logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 10


Benar saja seperti yang dia khawatirkan, begitu berhadapan dengan jenderal itu, Jenderal Yauw Ti memandang kepadanya dengan alis berkerut. Alisnya yang tebal bergerak turun naik, wajahnya yang galak itu nampak kemerahan, ada pun tangannya yang berjari besar itu terkepal. Dia nampak marah sekali mendengar laporan kepala jaga bahwa pemuda ini nampak berkeliaran di dalam hutan, kemudian mereka menangkapnya dan membawanya ke depan sang jenderal.

"Hemm, sejak dulu sudah kuduga. Engkau pastilah anggota kelompok mata-mata musuh! Kalau tidak demikian, mau apa engkau berkeliaran di sini sambil memata-matai pasukan kami?"
"Maaf, tai-ciangkun. Saya bukan hendak memata-matai pasukan pemerintah, sebaliknya saya sedang membantu pemerintah sebab saya berada di sini atas perintah Jenderal Shu Ta. Beliaulah yang mengutus saya untuk ikut membantu dan menjaga keamanan kedua orang pangeran yang sedang mengadakan pertemuan di sini."
"Tidak mungkin! Aku sendiri yang memimpin pasukan Pangeran Mahkota, masa Jenderal Shu Ta masih mengutus engkau untuk menjaga keamanan beliau? Kami tidak percaya! Sin Wan, engkau seorang Uighur, kami tidak percaya dan tetap curiga kepadamu. Engkau harus kami tahan dulu, dan kelak akan kami hadapkan kepada Sribaginda Kaisar untuk membuktikan apakah benar engkau mendapat kepercayaan beliau atau leng-ki yang kau bawa itu hanya leng-ki palsu. Tangkap dia dan jebloskan ke dalam kamar tahanan!"

"Jenderal Yauw Ti, apakah engkau akan menangkap seorang utusan Kaisar?" Sin Wan berseru sambil mengeluarkan leng-ki. Akan tetapi jenderal yang tinggi besar dan galak itu kini tidak mempedulikannya.
"Kami masih menghargaimu dan tidak langsung membunuhmu. Akan tetapi kalau engkau banyak tingkah, maka terpaksa kami akan membunuhmu. Masukkan dia ke dalam kamar tahanan, perlakukan sebagai tamu tetapi jaga ketat supaya jangan sampai dia melarikan diri!"

Sin Wan tidak diberi kesempatan untuk membantah lagi karena para prajurit tiba-tiba telah memegang kedua lengan dan pundaknya dari belakang dan mendorongnya keluar dari situ. Dia tidak memberontak, maklum bahwa bila dia menggunakan kekerasan maka dia akan berhadapan dengan puluhan orang prajurit, dan tentu saja dia tidak ingin berkelahi melawan pasukan pemerintah. Hanya dia diam-diam merasa heran mengapa jenderal ini demikian membencinya. Apakah hanya karena dia seorang berbangsa Uighur, atau ada sebab lain? 

Untuk sementara ini sebaiknya dia mengalah sambil melihat perkembangan selanjutnya. Dia hanya merasa penasaran karena tadi dia benar-benar melihat Si Kedok Hitam yang gendut itu memasuki hutan. Kenapa si gendut itu tidak ditangkap oleh penjaga sebaliknya malah dia yang ditangkap? Apakah ada hubungan antara Si Kedok hitam dengan...?

Ahh, tidak mungkin sama sekali! Biar pun galak, keras dan mau menang sendiri, Jenderal Yauw Ti adalah wakil Jenderal Shu Ta dan dia merupakan seorang yang banyak jasanya bagi pemerintah, dan dipercaya pula oleh kaisar.

Sin Wan didorong masuk ke dalam sebuah kamar yang kokoh. Agaknya markas darurat ini dibangun dengan lengkap, berikut tempat tahanan pula! Di luar kamar tahanan itu ada selosin orang prajurit melakukan penjagaan ketat. Sin Wan tak mampu berbuat apa-apa, hanya duduk di atas lantai penjara itu.

Kalau dia mau menggunakan kekerasan, sebetulnya tidaklah sukar untuk meloloskan diri sebelum terkepung, akan tetapi hal itu akan membuat dia menjadi pelarian dan dimusuhi pasukan pemerintah, bahkan tentu Jenderal Yauw Ti akan menjadi semakin curiga dan menganggap dia benar-benar mata-mata musuh! Untuk melarikan diri kemudian melapor kepada Jenderal Shu Ta, jarak dari situ ke kota raja terlampau jauh.

Tidak, dia harus bersabar sambil mencari kesempatan melarikan diri tanpa menimbulkan perkelahian. Masih baik baginya bahwa pedangnya yang dia sembunyikan di balik bajunya tidak dirampas.

Tak lama kemudian seorang penjaga memasukkan makanan dan minuman melalui lubang di bahwa jendela beruji besi. Sin Wan makan dan minum sampai kenyang untuk menjaga kesegaran dan kekuatan tubuhnya karena dia sedang menghadapi keadaan yang gawat, lalu duduk bersila di sudut kamar. Dia sudah mengambil keputusan untuk keluar dari situ dan melarikan diri tanpa menimbulkan keributan.

Mendadak terdengar suara berdebukan di luar kamar tahanan itu. Dia cepat bangkit dan menghampiri jendela beruji untuk melihat keluar. Di bawah sinar penerangan lampu yang tergantung di luar, Sin Wan melihat betapa selosin orang yang tadinya berjaga di luar, kini telah roboh malang melintang.

Agaknya mereka sudah dirobohkan orang tanpa menimbulkan suara, entah dengan cara bagaimana. Selagi matanya mencari-cari, dia melihat bayangan berkelebat di luar kamar tahanan itu dan di situ sudah berdiri seorang yang mengenakan pakaian dan kedok serba hijau.

"Akim!" Sin Wan berkata lirih.
"Hemmm, kiranya engkau masih ingat kepadaku?" Gadis berkedok itu berkata lirih seperti orang menegor atau mengejek.
"Bagaimana mungkin melupakan engkau, Akim? Engkau telah menolongku, malah sudah dua kali dengan sekarang!"
"Sudah, jangan banyak cakap, sekarang mari kita lari!" kata gadis itu.

Agaknya dia sudah merampas kunci dari kepala jaga, maka dengan mudah dia membuka pintu kamar tahanan tanpa harus menjebol dan menimbulkan banyak suara berisik. Inilah yang dikehendaki Sln Wan. Melarikan diri tanpa ribut-ribut agar dia tidak berkelahi dengan pasukan pemerintah.

Seperti dua ekor kucing saja, Sin Wan dan gadis berkedok yang bukan lain adalah Akim, menyelinap keluar dari tempat tahanan itu, meloncat ke atas membuka atap genteng dan lolos melalui atap tanpa diketahui oleh para penjaga lainnya yang berada di luar tempat tahanan itu.

Malam sudah datang dan cuaca di luar gelap sekali, hanya diterangi cahaya bintang yang lemah. Akan tetapi agaknya Akim sudah mengenal jalan.

"Mari kau ikuti aku, kita pergi dari hutan ini," bisiknya.
"Tapi, Akim...”
"Sshh..., bukan waktunya bicara. Nanti saja," bisik lagi gadis itu dan dia pun menyelinap di antara pondok-pondok dan pohon-pohon, lalu keluar dari dalam hutan kecil itu diikuti oleh Sin Wan yang merasa kagum kepada gadis ini. Puteri datuk besar di pantai Lautan Timur ini memang hebat, pikirnya.

Mirip Lili! Meski pun sama anehnya, sama-sama penuh rahasia, tetapi kalau Lili wataknya keras dan galak, sebaliknya puteri datuk dari timur ini lebih halus.

Ternyata Akim mengajak Sin Wan ke pinggir Huang-ho dan tidak lama kemudian mereka duduk di balik semak belukar yang penuh duri, duduk di atas rumput tebal di tepi sungai, terlindung dan tidak nampak dari daratan. Dari situ hanya nampak sungai yang amat luas itu seperti lautan.

"Nah, Sekarang engkau boleh bicara, sambil menunggu datangnya fajar,” kata Akim yang sudah menanggalkan kedok hijaunya, kedok kain yang kini tergantung di lehernya. Gadis ini duduk bersandar batu besar dan mereka saling pandang dalam cuaca remang-remang, hanya nampak garis bentuk wajah mereka saja. "Akan tetapi aku yang akan berbicara dan bertanya lebih dahulu. Kenapa kalau kita bertemu, engkau menjadi tawanan melulu?"

Sin Wan tersenyum. "Aku selalu menjadi tawanan yang tidak berdaya dan engkau yang menjadi bintang penolongku. Memang aneh, agaknya memang engkau ditakdirkan untuk selalu menjadi penolongku, menjadi dewi penyelamatku."

"Hemmm, jangan main-main, Sin Wan. Aku melihat perbedaan yang besar antara kedua peristiwa itu. Dahulu engkau dijebak dan ditawan orang berkedok hitam yang sangat lihai itu, sedangkan sekarang engkau ditawan seorang jenderal besar tanpa engkau melakukan perlawanan. Apa artinya semua ini? Mengapa engkau berada di sini dan mengapa pula engkau ditawan?"

Sin Wan tidak dapat mengelak dan memang dia merasa tidak perlu berbohong kepada gadis ini. Baru dua kali dia bertemu dan berkenalan dengan Akim, akan tetapi puteri datuk timur ini agaknya memang dapat dipercaya sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan berbisik dia pun menceritakan dengan terus terang betapa dia menerima tugas dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki pertemuan antara kedua pangeran itu dan juga membantu supaya keamanan kedua orang pangeran penting itu terjamin.

"Dan kau tahu siapa yang kujumpai sore tadi?" Dia menutup ceritanya. "Aku melihat Si Kedok Hitam!"
"Ehhh?! Di sini?" Akim berseru heran.
"Ya, di tempat pertemuan itu, aku membayanginya dan dia lenyap ketika menuju ke hutan itu. Karena aku mengira dia memasuki hutan, aku lalu mengejar ke dalam hutan tapi aku malah bertemu dengan para prajurit anak buah Jenderal Yauw Ti yang menangkapku dan menghadapkan kepada jenderal itu. Jenderal Yauw Ti marah dan mencurigaiku, maka dia lalu menyuruh anak buahnya menahanku."

"Dan engkau tidak melawan sama sekali?"
"Tentu saja tidak mungkin aku memusuhi prajurit keamanan kerajaan. Tadi sudah kuberi tahukan kepadanya bahwa aku diutus Jenderal Shu Ta, akan tetapi dia tidak percaya dan memang dia membenciku."
"Kenapa?"
"Pernah dahulu dia ditawan oleh suku yang memusuhinya, yaitu suku Uighur, maka dia membenci suku bangsa itu, dan karena aku adalah orang Uighur, maka agaknya dia juga membenciku." 
"Hemm, kiranya engkau berbangsa Uighur?" tanya Akim.

Sin Wan merasa perutnya panas, karena dia teringat akan sikap Kui Siang dan Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang menjauhinya karena dia seorang peranakan Uighur dan putera tiri Se Jit Kong. 

"Aku memang seorang peranakan Uighur, bukan pribumi asli. Lalu kenapa?"

Mendengar kata-kata yang nadanya ketus itu, Akim terbelalak, akan tetapi Sin Wan tidak dapat melihat mata yang terbelalak itu. Dia menunduk sambil bersungut, siap mendengar yang paling buruk, mendengar bahwa gadis ini pun akan berubah sikapnya mendengar dia adalah seorang peranakan Uighur.

Akan tetapi Akim malah tertawa, merdu akan tetapi lembut dan ditahan karena gadis ini pun menjaga diri agar suaranya tidak terlalu nyaring sehingga akan terdengar orang lain.

"Hi-hik, mengapa engkau marah-marah, Sin Wan? Engkau tidak senang menjadi seorang peranakan Uighur?"
"Memang tidak enak, bukan tidak senang. Semua orang mencibirkan bibir dan menaikkan hidung mendengar aku adalah seorang peranakan Uighur, bukan penduduk asli bangsa Han. Nah, jika engkau tidak senang padaku, katakan saja, aku sudah terbiasa mendengar itu."

Mendengar suara merajuk itu, Akim semakin geli. "Hi-hik, engkau lucu. Siapa yang tidak suka mendengar engkau adalah peranakan asing? Aku sendiri juga seorang peranakan Jepang! Apa sih jeleknya peranakan? Apa sih salahnya? Kita dahulu tidak minta kepada Tuhan untuk dilahirkan sebagai peranakan, sebagai keturunan bangsa ini atau itu!"

"Baguslah kalau engkau juga peranakan dan tidak membenciku, berarti aku mempunyai kawan senasib. Tentu saja tidak semua orang membenci golongan seperti kita ini, akan tetapi ada saja yang beranggapan bahwa orang-orang seperti kita ini tidak asli, dan yang tidak asli itu apa lagi kalau bukan palsu?"
"Aihh… aihh... jangan merendahkan diri seperti itu, Sin Wan. Kukira hanya perasaanmu sendiri saja demikian, dan kalau pun benar ada yang mempunyai anggapan seperti yang kau katakan itu, maka anggapan itu hanya ada di dalam pikiran orang-orang yang belum mengerti."

"Sudahlah, tidak perlu kita berbicara tentang hal-hal yang tidak mengenakkan hati kita itu. Apa pun anggapan orang terhadap diriku, akan kubuktikan bahwa aku adalah orang yang berguna bagi negara dan bangsa Han karena aku dibesarkan sebagai orang Han, bahkan merasa asing dengan bangsa Uighur yang menurunkan diriku. Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan kenapa engkau juga berkeliaran di tempat ini, Akim. Dan... haiii, baru aku ingat. Mengapa kalau aku bertemu Si Kedok Hitam, selalu muncul engkau Si Kedok Hijau?"
"Apa?! Ihh, sialan! Kau kira aku ini ekor Si Kedok Hitam?"
"Maaf, Akim, aku hanya berkelakar. Nah, ceritakan bagaimana engkau dapat mengetahui aku berada dalam tahanan kemudian dapat membebaskan aku."

"Jangan mengejek. Bila engkau menghendaki, tentu engkau dapat nembebaskan diri dari sana. Sebetulnya aku tidak mempunyai urusan denganmu, juga tidak mempunyai urusan dengan Pangeran Mahkota atau Raja Muda Yung Lo, atau dengan Si Kedok Hitam sekali pun. Aku tidak peduli semua itu. Aku kebetulan saja berada di sini, bahkan kebetulan saja ketika berada di kota raja. Aku sedang membayangi dan mencari ayahku."
"Hemmm, dan engkau menemukan jejak ayahmu menuju ke sini?" Sin Wan bertanya dan merasa tertarik sekali.

Akim menarik napas panjang. "Karena engkau sudah bicara jujur kepadaku, aku pun akan bersikap jujur. Sebenarnya aku membayangi ayahku karena merasa khawatir kalau-kalau ayahku sampai terpikat oleh orang-orang Mongol. Ketahuilah, utusan orang-orang Mongol telah mendatangi ayah dan menawarkan kerja-sama dengan janji-janji muluk hingga ayah menjadi tertarik. Dia pergi memenuhi undangan mereka bersama suheng-ku, Maniyoko."

"Maniyoko...! Hemm…, pernah aku bertemu dengan dia, bahkan bertanding melawan dia ketika terjadi perebutan kedudukan pemimpin besar para kai-pang. Dia lihai akan tetapi... hemm.... curang dan kejam."

"Aku tidak marah. Memang dia curang dan kejam, dan aku pun tidak suka pada suheng-ku itu. Nah, ayah bersama Maniyoko pergi memenuhi undangan orang-orang Mongol itu, lalu atas desakan ibuku yang menentang sikap ayah itu, aku menyusul untuk membujuk ayah dan bahkan menghalangi dia menjadi kaki tangan orang Mongol. Jejaknya menuju ke kota raja, malah menuju ke Cin-an, maka aku pun mengejar ke sini. Ketika mendengar tentang pertemuan antara kedua orang pangeran, aku merasa khawatir sekali. Siapa tahu orang-orang Mongol akan mencelakai kedua orang bangsawan itu, dan ibu sama sekali tidak ingin melihat ayah membantu pemberontakan, apa lagi pemberontakan itu dilakukan oleh bangsa Mongol yang hendak mendirikan kembali pemerintah penjajah. Kemudian aku melakukan penyelidikan dan kebetulan melihat engkau dimasukkan ke tempat tahanan itu, maka aku lalu membebaskanmu."
"Akan tetapi bagaimana engkau tadi dapat merobohkan belasan orang penjaga itu tanpa menimbulkan suara ribut sama sekali?"

Dara itu tersenyum kemudian menepuk-nepuk saku di balik bajunya. "Aku melihat mereka sedang minum arak. Aku berhasil menaburkan sedikit bubuk pembius dan begitu mereka minum lagi arak mereka, seorang demi seorang roboh tanpa mengeluarkan suara."

Sin Wan tersenyum kagum dan merasa lega bahwa gadis itu tidak berwatak ganas, tidak semena-mena melakukan pembunuhan. "Engkau hebat, Akim, cerdik bukan main. Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Ketika kita berdua menyaksikan pertandingan antara panglima Bhok Cun Ki melawan ibu dan anak itu, mengapa tiba-tiba saja engkau menghilang, pergi meninggalkan aku tanpa pamit?"

Yang ditanya menundukkan mukanya dan sampai beberapa lama dia tidak menjawab. 

"Kenapa, Akim?" Sin Wan mengulang, merasa amat penasaran.

Didesak pertanyaan ulang itu, Akim mengangkat muka memandang, kemudian menjawab dengan pertanyaan lain. "Sin Wan, apakah gadis yang menggunakan pedang sinar putih itu, yang hampir membunuh ayah kandungnya itu, apakah dia itu kekasihmu, tunangan atau calon isterimu?"

Tentu saja Sin Wan tertegun heran, sama sekali tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia menggeleng kepala dan menjawab singkat. "Bukan!"

"Apakah engkau mencinta gadis itu?"

Sin Wan semakin heran, akan tetapi kembali menggeleng kepala. "Tidak, kenapa engkau bertanya demikian dan apa hubungannya dengan pertanyaanku kepadamu tadi?"

"Dekat sekali hubungannya. Ketika itu aku melarikan diri tanpa pamit karena aku merasa cemburu!"

Mata Sin Wan terbelalak dan mulutnya ternganga saking kaget dan herannya. "Kau... kau cemburu? Kenapa cemburu....?"

"Gadis itu bersikap demikian mesra kepadamu. Nampak jelas bahwa dia mencintamu, Sin Wan. Aku... aku mengira bahwa engkau pun cinta padanya.”

Sin Wan menjadi semakin heran. Dua matanya sampai menjadi bulat karena terbelalak. “Apa artinya ini? Aku menjadi bingung. Aku memang tidak mencinta Lili, akan tetapi andai kata aku mencinta juga, apa hubungannya denganmu? Dan kenapa pula engkau merasa cemburu?"

Gadis itu mengeluarkan suara dengus ejekan. "Huhh, engkau ini laki-laki tolol. Tentu saja aku cemburu melihat sikap gadis itu begitu mesra kepadamu karena aku cinta padamu, Sin Wan!"

Ucapan ini merupakan pukulan yang membuat Sin Wan seperti berubah menjadi patung. Dia duduk tegak, matanya terbelalak memandang gadis itu, sedikit pun tidak bergerak dan ketika hendak bicara, tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya. Bukan main!

Dahulu, ketika Lili dengan cara yang jujur dan terbuka menyatakan cinta kepadanya, dia menyangka bahwa di dunia ini hanya ada seorang saja gadis seperti Lili. Tetapi sekarang ada gadis lain yang mengaku cinta padanya dengan cara yang sama, begitu terus terang, terbuka dan tanpa pura-pura lagi.

"Sin Wan, mengapa kau diam saja? Aku cinta kepadamu, lantas bagaimana pendapatmu tentang ini?"
"Aku... aku... tapi....”
"Sin Wan, apakah engkau tidak suka kepadaku? Katakan terus terang, apakah engkau tidak suka padaku?"
"Tentu saja, Akim. Aku kagum kepadamu, aku suka padamu tapi...”
"Sin Wan, itu pun sudah cukup!" Akim berseru gembira dan gadis itu sudah mendekat lalu merangkul leher Sin Wan dan merebahkan mukanya di dada pemuda itu. "Asal engkau tidak membenciku, asal engkau suka kepadaku, maka cintaku tidak sia-sia dan..."
"Akim, bagaimana sih engkau ini? Bagaimana begitu mudahnya engkau mengaku cinta, pada hal baru dua kali kita saling jumpa?"
"Sin Wan, dalam perjumpaan kita yang pertama, sejak aku meniupkan napas ke dalam dadamu melalui mulutmu, semenjak saat itulah aku telah jatuh cinta padamu. Karena itu, melihat Lili bersikap demikian mesra kepadamu, tentu saja aku merasa cemburu dan sakit hati, lalu aku pergi meninggalkanmu. Biar pun aku mencintamu, aku belum begitu rendah untuk merebut pacar orang. Maka aku tadi bertanya apakah engkau mencintanya, karena kalau engkau mencinta gadis lain, tentu aku tak akan sudi mengganggumu. Tapi ternyata engkau tidak mencinta Lili, ahh, betapa lega dan gembira rasa hatiku sekarang!" 

Gadis itu merangkul semakin ketat dan seolah hendak membenamkan mukanya ke dada Sin Wan. Tentu saja pemuda itu menjadi bingung dan salah tingkah. Ingin dia menolak, akan tetapi hatinya merasa tidak tega. Dia maklum bahwa dia akan menghancurkan hati gadis ini kalau menolak begitu saja secara langsung.

Tidak, dia harus bicara perlahan-lahan menyadarkan Akim bahwa cintanya itu tidak dapat dilanjutkan karena dia tidak dapat membalasnya. Akan tetapi karena merasa tidak tega, dia pun membiarkan saja gadis itu sejenak melepaskan dan mencurahkan perasaannya melalui dekapan ketat itu.

Kemudian, dengan lembut dia melepaskan kedua lengan Akim yang merangkul lehernya, dan berbisik lirih, “Akim, tenanglah dan mari kita bicara dengan baik-baik. Jangan terlalu menuruti perasaan hatimu, Akim." 

Akan tetapi betapa heran rasa hatinya ketika merasa betapa tubuh gadis itu lemas lunglai dan terkulai ketika dia melepaskan rangkulan kedua lengannya. Dengan hati-hati dia lalu merangkul dan ternyata gadis itu telah tertidur! Entah apa yang terjadi dia pun tidak tahu. Mungkin gadis itu terlalu lelah dan karena pelepasan perasaannya, gadis itu pun terkulai dan tertidur, mungkin dengan mimpi yang indah! Sin Wan tersenyum geli, lalu perlahan-lahan dia merebahkan gadis itu di atas rumput, kemudian dia melepaskan jubahnya dan menyelimuti tubuh yang rebah telentang dan tidur pulas itu.

Bulan sepotong muncul sehingga sekarang cuaca tidaklah segelap tadi. Seberkas cahaya lembut dari bulan sepotong membantu sinar bintang menimpa wajah Akim. Sin Wan yang duduk di dekatnya bisa melihat wajah itu dengan cukup jelas. Memang wajah yang cantik. Kecantikan yang berlainan dengan kecantikan wajah Lili, atau wajah Bhok Ci Hwa. Akan tetapi tidak kalah manis dan menariknya.

Wajah yang bentuknya bundar dengan kulit muka yang putih mulus sehingga nampak alis dan rambutnya yang hitam. Bibir yang mungil itu tersenyum, agak terbuka hingga tampak kilatan giginya yang putih. Ouwyang Kim memang seorang gadis yang cantik menarik. Dan lebih dari itu, seperti juga Lili dan Ci Hwa, gadis ini mencintanya!

Sin Wan menghela napas panjang, sebab perlahan-lahan wajah Akim seperti berubah lalu nampaklah wajah yang selalu terbayang baik dalam tidur mau pun sadar, yaitu wajah Lim Kui Siang!

"Sumoi....!” Sin Wan menghela napas panjang.

Cintanya hanya pada Kui Siang seorang. Andai kata di sana tidak ada Kui Siang yang telah menguasai seluruh ruang dalam dadanya, betapa akan mudahnya untuk membalas cinta gadis-gadis seperti Lili, Ci Hwa atau Akim ini!

Sin Wan membiarkan bayangan Kui Siang memenuhi kepala serta dadanya, lalu dia pun duduk bersemedhi untuk menenangkan hati dan memulihkan tenaganya karena dia tahu bahwa mereka berdua masih belum benar-benar bebas dari ancaman pengejaran pasukan keamanan. Apa lagi dia masih harus menyelidiki tentang Si Kedok Hitam yang dilihatnya berkeliaran di sekitar Cin-an.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Akim sudah terbangun. Biar pun kedua matanya masih terpejam, begitu membuka mulut dia langsung memanggil, "Sin Wan..."

Agaknya gadis itu semalam suntuk bermimpi tentang Sin Wan!

"Selamat pagi, Akim," kata Sin Wan. Gadis itu membuka kedua matanya, memandang kepada pemuda itu lalu tersenyum manis.
"Aihh, Sin Wan, lamakah aku tertidur? Wah, sudah pagi!" Biar pun baru bangun tidur tapi gadis itu nampak segar seperti setangkai bunga pagi yang bermandikan embun. 
"Di sana ada sumber air yang jernih, aku ke sana dulu!" Gadis itu menyelinap keluar dari balik semak belukar, tidak lupa membawa pedangnya dan topeng hijau masih tergantung di lehernya. Dia menoleh kemudian tersenyum manis.
"Sin Wan, kau tunggu di sini sebentar, ya? Nanti setelah aku selesai, barulah engkau ke sana membersihkan dan menyegarkan badan."
"Kenapa kita tidak pergi bersama saja, Akim?" kata Sin Wan yang merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu.

Kini wajah itu berubah kemerahan dan sepasang mata yang indah itu mengerling tajam, senyumnya dikulum.

"Ihh! Tidak malukah engkau berkata begitu? Bagaimana mungkin kita mandi berbareng? Kita belum menikah!" Setelah berkata demikian, sambil tertawa terkekeh gadis itu pun lari menyelinap pergi, tidak memberi kesempatan kepada Sin Wan untuk menjawab.

Hati Sin Wan terasa tidak nyaman ketika menanti seorang diri di balik semak belukar itu. Akhirnya, setelah menanti agak lama dan menurut perkiraannya tentu Akim sudah selesai mandi, dengan hati-hati dia pun keluar dari balik semak belukar. Tadi dia sempat melihat Akim pergi ke arah kanan, maka dia pun pergi ke sana.

Belum jauh dia berjalan, mendadak dia mendengar suara senjata tajam beradu di sebelah depan. Sin Wan segera meloncat dan berlari cepat ke arah suara itu dan ketika dia tiba di balik rumpun tebal, dia melihat Akim yang sekarang sudah mengenakan topeng hijaunya sedang bertanding pedang melawan seorang laki-laki tinggi besar berperut gendut yang mengenakan kedok pula. Si Kedok Hitam! 

Sin Wan terkejut, akan tetapi juga girang karena kini dapat menemukan tokoh yang selalu menghilang secara rahasia itu, tokoh yang memang dia cari-cari. Sin Wan maklum akan kelihaian Si Kedok Hitam itu dan kini Akim juga sudah mulai terdesak, meski puteri datuk timur itu pun bukan seorang lawan yang lemah. Pedang yang berada di tangan gadis itu berubah menjadi gulungan sinar yang berkilauan lembut dan mengandung hawa dingin. 

Namun Si Kedok Hitam yang memegang sebatang pedang pendek, hanya menggunakan pedangnya untuk menangkis sambaran sinar dari gulungan pedang Akim, ada pun tangan kirinya melakukan totokan-totokan yang membuat Akim menjadi terdesak karena totokan itu amat berbahaya. Jari tangan kiri Si Kedok Hitam yang menotok itu mengeluarkan bunyi bercuitan, seolah jari telunjuk yang menotok itu sudah menjadi sebatang senjata runcing yang amat dahsyat.

Maklum bahwa Akim terancam bahaya, Sin Wan mengeluarkan bentakan nyaring dan dia pun langsung meloncat ke depan sambil menggerakkan pedangnya, pedang yang tumpul dan buruk, namun begitu pedang itu bertemu dengan pedang pendek di tangan Si Kedok Hitam, tubuh orang tinggi besar gendut itu terpental ke belakang. Dia mengeluarkan suara gerengan marah, apa lagi ketika mengenal Sin Wan sebagai pemuda yang beberapa kali telah menggagalkan pekerjaannya, bahkan merupakan halangan besar.

"Bagus, kau datang mengantar nyawa!" bentak Si Kedok Hitam.

Agaknya mulutnya menggigit sesuatu sehingga suaranya terdengar aneh, bukan seperti suara manusia biasa. Setelah mengeluarkan gerengan, Si Kedok Hitam sudah menyerang dengan pedang pendeknya, tubuhnya berpusing begitu cepatnya sehingga mengejutkan Sin Wan.

"Wuuttt…! Wuuttt…! Wuutttt...! Cringgg…!“

Berulang kali pedang pendek itu menyambar, mencuat dari gulungan sinar pedang, tetapi Sin Wan dapat mengelak atau menangkis, lantas membalas dengan gerakan pedangnya yang amat tangguh.

"Cringg…! Cringg…! Tranggg...!"

Bunga api berpijar-pijar dan Si Kedok Hitam mengeluarkan gerengan marah ketika melihat betapa mata pedang pendeknya patah sesudah beberapa kali bertemu pedang tumpul di tangan Sin Wan. Kini putaran tubuhnya semakin hebat sehingga bentuk tubuhnya sukar dilihat, seperti benda berpusing dan menerjang ke arah Sin Wan. 

Menghadapi serangan yang amat dahsyat dan aneh ini, Sin Wan cepat-cepat memainkan Sam-sian Sin-ciang, ilmu andalannya yang merupakan gabungan dari semua ilmu ketiga orang gurunya. Karena ilmu ini mengandung daya tahan yang kokoh kuat, maka dia pun mampu menahan terjangan lawan sehingga terjadilah saling serang yang sangat dahsyat. Kilatan kedua pedang mereka menyambar-nyambar ganas dan lengah sedikit saja sudah cukup untuk kehilangan nyawa.

"Cringgg…!"

Sinar pedang Si Kedok Hitam mencuat dan meluncur ke arah leher Sin Wan. Pemuda ini meloncat ke samping untuk mengelak. Tubuh Si Kedok Hitam sudah berputar beberapa kali dan pedangnya kini menyambar dengan bacokan ke arah pundak kanan Sin Wan. 

Kembali Sin Wan mengelak ke samping. Akan tetapi dengan membentuk sinar bergulung, pedang pendek yang kehilangan sasaran itu melayang dengan gerakan melengkung dan kini membacok dari atas ke arah kepala Sin Wan. Pemuda ini merasa kewalahan juga menghadapi serangan bertubi yang membuat dia sama sekali tak mendapat kesempatan untuk membalas. Kini melihat pedang lawan membacok dari atas dan meluncur ke bawah, agaknya hendak membelah kepalanya menjadi dua, dia pun cepat menggerakkan pedang tumpul sambil mengerahkan sinkang.

"Trakkk!"

Dua batang pedang bertemu di udara dan pedang tumpul itu seperti mempunyai tenaga magnit yang amat kuat, menempel pedang pendek hingga pedang itu tidak dapat terlepas. Si Kedok Hitam marah dan merasa penasaran, mengerahkan tenaga untuk melepaskan pedangnya, tetapi pada saat itu nampak sinar lembut berkelebat menyambar dan ternyata Ouwyang Kim sudah membantu Sin Wan dan menusuk ke arah perut yang gendut itu! 

Pada saat itu Si Kedok Hitam sedang mengadu tenaga dengan Sin Wan sehingga seluruh tubuhnya digetarkan oleh tenaga dahsyat. Kalau hanya orang biasa yang menusuknya, maka si penusuk tentu akan celaka sendiri akibat terkena getaran tenaga itu.

Akan tetapi yang melakukan tusukan adalah Ouwyang Kim, puteri Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) Ouwyang Cin, maka tentu saja dia bukan lawan biasa, melainkan seorang gadis yang amat lihai dan telah memiliki tenaga sinkang yang hebat pula. Tusukannya itu amat cepat sehingga tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh Si Kedok Hitam yang seolah-olah sedang melekat kepada Sin Wan melalui pedang mereka.....

"Crottt…!"

Pedang di tangan Akim menusuk dan sebagian ujungnya terbenam ke dalam perut gendut Si Kedok Hitam! Melihat ini Sin Wan melepaskan lekatan pedangnya, lantas melompat ke belakang karena dia melihat betapa Si Kedok Hitam tidak nampak terkejut, bahkan pada bibirnya tersungging senyum mengejek!

Akim juga terkejut dan cepat menarik kembali pedangnya. Si Kedok Hitam sama sekali tak mengeluh, juga dari perut gendut yang tertutup baju itu tidak kelihatan darah. Agaknya dia tidak merasa sakit sama sekali, bahkan kini tubuhnya berpusing lagi menyerang ke arah Akim, pedangnya bergulung-gulung dengan dahsyatnya, membuat Akim yang masih terkejut dan gentar melihat lawannya itu sama sekali tidak terluka apa lagi roboh terkena tusukan pedangnya, kini menjadi terdesak hebat dan terpaksa dia memutar Goat-im-kiam (Pedang Tenaga Bulan) untuk menjadi perisai melindungi dirinya. Namun dia terdesak dan terpaksa mundur.

Sin Wan hendak maju membantu Akim, akan tetapi pada saat itu pula muncul lima orang, kesemuanya berkedok beraneka warna, menggunakan senjata mereka mengeroyok Sin Wan. Kelima orang itu rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi sehingga Sin Wan harus mencurahkan perhatiannya terhadap pengeroyokan mereka dan tidak dapat membantu Akim yang terus didesak oleh Si Kedok Hitam.
Sebetulnya, tingkat kepandaian Ouwyang Kim sudah cukup tinggi sehingga walau pun dia masih belum mampu mengatasi kepandaian Si Kedok Hitam, akan tetapi agaknya tidak terlampau mudah bagi Si Kedok Hitam untuk merobohkannya. Akan tetapi hati gadis ini masih terkejut dan agak gentar melihat kehebatan lawan.

Dia mengenal banyak ilmu, bahkan dia sendiri pernah mempelajari ilmu kebal. Maka jika tubuh Si Kedok Hitam mampu melawan tusukan senjata tajam biasa, dia takkan merasa heran. Akan tetapi lawan ini mampu menerima tusukan Goat-Im-kiam!

Jika kulitnya saja tidak bisa ditembus oleh pedang, maka ini bukan merupakan kekebalan biasa melainkan kekebalan yang aneh. Tadi pedangnya telah memasuki perut, akan tetapi orang itu tak terluka, bahkan tidak mengeluarkan darah. Hal inilah yang membuat hatinya menjadi kecil sehingga gerakannya kacau, apa lagi Si Kedok Hitam menyerangnya sambil berpusing seperti gasing.

"Trangg…! Tranggg...!”

Untuk ke sekian kalinya pedang Goat-im-kiam di tangan Akim hanya mampu menangkis. Akan tetapi dari pusingan tubuh gendut itu tiba-tiba saja jari tangan kiri Si Kedok Hitam mencuat dan tahu-tahu Akim terkulai karena dia sudah terkena totokan yang sangat lihai dari ilmu It-tok-ci (Jari Tunggal Beracun). Pedang Goat-im-kiam terlepas dari tangannya dan di lain saat tubuh Akim sudah disambar lalu dipanggul oleh Si Kedok Hitam.

Sin Wan terkejut dan marah sekali. Dia mengeluarkan seruan panjang dan pedang tumpul di tangannya membuat sinar melengkung, membuat dua di antara lima orang pengeroyok terpaksa melepaskan senjata mereka dan dua orang lagi terpelanting ke kanan kiri.

Sin Wan meninggalkan mereka untuk mengejar, akan tetapi dia melihat Si Kedok Hitam itu lari ke tepi sungai sambil memondong tubuh Akim, lalu tiba-tiba orang itu meloncat ke bawah! Sin Wan terkejut dan cepat meloncat ke tepi sungai. Kiranya Si Kedok Hitam yang menawan Akim itu meloncat ke atas sebuah perahu kecil yang agaknya memang sudah dipersiapkan di sana. Kini Si Kedok Hitam melepaskan tubuh Akim hingga rebah miring di dalam perahu, sedangkan dia sendiri cepat mendayung perahu ke tengah. 

Sin Wan termangu, tetapi pada detik itu pula dia teringat akan lima orang pengeroyoknya tadi. Dia harus dapat menangkap seorang di antara mereka untuk memaksanya memberi tahu siapa adanya Si Kedok Hitam dan di mana sarangnya agar dia dapat menolong Akim yang tertawan.

Akan tetapi ketika dia menengok, dia melihat lima orang itu lari menghampiri tepi sungai. Dia cepat mengejar, namun mereka berloncatan ke bawah. Terdengar suara berdeburnya air dan ketika dia menjenguk ke bawah, bagaikan ikan-ikan saja lima orang itu berenang dengan cepatnya menuju ke tengah sungai di mana nampak sebuah perahu lainnya yang sedang menunggu, didayung seorang yang berkedok pula. Mereka naik ke perahu itu dan segera mendayung perahu ke tengah. Mereka lenyap, seperti juga Si Kedok Hitam yang menawan Akim!

Sin Wan mengepal kedua tinjunya, kemudian memungut pedang Goat-im-kiam milik Akim dan menyimpannya. Bagaimana pun juga dia harus dapat menolong Akim! Sin Wan lalu menyusuri pinggir sungai untuk menyewa perahu agar dia dapat mulai mencari Akim yang dilarikan orang dengan perahu ke tengah sungai…..
********************
"Yang Mulia Pangeran, bagaimana pun juga hamba merasa curiga sekali terhadap semua ini, dan hamba mengharapkan kewaspadaan paduka agar jangan sampai terjadi sesuatu yang hanya mendatangkan penyesalan yang sudah terlambat." Demikian antara lain Lim Kui Siang membujuk Raja Muda Yung Lo ketika akhirnya mereka dapat berbicara empat mata saja setelah pesta malam itu usai. 

Kalau tadinya Raja Muda Yung Lo hanya tersenyum saja dan menganggap kekhawatiran pengawal pribadinya itu kekanak-kanakan, kini pandang matanya berubah dan sikapnya bersungguh-sungguh.

"Benarkah engkau mencurigai kakakku, Pangeran Mahkota yang mengundangku ke sini, Kui Siang?"
"Pangeran, kecurigaan hamba bukan hanya ngawur belaka, tetapi berdasarkan pemikiran yang mendalam melihat keadaan yang tidak wajar. Pertama, mengapa Pangeran Mahkota tidak mengundang paduka di kota raja saja? Ke dua, kenapa pula pertemuan diadakan di tempat yang amat sepi ini? Ke tiga, Pangeran Mahkota membawa pasukan yang dipimpin sendiri oleh Jenderal Besar Yauw Ti, seakan-akan hendak perang atau pamer kekuatan. Lalu ke empat, sepanjang pertemuan antara paduka dengan Pangeran Mahkota, menurut pengamatan hamba, tidak pernah terjadi percakapan yang penting, hanya basa-basi biasa saja sehingga pertemuan itu benar-benar tidak sepadan dengan perjalanan yang demikian jauhnya. Hamba juga menaruh curiga terhadap sastrawan yang tidak pernah terpisah dari Pangeran Mahkota itu, Pangeran. Pandang matanya bukan pandang mata orang biasa, dan dia dapat menjadi lawan yang amat berbahaya."

Raja Muda Yung Lo mengangguk-angguk. "Bagus, engkau sungguh mengagumkan sekali, Kui Siang. Tidak keliru pilihanku menjadikan engkau sebagai pengawal pribadiku. Engkau waspada dan wawasanmu jauh dan tepat. Kecurigaanmu berdasar dan tidak ngawur, atas dasar nalurimu yang tajam. Lalu bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"

Pandang mata pangeran yang menjadi raja muda itu bersinar-sinar, penuh rasa bangga dan gembira. Sayang, katanya dalam hati, gadis ini tidak dapat membalas cintanya!

"Maaf, Pangeran. Kalau menurut pendapat hamba, sebaiknya paduka menolak undangan untuk berpesta di atas perahu besok pagi, dan lebih baik segera kembali saja ke utara."

Raja Muda Yung Lo mengelus jenggotnya yang terpelihara rapi, lalu sambil tersenyum dia berkata, "Bagaimana mungkin, Kui Siang? Apa bila aku melakukan seperti apa yang kau usulkan, tentu kakanda Pangeran Mahkota akan merasa tersinggung dan kalau kelak dia melapor kepada ayahanda Kaisar, tentu aku akan mendapat teguran. Sebetulnya apakah yang kau khawatirkan? Tidak mungkin kakanda Pangeran hendak mencelakakan aku."

"Yang hamba khawatirkan bukan datang dari Yang Mulia Pangeran Mahkota, melainkan dari pihak ketiga yang akan mempergunakan kesempatan ini untuk mencelakai paduka. Sudah lupakah paduka akan penyerangan terhadap diri paduka di istana yang dilakukan oleh orang-orang Mongol? Menurut hamba, kesempatan ini sangat baik bagi orang-orang Mongol yang ingin mencelakakan paduka atau Pangeran Mahkota. Bagaimana jika terjadi penyerangan besar-besaran di sini? Paduka hanya membawa sedikit pasukan pengawal. Walau pun hamba akan membela paduka dengan taruhan nyawa, tetapi apa artinya kalau pihak musuh terlalu kuat dan semua perlawanan kita akan gagal?"

Tiba-tiba Raja Muda Yung Lo tertawa bergelak sehingga mengherankan hati Kui Siang. 

"Ha-ha-ha, Kui Siang. Agaknya engkau terlalu memandang rendah kepadaku. Ingat, aku adalah seorang panglima perang yang sudah banyak pengalaman. Aku tidak akan mudah dikelabui dan ditipu musuh begitu saja, ha-ha-ha!"
"Apa maksud paduka, Pangeran?" Kui Siang memandang heran.
"Ha-ha-ha, kau lihat sendiri saja dan kau akan mengerti!" Setelah berkata demikian, Raja Muda Yung Lo menuju ke pintu, membuka daun pintu kemudian memberi isyarat kepada seorang di antara prajurit pengawalnya. Setelah prajurit itu mendekat, Raja Muda Yung Lo lalu membisikkan sesuatu dan tak lama kemudian daun pintu diketuk orang dari luar.
"Gan-ciangkun, masuklah," kata Raja Muda Yung Lo.

Daun pintu terbuka, lalu masuklah seorang lelaki berusia lima puluhan tahun dan biar pun tubuhnya tinggi kurus, namun sikapnya tegak dan berwibawa, juga gagah.

Melihat orang ini Kui Siang memandang heran. Dia tahu bahwa orang ini adalah Panglima Gan, salah seorang di antara para panglima kepercayaan Raja Muda Yung Lo. Setahunya panglima ini tidak ikut dalam pasukan pengawal, bagaimana sekarang tiba-tiba saja dapat dipanggil masuk?

Setelah panglima itu memberi hormat dan dipersilakan duduk, Raja Muda Yung Lo lantas berkata, "Bagaimana, ciangkun. Apakah pasukanmu sudah siap dan berapa jumlah yang kau kerahkan?"
"Semua sudah siap, tinggal menanti perintah paduka saja. Hamba sudah mempersiapkan tiga ratus orang prajurit yang memasang barisan pendam di luar kota Cin-an."
"Bagus! Nah, malam ini juga kau kerahkan pasukanmu untuk mengepung bagian sungai yang besok pagi akan dijadikan tempat pesta. Siapkan pengepungan di tepi, juga perahu-perahunya. Begitu ada gejala yang tidak beres, kalau ada kelompok orang yang hendak mengacaukan pesta, langsung serbu saja dan tangkap. Engkau sudah mengerti jelas apa yang kumaksudkan, Gan-ciangkun?"

Panglima tinggi kurus itu bangkit berdiri dan memberi hormat. "Hamba mengerti dan siap melaksanakan perintah paduka!"

"Nah, kerjakan sekarang juga."

Sesudah panglima Gan pergi, barulah Kui Siang dapat bicara dengan suara gembira dan penuh kagum. "Aihh…, maafkan hamba, Pangeran. Bukan sekali-kali hamba memandang ringan terhadap paduka, hanya hamba sama sekali tidak pernah menduga bahwa paduka telah mempersiapkan segala-galanya, bahkan sebelum kita berangkat! Kalau begitu maka semua kecurigaan hamba tidak ada artinya, karena hamba jauh kalah dulu oleh paduka!"

Raja Muda Yung Lo tersenyum. "Bukan begitu, Kui Siang. Aku mempersiapkan pasukan hanya demi menjaga keselamatan belaka, tapi sebaliknya kecurigaanmu itu berdasarkan alasan yang amat kuat, sebagai hasil dari pengamatanmu yang waspada. Nah, sekarang perasaanmu sudah merasa tenteram, bukan?"

Kui Siang mengangguk. "Berkat kebijaksanaan paduka! Kini hamba ingin sekali melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa yang penuh rahasia ini. Mudah-mudahan paduka akan dapat membongkarnya kalau terdapat kecurangan dan campur tangan pihak ke tiga yang ingin mengacaukan keadaan dan mengancam keselamatan paduka dan Pangeran Mahkota."

Sementara itu, di bagian lain dari gedung-gedung peristirahatan itu, yang menjadi tempat bermalam Pangeran Mahkota, pangeran ini pun sedang berbincang-bincang berdua saja dengan penasehatnya, yaitu Yauw Siucai. Para pengawal pribadi hanya berjaga-jaga di luar gedung, di sekitar gedung dan di luar ruangan di mana pangeran itu tengah bercakap-cakap dengan penasehatnya.

"Ah, Yauw Siucai, kurasa perjalanan jauh dan amat melelahkan ini tidak banyak gunanya. Alangkah sukarnya menyenangkan hati adinda Pangeran Yung Lo. Dia tidak begitu suka dengan pesta dan kesenangan, yang dia bicarakan bahkan urusan ketata-negaraan yang membuat kepalaku menjadi pening. Bagaimana kalau kita hentikan saja pesta pertemuan ini dan segera kembali ke kota raja?" Pangeran Mahkota Chu Hui San mengeluh kepada penasehatnya.

"Hamba kira tidak bijaksana jika paduka menghentikan pesta sebelum selesai, Pangeran. Biar pun Pangeran Yung Lo tidak begitu menyukai pesta, setidaknya beliau akan terkesan oleh keramahan dan itikad baik paduka, dan hal ini akan menambah kesetiaannya kelak kalau paduka telah menjadi kaisar. Menurut rencana, hanya tinggal besok melaksanakan pesta air di perahu yang sudah dipersiapkan, maka hamba mohon paduka bersabar, demi kekuatan dan kebaikan kedudukan paduka sendiri kelak."
"Hemm, kalau begitu baiklah. Akan tetapi jangan lupa, datangkan penari-penari dan para penyanyi yang muda dan cantik. Tampilkan seluruh gadis-gadis penari tercantik dari Cin-an dan daerahnya, agar hati kami dapat merasa gembira."

"Tentu saja, Yang Mulia. Akan tetapi sebaiknya kalau dalam bersenang-senang, paduka tidak mengurangi kewaspadaan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Pangeran Yung Lo, maka sebaiknya paduka memerintahkan Jenderal Yauw Ti agar melakukan penjagaan besok pagi. Sebaiknya kalau dia mengepung tempat pesta dan tidak membolehkan siapa pun mendekat, baik itu anak buah Pangeran Yung Lo atau pun orang-orang lain. Dengan demikian keamanan paduka dan Pangeran Yung Lo dapat terjamin karena terkepung oleh pasukan Jenderal Yauw Ti."
"Bagus, sebaiknya begitu. Nah, panggil Jenderal Yauw Ti datang menghadap sekarang juga," perintah pangeran itu yang selalu menuruti nasehat Yauw Siucai.

Ketika Jenderal Yauw Ti yang tinggi besar serta gagah perkasa itu datang menghadap, Pangeran Mahkota Chu Hui San segera memberi perintah seperti yang dikemukakan oleh penasehatnya tadi. Jenderal yang tidak banyak cakap itu memberi hormat, menyatakan kesiap-siagaannya melaksanakan perintah, lalu dipersilakan keluar lagi.

Seperti biasa, malam itu tidak dilewatkan sia-sia begitu saja oleh Pangeran Chu Hui San. Dan kebutuhan bangsawan yang telah menjadi budak nafsunya sendiri ini selalu dipenuhi, bahkan diberi semangat oleh Yauw Siucai yang secara diam-diam telah menyiapkan dua orang gadis panggilan yang tercantik untuk menemani sang pangeran tidur pada malam hari itu. Setelah dua orang gadis itu memasuki kamar, Yauw Siucai meninggalkan kamar itu untuk mengaso dalam kamarnya sendiri dengan pesan kepada para petugas pengawal di luar kamar untuk melakukan penjagaan ketat…..

********************
Malam itu terjadi pula hal yang aneh di luar gedung pesanggrahan yang sedang dalam suasana pesta dan dijaga ketat itu. Nampak sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju ke sebuah perahu besar yang berada di dekat seberang. Perahu besar itu berhenti, tidak terbawa arus air yang lambat di bagian itu, karena tertahan jangkar yang dilepas.

Sesudah perahu kecil tiba di dekat perahu besar, penumpang perahu kecil melemparkan kaitan ke arah perahu besar. Besi kaitan itu tiba di dek, mengait tiang lalu cepat diperkuat oleh dua orang anak buah perahu besar. Kemudian bagai seekor burung saja penumpang perahu kecil meloncat ke atas perahu besar dan ternyata dia adalah Si Kedok Hitam yang bertubuh tinggi besar dan berperut gendut.

Perahu besar itu sama sekali tidak terguncang ketika dia melompat ke sana, dan empat orang anak buah perahu besar cepat-cepat menyambutnya dengan sikap hormat, bahkan mereka berlutut dengan kaki kiri.

"Apakah kedua orang tamu yang kami undang itu belum datang?" tanya Si Kedok Hitam kepada mereka.
"Belum, Yang Mulia. Akan tetapi sudah ada yang menjemput dan mungkin sebentar lagi mereka akan tiba," jawab seorang di antara anak buah itu.
"Begaimana dengan tawanan kita? Tidak banyak tingkah, bukan?"
"Mula-mula dia meronta dan mengamuk, akan tetapi belenggu kaki tangannya diperkuat dan penjagaan diperketat sehingga dia tidak dapat membuat ribut lagi."

Si Kedok hitam mengangguk, lalu berjalan memasuki lorong di perahu besar itu menuju sebuah kamar di sudut yang terjaga oleh enam orang anak buahnya. Dia membuka daun pintu dan menjenguk ke dalam.

Ouwyang Kim nampak telentang di atas dipan dengan kaki tangan terbelenggu erat pada dipan itu, topengnya sudah terbuka dan wajah yang cantik itu nampak marah sekali. Akan tetapi dia tidak lagi meronta dan ketika melihat Si Kedok Hitam menjenguk dari luar pintu, dia pun berkata lantang,

"Si Kedok Hitam pengecut besar! Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mampus!"

Tapi dari balik kedok hitam itu hanya terdengar suara tawa aneh dan dia pun menutupkan kembali daun pintu kamar tawanan itu, lalu pergi ke ruangan tengah dan duduk menanti. Tidak lama kemudian bermunculan belasan orang yang semuanya memakai topeng yang beraneka warna. Begitu tiba di ruangan itu, mereka langsung memberi hormat kepada Si Kedok Hitam dan mengambil tempat duduk, membentuk setengah lingkaran menghadap kepada Si Kedok Hitam yang duduk dengan kedua kaki terpentang, sikapnya gagah dan berwibawa walau pun perutnya gendut sekali seperti tergantung ke bawah.

"Kalian sudah hadir dengan lengkap?" tanya Si Kedok Hitam dan belasan orang itu pun menyatakan bahwa mereka sudah lengkap.
"Sebaiknya kita cepat membuat rencana sebelum Ouwyang Cin bersama muridnya tiba. Mereka belum dapat dipercaya sepenuhnya karena mereka masih kelihatan ragu. Malam ini merupakan penentuan untuk menguji mereka dan membuktikan apakah mereka boleh ditarik sebagai kawan. Untung bahwa tanpa sengaja kami dapat menawan puterinya. Nah, sekarang dengarkan baik-baik rencana yang sudah kita atur. lni merupakan pengulangan saja agar semua dapat dilaksanakan dengan baik."

Mendadak Si Kedok Hitam menghentikan bicaranya ketika daun pintu ruangan itu diketuk orang. Dengan nada suara yang masih aneh dan parau namun kini ditambah nada suara marah, dia menoleh ke pintu dan membentak,
"Siapa yang berani mengganggu tanpa dipanggil?!"

Seorang penjaga muncul dengan sikap takut-takut. "Ampun, Yang Mulia. Saya terpaksa menghadap untuk menyampaikan berita yang amat buruk dan mencelakakan.”

"Cepat bicara, apa yang terjadi?!" Si Kedok Hitam membentak tak sabar.
"Yang Mulia, kami baru saja mendengar laporan para penyelidik bahwa di luar penjagaan pasukan dari kota raja ada pasukan besar Raja Muda Yung Lo yang membuat gerakan seolah mengepung daerah ini. Mereka itu dalam keadaan siap seperti hendak bertempur, dan menurut taksiran para penyelidik, jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang."

Hening sejenak. Tubuh tinggi besar yang berperut gendut itu sejenak tak bergerak seperti patung. Kemudian terdengar suaranya yang parau dan aneh, "Sudah yakin benarkah hasil penyelidikan itu, dan siapa pemimpin pasukan?"

"Jika belum benar-benar yakin, tentu para penyelidik tidak berani membuat laporan, Yang Mulia. Pemimpin pasukan besar dari utara itu adalah Gan-ciangkun."
"Hemm, sudah. Keluarlah dan jaga baik-baik tawanan itu," katanya.

Pelapor itu keluar lalu daun pintu ditutup kembali. Setelah itu Si Kedok Hitam mengangkat muka dan dari balik kedoknya sepasang matanya yang tajam mencorong itu memandang belasan orang yang menghadap padanya.

"Telah terjadi perubahan besar, akan tetapi hal ini justru lebih baik lagi, menyempurnakan gerakan kita," katanya.
"Maaf, Yang Mulia. Bagi kami berita itu merupakan mala petaka, tapi bagaimana paduka mengatakan hal itu menyempurnakan gerakan kita? Mohon penjelasan!" kata seorang di antara mereka dan kawan-kawannya mengangguk menyetujui.

"Siasat kita ditambah sedikit, yaitu mengusahakan agar terjadi saling mencurigai di antara pasukan utara dan pasukan selatan. Sebarkan berita di antara para perwira pasukan dari kota raja bahwa pasukan dari utara telah melakukan pengepungan. Mereka akan melucuti dan menyerbu pasukan selatan. Kita harus berusaha agar mereka saling mencurigai dan sebisa mungkin saling serang dengan cara mendahuluinya melakukan serangan-serangan kecil di antara mereka. Kalau mereka sudah saling serang, kita mempunyai peluang yang sangat baik untuk bergerak. Sebelah dalam menghabisi kedua pangeran, atau setidaknya membuat mereka saling bermusuhan. Kalian semua sudah paham apa yang harus kalian lakukan, dan sekali lagi kutekankan supaya kalian bertindak hati-hati sehingga nama baik Pangeran Yaluta tidak terbawa-bawa dan kedudukan beliau di dekat Pangeran Mahkota tidak sampai terganggu, terutama apa bila gerakan kita ini gagal. Nah, sekarang seorang di antara kalian yang menjadi penghubung, cepat beri tahukan Pangeran Yaluta tentang perubahan atau penambahan rencana kita ini."

Sesudah perundingan selesai, terdengar laporan bahwa Ouwyang Cin dan Maniyoko telah tiba. Pada tengah malam itu sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju ke perahu besar tadi, lalu dari dalam perahu berloncatan dua orang yang bukan lain adalah Tung-hai-liong Ouwyang Cin dan Maniyoko, muridnya. 

Seperti kita ketahui, guru dan murid ini terbujuk oleh si Kedok Hitam yang mengutus Bu-tek Kiam-mo untuk menghubungi Ouwyang Cin dan mengirim banyak barang hadiah yang berharga. Bersama muridnya Maniyoko, Ouwyang Cin berangkat ke kota raja memenuhi undangan Yang Mulia, yaitu nama yang dikenal sebagai pemimpin jaringan mata-mata itu, tanpa mempedulikan teguran dan cegahan isterinya. 

Setelah tiba di kota raja, guru dan murid ini disambut oleh Si Kedok Hitam secara rahasia. Kemudian Si Kedok Hitam bahkan mengajak mereka untuk pergi ke Cin-an agar mereka membantu dalam suatu urusan penting yang belum diberi tahukan kepada mereka.....

Walau pun menjadi tamu dari Si Kedok Hitam, namun Ouwyang Cin dan Maniyoko masih asing dengan gerakan mereka sebab agaknya Si Kedok Hitam masih belum percaya betul kepada mereka. Semua hal dirahasiakan, hanya bila Si Kedok Hitam ingin bicara dengan mereka, baru muncul seorang utusan yang mengundang mereka datang di suatu tempat. Malam ini pun mereka berdua dijemput dan diantar dengan sebuah perahu kecil menuju ke perahu besar itu karena Yang Mulia mengundang mereka.

Setelah Tung-hai-liong Ouwyang Cin dan Maniyoko dipersilakan masuk ke dalam ruangan besar di perahu itu, mereka disambut oleh Si Kedok Hitam yang sudah duduk di sana. Di tempat itu hadir pula belasan orang yang kesemuanya bertopeng dengan berbagai warna. Melihat ini, Tung-hai-liong Ouwyang Cin yang selalu bersikap angkuh dan tak mau tunduk itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, aku merasa seperti sedang berada di atas panggung wayang, menghadapi orang-orang berkedok! Yang Mulia, aku sudah mau mengalah dan memanggilmu dengan sebutan Yang Mulia, maka kiranya sudah tiba saatnya engkau memperkenalkan diri siapa engkau dan siapa pula anak-anak buahmu ini. Bagaimana mungkin aku bisa bekerja sama dengan orang-orang berkedok yang tidak kukenal?"

Si Kedok Hitam tidak menjadi marah. Dia telah mengenal baik watak para datuk dan tidak mengherankan bila Ouwyang Cin bersikap angkuh. Dia adalah datuk di daerah timur yang kekuasaannya seperti seorang raja muda saja! Si Kedok Hitam tertawa di balik kedoknya.

"Tung-hai-liong dan Maniyoko, silakan duduk. Ketahuilah bahwa kami adalah orang-orang rahasia yang bekerja secara rahasia pula. Oleh karena itu wajah kami hanya dapat kami perlihatkan kepada kawan-kawan seperjuangan yang telah kami percayai sepenuhnya."

Berkerut sepasang alis dari datuk yang berkepala botak dan berperut gendut itu. "Bagus! Kalau kalian belum percaya kepada kami berdua, mengapa kami diundang untuk bekerja sama?" kata Tung-hai-liong Ouwyang Cin dengan suaranya yang dingin.

"Pekerjaan kami adalah pekerjaan besar, sebuah perjuangan yang teramat penting. Untuk dapat mempercayai seorang yang bersekutu dengan kami, haruslah kami uji dahulu agar cita-cita kami tidak akan gagal. Malam inilah saat penentuan, dan besok pagi-pagi engkau harus dapat membuktikan kesetiaanmu terhadap kami, baru kami akan memperkenalkan diri kepadamu, Tung-hai-liong."

Kalau saja yang bicara seperti itu bukan Si Kedok Hitam yang menjadi pemimpin sebuah persekutuan besar yang kuat, tentu Ouwyang Cin sudah marah dan menyerangnya. Dia memandang dengan mata melotot, seperti hendak menembusi kedok itu dengan pandang matanya, kemudian dia bertanya, suaranya masih kaku dan dingin,

"Hemm, bukti kesetiaan macam apa yang harus kulakukan, Yang Mulia?"
"Pada esok hari engkau dan muridmu harus mampu membunuh Raja Muda Yung Lo dan Pangeran Mahkota, atau paling tidak salah seorang di antara mereka!"

Ouwyang Cin meloncat bangkit dari kursinya, diikuti oleh Maniyoko. "Gila! Ini sama saja dengan menyuruh kami berdua memasuki lautan api! Tidak, kami tidak sudi!"

"Kami akan melindungimu, Tung-hai-liong,” bujuk Si Kedok Hitam.
"Tidak, sekali lagi tidak! Kami mau bekerja sama, tapi aku bukan pembunuh bayaran, apa lagi membunuh pangeran! Aku mau saja bertempur, memimpin pasukan dan anak-anak buahku, bukan menyelinap seperti maling untuk melakukan pembunuhan gelap."
"Tung-hai-liong, kalau engkau ingin bekerja sama dengan kami, kalau kelak ingin menjadi raja muda, haruslah taat kepada kami dan membuktikan kesetiaanmu."
"Hemmm, sejak kecil aku tidak pernah mentaati perintah siapa pun juga! Aku hanya mau bekerja sama, bukan hendak menghambakan diri kepadamu. Sudahlah, agaknya di antara kita tidak ada kecocokkan, lebih baik kami pergi saja. Maniyoko, mari kita pergi!" Datuk itu sudah marah sekali.
"Tunggu dulu, Tung-hai-liong! Kami kira kalian takkan dapat pergi begitu saja, karena mau tidak mau kalian harus melaksanakan perintah kami! Kalian tidak dapat menolak lagi."

"Hemm, Kedok Hitam, apa maksud ucapanmu itu?" Ouwyang Cin membentak, kini tidak mau lagi menyebut Yang Mulia.
"Lihatlah sendiri!!" Si Kedok Hitam bangkit, diikuti belasan orang pembantunya, kemudian memberi isyarat kepada Ouwyang Cin dan Maniyoko supaya mengikuti mereka. Setelah tiba di depan kamar perahu paling ujung, Si Kedok Hitam memberi isyarat kepada penjaga untuk membuka daun pintunya.
"Lihatlah, Tung-hai-liong, kalau engkau dan muridmu menolak permintaan kami, aku akan menyuruh orang-orangku agar menghina dan menyiksa puterimu sampai mati di hadapan matamu!"

Mata Ouwyang Cin dan Maniyoko terbelalak melihat Ouwyang Kim rebah telentang dalam keadaan kaki tangannya terbelenggu dan tubuhnya terikat pada sebuah dipan.

"Ayah, suheng, jangan pedulikan aku! Serang saja, aku tidak takut mati. Lebih baik mati dari pada menyerah!" Ouwyang Kim berteriak-teriak, namun gadis ini tidak dapat meronta, hanya mampu menoleh ke arah ayahnya karena tubuhnya lemas tertotok dan terbelenggu kuat-kuat.

Tung-ha-liong Ouwyang Cin marah bukan kepalang. Sungguh tak pernah disangkanya dia akan melihat puterinya tertawan oleh gerombolan ini, puterinya yang disangkanya berada di rumah bersama ibunya. 

"Kedok Hitam, bebaskan puteriku!" bentaknya dengan suara menggereng seperti seekor binatang liar.
"Ha-ha-ha, Tung-hai-liong, lebih baik engkau memenuhi permintaan kami dan kita menjadi sekutu, puterimu akan kubebaskan."

Pada saat itu pula terdengar suara keras, perahu terguncang dan nampak api bernyala di ujung belakang perahu besar itu. Ternyata ada sebuah balok besar yang agaknya diikat kain yang basah dengan minyak bakar, sudah melayang dan jatuh ke sana, lalu ada yang membakarnya sehingga di tempat itu berkobar api yang besar. 

Tentu saja semua orang menjadi terkejut dan saat itu cepat digunakan oleh Tung-hai-liong Ouwyang Cin dan Maniyoko untuk mencabut senjata lantas mengamuk. Si Kedok Hitam telah menggunakan pedang pendeknya untuk menghadapi Tung-hai-liong yang juga telah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilauan menyilaukan mata.

"Jaga tawanan!" Si Kedok Hitam masih sempat berteriak sebelum dia sibuk menghadapi datuk timur yang lihai sekali itu.

Dua orang tokoh besar ini bertanding dan keduanya memang sama hebatnya, sedangkan Maniyoko agak repot dikeroyok banyak anak buah Si Kedok Hitam. Bahkan Ouwyang Cin juga dikeroyok sehingga datuk ini tidak sempat menolong puterinya yang terbelenggu di atas dipan dalam kamar itu.

Sesosok bayangan berkelebat lalu merobohkan empat orang penjaga yang menghadang di depan pintu kamar tahanan. Entah bagaimana, tahu-tahu empat orang itu terpelanting ke kanan kiri dan bayangan itu menerobos masuk ke dalam kamar.

"Sin Wan...…..!” Gadis itu berseru girang.
"Akim, cepat bantu ayahmu," kata Sin Wan yang menggunakan pedang tumpulnya untuk membabat putus semua belenggu, kemudian membebaskan totokan di tubuh Akim yang segera dapat bergerak kembali. "Nih, pedangmu!"

Melihat pemuda yang dicintanya itu membebaskannya, bahkan juga telah mengembalikan pedangnya, dan dia pun maklum bahwa Sin Wan pula yang menimbulkan kebakaran pada perahu, Akim lalu merangkul dan menciumnya sehingga membuat Sin Wan gelagapan.

"Sekarang engkau yang menyelamatkan aku dan ayah," bisik Akim.

Dia segera melepaskan rangkulannya dan tubuhnya sudah berkelebat keluar, lalu dia pun menyerang Si kedok Hitam membantu ayahnya. Sin Wan juga berkelebat keluar dan dia segera dikepung dan dikeroyok. Akan tetapi Sin Wan merobohkan empat orang lagi lalu berteriak,

"Akim, cepat kau ajak ayah dan suhengmu lari, perahu ini segera akan terbakar habis dan tenggelam!"

Mendengar ini Tung-hai-liong Ouwyang Cin beserta puterinya memutar pedang, membuat para pengeroyok mundur, kemudian mereka meneriaki Maniyoko agar melarikan diri pula. Mereka bertiga segera meloncat keluar dari perahu yang masih terbakar hebat, karena usaha pemadaman dari anak buah Si Kedok Hitam tidak berhasil sama sekali.

Tung-hai-liong dan puterinya, juga muridnya, adalah orang-orang yang sangat ahli dalam ilmu renang. Mereka memang tinggal di dekat lautan dan sebagai datuk para bajak laut, tentu saja Ouwyang Cin sangat menguasai ilmu dalam air yang diajarkannya pula kepada puterinya dan muridnya. Maka, begitu tubuh mereka jatuh ke air, mereka lalu menyelam dan segera lenyap.

Si Kedok Hitam juga tidak mau tinggal lebih lama di atas perahu yang terbakar itu. "Bunuh jahanam busuk itu!" teriaknya berulang-ulang melihat Sin Wan dikeroyok anak buahnya.

Dia sendiri lalu meloncat keluar dari perahu besar, hinggap di atas perahu kecil yang telah dipersiapkan anak buahnya, lantas perahu itu pun didayung cepat meninggalkan perahu besar yang masih berkobar.

Sin Wan terpaksa berloncatan ke sana-sini menghadapi pengeroyokan belasan orang dan amukan api. Ia tidak bisa meniru apa yang dilakukan Akim dan ayahnya. Kepandaiannya di air hanya sekedar dapat mencegah tubuhnya tenggelam saja. Itu pun hanya di air yang tenang. Membayangkan terjun ke air sungai yang arusnya kuat dan amat dalam itu, dia sudah merasa ngeri, apa lagi harus meloncat ke sana! Bagaimana pun juga hatinya sudah merasa lega karena dia dapat menyelamatkan Akim. 

Malam itu dengan susah payah dia mencari-cari Akim, menyewa sebuah perahu lantas mencari di sepanjang kedua tepi sungai. Akhirnya, saat melihat perahu besar itu berlabuh di tempat sunyi, timbul kecurigaannya dan dia membayar tukang perahu yang ketakutan, lalu meninggalkan perahu dan bergantung pada rantai jangkar perahu besar, merayap ke atas.

Memang dia sudah menyiapkan segalanya ketika menyewa perahu. Sebuah balok besar yang tadinya disediakan untuk menolongnya kalau-kalau terpaksa harus meloncat ke air, sekarang dia gunakan untuk membakar perahu dengan bantuan kain dan minyak bakar yang didapatnya dari tukang perahu.

"Trang-trang-trangg...!"

Tiga batang golok para pengeroyok yang menyambar kepadanya dari tiga penjuru dapat ditangkisnya sehingga patah-patah. Akan tetapi belasan orang itu agaknya sangat taat kepada perintah Si Kedok Hitam, yaitu agar mereka membunuh Sin Wan, maka mereka segera mengeroyok lebih ketat lagi.

Tiba-tiba saja dua orang roboh ketika ditampar oleh tangan Akim yang basah. Gadis itu muncul secara tiba-tiba, mengamuk dan menghampiri Sin Wan lalu berteriak, "Sin Wan, apa kau ingin menjadi sate bakar? Hayo pergi!"

Akan tetapi tentu saja Sin Wan tidak berani. "Aku... aku tidak pandai renang...," katanya.

Akim tidak peduli, menyambar lengan Sin Wan dan menarik tubuh pemuda itu, diajaknya melompat ke air. Sin Wan cepat menyimpan pedangnya lantas menutup kedua matanya ketika tubuhnya melayang dari atas perahu.

"Byuurrrrr...!"

Dia gelagapan, kedua kakinya menendang-nendang dan tubuhnya dapat timbul. Sebuah tangan yang kuat menangkap punggung bajunya dan dia pun diseret ke atas permukaan air. Kiranya yang mencengkeram dan menariknya adalah Akim.

Sin Wan kagum bukan main melihat dalam keremangan cuaca betapa gadis itu berenang seperti ikan saja, sama sekali tidak nampak kesulitan biar pun sebelah tangannya sedang mencengkeram baju di punggungnya.

Akhirnya Akim dapat menangkap pinggiran sebuah perahu kecil yang terapung lepas, dan membantu Sin Wan naik ke atas perahu kecil. Perahu itu hanyut terbawa air dan mereka bersimpuh di perahu, terengah-engah dan basah kuyup. Akan tetapi ketika mereka saling pandang di bawah sinar bulan sepotong, mereka saling tatap kemudian keduanya tertawa melihat betapa muka dan pakaian mereka basah kuyup, tertawa selepas mungkin karena perasaan lega dan bahagia telah dapat terlepas dari bahaya maut! Dan Akim menubruk, merangkul dan menciumi muka Sin Wan yang basah kuyup, membuat pemuda itu untuk ke dua kalinya gelagapan seperti dibenamkan ke dalam air.

"Sin Wan, engkau sudah menyelamatkan aku, ayah dan suheng. Aihh, aku cinta padamu, Sin Wan, aku cinta padamu dan aku sangat bahagia...” Dengan suara mengandung isak seperti menangis Akim merapatkan tubuhnya dan mendekap sehingga mukanya merapat pada dada Sin Wan.

Celaka, pikir Sin Wan yang teringat akan pengalamannya dengan Lili dan dengan Ci Hwa. Apakah aku harus selalu mengalami kesalah pahaman cinta semacam ini yang akhirnya hanya akan menyiksa? Dalam keadaan seperti inilah timbulnya kesalah pahaman antara dia dan Lili, antara dia dan Ci Hwa.

Memang membutuhkan kekerasan hati untuk menyangkal balasan cinta terhadap seorang gadis seperti Akim, atau seperti Lili dan Ci Hwa. Tetapi dia tidak menghendaki terulangnya kembali peristiwa salah paham karena cinta itu, tidak ingin melihat kesalah pahaman Akim berlarut-larut.

Dengan lembut tapi kuat dia mendorong kedua pundak gadis itu dan menahannya sejauh kedua lengannya dilempangkan. Merasa gerakan ini Akim mengangkat muka memandang penuh perhatian. Kebetulan udara amat jernih sementara bulan sepotong menyinari muka mereka berdua.

"Akim, maafkan aku. Sebaiknya kalau saat ini juga aku membuat pengakuan agar engkau menyadari kesalah pahaman ini. Kesalah pahaman tentang perasaan kita berdua...”
"Sin Wan, apa maksudmu? Aku cinta padamu, dan engkau pun cinta kepadaku, bukan? Kesalah pahaman apa lagi?"
"Akim, ingat. Belum pernah aku menyatakan cintaku kepadamu."
"Aihh...?! Bukankah engkau cinta padaku, Sin Wan. Engkau bilang bahwa engkau kagum dan suka kepadaku, bukan?"
"Memang, sampai sekarang aku kagum dan suka kepadamu, akan tetapi itu bukan cinta, Akim. Aku suka kepadamu sebagai seorang sahabat, dan agar kesalah pahaman ini tidak sampai berlarut, terus terang saja kuakui bahwa aku sudah mencinta seorang gadis lain, Akim."

Wajah yang masih basah itu berubah pucat sekali, lalu merah dan sampai lama Akim tak mampu mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar suaranya lirih, "Lili...? Tetapi kau bilang tidak mencintanya...”

"Memang bukan Lili. Aku suka kepada Lili sebagai seorang sahabat, seperti aku pun suka kepadamu, tapi aku telah mencinta seorang gadis lain, jauh sebelum aku mengenalmu...”
"Siapakah gadis itu?"
"Dia adalah sumoi-ku sendiri. Maafkan, Akim, bukan maksudku hendak menyinggung dan mengecewakan hatimu," kata Sin Wan melihat betapa wajah yang tadinya cantik manis itu kini berubah muram.

Akan tetapi Akim telah bangkit berdiri. "Kau... kau… siapa kecewa? Persetan denganmu, Sin Wan!" Dan gadis itu pun lalu mendorong Sin Wan yang sama sekali tidak menduga, membuat pemuda itu terdorong dan terjengkang keluar dari dalam perahu kecil.

"Byuurrrrr...!"

Sin Wan jatuh ke air. Ketika dia menggunakan tangan dan kaki untuk timbul, dia melihat perahu itu sudah didayung cepat oleh Akim mempergunakan tangannya karena memang perahu itu tidak mempunyai dayung.

"Akim, tunggu...!" Dia berteriak akan tetapi gadis itu tidak menghiraukannya.

Sin Wan gelagapan terseret arus air. Pemuda ini berusaha sekuat tenaga untuk melawan arus agar tidak tenggelam. Ketika dia melihat sepotong kayu sebesar pahanya dan cukup panjang, dia pun menyambar kayu itu lalu bergantung pada kayu, terpaksa membiarkan dirinya hanyut.

Pada waktu matahari telah muncul di permukaan air sungai sebelah timur, Sin Wan masih hanyut perlahan-lahan. Dia tidak berani melepaskan kayunya karena dia berada di tengah sungai, jauh dari daratan. Perlahan-lahan dia menggunakan tangannya untuk mendayung kayu itu ke tepi, akan tetapi selalu disambut arus sungai sehingga kembali ke tengah.

Ketika tiba di sebuah tikungan, arus menyeretnya ke tepi, akan tetapi di bagian yang amat dalam dan yang airnya hanya berputar-putar. Pada saat itu pula muncul dua buah perahu yang didayung oleh masing-masing tiga orang laki-laki. Sesudah dekat, Sin Wan terkejut melihat betapa mereka itu semuanya mengenakan topeng beraneka warna. Anak buah Si Kedok Hitam!

Dia hanya dapat memandang dengan hati khawatir, sambil mencari akal bagaimana dia akan mampu melawan mereka di air, di mana dia sudah tidak berdaya, kedinginan dan kelelahan. Kini dua buah perahu itu mengelilinginya.

"Heii, lihat, dia memang pemuda yang dimaksudkan Yang Mulia. Hayo tangkap dia!"
"Kita bunuh dia! Dia sudah hampir mati lemas!"

Sin Wan sudah merasa girang sekali. Harapan satu-satunya adalah agar perahu-perahu itu, atau sebuah di antara mereka, mendekat dan kalau dia berhasil naik ke atas perahu, dia pasti akan dapat mengatasi enam orang itu.

"Heiii, tahan, jangan kalian mendekat!" teriak seorang di antara enam orang itu. "Jauhkan perahu dan jangan sampai dia dapat mencapai perahu kita. Akan berbahaya kalau begitu. Kita serang dia selagi dia tidak berdaya di air!" Kini empat orang berloncatan ke air dan menyelam, sedangkan dua buah perahu itu dikendalikan dua orang di antara mereka.

Sin Wan terkejut bukan main. Matanya liar memandang ke kanan dan kiri karena dia tidak melihat adanya empat orang yang tadi meloncat ke dalam air. Tiba-tiba saja dia merasa betapa kedua kakinya dipegang oleh tangan-tangan dari bawah permukaan air. Dia cepat menggerakkan kedua kakinya untuk melepaskan kedua kaki itu dari cengkeraman.

Akan tetapi di dalam air gerakannya lemah dan tenaganya seperti hilang. Walau pun dia meronta-ronta, tetap saja kedua kakinya dipegang banyak tangan dan sekarang tubuhnya ditarik ke bawah!

Mati-matian Sin Wan menggunakan lengan kanan memeluk kayu pengapung, dan tangan kirinya berusaha meraih ke bawah untuk menangkap atau memukul para pengeroyoknya, namun tangannya tidak sampai ke bawah. Dia hanya bisa meronta-ronta dan menggerak-gerakkan kedua kakinya.

Tarikan dari bawah itu terlampau kuat, dilakukan empat orang yang sudah berpengalaman dan ahli bermain di air, maka akhirnya tubuh Sin Wan tertarik ke dalam air bersama kayu yang masih dirangkulnya. Dia gelagapan, namun berhasil mendorongkan kedua kakinya sekuat tenaga ke bawah sehingga tubuhnya kini dapat dapat timbul kembali.

Dia megap-megap dan meronta-ronta karena kembali para musuh di bawah menarik-narik kedua kakinya. Ia pun maklum bahwa dia berada dalam ancaman bahaya. Dia tentu akan tertawan atau terbunuh, tanpa berdaya untuk membela diri sebaiknya.

Sudah empat kali Sin Wan terseret ke bawah permukaan air hingga gelagapan dan minum banyak air. Dia sudah lemas ketika berhasil timbul kembali setelah meronta sekuat tenaga di dalam air.

Pada saat yang sangat gawat itu tiba-tiba nampak sebuah perahu kecil meluncur datang, kemudian sebatang bambu panjang yang dipergunakan orang di dalam perahu itu untuk menggerakkan perahunya, dua kali menyambar. Dua orang penumpang perahu pertama berteriak, kemudian terpelanting ke dalam air. Si penunggang perahu itu lantas meloncat keluar dari perahunya dan bagaikan seekor ikan hiu dia pun menyelam.

Sin Wan hanya melihat betapa si penunggang perahu itu merobohkan dua orang dengan sebatang bambu, lantas melihat orang itu melompat ke air. Dia tidak dapat melihat jelas siapa orang itu dan apakah maunya, karena dia sendiri sudah lemas dan hampir seluruh perhatiannya dia curahkan ke bawah, ke arah empat orang lawan yang masih memegangi kedua kakinya dan berusaha menenggelamkannya.

Mendadak Sin Wan merasa betapa terjadi gerakan-gerakan kuat di bawah, lantas tangan-tangan yang tadi memegangi kedua kakinya menjadi kacau. Kemudian, satu demi satu, delapan buah tangan itu melepaskan kedua kakinya. Dia bebas! Kemudian muncul orang tadi dan dia melihat tubuh enam orang itu terseret air. Tanpa mengeluarkan suara, orang yang telah menolongnya itu sudah mencengkeram punggung bajunya dan menariknya ke atas perahu yang masih terapung dan berputar di situ. Dalam keadaan setengah pingsan, dengan perut membesar penuh air, Sin Wan diangkat dan dilempar ke dalam perahu.

Orang itu lalu naik ke perahu, menelungkupkan tubuh Sin Wan di perahu itu, kemudian menduduki punggung Sin Wan dan menghimpit-himpit perutnya sehingga air dari di dalam perut Sin Wan keluar dari mulutnya seperti dituangkan!

Setelah perut Sin Wan mengempis, pemuda ini mengeluh. Karena orang itu sudah bangkit dari punggungnya yang tadi diduduki, dia pun merangkak dan bangkit duduk. Sesudah dia menoleh dan memandang, kiranya dia berhadapan dengan Akim!

"Kau...?" katanya lemah dan mengguncang kepalanya karena kepala itu masih berdenyut-denyut pening.
"Ya, aku! Engkau mau berkata apa sekarang?" kata Akim dengan sikap menantang dan gadis ini mendayung perahu ke arah selatan, ke tepi dari mana tadi mereka datang.

Sin Wan menarik napas panjang, kemudian menghimpun hawa murni untuk menyehatkan kembali tubuhnya. Peningnya lenyap dan tenaganya mulai pulih.

"Apa yang dapat kukatakan, Akim? Engkau yang medorong aku ke dalam air sehingga aku hampir mati karenanya, kemudian engkau pula yang menyelamatkan aku dari tangan mereka. Aku tidak mengerti akan sikapmu ini, Akim."
"Huh, engkau memang laki-laki yang tolol, bagaimana dapat mengerti?" 

Gadis itu nampak marah-marah dan mendayung perahu sekuat tenaga. Perahu meluncur cepat sekali dan melihat gadis itu marah-marah, Sin Wan tidak berani mengeluarkan kata-kata, khawatir membuat gadis itu menjadi semakin marah. Dia lantas mengambil dayung yang terdapat di dalam perahu dan membantu gadis itu mendayung perahu. Dan ketika dia teringat akan enam orang tadi, dia pun memberanikan diri bertanya, suaranya halus dan tidak mengandung teguran karena dia tidak ingin menyinggung lagi hati gadis itu.

"Akim, kau bunuhkah mereka tadi?"
"Hemm, aku pukul mereka, entah mampus entah pingsan aku tidak peduli!" kata gadis itu ketus sambil terus mendayung.

Sin Wan juga memperkuat gerakan dayungnya sehingga sebentar saja perahu itu sudah tiba di tepi. Akim meloncat ke darat, disusul Sin Wan. Mereka berdiri berhadapan.

"Akim, maafkan kalau aku menyinggung perasaanmu dan membuat hatimu menjadi tidak senang. Dan terima kasih atas pertolonganmu tadi."
"Huhh! Kau laki-laki bodoh! Aku.. aku... benci padamu!" Dan gadis itu lalu berkelebat pergi meninggalkan suara isak seperti menangis.

Sampai beberapa lamanya Sin Wan berdiri seperti patung. Betapa persisnya sikap Akim dengan sikap Lili. Tadinya menyatakan cinta dengan terus terang, kemudian cinta mereka berubah pernyataan benci! Cinta seorang gadis memang sangat aneh dan dia tetap tidak mengerti. Kui Siang sendiri pun tadinya sudah saling mencinta dengan dia, tetapi akhirnya gadis itu pun menjauhkan diri dan membencinya! 

Haruskah semua cinta seorang wanita berakhir dengan kebencian? Dia benar-benar tidak mengerti. Ia sendiri hanya merasa kasihan kepada Lili, kepada Ci Hwa dan kepada Akim. Juga dia merasa kasihan kepada Kui Siang, rasa iba yang bercampur dengan rasa rindu dan duka.

Ketika teringat akan tugasnya, dia segera sadar dari lamunannya dan cepat meninggalkan tempat itu. Dia masih merasa penasaran kepada Jenderal Yauw Ti yang telah menangkap dan menahannya. Jenderal itu amat membencinya dan sungguh merupakan orang yang keras hati, juga tidak bijaksana. Meski pun Jenderal itu membencinya karena dia seorang Uighur, namun setidaknya jenderal itu harus ingat bahwa dia adalah utusan kaisar yang membawa leng-ki atau bendera tanda kekuasaan dari kaisar!

Tiba-tiba dia mendengar suara ribut-ribut di depan, maka cepat dia berlari menghampiri. Dia melihat tiga buah kereta berhenti dan banyak orang yang berkerumun, juga terdengar ribut-ribut suara orang yang marah-marah. Di antara mereka banyak pula terdapat gadis-gadis cantik dan bau harum tercium olehnya dari jarak yang cukup jauh itu.

Dia merasa heran sekali, lantas mengintai sambil menyelinap mendekati. Kini dia melihat betapa seorang laki-laki berkedok biru sedang mencengkeram pundak seorang setengah tua yang agaknya merupakan pemimpin rombongan tiga buah kereta itu, dan si kedok biru marah-marah. Dia mengguncang laki-laki setengah tua itu dan menghardik.

"Engkau tinggal menerima saja, tidak usah banyak bertanya atau akan kubunuhi semua rombongan ini! Aku hanya titip tiga orang ini agar ikut dalam rombongan penabuh musik, dan engkau berani menolak?"

Pria setengah tua itu nampak ketakutan, akan tetapi dia pun kukuh menolak. "Bagaimana kami berani menerima penyusupan orang luar? Kami dipercaya oleh para penguasa, jika sampai ketahuan tentu kami akan celaka."

"Itu kalau ketahuan! Kalau tidak, tentu tak apa-apa. Akan tetapi sekarang, ketahuan atau tidak, kalau engkau menolak, akan kubunuh kalian semua! Nah, pilih mana?"

Laki-laki setengah tua itu nampak kebingungan. Dia memandang kepada si topeng biru dan tiga orang laki-laki tinggi besar yang berwajah bengis itu, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Kemudian dia menengok dan memandang kepada anak buahnya yang terdiri dari delapan orang laki-laki pemain musik dan lima belas orang gadis cantik penyanyi dan penari, seperti ingin minta pendapat mereka.

Dari rombongan penari wanita yang cantik-cantik dengan gincu berwarna menyolok dan bedak tebal, muncul seorang gadis yang bertubuh ramping dan kini dia melangkah maju, kemudian sekali tangannya bergerak, pegangan orang bertopeng pada pundak pemimpin rombongan kesenian itu terlepas.

"Jahanam busuk! Beraninya engkau mengancam orang di tengah perjalanan? Engkau ini perampok busuk, pengecut besar. Buka kedokmu kalau memang engkau berani! Apa bila engkau tidak cepat-cepat pergi, maka terpaksa aku akan menghajar kalian berempat!"

Mendengar suara itu Sin Wan menjadi terkejut dan jantungnya berdebar. Lili! Wajah gadis itu dirias sedemikian rupa seperti para penari lain sehingga dia tidak dapat mengenalnya, akan tetapi suara itu! Suara yang bisik-bisik basah, suara khas Lili!

Si Kedok Biru marah bukan main, demikian pula tiga orang lelaki tinggi besar yang akan diselundupkan ke dalam rombongan itu. Mereka berempat sama sekali tidak menyangka bahwa ada seorang gadis penari yang akan berani bersikap seperti itu kepada mereka.

"Engkau sudah bosan hidup!" bentak Si Topeng Biru dan dia pun menggerakkan tangan kanan menampar ke arah kepala Lili.
"Huhh! Kalian yang sudah bosan hidup!" kata gadis itu sambil tersenyum mengejek dan mendengus, suara dengusan yang sudah dikenal baik oleh Sin Wan.

Dari tempat pengintaiannya dia dapat membayangkan betapa kalau sudah mengeluarkan suara mendengus seperti itu, cuping hidung Lili pasti kembang kempis dengan lucunya. Dan senyumnya pasti menimbulkan lesung pipit yang amat manis, yang sekarang tentu saja tertutup oleh bedak tebal yang membuat kulit mukanya menjadi kaku. 

Si Kedok Biru itu benar-benar mencari penyakit, pikir Sin Wan sambil tersenyum, namun diam-diam dia waspada dan siap membantu kalau sampai gadis itu terancam bahaya.

Melihat tamparan itu Lili tidak mengelak, melainkan mengangkat tangan kanannya untuk menyambut sambil mengerahkan tenaganya. 

"Dukkk!"

Akibat pertemuan kedua tangan itu, Si Kedok Biru terhuyung ke belakang dan Lili berdiri tertawa sambil bertolak pinggang, lalu dengan telunjuk kirinya memberi isyarat untuk maju kepada tiga orang tinggi besar anak buah Si Kedok Biru yang hendak diselundupkan itu. Sikapnya amat menantang dan mengejek sekali, telunjuknya digerak-gerakkan menyuruh mereka maju.

Dengan geram tiga orang itu mencabut senjata pedang yang mereka sembunyikan di balik jubah mereka lalu menyerang Lili. Akan tetapi gadis ini sudah siap. Dengan gerakan yang sangat lincah dan lucu, dengan tubuh yang ramping itu berlenggang-lenggok seperti tubuh ular, pinggulnya yang bulat itu bergoyang, maka semua tusukan dan bacokan tiga batang pedang itu berhasil dia hindarkan. Gerakannya nampak lucu dan aneh, akan tetapi semua serangan lawan luput. Begitu tubuhnya menyusup ke depan dan kaki tangannya bergerak, tiga orang itu langsung terpental seperti ditiup badai! 

Mereka menjadi penasaran lantas menerjang lagi, akan tetapi sekali ini Lili tidak memberi ampun lagi. Tubuhnya seperti menyelinap di antara sinar golok, lalu terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan ketika dia telah membagi-bagi tamparan yang cepatnya bagai patukan ular namun yang datangnya sangat keras karena mengandung tenaga sinkang sehingga tiga orang itu kini terpelanting keras dan terbanting sampai terguling-guling!

Si Kedok Biru menjadi semakin marah. Dia pun segera mencabut pedangnya dan begitu dia bergerak memainkan pedangnya, Lili terkejut sekali karena lawan ini mempunyai ilmu pedang yang cukup lihai. Maka dia pun cepat mencabut pedang yang disembunyikan di balik bajunya dan nampaklah sinar putih bergulung-gulung. Itulah Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) yang amat ampuh.

Si Kedok Biru juga terkejut menyaksikan kehebatan sinar pedang yang bergulung-gulung itu. Dia menyerang dengan pedangnya yang disambut oleh gulungan sinar putih sehingga terjadilah serang menyerang yang cukup hebat. Namun, belum sampai sepuluh jurus, Si Kedok Biru maklum bahwa dara ini memang lihai bukan main dan tingkat ilmu pedangnya jauh lebih tinggi darinya.

"Tranggg...!"

Hampir saja tangannya yang memegang pedang terbabat jika dia tidak cepat melepaskan pedangnya yang terpukul jatuh. Dia pun melarikan diri, mengikuti tiga orang anak buahnya yang sudah lari lebih dahulu!

"Pengecut…!" Lili berseru namun dia tidak mengejar karena dia tidak mau meninggalkan rombongan pemusik itu.

Si Kedok Biru melarikan diri sambil berloncatan secepat dan selebar mungkin agar segera meninggalkan tempat yang berbahaya itu dan menjauhkan diri dari gadis yang membuat hatinya merasa ngeri itu. Namun tiba-tiba ada sebatang kaki yang panjang terjulur keluar dari balik semak-semak dan tanpa dapat dihindarkan lagi, Si Kedok Biru jatuh tersungkur!

Dia marah sekali. Dia berani menghadapi siapa pun juga kecuali terhadap dara cantik tadi. Akan tetapi, sesudah dia bangkit dan melihat siapa orangnya yang menjegalnya, melihat wajah Sin Wan, mata di balik kedok itu langsung terbelalak.

"Kau....!” Dia pun menggerakkan kaki hendak melarikan diri lebih cepat lagi. Akan tetapi tiba-tiba dia roboh terpelanting dalam keadaan lemas tertotok.

Sin Wan mencengkeram punggung baju Si Kedok Biru, lantas menyeret tubuh yang tinggi kurus itu ke arah rombongan pemusik yang tadi hanya menjadi penonton yang tegang dan ketakutan.

Lili sangat terkejut ketika melihat betapa Si Kedok Biru itu ditawan oleh seorang pemuda yang bukan lain adalah Sin Wan! Akan tetapi dia teringat bahwa dia dalam penyamaran sebagai seorang anggota penari, maka dia pura-pura tidak mengenalnya.

Melihat sikap Lili, Sin Wan tersenyum. Dia tahu bahwa Lili hendak mengelabuinya dengan mengandalkan bedak dan gincu tebal yang membuat wajahnya mirip seperti anak wayang sehingga tiada bedanya dengan para penari lain. Kalau tadi tidak mengenal suara Lili, dia sendiri tentu tidak akan tahu bahwa gadis ini adalah Lili.

Sin Wan melepaskan tubuh yang lemas itu ke depan kaki Lili. Tubuh itu roboh telentang dan tidak mampu bergerak, hanya mata di balik kedok itu nampak ketakutan. Sejenak Lili dan Sin Wan berhadapan dan saling pandang, keduanya pura-pura tidak saling mengenal!

Karena setelah melepaskan Si Kedok Biru itu Sin Wan diam saja dan hanya saling tatap dengannya, Lili mengerutkan alisnya dan bertanya, suaranya sungguh jauh berbeda dari tadi. Kini suaranya mendadak menjadi kecil dipaksakan, tidak berbisik-bisik basah seperti suara aslinya.

"Kenapa engkau menyeret dia ke sini?"

Diam-diam Sin Wan merasa geli sekali, akan tetapi menahan diri agar tidak tertawa. Dia mengikuti permainan sandiwara Lili itu, maka dia pun membungkuk. "Nona, engkau yang mengalahkannya, maka engkau pula yang berhak menentukan apa yang harus dilakukan terhadap orang berkedok ini."

Lili mengira bahwa Sin Wan tidak mengenalnya. Untung pemuda itu baru muncul, kalau sudah sejak tadi-tadi, tentu akan mengenal Pek-coa-kiam yang kini dia sembunyikan lagi di balik bajunya, pikirnya.

Tanpa menjawab Lili menggunakan tangan kiri merenggut lepas kedok biru yang menutupi muka orang itu. Lili mengerutkan alisnya.

"Hemmm, siapakah engkau dan apa maksudmu hendak menyelundupkan orang ke dalam rombongan kami? Siapa yang menyuruhmu?"

Orang itu tidak menjawab, hanya mengerutkan alisnya sambil mengatupkan bibirnya. 

"Nona, dia adalah Bu-tek Kiam-mo, seorang di antara Bu-tek Cap-sha-kwi yang terkenal jahat," kata Sin Wan.
"Hemmm, ternyata penjahat kecil yang hanya besar namanya saja itu," kata Lili. Dia lalu memberi isyarat kepada seorang laki-laki pendek yang ikut di dalam rombongan penabuh gamelan. "Kau bawa dia pergi dan tahan dia, jangan sampai lari."
"Baik, nona," kata si pendek, lantas sekali menggerakkan tangan kiri, si pendek ini sudah mencengkeram punggung baju orang itu dan memanggul tubuh yang lemas sedemikian mudahnya, seakan tubuh yang tinggi kurus itu amat ringan baginya, kemudian dia berlari cepat sekali dan segera lenyap dari situ.
"Wah, kebetulan sekali. Sekarang rombongannya kurang satu orang, biar aku saja yang menggantikan si pendek tadi. Aku pun ingin menonton keramaian!" kata Sin Wan.

Lili diam saja, hanya memutar tubuh memandang kepada pria setengah tua yang menjadi pemimpin rombongan. Pria itu menghampiri Sin Wan, lalu dengan sikap hormat berkata,

"Maafkan kami, sicu (orang gagah). Kami tidak berani menerima sicu sebab kami sedang ditugaskan menghibur orang orang penting."
"Hemm, begitukah? Lalu mengapa di sini ada nona ini yang jelas bukan penari melainkan seorang yang menyusup dan menyamar sebagai anggota rombonganmu?" tanya Sin Wan sambil tersenyum mengejek. "Kalau aku melaporkan kepada kedua orang pangeran yang mengadakan pesta itu, bukankah engkau akan bersalah besar?"

Wajah pemimpin rombongan itu nampak ketakutan. Dia menoleh kepada Lili yang terlihat tenang dan acuh saja. "Akan tetapi, sicu. Nona ini membawa surat perintah dari Jenderal Besar Shu Ta untuk melindungi mereka!"

"Bagus, dan aku mendapat perintah dari Sribaginda Kaisar sendiri! Apakah engkau masih berani menolak?"

Pemimpin rombongan itu menjadi bingung, kemudian menoleh kembali kepada Lili. Gadis ini juga memandang kepadanya lalu mengangguk.

"Dia boleh menggantikan pembantuku yang tadi membawa pergi Bu-tek Kiam-mo." 

Mendengar ini pemimpin rombongan nampak lega. Dengan demikian gadis perkasa itulah yang akan bertanggung jawab atas masuknya Sin Wan ke dalam rombongan itu.

Agar dirinya tidak dikenal, Sin Wan lalu minta kepada kepala rombongan agar mukanya dirias dan diubah sehingga pihak musuh takkan mengenalnya. Seorang di antara anggota rombongan yang memiliki keahlian merias segera menangani pekerjaan itu dan tidak lama kemudian, Sin Wan sudah menjadi seorang laki-laki setengah tua yang rambutnya penuh uban, berjenggot dan berkumis.....!

Selanjutnya baca
ASMARA SI PEDANG TUMPUL : JILID-11
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger