logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Suling Emas Naga Siluman Jilid 13


Menurut hasil penyelidikan para mata-mata yang disebar oleh Ouw Yan Hui, wanita ini mendapat kepastian bahwa yang patut dijadikan calon jodoh Syanti Dewi hanya ada lima orang saja di antara begitu banyak tamu, yaitu yang menurut syarat-syarat yang ditentukannya, di samping keistimewaan masing-masing.
Orang pertama, menurut penyelidikan para mata-mata itu, tentu saja adalah Pangeran Kian Liong! Orang ke dua bernama Thio Seng Ki, seorang muda hartawan besar dari Cin-an di Propinsi Shan-tung. Orang ke tiga bernama Yu Cian, yaitu seorang pemuda sastrawan terkenal dari Pao-teng yang pernah menggondol juara pertama pada waktu diadakan ujian siucai tahun lalu di kota raja, juara yang diraihnya karena kepintarannya dalam hal kesusastraan, sama sekali tidak mempergunakan harta untuk menyogok para pembesar yang berwenang dalam ujian negara itu.

Orang ke empat bernama Lie Siang Sun, usianya lebih tua dari pada para calon lainnya, karena dia sudah berusia tiga puluh tahun lebih, terkenal sebagai seorang pendekar muda yang gagah perkasa di selatan dan selain terkenal alim dan belum menikah, juga di kalangan kang-ouw dia dikenal dengan julukan Pendekar Budiman, karena sepak terjangnya yang berbudi. Kemudian calon ke lima adalah seorang seniman terkemuka pula, seorang ahli lukis dan ahli musik yang pernah mengadakan pertunjukan di istana Kaisar.

Kelima orang calon yang terpilih ini rata-rata memiliki wajah yang tampan, bahkan kalau dibuat perbandingan, yang empat orang itu lebih tampan dan gagah dari pada Pangeran Kian Liong! Maka diam-diam Ouw Yan Hui lalu memberitahukan kepada Syanti Dewi tentang pilihan itu, dan minta kepada Syanti Dewi untuk menentukan pilihannya.

“Adikku, kalau Sang Pangeran tidak mungkin dimasukkan sebagai calon, maka pilihan kita hanya ada empat orang yang patut menjadi calon jodohmu. Aku sudah melihat sendiri mereka itu di antara tamu, dan memang hasil penyelidikan orang-orang kita itu cukup tepat. Mereka adalah pria-pria pilihan, Adikku.”

Syanti Dewi tersenyum pahit. “Tentu saja Pangeran Kian Liong boleh juga disebut calon, mengapa tidak?”

Jawaban ini tentu saja berani dikemukakan setelah dia bercakap-cakap dengan Sang Pangeran malam tadi di taman, sebelum terjadi penyerbuan. Biar pun dia belum melihat empat orang yang dicalonkan itu, akan tetapi hatinya sudah merasa yakin bahwa tidak mungkin dia bisa memilih seorang di antara mereka, maka dari itu dia sudah mengambil keputusan untuk ‘memilih’ Pangeran Kian Liong saja, agar dia dapat keluar dari pulau ini tanpa menyakitkan hati Ouw Yan Hui.

Mendengar ini, Ouw Yan Hui memandang dengan wajah berseri-seri. “Yakin benarkah engkau bahwa beliau boleh dimasukkan sebagai calon?”

“Mengapa tidak, Enci? Dia juga seorang pria dan dia suka kepadaku bukan?”

Tentu saja hati Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui girang sekali. Memang itulah yang diharapkan olehnya. Kalau saja Syanti Dewi dapat menjadi isteri Pangeran Mahkota, menjadi calon permaisuri!

Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai menyinarkan cahayanya menembus celah-celah daun di pohon-pohon, para tamu dipersilakan datang ke ruangan luas di depan, di mana telah dipersiapkan ruangan pesta dan diatur meja-meja yang dikelilingi bangku-bangku untuk tempat makan minum.

Berbondong-bondong para tamu mendatangi ruangan itu dan suasana meriah sekali karena selain tempat itu dihias dengan kertas-kertas berwarna dan bunga-bunga, juga diramaikan dengan musik yang dimainkan oleh wanita-wanita muda. Setelah semua tamu duduk, jumlah mereka tidak kurang dari seratus lima puluh orang dari bermacam golongan, segera dihidangkan teh wangi berikut kwaci dan beberapa macam kue kering.

Kemudian, seorang wanita muda cantik yang memiliki suara bening dan terang juga lantang, yang bertugas sebagai pengatur acara, memberitahukan bahwa sebelum pesta dilanjutkan dengan hidangan, akan dilakukan dahulu pembukaan barang-barang hadiah di depan para tamu. Suasana menjadi gembira ketika beberapa orang wanita pembantu mulai membuka barang-barang hadiah yang bertumpuk di atas meja besar itu.

Setiap bungkusan yang dibuka, diteriakkan nama penyumbangnya oleh seorang wanita dan benda sumbangan itu diangkat ke atas dengan kedua tangan oleh seorang wanita lain yang berdiri di tempat tinggi sehingga dapat kelihatan oleh semua tamu benda yang disebutkan nama penyumbangnya itu. Para tamu kadang-kadang mengeluarkan seruan kagum apabila ada bungkusan yang terisi barang sumbangan yang amat indah dan yang luar biasa mahalnya, merupakan benda yang sukar ditemukan. Agaknya para penyumbang itu hendak berlomba untuk memikat hati sang juita melalui barang-barang sumbangan itu.

Akan tetapi bungkusan terakhir dari barang-barang hadiah itu membuat semua tamu menahan napas. Memang hal ini disengaja oleh Ouw Yan Hui, yaitu membuka benda hadiah sumbangan dari pemuda hartawan Thio Seng Ki yang ternyata merupakan seuntai kalung bermata berlian sebesar biji-biji lengkeng, berlian yang berkeredepan mengeluarkan cahaya berkilauan dan ruangan itu seolah-olah memperoleh tambahan sinar yang terang. Setelah menahan napas, kini terdengar seruan-seruan kagum dan jelas bahwa seruan-seruan ini melebihi kekaguman mereka terhadap benda-benda berharga yang telah diperlihatkan tadi.

“Sumbangan ini datang dari Tuan Muda Thio Seng Ki dari kota Cin-an!” demikian terdengar suara wanita yang membuat laporan.

Terdengar tepuk tangan dan suara ini disusul oleh tepuk tangan para tamu-tamu lain tanda bahwa mereka semua mengenal barang indah dan mahal. Tanpa dinyatakan sekali pun semua tamu dapat merasakan bahwa dalam hal hebatnya sumbangan, orang muda she Thio itu jelas menduduki peringkat paling atas dan hal ini saja sudah bisa menguntungkan dia dalam penilaian Puteri Syanti Dewi. Semua mata kini melirik ke arah puteri itu dan memang sejak mereka semua berkumpul di tempat itu, Syanti Dewi merupakan sesuatu yang memiliki daya tarik seperti besi semberani, membuat para tamu sukar untuk tidak melirik ke arahnya.

Syanti Dewi mengenakan pakaian Puteri Bhutan, dengan sutera hijau tipis membalut tubuhnya dari kepala, ke leher terus ke bawah, seolah-olah hanya dibelitkan saja akan tetapi dengan cara yang demikian luwes dan menarik. Di balik sutera hijau yang tipis menerawang ini nampaklah lapisan pakaian dalam, dari pinggang ke bawah berwarna merah muda dan dari pinggang ke atas berwarna kuning. Ikat pinggangnya berwarna biru, sepatunya berwarna coklat. Rambutnya yang hitam itu nampak membayang di balik kerudung sutera hijau itu, dan nampak hiasan rambut dari emas bertaburan intan dan mutu manikam.

Betapa pun indahnya semua pakaian dan perhiasan yang menempel di tubuh puteri ini, semua itu nampak menyuram bila dibandingkan dengan wajah itu sendiri. Tanpa wajah yang gemilang dan berseri, cantik jelita mengandung kemanisan yang kadang-kadang menyejukan hati kadang-kadang menggairahkan birahi itu, kiranya semua pakaian dan perhiasan itu tidak akan ada artinya. Setiap gerak-geriknya begitu luwes dan pantas, membuat para pria yang memang sejak lama tergila-gila kepadanya kini menelan ludah dengan pandang mata yang sukar dialihkan.

Di samping kiri Sang Puteri itu duduk Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui yang juga nampak cantik dan anggun, sungguh pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan Syanti Dewi. Dan di sebelah kanan Sang Puteri itu duduklah dengan amat tenangnya Pangeran Kian Liong.

Pangeran ini adalah seorang yang bijaksana dan pandai, maka biar pun dia hanya memandang dari jauh, dia dapat mengetahui dengan pasti bahwa benda yang diperlihatkan tadi, seuntai kalung tadi, berharga jauh lebih mahal dari pada semua barang sumbangan tadi dijadikan satu! Seuntai kalung itu saja sudah dapat dijadikan modal membuka sebuah toko yang besar! Sungguh merupakan benda yang amat langka dan amat mahal, maka diam-diam dia kagum kepada pemberinya. Hanya orang yang sungguh-sungguh serius sajalah yang mau menyumbangkan benda semahal itu.

Kalau Syanti Dewi menjadi isteri penyumbang ini, jelas bahwa dia akan menjadi isteri seorang yang kaya-raya. Apalagi penyumbang itu sendiri, yang bernama Tuan Muda Thio Seng Ki, ternyata adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun yang cukup ganteng, seperti yang dapat dilihatnya dari tempat duduknya ketika benda itu diumumkan dan Syanti Dewi kelihatan mengangguk ke arah pemuda penyumbang itu! Itulah calon pertama, pikir Sang Pangeran.

Lalu hadiah-hadiah berupa lukisan, tulisan-tulisan lian, yaitu sajak-sajak berpasangan, dan sajak-sajak serta tulisan-tulisan indah juga dipamerkan satu demi satu, dan nama para penyumbangnya diumumkan. Pada saat nama pemuda Yu Cian disebut dengan sumbangannya berupa sajak, semua orang segera menaruh perhatian, terutama sekali di kalangan mereka yang memperhatikan tentang sastra.

Bahkan Sang Pangeran sendiri tertarik, karena dia pun sudah mendengar akan nama pemuda yang menggondol juara pertama ini, yang kabarnya amat menonjol keahliannya membuat sajak dan tulisan. Memang tulisan itu amat indah gayanya, akan tetapi tidak mungkin dapat terbaca oleh para tamu yang duduk agak jauh, maka terdengarlah Sang Pangeran berkata, “Harap sajak-sajak dari Yu Cian Siucai itu dibacakan!”

Mendengar anjuran Pangeran ini, beberapa orang berteriak mendukung dan akhirnya sebagian besar dari para tamu mendukungnya. Syanti Dewi mendengar Sang Pangeran berkata kepadanya di antara suara bising itu, “Enci, sudah sepatutnya kalau engkau minta penulis sajak untuk membacanya sendiri.”

Syanti Dewi tidak tahu mengapa Sang Pangeran berkata demikian, akan tetapi karena dia pun mengenal baik Yu Cian yang merupakan seorang kenalan yang selalu bersikap sopan terhadapnya. Maka ia pun tanpa ragu-ragu lagi lalu bangkit berdiri. Begitu wanita ini bangkit berdiri, semua suara pun sirep dan keadaan menjadi amat hening sehingga terdengarlah dengan jelas suara Syanti Dewi yang bening dan halus, “Untuk memenuhi permintaan para saudara, maka kami mohon sukalah Yu Cian Siucai membacakan sendiri sajak yang ditulisnya!”

Ucapan ini disambut dengan sorak-sorai yang riuh rendah. Dengan muka yang berubah merah sekali terpaksa Yu Cian bangkit berdiri dari tempat duduknya, dan dengan langkah-langkah tenang dia menuju ke tempat para pembantu wanita yang membuka barang-barang hadiah sumbangan itu.

Setelah menerima gulungan kain tulisannya, dia lalu menjura dengan hormat ke arah Pangeran, Syanti Dewi dan Ouw Yan Hui, dan semua tamu memandang kepada pemuda ini dengan kagum. Seorang pemuda yang tampan dan memang patutlah kalau dia menjadi siucai tauladan yang lulus sebagai juara di kota raja. Suasana menjadi hening sekali sehingga kini, suara pemuda itu terdengar satu-satu dengan jelas ketika membacakan sajaknya.

Cantik indah bagai bunga anggrek
harum semerbak bagaikan bunga mawar.
Merdu merayu bagaikan sumber air
gilang gemilang seperti fajar menyingsing.
Redup syahdu seperti sang senja kala,
duhai Bunga Pulau Ular Emas!
Tiada sesuatu mampu kupersembahkan,
kecuali seuntai sajak bisikan kalbu,
disertai hati yang subur basah,
tempat Sang Bunga mekar berseri.

Cara pemuda pelajar itu membaca sajaknya sungguh amat mengesankan. Suaranya halus bening dan mengandung getaran karena pembacaan itu dilakukannya sepenuh perasaannya sehingga seakan dia sedang memuji-muji kecantikan Syanti Dewi secara terbuka, demikian terasa oleh semua orang sehingga suasana menjadi mengharukan. Bahkan setelah pemuda itu selesai membaca sajak, suasana masih hening sekali. Baru setelah pemuda itu menyerahkan kembali gulungan sajak, kemudian memberi hormat kepada Syanti Dewi dan Pangeran, meledaklah tepuk tangan dan sorak-sorai memuji.

Pangeran Kian Liong sendiri bertepuk tangan memuji dan memang dia merasa kagum sekali kepada pemuda itu. Sajak itu sepenuhnya mengandung pujian hati seorang pria yang sedang dilanda asmara! Syanti Dewi diumpamakan bunga anggrek, ratu segala bunga yang seolah-olah tidak pernah layu dibandingkan dengan semua bunga di dunia ini, kemudian harum seperti bunga mawar, bunga yang keharumannya tidak pernah lenyap biar pun bunganya sendiri telah lama layu!

Dan suara apakah yang melebihi kemerduan suara gemericik air sumber yang tidak pernah berhenti, mengandung dendang asmara yang kekal? Lalu dalam pemujaannya, Syanti Dewi dinyatakan gilang-gemilang seperti fajar menyingsing dan redup syahdu seperti sang senja kala. Memang tiada keindahan yang begitu menggetarkan hati yang peka melebihi keindahan fajar menyingsing di kala matahari mulai timbul sebagai bola besar kemerahan yang berseri, dan keredupan senja kala di waktu matahari tenggelam yang menciptakan warna-warna dan bentuk-bentuk awan yang luar biasa indahnya di langit barat.

Kemudian, yang amat mengharukan, pemuda itu tidak mampu mempersembahkan apa pun, kecuali sajak yang disertai sebuah hati yang akan selalu menghidupkan sang Bunga dengan luapan cinta kasih yang diumpamakan keadaan hati yang subur dan basah selalu! Pemberian seperti inilah yang dinantikan oleh setiap orang wanita, yaitu kasih sayang pria dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, bukan segala macam benda berharga kalau diberikan dengan hati yang kering dan tandus!

Dengan muka kemerahan, pemuda sastrawan itu kembali ke tempat duduknya semula. Kini Sang Pangeran menjadi bimbang. Dua orang itu, Thio Seng Ki yang tampan dan kaya raya, dan Yu Cian yang tampan dan ahli sastra, merupakan dua orang calon yang kuat sekali. Menjadi isteri Thio Seng Ki, Syanti Dewi akan berenang dalam lautan harta, sebaliknya menjadi isteri Yu Cian, dara itu akan berenang dalam lautan kemesraan!

Diam-diam Ouw Yan Hui merasa girang betapa dia telah berhasil ‘memperkenalkan’ dua di antara calon-calon itu secara tidak langsung kepada semua orang. Kini hidangan mulai dikeluarkan dan pelapor acara memberitahu bahwa akan dimainkan tari-tarian untuk menghibur para tamu. Mulailah pesta yang meriah itu.

Para tamu makan minum hidangan-hidangan yang istimewa, musik mulai dibunyikan keras-keras dan nampaklah penari-penari yang muda-muda dan cantik-cantik menari dengan lemah-gemulai di panggung yang agak tinggi itu. Para tamu makan minum sambil menikmati tontonan yang amat menarik itu. Karena ada hidangan dan tontonan tarian, maka baru sekaranglah para tamu agak ‘melupakan’ Syanti Dewi sehinga hanya beberapa orang saja yang sempat melihat pada waktu wanita itu meninggalkan tempat duduknya menuju ke dalam.

Setelah beberapa macam tarian disajikan, mendadak Ouw Yan Hui bangkit berdiri dan dengan suaranya yang nyaring dia mengumumkan, “Mohon perhatian Cu-wi yang mulia! Dengan penuh rasa terima kasih atas perhatian Cu-wi yang budiman, maka sekarang adik kami, Syanti Dewi, akan menghibur Cu-wi dengan sebuah tarian istimewa dari Bhutan!”

Musik berbunyi lagi, dan kini terdengar lagu yang asing, yaitu lagu Bhutan dan dari dalam muncullah Syanti Dewi. Semua orang menahan napas penuh kagum melihat betapa puteri itu dengan pakaian yang serba mewah meriah, memakai selendang kuning muda yang panjang, berlari-lari seperti terbang saja, seperti bidadari terbang dalam dongeng, dari dalam dan menuju ke panggung.

Meledaklah suara tepuk sorak menyabutnya. Demikian gemuruh sorak-sorai ini hingga menenggelamkan suara musik. Baru setelah sorak-sorai itu berhenti, Syanti Dewi yang kini sudah berjongkok dengan sikap manis sambil menyembah, mulai bangkit dan diikuti irama tetabuhan yang merdu, mulailah dia menari!

Memang indah sekali tarian itu. Syanti Dewi bukan saja cantik jelita, akan tetapi juga memiliki keluwesan dan dia memang merupakan seorang ahli dalam tari-tarian Bhutan yang dipelajarinya ketika dia masih kecil. Maka saat dia menari semua orang terpesona dan sesaat mereka bengong sehingga suasana di antara penonton menjadi hening.

Tari-tarian asing yang belum pernah ditonton memang selalu mempesonakan orang. Kalau orang sudah terbiasa, pesona itu semakin berkurang. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa gerakan menari dari Syanti Dewi amat indah, sehingga Pangeran Kian Liong sendiri yang sudah sering menyaksikan tari-tarian halus, merasa amat kagum.

Kalau para tamu itu saja terpesona dan penuh kagum, dapat dibayangkan bagaimana hebatnya pengaruh tarian itu pada hati Wan Tek Hoat! Pendekar ini juga ikut menonton dari tempat sembunyiannya, dan dia tidak pernah berkedip mengikuti gerak-gerik Syanti Dewi dengan pandang matanya. Melihat kekasihnya secantik itu, menari seindah itu, terkenanglah dia akan segala keadaannya ketika bersama kekasihnya itu, dan tak dapat ditahannya lagi matanya menjadi basah dan air mata perlahan-lahan menitik turun di atas pipinya yang tertutup cambang.

“Syanti.... Syanti.... kekasihku....,” demikian hatinya merintih-rintih penuh kerinduan dan rasa nyeri, karena kini semakin nampaklah olehnya betapa wanita itu sungguh tidak pantas menjadi kekasihnya, apalagi kalau dia mengingat betapa dia telah berkali-kali melakukan hal yang amat menyakitkan hati puteri itu.

Dan kini, melihat keadaan Sang Puteri yang begitu dipuja ratusan orang pria-pria pilihan, bahkan telah menjadi akrab dengan Sang Putera Mahkota, Pangeran yang amat tinggi kedudukannya dari kota raja, kemudian menengok pada keadaan dirinya sendiri, seorang jembel miskin yang tidak punya apa-apa, bahkan namanya pun telah dilupakan orang, dia melihat perbedaan yang amat mencolok dan semakin terasalah dia betapa dia adalah seorang yang kurang terima, orang yang tidak menengok keadaan diri sendiri dan telah bersikap keterlaluan kepada puteri itu!

Dan Syanti Dewi begitu setia, begitu suci murni, sehingga sampai sekarang pun belum melayani pria lain! Dan puteri sesuci itu pernah dia fitnah, ia tuduh telah berjinah dengan orang lain, telah menjadi pemberontak dan mengkhianati Raja Bhutan, ayahnya sendiri! Mengingat akan hal ini, kembali dua titik air mata menetes turun.

Sorak-sorai dan tepuk tangan meledak saat Syanti Dewi mengakhiri tariannya. Dengan langkah-langkah yang seolah-olah tidak menyentuh lantai Sang Puteri kembali ke dalam gedung itu, diikuti sorak-sorai memuji-mujinya dari segenap tamu, termasuk juga Sang Pangeran.

Ouw Yan Hui telah memberi isyarat kepada wanita pengatur acara, dan wanita ini lalu bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan, minta kepada semua tamu agar tenang kembali. Kemudian terdengar suaranya yang nyaring, “Atas permintaan dari Ouw-toanio sebagai nyonya rumah, kami mohon kepada Tuan Muda Kui Lun Eng untuk tampil ke depan dan membantu pesta agar meriah dengan permainan musiknya!” Mendengar disebutnya nama ini, banyak di antara tamu yang mengenalnya menyambut dengan tepuk tangan.

Nama Kui Lun Eng ini amat terkenal, bahkan Pangeran Mahkoka juga mengenal nama ini sebagai seorang ahli musik dan pelukis yang memiliki kepandaian luar biasa. Dari rombongan tamu bangkitlah seorang pemuda jangkung yang kemudian melangkah dengan tenang ke arah panggung, memberi hormat kepada Pangeran dan Ouw Yan Hui, kemudian berkata, “Saya akan menanti sampai kembalinya Nona Syanti Dewi.”

Kemudian, diiringi suara ketawa para tamu yang maklum akan maksud kata-kata itu, yakni bahwa ahli musik itu hanya ingin main musik kalau didengarkan oleh Syanti Dewi, pemuda yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun melangkah ke arah rombongan pemain musik, yaitu para wanita muda yang duduk di sudut.

Dengan enak, karena agaknya sudah biasa dengan alat-alat musik, dia mencoba-coba suara beberapa buah yang-kim, kemudian dipilihnya sebuah dan diletakkan di depannya sedangkan dia duduk bersila di panggung pemain musik itu. Lalu dia mengeluarkan sebatang suling bambu dari saku bajunya yang sebelah dalam.

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan riuh rendah ketika Syanti Dewi muncul kembali, kini dengan pakaian serba hijau dan duduk di tempat semula setelah mengangguk sebagai pernyataan terima kasih atas sambutan para tamu. Melihat munculnya nona itu, Kui Lun Eng lalu mulai dengan permainan yang-kimnya.

Mula-mula hanya terdengar beberapa nada berkentringan saling kejar, lambat-lambat dan lirih-lirih saja, akan tetapi makin lama kejar-kejaran nada itu semakin cepat dan semakin keras dan mulailah terdengar lagu yang dinyanyikan yang-kim itu dengan amat indahnya. Makin keraslah suara yang-kim itu dan kini semua orang yang mengenal lagu itu tahu bahwa itu adalah lagu perang, sedangkan yang tidak mengenal lagu itu pun dapat menduga bahwa itu tentulah lagu perang sebab mereka seperti mendengar derap kaki ribuan kuda di dalamnya, lalu pekik-pekik kemenangan, rintihan-rintihan orang terluka, suaranya senjata berdencing dan saling beradu, semua itu tercakup ke dalam suara nada-nada yang naik turun itu. Bukan makn!

Sang Pangeran sendiri sampai terpesona. Belum pernah dia mendengar orang bermain yang-kim seindah itu. Begitu hidup suara itu, bukan sekedar nada-nada kosong belaka, melainkan setiap rangkaian nada seperti menceritakan sesuatu sehingga terbayanglah cerita dari nada-nada itu. Bahkan dia seperti melihat darah mengalir dan debu mengepul tinggi!

Ketika suara yang-kim itu mencapai puncaknya dalam kecepatan lalu diakhiri dengan suara seperti sorak kemenangan, suara itu berhenti tiba-tiba dan para pendengar yang tadinya bagai terpukau, seolah-olah mereka merasakan terseret dalam suasana perang yang mengerikan, tiba-tiba seperti baru sadar dan kembali ke dalam nyata. Meledaklah sorak-sorai dan tepuk tangan mereka.

Dengan tenang Kui Lun Eng mengangguk ke arah mereka dan kini dia mulai meniup sulingnya, bukan dengan dua tangan, melainkan hanya dengan tangan kanan saja dan tangan kirinya mulai menggerayangi yang-kim kembali. Sekarang terdengarlah paduan suara yang-kim dan suling dimainkan oleh dua tangan itu dan kembali semua orang tenggelam ke dalam pesona suara yang sangat luar biasa. Paduan suara itu demikian serasinya, mengalunkan lagu cinta yang syahdu, menghayutkan perasaan ke suasana yang amat mesra, kadang-kadang menjadi halus merdu dan mengandung duka dan patah hati.

Memang hebat sekali permainan musik orang ini. Hal ini dapat dilihat dari pengaruh suara musik itu pada wajah para pendengarnya. Wajah-wajah itu, biar pun di antaranya terdapat banyak wajah yang biasa dengan kekerasan, kadang-kadang tidak mampu lagi menguasai keharuan hati sehingga menjadi layu, bahkan ada yang menitikkan air mata!

Syanti Dewi sendiri tak dapat bertahan ketika lagu itu tiba di bagian yang sedih, seperti hati yang meratap-ratap dan menjerit-jerit. Puteri ini teringat akan keadaan diri sendiri yang menjadi korban cinta, sehingga dia pun tidak kuasa menahan air matanya dan beberapa kali menyapu air mata dari pipi dengan sapu tangannya. Semua ini dapat dilihat oleh Tek Hoat dan pendekar ini pun ikut menangis dengan diam-diam! Ia merasa jantungnya perih. Bukan air mata lagi yang mengalir dari matanya, tetapi seolah-olah jantungnya mengalirkan air mata darah.

Ketika akhirnya suara musik itu terhenti, Sang Pangeran sendiri bangkit bertepuk tangan memuji, diikuti oleh semua tamu yang benar-benar merasa kagum. Kui Lun Eng bangkit berdiri dan menjura ke arah Syanti Dewi dan Pangeran, wajahnya agak pucat karena permainan tadi dilakukan dengan sepenuh perasaannya sehingga selain makan banyak tenaga batin, juga menyeretnya ke dalam keharuan. Kemudian dengan masih diiringi tepuk sorak, dia kembali ke tempat duduknya semula.

Diam-diam Sang Pangeran melihat adanya calon yang baik pada diri pemuda ahli musik ini. Patut pula menjadi calon suami Syanti Dewi, pikirnya. Sudah ada tiga orang muda yang pantas menjadi calon, yaitu Thio Seng Ki Si Hartawan, Yu Cian Si Sastrawan, dan Kui Lun Eng Si Seniman. Akan tetapi sayang, ketiganya adalah orang-orang yang lemah, tidak memiliki kepandaian silat, pikir Sang Pangeran. Padahal, dia tahu betul bahwa Syanti Dewi adalah seorang wanita yang lihai ilmu silatnya. Bahkan dia sudah melihat sendiri betapa wanita itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, membuat dia dapat berlari seperti terbang dan bergerak dengan amat cepatnya! Mungkinkah seorang wanita gagah dan lihai ini berjodoh dengan seorang pria yang tidak mengenal ilmu silat?

Kini Ouw Yan Hui bangkit berdiri lagi. Hatinya senang karena tanpa terlalu kentara, dia telah menonjolkan tiga orang calon jodoh Syanti Dewi. Kini tinggal memperkenalkan calon keempat dan untuk itu pun dia tidak kekurangan akal. Dari para penyelidiknya dia sudah mendengar bahwa Si Pendekar Budiman Lie Siang Sun adalah orang yang tepat pula menjadi calon, dibandingkan dengan ahli-ahli silat, juga Lie Siang Sun ini terkenal sebagai pendekar budiman, tidak pernah tercela namanya dan masih belum menikah pula.

Dengan suara lantang Ouw Yan Hui lalu berkata, “Adik kami yang ulang tahunnya dirayakan adalah orang yang suka sekali melihat pertunjukan ilmu silat. Oleh karena itu, pesta ini tidak akan lengkap kalau tidak diadakan pertunjukan ilmu silat. Kami tahu bahwa di antara para tamu terdapat banyak sekali ahli silat. Dan setelah memeriksa daftar nama para tamu, kami minta dengan hormat kepada Pendekar Budiman Lie Siang Sun, sudilah kiranya memeriahkan pesta ini dengan pertunjukan ilmu silatnya.”

Kembali banyak di antara para tamu yang bertepuk tangan karena selain nama Pendekar Budiman sudah terkenal dan banyak orang menaruh kagum kepadanya, juga mereka yang merasa memiliki kepandaian silat merasa lega ada orang lain yang disuruh maju lebih dulu. Tentu saja untuk maju sebagai orang pertama mendatangkan perasaan sungkan dan malu-malu.

Seorang pria yang usianya tiga puluh tiga tahun, bangkit berdiri dan nampak betapa tubuhnya itu tinggi tegap dan gagah perkasa, sikapnya sangat sederhana seperti juga pakaiannya. Di punggungnya nampak tergantung sebatang pedang dan dengan langkah yang lebar tegap namun tenang, orang ini berjalan menuju panggung. Dengan sopan ia memberi hormat ke arah Syanti Dewi, Ouw Yan Hui dan Pangeran Kian Liong, sambil berkata,

“Sebutan Pendekar Budiman dan ahli silat bagi saya sungguh terlalu dilebihkan, akan tetapi karena saya hanya bisa menyumbangkan sedikit ilmu silat yang pernah saya pelajari untuk memeriahkan pesta ini, maka harap Pangeran, Nona dan Toanio, juga Cu-wi yang hadir di sini suka memaafkan jika pertunjukan ini kurang berharga.”

Setelah mengangguk ke empat penjuru, mulailah Pendekar Budiman Lie Siang Sun menggerakkan kaki tangannya. Mula-mula ia bersilat dengan lambat, akan tetapi makin lama semakin cepat dan gerakan-gerakannya gesit, pukulan-pukulannya mantap dan kadang-kadang kedua kakinya yang berloncatan itu tak menimbulkan suara sedikit pun seperti langkah-langkah seekor kucing, akan tetapi adakalanya geseran-geseran kedua kakinya mendatangkan getaran dan membuat panggung berderak-derak!

Memang harus diakui bahwa ilmu silat tangan kosong yang dimainkan oleh pendekar ini cukup hebat dan juga indah dan bersih, ciri khas dari cabang ilmu persilatan para pendekar yang mengutamakan keindahan dan ketangguhan, bersih dari cara-cara yang curang. Tek Hoat juga menonton secara sepintas lalu saja karena sebagaian besar perhatiannya selalu tertuju kepada Syanti Dewi, mengerti bahwa pemuda ini memiliki ilmu silat Siauw-lim-pai dan juga Bu-tong-pai, dan memiliki tingkat yang cukup tinggi, maka patutlah kalau dia disebut pendekar.

Setelah mainkan ilmu silat tangan kosong sebanyak tiga puluh enam jurus, tiba-tiba Lie Siang Sun mengeluarkan bentakan nyaring. Nampaklah sinar berkelebat yang segera bergulung-gulung, ternyata dia telah mencabut dan mainkan pedangnya. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga kebanyakan dari para tamu tidak melihat kapan pedang itu dicabutnya dan kini pun pedang itu tidak nampak karena telah berubah menjadi gulungan sinar saking cepatnya dimainkan!

Tepuk sorak menyambut permainan pedang ini dan memang Bu-tong Kiam-sut terkenal dengan keindahan gerakannya. Banyak tamu yang terdiri dari para tokoh kang-ouw mengangguk-anggukkan kepala dan memuji ketangkasan pendekar itu. Pangeran Kian Liong tidak mempelajari praktek ilmu silat secara mendalam, namun pengetahuannya tentang ilmu silat cukup banyak, maka dia pun mengenal keindahan dan ketangguhan ilmu pedang ini, maka dia merasa kagum sekali. Dia pun diam-diam merasa setuju kalau pendekar muda ini dijadikan calon pula karena memang cukup pantaslah pemuda ini menjadi pelindung atau suami Syanti Dewi.

Setelah Lie Siang Sun selesai bersilat pedang dan sudah menyimpan lagi pedangnya lalu memberi hormat ke arah deretan Pangeran, para tamu menyambutnya dengan tepuk tangan memuji. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ouw Yang Hui yang tadi telah memperoleh bisikan dari Pangeran Kian Liong yang cerdik itu.

“Cu-wi sekalian, seperti yang mungkin Cu-wi telah dengar dari kabar-kabar angin, pada kesempatan merayakan ulang tahun adik kami Syanti Dewi ini, kami sudah memilih calon-calon untuk dipilih sebagai jodoh adik kami Syanti Dewi.”

Para tamu menyambut pengumuman ini dengan sorak-sorai, sedangkan Syanti Dewi menundukkan mukanya yang berubah pucat. Biar pun dia sudah tahu akan hal ini, akan tetapi begitu tiba saatnya diumumkan, dia merasa jantungnya seperti ditusuk! Dia tidak tahu bahwa tak jauh dari situ, di tempat persembunyiannya, Tek Hoat juga memejamkan matanya karena merasa hatinya seperti diremas-remas mendengar betapa di situ telah dipilih calon-calon jodoh untuk Syanti Dewi.

Setelah sorak-sorai berhenti, Ouw Yan Hui melanjutkan kata-katanya, “Pertama-tama kami mengumumkan pemilihan kami, yaitu Thio Seng Ki. Ke dua adalah Yu Cian, ke tiga Kui Lun Eng, dan ke empat adalah Lie Siang Sun! Cu-wi telah menyaksikan sendiri kecakapan mereka dalam ilmu kepandaian masing-masing, sedangkan Thio-kongcu telah memberi sumbangan yang sedemikian besar nilainya.”

Kembali terdengar sorakan menyambut, akan tetapi tidaklah sehebat tadi karena kini banyak yang merasa kecewa karena nama mereka tidak disebut. Banyak yang mulai digoda rasa iri hati terhadap empat orang yang dipilih sebagai calon itu!

Tiba-tiba terdengar suara nyaring di antara penonton, “Bagaimana untuk menentukan pemenang di antara calon-calon yang kepandaiannya berbeda-beda itu? Kalau hanya berdasarkan kekayaan, tentu orang she Thio yang menang, kalau berdasarkan ilmu silat, tentu orang she Lie yang menang!”

Orang-orang tidak memperhatikan lagi siapa yang bicara, akan tetapi semua tamu merasa setuju dengan ini dan keadaan menjadi bising. Ouw Yan Hui mengangkat kedua tangan ke atas dan baru dia mengakui bahwa akal yang dibisikkan oleh Pangeran kepadanya tadi memang baik sekali, karena kalau tidak, dia sendiri tidak tahu bagai mana harus menjawab pertanyaan orang itu.

“Harap Cu-wi mendengarkan dengan tenang!” kata Ouw Yan Hui dan oleh karena dia mengeluarkan kata-kata ini disertai khikang, maka suaranya mampu mengatasi semua kegaduhan dan para tamu lalu diam.

“Cu-wi yang mulia! Biar pun ada terdapat calon-calon yang telah kami pilih, akan tetapi penentuannya siapa yang akan terpilih tentu saja sepenuhnya berada di tangan adik kami. Oleh karena itu, mereka berempat itu akan diuji. Siapa di antara mereka yang dapat menangkap Adik Syanti Dewi selama terbakarnya setengah bagian dupa, maka dialah yang dianggap memenuhi syarat dan menang, dan berhak untuk membicarakan tentang jodoh dengan adik kami!”

Kembali para tamu menjadi, berisik ketika mendengar pengumuman ini dan semua orang merasa bahwa aturan ini berat sebelah. Tentu saja yang akan menang adalah Si Pendekar Budiman, karena tiga orang calon-calonnya lainnya hanya orang-orang yang lemah, mana mungkin dapat menangkap Syanti Dewi yang terkenal lihai itu?

Akan tetapi, empat orang calon itu adalah orang-orang yang cerdas, maka mereka pun mengerti maksudnya pengumuman ini. Itu adalah suatu cara halus untuk memberi kesempatan kepada Sang Puteri untuk menentukan pilihan tanpa perlu mengeluarkan kata-kata, hanya dengan membiarkan dirinya tertangkap oleh calon yang dipilihnya.

Dan memang benar pendapat mereka ini, karena tadi Sang Pangeran berbisik kepada Ouw Yang Hui, bertanya apakah Si Pendekar Budiman itu akan mampu menangkap Syanti Dewi selama setengah batang hio terbakar habis, dan dijawab dengan pasti oleh Ouw Yan Hui bahwa hal itu tidak mungkin dapat terjadi kalau saja Syanti Dewi tidak menghendakinya, sebab ginkang yang dikuasai oleh Syanti Dewi telah setingkat dengan dia sendiri. Jawaban inilah yang meyakinkan hati Sang Pangeran untuk menggunakan akal untuk membiarkan Syanti Dewi memilih dan disetujui pula oleh Ouw Yan Hui.

Sementara itu, wajah Syanti Dewi menjadi merah sekali mendengar pengumuman itu dan dia menoleh dan memandang ke arah Sang Pangeran karena dia dapat menduga bahwa tentu Ouw Yan Hui mengeluarkan pengumuman itu setelah berdamai dengan Sang Pangeran.

Kian Liong juga memandang kepadanya, tersenyum mengangguk sambil berbisik lirih, “Nah, pemilihannya sepenuhnya berada kepadamu, Enci Syanti!” Maka mengertilah Syanti Dewi bahwa memang hal itu sengaja diumumkan agar dia dapat menentukan pilihannya di antara empat orang calon itu.

Wan Tek Hoat yang sejak tadi mengintai dengan hati yang perih, mengerti pula akan maksud dari ujian menangkap Syanti Dewi itu dan diam-diam dia pun setuju karena hal itu berarti memberi kesempatan kepada Syanti Dewi sendiri untuk menentukan pilihannya. Diam-diam dia pun ikut membanding-bandingkan antara empat orang itu dan dia melihat bahwa mereka itu memang merupakan orang-orang yang pilihan dan pantas menjadi jodoh Syanti Dewi, jauh lebih pantas dibandingkan dengan dia. Akan tetapi dia ikut berharap agar Syanti Dewi tidak memilih Pendekar Budiman, karena mempunyai suami seorang pendekar berarti menjadi isteri orang yang banyak dimusuhi orang lain.

Sementara itu, melihat betapa Syanti Dewi hanya duduk dengan kepala ditundukkan dan muka merah, Ouw Yan Hui kemudian berbisik, “Hayo, majulah Adikku, tentukan pilihanmu!”

Syanti Dewi mengangkat mukanya, lalu bangkit berdiri dan di bawah tepuk tangan riuh dia lalu melangkah ke tengah panggung, berdiri menghadap ke arah tamu sambil tersenyum dengan muka merah.

“Dipersilakan calon pertama, Thio Seng Ki untuk maju!” Ouw Yan Hui berseru.

Dan kembali orang-orang bersorak ketika melihat pemuda hartawan itu bangkit dan melangkah maju menghampiri Syanti Dewi dengan muka merah dan sikap malu-malu pula. Seorang pembantu lalu menyalakan hio yang sudah dipotong setengahnya, lalu menancapkan hio sepotong itu di atas meja yang sudah dipersiapkan. Pembantu ini segera mundur dan Syanti Dewi yang telah mengenal pemuda she Thio itu lalu menjura dan berkata, “Silakan mulai, Thio-kongcu.”

“Maafkan saya....” Thio Seng Ki kemudian mulai bergerak hendak menangkap atau memegang lengan tangan Syanti Dewi, akan tetapi wanita ini melangkah mundur dan mengelak.

Thio Seng Ki melangkah maju dan terus mengejar, akan tetapi dia seperti mengejar bayangan saja. Tangan yang kecil halus itu kelihatan begitu dekat, akan tetapi begitu sukar ditangkap bahkan untuk menjamahnya sedikit pun amatlah sukarnya. Hanya keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian puteri itu saja yang dapat ditangkap oleh hidungnya. Makin lama, makin penasaran dan khawatirlah hati pemuda hartawan itu.

Dengan hartanya yang bertumpuk-tumpuk, dengan kemudaan dan ketampanannya, juga nama baiknya, dia mengira bahwa dia akan pasti dapat memperoleh dara mana pun juga yang dikehendaki atau diinginkannya. Akan tetapi mengapa Syanti Dewi selalu mengelak? Karena penasaran, juga karena dia ingin sekali menang dalam pemilihan jodoh ini, dia mengejar terus dan biar pun dia tidak pandai ilmu silat, dia mengejar dengan secepatnya sampai kadang-kadang terhuyung-huyung apabila tangkapannya dielakkan tiba-tiba oleh Syanti Dewi.

Pertunjukan ini amat menegangkan, lucu dan menarik sehingga mulailah terdengar suara ketawa dan teriakan-teriakan mengejek apabila tubrukan atau tangkapan dari pemuda hartawan itu luput. Akhirnya hio yang setengahnya itu habis terbakar.

“Waktunya habis, calon pertama telah gagal!” Demikian pengumuman pembantu wanita dan terpaksa Thio Seng Ki menghentikan usahanya. Wajah dan lehernya basah oleh keringat.

Syanti Dewi lalu menjura dan memberi hormat. “Harap Kongcu suka memaafkan saya.”

Thio Seng Ki menarik napas panjang, kecewa sekali, tapi dia membalas penghormatan itu sambil berkata, “Sudahlah, saya yang tidak mampu dan tidak beruntung, Nona.” Dia pun mengundurkan diri, duduk di kursinya kembali, dan disambut sorakan para tamu, terutama mereka yang tadi merasa iri karena tidak memperoleh kesempatan.

“Dipersilakan calon ke dua, Yu Cian untuk maju!” kembali Ouw Yan Hui berseru.

Sastrawan muda itu tersenyum, lalu bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri Syanti Dewi. Juga sastrawan ini disambut oleh suara ketawa karena semua orang maklum bahwa kalau wanita itu tidak menghendaki, biar sampai selama hidup pun sastrawan lemah ini tak mungkin akan dapat menyentuh Syanti Dewi. Akan tetapi Yu Cian kelihatan tenang menanti sampai sebatang hio yang sudah dipatahkan menjadi dua itu terbakar.

“Silakan, Yu-siucai,” kata Syanti Dewi yang menyebut siucai kepada sastrawan yang telah lama dikenalnya ini.

Yu Cian mengangguk dan dia lalu melangkah maju, tangannya digerakkan dengan sikap sopan untuk menyentuh tangan Syanti Dewi. Wanita itu menarik tangannya. Yu Cian melangkah lagi, diulanginya hendak menyentuh tangan Syanti Dewi yang kembali menarik tangannya sehingga tidak dapat disentuh. Setelah mengulangi sampai lima kali, Yu Cian lalu menjura ke arah Syanti Dewi, mukanya berubah agak pucat, suaranya mengandung kesedihan dan kekecewaan.

“Saya menyerah karena merasa tidak mampu. Maafkanlah atas kelancangan saya selama ini.” Dan sastrawan itu pun lalu mundur. Semua tamu yang melihat ini menjadi diam, dan sastrawan itu tidak diejek ketika kembali ke bangkunya dengan sikap masih tenang, bibir tersenyum dan muka agak pucat.

Syanti Dewi merasa kasihan sekali dan dia pun hanya dapat menjura ke arah pemuda itu. “Harap maafkan saya....,” katanya perlahan.

Ketika Kui Lun Eng maju dan berhadapan dengan Syanti Dewi, seniman ini tersenyum lebar berkata, “Nona, kita adalah kenalan lama, tidak perlu saling sungkan lagi. Saya tahu bahwa sampai mati pun saya tidak mungkin akan dapat menangkap Nona yang memiliki ilmu silat tinggi. Maka, biarlah saya menerima keputusan melalui jawaban Nona saja, dan untuk memudahkan, biar Nona menjawab dengan gelengan atau anggukan. Kalau Nona berkenan memilih saya, Nona mengangguk dan kalau tidak, Nona cukup menggeleng. Nah, apa jawaban Nona?”

Semua tamu mendengarkan dengan hati tertarik dan tegang. Seniman ini ternyata bersikap jujur dan terus terang, sungguh pun dengan kejujurannya itu dia membuat Syanti Dewi merasa terdesak. Akhirnya, dengan halus Syanti Dewi menggeleng kepala lirih. “Harap maafkan saya....”

Kui Lun Eng tertawa dan menengadah. “Aih, sudah kudapatkan lagi suatu segi kebaikan pada diri Nona di samping semua keindahan itu, yaitu kebijaksanaan dan kejujuran. Terima kasih, Nona, biarlah kita tinggal menjadi kenalan yang baik saja.” Dan dia pun mengundurkan diri, kembali ke tempat duduknya dan menuangkan arak ke dalam mulutnya!

Kini tinggal seorang lagi dan semua tamu hampir dapat memastikan bahwa tentu Pendekar Budiman inilah yang menang, sebagai calon terakhir dan di samping itu juga sebagai seorang pendekar berilmu tinggi yang agaknya dapat menangkap wanita cantik jelita itu.

Ketika dia dipersilakan maju, Lie Siang Sun melangkah dengan tegap tanpa ragu-ragu menghadapi Syanti Dewi dan menjura dengan hormat. “Ingin sekali saya mencontoh perbuatan Saudara Kui Lun Eng, tetapi karena pihak nyonya rumah sudah mengadakan peraturan, saya tidak berani melanggar.”

Ketika hio sudah dinyalakan, Lie Siang Sun lalu mulai bergerak begitu Syanti Dewi mempersilakan. Dan terjadilah kejar-kejaran yang amat menarik hati. Kini, Lie Siang Sun berusaha menangkap lengan atau ujung baju nona itu, dengan gerakan silat yang amat indah, dengan geseran-geseran kaki yang tegap dan cepat sekali, namun Syanti Dewi juga bergerak, sedemikian cepatnya sehingga tubuh yang ramping itu mula-mula nampak seperti menjadi banyak, dan kemudian, ketika Pendekar Budiman mengejar semakin cepat, tubuh Syanti Dewi lenyap dan yang nampak hanya bayangannya saja yang berkelebatan ke sana kemari.

Memang menarik sekali pertunjukan ini sehingga semua orang memandang dengan ternganga dan kadang-kadang terdengar seruan-seruan kagum kalau kedua orang itu mempergunakan gerakan yang indah, seperti meloncat dan berjungkir balik ke atas dan sebagainya. Namun, dalam pandang mata Tek Hoat, juga beberapa orang tokoh yang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, maklumlah mereka ini bahwa Sang Pendekar Budiman itu ternyata tidak benar-benar hendak menangkap Syanti Dewi, bahkan selalu menjaga agar jangan sampai mereka bersentuhan, sungguh pun hal ini bukan berarti bahwa Syanti Dewi akan dapat tertangkap kalau dia menghendaki. Tidak, wanita itu memiliki ginkang yang jauh lebih tinggi dari pada Pendekar Budiman, sehingga andai kata Lie Siang Sun mengejar dengan sungguh-sungguh sekali pun, dia tetap saja tidak akan mampu berhasil.

Betapa pun juga, melihat betapa Lie Siang Sun tidak benar-benar berusaha untuk menangkap Syanti Dewi, mereka yang dapat mengikuti gerakan mereka itu, juga Wan Tek Hoat, merasa kagum. Akan tetapi Ouw Yan Hui mengerutkan alisnya dan hatinya terasa kesal bukan main. Tahulah dia bahwa Syanti Dewi jelas menolak semua calon itu!

“Ahhh, dia akan gagal pula...., Pangeran sungguh hamba tidak mengerti sikap Adik Syanti....,” keluhnya.

Sang Pangeran mengerti dan dia tersenyum. Dia tahu bahwa Syanti Dewi memang tidak suka dijodohkan dengan siapa pun. Wanita itu terlalu setia kepada pria yang masih dicintanya sampai saat itu. Karena melihat kenyataan bahwa benar-benar Syanti Dewi tidak mau memilih seorang pun di antara empat calon yang baik itu, terpaksa dia harus turun tangan seperti yang telah dijanjikan kepada Syanti Dewi.

“Kalau begitu, biarlah aku menjadi calon ke lima, Ouw-toanio.”

Seketika wajah itu berseri dan Sang Pangeran melihat betapa masih cantik jelitanya wanita ini dan dia merasa kagum. Ouw Yan Hui memandang Sang Pangeran dengan wajah berseri-seri! Kalau Pangeran itu mau menjadi calon, tentu Syanti Dewi tidak akan berani menolak! Wajahnya menjadi berseri-seri dan dia memandang dengan senyum di bibirnya, hal yang jarang terjadi, ke arah Syanti Dewi yang masih bergerak cepat dikejar oleh Lie Siang Sun.

Setelah pembantu mengumumkan bahwa dupa yang menyala itu telah habis, Lie Siang Sun menghentikan gerakannya, menjura kepada Syanti Dewi dan berkata, “Ginkang dari Nona sungguh amat mengagumkan sekali. Aku Lie Siang Sun mengaku kalah dan maaf.”

“Harap maafkan aku, Lie Siang Sun Enghiong!” berkata Syanti Dewi dengan suara mengandung penyesalan karena betapa pun juga, dia mengerti bahwa pendekar ini tadi tak berusaha sungguh-sungguh untuk menyentuhnya. Jika saja hatinya mau mendekati pria lain, agaknya pendekar inilah yang patut untuk menjadi jodohnya.

Tiba-tiba terdengar suara Ouw Yan Hui yang sudah bangkit berdiri dan suara itu kini terdengar amat nyaring dan mengandung kegembiraan, tidak seperti tadi, “Sekarang ada pengumuman penting! Harap Cu-wi Yang Mulia ketahui bahwa calon jodoh untuk adik kami Syanti Dewi ditambah dengan seorang lagi, yaitu bukan lain adalah Yang Mulia Pangeran Kian Liong sendiri!”

Para tamu tadinya sudah merasa gembira sekali melihat betapa empat orang calon itu gagal dan tidak ada yang terpilih. Hal itu berarti membuka kesempatan baru bagi mereka, karena tentu akan diadakan pemilihan calon baru lagi. Akan tetapi, mendengar bahwa kini Sang Pangeran Mahkota maju sebagai calon, tentu saja semangat mereka mengempis dan mengendur, tubuh menjadi lemas karena mana mungkin mereka dapat bersaing dengan putera mahkota, Pangeran yang merupakan orang yang amat besar kedudukan dan kekuasaannya?

“Dan sekarang dipersilakan kepada Yang Mulia Pangeran untuk maju dan mencoba untuk menangkap Syanti Dewi,” demikian Ouw Yan Hui mengumumkan pula. Pembantu wanita sudah pula menyalakan dupa, akan tetapi sesungguhnya hal ini sama sekali tidak perlu.

Syanti Dewi memandang pada Pangeran itu yang telah bangkit dan melangkah tenang menghampirinya, dengan pandang mata berterima kasih karena dia pun tahu bahwa perbuatan pangeran ini hanya untuk menolongnya, sesuai dengan percakapan mereka malam tadi.

“Sudah siapkah engkau?” Sang Pangeran bertanya.
Syanti Dewi mengangguk. “Silakan, Pangeran.”

Pangeran Kian Liong tersenyum dan melangkah maju menangkap lengan Syanti Dewi. Wanita itu mengelak dengan langkah mundur sambil tersenyum pula. Sang Pangeran terus mengejar dan setelah berusaha menangkap sampal lima kali, barulah dia berhasil memegang pergelangan tangan Syanti Dewi.

Melihat ini, Ouw Yan Hui girang bukan main. Sungguh tak pernah disangkanya bahwa Syanti Dewi akan membiarkan dirinya tertangkap oleh Pangeran itu. Saking girangnya, wanita pemilik Pulau Kim-coa-to ini sampai bangkit berdiri. Dan terdengarlah sorak-sorai para tamu melihat betapa Sang Pangeran berhasil menangkap pergelangan tangan Syanti Dewi dengan demikian mudahnya. Jelaslah bagi semua orang bahwa memang Sang Puteri itu sengaja membiarkan lengannya ditangkap, kalau tidak demikian, kiranya tidak mungkin Sang Pangeran akan mampu menangkapnya. Sang Pangeran berdiri sambil menggandeng tangan Syanti Dewi, wajahnya berseri, sedangkan wajah Syanti Dewi menjadi kemerahan, mukanya menunduk.

Wan Tek Hoat juga mengikuti semua peristiwa ini dan melihat gerak-gerik Syanti Dewi, dia pun tahulah bahwa kekasihnya itu tadi sengaja membiarkan lengannya ditangkap Pangeran, atau lebih jelas lagi, Syanti Dewi telah memilih Sang Pangeran untuk menjadi calon jodohnya! Pilihan yang tepat, pikirnya dengan hati perih. Pemuda manakah yang lebih hebat dari pada seorang Pangeran Mahkota, apalagi Pangeran Kian Liong yang terkenal akan kebijaksanaannya itu?

Hanya sedikit saja hal yang membuat hatinya tidak enak dengan pilihan itu, ialah melihat kenyataan bahwa Pangeran itu masih muda sekali, tentu kurang lebih baru dua puluh tahun usianya. Padahal, dia tahu benar bahwa usia Syanti Dewi tentu antara tiga puluh enam tahun, sungguh pun wanita itu tidak nampak lebih tua dari pada Sang Pangeran.

Sudah, habislah riwayatnya dengan Syanti Dewi, pikirnya dengan lesu. Dia harus pergi cepat-cepat dari tempat itu, jangan sampai mengganggu kebahagiaan Syanti Dewi. Baru sekarang dia tahu bahwa pada dasar hatinya, dia ingin melihat Syanti Dewi berbahagia dan kini melihat betapa Syanti Dewi bergandeng tangan dengan wajah kemerahan dengan Sang Pangeran, dia tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka dan ingin pergi secepatnya tanpa ada yang melihatnya.

Akan tetapi tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan, juga semua tamu melihat ini dan tahu-tahu di atas panggung di tengah ruangan itu telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh keriput dan pucat sekali, kepalanya botak licin dan sikapnya garang.

“Sungguh tidak adil sekali!” Laki-laki yang usianya tentu sudah sedikitnya enam puluh lima tahun itu berseru, suaranya lantang dan penuh wibawa, kakinya yang bersepatu baja itu dibanting keras dan lantai panggung itu pun melesak sampai beberapa senti meter dalamnya!

Melihat ada orang yang berani mengacau, Ouw Yan Hui yang masih berdiri itu berseru, “Siapa berani lancang menentang keputusan? Apanya yang tidak adil?”

Kakek itu tertawa, suara ketawanya, bergema di seluruh ruangan. “Ha-ha-ha, mana bisa dibilang adil kalau kemenangan ini disengaja dan dibuat?”

“Adik kami Syanti Dewi berhak memilih siapa pun juga menjadi jodohnya!” Kembali Ouw Yan Hui berseru sambil memandang wajah pucat itu dengan penuh perhatian karena dia tidak mengenal siapa adanya kakek ini.

“Ha-ha! Jika memang ingin memilih Pangeran, kenapa pakai mengadakan sayembara segala macam? Sayembara menangkap Nona ini berarti menguji ketangkasan dan ilmu kepandaian, akan tetapi ternyata Nona ini sengaja menyerahkan diri kepada Pangeran. Bukankah hal itu berarti menghina orang-orang yang menghargai ilmu silat? Urusan mengadu kepandaian adalah urusan dunia kang-ouw, kenapa sekarang Pangeran yang berkedudukan tinggi, Pangeran Mahkota, malah ingin mencampuri dan memperlihatkan kekuasaan untuk memenangkan seorang dara? Bukankah hal itu berarti Pangeran tidak memandang mata dan menghina para orang kang-ouw pada umumya? Apakah orang orang kang-ouw hendak dijadikan semacam pelawak-pelawak belaka? Hayo, hendak kucoba sampai di mana kesigapan Puteri Syanti Dewi ini, boleh nyalakan dupa dan aku akan menangkapnya!”

Semua orang kang-ouw terkejut sekali. Bagaimana ada orang yang berani bersikap begini kasar terhadap Pangeran Mahkota? Mereka sudah melihat betapa para pasukan pengawal sudah maju mengepung tempat itu untuk melindungi Sang Pangeran.

Syanti Dewi maklum bahwa ada orang yang hendak mengacau, maka dia pun lalu menarik Sang Pangeran untuk mundur dan mengajak Sang Pangeran duduk kembali di tempatnya agar lebih mudah dilindungi oleh para pasukan pengawal apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia sendiri sudah memandang kepada kakek tinggi besar itu dengan pandang mata marah. Demikian pula Ouw Yan Hui sudah marah sekali.

Tetapi sebelum kedua orang wanita ini sempat mengeluarkan kata-kata atau melakukan sesuatu, tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan Pendekar Budiman telah berada di atas panggung berhadapan dengan kakek raksasa itu.

Pendekar Budiman menjura dengan hormat, diam-diam merasa heran mengapa dia tidak mengenal kakek ini, padahal jarang ada tokoh kang-ouw yang tidak dikenalnya. “Sobat, harap engkau sudi memandang mukaku dan tidak menimbulkan keributan di tempat ini. Puteri Syanti Dewi telah memilih Pangeran Yang Mulia sebagai jodohnya, bukankah hal itu harus disambut dengan gembira oleh kita semua?”

“Ha-ha-ha, engkau percuma saja berjuluk Pendekar Budiman, sebaiknya diganti saja dengan julukan Pendekar Pengecut! Engkau memasuki sayembara sebagai calon, akan tetapi engkau tidak sungguh-sungguh ketika mengejar Sang Puteri tadi.”

Pendekar Budiman Lie Siang Kun diam-diam terkejut. Orang ini dapat mengetahui hal itu menandakan bahwa kepandaiannya tinggi dan matanya awas benar. “Sobat hal itu merupakan urusan pribadiku sendiri yang tiada sangkut-pautnya dengan orang lain. Sudahlah, harap engkau suka memandang kepadaku, dan mengingat bahwa tidak baik bagimu untuk membikin kacau di tempat ini, di mana hadir pula Paduka Yang Mulia Pangeran Mahkota.”

“Tidak! Bagaimana pun juga, Syanti Dewi harus maju dan akan coba kutangkap selama setengah dupa bernyala. Ini adalah pertemuan orang-orang gagah, bukan pertemuan badut-badut!”
“Orang tua, ini adalah tempatku dan aku tidak pernah mengundangmu datang! Apakah engkau sengaja hendak mengajak berkelahi?” Mendadak Ouw Yan Hui berseru dari tempat duduknya.

“Ha-ha-ha, orang-orang kang-ouw jika telah berkumpul tentu mengadakan pertandingan ilmu silat. Ini baru menggembirakan dan gagah, bukan membiarkan kita menjadi badut badut yang dipermainkan oleh Sang Pangeran hanya untuk menjilat. Pangeran tidak menghargai kita, bahkan memandang rendah dan menghina, hal ini tak boleh dibiarkan saja. Kita orang-orang kang-ouw mempunyai harga diri. Hayo, kalau Sang Puteri tidak mau memenuhi syarat yang diajukan tadi, mari kita mengadakan pertandingan silat, siapa pun boleh maju melawanku!”

“Sobat engkau sungguh terlalu!” Pendekar Budiman berseru. “Sikapmu sama sekali tak patut menjadi pendekar kang-ouw, melainkan lebih tepat sebagai seorang pengacau jahat. Nah, kalau engkau ingin berkelahi, akulah lawanmu.”
“Bagus! Aku sudah lama mendengar nama Pendekar Budiman, majulah!” tantang kakek itu dengan sikap memandang rendah sekali.

“Lihat seranganku!” Pendekar Budiman telah menerjang dengan sungguh-sungguh oleh karena dia tahu bahwa kakek ini sengaja hendak mengacau dan menentang Pangeran. Dia sudah mendengar akan usaha-usaha jahat mereka yang telah menculik Pangeran sebelum Pangeran itu tiba di Pulau Kim-coa-to, maka dia merasa berkewajiban untuk melindungi Pangeran, juga untuk membela Syanti Dewi yang terancam oleh kekerasan dan pengacauan orang tua tak terkenal ini.

Akan tetapi ketika Pendekar Budiman sudah menerjang maju, dia terkejut bukan main. Kakek itu sama sekali tidak mengelak, dan baru setelah tamparan pendekar itu datang dekat, kakek ini menggerakkan tangan menangkis dan akibatnya tubuh pendekar itu terpelanting! Bukan main kuatnya tenaga sinkang yang terkandung dalam tangkisan lengan itu. Lie Siang Sun sudah meloncat bangun dan dia memandang tajam. Orang ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang sakti, akan tetapi mengapa menentang Pangeran Mahkota? Mengapa.....?

Dia mengingat-ingat para tokoh kaum sesat, akan tetapi tetap saja tidak mengenal wajah yang pucat itu. Karena dia harus melindungi Pangeran dan juga harus membela Syanti Dewi, maka dia lalu menerjang lagi, kini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya. Akan tetapi segera ia mendapatkan kenyataan bahwa kepandaiannya masih jauh di bawah tingkat kakek yang luar biasa ini, sehingga belum sampai tiga puluh jurus dia sudah kena ditendang terpelanting sampai beberapa meter jauhnya!

Melihat ini, beberapa orang tokoh kang-ouw yang berada di situ dan merasa penasaran sudah maju berturut-turut, akan tetapi empat lima orang yang maju itu satu demi satu dapat dirobohkan dengan mudah oleh kakek pucat itu. Sambil tertawa-tawa kakek itu menantang.

“Ha-ha-ha, siapa lagi yang hendak mencoba kepandaian?”

Semua orang menjadi gentar dan melihat betapa kakek itu dengan mudah menjatuhkan para lawan itu, tanpa membunuhnya, tidak ada yang lebih dari dua puluh jurus, tahulah mereka bahwa kakek ini sungguh merupakan seorang yang lihai sekali. Melihat ini Ouw Yan Hui sebagai nyonya rumah merasa malu dan terhina sekali. Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan sekali berkelebat, tahu-tahu tubuhnya sudah berada di depan kakek itu.

“Ha-ha-ha, tidak bohonglah berita yang mengatakan bahwa Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui, penghuni Pulau Kim-coa-to, memiliki ginkang yang amat hebat. Nah, ini namanya baru lawan yang boleh ditandingi. Majulah, Bu-eng-kwi, aku hendak melihat sampai di mana kehebatanmu!”
“Pengacau jahat, menggelindinglah!” bentak Ouw Yan Hui.

Wanita ini sudah menerjang dengan amat cepatnya. Gerakannya memang luar biasa cepatnya dan tahu-tahu jari tangan kirinya sudah mencengkeram ke arah ubun-ubun lawan yang botak itu, sedangkan dua jari tangan kanan sudah menusuk ke arah kedua mata lawan! Hebat sekali serangan ini, dan kakek itu pun mengeluarkan suara kaget dan cepat melempar tubuh ke belakang.

“Hebat, ginkang yang hebat!” kakek itu memuji.

Akan tetapi Ouw Yan Hui sudah menyerang lagi dengan lebih cepat dan lebih ganas karena dia merasa penasaran. Tetapi, kakek itu dapat menangkis dan balas menyerang. Terjadilah serang-menyerang, pertandingan yang seru bukan main, dan jauh lebih seru dibandingkan dengan yang sudah-sudah tadi.

Wanita itu memang mempunyai ginkang yang hebat, sukar dicari bandingnya di dunia kang-ouw. Tubuhnya seperti seekor burung saja yang beterbangan dan berkelebatan ketika mengelak atau balas menyerang. Akan tetapi, ternyata lawannya itu memiliki ilmu silat yang amat hebat, dan lebih lagi, dalam hal tenaga sinkang Ouw Yan Hui kalah jauh, maka biar pun dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, tetap saja setelah lewat tiga puluh jurus, dia kena ditampar pundaknya sampai terlempar dan terguling-gullng.

Melihat ini, Syanti Dewi marah sekali dan sambil mengeluarkan lengking panjang dia telah meloncat dari tempat duduknya seperti terbang saja dan tahu-tahu dari atas dia sudah menyambar dengan pukulan tangan terbuka ke arah kepala kakek itu.

“Plakk!” Pukulan itu kena ditangkis dan tubuh Syanti Dewi terlempar! Untung dia dapat berjungkir balik dengan cepat sehingga tidak jatuh terbanting.

Pangeran sudah memberi isyarat kepada para pengawal untuk maju membantu Syanti Dewi, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring, “Sam-ok, engkau sungguh keterlaluan!”

Nampaklah kini seorang pengemis berpakaian tambal-tambalan dan bermuka penuh cambang dan kumis meloncat ke tengah panggung berhadapan dengan kakek tinggi besar. Semua orang memandang, begitu juga Syanti Dewi.

Akan tetapi, begitu memandang wajah tertutup brewok itu, seketika wajah Syanti Dewi menjadi pucat sekali, kedua matanya terbelalak, dan tiba-tiba dia mengulurkan kedua tangan ke arah pengemis itu, mulutnya mengeluarkan jerit melengking dan tubuhnya roboh terguling! Ketika Ouw Yan Hui cepat merangkulnya, ternyata Sang Puteri itu telah jatuh pingsan! Sejenak Tek Hoat memandang ke arah Syanti Dewi, dan ketika melihat betapa Syanti Dewi dipondong masuk oleh Ouw Yan Hui, dia pun lalu menghadapi lagi kakek raksasa itu.

“Sam-ok, tidak perlu engkau menyembunyikan lagi mukamu di belakang kedok, karena aku telah mengenalmu! Para tamu sekalian, ketahuilah bahwa kakek yang menutupi mukanya dengan kedok kulit tipis ini bukan lain adalah, Sam-ok, yaitu orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok, atau juga Ban-hwa Sengjin, bekas koksu dari Negara Nepal! Orang ini mempunyai niat tidak baik terhadap Sang Pangeran, bahkan inilah orangnya yang mengatur segala pencegatan dan penculikan terhadap Pangeran!”

Setelah berkata demikian, dengan cepat Tek Hoat sudah menyerang dengan pukulan maut ke arah leher Sam-ok. Kakek itu yang merasa bahwa tak perlu menyembunyikan dirinya lagi, tertawa dan sekali renggut saja kedok kulit tipis yang menutupi mukanya terbuka dan nampaklah wajah aslinya. Dia masih sempat tertawa-tawa, akan tetapi segera dia harus mencurahkan perhatiannya karena sekali ini dia menghadapi Si Jari Maut, seorang yang amat lihai, sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan semua lawannya yang tadi. Maka dia pun mengelak, menangkis dan balas menyerang dengan hebatnya. Sementara itu, ketika para tamu mendengar bahwa kakek itu adalah Sam-ok atau bekas Koksu Nepal yang hendak mencelakai Pangeran Mahkota, mereka menjadi marah.

“Tangkap musuh negara!”
“Bunuh penjahat itu!”

Bukan hanya orang-orang kang-ouw, juga sekarang Souw Kee An telah mengerahkan pasukannya untuk mengepung dan mulai bergerak, sedangkan para anak buah Pulau Kim-coa-to juga digerakkan oleh Ouw Yan Hui yang merasa terkejut bukan main mendengar bahwa kakek itu adalah orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok!

Dan pada saat itu muncullah berturut-turut empat orang yang amat mengejutkan semua orang. Mereka itu bukan lain adalah Toa-ok Su Lo Ti, kakek yang bermuka gorila, Ji-ok Kui-bin Nio-nio, nenek yang berkedok tengkorak, Su-ok Siauw-siang-cu, hwesio cebol dan Ngo-ok Toat-beng Sian-su, tosu yang tingginya dua setengah meter lebih itu. Kini lengkaplah sudah Im-kan Ngo-ok muncul di situ setelah Tek Hoat tadi membuka kedok Sam-ok!

Melihat ini, para tamu, tentu saja mereka yang mempunyai kepandaian, telah menerjang ke depan, membantu para pasukan pengawal dan para anak buah Pulau Kim-coa-to, mengeroyok lima orang datuk kaum sesat itu.

Akan tetapi, lima datuk itu bukanlah orang-orang sembarangan sehingga dalam waktu singkat saja sudah banyak prajurit pengawal, anak buah Kim-coa-to dan orang-orang kang-ouw yang roboh terjungkal. Hanya Wan Tek Hoat dan Souw Kee An, dibantu oleh para prajurit pengawal, yang masih terus melawan. Tek Hoat masih bertanding dengan amat hebatnya melawan Sam-ok, keduanya tidak mau mengalah dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka sehingga bayangan mereka seolah-olah telah menjadi satu.

Namun setelah Ji-ok membiarkan ketiga orang saudaranya menghadapi pengeroyokan para pengawal dan dia sendiri membantu Sam-ok, Tek Hoat menjadi terdesak hebat. Memang hebat sekali sepak terjang Tek Hoat. Biar pun dia menghadapi orang ke dua dan ke tiga dari Im-kan Ngo-ok, dia masih mampu melindungi dirinya, bahkan membalas dengan tamparan-tamparannya yang amat dahsyat. Akan tetapi ketika Toa-ok maju pula dengan pukulan yang mendatangkan angin yang amat kuatnya, Tek Hoat menjadi repot sekali dan akhirnya sebuah pukulan yang amat keras dari tangan kiri Sam-ok mengenai punggungnya.

“Ughhhhh....!”

Tek Hoat muntahkan darah segar, akan tetapi dia masih sigap dan cepat melompat ke belakang, kemudian mengamuk lagi tanpa mempedulikan keadaan dirinya yang telah terluka di sebelah dalam oleh hantaman telapak tangan Sam-ok tadi. Kegagahannya ini membuat para lawannya menjadi kagum juga.

“Jari Maut, jangan khawatir, kami datang membantumu!” Tiba-tiba terdengar suara halus namun mendatangkan getaran amat kuatnya, dan nampaklah berkelebatnya bayangan dua orang ke tempat itu.

Wan Tek Hoat girang sekali. “Naga Sakti Gurun Pasir! Bagus engkau datang! Dan Ceng Ceng! Bagus, kau bantulah saudaramu yang sudah kepayahan ini!”

Yang datang itu adalah seorang laki-laki yang perkasa yang buntung lengan kirinya, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, berpakaian sederhana dan memiliki sepasang mata yang mencorong seperti mata naga, bersama seorang wanita cantik sekali biar pun usianya sudah hampir empat puluh tahun, dan masih lincah sekali. Mereka ini adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu dan isteri yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir, ayah bunda dari Jenderal Muda Kao Cin Liong yang gagah perkasa itu!

“Huhh, baru dikeroyok oleh lima siluman kecil itu saja engkau sudah kerepotan, Tek Hoat!” nyonya itu mengejek pengemis yang sedang repot didesak tiga orang lawannya itu. “Dan engkau kini telah menjadi jembel, ganti saja julukanmu menjadi Jembel Maut! Hi-hi-hik!”
“Wah, engkau masih cerewet seperti dulu juga, Ceng Ceng. Bantu sajalah, mengapa cerewet?” Tek Hoat mencela.

Memang dua orang ini sejak dulu suka ribut saja kalau jumpa, sungguh pun di dalam hati mereka terdapat kasih sayang yang besar karena mereka itu adalah saudara seayah berlainan ibu, bernasib sama pula karena mereka dilahirkan sebagai anak-anak haram, ibu mereka telah menjadi korban perkosaan ayah mereka. Bahkan pada waktu muda, keduanya hampir saling jatuh cinta ketika mereka belum mengetahui bahwa mereka itu sesungguhnya seayah.

Ceng Ceng masih mengejek, akan tetapi sambil mengejek dia sudah menerjang Ji-ok, sedangkan suaminya, Si Naga Gurun Pasir yang pendiam, telah menerjang Toa-ok. Sekali terjang saja, Toa-ok yang mencoba menangkis itu telah terjengkang!

Bukan main kagetnya hati Im-kan Ngo-ok ketika melihat munculnya pria berlengan satu yang amat sakti ini. Mereka mengenal siapa adanya Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya, maka mereka kini tahu bahwa kini keadaan menjadi berbalik dan mereka terancam bahaya. Maka, setelah melawan beberapa lamanya dan mereka terdesak hebat, Sam-ok yang merupakan otak mereka biar pun dia itu orang ke tiga, bersuit nyaring dan lima orang itu lalu berlompatan jauh dan melarikan diri.

Tek Hoat terhuyung-huyung dan terguling, pingsan. Pukulan yang tadi diterimanya dari Sam-ok amat hebat. Melihat ini Ceng Ceng cepat menubruk kemudian memeriksanya. Suaminya juga mendekati dan tidak mengejar lima orang datuk sesat itu yang segera melarikan diri ke perahu mereka dan cepat berlayar pergi meninggalkan pulau yang kini terlalu berbahaya bagi mereka itu.

“Bagaimana dia?” Kao Kok Cu, Si Naga Sakti bertanya kepada isterinya sambil turut memeriksa.
“Agaknya dia mengalami luka di dalam tubuhnya. Lihat ini punggungnya,” kata Wan Ceng.

Punggung yang telah dibuka bajunya itu nampak kebiruan. Kao Kok Cu kemudian menempelkan telapak tangannya untuk mengobati Tek Hoat. Sementara itu, Pangeran Mahkota yang sejak tadi tenang-tenang saja menonton pertempuran, kini menghampiri dengan wajah girang.

“Wah, untung ada Paman Kao dan Bibi yang datang!” katanya.

Melihat Pangeran yang mereka kenal baik ini, Kao Kok Cu dan Wan Ceng menjura dan Kao Kok Cu lantas melanjutkan pengobatannya. Sementara itu, Wan Ceng bercerita kepada Pangeran. “Kami bertemu dengan Cin Liong. Dia masih sibuk setelah membuat pembersihan di barat dan dia mengatakan bahwa Paduka berada dalam bahaya, dan dia minta kepada kami untuk menyusul ke Pulau Kim-coa-to ini. Kami terlambat, akan tetapi untung ada saudara hamba Si Jari Maut ini yang menghadapi Im-kan Ngo-ok yang berbahaya.”

“Hemm, jadi Paman pengemis itu adalah saudara Bibi, ya? Dan dia itu Si Jari Maut? Pantas demikian lihainya. Dia pernah menyelamatkan aku dari para perampok pula. Ah, tidak kusangka bahwa dialah orangnya.... pantas Enci Syanti Dewi pingsan seketika setelah tadi melihatnya.”

“Syanti Dewi? Di mana dia sekarang?” tanya Wan Ceng dengan girang. Memang dia sudah mendengar bahwa Syanti Dewi berada di pulau itu, maka dia bersama suaminya yang menyusul Sang Pangeran itu sekalian hendak menjenguk Puteri Bhutan itu yang menjadi saudara angkatnya.

“Dia tadi pingsan ketika melihat Si Jari Maut dan digotong ke dalam oleh Ouw-toanio.” Mendengar ini, Wan Ceng lalu bangkit berdiri dan setelah melihat bahwa Tek Hoat tidak berbahaya keadaannya, dia lalu lari memasuki gedung untuk mencari Syanti Dewi.

Ternyata Syanti Dewi telah mengalami kejutan yang menggoncangkan batinnya. Melihat munculnya Tek Hoat dalam keadaan seperti jembel, dia terkejut, terheran, dan terharu sehingga dia jatuh pingsan. Melihat Ceng Ceng memasuki kamar itu, Ouw Yan Hui mengerutkan alisnya.

Akan tetapi Ceng Ceng berkata dengan suara berwibawa. “Minggirlah, biar kuperiksa Enci Syanti.”
Akan tetapi Ouw Yan Hui masih memandang dengan curiga. “Aku adalah Candra Dewi, saudara angkatnya.” Ceng Ceng memperkenalkan diri.

Mendengar ini, barulah Ouw Yan Hui bangkit. Kiranya inilah dia orangnya yang sering dibicarakan Syanti Dewi, wanita yang bernama Wan Ceng atau Candra Dewi, isteri dari Pendekar Naga Sakti dari Gurun Pasir itu!

Ceng Ceng kemudian memeriksa keadaan Syanti Dewi. Tahulah dia bahwa saudara angkatnya itu mengalami pukulan batin yang mengguncangkan jantungnya dan perlu beristirahat.

“Dia tidak berbahaya akan tetapi perlu beristirahat, biarlah saya menjaganya di sini,” katanya lagi kepada Ouw Yan Hui.

Ouw Yan Hui mengangguk, lalu dia keluar. Sebagai nyonya rumah, tentu saja dia harus mengatur keadaan di luar yang tadi menjadi kacau oleh Im-kan Ngo-ok. Di ruangan itu dia melihat Pangeran bersama Naga Sakti Gurun Pasir berlutut di dekat tubuh Si Jari Maut yang masih pingsan, sedangkan Souw-ciangkun repot mengurus anak buahnya yang luka-luka. Ouw Yan Hui lalu mengepalai anak buahnya untuk membersihkan tempat, mengangkuti yang luka ke belakang dan mempersilakan para tamu untuk duduk kembali dan memerintahkan para pembantunya menyuguhkan minuman baru.

Sementara itu, Tek Hoat siuman dari pingsannya. Begitu membuka mata, dia segera bangkit duduk. Melihat di situ terdapat Kao Kok Cu dan Pangeran, pandang matanya liar mencari-cari ke kanan kiri.

“Mana dia....? Ke mana dia....?”
“Engkau mencari siapa?” Kao Kok Cu bertanya karena ketika pendekar ini tadi datang bersama isterinya, dia tidak melihat Syanti Dewi.

Akan tetapi Pangeran Kian Liong mengerti. Setelah dia mendengar bahwa pendekar yang seperti pengemis ini ternyata Si Jari Maut Wan Tek Hoat, maka tahulah dia mengapa Syanti Dewi pingsan ketika melihatnya. Dia tahu bahwa inilah pria yang diceritakan oleh Syanti Dewi kepadanya, satu-satunya pria di dunia yang pernah dicinta dan masih dicinta oleh Sang Puteri itu. Maka Pangeran pun tersenyum.

“Paman, engkau mencari Syanti Dewi? Dia berada di dalam gedung, engkau susullah dia ke sana.” Dan dia menuding ke arah gedung. “Akan tetapi, keadaanmu seperti ini, Paman. Sebaiknya kalau engkau berganti pakaian lebih dahulu...., tidak baik engkau bertemu dengannya dalam pakaian seperti ini....”

Wan Tek Hoat bangkit berdiri dan menggelengkan kepalanya, memandang kepada Pangeran itu dengan sinar mata berterima kasih. “Biarlah, Pangeran. Biarlah hamba menemuinya seperti ini, biar dia melihat keadaan hamba yang sebenarnya.” Setelah berkata demikian, dia pun berjalan cepat memasuki gedung.

Melihat itu, Kao Kok Cu menggeleng kepala dan berkata, tidak langsung ditujukan kepada Sang Pangeran, seperti bicara kepada diri sendiri, “Sungguh dia itu menyiksa diri sendiri sampai sedemikian rupa....”

“Akan tetapi dia tidak menderita seorang diri, juga Enci Syanti Dewi menderita batin hebat sekali karena dia. Cinta asmara antara dua orang itu memang sungguh amat luar biasa sekali,” kata Sang Pangeran.

Pendekar berlengan satu itu memandang kepada Sang Pangeran dan tersenyum, sinar matanya yang mencorong itu menatap kagum. Pangeran ini masih begini muda, akan tetapi nampaknya memiliki kebijaksanaan yang besar dan pandangannya mendalam sekali. “Jadi Paduka telah mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua?”

Pangeran itu mengangguk. “Enci Syanti telah bercerita kepadaku dan karena Si Jari Maut itulah maka sampai sekarang Enci Syanti tidak mau menyerahkan hatinya kepada pria lain sehingga tadi terpaksa aku turun tangan untuk membantunya.”

Dengan singkat Sang Pangeran lalu bercerita tentang sayembara ‘menangkap’ Syanti Dewi tadi dan dia maju untuk membantu Sang Dewi keluar dari pulau itu tanpa harus menyinggung perasaan Ouw Yan Hui yang telah menanam banyak sekali budi terhadap Syanti Dewi.

Mendengar penuturan Pangeran itu, Kao Kok Cu menarik napas panjang. Ia termenung sebentar, kemudian berkata lirih. “Mereka itu saling mencinta dan patut dipuji kesetiaan mereka. Mudah-mudahan saja pertemuan sekali ini akan membuat mereka bersatu dan takkan terpisah kembali.”
Mereka berhenti bicara ketika Ouw Yan Hui datang menghampiri. Wanita ini menjura kepada Kao Kok Cu dan berkata, “Harap maafkan bahwa baru kini saya mengetahui bahwa Taihiap adalah Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya amat terkenal itu. Dan saya menghaturkan terima kasih atas bantuan Taihiap dan isteri Taihiap yang telah mengusir Im-kan Ngo-ok yang datang mengacau di sini. Adik saya, Syanti Dewi sudah banyak bercerita tentang keluarga Taihiap, terutama tentang isteri Taihiap.”

Melihat sikap yang ramah ini, Kao Kok Cu balas menjura dan berkata, “Memang, Enci Syanti Dewi adalah kakak angkat dari isteri saya.”

Mereka lalu dipersilakan duduk di tempat kehormatan dan pesta yang tadi terganggu itu dilanjutkan, biar pun kini para tamu saling bicara sendiri, membicarakan peristiwa yang baru terjadi. Kemunculan Im-kan Ngo-ok itu saja telah mengejutkan dan mengherankan semua orang karena sebagian besar dari mereka baru sekali itu berkesempatan melihat datuk-datuk kaum sesat yang namanya sudah sering mereka dengar itu.

Apalagi kemudian muncul Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya seperti dongeng, sebagai penghuni Istana Gurun Pasir yang tidak kalah terkenalnya dengan nama-nama seperti Istana Pulau Es! Dan menyaksikan betapa Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya tadi menghadapi Im-kan Ngo-ok, bersama Si Jari Maut yang juga telah mereka dengar namanya, membuat para tokoh kang-ouw itu kagum bukan main. Tak mereka sangka bahwa di Pulau Kim-coa-to itu mereka akan menyaksikan perkelahian tingkat atas yang demikian hebatnya.

Sementara itu, dengan jantung berdebar dan kedua kaki gemetar, Tek Hoat memasuki ruangan di mana Syanti Dewi masih rebah ditunggu oleh Wan Ceng. Dia ingin berjumpa dengan Syanti Dewi, sebentar saja, untuk minta ampun atas semua kesalahan dan dosanya. Dia tak ingin mengganggu Syanti Dewi, ingin membiarkan wanita itu bahagia bersama Pangeran, bahkan tadinya dia sudah hendak meninggalkan tempat itu tanpa diketahui seorang pun.

Akan tetapi, melihat Syanti Dewi terancam bahaya, tentu saja tak mungkin mendiamkan begitu saja dan ketika dia muncul dan melihat wanita itu roboh pingsan, hatinya seperti diremas-remas rasanya. Kini tak mungkin dia pergi tanpa menengok dulu bagaimana keadaan wanita itu, dan minta ampun. Kalau Syanti Dewi sudah mengampuni, barulah dia akan hidup dengan hati bebas dari pada penyesalan.

Pengampunan dari Syanti Dewi akan merupakan dorongan hidup baru baginya, dan kebahagiaan Syanti Dewi, biar pun di samping pria lain, akan membuat dia rela untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan bebas dan dia tentu akan merasa seperti hidup kembali, tidak seperti sekarang seolah-olah terbelenggu oleh rasa penyesalan dan kedukaan!

“Syanti....!” Dia memanggil lirih ketika melihat wanita itu masih rebah telentang di atas pembaringan dengan muka pucat dan tidak bergerak seperti telah mati, sedangkan Ceng Ceng duduk di atas bangku dekat pembaringan.
“Ssttt....!” Wan Ceng menengok dan menyentuh bibirnya. “Biarkan dia beristirahat, dia mengalami guncangan batin yang cukup parah.”

“Syanti....!” Tek Hoat mengeluh dan dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan, menatap wajah itu dengan penuh kerinduan, penuh keharuan dan penuh penyesalan mengapa dia sampai menyiksa hati seorang dara seperti ini! Dua titik air mata membasahi bulu matanya dan melihat ini, Wan Ceng menjadi terharu.

Dipegangnya tangan saudara tirinya itu. “Tek Hoat, mengapa engkau sampai menjadi begini? Bukankah dahulu engkau dan Syanti Dewi berada di Bhutan, engkau malah menjadi panglima dan kalian akan kawin....?”

Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Ceng Ceng, aku memang bodoh, aku seorang laki-laki yang tidak berharga sama sekali, apalagi untuk menjadi suaminya, bahkan mendekatinya pun aku terlalu kotor. Akan tetapi.... aku tak mungkin kuat untuk hidup lebih lama lagi sebelum mendapat pengampunannya.... maka aku datang untuk minta ampun kepadanya....”

Wan Ceng menatap wajah pengemis itu dan tak dapat menahan runtuhnya air matanya. Dia merasa kasihan sekali kepada saudaranya ini. “Tek Hoat...., Tek Hoat, mengapa engkau menyiksa hatimu sampai begini? Kenapa engkau begini sengsara, Saudaraku?” Dia memegang lengan yang tegap kuat itu.

Tek Hoat menunduk. “Entahlah, mungkin darah yang jahat dari Ayah kita lebih banyak mengalir dalam tubuhku. Biarlah, Ceng Ceng, biarlah aku yang menanggung semua dosa Ayah kita.... kudoakan saja agar engkau berbahagia.... biarlah aku seorang yang menanggungnya....”

“Tek Hoat....!” Wan Ceng sejenak merangkul pundak itu, kemudian dia bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, sebaiknya membiarkan dua orang itu bertemu dan bicara berdua saja, setelah Syanti Dewi sadar.

Tetapi Tek Hoat tidak bangkit dari berlututnya. Dia mengambil keputusan untuk terus berlutut sampai menerima pengampunan dari mulut Syanti Dewi! Dia memperhatikan pernapasan Syanti Dewi dan merasa lega bahwa keadaan wanita itu memang tidak lagi mengkhawatirkan, dan agaknya Syanti Dewi dalam keadaan tidur.

Satu jam lebih Tek Hoat berlutut di depan pembaringan dan akhirnya Syanti Dewi mulai bergerak, membuka mata dan mulutnya berbisik, “Tek Hoat...., Tek Hoat....”

Tek Hoat merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Syanti Dewi memanggil-manggil dia!

“Aku.... aku di sini....,” katanya dengan suara gemetar dan muka menunduk, tidak berani memandang wanita itu.

Syanti Dewi bangkit duduk, matanya terbelalak dan ketika dia melihat pengemis yang berlutut di depan pembaringan itu, dia mengeluh, “Tek Hoat....!” isaknya membuat dia sesenggukan dan tak kuasa mengeluarkan suara lagi. Setiap dia memandang keadaan pria itu, dia mengguguk menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya dan air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari-jari tangannya.

“Syanti.... Syanti Dewi.... ampunkanlah aku.... aku datang hanya untuk minta ampun kepadamu, kau ampunkanlah aku, Syanti.... agar aku dapat melanjutkan hidup ini....”
“Tek Hoat....” Sejak tadi Syanti Dewi hanya mampu menyebut nama ini, nama yang sudah terlalu sering disebutnya dalam mimpi, bahkan yang selalu bergema di dalam hatinya semenjak dahulu sampai sekarang.

“Syanti.... aku tidak ingin mengganggumu, sungguh mati.... biar aku dikutuk Tuhan jika aku berniat buruk kepadamu.... tidak, lebih baik aku mati dari pada mengganggumu, Syanti. Aku tadinya sudah hendak pergi diam-diam, tapi.... tapi Im-kan Ngo-ok muncul dan kau terancam.... sekarang, kau katakanlah bahwa engkau sudi mengampuniku.... biar kucium ujung sepatumu, Syanti, kau ampunkanlah aku.... biarkan aku berani untuk melanjutkan hidup yang tak berapa lama lagi ini....”

“Tek Hoat.... duhai, Tek Hoat.... mengapa engkau sampai menjadi begini....?” Syanti Dewi berkata, terengah-engah dan tersedu-sedu, dan kini tangan dengan jari-jari halus itu meraba kepala Tek Hoat, meraba muka yang penuh brewok itu, meraba baju yang penuh tambalan, jari-jari tangan yang gemetar. “Mengapa.... mengapa engkau menjadi begini....?”

“Sudah sepatutnya aku menerima hukuman, Syanti, memang sudah sepatutnya aku manusia rendah ini hidup dalam keadaan yang serendah-rendahnya. Tapi aku belum merasa puas kalau belum mendapat ampun darimu, Syanti...., kau ampunkanlah aku.... kau ampunkanlah aku....” Dan pria itu lalu menunduk, hendak mencium ujung sepatu Syanti Dewi.

“Tek Hoat, jangan....!” Dan kini Syanti Dewi juga merosot turun dari atas pembaringan, ikut berlutut di depan Tek Hoat dan merangkulnya!

Tek Hoat terkejut. Dia mundur dan terbelalak. “Jangan begitu, Syanti. Janganlah kau mengotorkan dirimu. Sungguh, aku tak ingin mengganggumu. Engkau.... engkau sudah sepatutnya, sungguh pantas menjadi isterinya Pangeran Mahkota, dan kelak…. kelak menjadi permaisuri.... Wahai Syanti Dewi, sungguh mati aku ikut merasa amat bahagia melihat kebahagiaanmu....”

Kini Syanti Dewi yang memandang dengan mata terbelalak. “Apa katamu? Engkau.... engkau akan merasa girang kalau aku menjadi isteri orang lain? Kau.... kau rela....?”

“Tentu saja, Syanti Dewi. Aku merelakan semuanya, apa pun…. bahkan nyawaku, demi kebahagiaanmu....”
“Kalau begitu, engkau.... engkau sudah tidak cinta lagi kepadaku?”
“Ehhh....? Mengapa engkau bertanya demikian? Syanti Dewi.... aku..... cintaku.... ahhh, orang macam aku ini mana ada harganya bicara tentang cinta? Kau ampunkan aku, Syanti....”

“Tidak! Kalau engkau merelakan aku menjadi isteri orang lain, sampai mati pun aku tidak akan mengampunimu. Tek Hoat.... Tek Hoat.... sampai usia kita sudah tua begini, apakah engkau masih belum dewasa? Bertahun-tahun aku menantimu di sini, sampai hampir mati rasanya aku menantimu, dan kini.... begitu engkau muncul.... engkau hanya mau menyatakan bahwa engkau rela kalau aku menjadi isteri orang lain! Ya Tuhan, tidak akan ada hentinyakah engkau merusak, menghancurkan hati dan perasaanku, Tek Hoat?” Syanti Dewi lalu menangis lagi sesenggukan.

Tek Hoat yang masih berlutut itu memandang bengong bagai orang kehilangan ingatan, atau seperti orang yang teramat tolol. Semua ucapan dan sikap Syanti Dewi sungguh tak pernah terbayangkan olehnya sehingga dia terkejut dan kesima. Akhirnya dia dapat juga berkata-kata, karena dia harus mengatakan sesuatu melihat Syanti Dewi menangis mengguguk seperti itu.

“Tetapi.... tetapi, Syanti.... aku melihat sendiri, mendengar sendiri betapa engkau telah memilih Pangeran Mahkota menjadi jodohmu.... malah aku bersyukur....”

Tek Hoat tidak melanjutkan kata-katanya karena Syanti Dewi sudah menurunkan kedua tangannya, dan melalui air matanya memandang kepadanya seperti orang merasa penasaran dan marah.

“Tentu saja engkau tak tahu! Yang kau ketahui hanya dirimu sendiri saja, kesusahanmu sendiri saja! Pangeran sengaja melakukan itu untuk menolongku, mengertikah engkau? Aku tidak mungkin dapat menjadi isteri orang lain dan sudah kukatakan ini kepada Pangeran yang menjadi sahabatku terbaik, maka dialah yang akan membantuku keluar dari sini tanpa menyinggung perasaan Enci Ouw Yan Hui. Aahhh, masih perlukah aku menjelaskan semuanya lagi? Tidak cukupkah kalau aku katakan bahwa aku tidak dapat menikah dengan orang lain kecuali dengan engkau? Bahwa hanya engkaulah satu satunya pria yang pernah kucinta, yang masih kucinta, dan yang selamanya akan kucinta? Atau haruskah aku bersumpah kepadamu?”

Dua mata Tek Hoat menjadi basah dan air matanya menggelinding turun satu-satu. Dia bangkit berdiri, memandang wanita itu, sinar harapan baru muncul dalam pandang matanya. “Syanti.... Syanti Dewi...., be.... benarkah itu? Benarkah itu....?”
“Bodoh! Engkau laki-laki canggung yang bodoh! Ahhh, betapa gemas hatiku....! Mari, mari kubuktikan....!”

Kini Syanti Dewi bangkit berdiri dan menyambar tangan kiri Tek Hoat, digandengnya tangan kiri pria itu dengan tangan kanannya, lalu diseretnya Tek Hoat keluar sehingga keduanya setengah berlari menuju ke ruangan itu. Di situ nampak Ouw Yan Hui dan Pangeran Kian Liong sedang bercakap-cakap dengan Ceng Ceng dan Kao Kok Cu, sedangkan para tamu sedang bercakap-cakap sendiri dengan asyiknya.

Ketika Syanti Dewi muncul menggandeng tangan pengemis itu, semua orang menengok dan hanya Pangeran, Ceng Ceng dan Kao Kok Cu sajalah yang memandang dengan muka berseri karena tiga orang ini mengerti apa artinya itu. Ouw Yan Hui juga sudah dapat menduga, akan tetapi alisnya berkerut karena dia amat mengharapkan Syanti Dewi menjadi isteri Pangeran Mahkota Kian Liong. Para tamu terbelalak kaget dan terheran-heran, apa lagi ketika Syanti Dewi yang mukanya masih basah air mata itu kini berkata dengan suara lantang sekali.

“Cu-wi yang mulia, saya hendak membuat pengumuman, harap Cu-wi sekalian menjadi saksi bahwa saya telah memilih dan menetapkan jodoh saya, yaitu Wan Tek Hoat yang saya gandeng ini!”

Mata para tamu itu makin lebar terbelalak dan memandang tidak percaya. Syanti Dewi, wanita cantik seperti bidadari itu memilih pengemis ini menjadi jodohnya? Akan tetapi, terdengarlah tepuk tangan dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah Wan Ceng dan Pangeran Kian Liong sendiri. Dan ketika para tamu melihat siapa yang bertepuk tangan, mereka pun beramai-ramai bertepuk tangan, sungguh pun di dalam hati mereka itu terdapat rasa penasaran sekali.

Mereka tidak tahu akan riwayat percintaan antara kedua orang itu, dan yang mereka ketahui sekarang hanya bahwa Syanti Dewi adalah seorang wanita secantik bidadari sedangkan pria itu adalah seorang laki-laki yang nampak jauh lebih tua dan seperti jembel pula. Tentu saja mereka merasa penasaran.

Sementara itu, melihat betapa Sang Pangeran sendiri menyambut pengumuman ini dengan tepuk tangan dan wajah berseri gembira, Ouw Yan Hui merasa terheran-heran. Akan tetapi pada saat itu Pangeran Kian Liong mendekatinya dan berkata, “Ouw-toanio sendiri tentu sudah tahu akan riwayat mereka, maka sekarang mereka telah saling bertemu, alangkah baiknya kalau peresmian perjodohan mereka dilaksanakan di sini juga, dengan disaksikan oleh para tamu.”

Ouw Yan Hui memandang dengan muka agak pucat. “Akan tetapi.... tapi.... bukankah Pangeran....?”

“Sssttt, Ouw-toanio. Enci Syanti Dewi pantas menjadi bibiku, sekarang bertemu dengan Paman Wan Tek Hoat yang sejak dahulu dicintainya, hanya untuk menghilangkan rasa tidak enak dan malu saja setelah dia menolak semua calon.” Kemudian dengan suara mendesak Pangeran itu minta kepada Ouw Yan Hui agar usulnya itu diumumkan.

Ouw Yan Hui merasa lemas, akan tetapi tidak berani menentang. Dia menarik napas panjang dan bangkit dengan tubuh lesu, lalu berkata dengan suara lantang, “Cu-wi yang mulia, Cu-wi telah melihat sendiri bahwa Adik Syanti Dewi telah memilih jodohnya. Maka, selagi Cu-wi masih berada di sini, kami akan meresmikan perjodohan mereka pada besok pagi. Silakan Cu-wi beristirahat di dalam pondok tamu sementara kami akan membuat persiapan untuk pesta besok pagi.”

Para tamu menyambut dengan gembira dan mereka kembali saling bicara sehingga suasana menjadi bising.

Ceng Ceng menggandeng tangan Tek Hoat sambil berkata, “Hayo kau ikut aku! Calon pengantin masa seperti ini? Engkau harus cukur dan mandi tujuh kali, juga berganti pakaian....,” tiba-tiba nyonya ini menjadi bingung. “Wah, pakaian yang mana....?”

Dia menoleh kepada suaminya. Dalam perjalanan itu, suaminya ada membawa pakaian pengganti, tetapi pakaian biasa dan tentu saja kurang pantas kalau dipakai pengantin.

Pangeran Kian Liong tersenyum lebar. “Jangan khawatir, Bibi. Kebetulan bentuk tubuh Paman Wan Tek Hoat hampir sama dengan tubuhku, dan aku ada membawa beberapa potong pakaian yang akan cukup pantas kalau dipakai olehnya.”

Wan Ceng tersenyum girang. “Sungguh Paduka selalu bisa mendapatkan akal dan jalan keluar, terima kasih!”

Memang ada hubungan yang akrab antara Pangeran Mahkota dengan suami isteri pendekar itu karena putera mereka, yaitu Kao Cin Liong, merupakan seorang sahabat yang baik sekali dari Pangeran Kian Liong. Bahkan Sang Pangeran ini pernah pula mengunjungi Istana Gurun Pasir, bersama sahabatnya yang sekarang menjadi seorang jenderal muda itu.

Syanti Dewi hanya tersenyum menyaksikan Tek Hoat ditarik-tarik oleh Wan Ceng ke dalam gedung, dan dia sendiri lalu mendekati Ouw Yan Hui dan memegang tangan enci atau juga gurunya itu. Dia dapat melihat wajah yang muram dari Ouw Yan Hui, maka dia berbisik, “Maafkan aku, Enci Hui. Engkau tahu, dia itu tunanganku dan.... dialah satu satunya pria yang kucinta. Kami akan kembali ke Bhutan...., Ayah telah tua sekali dan terlalu lama aku meninggalkan keluargaku di sana....”

Ouw Yan Hui memandang wajah adik atau juga muridnya ini. Melihat wajah cantik itu memandang padanya dengan penuh permohonan dan penyesalan, dia merasa terharu juga. Dia amat sayang kepada Syanti Dewi, seperti adiknya atau seperti anaknya sendiri maka dirangkulnya Syanti Dewi. Mereka berpelukan dan tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pada mata Ouw Yan Hui yang biasanya amat tabah dan berhati dingin itu nampak air mata berlinang. Kemudian mereka pun memasuki gedung untuk membuat persiapan.

Pesta pernikahan itu dilakukan secara sederhana sekali, apalagi hanya dihadiri dan disaksikan oleh para tamu kurang lebih dua ratus orang banyaknya, yaitu mereka yang tadinya datang ke pulau itu untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun Syanti Dewi. Memang tadinya Ouw Yan Hui mengusulkan untuk mengundur hari pernikahan agar dia dapat mengirim undangan sebanyaknya, akan tetapi Tek Hoat dan Syanti Dewi tidak setuju. Biarlah perjodohan mereka disahkan secara sederhana, sudah disaksikan oleh Pangeran Kian Liong dan pihak keluarga diwakili oleh Wan Ceng dan suaminya.

“Kami akan kembali ke Bhutan dan di sanalah nanti diadakan pesta yang meriah,” kata Syanti Dewi.

Biar pun acara pernikahan itu amat sederhana, namun cukup meriah karena di situ hadir pula Sang Pangeran. Ouw Yan Hui menangis tersedu-sedu, hal yang amat luar biasa baginya, ketika sepasang pengantin itu memberi hormat kepadanya. Juga Wan Ceng menangis dan merangkul kakak tirinya dengan hati terharu, lalu mencium Syanti Dewi yang masih terhitung kakak angkatnya pula. Suasana menjadi mengharukan sekali, namun Pangeran Kian Liong lalu maju memberi selamat kepada sepasang mempelai dengan mengangkat cawan arak sehingga semua tamu juga mengangkat cawan arak dan suasana menjadi gembira kembali.

Setelah Tek Hoat dicukur, membersihkan diri dan berganti pakaian pangeran yang indah, berubahlah jembel yang terlantar itu menjadi seorang laki-laki yang amat gagah dan tampan, yang wajahnya berseri-seri dan sepasang matanya mencorong tajam. Betapa pun juga, dia adalah seorang pria yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun dan kelihatan juga setengah tua. Sebaliknya, Syanti Dewi biar pun usianya juga sepantar dia, namun masih nampak seperti seorang dara berusia dua puluh tahun saja!

Pertemuan dua hati dan dua badan yang saling mencinta ini tentu saja terasa nikmat di hati dan kebahagiaan yang amat mendalam membuat mereka merasa terharu. Tiada habisnya mereka bercakap-cakap menceritakan semua pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah, dan di dalam penuturan ini terungkaplah semua peristiwa dan kesalah pengertian di antara mereka, juga terungkaplah bukti-bukti betapa mereka itu sesungguhnya saling mencinta. Dan akhir dari semua itu membuat mereka merasa saling dekat, dan di dalam hati mereka bersumpah untuk tidak saling berpisah lagi selama-lamanya. Mereka merasa berbahagia sekali.

Benarkah mereka berbahagia?

Apakah bahagia itu? Bagaimanakah kita dapat berbahagia? Kebahagiaan! Sebuah kata ini kiranya dikenal oleh setiap orang manusia di dunia ini, dikenal dan dirindukan, dicari dan dikejar-kejar selama kita hidup. Betapa kita semua, masing-masing dari kita, selalu mendambakan kebahagiaan dalam kehidupan kita.

Kata ‘kebahagiaan’ sudah menjadi kabur, bahkan sering kali, hampir selalu malah, tempatnya diduduki oleh sesuatu yang sesungguhnya bukan lain adalah kesenangan. atau kepuasan belaka. Kalau kita memperoleh sesuatu yang kita harap-harapkan, maka kita mengira bahwa kita berbahagia! Benarkah itu? Ataukah yang terasa nyaman di hati itu hanyalah kesenangan yang timbul karena kepuasan belaka, karena terpenuhinya sesuatu yang kita harap-harapkan, atau inginkan?

Dan kepuasan hanya merupakan wajah yang lain dari kekecewaan belaka. Kepuasan hanya selewat, dan sebentar kemudian rasa nikmat dan nyaman karena kepuasan ini pun akan lewat dan lenyap, mungkin terganti oleh kekecewaan yang selalu bergandeng tangan dengan kebalikannya itu. Kepuasan dan kekecewaan, seperti juga kesenangan dan kesusahan saling isi mengisi, saling bergandeng tangan dan selalu bergandengan karena memang merupakan si kembar yang mungkin berbeda rupa. Di mana ada kepuasan, tentu ada kekecewaan. Di mana ada kesenangan, tentu ada kesusahan. Orang yang mengejar kesenangan, tak dapat tidak akan bersua dengan kesusahan. Siapa mengejar kepuasan, tak dapat tidak akan bertemu dengan kekecewaan.

Kebahagiaan berada di atas, jauh di atas jangkauan atau pengaruh senang dan susah, puas dan kecewa. Kebahagiaan tak mungkin dijangkau atau dikejar, kebahagiaan tak mungkin digambarkan. Senang dan susah adalah permainan pikiran, terikat oleh waktu dan bersumber kepada Si Aku.

Si Aku ini sudah tentu terombang-ambing antara senang dan susah karena Si Aku itu selalu penuh dengan keinginan dan sudah barang tentu tidak mungkin segala keinginan yang tiada habisnya itu selalu terpenuhi, maka terjadilah puas dan kecewa. Bahkan jika keinginan telah terpenuhi sekali pun akan menimbulkan hal-hal lain. Yaitu menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau kita kehilangan sesuatu yang sudah kita miliki itu, kemudian menimbulkan pengikatan diri kepada sesuatu yang menyenangkan itu sehingga kalau kita kehilangan, timbullah duka.

Kebahagiaan tak mungkin dapat dimiliki, tidak dapat diperoleh dengan usaha dan daya upaya, tidak mungkin dapat ditimbun. Kebahagiaan tiada hubungannya dengan pikiran yang selalu mengejar kesenangan! Kebahagiaan tidak mungkin ada selama masih ada Si Aku yang ingin senang! Kebahagiaan baru ada di mana ada cinta kasih.

Kita selalu penuh oleh Si Aku yang selalu mengejar kesenangan dan yang selalu hendak menjauhi kesusahan. Sedikit saja kita dijauhi kesenangan, kita lalu mengeluh dan merasa sengsara. Kebahagiaan bukan hal yang dapat dikhayalkan. Dan kita selalu mencari-cari yang tidak ada sehingga mana mungkin kita menikmati yang ada? Mana mungkin kita dapat melihat keindahan SINI kalau mata kita selalu mencari-cari dan memandang SANA saja?

Pernahkah kita menikmati kesehatan? Pernahkah dalam keadaan badan sehat kita pergi keluar kamar menghirup udara sejuk dan memandang awan berarak di angkasa? Tidak, kita selalu sibuk dengan sesuatu, pikiran selalu penuh dengan persoalan. Kita selalu ingin ini ingin itu sehingga mata kita seperti buta terhadap segala keindahan yang terbentang luas di sekeliling kita. Pernahkah kita pada waktu subuh pergi berjalan-jalan, melihat suasana ketika matahari mulai timbul? Pernahkah di waktu senja kita melihat suasana ketika matahari tenggelam, betapa indahnya angkasa? Dan juga pernahkah kita menerawang bintang-bintang di malam hari yang cerah? Tidak pernah! Pikiran kita, siang-malam, sibuk mencari uang, mencari kesenangan, mencari ini dan itu, tanpa ada hentinya.

Kita tidak pernah menikmati kesehatan, akan tetapi kita selalu mengeluh kalau tidak sehat! Kita tidak pernah ‘merasakan’ keadaan yang berbahagia. Kita bahkan tidak sadar lagi di waktu kita sehat, tidak dapat merasakan betapa nikmatnya kesehatan, akan tetapi kita amat memperhatikan di waktu kita tidak sehat, mengeluh dan mengaduh.

Dalam keadaan menderita sakit, kita selalu mengeluh dan membayangkan betapa akan bahagianya kalau kita sembuh, kalau kita sehat. Akan tetapi bagaimana jika kita sudah sehat? Pikiran penuh dengan keinginan laln dan ‘ingin sehat’ tadi pun sudah terlupa, ‘bahagia karena sehat’ pun sudah terlupa dan kita tidak lagi menikmati keadaan sehat itu!

Demikianlah selalu. Pikiran menjauhkan kebahagiaan. Pikiran selalu mengeluh setiap saat, merasa tidak berbahagia, atau kalau tidak ada sesuatu yang dikeluhkan, pikiran mencari-cari sesuatu yang DIANGGAP lebih menyenangkan, lebih enak. Tentu saja kita tidak pernah dapat menikmati bahagia kalau pikiran selalu mengejar kesenangan yang berada di masa depan. Bahagia adalah saat demi saat, bahagia adalah sekarang ini, tapi pikiran selalu penuh dengan kesenangan lalu, penuh dengan harapan-harapan dan keinginan-keinginan masa depan.

Pernahkah Anda berdiri di dalam cahaya matahari pagi, di tempat terbuka yang cerah, yang berhawa hangat nyaman? Memandang ke sekeliling tanpa ada Si Aku yang ingin senang? Cobalah sekali-kali. Waspada membuat kita tidak mengeluh, tetapi bertindak tepat menghadapi segala hal yang terjadi. Pikiran atau Si Aku selalu membentuk iba diri dan keluhan.

Syanti Dewi dan Wan Tek Hoat tentu saja merasa senang karena idam-idaman hati mereka tercapai. Kerinduan hati mereka terpenuhi. Tapi kehidupan bukan hanya sampai di situ saja. Hari-hari dan peristiwa-peristiwa, seribu satu macam, masih membentang luas di depan dan yang terpaksa harus mereka hadapi. Selama mereka terikat kepada kesenangan sudah pasti kebahagiaan karena pertemuan itu pun hanya akan menjadi suatu kesenangan sepintas lalu saja!

Ahh, mengapa kita tidak pernah mau membuka mata melihat kenyataan bahwa segala macam bentuk KESENANGAN itu selalu akan menimbulkan KEBOSANAN? Dapatkah kita hidup tanpa harus menjadi hamba nafsu kita sendiri yang selalu mengejar-ngejar kesenangan? Dapatkah? Kita sendiri yang harus menyelidiki dan menjawab pertanyaan kita ini kepada diri sendiri, dengan PENGHAYATAN dalam kehidupan, bukan teori-teori usang. Setiap hal dapat saja merupakan berkah, tapi dapat juga menjadi kutukan, setiap hal yang menimpa kita bisa saja menjadi sesuatu yang menyenangkan atau dapat pula menyusahkan, tetapi penilaian itu hanyalah pekerjaan pikiran atau Si Aku! Kebahagiaan berada di atas dari semua itu, tak dapat terjangkau oleh pikiran, seperti juga cinta kasih!

Beberapa hari kemudian, berangkatlah rombongan itu meninggalkan Pulau Kim-coa-to. Mereka adalah si pengantin baru Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi, Wan Ceng dan Kao Kok Cu, dan Pangeran Kian Liong, dikawal Souw-ciangkun dan sisa anak buahnya, karena banyak di antara mereka yang terpaksa ditinggalkan dalam perawatan karena luka-luka mereka. Sepasang pengantin itu diajak ke kota raja oleh Sang Pangeran, kemudian baru dari kota raja mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bhutan dengan pengawalan khusus, dengan sepucuk surat dari Sang Pangeran sendiri untuk Raja Bhutan. Sedangkan Wan Ceng dan suaminya pergi ke kota raja, selain untuk mengawal Sang Pangeran, juga ingin bertemu dengan putera mereka yang tentu telah kembali dari tugas di barat.

Dan di dalam perjalanan inilah, di dalam kereta yang membawa mereka, Pangeran Kian Liong teringat akan janjinya kepada Bu-taihiap, yaitu pendekar sakti Bu Seng Kin yang pernah menolongnya, maka dia pun lalu membicarakan hal itu kepada Si Naga Sakti dan isterinya.

Suami isteri itu mengerutkan alis mereka dan saling pandang. “Bu-taihiap? Siapakah dia itu?” Wan Ceng bertanya, bukan kepada pangeran, melainkan kepada suaminya.

Si Naga Sakti Gurun Pasir mengangguk. “Aku belum pernah bertemu dengan dia, akan tetapi aku pernah mendengar namanya. Dia bernama Bu Seng Kin. Namanya pernah menggetarkan dunia sebelah barat dan kabarnya dia memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.”

“Dia memang hebat!” kata Sang Pangeran. “Aku melihat sendiri betapa dia dan isteri-isterinya menghadapi Si Jangkung dan Si Pendek, dua orang dari Im-kan Ngo-ok itu. Bahkan Pendekar Bu itu dikeroyok dua, dan mengalahkan dua lawan itu dengan mudah. Dia memang lihai sekali, Paman Kao.”

Kao Kok Cu dan isterinya mengangguk-angguk. Kalau seorang diri dapat mengalahkan Su-ok dan Ngo-ok, berarti memang telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Akan tetapi Wan Ceng yang memperhatikan ucapan Pangeran itu, kini bertanya,

“Paduka katakan tadi isteri-isterinya? Berapakah banyaknya isteri-isterinya?”

Sang Pangeran tertawa. “Dalam hal itu agaknya dia memang agak istimewa. Yang ikut bersama dia pada waktu itu ada tiga orang.”

“Tiga orang isteri? Ikut bersama?” Wan Ceng terbelalak.
“Benar, dan ketiga orang isterinya itu pun rata-rata amat lihai!”
“Dan anaknya itu.... anak dari isteri ke berapakah?” tanya pula Wan Ceng.

Kembali Sang Pangeran tertawa. Kecerewetan seorang wanita dalam hal-hal seperti itu tidak mengherankan dia. “Aku tidak tahu, Bibi, dan kami tidak sempat bicara tentang hal itu. Akan tetapi pada waktu itu, puterinya juga ikut dan kulihat dia seorang gadis yang cantik dan memiliki sifat gagah seperti seorang pendekar wanita. Menurut Bu-taihiap, antara puterinya dan Cin Liong terdapat hubungan persahabatan yang akrab. Karena itulah maka dia ingin berjumpa dengan kalian untuk membicarakan pertalian jodoh antara mereka dan mereka minta kepadaku untuk dapat menjadi perantara.”

“Hemm, seakan-akan orang she Bu itu sudah memastikan bahwa kami tentu setuju!” Wan Ceng berkata tak senang.
“Isteriku, urusan jodoh merupakan urusan dua orang yang bersangkutan. Kita orang-orang tua hanya berdiri di belakang dan mengamati saja agar segala hal terlaksana dengan baik dan benar, maka hal ini pun baru bisa dibicarakan kalau kita sudah bicara dengan anak kita. Bagi kita, tidak bisa menerima atau menolak sebelum mendengar suara Cin Liong.”

“Sayang bahwa aku sendiri tidak tahu benar akan keadaan keluarga Bu-taihiap itu, akan tetapi kurasa Cin Liong telah berkenalan dengan keluarga itu ketika dia memimpin pasukan ke barat. Sebaiknya memang kalau kita, eh, maksudku Paman dan Bibi berdua menanyakan.”

Demikianlah, di dalam perjalanan menuju ke kota raja itu, ada bahan pemikiran yang amat serius bagi suami isteri pendekar ini, karena yang disampaikan oleh Pangeran itu menyangkut perjodohan dan masa depan putera tunggal mereka. Sementara itu, di dalam kereta lain yang sengaja disediakan oleh Pangeran, sepasang suami isteri, Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi, masih tenggelam dalam kemanisan bulan madu dan tidak mempedulikan segala keadaan lainnya, seolah-olah di dunia ini yang ada hanya mereka berdua…..
********************
Sebelum kita melanjutkan dengan mengikuti rombongan yang menuju ke kota raja ini, sebaiknya kalau kita lebih dulu menjenguk keadaan Kaisar dan keluarganya, dan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam istana kaisar itu…..

Memang telah terjadi perubahan amat besar pada diri Kaisar. Kaisar Yung Ceng mungkin merupakan satu-satunya kaisar di jaman Pemerintahan Mancu yang pandai ilmu silat. Memang ilmu silatnya hebat, bahkan boleh dibilang dia seorang yang ahli dan lihai sekali karena di waktu mudanya, ketika dia masih menjadi seorang pangeran, dia suka sekali mempelajari ilmu silat dan bergaul di tengah-tengah kaum tukang pukul yang suka menjilat-jilatnya.

Dia disanjung sebagai seorang ‘pendekar’, maka di waktu mudanya Pangeran ini suka sekali berkelahi, menantang siapa pun yang dianggapnya memiliki ilmu silat. Tentu saja, orang yang ditantangnya kalau tahu bahwa penantangnya adalah Pangeran, mengalah dan akibatnya orang itu dipukul babak-belur dan Sang Pangeran lalu dipuji-puji oleh para tukang pukul sebagai seorang ahli silat yang menang pi-bu!

Pangeran yang masih muda ketika itu, baru berusia tujuh belas tahun, merasa menjadi seorang pendekar dan entah sudah berapa banyak guru-guru silat, orang-orang baik, yang telah dikalahkannya, sebagian ada yang memang kalah, akan tetapi banyak yang memang mengalah. Namun, pada suatu hari, dia membentur batu karang! Dia bertemu dengan seorang pemuda, dan melihat pemuda ini pandai silat, dia menantangnya dan memaksa pemuda itu untuk ‘pi-bu’, dan akibatnya, Sang Pangeran yang kini dihajar babak-belur karena pemuda itu adalah seorang jago murid Siauw-lim-pai!

Pangeran Yung Ceng terkenal mempunyai watak yang keras dan tidak mau kalah. Menghadapi kekalahan dari seorang murid Siauw-lim-pai ini membuat dia penasaran sekali dan dia lalu menyamar sebagai seorang pemuda biasa dan pergilah dia ke kuil Siauw-lim-si untuk belajar ilmu silat dari para hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal ahli.

Akan tetapi pada waktu itu Siauw-lim-si hanya menerima anak-anak saja sebagai murid, maka permintaan Pangeran muda itu ditolak oleh para pimpinan Siauw-lim-si. Pangeran ini memang memiliki kemauan yang amat keras. Penolakan para pimpinan Siauw-lim-si tidak mematahkan semangatnya dan dia tetap berlutut di depan kuil siang malam dan tidak mau pergi sebelum permohonannya untuk menjadi murid Siauw-lim-pai diterima!

Melihat kemauan yang luar biasa ini, para pimpinan Siauw-lim-pai jadi tertarik. Setelah mereka membiarkan Pangeran yang mereka kira pemuda biasa itu berlutut di situ selama tiga hari tiga malam, mereka lalu menerima Sang Pangeran yang menggunakan nama biasa, yaitu Ai Seng Kiauw. Diterimalah Ai Seng Kiauw sebagai seorang murid tanpa mengharuskan pemuda ini menggunduli kepala menjadi hwesio. Dan mulailah Pangeran itu dilatih ilmu silat Siauw-lim-pai yang terkenal hebat itu.

Memang Pangeran itu memiliki bakat yang amat baik untuk ilmu silat, hanya sayang bahwa dia memiliki hati yang keras sekali, sungguh tidak sesuai dengan seorang pendekar yang seharusnya memiliki keteguhan hati yang tidak mungkin tergoyahkan oleh nafsu amarah. Ai Seng Kiauw atau pangeran ini tekun berlatih. Bahkan untuk mengejar ilmu silat, dia rela membiarkan dirinya diuji oleh para pimpinan Siauw-lim-pai yang mengharuskan dia mencari kayu bakar dan mengangsu air, yang harus dipikulnya naik turun bukit ke dalam kuil.

Pekerjaan ini amat berat dan selama berbulan-bulan ia melakukan pekerjaan itu sampai pundaknya lecet-lecet dan kakinya lelah sekali. Akan tetapi setelah lewat setengah tahun, dia dapat memikul kayu atau dua gentong air sambil berlari-larian menaiki bukit! Tenaganya menjadi kuat sekali, tenaga sinkang-nya bertambah dengan cepat.

Para murid Siauw-lim-pai adalah para hwesio yang mempelajari ilmu silat sebagai mata pelajaran yang diharuskan, dan dimaksudkan untuk menggembleng tubuh mereka agar kuat, tahan uji, dan sehat. Maka mereka itu kebanyakan hanya mempelajari ilmu silat sekedarnya saja.

Tidak demikian dengan Sang Pangeran. Dia belajar dengan tekun sekali, bahkan secara diam-diam, kadang-kadang secara mencuri-curi, dia memasuki ruangan perpustakaan di waktu malam dan membaca kitab-kitab pelajaran ilmu silat Siauw-lim-pai di dalam ruangan itu, sering kali sampai pagi! Dan dia pun berlatih siang malam tanpa mengenal lelah sehingga pelajaran-pelajaran yang akan dikuasai oleh lain murid selama empat lima tahun, telah dapat diraihnya selama satu tahun saja!

Akan tetapi, ternyata para pimpinan Siauw-lim-pai itu akhirnya dapat mengetahui bahwa murid yang bernama Ai Seng Kiauw itu bukan lain adalah pangeran putera kaisar! Tentu saja mereka menjadi terkejut sekali. Beramai-ramai menghadap pangeran dan memberi hormat mereka, minta maaf bahwa karena tidak tahu, mereka telah memperlakukan Sang Pangeran sebagai murid biasa.

Ai Seng Kiauw atau Pangeran Yung Ceng merasa kecewa sekali. Setelah ketahuan, kini dia tidak diperlakukan sebagai murid, dan dalam hal mengajarkan ilmu, para pimpinan itu tidak sungguh-sungguh hati lagi. Dan kini, orang-orangnya atau saudara-saudaranya dapat mengunjungi dia dengan bebas, juga dia boleh keluar masuk dengan bebas dari kuil itu.

Hal ini membuat dia merasa bosan dan karena melihat bahwa para tokoh Siauw-lim-pai hanya setengah hati saja mengajarnya setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang Pangeran Mancu, maka Pangeran Yung Ceng lalu meninggalkan kuil di mana dia belajar selama hampir tiga tahun lamanya. Kini ilmu silatnya menjadi lihai sekali karena betapa pun juga, dia telah digembleng oleh para pimpinan Siauw-lim-pai dan telah menguasai ilmu-ilmu silat Siauw-lim-pai yang amat tangguh.

Sewaktu dia masih menjadi ‘murid’ Siauw-lim-pai, yaitu sebelum dia dikenal sebagai pangeran, Yung Ceng ini bersikap ramah dan bersahabat terhadap para murid-murid Siauw-lim-pai sehingga dia amat disuka. Bahkan setelah dia diketahui sebagai seorang pangeran, para anak murid Siauw-lim-pai masih menganggapnya sebagai sahabat atau saudara seperguruan.....

Selanjutnya baca
SULING EMAS NAGA SILUMAN : JILID-14
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger