logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 02


Negara Bhutan berada jauh di selatan Tiongkok, merupakan sebuah kerajaan kecil namun yang rakyatnya memiliki kebudayaan tinggi, menjadi perpaduan dan perantara antara Negara India dan Tiongkok. Karena dihimpit oleh dua buah negara besar yang memiliki kebudayaan tinggi itu, Nepal atau Bhutan mencangkok kebudayaan keduanya dan karenanya di situ terdapat banyak orang-orang pandai dari kedua negara itu.
Daerah Pegunungan Himalaya terkenal sebagai pegunungan yang paling tinggi di seluruh dunia, paling tinggi dan paling luas. Selain amat luas, juga pegunungan ini amat terkenal sebagai tempat yang suci, bahkan bagi yang percaya terdapat keyakinan bahwa para dewa yang tersebut dalam dongeng-dongeng bertempat tinggal di pegunungan inilah! Karena kepercayaan ini agaknya, dan terutama sekali karena keindahan alamnya dan kesunyiannya, maka Pegunungan Himalaya menjadi tempat pelarian para pendeta, pertapa dan manusia-manusia yang ingin mengasingkan diri dari dunia ramai.

Di sebuah dusun tak jauh dari kota raja, di kaki Pegunungan Himalaya, pada suatu pagi yang sejuk, tampaklah belasan orang pria yang bertubuh tegap dan kuat sedang berlatih ilmu silat. Tubuh mereka, dari yang besar sampai yang kecil kurus, kelihatan kuat dan berisi tenaga besar ketika mereka bergerak secara berbareng dengan tubuh atas telanjang, hanya memakai celana panjang dan sepatu, rambut mereka dikuncir semua, mengikuti petunjuk dan aba-aba yang keluar dari mulut seorang kakek berwajah tampan gagah yang bertopi bulu.

Kakek ini usianya sudah tua sekali, tentu kurang lebih ada delapan puluh tahun, namun sikapnya masih amat gagah, sungguh pun gerak-geriknya halus dan wajahnya tampan terpelihara. Suaranya masih lantang ketika dia mengeluarkan aba-aba agar gerakan mereka yang sedang berlatih itu dapat seirama, sedang kaki tangannya masih tangkas ketika dia memberi contoh gerakan.

“Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan! Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan!” demikian aba-abanya.

Makin cepat aba-aba dihitung, bertambah cepat pula gerakan mereka yang sedang berlatih hingga terdengar angin bersuit dan buku-buku lengan kaki berkerotokan ketika mereka bergerak memukul dan menendang.

“Hemmm, mengapa pula engkau, Ceng Ceng?” Kakek itu menghentikan hitungannya, membiarkan para murid itu bergerak dengan irama mereka sendiri, sedangkan dia melangkah ke arah kanan sebelah kiri rombongan pemuda yang sedang latihan itu, kemudian berhadapan dengan seorang dara remaja yang tadinya ikut pula berlatih.

Dara remaja itu tentu belum ada lima belas tahun usianya. Wajahnya cantik manis, bentuk tubuhnya kecil ramping namun juga padat berisi, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang panjang dan gemuk itu dibagi menjadi dua kuncir yang besar dan panjang, bergantungan di depan dadanya. Kedua kakinya masih memasang kuda-kuda seperti mereka yang sedang berlatih, tetapi kedua lengannya tidak melakukan gerakan memukul-mukul lagi. Mulutnya yang kecil mungil itu cemberut dan matanya yang lebar seperti sepasang bintang itu membayangkan kekesalan hati.

Dara itu tidak menjawab teguran kakeknya melainkan hanya mengurut-urut bahu dan lengannya, kepalanya menunduk dan kedua kakinya diluruskannya kembali.

Kakek itu menghela napas panjang. “Hahhhh... kau... terlalu, Ceng Ceng! Selalu tidak mentaati perintahku. Mula-mula engkau akhir-akhir ini tidak mau berlatih di dekat para suhengmu...”

“Kongkong (kakek), bagaimana aku tahan berlatih dekat mereka. Keringat mereka memercik ke sana-sini!” Dara itu membentak.

Kakek itu menahan geli hatinya. Gadis yang menjadi cucunya ini selalu ada saja bahan untuk menyangkal dan membantah, dan selalu menyatakan sesuatu dengan jujur sehingga kadang-kadang lucu. Memang tak dapat dibantah bahwa tubuh-tubuh sehat tanpa baju itu di waktu berlatih mengeluarkan banyak keringat dan gerakan cepat itu membuat keringat mereka memercik ke sana-sini!

“Sekarang, latihan yang amat penting ini kau abaikan juga.”
“Habis, kaki tanganku sudah pegal dan kaku semua, kongkong! Masa untuk satu jurus saja harus diulang sampai lima ratus kali!”

“Hmm, kau tidak tahu keganasan jurus istimewa ini. Jurus Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga) ini merupakan satu di antara jurus-jurus pilihan dari ilmu silat kita. Diulang sampai lima ratus kali pun kalau belum sempurna harus diulang terus!”

“Apa gerakanku belum sempurna?”
“Engkau sudah menguasai gerakan ilmu silat kita, tetapi para abangmu itu? Mereka harus diberi semangat, dan dengan mencontoh gerakanmu, mereka tentu akan lebih tekun. Lihat, betapa besar semangat mereka melatih jurus ini.”

Dara yang bernama Ceng Ceng itu menengok dan mulutnya yang tadi merengut kini tersenyum mengejek, cuping hidungnya sedikit bergerak. “Semangat apa? Mereka semua menoleh ke sini!”

Kakek itu cepat menengok dan benar saja. Mereka itu masih bergerak, akan tetapi mata mereka semua mengerling ke arah dara itu sehingga kelihatannya lucu.

“Ihh, engkau yang menjadi gara-gara!” Kakek itu memaki lirih, kemudian menghampiri lagi ke depan para muridnya dan kembali terdengar hitungannya yang menambah semangat.

Kini para murid itu tidak berani lagi mengerling ke arah sumoi mereka. Terpaksa pula Ceng Ceng juga bergerak lagi, akan tetapi biar pun gerakannya lemas dan baik, dia seperti tidak menggunakan tenaga sehingga kalau para suheng-nya itu ngotot dengan pengerahan tenaga, dia kelihatan lebih mirip dengan orang menari!

Kakek itu bukanlah orang sembarangan. Dulu dia bekerja sebagai seorang pengawal kaisar di Tiongkok, memiliki ilmu kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan ilmu sastera. Namun nasib malang menimpa diri kakek ini saat dia sudah mengundurkan diri sebagai pengawal dengan adanya peristiwa yang menimpa keluarganya sehingga akhirnya dia mengasingkan diri di dusun terpencil di kaki Pegunungan Himalaya ini.

Ketika masih berada di Tiongkok, kakek ini sudah kehilangan putera tunggalnya dan mantunya, dan hanya hidup berdua dengan seorang cucunya, cucu wanita bernama Lu Kim Bwee. Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, peristiwa hebat menimpa diri Lu Kim Bwee ini. Cucunya yang juga telah digemblengnya dengan ilmu silat itu, pada suatu malam telah dibuat tidak berdaya oleh seorang muda dan diperkosa! Akibatnya, Lu Kim Bwee mengandung! Semua peristiwa itu diceritakan dengan jelas dalam cerita Sepasang Pedang Iblis.

Melihat penderitaan cucunya itu, Lu Kiong lalu mengajak Lu Kim Bwee untuk pergi meninggalkan Tiongkok. Akhirnya mereka tinggal di dusun kecil di kaki Pegunungan Himalaya itu. Di tempat terpencil dan sunyi ini, Lu Kim Bwee melahirkan seorang anak perempuan, akan tetapi malang sekali, ibu muda itu meninggal dunia ketika melahirkan karena memang dia selalu berduka dan batinnya terhimpit oleh peristiwa yang sangat memalukan dirinya itu. Anak yang terlahir selamat itu lalu diberi nama Lu Ceng dan sebenarnya anak ini adalah cucu buyut dari kakek Lu Kiong, akan tetapi diakui sebagai cucunya.

Biar pun kini kehidupannya di dalam dusun itu bersama cucu buyutnya dapat dikatakan tenteram dan penuh damai, namun kakek yang tua ini masih selalu gelisah kalau mengingat akan masa depan cucu buyutnya itu. Pernah dia ditekan dan merasa terdesak oleh pertanyaan Ceng Ceng yang berwatak periang, cerdik dan jenaka itu, yaitu pertanyaan mengenai ayah dara itu. Tadinya dia hanya memberi tahu kepada Ceng Ceng bahwa nama ibunya adalah Lu Kim Bwee. Dara yang cerdik itu cepat membantah.

“Tidak mungkin itu, kongkong!”
“Apanya yang tidak mungkin?”
“Kalau ibu she Lu, mengapa aku juga she Lu?”
“Ahh... kau sebetulnya... ah, engkau memang she Lu, cucuku.”
“Hemm, kongkong menyembunyikan sesuatu dariku! Siapakah ayahku? Dan di mana ayah? Apa dia sudah meninggal? Mengapa pula aku tidak diberi she (nama keturunan) ayahku?”

Dihujani pertanyaan ini, kakek Lu Kiong menjadi sibuk sekali sehingga akhirnya dia mengaku juga. “Ayahmu bernama... Gak Bun Beng.”
“Gak Bun Beng...” Dara itu membisikkan nama itu seolah-olah hendak menanamkan nama itu di dalam hatinya. “Kalau begitu, namaku adalah Gak Ceng, bukan Lu Ceng!”

“Tidak, Ceng Ceng!” Kakek itu membentak dan terkejutlah dara itu karena selamanya belum pernah dia mendengar suara kakeknya mengandung kemarahan seperti itu.

“Mengapa, kongkong?”
“Namamu tetap Lu Ceng!”
“Tapi ayahku...”
“Tidak! Kau tidak perlu memakai nama keturunan orang itu!”
“Mengapa...?” Wajah Ceng Ceng menjadi berubah agak pucat.

“Dia... dia... sudah meninggalkan ibumu, dia membuat ibumu hidup sengsara sehingga meninggal dunia ketika melahirkan kau.”

“Ouhhh...” Ceng Ceng kecewa bukan main mendengar ini. Akan tetapi pikirannya yang cerdik itu menduga-duga. Tak mungkin agaknya ayahnya meninggalkan ibunya begitu saja tanpa sebab.

“Mengapa ayah meninggalkan ibu?” desaknya lagi.
“Entahlah. Dia bukan orang baik, karena itu kau harus memakai nama keturunan kita, nama keturunan Lu.”
“Aku akan mencari ayah, biar kutanya sendiri mengapa dia sampai hati meninggalkan ibu!”
“Jangan...! Takkan ada gunanya, dia... dia sudah mati...”
“Ouhhh...” Dan kini dara itu terisak menangis.

Lu Kiong menarik napas panjang. Hatinya terasa perih mengenang semua peristiwa yang menimpa diri cucunya, Lu Kim Bwee, belasan tahun yang lalu. Tentu saja dia tidak mau membuka rahasia itu, tidak sampai hati dia menceritakan cucu buyutnya ini bahwa ibunya diperkosa orang, bahwa dia adalah seorang anak haram! Dia tidak ingin melihat dara ini jadi menyesal dan berduka, merasa rendah dan membenci ayahnya sendiri. Biarlah riwayat yang mendatangkan aib itu dikubur bersama meninggalnya Lu Kim Bwee dan Gak Bun Beng.

Tentu saja dia pun tidak mau menceritakan bahwa Gak Bun Beng, ayah dara ini, tewas di tangan ibunya sendiri, yaitu ketika Lu Kim Bwee mengeroyok Gak Bun Beng dengan wanita-wanita yang lain yang juga menjadi korban keganasan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) itu! Tentu saja kakek ini, juga cucunya, Lu Kim Bwee yang telah meninggal dunia ketika melahirkan Ceng Ceng, sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang bernama Gak Bun Beng, yang mereka sangka telah tewas itu, sebetulnya sama sekali belum tewas.

Untuk mengisi kekosongan hidupnya di dusun yang terpencil di kaki Pegunungan Himalaya itu, kakek Lu Kiong menerima murid-murid untuk dilatih ilmu silat. Tentu saja dia memilih dalam penerimaan murid ini, dan setelah dia kumpulkan, hanya ada lima belas orang pemuda di sekitar daerah itu yang diterimanya menjadi murid-muridnya. Tentu saja karena Ceng Ceng telah digemblengnya sejak kecil sedangkan penerimaan murid dilakukan setelah Ceng Ceng berusia dua belas tahun, maka biar pun Ceng Ceng disebut sumoi (adik perempuan seperguruan) namun dalam hal ilmu silat dara ini jauh lebih pandai dari pada semua suheng-nya.

Kekesalan hati Ceng Ceng di pagi hari itu bukan hanya karena dia jemu berlatih silat. Sama sekali tidak. Sesungguhnya dia amat gemar berlatih ilmu silat dan bakatnya amat baik. Akan tetapi pagi itu lain lagi. Ada berita menggemparkan bahwa rombongan utusan kaisar Tiongkok akan lewat di dusun itu dalam perjalanan mereka menuju ke kota raja, untuk memboyong puteri Raja Bhutan ke Tiongkok karena puteri itu telah dijodohkan dengan seorang pangeran Mancu yang menguasai Tiongkok di waktu itu. 

Rombongan utusan kaisar Mancu ini kabarnya membawa pula peralatan dan hadiah-hadiah istimewa sehingga semua penduduk di daerah yang akan dilalui rombongan telah bersiap-siap untuk menonton! Tentu saja Ceng Ceng, seorang dara remaja yang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan dan haus akan segala yang menarik hati, ingin sekali menonton, maka latihan-latihan keras yang diadakan kakeknya pada saat seperti itu membuat hatinya mendongkol.

Betapa pun juga, Ceng Ceng tidak mau membantah lagi kepada kongkong-nya, apa lagi di depan lima belas orang suheng-nya. Dan dia sudah ikut pula berlatih, biar pun hanya dengan setengah hati. Latihan berjalan tertib kembali dan yang terdengar hanya bentakan-bentakan mereka yang mengikuti pukulan-pukulan tertentu, suara pernapasan dan suara kakek yang menghitung dengan irama yang khas.

Tiba-tiba terdengar suara tambur yang datang dari jauh dan makin lama semakin mendekat, kini terdengar keras diselingi sorak-sorai suara anak-anak, membuat Ceng Ceng hampir menangis. Suara tambur itu seolah-olah mengejeknya, seolah mengiringi gerakannya berlatih. Ketika dia melirik ke arah kongkong-nya dan para suheng-nya, mereka itu masih tenggelam ke dalam semangat yang tetap menggelora. 

Hampir Ceng Ceng terisak-isak dan lari dari tempat itu, tetapi ia merasa malu kepada para suheng-nya, dan takut kepada kongkong-nya. Betapa besar keinginan hatinya untuk pergi menonton rombongan utusan itu! Utusan raja dari Tiongkok! Banyak sudah dia mendengar tentang kehebatan kota raja di sana, akan tetapi hanya mendengar dari cerita kakeknya, bahwa kota raja di Tiongkok seratus kali lebih besar dan lebih megah dibandingkan dengan kota raja dengan istananya dan rumah-rumah besar di Bhutan yang telah pernah dilihatnya. Dan sekarang, selagi kesempatan tiba dengan datangnya rombongan utusan kaisar, dia tidak bisa menonton, bahkan harus terus berlatih silat! Siapa tidak akan mendongkol hatinya?

Pada saat itu seorang pelayan memasuki kebun tempat berlatih itu, menghadap kakek Lu Kiong dan memberitahukan bahwa di luar datang seorang tamu yang hendak bertemu dengan kakek Lu Kiong. Kakek itu lalu menggapai muridnya yang pertama.

“Kau lanjutkan, wakili aku memimpin latihan ini baik-baik. Aku akan menemui tamu.”
“Baik, suhu!”

Kakek itu pergi setelah menoleh ke arah cucunya, kemudian menghela napas dan pergi bersama pelayan itu memasuki rumahnya. Begitu kakek itu lenyap di balik pintu, Ceng Ceng serta merta menghentikan latihannya dan berlari meninggalkan tempat latihan menuju ke pintu samping kebun itu.

“Haiii... sumoi...! Kau tidak boleh pergi!” kata murid pertama yang mewakili gurunya.

Tetapi Ceng Ceng telah tiba di pintu kebun samping. Mendengar seruan twa-suheng-nya (kakak seperguruan pertama), dia membalikkan tubuh dengan gaya mengejek, membusungkan dada, membuka bibir dari kanan kiri dengan kedua telunjuknya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek suheng-nya itu, kemudian tertawa terkekeh dan lari dari tempat itu. 

Twa-suheng-nya hanya menarik napas panjang saja karena apa dayanya terhadap sumoi-nya yang manja dan bengal itu? Kalau dia berkeras melarang, salah-salah dia bisa dilawan oleh sumoi-nya, dan tentu saja dia tidak menghendaki hal ini. Dia dan para saudara seperguruannya terlampau sayang kepada sumoi yang cantik jelita, bengal akan tetapi selalu mendatangkan kegembiraan karena wataknya yang periang dan jenaka itu. Dan dia tahu pula betapa besar keinginan hati sumoi-nya untuk menonton rombongan utusan kaisar. 

Hati Ceng Ceng merasa gembira bukan main. Dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri dia menonton rombongan yang megah itu lewat di dusun untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja yang tidak begitu jauh lagi letaknya dari dusun itu. Bersama para penonton lain yang terdiri dari anak anak dan orang tua laki-laki dan wanita, Ceng Ceng terus terbawa oleh rombongan itu. Tanpa terasa kedua kakinya mengikuti rombongan yang berpakaian indah-indah, membawa bendera dan tombak tanda kebesaran yang mengutus mereka, barang-barang berharga dipikul dan berada di dalam peti-peti yang berukir indah. Dengan hati kagum Ceng Ceng terus mengikuti rombongan itu, bersama banyak anak-anak lain dan para penonton, menuju ke kota raja.

Akan tetapi setibanya rombongan itu di pintu gerbang istana di kota raja Bhutan, para penonton itu tentu saja tak diperkenankan masuk! Penonton menjadi semakin banyak, tertambah oleh penduduk di sekitar istana di kota raja itu sendiri dan dari dusun-dusun lain yang sengaja datang ke kota raja untuk menonton keramaian ini.

Para penjaga dengan ketat menjaga pintu gerbang dan tidak memperkenankan rakyat untuk memasuki pintu gerbang. Karena hal ini mendatangkan rasa kecewa dan protes para penonton, terutama anak-anak berusia belasan tahun, maka terjadilah sedikit kekacauan, dorong-mendorong sehingga di pintu gerbang yang tidak berapa lebar itu terjadi desak-mendesak.

Keadaan menjadi makin kacau lagi ketika beberapa orang penjaga terpelanting roboh dan hal ini dilakukan oleh Ceng Ceng ketika dara ini yang berusaha untuk memasuki pintu gerbang dengan nekat, dipegang pundaknya oleh seorang penjaga.

Ketika penjaga melihat dara yang cantik manis dan masih remaja ini, dengan kurang ajar penjaga itu mengusap dagu Ceng Ceng dan lain tangannya berusaha untuk meraba dada. Ceng Ceng menjadi marah, kaki kirinya menendang tulang kering kaki penjaga itu dan selagi penjaga itu berjingkrak saking merasa nyeri sekali seolah-olah tulang keringnya remuk dan rasa nyeri naik sampai ke ulu hati, Ceng Ceng menendang lututnya membuat penjaga itu terjungkal! Tiga orang penjaga lain datang, seorang di antara mereka menunggang kuda, akan tetapi begitu Ceng Ceng bergerak, mereka terpelanting roboh juga, termasuk yang menunggang kuda. Tentu saja keadaan menjadi ribut dan kacau. Anak-anak yang nakal mempergunakan kesempatan ini untuk menyelinap masuk, dan ada penjaga yang berusaha mencegah mereka, ada pula yang mengurung Ceng Ceng, dan keadaan makin kacau balau.

Dua orang perwira dari rombongan utusan kaisar maju. Dengan tangan yang membentuk cakar garuda mereka hendak menangkap dara yang membuat kekacauan itu karena mereka merasa curiga bahwa dara itu tentulah mata-mata musuh yang sengaja hendak menggagalkan tugas mereka. Akan tetapi dengan teriakan nyaring dan marah karena mengira bahwa dua orang perwira ini pun hendak berbuat kurang ajar kepadanya, Ceng Ceng sudah menggerakkan kaki tangannya dengan cepat dan dua orang perwira itu pun terpelanting mencium tanah! Keadaan menjadi semakin ribut dan kini para penjaga maklum bahwa dara remaja itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah!

“Harap Cu-wi mundur semua, biarlah saya menghadapi pengacau cilik ini!” Suara itu terdengar nyaring dan dalam rombongan kaisar muncullah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun kurang lebih, berpakaian preman namun melihat wibawanya dalam rombongan itu dia tentulah seorang yang penting.

Memang demikianlah sesungguhnya. Pria ini adalah seorang pengawal pribadi kaisar sendiri, seorang yang ditunjuk untuk melindungi rombongan utusan yang penting itu. Orang ini bertubuh tegap, tidak seberapa tinggi, tetapi yang amat menarik perhatian adalah bentuk jenggotnya yang menyolok. Jenggot itu panjang sekali, dipelihara baik-baik dan berjuntai sampai ke perutnya! Jenggot itu merupakan sebuah cambuk tebal dari bulu halus, berwarna mengkilap hitam terhias beberapa warna putih dari uban yang mulai banyak menghias rambut dan jenggotnya.

Pengawal berjenggot panjang ini melangkah maju, mukanya yang bengis dan keras itu agak berseri ketika dia berkata, “Nona cilik, berani kau membikin kacau di sini? Hayo lekas berlutut dan menyerah kepada para penjaga untuk ditangkap!”

“Plak-plak-plak-plak!”

Sampai empat kali kedua tangan pengawal kaisar itu dapat ditangkis oleh Ceng Ceng dan pengawal itu merasa kaget dan terheran-heran sekali. Sungguh tidak pernah diduganya bahwa di pintu gerbang Istana Raja Bhutan, dia bertemu dengan seorang dara remaja yang masih berbau kanak-kakak yang dapat menangkis terkamannya sampai empat kali!

“Bagus, kau boleh juga!” Dan tiba-tiba pengawal ini menggerakkan kepalanya dan... bagaikan seekor ular hitam, atau sebatang cambuk, jenggot pengawal itu telah meluncur dan menotok ke arah jalan darah di leher Ceng Ceng!

Dara ini terkejut dan berteriak kaget, akan tetapi tidak percuma dia menjadi cucu buyut bekas pengawal kaisar, tidak percuma kakek Lu Kiong menggemblengnya selama bertahun-tahun sejak dia kecil. Reaksinya terhadap serangan jenggot yang lebih menjijikkan dan mengerikan hatinya dari pada menakutkan itu, membuat dia pun menggerakkan kepalanya dan... dua helai kuncirnya yang tadinya tergantung ke belakang punggung itu kini melayang ke depan dan menyambut jenggot lawannya!

“Plakkkk!”

Ujung jenggot bertemu dengan dua ujung kuncir, saling membelit dan kakek pengawal itu tertawa, sebaliknya Ceng Ceng terkejut sekali. Rambutnya terasa seperti dijambak-jambak, membuat seluruh kepalanya terasa pedih dan seolah-olah rambutnya akan copot semua!

Dalam keadaan yang berbahaya itu, untung sekali bagi Ceng Ceng, tiba-tiba muncul serombongan prajurit mengiringkan seorang perwira yang bertubuh tinggi tegap keluar dari halaman istana dan sudah tiba di pintu gerbang istana itu.

“Sumoi...”

Melihat komandan pasukan dari dalam istana yang agaknya merupakan penyambut itu menyebut ‘sumoi’ kepada dara remaja yang menjadi lawannya, pengawal kaisar terkejut, cepat melepaskan libatan jenggotnya dan melangkah mundur sambil berkata, “Maaf...!”

Perwira tinggi tegap itu adalah seorang murid kakek Lu Kiong juga. Sebelum menjadi muridnya, memang dia sudah menjadi seorang perwira di dalam istana. Dia berguru kepada Lu Kiong hanya untuk menambah ilmu kepandaian silatnya saja. Akan tetapi tentu saja dia pun menyebut sumoi kepada Ceng Ceng, sedang dara itu pun menyebut suheng kepadanya. Ketika melihat bahwa keributan yang terjadi di luar pintu gerbang itu adalah gara-gara sumoi-nya, maklumlah dia karena dia pun sudah mengenal watak sumoi-nya yang kadang-kadang ugal-ugalan dan bengal. Maka dengan suara mencela dia berkata, “Sumoi, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa membikin ribut?”

Ceng Ceng cepat memutar otaknya dan dengan cemberut, alisnya berkerut, sikap yang membuat wajahnya kekanak-kanakan akan tetapi bertambah manis, dia berkata, “Aihh, suheng, siapa yang tidak jengkel? Aku ingin bertemu dengan suheng untuk melihat dan mengagumi rombongan utusan kaisar, siapa tahu di tempat ini sumoi-mu malah mendapatkan perlakuan yang kasar dan kurang ajar.”

Perwira itu maklum akan kecantikan sumoi-nya. Dia bukan tidak percaya bahwa ada penjaga yang bersikap kurang ajar, maklumlah pria-pria kasar menghadapi seorang dara jelita selincah Ceng Ceng. Untuk cepat meredakan suasana, dia lalu menghadapi pengawal kaisar berjenggot panjang itu, menjura dan berkata, “Harap maafkan kesalah pahaman ini. Dia ini adalah adik seperguruan saya sendiri.”

Pengawal berjenggot panjang itu tertawa, membalas penghormatan itu dan berkata, “Sungguh hebat sekali kepandaian sumoi dari ciangkun (perwira) yang masih begini muda. Saya mengucapkan selamat dan merasa kagum.”

Pertemuan itu ditutup dengan upacara penyambutan pasukan yang dipimpin perwira itu, kemudian rombongan utusan diiringkan memasuki halaman istana yang sudah berada dalam keadaan dan suasana pesta penyambutan yang meriah. Dan munculnya perwira yang menjadi suheng Ceng Ceng itu tentu saja memungkinkan gadis ini untuk diperkenankan ikut memasuki istana!

Tentu saja hati Ceng Ceng girang bukan main ketika dia dengan bebas boleh masuk ke dalam istana. Oleh mereka yang belum mengenalnya, dia tentu dianggap seorang di antara anggota rombongan utusan sehingga siapa pun yang bertemu dengan rombongan itu memandangnya penuh kagum dan penuh hormat. Sementara itu hari telah menjadi siang.

Rombongan utusan kaisar itu disambut dengan upacara meriah oleh para pembesar istana dan penyambutan ini dikepalai oleh pangeran tua, yaitu adik raja sendiri oleh karena pada hari itu, raja yang diharapkan sudah pulang dari berburu binatang pada hari kemarin, masih juga belum tiba! Hal ini tentu saja menimbulkan kebingungan di dalam hati keluarga raja dan para pembesar, dan sejak kemarin telah dikirim utusan untuk menyusul ke hutan di pegunungan sebelah barat. Akan tetapi utusan itu pun belum pulang sampai hari itu!

Karena kedatangan rombongan utusan kaisar itu adalah untuk memboyong puteri, berarti urusan perjodohan, maka tentu saja tanpa hadirnya kaisar sendiri yang menjadi ayah kandung sang puteri, penyambutan resmi belum dapat diadakan. Rombongan itu harus bertemu dan menghadap raja untuk menyampaikan segala pesan kaisar dan menghaturkan semua hadiah perjodohan.

Setelah diadakan penyambutan meriah dan dijamu dengan hidangan mewah, maka oleh pangeran tua rombongan tamu agung ini dipersilahkan mengaso di dalam kamar-kamar istana yang telah dipersiapkan untuk para tamu yang penting dan terhormat itu. Dengan perasaan girang Ceng Ceng juga ikut makan minum di meja sudut ruangan penyambutan, ditemani oleh suheng-nya. Sambil makan dia kemudian menyatakan rasa kagumnya kepada sang suheng akan kelihaian pengawal kaisar yang berjenggot panjang itu.

Setelah rombongan tamu mengundurkan diri beristirahat di kamar mereka, Ceng Ceng diajak suheng-nya ke rumahnya yang terletak di sebelah kiri dari istana raja. Akan tetapi dara ini membantah ketika suheng-nya menyuruh dia lekas pulang agar tidak mengkhawatirkan hati kakeknya.

“Aku ingin sekali menonton sampai sri baginda pulang, aku ingin melihat sang puteri diboyong!”
“Sumoi, engkau tadi mengatakan bahwa kau pergi tanpa seijin suhu. Kepergianmu ini tentu akan membikin tidak senang hati suhu. Sebaiknya engkau pulang sekarang agar hati orang tua itu tidak gelisah.”

“Biar pun aku pergi tanpa setahu kongkong, akan tetapi dia tahu bahwa aku ingin sekali menonton keramaian, maka dia tentu dapat menduga pula bahwa aku tentu berada di kota raja bersama suheng. Hati orang tua itu tidak akan menjadi gelisah. Suheng, kalau suheng keberatan aku bermalam di rumah suheng ini, biarlah kucari tempat penginapan lain, di kuil atau di mana saja. Pendeknya, aku harus melihat sang puteri diboyong!”

Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu benar akan watak sumoi-nya ini dan dalam keadaan sibuk dengan kedatangan rombongan utusan itu, tentu saja dia tidak ingin ditambah dengan kesibukan mengurus sumoi-nya yang bengal ini. Maka dia hanya berkata, “Sumoi, tentu saja engkau tahu aku tidak keberatan kau bermalam di sini. Aku hanya ingin bilang bahwa kalau suhu marah, engkau sendiri yang harus menanggung karena aku sudah berusaha membujukmu untuk pulang.”

Ceng Ceng tersenyum manis dan memegang tangan suheng-nya dengan sikap manja, kemanjaan seorang anak-anak kepada orang yang patut menjadi ayahnya. “Suheng yang baik, seorang gagah sudah tentu harus berani mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, bukan?”

Mau atau tidak perwira itu tertawa. Dia sendiri tidak mempunyai anak, dan sejak dahulu dia amat sayang kepada sumoi-nya ini yang dianggap seperti seorang anaknya sendiri. Isterinya juga amat suka kepada Ceng Ceng yang menyebut isteri suheng-nya itu ‘so-so’ (kakak ipar perempuan).

Perwira ini bernama Jayin dan di Kota Raja Bhutan namanya cukup terkenal karena dia merupakan tokoh kedua dalam deretan nama-nama tokoh besar yang berpengaruh di lingkungan istana dan Kerajaan Bhutan. Dia merupakan seorang perwira tinggi yang mengepalai pasukan pengawal yang bertugas menjaga keselamatan di kota raja. Tokoh pertama adalah panglima sendiri, yang selain merupakan panglima perang juga selalu mendampingi raja.

Panglima itulah yang kini mengawal raja dalam berburu binatang, bersama pasukan pengawal pilihan lain yang jumlahnya semua dua losin orang. Perwira Jayin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, apa lagi setelah ilmu silatnya ditambah dengan latihan-latihan ilmu silat tinggi yang diberikan oleh kakek Lu Kiong kepadanya. Dan sesungguhnya dialah yang menjadi murid pertama dari kakek Lu Kiong, karena kakek itu mengajar silat kepadanya ketika Ceng Ceng masih kecil, setelah kakek itu tertarik melihat watak gagah perkasa dari perwira tinggi itu.

Dapat dibayangkan betapa khawatir dan pusingnya hati perwira ini sebagai orang yang bertanggung jawab penuh di kota raja di saat raja dan panglima tidak berada di istana, padahal hari itu terjadi peristiwa amat penting dengan kedatangan rombongan utusan kaisar. Kesibukan dan kekhawatiran menghadapi urusan itu membuat dia tidak banyak cerewet lagi menghadapi sumoi-nya. Maka setelah mengajak sumoi-nya ke rumah dan ‘menyerahkan’ dara bengal itu kepada isterinya, perwira itu bergegas kembali ke istana untuk menanti kembalinya raja dan rombongannya yang pergi berburu semenjak tiga hari yang lalu.

Sore harinya dia pulang dengan wajah letih lesu dan lagi karena raja yang dinanti-nanti pulangnya ternyata masih belum pulang, dan pasukan kecil yang disuruh menyusul ternyata juga belum kembali dan tidak ada kabar apa-apa dari rombongan raja yang memburu binatang di hutan-hutan lebat Pegunungan Himalaya sebelah barat.

Ceng Ceng tidur dan bermimpi tentang yang indah-indah. Tentang rombongan utusan kaisar, tentang istana yang megah dan mewah dan dalam mimpi itu dia melihat dirinya sendiri berpakaian seperti seorang puteri raja yang dijemput dan diboyong ke istana kaisar! Akan tetapi tiba-tiba dia sadar dari mimpi dan terbangun dari tidurnya oleh suara orang bercakap-cakap. 

Sebagai seorang ahli ilmu silat yang setiap saat waspada dan seluruh urat syaraf di tubuhnya berada dalam keadaan siap bergerak, begitu terbangun Ceng Ceng sudah meloncat turun dari pembaringan dan berindap-indap keluar dari kamarnya, mengintai suheng-nya yang terdengar bercakap-cakap dengan seorang laki-laki lain. Pada waktu itu telah lewat tengah malam, tentu saja Ceng Ceng menjadi curiga dan menduga bahwa tentu ada peristiwa yang amat penting maka pada saat selarut itu suheng-nya masih menerima tamu.

Ketika Ceng Ceng mendengarkan percakapan mereka, jantungnya berdebar keras penuh ketegangan. Kiranya terjadi hal yang demikian hebat, pikirnya! Pantas saja suheng-nya kelihatan sibuk benar dan malam-malam begitu masih menerima tamu dari istana.

Tamu itu adalah komandan bawahannya yang memimpin pasukan kecil yang kemarin pagi menyusul rombongan raja. Dan orang ini datang melapor kepada suheng-nya bahwa rombongan raja yang dikawal oleh panglima dan dua losin pasukan pilihan itu telah mengalami mala petaka! 

Rombongan raja telah dihadang oleh pasukan besar orang-orang asing yang hendak menawan raja. Terjadi perang kecil. Akan tetapi, walau pun raja dikawal oleh pasukan pengawal pilihan yang dipimpin panglima sendiri, namun jumlah musuh terlalu besar, sedikitnya ada seratus orang, maka tentu saja pasukan pengawal raja menjadi repot dan kewalahan.

Pasukan pengawal tetap mempertahankan diri, sementara sang raja yang dikawal oleh panglima sudah melarikan diri. Akibatnya, raja berhasil lolos dari kepungan dengan pengawalan panglima yang lihai, sekarang entah bersembunyi di mana, sedangkan dua losin pengawal pilihan itu mempertahankan diri sampai tewas semua, terbasmi oleh pihak musuh yang jauh lebih besar jumlahnya itu.

“Saat ini juga ciangkun diminta datang ke istana oleh pangeran tua untuk merundingkan urusan ini.” Demikian pembantunya mengakhiri pelaporan. Perwira Jayin mendengar pelaporan itu dan dia cepat berpakaian, kemudian bergegas pergi ke istana bersama pembantunya.

Ceng Ceng tidak dapat tidur lagi. Menghadapi peristiwa yang demikian hebatnya, mana dia bisa tidur? Terlalu hebat peristiwa ini. Betapa kongkong-nya dan para suheng-nya akan melongo mendengarkan ceritanya kelak. Raja terancam bahaya! Raja hendak diculik, hendak dibunuh oleh pasukan asing ketika raja dan panglima sedang berburu. Padahal rombongan utusan kaisar sudah tiba! Dan sekarang raja dan panglima tidak tahu berada di mana. Betapa hebatnya cerita ini. Dia harus tahu lebih banyak, demikian pikirnya sambil mengenakan pakaian, membereskan rambutnya, mencuci muka dan diam-diam dia meninggalkan rumah suheng-nya melalui jendela dan berlari menuju ke istana.

Dia sudah mengambil keputusan untuk masuk ke istana, apa pun juga yang akan terjadi, diperkenankan atau tidak! Dia harus mengikuti terus perkembangan keadaan, harus tahu apa yang selanjutnya terjadi agar kelak ceritanya kepada kongkong-nya dan kepada suheng-nya dapat lengkap! Betapa senangnya nanti menceritakan itu semua, pikirnya.

Tentu saja para penjaga menghadangnya di pintu gerbang karena malam itu, sesuai dengan perintah yang dikeluarkan Perwira Jayin, penjagaan diperketat dengan adanya tamu agung yang bermalam di istana dan dengan terjadinya hal-hal yang mengejutkan seperti yang dilaporkan oleh komandan pasukan yang menyusul rombongan raja.

Dara ini tersenyum mengejek, menggeser tubuhnya ke bawah penerangan lampu agar mukanya kelihatan sambil berkata, “Hemmm, apakah kalian ini penjaga-penjaga malas hendak mencari ribut lagi dengan aku?”

Mendengar suara wanita dan melihat wajah cantik di bawah sinar penerangan itu, tentu saja para penjaga mengenal Ceng Ceng. Dara yang masih adik seperguruan Perwira Jayin, yang siang tadi membikin ribut di pintu gerbang, merobohnya para penjaga dan dua perwira, bahkan yang berani menandingi pengawal kepala dari rombongan utusan kaisar!

“Eh... kau lagi... nona?” Komandan jaga yang mengenalinya berkata gugup.
“Ya, aku! Apakah kau hendak melanjutkan gerakan tombakmu itu?”

Komandan jaga itu cepat-cepat menurunkan tombaknya yang tadi menodong. “Ahhh, tidak...! Maafkan, nona, tetapi... kami menjaga dan tidak ada orang asing yang boleh masuk.”

“Tentu saja! Kalau kau membiarkan orang asing masuk, suheng-ku Perwira Jayin tentu tidak akan memberi ampun kepadamu! Akan tetapi aku bukannya seorang asing, dan aku disuruh oleh so-so, isteri abangku, untuk menyusul suheng yang baru saja masuk ke istana.”

Komandan jaga itu bingung dan ragu-ragu. Dia sudah tahu bahwa dara ini adalah sumoi dari Perwira Jayin dan memang benar baru saja perwira itu masuk ke istana!

“Ada ada urusan apakah, nona? Boleh kami yang menyampaikan...”
“Husshhh! Urusan keluarga, urusan isteri hendak kamu campuri, ya? Begitu kurang ajarkah kalian? Akan kulaporkan kepada suheng...” 

“Ah, maaf..., maaf... harap nona tidak marah. Kami bukan berniat buruk...”
“Kalau tidak berniat buruk, mengapa melarang aku menyusul abang? Hayo katakan, apakah masih ada lagi penjaga yang hendak kurang ajar kepadaku?”

Komandan jaga itu kewalahan. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka semua minggir, memberi jalan dan komandan itu berkata, “Baiklah, nona masuk saja. Akan tetapi harap jangan bicara yang bukan-bukan kepada ciangkun.”

Ceng Ceng memasuki pintu gerbang itu, menoleh dan tersenyum. “Aku akan melaporkan kepada suheng bahwa komandan jaga malam ini, yang berkumis tipis, adalah seorang yang amat baik hati dan ramah.”

Setelah dara itu pergi memasuki halaman istana, komandan jaga yang menjadi berseri wajahnya itu meraba-raba kumisnya, tersenyum-senyum bangga! Sikap dan ucapan Ceng Ceng itu sekaligus merubah keadaan hatinya, kalau tadi dia merasa khawatir melakukan pelanggaran, kini dia merasa bangga karena telah melakukan jasa.

Niat hati hendak mencari suheng-nya di dalam istana. Akan tetapi karena dia tidak hafal akan keadaan di istana yang demikian besarnya, yang mempunyai banyak lorong-lorong yang hampir sama bentuk dan hiasannya, membuat dia kesasar ke lain tempat, ke sebelah kiri bangunan istana besar itu. Padahal suheng-nya saat itu sedang sibuk terlibat dalam perundingan yang serius dengan Pangeran Tua dan para panglima lainnya yang berlangsung di sebelah kanan bangunan istana. Ceng Ceng tersesat jalan, memasuki daerah yang dihuni oleh para puteri dan semua anggota wanita dari keluarga kerajaan.

Barulah dara ini sadar akan kesalahan jalan ini setelah dia melihat beberapa orang penjaga wanita yang sudah bermunculan dari kanan kiri dan mengurungnya!

“Siapa kau?”
“Tangkap dia!”
“Dia tentu mata-mata musuh!”

Para penjaga wanita itu sudah berteriak-teriak dengan kacau sehingga percuma saja bagi Ceng Ceng untuk membela diri. Bahkan mereka sudah serentak maju hendak menangkapnya. Ceng Ceng menjadi marah, kaki tangannya bergerak dan dua orang penjaga menjerit dan terpelanting roboh terkena dorongan tangan dan tendangan kakinya.

Ributlah keadaan di situ. Ceng Ceng marah karena para penjaga wanita itu tidak mau mendengarkan kata-katanya dan terus mengeroyoknya seperti sekelompok kupu-kupu beterbangan di sekelilingnya. Betapa pun marahnya, Ceng Ceng masih ingat bahwa dia berada di dalam istana, maka dia mengatur kaki tangannya agar jangan sampai melukai berat lawan, apa lagi membunuh seorang di antara mereka. Namun, karena kaki dan tangan dara ini sudah terlatih, tetap saja penjaga yang dirobohkannya mengalami bengkak-bengkak dan lecet-lecet sehingga makin ributlah terdengar jeritan wanita-wanita yang terpelanting itu.

“Siapa berani main gila di sini?” Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Ceng Ceng memandang dengan penuh kagum dan tercengang ketika dia melihat munculnya seorang dara yang amat cantik jelita.

Dara ini cantik sekali, kulit mukanya halus putih kemerahan, matanya lebar dan jernih, terlindung bulu mata yang panjang dan melengkung, rambutnya gemuk berombak dan dibiarkan terurai di belakang punggungnya, diikat di dekat tengkuk dengan gelang mutiara, sedangkan di atas kepala tampak ikatan rambut yang dihias dengan seekor burung Hong terbuat dari pada emas dan permata. 

Telinganya terhias anting-anting yang besar dari emas pula, demikian pergelangan tangannya. Pakaiannya juga amat aneh dan serba indah, terbuat dari sutera-sutera halus beraneka warna. Seorang dara yang cantik jelita dan pantasnya dia seorang dewi dari kahyangan. Akan tetapi pada saat itu, dia bukan merupakan seorang dewi yang penuh welas asih, melainkan seorang dewi yang sedang marah, yang tangan kanannya memegang sebatang pedang yang indah pula, pedang yang gagangnya terhias emas terukir halus.

Ceng Ceng sejenak memandang kagum dan terpesona, akan tetapi ketika dara jelita itu menghampirinya dan menampar dengan tangan kirinya, tamparan yang cukup keras, Ceng Ceng sadar dan cepat dia menggerakkan tangan kanannya. Tadinya dia hendak menangkis, akan tetapi mengingat betapa halus dan putih lengan dara itu, dia merasa tidak tega, maka dia lalu merubah tangkisannya menjadi tangkapan.

“Plakkk...!”

Lengan tangan kiri dara itu diterima oleh telapak tangan Ceng Ceng, dan sebelum pedang di tangan kanan dara itu digerakkan, Ceng Ceng telah berkata halus, “Harap tahan dulu dan jangan menyerang. Aku bukan orang jahat, aku mencari suheng-ku, Perwira Jayin!”

Mendengar ini, sepasang mata yang lebar itu terbelalak dan tangan kanan yang memegang pedang menurun. Ceng Ceng sudah melepaskan lengan yang berkulit halus itu, lalu melangkah mundur, berdiri tegak dan memandang dengan penuh kagum.

“Dia...?”
“Benar dia...!” Demikian terdengar beberapa orang penjaga wanita berkata.

Dara jelita berpakaian merah itu melangkah maju, memandang Ceng Ceng dengan penuh selidik, sinar matanya merayapi tubuh Ceng Ceng dari atas kepala sampai ke ujung kaki, kemudian terdengar suaranya, halus namun penuh wibawa, “Apakah engkau sumoi dari Perwira Jayin yang siang tadi menimbulkan geger di pintu gerbang dan yang kabarnya telah berani pula melawan pengawal kaisar sendiri?”

Ceng Ceng tersenyum dan dia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dia malah bertanya, “Kalau boleh aku mengetahui, siapakah anda yang begini cantik jelita seperti dewi?”

Dara itu tersenyum dan Ceng Ceng seolah-olah silau oleh kecantikan yang makin menonjol itu. Alangkah manisnya senyum itu, senyum wajar yang menggerakkan dan menghidupkan seluruh wajah jelita itu, bahkan yang seolah-olah langsung menyinarkan kehangatan kepada seluruh keadaan di sekitarnya!

“Kabarnya engkau bernama Ceng Ceng dan engkau mengakibatkan geger karena ingin melihat puteri yang akan diboyong oleh rombongan utusan kaisar. Benarkah itu?”

Ceng Ceng mengangguk.

“Nah, akulah puteri itu.”

Mata Ceng Ceng makin melebar, bibirnya yang kecil mungil dan kemerahan itu terbuka. Sejenak dia tidak dapat berkata apa-apa, akan tetapi kemudian dia menjatuhkan diri berlutut. “Ampunkan hamba... ahhh, hamba tidak tahu...”

Puteri itu tertawa, melempar pedangnya yang disambut oleh seorang di antara para pengawal wanitanya. Kemudian puteri itu maju, memegang pundak Ceng Ceng dan menariknya berdiri. Mereka itu sebaya, dan perawakan mereka pun tidak berselisih banyak. Mereka berdiri berhadapan, saling memandang dan kemudian keduanya tersenyum dengan rasa suka timbul di hati masing-masing.

“Paduka... paduka Puteri Syanti Dewi...?”

Puteri itu mengangguk, tersenyum dan memegang tangan Ceng Ceng, digandengnya dan ditariknya dara itu masuk ke dalam kamarnya yang besar dan indah. Puteri itu memberi isyarat kepada semua pelayan dan penjaganya agar tidak mengganggu mereka berdua, kemudian pintu kamarnya ditutupkan dari luar dan dia berkata sambil tersenyum lebar. “Nah, duduklah dan anggap ini kamarmu sendiri, Ceng Ceng. Ehhh, siapakah nama lengkapmu? Kau tentu seorang Han dari Tiongkok, bukan? Kau tidak seperti orang Mancu.”

“Benar, hamba she Lu bernama Ceng akan tetapi biasa disebut Ceng Ceng.”
“Ah, engkau puteri guru Perwira Jayin yang bernama Lu Kiong, kakek yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi itu?”
“Bukan anaknya, melainkan cucunya. Paduka sangat baik terhadap hamba, padahal hamba telah mengagetkan paduka dan telah berani memasuki tempat ini...”

“Hushh, kalau kau tak merubah sebutan-sebutan itu, aku akan kehilangan rasa sukaku kepadamu, Ceng Ceng. Tahukah kau betapa muak hatiku dengan semua ini? Setiap hari disembah-sembah orang, setiap hari mendengar sebutan paduka tuan puteri atau yang mulia dan lain-lain yang kosong dan palsu, mendengar orang merendahkan diri dan menyebut diri hamba yang rendah dan sebagainya. Alangkah rinduku diperlakukan seperti manusia biasa, bukan seperti seorang dewi atau seorang siluman yang bukan manusia. Tadi hatiku girang sekali menyaksikan sikapmu yang terbuka, menyebutku dengan kata kau atau anda saja. Akan tetapi begitu kau meniru sikap mereka yang merendahkan diri seperti orang menjilat, aku menjadi tidak senang.”

“Habis...?” Ceng Ceng meragu dan terheran, juga geli rasa hatinya mengapa ada seorang puteri raja yang menyatakan pendapat seperti itu.

“Engkau Ceng Ceng, dan aku Syanti saja. Kau sebut saja namaku.”

“Ini... ini... mana hamba berani...”

“Kalau tidak berani, lekas kau pergi dari sini dan aku tidak mau bersahabat denganmu lagi.”

“Ahhhh...” Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan merasa kecewa sekali. “Hamba ingin sekali... bersahabat... hamba kagum dan suka kepada paduka...”

“Hushh! Hanya satu syaratnya, yaitu kau menganggap aku sebagai sahabat atau... eh, bagaimana kalau sebagai saudara? Berapa usiamu?”

“Kurang lebih lima belas tahun.”

“Kalau begitu sama dengan aku. Nah, untuk menghormatiku biarlah kau menganggap aku lebih tua setengah bulan darimu, dan kau menyebut aku enci (kakak), dan aku menyebutmu moi-moi (adik perempuan). Selanjutnya kau harus ber-engkau dan ber-aku kepadaku, tidak ada lagi paduka-padukaan atau hamba-hambaan. Bagaimana, maukah kau?”

Ingin Ceng Ceng menari kegirangan. Siapa bisa percaya! Dia, seorang dara dusun, seorang gadis gunung, diakui sahabat baik, bahkan saudara oleh Puteri Syanti Dewi yang terkenal itu! Duduk berdua sekamar dengan puteri itu, bicara dengan sebutan engkau dan aku! Mana mungkin ini? Hanya dapat terjadi dalam mimpi! Mimpikah dia? Diam-diam Ceng Ceng mencubit pahanya sendiri.

“Haiiii, Ceng-moi, apa yang kau lakukan itu?” Puteri Syanti memandang heran ketika melihat Ceng Ceng mencubit pahanya sendiri dan meringis karena merasa nyeri.

“Ehh...! Ohhh...! Tidak... tidak apa-apa... eh, enci Syanti.”

Puteri Syanti tertawa lebar sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih seperti mutiara, rongga mulut yang merah dan lidah yang kecil yang bergerak hidup dan berwarna merah muda.

“Senang hatiku mendengar kau menyebutku enci! Ceng-moi, sebagai saudara kita tidak boleh menyimpan rahasia. Aku melihat kau tadi mencubit pahamu sampai kau meringis kesakitan. Mengapa kau begini lucu, mencubit paha sendiri?”

“Habis, tidak ada yang mencubit... eh, maksudku, kalau ada yang cubit, tentu kutampar mukanya, apa lagi kalau dia seorang pria!”

Jawaban ini membuat sang puteri terkekeh geli. “Bagaimana kalau yang mencubit itu pria kekasihmu?”

“Kekasih?” Ceng Ceng bertanya, seolah-olah tidak mengerti apa artinya kata-kata ini.
“Kekasih, pria yang kau cinta. Bagaimana kalau dia yang mencubit pahamu?”
“Cinta? Aku tidak tahu, aku tidak mengerti apa itu cinta. Kalau ada pria melakukan hal itu, berarti dia manusia kurang ajar dan tentu akan kutampar mukanya sampai bengkak-bengkak!”

“Ouhhh...!” Puteri itu menutupi mulutnya dan memandang heran.
“Apakah kau hendak mengatakan bahwa engkau belum pernah berpacaran?”
“Hehh? Berpacaran?”
“Ya, mempunyai teman pria yang kau sukai, dengan siapa engkau bersendau-gurau, bersenang-senang, bermain-main bersama dan sebagainya.”

Ceng Ceng menggeleng kepala dan memandang dengan mata jujur. Puteri itu menarik napas panjang dan berkata kepada diri sendiri, “Betapa anehnya! Dan kukira dara yang hidup bebas di luar, tidak seperti aku yang dikurung di istana, dapat lebih menikmati hidup, dapat memilih pacar dan calon jodoh sendiri...”

“Enci Syanti, apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, adik Ceng, memang hanya orang yang tidak mengerti itulah justru yang beruntung, tidak dilanda suka-dukanya. Aku mengulangi pertanyaanku tadi, mengapa kau tadi mencubit pahamu?”

“Karena aku masih tak percaya bahwa aku, seorang gadis gunung, dapat duduk sejajar dengan Puteri Syanti Dewi, bercakap-cakap seperti sahabat bahkan seperti saudara. Aku mengira bahwa aku sedang mimpi, maka kucubit pahaku.”

“Hi-hik, kau memang lucu! Aku suka sekali padamu, adik Ceng.”
“Dan aku... aku tidak pernah mempunyai seorang sahabat seperti engkau, enci Syanti. Aku suka sekali padamu.”

“Kalau begitu...!” Puteri itu meloncat. “Benar! Sekarang aku tidak terlalu berduka lagi. Ahhh, kau tahu, adik Ceng, aku selalu menangis dan bersusah hati setelah sri baginda memutuskan perjodohanku dengan pangeran putera Kaisar Tiongkok! Aku merasa seolah-olah masa depanku gelap, seolah-olah aku akan dikirim ke neraka. Sekarang ada engkau! Engkau harus menemani aku, adikku! Ya, engkau harus menemani aku, barulah aku sanggup menghadapi kepergian ini!”

“Apa...? Aku...? Ikut bersamamu ke kota raja, di Tiongkok? Ke istana kaisar?” Jantung di dada Ceng Ceng berdegup keras. Makin hebat dan menarik saja pengalaman ini!

“Maukah engkau, adik Ceng? Katakanlah engkau mau, kasihanilah aku yang amat memerlukan kehadiran seorang sahabat, seorang saudara yang sangat kucinta dalam perjalananku yang jauh dan amat menggelisahkan hatiku ini” Dan puteri itu memandang Ceng Ceng dengan air mata berlinang!

Ceng Ceng tersenyum lalu mengangguk kuat-kuat. “Aku mau! Dengan senang hati, enci Syanti!”

“Adikku...!” Saking girangnya puteri itu lalu menubruk dan memeluk Ceng Ceng, lalu mencium pipinya. Ceng Ceng membalas pelukan itu dan mereka seperti enci-adik yang mencurahkan perasaan masing-masing yang penuh keharuan, seperti kakak-beradik yang telah lama sekali tidak berjumpa, dan baru sekarang bertemu.

“Tetapi bagaimana kalau kongkong melarangku?” Akhirnya Ceng Ceng yang teringat akan keadaannya, bertanya ragu.
“Jangan khawatir. Aku akan minta kepada sri baginda agar engkau menjadi pengawal pribadiku, dan perintah ayahku sri baginda tentu akan ditaati oleh kongkong-mu.”

Ceng Ceng mengangguk-angguk dan mereka bercakap-cakap dengan penuh gembira, kemudian tidur bersama dalam pembaringan puteri itu yang mewah, harum dan enak sekali dipakai.

Benar saja apa yang dikatakan oleh Puteri Syanti Dewi. Setelah puteri ini menyatakan kehendaknya mengangkat Ceng Ceng sebagai pengawal pribadinya, pangeran tua sendiri pun tak berani melarang sehingga Perwira Jayin yang tadinya mendengar akan perbuatan Ceng Ceng dan hendak membawa pulang sumoi-nya itu, jadi ‘mundur teratur’ dan terpaksa dia mengirim laporan kepada suhunya di dusun tentang keadaan Ceng Ceng yang kini diangkat oleh sang puteri menjadi pengawal pribadi, bahkan sudah ditentukan oleh puteri itu bahwa Ceng Ceng akan mengawalnya kalau tiba saatnya dia diboyong oleh rombongan utusan kaisar!
Sementara itu, pada malam hari itu juga ketika merundingkan persoalan raja yang terancam bahaya dengan para panglima dan pembantunya, pangeran tua mengambil keputusan untuk mengirim pasukan yang terdiri dari seribu orang prajurit, dipimpin oleh Panglima Jayin sendiri untuk mencari raja dan menyelamatkannya dari ancaman bahaya.

Berangkatlah Panglima Jayin menunggang kuda memimpin seribu orang prajurit itu pada malam hari itu juga. Bhutan bukanlah sebuah negara besar dan karena negara itu selalu berada dalam keadaan aman, jarang sekali dilanda perang, maka tentaranya juga tidak terlatih dan tidak banyak jumlahnya. Kalau sekarang dikerahkan seribu orang pasukan adalah karena mereka hendak menolong dan melindungi raja mereka. Obor-obor dipasang mengiringi keberangkatan barisan itu keluar dari benteng kota raja.

Akan tetapi ketika barisan itu tiba di pintu gerbang kota raja, terdengar teriakan penjaga dan Panglima Jayin cepat menengok. Kiranya di antara sinar obor tampak berkelebat bayangan orang yang melompati dinding benteng yang sangat tinggi itu dengan gerakan seperti seorang burung terbang saja.

“Kejar dia! Tangkap! Panah dia!” Panglima Jayin yang merasa curiga sekali memerintah dengan suara nyaring.

Beberapa orang prajurit ahli panah sudah menyerang bayangan itu, akan tetapi karena gerakan bayangan itu cepat laksana burung terbang, serangan anak-anak panah itu sia-sia belaka dan dalam sekejap mata saja bayangan itu telah lenyap ke dalam kota raja.

Panglima Jayin mengangkat tangan menahan gerakan barisannya, lalu mengumpulkan para perwira pembantunya dan menyuruh mereka menahan barisan untuk berhenti di luar tembok kota raja karena dia ada urusan penting. Seorang diri panglima ini lalu membalapkan kudanya kembali ke kota raja, menuju ke istana.

Dalam hati Panglima Jayin mulai merasa curiga terhadap para tamu agung, yaitu para rombongan utusan kaisar. Bukankah mala petaka terjadi ketika rombongan itu di Bhutan? Kebetulan sajakah ini, atau ada apa-apa di balik kedatangan rombongan itu? Mereka datang pada saat raja berburu dan rombongan raja dihadang oleh pasukan musuh yang kini dia tahu adalah orang-orang Mongol dan Tibet yang telah lama sering mengadakan gangguan kepada Pemerintah Bhutan.

Orang-orang campuran antara bangsa Mongol dan Tibet yang sebenarnya merupakan orang-orang pelarian negara mereka sendiri ini telah membentuk sebuah perkumpulan besar atau dapat juga dikatakan sebuah ‘kerajaan’ kecil, dipimpin oleh seorang tokoh hitam yang kabarnya berasal dari Tiongkok dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi, selama ini, karena jumlah mereka tidaklah banyak dibandingkan dengan jumlah barisan Kerajaan Bhutan, gangguan mereka selalu dapat dihadapi dengan kekerasan dan sudah lama mereka tidak pernah terdengar beritanya lagi. Mengapa kini tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu raja yang sedang berburu, tepat ketika rombongan utusan kaisar tiba?

Bayangan yang dilihatnya meloncat seperti terbang tadi memakai kuncir, tanda bahwa bayangan itu adalah seorang dari Tiongkok! Kecurigaan hati Panglima Jayin terhadap rombongan utusan kaisar makin besar, maka dia menahan barisannya dan kini dia kembali ke istana untuk menemui mereka, untuk melihat keadaan dan kalau perlu bertindak.

Ketika panglima memasuki pintu gerbang istana, menitipkan kuda kepada para penjaga dan dia berlari-lari masuk ke tempat di mana para tamu itu bermalam, ternyata di situ juga sedang dalam keadaan ribut-ribut. Semua tamu itu telah terbangun dan banyak pula para pengawal istana yang berkumpul di situ. Ketika mereka melihat Panglima Jayin, maka segera menyambutnya dan kepala pengawal kaisar yang memimpin rombongan utusan kaisar itu dengan langkah lebar menghampiri Jayin dengan muka merah dan alis berkerut.

“Apa yang sudah terjadi?” tanya Jayin dengan pandang mata penuh selidik kepada pengawal kaisar yang berjenggot panjang itu.

Pengawal ini ini bernama Tan Siong Khi. Ketika mendengar pertanyaan Jayin dia memandang tajam dan berkata, “Seharusnya kami yang mengajukan pertanyaan ini, panglima!”

Jayin mengerutkan alisnya, terheran akan tetapi juga tidak senang mendengar kata-kata itu, “Hemm... apakah sesungguhnya yang telah terjadi?”

“Ada orang menyelundup masuk ke tempat penginapan kami, sikapnya mencurigakan sekali. Aku sendiri sudah menyerangnya dan berusaha menangkapnya, akan tetapi gagal dan dia berhasil melarikan diri dan lenyap.”

Tentu saja Jayin terkejut, “Benarkah? Seperti apa orangnya?”

“Keadaan gelap, dan gerakannya gesit. Kami tidak dapat melihat jelas mukanya. Akan tetapi yang amat mengherankan, mengapa dia dapat memasuki istana yang terjaga kuat dan bagaimana mungkin dia melarikan diri dari istana dan dari dalam kota raja?”

Biar pun ucapan Tan Siong Khi diucapkan seperti orang yang merasa heran dan penasaran, namun di dalamnya terkandung kecurigaan yang agaknya dinyatakan untuk mengimbangi sikap Jayin yang datang-datang memperlihatkan kecurigaan pula.

Jayin mengerutkan alisnya lagi. Memang sukarlah baginya keadaan seperti itu. Kecurigaannya terhadap rombongan utusan ini memang makin besar. Siapa tahu keributan dengan alasan orang luar memasuki tempat penginapan mereka ini hanya sandiwara belaka!

Akan tetapi untuk menuduh begitu saja, tidak mungkin jika tidak ada bukti nyata. Pula, mereka ini adalah utusan dari negara yang besar dan kuat, bahkan rajanya sendiri sampai mengorbankan puterinya untuk menjadi isteri seorang Pangeran Mancu hanya karena mengharapkan ikatan keluarga agar Bhutan terlindung sebagai keluarga Kerajaan Mancu yang menguasai seluruh Tiongkok.

Akan tetapi Jayin adalah seorang panglima yang sudah berpengalaman, tidak hanya berpengalaman dalam medan perang, tetapi juga berpengalaman dalam hal diplomasi. Dengan cerdik dia lalu berkata dengan muka sungguh-sungguh, “Tan-ciangkun, kami sedang menghadapi urusan besar yang juga menyangkut kepentingan rombongon utusan kaisar. Raja kami sedang terancam bahaya.” Dia lalu menuturkan bagaimana rajanya yang sedang berburu itu diserbu oleh musuh dan kini tidak tahu berada di mana dan bagaimana pula keadaannya.

“Kalau raja kami tidak dapat segera diselamatkan, tentu tugas yang ciangkun lakukan akan gagal pula. Maka setelah ciangkun berada di sini, saya pribadi mohon petunjuk ciangkun yang sudah tentu memiliki kepandaian dan pengalaman lebih luas sebagai pengawal kaisar sebuah negara besar. Saya harap ciangkun tidak akan berkeberatan untuk membantu kami melakukan penyelidikan untuk menolong raja kami.”

Tan Siong Khi juga bukanlah seorang pengawal bodoh. Tentu saja dia mengerti apa arti permohonan yang diajukan dengan halus oleh Jayin itu. Untuk urusan dalam seperti itu, tidak selayaknya kalau panglima ini minta bantuan orang luar. Tentu saja lahirnya saja menyatakan minta bantuan, akan tetapi sebetulnya dia akan dibawa sebagai sandera karena panglima ini agaknya mencurigai rombongannya! Maka dia tersenyum dan berkata, “Kami diperintah untuk menjemput mempelai, sekarang melihat Raja Bhutan yang akan menjadi besan dari kaisar kami terancam bahaya, sudah tentu saya suka membantu.”

“Kalau begitu, marilah, Tan-ciangkun. Malam ini juga kita berangkat dan tentaraku sudah siap di luar tembok benteng kota raja.”

Panglima Jayin memerintahkan orangnya mempersiapkan seekor kuda lain dan tak lama kemudian berangkatlah kedua orang perwira tinggi ini, menunggang kuda keluar dari kota raja dan memimpin pasukan yang seribu orang besarnya itu. Obor di tangan para prajurit yang bertugas membawa obor dan berada di depan, tengah, dan belakang, kelihatan dari jauh seperti seekor naga sakti yang menyala-nyala keemasan terbang melayang rendah di atas tanah. Mereka menuju ke Pegunungan Himalaya, ke arah utara.....

********************

Selanjutnya baca
KISAH SEPASANG RAJAWALI : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger