logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Ang I Niocu (Nona Baju Merah) Jilid 02


Di lembah Sungai Huang-ho, nampak dua orang setengah tua berjalan perlahan. Mereka ini adalah Bu Pun Su dan Han Le, dua kakak beradik seperguruan yang berilmu tinggi. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mereka berdua baru saja meninggalkan Kiang Liat dan kini mereka jalan bersama-sama sambil bercakap-cakap.

“Lu-suheng, mengapa kau sekarang banyak berubah? Kau kelihatan seperti orang yang menderita kesedihan besar,” pertama-tama Han Le menegur suheng-nya.
“Sute, sebelum kita berbicara lebih lanjut, kuperingatkan padamu, jangan sekali-kali lagi kau menyebut Lu-suheng kepadaku. Jangan sekali-kali nama Lu Kwan Cu disebut lagi. Nama itu sudah mampus dan sekarang aku adalah Bu Pun Su, tidak ada sambungannya lagi, mengerti?” Suaranya terdengar keras dan kaku, tanda bahwa dia benar-benar tidak suka mendengar nama kecilnya disebut-sebut.

Han Le beberapa kali memandang kepada wajah Bu Pun Su penuh perhatian. Biasanya, pandangan mata Han Le tajam sekali dan dengan melihat wajah orang, dia akan dapat membaca isi hatinya. Akan tetapi tarikan wajah Bu Pun Su demikian sukar dimengerti, seolah-olah kulit muka orang sakti itu memakai kedok. Hanya garis-garis yang memenuhi muka dan rambut serta alis yang sudah tidak begitu hitam lagi saja yang bercerita bahwa selama ini, Bu Pun Su mengalami tekanan dan penderitaan batin yang hebat.

“Suheng, kau sudah banyak mengalami penderitaan. Maafkan Sute, meski Sute seorang yang bodoh dan lemah, namun Sute menyediakan raga dan nyawa untuk membantu Suheng memecahkan semua kesulitan itu.”

Bu Pun Su menoleh pada adik seperguruan ini. Untuk beberapa detik sepasang matanya hanya memandang, seakan-akan hendak mengalirkan air mata. Akan tetapi sepasang mata itu tiba-tiba berseri-seri dan meledaklah suara ketawa Bu Pun Su. Suara ketawanya demikian nyaring dan keras sehingga kalau di situ terdapat orang lain yang tidak berilmu tinggi, pasti orang ini akan lumpuh terkena daya tenaga lweekang-nya yang disalurkan dalam suara ketawa ini! Baiknya Han Le sendiri sudah memiliki tenaga lweekang yang tinggi, namun tetap saja ia merasa jantungnya memukul keras dan terpaksa ia menahan napasnya agar jangan terkena getaran hebat dan melukai jantungnya.

“Ha-ha-ha, kau masih tidak berubah, Sute! Kau masih dikuasai oleh perasaanmu, kau lemah dan baik hati. Tidak, Sute. Aku tidak menderita sesuatu. Bagaimana Bu Pun Su bisa menderita? Kalau si lemah Lu Kwan Cu yang sudah mampus, memang dia itu lemah hati, mudah dikuasai oleh nafsu, dia buta dan tuli, terlalu mengandalkan kepandaiannya yang tidak berarti, terlalu membanggakan tenaganya yang sebenarnya lemah. Ha-ha-ha, Lu Kwan Cu sudah mampus, demikian pula orang-orang yang seperti dia. Akan selalu mengalami suka duka dan hidup bagaikan benda mati yang dipermainkan oleh alam. Akan tetapi aku sekarang bukan seperti dia, aku sudah menguburkan Lu Kwan Cu. Aku Bu Pun Su hidup bukan sebagai bujang perasaan, aku hidup bebas, menggunakan akal budi dan pertimbangan, mengeluarkan segala yang pernah kupelajari untuk membantu pekerjaan alam!”

Han Le dapat mengerti akan kata-kata yang kedengarannya tidak karuan ini. Dia sendiri sudah banyak mengalami kepahitan hidup, sudah banyak menderita dan kecewa. Maka ia dapat menduga bahwa suheng-nya ini tentu telah mengalami hal-hal yang hebat luar biasa, hal-hal yang menghancurkan hatinya, mungkin sekali telah melakukan dosa yang dianggapnya terlalu berat dan besar sehingga suheng-nya ini mematikan dirinya sendiri, mematikan dan menghilangkan semua ingatan mengenai diri Lu Kwan Cu, seakan-akan dia memulai hidup baru menjadi seorang bernama Bu Pun Su atau Si Tiada Kepandaian, manusia aneh yang hidupnya hanya untuk membantu pekerjaan alam, yakni tegasnya membantu manusia lain.

Han Le menjura kepada suheng-nya dan berkata girang, “Jika begitu, aku mengucapkan selamat, Suheng. Dan demi Thian Yang Maha Kuasa, aku pun hendak mencoba sedapat mungkin untuk mencontoh perbuatanmu yang amat mulia ini. Tadi suheng bilang hendak menyampaikan sesuatu yang amat penting, apakah gerangan urusan itu?”

Karena dia sudah lupa lagi akan hal-hal dahulu mengenai diri Lu Kwan Cu, Bu Pun Su kembali pula kegembiraannya.

“Sute, aku perlu sekali bantuanmu, juga bantuan semua orang yang masih berbangsa dan berkebudayaan.”
“Eh, apakah yang terjadi, Suheng?” tanya Han Le terkejut, karena kata-kata suheng-nya ini terdengar menyeramkan. 

Bu Pun Su mengajak sute-nya duduk di dekat pantai Sungai Huang-ho di mana tumbuh sebatang pohon besar yang akarnya bergantungan dan bermain-main di permukaan air sungai. Tempat itu amat indahnya dan setiap orang, apa lagi para pemancing ikan, pasti akan suka sekali duduk di situ.

“Sute, di dunia kang-ouw sudah terjadi hal yang hebat sekali dan amat membahayakan kedudukan orang-orang kang-ouw yang termasuk golongan putih. Apa lagi bagi mereka yang menganut sesuatu kepercayaan atau agama.”
“Kenapa, Suheng? Bukankah golongan Mo-kauw (Agama Sesat) pada hakekatnya tidak begitu kuat dan selalu dapat dikendalikan oleh golongan Beng-kauw (Agama Asli), ada pun golongan Beng-kauw walau pun agama dan kepercayaannya berlainan dan banyak sekali macamnya, akan tetapi dapat menjaga kerukunan dan menghormati kepercayaan masing-masing?”
“Betul kata-katamu itu, akan tetapi hal itu adalah keadaan pada beberapa tahun yang lalu. Memang jarang ada orang kang-ouw yang mengetahui kejadian ini, karena hal itu mereka sembunyikan dan selalu dijaga penuh rahasia agar jangan sampai bocor.”
“Eh, apa sih sebetulnya yang terjadi, Suheng? Aku menjadi tertarik dan ingin sekali lekas mendengar penjelasanmu.”

Bu Pun Su lalu menceritakan apa yang telah ia ketahui. Di dalam dunia kang-ouw terbagi menjadi dua golongan yang biasanya disebut golongan putih dan hitam. Golongan putih adalah para pendekar atau mereka yang memiliki kegagahan dan yang sepak terjangnya selalu bersih, sebaliknya golongan hitam adalah mereka yang selalu disebut pengikut hek-to (jalan hitam) atau lebih tepat lagi orang-orang yang mempunyai pekerjaan jahat seperti para perampok, bajak-bajak, maling, copet dan lain-lain. Antara kedua golongan itu telah dapat diselesaikan dengan kemenangan pihak golongan putih.

Untuk dapat mengendalikan golongan hitam ini banyak tokoh besar dunia kang-ouw yang sengaja menjadi perampok atau maling, yakni menjadi ketuanya dan selalu mengawasi sepak terjang anak buahnya sehingga mereka itu tidak menyeleweng, yakni dengan lain kata, tidak merampok atau mengganggu orang-orang yang dianggap tak patut diganggu. Bagi orang-orang gagah di waktu itu, merampok harta orang kaya yang pelit, membunuh mati orang yang berwatak jahat dan kejam, dianggap sebagai perbuatan yang bersih dan mulia juga.

Pendeknya, waktu itu golongan penjahat pun terpecah dua, yakni jahat yang dilakukan demi memberantas kejahatan, dan jahat sebab memang pada hakekatnya jahat dan keji. 
Golongan-golongan ini hanya kecil saja, atau boleh disebut golongan perorangan yang meliputi tokoh-tokoh yang hidup menyendiri.

Tapi ada pula golongan-golongan besar seperti perkumpulan-perkumpulan, dan terutama sekali perkumpulan agama dan partai-partai besar persilatan yang tak lepas dari agama dan kepercayaan, dan justru golongan-golongan besar ini menjadi induk dari golongan-golongan kecil. Dan di dalam golongan-golongan besar ini terdapat perpecahan pula!

Perpecahan ini tadinya meluas sehingga antara satu partai dengan partai lainnya terjadi bentrokan dan permusuhan hebat, hanya dikarenakan kepercayaan atau agama mereka berlainan. Akan tetapi, ratusan yang lalu, ketika muncul tokoh-tokoh besar seperti Tiat Mouw Couwsu dan lain-lain tokoh dari See-thian (Dunia Barat), bentrokan-bentrokan ini dapat diselesaikan dengan jalan rukun, sungguh pun kepercayaan mereka, bahkan ajaran limu silat mereka berlainan. Dan oleh tokoh-tokoh besar itu diletakkan garis yang memisahkan antara golongan yang disebut penganut Beng-kauw serta mereka yang menganut Mo-kauw.

Golongan Beng-kauw atau agama asli ini tentu saja mempunyai anggota paling banyak. Partai persilatan seperti Siauw-lim-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain, semua menyebut diri sebagai golongan Beng-kauw. Hal ini tentu saja dapat dimengerti karena siapakah yang mau menyebut dirinya bukan penganut ‘agama asli’? Golongan ini terdiri dari partai-partai besar yang menganut Agama Buddha, ajaran Locu atau To-kauw, penganut ajaran Khong Hu Cu, penganut Kwan Im Pouwsat, dan lain-lain. 

Siapakah gerangan yang termasuk agama Mo-kauw? Sebetulnya tak ada golongan yang mau mengaku sebagai penganut Agama Sesat, akan tetapi golongan-golongan yang tak beragama atau orang-orang kasar, atau mereka yang pernah melakukan pelanggaran dan dianggap jahat, mereka ini yang oleh golongan Beng-kauw disebut sebagai golongan Kaum Sesat!

Mereka ini sebagian besar merupakan kelompok orang yang menyembunyikan diri, yang bersakit hati dan karena mereka didesak ke sudut oleh golongan yang menganggap diri bersih, mereka ini dengan sengaja kemudian berlaku keaneh-anehan, sengaja mereka membentuk sekumpulan tokoh-tokoh yang lihai ilmu silatnya, memisahkan diri dan tidak mau peduli lagi dengan urusan agama.

Mereka lalu melakukan apa saja yang mereka suka, dan hidup berkeliaran tidak tentu tempatnya. Akan tetapi mereka tidak pernah mendengar atau mencari perkara dengan golongan Beng-kauw, karena maklum bahwa golongan ini memiliki banyak orang pandai.

Akan tetapi, jangan dikira bahwa golongan Mo-kauw ini sedikit jumlahnya anggotanya. Mereka makin lama makin banyak, sebagian besar terdiri dari orang-orang yang putus asa, sakit hati, dan orang-orang yang berwatak aneh.

Beberapa tahun yang lalu, muncullah tiga orang aneh dari See-thian (Dunia Barat) yang sebentar saja sudah dapat merebut kekuasaan di golongan Mo-kauw. Ketiga orang ini mempunyai kepandaian yang amat tinggi, tidak saja kepandaian ilmu silat mereka amat tinggi, juga mereka adalah ahli-ahli hoatsut (ilmu sihir) yang aneh. Dalam beberapa bulan saja mereka dapat mengangkat diri di dalam golongan Mo-kauw sehingga semua orang penganut agama sesat ini menganggap mereka bertiga sebagai ketua atau pemimpin.

Tiga orang aneh ini tahu akan keadaan orang-orang kang-ouw golongan Mo-kauw yang sangat terdesak dan dianggap orang-orang jahat oleh orang-orang kang-ouw umumnya. Maka, dengan menggunakan rasa dendam dan sakit hati ini, mereka sebentar saja dapat membentuk sebuah perserikatan yang amat kuat. Hal ini terjadi tanpa banyak ribut-ribut, karena memang kehidupan para penganut Mo-kauw ini tersembunyi, tidak diketahui oleh masing-masing orang kang-ouw.

Apa bila persoalannya sampai di situ saja, kiranya tidak akan ada perubahan dan tidak akan menggegerkan. Akan tetapi ternyata bahwa tiga orang aneh ini mempunyai niat dan cita-cita yang lebih besar. Mereka ingin menguasai seluruh dunia kang-ouw, juga ingin menaklukkan partai-partai besar dan ingin mengangkat diri menjadi ketua perkumpulan yang paling berpengaruh di Tiongkok!

Setelah orang-orang Mo-kauw ini berada di bawah pimpinan mereka, terjadilah hal-hal yang aneh di dunia kang-ouw. Kitab pelajaran limu silat yang amat dipuja-puja oleh partai Siauw-lim-pai, yakni kitab peninggalan dari Tiat Mouw Couwsu, pada suatu hari tiba-tiba telah lenyap tanpa meninggalkan bekas!

Selagi Siauw-lim-pai geger dan semua tokoh Siauw-lim-pai berusaha mencari kitab yang hilang ini, tiba-tiba saja puncak Kun-lun-pai juga geger karena hilangnya pedang pusaka Pek-kong-kam yang ditaruh di ruangan suci kelenteng partai besar itu!

Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai merupakan partai-partai besar yang sudah berpuluh tahun terkenal sebagai partai persilatan yang berpengaruh dan memiliki banyak orang pandai. Oleh karena itu, kehilangan dua benda pusaka ini tentu saja membuat mereka menjadi amat penasaran dan juga malu.

Mereka menjaga rapat peristiwa ini agar jangan sampai tersiar di luaran, dan di samping itu mereka mengerahkan orang-orang pandai untuk mencari benda pusaka yang lenyap itu. Akan tetapi, betapa pun rapat mereka menjaga rahasia, berita itu tetap bocor juga dan sebentar saja seluruh kalangan kang-ouw mendengar bahwa kitab peninggalan Tiat Mouw Couwsu dari Sauw-lim-pai beserta pedang pusaka Pek-liong-kiam dari Kun-lun-pai telah dicuri orang.

Ini merupakan hal yang menggegerkan pula, karena biasanya tidak seorang pun anggota Siauw-lim-pai atau Kun-lun-pai yang berani membocorkan hal yang dirahasiakan. Maka timbullah dugaan bahwa kejadian ini memang sengaja dibocorkan oleh orang-orang atau seseorang yang melakukan pencurian itu. Akan tetapi apa kehendak mereka?

Tokoh besar di dunia persilatan, yang baru belasan tahun muncul akan tetapi namanya sudah dijunjung tinggi serta disegani dengan penuh kekaguman dan hormat oleh semua ketua partai besar, yakni Bu Pun Su mendengar pula akan hal ini. Ia cepat menyelidiki. Dengan kepandaiannya akhirnya Bu Pun Su menaruh pikiran curiga terhadap golongan Mo-kauw. Bahkan ia mendengar pula akan adanya tiga orang aneh di golongan Mo-kauw ini yang kabarnya memiliki kepandaian luar biasa tingginya. 

“Demikianlah, Sute,” kata Bu Pun Su kepada Han Le sesudah menuturkan itu semua. “Kiranya tidak akan meleset terlalu jauh dugaanku bahwa tiga orang aneh itu mempunyai hubungan dengan kedua pencurian ini. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang berani dan begitu gegabah mencuri dua barang pusaka keramat yang dipuja-puja oleh Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai? Dan aku mendengar kabar pula bahwa Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko, itu tokoh Mo-kauw yang berkepandaian tinggi dan bertabiat ganas, telah diambil murid oleh tiga orang itu. Apa bila Hek Pek Mo-ko dua bersaudara yang berkepandaian begitu tinggi masih menjadi murid mereka, dapat diduga bahwa kepandaian mereka memang benar tinggi sekali. Selain ini, aku masih mendengar kabar lagi bahwa kecuali Hek Pek Mo-ko, mereka bertiga masih memiliki seorang murid perempuan yang jauh lebih jahat, bahkan lebih pandai dari pada Hek Pek Mo-ko. Kalau pihak Mo-kauw mempunyai begitu banyak orang-orang pandai, sedangkan sepak terjang mereka selalu tersembunyi, aku merasa kuatir sekali.”

“Suheng, urusan itu sebenarnya tidak amat besar, tetapi kenapa tadi Suheng menyebut-nyebut mengenai kebangsaan dan kebudayaan? Apa hubungannya kehilangan kitab dari Siauw-lim-pai dan pedang dari Kun-lun-pai itu dengan kebangsaan dan kebudayaan?”

Bu Pun Su menarik napas panjang, “Belum kuceritakan semua keterangan yang dapat kukumpulkan, Sute. Aku mendengar berita yang tentu saja masih belum dapat dipercaya betul, bahwa tiga orang yang kini sudah menguasai golongan Mo-kauw itu, bercita-cita untuk menaklukkan semua orang kang-ouw di negeri ini. Mereka adalah orang-orang dari barat, dan kalau mereka berhasil menaklukkan semua orang kang-ouw, dan hal ini bukan tidak mungkin melihat kelihaian mereka yang kudengar memang luar biasa sekali, tentu saja urusan ini dekat sekali hubungannya dengan kebangsaan dan kebudayaan kita. Apa kau tidak ingat betapa orang-orang asing selalu mengilar dan ingin mencaplok negara kita? Kalau sampai orang-orang kang-ouw berada di bawah kekuasaan ketiga orang ini sehingga dapat mereka perintah dan pergunakan, apa sukarnya merampas negara kita? Dan kalau sampai kepandaian mereka itu dapat disebar dan menggantikan ilmu silat dari bangsa kita, bukankah berarti kebudayaan kita akan terpengaruh oleh kebudayaan asing pula? Ini bukanlah soal kecil, Sute, karenanya aku sengaja mencarimu supaya kau suka membantuku, demikian pula kita harus mendatangi semua ketua partai persilatan itu untuk bersama-sama menghadapi mereka itu.”

“Siapa sebetulnya mereka itu, Suheng? Dan orang-orang macam apakah mereka itu?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi aku sudah rnendapat keterangan serba terbatas mengenai mereka. Konon mereka itu adalah saudara-saudara segolongan. Yang pertama bernama atau berjuluk Hek-te-ong (Raja Tanah Hitam), yang ke dua berjuluk Pek-in-ong (Raja Awan Putih) dan yang ke tiga berjuluk Cheng-hai-ong (Raja Laut Hijau). Mereka datang dari barat dan begitu datang mereka lalu merobohkan semua tokoh Mo-kauw sehingga para tokoh Mo-kauw itu takluk dan mengangkat mereka menjadi ketua serta menyebut mereka Thian-te Sam-kauwcu (Tiga Ketua Agama Bumi dan Langit). Selain itu, rnereka mengajar agama baru yang berpusat pada penyembahan dan pemujaan terhadap Bumi, Langit dan Laut. Selanjutnya aku tidak mendengar jelas dan karenanya aku ingin menyelidikinya sendiri.”

“Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Suheng?” 
“Aku hendak mengajak engkau untuk membantuku membubarkan sarang murid-murid dari Thian-te Sam-kauwcu.”
“Sarang dari muridnya? Di sini?” 
“Ya, di lembah Huang-ho di sebelah selatan itu. Kira-kira lima puluh li dari sini. Thian-te Sam-kauwcu menyebarkan anak buahnya untuk mendirikan cabang di mana-mana untuk membujuk dan mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw. Dengan secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa muridnya, Hek Pek Mo-ko, bersarang di daerah ini. Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian mereka, namun mendengar akan kehebatan kepandaian Thian-te Sam-kauwcu, aku tak mau berlaku sembrono, lebih menguntungkan kalau kau ikut serta.”

Han Le merasa agak terheran. Dia percaya akan kepandaian suheng-nya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada kepandaiannya, tapi mengapa suheng-nya mengajaknya?

“Suheng, bukankah kau mengajak aku hanya untuk menjadi saksi agar sepak terjangmu terhadap mereka itu tidak akan disalah tafsirkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw?”

Bu Pun Su tersenyum. “Kau makin cerdik, Sute. Memang demikianlah. Kita tahu bahwa sejak dulu Hek Pek Mo-ko biar pun menjadi tokoh Mo-kauw yang amat terkenal, namun belum pernah dua orang itu mengganggu kita orang-orang kang-ouw, bahkan mereka dapat disebut sebagai tokoh-tokoh Mo-kauw yang selalu menjauhkan diri dan menjaga supaya jangan sampai timbul bentrokan antara mereka dengan Beng-kauw. Akan tetapi sekarang aku hendak menyelidiki dan kalau perlu membasmi sarang mereka, maka amat baik kalau kau ikut menyaksikannya.”

Berangkatlah dua orang sakti ini menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su. Tempat yang dimaksudkan itu adalah sebuah dusun di pinggir Sungai Huang-ho, yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil dan kelihatannya menyeramkan. Begitu kedua orang ini tiba di luar dusun, mereka berjalan biasa saja.

Berturut-turut beberapa orang dusun, ada yang berpakaian seperti petani dan ada pula seperti nelayan, bertemu dengan mereka. Setiap orang dusun ini melayangkan pandang mata dan mereka ini kelihatan curiga. Bahkan ada beberapa orang nelayan yang masih muda dan kelihatannya kuat-kuat diam-diam mengikuti Han Le dan Bu Pun Su. Tentu saja dua orang sakti ini mengetahui hal itu, akan tetapi mereka pura-pura tidak melihat dan berjalan dengan biasa dan tenang.....

Sebuah kelenteng besar yang berada di dusun itu sungguh tidak sesuai dengan keadaan rumah-rumah penduduk di sekitarnya yang kecil lagi miskin. Kelenteng ini agaknya belum lama diperbarui dan anehnya, yang kelihatan membersihkan kelenteng itu bukanlah para hwesio seperti pada kelenteng-kelenteng lain, akan tetapi orang-orang dusun, lelaki dan perempuan yang bekerja di halaman depan, di kanan kiri dan di dalam kelenteng itu!

Pada waktu melihat Bu Pun Su dan Han Le memasuki pekarangan kelenteng, mereka ini segera melarikan diri ke dalam kelenteng seperti orang ketakutan.

Bu Pun Su tersenyum dan berbisik kepada Han Le, “Lihat, Sute, betapa besar pengaruh dan kekuasaan mereka. Agaknya rakyat dusun juga terkena tipu daya mereka dan sudah mulai memeluk agama baru itu.”

Han Le memandang ke dalam kelenteng. Dari pintu yang terbuka, nampak tiga buah arca sebesar manusia, berupa tiga orang laki-laki tua yang pakaiannya seperti hwesio-hwesio dari Tibet, bertubuh tinggi besar dan angker. Yang tengah benar-benar amat tinggi besar seperti raksasa, yang berdiri di kiri agak kurus sehingga mukanya seperti tengkorak, ada pun yang berdiri di kanan punggungnya bongkok dan matanya sipit sekali seperti meram.

“Itulah agaknya patung-patung Thian-te Sam-kauwcu yang dipuja-puja oleh pengikutnya,” kata Bu Pun Su pula kepada Han Le.

Dari pintu dalam muncullah dua orang dan Han Le hampir tertawa geli ketika dia melihat kedua orang itu. Yang seorang bertubuh pendek dan kate sama sekali, telinganya besar bagai telinga gajah, pakaiannya serba hitam. Ada pun orang yang ke dua bertubuh tinggi besar, telinganya kecil seperti telinga tikus, sedangkan pakaiannya serba putih.

Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari mata mereka, mudah bagi Han Le untuk menduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi. Juga, melihat pakaian mereka biar pun ia belum pernah bertemu dengan dua orang ini, Han Le dapat menduga bahwa mereka tentulah Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko.

Hek Mo-ko yang bertubuh kecil pendek itu tertawa bergelak melihat dua orang pendekar itu.

“Ha-ha-ha-ha, selamat datang, Bu Pun Su dan Han Le, Ji-wi Taihiap! Benar-benar kami mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Ji-wi ini, dan ketiga orang guru besar kami tentu akan berterima kasih sekali!”

Bu Pun Su dan Han Le tertegun. Bagaimana dengan sekali pandang saja iblis hitam kate itu dapat mengenali mereka? Padahal selamanya mereka belum pernah bertemu muka dengan sepasang iblis hitam putih ini dan keadaan Bu Pun Su mau pun Han Le tidak sedemikian aneh seperti Hek Mo-ko sehingga mudah dikenal orang.

Berbeda dengan Hek Mo-ko yang senang tertawa dan mukanya lucu, Pek Mo-ko selalu bersungut-sungut dan wajahnya murung.

“Kalian ini orang-orang Beng-kauw ada urusan apakah mengunjungi kami yang kalian anggap sebagai orang-orang busuk dari Mo-kauw?” tanyanya sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang sipit.

Bu Pun Su tidak biasa memutar-mutar omongan dan dia selalu berbicara dan bertindak secara langsung. Sambil tersenyum ia berkata terus terang,

“Hek Pek Mo-ko, baru kali ini kita kebetulan saling bertemu dan keadaan kalian ternyata tetap dan sesuai sekali dengan nama kalian yang terkenal jahat dan aneh. Ketahuilah, aku dan sute-ku ini datang ke sini karena kami mendengar tentang adanya tiga orang See-thian yang kini mencengkeram Mo-kauw, tiga orang See-thian yang sombong dan bercita-cita menaklukkan dunia kang-ouw kita. Aku mendengar pula mengenai hilangnya kitab rahasia dari Siauw-lim-pai dan pedang pusaka dari Kun-lun-pai, dan aku juga telah mendengar bahwa banyak tokoh Mo-kauw yang tadinya biar pun berbeda paham dengan Beng-kauw namun tetap menjaga kegagahan, tapi sekarang bersaing dan berebut untuk menikah dengan gadis-gadis muda, yang tentu saja dipaksanya! Bahkan aku mendengar pula bahwa kalian iblis-iblis tua ini pun telah menikah.”

Pek Mo-ko mengeluarkan suara gerengan dari tenggorokannya, akan tetapi Hek Mo-ko tertawa geli. Suara ketawanya mula-mula rendah dan perlahan, akan tetapi makin lama semakin meninggi dan nyaring sehingga menyakitkan telinga. Mendengar ini saja Han Le maklum bahwa lweekang dari Hek Mo-ko ini amat tinggi sehingga dia sendiri belum tentu dapat menandinginya.

“Bu Pun Su, baru kali ini aku mendengar kau menaruh perhatian kepada nasib golongan Mo-kauw! Ada apakah kau mencampuri urusan dunia orang golongan kami? Memang ketiga guru besar kami sudah datang, mereka sengaja datang dari barat untuk memberi bimbingan kepada kami dan untuk menjaga agar kami tidak selalu dihina dan dipandang rendah oleh golongan lain. Apakah kau iri hati? Ha-ha-ha, agaknya kau benar-benar iri hati, apa lagi tentang pernikahan-pernikahan kami dengan gadis-gadis muda yang cantik manis, karena kau sendiri sampai tua tidak laku, ha-ha-ha!”
“Ngaco!” Han Le membentak marah. “Bagaimana jawabanmu mengenai hilangnya kitab rahasia Siauw-lim-pai dan pedang pusaka Kun-lun-pai?”

Hek Mo-ko memandang kepada Han Le, lalu dia tersenyum sindir. “Hilangnya kitab dan pedang, ada hubungan apakah dengan kami? Kau dan suheng-mu ini terkenal sebagai orang-orang sakti, masa untuk mencari benda-benda yang hilang harus bertanya kepada kami? Carilah sendiri kalau memang pandai.”

“Baiklah, Hek Pek Mo-ko, aku akan mencari ke dalam kelenteng ini!” kata Bu Pun Su.
“Jangan kau berani menginjak kotor tempat suci kami...!” kata Pek Mo-ko marah dan dia bergerak untuk menghalangi.

Akan tetapi ia segera melongo karena gerakan Bu Pun Su luar biasa cepatnya sehingga sebelum Pek Mo-ko tiba di depan pintu untuk menghadang, Bu Pun Su sudah berkelebat masuk ke dalam kelenteng!

Pek Mo-ko hendak mengejar ke dalam, akan tetapi mendadak tangannya dipegang oleh Hek Mo-ko. “Sute, tak perlu dikejar, biarkanlah dia melihat-lihat tempat kita!”

Tadinya Han Le sudah bersiap-siap untuk bertempur, akan tetapi melihat mereka tidak jadi mengganggu Bu Pun Su, ia pun diam saja, berdiri tenang sambil tersenyum.

Dengan cepat sekali Bu Pun Su memasuki kelenteng. Tiga orang yang agaknya menjadi pelayan atau pembantu Hek Pek Mo-ko, yaitu orang-orang lelaki yang berpakaian seperti pendeta dan gerakannya cepat dan kuat, lantas maju menubruknya.

Akan tetapi mereka berseru kaget sekali dan bulu tengkuk mereka berdiri ketika tiba-tiba mereka bertiga itu terjengkang ke belakang sebelum tangan mereka menyentuh pakaian Bu Pun Su, seakan-akan ada tenaga aneh keluar dari pendekar sakti ini yang mendorong mereka ke belakang!

Bu Pun Su tidak pedulikan mereka lagi, terus ia menyelidiki keadaan di dalam kelenteng dengan mata yang awas dan tajam sekali. Setiap kamar diselidikinya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kalau kitab serta pedang itu disembunyikan di dalam kelenteng, kiranya tidak akan terlepas dari pandang mata pendekar ini.

Di dalam dua kamar, ia melihat dua orang wanita cantik yang masih muda dan bermuka pucat. Mereka ini tidak menjerit melihat dia datang, hanya memandangnya dengan mata yang terbelalak.

“Apakah kau isteri Hek Mo-ko?” tanyanya kepada wanita di dalam kamar pertama. 

Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Aku isterinya Pek Mo-ko, engkau siapakah berani berlancang memasuki kamarku?” Kemudian wanita ini tertawa menyeringai hingga muka yang tadinya cantik ini berubah seperti muka iblis.

Bu Pun Su berdebar kaget. Ternyata isteri Pek Mo-ko ini agak miring otaknya! Dia tidak bertanya lebih lanjut dan ketika dia bertemu dengan wanita ke dua di kamar lainnya, dia bertanya pula,

“Hemm, kau agaknya isteri Hek Mo ko.”
“Benar,” wanita itu menjawab, “Kau siapakah dan bagaimana suamiku mengijinkan kau masuk ke sini?”

Bu Pun Su sebetulnya segan untuk bicara dengan isteri orang lain, akan tetapi melihat wanita ini masih amat muda dan cantik, sedangkan Hek Mo-ko demikian buruk rupa dan setengah tua, ia tak dapat menahan hatinya untuk tidak bertanya.

“Apakah Hek Mo-ko telah menculik dan memaksamu menjadi isterinya?”

Untuk sejenak wanita itu hanya diam saja, kemudian dia berdiri dan berkata marah, “Kau ini manusia dari manakah begini kurang ajar? Aku menikah dengan suamiku secara sah dan baik-baik, ada sangkut-paut apakah dengan kau maka kau bertanya-tanya?”

Bu Pun Su merasa seperti ditampar pipinya. Mukanya menjadi merah sekali. Inilah hal yang tidak disangka-sangkanya sama sekali dan baru sekarang ini dia melihat atau dapat menduga bahwa isteri Hek Mo-ko ini sedang mengandung.

“Maaf, maaf...,” katanya perlahan dan ia lalu keluar lagi dari kamar itu.

Setelah puas menyelidiki di dalam kelenteng dan tidak mendapatkan sesuatu, dia segera keluar lagi. Setibanya di ruangan luar, dia berdiri menghadapi tiga patung yang sebesar manusia itu.

Buatan patung ini begitu halus hingga benar-benar menyerupai manusia. la memandang kepada wajah patung yang mewakili Thian-te Sam-kauwcu itu untuk memperhatikan tiga orang ini. Mereka benar-benar kelihatan angker dan dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa tiga orang ini bukanlah orang sembarangan.

Tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. Siapa tahu kalau-kalau dua benda yang dicuri dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai itu disembunyikan di dalam patung-patung ini?

Ia pun melangkah maju dan meraba pundak patung Pek-in-ong yang berdiri di kiri, yakni patung yang tinggi kurus mukanya seperti tengkorak. Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari mulut patung itu menyambar keluar sinar hitam yang menyerang ke arah leher dan muka Bu Pun Su!

Pendekar ini bukan sembarangan ahli silat, melainkan seorang sakti yang telah mewarisi ilmu silat dan ilmu-ilmu aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Seorang ahli silat tinggi lainnya belum tentu dapat menghindarkan serangan tiba-tiba dari mulut patung itu, akan tetapi Bu Pun Su dengan sangat tenang miringkan kepalanya sehingga sinar hitam itu menyambar lewat.

Ia mencium bau yang amat amis, maka diam-diam ia bergidik. Tahulah Bu Pun Su bahwa yang menyambar lewat tadi adalah segenggam jarum-jarum halus berwarna hitam yang mengandung bisa yang amat jahat. 

Bu Pun Su tersenyum. Dia maklum bahwa dua patung yang lain tentu mengandung alat rahasia pula, akan tetapi dia bukan Bu Pun Su kalau merasa gentar. Orang lain mungkin akan merasa khawatir dan tidak berani mengganggu dua patung yang lain, akan tetapi Bu Pun Su bahkan tertarik dan ingin sekali mengetahui bagaimana cara dua patung yang lain akan menyerangnya!

Ia mau coba-coba dan ini pun tidak aneh, karena orang seperti Bu Pun Su ini memang sudah biasa menantang dan bermain-main dengan maut! Dia lalu menghampiri patung di kanan, yakni patung dari Ceng-hai-ong yang bertubuh kurus bongkok dan matanya sipit itu.

Dengan tenang Bu Pun Su menepuk pundak patung itu. Dan secepat kilat kedua tangan patung itu bergerak, dengan kukunya yang panjang patung itu mencengkeram ke depan, kedua tangan menyambar dari kanan kiri!

“Aha, kau ahli gulat kiranya!” Bu Pun Su mengejek sambil bergerak melangkahkan kaki mundur, mengelak dari cengkeraman itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari jari-jari tangan itu menyambar keluar benda cair berwarna hijau yang baunya harum! Bu Pun Su kali ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan ujung lengan baju sebelah kiri dari mana keluar tenaga Pek-in Hoat-sut yang mengepulkan uap putih, sehingga benda cair itu terpercik kembali dan membasahi muka patung.

“Hemm, kiranya semua ahli racun yang berbahaya,” pikir Bu Pun Su.

Ia pikir bahwa patung yang berada di tengah, yang amat menyeramkan dan tinggi besar itu, tentulah yang paling lihai. Akan tetapi dia tidak merasa gentar, bahkan gembira dan sambil tersenyum dia melangkah menghampiri patung ini.

“Coba perlihatkan kelihaianmu!” katanya sambil menepuk dada patung tinggi besar ini. Patung ini besar dan tinggi sekali sehingga Bu Pun Su hanya sampai di leher tingginya.

Begitu tangan kanan Bu Pun Su menepuk dada patung, terdengar suara keras dan dada patung itu tiba-tiba terbuka, dari mana keluar menyambar uap hitam yang menyerang ke depan. Ini masih disusul pula dengan bergeraknya kaki kanan patung yang melakukan tendangan kilat ke depan, kemudian dari mata, hidung, telinga serta mulut patung itu menyambar keluar asap hitam sedangkan kedua tangan memukul pula ke depan.

Inilah serangan sekaligus yang sangat luar biasa dan berbahaya sehingga Bu Pun Su sendiri menjadi terkejut. Pendekar sakti ini tidak berani menangkis, melainkan melompat mundur cepat sekali sambil menggoyang-goyang kepalanya.

“Kau jahat sekali... jahat sekali...” Setelah berkata demikian, ia lalu melompat keluar dari kelenteng.

Ia sudah merasa puas karena pada saat tangannya menepuk patung-patung tadi, ia telah mengerahkan lweekang-nya sehingga apa bila di sana tersembunyi benda keras seperti pedang mustika, tentu bunyi pedang itu akan terdengar. Namun tadi ia hanya mendengar suara mendengung tanda bahwa di dalam patung itu hanya berisi hawa, maka ia sudah mengerahkan tenaga dan merusak patung itu secara diam-diam.

Dia benci melihat ketiga patung itu, bukan benci kepada orang karena macamnya, akan tetapi benci kalau mengingat betapa tiga orang dari barat ini sudah menguasai Mo-kauw dan menyebarkan pelajaran atau agama baru yang sesat. Di mana ada pendeta-pendeta suci yang menganjurkan pemeluk-pemeluk agamanya memuja dan menyembah mereka sendiri?

Setibanya di luar kelenteng, Bu Pun Su disambut oleh Pek Mo-ko dengan muka merah. “Bu Pun Su kau sudah menghina kami, kau sudah mengotori kelenteng kami yang suci. Meski pun namamu sudah terkenal di seluruh kolong langit, jangan kira bahwa aku Pek Mo-ko takut melawanmu!”

“Habis, kau mau apa?” Bu Pun Su bertanya. “Seperti sudah kukatakan tadi, aku datang buat mencari kitab dan pedang dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang hilang dan terus terang saja aku mencurigai Thian-te Sam-kauwcu. Akan tetapi sayang aku tidak dapat menemukannya di dalam kelenteng ini.”

Terdengar Hek Mo-ko tertawa mengejek. “Kau memang gatal tangan dan suka sekali ikut mencampuri urusan orang lain. Bu Pun Su, setelah kau datang dan mengacau kelenteng kami, sebagai tuan rumah terpaksa kami harus membela diri dari hinaan ini. Kedatangan kalian mengacau kelenteng ini berarti sebuah tantangan, kalau saja kami tidak melayani, bukankah kami akan ditertawai orang? Nah, bersiaplah, kita boleh main-main sebentar.”

Sambil berkata demikian, Hek Mo-ko beserta Pek Mo-ko masing-masing mengeluarkan senjata mereka. Dua orang Iblis Hitam Putih ini amat lihai dan senjata mereka juga bukan senjata sembarangan.

Tangan kanan mereka memegang sebatang pedang yang ujungnya bercabang. Pedang ini bukan saja sangat ampuh dan kuat karena terbuat dari bahan yang baik, akan tetapi juga ujungnya yang bercabang itu dapat digunakan untuk mengait dan merampas serta merusak senjata lawan.

Akan tetapi, betapa pun lihainya pedang di tangan kanan, masih lebih lihai lagi senjata aneh yang berada pada tangan kiri mereka. Senjata ini berupa seuntai tasbeh dari logam hitam.

Tasbeh ini dapat dimainkan begitu saja, akan tetapi sambungannya dapat pula dilepas sehingga merupakan sebuah pian atau senjata rantai yang hebat. Senjata ini juga masih bisa digunakan dengan cara lain, yakni batu-batu tasbeh itu dapat diloloskan keluar dari untaiannya dan dipergunakan sebagai senjata yang berbahaya!

Melihat sikap Hek Pek Mo-ko yang menantang ini, Han Le mendahului suheng-nya. Dia cepat melompat ke depan menghadapi mereka sambil mencabut pedangnya yang jarang keluar dari sarung itu.

“Hek Pek Mo-ko, kalian berdua dan kami pun berdua. Biarlah kita mencoba kepandaian masing-masing, seorang dari pada kalian boleh melawan aku, ada pun yang seorang lagi nanti menghadapi Suheng Bu Pun Su.”
“Hek Pek Mo-ko dua saudara tidak pernah berpisah,” Hek Mo-ko berkata. “Kami sudah bersumpah hidup bersama mati berdua, dalam pertempuran kami selalu maju bersama.”
“Itu tidak adil!” kata Han Le. Dia tidak gentar menghadapi seorang di antara mereka akan tetapi kalau dikeroyok dua, selain berat juga tidak adil. 
“Suheng, biarlah sekali ini aku menghadapi dia sendiri!” kata Pek Mo-ko yang berwatak berangasan dan baru saja dia berkata demikian, tasbeh di tangan kirinya sudah bergerak menyambar kepala Han Le.
“Bagus!” seru pengemis sakti ini. Cepat dia mengelak sambil menggerakkan pedangnya yang menusuk ke arah ulu hati lawannya.

Akan tetapi Pek Mo-ko ternyata memiliki gerakan yang gesit sekali. Tusukan pedang ini segera dia tangkis dengan pedangnya yang berujung aneh itu. Cabang ujung pedangnya menempel dan diputar demikian rupa untuk mengait badan pedang Han Le dan hendak mematahkannya.

Akan tetapi Han Le bukanlah murid Ang-bin Sin-kai kalau ia tidak dapat menghindarkan diri dari serangan lawan ini. Dengan gerakan Sian-jin Khai-in (Dewa Membuka Awan) ia melakukan gerakan ‘membuka’ dari ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat yang diajarkan oleh Ang-bin Sin-kai.

Pedangnya yang terkait itu secara aneh sudah membuka serangan lawan sehingga Pek Mo-ko bukannya dapat merampas atau mematahkan pedang lawannya, bahkan telapak tangannya merasa panas sekali sehingga dia cepat-cepat menarik pulang pedangnya. Sebagai gantinya, kembali tasbeh menyambar ke lambung Han Le.

Han Le terkejut sekali. Tidak disangkanya bahwa lawan ini mampu bergerak secepat itu, cepat melakukan serangan lanjutan begitu serangan pertama ditangkis. Dia lalu memutar pedangnya dan mengerahkan semua tenaga dan kepandaian untuk menghadapi lawan yang amat lihai ini. Di lain pihak, secara diam-diam Pek Mo-ko harus mengakui kelihaian kiam-hoat lawannya.

Tidak saja sangat lihai, akan tetapi juga aneh sekali dan memiliki gerakan yang otomatis setiap kali menghadapi desakannya. Ia tentu saja tidak tahu bahwa selain telah mewarisi Hun-khai Kiam-hoat dan ilmu-ilmu silat tinggi dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai, juga Han Le secara tekun telah mempelajari lukisan-lukisan di Pulau Pek-hio-to sehingga biar pun hanya kulitnya, ia telah sedikit-sedikit mempelajari ilmu-ilmu yang lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng! Pelajaran ini membuat gerakan Han Le menjadi otomatis dan matanya amat tajam dapat mengikuti semua arah tujuan serangan lawan.

Pek Mo-ko menggereng keras. Dua senjatanya yang aneh itu diputar cepat, bertubi-tubi dan berganti-ganti melakukan serangan maut. Namun, dengan pedangnya, Han Le dapat membendung gelombang gerakan serangan ini sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertempur, tidak ada yang terdesak. Kepandaian mereka jauh berbeda sifatnya, namun tingkat mereka boleh dikatakan seimbang sehingga pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang amat seru.

Saking penasaran menghadapi lawan yang sangat tangguh ini, Pek Mo-ko melepaskan sambungan tasbehnya sehingga tasbeh ini kini bukan merupakan lingkaran, akan tetapi menjadi seutas pian yang lemas dan panjang.

Pek Mo-ko beserta suheng-nya telah melakukan ratusan pertempuran dan jarang sekali ada orang yang sanggup mengalahkan mereka. Di sebelah barat atau selatan dari Tibet, mereka berdua merupakan sepasang iblis yang ditakuti dan disegani, bahkan golongan-golongan partai persilatan besar di barat seperti Go-bi-pai dan Kun-lun-pai, semuanya mengakui kelihaian Hek Pek Mo-ko. Akan tetapi kini menghadapi Han Le, Pek Mo-ko tak berdaya, bahkan tidak dapat mendesak, sungguh pun ia tidak dapat dikatakan kalah oleh pengemis sakti itu.

Saking marahnya, dalam jurus ke tujuh puluh, Pek Mo-ko berseru keras dan secepat kilat pedangnya membacok dari kanan ke kiri. Pada saat Han Le mengelak, pedang ini cepat sekali membalik dan menyambar ke leher. Inilah gerakan yang tidak terduga-duga, apa lagi ketika tasbeh yang sudah menjadi pian itu menyambar ke lambung!

Han Le maklum bahwa tidak mungkin dia menghindarkan diri dari dua serangan yang dilakukan sekaligus ini, maka dia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang amat lihai dan keberaniannya yang luar biasa. Pedang yang menyambar lehernya ditangkisnya dengan pedangnya sendiri, sambil mengerahkan tenaga ‘menempel’ sehingga begitu dua pedang itu bertemu lalu tidak dapat terpisah kembali, seakan-akan besi berani dengan besi! Ada pun tasbeh yang menyambar ke lambung kirinya, cepat ditangkis dengan tangan kiri, lalu ia mengerahkan tenaga membetot.

Sekarang keadaan dua orang itu benar-benar aneh. Keduanya tidak bergerak, bagaikan patung dalam kuda-kuda yang amat kuat. Tangan kanan yang memegang pedang saling mendorong akan tetapi tangan kiri yang memegang tasbeh saling membetot.

Pertarungan kini beralih kepada pertarungan tenaga lweekang, tapi bukan pertandingan lweekang yang biasa, karena tenaga pada seluruh tubuh disalurkan menjadi dua bagian, atau terpecah menjadi dua. Sebagian disalurkan ke tangan kanan yang mendorong, dan sebagian lagi disalurkan ke tangan kiri yang menarik! Hal ini tidak mampu dilakukan oleh sembarang ahli silat yang tenaga lweekang-nya belum tinggi.

Sampai beberapa puluh detik mereka tak bergerak sama sekali, dan nyata sekali bahwa masing-masing mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya untuk mencuri kemenangan. Sekarang sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi, karena siapa yang mundur lebih dulu, banyak bahaya akan menderita luka hebat! Tidak ada jalan lain lagi kecuali mengerahkan tenaga dan mendesak lawan dengan lweekang.

Pertandingan ini berubah menjadi perjuangan mati hidup! Dari kepala dua orang jago ini telah mengepul uap putih, tanda bahwa mereka telah mengerahkan tenaga yang terakhir!

Tiba-tiba saja Hek Mo-ko tertawa bergelak, “Sute, mengapa kau sekarang begini lemah?” katanya. Dengan ringan dan cepat sekali ia telah meloncat di belakang Pek Mo-ko sambil menepuk-nepuk punggungnya seakan-akan orang yang mencela dan menegur.

Akan tetapi Han Le terkejut bukan main, ketika pada saat Hek Mo-ko menepuk punggung sute-nya, ia merasa tubuhnya bergetar dan kuda-kudanya tergempur! 

“Hek Mo-ko, tidak malukah engkau?” tiba-tiba Bu Pun Su menegur.

Pendekar sakti ini berdiri di belakang Han Le dengan jarak satu tombak lebih. Dia tidak menghampiri sute-nya untuk membantu, melainkan menggerakkan kedua tangan ke arah sute-nya itu seperti orang mendorong, dan dari kedua tangannya keluar uap putih. Inilah ilmu Pek-in Hoat-sut yang tiada taranya di dunia!

Hek Mo-ko yang masih menempelkan tangan di punggung sute-nya tiba-tiba terdorong oleh tenaga yang amat hebat, yang keluar dari sepasang tangan Han Le, sebaliknya Han Le merasa betapa punggungnya kemasukan hawa hangat yang menyegarkan semangat dan tubuh sehingga ia mengerahkan tenaganya lagi.

Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko hendak mempertahankan diri, namun tenaga bantuan dari Bu Pun Su benar-benar hebat sehingga mereka berteriak keras dan tubuh mereka terlempar ke belakang berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih sampai dua tombak lebih! Pedang dan tasbeh di tangan Pek Mo-ko tadi terlepas dari tangan dan jatuh di tanah, menimpa batu sehingga menimbulkan suara berkerontangan!

Baiknya Bu Pun Su tidak berniat mencelakai kedua orang iblis ini sehingga mereka tidak terluka hebat, hanya Hek Mo-ko yang terkena langsung pembalikan tenaga Pek Mo-ko sehingga wajahnya memucat dan mulutnya menyemburkan darah. Akan tetapi, sesudah mengatur napas dia pun pulih kembali. Sambil memandang dengan terheran-heran, Hek Mo-ko menghadapi Bu Pun Su dengan melompat berdiri.

“Bu Pun Su, kau benar-benar lihai sekali. Aku dan sute-ku terima kalah,” katanya sambil menjura.

Akan tetapi Bu Pun Su tidak mempedulikannya, hanya berpaling kepada Han Le. “Sute, kita tidak mempunyai urusan lagi di sini, mari kita pergi.”

Pada saat kedua orang sakti itu hendak pergi, tiba-tiba saja dari atas genteng kelenteng melayang turun bayangan tubuh yang ramping dan tercium bau yang harum. Tahu-tahu seorang wanita sudah berdiri menghadang Bu Pun Su dan Han Le.

Dua orang sakti ini berdiri bengong, tertegun dan takjub, bukan karena kecantikan yang luar biasa dari gadis itu, melainkan melihat cara gadis itu melompat turun dari genteng seakan-akan melayang atau terbang! Inilah menandakan bahwa ginkang dari gadis ini telah mencapai puncak kesempurnaan. Bahkan Bu Pun Su yang menjadi ahli waris dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan memiliki ginkang yang jauh melebihi kebanyakan ahli silat tinggi, menjadi terheran-heran.

Orang yang melayang turun itu adalah seorang gadis cantik sekali, pakaiannya mewah dan indah, rambutnya yang panjang dan hitam disanggul dalam cara yang amat menarik. Kulit mukanya putih kemerahan, nampak halus dan segar, sepasang matanya bagaikan bintang di langit cerah, bibirnya tersenyum-senyum manis sekali. Pendek kata, selama hidupnya, baik Han Le mau pun Bu Pun Su sendiri, belum pernah melihat seorang gadis secantik ini.

Melihat muka dan potongan badannya, orang akan menaksir bahwa paling banyak gadis ini berusia dua puluh tahun. Akan tetapi orang itu akan terkejut dan tidak mau percaya kalau diberi tahu bahwa gadis ini adalah seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih! Inilah dia murid terpandai sekaligus terkasih dari Thian-te Sam kauwcu, yang disebut Bi Sian-li (Bidadari Cantik) Pek Hoa Pouwsat!

Tadinya Han Le dan Bu Pun Su sendiri tidak dapat menduga siapa adanya gadis ini. Akan tetapi ketika Bu Pun Su melihat setangkai bunga yang bentuknya indah dan aneh, berwarna putih seperti salju menghias rambut yang digelung indah itu, tiba-tiba saja dia teringat. Akan tetapi dia masih ragu-ragu sehingga dia kemudian bertanya,

“Apakah kami berhadapan dengan Pek Hoa Pouwsat?”

Gadis itu tersenyum lebar. Bibirnya merah bergerak-gerak sehingga nampaklah deretan gigi yang bersih dan berkilau seperti mutiara.

“Bu Pun Su sungguh-sungguh bermata tajam sekali, sayang kau terlalu ganas dan gatal tangan sehingga kau berani merusak tiga patung dari guru-guruku. Untuk kedosaan ini kau harus menerima hukuman! Hek Pek Sute, mari kita gempur dia yang telah merusak patung Sam-wi Suhu!”

Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu dia telah memegang sepasang siang-kiam (sepasang pedang), kemudian tanpa banyak cakap lagi dia segera menggerakkan kedua pedang itu yang meluncur dan menyerang leher dan dada Bu Pun Su!

Hek Pek Mo-ko sudah gentar menghadapi Bu Pun Su dan mereka sudah maklum pula akan kelihaian pendekar sakti ini, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Bu Pun Su telah merusak patung tiga orang suhu dan pemimpin mereka, Hek Pek Mo-ko menjadi marah sekali. Apa lagi sekarang mereka dibantu pula oleh Pek Hoa Pouwsat, maka hati mereka menjadi tabah dan semangat besar. Sambil mengeluarkan suara mengancam, sepasang iblis hitam putih ini lalu menyerbu dan mengeroyok Bu Pun Su.

Melihat suheng-nya dikeroyok, Han Le tentu saja tidak mau tinggal diam. Dia mencabut pedangnya.

Namun tiba-tiba Bu Pun Su berkata, “Simpan kembali pedangmu, Sute. Perempuan ini lihai sekali, kau takkan menang. Biarkan aku menghadapi mereka bertiga, hitung-hitung mengukur kepandaian Thian-te Sam-kauwcu!”

Han Le percaya akan kata-kata suheng-nya, sebab ia memang melihat betapa sepasang pedang dari Pek Hoa Pouwsat itu amat lihai. Sepasang pedang ini bergerak terus susul menyusul dalam serangannya, merupakan serangan berantai yang tiada habisnya. Akan tetapi dia lebih percaya akan kesaktian Bu Pun Su maka dia cepat melompat ke pinggir dan berdiri menonton pertempuran itu dengan hati tenang. 

Pertempuran itu berjalan seru sekali, jauh lebih ramai dari pada pertempuran antara Pek Mo-ko dan Han Le tadi. Akan tetapi pertandingan ini sebetulnya berat sebelah. Tidak saja Bu Pun Su dikeroyok tiga, juga ketiga orang lawannya menggunakan senjata pasangan sehingga mereka bertiga menggunakan enam buah senjata, ada pun Bu Pun Su sendiri bertangan kosong!

Akan tetapi di sinilah terlihat kelihaian Pendekar Sakti ini! Tiga orang pengeroyoknya itu merupakan tokoh-tokoh dari tingkat tinggi, bisa dibilang duduk pada tingkatan nomor satu dalam deretan tokoh-tokoh persilatan di masa itu, akan tetapi ia masih dapat menghadapi mereka dengan mengandalkan sepasang tangan berikut ujung lengan baju saja!

Di sini terlihat pula kehebatan dari pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng dan terbukti bahwa ilmu silat Pek-in Hoat-sut yang diciptakan oleh Bu Pun Su benar-benar hebat luar biasa. Menghadapi keroyokan tiga orang lawannya, tidak hanya sepasang lengannya saja yang mengeluarkan uap putih, bahkan seluruh tubuhnya diliputi uap putih yang mengandung tenaga mukjijat.

Patut sekali ilmu silat ini dinamakan Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), oleh karena pengaruhnya seperti ilmu sihir saja. Setiap serangan senjata yang digerakkan oleh lawan dengan pengerahan tenaga lweekang tinggi, begitu terbentur oleh sambaran uap putih itu langsung terpental membalik kepada penyerangnya sendiri.

Ini masih belum hebat. Yang membuat Pek Hoa Pouwsat kadang-kadang berseru kaget adalah ketika Bu Pun Su membalasnya dengan serangan yang sama seperti gerakannya sendiri!

Bagaimana Bu Pun Su bisa meniru limu silatnya? Ilmu silat pedang kepunyaan Pek Hoa Pouwsat adalah ilmu asli dari barat, bukan ilmu silat Tiongkok. Sungguh pun sumbernya memang ada hubungan, bahkan boleh dibilang sama, namun perkembangannya sudah demikian berbeda sehingga jauh bedanya apa bila dipandang begitu saja.

Semenjak kecil Pek Hoa Pouwsat hidup di Nepal, bahkan belajar ilmu silat di sana pula, dari Thian-te Sam-kauwcu. Lalu bagaimanakah sekarang Bu Pun Su bisa menyerangnya dengan ilmu silat yang gerakannya serupa?

Dia tidak tahu bahwa inilah kehebatan ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Di dalam ilmu silat yang dipelajarkan oleh kitab rahasia ini, terdapat pelajaran dari pokok gerakan semua ilmu silat dan semua gerakan kaki tangan, sehingga belum tiba serangan lawan, dari gerakan pundak dan pangkal paha saja Bu Pun Su telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawan dalam penyerangannya. Ilmu ini ditambah oleh ketajaman mata dan kecerdikan ingatannya sehingga sekali lihat saja ia sudah dapat pula menangkap inti sari setiap serangan, kemudian dapat melakukan serangan semacam itu pula dengan sama hebatnya, kalau tidak boleh dibilang lebih sempurna lagi!

Di lain pihak Bu Pun Su memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat. Ilmu pedang ini kelihaiannya tak kalah oleh Hun-khai Kiam-hoat ciptaan Ang-bin Sin-kai, dan dia tadi tidak membohong ketika menyatakan bahwa Han Le tak akan dapat menang dari gadis ini. Juga yang membikin gadis itu sukar dilawan adalah ginkang-nya yang luar biasa, seakan-akan gadis ini benar-benar seorang bidadari yang dapat terbang.

Setelah bertempur beberapa puluh jurus dan memperhatikan gerakan Pek Hoa Pouwsat, Bu Pun Su baru tahu kenapa gadis itu dapat bergerak sedemikian ringan dan cepatnya. Setiap gerakan yang cepat didahului oleh terbukanya pangkal lengan, dan matanya yang tajam dapat melihat bahwa di punggung gadis ini, tersembunyi di balik pakaian, terdapat semacam alat yang terisi angin. Agaknya semacam alat penggerak yang mengandung tenaga yang kerjanya seperti sepasang sayap. Memang harus diakui bahwa ginkang dari gadis itu lebih tinggi dari pada Han Le, akan tetapi tanpa bantuan alat tak mungkin gadis itu dapat bergerak seperti terbang!

Dalam menghadapi tiga orang pengeroyoknya ini, Bu Pun Su memang hanya bermaksud menguji kepandaian mereka saja, sama sekali tidak bermaksud melukai atau membunuh mereka. Biar pun tidak mudah baginya, akan tetapi kalau dia mau ia mampu merobohkan tiga orang lawannya ini.

Biar pun demikian, tangkisan-tangkisan dari tenaga Pek-in Hoat-sut telah membuat muka Hek Pek Mo-ko menjadi pucat. Ini adalah akibat dari benturan tenaga Pek-in Hoat-sut yang membuat setiap serangan tenaga lweekang mental kembali dan balik menghantam penyerangnya sendiri.

Tidak demikian dengan Pek Hoa Pouwsat. Gadis ini maklum bahwa dalam hal lweekang ia tidak mampu menandingi Bu Pun Su, maka serangannya dia andalkan pada kegesitan tubuhnya. Tiap tusukan atau sabetan pedangnya hanya dilakukan dengan tenaga lemas sehingga ia tidak terserang oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Dipandang dari sudut ini saja sudah dapat diketahui bahwa gadis ini jauh lebih cerdik dari pada Hek Pek Mo-ko. Dan juga Bu Pun Su mendapat kenyataan bahwa walau pun kedua iblis itu dalam hal tenaga lweekang lebih kuat dari pada Pek Hoa Pouwsat, akan tetapi kepandaian gadis ini masih lebih tinggi.

Setelah menyerang sampai enam puluh jurus lebih, tahulah Pek Hoa Pouwsat bahwa dia dan dua orang kawannya tak akan mungkin menangkan Bu Pun Su. Ia telah berkali-kali mengeluarkan hoat-sutnya, berkemak-kemik dan berkali-kali menyebarkan hawa beracun yang berbau harum sekali.

Lain orang apa bila terkena serangan ini pasti akan menjadi lemas dan jatuh pingsan. Akan tetapi berkat hawa Pek-in Hoat-sut, semua serangan ilmu hitam ini buyar tidak ada pengaruhnya terhadap Bu Pun Su!

“Ombak pasang! Buka layar dan mendarati!” tiba-tiba Pek Hoa Pouwsat berseru.

Inilah bahasa rahasia dari perkumpulan mereka dan tiba-tiba saja gadis ini membanting sesuatu di antara dia dan Bu Pun Su. Pendekar sakti ini sudah dapat menduga, maka cepat-cepat ia melompat mundur.

Terdengar ledakan keras. Asap hitam memenuhi tempat itu, membuat pandangan mata menjadi gelap. Setelah asap hitam membuyar, bayangan Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko tidak kelihatan lagi! Sebagai gantinya, di sekeliling tempat itu, penduduk dusun itu telah mengurung Bu Pun Su dan Han Le. Mereka ini membawa senjata dan memandang dengan sikap mengancam! 

“Sute, kau pergilah ke Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, beri tahukan supaya mereka dan semua partai persilatan golongan Beng-kauw agar supaya berhati-hati terhadap Thian-te Sam-kauwcu. Kurasa mereka mengandung maksud kurang baik. Biar aku mencari kitab dan pedang yang hilang!” Sehabis berkata demikian, sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari situ.

Semua petani yang sudah dipengaruhi oleh agama baru itu menjadi terheran-heran. Tapi kini mereka mengurung dan mendekati Han Le dengan sikap mengancam, seakan-akan hendak mengeroyoknya.

Han Le tertawa pahit. Kemudian dengan sekali melompat saja, dia pun lenyap melalui atas kepala para pengurungnya sehingga kembali para penduduk dusun itu melongo dan saling pandang!

Bu Pun Su menyelinap ke dalam kelenteng hendak mencari Pek Hoa Pouwsat serta Hek Pek Mo-ko untuk dipaksa mengaku di mana adanya Thian-te Sam-kauwcu, atau di mana adanya kitab dan pedang. Akan tetapi setelah tiba di dalam kelenteng, ia tak melihat lagi bayangan mereka, bahkan dua orang isteri Hek Pek Mo-ko sudah tenyap pula…..

********************
Kita kembali ke dusun Sui-chun yang sungguh pun hanya sebuah dusun namun besar menyerupai kota yang cukup ramai. Di rumah keluarga Song pada malam hari itu amat sunyi. Song Lo-kai, atau kini lebih terkenal dengan sebutan Song-lo-wangwe karena dia memang kaya raya, sudah tidur pulas. Para pelayan juga sudah tidak kelihatan lagi.

Akan tetapi, apa bila orang mau menengok ke dalam taman bunga yang luas di belakang gedung itu, dia akan melihat bahwa di dalam kebun itu masih ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap. Mereka ini bukan lain adalah Song Bi Li, Ceng Si pelayannya, dan seorang pemuda yang tampan.

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Sun, siucai miskin yang mencinta Bi Li. Atas bantuan Ceng Si pelayan dari nona itu, Cia Sun pada malam hari ini berhasil memasuki taman.

Tadinya Song Bi Li terkejut, marah dan amat khawatir melihat pemuda itu sangat lancang berani memasuki tamannya. Akan tetapi Cia Sun segera menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu!

“Song-siocia, kau benar-benar berhati kejam. Ambillah sebatang pedang dan bunuhlah saja Cia Sun yang miskin dan malang ini. Untuk apa hidup lebih lama lagi di dunia ini?” Demikian Siucai tampan itu menangis. 

Song Bi Li yang masih hijau itu tentu saja dapat dikelabuhi dan merasa amat terharu. 

“Cia-siucai, kenapa kau begini berduka? Jangan begitu dan kau pergilah, jika Kongkong tahu bahwa kau masuk ke sini, kau tentu akan mendapat kesukaran.”
“Lebih baik diketahui oleh Kongkong-mu agar aku dibunuh! Song-siocia, kau benar-benar kejam sekali. Bagaimana kau dapat menerima pinangan orang lain? Kalau kau menjadi isteri orang lain, bagaimana dengan aku, Cia Sun yang bodoh dan miskin?” 

Muka Song Bi Li menjadi merah. Ia bingung dan bibirnya gemetar, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Akhirnya Ceng Si yang mewakili nonanya bicara,

“Cia-kongcu, sudahlah, jangan kau terlalu berduka. Nona terpaksa menerima kehendak kongkong-nya karena dalam pernikahan, apakah daya seorang gadis terhadap kehendak orang tua? Ada pun tentang kau, Kongcu, Siocia tentu saja tidak akan melupakan begitu saja. Bahkan Siocia sudah berjanji kepadaku untuk memberi bekal kepadamu agar kau melanjutkan pelajaranmu di kota raja, agar kelak kau bisa menjadi seorang berpangkat.”

Cia Sun menangis lagi. “Bagaimanakah seorang miskin seperti aku ini dapat melanjutkan pelajaran di kota raja? Tidak saja biaya perjalanan ke sana amat besar, juga kehidupan di kota raja amat mahal. Apakah kau ingin aku menjadi seorang pengemis kelaparan di sana?”

“Bukan begitu, Cia-sicu,” kata Bi Li, “Biar pun aku tidak terlalu kaya, akan tetapi kiranya aku akan dapat membantumu. Aku sudah merencanakan hal ini dengan Ceng Si, dan ini ada sedikit uang untuk bekal di perjalanan. Kalau kiranya tidak mencukupi, kelak dengan perantaraan Ceng Si, aku akan dapat membantumu lagi.”

Sambil berkata demikian Bi Li memberi tanda dengan matanya kepada Ceng Si. Pelayan ini kemudian mengeluarkan sekantung uang emas yang memang sudah disediakan oleh nonanya, lalu memberikan kantung itu kepada Cia Sun.

Pemuda itu menerimanya kemudian berpura-pura marah dan berduka. Dia melemparkan kantung uang itu ke atas, lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Apa artinya uang bagiku? Apa artinya kalau aku dapat melanjutkan pelajaran sehingga menerima pangkat tinggi sekali pun? Apa artinya hidup tanpa adanya kau di sampingku, Song-siocia? Cinta kasihku tidak semurah ini, tidak akan terbeli oleh harta dunia, takkan dapat ditukar dengan emas segunung Thai-san!”
“Cia-siucai, harap kau dapat berpikir lebih panjang dan jangan membikin susah padaku,” kata Bi Li. “Memang telah menjadi kehendak Thian bahwa di dunia ini kita tidak berjodoh. Harap kau suka menaruh kasihan padaku. Terimalah uang itu dan kelak akan kutambah sewaktu-waktu kau memerlukannya.” 

Pada saat itu kelihatan sinar lampu di kamar Kakek Song yang tadinya padam gelap. 

“Nah, Loya agaknya bangun...,” kata Ceng Si ketakutan.
“Cia-siucai, lekas pergi, Kongkong bangun...,” kata Bi Li.

Ceng Si mengambil kantung uang itu dan langsung menarik tangan Cia Sun menuju ke pintu taman. Pemuda ini cepat-cepat membawa kantung uang itu dan keluar dari taman.

“Ceng Si, jangan lupa membujuk dia memberikan mainan indah, hiasan rambut berupa kupu-kupu dan bunga cilan yang dia terima dari calon suaminya itu,” katanya perlahan ketika mereka hendak berpisah.
Ceng Si mengangguk. “Asal kau jangan lupa mengawiniku kelak,” jawabnya.

Kemudian pemuda itu menyelinap di dalam gelap, sedangkan Ceng Si kembali ke dalam taman. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah Cia Sun berjalan dengan hati gembira sambil membawa sekantung uang emas itu, tiba-tiba menyambar bayangan yang sangat ringan.

Cia Sun terkejut sekali ketika melihat bayangan orang menyambar turun di depannya dan tercium bau yang amat harum olehnya. Saking kagetnya hampir saja dia berteriak, akan tetapi begitu bayangan itu mengulur tangan dan jari-jari yang halus menyentuh lehernya, pemuda ini tidak dapat mengeluarkan suara apa-apa. Jalan darah Ah-tai-hiat di lehernya telah ditotok! Maka ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.

“Hemm, kau hendak mempermainkan seorang gadis kaya? Bagus sekali, orang macam kau harus dicongkel kedua matanya!” terdengar bentakan yang halus merdu, “Kau rebah dulu di sini, hendak kulihat gadis macam apa dia yang hendak kau permainkan itu.”

Kembali jari-jari halus itu bergerak menotok pundak dan robohlah Cia Sun, roboh dengan tubuh lemas tak dapat bergerak, karena kini jalan darah Thian-hu-hiat yang sudah ditotok secara istimewa sekali.

Cia Sun tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan ini, karena keadaan sangat gelap. Dia hanya tahu bahwa orang itu adalah seorang wanita yang memiliki suara merdu, serta berbau harum sekali.

Perempuan ini tidak lain adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia telah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan berhasil melarikan diri setelah melepaskan semacam alat peledak yang bisa menimbulkan asap hitam tebal.

Akan tetapi, sesudah melarikan diri beberapa hari kemudian, dia merasa bagaikan selalu dikejar-kejar atau diikuti oleh Bu Pun Su! Sungguh pun ia tidak pernah melihat pendekar sakti ini mengikutinya, tetapi perasaannya selalu tidak enak dan demikianlah, malam hari itu ia terus melanjutkan perjalanannya sampai di dusun Sui-chun.

Melihat rumah gedung Song Lo-kai, dia tertarik dan ingin mencuri masuk dan beristirahat di situ. Secara kebetulan ia lalu melihat pertemuan antara Song Bi Li dan Cia Sun dan kemudian ia membikin pemuda itu tidak berdaya.

Pek Hoa Pouwsat atau lebih singkat disebut Pek Hoa karena memang demikianlah nama asalnya, melompat ringan dan tiba kembali dalam taman bunga. Keadaan di situ tadinya hanya remang-remang belaka, maka ia tidak dapat melihat jelas bagaimana wajah Bi Li, Ceng Si dan juga Cia Sun. Kini setelah Cia Sun pergi, Bi Li berani menyuruh pelayannya menyalakan lampu taman sehingga keadaan di situ terang.

Melihat wajah Bi Li, Pek Hoa amat kagum. Tanpa terasa ia berseru, “Ayaa, tidak tahunya gadis ini cantik jelita sekali...”

Suaranya terdengar oleh Bi Li dan Ceng Si sehingga dua orang gadis itu terkejut sekali. Selagi mereka bingung dan terheran-heran, muncullah Pek Hoa dari balik batang pohon, muncul bagaikan seorang peri, cantik jelita dan menyiarkan aroma yang harum melebihi bunga-bunga di taman.

Ceng Si buru-buru berlutut. “Ampunkan hamba, Pouwsat yang baik...,” ratapnya.

Pek Hoa tersenyum lalu berkata, “Memang, orang yang mengandung dosa dalam hatinya paling mudah ketakutan dan paling mudah minta ampun kepada Kwan Im Pouwsat!”

Tadinya Bi Li tertegun dan dia pun amat kagum melihat seorang wanita yang demikian cantiknya. Sekarang melihat sikap Ceng Si dan mendengar kata-kata Pek Hoa, timbullah dugaannya bahwa memang yang datang ini tentulah Dewi Welas Asih Kwan Im Pouwsat yang sering muncul di dalam dongeng kuno. Maka ia pun lalu melanjutkan diri berlutut di depan Pek Hoa.

“Hamba mohon berkah dari Kwan Im Pouwsat yang mulia,” kata gadis ini perlahan.

Pek Hoa melangkah maju dan mengangkat bangun gadis itu. “Song-siocia, bangunlah. Aku memang seorang dewi, tetapi bukan Kwan-Im Powsat, melainkan Pek Hoa Pouwsat. Kau cantik sekali, Nona. Siapakah namamu?”

Bi Li mengangkat muka dan memandang dengan terheran. Mengapa sikap seorang dewi kahyangan seperti ini? Begini biasa, seperti umumnya sikap seorang gadis biasa? Akan tetapi alangkah cantik jelitanya, alangkah harum baunya.

“Nama hamba Song Bi Li, dan tentang kecantikan... walau pun hamba mendapat berkah Kwan Im Pouwsat, namun kalau dibandingkan dengan Paduka, hamba kalah jauh...” 

Bukan main girangnya hati Pek Hoa Pouwsat. Sejak usia belasan tahun, memang gadis ini amat gila untuk menjadi cantik dan dia selalu merasa khawatir apa bila kecantikannya sampai berkurang atau hilang. Oleh karena ini, dengan ilmu kepandaiannya, dia berhasil menemukan cara pengobatan untuk merawat kecantikannya, bahkan untuk membuat dia kelihatan selalu muda belia.

Oleh karena inilah maka biar pun usianya sudah tiga puluhan, ia masih kelihatan seperti seorang gadis muda yang demikian ayu, tentu saja dia merasa amat terpuji dan bangga. Dengan hati bangga dan girang dia menggandeng tangan Bi Li, kemudian dia bergerak cepat dan tahu-tahu Ceng Si telah kena ditotok sehingga menjadi kaku seperti patung.

Akan tetapi di dalam pandangan mata Bi Li, ia hanya melihat Pek Hoa menunjuk dengan jarinya ke arah Ceng Si yang masih berlutut dan pelayannya itu lalu menjadi kaku.....

“Jangan bergerak dan berlutut di sana sampai kami selesai bercakap-cakap!” kata Pek Hoa.

Peristiwa ini membuat Bi Li semakin percaya bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan seorang dewi tulen! Ia menurut saja ketika Pek Hoa mengajaknya duduk di atas bangku-bangku yang dipasang di dekat kolam ikan emas, di bawah penerangan lampu minyak yang berwarna merah.

“Bi Li, biarlah selanjutnya aku menyebut namamu saja, dan kau boleh menyebutku cici,” kata Pek Hoa.
Bi Li terkejut. Bagaimana dia boleh menyebut cici (kakak) kepada seorang bidadari?
“Akan tetapi...”
“Jangan membantah. Ini perintahku, mengerti? Aku lebih tua dari padamu.”

Mendengar kata-kata ini, Bi Li menjadi berani. “Akan tetapi, sesungguhnya kau kelihatan lebih muda dariku, maka lebih pantas kalau aku menyebut moi-moi.”

Pek Hoa memandang tajam sambil tersenyum girang sekali. “Adikku yang baik! Apakah kata-katamu ini betul?”
“Bagaimana aku berani berbohong? Begini cantik jelita, seperti bunga baru mekar, paling banyak usiamu tujuh belas tahun dan aku sudah delapan belas!” jawab Bi Li.

Pek Hoa tertawa geli, akan tetapi hatinya girang luar biasa. Dipuja oleh laki-laki, baginya tidak aneh dan dianggapnya bahwa semua laki-laki hanya tukang membohong untuk bisa membujuk dan mengambil hati. Akan tetapi dipuji oleh seorang gadis yang begini cantik, ini soal lain lagi.

“Tidak, Li-moi aku lebih tua. Usiaku sudah... sembilan belas tahun. Li-moi, sesungguhnya kedatanganku ini hendak memberi berkah dan pertolongan kepadamu dengan Siucai she Cia itu, akan tetapi aku lebih suka mendengar dari mulutmu sendiri. Sebenarnya, apakah yang terjadi antara kau dan dia?”

Bi Li terkejut sekali. Akan tetapi ketika ia teringat bahwa ia berhadapan dengan seorang bidadari, ia tidak merasa aneh, bahkan tidak malu-malu untuk membuat pengakuan.

“Aku sudah lama kenal dengan Cia-siucai, Cici Pek Hoa. Dan dia itu... dia menyatakan cinta kepadaku.”
“Apa kau tidak cinta kepadanya?”

Bi Li termenung dan merasa ragu-ragu. “Entahlah, Cici, kau lebih tahu tentunya. Aku tak mengerti tentang cinta ini.”
“Teruskan, lalu bagaimana?” 
“Kemudian, atas kehendak Kongkong-ku, aku harus menikah dengan seorang she Kiang dari kota Sian-koan, yaitu seorang pemuda gagah perkasa yang pernah menolong nyawa Kongkong.”
“Dan kau tidak suka kepadanya?” 

Kembali Bi Li termenung bingung. “Ini pun aku tidak bisa memastikan, Cici. Kelihatannya dia gagah dan baik budi, juga... tampan, bahkan jauh lebih tampan dari pada Cia-siucai. Karena aku tidak mungkin menolak kehendak Kongkong, tadi Cia-siucai datang dan dia menyatakan kehancuran hatinya, bahkan hendak nekat membunuh diri. Baiknya aku dan pelayanku Ceng Si dapat membujuknya supaya dia melanjutkan sekolah di kota raja dan akulah yang akan membiayainya sampai maksudnya tercapai. Calon suamiku itu orang yang amat kaya, sedangkan Kongkong juga bukan orang miskin, maka kiraku jalan inilah yang terbaik, yakni untuk menghibur hatinya.”

Pek Hoa mengangguk-angguk. “Kau anak baik, dan kau pun amat cantik jelita. Kau layak hidup bahagia dan mendapatkan seorang suami yang baik dan tampan. Kau bilang tadi calon suamimu lebih cakap dari pada Cia-siucai?”

Merah muka Bi Li, akan tetapi dia mengangguk. “Bukan hanya aku yang menganggap demikian, Cici, juga pelayanku Ceng Si menganggap demikian pula.”
“Dan kau bilang gagah perkasa? Apakah dia itu pandai ilmu silat?”
“Tentunya amat pandai. Kongkong pernah bilang kepadaku bahwa dia adalah murid dari seorang sakti dan aneh yang bernama Han Le yang menjadi murid dari orang sakti yang dipuja-puja Kongkong, yakni mendiang Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi aku sendiri tak kenal siapa adanya orang sakti yang bernama Han Le itu.”

Kalau Pek Hoa tidak tinggi ilmunya dan dapat mengerahkan lweekang serta menyalurkan darah ke mukanya, tentu Bi Li akan melihat perubahan air mukanya ketika ia mendengar nama Han Le ini.

“Jadi calon suamimu itu she Kiang dan tinggal di kota Sian-koan?” tanya Pek Hoa pula.

Bi Li mengangguk.

Pek Hoa berdiri dan memandang wajah Bi Li sekali lagi lalu berkata, “Adikku yang manis, kelak kalau kau sudah punya anak, mungkin kita bertemu lagi karena aku ingin sekali melihat wajah anakmu.”

Bi Li hendak menjawab, akan tetapi tiba-tiba dengan sekali menggerakkan kaki, Pek Hoa sudah melompat di depan Ceng Si, membebaskan totokannya kepada tubuh pelayan ini dan sekali berkelebat ia lenyap dari pandangan mata!

Ceng Si menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya seperti ayam sedang makan padi, sambil mengeluh panjang pendek, “Pouwsat yang mulia, ampunkan hamba... jangan mencabut nyawa hamba...”

Bi Li juga menjatuhkan diri berlutut, bibirnya berkemak-kemik menghaturkan terima kasih kepada bidadari yang mengaku kakak kepadanya itu. Kemudian terpaksa dia menyeret Ceng Si berdiri oleh karena pelayan yang ketakutan ini masih saja terus berlutut sambil sesambatan…..

********************
Kita ikuti perjalanan Pek Hoa. Setelah melompat keluar dari taman bunga keluarga Song, ia menghampiri Cia Sun. Sekali tepuk saja ia sudah membikin pemuda ini sadar kembali. Sebelum Cia Sun sempat membuka mulut, tahu-tahu ia merasa tubuhnya terapung tinggi dan ternyata ia telah dikempit dan dibawa lari oleh Pek Hoa.

Setibanya di tempat terang, yakni sudut jalan yang diterangi oleh lampu, Pek Hoa baru menurunkan pemuda itu, lalu memandangi wajah dan tubuhnya. Agaknya dia puas dan senyumnya manis sekali.

Di lain pihak, Cia Sun menjadi bengong. Ia terpesona oleh kecantikan gadis ini dan bau harum yang luar biasa mendebarkan jantungnya.

“Hemm... kau tampan juga...,” terdengar gadis itu berkata sambil meraba-raba pipinya.

Dari takut dan kaget, Cia Sun menjadi girang. Tak disangka bahwa orang yang dikiranya setan dan yang sudah mengganggu dirinya itu ternyata adalah seorang gadis muda yang demikian cantik jelitanya, bahkan jauh lebih cantik dari pada Ceng Si, juga lebih cantik dan menarik dari pada Bi Li yang pendiam dan malu-malu. Gadis ini sebaliknya kelihatan ‘berani’ sekali, berani memuji ketampanannya, bahkan berani membelai-belai pipinya.

“Aduh, Nona. Bukankah kau bidadari kahyangan yang turun dari bulan purnama? Apakah hendak mencabut nyawa hamba...?” katanya setengah bergurau.

Melihat pandangan mata Cia Sun, pandangan mata yang penuh arti, sekonyong-konyong Pek Hoa menjadi jemu. Semenjak usia belasan tahun wanita ini telah sering kali bertukar kekasih, hidupnya demikian busuk dan kotor, dan terkenal sebagai seorang wanita yang cabul.

Hubungannya dengan banyak sekali orang laki-laki membuat dia menjadi jemu apa bila melihat sikap laki-laki yang kurang ajar. Dan melihat laki-laki binal dan ceriwis, ia menjadi bosan dan mual. Apa bila sekiranya Cia Sun bersikap takut-takut atau malu-malu, atau marah-marah melihatnya, mungkin Pek Hoa akan jatuh hati pada pemuda yang tampan ini.

Pek Hoa tidak membutuhkan laki-laki yang ceriwis, karena dia telah bosan dengan sikap seperti ini. Dia membutuhkan laki-laki yang alim, laki-laki yang tidak mudah tergoda oleh kecantikannya. Maka dengan sebal hati dia melemparkan tubuh Cia Sun ke pinggir jalan, merampas kantung uang pemberian Bi Li tadi, lantas dengan cepat pergi meninggalkan pemuda itu yang terlampau kaget dan takut untuk dapat mengeluarkan suara!

Baru saja bayangan Pek Hoa berkelebat pergi, di belakangnya kira-kira sepuluh tombak jauhnya, berkelebat bayangan lain yang tidak kalah gesitnya, yang mengikuti perjalanan gadis itu secara diam-diam tanpa diketahui oleh yang diikutinya…..
********************
Kiang Liat merasa berbahagia sekali. Tidak pernah disangka-sangkanya bahwa nasibnya demikian baik dan menyenangkan. Tidak saja dia beruntung bertemu dengan pengemis sakti Han Le dan menjadi muridnya selama satu tahun, mewarisi ilmu kepandaian yang sangat tinggi sehingga kepandaiannya yang sudah lihai itu menjadi semakin maju, juga terutama sekali ia bertemu dengan Song Lo-kai dan diambil cucu mantu.

Yang membuat ia benar-benar merasa bahagia adalah ketika ia bertemu dengan Song Bi Li. Siapa pernah mengira bahwa cucu seorang kakek bekas pengemis demikian cantik jelitanya? Tidak hanya cantik, juga sikapnya demikian halus lemah-lembut, menimbulkan kasih sayang dan begitu bertemu muka, Kiang Liat terus saja jatuh cinta!

Ia sudah mempersiapkan segala keperluan untuk menghadapi pernikahannya yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi. Ia telah mengatur rumahnya yang selama ini hanya ia tinggali bersama inang pengasuhnya, sudah mengatur semua persiapan supaya isterinya kelak suka dan kerasan tinggal di rumahnya ini.

Kemudian ia menyuruh inang pengasuhnya dan beberapa orang pembantu dari kotanya untuk berangkat lebih dulu ke Sui-chun, ke rumah keluarga Song untuk membuat segala persiapan. Ia sendiri sibuk membagi-bagikan undangan kepada sahabat-sahabat baiknya supaya mereka suka datang kemudian ikut mengantarnya ke Sui-chun untuk menambah kegembiraan.

Persiapan terakhir telah dilakukan dan Kiang Liat merasa gembira sekali. Esok pagi-pagi ia akan berangkat ke Sui-chun, bersama beberapa belas orang kawan-kawan baik yang akan menjadi pengiringnya.

Seharian itu ia telah pergi jauh ke luar kota, mengunjungi kawan-kawannya yang paling jauh rumahnya. Ia merasa agak lelah ketika sore hari itu ia pulang, melompat turun dari kudanya yang indah, menuntun kuda itu dan menghampiri pintu depan.

Karena di rumahnya sudah kosong tidak ada orang lain, maka rumah itu pintunya selalu ditutup. Semua pelayan telah dikirim ke Sui-chun agar setelah pernikahan dilangsungkan bisa mengiringkan sepasang pengantin itu pulang ke Sian-koan. Oleh karena itu, selama beberapa hari ini, Kiang Liat tinggal seorang diri di rumahnya. Akan tetapi, kesepian ini takkan lama lagi, hanya tinggal semalam lagi dan besok pagi-pagi ia akan berangkat ke rumah calon isterinya!

Berpikir sampai di sini, terutama membayangkan wajah Bi Li yang cantik manis, Kiang Liat menjadi berseri wajahnya. Sambil tersenyum-senyum ia membuka pintu. Dia tidak tahu bahwa semenjak tadi, sepasang mata yang bening dan indah selalu mengintainya.

Mata ini bersinar-sinar ketika melihat potongan tubuh pemuda yang sangat ganteng ini. Tubuh yang tegap dan gagah, wajah yang amat tampan dengan kulit muka putih bersih, sepasang alis yang hitam tebal berbentuk golok melindungi sepasang mata yang lebar dan bersinar-sinar penuh semangat. Memang Kiang Liat adalah seorang pemuda yang amat gagah dan tampan.

Setelah meninggalkan kudanya di depan pintu, Kiang Liat masuk ke dalam rumah sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dia hendak mandi, berganti pakaian, kemudian pergi keluar lagi. Memang sungguh tidak enak duduk seorang diri di dalam rumah tanpa kawan, apa lagi menghadapi peristiwa yang demikian hebat, yakni pernikahannya dengan Nona Song Bi Li! Ia hendak pergi ke beberapa orang sahabat baiknya, mengajak mereka datang ke sini lalu memesan makan minuman dari rumah makan.

Akan tetapi, ia masih belum tahu bahwa pada saat itu, sepasang mata bening dan jeli terus mengintainya! Mata yang memandangnya penuh kekaguman, penuh nafsu, dan kadang-kadang penuh kebencian!

Kiang Liat melangkah tegap ke arah kamarnya, mendorong daun pintu kamar tidurnya, melangkah masuk dan...
“Siapa kau…?!” tanyanya terkejut sekali dan terheran-heran.

Di atas pembaringannya duduk seorang gadis yang berpakaian indah, seorang gadis sebaya dengan Bi Li yang cantik sekali, yang duduk menggoyang-goyangkan kedua kaki kecil yang tergantung dari pembaringan sambil miringkan kepala memandang kepadanya dan bibirnya tersenyum-senyum manis sekali!

Tadinya untuk sesaat Kiang Liat mengira bahwa inilah yang disebut orang siluman wanita, yang sering muncul dalam dongeng-dongeng. Kalau tidak demikian, bagaimana seorang dara juwita seperti itu tahu-tahu dapat memasuki kamar tidur seorang pemuda dan duduk di atas pembaringan dengan kakinya ongkang-ongkang dan senyum manis menantang?

Akan tetapi, ketika melihat gagang siang-kiam tersembul dari balik punggung gadis itu, Kiang Liat berpikir lain. Wanita ini tentu seorang gadis kang-ouw dan kedatangannya pasti mengandung maksud tertentu, entah baik entah buruk, akan tetapi lebih condong kepada maksud yang tidak baik.

“Kau siapakah, Nona? Dan apakah kehendakmu memasuki kamarku?” tanyanya lagi.

Kini suaranya tidak sekeras tadi karena pemuda ini cepat dapat menekan perasaannya. Ia tidak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat gadis yang sedemikian cantiknya dan pandang mata kagum ini menyenangkan hati gadis itu yang segera memperlebar senyumnya.

“Jawab dulu, senangkah kau melihat aku di kamar tidurmu?” gadis ini bertanya, suaranya merdu merayu dan pandang matanya mencuri hati dengan kerling tajam menyambar. 

Kiang Liat mengerutkan keningnya. “Bagaimana aku bisa menyatakan senang atau tidak kalau aku belum tahu siapa adanya kau ini dan apa keperluanmu datang ke sini?” 

Gadis manis itu tertawa kecil. “Kau betul juga, sekarang jawablah pertanyaan yang lebih mudah. Cukup cantikkah aku dalam pandanganmu?” 

Kini merahlah wajah Kiang Liat. Hatinya berdebar-debar. Selama hidupnya belum pernah dia melihat gadis secantik ini, kecuali Bi Li, dan gadis yang berani seperti ini. Akan tetapi, sikap genit dan kecabul-cabulan ini sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Kiang Liat bukan sebangsa pemuda pemogoran yang mudah menjadi gila melihat wajah cantik!

“Nona, omongan apakah ini? Aku bukan orang yang biasa menilai kecantikan orang lain! Sekarang katakan siapa kau dan apa perlumu masuk ke kamarku?”

Meski pun jawaban ini ketus dan membayangkan kemarahan hati, namun aneh sekali, gadis ini tidak marah, bahkan sebaliknya ia kelihatan gembira sekali. 

“Ha, kau gagah ganteng, tampan dan baik sekali, tidak seperti segala macam hidung belang yang menjemukan!” gadis itu berseru.

Kemudian, sekali menggerakkan tubuh dia sudah melompat turun. Gerakannya sangat ringan sehingga mengejutkan hati Kiang Liat.

“Kiang Liat, aku tahu siapa kau. Engkau adalah murid dari Han Le si pengemis hina itu, bukan? Dan kau akan menikah dengan Nona Song Bi Li yang cantik jelita, bukan?” 

Kiang Liat kembali terkejut dan mengerutkan kening. 

“Benar semua dugaanmu itu, sungguh pun aku sama sekali tak mengerti bagaimana kau bisa mengetahui semua itu. Akan tetapi, siapakah kau, Nona?”
“Orang-orang di dunia barat biasa menyebutku Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, akan tetapi bagimu, kau boleh memanggil aku Pek Hoa saja, atau Hoa-moi, bukankah itu lebih enak dan manis terdengarnya?”

Kiang Liat belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi sikap Pek Hoa yang semakin binal dan genit ini benar-benar menyebalkan hatinya. Ia tidak dapat menyangkal bahwa gadis ini amat cantik, lagi menyiarkan bau yang amat harum memenuhi kamarnya, akan tetapi kegenitan gadis ini melenyapkan kekagumannya. Alangkah jauh bedanya dengan Bi Li calon isterinya! Walau pun dalam kecantikan, agaknya Bi Li sendiri pun tidak akan menang dari gadis luar biasa ini yang memiliki kecantikan seperti bidadari.

“Jangan kau mengacau tidak karuan!” Kiang Liat membentak marah. “Aku tidak kenal kau siapa dan tidak peduli tentang semua panggilan itu. Lekas katakan, apa maksudmu datang ke kamarku?” Pemuda ini sekarang menjadi curiga dan juga amat marah.

Watak Pek Hoa memang aneh. Kalau sekiranya Kiang Liat bersikap lemah seperti yang diperlihatkan oleh pemuda Cia Sun, kalau saja Kiang Liat terpesona oleh kecantikannya, memuji-mujinya dan mencoba untuk bersikap kurang ajar, mungkin sekali Pek Hoa akan menjadi sebal dan mungkin akan segera turun tangan membunuhnya, karena dia adalah murid Han Le yang amat dibenci oleh Pek Hoa. Di dunia ini hanya dua orang yang amat dibenci oleh Pek Hoa, yakni Bu Pun Su dan Han Le, terutama sekali Bu Pu Su.

Akan tetapi, oleh karena sikap Kiang Liat amat keras dan sama sekali tidak tunduk oleh kecantikannya, hati Pek Hoa menjadi runtuh! Baru sekarang gadis ini bertemu dengan seorang pemuda yang begini tampan dan gagah, yang tidak bertekuk lutut menghadapi kecantikannya.

Inilah pemuda yang diidam-idamkannya, pemuda yang dicari-carinya! Maka, menghadapi bentakan yang penuh kemarahan dari Kiang Liat, dia menjadi makin tertarik dan semakin gembira.

“Kiang Liat, kau menjadi makin gagah kalau marah-marah. Kau mau tahu mengapa aku datang ke kamar tidurmu? Karena ketika tiba di rumah ini aku tidak melihat seorang pun manusia, maka aku memilih kamar tidur ini untuk mengaso.”
“Apa maksudmu mengunjungi aku?” tanya Kiang Liat gemas melihat sikap genit dan mendengar jawaban melantur itu. 

“Kau adalah murid pengemis tua bangka Han Le dan dia itu musuhku, maka tentu saja aku datang untuk mengambil nyawamu. Akan tetapi, melihat mukamu aku lantas merasa kasihan sekali sehingga aku akan mengampuni dan takkan mengganggumu, sebaliknya aku ingin sekali membikin kau bahagia. Permusuhan antara kita akan hilang kalau saja kau mau membatalkan pernikahanmu dengan Song Bi Li dan sebagai gantinya, kau bisa mengambil aku sebagai isterimu...”
“Tutup mulutmu yang kotor!” Kiang Liat marah sekali dan mencabut pedangnya. “Kau ini perempuan jalang berani sekali bermain gila di sini...?” Kiang Liat benar-benar marah sehingga ia mendamprat gadis itu. 

“Kiang Liat, butakah matamu? Buka matamu baik-baik dan lihatlah, apakah aku tidak lebih muda dan jauh lebih cantik dari pada Bi Li. Selain lebih cantik, aku pun lebih gagah, lebih kaya! Apa bila kau menjadi suamiku, apa yang kurang bagimu? Ingin senang? Aku cukup cantik dan aku tahu bagaimana untuk menyenangkan hatimu. Kau hendak hidup mewah? Kekayaanku jauh lebih besar dari pada kekayaanmu atau kekayaan Bi Li. Atau kau menghadapi musuh-musuh besar? Tidak usah khawatir, kalau aku Pek Hoa menjadi isterimu, tanpa aku turun tangan semua musuh-musuhmu akan melarikan diri tunggang-langgang!”
“Jangan ngoceh lagi! Lekas kau minggat dari sini, aku tidak sudi melihat mukamu atau mendengar suaramu! Pergi...!”

Pek Hoa mulai marah. Pipinya yang halus dan putih itu kini menjadi merah. Ia tidak suka melihat laki-laki lemah yang mudah jatuh oleh kecantikan, akan tetapi ia pun tidak suka melihat laki-laki yang memandang rendah kecantikannya. Apa lagi hinaan yang keluar dari mulut Kiang Liat sudah melampaui batas.

Kalau menuruti kemarahannya, ingin dia sekali turun tangan merampas nyawa pemuda ini. Akan tetapi bila ia memandang muka yang tampan dan gagah itu, hatinya tidak tega. Bagaimana pun juga, ia harus mendapatkan laki-laki ini sebagai suaminya atau sebagai kekasihnya. Sukar mencari seorang pemuda seperti Kiang Liat ini.

“Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apa sih?” tanyanya sambil tersenyum mengejek. 
“Aku akan memaksamu dengan pedangku!” Kiang Liat membentak. 
“Aha, kau mau main-main senjata dengan nonamu? Mari-mari, anak manis, mari keluar, kita boleh main-main sedikit!” Sambil berkata demikian Pek Hoa melambaikan tangannya dan sekali berkelebat ia telah menerobos keluar dari jendela.

Diam-diam Kiang Liat terkejut sekali melihat ginkang yang luar biasa ini, akan tetapi ia bukan seorang penakut. Cepat ia pun melompat keluar melalui jendela, mengejar wanita aneh itu.

Ternyata Pek Hoa sudah menunggunya di luar rumah, di pekarangan yang lebar dan diterangi oleh lampu minyak yang tergantung di bawah genteng. Gadis ini memandang ringan sekali kepada Kiang Liat. Karena kepandaian Han Le saja ia tidak takut dan masih sanggup menangkan, apa lagi kepandaian muridnya, pikirnya! Ia tidak tahu bahwa Kiang Liat hanya satu tahun menjadi murid Han Le, dan bahwa sebelum menjadi murid Han Le pemuda ini telah memiliki kepandaian yang tinggi juga.

Melihat Pek Hoa telah berdiri dengan lagak menantang, sambil bertolak pinggang tanpa mengeluarkan senjata, Kiang Liat membentak, ”Perempuan rendah, keluarkan senjatamu kalau kau hendak mencoba kelihaianku!”

“Mengapa harus mengeluarkan senjata? Apa kau kira dapat mengalahkan Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat biar pun aku hanya bertangan kosong? Orang muda, maju dan seranglah, tidak usah ragu-ragu, jangan takut kalau kulit tubuhku akan lecet terkena pedangmu yang tumpul!”

Kiang Liat marah sekali. “Lihat pedang!” teriaknya dan ia mulai menyerang.

Mula-mula, pemuda ini tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, karena betapa pun gemasnya melihat gadis genit dan cabul ini, ia tidak tahu permusuhan apakah yang ada di antara gadis ini dengan gurunya, dan ia tidak tega serta merasa malu untuk melukai seorang gadis muda yang melawannya dengan bertangan kosong saja.

Akan tetapi, segera ia menjadi terheran-heran dan kaget. Tak disangkanya bahwa gadis itu ternyata luar biasa dan selain gerakannya cepat sekali, juga ilmu silatnya sangat lihai. Hanya beberapa gebrakan saja, pedangnya sudah hampir kena dirampas oleh gerakan mencengkeram dari Pek Hoa!
Image result for dara baju merah
Setelah melihat kelihaian lawannya, Kiang Liat tidak mau berlaku sungkan-sungkan lagi. Cepat dia menggerakkan pedangnya dan kini dia bersilat dengan ilmu pedang keluarga Kiang yang kini sudah diperkuat dan diperbaiki setelah dia belajar setahun lamanya pada Han Le.

Pek Hoa makin kagum melihat Kiang Liat. Tak disangkanya bahwa ilmu silat pemuda ini benar-benar hebat, tidak kalah jauh oleh Han Le. Bahkan kalau dilihat-lihat, ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda ini sama sekali bukan ilmu pedang Han Le.

Ilmu pedang yang dimainkan Kiang Liat sangat indah gerakan-gerakannya. Tentu saja seorang pemuda yang demikian ganteng dan tampan mainkan ilmu pedang yang indah ini, kelihatan seperti seorang penari ulung tengah menari, amat menarik hati dan indah dilihat. Makin sayanglah Pek Hoa kepada kepada pemuda ini, dan ia tahu bahwa kalau ia menghadapi dengan tangan kosong saja, akan sangat berbahaya baginya.

Timbul kegembiraan di dalam hati Pek Hoa untuk menguji terus sampai di mana tingkat kepandaian pemuda ini. Ia pun segera mencabut sepasang pedangnya.

“Kau lihai sekali, orang muda. Akan tetapi coba kau tahan siangkiam-ku!” Setelah berkata demikian ia memutar sepasang pedangnya dengan cepat, melakukan serangan balasan yang sesungguhnya, tapi bukan serangan benar-benar, hanya untuk menguji saja.

Kiang Liat kaget sekali. Ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis itu juga hebat, apa lagi lawannya mempergunakan sepasang pedang yang tentu saja dapat menyerangnya lebih cepat dari pada sebatang pedang.

Pemuda ini diam-diam mengeluh dan merasa malu terhadap diri sendiri. Bagaimana dia yang sudah terkenal sebagai Jeng-ciang-sian (Dewa Bertangan Seribu), kemudian sudah mendapat gemblengan selama setahun oleh pengemis sakti Han Le, tetapi hanya dalam tenaga lweekang saja ia tidak kalah, akan tetapi ia kalah jauh dalam kecepatan gerakan, dan dalam hal ilmu silat, agaknya gadis ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Namun Kiang Liat tidak mau menyerah kalah. Meski pun dia seakan-akan dikurung oleh laksaan ujung pedang lawan, dia masih terus mempertahankan diri, memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga tubuhnya seperti dilindungi oleh tembok baja yang kokoh kuat.

Berkali-kali Pek Hoa memuji dan mulutnya mengoceh terus, “Kau gagah, ilmu pedangmu lihai... kau patut menjadi suamiku...”

Kata-kata seperti ini memperbesar api kemarahan Kiang Liat sehingga kini ia bertanding dengan nekat, sama sekali tidak takut mati. Ini membuat Pek Hoa kewalahan.

Memang ilmu pedang milik pemuda ini sudah tinggi, sulit baginya untuk merobohkan, apa lagi menawan. Sekarang ditambah pula oleh kenekatan pemuda itu. Maka Pek Hoa lalu mengeluarkan sapu tangannya yang berwarna merah, mengeluarkan seruan nyaring dan ketika sapu tangan itu dikebutkan, tiba-tiba Kiang Liat mencium bau harum yang amat keras dan tidak lama kemudian ia terhuyung-huyung dan roboh tak sadarkan diri dengan pedang masih di tangannya!

Pek Hoa tertawa girang. Ia cepat membungkuk, merampas pedang, mengelus-elus pipi pemuda itu, tertawa lagi lalu menotok jalan darah di pundak Kiang Liat untuk menjaga kalau pemuda itu siuman kembali. Biar pun siuman kembali, setelah ditotok, Kiang Liat takkan berdaya, tubuhnya sudah lemas dan ia tak akan dapat memberontak lagi.

Sambil kadang-kadang membelai rambut dan muka pemuda itu, Pek Hoa tertawa-tawa dan memanggul tubuh Kiang Liat dengan mudahnya. Kemudian berlarilah ia menghilang di dalam gelap malam yang mulai menyelimuti alam.

Akan tetapi, baru saja beberapa li ia lari, setelah ia keluar dari kota Sian-koan dan tiba di tempat sunyi, tiba-tiba Pek Hoa merasa pundaknya yang sebelah kanan ditowel orang. Ia memanggul tubuh Kiang Liat di pundak kirinya, maka merasa towelan ini, mula-mula ia tidak bercuriga dan berlari terus.

Sekonyong-konyong, pundaknya ditowel lagi dan terdengar suara perlahan, 
“Siluman cabul, kau masih tidak mau melepaskan Kiang Liat?” 

Pek Hoa amat terkejut, melompat ke depan sejauh empat tombak lebih lalu membalikkan tubuhnya. Di bawah sinar bulan purnama, ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang pada saat itu ia harapkan berada di neraka. Satu-satunya orang yang tak ingin dilihatnya pada saat seperti itu, yakni bukan lain adalah Bu Pun Su Si Pendekar Sakti! 

Karena tahu menghadapi lawan yang amat berat, yang biar pun dikeroyok dengan kedua sute-nya masih saja dia kalah, Pek Hoa tidak mempunyai nafsu untuk melawan Bu Pun Su. Ia melepaskan tubuh Kiang Liat yang dipanggulnya itu ke atas tanah, lalu mencabut pedang Kiang Liat yang dirampasnya.

Niatnya ingin menewaskan pemuda ini dengan sekali bacok, sebab kalau ada Bu Pun Su di situ, tak mungkin kehendaknya menjadikan pemuda itu sebagai permainannya dapat terlaksana. Setelah maksud ini digagalkan oleh Bu Pun Su, tidak ada jalan lain baginya kecuali membunuh Kiang Liat, sehingga dengan demikian, dia dapat melakukan sedikit pembalasan atas sakit hatinya terhadap Bu Pun Su dan Han Le.

Akan tetapi, baru saja ia mencabut pedang rampasan itu, tiba-tiba pedang itu terlepas dari tangannya yang menjadi kaku. Dia mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa bahwa tidak hanya tangan kanan saja, malah setengah bagian tubuhnya sebelah kanan bagai lumpuh! Terdengar olehnya suara ketawa yang tenang dari Bu Pun Su.

Pek Hoa melompat mundur sambil menjerit. Tahulah ia sekarang. Pundak kanannya tadi sudah kena ditowel dua kali oleh Bu Pun Su dan ternyata bahwa towelan itu merupakan totokan yang amat lihai, yang baru terasa pengaruhnya setelah ia menggerakkan tangan dan mengerahkan tenaga.

Sambil berdiri, Pek Hoa cepat-cepat mengerahkan lweekang untuk membebaskan diri dari totokan itu, tetapi tidak berhasil. Terpaksa gadis ini menekan hawa kemarahan yang naik ke dadanya, lalu bersila di atas tanah.

Selagi dia berusaha membebaskan diri dari pengaruh tiam-hoat yang dilakukan secara lihai oleh Bu Pun Su, pendekar sakti ini menghampiri Kiang Liat. Dua kali tepukan pada pundak dan punggung membuat pemuda itu terbebas, dan Kiang Liat cepat berlutut di hadapan paman gurunya.

“Kiang Liat, aku bangga melihatmu. Kau memang patut menjadi murid Han Le. Sekarang lekas-lekas kau pulang dan langsungkan pernikahanmu. Kelak aku akan datang memberi hadiah dua tiga pukulan kepadamu.”

Kiang Liat girang sekali. Sesudah menghaturkan terima kasih, dia mengambil pedangnya dan pergi dari situ. Ia tidak mau mempedulikan lagi kepada Pek Hoa, karena sebenarnya, betapa pun marahnya terhadap gadis itu, dia tidak tega melihat kalau-kalau Bu Pun Su akan membunuh Pek Hoa.

Akan tetapi, Bu Pun Su bukanlah seorang yang mudah saja membunuh orang. Dia lalu melangkah maju, tersenyum melihat gadis itu masih terus berjuang untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan.

“Pek Hoa, totokan itu tak akan dapat dibebaskan kalau tidak dengan suling ini,” katanya sambil mencabut keluar sebatan suling bambu yang sudah tua.

Tadi ia memang menotok pundak gadis itu dengan sulingnya, karena Bu Pun Su merasa segan untuk melakukan hal ini dengan tangannya. Pada saat ujung sulingnya menyentuh jalan darah pada pundak Pek Hoa, seketika gadis ini pulih kembali keadaannya. Dengan berang dia cepat-cepat melompat berdiri memandang kepada Bu Pun Su seperti seekor harimau betina hendak menubruk mangsanya, lalu berkata,

“Bu Pun Su, aku benci sekali kepadamu!” 
“Bagus!” kata Bu Pun Su sambil tersenyum “Seribu kali lebih aman kau benci dari pada kau cinta. Kecantikan dan kasih sayangmu jauh lebih berbahaya dari pada watak buruk dan kebencianmu, Pek Hoa.”

Setelah berkata begitu, Bu Pun Su termenung. Ia teringat akan semua pengalamannya di waktu muda, betapa dia pernah menjadi korban dari kecantikan dan kasih sayang palsu dari seorang wanita yang cantik dan jahat seperti Pek Hoa ini.

Pek Hoa membanting-banting kaki saking gemas. “Jadi kau selalu mengintai aku selama ini? Sungguh tidak tahu malu! Kalau memang kau gagah berani, mengapa tidak melawan guru-guruku? Mengapa kau menghina seorang perempuan?”

Pek Hoa hampir menangis. Ingin sekali ia mencabut siangkiam-nya dan mempergunakan senjata rahasia atau senjata berbisa, namun dia cukup maklum bahwa semua ini takkan ada gunanya terhadap Bu Pun Su.

“Memang aku hendak mencari guru-gurumu, yakni Thian-te Sam-kauwcu yang ternama,” jawab lagi pendekar sakti itu.
“Jadi kau mengikuti aku untuk mengetahui di mana adanya guru-guruku?” 
“Bukan hanya demikian, akan tetapi yang terpenting untuk melihat tingkah-lakumu, untuk menjaga agar supaya kau jangan sampai mengganggu orang-orang seperti yang tadi kau lakukan. Tentang guru-gurumu, agaknya mereka itu takut kepadaku maka tidak berani muncul.”

Kata-kata ini sengaja diucapkan oleh Bu Pun Su untuk dapat membakar hati gadis itu. Dan maksudnya ini berhasil karena Pek Hoa memandangnya dengan marah.

“Bu Pu Sun, kau sombong! Kau menggunakan kepandaian untuk menghinaku, seorang perempuan lemah! Awas kau, akan datang saatnya aku membalas semua ini, membalas kepadamu dan kepada Han Le! Akan tiba saatnya aku menghancurkan kau dan semua orang yang ada hubungannya denganmu! Apa bila kau memang berani, datanglah ke lembah Sungai Yalu-cangpo, tepat di mana sungai suci itu berbalik ke barat. Di sanalah kau akan kami tunggu dan kalau kau tidak berani datang, ternyata Bu Pun Su hanyalah seorang pengecut besar yang berani dan berlagak di tempat dan kandang sendiri saja!” Sehabis mengeluarkan kata-kata ini, Pek Hoa lalu melompat dan menghilang di dalam gelap. 

Bu Pun Su tidak mengejar. Ia percaya bahwa keterangan itu tidak bohong. Memang ia pernah mendengar bahwa tempat tinggal tiga orang aneh dari barat itu adalah di sekitar barat Gunung Heng-tuan-san dan sebagai seorang perantau besar dia pun sudah pernah mengunjungi daerah ini. Ia pun tahu bahwa daerah ini amat dekat dengan daerah-daerah asing seperti Nepal, Bhutan dan India, karena itu sudah sepatutnya kalau tiga orang itu mendirikan markas pusat di sana…..

********************
Upacara pernikahan antara Kiang Liat dengan Song Bi Li dilangsungkan dengan meriah. Banyak sekali tamu yang datang memberi selamat, dan di antaranya bahkan terdapat Han Le Si Pengemis Sakti.

Oleh karena Cap-si Kaipangcu, empat belas orang ketua perkumpulan pengemis yang lihai juga hadir, maka para tamu tentu saja terheran-heran melihat begitu banyak orang tua berpakaian pengemis, akan tetapi mendapat penghormatan terbesar dari pihak tuan rumah! Tentu saja mereka yang terheran-heran ini adalah orang-orang biasa, karena orang-orang kang-ouw yang hadir di situ tentu saja mengenal tokoh-tokoh besar ini.

Siapakah yang tidak mengenal It-gan Sin-kai pengemis tinggi kurus yang bermata satu itu, yang pernah membikin geger istana karena mencuri masuk ke dalam dapur istana untuk menikmati hidangan-hidangan kaisar. Siapa pula tidak mengenal Pat-jiu Siauw-kait pengemis kate berperut gendut seperti orang cacingan itu, yang kini duduk menghadapi meja sambil minum arak begitu saja dari guci yang besarnya hampir sama dengan tubuhnya?

Masih banyak sekali tokoh-tokoh besar, seperti Tiat-tho Mo-kai dan terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Pendeknya, empat belas orang pemimpin pengemis yang dinamakan Cap-si Kaipangcu, hadir semua. Juga masih ada belasan orang tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah kenal dengan Kiang Liat, hadir di situ. Mereka semua ini, termasuk Cap-si Kaipangcu, menghormati Han Le yang merupakan tokoh tertinggi di tempat itu.

Sesudah upacara pernikahan selesai, Han Le mendengar dari muridnya tentang Bu Pun Su, maka dia segera meninggalkan tempat itu untuk mencari suheng-nya. Han Le sudah menyelesaikan tugasnya, sudah memberi tahu kepada tokoh-tokoh pimpinan partai besar untuk berhati-hati dan siap siaga menghadapi pengaruh-pengaruh asing dari barat…..

********************
Selanjutnya baca
ANG-I NIOCU (DARA BAJU MERAH) : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger