logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kemelut Kerajaan Mancu Jilid 14


Ang-mo Niocu Yi Hong berhasil melarikan diri dan ia merasa girang bahwa tidak ada yang mengejarnya. Biar pun sebagai utusan Jenderal Wu Sam Kwi dia harus membawa kabar yang tidak menggembirakan karena kegagalan usaha pemberontakan Pangeran Cu Kiong yang didukungnya, namun dia berhasil membawa Tek-pai yang oleh Pangeran Cu Kiong diserahkan atau dititipkan kepadanya. Jenderal Wu Sam Kwi pasti akan girang sekali bisa mendapatkan Tek-pai itu karena sebuah Tek-pai dari Kaisar bagaimana pun juga memiliki kekuasaan yang disegani dan dihormati kalangan atas kerajaan.

Setelah melakukan perjalanan yang cepat menggunakan kuda yang selalu ditukar dengan yang baru setelah kuda itu kelelahan, akhirnya Ang-mo Niocu Yi Hong tiba di perbatasan Yunnan-hu yang menjadi daerah kekuasaan Jenderal Wu Sam Kwi.

Dia baru berhenti di kota Mayong yang berada di dekat perbatasan dan termasuk daerah Yunnan-hu. Karena merasa sudah berada di daerah sendiri, Ang-mo Niocu yang merasa lega dan aman lalu beristirahat dalam sebuah kamar di rumah penginapan.

Ia telah melakukan perjalanan yang jauh dan berat sehingga tubuhnya terasa lelah sekali. Sampai dua hari dua malam dia melepaskan lelah, menghabiskan waktu itu untuk makan dan tidur saja. Setelah menginap dua malam, pada hari yang ke tiga baru dia melanjutkan perjalanan menuju ke ibu kota Yunnan-hu yang letaknya masih sekitar seratus li (mil) dari kota Mayong. Sekarang dia tak tergesa-gesa, dia telah menjual kudanya dan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki.

Siang hari itu amat panas. Seperti biasa ia mengembangkan payungnya untuk melindungi mukanya dari sengatan sinar matahari. Tiba-tiba tampak bayangan putih yang berkelebat melaluinya dan ketika bayangan itu berhenti kemudian berbalik sehingga mereka saling berhadapan, Ang-mo Niocu melihat seorang pemuda tampan berpakaian serba putih telah menghadangnya sambil tersenyum lebar.

Pemuda itu bukan lain adalah Si Han Bu yang memang melakukan pengejaran terhadap Ang-mo Niocu sesudah dia mendengar dari Huang-ho Sian-li bahwa Tek-pai dari Kaisar yang diberikan kepada gadis itu sudah dirampas Pangeran Cu Kiong dan kemudian oleh pangeran itu diserahkan kepada Ang-mo Niocu yang membawa Tek-pai itu kabur menuju ke Yunnan-hu di selatan.

“Hai, Nona cantik berpayung merah, engkau tergesa-gesa hendak ke manakah?” kata Han Bu sambil tersenyum.

Ang-mo Niocu terbelalak memandang pemuda itu. Tadinya ia merasa tidak kenal dengan pemuda tampan yang tampak ramah ini, akan tetapi dia segera teringat bahwa ini adalah pemuda yang pernah ditawan dalam kamar tahanan di istana Pangeran Cu Kiong. Ia tahu Pangeran Cu Kiong sudah mengatakan bahwa kalau perjuangannya memberontak gagal, para prajurit yang menjaga tawanan itu diperintahkan untuk menghujaninya dengan anak panah sampai mati. Bagaimana sekarang tahu-tahu pemuda itu telah bebas dan berada di depannya?

Akan tetapi gadis yang telah banyak pengalaman ini dapat menenangkan hatinya kembali karena ia pun maklum bahwa tidak mungkin pemuda ini sengaja mengejarnya. Untuk apa mengejarnya? Pemuda ini tidak mempunyai alasan untuk mengejarnya. 

Dalam pemberontakan Pangeran Cu Kiong itu dia hanyalah seorang pembantu yang tidak begitu penting. Dan tak ada seorang pun mengetahui kecuali dia dan Pangeran Cu Kiong sendiri bahwa Tek-pai dari Kaisar itu kini berada padanya.

Pula, Ang-mo Niocu memang amat tertarik kepada Si Han Bu, pemuda yang tinggi besar dan jantan gagah berwajah tampan ini. Apa lagi ia tahu bahwa ilmu silat pemuda ini cukup tangguh, dan sikapnya yang agak ugal-ugalan menambah daya tariknya sebagai seorang pemuda. Lumayan untuk teman bersenang-senang sesudah sekian lamanya melakukan pelarian yang melelahkan tanpa teman!

Maka ia tersenyum manis sekali ketika Han Bu menegurnya sambil tersenyum itu. Tanpa banyak berpura-pura lagi ia pun menjawab.

“Aih, kiranya engkau sudah bisa membebaskan diri dari tawanan Pangeran Cu Kiong yang brengsek itu? Aku memang tergesa-gesa pergi meninggalkannya. Untuk apa aku harus membela pangeran yang gagal segala-galanya itu? Aku tahu bahwa dia pasti akan gagal segala-galanya, karena itu aku pun tidak sungguh-sungguh membantunya. Eh, siapa pula namamu? Si Han Bu, bukan? Hei, anak manis, sejak melihat engkau ditawan sebetulnya aku ingin sekali menolongmu namun tidak pernah mendapatkan kesempatan.”
“Ahh, aku memang tahu bahwa engkau adalah seorang yang baik hati, Ang-mo Niocu!” kata Han Bu.

Diam-diam ia mengagumi kecantikan gadis itu. Bukan hanya wajahnya yang cantik dan manis, namun bentuk tubuhnya juga sangat menggairahkan. Seorang gadis yang sangat menarik hati, mempunyai daya tarik yang luar biasa, terutama kerling mata dan senyum bibirnya yang menantang itu.

Tetapi dia pun sudah mengetahui bahwa gadis yang menarik ini amat lihai dan berbahaya. Juga sudah mendengar betapa gadis ini adalah seorang iblis betina yang suka menggoda laki-laki untuk kemudian dibunuhnya! Benar-benar seorang iblis betina yang amat cantik!

“Tentu saja tidak mungkin aku bersikap tidak baik terhadap seorang pendekar muda yang gagah perkasa seperti engkau, Si Han Bu. Sekarang katakan, mengapa engkau menyusul aku? Dan bagaimana engkau dapat menyusulku sejauh ini?”

Han Bu tetap tersenyum. “Aku meniru perbuatanmu, Niocu. Aku juga menunggang kuda yang selalu kutukar dan ganti dengan kuda lain setiap kudaku sudah kelelahan. Akhirnya aku dapat mengejarmu di sini.”

“Hemm, dan apa yang dapat kulakukan untukmu, pemuda gagah?”
“Ang-mo Niocu, perang pemberontakan Pangeran Cu Kiong telah selesai, pemberontakan telah dapat dihancurkan dan sekarang tidak ada lagi permusuhan antara engkau dan aku karena membela pihak masing-masing. Karena itu, apa bila engkau benar-benar hendak berbaik hati kepadaku, aku harap engkau suka menyerahkan Tek-pai yang kau terima dari Pangeran Cu Kiong kepadaku.”

Bibir yang berbentuk indah menantang itu bergerak-gerak mengarah senyum simpul yang nakal. “Tek-pai? Kenapa aku harus menyerahkan Tek-pai kepadamu, pendekar tampan?”
“Niocu, Tek-pai itu oleh mendiang Kaisar Shun Chi sudah diberikan sebagai tanda kuasa kepada Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa puteri Pangeran Ciu Wan Kong. Pangeran Cu Kiong yang memberontak merampas Tek-pai itu dari tangan Huang-ho Sian-li ketika gadis itu tertawan. Kemudian Pangeran Cu Kiong menyerahkan Tek-pai itu kepadamu, Niocu. Nah, karena Tek-pai itu bukan hak milikmu, maka sudah sepatutnya bila kau kembalikan kepadaku agar dapat kuserahkan kepada yang berhak, yaitu Huang-ho Sian-li.”

“Bagaimana kalau Tek-pai itu tidak ada padaku, Han Bu?”
“Bohong! Pangeran Cu Kiong sendiri yang mengaku bahwa Tek-pai itu telah dia serahkan kepadamu.” bentak Han Bu. “Sudahlah, jangan mempermainkan aku, Niocu. Serahkan Tek-pai itu padaku dan tidak ada urusan lagi di antara kita, tidak ada permusuhan lagi.”

“Kau tidak percaya dan mengira aku berbohong? Nah, silakan menggeledahku, Han Bu. Mari, di sini amat sepi tidak ada orang lain. Geledahlah aku!” Gadis itu lalu menghampiri sebatang pohon besar di tepi jalan. Tempat itu teduh dan ia menurunkan payungnya, lalu menghampiri Han Bu dan berdiri dengan sikap menantang, membusungkan dadanya dan mengangkat kedua lengannya ke atas, memberikan tubuhnya untuk digeledah!
Mendapat tantangan ini, Han Bu tersenyum malu-malu dengan muka berubah kemerahan. Bagaimana mungkin dia menggeledah dengan menggerayangi tubuh Ang-mo Niocu untuk mencari Tek-pai yang mungkin disembunyikan di balik pakaiannya?

“Aih, bagaimana ini, Niocu. Aku suka sekali menggeledahmu, akan tetapi menggerayangi tubuhmu? Aku tidak mau bertindak tidak sopan dan kurang ajar terhadap wanita.”
“Ah, tidak apa-apa. Aku senang kalau engkau mau menggeledah dan mencari Tek-pai itu agar engkau yakin bahwa aku tidak berbohong padamu. Tek-pai itu memang tidak berada padaku, Han Bu.”

Si Han Bu merasa serba salah. Tak mungkin ia mau menggerayangi tubuh gadis itu untuk menggeledah. Bagaimana kalau gadis itu berbohong? Akan tetapi mungkin saja gadis itu memang tidak membawa Tek-pai karena memang sudah dia sembunyikan sebelumnya? Dia mencari akal, lalu berkata,

“Ang-mo Niocu, aku mendengar bahwa engkau adalah seorang wanita gagah perkasa dan sebagai seorang wanita gagah perkasa tentu engkau tak mau berbohong. Benarkah itu?”
“Tentu saja benar!” kata Ang-mo Niocu sambil tersenyum manis dan hatinya terasa amat senang.
“Kalau begitu cobalah engkau menyatakan ikrar dengan mengikuti kata-kataku. Beranikah engkau? Tentu berani karena seorang gagah tidak takut akan apa pun, bukan?”
“Ya, tentu saja aku berani!”
“Nah, ikuti kata-kata dan tirukan. Tek-pai itu tidak ada padaku.”
“Tek-pai itu tidak ada padaku!” kata Ang-mo Niocu dengan tegas dan seperti main-main.
“Kalau aku berbohong....”
“Kalau aku berbohong....” gadis itu menirukan.
“Aku menjadi gadis yang paling jelek, paling tidak menarik, paling menjemukan di dunia ini!”
“Aku menjadi gadis....” Ang-mo Niocu tidak melanjutkan. Gadis mana mau disebut paling jelek, paling tidak menarik, dan paling menjemukan di dunia ini?
“Ha, ternyata engkau seorang gadis yang benar-benar gagah sehingga engkau tidak mau berbohong. Sekarang katakan, di manakah Tek-pai itu, Ang-mo Niocu?”
“Hemm, memang Tek-pai ada padaku, lalu apa yang akan kau lakukan jika Tek-pai tidak kuserahkan kepadamu, Han Bu?”
“Terpaksa akan kupergunakan kekerasan karena aku sudah berjanji kepada guruku untuk mendapatkan Tek-pai itu kembali.”
“Hi-hik, andai kata engkau dapat mengalahkan aku, lalu bagaimana caranya engkau dapat mengambil Tek-pai dariku, pemuda ganteng?”
“Kalau engkau dapat kukalahkan dan menjadi tidak berdaya, tentu aku dapat mengambil Tek-pai itu dengan mudah darimu.”
“Betulkah itu? Memangnya engkau sudah tahu di mana Tek-pai itu kusimpan, Han Bu?”

Han Bu tertegun. “Memangnya disimpan di mana?” Mata pemuda itu memandang dengan sinar mencari-cari di seluruh tubuh gadis itu.

“Engkau mau tahu?” Ang-mo Niocu mengerling genit dan tersenyum lebar penuh arti. “Tek-pai itu kusimpan di balik celanaku, di dekat pusar. Nah, beranikah engkau mengambilnya? Kalau berani, tidak usah kita bertanding. Aku tidak ingin kau pukul roboh, dan aku pun tak ingin memukulmu. Silakan ambil saja dari balik celanaku dan aku tak akan mencegahmu. Mari, ambillah, Si Han Bu!” Kembali gadis itu memajukan dada dan perutnya ke arah Han Bu sambil melangkah mendekati.

Han Bu terpaksa mundur-mundur! Sialan, pikirnya. Pengakuan gadis itu bahwa Tek-pai itu disimpan di balik celana, membuat dia kehilangan akal. Jangankan gadis itu berada dalam keadaan sadar, bahkan andai kata gadis itu pingsan sekali pun, bagaimana mungkin dia dapat mengambil Tek-pai di tempat tersembunyi seperti itu?

“Hayo, Han Bu. Mengapa mundur-mundur? Ke sinilah, ambillah Tek-pai itu, mari!” dengan gembira Ang-mo Niocu menggoda.

Dia merasa senang karena keraguan dan keengganan Han Bu itu jelas merupakan tanda bahwa pemuda ini adalah seorang perjaka tulen yang belum pernah berdekatan apa lagi bergaul akrab dengan wanita!

“Aku... aku tidak mau mengambilnya darimu....”
“Mengapa? Bukankah engkau sudah berjanji kepada gurumu untuk mengambilnya dariku dan menyerahkannya kepada yang berhak? Aih, engkau sungkan dan malu, ya? Karena kita belum saling mengenal? Sekarang begini saja, Han Bu. Kita bersahabat dahulu, nanti kalau engkau mau bersikap manis dan baik kepadaku, mau menjadi kekasihku, aku akan menyerahkan Tek-pai itu kepadamu. Bagaimana, mudah, bukan?”

Wajah pemuda itu berubah merah sekali seperti udang direbus. Ia hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanpa dapat mengeluarkan suara.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda lantas muncul dua orang penunggang kuda yang segera menghentikan kuda mereka sesudah tiba di dekat Ang-mo Niocu dan Si Han Bu. Pemuda ini tentu saja terkejut bukan main ketika mengenal bahwa seorang di antara dua orang penunggang kuda itu adalah Lam-hai Cin-jin yang amat lihai.

Orang ke dua adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh enam tahun yang tampan gagah berpakaian indah dan pesolek. Dia itu bukan lain adalah Wu Kongcu (Tuan Muda Wu) yang bernama Wu Kan, putera dari Jenderal Wu Sam Kwi yang kini menjadi raja kecil di Yunnan-hu dan menguasai sebagian daerah Se-cuan.

Melihat mereka, Ang-mo Niocu segera memberi hormat kepada Lam-hai Cin-jin dan Wu Kan yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka.

“Suhu...!”

Si Han Bu semakin kaget. Kiranya Lam-hai Cin-jin adalah guru dari Ang-mo Niocu. Kalau muridnya saja sudah amat lihai, apa lagi gurunya!

“Yi Hong, apa hasilmu diutus Ayah pergi ke utara? Engkau tidak membawa hasil apa pun dan kudengar engkau hanya berfoya-foya, bermain gila dengan banyak laki-laki!” Wu Kan berkata dengan ketus dengan suara mengandung kecemburuan karena sebelum pergi ke utara memang Ang-mo Niocu telah menjadi kekasihnya.

Mendengar ucapan itu wajah Ang-mo Niocu menjadi merah, bukan karena malu melainkan karena penasaran dan marah.

“Wu Kongcu, enak saja engkau bicara. Aku yang bersusah payah, malah kadang-kadang harus terancam bahaya maut, sementara engkau hanya enak-enakan tinggal di rumah. Tetapi sekarang engkau malah menuduh yang bukan-bukan!”
“Yi Hong, kau jangan kurang ajar terhadap Wu Kongcu!” bentak Lam-hai Cin-jin kepada muridnya. Ang-mo Niocu tidak berani membantah namun jelas dia merasa penasaran dan marah kepada Wu Kan.
“Bagus, bocah setan ini sudah muncul di sini. Yi Hong, kenapa engkau tidak cepat-cepat menangkap atau membunuhnya?” Lam-hai Cin-jin menegur muridnya sesudah dia melihat dan mengenal Si Han Bu.
“Suhu, saya sedang membujuk agar dia suka ikut ke Yunnan-hu,” jawab Ang-mo Niocu Yi Hong.
“Hemmm, agaknya pemuda ini juga seorang kekasihmu! Hayo mengaku saja! Dia harus mampus!” bentak Wu Kan marah dan pemuda ini telah mencabut pedangnya kemudian menyerang Han Bu dengan tusukan yang dilakukan dengan marah.

Tetapi putera Jenderal Wu Sam Kwi ini hanya lagaknya saja yang kelihatan hebat, namun sesungguhnya tingkat ilmu silatnya belum seberapa tinggi, ditambah tubuhnya juga lemah karena dia terlalu banyak pelesir dan kerjanya hanya berfoya-foya. Maka dengan mudah Han Bu miringkan tubuh mengelak, lalu tangan kirinya menepuk pundak pemuda pesolek itu.

“Plakk!”

Tubuh Wu Kan terputar dan terhuyung, tentu akan terbanting roboh apa bila tidak cepat-cepat dipegang oleh Lam-hai Cin-jin. Kakek pendek gendut ini marah sekali.

“Berani engkau menyerang Wu Kongcu?”

Dia lalu menggerakkan tangan kirinya, diputarnya sehingga telapak tangan kiri itu berubah menjadi kehitaman, setelah itu memukulkan telapak tangannya itu dengan dorongan yang mendatangkan angin dahsyat ke arah Han Bu.

Han Bu adalah murid terkasih dari Im-yang Sian-kouw yang selain mempunyai ilmu silat tinggi juga memiliki keahlian dalam ilmu pengobatan. Maka, dengan sekali pandang saja maklumlah Han Bu bahwa lawan menggunakan pukulan beracun.

Dari gurunya dia sudah mempelajari cara menghadapi pukulan beracun, maka dia cepat menelan sebutir pil merah sambil melompat ke kiri untuk menghindar. Pada saat kakek itu mengejar dan memukul lagi dengan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), dia yang sudah menelan obat penguat atau penawar terhadap pukulan beracun kini berani menyambut dengan dorongan kedua tangannya.

“Wuuutt...! Desss...!”

Tubuh Han Bu terpental karena dia kalah kuat, akan tetapi dia tidak sampai terluka. Dia bangkit lagi, menyambut pukulan susulan sehingga terpental lagi. Hal ini terjadi berulang-ulang sampai lima kali. Biar pun dia tidak menderita luka dalam, namun tetap saja Han Bu merasa nyeri karena terbanting sampai lima kali.

“Dorrr...!” Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan.

Untung bagi Han Bu tembakan yang dilepas Wu Kan itu meleset. Kiranya pemuda putera Jenderal Wu Sam Kwi itu mempunyai sebuah senapan kuno yang dia beli dari pedagang senjata api yang mulai beredar di sebelah selatan daratan Cina, kebanyakan dibawa oleh orang-orang bangsa Portugis.

“Jangan bunuh dia!” Ang-mo Niocu berteriak.

Karena sikap Wu Kan menimbulkan kebenciannya, maka ia semakin tertarik dan condong membela Si Han Bu. Sesudah berkata demikian, ia melompat dan bermaksud merampas senjata api itu dari tangan Wu Kan.

Akan tetapi senapan itu dapat diisi dua buah peluru. Melihat Ang-mo Niocu membela Han Bu, hati Wu Kan menjadi semakin panas dan dia pun mengarahkan moncong senapannya kepada gadis itu kemudian menarik pelatuknya.

“Dorrr...!”

Tubuh Ang-mo Niocu terpental ke belakang lantas roboh terkapar. Pada saat itu kembali tubuh Han Bu nyaris menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang. Pemuda itu cepat melompat untuk mengelak.

Sementara itu, Wu Kan kini mulai mengisi senapannya kembali dengan dua butir peluru. Setelah diisi peluru dan dikokang, dia hendak menembak Han Bu. Akan tetapi pada saat itu pula berkelebat dua sosok bayangan orang. Muncullah Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui.

Seperti kita ketahui, sesudah berhasil mendapatkan obat untuk menyembuhkan Nyonya Wan Cun, Yan Bun dilatih ilmu silat oleh Wan Cun yang amat lihai. Karena Yan Bun telah memiliki dasar yang kuat, maka hanya dalam beberapa bulan saja dia sudah memperoleh kemajuan pesat hasil penggemblengan datuk itu. Sesudah Wan Cun menyatakan bahwa ilmu yang diajarkan itu sudah cukup, maka Yan Bun lalu berpamit untuk pulang ke rumah ayahnya, yaitu Ui Houw yang tinggal di Lembah Sungai Kuning. 

Ketika pemuda itu hendak berangkat, Wan Kim Hui rewel ingin ikut. Dia ingin sekali pergi mengembara dan kebetulan ada Yan Bun yang telah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Semula ayah ibunya melarang karena mereka maklum akan kekerasan hati dan kebinalan watak puterinya, akan tetapi Kim Hui tetap nekat dan menangis. Akhirnya orang tuanya mengijinkan karena di sana ada Ui Yan Bun yang mereka percaya akan dapat mengawasi puteri mereka. Kim Hui hanya diperbolehkan merantau selama dua tahun dan paling lama dua tahun dia harus kembali ke Bukit Siluman di dekat kota Lam-hu.

Demikianlah, karena ingin melihat-lihat pemandangan, dua orang muda ini lalu mengambil jalan memutar dan pada siang hari itu kebetulan mereka melihat Ang-mo Niocu ditembak jatuh dan Han Bu sedang diancam bahaya.

“Itu Si Han Bu...!” Kim Hui berseru dan gadis ini segera memungut sebuah batu sebesar kepalan tangannya. Sambil berlari cepat ia menghampiri tempat itu lalu melontarkan batu itu ke arah Wu Kan yang amat dibencinya.

Dengan tepat sekali batu itu mengenai kepala Wu Kan pada saat Wu Kan menarik pelatuk senapannya hendak menembak Han Bu.

“Dorrr...!”

Tembakan itu mengarah ke atas dan tubuh Wu Kan terpelanting roboh. Dia jatuh pingsan karena pelipisnya dihantam batu yang dilontarkan Kim Hui.

Lam-hai Cin-jin marah sekali. Kakek gendut ini menggerakkan ruyungnya yang berduri, menyerang Kim Hui. Melihat ini Ui Yan Bun cepat mencabut pedangnya sambil meloncat menghadang lalu menangkis serangan ruyung yang ditujukan kepada Kim Hui itu.

“Tranggg...!”

Benturan antara ruyung dan pedang membuat pedang Yan Bun terpental. Melihat bahwa kakek yang dikenalnya dengan baik itu kini bertanding dengan Yan Bun, Kim Hui segera membantu Yan Bun dan mengeroyok Lam-hai Cin-jin dengan pedangnya.

“Lam-hai Cin-jin kakek tua bangka jahat mau mampus! Aku harus membalaskan ibuku yang pernah kau pukul dengan curang!”

Gadis itu masih merasa dendam mengingat ibunya, Nyonya Wan Cun, pernah dilukai oleh Lam-hai Cin-jin dengan pukulan Hek-tok-ciang yang hampir saja merenggut nyawa ibunya. Untung Yan Bun dapat mencarikan obat penawarnya dari Im-yang Sian-kouw.

Melihat ada seorang pemuda bersama seorang gadis datang menolongnya dan sekarang mengeroyok Lam-hai Cin-jin, Han Bu yang tadi melihat Ang-mo Niocu roboh mandi darah, segera melompat menghampiri gadis itu lalu berjongkok. Bagaimana pun juga gadis yang dikenal sebagai iblis betina itu tadi telah membelanya, bahkan menyelamatkan nyawanya.

“Bagaimana keadaanmu...?” tanya Han Bu dengan khawatir ketika melihat gadis itu rebah dengan napas terengah-engah dan muka pucat sekali.

Aneh! Dalam keadaan sekarat dan kesakitan seperti itu, melihat Han Bu berjongkok dan menanyakan keadaannya, Ang-mo Niocu tersenyum, walau pun senyumnya tampak aneh karena ia pun menahan rasa nyeri yang hebat. Bibirnya bergerak dan terdengar ia berkata lirih dan terputus-putus.

“Si Han Bu... terima kasih.... yang kau... cari itu... kusembunyikan... di kuil tua... belasan li... di sebelah utara dari... sini....” Setelah berkata demikian, ia terkulai dan tewas.

Mendengar ini Han Bu percaya dan merasa girang karena dia tidak harus menggeledah tubuh mayat gadis itu untuk mencari Tek-pai. Dia lalu menengok dan melihat betapa dua orang penolongnya masih bertanding seru melawan Lam-hai Cin-jin. Pada saat itu barulah dia memandang mereka dengan jelas dan hampir-hampir dia bersorak karena dia segera mengenal Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui yang dahulu pernah datang di Bukit Kera untuk mintakan obat bagi Nyonya Wan Cun kepada gurunya, Im Yang Sian-kouw!

Tadi dia tidak mengenal mereka karena dia masih terkejut mendapat serangan tembakan dari Wu Kan kemudian melihat betapa Ang-mo Niocu roboh tertembak. Sekarang melihat bahwa yang menolongnya adalah mereka, dia langsung meloncat dan menyerang dengan sepasang senjatanya, yaitu pedang Im-yang-kiam yang hitam putih di tangan kanan dan Im-yang-po-san, kipas sakti di tangan kiri.

“Ha-ha-ha, Saudara Ui Yan Bun dan Nona Wan Kim Hui yang baik, mari kita hajar kakek yang jahat ini!” katanya dan serangannya sangat dahsyat membuat Lam-hai Cin-jin yang sudah merasa kewalahan dikeroyok Yan Bun dan Kim Hui, menjadi semakin repot.

Apa lagi melihat Wu Kan menggeletak tak bergerak, hatinya merasa khawatir bukan main. Putera Jenderal atau Raja Muda Wu Sam Kwi itu pergi berdua dengan dia, maka dialah yang bertanggung jawab atas keselamatannya.

Lam-hai Cin-jin adalah seorang datuk selatan yang amat setia kepada Wu Sam Kwi yang dia anggap sebagai seorang patriot pahlawan bangsa yang patut dihormati. Maka dia pun menjadi Koksu (Guru Negara) di Yunnan-hu, menjadi penasihat Jenderal Wu Sam Kwi. Kini melihat keadaan Wu Kan, baginya yang terpenting adalah menyelamatkan putera raja muda itu. Tiba-tiba ruyungnya diputar cepat bukan main sehingga tiga orang muda yang mengeroyoknya harus segera menghindar ke belakang dan pada saat itu, tangan kirinya membanting bahan peledak.

“Darrrr...!”

Benda itu meledak dan asap hitam mengepul dibarengi bau yang menyengat hidung.

“Awas asap beracun!” kata Han Bu yang mengenal asap semacam itu.

Ketiganya cepat melompat ke belakang menjauhi asap. Kesempatan itu digunakan Lam-hai Cin-jin untuk melompat ke arah menggeletaknya Wu Kan, menyambar tubuh pemuda itu, memanggulnya dan membawanya lari terlindung asap hitam beracun.

Sesudah asap membuyar, tiga orang muda itu sudah kehilangan Lam-hai Cin-jin dan Wu Kan. Wan Kim Hui membanting-banting kakinya ke atas tanah.

“Sialan! Aku belum dapat membunuh si jahanam Wu Kan dan kakek iblis Lam-hai Cin-jin!”
“Ahh, agaknya engkau mengenal mereka itu, Nona Wan?” tanya Han Bu.
“Tentu saja aku mengenal mereka! Juga aku mengenal iblis betina Ang-mo Niocu Yi Hong itu. Anehnya, engkau ternyata sahabat baik iblis betina itu!” Wan Kim Hui berkata dengan sikap galak.
“Ehh, aku sama sekali bukan sahabatnya!”
“Hemm, kalau bukan sahabatnya kenapa tadi engkau dibelanya dan engkau menghampiri dia?”

Mendengar suara gadis ini, diam-diam Han Bu merasakan sesuatu kegembiraan aneh di dalam hatinya. Benarkah pendengarannya bahwa Wan Kim Hui cemburu?

“Aku justru mengejar dan mencarinya untuk merampas kembali Tek-pai milik Huang-ho Sian-li pemberian dari mendiang Kaisar.”
“Huang-ho Sian-li?” Ui Yan Bun berseru kaget akan tetapi juga girang. Dia cepat menahan diri kemudian berkata, “Harap kalian berdua tunda dulu pembicaraan. Di sana ada sebuah mayat yang harus kita kubur sebagaimana layaknya, baru nanti kita bicara agar jangan simpang siur.”
“Aku setuju dengan pendapat Saudara Ui Yan Bun,” kata Han Bu.

Wan Kim Hui cemberut. “Aku heran sekali melihat kalian. Apakah semua laki-laki begitu? Kalau melihat gadis cantik lalu jalan pikirannya menjadi ngawur?”

“Eh, engkau yang ngawur, Nona. Kenapa kau katakan bahwa jalan pikiran kami ngawur?”
“Itu sudah jelas. Ang-mo Niocu Yi Hong adalah seorang iblis betina jahat dan cabul, jelas merupakan musuh. Mengapa kalian kini hendak merawat mayatnya? Apakah karena dia cantik?”
“Kim Hui, jangan menuduh sembarangan!” Yan Bun berkata dengan suara mengandung teguran. “Yang jahat adalah perbuatannya ketika dia masih hidup. Kini yang menggeletak adalah jenazah seorang manusia. Sudah menjadi kewajiban kita sesama manusia untuk mengurus penguburannya dengan semestinya. Kalau kita membiarkan jenazah itu begitu saja dan membiarkannya membusuk atau dimakan binatang buas, maka kita kehilangan peri-kemanusiaan kita.”

Mendengar kata-kata Yan Bun, Kim Hui diam saja, sama sekali tidak berani membantah. Memang Kim Hui tak berani banyak membantah terhadap Ui Yan Bun yang sopan, serius dan pendiam, apa lagi karena orang tuanya telah menyerahkannya kepada Yan Bun untuk diawasi, dan dengan sungguh-sungguh ayahnya sudah memesan kepadanya agar dalam segala hal suka menurut dan tunduk kepada Yan Bun. Ia hanya duduk di bawah pohon dengan muka cemberut, menonton ketika Yan Bun dan Han Bu menghampiri mayat Ang-mo Niocu lalu mereka berdua menggali lubang.

Akan tetapi setelah lubang digali cukup dalam dan Yan Bun memberi tanda agar mereka berdua mengangkat mayat itu untuk dimasukkan ke dalam lubang galian, Han Bu berkata, “Nanti dulu, Saudara Yan Bun.”

Han Bu lalu menghampiri Kim Hui yang masih duduk di bawah pohon. Sambil tersenyum Han Bu memandang wajah manis yang cemberut menjadi semakin manis itu, akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Kim Hui sudah menegurnya.

“Mau apa kau?”

Han Bu berkata, “Nona Wan Kim Hui, aku ingin minta pertolonganmu, harap engkau tidak menolak.”

Kim Hui mengerutkan alisnya. Dia mengerling ke arah Yan Bun dan melihat betapa Yan Bun berdiri dan memandang ke arah mereka, agaknya ikut mendengarkan.

“Hemm, minta pertolongan kepadaku? Pertolongan apa? Aku tidak mau kalau aku disuruh membantu menguburkan mayat itu!”
“Ah, bukan, Nona. Saudara Ui Yan Bun dan akulah yang akan menguburnya. Aku hanya minta sukalah engkau menggeledah pakaian jenazah itu untuk mencari kalau-kalau Tek-pai yang harus kutemukan itu disimpannya dalam pakaiannya.”
“Menggeledah mayat? Huh, mengapa engkau menyuruh aku? Mengapa tidak kau geledah saja sendiri?”

Wajah Han Bu berubah merah. “Aih, bagaimana aku dapat melakukan hal itu, Nona Wan? Itu adalah mayat seorang wanita, dan aku seorang laki-laki, sungguh tak pantas kalau aku yang menggeledah. Aku tidak berani. Akan tetapi mungkin saja Tek-pai itu dia simpan di balik pakaiannya.”

Kim Hui masih hendak ‘jual mahal’, akan tetapi Yan Bun sudah berkata kepadanya. “Kim Hui, apa yang dikatakan Han Bu itu benar. Tidak pantas jika engkau menolak permintaan bantuan yang begitu ringan. Lakukanlah penggeledahan seperti yang dimintanya.”

Tentu saja Yan Bun mendesak Kim Hui karena selain apa yang diucapkan pemuda tinggi besar tampan dan gagah itu memang benar, juga dia berharap Tek-pai itu bisa ditemukan karena menurut Han Bu tadi, Tek-pai itu adalah milik Huang-ho Sian-li. Milik Thian Hwa! Terbayanglah wajah gadis yang sejak dulu dicintanya, satu-satunya wanita yang pernah dan masih dicintanya.....!

Dengan bersungut-sungut Kim Hui bangkit berdiri kemudian menghampiri jenazah Ang-mo Niocu Yi Hong yang tampak seperti orang tidur dan wajahnya tampak cantik. Kemudian ia melakukan penggeledahan, memeriksa semua bagian pakaian dan meraba-raba seluruh tubuh jenazah itu.

Dia keluarkan apa yang ditemukannya dari kantung dan balik pakaian, dan ternyata pada jenazah itu hanya ditemukan beberapa potong emas dan perak, perhiasan wanita, beserta beberapa macam obat luka seperti yang biasa dibawa orang-orang kang-ouw bila mana melakukan perjalanan. Tek-pai itu tidak ditemukan.

Akan tetapi Han Bu tidak kecewa, bahkan diam-diam dia merasa terharu karena Ang-mo Niocu ternyata tidak berbohong kepadanya. Dia semakin percaya bahwa Tek-pai itu pasti akan ditemukan di kuil tua yang letaknya belasan li di sebelah utara tempat itu.

Dia minta kepada Kim Hui supaya mengembalikan semua barang itu ke dalam saku baju mayat itu, kemudian bersama Yan Bun mengubur mayat Ang-mo Niocu. Sesudah lubang itu ditimbuni tanah, Yan Bun bertanya,

“Saudara Han Bu, engkau tidak berhasil mendapatkan kembali Tek-pai itu?”

Han Bu tersenyum. “Aku yakin sekali akan bisa mendapatkan kembali, karena sebelum ia meninggal tadi, Ang-mo Niocu sudah mengaku bahwa dia menyembunyikan Tek-pai itu di sebuah kuil tua, belasan li di sebelah utara....”

“Kalau begitu mengapa engkau masih minta aku untuk menggeledah mayat itu?!” Kim Hui menegur marah.
“Maaf, Nona. Tadi aku masih belum percaya akan keterangan Ang-mo Niocu, aku khawatir ia berbohong dan menyembunyikan Tek-pai itu di tubuhnya,” kata Han Bu sambil menjura di depan Kim Hui. Aneh, gadis itu hilang marahnya, bahkan kini tersenyum kecil.
“Hemm, jadi engkau juga tahu bahwa dia jahat dan tidak percaya padanya?” katanya.
“Han Bu, Kim Hui, mari kita cepat mencari kuil itu. Tek-pai itu sangat penting, kita harus segera menemukannya. Setelah itu baru kita bicara!”

Mereka lalu mengerahkan ginkang dan berlari seperti terbang cepatnya menuju ke utara. Menjelang senja mereka berhasil menemukan sebuah kuil tua yang tidak dipakai lagi dan keadaannya sudah banyak rusak, dalam hutan di tepi jalan umum. Segera mereka bertiga melakukan pemeriksaan dan pencarian. Akhirnya, di belakang sebuah arca Jilai-hud yang sudah berlumut, Kim Hui menemukannya.

“Inikah Tek-pai itu?” tanyanya sambil mengacungkan sepotong bambu kecil yang ada cap dan tulisan Kaisar.
“Benar, kalau tidak salah itulah Tek-pai!” kata Han Bu gembira.
“Uuhh, kalau tidak tahu bilang saja tidak tahu! Bilang benar, akan tetapi kalau tidak salah! Benar atau salah? Apakah engkau pernah melihatnya?” Kim Hui menegur galak.

Han Bu tersenyum. “Terus terang saja, baru kali ini aku melihatnya. Akan tetapi kalau itu bukan Bambu Tanda Kuasa (Tek-pai), lalu apa?”

Yan Bun menghampiri dan mengambil benda itu dari tangan Kim Hui, lalu memeriksa dan membaca tulisannya. “Tak salah lagi, inilah Tek-pai yang kau cari, Han Bu. Sekarang mari kita bicara. Kita melewatkan malam sambil mengaso di sini. Nah, ceritakanlah apa yang telah terjadi dan apa yang kau alami, Han Bu.”

Mereka duduk di bagian belakang kuil itu, satu-satunya bagian yang masih ada atapnya di situ sehingga lantainya juga segera bersih sesudah mereka menggunakan sapu tua untuk menyingkirkan debu. Mereka duduk saling berhadapan di atas lantai batu, kemudian Han Bu mulai menceritakan semua pengalamannya.

Dia bercerita mengenai pemberontakan yang dilakukan Pangeran Cu Kiong yang dibantu banyak datuk kang-ouw, di antaranya yang terpenting adalah Lam-hai Cin-jin dan susiok-nya (paman gurunya) yang bernama Ngo-beng Kui-ong dan amat sakti. Betapa ia ditawan setelah berhasil membebaskan Huang-ho Sian-li dari tahanan Pangeran Cu Kiong.

Kemudian betapa pertempuran terjadi dan akhirnya para pemberontak dapat dihancurkan, Pangeran Cu Kiong dapat ditawan. Dia sendiri dibebaskan dari penjara oleh gurunya, Im-yang Sian-kouw dan Huang-ho Sian-li.

“Masih untung engkau tidak dibunuh, Han Bu,” kata Yan Bun.
“Ah, tidak. Justru kakek Ngo-beng Kui-ong yang mempertahankan agar aku tidak dibunuh sebab dia ingin menyandera aku supaya guruku, Im-yang Sian-kouw mau dibujuk olehnya untuk membantu Jenderal Wu Sam Kwi.”
“Lalu bagaimana engkau dapat bertemu dengan Ang-mo Niocu, Lam-hai Cin-jin dan Wu Kan itu?” tanya Wan Kim Hui yang merasa tertarik juga mendengar cerita pemuda itu.

“Ketika aku mendengar pengakuan Pangeran Cu Kiong bahwa Tek-pai yang dia rampas dari Huang-ho Sian-li ketika gadis itu dia tawan, lalu telah dia serahkan kepada Ang-mo Niocu dan dibawa ke selatan untuk diserahkan kepada Jenderal Wu Sam Kwi di Yunnan-hu, aku segera melakukan pengejaran. Sampai lama aku mengikuti jejaknya dan berganti-ganti kuda. Akhirnya aku dapat menyusulnya sampai di sini. Aku minta Tek-pai itu darinya dan ketika kami bersitegang, muncullah kakek beserta pemuda yang membawa senapan tadi.”

“Lam-hai Cin-jin adalah Koksu dari Yunnan-hu dan merupakan seorang yang setia kepada Wu Sam Kwi dan pemuda itu adalah Wu Kan, putera Wu Sam Kwi. Dia pemuda brengsek tak tahu malu!”
“Teruskan ceritamu, Han Bu.”
“Lam-hai Cin-jin, seperti juga Ang-mo Niocu, sudah pernah melihat aku ketika aku ditawan mereka setelah aku berhasil membebaskan Huang-ho Sian-li, maka ia lalu menyerangku. Aku melawan dan terus terang saja, he-he, aku tidak mampu menandingi kakek itu. Aku terdesak dan tiba-tiba pemuda itu, Wu Kan namanya? Dia menembakku dengan senjata api, untung luput. Kemudian terdengar tembakan kedua kalinya dan... Ang-mo Niocu yang ditembaknya karena gadis itu menghalanginya membunuhku.”

“Wah, musuh malah membelamu, ya? Bagus, senang ya dibela seorang gadis cantik dan genit?” kata Kim Hui mengejek.

Wajah Han Bu berubah kemerahan dan dia tersenyum masam. “Ah, aku sendiri tidak tahu mengapa ia membelaku. Mungkin ia mulai menyadari akan kesesatannya.”

“Sadar? Ang-mo Niocu menyadari kesesatannya? Ih, engkau tidak tahu siapa perempuan itu! Ia iblis betina yang keji sekali!”
“Hui-moi, biarkan Han Bu melanjutkan ceritanya,” Yan Bun menegur dan Kim Hui terdiam.
“Pada saat itulah kalian muncul dan aku berterima kasih sekali kepada kalian. Jika kalian tidak muncul, aku tentu sudah mati.”
“Han Bu, ceritamu itu sungguh menarik sekali. Syukurlah kalau pemberontakan itu sudah dapat dihancurkan. Sekarang Tek-pai sudah berhasil kau temukan, apakah engkau akan memberikannya kepada Huang-ho Sian-li?”
“Tentu saja, aku akan kembali ke kota raja dan menyerahkan Tek-pai ini kepadanya.”
“Wah-wah, engkau tentu sangat mencinta wanita yang berjuluk Huang-ho Sian-li itu! Baru julukannya saja Sian-li (Dewi atau Bidadari), tentu orangnya cantik sekali. Engkau sudah membebaskannya, rela ditawan untuknya, dan sekarang bersusah payah mencari Tek-pai untuknya!” kata Kim Hui dan kembali Han Bu merasa senang sekali karena suara gadis itu mengandung kecemburuan!

“Kim Hui, engkau tidak boleh bicara seperti itu!” Yan Bun menegur.
“Tidak mengapa, Yan Bun, tetapi dugaannya salah. Aku kagum kepada Huang-ho Sian-li yang gagah perkasa dan dipercaya oleh mendiang Kaisar, tetapi itu bukan berarti bahwa aku mencintanya,” kata Han Bu.
“Han Bu, di mana adanya Huang-ho Sian-li sekarang?” tanya Yan Bun.
“Ehh, Bun-ko, apakah engkau mengenalnya?” tanya Kim Hui, sekarang ia menyebut koko (kakak) kepada Yan Bun, setelah melakukan perjalanan bersamanya.

“Dulu aku mengenalnya dan kami menjadi sahabat baik, bahkan boleh kukatakan bahwa dia masih Sumoi-ku (Adik Seperguruanku) karena aku pernah menerima gemblengan ilmu dari gurunya. Di mana dia sekarang, Han Bu?”
“Tentu saja di rumah ayahnya.”
“Ayahnya...? Siapakah ayahnya Huang-ho Sian-li?” Ui Yan Bun bertanya dengan jantung berdebar.
“Ayahnya adalah Pangeran Ciu Wan Kong, adik mendiang Kaisar Shun Chi.”

Hampir saja Yan Bun mengeluarkan seruan kaget, namun segera ditahannya. Kepahitan memenuhi hatinya.

Thian Hwa yang hanya dia kenal sebagai murid dan cucu angkat Thian Bong Sianjin, yang kabarnya sudah kehilangan ayah ibunya, bahkan yang tidak pernah mengenal siapa ayah dan ibunya, kiranya kini telah bertemu dengan ayah kandungnya. Dan ayahnya itu adalah adik Kaisar, seorang pangeran! Seketika dia merasa betapa dirinya dipisahkan semakin jauh dari gadis yang dikasihinya itu.

“Kenapa kalian diam saja? Cerita tentang diriku sudah habis kuceritakan, sekarang giliran kalian. O ya, aku masih ingin sekali mengetahui bagaimana engkau mengenal baik Lam-hai Cin-jin dan putera Wu Sam Kwi tadi, Nona Kim Hui?”

“Sudahlah, jangan pakai nona-nona segala, bikin aku canggung saja, Han Bu. Tentu saja aku mengenal mereka karena dulu aku dan orang tuaku juga tinggal di Yunnan-hu. Ayah bahkan merupakan sahabat baik Lam-hai Cin-jin karena keduanya sama-sama dianggap sebagai datuk persilatan di selatan. Akan tetapi ayahku tidak mau mendukung Wu Sam Kwi sehingga ayah tak disukai oleh mereka, juga Lam-hai Cin-jin kemudian memutuskan hubungan dengan ayahku. Nah, ketika Wu Kan, pemuda brengsek putera Wu Sam Kwi itu melamarku, kami menolaknya. Hal ini membuat mereka marah. Pada suatu hari ketika orang tuaku sedang tidak berada di rumah, Wu Kan datang menggangguku. Dia kuhajar babak belur, belasan orang pengawalnya juga kuhajar. Hal ini agaknya membuat Lam-hai Cin-jin marah dan ketika aku dan Ayah tidak berada di rumah, dia datang menyerang dan melukai ibuku. Semenjak itu kami sekeluarga pergi meninggalkan Yunnan-hu dan tinggal di Bukit Siluman. Nah, sekarang kau tentu sudah mengerti mengapa aku mengenal baik jahanam-jahanam itu.”

“Wah, ceritamu sangat menarik, Kim Hui!” kata Han Bu tanpa menyebut nona lagi. “Dan engkau sungguh hebat, berani menghajar putera Jenderal Wu Sam Kwi yang sekarang menjadi raja muda!”
“Jangankan hanya putera seorang raja muda, biar putera raja setan sekali pun jika berani menggangguku, akan kulawan dan kuhajar!” kata gadis itu dengan tegas.

Han Bu merasa aneh kenapa dia tertarik sekali kepada gadis yang amat galak ini. Belum pernah dia tertarik oleh seorang gadis seperti yang dirasakannya terhadap Kim Hui.

Sementara itu Yan Bun hampir tidak mendengarkan cerita yang dituturkan oleh Kim Hui. Pertama karena dia pernah mendengar kisah itu, dan kedua karena hati serta pikirannya masih penuh dengan kejutan mengenai diri Huang-ho Sian-li yang ternyata puteri seorang pangeran!

“Yan Bun, kenapa engkau diam saja? Kukira sekarang tiba giliranmu untuk menceritakan pengalamanmu,” kata Han Bu.

Yan Bun sadar dari lamunannya dan menghela napas panjang. “Tidak banyak yang dapat kuceritakan.”

“Ah, Bun-ko, selama ini engkau belum pernah bercerita kepadaku tentang Huang-ho Sian-li itu! Sekarang ceritakanlah,” kata Kim Hui.
“Sudah kukatakan tadi bahwa dulu kami pernah menjadi sahabat baik, bahkan aku pernah digembleng ilmu oleh gurunya. Akan tetapi kemudian kami berpisah dan sudah sekitar dua tahun ini kami tak pernah saling bertemu. Aku lalu bertemu dengan adik Wan Kim Hui dan bersamanya mencarikan obat untuk ibunya yang terkena pukulan beracun Lam-hai Cin-jin dan kami menghadap gurumu, Im-yang Sian-kouw. Selanjutnya kami kembali ke Bukit Siluman di dekat kota Lam-hu dan di sana aku memperdalam ilmu silatku di bawah bimbingan Paman Wan Cun, ayah Kim Hui. Begitulah ceritaku.”

“Dan sekarang kalian hendak pergi ke mana?”
“Sudah terlalu lama aku meninggalkan rumah orang tuaku yang tinggal di Lembah Huang-ho. Sekarang aku hendak pulang ke rumah orang tuaku....”
“Aih, Bun-ko, marilah kita pergi ke kota raja lebih dulu. Aku ingin sekali melihat kota raja! Kebetulan sekali sekarang ada Han Bu sehingga kita bertiga dapat pergi bersama!” Kim Hui membujuk.

Yan Bun tampak ragu-ragu dan alisnya berkerut. Sesungguhnya sudah lama dia merasa rindu sekali untuk dapat bertemu dengan Thian Hwa. Akan tetapi keinginan itu selalu dia tekan. Untuk apa bertemu? Hanya akan menambah kedukaannya saja. Gadis itu dengan terus terang sudah menyatakan bahwa dia tidak dapat menerima cintanya, bahkan dahulu mengaku mencinta Pangeran Cu Kiong yang juga dibencinya.

Dahulu saja Thian Hwa tidak dapat menerima dan membalas cintanya, apa lagi sekarang setelah ternyata bahwa ia puteri seorang pangeran! Ia merasa takut bertemu Thian Hwa, takut kalau-kalau hatinya akan semakin menderita.

“Marilah, Yan Bun. Ucapan Kim Hui itu benar, lebih baik kita bertiga melakukan perjalanan bersama ke kota raja. Bukankah engkau ingin bertemu dengan sahabat lamamu, Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa?” kata Han Bu membujuk. Tentu saja hatinya senang bukan main kalau dapat melakukan perjalanan bersama Kim Hui yang telah mencuri hatinya!

Yan Bun menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak... aku... belum ingin bertemu dengannya.”

“Tapi kenapa begitu, Bun-ko? Bukankah tadi kau katakan bahwa Huang-ho Sian-li adalah seorang sahabat baikmu, bahkan terhitung Sumoi-mu?” Kim Hui mendesak. “Ayolah, Bun-ko, aku ingin sekali pergi ke kota raja. Ayah hanya memberi waktu dua tahun padaku dan aku ingin melihat kota raja di mana dahulu ayah pernah tinggal!”

Yan Bun menggelengkan kepalanya dan wajahnya tampak muram, kemudian dia berkata. “Begini saja, Hui-moi. Bagaimana kalau engkau pergi dulu ke kota raja bersama Han Bu? Aku merasa yakin bahwa sebagai murid Im-yang Sian-kouw, dia tentu seorang pendekar muda yang baik budi dan bijaksana sehingga aku percaya padanya. Dia pasti akan dapat menjagamu.”

Kim Hui tampak gembira sehingga wajahnya berseri. “Benarkah, Bun-ko? Aku boleh pergi sendiri ke sana bersama Han Bu? Akan tetapi... nanti kalau Ayah mendengar bahwa aku tidak pergi bersamamu, Ayah akan marah....”

“Tidak, Hui-moi. Apa bila tahu bahwa pergimu bersama murid Im-yang Sian-kouw, beliau tak akan marah. Setelah aku mengunjungi orang tuaku, kelak aku akan menyusul ke kota raja.”
“Ah, terima kasih, Bun-ko!” Kim Hui memegang tangan Yan Bun lantas mengguncangnya sebagai ungkapan kegembiraan dan terima kasihnya. Setelah itu, dia lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun di ruangan beratap namun tak berdinding itu.

Han Bu tidak tinggal diam. Dia mencari rumput kering yang terdapat di bagian belakang kuil tua dan menaburkan rumput kering itu di lantai ruangan.

“Aku lelah dan sudah mengantuk. Aku ingin tidur dulu!” kata Kim Hui dan gadis ini segera merebahkan diri di atas tumpukan rumput kering dengan miring membelakangi dua orang pemuda itu.

Melihat ini Han Bu cepat mengambil buntalan pakaiannya dan mengeluarkan sehelai baju luar yang lebar, lalu menghampiri gadis itu dan menyelimuti tubuhnya dengan baju luarnya yang lebar.

“Pakai ini agar jangan kedinginan,” katanya. Kim Hui menerimanya akan tetapi diam saja.

Melihat sikap pemuda ini, diam-diam Yan Bun merasa lega dan girang. Agaknya Han Bu merasa suka kepada Kim Hui yang galak itu! Siapa tahu di antara mereka dapat timbul perasaan cinta! Dia sendiri duduk di dekat api unggun, masih melamunkan Thian Hwa.

Malam semakin tua. Yan Bun masih duduk melamun di depan api unggun. Han Bu yang tadinya duduk bersila dan melakukan semedhi, kemudian menghampiri dan duduk dekat Yan Bun menghadapi api unggun yang mengusir hawa dingin malam itu, juga mengusir nyamuk yang mulai menyerang.

“Yan Bun, kau maafkan pertanyaanku ini, yang keluar dari hati seorang sahabat yang ikut prihatin. Kalau boleh aku mengetahui, ada apakah antara engkau dan Huang-ho Sian-li?”

Yan Bun tampak kaget. “Mengapa engkau bertanya demikian?”

“Maafkan, kalau hal ini menyinggungmu, boleh kita lupakan dan tidak usah kau jawab.”
“Aku tidak tersinggung dan marah kepadamu, Han Bu. Aku hanya merasa heran kenapa mendadak engkau menanyakan hal itu.” Yan Bun melirik ke arah Kim Hui yang tidur pulas dan hatinya lega karena dia tak ingin orang lain mendengarkan dia membicarakan tentang Huang-ho Sian-li.

“Begini, sahabatku. Ketika tadi aku memberi-tahu bahwa Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa adalah puteri pangeran, engkau tampak terkejut sekali walau pun ingin kau sembunyikan. Wajahmu pucat dan engkau tampak berduka. Aku juga melihat setiap kali aku menyebut Huang-ho Sian-li, ada cahaya kerinduan pada matamu, tetapi juga terselubung kedukaan. Kelirukah dugaanku bahwa engkau mencintanya, Yan Bun?”

“Mengapa pula engkau menduga begitu?”
“Ahh, dia adalah seorang gadis yang amat cantik jelita dan gagah perkasa, Yan Bun! Apa anehnya kalau seorang pendekar seperti engkau jatuh cinta padanya? Apa lagi engkau sendiri berkata bahwa kalian pernah menjadi sahabat karib.”

“Hemm, kalau begitu tak akan aneh pula jika engkau juga jatuh cinta kepadanya, bukan?” Yan Bun membalas.

Han Bun tertawa akan tetapi menekan suaranya agar tidak sampai mengganggu Kim Hui yang sedang tidur. “Ha-ha, memang tidak aneh, Yan Bun. Akan tetapi dugaanmu keliru. Aku belum mengenalnya, bahkan pertemuan antara kami hanya sekilas saja. Di samping itu, selama ini aku belum pernah jatuh cinta....” Tanpa disadarinya, Han Bu melirik ke arah Kim Hui.

“Hemm, belum pernah jatuh cinta, tetapi saat ini engkau jatuh cinta padanya, bukan?” Yan Bun menuding ke arah Kim Hui.

Wajah Han Bu berubah kemerahan dan dia menjadi salah tingkah.

“Eh, itu... ah, aku tertarik kepadanya sejak pertemuan pertama dulu, akan tetapi... cinta? Entahlah, aku tidak tahu, Yan Bun. Akan tetapi cintamu kepada Huang-ho Sian-li agaknya menimbulkan kesedihan bagimu, mengapa kalau aku boleh mengetahui?”

Yan Bun menghela napas panjang. Pemuda ini cerdik sekali dan agaknya sukarlah untuk menyembunyikan isi hatinya dari Han Bu.

“Baiklah, Han Bu. Karena aku telah mempercayakan Kim Hui kepadamu dan aku percaya sepenuhnya padamu, maka boleh engkau mendengar rahasiaku yang belum pernah aku ceritakan kepada orang lain ini. Memang benar, semenjak dahulu aku mencinta Huang-ho Sian-li, bahkan guru kami dan orang tuaku juga sudah menyetujui sepenuhnya kalau kami berjodoh. Akan tetapi dia mencintaku sebagai saudara atau sahabat baik. Selama ini aku masih mengharapkan agar sewaktu-waktu cintanya akan berubah dan ia bersedia menjadi pasangan hidupku. Akan tetapi, ahh... habislah harapanku sesudah mendengar ceritamu bahwa Huang-ho Sian-li adalah puteri seorang pangeran. Kalau dulu saja dia tidak dapat membalas cintaku, apa lagi sekarang sebagai puteri pangeran dan bahkan kepercayaan Kaisar...! Karena itulah aku tidak berani bertemu dengannya, Han Bu, karena hal itu tentu hanya akan membuat hatiku semakin sakit.”

Han Bu merasa terharu dan sejenak mereka berdua terdiam, hanya memandang ke api unggun sambil merenung.

Betapa besar kekuasaan cinta pada manusia. Betapa aneh lika-likunya mempermainkan manusia yang seolah-olah tak percaya terhadap kekuasaan yang dapat melambungkan manusia menikmati kesenangan tingkat tertinggi atau malah menenggelamkan manusia ke dalam kesusahan tingkat terendah.

Berulang-ulang Han Bu melirik ke arah Kim Hui. Keadaan manakah yang akan dialaminya nanti apa bila dia jatuh cinta kepada gadis itu?

Sebenarnya, kalau dikaji benar, cinta atau kasih itu sama sekali tidaklah aneh. Kita para manusia sendiri dengan hati akal pikiran kita yang mengada-ada, ini yang membuat cinta menjadi aneh, terkadang membahagiakan terkadang menyengsarakan.

Sesungguhnya, cinta adalah perasaan yang luhur dan suci murni, cinta dirasakan oleh seluruh makhluk hidup, baik yang bergerak mau pun yang tidak. Bukan hanya manusia mengenal cinta. Hewan pun mengenal cinta. Bahkan tanaman mengenal tangan-tangan manusia yang merawatnya dengan cinta. Hidup ini sendiri cinta! Tanpa cinta hidup ini tak ada artinya. 

Cinta memang banyak ragamnya, ada cinta atau kasih terhadap Tuhan, kasih terhadap sesama manusia, kasih terhadap sanak keluarga, kasih terhadap negara dan bangsa, juga kasih terhadap sesama hidup seperti hewan dan tanaman. 

Tetapi pada hakekatnya hanya ada dua macam Kasih. Kasih murni bercahaya dan hidup bila jiwa diterangi Sinar Illahi atau Kasih Tuhan sehingga hati kita dipenuhi oleh Kasih. Buahnya adalah perbuatan atau tindakan tanpa pamrih untuk diri sendiri, yang hanya didorong rasa belas kasih, membuat orang yang memiliki Kasih ini siap berkorban, tanpa mementingkan diri sendiri, tanpa mengharapkan imbalan jasa, dan bukan timbul dari hati akal pikiran yang dikendalikan nafsu.

Dan yang ke dua adalah cinta atau kasih yang didorong oleh nafsu keinginan kita untuk kepentingan dan kesenangan atau keuntungan diri kita sendiri. Cinta seperti ini penuh dengan pamrih, walau pun terselubung ketat. Ingin dipuji, ingin diberi imbalan jasa, baik itu imbalan lahir mau pun batin, pendeknya, cinta seperti ini bersumber demi kesenangan pribadi.

Cinta karena dorongan nafsu daya rendah inilah yang dapat mendatangkan kesenangan atau pun kesusahan. Memang selalu demikian sifat nafsu atau si-aku. Kalau diuntungkan senang kalau dirugikan susah. Begitu juga dalam hubungan cinta antara pria dan wanita. Cinta nafsu ini selalu mendatangkan sengsara bila tidak tercapai atau gagal, sebaliknya akan mendatangkan kebahagiaan bila berhasil baik.

Apa bila kita renungkan benar-benar, sesungguhnya tanda-tanda kedua macam cinta itu mudah dikenal. Cinta murni atau Kasih sejati dapat dikenal sebagai berikut.

Kasih sejati terhadap Tuhan yang kita kenal melalui kitab-kitab suci adalah ketaatan dan penyerahan diri tanpa pamrih. Cinta terhadap negara dan bangsa berupa perjuangan mempertahankan kesejahteraan dan martabat negara dan bangsa dengan rela berkorban dan tanpa pamrih apa pun untuk diri sendiri. Cinta terhadap sesama manusia didasari belas kasih dan rela berkorban demi kebahagiaan yang dikasihi.

Sebaliknya ciri cinta nafsu adalah apa bila: Kasih terhadap Tuhan didasari ketakutan akan hukuman, penuh pamrih untuk mendapat imbalan sekarang di waktu hidup atau pun kelak sesudah mati yang pada hakekatnya hanya pementingan diri mencari keenakan dan menolak ketidak-enakan diri sendiri. Cinta terhadap negara dan bangsa yang didasari nafsu berupa ambisi pribadi dan perjuangannya sesungguhnya untuk mencapai ambisinya sehingga apa bila perjuangan itu berhasil, dirinyalah yang akan menikmati dan mabok kemenangan, lupa akan kepentingan nusa dan bangsa. Cinta terhadap sesama manusia juga merupakan cinta terhadap diri sendiri, mencinta dengan harapan imbalan yang lebih besar seperti orang berjual-beli. Beli dengan cinta dan berharap mendapat kesenangan. Maka kalau kesenangan itu tidak diperoleh, cintanya pun entah lari ke mana!

Pada keesokan harinya mereka pun berpisah. Si Han Bu pergi ke kota raja bersama Wan Kim Hui, sedangkan Ui Yan Bun pergi seorang diri menuju ke Lembah Sungai Kuning, ke tempat tinggal Ui Houw yang berjuluk Si Ular Air.

Dahulu Ui Houw adalah kepala bajak sungai namun bukan gerombolan bajak yang jahat. Mereka bahkan menjadi pelindung para pedagang yang mengangkut dagangan mereka melalui Sungai Kuning dengan menerima upah sekedarnya. Mereka lebih pantas disebut pengawal pengiriman barang dagangan dari pada bajak sungai. Dengan adanya Si Ular Air Ui Houw dan anak buahnya, lalu lintas perdagangan di Sungai Kuning menjadi aman dari gangguan para bajak dan perampok.

Karena gerombolan ini memang tak pernah melakukan perampokan atau pun pemerasan dengan kekerasan, tidak pernah melakukan kejahatan, maka baik para pendekar mau pun para komandan pasukan keamanan tidak pernah memusuhi mereka…..

********************
Selanjutnya baca
KEMELUT KERAJAAN MANCU : JILID-15
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger