logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Pendekar Bongkok Jilid 04

Gadis cilik itu membalapkan kudanya naik ke bukit itu. Seorang gadis mungil, berusia antara sebelas dan dua belas tahun dengan wajah yang manis dan sepasang mata yang jeli dan indah. Anak perempuan itu mengenakan pakaian cukup indah dan cara dia menunggang kuda membuktikan bahwa ia sudah biasa dengan permainan ini.

Kudanya juga seekor kuda yang baik sekali, dengan tubuh panjang dan leher panjang. Anak perempuan itu seperti berlomba saja ketika melarikan kudanya semakin cepat, padahal jalan itu tidak rata dan mendaki.

Akan tetapi, agaknya dia memang sudah biasa dengan daerah ini. Kudanya pun bukan baru sekali itu saja membalap ke arah puncak bukit, di mana terdapat banyak rumput hijau segar yang gemuk dan yang akan dinikmatinya sebagai hadiah bila mereka sudah tiba di puncak.

Akhirnya tibalah mereka di puncak bukit yang merupakan tanah datar dengan padang rumput yang luas. Gadis cilik itu meloncat turun, ia dan kudanya bermandi keringat, dan keduanya nampak gembira. Apa lagi setelah anak perempuan itu melepaskan kendali kuda dan membiarkan kudanya makan rumput dan ia sendiri menjatuhkan diri duduk di atas rumput yang tebal.

Keduanya sungguh menikmati keindahan alam, hawa udara yang berbau harum itu, bau tanah dan tumbuh-tumbuhan yang segar. Kicau burung menambah semarak suasana. Beberapa lamanya anak perempuan itu rebah telentang di atas rumput, melepaskan lelah dan memejamkan mata. Alangkah nikmatnya telentang di atas rumput seperti itu! Lebih nikmat dari pada rebah di atas kasur yang paling lunak dengan tilam sutera yang paling halus.

Akan tetapi seekor semut yang agaknya tertindih olehnya, menggigit tengkuknya. Dia bangkit dan menepuk semut itu, membuangnya sambil bersungut-sungut.

“Semut jahil kau!” katanya dan kini ia menoleh kepada kudanya.

Ketika ia melihat betapa kuda itu makan rumput dengan lahapnya, nampak enak sekali dengan mata yang lebar itu berkedap-kedip melirik ke arahnya, ia menelan ludah dan perutnya tiba-tiba saja merasa lapar sekali.

Anak perempuan itu adalah Yauw Bi Sian. Seperti telah kita ketahui, Bi Sian tinggal bersama ayahnya, Yaw Sun Kok, di kota Sung-jan, di ujung barat Propinsi Sin-kiang. Di tempat tinggalnya banyak terdapat penduduk asli Suku Bangsa Kirgiz, Uigur, dan Kazak yang ahli menunggang kuda.

Oleh karena keadaan lingkungan ini, sejak kecil pun Bi Sian pandai menunggang kuda. Apa lagi ia memang menerima latihan ilmu silat dari ayahnya, maka menunggang kuda merupakan satu di antara kepandaian yang cocok untuknya. Ayahnya yang sayang sekali kepadanya bahkan membelikan seekor kuda yang baik untuknya dan sudah biasa Bi Sian membalapkan kudanya pergi seorang diri menyusuri padang-padang rumput dan lembah-lembah.

Kepergian Sie Liong membuat anak perempuan ini berduka. Berhari-hari dia menangis dan mendesak ayah ibunya supaya mencari Sie Liong sampai dapat dan mengajaknya pulang. Ia merasa kehilangan sekali karena ia tumbuh besar di samping paman kecilnya itu yang merupakan paman, juga kakak, juga sahabat baiknya. Semua hiburan ayah ibunya tidak dapat mengobati kesedihannya ketika ayahnya gagal menemukan kembali Sie Liong. Akan tetapi, lambat laun ia mampu juga melupakan Sie Liong.
Image result for PENDEKAR BONGKOK
Pada hari itu, setengah tahun setelah Sie Liong pergi, ia membalapkan kuda seorang diri menaiki bukit itu. Matahari sudah condong ke barat. Ketika melihat kudanya makan rumput, tiba-tiba Bi Sian merasa perutnya menjadi lapar sekali.

Dia pun bangkit berdiri dan menghampiri kudanya. Dirangkulnya leher kudanya. Kuda itu dengan manja mengangkat kepala dan mengusapkan pipinya pada kepala gadis cilik itu.

“Hayo kita pulang, hari sudah sore,” bisik Bi Sian dan dia pun memasangkan kembali kendali kudanya.

Pada saat itu, muncul lima orang laki-laki kasar. Mereka itu berusia rata-rata tiga puluh tahun dan mereka menghampiri Bi Sian sambil tersenyum menyeringai. Karena tidak mengenal mereka, Bi Sian mengerutkan alisnya dan tidak mempedulikan mereka.

Akan tetapi ketika melihat gadis cilik itu hendak meloncat naik ke punggung kuda, tiba-tiba seorang di antara mereka melangkah maju dan merampas kendali kuda dari tangan Bi Sian.

“Perlahan dulu, nona. Berikan kuda ini kepada kami!” katanya.

Bi Sian terkejut dan marah. Ia sama sekali tidak merasa takut, sama sekali tidak ingat bahwa ia berada di tempat yang sunyi sekali dan lima orang itu jelas bukan orang baik-baik. Telunjuknya menuding ke arah muka orang yang merampas kudanya.

“Siapa kalian? Berani kalian mengambil kudaku?!” bentaknya.
“Ha-ha-ha, bukan hanya kudamu, nona, akan tetapi segala-galanya yang ada padamu. Hayo lepaskan semua pakaianmu, kami juga minta semua pakaianmu itu.”

Bi Sian terbelalak, bukan karena takut melainkan karena marahnya. Saking marahnya, ia tidak mengeluarkan kata-kata lagi, tetapi ia sudah meloncat ke depan dan memukul ke arah perut orang yang bicara itu, seorang laki-laki brewokan yang agaknya menjadi pemimpin mereka.

Serangannya cepat sekali datangnya. Maklum, biar pun usianya baru hampir dua belas tahun, akan tetapi semenjak kecil Bi Sian sudah menerima gemblengan ayahnya yang pandai sehingga dalam usia sekecil itu ia sudah mempunyai ilmu silat yang lumayan, terutama gerakannya cepat sekali walau pun dalam hal tenaga, ia masih belum kuat benar.

Sambil tertawa-tawa si brewok itu mencoba untuk menangkap, akan tetapi dia kalah cepat.

“Bukkk!”

Perutnya kena dihantam tangan yang kecil itu dan dia pun terjengkang. Biar pun tidak terlalu nyeri, akan tetapi dia terkejut dan juga merasa malu. Kawan-kawannya segera menubruk dan tentu saja Bi Sian tidak mampu melawan lagi ketika mereka itu sudah meringkusnya.

“Lepaskan dia!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

Seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun lebih, muncul di tempat itu. Bi Sian segera mengenal pemuda ini yang bukan lain adalah Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di Sung-jan. Pemuda yang pernah berkelahi dengan dia dan Sie Liong. Pemuda yang oleh ayahnya dicalonkan menjadi suaminya!

Lima orang itu membalik dan memandang kepada Lu Ki Cong tanpa melepaskan kedua lengan Bi Sian yang mereka telikung ke belakang.

“Hemmm, bocah lancang, siapa kau?!” bentak si brewok sambil menghampiri Ki Cong dengan sikap mengancam.

Tapi pemuda remaja itu tidak menjadi gentar. Ia pun melangkah maju, membusungkan dada dan menjawab dengan lantang, “Namaku Lu Ki Cong, putera dari Lu-ciangkun, komandan keamanan di Sung-jan!”

“Ahhh...!” Si brewok terkejut dan melangkah mundur mendekati teman-temannya yang juga terkejut dan memandang ketakutan.
“Maaf... maafkan kami... kongcu...” Si brewok berkata dengan suara gemetar.

Lu Ki Cong melangkah maju lagi. “Kalian tidak tahu siapa gadis ini? Dia adalah puteri Yauw Taihiap, seorang pendekar besar di Sung-jan, dan ia tunanganku, mengerti?”

“Maaf... maaf...” Sekarang lima orang itu cepat-cepat melepaskan Bi Sian dan mereka menggigil ketakutan.
“Kalian patut dihajar!”

Ki Cong lalu melangkah maju. Tangan kakinya bergerak, menampar serta menendang. Lima orang itu jatuh bangun, kemudian mereka melarikan diri tunggang langgang, pergi meninggalkan kuda tunggangan Bi Sian.

Sejenak dua orang muda remaja itu saling pandang dan dalam pandang mata Bi Sian ada sinar kagum. Tidak disangkanya pemuda yang nakal itu memiliki keberanian dan kegagahan!

“Terima kasih...” katanya lirih, agak malu-malu mengingat bahwa tadi pemuda itu sudah memperkenalkan ia sebagai tunangannya kepada para penjahat.

Ki Cong tersenyum bangga, lalu mendekati gadis cilik itu. “Sian-moi, perlu apa berterima kasih? Sudah semestinya kalau aku membela dan melindungimu, kalau perlu dengan jiwa ragaku, bukankah engkau ini tunanganku dan calon isteriku?” Berkata demikian, Ki Cong mendekat dan tangannya lalu memegang lengan Bi Sian dengan mesranya.

Merasa betapa lengannya diraba dengan mesra, meremang rasanya bulu tengkuk Bi Sian. Dia pun segera menarik tangannya dengan renggutan, lalu melangkah mundur. Alisnya berkerut.....
“Aku tidak minta pertolonganmu, dan aku bukan tunanganmu!” bentaknya marah.
“Aihh, jangan bersikap seperti itu kepadaku, calon suamimu, Sian-moi. Ingat, di antara orang tua kita sudah setuju akan perjodohan kita...”
“Aku tidak peduli! Aku tidak sudi!” kembali Bi Sian membentak.
“Sian-moi, jangan begitu. Mengapa engkau membenci aku? Apakah aku tidak menang segala-galanya dibandingkan anak bongkok itu?”

Mendadak sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar kemarahan yang bagaikan bernyala. “Jangan menghina paman Sie Liong! Aku sayang padanya dan dia sepuluh kali lebih baik dari padamu!”

Karena pertolongannya tadi agaknya tidak mendatangkan perasaan berterima kasih dan bersyukur dari gadis cilik itu, Ki Cong menjadi penasaran dan dia berkata dengan kasar, “Sian-moi, engkau sungguh tidak tahu budi! Kalau tadi tidak ada aku, apa yang terjadi padamu? Bukan saja kuda dan pakaianmu diambil orang, mungkin juga engkau sudah diperkosa! Dan engkau sedikit pun tidak berterima kasih kepadaku!”

“Hemm, sudah kukatakan bahwa aku tidak pernah minta pertolonganmu dan tadi aku sudah bilang terima kasih. Mau apa lagi?”

“Setidaknya engkau harus memberi ciuman terima kasih!” kata Ki Cong yang tiba-tiba menangkap lengan gadis cilik itu dan hendak merangkul serta mencium. Akan tetapi Bi Sian menggerakkan tangannya.

“Plakkk!”

Pipi pemuda remaja itu kena ditampar sampai merah. Ki Cong menjadi marah.

“Kau memang tidak tahu terima kasih!” Lalu dia menangkap kedua pergelangan tangan Bi Sian.

Gadis cilik itu meronta-ronta, akan tetapi ia kalah tenaga dan kini Ki Cong telah berhasil merangkulnya, mendekap dan mencari muka anak perempuan itu dengan hidungnya. Akan tetapi Bi Sian meronta dan membuang muka ke kanan kiri sehingga ciuman yang dipaksakan oleh Ki Cong itu tidak mengenai sasaran.

Tiba-tiba nampak ada tongkat bergerak ke arah kepala Ki Cong dan memukul kepala pemuda remaja itu.

“Tokkk!”

Seketika kepala itu menjendol sebesar telur ayam dan Ki Cong pun berteriak mengaduh sambil meraba kepalanya yang rasanya berdenyut-denyut. Ia melepaskan rangkulannya pada Bi Sian dan membalik. Ketika dia melihat seorang kakek gembel yang tua berdiri sambil memegang sebatang tongkat butut, dia marah sekali.

“Kau... kau berani memukul aku?” bentaknya sambil melangkah maju mendekati kakek tua renta itu dengan sikap mengancam.

Kakek yang rambutnya putih riap-riapan dan pakaiannya tambal-tambalan itu adalah Koay Tojin. Dia kebetulan saja lewat di bukit itu dan sejak tadi melihat apa yang terjadi, kemudian mengemplang kepala Ki Cong dengan tongkatnya. Kini dia tertawa terkekeh-kekeh.

“Aku! Memukulmu? Heh-heh-heh, yang memukul adalah tongkat ini, bukan aku!”
“Gembel tua busuk! Mana bisa tongkat memukul sendiri kalau tidak kau pukulkan?”
“Siapa bilang tidak bisa?” Koay Tojin mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan berkata, “Tongkat, ada orang yang menghinamu, dikatakannya engkau tak bisa memukul sendiri. Sekarang tunjukkan bahwa engkau bisa memukul anjing dan orang kurang ajar, coba hajar pantatnya beberapa kali!”

Sungguh aneh sekali. Tongkat itu melayang terlepas dari tangan Koay Tojin, melayang di udara lalu menukik turun dan menghantam pantat Ki Cong.

“Plakk!”

Ki Cong berteriak kesakitan dan mencoba untuk menangkap tongkat, akan tetapi sia-sia dan kembali tongkat itu menghajar pantatnya. Ki Cong kini menjadi ketakutan setengah mati dan sambil berteriak-teriak dia pun lari tunggang langgang ke bawah bukit setelah tongkat itu menghajar pantatnya beberapa kali.

Melihat ini, Bi Sian tertawa senang sekali. Dia pun terheran-heran melihat betapa ada tongkat dapat memukuli orang kurang ajar. Kini tongkat itu sudah kembali ke tangan si kakek gembel. Bi Sian mendekati.

“Kakek yang aneh, sungguh hebat sekali tongkatmu itu! Apakah itu tongkat pusaka atau tongkat wasiat?”
“Heh? Pusaka? Wasiat? Ini tongkat butut, heh-heh-heh!”

Bi Sian makin mendekat, sedikit pun tidak merasa takut atau jijik kepada kakek gembel yang terkekeh-kekeh dan menyeringai seperti orang gila itu.

“Kakek, maukah engkau memberikan tongkat itu kepadaku?”
“Tongkat ini? Tongkat butut ini? Heh-heh, boleh saja...”

Bi Sian gembira bukan main dan menerima tongkat butut itu dari tangan Koay Tojin. Ia meneliti tongkat itu, akan tetapi hanya sebatang tongkat biasa saja, sebuah potongan ranting pohon yang sudah kering dan kotor. Ia lalu mencoba untuk menggerak-gerakkan tongkat itu, akan tetapi biasa saja, tidak ada keanehannya.

“Kek, maukah engkau mengajarkan aku caranya membuat tongkat ini dapat terbang dan memukuli orang kurang ajar? Aku ingin sekali belajar ilmu itu.”

Kakek itu tertawa bergelak. “Belajar ilmu memukul orang dengan tongkat? Untuk apa?”

“Wah, banyak sekali kegunaannya, kek. Pertama, tentu untuk melindungi diriku sendiri. Kedua, dapat kupergunakan pula untuk melindungi paman kecilku yang bongkok.”
“Paman kecil bongkok?”
“Ya, pamanku Sie Liong itu kecil-kecil sudah bongkok dan menjadi bahan hinaan orang. Si kurang ajar Ki Cong tadi juga menghinanya!”
“Sie Liong... anak... bongkok?” Koay Tojin berkata lambat dan seperti mengingat-ingat.
“Benar, kek! Apakah engkau pernah melihatnya? Sudah berbulan-bulan ia melarikan diri dari rumah ayah, kini entah berada di mana, aku rindu sekali padanya. Kek, bolehkah aku belajar ilmu itu?”

Koay Tojin mengelus jenggotnya, lalu tiba-tiba menjumput seekor kutu busuk di lipatan bajunya dan memasukkan kutu itu ke bibirnya. “Engkau sungguh mau menjadi muridku? Bukan hanya memainkan tongkat itu, bahkan juga mempelajari ilmu-ilmu lain yang akan membuat engkau menjadi orang paling lihai di dunia ini?”

“Mau, kek! Aku mau sekali!” kata Bi Sian girang.

Bi Sian mendapatkan perasaan bahwa ia berhadapan dengan orang sakti, seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Ayahnya pernah bercerita bahwa di dunia ini terdapat orang yang memiliki ilmu tinggi sehingga kepandaiannya seperti dewa saja.

Untuk beberapa detik Koay Tojin seperti kehilangan kesintingannya. Sepasang matanya yang mencorong itu menelusuri seluruh tubuh Bi Sian dengan penuh selidik. Kemudian, sikapnya yang sinting kembali lagi.

“Kau benar-benar mau? Tidak mudah, nona cilik! Pertama, engkau harus ikut ke mana pun aku pergi. Aku tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai apa pun, dan kau harus bersedia hidup seperti anak gembel seperti aku!”
“Apa sukarnya? Aku bersedia!” jawab Bi Sian dengan penuh semangat.

Dia teringat kepada paman kecilnya yang tentu hidup sebagai gembel pula. Dan tidak mungkin akan mati kelaparan kalau menjadi murid seorang yang demikian sakti seperti pengemis tua ini.

“Dan untuk waktu yang tidak sedikit! Sedikitnya tujuh tahun engkau harus mengikuti aku, atau sampai aku mati!”
“Aku setuju!”
“Dan mentaati semua perintahku!”
“Setuju!”
“Ha-ha-ha-ha...” Kakek itu tertawa bergelak, berdiri sambil memegangi perutnya yang terguncang, kepalanya menengadah dan mulutnya ternganga.

Melihat ini, Bi Sian ikut tertawa. Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja kakek yang tadinya menengadah itu kini membungkuk, dan menjatuhkan diri di atas rumput lalu menangis.

“Hu-hu-huuhhh...”

Tentu saja Bi Sian tidak mau ikut nenangis, melainkan ikut duduk di atas rumput. Dia sejenak memandang kakek yang menangis tersedu-sedu itu dengan bengong. Karena kakek itu tidak juga berhenti menangis, ia menjadi tidak sabar dan mengguncang lengan kakek itu dengan tangannya. Kakek ini tentu gila, dia mulai curiga, akan tetapi dia tidak merasa takut, melainkan geli.

“Kek, kenapa menangis?”

Tiba-tiba kakek itu menghentikan tangisnya, memandang kepada Bi Sian dengan mata kemerahan dan muka yang basah air mata, kemudian dia mewek lagi dan menangis terisak-isak.

Tangis, seperti juga tawa, memang memiliki daya tular yang ampuh. Biar pun tadinya Bi Sian tidak mau ikut menangis, kini melihat betapa tangis kakek itu tidak dibuat-buat, melainkan menangis sungguh-sungguh, tanpa disadarinya lagi air matanya mulai keluar dari kedua matanya, menetes-netes menuruni kedua pipi.

Bi Sian terkejut sendiri ketika menyadari akan hal ini. Cepat ia menghapus air mata dari kedua pipinya dan memegang lengan kakek itu, mengguncangnya dan bertanya.

“Hei, kakek, kenapa kau menangis? Mengapa? Aku jadi ikut menangis, maka aku ingin tahu lebih dulu apa yang kita tangiskan seperti ini. Orang tertawa atau menangis harus ada sebabnya, kalau tanpa sebab kita bisa dianggap sebagai orang gila!”

Tiba-tiba saja kakek itu berhenti menangis dan kini dia tertawa. Melihat anak perempuan itu memandangnya dengan mata terbelalak, dia pun berkata sambil mencela. “Mengapa kita tidak boleh tertawa dan menangis tanpa sebab? Kita tertawa atau menangis dengan menggunakan mulut kita sendiri, tidak meminjam mulut orang lain, apa peduli pendapat orang lain?”

“Tapi kau tertawa dan menangis tanpa memberi tahu sebabnya, sungguh membikin aku menjadi bingung, kek. Biasanya orang yang menangis dan tertawa tanpa sebab hanya orang-orang yang miring otaknya, dan aku yakin engkau bukan orang sinting.”

“Ha-ha-ha-ha, kau kira orang sinting itu jelek? Di dunia ini, mana ada orang yang tidak sinting? Aku tertawa karena hatiku sedang gembira mendapatkan seorang murid yang baik seperti engkau. Dan aku menangis karena harus mewariskan ilmu-ilmu kepadamu. Hu-hu-huuhhh...” Kembali dia menangis.

Bi Sian mengerutkan alisnya. “Sudahlah, kek. Jangan menangis. Kalau memang engkau tidak rela mewariskan ilmu-ilmu kepadaku, sudah saja jangan menjadi guruku.”

“Apa?!” Seketika tangis itu terhenti dan dia memandang dengan mata terbelalak. “Aku bukan takut kehilangan ilmu karena biar kuwariskan kepada seratus orang pun tak akan habis, hanya ingat akan mewariskan itu aku jadi ingat bahwa berarti aku akan mati! Dan aku takut... aku takut mati...”
“Hemm, engkau takut mati, kek?”

Kakek itu berhenti lagi setelah tangisnya disambung dengan wajah ketakutan, dan dia memandang wajah Bi Sian. “Apa kau tidak takut mati?”

Anak perempuan itu menggelengkan kepala, pandang matanya jujur terbuka dan tidak pura-pura.

“Kenapa aku harus takut, kek? Orang takut itu kan ada yang ditakutinya. Kalau urusan kematian, kita kan tidak tahu apa itu kematian, bagaimana itu yang namanya mati. Lalu kenapa takut kepada sesuatu yang tidak kita mengerti? Aku tidak takut mati, kek!”

Kakek itu terbelalak, memandang kepada anak perempuan itu dengan penuh heran dan kagum. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut di depan Bi sian. “Kau pantas menjadi guruku! Ajarilah aku bagaimana agar aku tidak takut mati! Aku mau menjadi muridmu...”

Bi Sian melongo. Berabe, pikirnya. Kakek gembel yang memiliki ilmu kesaktian sangat tinggi ini agaknya memang benar-benar sinting!

“Wah, jangan begitu, kek. Bukankah aku yang menjadi muridmu dan sudah sepatutnya aku yang berlutut? Bangkitlah dan biar aku yang berlutut memberi hormat kepadamu.”

“Tidak! Tidak!” Koay Tojin bersikeras. “Sebelum engkau mau mengajari aku bagaimana caranya agar tidak takut mati, aku tidak mau bangkit dan akan berlutut terus di depanmu sampai dunia kiamat!”

Bi Sian seorang anak yang baru berusia sebelas tahun lebih, bagaimana mungkin dapat memikirkan hal yang rumit dan penuh rahasia seperti kematian? Dia seorang anak yang masih belum dewasa, masih bocah. Akan tetapi justru kepolosannya itu yang membuat dia memiliki pemandangan polos dan sederhana, tidak seperti orang dewasa yang suka mengerahkan pikirannya sehingga muluk-muluk dan berbelit-belit. Bi Sian hanya berpikir sebentar, mengapa ia tidak pernah takut akan kematian.

“Gampang saja, kek. Jangan pikirkan mengenai mati karena kita tidak mengerti. Jangan pikirkan dan kau tidak akan pusing, tidak akan takut!”

Jawaban itu memang sederhana dan sama sekali tanpa perhitungan. Akan tetapi dasar kakek itu sinting, dia menerimanya dan ‘mengolahnya’ di dalam benaknya.

“Jangan pikirkan... jadi pikiran yang mendatangkan rasa takut? Kalau aku tidur, pikiran tidak bekerja, apakah aku pernah takut? Tidak! Orang pingsan pun tidak pernah takut, apa lagi orang mati, sudah tidak bisa takut lagi! Jangan pikirkan...! Ha-ha-ha-ha, benar sekali! Tepat sekali! Itulah ilmunya!”

Dia pun bangkit, menyambar tubuh Bi Sian dan melempar-lemparkan tubuh itu ke atas. Ketika tubuh itu turun, ditangkap dan dilemparkan kembali, makin lama semakin tinggi.

Pada mulanya Bi Sian agak merasa ngeri juga. Akan tetapi betapa setiap kali meluncur turun tubuhnya lalu disambut dengan cekatan dan lunak, ia pun tidak lagi merasa ngeri, bahkan menikmati permainan aneh ini. Ketika tubuhnya dilempar ke atas, dia merasa seperti menjadi seekor burung yang sedang terbang tinggi. Maka mulailah ia mengatur keseimbangan tubuhnya supaya ketika dilempar ke atas, kepalanya berada di atas dan ketika meluncur turun, ia dapat membalikkan tubuh sehingga terjun dengan kepala dan tangan di bawah.

“Lebih tinggi, kek! Lebih tinggi lagi!” berkali-kali ia berteriak dengan gembira.

Kakek itu agaknya juga memperoleh kegembiraan luar biasa melihat muridnya itu sama sekali tidak takut, bahkan menantangnya untuk melemparkannya lebih tinggi! Muridnya itu benar-benar tidak berbohong dan tidak takut mati! Maka dia pun melemparkan tubuh anak perempuan itu makin lama semakin tinggi.

Bi Sian memang cerdik sekali dan juga memiliki keberanian luar biasa. Semakin tinggi lemparan itu, maka membuka kesempatan lebih banyak baginya untuk berjungkir balik dan membuat bermacam gerakan di udara sehingga ia semakin trampil dan cekatan.

Akan tetapi, betapa pun saktinya, Koay Tojin tetap merupakan seorang kakek tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, karena itu permainan yang membutuhkan pengerahan tenaga itu membuat dia merasa lelah. Mendadak dia melemparkan tubuh murid itu jauh ke kiri, ke arah sebatang pohon besar dan dia sendiri lalu meloncat ke bawah pohon itu, siap menerima tubuh muridnya kalau meluncur ke bawah.

“Heiii...!” Bi Sian berteriak kaget.

Akan tetapi tubuhnya sudah terlanjur masuk ke dalam pohon itu, disambut daun-daun dan ranting-ranting pohon sehingga mengeluarkan suara berkeresakan keras. Dengan ngawur Bi Sian mengulur kedua tangannya dan berhasil menangkap sebatang batang pohon dan memeluknya erat-erat. Pohon itu besar dan tinggi sekali sehingga kalau sampai ia terjatuh ke bawah, tubuhnya tentu akan remuk!

Koay Tojin sudah tiba di bawah pohon, menanti dan siap menyambut tubuh muridnya, akan tetapi tubuh itu tidak kunjung jatuh! Dia merasa heran dan berteriak ke atas, tanpa dapat melihat Bi Sian karena daun pohon itu memang lebat.

“Heiiiiii! Guruku... ehh, muridku yang tak takut mati! Di mana kau, he?”
“Kakek nakal! Kenapa kau melempar aku ke pohon ini?”

Mendengar suara anak perempuan itu, Koay Tojin tertawa bergelak saking gembira dan lega hatinya. “Ha-ha-ha, bukankah engkau tadi belajar terbang seperti burung? Kalau menjadi burung harus sekali waktu hinggap di dalam pohon!”

Kakek itu lalu meloncat ke atas dan di lain saat dia sudah duduk di atas sebuah cabang pohon, kemudian membantu Bi Sian terlepas dari batang yang dipeluknya dengan erat dan mendudukkan pula murid itu ke atas dahan pohon yang kokoh kuat.

“Suhu nakal.”
“Suhu...? Siapa suhu (guru)?”

Bi Sian memandang wajah kakek itu. “Hemm, sudah lupa lagikah suhu bahwa aku telah menjadi muridmu? Kalau tidak disebut suhu, apakah harus selalu disebut Pak Tua atau Kakek?”

“O ya benar! Engkau muridku, aku suhu-mu. Kenapa kau bilang aku nakal?”
“Lihat saja muka dan kulit tanganku ini. Balur-balur dan luka berdarah terkait ranting dan daun pohon.”

Koay Tojin memeriksa kulit muka, leher dan tangan yang baret-baret itu. “Ahh, itu tidak apa-apa. Engkau harus terbiasa hidup di atas pohon, karena sering kali kalau berada di hutan, aku tidur di atas pohon. Lebih enak dan aman kalau tidur di atas pohon, selagi pulas tidak dihampiri dan dicium harimau.”

Mau tidak mau Bi Sian bergidik ngeri. “Dicium harimau? Apakah suhu pernah dicium oleh harimau?”

“Wah, sudah sering!”
“Bagaimana rasanya, suhu?”
“Wah, geli! Kumisnya yang kaku itu menggelitik muka dan leher, dan pada waktu aku terbangun... wah, di depan mukaku sudah nampak moncong dengan gigi yang runcing dan mata yang menyala, dan napasnya yang berbau amis!”
“Kenapa dia tidak langsung menerkam, pakai cium-cium segala, suhu?”
“Ha-ha-ha, mana harimau mau langsung makan mangsanya sebelum mencium sepuas hatinya? Dia mencium untuk menikmati dulu bau harum dan sedap calon mangsanya. Untunglah bauku agak tidak enak, apek, sehingga ketika mencium-cium dan hidungnya menyedot bauku yang apek, harimau itu agak ragu-ragu, mungkin takut kalau dagingku beracun, ha-ha-ha! Keraguannya itu membuka kesempatan bagiku untuk menghajarnya sampai dia lari terpincang-pincang dan berkaing-kaing!”

Kakek itu tertawa gembira sambil menepuk-nepuk lututnya. Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. “Wah, aku lupa! Muridku, engkau harus mulai berlatih mengumpulkan hawa sakti, membangkitkan tenaga sakti di dalam tubuhmu!”

Tentu saja Bi Sian menjadi bingung. “Apa maksudmu, suhu? Aku tidak mengerti!”

Koay Tojin lalu memegang kedua pundak muridnya itu, mengangkatnya dan menjungkir balikkan tubuh anak itu sehingga kedua kaki Bi Sian kini tergantung ke dahan pohon, bergantung pada belakang lutut yang ditekuk dan kepalanya berada di bawah.

“Pertahankan keadaan seperti ini sekuatmu. Kedua tangan biarkan tergantung saja dan tarikan napas sepanjang mungkin. Kalau matamu berkunang, pejamkan mata.”
“Bagaimana kalau kakiku tidak kuat dan kaitannya pada dahan terlepas, suhu?”
“Bodoh! Jangan boleh terlepas! Kalau terlepas kan masih ada aku di sini! Nah, sambil bergantung begini kita bercakap-cakap!”

Dan Koay Tojin sendiri pun lalu menggantungkan kedua kakinya seperti halnya Bi Sian pada dahan yang lebih tinggi sehingga kini kepalanya berhadapan persis dengan kepala muridnya itu, dalam jarak sekitar dua meter. Bi Sian merasa lucu sekali berhadapan muka dengan kakek itu dalam keadaan terbalik.

“Nah, sekarang katakan siapa namamu!”
“Namaku Yaw Bi Sian, suhu.”
“Bagus, sungguh nama yang bagus. Bi Sian, gurumu ini dipanggil Koay Tojin, datang dari Himalaya akan tetapi sekarang menjadi gelandangan tanpa tempat tinggal tertentu.”
“Sekarang aku telah menjadi muridmu, suhu. Seorang murid harus berlutut memberi hormat kepada suhu-nya.”
“Benar, hayo lekas berlutut di depanku!”
“Bagaimana mungkin kalau kita bergantung seperti ini?”
“Ahh, benar. Aku lupa, mari kita turun dulu!”

Dan sebelum Bi Sian tahu apa yang terjadi, tubuhnya sudah meluncur turun ditarik oleh kakek itu dan tahu-tahu mereka telah berada di atas rumput lagi.

Bi Sian lalu menjatuhkan diri dan berlutut di depan Koay Tojin, memberi hormat sampai delapan kali. Koay Tojin girang bukan main. Dia tertawa bergelak sambil dua tangannya bertolak pinggang.

“Bagus, sekarang engkau telah menjadi muridku, Bi Sian. Bangkitlah!”

Akan tetapi Bi Sian tidak mau bangkit. “Tidak, aku tidak mau bangkit dan akan berlutut sampai dunia kiamat kalau suhu tidak meluluskan tuntutanku!”

Kakek itu memandang bengong, lalu terkekeh. “Heh-heh-heh, engkau ini persis seperti aku tadi, mau berlutut sampai kiamat! Mengapa engkau meniru-niru aku, heh?”

“Engkau lupa bahwa engkau ini guruku. Siapa lagi yang ditiru oleh murid kalau bukan gurunya?”
“Wah, wah, repot dah! Baiklah, katakan apa permintaanmu itu?”
“Ada tiga permintaanku yang harus suhu penuhi, baru aku mau bangkit. Kalau tidak, aku akan berlutut...”
“...sampai dunia kiamat!” Koay Tojin menyambut sambil terkekeh.

Bi Sian tersenyum juga. Alangkah lucunya keadaan itu, pikir Bi Sian. Apakah kegilaan suhu-nya sudah mulai menular padanya?

“Katakan apa tuntutanmu!”
“Pertama, sebelum aku pergi dengan suhu, aku harus pamit dulu kepada ayah ibuku.”
“Hemm, setuju! Akan tetapi sebentar saja, dari luar jendela. Pokoknya mereka itu tahu bahwa engkau pergi dengan aku.”
“Ke dua, aku akan menjadi murid suhu paling lama tujuh tahun saja. Setelah tujuh tahun aku akan pulang ke rumah orang tuaku.”
“Setuju! Tujuh tahun itu lama, mungkin sebelum tujuh tahun aku sudah mati...! Ehh, apa yang kukatakan ini? Mati... hih, aku takut... ah, tidak, tidak. Aku tidak takut. Mati itu apa? Jangan dipikirkan, ha-ha-ha!”

“Dan ke tiga...”
“Banyak amat!”
“Cuma tiga, suhu. Yang ke tiga dan terakhir, aku mau berkelana dengan suhu, hidup kekurangan. Akan tetapi aku tidak sudi kalau disuruh mengemis!”
“Waah, heh-heh-heh, aku memang gelandangan dan gembel, akan tetapi aku pun tidak pernah mengemis. Kalau ada orang memberi, aku terima, akan tetapi aku tidak pernah minta. Apa pun yang kita butuhkan, aku mampu adakan, untuk apa mengemis?”
“Benarkah? Suhu dapat mengadakan apa yang kita butuhkan?”
“Tentu saja?”
“Hemm, mana mungkin? Seperti sekarang ini, aku butuh sekali minum karena merasa haus, dapatkah suhu mengadakan semangkuk air jernih?”
“Heh-heh-heh, apa sukarnya? Semangkuk air jernih? Lihat ini, terimalah!”

Bi Sian terbelalak ketika tiba-tiba gurunya itu sudah mengulurkan tangan kirinya yang memegang sebuah mangkuk yang penuh dengan air jernih! Dia menerima mangkuk itu dan dengan sikap masih kurang percaya dan ragu-ragu ia mendekatkan mangkuk itu ke bibirnya, lalu minum air itu dengan segarnya.

“Suhu, dari mana suhu bisa memperoleh semangkuk air dingin ini?” tanyanya, sekarang keraguannya lenyap karena air itu terasa segar dan memang benar air jernih asli!

Sambil terkekeh kakek itu menerima mangkuk kosong yang dikembalikan Bi Sian dan bagaikan main sulap saja, tiba-tiba saja mangkok di tangannya itu pun dia lontarkan ke udara dan lenyap!

“Kuambil dari udara... heh-heh-heh!”

Bi Sian terbelalak. “Wah, enak kalau begitu!” teriaknya. “Kalau kita perlu makan, minum, rumah, pakaian, emas permata, kita tinggal ambil dari udara! Suhu, ajari aku melakukan hal itu, kita akan menjadi kaya raya!”

“Hushhh! Kau sudah gila? Tidak boleh begitu!”
“Mengapa tidak boleh?”
“Tidak perlu kuberi tahukan, kelak engkau akan mengerti sendiri. Nah, sekarang kuturuti permintaanmu tadi, mari kita kunjungi rumah keluarga orang tuamu agar engkau dapat berpamit dari mereka.”
“Itu kudaku di sana, suhu. Kita menunggang kuda saja!”
“Wah, aku tidak pernah menunggang kuda. Jika engkau mengikuti aku berkelana, tidak boleh menunggang kuda.”
“Tapi sayang sekali jika kuda itu ditinggalkan begitu saja. Setidaknya dia harus kubawa pulang. Marilah, kita boncengan, suhu!”
“Engkau naiklah, Bi Sian. Biar kakiku hanya dua buah, tiga dengan tongkatku, kiranya tidak akan kalah melawan kuda yang berkaki empat itu.”
“Mana mungkin, suhu?”
“Sudahlah, jangan cerewet, Bi Sian. Mari kita pergi!”

Mendongkol juga hati Bi Sian dimaki cerewet oleh gurunya. Boleh kau rasakan nanti, pikirnya. Ingin berlomba dengan kudaku yang larinya cepat bagaikan angin? Bagaimana pun juga, ia tidak percaya suhu-nya akan mampu menandingi kecepatan kudanya.

Ia pun lalu meloncat ke atas punggung kuda dan menoleh kepada gurunya yang masih duduk bersila di atas tanah. “Mari kita berangkat, dan cepatlah, suhu. Hari sudah mulai sore!”

Berkata demikian, Bi Sian lalu mencambuk kudanya dan membalapkan kuda itu berlari menuruni bukit dengan cepat. Setelah beberapa lamanya ia berlari, ia menoleh untuk melihat gurunya yang ditinggalkan jauh.

Tentu saja ia akan berhenti kalau melihat suhu-nya tertinggal jauh. Akan tetapi betapa kaget dan heran rasa hatinya melihat bahwa kakek itu sedang berjalan tepat berada di belakang kudanya, seolah-olah sedang melenggang seenaknya saja!

Ia merasa penasaran dan mencambuki kudanya, membalapkan kudanya makin cepat lagi. Setelah beberapa lamanya, kembali ia menoleh dan untuk ke dua kalinya matanya terbelalak melihat suhu-nya tetap berada di belakang kudanya, bahkan kini memegang ujung ekor kuda itu sambil tersenyum-senyum kepadanya!

Kini Bi Sian tidak ragu-ragu lagi. Suhu-nya memang seorang sakti seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Hatinya merasa kagum dan juga bangga, juga girang karena ia merasa yakin bahwa akan banyak ilmu yang hebat dapat diterimanya dari kakek aneh ini.

Akan tetapi suhu-nya sudah begitu tua. Rasa iba menyelinap di dalam hati Bi Sian dan kini ia membiarkan kudanya berlari lambat agar gurunya yang sudah tua itu tidak terlalu mengerahkan tenaga.

Tiba-tiba Bi Sian menghentikan kudanya. Mereka sudah tiba di kaki bukit dan ia melihat ada enam orang berdiri menghadang di tengah jalan. Mereka itu adalah lima orang perampok tadi, dan di belakang mereka ia mengenal Lu Ki Cong!

Tentu saja Bi Sian terheran-heran. Bagaimana lima orang perampok itu dapat berada di situ bersama Ki Cong dan agaknya di antara mereka tidak terdapat permusuhan sama sekali? Bukankah tadi lima orang ‘perampok’ itu dimaki dan dihajar oleh Lu Ki Cong?

“Heh-heh-heh, sahabatmu yang kurang ajar itu sudah menanti bersama lima orang anak buahnya.”

Bi Sian terkejut. “Anak buahnya? Tidak, suhu, mereka adalah lima orang perampok yang tadi malah dihajar oleh Ki Cong ketika mereka menggangguku!”

“Heh-heh-heh, dan kukatakan bahwa mereka adalah anak buahnya!”
“Kalian mau apa menghadang perjalananku?” Bi Sian membentak kepada lima orang itu. “Minggir!”

Akan tetapi, betapa heran rasa hati Bi Sian ketika ia melihat Lu Ki Cong menggerakkan tangannya dan berteriak kepada lima orang perampok itu. “Bunuh kakek gila itu dan tangkap gadis itu untukku!”

Lima orang itu bergerak ke depan dan mengepung Bi Sian dan Koay Tojin. Marahlah Bi Sian karena gadis yang cerdik itu sudah dapat menduga apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dia melompat turun dari atas kudanya dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Lu Ki Cong sambil memaki.

“Tikus busuk Lu Ki Cong! Sekarang aku mengerti akal busukmu. Kiranya lima orang ini adalah antek-antekmu yang sengaja kau suruh menggangguku tadi, kemudian engkau muncul sebagai jagoan yang mengundurkan mereka untuk bisa menarik hatiku! Engkau memang tikus busuk yang licik, curang, dan jahat sekali!”

Lu Ki Cong tak menjawab, akan tetapi lima orang tukang pukulnya itu kini menghampiri Bi Sian dan Koay Tojin dengan sikap mengancam.

Koay Tojin hanya tersenyum lebar, lalu dia berkata kepada Bi Sian, “Bi Sian, bukankah engkau ingin menghajar tikus-tikus itu? Nah, sekarang hajarlah mereka, jangan beri ampun seorang pun, terutama tikus cilik di belakang itu!”

Tentu saja Bi Sian menjadi ragu-ragu. Ia sudah maklum bahwa tak mungkin ia mampu mengalahkan lima orang tukang pukul itu. Tadi pun ia tak berdaya, bahkan menghadapi Lu Ki Cong pun ia kalah tenaga. Bagaimana kini ia harus menghajar enam orang itu?

“Tapi, suhu, bagaimana aku mampu...”
“Hushh! Bikin malu saja! Engkau kan muridku? Hayo hajar mereka dan kau gunakan tongkat bututku ini agar tanganmu tidak kotor!” Kakek itu menyerahkan tongkatnya.

Besarlah hati Bi Sian. Dia merasa percaya sepenuhnya akan kesaktian gurunya yang kadang-kadang seperti sinting itu. Gurunya memerintahkan supaya ia menyerang, tentu gurunya sudah siap sedia membantunya.

Dan tongkat itu agaknya sebuah tongkat wasiat, pikirnya. Buktinya, tadi tongkat itu bisa menghajar Ki Cong tanpa dipegang oleh suhu-nya. Kini tongkat itu berada di tangannya dan entah bagaimana, ia merasa hatinya besar dan penuh semangat ketika tongkat itu berada di tangannya.

Tanpa mempedulikan bahaya yang mungkin mengancam dirinya lagi, Bi Sian langsung menerjang ke depan menggerakkan tongkat butut di tangannya. Bagaimana pun juga, Bi Sian sejak kecil digembleng ilmu silat oleh ayahnya, maka ia memiliki gerakan yang gesit serta langkah yang teratur dan kuat.

Menghadapi serangan anak perempuan yang memegang tongkat butut itu, lima orang tukang pukul itu tentu saja memandang rendah sekali. Mereka adalah tukang-tukang pukul yang sudah biasa menggunakan kekerasan, dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup hebat, dan tenaga yang kuat.

Kalau tadi mereka ‘dihajar’ oleh Lu Ki Cong, hal itu memang disengaja dan sudah diatur sebelumnya, merupakan siasat Lu Ki Cong untuk menaklukkan hati Bi Sian yang keras. Ki Cong yang mengatur semuanya dan mempergunakan mereka.

Tadi Lu Ki Cong lari turun dari bukit, menemui mereka dan minta kepada mereka untuk menghajar serta membunuh kakek gembel yang sudah menghina dirinya, juga sekalian menangkapkan Bi Sian karena dia masih merasa penasaran bahwa gadis cilik itu tetap tidak mau tunduk kepadanya!

Sambil tersenyum mengejek, menyeringai lebar, salah seorang di antara mereka yang brewokan maju dan mengulur tangannya. Orang ini hendak menangkis, lalu menangkap dan merampas tongkat butut ketika Bi Sian memukulkan tongkat itu ke arah mukanya.

Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main karena tangannya itu tertahan di udara, tak bisa digerakkan seperti bertemu dengan suatu benda yang tak nampak. Sementara itu, tongkat butut di tangan Bi Sian sudah menyambar ke arah mukanya. Saking herannya melihat tangannya tidak dapat bergerak terus, si brewok itu tak sempat lagi mengelak.

“Plakkk!”

Tongkat itu menghantam mukanya, tepat mengenai hidungnya dan darah mengucur dari hidungnya yang seketika ‘mimisan’.

Melihat ini, dua orang temannya menubruk maju, seorang merampas tongkat, seorang lagi hendak meringkus Bi Sian. Akan tetapi kembali terjadi keanehan ketika mendadak dua orang itu terhenti gerakan mereka, dan seperti patung tak mampu lagi melanjutkan gerakan mereka.

Bi Sian sudah mengayun tongkatnya ke arah mereka, menyerang ke arah kepala.

“Tukkk! Tukkk!”

Dua buah kepala itu masing-masing kebagian sekali pukulan yang cukup keras dan seketika kepala itu keluar telurnya, menjendol biru!

“Heh-heh-heh, bagus sekali! Pukul terus, Bi Sian!”

Bi Sian sendiri terheran-heran mengapa tiga orang itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak dan makin yakinlah hatinya bahwa gurunya tentu mempergunakan kesaktian, atau tongkat wasiat itu yang lihai bukan main. Ia pun terus mendesak ke depan dan dua orang tukang pukul lainnya yang sudah menerjangnya, disambutnya dengan dua kali pukulan ke arah muka mereka.

Seperti yang terjadi pada teman-teman mereka, serangan dua orang itu juga tertahan dan mereka tidak mampu menggerakkan tangan ketika tongkat butut itu menyambar ke arah kepala mereka. Mereka baru dapat bergerak setelah kepala mereka terpukul dan hanya dapat menggosok-gosok kepala yang menjadi benjol oleh pukulan tongkat itu.

Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali. Mereka adalah tukang-tukang pukul yang jarang menemukan tandingan, dan di kota Sung-jan mereka amat ditakuti orang. Bagaimana kini menghadapi seorang anak perempuan saja mereka sampai terkena hajaran tongkat seorang demi seorang? Biar pun tidak sampai terluka parah akan tetapi pukulan tongkat itu mendatangkan rasa sakit di hati yang jauh melebihi rasa nyeri di bagian yang terpukul.

“Bocah setan, berani kau memukul kami?” bentak si brewok.
“Heh-heh-heh, muridku tidak kenal takut, tidak kenal mundur, tidak takut mati, tentu saja berani menghajar kalian, heh-heh. Hajar terus, Bi Sian, pukul anjing-anjing itu sampai mereka melolong-lolong!”

Dan Bi Sian yang kini sudah bersemangat dan bergembira sekali, menerjang terus! Biar pun lima orang itu kini sudah marah, bahkan mereka telah mencabut golok, namun apa artinya golok-golok itu kalau setiap kali digerakkan, selalu tertahan di udara? Akibatnya, mereka hanya menjadi bulan-bulanan sabetan dan pukulan tongkat di tangan Bi Sian.

Meski pun yang memukuli hanya seorang anak perempuan, akan tetapi karena anak perempuan itu sudah berlatih silat dan mempunyai tenaga cukup kuat, sedangkan yang dipukuli sama sekali tidak mampu mengelak, menangkis atau membalas, akhirnya tubuh mereka pun matang biru, muka mereka berdarah dan kepala benjol-benjol!

Melihat ini, bukan hanya lima orang tukang pukul itu yang mulai terkejut dan gentar, juga Lu Ki Cong terbelalak matanya. Ia pun membuat gerakan untuk menyelamatkan diri dan berlari pergi.

“Heh-heh, kau hendak lari ke mana? Bi Sian, jangan biarkan monyet kecil itu melarikan diri!” teriak Koay Tojin dan dia kelihatan menggapai dengan tangannya.

Anehnya, kedua kaki Ki Cong yang tadinya sudah melompat hendak berlari itu seperti menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan maju lagi. Sementara itu, Bi Sian yang marah sekali kepada pemuda yang menipunya itu, cepat lari menghampirinya dan tongkatnya lalu menghajar membabi-buta! Ki Cong yang sudah dapat bergerak kembali, mencoba melawan, akan tetapi hasilnya malah pukulan-pukulan itu semakin hebat.

“Heh-heh-heh, pukul kepalanya, hantam mukanya dan habiskan pantatnya. Biar tahu rasa monyet itu, heh-heh-heh!” Koay Tojin memberi semangat kepada muridnya.

Bi Sian terus menghajar Ki Cong hingga pemuda itu berdarah hidungnya, babak bundas penuh balur dan bengkak-bengkak membiru. Akhirnya pemuda itu pun menjatuhkan diri bergulingan di atas tanah sambil menangis!

Melihat ini, lima orang tukang pukul itu mencoba untuk menolong tuan muda mereka. Akan tetapi biar pun mereka mendesak maju dengan serentak, tiba-tiba saja gerakan mereka tertahan dan Bi Sian sudah membalik serta menghujankan pukulan tongkatnya kepada mereka!

Lima orang tukang pukul itu bukan orang bodoh. Walau pun tadinya mereka merasa penasaran dikalahkan oleh seorang anak perempuan, akan tetapi kini mereka maklum bahwa sesungguhnya bukan anak perempuan itu yang menghajar mereka, melainkan kakek gembel yang aneh itu. Maka, mereka menjadi gentar sekali. Kalau dilanjutkan, jangan-jangan mereka semua akan tewas oleh pukulan-pukulan anak perempuan yang galak itu!

Mereka lalu menyambar tubuh Lu Ki Cong yang masih menangis, dan melarikan diri dari situ sambil terhuyung dan terpincang-pincang! Suara tawa gelak Koay Tojin mengikuti mereka, membuat mereka semakin takut dan berusaha berlari secepatnya sampai jatuh bangun!

Bi Sian tidak mengejar karena ia sudah menjatuhkan dirinya di atas tanah. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya mandi peluh, akan tetapi wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum puas.

Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal, bahkan lalu menjatuhkan diri pula di atas tanah dekat Bi Sian, terus tertawa sanbil memegangi perutnya dan menggeliat-geliat. Melihat ini, Bi Sian kembali timbul dugaan bahwa gurunya ini walau pun memang sakti sekali, akan tetapi agaknya tidak lumrah manusia dan tentu akan dianggap sinting oleh orang lain.

Akan tetapi ia lebih tahu. Sinting atau tidak, suhu-nya ini seorang manusia luar biasa! Ia pun tahu benar bahwa suhu-nya yang tadi sudah membantunya, maka dengan begitu mudahnya ia menghajar enam orang tadi tanpa satu kali pun mendapat balasan pukulan dari mereka.

“Sudahlah, suhu. Apa sih yang sedang kau tertawakan begitu hebatnya?” katanya untuk menghentikan aksi gurunya. Benar saja. Koay Tojin menghentikan tawanya dan dia pun bangkit berdiri.

“Wah, kau hebat, Bi Sian. Kau hebat sekali, engkau sudah menghajar anjing-anjing itu sampai berkaing-kaing, heh-heh-heh!”

Bi Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. “Berkat pertolongan suhu! Aku berjanji akan belajar dengan tekun dan penuh semangat agar kelak tidak membuat susah suhu lagi kalau bertemu dengan anjing-anjing seperti tadi.”

Bi Sian lalu menunggangi kudanya lagi dan gurunya tetap berjalan di belakangnya. Kini Bi Sian mulai menaruh hormat kepada gurunya karena ia yakin akan kesaktian kakek itu, maka ia pun tidak berani membalapkan kudanya, takut kalau membuat orang tua itu menjadi kelelahan.

Karena itu, hari sudah mulai gelap ketika akhirnya mereka tiba di dalam kota Sung-jan. Atas petunjuk gurunya, Bi Sian menambatkan kuda itu di kebun belakang, kemudian ia pun menurut saja petunjuk suhu-nya bagaimana harus berpamit dari ayah bundanya.

“Kalau kita masuk ke dalam dan bertemu ayah ibumu, tentu mereka akan menahanmu dan mungkin sekali akan memusuhiku. Hal itu amat tidak enak, maka sebaiknya engkau menurut aku saja. Mari!”

Yaw Sun Kok dan isterinya berada di ruangan dalam. Sejak tadi Sie Lan Hong merasa gelisah dan beberapa kali dia menyuruh suaminya untuk pergi mencari dan menyusul puteri mereka yang belum juga pulang.

“Aku mulai khawatir, mengapa sampai hari telah menjadi gelap begini ia belum pulang juga. Sebaiknya kalau engkau pergi mencarinya,” bujuknya untuk ke beberapa kalinya.
“Ia pergi membawa kuda dan biasanya ia memang pulang setelah senja. Ada beberapa tempat yang biasa ia datangi dan aku tidak tahu yang mana yang ia kunjungi kali ini. Kalau aku mencari ke suatu tempat dan ia pergi ke lain tempat, mungkin aku akan bersimpang jalan dengannya. Biarlah kita tunggu sebentar lagi. Tidak perlu khawatir.”

“Akan tetapi, aku gelisah sekali. Ia anak perempuan dan...”
“Aihh, mengapa engkau memandang rendah anak sendiri? Walau pun perempuan dan masih kecil, akan tetapi Bi Sian sudah mempunyai kepandaian yang cukup untuk dapat melindungi diri sendiri. Dan ia pun ahli menunggang kuda, tidak mungkin terjadi sesuatu yang tidak baik padanya. Pula, siapa yang akan berani mengganggunya? Semua orang di Sung-jan tahu bahwa ia adalah anakku.”

Mendengar ucapan suaminya itu, Si Lan Hong jadi terdiam. Akan tetapi ia masih terus memandang ke arah pintu dengan penuh harapan.

Pada saat itu, tiba-tiba saja ada suara ketukan pada jendela di sebelah kiri ruangan itu. Suami isteri itu cepat menengok dan... di balik jendela kaca itu nampaklah wajah puteri mereka! Bi Sian tersenyum lebar dan wajahnya berseri penuh kegembiraan ketika ayah ibunya memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

“Bi Sian...!” teriak ibunya, dan ayahnya cepat melangkah ke jendela, hendak membuka jendela itu.
“Jangan dibuka, ayah! Ibu dan ayah, dengarkanlah baik-baik apa yang akan kukatakan! Aku sudah mendapatkan seorang guru. Guruku namanya Koay Tojin dan kedatanganku ini hanya untuk pamit kepada ayah dan ibu. Aku akan ikut dia merantau selama tujuh tahun dan setelah tamat belajar, aku pasti pulang. Jangan cari aku, ayah. Tidak akan ada gunanya, karena ayah tidak akan dapat menyusul suhu!”
“Bi Sian...!” Yauw Sun Kok berseru dan cepat sekali dia sudah membuka daun jendela itu.

Akan tetapi, wajah anaknya itu telah hilang dan yang nampak hanya malam gelap. Dia merasa sangat penasaran dan cepat melompat keluar jendela. Isterinya juga meloncat keluar jendela. Mereka memanggil-manggil nama Bi Sian sambil mencari-cari, akan tetapi tidak nampak bayangan anak itu.

Mendadak terdengar suara anak mereka dari atas genteng. “Kuda itu kutambatkan di dalam kebun, ayah. Nah, selamat tinggal, ayah dan ibu. Tujuh tahun lagi aku pulang!”

Ketika mereka menengok, ternyata Bi Sian sudah berdiri di wuwungan rumah mereka. Tentu saja Yauw Sun Kok terkejut bukan main dan dia pun cepat molompat naik ke atas genteng untuk mengejar. Akan tetapi, dalam sekejap mata saja bayangan anaknya itu pun lenyap. Dia merasa penasaran sekali. Tak mungkin Bi Sian dapat melompat ke atas wuwungan rumah seperti itu dan lebih tidak mungkin lagi menghilang seperti setan.

Akan tetapi semua usahanya untuk mencari Bi Sian sia-sia belaka. Baru sekali itu dalam hidupnya Yauw Sun Kok merasa tidak berdaya sama sekali, seperti dipermainkan, seperti seorang yang lemah. Dia pun dapat menduga bahwa itu tentu gara-gara guru anaknya itu yang bernama Koay Tojin.

Tahulah dia bahwa anaknya bertemu dengan seorang sakti yang memilihnya untuk menjadi muridnya. Akan tetapi, dia tidak pernah mendengar nama Koay Tojin! Dia tidak tahu ke mana puterinya dibawa dan siapa Koay Tojin itu, orang macam apa!

Tentu saja dia gelisah bukan main dan ketika isterinya merangkulnya sambil menangis, Yauw Sun Kok hanya bisa menarik napas panjang berulang-ulang dan merasa berduka sekali.

“Aku akan mencarinya..., aku akan mencarinya sampai jumpa kemudian membawanya pulang...” Dia menghibur isterinya berkali-kali.

Akan tetapi, hiburan ini hanya tinggal hiburan kosong belaka. Sampai berbulan-bulan Yauw Sun Kok mengerahkan tenaga, bahkan minta bantuan orang, namun tidak ada yang berhasil. Tepat seperti dikatakan oleh puterinya ketika berpamit, dia tidak berhasil menemukan jejak Koay Tojin.

Bahkan pada keesokan harinya, Lu-ciangkun datang dengan marah-marah mencari Bi Sian sambil membawa Lu Ki Cong yang babak bundas! Ki Cong menceritakan betapa dia dipukuli dengan tongkat oleh Bi Sian yang dibantu seorang kakek gembel yang gila! Tentu saja Ki Cong tidak menyebut-nyebut tentang lima orang tukang pukulnya.

Mendengar ini, semakin yakinlah hati Yauw Sun Kok bahwa puterinya memang sudah dipilih sebagai murid oleh seorang sakti dan bahwa Koay Tojin itu, menurut keterangan Lu Ki Cong, adalah seorang kakek tua renta yang berpakaian gembel serta bersikap seperti orang gila! Tentu dia sakti, pikirnya.

Dia pun minta maaf kepada Lu-ciangkun, mengatakan bahwa anak perempuannya itu telah pergi dibawa oleh seorang sakti yang mengambilnya sebagai murid.

Demikianlah, akhirnya Yauw Sun Kok dan isterinya hanya dapat menunggu dengan hati penuh kegelisahan dan kerinduan. Mereka harus menanti sampai tujuh tahun! Mendung menyelimuti kehidupan keluarga ini.

Yauw Bi Sian yang tadinya seakan-akan menjadi matahari yang menyinari kehidupan mereka, sekarang menghilang. Lebih-lebih lagi bagi Sie Lan Hong! Kepergian puterinya ini merupakan pukulan berat baginya.

Baru saja ia kehilangan adik kandungnya. Dalam keadaan masih berduka, tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka, puterinya pergi untuk waktu yang lama sekali. Tujuh tahun.....

********************
Terdengar suara lantang seorang anak laki-laki yang membaca kitab dari dalam sebuah kamar di rumah gedung indah itu. Suaranya lantang dan yang dibacanya adalah kitab sajak para penyair jaman dulu. Suara itu merdu dan cara membacanya pun amat baik, setiap kata diucapkan dengan jelas dan dengan nada suara yang tepat.

Kalau orang mengintai ke dalam kamar itu, dia akan kagum. Anak laki-laki itu memang tampan, ganteng dan rapi, baik rambutnya, seluruh tubuhnya yang terpelihara baik-baik, mau pun pakaiannya. Jelas ia adalah seorang anak terpelajar dari keluarga bangsawan atau hartawan! Cara ia duduk menghadapi kitab di atas meja itu pun telah menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang pandai membawa diri, sopan santun.

Memang anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu sejak kecil sudah digembleng dengan pelajaran sastera. Yang dimaksud pelajaran sastera pada waktu itu adalah pelajaran membaca dan menulis huruf, juga membaca kitab-kitab kuno di mana terdapat pelajaran filsafat, kebudayaan, sajak dan pelajaran kebatinan yang berat-berat menjadi santapan anak-anak remaja!

Tentu saja hanya sedikit yang dapat meresapi benar akan isinya. Sebagian besar hanya mampu menghafal saja dengan lancar, akan tetapi mengenai inti artinya, jarang yang dapat mengerti secara mendalam. Apa lagi menghayatinya!

Anak itu bernama Coa Bong Gan, berusia tiga belas tahun dan dia adalah anak angkat dari Coa-wangwe (Hartawan Coa), seorang hartawan yang kaya raya di kota Ye-ceng, sebuah kota di kaki pegunungan Kun-lun-san sebelah barat. Coa Hun atau Hartawan Coa adalah seorang pedagang besar yang berdagang segala macam barang dengan negara-negara barat di perbatasan barat.

Kurang lebih delapan tahun yang lalu, saat terjadi keributan karena adanya gerombolan perampok dari Nepal yang merusak dusun-dusun di perbatasan selatan dan barat, rombongannya yang baru pulang dari barat menemukan seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlarian seorang diri sambil menangis di antara para pengungsi. Karena bocah itu mungil dan tampan, dan tidak ada seorang pun mengakuinya sebagai anggota keluarga, maka Coa Hun lalu membawanya pulang.

Semenjak itu, anak itu diakui sebagai anak angkat. Anak berusia lima tahun itu hanya mengenal nama sendiri sebagai Bong Gan, maka sejak itu dia bernama Coa Bong Gan, menggunakan nama keluarga Coa-wangwe.

Karena Coa-wangwe sendiri tidak memiliki anak laki-laki, hanya memiliki beberapa anak perempuan, maka Bong Gan disayang oleh keluarga itu. Hanya saja Coa-wangwe tidak merahasiakan bahwa anak itu merupakan anak angkat, bukan anak kandung karena dia masih mengharapkan untuk memperoleh seorang keturunan anak laki-laki. Untuk itu dia berusaha dengan mengambil beberapa orang selir yang masih muda dan sehat. Coa Hun sendiri baru berusia empat puluh dua tahun ketika membawa Bong Gan pulang.

Oleh karena itu, biar pun Bong Gan amat disayang, akan tetapi tetap saja semua orang menganggap ia bukan sebagai anak kandung Coa-wangwe. Sikap hormat para pelayan terhadapnya hanya kalau berada di depan hartawan itu. Bahkan para selir dan juga Nyonya Coa merasa iri dan tidak suka kepada Bong Gan yang dianggap bukan suku bangsa Han.

Melihat bentuk wajah anak itu, ketampanannya merupakan ketampanan suku Uigur atau Kazak. Anak itu sendiri tidak ketahuan siapa orang tuanya. Agaknya dua hal ini, yaitu kemuliaan yang diterima seorang anak yang tak dikenal asal-usulnya, ketampanan dan kecerdikannya, kecakapannya belajar ilmu kesusasteraan, sudah mendatangkan rasa iri hati.

Banyak orang tidak suka kepada Bong Gan. Baru namanya saja, yang diakui anak kecil itu ketika ditemukan, Bong Gan, berbau nama suku bangsa Uigur atau Kazak. Mungkin nama aslinya Munggan atau Boangana!

Bong Gan kini sudah menjadi seorang pemuda remaja berusia tiga belas tahun yang amat cerdik, pandai sekali mengatur sikap dan bersikap manis dan rendah hati terhadap yang berada di atasnya, serta bersikap anggun dan berwibawa terhadap yang tak suka kepadanya.

Pakaiannya selalu baru dan rapi sekali. Tubuhnya juga selalu dirawat baik-baik, mulai dari rambutnya sampai kuku kakinya. Di setiap penampilannya, ia hanya mendatangkan rasa bangga kepada ayah angkatnya, satu-satunya orang yang dihormatinya secara berlebihan karena dia tahu bahwa hanya seorang ini sajalah yang memungkinkan dia mempertahankan kemuliaannya!

Biar pun usianya baru tiga belas tahun, namun Bong Gan amat cerdik. Dia tahu pula bahwa banyak di antara anggota keluarga ayah angkatnya yang hatinya merasa iri dan tidak suka kepadanya. Dia tahu pula bahwa mereka yang tidak suka kepadanya selalu memata-matainya, menyebar mata-mata yang bekerja sebagai pelayan-pelayan, untuk mencari kesalahannya agar kesalahannya itu dapat dilaporkan kepada ayah angkatnya. Oleh karena itu, dia bersikap hati-hati sekali.

Malam itu, biar pun dia tahu bahwa ayah angkatnya sedang berkunjung ke kota lain dan malam itu tidak akan pulang, dia tetap saja menghafalkan pelajarannya membaca kitab kuno dengan suara yang berirama dan merdu. Ini berarti bahwa meski ayah angkatnya tidak berada di rumah, tetap saja dia belajar dengan tekun!

Setelah dia selesai membaca, dia mendengar langkah kaki halus memasuki kamarnya. Dia menengok. Ketika melihat siapa yang memasuki kamarnya, jantung pemuda remaja ini berdentam penuh ketegangan. Tentu saja dia mengenal Pek Lan, selir termuda dan tersayang dari ayah angkatnya.

Pek Lan baru berusia tujuh belas tahun dan ia seorang peranakan Kirgiz-Han yang amat manis. Wajahnya lonjong seperti wanita Kirgiz umumnya, kulitnya kuning putih mulus seperti kulit wanita Han, akan tetapi bulu-bulu halus pada lengannya menambah daya tarik seorang wanita berdarah Kirgiz. Tentu saja ia menjadi selir tersayang Coa-wangwe karena ia paling muda dan paling cantik, dan ia diperoleh hartawan itu dengan tebusan uang yang amat mahal!

Karena ia amat disayang dan dimanja oleh hartawan itu, tentu saja hal ini menimbulkan perasaan iri kepada para selir lain, walau pun perasaan iri itu hanya mereka simpan di hati saja. Pengaruh selir muda ini terhadap Coa-wangwe amat kuat sehingga hartawan itu pasti akan membela sang selir termuda kalau sampai terjadi pertengkaran terbuka.

Perjodohan antara seorang pria dan seorang wanita harus berdasarkan cinta di antara mereka. Tanpa perasaan ini sudah pasti akan terjadi pertentangan dan penyelewengan. Di dalam hati Pek Lan, sedikit pun tidak terdapat rasa sayang kepada suaminya yang jauh lebih tua itu, dan yang menjadi suaminya karena ia telah dibeli dari orang tuanya yang miskin dan banyak hutang. Ia menjadi selir Coa-wangwe bukan dengan suka rela, melainkan karena terpaksa.

Oleh karena itu, baru saja diboyong ke dalam rumah gedung Coa-wangwe, dan melihat betapa hampir semua isi rumah kelihatan tidak suka kepadanya, hatinya segera tertarik oleh pemuda remaja yang tampan itu. Ia tertarik kepada Bong Gan bukan hanya karena pemuda remaja ini tampan, juga karena ia mendengar bahwa pemuda ini bukan putera kandung suaminya, dan juga ia melihat betapa orang-orang serumah itu juga tidak suka kepada pemuda itu. Hal ini saja mendatangkan perasaan suka dalam hatinya terhadap pemuda itu, perasaan senasib sependeritaan.

Sudah lama ia bersikap manis kepada Bong Gan, memperlihatkan rasa sukanya pada pandang mata dan suaranya. Namun agaknya Bong Gan masih terlalu hijau dan terlalu muda untuk menangkap isyarat dan menanggapinya.

Sesungguhnya, meski usianya baru tiga belas tahun, Bong Gan bukan seorang pemuda yang dungu. Ia pun banyak membaca, di antaranya ia membaca cerita-cerita percintaan sehingga kini ia sudah dapat membayangkan tentang perasaan mesra antara pria dan wanita ini.

Ketika Pek Lan menjadi keluarga ayahnya dan memasuki gedung itu, dia mengagumi kecantikan wanita ini. Ketika Pek Lan mulai bersikap manis kepadanya, melalui kerling mata dan senyum manisnya, Bong Gan bukan tidak tahu dan dia pun merasa amat suka kepada wanita itu.

Hanya tentu saja, dia tidak berani bersikap tidak hormat kepada isteri ayah angkatnya. Dia selalu bersikap sopan, tidak memperlihatkan tanda bahwa dia sebenarnya sudah mengerti betapa selir muda ayahnya itu bersikap menantang padanya. Juga dia masih terlalu muda untuk berani memperlihatkan tanggapan.

Pada malam hari itu, di luar dugaan dan harapannya, tiba-tiba saja Pek Lan memasuki kamarnya! Melihat bahwa yang memasuki kamarnya dengan langkah halus adalah selir ayahnya, maka Bong Gan cepat bangkit berdiri.

Bong Gan berusia tiga belas tahun dan Pek Lan tujuh belas tahun, akan tetapi tinggi badan mereka sama, bahkan Bong Gan lebih tinggi sedikit. Pemuda remaja itu cepat merangkap kedua tangan di depan dada memberi hormat.

“Ahh, kiranya ibu yang datang malam-malam begini...”
“Hushh, jangan sebut ibu kepadaku, Bong Gan. Sungguh tidak enak sekali mendengar sebutan itu...”
“Tapi, ibu adalah isteri ayah. Apa lagi harus saya sebut kalau bukan ibu?”
“Usia kita hanya berselisih dua tiga tahun, janggal rasanya kalau engkau menyebut ibu. Engkau patut menjadi adikku dan aku enci-mu, walau pun aku menjadi isteri ayahmu. Sebut saja enci kepadaku, kecuali... tentu saja di depan orang lain boleh saja engkau menyebut ibu.”

Bong Gan tersenyum. Hatinya gembira sekali karena wanita cantik itu bersikap begitu manis. Belum pernah mereka berkesempatan bicara panjang dan berduaan saja seperti sekarang ini. Ayahnya sedang tidak berada di rumah, dan hari sudah agak larut, semua penghuni rumah itu agaknya sudah tidur sehingga tidak ada orang lain yang melihat ibu muda ini memasuki kamarnya.

“Baiklah, enci. Silakan duduk, dan maaf, kursinya hanya sebuah,” katanya menunjuk ke arah kursi yang tadi dia duduki.
“Terima kasih,” Pek Lan tersenyum dan duduk di atas kursi itu.

Di atas meja terdapat beberapa buah buku dan diambilnya sebuah. Kebetulan buku itu adalah buku cerita tentang percintaan romantis. Akan tetapi, ternyata Pek Lan hanya dapat membaca sedikit saja.

“Kau duduklah, Bong Gan,” katanya melihat pemuda itu hanya berdiri saja.
“Biar saya berdiri saja, enci. Kursinya hanya sebuah.”
“Ahhh!” Pek Lan bangkit berdiri, membawa bukunya, lalu ia duduk di atas pembaringan. 
“Biarlah aku duduk di sini. Kau duduklah.”

Bong Gan duduk di atas kursi, jantungnya berdebar tegang melihat betapa wanita cantik itu duduk di atas pembaringannya.

Beberapa kali Pek Lan yang membaca buku itu melirik kepadanya, membuat Bong Gan menjadi serba salah tingkah.

“Bong Gan, huruf apakah ini...?” Pek Lan bertanya, menunjuk ke lembaran buku yang dipegangnya.

Karena dari tempat dia duduk tidak mungkin Bong Gan dapat melihat huruf itu, terpaksa ia bangkit dan menghampiri, kemudian membacakan huruf itu dan kembali duduk. Akan tetapi beberapa kali Pek Lan memanggilnya lagi untuk menanyakan huruf yang tidak dia kenal sehingga beberapa kali pula pemuda itu menghampiri, membacakan hurufnya dan duduk kembali.

“Ahh, terlalu sukar bagiku, Bong Gan. Tolong kau bacakan untukku saja. Kesinilah dan duduklah di sini, kita baca bersama. Kau ajari aku membaca, Bong Gan.”

Tentu saja Bong Gan menjadi gemetar dan tidak berani duduk berjajar di pembaringan itu. Walau pun dia sudah menghampiri dekat, namun dia berdiri saja di depan wanita itu, tidak berani duduk bersanding. Pek Lan memegang tangannya dan menariknya duduk di dekatnya, di tepi pembaringan.

“Aihh, mengapa engkau malu-malu dan takut?”
“Enci... aku... aku tidak berani... nanti dianggap tidak sopan...,” kata Bong Gan gemetar, walau pun hatinya berdebar girang dan tegang.
“Aihh, siapa bilang tidak sopan? Aku adalah juga ibu angkatmu, atau kita seperti enci dan adik, apa salahnya duduk berdekatan? Hayo, jangan takut!”

Dan kini Bong Gan membiarkan dirinya ditarik dan dia pun duduk di dekat Pek Lan. Tepi pinggul dan paha mereka bersentuhan sehingga Bong Gan bisa merasakan kelembutan yang hangat, yang membuat tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup keras.

Ketika dia membacakan buku itu, suaranya juga gemetar dan parau. Apa lagi, ketika dia merasa betapa jari-jari tangan yang halus itu meraba-raba tubuhnya. Jari yang hangat lembut dengan sentuhan-sentuhan mesra.

Makin lama suara bacaannya semakin lemah bahkan kacau, dan akhirnya buku yang tadi dibaca oleh Bong Gan itu sudah menggeletak di atas lantai di depan pembaringan, sedangkan di atas pembaringan itu Bong Gan dan Pek Lan sudah bergumul. Pek Lan seorang guru yang penuh gairah, sedangkan Bong Gan menjadi murid yang pandai dan taat.

Keduanya tenggelam dalam buaian gelombang nafsu, keduanya menjadi semakin haus. Pek Lan adalah seorang wanita muda yang dikecewakan karena perjodohannya dengan Coa-wangwe dilakukannya secara terpaksa, yang membuat ia selalu merasa penasaran dan tidak puas. Kini, bertemu dengan seorang pemuda remaja yang menjadi muridnya yang amat patuh, pandai dan menyenangkan, tentu saja Pek Lan menjadi lupa daratan.

Sebaliknya, sejak kecil Bong Gan memang haus akan kasih sayang, dan kini bertemu dengan seorang wanita yang cantik menarik, yang menyayangnya dan menjadi gurunya dalam berenang di lautan kemesraan, dia pun menjadi mabok. Sebetulnya dia masih terlalu muda sehingga dia pun tidak dapat lagi melihat kenyataan betapa perbuatannya itu amatlah berbahaya, juga sangat hina karena dia sudah berjinah dengan selir ayah angkatnya yang berarti juga ibu angkatnya sendiri!

Langkah pertama dilanjutkan dengan langkah berikutnya, lalu ke sekian kali, ke sekian puluh kali dan mereka berdua yang dimabok kemesraan ini, yang dibikin buta oleh nafsu birahi, tidak tahu bahwa banyak pasang mata dari mereka yang memang tidak suka kepada mereka, selalu membayangi dan mengintai mereka. Para pemilik mata inilah yang kemudian melaporkan kepada Coa-wangwe.

Tentu saja hartawan yang usianya sudah setengah abad lebih ini menjadi amat terkejut, heran dan kemudian marah. Dia terkejut sekali mendengar bahwa selirnya yang paling disayangnya telah bermain gila dengan putera angkatnya, kemudian dia merasa heran mengingat betapa putera angkatnya itu biasanya selalu bersikap amat baik, terpelajar, rajin, sopan dan selalu menyenangkan hati.

Bagaimana kini tiba-tiba saja ia mendengar bahwa putera angkatnya itu berjinah dengan selirnya? Pula, Bong Gan baru berusia tiga belas tahun, sesungguhnya masih remaja, masih kanak-kanak dan belum dewasa! Tentu selirnya itu yang menjadi biang keladinya, pikirnya dengan gemas dan marah.

Akan tetapi dia belum mau percaya begitu saja dan diaturlah oleh para selir yang lain dan para pelayan agar sang hartawan dapat menangkap basah hubungan gelap yang dilakukan selirnya terkasih itu dengan putera tersayang pula. Diatur supaya hartawan itu meninggalkan gedung untuk bermalam di luar. Dan pada waktu malam, ketika semua musuh rahasia dua orang muda yang sedang dimabok nafsu itu tahu bahwa mereka berdua sedang mengadakan pertemuan rahasia di kamar sang putera angkat, hartawan Coa lalu tiba-tiba muncul dan daun pintu digedor dari luar!

Dapat dibayangkan alangkah kaget dan takutnya perasaan Pek Lan serta Bong Gan. Mereka hanya sempat membereskan pakaian mereka sebelum daun pintu itu jebol karena dipaksa dari luar dan keduanya segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Coa-wangwe yang mukanya menjadi merah seperti udang direbus saking marahnya.

Biar pun kedua orang muda yang amat disayangnya itu berlutut sambil menangis minta ampun, tetap saja kemarahan Coa-wangwe tak dapat diredakan, apa lagi di sampingnya terdapat para selir dan pelayan yang membisikkan berita-berita yang amat menyakitkan hatinya, betapa putera angkat itu hampir setiap malam mengadakan pertemuan dengan sang selir dan betapa mesranya hubungan di antara mereka.

Diam-diam Pek Lan melirik dan mencatat dalam otaknya siapa-siapa yang pada malam itu hadir bersama suaminya. Dapat ia menduga bahwa mereka inilah yang telah menjadi mata-mata yang melaporkannya kepada suaminya.

Coa-wangwe demikian marah sampai dia menyuruh para pelayan memberi hukuman cambuk rotan di punggung kedua orang muda itu sebanyak lima belas kali, kemudian mengusir dua orang yang punggungnya berdarah karena kulitnya pecah-pecah itu agar meninggalkan rumahnya tanpa diberi bekal secuil pun pakaian pengganti atau sepotong pun uang kecil.

Keduanya meninggalkan rumah sambil menangis, ditertawakan oleh mereka yang sejak lama merasa iri hati dan membenci kedua orang muda itu. Dengan tubuh sakit-sakit akan tetapi hati lebih sakit lagi, Bong Gan dan Pek Lan pergi meninggalkan gedung itu. Mereka terus pergi dengan kepala menunduk, keluar dari dalam kota Ye-ceng.

Berita mengenai diusirnya selir termuda dan putera angkat dari Coa-wangwe itu lebih cepat keluar dari gedung itu dibandingkan orangnya, tentu saja karena disebarkan oleh mereka yang membenci kedua orang itu, sehingga Bong Gan dan Pek Lan tidak berani mengangkat muka mereka, sebab semua orang memandang dengan mata dan senyum mengejek.

Sampai di luar kota, malam sudah menjelang pagi dan mereka berdua masih berjalan terus di dalam keremangan cuaca sambil menangis. Biar pun mereka tidak mempunyai tujuan ke mana harus pergi, namun kedua orang ini tak pernah menghentikan langkah, seolah-olah khawatir bila ada orang-orang yang mengejar dan memperolokkan mereka.

Barulah mereka berhenti setelah matahari terbit dan keduanya merasa lelah sekali. Mereka berhenti di tepi sebuah hutan, di bawah sebuah pohon rindang. Suasananya di situ sunyi sekali karena sudah amat jauh dari kota.

Melihat Pek Lan masih menangis sambil setengah menelungkup di atas rumput, Bong Gan merasa kasihan juga. Wanita muda ini biasanya hidup mulia, mewah dan manja, kini harus menempuh perjalanan setengah malam dan tidak mempunyai apa-apa lagi.

“Sudahlah, enci Pek Lan. Untuk apa menangis lagi? Ditangisi sampai air mata darah pun tidak ada gunanya lagi,” kata Bong Gan yang sudah dapat memulihkan keadaan hatinya. Anak yang cerdik ini maklum bahwa bersedih-sedih tidak ada gunanya dan dia harus dapat mencari jalan yang baik dalam kehidupannya yang baru ini.

Akan tetapi, tanpa diketahuinya, kata-kata hiburannya itu bahkan membuat wanita itu menjadi lebih berduka dan akhirnya menjadi marah sekali kepada Bong Gan. Sejak tadi, di samping kedukaannya, Pek Lan menganggap bahwa semua mala petaka yang kini menimpa dirinya ini disebabkan oleh Bong Gan!

“Engkau memang anak durhaka!” bentaknya sambil bangkit duduk dan jari telunjuknya menuding ke arah muka Bong Gan. “Engkaulah biang keladi semua ini, engkaulah yang menjadi penyebab mala petaka yang menimpa diriku! Kalau bukan karena engkau, aku tentu masih hidup terhormat dan mulia di rumah keluarga Coa! Aahhh, engkau yang mencelakakan aku! Engkau anak tak tahu diri, engkau anak durhaka, tak tahu malu...!”

Sepasang mata Bong Gan terbelalak. “Diam!” Dia membentak marah sekali. “Engkaulah perempuan yang tidak tahu malu! Engkau yang datang pertama kali di dalam kamarku dan merayuku! Lupakah engkau? Engkaulah yang tak tahu malu. Engkau mengkhianati ayah angkatku dan engkau menyeret aku ke dalam lumpur kehinaan! Dan sekarang engkau hendak menyalahkan aku dan menghinaku? Perempuan tak tahu malu!”

“Apa?! Kau berani memaki aku? Anak kurang ajar kau!” Pek Lan bangkit berdiri.

Bong Gan juga bangkit berdiri dan Pek Lan segera menyerang anak laki-laki itu dengan tamparan dan cakaran. Bong Gan tidak tinggal diam dan dia pun membalas. Dua orang itu kini bergulat, bukan di atas pembaringan di dalam kamar mewah Bong Gan, bukan bergulat untuk memperebutkan kemesraan, melainkan bergulat dalam perkelahian dan memperebutkan kebenaran masing-masing, berusaha untuk saling menyakiti!

Pek Lan lebih tua tiga empat tahun, akan tetapi Bong Gan seorang anak laki-laki, jadi masing-masing ada kelebihan dan kelemahan yang membuat perkelahian itu menjadi ramai dan seimbang! Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh Bong Gan terlempar dan terguling-guling seperti disambar kilat.

Kiranya di situ sudah muncul seorang nenek yang amat menakutkan dan mengerikan. Kalau saja Bong Gan dan Pek Lan tidak sedang dilanda kemarahan, tentu mereka akan lari tunggang langgang atau menggigil ketakutan, mengira bahwa di situ muncul iblis sendiri. Pek Lan melihat dengan jelas betapa nenek itu tadi mendorong tubuh Bong Gan yang menyebabkan anak laki-laki itu terlempar dan jatuh terguling-guling.

Hal ini berarti bahwa nenek itu sudah membantunya. Maka, biar pun hatinya merasa ngeri, ia tahu bahwa nenek itu boleh ia harapkan. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil menangis!

Sementara itu Bong Gan yang sudah bangkit duduk, merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri-nyeri karena terbanting dan terguling-guling tadi. Dia tidak berani bangkit berdiri, hanya memandang pada nenek itu dengan mata terbelalak dan hati dipenuhi perasaan seram.

Nenek itu berusia tua sekali, tentu tidak kurang dari pada tujuh puluh tahun. Tubuhnya demikian kurus kering, kecil dan membungkuk seperti udang kering, seolah-olah usia tua sudah membuat tubuhnya mengkerut dan kering.

Muka yang kulitnya kehitaman itu berkerut-kerut penuh dengan garis malang-melintang, dan sepasang matanya sampai hampir tertutup karena kelebihan kulit pada pelupuknya. Tulang-tulang pipinya menonjol, dan hidung serta mulutnya sangat kecil karena mulut itu mengkerut ke dalam, tidak nampak lagi bibirnya yang seperti dikulum mulut yang tidak bergigi lagi.

Rambutnya tinggal sedikit, jarang dan pendek, kusut dan kotor. Tangan dan kaki seperti tulang-tulang terbungkus kulit tipis. Tubuh yang membungkuk seperti udang itu ditopang sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular kering, ditutupi oleh pakaian yang seluruhnya berwarna hitam. Sungguh menyeramkan sekali keadaan nenek itu, namun sepasang mata yang kecil dan bersembunyi itu mengeluarkan sinar mencorong yang amat mengejutkan hati orang.

Nenek itu mengangguk-angguk pada saat melihat Pek Lan berlutut di depannya sambil menangis. Mendadak tangannya bergerak dan tongkatnya meluncur, dan tahu-tahu Pek Lan merasa dagunya didorong sesuatu yang memaksa dia untuk menengadah. Kiranya nenek itu sudah menggunakan ujung tongkatnya untuk memaksa gadis itu mengangkat muka. Melihat wajah yang manis itu, kembali si nenek mengangguk-angguk.

“Ceritakan, mengapa kau menangis di sini!” terdengar nenek itu berkata, dan anehnya, biar pun jelas ia mengeluarkan ucapan, namun mulut itu sama sekali tidak terbuka dan tidak bergerak!

Pek Lan agaknya menyadari bahwa dia sedang bertemu dengan seorang manusia luar biasa, atau mungkin iblis sendiri yang memperlihatkan rupa, maka dia pun menjawab sambil menahan tangisnya.

“Nenek yang mulia, saya bernama Pek Lan. Saya barusan diusir dari rumah suami saya hartawan Coa di kota Ye-ceng karena saya difitnah bermain gila dengan bocah setan itu. Saya tidak mempunyai rumah dan keluarga saya di dusun pasti akan menolak saya. Semua ini gara-gara bocah setan itu, akan tetapi dia tidak mau mengaku salah, malah menyalahkan saya.”

Nenek itu mengangkat mukanya memandang kepada Bong Gan yang masih mendekam di atas tanah. Sinar mata nenek itu mencorong seperti hendak menyambar ke arahnya, membuat Bong Gan menjadi semakin ngeri ketakutan.

“Huh-huh, bocah itu mempunyai mata seperti setan. Apakah kau ingin agar supaya aku membunuhnya?”

Bulu kuduk Pek Lan bergidik. Nenek itu sungguh berhati kejam bukan main. Bagaimana pun marahnya terhadap Bong Gan, tentu saja Pek Lan tidak ingin melihat pemuda itu dibunuh. Kalau ia teringat akan pengalamannya selama beberapa bulan ini, masih ada sisa kemesraan dalam hatinya terhadap Bong Gan.

“Jangan, nek, jangan dibunuh, akan tetapi beri saja hajaran agar dia kapok dan tidak berani lagi menyalahkan aku!” katanya.
Nenek itu terkekeh. “Heh-heh, bagus. Akan kuhajar dia biar kapok!”

Bong Gan yang sudah merasa ngeri melihat nenek itu, kini timbul keberaniannya. Biar pun nenek itu mengerikan, namun ia hanya seorang nenek yang tua renta dan nampak ringkih. Dan dia tidak mau dihajar begitu saja tanpa melawan. Maka, Bong Gan segera bangkit berdiri dan siap untuk melawan kalau nenek itu hendak menghajarnya.

Dengan langkah terseok-seok dibantu tongkatnya, nenek itu menghampiri Bong Gan. Ia terkekeh melihat sikap anak laki-laki itu yang agaknya bersiap-siap untuk melawannya.

“He-he-heh, bocah setan, bergulinglah engkau!” Nampak ia menggerakkan tongkatnya, kemudian nampak ada sinar hitam panjang menyambar, dan tahu-tahu tubuh Bong Gan, tanpa dapat ditahannya lagi, roboh dan tubuh itu terguling-guling!

Nenek itu tertawa terpingkal-pingkal dan hebatnya, seperti juga tadi, mulutnya masih tetap tertutup. Entah melalui lubang mana suara terpingkal-pingkal itu.

“Heh-heh-ho-ho... sekarang terbanglah! Terbanglah!” Kembali yang nampak hanya sinar hitam dan tiba-tiba tubuh yang tadinya bergulingan itu, kini terlempar tinggi ke udara!

Bong Gan menjadi ketakutan. Tadi ketika tubuhnya terpelanting dan terguling-guling, dia merasa nyeri-nyeri dan babak-bundas dan kini tubuhnya terlempar begitu jauh ke atas, maka dia pun mengeluarkan jerit ketakutan ketika tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat sekali! Tentu akan remuk-remuk semua tulangnya, dan pecah kepalanya!

“Tolooooong!” Dia menjerit-jerit.
“Nenek yang baik, harap jangan bunuh dia!” Pek Lan yang memandang dengan mata terbelalak berseru, khawatir kalau sampai pemuda cilik yang pernah menjadi kekasihnya itu akan terbanting remuk dan tewas.
“Ho-ho, tidak dibunuh, tidak dibunuh!” kata nenek itu.

Dan benar saja, begitu tubuh Bong Gan hampir terbanting ke atas tanah, tiba-tiba ada sinar hitam panjang menyambutnya sehingga tubuh itu kini terlempar kembali ke atas lebih tinggi dari pada tadi! Tentu saja Bong Gan dengan ketakutan menjerit-jerit seperti seekor anjing sedang digebuki.

Melihat kenyataan bahwa nenek itu benar-benar tidak membunuh Bong Gan, hanya menghajarnya saja, legalah hati Pek Lan dan dia pun bertepuk tangan sambil bersorak. Lupalah dia akan kedukaannya.

“Bagus! Hi-hi-hik, bagus! Nah, tahu rasa sekarang engkau, Bong Gan! Hayo cepat kau minta ampun kepadaku, baru aku mau minta kepada nenek yang mulia ini agar supaya menghentikan permainannya!”

Bong Gan boleh jadi ketakutan setengah mati, akan tetapi dia seorang anak yang cerdik dan juga keras hati. Mendengar ucapan Pek Lan, dia mengeraskan perasaannya dan menutup mulutnya, tidak lagi mau menjerit ketakutan, melainkan menutup dua matanya rapat-rapat.

Pada saat tubuhnya meluncur turun untuk ke dua kalinya, tiba-tiba saja tubuhnya itu berhenti di udara seperti tertahan oleh tenaga yang tidak kelihatan. Kemudian, tubuh itu tidak lagi meluncur ke bawah, melainkan ke samping dan tahu-tahu leher bajunya sudah berada di ujung tongkat yang mengaitnya, dan tongkat itu dipegang oleh seorang kakek gembel!

Kakek yang muncul itu bukan lain adalah Koay Tojin, yang kebetulan tiba di tempat itu bersama muridnya yang baru, yaitu Yauw Bi Sian! Melihat ada seorang anak laki-laki menjerit-jerit dan tubuhnya sedang dilempar-lempar ke atas oleh seorang nenek yang menyeramkan, Bi Sian sudah merengek kepada gurunya.

“Suhu, tolonglah anak laki-laki itu dan hajar nenek yang jahat itu. Biar aku menghajar gadis yang kejam itu!”

Mula-mula Koay Tojin memandang ke pada nenek itu dan nampak terkejut. “Waaahhh! Menghajar nenek tua itu? Mana aku berani? Dia adalah Hek-in Kui-bo (Biang Iblis Awan Hitam)...! Hiiiih... aku ngeri melihatnya...” Dan kakek gembel itu bergidik kengerian.

Melihat sikap gurunya, Bi Sian cemberut. Tentu saja ia tidak percaya kalau gurunya jeri terhadap nenek yang kurus kering dan hampir mati itu!

“Kalau suhu tidak berani, biarlah aku yang melawannya! Aku tidak takut!”

Berkata demikian, Bi Sian lalu meloncat ke depan menghadapi nenek buruk itu dengan kedua tangan terkepal. “Hei, nenek iblis yang jahat! Kenapa engkau menyiksa orang? Hayo pergi dari sini, kalau tidak akan kupukul engkau!”

Nenek itu menyeringai, lalu menoleh kepada Pek Lan, “Ho-ho, bagaimana ini? Apakah aku harus menghajarnya juga?”

Pek Lan marah sekali kepada anak perempuan yang muncul bersama kakek gembel itu karena mereka menghentikan hajaran nenek itu terhadap Bong Gan.

“Nek, bocah itu mencampuri urusan kita, sebaiknya kau bunuh saja!”

Di sini telah nampak perwatakan yang menguasai batin Pek Lan. Ia dapat berlaku kejam sekali terhadap orang yang tak disukainya, atau orang yang mendatangkan kemarahan dalam hatinya seperti gadis cilik itu.

“Bunuh? He-heh-heh, benar sekali, memang bocah ini layak dibunuh!” jawab nenek itu sambil terkekeh tanpa membuka mulut.

Tiba-tiba dia menggerakkan tongkat ularnya ke arah Bi Sian. Sinar hitam meluncur ke arah gadis cilik itu, mengeluarkan suara mendesir.

“Wirrrr... takkkk!”

Tongkat ular itu terpental, bertemu dengan sebatang tongkat butut di tangan Koay Tojin. Benturan antara kedua tongkat itu sedemikian kuatnya sehingga terasa oleh Pek Lan dan Bi Sian.

Nenek itu mengeluarkan suara menggereng marah, kedua matanya yang bersembunyi di lipatan kulit itu mencorong menatap kepada kakek yang berdiri di depannya.

“Ho-ho-ho! Bukankah engkau ini kakek gembel gila dari Himalaya?” teriaknya marah.

Koay Tojin menyeringai pula. Dia tadi tidak berpura-pura ketika kepada muridnya dia mengatakan takut kepada nenek itu, bukan takut karena kepandaian si nenek iblis itu, melainkan ngeri karena dia sudah mengenal akan kejahatan dan kekejaman hati nenek yang berjuluk Hek-in Kui-bo itu!

“Dan engkau Biang Iblis Awan Hitam yang sudah tidak bergigi lagi, ha-ha-ha! Hayo buka mulutmu, perlihatkan kepadaku, pasti tidak ada sepotong pun gigimu maka engkau malu membuka mulutmu!”

Nenek itu semakin marah. Kata-kata ‘tidak bergigi lagi’ bukan hanya dimaksudkan untuk mengejek keburukan rupa, akan tetapi juga boleh diartikan sebagai ejekan bahwa nenek itu tidak berbahaya lagi, seperti seekor macan ompong yang tidak bergigi lagi!

“Koay Tojin keparat! Tidak bergigi lagi, ya? Nah, rasakan gigitanku!”

Nenek itu sudah menyerang dengan cara yang sangat aneh. Dia melontarkan tongkat ularnya ke atas, dan tahu-tahu tongkat itu meluncur ke arah Koay Tojin dan menyerang kalang-kabut seperti digerakkan oleh tangan yang tidak nampak!

Koay Tojin tertawa bergelak, melompat ke belakang dan dia pun lalu melempar tongkat bututnya ke depan. Seperti tongkat ular si nenek, maka tongkat butut Koay Tojin itu kini pun ‘hidup’ dan melawan tongkat ular itu.

Terjadilah pertandingan yang luar biasa aneh antara dua batang tongkat itu! Keduanya ‘bersilat’ tanpa ada yang memegangnya, tapi saling hantam dan saling tangkis sehingga terdengar bunyi nyaring berkali-kali, dibarengi menyambarnya angin pukulan dahsyat.

Melihat betapa tongkat ularnya itu tidak mampu mendesak tongkat butut lawan melalui kekuatan sihir, nenek itu kemudian mengangkat tangannya dan tongkat ularnya terbang kembali ke tangannya. Koay Tojin juga sudah ‘memanggil’ kembali tongkat bututnya dan kini Hek-in Kui-bo menyerang Koay Tojin dengan tongkat itu, menggunakan tangannya. Koay Tojin menangkis dan membalas sehingga terjadilah perkelahian yang seru antara dua orang tua aneh itu.

Melihat betapa kini gurunya sudah melawan nenek iblis, hati Bi Sian girang sekali. Dia melihat gadis yang menyuruh nenek tadi membunuhnya, maka ia pun segera meloncat ke depan Pek Lan dan tanpa banyak cakap lagi Bi Sian menyerang Pek Lan dengan pukulan dan tendangan!

Walau pun Pek Lan sudah berusia tujuh belas tahun, sedangkan Bi Sian baru berusia sebelas tahun, akan tetapi Pek Lan selamanya tidak pernah berkelahi atau belajar silat. Sebaliknya, semenjak kecil Bi Sian digembleng dengan ilmu atau dasar ilmu silat oleh ayahnya sendiri.

Maka tentu saja ketika diserang oleh anak perempuan itu, Pek Lan menjadi repot sekali dan beberapa kali perutnya kena dipukul dan kakinya ditendang. Dia mencoba untuk melawan dengan cubitan, jambakan serta tamparan, akan tetapi dia tidak berhasil dan semakin lama, serangan Bi Sian bahkan semakin ganas dan menyakitkan. Akhirnya Pek Lan menjerit-jerit minta tolong.

“Nenek, tolong aku... tolooooonggg!”

Ia terpelanting jatuh oleh sebuah tendangan Bi Sian yang mengenai perutnya.

Sementara itu, pertandingan antara Koay Tojin melawan Hek-in Kui-bo berlangsung dengan seru dan ramai. Pada mulanya, Koay Tojin kewalahan juga menghadapi hujan serangan dari nenek itu yang memang lihai dan berbahaya bukan main.

Nenek itu selain memiliki ilmu silat tongkat yang aneh dan gerakannya mirip ular, juga tongkat itu sendiri mengandung hawa beracun. Selain itu, tenaga nenek keriputan itu juga kuat, sedangkan kecepatan gerakannya juga membingungkan.

Akan tetapi begitu Koay Tojin mengeluarkan ilmu silat tongkat ciptaannya yang baru dan amat lihai, yang bahkan dipuji oleh suheng-nya, yaitu Pek-sim Siansu, yaitu Ta-kwi Tung-hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Iblis), kini Hek-in Kui-bo menjadi repot bukan main. Ia selalu terdesak dan beberapa kali nyaris terkena hantaman tongkat butut. Maka, ketika mendengar suara Pek Lan minta tolong, ia mempunyai alasan untuk melarikan diri.

Ia meloncat ke belakang, tongkat ularnya menyambar dan mengait baju Pek Lan yang tiba-tiba merasa tubuhnya diterbangkan dan nenek itu melarikan diri cepat sekali sambil membawa tubuh Pek Lan.

Bi Sian masih mengepal kedua tangannya dan ia mengamangkan tinjunya ke arah Pek Lan yang dilarikan nenek itu. “Hemm, kalau tidak lari, tentu akan kupukuli sampai kapok perempuan jahat itu!”

“Ha-ha, Bi Sian, sudahlah, mari kita pergi, jangan melayani nenek iblis yang mengerikan itu. Hihh...!” Koay Tojin bergidik. “Hayo pergi...!”

Akan tetapi pada saat itu, Bong Gan yang sejak tadi melihat segala yang terjadi dengan hati penuh kagum terhadap anak perempuan dan kakek gembel itu, kini menjatuhkan diri di depan kaki Koay Tojin.

“Locianpwe yang mulia... mohon kemurahan hati locianpwe untuk sudi menerima saya sebagai murid...!”

Kakek itu mengerutkan alisnya, memandang kepada anak itu dan menyeringai.

“He-he-heh, aku tidak sudi! Aku sudah mempunyai murid yang jauh lebih baik, ha-ha-ha! Mari Bi Sian, kita pergi!” katanya sambil membalikkan tubuh mambelakangi Bong Gan dan melangkah pergi.

“Suhu, nanti dulu!” Bi Sian berkata sehingga kakek itu menahan langkah dan menoleh. Bi Sian mengamati Bong Gan yang masih berlutut dan anak laki-laki itu kini menangis sesenggukan, kelihatannya sedih bukan main.

“Siapa namamu?” Bi Sian bertanya.
“Nama saya Bong Gan...,” anak laki-laki itu menjawab sambil menahan tangisnya dan memandang kepada Bi Sian dengan mata agak kemerahan dan penuh kedukaan.
“Kenapa engkau hendak dibunuh mereka tadi?”

“Saya adalah seorang anak yatim piatu yang dipungut oleh keluarga hartawan Coa di kota Ye-ceng,” Bong Gan bercerita dengan suara yang memelas sekali. “Perempuan jahat tadi adalah selir ayah angkat saya. Pada suatu hari, ayah angkat telah kehilangan barang-barang perhiasan berharga. Saya tahu bahwa yang mencuri adalah perempuan tadi, akan tetapi ia berbalik menjatuhkan fitnah dan sebagian dari barang curiannya ia sembunyikan ke dalam kamar saya. Karena itu, ayah angkat saya marah dan kami berdua diusir. Ketika kami tiba di sini, perempuan itu menyalahkan saya dan memukuli saya. Saya melawan dan muncul nenek iblis tadi yang membela perempuan jahat itu.”

Bong Gan yang pandai, membuat karangan yang masuk di akal ini secara tiba-tiba. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia memang seorang anak yang cerdik bukan main. Setelah selesai bercerita, dia lalu menangis lagi.

“Nona, mohon belas kasihan nona dan guru nona... sudilah menerima saya menjadi murid. Saya mau bekerja apa saja... saya sudah tidak memiliki seorang keluarga pun, dan saya takut kalau... perempuan jahat dan nenek iblis tadi datang lagi dan membunuh saya...”
“Sudahlah, Bi Sian. Hayo kita pergi, jangan layani anak cengeng itu!” Koay Tojin berkata tidak sabaran lagi.
“Nanti dulu, suhu,” kata Bi Sian yang sudah tertarik sekali akan cerita Bong Gan dan ia merasa kasihan kepada anak itu. “Aku mau pergi kalau suhu juga nengajak dia ini!”
“Apa??” Koay Tojin terbelalak. “Untuk apa mengajak anak cengeng ini?”
“Locianpwe, mohon maaf sebanyaknya. Kalau memang perlu, saya dapat menjadi anak yang sama sekali tidak cengeng! Kalau locianpwe sudi menerima saya menjadi murid, biar menghadapi ancaman maut, saya tidak akan takut dan tidak akan menangis sama sekali!”

Ucapan itu bernada menantang dan Koay Tojin yang memiliki watak aneh itu sekali ini tertarik. “Ha-ha-ha-ha, benarkah itu? Engkau tidak akan takut, tidak akan menangis biar pun menghadapi ancaman maut?”

“Benar, locianpwe,” kata Bong Gan, girang bahwa kakek gembel yang dia tahu amat lihai itu kini mau mempedulikannya.
“Aku ingin melihat buktinya!” berkata demikian, Koay Tojin lalu melemparkan tongkatnya dan tongkat itu kini meluncur ke arah Bong Gan, dan mulailah tongkat itu memukuli dan mencambuki Bong Gan.
“Plak! Plak! Plak! Bukk!”

Tongkat itu mengamuk, menghantami punggung dan pinggul Bong Gan. Anak itu kaget bukan main, dan juga ngeri melihat ada tongkat dapat bergerak sendiri memukulinya. Dan pukulan-pukulan itu mendatangkan perasaan nyeri yang cukup hebat, apa lagi bila pukulan itu mengenai kepalanya.

Dia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Sekarang punggungnya, pahanya, pinggul, kaki dan lengannya menjadi sasaran pukulan tongkat. Hampir saja Bong Gan berteriak kesakitan dan menjerit minta tolong.

Akan tetapi, anak yang amat cerdik ini tahu benar bahwa dia sedang diuji, maka dia pun menggigit bibir. Biar pun perasaan nyeri membuat dia terpelanting dan menggeliat-geliat di atas tanah di bawah hujan pukulan tongkat, namun tidak sedikit pun keluhan keluar dari bibir yang digigitnya sendiri itu.

Bajunya sudah robek-robek dan basah oleh keringat dan darah. Kulit punggungnya pun pecah-pecah berdarah. Akan tetapi dia tetap tidak mau mengeluh, bahkan setiap kali terpelanting, dia tergopoh bangkit dan mencoba untuk berlutut kembali ke arah kakek itu.

Melihat betapa tubuh Bong Gan sudah berlepotan darah, hati Bi Sian merasa tidak tega. “Cukup, suhu, cukup! Apakah suhu hendak memukulinya sampai mati?” teriaknya.

“Ha-ha-ha!” Koay Tojin tertawa bergelak dan di lain saat tongkat itu sudah kembali ke tangannya. Hatinya gembira karena melihat Bong Gan benar-benar memegang janji dan sama sekali tidak mengeluh. Diam-diam dia pun mulai suka kepada bocah itu.

“Mari kita pergi, Bi Sian!” katanya dan sekali sambar, tangan Bi Sian sudah dipegangnya dan sekali melompat keduanya lenyap dari situ.

Tentu saja Bong Gan menjadi terkejut dan kecewa sekali. Tadi dia sudah membiarkan tubuhnya dihajar babak belur dan berdarah-darah, sakitnya tak kepalang dan sekarang kakek gila itu meninggalkannya begitu saja. Ingin dia menangis, ingin dia memaki. Akan tetapi dalam kepalanya yang cerdik terdapat dugaan dan harapan bahwa kakek aneh itu tetap masih mengujinya!

Dia tahu bahwa kakek itu aneh dan sakti, dan anak perempuan itu manis bukan main, juga amat baik kepadanya. Dia harus dapat menjadi murid kakek itu. Kalau tidak, dia akan hidup sebatang kara dan selalu terancam bahaya.

Ia ingin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi agar dapat menjaga diri. Ia harus berhasil menjadi murid kakek itu, atau kalau perlu dia akan mengorbankan nyawanya. Dia harus tahan uji!

Dengan pikiran ini, Bong Gan terus berlutut menghadap ke arah tempat di mana kakek tadi berdiri. Dengan nekat dia berlutut terus sampai kedua kakinya kesemutan dan tidak merasa apa-apa lagi, dan rasa nyeri di tubuhnya makin menghebat karena sengatan sinar matahari. Dia bertahan terus, bahkan ketika matahari terbenam dan tempat itu mulai gelap dengan tibanya malam, dia tetap berlutut di tempat itu!

Memang patut dipuji kekerasan hati anak ini. Dia tersiksa bukan main, tidak saja seluruh tubuhnya terasa nyeri karena luka pukulan tongkat, juga tersiksa oleh hawa dingin yang menyengat tulang, dan ditambah lagi perasaan ngeri karena di tepi hutan itu gelap dan sunyi. Kadang-kadang terdengar suara binatang dari dalam hutan dan mau tidak mau, seluruh bulu di tubuh Bong Gan meremang seram.

Akhirnya, lewat tengah malam, dengan kenekatan yang masih bertahan, tubuhnya yang akhirnya tidak kuat bertahan lagi dan dia terguling roboh. Pingsan.....
Ketika Bong Gan siuman, dia mendapatkan dirinya rebah di atas tanah berumput tebal, di pinggir sebuah sungai kecil yang jernih, di dalam sebuah hutan. Bagaikan mimpi dia melihat seorang anak perempuan yang cantik dan manis sedang mengobati luka-luka di sekujur punggungnya dengan menempelkan daun-daun hijau yang lebar. Terasa dingin dan nyaman sekali.

Agaknya anak perempuan itu mengerjakan dengan penuh kelembutan. Dia melihat anak itu memilin dan menggosok daun-daun baru di antara dua telapak tangannya sehingga daun itu menjadi lemas dan mengeluarkan air yang kehijauan. Kemudian daun-daun itu ditempelkan di atas kulit yang terluka oleh pukulan tongkat. Sungguh anak perempuan yang manis, anak perempuan yang berjasa membujuk gurunya untuk menerima dirinya sebagai murid!

“Terima kasih, kini sudah terasa nyaman...” katanya dan dia pun mengenakan bajunya.

Dia melihat kakek aneh itu duduk pula di situ, sedang memandang anak perempuan itu mengobatinya dengan sikap acuh. Bong Gan cepat-cepat berlutut dan memberi hormat kepada kakek itu.

“Suhu, teecu (murid) menghaturkan terima kasih dan hormat...” sikapnya penuh hormat dan suaranya mantap.

Melihat suhu-nya masih melenggut seperti orang mengantuk, Bi Sian berseru, “Suhu ini bagaimana sih? Ini, muridmu yang baru menghaturkan terima kasih dan hormat, kenapa suhu diam saja?”

Kakek yang melenggut itu membuka mata dan memandang kepada Bong Gan dengan sikap acuh, kemudian berkata, “Heh, karena bujukan Bi Sian engkau menjadi muridku. Akan tetapi awas, kalau kulihat engkau malas dan tidak tekun atau tidak taat, engkau akan kuusir. Dan kalau kelak engkau menyeleweng, engkau pasti akan kubunuh dengan tongkat ini!” Dia mengacungkan tongkatnya.

Dengan hati yang girang bukan main Bong Gan cepat memberi hormat dengan sembah sampai delapan kali kepada gurunya. “Suhu, teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah suhu.” Kemudian dia menghadap Bi Sian dan juga memberi hormat kepada anak perempuan itu. “Suci, saya menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan suci kepada saya, dan saya tidak akan melupakan budi kebaikanmu itu...”

Bi Sian terbelalak. “Ehh, ehh, nanti dulu! Kenapa engkau menyebut aku suci?”
Bong Gan tersenyum. “Bukankah suci yang lebih dulu menjadi murid suhu?”

“Bukan begitu! Aku tidak mau cepat tua dengan disebut kakak! Coba sekarang kita lihat, siapa yang lebih tua di antara kita. Berapa umurmu tahun ini?”
“Tiga belas tahun.”
“Nah, itu!” Bi Sian berteriak. “Aku baru sebelas tahun. Engkau lebih tua dua tahun, tidak boleh menyebut suci padaku. Aku tidak mau!”
“Habis, lalu bagaimana?”
“Karena engkau lebih tua, engkau harus menyebut sumoi padaku dan aku menyebutmu suheng.”

Wajah Bong Gan menjadi merah, akan tetapi hatinya sangat girang walau pun dia juga merasa kikuk.
“Baiklah sumoi.”
“Nah, begitu baru benar, suheng! Nama keluargamu siapa sih? Apakah Bong?”

Bong Gan menggeleng kepalanya.
“Tadinya aku memakai nama keluarga Coa, akan tetapi karena aku telah diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak, aku tidak mau memakainya. Ketika aku ditemukan dan masih kecil, aku hanya tahu bahwa namaku Bong Gan dan biarlah itu tetap menjadi namaku, tanpa nama keturunan atau boleh juga disebut nama keturunanku Bong.”

Koay Tojin kelihatannya tidak mendengarkan percakapan mereka, dan andai kata dia mendengarkan pun, agaknya dia hanya acuh saja. Akan tetapi, lambat laun sikapnya yang acuh terhadap Bong Gan ini berubah saking pandainya Bong Gan membawa diri.

Dia amat rajin dan amat memperhatikan keperluan suhu-nya dan sumoi-nya. Dia ringan kaki dan tangan, mengerjakan apa saja untuk keperluan mereka. Juga dia amat tekun dan rajin ketika mulai diajar dasar-dasar ilmu silat. Bahkan dia mau mengajarkan ilmu sastra yang lebih mendalam kepada Bi Sian. Sikap Bong Gan yang amat baik ini selain membuat Bi Sian menyayangnya, juga Koay Tojin mau tidak mau mulai menyukainya.

Bahkan dengan adanya Bong Gan sebagai murid Koay Tojin, lebih mudah bagi kakek itu untuk memegang salah satu janjinya kepada Bi Sian, yaitu anak perempuan ini tidak mau menjadi pengemis. Ada saja akal dari Bong Gan untuk mendapatkan makanan bagi mereka bertiga tanpa harus mengemis, yaitu dengan menjual hasil buruan, atau rempah-rempah yang sangat berharga, Bong Gan bisa mendapatkan hasil untuk biaya hidup mereka…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH PENDEKAR BONGKOK : JILID-05
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger