logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Super Sakti Jilid 13

Daerah Mancuria bagian timur laut adalah menjadi pusat suku bangsa Khitan yang pada masa itu telah hampir musnah dan masuk menjadi bangsa Mancu yang makin berkembang dan berkuasa. Banyak di antara keluarga bekas Kerajaan Khitan menjadi pembesar-pembesar Mancu, dan karena kaum wanita Khitan banyak yang cantik jelita, maka sebagian besar di antara mereka ini menikah, sebagian besar secara paksa, dengan para Pangeran Mancu. Betapa pun juga, diam-diam suku bangsa Khitan, terutama sekali kaum bangsawannya yang masih berdarah keluarga bekas Kerajaan Khitan, masih memiliki keangkuhan dan mengangkat tinggi derajat mereka sebagai bangsa Khitan!
Di kaki Pegunungan Cang-kwang-cai-san, di mana mengalir air Sungai Sungari yang bersumber dari gunung itu, terdapatlah sebidang tanah pekuburan yang berisi kuburan keluarga Kerajaan Khitan. Di sini pula dikubur jenazah tokoh-tokoh besar, bukan hanya besar bagi bangsa Khitan, melainkan juga tokoh-tokoh besar yang dikenal di dunia kang-ouw.

Di sinilah terdapat kuburan pendekar-pendekar sakti Suling Emas dan isterinya yang bernama Yalina, Ratu Khitan. Bahkan di situ pula kuburan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam, puteri Suling Emas dan Ratu Yalina, di samping kuburan keluarga kerajaan dan para tokoh terpenting dari Kerajaan Khitan. Akan tetapi, di antara semua kuburan kuno, yang paling menyeramkan adalah kuburan ayah ibu dan puteri mereka, yaitu kuburan Suling Emas, Ratu Yalina dan Mutiara Hitam. Hanya kuburan keluarga Suling Emas inilah yang masih terpelihara baik-baik, sekali pun kini suku bangsa Khitan telah lenyap dan dilebur menjadi bangsa Mancu.

Sunyi sekali keadaan di tanah kuburan itu. Tanah dan pohon-pohon di sekelilingnya kelihatan gundul dan di mana-mana mulai tampak air membeku keputihan karena musim salju hampir tiba. Air Sungai Sungari yang mengalir tepat di depan tanah kuburan kelihatan malas karena hampir membeku oleh hawa dingin. Keadaan amat sunyi, tidak ada tampak seekor pun burung, seolah-olah alam di sekeliling kuburan ikut mati seperti mereka yang dikubur di situ. Salju yang mulai terbentuk mengecat seluruh tempat menjadi keputih-putihan, putih bersih menambah sunyi.

Dilihat sepintas lalu, semua orang tentu akan mengira bahwa tempat sunyi seperti itu tidak ada penghuninya. Akan tetapi kadang-kadang tampak asap mengepul dari genteng pondok yang cukup kokoh dan megah, yang berdiri di antara batu-batu nisan di tanah kuburan itu. Dan melihat dupa yang selalu berkelap-kelip di depan bongpai (batu nisan) keluarga Suling Emas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di situ tidaklah tanpa penghuni seperti orang kira.

Dan sesungguhnyalah, pondok itu dahulu dibuat oleh keluarga Kerajaan Khitan menjadi tempat para penjaga tanah kuburan. Bahkan tanah kuburan itu sendiri tidak selalu sunyi ketika Kerajaan Khitan masih jaya. Akan tetapi, semenjak bangsa Khitan terdesak dan dilebur menjadi bangsa Mancu yang makin berkuasa sehingga Kerajaan Khitan pun lenyap, di tempat ini tidak dilakukan penjagaan lagi seperti dahulu, tidak pula dikunjungi keluarga raja yang berziarah. Bahkan kuburan itu tentu akan terlantar dan rusak kalau saja tidak muncul seorang kakek tua bongkok yang menjaga tanah pekuburan keluarga Suling Emas itu.

Semenjak kakek bongkok ini menjaga di sana, kuburan keluarga Suling Emas menjadi terawat baik dan tidak pernah sedetik pun kakek itu meninggalkan tanah pekuburan yang dijaganya dengan penuh kesetiaan. Kakek ini menjadi satu-satunya orang yang tinggal di daerah dingin bersalju ini, dan asap yang kadang-kadang nampak berkepul adalah asap dari dapur di kala ia memasak makanan.

Semenjak kakek bongkok menjaga tanah kuburan itu, tempat itu menjadi tempat angker dan keramat, ditakuti orang karena kakek bongkok itu ternyata amat galak dan juga amat lihai sehingga siapa pun yang berani mendatangi tanah kuburan tentu akan dibunuhnya!

Mula-mula, begitu mendengar akan runtuhnya suku bangsa Khitan dan tanah kuburan keluarga Suling Emas itu tidak terjaga lagi oleh tentara Khitan, banyak orang-orang kang-ouw mencoba datang ke tanah kuburan itu karena mereka mendengar bahwa pusaka peninggalan keluarga Suling Emas berupa kitab-kitab dan senjata-senjata, terutama senjata Suling Emas sendiri berupa sebatang suling terbuat dari pada emas dan sebuah kitab, berada di tempat itu. Mereka ini berusaha untuk mendapatkan pusaka peninggalan. Akan tetapi banyak sekali tokoh kang-ouw datang ke tempat itu untuk mengantar nyawa. Banyak yang tewas di tangan kakek bongkok dan banyak pula yang dipukul mundur dan terpaksa melarikan diri membawa luka-luka berat.

Semenjak itu, tidak ada lagi orang yang berani coba-coba mengganggu kuburan keluarga Suling Emas, bahkan bangsa Mancu dan suku bangsa lainnya tidak ada yang berani mendekati tempat itu. Selama puluhan tahun ini, hanya ada dua buah tempat yang selalu menarik perhatian orang-orang kang-ouw, yaitu Pulau Es, dan kuburan keluarga Suling Emas. Akan tetapi kedua-duanya amat sukar didatangi.

Yang pertama, Pulau Es, sungguh pun kabarnya menjadi tempat tinggal Koai-lojin yang tak mau mengganggu orang, bahkan suka membagi ilmu kepada siapa saja, namun amat sukar dicari karena tersembunyi di antara pulau-pulau yang banyak terdapat di utara, di samping sukarnya pelayaran di lautan yang kadang-kadang penuh es dan salju itu. Yang ke dua adalah tanah kuburan ini yang biar pun lebih mudah dicari, namun dijaga oleh kakek bongkok yang memiliki kesaktian yang sukar dilawan dan galaknya melebihi harimau menjaga anak-anaknya!

Akan tetapi, pada suatu pagi yang cerah, tampak sebuah joli (tandu) yang dipikul dua orang laki-laki tinggi besar berlari cepat menempuh hujan salju rintik-rintik menuju ke tanah kuburan di tepi Sungai Sungari. Dari jauh sudah tampak tanah pekuburan keluarga Suling Emas yang sunyi. Dua orang pemikul tandu itu adalah orang-orang Mancu yang bertubuh kuat, namun mereka kelihatan lelah dan napas mereka terengah-engah ketika mereka tiba di tepi sungai, masih agak jauh dari tanah kuburan.

“Berhenti di sini!” Terdengar suara nyaring merdu dari dalam joli.

Dua orang pemanggul joli berhenti dan menurunkan joli. Tirai joli tersingkap dan tampaklah wajah seorang gadis yang amat cantik jelita, berhidung kecil mancung dengan dagu meruncing dan sepasang mata lebar terbelalak indah dan bening.

Tubuh yang ramping itu keluar dan ternyata dia seorang dara jelita yang masih amat muda, tubuhnya yang ramping berpakaian indah, pakaian seorang Mancu dengan baju panjang berlengan pendek sehingga tampaklah lengannya yang berkulit putih halus sebatas siku. Rambutnya yang hitam panjang dan subur tertutup sebuah topi putih dari bulu beruang, dan di atas topi terhias sehelai bulu burung, tanda bahwa dia adalah seorang pemimpin pengawal Kerajaan Mancu. Rambutnya diikat dengan pita kuning di belakang tengkuk, dan sepasang telinganya terhias anting-anting emas, demikian pula kedua pergelangan tangannya.

Ketika turun, dara ini membawa sebatang payung yang gagangnya melengkung dan ujungnya runcing mengkilap. Dara ini bukan lain adalah Puteri Nirahai, Puteri Mancu yang amat lihai sehingga dia menjadi pimpinan para pengawal istana! Kalau melihat mata yang lebar indah, bibir yang tipis merah basah, gerak-geriknya yang lemah gemulai, takkan ada orang mengira bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

“Kalian berdua pergilah sembunyi di balik batu gunung itu dan jangan sekali-kali berani menampakkan diri sebelum kupanggil,” kata pula Nirahai dalam bahasa Mancu kepada dua orang itu.

Dua orang tinggi besar itu adalah ahli-ahli petunjuk jalan yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian tinggi, kakak beradik yang merupakan tokoh-tokoh terkenal pula di daerah utara ini. Akan tetapi ketika menerima perintah dari ‘Sang Puteri’ untuk mengantarnya ke pekuburan keluarga Suling Emas, mereka ketakutan setengah mati dan dengan hati berat mereka terpaksa mengantarkan Nirahai. Kini, pada saat rasa takut mereka membuat wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, mendengar perintah Nirahai agar mereka bersembunyi, hati mereka lega dan girang sekali. Setelah memberi hormat mereka berdua lalu melompat dan bersembunyi di belakang sebuah batu besar, meninggalkan joli di dekat sungai.

Nirahai bersikap hati-hati dan dia tidak berani lancang menuju ke tanah kuburan. Dengan bersembunyi di balik sebuah batu yang menonjol di pinggir sungai, ia mengintai ke arah pondok di tengah kuburan. Keadaan amat sunyi. Tiba-tiba pandang mata Nirahai yang tajam sekali dapat melihat munculnya sebuah perahu kecil yang melawan arus air sungai. Karena air sungai yang dingin hampir membeku itu arusnya lambat sekali, maka perahu itu bergerak cepat, didayung oleh dua pasang tangan yang kuat. Mereka itu adalah dua orang kakek bertubuh tinggi besar berkulit hitam. Nirahai tidak mengenal mereka, akan tetapi ia dapat menduga bahwa mereka itu tentu bangsa Mongol Utara, melihat dari pakaian mereka yang tebal terbuat dari bulu binatang dan cara mereka menggelung rambut mereka.

Diam-diam Puteri Mancu ini memperhatikan dan ia melihat betapa dua orang Mongol itu tiba-tiba melompat ke darat, seorang di antara mereka memegang sehelai tali panjang yang mengikat ujung perahu. Setelah keduanya mendarat dengan sebuah loncatan cepat dan jauh yang membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pandai, si pemegang tali menggerakkan tenaganya dan perahu itu seperti dilontarkan oleh angin menuju ke arah mereka. Kakek kedua mengangkat tangan kiri menyambut perahu itu dengan mudah, lalu meletakkan perahu ke atas tanah. Melihat gerakan mereka, Nirahai maklum bahwa kedua orang kakek Mongol itu memiliki tenaga yang besar.

“Haiiiii... Setan Bongkok...! Keluarlah! Kami datang menagih hutangmu sepuluh tahun yang lalu!” Seorang di antara dua orang kakek itu berseru, suaranya nyaring bergema dan ia menggunakan bahasa Mongol yang dimengerti baik oleh Nirahai.

Suara yang keras itu menggema sampai lama, kemudian terdengar suara orang batuk-batuk dari dalam pondok di tengah tanah pekuburan, disusul suara orang yang menggunakan bahasa Mongol yang kaku.

“Hemmm, Sepasang Anjing Hitam padang pasir Go-bi! Pergilah sebelum terlambat. Aku tidak suka mengotorkan tempat suci ini dengan darah kalian. Pergilah!”

Mendengar suara itu, Nirahai merasa tegang hatinya, jantungnya berdebar. Dia belum pernah melihat kakek bongkok penjaga tanah kuburan keluarga Suling Emas, akan tetapi sudah mendengar tentang kakek itu yang kabarnya memiliki kesaktian hebat, galak dan mati-matian menjaga dan membela kuburan itu. Kini, baru mendengar suaranya saja sudah menyatakan bahwa kakek itu seorang yang keras, juga tinggi hati, namun amat menghormati kuburan itu.

Nama Sepasang Anjing Hitam dari padang pasir Go-bi juga amat terkenal. Dua orang jagoan Mongol itu merupakan datuk-datuk di daerah padang pasir Go-bi yang amat disegani sehingga setiap rombongan kafilah yang melalui daerah ini tentu akan meninggalkan ‘tanda persahabatan’ di depan goa-goa di kaki bukit kecil yang disebut Bukit Anjing Hitam untuk menghormati dua orang tokoh itu sehingga rombongan mereka takkan terganggu. Akan tetapi, sekarang kedua orang datuk padang pasir itu tidak dipandang mata sama sekali oleh penjaga kuburan keluarga Suling Emas, dan mendengar ucapan kakek dari dalam pondok, jelas bahwa dua orang Mongol tinggi besar itu pernah dikalahkan sepuluh tahun yang lalu.

“Heh, Si Bongkok setan tua bangka yang sombong! Selain sombong, engkau pun pelit sekali. Untuk apakah sekalian pusaka dan kitab peninggalan Keluarga Suling Emas untukmu? Engkau sudah hampir mampus! Berikan kepada kami sebuah dua buah pusaka sebagai pengganti nyawamu. Kalau engkau masih pelit, sekali ini kami tidak akan memberi ampun kepadamu!” Kakek Mongol yang ada tahi lalatnya di ujung hidung dan bertubuh tinggi besar berkata dengan suara keras. Sedangkan orang kedua yang lebih tinggi memandang tajam ke arah pondok, siap menghadapi kakek penjaga kuburan.

Setelah ucapan itu keluar dari mulut orang Mongol penuh tantangan, keadaan sunyi sekali dan kemudian terdengar suara....

“Kerrriiittttt...!” disusul terbukanya pintu pondok.

Suara pintu terbuka ini memecah kesunyian dan terdengar menyeramkan, seolah-olah yang terbuka adalah sebuah peti mati. Kemudian muncullah seorang kakek bongkok di ambang pintu. Setibanya di depan pintu pondok, ia berhenti sebentar dan mengangkat mukanya.

Nirahai bergidik ketika melihat betapa sepasang mata tua itu seolah-olah merupakan sinar yang menerangi tempat-tempat yang dipandang mata itu, bahkan ia merasa seolah-olah tempat persembunyiannya ketahuan ketika pandang mata kakek bongkok itu menyapu ke arah batu besar di mana ia bersembunyi. Nirahai cepat-cepat menarik diri untuk bersembunyi lebih baik, akan tetapi ia mengintai terus.

Kakek itu sebetulnya bertubuh tinggi, akan tetapi karena di punggungnya terdapat punuk yang membuat dia tidak dapat berdiri tegak dan membongkok, maka kelihatan pendek. Pakaiannya serba putih dan sederhana, juga sepatunya berwarna putih. Pakaian itu potongannya seperti pakaian pelayan, akan tetapi putih dan bersih.

Wajahnya tampak kurus, alisnya tebal, kumisnya melintang ke kanan kiri dan jenggotnya menutupi dagu. Baik rambutnya, mau pun rambut yang tumbuh di pelipis menjuntai ke bawah, sampai kumis dan jenggotnya, sudah hampir putih semua. Dia berdiri dengan kedua tangan kosong, dan kini perhatiannya ditujukan kepada dua orang Mongol yang melangkah datang menghampiri kakek bongkok.

Mereka saling berhadapan, sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, hanya saling memandang. Sikap kakek bongkok itu tenang, akan tetapi pandang matanya jelas membayangkan kemarahan dan juga memandang rendah. Sedangkan dua orang Mongol itu biar pun memaksa diri bersikap tenang, masih saja kelihatan bahwa mereka sebetulnya jeri terhadap kakek bongkok itu.

Nirahai diam-diam merasa heran. Kakek bongkok itu sama sekali tidak kelihatan seperti seorang sakti, bahkan kelihatan lebih pantas menjadi seorang pelayan tua yang sudah patut dipensiun! Dara Mancu ini tidak ingat bahwa dia sendiri pun tidak pantas menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, lebih patut menjadi seorang puteri yang lemah lembut dan menggairahkan!

“Orang tua, benar-benarkah engkau mempertahankan semua pusaka itu? Engkau telah mendengar nama Siang-hek-sin-kauw (Sepasang Anjing Hitan Sakti) yang menjadi sahabat seluruh orang gagah di utara dan barat! Kami mengulangi permintaan kami sepuluh tahun yang lalu, hanya ingin meminjam sebuah dua buah kitab peninggalan Keluarga Suling Emas, meminjam selama beberapa bulan saja, pasti akan kami kembalikan!” Orang Mongol yang lebih jangkung berkata. Mendengar nadanya, jelas kini bahwa setelah berhadapan, dua orang Mongol itu bersikap lebih lunak.

“Selagi aku hidup, tak seorang pun manusia boleh menjamah pusaka-pusaka keluarga majikanku. Setelah aku mati pun, rohku akan tetap menjaga di sini. Pergilah!”

Ngeri hati Nirahai mendengar ucapan itu, dan diam-diam gadis ini mencari akal bagaimana ia dapat berhasil menghadapi kakek bongkok yang galak itu. Ia mengintai terus dan ingin lebih dulu menyaksikan kelihaian kakek bongkok seperti yang sudah ia dengar akan tetapi belum pernah ia saksikan.

“Setan Bongkok keparat! Kalau begitu terpaksa kami menggunakan kekerasan!” bentak orang Mongol bertahi lalat di hidung. Bersama adiknya, dia lalu siap untuk menyerang.

Tubuh yang bongkok itu makin bongkok, mukanya tunduk, matanya terbuka dan melirik ke atas sehingga dipandang dari depan, sikap kakek itu seperti seekor lembu marah memasang tanduk siap menghadapi lawan yang bagaimana pun juga.

“Kalian yang akan mati. Sekali ini aku tidak akan membiarkan kalian hidup!” jawab kakek itu.

“Setan Bongkok, sambutlah!” Tiba-tiba orang Mongol yang bertahi lalat di hidungnya berseru.

Tubuhnya merendah sampai hampir berjongkok, dan kedua lengannya didorongkan ke depan ke arah kakek bongkok. Terdengar bunyi tulang berkerotokan dan angin yang kuat menyambar ke arah kakek bongkok.

Nirahai terkejut sekali. Ia dapat menduga bahwa pukulan atau dorongan kedua lengan orang Mongol itu amat lihai, merupakan pukulan tenaga sinkang yang kuat sekali. Belum pernah ia melihat atau mendengar pukulan jarak jauh dengan tenaga sakti sampai mengeluarkan bunyi berkerotokan seperti itu!

Kakek bongkok kelihatan tercengang juga, akan tetapi dengan tenang sekali tubuhnya sudah bergerak ke kiri, tahu-tahu tubuhnya sudah miring mengelak dan lengannya bergerak menangkis, yaitu dengan sambaran angin pukulan menangkis serangan lawan.

“Hemmm... bukankah ini Thai-lek-kang...?” Terdengar kakek bongkok berseru heran.
“Setan Bongkok mampuslah!” bentak lawan ke dua yang bertubuh tinggi.

Tubuh orang Mongol kedua ini sudah bergerak ke depan dengan cepat sekali dan tahu-tahu tubuh itu berpusing, makin lama makin cepat, sambil berpusingan cepat sekali tubuh itu menerjang ke arah kakek bongkok. Tubuh orang Mongol itu lenyap, yang tampak hanya bayangan yang berpusing dan kadang-kadang tampak kaki tangannya bergerak keluar dari bayangan yang berputar cepat seperti kitiran angin itu!

“Ayaaaaa, bukankah ini pun ilmu dari Thai-lek Kauw-ong yang disebut Soan-hong-sin-ciang (Tangan Sakti Angin Badai)?” Kakek bongkok itu berseru kaget dan kembali tubuhnya bergerak, dan kini Nirahai merasa kagum karena kakek bongkok itu ternyata dapat bergerak amat lincahnya.

“Ha-ha-ha, Setan Bongkok. Apa kau kira kami selama sepuluh tahun ini tinggal diam saja? Ha-ha-ha!” Orang Mongol bertahi lalat di hidung menerjang lagi dengan pukulan sakti Thai-lek-kang sambil berjongkok, sedangkan adiknya tetap menyerang dengan ilmu silat yang aneh itu, yaitu sambil memutar-mutar tubuh amat cepatnya.

Sejenak kakek bongkok itu terdesak dan menghindar ke sana ke mari sambil mengomel, “Hemmm, Thai-lek Kauw-ong sudah lama mampus, kini ilmu-ilmunya yang jahat muncul lagi! Kim-siauw Locianpwe (Orang Sakti Suling Emas), maaf, terpaksa boanpwe (aku yang rendah) mengotorkan pusaka locianpwe!”

Dua orang Mongol itu sudah merasa girang karena serangan-serangan mereka yang benar-benar amat luar biasa dan dahsyat itu berhasil mendesak kakek bongkok. Mereka ingin membunuh penjaga kuburan ini agar mereka dapat menggeledah dan mencari pusaka-pusaka peninggalan keluarga Suling Emas di tempat itu. Dengan penuh kepercayaan akan kelihaian ilmu-ilmu mereka yang baru, yaitu ilmu pukulan Thai-lek-kang (Tenaga Sakti Halilintar) dan ilmu Silat Soan-hong-sin-ciang, mereka mendesak lebih keras lagi.

Kedua macam ilmu ini sebetulnya memang sudah lama lenyap dari dunia persilatan. Dahulu ilmu-ilmu ini dimiliki oleh Thai-lek Kauw-ong yang pernah bertanding melawan Suling Emas dan dikalahkan, dan semenjak Thai-lek Kauw-ong lenyap dari dunia persilatan, ilmu-ilmunya pun turut lenyap. Akan tetapi ternyata kini ilmu-ilmu yang lihai itu telah terjatuh ke tangan Sepasang Anjing Hitam gurun pasir Go-bi dan begitu melihat ilmu-ilmu ini terus mengenalnya membuktikan pengetahuan yang luas kakek bongkok yang lihai itu.

Kedua orang Mongol yang merasa girang karena yakin akan menang itu tiba-tiba mengeluarkan suara kaget disusul jerit melengking yang keluar dari mulut mereka ketika berkelebat sinar kuning menyilaukan mata. Tubuh mereka roboh terpelanting dan ternyata kedua orang Mongol itu telah tewas! Nirahai terbelalak memandang, penuh kagum. Tangan kiri kakek bongkok itu memegang sebatang suling emas, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kipas. Itulah sepasang senjata dari pendekar sakti Suling Emas seperti ia dengar dari dongeng-dongeng lama!

Kakek bongkok sejenak berdiri memandang dua sosok mayat bekas lawannya, lalu mencium kipas dan suling bergantian sambil berkata, “Kim-siauw Locianpwe, sampai sekarang pun senjata-senjata pusaka locianpwe masih terlalu ampuh bagi orang-orang jahat!”

Setelah berkata demikian kakek bongkok itu menggerakkan kedua tangan dan lenyaplah suling dan kipas itu di balik baju pelayannya. Kemudian ia mengempit mayat dua orang Mongol itu, membawanya ke dekat perahu mereka tadi. Tali tambang perahu ia gunakan untuk mengikat dua sosok mayat bersama perahunya erat-erat, kemudian sekali angkat dan melontarkan, perahu dengan dua sosok mayat itu terlempar jauh ke tengah sungai dan perlahan-lahan perahu itu terbawa arus sungai yang lamban. Kakek bongkok memandang sejenak, kemudian ia kembali ke depan pondok tempat pertempuran tadi, menggunakan sepatunya menggosok-gosok sampai bersih tetesan darah yang mengotori tempat itu.

Melihat kakek itu menggosok-gosok dan membersihkan tanah yang terkena darah dengan teliti dan hati-hati sekali, Nirahai memperhatikan dan menjenguk dari balik batu. Kakek itu berdiri membelakanginya, maka ia berani menjenguk ke luar. Ia tidak tahu betapa kakek bongkok itu sejak tadi sudah menduga akan kehadirannya dan betapa kakek itu kini sambil membelakanginya dan menghapus darah dengan sepatu, sebenarnya memperhatikan belakang penuh selidik.

Tiba-tiba tubuh kakek bongkok yang membelakanginya itu bergerak melayang ke belakang seperti seekor burung garuda menyambar kelinci, kakinya menendang dan kedua tangannya mencengkeram. Akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang mengintai itu seorang dara, ia berteriak kaget dan tubuhnya membalik cepat, membuat gerakan poksai (salto) beberapa kali dan meloncat turun ke atas tanah, memandang dengan mata terbelalak kepada Nirahai yang berdiri tenang sambil tersenyum. Mata kakek itu menjelajahi muka dan pakaian Nirahai, kemudian mengerling ke arah joli kosong yang indah akan tetapi tanpa pemanggul itu.

“Nona, mau apakah Nona datang ke tempat terlarang ini?” Kakek itu marah sekali melihat ada orang berani mendatangi tempat yang baginya suci itu, akan tetapi karena pelanggarnya seorang dara muda, ia menjadi tidak enak untuk bersikap kasar. Hanya pandang matanya yang bengis.

Nirahai tersenyum manis. “Orang tua, bukankah engkau penjaga kuburan keluarga pendekar besar Suling Emas? Aku datang untuk berziarah, untuk bersembahyang di depan kuburan para pendekar.”

“Hemmm, sudah bertahun-tahun tempat suci ini menjadi tempat terlarang, mana mungkin tempat suci ini dikotorkan sembarang orang yang hendak berziarah? Engkau ini gadis muda berani lancang mendatangi tempat terlarang di sini, siapakah engkau?”

Nirahai masih tersenyum, sikapnya sabar akan tetapi sebetulnya matanya ingin sekali dapat menembus baju kakek itu untuk melihat suling emas yang tadi ia lihat sekelebatan ketika kakek ini mempergunakannya untuk merobohkan dua orang Mongol. Suling itulah yang ingin ia dapatkan. Jauh-jauh ia datang dengan susah payah hanya untuk mendapatkan suling itu. Senjata pusaka dari pendekar sakti Suling Emas! Dengan pusaka itu, agaknya akan mudah baginya menundukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang masih belum mau tunduk, bahkan yang kini berpusat di barat, di Secuan, membantu Bu Sam Kwi!

“Kakek yang baik, aku adalah Puteri Nirahai.”
“Puteri? Puteri Mancu? Masih ada hubungan apa dengan mendiang Pangeran Dorgan?” Kakek ini bertanya, alisnya yang banyak putihnya itu berkerut, matanya memandang tajam.
“Mendiang Pangeran Dorgan adalah masih Kakekku, Paman Kakekku. Aku adalah puteri Kaisar yang sekarang.”

Makin tidak enak hati kakek itu dan terpaksa ia lalu membungkuk dengan sikap hormat. “Ah, kiranya Paduka ini puteri Kaisar Kang Hsi? Maaf, saya tidak dapat menyambut Paduka sepantasnya karena tempat ini adalah kuburan, tempat suci. Akan tetapi, sungguh saya merasa heran, mengapa Paduka hendak berziarah di tanah kuburan ini? Yang terkubur di sini adalah keluarga Kerajaan Khitan, keluarga pendekar sakti Suling Emas...”

“Engkau benar, orang tua. Ayahku, Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu, memang tidak mempunyai hubungan dengan tanah pekuburan ini. Akan tetapi ketahuilah, Ibuku adalah seorang puteri Khitan! Ibuku termasuk seorang di antara puteri-puteri Khitan yang dipersembahkan kepada Kaisar Mancu sehingga biar pun aku puteri Kaisar Mancu, namun aku pun mempunyai darah keturunan Khitan! Karena itu sudah sepatutnya kalau aku berziarah dan bersembahyang di depan kuburan suci ini, Kakek yang baik.”

Kakek bongkok itu mengerutkan alisnya makin dalam dan ia menggeleng-geleng kepala. “Kalau Paduka benar puteri Kaisar Mancu, mengapa Paduka datang sendiri tanpa pengiring? Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Paduka ini puteri Kaisar Mancu dan keturunan keluarga Kerajaan Khitan?”

Nirahai tersenyum. “Orang tua, andai kata engkau menjadi seorang keluarga raja, apakah engkau juga akan suka setiap keluar dari pintu dikawal banyak orang sehingga gerakanmu tidak bebas, selalu diawasi?”

Kakek bongkok itu memandang sejenak, tidak menjawab karena ia agaknya bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu.

“Orang-orang seperti kita yang sudah biasa bergerak bebas lepas seperti burung di udara dan seperti ikan di samudera, mana bisa merasa senang kalau selalu dikawal orang? Itulah sebabnya aku tidak pernah membawa pengawal biar pun aku puteri kaisar. Memang aku tidak bisa membuktikan bahwa aku puteri kaisar, akan tetapi orang tua yang baik, aku sungguh seorang yang berdarah Khitan, dan lebih dari pada itu, akulah yang mewarisi ilmu kepandaian pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang kuburannya berada di sini pula.”

Kakek itu mengerutkan keningnya dan memandang tajam. “Harap Paduka tidak main-main. Kalau yang datang ke sini adalah Sepasang Pedang Iblis, saya tentu tidak akan ragu-ragu menerima sepasang manusia sinting itu sebagai pewaris ilmu mendiang Mutiara Hitam. Sudahlah, Nona. Lebih baik lekas Nona panggil dua orang pemanggul joli Nona dan cepat pergi dari tempat ini. Tempat ini bukanlah tempat pesiar bagi seorang puteri seperti Nona. Kalau orang lain yang berani datang, tentu sudah saya bunuh.”

“Hemmm, seperti yang kau lakukan kepada Sepasang Anjing Hitam dari Go-bi, dua orang Mongol tadi?” Nirahai mengejek.

“Ahhh, Paduka melihatnya?”
“Tentu saja. Sudah kukatakan bahwa aku pun seorang tokoh kang-ouw, bukan seorang puteri lemah yang doyan pelesir dan pesiar. Aku mewarisi ilmu-ilmu Mutiara Hitam, dan kedatanganku ke sini untuk merundingkan sesuatu denganmu.”
“Bagaimana saya dapat yakin bahwa Paduka benar-benar pewaris ilmu mendiang pendekar wanita perkasa Mutiara Hitam yang mulia?” Kakek itu berkeras tidak mau percaya.

“Crekkk!” Tangan Nirahai bergerak cepat dan tahu-tahu ia telah menyambar sebatang payung berujung runcing yang tadi ia taruh di dalam joli, kakinya memasang kuda-kuda dan ia berkata sambil tersenyum.

“Bukalah matamu lebar-lebar, orang tua yang keras kepala! Kenalkah engkau dengan senjata ini?”
“Sebuah Tiat-mo-kiam...” kata kakek itu. “Bukan merupakan bukti...”

“Memang bukan, akan tetapi lihat gerakan pedang payung ini!” Nirahai menggerakkan tubuh dan payungnya, bersilat dengan gerakan lincah dan dari ujung payungnya keluar angin yang berbunyi bercuitan ketika menyambar ke depan, terus mengitari sebatang pohon yang sudah kehabisan daun karena dirontokkan hawa dingin dan tinggal cabang-cabang dan rantingnya saja. Sinar terang ujung payung yang menyambar-nyambar mengitari pohon tiga kali dan terdengar suara keras ketika cabang dan ranting pohon itu tumbang semua sehingga pohon itu kini kelihatan seperti raksasa dibuntungi tangannya.

“Pat-mo Kiam-hoat...!” Kembali kakek itu berkata.
“Dan engkau mengenal ini?” Nirahai melakukan gerakan dengan tangan kirinya. Lengan kirinya bergerak seperti menari, atau lebih tepat lengan yang kecil penuh berkulit halus itu melenggang-lenggok seperti ular, kemudian dengan telapak tangan terbuka tiba-tiba ia memukul atau mendorong arah pohon yang sudah buntung cabang-cabangnya itu.

“Kraaaaakkkkk... bruuuuukkk...!” Pohon itu tumbang terjebol dengan akar-akarnya!
“Sin-coa-kun...!” Si Kakek Bongkok memandang terbelalak.

Nirahai tertawa. “Kakek tua yang keras kepala, engkau tentu tidak akan merasa yakin benar kalau tidak mengujinya sendiri. Hayo, keluarkan suling emas dan kipas peninggalan pendekar sakti Suling Emas yang kau pergunakan untuk membunuh Sepasang Anjing Hitam tadi, dan hadapi payungku!”

Setelah berkata demikian, Nirahai sudah menerjang maju dengan payungnya yang berujung runcing. Ujung payung yang seruncing ujung pedang itu tahu-tahu sudah berubah menjadi sinar menyilaukan yang menusuk ke arah leher kakek bongkok.

“Hemmm...!” Kakek itu mengeluarkan suara, dan dengan mudahnya miringkan tubuh ke kiri mengelak.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba payung itu terbuka dan jari-jari payung yang terbuat dari pada baja itu menyerangnya didahului sambaran angin yang meniup ketika payung terbuka tiba-tiba. Inilah serangan yang hebat! Kakek itu biar pun sudah tua dan bongkok, ternyata masih mampu bergerak cepat dan ia sudah menggulingkan tubuh ke atas tanah sehingga terbebas dari sambaran jari-jari payung.

“Lihat senjata rahasia...!” Nirahai berseru, tangan kirinya bergerak.
“Wir-wir-wir... ciat-ciat-ciat...!”

Kakek itu terpaksa bergulingan ke kanan kiri untuk mengelak sambaran sinar hijau dari jarum-jarum yang menyambar susul-menyusul itu. Ketika melihat sinar hijau dan mencium bau harum, ia meloncat bangun sambil berseru.

“Siang-tok-ciam...!”

Nirahai tersenyum ketika melihat kakek itu sudah meloncat sambil mencabut sepasang senjata pusaka peninggalan Suling Emas itu, yaitu sebuah kipas dipegang di tangan kanan sedangkan sebatang suling emas dipegang di tangan kiri. Gadis ini sambil tersenyum memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, lututnya ditekuk sedikit, tubuhnya miring menghadapi kakek itu, mengerling ke kanan, mulut tersenyum, tangan kanannya yang memegang gagang payung bengkok itu menodongkan payung ke depan dada, sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka miring berada di depan muka, ibu jarinya hampir menyentuh hidung.

Dilihat begitu saja, kuda-kuda dara ini seperti orang yang sedang mengejek dan mempermainkan lawan, akan tetapi kakek bongkok itu mengenal kuda-kuda dari Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dan diam-diam ia mengkirik. Ilmu Pedang Delapan Iblis ini adalah ilmu pedang yang amat hebat dan ganas, dan dahulu menjadi ilmu dari seorang tokoh sakti wanita yang menggemparkan dunia persilatan yang hanya didengar oleh kakek bongkok itu dari dongeng, yaitu wanita sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi. Setan Cilik Beracun (Tok-siauw-kwi) ini bukan lain adalah ibu kandung Suling Emas (baca cerita Suling Emas) yang amat lihai ilmunya dan amat ganas sepak terjangnya.

Dan kini ternyata ilmu yang hebat ini telah terjatuh ke tangan gadis puteri Kaisar Mancu yang mengaku masih berdarah Khitan ini! Memang hatinya sudah mulai percaya, keraguannya menipis, apa lagi ketika ia tadi menyaksikan ilmu pukulan tangan kosong Sin-coa-kun-hoat (Ilmu Silat Ular Sakti) dan senjata rahasia Siang-tok-ciam (Jarum Beracun Wangi). Betapa pun juga, kalau belum mengujinya, kakek ini masih belum yakin.

“Marilah, Kakek yang keras kepala! Engkau hendak menguji apakah benar-benar ilmu yang kau lihat tadi berisi, dan aku pun ingin melihat apakah sepasang senjata yang kau keluarkan itu benar-benar asli!” Setelah berkata demikian, Nirahai sudah menerjang maju dengan payungnya. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat sekali.

“Wuuuttttt, singgggg...!” Pedang yang berbentuk payung itu menusuk.
“Cringgggg...!” Suling di tangan kiri kakek itu menangkis ujung pedang payung dan tampak bunga api berpijar.

Keduanya tergetar ke belakang. Nirahai memeriksa ujung payungnya dan terkejut melihat ujung payung yang terbuat dari baja pilihan itu agak lecet! Diam-diam ia memuji suling emas itu yang ternyata benar-benar sebuah senjata pusaka yang amat ampuh, sesuai dengan nama pemiliknya dahulu, yaitu Pendekar Suling Emas.

Sudah menjadi watak kebanyakan ahli silat kalau bertemu lawan tangguh timbul kegembiraannya. Demikian pula dengan Nirahai. Sudah lama dia tidak bertemu lawan yang tangguh dan kini bertemu kakek penjaga kuburan keluarga Suling Emas yang lihai, ia menjadi gembira, dan cepat ia melanjutkan serangannya dengan tusukan bertubi-tubi, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.

Kakek bongkok ini dahulunya adalah bekas kacung dari keluarga putera Suling Emas yang bernama Kam Liong, kakak tiri Mutiara Hitam. Kam Liong inilah yang mewarisi senjata kipas dan suling ayahnya. Kacung keluarga Kam Liong ini mengabdi sampai tua dan setelah kuburan keluarga Suling Emas tidak dijaga lagi oleh pengawal-pengawal Kerajaan Khitan yang sudah runtuh, dia lalu turun gunung di mana ia bertapa melewatkan hari tuanya, dan menjaga tanah kuburan itu dengan penuh kesetiaan. 

Nama bekas kacungnya yang kini menjadi kakek bongkok itu adalah Gu Toan. Dia seorang buta huruf akan tetapi berkat kesetiaannya mengabdi keluarga Suling Emas, keluarga itu menyayanginya dan melatihnya dengan ilmu-ilmu silat keluarga pendekar besar itu. Gu Toan amat rajin dan tekun. Sungguh pun ia buta huruf dan terhitung golongan orang yang kurang cerdas otaknya, namun ketekunannya membuat ia dapat menguasai semua ilmu silat keluarga itu. Akan tetapi tentu saja latihannya tidak sempurna benar.

Betapa pun juga, kalau menghadapi lawan dari luar, kakek ini sukar dicari tandingnya. Kini bertemu dengan Nirahai yang mewarisi ilmu keluarga Suling Emas dan telah melatihnya dengan sempurna, tentu saja kakek itu terdesak hebat. Ia mengenal Pat-mo Kiam-hoat yang dimainkan dengan pedang payung, mengenal pula pukulan Sin-coa-kun yang dilakukan sebagai selingan alam penyerangan Nirahai, akan tetapi karena dia tidak pernah melatih ilmu-ilmu itu secara mendalam, menghadapi terjangan Nirahai itu ia menjadi repot sekali.

“Nona, hentikanlah...!” Tiba-tiba kakek itu mencelat ke belakang dan memandang kagum. “Paduka benar-benar puteri Kaisar yang amat lihai, dan saya mengakui bahwa Paduka telah mewarisi ilmu dari Keluarga Suling Emas. Paduka berhak untuk berziarah dan bersembahyang di kuburan ini. Silakan!”

Nirahai memanggul senjatanya yang kini hanyalah sebuah payung biasa, sama sekali tidak tampak seperti sebuah senjata yang ampuh. Dia memandang kakek bongkok itu. Mulutnya yang selalu tersenyum itu kini kelihatan ditarik keras sehingga wajahnya yang manis nampak sungguh-sungguh.

“Sebetulnya, siapakah engkau ini, Kakek yang lihai?”
“Nama saya Gu Toan dan dahulu saya adalah kacung dari putera Suling Emas. Hanya itu yang dapat saya ceritakan. Silakan kalau hendak bersembahyang, Nona.”

“Begini, Kakek Gu. Selain hendak berziarah dan memberi hormat kepada kuburan keluarga besar ini, aku pun hendak mengajukan sebuah permintaan kepadamu.”

Kakek itu masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan tubuh membungkuk, kedua tangan tergantung di kanan kiri pinggang setelah menyimpan kembali sepasang senjatanya. Kini ia mengangkat muka memandang wajah cantik itu penuh selidik dan bertanya.

“Permintaan apakah itu, Nona? Apakah yang dapat saya lakukan untuk Paduka?”
“Engkau tentu telah tahu bahwa Kerajaan Mancu berhasil menguasai semua daratan di selatan. Akan tetapi, masih ada daerah di barat yang belum mau tunduk, yaitu daerah Se-cuan yang dikuasai oleh Bu Sam Kwi. Kedudukan musuh ini amat kuat dan hal ini terutama sekali ditimbulkan oleh bantuan orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Kami mengalami kemacetan dan kesulitan untuk menaklukkan daerah itu, yang merupakan daerah terakhir. Kalau Se-cuan sudah takluk, berarti seluruh daratan Tiongkok berada di kekuasaan Kerajaan Ceng kita...”

“Bukan kerajaan kita, Nona. Ingat, saya adalah seorang bangsa Han...”
Nirahai mengerutkan keningnya. “Hemmm..., apakah engkau anti Mancu dan memihak kepada Bu Sam Kwi?”

Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepala. “Saya tidak mengenal Bu Sam Kwi, dan saya tidak peduli akan urusan negara, saya hanya bertugas menjaga kuburan suci ini. Dahulu, mendiang pendekar sakti Suling Emas menghilangan semua bentuk permusuhan antar suku bangsa, bahkan Kerajaan Khitan berdarah Han pula. Akan tetapi sekarang... ah, saya tidak tahu tentang urusan kerajaan. Teruskan, apakah yang Paduka kehendaki?”

“Kami ingin menaklukkan Se-cuan tanpa menimbulkan banyak korban di pihak orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Kaisar kami membutuhkan tenaga orang-orang pandai itu, maka kami ingin menaklukkan mereka tanpa membunuh, bahkan kalau bisa hendak menarik mereka untuk bekerja sama demi negara dan bangsa seluruhnya. Karena itu, kedatanganku ke sini untuk minta pinjam senjata pusaka dari mendiang Suling Emas. Dengan suling sakti milik Suling Emas, kiranya aku akan dapat mempengaruhi para orang gagah itu untuk menakluk dengan damai. Berikanlah suling emas itu padaku, Kakek Gu, untuk kupinjam beberapa lamanya. Kalau sudah selesai tugasku dengan hasil baik, aku bersumpah untuk mengembalikannya kepadamu.”

“Tidak mungkin!” Kakek itu berseru. “Pusaka-pusaka itu adalah benda keramat, yang tidak boleh dibawa pergi oleh siapa pun juga dari sini. Nona sudah menyaksikan sendiri, terpaksa saya membunuh Sepasang Anjing Hitam tadi yang hendak merampas pusaka. Dan entah sudah berapa banyak orang-orang yang tewas di tangan saya karena menghendaki pusaka-pusaka itu. Harap Nona membuang jauh keinginan itu dan meninggalkan tempat ini dengan selamat.”

“Kakek yang keras kepala! Apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan? Engkau tahu sendiri betapa lihainya Pat-mo Kiam-hoat-ku yang tidak akan dapat kau lawan!” Nirahai sudah menggerakkan payungnya.

“Srettt!” Payung yang tadi dipanggulnya itu kini telah menodong dari depan dadanya ke arah kakek itu.

“Wuuuttttt... singgggg!” Kipas dan suling emas sudah tercabut keluar oleh kakek itu sambil berkata, “Nona, memang Pat-mo Kiam-hoat amat hebat. Di dunia ini terdapat dua ilmu mukjizat yang dimiliki mendiang pendekar sakti Suling Emas, yaitu Lo-hai San-hoat (Ilmu Silat Kipas Pengacau Lautan) dan Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa). Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dulu diciptakan untuk mengatasi Pat-sian Kiam-hoat, akan tetapi betapa pun juga, ilmu yang bersih tak mungkin dapat dikalahkan ilmu yang sesat. Dewa yang suci takkan dapat dikalahkan Iblis yang jahat. Saya tidak akan dapat menyerahkan suling ini selama nyawaku masih berada di tubuh ini.”

“Bagus! Engkau memang keras kepala!” Nirahai berseru marah dan payungnya sudah menerjang hebat.

Akan tetapi kini kakek itu mainkan Pat-sian Kiam-hoat dengan suling emasnya, dan kipasnya mainkan ilmu Silat Lo-hai San-hoat yang dahsyat. Angin keras bertiup dari kebutan kipas, menyambar-nyambar muka Nirahai dan setiap kali gadis ini terpaksa miringkan muka atau mengelak oleh sambaran kipas, sinar kuning emas dari suling sudah meluncur, mengarah bagian tubuh berbahaya, disusul dengan totokan-totokan gagang kipas.

“Aiiih...!” Nirahai menggunakan ginkang-nya, tubuhnya melesat ke atas dalam usahanya untuk menghindarkan diri.

Keringat dingin keluar dari jidatnya, dan gadis ini harus mengakui bahwa kakek bongkok itu benar-benar lihai sekali. Ia bersilat dengan hati-hati, menggunakan payungnya sebagai senjata pedang yang menyerang, juga sebagai senjata perisai yang melindungi tubuh. Pertandingan berlangsung seru sekali. Kakek itu menang pengalaman dan juga menang ilmu silat, akan tetapi kalah lincah dan kalah dalam hal perkembangan, taktik dan kecerdikan.

Pertandingan berlangsung seratus jurus lebih dan diam-diam Nirahai harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat memang kalah hebat oleh Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat. Kalau saja kakek itu menguasai ilmunya dengan sempurna, kiranya tadi-tadi ia sudah dirobohkan lawan.

“Ser-ser-serrr...!” Nirahai tiba-tiba menyambit dengan jarum-jarumnya.

Karena jarak di antara mereka dekat, kakek itu terkejut, memutar kipas dan mengebut jarum-jarum runtuh ke tanah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Nirahai untuk mengirim tusukan kilat dengan ujung payungnya. Kipas itu terbuka, menangkis dan tiba-tiba tertutup, kedua gagang kipas menjepit ujung pedang. Nirahai kaget sekali karena tiba-tiba payungnya tak dapat digerakkan dan tampak sinar kuning emas berkelebat depan matanya. Tahulah puteri ini bahwa nyawanya terancam suling yang ampuh itu.

“Plak-plak...!” Tubuh Nirahai dan tubuh kakek bongkok itu terlempar ke belakang oleh dorongan telapak tangan yang memiliki tenaga hebat tak tertahankan.

Mereka cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang membuat mereka terhuyung dan memandang ke depan. Nirahai terbelalak heran melihat bahwa di situ telah berdiri seorang nenek yang masih memiliki wajah cantik sekali, pakaiannya pun indah dan bersih berdiri dengan sikap agung melebihi keagungan permaisuri kaisar sendiri.

“Ya Tuhan... be... benarkah Paduka ini...?” Kakek bongkok bergoyang-goyang tubuhnya, matanya terbelalak, wajahnya pucat seolah-olah ia melihat setan di tengah hari.

“Gu Toan, apakah matamu telah menjadi lamur karena usia tua dan tidak mengenal aku?” Wanita itu berkata, suaranya dingin melebihi salju.

“Benarkah... benarkah Paduka ini... Maya-siocia (Nona Maya)...?”

Nenek itu tersenyum, bukan dengan mulutnya melainkan dengan matanya. Mata yang amat indah dan sama sekali tidak membayangkan usia tua. “Gu Toan, biar sudah menjadi kakek tua, engkau masih bodoh. Masa aku yang sudah jadi nenek-nenek kau sebut siocia? Sungguh pun aku selamanya tidak pernah menikah dan masih seorang Nona, akan tetapi Nona tua...” Ucapan terakhir ini terdengar bernada duka sehingga Nirahai menjadi heran.

“Ahhh... ampunkan hamba...” Kakek itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu. “Hamba kira... hamba dengar bahwa Paduka...” Ia tidak berani melanjutkan.

“Kau kira aku sudah mati?” Nenek itu melanjutkan dan melihat kakek bongkok yang berlutut itu mengangguk, ia menghela napas panjang. “Memang sudah mati..., apakah bedanya dengan mati kalau batin ini sudah kosong dan semangat ini sudah padam? Hanya tubuh yang tak tahu diri ini yang masih belum juga mau mati...”

Ucapan ini terdengar perlahan kemudian tiba-tiba ia sadar dan melanjutkan dengan suara halus namun amat dingin dan penuh wibawa, “Eh, Gu Toan, aku melihat engkau sampai menggunakan sepasang pusaka keramat dan mainkan ilmu simpanan melawan gadis ini. Siapakah dia?” Ia bertanya kepada Gu Toan akan tetapi menoleh kepada Nirahai dan sejenak ia terpesona melihat wajah Nirahai, karena ia seakan-akan melihat bayangannya sendiri dalam air yang jernih.

“Kau... kau seorang gadis Khitan...?”

Nirahai yang sejak tadi masih memandang dengan hati tegang dan heran menggangguk tanpa mengalihkan pandang matanya. Ia dapat mengenal orang sakti, yang sekali bergerak dapat membuat dia dan kakek bongkok terpental ke belakang. “Saya seorang dara Mancu yang berdarah Khitan pula.”

“Dia adalah puteri Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Mancu,” Kakek bongkok itu menerangkan, “akan tetapi berdarah Khitan dan telah mewarisi Pat-mo Kiam-hoat, Sin-coa-kun-hoat dan Siang-tok-ciam. Datang ke sini untuk meminjam suling emas guna menaklukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang membantu Bu Sam Kwi yang belum mau takluk kepada Kerajaan Ceng. Terpaksa hamba menolak dan kami bertempur...”

Nenek itu masih memandang Nirahai penuh selidik. Mendadak tangan kanannya bergerak ke depan. Nirahai tidak tahu bagaimana caranya, akan tetapi ia terkejut sekali karena tahu-tahu tangan itu telah meraih ke arah payung yang dipegangnya. Tentu saja ia cepat menggerakkan payungnya untuk mengelak, akan tetapi payungnya itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya, seolah-olah payungnya berubah menjadi seekor burung yang amat kuat dan yang terbang melepaskan diri dari tangannya. Saat ia memandang, ternyata nenek itu telah memegang payungnya dan memeriksanya, membuka menutup dan mencobanya dengan beberapa gerakan menusuk. Nenek itu mengangguk-angguk dan berkata.

“Lumayan juga senjata ini. Sudah memiliki senjata seperti ini, sudah memiliki ilmu-ilmu ampuh peninggalan Keluarga Suling Emas, mengapa masih ingin meminjam suling emas?” Pertanyaan ini bagaikan ujung pedang ditodongkan di depan dada Nirahai yang masih belum kehilangan kaget dan herannya menyaksikan betapa dengan mudahnya nenek itu merampas senjatanya!

Karena maklum bahwa nenek ini amat sakti, dan tahu pula bahwa kalau ia salah jawab dan nenek itu menghendaki, sekali pukul saja ia akan tewas dan ia tidak akan dapat melindungi dirinya dari tangan nenek yang luar biasa ini. Maka Nirahai yang cerdik dan juga yang merasa amat kagum segera menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu, seperti kakek bongkok, dan berkata.

“Mohon maaf sebanyaknya kepada locianpwe kalau teecu bersalah dalam hal ini. Sesungguhnya teecu secara terpaksa sekali mohon pinjam suling emas itu, karena tugas teecu sebagai pimpinan pasukan pengawal yang bertugas menandingi tokoh-tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah Kerajaan Ceng dan membantu pemberontak Bu Sam Kwi. Kerajaan Ceng menghendaki agar orang-orang gagah itu ditaklukkan dengan jalan damai, karena untuk membangun negara yang banyak menderita karena perang, pemerintah membutuhkan bantuan orang-orang gagah itu...”

“Maka sedapat mungkin, penaklukan Se-cuan akan dilakukan tanpa menimbulkan banyak korban di antara orang-orang gagah yang membelanya. Untuk keperluan itulah maka teecu terpaksa mohon pinjam suling keramat, karena senjata pusaka itu amat besar pengaruhnya terhadap para tokoh kang-ouw yang tentu akan menjunjungi tinggi senjata peninggalan Pendekar Suling Emas dan akan suka berdamai dan menakluk. Bukan sekali-kali teecu hendak memusuhi Kakek Gu, akan tetapi karena dia kukuh tidak mau memberikan, dan teecu terpaksa didorong tugas, maka terjadilah bentrokan tadi... baiknya locianpwe melerai, karena kalau tidak tentu teecu sudah menjadi korban kekerasan Kakek itu.”

“Hemmm... hemmm...” beberapa kali nenek itu menggumam dan memandang lebih teliti, kini matanya yang indah menyinarkan rasa kagum dan suka, akan tetapi mulutnya yang dulu di waktu mudanya tentu menggairahkan itu masih saja membayangkan sifat dingin mengejek dan memandang rendah dunia ini.

“Engkau masih muda sekali, cantik jelita dan jelas membayangkan darah Khitan di tubuhmu yang ramping padat. Ilmu kepandaianmu sudah lumayan dan kiranya di dunia ramai agak sukar mencari tandingan. Senjatamu pun baik, tanda bahwa engkau dapat menyelami kitab-kitab peninggalan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam dengan sempurna. Bicaramu lancar dan dapat melihat gelagat, tanda bahwa engkau pun memiliki kecerdikan yang mengagumkan. Eh, Puteri yang manis, siapakah namamu?”

Hati Nirahai girang sekali mendengar suara nenek itu dan besar kemungkinan ia akan berhasil meminjam suling emas. “Nama teecu Nirahai, locianpwe.”

“Engkau puteri Kaisar Mancu yang sekarang?” Ia berhenti sebentar lalu menyambung, “Pangeran Dorgan itu apamukah?”

“Benar, locianpwe, teecu puteri Kaisar yang terlahir dari selir. Ibuku adalah Puteri Khitan, masih gadis telah menjadi selir Pangeran yang sekarang menjadi kaisar. Mendiang Pangeran Dorgan adalah Paman Kakekku. Karena itu, biar pun sudah amat jauh, darah Ibuku sedikitnya masih ada keturunan dari Kerajaan Khitan, dan pendekar sakti Mutiara Hitam masih Nenek Buyutku...”

“Hemmm, semua manusia di dunia ini kalau ditelusur, tentu masih ada hubungan keluarga. Tahukah engkau bahwa Mutiara Hitam itu adalah Bibiku sendiri, Bibi Luar? Saudara kembarnya yang menjadi Kaisar Khitan adalah Paman Luarku...”

“Ohhh... harap maafkan, locianpwe, karena teecu tidak tahu maka bersikap kurang hormat.”

“Sudahlah, tak perlu banyak peradatan, kita tidak dapat membanggakan keturunan Khitan yang sudah ambruk! Engkau masih lebih beruntung karena keturunan Kaisar Mancu yang kini berkembang dan mulai jaya. Sekarang ceritakan keadaan kerajaan dan gerakannya ke selatan. Aku sudah mendengar hal itu dan karena tertarik melihat kejayaan Mancu, aku sampai keluar dari tempat pertapanku. Kebetulan bertemu dengan engkau seorang puteri Kaisar sendiri yang memimpin pasukan pengawal. Nah, ceritakan!”

Nirahai girang bukan main. Dengan gaya bicaranya yang lancar ia lalu menceritakan keadaan pemerintah Mancu yang dapat menaklukkan daerah selatan dengan mudah, akan tetapi kini menghadapi kesulitan karena Se-cuan yang dipimpin Bu Sam Kwi masih belum dapat ditaklukkan.

“Akan tetapi teecu percaya,” Nirahai menutup penuturannya, “kalau teecu di-perbolehkan meminjam suling emas, teecu akan dapat mempengaruhi para tokoh kang-ouw yang membela Bu Sam Kwi. Teecu kira, partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai, Kun-lun-pai dan yang lain-lain, yang sekarang belum mau membantu Ceng, tentu akan tunduk kalau melihat bahwa teecu mendapat kehormatan memiliki suling keramat peninggalan Suling Emas yang mereka junjung tinggi.”

Nenek itu mengangguk-angguk, dan tiba-tiba ia bertanya kepada kakek bongkok, “Eh, Gu Toan, kau lihat baik-baik bocah ini dan katakan, wajah dan bentuk tubuhnya seperti siapakah enam puluhan tahun yang lalu?”

Kakek itu memandang Nirahai dan berkata, “Tadi pun ketika pertama kali dia muncul, hamba sudah kaget dan teringat betapa serupa puteri ini dengan Paduka dahulu. Seperti buah pinang dibelah dua!”

Nenek itu menghela napas. “Benar, akan tetapi betapa buruk nasibku. Ahhh, kuharap saja engkau yang memiliki wajah dan bentuk tubuh seperti aku, tidak akan mengalami nasib seburuk nasibku, Puteri Nirahai!” Ketika Nirahai memandang, nenek itu sejenak kehilangan sifat dingin yang membayang di wajahnya, terganti sinar kedukaan yang mendalam. Memang nenek itu sedang mengenangkan semua pengalamannya puluhan tahun yang lalu, di waktu ia masih muda, semuda Nirahai.....

“Gu Toan, gadis ini benar. Kau boleh meminjamkan suling itu untuk selama tiga tahun. Akulah yang kelak bertanggung jawab kalau dia tidak mengembalikannya dalam waktu tiga tahun!”

“Kalau Paduka yang memerintah, hamba tidak akan membantah,” jawab Kakek itu, yang mengeluarkan suling emas dan menyerahkannya kepada Nirahai.

Puteri ini girang sekali, menerima suling kemudian berlutut di depan nenek itu. “Teecu haturkan terima kasih, locianpwe. Dan teecu bersumpah untuk mengembalikan pusaka ini selambat-lambatnya tiga tahun. Kakek Gu, terima kasih dan maafkan kekasaranku tadi.”

Kakek itu hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab.

“Teecu mohon diri, hendak kembali ke selatan,” Nirahai berkata.

“Nanti dulu, Nirahai, aku masih sangsi apakah suling itu akan membawa hasil. Orang-orang kang-ouw mempunyai watak yang aneh. Sekali mereka itu mengambil keputusan untuk berjuang, mereka melupakan apa saja dan kiranya belum tentu mereka mau memandang suling itu untuk menghentikan perjuangan mereka. Sebaiknya kalau di samping mencari jalan damai, engkau pun dapat menundukkan mereka dengan kepandaian. Apakah engkau akan mampu menggunakan suling itu untuk menundukkan mereka dengan ilmu silatmu? Dapatkah engkau mainkan suling itu?”

Wajah Nirahai menjadi merah. “Teecu seorang bodoh, dan jika teecu mainkan suling pusaka ini dengan Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat, kiranya tidak lebih hebat dari pada kalau teecu menggunakan pedang payung.”

“Hemmm tidak baik kalau begitu. Eh, Nirahai, bagaimana kalau engkau menjadi muridku?”

Tawaran ini tentu saja diterima dengan hati girang luar biasa oleh Nirahai. “Teecu akan merasa bahagia sekali dapat menerima petunjuk locianpwe.”

“Bagus! Engkau kuambil murid, Nirahai. Dan tempat di sini cukup baik bagiku untuk menggemblengmu beberapa lama agar engkau dapat menggunakan suling itu tidak saja untuk mempengaruhi mereka, akan tetapi kalau perlu untuk mengalahkan dan menaklukkan mereka.”

Kening Nirahai berkerut. “Teecu akan suka sekali tinggal di sini mempelajari ilmu dari locianpwe, berapa lama pun. Akan tetapi, pada waktu ini teecu mempunyai tugas. Sebagai puteri Kaisar, bagaimana teecu dapat lari dari tugas? Selama pemerintah masih membutuhkan tenaga teecu, tak mungkin teecu meninggalkan kerajaan untuk waktu lama. Kalau locianpwe sudi, bagaimana kalau locianpwe saja yang ikut bersama teecu ke kota raja dan mengajar teecu di sana? Teecu percaya bahwa Ayahanda Kaisar akan menerima locianpwe dengan segala kehormatan dan rasa bangga di hati.”

Nenek itu mengangguk-angguk dan mempertimbangkan kata-kata muridnya. “Dahulu Pangeran Dorgan pernah bertemu denganku. Ayahmu tentu hanya mendengar saja namaku, akan tetapi belum pernah bertemu denganku. Baiklah, aku pun ingin sekali menyaksikan dari dekat kemajuan usaha bangsa Mancu yang mengagumkan itu, yang tak pernah dicapai oleh bangsa Khitan. Mari kita berangkat, muridku.”

Nirahai girang sekali. “Harap Subo sudi menunggang joli, biar teecu yang mengiringkan.”
Nirahai bertepuk tangan tiga kali dan muncullah dua orang pemikul joli berlarian ke tempat itu.

Tanpa sungkan-sungkan lagi nenek itu yang dahulu terkenal sebagai Puteri Maya itu masuk ke dalam joli yang segera digotong oleh dua pemikulnya atas perintah Nirahai. Dua orang itu merasa heran bukan main mengapa nenek itu amat ringan, seolah-olah joli itu kosong saja! Nirahai lalu menjura kepada kakek bongkok sebagai penghormatan perpisahan, kemudian mengikuti joli yang diduduki gurunya dengan hati girang bukan main. Suling emas ia selipkan di pinggang, di sebelah dalam bajunya. Sungguh ia amat beruntung, pikirnya. Tidak saja dapat meminjam suling emas itu, bahkan ia telah bertemu dengan seorang nenek sakti luar biasa yang menjadi gurunya!

Setelah melalui perbatasan utara dan bertemu dengan dusun, Nirahai membeli seekor kuda. Kini ia mengikuti joli gurunya yang telah diganti orang lain pemikulnya, yaitu diambil dari dua orang penjaga perbatasan yang kuat.

Gurunya itu amat pendiam, kalau sudah duduk di dalam joli bersila seperti arca, tidak pernah bicara, tidak pernah menjenguk keluar sehingga diam-diam Nirahai merasa kasihan. Untuk menyenangkan hati gurunya, sepanjang jalan Nirahai berusaha untuk menghidangkan masakan-masakan lezat dan menyediakan segala kebutuhan nenek itu. Akan tetapi nenek itu menerima itu dengan sikap dingin.

Pada suatu pagi mereka tiba di luar kota raja. Tembok kota raja sudah tampak dari tempat yang agak tinggi sebelah utara itu dan hati menjadi girang sekali. Sudah beberapa lamanya ia meninggalkan kota raja, akan tetapi perjalanannya yang memakan waktu lama dan amat jauh itu ternyata tidak sia-sia belaka, bahkan hasilnya boleh dibilang melampaui semua harapannya.

Ketika kudanya berjalan perlahan mengiringkan joli yang dipikul oleh dua orang pemikulnya yang semenjak meninggalkan kuburan keluarga Suling Emas telah berganti sampai sepuluh kali itu, tiba-tiba ia melihat seorang wanita muda berjalan tergesa-gesa dari depan, agaknya baru saja wanita itu meninggalkan gerbang pintu kota raja sebelah utara.

Gadis itu amat cantik, terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan tajam sinarnya, juga wajah yang lonjong dengan dagu meruncing ini menarik sekali perhatian Nirahai. Sepintas lalu saja ia tahu bahwa gadis itu tentulah mempunyai darah Mancu dan betapa besar persamaan gadis cantik itu dengan dia sendiri. Mungkin dia lebih jangkung sedikit, akan tetapi perawakan gadis itu pun ramping, dan wajahnya yang manis itu hampir sama dengan wajahnya sendiri.

Gadis itu pun berdiri sambil memandangnya dengan sinar mata tajam menyelidik. Agaknya gadis itu heran melihat dia memanggul sebuah payung, bahkan ketika rombongannya yang terdiri dari dua orang pemikul joli dan kuda yang ditungganginya lewat, gadis itu menghentikan langkah kakinya dan berdiri di pinggir jalan memandang bengong.

Nirahai tidak mempedulikannya lagi saking girang hatinya sudah hampir tiba di kota raja. Akan tetapi mendadak ia mendengar bentakan nyaring, “Heiii, berhenti dulu...!”

Nirahai menahan kudanya dan menoleh. Kiranya gadis manis tadi kini datang berlari-lari dan meloncat ke depan kudanya, seolah-olah hendak menghadangnya. Nirahai tersenyum, kagum setelah kini dekat melihat betapa gadis ini benar-benar cantik jelita, dengan kulit muka yang halus dan berwarna putih kemerahan, sepasang mata yang begitu indah seperti bintang pagi.

“Eh, ada keperluan apakah engkau menghentikan aku?” Nirahai tidak menjadi marah. Biar pun dia seorang puteri kaisar, namun sama sekali Nirahai tidak gila hormat. Apa lagi ia maklum bahwa gadis ini tentu belum mengenalnya, maka sikapnya yang kasar itu pun boleh dimaafkan. Sifat ini mungkin terpengaruh oleh kebiasaannya merantau di dunia kang-ouw sehingga sifatnya terlepas dan ia tidak begitu mementingkan kedudukan dan kehormatan sebagai seorang puteri bangsawan tinggi.
Gadis itu bukan lain adalah Lulu! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lulu meninggalkan lembah Sungai Huang-ho di mana selama setahun ia melatih diri dengan ilmu silatnya, di bawah petunjuk Lauw-pangcu dan terutama sekali Sin Lian yang telah menjadi kakak angkatnya.

Dia pergi menuju ke kota raja dan karena ia maklum bahwa keadaannya di kota raja berbahaya, biar pun di situ ia menyamar sebagai pria, dan ketika ia tidak berhasil mendapatkan jejak kakaknya, ia lalu keluar dari kota raja melalui pintu gerbang utara. Dia baru saja datang dari selatan dan tidak pernah mendengar tentang Han Han, maka sebaiknya kini melanjutkan usahanya mencari jejak Han Han ke hutan. Akan tetapi baru saja keluar dari pintu gerbang, ia bertemu dengan Nirahai yang menunggang kuda. 

Melihat Puteri Mancu yang cantik jelita dan gagah perkasa ini, Lulu tertarik sekali maka ia memandang penuh perhatian. Akan tetapi ketika ia melihat payung yang dipegang Nirahai, ia teringat akan cerita para tokoh Hoa-san-pai di Pek-eng-piauwkiok tentang seorang Puteri Mancu amat lihai bernama Puteri Nirahai yang bersenjata payung, teringat akan cerita tentang Teng Lok tokoh Hoa-san-pai yang dalam penyelidikannya bertemu dengan puteri Kaisar Mancu bersenjata payung yang telah membuntungi lengan orang she Teng itu. Puteri Mancu bernama Nirahai yang telah mengadu domba tokoh Hoa-san-pai dengan tokoh Siauw-lim-pai sehingga akibatnya, Han Han yang difitnah dan menjadi korban, dimusuhi kedua pihak.

“Apakah namamu Nirahai?”

Nirahai membelalakkan matanya dan hampir saja ia tertawa bergelak. Pertanyaan itu begitu tiba-tiba, begitu sederhana dan diajukan tanpa dibuat-buat. Pertanyaan dengan sikap paling kurang ajar yang pernah ia alami selama hidupnya! Ia tidak marah, bahkan tersenyum memandang gadis yang bermata lebar itu. Ia mengangguk, ingin mendengar suara gadis itu lebih banyak. Suara gadis itu merdu dan nyaring, dan setiap gerakannya membayangkan kejujuran dan kepolosan yang mengharukan.

“Jadi engkaukah yang bernama Nirahai puteri kaisar, gadis yang mengadu domba tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai? Tentu engkau pula yang telah membunuh dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, bukan?”

Kalau ia menghadapi pertanyaan seperti itu dari seorang tokoh kang-ouw, tentu Nirahai akan menjadi terkejut dan berhati-hati. Akan tetapi menerima pertanyaan begitu langsung dari mulut yang manis dan mata yang lebar itu, sukar bagi Nirahai untuk membohong lagi.

“Bagaimanna engkau bisa tahu?”
“Hemmm, payungmu itu adalah senjatamu yang ampuh, bukan? Kau jahat sekali... jahat sekali dan aku harus membunuhmu!”

Kembali hati Nirahai merasa geli sekali. Ucapan seperti itu agaknya hanya patut diucapkan oleh seorang tokoh besar, seperti gurunya. Enak saja gadis ini mengatakan hendak membunuhnya.

“Eh, sabar dulu. Engkau siapakah?”
“Aku Lulu. Perbuatanmu yang curang itu telah membuat Kakakku Han Han banyak menderita. Engkau cantik sekali, sayang... akan tetapi aku harus membunuhmu karena engkau jahat!”

“Nirahai, siapakah bocah ini?” Nenek itu telah berdiri di luar joli, padahal kedua pemikul joli masih menggotongnya dan kini kedua orang itu terkejut dan berdiri seperti patung. Mereka tidak merasa joli menjadi ringan, tidak melihat nenek itu turun, akan tetapi mengapa tahu-tahu telah berada di luar joli? Seorang di antara mereka menyingkap tirai joli dan memang benar, joli itu kosong. Terpaksa mereka menurunkan joli dan keduanya berjongkok di dekat joli.

Lulu menengok, memandang nenek itu dan ia terkejut. Cepat ia membalikkan tubuh pula memandang Nirahai yang kini telah meloncat turun dari kuda. “Ah, aku pernah bertemu denganmu...! Engkau ini penghuni Pulau Es... ya benar...!” Lulu menudingkan telunjuknya ke arah Nirahai.

“Apa?! Pulau Es...? Kau gila agaknya...!” Nirahai menjawab.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara angin dan Lulu berteriak kaget karena pundaknya sudah dicengkeram oleh nenek itu yang membalikkan tubuh Lulu menghadapinya sambil membentak.

“Apa maksudmu? Penghuni Pulau Es? Hayo katakan apa yang kau maksudkan!”
“Lepaskan tanganmu! Jangan kau cengkeram pundakku! Nenek jahat engkau...!” Lulu berteriak meronta-ronta, akan tetapi percuma saja, jari tangan nenek itu seolah-olah telah melekat di pundaknya!

“Lepaskan...! Kalau tidak...”
“Hem, bocah liar. Kalau tidak engkau mau apa?” Nenek itu berkata.
“Kupukul mampus kau!”

Diam-diam nenek itu kagum sekali melihat keberanian Lulu, maka ia menjawab, “Mau pukul? Boleh, pukullah!”

Karena Lulu dapat menduga bahwa nenek ini tentulah kaki tangan Puteri Nirahai dan jahat, terpaksa harus ia lenyapkan dulu sebelum ia menghadapi Nirahai yang ia tahu amat lihai. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya, memukul secara bertubi ke arah perut dan dada nenek itu. Ia menggunakan jurus pukulan ilmu silatnya yang sudah ia latih dan sempurnakan di lembah Huang-ho, dan mengerahkan sinkang-nya yang ia dapat ketika berlatih di Pulau Es.

“Desss! Desssss!”

Lulu menjerit kesakitan karena kedua tangannya yang memukul itu seperti memukul air, akan tetapi akibatnya kedua tangan itu terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dengan seribu batang jarum! Nenek itu pun kaget dan melepaskan pundak Lulu, matanya terbelalak memandang Lulu dan mulutnya berkata dengan suara menggetar.

“Itulah Hong-in-bun-hoat...! Dari mana engkau mempelajarinya? Dan sinkang-mu itu... apakah Swat-im Sin-ciang?”

Lulu masih meringis kesakitan, akan tetapi ia cemberut menghadapi pertanyaan itu. “Ternyata engkau memiliki ilmu siluman dan pertanyaanmu ngawur tidak karuan. Apa itu Hong-in-bun-hoat? Apa itu Swat-im Sin-ciang? Kalau Kakakku mungkin tahu ilmu-ilmu itu. Aku hanya belajar sedikit di Pulau Es. Eh, yang manakah di antara kalian ini yang kulihat patungnya di Pulau Es? Tubuhnya seperti dia...” Ia menuding Nirahai. “Akan tetapi matanya seperti matamu!” Ia melihat nenek itu. “Akan tetapi yang mana pun juga di antara kalian, semuanya jahat, memang di antara mereka bertiga di Pulau Es itu, yang satu itu paling jahat...!”

“Apa kau bilang...? Apa kau bilang...?” Nenek itu berkata dengan suara lirih gemetar, tubuhnya terhuyung.
“Subo...!” Nirahai meloncat, mendekati nenek itu.

Akan tetapi dengan tangannya nenek itu menolak Nirahai yang hendak menolongnya, kemudian setelah menghela napas tiga kali ia dapat menguasai hatinya. Sekali melangkah ia telah menggerakkan tangan menangkap tangan Lulu tanpa gadis ini dapat mengelak sedikit pun. Gerakan nenek itu cepat luar biasa dan tidak dapat ia ikuti dengan pandangan matanya. Ia hendak meronta, akan tetapi membatalkan niatnya ketika nenek itu memijat-mijat kedua tangannya yang membengkak merah.

Lulu juga seorang yang cerdik dan ia mengerti bahwa nenek inilah sebetulnya orang yang patungnya ia lihat di Pulau Es. Ketika ia tadi melihat wajah dan mata nenek ini, teringatlah ia akan patung itu, hanya karena patung itu cantik dan muda seperti Nirahai, maka ia mengira bahwa Nirahai-lah orangnya yang patungnya ia lihat di sana. Kini ia mengerti bahwa biar pun ada persamaan dengan patung itu dan Nirahai, akan tetapi sebetulnya patung itu adalah patung Si Nenek lihai ini di waktu muda.
Dan ia pun dapat menduga bahwa disebutnya patung itu di Pulau Es mendatangkan keharuan besar di hati nenek ini. Tentu nenek ini ingin mendengar banyak-banyak tentang Pulau Es dari dia, maka kini nenek itu bersikap baik, mengobati kedua tangannya yang membengkak karena memukul tubuh Si Nenek. Kalau tidak mempunyai maksud demikian, kiranya nenek yang seperti iblis ini akan membunuhnya! Ia harus bersikap cerdik, pikirnya. Lulu membiarkan kedua tangannya ditekan dan ditotok dan memang hebat sekali, dalam sekejap mata saja sudah sembuh, akan tetapi dia sudah memutar otak mencari akal.

“Siapakah namamu?” Nenek itu bertanya sambil melangkah mundur dua langkah dan memandang tajam.
“Namaku Lulu.”
“Engkau gadis Mancu?” Kini nenek itu bertanya dalam bahasa Mancu.
Lulu menjawab dalam bahasa Han, “Aku memang gadis Mancu, akan tetapi lebih suka berbahasa Han.”
Nenek itu mengerutkan alisnya, “Hmmm, sesukamulah. Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa bicara tentang Pulau Es.”
“Aku tidak mau bicara!”

Nenek itu membelalakkan matanya dan dari mata yang lebar itu memancar -kebengisan yang membuat bulu tengkuk Lulu bangun satu-satu. Akan tetapi dia seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa, maka ia menentang pandang mata itu tanpa berkedip. Matanya jauh lebih lebar dari mata nenek itu dan sinar matanya pun tajam, bening dan polos.

“Kalau aku paksa padamu, kupatahkan satu-satu tangan kakimu, apakah engkau juga tidak mau bercerita?”

Tiba-tiba Lulu tertawa, suara ketawanya yang dimaksudkan agar berbunyi mengejek itu malah terdengar merdu nyaring dan menular sehingga Si Nenek terpaksa ikut tersenyum, bahkan Nirahai juga tersenyum lebar. “Heh-heh, kiranya engkau adalah Lulu bocah Mancu yang diambil Adik angkat oleh tokoh muda aneh bernama Han Han itu. Sudah lama kau kami cari-cari, siapa sangka akan bertemu di sini.”

“Hemmm, jadi Ouwyang Seng manusia tak bermalu itu engkau yang suruh? Pantas, engkau jahat, kaki tanganmu pun jahat. Tentu iblis-iblis tua yang mengeroyok kakakku, Si Setan Botak dan Si Iblis Muka Kuda itu pun kaki tanganmu, bukan? Hemmm... cocok sekali!” 
Nirahai terkejut. “Aihhh, engkau tahu...?”

“Tentu tahu! Malah aku telah ditawan dan dibawa ke istana, oleh Kaisar sendiri aku dijadikan pelayan istana. Akan tetapi aku lari dari istana...”

Nirahai tertawa lagi. Tak dapat ia menahan geli hatinya. Anak ini polos dan nakal, akan tetapi wajahnya begitu manis dan cerah sehingga sukarlah untuk marah kepadanya.

“Engkau aneh. Bukankah senang sekali menjadi pelayan istana? Engkau gadis Mancu, menjadi pelayan di istana Kaisar sendiri bukankah amat terhormat? Mengapa engkau melarikan diri?”

“Aku tidak kerasan! Aku akan mencari kakakku, kalau ia belum dibunuh oleh kaki tanganmu yang jahat!”

Nirahai mengerutkan keningnya. Diam-diam timbul rasa ingin sekali bertemu dengan kakak gadis ini yang bernama Han Han. Kalau adiknya begini aneh, tentu kakaknya lebih aneh lagi.

“Lulu, lekas kau bercerita tentang Pulau Es, kalau engkau tidak mau, kupatah-patahkan seluruh tulang di tubuhmu!” Kembali Nenek Maya menghardik.

Nirahai maklum akan kebengisan seorang berwatak aneh seperti gurunya. Kalau gurunya mau, sekali turun tangan tentu ancamannya itu akan dilaksanakan tanpa ada yang mampu menghalanginya. “Lulu, anak baik, engkau mengakulah saja.”

Akan tetapi Lulu yang sudah mengatur siasat itu menjawab, “Aku tidak peduli apakah tulang-tulangku akan dipatahkan ataukah tubuhku akan dihancurkan oleh dia itu. Aku tidak takut mati. Memang aku tahu bahwa di antara ketiga patung itu, wanita cantik bengis itu yang berhati jahat! Aku baru mau bercerita kalau syaratku dipenuhi.”

Nirahai memang tidak ingin mencelakai bangsa sendiri. Dan begitu bertemu dengan Lulu, ia sudah merasa suka dan sayang kepada anak yang keras hati dan berwatak kukoai (ganjil) ini. “Apakah syaratnya?”

“Pertama, kalau aku dibawa ke istana, kau harus menjamin agar aku tidak dihukum karena melarikan diri.”

Nirahai tersenyum. “Baiklah. Kaisar adalah Ayahku sendiri, aku dapat mintakan ampun untukmu.”

“Ke dua, kalau kakakku tidak terbunuh, kau harus menyuruh kaki tanganmu mencarikan dia untukku. Akan tetapi kalau sudah terbunuh, engkau harus membiarkan aku membalas dendam kepada pembunuhnya!” Lulu mengepal kedua tinjunya, matanya memancarkan kemarahan.

Nirahai mengangguk. “Baik-baik, itu pun sudah adil.” Diam-diam ia merasa bahwa kalau benar Han Han sudah terbunuh, tentu pembunuhnya itu amat lihai dan bagaimana gadis ini akan dapat membalas dendam?

“Lekas ceritakan tentang Pulau Es!” Nenek itu kini membentak, kehilangan sabar dan sudah melangkah maju setindak ke dekat Lulu.

Melihat hal ini, Nirahai yang merasa sayang kepada Lulu cepat berkata, “Lulu, syarat-syaratmu telah dipenuhi, lekas engkau bercerita.”

“Masih ada lagi syaratku, yaitu karena aku sudah tinggal di Pulau Es sampai bertahun-tahun dan locianpwe ini adalah seorang di antara penghuni Pulau Es, maka kalau locianpwe suka mengambil aku sebagai murid, baru aku mau menceritakannya!”

“Wirrrrr...!”

Tangan nenek itu bergerak dan biar pun Lulu hendak mengelak, percuma lagi karena rambutnya sudah disambar dan sekali nenek itu mengangkat tangan, tubuh Lulu tergantung pada rambutnya yang dicengkeram! Lulu merasa nyeri, akan tetapi ia tidak mengeluh dan hanya membelalakkan mata, dan dengan matanya yang lebar itu dia sungguh-sungguh kelihatan seperti seekor kelinci dipegang kedua telinganya.

“Bocah setan! Mengapa harus mengambilmu sebagai murid?” bentak nenek itu.

Diam-diam Lulu ngeri juga. Di tangan nenek ini ia seperti sebuah boneka yang tidak berdaya. Otaknya bekerja cepat. Tadi ia sengaja minta menjadi murid karena kini ia telah cukup tahu betapa pentingnya memiliki ilmu kepandalan tinggi. Dengan ilmu kepandaian tinggi dia tidak akan mudah dihina orang seperti berkali-kali ia dan kakaknya mengalaminya dan ia mengenal orang sakti maka kalau ia bisa menjadi murid nenek ini tentu ia akan menjadi amat lihai. Ia pun tahu bahwa ia boleh agak ‘menjual mahal’ karena tahu akan kegairahan hati nenek ini ingin mendengar tentang Pulau Es, akan tetapi kalau ia agak keterlaluan menjual mahal dan menahan harga, sekali nenek itu turun tangan ia takkan bernyawa lagi. Cepat ia menjawab.

“Locianpwe yang baik, peristiwa di Pulau Es merupakan rahasia pribadi, dan keadaan Pulau Es pun tidak boleh diceritakan pada lain orang, demikian pesan kakakku yang mentaati pesan tertulis para locianpwe penghuni pulau itu. Kami berdua telah bersumpah takkan membuka rahasia Pulau Es. Kalau saya tidak menjadi murid locianpwe, berarti locianpwe saya anggap orang luar. Bagaimana saya akan dapat menceritakan tentang pulau rahasia itu? Biar dibunuh sekali pun, kalau locianpwe tidak menjadi guru saya, mana saya berani membuka rahasia?”

Cekalan rambutnya mengendur dan tubuh Lulu dilepaskan kembali. Nenek itu mengangguk. “Engkau sudah sampai di sana, berarti engkau telah menjadi murid kami bertiga. Baiklah, engkau menjadi muridku bersama Nirahai.”

“Terima kasih, Subo!” Lulu dengan girang menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.

Nirahai juga girang sekali, berlutut pula di samping Lulu, merangkul pundaknya dan berkata, “Sumoi yang baik!”

Akan tetapi Lulu melotot kepadanya. “Suci, awas kalau sampai Han-koko kau bunuh. Biar engkau menjadi suci-ku, engkau akan kubunuh pula!”
“Bocah kurang ajar, lekas ceritakan!” kembali nenek itu membentak.
“Subo, urusan rahasia yang sedemikian gawatnya masa boleh diceritakan di tengah jalan seperti ini? Lebih baik di dalam kamar, di istana... kalau Subo hendak ke sana.”

Saking inginnya segera mendengar cerita itu, Nenek Maya menyambar tubuh Lulu dan sekali berkelebat ia lenyap. Hanya terdengar suaranya, “Nirahai, kami menantimu di dalam istana!”

Nirahai memandang bengong dan menghela napas panjang. Ia kagum sekali akan keberanian Lulu dan diam-diam ia menduga bahwa kelak Lulu akan menjadi seorang yang hebat. Dia tidak akan heran kalau subonya akan lebih sayang kepada bocah itu. Maka ia lalu memasuki joli dan memerintahkan dua orang pemanggulnya yang berjongkok dan bengong menyaksikan tingkah orang-orang aneh itu untuk memanggul joli melanjutkan perjalanan ke kota raja.....
********************
Di luar kota Tai-goan terdapat sebuah dusun yang cukup ramai. Dusun itu bernama Leng-chun, letaknya di sebelah selatan kota Tai-goan dan di tepi Sungai Fen-ho yang mengalir ke selatan dari kota Tai-goan. Karena Sungai Fen-ho ini terus mengalir ke selatan sampai bergabung dengan Sungai Huang-ho yang mengalir ke timur dan sampai ke Terusan Besar, maka sungai ini merupakan sungai yang ‘hidup’, yaitu dimanfaatkan oleh rakyat sebagai jalan umum untuk mengangkut penumpang dan barang. Selain lebih aman dan murah, juga tidak melelahkan dari pada kalau melakukan perjalanan melalui daratan yang banyak diganggu rampok dan melalui gunung-gunung yang sukar dilewati.

Karena ramainya sungai ini, maka dusun Leng-chun merupakan dusun yang makmur pula, banyak dilewati kaum pedagang dan banyak pula barang-barang hasil bumi diangkut ke timur melalui dusun ini. Banyaknya kaum pedagang dan pelancong membuat dusun ini ramai dan banyak dibuka rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan, yang sungguh pun kecil-kecil dan sederhana namun cukup memenuhi kebutuhan para saudagar dan pelancong. Dusun kecil ini dengan sendirinya menjadi pusat pertemuan orang-orang dari luar kota sehingga banyak terdapat orang asing yang bicara dengan bermacam dialek.

Pada suatu hari, seorang laki-laki yang aneh memasuki sebuah rumah makan di dusun Leng-chun. Laki-laki ini masih muda, wajahya tampan sekali, sinar matanya aneh dan tajam, namun di antara kedua alisnya banyak guratan yang menjadi tanda bahwa semenjak kecil pemuda ini sudah mengalami banyak penderitaan hidup. Pakaiannya sederhana, serba putih dengan garis-garis biru tua. Yang amat menarik perhatian orang bukanlah pakaiannya karena pakaian itu sederhana, bahkan orang-orang kang-ouw yang suka lewat di tempat ini dengan pakaian mereka yang aneh-aneh pun sudah dianggap biasa oleh penduduk di situ.

Rambut itu hitam panjang dibiarkan terurai ke atas pundak dan punggung, sama sekali tidak diikat atau digelung seperti biasa. Bahkan semenjak keluar peraturan dari pemerintah Kerajaan Ceng yang mengharuskan penduduk pribumi menguncir rambut mereka, banyak penduduk menguncir rambut lalu menyembunyikan kuncir di bawah topi agar tidak tampak. Akan tetapi pemuda ini membiarkan rambutnya terurai, dikuncir pun tidak!

Juga kakinya amat menarik perhatian karena kaki itu tinggal sebuah. Kaki kirinya buntung. Pemuda itu berjalan dibantu tongkatnya, sebatang tongkat kayu yang butut, yang dipegang dengan tangan kiri dan dipergunakan sebagai pengganti kakinya. Pemuda itu berjalan perlahan-lahan dan agaknya dia sudah mahir menggunakan tongkat, buktinya ia tidak kelihatan pincang, biar pun ia hanya berjalan dengan sebelah kaki.

Pemuda tampan berkaki buntung dan berambut panjang terurai ini bukan lain adalah Han Han. Setelah gurunya yang baru, Nenek Khu Siauw Bwee yang buntung pula kakinya menggemblengnya secara tekun dan sudah membolehkah dia keluar dari daerah tersembunyi itu, Han Han lalu muncul pula di dunia ramai dan pertama-tama yang ia kerjakan adalah mencari adiknya.

Pada pagi hari itu ia tiba di Leng-chun, dalam perjalanannya mencari Lulu yang ia mulai dari tempat di mana Lulu diculik Ouwyang Seng, yaitu ke kota raja. Ia dapat menduga bahwa Lulu setelah ditawan oleh pemuda bangsawan itu tentu dibawa ke kota raja, maka ke sanalah ia menuju dan pagi hari itu selagi melewati Leng-chun, perutnya merasa lapar dan ia lalu memasuki sebuah rumah makan. Dia tidak mempunyai uang sekeping pun, akan tetapi perutnya amat lapar dan ia bersedia menukarkan tenaganya untuk beberapa potong bakpauw atau sepiring nasi bersama semangkok arak.

“Lopek, maukah lopek memberi aku beberapa potong bakpauw itu? Perutku lapar sekali!”

Ucapan Han Han ini nyaring, tidak malu-malu sungguh pun di situ banyak duduk para tamu menghadapi meja dan ada beberapa orang tamu sudah menoleh ke arahnya ketika mendengar ini. Beberapa orang terdengar sudah mengomel.

“Hemmm... di mana-mana ada saja pengemis, seperti lalat saja!”

Han Han mendengar dengan jelas omelan ini, akan tetapi ia tidak peduli, tidak pula marah atau merasa terhina, bahkan menoleh pun tidak ke arah orang-orang yang mengomel itu. Ia hanya menghadapi koki rumah makan yang gendut, memakai topi bundar dengan kain lap di pundak dan yang sedang memanaskan bakpauw di sudut rumah makan. Tiap kali koki ini membuka penutup tumpukan bakpauw yang dimasak, bau sedap menyengat hidung, membuat Han Han menelan ludah. Sudah lama dia tidak makan masakan enak, apa lagi bakpauw. Di sepanjang jalan ia hanya makan buah-buah, daun-daun muda, dan minum air gunung.

Koki gemuk itu menoleh dan mengernyitkan hidung ketika melihat Han Han. Akan tetapi ketika bertemu dengan pandang mata yang halus namun tajam menusuk itu ia menelan kembali makian yang sudah keluar ke ujung lidah. Sambil menggerakkan kedua tangan untuk menyatakan bahwa ia tidak berdaya dalam hal itu, ia berkata.

“Wah, mana bisa, orang muda? Aku bekerja di sini untuk menjualkan bakpauw ini, kalau diminta begitu saja dan kuberi, bisa-bisa gajiku akan dipotong habis oleh majikan. Bakpauw ini bukan untuk disedekahkan kepada orang yang minta.” Dia tidak berani menyebut pengemis, karena koki ini maklum bahwa banyak orang kang-ouw berkeliaran di tempat itu dan melihat pandang mata pemuda ini, benar-benar menimbulkan rasa seram di hati.

Han Han tersenyum ramah. Koki itu makin heran dan curiga. Kalau pengemis, mengapa begini tampan dan giginya begitu putih bersih dan berderet rapi serta kelihatan kuat. 

“Ucapanmu tepat sekali, Lopek. Aku pun bukan sembarangan mengemis atau minta dengan percuma. Tolong sampaikan kepada majikanmu bahwa karena perutku lapar, aku minta dan setelah kenyang, aku akan membayar makananku dengan tenaga, boleh disuruh bekerja apa saja untuk membayar makananku.”

Wah, pemuda ini ternyata benar-benar bukan pengemis, pikir si koki dengan hati lega. Ia merasa bangga akan wawasannya tadi sehingga ia tidak terburu nafsu memaki dan mengusir pemuda ini sebagai pengemis. “Ah, kalau begitu, tunggulah sebentar!” 

Dengan gerak langkah kaki lucu, pantatnya yang membusung kebanyakan daging itu megal-megol seperti larinya seekor bebek, koki itu lari masuk ke dalam dan bicara kepada seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai majikan dan yang kepalanya botak. Si botak itu menghentikan pekerjaannya menghitung-hitung dengan swipoa, lalu miringkan kepala untuk memandang ke arah pemuda kaki buntung yang berdiri di depan pintu. Matanya agak lamur dan juling sehingga kalau melihat orang di tempat agak jauh ia harus miringkan kepalanya, baru kelihatan agak jelas. Kemudian ia bangkit berdiri malas-malasan, berjalan keluar diikuti koki yang megal-megol

Sejenak majikan restoran itu memandang Han Han dari kepala sampai ke kaki, terutama pada kaki buntung itu, lalu bertanya, “Orang muda, engkau bisa bekerja apakah?”

“Apa saja, asal aku mendapat makan,” jawab Han Han sederhana sambil memandang ke arah tumpukan bakpauw yang ditutup.
“Hemmm... dengan... eh, maaf... kakimu yang buntung sebelah, engkau dapat bekerja apakah?” Majikan restoran itu mengurut-urut dagunya, berpikir-pikir. Dia mau menolong pemuda ini, akan tetapi dia pun tidak mau rugi. Segala sesuatu bagi majikan ini harus ia perhitungkan dengan swipoa, jangan sampai rugi!
“Loya, pagi ini kebetulan sekali A-ji mangkir, kabarnya sakit. Bagaimana kalau dia ini membantu melayani tamu?”

Pandang mata majikannya itu menimbang-nimbang. Biar pun kaki kirinya buntung, akan tetapi pemuda ini bersih dan menyenangkan, tidak menjijikkan. Apa lagi kakinya yang buntung itu pun tertutup celana buntung sehingga tidak kelihatan. Juga berdirinya tegak, walau pun hanya dengan kaki satu dibantu tongkat.

“Baiklah, pagi ini engkau boleh makan bakpauw sekenyangmu, siang dan malam nanti makan nasi. Akan tetapi engkau harus membantu kami menjadi pelayan selama sehari semalam. Bagaimana?”

Sebetulnya Han Han merasa keberatan di dalam hatinya. Dia hanya ingin makan pagi itu kemudian melanjutkan perjalanannya ke kota raja. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah para tamu, ia melihat seorang laki-laki muda bertubuh tegap berwajah gagah duduk bersama seorang temannya yang juga tegap dan gagah. Dan di meja lain tampak empat orang mengelilingi meja dan tertawa-tawa sambil mengobrol, akan tetapi sikap empat orang ini seperti mengejek dua orang itu.

Mereka mengobrol sambil memandang-mandang kedua orang itu, tertawa-tawa dan pandang mata mereka menantang sekali. Hatinya tertarik. Agaknya di tempat ini banyak orang kang-ouw bertemu dan agaknya ia akan melihat banyak dan mendengar banyak. Ia lalu mengangguk. Tidak mengapalah perjalanannya terlambat sehari di tempat ini.

“Baiklah, aku terima syarat itu.”

Setelah majikan itu kembali ke mejanya, melanjutkan pekerjaannya mainkan swipoa sehingga ramai terdengar ketrokan swipoa, koki itu tersenyum lebar dan berkata, “Aku senang sekali mendapat bantuanmu. Nah, makanlah bakpauw ini!” Koki itu mengambil dua butir bakpauw dengan sumpitnya yang panjang dan meletakkannya di atas piring. 

Han Han menyambar bakpauw itu dan makan dengan lahapnya. Ia makan sampai habis lima butir, barulah perutnya kenyang dan seleranya terpuaskan. Setelah minum air teh panas, tiba-tiba terdengar suara laki-laki muda bertubuh tegap memanggil.

“Bung pelayan!”

Koki itu memberi isyarat dengan gerakan dagunya kepada Han Han. Han Han lalu meletakkan mangkok tehnya dan berjalan cepat ke arah meja tamu yang dua orang itu. Si koki memandang langkahnya sejenak, kemudian menggeleng-geleng kepala sambil menggumam seorang diri, “Kasihan...!”

“Ji-wi memanggil pelayan?” Han Han bertanya dengan sikap hormat kepada dua orang itu.

Si pemuda yang bertubuh tegap memandangnya sejenak, terutama kepada kakinya yang buntung, lalu bertanya, “Engkau pelayan?”

“Benar, Kongcu, mulai saat ini sampai malam nanti. Kongcu hendak memesan apakah?”
“Tolong ambilkan tambahan sekati bakmi dan seguci arak!”
“Baik, Kongcu!” Han Han memutar tubuh dan atas isyarat koki yang memanaskan bakpauw ia lalu pergi ke tempat yang ditunjuk, yaitu ke bagian dapur di belakang. 

Ternyata rumah makan yang terdiri dari dua ruangan itu penuh tamu. Ketika ia melewati meja di mana duduk empat orang kasar yang bercambang bauk, seorang di antara mereka melonjorkan kaki, seperti tidak disengaja akan tetapi sesungguhnya disengaja. Han Han tentu saja dengan mudah dapat melewati kaki itu, akan tetapi ia ingat akan kedudukannya sebagai pelayan dan berkata, “Maaf, harap suka memberi jalan, saya hendak lewat.”

Orang itu brewok dan matanya bundar besar yang kini melotot kepada Han Han. “Apa katamu? Kau tidak bisa menyebut taihiap? Kami adalah pendekar-pendekar besar, tahu?”

Han Han tersenyum. “Maaf, taihiap, karena saya tidak tahu maka....”
Orang itu menarik kakinya. “Sudah, pergilah. Memutari meja kami! Kakimu menjijikkan!”

Han Han membungkuk, lalu terpaksa mengambil jalan mengitari meja itu, berloncatan kecil dibantu tongkatnya, terus ke dapur melaporkan pesanan dua orang itu. Koki di dapur sudah tahu bahwa ada seorang pelayan baru yang menggantikan A-ji yang mangkir. Tanpa bertanya koki ini lalu menyediakan pesanan itu dan Han Han diberi sehelai kain lap yang ia sampirkan di pundak. Kemudian ia membawa baki dengan tangan kanan di atas pundak, menghampiri dua orang pemesannya sambil mengitari meja empat orang brewok. Sambil mengempit tongkatnya, dengan kedua tangan Han Han menghidangkan bakmi di meja dua orang itu.

“Kasihan!” kata pemuda tampan bertubuh tegap sambil memandang Han Han. “Kenapa untuk mendapat makan saja engkau yang buntung harus menjadi pelayan. Sobat, kalau kau perlu makan, makanlah, biar kami yang bayar. Dan ini sedikit uang untuk bekal...”

Han Han membelalakkan mata dan merasa berterima kasih sekali. Dia mengenal orang baik, akan tetapi dia juga tidak mengharapkan pertolongan orang. Ia menjura dan berkata.

“Terima kasih, Kongcu. Kongcu seorang yang baik sekali. Akan tetapi maaf, saya hanya menerima bantuan yang dapat saya balas. Majikan restoran ini memberi saya makan, tentu saja saya harus membalasnya sekuat kemampuan saya.” Ia menjura lagi untuk mengambil seguci arak yang dipesan, lalu meletakkannya di atas meja dengan sikap hormat, dipandang oleh dua orang gagah itu dengan kagum. Tamu baru datang dan Han Han cepat menyambut dan melayani pesanan mereka. Ia mulai merasa senang juga dengan pekerjaan ini.

“Sungguh mengagumkan!” kata pemuda itu kepada temannya yang juga gagah dan usianya sudah ada empat puluhan tahun. “Biar pun dia pincang kakinya, akan tetapi tidak pincang batinnya, masih mengenal budi! Alangkah banyaknya orang sekarang yang lupa akan budi, lupa akan nenek moyang, lupa akan bangsa sehingga tidak segan menjual negara!” kata-kata pemuda itu penuh semangat.

“Memang, Hiantit. Orang yang pincang dan lemah masih mempunyai semangat dan kejujuran, seperti watak patriot. Sebaliknya, betapa banyaknya orang yang kuat dan gagah akan tetapi sebetulnya lemah dan mabuk oleh harta dan kedudukan, tidak segan membantu penjajah!” kata orang yang setengah tua.

“Omongan seperti kentut!” Tiba-tiba seorang di antara empat orang kasar di meja sebelah, yang dahinya codet, menggebrak meja sehingga mangkok-mangkok tergetar dan sebagian isinya tumpah di meja. “Omongan pemberontak! Di waktu kerajaan baru belum membahagiakan rakyat pura-pura menjadi patriot! Ha-ha-ha, betapa banyaknya manusia plin-plan seperti itu!”

Keadaan menjadi tegang. Biar pun tidak secara langsung saling memaki, namun omongan kedua pihak sudah saling mengejek.

“Ciang-lo-enghiong, banyak pendapat yang sesat seperti itu. Orang-orang bijaksana jaman dahulu berkata Wi-bin-wi-kok, hiap-ci-tai-cia (membela rakyat membela negara, adalah perbuatan paling mulia). Kalau membaliknya dari pada membela negara dan memihak penjajah, itu namanya penjilat dan tidak berharga!” kata pemuda gagah tadi sambil menghirup araknya. Mukanya agak merah, mungkin karena terlalu banyak minum, mungkin juga karena marah.

“Memang demikianlah, So-hiantit. Akan tetapi bicara kepada orang yang berotak angin, apa artinya? Sama dengan berteriak di padang pasir, sayang kalau ucapan baik-baik dihamburkan saja. Gentong kosong berbunyi nyaring akan tetapi tidak ada isinya. Huhhh!” kata yang tua.

“Mulut bau busuk! Asal terbuka saja mengeluarkan bau busuk! Eh, Sam-wi Suheng, akan percumalah kita dikenal sebagai Kang-thouw Su-liong (Empat Naga Berkepala Besi) kalau tidak membersihkan dusun ini yang agaknya terdapat banyak lalat hijau dari Se-cuan! Yang jelas di sini bau dua ekor lalat hijau yang agaknya baru keluar dari kakus. Baunya bukan main!” kata seorang di antara empat laki-laki brewok yang hidungnya besar. Si Codet dan dua orang temannya tertawa bergelak sambil menuding-nuding ke arah dua orang itu.

Keadaan makin tegang dan banyak tamu tergesa-gesa membayar makanan yang belum habis, bahkan yang baru masuk sudah keluar lagi tidak jadi memesan makanan. Majikan restoran berjalan ke sana ke mari membawa swipoanya, wajahnya pucat. Koki gemuk berdiri di dekat tumpukan bakpauw dengan kaki menggigil.

Melihat ini, Han Han segera menghampiri meja empat orang brewok itu dan menjura sambil berkata, “Apakah Su-wi Taihiap hendak memesan makanan tambahan?”

Si Codet menoleh dan menepuk-nepuk pundak Han Han sambil tertawa. “Inilah dia seorang patriot sejati, ha-ha-ha!” Tiga orang kawannya juga terbahak.

Orang ke Tiga yang ada tahi lalatnya di ujung hidung berkata mengejek, “Eh, pelayan patriot, apakah engkau kehilangan kakimu di medan juang? Ha-ha-ha, agaknya engkau dahulu pelayan di Se-cuan dan karena kekurangan makan lalu lari ke sini!”

Orang ke empat yang matanya sipit sekali menekan perutnya saking menahan ketawa lalu berkata, “Eh, pelayan patriot. Coba katakan, kami adalah Kang-thouw Su-liong, dan kami membenci para pemberontak di Se-cuan. Pemerintah baru amat bijaksana, dapat menggunakan orang pandai untuk membikin makmur hidup rakyat. Akan tetapi para pemberontak di Se-cuan memancing-mancing perang, mengadakan kekacauan dan membikin sengsara rakyat yang sudah terlalu banyak menderita akibat perang. Katakan, kalau kami memihak kerajaan baru yang bagaikan sinar matahari sehabis hujan memberi harapan baru, tidakkah pendapat kami benar?”

“Kalau berani menyalahkan, kupatahkan lagi kakimu yang tinggal sebelah!” kata Si Hidung Besar.

Han Han berkata dengan suara tenang, “Menurut pendapat saya yang bodoh, manusia di dunia berhak memiliki pendapat masing-masing, asal ada dasar kebenarannya. Kalau Su-wi yang gagah perkasa membela pemerintah baru mengingat kepentingan rakyat, maka pendapat itu adalah benar sekali. Pendapat seseorang dapat dinilai dari dasarnya, atau pamrihnya. Kalau dasar dan pamrihnya baik, maka pendapat itu adalah baik.”

“Ha-ha-ha-ha! Bagus, bagus! Engkau pincang, akan tetapi pendirianmu jejeg. Untuk pendirian yang bagus itu engkau harus kami hadiahi secawan arak!” kata Si Codet sambil mengambil secawan arak, lalu diberikan kepada Han Han.

Untuk tidak menimbulkan keributan, terpaksa Han Han minum arak itu.

“Terima kasih, taihiap.” Ia lalu terpincang-pincang meninggalkan meja dan ketika lewat dekat meja dua orang gagah itu ia berhenti dan bertanya, “Apakah ji-wi membutuhkan sesuatu?”

Dua orang itu bertukar pandang, dan yang tua menyentuh lengan Han Han sambil berkata, “Orang muda, biar pun kakimu buntung, agaknya engkau bukanlah seorang yang bodoh dan suka bicara sembarangan. Juga sikapmu bukan seperti penjilat yang hanya bicara untuk menyenangkan orang karena takut.”

Ia berhenti sebentar, keadaan sunyi sekali. Empat orang di meja sebelah sama sekali tidak mengeluarkan suara, agaknya mendengarkan penuh perhatian dan siap untuk meledak marah kalau ada omongan yang terang-terangan mengenai mereka. Para tamu lain yang masih berada di situ sudah pindah meja, para koki dan pelayan bersembunyi di sudut terjauh.

“Agaknya engkau memiliki pandangan luas dan tidak berat sebelah. Katakanlah, orang muda. Orang yang rela berkorban jiwa demi rakyat dan negara, yang mempertaruhkan setiap jengkal tanah airnya dari kuku penjajahan, tanpa pamrih untuk keuntungan diri sendiri dan semata-mata berjuang karena merasa bahwa hal itu merupakan panggilan tanah air, merupakan tugas kewajiban seorang gagah, bagaimana pendapatmu akan pendirian orang ini? Salahkah dia? Atau gagah perkasa?”

Dengan suara tetap tenang Han Han yang ingin meredakan api yang mulai membakar di antara dua meja itu, menjawab, “Pendirian itu pun benar dan tepat sekali, Lo-enghiong. Seorang yang berani membela negara, asal dengan dasar sebagaimana yang Lo-enghiong sebutkan tadi, bukan dasar mencari jasa dan keuntungan, dialah seorang patriot sejati yang patut dijadikan teladan selagi hidup dan patut dipuji sebagai pahlawan setelah gugur.”

“Bagus sekali! Tidak salah wawasanku bahwa engkau memang bukan pemuda sembarangan. Nah, minumlah arak bersama kami, orang muda!” Orang gagah itu lalu memberi arak secawan penuh kepada Han Han yang terpaksa menerimanya dan meminumnya.

“Ciang-lo-enghiong, marilah kita pergi dari sini. Tempat ini amat tidak menyenangkan, karena terlalu banyak penjilat-penjilat dan terlalu banyak anjing. Gonggong anjing biasa masih enak didengarkan, akan tetapi gonggong empat ekor anjing penjilat sungguh memuakkan. Yang ada di sini hanyalah sahabat buntung ini, yang ternyata berjiwa patriot dan gagah!”

“Setan!” Si Laki-laki Brewok yang bermata sipit menampar meja di depannya sambil berdiri dan menunding ke arah pemuda gagah. “Siapa yang kau maki anjing?”

Pemuda gagah itu pun bangkit berdiri, dadanya yang bidang dikembangkan dan ia pun menuding. “Siapa yang kau maki setan?”

“Aku memaki kalian setan-setan pemberontak!”
“Dan aku memaki kalian anjing-anjing penjilat!”
“Keparat!” Empat orang laki-laki brewok itu menyambar sumpit mereka dan sekali menggerakkan tangan, delapan batang sumpit menyambar ke arah dua orang gagah itu yang juga sudah bangkit berdiri. Akan tetapi dengan lincah mereka itu dapat mengelak, bahkan masing-masing telah berhasil menyambar dua batang sumpit.

“Makanlah senjata kalian!” teriak yang tua dan mereka berdua mengembalikan empat batang sumpit itu dengan sambitan kuat ke arah empat orang penyerang mereka.

Akan tetapi empat orang yang berjuluk Empat Naga Berkepala Raja itu ternyata juga lihai karena dengan miringkan tubuh sedikit saja empat batang sumpit itu tidak mengenai tubuh mereka.

“Waduhh... aduhh... telingaku...!” Majikan restoran menjerit-jerit dan memegangi telinga kirinya yang ternyata kena diserempet sebatang sumpit hingga daun telinga itu robek dan berdarah.

Han Han sudah melangkah maju dan berdiri di antara dua meja, di mana enam orang itu sudah saling serang. Bahkan, empat orang brewok sudah menghunus golok mereka, sedangkan dua orang gagah itu masih tenang-tenang saja, namun sudah siap berdiri menyambut serangan lawan.

“Cu-wi sekalian harap sabar. Ingat, bukankah cu-wi berenam ini tergolong orang-orang gagah? Adakah di antara cu-wi yang suka disebut orang jahat dan pengecut?”

“Heh? Si Buntung lancang. Siapa yang kau katakan penjahat dan pengecut?” bentak Si Mata Sipit sambil mengamangkan goloknya.

Han Han menjura. “Syukurlah kalau cu-wi taihiap tidak sudi disebut penjahat atau pengecut, dan memang saya pun yakin cu-wi adalah orang-orang gagah. Demikian pula dengan ji-wi Enghiong ini. Kalau cu-wi melanjutkan perkelahian di sini, amatlah disangsikan apakah hal itu merupakan perbuatan orang gagah, karena perkelahian itu akan merugikan banyak orang. Pertama, pemilik restoran rugi karena barang-barangnya rusak. Kedua, para tamu rugi karena tidak dapat makan. Ketiga banyak bahayanya akan jatuh korban di antara orang-orang lain seperti terbukti majikan saya daun telinganya robek. Nah, cu-wi sebagai orang-orang gagah tentu saja tidak suka main kasar dan merugikan orang lain, bukan? Kalau memang hendak berkelahi, sebagai orang-orang gagah dapat saja berunding nanti di luar dan menentukan tempat yang sunyi.”

Dua orang itu sudah duduk kembali dan yang tua berkata, ke arah majikan restoran, “Maafkan kami untuk luka itu, biarlah kami menanggung kerugian untuk biaya berobat!”

Majikan itu dengan kaki gemetar memaksa diri tersenyum. “Tidak usah... tidak usah... asal jangan berkelahi di sini... saya sudah berterima kasih sekali kepada cu-wi... ehh, tambahkan arak wangi, gratis dariku untuk terima kasihku kepada enam orang tamu agung!”

Empat orang kasar itu sejenak tercengang, kemudian tertawa bergelak dan duduk kembali di bangku masing-masing.

Han Han cepat mengambilkan arak wangi, dan ia menerima pandang mata kagum dari koki gemuk dan pelayan lain, dan pandang mata berterima kasih dari majikan restoran. Kalau tidak ada pelayan baru pincang ini, celakalah, tentu akan hancur restorannya! Ruginya jangan dibicarakan lagi, bisa bangkrut dia!

Ketika Han Han menaruh guci arak wangi di atas meja kedua orang gagah itu, ia berkata, “Ji-wi Enghiong, saya pernah mendengar kata orang bahwa keberanian tanpa perhitungan bukanlah kegagahan melainkan ketololan. Benarkah itu? Silakan minum arak!”

Dua orang gagah itu saling pandang dengan mata terbelalak, kemudian minum arak mereka dan bangkit berdiri. Tanpa banyak cakap mereka menghampiri meja majikan restoran, setelah berhitungan lalu melemparkan uang perak di atas meja sambil berkata, “Kelebihannya harap perhitungkan untuk membayar makanan sahabat yang menjadi pelayan itu!” Setelah berkata demikian, dua orang itu segera pergi meninggalkan restoran tanpa pamit dan tanpa menoleh lagi.

Han Han menjadi lega hatinya. Ketika lewat di bekas meja dua orang itu, tangannya sambil lalu meraba permukaan meja untuk menghapus huruf-huruf yang berbunyi: ‘Berbahaya, harap pergi!’, yaitu huruf-huruf yang ia buat dengan guratan jari tangan ketika ia menghidangkan arak tadi. Memang ia melihat bahaya mengancam kedua orang itu karena ia tadi dengan pendengarannya yang tidak lumrah manusia, dari jauh mendengar bisik-bisik empat orang brewok yang mengatur siasat untuk melaporkan kepada pasukan penjaga di luar dusun untuk menangkap dua orang yang disangka pemberontak. Dengan memperlihatkan sedikit tenaga sinkang menggores huruf-huruf di atas meja, benar saja kedua orang gagah itu menjadi terkejut, mengerti bahwa pemuda buntung itu bukan sembarang pelayan, percaya kepadanya lalu pergi.

Semenjak dulu Han Han tidak pernah dipengaruhi persoalan pro atau kontra bangsa Mancu. Hal ini timbul karena keadaannya sendiri. Keluarganya terbasmi oleh perwira-perwira Mancu, akan tetapi dia mempunyai adik angkat tersayang seorang anak Mancu yang keluarganya terbasmi oleh para pejuang! Keadaan yang amat berlawanan inilah yang membuat selama ini Han Han berada di tengah-tengah dan tidak terseret, hanya ia selalu memilih pihak yang benar.

Karena itu pula, dalam pertikaian yang hampir terjadi di rumah makan itu di antara dua orang pejuang dan empat orang yang pro Kerajaan Mancu, ia tidak mau berpihak kepada satu pihak, melainkan berusaha untuk mencegah terjadinya bentrokan antara bangsa sendiri hanya karena perdebatan. Dia sama sekali tidak tahu bahwa di balik perdebatan itu terdapat hal-hal yang lebih besar lagi. Memang pemuda ini masih belum mengerti dan belum dapat menyelami tentang persoalan kepatriotan.

Kini hatinya lega melihat dua orang pejuang itu telah meninggalkan restoran. Biar pun dia tidak berpihak dalam persoalan yang diperdebatkan, namun tentu saja hatinya condong kepada dua orang gagah tadi karena sikap mereka yang halus dan gagah. Sebaliknya diam-diam ia mencela di hati sikap empat orang yang kasar dan jelas menyombongkan nama julukan dan kepandaian sendiri.

“Hiiiii, pelayan buntung...!”

Han Han menoleh dan melihat bahwa yang memanggilnya adalah Si Brewok Berhidung Besar. Ia segera berloncatan menghampiri meja empat orang itu. “Ada yang hendak dipesan lagi, taihiap?”

“Hemmm, jadi engkau hanya mencari upah agar makananmu dibayari maka engkau tadi bersikap manis dan membela dua orang pemberontak, ya? Kalau hanya uang yang kau cari, apakah kau kira kami tidak mampu memberimu sepuluh kali lipat dari pada harga makananmu yang dibayar dua orang pemberontak tadi? Dan tidak perlu dengan membela, asal engkau suka melayani kami akan kami bayar lebih banyak lagi. Hayo kau bersihkan sepatuku yang penuh debu ini. Kalau engkau menolak, berarti memang kau lebih suka melayani Si Pemberontak. Dan berarti engkau diam-diam adalah pemberontak atau mungkin mata-mata pemberontak!”

Han Han mengerutkan alisnya. Biar pun mengaku sebagai orang-orang gagah, sikap empat orang ini benar-benar seperti perampok-perampok kasar. Akan tetapi untuk mencegah terjadinya keributan, ia yang sudah pandai mengendalikan perasaan sendiri lalu menekuk lutut kakinya yang tinggal sebelah dan menggunakan lap yang dibawanya untuk mengelap sepatu Si Hidung Besar.

“Bagus! Lain kali kalau engkau bicara manis lagi dan membela pemberontak, akan kupatahkan kakimu yang tinggal sebelah. Pergilah!” Si Hidung Besar menggerakkan kaki menendang.

“Dukkk... augghhhhh...!” Ia menyeringai dan memegangi tulang keringnya yang bertemu dengan kaki bangku!

Ternyata tendangannya yang tidak keras ke arah Han Han untuk membikin malu pelayan buntung itu bertemu dengan bangku, tepat pada tulang keringnya. Karena ia menendang tanpa pengerahan sinkang, hanya untuk mendorong si pelayang terlentang, maka begitu tulang kering kakinya bertemu kaki bangku, tentu saja terasa nyeri sekali. Saking nyerinya, Si Hidung Besar menggebrak meja dan beberapa mangkok masakan tertumpah di atas meja dan ia lupa untuk menyelidiki bagaimana tiba-tiba ada bangku yang menghalang di antara dia dan pelayan itu.

Han Han sudah melangkah mundur terpincang-pincang. Ia mengambil keputusan untuk pergi dari restoran itu. Biar pun ia tidak minta, akan tetapi dua orang gagah tadi telah membayar makanannya, dan setelah makanannya dibayar, untuk apa dia lebih lama di tempat itu? Hanya akan mendatangkan penghinaan saja. Akan tetapi selagi ia hendak pergi, tiba-tiba Si Brewok bertahi lalat di hidung berseru.

“He, buntung! Pelayan macam apa engkau ini? Apakah matamu tidak melihat bahwa meja kami kotor? Hayo lekas bersihkan!”

Han Han tersenyum, Tadinya ia hendak pergi begitu saja agar tidak menimbulkan banyak keributan. Akan tetapi menyaksikan sikap empat orang itu makin lama makin kasar dan kurang ajar, ia pikir lebih baik memberi peringatan mereka untuk membuka mata mereka bahwa memandang rendah orang lain dan menyombongkan kepandaian sendiri bukanlah watak orang gagah dan hanya akan mendatangkan aib kepada diri sendiri.

“Baikiah, taihiap!” kata Han Han sambil menghampiri meja itu, berdiri dengan satu kaki, mengempit tongkatnya, kemudian tangan kirinya menekan meja sambil mengerahkan tenaga sinkang menggetarkan meja.

Di atas meja terdapat delapan buah mangkok makanan, panci-panci dan guci besar arak, cawan-cawan dan sumpit. Tiba-tiba semua benda yang berada di atas meja itu mencelat seperti bernyawa, terbang ke atas! Han Han dengan tenang mengangkat tangan kirinya dengan telapak menghadap ke atas, kemudian menggunakan tangan kanan yang memegang lap untuk mengelap meja yang kotor karena tumpahan masakan dan arak!

Empat orang brewok yang masih duduk itu tiba-tiba melongo, matanya terbelalak lebar dengan muka menengadah memandang mangkok piring sumpit panci yang terputar-putar di atas tidak dapat turun itu! Muka mereka pucat, mulut mereka ternganga sehingga Si Hidung Besar tidak merasa betapa ada dua ekor lalat hinggap di giginya yang kuning.

Setelah meja itu bersih disapunya dengan lap, Han Han lalu menggerakkan tangan kirinya. Benda-benda yang terbang berputaran di atas itu lalu turun dan tanpa menerbitkan suara berisik berjatuhan di atas meja kembali, persis di tempat semula seperti tadi seolah-olah tidak pernah meninggalkan permukaan meja yang kini telah menjadi bersih!

Han Han menggantungkan lap di pundaknya, menurunkan tongkatnya dan terpincang mundur dua langkah, membungkuk dan bertanya, “Su-wi taihiap, masih ada perintah lainkah?”

Empat orang brewok itu tertegun, memandang kepada Han Han, menelan ludah dan Si Hidung Besar tersedak karena ketika menutup mulutnya tiba-tiba, seekor lalat kurang cepat terbang keluar sehingga terpaksa mencari jalan ke dalam dan kesasar memasuki terowongan gelap berupa kerongkongan orang itu.

“Ti... tidak...” Si Mata Sipit berhasil mengeluarkan suara dengan mata kedap-kedip.

Han Han lalu meninggalkan meja itu, diikuti pandang mata, bukan hanya pandang mata empat orang melainkan pandang mata semua orang yang berada di tempat itu dan yang tadi menonton peristiwa yang bagi mereka amat ajaib. Keadaan sunyi sekali, seolah-olah semua orang masih belum mendapatkan napas mereka kembali, dan Han Han menyampirkan lap di atas bangku dekat koki gemuk, lalu menjura kepada koki gemuk sambil berkata.

“Lopek, terima kasih atas kebaikanmu. Karena makananku telah dibayar oleh dua orang Enghiong tadi, maafkan aku tidak dapat membantu lebih lama lagi.” Ia lalu memutar tubuhnya keluar dari restoran itu.

Empat orang brewok itu dengan muka merah sekali karena malu, segera membayar harga makanan mereka dan juga keluar tergesa-gesa. Setelah Han Han dan empat orang brewok itu pergi, gegerlah di restoran. Semua orang bicara seperti sarang tawon diganggu, semua membicarakan peristiwa luar biasa itu. Di tempat inilah pertama kali lahir julukan 'Pendekar Buntung', ada pula yang menyebutnya 'Pendekar Siluman', dan ada yang menyebutnya 'Pendekar Super Sakti'.

Memang sudah menjadi kelaziman bahwa orang paling suka melebih-lebihkan dalam menceritakan pengalaman mereka sehingga perbuatan Han Han yang bagi para ahli silat tinggi yang memiliki tenaga sinkang kuat bukanlah hal yang mengherankan, makin jauh dibawa angin makin dilebihkan dan makin aneh sehingga sebentar saja dunia kang-ouw juga mendengar berita angin tentang munculnya seorang Pendekar Super Sakti yang masih muda akan tetapi yang memiliki kepandaian setinggi langit!

Han Han melanjutkan perjalanan menuju ke utara, berjalan menyusuri pantai Sungai Fen-ho yang ia tahu akan membawanya sampai ke Tai-goan. Karena keadaan di sepanjang sungai ini ramai dan banyak orang, maka Han Han berjalan seenaknya, tidak mau menggunakan kepandaiannya karena hal ini akan menarik perhatian orang. Setelah ia keluar dari dusun Leng-chun, ia pun merasa menyesal mengapa di rumah makan tadi dalam usahanya memberi peringatan kepada keempat orang brewok ia telah memperlihatkan kepandaiannya sehingga mengagetkan dan mengherankan banyak orang.

“Ah, betapa mudahnya mengerti pesan subo bahwa senjata ampuh yang terutama adalah menguasai nafsu dan perasaan sendiri, tetapi betapa sukarnya melaksanakan pelajaran ini,” kata Han Han dalam hati sambil melanjutkan perjalanannya di sepanjang pantai sungai yang indah pemandangannya.

Kurang lebih sepuluh li dari dusun yang ditinggalkannya itu, Sungai Fen-ho memasuki hutan dan keadaan di sini sunyi. Han Han dapat melanjutkan perjalanannya dengan ilmunya yang hebat setelah digembleng Nenek Khu Siauw Bwee, akan tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya karena melihat serombongan orang berdiri menghadang jalan di depannya.

Ketika ia memandang, ternyata mereka itu adalah sepasukan prajurit Mancu terdiri dari dua puluh orang lebih, dan di depan pasukan berdiri empat orang brewok tadi bersama seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima sampai empat puluh tahun. Dari sikap mereka apa lagi melihat empat orang brewokan itu, mengertilah Han Han bahwa mereka itu telah mendahuluinya dengan menunggang kuda dan sengaja mencegatnya di tempat sunyi itu. Pasukan itu mempunyai rombongan kuda yang ditambatkan di bawah pohon-pohon, tak jauh dari situ.....
Han Han menarik napas panjang. Sebetulnya dia segan terlibat permusuhan dengan pihak mana pun juga. Dia hendak mencari Lulu, dan dia tidak ingin usahanya mencari Lulu terhambat oleh segala macam gangguan dan permusuhan yang tidak ada manfaatnya. Akan tetapi dia juga ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan oleh mereka, terutama sekali oleh empat orang brewok yang telah ia beri peringatan di rumah makan tadi.

Ia bersikap tenang, melanjutkan perjalanannya terpincang-pincang dibantu tongkatnya hingga ia tiba di depan wanita dan empat orang brewok tadi yang memandang dengan mata terbelalak, masih tampak jeri. Akan tetapi wanita itu memandangnya dengan sikap angkuh memandang rendah. Han Han hanya melihat ini semua dari sudut matanya dan hendak melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan dekat sungai agar tidak menerjang jalan yang sudah terpenuhi oleh rombongan pasukan itu.

“Pemuda buntung, berhenti dulu!”

Bentakan halus nyaring dari mulut wanita itu membuat Han Han terpaksa menghentikan langkahnya, berdiri tegak tanpa menoleh.
Sunyi sejenak, dan terdengar wanita itu bertanya lirih, “Dia itukah orangnya?”

“Benar, Sianli. Hati-hati, dia lihai bukan main,” jawaban Si Brewok Berhidung Besar ini terdengar jelas oleh Han Han yang masih tidak bergerak, juga tidak menoleh.
“Heh, orang muda pincang! Siapa namamu?”

Han Han yang mendengar betapa wanita itu disebut Sianli (Dewi), dapat menduga bahwa wanita itu tentulah seorang tokoh kang-ouw dan tentu memiliki kepandaian tinggi. Jika tidak, mana berani memakai julukan Dewi? Baru satu orang yang ia tahu memakai Dewi, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li, bekas gurunya. Ia dapat menduga bahwa karena empat orang brewok itu adalah orang-orang yang berpihak kepada pemerintah Mancu, maka wanita cantik yang angkuh ini tentulah juga seorang tokoh yang membantu Kerajaan Ceng.

Tanpa menoleh Han Han menjawab, “Aku adalah seorang perantau miskin yang tidak ingin bermusuh dengan siapa juga, tidak mempunyai hubungan pula dengan perang, harap kalian membiarkan aku lewat.”

“Aihhh, orang muda sombong! Agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian maka sikapmu sesombong ini. Ketahuilah, kami tidak berniat jahat terhadapmu, sebaliknya, kalau benar engkau memiliki kepandaian, kami akan membawamu menghadap atasan kami karena pemerintah yang bijaksana membutuhkan bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian. Kalau engkau berkepandaian, percayalah, hidupmu akan terjamin dan engkau tidak usah berkeliaran merantau, menderita kekurangan dan kelaparan!”

Diam-diam Han Han tersenyum. Pemerintah Kerajaan Ceng dan bangsa Mancu memang cerdik sekall. Kalau bangsa Mancu menggunakan kekerasan untuk membasmi orang-orang pribumi yang berkepandaian, tentu perlawanan rakyat takkan kunjung berhenti karena rakyat akan menjadi makin benci kepada pemerintah penjajah itu. Akan tetapi, dengan jalan membujuk orang-orang pandai membantu pemerintah, memberi mereka kedudukan yang takkan mereka peroleh pada waktu pemerintah dipegang oleh bangsa sendiri, maka kedudukan Pemerintah Ceng akan menjadi makin kuat, mendapatkan simpati orang-orang kang-ouw dan dapat menarik hati rakyat.

“Terima kasih, aku tidak mungkin dapat menerimanya karena aku seorang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa.” Sambil berkata demikian, tanpa menoleh Han Han lalu melanjutkan langkahnya.

Wanita itu memperhatikan langkah Han Han yang terpincang-pincang, sejenak ragu-ragu akan kebenaran laporan empat orang brewok. Tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan....

“Cuiiittttt!” terdengar bunyi ketika sinar hitam menyambar ke arah punggung Han Han.

Han Han tentu saja maklum bahwa ada senjata rahasia menyambar ke arahnya dari belakang dan maklum pula bahwa senjata rahasia itu dilemparkan oleh seorang yang memiliki sinkang kuat bukan main. Diam-diam ia kaget dan tahu bahwa wanita itu sungguh tak dapat disamakan dengan empat orang Kang-thouw Su-liong (Empat Naga Berkepala Baja) yang brewokan itu. Tidak, wanita ini jauh lebih lihai, belum tentu kalah lihai oleh murid-murid Ma-bin Lo-mo, melihat dari hebatnya sambaran angin senjata rahasianya.

Namun Han Han yang kini telah memiliki tingkat kepandaian yang luar biasa dan sukar diukur tingginya, masih belum menoleh dan belum berhenti melangkah, hanya kini tongkatnya bergerak sedikit ke belakang, kemudian sambil masih meloncat-loncat dengan sebelah kaki, ia mencabut tiga batang senjata rahasia piauw hitam dari tongkat di mana piauw-piauw itu menancap dan membuangnya ke atas tanah.

Wanita itu menahan seruan kaget. Pemuda pincang itu sama sekali tidak mengelak, bahkan menengok pun tidak, masih melangkah, akan tetapi dengan amat mudahnya sudah menyambut piauw-piauwnya dan membuang begitu saja seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa!

“Berhenti dulu...!”

Han Han melihat bayangan berkelebat dan wanita yang dapat bergerak cepat sekali membayangkan ginkang yang tinggi, kini telah berdiri di depannya. Terpaksa Han Han menahan langkahnya dan memandang tak acuh. Sebaliknya wanita itu memandang kepadanya penuh selidik, agaknya mengingat-ingat di mana ia pernah melihat pemuda ini dan kapan ia mendengar akan seorang jago muda yang buntung kakinya. Setelah merasa yakin bahwa dia belum pernah mendengar tentang seorang tokoh kang-ouw muda yang buntung kakinya, ia lalu berkata.

“Ternyata engkau memiliki kepandaian. Orang muda, marilah engkau ikut bersamaku menghadap atasanku. Guruku adalah seorang pembesar di istana, seorang panglima pengawal. Kalau engkau setelah diuji ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, engkau tentu akan mendapat kedudukan yang tinggi pula.”

Han Han mengerutkan alisnya dan wanita itu diam-diam amat tertarik. Wajah pemuda buntung ini tampan dan gagah sekali. Jantung wanita ini mulai tergetar.

“Toanio, harap kau jangan menggangguku. Aku tidak mempunyai urusan dengan toanio, dengan guru toanio atau dengan siapa pun juga. Harap membiarkan aku mengambil jalanku sendiri dan kita tidak saling mengganggu.”

“Orang muda, agaknya karena engkau belum tahu siapa aku, dan belum tahu pula siapa guruku maka engkau memandang rendah dan tidak menaruh perhatian. Ketahuilah bahwa aku adalah Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio, dan kalau engkau masih belum mengenalku, guruku adalah Hwi-yang Sin-ciang Gak-locianpwe!” Sebagai murid Gak Liat tentu saja Ma Su Nio tidak mau menyebut nama poyokan gurunya, yaitu Kang-thouw-kwi atau Setan Botak!

Mendengar disebutnya Gak Liat, Han Han tercengang. Tanpa disadari ia mengangkat muka memandang wanita itu. Tentu saja ia sudah tahu bahwa Gak Liat Si Setan Botak itu menjadi seorang panglima pengawal Kerajaan Mancu, akan tetapi ia tidak menyangka bahwa wanita yang agaknya dipanggil oleh empat orang brewok ini adalah murid Si Setan Botak.

Melihat pemuda buntung itu akhirnya mengangkat muka memandangnya penuh perhatian, Ma Su Nio tersenyum dengan bangga, akan tetapi senyumnya membeku di mulut ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Han Han yang demikian aneh dan tajam menusuk menembus ke jantung menjenguk hati! Pandang mata itu begitu aneh dan seperti bukan pandang mata manusia!

Tiba-tiba Ma Su Nio menjerit karena entah bagaimana caranya ia tidak dapat mengikuti dengan pandang mata saking cepatnya, tahu-tahu pundaknya sudah dicengkeram oleh pemuda buntung itu yang bertanya dengan suara yang membuat bulu tengkuknya berdiri.

“Hayo katakan apa yang terjadi dengan seorang gadis bernama Lulu yang diculik oleh Ouwyang Seng!”

Ma Su Nio berusaha meronta untuk meloloskan diri dari cengkeraman, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia merasa bahwa tenaganya lenyap dan sama sekali ia tidak mampu melepaskan pundaknya. Ia menjadi marah dan tangan kanannya menghantam ke depan. Tangan itu sudah berubah merah karena wanita ini telah menyalurkan sinkang-nya sehingga tangannya berubah menjadi tangan beracun Hiat-ciang (Tangan Berdarah)!

Pukulan Hiat-ciang dari Ma Su Nio amat berbahaya dan jarang ada orang mampu melawannya. Juga amat cepat seperti kilat menyambar, padahal tubuh Han Han begitu dekat di depannya. Akan tetapi mata Ma Su Nio berkunang ketika tubuh pemuda buntung itu berkelebat dan pukulannya mengenai angin, sedangkan tubuh pemuda itu telah berpindah ke belakangnya, namun tangan yang mencengkeram pundaknya masih berada di pundak. Sebelum Ma Su Nio dapat bergerak, tiba-tiba tubuhnya terjungkal dan ia jatuh miring karena didorong oleh Han Han dengan tenaga yang tak tertahankan lagi! Ma Su Nio baru saja berkedip, tahu-tahu dadanya telah ditodong oleh ujung tongkat sehingga ia tidak berani bergerak, maklum bahwa nyawanya berada di ujung tongkat itu.

“Hayo katakan, di mana Lulu?”

Ma Su Nio sudah mendengar akan gadis Mancu yang ditawan Ouwyang Seng dan yang kemudian melarikan dari istana di mana ia dijadikan pelayan istana. Kini seperti terbuka matanya. Pemuda inilah yang disebut Sie Han, pemuda aneh yang pernah menggegerkan istana! Akan tetapi menurut pendengarannya, pemuda ini tidaklah buntung kakinya. Dalam keheranan dan kebingungannya, Ma Su Nio menjawab gagap.

“Aku... aku tidak... tidak tahu...!”

Han Han menghela napas, mengeraskan hati dan menyentuh kulit dada wanita itu dengan ujung tongkat. Pada saat itu empat orang brewok sudah datang menyerang dengan golok mereka dari belakang. Han Han masih menodong Ma Su Nio dan tanpa menoleh ia menggerakkan tangan kirinya ke belakang.

Terdengar suara hiruk-pikuk, empat buah golok terlepas dari tangan mereka dan tubuh empat orang itu terjengkang roboh. Kiranya tangan kiri yang lihai dari Han Han telah menyambut terjangan mereka dengan totokan-totokan pada pergelangan tangan mereka dan sekaligus mendorong mereka dengan hawa sinkang yang amat dahsyat!

“Lekas katakan!” Han Han mengancam lagi.

Ma Su Nio tak dapat mempercayai matanya sendiri. Dalam segebrakan saja pemuda buntung ini sudah merobohkannya dan membuatnya tidak berdaya, bahkan tanpa menoleh, entah dengan ilmu apa, telah merobohkan empat orang pembantunya yang tak dapat digolongkan orang lemah! Ia bergidik dan tengkuknya terasa dingin saking ngeri dan takutnya. Baru pertama kali ini selama hidupnya Ma Su Nio merasa ngeri dan takut. Pemuda buntung yang menodongnya ini bukan manusia, melainkan iblis sendiri!

“Dia... dia menjadi pelayan istana...”

Tongkat itu ditarik kembali dan Han Han tertawa. Kembali Ma Su Nio bergidik. Pemuda itu tertawa terbahak seperti orang yang merasa lucu. Dan memang Han Han merasa amat geli hatinya. Tadi ia merasa yakin bahwa sebagai murid Gak Liat, tentu wanita ini tahu apa yang terjadi dengan Lulu. Keyakinannya terbukti dengan pengakuan wanita itu, akan tetapi mendengar betapa Lulu, adiknya itu menjadi pelayan istana, ia dapat membayangkan betapa akan lucunya, betapa akan gegernya istana kalau mempunyai seorang pelayan seperti adiknya. Tentu kaisar sendiri akan menjadi pening kepalanya! Maka ia tertawa saking geli hatinya, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

“Tangkap dia! Bunuh...!”

Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio sudah mendapatkan kembali keberaniannya. Terdorong oleh rasa malu, penasaran dan marah ia lalu memerintahkan pasukan terdiri dari dua puluh empat orang itu, dibantu oleh empat orang brewok yang sudah bangun kembali, untuk mengejar dan menyerang Han Han. Akan tetapi, tiba-tiba Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio yang mengejar paling depan karena gerakannya jauh lebih cepat dari pada para pembantunya terbelalak, mukanya pucat lalu seperti orang bingung memandang ke kanan kiri, mencari-cari. Dia tadi melihat tubuh pemuda buntung itu mencelat tinggi ke atas puncak pohon, lalu kelihatan bayangan putih itu mencelat-celat ke sana-sini dan lenyap!

“Ke mana dia, Sian-li? Di mana...?” Empat orang brewok itu telah datang dan mencari-cari.

Dengan hati sebal Ma Su Nio mengibaskan tangannya dan menghela napas. “Sudahlah, mari kita kembali!”

Pasukan Mancu saling berbisik dan mereka ini setibanya di markas lalu menceritakan pertemuan mereka dengan Pendekar Buntung Super Sakti! Makin terkenallah sebutan Pendekar Super Sakti yang juga disebut Pendekar Siluman sebab mereka menganggap pemuda buntung itu seperti siluman.

Sementara itu, Han Han yang sudah berhasil melarikan diri dari pasukan itu karena ia pun hanya menghendaki keterangan tentang Lulu, melanjutkan perjalanannya, seperti biasa, menyusuri Sungai Fen-ho menuju ke utara. Ketika ia tiba di luar kota Tai-goan, tiba-tiba ia mendengar suara orang.

“Taihiap, harap suka menunggu...!”

Han Han mengerutkan alisnya dan menengok. Ketika melihat dua orang berlari-lari cepat, ia membalikkan tubuhnya karena ia mengenal dua orang gagah yang ia lihat di restoran tadi. Mereka itu agaknya berlari cepat dan napas mereka agak terengah-engah namun wajah mereka berseri gembira.

“Untung kami dapat menyusul taihiap...,” kata yang tua dan mereka berdua serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han.

Pemuda buntung ini mengerutkan alisnya makin dalam dan berkata, suaranya penuh wibawa. “Tidak baik begini, harap ji-wi suka bangun!”

Dua orang itu lalu bangkit berdiri dan memandang kepada Han Han penuh kekaguman dan penghormatan. “Mohon maaf dari taihiap bahwa kami berdua mempunyai mata akan tetapi seperti buta saja tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Semenjak taihiap keluar dari restoran, kami berdua melihat betapa anjing-anjing penjilat itu memberi tahu kepada pasukan musuh. Kami berusaha memberi tahu taihiap akan dihadang, akan tetapi... ah, sungguh kami harus merasa malu. Bagaimana kami akan memperingatkan taihiap, kiranya mereka itu sekawanan tikus menghadapi kucing ketika bertemu taihiap. Hebat sekali...! Padahal iblis betina itu adalah Hiat-ciang Sian-li yang lihainya luar biasa...!”

“Dalam segebrakan saja roboh...!” Yang muda berseru, memandang Han Han dengan kagum.

Han Han mengerti dua orang ini tadi telah menyaksikan pertemuannya dengan pasukan Mancu, maka ia lalu berkata, “Hendaknya ji-wi tidak melebih-lebihkan hal itu. Kini ji-wi mengejar saya ada keperluan apakah?”

“Taihiap, saya bernama Ciang Boan dan dia ini adalah So Pek Kun. Kami adalah dua orang utusan dari Bu-ongya untuk menyelidiki daerah ini. Melihat kesaktian taihiap, kami segera melakukan pengejaran. Kini kami mohon sudilah kiranya taihiap membantu perjuangan Bu-ongya melawan penjajah...”

“Hemmm, ji-wi Enghiong. Terima kasih atas kepercayaan ji-wi, namun sesungguhnya saya tidak mau terlibat dalam perang yang tiada habisnya itu. Saya mempunyai banyak sekali urusan pribadi yang harus saya selesaikan.”

“Taihiap, urusan apakah yang taihiap hadapi? Kami mempunyai banyak sekali sahabat kaum pejuang di semua daerah, dan kalau kami dapat membantu...”

“Apakah ji-wi pernah mendengar akan seorang wanita bernama Lulu? Dia adalah Adikku dan saya ingin mencarinya. Dia dulu diculik oleh Ouwyang Seng dan kabarnya Adikku itu berada di istana...”

“Ouwyang Seng putera Pangeran Ouwyang Cin Kok? Wah, ini hebat! Akan tetapi, sungguh pun kami tidak pernah mendengar tentang Adik taihiap, yang bergerak di daerah kota raja adalah sahabat-sahabat yang dipimpin oleh Lauw-pangcu. Kalau taihiap bertanya kepadanya tentu akan ada yang tahu. Taihiap, saat ini seluruh orang gagah telah berkumpul di Se-cuan dan kami siap untuk sewaktu-waktu menghadapi penyerangan orang Mancu. Kami harap sudilah taihiap ikut mencurahkan tenaga taihiap yang amat lihai untuk membela nusa bangsa, dan kami percaya bahwa taihiap memiliki jiwa patriot.”

Han Han tidak mau berbantah lebih banyak lagi tentang hal itu, maka ia menghela napas dan berkata, “Saya tidak berani berjanji terlalu banyak, ji-wi Enghiong. Saya hendak mencari Adikku, kalau sudah bertemu barulah saya akan memikirkan tawaran ji-wi. Kalau memang kelak aku setuju, agaknya tidak akan sukar untuk pergi ke Se-cuan. Nah, selamat tinggal!” Han Han tidak menanti bantahan mereka. Tubuhnya mencelat ke belakang, kemudian dua orang gagah itu melihat bayangan putih berkali-kali mencelat makin jauh dan lenyap dari pandangan mata mereka.

Kedua orang itu menjadi pucat wajahnya, saling pandang kemudian menarik napas panjang. “Manusiakah dia?” Yang muda menggumam.

“Entahlah, akan tetapi sungguh sukar dipercaya seorang buntung bisa bergerak seperti itu!”

Keduanya pergi dan makin banyaklah orang yang bercerita tentang kehebatan sepak terjang Pendekar Super Sakti!

Han Han tidak singgah di kota Tai-goan, melainkan terus keluar dari kota itu melalui pintu kota sebelah timur untuk melanjutkan perjalanannya ke kota raja melalui Pegunungan Tai-hang-san. Ketika beberapa hari kemudian ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, ia merasa kagum akan keindahan pemandangan alam di pegunungan ini, akan penghidupan para petani pegunungan yang aman, damai dan tenteram.

Han Han ikut menjadi gembira melihat para petani yang biar pun pakaiannya sederhana, robek-robek dan kotor terkena lumpur, bekerja di sawah sambil menyanyi-nyanyi, wajah mereka berseri gembira, tubuh mereka sehat kuat. Ia kagum sekali dan terkenanglah ia akan filsafat yang pernah dibacanya bahwa ‘kemajuan duniawi’ bahkan menjauhkan manusia dari pada kebahagiaan hidup.

Lihat saja di kota-kota besar. Di kota manusia mengadakan pelbagai kesenangan, makanan enak, pakaian indah, perhiasan, tontonan dan sebagainya yang dianggap sebagai kemajuan yang akan menyenangkan hidup manusia. Akan tetapi makin banyak diciptakan hiburan-hiburan dan kemewahan, bukan kebahagiaan yang didapat, bahkan sebaliknya.

Manusia yang bisa mendapatkan segala kemewahan itu hanya akan menikmatinya sebentar saja lalu menjadi bosan, sebaliknya betapa banyaknya yang karena tidak bisa mendapatkannya, merasa berduka dan menganggap hidupnya sengsara. Yang tidak bisa membeli pakaian indah dan perhiasan mewah, melihat mereka yang memakai segala kemewahan itu menjadi iri hati dan kepingin sekali, maka timbullah perbuatan-perbuatan maksiat, didorong oleh keinginan hendak memiliki benda-benda yang diinginkan.

Akan tetapi, di dusun yang sunyi ini, tidak nampak kemajuan duniawi, tidak nampak kesenangan-kesenangan yang aneh-aneh dan karenanya, tidak ada seorang pun yang kepingin dan tidak ada seorang pun yang merasa sengsara. Mereka tidak mabuk pengejaran kesenangan dan kemewahan, mereka tidak butuh akan itu, dan karenanya mereka pun tidak kekurangan sesuatu!

Boleh jadi para petani pegunungan ini miskin akan harta benda dan kesenangan duniawi yang sekelumit itu, namun tanpa disadari telah menemukan kebahagiaan sejati yang memang akan menonjol apa bila manusia menipis keinginannya untuk mengejar kesenangan.

Kesenangan adalah bayangan yang menyesatkan, makin dikejar makin membuat pengejarnya tersesat jauh sehingga tidak dapat menemukan kebahagiaan yang sudah ada pada dirinya sendiri. Lupa bahwa kesenangan itu bergandengan tangan dengan kesusahan. Bahkan merupakan satu badan dengan dua muka, yaitu yang sebelah kesenangan yang sebelah lagi kesusahan. Maka sudah menjadi kepastian bahwa siapa mencari kesenangan, dia berarti mencari pula kesusahan, karena yang merangkul kesenangan berarti menggandeng kesusahan pula.

Karena tertarik dan kagum, Han Han beristirahat di bawah pohon dekat sawah, melihat seorang petani tua yang sedang mencangkul sawahnya. Petani tua itu memandang ke arah Han Han, menggeleng-geleng kepala penuh kasihan melihat pemuda yang berkaki buntung itu, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Lopek, maaf kalau aku mengganggu pekerjaanmu. Penduduk di sini kelihatan sehat dan gembira sekali, alangkah jauh bedanya dengan penduduk kota Tai-goan yang saya lalui beberapa hari yang lalu.”

Kakek itu menunda cangkulnya, menoleh dan tersenyum. “Habis, kalau tidak gembira, apa yang disusahkan? Bekerja setiap hari mendatangkan kesehatan. Dan berkat kesucian para nikouw yang bersembahyang untuk kami di Kwan-im-bio di dusun kami, Kwan Im Pouwsat memberi berkah sehingga hasil sawah kami selalu baik. Memang benar, semenjak Thian Sim Nikouw dan para muridnya membangun kuil Kwan-im-bio di dusun kami, penghidupan kami lebih tenteram. Sawah ladang subur, kalau ada yang sakit para nikouw cepat turun tangan mengobati, dan petuah-petuah yang berharga dari para nikouw mengusir semua kemaksiatan di dusun-dusun.”

Han Han tertarik dan makin kagum. Di mana ada penghidupan yang demikian tenang dan damai?

“Selain itu, juga tidak ada orang jahat berani mengganggu pedusunan di sekitar Tai-hang-san, berkat perlindungan para nikouw Kwan-im-bio yang sakti!”

Han Han makin kagum. Dia menoleh ke arah sebuah dusun yang ditunjuk oleh kakek itu, dan karena hari sudah menjelang senja, ia mengambil keputusan untuk singgah dan melewatkan malam di dusun itu. Ia lalu berpamit dan melanjutkan perjalanannya menuju ke dusun yang berada di sebuah lereng di kaki Pegunungan Tai-hang-san.

Ketika tiba di luar dusun, ia mendengar derap kaki kuda dan seekor kuda yang ditunggangi seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, dengan sebatang golok tergantung di punggung, melewatinya dan meninggalkan debu yang mengotori pakaian Han Han. Pemuda ini mengebut-ngebutkan pakaiannya dan mengerutkan alisnya. Jelas bahwa orang tadi yang kini bersama kudanya memasuki dusun di depan bukanlah petani dusun, dan melihat sinar kejam membayang di wajah itu, diam-diam Han Han merasa khawatir.

Akan tetapi dengan tenang ia melanjutkan perjalanannya, melangkah dengan satu kaki dengan ringan dan mudah, akan tetapi apa bila bertemu orang ia lalu menggunakan tongkatnya membantu sehingga tidak menimbulkan curiga dan keheranan. Kalau ia menggunakan ilmunya, bergerak dengan langkah satu kaki seperti yang ia latih di bawah pimpinan gurunya, tentu ia akan mendatangkan keheranan kepada mereka yang melihatnya.

Di pinggir dusun itu tampak sebuah bangunan tembok yang dari jauh pun dapat diduga tentu sebuah kuil. Temboknya setinggi dua meter dan tebal, dan di pintu depan tampak tulisan tangan di atas papan, tulisan yang bergaya indah: KWAN IM BIO. Tentu saja Han Han tidak berani melihat-lihat karena maklum bahwa kuil itu adalah kuil yang dihuni para nikouw (pendeta wanita). Akan tetapi ia melihat kuda ditambatkan di pohon tak jauh dari kuil itu dan penunggangnya tidak kelihatan batang hidungnya. Han Han menjadi curiga dan ia menyelinap di belakang pohon mengintai.

Tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang yang gerakannya cukup gesit dan tampaklah si penunggang kuda tadi, agaknya baru turun dari pagar tembok dan wajah yang kasar dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar-sinar. Orang itu berlari menghampiri kudanya, melepaskan tambatan kuda, meloncat dengan sigap dan melarikan kudanya memasuki dusun yang kelihatannya cukup besar dengan rumah-rumah yang cukup baik keadaannya.

Sikap dan gerak-gerik penunggang kuda itu menjadi alasan yang cukup kuat bagi Han Han untuk memperhatikan keadaan kuil. Timbul kecurigaannya dan keinginannya untuk menyelidiki, maka setelah melihat bahwa di luar tidak ada orang, tubuhnya sudah mencelat naik dan di lain saat ia telah berada di sebelah dalam pagar tembok, menyelinap dan bersembunyi di balik semak-semak pohon kembang yang tumbuh di sudut kebun. Kebun itu luas dan ternyata bahwa kuil itu sendiri tidaklah begitu besar. Agaknya para nikouw mengerjakan kebun itu, ditanami pohon-pohon buah dan bahan makanan lain.

Selagi Han Han hendak keluar dari tempat persembunyiannya dan mengintai ke dalam kuil melalui pintu atau jendela belakang karena kebun itu sunyi saja, tiba-tiba ia mendengar suara dan melihat empat orang nikouw keluar dari pintu belakang. Ia cepat menyelinap lagi, bersembunyi.

Di dalam cuaca yang mulai suram karena matahari sudah tenggelam di barat, Han Han melihat seorang nikouw tua yang berwajah alim memegang sebatang tongkat bersama tiga orang nikouw yang bersikap halus. Seorang di antara tiga nikouw ini sudah setengah tua, yang seorang lagi paling banyak berusia tiga puluh tahun, berwajah cantik dan berkulit putih. Akan tetapi ketika Han Han melihat nikouw ke tiga, jantungnya berdebar. Nikouw ini masih amat muda dan wajahnya cantik jelita. Kepalanya yang gundul itu berkulit putih dan licin seolah-olah memang tidak pernah berambut, bibirnya segar merah seperti dicat di tengah kulit muka yang putih halus.

“Ah, agaknya engkau hanya melihat bayangan burung terbang,” kata nikouw tua dengan lemah lembut.
“Tidak, subo. Teecu yakin ada orang berkelebat meninggalkan kebun ini tadi. Biar teecu periksa sebentar!”

Suara itu! Wajah dan terutama mata dan bibir itu! Dan kini gerakan tubuh nikouw muda yang gesit dan ringan sekali, berloncatan ke sana ke mari dengan sinar mata tajam mencari-cari. Tidak salah lagi! Ia mengenal nikouw ini, nikouw yang ia duga sedang mencari bayangan si penunggang kuda yang agaknya mengintai ke kuil dari kebun ini!

“Kim Cu...!”

Han Han tak dapat menahan lagi hatinya. Sambil melompat keluar dari balik semak-semak ia menghampiri Kim Cu yang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat memandang kepadanya, seolah-olah nikouw muda ini melihat munculnya setan!

“Omitohud...!” Nikouw tua berseru perlahan, juga dua orang nikouw lain mengeluarkan seruan kaget melihat munculnya seorang pemuda berkaki buntung yang berwajah tampan dan berambut riap-riapan.

“Kim Cu...!” Kembali Han Han berseru dengan suara menggetar. “Ini aku... Han Han...!”

Nikouw muda ini mukanya menjadi seperti muka mayat, mulutnya yang tadinya merah itu menjadi pucat pula, terbuka sedikit dan matanya terbelalak memandang wajah Han Han, hidungnya kembang-kempis, dadanya turun naik.

“Kim Cu, lupakah engkau kepadaku...?” Han Han melangkah mendekat dan memegang pundak nikouw itu, suaranya makin menggetar dan wajahnya juga agak pucat, matanya bersinar tajam penuh selidik.

“Tidak...!” Tiba-tiba bibir itu mengeluarkan suara yang menggetar bunyinya, dengan bibir menggigil. “Tidak... jangan sentuh aku... ahhh, aku... bukan... bukan dia... aku... seorang nikouw...!”

Nikouw muda itu membuang muka yang ditundukkan, tangannya dengan halus merenggut tangan Han Han dari pundaknya, tangan yang dingin menggigil seperti seekor burung ketakutan.

“Kim Cu...,” Han Han menahan suaranya yang terisak ketika ia melihat wajah nikouw yang ditundukkan itu menitikkan dua butir air mata dari mata yang kini dipejamkan dan mulut yang kini berbisik-bisik membaca liam-keng!

“Orang muda, perbuatanmu ini tidak patut! Engkau hendak menodai kesucian seorang nikouw dan mengotorkan Kwan-im-bio?” Suara itu halus, akan tetapi penuh teguran. 

Han Han sadar dan cepat memandang nikouw tua itu. Nikouw itu berdiri tegak, kening berkerut dan sepasang mata yang halus amat berwibawa. Dua orang nikouw lain berdiri menunduk, merangkap kedua tangan di dada dan mulutnya berkemak-kemik, seperti mulut nikouw muda itu, membaca doa!

“Maaf..., maaf...” Han Han merasa seperti terpukul, meloncat ke belakang dan tubuhnya mencelat ke atas pagar tembok. Dari atas pagar itu menoleh lagi kepada nikouw muda yang masih menunduk dan meruntuhkan air mata sambil berkemak-kemik berdoa mohon kekuatan batin kepada Kwan Im Pouwsat.

“Ohhh... Kim Cu...!” Suara Han Han mengandung isak dan tubuhnya berkelebat lenyap dari atas tembok.

Tubuh nikouw muda itu terhuyung kemudian terguling roboh! Pingsan! Sibuklah dua orang nikouw yang lain mengangkatnya dan nikouw tua berulang kali menghela napas dan menyuruh bawa tubuh nikouw muda yang pingsan itu ke dalam kamarnya, kemudian menyuruh dua orang muridnya itu keluar dari kamar.

Nikouw muda itu memang Kim Cu. Telah diketahui bahwa setelah kuil di mana nikouw tua itu tinggal kebanjiran, Thian Sim Nikouw mengajak murid-muridnya yang pada waktu itu telah menjadi sepuluh orang untuk mengungsi dan akhirnya menetap di lereng Pegunungan Tai-hang-san mendirikan sebuah kuil sederhana. Selama itu, Kim Cu yang telah memakai nama Kim Sim Nikouw, hidup tenteram dan damai, bahkan kalau tidak ada gangguan bayangan Han Han tentu dia telah mencapai kebahagiaan seperti yang telah dicapai Thian Sim Nikouw dan murid-muridnya.

Pertemuan tiba-tiba dengan Han Han yang dianggapnya sudah mati itu menimbulkan gelombang dahsyat dalam hati Kim Sim Nikouw, merupakan pukulan batin yang amat hebat sehingga ia roboh pingsan. Luka di hatinya yang tadinya sudah mulai sembuh dan mengering, kini seperti dirobek-robek dan mengucurkan darah.

“Han Han...” Bisikan ini keluar dari bibir Kim Sim Nikouw yang bergerak perlahan, lalu bangkit duduk, pandang matanya kosong sehingga ia tidak melihat bahwa gurunya duduk di situ. Ia menoleh ke kanan kiri, kembali memanggil lirih, “Han Han...”

“Omitohud, sadarlah dan kuatkan hatimu, Kim Sim...”
“Han Han...!” Kini panggilan itu merupakan jerit yang langsung keluar dari hatinya.
“Muridku, sadarlah!” Kembali nikouw tua itu berkata halus.

Kim Sim Nikouw menoleh dan... sambil menjerit ia menubruk gurunya, lalu berlutut dan menangis tersedu-sedu di pangkuan gurunya. “Subo... ampunkan teecu... ahhh, teecu yang lemah berdosa besar...!”

“Menangislah, muridku, menangislah. Pouwsat selalu menaruh kasihan dan memaafkan orang lemah yang sadar akan kelemahannya....” Nikouw itu memeluk muridnya dan membiarkan nikouw muda itu menangis di dadanya.

Dia sendiri tergetar hatinya dan tersentuh perasaan harunya, namun bagaikan air telaga yang sudah tenang, keriput air yang sedikit itu sebentar saja lenyap. Dia sengaja membiarkan muridnya menangis, oleh karena ia tahu bahwa tekanan batin yang hebat itu akan amat berbahaya bagi kesehatannya kalau tidak diberi saluran keluar. Dan saluran terbaik pada saat itu hanyalah membiarkannya menangis sepuasnya.

Kim Cu menangis sesenggukan sampai tubuhnya berguncang-guncang, air matanya membanjir bagaikan air bah menjebol bendungannya, hatinya menjerit-jerit keluar dari tenggorokannya sebagai keluh dan rintih melengking. Setelah dadanya tidak terlalu terhimpit lagi ia berkata, suaranya serak dan terputus.

“Aduh, Subo.... Apakah yang harus teecu lakukan...? Bagaimana teecu... ini..., Subo... tunjukkanlah jalan... bagi teecu....”

Thian Sim Nikouw tersenyum. “Omitohud... puji syukur kepada Kwan Im Pouwsat yang penuh welas asih...! Tanyalah kepada hati sanubarimu sendiri, anakku. Pinni tidak akan memaksamu, tidak akan menghalangimu. Engkau ambillah keputusan sendiri, Kim Sim Nikouw!”

“Subo... tolonglah teecu... teecu bimbang... teecu bingung. Kemunculan Han Han bagaikan sambaran petir mengenai kepala teecu, gelap semua... tolonglah Subo memberi jalan, memberi petunjuk kepada teecu.”

“Baikiah, tenangkan dan sabarlah hatimu. Mari kita bersemedhi sebentar... pinni akan membantumu memperoleh ketenangan dan kesabaran. Karena hanya hati yang tenang penuh kesabaran sajalah yang akan mampu menggunakan pikiran dan pertimbangan bersih dan tepat.”

Kim Sim Nikouw melepaskan pelukannya lalu duduk bersila di atas tanah. Sebagai seorang ahli silat tinggi, bekas murid orang-orang sakti seperti Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Cui-sian-li, tentu saja semedhi merupakan hal yang sudah biasa ia lakukan. Akan tetapi dalam keadaan batin tertekan seperti itu, kalau tidak dibantu Thian Sim Nikouw, tak mungkin dia dapat mengheningkan ciptanya.

Tak lama kemudian terasalah olehnya getaran yang halus memasuki dirinya dan ia tahu bahwa gurunya yang biar pun tidak pandai ilmu silat akan tetapi dalam soal kebatinan jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada Toat-beng Ciu-sian-li, telah membantunya. Sebentar saja Kim Sim Nikouw dapat mengheningkan cipta dan setelah mereka menghentikan semedhi, Kim Sim Nikouw sudah dapat tenang, sungguh pun pikirannya masih tertekan dan bayangan Han Han masih belum mau lenyap dari depan matanya.

“Muridku, pinni akan berusaha membantumu memberi petunjuk. Akan tetapi, pinni tidak sekali-kali hendak mempengaruhimu, karena hal ini menyangkut jalan hidupmu sendiri. Kalau pinni memaksanya, yaitu memaksakan kehendak hati pinni, hal itu berarti pinni menyalahi hukum yang sudah ditentukan dalam hidup manusia. Nah, pinni mulai dengan pertanyaan yang hendaknya kau jawab sejujur-jujurnya.”

“Baiklah, Subo.”
“Apakah engkau mencinta Han Han?”
“Teecu mencintanya, Subo. Dahulu, Han Han adalah satu-satunya orang yang teecu cinta. Dan sekarang pun, hati teecu masih rindu kepadanya, rindu akan cintanya, sungguh pun perasaan itu hanya merupakan lamunan belaka karena sesungguhnya, setelah mempelajari dan melatih pelajaran dari Subo untuk mengubah cinta kasih perorangan menjadi cinta kasih alam semesta, mencinta setiap manusia, bahkan setiap makhluk, dunia dan isinya, teecu menjadi ragu-ragu apakah cinta kasih teecu masih sekuat dulu terhadap Han Han.” 
Nikouw tua itu mengangguk-angguk, kelihatannya lega mendengar ini. Akan tetapi ia masih belum yakin benar, maka tanyanya kembali, “Apakah engkau masih mempunyai keinginan untuk menyerahkan tubuhmu kepadanya, ingin melakukan hubungan badani dengan dia? Apakah engkau masih ingin untuk menjadi isterinya dan kemudian melahirkan anak-anak keturunannya?”

Kim Sim Nikouw menundukkan mukanya yang menjadi merah, berpikir sampai lama menjenguk hati dan pikiran sendiri agar dapat memberi jawaban sejujurnya karena dia maklum bahwa gurunya berusaha keras untuk menolongnya dan hanya gurunya inilah yang akan dapat menunjukkan jalan yang tepat baginya. Kemudian ia mengangkat muka, memandang gurunya dengan sinar mata tulus dan berkata.
“Subo tentu maksudkan apakah teecu masih mengandung nafsu birahi terhadap dia? Kalau benar demikian pertanyaan Subo, maka jawaban teecu adalah tidak! Berkat bimbingan Subo, teecu telah dapat menguasai dan mengendalikan nafsu birahi. Tidak, Subo, cinta teccu terhadap Han Han bukanlah cinta agar menjadi isterinya dan agar teecu menjadi ibu anak-anaknya.”

“Omitohud... syukurlah, engkau telah dapat membebaskan diri dari ikatan yang amat kuat. Dan kalau begitu, maka sebaiknya, bagimu sendiri dan bagi dia pula, engkau harus memutuskan hubunganmu dengan dia. Akan tetapi, harus engkau sendiri yang mengatakan kepadanya, karena kalau demikian barulah ia akan yakin, dan hal ini pun merupakan ujian terakhir bagimu. Yang kau nyatakan tadi hanyalah ucapan yang dapat dipengaruhi oleh pertimbangan, akan tetapi kalau engkau berhadapan sendiri dengan dia dan perasaanmu pun menguasaimu, nah, dalam keadaan seperti itulah maka pernyataanmu akan merupakan keputusan.”

“Maaf, Subo. Betapa beratnya kalau harus teecu sendiri yang mengatakannya. Tadinya pun teecu sudah menganggap dia mati. Begitu dia muncul dengan tiba-tiba, melihat raut wajahnya yang penuh bayangan duka, melihat kakinya yang buntung... ah, rela rasanya teecu mengorbankan apa pun juga demi untuk membahagiakan dia!”

“Kemukakanlah kesemuanya ini kepadanya, muridku. Dan jika engkau berhadapan dengan dia, sebutlah nama Kwan Im Pouwsat di hatimu, mohon kekuatan. Pinni hanya dapat mengatakan bahwa kalau engkau berhasil memutuskan hubungan dengan dia, maka engkau akan dapat berbuat lebih banyak dari pada kalau engkau melanjutkan ikatan itu. Engkau akan menderita karena setelah menjadi isterinya, engkau akan selalu teringat akan keadaanmu yang murni di sini, engkau akan disiksa oleh perasaan berdosa dan dengan demikian engkau akan menyeret pula dia ke dalam kesengsaraan. Pinni yakin akan hal ini karena engkau telah mencapai tingkat setinggi itu di mana kasih sayang alam semesta telah menyerap dan berakar di hati sanubarimu. Demikianlah, muridku. Kini beristirahatlah dan besok engkau boleh menjumpainya.” Setelah berkata demikian, nikouw tua itu meninggalkan Kim Sim Nikouw dan memasuki kamarnya sendiri.

Kim Sim Nikouw naik ke pembaringannya, berbaring dan berusaha untuk tidur. Akan tetapi ia gelisah, miring ke kanan, kembali ke kiri, terlentang, tertelungkup dan akhirnya ia bangun duduk bersila dan bersemedhi lagi! Setelah bersemedhi, barulah ia dapat tenang dan dalam keadaan hening ini ia dapat menenteramkan hati dan pikirannya, lalu ia terus melatih diri mengumpulkan hawa murni di tubuhnya.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba dia terkejut. Ia mendengar suara kaki di genteng. Tentu Han Han, pikirnya dengan jantung berdebar. Biarlah ia bersemedhi terus, karena menghadapi Han Han, dalam keadaan seperti ini ia akan merasa lebih kuat batinnya. Ia harus memutuskan hubungan mereka, harus mematahkan ikatan di antara mereka. Ia harus menolaknya, betapa pun hal ini menyakitkan!

Akan tetapi sampai lama, ia tidak mendengar gerakan lagi. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan perlahan di kamar seperti rintihan orang tercekik atau terbungkam mulutnya, kemudian diam! Hatinya menjadi curiga dan kembalilah wataknya sebagai Kim Cu murid In-kok-san!

Sekali mencelat, tubuhnya sudah melayang ke luar dari jendela dan menerobos memasuki jendela Pui Sim Nikouw, yaitu suci-nya yang berusia tiga puluh tahun, yang cantik dan berkulit putih. Dan apa yang dilihatnya dalam kamar yang hanya diterangi sebatang lilin itu membuat ia hampir mengeluarkan makian saking marahnya! Ia melihat tubuh suci-nya itu telanjang bulat, pakaian nikouw telah robek-robek semua di kanan kiri tubuhnya yang putih mulus. Suci-nya dalam keadaan tertotok, air matanya bercucuran dan seorang laki-laki tinggi besar sambil menyeringai meraba-raba dada suci-nya dan menciumi bibirnya.

“Manusia jahat!” Kim Sim Nikouw masih dapat menahan makian yang lebih kotor, dan ia meloncat ke dekat pembaringan.

Laki-laki itu meloncat turun dan menyeringai lebar. “Ha-ha-ha, engkaulah yang kucari sebetulnya. Engkau paling muda dan paling cantik! Dan engkau... heh-heh, engkau masih perawan. Siang tadi kulihat engkau, akan tetapi aku salah masuk. Betapa pun juga, dia ini boleh juga!”

“Pergilah!” Kim Sim Nikouw mengayun kakinya dan tubuh laki-laki itu terlempar ke belakang menabrak dinding. Ia kaget sekali dan cepat merangkak bangun sambil menyambar golok yang tadi ia letakkan di atas meja.
“Ehhh, kiranya engkau pandai silat? Bagus, engkau menyerah atau kupenggal lehermu, kubawa kepalamu yang gundul dan cantik itu untuk hiasan kamarku, ha-ha!”

Golok lelaki itu menyambar, namun sekali Kim Sim Nikouw menggerakkan tangan, laki-laki itu berteriak. Goloknya terlepas, tangannya lumpuh karena pergelangan tangannya patah tercium jari tangan Kim Sim Nikouw yang amat kuat. Kim Sim Nikouw yang sudah marah sekali lalu menubruk maju, kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah dada laki-laki itu.

Pukulan ini sepenuhnya mengandung pukulan Toat-beng-ciang dan sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki itu tentu mati. Untung sekali baginya, pada detik terakhir, melihat wajah laki-laki yang ketakutan itu, Kim Sim Nikouw teringat akan sifat welas asih, dan ia menaikkan sasarannya.

“Kekkk-krekkkkk!” Bukan dada lelaki itu yang pecah, melainkan kedua tulang pundaknya yang hancur.
“Aduh tobaaat... aduhhh... aduhhh... ampunkah saya, Siankouw...!” lelaki itu mengaduh-aduh sambil berkelojotan di atas lantai.
“Hemmm!” Kim Sim Nikouw mendengus, lalu cepat menubruk suci-nya, membebaskan totokannya dan menyelimuti tubuhnya yang telanjang bulat.

Nikouw itu menangis, namun dihibur oleh Kim Sim Nikouw, “Syukur kepada Pouwsat bahwa kedatanganku belum terlambat, Suci.” Nikouw itu memeluk Kim Sim Nikouw sambil menangis.
Pintu kamar terbuka dan Thian Sim Nikouw masuk sambil memegang sebatang lilin, diikuti oleh para nikouw karena mendengar suara gaduh dalam kamar itu.

“Apakah yang terjadi di sini?”
“Subo, manusia sesat ini hendak melakukan perbuatan terkutuk,” kata Kim Sim Nikouw. 

Nikouw tua itu mengeriing ke arah Pui Sim Nikouw yang berkerudung selimut dan memandang laki-laki yang patah pergelangan lengan kanan dan remuk kedua tulang pundaknya itu.

“Hemmm, ambilkan tempat obat penyambung tulang,” perintahnya kepada seorang murid yang segera memenuhi perintah gurunya.

Setelah keranjang obat itu datang, Thian Sim Nikouw lalu mengobati kedua pundak dan pergelangan tangan laki-laki itu yang terus merintih-rintih dan minta-minta ampun. Setelah selesai membalut, Thian Sim Nikouw lalu berkata, “Kalau mau minta ampun, mintalah ampun kepada Thian dan jadikanlah pengalaman pahit ini sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang jiwamu. Nah, pergilah!”

Laki-laki itu menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Sim Nikouw, kemudian ia diperbolehkan keluar melalui pintu samping yang dibuka oleh seorang nikouw. Kemudian para nikouw itu kembali memasuki kamar masing-masing. Akan tetapi Kim Sim Nikouw tidak kembali ke kamarnya, melainkan memasuki ruangan liam-keng dan berlutut di depan sebuah arca Buddha yang besar.

Ia bersila, bersemedhi dan mulutnya berkemak-kemik membaca liam-keng. Hatinya gelisah sekali karena tadi ia dikuasai kemarahan, bukan karena melihat suci-nya hendak diperkosa orang, melainkan karena tadinya ia mengira Han Han-lah yang akan berbuat jahat melakukan perkosaan. Ia merasa makin berdosa dan kasihan kepada Han Han, juga merasa betapa sebetulnya ia masih amat lemah.

Dia tadi telah dibakar api cemburu, dan cemburu ini hanyalah menjadi bukti bahwa nafsu birahinya terhadap pemuda itu, yang bergulung menjadi satu dengan cinta kasihnya, sebenarnya masih belum lenyap sama sekali seperti yang ia katakan di depan gurunya. Ternyata Thian Sim Nikouw kembali betul! Dia harus menyatakan semua di depan Han Han dan ia bermohon kepada Buddha agar dia diberi kekuatar dan agar Han Han diberi penerangan suci sehingga pemuda itu akan memudahkan keputusan yang diambilnya ini.

“Kim Cu...!”

Nikouw muda itu terkejut, membuka matanya dan menoleh, ternyata Han Han telah berdiri di belakangnya. Sama sekali ia tidak mendengar gerakan pemuda buntung itu, dan diam-diam Kim Sim Nikouw kagum bukan main. Dahulu, sebelum buntung sekali pun, ia tentu akan dapat mendengar gerakannya. Akan tetapi sekarang, ia sama sekali tidak mendengar apa-apa dan tahu-tahu pemuda itu telah berdiri di situ!

“Omitohud... kenapa engkau berani mengotori tempat suci ini, dan mengapa engkau selalu mengejar-ngejarku?” Kim Sim Nikouw berkata, suaranya halus penuh wibawa, akan tetapi mukanya menunduk karena ia tidak berani bertemu pandang dengan Han Han, yang ia tahu mempunyai sinar mata yang luar biasa tajamnya, dan yang akan mampu menjenguk isi hatinya!

“Aku akan terus mengejar dan mengikutimu, biar sampai dunia kiamat sekali pun, selama engkau belum mau berterus terang karena aku merasa yakin bahwa engkau adalah Kim Cu! Apa kau kira aku tidak dapat mengenal pukulan Toat-beng Sin-ciang yang kau lakukan untuk membikin remuk kedua tulang pundak jai-hwa-cat tadi?”

“Ohhh, jadi engkau tadi melihatnya...? Ya Thian Yang Maha Kasih...! Baiklah... baiklah. Han Han... aku memang Kim Cu... akan tetapi sekarang aku telah menjadi Kim Sim Nikouw... Engkau tidak boleh mendekatiku, maka pergilah kau, Siangkong. Pergilah kau... Han Han... kasihani aku dan pergilah tinggalkan aku...”
“Hemmm... ke manakah perginya kegagahanmu, Kim Cu? Manusia tidak boleh membohongi dirinya sendiri, tidak boleh mengingkari perasaan hatinya sendiri. Ceritakan dulu, mengapa engkau menjadi nikouw dan mengapa engkau mengusirku, baru aku akan mempertimbangkan permintaanmu itu. Setelah semua yang kita alami bersama....!”
“Ya, setelah apa yang kita alami bersama...!” Kim Sim Nikouw berbisik dan ia membalikkan tubuh membelakangi Han Han, lalu jatuh berlutut karena kakinya menggigil, suaranya masih berbisik-bisik namun terdengar jelas oleh Han Han.

“...engkau tidak tahu betapa aku telah menderita hebat... betapa aku sekarang telah menemukan ketenteraman kembali... Ketika engkau menolongku, agar aku tak terkena senjata rahasia Toat-beng Ciu-sian-li, engkau menolongku tanpa menghiraukan keselamatan sendiri... kita berdua jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar! Ahhh... betapa senang dan bahagianya hatiku ketika melayang jatuh karena aku yakin bahwa kita akan mati bersama... Mati bersamamu di waktu itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga bagiku...! Akan tetapi, ohhh... hancurlah hatiku ketika ada nelayan menolongku dan aku masih hidup! Aku hidup dan engkau mati! Aduhh, Han Han... tidak ada penderitaan yang lebih hebat dari pada itu, hatiku tersayat-sayat... ohhh...” Nikouw itu menangis terisak-isak.

Han Han tak dapat berkata-kata, hanya memandang gadis itu dengan wajah pucat dan mata basah, perasaannya diserang keharuan yang membuat ia tak dapat bicara, melainkan membayangkan penderitaan batin gadis ini yang amat mencintanya. Dengan ujung lengan bajunya yang lebar nikouw muda itu menyusuti air mata yang mengalir deras di kedua pipinya, kemudian melanjutkan.

“Aku tidak kuat menahan derita batin itu, dan tentu sudah membunuh diri kalau tidak ada Thian Sim Nikouw ketua Kwan-im-bio yang menolongku, dan menyadarkan aku... merupakan pelita yang menerangi kegelapan hatiku... Aku diberi wejangan, aku sadar lalu menjadi muridnya... menjadi nikouw setelah bertahun-tahun aku sembahyang setiap hari untukmu... untuk arwahmu yang kusangka sudah mati... akhirnya hidupku tenang dan tenteram, sebagai nikouw...”

“Kim Cu...” Suara Han Han menggetar dan berbisik penuh perasaan haru. “Apakah tidak ada jalan lain...?”

“Jalan lain yang mana? Aku... aku murid seorang wanita jahat..., seorang datuk hitam yang penuh dosa.... Dunia akan mengutuk aku... manusia akan memandang rendah kepadaku... Hanya dengan menjadi nikouw aku dapat menebus dosa... dan... dan dapat melupakan engkau....”

Han Han tak dapat menahan lagi keharuan hatinya. Air matanya jatuh bertitik. Ia tahu betapa besar, betapa murni perasaan cinta kasih Kim Cu terhadap dirinya. Dan demi cinta kasihnya itu pula gadis ini melakukan pengorbanan yang paling besar yang dapat dilakukan seorang wanita. Menjadi nikouw! Pengorbanan nyawa masih kalah besar, karena sekali kehilangan nyawa habislah sudah. Akan tetapi sedemikian muda dan cantiknya, berkepandaian tinggi, mempunyai harapan besar untuk menikmati hidup, sudah melempar dirinya menjadi patung hidup, menjadi nikouw! Betapa besar pengorbanan itu. Patutkah seorang gadis seperti Kim Cu berkorban sedemikian rupa untuknya?

“Kim Cu, tidak boleh! Engkau tidak boleh berkorban untukku seperti ini! Tidak, tidak...! Kalau memang engkau mencintaku... setelah semua pengorbanan yang kau lakukan untukku... Wahai Kim Cu, budimu kepadaku bertumpuk-tumpuk, tidak mungkin dapat kubalas selama hidupku... Mengapa setelah itu semua engkau lalu mengambil jalan terpendek ini? Kim Cu, engkau mungkin akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup dengan menjadi nikouw... akan tetapi aku..., aku yang kau usir... aku yang merasa terhimpit oleh budimu... betapa aku akan dapat bersenang hati, mengenangkan engkau yang selalu bersemedhi dan bersembahyang di dalam kelenteng yang sunyi? Ah, Kim Cu... jelas bahwa engkau masih mencintaku, mengapa... mengapa engkau merenggutnya putus membiarkan hatimu terkoyak-koyak berdarah...?”

“Han Han...!” Nikouw itu menjerit, mendekap mukanya dan menangis sesunggukan. Sampai lama ia menangis, berlutut dan air matanya yang bening seperti mutiara menetes-netes keluar melalui celah-celah jari tangannya yang kecil meruncing. “Kalau begitu, kalau aku merusak hatimu, kalau aku mendatangkan sengsara kepada engkau orang yang kukasihi dengan seluruh jiwa ragaku dengan kelanjutan hidupku menjadi nikouw... kalau begitu..., biarlah aku mati saja...!”

Cepat sekali nikouw muda yang sudah menurunkan kedua tangan dari depan mukanya dan memandang ke depan dengan muka beringas, meloncat ke depan, ke arah arca Sang Buddha yang tersenyum cerah, hendak membenturkan kepalanya yang gundul licin itu kepada kaki arca yang terbuat dari pada batu hitam.

“Wuuuuuttttt...!”

Tubuh nikouw itu meluncur ke depan karena dalam kenekatannya nikouw ini sudah mengerahkan ginkang ketika meloncat dan tidak menggunakan tenaga sinkang untuk melindungi kepalanya karena ia ingin agar sekali bentur, kepalanya akan pecah. 
“Plakkk...!”

Kepala nikouw itu bertemu dengan telapak tangan Han Han yang lunak karena Han Han sama sekali tidak menggunakan tenaga pula ketika ia tadi cepat meloncat ke depan arca dan menaruh tangannya di depan kaki arca, telapak tangannya menyambut kepala nikouw itu sehingga tangannyalah yang terhimpit dengan keras ke kaki arca.

Nikouw itu terpental ke belakang, cepat meloncat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak kepada Han Han. Ia melihat tangan kanan pemuda buntung itu bercucuran darah yang keluar dari luka di punggung tangannya, darah yang membasahi kaki arca sehingga menjadi merah.

“Kim Sim Nikouw, apa yang kau lakukan ini?” Kini suara Han Han terdengar keras dan pandang matanya penuh daya pengaruh menundukkan.

Nikouw muda itu seperti terpesona, seperti baru bangun dari mimpi dan ia mamandang wajah Han Han yang pucat, dahi berkerut, mulut yang membayangkan derita, akan tetapi sinar mata yang tajam berwibawa.

“Han Han...!” Kim Sim Nikouw mengeluh.

“Kim Sim Nikouw, sadarlah bahwa tidak ada dosa yang lebih besar, tidak ada sifat pengecut yang paling rendah dari pada membunuh diri!” Suara Han Han kini tidak menggetar penuh keharuan seperti tadi, bahkan keras dan tegas. “Akulah yang salah dan engkau benar. Memang sebaiknya begini. Engkau menjadi nikouw dan menemukan kebahagiaan. Ada pun aku... hemmm... terus terang saja, Kim Sim Nikouw, aku hanya kasihan dan ingin membalas budi. Dan melihat engkau berbahagia di sini, aku pun akan merasa lega. Biarlah kita saling mendoakan saja. Selamat tinggal...!” Tubuh Han Han berkelebat dan lenyap dari ruangan itu.

Sejenak nikouw muda itu berdiri termangu, memandang ke arah lenyapnya bayangan Han Han, kemudian ia menjerit kecil yang merupakan rintihan dan menubruk depan arca Sang Buddha yang masih tersenyum penuh pengertian, seolah-olah memandang kelakuan dua orang anak manusia itu sebagai kelakuan dua orang anak-anak nakal. Kim Sim Nikouw merintih dan menangis, menciumi ujung kaki arca yang merah oleh darah Han Han, mulutnya berbisik-bisik menyebut nama Han Han dan air matanya mencuci noda darah di kaki arca itu. Darah Han Han!

Han Han sejenak memandang penglihatan yang meremas hatinya itu. Melihat betapa Kim Cu menangis dan menciumi bekas darahnya, ingin Han Han masuk kembali dan mendekapnya, memaksanya meninggalkan kuil dan memasuki dunia memeluk kebahagiaan bersama dia. Akan tetapi, kesadarannya membisikan bahwa perbuatannya itu tidaklah benar. Sudah pastikah bahwa kelak Kim Cu akan hidup bahagia di sampingnya? Apakah dia mencinta Kim Cu?

Memang, mengingat akan budi gadis yang cantik jelita dan amat murni cintanya itu, siapakah orangnya tidak akan menyatakan cinta kepadanya? Betapa pun juga, Han Han ragu-ragu dan merasa yakin bahwa sebaiknya ia meninggalkan Kim Cu dalam usaha menemukan bahagia. Tadi ia sengaja keras, sengaja menyadarkan Kim Cu bahwa dia hanya kasihan dan ingin membalas budi, sama sekali bukan mencinta!

Sekali lagi Han Han memandang Kim Cu, seolah-olah hendak mengusir bayangan nikouw muda itu di lubuk hatinya, kemudian ia menghela napas dan berkelebat pergi menghilang di dalam gelap. Peristiwa pertemuannya dengan Kim Cu itu tanpa disadarinya sudah menambah sebuah guratan lagi di dahinya.

Penjahat yang tadi memasuki Kuil Kwan-im-bio dengan niat jahat memperkosa nikouw muda dan telah mendapat hajaran keras dari Kim Sim Nikouw, malam-malam itu juga meninggalkan dusun menunggang kudanya perlahan-lahan. Tubuhnya masih lemah dan kedua pundaknya terasa nyeri apa bila terguncang terlalu keras, maka ia tidak berani melarikan kudanya. Ia menyumpahi nasibnya yang amat buruk.

Siapa kira di dalam kuil sunyi seperti itu terdapat seorang nikouw muda yang demikian lihai? Tadinya ia mendengar berita bahwa Kuil Kwan-im-bio mempunyai nikouw-nikouw muda yang amat cantik, sehingga tergeraklah hatinya. Dan sore tadi ia telah menyelidiki dan melihat bahwa memang desas-desus yang didengarnya itu ternyata benar. Ia melihat nikouw muda yang amat cantik jelita.

“Sialan...!” pikirnya.

Sudah banyak wanita yang ia renggut kehormatannya. Memang dia terkenal sebagai jai-hwa-cat di samping seorang pencuri ulung. Tetapi belum pernah ia memperkosa seorang nikouw. Tentu seorang nikouw sebagai wanita yang selalu menjaga kesucian tubuh dan hatinya, akan merupakan mangsa yang hebat, maka ia tidak peduli lagi apakah dia melakukan pelanggaran yang amat besar, dan malam itu hampir saja terlaksana apa yang ia sering kali mimpikan.

Akan tetapi, agaknya para dewa tidak mengijinkan perbuatannya sehingga ia bertemu dengan nikouw muda itu. Hemmm, masih untung, pikirnya. Justru nikouw muda itu ia incar. Kalau ia tidak salah masuk ke kamar nikouw ke dua yang juga memiliki tubuh yang benar-benar tidak disangka-sangka, amat menggairahkan, kalau ia masuk ke kamar wanita muda yang lihai itu... ihhh, ngeri ia membayangkan. Agaknya ia belum tentu akan keluar dari kuil itu dalam keadaan bernyawa!

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat, kudanya meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ke atas seperti ketakutan. Ketika penjahat itu berhasil menenangkan kudanya dan memandang dengan bantuan sinar bulan, ia terkejut melihat seorang pemuda buntung telah berdiri di depan kuda, memandangnya dengan sepasang mata seperti mata harimau. Karena dia sedang murung, penjahat itu yang memandang rendah si pemuda buntung.

“Heh, bocah buntung! Minggir! Apa kau ingin mampus diinjak-injak kuda?” bentaknya.

Pemuda yang bukan lain adalah Han Han ini, tersenyum dingin. Dia tadi melarikan diri dari kuil dan hatinya yang sedang dilanda perasaan duka itu membuat ia berloncatan seperti kilat cepatnya, mempergunakan ilmu kepandaiannya yang istimewa. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul penjahat berkuda itu dan begitu melihat penjahat ini, Han Han timbul kesebalan hatinya dan ia sengaja menghadang.

“Hemmm, jai-hwa-cat, apakah yang kau lakukan di kuil tadi?”

Penjahat itu pucat wajahnya. Ia membesar-besarkan hatinya, akan tetapi karena kedua pundaknya tak dapat digerakkan sehingga kedua lengannya pun setengah lumpuh, pergelangan tangan kanannya pun tidak boleh dipakai bergerak, ia maklum akan keadaan dirinya yang sedang terluka dan lemah.

“Aku... aku terluka... dan aku sudah diampuni para nikouw...,” katanya gagap.

Han Han memandang penuh selidik. “Andai kata aku membantumu mendapatkan nikouw muda itu dalam keadaan tidak berdaya sehingga engkau akan dapat melakukan apa juga atas dirinya tanpa ia mampu melawan, engkau akan memberi hadiah apa kepadaku?”

“Wah, jangan main-main, orang muda. Nikouw yang cantik itu memiliki ilmu kepandaian lihai bukan main, sedangkan kau seorang buntung kakimu...”
“Hemmm, apakah dia selihai ini?” Han Han mengempit tongkatnya, kedua lengannya dikembangkan secara tiba-tiba ke kanan kiri.
“Kraaakkk... kraaakkkkk... bruukkk...!” Dan batang pohon di kiri kanannya ambruk dan terjebol akarnya.

Penjahat itu terbelalak, dan wajahnya berubah girang setengah ngeri ketika ia berkata, “Hebat sekali! Orang muda perkasa, kalau engkau mampu menangkap nikouw itu dalam keadaan tak berdaya sehingga aku dapat... eh, dapat membalas dendam kepadanya, aku... aku akan memberimu kuda ini, dan sekantung uang perak!”

“Kau tentu hendak memperkosanya?”

Penjahat itu menyeringai. “Akan dia rasakan, sepuasku, sampai dia mampus!”

“Keparat!”

Tongkat di tangan Han Han berkelebat, penjahat itu menjerit dan roboh dari atas kudanya dengan tubuh terlempar, kudanya meringkik dan melarikan diri. Sejenak Han Han berdiri tegak memandang tubuh yang tidak berkepala lagi itu, karena kepalanya sudah pecah berantakan tak berbentuk lagi, tercecer ke mana-mana. Han Han yang tadinya tenggelam dalam kedukaan karena Kim Cu, ditelan keharuan, kemudian menjadi marah mendengar kata-kata jawaban penjahat yang sengaja dipancingnya, tiba-tiba terisak, air matanya mengucur turun dan bibirnya terdengar mengeluarkan rintihan, lututnya yang tinggal sebuah itu ditekuk, ia berlutut dan mengeluh.

“Kakekku seorang jai-hwa-sian! Ahhh, Kong-kong, kenapa engkau begitu sesat? Aku keturunan keluarga Suma yang jahat, yang sesat! Kalau kakekku masih hidup, akan kubunuh juga... Ahhh, Kong-kong, kenapa kau sejahat itu...?” Kemudian ia meloncat bangun, wajahnya keruh dan beringas, suaranya keras, “Karena darah terkutuk itu mengalir di tubuhku, aku dibenci sana-sini, dimusuhi, nasibku selalu buruk... ya Tuhan, ampunilah hamba...”

Ia lalu mencelat jauh dan seperti gila melanjutkan perjalanan sambil mengerahkan kepandaiannya yang membuat tubuhnya makin lama mencelat makin jauh dan makin cepat sehingga seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah lagi.....

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-14
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger