logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 08


Ketika Lili kembali ke istana pangeran setelah mengantar Sin Wan keluar istana, seorang pengawal menyambutnya dan memberi tahu bahwa dia dipanggil oleh pangeran di dalam kamarnya. Lili tidak menyangka buruk, maka dia pun segera mengetuk daun pintu kamar yang tertutup itu.

"Yang Mulia, saya Lili siap menghadap paduka kalau diperlukan," katanya lirih.
"Masuklah, Lili, daun pintunya tidak dikunci," terdengar suara pangeran itu dari dalam. 

Lili mendorong daun pintu, dibiarkan saja oleh empat orang pengawal yang berjaga di luar kamar, lalu dia melangkah masuk. Kamar pangeran itu luas dan terang, dengan perabot kamar yang serba mewah, dan tempat tidur yang luas pula. Pangeran hanya seorang diri saja, rebah miring di pembaringan.

"Tutupkan kembali daun pintunya, Lili," katanya. 

Walau pun alisnya berkerut karena belum pernah dia disuruh masuk kamar berdua saja dengan pangeran itu, apa lagi daun pintu kamar ditutup, Lili tidak berani membantah dan menutupkan daun pintu kamar.

"Kesinilah, Lili!" kata pula pangeran itu dengan suara lembut. 

Karena mengira bahwa pangeran hendak membicarakan urusan penting, Lili melangkah maju ke dekat pembaringan dan berlutut dengan kaki kanan.

"Siap menanti perintah, pangeran," katanya.
“Jangan berlutut di situ, Lili. Duduklah di pembaringan sini...”
"Tidak, pangeran. Saya di sini saja!” kata Lili, suaranya mulai mendingin. "Perintah apa yang harus saya laksanakan untuk paduka?"
"Lili, duduklah di sini dan kau pijitlah tubuhku. Aku merasa lelah sekali...”
Wajah Lili berubah merah dan dia pun bangkit berdiri. "Pangeran, memijit bukan pekerjaan saya. Saya bukan tukang pijit. Kalau paduka lelah dan minta dipijit, biar saya panggilkan selir atau dayang...”

"Aku ingin engkau yang memijitiku, Lili." Pangeran itu bangkit duduk. "Ke sinilah engkau. Aku sayang padamu, Lili. Sejak kau berada di sini, aku merindukanmu. Rebahlah di sini, di sampingku, Lili...”
"Pangeran! Apa yang paduka katakan ini? Apakah paduka mabok? Saya tidak sudi!"
"Lili, aku cinta padamu, aku ingin mengangkatmu menjadi selirku terkasih."
"Tidak, aku tidak sudi!"
"Ingat, aku seorang pangeran mahkota, Lili."

Lili sudah marah sekali! Kalau dia tidak ingat bahwa laki-laki ini seorang pangeran, putera mahkota, tentu sudah dicekiknya kepala orang itu sampai lumat.

"Tidak, aku tidak sudi, biar kau seorang pangeran mahkota, seorang dewa atau seorang iblis sekali pun! Sekarang juga aku akan pergi, aku tidak sudi menghambakan diri di sini lagi!" Gadis itu meloncat keluar lalu berlari meninggalkan tempat itu.
"Pengawal...!" Pangeran berteriak dan ketika para pengawal bermunculan, dengan geram dia memerintahkan untuk mengejar dan menangkap Lili. 

Akan tetapi para pengawal itu jeri untuk mengejar bekas pengawal pribadi yang kabarnya sangat lihai itu. Apa lagi ketika muncul Yauw Siucai, juga pengawal pribadi pangeran dan guru sastra Pangeran kecil Chu Hong yang membujuk mereka agar bertindak lambat dan agar jangan bentrok dengan Lili karena hal itu akan membahayakan mereka sendiri. 

Tapi bujukan ini hanya mempengaruhi beberapa orang pengawal saja. Mereka yang setia terhadap pangeran bahkan melapor kepada kepala pengawal dan puluhan orang prajurit pengawal melakukan pengejaran kepada Lili yang berlari ke luar istana.

Bukan main marahnya hati Lili. Dia tidak tahu bahwa ketika Yauw Siucai memperkenalkan ia kepada Pangeran Chu Hui San, kemudian diterima sebagai pengawal pribadi, pangeran mata keranjang itu menerimanya bukan hanya karena Yauw Siucai memuji kelihaiannya, melainkan terutama sekali karena kecantikannya. Biar pun sudah ratusan mungkin ribuan orang wanita pernah melayaninya, namun pangeran ini belum pernah mempunyai seorang kekasih yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga mempunyai watak yang keras dan berani seperti Lili. 

Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang sikapnya demikian berani terhadap seorang jenderal besar seperti Jenderal Yauw Ti? Semuanya itu membuat sang pangeran semakin tergila-gila dan setelah melihat sikap gadis itu terhadap sang jenderal tadi, dia pun merasa khawatir kalau suatu saat dia akan kehilangan Lili, maka gairahnya semakin memuncak sehingga dia mengambil keputusan untuk memiliki Lili saat itu juga. Namun baru sekali itu selama hidupnya, ada wanita yang menolak keras ketika dirayunya.....!

Dalam keadaan marah Lili keluar dari istana. Dia bukan tidak tahu bahwa kemungkinan besar pangeran akan mengerahkan para pengawal untuk menangkapnya, namun dia tidak peduli dan akan menghajar siapa saja yang nanti berani menghalanginya.

"Lili...!”

Lili mengangkat muka dan melihat dua orang yang berada di luar pintu gerbang istana, dia pun terbelalak dan segera lari menghampiri.

"Suci...! Suhu...!" serunya girang bukan main melihat kakak seperguruannya dan gurunya berada di situ.

Akan tetapi pada saat itu dari pintu gerbang muncul berbondong-bondong para pengawal yang melakukan pengejaran. Begitu melihat Lili mereka pun segera berteriak-teriak sambil mengejar, dipimpin beberapa orang perwira pengawal yang berteriak memerintah.

"Tangkap pemberontak!"
"Apa yang terjadi?" tanya Cu Sui In.
"Pangeran hendak memaksaku menjadi selirnya, tetapi aku tak sudi kemudian melarikan diri," kata Lili dan gadis ini pun segera menyambut serbuan para pengawal, merobohkan dua orang dengan tamparannya. 

Akan tetapi para pengawal sudah menyerangnya dengan senjata di tangan. Tombak dan pedang golok menyambar-nyambar. Lili mencabut pedangnya Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) mengamuk. Melihat betapa Lili dikepung banyak pengawal yang menyerang mati-matian, tanpa diminta Cu Sui In segera mencabut Hek-coa-kiam (Pedang Ular Hitam) dan terjun ke dalam pertempuran membantu gadis itu.

See-thian Coa-ong Cu Kiat memandang dengan kedua alis berkerut. Tentu saja dia tidak mengkhawatirkan dua orang wanita yang dikeroyok itu, namun dia bukan orang bodoh. Betapa pun lihainya Lili dan Sui In, bahkan ditambah dia sendiri sekali pun, tidak mungkin dapat bertahan kalau datang pasukan besar mengeroyok mereka. Inilah yang merupakan ancaman karena mereka berada di kota raja, apa lagi di depan pintu gerbang istana. 

Mereka seperti sedang berada di goa harimau, dan selain itu dia pun tidak ingin menjadi pemberontak tanpa alasan yang kuat, hanya karena Lili hendak diambil selir oleh seorang pangeran. Bahkan kalau gadis itu mau, dia malah akan merasa senang sekali. Mengapa menolak menjadi selir seorang pangeran mahkota yang memiliki kesempatan sangat baik untuk menjadi permaisuri? Bodoh sekali!

"Lili, Sui In, kita pergi dari sini!" serunya dan sekali dia menyerbu, kepungan itu langsung terpecah.

Dua orang wanita itu juga maklum akan bahaya, maka mereka cepat meloncat keluar dari kepungan yang pecah. Mereka bertiga berloncatan dengan cepat dan sebentar saja para pengawal itu sudah kehilangan bayangan mereka.

Para pengawal melakukan pengejaran dan kini pasukan pembantu telah datang sehingga mereka menyebar ke seluruh kota untuk mencari ketiga orang itu, terutama Lili. Di antara mereka yang melakukan pencarian, tentu saja tampak pula seorang pria yang berpakaian sastrawan serba putih, yaitu Yauw Siucai, yang berlagak marah-marah ketika mendengar akan peristiwa itu.

"Gadis yang tak mengenal budi!" Dia berseru di hadapan pangeran Chu Hui San. "Jangan khawatir, yang mulia. Saya akan berusaha mencari dan menemukannya!"

Ketika ketiga orang pelarian itu sedang berlari dan berloncatan di sebuah lorong, tiba-tiba saja di hadapan mereka muncul Yauw Siucai. Tempat itu sunyi, dan Yauw Siucai berkata cepat.

"Ke sinilah! Cepat sam-wi masuk ke sini!" 

Tiga orang itu, dipimpin Lili yang telah mengenal Yauw Siucai dan mempercayainya, cepat mengikuti pemuda berpakaian putih itu memasuki sebuah pintu samping sebuah rumah dan segera daun pintu itu ditutup dari dalam. Mereka berada di sebuah kebun dan tanpa bicara lagi Yauw Siucai mengajak mereka memasuki rumah itu dari belakang.

Di dalam rumah itu, di sebuah gudang barang, terdapat sebuah pintu rahasia dan dia pun membawa tiga orang pelarian memasuki sebuah lorong rahasia yang menurun ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang luas, mewah dan amat lengkap. Tiga orang itu sampai terheran-heran dan kagum, tidak menyangka bahwa di bawah gedung itu terdapat ruang bawah tanah yang demikian mewahnya.

"Untuk sementara harap sam-wi (anda bertiga) bersembunyi dulu di sini sampai pencarian mereda," kata Yauw Siucai kepada mereka.
"Terima kasih atas bantuanmu, Yauw kongcu," kata Lili, lalu dia memperkenalkan gurunya dan kakak seperguruannya. "Ini adalah suhu dan suci-ku...” 

Yauw Siucai tercengang lantas tersenyum girang bukan main. "Locianpwe See-thian Coa-ong dan Bi-coa Sianli? Ahh…, sudah lama sekali saya mendengar akan nama besar ji-wi (anda berdua)," katanya memberi hormat.

"Suhu dan suci, ini adalah Yauw Kongcu, namanya Yauw Lu Ta. Kami berkenalan dalam perjalanan, lalu ia memperkenalkan aku dengan Pangeran Mahkota dan memasukkan aku menjadi pengawal pribadi. Akan tetapi ternyata Pangeran Chu Hui San hendak kurang ajar kepadaku, maka aku melarikan diri!"

See-thian Coa-ong yang merasa bahwa dia telah terlepas dari bahaya karena pertolongan pemuda tampan berpakaian putih-putih itu berkata, "Hemm, hari ini Yauw Kongcu sudah menyelamatkan kami. Aku tidak akan melupakan budi ini."

Cu Sui In tidak mempedulikan pria yang menolongnya itu, sebaliknya dia justru mengomel kepada Lili, "Sumoi, apa saja yang kau lakukan di kota raja? Bukankah aku memberimu tugas penting? Engkau sudah mengabaikan tugasmu?"

Lili memandang suci-nya. "Sama sekali tidak, suci. Juga dengan bantuan Yauw Kongcu, aku sudah dapat menemukan Bhok Cun Ki...”

"Dan kau sudah membunuhnya?" Wanita itu bertanya cepat dengan suara gemetar.

Lili menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan. "Suci, maafkan aku. Aku telah menantangnya dan kami telah bertanding, tetapi... aku kalah...”

Cu Sui In terbelalak dan nampak marah sekali. "Sumoi, engkau kalah dan engkau masih hidup bahkan bersenang-senang di istana? Hemm, beginikah cara engkau membalas budi suci-mu ini?"

"Hemmm, bersabarlah, Sui In," kata See-thian Coa-ong. "Lili, ceritakan apa yang terjadi. Kalau memang Bhok Cun Ki itu lihai sekali, biar kelak aku sendiri yang turun tangan."
"Jangan, ayah! Ayah tidak boleh mencampuri urusan ini. Nah, Lili, kau ceritakan apa yang terjadi."

Lili lalu menceritakan tentang pertandingannya melawan Bhok Cun Ki. Dia seorang gadis yang terbuka dan jujur, maka dia menceritakan semuanya. Betapa lihainya Bhok Cun Ki sehingga dia tidak mampu mengalahkannya, bahkan dia yang selalu terdesak.

"Selagi dia mendesakku, tiba-tiba ada senjata rahasia menyerangnya. Akan tetapi dia amat lihai dan pedangnya dapat menangkis. Celakanya, sebatang paku beracun terpental dan mengenai pundak kiriku. Aku lalu pingsan. Ketika aku siuman, ternyata aku telah berada di rumah Bhok Cun Ki. Dia membawa aku ketika pingsan dan mengobatiku. Akan tetapi sesudah siuman aku menolak kebaikannya itu dan aku melarikan diri. Demikianlah, suci. Maafkan kegagalanku."

Wajah Cu Sui In menjadi merah sekali. "Sumoi, aku malu sekali padamu! Engkau pernah mengatakan bahwa untuk melaksanakan permintaanku engkau bersedia mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi buktinya? Huh, engkau... engkau sungguh mengecewakan!"

Dicela seperti itu, Lili menjadi marah sekali. "Suci, apa yang harus kulakukan sekarang? Katakan, biar aku harus mengorbankan nyawaku, akan aku lakukan. Aku bukan pengecut seperti yang suci sangka!"

"Bagus! Kalau begitu sekarang juga pergilah cari Bhok Cun Ki lantas ulangi tantanganmu. Akan tetapi sekali ini engkau harus berhasil membunuhnya! Kalau tidak, jangan lagi kau berani mengakui aku sebagai suci-mu!"
"Baik! Sekali ini, dia atau aku yang harus mati!" seru Lili.
"Itulah yang kumaksudkan. Dia atau engkau yang harus mati!" kata Sui In.

Lili hendak lari meninggalkan tempat itu, akan tetapi Yauw Siucai cepat menghadangnya. "Bersabarlah, nona Lili, dan kuharap engkau juga bersabar, toanio," katanya kepada Sui In. "Kalau nona Lili nekat keluar, sebelum dapat bertemu dengan Bhok Cun Ki tentu dia akan lebih dulu tertangkap oleh pasukan pengawal, dan semuanya akan gagal pula."
"Ha-ha, omongan Yauw Siucai ini benar sekali, Yauw Siucai kalau menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?" kata See-thian Coa-ong.
"Sebaiknya dikirim surat tantangan kepada Bhok Cun Ki, dan saya yang akan menyuruh orang menyampaikan. Kemudian nona Lili dan ji-wi (anda berdua) harus keluar dari sini dengan berpencar sambil menyamar menuju ke tempat yang ditentukan untuk bertanding. Dengan demikian akan aman. Tempat bertanding harus ditentukan di luar kota, sebaiknya di hutan buatan sebelah utara kota raja yang biasa dipergunakan untuk berburu keluarga kaisar. Di sana sepi dan baik sekali untuk bertanding tanpa gangguan."

Mendengar ini Sui In mengangguk-angguk.

"Bagus, aturlah seperti itu, Yauw Siucai. Kiranya engkau orang yang cerdik sekali, pantas saja Lili suka bersahabat denganmu," kata See-thian Coa-ong girang. "Lili, cepat kau buat surat tantangan!"
"Biar aku yang membuatnya!" kata Cu Sui In dan Yauw Siucai lalu mengeluarkan alat-alat tulis dari laci sebuah meja di ruangan itu. Sui In lalu membuat surat tantangan singkat dan dimasukkan ke dalam sampul.
"Sekarang saya akan pergi untuk mengirim surat tantangan, sementara sam-wi membuat penyamaran. Untuk hal ini sudah tersedia alat penyamaran lengkap di lemari sudut itu."

Yauw Siucai segera pergi dan ketika Sui In membuka lemari, mereka bertiga tercengang dan kagum. Di situ telah tersedia alat-alat penyamaran yang lengkap mulai dari pakaian, rambut palsu, pengubah warna kulit hingga alat-alat yang bisa membuat kulit mengeriput dan sebagainya.

Mereka bertiga segera merias diri, menyamar. Lili dan Sui In menyamar sebagai pria yang tampan, sedangkan See-thian Coa-ong menyamar sebagai seorang pengemis tua yang tubuhnya bongkok!

Setelah mereka bertiga selesai dengan penyamaran mereka, mereka menanti kembalinya Yauw Siucai. Tidak terlalu lama mereka menanti karena orang itu segera muncul di situ dengan wajah berseri.

"Sudah saya suruh antar surat tantangan itu dan Bhok Cun Ki pasti akan berada di hutan sebelah utara kota raja. Sekarang sam-wi boleh keluar karena saya melihat penyamaran sam-wi sudah baik sekali."

Mereka semua keluar dari lorong rahasia itu, tiba di gudang dan ketika hendak membuka pintu kebun, Yauw Siucai yang lebih dulu keluar. Setelah melihat bahwa lorong itu sunyi, tiga orang yang menyamar itu keluar seorang demi seorang, berpencar untuk mengambil jalan masing-masing menuju ke pintu gerbang sebelah utara.

Kota raja masih penuh dengan para prajurit yang melakukan pencarian, akan tetapi tidak seorang pun mengenal Lili dalam penyamarannya sebagai seorang pemuda tampan yang berkumis dan berkulit gelap. Sekarang alisnya juga menjadi tebal dan bentuk hidungnya menjadi agak besar. Dengan cepat Lili berhasil keluar dari pintu gerbang utara, kemudian melanjutkan perjalanan dengan cepat ke utara. 

Matahari sudah condong ke barat dan Lili merasa betapa hatinya gundah. Dia sama sekali tidak takut biar pun dia tahu bahwa dia tak akan menang melawan Bhok Cun Ki. Dia tidak takut kalah dan dia tidak takut mati sebab watak seperti ini sejak kecil sudah ditekankan kepadanya oleh suci-nya yang dahulu adalah gurunya. Yang membuat dia merasa gundah bukanlah kelihaian Bhok Cun Ki, tetapi kebaikannya. Tidak mungkin dia dapat melupakan perkelahian yang pernah terjadi antara dia dengan panglima itu.

Ia kini tahu benar bahwa pelepas senjata rahasia bukanlah panglima itu, seperti yang juga diterangkan oleh Sin Wan kepadanya. Ada pihak ke tiga yang melakukannya, dan yang diserang adalah panglima itu, bukan dia. Akan tetapi dialah yang terkena paku beracun itu dan musuh besar suci-nya itu bahkan menolongnya, merawatnya!

Meski pun dia telah bersikap keras dan tidak mau menerima budi itu, akan tetapi di dalam hatinya, dia bukanlah orang yang tidak mengenal budi. Dan sekarang dia sedang pergi untuk membunuh atau dibunuh orang itu!

Wajahnya semakin muram kalau dia teringat akan sikap dan kata-kata suci-nya. Sungguh sukar mengerti sikap suci-nya. Kenapa suci-nya memaksa dia yang membunuh Bhok Cun Ki, padahal suci-nya yang merasa sakit hati? Mengapa bukan suci-nya sendiri yang turun tanga membalas dendam?

Bahkan ketika guru mereka, atau ayah suci-nya hendak turun tangan membunuh Bhok Cun Ki, suci-nya melarang dengan keras dan memaksanya agar dia yang melawan Bhok Cun Ki. Padahal suci-nya sudah mendengar bahwa dia pernah kalah oleh Bhok Cun Ki. Mengapa sikap suci-nya begini aneh, pada hal dia merasakan benar bahwa suci-nya amat sayang kepadanya? Sungguh sikap yang amat berlawanan dan aneh!

Walau pun sepasang kakinya dengan ringan melangkah tanpa ragu ke arah tempat yang ditentukan untuk mengadu kepandaian, atau lebih tepat bila dinamakan mengadu nyawa, namun hatinya terasa berat oleh kebimbangan…..
********************
Sin Wan cepat-cepat pergi ke rumah keluarga Bhok untuk mencari panglima itu. Dia harus mengabarkan kenyataan yang luar biasa itu, bahwa Lili adalah puterinya sendiri, kepada panglima itu! Akan tetapi, belum dia tiba di rumah keluarga Bhok Cun Ki, dia mendengar tentang keributan di depan istana.

Dia teringat bahwa Lili berada di sana, maka cepat dia kembali lagi dan mendengar bahwa memang gadis itu yang membuat keributan, dan menurut kabar yang dia dengar, gadis itu melarikan diri dari istana dan dikejar-kejar oleh pasukan keamanan. 

Juga dia mendengar bahwa ketika tiba di luar istana, dara itu dibantu oleh seorang wanita cantik dan seorang kakek tinggi kurus dan amat lihai, akan tetapi tiga orang itu kemudian melarikan diri dan sampai kini masih terus dicari oleh para prajurit keamanan. Sin Wan dapat menduga bahwa tentu Lili telah dilarikan oleh See-thian Coa-ong dan Bi-coa Sianli Cu Sui In. Dia segera kembali menuju ke rumah Bhok Cun Ki.

Ketika tiba di rumah keluarga Bhok, yang menyambutnya adalah Bhok Cin Han dan Bhok Ci Hwa. Kakak beradik itu memberi tahu kepadanya bahwa ayah mereka telah pergi sejak tadi, setelah mendengar akan keributan yang terjadi di depan istana.

"Kami mendengar bahwa yang membikin kacau itu adalah seorang pengawal wanita dari Pangeran Mahkota," kata Cin Han. "Kabarnya ia melarikan diri setelah hampir membunuh Pangeran Mahkota. Agaknya ia seorang mata-mata yang dikirim musuh untuk membunuh Pangeran Mahkota."
“Ayah pergi untuk berusaha menangkap kembali gadis itu, yang kabarnya sudah dibantu oleh dua orang yang amat lihai," kata pula Cin Hwa.

Diam-diam Sin Wan merasa sangat khawatir. Tentu saja dia tidak memberi tahu kepada mereka bahwa yang dimaksudkan dengan gadis pengacau itu bukan lain adalah Lili. Dia merasa khawatir kalau sampai Bhok Cun Ki bertemu dengan Lili dan See-thian Coa-ong bersama puteri datuk itu. Dapat berbahaya bagi panglima Bhok. Karena itu tanpa banyak cakap lagi dia pun meninggalkan kakak beradik itu dengan alasan untuk membantu ayah mereka mengejar pengacau.

Di sepanjang perjalanan Sin Wan banyak berpikir. Dia merasa khawatir sekali terhadap keselamatan Lili dan juga Bhok Cun Ki. Dan teringatlah dia betapa secara aneh sekali Lili sudah menjadi pengawal pribadi Pangeran Chu Hui San. Dan siapakah Yauw Siucai itu? Biar pun dia nampak lemah lembut dan ramah halus, namun kehadirannya dekat Lili amat mencurigakan.

Meski pun dia berjalan sambil melamun, matanya tidak pernah mengurangi kewaspadaan. Dia melihat jalan-jalan menjadi ramai, dan setiap orang yang berlalu-lalang penuh dengan ketegangan akibat adanya berita tentang kekacauan itu.

Tiba-tiba dia menyelinap dengan cepat sekali ke samping sebuah rumah di tepi jalan. Dia melihat sastrawan yang tampan itu berjalan seorang diri. Yauw Siucai!

Baru saja dia mengenang sastrawan yang dianggap cukup mencurigakan itu dan kini dia melihat orang itu berjalan seorang diri dengan tergesa-gesa sehingga lupa menggunakan kipas besar yang dipegangnya untuk mengusir kegerahan, bahkan kini langkahnya bukan lagi langkah sastrawan yang lemah lembut. 

Sepasang kaki itu melangkah dengan gesitnya, dan dari langkahnya saja Sin Wan dapat menduga bahwa orang ini tidaklah selemah tampaknya ketika berada di istana Pangeran Mahkota! Dia pun cepat membayangi Yauw Siucai yang memasuki sebuah lorong kecil.

Akan tetapi, begitu memasuki lorong sempit itu, Yauw Siucai menghilang, entah ke mana! Sin Wan terkejut dan merasa heran, berhenti di depan sebuah dinding pagar yang tebal dan tinggi. Di balik pagar tembok itu nampak atap sebuah rumah besar. Tidak ada pintu pada dinding pagar itu. Akan tetapi kemana lenyapnya Yauw Siucai?

Kecurigaannya bertambah dan dia pun melompat ke atas pagar tembok. Ketika melihat betapa di sebelah dalam sunyi saja, dia pun melompat ke sebelah dalam. Pada saat dia melompat itu, ada bayangan orang berjalan memasuki lorong itu, namun Sin Wan yang telah melompat masuk, tidak tahu bahwa ada orang melihat dia melompat dari atas pagar tembok ke sebelah dalam.

Sin Wan yang kini tiba di sebuah kebun dengan hati-hati sekali menghampiri rumah yang atapnya nampak dari luar pagar tembok. Rumah itu kelihatan sangat sunyi, seperti tidak berpenghuni. Apakah Yauw Siucai tadi menghilang ke dalam rumah ini? Dia tidak dapat memastikannya. Dia harus menyelidiki karena sikap Yauw Siucai itu mencurigakan sekali.

Andai kata tidak ada hubungannya dengan Lili, tentu Sin Wan tidak akan bersusah payah mencurigai dan membayangi Yauw Siucai. Namun karena pada saat itu pikirannya penuh dengan bayangan Lili yang agaknya di luar pengetahuannya oleh ibu kandungnya sendiri hendak diadu melawan ayah kandungnya, disuruh saling serang dan saling bunuh antara anak dan ayah kandung, maka kemunculan Yauw Siucai itu menarik perhatiannya.

Melalui pintu samping yang kecil Sin Wan menyelinap ke dalam rumah itu, dan dia hampir yakin bahwa rumah itu kosong. Tak mungkin Yauw Siucai bersembunyi dalam rumah ini, pikirnya. Pula, kenapa bersembunyi? Dia yang tadi kurang waspada. Mungkin sastrawan itu menghilang di sebuah tikungan di lorong itu, atau memasuki sebuah pintu kecil yang terbuka. Dia telah salah duga dan tergesa-gesa menyangka sastrawan itu masuk ke sini. Namun dia tetap penasaran. Dia sudah terlanjur masuk, maka diintainya setiap ruangan di rumah itu.

Ketika dia mengintai sebuah kamar yang besar dari balik jendela, dia pun terkejut. Dalam kamar yang tertutup dan agak remang-remang itu dia melihat seseorang rebah terlentang di atas pembaringan dan dengkurnya terdengar lirih. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan perutnya gendut sekali. Dia mencurahkan perhatian dan mengamati. 

Maka berdebarlah jantung Sin Wan penuh ketegangan sesudah dia mengenal orang itu. Sama sekali bukan Yauw Siucai, namun seorang tinggi besar gendut yang mengenakan kedok hitam! Si Kedok Hitam yang pernah bertanding dengan dia di gedung peristirahatan Pangeran Mahkota! Si Kedok Hitam yang bukan main lihainya itu, yang menjadi pemimpin dari gerombolan berkedok, yang mengatur pencurian benda-benda dari gedung pusaka!

Dengan girang karena dapat menemukan tempat persembunyian pemimpin kedok hitam yang dia yakin tentulah mata-mata orang Mongol sebab telah mencuri benda-benda tanda kekuasaan milik bekas kaisar Mongol, Sin Wan siap untuk menangkapnya. Jasanya akan besar sekali kalau dia dapat menangkap pemimpin gerombolan mata-mata dan menyeret orang ini ke depan Jenderal Shu Ta!

Tanpa ragu lagi dia membuka jendela dengan hati-hati, lalu meloncat ke dalam kamar itu. Suara dengkur lirih itu tak terhenti, tanda bahwa Si Kedok Hitam itu masih tidur nyenyak. Supaya tidak mencurigakan kalau-kalau ada orang lain berada di luar rumah itu. Sin Wan segera menutupkan kembali daun jendela dan pada waktu dia hendak meloncat ke dekat pembaringan, tiba-tiba terdengar bunyi desis yang tajam. 

Sin Wan terkejut sekali! Desis itu seperti desis ular dan dia menoleh ke kiri, akan tetapi terdengar bunyi desis-desis lain dari sekelilingnya dan tiba-tiba saja kamar itu telah penuh asap yang baunya amat keras menyengat hidung. Asap beracun!

Karena tadinya dia tidak menduga, hidungnya sudah terlanjur menyedot sedikit asap yang membuat kepalanya mendadak terasa pening. Ketika dia hendak meloncat keluar lagi, dia bingung mencari-cari di mana adanya jendela tadi. Kepeningan sudah membuat pandang matanya berkunang dan tempat itu seperti berputar. 

Pada saat itu pula ada angin menyambar dari belakang. Dia membalik sambil menangkis dan berhasil menangkis tiga kali serangan. Tapi karena kepalanya pening sekali, akhirnya sebuah totokan mengenai punggungnya dan dia pun roboh dengan dua kaki terasa seperti lumpuh.

Dia berjuang untuk menahan napas agar tidak menyedot asap yang makin menebal, dan melihat bayangan Si Kedok Hitam meloncat keluar dari pintu kamar yang segera tertutup kembali.

"Ha-ha-ha-ha-ha.." Si Kedok Hitam yang keluar dari kamar itu, kini tertawa bergelak-gelak tanda kegembiraan hatinya dapat menangkap seorang musuh yang tangguh sedemikian mudahnya. 

Ketika itu pemimpin gerombolan mata-mata Mongol ini memang sedang berada seorang diri di rumah persembunyian mereka. Ketika tadi melihat Sin Wan memasuki tempat itu, segera dia memasang perangkap. Kamar itu memang kamar yang diperlengkapi dengan alat rahasia yang menyemprotkan asap beracun.

Si Kedok Hitam yang pura-pura tidur telentang di pembaringan itu yang menekan tombol perangkap ketika Sin Wan melompat masuk ke kamar. Kemudian, pada waktu Sin Wan terpengaruh asap beracun, dia lalu menyerang dengan dahsyat dan berhasil merobohkan pemuda itu dengan totokan. Untuk menghindari asap beracun, dia lantas melompat keluar kamar dan saking gembiranya dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Mampus kau sekarang, bocah usil... ha-ha-ha..."

Tiba-tiba dia menghentikan tawanya dan melempar tubuh ke belakang, Tiga batang jarum lembut menyambar lewat dan pada saat itu, sesosok bayangan melayang turun dari atas genteng lantas bagaikan seekor burung garuda bayangan itu sudah menyerang Si Kedok Hitam dengan sebatang pedang yang mengeluarkan hawa dingin sekali.

Serangan itu cepat dan dahsyat bukan main sehingga mengejutkan Si Kedok Hitam yang merupakan seorang yang sakti. Dia tidak berani memandang rendah dan cepat meloncat ke belakang. Ketika dia memandang, dia menjadi terheran-heran karena penyerangnya itu pun mengenakan topeng hijau dan berpakaian serba hijau pula. Akan tetapi jelas bahwa dia adalah seorang wanita! Seorang gadis yang masih muda, bertubuh padat langsing dan rambutnya hitam sekali.

Gadis berpakaian dan bertopeng hijau itu kembali menyerang, dan kini serangannya lebih dahsyat lagi. Si Kedok Hitam dapat menilai bahwa dia sedang berhadapan dengan lawan yang amat tangguh, maka dia pun cepat menggerakkan kedua tangannya yang berlengan baju lebar. Ujung kedua lengan bajunya itulah yang dia pergunakan sebagai senjata dan dalam waktu yang singkat itu mereka sudah saling serang dengan demikian dahsyatnya. Keduanya terkejut, maklum bahwa lawan memang amat hebat dan tidak boleh dipandang ringan.

Si Kedok Hitam merasa khawatir. Tanpa dibunuh pun, pemuda yang sudah terjebak itu akan mati sendiri oleh asap beracun. Wanita berkedok hijau ini lihai bukan main. Walau pun dia tidak akan kalah, namun untuk merobohkan wanita ini bukan hal yang mudah. Dia khawatir kalau ada lawan lain yang datang.

Dia bukan takut kalah, melainkan takut kalau keadaan dirinya diketahui. Dia memegang peran penting dalam jaringan mata-mata Mongol, maka tidak boleh sampai dikenal orang. Teringat akan ini, dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring kemudian kedua ujung lengan bajunya menyambar-nyambar seperti kilat, membuat lawannya meloncat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Si Kedok Hitam untuk meloncat lantas lenyap melalui sebuah pintu rahasia.

Wanita bertopeng dan berpakaian hijau itu tidak melakukan pengejaran karena ia pun tahu betapa lihainya orang tadi sehingga mengejar orang selihai itu di tempat yang penuh alat rahasia ini bisa membahayakan diri sendiri. Yang paling penting adalah menolong pemuda yang tadi terperangkap, pikirnya. Dia memasuki kamar yang masih penuh dengan asap itu dan cepat menahan napas karena dia maklum bahwa asap itu berbahaya kalau sampai tersedot.

Sementara itu, tadi Sin Wan terpaksa menutup pernapasannya karena dia tidak mampu melarikan diri dari kamar penuh asap itu. Akan tetapi dia hanya seorang manusia biasa, maka tak mungkin dia dapat menahan pernapasan terlampau lama. Jalan pernapasannya tertutup dan karena kekurangan hawa udara, dia pun merasa semakin pening dan roboh pingsan. Dia tidak tahu betapa ada wanita bertopeng hijau memasuki kamar itu kemudian memondong tubuhnya ke luar dari dalam kamar yang penuh asap, membawanya keluar rumah dan merebahkannya di atas rumput di kebun samping rumah itu. 

Sunyi sekali di situ, tak nampak seorang pun manusia. Dan memang pada waktu itu yang berada di rumah itu hanyalah Si Kedok Hitam yang sudah melarikan diri karena khawatir kalau dirinya diketahui orang luar.

Dengan cepatnya wanita bertopeng itu memeriksa keadaan Sin Wan. Sepasang matanya yang bening dan mencorong dari balik topeng meneliti keadaan pemuda itu, sambil jemari tangannya meraba-raba dan menotok punggung dan pundak Sin Wan, membebaskannya dari totokan. Melihat Sin Wan masih pingsan dan keadaan dadanya menggembung dan keras kaku, tahulah dia bahwa ada kemacetan pada paru-parunya, tentu karena pemuda itu menutup jalan pernapasannya sebelum pingsan agar tidak kemasukan asap beracun, pikirnya. 

Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan pemuda ini dari cengkeraman maut. Mukanya sudah mulai kehijauan karena kekurangan udara. Ia menyingkap bagian bawah topengnya hingga nampaklah hidung dan mulutnya yang memiliki sepasang bibir yang merah basah karena sehat, lalu tanpa ragu-ragu dia menutup kedua lubang hidung pemuda itu dengan jari tangannya dan menempelkan mulutnya di mulut Sin Wan yang dipaksanya membuka, lantas dia pun meniup dengan kuatnya ke dalam dada Sin Wan melalui rongga mulutnya.
Beberapa kali dia mengulangi dan karena tiupannya sangat kuat, maka hawa yang keluar dari mulutnya dan ditiupkannya ini berhasil membuka jalan pernapasan Sin Wan kembali, membuat dadanya kembang kempis dan paru-parunya bekerja lagi.

Wanita itu menarik napas lega, dan tiba-tiba kedua pipinya berubah merah sekali. Dia pun cepat menutupkan kembali topeng kain bagian bawah sehingga mulut yang mungil serta hidung mancung itu pun lenyap tertutup topeng hijau.

Dia mengamati wajah Sin Wan, menarik napas lagi dan menunduk, termenung. Dia tidak melihat betapa bulu kedua mata Sin Wan bergerak-gerak, kemudian sepasang mata itu terbuka perlahan-lahan. Begitu melihat ada orang memakai topeng di dekatnya, duduk di atas batu dan dia sendiri rebah di atas rumput, Sin Wan segera melompat dan menyerang dengan totokan tangannya yang ampuh.

Wanita bertopeng itu terkejut, akan tetapi tak sempat mengelak lagi sehingga pundaknya tertotok dan dia pun terkulai lemas. Sin Wan terbelalak, karena baru sekarang dia melihat bahwa yang ditotoknya roboh itu sama sekali bukanlah lelaki tinggi besar berperut gendut yang berkedok hitam. Bukan Si Kedok Hitam yang tadi menjebaknya sehingga dia roboh pingsan dalam kamar, dan sekarang tubuhnya sudah tidak tertotok lagi! Orang ini adalah seorang wanita yang mengenakan topeng hijau dan berpakaian serba hijau.

"Eh... ohh... maaf... kukira Si Kedok Hitam! Siapa... engkau...?" Sin Wan berkata gagap karena bingung dan ragu.

Wanita itu tidak mampu bergerak, namun mampu melototkan matanya dan mengeluarkan suara yang nadanya marah dan mengejek. "Bagus, kiranya yang kuselamatkan nyawanya adalah seorang manusia tak berbudi yang membalas pertolongan orang dengan serangan yang curang!"

Mendengar ini teringatlah Sin Wan, bahwa dia yang tadinya berada di dalam kamar dan terserang asap beracun, juga tertotok lumpuh ini sudah berada di kebun dan totokannya juga sudah bebas, dan tidak ada lagi bekas keracunan asap.....

"Ah, maafkan aku...!" katanya cepat kemudian dia pun segera membebaskan totokannya dengan muka berubah merah karena merasa malu dan menyesal.

Dia melihat wanita itu bangkit berdiri, maka cepat dia merangkap kedua tangan di depan dada lalu memberi hormat sambil membungkuk rendah, menundukkan muka dan berkata penuh penyesalan, “Maafkan aku... kukira Si Kedok Hitam...!”

Wanita berkedok hijau itu menjadi semakin marah. "Si Kedok Hitam? Yang tinggi besar dan perutnya gendut itu? Lihat, buka matamu baik-baik, apakah aku tinggi besar. Apakah perutku gendut? Lihat!"

Akan tetapi Sin Wan tidak berani melihat, bahkan tidak berani mengangkat muka karena sejak tadi pun dia telah melihat bahwa orang ini adalah seorang wanita yang berkulit putih mulus, bertubuh sedang dan mungil, dan pinggangnya ramping, perutnya kempis!

"Maafkan aku..."

Ketika itu tangan si topeng hijau bergerak cepat sekali dan pada lain saat Sin Wan sudah terkulai, tertotok persis seperti yang dia lakukan kepada wanita bertopeng itu. Ia terkejut, akan tetapi juga merasa kagum, karena tahulah dia bahwa wanita bertopeng ini sungguh lihai sekali. Tidak mengherankan kalau dia mampu menyelamatkannya.

Mulut di balik topeng itu mengeluarkan suara tawa mengejek. "Heh-heh-heh, apa kau kira hanya engkau sendiri yang mampu menotok roboh orang secara curang? Aku pun bisa!"

"Nona, tadi aku kesalahan tangan menotokmu tanpa memberi peringatan, dan kini engkau membalas dengan perbuatan yang sama, itu namanya sudah adil dan aku pun tidak akan menyesal. Tadi engkau sudah menyelamatkan nyawaku, kalau sekarang engkau hendak membunuhku, aku pun tidak akan menyesal, berarti hutangku sudah lunas."

Mata di balik topeng itu terbelalak mendengar kata-kata Sin Wan yang diucapkan dengan suara sungguh-sungguh itu.

"Apa katamu? Engkau tidak takut mati?"

Sin Wan tersenyum. "Mati adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup. Kalau sudah tiba saatnya mati, ditakuti pun tak ada gunanya, tetap akan mati. Akan tetapi kalau belum tiba saatnya mati, diancam bagaimana pun juga tidak akan mati."

"Hemm, kalau sekarang aku membunuhmu, siapa yang akan dapat membebaskanmu dari kematian? Nyawamu berada di tanganku!"
"Tidak, nona. Nyawaku, juga nyawamu dan nyawa setiap orang, semua berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan tidak menghendaki aku mati, maka engkau atau siapa pun tak akan bisa membunuhku. Buktinya tadi ketika dalam ancaman maut, pada saat terakhir muncul engkau yang menyelamatkanku, itu berarti bahwa Tuhan belum menghendaki aku mati."

“Huh, sombong! Jika sekarang aku menggerakkan tangan membunuhmu, apakah Tuhan akan menolongmu?"
"Aku yakin sekali, nona. Kalau Tuhan menghendaki aku hidup, engkau tidak akan berhasil membunuhku!

Si topeng hijau itu merasa ditantang. Dia mengangkat tangan kanan ke atas, siap untuk memukul. Sin Wan maklum bahwa sekali tangan itu menyambar, maka dia akan tewas tanpa dapat ditolong lagi. Akan tetapi sedikit pun dia tidak merasa was-was, tidak takut dan bahkan tersenyum sambil memandang, berkedip pun tidak! Mata di balik topeng itu berkilat, tangan itu menyambar turun, akan tetapi berhenti di tengah-tengah.

"Kenapa tidak dilanjutkan, nona?" tanya Sin Wan, tenang saja.
"Hemm, kalau tangan ini kulanjutkan, engkau pasti mati dan Tuhan pun tidak akan dapat menyelamatkanmu."

Sin Wan tersenyum. "Nona, inilah buktinya bahwa Tuhan belum menghendaki aku mati, maka nona tidak melanjutkan pukulanmu."

"Huh! Tapi kenapa engkau tersenyum? Aku bukan pembunuh keji yang suka membunuh orang yang tidak melawan." Tangannya menyambar, akan tetapi bukan untuk memukul, melainkan untuk membebaskan totokannya tadi. Kini Sin Wan dapat bergerak dan dia pun berdiri sambil tersenyum.
"Nona, orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, percaya lahir batin bukan hanya pengakuan di mulut saja, tentu akan bersikap pasrah dan menyerah terhadap kekuasaan Tuhan. Kalau memang Tuhan menghendaki aku mati, aku ingin mati dengan senyum di mulut, bukan dengan tangis dan ketakutan."

Sejenak nona itu memandang penuh selidik, lalu menggelengkan kepala. "Engkau orang aneh. Selama hidup belum pernah aku bertemu dengan seorang manusia aneh semacam kamu!"

"Dan selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik dan lihai, juga berbudi mulia sepertimu, nona."
"Heiii! Bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu?"
"Mengetahui apa, nona?"
"Engkau sebut aku nona, dan engkau katakan aku cantik...”

Sin Wan tersenyum. "Ah, itu mudah sekali, nona. Dari bentuk tubuhmu, kulit lengan, dahi dan lehermu, rambutmu, sinar matamu dari balik topeng, kemudian suaramu yang bening dan merdu, maka mudah saja aku mengetahui bahwa engkau adalah seorang gadis muda yang cantik jelita."

"Hemm, ngawur! Engkau tidak pernah melihat wajahku, bagaimana bisa mengatakan aku cantik"
"Tentu saja bisa. Dengan rambut seperti itu, kulit seperti itu, mata seperti itu, tak mungkin nona tidak memiliki kecantikan yang luar biasa."
"Lebih ngawur lagi! Wajahku amat jelek, penuh bekas cacar dan noda hitam, karena itu kusembunyikan di balik topeng."

"Kecantikan bukan hanya karena wajah halus saja, nona. Kecantikan terletak lebih dalam lagi, dan engkau mempunyai semua kecantikan itu. Biar wajahmu penuh cacar dan noda hitam sekali pun, bagiku engkau tetap cantik. Sayang engkau berwatak penakut sehingga tidak berani memperlihatkan wajahmu seperti aku menunjukkan wajahku kepadamu tanpa kusembunyikan. Engkau seperti Si Kedok Hitam saja...”
“Lancang mulut! Aku memakai topeng bukan karena takut!" 

Berkata demikian, dia merenggut topeng kain hijau itu terlepas dari depan mukanya dan Sin Wan tertegun, terpesona. Wajah itu berkulit putih mulus, berbentuk bulat dengan alis yang amat hitam seperti digambar. Hidungnya kecil mancung dan mulut itu memiliki bibir yang menggairahkan. Sepasang mata itu pun indah seperti yang sudah dapat diduganya.

"Kenapa engkau bengong?!" Gadis itu membentak.

Sin Wan bagaikan baru tersadar dari mimpi. Dia menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Ternyata engkau bahkan jauh lebih hebat dari pada yang kubayangkan, nona. Tuhan benar-benar telah memberkahimu berlimpah-limpah, dengan segala kecantikan asli, dengan suara merdu, dengan sinar mata indah mencorong seperti bintang, dengan bentuk tubuh mungil... namun kecantikanmu rasanya agak asing bagiku, tidak seperti kecantikan gadis-gadis lain yang pernah kulihat."

Biar pun Sin Wan bukan seorang laki-laki perayu yang pandai menyenangkan hati wanita dengan pujiannya, bahkan kata-katanya sedikit kaku, namun tetap saja gadis itu merasa girang. Wanita mana yang tidak senang akan pujian tentang kecantikannya, apa lagi yang memuji adalah seorang laki-laki yang berkenan di hatinya.

Dan dalam pandangan pertama ketika Sin Wan masih dalam keadaan pingsan, apa lagi setelah dia terpaksa menghidupkan kembali pemuda itu melalui pernapasan dari mulut ke mulut, pemuda itu mendatangkan kesan yang amat mendalam di hati gadis itu.

"Aku memang bukan seorang gadis Han asli, aku keturunan Jepang."
"Aihh, pantas kalau begitu, tubuhmu begini mungil dan alismu begitu hitam!"
"Sudah, simpan sisa pujianmu. Sekarang katakan, siapa engkau dan apa artinya semua peristiwa yang terjadi di rumah itu." Dia menunjuk ke arah rumah gedung yang kelihatan sunyi itu.
"Aku pun bukan orang Han, nona. Ayah ibuku berbangsa Uighur, tapi semenjak kecil aku dididik seperti orang Han. Namaku Sin Wan. Dan kalau boleh aku mengetahui namamu...”
"Namaku Ouwyang Kim," jawab gadis itu dengan singkat.

Sin Wan memandang dengan mata terbelalak. "Ah, kalau begitu nona tentulah puteri dari locianpwe (orang tua gagah) Ouwyang Cin yang berjuluk Tung-hai-liong!"

Ouwyang Kim mengerutkan alisnya dan sinar matanya menyambar tajam penuh selidik. "Bagaimana pula engkau dapat tahu?"

"Mudah sekali, nona Ouwyang! Nama keturunanmu Ouwyang, ilmu silatmu amat dahsyat dan engkau keturunan Jepang. Siapa lagi kalau bukan puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin yang namanya sudah kudengar di mana-mana?"

Kembali gadis itu mengerutkan alisnya. Tak nyaman rasa hatinya mendengar pemuda itu mengenal nama ayahnya. Dia tahu bahwa nama ayahnya bukanlah nama yang sedap di dunia persilatan, karena ayahnya adalah seorang datuk yang menguasai semua bajak laut dan para perampok di sepanjang pantai.

"Sudahlah, ceritakan apa yang tadi terjadi di sini dan apa maksudmu memasuki tempat ini seperti maling."

Sin Wan memandang penuh selidik dan dia pun meragu. Gadis ini adalah puteri seorang datuk sesat, dan Si Kedok Hitam juga memimpin mata-mata dan pencuri gudang pusaka. Mereka itu masih satu golongan!

Akan tetapi hatinya membantah. Biar pun ayah gadis ini datuk sesat, akan tetapi gadis ini jelas menentang Si Kedok Hitam dan buktinya tadi telah menyelamatkannya. Sesudah dia diselamatkan orang, apakah dia harus tidak percaya kepada penolongnya ini? Tidak, dia harus jujur dan berterus terang karena dari sinar matanya, bicaranya, dan sikapnya, dia tidak percaya bila gadis seperti ini akan berpihak kepada pemberontak atau penjahat, biar pun ayahnya adalah seorang datuk sesat.

"Nona Ouwyang...”
"Ahh, sudahlah, sebut saja aku Akim dan ceritakan yang jelas."

Sin Wan tersenyum. Tepat penilaiannya. Gadis ini selain lembut hati dan baik budi, juga sangat jujur dan bersahaja. "Baiklah. Akim. Aku adalah seorang penyelidik yang bertugas untuk menentang jaringan mata-mata Mongol yang beraksi di kota raja."

Akim teringat akan nasehat ibunya maka dia mengangguk-angguk. "Bagus, orang Mongol memang penjajah yang harus ditentang dan mereka sudah kalah. Lanjutkan ceritamu, Sin Wan."

Mendengar ucapan itu, semakin senang dan yakinlah hati Sin Wan bahwa kepada gadis ini dia boleh mempercayainya. Ia lalu melanjutkan, "Ketika terjadi pencurian benda-benda pusaka dari gudang pusaka kerajaan, aku pernah melihat Si Kedok Hitam akan tetapi aku gagal menangkapnya karena dia memang ihai. Oleh karena itu, ketika tadi aku melihat seorang siucai yang kucurigai lenyap di lorong itu, aku menduga bahwa dia menghilang di sini dan aku mencurigai rumah ini. Maka, melihat lorong itu sepi, aku lalu meloncati pagar tembok dan masuk ke sini."

"Hemm, pada saat engkau meloncat itulah aku melihatmu, maka aku cepat mengenakan topeng ini dan membayangi engkau."
"Setelah aku mengintai, ternyata rumah ini sunyi dan dapat kau bayangkan betapa girang hatiku ketika aku melihat Si Kedok Hitam tidur mendengkur di sebuah kamar...”
"Kamar rahasia penuh perangkap dan engkau terjeblos!" gadis itu mencela.

Sin Wan tersipu. Harus diakuinya bahwa tadi dia memang terlalu ceroboh. Karena itu dia pun mengangguk. "Aku telah berhati-hati, sama sekali tak mengira akan diserang dengan asap beracun karena dia sendiri tidur di situ. Pada saat aku pening dan sebelum sempat menerjang keluar, si Kedok Hitam itu sudah berhasil menotokku roboh. Aku hanya dapat menghentikan jalan pernapasan dan tidak ingat apa-apa lagi. Maka, ketika aku siuman di sini dan melihat seorang mengenakan topeng, tentu saja aku mengira bahwa engkau Si Kedok Hitam atau paling tidak salah seorang anak buahnya, karena memang dia memiliki anak buah yang mengenakan kedok dengan berbagai warna, dan ada pula yang hijau."

"Hemm, penyelidik macam apa engkau ini, begitu mudah tertawan musuh. Siapa sih yang menyuruhmu melakukan penyelidikan?"
"Aku mendapat kekuasaan dari Kaisar sendiri dan kini aku bekerja sama dengan seorang panglima. Sekarang ceritakan keadaanmu, Akim. Kenapa engkau dapat begitu kebetulan melihat aku melompati pagar tembok dan membayangi sehingga dapat menolongku."

"Hemm, tidak ada yang menarik tentang diriku. Aku meninggalkan tempat tinggal kami di lembah Muara Huang-ho untuk melakukan perantauan. Aku lalu berkunjung ke kota raja karena perantauanku adalah untuk menyusul ayah dan kukira ayah berada di kota raja. Aku mempersiapkan topeng dan selalu mengenakan pakaian hijau karena aku tidak ingin ayah melihatku. Dia akan marah sekali kalau melihat aku menyusulnya. Nah, ketika aku berjalan-jalan, kebetulan aku memasuki lorong itu untuk mencari jejak ayah sehingga aku melihatmu melompati pagar tembok. Aku lalu membayangimu dan ketika aku melompat ke dalam, aku kehilangan bayanganmu dan rumah itu sunyi sekali. Selagi aku mencari ke sana sini, tiba-tiba aku mendengar suara orang tertawa. Dia adalah seorang laki-laki tinggi besar berperut gendut yang memakai kedok hitam, dan dia berdiri di depan sebuah kamar dari mana mengepul asap yang dari baunya aku tahu bahwa asap itu asap beracun. Aku pun dapat menduga apa yang terjadi. Tentu engkau terjebak di kamar itu, maka aku lalu menyerang Si Kedok Hitam itu. Ternyata dia lihai bukan main, akan tetapi tampaknya dia tidak ingin berkelahi terus. Dia melarikan diri dan aku tidak mengejarnya, melainkan cepat memasuki kamar dan membawamu keluar ke sini."

"Dan engkau lalu menyelamatkan nyawaku, Akim. Entah bagaimana aku dapat membalas budimu yang sangat besar itu. Engkau sudah membawaku keluar dari kamar berasap itu, kemudian membebaskan totokanku dan bagaimana engkau bisa mengobatiku sedemikian cepatnya?"

Tiba-tiba saja wajah gadis itu menjadi kemerahan. "Aku... aku… melihat engkau pingsan, dadamu melembung besar dan keras, kaku, pernapasanmu berhenti sama sekali. Kukira engkau sudah mati...”

"Ah, sekarang aku mulai ingat. Sebelum pingsan aku mengambil satu-satunya cara untuk mencegah asap beracun memasuki dadaku. Aku menghentikan jalan pernapasanku tetapi karena tidak tahan aku lalu tidak ingat apa-apa lagi."

Akim mengangguk. "Engkau sudah kaku dan mukamu kebiruan...”

"Agaknya engkau ahli pula dalam pengobatan."

Akim menggeleng kepalanya. Dia seorang gadis yang jujur dan terbuka, akan tetapi sekali ini dia seperti tenggelam dalam perasaan sungkan dan malu apa bila harus menceritakan bagaimana dia tadi menyelamatkan Sin Wan.

"Lalu bagaimana engkau dapat membuat jalan pernapasanku bekerja kembali?" 

Sin Wan ingin tahu sekali karena menurut pengetahuannya, jalan pernapasan yang sudah dihentikannya itu, dalam keadaan dia jatuh pingsan, tidak mungkin dapat terbuka sendiri atau bekerja sendiri. Dia sendiri pun tidak akan dapat menolong orang yang keadaannya seperti dia tadi.

"Aku memberimu pernapasan...”
"Ehh? Memberi pernapasan? Bagaimana maksudmu, Akim?"
"Aihh, Sin Wan, kenapa engkau cerewet, sih? Bukankah yang penting aku sudah berhasil membuatmu bernapas kembali?"
"Akim, aku sangat berterima kasih kepadamu. Bukan maksudku untuk menjadi cerewet, akan tetapi aku ingin sekali tahu agar sewaktu-waktu kalau ada peristiwa seperti itu, aku dapat mengobati orang yang keadaannya seperti aku tadi."

Akim termenung. "Sin Wan, terus terang saja, kalau bukan karena engkau kebetulan telah mendatangkan perasaan iba dan percaya padaku, kalau orang lain, sampai mati pun aku tidak akan sudi memberi pengobatan seperti itu, dengan jalan memberi pernapasan."

"Sekali lagi terima kasih, Akim. Akan tetapi aku belum mengerti apa maksudnya memberi pernapasan itu."
“Ya memberi pernapasan, meniupkan napas ke dalam paru-parumu! Bodoh benar sih kau ini!” 

Gadis itu nampak jengkel dan mukanya menjadi semakin merah. Biar dia sudah berusia dua puluh tahun, namun Ouwyang Kim belum pernah bergaul dekat dengan pria, bahkan dia merasa jemu dan jengkel melihat suheng-nya, Maniyoko, tampak begitu mencintanya. Bergaul akrab dengan pria pun belum, apa lagi beradu mulut seperti yang dilakukannya ketika meniupkan kehidupan kepada Sin Wan!

"Meniupkan napas ke dalam paru-paruku...? Tapi... tapi... bagaimana caranya?” Sin Wan bertanya dengan jujur dan sungguh-sungguh, tidak dibuat-buat karena memang dia sama sekali tidak pernah membayangkan cara yang mustahil itu.
"Tolol benar, tentu saja aku meniupkan napas ke dalam paru-parumu, melalui mulutmu sambil menutupi hidungmu!" Akim menjawab cepat, akan tetapi sambil dia menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandang mata Sin Wan yang terbelalak dengan mulut terbuka saking kaget dan herannya.

Sejenak suasana menjadi hening. Akim menunduk dan Sin Wan memandang kepadanya dengan bengong, tidak berani berkata apa pun juga karena apa yang dikatakan gadis itu sungguh di luar dugaannya sama sekali. 

Sekarang Sin Wan membayangkan betapa mulut yang indah itu tadi meniupkan napas ke dalam dadanya lewat mulutnya. Mulut mereka tadi bertemu entah berapa lama dan entah berapa kali. Walau pun jantungnya berdebar keras dan dia ingin sekali tahu berapa lama dan berapa kali, namun dia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.

Melihat gadis itu menunduk dan kelihatan malu sekali, dia merasa kasihan. Pantas gadis yang demikian gagah menjadi seperti seorang perawan desa yang malu-malu, kiranya dia memaksa gadis itu menceritakan adegan yang mustahil!

"Ahhh... maafkan aku, Akim... semakin besar jasa dan budimu. Selama hidup aku tidak akan pernah melupakannya. Engkau... engkau sungguh teramat baik kepadaku, Akim."

"Cukup, aku bisa menjadi muak kalau tiada hentinya engkau berterima kasih seperti itu. Aku ingin tahu, apakah engkau adalah seorang perwira, atau seorang pejabat pemerintah yang bertugas sebagai penyelidik"

Sin Wan menggeleng kepala. "Bukan sama sekali. Aku tidak akan mau mengikatkan diri dengan jabatan."

"Bagus, aku akan membencimu kalau engkau seorang petugas bayaran. Lalu, mengapa engkau dapat bertugas menentang jaringan mata-mata Mongol dan mendapat kekuasaan dari Kaisar sendiri?"
"Sebenarnya guruku yang mendapat tugas dan kekuasaan itu, akan tetapi karena guruku merasa sudah tua, beliau lalu mewakilkan tugas itu kepadaku. Karena hendak berbakti dan mentaati guruku itulah maka sekarang aku melakukan penyelidikan."
"Ketika engkau menotokku, gerakanmu amat hebat. Siapa sih gurumu itu, Sin Wan?"
"Guruku adalah Sam-sian, sekarang hanya tinggal suhu Ciu-sian saja."

Gadis itu mengangkat kedua tangan ke atas. "Wah, Sam-sian? Ayahku pernah bercerita tentang Sam-sian dan memuji mereka. Jadi engkau adalah murid mereka? Kalau engkau bukan seorang perwira, mengapa engkau tadi mengatakan bahwa engkau sedang bekerja sama dengan seorang panglima...”

"Celaka, aku sampai melupakan dia!" Sin Wan berseru, "Panglima itu, dia... dia terancam bahaya maut, aku harus cepat menolongnya!" Dia bangkit berdiri.
"Sin Wan, biarkan aku ikut. Aku akan membantumu."
"Tapi...,” Siin Wan meragu.

Gadis itu bertolak pinggang, sikapnya sungguh menantang. "Baru saja engkau berterima kasih berulang-ulang sampai menjemukan, sekarang aku hendak ikut dan membantumu saja engkau melarangku. Begitukah macamnya terima kasihmu itu?" Gadis itu cemberut, membalikkan badan dan meloncat pergi ke atas pagar tembok, terus keluar.

Sesosok bayangan berkelebat di sampingnya dan Sin Wan telah berada di sampingnya, di lorong sempit itu. Hal ini saja membuat Akim menyadari bahwa pemuda murid Sam-sian ini memang hebat, memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa.

"Maafkan aku, Akim. Mari kita pergi bersama.“

Wajah yang tadinya cemberut itu seketika berubah menjadi cerah dan senyumnya yang manis mengembang. "Aku sedang kebingungan seorang diri di kota raja yang besar dan ramai ini, Sin Wan, dan kini mendapatkan seorang teman baik. Mari!"

Diam-diam Sin Wan merasa kagum terhadap gadis puteri datuk timur ini. Seorang gadis yang baik hati, walau pun juga aneh, mengingatkan dia kepada Lili. Hanya bedanya, gadis ini agaknya tidak berhati ganas dan kejam seperti Lili, yang pernah menyiksanya hanya kerana hendak membalas dendam ketika kecil pernah dia tampari pinggulnya.

Dengan gadis seperti Akim ini di dekatnya, dia merasa mendapatkan seorang teman yang bisa diandalkan dan boleh dipercaya. Mereka berdua segera melakukan perjalanan cepat menuju ke rumah Bhok Cun Ki.

Kembali Sin Wan tidak bertemu dengan Bhok Cun Ki dan seperti tadi, yang menyambut kedatangannya adalah Ci Han dan Ci Hwa. Kakak beradik ini terlihat muram dan bingung. Mereka berdua memandang penuh selidik dan kecurigaan ketika melihat seorang gadis cantik berpakaian serba hijau datang bersama Sin Wan. Tadinya mereka mengira bahwa gadis yang datang bersama Sin Wan itu Lili, gadis yang mengancam ayah mereka. Akan tetapi setelah Sin Wan dan Akim datang mendekat, mereka baru melihat bahwa gadis itu adalah seorang asing yang tidak mereka kenal.

"Siapakah enci ini, Wan-toako?" tanya Ci Hwa dengan alis berkerut dan hati merasa tidak senang. Dia merasa kagum kepada Sin Wan bahkan mengharapkan bantuan pemuda ini untuk menyelamatkan ayahnya. Dia tertarik kepada pemuda Uighur ini, maka melihat dia datang bersama seorang gadis cantik, tentu saja hatinya merasa tidak nyaman.
"Ini adalah nona Ouwyang Kim, seorang sahabat. Akim, ini adalah kakak beradik Bhok Ci Han dan Bhok Ci Hwa, putera puteri panglima Bhok. Adik Ci Han dan Ci Hwa, di manakah ayah kalian?"
"Ahh, gawat sekali, toako," jawab Ci Han. "Ayah menerima surat tantangan lagi dan sekali ini dia ditantang untuk bertemu musuhnya di sebelah utara kota raja."
"Dan ayah melarang keras kepada kami agar kami tidak menyusul ke sana. Kami merasa gelisah sekali, toako!" kata Ci Hwa dengan pandang mata penuh harapan agar Sin Wan membela ayahnya.

Mendengar ini, Sin Wan terkejut bukan main. “Kalau begitu, aku harus cepat mencarinya ke sana. Mari kita pergi, Akim!” Tanpa banyak keterangan lagi Sin Wan lalu pergi dengan cepat, diikuti Akim.

Ci Hwa memandang kepada kakaknya, wajahnya semakin muram. "Koko, mari kita pergi menyusul ayah."

"Hwa-moi, ayah tadi sudah memperingatkan kita dengan keras agar kita tidak menyusul ke sana. Ayah tentu akan marah sekali kalau kita melanggarnya."
"Tapi, bagaimana mungkin kita dapat berdiam diri begini saja? Kita harus membela ayah!"
"Sudah ada Wan-toako yang menyusul ke sana, Hwa-moi."
"Justru itulah yang membuat aku penasaran. Kau lihat tadi? Gadis itu adalah orang asing sama sekali dan dia saja boleh ikut Wan-toako menyusul ayah. Kalau seorang gadis asing boleh ke sana, mengapa kita putera puterinya tidak boleh? Kalau engkau tidak mau, biar aku sendiri yang akan menyusul ke sana."

"Hwa-moi, ayah melarang kita karena pihak musuh sungguh berbahaya. Ayah tidak ingin melihat kita celaka, juga ayah menekankan bahwa urusan itu adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri siapa pun juga."
"Tapi gadis yang pergi bersama Wan-toako tadi? Kenapa boleh? Apa dia lebih hebat dan lebih lihai dari pada aku?"
"Aihh, Hwa-moi, kau... agaknya kau... cemburu kepadanya!"

Wajah Ci Hwa berubah merah, akan tetapi dia tidak membantah dan berkata, "Sudahlah, aku mau pergi menyusul sekarang. Kalau engkau mau ikut, itu baik, bila tidak maka aku akan pergi sendiri. Kalau ayah marah, biar aku yang bertanggung jawab!" Setelah berkata demikian, Ci Hwa bergegas meninggalkan rumah.

Tentu saja Ci Han tidak tega membiarkan adiknya menyusul seorang diri, maka dia pun segera mengejarnya. Biarlah mereka berdua yang akan bertanggung jawab kalau sampai ayah mereka marah…..
********************
Bhok Cun Ki telah menerima surat tantangan yang ditulis oleh Cu Sui In. Hari itu dia ikut mencari Lili yang menjadi orang buruan, tetapi tak berhasil. Adalah kedua orang anaknya yang menemukan surat itu. Sehelai surat yang tahu-tahu sudah berada pada daun pintu rumah mereka, tertancap di daun pintu, tertusuk sebatang pisau. Surat itu singkat saja, menantang Bhok Cun Ki untuk mengadu nyawa di hutan sebelah utara kota raja. 

Tentu saja kakak beradik itu menjadi marah sekali, akan tetapi mereka tidak tahu siapa yang menyambitkan pisau bersurat itu ke daun pintu rumah mereka. Ketika ayah mereka pulang, mereka memberi tahu mengenai surat itu.

Sesudah membaca surat itu, berubahlah wajah Bhok Cun Ki karena dia masih ingat akan tulisan Cu Sui In, bekas kekasihnya! Surat itu tanpa nama pengirim, akan tetapi dia tahu bahwa sekarang yang menantangnya adalah Sui In sendiri. 

Andai kata yang menantangnya itu sumoi dari Sui In, tentu dia takkan mempedulikannya. Akan tetapi sekarang yang mengirim surat tantangan adalah Cu Sui In sendiri! Dia harus pergi menemui bekas kekasihnya itu.

Dia memang merasa bersalah terhadap wanita itu, maka dia akan minta maaf, dan andai kata Sui In berkeras untuk menantangnya, dia akan mencari jalan supaya wanita itu dapat memaafkan, atau kalau tidak, maka terpaksa dia akan menghadapinya. Bagaimana pun juga akibatnya, dia harus menemui Sui In.

"Kalian di rumah saja dan jangan sekali-kali menyusulku. Urusan ini adalah urusan pribadi yang terjadi ketika aku masih muda, dan tidak seorang pun boleh mencampuri," demikian dia berpesan kepada Ci Han dan Ci Hwa. Dia tahu bahwa jika anak-anaknya muncul, hal itu hanya akan menambah panas dan marahnya hati Sui In saja. Lagi pula dia tidak ingin melihat anak-anaknya terancam bahaya.

Demikianlah, sambil membawa surat tantangan itu Bhok Cun Ki lalu meninggalkan rumah pada sore hari itu, keluar dari pintu gerbang utara dan terus menuju ke sebuah hutan kecil yang sudah dikenalnya. Hutan itu terletak di lereng bukit, menyimpang dan agak jauh dari jalan raya sehingga tempat itu tentu sunyi, apa lagi di waktu sore seperti itu.

Ketika tiba di tengah hutan dan mendapatkan hutan itu sunyi sekali, Bhok Cun Ki berdiri tegak dengan dua kakinya terpentang, lalu dia menengadah dan berseru dengan lantang, "Sui In, aku telah datang memenuhi tantanganmu. Keluarlah untuk bertemu denganku!"

Tempat itu merupakan lapangan terbuka yang cukup luas, dikelilingi pepohonan rindang. Cuaca sudah mulai redup karena matahari mulai bergeser ke barat. Suara Bhok Cun Ki bergema di sekeliling tempat itu.

"Bhok Cun Ki, sekali ini bersiaplah untuk mati!" terdengar bentakan halus dan ketika Bhok Cun Ki membalikkan tubuh, wajahnya berkerut karena kecewa. Yang muncul bukanlah Sui In yang diharapkan, melainkan Lili, gadis yang pernah memaksanya bertanding itu.
"Hemmm, engkau lagi, nona. Di mana Sui In? Suruh suci-mu saja yang keluar dan bicara sendiri denganku. Aku tidak mempunyai urusan pribadi denganmu," katanya.

Lili yang setelah tiba di hutan itu sudah menanggalkan penyamarannya, kini menghadapi Bhok Cun Ki, matanya berkilat tajam dan mulutnya tersenyum mengejek biar pun hatinya terasa tidak enak sekali. Hidungnya kembang kempis, tanda bahwa sebenarnya hati gadis ini tegang sekali. Dia merasa terpaksa sekali harus berhadapan kembali dengan panglima ini untuk saling serang dan saling bunuh!

Sesudah apa yang dilakukan panglima ini kepadanya, sikapnya yang demikian ramah dan baik, sungguh menyiksa sekali dia harus menantangnya kembali! Maka dia pun tidak ingin banyak bicara lagi.

"Bhok Cun Ki, suci mewakilkan kepadaku untuk membunuhmu. Nah, tidak perlu banyak cakap lagi. Mari kita lanjutkan pertandingan kita yang dahulu terganggu, sampai seorang di antara kita harus roboh dan mati, barulah pertandingan dihentikan! Bersiaplah engkau, Bhok Cun Ki!" Lili mencabut pedangnya, pedang yang berbentuk ular putih, memasang kuda-kuda dan pada wajahnya terbayang kenekatan.

Akan tetapi Bhok Cun Ki seperti tidak melihatnya dan panglima ini malah memandang ke sekeliling, seolah sedang mencari-cari.

“Bhok Cun Ki, bersiaplah dengan pedangmu!" Lili membentak.
"Sui In, di manakah engkau? Keluarlah dan jangan menyuruh sumoi-mu yang menghadapi aku. Aku hanya mau berurusan denganmu, bukan dengan orang lain!" seru Bhok Cun Ki tanpa mempedulikan Lili yang menantang. Akan tetapi tiada jawaban, juga tidak nampak bayangan orang lain di hutan itu.
"Bhok Cun Ki, sekali lagi, bersiaplah sebab aku akan menyerangmu!" kembali Lili berseru, wajahnya kemerahan karena dia marah sekali melihat panglima itu tidak mempedulikan dirinya, seakan-akan memandang rendah atau menganggap dia anak kecil saja. Panglima itu tetap celingukan ke sekelilingnya, mencari-cari.
"Cu Sui In, aku hanya mau menyerahkan nyawaku kepadamu! Lekas keluarlah dan mari kita bicara baik-baik!"

Lili menjadi marah sekali. Dia mengelebatkan pedangnya di depan muka panglima itu dan sekali bergerak, pedang itu telah menodong. Ujung pedang Pek-coa-kiam menempel pada dada panglima itu.

"Bhok Cun Ki, kalau engkau tidak mau melawan maka terpaksa aku akan membunuhmu! Apakah engkau seorang pengecut yang tidak berani melawanku? Apa engkau ingin mati konyol seperti seekor babi?" Lili sengaja memaki untuk memanaskan hati orang itu. Biar pun dia tahu bahwa dia akan sukar sekali menang kalau bertanding melawan panglima ini, akan tetapi dia tidak sudi membunuh orang yang tidak mau melawan.

Sesudah pedang itu menodong dadanya, Bhok Cun Ki seakan-akan baru sadar bahwa di situ tidak ada Sui In, yang ada hanyalah gadis sumoi dari bekas kekasihnya yang kini siap untuk menyerangnya.

"Nona, sejak dulu pun aku tak ingin bertanding denganmu. Katakan kepada Sui In bahwa aku hanya mau bertanding dengannya, bukan dengan wakilnya. Pula, mengapa engkau mati-matian mewakili suci-mu dan siap membunuhku atau terbunuh olehku? Kenapa tidak dia sendiri yang maju?"
"Bhok Cun Ki! Aku datang bukan untuk mengobrol denganmu, tetapi untuk membunuhmu! Aku rela mati untuk suci. Kalau aku tidak berhasil membunuhmu, aku akan melawan terus hingga mati!" Lili menarik pedangnya dan kembali memasang kuda-kuda, siap bertanding.

Akan tetapi Bhok Cun Ki tidak bernapsu untuk bertanding dengan Lili. Dia ingin bertemu dengan Sui In karena hanya kalau berhadapan dengan wanita itulah maka semua urusan dapat dibereskan dan diselesaikan. Kalau memang dia telah menghancurkan kebahagiaan Sui In, biarlah wanita itu boleh membunuhnya. Akan tetapi bukan oleh tangan orang lain!

"Cu Sui In, keluarlah sendiri!" kembali dia berteriak lantang.

Lili menjadi marah sekali, merasa tidak dipandang, merasa diremehkan. "Akulah Cu Sui In, anggap saja aku Cu Sui In! Nah, aku akan menyerangmu, jangan salahkan aku kalau engkau terbunuh oleh serangan ini. Sambutlah!" Pedang itu berubah menjadi sinar putih dan meluncur ke arah tenggorokan Bhok Cun Ki.

Bhok Cun Ki memang enggan untuk kembali bertanding melawan gadis yang sama sekali tidak mempunyai urusan dengannya itu, akan tetapi tentu saja dia pun tidak mau mati konyol di tangannya. Maka, melihat pedang meluncur ke tenggorokannya dalam serangan maut, dia cepat melompat ke kanan menjauh sehingga serangan itu gagal. Akan tetapi Lili menyerang terus dengan dahsyatnya. Gadis ini memang sudah nekat. 

Hanya ada dua pilihan baginya, sesuai dengan kehendak suci-nya, yaitu membunuh Bhok Cun Ki atau terbunuh olehnya! Tentu saja dia memilih membunuh dari pada dibunuh dan dia pun menyerang terus dengan gencar dan dahsyat. Bhok Cun Ki terpaksa mencabut pedang Ceng-kong-kiam dan nampaklah sinar hijau bergulung-gulunq, saling belit dengan gulungan sinar putih dari pedang di tangan Lili.

Terjadilah pertandingan untuk kedua kalinya, tetapi kali ini keadaannya sungguh berbeda. Kalau Lili menyerang mati-matian dan mengerahkan segala daya untuk membunuh lawan, maka sebaliknya Bhok Cun Ki ragu-ragu dan selalu hanya mengelak atau menangkis saja, jarang sekali balas menyerang kecuali terpaksa untuk membendung gelombang serangan lawan yang amat berbahaya. Karena itu, walau pun Bhok Cun Ki lebih tinggi tingkatnya, pertandingan itu menjadi seru sekali bahkan Bhok Cun Ki mulai terdesak. 

Ketika Lili memainkan Pek-coa Kiam-sut yang membuat gerakannya laksana seekor ular yang amat berbahaya dan serangannya mengandung daya kekuatan dari bawah bagaikan seekor ular yang ganas, hanya dengan gerakan seperti seekor burung saja Bhok Cun Ki masih mampu mempertahankan diri. Tetapi karena dia tidak ingin mengalahkan Lili, hanya melindungi diri, bagaimana pun juga dia yang selalu terdesak hingga beberapa kali nyaris termakan pedang.

Karena setiap serangan dia lakukan dengan pengerahan seluruh tenaga, maka sesudah lewat lima puluh jurus tubuh Lili telah mandi keringat, dan napasnya agak terengah-engah. Demikian pula dengan Bhok Cun Ki, dia juga sudah berpeluh dan gerakannya pun mulai mengendur karena bergerak dengan loncatan-loncatan seperti burung itu telah menguras banyak tenaganya.

"Lili, sumoi, bunuh dia...! Bunuh dia...!”

Mendengar suara lembut yang tiba-tiba itu, Bhok Cun Ki melirik dan ketika dia melihat Cu Su In berdiri di sana, dia menjadi tertegun.

"Sui In...!" Dia berseru dan terbelalak memandang kepada wanita bekas kekasihnya yang masih kelihatan cantik jelita dan anggun itu. Sekarang baru dia menyadari bahwa selama ini dia masih mencinta wanita itu, sejak dahulu dia mencintanya, dan hanya keangkuhan saja yang memaksanya meninggalkan Sui In dan menikah dengan wanita lain.
"Singgg...! Singgg...!”

Sinar putih menyambar-nyambar. Biar pun Bhok Cun Ki berusaha mengelak, akan tetapi karena sebagian besar perhatiannya ditujukan kepada Sui In, maka sambaran yang ke tiga dari pedang Pek-coa-kiam itu tidak dapat dihindarkan lagi telah menusuk paha kirinya dan dia pun roboh terguling!

Setelah melihat lawannya roboh dan darah bercucuran dari celana bagian paha, Lili berdiri seperti patung. Apa bila saat itu dia menyusulkan serangan, pasti panglima itu tidak akan mampu melindungi diri lagi.

Akan tetapi pada dasarnya Lili memiliki watak yang gagah. Merobohkan lawan yang sejak tadi tidak pernah membalas saja sudah membuat dia merasa menyesal sekali, apa lagi sekarang melihat lawan yang selalu bersikap baik kepadanya itu sudah terluka. Ia merasa jijik kepada diri sendiri kalau harus menyusulkan serangan lagi. Maka ia berdiri mematung dengan hati bimbang.

Bhok Cun Ki tidak mengeluh, juga tidak peduli dengan luka di pahanya. Dia memaksa diri bangkit duduk, memandang kepada Sui In yang sedang melangkah mendekatinya. Sukar dilukiskan wajah wanita berusia empat puluh tiga tahun yang masih nampak cantik seperti seorang gadis itu ketika menatap kepada lelaki yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya selama puluhan tahun ini.

"In-moi... aku memang bersalah kepadamu, baru sekarang aku melihat kesalahanku itu. Dosaku terhadap dirimu amat besar, aku telah menghancurkan kebahagiaanmu, merusak kehidupanmu, aku memang layak mati di tanganmu. Karena itu, marilah... mari kau bunuh aku agar aku dapat menebus dosaku kepadamu, agar engkau memperoleh kebahagiaan dari balas dendammu ini. Pergunakan pedangku ini, In moi..." dengan wajah cerah disertai senyum Bhok Cun Ki menjulurkan tangan kanannya yang memegang pedang Ceng-kong-kiam kepada Bi-coa Sianli Cu Sui In.
Akan tetapi Cu Sui In hanya berdiri menatap wajah pria itu seperti orang terpesona, dan sepasang matanya berubah kemerahan, kedua pipinya menjadi pucat lalu kedua mata itu perlahan-lahan menjadi basah. Dia seperti tidak mampu mengalihkan pandangan matanya dari wajah itu, tetapi dengan paksa dia merenggut lepas pandang mata yang melekat itu, menoleh kepada sumoi-nya dan suaranya terdengar tidak semerdu tadi, melainkan agak parau dan lirih, namun tegas mendesak.

"Sumoi, cepat kau bunuh dia! Cepat kataku! Bunuh dia!"

Akan tetapi sekali ini Lili tidak bergerak. "Suci, dia sudah terluka dan tidak akan mampu melawan. Dia sudah menyerah untuk kau bunuh, kenapa suci tidak cepat melakukannya sendiri malah memaksaku untuk membunuhnya? Suci, kalau engkau hendak membunuh dia, lakukanlah sendiri, apa susahnya?"

"Engkau begitu sakit hati kepadaku, mengapa malah menyuruh sumoi-mu, Sui In? Kalau sumoi-mu yang membunuhku maka dendammu takkan pernah padam. Sumoi-mu benar, kalau engkau hendak membunuhku, lakukanlah sendiri. Aku tak akan melawan, aku akan tersenyum menyambut kematian di tanganmu, In moi."

Tiba-tiba Cu Sui In seperti mendapat semangat baru. Sekali tangannya bergerak, pedang yang disodorkan Bhok Cun Ki itu sudah dirampasnya, kemudian dia mengangkat pedang itu, siap membacok leher Cun Ki yang sudah pasrah.

Panglima itu menengadah memandang dengan senyum, sedikit pun tidak nampak takut, dan matanya tidak berkedip.....

"Singgg...!"
Pedang itu menyambar, berubah menjadi cahaya hijau yang menyilaukan saking kuatnya tenaga yang menggerakkannya. Leher Bhok Cun Ki pasti akan terpenggal dengan mudah. Akan tetapi ketika pedang meluncur lewat, leher itu masih tetap utuh sedangkan pedang Ceng-kong-kiam menancap, amblas di dalam tanah dekat tubuh panglima itu, menancap pada tanah sampai ke gagangnya!

Cu Sui In menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tubuh wanita ini gemetar, kedua pundaknya terguncang karena dia sudah menangis tanpa suara, akan tetapi air matanya merembes keluar dari celah-celah jari tangannya.

"Aku... aku tidak dapat melakukannya... aku selalu mencintamu... selamanya... aihh, Cun Ki... kenapa engkau begitu tega menyia-nyiakan diriku dan menghancurkan kebahagiaan hidupku... " Dia terisak-isak menangis.

Selanjutnya baca
ASMARA SI PEDANG TUMPUL : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger