logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 08


Dendam merupakan racun bagi batin yang amat berbahaya. Dendam bisa menciptakan perbuatan-perbuatan yang amat keji dan kejam, amat kotor dan hina. Dendam membuat kita mau melakukan apa saja, betapa pun kotornya, untuk melampiaskan dendam itu. Dendam menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Dendam adalah kebencian dan penyakit batin ini sudah umum diderita oleh kita semua.

Kalau perasaan benci dan dendam mulai menyerang batin kita dan kita lalu bersikap waspada, mengamati perasaan kita sendiri, maka segera akan nampaklah dengan jelas rangkaian-rangkaiannya, sebab-sebabnya dan timbulnya benci. Mula-mula kebencian timbul kalau si aku merasa dirugikan, merasa dibikin tidak senang dan dikecewakan, pendeknya yang membuat si aku merasa rugi, baik lahir mau pun batin. Dari perasaan tidak senang inilah timbulnya kebencian.

Kalau hanya sampai di situ, kalau kita lalu mengamati dengan penuh kewaspadaan, mengamati dengan batin kosong tanpa menilai, maka kebencian akan berakhir pula sampai di situ. Akan tetapi, biasanya pikiran kita lalu bekerja dengan sibuknya, menilai perasaan benci ini, menilai, mendorong, menarik, mengendalikan.

Sebagian pikiran mencela bahwa benci itu tidak baik, sebagian pikiran pula membela perasaan itu dengan mengajukan sebab-sebabnya, yaitu karena dirugikan. Terjadilah pemborosan enersi batin, terjadilah konflik dan tarik-menarik dari penilaian itu, dan konflik ini bahkan menambah pupuk bagi kebencian itu sendiri. Yang benci adalah aku, kebencian adalah aku, yang menilai, mencela dan membela adalah aku pula, yakni kesibukan pikiran sendiri. Dengan demikian, kebencian takkan mungkin lenyap.

Bisa saja kebencian dikendalikan dan ditekan dan NAMPAKNYA saja lenyap, namun sesungguhnya hanya merupakan penundaan sementara saja. Api kebencian itu masih membara, seperti api dalam sekam, nampaknya saja padam namun di sebelah dalam membara dan sewaktu-waktu pasti akan bernyala lagi kalau mendapatkan angin dan bahan bakar!

Pupuk yang membuat suburnya kebencian itulah yang harus lenyap dari batin kita. Penilaian, pengendalian, celaan dan pembelaan itulah yang harus tidak ada. Yang ada hanya mengamati saja kebencian yang timbul itu, mengamati tanpa menilai, bukan AKU yang mengamati karena kalau demikian masih sama saja, masih kesibukan pikiran belaka yang menginginkan lain, yang ingin agar tidak benci, agar baik dan sebagainya.

Yang ada hanyalah pengamatan penuh kewaspadaan saja, perhatian yang menyeluruh terhadap kebencian yang mengamuk di hati dan pikiran itu. Tanpa penilaian seperti itu, kebencian akan kehilangan daya gerak, akan kehilangan daya hidup, seperti api yang kehabisan bahan bakarnya.

Benci pribadi, atau kebencian yang timbul karena demi keluarga, demi golongan, demi bangsa, semua itu pada hakekatnya sama saja. Yang menjadi peran utama adalah si aku yang dapat saja diperluas menjadi keluargaku, golonganku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya.

Louw Tek Ciang pulang ke rumah suhu-nya dengan dendam yang sudah digodok matang dengan rencana siasat keji yang diatur oleh Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng!

Dua hari kemudian, pada suatu sore, seperti biasa Cin Liong datang mengunjungi kekasihnya, disambut dengan gembira oleh Suma Hui. Mereka lalu duduk di ruangan tamu dan pada sore hari itu, seperti sudah dijanjikan, Cin Liong harus makan malam di situ karena sudah dipersiapkan oleh kekasihnya. Dan baru pada waktu makan itulah, setelah lewat beberapa hari, Cin Liong berkesempatan jumpa dengan Tek Ciang. Dia memandang tajam dan mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sudah berubah. Tidak muram atau pucat lagi, bahkan hormat dan ramah kepadanya.

“Kao-taihiap, aku minta maaf atas segala kesalahanku....”
“Ahh, Louw-susiok mengapa menyebutku taihiap segala?”
“Suheng, engkau kenapa sih? Kenapa menyebut taihiap kepada Cin Liong?” Suma Hui juga menegur sambil tersenyum, merasa geli oleh sikap baru ini.

Tek Ciang menarik napas panjang. “Ahh, aku ingin menampar pipi sendiri kalau berani menyebut nama begitu saja.”

“Ih, kenapa begitu, suheng? Cin Liong ini memang masih terhitung keponakanku, maka sudah sepatutnya dia menyebutmu susiok dan engkau menyebut namanya begitu saja. Bukankah yang sudah-sudah engkau pun menyebut namanya saja?”
“Karena aku belum mengenal siapa dia! Kalau dia seorang biasa yang lemah seperti aku masih mending. Akan tetapi dia adalah seorang pendekar sakti, seorang jenderal, dan jauh lebih tua dariku. Kalau aku menyebut namanya begitu saja tentu aku akan menjadi buah tertawaan orang. Tidak, aku harus menyebut taihiap atau aku tidak akan berani menyebut sama sekali.”

Cin Liong tersenyum, di dalam hatinya dia membenarkan Suma Hui yang menceritakan kepadanya bahwa pemuda itu selalu ramah dan hormat. “Baiklah, Louw-susiok, sesukamulah. Apa artinya dalam sebuah sebutan? Akan tetapi, mengapa engkau minta maaf?”

“Karena aku telah bersikap kasar selama ini terhadap taihiap, juga menyangka yang bukan-bukan berhubung dengan kematian ayah, dan juga.... ketika pertama kali taihiap datang, aku.... aku telah membayangimu sampai ke rumah penginapan, maklumlah, aku.... aku ketika itu menaruh curiga kepadamu.”

Cin Liong tertawa. “Aku sudah tahu akan hal itu dan tak perlu dirisaukan, susiok. Eh, bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang jai-hwa-cat itu?”

Tek Ciang menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Agaknya aku masih terlalu bodoh, kepandaianku masih terlalu rendah untuk dapat menemukan jejaknya, walau pun beberapa kali aku melihat berkelebatnya bayangan orang yang cepat sekali di wuwungan rumah-rumah. Bahkan aku mendengar pula berita akan hilang terculiknya seorang gadis dari keluarga Ciong di ujung barat kota. Aku yakin bahwa ayah benar, yakni bahwa ada jai-hwa-cat berkeliaran di kota ini.”

Cin Liong mengangguk. “Aku pun sudah mendengar berita itu dari komandan kota. Karena kebetulan aku sendiri sedang berada di kota ini, biarlah aku akan melakukan penyelidikan malam ini.”

“Aku juga akan melakukan penyelidikan sedapatku, taihiap. Pendeknya, aku takkan berhenti menyelidiki sebelum penjahat itu tertangkap atau terbunuh!” Tek Ciang berkata penuh semangat.

Setelah makan selesai, Tek Ciang yang ‘tahu diri’ lalu mundur dan memasuki kamarnya sendiri, membiarkan sepasang kekasih itu asyik berdua saja di kamar tamu.
Dan memanglah, setiap kali mereka bertemu berdua saja, Cin Liong dan Suma Hui tentu menumpahkan rindu dan sayangnya melalui suasana yang akrab dan santai, romantis dan mesra. Mereka asyik bercakap-cakap, bersendau-gurau, kadang-kadang berangkulan dan berciuman.

“Hui-moi, kalau ayah bundaku sudah melamar, dan kalau orang tuamu setuju, aku ingin kita tidak lama-lama menunda pernikahan. Aku ingin segera menikah denganmu, tinggal di kota raja dan aku akan mengajukan permohonan kepada sri baginda kaisar agar ditugaskan di kota raja saja, agar tidak banyak berkeliaran meninggalkan rumah seperti sekarang. Dengan demikian, kita akan dapat setiap hari berjumpa dan berkumpul.”

“Ihh, kenapa tergesa-gesa amat menikah?” Suma Hui menggoda sambil tersenyum dan kedua pipinya merah.
Cin Liong mencubit dagunya. “Masa tidak mengerti? Aku… aku sudah ingin.... eh, selalu di sampingmu, Hui-moi.”
Sejenak mereka bermesraan. Tiba-tiba Suma Hui menarik napas panjang. “Bagaimana andai kata.... ayahku tidak setuju?”

Cin Liong mengerutkan alisnya. “Kalau begitu.... tinggal terserah kepadamu. Tentu saja aku tidak berani menentang orang tuamu, Hui-moi, akan tetapi demi engkau, apa pun juga akan kulakukan, kalau perlu menghadapi orang tuamu.”

“Kalau aku.... jika ayah melarang dan menentang, aku akan pergi meninggalkan rumah ini, aku akan pergi bersamamu.... maukah engkau, Cin Liong?”
“Tentu saja! Dan aku akan melindungimu, membelamu dengan nyawaku. Akan tetapi, mudah-mudahan tidak sampai sejauh itu, Hui-moi, aku percaya akan kebijaksanaan ayahmu sebagai seorang pendekar sakti yang berpandangan luas.”

Demikianlah, mereka bercakap-cakap, kadang-kadang gembira, kadang-kadang gelisah kalau membayangkan halangan besar yang mungkin timbul dalam hubungan mereka karena penentangan ayah gadis itu. Lalu pemuda itu menyatakan bahwa sebaiknya jika dia pergi dulu ke kota raja, selain untuk urusan tugas, juga untuk menanti datangnya ayah bundanya.

Suma Hui terkejut mendengar kekasihnya akan pergi. “Apakah engkau tidak dapat menanti sampai pulangnya ayah dan ibu?” Gadis ini membayangkan betapa hidup akan terasa sunyi dan tidak menyenangkan kalau kekasihnya ini pergi dari Thian-cin.

“Agaknya tidak baik kalau di waktu orang tuamu tidak ada di rumah, aku setiap hari datang mengunjungimu, Hui-moi. Apa akan kata orang nanti? Pula, orang tuaku sudah berjanji bahwa kalau mereka pergi ke Thian-cin, mereka akan singgah dulu di kota raja.”

Biar pun hatinya terasa berat, namun Suma Hui tidak dapat membantah kekasihnya. Ia hanya bertanya muram, “Kapan engkau akan pergi?”
“Sebaiknya besok atau lusa, Hui-moi. Sudah agak lama aku berada di sini.”

Malam itu, ketika Cin Liong hendak meninggalkan Suma Hui, gadis itu merangkulnya dan suaranya penuh kesedihan pada saat ia berkata, “Cin Liong, jangan terlalu lama meninggalkan aku.... aku akan merasa kesepian dan tidak betah di rumah ini....”

Cin Liong merangkul dan menciumnya. Karena mereka berdua maklum bahwa besok mereka akan berpisah, maka rangkulan dan ciuman mereka lebih hangat dan mesra dari pada biasanya. Cin Liong yang merasa betapa gairah birahi menyerangnya, cepat mendorong tuhuh Suma Hui dengan halus sambil berkata dan tersenyum.

“Ahhh, Hui-moi. Kenapa engkau bersedih? Kita berpisah hanya untuk beberapa bulan saja. Bagaimana pun juga, engkau adalah calon isteriku, apa pun yang akan terjadi, bukan? Engkau adalah punyaku....” Mereka berdekapan lagi.
“Aku punyamu dan engkau milikku, Cin Liong.... hanya kematian yang akan mampu memisahkan kita....”
“Aku cinta padamu, Hui-moi.... aku cinta padamu....”

Dengan kata-kata yang diucapkan suara tergetar ini masih terngiang di telinganya, Suma Hui mengantar kekasihnya yang meninggalkan rumahnya itu. Cin Liong juga merasa berat sekali meninggalkan Suma Hui, walau pun besok sebelum berangkat dia tentu akan singgah untuk berpamit dulu.

Dia tidak langsung ke rumah penginapan karena teringat akan cerita yang didengarnya tentang gadis yang lenyap diculik penjahat. Kalau memang benar ada jai-hwa-cat berkeliaran di kota ini, sebelum dia pergi, dia harus dapat menangkapnya lebih dulu. Adanya seorang penjahat cabul di Thian-cin sama dengan memandang rendah kepada keluarga Suma! Maka dia pun mulai melakukan penyelidikan pada malam hari itu.....

********************
Malam itu Suma Hui tidak dapat tidur, gelisah saja di atas pembaringannya. Ia sudah memerintahkan pelayan rumah untuk menutup semua pintu dan jendela rumah setelah kekasihnya pergi, dan setelah membersihkan diri, ia pun memasuki kamarnya. Ia tahu bahwa suheng-nya tidak ada, seperti katanya tadi ketika makan bersama, suheng-nya itu akan melanjutkan usahanya mencari jejak jai-hwa-cat. Juga kekasihnya akan ikut membantu dalam pengusutan dan pencarian jejak penjahat itu. Akan tetapi ia sendiri tidak perduli. Hati dan pikirannya sudah penuh dengan masalahnya sendiri, penuh dengan kekhawatiran bahwa ayahnya akan menentang perjodohannya.

Akhirnya pikiran yang sibuk itu membuatnya lelah dan mulailah dara itu terlelap. Lapat-lapat ia seperti mendengar suara suheng-nya perlahan-lahan bicara dengan pelayan di belakang. Suheng-nya sudah pulang agaknya, demikian pikirannya yang terakhir. Lalu ia mencium bau harum yang aneh. Sejenak ia terlena dan bau harum itu membuat ia sadar dan curiga akan bau harum ini. Cepat ia membuka mata dan bangkit. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa kepalanya pening begitu ia membuka mata dan bangkit. Pada saat itu, sesosok bayangan yang amat ringan gerakannya meloncat masuk kamar melalui jendela yang dipaksanya terbuka dari luar.

Biar pun kepalanya pening, akan tetapi kewaspadaan seorang pendekar silat masih ada pada Suma Hui, membuat dara ini cepat membalikkan tubuh dan siap menghadapi lawan. Akan tetapi orang itu ternyata lihai bukan main, sekali mengulur tangannya dia telah mengirim totokan-totokan secara beruntun.

Suma Hui mencoba untuk mengelak dan menangkis, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena totokan, disusul totokan pada lehernya yang membuat ia tiba-tiba menjadi lemas dan tak dapat mengeluarkan suara. Dalam keadaan lemas dan setengah terbius, juga dalam cuaca dalam kamar yang remang-remang, ia tidak mengenal orang ini, hanya melihat bentuk tubuh seorang pria yang bertubuh sedang dan tegap.

“Cin.... Cin Liong....” Hatinya berbisik karena dia tidak mampu bersuara setelah urat gagunya tertotok.

Karena ia kini direbahkan dengan muka menghadap ke dinding dalam keadaan miring, ia tidak melihat apa yang dilakukan oleh orang yang menotoknya itu. Hatinya penuh dengan keheranan dan juga kemarahan. Orang itu bentuk tubuhnya seperti Cin Liong dan melihat kelihaiannya, agaknya pantaslah kalau ia menduga orang itu kekasihnya.

Akan tetapi, mungkinkah Cin Liong melakukan hal aneh ini? Ia tidak tahu bahwa orang itu berkelebat keluar dari lubang jendela. Waktu rasanya berjalan amat lambat bagi Suma Hui yang tidak mampu bergerak itu. Bau harum masih memasuki hidungnya dan kepalanya terasa semakin berat dan mengantuk, tubuhnya tak dapat digerakkan dalam keadaan lemas seperti orang tidur dan dia pun tidak mampu membuka mulut. Asap harum yang mengandung obat bius itu semakin menguasainya, membuat pandang matanya semakin suram.

Tiba-tiba ia menjadi kaget setengah mati ketika merasa betapa sepasang lengan memeluknya. Ia berusaha membuka mata melihat, akan tetapi cuaca terlalu gelap dan pandang matanya juga sudah kabur. Ia hanya merasa ada orang yang memeluknya ketat, lalu ada orang yang menciumi mukanya, menciumi bibirnya. Ia hanya mendengar desahnya napas memburu, lalu mendengar bisikan-bisikan lembut.

“Hui-moi.... aku cinta padamu.... aku cinta padamu....”

Cin Liong! Demikian hatinya berteriak. Akan tetapi ia merasa betapa pikirannya pusing. Dunia bagaikan berputar dan kiamat rasanya ketika ia merasa betapa jari-jari tangan meraba dan membelainya, membuka pakaiannya.

“Tidak....! Tidak....! Jangaaaannn....!” Hatinya menjerit-jerit akan tetapi tidak ada suara yang keluar. Ingin ia menjerit, ingin ia meronta dan mengamuk, ingin ia menangis. Akan tetapi hanya air matanya saja yang menetes-netes dalam tangis tanpa suara.
“Hui-moi.... engkau calon isteriku....” demikian suara itu berbisik-bisik.

Selanjutnya Suma Hui bergidik ngeri merasakan apa yang akan menimpa dirinya dan pada saat terakhir, ia pun tidak ingat apa-apa lagi, tak sadarkan diri karena tidak dapat menahan guncangan batin yang terjadi melihat kenyataan bahwa dirinya diperkosa oleh orang yang dicintanya tanpa mampu mencegah, melawan atau bahkan berteriak.

Ketika ia siuman kembali, Suma Hui masih belum mampu menggerakkan tubuhnya. Hancur luluh rasa hatinya, dunianya seperti kiamat. Ia dapat merasakan apa yang telah menimpa dirinya, mala petaka terbesar bagi seorang wanita, terutama bagi seorang gadis. Aib telah menimpa dirinya, aib yang hanya dapat ditebus dengan nyawa, dicuci dengan darah.

Yang membuat ia merasa semakin sedih adalah kenyataan bahwa yang melakukan hal itu adalah Cin Liong, pria yang dikasihinya, yang dicintanya, calon suaminya, calon ayah dari anak-analnya! Cin Liong telah memperkosanya! Padahal, tanpa diperkosa sekali pun, kalau waktunya telah tiba, ia akan menyerahkan segala-galanya kepada pemuda itu. Akan tetapi, Cin Liong telah merusaknya, menghancurkan kebahagiaannya dengan perbuatannya yang keji dan hina!

“Ya Tuhan....!” Dalam hatinya Suma Hui mengeluh dan merintih.

Ia teringat kepada ayah ibunya dan kembali air matanya bercucuran. Gadis ini biasanya keras hati dan tidak mudah baginya mengucurkan air mata, akan tetapi sekali ini, dirinya telah tertimpa mala petaka yang sangat hebat, yang lebih berat dari pada kematian sendiri. Ia lalu teringat bahwa dalam keadaan tertotok, ia harus dapat menenteramkan batinnya agar dapat membuka jalan darah melalui kekuatan Swat-im Sinkang.

Dengan segala kekuatan dan kemauan yang ada, ia pun lalu memejamkan matanya, mengheningkan cipta. Perlahan-lahan, setelah dapat melupakan segala peristiwa yang menimpanya, dia mulai merasakan adanya gerakan hawa dalam tian-tan di pusarnya. Ia membiarkan hawa itu bergerak perlahan, makin lama makin cepat dan makin terasa kekuatannya. Dengan kemauannya yang membaja, akhirnya dia dapat menggerakkan hawa itu naik, membuka jalan darah yang masih dipengaruhi totokan.

Dapat juga ia membebaskan diri dari totokan sebelum waktunya. Akan tetapi, karena pengaruh obat bius masih membuat kepalanya pening, ia pun dengan hati-hati bangkit berdiri, turun dari pembaringan dan bersila di atas lantai dekat jendela yang dibukanya. Dia lalu menghadap keluar dan membersihkan diri melalui pernapasan, mengumpulkan hawa pagi yang murni.

Malam telah hampir terganti pagi ketika akhirnya ia sadar sama sekali dan bebas dari pengaruh obat bius. Mulailah dia meneliti keadaan dirinya dan ia mengepal tinju dengan kemarahan memuncak pada saat melihat betapa sebagian pakaiannya bernoda darah.

Tanpa melihat tanda ini pun ia sudah tahu apa yang menimpa dirinya, yaitu bahwa ia telah diperkosa orang, atau lebih tepat lagi, diperkosa Cin Liong ketika ia tidak sadar. Dengan menahan tangis ia lalu berganti pakaian, akan tetapi makin lama, kemarahan makin memuncak dan menusuk-nusuk hatinya seperti jarum beracun. Makin panaslah ia dan tanpa disadarinya ia lalu mengamuk! Meja kursi dipukuli dan ditendanginya, kasur dirobek dan diawut-awut dan mulutnya memaki-maki.

“Jahanam! Keparat bedebah kau! Manusia laknat, aku bersumpah untuk membunuhmu, memusuhimu sampai tujuh turunan!”

Terdengar suara hiruk-pikuk yang mengejutkan dari dalam kamarnya, membuat pelayan dan Tek Ciang datang berlari-larian.
“Brakkkk!”

Kini daun pintu kamar itu pecah tertendang oleh Suma Hui, hampir saja menimpa Tek Ciang dan si pelayan yang sudah tiba di luar pintu. Untung Tek Ciang bergerak cepat, menarik tangan si pelayan kemudian meloncat ke belakang ketika daun pintu ambrol. Keduanya berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Suma Hui yang muncul dengan rambut awut-awutan, pakaian kusut dan mata beringas.

“Nona....!” Pelayan itu menjerit kaget.
“Sumoi....! Ada apakah, sumoi? Apakah yang telah terjadi....?” Louw Tek Ciang juga menegur sambil melangkah maju. “Ingatlah, sumoi, ingatlah. Apakah yang telah terjadi denganmu, sumoi....?”

Suma Hui yang seperti kesetanan itu, tiba-tiba terbelalak memandang Tek Ciang dan pelayannya. Mendengar suara Tek Ciang yang halus dan penuh perhatian itu, tiba-tiba saja ia memperoleh pelepasan dan gadis itu tidak dapat menahan lagi tangisnya.

“Suheng.... ahhh, suheng.... hu-huuu-huuuhhh....” Ia terhuyung dan Tek Ciang cepat memegang pundaknya.

Karena Tek Ciang merupakan satu-satunya orang yang dekat dengannya, Suma Hui kemudian menangis mengguguk dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan pemuda itu, menangis sambil menyandarkan muka di dada Tek Ciang. Pemuda ini mengelus kepala Suma Hui sambil menghiburnya dengan kata-kata yang tenang dan ramah.

“Sumoi, segala hal dapat diurus dengan baik. Tiada masalah yang tidak dapat diatasi dengan ketenangan dan kebijaksanaan. Sumoi, apakah yang telah terjadi....”

Akan tetapi, Suma Hui makin mengguguk dalam tangisnya sehingga Tek Ciang hanya membiarkannya saja, malah berkata dengan halus, “Menangislah, sumoi. Menangislah sepuasmu kalau tangis dapat meringankan hatimu, sumoi....”

Dan memang hanya tangis saja yang dapat meringankan hati yang sedang sesak oleh kedukaan bercampur kemarahan. Setelah menangis terisak-isak dan menumpahkan banyak air mata, Suma Hui dapat menguasai dirinya lagi. Tentu saja dia tidak mau menceritakan mala petaka apa yang menimpa dirinya. Ia melepaskan diri dari pelukan Tek Ciang, memandang kepada suheng-nya itu dengan berterima kasih.

“Maafkan kelemahanku, suheng....”
“Sumoi, engkau sungguh membuat aku terkejut dan khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi? Kenapa engkau mengamuk?” Dia memandang ke dalam kamar yang kalang kabut itu.
“Nampaknya seperti ada perkelahian di dalam kamarmu. Engkau berkelahi dengan siapakah?”

Suma Hui menggelengkan kepalanya. “Aku sendiri tidak tahu dia siapa. Tapi, suheng, apakah semalam engkau tidak mendengar apa-apa dan tidak melihat orang memasuki rumah kita?”

Tek Ciang menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut. “Aku baru pulang menjelang pagi, bahkan belum dapat tidur saat tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut dari kamarmu. Semalam aku keliling kota melakukan penyelidikan dan kebetulan sekali aku melihat perkelahian yang amat hebat antara Kao-taihiap dan seorang yang tidak kukenal....”

Seketika perhatian Suma Hui tertarik. “Dia....? Dia.... berkelahi? Di mana dan siapa lawannya? Bagaimana....?” Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dengan gagap.

“Aku sedang melakukan penyelidikan ke lorong-lorong gelap pada waktu aku melihat berkelebatnya bayangan orang yang meloncat ke atas genteng. Aku terkejut sekali dan menyelinap ke tempat gelap sambil mengintai. Tiba-tiba aku melihat Kao-taihiap juga meloncat ke atas sambil membentak. Mereka lalu berkelahi di atas genteng, bahkan lalu keduanya meloncat turun dan melanjutkan perkelahian di atas tanah. Orang itu lihai sekali dan agaknya menjadi tandingan yang seimbang dari Kao-taihiap. Keduanya berkelahi tanpa menggunakan senjata. Entah berapa lama dan siapa yang unggul aku tidak dapat mengikuti saking cepatnya mereka bergerak. Akan tetapi akhirnya, lawan Kao-taihiap melarikan diri dikejar oleh Kao-taihiap. Aku berusaha mengejar pula dan mencari-cari, akan tetapi mereka lari terlampau cepat dan aku kehilangan jejak mereka. Aku terus mencari sampai hampir pagi tanpa hasil, kemudian aku pulang.”

Suma Hui mendengarkan semua itu dengan hati tertarik. Siapakah yang berkelahi melawan Cin Liong? Dan apakah sesudah berkelahi itu Cin Liong kemudian memasuki kamarnya?

“Apakah engkau tidak melihat bagaimana wajah lawannya itu, suheng? Bagaimana pula bentuk tubuhnya?”
“Keadaannya amat gelap, sukar mengenal wajahnya. Akan tetapi pakaiannya mewah dan agaknya dia setengah tua, tubuhnya sedang....”
“Ahhh, tentu dia Jai-hwa Siauw-ok!” Suma Hui berseru.
“Mungkin, karena ketika mengejar, Kao-taihiap juga berseru begini : Jai-hwa-cat, jangan lari!”

Suma Hui termenung. “Mengasolah, suheng. Aku pun hendak istirahat....”
“Tapi, sumoi.... apa yang terjadi di sini? Engkau belum menceritakan kepadaku.”

Suma Hui menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Ada yang memasuki kamarku. Kami berkelahi, namun dia keburu pergi tanpa aku dapat mengenalinya. Sudahlah, suheng, aku lelah dan hendak istirahat.” Suma Hui memasuki kamarnya dan mengangkat pintu yang jebol itu, menutupkannya begitu saja.

Sejenak Tek Ciang bengong di depan pintu, lalu mengangkat pundak dan memberi isyarat kepada pelayan yang juga ikut bengong itu untuk pergi dan membiarkan nona itu beristirahat dalam kamarnya yang awut-awutan.....

Suma Hui memandang ke sekeliling kamarnya. Meja dan kursi hancur berantakan oleh amukannya. Kasurnya robek awut-awutan. Akan tetapi dia tak perduli. Dia menjatuhkan badannya ke atas pembaringan kayu yang kasurnya telah robek-robek itu, memejamkan matanya dan menahan tangisnya. Tidak, tidak ada gunanya lagi menangis, pikir dara yang keras hati ini. Tidak ada lagi yang perlu ditangisi.

Hidupnya sudah berakhir, kebahagiaannya sudah hancur. Dia harus menuntut kepada Cin Liong, ia akan minta pertanggungan jawabnya. Bagaimana pun juga, ia tak mungkin dapat mencinta Cin Liong lagi setelah pemuda itu melakukan hal yang demikian kejinya terhadapnya. Cintanya sudah lenyap bersama dengan kehormatannya yang direnggut oleh pemuda pujaannya itu. Ahhh, benarkah bahwa cinta antara bibi dan keponakan seperti dia dan Cin Liong itu dikutuk oleh para leluhur, dikutuk oleh Thian sehingga menimbulkan mala petaka yang begini hebat atas dirinya?

Siapa kalau bukan Cin Liong yang melakukan perbuatan keji itu? Suaranya tak dapat dilupakannya. Kelihaian pemerkosa itu pun menunjukkan bahwa Cin Liong orangnya. Akan tetapi, mengapa Cin Liong mempergunakan asap pembius? Apakah agar tidak dikenal? Tetapi, ucapan pemuda itu jelas memperkenalkan dirinya! Apakah dasar dari perbuatan kekasihnya itu? Hanya karena dorongan nafsu birah? Tak mungkin!

Saat mereka berpelukan semalam sebelum pemuda itu meninggalkannya, ia pun dapat merasakan gairah birahi pada diri pemuda itu, namun Cin Liong cepat memisahkan diri. Cin Liong bukanlah seorang pemuda hamba nafsu. Ataukah....?

Suma Hui membuka matanya ketika teringat akan hal itu, dan ia cepat bangkit duduk, mengepal tinju. Apakah pemuda itu melakukan perbuatan keji itu dengan maksud agar ayahnya terpaksa memenuhi tuntutan mereka untuk dapat saling berjodoh? Karena ia sudah dinodai maka ayahnya takkan dapat menolak pinangannya lagi karena aib yang menimpa dirinya takkan dapat tercuci?

“Tidak!” Ia mendesis. “Aku tidak sudi! Lebih baik mati dari pada menjadi isteri seorang yang berhati palsu! Noda ini hanya dapat ditebus dengan nyawa!”

Kemarahannya membuat ia melotot, akan tetapi ia segera membayangkan wajah Cin Liong yang begitu tampan dan sikapnya yang begitu halus dan gagah, dan tak terasa lagi air matanya menetes turun. Sejenak ia membiarkan kekecewaan dan penyesalan menguasai dirinya, akan tetapi kekerasan hatinya segera timbul kembali. Ia bangkit berdiri dan membanting-banting kaki kirinya beberapa kali, kebiasaan yang tak disadari kalau ia sedang marah.

“Kao Cin Liong keparat busuk! Cintaku sudah hancur dan lenyap dan mulai malam tadi, engkau telah menjadi musuhku sampai tujuh turunan!”

Dan ia pun segera membereskan rambut dan pakaiannya, berdandan dengan ringkas, kemudian dengan hati panas seperti dibakar ia melangkah keluar, membawa sepasang pedangnya yang digantungkan di punggung. Hanya satu tujuan memenuhi batinnya, yaitu mencari Cin Liong di rumah penginapan dan membunuhnya kalau mungkin!

“Sumoi....!”

Louw Tek Ciang telah berdiri di depannya. Pemuda itu nampak pucat seperti orang kurang tidur atau orang yang gelisah, akan tetapi tidaklah sepucat Suma Hui. Pemuda itu memandang penuh gelisah ke arah punggung sumoi-nya di mana terdapat sepasang pedang bersilang. Tidak pernah sumoi-nya pergi meninggalkan rumah membawa-bawa pedang.

“Sumoi, engkau hendak pergi ke manakah sepagi ini? Dan engkau membawa pedang.... mau apakah engkau....?”

Suma Hui mengerutkan alisnya, merasa tidak senang dan terganggu, maka jawabnya dengan suara dingin, “Suheng, engkau jaga rumah baik-baik dan jangan mencampuri urusanku. Aku mempunyai keperluan dan tak seorang pun boleh mencampuri.” Setelah berkata demikian, ia membalik dan hendak melanjutkan perjalanannya.

“Hui-moi....!”

Suma Hui terperanjat seperti disambar petir, akan tetapi, kemarahannya memuncak mendengar suara Cin Liong. Dengan perlahan ia membalik dan menghadapi pemuda yang baru muncul itu. Melihat wajah pemuda itu juga lesu dan ada tanda-tanda kurang tidur, hati Suma Hui merasa semakin yakin akan kesalahan orang yang tadinya amat dicintanya itu.

“Singgggg....!” Nampak sinar berkelebat dan sepasang pedang telah berada di kedua tangan gadis itu.
“Keparat jahanam Kao Cin Liong, rasakan perbalasanku!” bentaknya.

Dengan kemarahan meluap-luap, Suma Hui langsung menyerang Cin Liong dengan sepasang pedangnya, langsung mempergunakan jurus Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang amat hehat karena ia tahu bahwa yang diserangnya adalah orang yang amat lihai.

“Heiiiiii....!” Terkejut sekali Cin Liong melihat serangan itu. Saking kaget dan herannya, terlambat dia mengelak.
“Crottttt....!”

Pangkal lengan kirinya terkena serempetan pedang. Agaknya tadi dia mengira bahwa gadis itu hanya main-main, maka barulah dia sadar bahwa sesungguhnya kekasihnya itu tidak main-main dan serangan yang ditujukan kepadanya tadi adalah serangan maut!

“Hui-moi.... tahan dulu....! Apa dosaku? Apa salahku? Apa yang terjadi? Kenapa engkau menyerangku, memusuhiku....”
“Penghinaan itu hanya dapat dicuci dengan darah serta ditebus dengan nyawamu, manusia hina dina!”

Kini Suma Hui sudah menyerang lagi dengan lebih hebat karena kemarahannya makin memuncak, seolah-olah melihat darah yang membasahi baju pada pangkal lengan Cin Liong itu mengingatkan ia akan darahnya sendiri dan membuatnya sedih sekali.

“Eh, Hui-moi, nanti dulu....!” Cin Liong menjadi bingung sekali.
“Hyaaaattt.... sing-sing-singgg....!”

Suma Hui menyerang bertubi-tubi. Sepasang pedangnya menjadi dua sinar bergulung-gulung dan menyambar-nyambar mengarah bagian yang berbahaya dari tubuh Cin Liong. Karena panik dan bingung, hampir saja tubuh Cin Liong terbabat dan gerakannya menjadi kacau sehingga dia hanya mampu melempar tubuhnya ke belakang, kemudian bergulingan dengan cepat.

“Hui-moi, aku menuntut penjelasan....!” teriaknya penasaran. “Apa salahku?” Dia sudah berhasil meloncat dan bangkit berdiri lagi.

Akan tetapi, Suma Hui sudah tidak sudi bicara lagi. Pedangnya menyambar lagi dan ia menyerang dengan jurus-jurus pilihan Siang-mo Kiam-sut yang memang hebat bukan main.

Biar pun Cin Liong memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi, namun menghadapi serangan ilmu pedang itu tanpa membalas, tentu saja sangat berbahaya. Dia berloncatan dan menyelinap di antara gulungan sinar pedang, beberapa kali nyaris tubuhnya tercium ujung pedang, bahkan ada beberapa bagian ujung pakaiannya yang sudah robek oleh sambaran pedang yang amat tajam itu.

“Hui-moi, kita bicara dulu....!”
“Engkau atau aku yang harus mampus!” bentak Suma Hui dan ia menyerang terus dengan hebat.
“Sumoi.... sumoi.... sabarlah, sumoi....!” Berkali-kali Tek Ciang juga turut menasehati sumoi-nya. Akan tetapi dia tidak berani melerai karena dia merasa tidak akan mampu menghadapi permainan pedang yang dahsyat itu.
“Sing-singgg.... wuuutttt....!”

Segumpal rambut kuncir dari kepala Cin Liong terkena sabetan pedang dan rontoklah gumpalan rambutnya ke atas tanah. Pemuda ini terkejut sekali. Beberapa sentimeter lagi selisihnya, nyaris lehernya yang putus. Dia melihat bahwa kekasihnya itu sungguh-sungguh dan bahwa pada saat itu bukan waktunya untuk bicara.

Tentu saja kalau dia mau, dia dapat merobohkan Suma Hui dan membuatnya tidak berdaya lalu mengajaknya bicara. Namun dia mengenal watak keras dari kekasihnya itu sehingga kalau dia merobohkannya, hal itu tentu akan menambah gawatnya keadaan karena tentu gadis itu akan menjadi semakin marah. Jalan satu-satunya hanyalah menjauhkan diri dan membiarkan sampai hati gadis itu yang terbakar menjadi agak dingin dan marahnya mereda. Barulah dia akan datang bicara.

“Ahhh, Hui-moi.... Hui-moi....,” keluhnya dan cepat dia meloncat ke belakang, berjungkir balik beberapa kali lalu berlompatan jauh melarikan diri.
“Jahanam jangan lari!” Suma Hui membentak, akan tetapi Cin Liong sudah lari dengan cepatnya.
“Sumoi, jangan kejar....!” Tek Ciang juga berlari mengejar gadis itu.

Karena hari telah pagi dan banyak orang di jalan, tentu saja mereka merasa heran melihat orang-orang muda itu berlarian, apalagi dengan ilmu lari cepat. Suma Hui tidak memperdulikan seruan suheng-nya dan ia terus mengejar menuju ke rumah penginapan di mana Cin Liong mondok.

Akan tetapi, ketika ia tiba di situ, ternyata Cin Liong sudah lama pergi membawa bekal pakaiannya. Terpaksa Suma Hui membanting-banting kakinya dan menahan tangis, lalu pulang. Di jalan ia bertemu dengan Tek Ciang yang mengejarnya.

“Sumoi, percuma saja engkau mengejar. Kalau ada sesuatu, dan kalau engkau merasa penasaran kepada Kao-taihiap, laporkan saja kelak kepada suhu. Tentu suhu akan dapat turun tangan. Engkau sendiri kiranya takkan dapat melawan Kao-taihiap yang amat lihai itu.”

Suma Hui hanya mengangguk dan berjalan pulang dengan cepat. Hatinya meradang, marah dan penasaran sekali. Jelas bahwa Cin Liong bersalah, kalau tidak, tentu tidak akan melarikan diri. Keparat itu! Hatinya terasa sakit sekali, lebih nyeri rasanya karena ia tahu benar bahwa ia masih tetap mencinta pemuda itu.

Setelah sampai di rumah, Tek Ciang memberanikan diri bertanya, “Sumoi, sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa sumoi begitu marah dan tiba-tiba hendak membunuh Kao-taihiap?”

Suma Hui mengerutkan alisnya, memandang kepada suheng-nya, kemudian berkata, “Louw-suheng, aku harap agar engkau tidak mengajukan pertanyaan itu lagi kepadaku dan tidak menceritakan semua yang terjadi tadi kepada siapa pun juga. Kalau suheng melanggar pesanku ini, aku akan marah sekali!” Setelah berkata demikian, dara itu lalu pergi memasuki kamarnya, meninggalkan Tek Ciang yang memandang bengong.

Semenjak hari itu, Suma Hui jarang bicara, baik terhadap Tek Ciang mau pun terhadap pelayan rumah itu. Bahkan jarang ia menemani Tek Ciang makan, dan lebih sering duduk termenung di dalam kamarnya. Karena kurang makan dan kurang tidur, sebentar saja wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya menjadi kurus. Sang pelayan dan Tek Ciang menjadi prihatin sekali, akan tetapi mereka tidak berani bicara. Terpaksa Tek Ciang selalu berlatih sendirian saja sebab gadis itu sama sekali tak pernah mau menemaninya latihan lagi.

Beberapa pekan kemudian, ketika Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li pulang bersama Suma Ciang Bun, mereka terkejut bukan main melihat Suma Hui yang begitu kurus dan agak pucat. Akan tetapi, begitu melihat adiknya, Suma Hui segera merangkulnya sambil menangis.

“Bun-te.... ahhh, Bun-te, syukur engkau selamat....!” katanya sambil merangkul Ciang Bun yang juga merasa terharu.

Kim Hwee Li mengerutkan alisnya, bukan hanya karena khawatir melihat puterinya begitu kurus, akan tetapi juga jarang ia melihat puterinya yang tabah dan keras hati itu dapat terharu sampai menangis ketika bertemu adiknya kembali.

“Hui-cici, kenapa engkau begini kurus?”
“Engkau kenapakah, Hui-ji?” tanya pula ayahnya.
“Dan mukamu agak pucat,” sambung ibunya.

Dihujani pertanyaan oleh ayah, ibu dan adiknya itu, Suma Hui menjawab singkat dan menyimpang, “Tidak apa-apa, ahhh, aku girang sekali melihat engkau selamat, Bun-te. Lekas kau ceritakan semua pengalamanmu sejak kita berpisah, sejak engkau terlempar ke lautan itu.”

Suma Hui menggandeng tangan adiknya dan beramai-ramai mereka memasuki rumah. Di pintu depan muncul Tek Ciang yang cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada suhu dan subo-nya. Melihat penghormatan yang amat sopan ini, Suma Kian Lee memandang girang.

“Bangkitlah, Tek Ciang dan mari berkenalan dengan sute-mu. Ciang Bun, inilah murid ayah yang bernama Louw Tek Ciang seperti yang kuceritakan itu.”
“Ehh, Tek Ciang, kenapa engkau memakai pakaian berkabung?” tiba-tiba Hwee Li yang waspada itu bertanya.

Ditanya demikian, Tek Ciang yang masih berlutut itu lalu mengusap air matanya yang tiba-tiba membasahi kedua matanya. “Suhu, subo, teecu dilanda mala petaka besar dan mohon petunjuk suhu berdua....”

“Apakah yang telah terjadi, Tek Ciang?”
“Ayah.... ayah teecu terbunuh....”
“Ehhh....? Terbunuh? Siapa yang membunuh ayahmu?” Suma Kian Lee terkejut sekali mendengar ucapan itu.

Tek Ciang merasa tidak enak kepada Suma Hui dan melirik ke arah sumoi-nya, akan tetapi Suma Hui diam saja dan hanya memandang padanya dengan sinar mata kosong.

“Mendiang ayah tewas…. tewas ketika bertempur melawan.... melawan jai-hwa-cat yang berkeliaran di kota ini.”
“Ihhh....!” Kim Hwee Li berseru kaget dan penasaran. “Penjahat cabul mana yang begitu berani mengacau di Thian-cin?”
“Suheng, kenapa engkau tidak berterus terang saja? Ayah, Louw-kauwsu tewas ketika dia berkelahi melawan Kao Cin Liong....”
“Heh, bagaimana pula ini?” Hwee Li berteriak. “Kao Cin Liong datang ke sini dan dia berkelahi dengan Louw kauwsu?” Ia memandang tajam kepada Tek Ciang. “Tek Ciang, ceritakan sejujurnya apa yang telah terjadi!”
“Mari kita semua masuk dulu dan bicara di dalam rumah,” kata Suma Kian Lee yang dapat menguasai perasaannya dan sikapnya lebih tenang.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan mereka semua duduk di ruangan dalam. Dengan sikap ragu-ragu dan kadang-kadang mengerling ke arah Suma Hui, akan tetapi melihat gadis itu diam saja tidak memberi tanda atau memperlihatkan sikap sesuatu, akhirnya Tek Ciang lalu bercerita.

“Menurut ayah, di kota ini ada jai-hwa-cat berkeliaran. Lalu pada suatu malam, ayah bersama dua orang teman yang melakukan penyelidikan, bertemu dengan Kao-taihiap, dan ayah agaknya menyangka bahwa Kao-taihiap adalah jai-hwa-cat itu, maka lalu diserangnya. Tentu saja ayah dan dua orang temannya tak dapat menang dan akhirnya ayah tewas....”

Suma Hui hendak membuka mulut, akan tetapi membatalkan niatnya. Apa perlunya ia membela Cin Liong? Biarlah, biar ayah ibunya menyangka Cin Liong yang membunuh Louw-kauwsu, ia tidak perduli! Dan ia pun tahu mengapa suheng-nya tak menceritakan bahwa ayahnya membunuh diri, bukan tewas dalam perkelahian itu. Tentu pemuda itu merasa malu karena membunuh diri, bukan tewas dalam perkelahian, berarti pengecut.

Suma Kian Lee yang sudah merasa tidak senang kepada Cin Liong karena pemuda itu berani jatuh cinta kepada Suma Hui yang terhitung bibi sendiri, mengerutkan alisnya dan mengepal tinju. “Sungguh tidak patut sekali perbuatan Cin Liong itu! Andai kata dia bukan jai-hwa-cat, mengapa dia harus membunuh Louw-kauwsu yang hanya bertindak untuk menentang kejahatan? Aku pasti akan menegurnya kalau sempat berjumpa dengannya kelak!”

“Hemm, kurasa ada apa-apanya di balik peristiwa itu. Putera Naga Sakti Gurun Pasir itu adalah seorang panglima yang terkenal, dan seorang pendekar perkasa yang sudah membela Pulau Es secara mati-matian. Tidak mungkin kiranya dia begitu sembrono membunuh orang yang tidak berdosa. Ehhh, Hui-ji, mustahil kalau engkau tidak tahu apa-apa tentang peristiwa itu. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi hingga Cin Liong sampai berkelahi serta membunuh Louw-kauwsu?” Dengan sinar mata tajam penuh selidik, nyonya yang cerdik ini bertanya kepada puterinya.

Namun Suma Hui tetap berkeras tidak sudi membela Cin Liong yang dibencinya. “Aku tidak tahu, ibu,” jawahnya singkat, lalu dipegangnya tangan Ciang Bun sambil berkata mendesak, “Bun-te, hayo ceritakan pengalamanmu sampai engkau dapat selamat dan dapat pulang bersama ayah dan ibu.”

Tek Ciang masih berdebar-debar rasa jantungnya karena khawatir kalau-kalau suhu dan subo-nya mendesak terus sehingga rahasia ayahnya terancam bahaya terbuka tabirnya, lalu bangkit dan menjura dengan hormat. “Sebaiknya teecu mohon diri dan mundur agar suhu, subo dan sute dapat beristirahat dan bercakap-cakap dengan leluasa.”

Kian Lee mengangkat tangan dan memandang kepada muridnya itu dengan rasa iba dalam hatinya. Ayah pemuda itu adalah seorang duda, maka sepeninggal ayahnya, berarti pemuda ini yatim-piatu.

“Duduklah saja, Tek Ciang. Engkau dapat dibilang anggota keluarga kami sendiri, maka boleh engkau duduk dan ikut mendengarkan.”

Tentu saja ucapan suhu-nya ini membesarkan hati Tek Ciang. Dia pun kembali duduk, namun masih mengambil sikap sungkan-sungkan.

Ciang Bun lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia diselamatkan dari lautan oleh kakak beradik Liu dengan kakek mereka sebagai penghuni Pulau Nelayan. Betapa dia kemudian tinggal di pulau itu bersama mereka bertiga, mempelajari ilmu dalam air. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang hubungannya yang aneh dengan Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang, hanya menceritakan kebaikan-kebaikan kakak beradik dan kakek mereka itu.

“Setelah merasa bosan tinggal di pulau itu dan sudah mempelajari semua dasar ilmu dalam air, aku lalu meninggalkan pulau itu dan ketika mendarat, aku bertemu dengan ayah dan ibu.” Demikian Ciang Bun menutup ceritanya.

“Kebetulan kami bertemu dengan Ciang Bun,” sambung Kim Hwee Li. “Padahal kami berdua telah berhari-hari mencari-cari di sekitar pantai namun tidak pernah melihat jejaknya atau mendengar berita tentang dirinya. Siang hari itu, selagi kami berjalan-jalan di pantai dan sudah hampir putus asa, bahkan sudah mengambil keputusan untuk menggunakan perahu melakukan penyeberangan ke Pulau Es untuk menyelidiki di lautan, muncullah perahu yang membawa Ciang Bun.”

Keluarga yang telah berkumpul lagi dengan lengkap itu tentu saja merasa gembira. Akan tetapi Suma Hui seoranglah yang tidak pernah merasakan kegembiraan, walau pun ia berusaha untuk kelihatan gembira. Ibunya telah mendesaknya dan berkali-kali menanyakan sikapnya itu di dalam kamar dengan suara bisik-bisik. Akan tetapi, biar pun terhadap ibu kandungnya sendiri yang biasanya ia menceritakan segala hal yang rahasia sekali pun, sekali ini ia tidak dapat membuka rahasianya. Bagaimana mungkin ia dapat menceritakan bahwa dirinya telah dinodai, bahwa kehormatannya telah dicemarkan, bahwa ia telah diperkosa oleh Cin Liong?

Sikap gadis itu membuat ayah dan ibunya sering kali membicarakannya dalam kamar mereka. “Pasti telah terjadi sesuatu yang dirahasiakan oleh Hui-ji,” demikian antara lain Hwee Li berbisik kepada suaminya pada malam hari setelah mereka pergi tidur. “Ia menderita sesuatu.”

“Sungguh tidak baik kalau hal itu dibiarkan saja. Tek Ciang telah kehilangan ayahnya, sebaiknya kalau perjodohan antara mereka itu dipercepat. Aku akan memanggil mereka berdua dan menyatakan terus terang bahwa antara aku dan ayah Tek Ciang telah ada persetujuan untuk menjodohkan mereka.”

“Suamiku, kurasa kita tidak boleh terlalu tergesa-gesa bicara tentang itu dan memberi tahu kepada Hui-ji. Aku yakin bahwa tentu terjadi sesuatu yang luar biasa antara Hui-ji dan Cin Liong. Hui-ji kelihatan demikian menderita tekanan atau guncangan batin yang hebat. Aku khawatir dia akan jatuh sakit. Hanya kekerasan hatinya saja yang masih mampu mencegah ia jatuh sakit. Maka, kuharap engkau suka bersabar dulu dan jangan sampaikan hal yang belum tentu disetujuinya itu dalam waktu sekarang.”

Suma Kian Lee mengerutkan alisnya, tetapi dia pun tidak dapat membantah isterinya. Dia tahu bahwa Suma Hui memiliki kekerasan hati yang sama dengan kekerasan hati isterinya.

“Baiklah, dan aku akan segera mulai menurunkan ilmu-ilmu silat kepada Tek Ciang agar dia dapat cepat menyusul ketinggalannya dari Hui-ji.”

********************
Suma Hui sendiri tidak tahu bahwa pada malam harinya ketika terjadi penyerangannya terhadap Cin Liong, diam-diam Cin Liong kembali mendatangi rumahnya dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Cin Liong berhasil menemui Tek Ciang. Sebelum Tek Ciang mampu bersuara, Cin Liong telah menotok urat gagunya dan juga membuatnya lemas, lalu memanggul pemuda itu pergi dari rumah itu menuju ke tempat sunyi.

Setelah tiba di tempat sunyi, Cin Liong membebaskan totokannya pada tubuh Tek Ciang dan diam-diam pendekar ini merasa heran dan juga kecewa melihat betapa pucat wajah pemuda itu dan tubuhnya menggigil ketakutan! Orang penakut begini diangkat menjadi murid pendekar sakti seperti Suma Kian Lee? Sungguh mengecewakan sekali. Akan tetapi pikiran itu hanya sekilas saja memasuki benaknya yang sudah sarat dengan masalahnya sendiri yang membuatnya bingung, penasaran dan berduka itu.

“Maafkan aku, Louw-susiok. Terpaksa aku menggunakan jalan ini karena ingin sekali bicara denganmu tanpa diketahui oleh Hui-moi.”

Tek Ciang menarik napas lega dan kentara sekali bahwa baru saja dia terlepas dari himpitan rasa takut yang hebat. “Aahhhh, taihiap, sungguh engkau membikin aku kaget setengah mati. Perkara apakah yang ingin kau bicarakan?”

“Tidak lain hanya perkara Hui-moi. Engkau melihat sendiri pagi tadi bagaimana ia telah menyerangku dan serangan-serangannya itu sungguh-sungguh. Ia berniat keras untuk membunuhku dengan penuh kebencian. Louw-susiok yang baik, apakah artinya semua itu? Mengapa ia hendak membunuhku dan demikian membenciku? Apakah yang telah terjadi malam tadi?”

Tek Ciang memandang bingung dan mengangkat pundaknya. “Bagaimana aku tahu, taihiap?”

Cin Liong penasaran dan memandang tajam penuh selidik. “Louw-susiok, kini engkau tinggal serumah dengan Hui-moi, agaknya tak mungkin kalau terjadi hal-hal yang hebat engkau tidak mengetahuinya.”

“Malam tadi hampir semalaman aku tidak berada di rumah, taihiap.”
“Hemm, ke mana saja engkau pergi?”
“Sudah kukatakan kepadamu kemarin sore bahwa aku hendak menyelidiki penjahat cabul yang menyebabkan ayahku tewas itu. Dan aku melihat ketika engkau berkelahi dengan penjahat itu! Ternyata memang benar ada penjahat yang berkeliaran, buktinya engkau menyerangnya dan berkelahi dengannya. Benarkah orang yang berkelahi denganmu itu penjahat cabul?”

“Jadi engkau melihatnya? Benar, dia adalah penjahat cabul terbesar di dunia hitam. Lalu bagaimana?”
“Aku bersembunyi dan nonton sampai penjahat itu lari dan kau kejar. Aku pun lalu ikut mengejar, akan tetapi sebentar saja kalian berdua sudah lenyap. Aku terus mencari berputar-putar sampai hampir pagi. Karena tidak berhasil menemukan penjahat itu mau pun engkau yang mengejarnya, aku lalu pulang dan langsung memasuki kamarku. Belum juga aku pulas, terdengar suara hiruk-pikuk dari kamar sumoi. Aku dan pelayan terkejut, lalu lari ke kamarnya. Di dalam kamar itu sumoi mengamuk, menghancurkan perabot-perabot kamarnya dan katanya ada penjahat memasuki kamarnya dan penjahat itu melarikan diri tanpa sumoi dapat mengenal wajahnya.”

Cin Liong mendengarkan dengan alis berkerut. “Lalu apa katanya kepadamu setelah ia menyerangku pagi tadi?”

Tek Ciang menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang, kelihatan berduka sekali. “Ia tidak mau bicara apa-apa, taihiap. Bahkan ketika aku mencoba bertanya mengapa ia mengamuk dan menyerangmu, ia marah-marah dan minta kepadaku agar aku tidak lagi menanyakan hal ini atau bicara tentang itu dengan siapa pun juga. Ahh, aku khawatir sekali, taihiap. Sebaiknya kalau taihiap tidak memperlihatkan diri lebih dulu....”

“Aku harus menemuinya dan minta keterangan tentang sikapnya itu!” Cin Liong berkata penasaran.
“Ahh, bijaksanakah itu, Kao-taihiap? Aku melihat sumoi sedang dalam keadaan tidak wajar, marah sekali dan juga amat berduka. Melihat keadaannya, aku yakin bahwa setiap kali taihiap muncul, tentu akan diserangnya tanpa banyak kata lagi. Watak sumoi keras sekali dan sementara waktu ini percuma saja kalau mengajaknya bicara. Kalau taihiap muncul, akibatnya hanya akan membuat ia semakin marah.”

Cin Liong mengepal tinju dan alisnya berkerut. “Habis bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya? Aihhh, kenapa ada urusan yang begini aneh?”

“Kao-taihiap, kalau taihiap suka mendengar pendapatku, sebaiknya kalau sementara ini taihiap malah menjauhkan diri. Dan sejauh mungkin karena agaknya sumoi masih terus merasa penasaran dan hendak mencari taihiap untuk dibunuh. Susah payah aku tadi membujuknya agar bersabar dan akhirnya baru ia mau berhenti setelah kuperingatkan bahwa segala urusan harus diselesaikan dengan tenang. Kalau taihiap menampakkan diri, tentu kemarahannya memuncak dan berkobar lagi. Biarlah sampai ia dingin dan tenang dulu, baru kelak taihiap boleh menemuiku, dua tiga bulan lagi, dan aku akan memberitahu taihiap kalau keadaan sudah mendingin.”

Cin Liong tidak mengira bahwa pemuda ini sedemikian baiknya. Dia memegang pundak pemuda itu. “Louw-susiok, engkau sungguh seorang yang berhati mulia. Aku sangat mengharapkan bantuanmu dalam urusanku dengan sumoi-mu ini.”

Tek Ciang mengangguk. “Aku mengerti, taihiap, aku tahu bahwa ada hubungan batin antara kalian dan sekarang agaknya sedang terjadi kesalah pahaman di pihak sumoi. Engkau sebagai laki-laki sepatutnya mengalah dan bersabar.”

Cin Liong mengangguk-angguk. “Tapi, apa yang harus kulakukan sementara menanti ia bersabar itu? Sungguh aku bingung sekali dan baru sekarang dunia seolah-olah gelap bagiku, membuat aku tak berdaya.”

“Taihiap, kurasa sudah pasti ada hubungannya antara perkelahianmu melawan penjahat malam itu dengan sikap sumoi ini....”
“Si keparat Jai-hwa Siauw-ok!” Cin Liong mengepal tinjunya.
“Nah, bagaimana taihiap pikir kalau taihiap mencari orang itu sampai dapat tertangkap dan taihiap menuntut keterangan dari dia?”
“Ah, benar sekali! Andai kata jahanam itu tidak tahu apa-apa tentang Hui-moi, tetap saja dia harus ditangkap dan dihukum. Baiklah, susiok. Banyak terima kasih atas semua bantuan dan nasehatmu. Aku pergi dan harap engkau membantuku menyelidiki apa sebabnya Hui-moi marah-marah kepadaku dan bahkan hendak membunuhku. Dua tiga bukan lagi aku datang ke sini dan menemuimu sebelum aku mencoba menemuinya.”

Tek Ciang mengangguk-angguk. “Jangan khawatir, aku akan membantumu, Kao-taihiap dan mudah-mudahan semuanya akan berjalan dengan lancar.”

Demikianlah pertemuan rahasia antara Kao Cin Liong dan Louw Tek Ciang, yang tidak diketahui orang lain. Juga masih ada pertemuan lain lagi di malam berikutnya yang lebih dirahasiakan oleh Tek Ciang. Seorang diri dia pergi menganjungi makam ayahnya di luar kota pada malam hari itu.
Setelah dia merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihatnya dia lalu melanjutkan perjalanannya di malam gelap itu menuju ke sebuah kuil tua yang letaknya terpencil di tempat sunyi. Seperti sikap seorang maling, pemuda itu menyelinap di tempat-tempat gelap, memandang ke kanan kiri dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihatnya, barulah dia meloncat masuk ke dalam kuil tua.

Sesosok bayangan orang yang gerakannya amat ringan dan cepat seperti setan menyambutnya. Orang itu Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng.

“Bagus, bagus! Engkau amat hati-hati dan memang begitulah seharusnya, waspada dan hati-hati, begitulah sikap seorang jai-hwa-cat tulen!” Datuk sesat itu tertawa bergelak.

Tek Ciang merasa betapa mukanya menjadi panas. “Tapi.... locianpwe.... aku.... bukan jai-hwa....”
“Ha-ha-ha, memang belum, baru calon saja! Akan tetapi seorang calon yang amat baik dan kelak engkau pun bisa menggantikan aku kalau engkau suka belajar dengan tekun. Ha-ha-ha, sekarang ceritakan semua, bagaimana hasilnya siasat kita?”

Tek Ciang tersenyum dan wajahnya berseri. Cuaca di dalam kuil itu remang-remang saja karena Jai-hwa Siauw-ok hanya menyalakan sebatang lilin kecil. Ia melihat betapa wajah yang masih ganteng dari kakek itu berseri-seri dan diam-diam dia kagum sekali. Memang kakek ini hebat. Selain ilmu kepandaiannya tinggi, juga memiliki kecerdikan seperti setan.

“Semua berjalan dengan baik sekali, locianpwe. Terima kasih kepada locianpwe.”
“Aha, setelah aku membuat dara itu tidak berdaya dengan asap bius dan totokan, melihat ia rebah tak berdaya seperti menantang itu, timbul seleraku, akan tetapi aku ingat kepadamu, orang muda. Bagaimana, berhasilkah engkau memperkosanya?”

Pertanyaan itu diajukan dengan sikap wajar seperti orang menanyakan suatu hal yang lumrah saja. Akan tetapi bagi Tek Ciang merupakan hal yang membuatnya merasa jengah dan malu. Dia mengangguk tanpa menjawab.

“Hemm, engkau menyesal setelah berhasil?”
“Tidak, tidak, locianpwe. Sebaliknya, aku merasa girang sekali.”
“Dan engkau sudah merasa puas?”

Pemuda itu menggeleng kepala. “Belum, ia belum menjadi isteriku dan aku pun belum mewarisi ilmu Pulau Es dan belum membalas dendam terhadap jenderal itu.”

“Ha-ha-ha, tak perlu tergesa-gesa. Yang penting, engkau telah berhasil memperkosanya dan ia tidak mengenalmu?”
“Tidak. Tempatnya gelap dan dia berada dalam keadaan setengah sadar. Aku sudah sangat berhati-hati dalam menirukan suara Cin Liong.”
“Bagus! Dan hasilnya?”
“Hasilnya baik sekali. Ketika Cin Liong datang, dia diserang dan akan dibunuh oleh sumoi.” Pemuda itu lalu menceritakan semua yang telah terjadi sampai ketika dia diculik oleh Cin Liong untuk dimintai keterangan. Semua ini didengarkan oleh Jai-hwa Siauw-ok sambil tersenyum girang, hanya dia merasa agak khawatir mendengar pemuda itu diculik oleh Cin Liong.

“Untung engkau cerdik. Jadi engkau berhasil memancingnya agar menjauhkan diri dulu dari gadis itu dan agar dia mencari aku? Baik sekali. Engkau telah menjalankan rencana siasatku dengan baik. Ha-ha-ha, kita berdua sudah mengecap hasilnya. Engkau telah menikmati tubuh dara itu dan aku.... ha-ha-ha, girang hatiku melihat permusuhan antara keluarga Suma dan keluarga Kao itu mulai tumbuh. Tentu akan menjadi permusuhan keluarga yang hebat sekali kelak. Tetapi engkau harus berhati-hati, Tek Ciang. Engkau sebagai orang di belakang layar yang memainkan semua ini, jangan sekali-kali lantas menonjolkan diri. Tahan dahulu nafsumu jikalau engkau ingin memiliki tubuh gadis itu sepenuhnya. Kita harus cerdik. Aku akan memancing agar Cin Liong makin menjauhi tempat ini.”

“Baik, aku akan mentaati semua pesanmu, locianpwe.”
“Kelak, sewaktu-waktu aku berada di daerah ini, engkau boleh menemui aku di sini untuk menerima beberapa macam ilmu dariku seperti yang telah kujanjikan padamu.”

Dengan girang Tek Ciang menghaturkan terima kasih. Dia menganggap bahwa datuk sesat ini telah berjasa besar kepadanya. Mereka lalu berpisah dan meninggalkan kuil yang sunyi itu, kuil tua yang menyeramkan karena baru saja dijadikan tempat oleh para iblis dan setan untuk mengusik hati dua orang manusia yang tersesat.

Iblis dan setan yang suka mengusik hati orang tidak pernah jauh dari diri kita sendiri. Suaranya selalu berbisik dalam batin kita, mendorong kita untuk selalu mendambakan kesenangan dan menjauhi yang tidak menyenangkan. Tercipta oleh pikiran kita sendiri, pikiran yang mengumpulkan dan menumpuk semua pengalaman dalam hidup lahiriah yang yang praktis.

Secara teknis pikiran dibutuhkan untuk mengingat, bekerja dan segala gerak hidup lahiriah. Akan tetapi, dalam komunikasi dengan manusia lain, dengan benda, dengan hal-hal batiniah, pikiran yang masuk hanyalah akan menimbulkan nafsu, kebencian, keserakahan, dan sebagainya. Jadi setan datangnya bukan dari luar, melainkan dari dalam batin kita sendiri.....

********************

Dua orang yang memasuki kota Thian-cin pada sore hari itu menarik perhatian orang. Mereka adalah sepasang pria dan wanita yang sudah berusia lima puluh tahun lebih, namun masih nampak gagah perkasa dan sehat, juga wajah mereka jauh lebih muda dari pada usia mereka yang sebenarnya.

Pria itu berpakaian sederhana tapi bersih dan cukup rapi. Rambutnya sudah bercampur sedikit uban, namun masih segar dan panjang, dikuncir tebal dan kepalanya terlindung sebuah caping lebar. Walau pun pria ini hanya berlengan satu karena lengan kirinya buntung di atas siku, akan tetapi sikapnya gagah dan langkahnya tegap dan tenang. Terutama sekali sepasang matanya amat mengejutkan orang karena mata itu, biar pun lembut dan tenang namun mengeluarkan sinar mencorong seperti sepasang mata seekor naga sakti!

Yang wanita juga amat menarik perhatian. Usianya sudah lima puluh tahun, akan tetapi masih nampak jelas kecantikan membayang di wajahnya. Pakaiannya juga sederhana, tapi bersih dan rapi. Di punggungnya nampak sepasang pisau belati bersilang, tertutup oleh jubahnya. Wajahnya selalu riang gembira, di dalam sinar matanya membayangkan semangat yang tak kunjung padam.

Mereka adalah Sang Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu dan isterinya yang bernama Wan Ceng. Suami isteri pendekar ini tinggal jauh di utara, di padang pasir, di dalam sebuah istana tua yang jarang kedatangan manusia lain. Hanya baberapa tahun sekali suami isteri ini suka berpesiar ke selatan, kadang-kadang sampai ke kota raja. Akan tetapi mereka selalu menjauhkan diri dari pada segala keributan.

Karena mereka tinggal di tempat jauh dan jarang menampakkan diri di dunia kang-ouw, maka jarang ada yang mengenal mereka ketika bertemu di jalan. Padahal, nama mereka sudah dikenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai datuk yang berilmu tinggi. Naga Sakti Gurun Pasir mempunyai nama yang sama tenarnya dengan keluarga Pulau Es. Dan sesungguhnya pendekar ini amat sakti.

Dialah satu-satunya orang yang telah mewarisi semua ilmu kesaktian dari Dewa Bongkok dari Go-bi-san yang bernama Bu Beng Lojin. Biar pun lengan kirinya buntung, tetapi buntungnya sebelah lengan itu sama sekali tak mengurangi kelihaiannya, bahkan buntungnya lengan kiri ini membuat dia dapat menguasai Ilmu Sin-liong Hok-te yang amat lihai kalau dimainkan dengan satu lengan saja.

Isterinya, Wan Ceng, juga bukan wanita sembarangan. Ia masih cucu dari nenek Lulu, isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti. Dan wanita ini selain telah mempelajari banyak macam ilmu yang aneh-aneh, juga telah menerima bimbingan dari suaminya sehingga kelihaiannya juga meningkat.

Suami isteri yang saling mencinta ini hanya mempunyai seorang anak, yaitu Kao Cin Liong. Semenjak anak itu masih kecil, mereka berdua telah menggemblengnya dan oleh karena Cin Liong seorang putera tunggal, tentu saja mereka amat menyayanginya. Hampir semua ilmu kepandaian mereka sudah mereka turunkan kepada Cin Liong.

Saat pemuda itu menarik perhatian istana karena perbuatan-perbuatannya yang gagah perkasa dan padanya ditawarkan kedudukan dalam kemiliteran, terjadilah perbantahan antara suami isteri ini.

“Menjadi tentara hanya menjadi alat pembunuh bagi kepentingan ambisi orang-orang atasan saja. Apa baiknya? Aku ingin puteraku menjadi seorang pendekar, tidak berfihak siapa pun kecuali berfihak kepada mereka yang lemah tertindas dan menentang mereka yang menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk menindas,” kata Wan Ceng penuh semangat.

Suaminya menarik napas panjang. “Sudahlah, isteriku. Yang penting adalah perasaan Cin Liong sendiri. Biarkan dia yang menentukan pilihannya. Apakah engkau lupa bahwa kakeknya adalah seorang jenderal besar, seorang panglima dan pahlawan besar yang amat perkasa? Siapa tahu dia menuruni darah kakeknya itu. Pula, dia sudah kita beri gemblengan dasar dan dia dapat melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Aku percaya bahwa dia berjiwa pendekar dan biar pun dia menjadi tentara, tentu dia tidak akan membuta mentaati perintah atasan kalau perintah itu melawan hati nuraninya sebagai pendekar.”

Akhirnya Wan Ceng mengalah setelah melihat kenyataan, bahwa memang puteranya suka sekali menjadi prajurit. Kemudian ternyata bahwa Kao Cin Liong telah membuat kemajuan pesat dalam bidang militer ini. Jasa-jasanya menumpas para pemberontak di perbatasan dan daerah-daerah sangat besar sehingga dalam usia muda dia sudah diangkat menjadi seorang jenderal, bahkan menjadi seorang kepercayaan Kaisar Kian Liong.

Suami isteri ini sudah lama sekali mendambakan seorang mantu dan seorang cucu, akan tetapi selalu putera mereka menolaknya kalau mereka menganjurkan dia agar segera menikah. Cin Liong mengemukakan alasan bahwa belum ada wanita yang menarik hatinya. Tentu saja suami isteri itu maklum akan kegagalan puteranya dalam jalinan asmara bersama seorang gadis yang bernama Bu Ci Sian sehingga putera mereka itu menjadi patah hati dan sampai berusia tiga puluh tahun kurang sedikit masih juga belum mempunyai seorang isteri.

Dan pada suatu hari, alangkah girang hati mereka ketika putera mereka itu datang mengunjungi mereka dan menyatakan bahwa putera mereka itu sudah memperoleh pilihan hati, saling mencinta dengan seorang gadis dan Cin Liong minta kepada mereka untuk mengajukan pinangan! Akan tetapi, dalam kegembiraan itu mereka merasa khawatir sekali ketika mendengar penjelasan Cin Liong siapa adanya gadis yang saling mencinta dengan putera mereka itu. Gadis itu puteri Suma Kian Lee!

“Aihhh....!” Wan Ceng setengah menjerit ketika mendengar keterangan puteranya itu, matanya terbelalak dan mukanya berubah. “Puteri.... paman Suma Kian Lee? Cin Liong, lupakah engkau siapa adanya Suma Kian Lee itu? Dia adalah paman kakekmu sendiri dan puterinya itu berarti masih bibimu sendiri!”

Cin Liong menarik napas panjang dan mengangguk. “Hal itu sepenuhnya telah kami sadari, ibu. Akan tetapi, ia jauh lebih muda dariku, baru berusia delapan belas tahun.”

“Tapi.... engkau tahu ia bibimu dan engkau masih nekat?” teriak Wan Ceng.

Cin Liong tersenyum menenangkan hati ibunya yang terguncang. “Bukan nekat, ibu. Aku jatuh cinta dengan bibi sendiri, itulah kenyataannya, dan ia pun cinta kepadaku. Hubungan keluarga antara kami sudah sangat jauh, kalau ada hubungan keluarga, itu pun hanya keluarga tiri saja, sudah berlainan nama keluarga.”

“Tapi.... tapi puteri paman Kian Lee...., ya Thian Yang Maha Kuasa!”

Sejak tadi Kao Kok Cu diam saja, hanya mendengarkan dan melihat isterinya mengeluh seperti itu. Dia pun memejamkan mata, teringat akan riwayat isterinya di waktu muda dahulu. Bukankah Suma Kian Lee pernah jatuh cinta kepada Wan Ceng? Dan setelah mengetahui bahwa Wan Ceng adalah keponakan sendiri, Suma Kian Lee mundur! Ini berarti bahwa Suma Kian Lee masih memegang teguh adat istiadat tentang larangan berjodoh antara keluarga sendiri!

“Tapi.... tapi.... bagaimana mungkin engkau menikah dengan bibimu sendiri, Cin Liong? Apakah sudah tidak ada lagi wanita di dunia ini yang pantas menjadi isterimu kecuali seorang bibimu?” Suara Wan Ceng terdengar seperti hampir menangis.

Cin Liong mengerutkan alisnya. “Ibu, harap jangan persoalkan itu karena kalau sekali ini aku gagal berjodoh dengan Hui-moi, selamanya aku tidak mau menikah! Aku tidak mau gagal sampai ketiga kalinya. Terserah kepada ayah dan ibu apakah suka melamarkan Suma Hui untukku atau tidak.” Suara pemuda itu tegas akan tetapi tidak mengandung kemarahan.

“Cin Liong, aku mengenal benar perangai ibumu dan ia bukan bermaksud menentang kehendakmu. Hanya aku tahu bahwa ibumu khawatir kalau-kalau pinangan itu ditolak oleh paman Suma Kian Lee yang kami tahu masih amat memegang teguh adat-istiadat kekeluargaan.”
“Benar apa yang dikatakan ayahmu, Cin Liong. Apakah orang tua gadis itu juga sudah menyetujui ikatan jodoh ini?”

Cin Liong menggeleng kepala. “Mereka belum tahu, jadi aku pun tidak dapat menduga bagaimana sikap mereka terhadap hubungan kami.”

“Aihhh.... kalau mereka belum menyetujuinya, bagaimana kami berani mengajukan pinangan? Anakku yang baik, sungguh aku merasa amat sungkan, baru menghadap dan meminang saja aku sudah merasa takut. Kalau sampai ditolak, akan kutaruh ke mana mukaku?” Wan Ceng berkata sambil mengepal tangan kanannya. Hatinya merasa bingung dan gelisah sekali. Rasa gelisahnya jauh lebih besar dari pada rasa gembira karena akhirnya putera mereka minta dilamarkan seorang gadis.

“Ibu, kalau tidak melamar lebih dahulu, mana mungkin kita bisa tahu apakah mereka itu setuju ataukah tidak? Pula, kenapa mesti takut mengajukan pinangan? Meminang anak gadis orang merupakan suatu hal yang terhormat dan menghormati keluarga gadis yang dilamar. Menerima atau menolak adalah hak mereka, seperti juga meminang adalah hak kita. Kalau ibu tidak berani melamarkan, apakah aku yang harus melamarnya sendiri?”

“Liong-ji, engkau tak boleh mendesak ibumu seperti itu!” Tiba-tiba Kao Kok Cu berkata, suaranya halus namun penuh wibawa dan Cin Liong merasa akan kesalahannya, maka dia pun cepat menghampiri ibunya dan berlutut.
“Ibu, maafkan aku....”

Wan Ceng cepat merangkulnya. “Aku tidak marah, anakku, hanya aku mengkhawatirkan perasaan hatimu kalau sampai kami ditolak.”
“Sudahlah, bagaimana pun juga, kita harus berani menghadapi kenyataan yang bagai mana pahit pun. Cin Liong, kapan kami harus berangkat ke Thian-cin untuk mengajukan pinangan itu?”
“Sebaiknya dua bulan mendatang, ayah. Aku akan kembali lebih dahulu ke kota raja dan kuharap ayah dan ibu suka singgah dulu di kota raja sebelum melanjutkan perjalanan ke Thian-cin.”

Demikianlah, dua bulan kemudian, suami isteri ini melakukan perjalanan ke selatan. Mereka singgah di kota raja, akan tetapi ternyata gedung Jenderal Muda Kao Cin Liong kosong dan menurut keterangan para pengawal, jenderal muda itu sedang melakukan tugas dan sudah beberapa pekan meninggalkan kota raja.

Seperti kita ketahui, Cin Liong pergi ke Thian-cin, kemudian terjadi peristiwa dia hampir dibunuh oleh kekasihnya. Dia kemudian berusaha mencari jejak Jai-hwa Siouw-ok, maka dia tidak sempat kembali ke kota raja sehingga gedungnya kosong ketika orang tuanya datang. Melihat betapa putera mereka tidak berada di rumah dan agaknya tentu sedang melaksanakan tugas penting, Kao Kok Cu dan Wan Ceng tidak lama berdiam di kota raja dan melanjutkan perjalanan mereka ke Thian-cin.

Pada sore hari itu, mereka memasuki pintu gerbang kota Thian-cin dan sepasang suami isteri yang gagah perkasa, dalam kesederhanaan mereka, masih saja menarik perhatian banyak orang yang hanya menduga-duga bahwa suami isteri itu tentulah pendekar-pendekar yang lihai. Ketika mereka mendengar sepasang suami isteri ini menanyakan di mana letak rumah keluarga Suma, dugaan bahwa mereka adalah pendekar-pendekar yang lihai lebih meyakinkan lagi.

Dengan mudah suami isteri ini dapat memperoleh keterangan tentang rumah keluarga Suma Kian Lee dan pada sore hari itu mereka sudah berada di pekarangan depan rumah keluarga Suma, disambut oleh seorang pelayan yang segera melapor ke dalam.

Tak lama kemudian, keluarlah keluarga Suma selengkapnya, yaitu Suma Kian Lee, Kim Hwee Li, Suma Hui dan Ciang Bun. Suma Kian Lee dan isterinya menyambut dengan ramah, sedangkan kedua orang anak mereka menyambut dengan sikap hormat walau pun dengan pandang matanya yang tajam Wan Ceng melihat betapa gadis kekasih puteranya itu, walau pun cantik dan gagah, namun sikapnya seperti orang marah atau galak. Juga Kao Kok Cu dapat melihat bahwa di balik keramahan sikap Suma Kian Lee, terdapat sinar mata yang tajam dan keras, maka diam-diam hatinya merasa tidak enak sekali. Hanya Kim Hwee Li seorang yang sikap ramahnya tidak dibuat-buat.....

“Aihh, Si Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya yang gagah perkasa! Angin baik dari manakah yang meniup kalian sampai terbang ke sini?” tegur Kim Hwee Li dengan gembira.

Suami isteri tamu itu memberi hormat kepada tuan rumah dengan menyebut ‘paman’ dan ‘bibi’.

“Perkenalkan, inilah anak-anak kami, Suma Hui dan Suma Ciang Bun. Anak-anak, ketahuilah bahwa yang datang ini adalah kakak-kakak kalian, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya yang terkenal itu.” Kim Hwee Li melanjutkan sambutannya. Suma Hui dan Ciang Bun segera memberi hormat selayaknya, dibalas pula oleh Kao Kok Cu dan isterinya.
“Silakan masuk, kita bicara di ruangan dalam,” Suma Kian Lee berkata, sikapnya ramah akan tetapi wajahnya dingin.

Suami isteri itu mengikuti mereka masuk ke dalam dan segera mereka semua duduk di ruangan tamu menghadapi meja yang panjang dan besar.

“Sungguh kami sekeluarga merasa gembira sekali melihat datangnya Kao-taihiap suami isteri dan kami mengucapkan selamat datang. Akan tetapi di samping kegembiraan itu, kami juga dipenuhi rasa heran karena kalau sampai Kao-taihiap meninggalkan Istana Gurun Pasir dan datang ke rumah kami, tentu ada keperluan yang sangat penting,” Suma Kian Lee memulai percakapan mereka, setelah pelayan datang menghidangkan minuman dan segera pergi lagi ke ruangan dalam.

Kao Kok Cu saling pandang dengan isterinya dan dalam pertemuan pandang mata ini mengertilah Wan Ceng bahwa suaminya minta agar dia saja yang bicara. Nyonya ini tersenyum memandang tuan rumah dan menilai betapa Kian Lee sekarang telah banyak berubah, lebih serius dan selain nampak agak tua juga agaknya kelembutannya yang biasa itu kini menyembunyikan kekerasan di baliknya. Maka, dengan hati-hati ia pun berkata.

“Kami datang untuk membicarakan suatu hal yang amat penting dengan paman dan bibi berdua, maka kami harap kedua adik ini....” Ia memandang kepada Suma Hui dan Suma Ciang Bun.
“Mereka adalah dua orang anak kami yang sudah dewasa. Tidak ada rahasia di antara keluarga kami, maka engkau boleh bicarakan kepentinganmu itu di depan mereka,” Kian Lee sengaja memotong kata-kata Wan Ceng karena dia sudah tahu kepentingan apa yang hendak dibicarakan itu.

Tiada lain tentu tentang perjodohan antara puterinya dan Cin Liong! Pelanggaran adat kekeluargaan ini saja sudah dianggapnya melanggar susila dan membuatnya marah. Maka, dia sengaja menahan anak-anaknya, terutama sekali Suma Hui, agar supaya ikut mendengarkan sehingga gadisnya itu akan sekaligus mendengar keputusannya yang tentu saja akan menolak keras.

Mendengar ucapan tuan rumah yang memotong itu, Wan Ceng dan suaminya kembali saling lirik. Sikap suaminya tetap tenang dan pandang mata suaminya mengisyaratkan agar dia melanjutkan bicaranya. Maka dari itu, setelah menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya, Wan Ceng melanjutkan.

“Sebenarnya, kedatangan kami berdua ini selain ingin berjumpa dan menengok karena sudah lama sekali tidak jumpa, juga ada keperluan penting yang menyangkut diri adik.... ehhh, Suma Hui ini.”

Sukar sekali rasanya menyebut ‘adik’ kepada seorang gadis yang akan dilamar menjadi mantunya.

“Tentu paman dan bibi sudah mengetahui akan adanya hubungan yang amat erat antara Suma Hui dan Cin Liong, putera tunggal kami….” Sampai di sini dia berhenti seperti kehabisan keberanian dan akal, bahkan kemudian menundukkan mukanya saat bertemu pandang mata dengan Suma Kian Lee dan melihat sepasang mata pamannya itu mencorong tanda kemarahan.

Melihat keadaan isterinya itu, hati Kao Kok Cu merasa tidak tega dan dia pun cepat menyambung keterangan isterinya, “Terus terang saja, betapa berat rasa hati kami untuk melaksanakan tugas ini, akan tetapi sebagai orang tua yang ditangisi anak, kami memberanikan diri menghadap paman dan bibi yang mulia untuk mengajukan pinangan atas diri Suma Hui untuk dijodohkan dengan anak kami Kao Cin Liong.”

“Tidak.... tidak pantas....!” Hanya itulah yang keluar dari mulut Suma Kian Lee, namun sudah lebih dari cukup apa yang dimaksudkan.

Kim Hwee Li yang lebih bebas dalam hal adat keluarga, dan lebih mementingkan hati puterinya, segera memperhalus sikap suaminya itu dengan kata-kata yang lunak.

“Kao-taihiap berdua tentu maklum betapa mengejutkan pinangan ini terdengar oleh suamiku. Puteri kami adalah adik kalian, berarti puteri kami adalah bibi putera kalian. Kalau mereka dijodohkan, apa akan kata orang-orang terhadap kita?”

Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Kami bukan tidak mengerti akan hal itu. Akan tetapi, sudah lama sekali kami membebaskan diri dari pendapat orang sedunia. Yang penting adalah benar bagi kami dan karena mereka berdua saling mencinta, maka kami memberanikan diri untuk meminang, hanya untuk melancarkan tali perjodohan yang telah mereka ikat sendiri. Harap paman dan bibi suka memaafkan dan memaklumi keadaan kami.”

“Brakkkk!”

Tiba-tiba Suma Kian Lee menggebrak meja, mukanya merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kemarahan. “Tidak! Ini penghinaan namanya!”

Pada saat itu, Suma Hui meloncat bangkit dari tempat duduknya. Mukanya merah sekali dan perubahan sudah terjadi pada dirinya sejak dua orang tamu tadi datang tanpa ada yang memperhatikannya. Ia seperti mengalami ketegangan yang makin lama semakin memuncak dan sekarang agaknya kemarahannya telah mencapai puncaknya dan ia tidak dapat menahannya lagi.

“Aku pun tidak sudi menikah dengan jahanam Kao Cin Liong! Penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa, aib ini harus dicuci dengan darahnya!”

Semua orang meloncat bangkit dari tempat duduk masing-masing dengan hati merasa kaget sekali. Bukan hanya Kao Kok Cu dan isterinya saja yang terkejut mendengar kata-kata itu, bahkan Suma Kian Lee, Kim Hwee Li dan juga Suma Ciang Bun sendiri merasa kaget sekali.

“Enci Hui....!” Suma Ciang Bun berteriak kaget.
“Hui-ji, sikapmu ini sungguh tidak patut!” Kim Hwee Li menegur puterinya.
“Hui-ji, engkau harus dapat mempertanggung jawabkan ucapanmu dan mengemukakan alasan mengapa engkau mengeluarkan pernyataan itu!” Suma Kian Lee juga terkejut sekali karena dia merasa yakin puterinya tidak akan mengeluarkan ucapan seperti itu kalau tidak ada alasannya yang kuat sekali.

“Dia.... dia telah menodaiku....!” Hanya sekian saja Suma Hui mampu bicara karena ia sudah menangis sesenggukan.
“Ahhhh....!” Seruan ini terdengar keluar dari semua orang yang hadir di situ, dan Kim Hwee Li sudah meloncat dan merangkul puterinya. Belum pernah ia melihat puterinya menangis sesedih ini.
“Anakku.... apakah yang telah terjadi....?” tanyanya penuh kegelisahan.
“Hui-ji, ucapanmu itu harus segera dijelaskan!” bentak Suma Kian Lee sambil mengepal sepasang tinjunya.

Ada pun Kao Kok Cu dan isterinya hanya saling pandang, akan tetapi wajah mereka pun berubah agak pucat karena tuduhan yang dilontarkan terhadap putera mereka itu terlalu hebat, terlalu keji!

Suma Hui menyembunyikan mukanya di dada ibunya. Ia mengerahkan tenaga melawan tangisnya, kemudian dengan isak tertahan ia bercerita.

“Malam itu aku sudah hampir tertidur ketika aku mencium bau harum. Aku sadar bahwa ada bau asap pembius, akan tetapi terlambat. Ketika aku meloncat bangun, kepalaku pening dan pada saat itu, ada orang menyerbu kamar dan aku ditotoknya. Kemudian.... aku.... aku tidak berdaya ketika dia memperkosaku....”
“Engkau tahu benar siapa pelakunya?” Suma Kian Lee bertanya, suaranya gemetar penuh nafsu amarah yang ditahan-tahan.
“Dia adalah jahanam Kao Cin Liong!”

Terdengar suara menggeram seperti seekor harimau dan sepasang mata Suma Kian Lee seperti mengeluarkan api ketika dia memandang kepada kedua orang tamunya. “Hemmmm, pantas Louw-kauwsu menuduhnya jai-hwa-cat dan menyerangnya sampai tewas di tangan keparat itu. Penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa!”

Wan Ceng melangkah maju menghadapi Suma Kian Lee. Semangatnya timbul seketika mendengar puteranya diancam. Mukanya menjadi merah, sikapnya penuh tantangan ketika dia berhadapan dengan Suma Kian Lee. “Bohong! Aku tak percaya! Tak mungkin puteraku melakukan perbuatan hina seperti itu.”

Menghadapi seorang wanita yang nampaknya juga marah sekali itu, Suma Kian Lee menjadi agak tercengang. Kalau saja yang menentangnya itu Kao Kok Cu, tentu sudah diserangnya, akan tetapi dia tidak mungkin mau menyerang seorang wanita, apalagi wanita itu Wan Ceng yang pernah menghuni dalam hatinya.

Akan tetapi Kim Hwee Li yang tadi merangkul anaknya, mendengar ucapan Wan Ceng itu, meloncat dan menghadapi wanita itu. “Keterangan anakku kau katakan bohong?” bentaknya marah.
“Kalau tidak bohong dia tentu salah lihat!” Wan Ceng membantah “Suma Hui, apakah engkau benar-benar berani sumpah melihat sendiri bahwa yang melakukan perbuatan terkutuk itu adalah Cin Liong?”
“Kamar gelap, aku tidak dapat melihat wajahnya, tetapi suaranya.... dan bicaranya.... dia adalah Kao Cin Liong, tak salah lagi.”

“Fitnah....!” Wan Ceng membentak.
“Wan Ceng! Kao Kok Cu! Kalian dua orang tua yang tidak tahu malu, tidak becus mendidik anak, sehingga melakukan perbuatan hina terhadap anak kami yang malang, dan sekarang kalian malah hendak menuduh anakku membohong? Untuk apa anakku membohong? Sungguh tidak tahu malu!” Kim Hwee Li marah sekali dan dia sudah menerjang maju untuk menampar muka Wan Ceng.

Akan tetapi, wanita ini tentu saja tidak mau ditampar dan cepat ia pun sudah menangkis dan membalas dengan menampar pula.

“Dukkk....! Wuiiitttt!”

Balasan tamparan itu luput karena dielakkan oleh Kim Hwee Li dan tumbukan kedua lengan mereka itu membuat keduanya terdorong ke belakang. Kim Hwee Li sudah menerjang lagi, kini mengirim pukulan-pukulan berantai yang dahsyat. Namun lawannya bukanlah seorang wanita biasa. Isteri dari Naga Sakti Gurun Pasir itu dapat mengelak, menangkis bahkan membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Kim Hwee Li kehilangan lawannya. Kiranya tubuh Wan Ceng telah disambar oleh suaminya dan dibawa keluar lapangan perkelahian itu dan kini pendekar lengan satu itu menjura dengan sikap tenang.

“Segala urusan dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah. Menggunakan kekerasan bukanlah jalan baik untuk mengatasi persoalan. Kami berdua datang karena tidak mengetahui adanya persoalan itu, kalau kami tahu tak mungkin kami berani datang sebelum membikin terang persoalan ini. Juga agaknya kedua paman dan bibi baru tahu sekarang. Tidak mungkin putera kami melakukan perbuatan tidak senonoh itu, juga agaknya tidak mungkin kalau puteri paman berdua bicara bohong. Oleh karena itu, tentu ada apa-apa di balik semua ini, rahasia inilah yang harus diselidiki dan dipecahkan.”

Melihat sikap pendekar sakti itu yang mengalah, sabar dan tenang, Suma Kian Lee juga menahan dirinya, walau pun hatinya sudah terbakar oleh pengakuan puterinya bahwa puterinya telah diperkosa oleh Cin Liong.

“Kalian sebagai orang tua tentu dapat merasakan bagaimana hebatnya penderitaan kami mendengar pengakuan puteri kami. Tepat seperti dikatakan puteri kami tadi, penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa, aib ini harus dicuci dengan darah!”

“Hemm, paman Suma Kian Lee. Kao Cin Liong masih mempunyai ayah ibu, dan kami sebagai orang tuanya berani mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Akan tetapi benarkah dia melakukan perbuatan itu? Hal ini yang harus kami selidiki lebih dahulu. Kalau memang benar putera kami yang melakukan perbuatan biadab itu, kami berani mempertanggung jawabkannya dan kami yang akan menghukumnya.” Berkata demikian, pendekar berlengan satu ini saling pandang dengan isterinya dan wajah keduanya menjadi merah.

Teringatlah oleh pendekar ini betapa dahulu, di waktu mudanya, karena rangsangan racun, dia sendiri pun melakukan pemerkosaan atas diri Wan Ceng yang kini menjadi isterinya. Apakah ada sesuatu yang mendorong putera mereka melakukan perbuatan yang sama? Apakah ini hukum karma? Ataukah ada hal-hal yang serba rahasia di balik ini? Bagaimana pun juga, mereka menjadi prihatin sekali.

Setelah menjura ke arah fihak tuan rumah tanpa dibalas, Kao Kok Cu segera menarik lengan isterinya yang masih marah-marah itu dan meninggalkan rumah keluarga Suma. Betapa jauh bedanya dengan ketika mereka datang tadi. Tadi mereka datang dengan gembira dan dengan hati mengandung penuh harapan. Kini mereka pergi dengan hati sedih, penasaran dan juga marah.

Setelah kedua orang itu pergi, Suma Hui kemudian menangis dan menjambak-jambak rambutnya sendiri. “Aku akan membunuhnya.... aku akan membunuhnya....!”

Hatinya hancur berkeping-keping. Ia mencinta Cin Liong, bahkan sampai saat itu pun ia tak dapat melupakan pemuda itu. Akan tetapi, pemuda itu telah menghancurkan semua harapan dan kebahagiaannya dengan perbuatan yang keji itu!
Kim Hwee Li bisa merasakan kehancuran hati anaknya, maka ibu ini pun merangkulnya sambil menangis pula.

Suma Kian Lee terduduk dengan muka pucat dan tubuh lemas. Tak disangkanya telah terjadi mala petaka seperti itu! Kini jelas tak mungkin puterinya menjadi jodoh Cin Liong yang masih keponakan puterinya sendiri itu. Akan tetapi, bagaimana mungkin pula puterinya dapat melanjutkan perjodohannya dengan Tek Ciang setelah dirinya ternoda? Bagaimana dia dapat menyampaikan hal itu kepada pemuda itu? Dan bagaimana pula kalau Tek Ciang menolak? Dia merasa pening memikirkan hal ini dan hatinya semakin jengkel melihat isteri dan puterinya bertangisan.

“Kalau kalian hendak bertangisan, ajaklah ia ke kamarnya dan biarkan aku sendiri di sini. Ciang Bun, keluarlah engkau!” kata pendekar itu dengan wajah lesu.

Kim Hwee Li tahu bahwa suaminya sedang menahan nafsu amarah yang menggelora, maka ia pun lalu menuntun puterinya masuk ke kamar Suma Hui di mana gadis itu melempar diri di atas pembaringan dan menangis sesenggukan, dipeluk oleh ibunya. Sedangkan Ciang Bun, dengan tubuh terasa lesu, pergi ke taman belakang di mana dia melihat Tek Ciang duduk termenung seorang diri.

Dia menahan langkahnya dan memandang pemuda itu dari belakang. Sampai sejauh manakah pengetahuan Tek Ciang tentang enci-nya itu? Bukankah ketika ayah ibunya pergi mencarinya, di rumah ini hanya ada enci-nya, pelayan dan Tek Ciang? Tentu pemuda yang menjadi suheng-nya itu tahu, atau setidaknya mengetahui hal-hal yang ada hubungannya dengan peristiwa itu.

Dia sendiri masih belum dapat percaya begitu saja bahwa Cin Liong telah melakukan hal yang sedemikian rendahnya. Memperkosa enci-nya! Dia mengenal betul jenderal muda itu. Seorang pendekar yang gagah perkasa, yang telah mati-matian membela Pulau Es, bahkan telah menyelamatkan enci-nya dari mala petaka pada saat enci-nya dilarikan oleh penjahat keji Jai-hwa Siauw-ok. Mana mungkin kalau kemudian Cin Liong sendiri yang memperkosa enci-nya?

Akan tetapi, dia pun tahu bahwa enci-nya adalah seorang yang keras hati dan jujur, yang sampai mati rasanya tidak akan mau membohong. Kalau enci-nya mengatakan dengan yakin bahwa pemerkosanya adalah Cin Liong, maka hal itu pun sukar untuk diragukan lagi. Sungguh membingungkan!

Tek Ciang agaknya merasa akan kedatangannya, karena pemuda itu menoleh dan begitu melihat Suma Ciang Bun, dia bangkit dari bangku taman. “Ahhh, sute, apakah tamunya sudah pulang?”

Ciang Bun masih termenung dan hanya mengangguk.

“Siapakah tamunya, sute?”
“Tamunya adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya. Mereka datang untuk meminang enci Hui!” Suma Ciang Bun berkata dengan tegas sambil menatap wajah suheng-nya dengan tajam. “Mereka meminang enci Hui untuk dijodohkan dengan Cin Liong.”
“Ahhh....!” Pemuda itu nampak terkejut akan tetapi tidak berkata apa-apa, hanya alisnya berkerut tanda bahwa hatinya tidak senang.

Ciang Bun mengerti bahwa tentu suheng-nya ini tak suka kepada Cin Liong karena Cin Liong telah menyebabkan kematian ayahnya. Ciang Bun lalu menghampiri suheng-nya. “Suheng, mari kita duduk, aku ingin bicara denganmu.”

Tek Ciang duduk kembali. Mereka duduk berdampingan dan Tek Ciang memandang wajah sute-nya dengan heran. “Bicara apakah, sute?”
“Tentang.... Cin Liong!”
“Ada apa dengan.... dengan Kao-taihiap?”
“Dia telah membunuh ayahmu, bukan? Apakah engkau telah bicara dengan dia setelah peristiwa matinya ayahmu?”

Pemuda itu menarik napas panjang, nampak sedih. “Sudah, dan Kao-taihiap mengakui telah berkelahi dengan mendiang ayah. Dia diserang oleh ayah dan dia hanya membela diri saja. Tentu saja ayah bukan tandingan Kao-taihiap dan.... dan menurut keterangan Kao-taihiap, ayah.... membunuh diri setelah kalah.”

“Engkau percaya akan keterangan itu?”
“Bagaimana tidak? Dia adalah seorang pendekar sakti, seorang jenderal malah.”
“Engkau tidak mendendam?”

Tek Ciang nampak bingung. “Tentu saja aku berduka sekali karena kematian ayah, tapi aku pun tidak dapat menyalahkan Kao-taihiap karena dia lebih dahulu diserang oleh ayah, yang menyangkanya seorang jai-hwa-cat yang berkeliaran di kota ini.”

“Apakah engkau percaya bahwa Cin Liong pantas menjadi jai-hwa-cat, suheng?”
“Apa....? Ahhh, entahlah, sute, aku menjadi bingung....”

Hening sejenak. Suma Ciang Bun memutar otak, bagaimana untuk dapat membongkar rahasia terpendam yang mungkin diketahui oleh suheng-nya ini. Sedangkan Tek Ciang bersikap waspada, kini tidak gugup lagi dan dia sudah bersiap-siap untuk menghadapi semua pertanyaan sute-nya.

“Louw-suheng, dahulu sebelum kami pulang, engkau seoranglah yang menemani enci Hui di rumah. Maukah engkau menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya?”

Diam-diam Tek Ciang terkejut dan dia memandang kepada sute-nya yang masih remaja dan yang sikapnya halus itu dengan curiga di hati. Akan tetapi dia mengangguk tanpa menjawab.

“Suheng, apakah engkau melihat terjadinya sesuatu yang aneh antara enci Hui dan Cin Liong?”
“Sesuatu yang aneh? Apakah yang kau maksudkan, sute?”
“Ketika Cin Liong datang berkunjung ke sini, bagaimanakah hubungan antara mereka?”
“Baik sekali! Mereka kelihatan akrab sekali, dan sikap Kao-taihiap amat manis.”
“Suheng, kenana engkau menyebutnya Kao-taihiap? Tidak tahukah engkau bahwa dia adalah keponakanku? Jadi dapat disebut murid keponakanmu juga!”

Wajah Tek Ciang menjadi merah dan dia tersenyum. “Ahhh, bagaimana mungkin aku berani menyebutnya sebagai keponakan apalagi murid keponakan? Usianya lebih tua dariku dan ilmu kepandaiannya jauh melebihi aku.”

“Dan dia sendiri menyebut apa padamu, suheng?”
“Itulah yang membuat hatiku tidak enak sekali, sute. Dia menyebut susiok kepadaku!” Tek Ciang tersenyum malu-malu dan Ciang Bun terpaksa tertawa juga.

Memang aneh kalau seorang pendekar sakti seperti Cin Liong itu menyebut susiok (paman guru) kepada Tek Ciang. Sungguh merupakan keadaan yang terbalik, melihat usianya mau pun tingkat kepandaiannya.

“Sekarang harap kau jawab sebenarnya, suheng. Pernahkah engkau melihat mereka bertengkar?”

Ditanya demikian, Tek Ciang menjadi ragu-ragu dan agaknya merasa sungkan sekali untuk menjawab. Hal ini memang disengaja sehingga dia nampak seolah-olah merasa tidak enak hati kalau harus menceritakan sesuatu yang hendak dirahasiakan. Ciang Bun yang masih hijau dalam hal menilai sikap orang tentu saja menjadi tertarik.

“Suheng, katakanlah. Engkau sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Kalau ada terjadi sesuatu, sepatutnya kalau suheng berterus terang kepada kami. Kalau suheng tak berani bicara langsung kepada ayah, katakanlah saja kepadaku dan aku yang akan menyampaikan kepada ayah. Apakah pernah terjadi pertengkaran antara enci Hui dan Cin Liong?”

Tek Ciang menarik napas panjang sebelum menjawab, seolah-olah dia terpaksa untuk bicara. “Apa boleh buat, mungkin engkau benar, sute, bahwa aku harus menceritakan segala yang kuketahui. Sesungguhnyalah, aku pernah melihat mereka berkelahi!”

“Berkelahi?”
“Sebenarnya bukan berkelahi, tetapi sumoi yang menyerang Kao-taihiap mati-matian dengan pedangnya, dan Kao-taihiap hanya menghindarkan semua serangan itu. Terjadi pada pagi hari dan akhirnya Kao-taihiap melarikan diri dan dikejar oleh sumoi. Aku mencoba melerai, akan tetapi dengan kepandaianku yang tidak seberapa, aku dapat berbuat apa? Tak lama kemudian sumoi kembali dan agaknya ia tak berhasil menyusul Kao-taihiap yang amat lihai itu.”
“Hemm, begitukah? Apakah enci Hui menyerang sungguh-sungguh? Ataukah hanya main-main saja ataukah hanya untuk menguji?”
“Kurasa sungguh-sungguh, sute, karena aku melihat sumoi marah sekali dan benar-benar ia bermaksud hendak membunuh Kao-taihiap.”
“Hemm, sungguh aneh. Kenapa enci Hui marah-marah dan hendak membunuhnya?”

Tek Ciang menggeleng kepala dan wajahnya kelihatan seperti orang menyesal dan ikut bersedih. “Aku tidak tahu mengapa, sute. Pada waktu aku bertanya, sumoi juga tidak mau menceritakan.”
“Apakah tidak terjadi sesuatu di rumah ini pada malam hari sebelumnya?”

Tek Ciang menggeleng kepala.

“Malam itu engkau berada di mana, suheng?”
“Aku? Ahh, aku meronda keliling kota. Aku hendak menyelidiki jai-hwa-cat yang tadinya dicari-cari oleh mendiang ayah. Dan aku sempat melihat Kao-taihiap berkelahi melawan seorang yang amat lihai. Mereka sama-sama lihai sehingga aku yang menonton dari tempat persembunyian tak dapat membedakan mana Kao-taihiap dan mana lawannya. Akhirnya mereka berkejaran dengan amat cepat. Aku ikut mengejar, tapi tertinggal jauh dan malam itu aku mencari-cari tanpa hasil. Menjelang pagi baru aku pulang. Hanya itulah yang kuketahui, sute. Akan tetapi, sute bertanya-tanya ini, sebenarnya ada terjadi apakah? Aku sendiri pun bertanya-tanya dalam hati mengapa sumoi begitu membenci Kao-taihiap dan hendak membunuhnya, padahal tadinya hubungan mereka sedemikian akrabnya?”

Kini Ciang Bun yang menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. “Tidak tahulah, suheng, tidak tahulah....” dan pemuda remaja ini pun meninggalkan suheng-nya dengan hati yang tidak puas.

Semua keterangan Tek Ciang itu tidak membuat terang persoalan. Benarkah Cin Liong melakukan perbuatan yang demikian keji, memperkosa enci-nya? Kemudian setelah mereka kembali bertemu pagi itu, enci-nya lalu mati-matian menyerangnya? Dia menjadi bingung sendiri dan mengepal tinju kalau mengingat akan nasib enci-nya yang malang.

********************
Selanjutnya baca
KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger