logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Istana Pulau Es Jilid 17

Tak lama kemudian rombongan memasuki hutan besar yang ditakuti Sang Komandan. Tiba-tiba komandan ini berteriak, “Awas, di depan ada orang!”
Ji Kun yang berada di depan kereta pertama sudah melihat orang-orang itu, dan dia mengerutkan alisnya. Jelas tampak olehnya bahwa yang menghadang di depan itu tentulah orang-orang kang-ouw. Sikap mereka gagah dan bukanlah kasar seperti sikap perampok. Ada tujuh orang laki-laki yang menghadang di depan, berjajar memenuhi jalan. 

Komandan dan para perwira memberi aba-aba menghentikan kereta, kemudian memerintahkan pasukan mengurung kereta-kereta itu, dan dia sendiri bersama sisa pasukan lalu melarikan kuda menghampiri orang-orang yang menghadang itu. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, dengan sebatang golok besar di punggung, berjenggot panjang dan bersikap gagah perkasa, memimpin para penghadang itu, berdiri bertolak pinggang dan sinar matanya tajam menatap Sang Panglima.

Panglima yang duduk dengan angkuhnya di atas kuda itu membentak, “Kalian mau apa menghadang di sini? Minggirlah! Apa tidak melihat bahwa kami pasukan pengawal dari kerajaan? Apakah kalian ini pemberontak-pemberontak atau pengkhianat-pengkhianat yang hendak melawan pasukan kerajaan?” 

Laki-laki berjenggot panjang itu mengelus jenggotnya dengan tangan kiri, kemudian menjawab, “Ciangkun, kami adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak berjiwa pengkhianat atau pemberontak. Bahkan sebaliknya, kami adalah patriot-patriot negara yang menjadi pelindung rakyat yang tertindas! Negara dalam keadaan perang. Mengapa para pembesar hanya mementingkan kesenangan diri pribadi dan menambah beban rakyat dengan menculik dan memaksa gadis-gadis orang untuk dijadikan korban kebuasan nafsu pembesar? Kami tidak akan melawan pasukan kerajaan, akan tetapi kami menuntut agar para gadis yang ditawan dalam kereta itu dibebaskan!” 

“Hemm, enak saja kau bicara! Para gadis ini adalah calon-calon dayang atau selir pangeran, nasib mereka sudah pasti akan jauh lebih baik dari pada kalau mereka berada di rumah. Mereka akan menjadi orang-orang terhormat dan hidup mewah, bahkan keluarga mereka akan ikut pula menjadi orang terhormat. Kalian bilang bukan pemberontak, akan tetapi hendak menentang kehendak pangeran dan hendak melawan pasukan pemerintah. Pergilah sebelum kami basmi kalian kaum petualang pemberontak!” 

“Ciangkun, alasan kuno yang kau kemukakan itu memuakkan! Kau sendiri tahu betapa gadis-gadis itu pergi dengan paksaan. Dengar mereka terisak-isak, menangis. Kalau mereka pergi dengan sukarela, kami pun bukan orang-orang yang lancang mencampuri urusan orang. Akan tetapi karena melihat gadis-gadis itu dipaksa yang berarti penindasan kejam, kami tak mungkin berpeluk tangan saja. Kalau kau tidak mau membebaskan mereka sekarang juga, terpaksa kami menggunakan kekerasan.” 

“Si pemberontak keparat! Serbu!” Panglima itu mengeluarkan aba-aba dan para pengawal yang berjalan kaki sudah bersorak sambil maju menyerbu tujuh orang itu. 

Mereka ini pun sudah mencabut senjata masing-masing dan terjadilah pertandingan yang seru antara tujuh orang gagah itu melawan tiga puluh orang pasukan pengawal, sedangkan yang lain bertugas menjaga kereta-kereta dengan mengurungnya. 

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa merasa serba salah. Orang-orang kang-ouw itu ternyata cukup lihai sehingga banyak anak buah pengawal yang roboh, sedangkan panglima dan para perwira juga terdesak. Terutama sekali Si Jenggot Panjang amat lihai mainkan goloknya.

Dua orang murid Mutiara Hitam menjadi bingung. Tentu saja di dalam hati mereka, mereka berpihak kepada tujuh orang itu dan andai kata mereka tidak sedang bertugas, tentu mereka membantu tujuh orang itu dan membasmi pasukan pengawal. Akan tetapi dalam keadaan sekarang, andai kata turun tangan, mereka seharusnya membantu pasukan pengawal dan merobohkan penghalang itu agar mereka dapat cepat masuk kota dan dapat memulai dengan tugas mereka! Karena serba salah, baik Ji Kun mau pun Yan Hwa hanya duduk menonton saja dan dari permainan golok dan pedang para orang gagah itu, mereka dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak-anak murid Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai.

Agaknya pihak pasukan pengawal takkan kuat menghadapi tujuh orang gagah itu kalau pertandingan dilanjutkan seperti itu tanpa campur tangan lain. Selagi Ji Kun dan Yan Hwa saling lirik ketika Ji Kun menyingkap tenda dan menjenguk ke dalam, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah sebuah pasukan kecil terdiri dari selosin prajurit berkuda, dikepalai oleh seorang laki-laki bermuka panjang seperti kuda!

Ketika melihat pertempuran itu, laki-laki bermuka kuda itu yang bukan lain adalah Siangkoan Lee cepat membawa pasukannya menyerbu dan terkejutlah tujuh orang itu karena orang bermuka kuda ini benar-benar hebat sekali kepandaiannya. Dengan sebuah golok melengkung Siangkoan Lee sudah meloncat turun dari atas kudanya dan mengamuk.

Orang gagah berjenggot panjang yang menandinginya dirobohkannya dalam waktu belasan jurus saja. Juga pasukannya ternyata adalah pasukan istimewa yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi. Orang-orang gagah itu melakukan perlawanan mati-matian, namun akhirnya mereka semua roboh dan tewas jadi sasaran hujan senjata para pasukan pengawal! Pertempuran berhenti dan berakhir dengan matinya tujuh orang gagah itu dan belasan orang prajurit pengawal.

Siangkoan Lee segera berkata kepada panglima pengawal yang terluka pundaknya dalam pertempuran tadi. “Atas perintah Goanswe, seluruh siuli supaya langsung dibawa ke istana pangeran dan harap bergerak cepat karena Pangeran sudah tidak sabar menanti. Mengapa sekarang baru tiba di sini?”

“Maaf, Siangkoan-taihiap, kami terpaksa bermalam di luar hutan besar karena kami khawatir akan penyergapan di tengah malam dalam hutan itu.”

“Hemm, disergap di pagi hari pun kau tak mampu melindungi kereta-kereta itu!” kata Si Muka Kuda dengan suara menghina. “Kalian sudah terlambat, hayo cepat berangkat!” 

Karena takut kalau murid dan orang kepercayaan Jenderal Suma Kiat yang galak dan lihai itu akan menjadi marah dan menyalahkan mereka, maka para pengawal tidak berani bercerita tentang hilangnya seorang gadis yang diganti gadis lain dan seorang kusir baru yang mereka terima untuk jasanya menolong mereka terlepas dari bencana ketika kereta kabur. Hal ini menguntungkan dua orang murid Mutiara Hitam, karena kalau diketahui Siangkoan Lee, tentu orang yang lihai dan cerdik ini akan menjadi curiga dan menyelidiki mereka. 

Demikianlah, tanpa menimbulkan kecurigaan Yan Hwa ditempatkan di dalam istana pangeran bersama para gadis lain. Berkat kepandaiannya mengurangi riasan muka dan membuat mukanya pucat seperti orang berpenyakitan kalau dihadapkan Pangeran, Ok Yan Hwa berhasil membuat Pangeran kehilangan seleranya. Akan tetapi gadis ini amat rajin dan pandai melayani, sehingga Yan Hwa tidak diambil selir melainkan diberi pekerjaan sebagai dayang pelayan. Sedangkan Ji Kun menjadi seorang tukang mengurus kuda. Tentu saja dua orang muda yang lihai ini mendapatkan kesempatan baik untuk melakukan penyelidikan, dan terutama sekali Yan Hwa yang selalu dekat dengan Pangeran dan mengetahui apa bila ada tamu-tamu penting yang datang bertemu dengan Pangeran.....
********************
Maya duduk termenung di dalam pondok di mana dia bersembunyi. Hari telah hampir malam dan dia menanti kedatangan Suma Hoat. Telah empat hari dia berada di tempat persembunyiannya ini dan selama empat hari itu dia mendengar banyak dari Suma Hoat. Dia sendiri pun setiap malam keluar melakukan penyelidikan, namun harus dia akui bahwa tanpa bantuan keterangan-keterangan yang amat penting dari pemuda itu, akan sukarlah baginya menyelidiki keadaan musuh.

Penjagaan amat ketatnya dan kini dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng kota Siang-tan ini benar-benar amatlah kuatnya, jauh berbeda dengan kota Sian-yang. Bahkan dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng itu sedang mendatangkan barisan bantuan dari selatan untuk menghadapi ancaman pasukan-pasukan Mancu yang telah menduduki Sian-yang. Dengan barisan bantuan itu, jumlah pasukan Sung menjadi lebih besar dari pada pasukan Mancu dan Maya berpikir bahwa untuk menyerbu ke Siang-tan, pasukan Mancu harus mendatangkan bala bantuan juga.

Suma Hoat banyak membantunya dan diam-diam dia merasa berterima kasih kepada pemuda itu. Pemuda musuh besarnya karena bukankah pemuda itu putera Suma Kiat? Namun harus dia akui bahwa di dalam hatinya, dia tidak membenci Suma Hoat. Bahkan sebaliknya, dia merasa kagum dan suka kepada pemuda itu yang jelas menaruh hati cinta kepadanya. Hal ini mudah saja dia lihat dari pandang matanya, dari sikap dan gerak-geriknya, dari suara dan dari senyumnya.

Teringat akan hal ini, Maya menarik napas panjang karena terbayanglah wajah satu-satunya orang yang dicintanya, wajah Kam Han Ki. “Aihhh, Suheng. Banyak pria yang jatuh cinta kepadaku, akan tetapi mengapa engkau seorang yang kuharapkan, bahkan mengecewakan hatiku?” Teringat akan suheng-nya, Maya menundukkan mukanya dan perasaan rindu dendam mencekam hatinya, membuatnya menggigit bibir menahan tangis. 

Gerakan orang memasuki rumah itu menyadarkannya dan ia cepat meloncat bangun. Bukan Suma Hoat, pikirnya. Pemuda itu memiliki gerakan yang ringan, akan tetapi pendatang ini langkah kakinya berat! Langkah itu terdengar makin berat dan akhirnya terdengar suara orang roboh. Maya cepat meloncat ke ruangan depan dan betapa kagetnya melihat Suma Hoat rebah di lantai dalam keadaan pingsan! 

Maya cepat berlutut memeriksa dan segera melihat bahwa pernuda ini telah menderita luka oleh pukulan yang hebat, yang membuat tubuhnya dingin sekali dan dada kanannya membiru. Cepat ia memondong tubuh pemuda itu, membawanya ke dalam kamar tidur dan merebahkannya di atas pembaringan. Sekali renggut robeklah baju yang menutup dada Suma Hoat dan setelah memeriksa sebentar, tahulah Maya bahwa pemuda itu terkena pukulan yang mengandung hawa Im-kang kuat sekali dan tentu nyawanya akan terancam maut kalau tidak cepat ditolong.

Maka dia lalu duduk bersila di atas pembaringan, menempelkan telapak kanannya di dada kanan pemuda itu sambil mengerahkan hawa sinkang dari pusarnya melalui lengan. Untuk melawan luka akibat pukulan Im-kang itu, dia mengobatinya dengan pengerahan Yang-kang. Mula-mula hawa yang hangat memasuki tubuh Suma Hoat, kehangatan yang makin lama menjadi makin panas mengusir hawa dingin yang dideritanya semenjak dia terkena pukulan itu. 

Setelah lewat dua jam lebih, barulah wajah Suma Hoat yang pucat menjadi kemerahan dan napasnya menjadi normal kembali. Ketika dia membuka matanya perlahan dan melihat tangan Maya menempel di dadanya, merasakan betapa hawa yang panas memasuki dadanya, mendatangkan rasa hangat mengusir rasa dingin yang hampir merenggut nyawanya tadi, Suma Hoat menjadi terharu sekali. Dia menggerakkan tangan, meraba lengan Maya, membelai lengan itu dan berbisik, “Aku... aku cinta padamu...”

Maya yang sedang rindu kepada suheng-nya, selama mengobati tadi dia mendapatkan kesempatan untuk mengamati wajah pemuda ini dan jantungnya berdebar, menggelora. Wajah pemuda itu tampan sekali membuat hatinya amat tertarik. Di antara pemuda yang pernah menyatakan cinta kasih kepadanya, harus ia akui bahwa Suma Hoat merupakan pria yang paling tampan.

Gejolak darah masa dewasa membuat muka Maya merah sekali. Apa lagi ketika mendengar bisikan Suma Hoat mengaku cinta begitu pemuda itu siuman, membuat jantungnya berdebar keras. Dia menarik kembali tangannya yang tadi dipakai mengobati dada pemuda itu agar belaian pada lengan yang membuat lengannya gemetar itu tidak sampai diketahui Suma Hoat. 

“Suma Hoat, apa yang kau lakukan ini?” Maya membentak, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas sekali, bukan hanya karena dia tadi lama mengerahkan tenaga untuk mengobati pemuda itu, melainkan terutama sekali karena debar jantungnya membuat dia merasa aneh dan lemas, seperti dilolosi seluruh urat dari tubuhnya.

“Nona... engkau telah menolong nyawaku, dan karena aku tidak tahan untuk menyimpan perasaan hatiku lebih lama, biarlah sekarang aku mengaku dan aku akan rela andai kata engkau marah dan membunuhku. Nona, semenjak pertama kali aku memandangmu, aku telah jatuh cinta ketpadamu. Aku membantumu karena cinta...” 

Maya seperti terkena pesona. Seluruh tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah ketika pemuda itu kembali memegang lengannya yang dahaga akan cinta kasih. Rindu dendamnya yang selalu ditahan-tahannya terhadap suheng-nya membuat hatinya seolah-olah menjadi sebatang tanaman kering. Kini sikap dan bisikan Suma Hoat yang penuh getaran cinta kasih, seolah-olah merupakan embun pagi bagi hatinya, sejuk dan menyenangkan. 

“Nona, aku cinta padamu... aku bersumpah, aku mencintamu dengan hati tulus dan murni...” 

Maya memejamkan matanya, tubuhnya yang lemas itu menurut saja ketika ditarik dan terdengar rintih perlahan dari dadanya ketika ia merasa betapa tubuhnya dipeluk erat-erat, kemudian napasnya berhenti menjadi sedu-sedan ketika ia merasa betapa mulutnya dicium penuh kemesraan oleh Suma Hoat. Seperti dalam mimpi, kedua lengannya bergerak, membalas rangkulan pemuda itu dan pada saat itu Maya yang rindu akan cinta kasih itu seperti tidak ingat bahwa yang memeluk dan menciuminya bukanlah pemuda yang dicintanya dan dirindukannya, bukanlah Kam Han Ki suheng-nya, melainkan Suma Hoat, putera Suma Kiat musuh besarnya! 

Selama ini, hanya kepada tiga orang wanita saja Suma Hoat benar-benar jatuh cinta. Pertama-tama adalah cinta kasihnya kepada Ciok Kim Hwa yang juga merupakan cinta pertamanya. Kedua kalinya adalah ketika dia berjumpa dengan Khu Siauw Bwee, dan ke tiga kalinya adalah kepada Maya inilah. Kecuali tiga orang wanita itu, tidak ada lagi wanita yang benar-benar dicinta secara mendalam, bukan hanya cinta birahi belaka seperti yang telah dia jatuhkan kepada banyak sekali wanita sehingga dia dijuluki Jai-hwa-sian.

Dapat dibayangkan betapa bahagia hati Suma Hoat setelah dapat mendekap dan mencium mulut Maya. Dia merasa bahagia, mendapatkan pengganti Ciok Kim Hwa, pengganti Khu Siauw Bwee. 

“Maya... bidadariku, kekasih pujaan hatiku... bumi dan langit menjadi saksi akan cinta kasihku kepadamu, Maya...” 

Maya tersentak kaget. Tadi sebelum mendengar namanya disebut, dia hanyalah seorang gadis dewasa, seorang wanita yang haus akan cinta, yang menderita karena rindu sehingga dia terlena dalam dekapan Suma Hoat, pria tampan yang pandai merayu hati wanita itu. Akan tetapi begitu mendengar namanya disebut, dia sadar! Dia adalah Maya, panglima wanita pemimpin Pasukan Maut. Dia adalah Puteri Maya, puteri dari Raja dan Ratu Khitan yang sedang berjuang membalaskan kematian ayah bunda dan keluarganya! Dia adalah Maya, penghuni Istana Pulau Es, sumoi dari Kam Han Ki! 

Sekali meronta, Maya telah merenggutkan tubuhnya dari pangkuan dan dekapan Suma Hoat dan dia sudah meloncat turun dari atas pembaringan. Mukanya berubah pucat, sepasang matanya bersinar-sinar ketika ia memandang Suma Hoat yang menjadi kaget dan khawatir menyaksikan perubahan sikap ini. 

“Maya... kekasihku, kenapa...?” 

“Suma Hoat! Bagaimana engkau bisa mengenal namaku?” tiba-tiba Maya bertanya, suaranya penuh kecurigaan dan pandang matanya tajam menyelidik.

Sejenak Suma Hoat kagum dan bengong, diam-diam ia harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat gadis secantik Maya sehingga dalam keadaan seperti itu masih saja tampak cantik jelita, kecantikan yang aneh namun pada saat itu menguasai seluruh hatinya. 

“Ahhh, kekasih pujaan hatiku, jadi itukah yang mengejutkan hatimu?” Suma Hoat tersenyum lebar. “Tentu saja aku dapat menduga. Pertama karena aku melihat bahwa wajahmu yang cantik seperti bidadari itu bukan wajah seorang gadis Han dan mengingat engkau bekerja untuk orang Mancu, tentulah engkau seorang gadis Mancu pula. Dan ilmu kepandaianmu demikian hebat. Siapa lagikah gadis secantik dan terlihai di Mancu kalau bukan Panglima Wanita Maya? Akan tetapi, kenyataan itu bahkan menggirangkan hatiku, Maya dewiku. Engkau seorang Panglima Mancu, aku seorang putera jenderal. Kita akan menjadi sepasang suami isteri yang cocok dan...” 

“Cukup!” tiba-tiba Maya membentak dan melihat pandang mata gadis itu, Suma Hoat baru merasa terkejut sekali karena gadis itu benar-benar telah menjadi marah sekali. 

“Maya... ada apakah...? Mengapa engkau marah-marah...?” Suma Hoat turun pula dari pembaringan. Melihat perubahan yang amat menggelisahkan ini, dia yang cerdik cepat menceritakan jasanya untuk menyenangkan hati Maya. “Tidak cukupkah bukti yang kuperlihatkan dalam membantumu? Bukankah engkau sendiri yang tadi mengobati aku yang terluka hebat dan hampir tewas? Maya... aku rela berkorban nyawa untukmu. Untuk memenuhi permintaanmu dan membantumu, aku tadi menyelidiki ke dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong yang sedang mengadakan perundingan dengan Bu-koksu, dan aku mendapatkan sebuah rahasia rencana mereka yang amat penting bagimu!”

Suma Hoat memandang wajah Maya dengan hati gelisah karena gadis itu seolah-olah tidak mendengarnya, bahkan kini tampak penyesalan dan kemarahan membayang di wajah yang cantik itu. Maya merasa menyesal sekali, menyesalkan diri sendiri yang telah menjadi lemah dan membiarkan pemuda itu memeluk dan menciuminya. Betapa mungkin hal itu terjadi! Dia masih nanar kalau memikirkan kembali dekapan dan ciuman yang membuat darahnya menggelora tadi!

“Maya, dengarlah,” Suma Hoat menyambung cepat. “Pangeran Ciu dan Koksu berunding dan mengambil keputusan untuk memancing pasukan Mancu meninggalkan Sian-yang menyerbu Siang-tan. Mereka lalu menggunakan saat itu untuk menyerbu dan merampas kembali Sian-yang dan mengurung pasukan antara kedua kota itu. Sial bagiku, dalam persembunyianku itu aku ketahuan oleh seorang panglima pengawal Koksu yang amat lihai dan dalam beberapa gebrakan saja aku telah terpukul. Untung keadaan yang kacau memungkinkan aku melarikan diri dan ke sini... eh, Maya, bukankah sudah terbukti betapa aku rela mengorbankan apa saja untukmu?” 

Maya menarik napas panjang. “Terima kasih atas bantuanmu, Suma Hoat. Akan tetapi jangan kau mengira bahwa semua jasamu itu harus kubalas dengan cinta! Engkau telah mengetahui siapa aku. Aku adalah Puteri Maya, juga Panglima Maya, dan aku adalah penghuni Istana Pulau Es! Tak mungkin aku mencinta orang seperti engkau yang seharusnya kubunuh, karena engkau adalah putera Suma Kiat musuh besarku! Untuk bantuanmu itu, aku membalas dengan mengampunimu, tidak membunuhmu. Nah, selamat tinggal!” 

“Maya...!” Suma Hoat berteriak, kaget bukan main mendengar bahwa Maya adalah penghuni Istana Pulau Es! Dia mengejar, akan tetapi sekali berkelebat saja Maya telah lenyap dari situ. 

“Ahhhh... tidak... tidak mungkin...!” Suma Hoat menjatuhkan diri ke atas pembaringan setelah dia kembali ke kamar itu.

Hatinya seperti diremas, semua harapannya membuyar. Mengapa nasibnya seburuk itu dalam cinta kasih? Setelah gagal memperisteri Ciok Kim Hwa, setelah gagal meraih cinta kasih Khu Siauw Bwee, setelah semua harapannya tercurah kepada Maya dan melihat Maya berada dalam dekapannya malah diciuminya, kini Maya terlepas dan terbang pula dari tangannya! Kembali dia gagal! Tidak ada harapan lagi karena Maya ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es yang tentu saja memiliki kepandaian yang amat luar biasa! Mengapa nasibnya bagitu buruk sehingga dia dipertemukan dengan dua orang dara penghuni Istana Pulau Es? Apakah seperti Siauw Bwee, Maya juga telah mencinta laki-laki lain? Ah, nasib!

Ketika Suma Hoat bangkit lagi, rambutnya awut-awutan karena dijambakinya, wajahnya pucat dan sepasang matanya kembali mengandung sinar yang keji, sinar yang telah lama meninggalkan matanya semenjak dia melukai Ketua Siauw-lim-pai, semenjak dia sadar akan kesesatannya. Hatinya yang berkali-kali mengalami pukulan, kegagalan cinta, membuat perasaannya menjadi kecut dan kambuh kembalilah penyakitnya, penyakit yang membuat dia menjadi Jai-hwa-sian, penyakit yang membuat dia membenci wanita, ingin mempermainkan semua wanita, terutama mempermainkan cinta kasih mereka! 

Kalau dia menjadi sakit hati karena cintanya terhadap wanita, dia akan mempermainkan cinta kasih wanita. Mulai detik itu juga, iblis mulai menguasai hati Suma Hoat lagi, seolah-olah Jai-hwa-sian yang beberapa bulan lamanya telah mati itu kini bangkit dan hidup kembali. Dan dengan beringas pemuda itu meloncat ke luar meninggalkan rumah itu, kemudian di malam hari itu, di sebuah rumah besar, terdengarlah rintihan dari seorang gadis yang dipermainkannya, kemudian menjelang pagi terdengar jerit gadis itu yang mengantar nyawanya terbang meninggalkan tubuhnya yang setelah diperkosa lalu dibunuh oleh tangan Jai-hwa-sian.....
********************
Suma Hoat tidak membohong ketika dia bercerita kepada Maya. Memang sore hari itu dia telah menyelidik ke istana Pangeran Ciu Hok Ong. Sayang bahwa ketika dia sudah mendengar sebagian dari percakapan antara Pangeran Ciu dan Koksu negara bersama panglima-panglima tinggi, tiba-tiba dia diserang seorang pengawal berpakaian preman yang amat lihai. Tentu saja Suma Hoat tidak mampu menandingi pengawal itu dan terpaksa melarikan diri dengan membawa luka karena pengawal itu bukan lain adalah Kam Han Ki!

Akan tetapi, pada waktu Pangeran Ciu bersama Bu-koksu mengadakan perundingan di pondok taman yang didirikan di atas telaga buatan itu, ada seorang manusia lain yang juga diam-diam mengintai dan mencuri dengar percakapan orang-orang besar ini. Dia bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang bekerja sebagai dayang dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong.

Bedanya, kalau Suma Hoat mengintai dengan bersembunyi di atas wuwungan pondok sehingga dia terlihat dan diserang oleh Kam Han Ki, dara perkasa ini lebih cerdik dan dia bersembunyi di bawah pondok, menyelam ke dalam air, berpegang pada tiang pondok dan hanya menyembulkan kepalanya sambil bersembunyi di balik tiang, mendengar percakapan orang-orang yang duduk di atas papan pondok. Karena keadaan di kolong pondok itu gelap, tentu saja tempat persembunyian Yan Hwa ini lebih aman sehingga Kam Han Ki yang amat lihai itu sendiri pun tidak dapat melihatnya.

Seperti juga Suma Hoat, Yan Hwa dapat menangkap percakapan antara Pangeran Ciu dan Bu-koksu tentang rencana mereka untuk menjebaknya dan menghancurkan pasukan Mancu. Dia menjadi girang sekali. Hari itu adalah hari terakhir dan besok pagi-pagi dia sudah harus meninggalkan tempat ini untuk mengadakan pertemuan dengan kawan-kawannya, maka hasil pengintaiannya itu merupakan rahasia yang penting sekali bagi pasukan Mancu.

Akan tetapi, betapa terkejutnya ketika ia melihat bayangan berkelebat dan seorang laki-laki tampan berdiri di depan Bu-koksu sambil berkata tenang, ”Bu-loheng, aku telah mengusir seorang mata-mata yang tadi mengintai di sini.”

“Eh, mengapa kau usir dan tidak kau tangkap atau bunuh?” Koksu Bu Kok Tai bertanya, tidak puas.

“Dia lihai sekali, Loheng. Akan tetapi dia sudah terluka oleh sebuah pukulanku.” 

“Siapakah dia? Apakah kau mengenal dia?” 

“Tempatnya gelap, dia bersembunyi di belakang wuwungan, Loheng. Aku hanya melihat dia dalam cuaca remang-remang, dia masih muda dan tampan, akan tetapi aku tidak mengenalnya.” 

“Kam-siauwte, engkau telah berjasa. Harap kau suka melakukan penyelidikan ke kota, jangan sampai ada mata-mata musuh dapat menyelundup masuk ke kota Siang-tan ini.” 

“Baiklah, Loheng.” Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Ok Yang Hwa masih memeluk tiang di bawah pondok itu, wajahnya pucat dan dia menggigil. Bukan menggigil karena kedinginan yang dapat dilawannya dengan pengerahan sinkang-nya, melainkan menggigil karena ketakutan! Ok Yan Hwa murid Mutiara Hitam, menggigil ketakutan? Memang benar demikian dan hal ini tidaklah aneh karena dara perkasa itu tadi mengenal Si Pemuda yang menghadap Bu-koksu sebagai Kam Han Ki!

Perasaan terheran-heran melihat adik sepupu gurunya itu kini membantu Koksu Negara Sung, bercampur dengan rasa ngeri dan takut karena kalau sampai Kam Han Ki melihatnya, tentu dia celaka. Paman gurunya lebih lihai dari pada Maya, pernah menundukkan dia dan suheng-nya di medan pertempuran, bahkan memperingatkan mereka berdua agar meninggalkan barisan Mancu.

Karena telah mendengar rahasia penting dan hatinya gentar setelah melihat Kam Han Ki, Yan Hwa lalu menyelam, berenang di bawah permukaan air tanpa menimbulkan suara, meninggalkan tempat itu dan langsung dia menghubungi suheng-nya, Can Ji Kun yang menyelundup dan bekerja sebagai tukang kuda. Isyarat suitan yang dikeluarkan Yan Hwa segera mendapat balasan dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik seperguruan, juga sepasang kekasih ini, sudah saling berhadapan di belakang kandang kuda yang gelap.

Ji Kun segera merangkul Yan Hwa dan dia berbisik kaget, “Aihhh... kenapa pakaianmu basah semua?”

“Aku baru saja menyelidiki perundingan di pondok telaga dengan hasil baik,” Yan Hwa balas berbisik. 

“Engkau tentu kedinginan. Hayo masuk ke kamarku, tanggalkan pakaian basah ini dan kuhangatkan...” 

“Hushhh, itu saja yang kau pikirkan, Suheng. Dengarlah, kita harus pergi dari sini, sekarang juga!” 

“Kenapa? Kau kelihatan ketakutan, Sumoi.”

”Memang aku takut setengah mati. Kau tahu... Kam-susiok berada di sini, dia menjadi pengawal Bu-koksu!” 

Can Ji Kun membelalakkan matanya. “Apa? Kam-susiok? Kau maksudkan dia... Kam Han Ki penghuni Istana Pulau Es?” 

Yan Hwa mengangguk dan dengan singkat menceritakan semua pengalamannya ketika dia mengintai tadi. “Karena itulah, kita harus sekarang juga meninggalkan tempat ini. Besok adalah hari yang menentukan bagi kita untuk berkumpul di dalam kuil tua di luar kota. Aku telah mendengar rahasia yang amat penting itu, terutama sekali kehadiran Kam-susiok di sini tentu akan menarik perhatian Maya. Dan kau sendiri tentu sudah mendapatkan banyak keterangan. Selagi gelap begini, akan berkuranglah bahayanya untuk melarikan diri. Mudah-mudahan saja jangan sampai bertemu dengan Kam-susiok!” Yan Hwa bergidik ngeri karena dia takut sekali kepada adik gurunya itu.

“Baiklah kalau begitu, Sumoi. Nih pedangmu, simpanlah!” Yan Hwa menerima pedangnya yang ia titipkan kepada suheng-nya ketika mereka menjalankan siasat menyelundup kota bersama rombongan siuli, “Akan tetapi, engkau harus berganti pakaian lebih dulu. Pakaianmu basah kuyup begini.”

“Tidak ada waktu untuk kembali ke istana. Kalau ada yang melihat pakaianku tentu akan menimbulkan kecurigaan. Sudahlah, basah begini pun tidak apa-apa, Suheng.” 

“Bagimu tidak apa-apa, akan tetapi kalau engkau sakit, akulah yang akan kehilangan!” Ji Kun berkata, “Tidak, engkau harus berganti pakaian kering. Biarlah engkau memakai pakaianku saja.”

Yan Hwa tidak membantah lagi. Dengan belaian-belaian mesra, Ji Kun membantunya menanggalkan pakaian basah dan mengenakan pakaian kering yang tentu saja terlalu besar bagi Yan Hwa. Dalam keadaan seperti itu, mereka tiada ubahnya sepasang suami isteri muda yang saling mencinta. Kalau Yan Hwa yang masih ketakutan mengingat kehadiran Kam Han Ki tidak menolaknya, tentu Ji Kun akan melepas rindunya terhadap sumoi-nya atau kekasihnya itu. 

Mereka lalu menyelundup keluar dari lingkungan istana, melalui tembok belakang yang tidak jauh dari kandang-kandang kuda di mana Ji Kun bekerja. Dengan kepandaian mereka, kedua orang murid Mutiara Hitam ini berhasli meloncat ke luar tanpa dilihat para peronda dan penjaga. Mereka meloncat dan berlarian di atas genteng rumah-rumah penduduk kota dengan hati-hati sekali dan legalah hati mereka melihat bahwa di atas rumah-rumah itu tidak nampak penjaga-penjaga. 

“Kita harus menghubungi Kwa-huciang dan Theng-ciangkun lebih dulu,” kata Ji Kun.

“Kemarin aku telah berhasil menghubungi mereka.” 

“Apakah mereka masih menyamar sebagai pengemis?” 

“Benar, dan mereka bersembunyi di kolong jembatan Ayam Besi di sebelah utara bersama para pengemis lainnya. Kita harus membantu mereka keluar dari kota. Marilah!”

Akan tetapi ketika mereka melompat ke atas genteng sebuah rumah besar, tiba-tiba muncul empat bayangan orang-orang yang tadinya bersembunyi dengan mendekam di balik wuwungan. Mereka adalah empat orang pengawal yang memegang pedang dan seorang di antaranya membentak, “Berhenti! Siapa kalian berdua?” 

Kedua orang murid Mutiara Hitam itu menjawab dengan gerakan pedang yang telah mereka cabut dari sarungnya. Gerakan mereka cepat bukah main dan keduanya seperti berlomba. Tampak sinar kilat berkelebat dan empat orang pengawal itu telah roboh dan tewas seketika. Kakak beradik seperguruan ini masing-masing merobohkan dua orang!

“Tangkap penjahat...!” 

Kini muncullah belasan orang pengawal yang berloncatan dari empat penjuru, dan kedua orang muda perkasa itu sudah dikurung. Terjadilah pertempuran seru di atas genteng.

”Cepat, kita harus pergi dari sini!” Ji Kun berkata sambil mengelebatkan pedangnya. 

Para pengawal yang datang mengeroyok ini memiliki kepandaian lumayan sehingga terdengarlah bunyi berdencing nyaring ketika Sepasang Pedang Iblis di tangan Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk, mematahkan senjata-senjata lawan yang menghujani mereka dengan serangan dahsyat. Dua orang pengawal roboh lagi, akan tetapi kini tampak banyak sekali pengawal berloncatan. 

Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau pasukan pengawal dikerahkan, mereka akan menghadapi bahaya besar dan akan sukar sekali untuk dapat meloloskan diri. Apa lagi kalau mereka teringat kepada Kam Han Ki, mereka merasa ngeri. Maka sambil memutar pedang yang mengeluarkan hawa menyeramkan dan sinar kilat sehingga para pengeroyok menjadi gentar, keduanya meloncat ke depan, berdiri di atas genteng dan dikejar oleh para pengawal.

Terdengar bunyi suitan-suitan dari para pengawal yang memberi tanda bahaya sehingga dari mana-mana muncullah para penjaga yang tadinya melakukan penjagaan sambil bersembunyi. Melihat betapa dari depan, kanan, kiri muncul pula banyak pengawal, Ji Kun dan Yan Hwa lalu meloncat turun. Seperti juga di atas, di bawah sudah terdapat banyak pengawal yang segera menyambut dan mengurung mereka. Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk dan seperti biasa, pedang mereka seolah-olah berubah menjadi naga kilat, sepasang naga yang amat dahsyat dan mereka berlomba membunuhi para musuh yang mengeroyok mereka. 

“Sing-sing... crat-crat...! Delapan orang, Suheng!” Yan Hwa berseru ketika tubuhnya mencelat ke atas dan pedangnya menyambar ke bawah, merobohkan dua orang pengeroyok yang hampir putus leher mereka terbabat pedang Li-mo-kiam di tangannya. Ucapannya itu berarti bahwa sudah delapan orang yang dirobohkannya. 

Ji Kun menggulingkan tubuhnya, pedangnya membabat ke sekelilingnya. “Wuuuttt, crok-crok...! Sembilan orang Sumoi!” katanya gembira karena dia menang satu orang. 

Yan Hwa penasaran dan pedangnya diputar makin hebat. Kedua orang itu kini telah lupa akan bahaya, lupa akan menyelamatkan diri, bahkan lupa bahwa mereka tadi khawatir sekali akan munculnya Kam Han Ki. Mereka telah berubah menjadi dua orang yang haus darah, ingin berlomba berbanyak-banyaknya dalam membunuh musuh!

Tiba-tiba terjadi kekacauan di antara para pengeroyok dan ternyata tiga puluh orang lebih yang berpakaian pengemis mengamuk dan menyerang para pengawal itu. Keadaan menjadi kacau-balau dan tiba-tiba Ji Kun dan Yan Hwa melihat Kwa-huciang dan Theng-ciangkun muncul dekat mereka. 

“Cepat, ikut kami...!” bisik Kwa-huciang memberi isyarat dengan tangannya. 

Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau mereka menuruti nafsu hati berlomba membunuhi musuh, akhirnya mereka akan terjebak dan sukar sekali meloloskan diri. Mereka segera menyelinap dan mengikuti Kwa-huciang dan Theng-ciangkun yang agaknya memang sudah merencanakan pelarian ini. Menggunakan kekacauan karena para pengemis menyerbu para pengawal, empat orang mata-mata ini berlari dan melalui lorong-lorong gelap, akhirnya mereka itu dapat lolos dari kota dengan jalan merobohkan beberapa orang penjaga tembok kota yang sunyi dan kurang kuat penjagaannya, meloncat ke atas tembok dan menggunakan tali yang sudah disediakan untuk ke luar. 

Setelah mereka terbebas dari kejaran para pengawal dan penjaga, Ji Kun memuji kawannya dan berkata, “Eh, Kwa-huciang, untung engkau datang, kalau tidak tentu kami akan repot menghadapi kepungan pasukan-pasukan musuh. Bagaimana kalian berdua dapat menggerakkan para pengemis itu?” 

“Mereka itu sebagian besar adalah pengemis-pengemis anggota Hek-tung Kai-pang yang bergabung dengan Coa-bengcu. Telah kita ketahui bahwa diam-diam Coa-bengcu menjadi sekutu pemerintah Yucen, maka kami berdua lalu mengaku sebagai mata-mata dari Yucen. Mendengar ini, tentu saja mereka siap membantu kami berdua untuk meloloskan diri dari dalam kota.” 

“Hemm, bagus sekali siasatmu, Kwa-huciang. Sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat! Para pengemis itu adalah kaki tangan Yucen, musuh kita juga, dan tentu mereka akan terbasmi oleh para penjaga Sung. Sungguh bagus, ha-ha-ha!” Ji Kun memuji.

Kwa-huciang mengerutkan alisnya dan dia menarik napas panjang. “Yaaah, begitulah perang! Demi kemenangan pihak sendiri, orang tidak segan-segan melakukan segala macam hal yang dalam keadaan biasa akan membuatnya malu sekali karena perbuatan semacam yang kami lakukan adalah keji dan curang. Sudahlah, mari kita cepat menuju ke kuil tua di mana tentu Li-ciangkun telah menanti kita.” 

Benar saja dugaan pembantu utama Maya ini. Ketika mereka berempat memasuki kuil tua yang sudah tidak digunakan, di luar kota yang sunyi itu, Maya sudah berada di situ. Wajah Maya yang tadinya agak keruh karena masih teringat akan peristiwa antara dia dengan Suma Hoat, kini menjadi berseri. Girang hatinya bahwa empat orang pembantunya ternyata dapat lolos pula dan berkumpul kembali di tempat itu dalam keadaan selamat. 

Empat orang itu segera melaporkan hasil penyelidikan mereka kepada Maya. Kwa-huciang dan Theng-ciangkun, dengan bantuan para pengemis telah berhasil menyelidiki keadaan di kota Siang-tan, bahkan telah berhasil membuat gambar peta keadaan kota itu dan sekitarnya.

Hasil penyelidikan mereka ini amat besar artinya bagi Maya, akan memudahkan mengatur siasat penyerbuan ke kota itu. Setelah memuji hasil mereka, Maya lalu menanyakan hasil penyelidikan kedua orang murid Mutiara Hitam. 

“Kami berdua berhasil menyelundup ke dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong,” Yan Hwa berkata dan dengan singkat dia menceritakan pengalamannya bersama Ji Kun ketika mereka berdua menyamar sebagai pengganti siuli dan tukang kuda. Maya kagum bukan main akan kecerdikan kedua orang muda itu, juga merasa geli karena dapat membayangkan betapa lucunya pengalaman mereka itu. 

“Dan apa saja yang kalian dapatkan dalam penyelidikan kalian?” tanyanya setelah dia memuji. 

“Hasil-hasil lainnya tidak begitu penting, akan tetapi ada dua buah berita yang tentu akan kau anggap hebat sekali,” kata Yan Hwa. 

Maya mengerutkan alisnya, hatinya tidak enak. “Lekas katakan, berita apa itu?” 

“Pertama, dari perundingan antara Pangeran Ciu, Bu-koksu dan para panglimanya, mereka merencanakan untuk menjebak kita! Mereka akan membiarkan pasukan-pasukan kita meninggalkan Sian-yang menyerbu Siang-tan. Diam-diam mereka akan memotong jalan dan mengurung pasukan kita di antara kedua kota itu dengan pengerahan bala tentara yang jauh lebih besar dari pada pasukan kita.”

Kwa-huciang dan Theng-ciangkun terkejut sekali mendengarkan berita yang amat penting itu. Akan tetapi Maya mengangguk dan menjawab, “Memang berita itu hebat dan amat penting, perlu segera kita hadapi dengan siasat lain, akan tetapi aku telah mendengarnya juga, Yan Hwa. Biar pun dari sumber lain, aku pun telah tahu akan rencana siasat mereka itu. Berita kedua apa lagi?” 

“Berita kedua ini lebih hebat lagi. Aku telah melihat... Kam-susiok sebagai pengawal Bu-koksu!” 

“Apa...?! Siapa...?” Maya yang tadinya duduk di atas lantai, meloncat bangun dan mukanya berubah pucat. 

Yan Hwa maklum bahwa tentu Maya terkejut mendengar bahwa suheng-nya berada di kota itu, bahkan menjadi pengawal Koksu musuh. “Aku melihatnya sendiri, dan untung bahwa aku mengintai dari bawah, di dalam air, karena kalau sampai Kam Han Ki-susiok melihatku, tentu aku akan celaka.” 

Maya termenung dan teringat akan keadaan Suma Hoat. Melihat betapa pemuda lihai itu terkena pukulan yang amat hebat, dia percaya bahwa penglihatan Yan Hwa tentu tidak keliru dan yang melukai Suma Hoat tentulah suheng-nya sendiri, Kam Han Ki! Yang membuat dia terheran-heran adalah kenyataan bahwa suheng-nya itu dahulunya jelas membantu pasukan Yucen, sungguh pun bukan sebagai petugas resmi, mengapa sekarang tahu-tahu menjadi pengawal Bu-koksu dari Kerajaan Sung? Apakah yang telah terjadi dengan suheng-nya? 

“Kita harus kembali ke Sian-yang sekarang juga!” Tiba-tiba ia berkata, suaranya agak tergetar. Betapa hatinya takkan gelisah kalau mendengar bahwa suheng-nya berada di pihak musuh? Bagaimana kalau Kam Han Ki maju sebagai Panglima Sung? Dapatkah dia berhadapan dengan suheng-nya yang dicintanya itu sebagai musuh? 

Lima orang itu berjalan menuju ke depan kuil tua. Akan tetapi baru saja mereka melalui ambang pintu depan yang sudah rusak, tiba-tiba terdengar suara berdesir sambung-menyambung dan belasan batang anak panah dan senjata piauw menyambar ke arah mereka dari depan, kanan dan kiri.

“Mundur!” Maya berkata setelah mereka berhasil mematahkan semua senjata rahasia itu dengan pukulan dan kibasan tangan ke kanan kiri. Mereka meloncat mundur lagi dan Maya berkata perlahan, “Hati-hati, kita terkepung musuh. Jangan bergerak sebelum aku melihat keadaan.”

Biar pun keadaan mereka terkepung dan cuaca di luar masih gelap sehingga mereka terancam bahaya, namun sikap Maya tetap tenang. 

Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar, “Heiiiii! Kalian mata-mata Mancu! Menyerahlah, kalian telah terkepung dan tidak akan dapat lolos lagi!”

Maya sudah menyelinap dan tanpa mengeluarkan suara dia mengintai dari empat penjuru, kemudian dia kembali menghampiri empat orang pembantunya dan berkata, “Banyak sekali pasukan mengepung kita. Kita harus menggunakan cuaca gelap ini untuk menerjang ke luar dan melawan mati-matian. Kalau sudah terang, harapan kita tipis sekali untuk dapat lolos. Kita akan berhadapan dengan perlawanan yang kuat, akan tetapi betapa pun juga, seorang di antara kita harus dapat lolos dan menyampaikan berita-berita penting itu kepada Pangeran. Oleh karena itu, tidak boleh kita gagal semua, maka harus berpencar agar sedikitnya salah seorang di antara kita dapat lolos dan sampai ke Sian-yang. Ji-wi Ciangkun harap menyerbu dari pintu belakang dan aku sendiri akan menyerbu dari pintu depan. Ji Kun, kau menerobos dari jendela kiri, sedangkan Yan Hwa dari jendela kanan. Dengan dipecah menjadi empat bagian, tentu kepungan mereka tidak begitu rapat lagi dan kalau untung kita baik, mudah-mudahan kita semua akan dapat lolos dengan selamat. Mengertikah semua?” 

Mereka mengangguk. Memang, di antara mereka berlima, yang dapat dikatakan paling rendah kepandaiannya, sungguh pun sama sekali bukanlah rendah menurut ukuran umum, adalah Theng-ciangkun dan Kwa-huciang. Oleh karena itu, kedua orang ini disuruh menyerbu bersama. 

“Sekarang, aku akan menyerbu lebih dulu ke depan. Kalau mereka sudah menyambutku, Ji Kun harus cepat menerjang ke kiri untuk mengacaukan mereka, kemudian Yan Hwa menyusul menyerbu ke kanan, sedangkan Ji-wi Ciangkun menyerbu paling akhir ke belakang.” 

Setelah para pembantunya mengangguk tanda mengerti dan setuju, Maya melangkah ke luar dengan sikap tenang. Dia tidak membawa senjata. Kalau dia berpakaian sebagai panglima, tentu saja pinggangnya selalu terhias sebatang pedang panjang. Akan tetapi kalau berpakaian preman, dara ini tidak pernah memegang senjata dan hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa seorang yang telah memiliki tingkat kepandaian seperti dia tidak lagi membutuhkan senjata.

Begitu tubuhnya muncul ke luar, kembali ada belasan anak panah menyambar, namun sekali meraih, beberapa batang anak panah dapat ditangkisnya dan sebagian lagi runtuh terkena sambaran hawa pukulan tangannya yang dikibaskan. Sambil tersenyum mengejek Maya lalu melontarkan anak-anak panah yang dapat ditangkapnya itu ke arah asalnya. Terdengarlah pekik-pekik kesakitan disusul robohnya tubuh orang di dalam gelap ketika senjata-senjata itu makan tuannya sendiri! 

“Tangkap mata-mata!” 

“Bunuh dia!” 

Teriakan-teriakan ini disusul serbuan banyak sekali pasukan yang menyerang Maya dengan macam-macam senjata, seperti hujan datangnya. Namun Maya bersikap tenang, tubuhnya berkelebat ke kiri dan berbareng dengan robohnya dua orang oleh tamparan-tamparannya, tangannya sudah merampas sebatang pedang lawan. Mulailah pendekar wanita yang sakti ini mengamuk, memutar pedang rampasannya dan terdengar suara nyaring berdentang ketika pedangnya menangkis banyak senjata, disusul pukulan-pukulannya dengan tangan kiri dan tendangan-tendangan kedua kakinya yang merobohkan banyak pengeroyok. 

Tiba-tiba terjadi kegaduhan di sebelah kiri kuil tua dan tampak sinar kilat menyambar-nyambar. Itulah Can Ji Kun yang sudah menerjang ke luar. Seperti juga Maya, pemuda ini telah disambut oleh pengeroyokan puluhan orang tentara musuh. Keadaan menjadi ramai dan kacau, apa lagi ketika Yan Hwa juga cepat menyusul ke luar di sebelah kanan kuil dan mengamuk dengan Pedang Iblis di tangannya.

Pasukan yang mengurung mereka itu ternyata juga telah dibagi-bagi sehingga tidaklah terjadi kepanikan di pihak mereka seperti diharapkan Maya karena yang mengepung mereka berjumlah seratus enam puluh orang, dan kini dibagi menjadi empat regu, masing-masing dipimpin oleh perwira-perwira pengawal yang berkepandaian tinggi. 

Sambutan pasukan yang besar jumlahnya ini mengejutkan Maya. Diam-diam ia merasa khawatir sekali kalau-kalau di antara para pengepung itu terdapat suheng-nya. Akan tetapi dia tidak mempedulikan lagi hal itu dan terus mengamuk sambil berusaha mencari lowongan untuk melarikan diri. Dia maklum dengan penuh penyesalan bahwa dalam keadaan seperti itu, di mana terdapat rahasia besar yang harus disampaikan kepada Pangeran Bharigan di Sian-yang agar pasukan Mancu tidak masuk dalam perangkap yang dipasang oleh pimpinan Sung, dia atau seorang di antara mereka harus dapat lolos dan terpaksa mereka tidak dapat saling menolong. Kalau saja tidak ada hal yang harus disampaikan ke Sian-yang itu, tentu dia akan mengamuk dan akan menolong anak buahnya, kalau perlu tewas bersama semua pembantunya. 

Kwa-huciang dan Theng-ciangkun juga mengamuk sekuat mereka. Namun jumlah pengeroyok terlalu banyak, bahkan di antara para perwira pengawal terdapat orang-orang pandai, di antaranya terdapat Siangkoan Lee yang lihai. Biar pun kedua orang perwira pembantu Maya itu mengamuk dan berhasli merobohkan belasan orang pengeroyok, namun akhirnya mereka berdua roboh juga dan tewas di bawah hujan senjata pasukan Sung yang marah melihat betapa teman-teman mereka banyak yang tewas. 
Di lain bagian dari pertempuran sebelah itu, Ji Kun mengamuk dengan pedang iblis di tangannya. Dia seperti harimau yang haus darah, pedangnya berubah menjadi sinar kilat menyambar-nyambar yang mematahkan banyak senjata lawan dan merobohkan banyak orang. Sudah ada dua puluh orang roboh dan tewas oleh pedangnya, namun dia sendiri juga terluka di pahanya, keserempet golok. Betapa pun juga, pemuda yang perkasa ini tidak menjadi gentar dan dia mengamuk terus, merasa kecewa bahwa dia terpaksa harus bertanding jauh dari Yan Hwa sehingga dia tidak dapat membuktikan kepada sumoi-nya itu bahwa dia lebih banyak merobohkan lawan dari pada sumoi-nya! 

Tiba-tiba para pengeroyok bertambah dan muncullah Siangkoan Lee bersama beberapa orang perwira tinggi yang lihai. Murid Jenderal Suma Kiat ini bersenjatakan sebatang golok melengkung dan dia memimpin pengeroyokan dengan serangan-serangannya yang amat dahsyat. Sekali ini, Ji Kun benar-benar menghadapi pengeroyokan orang-orang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi sukarlah bagi Siangkoan Lee dan kawan-kawannya untuk merobohkan pemuda ini, terutama sekali karena di tangan Ji Kun terdapat Pedang Iblis yang amat ampuh itu.

“Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup dan rampas pedangnya!” Tiba-tiba terdengar seruan dan muncullah Suma Hoat yang langsung mengirim tusukan dengan pedangnya ke arah punggung Ji Kun. 

Ji Kun maklum bahwa lawan ini amat lihai, terbukti dari gerakan pedang yang berubah menjadi gulungan sinar putih. Dia memutar tubuh, mengelebatkan pedang Lam-mo-kiam untuk merusak pedang lawan. Namun Suma Hoat yang sudah maklum akan kelihaian pedang itu ketika tadi datang dan menonton, cepat menarik pedangnya dan dia bersuit nyaring. Suitan ini merupakan tanda rahasia bagi seregu pasukan yang sudah ia persiapkan lebih dulu dan dua belas orang anggota pasukan ini serentak melemparkan sebuah jaring ke arah tubuh Ji Kun!

Pemuda ini terkejut sekali. Cuaca pada saat itu masih gelap dan dia tak dapat melihat jelas benda apa yang menyambarnya dari sekelilingnya itu. Tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap, tertutup oleh benda-benda yang lebar itu. Karena tidak tahu senjata apa yang dipergunakan lawan untuk menyerangnya, dia hanya memutar pedangnya. 

Teriakan-teriakan mengerikan terdengar ketika pedang Lam-mo-kiam membabat jaring-jaring itu, terus membabat lengan dan tubuh para pemegangnya. Biar pun jaring-jaring itu terbuat dari kawat-kawat baja yang kuat, namun sekali terkena babatan Lam-mo-kiam menjadi putus semua, bahkan pedang mukjizat itu masih terus membabat orang orang yang memegang jaring. Sekali putaran saja lima orang di antara selosin anggota regu ini roboh. Akan tetapi, Ji Kun terkejut sekali karena pedangnya terlibat jaring. Selagi dia berusaha melepaskan jaring-jaring yang melibat pedang dan lengannya, tujuh orang pengeroyoknya melepas pula jaring-jaringnya dengan berbareng!

“Keparat!” Ji Kun berteriak marah. Biar pun tubuhnya sudah tertutup jaring-jaring itu, pedangnya masih mampu merobek jaring dan sekali bacok, tubuh dua orang lawan terbabat buntung di bagian pinggangnya! 

“Hebat...!” Suma Hoat berseru lalu menubruk dari belakang, tangannya bergerak dan tiga buah totokan kilat membuat Ji Kun mengeluh dan terguling roboh dalam keadaan pingsan! Suma Hoat cepat merampas pedang yang mukjizat itu, bergidik memandang pedang yang mengeluarkan cahaya kilat, kemudian dia memimpin sisa pasukan untuk mengeroyok Yan Hwa. 

Gadis itu pun mengamuk dengan hebat. Pedangnya membuat para pengeroyok menjadi gentar karena pedang-pedang pusaka yang terkenal ampuh di tangan beberapa orang perwira menjadi patah semua ketika bertemu dengan pedang di tangan gadis itu.

Suma Hoat kagum bukan main ketika menyaksikan kehebatan gadis itu, juga menyaksikan kecantikannya di bawah sinar obor yang dipegangi oleh beberapa orang tentara. Semenjak dia terpukul untuk ke tiga kalinya, terpukul hatinya karena penolakan Maya, timbul pula penyakit lamanya dan tadi dia melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya dengan mempermainkan seorang gadis kemudian membunuhnya.

Namun ia masih merasa berduka, menyesal dan kecewa. Ternyata perbuatannya yang keji itu tidak mampu memuaskan hatinya, bahkan menimbulkan penyesalan yang lebih besar lagi. Ketika lewat tengah hari itu dia meninggalkan kamar gadis yang kini telah tewas di atas pembaringannya, dia melihat pasukan yang tergesa-gesa lari ke arah utara. Dia cepat bertanya kepada Siangkoan Lee yang memimpin pasukan itu, dan mendengar bahwa kini di luar kota, di kuil tua, pasukan-pasukan penjaga sedang berusaha menangkap lima orang mata-mata yang lihai. 

Suma Hoat terkejut, lalu dia ikut pula berlari ke luar kota di sebelah utara. Dia menyangka bahwa tentu Maya dan kawan-kawannya. Sangkaannya ternyata tepat. Akan tetapi, melihat Maya mengamuk dengan hebat itu, selain dia merasa tidak akan mampu menandingi wanita penghuni Istana Pulau Es itu, juga dia merasa tidak tega untuk mengeroyok Maya yang dicintanya. Diam-diam dia merasa heran sekali kepada diri sendiri. Mengapa dia tidak dapat membenci Maya yang terang-terangan telah menolak cintanya? Mengapa dia tidak pernah pula dapat melupakan Khu Siauw Bwee yang juga tidak dapat membalas cinta kasihnya? Benar-benar dia telah menjadi gila! 

Dia, Jai-hwa-sian yang dapat memperoleh gadis-gadis cantik yang mana saja, baik dengan rayuan mau pun dengan kekerasan, kini tergila-gila kepada dua orang gadis yang tidak mungkin didapatkannya! Mengapa hatinya jatuh cinta kepada dua orang gadis yang jelas menolaknya, sedangkan banyak gadis-gadis cantik hanya ingin ia dapatkan untuk memenuhi nafsu birahi dan sebagai balas dendam belaka? 

Karena tidak sampai hati menyaksikan Maya dikeroyok, pula dia juga tidak berdaya menolongnya karena hal ini selain akan membahayakan dia sendiri, juga akan membahayakan kedudukan ayahnya dan membocorkan rahasia mereka bahwa sesungguhnya mereka itu memusuhi Kerajaan Sung Selatan dan bersekutu dengan Yucen, maka Suma Hoat tidak mau mendekati Maya, sebaliknya dia membantu Siangkoan Lee untuk menangkap pemuda yang lihai itu. Kini, menghadapi Yan Hwa, timbul gairah di hatinya. 

Dia tertarik dan ingin mendapatkan gadis ini. Dia sudah bosan dengan gadis-gadis cantik yang lemah, yang hanya menangis kalau diperkosanya tanpa mampu melawan, yang tersenyum-senyum malu dan penuh pura-pura kalau gadis itu kebetulan suka kepadanya. Kini, gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat! Dia sendiri belum tentu akan dapat mengalahkan gadis itu, apa lagi gadis itu memiliki sebatang pedang yang hebat bukan main, pedang yang bentuk dan sinarnya serupa benar dengan pedang yang dirampasnya dari tangan pemuda tadi. Aku harus mendapatkan gadis ini pikirnya. Maka dia lalu melompat maju sambil menghunus pedang Lam-mo-kiam yang telah dirampasnya.

“Tranggg...!” Semua orang yang berdekatan dengan pertemuan sepasang pedang itu, menjadi silau matanya dan banyak yang terhuyung mundur karena sepasang pedang yang bertemu dengan dahsyatnya itu mengandung getaran yang mukjizat. 

“Aihhhh..., Lam-mo-kiam...!” Yan Hwa menjerit kaget ketika pedangnya bertemu dengan pedang pegangan suheng-nya itu. Dia memandang wajah pemuda tampan yang memegang pedang itu, kemudian bertanya dengan suara membentak, “Bagaimana pedang Lam-mo-kiam bisa berada di tanganmu? Siapa engkau dan di mana suheng-ku?”

Suma Hoat memandang dengan senyum lebar, “Ah, kiranya dia itu suheng-mu, Nona? Dia sudah tertawan...” 

“Bohong! Tak mungkin suheng tertawan oleh kalian!” 

“Hemm, kalau belum tertawan, mana mungkin pedangnya dapat kurampas? Dan semua temanmu sudah kalah, tinggal engkau seorang. Kalau engkau suka menyerah, aku menanggung bahwa engkau tidak akan diganggu, bahkan soal suheng-mu... hemmm, marilah kita bicarakan. Melawan pun takkan ada gunanya, Nona.” 

Yan Hwa terkejut dan memandang ke sekeliling. Benar saja dia tidak melihat lagi Maya yang tadi mengamuk, dan tidak melihat lagi yang lain-lain. Bahkan kini semua pasukan sudah mengurungnya sehingga kalau dia melawan, biar pun akan dapat membunuh banyak lawan, akhirnya dia tidak akan dapat meloloskan dirinya. Dia memandang tajam. Pemuda ini amat tampan dan gagah, dan tidak memiliki sifat kejam.

“Aku minta bukti lebih dulu bahwa suheng-ku benar-benar telah kau tawan!” katanya sambil melintangkan pedangnya.

Suma Hoat tertawa dan memanggil Siangkoan Lee. “Bawalah tawanan itu agar nona ini dapat melihatnya!” 

Siangkoan Lee mengerutkan alisnya. Dia tidak setuju dengan sikap putera gurunya, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah. Dia mengangguk lalu pergi lagi, tak lama kemudian dia mengawal empat orang anak buahnya yang menggotong tubuh Ji Kun yang masih pingsan dan yang terbelenggu kuat-kuat. 

“Suheng...!” Yang Hwa berseru dan pedangnya bergerak hendak mengamuk. 

“Tranggg!” Pedang Suma Hoat menangkis pedangnya dan pemuda ini berkata, “Nona, lebih baik menyerah. Percayalah, aku akan mengusahakan agar engkau dan suheng-mu dibebaskan.” 

Yan Hwa memandang. Jantungnya berdebar melihat sinar mata pemuda tampan itu memandangnya penuh gairah. Kalau di sana ada jalan ke luar untuk membebaskan diri bersama suheng-nya, agaknya jalan satu-satunya hanyalah menuruti kehendak pemuda tampan ini.

“Di mana teman-temanku yang lain?” Ia bertanya, masih belum mau tunduk dan menyerah begitu saja. 

“Dua orang temanmu yang menyerbu dari belakang kuil telah tewas, sedangkan yang seorang lagi... eh, wanita sakti itu, telah melarikan diri,” kata Suma Hoat. Di dalam hatinya girang sekali ketika tadi mendapat kenyataan bahwa Maya telah berhasil melarikan diri.

Tidak ada jalan lain lagi, pikir Yan Hwa. Maya telah berhasil melarikan diri membawa berita rahasia itu untuk disampaikan ke Sian-yang, sedangkan kedua orang perwira pembantu Maya telah tewas. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan diri sendiri dan suheng-nya. 

“Engkau siapakah?” tanyanya. 

Suma Hoat menjura. “Aku Suma Hoat...” 

“Suma Hoat...?” Yan Hwa terkejut karena tentu saja dia telah mendengar akan nama Jenderal Suma Kiat. 

Suma Hoat maklum akan isi hati gadis itu, maka dia melanjutkan, “Benar, aku adalah putera Suma-goanswe yang terkenal. Kau lihat, aku bukan orang sembarangan, Nona, dan kata-kataku boleh engkau percaya sepenuhnya.” Kemudian dengan berbisik ia menyambung, “Berikan pedangmu dan menyerahlah, engkau dan suheng-mu akan selamat.” 

Mendengar bisikan ini dan melihat sinar mata pemuda itu mengandung kesungguhan, Yan Hwa memutar pikirannya cepat sekali. Kalau dia melawan dan sampai tertawan seperti suheng-nya, tidak ada harapan lagi bagi mereka berdua. Sebaliknya kalau dia menyerah, dia masih dapat melihat keadaan dan mungkin dapat menyelamatkan diri bersama suheng-nya. Semua harapan sudah buntu, kenapa tidak berpegang kepada satu harapan ini, betapa pun tipisnya? Ia mengangguk dan tanpa berkata sesuatu dia menyerahkan pedangnya. 

Suma Hoat girang sekali, menerima pedang mukjizat itu lalu berkata kepada Siangkoan Lee dan para perwira, “Aku yang telah menawan pemuda itu, dan gadis ini menyerah kepadaku. Mereka adalah tawanan-tawananku. Siangkoan Lee, bawa pemuda itu ke rumah dan masukkan ke dalam tahanan di bawah tanah, jaga yang kuat.” 

Siangkoan Lee mengangguk. Kini dia mentaati perintah putera majikan atau gurunya karena dia menyangka bahwa tentu ‘ada apa-apanya’ dengan kedua orang mata-mata itu sehingga putera gurunya sengaja menawan mereka. Agaknya ada hubungannya dengan persekutuan antara majikannya dengan Kerajaan Yucen. Apakah dua orang muda itu mata-mata Yucen? Maka dia lalu menggunakan pengaruhnya untuk menekan para pengawal dan menyuruh mereka melaporkan bahwa dua orang mata-mata telah terbunuh, seorang berhasil melarikan diri, sedangkan dua orang lagi yang tertawan oleh putera Jenderal Suma sedang diselidiki oleh karena keadaan dua orang itu masih disangsikan apakah mereka benar-benar rnata-mata ataukah hanya terlibat saja dalam keributan yang digerakkan oleh para pengemis pemberontak itu.....

********************
“Usul yang gila, dan engkau seorang manusia yang mata keranjang! Siapa yang percaya bahwa engkau akan memegang janji?” Yan Hwa dengan muka berubah merah sekali bangkit dari ternpat duduknya, memandang Suma Hoat dengan mata bersinar penuh kemarahan dan keheranan setelah mendengar usul yang diajukan pemuda itu kepadanya. Mereka berada di sebuah kamar yang mewah dan serba indah, kamar tidur pemuda itu sendiri. 

Suma Hoat tersenyum dan tetap duduk di atas pembaringan menghadapi gadis itu. “Tenanglah, Nona dan duduklah. Mungkin sekali aku sudah gila, dan tidak kusangkal bahwa aku adalah seorang yang mata keranjang. Hati siapakah yang takkan terpesona oleh kecantikan seperti yang kau miliki? Akan tetapi, penukaran yang kuajukan cukup adil, dan engkau harus percaya kepadaku karena banyak hal yang mengharuskan aku membebaskan engkau dan suheng-mu.”

“Hemm, hal-hal apakah yang menjadi alasanmu?”

“Pertama, engkau dan suheng-mu bukanlah musuh-musuhku, bahkan tidak kukenal. Untuk apa aku mencelakakan kalian? Kedua, kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi, bermusuhan dengan kalian sungguh bukan perbuatan yang cerdik. Ketiga, kalian mengganggu Kerajaan Sung yang bukan menjadi negara yang kami bela. Nah, kalau di antara kita terikat persahabatan baik, bukankah hal itu sangat menguntungkan? Begitu melihatmu, hatiku tertarik dan timbul gairah di hatiku, Nona. Aku tidak akan memaksamu, akan tetapi kiranya engkau tidak akan menganggap aku seorang laki-laki biasa apa lagi buruk rupa. Tidak kurang banyaknya gadis yang suka kepadaku, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang menarik hatiku. Nah, bagaimana jawabanmu, Nona?”

Muka gadis itu tidak semerah tadi, namun jantungnya masih berdebar keras. Pemuda ini memang tampan sekali, akan tetapi usul dan permintaan pemuda itu benar-benar merupakan hal yang selama hidupnya belum pernah ia dengar, maka tentu saja dia merasa tegang dan malu. 

“Coba ulangi lagi usulmu, agar aku tidak salah tangkap,” katanya menekan hatinya agar suaranya tidak gemetar. 

Suma Hoat tersenyum, diam-diam merasa geli karena dia sudah tahu betapa hati nona itu berdebar penuh ketegangan. Hal ini menyenangkan hatinya karena berarti bahwa dara kang-ouw ini tidak biasa melakukan perbuatan seperti dimintanya. Tidak jarang terdapat wanita-wanita kang-ouw yang mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian, bersenang-senang dan memuaskan nafsu birahi dengan pria-pria tampan. Namun gadis ini agaknya bukan semacam wanita pengejar nafsu. 

“Begini, Nona. Aku akan membebaskan engkau dan suheng-mu keluar dari kota ini asal engkau mau melayani aku sebagai kekasih sampai besok pagi, jadi sehari semalam.”

Kembali wajah Yan Hwa menjadi merah sekali. “Usul gila!” Kembali ia mengulang karena hampir dia tidak percaya akan ada orang yang berani mengajukan usul segila ini kepadanya. “Kalau sekarang aku menyerangmu, apakah engkau kira akan dapat hidup lebih lama lagi? Betapa berani engkau!”

Suma Hoat tersenyum. “Aku sama sekali tidak berani memandang rendah kepadamu, Nona. Aku sudah cukup menyaksikan kelihaianmu dan belum tentu aku akan dapat bertahan kalau engkau menyerangku sekarang. Akan tetapi, hal itu sudah aku perhitungkan masak-masak. Aku boleh saja kau bunuh, akan tetapi apakah engkau dan suheng-mu akan dapat meloloskan diri dari sini? Dan sepasang pedang kalian yang ampuh itu, tidak sayangkah engkau?”

“Sepasang Pedang Iblis milik kami itu kau kembalikan pula kalau kami kau bebaskan?”

”Tentu saja! Aku bukan seorang pencuri pedang yang hina! Aku hanyalah seorang pencuri hati, pencuri wanita-wanita cantik seperti Nona...” 

“Engkau laki-laki cabul!” 

“Aku hanyalah seorang laki-laki cabul yang berterus terang, tidak seperti semua laki-laki cabul yang menyembunyikan kecabulannya di balik kemunafikan mereka. Nona, aku tergila-gila kepadamu, akan tetapi aku tidak memaksamu. Aku seperti seekor kumbang yang tertarik akan madu manis yang terkandung dalam setangkai kembang. Engkaulah kembang itu dan aku hanya mengharapkan engkau membukakan kelopak bungamu kepadaku. Aku mengharapkan sari madu cintamu, kubeli dengan kebebasan engkau dan suheng-mu. Bukankah ini sudah adil namanya?” 

“Kalau engkau melanggar janji?” 

Suma Hoat mengangkat muka, alisnya berkerut dan matanya bersinar. “Aku adalah seorang laki-laki, seorang jantan! Melanggar janji, apa lagi terhadap seorang wanita cantik seperti Nona, merupakan pantangan besar bagiku!” 

Yan Hwa merasa terjepit, tidak ada jalan ke luar yang lebih baik. Kalau dia marah-marah dan menyerang orang ini, bahkan andai kata dia berhasil membunuhnya, hal yang masih harus diragukan karena Suma Hoat ini memiliki kepandaian yang tinggi pula, apakah untungnya bagi dia dan suheng-nya? Dia tentu akan dikepung, dan tanpa Li-mo-kiam di tangan, apa lagi suheng-nya masih ditawan, akhirnya mereka berdua hanya akan membuang nyawa sia-sia. Kalau dia menurut... ah, pemuda itu tampan dan gagah sekali, tidak kalah oleh Ji Kun.

Teringat akan Ji Kun, dia membayangkan watak Ji Kun yang kadang-kadang juga mata keranjang. Ketika mereka menawan seorang di antara gadis-gadis cantik dari kereta para siuli, bukanlah Ji Kun juga memperlihatkan kenakalannya? Apa kata suheng-nya itu? Hanya kulit yang bersentuhan, namun hati dan cintanya adalah miliknya! Hemm, kalau dia melayani permainan Suma Hoat, bukankah dia pun hanya mengorbankan kulit dan daging belaka, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hatinya yang mencinta Ji Kun seorang? Apa lagi kalau diingat bahwa ‘pengorbanannya’ itu untuk menyelamatkan nyawa Ji Kun pula!

“Bagaimana, Nona?” Suma Hoat mendesak. 

“Kalau aku menolak?” 

“Tidak ada lain jalan kecuali memanggil para pengawal agar engkau ditawan pula dan bersama suheng-mu diseret ke depan pengadilan. Engkau tentu tahu bahwa aku tidak menakut-nakutimu kalau kuberi tahu bahwa hukuman bagi mata-mata adalah penggal kepala.” 

“Kalau sekarang aku membunuhmu?” 

“Sama saja, engkau dan suheng-mu juga akan mati konyol. Bagiku mati di tanganmu yang halus itu merupakan mati yang terhormat dan menyenangkan. Silakan pilih, aku siap mendengar pilihanmu.” 

Yan Hwa merasa betapa jantungnya makin berdebar. Kamar ini begini indah, perabot-perabotnya serba mewah dan mahal, tempat tidur itu kelihatan amat menyenangkan dan tentu enak dipakai tidur, dan bau harum dari pembaringan itu menyentuh hidungnya. Seperti kamar seorang puteri istana saja! Dan pemuda di depannya yang memandang dengan mata bersinar-sinar, dengan bibir tersenyum, merupakan calon teman yang menyenangkan. 

Dengan jantung berdebar dan suara lirih hampir tidak terdengar, Yan Hwa mengangguk dan berkata, “Baiklah, aku menerima usulmu. Akan tetapi, kalau sampai engkau melanggar janji, aku bersumpah untuk menghancurkan kepalamu dan menyayat-nyayat tubuhmu!”

”Terima kasih, engkau sungguh seorang dara yang cerdik dan menyenangkan sekali! Ahh, Nona, betapa keputusanmu itu mendatangkan rasa gembira yang hebat di hatiku. Terima kasih!” Suma Hoat melompat turun, merangkul Yan Hwa dan mencium dara itu dengan kemesraan yang membuat Yan Hwa menjadi nanar. Belum pernah dia dicium orang seperti itu. Ji Kun pun belum pernah menciumnya semesra itu! Dia tidak tahu bahwa yang mendekap dan menciuminya adalah Jai-hwa-sian, seorang yang tentu saja amat ahli dalam permainan cinta!

“Kebaikanmu harus dirayakan, Nona!” Suma Hoat menghampiri pintu, membuka daun pintu dan memanggil pelayan, menyuruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi, dan hidangan yang mewah, masakan-masakan termahal dan terlezat bersama arak yang paling baik! 

Kalau tadinya Yan Hwa masih merasa berat, malu-malu, dan merasa bahwa dia telah melakukan suatu perbuatan maksiat yang hina dan kotor, lambat laun perasaan itu lenyap sama sekali terganti perasaan girang dan senang yang luar biasa berkat kepandaian Suma Hoat merayunya. Kalau masih ada awan tipis menyelubunginya, segera awan itu tertiup pergi oleh hiburan paksaan berupa pendapat bahwa dia melakukan hal itu demi menyelamatkan nyawa suheng-nya! 

Manusia adalah makhluk yang amat lemah terhadap nafsunya sendiri. Kelemahan ini ditambah lagi dengan bermacam perasaan bersalah karena larangan-larangan yang mereka ciptakan sendiri sehingga setiap perbuatan mereka adalah tidak wajar dalam usaha mereka menghindarkan diri dari pelanggaran larangan itu.

Demikian pula dengan Yan Hwa. Kalau memang dia tidak bersikap palsu, maka baginya hanya tinggal memilih apa yang akan dilakukannya sesuai dengan kehendak hatinya, tanpa penyesalan tanpa pura-pura dan tanpa mencari kambing hitam sebagai alasan pendorong perbuatannya. Dia seorang wanita yang lemah, mudah jatuh di bawah rayuan pria tampan seperti Suma Hoat. Akan tetapi, dia hendak menutupi kelemahannya ini dengan alasan yang dicari-cari sehingga semua perbuatannya adalah tidak wajar dan karenanya menjadi kotor. 

Sehari semalam kedua orang itu mandi dalam telaga asmara, tiada bosan-bosannya. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum sinar matahari mengusir kegelapan malam, keduanya mengakhiri permainan cinta mereka karena sudah tiba saatnya dalam perjanjian mereka untuk membebaskan Yan Hwa dan Ji Kun. 

Dengan hati penuh kagum dan puas, Suma Hoat mencium Yan Hwa sambil berkata, ”Ah, engkau dan aku cocok sekali, Yan Hwa.” 

Sejenak Yan Hwa membalas ciuman itu, kemudian didorongnya dada Suma Hoat sambil berkata, “Cukup, Suma Hoat. Kau tahu bahwa aku melakukan semua itu untuk menebus keselamatan aku dan suheng.” 

“Ha-ha-ha, tak usah kau berpura-pura, manis. Beranikah engkau menyangkal bahwa engkau pun seperti aku, menikmati hubungan kita yang pendek ini?” 

“Tak perlu kusangkal. Engkau memang seorang laki-laki yang hebat. Akan tetapi aku tidak cinta kepadamu seperti juga engkau tidak mencintaku. Aku telah mencinta orang lain.”

“Suheng-mu sendiri?” 

“Bagaimana kau bisa tahu?” 

“Ha-ha, apa sukarnya menduga? Engkau telah rela mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Aku tidak menyalahkan engkau. Suheng-mu seorang laki-laki yang tampan dan gagah perkasa. Kalian berdua memiliki ilmu kepandaian yang amat dahsyat, memiliki Sepasang Pedang Iblis yang mukjizat. Yan Hwa, sebelum kita berpisah dan mungkin kita tidak akan saling berjumpa kembali, mengingat akan kemesraan yang sudah sama-sama kita nikmati, maukah engkau sekarang mengaku, sebetulnya engkau dan suheng-mu itu dari perguruan mana?” 

“Sudah kukatakan bahwa keadaan kami adalah rahasia kami. Harap kembalikan dulu pedang kami.” 

Suma Hoat menarik napas panjang, lalu mengambil Sepasang Pedang Iblis dari balik jubahnya yang digantung di sudut. “Kau lihat, hanya kutaruh di sini, tidak kusembunyikan, untuk membuktikan betapa aku telah percaya penuh kepadamu.”

Yan Hwa menerima sepasang pedang itu, mengikat sarung Li-mo-kiam di pinggang sedangkan Lam-mo-kiam ia gantungkan di punggung. Ia memandang Suma Hoat dan berkata dengan senyum, “Baiklah, Suma Hoat. Di antara kita sebetulnya masih ada hubungan, biar pun hubungan di antara kita penuh dendam permusuhan. Kulihat engkau, biar pun... mata keranjang dan tukang perayu wanita, tidak jahat seperti ayahmu. Aku dan suheng adalah murid mendiang subo kami, Mutiara Hitam.” 

Wajah Suma Kiat menjadi pucat. “Apa...? Murid Bibi... Kam Kwi Lan Si Mutiara Hitam... dan engkau sudah tahu bahwa aku masih keponakannya?” 

Yan Hwa mengangguk. “Ayahmu, Jenderal Suma Kiat amat jahat dan curang. Dia mengakibatkan kematian Supek Kam Liong dan muridnya. Agaknya semenjak dahulu antara keturunan Suma dan keturunan Kam selalu timbul permusuhan karena kejahatan keluarga Suma. Akan tetapi, kulihat engkau tidak jahat hanya... mata keranjang!”

Suma Hoat tersenyum kecut. “Tidak perlu kau ulangi lagi, Yan Hwa. Aku tidak akan menyangkal akan sifatku yang suka merayu dan bermain cinta dengan wanita cantik. Untuk itulah maka aku dijuluki Jai-hwa-sian.” 

“Engkau Jai-hwa-sian? Hemm, pantas! Sudahlah, mari antar aku kepada Suheng dan biarkan kami pergi. Mudah-mudahan saja jalan hidup antara kita akan bersimpangan karena aku tidak ingin merusak kenangan manis kemarin dan malam tadi dengan bentrokan karena sekali kita saling bentrok, aku takkan suka mengampunimu, Suma Hoat.” 

Suma Hoat mengangguk lalu mengajak Yan Hwa mengambil jalan rahasia menuju ke tempat tahanan di bawah tanah. “Kau tunggu di sini. Kalau terjadi keributan dan teriakan kebakaran sehingga semua penjaga lari meninggalkan pintu di sana itu, barulah kau masuk, bebaskan suheng-mu dan lari melalui jalan ini.” Suma Hoat menerangkan jalan rahasia ke luar dari tempat itu.

Setelah Yan Hwa mengerti betul, dia lalu merangkul Yan Hwa, mencium bibirnya dan berbisik, “Selamat berpisah, Yan Hwa, aku tidak cinta padamu akan tetapi aku takkan pernah dapat melupakanmu. Kau bersembunyi di sini dan tunggu sampai ada teriakan kebakaran.” 

Yan Hwa mengangguk dan melihat bayangan pemuda itu berkelebat lenyap. Tak lama kemudian, benar saja seperti yang dipesankan Suma Hoat, tampak sinar api dan asap membubung tinggi dan terdengar teriakan-teriakan, 

“Kebakaran...! Kebakaran...! Tolong... padamkan api...!”

Ributlah keadaan di situ. Setelah Yan Hwa melihat para penjaga yang tadinya berkumpul di pintu berlari-lari membawa ember dan lain-lain alat pemadam kebakaran, dia cepat menyelinap memasuki pintu dan menuruni anak tangga ke bawah. Dilihatnya Ji Kun meringkuk rebah miring di atas bangku di dalam sebuah kamar tahanan yang terbuat dari besi. Pintu dan jendelanya kuat sekali, akan tetapi beberapa kali bacokan dengan pedang Li-mo-kiam, Yan Hwa sudah berhasil membuka pintu. 

“Sumoi...” Bagaimana kau bisa bebas...?” 

“Sstt, bukan waktunya bicara.” Yan Hwa menggunakan pedangnya mematahkan belenggu kaki tangan Ji Kun, kemudian ia menyerahkan Lam-mo-kiam kepada suheng-nya dan menarik tangannya, mengajak keluar dari tempat itu. 

“Bagus, agaknya engkau telah memancing mereka dengan kebakaran, Sumoi! Mari kita amuk dan binasakan mereka sebelum pergi dari sini!” Ji Kun berkata setelah mereka keluar dari tempat tahanan di bawah tanah dan dia menyaksikan api yang berkobar tinggi dan orang-orang yang sibuk memadamkan api. 

“Hushhh, jangan, Suheng. Setelah susah payah aku berhasil membebaskan kita berdua, apakah akan kau rusak dengan memasuki bahaya tertawan lagi? Hayo kita pergi, ikut dengan aku!” 

Dengan mengikuti petunjuk yang diterimanya dari Suma Hoat, akhirnya Yan Hwa berhasil membawa suheng-nya keluar dari istana dan tembok kota Siang-tan, kemudian melarikan diri secepatnya di dalam cuaca remang-remang karena pagi telah tiba.

Setelah lewat tengah hari dan mereka sudah jauh sekali di sebelah utara kota Siang-tan, dan napas mereka mulai memburu, tubuh penuh keringat, barulah kedua orang ini berhenti mengaso di sebuah hutan kecil. Bahkan Yan Hwa yang amat lelah dan semalam suntuk berenang dalam lautan cinta bersama Suma Hoat sehingga tubuhnya terasa lemas, segera tertidur pulas di bawah pohon, dihembus angin semilir sejuk. Ji Kun memandang sumoi-nya yang tidur nyenyak dan diam-diam ia merasa terheran-heran melihat wajah sumoi-nya mangar-mangar, bibirnya tersenyum dalam tidurnya.

Sumoi-nya kelihatan seperti orang yang bergembira, penuh kepuasan, sama sekali bukan seperti orang yang habis tertawan. Dan bagaimanakah sumoi-nya dapat menolongnya sedang pihak musuh demikian banyak dan lihai? Bagaimana pula dapat merampas kembali Lam-mo-kiam? Apa yang terjadi dengan Maya dan kedua orang perwira pembantunya? Dia tadi tidak sempat bicara karena mereka harus melarikan diri secepatnya dan begitu mereka berhenti mengaso, Yang Hwa sudah merebahkan diri dan tidur nyenyak!
********************
Kita meninggalkan dulu Yan Hwa yang tidur pulas dan suheng-nya yang memandang dengan heran dan menduga-duga, karena pada hari itu juga, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu berhasil menyelundup ke kota Siang-tan. Karena sudah lama kita meninggalkan Siauw Bwee, sebaiknya kita mengikuti perjalanannya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pendekar wanita yang sakti ini berhasil keluar dari kota Sian-yang berkat bantuan Suma Hoat dan kemudian setelah keluar dari kota itu, dia bertemu kembali dengan pemuda ini yang ternyata adalah sute dari Coa Leng Bu. Diceritakan pula betapa Suma Hoat tergila-gila kepadanya dan secara terus terang menyatakan cintanya yang tentu saja ditolak oleh Siauw Bwee. Betapa pun juga Siauw Bwee tidak mengganggu pemuda itu biar pun kenyataan bahwa pemuda itu putera tunggal musuh besarnya, Suma Kiat, membuat dia semestinya membenci Suma Hoat. Namun sikap pemuda itu malah menimbulkan perasaan iba di hatinya.

Setelah Suma Hoat pergi yang membuat heran hati Coa Leng Bu karena kakek ini tidak mengetahui sebab-sebabnya, juga tidak berani bertanya kepada Siauw Bwee, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Siang-tan. Siauw Bwee ingin sekali bertemu dengan suheng-nya, ingin menyelidiki sikap suheng-nya yang aneh, yang menurut dugaan supek-nya itu tentu menjadi korban racun perampas semangat. 

Sebagai orang-orang Han, tentu saja lebih mudah bagi mereka memasuki kota Siang-tan yang masih diduduki oleh pasukan Sung dari pada memasuki kota Sian-yang yang telah dikuasai bala tentara Mancu. Bersama rombongan pengungsi, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu memasuki pintu gerbang kota.

Akan tetapi, pada pagi hari itu penjagaan di pintu gerbang kota Siang-tan tidaklah seperti biasa. Biar pun para pengungsi itu adalah suku bangsa sendiri, namun setiap orang pengungsi harus digeledah dan setiap buah senjata yang ada pada mereka dirampas. Hal ini adalah akibat kekacauan yang terjadi kemarin, di mana para pengungsi mengamuk dan lima orang mata-mata ketahuan dan dikejar-kejar.

Ketika tiba giliran Siauw Bwee digeledah, hampir saja terjadi keributan. Melihat dua orang penjaga yang menyeringai dan memandangnya dengan muka kurang ajar, hati Siauw Bwee menjadi panas sekali. Para pengungsi lain cukup digeledah barang-barang bawaan mereka dan diharuskan menyerahkan senjata yang menempel di tubuh, akan tetapi melihat Siauw Bwee yang cantik jelita, dua orang petugas itu timbul gairahnya dan keceriwisannya.

“Aha, Nona harus digeledah. Silakan masuk ke pondok penjaga, harus kami geledah kalau-kalau Nona menyembunyikan senjata atau surat-surat penting di dalam pakaian Nona. Kami takkan bersikap kasar terhadap Nona yang cantik jelita.” 

Hampir saja Siauw Bwee melayangkan tangannya menampar petugas itu, akan tetapi Coa Leng Bu cepat menyentuh lengannya. Kakek ini menjura kepada dua orang petugas itu. “Harap Ji-wi suka memaafkan kami. Keponakanku ini tidak membawa senjata lain kecuali pedangnya. Pedang sudah kami berikan, mengapa harus digeledah pakaiannya lagi sedangkan para pengungsi lainnya tidak?” 

“Hemm, engkau tak tahu, orang tua! Di antara mata-mata yang dikejar semalam, terdapat beberapa orang gadis muda yang cantik. Dalam keadaan perang seperti ini, gadis-gadis cantik, pengemis-pengemis tua, orang-orang yang kelihatan lemah dan biasa malah mencurigakan, karena para mata-mata selalu menyamar sebagai orang-orang lemah.” 

“Alasan dicari-cari! Kalau aku mata-mata, masa akan masuk kota begini saja? Katakan saja kalian kurang ajar agar aku mendapat alasan untuk menghajar kalian!” Siauw Bwee membentak dan telapak tangannya sudah terasa hendak ‘mencium’ muka dua orang penjaga yang menyebalkan hatinya itu.

“Ssstt, sabarlah, Lihiap,” kata Coa Leng Bu yang segera berkata kepada dua orang yang kelihatan marah oleh kata-kata Siauw Bwee tadi. “Harap Ji-wi tidak mengganggu. Ketahuilah bahwa aku adalah suheng dari Suma Hoat, putera Jenderal Suma Kiat. Kalau sampai terjadi keributan antara kita dan terdengar oleh Suma-goanswe, akan membuat hati tidak enak saja.” 

Mendengar ini, pucatlah wajah kedua orang penjaga itu. Mereka membungkuk-bungkuk, meminta maaf dan mempersilakan mereka memasuki kota tanpa banyak cakap lagi.

”Huh, menyebalkan sekali anjing-anjing penjilat itu!” Siauw Bwee mengomel. 

“Kita harus dapat memaafkan mereka, Lihiap. Mereka hanyalah petugas-petugas yang menjalankan kewajibannya.” 

“Supek, perlu apa membela orang-orang macam itu? Kalau memang para petugas menjalankan kewajibannya dengan baik dan teliti, siapa yang akan membantah dan mencela? Aku malah akan menghargainya dan kagum. Ayah pernah bilang bahwa seorang petugas harus memiliki kesetiaan kepada tugasnya. Akan tetapi mereka itu? Hemm..., mereka hanya melakukan tugas dengan keras penuh tekanan kepada mereka yang lemah dan miskin. Mereka yang mampu memberi uang sogokan tidak digeledah, dan wanita-wanita muda yang sudi bersikap manis kepada mereka tentu akan terbebas pula dari penggeledahan. Engkau tadi baru menggunakan nama besar Jenderal Suma saja sudah membuat mereka mundur dan melipat buntut seperti anjing-anjing penjilat ketakutan. Menyebalkan.” Siauw Bwee memang marah sekali karena nama musuh besarnya, Suma Kiat, terpaksa dipergunakan oleh supek-nya untuk menghindarkan keributan. 

“Lihiap, engkau adalah seorang yang biar pun masih amat muda, telah berhasil memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Namun, tetap saja engkau masih muda dan perlu mempelajari soal hidup dan lebih mengenal diri sendiri agar kesadaran menuntunmu dan membuat pandang matamu waspada terhadap segala yang terjadi di sekelilingmu. Belajarlah untuk berani menghadapi kenyataan yang bagaimana pun juga, Lihiap. Menghadapi kenyataan tanpa penilaian dan tanpa perbandingan. Tanpa ingatan akan masa lalu dan renungan akan masa depan, maka engkau akan dapat melihat kenyataan itu seperti apa adanya, membuat engkau akan tetap tenang biar pun menghadapi apa pun juga. Dalam keadaan tenang sewajarnya inilah maka segala tindakanmu akan dapat kau pergunakan dengan tepat, dan engkau tidak akan terseret oleh kemarahan dan penasaran, penyesalan mau pun harapan, karena ketenangan yang timbul dari kewaspadaan ini akan dapat membuat engkau bisa menyesuaikan diri dengan segala keadaan.”

Siauw Bwee menjadi termenung. Pantas supek-nya ini selalu tenang, kiranya memiliki dasar kesadaran yang amat mendalam. Dia menjadi malu kepada diri sendiri yang mudah dibangkitkan rasa penasaran dan kemarahannya yang sesungguhnya hanya berdasarkan untung rugi bagi diri pribadinya saja. 

“Maafkan kemarahanku tadi, Supek. Pikiranku sedang gelisah memikirkan Suheng, sehingga aku mudah tersinggung. Aku akan langsung mencari di mana gedung tempat tinggal Bu-koksu, karena Suheng tentu berada di sana pula.” 

“Berbahaya sekali kalau langsung pergi ke sana, Lihiap.” 

“Supek, aku tidak takut. Kurasa, aku akan sanggup menghadapi semua pengawal Bu-koksu...” 

“Apakah engkau akan mampu pula menandingi Kam-taihiap, suheng-mu itu?”

”Ahhh... kalau dia... tentu saja aku takkan mampu, dia adalah suheng-ku dan juga guruku, karena dialah yang membimbingku dahulu.” 

“Nah, kalau begitu, harap jangan tergesa-gesa dan sembrono. Bukankah suheng-mu itu telah hilang ingatan dan tidak mengenalmu lagi? Kalau kau menyerbu ke sana, tentu dia akan membela Bu-koksu dan mau tidak mau engkau akan berhadapan dengan dia.”

Siauw Bwee terkejut dan menjadi bingung, lalu menghela napas. “Aihhh, benar juga, habis bagaimana baiknya, Supek?” 

“Kita harus bersabar. Sebaiknya kita mencari rumah penginapan lebih dulu, kemudian baru kita menyelidiki dengan diam-diam. Jalan terbaik adalah mencari kesempatan untuk dapat berjumpa berdua dengan suheng-mu itu dan membujuknya untuk suka kuobati. Atau, kalau sekiranya sukar mencari kesempatan ini, aku dapat meminta bantuan Sute. Kurasa Suma-sute juga berada di kota ini.”

Siauw Bwee mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak enak kalau dia harus minta bantuan Suma Hoat, pemuda putera musuh besarnya, juga pemuda yang ia tolak cintanya itu. 

“Coa-supek, terima kasih atas nasehatmu yang amat berharga. Memang sebaiknya begitulah dan kuminta bantuan Supek agar Supek mempersiapkan obat-obat untuk menyembuhkan suheng-ku. Sebaiknya Supek mempersiapkan tempat dan obat lebih dulu, aku akan menyusul setelah aku berhasil membujuk Suheng.” 

“Soal tempat, aku sudah memilih untuk keperluan itu. Hutan yang kita lewati kemarin, hutan yang penuh pohon pek itu merupakan tempat yang amat baik, apa lagi aku melihat banyak tetumbuhan obat di sekitarnya. Kalau kita berhasil membujuk suheng-mu, sebaiknya kita ajak dia ke sana, kita bersembunyi di bagian yang sunyi dalam hutan itu dan aku akan berusaha mengobatinya.” 

“Bukan kita, Supek, melainkan aku sendiri. Aku sendiri yang akan mencari dan membujuknya. Harap Supek mempersiapkan tempat dan mencari obat-obatnya. Pekerjaan ini amat berat, dan kalau Supek ikut, aku khawatir kalau dia akan curiga dan tidak mau memenuhi permintaanku.” 

Coa Leng Bu mengangguk-angguk. “Engkau benar, Lihiap. Di sini banyak terdapat orang lihai, dan dengan kepandaianku yang masih rendah, aku hanya akan menjadi penghalang saja. Baiklah, kita berpisah di sini, aku akan menuju ke hutan itu dan mempersiapkan obat-obatnya yang harus kucari lebih dulu. Kau berhati-hatilah dan semoga kau berhasil membujuknya pergi ke sana.”

“Aku sama sekali bukan bermaksud merendahkan kepandaianmu, Supek...” 

“Tidak, memang kenyataannya demikian. Aku tidak menyesal, dan selamat tinggal, Lihiap, semoga semua berjalan baik.” Setelah berkata demikian, kakek itu meninggalkan Siauw Bwee kembali ke pintu gerbang dan keluar dari kota Siang-tan. 

Siauw Bwee menarik napas panjang. Ia merasa menyesal terpaksa harus mengeluarkan kata-kata menyinggung hati supek-nya yang baik itu, sungguh pun ia yakin bahwa supek-nya yang bijaksana tidak merasa tersinggung dan dapat melihat kenyataan bahwa kalau supek-nya ikut bersama dia mencari suheng-nya, keadaan tidak akan menguntungkan mereka. Maka dia pun melanjutkan perjalanannya memasuki kota besar Siang-tan, mencari-cari rumah penginapan. 

Rumah penginapan Sin-lok adalah sebuah rumah penginapan yang cukup besar, bahkan mempunyai rumah makan sendiri di sampingnya. Melihat rumah penginapan ini, Siauw Bwee menghampiri pintu dan bermaksud hendak menyewa kamar di situ. Akan tetapi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika ada suara orang berseru, 

“Heii, Nona! Tunggu dulu!” 

Ia menoleh dan kiranya yang menegurnya adalah seorang perwira pengawal yang memimpin pasukan pengawal sebanyak dua belas orang. Agaknya mereka ini bertugas meronda di kota yang sudah bersiap-siap menghadapi penyerbuan musuh dan yang kini melakukan penjagaan dan perondaan ketat setelah kemarin terjadi keributan yang ditimbulkan oleh Maya dan para pembantunya, terutama sekali pemberontakan beberapa orang pengemis yang berhasil dihasut oleh Kwa-huciang.

“Mau apa engkau menahan aku?” Siauw Bwee sudah bangkit lagi kemarahannya melihat perwira itu dan semua anak buahnya memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum.

Perwira itu meraba gagang pedangnya dan berkata, “Harap Nona tidak melawan. Aku menangkap Nona dan harap suka ikut ke kantor untuk diperiksa.”

“Apa salahku? Mengapa aku ditangkap dan diperiksa, untuk apa?” Siauw Bwee membentak, tidak mempedulikan wajah beberapa orang yang sudah datang untuk menonton dan kini mereka memandang kepada Siauw Bwee dengan muka khawatir menyaksikan sikap gadis itu yang galak dan berani melawan pasukan pengawal. 

“Kalau aku tidak salah lihat, aku pernah melihat Nona di Sian-yang. Kalau benar dugaanku, Nona adalah seorang mata-mata. Kalau aku salah lihat, setelah diperiksa oleh komandan kami, Nona tentu akan dibebaskan, disertai maaf kami.” 

“Gila! Aku tidak mau ditangkap, tidak mau diperiksa. Aku seorang pengungsi, apakah kalian ini bisanya hanya mengganggu wanita saja, sedangkan kalau musuh datang kalian lari terbirit-birit? Memalukan sekali!” 

Muka Si Perwira menjadi merah. “Nona, kalau engkau melawan, hal itu hanya menunjukkan bahwa Nona adalah seorang musuh. Kami hanya melakukan tugas, mengapa Nona hendak menggunakan kekerasan?” 

“Siapa yang menggunakan kekerasan? Siapa yang memulai dengan pertentangan ini? Aku tidak ada urusan dengan kalian, sudahlah, jangan mengganggu!” Siauw Bwee melangkah hendak pergi, memasuki pintu rumah penginapan.

Akan tetapi perwira itu sudah menghadang dan kini sudah menghunus pedangnya. “Berhenti! Sikap Nona makin mencurigakan dan kami terpaksa menangkap Nona. Kalau Nona menyerah dengan baik-baik, kami akan mengiringkan Nona ke kantor. Kalau Nona melawan, terpaksa kami menggunakan kekerasan!”

Siauw Bwee makin naik darah. Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan di pinggang dan ia menghardik, “Aku tidak mau ditangkap, hendak kulihat kalian akan bisa berbuat apa?” 

“Tangkap dia!” Perwira itu mengeluarkan aba-aba. 

Bagaikan kucing-kucing kelaparan memperebutkan seekor tikus, empat orang prajurit pengawal sudah menubruk maju, penuh gairah untuk meringkus tubuh yang padat menggairahkan itu.

“Plak-plak-plak-plak!” Empat kali tangan Siauw Bwee menampar dan empat tubuh terlempar dan roboh terjengkang seperti disambar petir! 

“Ahh, ternyata dugaanku benar! Engkau bukan perempuan sembarangan, engkau adalah mata-mata yang mengacau di Sian-yang itu!” Perwira muda itu mencabut pedangnya dan menerjang maju.

Akan tetapi, dengan gerakan kaki yang luar biasa, kaki kiri Siauw Bwee menendang, tepat mengenai tangan yang memegang pedang sehingga pedang terlempar ke atas, kemudian disusul kaki kanan menendang lutut, membuat perwira itu roboh terguling. Pedang yang meluncur turun itu disambut oleh tangan Siauw Bwee yang membentak marah.

“Kau main pedang, ya? Nah, makan pedangmu sendiri!” 

Gadis yang marah itu sudah menggerakkan pedang, bukan untuk membunuh hanya untuk sekedar melukai memberi hajaran. Akan tetapi tiba-tiba sebutir kacang goreng melayang dan tepat menotok pergelangan tangannya yang memegang pedang. Siauw Bwee terkejut bukan main karena totokan sebutir kacang goreng itu membuat seluruh lengan kanannya tergetar dan lumpuh sehingga pedang rampasannya terlepas dari pegangan! Betapa lihainya pelempar ‘senjata rahasia’ itu! 

Dia dapat mengerahkan sinkang-nya sehingga lengannya pulih kembali dan cepat memandang ke atas dari mana serangan tadi datang. Ia melihat seorang laki-laki duduk dengan tenang di atas loteng depan rumah makan sambil minum arak dan makan kacang goreng, sama sekali tidak memandang ke bawah seolah-olah tidak mengacuhkannya. Akan tetapi begitu melihat laki-laki itu jantung Siauw Bwee berdebar keras. Kiranya orang yang melemparnya dengan kacang goreng adalah orang yang dicari-carinya, Kam Han Ki. Pantas saja lemparannya demikian tepat menotok jalan darah di pergelangan tangannya dan membuat pedangnya terlepas! 

“Suheng...!” Ia menjerit penuh kegirangan dan tubuhnya sudah melompat ke atas loteng itu, dipandang oleh para pengawal dan penduduk yang menonton dengan mata terbelalak kagum.

Gerakan Siauw Bwee memang amat mengejutkan. Lompatannya itu seperti seekor burung terbang ke atas, demikian indah dan cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata, hanya merupakan bayangan berkelebat saja. 

“Suheng...!” Kembali Siauw Bwee berkata setelah dia berdiri di depan pemuda itu yang memandangnya dengan mata tak acuh dan masih melanjutkan minum araknya. 

Melihat sinar mata suheng-nya ini, Siauw Bwee merasa seolah-olah jantungnya ditusuk ujung pedang. Sinar mata suheng-nya membayangkan bahwa dia tidak mengenalnya sama sekali, seperti pandang mata seorang asing, namun pandang mata itu mengandung teguran dan penyesalan. 

“Suheng, ini aku, Siauw Bwee sumoi-mu!” Suara Siauw Bwee mengandung isak, hampir saja dia menangis karena tidak kuat menahan kedukaan hatinya. 

Kam Han Ki, pemuda itu, menurunkan guci araknya, memandang Siauw Bwee penuh perhatian dan sepasang alisnya berkerut, penuh teguran. Suaranya halus namun penuh dengan penyesalan ketika ia berkata, “Nona, aku sama sekali tidak mengerti akan sikapmu yang aneh, dan mengapa engkau selalu menyebut suheng kepadaku. Aku tidak dapat menduga apakah sebabnya engkau bersandiwara seperti itu, ataukah memang engkau salah mengenal orang. Kalau hendak mengatakan engkau gila, tidak mungkin. Akan tetapi, yang amat kusayangkan adalah bahwa berkali-kali engkau mengacau. Dahulu di Sian-yang, dan sekarang kembali engkau mengacau di sini. Kepandaianmu amat tinggi, jarang aku bertemu dengan orang yang setinggi tingkat kepandaianmu. Akan tetapi sungguh sayang andai kata engkau pergunakan kepandaianmu untuk mengkhianati negara.” 

“Kam-suheng! Aku tidak mengkhianati siapa-siapa, aku... aku...” Siauw Bwee tak dapat melanjutkan kata-katanya saking sedih hatinya melihat keadaan suheng-nya yang benar-benar sama sekali tidak mengenalnya. 

“Hemm, engkau selalu membikin kacau dan kalau tadi tidak kucegah, bukankah engkau sudah melukai seorang perwira pengawal?” 

“Kam-suheng, aku sengaja mencarimu! Engkau... engkau telah kehilangan ingatan sehingga engkau tidak ingat lagi kepadaku, sumoi-mu yang... yang setengah mati mencarimu. Aihh, Suheng... ingatlah, aku Siauw Bwee... Suheng, benar-benarkah engkau lupa kepadaku?”

Han Ki memandang dan menggeleng-geleng kepalanya, lalu menghela napas. “Sayang... sungguh sayang... Engkau seorang dara remaja yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi. Sayang kalau sampai pikiranmu tidak normal. Aku belum pernah bertemu denganmu, kecuali ketika engkau mengacau dan menyerang Koksu di Sian-yang. Sungguh pun suaramu... ahh, tentu hanya dalam mimpi saja aku pernah mendengar suaramu. Nona, kau pergilah dari kota ini, jangan mengacau lagi.” 

Siauw Bwee maklum bahwa akan percuma saja dia mengingatkan suheng-nya ini yang sudah hilang ingatannya. Dia seorang gadis cerdik, maka dia segera bertanya, “Kalau kau anggap aku sebagai seorang pengkhianat dan pengacau, mengapa engkau tidak menangkap saja aku agar aku dihukum mati, atau tidak kau bunuh saja aku? Betapa pun lihaiku, aku tidak akan dapat menang melawanmu. Mengapa?” Bertanya demikian, sepasang matanya menatap tajam seolah-olah hendak menjenguk isi hati Han Ki.

”Aku tidak akan tega mencelakakan engkau, Nona. Aku tidak suka membikin susah orang lain, apa lagi engkau!” 

“Mengapa aku diistimewakan?” 

Han Ki bukanlah seorang yang pandai bicara, maka dia merasa terdesak di sudut. Setelah memandang gadis itu dengan pandang mata bingung, dia menarik napas panjang dan menjawab, “Entah mengapa... aku... aku kasihan kepadamu. Engkau seorang gadis yang amat baik, amat lihai, sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau pura-pura mengenalku sebagai suheng-mu. Sudahlah, mari kau kuantar keluar dari kota agar engkau dapat pergi dengan aman.”

Ia menjenguk ke bawah dan melihat pasukan-pasukan pengawal datang mengurung tempat itu, ia menggerakkan tangan berkata, “Pergilah kalian semua! Biarkan aku sendiri yang mengurus Nona ini!”

Siauw Bwee juga menjenguk ke bawah dan ia melihat betapa para perwira komandan pasukan memandang Han Ki dengan heran, akan tetapi mereka tidak berani membantah dan pergilah para pasukan pengawal itu. 

Harus membujuknya di tempat sunyi, pikir Siauw Bwee, agar tidak terganggu orang lain. “Baiklah, mari kau antar aku keluar kota,” akhirnya dia berkata.

“Baik, aku akan mengantarmu ke luar kota dan setelah itu engkau harus pergi dan berjanji padaku tidak akan mengacau di kota lagi karena aku akan merasa menyesal sekali kalau aku terpaksa harus melawanmu sebagai musuh.” Pemuda itu lalu memanggil pelayan, membayar makan minumnya lalu meloncat turun dari loteng diikuti oleh Siauw Bwee yang menjadi girang sekali. 

Dengan diantar oleh Kam Han Ki, pengawal kepercayaan Bu-koksu, tidak ada seorang pun berani mengganggu Siauw Bwee dan dengan tenang Siauw Bwee berjalan di samping suheng-nya keluar dari pintu gerbang utara. Bukan main girangnya hati Siauw Bwee dapat berjalan bersama suheng-nya yang diam saja. Melihat betapa para penjaga memberi hormat kepada Han Ki, hatinya terasa perih dan berduka. Biar pun dia berjalan di samping suheng-nya, namun Kam Han Ki pada saat itu bukanlah suheng-nya, melainkan pengawal nomor satu dari koksu negara.

Akan tetapi baru saja mereka keluar dari pintu gerbang, terdengar suara kaki kuda berderap dan sepasukan pengawal melakukan pengejaran dari belakang. Dari jauh terdengar suara yang amat berpengaruh dan melengking nyaring tanda bahwa yang mengeluarkan suara menggunakan khikang yang amat kuat. 

“Kam-siauwte, berhenti dulu!” 

Han Ki menghentikan langkahnya, lalu berkata kepada Siauw Bwee. “Nona, itu Koksu bersama para pengawalnya datang. Lebih baik kau lekas lari pergi, biarlah aku yang akan membujuknya agar melepaskan engkau dan tidak melakukan pengejaran sehingga tidak terjadi bentrokan antara engkau dan pihak kami.” 

Siauw Bwee maklum bahwa dalam keadaan kehilangan ingatan ini, Han Ki telah menjadi pengawal yang setia dari Bu-koksu, dan apa bila dia menggunakan kepandaiannya melawan Koksu, kesetiaan di hati Han Ki tentu akan memaksa pemuda itu memihak Koksu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa betapa pun suheng-nya kehilangan ingatan, namun sifatnya sebagai pendekar masih tidak lenyap sehingga suheng-nya itu tentu tidak akan membiarkan dia yang dianggapnya sebagai seorang gadis yang tidak dikenalnya, celaka di tangan Koksu. Kalau dia lari pergi begitu saja, lenyaplah kesempatan baik untuk mernbujuk suheng-nya supaya ikut bersamanya. 

“Tidak, Suheng. Aku tidak mau pergi. Aku hanya pergi kalau engkau suka ikut pergi bersamaku.”

“Ehhh? Pergi bersamamu?” Han Ki mengerutkan alisnya, memandang heran. “Ke mana?”

”Menemui supek-ku, seorang yang ahli dalam hal pengobatan. Aku akan membawamu ke sana agar engkau diobati karena engkau menderita sakit hebat, Suheng.” 

“Ihhh, gila! Siapa yang sakit? Andai kata aku sakit, mengapa engkau hendak bersusah payah benar mengobati aku yang belum kau kenal? Mengapa, Nona?” 

Pasukan itu sudah makin dekat dan cepat Siauw Bwee memegang lengan Han Ki sambil berkata, “Karena aku cinta kepadamu!” 

Berubah wajah Han Ki dan mukanya menjadi merah sekali. Sejenak dia memandang wajah Siauw Bwee seperti orang bingung, akan tetapi sinar matanya berseri seolah-olah dia merasa girang sekali, akan tetapi kembali wajahnya berubah dan alisnya berkerut. ”Engkau main-main, Nona. Ataukah jalan pikiranmu tidak beres? Pergilah dan hindarkan keributan.”

Siauw Bwee menggeleng kepala. “Biar sampai mati terbunuh di sini sekali pun, aku tidak akan mau pergi kalau tidak bersamamu!”

“Engkau gadis yang aneh sekali!” 

Pada saat itu pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bu Kok Tai sendiri telah tiba di situ. Pasukan itu terdiri dari dua puluh empat orang pengawal pilihan, dan di samping Bu Kok Tai terdapat pula perwira-perwira pembantu Koksu yang berkepandaian tinggi, di antaranya Ang Hok Ci atau Ang-siucai, Pat-jiu Sin-kauw yang lihai, Thian Ek Cinjin dan beberapa orang perwira tinggi yang lihai lagi. 

“Kam-siauwte, apa yang telah terjadi? Aku mendengar bahwa engkau membantu wanita pengacau ini maka aku cepat menyusul. Apa yang telah kau lakukan ini, Siauwte?”

“Aku hanya tidak ingin melihat dia mengacau lagi, Bu-loheng. Maka aku membujuknya untuk keluar kota dan jangan menimbulkan keributan lagi. Dia bukan orang jahat, harap kau suka memaafkannya dan membiarkan dia pergi. Nona, harap kau suka pergi, aku percaya bahwa Koksu cukup bijaksana untuk memaafkan engkau seorang gadis muda. Pergilah!” Han Ki membujuk.

“Tidak!” Siauw Bwee membantah. “Suheng, tidak tahukah engkau bahwa engkau telah terkena racun perampas pikiran? Mereka ini adalah musuh-musuhmu, musuh-musuh kita! Suheng, mari kita gempur mereka!” 

Mendengar ini, Bu-koksu tertawa bergelak untuk menutupi kekagetannya mendengar tuduhan yang tepat itu. “Gadis sombong engkau! Ha-ha-ha, yang kau bela ini adalah seorang gadis gila, atau seorang mata-mata musuh yang sengaja hendak main gila dan mempengaruhimu.” Ia lalu memberi isyarat kepada para pembantunya dan memerintahkan, “Bekuk dia, kalau dia melawan, bunuh saja!” 

Thian Ek Cinjin, Pat-jiu Sin-kauw, Ang-siucai dan yang lain-lain telah maklum akan kelihaian Siauw Bwee, maka serentak mereka turun tangan menerjang gadis yang bertangan kosong itu. Juga dua puluh empat orang pengawal sudah menerjang dan mengurung dengan senjata di tangan. 

Menghadapi serbuan ini, Siauw Bwee cepat menggerakkan kaki tangannya. Dalam beberapa gebrakan saja ilmu gerak kilat kaki tangannya berhasil membuat empat orang pengawal terjungkal, sedangkan para perwira yang berkepandaian tinggi cepat melompat mundur memutar senjata. Mereka gentar menghadapi Siauw Bwee yang amat cepat gerakan kaki tangannya itu sehingga tidak tampak oleh mereka bagaimana caranya gadis itu merobohkan empat orang tadi.

“Nona, jangan...! Pergilah...!” Han Ki berseru bingung. Dia masih berdebar mendengar pengakuan gadis itu yang mengaku cinta kepadanya, dan kini dia menjadi serba salah. 

“Ha-ha-ha, Kam-siauwte. Dia adalah mata-mata musuh yang mengaku sebagai sumoi-mu. Sengaja dia mengacau dan coba kau perhatikan, betapa dia telah berhasil mencuri ilmu silatmu!”

Sambil berkata demikian, kini Bu-koksu sendiri meloncat turun dari kudanya dan ikut menerjang Siauw Bwee dengan senjatanya yang menyeramkan. Senjata Koksu ini sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, yaitu sebatang golok besar yang berat sekali dan punggung golok itu dipasangi gelang-gelang perak yang mengeluarkan bunyi nyaring kalau senjata itu dimainkan. 

“Cring-cring... sing...!” Golok itu berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata yang menyambar-nyambar ke arah Siauw Bwee. 

Gadis ini terkejut. Lawannya bukanlah orang sembarangan, dan jika dia mengeluarkan ilmu dari Pulau Es, tentu akan menambah kecurigaan Han Ki. Maka dia menahan diri dan cepat menggeser kaki, mainkan gerak kaki kilat yang memungkinkan dia untuk mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali. Untuk membalas, dia mengerahkan tenaga Jit-goat-sinkang yang setingkat lebih rendah kekuatannya kalau dibandingkan dengan Im-kang dan Yang-kang yang ia latih di Pulau Es, namun yang mengandung kemukjizatan karena tenaga itu dikumpul dari sari hawa bulan dan matahari. 

Han Ki berdiri bengong dan kagum. Hawa udara di sekitar tempat pertandingan itu tiba-tiba berubah panas sekali, kemudian menjadi dingin, berganti-ganti. Kembali ada tiga orang pengawal roboh, bahkan Thian Ek Cinjin yang lihai itu terhuyung ke belakang, terpental oleh dorongan hawa dingin sejuk dari tangan kiri gadis itu. 

“Kam-siauwte, bantu aku menangkap gadis ini!” Bu-koksu berteriak dan dia cepat menerjang makin hebat.

Tingkat kepandaian Bu-koksu sudah amat tinggi, dan kalau saja Siauw Bwee tidak mendapatkan tambahan pengalaman dan ilmu kepandaian semenjak dia meninggalkan Pulau Es, agaknya Koksu itu merupakan tandingan yang terlalu berat baginya. Namun Siauw Bwee kini bukanlah seperti Siauw Bwee dahulu sebelum melakukan perantauan dan mengalami banyak hal yang hebat. 

Dengan gerak kaki tangan kilat, dia masih mampu mempertahankan diri, meloncat ke sana ke mari. Ketika golok besar Bu-koksu menyambar lehernya, tubuhnya merendah dan menyelinap ke kiri, kakinya menendang ke depan mengenai lutut Ang-siucai sehingga murid dan orang kepercayaan Bu-koksu itu roboh dengan tulang kaki terlepas dari sambungannya. Dalam detik berikutnya, tangan kiri Siauw Bwee sudah mendorong ke kiri, membuat Pat-jiu Sin-kauw hampir terguling kalau tidak cepat memasang kuda-kudanya yang hebat sambil mengerahkan Thai-lek-kang. Dengan marah Pat-jiu Sin-kauw lalu melancarkan pukulan Thai-lek-kang dan mainkan Soan-hong Sin-ciang mendesak Siauw Bwee.

Kini Siauw Bwee terkurung oleh Bu-koksu, Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin yang ketiganya berusaha merobohkannya dengan serangan-serangan maut, sedangkan di belakangnya, para perwira tinggi lainnya siap untuk menghujankan senjatanya. 

“Kalau aku mengamuk, mungkin dapat merobohkan mereka, akan tetapi tentu aku akan kehilangan Suheng. Sebaiknya aku menggunakan akal untuk menarik bantuannya,” pikir Siauw Bwee yang cerdik.

Ketika itu golok Bu-koksu yang merupakan serangan paling berbahaya bagi Siauw Bwee membabat ke arah pinggangnya. Siauw Bwee meloncat ke atas, menangkis hantaman Thian Ek Cinjin dengan tendangan kakinya. Dia sengaja turun dengan tubuh miring di depan Pat-jiu Sin-kauw yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, memukul dengan tenaga Thai-lek-kang sekuatnya. Tubuhnya berjongkok dan angin keras menyambar dari kedua tangannya yang mendorong ke arah dada Siauw Bwee. Gadis ini maklum bahwa pukulan itu amat berbahaya, namun kalau dia mengerahkan sinkang, dia masih mampu menerimanya, maka dia mengerahkan sinkang-nya, sengaja terhuyung sehingga pukulan itu ia terima dengan bahunya.

“Aduuuhhh...!” Siauw Bwee mengeluh dan jatuh, terus bergulingan sambil memegangi bahu kanannya yang terkena pukulan Thai-lek-kang.

Pada saat itu Bu-koksu mengejar dengan golok diputar merupakan gulungan yang mengancam jiwa Siauw Bwee. Gadis ini benar-benar amat tabah. Dia maklum bahwa kalau suheng-nya masih belum mau turun tangan, nyawanya terancam bahaya maut karena dalam bergulingan seperti itu, akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri dari ancaman golok yang terus mengikutinya. Dia sudah siap. Kalau suheng-nya tidak juga turun tangan, dari pada mati konyol, dia akan mengadu nyawa, berlomba duluan dengan Bu-koksu dan mengirim pukulan maut dengan Im-kang dari Pulau Es! 

“Tringgg...!” Golok itu terpental ke samping dan Bu-koksu meloncat mundur dengan kaget. “Heiii, Kam-sute... apa yang kau lakukan ini?!” bentaknya. 

Akan tetapi Kam Han Ki telah meloncat dan menyambar tangan Siauw Bwee, ditariknya tubuh gadis itu berdiri dan dia mengomel, “Kau keras kepala! Masih juga tidak mau pergi?”

“Tidak! Biar mereka membunuhku, kalau dapat! Engkau pun tidak mempedulikan aku, untuk apa hidup lebih lama lagi?” Siauw Bwee berkata, kini tidak bersandiwara lagi karena memang dia bicara dari lubuk hatinya. Kalau sekali ini dia gagal mengajak pergi Han Ki dan tidak berhasil mengobati suheng-nya itu, berarti dia akan kehilangan Han Ki untuk selamanya dan kalau sudah begitu, apa artinya hidup ini baginya lagi? 

“Kam-siauwte, biarkan aku membunuhnya. Apakah engkau akan mengkhianati aku?”

”Bu-loheng, maafkan aku. Gadis ini tidak waras, biarlah aku membawanya pergi dulu, kelak aku mohon maaf kepadamu!” Setelah berkata demikian, Han Ki memegang lengan Siauw Bwee dan membawanya meloncat jauh dari tempat itu. 

“Siauwte, tahan...!” Bu-koksu berseru marah dan mengejar bersama pasukannya, namun Han Ki sudah pergi jauh.

Setelah pemuda ini mengerahkan ginkang-nya, mana ada yang mampu mengejarnya? Apa lagi Siauw Bwee yang sama sekali tidak terluka itu pun sudah mengerahkan ginkang-nya sehingga dia tidak menghalangi gerakan suheng-nya.

Setelah mereka pergi jauh, Han Ki berhenti dan menoleh kepada Siauw Bwee, mengomel, “Engkau sungguh membikin aku kehilangan muka dan menjadi serba salah. Apa sih maksudmu bersikap seperti ini? Apakah engkau ingin merusak nama baikku? Dan mengapa pula segala sandiwara ini? Aku tahu bahwa kalau kau hendaki, Bu-koksu sendiri tidak akan mampu membunuhmu!”

Siauw Bwee kagum bukan main. Biar pun ingatannya hilang, suheng-nya ternyata amat lihai dan pandang matanya masih amat tajam sehingga dapat melihat permainan sandiwaranya tadi. Dia harus berhati-hati, kalau tidak, suheng-nya tentu tidak akan mau ikut bersama dia. 

“Sudah kukatakan kepadamu, aku cinta padamu dan melihat engkau sakit hebat, aku berusaha mengajakmu kepada supek-ku untuk diobati.” 

“Kau gila! Aku tidak sakit, aku sehat!” Han Ki menggerak-gerakkan kaki tangannya memperlihatkan bahwa dia benar-benar sehat. 

“Bukan badanmu yang sakit, melainkan ingatanmu. Tahukah engkau, siapa sebenarnya engkau ini?”

”Tentu saja aku tahu! Aku Kam Han Ki, aku pengawal pertama dari Bu-koksu yang telah melepas budi besar kepadaku dan mengangkat aku sebagai adiknya.” 

“Hemm, Kam-suheng. Dia itu adalah musuh besar yang hendak mencelakakanmu!”

”Gadis muda, jangan kau bicara sembarangan. Bu-loheng adalah Bu Kok Tai, Koksu negara yang berjiwa pahlawan, seorang gagah perkasa yang amat baik, dan aku berhutang budi kepadanya.” 

“Baiklah... baiklah..., akan tetapi ingatkah engkau siapa ayah bundamu? Ingatkah engkau siapa gurumu? Di mana kau belajar ilmu silat? Ingatkah engkau semua itu?” 

Kam Han Ki mengerutkan alisnya, mengingat-ingat dan akhirnya dia menghela napas. ”Aku tidak ingat lagi, akan tetapi apa hubungannya hal itu dengan Bu-loheng dan engkau? Kenyataannya, dia amat baik kepadaku sedangkan engkau... aku sama sekali tidak mengenalmu, hanya tahu bahwa engkau seorang gadis muda yang amat lihai dan yang selalu mendatangkan kekacauan dan...”

“...dan yang amat mencintaimu, Kam-suheng! Cobalah kau ingat-ingat, apakah engkau lupa akan Istana Pulau Es? Lupakah engkau bahwa engkau bertahun-tahun menggembleng diri di Pulau Es dan membimbing dua orang sumoi-mu yang bernama Maya dan Khu Siauw Bwee? Lupakah engkau kepada mendiang Menteri Kam Liong, kepada Mutiara Hitam, kepada Panglima Khu Tek San?”

Mendengar disebutnya Istana Pulau Es dan nama-nama itu, Kam Han Ki kelihatan terkejut dan bingung. “Istana Pulau Es...? Serasa sering aku mendengarnya, tidak asing bagiku, dan nama-nama itu... seperti pernah kukenalnya... ah, tidak mungkin, aku tidak ingat lagi.” 

“Nah, itu tandanya engkau telah kehilangan ingatanmu, Suheng. Mana ada orang lupa akan orang tuanya? Lupa akan gurunya.” 

Kam Han Ki menjatuhkan diri duduk di atas batu di hutan itu. Alisnya berkerut, mukanya pucat dan tubuhnya berpeluh karena ia memeras ingatannya. Namun sia-sia belaka, dia tidak ingat apa-apa lagi. “Orang tuaku? Guruku? Pulau Es? Aihh, Nona, aku benar-benar menjadi bingung. Seperti pernah kukenal baik, dan tak mungkin aku lupa akan orang tua dan guruku, akan tetapi sungguh mati, aku tidak ingat lagi...” 

“Dan aku adalah seorang di antara kedua sumoi-mu, aku bernama Khu Siauw Bwee. Ah, Suheng... bertahun-tahun kita tinggal bertiga di Pulau Es. Engkau menjadi guruku, juga sahabatku, tapi benar-benar engkau tidak ingat kepadaku lagi...” Siauw Bwee tak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan ia menangis tersedu-sedu.

Han Ki menjadi makin bingung. “Nona... jangan menangis, engkau membikin aku makin bingung. Biarlah aku tanyakan semua itu kepada Bu-loheng... dia tentu tahu...”

“Jangan...! Dia itu adalah musuh kita, dialah yang membuat kau kehilangan ingatan, Suheng. Kalau engkau kembali kepadanya, setelah melihat bahwa aku tahu rahasianya, tentu mereka itu akan mencelakaimu!” 

“Ha-ha, jangan menyangka yang bukan-bukan, Nona. Dia adalah kakak angkatku, satu-satunya orang yang amat baik kepadaku. Dia telah menolongku, merawatku, memberiku kedudukan tinggi dan kepercayaan.” 

“Kam-suheng, kau kasihanilah aku. Kau turutlah bersamaku untuk diobati oleh supek-ku. Supek Coa Leng Bu adalah seorang ahli pengobatan yang lihai, dia tentu akan memulihkan ingatanmu dan engkau akan dapat mengingat segala hal yang telah lalu, yang telah kau lakukan. Marilah, Suheng, dia menanti di hutan pohon pek, marilah...” Siauw Bwee memegang tangan Han Ki dan ditarik-tariknya.

Akan tetapi Han Ki mempertahankan diri dan akhirnya berkata, “Bukan aku tidak percaya kepadamu, Nona. Akan tetapi, amat tidak enak kalau aku meninggalkan Bu-loheng begitu saja. Pula, aku akan menanyakan riwayatku yang telah kulupakan itu kepadanya. Kalau dia tidak dapat menjawab, baru aku akan datang mencarimu dan menerima pengobatan supek-mu.” 

Tiba-tiba Siauw Bwee melepaskan tangan Han Ki. “Kalau engkau berkeras, baiklah, aku akan pergi pula ke sana menemui Bu-koksu.”

”Heh? Susah payah kau kularikan, sekarang hendak kembali? Apa kau mencari mati?”

”Biarlah. Aku akan mengamuk dan membunuh Koksu, kalau aku gagal, biar aku mati. Lebih baik mati dari pada hidup melihat engkau menjadi boneka hidup, lupa akan segala hal yang lalu. Sekarang kau pilih saja mau ikut bersamaku untuk pengobatan atau aku akan mengamuk dan mengadu nyawa di gedung Bu-koksu!” 

“Wah, kau mengancam?” 

“Benar, soalnya hanya mati atau hidup bagiku!” 

“Tsk-tsk-tsk, kau benar-benar seorang gadis luar biasa sekali. Mengapa kau begini nekat hanya untuk diriku seorang?” 

Pandang mata Siauw Bwee menjadi lembut, kekerasaannya luntur dan dengan air mata berlinang dia memegang tangan Han Ki, berkata lirih, “Karena aku mencintaimu, tak tahukah kau? Keadaanmu yang lupa ingatan memberanikan hatiku untuk mengaku terus terang, Suheng. Aku cinta padamu dengan seluruh badan dan nyawaku!” 

Han Ki menggeleng-geleng kepala, bingung. “Engkau seorang dara jelita yang gagah perkasa, mencinta seorang seperti aku? Bahkan menurut pendapatmu, aku seorang yang hilang ingatan, berarti orang yang otaknya miring, tidak waras lagi!” 

“Apa pun yang terjadi denganmu, aku tetap mencintamu, Suheng.” 

“Aihhh..., apa yang dapat kulakukan sekarang? Menghadapi engkau lebih sukar dari pada menghadapi ribuan orang lawan bersenjata, Nona. Baiklah, mari kita coba apakah benar aku kehilangan ingatan dan dapat disembuhkan oleh supek-mu. Akan tetapi, ingatlah engkau, jangan main-main denganku. Kalau engkau menipuku, aku... aku akan...”

Siauw Bwee mendekatkan tubuhnya, mukanya ditengadahkan penuh tantangan, matanya bersinar-sinar. “Engkau akan apakan aku, Suheng...? Membunuhku?”

Han Ki gelagapan. Biar pun dia tidak ingat siapa adanya gadis ini, namun ada sesuatu yang amat menarik dari diri gadis ini yang membuat dia diam-diam mengherankan hatinya sendiri. Apakah dia telah menjadi benar-benar gila dan jatuh cinta kepada gadis yang nekat ini? 

“Tidak! Aku hanya akan... akan... membencimu!” akhirnya dia menjawab juga.

Siauw Bwee menggandeng lengan suheng-nya dan merapatkan tubuhnya dengan sikap manja. “Itu tandanya bahwa engkau cinta kepadaku, Suheng. Marilah, dan kalau aku menipumu, tidak usah engkau membenciku, aku sendiri akan membenciku bahkan kalau Supek gagal, aku akan membenciku sampai aku mati dikeroyok orang-orangnya Bu-koksu yang pasti akan kuamuk sampai titik darahku terakhir!” 

Han Ki bergidik. Tekad gadis ini luar biasa sekali dan tentu ada apa-apanya di balik sikapnya itu. Andai kata benar peringatan Bu-koksu bahwa gadis ini hendak menipunya, andai kata dia dibawa ke dalam perangkap, dia tidak takut dan percaya bahwa dia akan mampu mempertahankan dirinya. Hanya ia menjadi takut sendiri kalau-kalau gadis ini benar seorang penipu, karena kalau ternyata demikian, dia akan merasa amat berduka dan kecewa dan... kehilangan. 

Seorang kakek yang bertelanjang kaki menyambut mereka di dalam hutan pek. Melihat gadis itu berhasil membawa Han Ki yang kelihatannya curiga dan ragu-ragu, Coa Leng Bu girang bukan main. 

“Ah, sungguh girang hatiku melihat engkau berhasil mengajaknya ke sini, Lihiap. Kam-taihiap, selamat datang!” 

Biar pun ingatannya lenyap, Han Ki masih belum kehilangan kesopanannya. Kalau di tempat Bu-koksu dia bersikap tidak acuh adalah karena dia tidak suka melihat sikap anak buah Bu-koksu, hanya karena sayang dan berhutang budi kepada Bu-koksu saja yang mengikat dia di samping pembesar itu. Kini melihat wajah kakek yang tenang dan penuh pengertian, sikap yang sederhana dengan pakaian sekedarnya, dia cepat menjura dengan hormat dan berkata, “Tidak tahu, siapakah Locianpwe yang telah mengenal namaku?”

“Ha-ha-ha, Kam-taihiap terlalu menghormat seorang bodoh seperti aku dengan menyebut Locianpwe. Aku bernama Coa Leng Bu dan karena sumoi-mu, Khu-lihiap ini diangkat anak oleh sute-ku, maka aku menjadi supek-nya, supek dalam sebutan saja yang membuat aku malu, karena dalam hal kepandaian, aku boleh berguru kepadanya. Kam-taihiap, aku mengenalmu karena keterangan sumoi-mu dan kulihat bahwa engkau terkena racun yang membuat ingatanmu hilang. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan, maka kalau engkau percaya, biarlah aku berusaha mengobatimu, Kam-taihiap.” 

Han Ki mengerutkan alisnya. “Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjadi lupa sama sekali akan hal-hal yang lalu, akan tetapi aku sungguh tidak mengenal Nona ini yang menganggap aku sebagai suheng-nya. Yang kukenal hanyalah kakak angkatku, Bu-loheng...” 

Dengan wajah penuh ketenangan Coa Leng Bu berkata, “Aku mengerti Taihiap. Kau anggap sajalah bahwa engkau belum mengenal aku dan Khu-lihiap, dan bahwa engkau memang adik angkat Koksu. Akan tetapi kuharap engkau percaya kepada kami bahwa kami berniat baik, karena aku melihat engkau menderita lupa ingatan karena racun perampas ingatan, maka anggap saja bahwa engkau berada di antara teman-teman yang hendak berusaha mengobatimu.” 

“Heran sekali, aku merasa sehat, akan tetapi kalian menganggap aku sakit. Akan tetapi rasanya tidak mungkin kalau engkau, terutama Nona ini hendak menipuku. Baiklah aku akan menurut dan suka kau obati, harap lekas memberi obatnya dan hendak kulihat apakah aku akan dapat mengingat riwayatku yang telah kulupakan sarna sekali.” 

Coa Leng Bu menggeleng-geleng kepalanya. “Kam-taihiap, racun itu memasuki kepalamu melalui makanan atau minuman, sedikit demi sedikit dan untuk mengobatinya pun harus sedikit demi sedikit dan memakan waktu lama. Engkau pun tentu pernah mendengar bahwa penyakit datang menunggang kuda akan tetapi pergi menunggang kura-kura, kalau datang cepat sekali akan tetapi perginya memakan waktu lama!”

“Berapa lama engkau akan dapat menyembuhkan aku, Locianpwe?” 

“Pertama-tama, kuharap Taihiap jangan menyebutku Locianpwe. Namaku Coa Leng Bu, cukup kalau kau sebut lopek saja. Untuk menentukan berapa lama aku akan dapat menyembuhkanmu, bukanlah hal mudah dan aku tidak berani bilang sebelum memeriksamu. Bolehkah aku memeriksamu, Taihiap?” 

“Silakan,” Han Ki menjawab dan biar pun suaranya masih meragu, namun di dalam hatinya ia mulai khawatir dan percaya bahwa memang dia sedang sakit. Buktinya adalah bahwa, seperti yang dikatakan gadis jelita itu, dia lupa sama sekali akan riwayat hidupnya, lupa akan ayah bundanya dan lupa akan gurunya. Hal ini memang tidak mungkin terjadi kalau dia tidak menderita sakit kehilangan ingatan! 

Coa Leng Bu mempersilakan Han Ki rebah telentang di atas rumput, kemudian ia mulai memeriksa denyut nadi, mendengarkan detak jantung, memeriksa mata dengan membuka kelopaknya. “Taihiap, kalau boleh, aku hendak mengambil sedikit darahmu untuk diperiksa.”

“Silakan!” Han Ki menjawab. 

Dengan sebatang jarum emas, kakek itu menusuk ujung jari tangan kiri Han Ki, sehingga ada beberapa tetes darah keluar dari luka kecil itu. Darah itu ditampungnya di atas sehelai daun yang berwarna putih, kemudian dibawanya ke tempat terang sehingga dia dapat memeriksa dengan jelas di bawah sinar matahari. Darah itu diperiksa, diamat-amati, dicium, bahkan dijilat dengan lidahnya.

Semua perbuatannya itu diikuti penuh perhatian oleh Han Ki yang sudah membereskan pakaian dan duduk kembali di atas rumput, sedangkan Siauw Bwee tak pernah melepaskan pandang matanya dari suheng-nya dengan hati penuh keharuan. Menyaksikan sikap pemuda ini yang berubah sama sekali seolah-olah dia menghadapi seorang asing, akan tetapi wajah, bentuk badan dan setiap gerak-gerik pemuda itu dari matanya mengerutkan alis, sinar matanya yang tajam itu, mulut yang membayangkan kedukaan, dia tidak meragukan lagi bahwa pemuda ini adalah suheng-nya. Di antara sejuta orang pemuda, tak mungkin ada satu yang menyamai suheng-nya itu.....

Selanjutnya baca
ISTANA PULAU ES : JILID-18
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger