logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Suling Emas Naga Siluman Jilid 07


Sementara itu, pasukan Ceng yang dikurung di lembah bukit juga tak mampu menyerbu ke luar, maka keadaan untuk sementara dapat dikatakan tenang, sungguh pun sewaktu-waktu diharapkan akan meledak pertempuran besar lagi, baik dari pasukan yang terkurung itu kalau menyerbu ke luar kepungan mau pun kalau datang bala bantuan dari Kerajaan Ceng. Sementara itu, panglima wanita itu telah mendatangkan bala bantuan pula dari Nepal untuk sewaktu-waktu mengadakan pukulan terakhir, menyerbu sampai ke ibu kota Tibet.

Karena keadaan menjadi tenang kembali, kota Lhagat mulai ramai, para pedagang mulai berani berdagang, para pemburu mulai lagi bekerja dan para petani mulai lagi berladang. Juga ternyata sekarang oleh Ci Sian betapa sebenarnya Siok Lan tidak membohong, bahwa ibu gadis itu amat keras terhadap pasukan-pasukannya dan setiap kali terdapat gangguan pasukan yang menyeleweng atau pun melakukan kejahatan, terutama perkosaan, tentu akan dihukum berat. Namun, tentu saja kadang-kadang sering kali terjadi pelanggaran-pelanggaran. Maklum dalam keadaan perang di mana hawa napsu merajalela menguasai hati semua manusia.
Ketika dia ditanya oleh Siok Lan, Ci Sian juga hanya mengatakan bahwa namanya Ci Sian bahwa dia pun tidak pernah melihat ayah bundanya dan bahwa dia tadinya ikut dengan kakeknya dan kakeknya itu tewas ketika mereka mengadakan perantauan di daerah Himalaya. Diceritakannya bahwa dia bertemu dengan Yeti dan kemudian dia berguru kepada seorang pertapa aneh yang berjuluk See-thian Coa-ong.

Mendengar disebutnya nama ini, Siok Lan berseru girang, “Ahh, sudah kuduga bahwa engkau tentu murid pertapa aneh itu! Tentu Ibu pun sudah menduganya, maka dia mau mengampunimu!”
“Ehh, kau mengenal Guruku?”
“Siapa tidak pernah mendengar nama See-thian Coa-ong? Dia itu orang Nepal, akan tetapi kata Ibu, sejak muda dia pergi merantau dan bertapa di daerah Himalaya. Ilmu kepandaiannya hebat sekali, kata Ibu, dan agaknya, Ibu mengingat dialah maka Ibu bersikap lunak terhadapmu, Ci Sian. Kalau tidak demikian, kiranya engkau tentu telah dibunuhnya. Ibu keras sekali terhadap musuh. Ceritakan kepadaku tentang orang aneh itu, Adikku, kabarnya dia itu.... ehh, kawin dengan ular?”

Ci Sian tertawa. “Mana ada manusia kawin dengan ular, Enci Lian? Suhu itu manusia biasa, hanya dia suka bertapa dan mempelajari ilmu, dan.... kesukaannya yang lain adalah mengadu ilmu, ilmu apa saja! Memang dia ahli menjinakkan ular, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa dia kawin dengan ular!”

“Soal ilmu perularan ini di Nepal tidak asing lagi, Adik Sian. Akan tetapi aku sendiri selalu takut, ngeri dan jijik terhadap ular. Bukankah binatang itu jahat dan berbahaya sekali?”
“Tidak lebih jahat dan berbahaya dari pada manusia, Enci Lian.”
“Mengapa kau berkata demikian?”
“Ular tidak pernah pura-pura. Sebagai sahabat dia setia dan sebagai musuh dia jujur dan tidak curang seperti manusia.”

Mereka lalu bicara tentang ilmu silat dan dengan sejujurnya karena dia pun mulai merasa suka kepada Siok Lan, Ci Sian memberi petunjuk dalam hal ilmu silat kepada teman barunya ini sehingga hubungan mereka semakin akrab.

Setelah tinggal selama beberapa hari di Lhagat, Ci Sian mendengar berita yang amat menggelisahkan semua orang, terutama sekali golongan atas, para pimpinan pasukan Nepal, yaitu bahwa ada seorang tokoh besar, seorang jenderal yang berilmu tinggi dari Kerajaan Ceng hendak datang melakukan penyelidikan ke Lhagat dengan tugas untuk menolong dan membebaskan pasukan Ceng yang terkepung di lembah itu. Bahkan Siok Lan membuka rahasia siasat ibunya yang menjadi panglima bahwa pengepungan pasukan itu memang sengaja dilakukan untuk memancing datangnya tokoh-tokoh Kerajaan Ceng untuk kemudian ditangkap dan dijadikan sandera untuk memaksa Kerajaan Ceng menarik mundur semua pasukannya dan tidak melakukan ‘campur tangan’ terhadap gerakan Nepal untuk menyerbu dan menguasai Tibet.

Ci Sian mulai dipercaya oleh Siok Lan, bahkan panglima wanita yang bernama Puteri Nandini, ibu Siok Lan itu juga tidak begitu memperhatikan Ci Sian yang dianggapnya hanya seorang dara kang-ouw yang baru turun dari perguruannya, apalagi ketika dia mendengar dari puterinya bahwa Ci Sian adalah murid See-thian Coa-ong seperti yang memang telah diduganya semula ketika dia melihat dara itu pandai menguasai ular-ular.

Begitu sukanya Siok Lan kepada sahabat barunya ini, dan begitu percayanya sehingga tidak jarang Ci Sian diajak oleh puteri panglima itu melakukan perondaan di sekitar Lhagat untuk meneliti keadaan dalam tugasnya membantu pekerjaan ibunya. Pada suatu senja, kedua orang dara remaja itu melakukan perondaan dan seperti biasa kalau melakukan perodaan seperti itu, mereka menggunakan ilmu kepandaian mereka, berloncatan ke atas genteng-ganteng rumah untuk melihat kalau-kalau ada penjahat beraksi, atau untuk mendengar-dengarkan kalau-kalau mereka akan dapat menangkap rahasia apakah Jenderal Ceng atau tokoh pandai pihak musuh sudah ada yang menyelundup ke dalam kota Lhagat.

Selagi dia menggunakan ginkang dengan cepat berkelebat di atas genteng-genteng rumah, tiba-tiba Ci Sian berhenti karena telinganya menangkap rintihan atau keluhan wanita yang sedang ketakutan, di antaranya tangis seorang bayi! Melihat Ci Sian berhenti lalu mendekati sahabatnya yang berdiri di atas genteng dan kemudian dia mengikuti Ci Sian yang meloncat ke atas genteng rumah di sebelah kiri, lalu keduanya berjongkok di atas sebuah kamar rumah dari mana terdengar keluhan dan tangis bayi itu.

“Kalau engkau tetap keras kepala dan menolak, bayimu ini akan kukirim ke neraka lebih dulu!” terdengar suara bentakan tertahan, agaknya orang yang membentak itu pun tidak ingin membuat gaduh.
“Jangan.... ohh, jangan bunuh anakku....“ terdengar suara seorang wanita sambil terisak ketakutan.

Ci Sian cepat membuka genteng dan mereka berdua mengintai ke dalam. Apa yang mereka lihat di sebelah dalam kamar itu membuat keduanya terbelalak dengan muka berubah merah dan pandang mata penuh kemarahan! Seorang laki-laki tinggi besar bermuka bengis, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang perwira rendahan dari pasukan Nepal, sedang mencengkeram baju seorang anak kecil berusia kurang dari setahun, mengangkat anak itu dengan tangan kirinya ke atas sedangkan tangan kanannya yang memegang sebatang golok besar itu diancamkan ke leher anak itu yang seolah-olah hendak disembelihnya!

Anak itu meronta-ronta lemah dan menangis. Seorang wanita muda, paling banyak dua puluh dua tahun usianya, berwajah cukup manis dan bertubuh montok karena masih menyusui, berlutut dengan air mata bercucuran dan dua tangan menyembah-nyembah minta diampuni.

“Engkau masih menolak kehendakku?” bentak laki-laki itu bengis.
“Aku mau.... ahhh, aku mau.... lepaskan anakku....“ Wanita itu menangis sambil dengan tangan gemetar mulai menanggalkan bajunya.

Melihat ini, perwira rendahan itu tertawa, melemparkan anak itu ke atas pembaringan, menancapkan goloknya di atas meja dan dengan buas dia menubruk wanita itu lalu memeluk dan menciuminya penuh nafsu. Wanita itu, demi keselamatan anaknya, hanya merintih dan menangis, tidak berani menolak atau melawan lagi.

Tentu saja Ci Sian dan Siok Lan marah bukan main. Akan tetapi sebelum dua orang dara ini mampu melakukan sesuatu, tiba-tiba jendela kamar itu jebol dan dari luar melayang sesosok tubuh yang gerakannya ringan sekali. Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pria berpakaian prajurit Nepal, akan tetapi wajah orang ini tidak dapat nampak jelas dari atas genteng.

Perwira yang sedang menciumi wanita itu dan tangannya mulai merobeki pakaian korbannya terkejut dan kelihatan marah. Namun, sebelum dia mampu mengeluarkan suara, tangan kiri prajurit itu bergerak dan terdengar suara benda pecah ketika tangan itu menampar dan mengenai kepala perwira itu! Tubuh perwira itu terpelanting dan tewas seketika! Wanita itu terbelalak ketakutan, lalu menghamplri anaknya yang masih menangis, mendekap anaknya sambil menangis sesenggukan.

Prajurit yang tubuhnya tidak seberapa besar itu mengeluarkan sekantung uang dan menaruh kantung itu ke atas meja. Terdengar suaranya lembut, suara dalam bahasa daerah yang tidak kaku. “Jangan takut, aku akan menyingkirkan mayat. Sebaiknya engkau bawa pindah anakmu dari Lhagat, dan uang ini dapat kau pergunakan untuk biaya.”

Setelah berkata demikian, prajurit itu memondong tubuh yang sudah tewas itu, lalu meloncat dengan gerakan yang amat tangkas keluar kamar melalui jendela. Akan tetapi sebelum ia melompat itu, dia menengadah ke atas, seolah-olah dapat memandang dua orang dara yang berada di atas genteng! Wajahnya tidak dapat nampak jelas, akan tetapi Ci Sian terkejut sekali melihat sepasang mata yang mencorong seperti mata naga, mengingatkan dia akan mata dari pendekar sakti Suling Emas atau Kam Hong!

“Lekas.... kita kejar dia! Dia mencurigakan sekali, aku mau tahu siapa prajurit itu!” Bisik Siok Lan dan kedua orang dara ini cepat melayang turun dari genteng dan ketika mereka melihat tubuh prajurit yang memanggul mayat itu berlari cepat, mereka segera mengejarnya.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa prajurit itu dapat berlari cepat sekali! Mereka berdua sudah mengerahkan seluruh ginkang mereka, namun tetap saja dalam waktu singkat prajurit itu telah lenyap, seolah-olah dapat terbang atau pandai menghilang! Tentu saja kedua orang dara ini menjadi penasaran.

Mereka adalah dua orang dara yang memiliki kepandaian silat tinggi, sedangkan yang dikejar hanya seorang prajurit biasa, yang malah sedang memanggul tubuh perwira yang tewas itu, namun ternyata mereka tidak mampu mengejarnya! Dengan penasaran sekali Siok Lan mengajak Ci Sian mencari-cari, namun hasilnya nihil. Prajurit yang memanggul mayat itu lenyap. Bahkan setelah Siok Lan memerintahkan pasukan untuk membantunya, tetap saja tidak dapat menemukan prajurit itu. Akhirnya mereka merasa putus harapan dan duduk beristirahat dengan hati mengandung penuh penasaran.

“Dia itu pasti seorang mata-mata,” kata Siok Lan. “Tidak mungkin ada seorang prajurit biasa yang memiliki ilmu kepandaian seperti itu!”
“Memang dia lihai sekali,” Ci Sian membenarkan. “Cara dia dengan hanya sekali tampar membunuh perwira itu dan ketika dia melarikan diri. Betapa pun, kita tetap harus mengaguminya, karena dia telah menolong wanita yang sengsara itu.”

Siok Lan mengerutkan alisnya. “Dia lancang! Dia telah membunuh seorang perwira pasukan kami dan dia tidak berhak!”

“Akan tetapi, Enci Lan, engkau tidak adil! Bukankah perwira itu cabul dan jahat sekali? Andai kata orang itu tak membunuhnya, aku sendiri tentu turun tangan membunuhnya!” Ci Sian yang berwatak jujur itu berkata terus terang.
“Memang aku sendiri pun sudah ingin turun tangan. Akan tetapi, engkau harus ingat bahwa penjahat itu adalah seorang perwira, maka dia tunduk kepada hukum dan disiplin. Mengapa harus orang lain yang menghukumnya, apalagi kalau orang lain itu agaknya adalah mata-mata musuh?”
“Betapa pun juga, sekarang terbukti lagi bahwa orang-orangmu jahat-jahat, Enci Lan. Perwira itu sungguh berhati binatang, bahkan seperti iblis jahatnya, patut sekali dia dibunuh sampai sepuluh kali!”

Siok Lan menarik napas panjang. “Aahh, begitulah perang. Menurut ilmu perang yang kupelajari dari Ibuku, memang perang selalu mendatangkan akibat-akibat seperti itu! Pasukan yang berada dalam perang selalu terancam nyawanya, penuh dengan dendam dan rasa takut, penuh dengan kebencian terhadap musuh. Hal ini baik sekali untuk semangat pasukan. Lagi pula mereka itu jauh dari keluarga, jauh dari isteri sehingga rata-rata menjadi lemah kalau melihat wanita. Nah, semua itu mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan seperti yang kita lihat, Adik Sian.”

“Jadi, menurut anggapanmu, perbuatan itu tidak salah dan sudah sepatutnya? Apakah engkau tidak membayangkan bagaimana seandainya engkau yang menjadi wanita itu, Enci yang baik?” Biar pun nada suaranya halus, namun penuh ejekan dan kemarahan.

Siok Lan tersenyum dan menyentuh lengan sahabatnya. “Simpan kemarahanmu, Adik Ci Sian. Aku tadi sudah bilang bahwa aku sendiri akan membunuhnya kalau tidak didahului oleh mata-mata itu! Aku hanya menceritakan keadaan yang sebenarnya, bukan melindunginya atau membelanya. Oleh karena itu, Ibu mengeluarkan peraturan keras dan disiplin. Akan tetapi, sudah tentu saja kadang-kadang terjadi pelanggaran oleh orang-orang yang lemah batinnya dan dan hal ini adalah lumrah. Kurasa di seluruh dunia pun terjadi hal-hal yang sama di waktu terjadi perang. Akan tetapi, jangan karena ada satu dua orang tentara yang dikuasai nafsu itu melakukan pelanggaran lalu engkau memberi cap bahwa semua pasukan Nepal seperti itu! Buktinya, aku sendiri adalah puteri panglima pasukan Nepal yang berkuasa di sini, akan tetapi aku menentang keras perbuatan jahat itu.”

Kini mengertilah Ci Sian dan dia pun mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa kagum karena biar pun usia Siok Lan masih muda, paling banyak setahun lebih tua dari padanya, namun sudah memiliki pengetahuan yang luas.

“Sekarang, apa yang hendak kau lakukan, Enci Lan?”
“Aku akan segera melaporkan kepada Ibu. Prajurit itu sangat mencurigakan dan melihat kelihaiannya, tentu dia seorang tokoh besar Kerajaan Ceng, atau.... siapa tahu, dia malah jenderal yang diberitakan akan datang ke sini itu....” Lalu dia menghela napas panjang dan berkata, “sayang.... kita tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.”

“Ahh, kurasa tidak mungkin dia seorang tokoh besar, apalagi jenderal. Biar pun aku juga tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pria yang masih muda, atau setidaknya, belum tua benar.”

Siok Lan mengangguk. “Apa anehnya seorang jenderal perkasa dan tokoh besar yang masih muda? Ibuku sendiri seorang wanita, dan belum tua benar, namun dia telah dipercaya untuk memimpin pasukan yang menyerbu ke sini dan menjadi panglima.”

Tiba-tiba datang seorang perwira melapor bahwa ada seorang prajurit yang sikapnya mencurigakan kelihatan di luar kota Lhagat. Mendengar ini, Siok Lan dan Ci Sian lupa akan kelelahan tubuh mereka yang semalam suntuk tidak tidur itu dan cepat mereka lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan itu.

Ketika mereka mengintai, memang benar ada seorang prajurit yang berjalan perlahan sambil menundukkan kepala. Karena mereka melihat dari jauh, dari belakang, maka mereka pun tidak tahu apakah benar prajurit itu yang mereka lihat semalam. Akan tetapi, menurut laporan penyelidik, prajurit itu baru saja mengubur mayat di lereng bukit itu, maka tidak salah lagi tentulah prajurit itu yang telah membunuh perwira dan yang mereka kejar-kejar.

“Mari kejar dia!” Siok Lan berseru dan Ci Sian sudah melompat keluar dari balik pohon dan mengerahkan ginkang untuk mengejar.

Karena memang kepandaian Ci Sian lebih tinggi setingkat, maka dia yang lebih dulu lari dan Siok Lan mengejar di belakangnya. Tiba-tiba prajurit itu menoleh. Sejenak saja, dan kembali Ci Sian melihat sinar mata mencorong, maka dia pun tidak ragu-ragu lagi. Itulah orang yang mereka cari-cari. Mereka berdua mengejar terus, akan tetapi kini prajurit itu pun melarikan diri, sedemikian cepat larinya sehingga sebentar saja dua orang dara perkasa itu telah kehilangan jejaknya!

“Keparat! Dia menghilang lagi!” Siok Lan memaki sambil mengepal tinju ketika mereka berdua tiba di luar sebuah hutan dan tidak tahu ke mana lenyapnya prajurit yang mereka kejar itu. “Mari kita mencari terus!”

Ci Sian juga merasa penasaran. Tentu saja dia tidak mempunyai keinginan seperti Siok Lan yaitu menangkap atau menyerang prajurit itu. Akan tetapi dia ingin sekali bertemu dan melihat wajah prajurit itu dan mengetahui apakah benar dia itu adalah mata-mata Kerajaan Ceng, terutama apakah benar dugaan Siok Lan bahwa dia itu adalah seorang tokoh besar atau jenderal yang didesas-desuskan itu. Maka mereka lalu melakukan pengejaran dan Siok Lan yang sejak kecil diajar ilmu perang dan sudah berpengalaman itu dapat mengikuti jejak orang itu dengan melihat daun-daun kering yang berserakan atau jejak-jejak yang halus di atas tanah.

Menjelang tengah hari, tibalah mereka di tepi sungai. Siok Lan yang menjadi pemburu jejak itu berlari di depan sedangkan Ci Sian mengikuti dari belakang. Di tepi sungai itu nampak sebuah perahu dan seorang pengail ikan sedang duduk di ujung perahu memegang joran pancing. Mereka cepat berlari menghampiri dan melihat bahwa pengail itu adalah seorang pemuda remaja yang sedang tekun memancing. Wajah pemuda itu sebetulnya tampan, akan tetapi ketika menoleh kepada mereka, nampak betapa sepasang matanya itu juling dan mulutnya agak menyerong, ujung kiri ke bawah dan ujung kanan ke atas. Cacat pada mata dan mulut ini tentu saja membuat wajahnya yang berkulit putih itu dan berbentuk tampan itu menjadi buruk dan menggelikan.

“Heeii, apakah engkau melihat seorang prajurit lewat di sini?” Siok Lan bertanya dengan napas agak terengah-engah karena dia tadi berlari-lari.

Pemuda itu memandang dengan mata julingnya, lalu menjawab agak bersungut-sungut. “Kalian ini mengganggu saja! Ikan-ikan pada lari mendengar kalian membikin bising. Sejak pagi aku tidak melihat seorang pun kecuali kalian dan sungguh sialan ikan-ikan yang sudah mulai mendekati umpan kini beterbangan pergi lagi!”

“Kalau ikan-ikan dapat terbang, kepalamu pun dapat kubikin terbang!” Siok Lan yang merasa kecewa dan gemas itu mengomel, tangan kanannya menghantam ujung batu di tepi sungai itu.
“Krakkk!” Ujung batu itu pecah berantakan terkena tamparan tangannya yang berkulit halus itu.

Pengail itu melongo dan mukanya menjadi semakin buruk, apalagi kini tangan kirinya mengusap dahi dan ternyata tangannya itu kotor sehingga mukanya menjadi coreng moreng.

“Am.... ampunkan.... saya....,” katanya gemetar dan joran pancing di tangannya itu kini menggigil seperti kalau umpannya disambar ikan.
“Nah, jangan main-main sekarang. Katakan apakah engkau tidak melihat seorang laki-laki lewat di sini? Seorang yang berpakaian prajurit?”
“Ti.... tidak.... tidak ada.... tidak ada orang lain....”
“Berani sumpah?”
“Saya berani sumpah.... tidak ada orang lain di sini.... kecuali saya sendiri, Nona....”

Dengan hati mengkal Siok Lan lalu melanjutkan pengejarannya, menyusuri tepi sungai itu. Dia tidak melihat betapa Ci Sian tersenyum geli dan sekali lagi Ci Sian menoleh ke arah pengail itu yang melanjutkan pekerjaannya dengan tekun.

Setelah lewat tengah hari dan sama sekali tidak menemukan jejak prajurit itu, dengan hati kecewa dan penasaran sekali Siok Lan lalu mengajak Ci Sian pergi dari situ dan ketika mereka lewat di tepi sungai yang tadi, perahu Si Pengail itu sudah tidak nampak lagi. Agaknya Si Pengail merasa jemu karena tidak berhasil dan pindah ke tempat lain.

Siok Lan mengajak Ci Sian menemui ibunya dan melaporkan semua peristiwa tentang prajurit aneh yang membunuh perwira itu. Panglima Nandini marah sekali. Cepat dia memanggil pembantunya dan memerintahkan agar memperkeras tindakan terhadap anak buah yang melakukan kejahatan, dan juga agar lebih memperketat penjagaan dan menambah penyelidik untuk menangkap mata-mata yang menyamar sebagai prajurit itu dan untuk menangkap setiap orang mata-mata yang berani menyusup ke Lhagat.

Ci Sian diam-diam merasa kagum sekali kepada mata-mata yang menyamar sebagai prajurit itu dan dia mengambil keputusan untuk ikut menyelidiki, bukan sekali-kali untuk melaporkan atau mencelakakan mata-mata itu, melainkan untuk belajar kenal karena dia tahu bahwa mata-mata itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Dan dia pun sudah dapat mendengar bahwa Lauw-piauwsu sekarang mendekam di penjara sebagai seorang tawanan penting karena ternyata Lauw-piauwsu sudah ikut pula menentang penyerbuan pasukan Nepal, dan malah telah memimpin orang-orang untuk melakukan perlawanan ketika pasukan Nepal menyerbu Lhagat. Oleh karena itulah maka dia dianggap musuh dan kini ditahan dalam penjara yang dijaga ketat sehingga sukarlah bagi Ci Sian untuk dapat menolongnya. Mengharapkan pertolongan dari Siok Lan dia belum berani, karena melihat betapa Lauw-piauwsu dianggap musuh maka jangan-jangan dia sendiri malah akan dicurigai. Maka dia menanti saat baik untuk dapat menyelamatkan piauwsu itu.

Beberapa hari telah lewat tanpa ada peristiwa penting dan mata-mata yang menyamar sebagai prajurit itu agaknya telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Karena tidak terjadi peristiwa penting, maka keadaan di Lhagat kembali menjadi tenang sehingga orang-orang berani melanjutkan pekerjaan sehari-hari dengan tenteram.

Siok Lan dan Ci Sian setiap hari masih saja meronda, namun tidak pernah memergoki sesuatu yang mencurigakan. Pada suatu pagi, Siok Lan menyatakan kepada Ci Sian bahwa dia akan pergi menyelidiki serombongan pemburu yang kabarnya sedang melakukan perburuan di sebelah bukit yang penuh dengan hutan-hutan lebat di mana banyak terdapat binatang-binatang buruan. Mendengar ini, Ci Sian menjadi gembira. Dia membutuhkan hiburan dan pergantian keadaan, dan memang dia sendiri pun suka berburu.

Siok Lan yang sudah dipesan oleh ibunya agar berhati-hati, telah mempersiapkan sepasukan pengawal. Akan tetapi dia ingin bebas bersama Ci Sian, maka dia hanya memerintahkan para pengawal untuk menyusul ke bukit itu, sedangkan dia sendiri bersama Ci Sian telah mendahului naik kuda dan membalapkan kuda mereka keluar dari Lhagat menuju ke bukit itu, sebuah bukit yang tidak jauh letaknya dari bukit di mana terdapat lembah tempat pasukan musuh dikurung.

Siok Lan adalah seorang gadis yang sejak kecil digembleng oleh ibunya sendiri, dengan ilmu silat dan ilmu perang sehingga dia memiliki keberanian yang tidak kalah oleh laki-laki yang gagah perkasa. Apalagi kini ada Ci Sian di sampingnya, yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari padanya dan boleh diandalkan, maka tentu saja dia menjadi semakin berani. Dengan membalapkan kuda, dua orang dara itu tiba di kaki bukit dan memandang ke atas. Bukit itu memang penuh dengan hutan dan terkenal sebagai bukit yang dihuni oleh banyak binatang buas, menjadi tempat yang baik sekali bagi para pemburu, di samping, tentu saja, juga amat berbahaya karena di situ masih banyak terdapat harimau-harimau yang besar dan ganas.

“Mari, Adik Sian!” Siok Lan berkata dengan gembira dan dia sudah membedal kudanya naik ke bukit memasuki hutan lebat.

Ci Sian juga menjadi gembira sekali dan dengan cepat dia mengikuti sahabatnya itu. Ternyata hutan itu selain lebat sekali, juga jalannya kecil melalui jurang-jurang yang curam. Namun, karena Siok Lan adalah seorang ahli menunggang kuda, maka dia tidak takut dan membalapkan kudanya menyusup di antara pohon-pohon, melompati semak belukar dan berlari cepat di tepi jurang yang mengerikan.

“Heii, Enci Lan, hati-hatilah!” Beberapa kali Ci Sian memperingatkan sahabatnya yang dianggap bersikap lengah di tempatnya berbahaya seperti itu.

Namun Siok Lan hanya menjawab dengan suara ketawa panjang dan terpaksa Ci Sian juga membedal kudanya untuk mengikuti karena dia tidak mau kalau sampai terpisah dari sahabatnya itu di tempat yang asing ini.

Tiba-tiba terdengar suara gerengan yang disusul auman menggetarkan jantung dan dari balik semak-semak belukar keluarlah seekor harimau yang luar biasa besar. Kuda yang ditunggangi Siok Lan terkejut dan ketakutan, meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depan ke atas lalu meronta dan membedal ke depan!

“Enci Lan, lompatlah....!” Ci Sian berseru kaget, cepat mengejar dengan membalapkan kudanya dan tidak mempedulikan harimau yang masih menggeram dahsyat itu. Namun Siok Lan tidak mau melompat turun, berusaha menguasai kudanya yang kabur dan panik penuh rasa takut itu.

Seekor kuda yang sudah ketakutan amatlah berbahaya kalau ditunggangi. Kuda yang panik itu berlari dengan kacau dan tidak melihat lagi rintangan di depannya. Memang sebaiknya kalau dapat melompat turun dari atas punggung seekor kuda yang lari ketakutan seperti itu. Akan tetapi Siok Lan adalah seorang dara yang keras hati. Sejak kecil dia sudah mahir menunggang kuda, maka kini pun dia tidak mau mengalah dan dia merasa sanggup untuk menguasai kembali kudanya yang kabur ketakutan itu. Dengan menarik kendali kuda dia hendak mengekang dan memaksa kudanya untuk berhenti. Kuda itu meringkik dan berdiri di atas kedua kaki belakang, mendengus dan meringkik marah karena rasa nyeri pada mulutnya, kemudian begitu kendali itu mengendur, dan meloncat ke depan dan tentu saja tubuhnya melayang turun karena di depannya adalah jurang!

“Enci Lan....!” Ci Sian menjerit ketika melihat betapa kuda itu bersama Siok Lan terjatuh ke dalam jurang!

Akan tetapi pada saat itu, dari tepi jurang sebelah kiri menyambar sinar hitam kecil dari seuntai tali yang meluncur dengan amat cepatnya ke bawah, ke arah tubuh Siok Lan yang melayang di atas punggung kudanya dan disusul teriakan seorang laki-laki yang nyaring. “Cepat tangkap tali ini!”

Tali itu ternyata merupakan laso yang meluncur cepat sekali dan tahu-tahu sudah melaso tubuh Siok Lan dari atas. Kalau dara itu tidak cepat menangkap tali yang menjiratnya, tentu lehernya akan terjirat dan sentakan itu tentu membahayakan nyawanya. Untung baginya, dia mendengar teriakan itu dan cepat dia melepaskan kendali kuda dan menangkap tali yang menjirat tubuhnya, maka ketika luncuran tubuhnya tertahan oleh laso itu, lehernya tidak terjerat dan dia dapat menahan dengan kekuatan kedua tangannya! Kini tubuhnya tergantung pada tali laso itu.

Ci Sian sudah melompat turun dan berlari menghampiri pemuda yang memegang ujung tali di mana Siok Lan bergantung di bawah sana. Tanpa diminta, tanpa mengeluarkan kata-kata, dia pun membantu pemuda itu menarik tali perlahan-lahan dan akhirnya tubuh Siok Lan dapat ditarik keluar dari dalam jurang, sementara kudanya masih terus meluncur turun dan terdengar suara gedebukan mengerikan ketika akhirnya tubuh kuda itu menimpa dasar jurang tentu saja hancur dan tewas!

Siok Lan agak menggigil ketika dia dapat ditarik ke tepi jurang. Sejenak dia memandang ke dasar jurang, kemudian menoleh kepada pemuda itu. Dia tercengang karena pemuda itu ternyata adalah seorang pemuda tampan dan gagah, biar pun pakaiannya biasa dan kasar saja dan sikapnya amat sederhana. Seorang pemuda dusun atau seorang pemuda pemburu.

“Terima kasih, engkau telah menyelamatkan nyawaku,” kata Siok Lan kepada pemuda itu yang kelihatan tersipu malu.
“Ahh, hanya kebetulan saja aku dapat menyelamatkanmu, Nona. Aku girang bahwa engkau demikian cekatan dapat menangkap tali lasoku,” kata pemuda itu sederhana.
“Kepandaianmu hebat sekali!” kata Ci Sian memuji.

Pemuda itu memandang kepada Ci Sian, kemudian menunduk dan memandang tali laso di tangannya, lalu menjawab dengan sikap wajar, “Tali laso ini? Ahhh, Nona, aku adalah seorang pemburu dan akhir-akhir ini banyak pedagang yang membutuhkan binatang-binatang hidup, maka kami para pemburu hanya mempelajari ilmu melempar laso untuk dapat menangkap binatang hutan hidup-hidup. Baru saja aku sedang mengintai dan membayangi seekor kijang untuk kutangkap dengan laso ini ketika aku melihat Nona ini terjatuh dengan kudanya ke dalam jurang.”

“Jadi engkau adalah seorang di antara para pemburu yang sedang memburu binatang di bukit ini?” Siok Lan bertanya sambil memandang tajam.
“Benar, Nona. Kami berkemah di puncak bukit. Aku she Liong bernama Cin.... dan sungguh amat mengherankan bertemu dengan dua orang dara remaja di tempat seperti ini. Tidak tahu siapakah Ji-wi dan hendak ke mana....?”
“Enci ini adalah puteri panglima pasukan Nepal....”

Siok Lan cepat memandang kepada Ci Sian penuh teguran, akan tetapi Ci Sian sudah terlanjur bicara sehingga dia tak dapat mencegah lagi sahabatnya itu memperkenalkan dirinya. Sementara itu, pemuda pemburu itu nampak terkejut dan cepat-cepat dia menjura dengan hormat.

“Ahh, harap Nona sudi memaafkan, karena tidak mengerti....“
“Sudahlah, engkau telah menyelamatkan aku dan aku berterima kasih kepadamu. Sekarang antarkan kami ke perkemahan para pemburu, aku ingin melihat keadaan mereka,” kata Siok Lan.

Mereka bertiga lalu menyusup-nyusup di antara pohon-pohon menuju ke perkemahan itu. Kuda tunggangan Ci Sian dituntun oleh pemburu muda itu. Akhirnya tibalah mereka di perkemahan para pemburu. Ternyata di situ berkumpul tujuh belas orang pemburu yang semua terdiri dari laki-laki yang kasar dan kuat. Akan tetapi begitu mendengar dari Liong Cin bahwa Siok Lan adalah puteri panglima pasukan Nepal, para pemburu itu bersikap hormat.

Melihat keadaan mereka yang betul-betul tengah memburu binatang, dengan hasil-hasil buruan, mati atau hidup, dikumpulkan di perkemahan mereka. Siok Lan percaya dan tidak menaruh curiga. Setelah menerima hidangan mereka yang berupa panggang daging-daging binatang buruan, Siok Lan dan Ci Sian berpamit. Mereka diantar oleh Liong Cin dan seekor kuda diberikan oleh mereka kepada Siok Lan. Ketika hendak berpisah, Siok Lan melepaskan seuntai kalung dari lehernya, sebuah kalung dengan hiasan bunga teratai emas dihias permata, dan menyerahkan kalung itu kepada Liong Cin.

“Sebagai tanda terima kasihku atas budi pertolonganmu tadi, terimalah kalungku ini,” katanya singkat.

Liong Cin menerimanya dan Siok Lan lalu membedal kudanya meninggalkan pemuda itu, diikuti oleh Ci Sian, dan dipandang oleh Liong Cin yang masih berdiri bengong dengan kalung itu di tangannya.

“Ehhh, Enci Lan, dia itu gagah dan tampan, ya?” kata Ci Sian ketika dia berhasil menjajarkan kudanya di samping kuda Siok Lan.
“Apa? Siapa?” Siok Lan nampak terkejut karena agaknya dia sedang melamun.
“Aihh, siapa yang kau beri hadiah?” Ci Sian menggoda.
“Hushh! Aku memberi hadiah karena dia telah menyelamatkan nyawaku! Itu merupakan suatu kenyataan dan bukankah sudah sepatutnya kalau aku kemudian memberi hadiah kepadanya? Jangan kau mengira yang bukan-bukan!”
“Ihh, siapa yang mengira bukan-bukan? Aku pun hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah dia memang tampan dan dia gagah karena sudah menolongmu? Kau kira aku menyangka apakah Enci Lan?”

Siok Lan cemberut dan membalapkan kudanya. Ci sian mengejar sambil tertawa.

“Enci Lan, jangan marah dong! hanya mau bilang bahwa dia tentu senang sekali memiliki kalung yang biasa kau pakai di lehermu.”

Siok Lan menahan kudanya, lalu menoleh, memandang kepada sahabatnya itu. “Ehh, apa maksudmu?”

Ci Sian tertawa. “Maksudku engkau tahu sendiri, hi-hik!”

“Ehh, anak nakal! Engkau genit, ya? Kucubit bibirmu....!” Siok Lan meraih dengan tangannya untuk mencubit, Ci Sian mengelak dan melarikan kudanya, dikejar oleh Siok Lan.

Kedua orang dara itu berkejaran sambil bersendau-gurau, tertawa-tawa dan akhirnya mereka memasuki kota Lhagat dengan selamat. Siok Lan memberi laporan kepada ibunya tentang para pemburu yang dikatakannya adalah pemburu-pemburu tulen dan orang baik-baik. Para pengawal yang terpaksa balik kembali ketika mereka bertemu dengan dua orang dara yang berkejaran itu, tidak melihat apa-apa. Atas pesan Siok Lan, Ci Sian juga tidak mau bicara tentang pemburu muda yang telah menyelamatkan sahabatnya itu kepada orang lain. Siok Lan sendiri hanya secara singkat menceritakan kepada ibunya bahwa kudanya kaget melihat harimau dan membawanya terjun ke jurang, akan tetapi seorang di antara para pemburu itu telah menyelamatkannya dengan menggunakan tali laso. Mendengar ini, Puteri Nandini terkejut juga, akan tetapi akhirnya dia mengangguk-angguk dengan alis berkerut.

“Lain kali kau harus hati-hati. Dan bagaimana pun juga, kita harus menyuruh penyelidik mengamat-amati para pemburu itu. Seorang pemburu mampu menolong dengan laso seperti itu, cukup aneh dan mencurigakan.”

“Ah, Ibu terlalu curiga kepada semua orang pandai. Kalau memang dia itu berniat buruk dan kalau dia itu mata-mata musuh, tentu dia sudah mengenalku dan mana mungkin mata-mata musuh mau menyelamatkan puteri panglima musuhnya?” Ucapan ini dapat diterima oleh panglima wanita itu, maka kecurigaannya terhadap para pemburu itu pun banyak berkurang.

Sunyi sekali malam itu, akan tetapi para penjaga berjaga-jaga penuh kewaspadaan di sekeliling bukit yang terkurung itu. Baru kemarin pagi, ketika matahari baru timbul, ada penjaga-penjaga di bagian barat bukit itu melihat adanya bayangan-bayangan orang berkelebat dan bagai beterbangan saja cepatnya naik ke atas bukit. Mereka tidak tahu bagaimana ada orang-orang mampu menyusup melalui penjagaan mereka.

Ataukah bayangan sosok tubuh itu bukan bayangan manusia? Para penjaga sudah menghujankan anak panah ke arah bayangan-bayangan itu, akan tetapi tak ada yang berhasil. Anak-anak panah itu seperti mengenai bayangan-bayangan saja! Oleh karena itu, malam ini juga diadakan penjagaan ketat setelah terjadinya peristiwa itu.

Pasukan yang bertugas menjaga dengan anak panah di tangan telah siap dan setiap beberapa jam sekali pasukan ini diganti agar mereka tidak sampai kelelahan dan kurang waspada. Menjelang tengah malam, dari atas bukit nampak ada cahaya berkedip dan cahaya ini lalu meluncur turun ke bukit. Melihat ini, para penjaga sudah siap menyambut karena tidak mungkin ada cahaya turun tanpa dibawa orang. Setelah agak dekat, dari jauh para penjaga dapat melihat bahwa cahaya itu adalah sebatang obor yang bernyala. Hal ini menimbulkan keyakinan dalam hati mereka bahwa memang ada orang yang berlari turun membawa obor itu.

“Siap....!” bisik komandan pasukan panah.

Para penjaga itu sudah mencabut anak panah dan menyiapkan anak panah pada busur masing-masing. Kini dari cahaya obor itu dapat nampak bahwa yang melarikan obor memang benar seorang manusia yang bergerak ringan dan cepat sekali.

“Berhenti!” Tiba-tiba komandan jaga membentak.

Akan tetapi, pembawa obor itu malah melemparkan obornya ke arah para penjaga. Tentu saja keadaan menjadi geger.

“Serang!” Komandan memberi aba-aba dan puluhan batang anak panah meluncur ke arah tempat di mana orang tadi nampak.

Setelah melemparkan obornya, tentu saja keadaan di mana orang itu berdiri menjadi gelap dan tidak nampak lagi orang itu. Kiranya orang itu, yang memiliki gerakan amat gesitnya, telah menyelinap ke dalam kegelapan malam, menjauhi penerangan yang ada di tempat penjagaan, dan dapat menyusup pergi selagi para penjaga menjadi panik.

Akan tetapi karena bayangan itu telah lenyap, para penjaga tidak dapat berbuat lain kecuali melakukan penjagaan semakin ketat agar jangan ada lagi orang dari atas bukit yang terkurung itu dapat meloloskan diri. Sementara itu, bayangan tadi dengan sangat cepat telah berlari seperti terbang saja di antara pohon-pohon dan menuju ke kota Lhagat!

Dan malam itu terjadi geger di gedung yang menjadi tempat tinggal Sang Panglima, yaitu Puteri Nandini! Tanpa dilihat oleh seorang pun penjaga yang menjaga gedung itu dengan ketat, sesosok bayangan manusia menyelinap dan memasuki kamar kerja Sang Panglima wanita itu, dan setelah menggeledah sepuasnya, baru dia meloncat keluar sambil membawa beberapa buah benda yang amat penting. Kebetulan sekali pada saat itu Puteri Nandini sedang melakukan ronda dan telinganya yang amat tajam itu dapat menangkap suara yang tidak wajar ini. Dengan gesit, seperti seekor burung walet saja, panglima ini yang memakai pakaian biasa karena dia hanya meronda di gedung tempat tinggalnya sendiri, meloncat ke atas genteng. Sungguh kebetulan sekali, pada saat itu maling yang memasuki kamar kerjanya itu baru saja melayang naik.

“Berhenti!” bentak Puteri Nandini.

Akan tetapi bayangan itu hendak meloncat pergi dan sekali menggerakkan tangan, panglima ini sudah menyerang bayangan itu dengan lemparan senjata rahasianya yang amat berbahaya, yaitu segenggam jarum yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh batang. Jarum-jarum halus itu menyambar seperti anak-anak panah kecil, lembut sekali sehingga tidak nampak, hanya sinarnya saja berkelebat, dan seluruh tubuh maling itu telah dijadikan sasaran, dari mata sampai ke lutut kaki! Akan tetapi, betapa kaget hati Sang Panglima ketika dengan amat mudahnya, bayangan itu meloncat ke samping dan dengan kebutan lengan baju, jarum-jarumnya runtuh semua ke atas genteng!

“Mata-mata busuk, menyerahlah engkau atau mati!” bentak Puteri Nandini.

Kini dia menyerang dengan tubrukan seperti seekor harimau betina. Tubuhnya meloncat ke depan, kedua lengannya terbentang dan kedua tangannya sudah bergerak, yang kanan mencengkeram ke arah leher, dan yang kiri menusuk dengan totokan ke arah lambung. Sungguh serangan ini hebat bukan main dan amat berbahaya!

Akan tetapi, orang itu sungguh lihai bukan main. Biar pun menghadapi serangan yang amat berbahaya ini, dia bersikap tenang saja, tangan kirinya masih tetap memegang benda-benda yang diambilnya dari dalam kamar itu, yaitu sebuah gulungan kertas dan beberapa buah buku.

“Plak! Plak!”

Dua kali tangannya menangkis dan akibatnya tubuh panglima itu terpental! Tentu saja Puteri Nandini terkejut. Keadaan di atas genteng demikian gelapnya sehingga dia tidak dapat melihat wajah orang itu, hanya dapat menduga bahwa lawannya ini adalah seorang pria yang perawakannya sedang dan tegap, akan tetapi dia tidak dapat mengatakan apakah pria ini tua ataukah muda. Pada saat dia terhuyung oleh tangkisan yang amat kuat itu, dari bawah melayang naik beberapa orang perwira pengawal yang berkepandaian cukup tangguh, di antara mereka ada yang membawa obor. Melihat ini, orang itu melompat jauh ke depan dan sekali loncat saja dia telah turun ke atas tanah, jauh di samping gedung itu.

Bukan main kagetnya hati Sang Panglima menyaksikan kehebatan ginkang dari orang itu. Maka dia pun cepat meloncat turun sambil berteriak. “Cepat kejar!”

Sambil mengejar, Puteri Nandini mencabut pedangnya. Dia merasa menyesal mengapa tadi memandang rendah lawannya. Kalau saja dari tadi dia mencabut pedang, tentu setidaknya dia dapat mendesak dan mengurung, tidak memberi kesempatan kepada maling itu untuk dapat meloloskan diri.

Dan memang ginkang orang itu hebat sekali. Walau pun Sang Puteri dan para perwira pengawal mengejar mati-matian, tetap saja mereka tertinggal jauh dan sebentar saja orang itu sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Dan betapa pun para penjaga telah melakukan penjagaan ketat pada pintu-pintu gerbang dan para pengawal juga sudah melakukan pencarian di seluruh kota Lhagat, semua itu sia-sia belaka.

Bayangan yang memasuki gedung panglima itu lenyap dan bersama dia, lenyap pula beberapa buah benda yang penting dari dalam kamar kerja Puteri Nandini. Benda-benda itu adalah sebuah peta dari kota Lhagat dan sekelilingnya, termasuk peta yang amat jelas dan terperinci dari bukit di mana terdapat lembah yang menjadi tempat pasukan Ceng yang terkepung. Ada pula buku-buku, catatan Sang Panglima tentang penyerbuannya dan rencana-rencana penyerbuan ke Tibet selanjutnya. Dan dengan lenyapnya semua itu, tentu saja Puteri Nandini menjadi marah bukan main dan dia terpaksa akan diharuskan merubah semua rencana penyerbuannya!

Setelah terjadi peristiwa itu, desas-desus tentang jenderal sakti dari pihak musuh menjadi semakin santer. Betapa pun Sang Panglima mencoba untuk merahasiakan kehilangan benda-benda yang amat penting itu, namun berita bahwa ada seorang mata mata musuh menyerbu gedung dan lalu dapat lolos, padahal Sang Panglima sendiri yang mengejarnya, membuat geger semua orang dan menggetarkan hati para perwira Nepal.

Desas-desus ini bukan hanya membikin gentar hati orang-orang Nepal, akan tetapi juga membesarkan hati orang-orang Tibet dan penduduk kota Lhagat yang mengharapkan terusirnya pasukan Nepal dari situ. Mereka yang telah dirugikan, dirampok, dibunuh sanak keluarganya, atau diperkosa isteri dan anaknya, diam-diam amat mengharapkan pasukan Tibet atau pasukan Ceng dapat menghancurkan pihak musuh yang mereka benci itu.

Bahkan di antara para penghuni tetap kota Lhagat itu terdapat pula orang-orang jahat yang dahulunya menjadi jagoan-jagoan di situ dan yang hidupnya dari memeras kanan kiri mengandalkan keberanian dan kelihaian mereka, dan setelah Lhagat diduduki pasukan Nepal mereka itu kehilangan pengaruh dan sumber penghasilan. Mereka ini pun menaruh dendam kepada tentara asing itu, dan kini mereka pun mulai nampak berani karena mereka percaya bahwa jenderal sakti dari Kerajaan Ceng itu agaknya muncul! Orang-orang seperti ini beranggapan bahwa munculnya jenderal sakti itu seolah-olah hendak membantu dan melindungi mereka!

Betapa banyaknya kita melihat di sekitar kita keadaan seperti ini. Dengan jelas kita melihat, semenjak dulu seperti yang kita baca dalam catatan sejarah, sampai sekarang ini pun, orang-orang yang sesungguhnya melakukan perbuatan-perbuatan sesat setiap harinya, memeras, menipu, mengandalkan kekuasaan dan kedudukan, mengandalkan harta kekayaan, mengandalkan kepintaran, melakukan penindasan sewenang-wenang. Yang berkedudukan tinggi menekan yang lebih rendah, yang lebih rendah menekan yang rendah lagi, dan selanjutnya. Hukum rimba berlaku di mana-mana. Siapa kuasa dia menang dan dia benar!

Akan tetapi anehnya, kita semua masing-masing merasa bahwa kita benar! Kita saling memperebutkan pahala dan jasa! Kita masing-masing merasa bahwa kitalah orang terbaik, orang paling berguna, paling patriot dan sebagainya. Beginilah akibat dan hasilnya kalau kita tidak belajar mengenal diri sendiri. Segala sesuatu mengenai diri kita, yang kita ingat hanyalah segi-segi baiknya saja, sebaliknya segala sesuatu mengenai diri orang lain hanya kita ingat segi-segi buruknya belaka.

Kalau saja kita masing-masing belajar mengenal diri sendiri, mengamati diri sendiri dan tidak membiarkan mata kita menilai orang-orang lain, tentu akan nampak jelas betapa buruk dan kotornya kita ini masing-masing. Dan hanya kewaspadaan dan kesadaran dalam pengamatan terhadap diri sendiri setiap saat inilah yang mungkin sekali dapat mengadakan perubahan dalam diri kita masing-masing. Dan kalau kita sendiri sudah berubah, barulah dapat diharapkan masyarakat, bangsa, dunia akan berubah keadaan kehidupannya, tidak seperti sekarang ini di mana permusuhan, kebencian, dendam, iri hati, dan perang merajalela.

Karena sesungguhnya keadaan dunia tak dapat dipisahkan dari keadaan alam batin kita masing-masing. Kitalah yang membuat dunia seperti keadaannya pada saat ini, kita masing-masinglah yang bertanggung jawab untuk itu. Oleh karena itu, harus terdapat perubahan pada diri kita, pada batin kita masing-masing.

Seorang di antara mereka yang biasa mempergunakan keberanian dan kepandaian untuk memeras orang lain adalah seorang jagoan yang bernama Su Khi. Mungkin karena dia ini masih peranakan Mancu, dan pada waktu itu bangsa Mancu dianggap sebagai bangsa besar karena berhasil menguasai seluruh Tiongkok, maka dia merasa angkuh dan lebih tinggi dari pada orang lain. Hal ini ditambah lagi dengan kepandaian silatnya yang membuat dia dijuluki Toa-to Hui-houw (Harimau Terbang Bergolok Besar), maka membuat Su Khi menjadi besar kepala dan menganggap bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih gagah dari pada dia.

Ketika pasukan Nepal menyerbu dan menguasai Lhagat, Su Khi yang selain jahat dan sewenang-wenang juga amat cerdik ini, hanya bersembunyi, tidak ikut melawan. Dia tahu bahwa tiada gunanya melawan pasukan yang besar sekali jumlahnya! Maka dia pun selamat dan tidak dimusuhi oleh pasukan Nepal! Akan tetapi diam-diam tentu saja dia amat benci kepada pasukan Nepal yang dianggap amat merugikannya, membuat dia tidak berani berkutik dan kehilangan nama besar dan sumber hasilnya.

Kini, semenjak munculnya penyerbuan gedung panglima dan santernya desas-desus tentang jenderal sakti, bahkan dikabarkan orang bahwa jenderal itu telah siap untuk merebut Lhagat, Su Khi mulai beraksi. Mulailah dia keluar dan mengganggu penduduk, minta apa saja yang dikehendakinya dengan ancaman, seperti dulu sebelum pasukan Nepal datang.

Akan tetapi Su Khi tidak tahu bahwa perbuatannya itu menimbulkan keluhan penduduk yang lalu terdengar oleh Ci Sian! Gadis ini menjadi marah sekali, apalagi ketika dia mendengar bahwa Su Khi bukan hanya ditakuti karena kepandaian dan kekejamannya, tetapi juga karena Su Khi pandai menyogok para penjaga keamanan dan membagikan barang rampasannya kepada para penjaga sehingga dia seperti terlidung oleh para penjaga Nepal.
Pagi hari itu, ketika seperti biasa Toa-to Hui-houw Su Khi sedang menjalankan aksinya, menggoda seorang dara remaja anak seorang pemilik warung nasi dan minta dilayani untuk sarapan dengan memilih makanan yang paling enak, tiba-tiba Ci Sian muncul di depan warung itu sambil membentak, “Si Keparat yang bernama Su Khi itu di mana? Hayo keluar!”

Su Khi terkejut mendengar bentakan ini, dan terheran-heran ketika melihat bahwa yang menegurnya hanyalah seorang dara remaja yang cantik sekali. Dia belum pernah bertemu dengan Ci Sian dan tidak tahu siapa adanya dara ini. Maka tentu saja dia marah sekali dimaki keparat oleh seorang dara remaja seperti itu di depan banyak orang. Dia, seorang ‘patriot’ yang terlindung pula oleh para penjaga Nepal, kini dihina seorang gadis, malah seorang yang masih amat muda, seperti kanak-kanak.

Cepat dia keluar dari warung itu setelah melepaskan lengan perawan cilik yang tadi dia pegang, kemudian sambil menyambar golok besar yang selalu dibawanya, dia berjalan keluar dengan sikap mengancam dan golok besarnya kemudian diamang-amangkan untuk menakut-nakuti anak perempuan itu. Namun Ci Sian memandang kepadanya dengan sinar mata marah dan bibir tersenyum mengejek.

“Engkaukah yang telah berani berlancang mulut memaki Toa-to Hui-houw Su Khi tadi?” Dia membentak setelah berhadapan dengan Ci Sian, memandang dara itu dari atas sampai ke bawah dan diam-diam dia terpesona oleh kecantikan dara itu.
“Benar!” jawab Ci Sian. “Apakah engkau yang bernama Su Khi itu?”
“Betul, akulah Toa-to Hui-houw Su Khi!” Dia membolak-balik goloknya sehingga nampak sinar berkilauan ketika cahaya matahari pagi menimpa permukaan golok.
“Tukang pukul jahanam yang suka menghina penduduk dan memeras orang-orang lemah dengan mengandalkan golok penyembelih babi itu? Kaukah itu?”

Wajah Su Khi menjadi merah sekali, matanya melotot dan alisnya yang tebal bergerak-gerak, hidungnya mendengus-dengus penuh kemarahan. “Kau.... kau.... bocah bosan hidup! Berani engkau memakiku? Hemmm.... akan kubunuh engkau....! Tidak, akan kutelanjangi engkau di depan umum, kemudian engkau harus melayani aku sampai engkau bertobat!”

Berkata demikian, dia menubruk maju, tangan kirinya yang besar itu mencengkeram ke arah dada Ci Sian, maksudnya untuk merenggut baju itu agar terlepas. Akan tetapi, dengan setengah langkah ke belakang, Ci Sian sudah dapat mengelaknya dan sekali tangan kiri dara itu menyambar ke depan.

“Plokkk!” terdengar suara dan tubuh besar itu terpelanting roboh!

Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini terkejut dan bengong, akan tetapi mereka semua lalu tersenyum girang melihat betapa dara jelita itu dengan mudah mampu menghajar jagoan sombong ini.

Su Khi terbelalak dan merangkak bangun, meraba pipi kanannya yang menjadi bengkak terkena tamparan tadi. Dia tadi merasa seperti disambar petir, maka terkejutlah dia, dan dia pun tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang dara yang memiliki kepandaian silat tinggi! Pantas saja dara itu berani memakinya, kiranya mengandalkan ilmu silat pikirnya.

“Perempuan setan! Berani engkau melawan aku, ya? Benar-benar engkau bosan hidup, dan sekarang, aku tidak akan mau mengampunimu lagi!” Berkata demikian, Su Khi lalu menggerakkan goloknya dan sekarang dia menubruk dan membacok dengan goloknya, serangan yang dimaksudkan membunuh dara itu dengan satu kali bacok!

Hemm, manusia ini memang kejam luar biasa, pikir Ci Sian. Dia maklum bahwa tadi pun orang itu sungguh-sungguh hendak menelanjanginya, dan tentu akan melaksanakan ancamannya kalau mampu. Sekarang pun menyerang dengan niat membunuh. Manusia seperti ini memang tidak layak dibiarkan hidup, hanya akan membahayakan kehidupan orang lain saja. Maka begitu melihat lawan membacok, dia cepat menghindar dan dia pun maklum bahwa orang ini seperti gentong kosong, hanya nyaring suaranya saja, karena sesungguhnya hanya mengandalkan ilmu silat kasar dan tenaga besar belaka. Maka, biar pun golok itu setelah luput membacok terus menyambar-nyambar dengan ganasnya, dengan mudahnya Ci Sian dapat mengelak ke kanan kiri, kadang-kadang melompat tinggi menghindarkan golok yang membabat kaki, sambil tersenyum-senyum.

Sementara itu, banyak penduduk berdatangan ke tempat itu dan melihat perkelahian yang mereka anggap mengerikan itu, karena mereka merasa ngeri membayangkan betapa golok besar tajam itu akan membabat tubuh dara remaja itu. Sekali sambar saja pinggang ramping itu tentu akan putus!

“Perempuan setan, bocah hina, mampuslah!” Su Khi membacok lagi dan ketika Ci Sian mengelak, dia melanjutkan dengan babatan pada paha dara itu, Ci Sian melompat tinggi ke atas, kaki kirinya bergerak menendang dengan kecepatan yang sukar dapat diikuti pandang mata lawan.

“Plokk!” Dagu yang kuat itu bertemu ujung sepatu. Kepala Su Khi seperti terlempar ke belakang dan tubuhnya terjengkang.
“Brukkk!” Dia terbanting roboh dan di antara para penonton ada yang tertawa, akan tetapi cepat-cepat ditutupinya mulutnya dengan tangan.

Su Khi bangkit dan mukanya sebentar pucat sebentar merah, dari ujung bibirnya terus mengalir darah karena bibirnya pecah tergigit sendiri ketika dagunya tertendang tadi, napasnya terengah-engah dan hidungnya mendengus-dengus seperti seekor kerbau gila.

“Kau.... kau.... siapa kau dan mengapa engkau memusuhi aku?” dia akhirnya bertanya karena dia tahu bahwa anak perempuan itu sungguh bukan orang sembarangan.

Ci Sian tersenyum. “Orang macam engkau tidak patut mengenal aku, ketahuilah bahwa kalau engkau berjuluk Harimau Terbang, aku adalah seorang ahli pembunuh harimau busuk yang mengganggu ketenteraman penduduk di sini.”

Pada saat itu, karena terjadi keributan, dari jauh datang sekelompok penjaga yang terdiri dari belasan orang. Melihat ini, bangkit kembali keberanian Su Khi karena dia merasa yakin akan mendapat bantuan dari para penjaga yang sudah biasa disogoknya itu, maka dia lalu membentak, dengan suara nyaring karena memang dimaksudkan agar terdengar oleh para penjaga yang berlarian mendatangi itu.

“Siluman betina! Engkau tentu mata-mata jahat!” Dan dia pun lalu menyerang kembali dengan ganas.

Marahlah hati Ci Sian. Tadi dia bermaksud memberi hajaran saja, akan tetapi melihat lagak orang ini yang agaknya mengandalkan para penjaga itu, dia makin menjadi muak dan begitu golok berkelebat, dia mengelak dan tangannya menyusup masuk melalui bawah sinar golok.

“Kekkk!” Tubuh tinggi besar itu terbungkuk dan roboh menelungkup, goloknya terlepas dari tangannya.

Ci Sian menginjakkan kaki kanannya di atas punggung di bawah tengkuk Su Khi dan jagoan itu tak dapat berkutik lagi! Dia merasa seolah-olah punggungnya tertindih benda yang beratnya ratusan kati, membuatnya sukar dapat bernapas dan ia hanya mengeluh terengah-engah seperti babi terhimpit. Dan pada saat itu, belasan orang penjaga sudah datang mendekat dan mereka telah mencabut golok masing-masing, serta dengan sikap mengancam mereka mendekati Ci Sian.

“Kalian mau apa?” bentak Ci Sian menatap para penjaga itu dengan marah.
“Kau mata-mata....?!” Para penjaga membentak, “Lepaskan dia, dia adalah sahabat kami!”
“Huh, siapa tidak mendengar bahwa kalian sudah makan sogokan dari jahanam ini?” Ci Sian balas membentak.

Kepala pasukan lalu membentak marah. “Serang! Tangkap dia!”

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring, “Tahan!” dan di situ telah muncul Siok Lan yang menatap para penjaga dengan muka merah dan mata marah. Wanita cantik ini berdiri dengan sikap tenang dan menyilangkan kedua lengan di atas dadanya, lalu berkata dengan lantang, “Siapa yang hendak menyerang dan menangkap sahabatku ini?”

Para penjaga terkejut ketika melihat munculnya Siok Lan. Kepala penjaga itu dengan golok di tangan menunjuk kepada Ci Sian, “Maaf, tapi dia.... dia itu.... telah menganiaya Su Khi....“

“Hemm, kalian menjadi kaki tangan penjahat ini, ya?” bentak Siok Lan dan wanita ini menyambung sambil berteriak nyaring. “Hayo berlutut, kalian manusia-manusia busuk!”

Empat belas orang penjaga itu terkejut bukan main. Cepat-cepat mereka menjatuhkan diri berlutut. Siok Lan mengangkat tangan kanan ke atas dan muncullah beberapa orang pengawal. “Mereka ini telah biasa makan suap dari penjahat, maka sudah sepatutnya diberi hukuman. Cambuk mereka masing-masing sepuluh kali dan komandan mereka lima belas kali!”

Tentu saja empat belas orang penjaga itu menjadi ketakutan, akan tetapi mereka tidak berani membangkang. Lima orang pengawal lalu membuka baju mereka dan tak lama kemudian terdengarlah bunyi cambuk meledak-ledak ketika lima orang pengawal itu menjatuhkan hukuman itu, di tempat terbuka dan terlihat oleh semua orang. Darah mengalir dari kulit-kulit punggung yang pecah-pecah dan terdengar rintihan-rintihan kesakitan. Setelah hukuman itu dijalankan, Siok Lan berkata kepada Ci Sian.

“Adik Sian, kau lepaskan jahanam itu.”

Ci Sian melepaskan injakan kakinya dan Su Khi lalu merangkak bangun dengan mulut merah karena dia tadi sampai muntah darah.

“Sekarang kuserahkan jahanam itu kepada kalian dan boleh kalian perbuat sesuka hati kalian terhadap dia. Awas, sekali lagi kalian makan suapan, aku akan minta kepada Ibu agar kalian dihukum penggal kepala!” kata Siok Lan.

Empat belas penjaga itu menghaturkan terima kasih, kemudian seperti serigala-serigala kelaparan mereka lalu menangkap Su Khi.

“Tidak.... tidak.... jangan.... ampunkan aku....!” Orang itu berteriak-teriak dan meronta-ronta.

Namun empat belas orang yang telah menerima hukuman yang sangat nyeri itu kini menimpakan semua dendam mereka kepada Su Khi. Tidak lama kemudian, di luar kota, Su Khi ditelanjangi dan dicambuki oleh empat belas orang itu sampai kulit tubuhnya pecah-pecah dan dia tewas dalam keadaan mengerikan…..

Semenjak terjadi peristiwa itu, nama Ci Sian dikenal. Baru sekarang mereka tahu bahwa gadis bangsa Han itu menjadi sahabat baik dari puteri panglima dan bahwa dara cantik itu ternyata mempunyai ilmu kepandaian yang amat hebat! Akan tetapi, para pendekar merasa bersyukur juga bahwa dara itu ternyata berani membela penduduk, bahkan puteri panglima itu pun telah memperlihatkan keadilan di depan rakyat.

Menurut pendapat Siok Lan dan ibunya, Su Khi malah dianggap sebagai kaki tangan mata-mata yang sengaja menimbulkan kekeruhan di Lhagat! Memang, sejak terjadinya pencurian di dalam kamar kerja panglima oleh seorang maling yang berilmu tinggi itu, setiap orang dicurigai dan setiap hari para pengawal menangkapi orang-orang yang dicurigai sehingga penjara menjadi penuh menampung orang-orang tangkapan baru ini.

Puteri Nandini sebagai panglima yang paling merasa terpukul dengan adanya pencurian benda-benda penting dari kamar kerjanya, bertindak keras, bahkan setiap kali ada orang tangkapan baru, dia sendiri datang untuk memeriksa. Ingin sekali dia dapat menemukan maling yang telah memasuki kamar kerjanya itu.

Ketika pada suatu pagi ada laporan bahwa tertangkap pula seorang pemuda yang amat mencurigakan karena malam-malam pemuda itu berkeliaran di dekat bukit tempat tentara musuh terkurung, cepat panglima itu berpakaian, naik kuda dan datang sendiri ke tempat penangkapan itu. Begitu panglima itu tiba di tempat penjagaan, para penjaga mendorong seorang pemuda yang kedua kakinya dibelenggu, demikian pula kedua lengannya. Seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana, berwajah terang dan sama sekali tidak menunjukkan wajah seorang jahat. Akan tetapi justru wajah demikian ini yang menimbulkan kecurigaan, karena bukankah yang dikirim oleh pihak musuh adalah orang-orang pandai dan mungkin saja orang-orang yang juga memiliki kedudukan tinggi?

Dari atas kudanya, panglima wanita itu mengamati pemuda tawanan itu dengan penuh perhatian. Pemuda seperti ini memang pantas menjadi seorang utusan, karena biar pun nampaknya seorang yang lemah, akan tetapi sinar matanya berkilat membayangkan kekuatan dan kecerdasan. Komandan jaga maju memberi hormat kepada panglima wanita itu, lalu melaporkan bahwa pemuda itu pagi-pagi sekali tadi ditangkap ketika sedang menyusup-nyusup seorang diri di dekat perkemahan para penjaga yang sedang bertugas mengurung bukit di mana pihak musuh terjebak itu.

“Alasannya adalah mencari jejak binatang buruan dan setelah kami menggeledahnya, kami tidak menemukan senjata pada dirinya, melainkan kalung ini.” Komandan jaga menutup laporannya sambil menyerahkan seuntai kalung kepada panglimanya.

Puteri Nandini menerima kalung itu dan menyembunyikan kagetnya ketika dia mengenal kalung itu. Sebuah kalung dengan hiasan berbentuk sebatang bunga teratai emas yang terhias permata. Tentu saja dia mengenalnya oleh karena kalung itu adalah kalungnya sendiri di waktu muda dan yang sudah diberikannya kepada puterinya, Siok Lan! Diam diam dia terkejut dan marah, dan hampir saja dia berteriak membentak pemuda itu untuk bertanya dari mana pemuda itu memperoleh kalung puterinya. Akan tetapi dia masih sempat menahan diri dan tidak mau membuka rahasia puterinya sehingga kalau terdengar oleh para penjaga bahwa kalung puterinya berada pada pemuda ini, tentu akan menimbulkan prasangka yang buruk.

“Engkau seorang pemburu?” panglima itu bertanya tanpa turun dari atas punggung kudanya.

Pemuda itu mengangguk. “Benar, Li-ciangkun. Saya adalah seorang di antara para pemburu di bukit sebelah sana itu.”

“Kenapa kau berkeliaran di sini?”
“Semalam kawan-kawan saya mengepung seekor harimau yang amat buas dan yang sudah lama kami coba untuk menangkapnya. Akan tetapi harimau itu dapat lolos dan saya mengikuti jejaknya sampai ke sini, tahu-tahu saya ditangkap....”
“Hemm, mengikuti jejak harimau dengan pakaian seperti itu? Pakaianmu bukan seperti pakaian pemburu!”
“Maaf, karena semalam saya memang sudah hendak tidur, sudah terlalu lelah memburu pada siang harinya. Tetapi mendengar suara ribut-ribut para kawan, saya terbangun dan ikut mengejar harimau yang lolos....”

Panglima wanita itu lalu memerintahkan untuk menahan pemuda itu di dalam kamar tahanan di tempat penjagaan itu. “Aku hendak memeriksanya sendiri,” katanya.

Dia pun meloncat turun dari atas kudanya, mengikuti para penjaga yang mendorong pemuda tawanan itu memasuki rumah penjagaan. Setelah menyuruh semua penjaga pergi, Puteri Nandini memandang kepada pemuda yang disuruh duduk di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik. Kemudian dia mengeluarkan kalung dari saku bajunya dan memperlihatkannya kepada pemuda itu.

“Dari mana engkau memperoleh kalung ini?” tanyanya halus, tetapi pandang matanya seperti hendak menembus dada menjenguk isi hati.

Pemuda itu nampak tenang-tenang saja, hanya agak kemalu-maluan ketika mendengar pertanyaan ini. “Dari.... dari seorang dara....,” jawabnya.
“Hemm, mengapa dia memberikan kalung ini kepadamu?”

Pemuda itu kelihatan semakin malu. “Sebetulnya.... hanya kebetulan saja, Li-ciangkun. Ketika itu.... saya melihat seorang gadis menunggang kuda dan kudanya itu terkejut karena bertemu harimau, harimau keparat yang kami kejar-kejar itulah! Dan kudanya terpeleset ke dalam jurang. Kebetulan saya berada di dekat situ dan saya memang sudah siap dengan laso untuk menangkap harimau, maka saya berhasil mencegah dia terbawa jatuh ke dalam jurang dengan laso saya....“

Puteri Nandini tidak terkejut karena memang dia tadi sudah menduga demikian. Oleh karena dia menduga bahwa pemuda ini adalah penyelamat puterinya itulah maka dia tadi memerintahkan penjaga membawa pemuda itu ke sini untuk diajak bicara. Akan tetapi sekarang pun dia tidak memperlihatkan perasaan apa-apa pada wajahnya yang nampak bengis namun masih tetap cantik itu. Tadi sebelum memasuki tempat ini dia sudah diam-diam menyuruh pengawalnya untuk cepat-cepat memanggil Siok Lan agar datang ke tempat ini.

Puteri Nandini menyuruh pemuda itu menceritakan riwayatnya dan mengapa jauh-jauh ke tempat ini untuk berburu. Pemuda itu bercerita dengan singkat bahwa dia dan rombongannya adalah pemburu-pemburu yang selain memiliki pekerjaan memburu dan hidup dari hasil buruan, juga suka dengan pekerjaan ini.

“Kami sudah banyak menjelajahi daerah-daerah yang terkenal memiliki binatang-binatang aneh dan buas. Kami sebetulnya tiba di sini karena tertarik oleh berita tentang binatang atau makhluk aneh yang dinamakan Yeti atau dikabarkan sebagai manusia salju di daerah Himalaya. Akan tetapi ternyata kami tidak berhasil menjumpai makhluk itu, maka kami memburu harimau dan lain-lain binatang buas di bukit itu.” Demikian antara lain pemuda itu bercerita. Dia mengaku she Liong bernama Cin dan sebagai seorang pemburu yang banyak bertualang ke tempat-tempat jauh, dia menguasai bahasa Tibet, bahkan sedikit dia dapat berbahasa Nepal.

Selagi mereka bicara, terdengarlah suara derap kaki dua ekor kuda di luar rumah penjagaan itu dan tak lama kemudian masuklah dua orang dara ke dalam ruangan itu. Mereka ini bukan lain adalah Siok Lan dan Ci Sian. Siok Lan datang dengan sangat cepat setelah menerima panggilan ibunya dan dia mengajak Ci Sian, apalagi ketika mendengar dari pengawal itu bahwa para penjaga menangkap seorang pemuda yang mengaku sebagai seorang pemburu dan kini sedang diperiksa oleh panglima.

Begitu mereka masuk dan melihat Liong Cin, Siok Lan segera berkata kepada Ci Sian, “Benar, dia!” Lalu dia menghampiri ibunya. “Ahhh, Ibu, mereka salah tangkap! Dia ini adalah pemburu yang pernah menyelamatkan aku dulu!”

Puteri Nandini mengangguk. “Aku sudah menduganya, hanya menanti kedatanganmu untuk kepastiannya.” Lalu Sang Puteri ini memandang kepada pemuda itu, tersenyum dan berkata. “Orang muda, kau maafkan kesalahan para penjaga kami. Akan tetapi engkau juga bersalah mengapa mengejar buruan sampai dekat dengan perkemahan kami. Harap beritahu kawan-kawanmu agar jangan mendekati tempat ini.”

Liong Cin menggeleng kepalanya dengan sedih. “Tak mungkin mereka berani mendekat ke sini lagi, Li-ciangkun. Setelah mendengar atau melihat saya ditangkap, saya berani memastikan bahwa mereka tentu sudah lari ketakutan dan tidak akan kembali lagi ke tempat ini.”

Panglima itu mengerutkan alisnya dan memandang tajam. “Kalau begitu kini engkau ditinggalkan oleh teman-temanmu?”

Liong Cin mengangguk. “Selama ini kami memang sudah khawatir melihat betapa tempat buruan kami dekat dengan medan perang dan sudah sering kali kami beruding untuk pergi saja. Akan tetapi harimau itu....”

“Sudahlah, orang muda. Aku menyesal bahwa engkau terpaksa ditinggalkan teman-temanmu. Sekarang engkau boleh bebas. Engkau adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi, harap kau suka melepaskan belenggu tangan dan kakimu sendiri.” Panglima itu mencoba.

Tetapi pemuda itu menggeleng kepala dan mukanya menjadi merah. “Harap Li-ciangkun tidak main-main. Mana mungkin saya dapat melepaskan diri dari belenggu yang sekuat ini?”

“Tapi engkau telah mampu menyelamatkan puteriku.”
“Itu lain lagi, Li-ciangkun. Saya memang mempelajari ilmu mempergunakan tali laso, akan tetapi untuk mematahkan belenggu-belenggu ini.... sungguh saya tidak sanggup melakukannya.”

Panglima itu tersenyum. Senyumnya hanya sebentar saja, seperti kilatan cahaya di hari mendung. Lalu dihampirinya pemuda itu dan dengan kedua tangannya panglima wanita itu mematah-matahkan belenggu pada kaki tangan itu sedemikian mudahnya, bagaikan mematahkan ranting-ranting kecil saja! Pemuda itu terbelalak penuh kaget dan kagum menyaksikan kehebatan tenaga panglima wanita ini.

Dan memang itulah yang dikehendaki oleh Puteri Nandini, agar pemuda ini terkejut dan jeri sehingga tidak akan berani melakukan hal-hal yang dapat merugikan pasukan Nepal. Biar pun dia percaya kepada pemuda ini, akan tetapi pemuda ini adalah bangsa Han, maka sudah tentu saja sedikit banyak dia masih bersikap hati-hati dan curiga.

Siok Lan menghampiri pemuda itu dan berkata dengan suara menyesal. “Harap kau suka memaafkan, Liong Cin. Karena ingin berhati-hati, para pasukan penjaga telah salah tangkap, engkau yang menjadi penolongku malah disangka mata-mata musuh.”

Liong Cin juga tersenyum dan menjura. “Tidak mengapa, Nona. Ini malah merupakan tambahan pengalamanku, hanya sayang... sahabat-sahabatku telah pergi meninggalkan aku di sini....”

“Kalau begitu, mari ikut bersama kami ke Lhagat,” Siok Lan mengajak dan sebelum pemuda itu menjawab, dara ini sudah segera berpaling kepada ibunya. “Ibu, harap Ibu perkenankan Liong Cin untuk ikut bersama kita ke Lhagat, sekedar untuk membalas budinya dan untuk minta maaf kepadanya atas perlakuan kita yang tidak semestinya terhadap seorang penolong.”

Siok Lan memang pandai bicara dan ibunya tidak dapat menolak, tidak enak untuk menolak setelah puterinya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Biar pun, di dalam hatinya dia tidak setuju karena hal itu memungkinkan adanya bahaya kalau-kalau pemuda ini benar-benar kaki tangan musuh, namun mana mungkin dia menolak dengan adanya kenyataan bahwa pemuda ini telah menyelamatkan puterinya, kemudian malah ditangkap karena disangka mata-mata? Menolaknya sama dengan menampar muka sendiri!

Siok Lan sudah meneriaki pengawal minta seekor kuda untuk Liong Cin dan tak lama kemudian, Siok Lan, Ci Sian, dan Liong Cin sudah membalapkan kuda mereka menuju ke Lhagat. Di sepanjang perjalanan, Ci Sian tidak pernah bicara kepada Liong Cin, akan tetapi diam-diam dia amat memperhatikan pemuda itu dan dia pun melihat betapa terjadi perubahan besar pada diri Siok Lan. Dara ini kelihatan amat gembira sekali, sikapnya menjadi semakin lincah dan jenaka!

Mulai saat itu, Liong Cin diterima sebagai seorang tamu terhormat, atau juga seorang sahabat baik dari Siok Lan, dan diberi sebuah kamar tersendiri di dalam gedung tempat tinggal panglima itu. Puteri Nandini sendiri yang mengusulkan hal ini. Pada lahirnya dia hendak bersikap baik terhadap pemuda yang pernah menyelamatkan nyawa puterinya itu, akan tetapi di dalam hatinya dia menghendaki agar pemuda itu tinggal di gedung karena dengan demikian akan lebih mudah baginya untuk mengawasi gerak-geriknya. Juga dia melihat betapa agaknya puterinya tertarik kepada pemuda itu, dan mengingat bahwa pemuda itu, biar pun harus diakuinya bahwa pemuda itu tampan dan gagah, hanya seorang pemburu biasa saja, maka sudah tentu hatinya tidak rela dan dia pun ingin mengamat-amati hubungan antara puterinya dan pemuda itu.

Mula-mula Liong Cin menolak halus dan menyatakan bahwa dia tak ingin mengganggu keluarga panglima itu, akan tetapi Siok Lan cepat mendesaknya. “Saudara Liong Cin, sudah jelas kini dari pelaporan para penyelidik bahwa benar seperti dugaanmu, semua kawanmu, rombongan pemburu yang tadinya berkemah di bukit itu telah melarikan diri semua, entah ke mana. Oleh karena itu, tidak baik kalau engkau pergi mencari mereka, dalam keadaan gawat dan dalam ancaman perang ini. Sebaiknya engkau beristirahat dahulu di sini bersama kami, kelak kalau keadaan sudah aman barulah engkau pergi mencari kawan-kawanmu. Setidaknya, berilah kesempatan kepadaku untuk menyatakan terima kasih dan membalas budimu.”

Meghadapi ucapan Siok Lan ini, Liong Cin tidak dapat membantah dan demikianlah, mulai hari itu dia tinggal di gedung panglima dan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat dan memperoleh kebebasan. Dia bergaul dengan akrab sekali dengan Siok Lan, dan tentu saja Ci Sian juga sering menemani mereka bercakap-cakap, akan tetapi agaknya di antara dua orang muda ini, keduanya merupakan tamu dan sahabat Siok Lan, terdapat sesuatu yang membuat hubungan mereka agak renggang. Ada celah di antara keduanya, dan kadang-kadang mereka saling pandang dengan sinar mata membayangkan kecurigaan dan keraguan.

Memang sesungguhnyalah Ci Sian menaruh rasa curiga kepada pemuda itu, rasa curiga yang sama sekali bukan tanpa alasan. Semenjak pemuda itu datang, dia selalu mengamati gerak-geriknya dan meski dia melakukan hal ini secara diam-diam, agaknya terasa juga oleh Liong Cin sehingga pemuda ini pun merasa tidak enak terhadap Ci Sian. Bahkan semenjak Liong Cin berada di gedung itu, setiap malam Ci Sian kurang dapat tidur nyenyak karena pikirannya selalu membayangkan pemuda itu dengan penuh curiga, dan bahkan sering kali diam-diam gadis ini keluar dari dalam kamarnya untuk bersembunyi dan melakukan pengintaian!

Dan beberapa hari kemudian, pada suatu malam kecurigaannya ini memperoleh bukti. Dia melihat bayangan berkelebat cepat dan dia dapat mengenal Liong Cin yang bergerak cepat melakukan penyelidikan di dalam gedung dan keluar dari gedung itu menuju ke taman bunga dengan sikap yang mencurigakan sekali. Akan tetapi, pemuda itu ternyata lihai bukan main. Walau pun Ci Sian sudah membayangi dengan hati-hati sekali, mengerahkan ginkang-nya sehingga tubuhnya bergerak cepat dan ringan tanpa menimbulkan suara berisik, agaknya pemuda itu telah tahu bahwa ada orang yang membayanginya dan tiba-tiba pemuda itu berhenti dan menoleh ke belakang, tahu-tahu telah berhadapan dengan Ci Sian yang bersembunyi di balik pohon dan semak-semak!

Keduanya terkejut ketika saling berhadapan itu. Sejenak mereka hanya saling pandang dengan alis berkerut tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Ci Sian tersenyum berkata. “Terkejut? Aku tahu siapa engkau, Liong Cin!”

Pemuda itu memandang dengan sinar mata penuh selidik. “Apa maksudmu? Tentu saja engkau mengenalku. Aku sedang jalan-jalan dan kau mengejutkan aku, Nona....“

“Hemm, tidak perlu engkau berpura-pura sebagai pemburu yang tolol! Engkaulah Si Pengail yang kami tanya tentang prajurit itu, dan engkau pula prajurit yang membunuh perwira yang hendak memperkosa wanita itu, engkau mata-mata....“

Cepat seperti kilat tangan pemuda itu sudah menangkap pundak Ci Sian dan jari-jari tangan kirinya sudah menempel di ubun-ubun kepala dara itu, ancaman maut yang amat mengerikan karena sekali jari-jari tangan itu bergerak, dara itu pasti akan tewas seketika!

Ci Sian sendiri terkejut bukan main karena biar pun dia sudah waspada, ternyata dia sama sekali tidak mampu mengelak atau menangkis, dan tahu-tahu dia sudah ‘ditodong’ seperti itu, sama sekali tidak berdaya! Akan tetapi dia tersenyum, sedikit pun tidak menjadi gentar sehingga berbalik pemuda itulah yang terheran-heran. Dan apa yang keluar dari mulut Ci Sian membuat dia semakin heran dan sedemikian kaget sehingga pegangannya pada pundak dara itu terlepas.

“Jenderal, engkau salah tangkap!”
Wajah pemuda itu berubah pucat, matanya terbelalak dan dia bertanya dengan suara tegas, “Siapa engkau?”
Ci Sian tersenyum. “Aku? Aku bernama Ci Sian dan menjadi sahabat Siok Lan seperti yang kau ketahui.”
“Tidak! Kalau demikian keadaanmu, tentu engkau sudah membuka rahasiaku. Ci Sian, jangan main-main, katakan siapa engkau, jangan sampai aku kesalahan tangan.”

Ucapan itu mengandung kesungguhan yang membuat bulu tengkuk Ci Sian meremang. Tahulah dia bahwa kalau dia main-main dan salah bicara, tentu bagi orang ini tidak akan ragu-ragu lagi untuk turun tangan membunuhnya karena dia tentu dianggap berbahaya telah mengetahui rahasia orang itu.

“Aku bukan kaki tangan orang Nepal! Aku ke sini juga hendak mencari seseorang yang ditahan, seorang piauwsu bernama Lauw Sek. Harap kau jangan curigai aku.”

Pemuda itu kelihatan lega hatinya dan dia menarik napas panjang. “Katakan, bagai mana engkau dapat mengetahui keadaanku?”

“Dari sinar matamu,” jawab Ci Sian. “Engkau boleh menyamar, merubah bentuk muka dan berganti pakaian, berganti suara, akan tetapi engkau tak mungkin menyembunyikan sinar matamu.”
“Sinar mataku....? Mengapa dengan sinar mataku?”
“Sinar matamu mencorong seperti sinar mata seseorang yang tidak pernah dapat kulupakan. Sinar matamu persis seperti sinar mata Pendekar Suling Emas.”
“Pendekar Suling Emas? Siapa itu?”
“Dia she Kam, bernama Hong.”

Pemuda itu menggeleng kepala. “Aku tidak mengenalnya. Ternyata pandang matamu tajam betul, Ci Sian. Sekarang katakan, bagaimana engkau dapat tahu bahwa aku seorang jenderal....?”

Ci Sian tersenyum. “Hanya orang tolol saja yang tidak dapat menduga. Begitu mudah seperti dua tambah dua sama dengan empat. Desas-desusnya sudah santer dikabarkan orang bahwa akan ada seorang jenderal sakti dari Kerajaan Ceng yang datang untuk menyelidik kesini dan membebaskan pasukan yang terkepung. Kini melihat keadaanmu, melihat kelihaianmu, siapa lagi engkau kalau buka Si Jenderal yang didesas-desuskan orang itu?”

“Engkau luar biasal” pemuda itu berseru dan berbisik. “Mari kau ikut aku. Tidak leluasa bicara di sini!” Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat dengan cepat sekali dari taman itu.

Ci Sian terpaksa harus mengerahkan seluruh ginkang-nya untuk mengejar, akan tetapi betapa pun dia mengerahkan tenaga, tetap saja dia tertinggal jauh dan kadang-kadang pemuda itu terpaksa harus menunggunya hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tanah perkuburan di pinggir kota yang amat sunyi. Sunyi dan menyeramkan, membuat Ci Sian bergidik. Biar pun ia seorang dara perkasa yang dapat dibilang tidak takut menghadapi lawan yang bagaimana pun juga, akan tetapi pada malam hari gelap itu berada di dalam tanah kuburan, benar-benar merupakan pengalaman yang belum pernah dihadapinya.

Malam itu bulan sepotong menyinari permukaan tanah kuburan, menambah seramnya pemandangan. Gundukan-gundukan tanah itu seolah-olah dalam cuaca remang-remang merupakan tubuh-tubuh manusia raksasa yang telentang, dengan perut besar dan seperti bergerak dan bernapas. Hembusan angin pada daun-daun pohon yang tumbuh di tanah kuburan itu seperti bisikan-bisikan, agaknya dalam keadaan mati pun manusia masih tidak dapat melepaskan kebiasaannya yang lama semasa hidup, yaitu mengoceh dan membicarakan keadaan orang-orang lain, terutama tentang kesalahan-kesalahan orang lain. Ci Sian merasa seolah-olah dialah yang kini menjadi bahan pergunjingan dalam bisikan-bisikan itu dan dia menggigil.

“Nah, kau mau bicara apa?” katanya dan suaranya agak gemetar menahan rasa ngeri.

Pemuda itu tersenyum di bawah sinar bulan yang pucat, membuat wajahnya yang tampan nampak pucat juga. “Kau takut dan seram juga? Ahh, tempat ini merupakan tempat paling aman bagi kami....“

“Kau dan anak buahmu?”
Pemuda itu mengangguk. “Engkau memang luar biasa dan aku kagum padamu, Nona Ci Sian, atau.... namamu itu juga nama palsu?”
“Namaku tidak palsu, apa perlunya aku harus memakai narna palsu seperti engkau, Jenderal?”
“Hemm, engkau sudah menduga sedemikian jauh sehingga tahu akan nama yang kupakai?”
“Engkau seorang yang amat penting dan ternama tentu saja, maka akan bodohlah kalau engkau menggunakan nama sendiri selagi melakukan tugas mata-mata.”
“Engkau memang cerdik luar biasa dan aku percaya padamu, Nona. Ketahuilah, aku memang utusan kaisar untuk menolong pasukan kami yang terkurung. Dan di sana aku memang menjadi jenderal. Biar pun nama yang kupakai palsu, akan tetapi tidak banyak selisihnya dengan namaku yang tulen, hanya di balik. Namaku adalah Cin Liong, Kao Cin Liong.”

Semenjak kecil Ci Sian sudah banyak bertemu orang pandai, akan tetapi belum pernah dia mendengar nama ini. Kalau dia tahu siapa pemuda ini, tentu dia akan terkejut setengah mati. Pemuda ini sesungguhnya bukanlah orang biasa, melainkan keturunan pasangan suami isteri pendekar yang pernah menggegerkan kolong langit dengan ilmu kepandaian mereka yang amat tinggi.

Para pembaca cerita SEPASANG RAJAWALI dan JODOH RAJAWALI tentu dapat mengingat atau menduga siapa adanya pemuda she Kao ini. Kao Cin Liong ini adalah cucu Jenderal Kao Liang yang sangat terkenal, seorang jenderal yang gagah perkasa dan yang membiarkan dirinya tewas terbakar demi setianya terhadap kerajaan dan demi menjaga nama baik keluarga Kao.

Ayah dari Kao Cin Liong bukan lain adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir yang bernama Kao Kok Cu, seorang pendekar yang memiliki kepandaian luar biasa dan terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Ibunya yang bernama Wan Ceng atau Candra Dewi adalah saudara angkat dari Puteri Bhutan Syanti Dewi, dan juga ibunya memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Suami isteri ini tinggal di dalam Istana Gurun Pasir dan merupakan tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan yang disegani.

Agaknya darah kakeknya mengalir dalam dari Cin Liong karena semenjak kecil, selain suka akan ilmu silat dan sastra, anak ini juga tertarik sekali akan sejarah para pahlawan. Apalagi riwayat kakeknya seperti yang dia dengar dari ayahnya amat menarik hatinya dan sejak kecil dia pun bercita-cita untuk menjadi seperti kakeknya, menjadl seorang pahlawan dan panglima di kerajaan! Melihat bakat dan semangat puteranya, setelah puteranya itu memperoleh pendidikan Ilmu silat yang cukup tinggi darinya, Kao Kok Cu dengan persetujuan isterinya lalu membawa Kao Cin Liong ke kota raja dan dengan perantaraan adiknya, yaitu Kao Kok Han yang telah menjadi seorang perwira tinggi, Cin Liong lalu memasuki ketentaraan.

Karena kepandaian silatnya memang hebat sekali, dan kaisar amat kagum kepadanya, apalagi mengingat bahwa pemuda itu adalah cucu mendiang Jenderal Kao Liang yang gagah perkasa, maka dalam waktu pendek saja pemuda perkasa ini telah memperoleh kedudukan tinggi. Apalagi ketika beberapa kali dia berhasil memimpin pasukan untuk menindas pemberontakan-pemberontakan di sepanjang pantai Po-hai dan di utara, bahkan melakukan pembersihan terhadap para bajak laut, dia berjasa besar dan dalam usia yang masih amat muda dia sudah berpangkat jenderal! Tercapailah cita-citanya untuk hidup seperti mendiang kakeknya yang amat dikaguminya. Dalam melaksanakan tugasnya, pemuda ini memang hebat dan tegas, persis seperti kakeknya dahulu.

Ketika Kaisar mendengar pelaporan bahwa pasukan Nepal mengganggu perbatasan Tibet dan memukul mundur pasukan Tibet yang melakukan penjagaan di tapal batas, bahkan telah menduduki Lhagat, dia lalu memerintahkan untuk menggempur pasukan Tibet yang telah menjadi daerah taklukan itu. Lima ribu orang pasukan dikirim ke barat, dipimpin oleh panglima yang amat gagah perkasa karena panglima ini bukan lain adalah Kao Kok Han. Akan tetapi, karena kelihaian panglima Nepal, pasukan ini terjebak dan terkurung di lembah bukit sehingga tidak mampu lagi untuk membobolkan kepungan.

Mendengar ini, Kaisar menjadi marah dan hendak mengirim pasukan lebih besar. Akan tetapi Jenderal Muda Kao Cin Liong lalu menghadap Kaisar dan kepada panglima besar dia pun minta ijin untuk diperkenankan melakukan penyelidikan ke barat karena dia merasa yakin bahwa dengan bantuan orang-orang Tibet dia akan dapat menyelamatkan pasukan yang terkepung itu! Tentu saja dalam hal ini, Cin Liong bukan hanya ingin menyelamatkan pasukan itu, melainkan juga untuk menyelamatkan pamannya, yaitu Kao Kok Han pemimpin pasukan yang terkepung itu. Dia telah ditangisi oleh keluarga pamannya itu untuk menyelamatkan pamannya dan anak buahnya.

Demikianlah, karena ingin melakukan penyelidikan secara bebas terhadap kedudukan panglima wanita yang lihai itu, maka Cin Liong dengan jalan menyelamatkan Siok Lan dan membiarkan dirinya ditangkap akhirnya dapat diterima sebagai sahabat dari puteri panglima itu dan memperoleh kebebasan di Lhagat sehingga dia dengan mudah dapat melakukan penyelidikan, apalagi karena dia disuruh tinggal di gedung panglima!

Mendengarkan penuturan panglima muda itu, diam-diam Ci Sian menjadi kagum bukan main. Pemuda ini sungguh berani dan juga amat cerdik. Kalau saja dia sendiri tidak mengenal sinar mata mencorong itu, agaknya dia pun tidak nanti akan menduga bahwa pemuda itu adalah jenderal sakti yang datang utuk menolong pasukan yang terkepung itu!

“Dan mengapa engkau begini percaya kepadaku, Ciangkun?”
“Ahhh, Nona, harap engkau jangan menyebutku dengan sebutan ciangkun. Ingat, aku masih menyamar sebagai Liong Cin di sini, maka jangan kau merubah sebutanmu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Engkau tentu mau membantu kami, bukan?”

Ci Sian tersenyum. Orang ini begitu percaya kepada diri sendiri! “Baiklah, Liong Cin.... Aihh… betapa janggalnya menyebut nama palsu orang! Aku ingin sekali tahu mengapa engkau begini percaya kepadaku sehingga engkau telah berani membongkar rahasiamu kepadaku? Bukankah hal ini berbahaya sekali? Kalau aku membocorkan rahasiamu, bukan saja usahamu akan gagal, pasukan yang terkepung tak akan dapat diselamatkan, dan engkau sendiri tentu akan tertimpa bencana.”

Cin Liong menggeleng kepala. “Aku yakin bahwa engkau tidak akan melakukan hal itu.”

“Bagaimana engkau dapat yakin?” Ci Sian mendesak. “Kita baru saja bertemu dan berkenalan, engkau tidak mengenalku, tidak mengenal watakku.”

“Nona, di dalam ilmu perang terdapat ilmu mengenal watak orang dari wajahnya, dari sikap dan gerak-geriknya. Engkau memiliki kepandaian silat yang tinggi dan wajahmu membayangkan kegagahan, bahwa engkau tidak mungkin berbuat hal-hal yang rendah dan jahat. Pula, aku dapat melihat dari sinar matanya bahwa panglima wanita itu menaruh curiga kepadamu, sungguh pun Nona Siok Lan percaya penuh kepadamu. Dari semua itu saja aku sudah tahu bahwa engkau bukanlah musuh dan dapat menjadi sekutuku.”

“Hemm, terus terang saja, aku tidak mau terlibat dalam perang dan permusuhan. Apalagi harus memusuhi Siok Lan yang begitu baik. Sekarang aku hanya ingin mencari Lauw-piauwsu.”
“Aku berjanji akan mencari piauwsu itu dan membawanya kepadamu asal engkau mau membantuku, Nona.”
“Membantu bagaimana?”
“Menutupi rahasiamu.”
“Ahh, kalau hanya begitu, tentu saja aku tidak keberatan.”

Tiba-tiba jenderal muda itu memegang lengan Ci Sian dan menariknya bersembunyi ke balik sebuah batu besar di tanah kuburan itu. Ci Sian hampir menjerit ngeri ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia telah ditarik dan mendekam di atas gundukan tanah kuburan! Akan tetapi melihat kesungguhan pemuda itu, dia pun memandang ke depan.

Ternyata ada bayangan orang yang berjalan seenaknya ke arah mereka dan bayangan itu mengomel panjang pendek, kemudian setelah dekat, bayangan itu berkata, “Huhh, dasar tidak tahu malu, berkencan di tanah kuburan! Berjanji simpan-simpan rahasia lagi! Persekutuan busuk, ha-ha.... sungguh persekutuan busuk!”

Tentu saja Ci Sian terkejut bukan main. Akan tetapi Cin Liong sudah meloncat keluar dan tanpa banyak cakap dia sudah menyerang dengan totokan ke arah pundak orang itu.

“Desss....!”

Keduanya terdorong ke belakang dan tentu saja Cin Liong terkejut bukan main karena ternyata orang itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, atau setidaknya dapat mengimbangi tenaganya sendiri sehingga ketika orang itu menangkis, dia sampai terpental ke belakang. Sebaliknya orang itu yang juga terpental, kemudian tertawa, membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dari tanah kuburan yang sunyi itu. Cin Liong yang merasa terkejut dan curiga, cepat melakukan pengejaran. Melihat itu, Ci Sian juga lalu mengejar sekuatnya karena dua orang yang berkejaran itu ternyata dapat berlari secepat angin!

Bayangan yang dikejar oleh Cin Liong itu berlari terus dan melompat dinding kota tanpa mempedulikan para penjaga yang banyak berkeliaran di tempat itu. Tentu saja Cin Liong tidak mau melepaskannya karena orang yang lihai itu amat mencurigakan, dan dia terus mengejar. Demikian pula Ci Sian melakukan pengejaran. Melihat berturut-turut ada tiga bayangan orang berkelebatan meloncati pagar tembok, para penjaga menjadi geger dan mencoba untuk melakukan pengejaran, namun mereka tertinggal jauh dan komandan jaga yang merasa khawatir cepat memberi laporan ke dalam.

Sementara itu, bayangan yang dikejar-kejar itu seperti hendak mempermainkan Cin Liong dan Ci Sian yang terus melakukan pengejaran. Kadang-kadang dia tersusul dekat dan terdengar suaranya tertawa-tawa, akan tetapi kemudian tiba-tiba dia melesat jauh sekali dan meninggalkan para pengejarnya. Setelah tiba di sebuah bukit, bayangan itu mendaki naik, akan tetapi ketika tiba di lereng bukit, tiba-tiba dia memutar dan turun kembali, kini bahkan lari ke arah kota Lhagat!

“Gila dia!” Cin Liong memaki dalam hatinya dan terus mengejar.

Karena bulan sepotong sudah turun ke barat, maka malam yang menjadi gelap itu menyulitkan dia untuk dapat menyusul orang itu, sedangkan Ci Sian sudah mandi keringat karena lelah. Mereka berkejaran sampai setengah malam, dipermainkan oleh bayangan itu dan akhirnya, ketika malam terganti pagi dan cuaca tidak gelap lagi, orang itu berhenti berlari, bahkan sekarang berhenti di tengah jalan menanti para pengejarnya sambil bertolak pinggang dan tertawa-tawa. Namun wajahnya yang penuh ditumbuhi jenggot itu juga mengkilap basah oleh peluh, tanda bahwa main berlari-larian itu telah membuatnya lelah juga!

Cin Liong sudah berhadapan dengan orang itu ketika Ci Sian datang terengah-engah dan kedua kakinya terasa lelah dan lemas. Mereka berdua menatap orang yang mempermainkan mereka itu dan diam-diam. Ci Sian terkejut. Untuk ketiga kalinya dia bertemu dengan orang yang matanya mencorong. Pertama adalah mata Kam Hong, ke dua mata Kao Cin Liong dan ke tiga adalah mata orang ini! Dan begitu melihat wajah yang menyeramkan itu, dan melihat bibir yang tersenyum menyeringai di balik jenggot dan kumis yang awut-awutan, tiba-tiba Ci Sian teringat. Dia pernah bertemu dengan orang ini! Akan tetapi dia telah lupa lagi di mana.

“Siapakah engkau?” Dengan suara penuh wibawa Cin Liong bertanya sambil menatap tajam.

Orang itu berusia tiga puluh tahun lebih, hampir empat puluh tahun agaknya. Tubuhnya sedang dan tegap, tapi pakaiannya seperti pakaian pengemis. Rambutnya, jenggot dan kumisnya tak terpelihara, awut-awutan, padahal dalam keadaan seperti itu pun masih nampak bahwa orang ini memiliki wajah yang gagah dan tampan, terutama sekali sepasang matanya yang tajam dan memancarkan cahaya aneh, tetapi kadang-kadang sinar mata itu menjadi suram dan seperti lampu hampir padam diliputi kedukaan.

Mendengar pertanyaan itu, orang berpakaian jembel ini tertawa dan ketika dia tertawa, nampak deretan giginya yang kuat dan putih, sungguh berbeda dengan keadaan rambut dan pakaiannya. “Ha-ha-ha, siapa aku, dan siapa engkau? Siapa jenderal yang menjadi mata-mata? Siapa yang masih muda sudah menjadi seorang perwira tinggi, mengejar kedudukan? Ha-ha-ha!”

Wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Begitu berjumpa dia dimaki orang, orang jembel dan gila lagi, dimaki sebagai pengejar kedudukan!

“Siapa engkau? Kalau engkau tidiak mau mengaku, jangan katakan aku kejam kalau terpaksa aku akan menyerangmu!” bentaknya mengancam.
“Kau? Menyerang aku? Ha-ha-ha, anak kecil berhati besar. Hayo sekarang majulah, seranglah, siapa takut padamu? Ha-ha!”

Ditantang seperti ini, tentu saja Cin Liong menjadi marah. Akan tetapi dia dapat menguasai hatinya, karena maklum bahwa kemarahan bukanlah cara untuk mengatasi keadaan. Dia menatap tajam, kemudian berkata, “Aku akan menyerangmu karena engkau mungkin membahayakan usahaku.”

“Ha-ha-ha, anak kecil, kau majulah!”

Cin Liong lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menyerang dengan pukulan cepat dan kuat sekali ke arah lawan. Orang jembel itu tertawa dan cepat dia mengelak. Gerakannya aneh dan cepat sekali, juga ketika dia membalas dengan tamparan tangan kirinya, gerakannya memang hebat. Cin Liong terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh. Dia menduga bahwa agaknya orang ini yang menyamar seperti orang gila tentu utusan dari panglima musuh! Maka dia pun lalu menangkis dan menyerang bertubi-tubi dengan pengerahan tenaganya sehingga dari kedua tangannya menyambar hawa yang mengeluarkan suara bercuitan. Lawannya berseru kagum dan juga bergerak cepat, jari-jari tangannya terbuka dan pada waktu tangannya bergerak, jari tangannya meluncur seperti pedang dan mengeluarkan suara bercuitan pula!

Setelah saling serang dan saling mengelak sampai beberapa belas kali, mendadak mereka harus mengadu lengan dan mereka saling mengerahkan tenaga.

“Dukkk!” Untuk ke sekian kalinya dua lengan yang sama kuatnya bertemu dan keduanya terpental ke belakang!
“Ha-ha-ha, heh-heh-heh, kau hebat juga....!” Pengemis aneh itu tertawa lagi dan kini wajahnya berseri, nampak gembira dan dalam keadaan seperti itu dia tidak kelihatan tua benar sehingga usianya tentu tidak lebih banyak dari empat puluh tahun.

Dan melihat wajah yang tertawa, mata yang berseri-seri itu, tiba-tiba Ci Sian teringat di mana dia pernah bertemu dengan jembel ini. Dahulu, di waktu dia melakukan perjalanan dengan rombongan Lauw-piauwsu! Pengemis yang dapat mencengkeram golok sampai rompal di dalam goa itu!

“Benar dialah itu!” tiba-tiba dia berseru.

Dan kedua orang yang sedang berhadapan itu menengok dengan heran dan kaget. Ci Sian menghampiri pengemis itu dan menudingkan telunjuknya ke arah muka pengemis itu. “Benar dia! Inilah jembel yang menolak roti dan mencengkeram golok anak buah Lauw-piauwsu itu!”

Jembel itu tertawa dan kini dia menubruk lagi kepada Cin Liong yang cepat mengelak dan berseru, “Ci Sian, kau mundurlah!” Karena dia tahu betapa lihainya jembel itu dan amatlah berbahaya bagi Ci Sian kalau sampal diserang oleh orang itu.

Akan tetapi dia terlalu memandang rendah Ci Sian. Setelah menjadi murid See-thian Coa-ong, dara ini telah memiliki kepandaian yang tinggi, maka tentu saja tidak menjadi gentar dan kini dia malah ikut maju dan menyerang. Begitu tangan kanannya bergerak, seekor ular belang kuning hitam telah menyambar ke arah leher jembel itu.

“Ular! Ular....!” teriak Si Jembel dan dia mencoba untuk mencengkeram ular itu dengan tangannya.

Namun ular itu dapat mengelak dan dengan pergelangan tangannya, Ci Sian membuat ular itu membalik dan menggigit ke arah lengan Si Jembel. Namun jembel itu memang lihai sekali dan dia dapat mengelak sambil meloncat ke kanan dan kini kedua tangannya menyambar-nyambar, dengan jari-jari tangan terbuka menotok dan menampar ke arah Cin Liong dan Ci Sian secara hebat sekali.

Kembali Cin Liong terkejut. Pertama dia kagum menyaksikan kehebatan Ci Sian, kedua kalinya dia terkejut karena benar-benar jembel itu amat lihai. Betapa pun juga, dia masih mengkhawatirkan keselamatan Ci Sian, dan selain itu dia pun merasa malu kalau harus mengeroyok seorang jembel sinting, padahal dia adalah seorang jenderal muda yang terkenal memiliki kepandaian tinggi. Ayah bundanya tentu akan marah kalau mendengar bahwa dia mengeroyok seorang jembel sinting.

“Ci Sian, aku belum kalah, biarkan aku menghadapinya. Tidak perlu kita mengeroyok!” katanya.
“Ha-ha-ha, he-he-heh! Keroyokan juga boleh! Boleh kau tambah lagi dengan barisan mata-matamu, orang muda, heh-heh!”

Tadinya Ci Sian tidak mau menurut perintah Cin Liong, akan tetapi mendengar ucapan jembel itu, dia merasa malu sendiri. Seorang jembel cacat pikirannya, orang sinting begini, mana pantas dikeroyok berdua? Maka dia pun meloncat mundur dan hanya menonton dan diam-diam dia menjadi kagum. Dia harus mengakui bahwa pemuda itu hebat sekali ilmu silatnya, akan tetapi gerakan-gerakan jembel itu pun lihai dan aneh.

Tiba-tiba jembel itu merebahkan diri ke atas tanah dan dengan menolak tanah menggunakan kedua tangan, kakinya meluncur dengan serangan aneh ke arah tubuh lawan. Hebatnya, dari kedua kakinya itu menyambar hawa pukulan yang dahsyat bukan main! Cin Liong mengelak, akan tetapi masih terhuyung, dan saat itu dipergunakan oleh lawannya untuk berjungkir balik dan kedua tangannya dengan jari tangan terbuka sudah menghujankan tamparan bertubi-tubi.

Melihat ini, Cin Liong yang agak terdesak mudur itu tiba-tiba mengeluarkan lengking nyaring dan dia merubah ilmu silatnya, kedua lengannya kadang-kadang membentuk cakar naga dan tubuhnya lalu menggeliat-geliat seperti seekor naga. Itulah Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Naga Sakti) dan begitu dia mainkan ilmu ini, Si Jembel itu berseru kaget dan terdesak hebat. Begitu Jembel itu mundur, Cin Liong terus mendesak dan biar pun jembel itu masih berusaha mempertahankan diri, namun serangan-serangan Cin Liong terlampau hebat membuat dia kewalahan dan tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang.

“Aihh, putera Ceng Ceng sungguh kurang ajar sekali, berani melawan orang tua!”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Cin Liong berhenti bergerak dan memandang dengan mata terbelalak kepada jembel itu. Dan anehnya, jembel itu yang tadinya tertawa-tawa, kini mulai menangis!

“Ceng Ceng.... Ceng Ceng.... kau memiliki putera yang lihai.... kau bahagia.... sungguh membuat aku mengiri padamu.... hu-hu-huuhh....!” Jembel itu menangis sesenggukan seperti anak kecil.

Cin Liong dan Ci Sian memandang dengan penuh keheranan dan juga mulai merasa kasihan kepada orang lihai yang sinting itu. Akan tetapi kalau Ci Sian hanya terheran-heran, sebaliknya Cin Liong terkejut sekali mendengar ucapan dalam tangis Si Jembel itu. Wajahnya yang tampan itu berubah dan dia memandang dengan mata terbelalak, kemudian melangkah maju dan bertanya dengan suara meragu. “Apakah Paman.... ehhh.... Si Jari Maut....?”

Mendengar pertanyaan ini, jembel sinting itu menghentikan tangisnya, mengangkat muka memandang Cin Liong dan seketika tangisnya terganti senyum ramah “Ehh, engkau.... engkau sudah mengenalku....?”

Cin Liong merasa terharu bukan main. Kiranya jembel sinting itu adalah pendekar yang terkenal itu, saudara seayah lain ibu dengan ibunya sendiri, jadi masih terhitung pamannya sendiri! Jembel sinting ini adalah Wan Tek Hoat, saudara seayah lain Ibu dari ibunya yang bernama Wan Ceng dan menurut penuturan ibunya Wan Tek Hoat adalah seorang pendekar besar yang tampan dan gagah, dan bahkan telah diambil mantu oleh Raja Bhutan, juga diangkat menjadi seorang panglima di Kerajaan Bhutan! Akan tetapi mengapa kini pendekar itu menjadi seperti ini, seorang jembel yang sinting?

“Maafkan saya, Paman Wan Tek Hoat.... karena saya tidak mengenal Paman, maka saya telah bertindak kurang ajar. Akan tetapi Paman.... ahh, mengapa keadaan Paman menjadi seperti ini....?” Cin Liong berkata sambil menjura dengan sikap hormat, hal yang membuat Ci Sian menjadi bengong terheran-heran.

Orang seperti jembel yang sinting itu memang Wan Tek Hoat. Karena himpitan kecewa dan duka karena asmara gagal, pendekar ini akhirnya menjadi seperti orang sinting, suka tertawa dan menangis, dan hidup tidak mempedulikan apa pun, bahkan tidak peduli akan keadaan dirinya yang sepertl jembel itu! Kadang-kadang, kalau dia lagi sendirian di tempat sunyi, teringatlah dia akan semua kebahagiaan yang dinikmatinya ketika dia berada di samping kekasihnya, Puteri Syanti Dewi.

Teringatlah dia akan cinta kasih puteri itu kepadanya yang teramat besar, lalu teringat pula dia akan semua penyelewengannya, akan semua perbuatannya yang menyakiti hati Sang Puteri, maka timbullah penyesalan yang amat hebat, yang menghentak-hentak di dalam hatinya, yang menghimpit hatinya dan mendatangkan kedukaan dan kekecewaan serta penyesalan yang hampir tidak kuat ditahannya dan yang membuat dia beberapa kali hampir mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri saja! Hidup ini rasanya seperti dalam neraka baginya! Bertahun-tahun dia menderita, rasa rindu yang menggerogoti kalbu, penyesalan diri yang amat mendalam, kemudian rasa khawatir bahwa kekasihnya itu mungkin sekarang telah melupakannya, bahkan mungkin sekali kini telah menjadi isteri orang. Semua ini membuat keadaan batin pendekar ini makin lama makin lemah dan tertekan.

Sepintas lalu kita akan merasa kasihan kepada pendekar ini. Namun kita lupa bahwa betapa kita sendiri pun hampir setiap hari menghadapi hal-hal yang sama atau tidak jauh selisihnya dengan keadaan Tek Hoat.

Hidup di dunia ini begini penuh kesengsaraan, begini penuh konflik dan duka nestapa, hanya kadang-kadang saja kita dapat menikmati kebahagiaan selintas seperti cahaya kilat di antara awan mendung yang memenuhi angkasa kehidupan. Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan, seluruh dunia ini penuh dengan konflik, kebencian, dendam, permusuhan yang tidak kunjung habis, bahkan yang kadang-kadang meletus dalam perang yang menewaskan ratusan ribu orang umat manusia! Bunuh-membunuh, dendam-mendendam yang terjadi di dalam dunia kita ini, dalam jaman modern dan ‘maju’ ini, ternyata jauh lebih hebat dan mengerikan dari pada yang terjadi dalam cerita silat mana pun!

Di dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita semakin menjauhi ke-Tuhan-an dan peri kemanusiaan! Ke-Tuhanan dan peri kemanusiaan hanya menjadi hiasan bibir belaka bagi kita, hanya kita dengang-dengungkan sebagai slogan-slogan kosong! Kenyataan pahit ini harus kita hadapi dengan mata dan telinga terbuka, dan untuk menyelidiki kebenarannya, kita harus membuka mata mengamati diri kita sendiri masing-masing!

Benarkah kita ini ber-Tuhan? Benarkah kita ini berperi kemanusiaan? Tak perlulah untuk menilai orang lain apakah dia atau mereka itu ber-Tuhan atau berperi kemanusiaan, karena penilaian kepada orang lain itulah yang membuat kita menjadi palsu, yang membuat kita menggunakan pengertian ber-Tuhan dan berperi kemanusiaan itu untuk menyalahkan dan menyerang orang lain! Akan tetapi marilah kita mengamati diri kita sendiri masing-masing!

Kita semua mengaku beriman, kita semua mengaku ber-Tuhan, akan tetapi mari kita singkirkan semua pengakuan yang tidak ada arti dan gunanya ini, melainkan kita mengamati batin sendiri apakah benar-benar kita ber-Tuhan! Kalau kita benar-benar ber-Tuhan, sudah tentu setiap saat kita waspada, setiap saat kita sadar bahwa Tuhan mengamati semua perbuatan kita, mendengarkan semua suara hati dan mulut kita!

Sebaliknya, kalau kita ber-Tuhan hanya di mulut belaka, maka terjadilah seperti yang sekarang ini terjadi di dunia, di antara kita semua, yaitu bahwa dalam keadaan menderita saja kita ingat kepada Tuhan, sedangkan waktu selebihnya kita lupakan begitu saja, lupakan dengan sengaja karena kita haus akan kesenangan dan Tuhan kita anggap sebagai penghalang kesenangan!

Dapatkah kita hidup ber-Tuhan bukan dengan kata-kata kosong, pengakuan mulut, melainkan dengan sepenuhnya, secara mendalam, mendarah daging dan nampak dalam setiap gerakan, ya, bahkan setiap tarikan napas kita? Dapatkah? Yang menjawab hanya bukti pada diri kita sendiri, karena semua jawaban teori hanya kosong melompong tanpa arti. Penghayatan dalam kehidupan setiap saatlah yang menentukan segalanya.

Kita selalu ingin disebut sebagai orang yang berperi kemanusiaan! Betapa menggelikan dan juga menyedihkan! Seolah-olah peri kemanusiaan hanya semacam cap atau semacam hiasan belaka! Pernahkah kita meneliti, mengamati diri sendiri lahir batin apakah kita ini berperi kemanusiaan ataukah tidak! Adakah api ‘kasih’ bernyala dalam batin kita? Tidak ada! Api itu padam sudah! Yang ada hanya abu dan asapnya saja yang membutakan mata. Yang ada hanyalah pengejaran uang, kedudukan, dan pengejaran kesenangan jelas meniadakan cinta kasih! Pengejaran kesenangan memupuk dan membesarkan si aku yang ingin senang, dan makin besar adanya si aku, makin jauhlah sinar cinta kasih dari batin.

Semua itu, yang nampak demikian gemilang dan menyilaukan, yang nampak demikian menyenangkan, sesungguhnya hanyalah lorong lebar menuju kepada kesengsaraan hidup. Memang, kita boleh tersenyum mengejek dengan sinis, boleh saja. Kita semua seperti dalam keadaan buta selagi mengejar-ngejar kesenangan yang kita namakan dengan istilah-istilah muluk seperti kemajuan dan sebagainya.

Kapankah kita akan sadar bahwa hidup tanpa cinta kasih tidak mungkin membuat kita hidup ber-Tuhan dan berperi kemanusiaan? Ber-Tuhan berarti hidup penuh sinar cinta kasih! Berperi kemanusiaan berarti penuh cinta kasih! Dunia penuh dengan konflik, penuh kebencian, penuh pertentangan dan permusuhan, penuh pemberontakan dan peperangan, namun kita masih selalu bicara tentang damai tentang peri kemanusiaan dan sebagainya! Hal ini sama dengan membicarakan tentang bunga dan buah selagi pohonnya sakit dan rontok.

Mendengar pertanyaan Cin Liong, Wan Tek Hoat sejenak bengong, lalu dia menjawab dengan heran, “Aku mengapa? Keadaanku mengapa?”

Cin Liong tidak berani menyinggung lagi keadaan pamannya itu. Dia tahu bahwa orang sakti seperti pamannya ini kadang-kadang memang mempunyai watak yang aneh, dan siapa tahu bahwa pakaian jembel itu, sikap sinting itu, adalah sesuatu yang disengaja karena memang banyak orang-orang sakti di dunia kangouw yang bersikap aneh-aneh.

“Paman, setelah Paman mengetahui tugas saya berada di sini, mengingat beratnya tugas itu dan betapa pasukan kita terkepung dan terancam bahaya, saya mohon bantuan dan petunjuk Paman.” Pemuda yang cerdik ini merubah bahan percakapan dan langsung saja dia mengeluarkan isi hatinya.
“Kao Cin Liong, begitu namamu, bukan? Sudah lama aku mengamati gerak-gerikmu dan engkau memang hebat sekali. Apa lagi yang dapat kubantu? Kulihat banyak orang pandai telah membantumu, bahkan Nona muda ini pun merupakan seorang pembantu yang hebat.”

Cin Liong lalu mengajak mereka bertiga untuk duduk di bawah sebatang pohon di tempat sunyi itu dan dia lalu menceritakan apa yang telah dilakukannya sebagai siasat untuk menyelamatkan pasukannya yang terkepung musuh. Kiranya jenderal muda ini memang amat cerdik dan lihai sekali. Dengan kepandaiannya yang tinggi dia telah berhasil menyusup ke atas bukit di mana pasukan itu dikurung dan selama beberapa hari dia mempelajari keadaan bukit itu bersama pamannya, yaitu Panglima Kao Kok Han.

Ketika melihat anak sungai yang mengalir menuruni lembah, dia kemudian mencari sumbernya dan begitu bertemu dengan sumber air, dia lalu memerintahkan pasukan untuk membuat bendungan besar untuk menampung air sebanyak-banyaknya di tempat yang tinggi. Pasukan menggali waduk besar dan membendung air dari sumber itu. Melihat besarnya air yang keluar dari sumber itu, Cin Liong sudah memperhitungkan berapa lama dia harus menampung air itu untuk dapat dipakai melaksanakan siasatnya.

Kemudian diam-diam ia lalu mengatur pasukan Tibet, dipilihnya pasukan-pasukan yang gagah berani dan kuat, kemudian sebagian besar dari pasukan itu diselundupkannya ke Lhagat dan sekitarnya, tetapi ada pula yang bersama dia menyamar sebagai pemburu-pemburu, sebagai pedagang-pedagang atau pencari-pencari ikan.

“Kita masih harus menunggu tiga hari lagi, Paman. Tiga hari lagi air waduk itu akan cukup banyak untuk dipergunakan. Sementara itu, aku harus tetap berada di Lhagat untuk memimpin pasukan gerilya kalau saatnya tiba. Tetapi ternyata panglima wanita itu lihai sekali dan kalau aku tidak hati-hati, tentu dia dapat mengetahui rahasiaku.”

Wan Tek Hoat mengangguk-angguk. Dalam menghadapi percakapan serius itu ‘gilanya’ tidak kumat dan dia dapat mempergunakan pikirannya dengan baik. “Jangan khawatir, aku mendapatkan jalan untuk membantumu agar engkau tidak dicurigai lagi.”

Ketika Cin Liong menanyakan ‘jalan’ itu, Tek Hoat tidak mau menerangkan, melainkan menyuruh dua orang muda itu cepat kembali ke Lhagat.

Akan tetapi tiba-tiba mereka mendengar suara orang dan Tek Hoat sudah menerjang Cin Liong dengan pukulan-pukulan dahsyat sambil berbisik. “Cepat lawan aku!”

Cin Liong adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Biar pun terkejut, dia sudah dapat mengetahui siasat pamannya itu, maka dia pun cepat menangkis dan balas menyerang. Ci Sian juga seorang dara yang cerdik, akan tetapi sejenak dia bengong karena tidak tahu mengapa jembel sinting yang ternyata masih paman dari jenderal muda itu, tiba-tiba malah menyerang pemuda itu. Akan tetapi ketika dia mendengar derap kaki banyak kuda, mengertilah dia dan dia pun segera membantu Cin Liong menyerang jembel sinting itu!

Terkejutlah tiga orang yang sedang bertempur ini ketika melihat bahwa pasukan yang datang itu adalah pasukan Nepal yang dipimpin sendiri oleh panglima wanita, Puteri Nandini yang ditemani oleh Siok Lan.

“Kalian harus roboh....,“ bisik Wan Tek Hoat dengan cepat dan lirih, hanya terdengar oleh dua orang muda itu, dan dia pun cepat melakukan serangan dahsyat kepada dua orang muda itu.

Cin Liong dan Ci Sian menangkis, akan tetapi mereka berteriak kaget dan terlempar, terpelanting dan roboh. Melihat ini, Puteri Nandini dan Siok Lan membalapkan kuda mereka dan berloncatan sambil mencabut senjata dan menyerang Wan Tek Hoat. Akan tetapi jembel sinting ini mengelak dari sambaran pedang panglima wanita itu, kemudian dengan jari tangan terbuka dia menghantam pedang di tangan Siok Lan dari samping. Dara ini menjerit kaget karena pedangnya menjadi patah-patah ketika bertemu dengan jari-jari tangan itu! Puteri Nandini juga terkejut dan cepat dia menerjang sambil memberi aba-aba agar pasukannya bergerak.

Wan Tek Hoat tertawa bergelak melihat pasukan maju hendak mengeroyoknya itu. Dia melempar tubuh ke belakang dan bergulingan di atas tanah, terus melompat jauh sambil tertawa terus. Puteri Nandini mencoba untuk mengejar, namun jembel sinting itu telah lenyap di balik pohon-pohon dan dia hanya dapat memerintahkan para pembantunya untuk melakukan pengejaran dan pencarian. Sementara itu, Siok Lan sudah cepat lari menghampiri Ci Sian dan Cin Liong.

Akan tetapi pertama-tama dara ini berlutut di dekat pemuda itu dan bertanya dengan nada suara khawatir, “Kau terluka....?”

Cin Liong bangkit dan mengeluh lirih. Pangkal lengan kirinya terluka, baju di bagian itu robek berikut kulit dan sedikit dagingnya. Hanya luka kecil saja. Juga Ci Sian menderita luka kecil pada pundaknya, berdarah sedikit.

“Tidak berapa parah, Nona. Penjahat itu lihai luar biasa.... kami berdua tidak mampu menangkapnya....”

“Hemm, kurasa dia itulah mata-mata yang pernah mencuri dalam gedung, Enci Lan! Tentu dia itulah yang dikabarkan orang-orang jenderal dari kota raja Ceng itu!” Ci Sian menyambung dengan bersungut-sungut.

Panglima wanita itu cepat memeriksa luka mereka dan mengobatinya, lalu mengajak mereka bicara. Dia menanyakan bagaimana keduanya dapat berada di tempat ini dan bertanding dengan jembel yang lihai itu.

Ci Sian dan Ci Liong lalu saling bantu, menceritakan betapa malam tadi mereka berdua melihat bayangan berkelebat di gedung. Karena tidak ingin menggegerkan gedung dan pula karena percaya pada diri sendiri bahwa mereka berdua akan mampu menangkap penjahat itu, keduanya kemudian mengejar. Akan tetapi ternyata penjahat itu lihai dan mempermainkan mereka, melarikan diri keluar dari kota sampai ke tempat ini, bahkan berlari-larian dan berkejaran sampai pagi, baru penjahat itu menanti mereka dan terjadi perkelahian yang merugikan mereka berdua.

Cin Liong menarik napas panjang ketika mengakhiri ceritanya. “Li-ciangkun, harap suka berhati-hati. Mata-mata itu sungguh amat lihai. Saya dan Nona Ci Sian sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa terhadapnya dan kalau dia menghendaki, agaknya kami berdua sudah tewas sewaktu kami melawannya tadi. Masih untung bahwa kami hanya menderita luka yang tidak parah.”

“Biar dia lihai seperti setan, kalau lain kali bertemu dengan dia, aku akan menantangnya untuk berkelahi sampai seribu jurus!” Ci Sian berseru dan kelihatan amat penasaran.

“Akan tetapi, bagaimana bisa begitu kebetulan bahwa hanya kalian berdua saja yang melihat mata-mata itu pada saat yang sama?” Tiba-tiba Siok Lan bertanya dan dari sikap dan suaranya jelas dapat ditangkap bahwa dara ini merasa cemburu!

“Enci Lan, engkau menyangka apa?” Ci Sian membentak dengan wajar, sesuai dengan wataknya yang memang keras dan sikapnya ini banyak menolong dia dan Cin Liong dari pengamatan dua pasang mata yang memandang tajam dari Siok Lan dan ibunya. “Seperti biasa, malam itu karena gerah aku keluar dari kamar dan aku memang selalu waspada untuk membantumu mengamat-amati gedung kalau-kalau ada tamu yang tak diundang menyelundup. Dan tiba-tiba aku melihat bayangan penjahat itu, dibayangi oleh Liong Cin. Dia memberi isyarat kepadaku bahwa dia mengejar orang di depan, maka aku pun ikut mengejar. Kami membantumu untuk mengejar mata-mata dan kini engkau hendak mencurigai kami?”

“Memang benar demikian, Nona Siok Lan. Malam itu mendengar orang di luar jendela kamarku. Aku lalu mengintai dari jendela dan melihat bayangan orang itu longak-longok seperti maling. Aku sengaja tidak menegur, melainkan diam-diam aku membayanginya, maka ketika dia lari keluar dari gedung dan aku mengejarnya. Nona Ci Sian melihat kami dan ikut mengejar.”

“Biarlah aku pergi saja dari Lhagat kalau sudah tidak kau percaya lagi, Enci Lan!”

Siok Lan memegang lengan Ci Slan. “Maaf, Adik Sian. Bukan kami tak percaya padamu atau kepada Saudara Liong Cin, melainkan.... ehh, kami harus hati-hati dalam keadaan seperti ini.... Sudahlah, kami sungguh berterima kasih kepada kalian berdua, sungguh pun amat sayang bahwa mata-mata itu dapat meloloskan diri.”

“Lain kali, jika kalian melihat hal-hal yang mencurigakan, harap suka berteriak memberi tahu supaya kami semua dapat serentak bergerak menangkapnya.” Puteri Nandini juga berkata, akan tetapi dari sikap panglima ini dan puterinya, mereka berdua agaknya sudah tak curiga lagi dan tentu saja hal ini membuat Ci Sian dan Cin Liong merasa lega.

Akan tetapi, di samping kelegaan hati itu, ada sesuatu perasaan amat tidak enak dalam hati Ci Sian. Semenjak peristiwa itu, kalau kini dia melihat Cin Liong bersama Siok Lan berdua sedang berjalan-jalan atau bercakap-cakap, melihat betapa mesranya sikap Siok Lan kepada pemuda itu, diam-diam dia merasa tidak senang!

Kadang-kadang dia melawan perasaannya sendiri ini. Apakah dia cemburu? Ihh, mana mungkin? Perasaan ini timbul ketika dia merasa betapa Siok Lan cemburu terhadapnya. Dia amat sayang kepada Siok Lan dan merasa bahwa di samping semua keadaan mereka yang berlawanan, namun terdapat perasaan suka dan sayang antara mereka, perasaan suka antara dua orang sahabat yang cocok.

Akan tetapi setelah kini dia merasa yakin bahwa Siok Lan jatuh cinta kepada pemuda itu. Dialah yang kini merasa tidak senang atau setidaknya ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya. Tentu saja dia mengambil sikap tidak peduli dan selalu dia menekankan di dalam hatinya bahwa sikap manis Cin Liong kepada Siok Lan itu merupakan ‘alasan’ dari jenderal muda itu untuk menjauhkan kecurigaan dan untuk menyembunyikan diri, tentu saja…..

Tiga hari semenjak terjadinya peristiwa itu, pagi hari itu Siok Lan mendekati Cin Liong dan mengajak pemuda ini berjalan-jalan ke atas sebuah bukit kecil di tepi kota Lhagat. Mereka melakukan perjalanan seenaknya, berjalan berdampingan dan Siok Lan yang beberapa kali menengok dan memandang wajah pemuda itu bertanya, “Liong-ko (Kakak Liong), mengapa kau kelihatan termenung saja sejak tadi?”

Cin Liong terkejut akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu. Dia bukan hanya terkejut karena teguran yang membuktikan ketajaman mata dara ini, akan tetapi juga terkejut mendengar sebutan Liong-ko. Hanya jarang sekali dara ini menyebutnya koko, biasanya hanya menyebut namanya saja, terutama kalau berada di depan ibu dara ini atau di depan Ci Sian.

“Ahh, tidak apa-apa, Nona.”

Mereka berjalan terus melalui tempat penjagaan dan tidak mempedullkan pandangan para prajurit Nepal yang menyeringai. Mereka berdua terus asyik bercakap-cakap dan agaknya sudah bukan rahasia lagi betapa akrabnya hubungan antara puteri panglima itu dengan pemuda ‘pemburu’ itu.

Mereka sekarang tiba di puncak bukit kecil itu dan mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau, memandang ke arah utara di mana nampak bukit yang dikepung tentara Nepal, bukit di mana terdapat lembah di mana tentara Ceng sedang dikepung. Sudah hampir sebulan mereka dikepung tak berdaya di tempat itu! Melihat bukit ini, tak terasa lagi jantung Cin Liong berdebar keras sekali, penuh ketegangan.

Malam nanti saat itu tiba, seperti telah diaturnya dengan matang. Ia telah menghubungi semua pembantunya dan semua pembantu itu tentu telah bersiap-siap melaksanakan semua perintah dan siasatnya sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya. Dia sendiri perlu berada di Lhagat, selain mengamati gerakan panglima musuh, juga untuk membantu lancarnya penyerbuan ke Lhagat setelah malam nanti pasukannya berhasil lolos dari kepungan. Dan dia yakin pasukannya akan berhasil. Semua sudah diperhitungkannya masak-masak.

Dia dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau bendungan di atas itu dibobol dan air yang dipergunakan sebagai pasukan pelopor untuk menghantam dan menjebol kepungan musuh. Dan pada saat yang sama, pasukan-pasukan Tibet yang sudah dipersiapkannya akan bergerak pula menghantam dari arah lain untuk mengalihkan perhatian lawan. Dan pada saat air menipis, pasukan yang terkepung akan meloloskan diri, turun dari bukit, keluar dari lembah melalui jalan yang telah dibikin rata dan aman oleh air bah itu! Dan dengan kekuatan disatukan dengan pasukan-pasukan Tibet, lalu pasukannya akan menggempur Lhagat! Untuk semua itu, dia juga amat mengharapkan bantuan orang-orang pandai yang telah diam-diam diselundupkan ke Lhagat dan sekitarnya!

“Liong-koko....”

Cin Liong terkejut dan sadar dari lamunannya. Dengan enggan dia menarik kembali pandang matanya yang sejak tadi ditujukan ke arah bukit itu dan dia menoleh kepada dara yang duduk di sampingnya. Dia melihat betapa sepasang mata yang jeli itu menatapnya dengan sayu, sepasang mata yang nampaknya seperti setengah terpejam, seperti mata yang mengantuk, akan tetapi ada sinar aneh dari sepasang mata di balik bulu-bulu mata yang lentik itu.

Siok Lan memang cantik sekali, kecantikan yang manis dan aneh seperti biasa terdapat pada kecantikan dara-dara yang berdarah campuran. Siok Lan adalah seorang dara berdarah peranakan Han dan Nepal dan agaknya dara ini menerima kurnia yang luar biasa dari alam, dia agaknya telah mewarisi segi-segi baiknya saja dari ayah bundanya yang berbeda bangsa itu.

Kulitnya putih kuning halus seperti kulit wanita bangsa ayahnya, demikian pula pada kehitaman dan kelebatan rambutnya, ramping dan semampainya bentuk tubuhnya. Dan dia memiliki sepasang mata yang lebar dan indah dengan bulu mata lentik, hidung yang agak mancung dan dagu meruncing seperti kemanisan wajah ibunya.

Cin Liong adalah seorang pemuda yang semenjak kecil mengejar ilmu kepandaian dan belum pernah melibatkan diri dengan hubungan antara pria dan wanita. Hubungannya dengan Siok Lan hanya merupakan hubungan yang berdasarkan siasat perangnya belaka, maka selama ini dia menganggap dara ini sebagai puteri dari panglima pasukan musuhnya, sungguh pun secara pribadi dia amat mengagumi dara ini, juga ibunya yang dianggapnya seorang panglima yang pandai. Dan dara ini memiliki watak yang sangat baik.

Kini, dalam keadaan santai, duduk berdua di tempat sunyi itu, mendengar suara Siok Lan memanggilnya, kemudian setelah menoleh bertemu pandang mata yang demikian indah dan penuh getaran perasaan memandangnya, jantung Cin Liong terasa berdebar aneh. Selama dia hidup baru kini dia merasakan suatu getaran aneh dalam hatinya, dan wajah dara itu seolah-olah baru sekarang dilihatnya, baru sekarang dia menemukan keindahan dan kecantikan luar biasa pada mata dan bibir itu!

Sejenak dua pasang mata itu bertemu pandang, bertaut seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka terpesona dan seolah-olah pandang mata saling melekat tak dapat dipisahkan lagi. Akan tetapi akhirnya Cin Liong dapat menguasai debaran jantungnya dan kedua pipinya menjadi merah ketika dia bertanya lirih. “Ada apakah, Nona?”

Siok Lan juga baru sadar bahwa sejak tadi dia seperti terayun dalam alam mimpi, dan dia menjadi malu sekali. Cepat dia menunduk dan mukanya yang menjadi lebih merah dari pada muka pemuda itu. “Liong-ko, sejak tadi kulihat engkau melamun saja, seperti orang yang berduka, atau seperti orang yang khawatir. Ada apakah?”

Cin Liong tersenyum. “Tidak apa-apa, Nona.”

Dara itu mengangkat muka memandang dan kini sepasang matanya tidak sayu lagi seperti tadi, melainkan bersinar tajam penuh selidik. “Sejak kita datang ke tempat ini, engkau duduk melamun dan memandang ke arah bukit di sana itu, Liong-ko. Aku dapat merasakan bagaimana kedukaan dan kekhawatiran menekan hatimu melihat pasukan kerajaan itu terkepung di sana sudah sebulan....”

“Ahh, tidak....!” Cin Liong cepat membantah dan diam-diam dia terkejut sekali.

Apakah dara ini mengetahui pula rahasianya? Kalau begitu, amat berbahaya dan dia harus cepat turun tangan. Terbongkarnya rahasianya akan berbahaya sekali, dan dapat menggagalkan siasatnya yang akan dilaksanakan malam nanti.

Akan tetapi dara itu nampak tenang saja, bahkan tersenyum pahit. “Aku mengerti, Liong-koko. Engkau adalah seorang bangsa Han, dan tentu saja tidak senang melihat pasukan bangsamu terkepung dan menghadapi kehancuran....”

Karena masih meragu, Cin Liong belum turun tangan, dan ia memancing. “Engkau tahu bahwa aku hanyalah seorang pemburu Nona, aku tidak mencampuri urusan perang....”

“Aku mengerti, Liong-ko, akan tetapi aku pun dapat menduga betapa hatimu duka dan khawatir oleh akibat perang yang mengancam pasukan bangsamu. Aku sendiri pun benci perang! Aneh kedengarannya. Ibu seorang panglima perang, namun aku benci perang. Dan tahukah engkau, Liong-ko, Ibu sendiri pun benci perang!”
“Ehh....?” Cin Liong benar-benar terkejut mendengar ini, dan dia menatap wajah cantik itu dengan heran.

Siok Lan mengangguk kemudian menunduk, merenung. “Ya, Ibuku benci perang. Ibuku adalah seorang puteri Nepal, sejak kecil mempelajari kesenian dan kesusastraan. Akan tetapi dia pun mempelajari ilmu silat dan perang. Walau pun begitu, dia selalu mencela perang!”

“Akan tetapi mengapa dia menjadi panglima?”
“Karena.... patah hati.... gagal dalam asmara.”
“Ahhh....!”

Dara itu menoleh dan menatap wajah Cin Liong, kemudian dia menggeser duduknya sehingga berhadapan dengan pemuda itu. Sejenak dia menatap tajam, kemudian dia berkata, “Dengarlah, Liong-ko, aku akan menceritakan riwayat kami kepadamu. Akan tetapi harap semua ini dirahasiakan.” Cin Liong hanya mengangguk-angguk dan merasa heran mengapa dara ini demikian percaya kepadanya.

“Ibuku adalah seorang wanita Nepal, puteri dari seorang pendeta yang semenjak kecil mempelajari seni, ilmu sastra, silat dan ilmu perang. Kemudian Ibuku menikah dengan seorang pangeran Nepal, seorang pangeran tua yang menjadi Ayah tiriku.”
“Ayah tirimu....?”
“Ya, aku.... Ayah kandungku adalah seorang pria berbangsa Han, seperti juga engkau, Liong-ko.”
“Hemmm.... sudah kuduga itu, melihat keadaanmu.”

“Karena Ibu lebih perkasa dan pandai dari pada Ayah tiriku, maka Ibu lalu diangkat menjadi perwira tinggi dalam ketentaraan. Ibu menerima pengangkatan itu hanya untuk menghibur hatinya, karena.... karena sesungguhnya Ibu tidak mencinta suaminya yang jauh lebih tua, dan hal itu terjadi sampai Ayah tiriku meninggal dunia. Semenjak itu Ibu menjadi panglima dan biar pun dia membenci perang, terpaksa dia melakukan tugas kewajibannya sebaik mungkin.”

“Dan.... Ayah kadungmu?”

Dara itu menggeleng kepala. “Ibu merahasiakannya. Aku bahkan tidak tahu siapa she Ayahku itu. Aku tidak tahu di mana dia, masih hidup ataukah sudah mati. Heran sekali, Ibu agaknya amat membenci Ayah kandungku sehingga setiap kali aku bertanya, dia marah-marah dan bahkan pernah menamparku karena bertanya tentang itu. Agaknya.... agaknya dia akan sanggup membunuhku kalau aku bertanya terus.” Dan sampai di sini Siok Lan, dara yang biasanya lincah gembira itu kelihatan berduka, bahkan ada air mata menitik turun dari kedua matanya.

Diam-diam Cin Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi dia diam saja, masih terheran-heran mendengar cerita yang luar biasa itu. Ibu dara ini, panglima yang pandai dan perkasa itu, ternyata menyimpan rahasia kehidupan yang amat menyedihkan! Siok Lan mengusap air matanya, berhenti menangis, kemudian menarik napas panjang berulang-ulang.

“Liong-ko, betapa inginku pertemuan antara kita tidak terjadi di tempat ini, pada waktu perang seperti ini. Ahhh, betapa akan senangnya duduk bercakap-cakap denganmu di tempat ini kalau tidak ada perang di situ, kalau keadaan tenteram dan damai. Akan tetapi.... betapa pun juga.... oleh karena adanya perang inilah, maka kita dapat saling bertemu.”

Cin Liong diam saja, tidak tahu harus mengatakan apa dan dia pun tidak tahu mengapa dara itu mengeluarkan ucapan seperti itu.

“Liong-ko, di mana adanya Ayah Bundamu?”

Pertanyaan tiba-tiba ini mengejutkan Cin Liong juga, akan tetapi dengan sikap tenang dia menjawab, “Mereka tinggal jauh di utara, Nona.”
“Liong-ko, harap kau jangan menyebut Nona padaku, Panggil saja namaku!”
“Akan tetapi, Nona....”
“Apakah engkau tidak mau menganggap aku sebagai seorang.... sahabat baikmu?” bertanya demikian, dara itu mengangkat muka dan menatap wajah Cin Liong dengan sepasang mata yang tajam berseri. Akhirnya Cin Liong menunduk dan mengangguk.

“Baiklah, Lan-moi (Adik Lan). Engkau sungguh baik sekali.”
“Bukan aku, melainkan engkaulah yang baik sekali, Liong-ko. Aku berhutang budi dan nyawa padamu....”

“Cukuplah itu, harap engkau jangan sebut-sebut lagi soal itu. Engkau dan Ibumu telah menerimaku di sini dengan baik sekali, malah akulah yang harus malu....“ Cin Liong teringat betapa kehadirannya itu adalah sebagai mata-mata padahal dara ini demikian baik kepadanya. Nampak makin jelaslah olehnya betapa keji dan kejamnya perang!
“Akan tetapi, peristiwa itu tidak akan terlupakan olehku selama hidup, Liong-ko. Dan.... kalung itu.... apakah masih kau simpan?”

Otomatis tangan kiri Cin Liong meraih ke lehernya, dan gerakan ini saja membuat Siok Lan merasa girang sekali dan dia yakin bahwa kalung itu masih dipakai oleh pemuda ini, maka ia lalu melanjutkan kata-katanya. “Terima kasih jika masih kau simpan. Liong-ko, ketahuilah jika aku.... aku memberikan kalung itu.... dengan sepenuh hati.... kalung itu pemberian Ibu dan.... mewakili diriku....” Tiba-tiba dia menunduk dan mukanya menjadi merah sekali.

Cin Liong juga dapat merasakan kejanggalan kata-kata ini dan makna mendalam yang dikandungnya, maka dia pun tiba-tiba merasa jengah dan malu. Sejenak mereka berdua yang duduk berhadapan itu tidak mengeluarkan kata-kata, keduanya lebih banyak menunduk dan kalau kebetulan saling pandang, lalu tersenyum canggung! Hati Cin Liong tergetar dan tertarik.

Dara ini memang memiliki daya tarik yang kuat sekali, akan tetapi selama ini, biar pun bergaul dengan akrab, dia tidak merasakan daya tarik ini karena seluruh perhatiannya tercurah kepada tugasnya. Kini baru dia merasakan daya tarik itu yang membuat dia ingin sekali memandang wajah itu dan menikmati kejelitaannya, ingin sekali bersikap dan berbicara manis, ingin sekali menyentuh dan merangkul mesra. Akan tetapi Cin Liong masih ingat akan kedudukan dan tugasnya, maka dia mengeraskan hatinya dan akhirnya dia bangkit berdiri. Siok Lan juga ikut bangkit dan memandang heran.

“Nona.... eh, Adik Siok Lan, marilah kita pulang. Ibumu tentu akan mencarimu, dan tidak baik bagimu kalau berlama-lama kita duduk berdua saja di tempat ini.”

Dara itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mengandung kekerasan. “Liong-ko, mengapa tidak baik bagiku? Aku tidak peduli dengan orang lain, dan Ibu tentu tidak akan melarang kalau aku berdua di sini bersamamu.”

Cin Liong tersenyum. Dalam marahnya, dara itu bahkan nampak semakin cantik! “Syukurlah kalau begitu, Lan-moi. Akan tetapi, akulah yang merasa tidak enak, karena aku adalah seorang tamu yang diterima dengan ramah dan baik, dan aku hanya seorang pemburu miskin biasa, sedangkan kau.... kau puteri panglima....“

“Hussshh, jangan ucapkan lagi kata-kata seperti itu, Liong-ko! Ingat, Ibuku hanya anak seorang pendeta sederhana yang miskin dan bodoh. Dan aku.... hemm, aku bahkan tidak pernah kenal siapa Ayah kandungku! Engkau yang mempunyai Ayah Bunda yang jelas dan terhormat, engkau lebih terhormat dari pada aku.”

Kembali Cin Liong tersenyum. Banyak segi-segi yang baik pada diri dara ini, pikirnya. “Baiklah, Lan-moi. Engkau benar, akan tetapi sudah lama kita di sini, mari kita kembali.”

Tanpa disengaja, tangannya menyentuh tangan dara itu. Perbuatan tidak disengaja oleh Cin Liong ini berakibat besar karena dara itu merasa tangannya dipegang dan dia cepat memegang tangan pemuda itu dan jari-jari tangan mereka saling pegang, kemudian sambil bergandeng tangan mereka menuruni bukit itu. Dua orang muda remaja yang selama hidupnya baru pertama kali ini mendekati lawan jenisnya, merasa betapa ada getaran-getaran halus pada jari tangan mereka, getaran yang timbul dari hati mereka yang berdebar-debar tidak karuan, getaran mesra yang menjalar ke seluruh tubuh, yang membuat mereka kadang-kadang saling pandang, saling senyum tanpa kata-kata.

Namun apa artinya lagi kata-kata dalam keadaan seperti itu? Senyum dan pandang mata ini sudah cukup mengeluarkan seluruh apa yang terkandung dalam perasaan masing-masing, yang belum tentu dapat dilukiskan dengan kata-kata yang betapa indah sekali pun.

Tiba-tiba Cin Liong melepaskan tangannya yang saling bergandengan dengan gadis itu dan Siok Lan juga cepat-cepat agak menjauhkan diri dari pemuda itu ketika dia melihat munculnya Ci Sian di tikungan depan.

“Eh, Enci Lan, kucari engkau ke mana-mana tidak tahunya berada di sini. Hemm, maaf ya, aku mengganggu, ya?” kata dara ini sambil tersenyum menggoda, sungguh pun ada perasaan tidak enak di dalam hatinya, perasaan tidak enak yang dia sendiri tidak tahu mengapa.
“Ahh, ada-ada saja engkau, Sian-moi. Siapa mengganggu siapa? Aku bercakap-cakap dengan.... ehhh, Liong-ko....”

Akan tetapi dia berhenti karena teringat bahwa baru sekarang di depan Ci Sian dia menyebut pemuda itu dengan sebutan koko. Mukanya menjadi merah sekali dan melihat ini, Ci Sian tersenyum walau pun hatinya terasa semakin tidak enak. Mereka bertiga kemudian kembali ke gedung di mana Puteri Nandini sudah menunggu karena memang panglima inilah yang menyuruh Ci Sian untuk pergi mencari Siok Lan dan memanggilnya pulang karena dia perlu untuk bicara.

Setelah tiba di dalam gedung, Siok Lan langsung memasuki kamar ibunya dan di situ dia melihat bahwa ibunya sedang berunding dengan para panglima pembantu ibunya, dan sikap mereka menunjukkan bahwa tentu terjadi sesuatu yang gawat.

“Ibu, ada apakah?” tanyanya.

“Duduklah. Dengar baik-baik, Siok Lan. Menurut para penyelidik, ada sesuatu yang aneh sedang direncanakan oleh pihak musuh, entah apa. Ada pergerakan dari pasukan-pasukan Tibet yang telah kita kalahkan. Kita tidak percaya bahwa pasukan Tibet akan berani bergerak menyerang Lhagat tanpa suatu rencana tertentu. Agaknya mereka merahasiakan rencana itu dan keadaan pasukan musuh yang terkepung juga nampak tenang-tenang saja. Ketenangan inilah yang membuat hatiku tidak enak. Maka, siapa pun harus kita curigai. Engkau bertugas selain menjaga keamanan gedung ini, juga untuk memata-matai dua orang tamu kita itu.”

“Apa? Ibu maksudkan Adik Sian dan Liong-koko?”

Mendengar puterinya menyebut koko pada pemuda itu. Puteri Nandini memandangnya dengan sepasang mata penuh selidik dan mata ibu yang tajam ini melihat betapa ada warna kemerahan pada kedua pipi puterinya.

“Ya, dua orang itu adalah orang-orang asing bagi kita. Biar pun sampai kini tidak ada gerakan-gerakan dan bukti-bukti yang menjadikan kecurigaan kita, namun kita harus tetap waspada. Dan karena mereka adalah teman-temanmu, maka sebaiknya engkau yang menyelidiki dan membayangi keadaan mereka agar tidak terlalu mencolok.”

Siok Lan tidak dapat membantah, apalagi di situ hadir banyak pembantu ibunya, maka dia cepat mengangguk dan menjawab, “Baiklah, Ibu.”

Mereka lalu berunding dan Sang Panglima Wanita itu lalu membagi-bagi tugas untuk memperketat penjagaan dan bahkan memutuskan bahwa kalau sampai dua hari lagi pasukan yang terkepung tidak menyerah dan tidak ada tanda-tanda kedatangan orang-orang penting dari kota raja, maka lembah itu akan digempur dan pasukan terkurung itu akan dipaksa untuk menyerah!

Malam itu tiada bulan nampak di langit. Hanya ada bintang-bintang gemerlapan di langit hitam, seperti ratna mutu manikam di atas kain beludru hitam, berkilauan cemerlang, berkedip-kedip seperti ada selaksa bidadari bermain mata kepada manusia di atas bumi. Bima sakti nampak nyata, dibentuk oleh kelompok bintang-bintang yang berderet memanjang putih, sehingga nampaknya seperti awan putih cemerlang, membentuk bayang-bayang hitam yang tetap dan dalam.

Pada malam hari yang indah dan kelihatan penuh ketenteraman itu, dengan angin malam lembut bersilir, orang-orang di Lhagat dan sekitarnya tiba-tiba dikejutkan oleh sinar yang berluncuran dari bawah. Sinar-sinar yang seperti kembang api meluncur tinggi ke atas, berwarna hijau, kuning dan merah. Mula-mula warna merah yang lebih dulu meluncur dari lembah bukit di mana pasukan Ceng terkepung, lalu disusul oleh luncuran warna-warna lain dari bukit-bukit dan bahkan dari dalam kota Lhagat!

Selagi orang-orang menonton kembang api itu dengan heran, kagum hati bertanya-tanya siapa yang meluncurkan ke atas dan apa artinya itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas puncak bukit di mana pasukan musuh terkepung, suara ledakan keras disusul gemuruhnya air membanjir! Itulah permulaan dari gerakan yang dilakukan oleh Panglima Kao Kok Han bersama pasukannya yang terkepung, sesuai dengan siasat yang telah diatur oleh Panglima Kao Cin Liong!

Mula-mula saling diluncurkan anak-anak panah api ke atas oleh para pasukan yang terkepung, yang disambut oleh pasukan-pasukan Tibet, kemudian disambut pula oleh para anggota pasukan gerilya yang telah menyelundup ke dalam kota Lhagat. Lalu, Panglima Kao Kok Han, yaitu paman dari Kao Cin Liong, memimpin anak buahnya membobolkan bendungan air yang telah merupakan danau kecil di puncak karena mereka membendung air yang keluar dari sumber sehingga terkumpul amat banyaknya. Jebolnya bendungan ini tentu saja membuat air yang amat banyak itu membanjir ke bawah dengan derasnya, kemudian langsung menyerbu ke arah pasukan Nepal yang mengepung di bagian barat lembah bukit itu!

Tentu saja pasukan Nepal di sebelah barat bukit ini menjadi kaget, panik dan kacau balau diserang oleh banjir yang datang dari puncak bukit itu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sehingga ada air yang mendadak menyerbu mereka dari atas, menyeret perkemahan mereka, dan membunuh banyak orang serta menyeret orang-orang itu, menghempaskan mereka kepada batu-batu dan pohon-pohon. Mereka masih belum menyangka bahwa ini adalah perbuatan musuh, dan kepanikan menjadi semakin hebat ketika tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan hujan anak panah datang dari sebelah luar kepungan yang merobohkan lebih banyak orang lagi karena mereka tidak sempat berlindung dan masih panik oleh serangan air bah dari atas bukit.

Kepanikan ini menjadi-jadi ketika pasukan dari atas bukit yang terkepung itu tiba-tiba menyerbu turun, mengikuti air yang makin menipis. Pasukan Nepal yang mengepung segera memusatkan kekuatan di tempat itu, akan tetapi karena mereka sudah kena gempuran air dan pasukan Tibet yang menghujankan anak panah tadi, mereka mengira bahwa tentu pasukan Ceng-tiauw memperoleh bantuan barisan Ceng-tiauw yang besar, dan mereka sudah terlalu panik sehingga mereka melakukan perlawanan dengan hati takut.

Makin banyaklah pasukan-pasukan Tibet muncul dari berbagai jurusan, menghadang bagian pasukan Nepal yang tadinya mengepung dari arah lain dan kini berdatangan ke tempat itu untuk membantu kawan-kawan mereka. Pasukan-pasukan gerilya Tibet ini memotong-motong pasukan itu dan terjadilah pertempuran di sana-sini membuat pasukan Nepal yang mengepung itu terpecah-pecah dan kacau-balau.

Mereka mencoba untuk mempertahankan diri, namun akhirnya, menjelang fajar mereka semua terpaksa harus mundur dan memasuki kota Lhagat setelah mereka kehilangan lebih dari separuh jumlah pasukan yang sebagian tewas atau roboh oleh air bah, sebagian pula oleh hujan anak panah dan yang terbesar karena pertempuran yang berat sebelah itu karena kalau pihak Nepal bertempur dengan hati panik dan ketakutan, adalah pihak tentara Ceng-tiauw yang ingin bebas dari kepungan dan tentara Tibet yang ingin mengusir musuh itu bertempur dengan penuh semangat!

Panglima wanita Nandini dengan pakaian perang ternoda banyak darah musuh yang dirobohkannya dalam pertempuran tengah malam itu, dan muka serta leher basah oleh peluh terpaksa memimpin sisa pasukan itu memasuki Lhagat. Siok Lan yang bertugas menjaga kota itu menyambut bersama para pengawalnya dan terkejut melihat keadaan ibunya. Tanpa banyak tanya pun dia tahu bahwa pasukan Ibunya kalah dan kini sisa pasukan itu mundur memasuki Lhagat.

Akan tetapi, baru saja pasukan yang sudah patah semangat itu memasuki kota Lhagat, nampak kebakaran terjadi di semua penjuru kota itu! Orang-orang berteriak-teriak kebakaran dan keadaan menjadi semakin panik ketika dengan marah sekali Panglima Nandini memerintahkan para pembantunya untuk memeriksa kebakaran-kebakaran itu dan memadamkannya.

“Di mana Ci Sian? Di mana Liong Cin?” Panglima itu membentak dengan muka agak pucat kepada Siok Lan.

Siok Lan memandang ibunya, wajahnya juga menjadi pucat dan dia berkata dengan hati tegang. “Tadi mereka membantuku melakukan perondaan, bahkan aku memberi tugas kepada mereka berdua untuk menjaga di sekitar penjara agar jangan sampai tawanan memberontak dan membobol penjara dalam keadaan seperti ini, Ibu.”

Panglima itu mengangguk-angguk, tetapi tetap saja alisnya berkerut karena dia merasa ragu-ragu. Dia sudah memperoleh pukulan hebat dan sama sekali tidak disangkanya bahwa musuh demikian lihai menjalankan siasatnya sehingga dia benar-benar tak dapat menduga sama sekali bahwa pasukan yang terkepung itu akan mampu meloloskan diri. Tentu ada pengaturnya semua siasat itu, dan pengaturnya tentulah jenderal sakti yang dikabarkan orang datang dari kota raja dan yang kabarnya amat lihai itu. Kini baru dia tahu bahwa berita itu tidak berlebih-lebihan, bahwa di pihak musuh terdapat seorang ahli siasat perang yang hebat.

“Celaka, Li-ciangkun..!” Tiba-tiba seorang penjaga dengan tubuh luka-luka parah datang berlari dan langsung roboh di depan kaki panglima itu.

Biar pun orang itu sudah terluka parah, akan tetapi melihat orang itu dalam keadaan ketakutan seperti itu, Panglima Nandini membentak, “Pengecut! Bangun dan ceritakan apa yang terjadi!” Suara panglima ini penuh kemarahan.

“Penjara.... bobol dan semua tawanan.... lolos.... kami tak dapat menahan mereka....“
“Ahh! Bagaimana terjadinya? Siapa yang berkhianat?”
“Mereka.... mereka.... seorang pemuda dan gadis.... tamu Li-ciangkun....”
“Keparat!” Panglima itu membentak marah dan sekali meloncat dia telah berada di atas kudanya kemudian melarikan kudanya itu ke arah penjara, diikuti oleh Siok Lan yang wajahnya menjadi pucat sekali dan ada dua butir air mata meloncat turun ke atas pipinya. Hampir dia tidak percaya, Liong Cin seorang pengkhianat? Seorang mata-mata musuh yang meloloskan para tawanan bersama Ci Sian? Dan Ci Sian....? Ahhh, dia hampir tidak dapat mempercayai hal ini.

Akan tetapi para tawanan memang telah lolos keluar dan terjadilah pertempuran di mana-mana antara para tawanan dan para penjaga, juga di antara para tawanan itu terdapat beberapa orang yang lihai berbangsa Tibet dan Han, dan mereka ini bukanlah tawanan yang lolos, melainkan tenaga-tenaga baru yang entah muncul dari mana!

Puteri Nandini dengan marah lalu mengamuk dan merobohkan empat orang tawanan yang tidak dapat menahan sambaran pedangnya. Akan tetapi pada saat itu terdengar tambur tanda bahaya dari menara dan ternyata pasukan musuh telah mulai menyerang pintu-pintu gerbang kota Lhagat! Hal ini tentu saja mengejutkan Nandini dan terpaksa dia meninggalkan tempat itu untuk pergi ke menara. Penyerbuan musuh dari luar lebih penting dari pada pemberontakan para tawanan itu. Siok Lan juga mengikuti ibunya karena bagaimana pun juga, dalam keadaan yang genting dan gawat itu, dia harus selalu mendekati ibunya untuk membantu ibunya.

Dan memang pasukan Ceng-tiauw yang dibantu oleh banyak sekali pasukan Tibet telah mulai menyerbu benteng tembok Lhagat dari pelbagai jurusan! Serbuan itu dimulai pagi sekali ketika cuaca masih gelap. Tentu saja pasukan-pasukan Nepal menjadi semakin panik karena mereka baru saja mengalami kekalahan dan gempuran hebat. Dalam keadaan lelah lahir batin mereka kini terpaksa dikerahkan untuk mempertahankan kota itu dari kepungan musuh. Celakanya, dari sebelah dalam juga terjadi serbuan-serbuan, pembakaran-pembakaran, yang amat menggelisahkan para pasukan itu.

Terutama sekali Puteri Nandini yang menerima laporan bertubi-tubi tentang adanya serbuan-serbuan pada gedung-gedung pemerintah, pembakaran-pembakaran, bahkan gedung tempat tinggalnya tidak terkecuali mengalami penyerbuan dan para pengawal gedung itu tewas semua. Mendengar laporan-laporan ini, maklumlah Sang Puteri yang menjadi panglima ini bahwa kota Lhagat ternyata penuh dengan mata-mata yang kini dibantu oleh para tawanan yang lolos untuk mengacaukan kota. Kalau kekacauan di sebelah dalam ini tak segera dibasmi, tentu akan membahayakan pertahanan kota dari serbuan musuh di luar.

Oleh karena itu, sambil mengajak puterinya dia lalu turun dari menara, menyerahkan pengaturan penjagaan pintu-pintu gerbang kepada komandannya dan dia bersama puterinya lalu menuju ke tempat-tempat terjadinya penyerbuan para pengacau itu. Akan tetapi para pengacau itu bergerak secara bergerilya. Kalau pihak penjaga terlampau kuat mereka menghilang, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan membakar atau mengacau di bagian lain, dan tujuan mereka agaknya selain untuk mengacaukan penjagaan juga untuk mendekati pintu-pintu gerbang karena mereka bertugas untuk membobolkan pintu itu dari sebelah dalam.

Dirongrong seperti ini dari dalam, para penjaga Nepal menjadi semakin panik dan lelah sekali dan akhirnya, pintu gerbang sebelah selatan bobol dan dengan suara hiruk-pikuk pasukan Kerajaan Ceng-tiauw bersama pasukan Tibet menyerbu masuk bagaikan air bah terlepas dari bendungan yang pecah. Keadaan dalam kota Lhagat menjadi semakin kacau dan bersama dengan terbitnya matahari, pasukan Ceng dan Tibet yang terbagi bagi menjadi beberapa pasukan itu menyerbu dari semua pintu gerbang yang akhirnya dapat dibobolkan.

Terjadilah pertempuran-pertempuran di dalam kota itu dengan hebatnya. Bala tentara Nepal kehilangan kepercayaan diri, dan para pemimpin mereka tak dapat lagi memberi komando secara langsung karena pertempuran telah pecah di mana-mana memenuhi kota itu. Penduduk yang memang banyak bersimpati kepada Tibet, sekarang keluar dan membantu pihak Tibet untuk menggempur pasukan Nepal yang mereka benci! Dan di dalam pasukan mata-mata yang menyelinap di dalam kota dan tadi telah melakukan pembakaran-pembakaran terdapat cukup banyak orang-orang pandai yang mengamuk bagaikan harimau-harimau buas, membuat pasukan Nepal menjadi makin gelisah.

Di antara pertempuran-pertempuran yang pecah di mana-mana secara kacau-balau itu, pertempuran-pertempuran jarak dekat yang amat seru, nampak Panglima Nandini dan Siok Lan mengamuk bahu membahu. Dengan pedang di tangan, ibu dan puterinya ini mengamuk, bukan lagi mempertahankan kota atau demi pasukan Nepal, melainkan untuk mempertahankan diri yang dikepung dan dikeroyok!

Sementara itu, yang membongkar penjara adalah Cin Liong sendiri dibantu oleh Ci Sian. Dara itu ikut membongkar penjara karena dia hendak mencari Lauw-piauwsu yang dia tahu berada di antara mereka yang menjadi tawanan. Setelah penjara terbongkar dan semua tawanan menyerbu keluar, Ci Sian seorang diri memasuki penjara dan bertanya-tanya kepada para tawanan yang lolos itu di mana adanya Lauw-piauwsu. Para tawanan itu yang menjadi gembira sekali memberi tahu bahwa Lauw-piauwsu dalam keadaan sakit payah dan mendengar ini Ci Sian segera berlari-lari menuju ke kamar tahanan orang tua itu.

Akhirnya dia melihat laki-laki tua itu rebah di atas lantai beralaskan rumput kering dalam keadaan mengenaskan sekali. Biar pun selama bertahun-tahun Ci Sian tidak bertemu dengan orang ini dan keadaan Lauw-piauwsu amat menyedihkan, namun Ci Sian segera mengenalnya dan cepat dia berlutut di atas lantai dekat tubuh yang kurus kering itu. Tubuh itu kurus sekali, dengan muka pucat dan mata sayu, napasnya tinggal satu-satu dan tubuhnya amat panas. Kiranya kakek itu diserang demam hebat. Sungguh menyedihkan sekali keadaan Toat-beng Hui-to Lauw Sek yang dulunya adalah seorang kakek yang demikian gagahnya itu!

“Paman Lauw....,” Ci Sian memanggil dengan hati terharu melihat keadaan orang ini.

Lauw Sek membuka matanya yang tadinya dia pejamkan, seolah-olah dalam keadaan mata terbuka sayu tadi dia sama sekali tidak melihat gadis itu memasuki kamarnya setelah mematahkan rantai yang mengunci daun pintu.

Sejenak mata yang sudah kelihatan tidak bersemangat itu memandang, akan tetapi agaknya dia tidak ingat lagi kepada Ci Sian. “Siapa.... siapa engkau....?”

“Paman Lauw, lupakah engkau kepadaku? Aku Ci Sian....”
“Ci.... Sian....?”
“Aku Ci Sian atau.... Siauw Goat, cucu dari Kakek Kun, lupakah kau, Paman?”
“Ahhh....” Sejenak mata itu bersinar dan agaknya dia teringat. “Engkau.... ahhh, Nona.... aku.... aku.... amat payah....”

“Paman, tolong kau beritahukan aku menurut penuturan Kakek Kun dahulu itu, siapakah adanya Ayah kandungku, Ibu kandungku, dan di mana aku dapat mencari mereka?”

“Ahhh.... aku.... aku tidak kuat lagi membawamu ke sana....”
“Aku akan mencari sendiri, Paman. Harap kau katakan saja di mana mereka dan siapa mereka itu.”

Lauw Sek terengah-engah, agaknya pertemuannya dengan gadis yang sama sekali tak disangka-sangkanya ini, gadis yang tadinya disangkanya sudah tewas, mendatangkan ketegangan yang menambah berat penyakitnya.

“Paman.... Paman.... tolonglah, kuatkan dirimu, dan beritahu aku....“ Ci Sian memegang pundak orang itu.

Mata yang sudah terpejam itu terbuka lagi. “Ayahmu.... Bu-taihiap.... petualang besar.... Ibu.... Ibumu.... telah meninggal.... kau disia-siakan dan ditinggal.... sebab dia sudah mempunyai isteri lain lagi.... Dia.... dia di....”

Kakek itu terkulai lemas dan Ci Sian cepat meletakkan telapak tangannya pada dada orang tua itu untuk menyalurkan tenaga sinkang dan membantu peredaran darahnya. Mata itu dibuka lagi, nampaknya terkejut dan heran menyaksikan kelihaian dara itu.

“Di mana dia, Paman? Di mana Ayah?”
“Di puncak.... Merak Emas.... di Kongmaa La.... Kakekmu.... dia.... Kiu-bwe Sin-eng Bu Thai Kun.... Ayahmu.... Ayahmu....” Kakek itu mengeluh, terkulai dan Ci Sian menarik kembali tangannya.

Kakek itu telah mengakhiri hidupnya, tanpa sempat memberitahukan nama ayahnya. Dia hanya tahu bahwa ayahnya disebut Bu-taihiap, dan hal ini amat mendatangkan rasa nyeri di dalam dadanya. Teringatlah dia akan sikap dan ucapan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu yang pernah berhubungan dengan seorang pendekar yang disebut Bu-taihiap! Dan juga menurut penuturan mendiang Lauw Sek, ayahnya seorang petualang besar, dan Ibunya sudah meninggal dunia pula. Bahkan dia telah ditinggalkan oleh ayahnya itu, disia-siakan!

Ci Sian mengepal tinjunya. Teringat dia akan pesan kakeknya bahwa dia harus bertemu dengan ayahnya yang bertanggung jawab padanya. Sekarang, ternyata ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab, seorang petualang besar, agaknya gila perempuan karena buktinya, bersama isterinya, dan entah isteri yang mana, entah ibu kandungnya atau bukan, pernah datang menemui Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu yang cantik dan ayah kandungnya itu berjinah dengan Tang Cun Ciu. Betapa memalukan dan rendah! Ayahnya seperti itu! Apa pula perlunya dia mencari ayahnya jauh-jauh?

Dia lalu meninggalkan jenazah itu setelah menggerakkan bibir mengucapkan terima kasih kepada mendiang Lauw-piauwsu, kemudian berlari keluar dari penjara. Di mana-mana terjadi pertempuran dan malam telah terganti pagi, cuaca sudah tidak gelap lagi. Matahari telah terbit disambut oleh aliran darah dan teriakan-teriakan kematian, mayat berserak-serakan, dan di antara suara beradunya senjata terdengar nyaring pekik-pekik kemenangan dan jerit-jerit kesakitan.

Melihat keadaan ini, tahulah Ci Sian bala tentara Ceng sudah berhasil menyerbu dan memasuki kota Lhagat, dibantu oleh pasukan-pasukan Tibet. Maka diam-diam dia merasa kagum bukan main kepada Cin Liong, karena dia tahu bahwa pemuda itulah yang mengatur segala-galanya. Dia lalu teringat kepada Siok Lan dan mengkhawatirkan keselamatan sahabat baiknya itu. Maka dia kemudian mencari-cari, tidak mempedulikan pertempuran yang terjadi di sekelilingnya.

Akhirnya dia dapat menemukan ibu dan anak itu yang sedang mengamuk, dikeroyok oleh kurang lebih dua puluh orang tentara dan perwira yang rata-rata mempunyai kepandaian silat tangguh. Puteri Nandini yang masih berpakaian perang itu kelihatan telah lelah sekali, bahkan pundaknya telah luka berdarah, sedangkan Siok Lan sudah terpincang-pincang karena kaki kirinya terluka. Namun dua orang wanita itu dengan gagahnya, agaknya mengambil keputusan tidak akan sudi menyerah selama masih mampu melawan dan akan melawan sampai titik darah terakhir.

Melihat ini, hati Ci Sian menjadi tidak tega. Dia telah mengenal Siok Lan yang amat baik kepadanya, dan tahu akan kegagahan dara itu, maka melihat sahabat itu dikeroyok, mana mungkin dia mendiamkannya saja?

“Lan-cici, jangan khawatir, aku membantumu!” bentaknya dan dia pun meloncat ke dalam kalangan pertempuran.

Begitu dia maju menubruk, dia telah berhasil menampar dari samping yang mengenai leher seorang pengeroyok. Orang itu berteriak kaget dan jatuh terpelanting tak dapat bangkit kembali, pedangnya telah pindah ke tangan Ci Sian!

“Sian-moi....!” Siok Lan berteriak girang bukan main, bukan girang oleh karena dibantu semata, melainkan girang dan lega melihat bahwa gadis yang oleh ibunya disangka memberontak dan membantu musuh, berkhianat itu, ternyata tidak demikian dan kini dibuktikannya dengan membantu dia dan Ibunya!

Juga Puteri Nandini terkejut, akan tetapi diam-diam girang juga bahwa ternyata dara yang menjadi sahabat puterinya itu bukanlah pengkhianat, melainkan seorang sahabat sejati. Maka dia pun cepat memutar pedangnya dan merobohkan seorang pengeroyok pula.

Akan tetapi kini kepungan makin ketat dengan datangnya pasukan baru dan jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang! Tentu saja tiga orang wanita itu, betapa pun lihai mereka, mulai terdesak dan kepungan semakin sempit sehingga gerakan-gerakan mereka semakin tidak leluasa.

“Adik Sian, cepat panggil ular-ularmu!” Siok Lan berseru, melihat keadaan mereka yang terancam.

“Ahhh, mana mungkin, Enci Lan? Kota penuh orang yang bertempur, ular-ular itu tidak berani muncul!” jawab Ci Sian sambil memutar pedang rampasannya tadi.

Kini dia tak lagi dapat menyerang lawan, melainkan hanya membela diri dan menangkis semua sanjata para pengeroyok yang datang menyambar bagaikan hujan. Demikian pula Siok Lan dan ibunya yang hanya mampu menangkis. Mereka bertiga kini saling membelakangi, membentuk posisi segi tiga dan menahan serbuan senjata-senjata para pengeroyok dari luar. Namun keadaan mereka sungguh sudah sangat terdesak dan mudah dibayangkan bahwa tak lama lagi akhirnya mereka tentu akan roboh juga.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan tiga orang wanita itu, tiba-tiba terdengar bentakan halus, namun nyaring dan penuh wibawa. “Tahan semua senjata! Hentikan pengeroyokan!”

Luar biasa sekali bentakan ini, sebab selain dapat menembus semua suara kegaduhan, juga semua pengeroyok itu seketika berhenti, mundur dan berdiri dengan amat hormat, memberi jalan kepada seorang pemuda yang mengeluarkan perintah yang amat ditaati itu. Panglima Nandini dan Siok Lan memandang kepada orang itu dan mata mereka terbelalak, karena mereka mengenal pemuda yang berpakaian jenderal amat indah dan mentereng ini.

“Liong-ko....!” Siok Lan berseru kaget sekali karena jenderal muda yang gagah itu bukan lain adalah Liong Cin.
“Hemm…, kiranya Liong Cin adalah jenderal sakti yang dikabarkan orang itu?” Puteri Nandini juga berkata dengan kaget dan penasaran.

Akan tetapi Cin Liong yang begitu masuk memandang kepada Ci Sian, berkata kepada dara itu dengan alis berkerut, “Ci Sian, engkau membantu mereka?”

Ditanya dengan suara penuh teguran itu, Ci Sian menegakkan kepalanya, sepasang matanya bersinar marah dan dia menjawab gagah, “Tentu saja! Aku diterima dengan baik di sini, Enci Siok Lan adalah sahabatku, melihat dia dan Ibunya terancam bahaya, tentu saja aku membantu dan membela mereka. Aku bukan seorang yang tidak kenal budi!”

Mendengar jawaban ini, Cin Liong menahan senyumnya dan dia memandang kepada Siok Lan yang masih terbelalak. Ketika dara ini melihat betapa sahabatnya itu agaknya sama sekali tidak heran melihat keadaan Liong Cin yang muncul sebagai jenderal, dia lalu berkata, “Dia.... dia.... jenderal musuh....?”

“Ya, Enci Lan, jangan kaget. Dialah jenderal yang dikabarkan orang itu, jenderal muda sakti yang datang menyelundup dan kalian malah telah menerimanya sebagai tamu dan sahabat! Dan namanya bukanlah Liong Cin, melainkan Kao Cin Liong!” jawab Ci Sian yang tahu bahwa keadaan panglima muda itu tidak perlu lagi disembunyikan sekarang.

Mendengar bahwa nama yang dikenalnya itu hanya nama palsu, atau nama asli yang dibalikkan saja, Siok Lan memandang kepada panglima muda itu dengan heran, akan tetapi ibunya, Puteri Nandini menjadi terkejut bukan main.

“She Kao?” Panglima wanita itu berseru. “Apakah hubungannya dengan Jenderal Kao Liang?”

Cin Liong mengangguk kepada puteri peranakan Nepal yang gagah itu. “Mendiang Jenderal Kao Liang adalah Kakekku.”

“Hemm....” Puteri Nandini mengangguk-angguk, tidak penasaran lagi bahwa dia telah dikalahkan oleh jenderal muda ini karena nama Jenderal Kao Liang telah sangat terkenal dan tentu saja cucunya ini pun mewarisi kepandaian yang hebat dari jenderal besar itu. “Jadi kalau tidak salah, Ciangkun adalah putera pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?”

Kembali Cin Liong mengangguk tanpa menjawab oleh karena dia memang tidak ingin memamerkan keadaan keluarganya.

“Setelah kami kalah, apa yang hendak kau lakukan dengan kami?” kini Puteri Nandini bertanya, dalam suaranya mengandung tantangan.
“Li-ciangkun, dan.... Nona Siok Lan, tepat seperti yang dikatakan oleh Ci Sian tadi, kami bukanlah orang-orang yang tidak mengenal budi. Oleh karena itu, sebagai pembalasan budi, silakan kalian pergi dengan aman.”

“Apa? Engkau berani membebaskan kami?” Puteri Nandini berteriak kaget dan juga heran. Dia adalah seorang panglima musuh yang telah kalah, dan sekarang dibebaskan begitu saja oleh panglima ini!
“Li-ciangkun hanya seorang petugas, bukan biang keladi peperangan ini. Silakan!”
“Mari, Anakku!” kata Nandini sambil menarik tangan Siok Lan. Dara ini masih menoleh dan memandang kepada Cin Liong, mukanya pucat dan sepasang matanya basah.

“Selamat jalan, Nona, mudah-mudahan kita dapat saling bertemu kembali dan maafkan semua kesalahanku,” kata Cin Liong sambil menjura ke arah Siok Lan yang terisak dan menutupi mukanya.

“Ci Sian, engkau sahabat baik kami, apakah engkau tidak mau pergi bersama kami?” Puteri Nandini mengajak Ci Sian akan tetapi dara ini menggeleng kepala dengan sikap yang keras. Kembali ada rasa tidak enak di hatinya menyaksikan sikap Cin Liong dan Siok Lan.

“Tidak, Bibi, aku mau pergi sendiri, aku mempunyai urusan pribadi!” katanya dan tanpa banyak cakap lagi, bahkan tanpa menoleh kepada Cin Liong, dia lalu meloncat dan pergi dari tempat itu.
“Adik Sian....!” Terdengar panggilan Siok Lan dengan suara mengandung isak.

Ci Sian berhenti, menoleh dan berkata kepada sahabatnya itu, “Sampai jumpa, Enci Lan!” Dan dia pun melanjutkan larinya tanpa mempedulikan lagi.

“Mari, Siok Lan!” Puteri Nandini menarik tangan puterinya, akan tetapi Siok Lan masih menoleh dan memandang kepada Cin Liong. Akhirnya, dengan menahan isak, dia pun mengikuti ibunya lari pergi dari tempat itu, diikuti dan dikawal oleh pasukan pengawal atas perintah Cin Liong agar ibu dan anak itu tidak diganggu dan dibiarkan lolos dari kota Lhagat di mana masih terjadi pertempuran-pertempuran dengan sisa pasukan Nepal yang masih melakukan perlawanan. Sebagian besar pasukan Nepal sudah roboh atau melarikan diri.

Setelah Panglima Nandini dan puterinya pergi lolos dari Lhagat, pertempuran pun tak lama kemudian berhenti karena pasukan Nepal sudah kehilangan semangat dan keberanian. Sebagian dari mereka melarikan diri atau membuang senjata dan menaluk. Para taklukan ini oleh Cin Liong diserahkan kepada para pimpinan pasukan Tibet untuk dijadikan tawanan, kemudian Cin Liong yang menduduki gedung bekas tempat tinggal Puteri Nandini mengumpulkan para pembantunya. Di antara mereka itu terdapat pula Wan Tek Hoat yang berjasa besar ketika membantu pasukan membobolkan kepungan karena pendekar sinting ini yang mengamuk sehingga membuat pasukan kocar-kacir.

“Paman, saya telah menerima perintah untuk melanjutkan gerakan ini ke Nepal, untuk menghajar pemerintah Nepal yang telah berani menyerang dan memasuki wilayah Tibet. Saya sedang minta bantuan pasukan dari kerajaan untuk memperkuat barisan. Harap Paman sudi membantu kami.”

Akan tetapi Tek Hoat menggeleng kepala. “Aku tidak mau lewat Bhutan, aku tidak mau perang, aku tidak bisa ikut.”

Cin Liong hanya menarik napas panjang. Dia merasa kasihan sekali kepada pamannya yang gagah perkasa ini dan melihat keadaannya seperti jembel sinting ini dia merasa kasihan sekali.

“Kalau begitu sebaiknya Paman mengunjungi orang tua saya, Ibu tentu akan senang sekali bertemu dengan Paman.”

Cin Liong lalu memberi bekal, kuda, pakaian dan uang secukupnya. Akan tetapi Tek Hoat tertawa bergelak melihat pemberian ini.

“Jenderal muda, kau kira aku masih membutuhkan semua itu? Bukan itu yang sekarang kubutuhkan, sama sekali bukan....” Dia masih tertawa ketika berlari pergi meninggalkan Cin Liong yang menjadi bengong.

Jenderal muda ini lalu menggeleng kepala dan menarik napas panjang berkali-kali. Dia sudah banyak bertemu orang-orang pandai di dunia kang-ouw yang memang wataknya aneh-aneh, dan pamannya itu mempunyai watak yang lebih aneh lagi…..
********************
“Siok Lan, diamlah jangan menangis lagi!” Nandini membentak dengan marah.

Di sepanjang perjalanan puterinya hanya menangis saja, menangis demikian sedihnya. Semenjak kecil, puterinya itu adalah seorang anak yang tabah dan tidak cengeng, bahkan belum pernah dia melihat Siok Lan menangis seperti sekarang ini, menangis demikian sedihnya! Dikiranya bahwa anaknya itu menangis karena kekalahannya yang dideritanya.

“Di dalam perang, kalah menang adalah hal yang lumrah sekali, seperti juga dalam pertempuran dunia persilatan. Harus kita akui bahwa pihak musuh mempunyai seorang ahli yang amat lihai dan siasatnya itu sama sekali tidak pernah kusangka-sangka dan kuperhitungkan. Kita sudah kalah, mengapa harus ditangisi? Biasanya engkau bukanlah seorang anak cengeng!”

Siok Lan tidak menjawab akan tetapi tangisnya semakin sedih.

“Semula memang aku sudah menduga bahwa tidak mungkin bala tentara Nepal akan mampu mengalahkan bala tentara Kerajaan Ceng-tiauw yang amat kuat. Semua adalah kesalahan koksu jahat itu yang membikin Nepal bermusuhan dengan Kerajaan Ceng. Dan kekalahanku ini membuat aku tidak ada muka untuk kembali ke Nepal....! Ahh, kita hanya hidup berdua, Anakku, kita tidak mempunyai apa-apa di Nepal, maka jangan kau terlalu menyusahkan kekalahan ini.”

“Bukan.... bukan itu, Ibu,” kata Siok Lan yang berhenti berjalan dan dara ini duduk di tepi jalan, di antara sebuah batu besar dan kembali air matanya jatuh berderai.

Nandini terkejut dan memandang penuh selidik. “Kalau bukan karena kekalahan itu, habis mengapa kau menangis dan begini berduka?”

“Ibu.... dia ternyata jenderal musuh.... hu-hu-huuuuhhh....“ dan kini Siok Lan menangis sesenggukan dan menubruk kaki ibunya, berlutut sambil menangis.

Nandini terkejut dan sejenak dia termenung, menunduk, kemudian memandang kepala anaknya yang menangis di depan kakinya. Lalu dia mengangkat bangun anaknya itu setengah paksa, merangkul dan membawanya duduk kembali di atas batu, membiarkan anaknya itu menangis di atas dadanya. Puteri itu memejamkan matanya dan tiba-tiba terbayanglah semua pengalamannya di waktu dahulu, di waktu dia masih muda, masih sebaya dengan puterinya ini.

Nandini adalah puteri seorang pendeta bangsa Nepal yang hidup di atas puncak sebuah bukit yang sunyi. Ayahnya adalah seorang pertapa yang sakti dan oleh ayahnya, dia digembleng dengan ilmu-ilmu ketangkasan dan ilmu silat. Pada suatu hari, pada saat Nandini sedang memburu binatang di dalam salah sebuah hutan, dia melihat perampok-perampok sedang merampok seorang Pangeran Nepal.

Nandini menggunakan kepandaiannya menolong pangeran itu, dan Sang Pangeran amat berterima kasih dan sekaligus jatuh cinta kepadanya, lalu melamar Nandini dari tangan ayahnya. Sang pendeta tentu saja merasa terhormat dan menerima lamaran itu dengan girang. Akan tetapi Nandini sendiri merasa berduka karena dia tidak suka kepada pangeran itu.

Biar pun kedudukannya tinggi, sebagai seorang pangeran yang tentu saja terhormat, mulia dan kaya raya, namun pangeran itu sudah berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah kasar buruk dan kabarnya telah memiliki belasan orang selir. Biar pun dia akan diambil sebagai isteri, bukan selir, namun hatinya tidak senang. Akan tetapi sebagai seorang wanita, tentu saja dia tidak berani menolak kehendak ayahnya dan demikianlah, dia menjadi tunangan pangeran tua itu!

Dan pada suatu hari, beberapa bulan sebelum dia menikah, bertemulah dia dengan pendekar itu di dalam hutan! Seorang pendekar bangsa Han yang masih muda, tampan, sakti sekali, dan di samping itu, pandai merayu hatinya sehingga jatuhlah hati Nandini! Apalagi jika dia membandingkan pendekar muda ini dengan calon suaminya, membuat Nandini kehilangan kesadarannya dan dia menyerahkan dirinya kepada pendekar itu yang memang merayunya. Terjadilah hubungan di antara mereka di dalam hutan itu, hubungan mesra yang kini terbayang oleh sepasang mata yang dipejamkan itu.

Akan tetapi hubungan antara mereka itu akhirnya ketahuan! Ayahnya menjadi marah dan menyerang pendekar itu, tetapi ayahnya sama sekali bukan tandingan pendekar itu dan ayahnya malah tewas dalam penyerangan itu, bukan tewas oleh karena tangan Si Pendekar, tetapi tewas karena serangan jantung karena kemarahannya yang meluap-luap.

Kemudian terjadilah hal yang sangat menyakitkan hatinya. Pendekar itu kemudian pergi meninggalkannya! Meninggalkannya begitu saja, padahal dia sudah mengandung! Hasil dari pada pencurahan kasih dan nafsu birahi antara mereka selama hampir satu bulan di dalam hutan!

Namun, pangeran tua itu ternyata amat mencintainya dan bahkan mau memaafkan semua hubungannya dengan Si Pendekar. Pangeran itu tetap saja mengawininya, dan tidak mau menjamahnya sampai dia melahirkan seorang anak perempuan, yaitu Siok Lan! Melihat kebaikan pangeran itu, sungguh pun sebagian dari penyebabnya adalah karena pangeran itu ingin menutupi aib yang akan mencemarkan namanya sendiri, akhirnya Nandini menerima nasib dan mau melayani pangeran itu sebagai suaminya. Kemudian, berkat ilmu kepandaiannya, suaminya memberi jalan kepada Nandini sehingga dia dapat bertugas di dalam ketentaraan dengan pangkat lumayan. Dan ketika pangeran itu meninggal dunia karena suatu penyakit, Nandini terus menanjak dalam kedudukannya sampai akhirnya dia mendapat kedudukan tinggi sebagai seorang panglima perang!

Dan akhirnya kedudukannya itu berakhir dengan kekalahan yang amat memalukan! Dia tidak berani kembali lagi ke Nepal. Kemudian, mendengar tangis puterinya, teringatlah dia akan semua pengalamannya itu, terbayanglah wajah tampan pendekar itu!

“Siok Lan, apa yang sudah terjadi antara engkau dan Jenderal muda itu?” Akhirnya dia bertanya, setengah mengkhawatirkan bahwa peristiwa yang dialaminya dahulu itu kini terulang lagi pada puterinya!

Siok Lan memandang ibunya dan melihat sinar mata ibunya tajam penuh selidik, dia pun membalas dengan pandang mata bersih dan tenang. “Tidak ada terjadi apa-apa kalau itu yang kau maksudkan, Ibu. Akan tetapi kami.... kami telah saling jatuh cinta.... akan tetapi.... tentu saja kusangka bahwa dia seorang pemburu muda biasa, bukan seorang jenderal besar.... hu-huuuhh, apalagi jenderal musuh....”

Nandini mengelus rambut kepala puterinya. “Aku girang bahwa tidak terjadi apa-apa antara engkau dan dia.... dia memang seorang pemuda yang patut mendapat cintamu, Anakku, akan tetapi.... dia jenderal musuh! Mana mungkin dia mau menikah atau berjodoh dengan seorang seperti engkau....”

“Tapi, kami sudah saling mencinta, Ibu!”

Hemm.... dia seorang ahli siasat perang! Siapa tahu bahwa cintanya kepadamu itu pun hanya merupakan siasatnya belaka....“

“Ibu....! Jangan begitu kejam.... ahhh, tidak mungkin itu! Ibu, aku mau susul dia, akan kutanyakan hal itu. Kalau.... kalau benar cintanya itu hanya siasat, aku.... aku akan....”
“Kau mau apa?”
“Aku akan membunuhnya!”

Nandini tersenyum sedih. Dia pun dahulu ingin membunuh pendekar tampan itu, akan tetapi dia tahu bahwa biar pun dia belajar sampai sepuluh tahun lagi, tidak mungkin dia dapat menandingi pendekar itu. Dan puterinya ini, biar belajar puluhan tahun lagi mana mungkin dapat menandingi putera Naga Sakti Gurun Pasir dan cucu mendiang Jenderal Kao Liang?

“Kau takkan menang Anakku.”
“Tidak peduli! Kalau dia menipuku, hanya bersiasat dalam cintanya, biar dia atau aku yang mati!”
“Hemm, itu tidak bijaksana, Siok Lan. Ingat, engkau adalah puteri panglima musuh, selain perbuatanmu menyusul jenderal musuh itu amat memalukan, juga begitu muncul engkau tentu akan dianggap musuh dan dikeroyok para anak buah pasukan....“

“Aku tidak takut!” kata Siok Lan yang nampak amat penasaran mengingat betapa cinta pemuda itu mungkin hanya siasat perang saja! “Lebih baik aku mati dikeroyok dari pada tidak ada harapan berjodoh dengan dia!”

Siok Lan sudah nekat. Memang benar bahwa pemuda itu dan dia masing-masing belum pernah menyatakan cinta dengan kata-kata melalui mulut, akan tetapi dia merasa benar ketika mereka saling pandang, saling senyum dan saling bergandeng tangan. Dia dapat merasakan cinta kasih itu melalui sinar mata, melalui seri senyum, melalui getaran dalam sentuhan jari-jari tangan antara mereka.

“Siok Lan, jangan terburu nafsu. Aku sebagai ibumu dapat memaklumi perasaanmu dan aku setuju sepenuhnya andai kata engkau dapat berjodoh dengan Jenderal muda itu. Dia itu adalah cucu Jenderal Kao Liang, ini saja sudah merupakan suatu jaminan. Apalagi diingat bahwa dia putera Naga Sakti Gurun Pasir, itu lebih lagi. Pula, kita sudah melihat betapa lihainya dia mengatur siasat perang, dan aku yakin bahwa ilmu silatnya pun amat tinggi. Maka, mana mungkin engkau, hanya anak seorang Panglima Nepal yang telah kalah....“

“Ibu, bukankah Ibu pernah mengatakan bahwa aku juga seorang anak kandung dari pendekar yang sakti?”
“Ayahmu....?” Wajah wanita yang masih cantik itu berubah merah, kemudian menjadi pucat kembali.

Dia memejamkan matanya dan terbayanglah dia ketika dia belum berangkat memimpin pasukan, pernah ada seorang pengembara datang membawa surat dari pendekar bekas kekasihnya itu, ayah kandung Siok Lan. Surat itu seperti juga watak orangnya, penuh rayuan dan ternyata pendekar itu sudah mendengar bahwa dia telah menjadi seorang janda dan pendekar itu merayunya dalam surat, menyatakan rindunya, menyatakan bahwa pendekar itu kini hidup seorang diri, kesepian dan menanggung rindu, dan membujuknya agar suka datang ke tempatnya, menikmati hidup bersama! Surat itu telah dirobek-robeknya dan dia berangkat memimpin pasukan menyerbu ke Tibet. Akan tetapi kini, ketika puterinya merengek, teringatlah dia akan isi surat.

“Hemmm, memang hanya ada satu jalan. Dan Ayah kandungmu itu, yang selama hidupnya belum pernah menderita jerih payah merawat dan mendidikmu, sekarang dia harus bertanggung jawab! Ya, dia harus membuktikan bahwa dia seorang ayah yang patut dan yang sudah sepantasnya kalau menjodohkan puterinya! Mari kita pergi kepadanya, Siok Lan, dan kita serahkan urusan jodoh ini kepadanya!”

Siok Lan merasa girang sekali dan kedukaannya segera terhapus dari wajahnya dan pada wajah yang cantik itu terbayang penuh harapan ketika dia pun berlari mengikuti ibunya…..

********************
Selanjutnya baca
SULING EMAS NAGA SILUMAN : JILID-08
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger