logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Sepasang Pedang Iblis Jilid 25

Ketika memasuki kota raja, gadis yang cantik manis dan lincah itu menarik perhatian banyak mata, terutama mata laki-laki. Dia memang manis sekali, sepasang matanya jernih dan tajam memandang ke sana-sini, bukan hanya untuk mengagumi bangunan-bangunan besar di kota raja melainkan juga dengan penuh selidik pandang matanya menyapu wajah orang-orang yang dijumpainya, seolah-olah dia mencari seseorang di kota raja. Pakaiannya yang serba kuning itu membungkus ketat tubuh yang padat berisi dan langsing. Di pinggir pinggul yang padat dan pinggang yang langsing itu tergantung pedang, tanda bahwa dara manis berusia kurang lebih dua puluh tahun ini adalah seorang gadis perantau kang-ouw yang tidak boleh dipandang ringan!
Gadis baju kuning ini adalah Ang Siok Bi, puteri tunggal ketua Bu-tong-pai yaitu Ang-lojin (Orang Tua Ang) atau Ang Thian Pa. Seperti telah kita ketahui rombongan piauwsu yang pernah bentrok dengan Gak Bun Beng ketika terjadi pemerkosaan dan pembunuhan suami isteri di dekat telaga, adalah murid-murid Bu-tong-pai.

Setelah mereka itu menyelesaikan tugasnya, pemimpin piauwsu itu lalu menceritakan peristiwa itu kepada Bu-tong-pai dan Ang Siok Bi juga hadir dalam pertemuan ini. Ketika mendengar bahwa Gak Bun Beng melakukan perbuatan keji seperti itu, ketua Bu-tong-pai terkejut bukan main dan hampir tidak dapat percaya kalau yang bercerita bukan muridnya yang dipercayanya. Terutama sekali Ang Siok Bi, puterinya.

Dara ini telah tahu bahwa dia oleh ayahnya hendak dijodohkan dengan Gak Bun Beng, dan sungguh pun pemuda itu belum menerima perjodohan ini, namun ayahnya masih selalu mengharapkan terjadinya ikatan jodoh itu. Karena inilah, juga karena dia sendiri pun tertarik dan jatuh cinta kepada pemuda itu, maka Siok Bi menganggap dirinya sebagai tunangan Gak Bun Beng dan tidak menghiraukan lain laki-laki lagi, bahkan di dalam lubuk hatinya dia mengambil keputusan tidak akan menikah kalau tidak dengan Bun Beng!

Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan hancur hati dara ini mendengar penuturan para piauwsu yang menduga bahwa Gak Bun Beng melakukan hal yang amat keji, memperkosa dan membunuh seorang wanita, membunuh pula suami wanita itu di dekat telaga. Pada keesokan harinya, Ketua Bu-tong-pai tidak melihat puterinya dan dia hanya dapat menghela napas, maklum bahwa kepergian puterinya itu tentu ada hubungannya dengan penuturan murid Bu-tong-pai tentang Gak Bun Beng.

Dugaan Ketua Bu-tong-pai ini memang benar. Siok Bi meninggalkan kuil Bu-tong-pai untuk pergi mencari Bun Beng, untuk menyatakan sendiri kebenaran penuturan itu. Dia harus bertemu dengan pemuda itu dan akan ditanyai tentang peristiwa yang dituturkan oleh kepala piauwsu itu. Kalau memang benar pemuda itu menjadi seorang penjahat keji, dia akan memusuhinya dan akan diputuskannya hubungan batin yang timbul karena janji ayahnya kepada pemuda itu. Akan tetapi dia masih tidak percaya bahwa pemuda yang gagah perkasa itu berubah menjadi seorang penjahat cabul yang berhati kejam.

Tiba-tiba Siok Bi menghentikan langkahnya dan menoleh, memandang pada seorang pemuda yang bercaping bundar dan berpedang di punggungnya. Gak Bun Beng! Benarkah Gak Bun Beng pemuda itu? Telah lama dia tak bertemu dengan pemuda itu, dan ada kemiripan pemuda yang lewat tadi dengan pemuda idaman hatinya. Dia cepat membalik dan mengejar. Untuk menegur, dia belum berani karena takut kalau-kalau dia salah lihat. Pemuda yang tampan itu berjalan cepat menuju ke pintu gerbang kota raja. Siok Bi terpaksa mengikutinya terus, keluar lagi dari kota raja.

Kesangsiannya lenyap ketika dia melihat pemuda di depan itu kini berlari cepat sekali setelah tiba di luar pintu gerbang kota raja. Siapa lagi kalau bukan Gak Bun Beng yang pandai berlari cepat itu?

"Gak-taihiap...!" Dia menegur sambil mengejar, mengerahkan ginkang-nya untuk berlari cepat.

Pemuda itu berlari terus dan betapa pun Siok Bi mengerahkan kepandaiannya, tetap saja tidak mampu mengejarnya! Maka dia berseru lagi, "Gak-taihiap, aku Ang Siok Bi ingin bicara!"

Pemuda itu berhenti dan membalikkan tubuh. Setelah mereka berhadapan, kembali timbul kesangsian di hati Siok Bi. Dia meragu apakah benar-benar pemuda ini Gak Bun Beng.

"Apakah... apakah aku berhadapan dengan Gak-taihiap?" tanyanya sambil menatap wajah yang tampan itu.

Pemuda itu tersenyum. "Agaknya engkau mencari Gak Bun Beng, Nona? Aku bukan Gak Bun Beng, akan tetapi aku adalah sababatnya. Nona siapakah dan ada urusan apa mencari Gak Bun Beng?"

"Ahh... maaf, saya kira engkau Gak Bun Beng. Saya... saya... Ang Siok Bi dan saya mencarinya. Tolong beritahu di mana dia?"

"Hemm, dia tidak mudah dijumpai begitu saja, Nona. Siapakah Nona? Akan saya sampaikan kepadanya."

"Saya adalah tunangannya dari Bu-tong-pai."

Pemuda itu mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya. "Hemmm... dari Bu-tong-pai? Baik, akan saya sampaikan kepadanya, Nona. Sebaiknya Nona pergi ke kota raja lagi, bermalam di sebuah penginapan. Malam ini dia akan datang mengunjungimu."

Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan sebentar saja sudah berada jauh sekali. Hal ini mengejutkan hati Siok Bi karena dia maklum bahwa kepandaiannya berlari cepat tidak dapat dipakai menandingi ilmu lari cepat pemuda itu! Betapa pun juga, hatinya girang. Pemuda itu kiranya sahabat Gak Bun Beng dan kalau sudah disampaikan, tentu Gak Bun Beng akan menjumpainya. Jantungnya berdebar tegang dan dia makin tidak percaya bahwa Gak Bun Beng telah mejadi seorang yang jahat.

Malam hari itu Siok Bi menanti di dalam kamarnya dengan hati bimbang dan tegang. Kalau dia teringat betapa dia tadi mengaku sebagai tunangan Gak Bun Beng kepada pemuda itu, jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas. Bagaimana kalau pemuda tadi menyampaikannya kepada Gak Bun Beng? Tunangan? Pemuda itu dahulu menolak usul ayahnya yang hendak menjodohkan mereka. Bagaimana sekarang secara tak tahu malu dia mengaku tunangannya? Biarlah, setidaknya pengakuannya itu telah membuka rahasia hatinya terhadap Bun Beng!

Menjelang tengah malam, dia mendengar suara di jendela kamarnya. Dia memandang terbelalak dan menegur halus, "Siapa...?"

"Nona Ang Siok Bi, aku adalah Gak Bun Beng. Harap Nona suka membuka jendela," terdengar suara dari luar, suara yang halus dan mendebarkan jantungnya.
"Tunggu sebentar!" Siok Bi membesarkan api penerangan, kemudian secara tak sadar tangannya membereskan rambutnya yang berjuntai di dahi, kemudian membuka daun jendela.

Angin menyambar dari luar memadamkan lampu penerangan sehingga keadaan kamar itu menjadi remang-remang, hanya mendapat sorotan lampu penerangan di luar kamar yang dipasang di ujung lorong. Kemudian tampak bayangan seorang pemuda bertopi caping lebar bundar melayang masuk ke dalam kamar itu.

"Eiihh, kenapa kau memadamkan lampu?"
"Ssssttttt... jangan ribut-ribut, nanti semua tamu terbangun. Nona Ang, ada apa engkau mencari aku?"
"Gak-taihiap... aku sengaja mencarimu untuk bertanya... ehhh, kami dengar penuturan para piauwsu anak murid Bu-tong-pai bahwa engkau telah melakukan perbuatan keji. Aku tidak percaya, akan tetapi aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri..."
"Hmm... Nona, katakan dulu sebelum aku menjawab. Apakah engkau cinta kepadaku?"

Ditanya demikian yang sama sekali tidak pernah disangkanya, Siok Bi menggigil dan suaranya tersendat-sendat ketika dia berkata, "Aku... aku... ahh, aku telah ditunangkan kepadamu oleh ayah..."

"Bagus, Bi-moi, aku pun cinta kepadamu. Betapa rinduku kepadamu!" Setelah berkata demikian pemuda itu sudah memeluknya.

Siok Bi hendak membantah dan menolak, akan tetapi suaranya hilang ditelan ciuman pemuda itu. Siok Bi makin terkejut dan hendak mendorong, tetapi tiba-tiba pundaknya ditotok dan dia roboh dengan lemas! Hanya kedua matanya yang terbelalak penuh kengerian ketika dia dipondong oleh pemuda itu dan dilempar ke atas pembaringan. Telinganya mendengar suara yang kini terdengar seperti suara iblis, "Kau cinta kepadaku dan aku cinta kepadamu! Apa lagi yang lebih menarik dari pada itu? Marilah kita mencurahkan cinta kasih kita, dan tentang semua perbuatanku dengan wanita lain, tak perlu kau hiraukan, manis!"

Kalau saja dia mampu bergerak, tentu Siok Bi akan melawan mati-matian, dan kalau saja dia mampu bersuara tentu dia akan menjerit-jerit dan memaki-maki. Namun apa daya, dia tidak mampu bersuara, tidak mampu bergerak sehingga dia hanya mampu menangis ketika pemuda itu mulai menggagahi dirinya. Dia pergi mencari Bun Beng untuk bertanya, untuk membuktikan sendiri apakah benar berita yang disampaikan oleh anak murid Bu-tong-pai itu. Siapa mengira, dia kini memperoleh bukti yang mutlak karena dia sendiri menjadi korban kebuasan pemuda yang tadinya dijunjung tinggi itu. Pemuda yang dirindukan dan dicinta dengan diam-diam kini mendatangkan rasa muak, benci dan dendam!
Menjelang pagi, dalam keadaan hampir pingsan, Siok Bi melihat pemuda itu mendekati jendela dan berkata, "Kalau engkau ingin terus menikmati malam-malam seperti ini dengan aku, Siok Bi yang manis, datanglah kau ke kuil di atas bukit sebelah utara kota raja dan carilah Tiong-gi-pang. Aku menantimu di sana. Sampai jumpa lagi, kekasihku!" Tubuh itu berkelebat dan sekali loncat saja lenyap dari dalam kamar.

Siok Bi hanya bisa menangis! Menangis karena dua hal yang menghancurkan hatinya, yang menghancurkan hidupnya dan harapannya. Pemuda yang diharapkan menjadi jodohnya, yang ditunggunya dengan setia sehingga dia menolak semua pinangan orang, yang diam-diam dicintanya, ternyata telah menjadi seorang yang buas dan hina, seorang penjahat cabul yang kejam sekali melebihi iblis! Dan di samping ini, dia telah menjadi korban! Dia telah menjadi seorang yang rusak kehormatannya, tidak mungkin menjadi seorang wanita yang dihormati lagi.

Dia harus membalas dendam ini! Kalau perlu dia akan mengorbankan nyawa, karena apa artinya hidup ini setelah apa yang terjadi malam tadi? Setelah totokan itu pulih dengan sendirinya, Siok Bi juga hanya dapat menangis, bahkan menangis pun tidak berani terlalu keras. Kalau terdengar orang dan ada yang bertanya, apa yang harus dijawabnya? Peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya semalam tak akan diketahui siapa juga, kecuali dia dan Si Laknat Gak Bun Beng!

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siok Bi telah meninggalkan rumah penginapan keluar dari kota raja menuju ke utara. Menjelang senja barulah dia dapat menemukan kuil yang dimaksudkan oleh Gak Bun Beng ketika hendak meninggalkan kamarnya tadi pagi. Namun Siok Bi bersikap hati-hati ketika melihat banyak orang keluar masuk di bangunan kuil yang dikelilingi pondok-pondok kecil itu. Tentu mereka ini para anggota Tiong-gi-pang! Dia datang untuk mencari Gak Bun Beng dan untuk membunuhnya!

Kalau dia muncul begitu saja, bukan hanya usaha membalas dendam itu akan gagal, bahkan dia akan tertawan dan akan menjadi permainan pemuda iblis itu! Dia harus menahan sabar dan baru turun tangan malam nanti! Dengan pikiran ini Siok Bi bersembunyi di dalam hutan, menanti datangnya malam. Dia harus selalu menekan hatinya untuk tidak menangis terus. Setiap kali teringat akan mala petaka yang menimpa dirinya, ingin dia menjerit-jerit dan menangis.

Malam itu sunyi sekali di luar Kuil Tiong-gi-pang, karena memang kuil itu berada di dalam hutan, tidak mempunyai tetangga. Para anggota ying sudah lelah karena siang tadi bekerja atau berlatih silat, kini sudah beristirahat di dalam pondok-pondok kecil yang dibangun di sekeliling kuil. Hanya ada beberapa orang penjaga yang meronda secara bergilir untuk menjaga keselamatan dan keamanan kuil mereka.

Sesosok bayangan berkelebat dan menyelinap di bawah bayangan pohon yang gelap. Bayangan ini adalah Ang Siok Bi yang berhasil melompati pagar yang mengelilingi tempat itu. Dia ingin memasuki kuil dengan diam-diam, mencari dan membunuh Gak Bun Beng, atau kalau gagal, terbunuh. Akan tetapi, ketika dia menyelinap ke dalam kuil melalui sebuah pintu samping yang terbuka dan tiba di ruangan depan, tiba-tiba ada suara menegurnya, "Siapa?"

Tiga orang penjaga muncul dengan tiba-tiba, mengejutkan hati Siok Bi, mereka itu adalah dua orang berpedang dan seorang bersenjata tongkat. Ketika melihat bahwa orang tak terkenal yang berkelebat masuk itu adalah seorang gadis cantik, tiga orang penjaga itu terbelalak heran dan tidak mau sembarangan turun tangan menyerang. Akan tetapi Siok Bi yang mengira bahwa mereka itu tentulah anak buah Gak Bun Beng, sudah mencabut pedangnya dan menerjang tanpa banyak cakap lagi. Dia harus merobohkan mereka ini sebelum yang lain-lain datang!

"Trang-trang... aihhhh...!"

Tiga orang itu terkejut, sedapat mungkin menangkis, akan tetapi gerakan Siok Bi yang lincah dan serangannya yang tak tersangka-sangka itu terlalu lihai bagi mereka. Dua orang terluka lengannya dan seorang lagi terluka dadanya oleh sambaran pedang puteri ketua Bu-tong-pai yang perkasa ini.

Akan tetapi teriakan mereka mendatangkan tujuh orang penjaga lainnya. Melihat ini, dengan gemas Siok Bi sudah menggerakkan pedangnya mengamuk sambil berteriak marah, "Gak Bun Beng manusia busuk! Kiranya engkau pengecut, mengandalkan banyak anak buahmu! Keluarlah kalau kau laki-laki, kita mengadu nyawa!"

Mendengar seruan ini, penjaga terheran dan mereka menahan senjata sambil melompat mundur, terdengar bentakan nyaring, "Tahan senjata!"

Ang Siok Bi juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya seorang dara yang amat cantik dan gagah. Dara ini bukan lain adalah Milana, yang tadi terkejut mendengar suara ribut-ribut dan keluar dari kamarnya. Kebetulan sekali dia mendengar disebutnya nama Gak Bun Beng yang ditantang oleh wanita muda yang mengamuk itu, maka dia cepat menghentikan pertandingan.

Sejenak dua orang wanita muda itu saling berpandangan. Siok Bi masih memandang marah karena menduga bahwa tentu wanita cantik itu kaki tangan Gak Bun Beng pula, sedangkan Milana menduga-duga siapa wanita yang agaknya memusuhi Gak Bun Beng itu, juga dia terheran-heran mengapa wanita itu mencari Bun Beng di kuil Tiong-gi-pang.

"Siapakah engkau? Mengapa engkau mengacau Tiong-gi-pang?" tanyanya.

Para anak buah Tiong-gi-pang sudah berkumpul dan tiga orang yang terluka itu cepat ditolong dan luka mereka diobati dan dibalut. Dua di antara mereka terpaksa membuka baju agar luka di tubuh mereka dapat dibalut.

Siok Bi yang sudah nekat melintangkan pedangnya di depan dada sambil menjawab, "Aku Ang Siok Bi, datang untuk menantang ketua kalian bertanding sampai seorang di antara kami tewas. Akan tetapi kalau para anggota dan kaki tangannya mau ikut maju aku tidak takut!"

"Hemmm, siapa mencari aku?" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah empat orang anggota Tiong-gi-pang yang menggotong Sai-cu Lo-mo yang lumpuh.

Begitulah ketua ini kalau menyambut datangnya orang asing atau tamu, duduk di atas papan yang digotong empat orang anak buahnya. Untuk keperluan sehari-hari, dia bergerak mengandalkan kedua tangannya saja yang dapat dia pergunakan sebagai pengganti kedua kaki, berjalan dengan tubuh terangkat sedikit ke belakang!

Siok Bi menoleh ke kiri dan memandang kakek itu dengan bingung. "Aku tidak mencari engkau, aku mencari Ketua Tiong-gi-pang..."

"Hemm, Nona. Akulah Ketua Tiong-gi-pang."

Siok Bi makin terkejut, lalu menduga bahwa tentu Gak Bun Beng yang tinggal disini bukan ketuanya.

Dengan suara tidak sabar Milana bertanya, "Sebenarnya apakah kehendakmu dan siapa yang kau cari?"

Dengan agak bingung Siok Bi menjawab, "Aku mencari Si Bedebah Gak Bun Beng. Suruh dia keluar!"

Milana makin tertarik. Tentu ada sesuatu terjadi antara gadis itu dengan Bun Beng. Akan tetapi mengapa mencari Bun Beng di sini?

"Ada urusan apakah engkau mencari Gak Bun Beng?" dia masih bertanya memancing.
"Kau tak perlu tahu. Pendeknya aku mencari Gak Bun Beng untuk kubunuh!"

Milana menyarungkan pedang yang tadi sudah dicabutnya. Melihat ini, Siok Bi menjadi heran.

"Engkau salah alamat," kata Milana. "Gak Bun Beng tidak berada di sini, juga kami bukanlah sahabatnya. Tiong-gi-pang tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Gak Bun Beng. Marilah kita bicara di dalam. Kalau engkau mempunyai penasaran terhadap Gak Bun Beng, agaknya aku akan dapat membantumu."

Siok Bi makin terheran. Melihat sikap dara jelita itu, sikap Ketua Tiong-gi-pang yang lumpuh, sikap para anak buah Tiong-gi-pang yang sudah mundur dan agaknya tidak memperlihatkan sikap bermusuh kepadanya, dia juga menyarungkan pedang di sarung pedang yang kini tergantung di punggungnya. Akan tetapi dia masih ragu-ragu melihat Milana membuka sebuah pintu batu di atas anak tangga.

Milana yang sudah berada di depan pintu itu menoleh dan berkata, "Engkau demikian gagah berani sudah menyerbu Tiong-gi-pang, apakah sekarang menjadi takut untuk memenuhi undanganku masuk ke dalam dan bicara?"

Sai-cu Lo-mo yang sudah bersedekap penuh rasa duka itu berkata, "Masuklah, Nona. Kami bukanlah orang-orang jahat. Kalau kami berniat buruk, perlukah memancingmu masuk?"

Siok Bi mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada Sai-cu Lo-mo, kemudian dia menudingkan telunjuknya kepada Ketua Tiong-gi-pang itu dan membentak, "Aku pernah melihat engkau. Bukankah engkau seorang tokoh Thian-liong-pang?"

Sai-cu Lo-mo menghela napas, kemudian menjawab, "Dugaanmu benar, Nona. Dan Nona adalah puteri Ketua Bu-tong-pai, bukan?"

Siok Bi terkejut. Dulu, ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan besar di puncak Gunung Ciung-lai-san di Se-cuan, dia ikut ayahnya menghadiri pertemuan besar itu. Ayahnya, Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, pernah diculik oleh Thian-liong-pang, sehingga perkumpulan itu dapat dikatakan adalah musuhnya!

"Jadi kalian... kalian ini... anggota-anggota Thian-liong-pang...?" Di samping kekagetan dan kemarahannya, juga ada rasa gentar di hati Siok Bi karena dia maklum betapa lihainya orang-orang Thian-liong-pang.

"Bukan," jawab Milana. "Thian-liong-pang sudah tidak ada lagi dan engkau menjadi tamu dari Tiong-gi-pang."

"Dan kau... sekarang aku mengenalmu! Engkau adalah puteri cantik dari Ketua Thian-liong-pang!" Siok Bi berseru lagi, makin terkejut karena dia tahu bahwa puteri Ketua Thian-liong-pang memiliki ilmu kepandaian hebat.

Milana tersenyum, "Kalau perkumpulannya tidak ada, ketuanya pun tentu saja tidak ada. Marilah, apakah engkau masih tidak berani memenuhi undanganku? Di dalam kita bicara tentang manusia bernama Gak Bun Beng itu."

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nyaring, "Gak Bun Beng manusia hina. Hendak lari ke mana engkau?"

Dari jendela melayang masuk sesosok bayangan yang ternyata dia adalah seorang gadis cantik pula, sebaya dengan Siok Bi dan Milana dengan sebatang pedang di tangannya! Gadis ini sejenak bingung memandang Milana, Siok Bi, Sai-cu Lo-mo dan para anggota Tiong-gi-pang, kemudian menoleh ke sana-sini, pandang matanya mencari-cari, kemudian dia membentak, "Hayo suruh Si jahanam keparat Gak Bun Beng keluar untuk menerima kematiannya!"

Sai-cu Lo-mo menutup muka dengan kedua tangan yang tadi disedekapkan sambil mengeluh, "Ya Tuhan... lagi-lagi Bun Beng...?"

Milana juga merasa tertusuk hatinya. Lagi-lagi ada orang yang mencari Gak Bun Beng untuk membunuhnya, dan orang ini juga wanita muda cantik jelita! "Gak Bun Beng tidak ada di sini mengapa engkau mencarinya ke sini?" Dia menegur kepada gadis cantik yang baru datang itu.

Gadis itu mengelebatkan pedangnya dan gaya gerakannya menunjukkan bahwa dia memiliki ilmu pedang yang hebat juga! "Bohong! Baru saja dia lari dan masuk ke sini! Hayo suruh dia keluar, kalau tidak, terpaksa aku akan mengobrak-abrik tempat ini!"

Milana terkejut. "Dia di sini?"

Sai-cu Lo-mo juga terkejut dan cepat memberi perintah kepada anak buahnya. "Cari bocah setan itu sampai dapat! Periksa semua tempat!"

Dengan cepat mereka semua bergerak pergi, bahkan Sai-cu Lo-mo sendiri sudah meloncat dari atas papan yang dipikul empat orang anggotanya, tubuhnya yang lumpuh kakinya itu masih dapat bergerak cepat sekali. Milana juga sudah mencabut pedangnya dan berkelebat lenyap. Tinggal Siok Bi dan gadis itu saling pandang dengan bingung.

Siok Bi yang berkata, "Sobat, keadaan kita sama. Aku pun mencari manusia keparat Gak Bun Beng di sini, akan tetapi kita berdua salah alamat. Kurasa jahanam itu tidak berada di sini."

"Tak mungkin! Tadi dia kuserang, kukejar dan lenyap di tempat ini!" Gadis itu masih penasaran.
"Akan tetapi orang-orang Tiong-gi-pang ini bukanlah sahabat Gak Bun Beng. Lihat saja mereka semua marah dan mencari Si Laknat itu," bantah Siok Bi.

Gadis itu menarik napas panjang dan mengangguk. "Akan tetapi..."

"Biarlah kita menanti sampai mereka kembali. Ketahuilah bahwa para pimpinan Tiong-gi-pang ini adalah bekas tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang lihai."

Mendengar ini, gadis ini terkejut juga, dan berdiri dengan bingung. Melihat betapa Siok Bi tidak menghunus pedang, ia merasa kikuk dan segera ia menyarungkan pedangnya pula.

Tak lama kemudian, Milana datang lagi ke tempat itu. Gerakannya membuat Siok Bi dan gadis itu terkejut dan kagum. Seperti gerakan iblis saja, hanya tampak berkelebat dan tahu-tahu telah berada di situ. Mengertilah mereka berdua bahwa mereka bukan tandingan dara cantik jelita ini!

Milana memandang kepada dara yang baru tiba. "Benarkah katamu tadi bahwa Gak Bun Beng lari, dan lenyap di tempat ini?"

"Aku tidak bohong. Kalau tidak, apa perlunya aku masuk ke sini dan mengejarnya?"

Milana mengangguk dan menarik napas panjang. "Kami mencari tanpa hasil dan hal ini memang tidak aneh. Kepandaian Gak Bun Beng tinggi bukan main, dan andai kata kita dapat menemukannya aku masih sangsi apakah kita semua dapat melawannya."

"Aku tidak takut!" Siok Bi berseru.
"Aku akan mengadu nyawa dengannya!" Gadis itu pun berseru.

Milana mengerutkan alisnya. "Mari kita bicara di dalam. Agaknya aku dapat menduga apa yang telah terjadi dengan kalian."

Ketika gadis yang baru muncul itu ragu-ragu, Milana melanjutkan setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang lain, "Bukankah kalian berdua menjadi korban Gak Bun Beng yang telah menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa)?"

Seketika wajah kedua orang dara itu menjadi merah sekali. Milana menghela napas panjang. "Ketahuilah, aku bukan sahabat Gak Bun Beng dan kalau benar seperti yang kuduga bahwa kalian menjadi korban kebiadabannya, aku bersedia membantu kalian mencarinya dan menghadapinya!"

Siok Bi sudah percaya kepada Milana, maka melihat gadis yang baru datang itu ragu-ragu, dia berkata, "Sebaiknya kita bicara dengan dia, karena dia ini adalah puteri bekas Ketua Thian-liong-pang."

Gadis itu kelihatan terkejut sekali. "Apa...?" Dia menatap wajah Milana dengan tajam. "Kau... kau... Puteri Milana cucu Kaisar? Engkau puteri dari Panglima Wanita Nirahai dan... dan Pendekar Super Sakti?"

Milana terkejut juga melihat betapa gadis itu mengenal ayah bundanya. Dia kemudian mengangguk dan bertanya, "Siapakah engkau?"

Gadis itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. "Harap paduka sudi memaafkan saya yang bersikap kurang hormat..."

Siok Bi juga terkejut sekali mendengar itu. Kiranya Ketua Thian-liong-pang adalah Puteri Nirahai? Dia memang sudah mendengar kabar angin tentang ini, akan tetapi ayahnya sendiri masih kurang percaya. Dan ternyata bahwa selain puteri Kaisar, juga Ketua Thian-liong-pang yang pernah menimbulkan geger itu adalah isteri Pendekar Super Sakti! Dia tidak berlutut seperti gadis itu, akan tetapi dia pun tertunduk dan memandang Milana dengan segan dan hormat.

Milana merangkul gadis itu dan mengangkatnya bangkit berdiri. "Tak perlu seperti itu. Aku gadis biasa saja, gadis kang-ouw seperti kalian. Siapakah namamu?"

"Saya Lu Kim Bwee, dari Kongkong (Kakek) yang pernah menjadi pengawal Kaisar, saya mendengar tentang ibu Paduka..."

"Hushh, Enci Kim Bwee, jangan banyak sungkan. Jangan pakai paduka-paduka segala kepadaku. Anggap saja kita ini sahabat-sahabat yang senasib. Marilah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, mari kita masuk ke dalam dan kita bicara tentang manusia jahanam Gak Bun Beng ini."

Ketiganya memasuki kamar Milana, melalui anak tangga dan daun pintu batu yang tebal itu. Setelah pintu ditutup kembali, dua orang gadis itu tercengang kagum melihat betapa kamar di balik pintu yang menyeramkan itu amat indah dan bersih.

"Ini kamarku sendiri," kata Milana. "Aku pun baru dua bulan berada di sini. Duduklah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, panggil saja aku Milana."

Dua orang gadis itu duduk di atas kursi yang indah, kemudian mereka saling pandang. Tidak ada keraguan lagi di hati mereka terhadap dara jelita cucu Kaisar ini.

Milana kembali tersenyum kepada mereka, "Sungguh mengherankan sekali. Enci berdua muncul dalam waktu yang sama dan dengan niat yang sama pula, yaitu mencari Gak Bun Beng, untuk membunuhnya! Ketahuilah bahwa aku pun membenci Gak Bun Beng dan aku berjanji akan minta bantuan orang-orang Tiong-gi-pang untuk mencari jejak manusia itu. Kalau sudah dapat ditemukan, biarlah aku akan membantu kalian menghadapinya. Untuk kerja sama ini, sebaiknya jika kita mengetahui keadaan masing-masing. Nah, kini kuminta Enci Siok Bi suka menceritakan pengalamannya, mengapa memusuhi dia, kemudian Enci Kim Bwe, dan kemudian aku sendiri akan menceritakan pengalamanku."

Karena di situ hanya ada mereka bertiga, ditanya begini Siok Bi menangis. Milana dan Kim Bwee yang melihat Siok Bi menangis, tak dapat menahan kesedihan hati masing-masing dan mereka pun menitikkan air mata, teringat akan nasib buruk yang menimpa mereka.

Sambil terisak Siok Bi menceritakan mala petaka yang menimpa dirinya malam tadi di rumah penginapan di kota raja. Betapa dia didatangi Gak Bun Beng dalam kamarnya dan ditotok tak berdaya kemudian diperkosa. Betapa kemudian dia mencarinya ke Tiong-gi-pang, karena Gak Bun Beng menyebut nama perkumpulan ini sebagai tempat tinggalnya. Setelah selesai bercerita dia menangis sesenggukan.

Milana mengerutkan alisnya dan mencela, "Enci Siok Bi, mengapa engkau begitu mudah saja membukakan jendela kamar di waktu malam hari memenuhi permintaan seorang laki-laki?"

Ang Siok Bi teriak. "Aih... harap jangan salah sangka adik Milana... ketahuilah bahwa semenjak ayah ditolong oleh Gak Bun Beng ketika... ketika dahulu berada di dalam tahanan... Thian-liong-pang... ayah mengharapkan agar aku menjadi jodoh orang itu. Dan budi itu tak terlupa oleh kami sehingga aku sudah menganggap diriku sebagai tunangannya, sungguh pun belum resmi dan hanya menjadi niat sepihak. Tentu saja ketika mendengar suaranya aku tidak ragu-ragu untuk membiarkan dia masuk. Akan tetapi siapa kira... dia... dia menjadi iblis...!"

"Keparat...!" Milana menampar meja di depannya sehingga meja itu tergetar. Memang dia marah sekali mendengar penuturan itu, marah kepada Bun Beng.
"Dan bagaimana dengan engkau, Enci Kim Bwee? Apakah kau juga menjadi korban pemuda biadab itu?" Milana menoleh kepada Lu Kim Bwee.

Sebelum menjawab, Kim Bwee mengusap air matanya, kemudian mengangguk. "Sudah agak lama terjadinya, sudah satu bulan lebih, ketika aku berada di pondok kakekku...."

Dia lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia dan kakeknya kedatangan Bun Beng yang tadinya bersikap mencurigakan, mengintai dari atas genteng, kemudian betapa pemuda itu membohongi mereka dengan cerita bahwa ada suami isteri terbunuh setelah isterinya diperkosa di dekat telaga. Betapa kakeknya membantu pemuda itu menyelidiki di sekitar telaga dan kiranya pemuda itu hanya membohong untuk memancing kakeknya keluar dari pondok, kemudian diam-diam pemuda itu kembali ke pondok dan memperkosanya!

"Baru aku dan kong-kong tahu bahwa pembunuh suami isteri itu adalah dia sendiri. Aku tak mampu melawan karena dia telah menotokku secara tiba-tiba..." Kembali Kim Bwee mengusap air matanya. "Sejak hari itu, aku pergi meninggalkan pondok kakek untuk mencari jahanam itu. Tadi aku bertemu dengannya di jalan. Aku menyerangnya, dan dia lari. Ketika kukejar, dia lari ke arah kuil ini dan lenyap."

"Hemmm, benarkah yang kau serang dan kejar tadi Gak Bun Beng?"
"Cuaca agak gelap, aku tidak dapat melihat mukanya dengan jelas. Akan tetapi siapa lagi pemuda memakai caping lebar itu kalau bukan dia? Pula, dia mentertawakan aku dan dia yang memperkenalkan diri ketika kami bertemu di jalan."

"Tidak salah lagi, tentu dia!" Siok Bi berseru penuh kemarahan. "Suami isteri yang dibunuh itu setelah isterinya diperkosa di pinggir telaga, memang menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng. Hal ini aku mendengar juga dari murid ayah yang menjadi piauwsu." Dia lalu menceritakan kembali cerita yang didengarnya dari para piauwsu yang bertemu dengan Bun Beng di dekat telaga.

Mendengar semua ini, dapat dibayangkan betapa panas rasa hati Milana. Laki-laki yang dicintanya, pilihan hatinya, bahkan yang oleh ayahnya dijodohkan dengan dia, kiranya adalah seorang laki-laki jahat sekali. Terhapus sama sekali rasa cinta kasihnya, kini terganti oleh rasa benci yang seperti api bernyala-nyala membakar hatinya. Sambil menggenggam kedua tangan, dia berkata, "Kita harus mencari jahanam itu, akan kukerahkan semua anggota Tiong-gi-pang untuk menyelidiki, kalau kita sudah ketahui tempatnya, kita serang dan bunuh dia."

Tentu saja Siok Bi dan Kim Bwee menjadi girang. Mendapat bantuan seorang seperti Milana, cucu Kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, tentu saja amat membesarkan hati. Mereka tahu akan kelihaian Gak Bun Beng dan tadinya mereka pun sudah menduga bahwa andai kata bertemu dengan pemuda itu, tentu mereka yang akan roboh! Kini harapan mereka untuk membalas dendam kepada pria yang menyeret mereka ke dalam jurang kehinaan itu timbul kembali.

********************
Telah hampir setengah bulan Siok Bi dan Kim Bwee tinggal di markas Tiong-gi-pang dan menunggu hasil para anak buah Tiong-gi-pang yang disebar oleh Milana dan Sai-cu Lo-mo untuk mencari jejak Gak Bun Beng.

Pada suatu pagi, dua orang anggota Tiong-gi-pang datang menghadap. Kedua orang ini terluka, dada dan perut mereka tergores-gores pedang, namun penyerang mereka agaknya hanya ingin menyiksa saja, tidak membunuh sehingga yang pecah-pecah hanya kulit mereka saja. Tentu saja kedua orang itu menderita nyeri yang hebat.

Sai-cu Lo-mo cepat memeriksa mereka dan memberi obat, sedangkan kedua orang itu bercerita bahwa mereka telah bertemu dengan Gak Bun Beng.

“Di mana Si Jahanam itu?” Kim Bwee bertanya penuh nafsu.

“Kami sedang menyelidiki ke selatan, dekat kota Gin-coa-thung malam tadi karena kami mendengar bahwa di sana tampak seorang laki-laki asing yang bertopi lebar. Tiba-tiba muncul Gak Bun Beng. Dia seorang pemuda tampan dengan topi caping lebar. Dia menghadang kami dan mengaku bahwa dia adalah Gak Bun Beng. Kami mencabut senjata, akan tetapi dengan sekali tangkis saja senjata kami patah semua dan pedangnya yang luar biasa itu berkelebat beberapa kali. Kami berusaha melawan, akan tetapi percuma dan pakaian kami robek-robek semua, perut dan dada kami mengeluarkan darah. Kemudian dia berkata bahwa dia merasa kesepian dan rindu kepada Nona bertiga!”

Hampir saja Milana menampar muka anak buah Tiong-gi-pang itu kalau dia tidak ingat bahwa orang itu hanya menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan.

“Iblis busuk Gak Bun Beng!” Siok Bi memaki marah.
“Kemudian bagaimana? Di mana dia?”

Milana mendesak orang yang bercerita itu, yang kelihatan takut karena dia harus menceritakan hal yang menghina tiga orang nona pendekar itu.

“Dia berpesan agar saya menyampaikan kepada Sam-wi Siocia (Nona Bertiga) bahwa hari ini dia menanti sam-wi di dusun Gin-coa-thung, di sebelah selatan, di kaki bukit.”

Mendengar ini, seperti dikomando saja tiga orang itu sudah meloncat keluar dari ruangan itu dan terus mereka berlari keluar dari kuil menuju ke selatan. Melihat ini Sai-cu Lo-mo menggeleng-geleng kepalanya. Kakek yang sudah lumpuh kedua kakinya ini berduka sekali. Dia memanggil empat orang anak buahnya dan minta dipanggul dan dibawa menuju ke Gin-coa-thung.

Gin-coa-thung adalah sebuah kota kecil, lebih tepat disebut dusun di kaki bukit sebelah utara kota raja. Siang itu Gak Bun Beng keluar dari dusun di mana malam tadi dia bermalam, untuk melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju kota raja. Dia telah melakukan perjalanan jauh sekali. Setelah dengan susah payah dia menemukan Pulau Neraka dan dengan hati girang dan lega melihat Milana dalam keadaan selamat, juga Kwi Hong, dia menjadi terheran-heran dan terkejut karena Milana menyerangnya.

Kemudian, setelah dia melihat dua orang kakek sakti, Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, keduanya tewas dalam pertandingan antara mereka yang amat dahsyat, pemuda ini meninggalkan Pulau Neraka. Karena dia ingin mencari Milana yang melarikan diri dan pergi bersama Kwi Hong, dia menuju ke kota raja dan pada siang hari itu dia meninggalkan Gin-coa-thung menuju ke selatan, ke kota raja yang tidak jauh lagi letaknya dari situ.

Tiba-tiba Bun Beng berhenti melangkah ketika telinganya menangkap suara teriakan dari belakang. Dia membalikkan tubuhnya dan wajahnya berseri ketika melihat Milana bersama dua orang dara lain berlari datang!

“Milana....!” 

Dia berseru girang, akan tetapi merasa heran dan khawatir ketika tiga orang gadis itu sudah tiba di depannya dia melihat bahwa dua orang gadis yang lain itu adalah Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee! Tentu saja melihat Kim Bwee, timbul kekhawatirannya karena dia disangka memperkosa gadis ini! Dan dia menjadi lebih khawatir ketika tiba-tiba tiga orang gadis itu mencabut pedang dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan. Dia tidak mempedulikan pandang mata Siok Bi dan Kim Bwee, akan tetapi melihat betapa Milana memandangnya penuh kebencian, dia benar-benar merasa cemas.

“Milana, sungguh tak kusangka dapat bertemu denganmu di sini! Kau hendak ke mana....?” 
“Hendak membunuhmu!” Milana membentak dan pedang di tangannya tergetar.
“Milana.... apa.... apa kesalahanku....?”
“Laki-laki pengecut! Kau hendak menyangkal apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?!” Kim Bwee membentak dan pedangnya menyambar dahsyat.
“Singgg... wuuuttt!”

Bun Beng melangkah mundur kemudian memiringkan tubuhnya sehingga pedang itu menyambar lewat.

“Nona Lu Kim Bwee, aku tidak...”
“Siuuuttt...!”

Pedang di tangan Siok Bi menusuk dari samping dan disusul bentakan dara ini. “Kau masih hendak menyangkal bahwa engkau telah menghinaku?!”

Kembali Bun Beng mengelak. “Nona Ang Siok Bi, siapa menghinamu...?”

Tiga orang dara itu mulai menyerang, tidak memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk bicara lagi. Tentu saja mereka tidak lagi membutuhkan penjelasan. Kesalahan pemuda ini terhadap mereka sudah cukup jelas. Bagi Siok Bi, Bun Beng adalah orang yang telah memperkosanya, demikian pula bagi Kim Bwee, maka tidak perlu banyak cakap lagi.

Bagi Milana, pemuda ini amat jahat. Selain pernah merayunya untuk mengajaknya berjinah, juga pemuda yang ditunangkan dengannya ini dengan dia berlaku tidak setia, dan bahkan kini telah menjadi seorang penjahat cabul tukang memperkosa. Betapa mungkin dia dapat mengampuni?

“Gak Bun Beng, hari ini kalau bukan kau yang mampus, akulah yang akan tewas di tanganmu!” Milana membentak dan pedangnya berkelebat menyambar-nyambar ganas. Di antara tiga orang dara itu memang ilmu kepandaian Milana yang paling tinggi.

“Milana... tunggu...!”
“Tak usah banyak cakap lagi!” Milana membentak dan kembali menerjang.

Bun Beng menjadi bingung sekali. Dia tahu bahwa ada orang memperkosa Kim Bwee, di dekat telaga dahulu itu, orang yang agaknya sengaja menggunakan namanya. Akan tetapi dia tidak tahu apalagi yang menyebabkan Siok Bi ikut-ikut membencinya dan sama sekali tidak dapat menduga mengapa Milana yang dicintanya dan yang dia tahu juga mencintanya itu kini berubah menjadi seperti harimau ganas yang haus darah!

Karena tiga orang dara itu menyerangnya mati-matian, Bun Beng menggunakan kelincahannya untuk mengelak, kemudian pada saat pedang Kim Bwee dan Siok Bi menyambar dari kanan kiri, dia mendahului menotok pergelangan tangan dua orang itu. Dua orang gadis itu menjerit, tangan mereka lumpuh dan pedang mereka terlepas dari pegangan. Pada saat itu, Milana sudah menerjang lagi.

“Milana, dengar dulu! Aku tidak akan melawanmu, aku tidak akan membela diri dan rela kau bunuh kalau aku bersalah!”

Pada saat itu pedang Milana meluncur ke arah dada Bun Beng. Pemuda ini sengaja tidak mengelak karena dia masih tidak percaya bahwa gadis itu benar-benar hendak membunuhnya.

“Craaattt!”

Milana menjerit dan Bun Beng mengeluh. Bukan mengeluh karena luka pedang, tetapi mengeluh karena benar-benar gadis itu tega hendak membunuhnya. Ketika pedang tadi benar-benar menancap di dadanya, pemuda ini secara otomatis menggerakkan sinkang-nya sehingga pedang itu tertahan masuk setengah jengkal saja dalamnya.

Bun Beng masih menaruh harapan bahwa Milana menyesal ketika mendengar gadis itu menjerit. Akan tetapi begitu Milana mencabut pedangnya dan darah muncrat dari luka di dada, gadis itu langsung menyerang lagi, kini pedangnya membabat ke arah leher Bun Beng.

"Aihhh... Milana...!" Bun Beng terpaksa mengelak dengan hati penuh kecewa. Dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu benar-benar tega untuk membunuhnya. Dia lalu menggerakkan kakinya dan meloncat jauh kemudian melarikan diri.
"Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau?!"

Milana mengejar, diikuti oleh Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah mengambil pedang mereka dan ikut mengejar pula. Akan tetapi dengan beberapa loncatan saja bayangan Bun Beng sudah menghilang di dalam hutan di utara dan lenyap di pegunungan yang penuh hutan lebat itu.

Milana, Siok Bi, dan Kim Bwee melakukan pengejaran dan mencari-cari, namun tidak berhasil. Bun Beng lenyap tanpa meninggalkan jejak. Karena hari telah menjelang senja, terpaksa tiga orang dara ini kembali ke kuil Tong-gi-pang dengan hati kecewa sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali seorang anggota Tiong-gi-pang yang berjaga di luar melaporkan bahwa ada dua orang tamu datang minta bicara dengan nona Milana. Mendengar ini, Milana segera keluar dan terkejutlah dia ketika melihat bahwa yang datang adalah Wan Keng In dan seorang kakek yang mukanya bopeng dan rusak sehingga kelihatan menakutkan sekali.

Kakek itu berpakaian seperti seorang pendeta dengan jubah kuning yang lebar, kepalanya ditutup sebuah topi kuning pula, matanya besar sebelah dan hidungnya melesak ke dalam, mulutnya miring. Muka yang amat buruk, bahkan kulit muka itu seperti bekas digerogoti tikus! Wan Keng In seperti biasa berpakaian amat indah dan mewah sehingga kelihatan makin tampan. Pedang Lam-mo-kiam tergantung di punggungnya. Ada pun kakek menakutkan itu memegang sebatang tongkat berkepala ukiran naga.

"Kau...?" Milana menegur keras. "Mau apa kau ke sini?"

Wan Keng In tersenyum dan cepat-cepat dia memberi hormat kepada Milana. "Harap kau suka maafkan kepadaku, Milana. Aku mendengar bahwa engkau berada di Tiong-gi-pang maka aku cepat datang ke sini untuk menemuimu dan bicara denganmu."

"Mau bicara apa? Tidak ada urusan apa-apa di antara kita!"
"Aihh, Milana, harap kau dapat maafkan segala kesalahanku dahulu. Aku minta maaf kepadamu dan aku telah sadar akan semua kesalahanku dahulu kepadamu. Aku tahu bahwa cinta tidak dapat dipaksakan, maka aku tidak menyesal bahwa engkau menolak cintaku. Memang sekarang tidak perlu lagi bicara tentang itu karena kita telah menjadi saudara tiri."

"Apa maksudmu?"
"Aihh, apakah engkau belum tahu? Ibuku kini telah berada di Pulau Es, menjadi isteri ayahmu. Mereka bertiga di Pulau Es. Ayahmu dan ibumu, juga ibuku yang sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti. Dengan demikian, bukankah kita ini adalah saudara-saudara tiri? Karena itu, engkau harus dapat memaafkan aku, Milana. Ketahuilah, cintaku kepadamu telah menjadi cinta seorang kakak, dan aku sungguh tidak rela membiarkan engkau adikku dipermainkan dan dihina oleh seorang manusia busuk seperti Gak Bun Beng!"

"Engkau tahu akan hal itu?"
"Tentu saja! Apa aku buta? Aku tahu betapa di Pulau Neraka dia mempermainkan Kwi Hong, dia hampir pula menyeretmu. Dan ketika aku melakukan perjalanan, banyak aku mendengar akan perbuatannya yang keji. Bahkan aku mendengar pula betapa kemarin engkau bersama dua orang nona menyerangnya tanpa hasil."

"Aku telah melukai dadanya!"
"Aku pun tahu akan hal itu, karena aku tahu di mana dia sekarang bersembunyi."
"Apa?! Kau tahu? Di mana?"
"Karena itu pulalah aku datang ke sini, Milana. Pertama, untuk menemuimu dan kedua untuk mengajakmu bersama-sama mengepung dan membunuh Bun Beng Si Laknat itu. Kau jangan khawatir, ini adalah seorang sahabat baikku yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sudah berjanji untuk membantu kita menghadapi Bun Beng."

"Siancai...!" Si Kakek Muka Buruk itu menjura, "Biar pun masih muda, Gak Bun Beng telah melakukan banyak kejahatan dan penghinaan kepada para wanita. Dia pantas dibasmi. Harap Nona tidak khawatir, lohu (aku si tua) Koai-san-jin (Kakek Gunung Aneh) akan membantumu menghadapi orang jahat."

Milana menjadi girang. Dia memang maklum bahwa biar pun dibantu Siok Bi dan Kim Bwee, dia tidak akan mampu mengalahkan Bun Beng. Akan tetapi kalau dibantu oleh Keng In yang kepandaiannya jauh melebihinya, apa lagi ada bantuan kakek yang seperti setan ini, agaknya Bun Beng yang jahat itu akan dapat dikalahkan.

"Baiklah, Wan Keng In. Aku percaya kepadamu dan betapa pun juga, memang ibumu adalah adik angkat ayahku dan kalau benar sekarang menjadi isteri ayahku, berarti kita jadi saudara. Tunggu sebentar, aku akan memanggil Siok Bi dan Kim Bwee."

Tak lama kemudian, Milana keluar lagi bersama Siok Bi, Kim Bwee, dan Sai-cu Lo-mo yang digotong empat orang anak buahnya. Milana segera memperkenalkan Keng In dan Koai-san-jin kepada dua orang gadis itu dan Ketua Tiong-gi-pang. Karena Keng In seorang pemuda tampan yang pandai bersikap halus dan ramah, dua orang dara itu tersipu malu dan merasa suka dan percaya kepada Keng In. Akan tetapi Siok Bi memandang dengan lirikan tajam karena dia merasa seperti pernah bertemu dengan pemuda ini.

"Kalau tidak salah, kita pernah saling berjumpa, Wan-enghiong," akhirnya dia berkata meragu.

Keng In mengangkat kedua alisnya. "Aihhh, sungguh saya kurang beruntung tidak pernah bertemu dengan Nona sebelumnya. Baru sekali ini kita saling bertemu. Saya kira Nona berjumpa dengan orang lain."

"Maaf, saya telah lupa lagi." Siok Bi berkata sambil menunduk. Tentu dia yang salah lihat, dan setelah dia ingat-ingat lagi, memang agaknya belum pernah dia bertemu dengan pemuda tampan yang berpakaian indah dan bersikap halus ini.

Sai-cu Lo-mo memandang mereka dengan mata bersinar tajam. Setelah berkenalan dan menuturkan niat mereka menyerbu Gak Bun Beng yang tempat sembunyinya telah diketahui oleh Keng In, kakek itu berkata, "Sekali ini aku akan ikut sendiri, Nona Milana. Aku ingin melihat cucu keponakan yang murtad itu tewas menerima hukuman akibat perbuatannya."

Kakek lumpuh ini meloncat turun dari atas papan, kemudian ikut pergi bersama rombongan itu dengan cara berloncatan menggunakan kedua tangannya. Biar pun dia bergerak secara itu, namun gerakannya cukup cepat.

"Ahhh, Pangcu. Tak mungkin saya melihat Pangcu bergerak seperti itu. Pangcu sudah tua dan saya seorang pemuda, marilah Pangcu saya gendong saja."

Tanpa menanti jawaban, Keng In lalu menggendong tubuh Sai-cu Lo-mo, dan biar pun dia menggendong tubuh kakek ini, tetap saja Siok Bi dan Kim Bwee yang merasa makin kagum itu harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat lari mendampingi Milana, Keng In, dan Koai-san-jin.

Di puncak bukit, di sebuah goa yang menghadap jurang yang amat dalam, Bun Beng duduk bersila. Luka di dadanya sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan luka hatinya. Berulang-ulang dia menarik napas panjang. Dia dapat menduga bahwa tiga orang gadis itu membenci dan mendendam kepadanya bukan tanpa dasar dan dia tidak dapat menyalahkan mereka.

Bun Beng tahu bahwa Kim Bwee diperkosa orang yang menggunakan namanya. Dan mungkin sekali Siok Bi mengalami hal yang sama dengan Kim Bwee. Akan tetapi apa yang terjadi dengan diri Milana? Terlampau ngeri baginya untuk membayangkan apa yang terjadi dengan diri dara yang dicintainya itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jelas bahwa ada orang yang sengaja merusak namanya di depan gadis-gadis terutama Milana. Ada yang berusaha dengan jalan terkutuk, agar dia dibenci oleh Milana!

Semalam penuh dia tidak dapat tidur, diganggu oleh perasaan yang tertindih. Dia telah ditunangkan dengan Milana, telah diberi tugas untuk mencari Milana, Kwi Hong dan Keng In. Sekarang begitu berjumpa dengan Milana, dia telah dimusuhi dan hendak dibunuh. Milana tidak main-main, jelas berniat membunuhnya! Betapa tega hati dara itu kepadanya. Bun Beng merasa berduka sekali dan dia meragukan apakah benar Milana mencintanya! Apa artinya cinta? Kalau benar Milana dahulu itu mencintanya, mengapa kini dapat berubah menjadi benci? Andai kata benar dia melakukan kesalahan, apakah kesalahan ini dapat merubah cinta seorang menjadi benci? Kalau begitu, apa bedanya cinta dengan benci?

Bun Beng termenung kosong, memandang ke arah awan yang tergantung di depan kakinya di atas jurang yang curam itu. Sekarang pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang cinta! Mulai dia mengingat-ingat dan mencari-cari.

Bagi manusia umumnya, cinta telah dibagi-bagi menjadi beberapa macam! Cinta antara pria dan wanita, cinta antara anak dan orang tua, cinta antara sahabat, dan cinta antara manusia dengan Tuhannya! Adakah cinta yang sudah dibagi-bagi ini benar-benar cinta?

Seorang wanita, seperti Milana, menyatakan cinta kepada seorang pria seperti dia, akan tetapi cinta itu hidup selama dia dianggap baik. Sekali dia dianggap buruk, cinta itu berubah menjadi benci! Apakah ini benar cinta? Aku cinta padamu, akan tetapi kau pun harus cinta kepadaku! Aku cinta kepadamu, akan tetapi kau harus baik dan menyenangkan hatiku! Kalau kau tidak cinta kepadaku dan lari kepada orang lain, kalau kau tidak baik dan tidak menyenangkan hatiku, cintaku hilang berubah benci! Cintakah ini, ataukah hanya jual beli seperti benda yang diperjual belikan di pasar?

Orang tua mencinta anak kalau anak itu menurut, kalau anak itu berbakti, pendeknya jika anak itu menyenangkan hati orang tuanya. Jika tidak? Kalau Si Anak pemberontak, put-hauw (tidak berbakti), murtad dan tidak menyenangkan hatinya, akan tetapkah cintanya? Atau menjadi marah-marah dan anaknya dikutuk? Cintakah kalau sudah begini? Demikian pula dengan cinta sahabat. Kalau Si Sahabat menyenangkannya, menguntungkannya, baru cinta. Bagaimana kalau sababat itu tidak menyenangkannya, merugikannya? Masih adakah cinta itu? Sama saja. Ini cinta pasar, cinta jual beli, baru cinta kalau ‘ada apa-apanya’, ada tebusannya, ada imbalannya!

Bagaimana dengan cinta manusia kepada Tuhannya? Adakah ini baru cinta yang sejati? Kita bersembahyang, mohon berkah, mohon ampun, mohon bimbingan, mohon perlindungan? Segala macam permohonan atau permintaan ini, segala macam tuntunan ini! Cintakah itu? Betul-betulkah hati kita penuh dengan cahaya cinta kasih di saat kita bersembahyang kepada Tuhan? Betul-betulkah kita teringat dengan penuh kasih kepada Tuhan, ataukah kita hanya ingat kepada kebutuhan sendiri akan berkah, akan pengampunan, dan lain-lain itu? Kita mencinta Tuhan hanya karena ingin imbalannya, yaitu berkah, pengampunan, dan lain-lain. Adakah ini Tuhan yang kita sembah, ataukah berkah-Nya yang kita harap?

Bun Beng termenung dan pada saat seperti itu, pandang matanya seolah-olah menjadi terbuka dan jelas tampak olehnya segala kepalsuan manusia. Kepalsuan yang ditutup oleh tabir kebudayaan, peradaban, kesopanan, hukum dan lain-lain. Semua yang indah-indah dalam hidup manusia itu hanyalah keindahan yang menyelubungi hasrat tersembunyi, yaitu nafsu mementingkan Si Aku masing-masing! Apa pun yang dilakukan manusia, selalu didasari oleh pusat ini, oleh Si Aku ini. Betapa menyedihkan kenyataan ini.

Teringatlah Bun Beng akan semua pengalamannya, akan pertemuannya dengan Pendekar Super Sakti, akan keadaan pendekar sakti itu bersama dua orang wanita yang juga terlibat dalam cengkeraman apa yang mereka sebut cinta dengan pendekar itu.

Teringat pula dia akan Bu-tek Siauw-jin. Cinta telah menimbulkan banyak peristiwa yang ganjil, menimbulkan pertentangan, kesengsaraan dan ketakutan. Benarkah cinta semua itu kalau menimbulkan kesengsaraan, pertentangan, ketakutan dan kebencian? Ataukah sesungguhnya hanya nafsu mementingkan diri pribadi dalam mengejar kesenangan, kenikmatan dan kepuasan belaka yang oleh kita semua disebut cinta kasih? Karena hanya nafsu mementingkan diri pribadi sajalah yang akan mendatangkan pertentangan dan kesengsaraan. Kalau benar cinta, tidak mungkin mendatangkan kesengsaraan karena cinta adalah keindahan, kebenaran, kesucian, kekekalan!

"Gak Bun Beng manusia busuk, bersiaplah untuk menerima hukumanmu!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring sekali.

Bun Beng membuka matanya dan mengangkat muka memandang. Kiranya di tempat itu telah muncul tiga orang gadis dan tiga orang laki-laki yang semua telah memegang senjata, kecuali kakek lumpuh yang dia kenal sebagai kakek yang mengaku paman kakeknya, Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu ibu Milana! Tiga orang dara itu bukan lain adalah Milana, Ang Siok Bi, dan Lu Kim Bwee yang mengeroyok kemarin. Dia terkejut dan cepat meloncat bangun ketika melihat Wan Keng In bersama mereka, dan seorang kakek yang mukanya mengerikan, muka yang rusak dan pakaiannya seperti pendeta.

"Milana, apa artinya ini...?" Bun Beng berdiri tegak, memandang dara itu dengan sinar mata penuh duka dan bimbang.
"Manusia busuk, tidak perlu banyak cakap lagi!" Milana berseru dan pedangnya sudah digerakkan menusuk dada Gak Bun Beng yang cepat mengelak sambil meloncat ke kiri.
"Sing-sing-singgg...!" Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee menyambar, disusul dengan kilatan pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In.
"Tranggg...!"

Bun Beng terpaksa menangkis ketika melihat Pedang Iblis Lam-mo-kiam menyambar demikian dahsyatnya. Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Hok-mo-kiam bertemu dengan Lam-mo-kiam, dan Wan Keng In merasa betapa tangannya tergetar hebat. Ia menjadi marah sekali dan cepat ia menyerang dengan dahsyatnya, kini dibantu oleh Koai-san-jin yang sudah menggerakkan tongkatnya,

"Singgg... wirrr... siuuuttt!"

Bun Beng terkejut bukan main. Dia sudah mengenal kelihaian Wan Keng In dan keampuhan pedang Lam-mo-kiam, akan tetapi kiranya tongkat di tangan kakek itu tidak kalah dahsyatnya! Kakek bermuka rusak itu ternyata memiliki sinkang yang amat kuat, dan tongkat berkepala naga menyambar dengan tenaga yang dapat menghancurkan batu karang.

Maklumlah dia bahwa dua orang lawan ini, Wan Keng In dan Si Kakek Muka Buruk, merupakan dua orang lawan yang amat lihai dan yang harus dihadapinya dengan hati-hati. Sedangkan tiga orang dara itu, terutama sekali Siok Bi dan Kim Bwee, menyerang dengan nekat seperti orang-orang yang sudah siap untuk membunuh atau dibunuh!

Betapa pun juga, hanya Milana seorang yang membuat dia bingung dan tidak dapat melawan dengan baik. Keroyokan mereka itu sebenarnya masih dapat dihadapinya dan bahkan dia merasa masih sanggup meloloskan diri atau memperoleh kemenangan biar pun Wan Keng In dan pendeta muka buruk itu lihai bukan main. Akan tetapi adanya Milana di situ yang ikut mengeroyok benar-benar membuat dia bingung dan gugup.

Dia menggunakan Hok-mo-kiam, akan tetapi dia selalu menjaga agar pedangnya itu jangan sampai menangkis pedang Milana, apa lagi menyerang dara itu. Dia hanya menggunakan pedangnya untuk menjaga diri dari sambaran Lam-mo-kiam dan membalas hanya kepada Keng In dan Si Pendeta Muka Buruk. Dia pun tidak mau menyerang Siok Bi dan Kim Bwee karena maklum bahwa kedua orang dara ini pun hanya menjadi korban orang jahat yang menyamar sebagai dia.

"Milana, dengar dulu keteranganku! Nona Siok Bi dan Nona Kim Bwee, aku tidak bersalah...!"
"Manusia hina!" Milana memaki dan pedangnya sudah menerjang dengan hebatnya.

Karena Bun Beng tidak menggunakan Hok-mo-kiam menangkis, pedangnya itu sibuk menangkis serangan Lam-mo-kiam dan tongkat kakek muka buruk, maka elakannya masih belum cukup menghindarkan diri dan kembali pedang di tangan Milana telah berhasil melukai paha kirinya sehingga celana dan kulit pahanya robek dan berdarah.

"Gak Bun Beng, kematian sudah di depan mata, tidak perlu banyak cerewet lagi!" Wan Keng In mengejek dan Lam-mo-kiam di tangannya menyambar dahsyat, dengan bertubi-tubi menusuk dada dan membabat leher sedangkan dari belakang Bun Beng, tongkat kakek muka buruk menyambar ganas menyerang kedua kaki dan perut pemuda itu.

"Wan Keng In... aku ada pesanan dari ibumu..."
"Wuuuuttt... singgg... tranggg!" Pedang Hok-mo-kiam sekali lagi membentur Lam-mo-kiam sampai hampir saja tubuh Keng In terpelanting.

"Desssss!" Tongkat kepala naga itu berhasil menggebuk pinggang Bun Beng dari belakang.

Biar pun Bun Beng sudah kebal tubuhnya oleh sinkang gabungan yang dia terima dari Pendekar Super Sakti dan Bu-tek Siauw-jin, namun hantaman itu hebat bukan main sehingga Bun Beng muntahkan darah segar dari mulutnya. Hal ini bukan berarti bahwa dia terluka hebat karena sinkang yang mukjizat telah melindungi bagian dalam tubuhnya. Dia memutar tubuh dan membabatkan pedang Hok-mo-kiam, akan tetapi terpaksa menarik kembali pedangnya itu karena melihat Milana sudah bergerak menyerangnya sehingga kalau pedangnya dia lanjutkan, tentu dia akan merusak pedang Milana!

Kembali dia dikepung dengan ketat oleh lima orang itu yang seolah-olah telah berubah menjadi iblis-iblis yang haus darah! Diam-diam Bun Beng mengeluh. Dua orang itu, Wan Keng In dan Si Kakek Muka Buruk, terlampau lihai untuk ditandingi dengan setengah hati. Akan tetapi untuk melawan sungguh-sungguh, gerakannya terbatas oleh adanya Milana di situ dan dua orang gadis yang ikut mengeroyoknya. Kalau saja di situ tidak ada Wan Keng In dan Si Kakek Aneh, tentu ia dapat meloloskan diri, namun Wan Keng In dengan Lam-mo-kiam bukan main dahsyatnya, ditambah kakek yang menggerakkan tongkatnya secara lihai sekali.

Sai-cu Lo-mo duduk di dekat goa dan menonton dengan alis berkerut dan muka kelihatan berduka sekali. Dia masih hampir tidak dapat percaya bahwa pemuda itu telah berubah menjadi seorang jai-hwa-cat yang hina, akan tetapi saksi-saksinya banyak. Tidak mungkin dua orang dara itu membohong, apa lagi Milana! Hatinya seperti diremas-remas dan melihat jalannya pertandingan, hatinya makin perih lagi karena dia maklum bahwa Bun Beng akan celaka hanya karena pemuda itu tidak mau melukai Milana dan dua orang gadis lain sehingga membuat gerakannya kacau dan terbatas, sedangkan Wan Keng In dan kakek muka buruk itu gerakannya demikian hebat.

Dugaan Sai-cu Lo-mo memang benar. Beberapa kali Bun Beng terpaksa menerima tusukan pedang Milana dan dua orang gadis sehingga pakaiannya sudah penuh dengan darahnya sendiri. Melihat keadaan ini, lima orang pengeroyok itu menjadi makin ganas dan suatu saat, lima buah senjata mereka menyambar secara ber-bareng!

"Haiiiihhhh...!"

Suara melengking dari mulut Bun Beng ini membuat Siok Bi dan Kim Bwee terpelanting dan pedang Hok-mo-kiam berhasil menangkis Lam-mo-kiam dan membabat buntung tongkat kepala naga, akan tetapi kembali pedang Milana berhasil membacok pangkal lengannya di bahu kanan, membuat lengan kanannya setengah lumpuh dan tubuh Bun Beng terhuyung ke belakang!

"Mampuslah!" Keng In berteriak girang dan menerjang maju, menggerakkan Lam-mo-kiam membacok.
"Cringgg...!"

Bunga api berpijar dan Keng In meloncat mundur dengan kaget karena ada pedang lain yang sanggup menangkis pedang Lam-mo-kiam. Ternyata Kwi Hong sudah berdiri di situ dengan pedang Li-mo-kiam di tangan! Pantas saja pedang itu kuat menangkis Lam-mo-kiam, karena pedang itu adalah Pedang Iblis Betina yang sama ampuhnya dengan Pedang Iblis Jantan!

"Wan Keng In manusia keparat! Milana dengarlah... Gak Bun Beng tidak bersalah..."
"Giam Kwi Hong! Tentu saja engkau membela dia setelah engkau jadi kekasihnya!" Milana berteriak penuh kemarahan.

"Ha-ha-ha, benar-benar pasangan yang amat cocok! Bun Beng adalah anak haram dari Si Datuk sesat Gak Liat, sedangkan Giam Kwi Hong adalah anak haram dari Si Perwira hina Giam Cu yang telah menjadi gila. Ha-ha-ha, keduanya anak haram, tentu saja saling membela apa lagi setelah menjadi kekasih gelap!"

"Keng In, mulutmu jahat!" Kwi Hong berteriak dan dengan Li-mo-kiam di tangan dia menyerang Wan Keng In.

Pemuda Pulau Neraka ini cepat menangkis dengan pengerahan tenaga karena dia maklum bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Segera mereka bertanding, tetapi Kwi Hong terdesak ketika kakek muka buruk sudah maju membantu Keng In.

Milana dan dua orang gadis yang merasa sakit hati kepada Bun Beng telah menerjang Bun Beng yang kini duduk bersila di atas tanah. Serangan-serangan mereka itu dia sambut dengan secara terpaksa menggunakan Hok-mo-kiam.

"Trakk! Trakkk!"

Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee patah-patah, hanya pedang Milana yang belum beradu dengan Hok-mo-kiam sehingga tidak rusak. Namun Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah nekat itu terus menerjang dengan kepalan mereka! Terpaksa Bun Beng menangkis dengan lengan kirinya, membalikkan pedangnya agar tidak melukai dua orang dara itu, dan dalam menangkis pun dia tidak mengerahkan tenaga sehingga tidak sampai melukai lengan kedua orang gadis itu. Milana masih berusaha untuk menyerang dengan pedang, akan tetapi melihat betapa dua orang gadis itu mengeroyok Bun Beng sedemikian nekat sehingga ada bahaya pedangnya mengenai tubuh mereka sendiri, dia lalu membalik dan membantu Wan Keng In mengeroyok Kwi Hong!

Kwi Hong sudah terluka oleh pedang Keng In dan tongkat kakek muka buruk, namun dia masih membela diri mati-matian. Kini Milana maju, dan gadis ini juga amat lihai, maka tentu saja Kwi Hong menjadi makin payah dan dia hanya dapat menangkis sambil mundur terus, tanpa disadarinya bahwa dia mundur ke arah jurang yang berhadapan dengan goa.

"Kwi Hong... hati-hati belakangmu... !" Bun Beng berteriak, akan tetapi terlambat.

Tubuh Kwi Hong tergelincir ke belakang dan terdengar dara itu menjerit mengerikan ketika tubuhnya terjengkang dan lenyap ke dalam jurang.

"Kwi Hong...!" Tubuh Bun Beng mencelat dengan kecepatan yang luar biasa, dan tahu-tahu pemuda ini pun sudah meloncat ke dalam jurang, menyusul Kwi Hong!

Milana terbelalak, dan semua orang menahan napas. Keng In dan kakek muka buruk menghampiri pinggir jurang dan menjenguk ke bawah. Hati Keng In puas sekali karena melihat jurang itu merupakan jurang yang dalamnya tak dapat diukur, bahkan tidak nampak dari bawah karena tertutup awan dan halimun!

"Mereka tentu hancur di bawah sana," kakek muka buruk berkata dengan suaranya yang agak pelo.

Milana memejamkan matanya yang terasa panas. Di dalam hatinya timbul dua perasaan, perasaan cemburu dan juga perasaan duka. Perbuatan terakhir dari Bun Beng benar-benar menyakitkan hatinya. Dalam saat terakhir pun Bun Beng membuktikan cinta kasihnya kepada Kwi Hong sehingga rela mati bersama gadis itu meloncat ke dalam jurang!

Dua orang gadis, Siok Bi dan Kim Bwee, berdiri tegak di pinggir jurang, muka mereka pucat sekali. Setelah kini orang yang memperkosa itu terlempar ke dalam jurang dan sudah mesti tewas, hati mereka tidak karuan rasanya. Ada rasa duka, ada rasa sunyi, dan rasa ngeri bagaimana mereka harus menempuh hidup selanjutnya! Hasrat mereka sekarang hanya untuk pulang, untuk menyembunyikan diri!

"Adik Milana, sekarang aku mau pulang!" Siok Bi berkata dengan suara mengandung isak, kemudian dia membalikkan tubuh dan lari pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku pun pergi, adik Milana!" Kim Bwee juga berkata, suaranya lirih seperti orang berduka. Gadis ini pun segera lari pergi setelah sekali lagi dia melempar pandang ke arah jurang dengan sinar mata sayu penuh duka.

Milana sendiri sedang tertekan batinnya, maka dia hanya mengangguk. Pandang matanya masih ditujukan ke arah jurang dengan sinar mata kosong.....

Wan Keng In terbatuk-batuk untuk menyadarkan keadaan Milana. "Milana, manusia jahat itu telah tewas dan aku menyesal sekali bahwa Kwi Hong ikut tewas, akan tetapi agaknya lebih baik begitu untuk dia setelah dia terbujuk oleh manusia hina she Gak itu. Marilah kita sekarang pergi ke Pulau Es menemui ayahmu dan ibuku."

Milana terdesak kaget. "Ke... ke... Pulau Es...? Setelah terjadi hal ini?"

Sai-cu Lo-mo berloncatan maju. Kedua mata kakek ini masih basah oleh air matanya yang bertitik ketika melihat betapa Bun Beng tadi meloncat ke dalam jurang. Semenjak pertandingan itu dimulai, dia merasa terharu sekali dan betapa pun juga, dia tidak bisa membenci cucu keponakannya itu. Apa pun yang dituduhkan orang kepada cucunya itu, namun dengan mata kepala sendiri dia melihat betapa Bun Beng adalah seorang laki-laki sejati, yang tidak mau melukai Milana dan dua orang gadis lainnya, bahkan yang dalam saat terakhir berusaha menolong Kwi Hong yang terlempar ke dalam jurang! Dia dapat menduga bahwa seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dan kegagahan seperti Bun Beng, tidak mungkin membunuh diri, dan perbuatannya meloncat ke dalam jurang tadi tentu dengan maksud untuk menolong Kwi Hong.

"Nona Milana, memang sebaiknya kalau Nona pergi menghadap orang tua Nona dan menceritakan semua peristiwa yang terjadi ini." Ucapan Sai-cu Lo-mo ini mengandung harapan agar Pendekar Super Sakti sendiri yang akan menangani urusan ini, dan yang akan menentukan apakah hukuman yang dijatuhkan atas diri Bun Beng ini benar. Biar pun Bun Beng sudah tewas, akan tetapi namanya perlu dibersihkan, kalau memang hal itu mungkin.

Milana memandang Sai-cu Lo-mo dan dua titik air mata menetes ke arah pipinya.

"Kakek, aku... aku takut kepada Ayah..."
"Mengapa takut, Nona? Ceritakan saja apa yang telah terjadi."
"Bagaimana aku tidak akan takut? Enci Kwi Hong adalah keponakan dan murid Ayah..."

Wan Keng In berkata, "Milana, sudah kukatakan tadi bahwa kematian Kwi Hong bukanlah karena senjata kita, melainkan karena tergelincir ke dalam jurang."

"Aku baru mau pergi kalau engkau ikut pula pergi, Bhok-kongkong."

Sai-cu Lo-mo mengangguk-angguk. "Baiklah, aku yang akan menjadi saksi agar engkau tidak dimarahi ayah bundamu Nona."

Maka berangkatlah empat orang itu, Milana, Sai-cu Lo-mo, Wan Keng In dan Koai-san-jin, ke utara untuk pergi ke Pulau Es.
********************
Tubuh Suma Han Pendekar Super Sakti kini menjadi agak gemuk dan mukanya kelihatan segar berseri. Dia benar-benar merasa seperti hidup baru bersama dua orang isterinya di Pulau Es. Biar pun mereka seolah-olah hidup mengasingkan diri dari dunia ramai, namun hidup mereka penuh dengan cinta kasih di antara mereka! Memang, kalau hati sudah penuh cinta kasih, orang tidak membutuhkan apa-apa lagi, dan kalau hati selalu aman tenteram tubuh pun menjadi sehat! Juga di wajah kedua orang wanita cantik itu, Nirahai dan Lulu, membayang kebahagiaan yang membuat wajah mereka berseri dan segar kemerahan kedua pipinya seperti wajah dua orang gadis muda saja!

Siang hari itu, Suma Han dan kedua orang isterinya berdiri di tepi pantai Pulau Es sebelah barat, memandang ke arah sebuah perahu yang meluncur cepat menuju ke Pulau Es, setelah perahu agak dekat dan mereka dapat mengenal dua di antara empat orang yang berada di dalam perahu, Nirahai dan Lulu berseru girang.

"Milana...!"

"Keng In...!"

Suma Han diam saja dan pendekar ini merasa hatinya terusik oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia tidak melihat Bun Beng dan Kwi Hong.

"Siapakah dua orang kakek itu?" Dia berkata perlahan seolah-olah bertanya kepada diri sendiri.

"Seorang di antara mereka adalah Sai-cu Lo-mo, bekas pembantuku," kata Nirahai. "Kakek muka buruk itu entah siapa."

Lulu juga tidak mengenal kakek muka buruk yang tadinya dia kira Cui-beng Koai-ong, akan tetapi setelah perahu makin mendekat ternyata bukan. Setelah perahu menempel di pulau, empat orang itu melompat ke darat, Keng In segera lari dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Lulu sambil berseru, "Ibu...!"

Bukan main girangnya hati ibu yang seolah-olah menemukan kembali anaknya ini ketika menyaksikan sikap Keng In. Dia memeluknya dengan air matanya bercucuran. Milana juga dipeluk oleh Nirahai, akan tetapi dara ini menangis dan menyembunyikan mukanya di dada ibunya.

Sai-cu Lo-mo melompat maju, kemudian duduk menghadapi Nirahai dan Suma Han dan berkata, "Harap Taihiap dan Pangcu sudi memaafkan saya yang berani lancang mendatangi Pulau Es."

Nirahai menjawab. "Tidak mengapa Lo-mo. Kenapa kedua kakimu?"

Sai-cu Lo-mo tersenyum. "Akibat penyerbuan yang lalu, Pangcu."

"Totiang siapakah?" Suma Han bertanya sambil memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik kepada Koai-san-jin yang masih berdiri sambil menundukkan mukanya.

Wan Keng In segera menjawab, "Dia adalah Koai-san-jin, seorang pertapa yang telah banyak menolong dan membantu kami, terutama sekali ketika menghadapi Si Jahat Gak Bun Beng."

Terkejutlah Suma Han, Lulu, dan Nirahai mendengar kata-kata yang menyebut Gak Bun Beng penjahat ini.

"Keng In! Apa maksud kata-katamu ini?" Lulu memegang pundak puteranya sambil memandang tajam. Juga Nirahai dan Suma Han menatap wajah pemuda itu.
"Ibu, aku hanya membantu adik Milana, harap tanyakan kepadanya saja."

Tiga orang penghuni Pulau Es itu kini semua menoleh dan memandang kepada Milana yang masih menangis, bahkan kini dara itu menangis makin sedih sambil berlutut di atas salju.

Suma Han yang dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal-hal yang hebat sekali, lalu berkata, "Mari kita semua masuk ke istana dan bicara di sana."

Tanpa berkata-kata, pergilah mereka semua ke istana di tengah pulau, dan Sai-cu Lo-mo berloncatan menggunakan kedua tangannya, dipandang dengan penuh iba oleh Nirahai, "Nanti akan kucoba mengobati kedua kakimu, Lo-mo," katanya lirih dan kakek itu hanya mengangguk dan tersenyum penuh terima kasih.

Setelah tiba di ruangan dalam Istana Pulau Es dan mereka telah mengambil tempat duduk, Suma Han lalu berkata kepada Milana, "Sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi." Dia berhenti sebentar dan mengerling ke arah Keng In dan Koai-san-jin yang hanya duduk sambil menunduk, kemudian disambungnya, "Dan di mana adanya Gak Bun Beng dan Giam Kwi Hong?"

Milana turun dari tempat duduknya dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, menangis lagi. "Ayah, ampunkan saya..."

Suma Han menarik napas panjang dan menyentuh rambut kepala puterinya itu.

"Milana, bersikaplah tenang dan ceritakan semua."
"Enci Kwi Hong dan... dan... Bun Beng telah tewas, Ayah..."

Terdengar seruan kaget dari mulut Nirahai dan Lulu, dan kalau saja Suma Han tidak memiliki kekuatan batin yang luar biasa, dia pun tentu akan terkejut bukan main mendengar berita hebat ini. Sejenak suasana menjadi sunyi sekali, yang terdengar hanya isak Milana.

"Ayah... Ibu... semua telah saya ceritakan kepada Sai-cu Lo-mo, harap Bhok-kongkong saja yang mewakili saya menceritakan kepada Ayah dan Ibu..."

Suma Han dan Nirahai menoleh kepada kakek lumpuh itu dan Nirahai mengangguk sambil berkata, "Lo-mo, ceritakanlah apa yang telah terjadi."

Sai-cu Lo-mo segera menceritakan dengan singkat dan jelas, mengulang penuturan Milana kepadanya, betapa Milana bertemu dengan anak buah Tiong-gi-pang, kemudian bertemu dengan dia dan betapa dara itu menceritakan semua kejahatan yang dilakukan Gak Bun Beng di Pulau Neraka, merayu dan mengajak berjinah dara itu yang ditolaknya, kemudian betapa Milana menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Bun Beng berjinah dengan Kwi Hong.

Kemudian dia menceritakan munculnya dua orang dara yang juga menjadi korban perkosaan Gak Bun Beng dan betapa ketiga orang dara itu, kemudian dibantu oleh Wan Keng In dan Koai-san-jin, berhasil mengepung Bun Beng yang bersembunyi di dalam goa. Akhirnya dia menceritakan peristiwa yang disaksikannya sendiri ketika Kwi Hong membantu Bun Beng sehingga akhirnya kedua orang itu terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam dan diduga tentu sudah tewas.

"Sungguh tidak kusangka...!" Terdengar Lulu memberi komentar setelah mendengar penuturan singkat kakek lumpuh itu.
"Untung engkau masih dapat menjaga kehormatanmu, Milana!" Nirahai memeluk anaknya.

Suma Han duduk seperti arca, kemudian menarik napas panjang. Penuturan itu sungguh tak disangkanya sama sekali, dan andai kata bukan kakek lumpuh itu yang mewakili Milana, agaknya akan sukar dapat dipercaya. Mungkinkah Bun Beng berubah menjadi sejahat itu? Dan Kwi Hong? Anak yang dididiknya sejak kecil?

"Ibu, aku mendengar bahwa Gak Bun Beng adalah keturunan Gak Liat datuk kaum sesat yang jahat seperti iblis. Tidaklah aneh kalau dia pun mewarisi watak ayahnya...."

Wan Keng In menghentikan kata-katanya ketika sinar mata Suma Han menyambar seperti kilat ke arahnya. Sinar mata Pendekar Super Sakti itu seolah-olah halilintar menyambar dan agaknya pendekar itu dapat menjenguk dan membaca semua yang terkandung di dalam hatinya!

"Keng In, engkau adalah anakku juga dan aku ayahmu. Hayo ceritakan, mengapa Milana sampai berada di Pulau Neraka?"

Ditanya begini, seketika wajah Wan Keng In menjadi pucat. Melihat keadaan pemuda itu, Milana yang merasa bahwa Keng In kini telah berubah menjadi baik, bahkan telah membantunya mati-matian ketika menghadapi Bun Beng, segera berkata, "Ayah, karena tidak betah berada di istana di kota raja, saya pergi keluar, dan bertemu dengan dia. Saya menerima ajakannya untuk pergi ke Pulau Neraka."

Suma Han memandang wajah dara itu, Milana cepat menunduk karena dia pun tidak tahan melihat sinar mata yang seolah-olah menembus dadanya itu. Lulu maklum betapa dahulu puteranya amat nakal, maka dia membentak, "Keng In! Hayo kau ceritakan dengan terus terang. Seorang jantan harus berani mengakui segala kesesatannya dan pengakuan itu sudah merupakan langkah pertama ke arah perbaikan!"

Mendengar ini, Suma Han memandang Lulu dengan senyum di bibir dan mengangguk-angguk. Wan Keng In segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayah tirinya itu dan berkata, "Tidak saya sangkal bahwa saya pernah jatuh cinta kepada Adik Milana. Akan tetapi setelah saya mendengar bahwa dia adalah saudara tiri saya, cinta itu berubah menjadi cinta seorang kakak, maka saya membantunya untuk mencari dan menghadapi Gak Bun Beng. Harap Ayah sudi mengampuni semua kesalahan saya."

Kembali pendekar besar itu menarik napas panjang. "Sudahlah..." katanya untuk menutupi rasa perih di dalam hatinya karena kematian Kwi Hong yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Kemudian dia menoleh kepada Sai-cu Lo-mo dan Koai-san-jin.

"Lo-mo, sebagai bekas pembantu isteri saya, bukanlah orang luar dan saya mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu. Juga kepada Koai-san-jin Totiang, sebagai seorang tamu kami, saya menghaturkan terima kasih. Ji-wi (Anda Berdua) kami persilakan untuk tinggal di sini selama tiga hari, setelah itu akan kami antar kembali ke darat."

Dua orang kakek itu menghaturkan terima kasih dan mereka masing-masing memperoleh sebuah kamar di dalam Istana Pulau Es itu sebagai tamu-tamu. Akan tetapi karena di istana kuno itu tidak terdapat pelayan, maka tentu saja penyambutan pihak penghuni istana juga amat bersahaja. Betapa pun juga Nirahai dan Lulu yang masing-masing merasa amat berbahagia karena anak mereka telah datang dengan selamat, mempersiapkan perjamuan makan dan membuat masakan-masakan dari bahan yang memang banyak disediakan di pulau itu, kemudian di malam hari itu, sebagai perayaan kembalinya anak-anak mereka, mereka menjamu dua orang tamu itu dengan masakan dan arak.

Ketika sore hari tadi, selagi Nirahai, Milana dan Lulu sibuk di dapur mempersiapkan masakan, diam-diam Wan Keng In pergi ke dalam kamar Koai-san-jin dan mereka berdua bicara dengan bisik-bisik, kelihatan serius sekali. Kurang lebih satu jam lamanya dua orang ini bicara bisik-bisik, kemudian Wan Keng In meninggalkan kamar itu dan pergi ke dapur untuk membantu tiga orang wanita yang sibuk mempersiapkan masakan-masakan.

Malam itu perjamuan sederhana dilakukan dengan cukup meriah. Bahkan Suma Han kelihatan gembira dan berseri wajahnya. Agaknya pendekar ini telah melupakan kedukaan hatinya karena kematian Kwi Hong, dan agaknya melihat kedua orang isterinya bergembira, dia pun ikut gembira. Setelah perjamuan selesai yang dilanjutkan dengan omong-omong, mereka semua pergi beristirahat di kamar masing masing. Sebentar saja keadaan menjadi sunyi, agaknya semua orang kebanyakan minum arak sehingga dapat segera tidur dengan nyenyak.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, terjadilah hal yang amat luar biasa. Pendekar Super Sakti Suma Han, Nirahai, Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo keluar dari kamar dan berjalan dengan sinar mata kosong! Sai-cu Lo-mo juga berloncatan dengan alis berkerut dan mata bingung, mulutnya tiada hentinya bertanya. "Di mana aku? Apa yang terjadi? Di mana ini?"

Keluarga Pendekar Super Sakti, kecuali Wan Keng In, juga saling pandang dengan mata kosong seolah-olah tidak saling mengenal lagi. Mereka lalu duduk di atas kursi dan termenung! Mereka telah kehilangan ingatan!

Wan Keng In dan Koai-san-jin saling memandang dan tersenyum lebar, membuat wajah Wan Keng In makin tampan akan tetapi wajah kakek itu menjadi makin buruk!

"Bagus sekali, Wan-taihiap! Racun perampas ingatan itu benar-benar mengagumkan sekali!" Koai-san-jin berkata memuji.

"Racun ini adalah buatan Suhu Cui-beng Koai-ong, tentu saja hebat!" Keng In berkata, "Sekarang, apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka, Bhong-koksu?"

"Heh-heh-heh, aku sudah bukan Koksu lagi, melainkan seorang tua bertubuh rusak seperti setan yang hanya ingin melaksanakan pembalasan dendamku. Serahkan saja Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai kepadaku, Wan-taihiap, yang lain-lain terserah kepadamu."

"Bagus, memang begitulah kehendakku. Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan terhadap diri mereka berdua. Aku akan membawa ibuku dan Milana ke Pulau Neraka."

"Dan Si Lumpuh Sai-cu Lo-mo..."
"Dia? Ha-ha-ha, orang sudah lumpuh begitu untuk apa? Bunuh saja atau tinggalkan sendiri di sini!"

Mereka berdua tertawa bergelak, gembira karena mereka telah berhasil menundukkan pendekar yang paling hebat di dunia ini. Pendekar Super Sakti bersama isteri-isterinya yang sakti! Sambil tersenyum-senyum mereka berdua lalu memasuki ruangan di mana Suma Han, Nirahai, Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo duduk di kursi dengan sinar mata kosong.

"Suma Han dan Puteri Nirahai, marilah kalian ikut bersamaku. Ada urusan penting sekali yang akan kusampaikan kepadamu!" berkata Koai-san-jin kepada Suma Han dan Nirahai. Kedua orang ini memandang kepada kakek buruk itu dengan bingung dan biar pun mereka bangkit berdiri, namun agaknya mereka ragu-ragu.

"Lihat, aku adalah Koai-san-jin, sahabat baik kalian! Mari kalian ikut bersamaku untuk mengambil pusaka Pulau Es yang disimpan di sana!" Kakek itu menuding ke luar.

"Pusaka Pulau Es...?" Suma Han menggumam.

Kkemudian dia melangkah bersama Nirahai mengikuti kakek muka buruk yang mendahului mereka keluar dari istana menuju ke bagian yang paling tinggi dari pulau itu, di sebuah tebing di pantai yang amat curam. Suami pendekar itu mengikuti kakek muka buruk dengan gerakan seperti mayat-mayat hidup!
********************
Kita tinggalkan dulu keadaan Pulau Es yang menegangkan karena bahaya maut yang mengancam keluarga Pendekar Super Sakti, dan mari kita melihat bagaimana dengan keadaan Giam Kwi Hong dan Gak Bun Beng, dua orang muda yang terjungkal ke dalam jurang yang amat curam itu. Benarkah dugaan Milana bahwa karena cintanya kepada Kwi Hong, Gak Bun Beng sengaja meloncat untuk membunuh diri mengikuti kematian Kwi Hong? Tentu saja sama sekali tidak begitu!

Ketika Bun Beng yang sudah terluka itu melihat Kwi Hong datang menolongnya dan membelanya, dia merasa terharu dan berterima kasih sekali kepada nona ini. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat Kwi Hong terdesak hebat dan biar pun dia sudah berteriak memberi peringatan, namun terlambat dan tubuh dara itu terjengkang masuk ke dalam jurang yang amat curam. Bun Beng cepat melompat dan terjun ke dalam jurang dengan niat untuk sedapat mungkin menolong gadis itu.

Lompatan Bun Beng yang amat cepat itu membuat ia berhasil menyusul tubuh Kwi Hong. Dengan lengan kirinya dia menyambar tubuh itu dan berhasil merangkul pinggang gadis yang sudah menjadi hampir pingsan karena merasa ngeri terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam itu. Kini tubuh keduanya meluncur ke bawah dengan kecepatan yang mengerikan, Kwi Hong menjadi pingsan ketika pandang matanya menjadi gelap oleh kabut yang menyambutnya di waktu tubuh mereka meluncur ke bawah. Akan tetapi, gadis ini tetap memegang gagang Li-mo-kiam dengan erat dan seolah-olah tangan kanannya menjadi kaku mencengkeram gagang pedangnya.

Biar pun lengan kirinya memeluk pinggang Kwi Hong dan lengan kanannya sudah setengah lumpuh oleh luka besar di pangkal lengan, namun tangan kanan Bun Beng masih tetap memegang Hok-mo-kiam dan pikirannya masih terang. Dia maklum bahwa kalau dia tidak mampu menahan luncuran tubuh mereka berdua, mereka tentu akan terbanting ke dasar jurang yang amat dalam dan tidak mungkin lagi dia menyelamatkan nyawa Kwi Hong atau nyawanya sendiri. Betapa pun kuatnya, tubuhnya dan tubuh Kwi Hong tentu akan terbanting remuk. Maka mulailah dia menggerak-gerakkan pedang di tangan kanannya, menusuk ke kanan kiri secara ngawur karena kanan kirinya gelap bukan main.

Kalau belum tiba saatnya untuk mati, betapa pun hebat bahaya mengancam nyawa seseorang, ada saja jalannya untuk menyelamatkan diri. Bun Beng yang menusuk-nusukkan pedangnya itu, tiba-tiba mengerahkan tenaga karena pedangnya menusuk benda keras di sebelah kanannya dan mukanya terasa perih seperti dicambuk. Cepat dia mengumpulkan tenaga di lengan kanannya dan menggerakkan kedua kakinya untuk menahan luncuran tubuh. Lengannya terasa seperti akan terlepas dari pundak, nyeri bukan main sampai mulutnya mengeluarkan teriakan merintih panjang ketika cengkeraman pada gagang pedangnya itu menghentikan luncuran tubuhnya yang diganduli tubuh Kwi Hong.

Ketika ia sudah dapat mengatasi rasa nyeri yang seolah-olah merobek seluruh tubuhnya, Bun Beng melihat bahwa tubuhnya berada di dalam sebuah pohon yang tumbuh di dinding jurang dan pedang Hok-mo-kiam tadi secara kebetulan sekali telah dapat menancap di batang pohon itu. Timbul seketika harapannya untuk hidup. Dia mengangkat tubuh yang tadi dikempitnya itu ke atas pundak, menggunakan tangan kirinya untuk mengambil pedang Li-mo-kiam yang masih tergenggam oleh tangan kanan dara itu, kemudian dia mencari dahan yang cukup besar untuk duduk dan mengatur napas. Pedang Hok-mo-kiam dia biarkan menancap dan menembus batang pohon itu, bahkan kini dia menancapkan Li-mo-kiam di dahan agar jangan jatuh ke bawah.

Ketika dia memandang ke bawah, dia memejamkan matanya penuh kengerian. Kini tampak dasar jurang itu yang merupakan sungai atau bekas sungai dangkal, penuh dengan batu-batu yang besar. Tentu tubuhnya dan tubuh Kwi Hong akan hancur kalau jatuh ke bawah sana! Memandang ke atas hanya tampak awan menutupi puncak tebing jurang. Akan tetapi dinding jurang itu ternyata banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil dan batu-batu menonjol sehingga memungkinkan orang untuk memanjat ke atas!

Bun Beng memangku Kwi Hong yang masih pingsan. Tak lama kemudian dara itu mengeluh panjang dan membuka matanya. Sebelum dia bergerak, Bun Beng cepat memegang kedua lengannya dan berkata, "Kwi Hong, jangan bergerak! Kita masih hidup, tertolong oleh pohon yang tumbuh di dinding jurang ini. Tenanglah, kita masih mempunyai harapan besar untuk keluar dari bahaya!"

Kwi Hong membelalakkan mata, memegang dahan pohon dan menekan perasaannya yang ngeri kalau dia teringat betapa tadi dia terjerumus ke dalam jurang! Tahulah dia begitu melihat Bun Beng bahwa pemuda ini yang menolongnya!

Ia memandang ke bawah dan seperti yang dilakukan Bun Beng tadi, dia memejamkan mata, kemudian memandang ke atas, lalu kembali memandang Bun Beng dan menarik napas panjang. Dengan suara halus ia berkata, "Kembali engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku melihat engkau tadi meloncat mengejarku. Gak Bun Beng, mengapa engkau rela mempertaruhkan nyawamu untuk menolongku?" Sepasang mata itu menatap wajah Bun Beng dengan penuh perhatian, dengan tajam sekali seolah-olah hendak membuka dada menjenguk isi hati pemuda itu.

"Ahhh, mengapa engkau masih bertanya, Kwi Hong? Tentu saja aku akan menolong siapa yang terancam bahaya. Engkau sendiri tanpa mempedulikan lawan yang lihai dan banyak jumlahnya telah membela aku di atas tadi."

Kwi Hong lalu menarik napas panjang, kemudian berkata, suaranya bernada sedih, "Tentu saja begitu... mengapa aku menyangka yang bukan-bukan? Tentu saja engkau menolongku bukan karena engkau... cinta padaku..." Gadis itu memejamkan kedua matanya dan mengerutkan alisnya.

Bun Beng menyentuh lengannya, "Kwi Hong... apa artinya kata-katamu itu?"

Tanpa membuka matanya Kwi Hong menjawab lirih, "Artinya, Bun Beng... bahwa sejak dahulu aku jatuh cinta kepadamu biar pun aku maklum bahwa hal ini tidak mungkin dilanjutkan, bahwa engkau mencinta Milana dan... aku pun menjadi korban cintaku yang sepihak itu..."

Kwi Hong lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa dia telah tertipu oleh rombongan Koksu sehingga membantu mereka dan setelah para pemberontak kalah, dia bahkan mengajak Koksu dan kaki tangannya itu ke Pulau Es! Betapa kemudian pamannya datang bersama kedua orang isteri pamannya, Puteri Nirahai dan Lulu, dan betapa Koksu dan kaki tangannya dapat dikalahkan oleh pamannya dan diusir dari Pulau Es. Kemudian dia disuruh oleh pamannya untuk mendari Bun Beng dan Milana.

"Engkau... engkau telah dijodohkan dengan Milana..."

Bun Beng termenung. "Akan tetapi... mengapa Milana bersikap seperti itu?"

"Agaknya aku mengerti apa yang telah terjadi," Kwi Hong menarik napas panjang "Semua gara-gara Si Jahanam Wan Keng In. Orang itu benar-benar amat jahat sekali, melebihi iblis!"

Dia lalu menceritakan betapa ia mendengar bahwa Milana diculik orang. Dia menduga bahwa tentu Wan Keng In yang menculiknya, maka dia menyusul ke Pulau Neraka.

"Kembali aku tertipu oleh Wan Keng In, dan... dan... di Pulau Neraka... aihh..." Tiba-tiba Kwi Hong menangis tersedu-sedu, teringat betapa dia telah menyerahkan diri dengan suka rela, penuh kemesraan, penuh kehangatan dan kebahagiaan kepada Wan Keng In yang disangkanya adalah Gak Bun Beng!

"Kenapa Kwi Hong? Apa yang terjadi...?"

Diceritakanlah semua secara terus terang oleh Kwi Hong, betapa di tengah jalan dia diberi racun perampas ingatan oleh Keng In, kemudian betapa pemuda Pulau Neraka itu menyamar sebagai Bun Beng dan merayunya sehingga dia menyerahkan diri dan kehormatannya!

"Tadinya aku tidak tahu sama sekali bahwa ingatanku telah hilang sehingga aku menganggap bahwa orang yang bersamaku pergi ke Pulau Neraka adalah... engkau... dan setelah tiba di Pulau Neraka, baru aku sadar namun... sudah terlambat...! Aku melihat Milana juga terampas ingatannya, Milana melihat betapa aku ber... bermain cinta, berjinah dengan... Gak Bun Beng yang sebetulnya adalah Wan Keng In... semua telah diatur oleh Keng In agar Milana membencimu! Ketika Keng In muncul yang disangka engkau oleh Milana, Milana menyerangnya. Dia lari ketika kau datang... kami mengejar dan berpisah di daratan..."

Bun Beng bengong memandang Kwi Hong. Melihat Kwi Hong menangis lagi terisak-isak, menjadi terharu sekali dan merangkul pundak gadis itu.

"Kwi Hong... mengapa kau lakukan itu...? Mengapa kau begitu mudah menyerahkan diri kepada seorang pria, biar pun kau mengira pria itu aku orangnya?"

Kwi Hong mengangkat mukanya yang merah dan basah air mata. "Karena aku cinta kepadamu, Bun Beng. Karena aku tahu bahwa tidak mungkin menjadi isterimu karena kau telah dijodohkan dengan Milana. Maka aku rela menyerahkan diriku kepadamu... biar pun tidak usah menjadi isterimu... akan tetapi... ya Tuhan, kiranya bukan engkau itu, melainkan Si Jahanam Keng In." Tiba-tiba matanya terbelalak lebar dan berseru penuh semangat, "Aku harus membunuhnya! Harus!"

Bun Beng menundukkan mukanya. Mengertilah dia sekarang. Dengan menggunakan obat racun perampas ingatan, Wan Keng In telah memperkosa Kwi Hong, kemudian dia pun meracuni Milana sehingga dara itu kehilangan ingatannya pula, maka mudah saja Milana tertipu ketika melihat Keng In dan Kwi Hong bermain cinta, mengira bahwa Keng In adalah dia sendiri sehingga Milana membencinya setengah mati!

Dan dia dapat menduga sekarang bahwa yang membunuh suami isteri di pinggir telaga setelah memperkosa isteri itu, tentu bukan lain adalah Wan Keng In pula! Juga yang memperkosa Lu Kim Bwee dan menggunakan namanya, tentu pemuda itu yang agaknya amat membencinya dan sengaja memalsukan namanya untuk merusak nama baiknya. Hanya dia tidak mengerti mengapa Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai itu pun ikut membencinya? Dan kakek bermuka buruk itu? Semua ini adalah siasat Wan Keng In. Mengapa Wan Keng In demikian membencinya?

"Sungguh heran sekali, mengapa dia begitu membenciku? Mengapa sejak dahulu Wan Keng In memusuhi aku dan kini berusaha mati-matian untuk merusak namaku?"

"Apakah engkau belum dapat mengerti Bun Beng? Dia membencimu karena cemburu. Dia jatuh cinta kepada Milana, sebaliknya Milana tidak melayaninya karena Milana cinta kepadamu. Itulah sebabnya."

Bun Beng menggeleng-geleng kepalanya dan seperti berkata kepada diri sendiri dia berkata. "Cinta...! Betapa ganjil orang yang terkena penyakit ini! Wan Keng In rela melakukan perbuatan yang amat keji, memperkosa, membunuh, untuk merusak namaku gara-gara cemburu dan katanya dia mencinta! Engkau sendiri sampai rela menyerahkan diri dan kehormatan, juga oleh karena cinta! Milana sekarang sangat membenciku, siap untuk membunuhku dengan tangannya sendiri, juga gara-gara benci yang timbul dari cinta! Benarkah semua itu adalah cinta? Begitu buruk, begitu keji dan hinakah cinta yang diagung-agungkan itu? Atau semua itu sesungguhnya hanya nafsu belaka yang memakai kedok cinta sehingga bukanlah cinta yang sesungguhnya?"

"Gak Bun Beng, engkau sendiri, bukankah kau mencinta Milana?" Kwi Hong bertanya karena ucapan-ucapan orang yang dicintanya itu benar-benar mendatangkan kesan di dasar hatinya.

Bun Beng menarik napas panjang. "Setelah menyaksikan semua peristiwa yang terjadi karena perasaan apa yang disebut cinta, semua kekacauan, pertentangan, permusuhan, penderitaan, yang timbul karena hal yang dinamakan cinta itu, aku sendiri menjadi bingung dan tidak berani mengatakan apakah aku benar-benar cinta kepada Milana atau kepada siapa pun juga. Aku merasa ngeri kalau ternyata kemudian bahwa cintaku kepada Milana ternyata sama saja nilainya seperti cinta-cinta mereka itu! Betapa mengerikan! Aku akan merasa jijik kepada diriku sendiri kalau cintaku hanya seperti itu! Kwi Hong, aku tidak tahu lagi! Sudahlah, tak perlu kita tenggelam lebih dalam membicarakan urusan cinta yang sulit ini. Yang membuat aku tidak mengerti, mengapa puteri Ketua Bu-tong-pai ikut-ikutan memusuhi aku? Dan pula kakek muka buruk itu...!"

"Aku sendiri tidak tahu mengapa gadis-gadis itu memusuhimu. Agaknya juga menjadi korban Wan Keng In yang menggunakan namamu. Akan tetapi kakek itu... hemmm, apakah engkau tak dapat menduganya dia siapa?"

"Siapakah dia?"
"Aku berani bertaruh bahwa dia itu tentu Bhong Ji Kun!"
"Koksu...?" Bun Beng terbelalak, kemudian mengingat-ingat dan mengangguk. "Kau benar! Sekarang aku ingat akan gerakan-gerakannya! Tetapi mukanya... mengapa jadi seperti itu?"

"Ketika Koksu dan anak buahnya diusir oleh paman meninggalkan Pulau Es, mereka menggunakan perahu besar mereka ke selatan. Agaknya perahu mereka diserang badai, dan dengan bantuan Wan Keng In sehingga aku makin mudah terbujuk dan tertipu olehnya, aku berhasil membunuh tiga orang pembantunya yang berhasil menyelamatkan diri di pantai Po-hai. Aku tidak melihat Koksu di antara mereka, agaknya Koksu pun berhasil menyelamatkan diri di tempat lain, akan tetapi... dalam keadaan rusak mukanya seperti itu."

Bun Beng memandang Kwi Hong dengan muka membayangkan kekhawatiran. "Dan Milana berada bersama Keng In dan Koksu!"

"Memang berbahaya sekali. Kalau tidak segera mendapat pertolongan, tentu Milana akan celaka," kata Kwi Hong.
"Kalau begitu kita tunggu apa lagi Kwi Hong, mari kita mencoba memanjat ke atas dengan bantuan pedang kita."

Kwi Hong mengangguk, akan tetapi sebelum Bun Beng mulai merayap membuka jalan, dia memegang lengan pemuda itu. "Pundakmu terluka parah..."

"Tidak apa, aku dapat bertahan."
"Bun Beng..."
"Ada apa, Kwi Hong?"
"Tadinya aku sudah bersumpah di dalam hatiku sendiri bahwa aku tidak akan kembali ke Pulau Es. Sekarang, bersamamu dan melihat perkembangannya, mau tak mau aku harus kembali ke sana karena aku dapat menduga bahwa tentu Keng In melanjutkan siasatnya dan mengajak Milana ke Pulau Es. Karena itu, Bun Beng, maukah engkau berjanji...?"

Bun Beng mengerutkan alis. Gadis ini telah mengalami hal yang amat menyedihkan. "Katakanlah, aku akan memenuhi permintaanmu, Kwi Hong."

"Aku tahu bahwa tidak mungkin aku menjadi jodohmu, karena itu, aku hanya minta agar kelak, baik aku dalam keadaan hidup atau sudah mati, sukakah engkau berjanji akan... akan selalu ingat kepadaku, dan tidak akan melupakan aku?"

Bun Beng merasa jantungnya seperti ditusuk. Gadis yang telah tertimpa mala petaka hebat ini yang agaknya sudah tidak mempunyai gairah hidup, tidak memiliki harapan apa-apa lagi di dunia dan kebahagiaannya sudah hancur, agaknya menjadi seperti seorang anak kecil! Dengan penuh keharuan dia memegang kedua tangan dara itu. Lalu menunduk dan mencium dahi Kwi Hong sambil berbisik, "Aku berjanji, Kwi Hong, bahwa aku akan mengingatmu selalu. Mana mungkin aku dapat melupakanmu, Kwi Hong?"

Terdengar sedu sedan naik dari dada gadis itu, tetapi dia tersenyum, wajahnya berseri dan matanya berkejap-kejap untuk mengusir dua butir air mata yang mengganggu penglihatannya. "Engkau baik sekali, Bun Beng. Terima kasih...! Nah, mari kita lekas memanjat naik, tunggu apa lagi?" Dalam suara Kwi Hong kini terkandung kegairahan yang aneh, seolah-olah janji yang diberikan oleh Bun Beng untuk selalu mengingatnya menjadi semacam obat dalam kegelapan yang dihadapinya!

Maka merayap dan memanjatlah kedua orang itu ke atas dengan hati-hati sekali, berpegang pada akar-akar dan batang-batang pohon dan batu-batu menonjol, dibantu oleh pedang mereka yang dapat ditancapkan pada dinding jurang sehingga dapat dipergunakan sebagai pegangan. Karena keduanya telah memiliki ginkang yang tinggi, dan di tangan mereka terdapat sebatang pedang pusaka yang amat ampuh, maka biar pun amat lambat, perlahan-lahan mereka dapat naik juga meninggalkan pohon penolong mereka itu untuk menuju ke puncak tebing dari mana mereka tadi meluncur jatuh.

Tebing di atas pantai Pulau Es itu teramat curam. Dari tepi tebing itu kalau orang menjenguk ke bawah akan tampak gelombang memecah di batu-batu karang yang meruncing seperti barisan tombak. Dan dalamnya tebing ini tidak kurang dari seribu kaki. Gelombang air laut yang memecah batu karang itu dari atas hanya kelihatan seperti mainan kanak-kanak saja.

Suma Han dan Nirahai berdiri di tepi tebing itu tanpa bergerak, seperti dua buah arca batu, menghadap ke laut. Namun, kakek bermuka setan, Koa-san-jin, biar pun memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak berani mendorong mereka dari belakang, karena dia maklum bahwa biar pun kedua orang suami isteri itu dalam keadaan hilang ingatan, namun mereka itu masih tidak kehilangan ilmu kepandaian mereka yang sudah mendarah daging dan kalau sampai gagal, tentu dia akan menghadapi kesulitan besar.

Tanpa bicara, dikeluarkannya dua gulung tali yang panjang sekali yang memang sudah dipersiapkan lebih dahulu untuk melaksanakan siasat yang sudah direncanakannya bersama Keng In. Ujung kedua tali diikatkannya pada batu karang yang berada di puncak tebing, kemudian kedua tali itu dilepas gulungannya dan dilempar ke bawah tebing. Kedua tali yang panjang itu kurang lebih hanya tiga ratus kaki panjangnya, tampak tergantung di bawah dan bergoyang-goyang terbawa angin.

"Suma Han dan Nirahai, kalian adalah majikan-majikan Pulau Es. Pusaka-pusaka milik Pulau Es berada di dinding tebing ini, kira-kira tiga ratus kaki dalamnya dari atas, tersembunyi di dalam sebuah goa. Sekarang turunlah kalian melalui tali-tali itu dan bawa peti berisi pusaka-pusaka itu ke atas sini."

"Pusaka...?" Suma Han berkata meragu.
"Majikan Pulau Es...?" Nirahai juga berkata dan mengerutkan alisnya.

"Lekas kalian menuruni tali itu, kalau tidak, tentu pusaka itu akan diambil orang lain yang akan memanjat dari bawah sana. Aku akan menjaga di atas dan menjamin agar tidak ada orang yang mengganggu pekerjaan kalian."

"Kau... kau siapakah...?"
"Ha-ha-ha-ha, aku adalah sahabat baik kalian. Namaku Bhong Ji Kun!" Kakek itu yang sebetulnya memang bekas Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dengan amat berani memperkenalkan namanya. Mengapa harus tidak berani? Sekarang dia tidak perlu menyembunyikan dirinya lagi, karena tetap saja Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai tidak akan mengenal nama lamanya itu.

Suma Han dan Nirahai mengangguk dan keduanya lalu meloncat, menyambar tali dan mulai merayap turun melalui tali-tali itu. Bhong Ji Kun yang sudah berjongkok di tebing dan menjenguk ke bawah, tersenyum lebar. Makin jauh kedua orang itu merayap, senyumnya makin melebar dan akhirnya dia tertawa bergelak, menggunakan sebatang golok di tangan kanan untuk membacok tali yang tergantung ke bawah. Dan dua buah tali itu putus dan lenyap ke bawah tebing.

"Ha-ha-ha! Puas hatiku sekarang, telah dapat membalas dendam kepada Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai, ha-ha-ha!" Sekali lagi dia menjenguk dan tidak melihat dua orang korbannya karena terlalu dalam, tampak olehnya dua helai tali itu seperti benang kecil di antara gulungan ombak. Dia tertawa lagi kemudian berlari-lari menuju ke istana Pulau Es.

Ketika dia tiba di istana tua itu, dia melihat Keng In sedang sibuk berkemas, membawa barang-barang berharga yang dapat dia temukan di istana itu ke dalam sebuah perahu. Milana dan Lulu berdiri bengong, seperti dua orang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

"Ibu, Milana, ini adalah..."
"Bhong Ji Kun, sahabat baik, heh-heh!" Bekas koksu itu menyambung dan Keng In juga tertawa karena dia tahu bahwa kini sudah ‘aman’ untuk memperkenalkan kakek itu.

Lulu dan Milana memandang kepada kakek bermuka buruk itu, pada wajah mereka membayang perasaan ngeri.

"Bagaimana? Sudah bereskah mereka?" Keng In bertanya.

Bhong Ji Kun tersenyum menyeringai puas. "Sudah, berkat kecerdikanmu, Wan-taihiap. Terima kasih! Mereka sudah terbanting ke bawah tebing, heh-heh!"

"Hemm, tidak kau bereskan dengan kedua tangan sendiri? Apakah sudah kau lihat benar bahwa mereka itu sudah tewas?" Keng In mengerutkan alisnya karena biar pun yakin bahwa Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai tak berdaya oleh racun perampas ingatan, namun kedua orang itu terlampau lihai untuk dipandang rendah begitu saja.

"Jangan khawatir. Mereka sedang bergantung di tali dan kedua tali itu kuputus dengan golokku sendiri. Kulihat tali itu sudah berada di antara ombak di bawah. Mereka tentu tak dapat terbang menghindarkan maut."
"Hemm, betapa pun juga, mari kita lekas pergi dari tempat ini, Seng-jin. Aku merasa ngeri berada di tempat ini terlalu lama."
"Aahhh, Wan-taihiap. Takut apa lagi sih? Setelah Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai mati..."
"Bhong Ji Kun pemberontak keparat! Kau bilang apa?" Tiba-tiba tampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri Giam Kwi Hong dan Gak Bun Beng!

Bekas Koksu itu terkejut sekali ketika mendengar bentakan Bun Beng ini. Rahasianya sudah diketahui orang, dan dia terkejut melihat pemuda dan gadis yang sudah terjerumus ke dalam jurang sedemikian dalamnya, ternyata belum mati dan tahu-tahu muncul di tempat itu, juga Wan Keng In berdiri memandang dengan mata terbelalak dan bulu tengkuk bangun berdiri saking seramnya. Apakah dia melihat roh penasaran dari dua orang itu?

Akan tetapi berkelebatnya sinar pedang Hok-mo-kiam di tangan Bun Beng dan pedang Li-mo-kiam di tangan Kwi Hong membuktikan bahwa dia tidak berhadapan dengan setan penasaran sehingga cepat Keng In mencabut Lam-mo-kiam sambil melompat mundur, sedangkan Bhong Ji Kun yang diserang oleh Bun Beng juga sudah meloncat ke belakang menyambar tongkatnya yang ujungnya sudah buntung dan yang tadi ia tancapkan di atas tanah.

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring yang amat dahsyat dan ada angin menyambar ke arah Bun Beng dan Kwi Hong. Dua orang muda ini terkejut bukan main, cepat mereka menarik kembali pedang dan meloncat mundur.

Dua bayangan berkelebat dan... di situ sudah berdiri Suma Han dan Nirahai dengan sikap sangat angker! Suma Han menghampiri Milana dan Lulu, menggunakan telapak tangannya mengusap kepala kedua orang itu dan bagaikan orang baru sadar dari tidur, Lulu memandang ke sekeliling dengan heran, sedangkan Milana juga mengeluh.

"Ehh... apa yang telah terjadi...?"

Sementara itu, kedua kaki Bhong Ji Kun menggigil dan matanya melotot seperti akan terloncat keluar dari pelupuk matanya. Ketika Keng In memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan, kakek ini hanya menggeleng-geleng kepala seperti orang bodoh, mulutnya ternganga, dan dia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun saking bingung dan herannya.

Tentu saja, baik Keng In mau pun Bhong Ji Kun sama sekali tidak tahu bahwa semua kejadian di pagi hari itu adalah hasil dari ilmu sihir Pendekar Super Sakti! Tidaklah mudah untuk menipu seorang berilmu tinggi seperti Suma Han! Pendekar ini sudah menaruh curiga dan berlaku hati-hati sekali. Ketika mereka makan minum, pendekar ini telah menggunakan sihirnya sehingga dalam pandangan Wan Keng In dan kakek muka buruk, dia dan Nirahai ikut pula makan minum, padahal dia dan isterinya itu sama sekali tidak menjamah makanan dan minuman dalam perjamuan itu.

Suma Han sengaja membiarkan Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo ikut makan minum agar tidak mencurigakan kedua orang yang dicurigai itu. Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hatinya ketika pada keesokan harinya dia melihat Milana, Lulu dan Sai-cu Lo-mo menjadi seperti boneka-boneka hidup, kehilangan ingatan mereka! Maka dia dan Nirahai lalu bersandiwara, pura-pura berada dalam keadaan lupa ingatan seperti yang lain dan menurut saja ketika kakek muka buruk mengajak mereka ke atas tebing di pantai yang berbahaya itu.

Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bukanlah seorang bodoh, dan sekiranya dia tidak mudah merasa girang dan yakin akan berhasilnya obat racun perampas ingatan dari Pulau Neraka, agaknya dia pun tidak begitu mudah dipengaruhi oleh kekuatan sihir yang dipergunakan Suma Han.

Ketika berada di puncak tebing, Suma Han kembali mempergunakan kekuatan sihirnya sehingga dalam pandangan bekas Koksu itu, dia dan isterinya benar-benar menuruni tali yang kemudian dibikin putus oleh kakek muka buruk itu! Padahal yang menuruni tali itu hanyalah bayangan kosong belaka! Dan Suma Han bersama Nirahai terkejut bukan main ketika kakek itu mengaku bahwa dia sebenarnya adalah Bhong Ji Kun! Tahulah mereka bahwa kakek ini berhasil menyelamatkan diri dari serangan badai sehingga mukanya rusak, kemudian kembali membonceng Wan Keng In untuk menuntut balas! Suma Han mencegah Nirahai yang sudah marah sekali dan hendak turun tangan menyerang itu, karena ia tidak menghendaki dia sendiri atau kedua orang isterinya melakukan penyerangan atau pembunuhan lagi.

Diam-diam mereka mengikuti Bhong Ji Kun ke istana dan mereka melihat munculnya Bun Beng dan Kwi Hong yang langsung menyerang Bhong Ji Kun dan Wan Keng In. Melihat munculnya Bun Beng dan Kwi Hong dada Suma Han terasa panas. Tentu saja dia percaya penuh akan penuturan Milana dan dalam pandangan matanya, Bun Beng merupakan seorang yang tidak kalah busuknya dibandingkan dengan bekas Koksu itu! Maka dia cepat mencegah Bun Beng dan Kwi Hong turun tangan menyerang, dan setelah memandang mereka bergantian dengan sinar mata penuh kemarahan seperti dua bara api yang membakar, tanpa mempedulikan lagi kepada Bhong Ji Kun, Suma Han membentak.

"Gak Bun Beng! Ke sini engkau!"

Mendengar suara Pendekar Super Sakti yang dijunjungnya tinggi itu, Bun Beng segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu.

"Cabut Hok-mo-kiam!"

Tanpa ragu-ragu Bun Beng mencabut pedang itu dan tampak sinar berkilat. Tadi ketika melihat Suma Han dan Nirahai muncul, dia sudah menyarungkan kembali pedangnya.

"Gak Bun Beng, sekarang pergunakan pedang itu untuk membunuh diri! Ataukah harus aku yang mengotorkan tangan membunuh?"

Bun Beng terkejut bukan main. Dia memandang kepada Nirahai, akan tetapi wanita itu pun memandangnya penuh kebencian. Juga Lulu memandang kepadanya dengan bayangan jijik di mukanya, sedangkan Milana sama sekali tidak mempedulikannya!

"Semenjak kecil saya telah banyak berhutang budi kepada Suma Locianpwe, maka kalau sekarang Locianpwe menghendaki nyawa saya yang tidak berharga, mana saya berani menolak?" Sekali lagi dia memandang ke arah Milana dan Hok-mo-kiam lantas digerakkan ke arah lehernya.

"Trangggg...!" Bunga api berpijar ketika Li-mo-kiam menangkis pedang Hok-mo-kiam itu.
"Paman, sungguh tidak adil ini!" Teriak Kwi Hong sambil berlutut di samping Bun Beng.
"Hemmm, bocah hina yang mencemarkan nama keluarga! Engkau hendak membela kekasihmu?"
"Paman, dengarkan dulu cerita saya! Kalau sudah mendengarkan, mau bunuh Bun Beng, mau bunuh saya, terserah! Saya tidak takut mati, Bun Beng pun tidak takut mati, akan tetapi saya akan mati penasaran melihat Paman melakukan sesuatu yang tidak adil sama sekali!"

Wan Keng In bersama Bhong Ji Kun yang maklum bahwa penuturan Kwi Hong akan mencelakakan mereka segera maju.

"Mereka ini orang-orang jahat yang tak berhak hidup lagi!" Wan Keng In dan Bhong Ji Kun sudah menerjang ke arah Bun Beng dan Kwi Hong yang masih berlutut.

"Diam kalian! Jangan bergerak!" Pada saat itu, di tubuh Pendekar Super Sakti sedang penuh dengan hawa amarah yang membuat tenaga saktinya timbul dan kuat bukan main. Bentakannya seketika membuat Keng In dan Bhong Ji Kun tak mampu bergerak lagi, seperti arca-arca, atau seperti orang tertotok dalam keadaan kaku!

"Coba bicaralah, memang tidak boleh orang mati penasaran!" kata Suma Han kepada Kwi Hong, mulai tertarik menyaksikan sikap Kwi Hong dan Bun Beng dibandingkan dengan sikap Wan Keng In dan Bhong Ji Kun.

"Paman dan kedua Bibi tentu telah mendengar penuturan adik Milana dan Paman Sai-cu Lo-mo. Mereka berdua itu hanya menjadi korban penipuan keji yang ditujukan untuk menjatuhkan fitnah kotor kepada nama Gak Bun Beng. Terutama sekali adik Milana yang menjadi korban penipuan keji. Sejak dia diculik oleh Wan Keng In dan dibawa ke Pulau Neraka, adik Milana telah diberi obat racun perampas ingatan sehingga dia tidak sadar bahwa dia ditipu oleh Keng In. Wan Keng In menyamar sebagai Gak Bun Beng melakukan perkosaan-perkosaan atas nama Gak Bun Beng sehingga menipu dua orang nona Ang dan Lu."

"Enci Kwi Hong, percuma saja engkau membelanya. Aku tahu bahwa engkau adalah kekasihnya, tentu saja mati-matian engkau hendak membelanya. Mataku melihat sendiri ketika kalian..."

"Adik Milana, Paman dan kedua Bibi. Harap mendengarkan dengan sabar. Memang tidak salah bahwa adik Milana yang sengaja ditipu oleh Keng In menyaksikan saya ber... jinah dengan orang yang dianggapnya Gak Bun Beng, padahal orang itu adalah Wan Keng In sendiri! Adik Milana berada dalam keadaan lupa ingatan, tentu saja dia tidak mengenal Wan Keng In yang mengaku bernama Gak Bun Beng."

"Hemmm, kalau engkau mengerti begitu jelas, mengapa engkau melakukan hubungan gelap dan kotor dengan Wan Keng In?" Suma Han membentak.

"Saya mengaku salah. Saya pun telah tertipu olehnya, ingatan saya hilang oleh racun obatnya, dan dia mengaku Bun Beng, maka saya... saya mengira dia Bun Beng, maka saya... saya... ah, Paman. Saya sudah melakukan semua penuturan dan agar jelas harap dengarkan pengalaman saya...."

Dengan cepat dan singkat tetapi jelas, Kwi Hong menceritakan semua pengalamannya ketika dia ditugaskan mencari Milana. Setelah selesai dia menangis dan berkata, "Sekarang terserah kepada Paman, mau bunuh lekas bunuh. Apa artinya hidup saya setelah semuanya dirusak oleh Wan Keng In?"

Wajah Milana menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang kepada Bun Beng. Setelah dia kini dalam keadaan sadar, lapat-lapat dia dapat mengingat semua pengalamannya di Pulau Neraka, ketika dia diculik, ketika dia hampir membunuh Wan Keng In sampai tiba-tiba muncul Gak Bun Beng, di pulau itu, hal yang kalau dipikirkan memang tidak masuk akal. Betapa mungkin Bun Beng tiba-tiba muncul dan merayunya tanpa diketahui Keng In dan guru pemuda itu? Betapa mungkin pula Bun Beng dan Kwi Hong muncul berdua di Pulau Neraka hanya untuk bermain cinta di pondok agar kelihatan olehnya? Benar-benar tak masuk di akal.

Teringat akan semua itu, dia menjerit lirih, "Oohhh... Dia benar...! Enci Kwi Hong benar! Sekarang, sekarang teringat olehku...! Ah, Ayah... Ibu... sekarang aku sadar... bukan Bun Beng yang bersalah akan tetapi Wan Keng In...! Ah, aku telah berdosa besar...!" Sambil menangis Milana meloncat ke atas genteng Istana dan dicabutnya pedangnya.

Sebelum lain orang bergerak, tahu-tahu Bun Beng juga sudah meloncat mengejar. Pada saat Milana menggerakkan pedang hendak membacok leher sendiri, Bun Beng menepuk lengan kanan Milana dari belakang dan pedang itu terlepas.

"Adik Milana, jangan begitu...!"

Milana berlutut di atas genteng, menangis terisak-isak, "Aku berdosa... aku berdosa..."

"Milana! Turun kau!" Suma Han membentak.

Sambil menangis, Milana meloncat turun dan berlutut di depan ayah dan ibunya.

"Benarkah semua cerita Kwi Hong tadi?"
"Agaknya demikian... ya benar Ayah..., aku diculik Keng In, hampir diperkosanya tetapi aku masih dapat mempertahankan diriku..." Sambil terisak dia menceritakan semua pengalamannya. Setelah Milana selesai bercerita, dia menangis sesenggukan.

"Anak murtad, jahanam keparat!"

Tiba-tiba Lulu memaki dan tubuhnya sudah melesat ke arah Keng In, tangannya menampar kepala puteranya itu dan air matanya bercucuran.

"Plak!" Tangan itu ditangkis Suma Han yang sudah mengejar. "Lulu, isteriku yang baik, mundurlah. Kita tidak perlu mengotorkan tangan, apa lagi dia itu puteramu sendiri."

Sambil menangis dan menutupi mukanya Lulu mundur lagi.

Nirahai juga membentak. "Bhong Ji Kun engkau harus mampus!"
"Nirahai, tidak perlu...! Kita menonton saja!"

Pada saat itu, Bhong Ji Kun dan Wan Keng In sudah dapat bergerak kembali. Mereka tadi telah mendengarkan semua dan kini dalam keadaan nekat mereka lalu menerjang maju. Wan Keng In disambut oleh Kwi Hong, sedangkan Bhong Ji Kun dihadapi oleh Bun Beng.

"Wan Keng In, aku sudah bersumpah untuk membunuh dan membalas penghinaanmu yang telah memperkosa diriku!" Kwi Hong berteriak. "Engkau atau aku harus mati untuk melunaskan perhitungan antara kita."

Wan Keng In tidak menjawab. Pemuda ini bingung dan gentar bukan main. Ibunya tak dapat diharapkan bantuannya, dan di situ terdapat Nirahai dan Suma Han, dua orang yang malah memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada ibunya! Karena gentar dan ketakutan, maka kelebihan kepandaiannya atas tingkat Kwi Hong tidaklah menonjol sekali, apa lagi karena Kwi Hong kini telah mewarisi ilmu dan tenaga Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin.

Pertandingan antara Bun Beng dan bekas Koksu juga amat seru, akan tetapi segera tampak betapa bekas Koksu itu terdesak hebat. Koksu ini sudah mengenal keampuhan Hok-mo-kiam, maka dia bersikap hati-hati, tidak mau mengadukan tongkatnya yang sudah buntung ujungnya oleh Hok-mo-kiam dahulu. Karena ini, juga karena memang tingkatnya tidak mampu menandingi tingkat Bun Beng yang sudah amat tinggi, dia terdesak dan akhirnya dia bertanding sambil berloncatan menjauh, mencari jalan untuk melarikan diri! Bun Beng terus mengejar sehingga akhirnya kakek itu lari sampai di puncak tebing di mana dia tadi ‘membunuh’ Suma Han dan Nirahai dan di sini dia tidak dapat lari lagi, terpaksa membela diri mati-matian.

"Bhong Ji Kun, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, dan hukuman yang kau derita ketika badai menyerangmu, agaknya tidak membikin kau bertobat!" Bun Beng memperhebat permainan pedangnya.

"Crokkk!"

Ujung tongkat di tangan bekas Koksu itu terbabat buntung dan pedang masih terus menyambar lehernya. Terpaksa Koksu pemberontak itu menangkis lagi karena tidak sempat mengelak.

"Krakkk!"

Kini tongkat itu patah di tengah dan ujung Hok-mo-kiam masih merobek bibir kakek itu sehingga giginya rontok semua!

Wajah Bhong Ji Kun menjadi pucat sekali. Dia menyesal mengapa dia tidak dapat menggunakan senjatanya yang lama, yaitu pecut kuda yang lemas. Senjata itu lebih dapat bertahan kalau dipergunakan untuk menghadapi sebatang pedang pusaka seperti Hok-mo-kiam.

"Gak Bun Beng, marilah kita mati bersama!" Tiba-tiba kakek itu menubruk, tubuhnya melayang seperti seekor burung garuda menyambar mangsanya.

Pada saat itu Bun Beng berdiri di tepi tebing, membelakangi tebing. Melihat serangan dahsyat yang amat membahayakan dirinya itu, Bun Beng cepat meloncat ke kiri dan ketika tubuh lawan menyambar di sampingnya, pedangnya dikelebatkan. Terdengar teriakan mengerikan ketika kedua tangan Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun terbabat buntung sebatas pergelangan tangan, dan kedua tangan itu terlempar ke bawah tebing menyusul tubuhnya yang sudah terdorong ke depan masuk ke bawah tebing karena gagal menyerang tadi.

Suara pekik mengerikan itu masih bergema. Bun Beng menyarungkan Hok-mo-kiam dan menghela napas panjang, kemudian dia berlari turun dari puncak tebing, kembali ke depan Istana Pulau Es.

Pertandingan antara Kwi Hong dan Keng In luar biasa ramainya. Kwi Hong bertanding dengan nekat karena memang dia hendak mengadu nyawa, membunuh atau dibunuh! Sebaliknya, Keng In merasa bingung sekali, seperti seekor tikus yang sudah tersudut, tiada jalan lari lagi. Menang atau kalah dalam pertandingan melawan Kwi Hong, dia akan tetap celaka! Maka dia pun melawan mati-matian sehingga Sepasang Pedang Iblis itu seolah-olah dua ekor naga yang sedang memperebutkan mustika, gulungan sinarnya saling belit, saling tekan dan saling tindih menyelimuti bayangan mereka!

Sinar pedang dari Sepasang Pedang Iblis itu amat menyilaukan mata, seperti halilintar menyambar-nyambar sehingga Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya memandang dengan takjub di samping ketegangan, kegelisahan, dan kedukaan yang melanda hati mereka.

Milana masih berlutut, tetapi kini dengan muka pucat dia pun menonton pertandingan. Ingin sekali dia membantu Kwi Hong, ingin dia membunuh Wan Keng In yang menjadi biang keladi dari semua ini, akan tetapi tentu saja dia takut bergerak, takut kepada ayahnya dan ibunya. Wajah Lulu yang kini semenjak dia tinggal di Pulau Es menjadi biasa lagi, tampak pucat. Juga Suma Han sendiri dan Nirahai berubah air mukanya, penuh ketegangan.

Tiba-tiba Kwi Hong terpelanting ketika pedang mereka saling bertemu dan kaki Keng In berhasil menendang lututnya. Keng In menubruk dengan pedangnya.

"Keng In...! Jangan...!" Lulu berteriak dan hendak meloncat dan mencegah puteranya, namun lengannya dipegang oleh Suma Han yang melarang isterinya itu mencampuri.

Keng In sama sekali tidak mengira bahwa lawannya telah memiliki tenaga Inti Bumi. Begitu tubuhnya bagian belakang menyentuh bumi, Kwi Hong memperoleh tenaga yang dahsyat sekali. Tiba-tiba tubuhnya itu mencelat ke atas menyambut serangan Keng In dengan tusukan Li-mo-kiam.

"Cresss! Cresss!"

Lulu menjerit dan menutupi mukanya saat melihat darah muncrat dari perut puteranya, sedangkan Milana juga menutupi muka melihat darah muncrat pula dari dada Kwi Hong. Kedua orang itu terguling. Perut Keng In masih menjadi sarung pedang Li-mo-kiam, sedangkan dada Kwi Hong tertembus pedang Lam-mo-kiam.

Hampir saja Lulu pingsan, akan tetapi dia merasa lehernya dirangkul orang. Ketika dia mendengar bisikan halus, "Ingat kepada Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa..." Lulu terisak.

Terbayanglah wanita ini ketika dahulu bersama Suma Han dia menyaksikan kematian dua orang yang memegang Sepasang Pedang Iblis, kematian yang persis seperti yang dialami oleh Wan Keng In dan Giam Kwi Hong. Hanya bedanya, kalau kedua orang suheng dan sumoi itu tewas dalam keadaan saling mencinta, maka Keng In dan Kwi Hong tewas dalam keadaan saling membenci!

"Keng In...!" Lulu mengeluh, lari menghampiri, berlutut di dekat mayat puteranya dan menangis.

"Enci Kwi Hong... !" Milana juga berlutut dekat mayat Kwi Hong, menangis terisak-isak dengan hati penuh rasa iba. Suma Han, Nirahai, Sai-cu Lo-mo, dan Gak Bun Beng yang sudah kembali ke tempat itu hanya memandang dengan hati terharu.

Bun Beng berdiri seperti arca. Perasaannya menjadi tak karuan, pikirannya melayang-layang. Beginikah akibat cinta? Wan Keng In dan Kwi Hong tewas gara-gara cinta? Ataukah nafsu belaka? Dan bagaimana dengan perasaan yang tadinya dia anggap cinta antara dia dan Milana? Apakah cinta antara mereka itu pun kelak hanya akan mendatangkan derita dan duka?

"Suma-locianpwe, harap sudi menerima kembali Hok-mo-kiam," katanya sambil berlutut di depan Suma Han, menyerahkan pedang Hok-mo-kiam dengan sarungnya. "Teecu bersumpah tidak akan menggunakan pedang atau senjata apa pun juga lagi. Senjata merupakan benda yang jahat, hanya menimbulkan banjir darah dan kematian, permusuhan dan kebencian."

Suma Han menerima senjata itu, kemudian dengan tangan kirinya dia menyentuh rambut kepala Bun Beng, katanya perlahan dan halus, "Gak Bun Beng, ayah bundamu boleh merasa bangga dan tenang di alam baka kalau mereka dapat menyaksikan sepak terjangmu. Tidak benarlah kata orang bahwa anak akan mewarisi watak orang tuanya, kini terbukti pada dirimu dan pada Wan Keng In." Dia menarik napas panjang. "Siapa mengira... Wan Keng In... ibunya demikian jujur... ayahnya demikian gagah... dan engkau..."

"Saya hanya seorang anak haram, Ayah saya seorang datuk kaum sesat, Locianpwe. Saya mohon diri, Suma-locianpwe dan maafkan semua kesalahan saya."

"Bun Beng, engkau hendak ke mana?" Nirahai menegur, "Engkau masih ada urusan dengan kami... maksudku, dengan Milana..."

Bun Beng cepat memberi hormat sambil berlutut. "Harap Ji-wi Locianpwe sudi memberi ampun kepada saya. Setelah mengalami semua itu, saya berpendapat bahwa saya tidaklah patut menjadi calon jodoh adik Milana! Kalau dilanjutkan, kelak hanya akan menjadi tekanan batin bagi adik Milana. Tidak, Ji-wi Locianpwe, bukan sekali-kali saya menolak, melainkan saya telah kehilangan gairah berjodoh setelah melihat semua peristiwa yang menimpa kita semua. Saya kira Ji-wi Locianpwe akan mengerti dan sudi mengampunkan saya."

Ada dua titik air mata membasahi mata Pendekar Super Sakti. Dia mengerti. Dia tahu betapa pemuda ini sebetulnya mencinta Milana, akan tetapi melihat semua akibat yang amat pahit dari apa yang disebut cinta, pemuda ini merasa kasihan dan khawatir kalau kelak ikatan jodoh itu hanya akan menyengsarakan penghidupan Milana! Karenanya, sebelum terlanjur, pemuda ini merasa lebih baik mengundurkan diri! Suma Han hanya mengangguk dan matanya membasah ketika dia memandang bayangan pemuda itu yang berjalan perlahan menuju ke pantai.

Suma Han lalu mengalihkan perhatiannya kepada Lulu yang masih menangis. Dia melangkah maju, menyentuh pundak isterinya itu dan menarik berdiri. Dirangkulnya Lulu dan dia berkata, "Lulu, cobalah renungkan secara mendalam. Bukankah peristiwa ini menjadi jalan keluar yang terbaik bagi puteramu, bagimu, dan bagi kita semua? Bayangkan apa akan jadinya dengan kita dan puteramu kalau dia tidak tewas, kalau dia masih melanjutkan cara hidupnya seperti yang lalu. Bayangkan betapa kita akan merasa cemas dan prihatin, engkau akan selalu berduka, apa lagi melihat Kwi Hong selalu akan memusuhinya. Sekali ini, Sepasang Pedang Iblis bekerja cepat, sudah saling menyudahi riwayat permusuhan mereka sebelum berlarut-larut."

Lulu menggigit bibirnya, menelan semua kata-kata yang tak terucapkan, lalu ia hanya menangis dan menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Dia maklum bahwa puteranya telah menyeleweng dari pada jalan benar, dan dialah yang bersalah, dia yang terlalu memanjakannya dan puteranya menjadi rusak karena berada di Pulau Neraka!

"Milana, bangkitlah!" Suma Han berkata kepada puterinya.

Milana bangun dan menghapus air matanya. "Milana, engkau tentu telah merasa akan kesalahanmu. Akan tetapi kesalahanmu itu bukan kau sengaja, maka tidak perlu lagi disesalkan. Engkau harus kembali ke kota raja, engkau harus belajar menjadi seorang keturunan bangsawan yang baik, tinggal di istana Kaisar seperti yang lalu."

"Tapi, Ayah..."

"Diam, dan jangan membantah!" Suma Han membentak, "Kehidupan sebagai seorang perawan kang-ouw sudah banyak menyeretmu dalam kekacauan dan kesengsaraan. Aku akan mencoba mengobati Sai-cu Lo-mo, kemudian setelah dia sembuh, engkau bersama dia harus meninggalkan Pulau Es, dan kau hidup sebagai seorang puteri cucu Kaisar di kota raja. Tentang perjodohanmu, biar kuserahkan pada kebijaksanaan Kaisar."

"Ayah...! Ibu...!"

Dengan mengeraskan hatinya Nirahai berkata, "Ayahmu benar, Milana. Lihat ibumu. Betapa banyak penderitaan yang telah kualami setelah aku meninggalkan istana kakekmu Kaisar. Baru sekarang ibumu mendapatkan kebahagiaan bersama ayahmu dan bibimu. Engkau harus menjadi penggantiku, membantu kakekmu dan berjasa bagi negara dan kerajaan. Tentu saja sewaktu-waktu engkau boleh datang menjenguk orang tuamu di Pulau Es."

Tanpa bertanya, Milana maklum bahwa ikatan jodoh antara dia dan Bun Beng telah dibatalkan. Hal ini agak melegakan hatinya. Dia memang mencinta Bun Beng, akan tetapi setelah terjadi semua itu, bagaimana mungkin dia akan dapat memandang muka Bun Beng lagi? Apa lagi sebagai suaminya? Maka dia hanya dapat menangis dan mengangguk-angguk.

Setelah jenazah Kwi Hong dan Keng In dimakamkan di Pulau Es, Suma Han dan kedua orang isterinya berusaha mengobati kelumpuhan kedua kaki Sai-cu Lo-mo, tetapi ternyata tidak berhasil karena kakek itu sudah tua, sukar sekali menyambung tulang-tulangnya dan membetulkan urat-uratnya. Terpaksa Suma Han menghentikan usahanya mengobati dan sebagai gantinya dia menurunkan ilmu-ilmu tinggi yang sesuai untuk dikuasai seorang yang lumpuh kedua kakinya seperti Sai-cu Lo-mo!

Sampai hampir enam bulan kakek itu berlatih dengan tekun dan akhirnya dia meninggalkan Pulau Es bersama Milana yang menangis tersedu-sedu. Pedang Hok-mo-kiam diberikan kepada Milana oleh Pendekar Super Sakti, sedangkan Sepasang Pedang Iblis tetap berada di Pulau Es karena pendekar itu khawatir kalau-kalau sepasang pedang itu akan terjatuh ke tangan orang lain dan menimbulkan peristiwa-peristiwa hebat lagi.....

T A M A T

(Bagian Ke-8 Serial BU KEK SIANSU)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger