya?” Pemuda muka kuda kembali bertanya, mendesak menuntut keyakinan. 

“Betul dia! Memang dia pandai menyamar dan selalu dapat menghubungi Panglima Khu dengan cara yang cerdik sehingga tidak pernah meninggalkan bekas, akan tetapi aku yakin bahwa dialah orangnya.” 

“Stt, itu dia datang. Serahkan saja kepadaku. Akulah yang akan menangkapnya,” pemuda muka kuda berbisik. Si Perwira Yucen mengangguk dan bersembunyi di belakang dinding, sedangkan pemuda muka kuda dengan gerakan yang ringan seperti burung terbang telah melesat ke atas atap yang masih ada, di atas dinding yang tidak berapa tinggi dan menjulur ke jalan depan kuil.

Biar pun Maya hanya dapat mengintai melalui lubang atau celah-celah kecil di antara reruntuhan arca dan tidak dapat melihat jelas ke jalan, namun ia juga mendengar datangnya seekor kuda dari derap kakinya yang makin lama makin nyata. Jantung gadis cilik ini berdebar tegang. Ia maklum bahwa tentu akan terjadi sesuatu yang hebat, sungguh pun ia sama sekali tidak tahu siapakah dua orang itu dan siapa pula pendatang yang mereka anggap sebagai utusan yang menghubungkan Panglima Khu dengan gurunya! Apakah artinya semua itu?

Setelah derap kaki kuda dekat benar dan tiba di depan kuil, tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik keras dan terdengar suara hiruk-pikuk beradunya senjata, suara orang bertanding.

Maya menggunakan keringanan tubuhnya, menyelinap ke luar dan mencari tempat persembunyian di sebelah luar, yaitu di belakang segerombolan pohon kembang dan mengintai. Tampak olehnya seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sederhana dan bersikap gagah, agaknya tentu orang berkuda itu, sedang bertanding melawan pemuda muka kuda. Laki-laki yang memakai topi lebar itu gagah dan gerakannya lihai sekali, akan tetapi dengan heran Maya mendapat kenyataan bahwa Si Pemuda muka kuda itu lebih hebat lagi sehingga laki-laki bertopi lebar terdesak dan hanya menangkis sambil mundur-mundur, memutar pedangnya yang selalu menangkis sebatang golok melengkung di tangan pemuda itu.

“Bukankah engkau ini Siangkoan-sicu yang membantu di gedung Suma-kongcu? mengapa engkau menyerangku?”

Namun pemuda muka kuda itu tidak menjawab dan menyerang lebih hebat lagi sehingga laki-laki bertopi lebar itu makin terdesak.

“Engkau... engkau mengkhianati kerajaan...?” Laki-laki bertopi lebar berseru, mencoba untuk menangkis golok yang menyambar kepalanya. Akan tetapi pada saat itu tangan kanan pemuda bermuka kuda yang bertangan kosong karena goloknya dipegang di tangan kiri, sudah memukul dengan telapak tangan ke depan.

“Blukk! Aiihhhh...!” Laki-laki bertopi lebar itu terpukul dadanya dan muntahkan darah segar, akan tetapi masih berusaha membacokkan pedangnya ke arah lawan. Si Muka Kuda miringkan tubuh, goloknya menyambar ke depan dari samping.

“Crokk!” terdengar jerit mengerikan karena lengan kanan laki-laki bertopi lebar itu terbabat putus sebatas siku!

Maya menyaksikan semua itu tanpa berkedip. Kalau hanya pemandangan seperti itu saja, dahulu setiap hari dilihatnya ketika ia menjadi tawanan gerombolan Bhutan, bahkan yang lebih dari itu pun sudah ia anggap biasa! Akan tetapi yang mengherankan hati Maya, laki-laki bertopi lebar itu masih hidup, menggunakan lengan kirinya mengeluarkan sebuah amplop dan hendak memasukkan amplop ke mulutnya.

“Crass!” Kembali golok menyambar dan lengan kiri ini pun buntung sampai surat itu melayang dan disambar oleh tangan kanan Si Muka Kuda.

Laki-laki bertopi lebar itu mengeluh dan masih dapat mengeluarkan kata-kata terakhir sambil terengah-engah, “Siangkoan Lee... bunuh aku tapi... jangan ganggu... Khu-ciangkun...!” 

Terpaksa Maya membuang muka ketika melihat laki-laki bermuka kuda itu melangkah maju, mengayun golok dan... memenggal leher laki-laki bertopi lebar. Ia menoleh ke arah perwira Yucen yang sudah muncul sambil berkata, “Bawa kepalanya!”

Perwira Yucen ini dengan muka berseri girang menyambar rambut kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya, kemudian memuji. “Sungguh hebat bukan main kepandaianmu, Siangkoan-taihiap! Masih begini muda sudah memiliki kepandaian yang luar biasa! Raja kami tentu akan senang sekali mendengar pembongkaran rahasia Panglima Khu yang palsu ini!”

“Aku hanya menjalankan tugas. Marilah!” kata pemuda muka kuda yang bukan lain adalah Siangkoan Lee, bekas pelayan, murid, dan juga pembantu Panglima Suma Kiat. Dua orang itu lalu berjalan pergi, Siangkoan Lee membawa sampul surat yang dirampasnya, sedangkan perwira Yucen itu membawa kepala yang masih meneteskan darah itu.

Entah mengapa, hati Maya tertarik sekali dan perasaannya condong untuk membantu orang yang disebut Panglima Khu. Dia tidak tahu urusannya, hanya tahu bahwa laki-laki bertopi lebar tadi adalah utusan yang menghubungkan Panglima Khu dengan gurunya. Ia tahu pula bahwa Si Muka Kuda itu disebut pengkhianat dan bernama Siangkoan Lee. Dan alangkah kagum ia menyaksikan betapa laki-laki bertopi lebar itu dalam saat terakhir masih hendak melindungi Khu-ciangkun, dan bahkan hendak memusnahkan sampul suratnya!

Dia tidak mengerti apa artinya semua itu, namun sekali pandang saja dia merasa tidak suka bahkan membenci pemuda muka kuda dan bersimpati kepada Panglima Khu yang belum pernah dilihatnya. Karena itu, melihat dua orang itu melangkah pergi, diam-diam Maya mengikuti mereka dari jauh. Dia dapat menduga bahwa Panglima Khu terancam bahaya, entah bahaya apa, maka dia ingin melihat perkembangannya dan kalau mungkin dia akan memperingatkan Panglima Khu itu agar terlepas dari bahaya.

Mengapa Siangkoan Lee berada di tempat itu? Seperti kita ketahui, Siangkoan Lee adalah bekas pelayan yang menjadi murid Panglima Suma Kiat. Setelah putera tunggal Panglima itu, Suma Hoat, meninggalkan kota raja dan minggat karena patah hati, maka Siangkoan Lee merupakan satu-satunya murid yang amat dipercaya oleh Suma Kiat. Bahkan Siangkoan Lee ternyata memiliki kecerdikan luar biasa dan kini tanpa ragu-ragu lagi Suma Kiat menarik murid ini sebagai pembantunya dan diajak berunding dan mengatur siasat dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Peristiwa yang terjadi mengenai keluarga Thio di mana Menteri Kam Liong ikut campur menambah rasa dendam dan tidak suka di hati Suma Kiat, apa lagi karena urusan itu mengakibatkan puteranya patah hati dan pergi. Dia bersama sekutu-sekutunya dan dengan bantuan bangsa Yucen telah berhasil menghancurkan musuhnya yang nomor satu, yaitu keluarga Raja Khitan! Kini dia mulai mengintai dan ingin sekali menjungkalkan orang yang paling dibencinya akan tetapi juga paling ditakuti, yaitu Menteri Kam Liong!

Akhirnya berkat kelicinannya dan penyelidikan mata-matanya yang berani main sogok untuk membongkar rahasia, Suma Kiat dapat mendengar bahwa kepergian seorang panglima pembantu Menteri Kam Liong yang bernama Panglima Khu Tek San bukanlah ditugaskan menjaga tapal batas sebagaimana dikabarkan, melainkan diselundupkan memasuki istana Yucen dan memegang jabatan di sana sebagai orang yang dipercaya oleh Pemerintah Yucen. Padahal Khu-ciangkun ini melakukan pekerjaan mata-mata di Yucen, bekerja demi kepentingan Kerajaan Sung atau lebih tepat lagi, dia bekerja atas perintah gurunya, Menteri Kam Liong yang selalu menaruh kecurigaan atas pergerakan bangsa Yucen!

Demikianlah, Suma Kiat lalu menugaskan muridnya untuk menyelidiki hal itu dan mengusahakan agar supaya murid Menteri Kam Liong itu ketahuan dan dihukum mati! Terjadinya hal itu tentu akan memperuncing hubungan antara Yucen dan Sung, dan memang inilah yang dikehendaki Suma Kiat dan sekutunya, yaitu para bangsawan dan panglima yang tidak senang kepada kaisar dan sudah siap-siap untuk memberontak jika ada kesempatan.

Biar pun usianya masih muda, namun Siangkoan Lee ternyata dapat bekerja dengan baik sekali. Dia tidak mau begitu saja secara kasar menuduh Panglima Khu yang di Yucen amat dihormati sebagai seorang panglima gagah perkasa yang selalu ikut berperang membela Yucen. Dia harus dapat memperlihatkan bukti kepada Raja Yucen. Dia tahu bahwa kalau Panglima Khu bekerja sebagai mata-mata di Yucen, tentu ada satu cara dari panglima itu untuk mengirim berita tentang penyelidikannya itu kepada gurunya, Menteri Kam Liong.

Akhirnya, setelah melakukan penyelidikan secara tekun, dapatlah ia mengetahui bahwa memang ada seorang kurir yang menghubungkan guru dan murid itu. Dengan petunjuk seorang perwira Yucen, akhirnya Siangkoan Lee berhasil membunuh kurir, memenggal kepalanya dan merampas suratnya, kemudian dengan bekal dua tanda bukti ini berangkatlah dia ke perkemahan Raja Yucen yang kebetulan berada di tempat itu dalam operasi pembersihan. Ketika itu Raja Yucen disertai para panglima, di antaranya Panglima Khu yang dipercaya!

Akan tetapi, sungguh Siangkoan Lee tidak pernah mengira bahwa rencananya yang sudah diatur dengan masak dan dilakukan dengan sempurna itu terbentur karang berupa seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sama sekali tak diketahuinya telah menyaksikan semua perbuatannya! Bahkan dia tidak tahu ketika mereka sudah tiba di perkemahan di waktu malam gelap itu, Maya telah menyelinap melalui perkemahan.

Maya menjadi bingung. Bagaimana dia harus menyampaikan bahaya itu kepada Panglima Khu? Yang manakah Panglima itu dan di mana kemahnya? Apa boleh buat, dia harus berani menanggung bahayanya. Dengan langkah lebar ia menghampiri beberapa orang tentara yang menjaga. Tiga orang tentara itu tercengang keheranan ketika tiba-tiba dari tempat gelap muncul seorang anak perempuan yang begitu cantik dan bersikap begitu tabah dan berani. 

“Eh, kau siapakah?” 

“Aku adalah keponakan dari Khu-ciangkun. Harap kalian sudi mengantar aku kepada Khu-ciangkun, nanti kumintakan hadiah dari Paman Khu untuk kalian.”

Tiga orang anggota tentara Yucen itu saling pandang. Mereka terheran-heran dan ragu-ragu. Panglima Khu adalah seorang di antara para panglima Yucen yang gagah perkasa dan dipercaya oleh Raja. Memang semua orang tahu bahwa panglima itu berdarah Han, akan tetapi sepak terjangnya sudah membuktikan kesetiaannya terhadap Kerajaan Yucen.

Kini tiba-tiba muncul seorang anak perempuan mengaku keponakannya! Kalau mereka menolak dan mengusir bocah ini, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa anak ini betul keponakan panglima gagah itiu? Tentu mereka akan celaka! Akan tetapi, kalau membawa anak ini menghadap Panglima Khu, andai kata anak itu membohong, tentu anak ini yang akan dicambuk! Mereka tidak percaya bahwa di dalam hutan pegunungan itu tiba-tiba saja muncul seorang keponakan dari Panglima Khu.

Akan tetapi segera mereka berkata, “Baiklah, Nona kecil. Akan tetapi kalau engkau membohong, jangan bertanya tentang dosa lagi. Engkau akan dihukum mati!”

Apa boleh buat, pikir Maya. Dia beriktikad baik, menolong Panglima Khu. Tidak mungkin kalau pamrih baik dibalas hukuman mati. “Baik, antar aku kepada Khu-ciangkun!”

Tiga orang tentara itu membawa Maya ke sebuah kemah yang besar di mana terdapat dua orang penjaga. Mereka menceritakan bahwa anak ini mengaku keponakan Khu-ciangkun dan minta diantar menghadap. 

“Hemm, kalian mencari penyakit,” kata dua orang penjaga. “Akan tetapi, masuklah. Ciangkun sedang duduk sendiri, kalau kalian dimaki jangan bersambat kepada kami.”

Maya diajak masuk dan ketika Maya melihat seorang laki-laki berpakaian panglima yang berusia empat puluhan tahun, bersikap gagah sekali, dia tidak meragu lagi pasti itulah Panglima Khu. Maka ia lalu berlari ke depan menjatuhkan diri dan berlutut dan berkata, “Paman Khu... saya mohon bicara empat mata dengan Paman mengenai surat bersampul kuning dan laki-laki bertopi lebar!”

Mula-mula panglima itu terkejut dan mengerutkan alis melihat tiga orang prajurit memasuki kemahnya membawa seorang dara kecil yang cantik, akan tetapi ketika ia mendengar ucapan gadis itu, berubahlah sikapnya. “Pergilah!” katanya kepada tiga orang prajurit sambil melempar beberapa mata uang ke arah mereka. “Dan terima kasih sudah mengantar keponakanku ke sini!”

Diam-diam Maya kagum sekali atas kecepatan jalan pikiran panglima itu. Setelah tiga orang prajurit yang kegirangan tadi menerima hadiah dan pergi, Maya lalu bangkit berdiri dan menghampiri panglima itu sambil bertanya, “Engkau tentu Khu-ciangkun, bukan?”

“Anak baik, engkau siapakah dan apa artinya kata-katamu tadi? Duduklah. Aku memang benar Khu-ciangkun.” Perwira itu memegang tangan Maya dan menariknya duduk di atas bangku di dekatnya sambil memandang wajah jelita itu penuh selidik. Bukan anak sembarangan, pikirnya.

“Ketahuilah, kalau engkau seorang Panglima Yucen benar-benar, aku tidak akan sudi menolongmu, malah lebih senang melihat engkau mampus! Akan tetapi karena engkau panglima palsu dan tentu engkau memusuhi Yucen, aku bersedia menolongmu.”

Terbelalak mata panglima itu. “Apa maksudmu?” Ia berbisik dan menoleh ke luar kemah. “Bicara perlahan.”

Maya juga cerdik dan tahu bahwa percakapan mereka ini sama sekali tidak boleh didengar orang lain, maka ia lalu berkata, “Aku adalah Puteri Maya, puteri Raja dan Ratu Khitan yang sudah hancur oleh bangsa Yucen! Dan engkau adalah panglima palsu, utusanmu orang bertopi lebar yang membawa sampul kuning itu telah terbunuh, kepalanya dan sampul suratnya dibawa oleh seorang yang bernama Siangkoan Lee. Kau akan dilaporkan....”

“Cepat! Kita harus pergi dari sini, sekarang juga!” Panglima itu dengan gerakan cepat dan kuat telah menyambar tubuh Maya dan dipondongnya. 

“Engkau pergilah, aku... biar aku lari sendiri!” 

“Tidak. Paduka harus saya selamatkan! Harus!” Panglima itu berkata dengan hati penuh keharuan dan ketegangan.

Sungguh mimpi pun tidak dia akan bertemu dengan puteri Raja Khitan seperti itu! Raja Khitan adalah adik tiri gurunya, jadi anak perempuan ini adalah keponakan gurunya sendiri yang harus dia selamatkan! Rahasianya sudah diketahui orang, entah secara bagaimana karena dia tidak mengenal siapa yang bernama Siangkoan Lee itu. Akan tetapi, lebih hebat lagi kalau mereka tahu bahwa anak perempuan ini adalah puteri Kerajaan Khitan! Tentu akan celaka sekali. 

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi terompet tanduk ditiup gencar. Mendengar ini, wajah panglima itu berubah. “Terlambat...! Paduka... jangan mengaku sebagai Puteri Khitan, tetap mengaku keponakan... keponakan seorang wanita Khitan yang kuambil selir. Mengerti?”

Maya membelalakkan mata akan tetapi mengangguk-angguk. Diam-diam ia kagum dan berterima kasih. Keputusan hatinya untuk menolong panglima ini ternyata tidak sia-sia! Panglima ini seorang yang gagah perkasa, yang dalam saat berbahaya itu lebih mementingkan keselamatannya dari pada keselamatan sendiri!

Dengan langkah tenang sambil menggandeng tangan Maya, Panglima Khu berjalan ke luar dan menuju ke perkemahan besar di mana semua panglima sudah hadir menghadap Raja Yucen karena bunyi terompet tanduk tadi adalah tanda panggilan mendadak oleh Raja kepada pangeran, panglima dan perwira. Dengan sudut matanya Khu-ciangkun melihat betapa tempat itu sudah dikurung oleh pasukan besar yang siap dengan senjata mereka, juga pasukan anak buahnya sendiri sehingga diam-diam ia mengerti bahwa keadaan amat berbahaya. Agaknya Raja yang telah mengetahui rahasianya telah siap menangkapnya. Biarlah ia berkorban nyawa untuk negara, akan tetapi kalau memikirkan Maya yang digandengnya, dia menjadi bingung!

Para panglima telah siap semua berkumpul di depan kemah Sri Baginda, menanti Sang Raja keluar. Dan mereka itu memandang heran kepada Khu-ciangkun yang datang menggandeng seorang anak perempuan cantik.

“Keponakan... selirku!” jawab panglima ini pendek ketika rekan-rekannya bertanya sehingga di sana-sini terdengar suara ketawa. 

Akan tetapi, mereka semua menjadi diam dan bersikap menghormat ketika terdengar suara terompet dari dalam kemah, tanda bahwa Raja akan keluar dan persidangan darurat dimulai. Tempat di depan kemah itu telah menjadi terang-benderang oleh obor-obor yang di nyalakan para prajurit pengawal. Raja keluar dari kemah dengan... menunggang kuda! Memang Raja Yucen lebih suka duduk di atas kuda kalau menghadapi para panglimanya dan bangsa Yucen merupakan bangsa yang paling ahli berperang di atas kuda. Di belakang Raja tampak seorang laki-laki bermuka kuda, membawa sebuah bungkusan.

“Khu-ciangkun...!” Tiba-tiba Raja berseru keras memanggil.

“Hamba siap!” Khu-ciangkun melangkah maju dan berlutut dengan sebelah kakinya dengan sikap gagah dan hormat. Maya terpaksa ditinggalkannya di belakang dan anak itu memandang dengan hati tegang. 

“Khu-ciangkun! Selama ini aku percaya kepadamu sebagai seorang panglima yang setia. Siapa kira ternyata engkau adalah seorang mata-mata dari Kerajaan Sung!”

Semua panglima saling pandang, dan terdengar suara mereka berisik sekali karena tuduhan ini benar-benar amat hebat!

“Ampun, Tuanku, akan tetapi tuduhan yang tidak ada buktinya merupakan fitnah keji,” Khu-ciangkun menjawab dengan suara tenang.

“Fitnah, ya?” Raja membentak dan memberi tanda kepada pemuda bermuka kuda itu yang segera membuka kantung dan melemparkan sebuah benda di atas tanah. Benda itu adalah kepala orang!

Semua orang memandang dengan muka berubah dan hati tegang, dan Raja berkata lagi, “Orang she Khu! Kau tentu mengenal orang ini, kurir yang menghubungkan engkau dengan gurumu di Kerajaan Sung! Engkau adalah murid dari Menteri Kam Liong. Hayo mengaku!”

Khu-ciangkun tetap tenang. “Yang penting adalah bukti, Tuanku. Bisa saja ditunjukkan bahwa orang yang mempunyai kepala ini adalah utusan hamba, akan tetapi apakah buktinya, Tuanku?”

”Bukti lagi? Lihat ini! Surat Menteri Kam Liong untukmu, keparat!” Raja itu mengeluarkan sebuah sampul kuning dari sakunya, mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang dapat melihatnya. 

Akan tetapi, dalam suasana yang amat tegang itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah pasukan Yucen yang dipimpin oleh empat orang panglima gagah berkuda dan mereka ini menyeret tubuh dua orang anak yang meronta-ronta! 

Apakah yang telah terjadi? Siapakah dua orang bocah yang ditawan oleh pasukan Yucen itu? Mereka itu bukan lain adalah Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa, dua orang murid Mutiara Hitam dan suaminya. Bagaimanakah mereka dapat tertawan pasukan Yucen?

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Mutiara Hitam Kam Kwi Lan dan suaminya, Pek-kong-to Tang Hauw Lam, bersama kedua orang muridnya itu, setelah mendengar akan kehancuran Khitan dan tewasnya raja dan ratu lalu bermaksud mengejar pasukan yang mengantarkan Maya ke Gobi-san. Karena pengejaran itu dimaksudkan untuk melindungi keselamatan Puteri Maya, dan karena mereka tidak tahu jalan mana yang diambil oleh pasukan yang sudah pergi lebih dulu sebulan lebih, maka mereka melakukan perjalanan lambat sambil bertanya-tanya tentang jejak mereka.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa tidak sabar menyaksikan perjalanan lambat kedua orang guru mereka, maka sering kali kedua orang murid ini mendahului guru-guru mereka yang melakukan penyelidikan setelah memberi tahu bahwa mereka berdua akan mendahului ke atas bukit di depan atau padang rumput di depan. 

Pada sore hari itu, kembali dua orang anak itu mendahului guru-guru mereka berlari-lari di padang rumput yang luas. Tiba-tiba muncullah pasukan Yucen yang mengurung mereka sambil tertawa-tawa. Dua orang bocah itu berpakaian seperti orang Han dan tentu saja bangsa Yucen yang di dalam hatinya memusuhi orang-orang selatan ingin mempermainkan dua orang anak ini.

”Heh-heh-heh, dua ekor anjing cilik, berlututlah kalian dan minta ampun kepada tuan-tuan besarmu, baru kami akan melepaskan kalian!” berkata seorang di antara para panglima Yucen yang menunggang kuda.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa adalah anak-anak yang sejak kecil sudah menerima gemblengan ilmu silat tinggi. Selain berani dan berkepandaian, juga mereka ini mengandalkan nama besar kedua orang gurunya, terutama sekali nama besar ibu gurunya. Siapa berani mengganggu mereka?

“Kalian ini berandal dari mana berani mengganggu kami? Pergilah sebelum kami berdua turun tangan tidak memberi ampun lagi!” bentak Can Ji Kun sambil bertolak pinggang.

Juga Ok Yan Hwa bertolak pinggang sambil membentak. “Sungguh tak tahu diri, berani mengganggu anak naga dan harimau!”

Dua orang anggota pasukan itu tertawa-tawa dan menghampiri Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa. “Ha-ha-ha, engkau anak naga, ya? Heh-heh, apakah kalian ini sudah gila?” Seorang di antara mereka menghampiri Can Ji Kun.

“Wah, yang ini biar pun masih belum dewasa sudah cantik sekali!” Tentara ke dua menghampiri Ok Yan Hwa, tertawa-tawa dan hendak mencolek pipi gadis cilik itu.

Tiba-tiba dua orang anak itu menerjang ke depan. Terdengar teriakan-teriakan keras dan dua orang anggota pasukan itu roboh sambil mengaduh-aduh karena dada mereka seperti pecah rasanya dihantam oleh dua orang anak-anak itu!

Terkejutlah semua pasukan, terkejut dan marah. Mereka sudah akan turun tangan mengeroyok dan membunuh, akan tetapi empat orang panglima berseru, “Jangan bunuh! Biarkan kami menangkap harimau-harimau cilik ini dan menyeret mereka ke hadapan Sri Baginda. Siapa tahu mereka ini ada gunanya kelak!”

Setelah berkata demikian, empat orang itu mengeluarkan tali panjang yang melingkar-lingkar di lengan kiri mereka. Ujung tali itu dibuat semacam lasso dan kini mereka berempat yang menunggang kuda mengurung Ji Kun dan Yan Hwa, tali mereka makin lama makin panjang tetap diputar-putar. Dua orang anak itu siap menghadapi lawan, akan tetapi mereka bingung ketika dikurung empat ekor kuda dan memandang tali berujung lasso yang diputar-putar.

Tiba-tiba sebuah lasso menyambar ke arah kepala Yan Hwa. Dara cilik ini cepat mengelak dan ketika lasso itu mengejarnya, ia menggulingkan tubuh ke atas tanah. Luput! Para pasukan bersorak memuji. Juga Ji Kun dapat menghindarkan diri dengan gerakan gesit sekali ketika ada tali lasso menyambar. Bahkan sampai berkali-kali tali-tali lasso beterbangan menyambar ke arah mereka, namun dengan lincah sekali dua orang anak itu tetap dapat mengelak. 

Empat orang Panglima Yucen ini menjadi penasaran sekali. Mereka lalu berpencar menjadi dua rombongan dan mengeroyok setiap anak dengan lasso mereka. Kini repotlah dua orang anak kecil itu dan tak lama kemudian tubuh mereka telah terikat dan tertangkap! Dua orang panglima memegangi lengan setiap anak dan mengangkat tubuh anak itu di antara kuda mereka yang dilarikan sehingga tergantunglah tubuh Ji Kun dan Yan Hwa, dibawa membalap pergi! Mereka tidak sudi berteriak minta tolong, hanya memaki-maki dan meronta-ronta. 

Sikap dua orang anak inilah yang menolong mereka sendiri. Kalau saja mereka berdua tidak memperlihatkan sikap yang berani luar biasa, tentu mereka dianggap anak-anak biasa dan sudah dibunuh. Kini para panglima itu menjadi curiga, maka mereka tidak membunuh kedua orang anak itu dan merasa perlu menghadapkan kedua orang anak luar biasa itu kepada raja yang kebetulan berada di perkemahan. 

Sementara itu, Khu Tek San yang melihat bahwa bukti bagi kesalahannya sudah cukup dan bahwa dia tidak dapat menyelamatkan diri lagi, bersikap tenang dan mengambil keputusan untuk mengorbankan dirinya dan tidak menyeret orang lain dalam pekerjaannya memata-matai Yucen. Yang terpenting sekarang adalah berusaha menyelamatkan diri Puteri Maya dan menyuruh puteri Kerajaan Khitan itu pergi ke selatan menghadap Menteri Kam Liong dan menyampaikan berita tentang kematiannya.

Ketika melihat keributan dengan datangnya panglima-panglima yang menyeret dua orang anak itu, Khu Tek San cepat berbisik kepada Maya, “Engkau larilah sekarang, cepat!”

Akan tetapi Maya menggeleng kepala. “Aku hanya mau lari kalau bersama engkau!” 

Panglima she Khu itu memandang penuh kagum. Benar-benar patut menjadi puteri Raja Khitan, cucu Suling Emas, pikirnya. Masih begini kecil sudah kenal apa artinya budi dan kegagahan! Tiba-tiba Panglima Khu dikejutkan oleh suara dua orang anak kecil yang diseret itu.

Yang perempuan berkata galak. “Tidak peduli engkau ini Raja Yucen atau Raja Akhirat, kalau tidak segera membebaskan kami, tentu akan mampus!”

“Guru kami, pendekar wanita sakti Mutiara Hitam dan suaminya, pendekar Golok Sinar Putih, tentu akan membalas dendam!” kata anak laki-laki, sikap mereka berdua sedikit pun tidak takut dihadapkan pada Raja Yucen.

Tentu saja Khu Tek San terbelalak memandang ke arah dua orang anak itu. Bagaimana bisa terjadi hal yang begini kebetulan secara berturut-turut? Pekerjaan rahasianya terbongkar, muncul Puteri Maya, dan kini tahu-tahu muncul pula dua orang anak yang mengaku murid Mutiara Hitam! Mutiara Hitam adalah adik kembar Raja Khitan, jadi adik tiri suhunya pula, karena itu bukan hanya Maya yang harus diselamatkan, melainkan juga dua orang bocah itu!

“Apa pun yang terjadi, aku harus berusaha menyelamatkan mereka,” bisik Khu Tek San kepada Maya. “Kau larilah dalam keributan ini!”

Tanpa menanti jawaban, tiba-tiba Panglima Khu ini menggerakkan tubuhnya, melayang ke depan, ke arah dua orang anak itu. Cepat bagaikan seekor garuda menyambar, dia menerjang empat orang panglima muda yang memegangi dua orang bocah itu. Mereka ini terkejut, tahu akan kelihaian Khu-ciangkun, maka mereka mundur dan mencabut senjata. Kesempatan itu dipergunakan oleh Tek San untuk menyambar tangan Can Ji Kun, anak laki-laki itu.

Ketika ia hendak menolong Ok Yan Hwa, terdengar bocah itu membentak. “Budak cilik! Aku tidak butuh pertolonganmu!”

Tek San cepat menengok dan melihat betapa Maya sudah berada di situ pula, tadi menyambar tangan Yan Hwa dan ditarik mendekatinya. Ia merasa makin kagum. Kiranya Puteri Khitan ini tidak melarikan diri dalam keributan seperti yang dipesankannya, malah menyusulnya meloncat ke depan untuk menolong dua orang murid Mutiara Hitam! 

Keadaan menjadi geger. “Kurung...! Tangkap...!” Raja Yucen berteriak marah sekali.

Tek San bersama tiga orang anak itu dikurung rapat oleh pasukan panglima yang telah menghunus senjata. Tek San menjadi khawatir sekali. Dia tidak takut mati di tangan musuh-musuh ini, akan tetapi bagaimana ia dapat menyelamatkan tiga orang anak itu?

“Sri Baginda Yucen...!” Ia berteriak lantang. “Aku Khu Tek San sebagai seorang laki-laki sejati telah mengaku kedosaanku terhadap Kerajaan Yucen dan aku siap menerima hukuman mati dengan mata terbuka! Akan tetapi, tiga orang anak kecil ini tidak mempunyai dosa, kuharap sukalah Paduka membebaskannya! Kalau tidak, terpaksa aku memberontak dan biar pun kami berempat akan mati, namun kami pun akan menyeret nyawa beberapa orang pengawalmu!”

Raja Yucen yang sudah marah sekali kembali membentak. “Tangkap dia hidup-hidup! Tangkap Si Pengkhianat ini dan tiga orang anak iblis itu!”

Tek San yang mengambil keputusan untuk melindungi tiga orang anak itu dengan nyawanya, mulai siap menghadapi pengeroyokan para panglima yang mengurungnya. Ia menjadi kagum sekali dan tak dapat menahan senyumnya ketika melihat bahwa tiga orang anak itu pun telah bersiap-siap dengan pasangan kuda-kuda yang tangguh, membelakanginya sehingga mereka berempat beradu punggung menghadap ke empat penjuru!

Bukan main, pikirnya penuh kagum. Murid-murid dan keturunan Suling Emas benar-benar merupakan anak-anak yang telah memiliki kegagahan luar biasa. Masih sekecil itu, menghadapi bahaya maut tidak menjadi gentar dan putus asa, melainkan hendak membela diri dengan gagah dan mati-matian!

Keadaan sudah menegangkan sekali. Pengurungan makin ketat dan sudah dapat dibayangkan bahwa betapa pun gagahnya Khu Tek San murid menteri Kam Liong, namun menghadapi begitu banyaknya panglima, perwira dan prajurit Yucen, tentu dia takkan menang.

“Tahannnn...!” tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan semua orang.

Lengking nyaring ini disusul berkelebatnya dua sosok bayangan yang sukar dilihat saking cepatnya. Hanya terdengar ribut-ribut ketika sesosok bayangan menyambar ke atas kuda yang diduduki Raja Yucen dan bayangan ke dua menyambar ke arah dua orang panglima tinggi yang berada di sebelah kanan raja. Hanya terdengar suara gedebukan dan suara “ah-uh-ah-uh” disusul melayangnya tubuh Raja Yucen dan dua orang panglima tinggi itu ke atas batu besar yang berada di dekat kemah! Tentu saja semua pasukan menjadi terkejut dan mengalihkan perhatiannya dari Tek San dan tiga orang bocah itu.

“Suhu...!” Ji Kun berteriak girang. 

“Subo...!” Yan Hwa juga bersorak. 

Ketika obor-obor diangkat tinggi dan semua orang memandang, ternyata di atas batu besar itu telah berdiri seorang wanita gagah perkasa dan cantik jelita yang menelikung lengan Raja ke belakang tubuh dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka mengancam tengkuk. Di sampingnya seorang laki-laki gagah mencengkeram pundak dua orang panglima tinggi itu, siap untuk membenturkan dua buah kepala itu, sikapnya tenang dan laki-laki ini tersenyum-senyum lebar.

“Bebaskan dua orang murid kami, kalau tidak, Raja Yucen kubunuh!” Wanita yang bukan lain adalah Mutiara Hitam itu membentak.

“Ha-ha-ha, kehilangan murid masih mudah mencari gantinya. Kalau kalian kehilangan Raja, wah, berabe juga!” Laki-laki di samping Mutiara Hitam itu berkata sambil tertawa. “Dan penukaran ini sudah cukup menguntungkan bagi kalian. Coba saja, dua orang murid kami ditambah orang gagah dan anak perempuannya yang berusaha menolong, baru empat jiwa. Kami tukar dengan dua puluh tiga jiwa! Wah, kami sudah banyak mengalah!”

Raja Yucen dapat menduga bahwa dia terjatuh ke tangan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang terkenal, maka dia tidak berani main-main. Akan tetapi, mendengar laki-laki yang agaknya suami Mutiara Hitam itu bicara tidak karuan, dia mendongkol juga. “Hemm, kalian hanya menawan kami tiga orang, mana yang dua puluh orang lagi?”

“Ha-ha-ha, Sri Baginda. Yang dua puluh adalah panglima-panglima Sri Baginda yang tentu akan tewas di tangan kami kalau penukaran ini tidak berhasil. Sekarang untuk sementara, kami titipkan nyawa mereka kepada tubuh masing-masing sambil menanti penukaran ini!” jawab Pek-kong-to Tang Hauw Lam seenaknya.

“Bebaskan mereka!” Raja Yucen menghardik dengan muka merah saking marahnya.

Mereka yang tadinya mengurung Tek San dan tiga orang anak itu mundur dengan kecewa. 

“Ji-kun! Yang Hwa! Naik ke sini!” Mutiara Hitam berteriak.

Dua orang muridnya lalu meloncat dan dengan gerakan indah serta ringan mereka melayang ke atas batu besar. Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa Maya telah mendahului mereka dengan loncatan yang lebih cepat lagi! 

“Apakah engkau Bibi Kam Kwi Lan yang berjuluk Mutiara Hitam?” Maya bertanya kepada Mutiara Hitam sambil memandang penuh kagum.

Mutiara Hitam yang masih menodong Raja Yucen, juga terheran-heran menyaksikan bocah perempuan yang memiliki gerakan demikian ringannya, mengalahkan kedua orang muridnya. “Siapa engkau? Dan siapakah orang gagah di bawah itu?”

Tek San juga melompat ke atas batu besar lalu menjura dengan hormat. “Teecu Khu Tek San murid Suhu Kam Liong memberi hormat kepada Sukouw (Bibi Guru) dan Paman Guru berdua dan berterima kasih atas pertolongan Ji-wi.” 

“Ahhh...!” Mutiara Hitam tercengang dan juga girang mendengar bahwa laki-laki perkasa yang tadi berusaha menolong murid-muridnya adalah murid kakaknya sendiri!

“Dan bocah ini...?”

“Dia adalah keponakan Sukouw sendiri, Puteri Maya...!”

“Aihhh...!” Seruan Mutiara Hitam ini mengandung isak tertahan dan tangan kanannya meraih kepala Maya. Dipeluknya anak itu sejenak, sedangkan tangan kirinya masih ‘menelikung’ Raja Yucen.

“Heeiii! Mutiara Hitam, lepaskan kami! Bukankah kami sudah membebaskan Khu-ciangkun dan tiga orang bocah itu?”

“Nanti dulu, Sri Baginda. Kami belum aman. Anakku, Maya, marilah engkau ikut bersama bibimu.”

Akan tetapi Maya berpendirian lain. Begitu bertemu dengan dua orang murid bibinya, dia merasa tidak suka. Mereka itu berwatak angkuh! Dan dia sudah merasa kagum dan suka sekali kepada Khu Tek San, maka ia menggeleng kepala dan berkata, “Terima kasih, Bibi. Akan tetapi aku ingin pergi bersama Khu-ciangkun!”

Mutiara Hitam menghela napas panjang. Dia adalah seorang wanita gagah perkasa yang tidak suka cerewet. Sekali mengambil keputusan tidak dirubah lagi, dan sekali mendengar keputusan keponakannya, tidak banyak berbantah lagi. Hatinya masih tetap keras dan angkuh. 

“Baiklah, Maya. Engkau ikut dengan Khu-ciangkun dan menghadap Pek-hu-mu (Uwamu) Kam Liong pun sama saja. Nah, Khu-ciangkun, pergilah dulu bawa Maya ke selatan. Kami yang tanggung bahwa orang-orang Yucen tidak akan mengganggu perjalanan kalian.”

Khu Tek San memberi hormat, kemudian menggandeng tangan Maya sambil berkata, “Marilah kita pergi!”

Keduanya melompat turun dari batu besar itu dan berlari pergi. Tidak ada seorang pun yang berani menghalang. Akan tetapi Khu Tek San yang mencari-cari dengan matanya, tidak melihat adanya pemuda muka kuda yang tadi muncul bersama Raja Yucen, pemuda yang menurut Maya bernama Siangkoan Lee dan yang membunuh kurirnya.

Setelah menanti agak lama sehingga ia merasa yakin betul bahwa Khu Tek San dan Maya sudah pergi jauh, Mutiara Hitam melepaskan lengan Raja Yucen, juga suaminya melepaskan pundak kedua orang panglima tinggi yang sama sekali tak mampu bergerak ketika dicengkeramannya tadi.

Mutiara Hitam menjura kepada raja itu dan berkata, “Harap Sri Baginda maafkan kami. Kalau menurutkan nafsu hati, agaknya Paduka sudah kami bunuh mengingat akan tewasnya kakakku Raja Khitan di tangan kalian...”

“Ahhhh, tuduhan keji itu!” Raja Yucen membentak marah. “Raja Khitan dan kami pada saat terakhir berjuang bahu-membahu menghadapi gelombang serbuan bangsa Mongol sampai Raja Khitan gugur! Bukan kami yang membunuhnya!”

Mutiara Hitam dan suaminya saling pandang, kemudian Mutiara Hitam berkata, ”Siapa pun yang membunuhnya, kakakku ini gugur dalam perang maka saya pun tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Akan tetapi, kami tidak menanam permusuhan dengan siapa pun juga, dengan Raja Yucen pun tidak, maka harap saja Sri Baginda tidak melanjutkan sikap memusuhi kami dan memerintahkan kepada anak buah Paduka agar kelak tidak lagi mengganggu kami.”

Raja itu bersungut-sungut. “Musuh kami hanya negara lain, bukan perorangan. Apa untungnya bermusuhan dengan Mutiara Hitam? Asal engkau tidak mengganggu keamanan di wilayah kami, perlu apa kami memusuhimu?”

“Bagus, dengan demikian kita sudah saling mengerti. Nah, selamat tinggal, Sri baginda, dan maaf sekali lagi!” Mutiara Hitam menyambar tangan Yan Hwa sedangkan suaminya menggandeng tangan Ji Kun, kemudian mereka berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam. 

“Sialan!” Raja Yucen membanting-banting kaki. “Turunkan aku...! Goblok kalian semua begini banyak orang tak berguna menghadapi dua orang saja! Aku harus menegur Raja Sung! Tidak patut memata-matai kerajaan sahabat sendiri! Apa-apaan ini? Kalau tidak ada penyelesaian yang memuaskan, kugempur wilayah Sung!” Raja itu mencak-mencak dan marah-marah.

Karena sudah bertemu dengan keponakannya, Puteri Maya, maka Mutiara Hitam dan suami serta murid-murid tidak melanjutkan perjalanan ke Gobi-san dan mereka lalu kembali ke puncak Gunung Yin-san di mana terdapat sebuah goa besar yang pernah mereka pergunakan sebagai tempat tinggal. Melihat betapa pergolakan dan perang antara suku-suku di utara masih terjadi di mana-mana, Mutiara Hitam ingin mengasingkan diri saja di Yin-san agar dia dan murid-muridnya tidak terlibat. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hati Mutiara Hitam ketika ia dan suaminya bersama dua orang muridnya tiba di depan goa di puncak Yin-san, dan melihat seorang kakek dan nenek hidung mancung telah menempati goa itu dan kini menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek.

“Kalian siapakah? Mau apa di sini?” Mutiara Hitam membentak sambil memandang tajam. Karena sekali pandang saja ia dapat mengenal laki-laki dan perempuan itu sebagai bangsa India atau Nepal, maka dia menegur dalam bahasa India.

Kakek tinggi kurus berkulit hitam arang itu tertawa. “Ha-ha-ha, selamat datang, Mutiara Hitam! Beberapa tahun yang lalu, pernah kita saling jumpa di pondok guru kami!”

Tang Hauw Lam menepuk dahinya, memandang kepada isterinya dan berseru, “Wah-wah-wah, bukankah kalian ini murid tukang membuat senjata yang berkaki pincang itu? Kalian murid-murid pertapa Naragita di Himalaya, bukan?”

Mutiara Hitam teringat dan dia bertukar pandang dengan suaminya, mata mereka sejenak berseri dan Mutiara Hitam berkata, “Aihh, kebetulan sekali!”

“Heh-heh-heh!” Nenek India yang bernama Nila Dewi terkekeh. “Memang kebetulan bagi kami, akan tetapi tidak kebetulan bagimu, Mutiara Hitam!”

Mutiara Hitam mengerutkan alisnya, wajahnya berubah dingin dan dia berkata, “Kami sudah mengenal guru kalian, akan tetapi tidak tahu siapa nama kalian?”

“Aku Nila Dewi dan dia ini Mahendra,” jawab Si Nenek India.

“Maksud kedatangan kalian?” 

Melihat sikap dingin penuh ancaman dari Mutiara Hitam ini, kakek India itu lalu berkata, “Wah, kami melihat sepak terjangmu ketika engkau membuat Raja Yucen tidak berdaya, Mutiara Hitam. Kami kagum bukan main! Makin tua Mutiara Hitam makin hebat saja, benar-benar seperti mutiara tulen, makin tua makin mengkilap!”

“Mahendra, tidak perlu banyak menjilat. Katakan saja terus terang, mau apa kalian datang dan agaknya mengambil tempat kami?”

Mahendra tertawa, akan tetapi ketawanya ini agak dipaksakan untuk menutupi rasa gentarnya terhadap wanita sakti itu. “Mutiara Hitam, di depan Raja Yucen, suamimu mengatakan bahwa kehilangan murid mudah mencari gantinya. Memang benarkah begitu? Banyak sekali calon-calon murid baik di dunia ini, akan tetapi selain jarang ada pengganti raja, juga jarang bisa mendapatkan tempat tinggal begini nyaman dan enak seperti goa di puncak ini!”

Mutiara Hitam mengerutkan sepasang alisnya lalu digerak-gerakkan. Tidak suka ia mendengar ucapan plintat-plintut direntang panjang itu. “Mahendra, jangan seperti penjual obat, katakan kehendak kalian!”

“Mutiara Hitam, kami mencontoh perbuatanmu terhadap Raja Yucen. Kami mendahului kalian menduduki tempat ini dan hanya akan kami kembalikan kepadamu kalau kalian suka menukar tempat ini dengan....” Dua orang India itu tertawa-tawa dan memandang kepada Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa! 

“Tukar apa? Hayo katakan jangan banyak tingkah!” Mutiara Hitam membentak. 

“Ditukar dengan dua orang muridmu. Bukankah suamimu bilang bahwa kehilangan murid mudah dicari gantinya dan...” 

“Wah-wah-wah, Mahendra benar-benar pandai membadut dan pandai bicara sekarang! Eh, Hitam Jangkung! Kau katakan, kalau kami tidak mau memberikan murid-murid kami, lalu bagaimana?” Tang Hauw Lam bertanya sambil tertawa.

“Kami pun tidak memberikan tempat ini!” jawab Mahendra dan bersama Nila Dewi dia lalu siap menjaga di depan goa.

Mutiara Hitam dan suaminya pernah mendengar akan praktek-praktek keji yang dilakukan orang-orang segolongan pertapa Himalaya yang bernama Naragita itu, yaitu penghayatan ilmu hitam yang membutuhkan pengorbanan darah dan jiwa anak-anak yang bertulang baik seperti dua orang murid mereka itu. Akan tetapi Mutiara Hitam dan suaminya masih bersabar.

Setelah saling pandang dan bermufakat dalam sinar mata mereka, Mutiara Hitam lalu berkata, “Nila Dewi dan Mahendra, orang-orang macam kita tidak menyelesaikan urusan dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan. Nah, coba kalian kalahkan kami. Kalau kami kalah, biarlah kami tidak akan merintangi murid-murid kami kalian bawa.”

“Bagus! Ini namanya ucapan orang gagah! Mutiara Hitam, kami makin kagum saja kepadamu,” kata Mahendra. “Dan kami berjanji, kalau kami kalah, kami akan mengembalikan tempat ini kepadamu dan pergi tanpa banyak ribut lagi.”

“Enak saja kau bicara, Mahendra. Tempat ini memang tempat kami, kami yang menemukan, membersihkan dan membetulkan. Kalau kalah kami mempertaruhkan murid, akan tetapi kalau kalian kalah, kalian juga harus mengorbankan sesuatu.” 

“Apa?” Nila Dewi menjerit. “Kau menghendaki nyawa kami?” 

“Bodoh! Kami tidak haus darah seperti kalian. Kalau kalian kalah, kalian harus membuatkan sepasang pedang untuk kami, sepasang pedang dari logam yang kutemukan di gunung dalam perjalanan dari barat dahulu. Hanya kalian saja yang agaknya dapat membuatkan pedang dari logam itu untuk kami, karena tukang-tukang pandai besi yang kami temui semua menyatakan tidak sanggup.”

Mahendra tertawa. “Wah, hebat logam itu, makin menarik! Baiklah, taruhan itu malah menyenangkan kami. Nah, bagaimana pertandingan ini diatur?”

Mutiara Hitam tersenyum. Dia tahu bahwa dua orang ini lihai sekali dan biar pun suaminya memiliki ilmu yang tinggi, akan tetapi ia khawatir kalau-kalau suaminya akan salah tangan melukai atau membunuh lawan. Hal ini tidak ia kehendaki karena selain tidak ingin menanam permusuhan dengan orang India ini, juga dia membutuhkan tenaga mereka.

“Kita tidak saling bermusuhan dan pertandingan ini merupakan pertandingan yang ada taruhannya, maka harus satu kali berhasil menentukan siapa kalah siapa menang. Dari pihak kami, aku sendiri yang akan maju menjadi jago, dan aku akan menghadapi jago kalian dengan tangan kosong!”

Mahendra dan Nila Dewl saling pandang. Mereka maklum akan kelihaian Mutiara Hitam, akan tetapi kalau hanya maju dengan tangan kosong, apa yang perlu ditakuti? Mahendra berkedip kepada Nila Dewi, lalu mencabut sepasang pisau belati melengkung yang mengeluarkan sinar gemerlapan sambil meloncat maju.

“Akulah jago pihak kami, Mutiara Hitam! Berani engkau menghadapi sepasang senjataku dengan tangan kosong?”

“Seorang gagah tidak akan menarik kembali janjinya. Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong, Mahendra. Nah, bersiaplah engkau!” Mutiara Hitam meloncat maju ke atas batu di depan goa dan mereka berhadapan.

Orang India yang bertubuh tinggi kurus dan berkulit hitam itu menekuk kedua lututnya, merendahkan diri dan kedua tangannya dipentang lebar, pisau belati digenggam erat-erat dengan mata pisau menghadap ke luar. Ketika ia menggoyang kedua pisaunya, sinar matahari yang menimpa permukaan pisau itu menyorot ke depan menyilaukan mata.

“Sepasang senjata yang bagus!” Mutiara Hitam memuji akan tetapi ia sudah menerjang ke depan dengan pukulan dahsyat.

Mahendra cepat mengelak dan sambil miringkan tubuh, pisau kirinya menangkis lengan lawan dan pisau kanannya menyambar tengkuk! Akan tetapi gerakan Mutiara Hitam yang gesit itu membuat ia dengan mudahnya mengelak. 

Nila Dewi berdiri menonton penuh perhatian dengan alis berkerut. Tang Hauw Lam menggandeng tangan kedua orang muridnya untuk mencegah mereka pergi dan tertangkap lawan, akan tetapi dia menonton dengan wajah tenang-tenang saja karena hatinya mempunyai kepercayaan sepenuhnya akan kelihaian isterinya. Ketika isterinya maju dan menantang untuk menghadapi lawan dengan tangan kosong, maka tahulah ia bahwa isterinya ingin mengalahkan lawan tanpa melukainya.
Dan memang ini tepat sekali karena dalam hal ilmu silat tangan kosong, ia harus mengaku kalah jauh terhadap isterinya. Kalau dia yang maju dan menggunakan goloknya, tentu dia hanya akan mampu mengalahkan Mahendra dengan melukainya! Padahal, isterinya sudah lama sekali merasa penasaran mengapa logam yang berbentuk dua buah bola putih itu, yang mereka dapatkan di puncak gunung barat, sampai kini belum ada yang mampu membuatnya menjadi pedang! 

Hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika dia berdua isterinya melakukan perjalanan dari barat ke timur. Mereka baru saja menuruni lereng puncak Gunung Yolmu-lungma, yaitu puncak tertinggi dari Pegunungan Himalaya, turun ke sebelah selatan tapal batas Nepal dan India, kemudian terus ke timur menyusuri pantai Sungai Brahma Putera. Ketika tiba di perbatasan Yunan dan mulai mendaki lagi sisa kaki Pegunungan Himalaya di waktu malam, mereka tiba-tiba melihat sinar kehijauan jatuh dari langit dan terdengarlah suara menggelegar tak jauh di depan.

Mutiara Hitam dan suaminya cepat menuju ke tempat itu dan dari jauh mereka sudah melihat sinar putih di atas tanah sawah dan tanah dari mana sinar putih itu tampak, mengeluarkan asap dan hawa panas! 

“Agaknya itulah yang disebut batu bintang!” kata Mutiara Hitam. 

“Jatuh begitu saja dari langit? Sungguh luar biasa!” Tang Hauw Lam berkata dan keduanya tidak berani sembarangan menghampiri tanah yang mengeluarkan sinar itu.

Baru pada keesokan harinya dengan berindap mereka menghampiri tempat yang sunyi itu dan di situlah mereka menemukan dua buah logam berbentuk bulat berwarna putih dan masih hangat. Mereka menjadi girang dan menyimpan dua buah batu logam itu. Ketika sudah berada di Tiong-goan, mereka menemui ahli-ahli pedang dengan maksud untuk membuatkan sepasang pedang dari batu logam itu. Akan tetapi semua ahli pedang tidak sanggup mengolah dua batu logam itu. Sudah sebulan lamanya dibakar masih tetap keras saja!

Inilah sebabnya mengapa munculnya dua orang murid pendeta Naragita menggirangkan hati Mutiara Hitam dan suaminya. Dua orang India itu adalah murid seorang di antara ahli-ahli pedang yang sakti dan agaknya hanya orang-orang seperti mereka inilah yang akan sanggup membuatkan sepasang pedang dari dua buah batu logam itu untuk mereka.

Pertandingan antara Mutiara Hitam dan Mahendra masih berlangsung dengan seru. Ilmu silat Mahendra amat aneh. Gerakan sepasang pisaunya sangat cepat sehingga tampak dua gulungan sinar bergulung-gulung seperti ombak hendak menelan tubuh Mutiara Hitam, apa lagi setiap serangannya mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Namun Mutiara Hitam menghadapinya dengan ketenangan yang mengagumkan. Bermacam ilmu silat tangan kosong yang lihai-lihai dan tinggi-tinggi ia mainkan. Mula-mula ia mainkan Siang-tok-ciang (Tangan Racun Harum) untuk mendesak kakek India itu. Akan tetapi tokoh India ini ternyata merupakan seorang yang ahli terhadap pukulan-pukulan beracun, maka sama sekali Mutiara Hitam merubah lagi ilmu silatnya. Untuk melindungi tubuhnya dari sepasang pisau lawan, baginya amat mudah. Gerakan lawannya bagi dia terlalu canggung dan lambat, maka dengan kegesitannya, mudah baginya untuk mengelak. Yang menjadi soal adalah bagaimana dia harus mengalahkan lawan ini dengan ilmu silat tangan kosong.

Tiba-tiba pendekar wanita sakti ini mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan jantung lawan, suara melengking seperti suling nada tinggi dan inilah ilmu khikang Kim-kong-sim-im yang diwarisi dari ayahnya Suling Emas.

Selagi lawannya terkejut dan mengerahkan sinkang untuk melawan gerakan suara mukjizat ini, Mutiara Hitam sudah menerjangnya dan mainkan ilmu silat yang memiliki gaya tidak lumrah dahsyatnya! Dia telah mainkan ilmu silat tangan kosong yang didapatkannya dari ibunya, yaitu Ratu Yalina. Ilmu ini adalah Ilmu Silat Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Ilmu Silat Sakti) yang hanya merupakan tiga belas jurus saja, namun tiga belas jurus ini merupakan jurus-jurus pilihan di antara semua ilmu silat tangan kosong dan merupakan jurus-jurus maut yang sukar dilawan.....

Mahendra mulai menggereng-gereng dan menjadi bingung. Gerakannya kacau-balau ketika angin menyambar-nyambar secara hebat dari tubuh dan tangan Mutiara Hitam. Pendekar wanita itu baru mainkan sejurus saja, yaitu jurus yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Berpusing Mengeluarkan Kilat). Tubuhnya berkelebatan dan berputaran seperti gasing dan dari putaran tubuhnya itu kedua tangan dan kakinya kadang-kadang menyambar secara tak terduga-duga!

“Ciaaatttt!” Mutiara Hitam berseru.

Tangan kirinya dengan dua jari terpentang menyambar untuk menjepit pisau kiri Mahendra. Tokoh India ini kaget sekali. Biar pun yang mengancam pisaunya hanya dua buah jari, namun ia maklum bahwa jari-jari kecil mungil itu mengandung tenaga sinkang yang membuat cepitannya sekuat cepitan baja dan ada bahayanya pisaunya terampas. Cepat ia mengangkat tangannya ke atas. Mutiara Hitam tertawa dan Mahendra terkejut, cepat hendak mengelak namun telambat.

Dia tadi telah kena dipancing sehingga menekuk lengannya melindungi pisau, akan tetapi kiranya jari tangan Mutiara Hitam telah menotok sambungan sikunya sehingga seketika lengan kirinya menjadi lumpuh dan sebelum dia tahu bagaimana terjadinya, pisau kirinya telah berpindah ke tangan kanan Mutiara Hitam yang cepat menyambar dan merampasnya pada detik lengannya lumpuh tertotok tadi.

“Bagus! Hebat kau Mutiara Hitam, akan tetapi aku masih belum kalah!” Mahendra membentak dan kini menerjang makin hebat dengan pisau kanannya.

Mutiara Hitam melemparkan pisau rampasannya kepada suaminya yang menerima pisau itu dan memeriksanya penuh kagum karena pisau itu terbuat dari logam yang aneh dan amat kuat pula.

“Mahendra, bersiaplah engkau untuk mengakui keunggulan Mutiara Hitam dan membuatkan sepasang pedang untuk membayar taruhanmu!” Mutiara Hitam berseru dan kini wanita sakti itu menerjang lawannya dengan gerakan yang membuat Mahendra benar-benar bingung.

Tubuh wanita itu lenyap dan yang tampak hanya bayangan putih seperti awan yang bermain-main, namun mengandung angin berpusingan yang membuat tubuh Mahendra ikut pula berputaran tanpa dapat dicegahnya lagi. Itulah jurus Khong-in-loh-hwa (Awan Kosong Rontokkan Bunga) dari ketiga-belas jurus ilmu silat sakti! Mahendra berusaha untuk mempertahankan diri, namun tubuhnya berputar makin cepat dan tak dapat dikuasainya pula dan tahu-tahu pisau kanannya telah terampas pula, sedangkan lututnya tertendang sehingga ia jatuh berlutut di depan Mutiara Hitam!

“Aku mengaku kalah, Mutiara Hitam!” kata kakek hitam itu penuh kagum.

Juga Nila Dewi yang mengikuti jalannya pertandingan dengan seksama mengerti bahwa dia pun bukanlah tandingan Mutiara Hitam, maka ia lalu melangkah maju dan berkata, “Kami tidak mendapat kesenangan memperoleh anak bertulang baik, tidak pula dapat menikmati kemenangan pertandingan, biarlah kita menikmati pembuatan pedang dengan bahan yang aneh. Keluarkanlah logammu itu, Mutiara Hitam. Kami akan saling berlomba membuatkan pedang terbagus untukmu.”

Tang Hauw Lam mengeluarkan dua butir bola logam putih dari bungkusan dan menyerahkan dua buah logam itu kepada Nila Dewi dan Mahendra. Ketika dua orang itu menerima dan memeriksa logam itu, mereka terbelalak dan membuat gerakan seperti orang menyembah dengan hormat. Mulut Mahendra berkata lirih, “Ya, Tuhan..., ini... besi bintang putih...!”

Nila Dewi juga terbelalak, mukanya agak pucat dan ia berkata, “Luar biasa... dan kita... yang mendapat kehormatan membuatkan pedang... dari logam mulia dan keramat ini...!”

Mutiara Hitam sejak tadi memandang penuh perhatian dan kekaguman, kemudian ia berkata, “Apakah kalian hendak mengatakan bahwa kalian bisa membuat sepasang pedang dari buah benda bola logam ini?”

“Bisa? Tentu saja bisa! Akan tetapi kami minta agar kalian tidak mencampuri dan mengganggu kami membuat pedang,” kata Nila Dewi.

“Benar,” Mahendra mengangguk-angguk. “Kami minta tempat terpisah dan tidak mau diganggu. Betapa pun tinggi ilmu kepandaianmu, Mutiara Hitam, akan tetapi dalam pembuatan po-kiam, apa lagi menggunakan bahan keramat seperti ini, engkau tentu tidak tahu apa-apa. Karena itu jangan mencampuri pekerjaan kami.”

Mutiara Hitam mengangguk-angguk. “Baik, aku percaya kepada kalian. Akan tetapi contoh pedangnya harus seperti ini!” Mutiara Hitam menggunakan jari telunjuknya menggambar sebatang pedang di atas tanah dan menerangkan modelnya, ukurannya dan lain-lain, diperhatikan oleh dua orang India itu yang mengangguk-angguk. Sebagai ahli-ahli yang berpengalaman, sekali pandang saja tahulah mereka pedang macam apa yang harus mereka bikin.

“Kalian boleh menggunakan dua buah goa di kiri sana itu, di sana bersih dan sunyi. Kami takkan mengganggu, akan tetapi kalian harus memberi waktu, berapa lama kalian sanggup menyelesaikan pedang itu?”

Mahendra dan Nila Dewi berpikir-pikir, mengerutkan alis dan menghitung-hitung. “Untuk mempersiapkan tempat pembakaran dan penempaan sih cukup beberapa hari saja,” kata Mahendra.

“Hemm, yang harus dipikirkan adalah cara membakar logam ini agar melunak dan dapat ditempa dan dibentuk!” Nila Dewi berkata sambil menimang-nimang logam bundar di tangannya.

“Hal ini perlu kita selidiki lebih dulu,” kata pula Mahendra, kemudian ia menoleh kepada Mutiara Hitam. “Kami minta waktu tiga bulan atau seratus hari! Kalau dalam waktu seratus hari pedang ini belum jadi, berarti kami tidak sanggup lagi.”

Mutiara Hitam menghela napas dan mengangguk. Dua orang pembuat pedang itu adalah orang-orang aneh dan ia percaya bahwa sekali mereka berjanji tentu akan dipenuhinya. Dia tidak tahu cara bagaimana mereka akan membuat pedang dari dua batu logam aneh itu, akan tetapi diam-diam ia pun mengharapkan agar mereka akan dapat berhasil membuat sepasang pedang yang ia idam-idamkan. Dua buah benda putih itu amatlah anehnya, kalau dilekatkan dapat bergerak sendiri. Ada tenaga mukjizat dalam kedua benda itu, pada satu ujungnya mereka itu dapat saling menarik dan ujung yang lain mengeluarkan daya tolak atau saling mendorong!

Sepasang goa yang dipergunakan oleh Mahendra dan Nila Dewi untuk membuat pedang itu agak jauh dari goa yang ditinggali Mutiara Hitam dan suami serta dua orang muridnya sehingga mereka tidak dapat melihat apa yang dikerjakan dua orang India yang membuat pedang itu. Mereka hanya mendengar kadang-kadang suara klang-kling-klang seperti dua buah benda keras beradu, kadang-kadang melihat cahaya api dari dalam goa-guha itu. Kadang-kadang sampai berhari-hari sunyi saja seolah-olah dua orang itu telah pergi meninggalkan goa tanpa pamit.

“Subo, bagaimana kalau mereka pergi minggat?” Can Ji Kun bertanya kepada Mutiara Hitam. 

“Benar, aku pun tidak percaya dua manusia iblis itu akan mampu membuat pedang dari dua buah logam keramat itu!” Ok Yan Hwa juga berkata.

Mutiara Hitam menyapu wajah kedua orang muridnya dengan alis berkerut, kemudian ia berkata menegur, “Camkanlah dalam kepala kalian bahwa di dunia orang gagah, baik pada golongan putih mau pun hitam, golongan bersih mau pun sesat, terdapat semacam kehormatan yang takkan dilanggar biar berkorban nyawa sekali pun. Aku percaya bahwa mereka akan memenuhi janji. Bagi seorang gagah, tidak ada sifat yang lebih rendah dari pada tidak memenuhi janji!”

Dua orang murid itu mundur dengan takut dan tidak berani bertanya lagi. Akan tetapi makin lama makin anehlah keadaan di sepasang goa itu didengar dari tempat mereka. Akhirnya, pada suatu malam terdengarlah jeritan-jeritan anak kecil melengking berkali-kali dari sepasang goa itu.

“Keparat!” Tang Hauw Lam yang biasanya bersikap gembira dan tenang kini agaknya tak dapat menahan kesabarannya lebih lama lagi “Mereka menculik anak-anak!”

Akan tetapi Mutiara Hitam hanya duduk bersila dengan tenang, sama sekali tidak bergerak, seolah-olah jeritan-jeritan itu tidak didengarnya.

“Eh, masa kita harus mendiamkan saja mereka menggangu anak-anak? Mungkin juga mereka membunuhnya!”

Mutiara Hitam menghela napas. “Bukankah kita sudah berjanji tidak akan mencampuri pekerjaan mereka membuat pedang?”

”Memang tidak mencampuri pekerjaan membuat pedang. Akan tetapi kalau mereka membunuh anak-anak, tak dapat aku membiarkan saja. Apa mereka boleh membunuhi anak-anak tak berdosa di depan hidung Pek-kong-to? Hemm, sebelum aku mati, hal itu takkan terjadi!” Tang Hauw Lam yang biasanya bergembira itu sudah bangkit berdiri dan membawa goloknya, siap untuk mendatangi sepasang goa itu dan menyerbu.

“Nanti dulu, Suamiku!” Mutiara Hitam berkata, suaranya penuh kesungguhan. “Apakah engkau mau melanggar janji kita tidak akan mencampuri pekerjaan mereka membuat pedang?”

“Siapa mau mencampuri? Apa hubungannya penculikan anak-anak itu dengan pembuatan pedang?” Tang Hauw Lam berhenti dan menoleh kepada isterinya dengan penasaran.

“Apakah engkau lupa tentang dongeng yang pernah kita dengar di dunia barat tentang logam mulia yang hanya dapat dibikin cair dan lunak hanya dengan campuran-campuran tertentu?” 

Tang Hauw Lam sejenak memandang isterinya dengan mata terbelalak, kemudian wajahnya berubah pucat. “Kau... kau maksudkan... anak-anak itu...?”

Mutiara Hitam mengangguk. “Mereka itu biar pun mungkin saja membutuhkan anak-anak untuk meyakinkan ilmu hitam mereka, takkan berani melakukan hal itu di dekat kita. Kalau mereka toh melakukannya juga, tentu ada hubungannya dengan pembuatan pedang. Kalau kau penasaran, besok boleh kau bertanya, kiranya takkan meleset dugaanku.”

Wajah Hauw Lam makin pucat. “Kalau begitu... pedang-pedang itu... akan menjadi Sepasang Pedang Iblis...!”

Mutiara Hitam mengangguk. “Kalau benar dugaan kita, begitulah. Maka kita harus lebih waspada lagi menjaga agar sepasang pedang itu jangan jatuh ke tangan lain orang. Kalau benar sepasang pedang itu menjadi Pedang Iblis, kita berkewajiban untuk membasminya sendiri agar tidak menimbulkan mala-petaka!” 

Tang Hauw Lam mengangguk-angguk kemudian membentak dua orang muridnya agar tidur karena mereka itu masih mendengarkan percakapan kedua orang guru mereka dengan penuh perhatian. Pada keesokan harinya, Tang Hauw Lam yang merasa penasaran menghampiri sepasang goa itu. Dari jauh dia sudah berteriak.

”Mahendra! Aku tidak akan mencampuri pekerjaanmu, akan tetapi keluarlah, aku bertanya kepadamu!”

Sunyi saja sepasang goa itu. Setelah Tang Hauw Lam mengulangi pertanyaannya, terdengar suara Mahendra mengomel. “Keparat! Dengan mengganggu semedhiku, engkau membikin aku ketinggalan sehari oleh Dewi, Pek-kong-to! Engkau mau tanya apa? Lekas!”

“Hanya tentang jeritan suara anak-anak semalam....”

“Pek-kong-to! Kalau tidak melihat muka Mutiara Hitam isterimu, pertanyaanmu ini bisa kuanggap bahwa engkau mencampuri urusan pekerjaan kami dan engkau melanggar janji! Bodoh engkau! Di dalam tubuh manusia yang sudah dicairkan terdapat semacam zat yang tidak terdapat pada tubuh mahluk lain. Dan itulah yang dibutuhkan, karena hanya dengan campuran itulah logam ini dapat dicairkan! Apa lagi?”

Tang Hauw Lam merasa betapa kedua kakinya menggigil. “Sudah cukup!” katanya dan ia lari kembali ke goa di mana isterinya masih duduk bersila dengan wajah yang muram.

”Benar sekali!” Hauw Lam berkata sambil menjatuhkan diri dekat isterinya. 

“Sungguh tidak kebetulan sekali kita yang menemukan logam itu. Pedang sudah dibuat, sepasang pedang yang sifatnya jahat sekali, sebelum dibentuk pun sudah minum darah dan nyawa dua orang anak. Kita harus membasmi pedang-pedang itu!”

“Benar, kita hanya menanti sampai sepasang pedang itu jadi.” 

Mulai hari itu, setiap hari terdengarlah bunyi besi ditempa nyaring di dalam sepasang goa, tanda bahwa dua orang India itu sibuk sekali membuat pedang yang dipesan Mutiara Hitam. Kedua orang ini memang aneh. Mereka sesungguhnya saling mencinta, akan tetapi juga selalu saling berlomba tidak mau kalah. Apa lagi kini mereka berdua berlomba membuatkan pedang untuk Mutiara Hitam, pedang yang sama bahannya, sama bentuknya pula. Tentu saja mereka mulai berlomba untuk membuatkan pedang yang sebagus-bagusnya! 

Memang cara mereka membuat pedang dari logam putih itu amat menyeramkan. Setelah beberapa hari gagal membikin logam itu mencair atau melunak, akhirnya mereka berdua lalu pergi dan menculik anak-anak dari dalam dusun yang jauh letaknya dari situ. Mahendra menculik seorang anak perempuan sedangkan Nila Dewi menculik seorang anak lakl-laki secara terpisah. Mengapa Mahendra menculik anak perempuan dan Nila Dewl menculik anak laki-laki? 

Sebetulnya keduanya salah mengira dan terdorong oleh nafsu bersaing, Mahendra mengira bahwa tentu Nila Dewi membuat pedang yang bersifat betina, maka ia pun menculik seorang anak perempuan dan mulai membuat sebatang pedang ‘betina’ dengan menggunakan darah dan tubuh seorang anak perempuan. Demikian pula dengan Nila Dewi yang tidak mau kalah. Dia mengira bahwa Mahendra tentu akan membuat sebatang pedang ‘jantan’ maka dia lalu membuat pedang ‘jantan’ untuk mengalahkan saingannya itu! Tanpa mereka ketahui, terdorong oleh nafsu tidak mau kalah masing-masing. Mahendra membuat pedang ‘betina’ sedangkan Nila Dewi membuat sepasang pedang ‘jantan’.

Anak yang mereka culik itu mereka gantung dengan kepala di bawah, kemudian mereka mengerat urat nadi untuk mengeluarkan darah mereka. Dengan darah inilah logam itu ‘dicuci’ dan direndam, kemudian tubuh yang masih hidup itu dimasukkan ke dalam kuali besar untuk direbus bersama-sama logam putih! Cara yang mengerikan sekali, akan tetapi nyatanya, setelah menghisap hawa tubuh manusia dan terkena darah anak-anak ini, logam putih itu dapat dibakar lunak dan dibentuk!

Kurang lebih tiga bulan kemudian, pagi-pagi sekali Mutiara Hitam dan suaminya terkejut mendengar suara beradunya senjata yang menimbulkan suara berdesing nyaring sekali. Mereka cepat meloncat ke luar menuju ke sepasang goa itu dan apakah yang mereka lihat? Mahendra dan Nila Dewi sedang bertanding mati-matian mempergunakan dua batang pedang yang mengeluarkan sinar seperti kilat menyambar-nyambar.

Dari jauh saja Mutiara Hitam dan suaminya yang sudah banyak pengalaman itu merasakan adanya getaran pengaruh mukjizat yang keluar dari sinar pedang itu. Dua batang pedang yang amat indah buatannya, persis seperti contoh yang dilukis di atas tanah oleh Mutiara Hitam tiga bulan yang lalu, hanya pedang di tangan Mahendra agak kecil sedikit.

“Aihhh... mengapa kalian? Jangan berkelahi...!” Mutiara Hitam berseru dan melompat maju untuk melerai, akan tetapi tiba-tiba sinar pedang yang seperti kilat itu menyambar ke arahnya dengan kecepatan luar biasa sehingga Mutiara Hitam terkejut sekali dan melompat ke belakang. 

“Jangan mencampuri!” Mahendra membentak. “Lihat, pedang siapa yang lebih lihai!” 

“Manusia sombong! Pedang buatanku akan menghancurkan pedang buatanmu berikut kepalamu yang sombong!” Nila Dewi juga menjerit dan menyerang lagi dengan hebatnya. 

“Cring-sing-tranggg...!” Bunga api berhamburan menyilaukan mata dan kedua pedang itu terpental setiap kali bertemu, lalu kedua orang itu saling serang dengan kecepatan kilat. 

“Celaka..., tahan...!” Tang Hauw Lam berseru dan meloncat maju dengan golok di tangan.

“Trang-trangggg... aiihhh...!” Tang Hauw Lam terpaksa harus meloncat ke belakang karena ketika goloknya tertangkis oleh dua pedang itu, ia merasa seolah-olah dibetot oleh dua tenaga bertentangan yang amat kuat.

Mutiara Hitam juga menerjang maju, kini dengan pedang Siang-bhok-kiam di tangannya. Ketika ia menerjang maju untuk memisahkan dua orang itu, tampak sinar pedangnya yang hijau, akan tetapi kembali sepasang pedang yang tadinya saling serang itu secara aneh dan tiba-tiba sekali telah membalik dan menghadapi pedang Mutiara Hitam dengan kekuatan mukjizat dan kerja sama yang mengherankan.

“Trak-trakkk!” Juga Mutiara Hitam menghadapi kenyataan mukjizat karena pedangnya yang jarang menemui tanding itu kini tertolak dan tangannya tergetar ketika bertemu dengan sepasang pedang yang sinarnya seperti kilat itu! 

Terpaksa ia meloncat ke belakang dan berkata kepada suaminya, “Kalau mereka sudah gila untuk saling bunuh, biarkanlah!” 

Dan memang tidak ada jalan lain lagi bagi Mutiara Hitam dan suaminya. Dua orang itu seperti gila, kalau dibiarkan, saling menyerang seperti hendak saling bunuh! Akan tetapi kalau hendak dipisahkan, mereka berdua membalik dan mengeroyok lawan yang mengganggu mereka! Tentu saja Mutiara Hitam dan suaminya tidak mau merobohkan mereka hanya untuk menghentikan pertandingan mereka!

Can Ji Kun dan Ok Yang Hwa juga sudah tiba di tempat itu dan dua orang anak ini memandang pertandingan dengan pandang mata bersinar-sinar penuh kagum melihat sepasang pedang itu. Selama ini kedua orang murid Mutiara Hitam telah mendengar percakapan antara guru mereka tentang sepasang pedang yang sedang dibuat secara aneh oleh Nila Dewi dan Mahendra, dan diam-diam kedua orang anak ini ingin sekali memiliki pedang yang luar biasa itu. Apa lagi setelah kini pedang-pedang itu jadi, mereka makin kagum melihat sinar pedang yang seperti kilat. 

Pertandingan Nila Dewi dan Mahendra sudah mencapai titik puncak yang berbahaya sekali. Mutiara Hitam dan suaminya maklum bahwa seorang di antara mereka tentu akan roboh terluka, akan tetapi karena mereka tidak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya memandang dengan alis berkerut.

“Cringggg!” sepasang pedang itu bertemu di udara, tertolak keras dengan tiba-tiba dan....

“Blesss...! Blesss...!” pedang di tangan Mahendra menembus dada Nila Dewi, sebaliknya pedang wanita itu menembus dada Mahendra. Keduanya terhuyung, melepaskan pedang masing-masing yang sudah menancap di dada lawan, kemudian roboh terguling ke kanan kiri!

“Gila!” Mutiara Hitam dan Tang Hauw Lam meloncat menghampiri dua tubuh yang rebah telentang itu. 

Mahendra memandang Mutiara Hitam dan tertawa! “Ha-ha-ha, sepasang pedang pesananmu telah rampung, Mutiara Hitam! Sepasang Pedang Iblis! Disempurnakan dengan rendaman darah kami sendiri. Sepasang Pedang Iblis, kelak masih akan banyak minum darah manusia, ha-ha-ha!”

Nila Dewi terbelalak dan juga tertawa. “Mahendra, kita berdua akan hidup terus, dalam sepasang pedang ini. Sepasang Pedang Iblis... hi-hik, kita akan selalu haus darah, akan selalu bersaing... ha-ha-ha!”

Biar pun Mutiara Hitam dan Pek-kong-to adalah suami isteri pendekar yang sudah mengalami banyak hal-hal aneh dan menyeramkan, akan tetapi melihat betapa dua orang itu berkelojotan dan tewas dengan ucapan-ucapan seperti itu, keduanya merasa ngeri juga. Sejenak mereka berdua memandang kepada pedang ‘jantan’ yang kini menancap di dada Mahendra, untuk kedua kalinya minum darah manusia, dan kepada pedang ‘betina’ yang menancap di dada Nila Dewi.

“Haruskah kita mengambil pedang-pedang itu?” Tang Hauw Lam bertanya kepada isterinya dengan perasaan jijik. “Tak enak rasanya memegang kedua pedang itu.”

Mutiara Hitam mengangkat muka memandang suaminya. “Apa? Engkau... takut?”

Suaminya tersenyum. “Takut sih tidak, hanya... hemm, ngeri!” Ia memandang kepada dua mayat itu. “Sebaiknya kita kubur saja kedua jenazah ini berikut kedua pedangnya!”

“Tidak baik begitu!” Mutiara Hitam mencela. “Pedang ini tercipta karena kita, maka harus berada di tangan kita. Kalau dikubur kemudian didapatkan orang lain, tidakkah celaka?”

“Apa...? Kau sebatang dan aku sebatang? Jangan-jangan setelah kita berdua masing-masing menyimpan sebatang, kita pun akan menjadi gila dan saling menyerang seperti mereka.” Hauw Lam menggeleng-geleng kepala dan menggoyang-goyang tangan.

“Tahyul!” Mutiara Hitam mencela. ”Memang mereka ini sejak dulu sudah selalu tidak akur dan bersaing. Akan tetapi, biarlah sepasang pedang ini aku yang menyimpannya.” Mutiara Hitam lalu mencabut sepasang pedang itu dan ia memandang terbelalak kepada kedua pedang dan ke arah dada kedua buah mayat itu.

“Benar-benar Sepasang Pedang Iblis yang suka minum darah...!” Tang Hauw Lam berseru dengan muka pucat.

Ternyata setelah dicabut, kedua pedang itu tetap putih bersih tidak ada darahnya, bahkan dada yang terluka dan ditembus pedang itu pun tidak berdarah, seolah-olah semua darahnya habis dihisap oleh kedua pedang itu! 

“Sepasang Pedang Iblis yang haus darah dan harus disingkirkan!” Mutiara Hitam juga berkata, lalu tiba-tiba ia membentak dua orang murid yang datang mendekat, “Hei, kalian mau apa?”

“Subo, berikan pedang betina kepada teecu!” kata Ok Yan Hwa. 

“Dan yang jantan untuk teecu, Subo!” kata pula Can Ji Kun. 

Dua orang suami isteri itu saling pandang. “Hemm, untuk apa pedang bagi kalian?” Kemudian Mutiara Hitam berkata untuk membantah sendiri ketahyulannya terhadap sifat sepasang pedang itu. “Karena baru saja jadi, agaknya di dalam tubuh pedang masih ada lubang-lubang dan hawa panas oleh api yang membakarnya, membuat pedang-pedang ini mempunyai daya menghisap.”

Betapa pun juga, Mutiara Hitam bangkit berdiri dan meneliti sepasang pedang itu penuh perhatian. Buatannya amat indah dan halus, bentuknya sama benar, hanya perbedaannya terletak pada tubuh pedang yang berbeda sedikit besarnya. Ia mempertemukan ujung pedang yang runcing dan... kedua pedang itu tertolak, seolah-olah tidak suka bertemu ujung dan tiba-tiba ada kekuatan aneh yang membuat gagang kedua pedang itu saling menempel! Berkali-kali Mutiara Hitam mencoba dan mendapat kenyataan bahwa ujung runcing kedua pedang itu saling menolak, akan tetapi ujung di gagang saling menarik. 

“Hemm, mengandung sembrani yang kuat...,” katanya perlahan.

Mereka lalu mengubur jenazah Nila Dewi dan Mahendra, kemudian meninggalkan tempat itu untuk merantau ke tempat lain karena Mutiara Hitam tidak suka lagi tinggal di situ setelah terjadi peristiwa kematian dua orang India itu.

Tang Hauw Lam yang bijaksana dan amat mencinta isterinya maklum sepenuhnya betapa sikap isterinya berubah banyak sekali semenjak menerima berita kematian Raja Khitan. Isterinya sekarang pemarah sekali, bahkan kedua orang muridnya menjadi takut karena sering dibentak dan ditampar, pula sering kali termenung-menung dan melihat matanya yang membengkak, tahulah dia bahwa sering kali isterinya itu secara sembunyi-sembunyi suka menangis.

Pada suatu hari, selagi mereka beristirahat di atas lereng dan mereka membiarkan dua orang murid bermain-main di padang rumput, Tang Hauw Lam tak dapat menahan lagi tekanan batinnya. Ia duduk mendampingi isterinya dan berkata lirih.

“Kwi Lan Isteriku. Engkau kenapakah?” 

Kwi Lan yang seperti orang termenung itu menoleh kepada suaminya dan berkata singkat, “Tidak apa-apa.”

Hauw Lam menghela napas, kemudian berkata halus dan lirih. “Kita telah menjadi suami isteri selama belasan tahun, setiap harl kita berkumpul sehingga aku mengenal engkau seperti mengenal tubuhku sendiri, Kwi Lan. Aku melihat perubahan hebat terjadi atas dirimu. Engkau membiarkan Nila Dewi dan Mahendra membunuh dua orang anak kecil, kemudian saling bunuh sendiri. Engkau hampir saja membunuh Raja Yucen, kulihat dari getaran tanganmu. Baru hal itu tidak terjadi setelah engkau mendengar bahwa pembunuh Raja dan Ratu Khitan bukanlah bangsa Yucen, melainkan bangsa Mongol. Aihh, Kwi Lan. Engkau tertekan kedukaan hebat atas kematian kakak kembarmu, bukan? Kedukaan yang membuat engkau menjadi dingin, tak pedulian, kejam...” 

Tiba-tiba Mutiara Hitam, wanita sakti yang hatinya sekeras baja itu menubruk suaminya, merangkul dan menangis tersedu-sedu. “Aduhhh, Lam-ko... apakah yang harus kulakukan, Lam-ko...? Aihh...!”

Tang Hauw Lam memeluk isterinya penuh kasih sayang dan membiarkan isterinya menangis sepuasnya untuk memberi jalan ke luar pelepasan kedukaan hatinya. Kemudian ia berkata, “Isteriku, kalau tidak salah dugaanku, engkau tentu menaruh dendam benar di hatimu atas kematian Raja Talibu, bukan?”

Kembali Mutiara Hitam memandang suaminya dengan muka basah air mata, sejenak sepasang matanya memandang penuh selidik. Akan tetapi ketika ia melihat betapa suaminya memandang kepadanya penuh pengertian, ia tersedu dan menundukkan mukanya.

“Dugaanmu benar, Suamiku. Kalau aku tidak bisa membalas dendam ini, hidupku takkan dapat tenang lagi. Aku bisa menjadi gila dikejar-kejar dendaml Aku... aku harus membalas dendam ini, aku harus membunuh Raja Mongol!”

Tang Hauw Lam menarik napas, kemudian berkata suaranya penuh kedukaan. “Aku mengerti, Isteriku. Biar pun keputusan hatimu ini sebenarnya keliru, namun tidak berani aku melarangmu karena aku tahu betul apa yang terjadi dalam hatimu.”

Mutiara Hitam merangkul suaminya. “Aihhh, Lam-ko... selamanya engkau begini penuh pengertian terhadap aku, penuh kasih sayang dan penuh kesabaran. Aku... aku memang selalu salah... ahhh, Lam-ko... akan tetapi, kalau aku tidak membalas dendam kematian kakakku, agaknya aku akan menjadi gila! Aku akan mati dalam hidup merana dan selalu digoda bayangan Kakak Talibu yang menuntut dlbalaskan kematiannya. Aaahh, Lam-ko, betapa tersiksa hatiku selama beberapa malam ini... selalu didatangi bayangan Kakak Talibu....“ Mutiara Hitam menangis lagi terisak-isak.

Diam-diam Hauw Lam terkejut sekali. Dia mengerti bahwa memang ada ikatan batin dan ikatan getaran yang lebih halus dan lebih dekat antara saudara kembar. Maka ia mengeraskan hatinya dan bertanya, “Janganlah engkau merasa bersalah kepadaku dan hendak menyembunyikan, Isteriku. Sekarang katakanlah terus terang, apa yang menjadi kehendak hatimu yang selama ini kau tahan-tahan dan kau tekan-tekan?”

Mutiara Hitam menyusut air matanya sampai kering dan kembali ia menghadapi suaminya, sekali ini seperti biasa, tenang dan penuh kesungguhan. “Lam-ko, aku ingin pergi ke Mongol dan membunuh Raja Mongol.”

Biar pun jantung Hauw Lam berdebar karena maklum bahwa hal Itu sama saja artinya dengan membunuh diri, namun ia mengangguk dan berkata, “Baik sekali! Kapan kita berangkat, aku siap, Isteriku.”

“Inilah persoalan yang mengganggu hatiku dan membuat aku selama ini tidak dapat berterus terang kepadamu, Lamko. Aku harus pergi sendiri!”

Berkerut sepasang alis Tang Hauw Lam ketika ia memandang tajam wajah isterinya. “Mengapa demikian, Lan-moi?”

“Urusan balas dendam terhadap Raja Mongol ini merupakan bahaya besar, seperti memasuki lautan api!”

Tang Hauw Lam tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Mutiara Hitam! Apa kau kira aku ini orang yang takut mati?”

“Jangan berkelakar, Lam-ko. Dalam urusan lain, tentu saja aku lebih suka sehidup semati di sampingmu. Akan tetapi urusan ini lain lagi. lni merupakan urusan pribadi bagiku dan aku tidak mau menarik dirimu menempuh bahaya besar. Aku tidak suka melihat suamiku juga menjadi korban dalam urusan ini. Selain itu, kalau kita pergi berdua, bagaimana dengan murid-murid kita? Tidak, suamiku dan kuharap engkau suka memenuhi permohonanku sekali ini, mati atau hidup aku akan berterima kasih sekali kepadamu.”

“Kwi Lan... !” Hauw Lam menjadi kaget terharu dan merangkul isterinya. Ia tahu bahwa sekali ini isterinya tidak main-main dan sudah mengambil keputusan tetap yang takkan dapat dirubah lagi.

Kwi Lan merangkul dan membelai suaminya penuh kasih sayang. “Suamiku, dengarlah kata-kataku. Besok pagi aku akan pergi sendiri. Engkau bawalah dua orang murid kita ke Gunung Merak di sebelah utara kota raja Khitan. Kau ingat tempat yang disediakan untuk menjadi tempat perkuburan keluarga Ayahku Sullng Emas? Nah, kau tunggulah aku di sana bersama dua orang murid dan semua kitab-kitabku, juga Sepasang Pedang Iblis. Kalau selesai tugasku di Mongol dan aku dapat keluar dengan selamat, aku akan menyusulmu ke sana. Kalau tidak..., andai kata aku tewas dalam tugas pribadi ini, hemm... kau pimpin baik-baik kedua orang murid kita, dan aku... aku akan selalu menantimu dengan setia di pintu gerbang akhirat, Suamiku.”

“Lan-moi...!” Sekali ini Hauw Lam yang mencucurkan alr mata.

Semalaman itu suami isteri ini mencurahkan kasih sayang sepenuhnya karena mereka merasa di dalam hati bahwa mungkin sekali ini mereka saling menumpahkan kasih untuk penghabisan kali!

Pada keesokan harinya, dengan mata bengkak dan merah, di samping suaminya yang kelihatan muram dan lesu, Mutiara Hitam memanggil Ji Kun dan Yan Hwa lalu meninggalkan pesan. 

“Aku mau pergi, mungkin lama sekali. Kalian adalah anak-anak yang nakal, akan tetapi kalian harus mentaati semua perintah Suhu kalian, belajar dengan tekun dan rajin sehingga kelak dapat menjadi pendekar-pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Jangan membikin malu nama guru-guru kalian. Mutiara Hitam dan Golok Sinar Putih adalah pendekar-pendekar yang terkenal. Hati-hati kalian, kalau sepergiku kalian tidak menaati Suhu, kalau aku masih hidup, aku sendiri yang akan menghukum kalian dan kalau aku sudah mati, arwahku yang akan menghukum kalian. Mengerti?”

Dua orang murid itu mengangguk-angguk sambil menangis sesenggukan karena mereka sudah mendengar bahwa subo mereka hendak pergi jauh dan mungkin tidak kembali. Setelah berpelukan untuk terakhir kali dengan suaminya, tanpa berkata-kata, hanya sinar mata mereka saja yang melepas seribu janji bahwa dalam keadaan hidup atau pun mati mereka pasti akan saling berkumpul kembali, Mutiara Hitam lalu berkelebat pergi meninggalkan tiga orang yang dikasihinya!

Tang Hauw Lam merasa seolah-olah jantungnya disayat-sayat. Semenjak menikah dengan Mutiara Hitam, ia tidak pernah berpisah dari isterinya yang tercinta itu. Merantau ke negeri jauh berdua, menghadapi bahaya-bahaya maut berdua, dalam keadaan suka mau pun duka selalu berdua dan bersatu hati. Kini tiba-tiba isterinya pergi meninggalkannya untuk urusan yang amat berbahaya! Lemah seluruh tubuhnya, dan kalau di situ tidak ada dua orang muridnya, tentu Tang Hauw Lam yang biasanya jenaka gembira ini akan menangis menggerung-gerung.

Dia lalu mengajak kedua muridnya, mengumpulkan kitab-kitab milik isterinya, menyelipkan Sepasang Pedang Iblis di pinggangnya, kemudian mengajak kedua orang muridnya itu pergi menuju ke Bukit Merak di Khitan. Dunia ini tampak tidak menarik lagi bagi Hauw Lam. Matahari seolah-olah kehilangan sinarnya, bunga-bunga kehilangan keindahannya dan hatinya selalu merasa gelisah dan tertekan. Namun ia tidak pernah mengeluh di depan kedua orang muridnya.

Setelah tiba di Bukit Merak, Tang Hauw Lam mulai melatih kedua orang muridnya dengan tekun, akan tetapi sementara itu, hatinya mengharap-harap siang malam akan kembalinya Mutiara Hitam. Dia hanya makan sedikit sekali dan hampir tak pernah tidur karena kalau siang dia selalu menerawang ke kejauhan, kalau malam telinganya seolah-olah mendengar langkah kaki isterinya pulang! Tubuhnya menjadi kurus sekali dan wajahnya menjadi pucat. Menanti dalam keadaan tidak menentu itu benar-benar merupakan siksaan yang paling berat bagi manusia. Kalau saja ia tahu bagaimana hasil pembalasan dendam isterinya! Berhasilkah? Masih hidupkah isterinya? Ataukah sudah tewas?

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa adalah dua orang anak yang biasanya dimanja oleh Hauw Lam. Suhu mereka ini adalah seorang yang selalu gembira, tidak pernah marah, maka mereka itu amat manja terhadap suhunya. Hanya subo mereka yang berwatak keras terhadap mereka dan dua orang murid ini amat takut kepada Mutiara Hitam. Di bawah asuhan suami isteri itu, mereka berdua akan menjadi murid-murid yang baik karena dari Hauw Lam mereka mendapatkan kasih sayang yang diperlihatkan dan menerima kegembiraan, ada pun dari Mutiara Hitam mereka mendapatkan tekanan agar rajin dan mengenal disiplin.

Kini setelah Mutiara Hitam pergi, tidak ada yang mereka takuti lagi dan biar pun mereka masih tekun belajar di bawah asuhan Tang Hauw Lam, namun mereka itu kini sering kali bermain-main sendiri dan tidak mempedulikan guru mereka. Hal ini adalah karena Tang Hauw Lam juga sudah seperti sebuah arca, kehilangan semangatnya sehingga dia pun tidak mempedulikan muridnya kecuali dalam hal pelajaran ilmu silat.

Setelah dua orang murid itu tahu bahwa subo mereka pergi hendak membunuh Raja Mongol dan melakukan tugas yang berbahaya sekali, mereka kini pun ikut menanti-nanti sehingga tiga orang ini selain belajar ilmu, juga sering kali duduk termenung menanti kembalinya Mutiara Hitam yang amat diharap-harapkan.....
********************
“Mengapa Paduka tidak suka ikut bersama bibi Paduka Mutiara Hitam saja? Bukankah dengan ikut beliau, Paduka sama dengan ikut orang tua sendiri dan kelak dapat mempelajari ilmu silat tinggi yang dimiliki pendekar sakti Mutiara Hitam?” Khu Tek San bertanya kepada Maya ketika mereka duduk beristirahat di bawah pohon besar berlindung dari terik matahari.

Maya menarik napas panjang. “Paman Khu, harap jangan menyebut Paduka padaku. Sesungguhnya, aku bukanlah puteri Khitan asli, dan aku hanyalah anak pungut Raja dan Ratu Khitan saja! Mereka tidak mempunyai keturunan dan aku adalah seorang yang yatim piatu. Karena itulah maka aku tidak suka ikut dengan Bibi Mutiara Hitam yang tentu tahu pula bahwa aku bukan keponakannya sesungguhnya. Aku orang biasa, Paman Khu.”

Khu Tek San mengerutkan alisnya. Baru sekarang ia mendengar akan hal ini. Akan tetapi anak sendiri ataukah anak angkat sama saja, anak ini adalah puteri Khitan yang harus dia lindungi dan ia hadapkan kepada gurunya.

“Baiklah, Maya. Mulai sekarang, demi keselamatanmu sendiri, engkau kuakui sebagai keponakanku. Marilah kita melanjutkan perjalanan. Di depan sana, lewat bukit itu adalah benteng bertahanan barisan Sung, kawan-kawan sendiri. Setelah bertemu mereka, perjalanan ke selatan tentu lebih lancar. Kita dapat menunggang kuda.”

Berangkatlah mereka berdua dan karena biar pun baru berusia sepuluh tahun, Maya telah memiliki kepandaian lumayan. Apa lagi setelah ia makan buah-buah merah yang biar pun kini khasiatnya sudah banyak berkurang namun telah mempertinggi ginkang-nya, maka perjalanan itu dapat dilakukan cepat. Baru sekarang Maya tahu bahwa khasiat buah merah yang membuat tubuh ringan itu hanya sementara, dan agaknya orang-orang aneh itu setiap waktu makan buah-buah itu. Pantas saja ketika pohon buah itu ketahuan olehnya, mereka ribut-ribut takut kalau buahnya dihabiskan!

Mereka melewatkan malam di lereng bukit. Pada keesokan harinya, sebelum tengah hari mereka telah tiba di daerah penjagaan bala tentara Sung. Hati Khu Tek San girang bukan main dan ia mengajak Maya untuk mempercepat jalannya. Gembira hatinya akan bertemu dengan anak buah pasukan negaranya dan panglima-panglima yang menjadi rekan-rekannya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan penasaran hati panglima perkasa ini ketika ia tiba di tempat penjagaan, ia segera dikurung oleh pasukan Kerajaan Sung dan muncullah beberapa orang panglima berkuda yang menghadapinya dengan sikap kereng, bahkan seorang panglima yang bertubuh tinggi besar dan penuh wibawa membentak nyaring.

“Khu Tek San! Atas perintah atasan, kami menangkapmu sebagai seorang pengkhianat!” Panglima itu lalu memberi perintah kepada anak buahnya. “Belenggu kedua lengannya, bocah perempuan itu juga!”

“Apa artinya ini...?” Khu Tek San hampir tidak percaya akan mata dan telinganya sendiri.

“Hemmm, Khu Tek San! Apakah engkau hendak memberontak pula melawan pasukan negara?” tanya panglima tinggi besar itu dengan alis berkerut. Wajahnya muram, agaknya dia tidak suka melakukan tugas ini, juga dua orang panglima lain memandang tanpa banyak cakap dengan wajah murung.

“Aku tidak akan melawan. Silakan!” Khu Tek San memberikan kedua lengannya yang segera dibelenggu dengan belenggu besi yang kuat. Juga Maya yang hanya dapat memandang Khu Tek San dengan mata terbelalak tidak melawan ketika kedua tangannya dibelenggu dengan rantai besi yang lebih kecil. Hemm, agaknya rantai-rantai itu telah dipersiapkan sebelumnya, pikir Khu Tek San.

Ia memandang kepada tiga orang panglima itu dan kemudian berkata lantang, “Ong Ki Bu! Cong Hai dan engkau Kwee Tiang Hwat! Kalian bertiga telah mengenal orang macam apa adanya Khu Tek San! Kalian adalah rekan-rekanku yang sudah mengenal watakku, sudah mengenal sepak terjangku! Mengapa kini kalian menangkapku dengan tuduhan berkhianat?”

Sejenak tiga orang panglima itu tidak menjawab dan saling pandang, kemudian Ong Ki Bu, panglima tinggi besar itu, berkata, “Khu Tek San, engkau tahu bahwa petugas-petugas seperti kita hanya mentaat perintah atasan! Engkau dituduh telah berkhianat terhadap negara, telah menjadi kaki tangan bangsa Yucen, bahkan engkau dituduh telah melindungi puteri Khitan. Jelas bahwa engkau tidak setia kepada Kerajaan Sung, dan karena itu, kami akan menjalankan perintah atasan untuk menghukummu sekarang juga!”

“Apa...?” Khu Tek San membentak marah. “Aku bukannya orang yang takut menghadapi hukuman apa pun juga! Akan tetapi, salah atau tidak, seorang panglima baru akan menjalani hukuman setelah diperiksa di pengadilan tinggi di kota raja! Mengapa aku akan dihukum tanpa melalui pemeriksaan pengadilan?”

Kembali tiga orang panglima itu kelihatan tidak enak sekali, muka mereka berubah merah. Dengan suara serak dan terpaksa Ong Ki Bu berkata, “Semua ini bukan kehendak kami, Khu Tek San, melainkan atas perintah.”

“Atas perintah siapa? Apakah Hong Siang sendiri yang memerintahkan? Harap suka perlihatkan perintah dari Kaisar!”

“Kaisar tidak mengurus hal-hal ketentaraan di perbatasan, kau tahu ini, Khu Tek San?” jawab Ong Ki Bu yang agaknya benar-benar tidak enak hatinya menghadapi urusan ini dan ingin agar segera selasai. “Kalau engkau hendak mendengar bunyi perintah atasan, nah, dengarlah!” Panglima tinggi besar itu lalu mengeluarkan segulung kertas dan membaca dengan suara lantang.

‘Karena sudah jelas bahwa Panglima Khu Tek San telah melakukan pengkhianatan terhadap negara dengan menjadi kaki tangan Kerajaan Yucen, maka kami memerintahkan kepada semua panglima yang menjaga di tepi tapal batas untuk menangkapnya dan menjatuhkan hukuman mati gantung di tempat ia ditangkap!’

Wajah Khu Tek San tidak berubah, sedikit pun ia tidak kelihatan gentar sungguh pun matanya membayangkan penasaran dan amarah. “Itu fitnah belaka! Siapakah yang menjatuhkan perintah ini, Ong-ciangkun?”

“Perintah atasan harus ditaati dan kiranya tidak perlu kita perbantahkan lagi, Khu Tek San. Bersiaplah untuk menjalani hukuman gantung.” Panglima itu memberi aba-aba kepada anak buahnya dan menunjuk ke depan.

Khu Tek San memandang ke depan dan melihat bahwa di atas pohon bahkan telah tersedia tali gantungan untuknya! Benar-benar hukuman yang telah direncanakan dan diatur terlebih dahulu. Akan tetapi ia mengenal betul tiga orang panglima itu sebagai panglima-panglima yang gagah dan taat sehingga tidak mungkin mereka itu melakukan fitnah dan mencelakakan dirinya. Tentulah ada orang lain yang menjatuhkan perintah ini!

“Paman, kurasa ini pun hasil perbuatan manusia bernama Siangkoan Lee itu...,” tiba-tiba Maya berbisik. Anak ini sama sekali tidak merasa ngeri melihat betapa maut mengancam Khu Tek San yang akan digantung, bahkan mungkin mengancam dirinya sendiri. Dia tetap tenang dan menjalankan otaknya.

“Benar...! Kau benar...!” Panglima yang gagah perkasa itu mengepal kedua tinjunya di antara rantai belenggunya, berdiri tak jauh dari tali gantungan yang sudah siap. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berkata dengan suara lantang.

“Aku Khu Tek San, sebagai seorang panglima yang selalu siap mengorbankan nyawa untuk negara, taat akan bunyi perintah dan karena tidak diadakan pengadilan, maka aku pun tidak perlu untuk membela diri. Hanya kuminta kepada kalian, pelaksana perintah yang taat, agar tidak mengganggu keponakanku ini karena di dalam surat perintah itu tidak disebut untuk menghukumnya. Aku minta kepada Ong Ki Bu sebagai bekas rekan yang baik, sukalah mengantar keponakanku ini kepada Menteri Kam Liong!”

“Permintaanmu kuterima, Khu Tek San!” Terdengar Ong-ciangkun mengguntur. “Dan kalau aku Ong Ki Bu sudah menerima, tidak ada seekor setan pun akan boleh mengganggu anak itu!”

Khu Tek San tersenyum dan wajahnya berseri ketika ia memandang panglima tinggi besar itu. “Terima kasih! Terima kasih, bukan hanya atas pertolonganmu terhadap anak ini, rekanku Ong, juga terima kasih karena sikapmu ini membuktikan bahwa Panglima-panglima Sung masih merupakan laki-laki sejati yang jantan dan gagah perkasa. Nah, aku siap menerima hukuman!”

Khu Tek San melangkah maju menghampiri tali gantungan. Maya memandang dengan mata terbelalak, bukan karena ngeri melainkan karena kagum akan sikap yang gagah perkasa ini!

Seorang prajurit yang menerima perintah sudah maju dan menurunkan tali gantungan, dikalungkan ke leher Khu Tek San, kemudian ia mundur untuk menarik ujung tali dari belakang batang pohon bersama tiga orang temannya. Khu Tek San berdiri dengan sikap gagah, mata terbuka lebar, siap menerima datangnya maut.

“Siaaappp!” terdengar aba-aba, lalu disusul perintah untuk menarik ujung tali sehingga lubang gantungan akan menjerat leher Khu Tek San dan menggantungnya ke atas.

“Krekkk!” Bukan tubuh Khu Tek San yang tergantung ke atas, melainkan tali gantungan itu yang tiba-tiba putus dan jatuh ke bawah kaki Khu Tek San!

Semua orang terheran, lalu memandang ke atas dan ributlah mereka ketika melihat seorang pemuda tampan tahu-tahu telah duduk menongkrong di atas dahan pohon, di mana terdapat tali gantungan tadi. Ong Ki Bu dan para panglima lainnya, juga Khu Tek San sendiri, terkejut sekali melihat betapa pemuda itu dapat berada di situ tanpa ada yang tahu, padahal di situ terdapat banyak orang pandai!

Melihat, pemuda itu jelas datang hendak menolongnya, hati Khu Tek San menjadi khawatir dan tidak senang, karena hal ini tentu saja berarti bahwa dia benar-benar akan memberontak dan melawan perintah atasan. Maka ia berseru, “Hei, Enghiong muda yang lancang! Harap jangan mencampuri urusan ketentaraan! Aku Khu Tek San dengan rela menjalani hukuman, mengapa engkau gatal tangan mencampurinya?”

Pemuda itu tersenyum dan semua orang memandang heran. Dia masih muda sekali, paling banyak dua puluh satu tahun umurnya, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, pedangnya tergantung di punggung dan biar pun menghadapi pasukan sekian banyaknya ia kelihatan tenang tenang saja. 

“Khu-ciangkun, engkau adalah seorang gagah perkasa yang patut dipuji dan dikagumi semua orang. Engkau contoh kegagahan. Akan tetapi yang kusaksikan ini bukanlah hukuman ketentaraan, melainkan hukum rimba! Di mana ada aturannya seorang panglima yang sudah banyak jasanya seperti Khu-ciangkun, tanpa diadili lalu dihukum begitu saja, digantung di dalam rimba? Tidak malukah para panglima yang melakukan tugas rendah ini?”

“Heh, orang muda! Turunlah dan kita bicara yang benar! Aku adalah Ong Ki Bu yang bertanggung jawab atas pelaksanaan hukuman ini. Engkau siapa?”

Pemuda itu melayang turun, gerakannya ringan dan indah. Ia sudah berdiri di depan Ong-ciangkun dengan tersenyum tenang. “Aku bernama Kam Han Ki...”

“Ohhh...!” Khu Tek San tak dapat menyembunyikan kagetnya, ia memandang bengong dan terbelalak.

Tentu saja ia mendengar dari suhunya bahwa suhunya mempunyai seorang adik misan yang semenjak kecil lenyap dan disangka sudah mati, bernama Kam Han Ki. Sekarang tahu-tahu muncul di situ sebagai seorang pemuda tampan gagah yang berani menentang pasukan bala tentara Sung!

“Kami melaksanakan hukuman atas perintah atasan, hal ini sudah benar dan syah! Mengapa engkau berani mengatakan hukum rimba?” Ong Ki Bu membentak marah.

“Sabarlah, Ong-ciangkun. Sejak tadi aku sudah mendengar semua dan aku pun tahu bahwa para panglima adalah orang-orang gagah perkasa seperti Khu-ciangkun, yang setia akan tugas dan melaksanakan perintah atasan tanpa ragu-ragu lagi. Akan tetapi, demi keadilan, perlu kau perlihatkan, atasan yang manakah yang memerintahkan engkau menggantung Khu-ciangkun? Ketahuilah bahwa aku pun datang sebagai utusan dari kota raja!”

Semua orang terkejut. Dengan muka merah saking penasaran karena orang tidak mempercayai dirinya, Ong Ki Bu mengeluarkan gulungan surat perintah dan membukanya di depan orang banyak sambil berseru keras.

“Yang menjatuhkan perintah adalah Panglima Besar Suma Kiat! Apakah masih tidak dipercaya lagi?” 

“Hemm, hemm... surat bisa dipalsukan. Dari siapa engkau menerima surat perintah ini, Ong-ciangkun?” Han Ki bertanya. 

Ong-ciangkun melotot kepada Han Ki dan membentak. “Orang muda, sudah puluhan tahun aku menjadi panglima! Apa kau kira aku begitu sembrono untuk tidak meneliti surat perintah tulen atau palsu? Surat ini tulen, apa lagi yang membawa ke sini adalah murid dan pembantu Suma-goanswe sendiri!”

“Di mana dia? Harap engkau suka memanggilnya!” Han Ki mendesak.

Panglima itu menyuruh anak buahnya, akan tetapi dicari-cari, utusan Suma Kiat itu tidak ada. “Wah, dia... dia sudah pergi tanpa pamit. Sungguh aneh!” Ong-ciangkun berkata heran.

Kam Han Ki lalu berkata, “Ong-ciangkun, Khu-ciangkun dan semua saudara yang berada di sini, dengarlah. Aku adalah adik misan dari Menteri Kam Liong, dan ketahuilah bahwa Khu-ciangkun adalah murid dari Kakakku Kam Liong. Kini aku membawa surat perintah dari Menteri Kam Liong yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada Panglima Suma, harap kalian suka mengindahkan perintahnya!” Han Ki mengeluarkan segulung surat pula.

Dengan tergesa-gesa Ong Ki Bu menerima dan membaca surat itu yang berbunyi:

MENTERI KAM LIONG MENGUTUS PETUGAS KAM HAN KI UNTUK MENJEMPUT DAN MEMANGGIL PULANG PANGLIMA KHU TEK SAN KE KOTA RAJA.

Wajah panglima tinggi besar itu berseri-seri dan ia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Lega hatiku sekarang! Tentu saja aku lebih mentaati perintah Menteri Kam Liong! Siapa berani membantah perintah beliau? Dan dengan adanya perintah Menteri Kam Liong, terpaksa aku membatalkan perintah Panglima Suma. Tak ada yang akan menyalahkan aku. Ha-ha-ha, rekan Khu Tek San, dasar orang baik selalu dilindungi Thian! Pemuda perkasa ini datang mengembalikan nyawamu, ha-ha-ha! Engkau tentu tahu betapa tak senang hati kami semua melaksanakan perintah tadi, akan tetapi dia merupakan seorang yang kedudukannya lebih tinggi dari kita, mana kami dapat membantah?”

“Aku mengerti, Sahabat Ong, dan terima kasih,” kata Khu Tek San.

Setelah dilepas belenggu tangannya dan tangan Maya, Khu Tek San lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kam Han Ki sambil berkata, “Teecu Khu Tek San mengucapkan terima kasih atas bantuan Susiok (Paman Guru)!”

Kam Han Ki cepat mengangkat bangun orang yang lebih tua akan tetapi karena menjadi murid kakak misannya maka menjadi pula murid keponakannya itu. “Khu-ciangkun, harap jangan berlaku sungkan. Mari kuantar ke kota raja bersama anak yang kau tolong itu. Maya namanya, bukan?”

Maya memandang kepada Kam Han Ki penuh perhatian, kemudian menegur Khu Tek San. “Paman Khu, dia masih begini muda, kenapa Paman berlutut menghormatnya? Sungguh tidak layak, membikin dia besar kepala dan sombong saja!”

“Hushh, Maya, jangan berkata demikian! Dia itu paman guruku!” kata Khu Tek San cepat-cepat.

“Hemm, aku berani bertaruh, kepandaiannya tidak seberapa hebat. Mana mampu menandingi Paman?”

Khu Tek San merasa tidak enak sekali. Kam Han Ki memandang Maya dengan alis berkerut dan mata marah, akan tetapi ia pun tidak berkata apa-apa, hanya mukanya berubah merah dan sinar matanya saja yang memaki, “Bocah nakal cerewet kau!”

Akan tetapi, tentu saja di depan Khu Tek San dan para panglima dia tidak mau cekcok dengan seorang anak perempuan! Maka untuk menutupi kemendongkolan hatinya ia berkata, “Khu-ciangkun, harap engkau suka mengganti pakaian Panglima Yucen dengan pakaian rakyat biasa agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam perjalanan yang jauh ke kota raja.”

Khu Tek San membenarkan pendapat ini dan dengan suka hati para rekannya lalu mempersiapkan pakaian sipil untuk Khu Tek San, bahkan menyediakan tiga ekor kuda yang baik untuk mereka. Setelah berpamit dan mengucapkan terima kasih, berangkatlah Khu Tek San, Kam Han Ki dan Maya menunggang tiga ekor kuda menuju ke selatan. 

Di sepanjang perjalanan ke selatan ini, atas pertanyaan Khu Tek San, Han Ki bercerita bahwa dia diutus oleh Menteri Kam Liong untuk menyelidiki keadaannya karena lama tidak ada berita. Kemudian setelah menyelidiki ke Yucen, Han Ki terlambat karena Khu Tek San telah pergi bersama Maya.

“Aku mendengar cerita tentang Ciangkun dan Maya yang ditolong oleh Mutiara Hitam dan suaminya. Hemm, ternyata hebat sekali kakakku itu!” kata Han Ki. “Karena mendengar bahwa engkau telah pergi ke selatan, maka aku cepat menyusul dan untung bahwa Kam-taijin telah waspada dan membekali segulung surat perintah untukku. Kalau tidak, agaknya terpaksa aku harus meniru perbuatan Kakakku Mutiara Hitam dan memaksa mereka melepaskanmu!”

“Memang telah terjadi hal-hal yang amat aneh,” kata Khu Tek San yang menceritakan pengalamannya, betapa kurirnya terbunuh oleh orang yang bernama Siangkoan Lee seperti terlihat oleh Maya dan betapa rahasianya di Yucen terbuka sehingga dia hampir celaka kalau saja tidak ditolong Mutiara Hitam.

“Hebatnya, orang yang bernama Siangkoan Lee itu agaknya masih melanjutkan usahanya untuk mencelakakanku! Akan tetapi... hemmmm, memang tidaklah aneh lagi kalau sudah diketahui bahwa dia adalah murid dan pembantu Suma-goanswe...,” Khu Tek San mengakhiri ceritanya sambil mengangguk-angguk.

“Kenapakah, Khu-ciangkun? Apakah Suma-goanswe musuhmu?” Han Ki bertanya.

Tek San menggeleng kepala. “Sesungguhnya bukan aku yang mereka musuhi. Mereka memukul aku untuk melukai Suhu.”

“Ah, begitukah? Jenderal Suma itu memusuhi Menteri Kam? Mengapa?” 

Kembali Tek San menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Hal itu adalah urusan keluarga, aku tidak berhak mencampuri. Susiok tentu dapat bertanya kepada Suhu.”

“Keluarga Suma adalah keluarga iblis! Tentu saja mereka selalu memusuhi orang baik-baik seperti Paman Khu!” Maya yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka tiba-tiba berkata gemas.

Kam Han Ki yang masih marah kepada gadis cilik itu memandang dan berkata dengan suara dingin, “Huh, kau bocah tahu apa?”

Maya membalas pandangan Han Ki dengan mata melotot dan suaranya tidak kalah dinginnya, “Kalau aku bocah, apakah engkau ini seorang kakek? Sombongnya, merasa diri sendiri paling tua dan paling pandai!” 

“Eh, Maya, jangan bersikap begitu kurang ajar!” Khu Tek San cepat mencela bekas puteri Khitan itu. “Kam-susiok ini adalah adik dari Suhu, dengan demikian berarti masih saudara misan dari mendiang ayahmu, Raja Khitan. Dia ini adalah pamanmu sendiri! Hayo cepat, memberi hormat dan minta maaf.”

Maya duduk di atas punggung kudanya, menoleh ke arah Han Ki dan mencibirkan bibirnya! Akan tetapi karena ia tahu bahwa Khu Tek San memandangnya dengan mata terbelalak marah, ia lalu berkata, “Dia bukan pamanku! Kulihat dia belum begitu tua untuk menjadi paman, hanya lagaknya saja seperti kakek-kakek!”

“Maya! Bagaimana kau berani bersikap kurang ajar seperti ini?” Khu Tek San membentak dengan muka merah. 

“Paman Khu, aku tidak biasa bersikap menjilat-jilat, apa lagi terhadap seorang yang sombong seperti dia.”

“Maya!” Kembali Khu Tek San membentak, matanya mengerling penuh kekhawatiran ke arah Han Ki.

“Sudahlah Khu-ciangkun. Bocah seperti ini memang biasanya sukar diurus! Dia ini sudah rusak karena terlalu dimanja,” Han Ki berkata dengan sikap tenang, akan tetapi sebenarnya pemuda ini merasa betapa perutnya menjadi panas dan ingin sekali dia menempiling kepala gadis cilik yang menggemaskan itu. 

Kedua pipi Maya menjadi merah saking marahnya. Ia membusungkan dada dan menegakkan kepala ketika memandang Han Ki sambil berkata, “Aku sudah rusak karena dimanja, ya? Dan kau sudah bobrok karena sombong!”

“Maya!” Khu Tek San membentak marah. “Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah seperti ini? Engkau amat sopan dan hormat kepadaku, mengapa kepada Kam susiok...”

“Karena engkau seorang yang baik dan gagah, Paman Khu. Dan dia ini... hemm....”

“Dia pamanmu sendiri!” Khu Tek San memperingatkan. 

“Paman apa? Aku tidak mempunyai paman seperti dia!” 

“Kalau engkau puteri Raja Khitan, berarti dia ini pamanmu sendiri!” 

Maya mencibirkan bibirnya. “Aku pun bukan puteri Raja Khitan....”

“Apa...?” Khu Tek San berseru heran, bahkan Han Ki juga menoleh, memandang anak perempuan itu dengan alis berkerut.

Memang pemuda ini merasa terheran-heran melihat Maya. Seorang anak perempuan yang ‘terlalu’ cantik jelita, yang terlalu berani dan kini juga ternyata terlalu galak! Patutnya menjadi puteri Ratu Siluman!

“Sesungguhnyalah, Paman Khu. Tadinya aku tidak ingin membuka rahasia ini, akan tetapi untuk membuktikan bahwa aku bukanlah keponakan dia ini, terpaksa kukatakan bahwa aku sebenarnya bukan Puteri Raja dan Ratu Khitan! Aku hanyalah seorang keponakan luar saja yang diambil anak sejak kecil. Aku hanyalah anak angkat saja!” 

Khu Tek San mengangguk-angguk dan berkata, “Biar pun demikian, berarti engkau adalah puteri Raja Khitan, Maya. Dan karena itu, engkau tidak boleh bersikap kurang ajar terhadap Kam-susiok. Dia adalah adik misan Raja Khitan. Selain itu, kalau tidak ada Kam-susiok ini, apakah, kau kira kita dapat selamat?”

“Cukuplah, Khu-ciangkun. Di sebelah depan ada rombongan orang, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan dan menyusul rombongan itu. Aku ingin tahu siapakah mereka yang lewat di daerah sunyi ini,” kata Han Ki.

“Baiklah, Susiok.” Khu Tek San lalu mengajak Maya mengejar Han Ki yang sudah membalapkan kudanya.

Maya menurut dengan mulut cemberut. Entah mengapa, dia merasa tidak senang kepada Han Ki semenjak pemuda itu muncul dengan gaya yang dianggapnya sombong dan angkuh, yang dianggapnya tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap dirinya! Pandang mata pemuda itu menyapu lewat begitu saja seolah-olah dia hanyalah sebuah patung yang tiada harganya untuk dipandang dengan perhatian. Pemuda itu sama sekali tidak memperhatikannya! Pemuda itu sombong dan dia membencinya!

Khu Tek San diam-diam merasa kagum sekali ketika tak lama kemudian melihat bahwa benar-benar terdapat serombongan orang di sebelah depan. Ia kagum akan ketajaman mata dan telinga pemuda yang menjadi susiok-nya itu. Hal ini saja menebalkan dugaannya bahwa pemuda ini tentu memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya!

Mereka bertiga menahan kuda ketika melewati rombongan itu. Melihat pakaian dan bendera yang terpasang di atas sebuah kereta, tahulah Khu-ciangkun dan Han Ki bahwa rombongan itu adalah serombongan piauwsu yang mengawal barang-barang dalam kereta itu. Mereka terdiri dari tujuh orang yang bersikap gagah dan bendera yang berkibar di atas kereta dihias lukisan sebatang golok dengan sulaman benang perak, di bawah golok ditulisi huruf ‘Gin-to Piauw-kiok’ (Perusahaan Pengawal Golok Perak).

Melihat datangnya tiga orang penungang kuda, tujuh orang piauwsu itu dengan sikap tenang dan waspada sudah menjaga kereta dan mata mereka memandang ke arah Khu Tek San penuh selidik.

Panglima she Khu ini sudah mendengar akan kegagahan para piauwsu ‘Golok Perak’, maka ia cepat menjura dan berkata, “Cu-wi Piauwsu hendak mengantar barang ke manakah?”

Kecurigaan tujuh orang itu berkurang ketika mereka menyaksikan sikap Khu Tek San yang ramah dan sopan, juga Khu-ciangkun tampak gagah perkasa. Sedangkan Kam Han Ki biar pun membawa pedang di punggungnya namun kelihatan halus sikapnya, halus dan tampan, tidak patut menjadi anggota perampok. Apa lagi Maya, gadis cilik itu.....

Pemimpin mereka, seorang yang dahinya lebar, membalas penghormatan Khu Tek San sambil berkata, “Kami tujuh orang piauwsu dari Gin-to Piauw-kiok hendak pergi ke kota raja, mengantar barang-barang sumbangan untuk istana Kaisar. Tidak tahu siapakah Sam-wi yang terhormat dan hendak pergi ke manakah?”

Khu Tak San maklum bahwa orang itu sengaja mempergunakan nama ‘Istana kaisar’ untuk menggertak kalau-kalau ada niat jahat hendak merampok kereta, maka ia tersenyum dan berkata, “Harap Cu-wi tidak usah khawatir. Aku orang she Khu bukanlah perampok, maka tidaklah perlu Cu-wi menyebut nama istana Kaisar. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi pemimpin piauwsu itu cepat berkata dengan suara tegas, “Kami harap Khu-sicu tidak mentertawakan kami karena sesungguhnyalah bahwa yang kami kawal adalah barang-barang sumbangan dari para pedagang dan pembesar daerah kami untuk Kaisar.” 

Tertariklah hati Khu Tek San. Ia adalah seorang panglima dan bahkan seorang yang mempunyai kedudukan cukup penting di kota raja, sebagai pembantu Menteri Kam, maka cepat dia bertanya, “Maafkan kalau tadi aku salah duga. Akan tetapi ada terjadi urusan apakah di kota raja maka para pedagang dan pembesar mengirim sumbangan kepada Kaisar?”

“Aihhh! Agaknya Sam-wi telah lama meninggalkan selatan!” Pimpinan piauwsu itu berseru heran. “Kota raja telah ramai dan dalam keadaan pesta-pora karena Kaisar akan merayakan pernikahan seorang di antara puteri-puteri istana. Siapakah yang tidak mendengar bahwa Kaisar akan menghadiahkan puteri tercantik, kembangnya istana, Puteri Song Hong Kwi kepada Raja Yucen?”

“Ouhhh...!” 

“Susiok...! Kau.... kau... kenapakah....?”

Tiba-tiba Tek San meloncat turun dari kudanya dan menangkap kendali kuda yang diduduki Han Ki karena tiba-tiba saja pemuda itu duduk miring di atas kudanya dan kudanya hendak lari karena kendalinya tidak dikuasai Han Ki. 

“Ahhh... tidak apa-apa...” Han Ki berkata. Ia sudah dapat menguasai kembali hatinya yang terguncang hebat mendengar keterangan piauwsu itu. Akan tetapi wajahnya menjadi pucat sekali dan dahinya berkeringat. “Mari... kita melanjutkan perjalanan secepatnya!”

Khu Tek San masih merasa heran menyaksikan pemuda itu yang tiba-tiba menjadi pucat dan muram wajahnya. Akan tetapi dia tidak berani bertanya dan mendengar ajakan Han Kit dia berkata, “Rombongan piauwsu ini mengawal barang-barang sumbangan untuk istana. Sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu mereka menyelamatkan barang-barang ini sampai ke istana. Sebaiknya kita melakukan perjalanan bersama mereka.”

Alasan itu kuat sekall dan Han Ki yang tidak ingin terbuka rahasia hatinya mengangguk. Tujuh orang piauwsu itu girang sekali ketika rmendengar pengakuan Khu Tek San bahwa dia adalah seorang Panglima Sung dan hendak memperkuat pengawalan atas barang-barang yang hendak disumbangkan kepada Kaisar. Maka berangkatlah rombongan yang kini terdiri dari sepuluh orang itu.

Selanjutnya baca
ISTANA PULAU ES : JILID-04
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger