logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Jaka Lola Jilid 08


Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, menuruni Liong-thouw-san dengan hati gelisah. Mereka melakukan perjalanan cepat, akan tetapi karena perjalanan itu amat jauh dan mereka di sepanjang jalan mencari keterangan tentang putera mereka, maka lama juga baru mereka sampai di luar kota Kong-goan.

Kota itu kira-kira berada dalam jarak lima puluh li lagi saja, dan karena hari amat panas, maka keduanya beristirahat dalam hutan pohon liu yang indah dan sejuk hawanya. Kun Hong bersandar pada sebatang pohon. Hatinya yang risau oleh urusan puteranya itu dia tekan dengan duduk bersiulian menghilangkan segala macam pikiran keruh.

Hui Kauw tak pernah dapat melupakan puteranya semenjak mereka turun gunung, dan pada saat itu ia pun duduk termenung dalam bayangan pohon. Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan memandang ke depan. Dari depan ada orang datang, seorang wanita muda yang jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Hui Kauw tertarik sekali. Ia menahan seruannya ketika melihat gadis itu terguling! Cepat Hui Kauw melompat-lompat ke arah gadis itu dan kembali ia menahan seruannya.

Gadis ini masih muda, lagi cantik jelita. Akan tetapi muka dan lehernya penuh jalur-jalur bekas cambukan, pakaiannya banyak yang robek, juga bekas terkena cambuk. Agaknya gadis ini baru saja mengalami siksaan.

"Kasihan..." Hui Kauw berkata.

Tanpa ragu-ragu dia lalu memondong tubuh itu dan membawanya kembali ke tempat semula. Dia dapat menduga bahwa gadis ini bukan orang lemah, terbukti dari sebatang pedang yang tergantung di belakang punggungnya.

"Siapakah dia?" Kun Hong bertanya.
"Entahlah, seorang wanita muda, tubuhnya penuh luka bekas cambukan, dia pingsan," jawab Hui Kauw.

Tanpa diminta Kun Hong menjulurkan tangan meraba dahi, pundak, dan pergelangan tangan.

"Luka-lukanya tidak ada artinya, hanya luka kulit, akan tetapi dia terserang hawa nafsu kemarahan dan kedukaan sehingga mempengaruhi limpa dan hati, membuat hawa Im dan Yang di dalam tubuh tidak berimbang, hawa Im membanjir. Karena itu, kau bantulah dengan Yang-kang pada punggungnya."

Hui Kauw sebagai isteri Pendekar Buta tentu saja sedikit banyak sudah tahu akan ilmu pengobatan dan sudah biasa dia membantu suaminya. Mendengar ini, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menempelkan telapak tangan kanan di punggung gadis itu dan mengerahkan Yang-kang disalurkan ke dalam tubuh si sakit melalui punggungnya.

Tepat cara pengobatan ini. Tak sampai seperempat jam, gadis itu sudah siuman kembali dan jalan pernafasannya tidak memburu seperti tadi, malah akhirnya ia membuka kedua matanya, menggerakkan kepala memandang ke kanan kiri.

"Tenang dan kau berbaring saja, Nak. Biar kuobati luka-lukamu," kata Hui Kauw sambil mengeluarkan sebungkus obat bubuk.

Gadis itu meringis kesakitan, akan tetapi membiarkan Hui Kauw mengobatinya.

"Mula-mula memang perih rasanya, akan tetapi sebentar pun akan sembuh," kata Hui Kauw. Memang ucapannya ini betul karena hanya sebentar gadis itu merintih, kemudian kelihatan tenang.
"Terima kasih, cukuplah. Kau baik sekali, Bibi..." Gadis itu bangkit duduk dan pada waktu dia menoleh ke kiri memandang Kun Hong, wajahnya berubah dan dia nampak kaget.
"Siapa dia...?"

Hui Kauw tersenyum. "Jangan khawatir, dia itu hanya suamiku. Kau kenapakah, tubuhmu bekas dicambuki dan kau kelihatan berduka, marah, dan mudah kaget. Siapakah kau?"

Gadis itu menengok ke kanan kiri seakan-akan ada yang dicari dan ditakuti, kemudian ia berkata, "Aku belum tahu siapakah kalian ini, bagaimana aku berani bicara mengenai diriku?"

Kembali Hui Kauw tersenyum, dia sama sekali tidak marah melihat kecurigaan gadis itu. Agaknya gadis ini telah banyak menderita dan menjadi korban kejahatan hingga mudah menaruh curiga terhadap orang lain.

"Jangan khawatir, anak manis. Kami bukanlah orang jahat, dia itu suamiku bernama Kwa Kun Hong dan aku isterinya... he, kenapa kau...?" Hui Kauw terheran-heran melihat gadis itu melompat dan mukanya pucat.
"Aku... aku takut kalau... kalau mereka mengejar..."
"Jangan takut, apa bila ada orang jahat mengganggumu, kami akan membantumu," Kun Hong berkata, suaranya halus, tetapi diam-diam hatinya menduga-duga. "Kau siapakah dan siapa pula mereka yang mengancam keselamatanmu?"

Gadis itu duduk kembali, memandang bergantian kepada Kun Hong dan isterinya. "Aku Ciu Kim Hoa, dan mereka itu musuh-musuhku."
"Siapa mereka dan apakah yang terjadi? Mengapa kau bermusuhan dengan mereka?" tanya Hui Kauw.

Sekarang gadis itu terlihat tenang. la duduk dan menarik nafas beberapa kali, kemudian ia bercerita, suaranya perlahan dan agaknya keraguannya lenyap. "Aku seorang yang yatim piatu, hidup sebatang kara. Keluargaku habis dengan meninggalkan musuh besar, musuh keturunan yang harus kubalas. Aku mencarinya dan bertemu, tapi... tapi... aku tidak dapat benci kepadanya, betapa pun juga... aku harus melaksanakan balas dendam. Baru saja berhasil sebagian, aku lalu dikeroyok... dan ditawan, dicambuki serta disiksa. Akhirnya aku berhasil membebaskan diri dan lari sampai di sini." Dia menengok lagi ke sana ke mari, tampak ketakutan. "Aku tahu mereka tentu akan mengejarku, dan aku tidak berani pergi seorang diri..."

Hui Kauw mengerutkan kening. Di dunia ini banyak sekali terjadi permusuhan, banyak terjadi pertandingan dan darah mengalir, semuanya hanya karena dendam mendendam yang tiada habisnya.

"Kau perlu menenangkan hati dan memulihkan tenaga, Kim Hoa. Biarlah semalam ini kau bersama kami agar kami dapat mencegah musuh-musuhmu mencelakaimu. Bila sampai besok tidak ada yang mengejarmu, baru kau melanjutkan perjalanan."
"Terima kasih, Bibi. Kau baik sekali."

Gadis itu masih kelihatan gelisah, akan tetapi ia tidak banyak bicara. Hanya menjawab kalau ditanya, itu pun singkat saja. la pun tidak menolak ketika Kun Hong dan Hui Kauw memberi roti kering dan minum kepadanya, dan juga tidak membantah ketika matahari sudah agak menurun, suami isteri itu mengajaknya melanjutkan perjalanan.

Atas pertanyaan, gadis itu menjawab bahwa hendak pergi ke kota raja di mana katanya berdiam seorang pamannya. Karena jalan menuju ke kota raja melewati kota Kong-goan, maka Hui Kauw mengajak gadis itu melakukan perjalanan bersama.

Akan tetapi tentu saja Hui Kauw tak menghendaki gadis ini mengetahui urusan apa yang sedang diselidikinya di Kong-goan. Oleh karena itu, pada sore harinya ia dan suaminya mengajak gadis itu berhenti di sebuah gubuk di tengah sawah, di luar kota Kong-goan. Jika besok pagi tidak terjadi sesuatu, ia akan menyuruh gadis ini melanjutkan perjalanan sendiri.

Malam itu hawanya amat dingin, jauh berbeda dengan siang tadi. Gubuk atau pondok itu adalah pondok yang didirikan oleh tuan tanah untuk menampung hasil panen tiap tahun, hanya berupa sebuah pondok bambu yang berlantai batang padi kering. Bagi mereka yang lelah, tempat ini amatlah nyaman untuk beristirahat melewatkan malam yang dingin. Batang-batang padi kering itu hangat dan empuk, dinding bambu meski pun reyot dapat menahan sebagian angin yang bertiup dingin.

Kegelisahan hati, kelelahan, ditambah dengan dinginnya hawa membuat Pendekar Buta dan isterinya tidur nyenyak menjelang tengah malam. Orang yang berhati gelisah, atau susah menjadi lelah sekali, dan memang sukar tidur, apa bila tidur sudah menguasainya, dia akan nyenyak sekali dan agaknya dalam ketiduran inilah segala kegelisahan, segala kelelahan, lenyap tanpa bekas.

Suami isteri ini tidur pulas di salah satu sudut pondok bambu. Kun Hong tidur telentang, nafasnya panjang-panjang berat, sedangkan Hui Kauw tidur miring menghadapi tubuh suaminya, nafasnya halus tidak terdengar.

"Bibi...!" Hening tiada jawaban.
"Paman...!" Juga kesunyian mengikuti panggilan ini.

Siu Bi bangkit perlahan. Dia tadi rebah di sudut lain, tanpa pernah meramkan matanya. Setelah duduk, kembali ia memanggil suami isteri itu, menyebut mereka paman dan bibi, malah kali ini suaranya agak dikeraskan. Akan tetapi sia-sia, tidur mereka agaknya amat nyenyak sehingga tidak mendengar panggilannya.

la menahan nafas lalu bangkit berdiri dan mengerahkan seluruh tenaga ke arah matanya untuk memandang. Bulan di luar pondok bersinar cemerlang, cahayanya yang redup dan dingin menerobos di antara celah-celah atap dan dinding yang tak rapat, memberi sedikit penerangan ke dalam pondok. Siu Bi dapat melihat suami isteri itu tidur.

Pendekar Buta telentang, isterinya miring menghadapinya. Jantungnya lantas berdebar keras dan tangan kanannya bergerak meraba gagang pedang. Kesempatan yang amat baik, pikirnya. Kesempatan baik untuk melaksanakan sumpahnya, menuntaskan dendam kakeknya! Sepasang matanya beringas dan nafasnya agak terengah.

Mudah sekali. Hanya datu kali bacok selagi mereka tidur nyenyak dan... lengan mereka akan buntung! Benar-benar suatu hal yang sama sekali tak pernah dia mimpikan bahwa akhirnya dia akan dapat bertemu dengan musuh-musuh ini dalam keadaan sedemikian menguntungkannya. Agaknya arwah kakeknya sendiri yang menuntunnya sehingga dia dapat bertemu dengan mereka, dapat tidur sepondok dan mendapat kesempatan begini baik.

"Singgg…!" Pedang Cui-beng-kiam telah dicabutnya.

Siu Bi kaget sendiri mendengar suara ini. Cepat-cepat dia memandang ke sudut itu dan telinganya mendengarkan. Akan tetapi, suami isteri itu tidak bergerak, juga pernafasan mereka masih biasa, tidak berubah.

Dia berpikir sebentar. Salah, pikirnya dan pedang itu dia masukkan kembali ke sarung pedang. Dia tak bermaksud membunuh mereka, melainkan membuntungi lengan mereka yang kiri.

Akan tetapi dia teringat bahwa biar pun lengan mereka sudah buntung, agaknya kalau mereka sadar, dia tidak mungkin dapat menghadapi mereka yang memiliki kesaktian luar biasa. Membuntungi seorang di antara mereka tentulah menimbulkan pekik dan mereka terbangun, lalu dialah yang akan celaka di tangan mereka. Tidak, bukan begini caranya! Harus lebih dulu membuat mereka tidak berdaya.

Ada sepuluh menit Siu Bi berdiri termangu-mangu, memeras otak mencari keputusan yang tepat. Tubuhnya tadi agak menggigil karena tegang, akan tetapi sekarang ia sudah berhasil menekan perasaannya dan menjadi tenang. la amat memerlukan ketenangan ini, karena apa yang akan ia lakukan adalah soal mati hidup.

la menghadapi suami isteri yang terkenal sebagai orang-orang sakti di dunia persilatan. Nama Pendekar Buta menggegerkan dunia kang-ouw, bahkan orang-orang sakti seperti Ang-hwa Nio-mo dan kawan-kawannya merasa gentar menghadapi Pendekar Buta dan harus menghimpun banyak tenaga sakti untuk menghadapinya. Dan sekarang, sekaligus dia menghadapi suami isteri itu dalam keadaan yang amat menguntungkan!

Siu Bi membiasakan dulu pandang matanya di dalam pondok yang remang-remang itu. Baiknya sinar bulan makin bercahaya, agaknya angkasanya amat cerah, tidak ada awan menghalangi. Perlahan-lahan Siu Bi melangkah menghampiri sudut di mana mereka tidur nyenyak.

Dadanya berdebar lagi, terasa amat panas, sukar baginya untuk bernafas. Punggungnya terasa dingin sekali, akan tetapi sekarang kaki tangannya tak menggigil lagi. la menahan nafas yang disedotnya dalam-dalam, lalu melangkah lagi. Matanya tertuju ke arah Hui Kauw.

Nyonya itu tidurnya miring sehingga memudahkan dirinya untuk menotok jalan darah di punggung yang akan melumpuhkan kaki tangan. Pendekar Buta tidur telentang, lebih sukar untuk membuatnya tidak berdaya dengan sekali totokan. Oleh karena inilah maka Siu Bi mengincar punggung Hui Kauw dan maju makin dekat.

Setelah dekat sekali dan matanya bisa memandang dengan jelas, Siu Bi menahan nafas mengerahkan tenaga dalam. Tangan kanannya bergerak dan dua buah jari tangannya yang kanan menotok punggung Hui Kauw. Dia merasa betapa ujung jari-jarinya dengan tepat menemui jalan darah di bawah kulit yang halus.

Hui Kauw tanpa dapat melawan telah kena ditotok jalan darahnya di punggungnya dan pada detik berikutnya, Siu Bi sudah menotok jalan darah di leher yang membuat nyonya itu menjadi gagu untuk sementara. Hui Kauw mencoba untuk menggerakkan tubuh, tapi sia-sia dan tubuhnya yang miring itu menjadi telentang, matanya terbelalak akan tetapi ia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi.

Siu Bi yang merasa takut bukan main kalau-kalau Pendekar Buta bangun, cepat-cepat menggerakkan kedua tangannya menotok kedua jalan darah di pundak kanan kiri, kaget sekali karena ujung jari-jari tangannya bertemu dengan kulit yang amat lunak, lebih lunak dari pada kulit punggung Hui Kauw tadi.

Pendekar Buta mengeluh dan tubuhnya bergerak miring. Melihat ini, cepat-cepat Siu Bi menotok pada punggungnya dan... tubuh Pendekar Buta yang sakti itu kini tidak dapat bergerak lagi kaki tangannya, lumpuh seperti keadaan isterinya! Akan tetapi karena jalan darah pada lehernya tidak tertotok, dia dapat mengeluarkan suara yang terheran-heran,

"Ehh... ehh... apa-apaan ini? Siapa melakukan ini? Hui Kauw, apa yang terjadi...?" Akan tetapi Hui Kauw tidak dapat menjawab karena nyonya ini selain lumpuh kaki tangannya, juga tak dapat mengeluarkan suara!

Saking tegangnya, Siu Bi terengah-engah dan jatuh terduduk. Dalam melakukan totokan-totokan tadi, dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya, ditambah dengan suasana yang menegangkan urat syaraf, maka setelah kini berhasil, ia menjadi terengah-engah, lemas tubuhnya dan... ia menangis terisak-isak.

"Ehh, anak baik, Kim Hoa... apa yang terjadi? Mengapa engkau menangis, dan Bibimu kenapa?" Kun Hong bertanya.

Siu Bi merasa betapa nafasnya sesak dan hawa udara tiba-tiba menjadi panas baginya. Dia melompat berdiri, kedua tangannya menyambar leher baju dua orang yang sudah lumpuh itu dan diseretnya mereka keluar pondok!

"Eh-ehh-ehhh, kaukah ini, Kim Hoa? Apa yang kau lakukan ini?"

Siu Bi menyeret mereka keluar dan melepaskan mereka di depan pondok. Dia sendiri berdiri menengadah, menarik nafas dalam-dalam. Hawa malam yang dingin, angin yang bersilir dan sinar bulan membuat nafasnya menjadi lega. Dia tidak gelisah lagi.

"Pendekar Buta, ketahuilah, aku yang menotokmu dan menotok isterimu." la tersenyum dan tangannya bergerak membebaskan totokan pada jalan darah di leher Hui Kauw.

Nyonya ini terbatuk, mengeluh perlahan lalu berseru, "Bocah, kau siapa? Mengapa kau menyerang kami secara membuta?"

Siu Bi tersenyum lagi. "Dengarlah baik-baik. Namaku Siu Bi dan aku melakukah hal ini karena aku hendak membalaskan dendam kakekku, Hek Lojin. Pendekar Buta, ingatkah kau ketika kau membuntungi lengan kakekku? Nah, kini aku akan memenuhi sumpahku, membalas kalian dengan membuntungi lengan kiri kalian seperti yang dulu kau lakukan terhadap kakek!" Siu Bi mencabut pedangnya.

"Singgg…!"

Lalu ia mendongakkan mukanya ke angkasa berseru perlahan, "Kakek yang baik, kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangiku... sekarang kau sudah tiada lagi... tapi kesayanganmu tidak sia-sia, kakek... lihatlah dari sana betapa saat ini cucumu telah melunasi semua hutang, harap kau beristirahat dengan tenang..."

Setelah berkata demikian dalam keadaan seperti terkena pengaruh gaib atau kemasukan roh jahat yang berkeliaran di malam terang bulan itu, Siu Bi menggerakkan pedangnya, dibacokkan ke arah lengan kiri Kun Hong.

"Crakkk!"

Sebuah lengan terbabat putus, darah muncrat-muncrat dan Siu Bi menjerit sambil lompat ke belakang. Di hadapannya, entah dari mana datangnya, sudah berdiri seorang laki-laki yang buntung lengan kirinya!

"Kakek...!" Siu Bi memekik penuh kengerian, mengira bahwa roh kakeknya yang muncul ini.

Akan tetapi ia melihat betapa lengan kiri yang baru buntung itu masih meneteskan darah segar ada pun di atas tanah tergeletak buntungan tangan. Pendekar Buta dan isterinya masih rebah terlentang. Siu Bi cepat mengalihkan pandang matanya yang terbelalak ke arah orang di depannya, wajahnya pucat sekali.

"Siu Bi... anakku..." Orang itu berkata, biar pun lengannya sudah buntung dan wajahnya pucat serta keringatnya memenuhi muka menahan sakit yang hebat, akan tetapi bibirnya tersenyum. Wajahnya yang setengah tua dan tatapannya dibayangi kedukaan hebat.
"Kau... kau..." Siu Bi berbisik lirih ketika mengenal bahwa orang itu, orang yang datang menangkis pedangnya tadi dengan lengan kirinya sehingga bukan lengan Pendekar Buta yang buntung, melainkan lengannya, adalah The Sun ayah tirinya!
"Aku ayahmu, Siu Bi... lama sekali dan susah payah aku mencarimu..."
"Bukan, kau bukan ayahku! Pergi...!"

The Sun menggeleng kepalanya. "Tidak boleh, Siu Bi, anakku. Kau tak boleh menambah dosa yang sudah bertumpuk-tumpuk, dosa yang dibuat mendiang kakekmu dan aku..."
"Kau... kau sudah membunuh kakek, kau bukan ayahku... sa... salahmu sendiri... kau menangkis pedangku..."

"Memang sepatutnya lenganku yang buntung, bukan lengan Kun Hong! Biar pun lengan suhu buntung oleh pedang Kun Hong, akan tetapi akulah yang berdosa, dan karenanya sudah sepatutnya aku pula yang mesti menanggung hukumannya. Siu Bi, kau tidak tahu betapa jahatnya kakekmu Hek Lojin, betapa jahatnya pula aku dahulu. Kakekmu dan aku yang dulu menyerbu dan bermaksud membunuh Pendekar Buta, kami bersekutu dengan orang-orang jahat di dunia kang-ouw. Kami haus akan kemuliaan, akan kedudukan dan harta, karena itulah kami memusuhi Pendekar Buta dan Raja Pedang. Akan tetapi kami semua kalah, kakek gurumu juga kalah, baiknya Pendekar Buta masih menaruh kasihan, hanya membuntungi lengan, tidak membunuhnya...! Aku bertemu dengan ibumu, ibumu yang mengandungmu karena dipermainkan majikan-majikannya. Aku membelanya, kami menjadi suami isteri, dan kau... kau anakku juga, Siu Bi. Aku sudah berusaha menebus dosa, mengasingkan diri di Go-bi-san, siapa kira... penebusan dosa yang sia-sia, dirusak kakekmu... dia mendidikmu untuk membalas dendam...,, akhirnya dosaku bertambah, dia tewas di tanganku... dan kini, Tuhan menghukum hambaNya, kau sendiri membuntungi lenganku. Ahhh, aku puas... seharusnya beginilah..."
Related image
Tiba-tiba Siu Bi menjerit dan menutupi mukanya, menangis terisak-isak. la teringat akan Swan Bu yang sudah dia buntungi lengannya. Pada saat itu suami isteri yang tadinya rebah lumpuh, bersama-sama melompat bangun.

“The Sun, hukum karma tak dapat dielakkan oleh siapa pun juga," kata Kun Hong.

The Sun tercengang dan membalikkan tubuhnya. Ada pun Siu Bi menurunkan tangannya dan memandang bengong.

"Kau... kau... sudah kutotok kalian...," katanya gagap.

Hui Kauw melangkah maju dan…

"Plak! Plak!"

Dua kali kedua pipi Siu Bi ditamparnya, membuat gadis itu terpelanting dan bergulingan beberapa kali. Ketika ia berhasil melompat bangun, kedua pipinya menjadi bengkak.

"Bocah yang dididik menjadi binatang liar dan sangat keji!" kata nyonya ini, senyumnya mengejek. "Kau kira akan dapat membikin lumpuh Pendekar Buta? Kalau dia mau, tadi sudah dengan mudahnya merobohkanmu. Sengaja dia hendak menanti apa yang akan kau lakukan. Pada saat kau membacok tadi, dia telah siap menangkis dan membuatmu roboh. Kiranya The Sun muncul dan mewakilinya dengan berkorban lengan. Dia benar, Tuhan menghukum hamba-Nya!"

Siu Bi kaget, malu, menyesal dan segala macam perasaannya bercampur aduk di dalam dadanya. Kembali ia menjerit lalu ia melarikan diri di malam gelap karena bulan sudah menyembunyikan diri di dalam awan.

"Siu Bi... tunggu...!" The Sun lari mengejar, terhuyung-huyung dan darah berceceran dari lengannya.

Kun Hong memegang tangan isterinya. Memang betul apa yang dikatakan Hui Kauw tadi. Ketika Siu Bi menotoknya, ia kaget akan tetapi dengan sinkang-nya yang luar biasa, dia dapat memunahkan totokan itu dan sengaja dia berpura-pura lumpuh dan diseret keluar menurut saja. Malah ketika Siu Bi mencabut pedang, dia tetap diam saja, hanya siap untuk melakukan serangan balasan merobohkan gadis itu. Pada waktu The Sun muncul, dengan mudahnya dia membebaskan totokan isterinya.

"Hebat...," bisiknya. "Jadi itukah bocah yang dikabarkan mengancam kita? Heran sekali, siapakah sebetulnya yang telah menangkapnya dan menyiksanya...? Anak itu sebetulnya tidak jahat... dan syukurlah bahwa The Sun telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan berubah menjadi manusia baik-baik."
"Hemmm, suamiku. Kau selalu mengalah, sabar, dan menilai orang lain dari segi-segi baiknya saja. Gadis demikian kejam dan liar, tidak kenal budi, ditolong malah membalas dengan ancaman membuntungi lengan, kau bilang sebetulnya tidak jahat? Dan The Sun itu, terang dialah gara-gara semua perkara ini, dan kau bilang sudah menjadi manusia baik-baik?"

Hui Kauw sendiri terkenal seorang yang sabar hatinya. Akan tetapi dibandingkan dengan suaminya, kadang kala ia merasa bahwa suaminya itu terlalu lemah dan terlalu sabar.....

"Aku tidak mau menilai orang dari kebodohannya, isteriku. Kalau menilai orang harus dari segi-segi baiknya. Bila ia melakukan, itu hanya karena ia lupa dan terseret oleh sesuatu yang membuat ia menyeleweng dari kebenaran. Gadis itu pada dasarnya baik, hanya ia dimabukkan oleh rasa dendam untuk membalas sakit hati kakeknya. Bukankah itu wajar bagi seorang gadis yang terdidik ilmu silat di pegunungan yang sunyi? Ada pun The Sun, mendengar suaranya, ternyata dia sudah mendapatkan kemajuan pesat dalam hatinya. Agaknya kalau kali ini kita menghadapi tentangan-tentangan, tentu bukan dari The Sun datangnya dan... hee, ada orang di pondok!"

Cepat bagaikan kilat tubuh Pendekar Buta ini sudah mencelat ke arah pondok, disusul isterinya. Akan tetapi Hui Kauw hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali menghilang di balik pondok itu.

Ketika mereka memeriksa, ternyata buntalan pakaian mereka masih ada, juga tongkat Kun Hong masih ada. Akan tetapi pedang Kim-seng-kiam, pedang Hui Kauw, lenyap dari tempatnya semula, yaitu tadinya disandarkan pada bilik.

"Pedangku hilang! Mari kita kejar...!" seru Hui Kauw, akan tetapi Kun Hong memegang lengannya.
"Jangan, percuma saja. Tentu dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Biarlah, kelak tentu kita akan bertemu dengan pencurinya. Bukan tidak ada maksudnya orang mencuri pedangmu...”
"Ahh, tentu gadis iblis tadi... atau mungkin The Sun! Memang mereka jahat...!"

Kun Hong menggeleng-gelengkan kepalanya dan alisnya berkerut. "Bukan mereka... The Sun terluka parah, lengannya buntung, tak mungkin dia melakukan hal ini, juga puterinya tidak. Mereka takkan senekat itu. Ehh, bagaimana kau lihat orang tadi, ataukah kau tidak sempat melihatnya?"

"Hanya bayangan berkelebat cepat, kurasa lebih cepat dari pada gerakan Siu Bi, entah laki-laki entah wanita, akan tetapi kalau laki-laki, tentu dia seorang bertubuh kurus kecil. Mungkin wanita."
"Hemmm, isteriku. Bila tak meleset dugaanku, orang yang mencuri pedangmu dan orang yang melakukan fitnah kepada diri anak kita sehingga membuat Kong Bu marah, adalah orang yang sama. Entah siapa dia, tetapi yang jelas dia atau mereka adalah pengecut-pengecut yang tiada berharga, tidak berani menghadapi kita secara langsung melainkan dengan cara mengadu domba dan melakukan fitnah. Kita harus cepat ke Kong-goan dan menyelidiki ke kuil tua. Sekarang juga kita berangkat.”

Mengingat keadaan anaknya yang tertimpa fitnah, juga pentingnya urusan ini untuk cepat diselesaikan, Hui Kauw amat setuju dengan pendapat suaminya. Maka, sepasang suami isteri ini segera berangkat menuju Kong-guan…..

********************

Apakah sesungguhnya yang terjadi dengan diri Tan Kong Bu, pendekar dari Min-san itu? Pedang Kim-seng-kiam milik Hui Kauw telah lenyap dicuri orang dari pondok itu, bagai mana tahu-tahu bisa menancap di dada Kong Bu yang mayatnya ditemukan oleh Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu seperti telah dituturkan di bagian depan?

Untuk mengetahui hal ini, mari kita mengikuti pengalaman mendiang Kong Bu, jago tua yang berhati sekeras baja dan berwatak jujur dan terbuka itu.

Dapat dibayangkan betapa malu, sedih, menyesal yang semuanya menimbulkan amarah besar di dalam hati Tan Kong Bu ketika dia menyaksikan puteri tunggalnya yang terkasih, mendapat penghinaan dari Kwa Swan Bu. Biar pun Swan Bu putera Pendekar Buta yang dia kagumi dan dia sayang pula, tetapi perbuatan pemuda itu melebihi segala batas dan jalan satu-satunya hanya memberi hukuman mati kepadanya!

Lebih sakit hatinya saat dia mendaki puncak Liong-thouw-san bertemu dengan Pendekar Buta suami isteri, terjadi percekcokan dan dia tak mampu menandingi suami isteri sakti itu. Hal ini sangat menyakitkan hatinya dan dia segera kembali menuju ke Kong-goan untuk mencari jejak Swan Bu lagi dan dia takkan mau berhenti sebelum bertemu dengan pemuda itu dan mengadu nyawa dengannya!

Pada suatu pagi yang naas baginya, dia memasuki sebuah hutan kecil. Di tengah hutan itu, di atas lapangan rumput yang luas, dia melihat tiga orang berdiri memandangnya, seakan-akan mereka sengaja menunggu dan mencegat perjalanannya.

Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Kong Bu dapat menduga niat mereka itu, maka dia pun bersiap-siap sambil memandang tajam penuh selidik. Akan tetapi ternyata bahwa dia tidak mengenal orang-orang itu, meski pun dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang di dunia kang-ouw yang berkepandaian tinggi.

Salah seorang di antara mereka adalah nenek tua yang berkulit kehitaman, pakaiannya berkembang merah, di punggungnya tergantung sebatang pedang. Orang kedua adalah seorang kakek pendek gendut, mukanya terlihat seperti orang dari utara, tidak membawa senjata apa pun.

Sedangkan orang ketiga adalah seorang kakek yang mulutnya selalu tersenyum-senyum mengejek, juga pakaiannya serba merah sehingga kelihatan lucu sekali dan aneh, seperti seorang gila, tangannya memegang sebatang tongkat panjang. Melihat kakek ketiga ini, Kong Bu mengerutkan keningnya, serasa dia pernah melihat muka ini, tetapi lupa lagi kapan dan di mana.

Dia hendak berjalan terus, tanpa menoleh, hanya melirik dari sudut matanya. Apa bila mereka tidak mengganggunya, dia pun tidak akan mencari perkara selagi perkara sendiri yang cukup gawat belum selesai. Namun dia maklum bahwa ketiga orang itu bukanlah tokoh baik-baik, maka dia bersikap waspada.

"Bukankah dia itu jago Min-san? Kenapa berkeliaran sampai di sini?" tiba-tiba terdengar suara parau dari kakek pendek gendut.
"Aha, apa kau tidak tahu, Sianjin? Anak perempuannya sudah dihina orang, akan tetapi dia tidak berani berkutik karena yang menghina adalah putera Pendekar Buta!" jawab si nenek.
"Aih..aih..aihhh... yang begitu mana patut disebut pendekar? Pengecut besar dia...," kata kakek berpakaian merah.

Akan tetapi kakek ini terpaksa menghentikan kata-katanya dan cepat dia melempar diri ke kiri sambil menggerakkan tongkatnya menangkis ketika ada selarik sinar cemerlang menyambarnya. Sinar itu adalah sinar pedang di tangan Kong Bu yang sudah datang menerjangnya dengan kecepatan kilat menyambar.

"Swiiinggg...!"

Sinar pedang menyambar, merupakan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin tajam!

"Hayaaaaa...!" Kakek berpakaian merah berseru kaget dan cepat membanting tubuh ke kiri, berjungkir balik dan tongkatnya sudah diputar melindungi tubuhnya.

Pada lain detik Kong Bu sudah berdiri dengan kaki terpentang lebar, pedang melintang di depan dada, mata memandang tiga orang itu dengan sinar bernyala-nyala.

"Siapakah kalian dan apa maksud kalian menghina orang lewat tanpa sebab?"

Nenek itu tertawa mengejek. "Hik-hik-hik, kau bilang tanpa sebab? Apakah kau hendak menyangkal betapa puterimu di kuil tua di Kong-goan tidur di samping putera Pendekar Buta yang telanjang...? Hi-hi-hik, dan kau tidak berani..."

Nenek itu cepat-cepat menghentikan tawanya karena Kong Bu sudah melangkah maju setindak, mukanya beringas, pedang di tangannya tergetar.

"Bagaimana kau bisa tahu? Ahh... tahulah aku sekarang. Agaknya kalian inilah manusia-manusianya yang sengaja mengatur itu... ah, betapa bodohku! Dan kau..." la menuding muka kakek berpakaian merah dengan pedangnya. "Kau Ang Mo-ko. Ya, sekarang aku ingat, kau bekas pengawal kaisar muda. He, Ang Mo-ko, apa kehendakmu menghadang dan menghinaku? Dan dua orang ini siapa?"

Nenek itu melangkah maju, pedangnya sudah tercabut dan berada di tangannya, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan.

"Kau putera Raja Pedang kan? Hi-hi-hik, Raja Pedang dan Pendekar Buta musuh-musuh kami, keluarga mereka pun musuh kami. Memang kamilah yang mengatur di kuil tua di Kong-goan. Hi-hi-hik, Tan Kong Bu, kau mau mengenal kami? Aku Ang-hwa Nio-nio, Kui Ciauw..."
"Ahh, kau sisa dari Ang-hwa Sam-cimoi? Bagus, kiranya musuh besar!" bentak Kong Bu.
"Dan sahabatku ini adalah Bo Wi Sianjin, sute dari mendiang Ka Chong Hoatsu..."
"Hemmm, semua adalah musuh-musuh besar ayah. Pantas, pantas... heee, Ang-hwa Nio-nio, apa yang telah kalian lakukan terhadap anakku? Kalau memang kalian memiliki dendam, mengapa tidak langsung menghadapi ayah atau aku, tua lawan tua. Mengapa mesti mengganggu bocah? Tak tahu malu engkau!"

Ang-hwa Nio-nio tertawa terkekeh. "Kami tawan anakmu dan anak Pendekar Buta, kami menotok mereka dan menjajarkan di dalam kuil, memancing kau masuk. Ihh, kiranya kau begitu goblok, tidak dapat membunuh putera Pendekar Buta, atau... kau tidak berani?"

"Keparat" Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Pedangnya sudah berkelebat menyambar dengan sebuah tusukan kilat ke arah dada Ang-hwa Nio-nio. Serangan ini hebat sekali, didorong oleh tenaga Yang-kang yang luar biasa, tak mungkin dapat dielakkan lagi saking cepatnya.

Kalau bukan Ang-hwa Nio-nio yang diserang, tentu telah tembus dadanya oleh pedang. Akan tetapi wanita tua ini bukan orang lemah dan ia pun maklum bahwa mengelak berarti menghadapi bahaya maut. Maka sambil menjatuhkan diri ke kanan, pedangnya bergerak menangkis, berubah menjadi sinar keemasan.

"Tranggggg...!"

Tangan Kong Bu tergetar dan dia cepat-cepat menarik kembali pedangnya. Diam-diam dia mengakui kelihaian nenek ini, akan tetapi yang membuat dia lebih bingung dan kaget adalah ketika dia melihat pedang bersinar keemasan di tangan si nenek.

Dia mengenal pedang ini, serupa benar dengan pedang isteri Pendekar Buta yang baru beberapa pekan lalu dihadapinya. Ketika bertanding dengan Hui Kauw, nyonya itu pun menggunakan pedang ini. Apakah pedang mereka memang kembar?

"Iblis, pedang yang siapa kau pakai?" bentak Kong Bu sambil melanjutkan serangannya. Akan tetapi pedangnya bertemu dengan tongkat panjang dan kiranya Ang Mo-ko sudah maju pula mengeroyok.
"Hi-hi-hik, mau tahu? Ini pedang nyonya Pendekar Buta, dan sebentar lagi pedang ini yang akan mengambil nyawamu!"

Kong Bu seorang yang jujur, akan tetapi dia bukan orang bodoh. Pertemuannya dengan tiga orang ini telah cukup baginya untuk membuka matanya, untuk memecahkan rahasia itu. Tahulah dia sekarang bahwa peristiwa antara Swan Bu dan Lee Si adalah peristiwa buatan mereka ini, musuh-musuh besar ayahnya dan musuh-musuh Pendekar Buta pula.

Mereka sengaja memancing kemarahannya supaya dia bermusuhan dengan Pendekar Buta. Agaknya melihat bahwa ia belum dapat membunuh Swan Bu, mereka tidak sabar dan sekarang mereka hendak turun tangan sendiri, membunuhnya dan kembali mereka hendak menjalankan siasat mengadu domba, yaitu hendak membunuhnya menggunakan pedang isteri Pendekar Buta yang entah bagaimana bisa terjatuh ke tangan Ang-hwa Nio-nio.

"Jangan kira gampang!" la membentak.

Segera ketua Min-san-pai ini menggerakkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-hoat yang ampuh. Pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan lebar melibat-libat dan melayang-layang seperti seekor naga di angkasa yang mengamuk dan bermain-main di antara awan putih.

"Kok-kok-kok!" Bo Wi Sianjin si kakek gendut pendek telah berjongkok dan melancarkan pukulan Katak Saktinya.

Pada saat itu baru saja Kong Bu menangkis pedang Ang-hwa Nio-nio dan melompat ke kanan menghindarkan diri dari tongkat Ang Mo-ko yang menyapu pinggangnya. Kagetlah dia ketika tiba-tiba mendengar suara aneh itu dari belakang dan mendadak menyambar angin pukulan yang amat dahsyat.

Melihat sikap dan kedudukan kakek itu aneh sekali, Kong Bu tak berani menghadapinya dengan kekerasan, melainkan mengelak sambil berjongkok. Angin pukulan menyambar lewat di atas kepalanya dan betapa kagetnya ketika kain pembungkus kepalanya hancur berkeping-keping. Baru diserempet hawa pukulan itu saja sudah begitu hebat akibatnya, dapat dibayangkan betapa akibatnya kalau pukulan aneh itu tepat mengenai perutnya!

Pendekar ini segera maklum bahwa di antara tiga orang lawannya, kakek pendek yang bertangan kosong inilah yang paling berbahaya. Karena itu, Kong Bu segera mengubah siasat. la sengaja bergerak dan melayang cepat, sengaja dia menjauhkan diri dari Bo Wi Sianjin, atau dia sengaja mengambil posisi sedemikian rupa agar kakek pendek itu selalu terhalang oleh Ang Mo-ko atau Ang-hwa Nio-nio sehingga dia tidak berani melancarkan pukulan jarak jauh yang mukjijat tadi sebab jika demikian, tentu ada bahayanya memukul kawan sendiri.

Setelah pertempuran berlangsung seperempat jam lamanya belum juga mereka dapat merobohkan Kong Bu, Ang-hwa Nio-nio menjadi marah dan penasaran sekali. Nenek ini mengeluarkan pekik nyaring, kemudian tubuhnya meloncat laksana seekor burung walet, pedangnya diputar menerjang Kong Bu dari atas, serta tangan kirinya mengirim pukulan Ang-tok-ciang yang tak kalah berbahayanya.

"Cring-cring-cring...!" Tiga kali pedang Kong Bu menangkis serangan beruntun itu.

Serangan Ang-hwa Nio-nio memang amat aneh dan hebat. Begitu pedangnya tertangkis, pedang itu terpental bukan ke belakang, namun menyeleweng dan terus menjadi gerak serangan susulan yang makin lama makin hebat.

Terpaksa Kong Bu memainkan Yang-sin Kiam-hoat bagian pertahanan sesudah melihat betapa tiga kali tangkisannya tidak membuyarkan rangkaian serangan lawan. Sekarang pedangnya diputar seperti payung sehingga jangankan baru serangan pedang Ang-hwa Nio-nio, walau pun hujan deras menyiramnya, tidak setetes pun air akan dapat mengenai bajunya.

Kong Bu tidak berani menerima langsung pukulan tangan kiri Ang-hwa Nio.nio. Ia dapat melihat betapa tangan nenek itu menjadi merah, tanda bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang jahat. la hanya menggeser kaki miringkan tubuh sambil menangkis dari samping. Sebagai ahli Yang-sin Kiam-hoat, tentu saja Kong Bu mempunyai tenaga Yang-kang istimewa kuatnya, maka benturan ini membuat nenek tadi terhuyung-huyung dan serangannya otomatis gagal.

Ang Mo-ko menunggu kesempatan baik. Selagi kedua pedang tadi berkelebatan beradu cepat, dia tidak berani sembrono menggunakan tongkatnya, karena selain hal ini dapat mengacaukan permainan pedang Ang-hwa Nio-nio, juga salah-salah tongkatnya itu akan kena benturan pedang kawannya.

Sekarang melihat betapa libatan sinar-sinar pedang itu sudah terlepas dan Kong Bu juga terhuyung ke kanan akibat benturan tenaga tadi, cepat laksana kilat tongkatnya lantas menyelonong maju, digetarkan sehingga ujungnya berubah menjadi belasan batang yang semuanya menyerang dengan totokan-totokan maut ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

Ilmu tongkat Ang Mo-ko memang amat hebat. Tongkatnya mencecar bagian tubuh yang berbahaya dimulai dari ubun-ubun kepala terus ke bawah dalam jarak sejengkal tangan, yaitu dari ubun-ubun ke mata, kemudian telinga, tenggorokan, pundak, ulu hati, ke pusar dan seterusnya. Anehnya, ujung tongkat yang hanya satu ini, setelah dia getarkan begitu kuatnya, seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan menyerang semua bagian berbahaya itu sambil mengeluarkan suara mendengung-dengung!

Melihat serangan yang luar biasa ganasnya ini Kong Bu mengeluarkan suara melengking tinggi dari kerongkongannya. Inilah pengerahan sinkang yang sangat istimewa, disertai suara melengking, sebuah ilmu kesaktian yang telah dia warisi dari mendiang kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung!

Bunyi lengking tinggi ini selain menambah daya pemusatan sinkang, juga mengandung tenaga yang menggetarkan jantung lawan. Sambil melengking-lengking Kong Bu lantas menggerakkan pedangnya yang menerobos di antara bayangan ujung tongkat.

Terdengar suara keras pada saat tongkat di tangan Ang Mo-ko patah-patah menjadi lima potong dan disusul pekik mengerikan karena tanpa dapat dielakkan lagi oleh Ang Moko, pedang di tangan Kong Bu sudah menancap tenggorokannya sampai tembus dan sekali Kong Bu merenggut ke kanan, leher itu hampir putus!

Tubuh Ang Mo-ko roboh miring, kepala yang lehernya hampir putus tertindih paha. Darah menyembur-nyembur dan kaki tangannya berkelojotan, kaku kejang seakan-akan tubuh yang rusak lehernya oleh pedang itu masih tidak tega berpisahan dengan nyawa!

"Keparat, terimalah pukulanku!" terdengar bentakan dari belakang Kong Bu disusul suara "kok-kok-kok!" seperti tadi.

Kong Bu maklum bahwa kakek pendek itu sekarang mendapat kesempatan melancarkan pukulannya yang aneh dan mukjijat. Cepat dia memutar tubuhnya, berusaha mengelak sambil mengerahkan sinkang di kedua lengannya, mendorong ke depan untuk menahan gelombang serangan tenaga yang tidak tampak. Nampak pukulan Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin ini bukan main hebat dan kuatnya.

Kong Bu merasa betapa tubuhnya seperti ditembus angin taufan yang tidak tertahankan, dorongannya membalik sehingga tubuhnya melayang bagai layang-layang putus talinya! Pada saat itu, pedang Ang-hwa Nio-nio meluncur dan membabat pinggangnya.

Baiknya Kong Bu adalah seorang jagoan yang sudah matang kepandaiannya, maka biar pun tubuhnya melayang di udara, dia cepat dapat menguasai dirinya lagi. Oleh sebab itu, melihat sinar pedang berkelebat mengancam pinggang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya sekuat tenaga menangkis.

"Tranggggg...!"

Tubuh Kong Bu melompat sambil jungkir-balik, membuat salto sampai tiga kali sebelum kedua kakinya menginjak bumi. Akan tetapi kagetlah dia saat melihat bahwa pedangnya telah patah di dekat gagangnya.

Dengan hati geram dia membanting gagang pedang, lalu melolos sarung pedang yang dipegang di tangan kanannya, juga melepaskan ikat pinggang yang terbuat dari sutera kuning. Walau pun tidak sehebat pedangnya yang patah, namun dengan sarung pedang dan ikat pinggang di tangan, Kong Bu masih merupakan lawan yang amat tangguh!

Kembali Ang-hwa Nio-nio menyerang, dan kali ini nenek itu memperlihatkan ginkang-nya. Sekali kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang seperti terbang ke arah Kong Bu, pedangnya diputar-putar di depannya, berubah menjadi segulung sinar bulat, diiringi suara seruannya yang nyaring.

Kong Bu maklum keampuhan pedang di tangan nenek itu, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan. Dia maklum pula bahwa kalau dia menangkis dengan sarung pedang, tentu senjatanya akan terbabat putus. Maka dia lalu membentak keras, ikat pinggangnya di tangan kiri bergerak bagaikan seekor ular menyambar, ujungnya menyambut pedang lawan dengan maksud melibat pedang atau lengan yang memegang pedang.

Akan tetapi Ang-hwa Nio-nio juga bukan seorang ahli silat sembarangan. Dia tidak mau mengadu pedangnya dengan benda lemas itu. la lalu menarik pedangnya, turun ke atas tanah dan mengubah serangannya, menusuk dan membabat bertubi-tubi, tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya.

Kong Bu melengking keras ketika dari belakang terdengar suara kokok, pukulan mukjijat dari Bo Wi Sianjin. Terpaksa dia menghindar ke kiri, akan tetapi di sini dia disambut oleh tusukan pedang yang masih mampu ditangkisnya dari samping dengan sarung pedang. Ikat pinggangnya dikelebatkan ke belakang menyerang kaki Bo Wi Sianjin.

Serangan ini kelihatannya sepele, akan tetapi kiranya akan celakalah kakek pendek itu bila kakinya sampai kena terlibat ikat pinggang! Bo Wi Sianjin tertawa mengejek, sambil melompat tinggi, kemudian turun dan melancarkan pukulan Katak Sakti lagi yang juga dapat dielakkan oleh Kong Bu, walau dengan susah payah.

"He-heh-heh, ada apa ini ribut-ribut?” terdengar suara yang kaku dan ganjil, suara orang asing.

Kong Bu melirik dan melihat seorang kakek asing berkulit hitam, tinggi besar bersorban, telinganya memakai anting-anting, jalan mendatangi bersama seorang hwesio yang juga tinggi besar akan tetapi sudah amat tua, hwesio yang berpakaian sederhana dan bajunya dibuka lebar di bagian dada. Mereka itu bukan lain adalah Maharsi dan Bhok Hwesio.

"Ji-wi Losuhu mengapa baru datang? Ang Mo-ko tewas oleh keparat ini!" teriak Ang-hwa Nio-nio, setengah menyesal akan tetapi juga girang.
"Dia mampus pun salahnya sendiri sebab kepandaiannya masih rendah," jawab Maharsi seenaknya. "Inikah jago Min-san putera Raja Pedang? Heh-heh-heh, ingin kucoba!"

Kong Bu kaget sekali. la masih sibuk menghadapi desakan pedang Ang-hwa Nio-nio dan pukulan mukjijat Bo Wi Sian-jin. Sekarang tiba-tiba pendeta India yang tinggi itu berjalan miring-miring mendekati dirinya, lengan tangannya bergerak dan lengan itu seperti mulur, tahu-tahu sudah dekat sekali dengan kepalanya, didahului angin pukulan yang tak kalah mukjijatnya oleh angin pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin.

Kong Bu cepat menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan. Hanya dengan cara ini dia tadi dapat terbebas dari bahaya maut. Saking marahnya, Kong Bu lalu mengeluarkan lengking tinggi bersambung-sambung, melompat bangun dan mengamuk.

Akan tetapi pihak lawan terlalu banyak dan terlalu tangguh. Pada suatu saat dia berhasil menghindar dari pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin, akan tetapi tak dapat mengelak dari pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi. Punggungnya kena dorongan dahsyat ini, dia terbanting roboh, nafasnya sesak dan setengah pingsan.

Pada saat itulah Ang-hwa Nio-nio melompat dekat dan menusukkan Kim-seng-kiam ke dadanya. Pedang ini imblas sampai setengahnya lebih, tepat menghunjam dada kiri dan menembus jantung sehingga jagoan sakti pendekar Min-san ini tewas pada saat itu juga tanpa dapat mengeluh lagi.

Dan demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan, Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu dari jauh mendengar lengking tinggi dari Kong Bu, akan tetapi ketika mereka tiba di tempat itu, hanya melihat mayat Tan Kong Bu dengan pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya.

Melihat pedang ini yang oleh Swan Bu diakui sebagai pedang ibunya, Cui Sian marah bukan main. Dia dapat menduga bahwa kakaknya yang berdarah panas dan berwatak keras itu tentu telah tewas di tangan isteri Pendekar Buta.

Dia pun maklum bahwa tentu kakaknya itu marah-marah kepada Pendekar Buta suami isteri dan menuduh Swan Bu melakukan perbuatan hina terhadap Lee Si, dan mungkin suami isteri itu pun lantas merasa marah karena puteranya dimaki-maki sehingga timbul percekcokan. Akan tetapi, kalau sampai membunuh kakaknya, ini keterlaluan namanya dan ia tidak akan menerima begitu saja!

Jangankan Cui Sian, sedangkan Swan Bu sendiri diam-diam juga menduga demikian. Mana bisa lain orang yang membunuh Kong Bu kalau pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya. Pedang itu tak mungkin terlepas dari tangan ibunya!

Swan Bu gelisah sekali, bingung serta berduka. Akan tetapi ada satu kenyataan yang amat menghibur hatinya, yakni bahwa pedang itu masih tertancap di dada Kong Bu dan ditinggalkan begitu saja.

Jika benar ibunya yang membunuh Kong Bu, mungkinkah ibunya meninggalkan pedang itu tertancap di dada lawannya? Apakah karena mendengar kedatangannya bersama Cui Sian tadi, ibunya lalu tergesa-gesa pergi sehingga tak sempat mencabut pedangnya? Ah, sukar dipercaya kemungkinan ini. Apa sukarnya mencabut pedang, apa lagi bagi ibunya!

Agaknya lebih patut kalau ada orang yang SENGAJA meninggalkan pedang itu di dada Kong Bu. Dan siapa pun orangnya, tak mungkin orang itu ibunya! Jadi, tentu ada orang lain yang kembali melakukan fitnah, dan kali ini untuk memburukkan nama ibunya. Akan tetapi bagaimana orang itu dapat menggunakan pedang Kim-seng-kiam…..?

********************

Swan Bu berjalan terhuyung-huyung. Kesehatannya masih belum pulih seluruhnya, kini hatinya terhimpit perasaan yang tidak karuan, jiwanya tertekan oleh peristiwa-peristiwa yang hebat. la berjalan perlahan memandangi pedang ibunya di tangan.

"Ahhh, Kim-seng-kiam... kalau saja kau bisa berbicara... tentu kau akan dapat bercerita banyak...," keluhnya.
"Swan Bu...!"

Pemuda itu tersentak kaget. Suara itu!

Cepat dia membalikkan tubuh dan sejenak wajahnya yang tampan dan pucat itu berseri. Dilihatnya gadis yang selama ini mengaduk-aduk hatinya, yang mendatangkan derita, bahagia, kecewa dan harapan di hatinya, Siu Bi, berdiri hanya beberapa meter jauhnya di depannya! Gadis itu mukanya pucat, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut, sinar matanya sayu dan pipi yang masih berbekas air mata itu kini kembali digenangi air mata yang mengalir turun.

"Siu Bi...," Swan Bu berbisik, tanpa sengaja melirik ke arah lengan kirinya yang buntung dan ujungnya dibalut.

Lirikan ke arah lengan buntung inilah yang agaknya telah memecahkan bendungan yang menahan gelora di hati Siu Bi yang ditahan-tahan. Gadis ini menjerit, lalu berlari maju, menjatuhkan diri berlutut di hadapan Swan Bu, memeluk kedua kaki pemuda itu sambil menangis tersedu-sedu.

"Swan Bu... Swan Bu... kau ampunkan aku... Swan Bu... ampunilah aku..."

Tak kuat hati Swan Bu menahan air matanya yang turun bertitik-titik ketika dia menunduk memandang kepala Siu Bi yang kusut rambutnya. Kedua kakinya terasa lemas dan dia pun berlutut pula.

"Siu Bi, selalu aku memaafkanmu..."

Mereka berpandangan melalui tirai air mata, kemudian bagaikan besi tertarik semberani, keduanya berangkulan, bertangisan dan berpelukan. Dengan air mata saling membasahi muka mereka masing-masing, dalam ciuman-ciuman yang digerakkan oleh hati penuh kasih sayang, penuh iba dan haru.

Setelah gelora hati mereka mereda, Siu Bi menyembunyikan mukanya ke dada Swan Bu dan mereka terhenyak duduk di atas tanah, tak bergerak, seluruh tubuh lemas, tenaga habis oleh letupan gelora hati tadi, terasa nikmat penuh damai di hati. Dengan tangan kanannya Swan Bu membelai dan mengelus-elus rambut hitam yang awut-awutan itu.

"Siu Bi aku selamanya mengampunkan engkau, karena aku cinta padamu, Siu Bi, karena aku tahu apa yang mendorongmu melakukan semua itu...," bisik Swan Bu.

Siu Bi mengangkat mukanya dari atas dada Swan Bu dan memandang. Kedua muka itu berpandangan, dekat sekali, masih basah oleh air mata.

"Swan Bu aku... aku tidak turut dalam tipu muslihat busuk itu... aku juga bukan sekutu Ang-hwa Nio-nio..."

Swan Bu mendekap muka yang kelihatan begitu pucat dan penuh kekhawatiran itu. "Siu Bi jiwaku... tidak, aku tidak percaya itu, kau tidaklah jahat seperti mereka..."

Siu Bi menarik nafas panjang, hatinya lega dan dia kembali membaringkan kepalanya di atas dada Swan Bu, sepasang matanya dimeramkan.

"Aku memang jahat, Swan Bu, tetapi... tetapi... untuk menyenangkan hatimu, hati orang yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku, aku... aku mau belajar baik! Kau bimbinglah aku, Swan Bu, ajarilah aku bagaimana bisa menjadi orang baik..."

Swan Bu tersenyum. "Kau adalah orang baik, Siu Bi..."

"Tidak, aku tidak tahu harus berbuat apa kalau terpisah dari padamu, Swan Bu. Jangan kita berpisah lagi, aku... aku takut hidup sendiri. Aku ingin ikut denganmu..." Tiba-tiba ia memegang lengan yang buntung itu, memandangnya dan kembali ia menangis tersedu sedu, menciumi ujung lengan yang dibalut. "Ahhh... aku tak dapat mengganti lenganmu, Swan Bu... biarlah… biar kuganti dengan seluruh tubuhku, dengan nyawaku... aku... aku selamanya akan mendampingimu, melayanimu...”

Dengan mesra Swan Bu memeluk dan menciuminya, kemudian pemuda ini teringat akan sesuatu dan menarik nafas panjang. "Tak mungkin...," katanya lirih dengan nada sedih.

Siu Bi tampak kaget, "Apa katamu? Apa yang tak mungkin?"

"Siu Bi, kau tahu bahwa aku mencintamu, dan takkan ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada selalu berada di sampingmu selama hidup. Akan tetapi agaknya hal ini hanya lamunan kosong... karena... karena apa pun yang terjadi, apa lagi setelah paman Kong Bu tewas... agaknya jalan satu-satunya bagiku hanya... mengawini Lee Si."
"Apa...?!" Siu Bi merenggutkan dirinya dan memandang dengan mata terbelalak.

Swan Bu menunduk sedih, tidak tahan menatap pandang mata yang penuh keperihan hati itu. Dia menarik nafas panjang lagi, lalu berkata, "Siu Bi, kau sendiri mengerti betapa tipu muslihat dan fitnah yang dilakukan oleh Ang-hwa Nio-nio itu menimbulkan kejadian yang amat hebat. Ayah Lee Si, yaitu paman Kong Bu, marah sekali dan tentu saja marah kepadaku dan kepada orang tuaku. Dan tadi... aku mendapatkan paman Kong Bu telah tewas, terbunuh orang di dalam hutan. Peristiwa di Kong-goan ini akan merusak nama Lee Si untuk selamanya, kecuali jika... jika aku... mengawininya. Hanya itu satu-satunya jalan, dan demi menjaga kerukunan kedua keluarga, demi mencuci bersih nama Lee Si yang tidak berdosa, agaknya... agaknya... jalan itulah satu-satunya..."

"Swan Bu... tapi kau... kau cinta padaku kan?"
"Aku cinta padamu, Siu Bi."

Siu Bi menubruk dan memeluknya lagi. “Cukup bagiku. Kau boleh mengawininya, kalau itu kau anggap penting. Bagiku, asal kau cinta padaku, asal aku boleh menebus dosaku kepadamu dengan jiwa ragaku, asal..."

Tiba-tiba saja Siu Bi bangun, juga Swan Bu bangkit berdiri. Keduanya sudah mencabut pedang dan memandang ke arah seorang pemuda yang jalan mendatangi, pemuda yang bukan lain adalah Ouwyang Lam!

Ouwyang Lam memandang sambil tersenyum kepada Siu Bi, kemudian dia memandang Swan Bu, ke arah lengannya yang buntung, dan tertawalah dia, "Ha-ha-ha, Bi-moimoi, agaknya kau sudah berhasil dalam usahamu membalas dendam. Ha-ha-ha, kalau anjing buntung ekornya hanya kelihatan tidak pantas, tetapi kalau manusia buntung tangannya, benar-benar canggung sekali! Eh, Kwa Swan Bu, ayahmu buta sedangkan kau anaknya buntung, cocok sekali. Numpang tanya, dengan tangan kirimu buntung, kalau kau ada keperluan di belakang, apa kau menggunakan tangan kananmu pula? Ha-ha-ha-ha-ha!"

Sampai pucat sekali muka Swan Bu mendengar penghinaan ini, tetapi kemarahannya ini amat merugikan, karena kepalanya langsung menjadi pening sekali dan tubuhnya yang sudah lemas itu malah gemetar karenanya.

"Tutup mulutmu yang kotor!" Siu Bi membentak sambil melompat ke depan menghadapi Ouwyang Lam.

Pemuda Ching-coa-to ini kaget sekali, memandang dengan mata terbelalak. "Eh… ehh... ehhh, Moimoi...”

"Aku bukan moimoi-mu! Cih, tak tahu malu! Ouwyang Lam manusia rendah, ketahuilah bahwa dibandingkan dengan Swan Bu, kau hanya patut menjadi sepatunya! Maka tidak boleh kau menghinanya dan lekas pergi dari sini kalau tidak ingin mampus di tanganku!"

Saking heran dan bingungnya, Ouwyang Lam hanya berdiri melongo saja. Mukanya yang berkulit putih menjadi merah sekali, dan mulutnya yang biasanya pandai bicara, kini sulit mengeluarkan kata-kata saking kaget dan herannya.

"Siu Bi... apa artinya ini...?"
"Artinya, tutup mulutmu yang busuk dan lekas enyah kau dari sini!"

Ouwyang Lam mulai marah. Dia memang tergila-gila kepada gadis cantik ini, tergila-gila akan kecantikannya sesuai dengan wataknya yang mata keranjang. Akan tetapi kalau gadis ini mulai menghinanya, tentu saja timbul kebenciannya.

"Tapi... kenapa kau membelanya? Bukankah kau membuntungi lengan..."
"Bukan urusanmu! Lekas pergi!"

Ouwyang Lam adalah seorang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tentu saja timbul kemarahannya. Dia mengangkat dadanya yang bidang. Walau pun tubuhnya agak pendek, tapi dadanya bidang dan tegap.

"Siu Bi, aku menantang Swan Bu, jangan ikut campur! Ataukah putera Pendekar Buta ini kini telah menjadi seorang pengecut nomor satu di dunia sehingga dia menyembunyikan diri di belakang pantat wanita?"
"Ouwyang Lam keparat, mulutmu kotor...!" Siu Bi menggerakkan pedangnya.
"Siu Bi, tunggu dulu!"

Suara Swan Bu menahan Siu Bi yang menarik pedangnya kembali dan menoleh kepada kekasihnya itu.

"Siu Bi, aku bukan pengecut dan biar pun tidak kau bantu, aku masih tak akan mundur menghadapi tantangan siapa pun juga!" la melangkah maju menghadapi Ouwyang Lam lalu tersenyum mengejek. "Ouwyang Lam, setelah melihat keadaanku terluka, kau berani membuka mulut besar, ya? Hmmm, kau benar-benar gagah sekarang. Majulah!"

Ouwyang Lam tertawa mengejek. Pemuda ini memang cerdik sekali, sekilas pandang dia maklum bahwa lengan Swan Bu yang baru saja buntung membuat pemuda itu lemah dan menderita, karena itu tentu saja dia berani menantang dan sengaja dia membangkitkan kemarahan Swan Bu agar lawannya ini melarang Siu Bi membantunya.

Sekarang dengan pedang terhunus, Ouwyang Lam menyerbu, menggeser kaki dengan langkah-langkah pendek seperti harimau kelaparan. Pedangnya dimainkan dengan Ilmu Pedang Hui-seng-kiam yang lihai, mulutnya berseru, "Lihat serangan!"

Swan Bu bersikap tenang sekali, meski pun keadaannya sebetulnya tidak membenarkan untuk melayani pertandingan, apa lagi menghadapi lawan berat. Tetapi, sebagai seorang berjiwa pendekar, lebih baik menantang maut dari pada mandah dicap pengecut!

Melihat gerakan pedang Ouwyang Lam menyambar ganas serta mengeluarkan suara bersuitan, dia mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya, menunggu sampai pedang lawan mendekat, lalu tiba-tiba dia menghantamkan pedang ibunya menangkis dengan harapan akan dapat mematahkan pedang lawan dalam segebrakan.

Ouwyang Lam kaget bukan main, tak sempat menarik kembali pedangnya. Terpaksa dia mengerahkan tenaga pula dan membiarkan pedangnya bertemu dengan pedang Swan Bu yang bersinar keemasan.

"Cringgg...!"

Bunga api memancar ke arah muka kedua orang muda itu sehingga mereka menjadi silau. Ouwyang Lam merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi Swan Bu yang tenaganya lemah karena lukanya, juga terhuyung mundur.

Kagetlah dia melihat betapa pedang pendek pemuda tampan itu tidak patah. Malah kini Ouwyang Lam sudah menerjang lagi dengan ganasnya, sepasang matanya kemerahan, mulutnya yang menyeringai mengeluarkan suara mendesis, wajahnya diliputi bayangan kekejaman dan kebuasan.

Swan Bu harus berloncatan ke sana-sini sambil memutar pedangnya menangkis. Akan tetapi makin lama pandang matanya makin kabur, kepalanya pening dan lengan kirinya yang terluka terasa panas dan nyeri.

"Sraaattttt…!"

Pundak kanan Swan Bu tergores ujung pedang! Baiknya dia masih dapat menggulingkan diri sehingga pedang di tangan Ouwyang Lam tidak sampai membabat buntung pundak kanannya itu.

Dengan gerakan terlatih Swan Bu bergulingan, mengelak dari bacokan-bacokan pedang Ouwyang Lam yang tidak mau memberi kesempatan lagi. Tiga kali bacokan pedangnya mengenai tanah dan sebelum dia sempat menyerang lagi, tubuh yang bergulingan cepat itu telah meloncat berdiri.

Swan Bu sudah bersiap kembali dan memutar pedang melindungi tubuhnya. Akan tetapi melihat betapa keningnya berkerut-kerut, keringat membasahi mukanya yang pucat, jelas bahwa pemuda itu menderita sekali, malah matanya beberapa kali dimeramkan.

"Ha-ha-ha, Swan Bu. Lebih baik kau membuang pedangmu dan menyerah kalah, aku sudah puas. Tak akan kubunuh engkau asal mengaku kalah, ha-ha-ha!" Memang pandai sekali Ouwyang Lam. Melihat lawannya sudah kepayahan, dia telah mendahului dengan ejekan ini untuk memancing kemarahan.
"Tidak sudi!" jawab Swan Bu, tepat seperti yang diharapkan Ouwyang Lam. "Lebih baik mati dari pada menyerah. Ouwyang Lam manusia sombong, jangan kira kau akan dapat mengalahkan aku. Majulah!"
"Swan Bu...! Mundurlah dan biarkan aku memberi hajaran kepada anjing busuk ini!" Siu Bi berseru, pedang di tangannya sudah gatal-gatal hendak menerjang Ouwyang Lam.

Hatinya sudah gelisah tadi melihat pundak kekasihnya tergores pedang sehingga kini mengucurkan darah membasahi bajunya. Tentu saja ia tidak mau turun tangan sebelum Swan Bu mundur, karena betapa pun juga, di lubuk hati Siu Bi tersimpan sifat gagah dan ia merasa malu kalau harus mengeroyok, apa lagi ia maklum bahwa tingkat kepandaian Swan Bu amatlah tinggi, masih jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Ouwyang Lam atau dia sendiri.

"Tidak, Siu Bi, aku masih kuat menghadapi kesombongannya!" kata Swan Bu.

Ucapan Swan Bu ini tidak bohong, juga bukan bualan belaka. Sebagai putera tunggal Pendekar Buta yang sakti, tentu saja dia telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Sekarang kepalanya sudah pening, pandang matanya kabur dan tubuhnya lemas seakan-akan tidak bertenaga lagi, akan tetapi kepandaiannya masih ada.

Maklum bahwa dia tidak akan dapat menghadapi lawan dengan tenaga, Swan Bu segera mengubah gerakannya. Sekarang tahu-tahu dia telah terhuyung-huyung, jongkok berdiri, berloncatan dan kadang-kadang bagaikan orang menari, kadang-kadang seperti orang mabuk. Dalam ilmu langkah ajaib ini sama sekali dia tidak perlu mempergunakan tenaga, akan tetapi hasilnya, semua serangan Ouwyang Lam mengenai angin kosong!

Makin cepat Ouwyang Lam yang penasaran dan marah ini menghujankan serangannya, semakin aneh pula gerakan Swan Bu. Kadang-kadang ada kalanya dia merebahkan diri sehingga Siu Bi hampir menjerit ketika Ouwyang Lam menubruk tubuh yang rebah itu dengan tikaman maut. Akan tetapi di lain detik tubuh yang rebah itu sudah bergulingan dan berdiri lagi, enak-enakan menari aneh. Andai kata Swan Bu tidak demikian lelah dan lemahnya, satu dua kali balasan serangannya tentu akan merobohkan Ouwyang Lam.

Akan tetapi Swan Bu sudah terlalu lemah sehingga dia hanya mampu menghindarkan diri dari serangan lawan tanpa mampu membalasnya. Karena tenaganya makin lemah, maka gerakannya mulai kurang gesit sehingga dia mulai terdesak.

Empat penjuru angin telah dikuasai oleh sinar pedang Ouwyang Lam, tidak ada jalan lari lagi bagi Swan Bu kecuali menggunakan ilmu langkah ajaibnya untuk menghindar dari setiap tusukan atau bacokan, akan tetapi serangan hanya serambut saja selisihnya!

Siu Bi mulai kecut hatinya. Dia gelisah setengah mati dan sudah mengambil keputusan untuk nekat menerjang maju ketika tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang.

"Keparat, mundur kau!" bayangan itu berseru keras.
"Cringgg...! Crakkk!"

Siu Bi menjerit ketika melihat betapa bayangan itu dalam menangkis pedang Ouwyang Lam, sudah kalah tenaga. Pedangnya terlepas dan pedang Ouwyang Lam membacok dadanya! Siu Bi mengenal orang itu yang bukan lain adalah The Sun!

Dengan jerit tertahan Siu Bi cepat-cepat menerjang maju karena Swan Bu juga sudah terhuyung-huyung kelelahan. Pedangnya berkelebat mengirim tusukan dibarengi tangan kirinya mengirim pukulan Hek-in-kang!

Bukan main hebatnya serangan Siu Bi yang dilakukan dengan penuh kemarahan ini. la menggunakan jurus-jurus lihai dari Cui-beng Kiam-hoat dan pukulan Hek-in-kang dengan tangan kirinya mengeluarkan uap hitam.

Ouwyang Lam yang tertawa-tawa bergelak-gelak karena girangnya dan sombongnya itu mana mampu menghadapi serangan yang tak diduga-duganya ini? la terkejut sekali dan berusaha menangkis, namun terlambat. Pukulan Hek-in-kang sudah membuat dadanya serasa meledak dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, pedang Cui-beng-kiam telah dua kali memasuki lambung dan dadanya, membuat dia terkulai dan roboh tak bernyawa lagi.

"Ayah...!" Siu Bi menubruk The Sun yang terengah-engah, dan dengan tangan kanannya meraba luka di dada ayah tirinya yang mengeluarkan banyak darah.

The Sun yang duduk itu tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar, wajahnya yang pucat berseri penuh bahagia. "Ahh, anakku... anakku... Siu Bi, kau menyebut apa tadi...?"

Dada Siu Bi penuh keharuan. Orang tua ini, yang baru-baru ini sangat dibencinya, telah kehilangan lengan untuknya, kini menghadapi maut juga untuknya. Orang ini menolong Swan Bu, berarti menolongnya juga. Seketika lenyap semua bencinya, terganti dengan kasih sayang yang dulu, kasih sayang seorang anak perempuan yang dimanja ayahnya.

"Ayah...!" Siu Bi merangkul dan menangis.

The Sun mendongak ke atas, pipinya basah air mata. "Terima kasih atas ampunanMu, bahwa di saat terakhir ini harapan hambaMu masih terkabul. Siu Bi anakku...!" The Sun mendekap kepala gadis itu dan mencium dahinya, rambutnya, penuh kebahagiaan. "Siu Bi, dengar baik-baik. Orang ini banyak kawannya, mereka tentu akan datang. Lekas kau pergilah bersama Swan Bu. Aku tahu, dia putera Pendekar Buta, bukan? Ahhh, Siu Bi, harapanku terakhir, semoga kau dapat hidup bahagia bersama dia. Ya, ya... sejak kau kecil, kutimang-timang engkau supaya kelak menjadi isteri seorang pendekar keturunan Raja Pedang atau Pendekar Buta. Ha-ha-ha, pengharapanku terkabul kiranya. Pergilah, bawa dia pergi, dia terluka parah... biar aku di sini menghadang teman-temannya yang hendak mengejar."

Setelah berkata demikian, dengan sikap gagah The Sun lalu bangkit berdiri, memungut pedangnya yang tadi terlempar dan berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.

Siu Bi menengok, melihat Swan Bu dengan nafas memburu berdiri bersandar pohon, "Tapi Ayah, kau... kau terluka hebat..."

The Sun menggerakkan lengannya yang buntung, penglihatan ini menyayat hati Siu Bi. "Aku sudah tua, aku juga penuh dosa, jangan kau renggut kenikmatan pengorbanan dan penebusan dosa ini, anakku. Kau berhak hidup bahagia, berhak hidup bersih dari semua dosaku. Penjahat-penjahat itu dahulu bekas kawan-kawanku, biarlah sekarang kutebus dengan darahku, melawan mereka untuk membersihkan engkau dari kekotoran ini. Kau pergilah, jaga baik-baik ibumu, dan... dan... jangan lepaskan Swan Bu... itu harapanku..." Ucapan terakhir ini dilakukan dengan suara terisak.

"Ayah... selamat tinggal...," kata Siu Bi karena tidak melihat jalan lain.

la maklum juga bahwa kedatangan Ouwyang Lam tentu disusul yang lain. Bila Ang-hwa Nio-nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, apa lagi Bhok Hwesio sampai muncul di situ, tentu dia, Swan Bu, dan ayahnya akan tewas semua secara konyol. la dapat menduga pula bahwa luka ayahnya amat berat, maka ayahnya menjadi nekat, berkorban untuknya.

Dengan air mata bercucuran ia menghampiri Swan Bu, lalu digandengnya lengan kanan pemuda itu dan ditariknya. "Mari kita berangkat, Swan Bu."

"Sebentar, anakku..." The Sun dengan langkah lebar menghampiri mereka, memandang dengan penuh keharuan, tiba-tiba merangkul Swan Bu dan mencium dahi pemuda itu, merangkul Siu Bi dan mencium dahi gadis ini, lalu melepaskan mereka. "Pergilah, lekas pergilah..., selamat berbahagia!"

la masih berdiri dengan air mata bercucuran memandang ke arah lenyapnya dua orang muda itu ketika muncul Ang-hwa Nio-nio yang berlari-lari ke tempat itu. Terdengar nenek itu menjerit, lalu menubruk jenazah Ouwyang Lam dan menangis tersedu-sedu. Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia segera meloncat bangun dan berdiri menghadapi The Sun yang sudah membalikkan tubuh karena sadar dari lamunan sedih oleh tangis dan jerit Ang-hwa Nio-nio tadi.

Ang-hwa Nio-nio hampir gila oleh marah dan sedihnya melihat murid atau kekasihnya telah tewas. Dengan mata mendelik ia memandang kepada The Sun dan berteriak penuh kemarahan,

"Katakan, siapa yang membunuhnya? Dan kau ini siapa?"

The Sun yang telah dapat menguasai keharuan hatinya, kini tersenyum duka. "Kui-toanio (nyonya Kui), agaknya kau sudah lupa lagi padaku. Dua puluh tahun yang lalu, aku dan guruku Hek Lojin bukankah menjadi kawan seperjuangan dengan Ang-hwa Sam-cimoi?"

Nenek itu memandang heran ke arah lengan yang buntung, akan tetapi sekarang ia telah teringat. "Aahhh, kau The Sun... ehhh, gadis itu, Siu Bi... dia puterimu?"

Sebelum The Sun menjawab, nenek itu yang ingat lagi akan mayat pemuda kekasihnya. Cepat dia bertanya, dan suaranya berubah tidak semanis tadi, "The Sun, siapakah yang membunuh Ouwyang Lam? Siapa?"

Setelah sekarang Siu Bi dan Swan Bu pergi, baru The Sun merasa betapa dadanya sakit bukan main, juga lengannya yang buntung. Rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum dan ke jantung, membuat matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan tubuhnya menggigil.....
Akan tetapi The Sun menggigit bibirnya, mengerahkan seluruh daya tahan yang ada di tubuhnya untuk melawan rasa nyeri ini agar dia dapat menghadapi Ang-hwa Nio-nio.

"Dia ini hendak mengganggu anakku dan... mantuku, oleh karena itu aku turun tangan membunuhnya!"

Ang-hwa Nio-nio kelihatan amat kaget dan heran, akan tetapi kemarahannya memuncak mengalahkan perasaan-perasaan lain. Dia mundur tiga langkah, mengeluarkan jerit aneh setengah menangis setengah tertawa, lalu menubruk ke depan melakukan penyerangan dahsyat, pedangnya menubruk perut, tangan kirinya melancarkan pukulan Ang-tok-ciang!

The Sun adalah seorang jago kawakan yang tentu saja sudah maklum betapa lihainya nenek ini. Apa lagi dia dalam keadaan terluka hebat, lengan buntung dan dada tergores pedang. Andai kata dia dalam keadaan sehat dan segar bugar sekali pun, dia maklum bahwa nenek ini bukan lawannya yang seimbang. Mendiang gurunya, Hek Lojin, kiranya baru merupakan lawan setanding.

Maka dia bukan tidak tahu bahwa pertempuran ini akan berakhir dengan kekalahannya. Namun dia tidak takut, tidak gentar. Apa lagi karena apa yang dia idam-idamkan sudah tercapai, yaitu menarik Siu Bi kembali padanya, sebagai anaknya. la terlalu cinta kepada anak itu yang semenjak kecil dia anggap anak sendiri.

Ketika Siu Bi pergi, dia sudah mengalami penderitaan batin yang lebih hebat dari pada penderitaan apa pun juga, lebih hebat dari pada kematian. Bahkan sebelum dia bertemu dengan Siu Bi, hanya tubuhnya yang masih hidup untuk menghadapi segala kepalsuan hidup, sedangkan batinnya sudah hampir mati.

Baru setelah Siu Bi menyebutnya ayah, mengaku ayah padanya, jiwanya segar kembali dan The Sun merasakan kebahagian dan kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia. la puas, dia lega, dan dia bahagia sehingga menghadapi bahaya maut di tangan Ang-hwa Nio-nio disambutnya dengan senyum!

Betapa pun juga, darah jagoan tidak membiarkan dia mati konyol begitu saja. la seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, meski pun tingkatnya tidak setinggi tingkat Ang-hwa Nio-nio. Namun dia harus memperlihatkan bahwa selama puluhan tahun belajar ilmu silat tidaklah sia-sia. la harus melawan mati-matian.

Tangan kanannya yang memegang pedang bergerak melindungi tubuh. Dia menggeser kakinya ke belakang terus ke kiri, membabatkan pedangnya ke tengah-tengah gulungan sinar pedang di tangan Ang-hwa Nio-nio.

"Trang-trang-tranggg...!"

Mereka berdua terpental mundur, masing-masing tiga langkah. Hal ini aneh.

Sesungguhnya dalam hal kepandaian mau pun tenaga dalam, The Sun kalah jauh oleh Ang-hwa Nio-nio. Apa lagi dia dalam keadaan terluka dan tubuhnya sudah lemah sekali. Akan tetapi, mengapa tiga kali pedangnya dapat menangkis pedang lawan dan dia dapat mengimbangi tenaga Ang-hwa Nio-nio?

Bukan lain karena rasa bahagia dan ketabahan yang luar biasa, yang membuat The Sun tidak peduli lagi akan mati atau hidup. Perasaan ini lalu mendatangkan tenaga mukjijat kepadanya.

Memang, di dalam tubuh manusia ini tersimpan tenaga mukjijat yang rahasianya belum diketahui oleh si manusia sendiri. Kadang-kadang saja, di luar kesadarannya, tenaga ini menonjolkan diri, membuat orang dapat melakukan hal yang tidak mungkin dilakukannya dalam keadaan normal.

Rasa takut yang berlebih-lebihan, rasa marah yang melewati batas, rasa cinta mau pun gembira yang mendalam, kadang-kadang dapat menarik tenaga mukjijat di dalam diri ini sehingga timbul dan memungkinkan orang melakukan hal yang luar biasa, hal-hal di atas kemampuannya yang normal.

Demikian pula agaknya dengan The Sun pada saat itu. Secara aneh sekali, perasaan bahagia yang amat mendalam membuat dia tak gentar menghadapi apa pun juga. Mati atau hidup baginya sama saja, pokoknya dia sudah diterima sebagai ayah oleh Siu Bi dan inilah idam-idaman hatinya.

Perasaan inilah yang membangkitkan tenaga mukjijat sehingga dia mampu menangkis sambaran pedang Ang-hwa Nio-nio sambil mengelak dari pukulan Ang-tok-ciang. Akan tetapi, karena memang kalah tingkat dan pula tangan kirinya tak dapat dia gunakan lagi sehingga keseimbangan tubuhnya dalam bersilat juga terganggu, maka ketika Ang-hwa Nio-nio terus menerus mendesaknya dengan kemarahan meluap-luap, The Sun hanya mampu mempertahankan dirinya saja.

"Singgg…!"

Pedang Ang-hwa Nio-nio menyambar, hampir saja mengenai kepala The Sun kalau saja dia tidak cepat-cepat membanting dirinya ke belakang dan terhuyung. Pada waktu itu, Ang-hwa Nio-nio sudah menyusulkan pukulan Ang-tok-ciang. Dalam keadaan terhuyung-huyung ini, tentu saja The Sun tidak mampu lagi mengelak.

"Uhhh...!"

Dada The Sun serasa ditumbuk palu godam, tergetar seluruh isi dadanya dan tubuhnya terlempar sampai tiga meter lebih. The Sun roboh dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Pada saat itu pula Ang-hwa Nio-nio sambil terkekeh-kekeh mengerikan sudah melompat datang dengan pedang terangkat.

Akan tetapi The Sun sama sekali tidak gentar, juga tak mau menyerah. Dalam keadaan setengah rebah ini, dia masih mampu mengangkat pedangnya dan menangkis bacokan pedang lawan.

"Tranggg...!"

Pedang di tangan The Sun patah menjadi dua, ujungnya menancap di dadanya sendiri dan gagangnya mencelat entah kemana. The Sun menggulingkan tubuhnya ke depan dan tangan kanannya dikepal melancarkan pukulan sambil menendang. Hebat serangan ini, dan tidak terduga-duga lagi. Siapa bisa menduga orang yang sudah terluka seperti itu masih dapat melakukan serangan begini dahsyat?

"Ihhh...!" Ang-hwa Nio-nio berteriak kaget dan marah.

Biar pun dia dapat menghindar, namun ujung kaki The Sun menyambar pipinya, dekat hidung. Dia mencium bau sepatu yang amat tidak enak dan hal ini dianggap merupakan penghinaan yang melewati takaran.

"Keparat, mampus kau!" bentaknya, pedangnya membacok lagi sekuat tenaga.
"Crakkk!"

Lengan kanan The Sun yang menangkis bacokan ini seketika terbabat buntung! Darah muncrat bagaikan air pancuran. Akan tetapi The Sun masih melompat bangun, kedua kakinya bergerak seperti kitiran angin melakukan tendangan berantai.

"Wah, gila...!" Ang-hwa Nio-nio merasa seram juga.

The Sun sudah bermandikan darah, juga pakaiannya ternoda darah yang mancur dari lengannya, akan tetapi tendangannya masih amat berbahaya. Dengan sangat marah dan penasaran Ang-hwa Nio-nio mengayun pedangnya memapaki kaki yang menendang.

"Crokkk!"

Kaki kanan The Sun putus sebatas lutut dan tubuhnya terguling. Namun hebatnya, tidak satu kali pun jagoan ini mengeluarkan suara keluhan. Dia rebah dengan mata melotot memandang Ang-hwa Nio-a nio, mulutnya tersenyum penuh ejekan.

"Setan kau!"

Ang-hwa Nio-nio menubruk maju dan pedangnya dikerjakan laksana seorang penebang pohon memainkan kapaknya. Terdengarlah suara crak-crok-crak-crok dan dalam waktu beberapa detik saja tubuh The Sun tercacah hancur! Mengerikan sekali!

Ang-hwa Nio-nio mengangkat mayat Ouwyang Lam dan dibawanya lari pergi. Terdengar lengking tangisnya sepanjang jalan. Ada pun mayat The Sun yang sudah tak karuan lagi bentuknya itu menggeletak di atas tanah di dalam hutan.

Sunyi sekali di situ. Tiada suara apa-apa kecuali suara burung hutan yang bersembunyi mengintai di atas pohon. Yang kelihatan bergerak hanya binatang-binatang hutan yang bersembunyi di dalam gerumbulan, menanti saat untuk menikmati hidangan daging dan darah yang disia-siakan itu. Kematian seorang manusia yang sangat mengerikan, juga menyedihkan.

Patut dikasihani manusia seperti The Sun itu, sungguh pun kematiannya itu tidaklah mengherankan apa bila kita mengingat dan menilai perbuatan-perbuatannya di waktu dia masih muda. Telah ditumpuknya dosa, dan sekarang agaknya dia harus menebusnya. Sayang, amat terlambat dia insyaf.

Di waktu muda dahulu, kedudukan, kekuasaan, kekuatan, dan harta benda membuat dia takabur. Membuatnya sewenang-wenang, seakan-akan di dunia ini tidak ada kekuasaan yang dapat melawannya, yang dapat mengadili perbuatan-perbuatannya. Pada waktu itu dia lupa bahwa di atas segala kekuasaan yang tampak di dunia ini, masih ADA kekuasan tertinggi, kekuasaan Tuhan yang tak terlawan, yang maha adil, yang takkan membiarkan kejahatan lewat tanpa hukuman.

Setiap perbuatan merupakan sebab dan tiap sebab mempunyai akibat. Nasib di tangan Tuhan? Betul, karena Tuhanlah yang mengatur lancarnya akibat-akibat ini seadil-adilnya maka Maha Adillah DIA.

Nasib di tangan manusia sendiri? Juga betul, karena sebenarnya, manusia itu sendirilah yang menjadi sebab dari akibat yang disebut kemudian sebagai nasib! Perbuatan baik tentu berakibat baik, sebaliknya perbuatan busuk pasti akan berakibat buruk, maka baik buruknya akibat atau nasib sesungguhnya adalah di tangan si manusia itu sendiri. 

Bagi mereka yang berbuat kejahatan tapi belum menerima hukuman dari Tuhan, jangan terlalu keras ketawa gembira. Yakinlah, bahwa akibat perbuatanmu pasti akan tiba pula! Tuhan Maha Adil.....

********************
Kuil tua di kota Kong-goan semakin sunyi keadaannya. Semenjak kuil tua itu dijadikan semacam markas oleh Ang-hwa Nio-nio dan sekutunya, penduduk menganggap tempat itu sebagai tempat terlarang, tempat yang sangat seram dan berbahaya sehingga kuil ini seakan-akan terasing. Apa lagi di waktu malam, tidak ada orang berani lewat dekat kuit ini.

Cukup banyak pula penduduk Kong-goan yang menganggap kuil itu sebagai tempat yang angker, sebagai rumah setan dan iblis! Hal ini tidaklah aneh kalau mereka pernah melihat berkelebatnya bayangan yang dapat ‘menghilang’ dan kadang-kadang dapat ‘terbang’ ke atas genteng, bahkan sering pula melihat cahaya berkelebatan di atas kuil.

Akan tetapi pada malam hari itu, dua sosok bayangan orang dengan langkah perlahan dan tenang menghampiri kuil tua ini, tanpa ragu-ragu memasuki pekarangan kuil yang gelap. Mereka ini bukan lain adalah suami isteri sakti dari Liong-thouw-san, Pendekar Buta dan isterinya!

"Sunyi sekali, agaknya kosong," berkata Hui Kauw setelah meneliti keadaan di sekeliling tempat itu dengan pandang matanya.
"Memang kosong," kata Kun Hong yang juga meneliti keadaan dengan pendengarannya, ”akan tetapi mungkin nanti atau besok mereka akan kembali. Tempat ini belum lama ditinggalkan orang, hawa manusia masih bergantung tebal di ruangan ini."

Setelah melakukan pemeriksaan dan yakin bahwa kuil tua itu tidak ada penghuninya, Kun Hong dan Hui Kauw lalu duduk bersila di ruangan belakang yang lantainya bersih. Mereka melewatkan malam di tempat itu, sambil menunggu dan bersikap waspada.

Di tempat inilah Kong Bu melihat putera mereka yang didakwa melakukan perbuatan jahat terhadap Lee Si, puteri pendekar Min-san itu. Dengan demikian berarti bahwa putera mereka itu terkena fitnah di tempat ini. Maka, dengan hati penuh kekhawatiran mereka menduga-duga apakah yang telah terjadi di sini dan siapa gerangan yang melakukan perbuatan curang mengadu domba itu.

Akan tetapi malam itu tak terjadi apa-apa. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali baru terdengar langkah-langkah kaki di luar kuil tua itu. Kun Hong dan isterinya tentu saja mendengar suara ini dan mereka sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan. Mereka bangkit berdiri dan tanpa kata-kata keduanya seperti sudah bermufakat, berjalan perlahan keluar menuju ke ruangan depan untuk menyambut datangnya musuh.

Sesudah mereka tiba di luar, Hui Kauw melihat seorang gadis cantik dan gagah berdiri dengan tegak dan pandang mata marah.

"Siapakah dia?" bisik Kun Hong kepada isterinya.

Hui Kauw memandang penuh selidik, mengingat-ingat di mana dan bila mana ia pernah melihat wajah cantik yang serasa telah amat dikenalnya ini. Gadis itu balas memandang kepadanya, penuh selidik pula. Dua orang wanita ini saling pandang, agaknya masing-masing menanti ditegur terlebih dulu.

Melihat betapa sikap gadis itu seolah-olah sedang menahan kemarahan besar, Hui Kauw mengalah dan menegur lebih dulu.

"Nona, siapa kau dan siapa yang kau cari di tempat ini?" Hui Kauw bertanya hati-hati karena ia belum tahu apakah gadis ini termasuk sekutu pihak lawan ataukah bukan.
"Kalian ini bukankah Pendekar Buta dan isterinya?" Gadis itu balas bertanya.

Hui Kauw dapat menduga bahwa gadis ini pada dasarnya memiliki suara yang halus dan sopan, akan tetapi karena sedang marah maka terdengar ketus.

"Kalau betul demikian, kenapa?" dia balas bertanya, sabar dan tersenyum.
"Sudah kuduga," Gadis itu berkata perlahan seperti kepada diri sendiri, "sepasang suami isteri yang sakti, berilmu tinggi dan menganggap di dunia ini mereka yang paling pandai."
"Ehh, kau siapakah dan apa sebabnya bicara begitu?" Kun Hong bertanya, keningnya berkerut karena pendengarannya tadi menangkap keperihan hati yang sakit dan penuh dendam.

Namun gadis itu tidak menjawab, melainkan kembali bertanya kepada Hui Kauw sambil matanya memandang tajam, "Bibi yang gagah perkasa, bolehkah aku bertanya di mana kau menyimpan pedangmu Kim-seng-kiam?"

Berubah wajah Hui Kauw dan Kun Hong mendengar ini. Bangkit kemarahan di hati Hui Kauw. Pedangnya lenyap dicuri orang, dan pencurinya hanya tampak bayangannya saja yang bertubuh ramping dan tidak seorang pun tahu akan kejadian itu. Gadis ini bertubuh ramping dan tahu akan pedangnya yang hilang.

Tentu gadis ini yang telah mencurinya, atau setidaknya tahu akan pencurian pedang itu. Mudah saja menduganya, seperti dua kali dua sama dengan empat!

"Ehh, bocah nakal! Kiranya kau yang mencuri pedangku? Hayo katakan, sekarang di mana kau sembunyikan pedangku itu dan apa sebabnya kau mencurinya?" la melangkah maju dua tindak menghadapi gadis itu.

Kun Hong tetap berdiri, telinganya mengitari segala gerakan dan suara.

"Hemmm, tidak kusangka, isteri Pendekar Buta yang sakti itu pandai pula berpura-pura. Siapa yang berani dan mampu mencuri pedang dari tangan isteri Pendekar Buta? Lebih baik berterus terang saja bahwa pedang itu tertinggal di dada ketua Min-san-pai. Kalian mengandalkan kepandaian sendiri, dengan pedang Kim-seng-kiam membunuh Tan Kong Bu, apakah sekarang masih hendak berpura-pura lagi?"

Kun Hong menahan seruannya, kerut-merut di antara kedua matanya yang buta menjadi makin dalam. "Kong Bu terbunuh dengan Kim-seng-kiam? Ahhh..., kau siapakah, Nona? Dan apakah yang kau kehendaki setelah kau menceritakan itu kepada kami?"

"Lebih dulu kalian mengakulah bahwa kalian yang membunuh Tan Kong Bu. Orang yang berani bertanggung jawab akan perbuatannya barulah orang gagah, dan hanya kepada orang gagah aku mau memperkenalkan diri. Kalau kalian menyangkal padahal pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya, berarti kalian walau pun terkenal sakti ternyata hanyalah pengecut dan aku tidak sudi banyak bicara lagi, karena pedangku yang akan mewakili aku bicara!"

Hui Kauw tidak dapat menahan sabarnya lagi. la melangkah maju lagi beberapa tindak sehingga kini dia sudah berhadapan dengan gadis itu. Sepasang matanya yang bening memandang tajam seakan berkilat, alisnya saling berdekatan, urat lehernya menegang.

"Bocah lancang! Besar mulutmu! Kami tak pernah mengagulkan diri sebagai orang-orang sakti dan gagah, akan tetapi kami juga tak sudi dimaki pengecut! Pedang Kim-seng-kiam memang pedangku, kau mau tahu namaku ataukah sudah mengenalku? Aku Kwee Hui Kauw. Pedangku itu beberapa hari yang lalu lenyap dicuri orang. Hal ini tidak ada yang tahu, kecuali aku, suamiku, dan si pencuri. Sekarang kau muncul dan bicara tentang ini, siapa lagi orangnya kalau bukan kau yang mencuri pedangku? Dan sekarang setelah kau menggunakan pedang itu untuk membunuh Kong Bu, kau datang ke sini menuduh kami? Keparat, kiranya kau ini biang keladi semua urusan!" Setelah berkata demikian Hui Kauw menerjang ke depan, menyerang gadis itu.

Gadis itu bukan lain adalah Tan Cui Sian. Melihat datangnya serangan, dia cepat-cepat mengelak dan meloncat ke kiri.

"Singgg…!"

Pedang Liong-cu-kiam sudah dicabutnya. Pedang ini mengeluarkan cahaya berkilat yang menyilaukan mata sehingga Hui Kauw yang dapat mengenal pedang pusaka ampuh, ragu-ragu untuk menyerang lagi dengan tangan kosong, apa lagi tadi dia melihat betapa gerakan gadis itu amat ringan dan gesit.

"Huh, ganas!" bentak Cui Sian. "Tak kusangka Pendekar Buta dan isterinya hanya begini! Mengandalkan diri dan kepandaian sendiri untuk menjagoi serta membunuh orang. Aku tahu, pada saat bertemu dengan kalian tentu Tan Kong Bu telah menuduh bahwa putera kalian menghina puterinya sehingga terjadi percekcokan dan pertempuran. Akan tetapi kalau kalian membunuhnya, hal ini keterlaluan sekali dan aku tak akan mendiamkannya begitu saja. Hayo, Pendekar Buta, majulah! Kwee Hui Kauw, karena pedangmu telah kau tinggalkan menancap pada dada Tan Kong Bu, kau boleh mencari senjata lainnya untuk menghadapiku!"

Bukan main heran dan kagetnya hati Pendekar Buta dan isterinya mendengar ucapan ini. Bagaimana gadis ini tahu akan urusan Kwa Swan Bu dan Lee Si? Dan tahu pula bahwa Kong Bu telah bentrok dengan mereka berdua? Siapakah gadis ini?

Perlu diketahui bahwa Hui Kauw belum pernah bertemu dengan Cui Sian, dan Kun Hong pun tak pernah bertemu semenjak Cui Sian berusia lima tahun. Ketika Swan Bu dalam usia belasan tahun pergi ke Thai-san, dia ditemani oleh kakeknya, Kwa Tin Siong.

"Kau... kau anak Kong Bu?” Hui Kauw bertanya.

Cui Sian tersenyum mengejek. Gadis ini tidak mau memperkenalkan namanya, karena kalau ia melakukan hal ini, agaknya akan sukar baginya untuk bersikap seperti ini. Untuk dapat membalas kematian kakaknya, ia harus bersikap kasar dan bermusuhan. Melihat betapa tadi Hui Kauw telah menyerangnya, ia makin merasa yakin bahwa Kong Bu tentu tewas di tangan nyonya ini, dan agaknya dibantu oleh Pendekar Buta karena ia menaksir bahwa kepandaian kakaknya itu tidak kalah oleh kepandaian Kwee Hui Kauw.

"Tak peduli aku siapa, kematian Tan Kong Bu tak boleh kudiamkan saja. Pendekar Buta, kau terkenal sebagai seorang pendekar yang sakti. Awas, pedangku menyerangmu!" Dengan gerakan kilat Cui Sian menerjang Pendekar Buta dengan pedang Liong-cu-kiam!

Gadis ini semenjak kecil tak pernah lagi bertemu dengan Pendekar Buta akan tetapi ia sudah mendengar banyak sekali tentang Kun Hong. Mendengar betapa ayahnya banyak memuji-muji kepandaiannya dan pernah mendengar pula dari ibunya betapa Kwa Kun Hong menjadi buta karena urusan cinta kasih dengan mendiang enci-nya yang bernama Tan Cui Bi dan yang tak pernah ia lihat. (baca Rajawali Emas)

Mendengar cerita mengenai kematian enci-nya yang membunuh diri, diam-diam Cui Sian sudah mempunyai rasa tak senang pada Pendekar Buta, sebab dia menganggap bahwa kematian enci-nya itu adalah gara-gara Kwa Kun Hong. Apa lagi sesudah mendengar bahwa Kwa Kun Hong tidak setia kepada enci-nya yang sudah mengorbankan nyawa demi cinta kasihnya, yaitu bahwa Kun Hong sudah menikah, maka diam-diam dia pun merasa cemburu demi enci-nya, kepada Kwee Hui Kauw.

Puji-puji ayahnya tentang kelihaian Pendekar Buta juga telah membangkitkan penasaran di hatinya. Dulu ia sering kali melamunkan untuk mengadu kepandaian dengan Pendekar Buta yang sudah mengakibatkan enci-nya membunuh diri, dan yang dipuji-puji setinggi langit oleh ayahnya.

"Singgg...!"

Pedang Liong-cu-kiam mengeluarkan suara mendesing ketika digerakkan oleh tangan kanan Cui Sian yang terlatih dan yang gerakannya mengandung tenaga sinkang murni, seketika berubah menjadi seberkas cahaya kilat meluncur cepat ke arah leher Pendekar Buta!

Biar pun kedua matanya buta, sebagai pengganti kekurangan ini, telinga Pendekar Buta amatlah tajam pendengarannya, sehingga dengan pendengarannya dia dapat mengikuti gerakan Cui Sian dengan pedangnya. Alangkah heran dan kaget hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan yang amat jelas dari Im-yang Sin-kiam murni! Siapa yang dapat memainkan Im-yang Sin-kiam begini indah dan murni kecuali dia sendiri, dan tentu saja, Raja Pedang Tan Beng San?

la mendiamkan saja tusukan pedang ke arah lehernya ini, tidak ditangkis dan juga tidak dielakkannya. la tahu bahwa gadis ini menusuknya dengan jurus Sian-li Cui-siauw (Dewi Meniup Suling), sebuah jurus yang tergolong Im-sin-kiam, memiliki sebutan yang sifatnya ‘Im’ sedangkan sian-li atau dewi termasuk wanita maka banyak dipakai untuk jurus-jurus Im-sin-kiam. Sebaliknya, dalam Yang-sin-kiam banyak digunakan sebutan yang sifatnya ‘Yang’.

Kun Hong yang telah mewarisi ilmu pedang sakti ini dari Raja Pedang, tentu saja tahu akan perubahan-perubahannya dan dia tahu pula bahwa tusukan ke arah leher ini, biar pun ujung pedangnya sudah menyentuh kulit leher lawan, dapat saja dibelokkan apa bila memang si penyerang tak ingin membunuh lawannya. Oleh karena ini maka dia sengaja tidak mengelak atau menangkis, namun tentu saja siap untuk menghancurkan lawan bila serangan ini diteruskan.

Dugaannya tepat. Pada waktu Cui Sian melihat betapa orang buta itu sama sekali tidak menangkis mau pun mengelak sehingga pedangnya meluncur terus mengarah leher, dia menjerit tertahan dan cepat dia menggerakkan pergelangan tangannya mengubah arah pedang. Namun karena dia sedang marah, gerakan serangannya tadi hebat sekali, apa lagi dia menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga. Inilah yang membuat dia kurang cepat mengubah arah pedang sehingga ujung pedangnya masih menyambar pundak kiri Kun Hong sehingga robeklah baju pada pundak berikut kulit dan sedikit daging sehingga darah bercucuran dari luka di pundak.

"Kau... Cui Sian...!” Kun Hong seakan-akan tidak merasakan perihnya luka di pundak.
"Ohhh... kau bocah kurang ajar!" bentak Hui Kauw setelah mendengar seruan suaminya.

Kemarahannya bangkit. Kalau anak ini Cui Sian, berarti dia adik tirinya Tan Kong Bu dan sungguh pun wajar kalau ia marah atas kematian Kong Bu, akan tetapi tidak seharusnya berlaku begitu nekat dan menuduh mereka tanpa penyelidikan lagi. Apa lagi sekarang berani menyerang dan melukai suaminya yang nyata-nyata tidak melawan!

Di lain pihak, Cui Sian yang sudah dikenal, kemudian berdiri dengan pedang melintang di depan dada, tangan kiri bertolak pinggang. Dia seorang gadis yang berpengetahuan dan berpemandangan luas, akan tetapi walau pun demikian, dia tetap seorang wanita yang berperasaan halus, mudah tersinggung sehingga dia bersikap seperti itu karena teringat akan mendiang enci-nya yang membunuh diri karena Kun Hong ditambah pula kematian kakaknya yang tewas tertikam pedang milik isteri Pendekar Buta.

"Betul, aku Tan Cui Sian! Pendekar Buta, dulu sebelum aku lahir, kau sudah menggoda enci-ku Cui Bi dengan ketampanan wajahmu, akan tetapi kemudian kau tak bertanggung jawab sehingga menyebabkan enci-ku tewas membunuh diri. Sekarang, pedang isterimu membuat kakakku Kong Bu tewas pula, tetapi kembali kalian tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan kalian. Apakah ini perbuatan orang gagah?. Hayo lawan aku, untuk membereskan perhitungan lama dan baru!"
"Ihhh, sungguh lancang mulutmu!" Hui Kauw berteriak marah sekali.
"Ssttttt, sabarlah isteriku, dia masih anak-anak," kata Kun Hong untuk menyabarkan hati isterinya.

Akan tetapi bagi Cui Sian, ucapan itu merupakan bensin yang menyiram api di dadanya. Dia tadi disebut anak-anak! Akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut menyatakan kemarahannya, Pendekar Buta telah mendahuluinya berkata,

"Cui Sian, alangkah sedih hatiku menghadapi kau seperti ini. Teringat aku betapa dahulu, ketika kau masih kecil, berusia lima enam tahun..."
"Cukup! Tak perlu menggali-gali urusan lama!"

Kun Hong tersenyum, "Kau yang mulai menggali tadi, anak baik. Kau ketahuilah, apa yang dikatakan isteriku tadi tidak bohong. Pedangnya memang sudah dicuri orang dan kami berdua tidak tahu-menahu tentang kematian kakakmu Korig Bu. Tentu saja berita ini amat mengagetkan dan menyedihkan..."

"Sudahlah, siapa bisa percaya omongan seorang yang sudah biasa melanggar sumpah sendiri?"
"Apa maksudmu?!" Kun Hong membentak, suaranya kereng.
"Enci-ku membunuh diri demi cinta kasih, memperlihatkan kesetiaannya kepadamu, lebih baik mati dari pada dijodohkan dengan orang lain. Akan tetapi, belum juga dingin jenazah enci-ku, kau... kau sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah aku sekarang harus percaya omonganmu?"
"Bocah kurang ajar! Jangan kau menghina dia!" Hui Kauw berseru marah sekali.

Tahu-tahu ia sudah merenggut tongkat suaminya, meloloskan pedang dari dalam tongkat itu, pedang yang mengeluarkan sinar merah, pedang Ang-hong-kiam!

"Hui Kauw, jangan….!” Kun Hong mencegah.

Akan tetapi dengan pedang Ang-ho-kiam di tangan Hui Kauw sudah melompat maju dan menghadapi Cui Sian. Kemarahan hebat membuat kedua pipinya menjadi merah sekali. Pedangnya berkelebat dan dengan cepat ia telah mengirim serangan hebat kepada gadis itu.

"Tranggg!"

Liong-cu-kiam bertemu dengan Ang-ho-kiam, digerakkan oleh dua buah lengan wanita yang memiliki tenaga sakti. Bunyi nyaring itu diikuti pula dengan bunga api yang muncrat seperti kembang api.

"Bagus!" kata Cui Sian. "Memang Kim-seng-kiam yang tertancap di dada kakakku adalah pedangmu, maka sudah sepatutnya jika kau mempertanggung jawabkan keganasanmu. Ini bukan berarti aku takut kalau kau mengandalkan suamimu Si Pendekar Buta..."
"Tutup mulutmu! Lihat pedang!" Hui Kauw membentak lagi sambil memutar pedang.

Segulung sinar merah berkelebatan di udara, membentuk lingkaran-lingkaran lebar yang bergelombang, kemudian bagaikan seekor naga berwarna merah gulungan sinar pedang itu menyambar ke arah kepala Cui Sian. Cepat bukan main sambaran sinar pedang ini, cepat dan anginnya begitu tajam mendesing sehingga ketika Cui Sian menggerakkan kaki menekuk pinggang ke bawah, sinar pedang itu menyambar lewat di atas kepalanya, meninggalkan bunyi berdesing yang menyeramkan.

Namun Cui Sian sendiri adalah seorang ahli pedang yang sudah tergembleng matang di puncak Thai-san. Tidak percuma kiranya ia menjadi puteri seorang pendekar sakti yang berjuluk Raja Pedang.

Ibunya pun seorang ahli pedang, malah puteri tunggal dari Raja Pedang Tua Cia Hui Gan, pewaris Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang tidak ada taranya sebelum muncul Tan Beng San dengan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam yang sebetulnya satu sumber dengan Sian-li Kiam-sut. Dengan latar belakang keturunan seperti ini, tentu saja Cui Sian adalah seorang ahli pedang yang sakti, biar pun ia hanya seorang gadis yang berusia dua puluh empat tahun.

Begitu sinar merah yang berdesing itu lewat di atas kepalanya, Cui Sian tidak menanti sampai lawannya menyerangnya kembali. la maklum bahwa menghadapi seorang lawan tangguh seperti isteri Pendekar Buta ini, dia tidak boleh sekali-kali berlaku sungkan atau menghemat serangan, harus dapat membalas serangan demi serangan, bahkan sedapat mungkin memperbanyak serangan dari pada pertahanan. Pedangnya digerakkan cepat dan sesosok sinar putih menyilaukan mata, laksana kilatan halilintar, menyelonong dari bawah masuk ke arah dada Hui Kauw.

Pedangnya tidak hanya berhenti sampai di sini karena ujungnya tergetar dan hal ini menyatakan bahwa setiap saat pedangnya ditangkis atau dielakkan lawan, ujung pedang akan dapat melanjutkan serangan dengan jurus yang lain. Tangan kiri gadis itu ditarik ke belakang, lurus dan telapak tangannya dibalik menghadap ke atas.

Indah sekali gerakannya, dengan ujung kaki kanan menotol tanah, tumit diangkat, lutut agak ditekuk ke depan. Inilah gerakan indah seperti gerak tari yang bernama jurus Sian-li Hoan-eng (Sang Dewi Menukar Bayangan), yaitu sebuah jurus dari Sian-li Kiam-sut yang mengandung tenaga Im-yang Sin-hoat, maka hebatnya bukan kepalang!

Pada waktu tadi menyerangkan pedangnya ke arah kepala lawan dan dapat dielakkan, otomatis dada Hui Kauw terbuka. Sebagai isteri Pendekar Buta, tentu saja ia maklum akan kedudukan yang lemah ini. Memang setiap kali menyerang berarti membuka satu bagian yang tidak terlindung. Akan tetapi kalau sudah menguasai kelemahannya sendiri, tentu saja dapat menjaga diri.

Hui Kauw pernah mewarisi ilmu silat tinggi dari sebuah kitab kuno yang dia temukan. Kemudian oleh suaminya, ia dibimbing dan mewarisi beberapa jurus Kim-tiauw-kun yang amat hebat, yang lalu ia gabung dengan ilmu silatnya sendiri sehingga kini memiliki ilmu pedang gabungan yang amat kuat dan dahsyat.

Seperti yang telah ia duga, kekosongan yang terbuka dalam posisinya digunakan lawan. Melihat sinar pedang putih mengancam dada, pedang ia balikkan ke bawah lengan dan dengan pengerahan tenaga sinkang ia cepat menarik lengan yang ditamengi pedang ini ke bawah.

"Criinggg...!"

Kembali sepasang pedang bertemu di udara. Sinar pedang putih yang amat lincah itu begitu kena ditangkis, membalik dan tahu-tahu sudah berubah menjadi sabetan ke arah kaki!

Inilah kelihaian Sian-li Hoan-eng tadi. Begitu ditangkis dan ditindas dari atas oleh lengan Hui Kauw yang dilindungi pedang dibalik, pedang Liong-cu-kiam terpukul ke bawah, akan tetapi pukulan ini malah merupakan landasan tenaga untuk dipergunakan membabat kaki dengan kecepatan kilat!

"Aiiiiihhh...!" Nyonya Pendekar Buta menjerit lirih.

Tahu-tahu kakinya menjejak bumi sehingga tubuhnya mumbul ke atas bagai dilontarkan. Begitu hebat ginkang-nya hingga lompatannya lebih cepat dari pada sambaran pedang. Sinar putih itu hanya beberapa senti meter saja lewat di bawah kakinya, nyaris sepasang kaki nyonya ini terbabat buntung!

"Bagus...!" Cui San memuji saking kagumnya menyaksikan gerakan yang sangat indah dan cepat ini.

Itulah gerakan dari Kim-tiauw-kun yang disebut jurus Sin-tiauw-coan-hong (Rajawali Sakti Terjang Angin). Jurus ini tak hanya dapat dipergunakan untuk menyelamatkan serangan di tubuh bagian bawah dengan cara melompat lurus ke atas dengan jalan menotolkan ujung kaki ke tanah, melambung ke atas sambil mengembangkan kedua lengan seperti sayap rajawali sakti, namun lebih dari itu, jurus ini dapat dipergunakan untuk menyerang lawan dengan cara yang dilakukan seekor rajawali.

Dan hal ini pun dilakukan oleh Hui Kauw, karena tiba-tiba saja tubuhnya dari atas telah berjungkir-balik dua kali sehingga tubuh itu mencelat semakin tinggi, kemudian turunnya tepat melayang ke arah lawan, pedangnya menusuk dada, tangan kiri mencengkeram muka, sedangkan dua kakinya masih melakukan tendangan udara. Benar-benar seperti rajawali yang menyerang dengan sepasang sayap dan sepasang cakarnya!

Cui Sian sangat kaget melihat perubahan ini. la tadinya agak terpesona oleh keindahan gerakan lawan, tidak tahu bahwa di dalam keindahan itu tersembunyi bahaya maut yang kini mengancamnya! la sadar akan kehebatan penyerangan ini setelah lawan tiba dekat sekali, bahkan angin pedang yang bersinar merah itu sudah lebih dahulu meniup.

"Hayaaaaah!" Cui Sian berseru.

Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih melingkar di depan dada menangkis sinar pedang merah, kemudian sambil menggunakan tenaga benturan ini ia membanting tubuhnya ke belakang.

Orang lain tentu akan celaka apa bila melakukan gerakan ini. Sedikitnya, kepala akan terbanting pada tanah atau batu di belakangnya. Akan tetapi tidak demikian dengan Cui Sian. Gerakan inilah yang disebut jurus Sian-li-loh-be (Gerakan Membalik Seorang Dewi) yang selain menegangkan, juga amat indah karena digerakkan oleh tubuh yang ramping, manis dan lemah-gemulai.

Biar pun tadinya kepala yang berambut hitam panjang halus harum itu seperti terbanting ke belakang dan ke bawah, namun bukan menghantam tanah di belakang, melainkan terayun terus ke bawah seiring dengan terangkatnya kedua kaki ke depan dan ke atas, lantas tubuh itu membuat salto sampai tiga kali ke belakang! Membuat salto ke depan adalah mudah dan agaknya dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau melatihnya. Akan tetapi membuat salto ke belakang berturut-turut tiga kali tanpa ancang-ancang dan dalam keadaan terjepit seperti itu, kiranya hanya dapat dilakukan oleh akrobat-akrobat tingkat tinggi saja!

Diam-diam Hui Kauw kaget dan kagum sekali. Serangannya tadi dengan jurus Sin-tiauw Coan-hong tadi sangat hebat dan jarang sekali tak membawa hasil baik karena serangan itu selain tidak terduga-duga datangnya, juga amat sukar ditangkis atau dielakkan sebab sekaligus kedua tangan dan kedua kakinya menyerang.

Akan tetapi ketika tadi gadis itu tubuhnya berputar-putar seperti kitiran angin ke belakang menjauhinya, otomatis serangannya gagal mutlak, karena tubuhnya yang melayang dari atas tak mungkin dapat ‘terbang’ mengikuti gerakan lawan. Terpaksa ia turun kembali ke atas tanah dan pada saat kedua kakinya menginjak tanah, lawannya yang muda belia itu sudah berdiri pula dengan tegak.

Kini mereka berdiri agak berjauhan karena gerakan salto Cui Sian tadi. Jarak di antara mereka ada lima meter. Masing-masing berdiri dengan pedang di tangan, melintang di depan dada. Dua kaki agak terpentang, tangan kiri di atas pinggul kiri, bibir agak terbuka serta nafas sedikit memburu karena pengerahan tenaga sinkang tadi dicampur dengan ketegangan, sepasang mata menyinarkan api berkilat-kilat, sepasang pipi merah jambu. Bagaikan dua ekor singa betina mereka saling pandang, seakan-akan hendak menaksir kekuatan lawan sambil mengasah otak untuk mengeluarkan jurus-jurus pilihan agar bisa segera merobohkan lawan yang tangguh.

Sejak tadi, kerut-merut di antara kedua mata Kun Hong tampak nyata, nafasnya agak terengah dan beberapa kali dia membanting kaki kiri ke atas tanah. Bingung sekali dia. la maklum bahwa di antara mereka terjadi kesalah pahaman yang amat besar dan amat berbahaya, akan tetapi bagaimana dia dapat mencegah mereka bertanding? Keduanya telah tersinggung perasaan dan kehormatan, masing-masing membela kebenaran sendiri dan satu-satunya jalan untuk menghentikan kesalah pahaman ini hanya mengemukakan fakta-fakta.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tak mungkin dia dapat memperlihatkan bukti untuk membuka tabir rahasia ini. Kong Bu terbunuh orang, pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya. Tentu saja adik tirinya ini, Cui Sian, menjadi marah dan menuduh mereka berdua yang melakukan pembunuhan itu.

"Hui Kauw... Cui Sian... hentikanlah pertempuran yang tak ada gunanya ini... dengarkan aku..."

Akan tetapi dia melanjutkan kata-katanya dengan helaan nafas panjang sebab pada saat itu kedua orang singa betina itu sudah saling terjang lagi dengan lebih hebat dari pada tadi. Kini mereka saling menguji lawan dengan gerakan cepat, atau jelasnya, masing-masing hendak mengandalkan kecepatan untuk mencapai kemenangan.

Gerakan mereka bagai sepasang burung walet, sulit sekali diikuti pandangan mata biasa. Pedang mereka lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulung sinar merah dan putih yang berkelebatan ke sana ke mari, saling belit, saling tekan, saling dorong dan saling kurung sehingga menimbulkan pemandangan yang ajaib, indah, tapi penuh ketegangan karena di antara semua keindahan itu mengintai maut!

Segera ternyata oleh kedua orang wanita jagoan itu bahwa dalam ilmu ginkang, nyonya Pendekar Buta dengan gerakan Kim-tiauw-kun masih lebih unggul sedikit. Akan tetapi keunggulan ini dapat ditutup oleh puteri Raja Pedang dengan kelebihannya dalam tenaga Iweekang yang merupakan penggabungan atau kombinasi dari Im-kang dan Yang-kang dari Im-yang Sin-hoat.

Ketika Hui Kauw melakukan serangan dengan jurus Kim-tiauw Liak-sui (Rajawali Emas Sambar Air), pedangnya membacok dari atas ke bawah dengan dua kali kelebatan, mirip seperti orang menulis huruf Z.

Cui Sian yang menjadi silau matanya saking hebatnya serangan ini, cepat menggerakkan pedang Liong-cu-kiam menangkis, dilanjutkan dengan serangan menusuk dada. Dalam menangkis ini, Cui Sian menggunakan jurus Yang-sin Kiam-hoat yang disebut Jit-ho Koan-seng (Api Matahari Menutup Bintang). Pedangnya diputar menjadi gulungan sinar bulat yang digerakkan hawa panas sehingga tangan Hui Kauw yang memegang pedang serasa akan pecah-pecah telapak tangannya. Kemudian, sinar pedang yang bulat seperti bentuk matahari ini mendadak mengeluarkan kilatan meluncur ke depan ketika jurus dari Yang-sin-kiam itu diubah mejadi jurus Im-sin-kiam yang disebut Bi-jin Sia-hwa (Wanita Cantik Memanah Bunga).

"Hui Kauw... awas...!” terdengar Kun Hong berseru kaget. Pendengarannya yang luar biasa tajam itu dapat mengikuti pertandingan ini seakan-akan dia dapat melihat saja.

Tanpa seruan ini pun Hui Kauw sudah kaget setengah mati karena sama sekali tidak disangkanya bahwa pedang lawan yang diputar untuk menangkis itu tahu-tahu dapat diubah menjadi serangan yang mengeluarkan hawa dingin. Pedangnya sendiri pada detik itu berada di atas karena tangannya terpental oleh tangkisan tadi, maka untuk menangkis tidak ada kesempatan lagi.

Agaknya pedang lawan akan menancap di dadanya. Dan mungkin ini yang dikehendaki Cui Sian untuk membalas kematian kakaknya dengan serangan yang sama, menikam dada!

Akan tetapi Hui Kauw bukan seorang wanita sembarangan yang akan putus asa dalam menghadapi terkaman maut. Dengan nekat dia hendak mengadu nyawa. Tubuhnya dia tekuk ke bawah menjadi setengah berjongkok dan pedangnya membabat miring ke arah kaki lawan. la maklum bahwa ia tidak akan dapat terhindar dari tusukan maut itu, akan tetapi agaknya pedangnya sendiri pun akan mendapat korban dua buah kaki!

"Aiihhh...!" Cui Sian berseru, kagum dan kaget.

Tapi ia cepat melompat ke atas sehingga pedang Hui Kauw menyambar lewat di bawah kedua kakinya, hanya beberapa senti meter saja selisihnya. Akan tetapi karena tubuh Hui Kauw merendah dan dia sendiri terpaksa melompat, pedangnya berubah arah dan tidak jadi menancap dada melainkan menyerempet pundak kiri Hui Kauw.

Nyonya Pendekar Buta itu mengeluh perlahan. Daging di pundaknya robek dan darah mengalir banyak. la terhuyung ke belakang, pandang matanya nanar.

"Hui Kauw...!"

Sekali kakinya bergerak, Kun Hong sudah melayang ke dekat isterinya dan merangkul tubuhnya. Cepat jari-jari tangannya mencari dan mendapatkan luka di pundak. Hatinya lega, luka itu besar akan tetapi hanya luka daging saja, tidak berbahaya. la menotok dua jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah dan mengurangi rasa nyeri.

"Cu Sian, kau terlalu mendesak kami...," katanya kemudian sambil menyuruh isterinya duduk beristirahat di pinggir. Pedang Ang-hong-kiam sudah dia masukkan kembali ke dalam tongkatnya.

Cui Sian melangkah maju, suaranya lantang dan ketus dengan nada penuh tantangan, "Pendekar Buta, untuk membalaskan kematian kakakku yang sama sekali tidak berdosa, pembunuhnya harus kubunuh pula!"

Setelah berkata demikian, Cui Sian tiba-tiba melompat cepat sekali dengan maksud agar orang buta itu tak sempat menghalanginya. la melompat ke dekat Hui Kauw yang duduk bersila sambil meramkan mata, mengumpulkan kembali tenaga dan memulihkan lukanya. Dengan gerakan cepat ia mengangkat pedangnya, menusuk ke arah dada Hui Kauw.

"Tranggggg...!"

Cui Sian hampir jatuh jungkir-balik saking kerasnya tangkisan ini, yang lantas membuat lengannya kesemutan dan membuat ia cepat melompat ke belakang. Matanya terbelalak marah ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya tadi adalah tongkat di tangan Kun Hong yang entah kapan telah berada di dekat isterinya.

"Bagus, kau telah membelanya? Awas pedang!"

la sudah menerjang maju dan sekarang dengan pengerahan tenaga sepenuhnya karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang sakti.

Hampir saja Cui Sian berdiri melongo paking herannya kalau saja ia tidak didorong oleh kemarahan dan sakit hati. Pendekar Buta itu hanya terus berdiri tegak dengan tongkat di tangan, kulit di antara kedua matanya kerut-merut, mulut setengah tersenyum setengah menangis membayangkan keperihan hati, akan tetapi sama sekali tak melayani ancaman serangan Cui Sian yang sudah kembali menggerakkan pedang sehingga gulungan sinar putih bergerak-gerak mengurung tubuhnya dari atas ke bawah!

Cui Sian adalah puteri seorang pendekar besar, tentu saja tidak sudi menyerang orang yang tidak melawannya.

"Pendekar Buta, tak perlu kau menghina orang dengan kepandaianmu! Hayo kau lawan pedangku kalau kau membela isterimu yang membunuh kakakku!" teriak Cui Sian sambil menodongkan ujung pedangnya di depan dada Kun Hong.

Akan tetapi Pendekar Buta tersenyum pahit dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku bukan orang gila, Siauw-moi (Adik Kecil)! Mana bisa aku melawanmu berkelahi? Isteriku tidak membunuh Kong Bu, aku berani sumpah..."
"Sumpahmu tidak ada harganya!" bentak Cui Sian yang teringat akan mendiang cici-nya. "Mungkin kau tidak membunuh Kong Bu koko, akan tetapi isterimu adalah puteri Ching-coa-to, sejak kecil tergolong keluarga penjahat! Aku bunuh dia!" Sambil berkata demikian Cui Sian melompat cepat sekali sambil menyerang Hui Kauw yang masih duduk bersila mengumpulkan tenaga.
"Tranggg!"

Kembali Cui Sian terhuyung mundur ketika pedangnya tertangkis tongkat di tangan Kun Hong. Namun gadis ini menjadi semakin marah dan dengan nekat mengirim serangan bertubi-tubi, dengan jurus-jurus terlihai dari Im-yang Sin-kiam.

Betapa pun ia mengerahkan tenaga dan kepandaian, semua sinar pedangnya terpental mundur oleh tangkisan tongkat yang merupakan sinar merah. Sinar merah itu jauh lebih kuat dari pada sinar putih pedangnya, agaknya Pendekar Buta hafal betul akan semua gerak-geriknya sehingga ke mana pun juga pedangnya berkelebat dalam serangannya terhadap Hui Kauw, selalu pedang itu membentur tongkat, seakan-akan tubuh Hui Kauw terkurung benteng baja yang tak tertembuskan!

Oleh karena semua serangannya selalu tertangkis, Cui Sian menjadi makin marah dan penasaran. Kalau saja Pendekar Buta melawannya dan ia dikalahkan, hal itu tidak akan mendatangkan rasa penasaran. Namun orang buta itu hanya menangkis dan melindungi isterinya, sama sekali tidak membalas sehingga ia merasa dipermainkan dan dipandang rendah, hanya dianggap anak-anak saja!

Apa lagi karena telapak tangannya yang memegang pedang terasa perih dan panas. Hampir Cui Sian menangis saking jengkelnya.....

Selanjutnya baca
JAKA LOLA : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger