logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kemelut Kerajaan Mancu Jilid 02


Dusun Kia-jung terletak di dekat Terusan, hanya sekitar dua puluh mil jauhnya dari kota Thian-cin. Karena letaknya di tepi Terusan dan dekat dengan kota besar, maka dusun itu ramai dan menjadi pusat pengumpulan hasil bumi yang akan dikirim ke Thian-cin, bahkan ada yang dikirim ke Peking.

Penduduknya mempunyai kehidupan yang cukup makmur dan biar pun di dusun itu tidak terdapat pasukan keamanan yang besar, hanya terjaga keamanannya oleh belasan orang pemuda penduduk dusun itu sendiri, namun selama ini keamanannya cukup baik. Tidak pernah terjadi gangguan keamanan yang besar. Yang pernah terjadi hanyalah pencurian kecil-kecilan.

Sore hari itu keadaan dusun Kia-jung sudah berangsur sepi. Kesibukan perdagangan hasil bumi terjadi dari pagi sampai siang tadi, dan pada sore hari ini orang-orang sudah mulai mengaso setelah lelah bekerja pada pagi dan siang harinya.
Dua belas orang pemuda malas-malasan berada di gardu penjagaan yang berada di pintu gerbang dusun sebelah selatan. Mereka bercakap-cakap dengan seorang laki-laki tua.

Laki-laki tua itu berusia sekitar enam puluh enam tahun, pakaiannya biar pun sederhana, namun lebih rapi dan bersih dibandingkan pakaian seorang kakek dusun. Juga ketika dia bicara, cara bicaranya juga menunjukkan bahwa dia sudah biasa bicara halus dan sopan. 

Akan tetapi dia ramah sekali dan agaknya disuka oleh para pemuda itu yang menghujani pertanyaan kepadanya tentang segala hal yang belum mereka ketahui. Ternyata kakek itu pandai sekali bercerita, terutama cerita tentang kehidupan di kota raja. Agaknya dia tahu benar keadaan di kota raja, bahkan dia dapat menceritakan keadaan di istana-istana para pangeran.

Ketika dia bercerita betapa dia pernah mengiringi seorang pangeran berkunjung ke istana kaisar, para pemuda itu mendengarkan dengan penuh kekaguman. Kakek ini pintar sekali menggambarkan keadaan dan kemewahan istana kaisar yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka, bahkan dalam mimpi sekali pun!

“Sam Lopek (Paman Tua Sam), benarkah para puteri istana memiliki kecantikan seperti bidadari dari langit?” seorang di antara mereka bertanya dan pertanyaan ini lalu disambut tawa ria para pemuda itu.
“Tolong gambarkan kecantikan mereka, Lopek!” kata yang lain, maka riuh rendahlah para pemuda itu minta agar kakek itu suka menggambarkan kecantikan para puteri istana yang sudah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan.

Kakek yang dipanggil Sam Lopek itu tersenyum dan tampaklah deretan giginya yang tak utuh lagi, sudah terdapat ompong di sana-sini hingga wajahnya yang masih mengandung bekas ketampanan itu tampak lucu.

“Heh-heh, para pemuda itu di mana-mana sama saja. Di kota mau pun desa, yang tinggal di istana mau pun yang tinggal gubuk, semuanya sama saja. Selalu bersemangat kalau mendengar tentang wanita cantik!” katanya, dan ucapan ini disambut sorak dan tawa para pemuda itu.

Kakek itu tersenyum lagi. “Wah, puteri-puteri istana memang cantik jelita seperti bidadari, akan tetapi bagiku, para dayang istana, gadis-gadis yang menjadi pelayan istana bahkan lebih cantik manis dibandingkan para puterinya.”

“Eh, benarkah itu, Lopek? Masa pelayannya lebih cantik dari pada majikannya?” seorang pemuda bertanya tak percaya
“Sebenarnya mereka itu sama-sama cantiknya, hanya bedanya, kalau puteri-puteri istana yang menjadi majikan itu memakai bedak terlampau tebal, gincu terlalu merah dan celak terlalu hitam, sehingga kecantikan mereka seperti topeng, sebaliknya para gadis dayang atau pelayan itu, yang tidak diperbolehkan berias terlalu tebal, malah tampak kecantikan aslinya. Kalau boleh diumpamakan bunga, para puteri itu adalah bunga kertas, sedangkan para pelayan itu bunga sejati!” Para pemuda itu kembali tertawa riuh.

Mendadak mereka dikejutkan oleh munculnya belasan orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah seram. Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, dan pada pinggang mereka tergantung senjata tajam seperti pedang atau golok atau ruyung.

Melihat ini, dua belas orang pemuda itu berlompatan dengan kaget, akan tetapi mereka segera bersiap, biar pun para pemuda yang melakukan penjagaan itu hanya mempunyai sebatang tongkat di tangan masing-masing. Akan tetapi kakek itu memberi isyarat kepada para pemuda untuk mundur. 

Dia melihat bahwa belasan orang bertampang seram itu berbahaya sekali kalau dihadapi dengan kekerasan, maka dia pun melangkah maju lalu mengangkat tangan di depan dada memberi hormat kepada seorang di antara mereka yang jelas menunjukkan diri sebagai pemimpin.

Orang ini bermuka hitam, tubuhnya tinggi besar dan pakaiannya tidak sama dengan yang lain. Pakaiannya lebih mentereng dan di pinggangnya tergantung sepasang golok besar. Kumisnya panjang melingkar, tanpa jenggot, dan sepasang matanya lebar, memandang bengis.

“Selamat datang di dusun Kia-jung kami! Apa yang dapat kami bantu untuk Cu-wi (Anda Sekalian)?”

Tiba-tiba saja Si Muka Hitam itu menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu dia sudah mencengkeram baju kakek itu, lalu sekali angkat, tubuh kakek itu pun terangkat ke atas!

“Kamu ini anjing tua antek para pangeran penjajah Mancu! Orang-orang di sini tentu telah engkau pengaruhi!”

Melihat kakek itu diangkat, beberapa orang pemuda maju hendak menolong. Akan tetapi kakek itu dibanting ke atas tanah sedemikian kerasnya hingga seketika pingsan di depan kaki Si Muka Hitam yang galak itu. Si Muka Hitam mencabut sebuah golok, kemudian menempelkan golok pada leher kakek yang pingsan itu sambil membentak.

“Kalian berani melawan kami? Kakek ini akan kubunuh dahulu sebelum kami membunuh kalian dan seisi dusun kalau berani melawan kami!”

Mendengar ini belasan orang pemuda itu amat terkejut dan menjadi jeri. Mereka bukanlah jagoan-jagoan dan kini berhadapan dengan tujuh belas orang yang tinggi besar, berwajah bengis menyeramkan dan semua membawa senjata tajam, tentu saja hilang keberanian mereka mendengar gertakan itu. Baru melihat mereka membawa senjata tajam dengan terang-terangan saja mereka sudah jeri.

Pada waktu itu Pemerintah Mancu memang melarang orang membawa senjata tajam di tempat umum, namun tujuh belas orang ini demikian terang-terangan membawa senjata tajam, padahal dusun Kia-jung letaknya dekat kota raja Thian-cin dan tak begitu jauh dari kota raja Peking. Ini saja telah menunjukkan bahwa mereka pasti bangsa perampok atau segerombolan penjahat.

Melihat para pemuda itu mundur-mundur ketakutan, kepala gerombolan itu lantas berseru kepada anak buahnya. “Hayo cepat kumpulkan sumbangan dari para penduduk dusun ini. Jika mereka tidak mau menyerahkan sumbangan yang cukup demi perjuangan kita, maka berarti mereka itu antek Mancu dan boleh kalian bunuh saja!”

Belasan orang itu mulai bergerak memasuki rumah-rumah penduduk. Akan tetapi mereka memilih-milih dan hanya rumah yang kelihatan besar dan nampak sebagai tempat tinggal keluarga kaya saja yang mereka masuki. Segera terdengarlah jerit ketakutan dari rumah-rumah itu dan para anggota gerombolan itu keluar dari rumah sambil membawa kantung-kantung yang sudah diduga tentu berisi uang atau benda berharga yang lain.

Akan tetapi baru enam rumah yang mereka jarah rayah, mendadak pemimpin gerombolan bermuka hitam itu berteriak memanggil mereka. Enam belas orang anak buahnya sambil membawa kantung-kantung jarahan berlari-lari kembali ke pintu gerbang selatan itu.

Apa yang terjadi sehingga kepala gerombolan yang bermuka hitam itu memanggil anak buahnya? Kiranya pada waktu enam belas orang anak buah gerombolan itu sedang sibuk merampasi barang-barang berharga dari beberapa buah rumah besar di sepanjang jalan raya, dan kepala gerombolan bermuka hitam itu masih berdiri dengan sikap sombong di sana, tidak jauh dari tubuh kakek yang masih pingsan, sedangkan belasan orang pemuda dusun itu berdiri agak jauh dengan rasa penasaran akan tetapi juga ketakutan, datang ke tempat itu seorang pemuda dan seorang gadis yang bukan lain adalah Bu Kong Liang dan Thian Hwa!

Begitu melihat beberapa orang pemuda dusun berdiri ketakutan dan melihat pula seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam dan bengis berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan lagaknya sombong, sedangkan seorang kakek rebah menelungkup pingsan tidak jauh dari kaki laki-laki muka hitam itu, Bu Kong Liang segera bertanya kepada para pemuda itu.

“Apa yang terjadi?”

Seorang di antara pemuda itu menggerakkan muka ke arah laki-laki muka hitam sambil berbisik, “Dia dan anak buahnya sedang merampok rumah-rumah penduduk kita.”

Mendengar ini, tanpa banyak cakap lagi Thian Hwa lalu menghampiri laki-laki muka hitam dan Bu Kong Liang cepat mengikutinya. Laki-laki muka hitam itu dengan alis berkerut dan sikap memandang rendah melotot kepada gadis dan pemuda yang berani menghampiri dirinya itu.

“Kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela para antek Mancu?!” tanyanya dengan suara membentak galak.

Mendengar ini, Bu Kong Liang merasa heran. Sebelum Thian Hwa berkata atau berbuat sesuatu, dia cepat bertanya.

“Sobat, kami tidak ingin membela antek Mancu. Siapakah engkau?” Pertanyaan Bu Kong Liang dilakukan dengan sikap dan suara lembut, dan Si Muka Hitam itu membusungkan dadanya yang lebar dan tebal.

“Hemmm, kalian ingin mengenal aku? Aku adalah Tiat-thou Hek-go (Buaya Hitam Kepala Besi) yang memimpin seregu pejuang yang gagah perkasa!”

“Hemm, apakah yang terjadi dengan orang tua itu?” Thian Hwa menuding ke arah tubuh kakek yang telungkup di atas tanah.
“Huah-ha-ha, dia adalah antek Mancu. Ketika tadi kami datang, dia menceritakan kepada para pemuda itu tentang pangeran dan istana. Aku menamparnya!”
“Dan apa yang tengah dilakukan anak buahmu itu?” tanya Bu Kong Liang sambil menahan kemarahannya.
“Kami minta sumbangan kepada penduduk. Yang tidak mau menyumbang berarti mereka itu antek Mancu dan akan kami basmi semua! Kami pejuang rakyat, patriot-patriot bangsa yang menentang penjajah Mancu dan semua antek-anteknya!” Si Muka Hitam itu semakin berlagak, apa lagi dihadapi Thian Hwa yang cantik jelita, aksinya makin hebat, mulutnya senyum-senyum, matanya melirik-lirik dan dadanya diangkat membusung.

Thian Hwa merasa muak sekali melihat betapa orang itu melirik-lirik sambil cengar-cengir kepadanya. Sementara Bu Kong Liang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah hidung Si Muka Hitam lalu berkata dengan nyaring.

“Jadi beginikah macamnya pejuang rakyat? Kalian ini bukan lain hanyalah perampok yang bertopeng pejuang! Orang macam kau ini yang mengotorkan dan menodai nama pejuang dan patriot! Manusia tak bermalu!”

Si Muka Hitam terbelalak dan matanya yang melotot itu menjadi merah saking marahnya. Tapi sebelum dia mampu membuka mulut atau bergerak, Thian Hwa sudah menyambung dengan ucapan yang lebih ketus lagi.

“Yang macam begini bukan manusia lagi, melainkan buaya yang kotor dan jahat, yang tak patut dibiarkan hidup. Kamu buaya kepala besi? Aku berani bertaruh, kepalamu pasti tak sekeras besi melainkan selunak tahu, sekali pukul juga hancur!”

Sepasang mata itu makin melotot seperti mau melompat keluar dari kelopaknya, hidung dan mulutnya seolah mengeluarkan asap panas saking marahnya. Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang, raksasa muka hitam yang berjuluk Buaya Hitam Kepala Besi itu menerkam ke arah Thian Hwa. Sepasang lengannya yang panjang dan besar itu hendak merangkul dari kanan kiri dan agaknya gadis itu tidak akan dapat menghindarkan diri lagi.

Tapi menghadapi serangan kasar yang hanya mengandalkan kekuatan otot itu tentu saja merupakan ancaman kecil sekali bagi Thian Hwa. Dengan dua tangan terbuka dia segera menyambut dua lengan itu dengan pukulan tangan miring untuk menangkis dan pada saat itu juga, kaki kirinya mencuat ke arah perut lawan.

“Plak-plak, bukk...!”
Tubuh kepala gerombolan itu terjengkang dan terbanting roboh. Rasa kepalanya seperti tujuh keliling karena kedua lengannya terasa nyeri seperti ditangkis besi, perutnya mulas dicium ujung sepatu kaki kiri Thian Hwa, ditambah lagi belakang kepalanya terbanting ke atas tanah. Akan tetapi saking marahnya, dia tidak mau merasakan semua kenyerian itu dan cepat bangkit berdiri lalu memanggil anak buahnya!

Kini tujuh belas orang laki-laki tinggi besar itu mengepung Thian Hwa dan Bu Kong Liang dan mereka telah mencabut senjata mereka, pedang, golok atau ruyung. Sekarang yang menonton tak jauh dari situ bukan hanya dua belas orang pemuda dusun Kia-jung, akan tetapi sudah bertambah menjadi dua puluh orang lebih, semuanya laki-laki tua muda yang tertarik dan berdatangan ke situ. Akan tetapi mereka semua tidak berani menentang tujuh belas orang yang tampak kuat dan bengis itu, dan kini mereka memandang dengan penuh kekhawatiran akan nasib gadis cantik dan pemuda tampan yang tidak mereka kenal itu. Kakek Sam sudah mereka angkat dan kini direbahkan di tepi jalan, masih dalam keadaan pingsan.

Akan tetapi dua orang yang sangat dikhawatirkan penduduk dusun itu, Thian Hwa dan Bu Kong Liang, tenang-tenang saja walau pun dikepung dan diancam tujuh belas orang yang tampaknya buas dan kejam itu.

“Bagaimana, Twako. Akan kita apakan para pejuang patriotik ini?” tanya Thian Hwa.
“Pejuang? Huh, gerombolan perampok mengaku patriot pejuang! Kita hajar mereka biar tahu rasa!” kata Bu Kong Liang.

Thian Hwa mengangguk setuju, dan tiba-tiba saja tujuh belas orang itu menerjang maju, menyerang dengan senjata mereka. Akan tetapi dari gerakan mereka, Thian Hwa dan Bu Kong Liang maklum bahwa mereka itu hanya bertenaga kuat saja, tapi sama sekali tidak memiliki ilmu silat yang berarti. Maka tubuh gadis dan pemuda ini berkelebatan cepat dan para pengeroyok menjadi kacau!

Mereka merasa kehilangan dua orang yang mereka keroyok, yang tiba-tiba saja berubah menjadi bayangan yang berkelebatan dan semua serangan mereka tak pernah mengenai sasaran. Bahkan kini terdengar teriakan-teriakan mereka, dan senjata di tangan mereka terlepas dari pegangan lantas terlempar ke sana-sini.

Melihat ini, para penduduk, terutama pemudanya, tak merasa takut lagi. Timbul semangat mereka dan mereka pun datang menyerbu. Maka celakalah tujuh belas orang perampok itu. Setiap ada yang roboh karena tendangan atau tamparan Thian Hwa atau Kong Liang, penduduk langsung menyerbu, membawa pentungan atau senjata-senjata tajam memukul dan membacok para perampok yang berserakan dan habislah tubuh perampok yang roboh itu, hancur dihujani bacokan dan pukulan. Dalam waktu singkat saja ketujuh belas orang perampok bertopeng pejuang itu pun mati semua dikeroyok penduduk!

Ketika para penduduk mencari dua orang yang telah menyelamatkan mereka itu, mereka tidak menemukan gadis dan pemuda tadi! Juga Kakek Sam tidak tampak di situ. Kakek yang tadinya masih pingsan itu kini lenyap!

Akan tetapi para penduduk tak sempat memikirkan ke mana perginya gadis dan pemuda gagah perkasa itu, juga mengira bahwa Kakek Sam sudah siuman kemudian pulang ke rumahnya. Mereka kini sibuk menyambut sepasukan tentara Mancu yang kebetulan lewat di dusun Kia-jung, datang dari Thian-cin dan tadi dilapori seorang penduduk.

Namun ketika pasukan yang terdiri dari dua losin prajurit itu tiba di tempat pertempuran, tujuh belas orang gerombolan perampok telah mati semua! Karena gerombolan perampok itu mengaku sebagai pejuang-pejuang yang menentang Pemerintah Kerajaan Ceng, tentu saja penduduk Kia-jung mendapat pujian dari komandan pasukan…..

********************
Ke mana perginya Thian Hwa dan Kong Liang? Dan ke mana pula menghilangnya Kakek Sam? Tadi, setelah merobohkan semua penjahat dan penduduk membantai para penjahat yang sudah roboh terluka oleh tamparan dan tendangan Thian Hwa dan Kong Liang, tiba-tiba Thian Hwa mendengar suara panggilan.

“Cucuku Thian Hwa...!”

Thian Hwa terkejut sekali dan cepat memandang. Kiranya Kakek Sam yang tadinya roboh pingsan terpukul kepala gerombolan, telah siuman dan ketika dia melihat Thian Hwa, dia segera mengenalnya sebagai cucunya! Kiranya kakek itu adalah Cui Sam yang pada saat menjadi pengawal Pangeran Cu Kiong disebut Lo Sam.

Thian Hwa juga segera mengenal kakeknya, maka dia cepat menghampiri dan karena dia tak ingin dirinya dikenal banyak orang, ia lalu mengajak Cui Sam pergi dari situ. Bu Kong Liang mengikuti dari belakang. Thian Hwa menggandeng tangan kakeknya dan karena dia mempergunakan ilmu berlari cepat, kakek itu merasa dirinya seolah dibawa terbang!

Setelah tiba jauh di luar dusun Kia-jung, Thian Hwa lalu menghentikan larinya. Kong Liang juga berhenti dan dia memandang kepada gadis itu dengan heran, lantas menoleh kepada kakek itu.

Kakek Cui Sam menghela napas panjang. Karena masih merasa pening setelah baru saja siuman dari pingsan langsung diajak ‘terbang’ oleh cucunya, dia lalu duduk di atas sebuah batu yang banyak terdapat di tepi jalan itu.

Thian Hwa melihat betapa Kong Liang menatapnya dengan pandang mata mengandung pertanyaan dan keheranan, maka setelah tadi dia menyaksikan sepak terjang Kong Liang dalam menghadapi para perampok yang mengaku pejuang, dia tidak ragu-ragu lagi untuk memperkenalkan diri sebenarnya. Selama beberapa hari melakukan perjalanan bersama pemuda itu, dia mendapat kenyataan bahwa Kong Liang adalah seorang pemuda yang di samping gagah perkasa dan ramah, juga jujur dan sopan.

“Perkenalkan, Twako, ini adalah kakekku, ayah dari ibuku, bernama Cui Sam.” Lalu gadis itu berkata kepada kakeknya. “Kong-kong (Kakek), dia ini adalah Twako (Kakak) Bu Kong Liang, seorang pendekar dari Siauw-lim-pai, sahabatku.”

Cui Sam cepat membalas penghormatan Bu Kong Liang dan dia berkata, “Terima kasih kepada Bu Thaihiap (Pendekar Besar Bu) yang tadi sudah menolong penduduk Kia-jung membasmi para perampok.”

“Ahh, Paman Cui Sam, yang banyak merobohkan para perampok adalah Sian-li ini.”
“Sian-li? Ah, engkau maksudkan cucuku ini? Aih, kalau tidak melihat sendiri setelah saya siuman tadi, saya tidak dapat percaya bahwa cucu saya sekarang telah menjadi seorang pendekar wanita yang berilmu tinggi!”
“Wah, bukan tinggi lagi, Paman. Dia malah terkenal sebagai Huang-ho Sian-li!” kata Kong Liang sambil tersenyum senang melihat kebanggaan kakek itu akan kehebatan cucunya.
“Sudahlah, Twako, jangan terlampau memuji. Sekarang hari telah hampir gelap, kita harus mencari tempat penginapan. Kong-kong kelelahan dan perlu beristirahat. Kota Thian-cin tidak jauh lagi, mari kita cepat melanjutkan perjalanan ke sana agar jangan terlalu malam tiba di Thian-cin.”
“Biar Paman Cui Sam kugendong saja agar perjalanan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Kong Liang.

Thian Hwa segera menyetujui dan sekarang kakek itu digendong di punggung Kong Liang. Mereka berdua lalu mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga yang tampak hanya dua bayangan yang berkelebat. Apa lagi ketika itu cuaca mulai remang, maka andai kata ada orang melihat mereka, tentu hanya mengira bayangan pohon atau burung yang lewat.

Yang menjadi sangat terkagum-kagum bercampur takut adalah Cui Sam. Walau pun dia mengetahui bahwa terdapat banyak ahli silat yang pandai dan memiliki ilmu kepandaian yang menakjubkan, namun baru tadi ketika digandeng Thian Hwa dia merasakan, apa lagi sekarang dengan digendong, pemuda itu dapat berlari secepatnya sehingga dia merasa seolah-olah dibawa terbang ke angkasa!

Setibanya di Thian-cin mereka menyewa tiga buah kamar. Melihat kakeknya yang sangat kelelahan, Thian Hwa tidak mau mengganggunya. Setelah mereka makan malam, Kakek Cui Sam lalu memasuki kamarnya dan tidur.

“Besok saja kita bicara,” kata Thian Hwa dan biar pun Kong Liang ingin benar mengetahui lebih banyak tentang kakek itu, dia maklum bahwa dia harus bersabar sampai besok…..

********************
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sesudah mandi, Thian Hwa memasuki kamar kakeknya. Cui Sam juga telah membersihkan diri dan setelah menutup daun pintu kamar itu, mereka lalu duduk bercakap-cakap.

“Kong-kong, aku ingin sekali mendengar ceritamu tentang ibu dan ayah kandungku.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Memang, Thian Hwa, ketika kita bicara dulu, baru sedikit kuceritakan kepadamu tentang mereka karena Pangeran Cu Kiong tiba-tiba muncul.”

“Sekarang beri-tahukan terlebih dulu, mengapa Kong-kong berada di dusun itu? Bukankah engkau bekerja di gedung Pangeran Cu?”
“Aku dikeluarkan sesudah terjadi keributan denganmu dahulu itu, Thian Hwa. Masih baik dia tidak menggangguku, hanya memecat dan mengusirku. Sesudah pergi dari kota raja, aku kembali ke dusun Kia-jung yang menjadi kampung halamanku pada waktu aku masih muda.”
“Nah, sekarang ceritakan dari permulaan sejak ibu kandungku menjadi isteri Pangeran Ciu Wan Kong. Aku ingin sekali mendengar semuanya tentang kehidupan ibu dan ayahku.”

Kakek Cui Sam lantas bercerita. Di waktu mudanya Cui Sam adalah penduduk dusun Kia-jung. Dia hidup dengan isterinya dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Cui Eng. Akan tetapi keluarga ini tertimpa mala petaka ketika terjadi perang yang berkecamuk di daerah Cina, terutama di bagian utara pada waktu Kerajaan Ceng mulai berdiri sebagai kejayaan jaman Mancu yang semakin berkembang.

Dalam keributan perang ini, saking terkejut dan ketakutan karena harus berlari mengungsi dari satu ke lain tempat, isteri Cui Sam jatuh sakit sampai meninggal dunia. Tinggal Cui Sam seorang diri bersama puterinya, Cui Eng yang baru berusia sepuluh tahun.

Cui Sam kemudian mengembara ke utara sampai ke Peking. Dia lalu menghambakan diri, menjadi pelayan di gedung Pangeran Ciu Wan Kong dan keluarganya. Ketika dia diterima menjadi pelayan, Pangeran Ciu Wan Kong masih berusia dua puluh tahun. Pangeran tua Ciu, ayah Pangeran Ciu Wan Kong serta semua keluarga itu suka kepada Cui Sam yang rajin dan pandai membawa diri sehingga mereka memperkenankan Cui Sam membawa Cui Eng tinggal di kamar-kamar pelayan dari gedung itu.

Setelah dewasa Cui Eng menjadi seorang gadis yang sangat cantik jelita dan dia pun ikut bekerja sebagai pelayan bagian dalam, membersihkan kamar-kamar, melayani makan dan sebagainya. Akhirnya terjalin perasaan saling mencinta antara Pangeran Ciu Wan Kong yang tampan dengan Cui Eng.

Melihat hal ini Cui Sam berniat untuk menjodohkan puterinya, akan tetapi selalu ditentang oleh Pangeran Ciu Wan Kong. Bahkan diam-diam pangeran muda dan gadis pelayan itu mengadakan hubungan.

Ketika Cui Eng berusia dua puluh satu tahun, Pangeran Ciu Wan Kong memberitahu ayah ibunya bahwa dia ingin mengangkat Cui Eng menjadi isterinya. Tentu saja Pangeran Tua Ciu dan isterinya tidak menyetujui niat putera mereka! Bahkan ketika Pangeran Ciu Wan Kong mohon supaya diperkenankan mengambil Cui Eng sebagai selirnya, orang tuanya, terutama ibunya menyatakan tidak setuju.

“Wan Kong, bagaimana engkau dapat melakukan hal yang amat memalukan itu? Seorang pangeran mengambil pelayan yang rendah derajatnya, pelayan keluarga sendiri lagi? Ahh, nama kita akan tercemar dan menjadi bahan gunjingan para bangsawan. Tidak, aku tidak setuju! Banyak wanita yang dapat kau ambil menjadi selirmu, akan tetapi jangan pelayan sendiri!”

Akan tetapi, sesudah Ciu Wan Kong memberi-tahu bahwa Cui Eng sedang mengandung hasil hubungannya dengan dia, orang tuanya terpaksa tak dapat menolak lagi. Akan tetapi ibunya yang amat menjaga nama dan kehormatan kebangsawanan mereka, mengajukan sebuah syarat.

“Baik, engkau boleh mengambil Cui Eng sebagai selir, akan tetapi sesudah dia melahirkan seorang anak laki-laki! Kalau nanti dia melahirkan seorang anak perempuan, engkau tidak boleh mengakuinya dan dia harus minggat dari sini!”

Keputusan ibunya itu tidak dapat diganggu-gugat lagi. Bahkan ayahnya juga tak berdaya. Akhirnya Cui Eng melahirkan dan... yang terlahir adalah seorang anak perempuan! Tanpa ampun lagi, dan tanpa mempedulikan puteranya yang menangis, ibu Pangeran Ciu Wan Kong mengusir Cui Sam dan Cui Eng dari gedung itu dengan memberi uang pesangon sekedarnya. Secara diam-diam Pangeran Ciu Wan Kong yang tidak berdaya itu memberi bekal uang yang cukup banyak kepada Cui Sam.

Demikianlah, Cui Sam lalu membawa anaknya, Cui Eng, beserta cucunya, pergi dari kota raja. Akan tetapi ketika mereka menyeberangi Sungai Huang-ho, datang badai mengamuk dan perahu mereka terbalik.

“Aku tidak melihat lagi anakku Cui Eng dan bayinya. Kuanggap mereka telah hanyut atau tenggelam dan tewas. Sungguh tak kusangka, ketika engkau menjadi tamu Pangeran Cu Kiong yang menjadi majikanku setelah aku hidup sendiri dan kembali ke kota raja, engkau menceritakan riwayatmu dan aku merasa yakin sekali bahwa engkau adalah cucuku, anak Cui Eng karena wajahmu persis sekali dengan wajah ibumu!”

“Kong-kong, kalau engkau dapat menyelamatkan diri dari Sungai Kuning (Huang-ho), dan aku yang masih bayi saja dapat ditolong orang yang kemudian menjadi guruku juga kakek angkatku, apakah tidak mungkin ibuku itu dapat diselamatkan orang dan sekarang masih hidup?”

Kakek itu menghela napas panjang. “Memang bertahun-tahun aku mengharapkan hal itu terjadi, akan tetapi setelah hampir dua puluh tahun ini tidak ada kabar darinya, aku sudah putus asa dan menganggap bahwa anakku Cui Eng telah meninggal dunia. Jika dia dapat terbebas dari kematian, tidak mungkin selama ini dia tidak memberi kabar kepadaku.”

Thian Hwa merasa kecewa, tapi ia tidak putus asa tentang ibunya. Sebelum ia mendapat bukti atau mendengar saksi akan kematian ibunya, ia masih mempunyai harapan.

“Kong-kong, sebetulnya siapakah namaku? Nama yang diberikan ibu kepadaku?”

Kakek itu menghela napas panjang. “Ketika itu kami pergi meninggalkan kota raja dalam keadaan tenggelam dalam kedukaan. Beberapa kali aku menyinggung tentang pemberian nama padamu, namun ibumu hanya menangis dan mengatakan belum memikirkan hal itu. Maka, sampai terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan engkau hilang, engkau belum diberi nama oleh ibumu. Oleh karena itu, pakailah nama pemberian gurumu, Thian Hwa. Nama itu sudah bagus sekali.”

“Akan tetapi aku adalah keturunan marga Ciu, sedangkan marga Thian yang kugunakan adalah marga suhu-ku.”
“Hemm, kalau begitu pakai saja keduanya dan namamu menjadi Ciu Thian Hwa. Bagus, bukan?”
“Baiklah, Kong-kong. Mulai sekarang aku bernama Ciu Thian Hwa. Kong-kong, benarkah wajah ibuku sama benar dengan wajahku?”
“Serupa benar, seperti kembar. Hanya bedanya, di atas bibir ujung kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam.”

Thian Hwa tertegun. Dahulu gurunya pernah bermimpi melihat wanita bertahi lalat seperti itu yang menitipkan anaknya kepadanya. Ia merasa khawatir sekali. Bukankah yang dapat menampakkan diri dalam mimpi itu arwah seorang yang sudah mati?

“Kong-kong, sekarang ceritakan tentang Ayah kandungku itu. Bagaimana watak Pangeran Ciu Wan Kong itu? Apakah dia jahat seperti para pangeran yang pernah kukenal?”

“Ah, sama sekali tidak, Cucuku! Sejak mudanya Pangeran Ciu Wan Kong adalah seorang yang baik budi, hanya agak lemah terhadap orang tuanya, terutama terhadap ibunya yang keras. Dan dia amat mencinta ibumu, Thian Hwa. Sesudah ibumu diusir ibunya, dia sering termenung dan berduka. Bahkan sampai sekarang tidak mau menikah, tidak mempunyai isteri yang resmi, bahkan kabarnya dia memulangkan semua selirnya. Dia juga tidak mau memegang jabatan meski pun dia amat setia kepada Sribaginda Kaisar. Hidupnya sangat kesepian, sering kali dia melancong seorang diri, mabok-mabokan dan yang paling akhir... aku mendengar bahwa dia terkadang kelihatan seperti orang... sinting....”

Tanpa terasa lagi kedua mata Thian Hwa menjadi basah. Ia merasa terharu dan iba sekali kepada ayah kandungnya, juga senang mendengar bahwa ayah kandungnya tidak jahat seperti para pangeran lain.

“Setelah sekarang ayah ibunya meninggal dunia, Pangeran Ciu Wan Kong hidup seorang diri di gedungnya, hanya ditemani oleh para pelayan. Bahkan ia tidak mempunyai pasukan pengawal seperti halnya para pangeran lain.”

Thian Hwa mengangguk-angguk. “Dan bagaimana dengan Pangeran Cu Kiong itu, Kong-kong?”

“Pangeran muda Cu Kiong? Hemm, sebetulnya dia juga termasuk seorang pangeran yang baik. Kalau dia jahat, mana mungkin aku menghambakan diri kepadanya? Pangeran Cu Kiong itu adalah putera Sribaginda dari selir ke tiga. Sesudah Putera Mahkota, Pangeran Kang Shi yang masih kecil, maka Pangeran Cu Kiong adalah orang pertama yang berhak menggantikan kedudukan Kaisar.”

“Hemm, jika dia orang baik-baik, kenapa dia menghinaku, merendahkan aku yang hanya akan diambil sebagai selirnya?”
“Hal itu karena dia tidak tahu bahwa engkau keturunan Pangeran Ciu Wan Kong, Cucuku. Kalau dia tahu, aku yakin dia mau menjadikan engkau isterinya, bukan sekedar selirnya. Akan tetapi sesungguhnya dia sendiri sejak kecil telah ditunangkan dengan seorang puteri dari keluarga Pangeran Bouw. Itulah sebabnya mengapa dia tidak dapat mengangkatmu sebagai isterinya.”

“Hemmm, dia hendak memperalat aku untuk memusuhi Pangeran Leng Kok Cun, hendak menggunakan aku agar dapat mencapai cita-citanya. Apakah dia tidak berniat merampas kekuasaan di istana Kaisar?”
“Kukira tidak, Thian Hwa. Ia memang mengharapkan kedudukan Kaisar, tapi hanya untuk sementara, sebagai wakil adiknya, Pangeran Kang Shi, putera mahkota yang masih kecil itu. Dia memang memusuhi Pangeran Leng Kok Cun, karena Pangeran Leng itu agaknya sedang mengumpulkan banyak orang pandai dan dicurigai hendak merebut tahta dengan kekerasan.”

“Hemm, betapa pun juga aku benci Pangeran Cu Kiong. Dia bahkan hendak membunuhku dengan mengerahkan pengawal-pengawalnya, yaitu Kim-keng Chit-sian.”
“Mungkin hal itu dia lakukan karena engkau memusuhinya dan karena dia khawatir kelak engkau akan menjadi pembantu Pangeran Leng.”
“Apa pun alasannya, aku benci kepadanya, Kong-kong. Sekarang setelah aku mendengar akan riwayat Ibu dan Ayah darimu, kuharap engkau pulang dulu ke Kia-jung. Aku hendak melanjutkan perjalananku ke kota raja. Akan kuselidiki keadaan ayah kandungku itu.”
“Akan tetapi, Thian Hwa. Kapankah engkau akan datang ke Kia-jung menjenguk kakekmu yang kini hidup sebatang kara ini?”
“Jangan khawatir, Kong-kong. Kelak aku pasti akan datang menengokmu. Nah, sekarang berangkatlah, Kong-kong, selagi hari masih pagi. Ini sedikit uang boleh Kong-kong bawa untuk bekal.”

Thian Hwa menyerahkan beberapa potong uang, namun Cui Sam menolak dan berkata, “Aku tidak memerlukan uang, Thian Hwa. Ketahuilah bahwa dahulu Pangeran Ciu pernah memberi banyak emas kepada aku dan ibumu sehingga sampai sekarang aku tak pernah kekurangan. Oya, aku jadi ingat. Dulu sebelum perahu kami terbalik, Ibumu menyerahkan perhiasan-perhiasannya padaku. Ada sebuah perhiasan yang dulu amat disayang ibumu, dan barang itu pemberian ayah kandungmu sebagai tanda kasih. Barang itu tidak pernah berpisah dariku, sebagai kenangan akan ibumu, ke mana pun selalu kubawa. Nah, Thian Hwa, terimalah barang ini, barang peninggalan ibumu yang paling dia sayangi.”

Kakek itu mengeluarkan sebuah hiasan rambut berbentuk burung Hong kecil terbuat dari emas dan bermata intan. Ukiran hiasan rambut itu amat halus dan indahnya bukan main. Thian Hwa menerima dengan terharu, lalu mencium benda itu.

“Terima kasih, Kong-kong.”

Cui Sam lalu meninggalkan rumah penginapan itu. Dia langsung keluar dari kota Thian-cin menuju ke selatan, ke dusun Kia-jung. Hati kakek itu gembira bukan kepalang. Ia merasa berbahagia sekali telah bertemu kembali dengan cucunya dan tentu saja dia merasa amat bangga melihat cucunya, puteri Cui Eng, kini menjadi seorang gadis pendekar yang sakti! Bahkan yang kemarin telah menolong penduduk Kia-jung…..!

********************
Sementara itu Thian Hwa juga merasa lega. Ternyata ayah kandungnya bukan orang yang jahat, tidak seburuk yang tadinya dia duga. Yang jahat dan mengusir ibunya adalah orang tua Pangeran Ciu Wan Kong, terutama ibu pangeran itu.

Tetapi kedua orang tua itu telah wafat dan kini ayah kandungnya hidup kesepian seorang diri, bahkan saking sedihnya kehilangan ibunya, sampai sekarang, walau pun sudah lewat hampir dua puluh tahun, ayah kandungnya itu masih saja merasa berduka! Diam-diam dia merasa bangga akan kasih sayang yang sedemikian besar dari ayahnya terhadap ibunya dan dia merasa iba sekali kepada pangeran yang menjadi ayah kandungnya itu.

“Selamat pagi, Sian-li!” kata Kong Liang ketika melihat gadis itu duduk termenung di atas bangku yang berada di depan kamarnya.

Thian Hwa memandang. Pemuda itu sudah mandi dan berganti pakaian kuning yang baru. “Selamat pagi, Twako.”

“Sian-li, mana Paman Cui Sam? Apakah dia belum bangun dari tidurnya?”
“Dia sudah pergi, Twako. Tadi pagi-pagi sekali Kong-kong telah berangkat, dia pulang ke dusun Kia-jung.”
“Ahh, mengapa begitu tergesa-gesa? Sebenarnya aku ingin berkenalan lebih baik dengan kakekmu, Sian-li.”
“Dia ingin segera kembali ke Kia-jung untuk mengurus sawah ladangnya, Twako. Dan aku sendiri pagi ini hendak melanjutkan perjalananku ke kota raja.”
“Ah, jika begitu mari kita berangkat. Akan tetapi sebaiknya kita sarapan lebih dulu, Sian-li. Tadi aku sudah pesan kepada pelayan agar menyediakan makan pagi untuk kita bertiga. Akan tetapi karena Paman Cui Sam sudah pergi, mari kita makan berdua saja.”

Thian Hwa tidak dapat menolak lagi, maka mereka lalu pergi ke ruangan depan di mana memang dibuka sebuah rumah makan untuk melayani keperluan makan para tamu rumah penginapan itu. Setelah makan bersama, Thian Hwa dan Kong Liang lantas meninggalkan rumah penginapan itu untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Peking…..

********************
Mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai. Dua hari kemudian, pada suatu pagi mereka meninggalkan kota Gu-an yang terletak di sebelah selatan sungai.

“Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu?” Bu Kong Liang mengajukan usul.

Bagi Thian Hwa usul ini bagaikan tawaran kepada seekor domba untuk mengambil jalan melalui padang rumput. Dia memang sudah rindu untuk melakukan perjalanan di atas air yang mudah, tidak melelahkan, lancar dan dia bisa menikmati suara gemerciknya air dan pemandangan yang amat dikenalnya di sepanjang tepi sungai.

Setelah tiba di tepi sungai mereka hendak mencari perahu. Bu Kong Liang ingin menyewa perahu, akan tetapi Thian Hwa mencegahnya. “Twako, lebih baik membeli sebuah perahu saja. Sungguh tidak leluasa kalau kita mengajak tukang perahu, bahkan jika ada apa-apa malah merepotkan.”

“Wah, membeli sebuah perahu? Tentu mahal harganya, Sian-li!”
“Tidak mahal, Twako. Kita membeli perahu tua yang buruk dan sederhana saja. Di sana ada perahu tua, tentu tidak mahal kalau kita beli.”

Kong Liang memandang yang ditunjuk. Dia melihat seorang kakek sedang membetulkan perahunya yang tua dan agaknya bocor.

“Wah, perahu seperti ini jangan-jangan akan terbalik di sungai dan kita akan hanyut atau tenggelam! Aku sama sekali tidak pernah mendayung perahu, Sian-li, dan berenang pun aku hanya bisa sedikit sekali, sekedar tidak tenggelam!”

Thian Hwa tersenyum. “Twako, agaknya engkau lupa bahwa aku dijuluki Huang-ho Sian-li. Aku dibesarkan di Sungai Kuning (Huang-ho) dan sejak kecil sudah biasa bermain-main di air yang dalam. Aku dapat mendayung dan jangan khawatir.”

Kong Liang diam saja dan menurut. Dia khawatir bila dia membantah, mungkin Thian Hwa malah akan nekat melanjutkan perjalanan dengan perahu dan meninggalkannya! Setelah melakukan perjalanan bersama gadis itu, Bu Kong Liang merasa bahwa akan berat sekali baginya untuk berpisah dari gadis itu. Dia mengalami perasaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya.

Benar saja, kakek pemilik perahu butut itu menyerahkan perahunya dengan harga murah. Maka mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu.

Perahu itu kecil dan begitu melangkah ke atas perahu, Kong Liang menjadi agak cemas karena perahu itu terayun-ayun ke kanan kiri. Biasanya perahu itu digunakan oleh kakek pemiliknya untuk mencari ikan dengan jalan mengail. Keadaannya sederhana sekali dan butut.

Ada dua buah dayung butut di sana. Ada pula sebuah batu besar yang diikat tali, yang dipergunakan untuk menghentikan perahu, sebagai pengganti jangkar bila kakek itu ingin berhenti di suatu tempat di tengah sungai untuk memancing ikan. Tempat duduk di bagian depan dan belakang, hanya untuk dua orang saja dan terbuat dari papan yang dipasang melintang di atas perahu. Masih baik bahwa perahu itu dilengkapi atap anyaman bambu di bagian tengahnya sehingga penumpangnya dapat berlindung di bawahnya apa bila panas amat terik dan kalau turun hujan.

Atas petunjuk Thian Hwa, Kong Liang membantu dengan sebatang dayung, mendayung di bagian belakang perahu. Sedangkan Thian Hwa mendayung di kepala perahu, sekalian mengemudikan perahu dengan dayungnya. Saking gembiranya bertemu perahu dan air sungai, Thian Hwa mendayung dengan kuat sehingga perahu meluncur cepat.

Sungguh pun dia seorang murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa, tidak pernah gentar menghadapi lawan yang kuat dan banyak, namun kali ini Kong Liang mengerutkan alisnya dan memandang ke air yang agak bergelombang dengan jantung berdebar. Kalau perahu butut ini terbalik, dia masih meragukan kemampuannya apakah dia akan dapat berenang ke tepi menyelamatkan diri dari ancaman maut di dalam air!

Akan tetapi melihat betapa tangkasnya Thian Hwa menguasai perahu dengan dayungnya, lambat laun hati Kong Liang menjadi tenang. Bahkan dia mulai mempelajari dari gadis itu cara mendayung yang benar dan cara menguasai serta mengemudikan perahu itu.

Kini perahu itu meluncur dengan mulus dan hati Kong Liang mulai merasa tenang, bahkan mulai timbul kegembiraannya sebab ia mulai merasakan betapa lancar, tidak melelahkan, dan sangat menyenangkan melakukan perjalanan dengan perahu. Mereka meluncur terus hingga matahari naik tinggi dan perahu mereka sampai di daerah yang sunyi dan di kanan kirinya tumbuh hutan lebat.

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dari belakang mereka.
“Minggir! Minggir!”
“Hayo minggir! Apa kalian sudah bosan hidup?!”
“Kena ditabrak perahu kami, mampus kamu!”

Mendengar bentakan-bentakan ini, Kong Liang dan Thian Hwa lalu menoleh ke belakang. Ternyata dari belakang nampak datang meluncur sebuah perahu besar yang dihias indah, diikuti dua belas buah perahu kecil yang masing-masing ditumpangi dua orang prajurit Mancu! Di atas perahu besar itu berdiri pula enam prajurit, masing-masing memegang tombak dan mereka berdiri menjaga, tiga di kanan dan tiga di kiri perahu.

Thian Hwa tak ingin mencari keributan. Lagi pula tidak ada alasannya untuk bermusuhan dengan para prajurit Mancu itu. Maka dia cepat mendayung perahunya ke sisi agar tidak menghalangi perahu besar dan dua belas perahu kecil yang mengawalnya itu.

Akan tetapi, ketika perahu besar telah mendekat, Thian Hwa mendengar tangis wanita. Ia bangkit berdiri untuk dapat menjenguk ke atas perahu besar yang mewah itu. Dan setelah berdiri, dia melihat ada suami isteri setengah tua duduk dengan kaki tangan terikat di atas dek dan muka laki-laki setengah tua itu bengkak-bengkak. Tangis wanita itu terdengar dari balik perahu yang pintunya tertutup.

Melihat ini, bangkit jiwa kependekaran Si Dewi Huang-ho! Ia cepat mengambil batu besar pengganti jangkar, kemudian menurunkannya ke dalam air. Perahu segera berhenti, tidak hanyut terbawa air karena tertahan tali yang diikatkan pada batu besar yang kini sudah tenggelam di dasar sungai.

“Hai, mengapa berlabuh di sini, Sian-li?”
“Tenanglah, Twako. Engkau tunggu saja di sini, aku harus tolong mereka yang agaknya ditangkap di perahu itu,” kata Thian Hwa sambil sibuk mematahkan papan tempat duduk perahu itu, lalu cepat mengikatkan kedua batang papan itu di bawah telapak kakinya yang bersepatu kulit. Karena tidak tahu apa artinya semua itu, Kong Liang hanya memandang dengan heran.

Setelah papan yang digunakan sebagai terompah peluncur itu terikat kuat-kuat di bawah sepatunya, Thian Hwa lalu mengambil pedang dari buntalan pakaian dan menyelipkannya di bawah jubahnya.

“Tunggu saja di sini, Bu Twako!” kata Thian Hwa dan dia langsung melompat keluar dari perahu.

Kong Liang terbelalak memandang tubuh gadis itu yang berdiri tegak di atas air, kemudian gadis itu menggerakkan dayung yang dibawanya dan tubuhnya meluncur ke permukaan air, mengejar perahu-perahu itu! Hampir dia tidak percaya kepada penglihatannya sendiri. Benarkah gadis itu meluncur di atas air seperti seekor angsa saja?

Akan tetapi kini Kong Liang merasa khawatir akan keselamatan gadis itu. Dia tadi melihat bahwa perahu besar itu terjaga oleh enam orang prajurit, sedangkan yang mengawalnya ada dua losin orang prajurit lagi. Bagaimana mungkin Huang-ho Sian-li yang seorang diri, hanya menggunakan sepasang papan untuk dapat mengapung di atas air, akan mampu menandingi mereka yang berada di perahu-perahu itu? Tanpa ragu lagi, Bu Kong Liang menarik batu penahan perahu itu ke atas, kemudian dia mendayung perahu itu melakukan pengejaran.

Thian Hwa berselancar dengan cepat sekali sehingga sebentar saja telah dapat menyusul perahu-perahu itu. Dua losin prajurit di dalam selosin perahu yang mengawal di belakang perahu besar memandang heran melihat seorang dara cantik seolah berdiri di atas air dan meluncur dengan cepatnya sambil mendorong air dengan sebatang dayung!

Mereka belum pernah menyaksikan hal seperti ini, maka mereka amat terheran-heran dan menjadi kurang waspada sehingga mereka hanya diam saja tidak mencoba menghalangi, mungkin karena selain kagum dan heran mereka juga sama sekali tidak menduga bahwa gadis itu akan menghampiri perahu besar. Sesudah tubuh Thian Hwa melompat ke atas perahu besar, barulah dua losin prajurit pengawal itu menjadi gempar dan mereka segera mendekatkan perahu kecil mereka mengepung perahu besar.

Begitu melompat ke atas perahu dan tiba di dek, Thian Hwa cepat melepaskan kakinya dari ikatan pada dua buah papan. Enam orang pengawal yang tadi berdiri di atas kanan kiri perahu, kini lari menghampiri dan mengepung Thian Hwa. Akan tetapi karena gadis itu tidak melakukan gerakan menyerang, maka mereka pun hanya mengepung saja.

Mendadak pintu bilik perahu besar itu terbuka dan muncul dua orang laki-laki. Dari pintu yang terbuka Thian Hwa dapat melihat seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun sedang menangis di sudut ruangan itu. Dia lantas mencurahkan perhatiannya kepada dua orang yang muncul itu.....

Yang pertama adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, tubuhnya gemuk perutnya besar sekali. Mukanya bulat kekanak-kanakan, hidung pesek mata sipit sehingga mukanya mirip seperti muka babi. Akan tetapi pakaiannya mewah sekali, tanda bahwa dia adalah seorang pembesar.

Yang muncul bersama dia adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, mukanya brewok sehingga tampak bengis dan tangannya memegang senjata Long-ge-pang (Toya Bergigi Srigala). Begitu membuka pintu, pembesar gendut itu berseru, suaranya terdengar marah.

“Heiii... ada apa ini ribut-ribut? Menggangguku saja....” Akan tetapi kata-katanya langsung terhenti dan matanya yang sipit dilebar-lebarkan, agaknya supaya bisa melihat lebih jelas gadis cantik jelita yang berdiri di atas perahunya, dikepung enam orang prajurit pengawal. “Ehh... Nona yang cantik seperti bidadari... siapakah engkau dan apa yang dapat kubantu untukmu, Nona manis?”

Mendengar ucapan dan melihat sikap ceriwis ini sudah cukup membuat Thian Hwa marah sehingga dia ingin menampar Si Muka Babi itu. Tapi dia tetap menahan sabar dan sambil memandang kepada laki-laki dan perempuan setengah tua yang terikat kaki tangannya, yang lelaki mukanya bengkak-bengkak dan menunduk lemas sedangkan yang perempuan sesenggukan menangis tanpa berani mengeluarkan suara, lalu dia memandang ke dalam kamar di mana gadis remaja itu duduk menangis di sudut bilik, dan dia pun berkata,

“Tidak penting aku siapa, aku hanya ingin tahu mengapa dua orang ini diikat di sini, dan mengapa pula gadis itu menangis di dalam bilik?”

“Ha-ha-ha, jangan salah sangka, Nona manis. Perkenalkan, aku adalah Jaksa Bong Sun Kok yang bertugas di Thian-cin. Suami isteri ini adalah pemberontak-pemberontak yang seharusnya kujatuhi hukuman mati. Akan tetapi karena aku seorang yang baik hati, maka aku hendak membawa mereka ke kota raja berikut anak perempuan mereka. Aku percaya Pangeran Leng Kok Cun akan suka memaafkan mereka dan mengambil mereka berikut anak perempuan mereka menjadi pelayannya.”

Thian Hwa mengerutkan alisnya dan kini dia telah mengenali laki-laki berpakaian sebagai perwira yang bertubuh tinggi besar dan memegang senjata Long-ge-pang itu. Memang dia tidak mengenal namanya, akan tetapi dia ingat bahwa orang itu adalah seorang di antara Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa dari Kam-keng) yang dulu menjadi pengawal Pangeran Cu Kiong! Empat orang di antara mereka yang berjumlah tujuh itu sudah roboh dan tewas di tangan dia dan Ui Yan Bun, sedangkan tiga orang lainnya, termasuk orang ini, berhasil melarikan diri.

Dengan sinar mata yang tajam menusuk Thian Hwa berkata, suaranya lantang dan ketus. “Sekarang tahulah aku, engkau adalah manusia rendah yang bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang sederhana ini dengan tuduhan akan memberontak karena engkau hendak menyenangkan hati Pangeran Leng dengan menyerahkan gadis itu kepadanya! Orang macam engkau yang suka menjilat kepada atasan patut untuk diberi hajaran!”

Mendengar ini Bong Su Kok terbelalak, marah bukan kepalang. Semenjak dia memegang jabatannya belum pernah ada orang, apa lagi seorang wanita muda, berani mengeluarkan ucapan yang demikian menghina kepadanya.

“Tangkap perempuan kurang ajar ini!” bentaknya.

Begitu mendengar suara Thian Hwa dan melihat sikapnya yang galak, perwira tinggi besar bermuka brewok itu teringat bahwa gadis itu adalah gadis lihai yang pernah mengamuk di istana Pangeran Cu Kiong dan yang bersama seorang pemuda sudah membunuh empat orang rekannya. Orang ini bernama Ciang Sun, orang pertama dari Kam-keng Chit-sian yang kini mengambil jalan sendiri-sendiri dengan dua orang rekannya yang masih hidup.

Sesudah melarikan diri dari istana Pangeran Cu Kiong karena gagal melawan Thian Hwa dan Ui Yan Bun, Ciang Sun pergi ke Thian-cin dan dia kini menjadi pengawal pribadi dari Jaksa Bong Sun Kok. Dia merasa lebih cocok bekerja kepada seorang pembesar yang berasal dari bangsa Pribumi Han, bukan bangsa Mancu. Sungguh dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pada hari itu dia akan bertemu lagi dengan Thian Hwa. 

Tentu saja dia sudah merasa jeri karena maklum akan kelihaian gadis itu, maka dia pun segera berteriak memberi aba-aba kepada para anak buahnya, baik enam orang prajurit pengawal yang berada di atas perahu mau pun dua losin prajurit pengawal yang berada di perahu-perahu kecil untuk mengeroyok Thian Hwa.

Setelah Bong Taijin (Pembesar Bong) menerimanya sebagai pengawal pribadi, Ciang Sun segera diberi pangkat perwira yang menjadi komandan dari pasukan pengawal pembesar itu. Karena pernah menjadi kaki tangan penjajah Mancu, Bong Sun Kok merasa bahwa para pendekar patriot pasti membenci dirinya, maka dia membentuk pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang, mengalahkan jumlah pengawal para pembesar atasannya!

Begitu mendengar perintah Bong Taijin tadi, para pengawal sudah bersiap siaga semua. Kini mendengar aba-aba dari komandan mereka Ciang Sun, enam orang pengawal yang berada di atas perahu segera menggerakkan tombak di tangan mereka untuk menyerang Thian Hwa.

Akan tetapi Thian Hwa yang sudah siap sejak tadi, begitu menggerakkan tangan, tampak sinar-sinar putih menyambar-nyambar dan enam orang prajurit pengawal itu berteriak dan terjengkang jatuh semua! Mereka ini sudah menjadi korban senjata rahasia Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih) yang amat dahsyat dari gadis itu.

Tentu saja Bong Taijin dan juga Perwira Ciang Sun terkejut bukan kepalang. Bong Taijin sudah cepat berlari memasuki pintu bilik yang segera ditutup dan dipalang dari dalam, lalu naik ke atas dipan dan rebah meringkuk dengan tubuh menggigil seperti orang terserang demam!

Melihat dara itu sekali menggunakan senjata rahasia telah dapat merobohkan enam orang anak buahnya, Ciang Sun menjadi terkejut dan merasa gentar menghadapinya. Dengan nekat dia lantas menggerakkan senjata Long-ge-pang itu menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Toya Gigi Srigala itu memang menyeramkan, selain berat juga terbuat dari baja dan pada ujungnya menyerupai gigi dan taring srigala. Ketika menyambar, terdengar bunyi mengiuk.

Namun kurang lebih dua tahun yang lalu saja Ciang Sun ini tak mampu menandingi Thian Hwa. Apa lagi sekarang sesudah gadis itu memperdalam ilmunya di bawah gemblengan Thian Bong Sianjin. Dengan mudah ia mengelak dari sambaran toya lalu balas menyerang dengan tamparan dan tendangan. Karena yakin bahwa ia tak perlu menggunakan pedang untuk mengalahkan musuh lamanya ini, Thian Hwa menghadapi senjata lawan itu dengan tangan kosong saja!

Sementara itu dua belas buah perahu kecil yang ditumpangi oleh dua puluh empat orang prajurit pengawal itu kini menempel pada perahu besar, ada pun perahu-perahu kecil yang masing-masing ditumpangi dua orang itu mulai sibuk. Dari tiap perahu kecil dilemparkan tali berujung kaitan ke pinggir perahu besar dan mereka sudah mulai merayap melalui tali untuk naik ke perahu besar mengeroyok Thian Hwa.

Tetapi tiba-tiba saja meluncur sebuah perahu kecil lain dan ternyata perahu ini ditumpangi Bu Kong Liang. Mulailah dia melompat dari perahunya ke atas perahu kecil terdekat dan begitu kaki tangannya bergerak, dua orang penumpang perahu itu segera terpelanting dan terlempar ke dalam air!

Sebelas perahu lain cepat-cepat mengalihkan perhatian mereka. Mereka mencoba untuk mengepung Bu Kong Liang yang berada di ats sebuah perahu kecil sesudah dua orang prajurit penumpangnya terlempar ke dalam air.

Begitu dikepung sebelas buah perahu dengan dua puluh dua orang prajurit, Kong Liang menjadi repot juga. Dia berdiri di atas perahu yang terus terayun dan bergoyang-goyang ketika dia bergebrak menyambut pengeroyokan banyak prajurit itu.

Ia mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang tombak pendek bercabang, lalu berloncatan dari perahu ke perahu lain. Begitu tubuhnya melayang dan menerjang, dua orang prajurit di atas perahu mereka pasti terjungkal ke dalam air.

Kalau saja pengeroyokan itu dilakukan di atas daratan, kiranya dua losin prajurit itu akan dapat dia robohkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi gerakan Kong Liang kurang mantap, bahkan terkadang dia harus mengatur keseimbangan tubuhnya agar tidak sampai terguling dan jatuh ke air!...

Selanjutnya baca
KEMELUT KERAJAAN MANCU : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger