logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kemelut Kerajaan Mancu Jilid 08


Sementara itu Thian Bong Sianjin dengan cepat meninggalkan taman gedung Pangeran Bouw. Dengan menggunakan ginkang yang luar biasa hingga tubuhnya hanya berkelebat seperti bayang-bayang melompati pagar tembok belakang, dia bisa keluar dari gedung itu seperti masuknya tadi, tanpa dapat terlihat oleh para penjaga yang melakukan perondaan mengelilingi pagar tembok gedung besar itu.

Tetapi sekali ini ternyata lain. Baru saja dia tiba di luar pagar tembok, sesosok bayangan segera menghadangnya dan terdengar suara wanita yang nyaring membentaknya.
“Berhenti!”

Di bawah sinar bulan purnama Thian Bong Sianjin melihat bahwa yang menghadangnya adalah seorang gadis jelita dengan pedang di tangan.

“Thian Hwa...?!” Tosu itu berseru dengan girang.
“Kong-kong...?” Thian Hwa juga berseru girang, akan tetapi juga kaget dan heran. “Kong-kong yang memasuki gedung Pangeran Bouw? Akan tetapi... mengapa...? Apakah Kong-kong tahu bahwa... bahwa... Bouw Hujin adalah....”
“Ssst, mari kita pergi menjauh agar jangan sampai kelihatan petugas jaga yang meronda dan bicara di sana,” kata kakek itu.

Mereka berdua lantas melompat dan dua sosok bayangan berkelebat cepat meninggalkan tempat itu.

Sesudah tiba di tempat sunyi, Thian Hwa berkata, “Kong-kong, mari kita ke rumah ayah saja. Sekarang aku tinggal bersama ayah kandungku, Pangeran Ciu Wan Kong. Kakekku, ayah dari ibuku, juga tinggal di sana. Mari, Kong-kong, marilah kita ke sana dan bicara di sana.”

Thian Bong Sianjin tidak dapat menolak ajakan muridnya yang dianggapnya seperti anak atau cucu sendiri itu. Dia sangat menyayangi Thian Hwa maka dia ikut berbahagia bahwa gadis itu kini telah bertemu dan tinggal bersama ayah kandungnya.

Setelah tiba di gedung ayahnya, Thian Hwa menyuruh petugas jaga untuk membuka pintu dan begitu masuk, dia langsung membangunkan ayahnya, juga Lo Sam atau Cui Sam, ayah mertua Pangeran Ciu Wan Kong yang sekarang turut tinggal di gedung itu sebagai ayah mertua yang terhormat.

Ketika diperkenalkan, Pangeran Ciu Wan Kong cepat-cepat memberi hormat kepada tosu itu sambil berkata terharu. “Totiang yang bijaksana dan berbudi mulia, perkenankan saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Totiang!” Dia hendak berlutut di depan kaki Thian Bong Sianjin, akan tetapi tosu itu cepat memegang kedua pundaknya dan mengangkat bangkit kembali.

“Siancai, jangan begitu, Pangeran. Kalau hendak berterima kasih, marilah kita berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Pinto hanya melakukan kewajiban pinto, lain tidak.”
“Bagaimana saya tidak berterima kasih kepada Totiang? Totiang sudah menyelamatkan anak perempuan saya, dan kembalinya Thian Hwa kepada saya berarti sudah memberi kehidupan baru bagi saya. Totiang bukan hanya menyelamatkannya, bahkan memelihara dan mendidiknya sehingga dia menjadi seorang gadis yang dapat dibanggakan oleh orang tuanya. Terima kasih, Totiang.”

Melihat sikap pangeran ini, diam-diam Thian Bong Sianjin sangat bersyukur. Kiranya ayah dari Thian Hwa adalah seorang lelaki yang halus dan baik budi, tidak seperti pangeran lain yang biasanya bersikap congkak dan tinggi hati, selalu memandang rendah kepada orang biasa yang bukan bangsawan atau hartawan.

Cui Sam juga segera mengucapkan terima kasih kepada Thian Bong Sianjin yang sudah menyelamatkan, memelihara dan mendidik cucunya. Setelah itu, kakek yang tahu diri ini, yang merasa tidak tahu apa-apa mengenai urusan negara, lantas berpamit mengundurkan diri. Kini tinggal Pangeran Ciu dan Thian Hwa yang duduk bercakap-cakap dengan Thian Bong Sianjin.

“Sekarang katakan, Kong-kong. Apakah Kong-kong sudah tahu siapa Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki sesungguhnya?” tanya Thian Hwa sambil menatap wajah kakek angkatnya.

Melihat cara bicara dan sikap Thian Hwa terhadap tosu itu yang demikian akrab bahkan manja, diam-diam Pangeran Ciu Wan Kong merasa terharu dan semakin bersyukur bahwa puterinya ditolong seorang tosu yang demikian baik budi.

Thian Bong Sianjin tersenyum dan mengangguk. “Dia Souw Lan Hui, bukan?”

“Ahh, Kong-kong sudah tahu?”
“Tentu saja, Thian Hwa. Sejak dulu juga pinto sudah tahu bahwa Souw Lan Hui menjadi Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki!”
“Akan tetapi kenapa engkau pada tengah malam memasuki tempat keluarga Bouw secara menggelap? Apa yang Kong-kong lakukan di sana?” tanya Thian Hwa heran.
“Thian Hwa, bersikaplah sopan terhadap gurumu!” kata Pangeran Ciu Wan Kong menegur puterinya.

Thian Bong Sianjin tertawa. “Ha-ha-ha...! Tidak mengapa, Pangeran! Thian Hwa memang adalah cucuku sendiri maka dia sudah terbiasa bersikap manja, bicara terbuka dan jujur. Pertanyaan yang jujur itu perlu jawaban yang jujur pula. Bukankah begitu, Thian Hwa?”

“Tentu saja, Kong-kong. Bukankah sejak dulu Kong-kong mengajarkan agar aku terbuka dan jujur?”
“Akan tetapi urusan ini merupakan rahasia yang menyangkut Kerajaan Ceng, menyangkut keselamatan Pangeran Mahkota.”
“Ahh, kalau begitu justru aku harus tahu! Ketahuilah, Kong-kong, aku adalah orang yang ditugaskan oleh Sribaginda Kaisar untuk membantu keluarga Pangeran Bouw melindungi Pangeran Mahkota, bahkan aku telah diberi Tek-pai oleh Sribaginda Paman Kaisar.”

Diam-diam Thian Bong Sianjin terkejut, akan tetapi juga bangga. “Engkau? Diberi kuasa oleh Sribaginda Kaisar?” Dia menoleh dan memandang kepada Pangeran Ciu Wan Kong seolah minta kesaksiannya.

“Benar, Totiang. Thian Hwa pernah menyelamatkan Kakanda Kaisar dari serangan lima orang penjahat, kemudian diberi Tek-pai oleh Kakanda Kaisar dan diberi tugas membantu keluarga Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki untuk melindungi Pangeran Mahkota.”
“Hebat! Engkau hebat sekali, Thian Hwa, dan pinto ikut bangga mendengarnya. Sekarang memang tidak ada rahasia lagi, tentu saja engkau boleh mendengar penjelasanku. Ketika aku merantau ke selatan, ke daerah yang dikuasai oleh Wu Sam Kwi, di Yunnan-hu pinto mendengar bahwa Wu Sam Kwi mengadakan persekutuan dengan Pangeran Cu Kiong di kota raja untuk merampas tahta kerajaan dan rencana pertama mereka adalah mengirim dua orang pembunuh yang amat sakti untuk membunuh Pangeran Mahkota.”
“Ih! Pangeran keparat itu!” Thian Hwa berseru, demikian marahnya sehingga ia memaki, membuat ayahnya mengerutkan alisnya memandang kepada puterinya.
“Thian Hwa, perbuatan Pangeran Cu Kiong itu memang tidak benar dan jahat sekali. Kita menyangka bahwa Pangeran Leng Kok Cun yang hendak memberontak dan membunuh Pangeran Mahkota, tidak tahunya Pangeran Cu Kiong juga demikian, malah dia bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi! Akan tetapi mengapa engkau membenci dan memakinya begitu kasar?”

Thian Hwa menghela napas, teringat bahwa ia memang tidak menceritakan persoalannya dengan Pangeran Cu Kiong yang dulu hendak memperalatnya. Ia lupa pula bahwa ia kini adalah seorang puteri bangsawan, puteri seorang pangeran, keponakan kaisar, sehingga tidak semestinya mengeluarkan kata makian.

“Maaf, Ayah. Aku benci mendengar orang berniat jahat,” katanya.

Thian Bong Sianjin yang sudah mendengar cerita Thian Hwa mengenai persoalan gadis itu dengan Pangeran Cu Kong, maklum bahwa gadis itu belum menceritakannya kepada ayahnya. Maka dia pun tidak menanggapi dan melanjutkan ceritanya.

“Nah, mendengar itu aku cepat pergi ke sini untuk menceritakan kepada yang berwenang akan ancaman itu supaya Sang Pangeran tidak jadi terbunuh. Akan tetapi aku mendengar bahwa Pangeran Mahkota berada dalam lindungan Pangeran Bouw Hun Ki yang sudah kukenal. Karena itulah aku tadi berkunjung ke sana dan telah bertemu dengan Pangeran Bouw, isterinya, dan dua orang anaknya. Sudah kuberi laporan tentang ancaman bahaya itu. Sekarang kewajibanku sudah selesai, aku akan melanjutkan perjalananku. Pangeran, maafkan, pinto hendak melanjutkan perjalanan pinto.”

“Aihh, kenapa tergesa-gesa amat, Totiang? Tinggallah di rumah kami supaya kami dapat membuktikan rasa syukur dan terima kasih kami kepada Totiang.”
“Terima kasih, Pangeran. Sudah pinto katakan tadi, tidak perlu ada rasa terima kasih itu. Pinto sudah merasa bahagia sekali melihat Thian Hwa dapat bertemu dan berkumpul lagi dengan ayah kandungnya serta kakeknya. Pinto akan pergi sekarang juga.”
“Tidak...!” Tiba-tiba Thian Hwa bangkit dari tempat duduknya, menghampiri lalu merangkul pundak Thian Bong Sianjin. “Tidak, Kong-kong, engkau tak boleh pergi begitu saja! Paling tidak tinggallah di sini selama beberapa hari, aku masih rindu dan banyak hal yang perlu kubicarakan denganmu! Kong-kong, jangan pergi...!” Suara Thian Hwa manja dan seperti hendak menangis.

Thian Bong Sianjin tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, akan tetapi dengan penuh sentuhan sayang dia mengelus rambut kepada gadis itu. Melihat ini Pangeran Ciu Wan Kong merasa terharu. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berkata kepada Thian Bong Sianjin dengan suara agak gemetar menahan haru.

“Totiang, silakan Totiang bicara berdua dengan Thian Hwa, dan mudah-mudahan Totiang tidak segera pergi sekarang melainkan suka tinggal dulu beberapa lama di sini. Selamat malam.” Pangeran itu lantas masuk ke dalam dan membiarkan puterinya berdua dengan tosu itu.
“Siancai! Anak nakal, engkau memaksa sehingga aku merasa tidak enak kepada ayahmu kalau pergi juga. Nah, mari kita bicara. Apa yang ingin kau bicarakan?”

Thian Hwa duduk kembali, berhadapan dengan kakek itu terhalang oleh meja. “Aku rindu sekali kepadamu, Kong-kong. Aku ingin mendengar semua pengalaman Kong-kong sejak kita berpisah dan nanti akan kuceritakan semua pengalamanku kepadamu.”

“Ha-ha-ha, anak nakal. Apa yang dapat kuceritakan? Aku merantau ke selatan, ke arah Se-cuan dan tiba di Yunnan-hu, melihat keadaan daerah yang dikuasai Wu Sam Kwi dan para pengikutnya. Di sanalah aku mendengar tentang persekutuan Wu Sam Kwi dengan Pangeran Cu Kiong itu, maka aku segera kembali ke utara untuk melaporkan hal itu agar tidak lagi terjadi perang karena perang hanya mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat jelata.”

“Kong-kong, ceritakan, bagaimana pertemuan Kong-kong dengan Bouw Hujin?”

Thian Bong Sianjin tertawa. “Ha-ha-ha…! Tentu saja pertemuan antara kami itu baik-baik saja. Bouw Hujin hanya merasa terharu melihat aku kini telah menjadi seorang tosu. Akan tetapi kami bertemu sebagai dua orang sahabat, demikian pula suami dan anak-anaknya menganggap aku sebagai seorang sahabat baik. Tidak ada sesuatu yang aneh dan kau jangan membayangkan yang bukan-bukan! Nah, sekarang kau ceritakan pengalamanmu sejak kita berpisah, Thian Hwa.”

“Nanti dulu, Kong-kong. Ada satu hal penting yang belum Kong-kong ceritakan. Siapakah dua orang sakti yang diutus Wu Sam Kwi untuk membunuh Pangeran Mahkota?”
“Yang pertama adalah Koksu (Guru Negara), penasehat dari Wu Sam Kwi sendiri yang disebut Lam-hai Cin-jin (Datuk Laut Selatan).”
“Apakah dia lihai sekali, Kong-kong?”
“Dia adalah datuk dari selatan, tentu saja memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi orang ke dua lebih hebat lagi, karena dia seorang pertapa yang menjadi Susiok (Paman Guru) dari Lam-hai Cin-jin. Dia berjuluk Ngo-beng Kui-ong (Raja Setan Bernyawa Lima), yang kabarnya selain ahli silat tingkat tinggi juga merupakan ahli sihir, sedangkan Lam-hai Cin-jin adalah seorang ahli racun.”
“Ihh, mengerikan. Apakah Bouw Hujin sudah mengetahui dan mengenal mereka?”
“Aku tadi belum menceritakan kepada keluarga Bouw siapa dua orang pembunuh utusan Wu Sam Kwi itu. Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu.”

Thian Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya sejak ia meninggalkan gurunya yang disebutnya kong-kong (kakek) itu. Dia menceritakan betapa dia bertemu dengan Bu Kong Liang, pemuda murid Siauw-lim-pai itu, betapa bersama Kong Liang dia membasmi para perampok jahat dan memberi hajaran kepada Jaksa Bong yang sewenang-wenang.

“Dan ketika aku mengunjungi keluarga Pangeran Bouw, aku bertemu lagi dengan Bu Kong Liang. Ternyata dia juga membantu keluarga Bouw melindungi Pangeran Mahkota yang berada di gedung Pangeran Bouw.”

Karena Thian Bong Sianjin ingin mendengar secara jelas bagaimana murid yang diakunya sebagai cucu itu menyelamatkan kaisar, gadis itu menceritakan lagi peristiwa itu sehingga Sribaginda Kaisar berterima kasih kepada keponakannya ini dan memberi kepercayaan besar.

“Aku harus melindungi Pangeran Mahkota dan menjaga agar pelaksanaan pengangkatan dia menjadi kaisar dapat terlaksana tanpa ada gangguan.”
“Pangeran Mahkota diangkat menjadi Kaisar? Bukankah dia masih kecil? Kabarnya baru berusia sekitar sepuluh tahun!”

Thian Hwa sudah terlanjur bicara, akan tetapi kepada gurunya ini dia merasa tidak perlu menyembunyikan rahasia Kaisar Shun Chi. Ia lantas berbisik. “Kong-kong, ini merupakan rahasia besar dan hanya kepada Kong-kong aku berani memberi-tahu. Kaisar Shun Chi berduka sekali melihat para puteranya saling memperebutkan tahta, oleh karena itu beliau mengambil keputusan untuk pura-pura mati.”

“Siancai...! Pura-pura mati? Apa maksudmu?”
“Begini, Kong-kong. Paman Kaisar yang menjadi pemeluk Agama Buddha yang taat, ingin diam-diam meninggalkan istana untuk hidup sebagai seorang pendeta Buddha, dan diam-diam beliau akan dikabarkan meninggal dunia. Beliau sudah meninggalkan surat wasiat kepadaku untuk diserahkan kepada Pangeran Bouw. Surat itu adalah surat pengangkatan Pangeran Mahkota sebagai pengganti Kaisar.”

“Siancai... keputusan yang diambil oleh Sribaginda Kaisar itu pantas dipuji dan dikagumi. Engkau mendapat tugas yang sangat penting dan mulia, Thian Hwa. Maka lakukanlah itu sebaik mungkin agar engkau dapat mengangkat tinggi nama dan kehormatan ayahmu.”

“Kong-kong, tugas ini memang berat dan berbahaya, apa lagi mengingat akan niat buruk Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong yang bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi. Karena itu, aku ingin agar engkau suka membantu kami, Kong-kong. Bukankah Kong-kong adalah sahabat baik Bouw Hujin dan sudah sepatutnya kalau Kong-kong turut membantunya?”

Thian Bong Sianjin menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. “Sayang sekali, Thian Hwa. Aku tidak dapat mencampuri urusan keluarga Kaisar dan tentu saja tak mungkin aku membantu Pemerintah Ceng....”

“Maksudmu Pemerintah Mancu, Kong-kong? Engkau tidak mau turun tangan membantu karena pemerintah ini adalah pemerintah Mancu?”
“Ya, begitulah, Thian Hwa. Betapa pun juga pemerintah Kerajaan Ceng adalah pemerintah penjajah, bukan bangsaku. Maka, tentu tidak mungkin aku membantunya.”
“Kalau begitu Kong-kong tentu akan membantu Jenderal Wu Sam Kwi karena dia adalah seorang pribumi Han?” Thian Hwa mengejar dan suaranya mengandung penasaran.

Thian Bong Sianjin menggelengkan kepalanya. “Wu Sam Kwi memang seorang Han, tapi dia bukan anggota keluarga Kerajaan Beng. Dahulu dia bahkan memberontak terhadap Kerajaan Beng. Dia adalah seorang petualang yang berjuang untuk dirinya sendiri, sama sekali bukan pejuang untuk menegakkan Kerajaan Beng yang telah jatuh, dan bukan pula pejuang rakyat. Jelas aku tak akan mau membantunya. Dalam keadaan sekarang ini, aku ingin bebas, tidak mencampuri perang yang hanya akan membuat rakyat kita menderita sengsara.”

“Akan tetapi Kong-kong menganjurkan aku untuk membantu Pamanda Kaisar!”
“Tentu saja, Thian Hwa. Jangan lupa, engkau adalah puteri Pangeran Ciu Wan Kong, jadi keponakan dari Sribaginda Kaisar, maka tentu saja sudah merupakan kewajibanmu untuk membelanya, berarti membela keluarga ayah kandungmu sendiri, menentang orang-orang yang hendak memberontak dan mempunyai niat jahat terhadap Pangeran Mahkota yang juga merupakan saudara misanmu sendiri.”
“Akan tetapi bukankah sahabat Kong-kong, yaitu Sin-hong-cu Souw Lan Hui juga seorang wanita pribumi Han? Ia juga membela Paman Kaisar tapi Kong-kong tidak menentangnya!” bantah Thian Hwa.

Tosu itu tersenyum. “Aih, Thian Hwa, perlukah kujelaskan padamu? Souw Lan Hui adalah isteri Pangeran Bouw Hun Ki, dia pun telah menjadi keluarga Kaisar, maka tentu saja dia pun berkewajiban untuk membela keluarganya sendiri. Ketahuilah baik-baik, Thian Hwa. Aku tidak membela Kaisar Kerajaan Mancu bukan karena aku membencinya, sebab tidak ada permusuhan pribadi antara aku dengan dia. Aku tidak dapat membelanya karena itu berlawanan dengan hati nuraniku sebagai anak bangsa yang tidak mau membantu pihak yang menjajah tanah air dan bangsa Han. Akan tetapi aku pun tidak memusuhinya karena dalam urusan kebangsaan ini dia tak dapat disalahkan, dia pun hanya anggota bangsanya yang melaksanakan tugas. Selama kaisar atau pembesar mana pun, baik bangsa Mancu atau pun bangsa Han sendiri, selalu bertindak bijaksana dan tidak menindas rakyat, aku pasti tidak akan memusuhinya, mengertikah engkau, Thian Hwa?”

Thian Hwa terdiam sejenak, berpikir dan mengingat-ingat akan apa yang pernah diajarkan gurunya itu. “Apakah Kong-kong maksudkan hal ini menyangkut kebaktian kepada bangsa seperti yang Kong-kong sering katakan dahulu?”

“Benar, Thian Hwa. Ada tiga kebaktian yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Pertama adalah berbakti terhadap Thian, yang berarti pantang melakukan segala bentuk kejahatan yang dilarang olehNya menurut petunjuk semua kitab suci agama-agama di dunia. Ke dua adalah berbakti kepada orang tua yang berarti membela dan menjunjung tinggi nama dan kehormatan mereka dengan cara hidup sebagai orang yang baik dan budiman. Dan yang ke tiga, berbakti kepada bangsa yang berarti membela negara sebagai seorang pahlawan bangsa. Kalau seseorang melanggar salah satu di antara tiga kebaktian ini maka dia akan menjadi seorang manusia yang tercela dan tidak baik.”

“Aku ingat, dulu Kong-kong mengatakan bahwa yang melanggar kebaktian terhadap Thian adalah orang yang berdosa. Yang melanggar kebaktian terhadap orang tua disebut orang durhaka. Dan yang melanggar kebaktian terhadap bangsa dan negara disebut seorang pengkhianat.”
“Benar, Thian Hwa. Dan engkau tentu tidak ingin mempunyai guru dan kakek angkat yang disebut pengkhianat, bukan?”

Thian Hwa segera berlutut dan merangkul kedua kaki tosu itu dan ia pun menangis. Thian Bong Sianjin hanya mengelus rambut gadis itu penuh kasih sayang.

“Kong-kong...., mengapa Kong-kong bukan bangsa Mancu atau aku bukan keturunan Han saja agar kita dapat bersikap, berpendirian dan bertindak yang sama...?” Ia meratap.
“Hentikan tangismu dan duduklah, Thian Hwa. Keluhanmu tadi mungkin dikeluhkan juga oleh banyak sekali manusia yang menghadapi kesulitan dan kebingungan karena adanya bentrokan antara suku atau bangsa. Bentrokan yang sering membuat orang-orang yang saling menyayangi terpaksa harus menjadi terpecah belah, terpecah oleh suku, bangsa, atau bahkan agama yang saling bertentangan. Namun lahir sebagai suatu warga bangsa merupakan takdir, merupakan kehendak dan rahasia Thian yang takkan dapat dimengerti oleh siapa pun. Kenapa aku dilahirkan sebagai keturunan Han dan mengapa pula engkau dilahirkan sebagai keturunan Mancu? Ini merupakan kehendak Thian dan sesungguhnya tidak ada salahnya sama sekali. Yang bersalah adalah manusianya, kenapa bisa bercerai-berai, terpecah-belah dan saling bermusuhan! Sebenarnya Thian tidak menghendaki yang demikian itu terjadi. Semuanya adalah ulah manusia karena pengaruh nafsu daya rendah sehingga akibatnya terjadilah permusuhan, bunuh membunuh, yang kesemuanya hanya mendatangkan kekacauan di dunia dan penderitaan bagi manusia sendiri.”

Thian Hwa tidak dapat membujuk guru atau kakek angkatnya untuk ikut membela Kaisar, namun dia berhasil menahan Thian Bong Sianjin yang terpaksa menuruti permintaannya untuk tinggal di gedung Pangeran Ciu sampai tiga hari lamanya.

Kemudian Thian Bong Sianjin pergi meninggalkan gedung itu, akan tetapi sebelum pergi dia mendapatkan sebuah hiasan rambut berbentuk Burung Hong dari emas permata yang diberikan Thian Hwa kepadanya. Hal ini dilakukan Thian Hwa setelah gurunya itu berjanji akan menyelidiki dan mencari ibu kandungnya yang hanyut di Sungai Huang-ho namun mayatnya tak pernah ditemukan.

“Aku mempunyai perasaan bahwa ibu kandungmu masih hidup, Thian Hwa. Aku sudah melakukan penyelidikan di sepanjang tepi Sungai Kuning, namun tidak ada penduduk di sepanjang tepi sungai yang pernah menemukan mayat seorang wanita yang hanyut.”
“Mimpi Kong-kong yang dulu Kong-kong ceritakan itu benar. Menurut Kakek Cui Sam, Ibu memang memiliki setitik tahi lalat di atas bibirnya. Aihh, betapa akan bahagianya hidupku kalau ternyata Ibu masih hidup dan aku dapat bertemu dengannya!”
“Aku akan mencoba untuk melakukan penyelidikan dan pencarian lagi, Thian Hwa.”

Mendengar ini Thian Hwa lalu mengambil hiasan rambut yang dulu diterimanya dari Kakek Cui Sam itu dan menyerahkannya kepada gurunya.

“Siapa tahu usaha Kong-kong ternyata berhasil. Bawalah hiasan milik Ibu ini, Kong-kong, siapa tahu perhiasan ini dapat menuntun Kong-kong kepada pemiliknya.”

Thian Bong Sianjin menerimanya, menyimpannya lalu pergi meninggalkan kota raja…..

********************
Im-yang Sian-kouw duduk termenung seorang diri di depan pondok kayu yang sederhana di puncak Bukit Kera itu. Beberapa ekor kera kecil bermain-main di atas atap pondok itu. Burung-burung berkicau riang gembira di pepohonan, suara mereka seperti nyanyian riang dilatar-belakangi suara gemericik air terjun yang berada di sebelah belakang pondok.
Matahari pagi bersinar hangat dan cerah, suasana di puncak Bukit Kera mendatangkan ketenangan dan ketenteraman. Akan tetapi Im-yang Sian-kouw seolah tidak melihat atau mendengar semua itu. Ia tenggelam ke dalam lamunannya.

Dia duduk bersila di atas sebuah batu bundar. Batu besar yang sengaja dibentuk menjadi bundar dan rata seperti sebuah meja, buatan Si Han Bun, muridnya. Dilihat dari jauh, Im-yang Sian-kouw masih tampak cantik dalam usianya yang sekitar empat puluh satu tahun itu. Dalam pakaian serba putih, dia kelihatan seperti Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im) sendiri sedang bersila di atas bunga teratai.

Kepekaan panca indera kita menjadi tumpul oleh kebiasaan yang diulang-ulang. Mata ini tidak lagi bisa menikmati keindahan yang setiap saat dilihatnya. Telinga ini tidak lagi bisa menikmati kemerduan suara yang setiap saat didengarnya. Hidung ini pun tidak lagi bisa menikmati keharuman yang setiap saat diciumnya dan mulut pun tidak dapat menikmati kelezatan yang tiap saat dimakannya! Hal ini adalah karena segala macam kesenangan itu akan berubah menjadi kebosanan setelah terus-menerus dialami.

Karena itulah maka dia yang bisa menikmati segala sesuatu hanyalah orang yang belum memiliki segala sesuatu itu. Berbahagialah orang yang dapat menjaga semua kepekaan panca inderanya dengan menerima segala sesuatu sebagai hal yang baru. Baru setiap hari, baru setiap saat, karena yang baru itu selalu menyenangkan.

Pada saat itu Im-yang Sian-kouw tidak bisa menikmati segala keindahan yang terbentang di hadapannya. Wanita yang memiliki ilmu silat dan ilmu pengobatan tinggi itu kini sedang tenggelam ke dalam lamunan.

Pikiran yang disibukkan dengan kesenangan masa lalu, tenggelam ke dalam ingatan dan renungan, akan kehilangan kewaspadaannya dan selalu mendatangkan kemurungan serta kesedihan. Memang masa lampau wanita sakti ini penuh dengan pengalaman yang amat pahit getir.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Im-yang Sian-kouw adalah seorang wanita muda yang lemah dan sama sekali tidak mengenal ilmu silat. Ia adalah seorang gadis sederhana dan cantik, puteri Cui Sam yang duda dan miskin. Ayah dan anak ini bekerja sebagai pelayan dalam gedung keluarga Pangeran Ciu Wan Kong yang ketika itu berusia sekitar tiga puluh tahun.

Pangeran Ciu Wan Kong lalu jatuh cinta kepada Cui Eng, yaitu nama Im-yang Sian-kouw sewaktu masih gadis, dan ternyata Cui Eng juga membalas cinta pangeran yang baik hati itu. Sebagai seorang pelayan, tentu saja Cui Eng tidak dapat menolak rayuan dan ajakan Pangeran Ciu Wan Kong. 

Mereka mengadakan hubungan dan akhirnya Cui Eng menjadi hamil. Akan tetapi orang tua Pangeran Ciu Wan Kong menjadi marah dan tidak setuju kalau putera tunggal mereka menikahi seorang gadis pelayan. Terjadilah pertentangan, akan tetapi Pangeran Ciu Wan Kong tidak berani menentang ayah ibunya.

Ketika Cui Eng melahirkan seorang bayi perempuan, orang tua Pangeran Ciu Wan Kong menjadi lebih marah dan kecewa. Andai kata anak itu terlahir laki-laki, mungkin nasib Cui Eng akan berbeda. Akan tetapi anaknya terlahir perempuan, maka dia serta ayahnya lalu diusir dari gedung itu!

Sebenarnya Pangeran Ciu Wan Kong amat mencinta Cui Eng, akan tetapi dia tidak berani menentang kehendak orang tuanya. Dia hanya dapat secara diam-diam memberi bekal secukupnya kepada Cui Sam dan Cui Eng.

Ayah, anak dan cucu yang masih bayi itu terpaksa meninggalkan kota raja, akan pulang ke dusun kampung kelahiran mereka. Akan tetapi ketika mereka naik perahu di Sungai Kuning yang ketika itu sedang banjir, terjadilah musibah itu. Perahu mereka terguling dan bayinya terlepas dari pondongannya! Ia hanyut sambil menjerit-jerit sekuatnya memanggil anak dan ayahnya yang hanyut terpisah darinya. Akhirnya ia pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi!

Ketika ia siuman, tahu-tahu ia sudah berada di pondok yang berada di Puncak Bukit Kera ini. Ternyata dia sudah diselamatkan oleh seorang datuk besar persilatan, yaitu Bu Beng Kiam-sian (Dewa Pedang Tanpa Nama) yang bertapa di Bukit Kera.

Datuk itu menyelamatkannya dari air sungai Huang-ho, mengobatinya hingga ia selamat dari maut, akan tetapi berada dalam keadaan lupa ingatan dan sering pingsan. Bu Beng Kiam-sian membawanya ke Bukit Kera dan setelah seminggu dirawat, barulah ia siuman dan benar-benar sadar. Sambil menangis ia menceritakan riwayatnya dan mohon kepada penolongnya untuk mencarikan ayahnya dan bayinya yang hanyut pula di Sungai Kuning. 

Bu Beng Kiam-sian segera pergi ke Sungai Kuning untuk mencari Cui Sam dan bayi itu, akan tetapi karena peristiwa itu terjadi seminggu yang lampau, dia tidak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya dia kembali ke Bukit Kera dan menceritakan kepada Cui Eng bahwa pencariannya tidak berhasil dan sedikit sekali kemungkinannya ayah dan bayinya itu dapat selamat dari air sungai yang sedang banjir itu.

Demikianlah, sejak itu Cui Eng yang sudah kehilangan segala-galanya yang membuat dia terkadang bosan hidup, akhirnya menjadi murid Bu Beng Kiam-sian yang merasa kasihan kepadanya.

Cui Eng seolah menjadi manusia baru. Kalau dulu ia adalah seorang wanita lemah, kini ia menjadi seorang wanita yang sakti. Juga dari Bu Beng Kiam-sian ia memperoleh banyak pelajaran tentang hidup dan ini membuat ia dapat melanjutkan kehidupannya.

Tetapi ia sudah menjadi manusia lain. Ia sudah membuang namanya dan sepuluh tahun kemudian, sesudah ia menjadi seorang wanita yang benar-benar tangguh, Bu Beng Kiam-sian lalu memberinya nama Im-yang Sian-kouw. Nama ini diberikan mengingat bahwa ia adalah seorang ahli ilmu Im-yang Kiam-hoat (Ilmu Pedang Im Yang) dan Im-yang Posan (Ilmu Kipas Im Yang).

Pada suatu hari Bu Beng Kiam-sian membawa pulang Si Han Bu, anak yatim piatu yang ayah ibunya terbunuh oleh pasukan Wu Sam Kwi. Im-yang Sian-kouw lantas mendidik Si Han Bu menjadi muridnya sampai sekarang.

Kini Bu Beng Kiam-sian sudah meninggal dunia karena usia tua, sejak hampir dua tahun yang lalu. Kini Im-yang Sian-kouw tinggal berdua dengan Si Han Bu di Puncak Bukit Kera, ditemani seorang wanita janda tua dari dusun di kaki bukit. Ia telah berusia empat puluh satu tahun dan Si Han Bu kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa berusia sekitar dua puluh dua tahun!

Im-yang Sian-kouw terusik dari lamunannya ketika seorang wanita tua berusia lima puluh tahun keluar dari dalam pondok sambil membawa sebuah baki berisi poci dan cawan teh.

“Silakan minum, Sian-kouw,” kata wanita pelayan itu.

Dengan suara lembut Im-yang Sian-kouw menjawab. “Biarlah kau taruh dulu di atas meja dalam pondok, Bibi Cong, aku belum ingin minum.”

Bibi Cong mengangguk lantas kembali ke dalam pondok. Sejak berusia tiga puluh tahun, wanita ini sudah menjadi janda dan begitu Bu Beng Kiam-sian membawa Cui Eng pulang dua puluh tahun yang lalu, orang sakti itu lalu minta bantuan Bibi Cong untuk merawat Cui Eng dan membantu pekerjaan rumah. Sejak itu Bibi Cong tidak pernah meninggalkannya dan menjadi pembantu atau pelayan yang sudah dianggapnya sebagai bibinya sendiri oleh Cui Eng atau Im-yang Sian-kouw.

Sesudah kemunculan Bibi Cong tadi membuyarkan lamunannya, sekarang Im-yang Sian-kouw mengenangkan ayah serta bayinya. Apakah ayahnya, Cui Sam, masih hidup? Dan bagaimana dengan bayinya yang belum sempat ia beri nama itu? Agaknya tidak mungkin bayi yang masih demikian kecil dan lemah itu dapat bertahan hidup hanyut di sungai yang sedang banjir. Ia menghela napas panjang.

“Aihh, pagi-pagi begini Subo sudah melamun dan menghela napas panjang! Subo, teecu (murid) ambilkan minum teh, ya?”

Im-yang Sian-kouw tersenyum sambil memandang kepada muridnya yang sudah berdiri di hadapannya. Pemuda gagah perkasa dan tampan, tanpa memakai baju hingga dadanya yang bidang penuh dengan keringat tampak berkilau terkena cahaya matahari pagi.

Segala sesuatu tampak cerah kalau pemuda itu hadir di dekatnya. Melihat wajahnya yang penuh senyum cerah, bukan hanya mulutnya yang tersenyum, bahkan sinar matanya pun turut tersenyum, hatinya sudah terasa gembira. Muridnya inilah yang laksana sinar terang terkadang mengusir kegelapan dari hati Im-yang Sian-kouw yang timbul kalau dia teringat akan ayahnya dan puterinya.

“Han Bu, cepatlah pergi mandi dan bertukar pakaian. Jangan bertelanjang baju seperti ini atau orang akan mengira engkau monyet penghuni Bukit Kera ini.”
“Wah, memang sudah ada yang memaki teecu sebagai monyet, Subo.”
“Ehh, siapa yang berani memakimu sebagai monyet?” tanya Im-yang Sian-kouw, merasa penasaran juga mendengar muridnya dimaki orang.
“Siapa lagi kalau bukan Wan Kim Hui yang galak itu, Subo! Akan tetapi teecu tidak marah lho, teecu malah senang dimaki seperti monyet.”
“Hemm, engkau senang dimaki seperti monyet karena yang memaki itu gadis cantik jelita! Bukankah begitu?”
“Yah, bukan cuma itu, Subo. Akan tetapi jauh lebih baik dimaki seperti monyet dari pada seperti orang, bukankah begitu? Seperti monyet berarti bukan monyet, akan tetapi kalau dimaki seperti orang berarti bukan orang!”

Im-yang Sian-kouw tertawa, “Heh-heh, sudahlah, cepat mandi sana. Sesudah mandi dan berganti pakaian, barulah engkau boleh bawakan teh untukku dan aku ingin bicara penting padamu.”

“Baik, Subo. Semua yang Subo ucapkan selalu amat penting bagi teecu!” Dia lalu berlari menuju ke pancuran air yang berada di belakang pondok, diikuti tawa gurunya.

Im-yang Sian-kouw amat sayang kepada muridnya itu. Si Han Bu adalah segala-galanya baginya. Dia sudah kehilangan ayahnya, kehilangan suaminya, kehilangan puterinya, juga kehilangan gurunya. Kini hanya tinggal Si Han Bu yang merupakan pengganti dan ia telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.

Dia merasa puas dengan bakat yang dimiliki Han Bu. Semua ilmunya yang dia dapatkan dari mendiang Bu-beng Kiam-sian sudah dia turunkan kepada Han Bu. Bahkan juga ilmu pengobatan yang penting sudah dikuasai Han Bu. Anak itu pun walau tidak dapat dibilang ahli sastra, namun pengertiannya cukup tentang kehidupan, dan yang penting tidak buta huruf. Agaknya semua yang dimiliki pemuda itu sudah dapat dipakai sebagai bekal atau modal untuk terjun ke dunia ramai.

Tak lama kemudian Si Han Bu sudah muncul kembali dalam keadaan segar, sudah mandi dan rambut serta pakaiannya telah rapi. Dia membawa baki berisi poci dan cawan air teh, dan dengan lincahnya dia meletakkan baki di atas meja batu di depan gurunya. Ia sendiri lalu duduk di sebuah bangku batu lain yang lebih kecil, di seberang meja dan berhadapan dengan gurunya.

“Silakan minum air teh, Subo,” katanya sambil menuangkan air teh yang masih panas dari poci ke dalam cawan.

Im-yang Sian-kouw mengambil cawan itu, lantas minum perlahan-lahan. Memang sedap sekali minum air teh yang pahit sepat dan sedap harum di waktu pagi seperti itu.

Sesudah minum dua cawan kecil air teh, Im-yang Sian-kouw memandang muridnya dan berkata dengan suara serius.

“Han Bu, ingatkah engkau, berapa lamanya engkau berada di Puncak Bukit Kera ini dan mempelajari ilmu sejak engkau dibawa mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian ke sini?”

Han Bu memandang gurunya dengan sinar mata heran, akan tetapi dia dapat merasakan kesungguhan dalam suara gurunya itu, maka dia pun menjawab. “Subo, setiap tahun baru yang dirayakan penduduk di kaki bukit, teecu menghitung dan sudah terjadi dua belas kali sejak teecu berada di sini. Berarti sudah dua belas tahun, benarkah itu, Subo?”

Im-yang Sian-kouw mengangguk, kemudian bertanya lagi. “Jadi kalau begitu, sekarang ini usiamu sudah berapa tahun?”

“Dulu sepuluh ditambah dua belas, jadi dua puluh dua tahun, Subo. Akan tetapi... kenapa Subo menanyakan umur teecu? Apakah teecu mau di... kawinkan...?”

Im-yang Sian-kouw tersenyum geli. “Bocah tolol!” Ia terpaksa memaki sayang. “Jika mau kawin, carilah sendiri jodohmu. Setelah bertemu, baru aku akan mengurus perkawinanmu. Jangan berpikir macam-macam, aku mau bicarakan sesuatu yang penting padamu. Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan baik-baik.”

“Baik, baik, Subo! Teecu mendengarkan!” Ia memiringkan kepalanya dan menghadapkan telinganya kepada gurunya sehingga melihat gaya ini, kembali Im-yang Sian-kouw tidak dapat menahan tawanya.
“Begini, Han Bu. Sekarang engkau telah cukup dewasa, bukan anak-anak lagi, karena itu sudah sepantasnya engkau turun gunung, memasuki dunia ramai, memanfaatkan semua ilmu yang sudah kau pelajari di sini untuk bertindak sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan keadilan. Tinggalkan tempat ini, Han Bu, dan bersikap serta bertindaklah yang benar, sesuai dengan semua ajaran yang kau terima dari mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan dariku.”

Mendengar keseriusan sikap dan suara gurunya, tiba-tiba Han Bu bersikap lain. Hilanglah semua kejenakaannya dan ia pun turun dari bangku batunya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan batu yang diduduki gurunya.

“Subo... bagaimana teecu dapat meninggalkan Subo sendirian di sini? Apakah dengan ini berarti... Subo mengusir teecu? Lalu ke mana teecu akan pergi, Subo...?”

Im-yang Sian-kouw tersenyum, lalu mengetuk kepala pemuda itu.

“Anak bodoh, duduklah. Sudah kukatakan tadi, dengarkan baik-baik dan jangan berpikir yang bukan-bukan. Sekarang duduklah!”

Pemuda itu bangkit lalu duduk kembali, tetapi wajahnya kini kehilangan kegembiraannya. “Maaf, Subo. Nah, sekarang jelaskanlah mengapa teecu harus pergi, Subo. Teecu akan mendengarkan dengan baik.”

“Pertama, engkau telah dewasa dan tidak ada lagi yang dapat kau pelajari di sini, karena itu sebaiknya engkau menambah pengetahuanmu dengan menimba pengalaman dari luar. Dan kedua, sesuai dengan keinginan mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan aku sendiri, seyogianya engkau menjadi seorang pembela kebenaran dan keadilan. Untuk itu engkau harus terjun di dunia ramai dan mengamalkan semua kepandaian yang telah kau pelajari dengan susah payah selama sepuluh tahun lebih ini supaya tidak sia-sia bagi aku yang mengajar dan engkau yang belajar. Dan ke tiga, aku ingin engkau dapat menolong aku.”

Mendengar alasan ke tiga ini, seketika Han Bu menjadi sangat bersemangat. “Subo, tentu saja teecu selalu siap sedia untuk membantu Subo. Cepat perintahkan, Subo, apa yang harus teecu lakukan untuk Subo?”

“Sebelumnya kau dengarkan riwayatku dulu, Han Bu. Dua puluh tahun yang lalu, gurumu ini mengalami mala petaka yang mengakibatkan aku kehilangan ayah, suami dan seorang anak perempuan yang masih bayi.”

Im-yang Sian-kouw lalu menceritakan pengalamannya. Betapa ia dahulu sebagai pelayan keluarga Pangeran Ciu telah diperisteri oleh Pangeran Ciu Wan Kong, akan tetapi setelah melahirkan seorang anak perempuan, terpaksa pergi bersama ayahnya yang juga menjadi pelayan di sana karena orang tua Pangeran Ciu tidak setuju jika putera mereka menikah dengan seorang pelayan yang melahirkan seorang anak perempuan! Kemudian betapa bersama ayahnya yang duda ia membawa bayinya pergi dengan niat pulang ke kampung halamannya, akan tetapi perahu mereka terbalik di Sungai Kuning sehingga ia kehilangan ayah dan anaknya.

Mendengar kisah ini wajah Han Bu berubah merah dan sambil mengepal tinju dia berseru, “Keparat pangeran itu! Mengapa Subo tidak menghajarnya?!”

“Jangan memaki dia, Han Bu!” Im-yang Sian-kouw menegur muridnya. “Pangeran Ciu Wan Kong sayang kepadaku, akan tetapi dia lemah dan amat taat kepada orang tuanya. Pada waktu itu aku adalah seorang wanita yang lemah, tak mampu melawan sehingga terpaksa pergi bersama ayah dan anakku. Akan tetapi entah bagaimana nasib ayahku dan anakku itu... Ahh, bila aku ingat, rasanya lebih baik kalau pada waktu itu aku mati saja bersama mereka! Anakku masih bayi, terseret air Sungai Huang-ho yang sedang banjir, tidak bisa diharapkan dapat bertahan hidup....” Kedua mata Im-yang Sian-kouw menjadi kemerahan dan basah.

Han Bu turut merasa sedih dan terharu. “Kasihan sekali, tidak teecu sangka nasib Subo dahulu demikian buruknya. Subo menjadi sebatang kara....”

Im-yang Sian-kouw sudah dapat menguasai perasaannya dan ia berkata. “Han Bu, kukira nasibmu juga tidak lebih baik dariku, engkau juga kehilangan ayah ibu sehingga menjadi sebatang kara. Sekarang dengarkan ceritaku lebih lanjut. Ketika aku terseret air Sungai Kuning yang sedang banjir, dalam keadaan tidak sadar aku diselamatkan oleh mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan semenjak itu aku menjadi muridnya. Setelah aku sadar dan menceritakan nasibku kepada Suhu, seminggu kemudian Suhu pergi mencari anakku dan ayahku, akan tetapi hasilnya sia-sia. Tentu ayahku dan anakku sudah terseret air banjir itu dan... dan mungkin mereka telah tewas....”

“Subo, apakah yang dapat teecu lakukan untuk Subo? Perintahkan, Subo, sekarang juga akan teecu taati dan laksanakan!”
“Kalau engkau sudah turun gunung dan terjun ke dunia ramai sebagai seorang pendekar, tolonglah aku, coba engkau cari keterangan dan cari ayahku, dan kalau mungkin anakku.”
“Siapakah nama mereka, Subo?”
“Ayahku bernama Cui Sam, kalau masih hidup usianya sekarang tentu sudah enam puluh enam atau enam puluh tujuh tahun. Ayah berasal dari dusun Kia-jung di sebelah selatan Thian-cin. Carilah keterangan di sana.”
“Baik, Subo. Dan puteri Subo itu, siapa namanya dan berapa usianya sekarang?”
“Sekarang tentu berusia sekitar dua puluh tahun. Ada pun namanya, ahhh... ketika itu aku sedang berada dalam keadaan sedih dan bingung sesudah diusir dari gedung Pangeran Ciu sehingga aku belum sempat memberi nama kepada anakku....”

Melihat subo-nya sedih lagi, Han Bu cepat berkata. “Jangan khawatir, Subo! Teecu akan menyelidiki tentang seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun yang ketika bayi sudah tercebur ke air Sungai Kuning dan terseret arus air! Juga teecu akan mudah mengenalnya kalau dapat bertemu dengannya, karena dia pasti cantik jelita dan wajahnya seperti wajah Subo!” Han Bu berhenti sebentar, memandang wajah gurunya barulah berkata lagi. “Dan teecu akan mengunjungi Pangeran Ciu Wan Kong itu!”

Mendengar suara yang bernada mengancam dari muridnya, Im-yang Sian-kouw berkata, “Han Bu, ingat ini! Engkau boleh saja menyelidiki dan melihat keadaan Pangeran Ciu Wan Kong sekarang. Usianya tentu sekitar lima puluh tahun lebih. Tapi sekali lagi kuingatkan, dia sama sekali tidak membenciku, juga tidak bersalah, maka jangan sekali-kali engkau mengganggunya! Lihat keadaannya agar kelak engkau dapat menceritakan kepadaku.”

“Subo,” kata Han Bu terharu. “Dia sudah menyia-nyiakan Subo, akan tetapi Subo masih penuh perhatian padanya. Sungguh berbahagia sekali pangeran itu yang menerima cinta kasih demikian murni dan besar seperti cinta kasih Subo kepadanya.”

Im-yang Sian-kouw menghela napas panjang. “Aku yakin dia pun amat menderita karena kehilangan isteri dan anaknya, Han Bu. Oleh karena itu jadikanlah pengalaman gurumu ini sebagai pelajaran. Jangan engkau mudah terperangkap oleh cinta, harus diselidiki dengan teliti lebih dahulu apakah keadaan orang yang kau cinta itu sesuai denganmu dan sudah tepat benar untuk menjadi jodohmu. Cinta bisa membuat orang hidup bahagia, tapi dapat pula membuat orang menderita. Sekarang berkemaslah, Han Bu. Ini peninggalan Suhu Bu Beng Kiam-sian, kuberikan padamu untuk bekalmu dalam perjalanan.” Im-yang Sian-kouw mengambil sebatang pedang dan sekantung uang emas yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

“Pedang Im-yang-kiam, Subo?”
“Benar, pedang pusaka ini dahulu turut mengangkat nama besar kakek gurumu di dunia kang-ouw. Karena itu engkau harus menggunakan pedang ini untuk membela kebenaran dan keadilan. Dengan begitu berarti engkau telah menjunjung tinggi dan mempertahankan nama besar serta kehormatan Kakek Gurumu.”

Han Bu menerima pedang berikut sekantung uang emas itu, lalu masuk ke dalam pondok untuk membuat persiapan dan berkemas. Dia membungkus pakaian dan sekantung uang itu dengan sehelai kain kuning yang lebar, lalu menggendong buntalan itu di punggungnya. Pedang Im-yang-kiam itu dia gantungkan di pinggangnya.

Sesudah keluar dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan bangku batu yang diduduki gurunya. “Subo, teecu pamit, mohon bekal dan doa restu dari Subo.”
“Baiklah, Han Bu. Akan tetapi ada satu hal lagi yang perlu kita bicarakan sebelum engkau pergi. Ingat, jangan sekali-kali melibatkan dirimu dalam urusan negara atau dalam perang. Orang tuamu tewas sebagai korban perang, maka tidak semestinya engkau memusuhi Jenderal Wu Sam Kwi. Juga tidak perlu engkau memusuhi Pemerintah Penjajah Mancu. Jangan pula terlibat dan membantu para pemberontak. Pendeknya, jangan libatkan dirimu dalam pertikaian perebutan kekuasaan. Engkau harus selalu berpegang pada kebenaran. Siapa pun dia, baik dari pihak Wu Sam Kwi, dari pihak Pemerintah Mancu, atau dari pihak pemberontak, kalau dia melakukan kejahatan terhadap rakyat, maka harus kau tentang! Akan tetapi siapa pun dia dari pihak mana pun, yang bertindak dan diperlakukan tidak adil, patut kau bela. Mengertikah engkau, Han Bu?”

“Teecu mengerti, Subo. Sekarang teecu hendak berangkat. Selamat tinggal, Subo. Harap Subo menjaga diri baik-baik.”
“Selamat jalan, Han Bu dan jaga dirimu baik-baik.”

Han Bu memberi hormat sambil berlutut, lalu bangkit berdiri dan hendak pergi. Pada saat itu, nenek pelayan mereka muncul.

“Nak Han Bu, berhati-hatilah menjaga dirimu!” kata nenek itu, suaranya mengandung isak tertahan. Maklum, nenek inilah yang selalu bersama Han Bu sejak pemuda itu berada di situ selama hampir dua belas tahun yang lalu.
“Selamat tinggal, Bibi Cong!” kata Han Bu, lalu pemuda itu berlari cepat turun Puncak Bukit Kera. Bayangannya diikuti pandang mata dua orang wanita itu sampai lenyap…..

********************
Ciu Thian Hwa memenuhi panggilan Kaisar Shun Chi melalui ayahnya yang pada hari itu menghadap Sribaginda Kaisar. Ia diminta datang seorang diri, juga Kaisar memesan agar ia memasuki istana dengan diam-diam supaya tidak diketahui siapa pun.

Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa menggunakan ilmunya, bergerak di malam hari itu, hanya bayangannya yang berkelebatan sehingga tak ada yang dapat melihatnya ketika akhirnya ia memasuki ruangan di mana Kaisar Shun Chi sudah menanti seorang diri. Begitu Thian Hwa muncul, Kaisar Shun Chi memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya dan melalui sebuah pintu rahasia, Kaisar Shun Chi mengajak Thian Hwa memasuki sebuah ruangan rahasia.

Begitu berada dalam ruangan itu, Thian Hwa segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sribaginda Kaisar. Akan tetapi Kaisar Shun Chi segera memegang kedua pundaknya dan menyuruhnya bangkit serta duduk di atas kursi, berhadapan dengan kaisar itu.

“Thian Hwa, engkau sengaja kami panggil untuk datang seorang diri sebab kami menemui kesulitan untuk melaksanakan rencana kami semula. Berita bahwa kami telah meninggal dunia memang tidak sukar dilakukan, akan tetapi yang amat sukar adalah lolosnya kami dari istana. Kiranya sangat sukar untuk keluar dari istana tanpa diketahui orang, apa lagi kami mendapat tanda-tanda bahwa kepala Thaikam agaknya patut dicurigai.”

Thian Hwa terkejut. “Paduka maksudkan, Thaikam Boan Kit?”

Kaisar mengangguk, lalu menghela napas panjang. “Aihh, melihat ulah manusia-manusia yang lemah sehingga mereka menghalalkan segala cara sesat agar bisa mencapai tujuan yang mereka inginkan, sungguh menyedihkan sekali. Pantaslah jika banyak orang meniru sikap Sang Buddha yang meninggalkan semua kemewahan dan kesenangan dunia yang sangat mempengaruhi jiwa menimbulkan kejahatan dan penderitaan, pergi mengasingkan diri dari keramaian. Agaknya Boan Thaikam sudah dipengaruhi oleh mereka yang sedang memperebutkan tahta kerajaan. Gerak-geriknya sangat mencurigakan. Karena itulah aku sengaja memanggilmu secara diam-diam untuk menjaga keamananku sebelum aku dapat keluar dari istana tanpa diketahui orang lain, Thian Hwa.”

“Baiklah, Paman Kaisar! Hamba siap melakukan tugas ini karena penjagaan keselamatan Pangeran Mahkota pada saat ini sudah cukup kuat. Selain ada dua orang murid Siauw-lim-pai yang membantu Paman Pangeran Bouw Hun Ki, juga pasukan pengawal penjaga keamanan kini telah diperkuat.”
“Bagus kalau begitu, akan tetapi aku tidak ingin mereka yang berhati khianat mengetahui bahwa engkau melakukan penjagaan di dalam istana, maka sebaiknya engkau menyamar sebagai seorang prajurit pengawal pribadi.”

Demikianlah, Thian Hwa lalu menyamar sebagai seorang prajurit pengawal muda, dibantu oleh seorang pelayan pribadi Kaisar yang sudah diyakini kesetiaannya. Sebagai seorang pengawal pribadi Thian Hwa tidak pernah jauh dari Sribaginda Kaisar dan selalu waspada menjaga keselamatannya.....

********************
Selanjutnya baca
KEMELUT KERAJAAN MANCU : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger