logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Ang I Niocu (Nona Baju Merah) Jilid 06


Di luar kota tembok Liong-san-mui terdapat sebuah kelenteng tua yang sudah lama tidak pernah mengebulkan asap hio, tanda bahwa kelenteng itu tidak dipakai orang lagi. Sudah bertahun-tahun kelenteng itu tinggal kosong dan makin lama menjadi semakin rusak tidak terpelihara. Penghuninya hanyalah laba-laba yang membuat sarang pada setiap sudut, membuat kelenteng itu nampak menyeramkan sekali.

Tidak ada orang yang berani masuk ke dalam. Bahkan para jembel yang tak mempunyai tempat tinggal dan mempergunakan ruang depan kelenteng itu untuk tempat tidur atau berteduh, tidak berani sembarangan masuk ke dalam kelenteng itu.

Akan tetapi akhir-akhir ini, kurang lebih sudah seminggu, terjadi perubahan besar. Tidak ada lagi jembel yang berani tinggal di situ dan keadaan kelenteng itu tidak kosong lagi. Seorang laki-laki bertubuh gagah dan tampan, berpakaian bagai seorang pendekar, telah menjadikan kelenteng itu sebagai tempat tinggalnya.

Orang ini gerak-geriknya aneh sekali. Wajahnya selalu tampak muram dan berduka, akan tetapi tidak jarang orang mendengar gema suara ketawanya memecah kesunyian tengah malam. Sejak ia mengusir semua jembel dari ruang depan kelenteng, kemudian memukul kocar-kacir belasan orang pengemis yang datang hendak merampas kembali tempat itu, tidak ada lagi orang berani datang mengganggunya.

“Dia pendekar yang aneh,” kata seorang yang mengerti ilmu silat, “gerakan-gerakannya menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat tinggi. Lihat saja cara ia ketika menyarungkan pedangnya, tentu pedang pusaka.”
“Dia berotak miring,” berbisik orang ke dua, “Pernah di tengah malam aku mendengar dia tertawa bergelak seperti iblis, dan pernah aku mendengar dia menangis tersedu-sedu dan akhirnya memaki-maki.”
“Dia orang yang aneh, benar-benar pendekar aneh,” demikian akhirnya orang mengambil kesimpulan.

Tadinya penduduk Liong-san-mui mengatakan sebutan ‘pendekar aneh’ ini dengan nada mengejek dan menertawakan. Akan tetapi tiga hari kemudian semenjak orang itu berada di situ, sebutan ini berubah menjadi sebutan yang disertai rasa kagum, segan, dan sangat menghormat. Tidak seorang pun berani lagi menganggapnya ‘berotak miring’ betapa pun aneh kelakuan orang ini.

Hal ini terjadi setelah pendekar aneh yang dianggap gila ini pada suatu malam, seorang diri dan bertangan kosong, telah merobohkan serombongan perampok yang mengganggu kota Liong-san-mui, dan menyerahkan rombongan perampok terdiri dari tujuh belas orang ini kepada yang berwajib! 

Tikoan, pembesar yang menerima tawanan perampok itu, menghaturkan ucapan terima kasih dan menanyakan nama orang gagah itu. Akan tetapi, benar-benar orang aneh. Dia tidak mengaku, bahkan nampak marah-marah ketika berkata,

“Kewajiban Taijin hanya menerima dan menghukum orang-orang jahat itu, habis perkara. Perlu apa tanya-tanya namaku? Aku tidak minta hadiah!”

Maka pergilah dia meninggalkan Tikoan yang menjadi bengong, akan tetapi tidak berani berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang bersikap aneh dan kurang ajar itu. Karena sikap yang kurang ajar inilah, maka selanjutnya para pembesar setempat tidak mau dan sungkan menghubunginya. Akan tetapi betapa pun juga, penduduk amat berterima kasih dan menganggapnya sebagai tuan penolong atau pendekar budiman.

Siapakah pendekar aneh itu? Untuk mengenalnya, mari kita melihat ke dalam kelenteng dan mengikuti gerak-geriknya. 

Di ruangan yang paling dalam di kelenteng itu, ruangan yang gelap akan tetapi bersih dari sarang laba-laba karena ruangan ini dijadikan kamar tidur dan telah dibersihkan, nampak seorang laki-laki duduk bersila di atas lantai yang telah disapu bersih. 

Seperti orang bersemedhi, laki-laki ini duduk bersila menghadapi meja sembahyang yang sudah tua dan sudah amat lama tak pernah dipakai orang. Kalau orang melihatnya dari belakang, tentu mengira bahwa ia sedang bersemedhi, tak bergerak seperti patung.

Akan tetapi kalau orang melihat dari depan dan berada dekat dengannya, akan kelihatan jelas bahwa orang biar pun tubuhnya tidak bergerak, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak dan terdengar dia bercakap-cakap dengan suara perlahan. Dari sepasang matanya yang dipejamkan itu bercucuran air mata. Kalau orang mendengar dia seperti bercakap-cakap tanya jawab dengan seorang yang tidak kelihatan, orang tentu akan menganggap ia gila.

“Bi Li, aku memang berdosa besar kepadamu, isteriku... Kini aku mengaku, sebenarnya akulah yang membunuhmu, akulah yang memaksamu meninggal dunia karena menyiksa hatimu. Aku orang berdosa besar, Bi Li. Kau ampunkan suamimu yang hina dan bodoh ini, isteriku…”

Mendengar ucapan yang berupa bisikan ini, tahulah kita bahwa orang itu tidak lain adalah Jeng-jiu-san Kiang Liat. Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, setelah menerima pukulan yang hebat dari penuturan Ceng Si bekas pelayan isterinya bahwa sebenarnya isterinya itu tak berdosa apa-apa, dan bahwa isterinya meninggal dunia karena menyesal dan berduka ditinggal suaminya, Kiang Liat seperti orang gila.

Hatinya penuh penyesalan dan ia merantau ke sana ke mari. Hidupnya hanya bertujuan satu, yakni mencari puterinya yang diculik oleh Pek Hoa Pouwsat. Apa bila kiranya Bi Li tidak meninggalkan anak, tentu Kiang Liat sudah membunuh diri untuk menyusul isterinya yang tercinta.

Dia tidak peduli lagi keadaan tubuhnya yang menderita pukulan batin dan membuat dia kadang-kadang muntah darah. Akan tetapi ia mulai mengumpulkan uang. Sesuai dengan wataknya, ia selalu memberantas kejahatan. Setiap kali ia membasmi penjahat, selalu ia merampas milik penjahat itu sehingga sebentar saja ia sudah dapat mengumpulkan harta kekayaan yang besar juga, yang disembunyikan dalam sebuah goa. Selama empat tahun lebih ia merantau, mencari-cari Pek Hoa. Akan tetapi sia-sia belaka, tak seorang pun di dunia kang-ouw tahu ke mana siluman itu menghilang.

Kiang Liat mengumpulkan uang bukan sekali-kali dikarenakan dia ingin hidup bersenang-senang, akan tetapi dia sengaja mengumpulkan harta untuk kelak dipakai menyenangkan hidup Im Giok anaknya. Bahkan ia mulai pula mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian bersih dan indah, karena dia ingin kelihatan gagah apa bila dia berhasil bertemu dengan puterinya.

Setiap malam dia teringat kepada isterinya itu. Keadaan pendekar ini benar-benar sangat memilukan hati. Benar-benar amat berat hukuman yang dideritanya akibat kecerobohan dirinya terhadap isterinya,. 

Sesudah mengeluarkan kata-kata itu sambil memandang ke atas meja, Kiang Liat diam beberapa lama, sikapnya seperti sedang mendengarkan orang yang bicara kepadanya. Kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata,

“Tentu saja, Bi Li. Aku pasti akan mencari Im Giok sampai ketemu. Aku akan mengadu nyawa dengan siluman Pek Hoa dan merampas kembali anak kita. Sudah empat tahun aku mencari jejaknya dengan sia-sia, akan tetapi aku tidak pernah putus asa. Sebelum putus nyawaku, aku tidak akan berhenti berusaha mencari Im Giok.”

Kiang Liat menarik napas panjang, menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya dan berkata lagi, “Kau tidak percaya kepadaku, Bi Li? Sudah sepantasnya kalau kau tidak mempercayai seorang suami goblok seperti aku, seorang suami buta yang menuduh isterinya yang setia berlaku tidak patut. Memang kau berhak tidak percaya kepadaku, Bi Li isteriku. Akan tetapi, biarlah aku Kiang Liat bersumpah, aku akan mencari Im Giok sampai saat penghabisan. Biarlah rambutku menjadi saksi!”

Setelah berkata demikian, Kiang Liat mencabut pedangnya dan berlutut. Dengan tangan kiri dijambaknya rambutnya yang hitam panjang, dan tangan kanannya yang memegang pedang bergerak membabat rambutnya sendiri! Putuslah rambut di kepalanya dan kepala itu kini hanya tinggal ditumbuhi rambut pendek saja.

“Ayaaah...!”

Tiba-tiba saja bayangan merah melayang turun dan ternyata yang melompat turun adalah seorang gadis cilik berpakaian merah, sedangkan di belakangnya turun seorang kakek.

Kiang Liat memandang dengan mata bengong, tidak mengenal siapa adanya anak yang menyebut ayah kepadanya itu. Kemudian saat ia melirik ke arah kakek yang telah berdiri di belakang gadis cilik itu, ia terkejut sekali, melempar pedangnya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Kiang Liat boleh jadi agak gendeng dan miring otaknya bila ia sedang tenggelam dalam lamunan sendiri dan mengingat akan isterinya. Akan tetapi pada lain waktu ia merupakan seorang manusia biasa yang sadar.

“Teecu tidak tahu akan kedatangan Suhu Bu Pun Su, mohon ampun kalau teecu tidak menyambutnya,” katanya penuh hormat dan segan.

Memang kalau ada orang di dunia ini yang disegani dan ditakuti oleh Kiang Liat, orang itu tak lain hanya Bu Pun Su dan mungkin juga Han Le. 

Bu Pun Su memandang kepada Kiang Liat, sinar matanya penuh belas kasihan. 

“Kiang Liat, jangan terlalu jauh dilarutkan oleh lamunan dan kedukaan. Inilah Kiang Im Giok puterimu, sengaja kubawa ke sini agar kau dapat hidup kembali bersama puterimu. Pergunakanlah sisa hidupmu sebaiknya untuk mendidik anakmu ini, Kiang Liat.” 

Mendengar ini, dengan muka pucat Kiang Liat segera menengok ke arah Im Giok. Ayah dan anak berpandangan, dua pasang mata perlahan-lahan mengeluarkan air mata, dua pasang bibir bergerak-gerak dan bergemetar tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata.....

Kiang Liat mengulurkan dua lengan yang tangannya menggigil, ada pun Im Giok perlahan melangkah maju.

“Im Giok... kau... anakku...?” 
“Ayaah...!”

Di lain saat ayah dan anak itu sudah berpelukan dan bertangisan.

Bu Pun Su terbatuk-batuk untuk menenangkan hatinya sendiri yang ikut merasa terharu dan pilu. Setelah membiarkan mereka melepaskan perasaan hati untuk sementara, lalu dia berkata,

“Sudahlah, tidak baik menurutkan perasaan, mendatangkan kelemahan saja. Kiang Liat, anakmu ini berbakat baik dalam ilmu silat, biar aku tinggalkan dua macam ilmu silat untuk kelak kau turunkan kepadanya. Akan tetapi kau hati-hatilah, wataknya keras dan aneh, perlu dikendalikan dengan kuat!”

Kiang Liat girang sekali mendengar ini. 

“Im Giok, anakku, lekas kau menghaturkan terima kasih kepada Susiok-couw-mu (Paman Kakek Guru).” Kiang Liat menarik tangan Im Giok dan keduanya berlutut di depan kakek sakti itu. 

Dengan sangat tekun, Kiang Liat mempelajari dua ilmu silat yang diturunkan oleh Bu Pun Su untuk Im Giok. Pertama-tama Bu Pun Su minta supaya Im Giok bersilat menurut apa yang dia pelajari dari Pek Hoa Pouwsat. Bu Pun Su adalah seorang sakti yang memiliki kepandaian aneh dan luar biasa. Sekali saja melihat, ilmu silat apa pun juga dapat ia tiru dengan gerakan yang jauh lebih sempurna dari pada aslinya! Demikian pula dengan ilmu silat yang dimainkan oleh Im Giok, sekali melihat kakek ini dapat menurunkan ilmu silat yang sama, akan tetapi yang sama sekali bebas dari kelemahan dan kekurangan.

Pendeknya, Bu Pun Su memperbaiki dan menyempurnakan ilmu silat yang seperti tarian, yang dipelajari oleh Im Giok dari Pek Hok Pouwsat. Ada pun ilmu silat ke dua yang dia turunkan kepada Kiang Liat untuk Im Giok yaitu ilmu silat pedang yang disesuaikan pula dengan gerakan dan bakat yang sudah menjadi dasar dari Im Giok.

Selain dua macam ilmu silat yang khusus untuk Im Giok ini, juga kepada Kiang Liat kakek ini menurunkan ilmu berlatih lweekang dan ginkang sehingga Kiang Liat merasa bersukur sekali. Sampai dua pekan Bu Pun Su tinggal di kelenteng kuno itu bersama Kiang Liat dan Im Giok dan siang malam mereka tekun menerima pelajaran baru dari kakek sakti itu.

Sesudah selesai dan hendak meninggalkan mereka, Bu Pun Su berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Kiang Liat dan kau juga Im Giok, dengarlah baik-baik. Setelah kalian menerima pelajaran dariku, maka selanjutnya kalian harus menjaga diri baik-baik. Sekali saja aku mendengar kalian menggunakan kepandaian yang kalian pelajari dariku untuk melakukan perbuatan menyeleweng dan sewenang-wenang, aku sendiri akan datang memberi hukuman berat.”

Setelah Bu Pun Su pergi, Kiang Liat memeluk puterinya dan berkata dengan hati girang sekali.

“Anakku, marilah kita pulang ke Sian-koan dan mulai hidup baru. Akan kusediakan rumah gedung dan pakaian-pakaian indah untukmu. Dan jangan kau khawatir, anakku, aku akan berusaha supaya kelak engkau menjadi seorang dara perkasa yang jarang tandingannya, seorang yang hidup penuh kebahagiaan tidak kekurangan sesuatu!”

Im Giok sudah mendengar sumpah ayahnya dari atas genteng, karena itu dia tidak perlu mendengar janji-janji yang lain. Ia sudah merasa amat kasihan dan terharu melihat nasib ayahnya, dan dia merasa amat bangga karena ternyata ayahnya adalah seorang laki-laki gagah yang patut dibanggakan.

Demikianlah, ayah dan anak itu lalu pulang ke Sian-koan. Dengan uang yang ia simpan, Kiang Liat membangun sebuah gedung baru dengan taman bunga yang luas dan indah, perabot-perabot rumah serba baru, pendeknya dia berusaha untuk membikin senang hati puteri tunggalnya.

Im Giok baru berusia hampir sebelas tahun. Maka, menerima budi kecintaan ayahnya yang berlimpah-limpah ini, mau tidak mau timbul sifat manja dalam hatinya.

Memang beginilah, tidak hanya Kiang Liat, banyak orang tua-tua di dunia ini yang keliru menyatakan kasih sayang kepada anak sehingga bukan anak menjadi baik sebagaimana yang diharapkan, sebaliknya anak menjadi manja.

Untungnya, Im Giok memang sudah memiliki dasar watak gagah dan baik sehingga sikap ayahnya itu hanya mendatangkan sebuah cacat lagi, yaitu manja dan ingin dituruti segala kehendaknya. Di samping ini, sifat lain yang dia warisi dari Pek Hoa Pouwsat adalah sifat pesolek, suka berhias dan berpakaian serba indah dan serba merah, tidak lupa untuk menambah merah pada bibirnya, menambah hitam pada alisnya sehingga setiap saat gadis ini kelihatan seperti seorang bidadari baru turun dari kahyangan!

Akan tetapi harus diakui bahwa bakat Im Giok dalam ilmu silat benar-benar baik sekali. Ditambah lagi oleh semangat Kiang Liat yang demikian besar. Pendekar ini benar-benar mempunyai cita-cita untuk membuat puterinya menjadi seorang gagah, maka dia sangat tekun dan hati-hati memimpin puterinya dalam ilmu silat, maka dapat dibayangkan betapa pesat kemajuan yang diperoleh Im Giok.

Akan tetapi, kadang-kadang Im Giok merasa kesepian. Hidup di dekat Kiang Liat berbeda jauh dengan pada saat ia masih bersama dengan Pek Hoa. Betapa pun besar sayangnya Kiang Liat kepadanya, akan tetapi ayahnya itu seorang pria, dan Im Giok membutuhkan pergaulan dengan sesama kelamin.

Selain ini, Im Giok yang melihat ayahnya masih belum tua dan begitu gagah, diam-diam juga prihatin dan berduka kalau teringat akan ibunya. Banyak buku yang ia baca karena ayahnya menyediakan untuknya dan mengajarnya pula, memberi pelajaran pada Im Giok bahwa seorang seperti ayahnya itu sudah sepatutnya kalau menikah lagi dengan seorang gadis cantik pengganti ibunya yang telah meninggal.

Sifat Im Giok yang tidak pemalu dan periang itu membuat dia sebentar saja mempunyai banyak kawan di kota Sian-koan. Tidak jarang gadis ini keluar rumah dan mengunjungi tetangga dan walau pun hal ini termasuk kebiasaan yang janggal, namun ayahnya tidak melarangnya. Kiang Liat cukup maklum bahwa puterinya telah memiliki kepandaian yang cukup untuk dipakai menjaga diri, dan di samping ini, siapakah yang berani mengganggu puteri Jeng-jiu-sian Kiang Liat?
Image result for dara baju merah
Satu tahun kemudian, pada suatu sore, Im Giok pulang dari tetangga bersama seorang gadis yang cantik. Gadis ini pipinya kemerahan, sepasang matanya yang jeli dan kocak kelihatan agak berduka. Namun harus diakui bahwa gadis memiliki sepasang mata yang indah dan bening, seperti sepasang kemala. Usianya kurang lebih enam belas tahun dan tubuhnya sehat dan nampaknya biasa bekerja berat.

Kiang Liat bangkit dari kursinya dan memandang dengan mata terbelalak heran. Dengan malu-malu gadis remaja itu menjura sebagai penghormatan kepada Kiang Liat. 

“Im Giok, siapakah nona ini dan mengapa kau membawa dia ke sini?” tanya Kiang Liat dengan nada menegur dalam suaranya. 
“Ayah, jangan marah dulu,” berkata Im Giok dengan sikap manja, “dia ini adalah sahabat baikku, namanya Kim Lian, Song Kim Lian, rumahnya di sebelah barat itu. Enci Kim Lian, kau duduk dulu di sini, ya! Aku mau bicara dengan Ayah,”

Im Giok lalu menghampiri ayahnya, memegang tangan ayahnya itu dan menariknya ke ruangan sebelah dalam. Dengan kening berkerut Kiang Liat mengikuti puterinya, hatinya merasa tidak enak.

“Kau mau apakah, Im Giok?” tanyanya setelah mereka berada di ruang dalam. 
“Ayah, bagaimana ayah lihat Enci Kim Lian itu? Cantik dan matanya seperti mata burung Hong, bukan?” 

Kerut di kening Kiang Liat makin mendalam. “Kalau dia cantik dan bermata bagus, habis mengapa?” 
“Ayah, aku selalu merasa kesunyian.” 
“Kan ada Ayah, ada banyak pelayan.” 
“Ayah laki-laki dan para pelayan... ahhh, mereka selalu bermuka-muka, aku tidak suka. Ayah juga... Ayah juga kesepian, bukan?” 

Kiang Liat memegang pundak Im Giok, memandang tajam dan berkata, “Im Giok, pikiran ganjil apakah yang terkandung di dalam kepalamu? Hayo katakan terus terang, jangan berputar-putar.” 

Im Giok menarik napas panjang, sukar agaknya untuk bicara. Akhirnya ia memberanikan hatinya, memegang tangan ayahnya dengan sikap manja dan berkata, 

“Jangan marah, ya Ayah? Aku bermaksud baik. Sahabatku Kim Lian ini adalah seorang sahabat yang baik, lagi pula dia sudah yatim piatu, kalau saja... kalau saja… dia dapat tinggal di sini sehingga aku mempunyai kawan, alangkah baiknya.”
“Menjadi pelayan?” Kiang Liat menjelaskan. 

Im Giok cemberut. “Dia sahabatku, bagaimana harus menjadi pelayan? Biarkan saja dia tinggal di sini, serumah dengan kita, Ayah.” 

Kembali kening Kiang Liat berkerut. “Ah, Im Giok. Ada-ada saja kau ini. Tak tahukah kau bahwa seorang gadis dewasa seperti dia itu tidak patut sekali apa bila tinggal di rumah orang lain, apa lagi di rumah seorang duda!”

“Karena itu, alangkah baiknya kalau Ayah... kawinin saja dia!” kata Im Giok cepat. 

Tangan ayahnya yang tadinya memegang pundak tiba-tiba saja terlepas dan Kiang Liat terduduk di atas kursi, wajahnya pucat dan matanya melotot memandang pada Im Giok. Gadis cilik ini kaget sekali dan agak ketakutan, mundur dua langkah.

“Im Giok...,“ akhirnya terdengar suara Kiang Liat, lambat dan perlahan, dengan gigi-gigi dirapatkan menahan nafsu marah. “Kalau bukan kau yang mengajukan usul macam ini, tentu kupukul mampus sekarang juga! Apa kau sudah gila? Kalau tidak untuk kau, aku sudah menyusul ibumu. Untuk apa hidupku di dunia ini melainkan untuk kau? Bagaimana kau bisa menyuruh aku menikah dengan perempuan lain dan mengkhianati ibumu?”

Im Giok menangis dan segera menubruk ayahnya. Ia berlutut dan menaruh kepala di atas pangkuan ayahnya.

“Ampunkan aku, Ayah. Aku tidak sengaja menyakiti hati Ayah. Aku hanya ingin punya kawan, aku... aku kehilangan Enci Pek Hoa. Ayah...” 

Melihat keadaan anaknya, luluh hati Kiang Liat, lenyap marahnya. Ia berpikir sejenak, lalu berkata,

“Sudah, diamlah, anakku. Aku bisa memenuhi keinginanmu, akan tetapi bukan menikah. Mengingat bahwa Kim Lian sudah yatim piatu, dan selain engkau aku pun tidak punya murid, dan melihat gerak kakinya tadi cukup tegap dan kuat, biarlah dia menjadi muridku belajar di sini dan mengawanimu. Bagaimana?” 

Im Giok hampir bersorak. Ia bangkit berdiri, memeluk ayahnya dan berlari ke ruangan depan. Tidak lama kemudian ia sudah datang lagi berlarian sambil menggandeng tangan Kim Lian. Agaknya dia sudah menuturkan pada sahabatnya itu, sebab begitu berhadapan dengan Kiang Liat, Kim Lian lau menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala sambil menyebut,

“Suhu...!” suaranya merdu dan halus. 
“Bangunlah! Kau menjadi muridku atas desakan Im Giok. Akan tetapi entah kau suka atau tidak belajar ilmu silat yang kasar,” kata Kiang Liat. 
“Ayah... jangan Ayah memandang rendah kepada Enci Kim... ehh, kepada Suci (Kakak Seperguruan) Kim Lian. Dalam bermain-main dan selama setahun menjadi kawanku, dia telah banyak dapat meniru gerakan silatku. Suci, coba kau tunjukkan kebisaanmu kepada Ayah.”
“Ahh, Sumoi, kau membikin aku malu saja...,” Kim Lian mengerling dengan muka merah dan senyum dikulum.

Kiang Liat kembali mengerutkan kening melihat lagak yang genit dan dapat menarik hati laki-laki ini. Hemm, dalam banyak hal gerak-gerik Kim Lian ini hampir sama dengan Im Giok anaknya, pikirnya.

“Tidak usah malu-malu, kau perlihatkanlah apa yang sudah kau pelajari. Dengan melihat gerakanmu, aku bisa mengira-ngira sampai di mana tingkatmu.”

Mendengar perintah suhu-nya, Kim Lian lalu bersilat seperti apa yang ia lihat dan pelajari dari Im Giok. Dan Kiang Liat tercengang. Benar sekali kata-kata Im Giok. Gadis cantik ini mempunyai bakat yang luar biasa, sungguh pun tidak sebesar bakat Im Giok, akan tetapi kelemasan gerak kaki tangannya menunjukkan bahwa Kim Lian mempunyai bakat ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari pada gadis-gadis biasa. Memang sukar mencari seorang murid wanita dengan bakat seperti ini.

Timbullah kegembiraan di dalam hati Kiang Liat dan mulai hari itu Kim Lian menjadi murid Jeng-jiu-sian Kiang Liat, belajar ilmu silat bersama Im Giok yang tentu saja sudah sangat jauh meninggalkannya. Bahkan dalam latihan sehari-hari, boleh dibilang Kim Lian dilatih oleh Im Giok yang mewakili ayahnya.

Kiang Liat masih saja berlaku sungkan dan likat-likat. Maka ia hanya memberi contoh dan petunjuk-petunjuk teori saja, sedangkan prakteknya dia serahkan kepada Im Giok untuk mengajar suci-nya.

Benar saja, setelah Kim Lian juga tinggal di rumah gedung itu, Im Giok menjadi gembira sekali. Tidak saja ia menjadi semakin giat berlatih ilmu silat, juga ia tekun memperdalam ilmu surat dan bahkan suka belajar menyulam bersama suci-nya.

Ada pun dalam hal mempersolek diri, agaknya Kim Lian merupakan imbangan yang baik bagi Im Giok. Tentu saja Kim Lian tidak secantik Im Giok, karena sesungguhnya sukar mencari seorang gadis yang secantik Im Giok, akan tetapi pada umumnya Kim Lian juga seorang gadis yang manis dan cantik, lagi pandai beraksi.

Walau pun Kim Lian mulai belajar ilmu silat setelah ia berusia belasan tahun dan telah dewasa, akan tetapi berkat bakatnya yang baik dan terutama sekali oleh karena ia belajar di bawah pimpinan seorang ahli silat kelas tinggi, maka ia pun mewarisi ilmu silat tinggi dan menjadi seorang ahli silat yang pandai. Seperti juga Im Giok, ia mempunyai ginkang yang luar biasa, hanya kalah sedikit saja oleh sumoi-nya itu, biar pun dalam hal lweekang ia kalah jauh.

Akan tetapi, diam-diam Kiang Liat merasa amat khawatir kalau ia melihat watak muridnya ini. Kim Lian sering memperlihatkan sikap genit dan memikat di depannya, mengingatkan pendekar ini akan sikap Ceng Si dahulu. Kadang-kadang dia membentak dan menegur muridnya ini, yang diterima oleh Kim Lian dengan senyum manis memikat.

Beberapa kali Kiang Liat bahkan menyuruh puterinya menegur, dan kalau Im Giok sudah menegur, barulah Kim Lian menghentikan aksinya. Memang Kim Lian tidak takut kepada suhu-nya karena dia merasa lebih leluasa dan dapat menghadapi seorang laki-laki, akan tetapi terhadap Im Giok, ia merasa takut dan segan.

Pertama karena ia merasa berhutang budi kepada sumoi-nya ini. Jika tak ada sumoi-nya yang menariknya tinggal ke dalam rumah gedung mewah itu, hidupnya tentu kekurangan dan mungkin sekali terlantar. Ke dua, ia memang tahu bahwa kepandaian sumoi-nya jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

“Im Giok, sekarang suci-mu telah berusia dua puluh tahun lebih, dan kiranya sudah cukup lama ia berada di sini sehingga sudah patut baginya untuk berumah tangga. Bagaimana pikiranmu apa bila aku mencarikan seorang suaminya untuknya?” Pada suatu hari Kiang Liat berkata demikian kepada Im Giok yang sudah berusia empat belas tahun lebih. 

Gadis ini sudah cukup dewasa untuk mengerti akan maksud ayahnya. Sering kali Kim Lian memperlihatkan sikap yang memikat di depan ayahnya, maka tentu ayahnya merasa tidak enak sekali. Memang, bagi ayahnya, akan lebih baik kalau Kim Lian keluar dari situ dan menikah dengan seorang pemuda yang baik. 

“Baiklah, akan kusampaikan kepadanya, Ayah,” kata Im Giok yang akhir-akhir ini merasa kasihan dan juga gelisah melihat keadaan ayahnya.

Setelah beberapa kali menghadapi godaan Kim Lian, Kiang Liat jadi teringat lagi kepada isterinya dan juga kepada Ceng Si yang dulu menggodanya, maka terkenanglah ia akan kebodohannya, akan kekejamannya terhadap isterinya. Kenangan ini membikin kambuh sakit jantungnya, membuatnya pucat dan kadang-kadang batuk-batuk, bahkan sering di tengah malam ia tertawa-tawa dan menangis lagi!

Akan tetapi ketika Im Giok menyampaikan usul ayahnya kepada Kim Lian, suci-nya itu memperlihatkan muka berduka, bahkan lalu menghadap Kiang Liat sambil berlutut dan menangis.

“Suhu, teecu mohon supaya Suhu jangan menyuruh teecu pergi dari sini. Teecu rasanya tidak sanggup untuk berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Suhu, tentang menikah, teecu sama sekali tidak ada niat, karena selamanya teecu ingin melayani Suhu dan mengawani Sumoi...” 

Kata-kata ini biar pun diucapkan dengan suara sedih dan terputus-putus, akan tetapi bagi pendengaran Kiang Liat hanya bermaksud satu, yakni Kim Lian akan menerima dengan hati terbuka bila gurunya mau mengambilnya sebagai isteri sehingga gadis ini selamanya akan melayaninya, juga tidak akan berpisah dari Im Giok!

Merah muka Kiang Liat dan dia merasa dadanya sakit. Dia selalu ingat akan kesetiaan mendiang isterinya dan akan kekejiannya memfitnah isterinya, maka ia telah bersumpah untuk membalas isterinya itu dengan kesetiaan selama hidupnya. Oleh karena ini, setiap godaan seorang wanita membangkitkan penyesalannya kepada diri sendiri dan membuat dadanya terasa sakit.

“Kim Lian, jangan kau mengeluarkan kata-kata seperti itu. Setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Kami tentu saja tidak mengusirmu, dan terus terang saja, kehadiranmu di rumah ini banyak mendatangkan kegembiraan Im Giok dan untuk ini aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi tentang menikah, kau sudah berusia dua puluh tahun lebih, waktunya sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sendiri, Kim Lian. Jangan kau khawatir, aku dapat memilihkan seorang calon suami yang baik, percayalah kepadaku karena sebagai guru aku takkan menyesatkan murid sendiri...”

Mendengar ini, tangis Kim Lian semakin sedih. Ia merangkul Im Giok lalu berkata, “Suhu, apa saja kehendak Suhu pasti teecu taati asal saja teecu jangan disuruh berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Tentang menikah... teecu akan menanti Sumoi. Apa bila Sumoi sudah menikah, teecu baru suka menikah pula. Ini sudah menjadi sumpah di dalam hati teecu.”

Kiang Liat menjadi mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kata-kata itu hanya akal saja, alasan untuk menggagalkan usulnya. 

“Hmm, perempuan memang aneh. Lain di mulut lain di hati,” pikirnya. “Pada hatinya jelas nampak ia ingin melayani laki-laki, akan tetapi mulutnya bilang tidak mau menikah!”

Kemudian dengan suara marah ia berkata, 

“Kim Lian, kau yang bersumpah, bukan aku yang memaksa. Kau harus memegang teguh sumpahmu itu, kalau tidak, aku akan marah kepadamu. Aku tidak sudi melihat muridku bermain lidah dan tidak dapat dipegang kata-katanya. Ingat, kau sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum Im Giok menikah. Baik, akan begitulah jadinya!” Setelah berkata demikian, Kiang Liat meninggalkan dua orang gadis itu dan masuk ke dalam kamarnya.

Semenjak saat itu, sikap Kiang Liat makin pendiam. Jarang sekali ia bicara dengan Im Giok. Kepada Kim Lian, dia sama sekali tidak pernah bicara lagi. Akan tetapi anehnya, mulai saat itu ia makin giat melatih dua orang gadis itu.

Pagi-pagi sekali dia sudah memaksa mereka bangun, berlatih ilmu silat sampai kedua orang gadis itu hampir tidak kuat lagi. Demikian pun pada siang hari, bahkan sering kali pada malam hari. Pendeknya, Kiang Liat sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk bermalas-malasan.

“Seorang wanita harus kuat, baru aman hidupnya,” katanya di depan dua orang gadis itu. “Kalian harus dapat menerima semua kepandaianku sebelum aku lupa lagi.” 

Demikianlah, hampir tiga tahun lamanya Kiang Liat tekun menggembleng puterinya dan muridnya. Susah-payah Im Giok dan Kim Lian mengikuti latihan ini, akan tetapi hasilnya juga luar biasa sekali.

Im Giok secara terpisah sudah menerima latihan ilmu-ilmu silat yang ditinggalkan oleh Bu Pun Su untuknya, dan ternyata dia memang cocok sekali dengan ilmu silat gubahan Bu Pun Su ini. Gerakannya memang lemas dan indah, sehingga sering kali diam-diam Kiang Liat mengerutkan keningnya karena kalau ia melihat puterinya itu bersilat seperti orang menari dengan mata bersinar-sinar, pipi kemerah-merahan dan bibir tersenyum-senyum, teringatlah ia akan Pek Hoa Pouwsat! Alangkah miripnya anaknya itu dengan Pek Hoa. Benar seperti pernah dikatakan oleh Bi Li isterinya dahulu.

Ada pun Kim Lian, selama tiga tahun ini pun memperoleh kemajuan hebat. Tujuh tahun ia menjadi murid Kiang Liat, akan tetapi yang tiga tahun terakhir ini hasilnya jauh melampaui empat tahun pertama.

Kepandaian Kim Lian kini sudah dapat direndengkan dengan tingkat orang-orang pandai, bahkan sudah hampir menyusul kepandaian Kiang Liat sendiri. Tentu saja ia masih kalah oleh Im Giok yang ternyata bahkan telah melampaui ayahnya sendiri!

Hal ini adalah karena dia mempelajari ilmu silat gubahan Bu Pun Su secara mendalam, sedangkan Kiang Liat hanya menghafal saja agar tidak lupa. Apa lagi Kiang Liat memang hanya bersilat untuk mengajar, sama sekali dia tidak pernah berlatih untuk kemajuan diri sendiri. Bahkan kalau terlalu lama ia bersilat, dada kirinya terasa sakit sekali.

Dia maklum bahwa dirinya sudah mendapat luka di dalam, mendapat penyakit di dalam jantungnya, akan tetapi ia sengaja tidak mau mengobati, tidak mau mencari obat. Tidak jarang dia batuk-batuk darah, akan tetapi semua ini ia sembunyikan dari Im Giok, takut kalau-kalau puterinya akan menjadi gelisah dan berduka karenanya…..
********************
Pada suatu pagi yang indah di musim Chun (Semi)…..
Matahari muncul di angkasa yang bersih sambil tersenyum gembira, disambut dengan segala kehormatan oleh kicau burung dan mekarnya bunga di dalam hutan. Binatang-binatang hutan pun nampak bergembira di saat seperti itu.

Ayam-ayam hutan berkejar-kejaran di atas tanah dan di atas pohon. Kelinci dan tikus melompat ke sana ke mari di antara gerombolan pohon kembang. Kupu-kupu bersayap indah beterbangan dan menari-nari mengelilingi bunga cantik. Seperti kelinci yang tidak takut akan ancaman harimau, kupu-kupu ini pun tak takut akan ancaman burung-burung.

Agaknya pada saat seindah itu, binatang-binatang yang paling buas pun merasa enggan untuk mengotori suasana damai dan tenteram ini dengan pembunuhan terhadap sesama makhluk, walau pun pembunuhan itu berarti mengisi perut yang kosong dan lapar! Atau, apakah kebetulan saja harimau-harimau dan burung-burung itu sudah terlampau kenyang maka mereka tidak mengganggu kelinci dan kupu-kupu?

Mungkin sekali, karena hanya manusia-manusia saja yang masih merasa temaha dan murka dalam kekenyangannya. Lain makhluk tidak ada yang sekejam manusia. 

Mendadak terdengar suara tertawa manusia yang nyaring dan merdu, mula-mula sayup sampai kemudian makin jelas datang dari jauh memasuki hutan itu. Terdengarnya suara ketawa semerdu itu memang cocok sekali dengan keadaan hutan yang sangat indah dan gembira menyambut munculnya matahari itu. Kemudian tersusul bunyi derap kaki kuda dan suara ketawa-ketawa gadis remaja.

Kalau orang memperhatikan seruan-seruan itu, ia tentu akan merasa heran sekali kenapa mula-mula terdengar suara tawa nyaring baru kemudian terdengar bunyi derap kaki kuda. Bagaimana suara tawa sedemikian merdu tanda suara ketawa wanita, dapat mengatasi suara derap kaki kuda yang biasanya dapat terdengar sampai jauh? Akan tetapi kalau pendengar tadi adalah seorang ahli silat tinggi, dia akan tahu bahwa suara ketawa tadi dikeluarkan dengan pengerahan tenaga lweekang dan menggunakan ilmu yang disebut Coan-im Jip-bit (Mengirim Suara dari Jarak Jauh).

Kemudian terdengarlah suara yang bening, merdu dan genit dari seorang gadis remaja, “Sumoi (Adik Perempuan Seperguruan), jangan terlalu cepat! Kau lihat bunga ini, betapa indahnya...!”

Yang bicara ini adalah seorang gadis yang bertubuh agak tinggi langsing dan berwajah cantik. Sepasang matanya luar biasa sekali dan menjadi bagian yang paling indah dari kecantikannya, mata yang bercahaya, bening dan bagus bentuknya. Dia memakai baju warna kuning, celana sutera biru, ikat pinggangnya merah, tangan kiri memegang kendali kudanya yang berbulu coklat, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang cambuk pendek.

Benar-benar seorang gadis yang selain cantik juga amat gagah sikapnya. Usianya sudah dua puluh tahun lebih, sudah cukup dewasa, laksana buah yang sudah masak dan sedap dipandang.

Gadis berbaju kuning ini menghentikan kudanya di depan serumpun pohon kembang di mana terdapat kembang-kembang warna putih, kuning, dan merah. Ia tersenyum-senyum memandang bunga-bunga itu dengan kagum, kemudian sekali cambuk pada tangannya digerakkan, cambuk itu lantas meluncur ke arah setangkai bunga putih dan di lain saat setangkai bunga putih telah berada di tangan kirinya.

Lihai sekali dia mainkan cambuk sehingga cambuk itu dapat memetik kembang demikian tepat dan membawa kembang itu padanya tanpa merusak kembang putih, bahkan rontok sedikit pun tidak! Tanda bahwa lweekang-nya sudah mencapai tingkat tinggi. Gadis itu tertawa-tawa dan kembali berkata,

“Sumoi, lihat alangkah indahnya bunga-bunga ini!” 

Kembali cambuk pendeknya bergerak dan pada lain saat setangkai bunga kuning sudah berada di tangan kirinya. Dia memandang dan mencium kedua tangkai bunga putih dan kuning itu, kemudian ia memandang ke arah bunga berwarna merah. Tangan kanan yang memegang cambuk bergerak lagi. Cambuk meluncur ke bawah.

“Tarrr...!”

Tiba-tiba selarik sinar merah melayang dengan cepat sekali ke arah cambuk pendek yang lalu terpental melayang ke atas. Gadis itu tertawa pahit sambil menengok ke arah kanan.

“Suci, bunga merah tak boleh sembarang dipetik!” kata dara yang baru datang dan yang menunggang seekor kuda bulu putih. 

Kalau orang merasa kagum dan tertarik melihat gadis baju kuning yang cantik manis itu, kini dia akan terpesona dan boleh jadi lupa bernapas kalau dia melihat gadis yang baru datang ini. Ia jauh melebihi gadis baju kuning dalam segala hal, bahkan kiranya akan jauh melampaui mimpi dan lamunan tiap orang pemuda.

Cantik jelita sulit menemukan cacat-celanya. Rambutnya hitam sekali, halus panjang, biar pun digelung secara istimewa di atas kepala dengan hiasan-hiasan dari emas permata, masih saja rambut itu kelebihan, memanjang dan bermain-main di atas punggung dan kedua pundaknya. Sepasang alis yang juga hitam kecil memanjang menghias dua buah mata yang indah, dilindungi oleh butu-bulu mata yang melengkung dan panjang.

Mata itu memang tidak begitu bercahaya dan indah seperti mata gadis baju kuning, akan tetapi demikian bening dan jelas terisi api kehidupan yang bagaikan tidak pernah padam, membayangkan semangat yang kuat, ketabahan luar biasa, dan kegembiraan hidup yang sehat. Yang paling mengesankan adalah bibirnya yang berbentuk manis luar biasa, akan tetapi kadang-kadang kulit di bawah bibir, pada lekukan dagu nampak mengeras, tanda bahwa dara ini memiliki hati yang kadang-kadang dapat keras membaja, walau pun dari bibirnya dapat diketahui bahwa hati ini pun dapat melembut mesra, hati seorang wanita sejati.

Gadis ini usianya baru tujuh belas tahun paling banyak, akan tetapi sinar matanya sudah menunjukkan kematangan jiwa, juga bentuk tubuhnya sangat bagus, berisi dan sedang. Tubuh ini tertutup oleh pakaian serba merah, berpotongan indah dan terbuat dari sutera mahal.

Pada pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah. Tangan kanannya memegang sebatang cambuk yang berwarna merah pula. Inilah sinar yang tadi menangkis cambuk gadis baju kuning mencegah cambuk gadis kuning itu memetik bunga merah.

“Sumoi, kenapa kau mencegah aku memetik bunga?” tanya gadis baju kuning, keningnya berkerut tanda tak senang hati, akan tetapi sikapnya tetap menghormat seakan-akan ia takut terhadap gadis baju merah yang menjadi adik seperguruannya itu.
“Suci, apakah kau tidak melihat warna bunga itu?” 

Nona baju kuning memandang ke arah rumpun bunga, lalu tertawa gembira dan berkata, “Aha, Ang I Niocu (Nona Baju Merah), akhirnya bunga merahmu pun pasti akan dipetik orang!” Ia tertawa lagi dengan sikap genit. 

Dara berbaju merah itu pun tertawa dan menjawab, “Giok Gan Niocu, (Nona Bermata Kemala), tidak boleh sembarangan saja orang memetik bunga merah!”

Keduanya tertawa gembira. Nona baju juning itu lalu melemparkan bunga putih ke arah sumoi-nya yang tidak mengelak atau menyambut, dan bukan main... bunga itu dengan tepat sekali menancap di atas kepala sebelah kiri, menjadi penghias rambut seolah-olah ditancapkannya dengan tangan. Dari sini saja dapat dibuktikan betapa hebat dan tinggi kepandaian menyambit dari Nona Baju Kuning itu.

“Terima, kasih, Suci. Terima kasih untuk bunga putih ini. Putih artinya suci.” 
“Aku lebih suka yang kuning ini,” dan Nona Baju Kuning itu menancapkan bunga kuning di atas rambutnya, menambah kecantikannya. 

Siapakah dua orang gadis yang seperti bidadari ini? Dara-dara jelita yang selain cantik remaja menarik hati, juga memiliki kepandaian istimewa? Dara baju merah itu bukan lain adalah Kiang Im Giok yang semenjak ikut dengan Pek Hoa Pouwsat memang suka sekali mengenakan pakaian merah dan oleh orang-orang di kota Sian-koan mendapat sebutan Ang I Niocu.

Ada pun dara baju kuning itu bukan lain adalah Song Kim Lian, anak yatim piatu yang menjadi murid Kiang Liat. Karena gadis ini mempunyai sepasang mata yang luar biasa seperti kemala, maka para pemuda kota Sian-koan menghadiahi julukan Giok Gan Niocu.

Bagi para penduduk Sian-koan, sepasang dara ini sudah amat terkenal, terutama sekali bagi para pemudanya. Biar pun Im Giok lebih cantik dan hal ini diakui oleh semua orang, tetapi para pemuda di kota Sian-koan lebih suka mendekati Kim Lian, karena tak seorang pun berani main-main terhadap Im Giok yang terkenal amat angkuh dan galak terhadap pria.

Kalau dua orang gadis ini tidak menghendaki, siapakah berani memaksa dan main-main terhadap mereka? Semua orang tahu bahwa kepandaian sepasang dara ini amat tinggi, bahkan ada yang berani menyatakan bahwa kepandaian mereka sudah lebih tinggi dari pada kepandaian Jing-jiu-sian Kiang Liat sendiri!

Akan tetapi Kim Lian tidak seperti Im Giok, dan inilah yang membikin senang dan gembira hati para pemuda-pemuda yang tampan, juga kadang-kadang gadis baju kuning bermata intan ini suka melayani mereka bicara sebentar apa bila bertemu di jalan. Oleh karena ini, semua pemuda kota Sian-koan seakan-akan berlomba untuk merebut hati Giok Gan Niocu, sedangkan terhadap Ang I Niocu mereka tidak berani berlagak. 

Im Giok memang berwatak keras, terutama menghadapi para pemuda ia sama sekali tidak pernah sudi memberi hati. Ia pernah mengalami perlakuan kasar dan menghina dari Kam Kin, dan hal ini cukup membuat gadis ini memandang rendah kaum pria. Apa lagi karena di dalam pandangannya, di kota Sian-koan, tidak ada seorang pun pemuda yang patut mendapatkan perhatiannya!

Sebaliknya, Kim Lian sering kali mempercakapkan tentang pemuda-pemuda tampan dan pandai di kota Sian-koan yang didengar oleh Im Giok dengan senyum mengejek. Di pihak para pemuda, banyak berlancang mulut menyatakan bahwa Kim Lian adalah kekasihnya.

Telah dituturkan pada bagian depan betapa Kiang Liat lebih banyak merendam diri dalam lamunan dan kenangan akan isterinya, dan hubungannya dengan puteri serta muridnya hanya apa bila ia melatih ilmu silat mereka. Selebihnya, Im Giok dan Kim Lian bertindak sekehendak hati sendiri.

Pelayan banyak, uang ada, segalanya lengkap. Akan tetapi, untungnya Im Giok adalah seorang gadis yang pandai mengatur rumah tangga pengganti ayahnya. Bahkan Kim Lian yang wataknya binal dan tidak mau tunduk terhadap siapa pun kecuali terhadap gurunya, patuh juga menghadapi Im Giok.

Tidak jarang kedua gadis ini keluar rumah berjalan-jalan atau menunggang kuda kalau keluar kota, untuk pesiar. Bahkan beberapa kali mereka mengunjungi jago-jago silat di kota lain untuk minta petunjuk atau kasarnya untuk menguji kepandaian! Dan setiap kali mereka mengunjungi seorang guru silat, pasti guru silat atau jago silat itu roboh baik oleh Im Giok mau pun oleh Kim Lian! Oleh karena inilah maka sebentar saja nama Ang I Niocu terkenal sampai jauh di luar kota.

Pada pagi hari itu, untuk menyambut datangnya musim Chun, dua orang dara ini pergi meninggalkan kota Sian-koan, menunggang kuda berpesiar ke dalam hutan yang indah itu. Hutan ini belum pernah mereka datangi karena letaknya memang jauh, kurang lebih lima puluh li dari Sian-koan, terletak di lereng pegunungan yang kaya akan hutan-hutan indah.

Seperti biasa, mereka bergembira-ria, terbawa oleh suasana yang indah dan damai di dalam hutan itu. 

“Ayah telah berkata benar,” kata Ang I Niocu sambil duduk di atas kuda dan memandang ke kanan kiri, “indah sekali keadaan hutan ini waktu pagi. Pantas saja Ayah menyuruh kita berangkat sebelum fajar agar dapat pagi-pagi sampai di sini.” 
“Suhu memang sudah banyak pengalaman, sudah menjelajah ke seluruh pelosok. Aku ingin sekali berkelana seperti yang pernah dilakukan oleh Suhu,” kata Giok Gan Niocu Song Kim Lian.
“Mengapa tidak? Aku pun ingin sekali merantau jauh di propinsi-propinsi lain, Suci. Kalau teringat akan guruku Pek Hoa Pouwsat, aku ingin sekali mencari dia.” 
“Kau ingin mencoba kepandaian bekas gurumu sendiri?” tanya Kim Lian. 
“Tidak hanya mencoba, bahkan aku harus merobohkannya. Dialah yang menyebabkan ibuku meninggal dunia dan ayahku selalu berduka. Dia adalah musuh besarku yang mesti kubunuh!” kata Im Giok dengan suara gemas, akan tetapi hatinya perih kalau ia teringat betapa ia amat kagum dan cinta kepada gurunya itu. 
“Mengapa tidak sekarang saja kau pergi mencarinya? Aku suka membantumu, Sumoi, biar pun kepandaianku tidak ada artinya.” 

Im Giok menarik napas panjang. “Tak mungkin. Aku tidak mau pergi meninggalkan Ayah. Aku tidak tega, dia kelihatan selalu bersedih...”

Wajahnya yang cantik menjadi muram dengan mendadak. Juga Kim Lian mengerutkan sepasang alisnya yang hitam seperti dicat.

Tadi ketika mereka bergembira dan bercakap-cakap, mereka kurang memperhatikan hal lain. Sekarang setelah keduanya berdiam diri, telinga mereka segera menangkap suara yang mencurigakan. Sayup sampai terdengar bentakan-bentakan dan derap kaki kuda. Ang I Niocu Kiang Im Giok mendengar terlebih dahulu, karena memang telinganya lebih terlatih.

“Suci ada terjadi sesuatu di sebelah timur hutan ini,” katanya. 

Kim Lian memiringkan kepalanya, penuh perhatian. “Benar, Sumoi. Ada orang berteriak minta tolong. Mari kita ke sana.” 

Akan tetapi Im Giok sudah membedal kudanya dan di lain saat kedua orang dara itu telah membalapkan kuda masing-masing menuju ke timur. Mereka seakan berlomba, akan tetapi apa bila biasanya mereka berlomba sambil tertawa, kini mereka berlomba dengan kening berkerut dan sikap garang.

Selain berkepandaian silat tinggi, mereka juga ahli menunggang kuda, maka sebentar saja mereka telah tiba di tempat terjadinya peristiwa yang sampai di telinga mereka tadi. Dan apa yang mereka lihat di situ membuat dua orang dara itu menjadi merah mukanya saking marahnya.

Ternyata bahwa serombongan orang yang jumlahnya dua puluh lebih, berpakaian seperti tentara, sedang menghajar dan membunuhi serombongan orang-orang yang membawa buntalan seperti orang-orang sedang mengungsi. Rombongan orang-orang ini terdiri dari lima orang kakek dan tujuh orang muda yang pakaiannya seperti pelajar-pelajar lemah.

Keadaan di tempat itu mengerikan sekali. Semua anggota rombongan pengungsi itu telah menggeletak mandi darah, ada yang masih berkelojotan menghadapi maut.

Akan tetapi yang mengagumkan sekali, di sana terdapat seorang pemuda pelajar yang sedang melawan mati-matian. Mulutnya tak pernah mengeluarkan keluhan, sungguh pun tubuhnya sudah penuh luka. Ia menggunakan sebatang tongkat untuk membela diri dan sungguh pun gerakannya menandakan bahwa dia tidak mengerti ilmu silat, akan tetapi agaknya dia memiliki keberanian besar sehingga dengan nekat dia masih dapat melawan dan melindungi diri.

Akan tetapi tentu saja dia bukan lawan serdadu-sedadu yang terlatih itu, karena itu dia dibuat permainan, sengaja tak dibunuh dulu, hanya dipukul sana-sini sambil ditertawakan. Ada pula sebagian tentara yang sedang mengumpulkan bungkusan yang tadinya dibawa oleh para pengungsi itu, mencari-cari barang berharga.

“Anjing-anjing hina dina!” Terdengar Giok Gan Niocu Song Kim Lian berseru keras dan tubuhnya sudah melayang turun dari kuda.

Bagai seekor harimau betina dia menerjang dan robohkan dua orang yang tadinya berdiri bengong melihat kedatangan dua orang bidadari ini. Kim Lian segera merebut sebatang pedang yang tadi dipegang oleh dua orang ini dan sekali babat putuslah leher dua orang itu.

Keadaan menjadi geger. Semua serdadu ini memandang dan mereka yang tadi sedang mengumpul-ngumpulkan barang, kini menerjang Kim Lian.

“Keparat jahanam, kalian harus dibasmi!” Terdengar bentakan halus lain dan nampaklah sinar merah menyambar ke sana ke mari, lalu sinar merah ini menerjang mereka yang sedang mempermainkan pemuda itu. Lima orang roboh tak bangun lagi karena mereka menjadi korban pedang di tangan Ang I Niocu Kiang Im Giok! 

Pemuda itu entah saking lelahnya, entah saking girangnya mendapat bantuan, atau entah saking kagum dan herannya melihat melihat seorang dara baju merah sedemikian gagah dan cantik jelitanya, tiba-tiba lenyap semua daya dan semangatnya untuk melawan dan lemaslah ia, lalu terduduk dengan mata bengong.

Im Giok beserta Kim Lian mengamuk garang. Dalam beberapa jurus saja belasan orang serdadu menggeletak dalam keadaan luka berat. Yang mengagumkan adalah Im Giok. Pedangnya berkelebatan dan setiap jurus pasti pedang itu merobohkan seorang lawan. Akan tetapi tak pernah Im Giok menewaskan lawannya, dia hanya merobohkannya saja. Berbeda dengan Im Giok, orang yang roboh oleh pukulan Kim Lian pasti tak akan dapat bangun lagi untuk selamanya!

Menghadapi amukan dua orang dara yang datang secara tiba-tiba ini, rombongan tentara itu tidak kuat bertahan lagi. Mulailah mereka yang belum roboh lari pontang-panting dan sebagian pula berteriak-teriak keras, 

“Kam-ciangkun...! Tolonglah kami...” 
“Suci, sudahlah jangan mengejar mereka lagi,” Im Giok mencegah Kim Lian yang hendak mengejar terus.

Kim Lian tidak puas, akan tetapi dia tidak membantah dan menghentikan pengejarannya. Pada waktu dua orang dara ini memandang, ternyata bahwa amukan mereka tadi telah menghasilkan robohnya enam belas orang lawan, yang enam orang tewas dan sepuluh lannya terluka.

Akan tetapi ketika mereka memperhatikan, ternyata bahwa rombongan pengungsi tadi sebanyak dua belas orang, sebelas orang sudah tewas. Hanya pemuda sastrawan yang tabah tadi saja masih hidup. Tubuhnya penuh darah, akan tetapi luka-lukanya ringan dan ia masih duduk bengong telongong memandang ke arah Im Giok dan Kim Lian.

Melihat betapa semua serdadu dapat dikalahkan oleh dua orang dara yang luar biasa itu, si Sastrawan muda lalu memaksa diri berdiri, berjalan terhuyung-huyung menghampiri Im Giok dan Kim Lian, kemudian menjura dengan tubuh gemetar saking lemah dan merasa sakit-sakit. 

“Ji-wi-lihiap sungguh gagah... sayang kedatangan Ji-wi terlambat sehingga mereka ini...” dia menengok ke arah kawan-kawannya yang menggeletak tak bernyawa lagi, “mereka ini... tak tertolong lagi...” Pemuda itu menjadi pucat dan nampak berduka sekali.
“Akan tetapi kami masih dapat menolongmu,” kata Kim Lian sambil memandang dengan mata bersinar-sinar.

Juga Im Giok baru sekarang melihat betapa tampan dan cakapnya wajah pemuda yang berdiri di depannya itu. Tadi dalam keributan ia tidak memperhatikan, akan tetapi baru sekarang ia melihat dan ia harus mengakui bahwa selamanya belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang mempunyai wajah demikian tampan dan menarik hati.

Juga tadi ia sudah membuktikan bahwa semangatnya besar, tabah dan kini dibuktikannya lagi bahwa pemuda ini berjiwa besar. Dalam keadaan sengsara itu, ia tidak memikirkan keadaan dirinya sendiri, bahkan menyayangkan bahwa kawan-kawannya tidak tertolong. Juga bicaranya demikian sopan-santun, lemah-lembut dan ketika bicara, matanya tidak memandang kurang ajar seperti semua laki-laki yang pernah dijumpainya! Hati Im Giok berdebar aneh.

Mendengar kata-kata Kim Lian, pemuda itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih. 
“Sungguh pun aku sangat berterima kasih kepada Ji-wi-lihiap atas pertolongan yang telah menyelamatkan nyawaku yang tak berharga, akan tetapi apakah artinya seorang seperti aku tertolong kalau mereka ini tewas? Aku seorang yatim piatu tiada guna, lemah dan tak dapat melindungi mereka ini... sebaliknya mereka ini... ah, keluarga mereka menanti, dan alangkah akan hancur hati keluarga mereka kalau tahu akan mala petaka ini...”

Bicara sampai di situ, pemuda itu semakin pucat. Ia telah kehilangan banyak darah dan semenjak tadi tubuhnya yang tidak terlatih itu sudah terlalu banyak menahan rasa nyeri dari luka-lukanya. Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi kepalanya pening, kedua kakinya lemas dan pandang matanya gelap. Akhirnya ia terguling dan tentu akan roboh kalau Kim Lian tidak cepat-cepat melangkah maju dan memeluknya!

“Suci...!” Im Giok menegur dengan muka berubah merah ketika dia melihat bagaimana suci-nya memeluk tubuh seorang pemuda demikian erat dan mesranya. Ia merasa jengah dan juga... panas!
“Sumoi, dia patut dikasihani, dia bersemangat gagah namun lemah...” Kim Lian membela diri sambil tersenyum, lalu secara perlahan ia merebahkan pemuda itu di atas tanah.

Im Giok mengambil botol arak dari atas punggung kudanya dan dengan cekatan ia cepat meminumkan sedikit arak kepada pemuda yang masih pingsan itu. Kemudian, sesudah memeriksa beberapa luka yang agak banyak mengeluarkan darah, tanpa rasa sungkan-sungkan lagi ia lalu menotok jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah.

Kim Lian memandang semua ini dengan senyum berarti. Belum pernah selamanya dia melihat sumoi-nya berlaku demikian sopan dan teliti terhadap seorang pemuda!

“Sumoi, lihat siapa yang datang itu!” tiba-tiba Kim Lian berkata sambil berdiri.

Im Giok juga mendengar suara derap kaki yang berlari mendatangi, maka ia pun cepat melompat berdiri, tidak sempat lagi memperhatikan pemuda itu yang sudah siuman dan perlahan bangun duduk dengan tubuh masih lemas.....

Yang datang adalah sisa dari serdadu yang mereka amuk tadi, kini datang sambil berlari mengiringkan dua orang yang menarik perhatian. Yang seorang adalah laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang komandan tentara, lengkap dengan baju bersisik besi dan golok besar tergantung di pinggang.

Orang kedua adalah seorang kakek jangkung dan bungkuk. Kepalanya besar sekali akan tetapi tubuhnya kurus kecil, sehingga nampak amat lucu. Akan tetapi ketika melihat cara kakek aneh ini berlari, tahulah Im Giok dan Kim Lian bahwa kakek aneh itulah yang tak boleh dipandang ringan karena terang sekali memiliki kepandaian tinggi. 

Kim Lian sama sekali tidak mengenal dua orang ini, jangankan melihat, mendengar pun belum pernah. Akan tetapi, ketika Im Giok melihat laki-laki berpakaian komandan tadi, ia merasa kenal akan tetapi lupa lagi di mana pernah bertemu dengannya. Ketika melihat golok besar yang tergantung di pinggang orang, tiba-tiba teringatlah ia bahwa komandan itu adalah Giam-ong-to Kam Kin, sute dari Pek Hoa Pouwsat!

“Suci, komandan itu adalah Giam-ong-to Kam Kin, kau sambutlah kalau mereka berniat buruk. Kakek aneh itu bagianku, ia lebih lihai,” kata Im Giok berbisik.

Kim Lian tersenyum mengejek. Biar pun ia belum pernah bertemu dengan Kam Kin, akan tetapi dia pernah mendengar cerita Im Giok tentang Golok Maut ini dan dia memandang rendah.

Memang betul apa yang dikatakan oleh Im Giok tadi, komandan itu adalah Kam Kin yang berjulukan Giam-ong-to Si Golok Maut. Sedangkan kakek yang aneh itu adalah Ceng-jiu Tok-ong (Raja Racun Tangan Seribu), yakni guru dari Kam Kin, juga pernah menjadi guru Pek Hoa Pouwsat sebelum wanita ini menjadi muridnya Thian-te Sam-kauwcu. Ia adalah seorang tokoh barat. 

Dahulu ketika dia masih muda memang Ceng-jiu Tok-ong melakukan banyak perbuatan jahat, akan tetapi karena di Tiongkok terdapat Lima Tokoh Besar, yakni Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu Kak Thong Thaisu, Kiu-bwe Coa-li, Hek-i Hui-mo, dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai (tokoh-tokoh dalam Pendekar Sakti), maka Ceng-jiu Tok-ong tidak berani muncul di pedalaman Tiongkok. Operasi kejahatannya hanyalah di sekitar perbatasan Tiongkok dan Tibet, atau di perbatasan Bhutan dan India saja. Sesudah puluhan tahun dia bersembunyi dan bertapa, sekarang tua-tua dia turun gunung lagi adalah atas hasutan muridnya, yaitu Giam-ong-to Kam Kin. 

Semenjak masih muda, Kam Kin terkenal seorang mata keranjang. Sekarang mendapat laporan dari orang-orangnya bahwa anak buahnya banyak yang tewas dalam tangan dua orang gadis gagah, ia menjadi marah sekali.

Akan tetapi begitu sampai di tempat itu dan memandang kepada dua orang gadis yang cantik jelita jarang tandingannya, matanya pun bersinar dan mulutnya menyeringai. Apa lagi ketika melihat Im Giok, ia benar-benar merasa kagum bukan main.

Selama hidup belum pernah dia bertemu dengan seorang dara muda secantik ini. Bahkan Pek Hoa juga tak secantik ini, pikir Kam Kin. Akan tetapi karena sedang berada bersama gurunya dan juga di depan anak buahnya, ia berkata,

“Ahh, inikah dua gadis yang sudah berani mati membunuh tentara?” 

Im Giok melangkah maju kemudian berkata dengan lesung pipit berkembang di kanan kiri mulutnya. “Bagus sekali! Semenjak kapankah Giam-ong-to Kam Kin menjadi komandan tentara? Apakah kedatanganmu ini hendak minta maaf atas kekejaman anak buahmu?”

Kam Kin melengak dan memandang Im Giok penuh perhatian. Dia telah berpisah dari Im Giok semenjak anak ini berusia sepuluh tahun. Tujuh tahun sudah lewat dan kini Im Giok telah menjadi seorang gadis dewasa. Akan tetapi dahulu pun pada waktu berusia sepuluh tahun, Im Giok telah memiliki dasar kecantikan yang mengagumkan. Biar pun kini ibarat bunga ia telah mulai mekar, akan tetapi garis-garis pada mukanya, bentuk mata hidung dan mulutnya tidak berubah dan akhirnya teringatlah Kam Kin.

“Kiang Im Giok! Kaukah ini?” 
“Baru terbuka matamu,” kata Im Giok tenang dengan senyum mengejek. 
“Kurang ajar! Kau berani bersikap begini terhadap susiok-mu sendiri?” bentak Kam Kin.

Ia marah sekali karena dihina oleh murid keponakan di depan gurunya dan anak buahnya sehingga untuk sekejap lupalah ia akan kecantikan luar biasa dari murid keponakannya itu. 

“Kam Kin, siapakah Nona ini?” Ceng-jiu Tok-ong bertanya dengan suaranya yang seperti burung kakatua.
“Suhu, dia ini sebetulnya bukan orang lain, karena dia adalah murid Suci Pek Hoa. Akan tetapi memang wataknya buruk sekali. Biar teecu menghajarnya.” Kemudian ia berpaling lagi kepada Im Giok dan membentak, “Im Giok, andai kata kau tidak menaruh sungkan kepada susiok-mu, apakah kau juga tidak menaruh hormat terhadap sucouw-mu (kakek gurumu)? Hayo lekas berlutut memberi hormat kepada sucouw-mu ini, guru dari Suci Pek Hoa.”

Akan tetapi Im Giok memandang dingin dan menjawab, “Aku tidak mempunyai sucouw seperti ini. Jangan kau mengaco, lekas katakan apa maksud kedatanganmu ini.” 

Kam Kin menjadi amat marah. Ia membanting-banting kaki dan menudingkan telunjuknya ke muka Im Giok.

“Bocah tidak tahu aturan! Tidak saja kau sudah membunuh banyak anggota tentara, akan tetapi kau juga bersikap kurang ajar kepadaku dan kepada Suhu! Kau benar-benar telah bosan hidup!”
“Monyet bercelana, kau berani menghina sumoi-ku?” tiba-tiba saja Kim Lian membentak marah dan dia melangkah maju di depan Im Giok, menghadapi Kam Kin sambil bertolak pinggang. “Mentang-mentang kau berjuluk ‘Si Golok Maut’, lalu hendak menjual lagak di sini? Tidak laku, monyet!”
“Gadis liar kurang ajar!” Kam Kin marah sekali. 
“Kau yang kurang ajar!” bentak Kim Lian. “Karena itu mulutmu harus ditampar. Lihatlah, akan kutampar mulutmu!”

Baru saja kata-kata ini diucapkan, tangan kanan kiri gadis ini bergerak. Kam Kin bingung melihat gerakan ini dan berlaku agak lambat. 

“Plakk!” tangan kiri Kim Li menampar mulutnya sampai pecah bibirnya dan berdarah. 
“Anjing betina, kubunuh kau!” bentak Kam Kin sambil mencabut goloknya. 
“Kutempiling kepalamu, awas!” Kim Lian kembali berseru lagi, disusul oleh gerakan kedua tangannya.
“Plakk!”

Lagi-lagi terdengar suara keras. Topi di kepala Kam Kin sampai miring terkena tamparan telapak tangan gadis jenaka itu.

Kam Kin merasa kepalanya puyeng dan cepat dia melompat ke belakang, menggeleng-geleng kepala untuk mengusir rasa puyeng. Kemudian, sambil mengeluarkan suara keras seperti seekor harimau, ia menyerang Kim Lian dengan golok besarnya.

Tadi Kim Lian berhasil dengan tamparan dan tempilingannya, karena memang gadis ini telah mewarisi ilmu silat dari keluarga Kiang yang sangat lihai. Ilmu silat yang selain indah seperti tarian, juga mengandung gerakan yang membingungkan dan tidak terduga-duga. Apa lagi sesudah ilmu silat itu diperbaiki oleh nasehat-nasehat dan petunjuk Bu Pun Su, kelihaiannya mengagumkan orang.

Akan tetapi setelah Kam Kin mencabut golok, Kim Lian tak berani lagi berlaku main-main. Gerakan golok Kam Kin benar-benar amat berbahaya dan kuat, tidak seharusnya dilawan dengan main-main.

Berbeda dengan Im Giok yang sudah bermain pedang, Kim Lian mendapat pelajaran ilmu silat tangan kosong secara lebih mendalam. Gadis ini memang memiliki bakat yang besar sekali untuk menggerak-gerakkan tangan kakinya, karena itu Kiang Liat Si Dewa Tangan Seribu memberi pelajaran ilmu silat tangan kosong secara tekun kepada muridnya ini.

Menghadapi rangsekan golok Kam Kin, gadis ini segera mengeluarkan ilmu silatnya dan mainkan gerak tipu ilmu silat tangan kosong yang disebut Kong-jiu Sin-i (Tangan Kosong Menyambut Hujan). Kedua lengannya dipentang, demikian pula sepuluh jari tangannya dipentang dan bergerak-gerak seakan-akan orang menari, akan tetapi gerakan sepasang lengan itu demikian lemas dan tak terduga seperti dua ekor ular, ada pun jari-jari tangan itu masing-masing merupakan alat penotok jalan darah yang amat berbahaya.

Dalam beberapa kali gebrakan pertama saja, jalan darah di pergelangan lengan, siku dan pundak kanan Kam Kin hampir saja menjadi korban! Kam Kin terkejut sekali dan ia cepat berlaku hati-hati, maklum bahwa dia sedang menghadapi seorang gadis cantik jelita yang benar-benar lihai.

Pada jurus ke tiga puluh, terdengar Kim Lian menjerit nyaring, “Monyet tua, pergilah!” 

Jari-jari tangan kiri Kim Lian menyambar cepat sekali, menangkis serangan golok dengan mendahului kecepatan lawan dan menyampok pergelangan tangan kanan Kam Kin yang memegang golok. Pada saat itu juga, jari-jari tangan kanan bergerak menusuk muka dan kaki kiri menyusul cepat menendang lutut!

Kam Kin terkejut sekali karena tidak mengira bahwa lawannya akan bergerak secepat itu dan berani menyampok pergelangan tangannya, kemudian mendadak jari tangan kanan gadis itu sudah menusuk dan hampir saja matanya menjadi korban. Cepat ia membuang tubuh bagian atas ke belakang untuk dapat menyelamatkan mukanya, akan tetapi segera serangan kaki Kim Lian sudah mengenai sasaran.

Kam Kin berseru kesakitan. Tubuhnya terlempar ke belakang, jatuh bergebruk kemudian merintih-rintih karena sambungan tulang lututnya sudah terlepas! Anak buahnya cepat menolong dan menggotong tubuh komandan mereka ke pinggir.

Kim Lian tertawa-tawa mengejek, “Monyet tua, mana golok mautmu?” 
“Bocah sombong, pergilah!” 

Yang berseru ini adalah kakek tua aneh tadi, sambil melangkah maju mendekati Kim Lian yang masih bertolak pinggang dan tertawa-tawa.

Kim Lian maklum akan kelihaian kakek ini, maka cepat ia mengangkat tangan menangkis ketika melihat kakek itu menggerakkan ujung lengan bajunya yang panjang ke arahnya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ujung lengan baju itu bagaikan hidup, tahu-tahu telah membelit lengannya yang menangkis tadi. Sebelum dia sempat mengatur keseimbangan tubuhnya, ia merasa dirinya dibetot!

Kim Lian mengerahkan lweekang untuk menahan tubuh sambil menarik lengannya akan tetapi tiba-tiba ia berseru, “Celaka...!”

Tubuhnya terhuyung ke belakang dan pasti akan roboh terjengkang kalau saja Im Giok tidak cepat-cepat menggunakan kaki mencokel kaki Kim Lian sehingga gadis ini tidak jadi roboh, sebaliknya bahkan tercokel dan terangkat ke atas!

Ternyata bahwa Ceng-jiu Tok-ong tadi telah mengakali Kim Lian. Ketika melihat gadis itu mengerahkan tenaga menarik lengan, kakek ini cepat merubah tenaganya, kalau tadinya membetot sekarang dia mendorong. Tidak heran apa bila Kim Lian lantas terjengkang ke belakang, terbawa oleh tenaga betotannya sendiri ditambah tenaga dorongan Tok-ong. Gadis ini marah sekali, mukanya merah dan ia siap hendak menyerang.

“Kakek bangkotan, kau curang!” bentaknya. 
“Suci, mundurlah.” Im Giok mencegah dan Kim Lian terpaksa menahan marahnya.

Kemudian Im Giok menghadapi Ceng-jiu Tok-ong dan berkata tenang, 

“Kalau tidak salah, Locianpwe ini adalah Ceng-jiu Tok-ong, tokoh yang kenamaan. Akan tetapi aku yang muda sungguh merasa amat heran kenapa Locianpwe mendiamkan saja, bahkan membela Giam-ong-to Kam Kin yang sesudah menjadi komandan membiarkan anak-anak buahnya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Aku dan suci-ku sedang bermain-main di hutan ini dan tadi kami melihat banyak tentara melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang tidak berdosa. Oleh karena itu, tanpa mengetahui bahwa tentara ini adalah anak buah Giam-ong-to Kam Kin, kami membela rakyat dan melakukan pembasmian. Sekarang kedatangan Locianpwe ke sini membawa sisa tentara mempunyai niat apakah?”

“Bocah, kau benar-benar menggemaskan. Kalau kau bukan murid Pek Hoa, agaknya aku akan mengagumi kata-katamu, sebagai seorang bocah kau ternyata memiliki pandangan yang luas dan kata-kata yang teratur baik. Akan tetapi kau adalah murid Pek Hoa, berarti kau adalah cucu muridku sendiri. Bagaimana sekarang kau berani sekali bersikap begini kurang ajar kepadaku? Andai kata sekarang juga kau menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun, belum tentu aku mau memberi ampun. Sikapmu sudah jauh melampaui batas. Mengapa?”

“Locianpwe, jangan salah sangka. Aku yang muda cukup mendapat didikan ayahku, tak nanti berani bersikap kurang ajar tanpa alasan. Pek Hoa Pouwsat bukan guruku yang sesungguhnya karena aku telah diculiknya dari orang tuaku, oleh karena itu aku pun tidak mungkin mengakui kau sebagai sucouw.”
“Suhu, bocah kurang ajar macam ini lebih baik lekas-lekas ditangkap saja, dia dan gadis liar satunya itu sudah membunuh banyak anggota tentara, mereka adalah pemberontak-pemberontak yang berbahaya!” tiba-tiba Kam Kin berteriak dari tempatnya.

Ia telah dirawat oleh anak buahnya, akan tetapi masih belum dapat berdiri, hanya duduk di atas rumput di kelilingi oleh anak buahnya. 

“Benar, kau telah melakukan pelanggaran besar-besaran. Lebih baik kau dan suci-mu itu menyerah saja untuk kami jadikan tangkapan,” kata Ceng-jiu Tok-ong kepada Im Giok.

Agaknya dia merasa sungkan untuk turun tangan terhadap seorang gadis yang demikian muda. Betapa pun juga, dia adalah seorang tokoh kang-ouw yang besar, seorang dengan kedudukan atau tingkat tinggi, karena itu dia agak segan dan malu untuk bertanding ilmu melawan seorang yang masih setengah bocah, apa lagi wanita pula.

Im Giok mulai panas hatinya. “Ceng-jiu Tok-ong, apa bila kau menurut saja akan hasutan Giam-ong-to Kam Kin, terserah saja. Kami telah melakukan perbuatan yang kami anggap sudah sewajarnya dilakukan oleh pendekar-pendekar pembela rakyat. Kalau kau hendak ikut-ikutan dan mau menangkap kami, silakan, terpaksa aku yang muda berlaku kurang ajar dan melawanmu!” sambil berkata demikian, Im Giok mencabut pedangnya dengan gerakan cepat dan gaya yang indah.

Terdengar Ceng-jiu Tok-ong tertawa geli.

“Bocah, kau sungguh-sungguh lucu sekali. Bagaimana kau hendak melawan sucouw-mu sendiri, orang yang menciptakan ilmu silat yang hendak kau mainkan untuk melawanku?” 
“Ceng-jiu Tok-ong, awas serangan pedangku!” bentak Im Giok tanpa mau mempedulikan kata-kata kakek itu yang dianggapnya tidak keruan. 

Ceng-jiu Tok-ong ialah seorang kakek yang memiliki julukan Raja Racun Tangan Seribu. Julukan ini saja sudah menunjukkan bahwa ia tentu mempunyai ilmu silat yang tinggi dan cepat sehingga seakan akan ia bertangan seribu. Oleh karena itu, dalam menghadapi Im Giok, ia sengaja bertangan kosong. Apa lagi kalau Im Giok murid Pek Hoa, bukankah yang akan diperlihatkan juga ilmu silat yang dahulu ia ajarkan kepada Pek Hoa?

Akan tetapi, baru pada gerakan pertama saja, Ceng-jiu Tok-ong sudah terkejut sekali dan cepat-cepat dia menggunakan dua ujung lengan baju untuk menangkis serangan pedang Im Giok yang gerakannya amat tak terduga-duga itu. Kakek ini benar-benar heran sekali.

Melihat gerakan yang indah itu, memang bocah ini hampir sama dengan Pek Hoa kalau bermain pedang. Akan tetapi, ternyata isi dari pada pedang itu jauh berbeda. Bukan main cepat dan kuatnya, bahkan sampokan ujung lengan bajunya tidak dapat membikin gadis itu melepaskan pedangnya.

Jurus-jurus berikutnya membuat Ceng-jiu Tok-ong tidak hanya terkejut, akan tetapi juga bingung dan ia terpaksa melompat ke sana ke mari kalau tidak ingin terluka oleh pedang Im Giok yang luar biasa lihainya. 

“Ayaaa, kau lihai juga...!” kata kakek itu.

Pada jurus ke sepuluh Ceng-jiu Tok-ong sudah tidak kuat menghadapi Im Giok dengan tangan kosong. Dia melompat cepat ke kanan dengan ginkang yang luar biasa, kemudian ketika Im Giok maju mendesaknya, ternyata kakek ini sudah memegang sebatang golok berwarna hitam kehijauan!

“Bocah, lebih baik lekas kau menyerah. Sayang kalau Ceng-tok-to (Golok Racun Hijau) mengambil nyawamu yang masih muda,” berkata kakek ini, benar-benar merasa sayang kalau sampai terpaksa ia membunuh gadis yang demikian muda dan cantik jelitanya. 

“Tak usah banyak cakap, monyet bangkotan. Kalau ada kepandaian majulah, kau pasti mampus oleh sumoi-ku!” teriak Kim Lian yang masih gemas kepada kakek itu. 

Timbul amarah di dalam hati Ceng-jiu Tok-ong dan bangkit kembali sifat jahatnya yang dahulu.

“Sumoi-mu ini akan kubunuh lebih dulu, akan tetapi kau... kau akan kuhadiahkan kepada serdadu-serdadu kasar, siluman cilik!” makinya kepada Kim Lian, kemudian dengan cepat ia menyerang Im Giok dengan goloknya.

Bagi Im Giok, gerakan golok dari kakek itu tidak begitu hebat dan dengan amat mudah ia menangkis dengan pedangnya. Akan tetapi, yang membuat Im Giok terkejut adalah bau busuk yang memuakkan perutnya ketika golok hitam kehijauan itu menyambar.

“Celaka,” pikirnya, “golok ini tentu mengandung bisa yang amat jahat.”

Ia mencoba menetapkan hatinya dan cepat membalas dengan serangan hebat. Memang segera terbukti bahwa setiap serangan pedangnya membuat Ceng-jiu Tok-ong sibuk dan bingung untuk melindungi tubuh, akan tetapi serangannya makin menjadi lemah.

Sebaliknya lawannya semakin ganas dan gerakan goloknya makin kuat. Kakek ini jelas sekali berusaha mendekatkan golok dengan muka Im Giok, buktinya ia selalu menyerang kepala dan leher. Hal ini diketahui pula oleh Im Giok dan gadis ini pun mengerti bahwa lawannya sengaja mendekatkan golok dengan hidungnya supaya dia mencium bau busuk yang mengandung racun itu! 

Meski pun keadaannya semakin berbahaya, Im Giok yang berdarah muda dan panas itu merasa penasaran. Memang tak mengherankan jika gadis ini merasa penasaran, karena sebetulnya, dalam setiap pertemuan senjata, ternyata bahwa tenaga lweekang-nya dapat mengimbangi tenaga kakek itu.

Dalam hal ginkang dan kecepatan gerakan tubuh, dia menang jauh dan ilmu pedangnya juga selalu menindih ilmu golok lawan. Akan tetapi, dia kalah pengalaman, kalah gertak dan hatinya sudah bingung sekali ketika bau busuk dari golok itu semakin memusingkan kepalanya.

Tiba-tiba terdengar teriakan keras, “Lo-enghiong, harap jangan bunuh dia...! Bunuh saja aku yang tidak berharga, jangan kau ganggu kedua Li-hiap yang budiman itu...!”

Pemuda sastrawan yang tadinya duduk bengong sambil menonton semua itu, tiba-tiba kini menjadi nekat ketika melihat Im Giok menghadapi kakek yang kelihatannya demikian menyeramkan.

Bagaimana seorang dara sehalus itu akan dapat menang terhadap seorang kakek yang terlihat seperti iblis? Melihat pemuda itu dengan nekat mendatangi seakan-akan hendak menyerbu dan menyerang Ceng-jiu Tok-ong, Kim Lian cepat melompat maju dan sekali jari tangannya digerakkan, pemuda itu telah roboh terguling dalam keadaan tertotok jalan darahnya.

“Kakek siluman, jangan banyak lagak...!” bentaknya kemudian sambil menyerang dengan golok yang dipungutnya di atas tanah, yakni salah sebuah di antara senjata-senjata para serdadu yang bergeletak di situ.

“Suci, hati-hati...!” Im Giok memperingatkan dengan suara yang amat lemah sehingga ia terkejut sendiri. Kenapa suaranya hampir habis? Ia tidak tahu bahwa dirinya telah banyak terpengaruh oleh racun yang keluar dari golok lawannya.

Mendengar suara yang aneh dan amat perlahan dari Im Giok, Kim Lian merasa kaget dan mengerling ke arah sumoi-nya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ceng-jiu Tok-ong. Cepat tangan kirinya memukul ke arah dada Kim Lian. Biar pun pukulan itu dilakukan dari samping, namun amat berbahaya.

Kim Lian yang mendengar suara hawa pukulan dahsyat ini cepat miringkan tubuh sambil menangkis. Sepasang lengan bertemu, dan Kim Lian menjerit karena lengannya terasa panas sekali sehingga dia kurang dapat mempertahankan diri dan pukulan lawan masih mampir di pundaknya.

Gadis ini merasa pundaknya panas dan rasa nyeri menusuk jantung. Cepat sekali dia menggulingkan tubuhnya dan terus bergulingan menjauhkan diri dari kakek yang lihai itu. Ketika meraba pundaknya, ia kaget melihat baju di bagian pundak sudah robek dan kulit pundaknya ada tanda merah. Juga di pergelangan lengan yang bertemu dengan lengan kakek tadi, kini telah merah menghitam.

“Celaka, aku terkena racun, Sumoi, kau berhati-hatilah...”

Setelah berkata demikian, Kim Lian bersila dan mengatur napas, mengempos hawa di dalam tubuh untuk mengusir racun yang mengeram di pundak dan lengannya. Memang inilah satu-satunya cara yang sudah dia pelajari dari suhu-nya untuk menolak hawa racun itu menjalar makin hebat ke dalam tubuh.

Melihat dan mendengar keadaan suci-nya, Im Giok semakin bingung dan gugup. Baiknya ilmu pedang gadis ini memang lihai bukan main sehingga biar pun kini hampir tak berani bernapas dan pandang matanya telah berkunang-kunang, akan tetapi pedangnya secara otomatis masih sanggup melindungi tubuh dan menangkis setiap serangan golok lawan, bahkan kadang kala masih dapat membalas dengan serangan yang bukan tak berbahaya bagi Ceng-jiu Tok-ong.

“Lihai sekali... mengagumkan...!” 

Beberapa kali Raja Racun itu memuji akan ketangguhan Im Giok. Namun, tanpa sedikit pun mengenal kasihan ia mendesak terus. Ia tidak mau mempergunakan senjata rahasia beracun lainnya karena melihat dengan golok saja ia sudah dapat mendesak lawannya. Tokoh ini masih malu untuk menggunakan seluruh kepandaian hanya untuk menjatuhkan seorang bocah.

Setelah Im Giok terdesak betul-betul, tiba-tiba saja terdengar bentakan halus, “Ceng-jiu Tok-ong, sungguh tak tahu malu engkau! Berani menghina cucu muridku?” 

Mendadak tubuh Im Giok terlempar ke samping dalam keadaan bersila! Gadis ini sendiri terheran karena dia tadi hanya merasa tubuhnya ditarik orang lalu dilemparkan jauh dari lawannya, akan tetapi ia terjatuh dalam keadaan bersila dengan pedang masih di tangan.

Pada saat membuka mata dan melihat siapa orangnya yang telah menolongnya, Im Giok menjadi girang bukan main, lalu meletakkan pedang di atas tanah dan bersila meramkan mata mengatur napas untuk mengusir hawa beracun yang tadi sudah memasuki lubang hidungnya ketika ia bertempur melawan Ceng-jiu Tok-ong!

Sementara itu, Ceng-jiu Tok-ong heran sekali melihat lawannya tiba-tiba terlempar jauh, kemudian dia melihat seorang laki-laki setengah tua telah berdiri di depannya.

Laki-laki ini berpakaian sederhana, sikapnya tenang, rambutnya sudah berwarna dua dan pada pinggangnya terselip sebatang suling. Melihat sikapnya, Ceng-jiu Tok-ong menduga bahwa dia ini tentulah seorang tokoh kang-ouw. Oleh karena ia sendiri telah sangat lama meninggalkan kang-ouw, maka dia tidak berani berlaku sembrono dan berkata membela diri,

“Engkau siapakah, sobat? Gadis liar itu adalah cucu muridku sendiri yang hendak kuberi hajaran, mengapa engkau mencampuri urusan kami dan mengapa kau berani mengakui dia sebagai cucu muridmu?”

Orang itu tersenyum tenang. “Raja Racun, dalam pengakuanmu tadi ada dua kesalahan. Kau mengakui gadis ini sebagai cucu muridmu karena kau anggap dia murid Pek Hoa Pouwsat? Kau mimpi, Ceng-jiu Tok-ong. Pertama karena gadis ini bukan murid Pek Hoa Pouwsat, melainkan pernah diculiknya dan dipaksa menjadi muridnya. Ke dua, andai kata benar dia pernah menjadi murid Pek Hoa, kau sekarang kiranya sudah tak patut mengaku guru Pek Hoa Pouwsat. Kepandaian Pek Hoa Pouwsat agaknya sudah jauh melampaui kepandaianmu sendiri, orang tua. Kau sudah baik-baik menyembunyikan diri, menjauhi kepusingan dunia, akan tetapi siapa kira, makin mendekati hari terakhir, kau malah makin lemah. Mudah dihasut orang, keluar dari tempat pertapaan yang tenang dan damai, lalu membela orang-orang sesat dan begitu keluar kau bahkan sudah hampir saja membunuh dua orang gadis. Alangkah sesat...!”

Ceng-jiu Tok-ong marah sekali. Betapa pun juga, dia bukan seorang yang takut digertak. Dahulu di waktu mudanya, hanya terhadap Lima Tokoh Besar saja ia gentar, kalau para tokoh lainnya dia tidak takut!

Akan tetapi, sebelum ia mengutarakan marahnya, tiba-tiba Kam Kin yang mengenal siapa adanya orang yang baru datang dan menjadi pucat telah berseru keras,

“Suhu, dia itu adalah Bu Pun Su! Dia bukan manusia biasa! Suhu... lari...!”

Setelah berkata demikian, Kam Kin mengajak berlari anak buahnya yang pada ketakutan seakan-akan seorang penakut melihat setan di tempat sunyi!

Akan tetapi Ceng-jiu Tok-ong belum lama turun dari gunung, belum pernah ia mendengar nama Bu Pun Su. Oleh karena itu ia tidak takut. Ia menduga bahwa orang ini tentu lihai, maka paling baik mendahuluinya. Sambil membentak keras ia mengayun tangan kiri dan tiba-tiba sinar hijau menyambar ke arah Bu Pun Su. 

“Kau lebih patut menjadi ular, selalu bermain-main dengan bisa!” kata Bu Pun Su sambil menyampok dengan tangannya.

Sinar hijau itu ternyata adalah jarum-jarum beracun yang secara istimewa dilepaskan oleh Ceng-jiu Tok-ong. Akan tetapi Raja Racun tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu menyebar jarumnya, dia telah menubruk maju dan menyerang dengan goloknya, sengaja menyerang ke arah hidung Bu Pun Su!

Bu Pun Su memindahkan kaki miringkan tubuh, lalu berkata, 

“Manusia ular, lebih baik kau pergi menyusul muridmu!” Kata-kata ini diucapkan sambil tangannya bergerak.

Tangan kirinya menyampok golok, hal yang amat luar biasa. Kecuali pendekar sakti ini, kiranya tidak ada orang ke dua yang berani menyampok golok dengan tangan kosong begitu saja, apa lagi kalau golok itu mengandung racun berbahaya sekali seperti golok yang dipegang oleh Tok-ong! Sementara itu, secepat kilat sehingga tak terlihat oleh mata, tangan kanannya sudah mencabut suling dan melakukan gerakan menotok ke arah iga lawannya.

Ceng-jiu Tok-ong hanya merasa betapa separuh tubuhnya pegal dan linu-linu. Sebagai seorang tokoh persilatan yang sudah mempunyai ilmu silat tinggi, tahulah ia bahwa jalan darahnya telah terkena totokan lawan dan ia telah mendapat luka di dalam, biar pun luka itu tidak berat akan tetapi ini menandakan bahwa kini ia menemui guru dalam ilmu silat!

Tanpa banyak cing-cong lagi Ceng-jiu Tok-ong menarik kembali goloknya, segera berlari terpincang-pincang menyusul Kam Kin. Kakinya yang kiri terasa kaku sehingga ia harus berlari terpincang-pincang.

Terdengar suara ketawa cekikikan. Bu Pun Su mengerutkan kening dan menengok ke arah gadis yang masih bersila akan tetapi menutupi mulutnya yang mungil sambil tertawa cekikikan, telunjuk menunjuk ke arah Ceng-jiu Tok-ong yang lari terpincang-pincang. 

“Monyet bangkotan itu lucu sekali larinya...!” kata Kim Lian.

Gadis itu tadi membuka matanya dan menyaksikan pertandingan hebat antara Ceng-jiu Tok-ong dengan Bu Pun Su. Kim Lian sudah pernah mendengar nama besar Bu Pun Su yang terhitung masih susiok-couw-nya sendiri.

Tadinya melihat sikap Im Giok dan Kiang Liat yang selalu takut dan menghormat nama Bu Pun Su ia pun merasa takut dan mengira bahwa susiok-couw yang bernama Bu Pun Su itu orangnya tentu sangat dahsyat dan menyeramkan sekali. Akan tetapi siapa nyana, sekarang setelah Bu Pun Su muncul, kiranya orangnya hanya sedemikian saja, begitu sederhana, seperti seorang petani biasa saja. Maka lenyaplah rasa takutnya dan gadis ini saking girangnya melihat Ceng-jiu Tok-ong kalah, lalu tertawa-tawa.

“He, kau! Tahan lidahmu yang jahat!” Bu Pun Su menegur marah. 
“Suciok-couw, kau tadi telah mengalahkan musuh secara hebat sekali, apakah teecu tak boleh bergirang?” Kim Lian membantah. Dia melihat wajah Bu Pun Su begitu ramah dan tenang, membayangkan watak yang sabar sekali, maka ia tidak takut. 
“Suci, jangan kurang ajar terhadap Susiok-couw!” Tiba-tiba Im Giok menegur suci-nya. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su sambil berkata, 
“Susiok-couw, mohon dimaafkan kelancangan Suci Song Kim Lian.” 

Bu Pun Su mengangguk-angguk. Diam-diam ia mengeluh ketika melihat Kim Lian berlutut pula sambil matanya mengerling dan bibirnya tersenyum manis. 

“Hm, bagaimana Kiang Liat bisa mempunyai seorang murid seperti ini?” katanya di dalam hati. Kemudian katanya dengan suara rendah, 
“Hm, ini suci-mu? Jadi ayahmu mempunyai murid? Tidak apa dia lancang asal dia tahu diri. Luka pada pundak dan lengannya adalah akibat pukulan Ang-tok-jiu (Tangan Racun Merah) dari Tok-ong, siapa terkena pukulan itu dalam tiga hari kalau tidak mati tentu akan cacad seluruh kulitnya, keluar bintik-bintik merah akhirnya menjadi bopeng-bopeng. Dia terancam bahaya hebat tapi masih menertawakan orang lain, sungguh tak tahu diri...” 

Alangkah kagetnya Kim Lian mendengar ucapan ini. 

“Susiok-couw, tolonglah teecu...,” ratapnya kemudian sambil membentur-benturkan jidat di atas tanah.
“Aku hanya akan menolong nyawamu, akan tetapi tentang bopeng itu...” 

Kim Lian menjerit dan menangis sedih. “Susiok-couw, lebih baik teecu mati saja. Biarlah tak usah diobati, biar teecu mati saja dari pada harus menderita, bopeng seluruh tubuh... alangkah ngerinya...”

“Hanya kalau mukamu jelek kiranya watakmu yang genit ini akan berubah,” kata Bu Pun Su yang dengan suara dingin. “Sikapmu terlalu genit dan berani, kau sungguh-sungguh memalukan aku yang menjadi susiok-couw!”

Kini baru tahulah Kim Lian mengapa Im Giok dan Kiang Liat takut terhadap Bu Pun Su. Tak tahunya pendekar ini mempunyai hati yang keras dan suka sekali menghukum anak muridnya. Ketika ia mengangkat muka, hatinya berdebar ketakutan melihat sinar mata Bu Pun Su yang demikian tajamnya menembus dada memeriksa isi hati.

Benar-benar manusia aneh. Kim Lian bergidik. Belum pernah ia melihat sinar mata yang begitu berpengaruh! 

Im Giok segera berkata kepada Bu Pun Su dengan suara memohon, “Susiok-couw, Suci memang bersalah. Mohon Susiok-couw sudi memberikan ampun. Susiok-couw, seorang gadis yang diandalkan hanyalah kebersihan muka dan hati, walau pun hati bersih kalau muka kotor dan bopeng, bukankah itu berarti hancurnya hidup seorang gadis? Karena itu, mohon Susiok-couw menaruh belas kasihan dan sudi mengobatinya.”

“Lebih baik muka bopeng asal hati bersih, dari pada muka cantik hatinya kotor!” kata pula Bu Pun Su, suaranya kini menggeledek, membuat Kim Lian gemetar sambil mendekam di atas tanah. 

Im Giok tak berani banyak cakap lagi, hanya melirik ke arah suci-nya dengan hati merasa kasihan. Bu Pun Su melihat semua ini, akan tetapi sebelum sempat ia berkata, pemuda sastrawan yang semenjak tadi sudah sadar dari totokan ringan dan kini menjatuhkan diri berlutut pula, berkata,

“Boanseng Gan Tiauw Ki memohon kepada Lo-enghiong, sudilah menaruh kasihan dan mengobati Li-hiap yang terkena racun. Li-hiap sudah melakukan perbuatan gagah berani, kasihanilah kalau sampai menderita hidupnya. Kalau bisa, biarlah boanseng mengoper racun itu dan biar boanseng menjadi cacat untuk membalas budinya.”

Mendengar permintaan pemuda sastrawan yang bersedia menggantikan hukuman yang menimpa diri Song Kim Lian, Bu Pun Su mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada pemuda itu. Akan tetapi, Gan Tiauw Ki menentang pandang mata ini dengan tabah dan tidak takut-takut, karena memang pemuda ini rela untuk membalas budi Kim Lian. 

“Hmm, kau tidak mengecewakan menjadi seorang terpelajar,” kata Bu Pun Su, pandang matanya melunak. “Baiklah, setelah dua orang memintakan ampun, biar aku sembuhkan dia. Kau maju ke sini!” katanya kepada Kim Lian yang maju dengan sikap takut-takut.

Bu Pun Su menggerakkan kedua tangan ke arah pundak dan lengan Kim Lian yang tadi terkena pukulan Ceng-jiu Tok-ong. Terlihat uap putih mengepul dan bergerak menyambar ke arah dua bagian tubuhnya, terutama sekali pada bagian yang terluka oleh racun. Rasa panas hampir tak dapat ditahannya sampai mukanya menjadi merah sekali dan berpeluh.

Bu Pun Su menarik kembali dua tangannya. “Sudah sembuh, sudah sembuh...,” katanya perlahan.

Kim Lian berlutut menghaturkan terima kasih. Akan tetapi Bu Pun Su justru mengeluarkan kata-kata ancaman, “Sebagai murid Kiang Liat, kau telah mewarisi kepandaian yang pada dasarnya datang dari aku. Oleh karena itu, berhati-hatilah kau menjaga gerak-gerik dan perbuatanmu. Aku sendiri yang akan menghukum anak murid yang menyeleweng!”

Kemudian Bu Pun Su menoleh kepada Gan Tiauw Ki dan bertanya secara tiba-tiba. 

“Bukankah surat kaisar untuk Suma-huciang berada di tanganmu?” 

Tiauw Ki sebetulnya kaget bukan main, akan tetapi pemuda ini tidak kelihatan berubah air mukanya, bahkan dengan tabah ia menatap wajah Bu Pun Su. 

“Kepada Lo-enghiong yang menjadi susiok-couw dari kedua orang Li-hiap ini, boanseng tentu saja tak berani berbohong. Akan tetapi, mengenai pertanyaan tadi, harap maafkan, boanseng tidak dapat menjawab.” 

Kim Lian mengangkat mukanya, memandang dengan kening berkerut. Alangkah kurang ajarnya pemuda itu, pikirnya marah. Kalau saja ia tidak takut kepada Bu Pun Su, tentu ia telah beri hajaran kepada pemuda itu.

Juga Im Giok mengerling ke arah Tiauw Ki dengan pandang mata heran. Akan tetapi, anehnya, Bu Pun Su sendiri tidak menjadi marah, bahkan sebaliknya pendekar sakti ini mengangguk-angguk dengan muka puas. 

“Bagus, bagus! Tidak percuma kau menjadi orang kepercayaan Kaisar, Gan-sicu! Tidak usah kau takut-takut dan merasa curiga, kau boleh ketahui bahwa mendiang Menteri Lu Pin adalah kakekku.”

Mendengar ini, Gan Tiauw Ki lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su. 

“Mohon Lo-enghiong sudi memaafkan boanseng yang kurang ajar. Memang sebenarnya boanseng yang telah menerima tugas itu dan boanseng betul-betul kagum sekali melihat Lo-enghiong yang begitu waspada. Untuk selanjutnya boanseng yang bodoh hanya dapat mengharapkan petunjuk dari Lo-enghiong.”

“Sesungguhnya, mana aku tahu mengenai urusan ini? Hanya secara kebetulan saja aku mendengar bahwa Kaisar sudah mengirimkan utusan untuk menghubungi Suma-huciang di Tiang-hai. Di antara mereka yang terbunuh oleh tentara Gubernur Lie Kong, hanya kau yang kelihatan paling cerdik dan mempunyai pribadi. Kebetulan pula kau seorang yang selamat, maka aku menduga tentu kau yang menjadi utusan itu.”

“Jadi mereka yang menyerang tadi adalah pasukan dari Gubernur Lie Kong?” pemuda itu bertanya dengan muka kaget. 
“Apa kau kira Lie Kong demikian bodoh sehingga tidak tahu akan gerak-gerik Kaisar?” Bu Pun Su tertawa, “Bocah she Gan, hanya satu yang belum kau punyai, yakni pengalaman. Kau tentu tak pernah menyangka bahwa di antara orang-orang yang terlihat setia kepada Kaisar, yang tiap hari dekat dengan Kaisar di istana, terdapat kaki tangan pemberontak!”

Sekarang Gan Tiauw Ki benar-benar terkejut dan mukanya berubah. “Kalau begitu, tugas boanseng masih belum terlepas dari bahaya. Boanseng sendiri tidak takut akan bahaya yang dapat menimpa diri boanseng, akan tetapi surat ini... boanseng mohon petunjuk dari Lo-enghiong...”

“Kau harus dikawal sampai Tiang-hai. Im Giok, sekarang tiba saatnya kau menggunakan kepandaian yang selama ini kau pelajari guna kebaikan. Tugas yang dipegang Gan-siucai ini bukan urusan kecil dan kaulah yang kutugaskan mengawalnya sampai ke Tiang-hai. Aku sendiri yang akan memberi tahukan hal ini kepada ayahmu. Nah, berangkatlah kalian berdua!”

Kiang Im Giok memang takut dan tunduk kepada susiok-couw ini dan pula... tidak dapat disangkal lagi bahwa hatinya berdebar girang tercampur jengah menerima tugas ini. Dia sejak tadi sudah amat tertarik pada pemuda yang tampan ini, dan sekarang ia ditugaskan untuk mengawalnya ke Tiang-hai, berarti dia akan melakukan perjalanan sedikitnya tiga hari bersama pemuda itu!

“Teecu mentaati perintah Susiok-couw,” katanya sambil menundukkan mukanya. 
“Berangkatlah dan ingat, bila sampai pemuda ini terbunuh orang, itu masih belum hebat, akan tetapi jagalah baik-baik supaya surat yang berada di saku baju dalamnya jangan sampai dicuri orang!”
“Baik, susiok-couw, teecu akan ingat dan menjaga surat itu baik-baik.”

Im Giok lalu menghampiri kudanya. “Suci, biar kudamu dipakai oleh Gan-siucai.” 

Kim Lian tersenyum akan tetapi tak berani mengeluarkan kata-kata sembrono di hadapan Bu Pun Su, maka ia hanya berkata, “Baiklah, Sumoi, memang Gan-siucai habis terluka dan lemah, harus melanjutkan perjalanan naik kuda.” 

Gan Tiauw Ki buru-buru berkata, “Tidak usah, Li-hiap. Mana berani aku mengganggu dan memakai kuda Li-hiap? Habis Li-hiap sendiri mau naik apa? Tidak usahlah, biarkan aku berjalan kaki saja...”

Tentu saja Tiauw Ki merasa amat sungkan untuk memakai kuda Kim Lian, karena meski pun gadis itu seorang pendekar gagah, tetapi tetap saja Kim Lian adalah seorang wanita. Mana patut seorang laki-laki mengambil kuda seorang gadis dan membiarkan gadis itu berjalan kaki?

Bu Pun Su yang melihat semua ini lalu berkata, “Gan-siucai, tidak usah sungkan-sungkan dalam saat seperti ini. Kau pakailah kuda itu dan cepat berangkat!” 

Mendengar ini, Gan Tiauw Ki tak berani membantah lagi. Ia menjura kepada Bu Pun Su, lalu kepada Kim Lan. Setelah itu ia lalu menunggangi kuda Kim Lan. Biar pun gerakannya lemah, namun dapat dilihat bahwa dia sudah biasa menunggang kuda.

Hal ini melegakan hati Im Giok. Karena kalau pemuda itu tidak biasa menunggang kuda, nanti bisa repot juga di jalan! Sesudah Im Giok memberi hormat kepada Bu Pun Su dan berpamit kepada Kim Lian, ia lalu berangkat bersama Tiauw Ki. 

Di dalam perjalanan ini, Tiauw Ki secara terus terang menuturkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugasnya kepada pengawalnya yang cantik jelita itu. Dan penuturan Tiauw Ki singkatnya sebagai berikut…..

Semenjak pemberontakan dari perusuh An Lu Shan, Sie Su Beng dan yang lain-lain bisa dihancurkan kemudian ibu kota Tiang-an jatuh kembali kepada Kerajaan Tang, keadaan di seluruh negeri sudah tidak seperti biasa lagi. Kembalinya pasukan-pasukan Tang yang merebut kota raja bukanlah atas kekuatan sendiri, akan tetapi dengan bantuan dari suku bangsa-suku bangsa dari utara dan barat, terutama sekali mendapat bantuan dari suku bangsa Uigur yang terkenal kuat dan gagah berani.

Setelah pasukan pemberontak dihancurkan, para pembantu ini merasa keenakan tinggal di Tiongkok dan tidak mau keluar lagi, bahkan mereka ini memperebutkan harta benda dan kekuasaan. Negara menjadi kacau balau, keamanan tidak terjamin lagi dan di sana sini para pembesar hidup laksana raja kecil. Banyak gubernur dari propinsi-propinsi yang berjauhan dari kota raja, mulai tidak taat lagi kepada Kaisar.

Bahkan lambat-laun Kaisar hampir hilang pengaruhnya dan sering kali harus menurut apa yang diusulkan oleh para gubernur, yang sesungguhnya bukan merupakan usul lagi akan tetapi lebih mendekati perintah! Kaisar seakan-akan menjadi boneka belaka, sedangkan yang berkuasa adalah para pembesar tinggi yang memiliki pasukan-pasukan kuat. 

Betapa pun juga, sampai begitu jauh belum ada pembesar yang secara terang-terangan berani menentang Kaisar, karena masih banyak juga pembesar-pembesar yang setia kepada Kaisar. Sebetulnya kesetiaan ini bukan karena memandang kepada Kaisar, akan tetapi kepada Kerajaan Tang sendiri.

Para pembesar dan juga rakyat memang setia terhadap pemerintah Tang dan apa pun juga yang menjadi alasan, mereka ini tak akan membiarkan orang memberontak terhadap pemerintah Tang. Oleh karena itu, Kaisar juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan Kaisar menghubungi pembesar-pembesar yang setia untuk dapat berjaga-jaga terhadap pemberontakan yang mungkin timbul.

Gan Tiauw Ki adalah seorang siucai yang baru saja lulus dalam ujian di kota raja. Dia merupakan putera seorang janda petani di dusun Lee-siang-chung di Propinsi Hok-kian. Semenjak kecilnya dia memang amat rajin belajar. Waktunya sejak kecil sampai dewasa dihabiskan untuk mempelajari semua buku-buku kuno hingga akhirnya dengan mendapat dukungan ibunya yang bangga melihat puteranya, Gan Tiauw Ki berangkat ke kota raja untuk mengikuti ujian yang diadakan setiap tahun.

Selain pandai ilmu kesusastraan, di dalam dada pemuda ini menyala api cinta bangsa dan cinta negara yang amat besar. Oleh karena itu, dalam menempuh ujian, ia mendapat angka tertinggi sehingga pembesar tua yang menjadi ko-khoa (kepala examinator) kagum sekali.

Kemudian, sesudah pemuda ini ditanya asal-usulnya, jawaban-jawabannya bersemangat sehingga pembesar itu membawanya ke depan Kaisar. Memang Kaisar telah memesan kepada ko-khoa ini supaya mencarikan seorang kepercayaan yang setia, bersemangat, dan pandai.

Demikianlah, setelah diuji dengan banyak pertanyaan oleh Kaisar yang ingin mengetahui isi hatinya, Gan Tiauw Ki lalu diangkat menjadi utusan Kaisar untuk menghubungi para pembesar dan gubernur-gubernur di daerah lain yang masih setia kepada Kaisar. Bahkan pemuda ini kadang-kadang mendapat tugas untuk menghubungi gubernur-gubernur yang tidak tunduk kepada Kaisar untuk mencoba membujuknya.

Sekali ini Gan Tiauw Ki mendapat tugas dari Kaisar untuk menyampaikan surat kepada Suma Huciang, seorang berpangkat huciang di kota Tiang-hai. Dan dalam perjalanan ini, sebagaimana telah dituturkan pada bagian depan, Gan Tiauw Ki yang menyamar sebagai pengungsi dan melakukan perjalanan bersama para pengungsi lain, sudah dihadang dan hampir saja menjadi korban keganasan para tentara pemberontak, yakni tentara di bawah perintah gubernur Liok yang tidak tunduk kepada Kaisar, dan pasukan ini dipimpin oleh Giam-ong-to Kam Kin yang dibantu oleh suhu-nya, yakni Ceng-jiu Tok-ong.

Begitulah penuturan Gan Tiauw Ki pada Im Giok dalam perjalanan mereka ke Tiang-hai. Makin lama mereka bercakap-cakap, makin tertariklah Im Giok kepada pemuda ini. Di lain pihak, Tiauw Ki juga kagum dan tertarik sekali kepada Ang I Niocu sehingga biar pun bibir mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun mengenai perasaan hati mereka dan bahkan sinar mata mereka selalu hendak menyembunyikan pancaran rasa hati karena keduanya adalah orang-orang muda yang sopan.

Akan tetapi mereka sama-sama tahu apa yang terkandung dalam hati masing-masing.....

********************
Selanjutnya baca
ANG-I NIOCU (DARA BAJU MERAH) : JILID-07
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger