logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kemelut Kerajaan Mancu Jilid 15


Ketika Han Bu dan Kim Hui sampai di gedung Pangeran Ciu Wan Kong, mereka disambut dengan gembira oleh seisi rumah karena Han Bu berhasil membawa pulang Tek-pai yang apa bila terjatuh ke tangan orang lain yang jahat dapat membahayakan pemerintah. Akan tetapi kegembiraan mereka tidaklah sebesar keterkejutan dan kegembiraan hati Han Bu ketika dia melihat bahwa kini gurunya telah bertemu kembali dengan suami dan puterinya, dan tinggal sebagai satu keluarga di gedung Pangeran Ciu Wan Kong, suaminya.

Pertemuan itu menjadi semakin akrab karena di situ terdapat pula Kim Hui yang pandai bicara dan tidak malu-malu. Apa lagi Kim Hui sudah mengenal Im-yang Sian-kouw. Ia pun merasa kagum sekali melihat Huang-ho Sian-li yang cantik dan gagah.

“Enci Thian Hwa, tahukah engkau bahwa aku telah berkenalan dan menjadi sahabat koko Ui Yan Bun, sahabat baikmu itu?”

Thian Hwa terkejut karena tidak menyangka sama sekali bahwa gadis lincah itu mengenal Yan Bun. “Aih, benarkah? Di mana dia sekarang dan bagaimana keadaannya?”

Baik Kim Hui mau pun Han Bu melihat betapa wajah Thian Hwa berseri-seri dan matanya bersinar-sinar.

“Ahh, dia baik-baik saja, Enci Thian Hwa.”
“Kim Hui, ceritakanlah bagaimana engkau dapat berkenalan dengan Bun-ko,” Thian Hwa bertanya sambil menatap wajah gadis itu dengan penuh selidik.

Gadis ini manis sekali dan lincah. Bukan tidak mungkin Yan Bun jatuh cinta kepada Kim Hui, walau pun dia melihat ada keakraban dan kemesraan antara Kim Hui dengan murid ibunya, yaitu Si Han Bu.

“Ceritanya memang lucu,” kata Kim Hui. “Ibuku menderita luka parah akibat pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan si jahat Lam-hai Cin-jin. Ayah dan aku membawa ibu mengungsi dari Yunnan-hu dan tinggal di Bukit Siluman dekat kota Lam-hu. Ketika itu aku mendengar ada seorang sin-she (tabib) di Lam-hu, maka aku lalu pergi ke sana dan menculik tabib itu....”
“Menculik?” Huang-ho Sian-li berseru heran.

Kim Hui tersenyum. “Maksudku, ehh, aku memaksa dia supaya ikut aku ke puncak Bukit Siluman untuk mengobati Ibuku. Tak tahunya, sin-she itu mempunyai seorang keponakan yang amat lihai, yaitu Ui Yan Bun dan dia menyusul ke tempat kami. Tabib Ui Tiong tidak mampu menyembuhkan Ibu, tetapi mengatakan bahwa yang dapat mengobati adalah Bu Beng Kiam-sian di Bukit Kera. Yan Bun sanggup mencarikan obat untuk Ibu, akan tetapi dengan janji bahwa kelak Ayah harus mengajarkan ilmu silat kepadanya. Ia berangkat dan aku ikut. Kami berdua menuju ke Bukit Kera dan... ehh, Bibi Im-yang Sian-kouw ini yang memberi obat dan aku sempat... ehh, berkelahi melawan Si Han Bu ini! Demikianlah, aku bukan hanya menjadi sahabat baik Ui Yan Bun, tetapi dia juga saudara seperguruanku karena dia menerima gemblengan ilmu silat dari Ayahku.”

Thian Hwa tampak senang mendengar cerita Kim Hui. Ia ikut merasa gembira mendengar bahwa Yan Bun telah memperdalam ilmu silatnya dan berada dalam keadaan baik. Akhir-akhir ini dia memang sering terkenang kepada sahabat lamanya itu dan membayangkan semua kebaikannya, terutama karena pemuda itu telah mengaku cinta kepadanya, yang ketika itu ditolaknya.....

Pada sore harinya, Pangeran Ciu Wan Kong dan isterinya, Im-yang Sian-kouw Cui Eng, meninggalkan tiga orang muda itu dan mereka bicara dengan lebih leluasa. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Wan Kim Hui.

“Enci Thian Hwa, aku sungguh merasa amat iba kepada Kakak Ui Yan Bun.”

Thian Hwa memandang heran. “Ah, mengapa, Kim Hui? Dia kenapakah, sampai engkau merasa iba kepadanya?”

“Dia itu telah menderita duka dan kecewa selama bertahun-tahun, Enci.”
“Ehh? Kenapa begitu?”
“Dia menderita patah hati. Dia mencinta seorang gadis, selama hidupnya baru sekali itu dia jatuh cinta, tetapi gadis itu menolak cintanya. Biar pun begitu dia tetap mencintanya. Hanya seorang saja yang pernah dicintanya, masih dicintanya hingga sekarang, dan yang akan tetap dicintanya sampai dia meninggal kelak. Cintanya sangat tulus, lahir batin, dan dia akan tetap setia sampai mati. Sungguh menyedihkan sekali. Aku selalu merasa heran mengapa ada gadis yang menolak cinta yang demikian tulus dari seorang pemuda gagah perkasa dan tampan, seorang pendekar budiman seperti Kakak Ui Yan Bun!”

Wajah Thian Hwa berubah menjadi agak pucat. “Kim Hui, apakah dia bilang kepadamu, siapa gadis yang dicintanya itu?”

“Gadis itu adalah seorang pendekar wanita, dan sekarang hati Bun-ko semakin menderita karena dia putus asa, tiada harapan sedikit juga baginya untuk berjodoh dengan pendekar itu setelah ia mendengar bahwa pendekar wanita yang dicintanya itu adalah seorang gadis bangsawan tinggi, seorang puteri pangeran....”
“Kau...! Apa maksudmu...?” Thian Hwa berseru.
“Benar, Enci Thian Hwa. Gadis yang dicintanya sampai detik ini adalah Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa, engkau sendiri.”
“Kim Hui! Engkau tidak boleh membuka rahasia! Ternyata dulu itu engkau mendengarkan percakapan kami?” Si Han Bu menegur dengan kaget sekali.

Kim Hui tersenyum. “Tentu saja, aku kan punya telinga?”

“Engkau mencuri dengar!”
“Huh, enak saja menuduh orang! Engkau dan Bun-ko bercakap-cakap ketika aku tidur dan telingaku mendengar percakapan itu. Apakah telingaku salah? Engkau saja yang bodoh, mengira aku tidak dapat mendengar percakapan itu!” Kim Hui membantah.
“Sudahlah, tidak perlu dipersoalkan,” kata Huang-ho Sian-li yang hatinya masih tergetar oleh cerita Kim Hui.

Yan Bun begitu mencintanya sehingga sampai kini masih tetap mencintanya. Sebetulnya dia pun merasa suka dan kagum kepada Yan Bun. Kalau dulu dia tidak dapat menerima cintanya, karena dia telah lebih dulu jatuh cinta kepada pangeran brengsek Cu Kiong!

“Si Han Bu, benarkah Bun-ko berkata kepadamu seperti yang diceritakan oleh Adik Kim Hui tadi?”
“Memang benar demikian, akan tetapi maafkan aku, harap jangan katakan soal ini kepada Saudara Ui Yan Bun. Dia pesan agar aku jangan bercerita kepada siapa pun juga karena rahasia hatinya itu hanya kepadaku seorang sajalah dia ceritakan. Siapa kira Kim Hui ikut mendengarkan dan kini membuka rahasia itu langsung kepadamu.”
“Tentu saja!” kata Kim Hui membela diri. “Aku kan juga perempuan? Sudah sepantasnya jika aku memberitahu Enci Thian Hwa bahwa Kakak Ui Yan Bun sampai sekarang masih mencintanya dan selamanya akan tetap mencintanya karena hanya dialah satu-satunya wanita di dunia ini yang dicintanya!”
“Akan tetapi Saudara Yan Bun akan marah dan menegurku kalau sampai dia tahu bahwa rahasianya disampaikan kepada Enci Thian Hwa!”
“Biar dia marah kepadaku!” bantah Kim Hui.

Melihat dua orang itu sudah siap bertengkar lagi, Huang-ho Sian-li tersenyum dan melerai lagi. “Sudahlah, dia tidak akan marah. Biarlah kelak aku yang menjelaskannya kalau dia marah kepada kalian.”
“Ah, benar, Enci Thian Hwa? Engkau akan menemuinya?” Kim Hui berseru girang sekali. “Aku senang sekali kalau engkau mau menemuinya! Kasihan sekali Bun-ko...!”
“Enci Thian Hwa, jika memang engkau hendak menemuinya, sekarang dia sudah pulang ke rumah ayahnya, katanya di Lembah Huang-ho...,” kata pula Han Bu.

Thian Hwa mengangguk dan tersenyum. “Aku tahu tempat itu.”

Malam itu Thian Hwa sukar untuk dapat tidur nyenyak. Bayangan Yan Bun selalu tampak di depan matanya. Makin dikenang, semakin iba rasa hatinya terhadap pemuda itu…..

********************

Malam itu Pangeran Ciu Wan Kong dan isterinya juga bercakap-cakap dengan serius.

“Isteriku, sudah banyak engkau menceritakan kepadaku tentang diri Si Han Bu, muridmu yang kau sayang sebagai anak sendiri itu. Sekarang setelah dia datang dan aku bertemu dengan dia, aku melihat kebenaran ceritamu. Memang dia seorang pemuda yang gagah dan tampan, juga wajahnya selalu cerah berseri. Selain itu dia benar-benar bertanggung jawab sehingga usahanya untuk mendapatkan kembali Tek-pai sudah berhasil baik. Aku suka sekali dengan pemuda itu!”
“Syukurlah, Pangeran. Memang dia adalah seorang murid yang baik, patuh dan berbakti seperti anakku sendiri,” kata Cui Eng.
“Karena itu timbul gagasan yang amat baik dalam pikiranku, Eng-moi. Alangkah baiknya kalau Si Han Bu itu menjadi jodoh anak kita Ciu Thian Hwa! Mereka serasi sekali, bukan? Yang pria gagah dan tampan, yang wanita cantik jelita dan keduanya sama-sama memiliki ilmu silat tinggi.”

Im-yang Sian-kouw terkejut karena gagasan suaminya itu begitu tiba-tiba dan sama sekali tidak terduga olehnya. “Si Han Bu menjadi mantu kita?”

“Ya, mengapa tidak, Isteriku? Bukankah engkau telah mengenal betul wataknya yang baik sehingga kelak tidak akan mengecewakan kalau dia menjadi mantu kita?”

Im-yang Sian-kouw mengerutkan alisnya, mengangguk-angguk membenarkan penilaian suaminya terhadap Han Bu, akan tetapi tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya.

“Nanti dulu, Suamiku. Kita tidak boleh mengambil keputusan tergesa-gesa. Memang kita berdua akan senang sekali kalau dapat memiliki menantu seperti Han Bu yang pasti tidak akan mengecewakan hati kita. Akan tetapi....”
“Akan tetapi, apa? Apakah Han Bu tidak akan mau menjadi suami anak kita?”

Isterinya menggelengkan kepala. “Tidak, aku yakin tidak. Han Bu belum pernah jatuh cinta kepada seorang gadis, dan aku yakin dia tak akan menolak kalau kita mengusulkan perjodohan itu. Apa lagi agaknya dia sangat kagum terhadap Thian Hwa. Ingat ketika dia membela Thian Hwa, membebaskannya dari tahanan dan hampir saja tewas. Kemudian ia pun langsung membantu Thian Hwa, mengejar perempuan yang membawa Tek-pai dan berhasil mendapatkannya kembali. Aku yakin Han Bu akan senang kalau dapat menjadi suami Thian Hwa dan menjadi anak mantuku.”

“Nah, kalau begitu, tunggu apa lagi?”
“Pangeran, meski pun belum lama aku berkumpul dengan anak kita Thian Hwa, agaknya aku sudah bisa mengenal wataknya. Engkau yang lebih lama berkumpul dengannya tentu juga mengenalnya. Aku melihat anak kita itu mempunyai watak yang keras. Maka dalam urusan perjodohannya, kita harus hati-hati dan tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Biarlah ia yang memutuskan, apakah ia mau atau tidak berjodoh dengan Han Bu. Tak mungkin kita dapat memaksakan keinginan kita dalam urusan perjodohan kepada anak kita yang keras hati itu.”

Pangeran Ciu Wan Kong mengangguk-angguk. Sekarang dia baru teringat dan menyadari akan kebenaran ucapan isterinya itu. Dia juga sudah tahu akan kekerasan hati puterinya.

Pada keesokan harinya, suami isteri yang sudah tidak sabar menanti lebih lama lagi itu, mengingat bahwa usia Ciu Thian Hwa sudah mendekati dua puluh dua tahun, sudah lebih dari cukup dewasa untuk menikah, lalu memanggil Thian Hwa untuk diajak bicara dalam kamar mereka sehingga orang lain tidak ada yang dapat melihat atau ikut mendengarkan.

Melihat ayah ibunya duduk berdampingan dan memberi isyarat agar ia duduk di hadapan mereka, Thian Hwa merasa heran sekali. Dia memandang kepada mereka dengan sinar mata bertanya sebelum duduk di depan mereka.

“Duduklah, Thian Hwa. Kami ingin membicarakan urusan yang amat penting denganmu,” kata Im-yang Sian-kouw.
“Untuk sekarang ini, yang paling penting adalah penobatan Pangeran Kang Shi menjadi kaisar, Ibu. Hal itu baru akan dilaksanakan dua minggu lagi, tetapi aku sudah siap untuk mengawal bersama keluarga Pangeran Bouw Hun Ki.”
“Bukan soal itu, Thian Hwa,” kata Pangeran Ciu Wan Kong. “Memang penobatan kaisar adalah urusan yang amat penting, akan tetapi yang hendak kami bicarakan adalah urusan kepentingan pribadimu, dan kami juga.”
“Aih, Ayah dan Ibu membuat hatiku berdebar saja. Urusan pribadi apakah yang Ayah dan Ibu maksudkan?”
“Begini, Thian Hwa. Ibu masih ingat bahwa dahulu engkau terlahir pada Lak-gwe Cap-go (Bulan Enam Tanggal Lima Belas), berarti tiga bulan lagi engkau sudah berusia dua puluh dua tahun.” Cui Eng berhenti dan memandang wajah puterinya.

Wajah itu menjadi kemerahan dan Thian Hwa segera berkata. “Ah, terus terang saja, Ibu! Ibu dan Ayah hendak membicarakan urusan perjodohan, bukan?”

Pangeran Ciu Wan Kong tertawa. “Ha-ha, engkau memang anak pandai, cerdas dan jujur, dapat menduga sebelum kami bicara.”

“Thian Hwa,” kata Im-yang Sian-kouw Cui Eng. “Ibumu melahirkan engkau ketika berusia dua puluh tahun, menjadi isteri ayahmu ketika masih berusia sembilan belas tahun. Dan sekarang engkau sudah hampir dua puluh dua tahun, Anakku. Sudah sepantasnya kalau kami, ayah dan ibumu, ingin engkau agar segera menikah.”

Hening sejenak dan pada waktu itu ingatan Thian Hwa melayang kembali kepada masa lalu. Selama tiga tahun ini ia sudah bertemu banyak pemuda dan banyak pula pendekar-pendekar muda yang bijaksana dan baik, yang agaknya menaruh hati kepadanya. Namun dia merasa belum ada yang dia terima dan sekali dia menerima cinta seorang pemuda, ternyata cinta pemuda itu, ialah Pangeran Cu Kiong, palsu adanya! Kembali ia terkenang kepada Ui Yan Bun.

“Ayah dan Ibu, saat ini aku belum memikirkan hal itu....”
“Kami tahu, Nak. Memang tidak mudah untuk memilih seorang suami yang benar-benar baik. Tetapi ibumu ini mengenal seorang pemuda yang kiranya tepat sekali untuk menjadi calon suamimu. Aku sudah mengenalnya dengan baik dan aku merasa yakin bahwa dia akan dapat menjadi seorang suami yang sempurna bagimu.”

Thian Hwa mengangkat pandang matanya dan menatap wajah ibunya.

“Siapakah yang Ibu maksudkan?”
“Bukan lain adalah muridku sendiri, Si Han Bu. Ia telah kuanggap sebagai anakku sendiri maka kini alangkah baiknya kalau dia menjadi mantuku. Akan tetapi tentu saja kami ingin mendengar dulu pendapatmu, Thian Hwa. Keputusannya kami serahkan kepadamu, kami hanya mengusulkan karena kami yakin bahwa pilihan kami itu tidak keliru.”

Thian Hwa tersenyum geli. Si Han Bu, pemuda lucu yang agak berandalan itu? Memang pemuda yang baik dan gagah perkasa, juga sudah beberapa kali menolongnya.

“Ibu dan Ayah mudah saja menjodohkan orang. Apakah sudah ditanyakan kepada orang yang bersangkutan bahwa dia setuju dengan usul perjodohan itu?”
“Si Han Bu? Aku yakin dia setuju, Thian Hwa. Selain dia belum mempunyai pilihan, belum pernah dekat dengan seorang gadis, juga dia sudah memperlihatkan pembelaannya yang besar terhadap dirimu, itu saja sudah merupakan tanda bahwa dia cinta padamu.”

Thian Hwa tersenyum. “Sekali ini dugaan Ibu meleset. Bukan, Ibu, bukan aku yang dicinta oleh Han Bu, melainkan Wan Kim Hui itulah!”

“Puteri Lam-ong (Raja Selatan) Wan Cun? Ahh, aku melihat kedua orang muda itu sering berbantahan seperti akan bertengkar!” kata Im-yang Sian-kouw.
“Tampaknya memang demikian, Ibu. Akan tetapi di balik sikap keras mereka itu terdapat saling kagum dan saling mengasihi. Aku dapat melihat pada pandangan mata mereka dan menangkap getaran dalam suara mereka. Mereka itu saling mencinta, Ibu. Dan aku kira, karena sejak kecil Han Bu menjadi murid Ibu dan dia sudah yatim piatu, boleh dibilang dia adalah anak angkat Ibu. Karena itu aku akan merasa ikut bahagia kalau Ibu melamarkan Kim Hui untuk menjadi isterinya!”
“Ahh, benarkah itu, Thian Hwa? Kalau memang benar, hal itu mudah saja diatur dan kami kira Lam-ong tidak akan menolak kalau aku mengajukan pinangan.”
“Tentu tidak, Ibu. Lam-ong Wan Cun dan isterinya tentu sudah mendengar nama besar Ibu, bahkan Ibulah yang dulu memberi obat untuk menyembuhkan Nyonya Wan Cun. Aku yang akan mewakili Ayah dan Ibu untuk mengantarkan surat lamaran ke Bukit Siluman di Lam-hu.”
“Ahh, kalau begitu baik sekali!” kata Pangeran Ciu Wan Kong. “Akan tetapi engkau baru boleh pergi setelah upacara penobatan Kaisar dilaksanakan dengan baik dan selamat!”
“Tentu saja, Ayah.”
“Tetapi aku tetap tidak berani mengirim surat lamaran kalau aku belum mendengar bahwa Kim Hui mau pun Han Bu setuju untuk saling berjodoh. Coba panggil mereka sekarang juga, Thian Hwa!”

Thian Hwa lari dengan gembira mencari Han Bu dan Kim Hui yang kemudian dia temukan sedang duduk di taman gedung itu. Mereka duduk di sebuah bangunan kecil yang berada di tengah taman, duduk menghadapi kolam ikan.

“Aih, asyiknya!” Tiba-tiba Thian Hwa berkata sambil tersenyum.

Sepasang orang muda itu cepat menoleh dan mereka lantas bangkit berdiri. Maklum akan maksud seruan itu, keduanya tersenyum malu dan muka mereka berubah kemerahan.

“Ahh, Enci Thian Hwa! Mari duduk bersama kami, Enci. Sungguh lucu sekali melihat ikan-ikan emas itu berenang berkejaran, terutama yang gendut itu, kalau berenang tubuhnya berlenggang-lenggok seperti menari!” kata Kim Hui dan dia pun tertawa.
“Nanti saja, sekarang yang terpenting kalian berdua dipanggil ayah dan ibuku! Hayo, kita pergi ke sana!”

Kim Hui dan Han Bu tentu saja merasa heran, akan tetapi mereka tidak berani menolak, lalu pergilah mereka bertiga ke ruangan dalam di mana Pangeran Ciu Wan Kong dan Im-yang Sian-kouw telah menanti.

“Paman Pangeran dan Bibi, ada keperluan apakah memanggil saya dan Han Bu?” Kim Hui langsung bertanya.

Han Bu diam saja, hanya mengambil tempat duduk ketika gurunya memberi isyarat agar mereka duduk. Tiga orang muda itu mengambil tempat duduk di depan suami isteri itu.

“Han Bu dan Kim Hui, kami telah merundingkan sebuah urusan yang akan kami bicarakan dengan kalian berdua. Karena kami tahu benar bahwa kalian berdua adalah orang-orang muda yang terbuka dan jujur, juga berani menghadapi apa pun, maka kami akan bicara secara terbuka dan mengharapkan agar kalian berdua juga menjawab dengan sejujurnya, tanpa sungkan dan malu. Nah, aku akan mulai denganmu, Han Bu. Engkau tahu bahwa aku bukan saja menjadi gurumu, akan tetapi juga sebagai pengganti orang tuamu, maka aku harus memenuhi tugasku sebagai orang tua. Engkau sudah cukup dewasa. Aku ingin melihat engkau berumah tangga dan hidup bahagia. Ketika aku bertemu dengan Wan Kim Hui, aku merasa yakin bahwa aku sudah menemukan seorang calon menantu yang baik. Nah, aku tidak akan memperpanjang kata, akan tetapi jawablah sejujurnya, Han Bu. Aku ingin menjodohkan engkau dengan Wan Kim Hui. Bagaimana, apakah engkau setuju?”

Wajah Han Bu mendadak menjadi merah sekali dan dia tidak dapat mengeluarkan suara. Dia menjadi salah tingkah. Belum pernah selama hidupnya dia mendapat ‘serangan’ tiba-tiba seperti ini, yang membuat dia tidak mampu bicara atau berbuat sesuatu, melainkan hanya menatap wajah gurunya seperti orang kehilangan akal!

“Hayo, Han Bu!” kata Thian Hwa, “Engkau bukan anak kecil lagi, bersikaplah jantan dan jawab pertanyaan Ibu dengan gagah dan sejujurnya!”

Han Bu menarik napas panjang berulang-ulang untuk menenangkan hatinya yang tegang dan pikirannya yang bingung. Akhirnya dia dapat menjawab,

“Subo (Ibu Guru), bagaimana mungkin teecu (murid) berumah tangga bila keadaan teecu masih seperti ini? Teecu tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki penghasilan, juga tidak memiliki tempat tinggal? Bagaimana mungkin teecu berani...?”
“Ha-ha-ha, Han Bu!” kata Pangeran Ciu Wan Kong. “Engkau memandang ringan kepada kami! Bukankah gurumu tadi sudah mengatakan bahwa engkau adalah murid dan juga anak kami sendiri? Mengapa mengkhawatirkan mengenai keadaanmu? Rumah kami juga rumah anak-anak kami, atau kalau engkau ingin memiliki rumah sendiri untuk membentuk keluarga, tentu kami bisa menyediakannya untukmu. Juga tentang pekerjaan. Mudah saja bagiku untuk mencarikan pekerjaan yang cocok untukmu.”

“Nah, sekali lagi aku bertanya, Han Bu. Apakah engkau setuju kalau engkau kujodohkan dengan Wan Kim Hui? Jawablah sejujurnya!” kata Im-yang Sian-kouw.

Han Bu melirik ke arah Kim Hui yang duduk di sampingnya. Dia melihat gadis itu sedang menundukkan mukanya yang kemerahan, menunduk dalam hingga dagunya menempel di lehernya dan dia merasa kasihan. Dia bisa membayangkan betapa besar rasa malu yang dirasakan gadis itu menghadapi pembicaraan terbuka tentang perjodohannya seperti itu! Han Bu mengeraskan hatinya agar berani menjawab dan dia lalu berkata.

“Subo, teecu akan berbohong jika teecu mengatakan tidak setuju. Akan tetapi sebaiknya diketahui lebih dulu pendapat Kim Hui. Kalau ia setuju, maka tentu saja teecu juga setuju sekali!”
“Bagus!” kata Im-yang Sian-kouw gembira. “Berarti setengah masalah ini sudah disetujui, tinggal setengah lagi. Nah, Kim Hui, engkau tentu sudah mendengar semua pembicaraan tadi dan sudah mengerti maksudnya. Sekarang kami ingin sekali mendengar jawabanmu. Apakah engkau setuju kalau menjadi calon isteri Si Han Bu?”

Wan Kim Hui adalah seorang gadis yang sejak kecil pemberani, galak, tinggi hati, bengal dan bahkan agak liar. Akan tetapi sekali ini, biar pun sejak tadi dia sudah mendengarkan dan tahu apa yang akan dia hadapi, tapi ketika ditanya begitu dia pun semakin menunduk sampai punggungnya agak membungkuk. Terdengar suaranya lirih.

“Aku... aku... ahh, aku tidak tahu....”

Thian Hwa memberi isyarat kepada ibunya dengan kedipan matanya, lalu dia menggeser kursinya mendekati Kim Hui dan merangkul pundaknya.

“Kim Hui, engkau juga seorang gadis yang telah dewasa dan engkau biasanya tabah dan berani menghadapi apa pun juga. Ke mana perginya keberanianmu? Kalau engkau setuju, katakan saja setuju, apa bila engkau tidak setuju, jangan sungkan dan takut, katakan saja tidak setuju. Hayo, jawablah pertanyaan Ibuku tadi.”

Kim Hui mengangkat mukanya, tapi tidak memandang siapa pun kecuali wajah Thian Hwa yang berada dekat dengannya.

“Enci Thian Hwa, aku masih memiliki ayah dan ibu, bagaimana aku bisa memutuskannya sendiri? Urusan perjodohanku, tentu saja aku serahkan kepada ayah dan ibuku.”

“Aihh, kukira hatimu tidak bicara begitu, Kim Hui. Benarkah bahwa jika ayah ibumu setuju, engkau pun akan setuju?”
“Tentu saja!” jawab Kim Hui tegas.
“Hemm, bagaimana seandainya ayah ibumu menyetujui engkau berjodoh dengan Wu Kan putera Jenderal Wu Sam Kwi itu...?”
“Tidak sudi! Sampai mati pun aku tidak akan sudi!” jawab Kim Hui tegas.
“Nah-nah-nah, jelas bukan ayah ibumu yang memutuskan tetapi engkau sendiri. Sekarang jawablah, kalau nanti Ibu melakukan pinangan kepada orang tuamu untuk menjodohkan engkau dengan Han Bu dan orang tuamu setuju, apakah engkau juga setuju?”

Dengan muka merah dan senyum malu-malu Kim Hui mengangguk, lalu menundukkan kepalanya lagi.

“Ehh, mana jawabanmu, Kim Hui? Apakah kau setuju?”

Kembali Kim Hui mengangguk dan tersenyum malu sambil menundukkan kepala.

“Ihh, mengangguk itu bukan jawaban. Jawablah yang jelas, Kim Hui. Engkau setuju atau tidak?”
“Aku setuju!” kini jawaban itu terdengar nyaring sehingga Pangeran Ciu Wan Kong dan Im-yang Sian-kouw tersenyum girang.
“Bagus! Kalau begitu kami akan segera menulis lamaran yang akan diantarkan oleh Thian Hwa ke Bukit Siluman di Lam-hu! Kapan engkau akan berangkat, Thian Hwa?”
“Setelah upacara penobatan Kaisar, Ibu.”
“Baik, dan bagaimana dengan engkau, Kim Hui? Apakah engkau akan pulang bersama Thian Hwa?” tanya Im-yang Sian-kouw kepada gadis itu.

Dengan sikap masih canggung dan malu-malu Kim Hui melirik ke arah Han Bu, kemudian berkata, “Sesungguhnya saya... saya masih ingin melihat-lihat dulu, Bibi. Saya berpamit kepada Ayah Ibu saya untuk merantau dan diberi waktu sampai dua tahun.”
“Subo, teecu telah berjanji kepada Saudara Ui Yan Bun untuk menemani dan melindungi Kim Hui, maka saya akan mengantarkan dan menemaninya sampai dia kembali ke rumah orang tuanya.”
“Baik sekali kalau begitu. Memang engkau harus bertanggung jawab,” kata Im-yang Sian-kouw.

Sesudah percakapan yang menegangkan hati Han Bu dan Kim Hui itu berakhir, mereka kembali ke dalam kamar masing-masing. Han Bu tidak dapat segera pulas karena hatinya masih berdebar. Dia merasa sangat berbahagia karena sejak pertemuan pertama dengan Wan Kim Hui, sesungguhnya dia sudah jatuh cinta. Akan tetapi ada perasaan was-was di dalam hatinya. Bagaimana kalau orang tua Kim Hui menolaknya? Ahh, tidak mungkin, dia menghibur kekhawatirannya. Mereka tentu melihat subo, apa lagi bukankah ibu dari Kim Hui telah diselamatkan nyawanya oleh gurunya?

Kim Hui juga tak dapat segera tidur. Selama hidupnya ia belum pernah jatuh cinta kepada pria. Pernah ia merasa tertarik kepada Ui Yan Bun, akan tetapi karena sikap pemuda itu terhadap dirinya seperti seorang kakak, maka akhirnya rasa sukanya bukan berkembang menjadi cinta seorang wanita terhadap seorang pria, melainkan cinta seorang adik kepada kakaknya.

Dan ia pun harus mengakui bahwa ia tertarik sekali kepada Han Bu, bahkan merasa suka walau pun rasa sukanya itu selalu dipendam di balik sikapnya yang keras dan ini hanya merupakan bentuk kemanjaan. Begitu mendengar bahwa pemuda ini mencintanya, ia pun diam-diam merasa bahagia sekali.

Thian Hwa sendiri juga sukar memejamkan mata. Ia memang merasa amat lega dan ikut berbahagia bahwa Han Bu dan Kim Hui agaknya memang saling mencinta, sungguh pun tersembunyi. Akan tetapi kini dia merasa rindu sekali kepada Yan Bun. Belum pernah dia merindukan Yan Bun seperti sekarang ini.
Setelah semua yang dialaminya, kini baru ia menyadari bahwa pemuda kawan lama itulah yang paling menarik dan tidak pernah dapat dilupakannya. Apa lagi ketika dia mendengar dari Kim Hui bahwa sampai sekarang Yan Bun masih menantinya, mencintanya dan tidak pernah mencinta gadis lain. Sesudah lewat tengah malam, akhirnya ia dapat tidur dengan nama Yan Bun di bibirnya.

Pangeran Ciu Wan Kong dan isterinya, Im-yang Sian-kouw Cui Eng, sampai malam juga belum tidur. Suami isteri ini, terutama Im-yang Sian-kouw, memang merasa senang sekali bahwa muridnya yang dia anggap seperti anak sendiri itu akhirnya mendapatkan seorang jodoh. Akan tetapi suami isteri ini juga prihatin memikirkan puteri mereka, Ciu Thian Hwa!

Mereka tidak mungkin memilihkan jodoh untuk puteri mereka itu. Mereka sudah mengenal watak puteri mereka yang dalam perjodohan sudah pasti takkan mau dijodohkan dengan laki-laki yang tidak menjadi pilihan hatinya sendiri. Yang amat menyedihkan hati mereka, hingga sekarang mereka belum melihat atau mendengar adanya pria yang menjadi pilihan hati Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa.

Karena merasa tidak berdaya menghadapi urusan perjodohan puteri mereka, Pangeran Ciu Wan Kong akhirnya berkata kepada isterinya.

“Mari kita serahkan saja masalah anak kita kepada Thian Yang Maha Kuasa. Sebaiknya setiap tengah malam kita bersembahyang, mohon kepada Thian Yang Maha Kuasa agar anak kita itu segera menemukan jodohnya.”

Suami isteri itu lantas keluar dari kamar, menuju ke kebun atau taman belakang dan pada tengah malam itu, mereka berdua menyalakan hioswa (dupa biting) dan bersembahyang kepada Tuhan…..

********************

Upacara penobatan kaisar baru, yaitu Pangeran Kang Shi yang baru berusia kurang lebih sebelas tahun itu berlangsung dengan khidmat namun meriah, dan berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Sesudah dinobatkan sebagai kaisar berjuluk Kaisar Kang Shi, mula-mula kaisar kecil ini didampingi dan dibantu oleh Pangeran Bouw Hun Ki, pamannya yang juga dapat dianggap sebagai gurunya.

Tiga hari setelah penobatan kaisar, pada suatu pagi Han Bu dan Kim Hui berpamit untuk meninggalkan rumah Pangeran Ciu Wan Kong. Mereka bermaksud hendak kembali ke rumah orang tua Wan Kim Hui di dekat kota Lam-hu, akan tetapi dengan mengambil jalan memutar karena Kim Hui ingin merantau dulu menambah pengalamannya sebelum pulang ke rumah orang tuanya.

Pada waktu kaisar baru dinobatkan, di antara mereka yang diundang juga termasuk para pendekarmuda yang telah berjasa membantu pemerintah menentang pemberontak. Maka ketika itu Han Bu dan Kim Hui juga diajak oleh Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa sebagai tamu kehormatan.

Dalam kesempatan ini mereka berkenalan dengan keluarga Pangeran Bouw dan segera menjadi akrab dengan Bouw Kun Liong, Bouw Hwi Siang, Bu Kong Liang, dan Gui Siang In. Dalam kesempatan itu Thian Hwa juga mendengar berita menggembirakan bahwa Bu Kong Liang sudah dipertunangkan dengan Bouw Hwi Siang, sedangkan Bouw Kun Liong dipertunangkan dengan Gui Siang In!

Setelah Han Bu dan Kim Hui pergi, Thian Hwa juga berpamit kepada ayah ibunya untuk mengantar surat lamaran Im-yang Sian-kouw kepada keluarga Wan Cun, datuk selatan yang berjuluk Lam-ong (Raja Selatan) itu. Akan tetapi gadis ini tidak menceritakan kepada ayah ibunya bahwa sebelum pergi ke Bukit Siluman dekat kota Lam-hu tempat tinggal keluarga Wan, ia akan mencari Ui Yan Bun di Lembah Sungai Huang-ho.

Pada suatu senja tampak seorang gadis cantik meluncur di atas permukaan air Huang-ho (Sungai Kuning) yang pada bagian itu airnya mengalir tenang. Gadis itu meluncur cepat seperti terbang atau terapung di atas air. Senja itu di tepi sungai sudah mulai sepi. Tetapi ada beberapa orang melihat gadis itu dan mereka memandang dengan muka pucat. Lima orang nelayan ini percaya sepenuhnya akan adanya dewa-dewa dan dewi-dewi penunggu sungai. Maka ketika melihat ada seorang gadis cantik ‘berjalan’ di permukaan air dengan cepatnya, mereka segera berseru ketakutan.

“Huang-ho Sian-li (Dewi Sungai Kuning)...! Huang-ho Sian-li…!” berulang-ulang mereka berseru lalu menjatuhkan diri berlutut ke arah sungai!

Orang-orang itu tentu salah menduga, akan tetapi tidak salah menyebut. Meski pun gadis itu bukan dewi, melainkan seorang manusia biasa, ia adalah Ciu Thian Hwa yang berjuluk Dewi Sungai Kuning!

Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa mempergunakan papan selancar untuk meluncur dengan cepat di permukaan air sungai, menggunakan sinkang (tenaga sakti) pada kedua kakinya, menggenjot dan mendorong sehingga papan itu meluncur dengan cepat sekali menuju ke tempat tinggal Ui Houw, ayah Ui Yan Bun. Hatinya merasa gelisah, harap-harap cemas. 

Bagaimana kalau Yan Bun tidak berada di sana?

Ia merasa pikirannya makin gelap, seperti gelapnya cuaca yang menjelang malam. Akan tetapi tiba-tiba saja ia melihat bulan muncul, besar dan gemilang, seolah memberi cahaya harapan kepadanya. Kegelapan pikirannya menghilang dan dengan senyum di bibirnya ia mempercepat luncurannya ke depan, seolah sedang menyongsong bulan, menyongsong kebahagiaan setelah selama ini mengalami banyak kepahitan dalam hidupnya.....
T A M A T

>>>>   SERIAL DEWI SUNGAI KUNING SELESAI SAMPAI DI SINI   <<<<
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger