logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Suling Emas Naga Siluman Jilid 05


Sudah terlalu lama kita meninggalkan Kam Hong bersama Bu Ci Sian yang terasing dari dunia sekitarnya karena terdampar ke ‘pulau’ yang merupakan gunung diselimuti es yang terkurung jurang-jurang yang amat curam sehingga tidak memungkinkan mereka keluar dari ‘pulau’ itu!

Biar pun dia terkurung di tempat itu, namun Kam Hong tidak merasa kesal. Pertama, kakinya yang patah tulangnya itu memerlukan waktu untuk sembuh sehingga andai kata tidak terkurung dan terasing pun, dia toh tidak dapat pergi ke mana pun dan perlu berisirahat dan menghimpun kekuatan untuk mempercepat pertumbuhan tulangnya yang patah. Selain itu, semenjak dia menemukan ilmu dari catatan di tubuh jenazah kakek kuno itu, Kam Hong dengan amat tekunnya melatih diri. Setiap hari dia berlatih meniup suling!
Memang sungguh luar biasa kalau dipikir betapa sejak kecil Kam Hong sudah pandai sekali meniup suling. Akan tetapi dia meniup suling untuk berlagu merdu dan sekali ini dia belajar meniup suling dengan cara yang lain sama sekali! Kini dia belajar meniup suling sebagai cara untuk berlatih agar dia bisa mencapai tingkat yang amat tinggi dalam ilmu sinkang dan khikang!

Dia berlatih menurut petunjuk dalam catatan yang dibuat oleh Ci Sian itu, dan karena catatan itu merupakan huruf-huruf kuno yang ditiru oleh Ci Sian yang kadang-kadang hanya mencontoh saja tanpa tahu artinya, maka sebelum melatih diri dia harus lebih dulu meneliti apa yang menjadi isi dan maksud dari catatan-catatan itu. Dan setelah dia melatih diri, barulah dia tahu bahwa ilmu itu bukanlah ilmu sembarangan dan amat sukar untuk dapat meniup suling seperti yang dimaksudkan oleh nenek moyang Suling Emas yang asli itu!

Ketika terjadi pertempuran antara Yeti dan para orang kang-ouw di puncak yang berada di seberang sana, dari jauh Kam Hong dapat melihat peristiwa itu. Tentu saja hatinya ingin sekali untuk menghampiri dan menonton pertempuran dahsyat itu, akan tetapi kakinya dan tempat di mana dia berada tidak memungkinkan hal itu, maka dia hanya dapat melihat dari jauh dan tidak tahu siapa yang bertempur itu dan apa yang terjadi kemudian karena tak lama setelah pertempuran itu, orang-orang yang nampak di atas puncak di seberang itu pun menghilang. Tentu saja dia tidak melihat betapa orang-orang kang-ouw itu disambut oleh penghuni Lembah Suling Emas.

Dengan tekun sekali sehingga lupa akan keadaan dirinya yang berada di tempat terasing itu, Kam Hong terus belajar menyuling. Hal ini tentu saja jauh bedanya dengan keadaan Bu Ci Sian. Dara cilik ini setiap hari murung saja karena merasa kesal! Bagaimana dia tidak menjadi kesal? Berada di tempat terasing itu, setiap hari hanya makan panggang daging burung dan hanya kadang-kadang saja dia dapat menangkap binatang kelinci yang sebenarnya adalah tikus salju. Siapa tidak akan menjadi bosan?

Akan tetapi kekesalannya itu segera berubah ketika dia mulai menerima petunjuk dari Kam Hong yang mulai mengajarnya dengan ilmu-ilmu silat atau dasar-dasar ilmu silat tinggi dan ternyata Ci Sian merupakan seorang murid yang cerdas dan juga berbakat. Demikianlah, dua orang itu melewatkan waktu dan mengusir kekesalan dengan berlatih ilmu. Hanya suara suling yang itu-itu saja, tanpa melagu, hanya tuat-tuit kadang-kadang panjang kadang-kadang pendek itu kadang-kadang menimbulkan kebosanan pada Ci Sian dan kalau sudah begitu dia lalu murung dan tidak mau berlatih, kadang-kadang marah. Baru setelah Kam Hong menghiburnya dengan kata-kata manis kemarahannya berkurang kemudian lenyap lagi.

“Paman Kam Hong, aku pernah mendengar engkau meniup suling itu dengan lagu yang amat merdu dan indah menyenangkan, mengapa sekarang setelah engkau mempelajari catatan-catatan dari kakek pelawak itu engkau sekarang belajar menyuling seburuk itu? Hanya tuat-tuit menulikan telinga saja!” Pernah Ci Sian menegur Kam Hong yang lagi meniup suling emasnya.

Kam Hong tersenyum. “Ahh, engkau tidak tahu, Ci Sian, Kelihatannya saja aku belajar meniup suling, akan tetapi sesungguhnya ini merupakan pelajaran latihan sinkang dan khikang yang paling tinggi tingkatnya!”

“Aihhh....!” Anak perempuan itu memandang dengan mata terbelalak dan diam-diam Kam Hong harus mengakui bahwa selama hidupnya belum pernah dia melihat mata seindah itu! “Kalau begitu, kau ajarilah aku meniup suling seperti itu, Paman! Ingat, aku pun membantumu mencatat pelajaran itu, aku berhak mempelajarinya!”

Kam Hong tersenyum dan mengangguk. “Jangan khawatir Ci Sian. Memang kita berdua yang menemukan jenazah dan pelajaran itu. Akan tetapi ketahuilah, pelajaran meniup suling ini sama sekali tidaklah mudah, tetapi merupakan latihan sinkang dan khikang tingkat tinggi. Engkau tidak akan mungkin dapat melatihnya sebelum memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat. Maka, biarlah kini kuajarkan engkau latihan sinkang melalui siulian dan kelak, kalau engkau sudah kuat, aku mau memberimu pelajaran dari catatan ini.”

Dan Ci Sian mulai melatih dengan menghimpun tenaga sinkang seperti yang diajarkan oleh Kam Hong. Dengan latihan-latihan ini setiap hari maka sang waktu lewat tanpa terlalu menimbulkan kejemuan biar pun mereka setiap hari harus makan daging burung dan tikus!

Tiga bulan lewat dengan cepatnya dan setelah tiga bulan, Kam Hong yang sudah memiliki tenaga sinkang yang amat kuat itu, yang sukar dicari bandingnya, ternyata baru mampu berlatih meniup suling dengan satu lubang saja. Baru tingkat permulaan dari latihan menurut catatan itu! Betapa pun juga, giranglah hati Kam Hong karena biar pun baru mencapai tingkat permulaan, ternyata kini sinkang-nya sudah bertambah kuat, jauh lebih maju dibandingkan dengan sebelum dia berlatih meniup suling.

Pada suatu pagi, selagi dia asyik berlatih meniup suling, dia mendengar jerit panjang yang mendirikan bulu romanya, karena dia mengenal suara itu adalah suara Ci Sian! Suara jerit mengerikan seolah-olah dara itu berada dalam ancaman bahaya besar dan dalam keadaan ketakutan. Dengan hati penuh kekhawatiran, sekali menggerakkan tubuh, Kam Hong telah meloncat jauh dari tempat duduknya ke arah suara itu dan berlarilah dia secepatnya.

Kini kakinya telah sembuh dan tulang yang patah telah tersambung kembali. Biar pun telah sembuh selama beberapa hari, namun biasanya dia masih amat berhati-hati kalau berjalan. Akan tetapi pada saat itu, begitu mendengar jerit suara Ci Sian, dia lupa akan kakinya dan berlari secepatnya dan ternyata bahwa kakinya yang patah tulangnya itu kini telah benar-benar sembuh sama sekali.

Akan tetapi, ke mana pun Kam Hong lari dan mencari, dia tidak melihat dara itu! Padahal tadi jeritnya terdengar jelas di tepi sebelah barat dari bukit atau pulau terpencil terkurung jurang itu! Berlarilah Kam Hong ke sana ke mari, mengelilingi sepanjang tepi jurang. Dan mulailah dia merasa gelisah sekali.

“Ci Sian....!” Dia memanggil dan terkejutlah dia karena di dalam suaranya itu terkandung tenaga khikang yang amat hebat sehingga suaranya menggetarkan seluruh permukaan bukit es itu. Tak disangkanya bahwa latihan selama tiga bulan meniup suling itu telah mendatangkan tenaga yang demikian kuatnya, padahal dia baru saja dapat menutup sebuah lubang dari suling itu yang berlubang enam buah. Akan tetapi kenyataan yang menggirangkan ini tak terasa oleh hatinya yang penuh dengan kekhawatiran tentang Ci Sian.
“Ci Sian, di mana engkau....?!” Dia berlari-lari lagi, kini sambil berteriak-teriak memanggil nama dara itu. Namun hasilnya sia-sia belaka. Ci Sian lenyap dari tempat itu, seolah-olah ditelan bumi.

Mengingat hal ini, tersirap darah Kam Hong dan wajahnya berubah pucat. Ditelan bumi ataukah ditelan jurang yang mengerikan itu? Jantungnya bagai ditusuk rasanya. Apakah Ci Sian tergelincir dan jatuh ke dalam jurang yang sedemikian curamnya sehingga tidak nampak dasarnya dari atas itu? Kalau begitu halnya, tidak mungkin gadis cilik itu tertolong nyawanya!

“Ci Sian....!” Dia mengeluh dan memejamkan mata, hendak mengusir bayangan yang demikian mengerikan, bayangan Ci Sian terjungkal ke dalam jurang dan mengalami kematian menyedihkan jauh di bawah sana. Dan dia pun bertekad untuk menyelidiki dan mencarinya. Kakinya sudah sembuh benar, dia hendak mencoba untuk mencari jalan, kalau perlu menuruni jurang yang curam sekali itu!

Ke manakah perginya Ci Sian?
Kekhawatiran dalam hati Kam Hong memang benar, dan mala petaka menimpa dara itu seperti yang dibayangkannya. Ketika Kam Hong sedang berlatih meniup suling, seperti biasa Ci Sian mencari burung untuk ditangkap dan dijadikan sarapan pagi mereka. Ketika dia melihat seekor burung putih seperti burung dara di antara kelompok burung yang biasa, timbul keinginannya untuk menangkap burung itu. Tentu rasa dagingnya lain, pikirnya. Akan tetapi burung putih itu gesit sekali. Beberapa kali disambitnya burung itu dapat mengelak dan berpindah-pindah tempat.

Ci Sian terus mengejarnya dan akhirnya, ketika burung itu melayang turun di tepi jurang, dia menyambitnya dengan batu dan berhasil! Ci Sian bersorak girang dan berlari-lari menghampiri, akan tetapi alangkah kecewa hatinya melihat burung itu tergelincir dari atas tebing. Dia menjenguk dan melihat bangkai burung itu kurang lebih dua meter dari tebing, tertahan oleh batu besar di dinding tebing. Burung itu telah mati, angin gunung membuat bulu dada burung itu bergerak-gerak tersingkap memperlihatkan kulit dada yang putih dan mulus, montok dan berdaging menimbulkan selera Ci Sian.

Hanya dua meter dan di situ ada batu besar menahan, pikirnya. Batu itu tentu akan cukup kuat menahanku, pikirnya dan dengan nekad karena dia terangsang oleh daging burung itu, Ci Sian lalu merayap turun dari tepi tebing yang amat curam itu. Dia merosot dan berhasil menginjak batu besar itu, lalu mengambil burung yang gemuk itu dengan girang. Burung itu masih hangat dan enak sekali terasa di telapak tangan.

Akan tetapi, tiba-tiba batu besar yang menahan tubuhnya itu bergerak. Ci Sian terkejut bukan main dan sebelum dia dapat memanjat naik, batu itu telah runtuh dan membawa tubuhnya bersama-sama melayang ke bawah! Ci Sian mengeluarkan jerit melengking yang terdengar oleh Kam Hong tadi, akan tetapi sebentar saja tubuhnya sudah ditelan oleh udara yang tertutup kabut tebal, terus melayang ke bawah menyusul batu di bawahnya. Batu itu menimpa dinding tebing dan terlempar jauh ke kiri, akan tetapi tubuh Ci Sian untung sekali tidak melanggar tebing dan terus meluncur ke bawah. Dara itu pingsan!

Ketika Ci Sian siuman dan membuka matanya dia segera teringat akan peristiwa tadi. Dia masih memejamkan mata dan menggerakkan kedua tangan meraba-raba tubuhnya yang terbungkus mantel tebal. Ahh, masih utuh! Kiranya semua itu tadi hanya mimpi, pikirnya dengan girang dan juga geli. Dia telah bermimpi jatuh ke dalam jurang!
Ci Sian membuka kedua matanya dan seketika dia terloncat bangun saking heran dan kagetnya. Dia tidak lagi berada di dalam goa di mana biasa dia tidur! Dia berada di tempat lain! Tempat yang seperti sebuah istana es! Banyak terdapat batu-batu runcing tergantung dari atas dan juga batu-batu runcing terbungkus es, putih berkilauan seperti jamur-jamur aneh tumbuh dari tanah yang tertutup salju. Dia berada di sebuah goa yang lain, di mulut goa yang aneh sekali.

Ci Sian bangkit berdiri dan ketika dia memutar tubuh ke arah goa, hampir dia berteriak saking kagetnya. Di mulut goa itu, yang tadi seperti kosong, kini sudah nampak seorang kakek duduk di atas batu bulat. Kakek yang tubuhnya telanjang, hanya bercawat saja. Hawa begitu dinginnya namun kakek itu telanjang dari kepalanya yang gundul kelimis sampai ke kakinya yang mekar seperti kaki bebek! Dan dari kepala gundul yang besar itu nampak uap mengepul! Lebih mengerikan lagi, seluruh tubuh kakek itu, dari leher sampai ke pinggang, lengan dan kaki, dibelit-belit oleh seekor ular yang amat panjang dan besar, perutnya sebesar paha kakek itu!

Ci Sian makin mengkirik kegelian melihat ular yang panjang besar itu, dan dia merasa gentar dan ngeri saat melihat kakek yang kurus tinggi dengan hidung besar mancung melengkung itu. Pasti seorang kakek bangsa asing, melihat bentuk mukanya yang kurus dengan alis yang sangat lebat, mata lebar tajam sekali, hidung seperti paruh burung kakatua, telinga lebar yang dihias anting-anting, dan kumis jenggot yang tak terpelihara, kulit mukanya yang kehitaman mengkilap.

Melihat dara remaja itu ketakutan, tiba-tiba kakek itu berkata, suaranya lembut akan tetapi dengan logat yang aneh dan asing. “Jangan takut, anak baik, ular inilah yang menyelamatkan engkau ketika jatuh dari sana tadi.”

“Jatuh....? Dari atas....?” Ci Sian berkata dengan mata terbelalak memandang ke atas, ke arah tebing tinggi yang puncaknya tak nampak dari bawah, tertutup awan atau kabut.
“Ya, engkau jatuh dari atas sana.”

Jadi, kalau begitu ini bukan mimpi! Dia benar-benar sudah jatuh dari atas. Dia lalu memandang ke kanan kiri dan mencari-cari. Ketika dia melihat bangkai burung putih menggeletak tak jauh dari situ, dia meloncat dan diambilnya bangkai burung itu. Benar! Inilah bangkai burung yang menjadi biang keladi sampai dia terjatuh ke dalam jurang! Ci Sian membuang burung itu, lalu dia melangkah maju mendekati kakek aneh itu, kini tidak takut lagi.

“Aku hendak menangkap burung itu dan tergelincir jatuh ke dalam jurang. Jadi ular itukah yang menyelamatkan aku? Bagaimana mungkin?” Dia berkata, tidak percaya bahwa seekor ular, betapa pun panjang dan besarnya, mampu menyelamatkannya yang terjatuh dari tempat sedemikian tingginya.

“Anak baik, engkau tidak tahu lihainya ular salju kembang ini! Dia bergantung pada batu di dinding tebing dengan membelitkan ekornya, kemudian dengan seluruh tubuhnya dia menerima tubuhmu dan membelitmu sehingga dengan demikian engkau terhindar dari bencana maut! Lihat, kulit-kulit pada ekornya masih rusak dan luka-luka karena tertarik oleh tenaga luncurannya ketika dia menahanmu.”

Ci Sian mendekat dan benar saja. Kulit pada sekitar ekor ke atas itu lecet-lecet dan berdarah, tetapi telah diberi obat oleh kakek itu dan mengering. Ular itu ketika melihat Ci Sian mendekat lalu menjilat-jilatkan lidahnya seperti seekor anjing yang jinak. Lenyaplah rasa takut dan jijik dari Ci Sian ketika mendengar betapa ular itu telah menolongnya dan melihat betapa ular itu jinak sekali.

“Ah, kalau begitu aku berhutang budi kepada ular ini dan kepadamu, Kek!” katanya dan wajahnya berseri.

Kakek itu menggeleng kepala. “Tidak ada hutang-piutang budi. Semua terjadi secara kebetulan. Semua ada yang menggerakkan dan kita hanyalah pelaku-pelaku belaka! Kalau tidak begitu mengapa kebetulan sekali ular ini melingkar di tempat engkau akan jatuh lewat, dan kebetulan sekali dapat menangkapmu dengan tepat, dan kebetulan sekali ular itu adalah ular sahabatku sehingga kebetulan pula engkau dapat bertemu dengan aku dan menggugahku dari semedhiku? Bukankah semua kebetulan ini sudah diatur? Hanya kita yang bermata ini selamanya seperti orang buta saja.”

Ci Sian tidak begitu mengerti akan kata-kata itu yang selain terlalu tinggi untuknya juga dikeluarkan dengan logat yang kaku dan asing. Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek yang duduk bersila di atas batu itu sambil berkata, “Aku menghaturkan terima kasih kepada ularmu itu dan kepadamu, Kakek yang baik.”

Kakek itu tersenyum dan nampak mulutnya yang ompong tidak ada giginya sepotong pun. “Siapakah engkau, Nona dan apa sebabnya engkau sampai terjatuh dari atas sana?”

“Namaku Bu Ci Sian, Kek, dan sudah kukatakan tadi, aku tergelincir dari atas sana ketika hendak menangkap burung putih keparat itu!”
“Ho-ho, engkau sudah mewarisi kekejaman manusia Bu Ci Sian. Engkau membunuh burung itu untuk kau makan dagingnya, kemudian setelah membunuhnya kau hendak mengambil bangkainya lalu terjatuh, dan engkau memaki-maki burung yang sudah kau bunuh itu!”

Akan tetapi Ci Sian tidak mempedulikan celaan ini dan dia berkata. “Di atas sana masih ada Pamanku, Kek. Bagaimana aku dapat naik ke sana, kembali kepada Pamanku?”

“Ahhh, yang suka meniup suling itu?”
“Hei, bagaimana engkau bisa tahu, Kek?”
“Aku dapat mendengar getaran suara sulingnya dalam semedhiku. Dia berkepandaian hebat!”
“Benar dia, Kek! Dia adalah Paman Kam, dan aku ingin kembali ke sana.”

Kakek itu menggeleng kepala. “Tak mungkin naik ke sana. Sama sukarnya seperti naik ke langit saja. Salju dan es longsor telah membuat bukit itu terasing, terkurung jurang. Dan Pamanmu itu, betapa pun lihainya dia, jika dia tidak memiliki sayap untuk terbang, selamanya dia pun tidak akan dapat turun.”

“Ahh.... kalau begitu tolonglah dia, Kakek yang baik. Tolonglah dia agar dapat turun ke sini.”
“Menolong dia? Ci Sian, engkau mengkhayal yang bukan-bukan. Dia yang begitu lihai saja tidak mampu turun, bagaimana pula aku dapat menolongnya?”
“Akan tetapi, engkau tentu seorang Locianpwe berilmu tinggi.”
“Ahhh, sama sekali bukan. Aku hanya seorang tua bangka sahabat para ular yang telah kalah bertaruh melawan seorang wanita. Hemm.... sampai sekarang aku telah terhukum selama tiga tahun di goa ini.... gara-gara kebodohanku yang kalah bertaruh melawan seorang wanita.”
“Apa? Ada wanita yang dapat mengalahkanmu, Kek? Tentu dia itu hebat sekali ilmu silatnya!”
“Bukan kalah dalam ilmu silat....”
“Habis, kalah dalam hal apakah?”
“Kalah dalam menebak teka-teki.”
“Eh?” Ci Sian terbelalak dan merasa geli. Seperti anak-anak kecil saja, main tebak teka-teki. Dia tertarik sekali.

“Kek, ceritakanlah padaku, teka-teki apa yang membuatmu kalah. Barangkali saja aku dapat membantumu!” Memang Ci Sian adalah seorang anak yang suka akan teka-teki dan dahulu ketika dia tinggal bersama Kongkong-nya, setiap kali berkumpul dengan anak dusun sebaya, dia selalu bermain teka-teki dan dialah yang selalu menang karena kecerdasannya menebak segala macam teka-teki yang sulit-sulit.

Wajah kakek yang hitam itu tiba-tiba menjadi berseri. “Ah, siapa tahu engkau yang akan dapat membantuku. Nah, dengarlah, Ci Sian. Akan kuceritakan kisahku secara singkat agar engkau tahu akan duduknya perkara.”

Kakek itu adalah seorang saniyasi atau seorang pertapa bangsa Nepal yang bernama Nilagangga. Semenjak masih muda kesukaannya hanyalah merantau di sekitar daerah Pegunungan Himalaya, bahkan dia pernah merantau sampai jauh ke timur, ke Tiongkok dan akhirnya setelah tua dia pulang kembali ke Pegunungan Himalaya. Selama dalam perantauannya itu, dia telah memperoleh banyak ilmu dan terutama sekali dia menjadi ahli dalam ilmu pawang ular sehingga dia memperoleh julukan See-thian Coa-ong (Raja Ular dari Barat) di dunia kang-ouw. Tentu saja dia pun memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi, seperti juga mereka yang telah ‘menjauhkan’ diri dari dunia ramai, ada semacam penyakit menghinggapi diri kakek ini, yaitu dia suka sekali untuk mengadu ilmu dan di samping itu, dia gemar pula untuk berdebat tentang ilmu kebatinan dan suka pula bermain teka-teki!

Demikianlah memang keadaan manusia pada umumnya. Di dalam batin sebagian besar dari kita manusia terdapat gairah atau hasrat ingin menonjolkan diri, ingin memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan dan agar dapat membuat kita dipandang oleh manusia lain, baik sesuatu itu merupakan harta kekayaan, kedudukan tinggi, kepintaran luar biasa, kekuatan yang dahsyat, kemampuan-kemampuan lain lagi, pendeknya yang dapat membuat kita menonjol dan menjadi lebih tinggi dari pada orang-orang lain!

Kebanggaan diri ini telah menjadi ‘kebudayaan’ kita manusia, sejak kecil ditanamkan pada batin kita oleh orang tua, oleh nenek moyang, oleh kitab-kitab dan oleh guru-guru dalam pendidikan kita. Betapa sampai kini pun kita selalu menganjurkan anak-anak kita agar tidak kalah oleh orang lain! Agar menjadi paling menonjol, paling pintar, paling rajin dan segala macam ‘paling’ lagi. Bukankah pendidikan semacam ini yang menanam sifat tidak mau kalah, sifat ingin menonjol dalam batin anak-anak kita?

Kemudian, setelah kita menjadi dewasa, setelah sifat ingin menang dan ingin menonjol, ingin dipuji ini membawa kita bertemu dan bertumbuk dengan segala konflik, kita sadar bahwa sifat inilah yang menimbulkan pertentangan antara manusia, sifat inilah yang mendatangkan permusuhan dan bentrokan. Kemudian, sebagian dari kita lalu melarikan diri!

Seperti halnya Nilagangga itu, dia melarikan diri dari kenyataan itu, kemudian menyepi, dan menjauhkan diri dari tempat ramai. Namun, apakah gunanya pelarian ini? Sifat itu berada di dalam batin, kita bawa ke mana pun juga kita pergi. Sifat ingin menonjol itu tidak terpisah dari kita, maka tidaklah mungkin kita melarikan diri darinya, yang berarti kita melarikan diri dari kita sendiri. Sungguh tidak mungkin ini!

Maka, tidaklah mengherankan kalau sifat ingin menang ini muncul dalam bentuk lain, seperti halnya Nilagangga itu sifat ingin menang itu muncul dalam adu ilmu silat, ilmu batin, teka-teki dan sebagainya lagi.

Kita sudah biasa melarikan diri dari kenyataan pahit. Kita pemarah, kemudian kita lari ke dalam kesabaran! Kita berduka, lalu lari ke dalam hiburan. Dan selanjutnya lagi. Kita lupa bahwa yang marah, yang duka, adalah kita dan kemarahan atau kedukaan itu tidak pernah terpisah dari kita, berada di dalam batin kita, oleh karena itu, kalau kita lari ke dalam kesabaran dan hiburan, maka kita hanya akan terlupa atau terbius sebentar saja. Kemarahan dan kedukaan itu MASIH ADA di dalam batin kita, seperti api dalam sekam, dan sewaktu-waktu dapat meletus dan berkobar lagi!

“Pada suatu hari, ketika merantau di daerah Himalaya, aku memasuki daerah Lembah Gunung Suling Emas tanpa aku sengaja. Akan tetapi pihak penghuni itu melarangku memasuki lembah. Karena aku menganggap bahwa seluruh Himalaya adalah daerah bebas, maka terjadilah perbantahan dan dilanjutkan dengan pertandingan silat. Wanita itu, seorang wanita muda dan cantik yang menjadi anggota keluarga penghuni lembah itu, ternyata lihai sekali dan sampai kami berdua kehabisan tenaga, kami ternyata seimbang. Maka aku mengusulkan untuk bertanding dalam teka-teki dan ternyata aku kalah!” demikian kata kakek itu melanjutkan ceritanya.

“Bagaimana teka-tekinya, Kek?” Ci Sian yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu bertanya, hatinya tertarik sekali.

Kakek itu melanjutkan ceritanya. Lawannya itu menerima tantangannya untuk masing-masing mengeluarkan sebuah teka-teki. Dan mereka berdua berjanji, janji orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan menganggap janji lebih berharga dari pada nyawa, bahwa siapa yang tidak dapat menjawab teka-teki harus bertapa dalam goa itu dan sampai lima tahun tidak boleh meninggalkan goa sebelum dapat menjawab teka-teki itu!

“Aku mengajukan teka-teki, tetapi dia sungguh hebat, teka-tekiku dapat dijawabnya dengan mudah. Dan dia juga mengeluarkan teka-tekinya, dan.... sungguh sial aku, sampai sekarang sudah tiga tahun aku bertapa di dalam goa ini, tetap saja aku belum dapat menemukan jawabannya. Kalau tidak ada yang menolongku, agaknya aku terpaksa harus bertahan sampai dua tahun lagi di tempat ini.”

Tentu saja Ci Sian merasa geli dan panasaran. Mana ada aturan seperti itu? Mengapa orang memegang janji sampai mati-matian begitu? Andai kata kakek itu meninggalkan goa, tentu lawannya itu pun tidak akan tahu!

“Apa sih teka-tekinya yang begitu hebat? Coba kau beritahukan, Kek, siapa tahu aku akan-dapat menebaknya untukmu.”
“Begini teka-tekinya, dan mustahil engkau yang masih kanak-kanak ini akan dapat menebaknya!”
“Teruskanlah!” Ci Sian menjadi tidak sabar.

“Apakah perbedaan pokok antara cinta seorang pria dan cinta seorang wanita?” Kakek itu berhenti sebentar setelah mengucapkan pertanyaan yang agaknya sudah begitu hafal olehnya itu, yang agaknya sudah ribuan kali diulanginya tanpa dia dapat memberi jawaban. “Nah, itulah pertanyaan atau teka-tekinya. Aku tak mampu menjawab. Bagiku, cinta ya cinta, mana ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Akan tetapi dia membantah, mengatakan bahwa ada bedanya. Kami berdebat, dia bilang bahwa dia adalah wanita maka dia tahu akan perbedaan itu. Dan aku.... wah, aku yang sialan ini, aku tidak tahu, apalagi bedanya, bahkan aku tidak pernah mencinta seorang wanita, aku tidak tahu bagaimana rasanya cinta itu.... wah, aku kalah.”

Ci Sian mengerutkan alisnya. Dia pun pusing memikirkan teka-teki itu. Dia juga tidak tahu apa-apa tentang cinta! Dalam urusan cinta, dia sama ‘buta hurufnya’ dengan kakek tua renta itu.

“Bagaimana, Ci Sian? Dapatkah engkau membantuku dan memberikan jawabannya?”

Memang tentu saja Ci Sian, sebagai seorang dara yang baru remaja, baru menanjak dewasa, belum pernah jatuh cinta kepada seorang pria. Akan tetapi dia adalah seorang anak yang amat cerdik. Dia lalu membayangkan tentang Kam Hong, satu-satunya pria yang pernah mendatangkan rasa kagum dalam hatinya dan dia lalu membayangkan dirinya sendiri, bagaimana seandainya dia jatuh cinta kepada pendekar sakti itu! Setelah mengerutkan kedua alisnya agak lama, sambil memejamkan kedua matanya sehingga kakek itu memandang penuh harapan, tiba-tiba dia membuka mata memandang kakek itu, sepasang mata yang indah itu bersinar-sinar.

“Coa-ong, engkau sebagai seorang pria, coba kau beritahukan bagaimana perasaanmu, apa yang kau inginkan andai kata engkau jatuh cinta kepada seorang wanita,” Ci Sian menyebut Coa-ong (Raja Ular) kepada orang asing itu, mengingat bahwa julukannya adalah Raja Ular dari Barat!

Dan kakek itu agaknya malah senang disebut demikian. Hanya karena pertanyaan itu justru merupakan pertanyaan yang dianggapnya amat sulit, dia mengerutkan alisnya.

“Wahhh.... engkau tanya yang bukan-bukan. Mana aku tahu?”
“Coa-ong, engkau harus ingat bahwa teka-teki yang diajukan oleh lawanmu itu baru dapat dijawab kalau aku tahu bagaimana perasaan seorang pria yang mencinta seorang wanita. Tanpa mengetahui perasaan pria, bagaimana mungkin aku dapat tahu akan perbedaan antara cinta seorang pria dan seorang wanita? Dan tanpa diberi tahu oleh seorang pria, bagaimana aku dapat tahu bagaimana cinta seorang pria itu? Ayo pikirlah, Coa-ong. Aku pun belum pernah jatuh cinta, tetapi setidaknya kita sama-sama dapat membayangkan bagaimana perasaan kita dan apa keinginan kita kalau kita masing-masing jatuh cinta kepada seseorang.”
“Wah-wah.... ini tugas yang paling berat yang pernah kuhadapi....,” kakek itu mengomel.

Akan tetapi dia pun segera mengerutkan alis dan memejamkan mata, seperti yang dilakukan oleh Ci Sian tadi untuk membayangkan tentang bagaimana seandainya dia jatuh cinta! Juga Ci Sian sudah memejamkan mata membayangkan keadaannya sendiri. Demikianlah, dua orang ini, seorang kakek tua renta dan seorang dara menjelang dewasa, duduk bersila dan memejamkan mata, mengerutkan alis, membayangkan jika mereka jatuh cinta!

Cinta adalah suatu hal yang amat lembut, amat halus, amat rumit, dan amat banyak lika-likunya sehingga menjadi bahan percakapan, bahan tulisan dari bahan perdebatan para sastrawan, para cerdik pandai, dari jaman dahulu sampai sekarang, tanpa ada yang mampu melukiskannya atau memperincinya dengan tepat! Apalagi bagi dua orang ini, yang selama hidupnya belum pernah jatuh cinta, kini keduanya membayangkan bagaimana seandainya mereka itu jatuh cinta! Padahal cinta antara pria dan wanita adalah sedemikian ruwetnya dan banyak sekali kaitan-kaitan dan lika-likunya!

Betapa pun juga, Ci Sian yang cerdik itu dengan naluri kewanitaannya seperti dapat meraba apa yang dimaksudkan dengan teka-teki yang diajukan oleh seorang wanita pula itu! Maka dia langsung menuju kepada sasaran pokok, yaitu tentang perasaan seorang pria dan seorang wanita yang jatuh cinta, apa yang paling dikehendakinya dari orang yang dicinta.

Ada satu jam lamanya kakek itu duduk diam seperti itu! Dan biar pun hawa udara amat dinginnya, namun kakek yang tubuhnya tidak terlindung pakaian ini mulai berkeringat! Keringatnya besar-besar menempel di seluruh tubuhnya, dan uap yang mengepul di atas kepalanya semakin tebal. Tiba-tiba dia menarik napas panjang, membuka matanya dan mata itu berseri-seri memandang kepada Ci Sian yang sudah sejak tadi membuka matanya. Kakek itu mengguncang tubuhnya seperti seekor anjing kalau mengusir air yang membasahi tubuhnya. Terdengar suara berketrikan ketika keringat yang telah membeku itu berjatuhan rontok dari tubuhnya, merupakan butiran-butiran es kecil!

“Wah, memenuhi permintaanmu membayangkan tentang cinta itu malah mendatangkan bayangan yang amat mengerikan dan menakutkan!” katanya.

Diam-diam Ci Sian merasa geli juga. Bagaimana mungkin bayangan mencinta orang bisa begitu mengerikan dan menakutkan?

“Yang penting, apakah engkau kini sudah mampu menceritakan atau menggambarkan bagaimana perasaan seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita?”
“Aku sudah membayangkan.... aku sudah membayangkan dan.... hiihhh....“ Kakek itu menggigil, bukan karena kedinginan, melainkan karena geli dan takut! “Yang terbayang adalah cerewetnya, manjanya, dan betapa dia merongrong hidupku sehingga hidupku tidak lagi mengenal ketenteraman dan ketenangan, betapa dia ingin menguasai seluruh diriku dan hidupku. Ihhhh....!”

Kembali Ci Sian tertawa dalam hatinya, akan tetapi mulutnya hanya tersenyum saja. Betapa anehnya kakek ini! “Bukan itu maksudku, Kek. Tetapi bagaimana perasaanmu dan apa yang paling kau inginkan andai kata engkau jatuh cinta pada seorang wanita?”

Kakek itu mengingat-ingat. “Keinginanku hanya ingin menyenangkan dia, memanjakan dia, membahagiakan dia,” akhirnya dia berkata dengan alis berkerut, seolah-olah dia harus menjawab sesuatu persoalan yang amat rumit!

“Nah, itulah!” Ci Sian bersorak dan wajahnya berseri-seri. “Ketemu sekarang! Biar pun hanya hasil bayangan kita berdua, akan tetapi agaknya tidak salah lagi, Coa-ong!”
“Sudah kau temui jawaban teka-teki itu?”

Ci Sian mengangguk. “Agaknya tidak akan keliru lagi.”

“Bagaimana itu?” Wajah hitam itu pun berseri dan penuh harap. “Coba jawab, apakah perbedaan antara cinta seorang pria dan cinta seorang wanita?”
“Seperti keteranganmu tadi, Coa-ong. Cinta pria adalah ingin selalu menyenangkan dan memanjakan, sedangkan cinta seorang wanita adalah sebaliknya, yaitu menurut hasil khayalan dan bayanganku tadi, cinta seorang wanita justru menjadi kebalikannya, yaitu dalam cintanya, wanita ingin selalu disenangkan, dimanjakan oleh pria yang dicintanya.”

Kakek itu melompat bangun dan baru nampak oleh Ci Sian betapa jangkungnya kakek itu. Jangkung kurus sehingga potongan tubuhnya tidak menarik sama sekali! See-thian Coa-ong Nilagangga kini bertepuk tangan dan mengeluarkan suara melengking seperti suara suling.

Dan tiba-tiba Ci Sian terbelalak dan merasa jijik dan ketakutan ketika mendengar suara mendesis dan berdatanganlah ular-ular dari empat penjuru serta mengurung tempat itu! Heran dia bagaimana di tempat bersalju bisa terdapat begitu banyak ular!

“Coa-ong, aku takut....!” katanya dan dia bersembunyi di belakang tubuh kakek itu. Dia bukan takut, melainkan jijik.
“Kenapa takut? Engkau akan kujadikan puteri ular, mengapa takut?”
“Jadi puteri ular? Aku.... aku tidak mau!”
“Ehh, bocah bodoh. Jika engkau menjadi puteri ular, siapa lagi berani mengganggumu? Sahabatmu ular-ular itu berada di mana-mana dan jika saja engkau terancam bahaya, engkau dapat sewaktu-waktu memanggil mereka! Kini engkau telah berjasa kepadaku, maka aku ingin menurunkan ilmuku kepadamu. Apakah kau tidak mau?”

Ci Sian menelan ludah, kini hatinya tertarik juga. “Kalau... kalau begitu, aku mau, kukira tadi.... aku hendak kau jadikan ular....”

“Ha-ha-ha, bagus! Nah, coba kau dekati mereka dan kau pegang-pegang mereka. Ke sinikan dulu kedua telapak tanganmu!”

Ci Sian menghampiri ke depan kakek itu, kemudian mengulurkan kedua tangannya, ditelentangkan. Tiba-tiba tangan kanan kakek itu bergerak cepat ke depan.

“Plak! Plak!”
“Aduhhhh....!” Ci Sian berteriak ketika kedua telapak tangannya terasa panas sekali ditampar oleh tangan kakek itu dan dia memandang terbelalak marah.
“Ha-ha-ha, sekarang semua ular akan tunduk kalau tersentuh tanganmu, Ci Sian,” kata kakek itu.

Ci Sian menelan kembali kemarahannya begitu tahu bahwa tamparan itu merupakan semacam pemindahan ilmu untuk menalukkan ular! Dia lalu menghampiri ular-ular itu yang nampak diam tidak bergerak di atas tanah, hanya lidah mereka yang bergerak keluar masuk di mulut masing-masing. Biar pun hatinya merasa jijik dan takut-takut, akan tetapi Ci Sian segera meraba kepala ular-ular itu dan sungguh aneh, ular-ular itu nampak takut dan jinak sekali! Giranglah dia dan di lain saat dia sudah mengangkat seekor ular kemerahan sebesar jari kakinya, membelainya dan mempermainkannya. Ular itu sama sekali tidak berani berkutik!

“Ha-ha-ha, tahukah engkau betapa satu gigitan ular itu akan dapat membunuh seorang manusia seketika juga?”
“Ihhh!” Mendengar ini, Ci Sian melemparkan ular merah itu.
“Anak bodoh, kepadamu dia tidak akan berani berbuat apa-apa!” See-thian Coa-ong lalu mengeluarkan suara melengking tiga kali dan.... ular-ular itu lalu membalikkan tubuh dan merayap pergi dengan cepat dari tempat itu, seperti sekumpulan anjing yang ketakutan diusir pergi oleh majikan mereka.

“Ha-ha-ha, ternyata aku yang bodoh sekali, Ci Sian. Tentu saja jawabanmu tadi tepat, ha-ha-ha, begitu mudahnya! Mengapa aku tidak ingat akan hukum alam? Wanita adalah Im dan pria adalah Yang. Wanita adalah Bumi dan pria adalah Matahari! Sinar matahari menembus apa pun juga untuk mencari bumi, untuk menyinari bumi, untuk membuat bumi hidup dan subur, untuk memberikan semangat dan kekuatan kepada bumi. Sebaliknya, bumi menanti-nanti untuk disinari, untuk dibelai, untuk disuburkan, untuk menerima. Ha-ha-ha, benar sekali. Pria ingin mencinta, ingin menyenangkan, ingin memiliki. Sedangkan wanita ingin dicinta, ingin dimanjakan, ingin dimiliki dan untuk itu dia menyerahkan jiwa raganya kepada pria untuk dimiliki dan dicinta dan dipuja! Ha-ha, betapa bodohnya tidak mampu menjawab teka-teki yang amat sederhana itu!”

Melihat sikap kakek itu yang kegirangan, Ci Sian lalu memperingatkan. “Jangan anggap sederhana dan mudah, Coa-ong. Tanpa bantuan seorang wanita, tidak mungkin engkau dapat menjawab teka-teki itu.”

“Ha-ha-ha-ha, benar sekali. Oleh karena itulah maka aku akan menurunkan ilmu-ilmuku kepadamu.”
“Aku ingin kembali kepada Paman Kam Hong.”
“Ahhh, tidak mungkin, Ci Sian. Tidak mungkin bagimu untuk naik ke bukit itu dan tidak mungkin pula bagi Pamanmu untuk turun dari sana. Longsoran bukit itu telah merubah keadaan dan kita hanya bisa mengharapkan terjadi longsoran lain sehingga tempat di mana Pamanmu terkurung itu akan dapat dihubungkan dengan tempat lain. Sementara ini, marilah kau ikut denganku untuk menjumpai musuhku itu.”

Hati Ci Sian menjadi tertarik. “Wanita yang memberimu teka-teki itu?”

“Ya, dan kuharap engkau suka membantuku, Ci Sian. Dia pandai bicara dan pandai berdebat, dan engkau pun agaknya tidak kalah pandai. Maka bantuanmu kuharapkan. Mari kau temanilah aku menghadapinya, dan kelak aku akan membantumu mencari Pamanmu itu.”

Ci Sian berpikir sejenak. Omongan kakek ini tidak bohong. Memang dia tahu bahwa tidak terdapat jalan yang bisa membawanya kembali pada Kam Hong. Dia memerlukan bantuan Kam Hong untuk mencari orang tuanya, setelah kini dia terpisah dari Kam Hong dan agaknya tidak mungkin dapat berkumpul kembali, apa salahnya kalau kini Coa-ong ini yang membantunya mencari orang tuanya? Namun dia belum mengenal betul kakek asing ini, oleh karena itu dia pun tidak perlu menceritakan tentang orang tuanya dan mendiang kakeknya. Sementara ini, dari pada sendirian saja di daerah liar dan berbahaya dari Pegunungan Himalaya ini, lebih baik dia berteman dengan seorang pandai seperti See-thian Coa-ong. Apalagi akan diajari ilmu-ilmu yang tinggi, tentu saja dia merasa girang…..

“Baiklah, Coa-ong. Aku akan membantumu.”

Kakek itu menjadi girang sekali, wajahnya yang berkulit hitam itu berseri dan dia lalu menggandeng tangan Ci Sian sambil berkata, “Kalau begitu, hayolah kita berangkat sekarang. Ingin sekali aku melihat wajah Cui-beng Sian-li ketika mendengarkan aku menebak teka-tekinya!”

“Cui-beng Sian-li? Itulah julukan lawanmu?” tanya Ci Sian, diam-diam dia bergidik ngeri karena julukan itu sungguh menyeramkan. Dewi Pengejar Arwah! Tentu saja orangnya mengerikan juga!

“Ya, dan dia lihai sekali. Sebetulnya dia adalah warga dari penghuni Lembah Gunung Suling Emas, akan tetapi semenjak suaminya meninggal, dia kini tinggal di Lereng Batu Merah tidak jauh dari lembah itu, hanya di sebelah bawahnya. Seperti juga Lembah Gunung Suling Emas, Lereng Batu Merah itu pun sukar didatangi manusia dari luar, kecuali mereka yang sudah tahu jalannya.”
“Dan engkau tahu jalannya, Coa-ong?”
“Tentu saja!”

Maka berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu. Menurut keterangan See-thian Coa-ong, tempat tinggal lawannya itu, yaitu Lereng Batu Merah, sebetulnya tidak jauh dari situ, masih merupakan satu daerah gunung, akan tetapi karena terjadi longsor, terpaksa mereka harus mengambil jalan memutar yang amat jauh!

Kini See-thian Coa-ong tidak bertelanjang lagi. Kalau tadinya dia hanya bercawat ketika untuk pertama kali Ci Sian melihatnya, kini kakek itu telah mengambil pakaiannya yang disimpan di dalam goa. Sesungguhnya bukan pakaian, hanya kain kuning panjang yang dilibat-libatkannya di tubuhnya, sebelah pundaknya dan dari pinggang ke bawah sampai ke lutut, seperti pakaian para pendeta pada umumnya. Ular panjang besar yang telah menolong Ci Sian itu ditinggalkan.

“Tanggalkan saja jubahmu itu. Aku akan mengajarkan ilmu untuk membuat tubuhmu hangat dan tahan menghadapi hawa yang bagaimana dingin pun,” berkata See-thian Coa-ong kepada Ci Sian.

Mantel bulu itu memang sudah kotor, maka mendengar bahwa dia akan diajari ilmu yang aneh itu, Ci Sian merasa girang. Dia percaya penuh karena dia sudah melihat sendiri betapa kakek itu dalam keadaan hampir telanjang di dalam hawa udara yang sedemikian dinginnya.

Demikianlah, mereka melakukan perjalanan dan di waktu mereka beristirahat, See-thian Coa-ong memberi petunjuk kepada Ci Sian untuk mengerahkan hawa murni dan membuat tubuhnya terasa hangat biar pun berada dalam hawa udara yang amat dingin. Tentu saja ilmu ini tidak mudah karena sesungguhnya membutuhkan tenaga sinkang yang amat kuat, akan tetapi kakek itu membantu Ci Sian dan menempelkan telapak tangannya yang panjang dan lebar ini ke punggung Ci Sian, maka dara remaja ini pun dapat dengan cepat menguasai hawa murni yang mengalir di tubuhnya.

Pada suatu pagi, ketika mereka sedang mendaki lereng, tiba-tiba mereka melihat serombongan orang turun dari puncak. See-thian Coa-ong cepat menarik tangan Ci Sian dan diajaknya dara itu bersembunyi di balik batu besar. Akan tetapi Ci Sian dapat mengenal wanita yang berjalan di depan bersama dua orang anak laki-laki itu. Wanita itu bukan lain adalah A-ciu, wanita baju hijau dari rombongan empat wanita bertandu yang pernah dia pukuli dengan bantuan Kam Hong!

Dia tidak mungkin salah mengenalnya biar pun dari jauh, karena di belakang wanita itu terdapat orang-orang yang memikul tiga buah tandu. Tentu tiga buah tandu itu berisi tiga orang wanita lainnya, pikir Ci Sian. Akan tetapi yang amat menarik perhatiannya adalah keadaan dua orang anak laki-laki itu. Mereka itu sebaya dengan dia, dan lucunya, dua orang anak laki-laki itu serupa benar, baik pakaiannya, wajahnya mau pun gerak-geriknya. Mudah saja diduga bahwa mereka tentulah dua orang anak kembar.

Akan tetapi, Ci Sian tidak merasa lucu karena dia melihat betapa dua orang anak laki-laki itu berjalan dengan kedua lengan di belakang tubuh, tanda bahwa mereka itu tidak bebas, terbelenggu kedua lengan mereka! Mereka itu tentu ditawan oleh wanita-wanita jahat itu. Teringatlah Ci Sian akan pertanyaan wanita-wanita itu di depan warung dahulu. Mereka bertanya-tanya tentang dua orang pemuda remaja kembar! Tentu itulah mereka yang ditanyakan dan kini agaknya mereka telah tertangkap dan menjadi tawanan.

Oleh karena hatinya merasa sangat tidak suka kepada empat orang wanita itu yang dianggapnya jahat, maka biar pun dia tidak mengenal dua orang pemuda tanggung itu, hati Ci Sian condong berpihak kepada dua orang pemuda yang menjadi tawanan itu dan dia mengambil keputusan untuk menolong mereka dari tangan wanita-wanita itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa empat orang wanita itu lihai bukan main. Dia pernah dapat mempermainkan mereka hanya karena pertolongan Kam Hong dan kini pendekar sakti itu tidak berada di situ. Yang ada hanya See-thian Coa-ong. Maka dia lalu menyentuh lengan kakek itu dan berkata dengan suara berbisik.

“Coa-ong, sekarang engkau harus membantuku, baru aku nanti membantu menghadapi lawanmu.”
“Membantu apa, Ci Sian? Tanpa kau minta sekali pun, kalau memang diperlukan aku tentu membantumu. Bukankah kita sudah menjadi sahabat-sahabat baik yang saling membantu?”

Girang hati Ci Sian mendengar ini. “Coa-ong, wanita itu dan tiga orang temannya yang berada di dalam tandu adalah wanita-wanita jahat sekali, akan tetapi mereka juga lihai. Dan aku pernah bentrok dengan mereka, maka sekarang aku hendak membebaskan dua orang pemuda yang mereka tawan itu. Engkau mau membantuku, bukan?”

“Siapakah dua orang pemuda kembar itu? Apa kau mengenal mereka?”
“Tidak, melihat pun baru sekarang.”

See-thian Coa-ong menghela napas. “Ahh, Ci Sian, mengapa engkau mencari penyakit? Bukankah engkau merupakan seorang anak yang sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw? Mengapa harus mencampuri urusan orang lain?”

“Coa-ong, mana kita dapat terlepas dari urusan orang lain? Engkau menyelamatkan aku, dan sekarang aku ikut denganmu untuk menghadapi lawanmu. Bukankah itu berarti bahwa engkau dan aku telah mencampuri urusan orang lain? Hayo, engkau mau membantuku atau kau ingin melihat aku mati di tangan mereka?”

“Baiklah.... baiklah.... akan tetapi aku tidak mau kalau engkau menyuruhku membunuh orang.”
“Siapa mau bunuh siapa? Aku hanya ingin menolong dua orang pemuda yang tertawan itu,” kata Ci Sian.

Sementara itu, rombongan yang menuruni puncak telah tiba di dekat dengan mereka. Memang benar dugaan Ci Sian. Wanita yang berjalan di depan itu adalah A-ciu, wanita baju hijau yang cantik dan berwajah bengis. Wanita itu membawa sebatang pedang yang tergantung di belakang pundaknya, berjalan dengan langkah gagah mendahului di depan dua orang pemuda remaja yang berwajah tampan dan yang melangkah tenang berdampingan dengan kedua lengan terbelenggu di belakang tubuh, lalu diikuti oleh tiga buah tandu yang masing-masing dipakai oleh empat orang.

Siapakah adanya dua orang anak laki-laki kembar itu? Usia mereka kurang lebih dua belas tahun, pakaian mereka sederhana dan wajah mereka tampan, sikap mereka tenang sekali. Wajah dua orang ini serupa benar, sukar membedakan satu dari yang lain, wajah yang membayangkan kegagahan dan rambut kepala mereka yang hitam gemuk itu dikuncir ke belakang punggung. Melihat sikap mereka, biar pun mereka itu masih remaja dan mereka menjadi tawanan, dibelenggu kedua tangan mereka, akan tetapi mereka nampak begitu tenang. Hal ini saja sudah jelas menunjukkan adanya kegagahan dalam diri mereka.

Dan memang demikianlah. Dua orang anak laki-laki kembar ini memang bukan sembarang anak. Mereka adalah putera-putera dari pendekar sakti Gak Bun Beng dan pendekar wanita yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dan terkenal sebagai puteri istana, juga seorang panglima wanita yang disamakan dengan nama Hwan Lee Hwa di jaman cerita Sie Jin Kwie Ceng Tang. Wanita yang menjadi ibu mereka ini bukan lain adalah Puteri Milana, keponakan dari kaisar!

Gak Bun Beng dan Puteri Milana, suami isteri yang keduanya memiliki nama besar di dunia kang-ouw itu, telah lama mengundurkan diri dan hidup aman tenteram di puncak Telaga Warna, di Pegunungan Beng-san, di mana mereka hidup saling mencinta dan rukun bersama dua orang putera kembar mereka yang bernama Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong. Di dalam bagian-bagian terdahulu dari rangkaian cerita ini, yaitu di dalam kisah-kisah SEPASANG PEDANG IBLIS, SEPASANG RAJAWALI, serta pula JODOH SEPASANG RAJAWALI, pasangan pendekar sakti ini muncul dengan ilmu-ilmu mereka yang menggemparkan.

Bagaimanakah tahu-tahu dua orang saudara kembar itu, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, yang tinggal di puncak Pegunungan Beng-san dapat berada di Pegunungan Himalaya dan menjadi tawanan Su-bi Mo-li?

Su-bi Mo-li adalah empat orang wanita cantik yang lihai sekali karena mereka itu adalah murid-murid gemblengan dari Im-kan Ngo-ok! Mereka berempat oleh guru-guru mereka sengaja diperbantukan kepada Sam-thaihouw yang diam-diam mengadakan hubungan dengan kelima Ngo-ok. Ketika mendengar dari para mata-mata yang disebarnya bahwa dua orang putera dari Puteri Milana itu meninggalkan rumah orang tua mereka untuk ikut beramai-ramai berkunjung ke Himalaya, Sam-thaihouw cepat memerintahkan Su-bi Mo-li untuk melakukan pengejaran dan berusaha menawan dua orang kakak beradik kembar itu, untuk melampiaskan kebenciannya terhadap Puteri Milana! Mengapa Ibu Suri ke Tiga ini membenci Puteri Milana dan karena tidak berdaya terhadap puteri itu kini hendak melampiaskan dendamnya kepada kedua orang putera dari Puteri Milana?

Sam-thaihouw adalah satu-satunya selir yang masih hidup dari mendiang Kaisar Kang Hsi. Sebagai selir mendiang ayahnya, maka tentu saja kaisar yang sekarang, yaitu Kaisar Yung Ceng, tetap menghormati ibu tiri itu, satu-satunya di antara para selir ayahnya yang masih hidup, dan memberinya kedudukah sebagai Sam-thaihouw atau Ibu Suri ke Tiga dan menempati sebuah istana yang cukup mewah.

Pada waktu Sam-thaihouw ini masih muda, pernah terjalin cinta asmara antara selir ini dengan mendiang Pangeran Liong Khi Ong, yaitu pangeran yang pernah memberontak itu. Mereka mengadakan perjinahan di luar tahunya mendiang Kaisar Kang Hsi. Maka ketika pemberontakan dari kekasihnya itu gagal dan Pangeran Liong Khi Ong bersama saudaranya, yaitu Pangeran Liong Bin Ong, tewas, diam-diam Sam-thaihouw merasa berduka sekali. Maka lalu ditimpakanlah semua rasa benci dan sakit hatinya kepada keturunan Puteri Nirahai atau keturunan dari Pendekar Super Sakti. Terutama sekali kepada Puteri Milana yang berjasa pula memberantas pemberontakan kekasihnya itu.

Kini, setelah selir kaisar ini menjadi tua, satu-satunya nafsu yang berkobar di dalam dadanya hanyalah membalas dendam dan membasmi keturunan Pendekar Super Sakti atau keturunan Milana, kalau tak mungkin menghancurkan kehidupan puteri itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa Sam-thaihouw mengadakan kontak dengan Im-kan Ngo-ok melalui orang-orang kepercayaannya, dan ini pula yang menjadi sebab mengapa Su-bi Mo-li menjadi pembantu-pembantunya dan kini empat orang wanita cantik yang lihai itu bersusah payah pergi ke Himalaya untuk mengejar dua orang putera kembar dari Puteri Milana ketika mereka mendengar bahwa dua orang anak kembar itu ikut beramai-ramai ke Himalaya mencari pedang pusaka yang hilang dari istana.

Sungguh tak terduga oleh Su-bi Mo-li betapa di daerah Himalaya itu mereka berempat harus kehilangan muka ketika mereka bentrok dengan Kam Hong yang ternyata adalah keturunan Pendekar Suling Emas yang amat lihai! Akan tetapi, rasa penasaran dan kecewa ini terobatlah ketika mereka akhirnya dapat menemukan di mana adanya dua orang pemuda tanggung yang kembar itu! Mereka menemukan Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong yang sedang berkeliaran di dalam sebuah hutan dalam keadaan bingung dan tersesat jalan! Memang kedua orang anak ini dengan keberanian luar biasa telah meninggalkan rumah orang tua mereka tanpa pamit untuk ‘mencari pengalaman’ di daerah Himalaya yang luas itu.

Su-bi Mo-li tidak perlu mempergunakan kekerasan. Ketika melihat mereka dikurung oleh empat orang wanita lihai yang mengaku utusan Sam-thaihouw yang minta kepada mereka berdua agar ikut untuk menghadap ke kota raja, dua orang anak muda itu menyerah tanpa perlawanan. Mereka berdua bukan merasa takut. Sama sekali tidak. Sejak kecil mereka telah digembleng oleh ayah bunda mereka sehingga mereka tidak pernah mengenal takut, dan biar pun keduanya baru berusia sekitar tiga belas tahun, namun mereka telah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi yang hebat.

Tetapi, mereka takut kepada ayah bunda mereka yang selalu menekankan agar mereka berdua tidak mencari permusuhan di dunia kang-ouw dan agar tidak menimbulkan keributan. Sekarang mendengar bahwa Su-bi Mo-li adalah utusan Sam-thaihouw yang ‘memanggil’ mereka, maka kedua orang anak kembar ini menyerah dan bahkan tidak membantah ketika A-ciu membelenggu kedua tangan mereka ke belakang dengan alasan agar ‘jangan lari.’

Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong bukanlah anak-anak yang bodoh, mereka menyerah bukan hanya untuk menghindarkan bentrokan dan keributan, akan tetapi juga mereka percaya penuh bahwa jika mereka dibawa ke kota raja, apalagi ke istana, mereka akan selamat dan tidak akan ada yang berani mengganggunya!

Bukankah Kaisar masih terhitung paman mereka sendiri, masih keluarga dengan ibu mereka? Dan siapakah yang tak mengenal Puteri Milana, ibu mereka? Siapa yang akan berani mengganggu mereka, putera dari Puteri Milana yang terkenal? Mereka tidak tahu tentang Sam-thai-houw!

Ketika rombongan ini tiba ditempat Ci Sian dan See-thian Coa-ong bersembunyi, tiba-tiba Ci Sian meloncat keluar dari balik batu besar, mengembangkan kedua lengannya dan dengan suara yang lantang dia membentak.

“Su-bi Mo-li! Kalian masih berani melakukan kejahatan dan menawan dua orang bocah itu? Hayo kalian bebaskan mereka!”

A-ciu tentu saja segera mengenal dara remaja itu dan wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Cepat dia menoleh kearah dua orang pemuda tanggung itu. Akan tetapi dua orang pemuda kembar itu hanya saling lirik dan bersikap biasa saja, sikap yang menunjukkan bahwa mereka tidak mengenal dara cilik yang menghadang itu. A-ciu juga menoleh ke kanan kiri, merasa ngeri karena mengira bahwa tentu dara itu muncul bersama dengan Suling Emas, sastrawan muda yang membuat dia dan tiga orang suci-nya tak berdaya.

Melihat A-ciu hanya bengong dan memandang ke kanan kiri, Ci Sian membentak lagi dengan marah. “Heii, apakah engkau sudah menjadi tuli? Hayo kau bebaskan dua orang bocah itu! Apa engkau ingin kugampar lagi mukamu sampai bengkak-bengkak?”

Ucapan itu mengingatkan kepada A-ciu akan penghinaan yang diterimanya dari dara remaja ini. Sepasang mata wanita cantik itu lantas berkilat seperti mengeluarkan api dan dengan menahan rasa marah karena dia masih takut pada Kam Hong, dia berkata, suaranya nyaring, “Bocah setan! Hayo suruh Pendekar Suling Emas keluar bicara dengan kami, jangan engkau mengacau di sini! Aku percaya bahwa Pendekar Suling Emas tidak akan selancangmu mencampuri urusan kami yang tiada sangkut-pautnya dengan dia!”

Ci Sian juga seorang yang amat cerdik. Melihat sikap A-ciu itu, dia pun tahu bahwa wanita itu masih merasa gentar kepada Kam Hong, maka dia tersenyum. Biar pun Kam Hong tidak bersamanya, namun dia tidak merasa takut kepada wanita itu, mengingat bahwa See-thian Coa-ong berada di belakang batu besar, siap untuk melindunginya.

“Hemm, Paman Kam tidak datang bersamaku, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa engkau boleh membangkang terhadap perintahku. Ayo kau bebaskan dua orang bocah itu.”

Mendengar ucapan ini, tentu saja A-ciu menjadi girang bukan main. “Bagus! Sekarang bersiaplah engkau untuk mampus, bocah setan!” teriaknya dan dia sudah mencabut pedangnya. Walau pun tanpa pedang juga dengan mudah dia akan mampu membunuh Ci Sian, namun saking marahnya, dia menghunus pedangnya dan siap menerjang dara remaja itu.

Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba terdengar bunyi lengking nyaring yang tinggi sekali, sedemikian tinggi suara itu sehingga amat halus menggetarkan jantung! A-ciu menahan gerakannya. Hatinya memang masih gentar terhadap Kam Hong dan kalau memang pendekar itu berada di situ, sampai bagaimana pun dia tidak akan berani menyentuh Ci Sian. Maka, mendengar lengking yang tak wajar ini, wajahnya berubah dan jantungnya berdebar. Siapa tahu kalau-kalau bocah setan itu menipu dan membohong, pikirnya dan dia menoleh ke kanan kiri.

Mendadak terdengar suara mendesis-desis, dan bermunculanlah ular-ular dari segala jurusan datang ke tempat itu.

“Ular....! Ular....!” Para pemikul tandu berteriak-teriak ketakutan karena amat banyaklah binatang-binatang itu bermunculan dari segala tempat. Ular-ular berukuran besar kecil dan bermacam-macam warnanya.

Dan ular-ular itu seperti digerakkan atau dikendalikan oleh suara melengking tinggi itu kemudian langsung menyerang kepada A-ciu dan para anggota rombongan itu! A-ciu mengeluarkan seruan kaget dan meloncat ke belakang. Ci Sian juga tertawa dan sekali meloncat dia telah menghampiri dua orang anak laki-laki yang tertawan itu.

“Kalian jangan bergerak keluar dari sini!” katanya dan dengan telunjuk tangan kanannya dia menggurat tanah di sekeliling dua orang pemuda tanggung itu.

Sungguh ajaib, ratusan ekor ular yang berkeliaran di situ, tidak seekor pun yang berani melanggar garis bulat yang mengelilingi Si Kembar itu!

Keadaan rombongan itu menjadi kacau balau. Karena takutnya dan jijiknya, para pemikul tandu itu melepaskan tandu-tandu mereka dan berlompatanlah tiga orang wanita dari dalam tiga buah tandu yang dilepaskan itu. Su-bi Mo-li tentu saja merasa jijik dan mereka berlompatan ke sana-sini menghindarkan diri dari serbuan ular-ular itu yang makin banyak berdatangan ke tempat itu! Akan tetapi, dua belas orang pemikul tandu itu kurang gesit gerakan mereka dan dalam waktu singkat mereka itu sudah tergigit ular dan mereka berteriak-teriak ketakutan.

Su-bi Mo-li tidak tahu siapa yang memanggil ular secara luar biasa ini, akan tetapi mereka maklum bahwa di belakang dara cilik yang bengal itu terdapat seorang sakti yang membantu. Tidak nampak Pendekar Suling Emas membantu, akan tetapi kini muncul seorang aneh lain yang dapat memanggil datang ular-ular demikian banyaknya!

Apalagi melihat betapa dara cilik itu mampu menyelamatkan dua orang tawanan mereka dengan menggurat tanah dengan telunjuk dan ular-ular itu sama sekali tidak berani menghampiri kedua orang pemuda itu, maklumlah Su-bi Mo li bahwa orang sakti pemanggil ular itu tentu ada hubungan baik dengan dara cilik itu yang ternyata juga menguasai ilmu menaklukkan ular. Karena mereka berempat masih jeri dan belum hilang rasa takutnya terhadap Kam Hong maka kini melihat dua belas orang pemikul tandu itu roboh semua, mereka menjadi semakin jeri dan dengan cepat mereka lalu berloncatan meninggalkan tempat itu mempergunakan ginkang!

Setelah mereka pergi, barulah See-thian Coa-ong muncul. Kakek ini memang tidak mau menanam bibit permusuhan, maka dia tadi hanya menggerakkan ular-ularnya tanpa muncul sendiri. Kini dia sudah mengusir ular-ularnya yang merubung tubuh dua belas orang pemikul tandu, dan beberapa kali tangannya mengusap tubuh orang-orang itu yang tadi kelihatan seperti sudah mati atau pingsan. Sungguh aneh, begitu kena diusap oleh tangan kakek Raja Ular ini dua belas orang itu dapat bergerak kembali lalu bangkit.

“Pergilah kalian dengan tenang,” kata See-thian Coa-ong dan dua belas orang itu lalu mengangguk hormat, lalu pergi dengan terhuyung-huyung meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Sementara itu, Ci Sian sudah menghampiri Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong berdua yang masih berdiri di dalam lingkaran. Ci Sian tersenyum ramah dan berkata. “Kalian sudah terbebas dari bahaya, biarlah kubukakan belenggu kedua tangan kalian.”

“Jangan sentuh aku!” tiba-tiba Gak Jit Kong berseru, alisnya berkerut dan sinar matanya memancarkan kemarahan.
“Engkau siluman ular!” bentak Gak Goat Kong.

Ci Sian terkejut dan melangkah mundur, matanya memandang terbelalak dan mukanya berubah merah. Dua orang bocah kembar yang telah diselamatkannya itu sekarang malah menghinanya! Akan tetapi, dia makin menjadi terkejut melihat dua orang anak laki-laki itu tiba-tiba menggerakkan tangan mereka dan....belenggu-belenggu itu putus semua, kemudian pada saat berikutnya, tubuh kedua orang anak kembar itu bergerak dan mereka sudah meloncat jauh dan tinggi melewati semua ular dan mereka lalu berlari sangat cepatnya menuju ke arah perginya Su-bi Mo-li dan dua belas orang pemikul tandu tadi!

Tentu saja Ci Sian menjadi bengong. Dia terkejut, heran dan juga penasaran sekali. Kiranya dua pemuda tanggung tadi bukan sembarangan, tetapi memiliki kepandaian yang cukup hebat, bahkan jauh lebih lihai dari pada dia sendiri. Ketika mematahkan belenggu, ketika meloncat, jelas nampak betapa tinggi ilmu kepandaian mereka! Akan tetapi mengapa mereka tidak memberontak dan melawan ketika dijadikan tawanan? Dan kenapa mereka itu justru marah-marah kepadanya yang telah berusaha menolong mereka?

Tiba-tiba terdengar suara ketawa geli di belakangnya. Ci Sian menengok dan melihat bahwa yang tertawa adalah See-thian Coa-ong.

“Kenapa kau malah tertawa?” Ci Sian bertanya dengan suara seperti membentak sebab hatinya terasa semakin mengkal.
“Ha-ha-ha, Ci Sian. Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa kita tidak perlu mencampuri urusan orang lain? Kau lihat, karena engkau mencampuri urusan mereka, maka engkau hanya merasa kecewa saja. Dua orang pemuda kembar itu bukan orang sembarangan, dan tentu ada sebabnya mengapa mereka mau saja ditawan oleh wanita-wanita itu. Dan empat orang wanita itu pun lihai-lihai sekali.”

“Akan tetapi.... bocah-bocah tak kenal budi dan kurang ajar itu malah memaki aku siluman ular!” Ci Sian berseru dengan hati panas dan dia mengepal tinju, sekarang kemarahannya bukan lagi ditujukan kepada Su-bi Mo-li, melainkan kepada dua orang pemuda tanggung kembar itu!

Memang demikianlah. Kemarahan yang mendatangkan kebencian itu merupakan api dalam batin yang tidak dapat dilenyapkan dengan jalan menutup-nutupinya dengan kesabaran atau dengan mencoba untuk melupakan melalui hiburan-hiburan. Kalau kita marah kepada seseorang, kepada isteri atau suami umpamanya, kemudian kita sabar-sabarkan dengan alasan-alasan yang kita buat sendiri, memang dapat kita menjadi sabar dan tenang. Akan tetapi, api kemarahan itu sendiri belum padam, masih bernyala di dalam batin, hanya tidak berkobar-kobar, tidak meledak karena ditutup oleh kesabaran yang kita ciptakan melalui pertimbangan-pertimbangan dan akal budi. Seperti api dalam sekam.

Kalau mendapatkan ketika, maka api kemarahan yang masih bernyala itu akan berkobar lagi, akan meledak lagi dalam kemarahan yang mengambil sasaran lain, mungkin kita lalu akan marah-marah kepada anak kita, kepada pembantu kita, kepada teman dan sebagainya! Maka kita akan terperosok dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan, marah lagi, bersabar lagi, marah lagi, bersabar lagi dan seterusnya, melakukan perang terhadap kemarahan yang pada hakekatnya adalah diri kita sendiri. Terjadilah konflik di dalam batin yang terus-menerus antara keadaan kita yang marah dan keinginan kita untuk tidak marah!

Akan terjadi hal yang sama sekali berbeda jikalau di waktu kemarahan timbul kita hanya mengamatinya saja! Mengamati tanpa penilaian buruk atau baik, tanpa menyalahkan atau membenarkan. Ini berarti tanpa adanya aku atau sesuatu yang mengamati, karena begitu ada si aku yang mengamati, sudah pasti timbul penilaian dari si aku. Jadi yang ada hanyalah pengamatan saja, mengamati dan menyelidiki kemarahan itu, mengikuti segala gerak-geriknya penuh perhatian. Yang ada hanya PERHATIAN saja, tanpa ada yang memperhatikan. Dan pengamatan tanpa si aku yang mengamati inilah yang akan melenyapkan atau memadamkan api kemarahan itu, tanpa ada unsur kesengajaan atau daya upaya untuk memadamkan!

Dari manakah timbulnya kebencian?

Kalau kita semua membuka mata memandang, akan nampak jelas bahwa benci timbul karena si aku merasa dirugikan, baik dirugikan secara lahiriah, misalnya dirugikan uang, kedudukan, nama dan sebagainya, mau pun dirugikan secara batiniah, seperti dihina, dibikin malu dan sebagainya. Karena merasa dirugikan, maka timbullah kemarahan yang melahirkan kebencian. Kebencian ini seperti racun menggerogoti batin kita, menuntut adanya pembalasan, ingin mencelakakan orang yang kita benci, menimbulkan perasaan sadis yang dapat dipuaskan oleh penderitaan dia yang kita benci sehingga tidak jarang mendatangkan perbuatan-perbuatan kejam yang kita lakukan terhadap orang yang kita benci demi untuk memuaskan dendam!

Kebencian ini dipupuk oleh pikiran yang bekerja dan yang sibuk terus, mengoceh, menilai, mendorong, menarik, mengendalikan. Kadang-kadang pikiran membenarkan kebencian dengan berbagai dalih, kadang-kadang pula menyalahkan. Terjadilah konflik batin ini yang memboroskan energi batin. Pemborosan energi batin ini memupuk dan memberi kelangsungan kepada kebencian itu, karena pikiran bekerja terus mengingat dan menghidupkan segala hal yang terjadi, yang merugikan kita dan mendatangkan kebencian itu. Padahal kebencian itu adalah aku sendiri, kebencian adalah pikiran itu sendiri! Pikiran menciptakan aku dan karena aku dirugikan, timbullah benci. Jadi benci dan aku tidaklah terpisah.

Kalau pikiran tidak bekerja untuk menilai, kalau yang ada hanya pengamatan terhadap kebencian itu, berarti pikiran menjadi hening, pengamatan tanpa penilaian terhadap kebencian, maka kebencian akan kehilangan daya gerak, akan kehilangan pupuk, kehilangan kelangsungan yang dihidupkan oleh pikiran yang menilai-nilai. Dan kalau sudah begitu, maka kemarahan, kebencian akan lenyap dengan sendirinya, seperti api yang kehabisan bahan bakar. Pikiran yang mengingat-ingat dan menilai-nilai itulah yang merupakan bahan bakar.

Baik kebencian itu merupakan kebencian perorangan, kebencian demi bangsa, demi suku dan sebagainya, pada hakekatnya adalah sama, karena di situ tentu terkandung si aku yang merasa dirugikan. Si aku dapat berkembang menjadi bangsaku, agamaku, sukuku, keluargaku, dan selanjutnya.

Kembali See-thian Coa-ong tertawa mendengar gadis cilik itu marah-marah. “Mengapa marah? Engkau muncul di antara ratusan ekor ular, tentu dua orang muda kembar itu mengira bahwa engkau adalah siluman ular!”

“Ah, kalau begitu, Coa-ong, aku tidak sudi belajar ilmu ular!” kata Ci Sian dan dia pun lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil menggosok kedua matanya! Hatinya sakit sekali dimaki orang sebagai siluman ular tadi!

See-thian Coa-ong tersenyum lebar. “Aihhh, Ci Sian, mengapa engkau mempedulikan amat segala pendapat orang lain? Disebut Raja Ular seperti aku, atau Siluman Ular, atau sebutan apa pun, apakah artinya? Itu hanya sebutan yang diucapkan oleh bibir saja, hanya kata-kata kosong. Yang penting adalah perbuatan kita dalam hidup. Apa artinya disebut dewa kalau tindakannya lebih jahat dari pada setan? Sebaliknya, apa salahnya dimaki orang sebagai iblis kalau hidupnya melalui jalan benar?”

Seorang anak perempuan yang biasa dimanja seperti Ci Sian, mana dapat menangkap ucapan seperti itu?

“Pula, kalau tidak ada sahabat-sahabat ular tadi yang membantu, apa kau kira empat orang wanita itu mau melarikan diri meninggalkan engkau?”

Ci Sian sadar kembali dan dia dapat melihat betapa pentingnya kepandaian menguasai ular-ular itu yang sewaktu-waktu dapat dipakai membela diri dan melindungi keselamatannya dari gangguan orang-orang jahat! Maka dia berhenti menangis. “Su-bi Mo-li itu jahat sekali. Mereka pernah mengaku kepada Paman Kam bahwa mereka adalah utusan dari Sam-thaihouw. Entah siapa Sam-thaihouw itu.”

See-thian Coa-ong juga tidak mengerti dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka. Ci Sian tidak dapat mengingat lagi jalan yang amat sukar dan berkeliling itu. Melalui celah-celah jurang yang amat curam, menuruni tebing dan mendaki bukit-bukit. Kalau bukan orang yang sudah benar-benar hafal akan jalan di situ, tidak akan mungkin dapat mengunjungi tempat ini. Agaknya See-thian Coa-ong sudah hafal akan jalan di situ dan beberapa hari kemudian, setelah mengelilingi sebuah gunung besar, barulah mereka tiba di perbatasan tempat yang hendak dikunjungi kakek itu.

“Nah, inilah perbatasan yang berada di sebelah bawah Lembah Suling Emas. Di atas sana itulah lembah gunung itu, dan kalau tak tahu jalan rahasia menuju ke sana, jangan harap dapat mengunjunginya. Kecuali menyeberangi jurang yang harus menggunakan jembatan tambang yang hanya dapat dipasang atas kehendak tuan rumah. Wanita yang menjadi lawanku itu tinggal di bawah sini. Hati-hati, jangan sembrono, kita sudah memasuki daerah kekuasaannya.”
“Daerah kekuasaan yang kau sebut Cui-beng Sian-li?” tanya Ci Sian berbisik dan kakek itu mengangguk.

Mereka maju terus di sepanjang dinding gunung yang amat tinggi. Ketika mereka menikung, tiba-tiba mereka mendengar suara orang berkelahi. Dari jauh sudah nampak bahwa yang berkelahi itu adalah seorang gadis cantik jelita melawan seorang pemuda tanggung yang berpakaian pemburu, memegang busur dengan tangan kiri dan di punggungnya tergantung tempat anak panah. Biar pun pemuda tanggung itu kelihatan kuat dan mempergunakan senjata busur di tangan kiri untuk melawan, namun ternyata dia terdesak hebat oleh pukulan-pukulan wanita cantik itu yang menggunakan kedua tangannya yang dibuka dan dimiringkan, membacok-bacok seperti dua batang pedang atau golok. Dan See-thian Coa-ong terkejut bukan main melihat betapa sambaran tangan wanita cantik itu mengeluarkan suara bercuitan, tanda bahwa sinkang-nya telah kuat sekali!

Sementara itu, setelah tiba dekat dan dapat melihat mereka dengan jelas, Ci Sian segera mengenal pemuda pemburu itu sebagai pemburu muda yang dahulu pernah menolongnya saat dia hendak dibunuh oleh Su-bi Mo-li! Maka, tanpa diminta, dia sudah meloncat ke depan dan membentak sambil menyerang wanita cantik itu. Baru saja dia marah-marah kepada Su-bi Mo-li dan wanita itu pun cantik, usianya tentu sudah dua puluh lima tahun, biar pun jauh lebih cantik dibandingkan Su-bi Mo-li, akan tetapi ada persamaannya, yaitu seorang wanita dewasa yang cantik.

“Perempuan jahat, jangan kau ganggu sahabatku!” Sambil berteriak demikian Ci Sian sudah menerjang maju dan memukul wanita itu kalang-kabut.

Tentu saja wanita itu menjadi terkejut, akan tetapi dia tersenyum mengejek melihat bahwa serangan Ci Sian itu biasa saja dan tidak berbahaya. Dengan mudahnya wanita cantik itu mengelak dan sebelum Ci Sian menyerang lagi, pemuda tanggung itu sudah berseru kepadanya sambil melompat keluar dari kalangan pertandingan.

“Ehh, Nona, harap jangan salah sangka! Kami hanya saling menguji kepandaian, bukan berkelahi!”

Mendengar ini tentu saja Ci Sian juga tidak melanjutkan serangannya dan dia lalu memandang dengan heran. Siapakah dua orang itu dan mengapa mereka berada di tempat sunyi itu dan mengadu ilmu silat?

Ci Sian tidak keliru mengenal orang. Memang pemuda tanggung itu adalah Sim Hong Bu, pemuda pemburu yang kini telah menjadi murid keluarga Cu di Lembah Suling Emas itu. Dan baru sekarang dia bertemu dengan wanita cantik yang mengadu ilmu silat dengan dia, dan belum dikenalnya benar sungguh pun tadi wanita itu telah sempat memperkenalkan diri.

Setelah tinggal di Lembah Suling Emas, mulailah Hong Bu berlatih ilmu silat, yaitu dasar-dasar ilmu silat tinggi keluarga itu di bawah pimpinan Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu yang merupakan Ji-suhu dan Sam-suhu baginya, yaitu guru ke dua dan guru ke tiga. Akan tetapi pemuda tanggung ini tidak pernah melupakan kesenangan memburu binatang yang telah menjadi pekerjaannya semenjak dia kecil, maka di waktu terluang dia selalu membawa busur dan anak panah untuk memburu binatang di sekitar lembah, dan hasil buruannya lalu diserahkan kepada pekerja di dapur untuk dimasak dan untuk hidangan sekeluarga Cu. Pada pagi hari itu, ketika dia berburu dan tiba di perbatasan lembah yang hanya dapat ditempuh melalui jalan rahasia yang hanya dikenal oleh orang-orang Lembah Suling Emas, dan yang telah diberitahukan kepadanya pula, tiba-tiba dia melihat wanita cantik itu!

Keduanya terkejut. Hong Bu segera menjadi curiga karena menurut para gurunya, tidak boleh ada orang luar memasuki daerah Lembah Suling Emas. Lagi pula, daerah itu merupakan daerah rahasia yang tidak dikenal orang luar, bagaimana tahu-tahu ada wanita cantik muncul di situ?

“Siapa engkau?” tegurnya. “Berani benar engkau memasuki daerah Lembah Suling Emas tanpa ijin!”

Wanita cantik itu juga kelihatan terkejut dan heran, apalagi melihat sikap pemuda tanggung itu seperti seorang pemburu, maka dia menduga bahwa pemuda itu tentulah seorang pemburu yang salah jalan. Yang membuat dia terheran-heran adalah teguran pemuda itu, seolah-olah pemuda itu berhak mengatur orang lain yang berada di tempat itu! Wanita itu tersenyum mengejek. “Ehh, bocah lancang. Engkaulah yang lancang berani memasuki daerah terlarang ini. Siapa engkau?”

Melihat sikap ini dan mendengar pertanyaan itu, Hong Bu menjadi ragu-ragu. Dia belum lama menjadi penghuni lembah itu dan belum mengenal betul semua anggota keluarga majikan lembah. Siapa tahu kalau-kalau wanita cantik ini juga merupakan seorang anggota keluarga, atau seorang murid, atau seorang pelayan! Maka dia pun bersikap halus dan cepat-cepat memperkenalkan diri. “Aku adalah murid dari majikan lembah ini.”

Wanita itu tersenyum lebar dan nampak cantik sekali, akan tetapi sikapnya memandang rendah. “Aih, kiranya engkaukah yang datang bersama Yeti itu? Subo telah bercerita tentang dirimu. Bukankah engkau yang bernama Sim Hong Bu itu?”

“Benar....” Hong Bu menjadi semakin ragu karena dia yakin bahwa wanita ini tentu keluarga atau murid dari lembah itu. “Dan.... siapakah engkau, Cici?”
“Aku? Engkau harus menyebut Suci (Kakak Seperguruan) kepadaku. Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu adalah Subo-ku.”

Hong Bu terkejut mendengar ini, dan juga merasa heran. Toaso dari para gurunya itu, yang dia harus menyebut Supek-bo, adalah seorang wanita yang masih kelihatan muda dan cantik. Muridnya ini juga seorang wanita dewasa yang cantik, dan kalau Supek-bo itu usianya kurang lebih tiga puluh tahun muridnya ini tentu sudah ada dua puluh lima tahun. Pantasnya mereka itu adalah kakak beradik, bukan guru dan murid! Akan tetapi dia segera memberi hormat.

“Ah, harap Suci maafkan, karena aku belum mengenal semua keluarga, maka aku tidak tahu bahwa Suci adalah murid dari Supek-bo.”

Wanita itu tertawa. “Tidak apa, Sute. Aku pun belum lama menjadi murid Subo. Engkau sungguh beruntung bisa menjadi murid Lembah Suling Emas, bahkan menurut Subo, engkau akan mewarisi pedang Koai-liong-pokiam. Entah bagaimana sih lihaimu maka engkau dipilih? Sute, kita adalah orang sendiri. Aku adalah Suci-mu dan namaku adalah Yu Hwi. Jangan engkau sungkan, mari kita berlatih sebentar karena aku ingin sekali mengukur sampai di mana kepandaian silatmu.”

“Ahh, aku belum belajar apa-apa, Suci....“ Hong Bu berkata.

Akan tetapi wanita itu mendesak dengan kata-kata yang tegas. “Sute, murid Lembah Suling Emas tidak boleh bersikap lemah. Apalagi aku hanya ingin mengujimu, apa salahnya? Hayo, kau sambut ini!” Dan wanita itu lalu menyerangnya.

Hong Bu terkejut sekali karena gerakan wanita itu sungguh amat lihai. Maka dia cepat mengelak dan terpaksa dia melayani suci-nya itu. Namun, biar pun dia menggunakan busurnya sebagai senjata, tetap saja dia terdesak hebat.

Tentu saja, karena wanita itu adalah Yu Hwi, yang dulu pernah menggemparkan dunia persilatan dengan julukan Ang-siocia! Para pembaca kisah JODOH RAJAWALI tentu masih mengenal wanita lihai ini. Yu Hwi adalah cucu dari Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek yang semenjak kecil diculik dan diambil murid oleh Hek-sin Touw-ong, raja maling yang luar biasa lihainya itu.

Seperti telah diceritakan dalam kisah Jodoh Rajawali, dara cantik lincah Yu Hwi yang berjuluk Ang-siocia dan suka mengenakan pakaian merah muda ini, melarikan diri dari depan kakeknya ketika dia diberitahu dan diperkenalkan kepada tunangannya sejak kecil yang bukan lain adalah Kam Hong! Dia merasa malu, dan juga cinta kasihnya terhadap Pendekar Siluman Kecil membuat dia merasa kecewa, sungguh pun harus diakuinya bahwa Kam Hong tidak kalah tampan dan gagah dibandingkan dengan Pendekar Siluman Kecil. Dara yang keras hati ini melarikan diri dan tidak pernah kembali lagi. Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, perbuatannya itu membuat Kam Hong, calon suaminya yang telah dijodohkan dengan dia sejak mereka berdua masih kecil, merana dan pendekar ini mencari-carinya selama lima tahun tanpa hasil!

Dan memang dugaan dan harapan Kam Hong itu tidak kosong belaka. Ramai-ramai orang kang-ouw yang menuju ke Himalaya memang menarik juga hati Yu Hwi. Yu Hwi adalah seorang dara murid Si Raja Maling, dan dalam hal permalingan memang dia lihai bukan main. Mendengar bahwa ada orang mencuri pedang pusaka dari istana dan membawanya lari ke Himalaya, hatinya amat tertarik dan dia pun ikut pula melakukan pengejaran dan pencarian. Ingin dia melihat siapa malingnya yang demikian berani dan lihai, dan ingin dia menguji sampai di mana kepandaian maling itu! Juga, dia tertarik untuk memperebutkan pedang pusaka yang menggegerkan dunia kang-ouw dan yang telah menarik hati semua orang kang-ouw untuk ikut-ikutan memperebutkannya itu.

Akhirnya, dalam perantauannya ke Himalaya di mana dia tidak pernah berjumpa dengan orang-orang yang mencarinya, yaitu tunangannya, Kam Hong, dan kakeknya, Sai-cu Kai-ong, dia malah tiba di perbatasan Lembah Suling Emas itu tanpa disengaja dia memasuki daerah tempat tinggal Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu di kaki gunung, di bawah lembah itu!

Di tempat ini bertemulah Yu Hwi dengan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu. Pada saat mendengar bahwa dara cilik itu adalah murid Hek-sin Touw-ong yang hendak mencari pencuri pedang pusaka, Cui-beng Sian-li tertarik dan menguji kepandaiannya. Yu Hwi tekejut bukan main, dan juga kagum karena ternyata kepandaian pencuri ini jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri, bahkan masih lebih tinggi dari pada ilmu kepandaian gurunya, Si Raja Maling! Maka tunduklah hati dara yang keras ini dan dia pun mengangkat guru kepada Cui-beng Sian-li yang juga merasa suka kepada Yu Hwi.

Demikianlah sedikit riwayat dari Yu Hwi yang kini bertemu sute-nya, karena keduanya adalah para murid-murid dari para tokoh Lembah Suling Emas dan dalam kesempatan itu, Yu Hwi sengaja menguji kepandaian sute-nya yang dilihat oleh Ci Sian sehingga gadis cilik ini turun tangan hendak membantu Hong Bu.

Kini Yu Hwi yang berdiri di samping Hong Bu memandang kepada Ci Sian dan kepada See-thian Coa-ong dengan alis berkerut. “Sute, engkau kenal mereka?” tanyanya tanpa menoleh kepada Hong Bu.

“Aku tidak mengenal kakek itu, Suci, namun Nona ini pernah kujumpai di pegunungan salju.”

Lega rasa hati Yu Hwi. Kiranya dua orang yang datang ini bukan keluarga atau sahabat sute-nya. Maka setelah memandang penuh perhatian, dia dapat menduga bahwa kakek gundul botak yang datang bersama gadis cilik itu tentulah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka ia pun menghadapi kakek itu dan berkata dengan suara tegas.

“Kalian berdua telah memasuki daerah kami yang terlarang. Kalau hal itu kalian lakukan tanpa sengaja, harap kalian segera pergi lagi secepatnya meninggalkan tempat ini. Kalau disengaja, harap katakan apa keperluan kalian datang ke sini dan siapa adanya kalian berdua!”

See-thian Coa-ong tersenyum ramah. “Memang kami sengaja mendatangi tempat ini. Aku adalah See-thian Coa-ong, hendak berjumpa dengan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu.”

Terkejutlah Yu Hwi mendengar ini dan dia menjadi semakin curiga. “Sute, harap kau pulang dulu, tidak baik kalau sampai Subo melihatmu di sini.”

Hong Bu mengangguk. “Baiklah, aku pergi dulu, Suci.”

Dan dia pun lalu menoleh kepada Ci Sian. Sejenak mereka berpandangan. Kedua orang muda remaja ini semenjak bertemu memang merasa saling suka, bahkan begitu berjumpa mereka telah bekerja sama menghadapi Su-bi Mo-li, maka rasanya sekarang tidak enak dalam hati Hong Bu bahwa mereka bertemu lagi dalam waktu sesingkat itu, tanpa ada kesempatan untuk bicara panjang lebar.

“Nona, kuharap keadaanmu akan baik selalu,” akhirnya Hong Bu berkata.
“Terima kasih, kuharap engkau pun begitu pula,” jawab Ci Sian.
“Sute, pergilah....,“ desak Yu Hwi, mengingat akan pentingnya urusan yang dihadapinya.

Kakek ini jelas bukan orang Han, melainkan seorang Nepal atau India, maka kini datang mencari subo-nya, tentu ada urusan yang amat gawat. Apalagi melihat keadaan kakek itu yang menunjukkan tanda-tanda seorang yang berilmu tinggi.

Hong Bu mengangguk dan membalikkan tubuhnya, akan tetapi teringat bahwa dia belum berkenalan dengan gadis cilik itu, maka dia membalik lagi dan berkata cepat, “Namaku Sim Hong Bu.”

Ci Sian tersenyum. “Dan namaku Bu Ci Sian.”

Kini Hong Bu membalikkan tubuhnya. “Sampai jumpa!” katanya.

Dia pun berlari cepat meninggalkan tempat itu, menghilang di balik batu-batu besar. Dia harus melalui jalan rahasia untuk kembali ke daerah Lembah Suling Emas di atas sana, jalan rahasia terowongan yang hanya diketahui oleh para penghuni Lembah Suling Emas saja.

Sementara itu, Yu Hwi lalu berkata kepada See-thian Coa-ong. “Guruku tidak begitu mudah ditemui, dan dia tidak suka diganggu.”

“Aihhh, Nona, agaknya Nona belum berada di sini tiga tahun yang lalu sehingga tidak mengenalku. Aku dan Gurumu sudah berjanji untuk sewaktu-waktu bertemu di sini, maka harap kau beritahukan kepada Cui-beng Sian-li bahwa aku See-thian Coa-ong datang untuk memenuhi janji dan untuk menebak teka-tekinya.”

Tentu saja Yu Hwi yang belum pernah mendengar dari subo-nya tentang hal itu merasa heran sekali. “Menebak teka-teki....?”

Selagi dia meragu, mendadak terdengar suara bisikan halus terbawa angin memasuki telinganya, “Yu Hwi, antarkan tamu-tamu itu ke dalam taman, aku menanti di sini!”

“Baik, Subo,” kata Yu Hwi dan dia pun terkejut sendiri karena maklum bahwa suara gurunya itu dikirim melalui ilmu mengirim suara dari jauh dan yang mendengar bisikan itu adalah dia seorang.

Namun suara itu sedemikian jelasnya sehingga seolah-olah gurunya itu berada di sampingnya dan bicara kepadanya! Demikian hebat kekuatan khikang dari subo-nya itu. Karena merasa malu bicara seperti kepada diri sendiri atau kepada bayangan yang tidak nampak, Yu Hwi cepat berkata kepada kakek itu, “Subo minta kepada kalian untuk menghadap kepadanya di taman. Silakan!” Dan Yu Hwi lalu membalikkan tubuhnya tanpa menanti jawaban, lalu melangkah pergi.

“Hebat memang ilmu Coan-im-jip-bit dari Cui-beng Sian-li,” kata kakek itu.

Kembali Yu Hwi terkejut dan menduga-duga apakah kakek itu juga dapat mendengar bisikan subo-nya? Agaknya tidak mungkin, karena sepanjang pengetahuannya ilmu itu kalau dipergunakan hanya dapat didengar oleh orang yang ditujunya. Dia menoleh dan melihat kakek itu bersama gadis tanggung mengikutinya.

Yang dimaksudkan taman oleh Cui-beng Sian-li dan muridnya itu adalah sebuah tempat terbuka yang memang indah sekali. Di situ penuh dengan pohon, akan tetapi karena ketika itu musim dingin sedang hebat-hebatnya, maka semua pohon telah kehilangan daunnya, yang tinggal hanya batang dan cabang berikut rantingnya yang kini penuh dengan salju dan es yang menggantikan tempat daun dan bunga. Dan di sana-sini nampak batu-batu terselaput es yang aneh-aneh bentuknya. Semua itu berkilauan dan memantulkan cahaya yang beraneka warna sehingga memang benar-benar merupakan taman yang luar biasa aneh dan indahnya.

Di tengah taman itu terdapat sebuah kupel, yaitu bangunan tak berdinding, di mana terdapat sebuah meja batu berikut bangku-bangkunya yang mengelilingi meja itu, juga terbuat dari batu-batu dan jumlahnya ada delapan buah, cocok dengan meja yang bentuknya segi delapan itu. Dan di atas sebuah di antara bangku-bangku itu nampak duduk seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu.

“Subo, teecu sudah mengantar tamu-tamu datang,” kata Yu Hwi yang lalu berdiri di belakang subo-nya.

Wanita cantik itu memutar tubuh dan memandang kepada See-thian Coa-ong, lalu memandang kepada Ci Sian. Wajah yang cantik itu nampak suram seolah-olah sedang dibayangi kedukaan atau kepahitan hidup. Akan tetapi dia tersenyum ketika bertemu pandang dengan See-thian Coa-ong.

“Duduklah, See-thian Coa-ong,” katanya lembut.
“Terima kasih, Cui-beng Sian-li,” jawab kakek itu yang segera duduk menghadapi nyonya rumah, terhalang meja.

Ci Sian yang tidak dipersilakan duduk tidak mau duduk dan hanya berdiri di belakang kakek itu, seperti yang dilakukan oleh Yu Hwi. Gadis cilik ini memperhatikan nyonya itu dengan kagum. Tidak disangkanya bahwa di tempat sunyi seperti ini, tempat yang terpencil dari keramaian dunia, dia dapat bertemu dengan dua orang wanita cantik seperti guru dan murid ini. Dan sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa yang menjadi musuh kakek itu, yang namanya begitu menyeramkan, ternyata adalah seorang wanita yang cantik jelita! Padahal tadinya dia membayangkan bahwa nama itu tentu dimiliki seorang wanita yang amat menyeramkan.

“Engkau sungguh merupakan seorang kakek yang keras hati, Coa-ong. Tidak kusangka bahwa kekalahanmu dulu itu benar-benar kau tebus dengan mengasingkan diri sampai sekarang dalam goa itu. Tiga tahun lamanya! Bukan main!”

“Hemmm, Sian-li. Seandainya ketika itu engkau yang kalah, apakah engkau juga tidak akan menjalani hukuman seperti yang kita pertaruhkan bersama?”

Wanita itu tersenyum pahit. “Aku ragu-ragu apakah aku akan mampu setekun engkau memegang janji yang kita buat dalam keadaan marah itu, Coa-ong. Sudahlah, buktinya engkau kalah dan engkau baru tiga tahun bertapa di dalam goa itu. Masih kurang dua tahun lagi. Kenapa engkau sudah keluar dan mencariku?”

“Karena sekarang aku sudah mendapat jawaban teka-tekimu!”
“Ahh, benarkah? Hemm.... tidak mungkin!”
“Coba dengarlah, Cui-beng Sian-li. Akan tetapi apakah janji pertaruhan itu sekarang masih berlaku?”
“Tentu saja.”
“Jadi, kalau jawabanku keliru, aku harus melanjutkan bertapa di dalam goa itu dua tahun lagi, dan kalau benar engkau tidak boleh keluar dari tempat ini selama dua tahun.”
“Ya, begitulah, karena yang lima tahun itu telah lewat tiga tahun.”

Kakek itu tertawa. “Ha-ha-ha, menyenangkan sekali! Sekali tersesat di daerah Lembah Suling Emas, aku mengalami hal-hal yang amat menarik. Nah, dengarlah. Teka-tekimu dahulu itu merupakan pertanyaan begini: Apakah perbedaan pokok antara cinta seorang pria dan cinta seorang wanita? Bukankah begitu pertanyaanmu?”
“Tepat sekali. Nah, kalau memang engkau tahu jawabannya, jawablah.” Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu menantang.

“Cui-beng Sian-li, perbedaannya adalah begini. Pria adalah Yang dan wanita adalah Im. Pria adalah kasar dan kuat, wanita adalah lembut dan lemah. Cinta seorang pria bersifat ingin mencinta, ingin menyenangkan, ingin memanjakan, ingin memiliki! Sebaliknya cinta wanita bersifat ingin dicinta, ingin dimanjakan, ingin disenangkan, ingin dimiliki! Yang lembut mengalahkan yang keras, yang lemah menundukkan yang kuat. Bukankah begitu jawabannya?”

Wajah yang cantik itu tiba-tiba menjadi merah, lalu menjadi pucat, kemudian tiba-tiba saja dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya dan menangis! Melihat gurunya menangis demikian sedihnya, Yu Hwi terkejut dan marah. Cepat dia melompat dan menyerang kakek itu sambil membentak.

“Kakek iblis, berani engkau membikin susah Guruku?!”

Serangan Yu Hwi tentu saja hebat bukan main. Biar pun baru beberapa bulan dia menjadi murid Cui-beng Sian-li dan baru menerima sedikit petunjuk, akan tetapi oleh karena sebelumnya memang kepandaiannya sudah tinggi, maka begitu menggerakkan Ilmu Kiam-to Sin-ciang, terdengar suara bercuitan dan menyambarlah angin yang amat tajam ke arah kakek tinggi kurus hitam itu!

See-thian Coa-ong maklum akan kelihaian dara itu, maka dia pun sudah mencelat mundur dari bangkunya dan begitu Yu Hwi melancarkan pukulan maut bertubi-tubi dan kedua lengannya itu seperti berubah menjadi pedang tajam yang menyambar-nyambar, kakek ini hanya mengelak dan kadang-kadang saja menangkis dengan lengannya yang hitam panjang.

“Hemmm, beginikah sikap orang yang kalah taruhan?” See-thian Coa-ong mendengus dan tiba-tiba terdengar suara melengking keluar dari dada melalui kerongkongannya dan tidak lama kemudian terdengar suara mendesis-desis dan datanglah ratusan ekor ular ke tempat itu dari segenap jurusan!

Yu Hwi merasa terkejut sekali akan tetapi tentu saja dia tidak takut. Sebelum dia turun tangan membunuh ular-ular itu, terdengar gurunya membentak.“Yu Hwi, jangan lancang kau. Mundurlah.”

Yu Hwi tidak berani membangkang dan dia menghentikan gerakannya, lalu meloncat ke belakang gurunya. Cun Ciu sudah menghapus air matanya dengan sapu tangan sutera, kemudian berkata kepada kakek itu. “Coa-ong, maafkanlah muridku. Simpan kembali ular-ularmu yang menjijikkan itu.”

See-thian Coa-ong tertawa dan ratusan ekor ular itu tiba-tiba membalik dan merayap pergi dari situ. Sebentar saja tempat itu menjadi bersih dan hening, tidak terdengar suara mendesis seperti tadi dan bau amis dari ular-ular beracun telah lenyap pula.

“Ha-ha, aku sudah terlalu tua untuk menggunakan kekerasan, maka terpaksa minta bantuan ular-ular yang menjadi sahabatku itu untuk menakut-nakuti,” kata kakek itu.

“Hemm, siapa takut kepada ular-ularmu, Coa-ong? Dan kalau engkau melawan dengan ilmu silatmu, mana mungkin muridku mampu bertahan terhadapmu? Sudahlah, engkau datang bukan untuk mengadu ilmu silat, tetapi untuk menebak teka-teki dan ternyata engkau menang. Jawabanmu benar, Coa-ong. Akan tetapi, engkau seorang pria yang selalu tidak pernah berhubungan dengan wanita, bagaimana engkau mampu menjawab dengan begitu tepat?” tanya Cui-beng Sian-li sambil mengusap kedua matanya yang agak merah.

“Ha-ha, sungguh mati aku tadinya sama sekali tidak mampu menjawab dan jangankan harus bertapa dua tahun lagi, biar dua puluh tahun lagi aku pasti tidak akan mampu menjawab kalau tidak bertemu dengan muridku ini. Muridku ini, Bu Ci Sian, yang telah membantuku menjawab teka-tekimu.”

Tang Cun Ciu memandang tajam kepada gadis cilik itu yang juga menatapnya dengan pandang mata tidak kalah tajamnya. “Hemm, Coa-ong, muridmu itu sebenarnya masih terlalu kecil untuk dapat menyelami perasaan wanita jatuh cinta. Akan tetapi dia memiliki kecerdasan hebat.”

“Aku bukan murid See-thian Coa-ong!” tiba-tiba Ci Sian berseru nyaring.

Tang Cun Ciu memandang dengan heran sekali. Dia melihat Ci Sian berdiri tegak dengan sepasang mata berapi dan tiba-tiba dia seperti melihat seorang lain dalam diri gadis cilik itu.

“Kau.... kau she Bu? Ahhh, tidak salah lagi, engkau tentu anaknya!” Cui-beng Sian-li berkata lirih dan sepasang matanya terbelalak. “Engkau.... engkau tentu puteri Bu-tai hiap!” Tiba-tiba dia meloncat ke depan, mukanya pucat sekali. “Engkau.... serupa benar dengan ibumu dan karena itu engkau harus mampus!”

“Wuuuuttt....!”

Hebat bukan main tamparan yang dilakukan oleh Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu ke arah kepala Ci Sian itu. Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan agaknya nyawa gadis cilik itu takkan dapat tertolong lagi dari ancaman maut.

“Syuuuut.... dessss!”

Kedua orang sakti itu terhuyung ke belakang dan See-thian Coa-ong tersenyum pahit sambil berkata, “Cui-beng Sian-li, apakah kita harus mulai mengadu kepandaian lagi seperti tiga tahun yang lalu? Apakah engkau hendak menodai nama Lembah Suling Emas dengan membunuh seorang anak-anak yang tidak berdosa apa pun kepadamu?”

Ucapan itu membuat Cui-beng Sian-li tersadar dan dia pun menarik napas panjang, lengan tangannya masih tergetar hebat oleh tangkisan kakek itu tadi. “Ahhh.... aku telah lupa diri....! Aku menyesal, Coa-ong, dan sebagai hukumanku, aku akan menceritakan kepadamu segala peristiwa yang menimpa diriku dan kenapa aku bersedih mendengar jawaban teka-tekimu dan mengapa aku hendak membunuh Nona cilik ini.”

Tanpa mempedulikan bahwa yang mendengar ceritanya bukan hanya seorang kakek itu, tetapi juga Yu Hwi dan Ci Sian, Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu lalu menceritakan riwayatnya yang seharusnya merupakan rahasia bagi seorang wanita, akan tetapi kini dia ceritakan kepada orang lain tanpa malu-malu, seolah-olah hendak membuka rahasia kebusukannya sendiri! Memang aneh-aneh watak dari orang-orang dunia persilatan yang telah mencapai tingkat tinggi itu!

Tang Cun Ciu adalah seorang wanita cantik yang sejak kecil telah memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi karena dia berguru kepada para pertapa di sepanjang perbatasan Tibet. Bahkan akhirnya di dalam usia tujuh belas tahun dan merupakan seorang gadis yang cantik dan lihai berjumpa dengan Cu San Bu, seorang pendekar dan tokoh besar dari keluarga Cu penghuni Lembah Suling Emas. Cu San Bu seketika jatuh cinta kepada dara yang cantik manis ini dan akhirnya mereka menikah.

Kalau Cu San Bu tergila-gila karena kecantikan Cun Ciu, sebaliknya Tang Cun Ciu tertarik sekali kepada Cu San Bu karena kelihaian pendekar ini yang merupakan saudara tertua dari keluarga Cu. Padahal, usia mereka berselisih lima belas tahun! Kalau Tang Cun Ciu merupakan seorang dara remaja berusia tujuh belas tahun, adalah suaminya itu telah berusia tiga puluh dua tahun!

Setelah menjadi isteri Cu San Bu, Tang Cun Ciu yang amat suka mempelajari ilmu silat itu memperoleh kemajuan hebat sekali. Suaminya yang amat mencinta itu mengajarkan ilmunya kepada isterinya sehingga dalam waktu beberapa tahun saja ilmu kepandaian Tang Cun Ciu sudah sedemikian hebatnya sehingga tidak berselisih jauh sekali dari para kakak beradik Cu itu sehingga dia diterima sebagai seorang tokoh Lembah Suling Emas pula.

Akan tetapi, mungkin karena perbedaan usia yang terlalu banyak, atau karena memang watak mereka pun berbeda, Cu San Bu adalah seorang pendekar yang lebih bayak menahan nafsu-nafsunya dan lebih banyak bersemedhi, tapi sebaliknya Tang Cun Ciu adalah seorang wanita yang berdarah panas, maka dalam pernikahan itu Tang Cun Ciu merasa kecewa dan banyak menderita tekanan batin!

Suami itu terlalu ‘dingin’ baginya sehingga sering kali dia merasa tersiksa oleh gairah nafsunya sendiri yang tidak terpuaskan karena suaminya hanya teramat jarang mau menggaulinya. Dan karena ketidak serasian ini agaknya maka biar pun sudah menikah bertahun-tahun mereka berdua tidak mendapatkan keturunan.

Makin dewasa usia Tang Cun Ciu, semakin tersiksalah dia karena suaminya menjadi semakin tua dan semakin dingin dalam hubungan jasmani. Ketika dia berusia sekitar dua puluh tujuh tahun dan bagaikan bunga sedang mekar-mekarnya dan sedang panas-panasnya gejolak birahinya, suaminya yang baru berusia empat puluh dua tahun itu sudah jarang mau mendekatinya!

Keadaan seperti ini agaknya tidak akan menimbulkan apa-apa dan lambat laun Tang Cun Ciu tentu akan terbiasa dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kalau saja tidak muncul sepasang suami isteri pendekar yang datang bertamu di Lembah Suling Emas. Mereka ini adalah sepasang pendekar yang berusia sekitar tiga puluhan tahun. Pendekar itu dikenal sebagai Bu-taihiap, dan isterinya seorang wanita yang cantik dan juga memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bu-taihiap sudah mengenal Cu San Bu, kakak tertua di antara saudara-saudara Cu itu yang memang merupakan satu-satunya orang yang sering kali keluar dari Lembah Suling Emas dan banyak merantau.

Mereka, suami isteri itu, diterima sebagai seorang sahabat, bahkan mereka ditahan untuk tinggal di lembah itu selama mereka belum menemukan tempat yang baik untuk bertapa. Memang suami isteri itu datang ke Pegunungan Himalaya untuk bertapa dan mempelajari ilmu yang baru saja mereka dapatkan. Pada waktu itulah terjadi godaan yang amat hebat menggerogoti hati Tang Cun Ciu yang selalu kehausan cinta asmara itu! Wajah Bu-taihiap yang tampan, tubuhnya yang gagah, amat menarik hatinya dan mulailah terdapat sinar-sinar cinta asmara berkilatan dari pandang mata dan dari senyumnya terhadap sahabat suaminya itu! Hayoo…..

Dan Bu-taihiap walau pun dia merupakan seorang pendekar sakti yang selain berilmu tinggi juga berbatin kuat, tetap saja masih seorang manusia biasa, seorang manusia laki-laki yang masih muda dan akhirnya dia pun tidak kuat menghadapi godaan sinar-sinar cinta asmara yang dikobarkan oleh Tang Cun Ciu yang kehausan kasih sayang dan mendambakan belaian pria itu. Apa yang tak dapat dihindarkan lagi pun terjadilah. Terjadilah hubungan yang biasanya dinamakan perjinahan antara Tang Cun Ciu dan Bu-taihiap!

Setelah menderita tekanan batin selama bertahun-tahun di samping suaminya yang kurang memenuhi kebutuhan jasmani dan perasaannya, dan sekarang bertemu dengan seorang pria muda yang berdarah panas serta tidak kalah besar gelora birahinya dibandingkan dengan dirinya sendiri, tentu saja Tang Cun Ciu bagaikan seorang yang telah lama kehausan bertemu dengan sumber air yang segar. Tidak puas-puasnya dia meneguk air yang menyegarkan itu, tidak peduli lagi bahwa yang diminumnya adalah air terlarang, Lupa dia bahwa dia menjadi isteri pria lain dan bahwa pria yang dipeluknya penuh kobaran api cinta asmara yang menggelora dan panas itu adalah suami dari seorang wanita lain!

Dan tidak aneh pula kalau pada suatu hari mereka tertangkap basah! Semua orang di tempat itu, termasuk suami Tang Cun Ciu dan isteri Bu-taihiap, adalah orang-orang lihai yang berkepandaian tinggi, maka tentu tidak mudah dikelabui dan akhirnya perbuatan mereka berdua itu ketahuan! Namun, sebagai seorang pendekar besar yang tidak lagi dimabok birahi dan mudah dikuasai amarah, Cu San Bu tidak menimbulkan keributan.

Bu-taihiap merasa malu sendiri. Kalau seandainya suami wanita itu marah-marah dan menyerangnya, dia tidak akan merasa demikian terpukul dan malu seperti sekarang ini. Sikap Cu San Bu yang diam seperti orang tidak marah itu lebih menyakitkan hati bagi Bu-taihiap, karena membuat dia kelihatan semakin rendah saja! Maka dia pun berpamit dan pergi meninggalkan Lembah Suling Emas bersama isterinya dan semenjak itu tidak pernah nampak lagi atau terdengar beritanya.

Bercerita sampai di sini, Tang Cun Ciu memejamkan kedua matanya dan diam sampai beberapa lama. Ketika dia membuka lagi matanya, kedua mata yang jernih tajam itu agak basah. Dia menarik napas panjang. Dadanya yang masih membusung penuh itu naik turun.

“Sampai sekarang pun aku tak pernah dapat melupakan dia! Aku mencintai mendiang suamiku, hatiku mencinta suamiku yang amat baik kepadaku, akan tetapi tubuhku rindu kepada Bu-taihiap.”

Diam-diam muridnya sendiri, Yu Hwi, menjadi merah mukanya mendengar cerita subo-nya dan mendengar pengakuan itu. Pengakuan terang-terangan dan yang menurut pendapat dan pandangan umum merupakan pengakuan tidak tahu malu dari seorang isteri!

Wanita itu melanjutkan ceritanya…..

Biar pun pada lahirnya Cu San Bu diam saja seolah-olah perbuatan isterinya yang berjinah dengan tamunya itu tidak melukai hatinya, namun sesungguhnya dia merasa tertikam batinnya. Dia amat mencintai isterinya, tetapi cintanya tidak terlalu condong kepada nafsu birahi. Ia tak menyesal karena merasa dirugikan, hanya merasa menyesal mengapa isterinya melakukan perbuatan yang begitu rendah dan memalukan. Yang lebih memberatkan perasaan batin pendekar ini adalah sikap adik-adiknya.

Cu San Bu adalah seorang anak angkat dari ayah ketiga orang saudara Cu. Biar pun dia sudah dianggap anak sendiri dan memakai she Cu, namun tiga orang adiknya itu tahu bahwa dia bukanlah darah daging keluarga Cu. Biasanya memang sikap Cu Han Bu, Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu kepadanya biasa saja, tetap menganggapnya sebagai kakak sendiri, kakak terbesar yang selain paling lihai ilmunya, juga dapat mereka hormati karena sikap dan perbuatan Cu San Bu yang gagah perkasa dan baik, yang selalu menjunjung tinggi nama keluarga Cu. Akan tetapi, setelah peristiwa perjinahan antara Tang Cun Ciu dan Bu-taihiap, sikap tiga orang pendekar itu berubah sama sekali!

Tiga orang kakak beradik Cu itu diam-diam merasa terhina dan marah sekali oleh perbuatan Toaso mereka. Menurut pendapat mereka, dosa Toaso mereka itu terlampau besar dan biar pun twako mereka tidak menganggapnya sebagai dosa, akan tetapi mereka berpendapat bahwa Toaso mereka itu telah menodai nama dan kehormatan semua anggota keluarga Cu penghuni Lembah Suling Emas! Maka, sikap twako mereka yang mendiamkan saja perbuatan hina dan rendah itu, membuat mereka diam-diam merasa penasaran dan membenci twako mereka!

Inilah yang membuat Cu San Bu menderita tekanan batin dan akhirnya pendekar ini jatuh sakit! Penyakit yang sukar diobati karena bersumber dari batin yang tertekan. Akhirnya, pendekar ini meninggal dunia dalam usia baru empat puluh tahun lebih! Dan sebelum mati, dia sempat meninggalkan pesan atau permintaan terakhir kepada tiga orang adiknya itu agar mereka suka memaafkan Tang Cun Ciu dan agar wanita itu tetap diperlakukan sebagai Toaso mereka, sebagai keluarga mereka. Permintaan yang amat berat bagi Cu Han Bu dan dua orang adiknya, akan tetapi karena merupakan pesan terakhir, mereka tidak tega untuk menentang atau menolaknya.

“Mereka bertiga menerima pesan suamiku, dengan syarat bahwa aku harus tinggal di luar Lembah Suling Emas, dan demikianlah, aku memilih tempat ini, di kaki gunung dan di sebelah bawah dari lembah itu.” Tang Cun Ciu mengakhiri ceritanya yang sangat menarik perhatian tiga orang pendengarnya.

Akan tetapi kakek berkulit hitam itu, yang meski selama hidupnya belum pernah terjerat oleh perangkap-perangkap cinta asmara akan tetapi pandangannya sudah sedemikian waspada sehingga cerita yang didengarnya itu tidak menggerakkan hatinya karena dianggapnya wajar dan tidak aneh, lalu bertanya, nadanya penasaran, “Hemm, ceritamu mungkin menyedihkan, Cui-beng Sian-li, akan tetapi apa hubungannya itu dengan teka-tekimu?”

“Tiga tahun yang lalu, aku mendapat tugas untuk menghadapimu, dan karena dalam ilmu silat kita seimbang dan sukar untuk menentukan siapa kalah siapa menang, maka timbul niatku untuk membuka perasaan hatiku yang penasaran terhadap adik-adik suamiku itu melalui teka-teki ini. Nah, itulah sebabnya maka aku mengajukan teka-teki kepadamu, dengan harapan selain engkau tidak akan mampu menebaknya, juga tiga orang adik suamiku itu agar memikirkan pula tentang sifat-sifat cinta pria dan wanita. Sebagai isteri mendiang suamiku yang sungguh kucinta karena kebaikannya, sebagai seorang wanita, aku membutuhkan kasih sayang yang diperlihatkan, butuh dimanjakan, butuh dicinta dengan mesra, dengan lembut, butuh disenangkan dan dipuja. Akan tetapi sikap suamiku yang dingin itu mendatangkan perasaan kepadaku seolah-olah aku tidak dibutuhkannya lagi, tidak dicinta lagi. Seorang wanita, dari yang muda sampai yang tua sekali pun, baru percaya akan cinta kasih seorang pria jika pria itu memperlihatkannya dengan bukti dalam sikapnya. Dan wanita yang dilimpahi kemesraan baru akan percaya bahwa dia memang dicintai, maka anehkah kalau aku menyerahkan segala-galanya? Suamiku bersikap dingin, sebaliknya Bu-taihiap bersikap mesra sekali kepadaku, maka anehkah kalau aku menyerahkan diri kepadanya untuk memuaskan kehausanku?”

Makin lama makin merah dan jengah rasa hati Yu Hwi mendengarkan kata-kata gurunya itu. Sebagai seorang wanita dewasa, tentu saja dia mengerti semua yang dibicarakan. Sedangkan Ci Sian hanya mendengarkan dengan bengong, walau pun dia merasa kasihan, akan tetapi dia tidak begitu mengerti tentang urusan cinta-mencinta itu.

“Akan tetapi, apa pula hubungannya orang she Bu itu dengan aku?” Tiba-tiba Ci Sian bertanya, suaranya lantang dan mengejutkan Cui-beng Sian-li yang tidak menyangka-nyangka akan datang pertanyaan dari bocah itu. Dia memandang wajah Ci Sian dan alisnya berkerut, pandangannya menjadi tajam dan tidak senang.

“Mukamu sama benar dengan isteri Bu-taihiap! Dan engkau she Bu pula, maka aku menduga bahwa engkau tentulah puteri mereka!”

Ci Sian adalah seorang yang cerdik. Dia tahu bahwa dugaan itu mungkin saja benar karena bukankah ayah bundanya juga berada di Himalaya seperti yang diceritakan oleh kakeknya, dan bahwa ayah bundanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi? Akan tetapi, karena tiada bukti dan semua itu hanya dugaan saja, lebih baik kalau dia tidak mengakui hal itu, karena mengakuinya berarti hanya akan menimbulkan permusuhan dari wanita yang lihai ini.

“Hemm, biar pun aku she Bu, akan tetapi tidak ada bukti yang menyatakan bahwa aku adalah puteri mereka, karena itu, jangan engkau sembarangan saja menduga-duga dan secara sewenang-wenang hendak membunuhku,” kata Ci Sian, suaranya bernada teguran sehingga Tang Cun Ciu merasa terpukul dan malu.

Untuk menutupi rasa malunya ditegur oleh anak-anak, dia lalu berkata kepada See-thian Coa-ong. “Ehh, Coa-ong, engkau sekarang mempunyai seorang murid yang agaknya akan menjadi orang yang lihai, biar pun sekarang yang lihai hanya baru mulutnya saja! Pertandingan antara kita sudah selesai, maka marilah kita pertandingkan murid-murid kita dalam waktu lima tahun lagi. Engkau boleh menggembleng muridmu she Bu ini, dan aku akan membimbing muridku Yu Hwi, dan kita pertandingkan mereka....”

“Yu Hwi....?” Tiba-tiba Ci Sian berseru dan dia kini mencurahkan perhatiannya kepada murid Cui-beng Sian-li itu, memandang tajam karena baru kini dia tertarik sedangkan semenjak tadi perhatiannya dicurahkan seluruhnya kepada Cui-beng Sian-li. Dia mulai melangkah maju mendekati Yu Hwi yang juga memandangnya penuh perhatian, diam-diam Ci Sian harus mengakui bahwa Yu Hwi memiliki wajah yang manis sekali, bentuk tubuh yang ramping padat, kulit yang putih kuning halus mulus. Pendeknya, wanita itu amat cantik menarik dan memang pantas sekali kalau menjadi isteri Pendekar Suling Emas Kam Hong.

“Ada apa dengan engkau?!” Yu Hwi membentak ketika melihat Ci Sian memandangnya sedemikian rupa setelah tadi mengucapkan namanya.
“Yu Hwi....? Mengapa engkau meninggalkan Kam Hong....?” Karena tiba-tiba timbul rasa iba kepada pendekar itu dan teringat akan cerita Kam Hong bahwa isteri pendekar itu yang bernama Yu Hwi telah lari meninggalkannya, maka kini Ci Sian mengucapkan kata-kata itu dengan nada suara menegur dan mencela.

Mendengar ucapan ini, wajah Yu Hwi seketika berubah pucat dan matanya terbelalak memandang Ci Sian. Sejenak dia tidak mampu berkata-kata, kemudian setelah dia menekan perasaannya yang terguncang, dia lalu berkata, suaranya terdengar seperti membentak marah. “Apa.... maksudmu....?”

“Bukankah engkau yang bernama Yu Hwi, isteri yang telah meninggalkan suamimu yang bernama Kam Hong?”

Kini wajah Yu Hwi berubah merah sekali. “Bocah setan bermulut lancang! Aku tidak pernah menikah dengan siapa pun juga! Pula, kau peduli apa dengan urusanku?”

“Hemm, aku tidak tahu engkau sudah menikah atau belum. Akan tetapi agaknya engkau tentulah Yu Hwi yang dicari-cari oleh Paman Kam Hong. Tentu saja aku peduli karena Paman Kam Hong menderita sengsara karena mencari-carimu. Kiranya engkau menjadi murid Bibi Cui-beng Sian-li. Wah, memang cocok. Gurunya seorang wanita yang telah mengkhianati suami, sedangkan muridnya seorang wanita yang telah minggat dari suaminya. Keduanya telah menghancurkan hati dan kehidupan pria-pria yang mencintai mereka.”

“Keparat!”
“Jahanam bermulut lancang!”

Guru dan murid itu bergerak cepat, akan tetapi See-thian Coa-ong yang lebih dekat dengan Ci Sian sudah menyambar tubuh anak perempuan itu dan meloncat jauh dari tempat itu.

“Cui-beng Sian-li, di antara kita sudah tidak terdapat urusan lagi, biarkan kami pergi dari sini!” teriak kakek itu tanpa menghentikan loncatan-loncatannya dan ternyata wanita itu bersama muridnya pun tidak melakukan pengejaran.

Setelah kakek itu pergi jauh, Cui-beng Sian-li memandang pada muridnya dan dengan pandang mata tajam dia bertanya. “Yu Hwi, benarkah engkau minggat dari suamimu?”

“Tidak Subo, bocah itu bicara yang bukan-bukan. Yang benar, aku melarikan diri karena hendak dijodohkan dengan seorang pemuda yang bukan pilihanku sendiri.”
“Dan pemuda itu bernama Hong?”

Yu Hwi mengangguk, kemudian dia menceritakan persoalannya dengan Kam Hong. Dia menceritakan dengan singkat akan tetapi juga terus terang, mengingat bahwa gurunya tadi pun telah bercerita dengan terus terang tanpa menyembunyikan perbuatan dan perasaan hatinya sendiri.

“Sebetulnya, teecu jatuh cinta kepada seorang pendekar yang amat teecu kagumi, akan tetapi pendekar itu agaknya tidak membalas cinta teecu. Dan tanpa teecu ketahui, ternyata sejak kecil teecu telah ditunangkan dengan seorang pemuda lain. Setelah kakek teecu memberitahu tentang pertunangan itu, maka ketika dipertemukan dengan tunangan itu yang juga telah teecu kenal sebelumnya, teecu merasa malu, dan juga kecewa dan teecu pergi melarikan diri sampai sekarang. Sudah lima tahun lebih lamanya, dan siapa kira, pemuda itu ternyata masih mencari-cari teecu seperti yang dikatakan oleh bocah setan tadi.”

Hening sejenak setelah Yu Hwi menceritakan riwayatnya secara singkat. Kemudian Cun Ciu menarik napas panjang. “Yaah, demikianlah nasib kita kaum wanita. Tidak suka dijodohkan dengan pria pilihan orang-orang tua, disalahkan. Lari untuk menentukan nasib sendiri pun disalahkan. Disia-siakan cintanya sehingga kehausan dan mencari hiburan pelepas dahaga dengan pria lain pun disalahkan. Coba yang melakukan semua itu kaum pria, tentu tidak akan ada yang menyalahkan karena hal itu sudah dianggap biasa saja. Betapa tidak adilnya dunia ini terhadap kaum wanita!”

“Akan tetapi, sungguh Kam Hong itu tidak tahu diri!” Yu Hwi berkata. “Teecu tidak menyangka bahwa dia masih terus mencari teecu. Mau apa dia? Apakah hendak memaksa teecu menjadi isterinya berdasarkan ikatan jodoh yang dilakukan oleh orang-orang tua kami itu? Teecu harus pergi menemuinya dan menjelaskan bahwa teecu tidak suka menjadi isterinya!”

“Ingat, Yu hwi. Gurumu ini telah kalah bertaruh dengan See-thian Coa-ong. Dia sendiri telah mengorbankan waktunya sampai tiga tahun bertapa dalam goa. Dan setelah dia dapat menebak teka-teki sehingga aku kalah, sudah sepantasnya kalau aku pun memenuhi janji. Aku harus tinggal di sini dua tahun dan sama sekali tidak boleh keluar meninggalkan tempat ini sebelum dua tahun. Dan engkau baru saja menjadi muridku. Engkau harus pula belajar menemaniku di sini sampai sedikitnya dua tahun.”

Yu Hwi tidak berani membantah dan dia pun lalu mengikuti subo-nya kembali ke pondok kecil mungil yang dlbangun oleh keluarga Cu di tempat itu untuk Toaso mereka. Biar pun Tang Cun Ciu tidak diperbolehkan lagi tinggal di Lembah Suling Emas, akan tetapi dia tetap diaku sebagai keluarga dan setiap waktu boleh saja mengunjungi lembah melalui jalan rahasia terowongan yang hanya dikenal oleh keluarga mereka…..

********************
Selanjutnya baca
SULING EMAS NAGA SILUMAN : JILID-06
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger