logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 01


"Haaiiiii... hiiyooooo... huiiiiii...!"

"Eh, Bu-te (adik Bu), jangan main-main! Angin bertiup begini kencang, lekas duduk dan membantu aku. Gulung layar itu, kita bisa celaka kalau angin sebesar ini dan layar tetap berkembang!"

"Yahuuuuu...! Wah, dengar, Lee-ko (kakak Lee), suara terbawa angin tentu terdengar sampai jauh. Hiyooooohhhhh...!"

Mereka adalah dua orang anak laki-laki yang menjelang dewasa, berusia empat belas tahun, berwajah tampan dan bertubuh tegap kuat. Mereka ini kakak-beradik yang mempunyai ciri wajah berbeda sungguh pun sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tampan. Yang disebut Lee-ko adalah Suma Kian Lee, sedangkan adiknya itu adalah Suma Kian Bu, dan kedua orang anak laki-laki ini bukan anak-anak nelayan biasa yang bermain-main dengan perahu mereka, melainkan putera-putera Pendekar Super Sakti Suma Han atau yang lebih terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es!

Pendekar Super Sakti yang mengasingkan diri dari dunia ramai selama bertahun-tahun, tinggal di Pulau Es bersama dua orang isterinya, yaitu Puteri Nirahai dan Lulu, dua orang isteri yang cantik jelita dan mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raga mereka. Di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis diceritakan betapa suami dengan kedua orang isterinya ini baru berkumpul kembali di pulau itu setelah mereka berusia empat puluh tahun dan hidup bertiga di pulau kosong itu, mengasingkan diri dari dunia ramai dan saling mencurahkan kasih sayang yang terpendam selama belasan tahun berpisah!

Dari curahan kasih sayang yang amat mendalam dan mesra itu, terlahirlah dua orang anak laki-laki itu. Lulu melahirkan puteranya lebih dahulu, dan anak itu diberi nama Suma Kian Lee. Setengah tahun kemudian, Nirahai juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Suma Kian Bu. Tentu saja kelahiran dua orang anak laki-laki itu menambah rasa bahagia di dalam kehidupan mereka bertiga sehingga tidak begitu terasalah kesunyian di pulau itu. Dan setelah kedua orang anaknya terlahir, demi kepentingan dua orang anaknya, Suma Han tidak lagi pantang bergaul dengan orang lain, bahkan sering kali dia mengajak kedua orang puteranya pergi meninggalkan Pulau Es mengunjungi pulau-pulau lain di dekat daratan besar yang dihuni oleh nelayan-nelayan.

Karena kedua orang anak itu lebih mirip dengan ibu masing-masing, maka biar pun keduanya sama tampan, namun terdapat perbedaan dan ciri khas pada wajah mereka, juga semenjak kecil sudah tampak perbedaan watak mereka yang menyolok sekali. Suma Kian Lee, putera Lulu, berwatak lembut dan halus, sabar dan tidak pernah melakukan kenakalan, juga pendiam. Sebaliknya, Suma Kian Bu, putera Nirahai, amat nakal dan periang, mudah tertawa dan mudah menangis, bandel dan berani, akan tetapi juga amat mencinta kakaknya dan betapa pun nakalnya, akhirnya dia selalu tunduk dan taat kepada kakaknya. Padahal dia berani membangkang terhadap ibunya sendiri, bahkan kadang-kadang dia berani menentang ayahnya!

Pada pagi hari itu, ketika kedua orang ibu mereka sedang sibuk di dapur dan ayah mereka seperti biasa di waktu pagi hari duduk bersemedhi dalam kamar semedhinya, mereka berdua bermain-main dengan perahu mereka. Kemudian timbul niatan tiba-tiba dalam kepala Suma Kian Bu untuk pergi menggunakan perahu ke daratan besar dan mencari enci-nya (kakak perempuannya) yang tinggal di kota raja!

Memang anak ini mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Puteri Milana. Puteri Nirahai adalah puteri Kaisar Tiongkok yang lahir dari seorang selir, maka anaknya yang pertama, yang bernama Milana, juga seorang puteri, cucu kaisar! Di dalam ceritera Sepasang Pedang Iblis dituturkan betapa Puteri Milana, kakak Suma Kian Bu ini, oleh ayahnya diharuskan ikut kakeknya, Kaisar Tiongkok, untuk tinggal di istana kaisar dan selanjutnya mentaati semua perintah kakeknya itu.

Akhirnya oleh kaisar, Puteri Milana yang cantik jelita itu dijodohkan dengan seorang panglima muda yang juga berdarah bangsawan, setelah panglima muda ini berhasil keluar dari sayembara yang diadakan oleh Milana. Dara bangsawan itu, cucu kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, hanya mau dijodohkan dengan seorang yang mampu menahan serangannya selama seratus jurus! Dan kalau dia menghendaki, sukarlah ditemukan orang yang dapat menahan seratus jurus serangannya. Akan tetapi ketika Han Wi Kong, panglima muda itu memasuki sayembara, pemuda perkasa ini berhasil mempertahankan diri dan dialah yang terpilih menjadi suami puteri jelita dan perkasa itu! Sesungguhnya, hal ini hanya dapat terjadi karena memang Milana memilihnya di antara sekian banyaknya pelamar yang datang memasuki sayembara.

Ketika diadakan pesta pernikahan Puteri Milana, Pendekar Super Sakti bersama kedua orang isteri dan kedua orang puteranya datang pula ke kota raja. Hal ini terjadi ketika kedua orang puteranya masih kecil, baru berusia lima atau enam tahun dan itulah pengalaman pertama dari kedua orang anak ini melihat kota raja!

Demikianlah pagi hari itu Suma Kian Bu membujuk kakaknya untuk pergi menyusul enci-nya (kakak perempuannya) di kota raja. Tentu saja Suma Kian Lee menolak dan mengingatkan adiknya bahwa kota raja amatlah jauh dan pergi ke sana tanpa ijin ayah mereka tentu akan membuat ayah mereka marah. Akan tetapi, Suma Kian Bu merengek dan akhirnya Suma Kian Lee yang amat sayang kepada adiknya, terpaksa menyanggupi dan berlayarlah keduanya meninggalkan Pulau Es!

Biar pun kedua orang anak laki-laki itu baru berusia empat belas tahun, akan tetapi sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja mereka tidak dapat disamakan dengan anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Semenjak kecil mereka berdua telah digembleng oleh ayah bunda mereka yang berilmu tinggi sehingga mereka merupakan dua orang anak-anak yang telah memiliki ilmu kepandaian silat tinggi dan memiliki tenaga sinkang latihan Pulau Es yang mukjijat.

Betapa pun juga, mereka hanyalah anak-anak dan sifat kanak-kanak mereka yang suka bermain-main masih melekat dalam hati mereka. Setelah mereka menjelang dewasa, jiwa petualang yang terdapat dalam hati semua anak laki-laki bergejolak dan kini dicetuskan oleh Kian Bu yang mengajak kakaknya untuk pergi merantau, menyusul enci-nya di kota raja.

Perahu mereka telah jauh meninggalkan Pulau Es karena angin di pagi hari itu bertiup kencang sehingga layar yang mereka pasang berkembang penuh. Akan tetapi makin lama angin bertiup makin kencang sehingga Kian Lee merasa khawatir sekali karena perahu mereka sudah miring-miring dan meluncur terlalu cepat. Sebaliknya Kian Bu masih bermain-main, berdiri di kepala perahu, bertolak pinggang dan berteriak-teriak membiarkan suaranya dibawa angin.

"Bu-te, cepat bantu. Berbahaya kalau begini, kurasa akan ada badai!" Kian Lee yang mengemudikan perahu dengan dayungnya berteriak lagi.

Mendengar disebutnya ‘badai’, otomatis Kian Bu menghentikan teriakan-teriakannya dan air mukanya berubah. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggulung layar dan membantu kakaknya mendayung sambil berbisik, "Benarkah ada... badai, Lee-ko?"

"Entahlah, mudah-mudahan saja tidak," jawab kakaknya. "Dan payahnya, mungkin kita salah jalan, Bu-te. Mengapa belum juga nampak daratan besar?"

Dua orang kakak-beradik ini memang agak gentar terhadap badai. Pernah ayah mereka bercerita betapa hebatnya kalau badai telah mengamuk di daerah lautan ini. Bahkan menurut cerita ayahnya, Pulau Es sendiri pernah diamuk badai sampai tenggelam di bawah permukaan air laut! Betapa mengerikan. Kata ayah mereka, dahulu pulau mereka itu merupakan sebuah kerajaan, akan tetapi semua penghuninya dibasmi habis oleh badai dan hanya tinggal bangunan istananya saja. Biar pun mereka berdua yang sejak kecil tinggal di pulau dan tidak asing dengan lautan, bahkan ahli dalam ilmu renang, pandai pula menguasai perahu, namun mendengar tentang badai sehebat itu, mereka merasa gentar juga. Dan sekarang, berada di tengah lautan, jauh dari Pulau Es, mereka merasa ngeri kalau-kalau ada badai akan mengamuk.

"Lee-ko, bukankah daratan besar letaknya di sebelah barat?"
"Menurut ibu demikian dan tadi aku sudah mengarahkan perahu ke barat. Akan tetapi, angin kencang mengubah haluan dan kita agaknya menyimpang ke utara. Awas, Bu-te, angin makin kencang!"

Kedua orang pemuda tanggung itu kini tidak bicara lagi, tetapi menggerakkan dayung dengan amat hati-hati untuk mengemudikan perahu mereka yang mulai dipermainkan ombak. Makin lama angin makin kencang bertiup dan ombak makin membesar hingga perahu mereka diombang-ambingkan bagai sebuah mainan kecil dipermainkan tangan-tangan raksasa! Mereka tidak dapat lagi menentukan arah, hanya mempergunakan tenaga melalui dayung untuk menjaga agar perahu mereka tidak sampai terbalik.

"Tenang saja, Bu-te...," di tengah-tengah amukan ombak itu Kian Lee berkata kepada adiknya.
Kian Bu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Lee-ko, harap jangan khawatir."

Dua orang pemuda tanggung itu memang memiliki nyali yang amat besar. Biar pun keadaan mereka cukup berbahaya, namun keduanya masih tenang saja, percaya penuh akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri.

"Dukk! Dukk!"
"Apa itu...?" Kian Bu berteriak kaget, cepat menggerakkan dayung untuk membantu kakaknya mengatur keseimbangan perahu yang tadi terpental seolah-olah ditabrak sesuatu.
"Hemmm, ikan-ikan hiu...! Lihat itu mereka!" Kian Lee berseru sambil menuding ke depan.

Tampaklah sirip-sirip ikan hiu yang berbentuk layar itu meluncur di dekat perahu mereka. Agaknya ikan-ikan itu sudah tahu bahwa perahu kecil itu ditumpangi dua orang yang tentu akan menjadi santapan lezat bagi mereka kalau perahunya dapat terguling. Mereka tadi tidak sengaja menabrak perahu, akan tetapi melihat dua orang di atas perahu, ikan-ikan itu lalu berenang di kanan kiri perahu, agaknya menanti dengan tak sabar lagi sampai dua orang manusia yang akan dijadikan mangsa mereka itu terjatuh ke air dan diperebutkannya.

"Setan air!" Kian Bu memaki. "Lee-ko, jaga perahu, biar kuhajar mereka!"

Tanpa menanti jawaban kakaknya, Kian Bu sudah meloncat keluar dari perahunya, dipandang dengan mata penuh kegelisahan oleh kakaknya. Kakak ini maklum akan keberanian dan kenakalan adiknya, akan tetapi kadang-kadang dia harus menahan napas menyaksikan kenakalan Kian Bu, apalagi sekarang! 

Kian Bu yang meloncat keluar itu menggunakan kakinya hinggap di atas sirip seekor ikan hiu besar, sedangkan dayung di tangannya, dayung yang ujungnya dipasangi besi, dihantamkan ke kanan kiri mengenai dua ekor ikan hiu lain, tepat di bagian kepala sehingga kepala dua ekor ikan itu pecah. Segera terjadilah pesta pora, karena dua ekor ikan hiu yang terluka kepalanya dan mengeluarkan darah itu telah dikeroyok oleh belasan ekor ikan hiu lainnya sehingga dalam waktu sebentar saja daging mereka terobek-robek dan ditelan habis. Kian Bu sudah meloncat lagi ke atas perahunya dan sambil tertawa-tawa dia membantu kakaknya untuk mendayung perahu meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi karena gelombang lautan masih amat besar, usaha mereka mendayung perahu itu hanya sedikit sekali hasilnya, perahu mereka tetap saja diombang-ambingkan dan mereka tidak tahu lagi ke mana mereka akan dibawa oleh perahu.

"Bu-te, lihat di sana ada pulau!"

Kian Bu menoleh ke kiri dan tampak olehnya sebuah pulau kadang-kadang tampak kadang-kadang tidak karena perahu mereka masih dipermainkan ombak yang naik turun bergelombang. "Lee-ko, mari kita ke sana!"

Dengan susah payah kedua orang kakak beradik ini mendayung perahu mereka dan akhirnya mereka dapat juga mendarat di pulau kecil itu dan menarik perahu sampai ke atas daratan yang tidak tercapai oleh air yang bergelombang. Tiba-tiba mereka dikejutkan suara riuh rendah seperti ada puluhan ekor anjing menggonggong dan menyalak. Ketika mereka naik ke tengah pulau yang agak tinggi, tampaklah oleh mereka pemandangan yang menakjubkan. Kiranya pulau itu merupakan tempat tinggal atau sarang dari sekawanan anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor!

"Lee-ko, betapa lucunya mereka. Mari kita menangkap seekor anak anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor dan kita bawa pulang!" Kian Bu sudah berlari menuju ke tempat itu.

"Jangan, Bu-te!" Kian Lee melarang, akan tetapi karena adiknya sudah berlari cepat, terpaksa dia mengejarnya.

Rombongan anjing laut itu makin hiruk-pikuk mengeluarkan teriakan-teriakan mereka ketika melihat dua orang manusia yang berlari menuju ke arah mereka itu, dan dalam sekejap mata saja mereka telah terjun ke air dan berenang ke tengah laut. Tampak tubuh mereka itu timbul tenggelam dan suara mereka masih menguik-nguik sebagai tanda kemarahan karena ketenangan mereka terganggu.

"Bu-te, jangan ganggu mereka. Bukankah tujuanmu mencari enci Milana, mengapa kau hendak menangkap anjing laut?" Kian Lee menegur.

Kian Bu tertawa. "Aihhh, aku sudah lupa lagi akan tujuan perjalanan kita, Lee-ko. Padahal, selain kita masih jauh dari kota raja, sekarang kita bahkan tidak tahu lagi di mana kita berada."

Suara gerengan dahsyat yang menggetarkan pulau itu mengejutkan mereka. Ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata di depan mereka telah berdiri seekor binatang yang besar sekali. Besar dan tinggi binatang itu ada satu setengah kali manusia dewasa dan binatang itu adalah seekor beruang es yang bulunya putih seperti kapas, mata dan moncongnya kemerahan. Biar pun jarang mereka bertemu dengan seekor beruang es, namun kedua kakak beradik itu mengerti bahwa binatang itu marah sekali. Mereka sudah siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan.

Sekali lagi binatang itu menggereng dan tiba-tiba saja dia sudah menerjang ke depan. Walau pun tubuhnya amat besar dan canggung, namun ternyata binatang itu dapat bergerak dengan cepat sekali, dan dari sambaran angin tahulah dua orang kakak beradik itu bahwa beruang es ini memlliki tenaga yang amat besar.

"Awas, Bu-te!" Kian Lee berseru memperingatkan sebab yang terdekat dengan beruang itu adalah Kian Bu, maka pemuda inilah yang lebih dulu menjadi sasaran serangannya.

Suma Kian Bu adalah seorang pemuda yang amat berani dan agak ugal-ugalan, terlalu mengandalkan kepandaian dan tenaganya sendiri, berbeda dengan kakaknya yang lebih berhati-hati. Melihat beruang itu menubruknya dengan kedua kaki depan diangkat hendak mencengkeramnya dari kanan kiri, Kian Bu cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.

"Dukkk!"

Tubuh Kian Bu terjengkang dan tenaga dahsyat dari beruang itu membuat dia jatuh terguling-guling. Beruang itu agaknya juga merasa nyeri kedua kakinya ketika terbentur oleh lengan pemuda yang mengandung tenaga sinkang itu, maka dia menggereng lagi penuh kemarahan, lalu secepat kilat dia menubruk pemuda yang masih bergulingan di atas tanah itu!

Melihat bahaya mengancam adiknya, Kian Lee cepat menyambar dari samping, memukul ke arah kepala beruang sambil mengerahkan tenaga Inti Es yang dahsyat. Dengan tenaga sinkang istimewa ini, Kian Lee sanggup menghantam remuk batu karang!

Akan tetapi ternyata beruang yang besar itu gesit sekali, kegesitan yang dikuasainya bukan karena ilmu silat, melainkan karena keadaan hidupnya yang setiap saat penuh bahaya, membuat dia gesit dan waspada. Nalurinya tajam sekali dan perasaannya amat peka. Begitu pukulan dahsyat itu menyambar, dia sudah dapat mengelakkan kepalanya, dan kedua kaki depannya yang tadi menubruk ke arah Kian Bu, kini menyimpang dan menghantam pundak Kian Lee.

"Wuuuuttt... dessss!"

Kian Lee cepat mengelak, melempar diri ke kanan, kemudian dari kanan dia sudah menampar dengan telapak tangan kanannya yang tepat mengenai punggung beruang es. Tamparan ini keras sekali, namun agaknya tidak terasa oleh beruang itu yang hanya terhuyung sedikit, menurunkan kedua kaki depannya ke atas tanah, kemudian secara tiba-tiba dia meloncat dan menubruk orang yang telah menampar pundaknya itu.

"Awas, Lee-ko...!"

Kian Bu yang terkejut melihat serangan beruang itu yang menubruk dengan cepat dan agaknya tak mungkin dapat dielakkan oleh kakaknya karena jaraknya terlalu dekat, sudah berteriak dan menubruk ke depan. Dia merangkul kedua kaki belakang beruang itu dari belakang sehingga beruang yang sedang menubruk itu terguling, membawa tubuh Kian Bu terguling bersamanya! Karena Kian Bu mempergunakan ginkang-nya, membuat tubuhnya ringan dan gerakannya gesit sekali, dia berhasil jatuh di bagian atas, menindih tubuh beruang es itu.

Akan tetapi celaka baginya, binatang raksasa itu telah menggunakan kedua kaki depannya yang amat kuat untuk merangkul pinggangnya dan menarik sekuat tenaga, agaknya berusaha untuk mematahkan tulang punggung pemuda itu.

"Auggghhh...!" Kian Bu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan diri, akan tetapi ternyata binatang itu memiliki tenaga kasar yang kuat sekali!

"Plak! Desss!"

Tubuh binatang itu terlempar ketika pada saat yang tepat Kian Lee telah menolong adiknya dengan memukul tengkuk binatang itu dari atas, dan tepat pada saat itu juga, Kian Lee telah menggunakan kedua tangannya untuk menghantam dada binatang itu. Menerima pukulan Kian Lee yang dahsyat, seketika pelukan binatang itu mengendur, maka ketika dadanya dihantam, dia terlempar dan bergulingan.

"Bu-te, hati-hati, dia buas sekali!" Kian Lee memegang tangan adiknya dan kini kakak beradik itu berdiri berdampingan, siap untuk mengeroyok binatang yang amat kuat itu.

Beruang es itu pun berdiri di atas kedua kaki belakang, matanya makin merah menatap kedua orang muda penuh kemarahan, mulutnya mendesis-desis memperlihatkan taringnya, tetapi agaknya dia gentar juga menghadapi dua orang lawan yang cepat itu. Akhirnya, tidak kuat dia menghadapi tatapan pandang mata yang amat tajam dan pantang menyerah dari kedua orang muda itu, beruang ini mundur-mundur, kemudian membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dari situ.

"Bu-te, mari kita lekas kembali ke perahu. Tempat ini berbahaya," kata Kian Lee yang segera lari diikuti oleh adiknya, kembali ke perahu mereka.

Mereka cepat menarik perahu ke laut dan ternyata bahwa laut telah mulai tenang. Kini tampaklah sebuah pulau memanjang yang berwarna hitam, tak jauh membentang di depan.

"Agaknya pulau itu tidak seliar tempat ini, Lee-ko. Mari kita ke sana, siapa tahu kita dapat bertemu dengan nelayan dan kita dapat bertanya arah ke daratan besar kepadanya."

Kian Lee setuju dan mereka lalu mengembangkan layar. Angin perlahan meniup layar dan tak lama kemudian mereka telah tiba di pulau yang kelihatan penuh dengan hutan liar itu. Tadinya mereka merasa ragu-ragu untuk mendarat, akan tetapi ketika mereka melihat sebuah perahu kecil berwarna hitam berada di tepi pantai, mereka menjadi girang dan cepat mendaratkan perahu mereka dekat perahu hitam, kemudian mereka meloncat turun.
Akan tetapi baru saja kedua orang kakak beradik ini melangkah menuju ke tengah pulau, tiba-tiba dari dalam hutan tampak belasan orang berlari-larian keluar dan yang mengejutkan hati kedua orang pemuda Pulau Es itu adalah ketika mereka melihat gerakan belasan orang itu.

Gerakan mereka ketika berlari amat cepat, tubuh mereka berkelebatan seperti terbang, tanda bahwa belasan orang itu telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi! Yang lebih mengherankan dan menyeramkan lagi adalah seorang yang memimpin rombongan itu, seorang kakek yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, tubuhnya seperti raksasa, tinggi besar dan dua pasang kaki tangannya yang tampak sebatas lutut dan siku, penuh dengan otot-otot yang melingkar-lingkar!

Siapakah mereka itu? Pertanyaan ini mengganggu pikiran kedua kakak beradik itu. Tentu saja mereka tidak tahu dan mereka sama sekali juga tidak pernah menyangka bahwa mereka yang diserang gelombang besar itu ternyata telah kesasar ke Pulau Neraka! Pulau Neraka adalah sebuah pulau yang baru dua tiga puluh tahun ini terkenal sekali, bahkan sama terkenalnya dengan Pulau Es. Sebetulnya, Pulau Neraka ini menurut riwayatnya masih ada hubungannya dengan Pulau Es.

Dahulu kala, ratusan tahun yang lalu, ketika di Pulau Es masih terdapat sebuah kerajaan kecil, Pulau Neraka merupakan tempat pembuangan orang-orang yang melakukan dosa besar. Akhirnya, setelah kerajaan di Pulau Es terbasmi habis oleh badai sehingga seluruh penghuninya tewas, Pulau Neraka dengan penghuninya merupakan daerah yang bebas. Bahkan Lulu, isteri Pendekar Super Sakti pernah pula menjadi ketua atau majikan dari Pulau Neraka ini.

Setelah Pulau Neraka kehilangan semua tokohnya dan tidak ada yang memimpin lagi, terjadilah perebutan kekuasaan. Akan tetapi baru tiga tahun yang lalu, Pulau Neraka kedatangan seorang kakek raksasa yang amat sakti, yang dengan kepandaiannya menundukkan semua penghuni Pulau Neraka sehingga otomatis dia diangkat menjadi ketua.

Dia memperkenalkan diri dengan nama julukan Hek-tiauw Lo-mo (Iblis Tua Rajawali Hitam) dan memang dia pantas memakai nama julukan seperti itu karena selain tubuhnya seperti raksasa dan mukanya yang terhias caling itu seperti iblis, juga dia datang ke Pulau Neraka dengan menunggang seekor burung rajawali hitam! Lebih hebat lagi, di belakang burung rajawali hitam ini terdapat dua ekor burung rajawali lain yang berbulu putih dan bermata emas, akan tetapi dua ekor burung rajawali ini masih muda dan agaknya takluk kepada burung rajawali hitam sehingga dia ikut saja ke mana sang rajawali hitam itu terbang.

Hek-tiauw Lo-mo memang seorang sakti. Dia datang dari daratan negara Kolekok (Korea) dan di sana dia menjadi orang buruan pemerintah karena dia merupakan seorang penjahat yang kejam dan dimusuhi pemerintah dan semua orang gagah. Karena merasa tidak aman berada di negaranya sendiri, Hek-tiauw Lo-mo melarikan diri dengan sebuah perahu ke selatan. Di dunia selatan, dia berhasil menjadi raja suatu bangsa yang masih biadab dan yang tinggal di dalam hutan-hutan pegunungan yang amat liar.

Karena kepandaian dan kekuatannya, bangsa biadab ini tunduk kepadanya dan sampai sepuluh tahun dia menjadi raja mereka. Selain dapat memperoleh ilmu-ilmu yang aneh dan tinggi, juga Hek-tiauw Lo-mo ini ketularan kebiasaan dan kesukaan bangsa itu, yaitu kadang-kadang makan daging manusia, musuh mereka dari lain suku yang menjadi korban perang! Agaknya kebiasaan memakan daging orang inilah yang lalu membuat gigi calingnya menonjol keluar, membuat dia kelihatan menyeramkan, seperti seorang iblis.

Setelah tidak kerasan lagi tinggal bersama orang-orang liar dan merasa rindu kepada dunia ramai, Hek-tiauw Lo-mo dengan membekal pengalaman hebat dan ilmu kepandaian yang tinggi, menggunakan perahu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke utara. Kini dia tidak takut lagi dimusuhi oleh siapa pun juga karena dia mempunyai andalan ilmu-ilmu yang tinggi dan sakti. Akan tetapi, ketika dia berlayar mencari negaranya, dia tersesat jalan dan akhirnya dia tiba di sebuah pulau kosong yang tak pernah didatangi manusia. 

Di tempat ini dia diserang oleh tiga ekor burung rajawali tadi, akan tetapi karena kepandaiannya, dia berhasil menundukkan mereka, bahkan membuat rajawali hitam yang liar dan ganas itu menjadi jinak dan menjadi binatang tunggangannya. Ada pun dua ekor rajawali putih yang masih muda, menurut saja kemana pun perginya rajawali hitam, maka sekaligus dia memperoleh tiga ekor binatang peliharaan yang boleh diandalkan!

Setelah memiliki binatang tunggangan yang hebat ini, dia mencari lagi negaranya dengan menunggang rajawali hitam. Akan tetapi kembali dia tersesat, dan kini rajawali itu membawanya turun ke Pulau Neraka! Begitu melihat keadaan pulau ini dan melihat para penghuninya yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, seketika hatinya tertarik. Dia menundukkan mereka semua dengan kepandaiannya dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua Pulau Neraka.

Karena selama perantauannya dia sudah membuang nama sendiri, melupakan nama itu yang dianggap sebagai nama buronan yang rendah, maka dia memperkenalkan dirinya sebagai Hek-tiauw Lo-mo. Nama Hek-tiauw diambil dari nama tunggangannya, seekor burung rajawali hitam, dan nama Lo-mo diambilnya karena dia memang merasa sebagai seorang iblis tua yang cocok menjadi ketua Pulau Neraka!

Demikianlah, selama tiga tahun Hek-tiauw Lo-mo menjadi ketua Pulau Neraka, dan dia malah menurunkan ilmu kepada para penghuni Pulau Neraka yang kini hanya tinggal dua puluh orang pria dan tujuh orang wanita itu. Empat orang di antara tujuh orang wanita yang masih muda, biar pun sudah menjadi isteri empat orang penghuni Pulau Neraka, secara paksa diambil oleh Hek-tiauw Lo-mo sebagai selir-selirnya sendiri! Dan dia menganjurkan kepada anak buahnya untuk mencari wanita dari perkampungan nelayan. Dalam tiga tahun itu, bertambahlah penghuni Pulau Neraka dengan tiga puluh orang wanita lagi, wanita-wanita muda yang mereka culik dari perkampungan nelayan di sekitar laut itu.

Kedua kakak-beradik dari Pulau Es yang tadinya merasa girang melihat bahwa di pulau asing itu ada penghuninya, yang menimbulkan harapan bahwa mereka akan dapat menanyakan arah menuju ke daratan besar, kini menjadi terkejut sekali melihat orang-orang ini ternyata berkepandaian tinggi, bersikap liar dan rata-rata mereka mempunyai wajah yang pucat putih seperti dikapur, kecuali wajah kakek raksasa itu. Lebih kaget lagi hati mereka melihat orang-orang itu telah mengurung mereka dengan sikap mengancam.

"Huah-ha-ha-ha!" Hek-tiauw Lo-mo tertawa bergelak saking girang hatinya melihat dua orang laki-laki muda yang bertubuh tegap sehat dan bersih itu. Mulutnya mengeluarkan air liur ketika seleranya bangkit!

Sebaliknya, Kian Lee dan Kian Bu terkejut sekali dan memandang dengan hati ngeri melihat betapa kakek raksasa itu ternyata bercaling seperti beruang es yang belum lama ini mereka lawan!

Melihat sikap mereka yang mencurigakan dan mengkhawatirkan itu, Kian Lee sudah cepat mengangkat tangan di depan dada, menjura sambil berkata, "Harap Cu-wi sudi memaafkan kami berdua kalau kami mengganggu Cu-wi dan datang di sini tanpa ijin Cu-wi. Kami datang hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Cu-wi."

Mendengar cara bicara pemuda tampan itu yang halus dan teratur rapi, Hek-tiauw Lo-mo kembali tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, menarik sekali! Katakanlah, orang muda yang tampan, apa yang hendak kalian tanyakan kepada kami?"

Kian Lee tak ingin berpanjang cerita, maka dia berkata singkat, "Kami berdua tersesat jalan karena terbawa gelombang lautan dan kami ingin bertanya ke manakah arah daratan besar?"

Hek-tiauw Lo-mo menoleh ke kanan dan ke kiri memandang anak buahnya, tersenyum menyeringai lalu berkata, "Dengarkah kalian? Mereka sudah datang ke daratan sini masih ingin mencari daratan besar. Heh-heh!"

Semua penghuni Pulau Neraka yang kini telah datang berkumpul, tersenyum lebar menyeringai. Dua orang pemuda tanggung itu menjadi makin gelisah dan mulailah mereka menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang tidak baik bagi mereka.

"Kalau Cu-wi tidak mau memberi tahu, biarlah kami pergi lagi saja dan kami tidak akan mengganggu lebih lama lagi. Marilah, Lee-ko!" berkata Kian Bu yang sudah hilang sabarnya menyaksikan sikap mereka.

"Hai, nanti dulu! Kalian hendak pergi ke mana?" Hek-tiauw Lo-mo berkata nyaring dan semua anak buahnya sudah bergerak menghadang kedua orang muda itu.
"Kami hendak pergi dari sini!" Kian Bu membentak, marah sudah.

Melihat kemarahan adiknya, Suma Kian Lee cepat berkata dengan suara masih penuh kesabaran dan ketenangan, "Harap Cu-wi tidak menghalangi kami yang hendak pergi lagi dengan aman."

"Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, orang-orang muda yang baik! Siapa pun dia yang telah mendarat di Pulau Neraka, tidak dapat pergi begitu saja!"
"Pulau Neraka...?" Kedua orang muda itu terbelalak setelah mengeluarkan kata-kata ini. Tentu saja mereka telah mendengar akan Pulau Neraka dari penuturan orang tua mereka, bahkan Kian Lee tahu pula bahwa ibu kandungnya dahulu adalah ketua Pulau Neraka!

"Aihhh! Jadi kalian ini adalah para penghuni Pulau Neraka dan kami berdua berada di Pulau Neraka? Sungguh kebetulan sekali!" teriak Kian Bu dengan girang.

"Ha-ha-ha-ha, mengapa kau katakan kebetulan, orang muda?" tanya Hek-tiauw Lo-mo, agak kecewa mengapa kedua orang pemuda tanggung ini tidak takut mendengar nama Pulau Neraka.

"Karena ibu kami, ibu kandung kakakku ini, pernah menjadi ketua Pulau Neraka ini!"
"Bu-te...!" Kian Lee terkejut melihat adiknya yang begitu sembrono mengakui hal itu.

Benar saja, kakek itu terkejut sekali, namun lebih terkejut lagi adalah para penghuni Pulau Neraka itu yang kini memandang kepada Kian Lee dengan mata bengong dan penuh selidik. Mereka semua tahu bahwa majikan mereka yang dahulu sekarang telah menjadi isteri Pendekar Super Sakti di Pulau Es.

Hek-tiauw Lo-mo yang tidak mengenal apa yang dimaksudkan dengan wanita ketua Pulau Neraka itu, bertanya mendesak, "Benarkah demikian?"

Karena adiknya sudah terlanjur bicara, maka Kian Lee lalu berkata dengan suara tenang, dan sesungguhnya, "Tidak salah ucapan adikku. Ibuku pernah menjadi ketua Pulau Neraka, akan tetapi sekarang ibuku adalah penghuni Pulau Es. Kami berdua datang dari Pulau Es, kami adalah dua orang putera Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es."

Mendengar ucapan ini semua penghuni Pulau Neraka terbelalak. Serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah dua orang pemuda itu! Melihat betapa semua anak buahnya memperlihatkan sikap menghormat kepada dua orang muda yang mengaku datang dari Pulau Es itu, Hek-tiauw Lo-mo menjadi marah sekali. Dia membanting kedua kakinya yang sebesar kaki gajah itu ke atas tanah sehingga tanah sekeliling tempat dia berdiri tergetar seperti dilanda gempa bumi!

"Bangun semua! Hayo bangkit semua, yang tidak bangkit akan kubunuh!"

Tentu saja para anak buah Pulau Neraka terkejut dan ketakutan. Cepat mereka bangkit berdiri sungguh pun mereka masih memandang ke arah Kian Lee dan Kian Bu dengan sikap sungkan.

Hek-tiauw Lo-mo telah meloncat ke depan dan dua orang pemuda tanggung itu melihat betapa gerakan kakek ini ringan sekali, sama sekali tidak sepadan dengan tubuhnya yang demikian besarnya.

"Bagus! Jadi kalian adalah putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Siapa sih itu Pendekar Super Sakti? Baru sekarang aku mendengar namanya! Tadinya kalian akan kujadikan pesta, daging kalian yang muda tentu enak dipanggang. Akan tetapi karena kalian adalah orang-orang Pulau Es, biarlah aku menjadikan kalian tahanan di sini. Hendak kulihat apa yang akan dapat dilakukan oleh Pendekar Super Sakti!"

Tiba-tiba seorang yang tua dan tubuhnya gendut tinggi besar, menjatuhkan diri berlutut di depan ketuanya.

"Ji Song, engkau mau bicara apa?" Hek-tiauw Lo-mo membentak, masih marah karena para anak buahnya tadi memberi penghormatan besar kepada dua orang pemuda itu.

Ji Song adalah seorang tokoh Pulau Neraka yang boleh dibilang tertua, juga dia lihai sekali dan menjadi orang kedua setelah Hek-tiauw Lo-mo. Tentu saja sebagai tokoh tua, dia cukup mengenal kehebatan Pendekar Super Sakti yang amat ditakutinya itu. Maka begitu mendengar tantangan ketuanya, dia takut akan akibatnya. Kalau Pendekar Super Sakti mengamuk, bukan hanya ketua Pulau Neraka, mungkin seluruh penghuni Pulau Neraka akan menanggung akibatnya.

"Tocu, harap maafkan saya... akan tetapi saya harap tocu tidak main-main dengan... dengan Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Hendaknya tocu percaya kepada saya dan... dan sebaiknya kalau kedua orang pemuda ini dibebaskan saja agar jangan timbul banyak urusan yang akan memusingkan saja."

Raksasa itu mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. "Hemmm, kalau bukan engkau yang bicara aku tentu tidak akan percaya, Ji Song. Penghuni Pulau Neraka takut terhadap seorang manusia lain? Engkau membangkitkan keinginan tahuku lebih besar lagi, melihat engkau sendiri begitu takut! Seperti apakah Pendekar Super Sakti?"

"Seperti apa? Kalau dia datang, jangan harap engkau akan dapat hidup lebih lama lagi!" Tiba-tiba Kian Bu berkata dengan suara mengejek. "Lagi pula tidak perlu ayah datang, kami berdua pun tidak takut menghadapi kalian!"

"Bu-te...!" Kian Lee mencela adiknya, kemudian dengan suara halus dia berkata kepada ketua Pulau Neraka itu, "Harap tocu suka memaafkan kami dan apa yang dikatakan oleh lopek itu tadi benar. Sebaiknyalah kalau di antara kita tidak timbul permusuhan apa-apa. Harap tocu membiarkan kami pergi."

"Nanti dulu, orang muda. Tidak begitu mudah menggertak Hek-tiauw Lo-mo, ha-ha-ha! Boleh jadi ayah kalian itu berkepandaian tinggi dan membikin takut hati para penghuni Pulau Neraka, akan tetapi aku yang belum pernah bertemu dengan Pendekar Super Sakti, sama sekali tidak takut!"

"Habis, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami?" Kian Bu membentak lagi saking marahnya. Kalau tidak melihat sikap kakaknya, tentu dia sudah menerjang maju dan menggunakan kekerasan untuk membebaskan diri dan meninggalkan pulau berbahaya itu.

"Ha-ha-ha, seperti melihat bumi dengan langit. Begitu besar perbedaan antara mereka, akan tetapi begitu sama tampan dan gagahnya! Orang-orang muda yang gagah dan tampan, siapakah nama kalian?"

"Namaku adalah Suma Kian Lee dan dia ini adalah adikku, Suma Kian Bu. Sekali lagi aku mengharap kebijaksanaan tocu untuk membebaskan kami dan biarlah kami akan menceritakan kepada ayah kami akan kebaikan hatimu itu."

"Oho! Kau hendak menggunakan nama ayahmu untuk menakuti aku?"
"Habis, kau mau apa?" Kian Bu membentak.
"Kalian tidak boleh meninggalkan pulau ini sampai ayah kalian datang. Kalau benar ayah kalian super sakti dan dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha, hal yang sama sekali tak mungkin, kalau aku kalah, baru kalian boleh pergi bersama ayahmu."

"Manusia sombong! Aku tidak takut, akan kulihat bagaimana kau hendak menangkap aku!" Kian Bu membentak lagi dan sudah memasang kuda-kuda dengan kokoh, kedua kakinya menyilang dan agak ditekuk lututnya, kedua lengan di depan dan di belakang tubuh, sikap yang siap menghadapi pengeroyokan banyak lawan yang mengurungnya. 

Kian Lee yang kini maklum bahwa tidak mungkin dapat membujuk ketua Pulau Neraka, juga sudah bersiap untuk membela diri, akan tetapi sikapnya tenang dan penuh kewaspadaan. Cepat dia meloncat di belakang tubuh adiknya sehingga mereka berdua berdiri saling membelakangi dan dengan demikian saling melindungi.

"Heh-heh-heh, luar biasa! Ji Song, perintahkan lima orang untuk menangkap mereka. Hendak kulihat gerakan mereka. Dari gerakan anak-anaknya, tentu aku akan dapat mengukur kepandaian ayahnya," kata raksasa itu sambil tertawa penuh kegirangan.

Kedua alis Ji Song berkerut. Dia takut sekali terhadap Pendekar Super Sakti. Sudah sering kali dia menyaksikan kehebatan sepak terjang pendekar yang menjadi Majikan Pulau Es itu. Bahkan bekas ketuanya, wanita yang memiliki kepandaian tinggi, sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti dan seorang di antara kedua pemuda ini, yang bersikap tenang dan gagah, adalah putera bekas ketuanya. 

Tentu saja dia menjadi jeri sekali dan kalau saja tidak takut kepada ketuanya yang baru ini, yang dia tahu juga amat lihai dan kejam, tentu dia akan cepat-cepat membiarkan kedua orang muda itu pergi, seperti membiarkan kedua ekor singa muda yang masuk ke dalam rumahnya. Sekarang terpaksa dia menyuruh lima orang pembantunya yang paling lihai untuk maju menangkap kedua orang muda ini.

"Tangkap mereka, akan tetapi jangan sampai mereka terluka," perintahnya kepada lima orang anak buahnya itu.

Lima orang itu, tidak berbeda dengan Ji Song, adalah penghuni-penghuni lama Pulau Neraka, tentu saja mereka pun gentar terhadap Pendekar Super Sakti dan terhadap Lulu, bekas ketua mereka. Ngeri rasa hati mereka kalau mengingat bahwa mereka disuruh melawan putera bekas ketua mereka itu! Akan tetapi karena mereka maklum bahwa kalau mereka berani membangkang, tentu ketua mereka yang baru takkan ragu-ragu membunuh mereka, bahkan mungkin makan daging mereka, lima orang itu mengangguk lalu meloncat maju mengurung dua orang muda itu.

Kian Lee dan Kian Bu tidak bergerak, tetap memasang kuda-kuda seperti tadi, tubuh mereka seperti arca, sedikit pun tidak bergerak, hanya mata mereka yang melirik ke kanan kiri mengikuti gerakan lima orang pengurung mereka itu. Seluruh urat syarat di dalam tubuh mereka menegang dan dalam keadaan siap siaga.

Lima orang itu juga tidak berani turun tangan secara sembrono karena mereka dapat menduga bahwa dua orang muda ini tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Maka mereka lalu mengurung sambil melangkah perlahan-lahan mengelilingi dua orang muda itu, saling memberi tanda dengan mata untuk mengatur gerakan mereka.

Ternyata mereka itu hendak menggunakan bentuk barisan Ngo-seng-tin (Barisan Lima Bintang) seperti yang diajarkan oleh ketua mereka yang baru. Melihat gerakan anak buahnya ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya dengan girang, mulutnya tersenyum-senyum dan dia sudah merasa yakin bahwa dalam beberapa gebrakan saja dua orang muda itu tentu sudah dapat diringkus dan ditawan.

Tiba-tiba seorang di antara lima penghuni Pulau Neraka itu mengeluarkan teriakan yang menyayat hati saking tinggi lengkingannya, dan teriakan ini disusul oleh teriakan keempat orang kawannya. Teriakan-teriakan ini mempunyai wibawa yang amat kuat dan dengan teriakan-teriakan ini saja, musuh yang kurang kuat sinkang-nya sudah akan dapat dirobohkan! 

Harus diketahui bahwa tingkat kepandaian para penghuni Pulau Neraka tidak boleh disamakan dengan dahulu ketika Lulu masih menjadi ketua di situ. Ketika Lulu masih menjadi ketua, belasan tahun sampai dua puluh tahun yang lalu, kepandaian anak buah Pulau Neraka memang sudah hebat dan tingkat kepandaian atau kekuatan sinkang mereka ditandai dengan warna muka mereka. 

Muka mereka sebagai akibat keracunan ketika berlatih di Pulau Neraka, berubah menjadi berwarna-warna, ada yang merah, merah muda, biru, hijau, kuning dan sebagainya. Makin muda warna muka mereka, makin tinggilah kepandaian mereka dan makin kuat sinkang mereka. Ji Song yang kini menjadi pembantu utama ketua baru, dahulu bermuka merah muda, merupakan tingkat ketiga dari Pulau Neraka. Akan tetapi sekarang, semenjak Hek-tiauw Lo-mo menjadi ketua, tokoh sakti ini telah memberikan latihan baru dan kepandaian para penghuni Pulau Neraka meningkat demikian hebat hingga warna muka mereka telah berubah menjadi putih semua. Putih seperti dikapur! 

Hal ini bukan merupakan tanda bahwa racun Pulau Neraka yang mengeram di tubuh mereka lenyap, sama sekali tidak, bahkan perubahan itu datang karena hawa beracun lain yang lebih hebat memasuki tubuh mereka. Hawa beracun yang tidak mengancam keselamatan nyawa, melainkan yang mendatangkan tenaga sakti beracun yang hebat!

Mendengar lengking-lengking mengerikan dan menyayat hati itu, Kian Lee dan Kian Bu cepat mengerahkan sinkang mereka. Biar pun kedua orang pemuda tanggung ini telah memiliki tingkat kepandaian yang luar biasa tingginya, akan tetapi mereka tidak pernah bertempur dengan lawan tangguh, maka kini menghadapi pengeroyokan lima orang yang menggunakan khikang untuk merobohkan mereka itu mereka menjadi terkejut sekali. Mereka mampu mempertahankan serangan suara khikang ini dengan mudah, namun rasa kaget di hati mereka membuat tubuh mereka agak bergoyang.

Hal ini disalah tafsirkan oleh Hek-tiauw Lo-mo. Goyangan tubuh kedua orang pemuda tanggung ini dianggapnya sebagai tanda bahwa sinkang mereka tidaklah begitu kuat, maka dia tertawa bergelak dan membentak, “Lekas tangkap mereka!”

Mendengar aba-aba yang keluar dari mulut sang ketua sendiri, lima orang itu cepat bergerak. Seorang di antara mereka mendahului kawan-kawannya, menyerang Kian Lee, orang kedua menyerang Kian Bu sedangkan tiga orang yang lainnya sudah menerjang ke tengah-tengah di antara kedua orang muda itu.

Kian Lee dan Kian Bu dengan mudah dapat menangkis serangan lawan masing-masing, akan tetapi ketika melihat tiga orang yang lain menyergap ke bagian kosong di antara punggung mereka, keduanya terkejut dan melompat dengan menggeser kaki. Sambil mengelak ini, Kian Lee merendahkan tubuhnya, kakinya bergerak menyapu dengan kecepatan kilat dan seorang lawan terpelanting! 

Kian Bu juga mengelak dengan melompat ke atas, dengan gaya yang amat indah tubuhnya berjungkir balik di udara dan kedua tangannya bergerak menyambar ke arah kepala dua orang pengeroyok lain. Gerakannya cepat sekali dan tidak terduga-duga, juga amat ganas karena serangannya adalah serangan yang dapat mendatangkan maut. Kalau jari tangannya menemui sasaran, yaitu ubun-ubun kepala, lawan yang betapa kuat pun tentu akan terancam bahaya maut! Akan tetapi, seorang di antara mereka melempar diri ke belakang sehingga terluput dari serangan itu, yang kedua menangkis dan inilah kesalahannya. Biar pun ditangkis, karena Kian Bu menyerang dari atas dan menggunakan inti tenaga Im-kang yang dingin, tetap saja orang itu mengeluh, tubuhnya menggigil dan roboh terguling!

Dia tidak terluka hebat, tetapi tubuhnya terbanting dan dia harus cepat bergulingan menyelamatkan diri. Memang keistimewaan sinkang yang dilatih di Pulau Es adalah sinkang yang mengandung hawa dingin. Dan seperti gumpalan es yang dingin, sinkang ini amat kuat terhadap perlawanan dari bawah, amat kuat untuk menekan ke bawah, berbeda dengan Yang-kang yang berhawa panas dan kuat sekali untuk mendorong, terutama ke atas, sesuai pula dengan kekuatan api yang panas.

Dalam segebrakan saja, dua orang pengeroyok telah terguling. Biar pun mereka tidak roboh terluka, namun mereka telah terguling dan barisan mereka telah kacau, hal ini menunjukkan betapa hebatnya dua orang muda itu! Hek-tiauw Lo-mo memandang dengan melongo. Ia tadi sudah girang menyaksikan gerakan lima orang anak buahnya dan ia melihat pula betapa lima orang itu menggunakan Ngo-seng-tin dengan baiknya. 

Bahkan gebrakan pertama, sebagai serangan pembuka tadi sudah amat baik, yang dua orang memancing perhatian kedua lawan, yang tiga orang mendobrak untuk membuat dua orang kakak-beradik itu terpisah dan tidak saling melindungi dengan berdiri saling membelakangi. Namun, biar pun kedua kakak beradik itu kini berpisah, pihak anak buahnya yang menderita rugi, dan kalau dikehendaki, kedua orang pemuda remaja itu tentu telah dapat berdiri saling melindungi lagi. Akan tetapi agaknya mereka menganggap hal itu tidak perlu.

Dan memang benar. Gebrakan pertama tadi membuat Kian Lee dan Kian Bu maklum bahwa para pengeroyok mereka tidaklah sehebat yang mereka duga. Pertemuan tangan ketika menangkis, gerakan mereka ketika menyergap, sekaligus membuat kakak beradik ini mengerti bahwa untuk menghadapi lima orang ini saja, mereka berdua tidak perlu untuk saling melindungi! Bahkan kini Kian Bu berkata, “Lee-ko, mundurlah dan biarlah aku main-main dengan mereka ini.”

Kian Lee percaya akan kekuatan adiknya, maka dia mengangguk lalu mundur dan berdiri dengan sikap tenang. Hal ini tentu membuat Hek-tiauw Lo-mo makin terheran. Benarkah lima orang anak buahnya hanya akan dihadapi oleh seorang pemuda saja?

Pemuda itu masih belum dewasa benar, baru lima belas tahun usianya. Biar pun menerima pendidikan orang pandai, tentu belum matang kepandaiannya dan banyak pengalamannya. Hatinya merasa penasaran sekali dan perasaannya menegang ketika ia melihat lima orang anak buahnya telah menerjang maju dengan gerakan berbareng, menubruk dari lima jurusan seperti lima ekor burung rajawali memperebutkan seekor kelinci, mereka mengulur lengan dengan jari-jari terbuka, siap hendak mencengkeram dan menangkap.

Kian Bu yang memang merasa penasaran dan marah sekali melihat sikap ketua Pulau Neraka, kini menggunakan kepandaiannya dan mengerahkan sinkang-nya. Sengaja dia hendak memperlihatkan kepandaiannya, maka tubuhnya sudah bergerak seperti gasing, berputar dan sekaligus dia telah dapat menangkis lengan lima orang lawannya dengan keras sekali sehingga lima orang lawannya itu berteriak kaget karena tiba-tiba saja mereka merasa betapa hawa yang amat dingin menjalar melalui lengan yang ditangkis, membuat mereka menggigil! Itulah inti yang dilatihnya di Pulau Es, tenaga Im-kang yang disebut Swat-in Sin-ciang (Inti Salju).

Melihat lima orang lawannya dapat dibuatnya mundur dengar tangkisan tadi, kini tubuhnya bergerak cepat dan kedua lengannya meluncur ke arah lima orang itu seperti dua ekor ular yang bergerak ganas dan cepat sekali. Pemuda ini telah mainkan Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti) yang dipelajarinya dari ibunya, Puteri Nirahai. Demikian cepatnya kedua lengannya itu bergerak sehingga sukar diikuti pandangan mata para pengeroyoknya, juga amat sukar diduga terlebih dahulu.

“Bu-te, jangan lukai orang!” Kian Lee berseru karena dia tidak menghendaki adiknya yang berwatak keras itu menimbulkan keributan dan memperbesar permusuhan dengan Pulau Neraka

Untunglah bagi lima orang Pulau Neraka itu bahwa Kian Bu selalu mentaati perintah kakaknya, kalau tidak, tentu mereka itu akan tewas!

Mendengar ucapan kakaknya, Kian Bu mengubah totokannya yang tadinya ditujukan kepada jalan darah berbahaya dengan tamparan-tamparan yang mengenai dada mereka. Tamparan yang tidak begitu keras tetapi akibatnya cukup hebat. Berturut-turut lima orang itu mengeluh, tubuh mereka menggigil dan tergulinglah mereka ke atas tanah.

Melihat lima orang anak buahnya menggigil dan muka mereka kebiruan, Ji Song cepat menghampiri mereka dan dengan menempelkan telapak tangannya sebentar dalam gerakan menekan, dia telah menyalurkan sinkang dan membantu mereka mengusir keluar hawa dingin yang menyesak dada. Lima orang itu maklum bahwa mereka bukanlah lawan pemuda tanggung itu, maka mereka lalu mundur mentaati isyarat mata yang diberikan Ji Song kepada mereka.

Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alisnya yang sudah terhias uban. Sama sekali tidak diduganya keadaan akan menjadi demikian. Lima orang anak buahnya kalah oleh seorang pemuda tanggung, hanya dalam segebrakan saja! Hal yang tidak mungkin! Akan tetapi jelas telah terjadi! Gerakan tangan pemuda itu tadi amat cepat dan hebat, dilakukan dengan tenang, ciri khas ilmu silat yang tinggi tingkatnya.

Mulai khawatirlah hatinya. Benarkah ayah dua orang pemuda yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu amat hebat ilmunya? Tidak, tidak bisa dia percaya bahwa di dunia ini ada seorang tokoh yang akan mampu menandinginya.

“Bagus sekali!” Hanya satu kali dia menggerakkan kaki dan tubuhnya sudah mencelat ke depan Kian Bu dan Kian Lee. Sejenak dia menatap wajah kedua orang pemuda tanggung itu. “Kalian ternyata memiliki juga sedikit kepandaian. Hendak kulihat apakah kalian dapat bertahan sampai sepuluh jurus melawanku. ”
“Tocu, mengapa tocu mendesak kami? Kami berdua orang muda sama sekali tidak mempunyai niat untuk melawan tocu. Mana kami berani bersikap begitu kurang ajar?” Kian Lee masih berusaha membujuk ketua itu.
“Ha-ha-ha, apakah kalian takut?”

Mata Kian Bu yang sudah merasa tidak puas menyaksikan sikap kakaknya yang terlalu mengalah, kinl meledak menjadi kemarahan mendengar tantangan ketua itu. Dia bertolak pinggang dan membentak, “Iblis tua, siapa takut kepadamu?”

Kian Lee terkejut mendengar adiknya memaki, akan tetapi karena memang julukan ketua itu adalah Iblis Tua Rajawali Hitam, maka disebut Lo-mo (Iblis Tua) oleh Kian Bu, ketua itu tidak menjadi marah, bahkan tertawa. “Kalau tidak takut, lekas maju dan menyerangku.”

Kian Bu sudah siap, mengepal kedua tinjunya.

“Bu-te, perlahan dulu,“ tetapi kakaknya memperingatkan.
“Ha-ha, orang muda yang halus. Kau pun boleh maju. Majulah kalian berdua dan hendak kulihat apakah kalian berdua sanggup bertahan sampai sepuluh jurus.”
“Kakek sombong!” Kian Bu membentak lagi. “Mari kita maju, Lee-ko. Dia yang menantang dan akan malulah ayah dan ibu kalau kita tidak menyambut tantangannya!”

Kian Lee mengangguk kepada adiknya dan berkata, “Hati-hatilah, Bu-te, kau jangan sembrono.”
Melihat kedua orang pemuda itu sudah siap, Hek-tiauw Lo-mo tertawa. “Ha-ha-ha, majulah kalian...”

Sejenak mereka saling berpandangan. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangannya di pinggang. Celana yang pendek, hanya sebatas lutut itu membuat dia kelihatan seperti seorang pengemis saja, akan tetapi kedua kakinya kelihatan bersih dan putih kulitnya, walau pun penuh dengan bulu dan otot yang melingkar-lingkar. Juga kedua lengannya yang hanya tertutup baju dengan lengan sampai ke siku, kelihatan kekar dan kuat.

“Hyaaattt...!”

Kian Bu yang sudah marah sekali itu kini sudah mendahului kakaknya, menerjang maju dan kembali dia menggunakan ilmu simpanan yang dipelajarinya dari ibunya yaitu sebuah jurus pilihan dari Ilmu Silat Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa). 

Mula-mula dia meloncat ke depan sambil memekik nyaring, dari atas tubuhnya lantas menerjang dengan pukulan tangan kanan mengarah dahi lawan, sedang tangan kiri mencengkeram ke arah pusar. Akan tetapi secara tiba-tiba sekali gerakan yang hanya merupakan pancingan itu berubah sama sekali, tubuhnya menurun dan tahu-tahu pukulannya berubah menjadi serangan dari bawah, menotok ke arah ulu hati dan menonjok ke arah perut. Inilah jurus yang disebut Ciu-san-hoan-eng (Dewa Arak Menukar Bayangan).

“Ha-ha-ha, bagus!”

Kakek itu mengubah kedudukan kakinya yang tadi terpentang lebar, dengan loncatan kecil dia mundur, kini menggunakan kuda-kuda dengan kaki kiri di depan dan kanan di belakang, tubuh agak merendah, kedua lengannya yang berotot bergerak cepat, yang kiri menangkis totokan lawan, yang kanan bergerak menangkap pergelangan tangan kiri Kian Bu.

“Dukkkk!”

Pertemuan kedua lengan ketika kakek itu menangkis mengejutkan hati Kian Bu karena dia merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga sinkang kakek itu kuat bukan main, sedangkan tangan kirinya yang tadinya memukul, kini tanpa dapat dihindarkan lagi karena luar biasa cepatnya gerakan lawan, tahu-tahu telah dicengkeram pergelangannya oleh kakek itu yang masih tertawa-tawa!

Kian Bu mengerahkan Swat-im Sin-ciang, akan tetapi kakek itu masih enak saja tertawa, seolah-olah tenaga Inti Salju itu tidak ada artinya baginya. Padahal, diam-diam kakek itu juga terkejut bukan main ketika merasa betapa hawa dingin yang tak dapat dilawannya menyusup melalui tangan pemuda itu memasuki lengannya!

Kian Lee lebih hati-hati dari pada adiknya. Ketika tadi dia melihat adiknya menyerang dengan dahsyat, dia diam saja, hanya mendekat dan siap membantu. Dia maklum bahwa kakek ketua Pulau Neraka ini tentu lihai sekali dan dugaannya ternyata tepat ketika melihat betapa menghadapi serangan adiknya yang amat dahsyat itu, Hek-tiauw Lo-mo tidak hanya dapat menangkis, bahkan berhasil memegang pergelangan tangan kiri Kian Bu.

“Wuuuuutttt...! Plak-plak!”

Kedua pukulan Kian Lee yang mengarah lambung dan tengkuk kakek itu berhasil ditangkis dengan tepat oleh Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi ketika melihat datangnya pukulan yang mendatangkan angin dingin ini, terpaksa dia melepaskan tangan Kian Bu karena maklum bahwa serangan pemuda kedua ini pun hebat sekali.

Dia makin penasaran dan mulailah mengeluarkan kepandaiannya. Tubuhnya bergerak-gerak seperti orang menari, akan tetapi tarian yang liar dan buruk, dan memang ilmu silat kakek ini bersumber kepada tari-tarian bangsa yang masih liar dan belum beradab, dan melihat unsur-unsur ajaib dalam gerakan tari liar ini, dia lalu menciptakan semacam ilmu silat dengan menggabungkan unsur-unsur itu dengan inti ilmu silat yang pernah dipelajarinya.

Terjadilah pertandingan yang amat hebat! Pertandingan antara seorang kakek raksasa yang dikeroyok oleh dua orang pemuda tanggung, yang membuat semua penghuni Pulau Neraka, bahkan Ji Song sendiri, terbelalak dan ternganga penuh kagum. Tubuh tiga orang itu berkelebatan, kadang-kadang lenyap terbungkus bayangan lengan mereka, kadang-kadang mencelat ke sana-sini, sehingga bagi mereka sukar sekali menentukan siapa di antara kedua pihak yang mendesak dan siapa pula yang terdesak!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan penuh penasaran rasa hati Hek-tiauw Lo-mo! Tadi dia menantang dan mengejek karena dia merasa yakin bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh jurus dia tentu akan berhasil mengalahkan dua orang pemuda tanggung itu dan mampu menawannya.

Akan tetapi siapa mengira, setelah lewat lima puluh jurus belum juga dia mampu mengalahkan mereka, bahkan beberapa kali hampir saja dia menjadi korban kedahsyatan serangan mereka, dan setiap kali bertemu dengan tangan mereka, tentu ada hawa dingin menyusup yang sungguh pun dapat dilawannya dengan sinkang-nya yang amat kuat, namun tetap saja dia merasa kulit lengannya dingin seperti terkena salju.

Rasa penasaran membuat kakek ini merasa malu dan marah. Malu kepada para anak buahnya dan marah kepada kedua orang pemuda itu. Akan tetapi untuk menjatuhkan tangan maut, dia merasa sayang. Selain keinginan makan daging mereka yang timbul melihat daging muda mereka yang menimbulkan seleranya, juga ia ingin menggunakan mereka sebagai pancingan agar orang yang berjuluk Pendekar Super Sakti yang amat ditakuti oleh semua penghuni Pulau Neraka itu datang ke tempat itu.

“Terimalah ini...!” Kedua tangan kakek itu bergerak.

Kian Lee dan Kian Bu terkejut dan cepat mereka bergerak mengelak karena mengira bahwa kakek itu tentu menggunakan senjata rahasia untuk menyerang mereka. Akan tetapi tiba-tiba tampak benda seperti kabut atau uap tebal mengurung mereka dan ketika mereka berdua meloncat, ternyata bahwa kabut itu adalah sebuah jala yang terbuat dari bahan tipis sekali tetapi amat ulet dan kuat! Saat mereka berdua meloncat, tubuh mereka tentu saja terhalang jala dan mereka berdua terguling. Jala yang aneh itu makin menggulung mereka hingga kedua orang pemuda tanggung itu tak dapat meloloskan diri, betapa pun mereka meronta-ronta dan menarik-narik jala tipis itu.

Penggunaan jala sebagai senjata ini memang luar biasa sekali. Jala itu sedemikian tipisnya sehingga tadi dapat dikepal di kedua tangan Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi setelah dilempar dan dikembangkan, dapat menyelimuti tubuh kedua orang pemuda itu. Senjata istimewa ini merupakan sebuah di antara senjata-senjata yang hebat dan aneh dari Hek-tiauw Lo-mo, dan jala ini dibuatnya ketika dia menjadi raja bangsa biadab di dalam hutan liar di selatan, bahannya dibuat dari otot-otot binatang semacam rubah aneh yang hanya terdapat di dalam hutan itu. Otot-otot binatang ini amat ulet, sukar dibikin putus oleh senjata tajam sekali pun, dan memiliki sifat melar seperti karet.

Setelah menotok jalan darah kedua orang pemuda itu, Hek-tiauw Lo-mo menyimpan kembali jalanya dan memerintahkan kepada Ji Song, “Tangkap dan belenggu mereka! Masukkan ke dalam kamar tahanan dan jaga jangan sampai lolos, tetapi perlakukan mereka dengan baik.”

Ji Song meneruskan perintah ini kepada para anak buahnya dan setelah kedua orang pemuda yang tak dapat bergerak lagi itu digotong pergi, Hek-tiauw Lo-mo berkata kepada Ji Song, “Suruh orang menyampaikan berita ke Pulau Es bahwa mereka kita tawan.”

“Maaf, tocu. Apakah tocu sudah memikirkan secara mendalam persoalan ini?” Ji Song berkata. “Apa gunanya bermusuh dengan Pendekar Super Sakti? Dia pun tidak pernah mengganggu kita. Lebih baik kedua orang pemuda itu dibebaskan saja.”

Hek-tiauw Lo-mo mengerutkan alisnya. “Tidak mengganggu kita, ya? Bukankah aku tadi mendengar dari kalian bahwa Pulau Neraka ini dahulunya merupakan tempat pembuangan? Pembuangan dari kerajaan di Pulau Es?”

“Itu adalah sejarah dahulu, tocu. Akan tetapi kini Kerajaan Pulau Es telah tidak ada, bahkan kabarnya Pendekar Super Sakti pun bukan keturunan dari Kerajaan Pulau Es.”
“Sudah, diamlah, Ji Song! Aku merasa penasaran kalau belum dapat bertemu dengan dia dan mengalahkannya.”
“Dia sakti sekali, tocu.”
“Aku tidak takut. Aku sudah siap menghadapinya. Pula, kedua orang puteranya berada di tangan kita, takut apa?”
********************
Kita tinggalkan dulu Kian Lee dan Kian Bu yang sedang tertawan di Pulau Neraka dan dijadikan umpan oleh Hek-tiauw Lo-mo untuk memancing datang Pendekar Super Sakti, dan marilah kita menengok peristiwa lain yang terjadi pada waktu itu, terjadi jauh di sebelah barat daratan besar.....

Selanjutnya baca
KISAH SEPASANG RAJAWALI : JILID-02
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger