logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Dewi Sungai Kuning Jilid 04


Thian Hwa tertawa geli, lalu ia menghampiri kudanya dan mengelus-elus kepala kuda itu. Binatang itu meringkik girang karena ia pun masih mengenali kawan seperjalanannya itu. Kemudian Thian Hwa membuka buntalan dan memeriksa isinya. Ternyata pakaian masih lengkap, bahkan bertambah dengan satu stel pakaian hwesio itu. Dengan jijik ia melempar pakaian hwesio itu ke atas tanah dan pada saat itu pula ia melihat sehelai surat melayang keluar dari saku jubah itu.

Surat itu kertasnya berwarna merah dan indah, maka Thian Hwa tertarik akan surat itu. Dipungutnya surat itu, lantas dibukanya. Ternyata itu adalah surat yang ditujukan kepada pangcu atau ketua perkumpulan Lian-bu-pang di kota Twi-lok. Isi surat itu sebagai berikut,

Lian-bu-pangcu yang terhormat,

Pembawa surat ini sangat boleh dipercaya untuk ditugaskan sebagai penghubung dengan Pangeran Leng di kota raja.

Tertanda, Pat-chiu Lo-mo

Thian Hwa memutar otaknya. Ia tidak tertarik sekali akan nama-nama seperti Ketua Lian-bu-pang mau pun Pat-chiu Lo-mo yang ia ingat adalah suhu dari hwesio jahat tadi. Tetapi disebutnya Pangeran Leng di kota raja membuat ia berpikir.

Bukankah ini sebuah kesempatan bagus untuk memudahkan penyelidikannya? Ia hendak menyelidiki para bangsawan di kota raja untuk mencari kedua orang tuanya, dan adanya hubungan dengan seorang pangeran tentu akan sangat menolong usahanya itu. Di dalam surat ini tidak disebut nama, maka apa salahnya kalau ia mewakili hwesio itu?

Dengan hati mantap Thian Hwa menaiki kudanya kemudian membedal binatang itu cepat-cepat kembali ke kampung yang baru saja ditinggalkan. Ia membeli makanan dan mengisi perutnya, lalu minta keterangan di mana letak kota Twi-lok. Bukan main girangnya ketika mendapat keterangan bahwa kota itu justru berdekatan dengan kota raja. Sebab itu tanpa membuang banyak waktu lagi, ia membalapkan kudanya dan melanjutkan perjalanannya.

Beberapa hari kemudian sampailah Thian Hwa di kota Twi-lok, dan mudah sekali baginya untuk mencari gedung perkumpulan Lian-bu-pang karena hampir semua orang mengenal nama ini.

Ketika Thian Hwa tiba di depan pintu gedung itu, ia merasa heran bahwa di dalam gedung sedang berkumpul banyak tamu. Hatinya agak berdebar karena ia merasa khawatir kalau pemalsuannya ini diketahui orang. Tetapi dasar dia memang seorang gadis yang berjiwa besar dan berhati tabah, maka dia pun masuk dengan muka terangkat. Seorang penjaga pintu menyambutnya dengan hormat dan berkata,

“Lihiap, silakan masuk!”

Ternyata ruang dalam gedung itu luas sekali dan beberapa belas orang, di antaranya tiga orang wanita, duduk mengitari meja besar sambil menghadapi hidangan dan arak. Melihat kedatangan Thian Hwa semua orang memandang dengan penuh perhatian.

“Maafkan aku, Cu-wi.” kata Thian Hwa sambil mengangguk sederhana, “Apakah di antara kalian ada terdapat ketua dari Lian-bu-pang?”

Seorang lelaki tinggi kurus kurang lebih berusia empat puluh tahun berdiri menjura. “Nona mencari aku ada keperluan apa?”

Thian Hwa mengeluarkan surat dan berkata, “Aku membawa surat dari Pat-chiu Lo-mo!”

Mendengar ini kagetlah semua orang yang berada di situ. Ketua dari Lian-bu-pang sendiri buru-buru maju lantas memberi hormat. “Maaf, kiranya Lihiap utusan dari Cio-locianpwe? Silakan duduk.”

Setelah memberikan surat, Thian Hwa duduk dan melirik semua orang yang duduk di situ dengan sudut matanya. Mereka semua tampak gagah dan memiliki kepandaian, maka dia semakin berlaku hati-hati.

Setelah membaca habis surat dari Pat-chiu Lo-mo, ketua itu segera tertawa dan kembali menjura kepada Thian Hwa. “Lihiap, maaf kami tidak tahu dan kurang menghormati Lihiap yang datang secara tiba-tiba ini, maka mohon maaf. Aku adalah pangcu dari Lian-bu-pang dan namaku Lauw Cin. Cu-wi sekalian, Nona ini membawa surat dari Cio-locianpwe yang mempercayakannya untuk menjadi penghubung.”

Semua orang terkejut. Seorang bertubuh gemuk segera berdiri dan berkata dengan suara kurang senang. “Pat-chiu Lo-mo sungguh menghina kita! Dia terlalu memandang rendah kita rupanya! Masa ia mengirim seorang nona muda ini untuk menjalankan pekerjaan itu? Apakah ia menganggap kita anak-anak kecil yang tidak becus apa-apa?”

Sambil berkata demikian Si Gemuk itu menatap kepada Thian Hwa dengan mata tajam dan memandang rendah, sedangkan semua orang terdiam mendengar ini. Untuk sesaat suasana menjadi sunyi sekali, tak seorang pun berani mengeluarkan suara dan Si Gemuk lalu duduk kembali dan mengangkat cawan araknya ke mulut.

Namun pada saat itu pula terdengar suara nyaring dan cawan beling di tangannya sudah pecah menjadi dua! Ketika semua orang melihat, ternyata yang membuat pecah cawan itu adalah sebutir kacang tanah. Mereka terkejut sekali dan cepat memandang ke arah Thian Hwa.

Gadis itu dengan tenangnya sedang makan kacang tanah yang tersedia di atas piring dan agaknya dengan menggunakan jari tangan dia tadi menyentil sebutir kacang tanah untuk memecahkan cawan Si Gemuk yang tadi telah mencelanya!

Si Gemuk tidak melihat bagaimana caranya cawan di tangannya itu tiba-tiba telah pecah. Ia tersenyum dan sambil berdiri dia mengambil secawan arak lain kemudian diangkatnya tinggi-tinggi sambil berkata, “Aku harap Saudara yang tadi membikin pecah cawanku suka mengulangi perbuatannya kembali sehingga kita semua dapat melihatnya, jangan berlaku sembunyi-sembunyi seperti tindakan seorang pengecut!”

Si Gemuk itu ialah seorang yang ahli ilmu golok dan kepandaian silatnya tergolong tinggi juga, maka ia merasa penasaran telah dipermainkan orang. Sekarang ia siap sedia untuk membuat malu orang yang mengganggunya itu. Dia yakin bahwa kini orang takkan mudah begitu saja membuat pecah cawan di tangannya, dan jika orang itu berani mencoba lagi, tentu ia akan dapat mengelak dan orang itu akan mendapat malu.

Tiba-tiba Thian Hwa tertawa nyaring dan sambil memperlihatkan sebutir kacang tanah dia berkata, “Ehh, tuan yang gemuk, datang-datang aku sudah mendengar kata-katamu yang mengejek Pat-chiu Lo-mo dan memandang rendah terhadapku. Aku habiskan perkara itu karena mengingat bahwa kau sedang mabok. Tapi jangan harap kau akan mencegah aku memecahkan setiap cawan arak yang hendak kau minum, karena aku tidak suka melihat kau semakin mabuk lalu bicara tak karuan! Lihat ini!”

Dengan jari telunjuk Thian Hwa menyentil kacang tanah itu yang segera meluncur cepat sehingga tidak terlihat ke arah cawan di tangan Si Gemuk. Si Gemuk itu sudah menduga akan datangnya senjata rahasia yang aneh dan yang cukup berbahaya ini, maka dia cepat menggerakkan tangan yang memegang cawan itu ke bawah.

Dia merasa betapa benda kecil itu menyambar di dekat lengannya tetapi tidak mengenai sasaran! Ia merasa girang sekali dan membuka mulut untuk menertawakan, tetapi pada saat itu juga terdengar suara “prak!” dan cawan di tangannya itu pecah sehingga araknya tumpah membasahi lengan dan tangan kanannya!

Ternyata bahwa Thian Hwa menggunakan dua butir kacang tanah yang dilepas bergiliran. Yang pertama hanya untuk memancing saja dan pada saat Si Gemuk berkelit, ia segera lepaskan pula yang kedua sehingga tepat mengenai sasarannya!

Tentu saja kepandaian ini membuat semua orang merasa kagum. Mereka yang terdiri dari ahli-ahli silat berilmu tinggi maklum bahwa untuk dapat mempergunakan kacang tanah itu memecahkan cawan dengan hanya disentil dengan jari tangan, orang harus mempunyai tenaga lweekang yang sangat tinggi dan latihan yang sempurna.

Mereka tidak tahu bahwa Thian Hwa sering melatih jari telunjuknya dengan menggunakan benda-benda kecil apa pun saja yang disentilkan ke arah ikan-ikan di Sungai Huang-ho. Betapa dalam pun ikan itu berenang, sekali saja terkena benda yang disentilkan dari atas perahu oleh Thian Hwa, maka ikan itu pasti akan mati dan terapung!

Kini Si Gemuk itu tidak dapat menahan marahnya lagi. Dia memang terkenal berangasan dan amat mengagulkan kepandaiannya bermain golok. Memang ia pandai sekali bermain Hui-eng To-hoat, yakni Ilmu Golok Elang Terbang. Goloknya besar dan berat sehingga permainan goloknya yang istimewa itu amat ditakuti orang. Namanya adalah Phang Houw dan dia dijuluki orang Si Golok Elang Terbang.

Kini melihat betapa seorang gadis muda yang masih hijau berani menghinanya demikian rupa di muka orang banyak, dia lantas memukul meja sehingga cawan arak berhamburan kemudian membentak keras dengan kemarahan yang ditahan-tahan.

“Nona, sebagai utusan Pat-chiu Lo-mo seharusnya kau sudah mengenal dan tahu bahwa aku Hui-eng-to bukan orang yang mudah saja menerima hinaan! Tetapi, mengingat nama Pat-chiu Lo-mo dan juga melihat muka para saudara di sini, aku masih mau mengampuni perbuatanmu tadi karena kau masih begini muda dan bodoh. Akan tetapi untuk menerima kau sebagai penghubung seperti yang diusulkan oleh orang tua she Cio itu, sungguh aku masih sangsi! Sekarang kau cabutlah senjatamu dan coba kau layani golokku. Kalau kau sanggup bertahan sampai lima puluh jurus, barulah aku orang she Phang mau menerima engkau sebagai penghubung.”

Sesungguhnya Thian Hwa marah sekali melihat lagak Si Gemuk itu dan kalau menuruti hatinya ingin benar dengan sekali serang ia merobohkan orang angkuh itu. Tetapi karena dia teringat akan kepentingannya sendiri, yaitu untuk menghubungi pangeran dan mencari orang tuanya, maka ia menahan kemarahannya dan segera berdiri sambil menjawab,

“Baik sekali, kawan. Aku pun tak suka menghina orang asalkan jangan mengganggu aku lebih dahulu! Biarlah aku perlihatkan bahwa tidak sia-sia Pat-chiu Lo-mo mempercayaiku. Silakan kau menggunakan golokmu!” Selesai berkata gadis itu lalu maju ke ruang yang luas itu dan mencabut pedangnya.

Phang Houw mencabut goloknya yang lebar, berat dan berkilauan itu, sehingga nampak sangat mengerikan, lalu dengan tindakan bebas dia menghampiri Thian Hwa. Sebelum dia mulai menyerang, dia menjura ke arah tuan rumah dan berkata, “Lauw Pangcu, maafkan aku kalau aku terpaksa menguji Nona ini, karena ini untuk kepentingan urusan kita.”

Lauw Cin berkata tenang. “Memang itu patut sekali, Phang-hiante, asal saja kau berhati-hati dan ingat bahwa Lihiap ini adalah utusan Cio-locianpwe!”

Ucapan ini membuat Thian Hwa merasa heran karena agaknya Iblis Tua Tangan Delapan itu sangat dihormat dan ditakuti.

Kemudian Phang Houw berseru keras. “Nona, kau lihat golokku!”

Golok besar itu segera menyambar sehingga mendatangkan angin. Serangan pertama ini cukup hebat karena tiba-tiba Phang Houw mempergunakan tipu gerakan Elang Terbang Menyambar Ikan. Datangnya serangan sangat keras, dan golok besar itu berputar-putar menebas dari kanan ke kiri ke arah leher Thian Hwa dan ketika gadis itu berkelit mundur, golok itu melayang dari kiri ke kanan berkali-kali dan kini menyabet ke pinggang gadis itu dengan gerakan yang sangat cepat sekali!

Thian Hwa dapat menduga bahwa kalau dia berkelit terus maka golok itu juga terus akan mengejar dan menyerangnya sebab gerakan Elang Terbang Menyambar Ikan ini memang terus menerus bergerak menyerang dari kanan ke kiri dan sebaliknya sehingga golok itu terus menerus diobat-abitkan dengan gerakan cepat dan berbahaya sekali.

Thian Hwa lantas berseru nyaring dan tahu-tahu tubuhnya telah melayang ke atas. Gadis ini mempergunakan gerak tipu Tiang-khing-king-thian atau Pelangi Panjang Melengkung di Langit, menyerang dari atas ke arah ubun-ubun kepala lawannya! Serangan ini betul-betul berbahaya karena bila ujung pedang itu ditangkis maka gerakannya dapat diubah menjadi serangan melintang menyabet leher.

Phang Houw terkejut sekali. Dia meloncat mundur lalu bersamaan menyerang lagi ketika tubuh lawannya yang ringan laksana burung itu telah menginjak tanah. Mereka bertempur lagi dengan hebat.

Sekarang Thian Hwa tidak mau berlaku ragu-ragu. Dia mengeluarkan kepandaiannya dan bersilat dengan ilmu pedang Kwan-im Kiam-hoat. Gerakannya sebentar lemas dan lemah-gemulai, tetapi kadang-kadang berubah ganas dan cepat sekali sehingga setelah mereka bertempur lebih dari lima puluh jurus, Phang Houw mulai merasa kepalanya pening dan tak mampu menyerang lagi, hanya dapat menangkis dan berkelit karena pedang lawannya bagaikan telah berubah menjadi puluhan banyaknya!

Pada suatu saat Phang Houw merasa begitu terdesak sehingga dia menjadi nekad dan mengeluarkan gerakan mengadu jiwa. Ketika dia merasa betapa ujung pedang lawannya mengancam dadanya sebelah kanan, dia barengi menubruk maju dengan goloknya untuk mengadu jiwa dan mati bersama!
Tentu saja Thian Hwa tak sudi melayani kehendak lawannya ini dan segera menggunakan pedangnya menangkis. Karena kali ini kedua senjata digerakkan dengan sekuat tenaga, maka dua tenaga beradu keras sekali dan kesudahannya membuat Phang Houw berteriak kaget karena dia merasa betapa telapak tangannya sakit sekali sehingga tak kuasa lagi mempertahankan goloknya yang terlepas dan terpental ke atas.

Ketika golok yang besar dan amat berat itu meluncur ke bawah dan tepat menuju ke arah di mana Thian Hwa berdiri, dengan tenang sekali gadis itu lalu menggunakan pedangnya menyambut dan memutar pedang itu sedemikian rupa sehingga golok besar itu terputar-putar dengan ujungnya seakan-akan menempel di pedang Thian Hwa!

Pertunjukan ini sungguh hebat dan indah sehingga semua orang menjadi amat kagum dan bertepuk tangan memuji. Bahkan Phang Houw sendiri berdiri bengong karena heran. Thian Hwa mengulur tangan kiri dan menangkap gagang golok lawannya itu, kemudian dengan tersenyum dia mengembalikan golok itu kepada Phang Houw.

Si Gemuk itu kini menjadi tunduk betul, dia menghela napas berulang-ulang dan berkata, “Seumur hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang muda yang selihai kau ini, Nona. Siapakah namamu yang mulia dan siapa pula Suhu-mu yang terhormat?”

Semua orang juga ingin tahu nama dan suhu dari gadis lihai itu, tapi Thian Hwa menjawab sederhana. “Aku bernama Thian Hwa dan orang di sebelah selatan menyebutku Huang-ho Sian-li. Suhu-ku adalah Huang-ho Sui-mo.”

Semua orang belum pernah mendengar nama Huang-ho Sian-li, tapi nama Huang-ho Sui-mo pernah mereka dengar, maka mereka mengangguk-angguk dan menyatakan kagum.

“Memang patut sekali Lihiap diserahi tugas ini,” kata Louw Cin dengan girang.
“Kalau Cu-wi sudah cukup percaya kepadaku, harap urusan ini lekas diterangkan dengan jelas kepadaku, karena sesungguhnya Pat-chiu Lo-mo tak pernah memberi-tahu apa-apa, hanya minta supaya aku datang saja ke sini,” kata Thian Hwa.

Maka Louw Cin segera menerangkan duduknya persoalan. Ternyata bahwa di lingkungan kerajaan kaisar terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan di antara para bangsawan tinggi. Mereka berlomba-lomba untuk merebut hati Kaisar yang sudah tua, dan sementara itu secara diam-diam mereka menggunakan segala daya untuk menyingkirkan bangsawan lain yang dianggap sebagai saingan terbesar.

Di antara pembesar-pembesar ini terdapat seorang pangeran yang bernama Leng Kok Cun. Pangeran ini mempunyai kekuatan dan pengaruh yang besar juga karena dia adalah putera seorang selir yang tercinta. Tetapi pangeran ini mempunyai watak yang buruk dan dia bahkan mengandung niat hendak merampas kedudukan Kaisar jika Kaisar tua itu telah meninggal dunia. Ia telah mengumpulkan banyak ahli-ahli silat berkepandaian tinggi untuk menjadi sahabat dan sekaligus kaki tangannya. Di antaranya adalah Louw Cin yang sudah benar-benar dipercayainya.

Beberapa waktu yang lalu Pangeran Leng minta agar dikirim seorang penghubung yang pandai dan yang datang dari luar kota, karena para bangsawan lain telah menaruh curiga dan tidak baik kalau penghubung yang mendatangi rumah pangeran itu orang-orang yang tinggal di kota raja. Hal ini akan mudah mereka ketahui. Karena inilah maka Louw Cin lalu minta bantuan Pat-chiu Lo-mo yang juga telah terbujuk olehnya untuk mengabdi kepada Pangeran Leng, untuk mengirim seorang yang pandai.

“Dan demikianlah, maka ternyata Cio-locianpwe telah mengirim Lihiap ke sini, yakni untuk membantu Pangeran Leng dan menjalankan perintah-perintah rahasia dari istana. Jika tak salah, Pangeran Leng hendak memberi perintah-perintah kepada para pembantunya di barat dan selatan agar mereka bersiap sedia, maka lebih baik Lihiap segera mendatangi gedungnya dengan membawa surat dari kami.”

Kini mengertilah Thian Hwa bahwa dengan tanpa disengaja ia telah melibatkan diri sendiri dengan urusan negara yang ruwet. Maka segera ia minta surat itu, lalu setelah mendapat petunjuk di mana letak gedung Pangeran Leng, ia segera menuju ke sana.

Gedung pangeran itu ternyata amat besar dan mewah sekali, tetapi terjaga keras. Setelah memberi-tahu bahwa dia datang dari Lian-bu-pang, barulah dia diperkenankan masuk ke dalam sebuah kamar dan menanti di situ. Thian Hwa merasa bahwa dari balik pintu dalam tentu ada mata orang mengintai, tetapi dia pura-pura tidak tahu dan diam saja karena dia dapat menduga bahwa pangeran itu agaknya curiga padanya.

Tidak lama kemudian masuklah seorang lelaki yang berpakaian mewah. Dia berusia lebih kurang empat puluh tahun, mukanya licin dan sepasang matanya yang sipit itu hampir-hampir tertutup. Tubuhnya tinggi kurus dan tampaknya lemah sekali. Inilah Pangeran Leng Kok Cun.

Thian Hwa berdiri dan memberi hormat sepantasnya, kemudian ia menyerahkan surat itu. Sesudah pangeran itu membacanya, dia merasa sangat heran mengapa orang mengirim seorang gadis muda lagi cantik untuk menjadi penghubung? Tapi ketika melihat pedang di punggung Thian Hwa, dapatlah dia menduga bahwa ilmu silat gadis ini tentu hebat, kalau tidak, Louw Cin takkan begitu gila mengirimnya ke situ.

“Nona, sungguh tak kusangka bahwa kau yang semuda ini sudah mempunyai kepandaian tinggi hingga dipercaya oleh Louw Cin. Nona, kau mendapat kamar di bangunan sebelah kiri dan malam nanti akan kuberi tugas pertama padamu. Sekarang beristirahatlah!”

Thian Hwa langsung tidak senang melihat orang ini. Sikapnya demikian memerintah dan tidak mengindahkan orang lain. Gagallah maksudnya hendak mendengar sesuatu tentang orang tuanya dari orang sekaku ini. Maka untuk sementara waktu ia harus menurut saja, dan pergilah ia ke tempat yang disediakan untuknya itu.

Ternyata dia mendapat kamar yang cukup mewah dan menyenangkan. Dengan hati-hati sekali Thian Hwa memeriksa jendela dan pintu kamar itu, tapi ternyata tidak ada sesuatu yang mencurigakan, maka ia beristirahat di atas pembaringan yang indah dan bersih itu.

Malamnya, setelah keadaan di luar gelap, ia dipanggil ke ruang dalam di mana Pangeran Leng telah menantinya.

“Duduklah, Nona. Sebenarnya aku mempunyai sesuatu yang sangat penting dan rahasia untuk disampaikan ke luar kota dan kaulah yang telah dipilih untuk melakukan tugas berat ini. Ketahuilah bahwa banyak sekali orang menghendaki barang yang kuserahkan padamu itu dan mungkin kau akan mendapat rintangan di jalan. Supaya hatiku tenteram dan untuk mengujimu, maka malam ini lebih dulu kau harus melakukan sesuatu untukku. Pergilah ke gedung Pangeran Ciu Kiong di sebelah timur kota. Dia ini adalah musuhku yang paling besar dan kau harus dapat membunuhnya! Kalau bisa malam ini juga!”

Terkejutlah Thian Hwa mendengar ini. Celaka sekali, dia harus terlibat urusan yang kotor dan ruwet. Datang-datang dia disuruh membunuh orang begitu saja! Dan sikap pangeran ini demikian tinggi, seakan-akan ia memang bujangnya yang setiap waktu boleh diperintah sesukanya!

Sebelum dia sempat membantah, tiba-tiba dari atas terdengar seruan orang.
“Thaijin, awas, gadis itu adalah mata-mata musuh!”

Dan berbareng dengan itu, dari atas melayang tiga batang huito atau golok terbang yang langsung menyambar ke arah Thian Hwa!
Gadis itu loncat menyingkir dan tertawa geli. “Sudahlah, kalian orang-orang rendah! Aku tak perlu mencampuri urusanmu yang kotor!” Lalu dia meloncat keluar.
Namun Pangeran Leng sudah berteriak. “Tangkap penjahat!”

Maka para pengawalnya segera maju mengejar. Juga dari luar datang Louw Cin bersama seorang tua bongkok yang wajahnya buruk sekali dan memegang sebatang tongkat, serta di punggungnya yang bongkok tampak tempat golok-golok kecil. Maka tahulah Thian Hwa bahwa yang melepas golok terbang tadi adalah Si Bongkok itu!

“Setan perempuan, berhenti!” bentak Louw Cin yang mencegat di depannya. “Mengakulah terus terang, siapa engkau dan apa kehendakmu memalsukan surat dari Cio-locianpwe?”
“Tadi aku sudah mengaku dan namaku sudah kuterangkan pula. Tentang memalsu, aku tidak memalsu hanya menyampaikan surat yang kutemukan dari seorang maling kecil!”

Tiba-tiba Si Bongkok menuding. “Hemm, jadi kau yang telah melukai muridku?”
Thian Hwa melengak. “Eh, ehh, jadi kau yang disebut Iblis Tua Tangan Delapan? Pantas, pantas...”
Marahlah orang itu. “Kau lancang mulut, rasakan tanganku!”

Kakek bongkok ini maju menyerang dengan tongkatnya. Sambaran tongkatnya demikian hebat sehingga Thian Hwa terkejut sekali karena ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi seorang lawan yang benar-benar perkasa. Dia cepat berkelit dan meloncat mundur sambil mencabut pedangnya. Mereka berdua lalu bertempur seru sekali, ditonton oleh Pangeran Leng dan kawan-kawannya.

Setelah bertempur seratus jurus lebih, diam-diam Thian Hwa mengeluh karena lawannya ini benar-benar hebat dan tangguh. Sebaliknya Pat-chiu Lo-mo juga penasaran dan malu karena selama ini belum pernah ada seorang lawan yang sanggup bertahan melawan dia sampai seratus jurus lebih tanpa dia dapat melukainya sedikit pun.

Sementara itu Louw Cin bersama kawan-kawannya sangat kagum melihat pertempuran itu. Tidak mereka sangka sedikit pun bahwa gadis muda itu demikian pandainya sehingga sanggup menandingi Si Tua Bongkok yang lihai. Pangeran Leng merasa penasaran, lalu berteriak agar orang membantu Si Bongkok itu.

Maka majulah beberapa pahlawan mengeroyok Thian Hwa!

Gadis itu merasa sibuk juga. Sambil berseru nyaring ia menggerakkan pedangnya secara luar biasa sehingga lawan-lawannya terpaksa mundur beberapa tindak. Kesempatan ini ia gunakan untuk meloncat keluar dari kalangan dan berlari cepat! Tiga buah golok terbang yang dilepas oleh Pat-chiu Lo-mo dengan mudah bisa ia tangkis dan kelit tanpa menoleh, kemudian ia menghilang ke dalam gelap.

Pat-chiu Lo-mo merasa sangat penasaran lantas mengejar, juga Louw Cin dan beberapa pengawal yang berkepandaian tinggi ikut pula mengejar. Mereka ini semuanya mempunyai kepandaian lari cepat yang boleh juga sehingga dapat juga mengejar Thian Hwa dari jauh.

Biar pun sebenarnya ginkang gadis itu lebih tinggi, tetapi karena ia belum mengenal jalan dan tempat itu masih asing baginya, ia tidak dapat maju cepat. Ia hanya menuju ke timur karena teringat akan pesan Pangeran Leng padanya untuk membunuh seorang pangeran lain. Kalau Pangeran Leng dan para kaki tangannya jahat, maka Pangeran Cu Kiong yang dimusuhinya itu tentu orang baik. Biasanya, yang dimusuhi oleh orang jahat tentu orang-orang baik dan sebaliknya! Karena inilah maka Thian Hwa berlari ke jurusan timur sambil mencari-cari.

Akhirnya, ia sampai juga ke sebuah gedung yang tinggi dan besar, bahkan lebih tinggi dari pada gedung Pangeran Leng. Inikah gedung Pangeran Cu Kiong itu? Baru saja kakinya menginjak genteng, tiba-tiba di sebelah kirinya berkelebat bayangan putih. Ia mengangkat pedang menyerang ke kiri, tapi bayangan itu demikian gesitnya dan cepat dapat berkelit.

“Sabar, Nona. Aku bukan lawan, tapi kawan. Mari kita hadapi mereka yang mengejarmu!” Bayangan yang berpakaian putih itu lalu berdiri menanti datangnya para pengejar. Ketika Si Bongkok dan Louw Cin tiba di situ, bayangan putih itu menegur.
“Apakah Pangeran Leng sudah tidak tahu adat menyuruh kaki tangannya membikin kotor genteng rumahku?”

Louw Cin terkejut sesudah melihat siapa yang menegur mereka. Dia buru-buru memberi hormat dan berkata, “Mohon beribu maaf, Thaijin. Kami hanya mengejar seorang penjahat perempuan.”

“Jangan kurang ajar! Tidak ada penjahat perempuan di sini, yang ada ialah tamuku ini dan kalian pergilah dari sini. Atau kalian sengaja hendak mengacau?”

Si Bongkok perdengarkan suara menyindir. “Hmm, jadi setan itu telah menjadi kaki tangan Pangeran Cu? Bagus! Mari kita pergi, Louw Cin!” Dan pergilah para pahlawan Pangeran Leng itu.

Si Baju Putih itu lalu berkata kepada Thian Hwa dengan suaranya yang halus dan sopan. “Nona, kau sungguh gagah perkasa sehingga seorang diri saja sanggup membuat pusing Si Iblis Tua Tangan Delapan! Sudilah kau mampir sebentar ke pondokku.”

Kagetlah Thian Hwa mendengar ini. “Apa? Jadi kau adalah... Pangeran Cu Kiong?”

Orang itu menjura dengan hormat dan berkata, “Dugaanmu sungguh tepat, Nona. Marilah kita bicara di bawah.”

Thian Hwa tiak merasa keberatan, bahkan timbul harapan baru dalam hatinya untuk minta bantuan pangeran yang sopan dan halus ini mencari keterangan tentang orang tuanya. Ia lalu ikut meloncat turun.....

Ketika mereka tiba di tempat terang dan saling memandang maka kedua-duanya terkejut dan kagum. Thian Hwa melihat bahwa Si Baju Putih itu, yang sesungguhnya Pangeran Cu Kiong sendiri, ternyata adalah seorang pria muda yang berwajah sangat tampan.

Mukanya bulat putih dengan sepasang mata yang lebar dan terang, dihias sepasang alis mata yang panjang hitam berbentuk golok sehingga paras yang cakap itu tampak gagah sekali. Pakaiannya yang putih itu pinggirnya disulam dengan benang emas indah sekali dan sikap serta gerak gayanya lemah lembut menandakan bahwa dia seorang terpelajar.

Thian Hwa kagum sekali karena meski pun tampaknya demikian sopan santun dan lemah lembut lagi masih muda, namun dari gerakannya ketika mengelit serangannya tadi ia tahu bahwa pangeran itu pun memiliki kepandaian yang tidak rendah.

Sebaliknya, ketika melihat wajah Thian Hwa di bawah sinar penerangan lampu, Pangeran Cu Kiong menjadi kagum sekali dan menatap wajah yang cantik itu dengan hati tertarik. Tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis pendekar yang gagah perkasa itu ternyata masih sangat muda dan memiliki kecantikan yang luar biasa pula.

Karena kedua-duanya saling pandang, maka akhirnya mereka sama-sama menundukkan muka dan wajah Thian Hwa menjadi merah karena segan dan malu. Heran sekali! Belum pernah dia merasa malu di bawah pandang mata laki-laki dan dia merasa betapa dadanya berdebar aneh!

“Lihiap, silakan duduk.” kata Cu Kiong dengan ramah dan cepat dia perintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan.

“Jangan berlaku sungkan, Kongcu,” kata Thian Hwa dengan sikap hormat, lalu ia duduk di atas sebuah bangku yang terukir indah, menghadapi meja, sementara Cu Kiong duduk di hadapannya.

“Kongcu, bagaimana bisa tahu bahwa aku telah bertempur dengan iblis tua itu?” tiba-tiba Thian Hwa bertanya, karena ia tadi memang heran ketika mendengar kata-kata pangeran itu yang seakan-akan telah mengetahui akan kejadian-kejadian yang dialaminya di gedung Pangeran Leng.

“Tentu saja aku tahu, Nona. Bahkan aku tahu pula bahwa kau diperintah oleh Pangeran Leng untuk membunuhku!” katanya dengan senyum.
“Aku... aku tidak menyanggupinya!” Thian Hwa cepat memotong.

Cu Kiong perlihatkan senyumnya yang menarik. “Tentu saja. Aku pun tidak akan percaya bahwa seorang seperti kau ini dapat berwatak sekejam itu, membunuh aku yang tidak kau kenal sama sekali!”

Mendengar pujian ini, kembali Thian Hwa merasa dadanya berdebar.

“Tapi bagaimana kau bisa mengetahui semua itu, Kongcu?”
“Kau ingin tahu? Nah, mari kuperkenalkan kau dengan para pembantuku!” Pangeran Cu Kiong lalu bertepuk tangan tiga kali.

Mendadak dari segenap penjuru, melalui pintu, jendela dan juga melayang turun dari atas genteng, muncullah tujuh orang setengah tua yang mempunyai gerakan gesit dan ringan sekali. Thian Hwa terkejut sekali karena maklum bahwa kepandaian tujuh orang ini sangat tinggi!

“Perkenalkan, inilah Kam-keng-chit-sian, Tujuh Dewa dari Kamkeng!” kata Pangeran Cu Kiong dan ketujuh orang itu dengan tersenyum menjura di depan Thian Hwa yang segera berdiri membalas hormat mereka. Dia belum pernah mendengar nama ini, tetapi dia dapat menduga bahwa mereka ini tentu tokoh-tokoh ternama di daerah utara.

“Lihiap, ilmu pedangmu sungguh membuat kami takluk dan tidak kosonglah nama Huang-ho Sui-mo, Suhu-mu yang tersohor itu!” kata seorang di antara mereka.

Pangeran Cu Kiong lantas mempersilakan mereka semua duduk dan malam itu diadakan perjamuan makan minum untuk menghormat Thian Hwa. Mereka bercakap-cakap dengan gembira sekali dan Thian Hwa mendapat kesan baik dari mereka. Ia menganggap bahwa ketujuh orang itu bersikap baik dan sopan, sedangkan pangeran muda yang tampan itu betul-betul telah memikat hatinya dan membuat ia tertarik sekali.

Pada kesempatan ini gadis itu diberi-tahu bahwa Cu Kiong banyak dimusuhi bangsawan-bangsawan yang menjadi durna dan penjilat kaisar, dan bahwa pangeran muda ini sudah beberapa kali hendak dibunuh. Oleh karena inilah maka dia mempelajari ilmu silat, bahkan sudah mengundang Kam-keng-chit-sian untuk menjadi pengawalnya.

Kemudian pangeran yang masih muda dan tampan itu memerintahkan para pengawalnya untuk mengundurkan diri, ada pun dia sendiri masih bercakap-cakap berdua dengan Thian Hwa. Sikapnya selalu ramah tamah dan sopan sehingga Thian Hwa merasa betah di situ.

“Lihiap, kau seorang gadis muda yang berasal dari daerah selatan, mengapa sampai bisa datang di kota raja? Dan mengapa pula kau sampai dapat berhubungan dengan orang-orang macam Pangeran Leng itu?”

Thian Hwa lalu menceritakan riwayatnya dengan terus terang. Dia menganggap pangeran ini amat baik dan jujur, maka pantaslah kalau dia minta tolong dan menaruh kepercayaan kepadanya.

“Demikianlah,” dia mengakhiri ceritanya. “Aku yang muda dan bodoh ini sampai menjadi nekad dan datang ke kota besar ini untuk mencari kedua orang tuaku.”

Cu Kiong memandangnya dengan penuh keheranan terbayang pada wajahnya yang putih. “Kau katakan tadi bahwa orang tuamu adalah bangsawan di kota raja ini?”

Thian Hwa mengangguk. “Demikianlah kalau menurut penuturan kakekku. Katanya ibuku adalah seorang puteri bangsawan yang cantik dengan tanda bintik kecil hitam di atas bibir sebelah kiri. Sayang sekali kakekku tidak tahu siapa ibuku atau ayahku...” kata Thian Hwa sedih.

Ketika ia menceritakan hal ini, kebetulan sekali pelayan laki-laki yang sudah tua dan amat hormat sikapnya sedang membersihkan meja dan mengangkut semua sisa makanan atas perintah Cu Kiong. Tadinya kakek tua ini bekerja sambil menundukkan muka, tapi ketika ia mendengar cerita Thian Hwa, agaknya dia menjadi terharu dan mengangkat mukanya memandang. Kebetulan Thian Hwa tak sengaja sedang memandangnya pula.

Untuk sesaat pelayan itu membelalakkan mata, kemudian dia menunduk kembali. Thian Hwa melihat wajah yang baik dan sabar, bahkan dia merasa seakan-akan wajah orang tua itu tidak asing baginya.

Setelah orang tua itu mengangkut pergi semua sisa makanan, Cu Kiong berkata, “Nona, percayalah kepadaku. Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk mencari keterangan perihal puteri bangsawan yang mempunyai tahi lalat kecil di bibir kirinya, barang kali saja usahaku ini akan berhasil baik.”

Thian Hwa buru-buru berdiri dan menjura sambil mengucapkan terima kasih.

“Harap Kongcu maafkan aku, karena sekarang juga aku harus pergi. Tidak baik kalau aku mengganggumu, tetapi besok sore aku akan datang lagi mendengar hasil pertolonganmu itu.”

Pangeran Cu Kiong buru-buru mencegah. “Jangan kau pergi, Nona. Apakah bedanya jika kau menginap di dalam gedung ini? Lagi pula kau sudah menjadi musuh Pangeran Leng, dan kau tidak akan aman tinggal di luar. Kau tinggallah untuk sementara waktu di gedung ini sampai kau bisa bertemu dengan orang tuamu. Jangan khawatir, rumah ini mempunyai banyak kamar dan kau akan terjamin. Anggaplah ini sebagai rumah sendiri atau sebagai rumah saudaramu!” Sambil berkata demikian, pangeran itu tersenyum ramah.

Sesudah dibujuk-bujuk, akhirnya Thian Hwa tidak dapat menolak lagi, dan dengan girang sekali Cu Kiong memanggil pelayan, “Losam...!”

Pelayan tua yang tadi membersihkan meja muncul dari pintu samping dan menghampiri mereka.

“Losam, tolong antarkan Nona ini ke kamar tamu di bagian kiri. Berikan kamar paling baik yang terletak di ujung itu, dan selanjutnya suruh pelayan-pelayan wanita melayani segala keperluannya. Ingat, Siocia ini harus dilayani baik-baik agar betah tinggal di sini.”

Thian Hwa menghaturkan terima kasih lalu ikut pelayan itu menuju ke bangunan sebelah kiri yang besar dan di depannya penuh dengan kembang-kembang indah di dalam taman kecil yang mengitari bangunan itu.

Ketika mereka tiba di situ, Losam langsung disambut oleh beberapa orang pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik kemudian dihujani pertanyaan. Dengan suara sabar Losam memperkenalkan Thian Hwa sambil menyampaikan pesan majikannya. Pelayan-pelayan wanita itu dengan sikap hormat dan ramah lalu mengajak Thian Hwa memasuki kamarnya sehingga gadis itu merasa malu dan berterima kasih sekali.

Pangeran Cu Kiong bersikap demikian baik terhadap Thian Hwa hingga dia memerlukan mengirimkan beberapa setel pakaian yang indah kepada gadis itu, dan dia minta kepada Losam untuk mengantarkannya. Thian Hwa merasa malu dan tak enak hati melihat segala kebaikan ini. Dia menerima pakaian itu, tetapi tidak mau memakainya dan tetap memakai pakaiannya sendiri yang sederhana.

Selanjutnya baca
DEWI SUNGAI KUNING : JILID-05
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger