logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Jaka Lola Jilid 02


Yo Wan melakukan perjalanan seperti seorang yang linglung. Dia laksana seekor anak burung yang baru saja belajar terbang meninggalkan sarangnya. Semenjak usia delapan tahun, dunianya hanya puncak Bukit Liong-thouw-san dan perkampungan sekitar kaki gunung. Meski pun di waktu kecilnya dia pernah melihat kota dan tempat-tempat ramai, akan tetapi selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak gunung.

Dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia bagai orang dusun yang amat bodoh. Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya. Melihat banyak orang membuat dia bingung. Apa lagi ilmu membaca dan menulis. Dia adalah seorang buta huruf yang melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa bekal uang di saku!

Tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah. Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup. Meski masih muda, jiwanya sudah matang oleh asam garam dan pahit getir kehidupan, membuatnya tenang dan dapat menghadapi segala macam keadaan dengan tabah.

Tidak sukar baginya untuk mengatasi kekurangannya dalam perjalanan. Kadang-kadang dia hanya makan buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari-hari. Ada kalanya dia makan dalam sebuah kelenteng bersama hwesio-hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan. Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan kelenteng sebelum melakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang dan pekerjaan lain untuk membalas budi. Kadang kala ada orang dusun atau kota yang mau menerima bantuan tenaganya untuk ditukar dengan makan sehari itu.

Dengan cara begitu Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-san. Dia berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri dari keributan, dan tidak pernah dia memperlihatkan kepada siapa pun juga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi.

Yo Wan sendiri sebenarnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari dari kepandaian dua orang kakek berilmu, sungguh pun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang melebihi orang lain. Oleh karena ini maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan membalas musuhnya, The Sun, sebelum dia bertemu dengan suhu-nya dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya itu.

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung Hoa-san. Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gunung itu, sebuah gunung tinggi yang hijau, tidak liar seperti Liong-thouw-san. Membayangkan pertemuan dengan suhu dan subo-nya setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya agak lama termenung di situ dengan jantung berdebar-debar.

Betapa pun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di hatinya, rasa bahwa dia merupakan seorang tamu di Hoa-san. Suhu dan subo-nya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat merasa di rumah sendiri? Berpikir begitu, timbullah kegetiran. Mengapa suhu-nya membiarkan dia bersunyi sampai delapan tahun di Liong-thouw-san? Mengapa gurunya itu tidak kembali?

Ya, mengapakah? Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-thouw-san sampai delapan tahun lamanya, dan membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi. Apakah terjadi sesuatu yang hebat atas diri mereka?

Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Tidak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw sampai di Hoa-san, Hui Kauw melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Tentu saja peristiwa ini mendatangkan kegembiraan luar biasa di Hoa-san. Oleh kakeknya, anak itu diberi nama Kwa Swan Bu.

Ketua Hoa-san-pai sekarang adalah Kui Lok yang berjulukan Kui Sanjin, seorang tokoh Hoa-san-pai yang paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) merupakan sepasang suami isteri yang mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai yang paling tinggi. Kedua suami isteri ini memimpin Hoa-san-pai, dibantu oleh suheng-nya bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh kakek Kwa Tin Siong dan isterinya. Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-san-pai, maka dia dan isterinya menyerahkan tugas ini kepada Kui Sanjin dan mereka sendiri tekun bertapa.

Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong bersama isterinya, tentu saja sangat menggirangkan hati kedua orang tua ini, apa lagi sesudah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan suami isteri tua ini pun menjadi sempurna. Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang memiliki keturunan laki-laki, kecuali Kwa Kun Hong seorang.

Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu dan sudah menikah dengan Tan Sin Lee, putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai. Juga Kui Sanjin hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong Bu, yaitu putera lain lagi dari Raja Pedang Tan Beng San.
Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan Pendekar Buta.....

Karena tidak ada keturunan laki-laki di Hoa-san, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat menggirangkan hati Kakek Kwa. Thian Beng Tosu dan Kui Sanjin ketua Hoa-san-pai juga amat girang. Orang-orang tua inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar suami isteri itu tidak kembali ke Liong-thouw-san, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar.

Sangatlah tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi di puncak bukit dengan kedua orang tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya.

“Dia akan tumbuh besar dalam kesunyian, kurang bergaul dengan sesama manusia. Di Hoa-san-pai ini adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong. Oleh karena itu sebaiknya kau membiarkan puteramu tinggal di sini pula. Di sini merupakan keluarga Hoa-san-pai yang besar, dan puteramu tentu akan menerima kasih sayang dari semua orang. Juga aku dan ibumu sudah tua, biarkanlah kami menikmati hari-hari akhir kami dengan cucu kami Swan Bu."

Hal inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-san. Kun Hong kemudian berunding dengan isterinya tentang Yo Wan. Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa tentu Yo Wan akan menyusul ke Hoa-san.

"Bukankah dulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-san kalau dalam waktu dua tahun kita belum pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini. Pula, hal ini amat perlu bagi dia. Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran."

Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini. Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun, bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-san.

"Jangan-jangan ada sesuatu terjadi di sana?" Kun Hong menyatakan kekhawatirannya.
"Atau dia memang tak ingin ikut dengan kita di sini," Hui Kauw berkata, keningnya agak berkerut.

Diam-diam ia merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya. Seorang murid harus mentaati perintah guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik. "Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan Yo Wan. Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi murid kita, kalau tidak, terserah kepadanya. Lebih baik kita melatih anak kita sendiri."

Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, suami isteri ini telah melupakan murid mereka yang mereka kira tentu sudah pergi dari Liong-thouw-san dan tidak mau ikut mereka di Hoa-san. Sama sekali mereka tidak menyangka bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-thouw-san. Dan sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari itu, orang muda tampan sederhana yang sedang berdiri termenung di kaki Gunung Hoa-san adalah Yo Wan.

Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-san. Alangkah jauh bedanya dengan Liong-thouw-san. Gunung ini benar-benar terawat. Tak ada bagian yang liar. Hutan-hutan bersih dan penuh pohon buah dan kembang. Sawah ladang terpelihara, ditanami dengan sayur-mayur dan pohon obat. Malah dibangun pula jalan yang cukup lebar, memudahkan orang naik mendaki gunung.

Terdengar derap kaki kuda dari sebelah kanan, diiringi suara ketawa yang amat nyaring, ketawa kanak-kanak. Yo Wan mengangkat kepala memandang ke sebelah kanan dan dia menjadi kagum sekali.

Ada tiga orang penunggang kuda. Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat. Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, tapi penunggang yang berada di tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda lainnya.

Penunggang kuda ini adalah seorang anak laki-laki yang usianya kelihatannya belum ada sepuluh tahun. Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutupi topi sutera yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara.

Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gendewa dan beberapa batang anak panah. Dua orang yang mengiringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan, dandanannya seperti tosu dan terlihat sangat mencinta anak itu.

"Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!"
"Swan Bu... jangan...! Itu bukan burung walet...!" Salah seorang di antara kedua tosu itu mencegah.

Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kuda dengan kedua kakinya yang kecil. Kudanya lari congklang dengan cepat ke depan. Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang anak panah pada gendewanya, kemudian menarik tali gendewa.

Terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya. Ia merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah sudah menembus dadanya. Burung kecil berbulu kuning amat cantik.

Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai burung itu. Tiba-tiba saja berkelebat bayangan dan tahu-tahu sebuah tangan yang kecil sudah mendahului dirinya, menyambar bangkai burung itu.

Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya, bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Ehh, kau mau mencuri burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya. Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?"

Yo Wan tertegun. Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa. Kedua matanya tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati. la tahu bahwa dirinya berada di tempat orang, karena Gunung Hoa-san tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-san-pai. Dengan senyum sabar dia menjura dan berkata.
“Aku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini..."

Sementara itu, dua orang tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri. “Swan Bu, kau terlalu. Ilmu memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa. Kalau ayah bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah," tegur seorang tosu.

“Susiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada ayah dan ibu? Jika tidak berlatih memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat. Susiok, orang ini mencurigakan sekali, aku belum pernah melihatnya. Jangan-jangan dia pencuri.”

Dua orang tosu itu memandang Yo Wan. Tosu kedua segera menegur, "Orang muda, kau siapakah? Agaknya kau bukan orang sini .. ehhh, apakah kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang mengurus kuda di Hoa-san? Dua hari yang lalu kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang pemuda tukang kuda..."

Yo Wan menggeleng kepala. Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum, dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar. "Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua) suka memberi pekerjaan, aku pun mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari."

Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa-san-pai ini, mendadak hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan suhu-nya. Bukankah suhu-nya itu putera Hoa-san-pai dan sekarang sedang mondok di situ? Bagai mana seandainya orang-orang Hoa-san-pai memandang rendah padanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta?

Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah ‘mengaku’ sebagai murid gurunya agar tidak merendahkan nama gurunya. Dengan pekerjaan ini, dia ingin melihat gelagat, melihat dulu suasana di Hoa-san-pai sebelum mengambil keputusan untuk menghadap suhu-nya.

"Baik, kau boleh bekerja menjadi pengurus kuda. Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda. Tidak hanya makan, kau juga akan diberi pakaian dan upah. Ehh, siapa namamu? Di mana rumahmu?"
"Namaku A Wan, Lopek, dan aku tidak punya rumah. Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat kuda dengan baik-baik.”
“Bekerjalah dengan baik, dan ketua kami tentu akan menaruh kasihan padamu. Jangan sekali-kali suka mencuri, apa lagi melarikan kuda," kata tosu kedua.
"Susiok, mengapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku pasti akan merobohkannya!"
"Hushh, Swan Bu, jangan bicara begitu...”
"Aku paling benci penjahat, Susiok, setiap kali aku melihat penjahat, pasti akan kupanah mampus. Kelak kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini."

Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan. Heran sekali dia mendengar omongan seorang anak kecil seperti itu. Anak siapa gerangan bocah ini? Apakah anak ketua Hoa-san-pai? Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri.

"Swan Bu kita pulang berlari sambil melatih ilmu lari cepat," kata tosu pertama kepada anak itu. "Biar tiga ekor kuda ini dituntun naik oleh A Wan. A Wan, kau tuntun tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan." Setelah berkata demikian, tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada A Wan, kemudian mengajak tosu kedua dan Swan Bu untuk berlari cepat.

Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung. Memang tosu itu sengaja tidak memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak. la masih ragu-ragu melihat pemuda yang bodoh itu.

Ada pun Yo Wan melihat mereka berlari-lari cepat sambil memegangi kendali tiga ekor kuda itu. Biasa saja kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiga ekor kuda itu mendaki gunung.

Sambil berjalan perlahan dia bertanya-tanya di dalam hati, siapa gerangan bocah yang bernama Swan Bu itu. Bocah tampan dan bersemangat, mempunyai dasar watak yang gagah dan pembenci penjahat, akan tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan.

Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat hati Yo Wan makin terasa tidak enak lagi. Dia merasa bahwa orang-orang Hoa-san-pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu manja.

Heran dia mengapa suhu-nya yang jujur dan budiman, subo-nya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun. Akan tetapi dia teringat lagi bahwa suhu-nya adalah putera ketua Hoa-san-pai, tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus subo-nya, tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran.

Yo Wan menarik nafas. Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pakaiannya demikian indah, dia mencela diri sendiri.

Betapa pun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih remaja dan kurang sekali pengalaman, kurang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar. Iri karena dia tidak pernah merasakan bagaimana dicinta orang tua, dimanja orang tua. la pun teringat akan keadaan sendiri, seorang jaka lola yang tidak punya apa-apa di dunia ini. Alangkah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit.

Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu, tiba-tiba terdengar derap kaki-kaki kuda dari belakang dan disusul bentakan nyaring, "Minggir...! Minggir...!!" Lalu terdengar bunyi cambuk di udara.

Kalau saja A Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu terkejut dan dapat menuntun ketiga ekor kuda itu ke pinggir. Akan tetapi bentakan nyaring ini seakan-akan menyeretnya secara tiba-tiba dari dunia lamunan, membuat dia kaget dan tidak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan melonjak ke tengah jalan.

Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor lagi telah terlepas kendalinya dan kini berloncatan di tengah jalan. Pada saat itu, dua orang penunggang kuda sudah datang membalap dekat sekali. Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat dan menubruk ke arah seorang di antara penunggang-penunggang kuda itu.

"Setan...!" Penunggang kuda yang ditubruk itu memaki.

Dia adalah seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap. Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya, menendang ke arah perut kuda yang menubruknya.

"Krakkk!"

Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang menubruknya itu telah ditendang hingga patah. Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan berkelojotan, tak mampu bangun lagi.

"Wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau sudah membunuh seekor kuda Hoa-san-pai!" tegur orang kedua, usianya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis, pakaiannya juga penuh tambalan seperti orang pertama.
"Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda kurang hati-hati!"

Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan.

Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu sekarang telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan. Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, tetapi sudah terjadi hal seperti ini. Karena kaget dan bingung, dia segera berkata,

"Kau membunuh kudaku. Hayo ganti kudaku!”

Si kumis tersenyum. "Bocah, ketahuilah. Aku dan suheng-ku ini adalah dua orang utusan dari Sin-tung Kaipang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti). Urusan kuda merupakan urusan kecil, tak perlu kau ribut-ribut."

"Urusan kecil bagaimana?" Yo Wan berteriak. "Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat besar bagiku. Kau harus mengganti kuda ini!"

Muka si kumis menjadi merah. la heran sekali. Biasanya, orang-orang Hoa-san-pai tentu akan bersikap hormat bila mana mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Sin-tung Kaipang. Akan tetapi bocah ini, tentunya hanya seorang anak murid yang masih rendah, sama sekali tidak menghormat, malah agak kasar sikap dan bicaranya.

"Kau siapa? Apakah kuda ini bukan milik Hoa-san-pai?" tanya si kumis.
"Memang kuda Hoa-san-pai, dan aku adalah kacung kuda yang baru. Bagaimana aku harus pulang kalau kuda yang kutuntun berkurang seekor? Lopek, kau harus mengganti kudaku!" Sambil berkata demikian, Yo Wan menuntun dua ekor kudanya di tengah jalan, menghadang perjalanan karena dia khawatir kalau dua orang itu akan melarikan diri.

Si kumis menjadi makin merah mukanya karena marah ketika mendengar bahwa bocah ini hanya seorang kacung kuda saja. Seorang kacung kuda bagaimana berani bersikap sekasar itu terhadap dia, anak murid Sin-tung Kaipang yang sudah bersepatu baru?

Di perkumpulan pengemis ini terdapat peraturan yang aneh. Tingkat seseorang ditandai dengan sepatu. Yang terendah tidak memakai apa-apa, yang lebih tinggi memakai alas kaki, makin tinggi semakin baik, mulai sandal kayu sampai sepatu kulit yang mengkilap seperti yang dipakai oleh kedua orang penunggang kuda ini. Maklumlah, mereka berdua adalah murid-murid dari ketua Sin-tung Kaipang, karena itu kepandaiannya sudah sangat tinggi, demikian juga ‘pangkatnya’ karena memakai sepatu baru.

"Hemmm, bujang rendah! Kau hanya tukang kuda, banyak cerewet. Urusan seekor kuda saja kau ribut-ribut! Minggir! Biarlah nanti kubicarakan dengan orang-orang Hoa-san-pai tentang kuda ini, kau boleh pulang ke kandangmu!"
"Betul kata-kata Sute-ku, bocah tukang kuda, jangan kau takut. Urusan kuda ini biar nanti kami bicarakan dengan majikanmu," sambung orang kedua yang rambut putih.
"Tidak!" Yo Wan membantah karena dia takut dua orang ini akan mengadu kepada ketua Hoa-san-pai dan membalikkan duduk perkaranya sehingga dia yang akan dipersalahkan. "Kau harus ganti sekarang juga!"
"Bujang rendah, kau buka matamu baik-baik dan lihat dengan siapa kau bicara!" bentak si kumis, marah sekali.
"Aku sudah melihat, kalian adalah dua orang pengemis aneh."

Kedua orang itu tertawa. Memang aneh orang-orang dari Sin-tung Kaipang. Kalau orang lain menyebut mereka pengemis, hal itu berarti suatu penghormatan bagi mereka! Inilah sebabnya mereka menjadi senang mendengar Yo Wan menyebut mereka pengemis aneh dan hal ini mereka anggap bahwa Yo Wan menyadari siapa mereka dan takut.

"Bocah! Kau lihat sepatu kami!"

Yo Wan mendongkol sekali. Orang ini terlalu menghinanya, akan tetapi dia memandang juga ke arah sepatu mereka. "Ada apa dengan sepatu kalian? Sepatu baru, akan tetapi penuh debu!" jawabnya.

"Ha-ha-ha, anak baik, kau mengenal sepatu baru kami!" Si kumis tertawa senang. "Hayo kau bersihkan debu sepatu kami, dan nanti kami akan minta kepada majikanmu agar kau jangan dihukum karena kelalaianmu menuntun kuda."

Yo Wan menegakkan kepalanya, memandang tajam. "Harap kalian tidak main-main. Aku pun tidak ingin main-main dengan kalian. Lebih baik sekarang kalian tinggalkan seekor di antara kudamu untuk mengganti kudaku yang mati, baru kalian melanjutkan perjalanan."

“Apa...?!" Dua orang itu berteriak kaget, heran dan juga marah. "Kau ini kacung kuda tapi berani bicara begitu kepada kami? Kami adalah dua orang utusan yang terhormat dari Sin-tung Kaipang, tahu? Minggir dan jangan banyak cerewet kalau kau tak ingin mampus seperti kuda itu!"

Yo Wan adalah seorang yang mempunyai watak suka merendah, hal ini terbentuk oleh keadaan hidupnya semenjak kecil. Dia suka mengalah dan mempunyai rasa diri rendah dan bodoh, akan tetapi betapa pun juga, dia adalah seorang muda yang berdarah panas. Melihat sikap dan mendengar ucapan menghina itu, kesabarannya patah.

"Biar kalian utusan dari Giam-lo-ong (Malaikat Maut) sekali pun, karena kau membunuh kudaku, kau harus menggantinya!"

Dua orang itu mencak-mencak saking marahnya. Kalau saja mereka tidak ingat bahwa kacung itu adalah seorang bujang Hoa-san-pai dan bahwa mereka berada di wilayah Hoa-san-pai, tentu sekali pukul mereka akan membikin mampus bocah ini.

"Sute, jangan layani dia. Dorong minggir!"

Si kumis tertawa sambil melangkah maju mendekati Yo Wan, tangan kirinya mendorong pundak pemuda itu sambil membentak, "Tidurlah dekat bangkai kudamu!"

la menggunakan tenaga setengahnya karena tidak ingin membunuh Yo Wan, hanya ingin membuat kacung itu terjengkang dekat bangkai kuda tadi. Akan tetapi dia salah besar kalau mengira bahwa dengan hanya sebuah dorongan seperti itu saja dia akan mampu merobohkan Yo Wan.

Tangannya mendorong pundak Yo Wan yang sengaja tidak mau mengelak, akan tetapi tenaga dorongannya bertemu dengan pundak yang kokoh dan kuat seperti batu karang. Jangankan membuat kacung itu roboh, membuat pundak itu bergoyang sedikit saja tidak mampu!

"Kau ganti kudaku yang mati!” kata Yo Wan tanpa bergerak.

Si kumis terheran, penasaran, lalu timbul kemarahannya. "Kau kepala batu!" bentaknya dan kini dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Yo Wan.

Yo Wan tidak mau mengalah sampai dua kali, apa lagi sekarang yang didorong adalah dadanya. Tak mungkin dia mau membiarkan dadanya didorong orang karena hal ini amat berbahaya.

Selama tiga tahun, terus-menerus siang malam dia bermain silat menurut petunjuk dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, ilmu silat tingkat tinggi yang membuat ilmu itu mendarah daging di tubuhnya dan di pikirannya. Seluruh panca inderanya sudah matang sehingga segalanya bergerak secara otomatis, karena memang demikianlah kehendak dua orang sakti itu.

Sekarang, menghadapi dorongan dua tangan si kumis ke arah dadanya, secara otomatis kaki Yo Wan melangkah dengan gerak tipu Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po, yang dia warisi dari Pendekar Buta. Ketika tubuh si kumis yang mendorongnya itu lewat dekat tubuhnya, otomatis pula tangannya bergerak ke punggung dan pantat.

Seperti sehelai layang-layang putus talinya, tubuh si kumis itu ‘melayang’ ke depan dan memeluk bangkai kuda yang tadi ditendangnya!

"Bukkk! Uh-uhhh..."

Si kumis terbanting pada bangkai kuda. Oleh karena dia tadi mencium hidung kuda yang mancung dan keras, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya menjadi pening.

Temannya yang berambut putih sejenak berdiri melongo. Hampir saja dia tidak dapat percaya bahwa sute-nya begitu mudah dirobohkan oleh seorang kacung kuda! Padahal dia maklum bahwa ilmu kepandaian sute-nya itu sudah tinggi, patutnya kalau dikeroyok oleh dua puluh orang kacung seperti ini saja tidak mungkin kalah. Tapi mengapa sampai hidungnya mengeluarkan kecap?

"Kau berani melawan kami?" bentaknya marah setelah sadar kembali dari keheranannya.

Sambil membentak begitu pengemis rambut putih ini menerjang maju. la memukul ke arah muka Yo Wan dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya diam-diam melakukan gerakan susulan, yaitu serangan yang sesungguhnya dan tersembunyi di balik serangan pertama yang merupakan pancingan. Maksudnya hanyalah ingin membanting roboh Yo Wan sebagai pembalasan atas kekalahan temannya tadi karena dia masih belum berani membunuh seorang bujang Hoa-san-pai.

Yo Wan tersenyum. Sesudah melatih dirinya dengan tipu-tipu yang luar biasa hebatnya secara berganti-ganti dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, di mana kedua orang sakti itu menggunakan gerakan-gerakan yang penuh tipu muslihat, penuh pancingan dan amat tinggi tingkatnya, jurus yang dipergunakan oleh si rambut putih ini baginya merupakan gerakan main-main yang tidak ada artinya sama sekali.

Agaknya boleh dikatakan bahwa Yo Wan telah mengetahui lebih dulu sebelum pengemis itu bergerak! Dengan tenang dia miringkan kepala dan tangannya mendahului digerakkan ke depan menyambut tangan kanan kakek pengemis yang hendak membantingnya, lalu dipegangnya pergelangan tangan itu dan sekali tekan tangan itu seakan-akan menjadi lumpuh.

Pada lain saat, tubuh pengemis berambut putih ini pun sudah melayang ke depan dan... menimpa tubuh pengemis berkumis yang baru krengkang-krengkang hendak merangkak bangun. Tentu saja dia roboh lagi dan keduanya bergulingan di dekat bangkai kuda!

"Lebih baik kalian pergi dan tinggalkan seekor kuda untuk mengganti yang mati," kata Yo Wan menyesal.

Dia sama sekali tidak ingin berkelahi. Dia takut kalau-kalau hal ini akan membikin marah suhu-nya.

"Bila mana kau merasa rugi, boleh kau bawa bangkai kuda itu. Aku tidak mau mencari perkara.”

Akan tetapi kedua orang pengemis itu sudah memuncak kemarahannya. Mereka adalah murid-murid yang terkenal dari ketua Sin-tung Kaipang, maka apa yang baru terjadi tadi merupakan penghinaan besar yang hanya bisa dicuci dengan darah dan nyawa! Seorang kacung kuda membuat mereka jatuh bangun macam itu. Mana mereka ada muka untuk memakai sepatu baru lagi?

"Keparat, lihat golok kami merenggut nyawamu!" bentak si kumis.

Sinar golok berkelebat ke arah leher Yo Wan, disusul bacokan golok si rambut putih ke arah pinggangnya. Memang keistimewaan para anak murid Sin-tung Kaipang ialah pada permainan golok.

Ketuanya terkenal dengan ilmu tongkatnya, maka perkumpulan pengemis itu dinamakan Sin-tung (Tongkat Sakti). Akan tetapi agaknya si ketua ini tidak mau menurunkan ilmu tongkatnya kepada para murid dan anggotanya. Malah sebaliknya dia lalu menciptakan ilmu golok dari ilmu tongkat itu dan ilmu golok inilah yang dipelajari oleh semua murid dan anggota Sin-tung Kaipang.

Yo Wan menggerakkan kedua kakinya, dia memainkan langkah ajaib dan... dua orang pengemis itu seketika menjadi bingung karena pemuda itu lenyap di belakang. Pada saat mereka membalik dan menerjang kembali, pemuda itu menggerakkan kedua kaki secara aneh, lenyap lagi dan tiba-tiba belakang siku kanan mereka terkena sentilan jari tangan Yo Wan.

Seketika kaku rasanya lengan itu dan golok mereka terlepas tanpa dapat dipertahankan lagi. Sebelum mereka tahu apa yang barusan terjadi, untuk kedua kalinya tubuh mereka melayang karena kaki Yo Wan otomatis telah mengirim dua buah tendangan.

"Aku tidak mau berkelahi, lebih baik kalian pergi. Ganti saja kudaku dan perkara ini habis sampai di sini saja,” kembali Yo Wan berkata.

Akan tetapi dua orang pengemis itu menjadi begitu kaget, heran dan ketakutan sehingga tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua kemudian merangkak bangun dan... lari turun gunung!

Yo Wan berdiri tertegun, mengikuti mereka dengan pandang mata heran. Kemudian dia mengangkat pundak, lalu memegang kendali dua ekor kuda mereka itu. Kini ada empat ekor kuda di tangannya. Kuda-kuda itu dia cancang pada sebatang pohon dan dia segera menggali lubang di pinggir jalan untuk mengubur bangkai kuda tadi. Setelah selesai, Yo Wan menuntun empat ekor kuda, melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.

Kiranya jalan yang sengaja dibangun menuju puncak itu berliku-liku mengelilingi puncak. Memang, satu-satunya cara untuk membuat jalan yang dapat dilalui kuda dan manusia biasa, hanya membuatnya berliku-liku seperti itu sehingga jalan tanjakannya tidak terlalu sukar dilalui.

Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, tentu saja dapat mendaki dengan melalui jalan yang lurus dan dapat cepat sampai di puncak. Akan tetapi melalui jalan buatan ini, apa lagi sambil menuntun empat ekor kuda yang kadang-kadang rewel dan mogok di jalan, benar-benar memakan waktu setengah hari lebih. Menjelang senja barulah Yo Wan tiba di pintu gerbang tembok yang mengelilingi Hoa-san-pai yang berupa kelompok bangunan besar di puncak.

Seorang tosu yang menjaga pintu gerbang menyambut Yo Wan dengan pertanyaan, "Apakah kau tukang kuda baru?"

Yo Wan mengangguk. "Aku harus membawa kuda-kuda ini ke kandang. Dapatkah kau menunjukkan di mana adanya kandang kuda?"

Tosu itu kelihatan kurang senang mendengar kata-kata Yo Wan yang sederhana tanpa penghormatan sama sekali itu. Betul-betul seorang anak muda dusun yang amat bodoh, pikirnya.

"Kandang kuda berada di luar tembok sebelah barat. Kau kelilingi saja tembok ini terus ke barat, nanti akan sampai di sana," jawabnya lalu duduk kembali, sama sekali tidak mengacuhkan Yo Wan yang berpeluh dan amat lapar itu.

Yo Wan memandang ke arah barat. Benar saja, di dekat tembok sebelah sana kelihatan kandang kuda, terbuat dari papan dan kayu sederhana. Tanpa mengucap terima kasih karena dianggapnya tanya jawab itu sudah semestinya, dia pun pergi dari situ, menuntun empat ekor kudanya.

Tosu yang menyambutnya di kandang kuda lebih peramah. Tosu ini bertubuh gemuk pendek, mukanya bundar dan matanya seperti dua buah kelereng.

"Ha-ha-ha, ada tukang kuda baru!” serunya. "Orang muda, mana kuda tunggangan Swan Bu yang berbulu hitam? Dan ini ada empat ekor, ehh, bagaimana ini, Bong-suheng tadi bilang bahwa kau membawa kuda mereka bertiga, kenapa sekarang ada empat ekor?" Kuda siapa yang dua ekor ini dan mana kuda Swan Bu?"
"Lopek, kuda yang hitam itu sudah kukubur di pinggir jalan sana," berkata Yo Wan sambil menyusut peluh dengan ujung lengan baju.

la merasa lelah dan lapar sekali, juga amat haus. Semenjak kemarin ia tidak makan, dan tadi ia tidak berani berhenti untuk mencari buah atau air. Kini ia pun masih menghadapi urusan kuda dan tentu akan mendapat marah lagi.

Tosu gendut itu melongo, sepasang matanya semakin bundar, memandangnya dengan bingung dan heran. "Kau kubur? Bagaimana ini? Maksudmu, kau pendam kuda itu?"

Yo Wan mengangguk, "Benar, karena dia mati." la berhenti sebentar kemudian berkata, "Lopek, aku lapar dan haus, apa kau bisa menolong aku?"

Tosu itu mengangguk-angguk, masih kebingungan. "Ah, tentu... tentu... tunggu sebentar. Aneh, bagaimana kuda bisa mati dan dikubur? Aneh..." Namun dia berjalan memasuki kandang kuda sambil mengomel panjang pendek, dan pada waktu keluar lagi membawa bungkusan makanan dan sekaleng air minum.

Tanpa banyak sungkan lagi Yo Wan menerima kaleng air dan minum dengan lahapnya. Tosu itu memandangnya penuh kasihan dan tidak mengganggunya ketika Yo Wan mulai makan. Berbeda dengan ketika minum tadi, kini Yo Wan makan dengan lambat-lambat dan tenang. Melihat tosu itu memandangnya, Yo Wan bercerita sambil makan.

"Kuda hitam dibunuh orang, Lopek. Untungnya mereka berdua itu lari meninggalkan dua ekor kuda mereka ini, lalu kubawa ke sini dan bangkai kuda hitam itu kukubur di pinggir jalan."

Tosu itu mendengarkan dengan melongo. "Kuda itu dibunuh orang? Siapa mereka yang begitu berani main gila di Hoa san?

"Mereka mengaku utusan-utusan dari Sin-tung Kaipang. Tadinya mereka tidak mau ganti, aku tetap tidak mau terima. Akhirnya mereka mengalah dan lari pergi, meninggalkan dua ekor kuda ini."

Tosu itu melebarkan matanya. "Sin-tung Kaipang? Dan mereka mengalah? Hemmm, kau masih untung, orang muda. Mereka itu jahat. Kalau mereka tidak memandang kebesaran Hoa-san-pai, kiranya bukan hanya kuda itu yang mereka bunuh dan saat ini kau takkan dapat makan minum lagi."

Yo Wan diam saja, pikirannya melayang ke arah Swan Bu. Jangan-jangan anak itu akan menjadi marah sekali karena kuda kesayangannya dibunuh orang dan akan membuat gara-gara dengan pembunuh kuda.

"Lopek, tadi aku sudah melihat anak yang bernama Swan Bu itu. Dia tampan dan pandai main panah. Siapakah dia? Apakah putera Ketua Hoa-san-pai?"

Tosu itu menggeleng kepala. "Kau orang baru, agaknya bukan orang sekitar Hoa-san. Memang Swan Bu tampan dan gagah. Ahhh, kasihan dia, tentu akan sedih dan marah kalau mendengar kudanya dibunuh orang... hemmm, aku tidak akan tega menyampaikan berita ini kepadanya, …anak malang..."

Hemmm, benar-benar orang Hoa-san-pai amat memanjakan anak itu.

“Lopek, kalau dia bukan putera Ketua Hoa-san-pai, apakah dia itu anak raja yang sedang bermain-main di sini?"

Tosu itu memandangnya dengan mata terbelalak. "Putera raja? Ha-ha-ha, sama sekali bukan, akan tetapi memang dia patut menjadi putera raja! Dia itu adalah cucu tunggal dari Kwa-lo-sukong, jadi masih terhitung keponakan dari ketua kami yang sekarang.”

Berdebar jantung Yo Wan. Cucu guru besar she Kwa? Suhu-nya juga she Kwa!

“Lopek, dia itu anak siapakah? Aku belum mengenal orang-orang di sini, keteranganmu tadi sama sekali tidak jelas.”

Tosu itu kini tertawa dan mengangkat jempol tangan kanannya ke atas.

"Dia keturunan orang-orang gagah, karena itu dia harus menjadi seorang calon tokoh Hoa-san-pai yang nomor satu. Ayahnya adalah tokoh sakti yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta, ibunya juga mempunyai kepandaian setinggi langlt. Ada pun kakeknya adalah Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, bekas ketua Hoa-san-pai, pamannya adalah Kui Sanjin (Orang Gunung she Kui) yang sekarang menjadi ketua kami. Paman-paman gurunya adalah orang-orang sakti yang bersama-sama menggemblengnya, bukankah dia kelak akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan?"

Tosu gendut itu nampak bangga sekali sehingga tidak tahu betapa wajah kacung kuda ini menjadi pucat. Kiranya Swan Bu yang pagi tadi memakinya dan hendak memanahnya kalau dia lari, adalah putera suhu-nya! Pantas saja demikian gagah dan tampan.

Ahhh, aku kurang hati-hati, pikirnya. Dia anak suhu, dan diam-diam dia merasa bangga juga. Akan tetapi dia kecewa sekali teringat bahwa kuda anak itu telah terbunuh.

"Malam sudah tiba... ehh, siapa namamu tadi?"
"A Wan, Lopek."
"A Wan, kau jaga baik-baik kuda di kandang ini. Rumput masih cukup di sudut kandang sana, kau beri makan mereka dulu, lalu kau boleh tidur. Kau bikin sendiri tempat tidurmu, banyak rumput kering di kandang kosong sebelah kiri. Beberapa malam ini pinto (aku) juga tidur di sana, lebih enak dari pada tidur di ranjang. Kalau perlu mandi, tuh di bawah pohon besar itu ada sumber air. Besok saja pinto ajak kau ke dalam, bertemu dengan para pemimpin. Malam ini kau mengaso saja."
"Baik, terima kasih, Lopek." Yo Wan berterima kasih sekali sekarang karena memang dia membutuhkan istirahat untuk memutar otak.

Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya. Jadi suhu-nya sudah mempunyai putera yang demikian tampan dan gagahnya. Putera itu dididik di Hoa-san-pai. Mungkin saking senangnya mendapatkan putera ini, suhu dan subo-nya sampai lupa kepadanya. Besok dia harus menghadap suhu dan subo-nya.

Tentu saja dia bisa bekerja di situ, menjadi tukang kuda atau apa saja. Akan tetapi... dia ragu-ragu apakah dia akan suka tinggal di sini selamanya. Apakah suhu-nya masih mau menurunkan ilmu silat sesudah mempunyai putera yang amat disayang? Bukankah tosu gendut tadi menyatakan bahwa cita-cita mereka semua adalah membuat Swan Bu agar menjadi jago nomor satu di dunia?

Mungkin suhu dan subo-nya mau mengajarnya, dia cukup mengenal watak mereka yang budiman. Akan tetapi apakah para orang tua di Hoa-san-pai akan suka menerimanya?

Pusing pikiran Yo Wan. Betapa pun juga, besok aku akan menghadap suhu dan lihat saja bagaimana perkembangannya. Kalau tidak mungkin tinggal di situ, pikirnya, dia akan bertanya pada suhu-nya tentang musuh besarnya, The Sun. Akan dicari dan dilawannya dengan apa yang dia miliki sekarang.

Berpikir sampai di sini dia teringat akan pertempuran tadi dan diam-diam dia menjadi girang. Tadinya dia menganggap bahwa dua orang itu hanyalah dua manusia sombong yang tidak becus apa-apa, orang-orang lemah yang hanya bisa mengandalkan aksi dan mungkin kedudukan, yang sama sekali tidak mempunyai kepandaian silat yang berarti. Apakah tosu gendut tadi yang melebih-lebihkan?

Tidak mungkin dua orang yang begitu lemah bisa merajalela berbuat kejahatan. Orang dengan kepandaian serendah itu mana bisa mengganggu orang lain? Sampai dia tertidur pulas di atas rumput kering yang nyaman ditiduri, Yo Wan masih belum dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.

Memang, pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa bukan dua orang itu yang terlalu lemah, melainkan dia sendirilah yang terlalu tinggi tingkat ilmunya bagi dua orang tadi. la sama sekali tak menyadari bahwa dalam dirinya telah terkandung ilmu silat tingkat tinggi yang sudah mendarah daging dengan dirinya. la menganggap dirinya belum pandai silat, sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakannya mengandung inti sari ilmu silat tinggi yang diwariskan oleh Sin-eng-cu dan Bhewakala!

Tentu saja Yo Wan yang sederhana jalan pikirannya ini tidak merasa pandai ilmu silat. Baginya, ketika selama tiga tahun dia memainkan jurus-jurus sakti, sama sekali bukanlah ‘belajar’, melainkan hanya menjadi perantara kedua orang sakti mengadu ilmu.

Tiba-tiba Yo Wan bangkit dari rumput kering. Telinganya mendengar kuda meringkik dan menyepak-nyepak. Jika saja dia tidak ingat bahwa dia sedang menjadi tukang kuda dan kewajibannya menjaga kuda, tentu dia akan tidur lagi. la terlalu lelah.

Dengan malas dia bangun dan keluar dari kandang kosong yang menjadi kamar tidurnya, menghampiri kandang kuda. Tidak ada sesuatu. Malam gelap dan kuda-kuda itu masih berada di kandang.

"Ahh, kiranya benar hanya tukang kuda...," terdengar suara lirih, dari atas.

Yo Wan terkejut. Kiranya ada orang di atas kandang kuda. Mendadak dia mendengar sambaran halus dari belakang. Cepat dia miringkan tubuhnya dan…

"Takkk!"

Sebuah benda kecil menyambar lewat, menghantam tiang kandang dan mengeluarkan sinar. Di lain saat, tiang itu dan rumput kering di bawah yang terkena pecahan benda itu sudah terbakar.

Yo Wan kaget bukan main. Cepat dia menggunakan rumput basah untuk memadamkan api. Dengan penuh amarah dia menggerakkan tubuh melompat ke atas kandang. Akan tetapi sunyi di situ, tidak ada bayangan orang.

Dia menduga bahwa orang yang menyambitnya tadi tentu sudah melarikan diri. Kembaii dia memasuki kandang kosong, akan tetapi kali ini dia tidak dapat tidur pulas. Agaknya yang datang itu adalah dua orang Sin-tung Kaipang tadi, atau bisa jadi teman-temannya.

Mereka datang menyerangnya dengan benda yang dapat membakar tiang dan rumput, ataukah memang sengaja hendak membakar kandang? Namun mendengar ucapan lirih tadi, agaknya mereka ingin pula melihat apakah dia benar-benar seorang tukang kuda. Benar-benar aneh. Apa artinya ini semua?

Pada keesokannya, pagi-pagi sekali serombongan orang yang semua berpakaian penuh tambalan mendaki puncak Hoa-san. Yang berjalan paling depan adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja tanpa daging sedikit pun, namun tubuh itu masih tegak berdiri kaku seperti prajurit bersikap di depan komandannya.

la memegang sebatang tongkat yang aneh. Tongkat ini entah terbuat dari bahan apa, tidak dapat dikenal begitu saja, tapi warnanya aneka macam, belang-bonteng ada warna hijau, merah, kuning, hitam dan putih. Lebih hebat lagi sepatunya, karena sepatu ini pun terbuat dari kulit mengkilap yang warnanya juga macam-macam. Dilihat begitu saja dia lebih pantas menjadi seorang pemain lawak di atas panggung wayang.

Akan tetapi, jangan dikira bahwa dia itu orang gila atau seorang biasa saja, karena kakek ini adalah Sin-tung Kaipangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti) yang amat terkenal sebagai raja pengemis. Permainan tongkatnya hebat dan ditakuti orang.

Memang ketua pengemis ini pandai sekali main tongkat. Dia menerima kepandaian ini dari dua orang hwesio pelarian dari Siauw-lim-si yang terkenal dengan julukan Hek-tung Hwesio dan Pek-tung Hwesio, Si Hwesio Tongkat Hitam dan Hwesio Tongkat Putih.

Di kanan kirinya berjalan dua orang pengemis tua yang berusia lima puluh lebih. Salah seorang membawa sebatang pedang tergantung pada pinggang, yang kedua memegang sebatang toya panjang. Kedua orang pengemis ini memakai sepatu yang berwarna, akan tetapi warnanya tak sebanyak pada sepatu pangcu itu. Ini menjadi tanda bahwa mereka itu masih setingkat lebih rendah dari pada pangcu mereka. Mereka adalah kedua orang pembantu ketua itu, dan merupakan orang kedua dan ketiga dalam Sin-tung Kaipang.

Di belakang tiga orang tokoh Sin-tung Kaipang ini, nampak berbaris murid-murid mereka bertiga yang jumlahnya lima belas orang, di antara mereka ini tampak dua orang yang kemarin ribut-ribut dengan Yo Wan. Melihat mereka mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Memang sesungguhnya, delapan belas orang pengemis yang mendaki puncak Hoa-san dengan muka marah ini merupakan orang-orang terpenting dalam Sin-tung Kaipang!

Para tosu yang bekerja di luar dan menjaga pintu segera mengenal mereka. Dengan tergesa-gesa para tosu yang melihat datangnya rombongan ini menyampaikan laporan ke dalam.

Kaget dan heran juga Kui Sanjin, ketua Hoa-san-pai ketika mendengar laporan ini. Cepat dia keluar menyambut dan berturut-turut keluar pula isterinya, suheng-nya yaitu Thian Beng Tosu. Bahkan Kwa Kun Hong bersama isterinya, Kwee Hui Kauw, dan puteranya, Kwa Swan Bu, juga keluar untuk melihat apa kehendak rombongan pengemis itu.

Ketua Hoa-san-pai, Kui Sanjin, diam-diam merasa tidak enak perasaannya. Memang ada sesuatu di antara Hoa-san-pai dan Sin-tung Kaipang yang menjadi ganjalan hati. Dimulai dengan bentrokan kecil antara salah seorang anak murid Hoa-san-pai yang pergi ke kota dengan seorang anggota Sin-tung Kaipang.

Seorang pengemis yang sombong dan memandang rendah Hoa-san-pai sudah bentrok dengan seorang anggota Hoa-san-pai yang berwatak keras. Si pengemis dipukul roboh, datang banyak pengemis yang mengeroyok sehingga anak murid Hoa-san-pai itu terluka dan lari.

Akan tetapi urusan ini sudah diselesaikan oleh suheng-nya, Thian Beng Tosu sehingga tidak menjalar lagi menjadi permusuhan antara kedua pihak. Betapa pun juga, diam-diam kedua pihak menaruh ganjalan hati.

Kini ketua Sin-tung Kaipang beserta rombongannya pagi-pagi mendaki puncak Hoa-san, ada keperluan apakah? Karena mendengar bahwa yang memimpin rombongan adalah ketuanya sendiri, maka Kui Sanjin sendiri menyambut ke luar, khawatir kalau anak murid yang menyambut, akan terjadi bentrokan yang lebih besar. Sengaja dia menyambut di luar tembok, sesuai dengan keadaan tamu yang bukan merupakan sahabat.

Ketika melihat rombongan tuan rumah ke luar dari pintu gerbang, Sin-tung Kaipangcu memberi tanda kepada rombongannya untuk berhenti. la melihat dua orang kakek yang berpakaian pendeta, seorang wanita tua yang masih cantik, seorang laki-laki muda yang buta di samping seorang wanita jelita, dan juga seorang anak laki-laki yang tampan dan membawa gendewa. Di belakang rombongan ini tampak pula beberapa orang tosu yang mengikuti dari jauh, agaknya bukan anggota-anggota rombongan penyambut.

Ketua pengemis yang sebutannya Sin-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Sakti) berdiri memandang dengan sikap galak dan angkuh. la sama sekali tak gentar biar pun dengan sudut matanya dia lihat betapa puluhan orang tosu kelihatan keluar pula seperti rayap. Malah dia hanya berdiri tegak saja, sama sekali tidak menghormat tuan rumah sebagai mana layaknya seorang tamu.

Melihat sikap seperti ini, Kui Sanjin hanya tersenyum-senyum sabar dan begitu sampai di depan rombongan tamu, dia mengangkat tangan di depan dada sebagai penghormatan. Juga suheng-nya, Thian Beng Tosu, mengangkat kedua tangan memberi hormat.....

Namun Sin-tung Lo-kai sama sekali tidak membalas penghormatan ini, malah langsung bertanya, suaranya kaku,
"Yang manakah ketua Hoa-san-pai?"

Para tosu anak buah Hoa-san-pai amat marah mendengar pertanyaan yang memandang rendah ini, namun rombongan pemimpin Hoa-san-pai itu tersenyum sabar. Hoa-san-pai merupakan sebuah partai besar, patut mempunyai pimpinan yang bijaksana dan memiliki kesabaran tinggi, sikap orang-orang besar. Kui Sanjin melangkah maju dan menjawab,

"Sayalah yang mendapat kehormatan menjadi ketua Hoa-san-pai. Kalau saya tidak keliru sangka, sahabat ini tentu ketua dari Sin-tung Kaipang, bukan?"

Sin-tung Lo-kai tidak segera menjawab, melainkan menatap tuan rumah penuh selidik. Seorang kakek kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya sederhana seperti pertapa, sikapnya lemah-lembut dan tidak kelihatan sesuatu yang aneh pada dirinya. Meski pun demikian Sin-tung Lo-kai tidak berani memandang rendah karena dia sudah mendengar akan kebesaran Hoa-san-pai.

"Bagus! Ketua Hoa-san-pai, pagi ini kami sengaja datang berkunjung dengan maksud ingin minta penjelasan kenapa Hoa-san-pai amat menghina terhadap Sin-tung Kaipang? Apakah kini Hoa-san-pai merasa sebagai perkumpulan yang paling besar sehingga boleh malang-melintang dan melakukan penghinaan sesuka hatinya pada perkumpulan lain?"

Kui Sanjin mengerutkan alisnya, bertukar pandang dengan Thian Beng Tosu, kemudian menjawab, "Sin-tung Kaipangcu, saya harap kau suka bicara yang jelas. Sesungguhnya kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan dengan penghinaan itu. Memang harus kami akui bahwa telah terjadi bentrokan disebabkan salah paham antara beberapa anak muridmu dengan anak murid kami, akan tetapi hal itu telah diselesaikan dan didamaikan, bahkan oleh Suheng-ku ini, Thian Beng Tosu sendiri. Kami anggap urusan kecil antara anak murid yang masih berdarah panas itu telah selesai. Mengapa kau sekarang datang menyatakan bahwa kami sudah melakukan penghinaan? Penghinaan yang mana harap kau jelaskan."

"Hemmm, bagus sekali! Hoa-san-pai kabarnya merupakan perkumpulan yang besar dan berpengaruh, ternyata ketuanya tidak tahu apa yang terjadi di depan matanya sendiri! Pangcu (Ketua), karena hendak memperbaiki hubungan antara perkumpulan kita yang pernah retak oleh perbuatan anak-anak murid kita, kemarin pagi aku sengaja mengutus dua orang anak muridku untuk naik ke Hoa-san-pai dan menyampaikan surat undangan penghormatan dari Sin-tung Kaipang kepadamu."

"Akan tetapi, kami tidak pernah menerimanya, Pangcu," jawab Kui Sanjin.
"Hemmm, tentu saja tidak pernah menerimanya!” Sin-tung Kaipangcu berkata sambil membanting ujung tongkatnya sampai menancap di atas tanah berbatu di depan kakinya. "Di tengah jalan, dua orang utusanku itu diserang oleh tukang kuda Hoa-san-pai, malah dua ekor kuda tunggangan mereka pun dirampas!"

Semua orang menjadi kaget sekali mendengar ini. "Ahh, mana bisa terjadi hal itu?" Kui Sanjin berseru, tidak percaya. Tidak mungkin ada anak muridnya yang berani melakukan perbuatan seperti itu. Merampas kuda? Tidak bisa jadi!

"Hemmm, tentu saja tidak percaya!" Sin-tung Lo-kai mendengus, kemudian melambaikan tangan kepada dua orang anak buahnya. "Ceritakan kepada mereka!" perintahnya.

Dua orang pengemis melangkah maju dan berdiri membungkuk. Salah seorang di antara mereka yang berkumis panjang lalu bercerita, sedangkan temannya yang berambut putih hanya menundukkan muka.

"Kami berdua sedang menunggang kuda mendaki kaki gunung ketika tiba-tiba seorang pemuda melepaskan kuda yang hampir menubruk kami. Karena merasa kaget dan untuk menyelamatkan diri dari tubrukan, terpaksa saya menggerakkan kaki menendang kuda yang menubruk kami itu. Kuda itu mati. Tukang kuda Hoa-san-pai itu marah-marah, biar pun kami sudah berjanji hendak membicarakan hal itu dengan ketua Hoa-san-pai, karena kami adalah utusan dari Sin-tung Kaipang untuk menyampaikan undangan. Akan tetapi orang muda itu tetap tidak mau melepaskan kami, malah segera menyerang kami dan merampas dua ekor kuda tunggangan kami. Maka terpaksa kami kembali turun gunung dan melapor kepada ketua kami."

Setelah berkata demikian, dua orang pengemis ini cepat-cepat mengundurkan diri lagi ke belakang ketua mereka. Mereka merasa amat malu harus bercerita bahwa mereka kalah oleh seorang kacung kuda Hoa-san-pai.

Kui Sanjin tertegun. Cerita ini benar-benar tidak masuk akal. Dua orang pengemis tadi dia lihat memiliki gerakan-gerakan yang tangkas dan kuat, dan sudah bisa membuat mati seekor kuda hanya dengan sekali tendangan saja, cukup membuktikan kepandaiannya. Masa mereka berdua dikalahkan oleh tukang kuda Hoa-san-pai? Padahal tukang kuda Hoa-san-pai yang sudah tua itu telah meninggal dunia, dan selama belum mendapatkan tukang kuda baru, pekerjaan merawat kuda dilakukan oleh seorang tosu, kalau tak salah Can Tosu yang gendut dan yang dia tahu kepandaiannya rendah sekali.

Kui Sanjin menoleh ke belakang, mencari-cari dengan pandang matanya, mencari Can Tojin, ada pun mulutnya berkata, "Kami tidak memiliki kacung kuda yang masih muda..."

Ketua Sin-tung Kaipang mengeluarkan suara ketawa mengejek. Pada saat itu dua orang tosu maju dan berlutut di depan Kui Sanjin. Itulah dua orang tosu yang kemarin bersama Kwa Swan Bu menyerahkan kuda mereka kepada Yo Wan.

"Mohon ampun sebesarnya kepada Suhu," kata seorang di antara mereka, "Sebenarnya teecu berdua yang sudah menerima kacung itu. Kemarin pagi pada waktu teecu berdua mengantar Swan Bu berlatih panah dan sampai di kaki gunung, teecu melihat seorang pemuda yang keadaannya miskin dan seperti kelaparan. Tadinya teecu kira dia adalah tukang kuda baru yang dijanjikan oleh lurah dusun, akan tetapi ternyata bukan dan dia menyatakan suka bekerja membantu kita. Karena teecu kasihan kepadanya, maka teecu lalu menerimanya sebagai tukang kuda, dan teecu baru akan melaporkan hari ini kepada Suhu. Siapa duga bocah itu menimbulkan onar. Mohon ampun sebesarnya, Suhu."

Kui Sanjin terkejut sekali mendengar ini. Akan tetapi sebelum dia bicara, Swan Bu sudah melangkah maju dan dengan suara lantang berkata kepadanya,
"Supek, benar kata kedua muridmu ini. Memang tadinya sudah kucurigai dia." Dia lalu menoleh ke arah kakek pengemis dan berkata, suaranya tetap lantang, "Hai, Pangcu dari Sin-tung Kaipang! Kau dengar sendiri, tukang kuda itu bukanlah anak murid Hoa-san-pai dan ketua kami tidak tahu menahu tentang keributan itu. Namun, kami dapat memberi hajaran kepada pengacau itu, jangan kau merembet-rembet nama Hoa-san-pai ."
"Swan Bu, diam kau...!" Kwa Kun Hong membentak dan seketika Swan Bu diam.

Akan tetapi tiba-tiba bocah ini meloncat ke depan. Tangan kirinya meraih anak panah, dipasangnya pada gendewanya dan menjepretlah tali gendewa sehingga anak panahnya meluncur ke kiri.

Semenjak tadi Yo Wan sudah mendengarkan semua pembicaraan itu. Pagi-pagi tadi dia sudah pergi mencari rumput dan ketika dia melihat rombongan pengemis yang tampak marah mendaki naik puncak, hatinya berdebar tidak enak. Sudah tentu ada hubungannya dengan urusan kemarin, pikirnya.

Oleh karena dia merasa bahwa dia yang menjadi biang keladinya, maka dia lalu pergi mengikuti mereka sampai ke puncak. Yo Wan bersembunyi di balik pohon dan mengintai semua perdebatan tadi. Setelah namanya disebut-sebut oleh dua orang tosu dan Swan Bu, dia segera muncul dengan maksud mengakui semuanya dan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Dari balik batang pohon tadi Yo Wan merasa amat terharu dan sedih melihat suhu dan subo-nya. Sekarang, maklum bahwa perbuatannya itu dapat mengakibatkan keributan, dia mengambil keputusan untuk mempertanggung jawabkan sendiri supaya Hoa-san-pai, terutama suhu dan subo-nya jangan sampai terbawa-bawa. Dengan pikiran inilah dia lalu muncul keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju ke tempat pertemuan.

Sama sekali tidak diduganya bahwa Swan Bu yang pertama melihat dan mengenalnya, malah bocah itu sudah pula melepaskan sebatang anak panah kepadanya. Semua tokoh Hoa-san-pai yang tidak mengenal siapa dia, hanya bisa tertegun dan heran, juga kaget melihat Swan Bu memanah orang muda itu, tanpa sempat mencegah lagi.

Yo Wan tentu saja akan dapat mengelak dengan mudah. Namun dia sedang berduka bahwa dalam pertemuan dengan suhu-nya ini dia sudah mendatangkan keributan hebat, apa lagi mengingat bahwa bocah itu adalah putera suhu-nya yang dibangga-banggakan, dia tidak tega untuk mengelak dan mendatangkan malu.

Sambil mengerahkan tenaga sinkang yang dia latih dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, dia sengaja menerima anak panah itu dengan pundak kirinya, akan tetapi cepat-cepat dia menutup jalan darah pada bagian ini sehingga anak panah yang menancap satu dim dalamnya itu hanya melukai kulit dan dagingnya saja. Dengan anak panah menancap di pundak, dia berjalan terus menghampiri mereka.

"Swan Bu, kau lancang..!”

Yo Wan mendengar subo-nya berteriak mencela puteranya. Di dalam hatinya Yo Wan bersyukur bahwa subo-nya masih tetap seorang wanita budiman seperti dulu, sehingga dia menjadi semakin tidak tega untuk membiarkan suhu, subo serta putera mereka itu menanggung akibat dari perbuatannya.

Dia berpura-pura tidak melihat pandang mata subo-nya yang diarahkan kepadanya dan seakan-akan subo-nya itu hampir mengenalnya! Dia juga tak peduli akan pandang mata semua orang di sana yang memandangnya dengan tatapan heran dan tercengang. Yo Wan langsung menghampiri Kui Sanjin dan membungkuk sampai dalam sambil berkata,

"Lopek (Paman Tua), memang betul seperti dikatakan oleh kedua Lopek tadi, saya telah menerima pekerjaan sebagai kacung kuda. Di tengah jalan saya bertengkar dengan dua orang pengemis. Akan tetapi hal itu adalah urusan saya sendiri, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Hoa-san-pai. Ini hanyalah urusan seorang kacung kuda dengan para pengemis, harap para lopek di sini melegakan hati karena sekarang juga saya akan bereskan urusan ini dengan para pengemis.”
"Dia... dia... A Wan...!" terdengar Kun Hong berseru.
"Yo Wan...!" Hui Kauw juga menahan teriakannya.

Akan tetapi Yo Wan yang terkejut sekali mendengar suhu dan subo-nya sudah berhasil mengenalnya, segera menghampiri rombongan pengemis dan dengan berdiri tegak dia berkata lantang,
"Kakek pengemis, jika benar kau ketua dari Sin-tung Kaipang, sebaiknya kau memeriksa keadaan anak-anak muridmu sendiri sebelum kau menyalahkan orang lain. Urusan anak muridmu dengan aku si kacung kuda sama sekali berada di luar tanggung jawab pihak Hoa-san-pai karena aku belum diterima secara resmi menjadi tukang kuda Hoa-san-pai. Kenapa kalian ini tak tahu malu membikin ribut di Hoa-san-pai? Akulah yang seharusnya bertanggung jawab!"

Sin-tung Lo-kai marah bukan main. Ingin sekali gebuk dia membikin remuk kepala bocah itu, akan tetapi sebagai seorang ketua kaipang yang tersohor, tentu saja dia tidak mau melakukan hal yang akan merendahkan namanya. Maka dia hanya melotot memandang Yo Wan, lalu membentak,
"Bocah setan! Apa kau mengaku telah merampas dua ekor kuda anak muridku?"

Yo Wan menggeleng kepala, tersenyum mengejek. "Siapa yang merampas? Aku sedang menuntun tiga ekor kuda naik puncak, tiba-tiba dua orang pengemis itu membentak dari belakang. Kuda yang kupegang kaget, seekor meloncat dan hampir menubruk pengemis kumis panjang. Ehh, si kumis itu memamerkan kepandaiannya, kuda itu ditendang mati. Tentu saja aku minta ganti dan siapa pun mereka itu, harus mengganti kuda yang mati karena aku bertanggung jawab atas keselamatan kuda-kuda itu."

"Apa kau tidak dengar bahwa mereka itu merupakan utusan Sin-tung Kaipang?" Ketua ini membentak.
"Baik mereka itu utusan dari raja pengemis atau raja neraka sekali pun, karena sudah membunuh kuda yang menjadi tanggung jawabku, mereka harus menggantinya. Ehhh, mereka marah-marah sehingga terpaksa aku membela diri karena mereka menyerangku. Kemudian mereka berdua lari meninggalkan kuda mereka. Apakah yang begini dapat disebut aku merampas kuda?"
"Keparat kau tukang kuda, mulutmu besar dan sombong sekali! Kau sudah menghina murid-muridku, menghina Sin-tung Kaipang, apakah nyawamu rangkap?"
"Kakek pengemis, kau mau menang sendiri. Kau bilang aku yang menghina, tetapi dua orang muridmu itu hendak membunuhku, malahan malam tadi, siapa yang melepas api hendak membakar kandang kalau bukan orang-orangmu? Hemmm, sebetulnya, kau pun harus mempertanggung jawabkan perbuatan anak-anak muridmu."
"Suheng, menghadapi anak anjing yang menggonggong seperti ini, kenapa pakai banyak aturan? Banting saja mampus, habis perkara!" mendadak salah seorang pengemis yang hidungnya bengkok ke kiri, yang memegang toya, berkata marah.
"Pangcu, harap kau bersabar," tiba-tiba Kui Sanjin berkata lembut. "Sesudah pinto (aku) mendengar omongan bocah ini, kiranya harus diselidiki lebih dulu apakah betul dia yang bersalah. Dalam segala hal, tak baik untuk bertindak sembrono, menghukum orang yang tidak bersalah."

Ternyata ketua Hoa-san-pai ini telah dibikin kagum oleh sikap Yo Wan. la maklum bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang bodoh dan sederhana, agaknya tidak pandai ilmu silat karena kalau memang pandai ilmu silat, bagaimana tidak mampu mengelak dari anak panah yang dilepaskan Swan Bu tadi?

Akan tetapi, jelas bahwa pemuda itu memiliki daya tahan yang luar biasa dan memiliki rasa tanggung jawab yang kiranya jarang dimiliki oleh orang-orang yang mengaku dirinya gagah perkasa. Buktinya, dengan anak panah menancap pada pundak, pemuda itu sama sekali tak mengeluh, bahkan juga tidak tampak nyeri, malah menghadapi para pengemis dengan penuh ketabahan serta penuh tanggung jawab, agaknya jelas hendak mencuci nama Hoa-san-pai dari urusan itu.

"Hoa-san-ciangbunjin (ketua Hoa-san)! Apamukah bocah ini? Apa dia adalah anak murid Hoa-san-pai? Ataukah dia ini menjadi tanggung jawab Hoa-san-pai maka engkau hendak membelanya?" bentak Sin-tung Kaipangcu.
"Dia... A Wan...," kembali terdengar suara perlahan Kwa Kun Hong,
"Sstttt..."

Dengan sudut matanya Yo Wan melihat betapa subo-nya menyentuh lengan suaminya. Yo Wan melempar kerling penuh terima kasih kepada Hui Kauw yang memandangnya penuh pengertian.

Memang Hui Kauw amat cerdik dan halus perasaannya. Agaknya nyonya muda ini telah dapat menduga apa yang menjadi maksud hati murid itu, maka dia hendak membantu, memberi kebebasan kepada Yo Wan untuk melanjutkan maksud hatinya, akan tetapi tentu saja nyonya muda ini bersiap sedia untuk membantu muridnya. Dia dapat melihat lebih jelas dari pada apa yang dapat didengar oleh telinga suaminya yang buta.

"Heh, Pangcu dari para pengemis! Kenapa kau selalu mendesak Hoa-san-pai? Agaknya kau merasa jeri untuk menjatuhkan hukuman terhadap diriku, maka kau selalu berpaling dan mencari-cari kesalahan kepada Hoa-san-pai! Huh, tak tahu malu. Kalau kalian para pengemis hendak membalas dendam kepadaku, lekaslah turun tangan. Apa kau kira aku takut menghadapi kematian?"
"Sin-tung Kaipangcu, jangan ladeni omongan seorang bocah nekat!" tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru keras. "Hee, bocah tak melihat keadaan, apakah kau sudah menjadi gila? Jangan main-main terhadap Sin-tung Kaipang!"

Akan tetapi dengan tenang Yo Wan memberi hormat sambil membungkuk kepadanya, lalu berkata, "Urusan ini adalah urusan saya sendiri, harap para lopek yang terhormat dari Hoa-san-pai jangan ikut campur. Hee, pengemis kelaparan, masih tidak berani turun tangan terhadap kanak-kanak seperti aku? Memalukan benar!"

Terdengar teriakan marah dan si pengemis hidung bengkok yang memegang toya sudah melompat maju. Dia adalah sute (adik seperguruan) dari ketua pengemis itu, lihai sekali permainan toya besinya dan dia diberi julukan Tiat-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Bertoya Besi). Wataknya lebih keras berangasan dari pada para tokoh Sin-tung Kaipang yang lain. Mendengar ucapan yang menantang-nantang dari Yo Wan, dia tidak mau bersabar lagi.

"Ada hubungan dengan Hoa-san-pai atau tidak, kau bocah setan sekarang juga harus mampus!" bentaknya dan toyanya yang berat itu menyambar cepat, mendatangkan desir angin gemuruh.

Yo Wan sudah bertekad tidak akan membawa-bawa suhu dan subo-nya, sungguh pun tadi dia bersikap seakan-akan hendak membersihkan Hoa-san-pai, padahal sebenarnya dia tidak hendak menyeret suami isteri itu. Maka sekarang menghadapi sambaran toya, dia tidak mau mempergunakan langkah-langkah ajaib yang dia pelajari dari Kun Hong. la siap menerima kematian karena memang hanya kematian saja yang dapat dia harapkan dalam menghadapi orang-orang berilmu tinggi seperti pimpinan Sin-tung Kaipang ini.

Namun dia juga tidak mau mati konyol begitu saja tanpa perlawanan. Melihat datangnya toya, otomatis kaki tangannya bergerak dan dengan amat mudah dia membiarkan toya itu menyambar lewat tanpa dapat menyentuh tubuhnya sedikit pun juga. Karena tanpa disadarinya dia sudah memiliki kesaktian ilmu silat yang mendarah daging, maka sesuai dengan daya tahan dan daya serang yang berganti-ganti diturunkan Sin-eng-cu beserta Bhewakala kepadanya, tentu saja setiap kali menghadapi serangan, begitu mengelak terus saja Yo Wan membalas serangan itu.

Dan bukan hal kebetulan kalau pada saat itu dia menggunakan sebuah jurus dari Ilmu Silat Ngo-sin Hoan-kun (Lima Lingkaran Sakti) yang telah dia pelajari atau lebih tepat dia ‘mainkan’ menurut petunjuk Bhewakala. Hal ini adalah karena jurus serangan toya yang dilakukan oleh Tiat-pang Sin-kai tadi sifatnya hampir sama dengan jurus-jurus serangan Sin-eng-cu, maka otomatis tubuhnya lalu bergerak mainkan jurus ilmu yang diturunkan oleh Bhewakala kepadanya sebagai lawannya.

Ilmu Silat Ngo-sin Hoan-kun adalah ilmu silat ciptaan pendeta Nepal, pertapa di Gunung Himalaya yang sakti itu, gerakannya dahsyat dan aneh. Tiat-pang Sin-kai melihat betapa dua lengan pemuda itu terus berputar membuat lingkaran-lingkaran yang mengaburkan pandangan matanya dan dia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Betapa ingin dia memukul dengan toya, akan tetapi ujung toyanya seakan-akan terlibat oleh sebuah di antara lingkaran itu dan tak dapat digerakkan.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya berpusing laksana tenggelam dalam pusingan angin dan sebelum dia tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tubuhnya itu sudah terlempar sambil berputaran dan robohlah dia dengan kepala di bawah kaki di atas. Dia menjadi pening, kepalanya benjol, toyanya terlempar entah ke mana dan sampai lama dia hanya rebah sambil menggerak-gerakkan kepala mengusir kepeningan dengan mata menjadi juling!

"Ahhh...!"
"Hebat...!"
"Aneh...!"

Seruan-seruan ini keluar dari mulut para tokoh Hoa-san-pai. Peristiwa itu sungguh amat mengejutkan. Kui Sanjin dan yang lain-lain memang sudah siap untuk menolong orang muda yang tabah itu kalau pihak Sin-tung Kaipang hendak membunuhnya. Siapa tahu, hanya dalam dua gebrakan saja seorang tokoh Sin-tung Kaipang yang cukup lihai sudah dibikin melayang seperti itu dengan gerakan tangan dan kaki yang luar biasa, ilmu silat yang membentuk lingkaran-lingkaran ajaib. Ilmu apakah yang dipergunakan pemuda ini?

Hanya Hui Kauw dan Kun Hong yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hui Kauw memandang kagum dan juga heran karena sepanjang pengetahuannya, murid ini hanya baru menerima dasar-dasar ilmu silat dan di saat terakhir hanya ditinggali Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po oleh Kun Hong. Tadi Hui Kauw sengaja memperhatikan gerak kaki anak itu untuk melihat apakah Yo Wan sudah mahir melakukan langkah-langkah itu, karena kalau sudah mahir, tentu anak itu sanggup menyelamatkan diri dengan langkah-langkah ajaib.

Anehnya, langkah yang dipergunakan Yo Wan sama sekali bukan langkah ajaib ajaran Kun Hong, sungguh pun gerak dan langkah yang dilakukan anak itu pun amat aneh dan asing! Ketika Hui Kauw melirik ke arah suaminya, ia melihat suami ini miringkan kepala mengerutkan kening dan bibirnya menggumam, "Hemmm... hemmm...."

Sebetulnya, robohnya Tiat-pang Sin-kai hanya dalam satu jurus ini bukan semata-mata karena kelihaian Yo Wan, melainkan sebagian besar disebabkan kesalahan pengemis itu sendiri. la terlalu memandang rendah bocah itu, dianggapnya hanya sekali pukul dengan toya akan remuk kepalanya.

Oleh karena memandang rendah inilah maka sekali balas saja Yo Wan langsung berhasil merobohkannya. Andai kata pengemis itu lebih hati-hati, biar pun tak mungkin dia dapat mengalahkan Yo Wan yang sudah mewarisi ilmu-ilmu sakti, namun kiranya dia pun tidak akan roboh hanya dalam satu dua jurus saja!

"Bocah setan! Berani kau menghina saudaraku?" Kakek pengemis di sebelah kiri ketua pengemis meloncat ke depan, lantas menghadapi Yo Wan sambil mencabut pedang di pinggangnya. "Hayo keluarkan senjatamu dan kau lawan aku!"

Sikap pengemis ini jauh lebih gagah dari pada Tiat-pang Sin-kai dan memang dia tidak memandang rendah kepada Yo Wan, karena dia menduga bahwa Yo Wan tentu memiliki kepandaian yang tinggi. Memang dia adalah seorang yang cukup berpengalaman dan tidak bersikap sembrono seperti temannya tadi. Pengemis ini menjadi pembantu Sin-tung Lo-kai karena ilmu pedangnya membuat dia jarang menemukan tandingan. Dia bernama Souw Kiu, seorang ahli pedang dan ahli tenaga Iweekang.

Hati Yo Wan tergetar keras. la tidak pernah mengalami pertandingan-pertandingan, yaitu pertandingan yang sungguh-sungguh, sebab pertandingan yang dia saksikan selama tiga tahun di puncak Liong-thouw-san adalah pertandingan ‘teori’.

Saat dia merobohkan dua orang pengemis kemarin dan pengemis bertoya tadi, dia sama sekali tidak mengira bahwa demikian mudah dia mencapai kemenangan. Disangkanya bahwa memang tiga orang pengemis itu hanyalah orang-orang sombong yang tidak ada gunanya. Sekarang, menghadapi Souw Kiu yang tenang, bermata tajam dan memegang pedang dengan sikap yang kokoh serta kuat, mau tak mau dia menjadi gentar pula untuk menghadapinya dengan tangan kosong.

"Tukang kuda, kau pakailah pedangku ini!" Tiba-tiba Swan Bu berseru sambil mencabut pedangnya yang amat indah.

Yo Wan tersenyum. Lenyap sudah rasa sakit di pundaknya oleh anak panah yang masih menancap itu. Sikap Swan Bu ini sekaligus sudah menjatuhkan hatinya dan meluapkan rasa maafnya terhadap putera dari suhu-nya itu. Dia tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Swan Bu.

"Tuan Muda, terima kasih. Tidak berani aku merusakkan pedangmu," jawabnya dengan sungguh-sungguh dan jujur.

Yo Wan sama sekali dia tidak tahu bahwa jawabannya ini membuat wajah Hui Kauw dan Kun Hong menjadi merah. Ayah dan ibu ini merasa terpukul dengan jawaban muridnya kepada puteranya yang tadi memperlakukan Yo Wan secara sewenang-wenang.

Yo Wan maklum bahwa untuk menghadapi pedang lawan, maka dia harus menggunakan senjata pula dan dia anggap bahwa senjata terbaik adalah melawan dengan pedang pula. Lupa bahwa pedangnya hanya sebatang pedang kayu saja, dia segera membuka jubah dan mengeluarkan pedang kayunya yang panjangnya hanya tiga puluh sentimeter, terbuat dari kayu cendana yang harum itu.

Meledak suara ketawa dari anak buah Hoa-san-pai dan anak buah pengemis, akan tetapi tokoh-tokohnya sama sekali tidak tertawa, malah memandang dengan wajah tercengang. Gilakah anak ini? Ataukah memang dia begitu sakti sehingga cukup menghadapi lawan ini dengan pedang kayu saja?

"Itukah senjatamu?!" Souw Kiu membentak dengan suara kecewa. "Apakah kau hendak main-main?" Dia seorang tokoh ilmu silat, mana enak hatinya apa bila dihadapi seorang lawan begini muda yang mempergunakan pedang kayu?
"Memang inilah senjataku dan aku tidak main-main, pengemis tua."
"Jangan menyesal nanti dan bilang aku berlaku sewenang-wenang!" kata pula Souw Kiu, masih meragu. Pertandingan ini disaksikan oleh banyak tokoh Hoa-san-pai, sebab itu dia harus memperlihatkan kegagahannya.
"Aku tak akan menyesal. Kalian memang sudah bertekad untuk membunuhku, tentu saja aku pun bertekad untuk mempertahankan nyawaku sedapat mungkin. Aku tidak biasa memegang pedang tulen, biasa bermain-main dengan pedangku ini. Kalau kau memang berkukuh hendak membunuhku, silakan."
"Awas pedang!"

Sesudah mengeluarkan bentakan ini, dengan secepat kilat Souw Kiu menerjang dengan pedangnya. Gerakan pedangnya sangat cepat dan mengeluarkan suara berdesing yang mengerikan.

Namun bagi Yo Wan, gerakan pengemis itu tidaklah terlalu hebat, apa lagi cepat. Kalau dibandingkan dengan jurus-jurus yang dikeluarkan Sin-eng-cu atau Bhewakala, gerakan itu seperti anak kecil main-main belaka!

Dengan tenang dia kemudian memainkan jurus-jurus yang sesuai dengan pedang yang dipegangnya, yaitu Ilmu Silat Liong-thouw-kun yang diturunkan oleh Sin-eng-cu padanya. Memang pedang kayu itu adalah senjata buatan Sin-eng-cu yang dahulu dia pakai untuk menghadapi cambuk dari Bhewakala. Maka ketika dia bersilat pedang dengan jurus-jurus dari Sin-eng-cu, seketika pedang kayu di tangannya itu berubah menjadi puluhan batang banyaknya dalam pandang mata lawannya!

“Whir-whir-whirrr…!”

Pedang kayu ini menerbitkan bunyi angin dibarengi kilatan sinar yang membingungkan hati Souw Kiu.

Karena maklum bahwa bocah ini benar-benar pandai, Souw Kiu segera mengerahkan seluruh tenaga dalam dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk mendapatkan kemenangan. Dia sengaja hendak mengadu senjata, karena merasa yakin bahwa sekali pedang kayu itu bertemu dengan pedangnya, tentu pedang kayu itu akan patah dan dia akan mudah merobohkan lawan.

Hui Kauw memandang dengan kagum sekali. Ilmu pedang yang dimainkan Yo Wan itu benar-benar merupakan ilmu pedang yang selain indah, juga amat luar biasa. Dia sendiri belum tentu dapat mainkan pedang kayu seperti itu. Ketika dia melirik ke arah suaminya, wajah Kun Hong tegang sekali dan bibir Pendekar Buta ini menggumam lirih,
"Ahhh... mana mungkin...?"

Memang, dapat dibayangkan betapa heran hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan ilmu silat Yo Wan yang kali ini cara bersilatnya sama sekali berlawanan dengan dua gerakan ketika merobohkan lawan pertama tadi. Tidak demikian saja, bahkan ilmu pedang yang dimainkan ini mengandung jurus-jurus Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, yaitu ilmu silatnya sendiri! Padahal dia sama sekali belum pernah mengajarkan ilmu itu meski pun hanya sejurus kepada muridnya.

Para tokoh Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh yang berilmu tinggi. Apa lagi ketuanya, Kui Sanjin yang dikenal sebagai seorang ahli pedang Hoa-san Kiam-sut, di samping isterinya yang juga hadir di situ. Mereka semua kini berdiri bengong, kagum bukan main.

Siapa orangnya yang tidak kagum kalau melihat betapa kacung kuda itu dengan hanya sebatang pedang kayu dapat menghadapi seorang ahli pedang seperti Souw Kiu? Dan kadang-kadang pedang di tangan pengemis itu dengan hebatnya menggempur pedang kayu, akan tetapi jangan kata pedang kayu itu menjadi patah karenanya, malah tampak jelas betapa lengan dan tangan Souw Kiu yang memegang pedang tergetar hebat.

Ini hanya menjadi bukti bahwa bocah itu mempunyai tenaga sinkang yang ampuh sekali, tenaga yang bukan sewajarnya dimiliki seorang pemuda tanggung berusia enam belas tahun. Diam-diam mereka menduga-duga, murid siapakah gerangan pemuda ini dan apa maksud orang muda yang memiliki kesaktian itu naik ke Hoa-san-pai dan berpura-pura menjadi tukang kuda? Mengandung maksud tersembunyi yang bagaimanakah? Mereka juga merasa gelisah, menduga bahwa tentulah pemuda itu mengandung suatu maksud tertentu.

Yang paling bingung dan kaget setengah mati adalah Souw Kiu sendiri. Pedang kayu di tangan bocah itu bukan main hebatnya. Gerakannya aneh, daya tahannya amat kokoh kuat dan setiap kali beradu dengan pedangnya sendiri, tangannya tergetar hebat.

Dia menjadi penasaran sekali. Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang kacung kuda? Jika dia dikalahkan oleh salah seorang tokoh Hoa-san-pai, masih tidak apa, akan tetapi oleh seorang kacung kuda? Dan masih bocah lagi!

Dua puluh jurus telah lewat dan dalam penasarannya, Souw Kiu tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring sekali lalu pedangnya melakukan terjangan kilat.

Hui Kauw menutup mulutnya dan seluruh urat tubuhnya menegang. Sebagai seorang ahli pedang, dia pun maklum bahwa pengemis itu melakukan serangan nekat, mengajak adu nyawa. Dia sudah siap untuk menyambar dan menolong muridnya, tetapi dia tidak mau tergesa-gesa karena bila keadaan Yo Wan tidak berbahaya lalu dia menolongnya, hal itu akan merendahkan diri sendiri.

Yo Wan sudah mempelajari banyak sekali jurus-jurus ampuh dan ada kalanya Sin-eng-cu mau pun Bhewakala dalam keadaan terdesak pun mengeluarkan jurus-jurus yang nekat. Karena itu, menghadapi serangan ini dia tidak menjadi gugup. Dari pada dia terluka atau terpaksa membunuh orang, lebih baik mengorbankan pedang kayunya, pikirnya cepat. Melihat pedang lawan menyambar dengan babatan kilat, dia cepat menangkis dengan pedang kayunya, tetapi dia sengaja tidak menyalurkan tenaga kepada pedang kayu ini.

"Krakkk!"

Pedang kayu patah menjadi dua, tubuh Souw Kiu terdorong ke depan dan di lain saat dia sudah roboh terguling oleh pukulan tangan kiri Yo Wan yang tepat mengenai pundak kanannya sedangkan pedangnya entah bagaimana sudah berpindah ke tangan pemuda itu!

Souw Kiu bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba dia muntahkan darah merah. Ternyata satu kali pukulan Yo Wan itu sudah mendatangkan luka parah di dalam dadanya. Hal ini tidak mengherankan karena Yo Wan menggunakan pukulan Iweekang dari Sin-eng-cu sebagai timpalan permainan pedangnya tadi.

Tanpa dapat ditahan lagi, para tosu Hoa-san-pai bertepuk tangan memuji. Setelah ketua mereka berpaling dan memandang tajam, baru mereka berhenti. Walau pun tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang terang-terangan memuji dan berpihak, namun wajah mereka yang berseri menjadi tanda bahwa mereka merasa puas melihat rombongan Sin-tung Kaipang yang sombong itu diberi hajaran oleh orang luar yang mengaku sebagai kacung kuda Hoa-san-pai!

Baru seorang pelamar kacung kuda saja sudah begini hebatnya, apa lagi orang-orang Hoa-san-pai sendiri! Meski pun tidak secara langsung, pemuda yang luar biasa itu sudah mengangkat tinggi derajat dan nama Hoa-san-pai dengan sepak terjangnya menghadapi Sin-tung Kaipang ini.

Yo Wan sendiri sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk memusuhi Sin-tung Kaipang. Dia tahu bahwa kemarin dia telah membuat onar. Hanya untuk menjaga agar nama suhu serta subo-nya jangan sampai terbawa-bawa, maka dia mempertanggung jawabkannya sendiri. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dibunuh tanpa melawan.

Hatinya girang luar biasa setelah berhasil mengalahkan dua orang lawan. Semangatnya timbul dan dia mulai mengerti, mulai terbuka mata hatinya bahwa jika dia mau melawan, belum tentu orang-orang kasar ini mampu membunuhnya!

Sementara itu, Sin-tung Lo-kai sampai menjadi pucat mukanya saking marah. la merasa terhina sekali. Dua orang pembantu yang paling dia andalkan, sudah berturut-turut roboh secara mudah oleh seorang kacung kuda.

"Orang-orang Hoa-san-pai!" bentaknya sambil mengangkat tongkatnya ke depan dada. "Apakah kalian diamkan saja bocah setan ini menghina kami?"
"Urusanmu dengan anak ini tak ada sangkut-pautnya dengan kami, Pangcu," berkata Kui Sanjin dengan suara tenang.

Kakek ketua Hoa-san-pai ini sekarang timbul kepercayaannya terhadap Yo Wan. Pantas saja bocah ini hendak membereskan sendiri, kiranya dia memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebat. Dia masih tidak mengerti kenapa bocah ini suka menutupi dan melindungi Hoa-san-pai, akan tetapi jalan satu-satunya bagi ketua Hoa-san-pai ini untuk membalas budi hanya membiarkan bocah itu melanjutkan maksud hatinya. Inilah sebabnya maka dia sengaja menjawab seperti itu.

"Hemmm, biarlah kubikin mampus dahulu bocah ini, baru kami akan bicara lagi dengan Hoa-san-pai!" Sin-tung Lo-kai berseru marah. "Bocah setan, lekas kau memilih senjata. Aku tidak sudi menyerang lawan tanpa senjata. Kalau kau butuh pedang, orang-orangku bisa memberi pinjam untukmu."

Yo Wan maklum bahwa lawannya ini tentu seorang yang pandai. Kemantapan gerakan tongkat itu saja sudah membayangkan tenaga Iweekang yang amat hebat. la tidak berani memandang ringan, maka dilolosnya cambuk peninggalan pertapa Bhewakala. Cambuk ini hitam warnanya, panjang dan berat, tetapi di tangan Yo Wan terasa ringan dan enak. Maklum, selama tiga tahun dia main-main dengan cambuk ini.

"Ketua Sin-tung Kaipang, sesungguhnya aku tidak suka berkelahi dengan siapa pun juga, aku tak ingin mencari perkara dengan siapa juga. Akan tetapi bila kau masih tetap nekat hendak membunuhku, tentu saja aku akan berusaha menyelamatkan diri," jawab Yo Wan sambil memegang gagang cambuk dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membelai-belai ujung cambuk.
"Tak usah cerewet, lihat tongkatku!" Ketua pengemis itu menggerakkan tongkatnya dan berkelebatlah sinar beraneka warna seperti pelangi menyilaukan mata.

Yo Wan kaget dan bingung seketika karena gerakan tongkat itu hebat serta menyilaukan warnanya. Juga para tokoh Hoa-san-pai menahan nafas. Sekali ini mereka benar-benar khawatir karena tingkat kepandaian Sin-tung Lo-kai benar-benar tidak boleh dipandang ringan. Anak muda remaja ini mana mampu mempertahankan diri?

"Tar-tar-tarrr...!"

Lecutan cambuk bertubi-tubi terdengar nyaring disusul berkelebatnya sinar cambuk yang hitam, bergerak-gerak bagai ular naga hitam bermain di angkasa. Yo Wan telah mainkan ilmu cambuknya Ngo-sin Hoan-kun dan ujung cambuk itu kini melecut-lecut, menyambar-nyambar setelah membentuk lingkaran-lingkaran aneh di udara.

Kagetlah semua orang. Hui Kauw melihat betapa suaminya sambil mengerutkan kening telah mengepal tinjunya.

"Bhewakala... siapa lagi... tentu Bhewakala...," terdengar suaminya bersungut-sungut.

Yang paling kaget adalah Sin-tung Lo-kai sendiri. Permainan cambuk lawannya amatlah hebatnya, bagaikan gelombang samudera sedang mengamuk. Lingkaran-lingkaran yang bergelombang lima kali itu benar-benar sangat dahsyat, menyembunyikan ujung cambuk yang kadang-kadang mematuk dan melecut bagai petir menyambar.

Inilah ilmu cambuk yang luar biasa aneh, yang belum pernah disaksikan Sin-tung Lo-kai selama hidupnya. la mengertak gigi, mengerahkan seluruh kepandaian dan mainkan ilmu tongkatnya untuk menahan gelombang dan petir itu.

Akan tetapi Yo Wan tidak mau memberi hati kepadanya. Pemuda ini memilih jurus-jurus serangan dari Ngo-sin Hoan-kun sehingga belum lewat tiga puluh jurus, ketua pengemis itu sudah mundur-mundur dan hanya dapat menangkis serta mengelak ke sana ke mari, tidak mampu membalas dan keadaannya repot sekali.
Tiba-tiba pengemis tua itu mengeluarkan bentakan keras dan sinar-sinar hijau langsung menyambar ke arah Yo Wan. Inilah sinar senjata rahasia berupa paku-paku hijau yang beracun, yang tadi disambitkan secara diam-diam, merupakan senjata gelap yang sangat berbahaya.

"Curang...!" Hui Kauw berseru, namun dia tahu bahwa dia sendiri tidak mampu menolong karena senjata-senjata gelap itu dilempar dari jarak yang amat dekat, yaitu selagi kedua orang itu bertanding berhadapan.

Yo Wan adalah seorang pemuda yang belum berpengalaman dalam urusan bertempur. Sungguh pun dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, tetapi dia tidak tahu akan adanya akal-akal busuk dari lawan macam Sin-tung Lo-kai. Akan tetapi dia seorang yang amat cerdik.

Melihat berkelebatnya sinar-sinar hijau dan juga mendengar seruan subo-nya, dia cepat menggunakan langkah ajaib. Kini terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan memainkan langkah-langkah yang dia pelajari dari suhu-nya karena dia maklum bahwa benda-benda yang menyambarnya itu amat berbahaya.

Dan benar saja, dengan langkah-langkah ajaib yang dia mainkan, tujuh buah benda kecil kehijauan itu meluncur lewat di samping tubuhnya, tak ada sebuah pun mengenai dirinya. Teringat akan bahaya ini, timbul kemarahan Yo Wan. la mencabut anak panah dengan tangan kiri, pecutnya kembali menerjang maju dan kini dibarengi dengan sambitan anak panah.

Sin-tung Lo-kai tadi terkejut bukan main melihat pemuda aneh itu dapat menghindarkan diri dengan gerakan kaki seperti orang mabuk. Selagi dia kecewa dan terkejut, cambuk lawannya menerjang seperti hujan badai. Cepat dia mengangkat tongkat menangkis dan melompat mundur.

Tetapi tiba-tiba dia berteriak keras dan roboh, anak panah itu menancap pada dadanya sebelah kanan! Baiknya anak panah itu tidak terlalu dalam menembus kulit dada, namun cukup membuat ketua Sin-tung Kaipang itu mengerang kesakitan dan tidak bisa bangun kembali.

Anak buahnya cepat memberi pertolongan. Tanpa pamit lagi Sin-tung Lo-kai menyuruh anak buahnya memanggulnya turun gunung! Mereka bagaikan serombongan anjing yang disiram air panas, lari tersaruk-saruk sambil tunduk, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi.

Andai kata mereka memiliki buntut, sudah tentu buntut itu mereka kempit di antara kaki. Kekalahan yang diderita sekali ini benar-benar membuat mereka kuncup dan selamanya mereka takkan berani memusuhi Hoa-san-pai. Baru melawan seorang kacung kuda saja, ketua mereka dirobohkan dengan mudah!

Setelah musuh pergi, Yo Wan tidak dapat menyembunyikan diri lagi. la menghampiri Kwa Kun Hong dan Kwee Hui Kauw, serta merta dia menjatuhkan diri berlutut lalu berkata dengan suara gemetar penuh keharuan.

"Suhu...! Subo...!" la tinggal berlutut, meletakkan mukanya di atas tanah dan meramkan kedua matanya, mulutnya berkata lirih, "...teecu datang menyusul..."
"Wan-ji (anak Wan)! Kenapa baru sekarang kau datang...?" Hui Kauw berkata dan siap merangkul murid itu. Akan tetapi nyonya muda ini menahan kedua tangannya pada saat melihat wajah suaminya. Jelas bahwa suaminya kelihatan marah.
"A Wan, apa maksudmu datang seperti ini?"

Yo Wan tak dapat menjawab dan pada saat itu, para tokoh Hoa-san-pai sudah datang menghampiri. Dengan senyum lebar Kui Sanjin berkata,
"Ahhh, kiranya anak ini murid Kun Hong? Pantas begini lihai! Ha-ha-ha-ha, benar-benar Sin-tung Kaipang tidak tahu diri, dan senang sekali hati pinto mengetahui bahwa anak yang memberi hajaran kepada mereka kiranya adalah orang sendiri! Ha-ha-ha!"

Para tokoh Hoa-san-pai sungguh-sungguh merasa gembira dan bangga. Kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta tentu saja sudah mereka ketahui dengan baik, dan meski pun Pendekar Buta terhitung golongan muda di Hoa-san, akan tetapi dialah sebetulnya yang menjadi andalan untuk membikin besar nama Hoa-san-pai. Kelihaian anak muda yang sudah mengusir para tokoh Sin-tung Kaipang ini merupakan bukti akan kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta.

Tentu saja mereka tidak mengerti bahwa Pendekar Buta sendiri berpikir lain pada saat itu. Tidak tahu bahwa Kun Hong amat marah kepada Yo Wan, hanya menahan hatinya karena dia tidak ingin memarahi muridnya di depan banyak orang.

"A Wan kau ikut aku...!" kata Kun Hong kepada anak muda itu.

Yo Wan mengerti bahwa suhu-nya marah, sebab itu dengan kepala tunduk dia mengikuti gurunya masuk ke dalam, diikuti pula oleh Kwee Hui Kauw yang menggandeng tangan Swan Bu. Para tokoh Hoa-san-pai yang masih bergembira itu juga mengundurkan diri, membiarkan guru dan murid itu menikmati pertemuan tanpa diganggu.

"Nah, sekarang ceritakan tentang sikapmu yang aneh itu, A Wan. Aku ingin mendengar selengkapnya dan sejujurnya. Mengapa kau datang menyusul kami secara sembunyi dan pura-pura menjadi kacung kuda?" tanya Kun Hong, suaranya perlahan.

Akan tetapi Yo Wan maklum bahwa suhu-nya sedang tak senang hati. Menggigil dia dan cepat-cepat dia berlutut di depan suhu-nya yang duduk di atas sebuah kursi lain, ada pun Swan Bu berdiri memandang dengan matanya yang lebar tajam.

Dengan suara lirih Yo Wan lalu menceritakan pengalamannya sejak suhu dan subo-nya turun gunung meninggalkannya seorang diri. Tentang niatnya menyusul ke Hoa-san-pai tiga tahun yang lalu, dan betapa dia bertemu dengan Sin-eng-cu serta Bhewakala yang sedang bertanding dan keduanya terluka, betapa kemudian dia menolong mereka dan selama tiga tahun menjadi perantara dalam adu ilmu sampai Sin-eng-cu meninggal dunia karena tua dan Bhewakala kembali ke dunia barat.

"Kemudian teecu menyusul ke Hoa-san, Suhu, dan sungguh tidak teecu kehendaki telah terjadi keributan di sini, bahkan teecu-lah yang menjadi biang keladinya. Teecu mengaku salah dan siap menerima hukuman apa pun juga dari Suhu dan Subo."
"Mengapa kemarin kau tidak langsung naik menemui kami, tapi malah bersembunyi dan menyamar sebagai tukang kuda?" suara Kun Hong masih bengis karena hatinya belum puas.
"Teecu merasa ragu-ragu... dan takut kalau-kalau Suhu tidak menghendaki kedatangan teecu... kebetulan teecu bertemu dengan dua orang tosu dan putera Suhu ini... teecu ditawari pekerjaan tukang kuda, teecu lalu menerimanya, ingin melihat gelagat lebih dulu sebelum teecu berani menghadap Suhu. Celakanya, di tengah jalan seekor di antara tiga kuda yang harus teecu bawa ke puncak dibunuh pengemis itu. Teecu tak ingin berkelahi, hanya minta ganti seekor kuda yang hidup, kiranya mereka marah dan menyerang teecu. Akhirnya mereka lari dan meninggalkan kedua ekor kuda mereka, terpaksa teecu bawa sekalian ke puncak, dan kuda yang mati teecu kubur di pinggir jalan."

"Yang mati itu kudaku! Ayah, suruh murid Ayah ini mencarikan pengganti kudaku, dialah yang bertanggung jawab karena dia yang membawanya,” Swan Bu berseru nyaring.
"Hushhh, diam kau!" Kun Hong membentak puteranya lalu bertanya, "A Wan, setelah kau tahu rombongan Sin-tung Kaipang datang mengapa kau masih pura-pura tidak mengenal kami dan melayani mereka seorang diri mengandalkan ilmu silatmu? Apakah kau hendak pamerkan kepandaian di Hoa-san-pai?"

Yo Wan mengangguk-angguk mencium lantai. “Ahhh tidak... Suhu, sama sekali tidak...,” katanya gagap dan takut. "Mana teecu berani begitu kurang ajar pamerkan kepandaian sedangkan teecu tidak bisa apa-apa? Hanya kebetulan saja teecu bisa menang padahal sama sekali teecu tidak bermaksud demikian. Sesudah melihat bahwa peristiwa kemarin itu menimbulkan keributan hebat, teecu menjadi takut kalau Hoa-san-pai terbawa-bawa, terutama sekali kalau Suhu dan Subo terbawa-bawa oleh gara-gara yang teecu lakukan kemarin. Maka dari itu, teecu sengaja pura-pura tidak ada hubungan dengan Suhu dan Subo, juga dengan Hoa-san-pai. Teecu ingin mempertanggung-jawabkan sendiri, kalau perlu teecu rela mati untuk menebus kesalahan, asal tidak sampai menyeret Hoa-san-pai dan terutama sekali Suhu berdua. Akan tetapi, tentu saja seberapa dapat teecu hendak mempertahankan diri terhadap pengemis-pengemis yang jahat itu."

Kun Hong mengangguk-angguk dan pada sepasang mata Hui Kauw tampak dua butir air mata. Nyonya muda itu menjadi terharu sekali melihat murid yang amat setia itu.

Diam-diam dia memperhatikan dan menjadi kagum sekali. Muridnya ini sekarang bukan seorang anak kecil lagi, melainkan sudah menjadi seorang jejaka tanggung yang tampan dan sederhana, pandai merendahkan diri biar pun memiliki kepandaian yang amat tinggi.

"Yo Wan, apakah kehendakmu sekarang?" Kun Hong bertanya, suaranya halus kini.
"Suhu, tidak ada keinginan lain dalam hati teecu semenjak dahulu selain ikut Suhu dan Subo, bekerja untuk Suhu dan mengharapkan belas kasihan berupa pelajaran ilmu silat agar dapat teecu pakai kelak untuk membalas dendam terhadap The Sun."

Kun Hong menggeleng kepala. "Tidak mungkin, Yo Wan, tidak bisa kau ikut dengan kami di sini..."

"Suhu, biarlah teecu menjadi tukang kuda, menjadi kacung pelayan, teecu akan bekerja apa saja, biarkan teecu melayani Suhu berdua, dan adik... adik Swan Bu, asal teecu boleh berdekatan dengan Suhu berdua...," suara Yo Wan menggetar karena terharu dan khawatir kalau-kalau dia tidak akan diterima oleh suhu-nya.
"Yo Wan, kau bukan kanak-kanak lagi! Kau sudah dewasa, masa selama hidupmu hanya ingin menjadi kacung saja? Tidak, aku tak mau menerimamu di sini, sekarang sudah tiba waktunya kau hidup sendiri, mengejar ilmu dan pengalaman, mengisi hidupmu dengan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi orang lain dan bagi dirimu sendiri, kau tak boleh tinggal di sini."
"Suhu, teecu ingin menerima pelajaran ilmu silat dari Suhu..."
"Tidak bisa, Yo Wan. Ilmu silat dariku tidak boleh dicampur aduk. Kau sudah menerima warisan ilmu silat yang tinggi dan hebat dari susiok-couw-mu dan dari Bhewakala. Hanya belum kau selami inti sarinya dan belum matang saja. Kepandaianmu sudah cukup dan kalau kau menerima pelajaran dariku, salah-salah bisa rusak malah."
"Suhu, teecu bukanlah murid kakek Sin-eng-cu, juga bukan murid Bhewakala locianpwe. Teecu tidak belajar dari mereka. Apa yang teecu ketahui dari mereka boleh teecu buang dan mulai saat ini juga dan teecu akan mulai belajar dari suhu."

Tiba-tiba ada angin pukulan mendesir dari arah belakang menyerang tengkuk Yo Wan, disusul sinar pedang yang menusuk lambungnya.....
Otomatis Yo Wan membuang diri, lantas bergulingan dan cambuknya berbunyi nyaring ketika bergerak melingkar-lingkar melindungi bagian belakang tubuhnya. Betapa terkejut hatinya pada saat dia melihat bahwa yang menyerangnya tadi ternyata adalah subo-nya sendiri, Kwee Hui Kauw yang kini telah duduk kembali sambil menyarungkan pedangnya.

"Suhu-mu bicara benar, Yo Wan. Ilmu silat kedua orang kakek sakti itu sudah mendarah daging padamu, tak mungkin dibuang begitu saja lalu mulai belajar ilmu silat baru. Akan merusak segala-galanya. Kau lihat sendiri tadi, begitu ada bahaya mengancam, otomatis tubuhmu melakukan gerakan sesuai dengan jurus-jurus dari kedua orang kakek itu. Ilmu silatmu sudah cukup tinggi, tak perlu belajar lagi dari kami."

Yo Wan tertegun, lalu menjatuhkan diri berlutut, air matanya bertitik perlahan. "Suhu dan Subo... perkenankan teecu membalas budi Suhu berdua dengan pelayanan, tidak diberi pelajaran silat juga tidak apa, asal teecu dapat melayani Suhu berdua..."

Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan perasaan terharu. Hui Kauw menghapus dua butir air matanya dengan sapu tangan.

"Yo Wan, kami mengusirmu bukan karena kami tidak cinta padamu. Sama sekali tidak. Semua peristiwa, baik yang terjadi di Liong-thouw-san mau pun di sini, bukan salahmu. Aku mengusirmu turun gunung sekarang juga bukan dengan maksud tak baik, muridku, namun dengan maksud untuk kebaikanmu sendiri. Kau bukan anak murid Hoa-san-pai, juga tidak bisa dibilang muridku dan kau sudah dewasa. Kau harus mencari kedudukan dan membuat nama baik di dunia."
"Apakah Suhu mengira bahwa teecu sudah boleh pergi mencari The Sun dan membalas sakit hati ibu?"

Kun Hong menghela nafas panjang. "Dendam... balas membalas... tiada habisnya, tidak akan aman dunia ini selamanya. Yo Wan, mengapa kau tidak membalas dendam dengan kasih?"

Yo Wan bingung, tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhu-nya.

"Bagaimana, Suhu? The Sun menyebabkan kematian ibu, sudah seharusnya kalau teecu mencarinya dan balas membunuhnya."
"Ha-ha-ha, anak bodoh. Siapakah The Sun itu yang bisa mendatangkan kematian pada seseorang? la hanya menjadi lantaran, karena memang nyawa ibumu sudah semestinya kembali pada saat itu, sudah dikehendaki oleh Thian Yang Maha Kuasa!"

Yo Wan makin bingung, dia menoleh kepada subo-nya. Nyonya muda itu maklum bahwa suaminya sedang kambuh, yaitu tenggelam dalam lautan filsafat kebatinan, maka ia lalu berkata halus, "Yo Wan ingin mendengar apa yang selanjutnya harus dia lakukan. Bicara tentang filsafat yang tidak dimengerti olehnya, membuang waktu sia-sia saja."

Kun Hong sadar dari lamunannya, keningnya berkerut. "Yo Wan, jangan kau kira bahwa akan mudah saja menghadapi seorang seperti The Sun. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan kepandaian yang kau warisi dari kedua orang kakek itu masih mentah. Coba kau berdiri dan siap menghadapi seranganku, aku akan mengujimu!"

Yo Wan girang karena ini berarti dia akan mendapat petunjuk. Cepat dia bangkit berdiri, dan secepat kilat Kun Hong telah menerjang. Yo Wan melihat gurunya memukul dengan gerakan cepat akan tetapi pukulan itu amat lambat tampaknya. Dia tidak berani berlaku sembrono.

Melihat betapa ilmu pukulan suhu-nya itu serupa benar dengan Liong-thouw-kun yang dia pelajari dari Sin-eng-cu, segera dia mengeluarkan jurus-jurus Ngo-sin Hoan-kun dari Bhewakala. Sampai lima jurus dia dapat mengimbangi gurunya, tapi pada jurus ke enam, suhu-nya melakukan gerakan serangan yang aneh sekali dan... tahu-tahu pundak kirinya terdorong. Dorongan perlahan yang cukup hebat, membuat Yo Wan terpelanting.

"Aduhhh..." Yo Wan menahan keluhannya.

Dorongan itu mestinya tidak menimbulkan rasa nyeri. Akan tetapi karena kebetulan yang didorong adalah pundak kiri yang tadi terluka oleh anak panah Swan Bu, terasa perih dan sakit sekali.

"...ehhh, kenapa pundakmu...?" Kun Hong bertanya kaget. Diam-diam dia kagum karena muridnya yang masih mentah ilmunya ini ternyata mampu mempertahankan diri sampai lima jurus!
"...ti... tidak apa-apa, Suhu... dorongan Suhu hebat bukan main, teecu rasa biar sampai seratus tahun teecu belajar, tanpa bimbingan Suhu teecu tetap takkan mampu menjadi seorang ahli..."
"Hushh, goblok jika kau berpikir begitu. Kau hanya kurang matang itulah. Pundak kirimu itu... coba kau mendekat." Yo Wan mendekat dan Kun Hong lalu meraba. "Ehh, terluka senjata? Kapan terjadinya? Dalam pertempuran tadi kau sama sekali tidak terluka, kan?"
"Ayah, luka di pundaknya itu adalah karena terkena anak panahku!" Swan Bu berkata lantang. "Ketika tadi dia muncul, kuanggap dia itu mengacau di Hoa-san, maka kupanah dia, kena pundaknya. Akan tetapi dia memiliki ilmu sihir, Ayah. Panahku terus menancap di pundaknya ketika dia bertempur tadi, bahkan ketika melawan Sin-tung Lo-kai, anak panahku itu dia pergunakan untuk melukai lawannya. Apakah itu bukan ilmu hitam?"

"Swan Bu...! Ahh, bagaimana kau menjadi rusak oleh kemanjaan seperti ini? Setan, kau lancang sekali. Hayo lekas minta maaf kepada Yo Wan koko!"

Swan Bu bersungut-sungut. "Aku tidak merasa salah, mengapa minta maaf?"

"Suhu, sudahlah. Adik Swan Bu masih kecil, dan dia mempunyai watak gagah perkasa. Kalau tidak mengira bahwa teecu seorang jahat dan musuh Hoa-san-pai, kiranya dia tak akan melepaskan anak panah. Dia tidak bersalah, Suhu."

Kun Hong menarik nafas panjang. "Yo Wan, setelah kau menerima semua ilmu itu, tak mungkin lagi kau menjadi muridku. Hanya Thian yang tahu betapa kecewa hatiku, karena mencari murid seperti kau, agaknya selama hidupku takkan dapat kutemukan. Sekarang kau ingat baik-baik pesanku. Turunlah dari sini dan kau carilah Bhewakala. Hanya dialah yang dapat menyempurnakan dan mematangkan ilmu yang ada padamu, karena selain sebagian ilmu itu dari dia datangnya, juga dalam pertandingan selama tiga tahun itu tentu dia dapat menyelami ilmu dari susiok-couw-mu pula. Kau harus mematangkan ilmu yang kau miliki itu di bawah petunjuk Bhewakala. Nah, sesudah kepandaianmu matang, baru kau boleh datang lagi kepadaku untuk bicara tentang The Sun."

Yo Wan merasa berduka sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Hui Kauw lalu melangkah maju dan memegang kedua pundaknya. Sepasang mata bening subo-nya itu berair.

"Yo Wan, kau tahu betapa besar kasih sayang kami padamu. Percayalah, semua pesan Suhu-mu adalah demi kebaikan dirimu sendiri. Taati pesannya itu, Yo Wan. Perjalanan mencari pendeta barat itu tentu sukar dan jauh, akan tetapi untuk mencapai sesuatu, makin jauh dan makin sukar akan semakin baik. Terimalah ini untuk bekal di perjalanan." Hui Kauw meloloskan pedang dari pinggangnya, memberikan pedangnya itu kepada Yo Wan, kemudian dia menyerahkan pula sekantung uang emas.

Bukan main terharunya hati Yo Wan. Ingin dia menangis menggerung-gerung oleh kasih sayang yang besar, yang dilimpahkan mereka padanya. Akan tetapi dia maklum bahwa suhu-nya tidak suka akan sikap cengeng semacam ini, maka dia menekan perasaannya, lalu berpamit. Takut kalau-kalau air matanya bercucuran, sesudah mendapat ijin dia lalu melangkah ke luar dengan langkah lebar, lalu berlari secepatnya meninggalkan tempat itu agar tidak ada orang melihat betapa air matanya bercucuran di sepanjang jalan.

Akan tetapi sepasang suami isteri yang sakti itu mengetahui hal ini. Hui Kauw terisak menangis. "Dia anak baik...," katanya.
"Sebaliknya anak kita yang akan rusak bila terus-terusan mendapat kemanjaan yang luar biasa di sini. Hui Kauw, kita harus pergi dari sini, kembali ke Liong thouw-san, sekarang juga."

Bukan main girangnya hati Hui Kauw mendengar ini. Memang inilah yang sudah menjadi idam-idaman hatinya, akan tetapi tadinya Kun Hong menaruh keberatan karena dia ingin membiarkan puteranya hidup bahagia, dekat saudara-saudara di Hoa-san-pai yang amat mencinta anak itu. Siapa tahu, terlalu banyak cinta kasih yang dilimpahkan membuat anak itu tidak pernah dan tidak mau tahu akan kesukaran, membuatnya manja dan selalu ingin dituruti kehendaknya karena semenjak kecil tidak pernah ada yang menolak semua keinginannya…..

********************

Perjalanan yang dilakukan Yo Wan sangat sukar dan jauh. la mentaati pesan Kun Hong, juga dia ingat akan pesan Bhewakala bahwa pendeta itu selalu menanti kedatangannya di Anapurna, yaitu sebuah puncak di Pegunungan Himalaya. Perjalanan yang amat jauh dan membutuhkan ketekatan yang bulat serta keuletan yang tahan uji.

Baiknya dia membawa bekal sekantung uang emas pemberian Hui Kauw. Kalau tidak, perjalanannya tentu akan lambat karena dia harus berhenti-henti untuk bekerja sekedar mencari pengisi perut. Sekarang dia dapat melakukan perjalanan dengan lancar, terus ke barat, hanya mau berhenti kalau kemalaman di jalan atau kalau sudah amat lelah.

Melakukan perjalanan ke timur atau ke selatan jauh lebih cepat dari pada perjalanan ke barat atau ke utara. Hal ini adalah karena semua sungai mengalir ke selatan atau ke timur, dan pada masa itu, di waktu perjalanan darat amatlah sukarnya, jalan satu-satunya yang paling cepat adalah perjalanan melalui air.

Namun Yo Wan adalah seorang pemuda yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Larinya cepat bagaikan kijang dan setiap kali melalui hutan atau gunung yang sukar, dia masih dapat berlari cepat. Juga sebagai seorang pemuda yang berpakaian sederhana, nampak tidak membawa apa-apa, dia selalu terbebas dari gangguan para perampok yang hanya memperhatikan orang-orang yang membawa barang-barang berharga.

Setelah tiba di Pegunungan Himalaya, barulah pemuda itu mengalami kesukaran hebat. Beberapa kali hampir saja dia mendapat celaka ketika perjalanannya sampai di bagian yang tertutup salju. Dinginnya hampir tak tertahankan lagi. Malah pernah ada gunung es longsor, gugur dan kalau dia tidak cepat melompat ke dalam jurang dan berlindung, tentu dia akan terkubur hidup-hidup di dalam salju.

Kurang lebih sudah sebulan dia melalui perjalanan yang amat sukar dan sunyi ini. Hanya kadang-kadang dia berjumpa kelompok pengembara atau singgah di gubuk pertapa. Di tempat seperti ini, uang sudah tidak ada artinya lagi, tak dapat menolong seseorang dari kesengsaraan. Hanya sikap yang baik dapat menolongnya, karena pertolongan datang dari orang-orang yang tidak terbeli oleh harta, melainkan oleh keramahan.

Dari para pertapa inilah Yo Wan akhirnya sampai juga di Anapurna, tempat pertapaan Bhewakala. Pendeta itu amat girang melihat kedatangan Yo Wan yang sekarang berlutut di depannya dan menceritakan semua pengalamannya di Hoa-san.

"Ha-ha-ha, Pendekar Buta memang hebat dan dia cukup menghargai orang lain, maka dia menyuruh kau datang ke sini, muridku. Memang dia betul, meski pun ilmu-ilmu yang pernah kau latih dari aku dan Sin-eng-cu telah mendarah daging pada tubuhmu, namun masih mentah karena kau belum mampu menyelami inti sarinya. Nah, mulai hari ini kau belajarlah baik-baik muridku."

Bhewakala tidak hanya menggembleng Yo Wan dalam ilmu silat untuk menyempurnakan ilmunya, akan tetapi juga memberi gemblengan-gemblengan ilmu batin kepada Yo Wan. Makin lama pemuda ini semakin betah tinggal di Himalaya, pelajaran kebatinan semakin meresap ke dalam hatinya, dan walau pun dia masih buta huruf karena tidak pernah mempelajarinya, namun kini mata hatinya sudah terbuka dan dapatlah dia meneropong ke dalam penghidupan manusia.

Mengertilah dia kini akan ucapan Kun Hong tentang dendam dan balas-membalas, dan makin lama makin tipislah keinginan hatinya untuk mencari The Sun dan membunuhnya. Telah lenyap pula hasratnya untuk merantau di dunia ramai karena di samping gurunya, di tempat sunyi dan dingin ini, dia sudah menemukan ketenteraman hidup, kebahagiaan sejati manusia yang tidak digoda oleh kehendak nafsu, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari lingkaran karma…..

********************
Waktu berjalan pesat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Sembilan tahun lamanya Yo Wan berada di Himalaya dan pada suatu hari Bhewakala yang sudah tua itu jatuh sakit.

Pendeta ini maklum bahwa waktu hidupnya sudah tiba pada saat terakhir. la tidak ingin muridnya yang terkasih itu menyia-nyiakan hidupnya sebagai pertapa selagi masih begitu muda. Dipanggilnya Yo Wan dan dengan suara lirih dan nafas tinggal satu-satu pendeta ini meninggalkan pesan.

"Yo Wan, saat bagiku untuk meninggalkan dunia sudah hampir tiba. Aku girang dengan peristiwa ini, karena selain berarti kebebasanku, juga kau akan terlepas dari ikatanmu dengan aku. Kini ilmu yang kau miliki telah cukup untuk bekal hidup. Bertahun-tahun kau selalu menolak perintahku untuk turun gunung dan pergi merantau, dengan alasan ingin melayani aku yang sudah tua sebagai pembalas budi. Kau masih terikat oleh budi, tentu tak mudah melepaskan diri dari ikatan dendam. Akan tetapi kau sudah masak sekarang, matang lahir batin. Pesanku terakhir ini harus kau taati, Yo Wan. Apa bila aku meninggal dunia, kau harus membakar jenazahku di pondok ini, bakar semua yang berada di sini. Kemudian kau harus meninggalkan tempat ini, kembali ke timur."

"Tapi... Guru…”
"Tidak ada tapi, kau sebagai seorang anak tidak boleh menjadi anak yang puthauw (tidak berbakti). Di sana terdapat kuburan ayahmu, juga ada kuburan ibumu, siapa yang akan merawatnya? Lagi pula, kau bukan ditakdirkan hidup menjadi pertapa. Kau harus turun gunung, kembali ke dunia ramai, mencari jodoh, mempunyai keturunan seperti manusia-manusia lain. Soal The Sun, terserah kebijaksanaanmu sendiri."
"Ahh, Guru..."

Bhewakala tersenyum lebar, kembali berkata, "Biarkan dirimu menjadi permainan hidup, menjadi permainan kekuasan Tuhan, karena untuk itu kau telah diberi hak hidup disertai kewajiban-kewajibannya. Apa bila kau mengingkari pesanku ini, selamanya kau tak akan dapat tenteram, karena kau tentu tidak akan suka mengecewakan aku."

Yo Wan tidak dapat membantah lagi karena dia maklum bahwa semua yang dikatakan gurunya itu betul belaka. la tidak mungkin mau mengecewakan orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya, sungguh pun masa depan di dunia ramai tidak menarik hatinya, bahkan menggelisahkan.

Pada malam harinya, Bhewakala menghembuskan nafas terakhir di hadapan Yo Wan. Pemuda yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun lebih itu menyambut kematian ini dengan wajar, tidak menangis, meski pun ada juga penyesalan akibat dari perpisahan dengan orang yang disegani dan dihormati.

la melaksanakan pesan gurunya itu dengan baik-baik, membakar jenazah berikut pondok dan segala benda yang berada di sana. Tiga hari tiga malam dia berkabung di tempat yang sudah menjadi gundul dan kosong itu, kemudian mulailah dia turun gunung.

Pagi-pagi dia berangkat ke arah munculnya matahari yang kemerah-merahan. Bergidik dia melihat keindahan ini, sebab dia merasa seakan-akan sedang berjalan menuju ke api neraka yang merah, dahsyat dan akan menelannya…..

********************
Selanjutnya baca
JAKA LOLA : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger