logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Pendekar Bongkok Jilid 07


Wanita itu berusia kurang lebih dua puluh empat tahun. Ia seorang wanita yang mempunyai daya tarik besar sekali. Wajahnya yang berbentuk lonjong itu berkulit putih mulus kemerahan. Matanya jeli serta kedua ujungnya meruncing dan kerlingannya bisa menarik hati pria seperti besi semberani menarik besi. Senyumnya manis sekali, dengan bibir yang lembut itu pandai bergerak-gerak penuh tantangan.

Tubuhnya bagaikan bunga sedang mekar, dengan lekuk lengkung yang indah dan amat menggairahkan, tidak begitu disembunyikan karena pakaiannya yang ketat dengan jelas membayangkan keindahan bentuk tubuh itu. Dadanya padat, pinggangnya ramping dan pinggulnya besar, langkahnya bagaikan seekor singa kelaparan. Pada lengan, kaki dan lehernya nampak ditumbuhi bulu lembut dan ini menambah daya tarik. Pakaiannya juga indah, dari sutera yang mahal.

Ketika wanita itu memasuki pintu gerbang kota Ho-tan, semua mata pria yang melihat wanita ini memandang hingga melotot. Bahkan ada yang seolah matanya sampai mau meloncat keluar. Kalamenjing banyak pria bergerak naik turun, seperti orang kehausan melihat buah yang segar. Ada yang lidahnya terjulur ke luar menjilat-jilat bibir sendiri, seperti kucing-kucing kelaparan melihat tikus yang montok.

Pendeknya, jarang ada pria yang mau melewatkan penglihatan seindah itu begitu saja. Bahkan di antara mereka yang memang berwatak ceriwis dan nakal, sudah memasang senyum menyeringai, ada pula yang berdehem, juga ada yang memuji dengan suara. Bermacam-macamlah ulah para pria yang salah tingkah itu ketika melihat wanita yang menggiurkan ini, dan kalau saja sinar mata dapat menusuk seperti anak-anak panah, tentu tubuh wanita itu sudah penuh dengan luka!

Wanita itu bukan tidak sadar bahwa dirinya dijadikan tontonan yang mengasyikkan. Ia sadar sepenuhnya akan kecantikannya, dan ia tidak marah, bahkan merasa bangga dan gembira sekali menjadi pusat perhatian dan pujian. Oleh karena itu ia sengaja membuat lenggangnya semakin menggairahkan, pinggulnya yang montok itu seperti menari-nari, pinggangnya meliak-liuk seperti batang pohon yang tertiup angin, matanya mengerling ke kanan kiri dengan lembut akan tetapi tajam, dan bibirnya yang merah membasah itu bergerak-gerak mengarah senyum. Manis sekali!

Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan wanita muda yang amat cantik itu. Kalau wanita penduduk biasa dari kota Ho-tan kiranya tak mungkin, sebab melihat pakaiannya yang indah dan mewah, tentu ia seorang wanita kaya raya, mungkin seorang puteri bangsawan. Kalau ia benar wanita bangsawan dari luar kota, mengapa datang hanya berjalan kaki saja? Tidak naik kereta?

Wanita cantik itu penuh teka-teki, dan kalau dia lebih lama berada di kota itu, tentu segera akan ada orang yang berani mendekatinya untuk bertanya dan memperkenalkan diri. Terlalu cantik untuk dibiarkan sendirian saja di tempat ramai itu. Seperti setangkai bunga, yang terlalu cantik dibiarkan tumbuh di hutan tanpa ada yang melindungi. Seperti setangkai buah yang segar dan matang, tentu tidak akan lama bertahan tergantung di dahan pohon tanpa ada yang memetiknya.

Sudah mulai banyak pria tua muda yang diam-diam membayanginya! Senja telah mulai tua dan malam sudah menjelang masuk. Mereka yang membayanginya, merasa heran ketika melihat wanita cantik itu menuju ke sebuah kuil tua di pinggir kota. Padahal kuil tua itu sudah kosong dan tidak digunakan lagi, merupakan sebuah rumah tua yang ditakuti penduduk karena dikabarkan bahwa kuil itu sekarang menjadi tempat tinggal siluman-siluman!

Setelah hari mulai gelap, hampir tak ada orang berani memasuki tempat itu. Jangankan memasuki kuil itu, bahkan masuk ke halamannya pun jarang ada yang berani. Banyak orang mengabarkan bahwa kalau malam gelap, sering kali terdengar suara-suara aneh dari tempat yang angker itu!

Ketika mereka yang membayangi wanita itu melihat betapa si cantik itu melenggang lenggok memasuki pekarangan kuil, sudah banyak di antara mereka yang diam-diam menahan kaki mereka, kemudian membalikkan tubuh dan pergi dengan bulu tengkuk meremang. Sebagian lagi masih bertahan, diliputi keheranan mau apa seorang cantik seperti itu memasuki pekarangan kuil yang menyeramkan itu?

Ketika mereka melihat bahwa wanita itu terus melangkah masuk ke dalam kuil yang gelap, kotor dan tua itu, semua orang membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang! Tidak salah lagi, yang mereka bayangi itu sudah pasti siluman! Siluman yang suka menggoda pria, biasanya siluman rubah yang dapat merobah diri menjadi wanita cantik sekali. Kalau ada pria yang tertarik dan terpikat, akan dibawanya ke dalam kuil dan pada keesokan harinya, tentu pria itu ditemukan dalam keadaan mati konyol atau setidaknya tentu gila!

Kalau saja di antara mereka itu ada yang bernyali besar dan terus membayangi wanita itu masuk ke dalam kuil, tentu dia akan menjadi semakin heran. Wanita itu setelah tiba di dalam kuil, tiba-tiba saja bergerak cepat sekali, tubuhnya sudah mencelat naik ke atas wuwungan rumah dan ia mengintai dari atas ke arah jalan yang menuju ke kuil.

Dari atas itu, dalam cuaca yang sudah mulai gelap, dia dapat melihat mereka yang tadi membayanginya, satu demi satu meninggalkan jalan itu, bahkan ada yang lari pontang panting kembali ke dalam kota. Wanita itu tersenyum geli, bibirnya yang menggairahkan itu berjebi mengejek, lalu tubuhnya melayang turun lagi setelah ia merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang mengikutinya masuk ke dalam kuil.

“Hi-hik-hik,” dia tertawa lirih dan berbisik-bisik, “biarkan mereka mengira aku siluman. Memang aku siluman... hi-hik-hik, siluman asli...!”

Ia lalu melangkah masuk ke dalam ruangan belakang kuil itu, bagian yang masih agak utuh karena banyak bagian yang sudah rusak dan dindingnya retak-retak.

Kalau saat itu ada orang lain yang mengikuti wanita ini masuk, ketika ia tiba di ruangan belakang dan membuka pintu sebuah kamar, orang itu tentu akan berseru keheranan dan ketakutan melihat betapa kamar yang diterangi oleh nyala api lilin itu merupakan sebuah kamar yang bersih, berbau harum dan sama sekali tidak pantas berada di dalam kuil tua yang kotor itu!

Kamar ini cukup besar, terdapat sebuah pembaringan yang lebar sekali, cukup untuk tidur enam tujuh orang! Sebuah pembaringan yang diberi kasur tebal dan ditilami kain kapas yang berwarna merah, dengan kelambu besar berwarna ungu! Bantal-bantalnya bersih, dengan sarung yang disulam bunga-bunga dan burung, ada pula selimutnya yang merah dan tebal.

Di kamar itu terdapat pula lima buah kursi serta sebuah meja, dan di atas meja itu ada guci arak lengkap dengan cawannya, juga roti kering, manis-manisan, buah-buahan dan makanan-makanan kering!

Sebuah kamar yang amat menyenangkan. Dan yang lebih mengherankan lagi dari pada semua itu adalah keberadaan tiga orang pemuda yang usianya antara dua puluh hingga dua puluh lima tahun, kesemuanya hanya mengenakan pakaian dalam yang minim, tiga orang pemuda yang tampan dan dengan tubuh yang sehat dan mulus. Mereka segera menyambut kedatangan wanita itu dengan uluran tangan penuh gairah birahi, dengan pandang mata penuh kasih sayang dan senyum memikat!

Pada waktu wanita itu mendekati pembaringan, tiga orang pemuda itu menyambutnya dengan rangkulan, lalu ciuman-ciuman mesra dan belaian-belaian penuh gairah. Wanita cantik itu sampai kewalahan menghadapi penyambutan mesra tiga orang pria muda itu. Ia tertawa cekikikan, lalu melepaskan diri dan duduk di atas kursi, memandang mereka bertiga yang duduk di atas pembaringan.

Ketiga pemuda yang sama-sama tampan, ganteng, jantan dan menarik, pikirnya. Akan tetapi, setelah bermain-main dengan mereka, berenang dalam lautan kemesraan hingga lupa waktu dan lupa batas selama tiga hari tiga malam, ia telah mulai bosan!
Image result for PENDEKAR BONGKOK
Siapakah wanita cantik yang menggairahkan akan tetapi juga mengerikan itu? Ia bukan lain adalah Pek Lan!

Tujuh tahun yang lalu, ketika berusia tujuh belas tahun, Pek Lan menjadi selir tersayang dari Coa Hun yang terkenal sebagai Coa-wangwe (Hartawan Coa), seorang yang ketika itu berusia sekitar lima puluh tahun dan merupakan orang terkaya di kota Ye-ceng. Akan tetapi, Pek Lan, keturunan Kirgiz dan Han itu, memiliki darah panas dan nafsu birahi yang besar sehingga ia tidak puas hanya melayani seorang suami yang usianya sudah setengah abad.

Maka, melihat betapa putera angkat hartawan itu, biar pun baru berusia tiga belas tahun akan tetapi sudah cukup besar, ia lalu merayu anak itu yang bukan lain adalah Bong Gan sehingga terjadilah hubungan gelap di antara mereka. Para selir dan pelayan yang merasa iri melihat Pek Lan menjadi selir terkasih, mengetahui hubungan itu dan mereka melaporkan kepada Coa-wangwe sehingga dua orang itu tertangkap basah, lalu diusir dari rumah keluarga Coa.

Seperti kita ketahui, Pek Lan bertemu dengan Hek-in Kui-bo, nenek iblis yang kemudian mengambilnya sebagai murid. Nenek ini bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu silat yang tinggi dan amat kejam, juga mewariskan pula wataknya yang amat jahat, kejam, licik dan tidak pantang segala macam perbuatan buruk atau kemaksiatan apa pun!

Maka, bagi Pek Lan tidak ada perbuatan jahat yang dipantangnya. Dia tumbuh semakin dewasa dan matang menjadi seorang wanita yang berwatak iblis! Juga nafsu birahinya semakin menjadi-jadi!

Untuk memuaskan nafsunya ini, ia memilih pria yang disukanya, dirayu atau dipaksa untuk melayaninya sampai ia merasa puas. Kalau ia sudah merasa bosan, pria itu lalu diusir begitu saja, dan kalau banyak rewel bahkan dibunuhnya! Akan tetapi perbuatan ini ia lakukan di luar rumah subo-nya.

Subo-nya memiliki sebuah rumah yang mewah di tepi telaga Co-sa dan mereka hidup sebagai orang kaya raya. Guru dan murid ini telah mencuri sejumlah harta dari gedung Pangeran Cun Kak Ong di kota Ho-tan. Selama tujuh tahun terakhir ini, kalau mereka mulai kekurangan uang, mudah saja bagi mereka untuk mengisi kembali gudang harta mereka.

Seluruh tokoh sesat dari dunia hitam berlomba untuk menyerahkan sebagian dari hasil mereka kepada Hek-in Kui-bo yang mereka anggap sebagai datuk mereka. Dan selain itu, sangat mudah bagi Pek Lan yang sudah mempunyai ilmu kepandaian tinggi untuk mengambil begitu saja dari gudang-gudang harta para hartawan atau bangsawan.

Setelah lewat tujuh tahun dan merasa bahwa dirinya sudah dibekali ilmu-ilmu yang amat hebat, Pek Lan teringat akan penghinaan yang pernah dideritanya di rumah keluarga Coa-wangwe di kota Ye-ceng. Oleh karena itu, ia berpamit dari subo-nya dan pergi ke kota itu, dengan maksud untuk membalas semua penghinaan yang pernah diterimanya, tentu saja berikut bunga-bunganya!

Ketika dia tiba di kota Ye-ceng, ia melihat tiga orang pemuda yang dijumpainya dalam perjalanan. Tiga orang pemuda yang tampan, muda dan jantan. Perhatiannya segera tercurah pada mereka, dan untuk sementara itu melupakan urusannya di Ye-ceng, sibuk memikat tiga orang pemuda itu.

Tidak sukar baginya untuk menjatuhkan hati tiga pemuda itu dengan kecantikannya dan kemontokan tubuhnya. Segera ia membawa pemuda-pemuda itu ke dalam kuil tua, di mana ia telah membuat sebuah kamar yang indah dan selama tiga hari tiga malam ia berenang dalam lautan kemesraan dan kenikmatan bersama mereka sampai ia merasa agak bosan. Dan setelah merasa bosan, barulah ia teringat kembali akan maksudnya semula datang ke kota Ye-ceng itu.

Ketika tiga orang pemuda yang sudah tergila-gila pada wanita cantik itu membelai dan menciuminya, Pek Lan yang semula merasa bosan lalu melepaskan diri dan duduk di atas kursi, memandang kepada mereka bertiga sambil tertawa cekikikan.

“Sudahlah, malam ini aku tak bisa main-main dengan kalian, karena mempunyai urusan penting. Kalian makan minum yang kenyang, istirahat baik-baik dan malam nanti, larut tengah malam, atau besok pagi-pagi, aku akan kembali ke sini dan kalian harus sudah bersiap-siap untuk kita bertanding lagi...” Ia tertawa cekikikan seperti siluman.

Tiga orang pemuda itu pun ikut tertawa gembira. Mereka tidak peduli apakah Pek Lan seorang manusia biasa, ataukah seorang dewi atau seorang siluman! Yang jelas, wanita itu telah menyenangkan hati mereka, memberi mereka kenikmatan yang selama hidup mereka belum pernah mereka rasakan.

Setelah bermain-main dan bersendau-gurau dengan tiga orang pemuda itu dan malam mulai gelap, Pek Lan melepaskan diri lagi dari tangan-tangan mereka, kemudian sekali berkelebat ia pun sudah lenyap dari dalam kamar itu! Tiga orang pemuda itu hanya dapat merasa heran dan kagum. Kalau sudah ditinggalkan begitu, ketiganya baru mulai merasa ngeri dan seram, menduga-duga siapa gerangan wanita cantik yang selama tiga hari tiga malam mengajak mereka berenang dalam lautan asmara itu.

Tubuh Pek Lan lenyap berubah menjadi bayangan yang gerakannya cepat sekali dan dalam waktu singkat, bayangannya telah berada di atas genteng gedung keluarga Coa. Kemudian, beberapa kali bayangan itu berkelebat dan melayang turun, dan ia sudah berada di dalam gedung yang amat luas itu.

Di bawah sebuah lampu dinding di dekat taman ia berhenti, kemudian memandang ke sekeliling sambil tersenyum. Selama tujuh tahun ini tidak banyak perubahan, nampak di rumah itu masih tetap mewah dan indah. Rumah yang amat dikenalnya.

Lalu ia mengingat-ingat. Ada tiga orang selir muda dan cantik yang menjadi saingannya dan yang dulu melaporkannya kepada Coa-wangwe. Di samping tiga orang selir itu, juga terdapat dua orang pelayan pria dan seorang tukang kebun pria. Sudah lama ia merencanakan cara dia membalas dendam, dan kini dia tersenyum sendiri.

Senyum itu membuka sepasang bibir yang merah basah, dan memperlihatkan kilatan giginya yang putih berderet rapi. Cantik memang, akan tetapi juga mengerikan, karena sepasang matanya mencorong. Wajah yang cantik itu sungguh-sungguh seperti wajah seorang siluman tulen!

Dia masih ingat di mana adanya kamar-kamar para selir dan para pelayan itu. Dengan amat mudahnya, ia membuka daun jendela sebuah kamar dan bagaikan seekor kucing saja, ia melompat ke dalam kamar. Ia membuka kelambu pembaringan yang tertutup dan melihat seorang di antara musuh-musuhnya, yaitu selir yang tinggi semampai, tidur nyenyak seorang diri memeluk guling.

Ia mengguncang pinggul wanita itu yang segera membuka matanya dan terbelalak saat melihat seorang wanita cantik yang asing di depan pembaringannya.
“Apa... siapa kau...?” tanyanya gagap.

Pek Lan tersenyum manis. “Benarkah engkau sudah lupa kepadaku? Ingat tujuh tahun yang lalu...”
“Pek Lan...! Kau... Pek Lan...?” selir itu berseru kaget.

Akan tetapi, pada saat itu Pek Lan menggerakkan tangannya dan selir itu terkulai lemas dan tak mampu lagi mengeluarkan suara. Matanya terbelalak ketakutan ketika Pek Lan menariknya, memanggulnya dan membawanya melompat keluar dari kamar melalui jendela yang daunnya ia tutupkan kembali.

Ia membawa tubuh selir itu ke dalam Pondok Merah, yaitu sebuah bangunan mungil di tengah taman di mana biasanya Hartawan Coa menghibur diri, mendengarkan nyanyian dan melihat tarian yang dilakukan oleh para selirnya atau rombongan penari yang diundangnya. Karena malam itu Pondok Merah tidak digunakan, maka pintunya dikunci dari luar. Akan tetapi, dengan mudah Pek Lan mendorongnya terbuka dan ia membawa tubuh selir itu ke sebuah kamar di pondok itu, kemudian melemparkan tubuh itu ke atas pembaringan.

Selir itu hanya dapat terbelalak, tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya, akan tetapi dia ngeri melihat pandang mata Pek Lan yang mencorong seperti bukan mata manusia biasa itu!

Selir ke dua juga diseret ke dalam Pondok Merah dalam keadaan tertotok, lumpuh dan tidak mampu mengeluarkan suara oleh Pek Lan dan dilempar ke dalam kamar yang lain dalam pondok.

Ketika ia memasuki kamar selir ke tiga yang menjadi musuhnya, ternyata selir ini tidur dengan seorang anak perempuan berusia kurang lebih dua tahun. Kiranya selir ini telah mempunyai anak. Akan tetapi ia tidak peduli. Ia menotok selir ini dan juga menotok anak kecil itu supaya jangan menangis dan menggagalkan rencananya, kemudian membawa pula selir ke tiga ini ke dalam Pondok Merah. Kebetulan pondok itu memiliki tiga buah kamar dan kini tiga orang selir itu telah berada di dalam kamar-kamar itu.

Kini Pek Lan menuju ke deretan kamar para pelayan. Ia pun masih ingat di mana letak kamar dari para pelayan yang dianggapnya musuh. Seorang di antara mereka sudah mempunyai isteri yang juga bekerja di situ sebagai tukang cuci. Ia tak peduli, dan seperti yang dilakukan pada para selir tadi, ia pun dengan mudah, seperti setan saja, memasuki kamar pelayan dan menotok mereka, lalu menyeret mereka menuju ke pondok di taman bunga.

Isteri salah seorang di antara tiga pelayan pria itu pun ditotoknya sehingga tidak mampu berkutik mau pun berteriak. Pek Lan melempar-lemparkan tiga orang pelayan pria itu ke atas pembaringan di dalam tiga buah kamar. Mereka tergeletak tumpang tindih di atas pembaringan tanpa dapat berteriak, juga mereka hanya terbelalak saja ketakutan ketika Pek Lan merobek-robek pakaian mereka sehingga enam orang di dalam tiga kamar itu semua menjadi telanjang bulat.

Setelah membiarkan tiga pasang manusia itu tumpang tindih di atas pembaringan dalam keadaan tanpa pakaian, Pek Lan tersenyum girang. Di bawah sinar lampu, wajahnya yang cantik manis itu nampak sungguh menyeramkan, menyeringai laksana iblis betina. Matanya mencorong dan giginya berkilauan.

Kemudian ia menyelinap ke belakang rumah pondok itu dan membakar bagian belakang rumah, lalu dipukulnya kentongan bambu untuk membuat gaduh. Sebentar saja semua penghuni rumah gedung hartawan Coa menjadi gempar mendengar suara kentongan bertalu-talu dari belakang itu. Mereka segera memasuki taman dan menjadi semakin geger melihat pondok di taman itu.

“Pondok Merah kebakaran!” demikian teriakan mereka.

Semua orang lalu berusaha memadamkan api yang membakar bagian belakang pondok itu dengan siraman air. Tiga pasang orang yang berada di dalam tiga kamar itu tentu saja mendengar semua keributan ini, namun mereka tidak mampu bergerak dan hanya menanti dengan hati tegang.

Akhirnya api itu padam dan dipimpin oleh Coa-wangwe sendiri, semua orang memasuki pondok mengadakan pemeriksaan dan apa yang mereka dapatkan? Tiga pasang orang yang saling tindih di atas pembaringan dalam tiga kamar itu, tanpa pakaian sama sekali!

Tentu saja keadaan menjadi semakin geger. Semua orang tahu bahwa tiga orang selir Coa-wangwe secara tidak tahu malu sekali sudah mengadakan perjinahan dengan tiga orang pelayan pria. Agaknya mereka demikian asyik sehingga mereka tidak tahu bahwa pondok yang menjadi tempat pertemuan mereka itu terbakar bagian belakangnya!

Ketika tiga pasang orang itu tidak mampu bergerak, hanya memandang dengan wajah ketakutan, Coa-wangwe tentu saja menganggap mereka itu hanya pura-pura atau tidak mampu bergerak karena ketakutan. Dia tetap tidak peduli dan menyuruh para pelayan menyeret enam orang itu turun dari pembaringan, lalu dalam keadaan masih telanjang bulat mereka diberi hukuman masing-masing dua puluh kali cambukan bagi para selir dan lima puluh kali cambukan bagi para pelayan pria.

Kulit punggung dan pinggul mereka sampai pecah-pecah berdarah. Setelah itu, mereka diusir, hanya boleh membawa pakaian mereka saja, bahkan selir yang sudah memiliki anak, tidak diperbolehkan membawa anaknya.

Setelah melampiaskan kemarahannya, marah bukan hanya karena selir-selirnya berani menyeleweng dengan para pelayan, melainkan akibat nama baiknya tercemar karena seluruh penduduk Ye-ceng pasti akan segera mendengar peristiwa yang memalukan sekali itu, Coa-wangwe memasuki kamarnya. Dia tidak memperbolehkan isterinya atau selir lain menemaninya sebab ia ingin mengaso dan membiarkan hawa amarah mereda.

Akan tetapi, ketika dia memasuki kamarnya yang besar dan mewah, menutupkan pintu karena dia tidak ingin diganggu, dan membalik hendak menuju ke pembaringannya, dia terbelalak dan mulutnya ternganga. Di atas pembaringannya itu sedang rebah seorang wanita yang luar biasa cantiknya. Cantik manis, kulitnya yang putih mulus itu nampak karena pakaiannya setengah terbuka. Sepasang mata yang mengerling tajam, senyum yang semanis madu dan sikap yang menantang!

“Kau... kau... Pek Lan?” Coa-wangwe berseru heran dan juga terkejut.

Biar pun wanita itu tidak semuda dulu lagi, namun ia telah menjadi seorang wanita yang matang, jauh lebih menarik dari pada dulu ketika masih menjadi selirnya, ketika masih berusia tujuh belas tahun! Pek Lan yang rebah di pembaringannya, miring menghadap kepadanya itu adalah seorang wanita yang matang dan merangsang!

Pek Lan tersenyum. Manis!

“Aihh, Coa-wangwe, engkau masih ingat kepadaku? Sungguh menggembirakan!”
“Tentu saja aku masih ingat!” Hartawan itu mendekati pembaringan, lalu duduk di tepi pembaringan. “Siang malam aku ingat kepadamu, Pek Lan, wajahmu selalu terbayang dan aku amat rindu kepadamu, sayang. Setelah engkau pergi, barulah aku tahu betapa besar cintaku kepadamu...”

Tangan hartawan tua itu hendak meraih, akan tetapi wanita itu mengelak.

“Hemm, kalau memang benar engkau begitu cinta kepadaku, kenapa engkau mengusir aku? Sesungguhnya anak angkatmu itulah yang kurang ajar! Dulu aku dipaksanya dan karena aku takut, dia itu anak angkatmu, terpaksa aku tidak dapat membantah. Kenapa engkau tidak melihat kenyataan itu? Engkau telah dihasut oleh tiga orang selirmu itu. Dan apa buktinya sekarang? Merekalah yang berjinah, bahkan dengan para pelayan. Sungguh memalukan keluarga dan mencemarkan nama dan kehormatanmu!”

Hartawan Coa menghela napas panjang. “Salahku, aku begitu bodoh. Tapi, sekarang mereka telah kuhukum dan kuusir. Dan engkau, Pek Lan... engkau begini cantik jelita... aih, kulitmu begitu mulus, engkau lebih cantik manis dari pada dahulu. Engkau kembali, sayang? Engkau akan kujadikan selir pertama, bukan, tapi akan kuangkat menjadi isteri yang sah!”

Kembali tangan hartawan itu meraih. Ketika Pek Lan membiarkan dan tangan hartawan itu menyentuh lengan yang berkulit lembut dan hangat, hartawan itu segera dirangsang nafsu birahi. Akan tetapi ketika dia mulai hendak merangkul, Pek Lan melompat turun dari tempat tidur.

Melihat wanita itu berdiri di lantai, Coa-wangwe menjadi semakin kagum. Tubuh itu kini demikian padat, menggiurkan, tidak lagi kekanak-kanakan seperti dahulu!

“Pek Lan...!”
“Cukup! Turunlah dan jangan merengek seperti itu. Aku datang bukan untuk itu. Aku tidak butuh cintamu, tidak butuh laki-laki macam engkau yang sudah tua dan berperut gendut berkepala botak itu!”
“Pek Lan...!”
“Dengar! Aku datang untuk menagih hutang! Dahulu engkau pernah mengusirku, tanpa memberi bekal sedikit pun. Padahal aku telah menyerahkan diri padamu, menyerahkan kegadisanku dan mandah saja menjadi barang mainanmu, menjadi pemuas nafsumu. Sekarang engkau harus membayar untuk itu semua! Aku akan mengambil semua harta milikmu yang kau simpan di dalam almari tebal ini!” Ia sudah hafal akan hal itu dan kini ia menghampiri sebuah almari hitam yang berdiri di sudut.

Melihat dan mendengar ini, Coa-wangwe menjadi sangat terkejut dan lenyaplah sudah nafsu birahinya, seperti awan tipis ditiup angin.

“Pek Lan, apa yang kau lakukan itu?!” bentaknya marah.

Tentu saja dia tidak merasa takut kepada bekas selirnya itu. Dia pun melangkah lebar menghampiri Pek Lan dan menjulurkan tangan untuk menangkap lengan wanita itu agar tidak menghampiri almari besi tempat hartanya tersimpan.

“Plakk! Dukk!”

Dan hartawan Coa terjungkal. Lengannya yang tertangkis seperti patah rasanya, dan perut yang ditendang menjadi mulas.

“Aku datang hanya untuk mengambil hartamu, bukan mengambil nyawamu!” kata Pek Lan. “Akan tetapi kalau aku marah, nyawamu juga akan kuambil sekalian!”

Sekarang hartawan itu ketakutan dan dia berlari ke arah pintu kamar. Pek Lan tidak mempedulikan dan ia sudah membuka almari tebal itu dengan mudah walau pun almari itu dikunci. Begitu terbuka, nampaklah bahwa almari itu dipenuhi perhiasan-perhiasan dari emas permata, juga bongkah-bongkah emas murni yang berkilauan.

“Tolong...! Perampok..., pembunuh...!” Coa-wangwe yang sudah keluar dari kamar itu menjerit-jerit.

Pek Lan tidak peduli, enak-enak saja mengumpulkan emas dan perhiasan itu ke dalam sebuah kantung kain yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Lima orang jagoan yang menjadi tukang pukul, tukang tagih dan penjaga keamanan keluarga hartawan itu sudah dipanggil dari luar dan kini mereka berlima lari menuju ke kamar itu. Begitu mereka tiba di ambang pintu kamar, mereka bengong dan menoleh kepada Coa-wangwe.

Di dalam kamar itu hanya terdapat seorang wanita cantik, sama sekali tidak nampak ada perampok. Bahkan wanita cantik itu memasukkan emas dari dalam almari ke dalam sebuah kantung.

“Maaf, loya, di mana perampoknya?”
“Mana ada pembunuh?”

Coa-wangwe menuding ke arah Pek Lan. “Ia itulah perampoknya! Lihat, ia mengambil semua hartaku, dan ia sudah memukulku!” Dia meringis kesakitan, mengelus perutnya yang masih mulas.

Lima orang penjaga itu tentu saja menjadi bengong. Wanita cantik itu perampoknya? Dan kini, seorang di antara mereka yang paling lama bekerja di situ mengenal Pek Lan.

“Bukankah... bukankah engkau nona Pek Lan...?”

Pek Lan yang masih sibuk memasuk-masukkan barang berharga itu ke dalam kantung, menoleh dan tersenyum manis. “Hemm, engkau masih mengenaliku? Bagus, untuk itu aku tidak akan membunuhmu!”

Coa-wangwe menjadi marah. “Untuk apa kau bercakap-cakap dengan wanita iblis itu? Tangkap ia dan belenggu kaki tangannya!”

Lima orang jagoan itu memasuki kamar dan mengepung Pek Lan dengan setengah lingkaran.

“Nona Pek Lan, lebih baik kalau engkau menyerah saja dan tidak melawan sehingga tak perlu kami mempergunakan kekerasan,” kata penjaga yang sudah mengenalnya itu. Dia merasa sayang sekali jika harus mempergunakan kekerasan terhadap wanita yang luar biasa cantik manisnya itu.

Kantung itu sudah penuh dan biar pun almari itu masih belum terkuras semua, namun sebagian besar perhiasan yang termahal sudah berpindah tempat. Pek Lan mengikat mulut kantong itu dan dengan kain sutera yang telah dibawanya, digendongnya kantung yang cukup berat itu di punggung, kemudian ia menghadapi lima orang penjaga sambil tersenyum.

“Majulah dan turuti majikan kalian kalau kalian ingin merasakan kematian!”

Tentu saja lima orang penjaga itu tidak takut. Ancaman itu hanya keluar dari mulut seorang wanita cantik yang dulunya adalah selir majikan mereka! Seorang wanita muda cantik yang lemah lembut dan berkulit halus mulus seperti itu, tentu saja sama sekali tidak menakutkan!

Empat orang penjaga tidak sabar lagi dan mereka memang sudah ingin sekali segera menangkap dan merangkul wanita cantik itu. Maka mereka pun menyerbu dan seperti hendak berebut saling mendahului, mereka serentak menerkam Pek Lan.

Wanita ini tersenyum. Tubuhnya berkelebat, kaki tangannya bergerak dan kelima orang penjaga itu pun terjengkang! Entah apa yang dilakukan, tidak bisa dilihat oleh lima orang itu saking cepatnya gerakan kaki tangan Pek Lan. Tahu-tahu lima orang itu merasakan dada atau perut mereka terpukul atau tertendang, keras sekali, membuat tubuh mereka terjengkang.

Coa-wangwe dan para selir dan pelayan yang berada di luar kamar, mundur ketakutan melihat betapa lima orang penjaga itu terjengkang dan terbanting.

“Tangkap dia! Bunuh!” Coa-wangwe memberi semangat kepada lima orang penjaganya yang sudah bangkit kembali. Dia merasa khawatir sekali melihat betapa hampir semua hartanya diambil oleh Pek Lan.

Lima orang penjaga itu menjadi malu sekali. Hanya dalam segebrakan mereka sudah dirobohkan oleh seorang wanita muda yang cantik! Mereka kini mencabut senjata golok dari pinggang dan dengan sikap mengancam mereka mengepung lagi dari depan.

Melihat ini, Pek Lan tersenyum. “Apa bila kalian berani menyerangku dengan golok itu, kalian akan mampus!”

Akan tetapi, lima orang penjaga itu sudah terlalu marah. Dan karena mereka memegang senjata, pula mereka berlima, tentu saja mereka tidak gentar menghadapi Pek Lan yang bertangan kosong, biar mereka tahu bahwa wanita itu lihai sekali. Sambil mengeluarkan bentakan keras, mereka pun maju menerjang, golok mereka gemerlapan tertimpa sinar lampu dan lima batang golok sudah menyambar-nyambar ke arah Pek Lan.

Akan tetapi, dengan tenang sekali Pek Lan berloncatan. Tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan yang menyelinap di antara gulungan sinar golok. Dan anehnya, tak pernah ada golok yang mampu menyentuhnya.

Tiba-tiba, penjaga yang mengenal Pek Lan tadi mengaduh dan dia pun roboh, goloknya sudah berpindah ke tangan Pek Lan! Empat orang penjaga lain mempercepat gerakan serangan mereka.

Akan tetapi Pek Lan cepat menggerakkan goloknya, dengan gerakan memutar sehingga nampak sinar panjang golok itu menyambar ke arah empat orang lawannya. Terdengar mereka itu menjerit dan seorang demi seorang roboh berkelojotan dengan leher hampir putus! Darah bercucuran membanjiri lantai.

Pek Lan memandang pada penjaga yang mengenalnya tadi, yang dirobohkannya hanya dengan tendangan dan dirampas goloknya. Dia pun tersenyum.

“Aku sudah berjanji tidak akan membunuhmu!” katanya.

Akan tetapi goloknya bergerak dan orang itu pun menjerit karena pundaknya terbacok golok sehingga terluka parah. Akan tetapi, betapa pun parahnya, dia tidak akan mati.

Pek Lan meloncat keluar kamar. Semua selir dan pelayan lari ketakutan. Coa-wangwe juga melarikan diri, akan tetapi suara halus terdengar membentak di belakangnya.

“Engkau hendak mencelakai aku, maka patut dihukum!”

Goloknya menyambar dan hartawan itu menjerit-jerit sambil memegangi kepala dengan dua tangan. Dua buah daun telinganya telah buntung terbabat golok. Pek Lan tertawa, membuang goloknya lalu melompat keluar, menghilang di dalam kegelapan malam.

Peristiwa itu tentu saja cepat sekali tersiar dan dalam waktu beberapa hari saja, hampir seluruh penduduk koto Ye-ceng telah mendengar akan peristiwa hebat yang menimpa keluarga Coa.

Bukan hanya orang suka sekali membicarakan mala petaka yang menimpa keluarga Coa, juga membicarakan aib yang mencemarkan nama dan kehormatan hartawan itu, tapi yang paling menggegerkan orang adalah berita tentang Pek Lan yang kini menjadi seorang wanita cantik yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan juga berwatak amat kejam.

Peristiwa lain yang amat menggemparkan adalah ditemukannya tiga orang pria muda yang sudah menjadi mayat di dalam sebuah kuil tua. Mereka tewas dalam keadaan yang amat aneh, yaitu berada di atas pembaringan di dalam kuil tua itu, hampir tanpa pakaian, dan kepala mereka retak seperti telah dipukul dengan benda keras.

Tidak seorang pun menduga bahwa mereka ini, tiga orang pemuda tampan itu, ternyata juga tewas di tangan Pek Lan, bahkan tangan lembut halus itulah yang telah membikin retak kepala mereka dengan tamparan yang sangat ampuh! Pek Lan membunuh tiga orang muda itu karena mereka itu dianggap akan dapat membocorkan rahasianya!

Maka muncullah di dunia kang-ouw seorang iblis betina yang amat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari pada Hek-in Kui-bo, guru Pek Lan di waktu masih muda. Biar pun Hek-in Kui-bo dahulu juga seorang wanita gila laki-laki, pengumbar nafsu jahat, namun dibandingkan Pek Lan, ia masih kalah sedikit.

Pek Lan, di samping ilmu kepandaiannya yang tinggi, dan perasaan bencinya kepada semua orang yang dianggap merugikan, juga memiliki kecantikan yang amat menarik. Dengan senjata ini, mudah saja baginya untuk menjatuhkan hati setiap orang pria yang akan dijadikan korbannya…..

********************
Wanita itu memang manis. Seorang wanita petani yang rajin. Agaknya karena sudah terbiasa bekerja keras di sawah ladang, maka wanita itu memiliki tubuh yang padat dan sehat kuat. Pinggangnya ramping, pinggulnya besar, tubuhnya tegak. Biar pun kulit kaki tangan, leher dan mukanya agak kecoklatan karena sinar matahari, namun coklat yang sehat dan kulit itu tetap halus mulus.

Wajahnya yang manis tidak berkurang karenanya, bahkan nampak lebih manis karena mengandung kewajaran tanpa alat rias. Usianya masih muda, paling banyak dua puluh lima tahun.

Wanita petani ini sedang sibuk mencabuti rumput dan tumbuh-tumbuhan liar di antara tanaman gandum. Ia menggunakan cangkul atau kadang-kadang juga sebuah arit dan ia bekerja dengan asyik sekali. Sungguh merupakan penglihatan yang mengagumkan.

Wanita itu kadang-kadang membungkuk, dan dua tangannya bergerak dengan cekatan. Bentuk tubuhnya indah pada waktu membungkuk, dan kadang juga berdiri tegak untuk membuang segenggam rumput keluar ladangnya. Celana kakinya digulung sampai ke lutut dan kaki itu terbenam ke tanah berlumpur sebatas betis, sehingga kulit kaki antara betis dan lutut nampak putih mulus, jauh berbeda dengan kulit tubuh yang terbuka dan terbakar matahari.

Wanita itu bekerja dengan sangat tekun dan asyik sehingga ia pun sama sekali tidak melihat bahwa seorang pria yang tadinya berjalan di jalan raya tak jauh dari ladangnya, kini berhenti dan sampai lama orang itu memandang kepadanya dengan kagum. Pria itu adalah seorang pemuda yang mudah sekali dikenal, karena punggungnya bongkok, di bawah tengkuk terdapat sebuah daging menonjol besar. Dia adalah Sie Liong!

Setelah beberapa saat seperti terpesona menyaksikan pemandangan indah itu, bukan hanya kemanisan wanita petani, melainkan keseluruhan tamasya alam yang melatar belakangi bentuk tubuh wanita itu, Sie Liong sadar bahwa sungguh tidak sopan kalau memandangi seorang wanita seperti itu. Akan tetapi, pemandangan itu amat indahnya sehingga seolah-olah menahannya untuk tinggal lebih lama di tempat sunyi itu.

Latar belakang ladang itu merupakan pegunungan yang hijau dan ladang di belakang wanita itu amat luas, juga kehijauan dengan tanaman gandum. Sunyi. Hanya nampak di kejauhan beberapa orang wanita atau pria yang juga membersihkan ladang mereka seperti yang dilakukan wanita itu.

Hawa udara sangat segar, matahari amat cerah, dan duduk di bawah lindungan pohon besar itu sungguh teduh dan nyaman. Sie Liong duduk di bawah pohon di tepi jalan, dan kesunyian itu membuat dia melamun. Terkenanglah dia kepada semua peristiwa yang menimpa dirinya, yang baru lalu.

Terkenang dia akan kunjungannya kepada enci-nya, pertemuannya dengan enci-nya, cihu-nya, kemudian dengan Yauw Bi Sian. Kemudian betapa cihu-nya yang kini berubah sama sekali wataknya itu dibunuh orang, dan menurut Bi Sian, pembunuhnya adalah dia! Padahal, dia sama sekali tidak melakukan perbuatan itu!

Bahkan enci-nya sendiri pun menyangka dia yang menjadi pembunuh untuk membalas dendam kematian orang tuanya. Kiranya cihu-nya itu yang telah membunuh ayah dan ibunya, juga suheng-nya dan seorang pelayan, juga semua binatang peliharaan orang tuanya. Jelaslah bahwa cihu-nya itu mendendam kepada orang tuanya, amat membenci orang tuanya. Dia sendiri pun tentu telah dibunuh cihu-nya itu kalau tidak ada enci-nya, Sie Lan Hong.

“Enci Hong, sungguh kasihan engkau...” Sampai di sini Sie Liong mengeluh dalam hati.

Dia dapat membayangkan betapa sengsara keadaan enci-nya ketika pembunuhan atas keluarga mereka itu terjadi! Untuk menyelamatkan dirinya, seorang adik yang ketika itu masih kecil, baru berusia sepuluh bulan, maka enci-nya itu telah mengorbankan dirinya! Ia menyerahkan dirinya kepada si pembunuh kejam itu, demi untuk menyelamatkan diri adiknya. Dan akhirnya, enci-nya itu bahkan menjadi isteri pembunuh. Mereka saling mencinta! Dan dia pun selamat, tidak ikut dibunuh!

Tidaklah aneh apa bila enci-nya menuduh dia yang sudah membunuh Yauw Sun Kok. Bukankah sudah sepatutnya kalau dia membunuh orang yang telah membasmi keluarga orang tuanya itu? Apa lagi di sana masih ada Bi Sian yang dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa gadis itu telah melihat dia pada malam pembunuhan terjadi. Melihat dia, bongkoknya, bertopeng dan kemudian topeng itu ditemukan pula oleh Bi Sian, di luar kamarnya.

Sungguh aneh sekali! Siapa yang telah membunuh Yauw Sun Kok? Dan mengapa pula pembunuh itu agaknya menyamar sebagai dirinya untuk menjatuhkan fitnah padanya? Padahal, dia tidak pernah mempunyai musuh di kota Sung-jan, kecuali... cihu-nya, tentu saja.

Tadinya dia merasa penasaran dan hendak melakukan penyelidikan untuk membongkar rahasia pembunuhan itu, untuk membuktikan bahwa dia bukan pembunuhnya. Akan tetapi kemudian ketika dia menemui enci-nya, Sie Lan Hong, enci-nya itu membuka rahasia yang selama itu dipedamnya, yaitu bahwa cihu-nya itulah orang yang sudah membunuh ayah dan ibunya.

Tentu saja dia terkejut bukan main, dan mendengar bahwa cihu-nya sejahat itu, dia pun kehilangan semangat untuk mencari pembunuh cihu-nya. Biarlah dia dibunuh orang, memang itu setimpal dengan kejahatannya. Dan dia pun tahu bahwa kini Bi Sian amat membencinya, sakit hati kepadanya. Kalau dia tidak cepat-cepat melarikan diri, tentu gadis itu akan menyerangnya dan memaksanya mengadu nyawa. Dan dia sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi. 

Dia cinta Bi Sian! Dia telah jatuh cinta kepada gadis itu, kepada keponakannya sendiri! Bahkan dia telah mencintanya sejak mereka masih sama-sama kecil. Kenyataan inilah yang membuat hati pemuda bongkok itu merasa lebih ngeri lagi, maka dia pun cepat melarikan diri, menjauhkan diri seperti orang ketakutan.

Sie Liong menghela napas ketika lamunannya membawa dia teringat kepada Bi Sian. Wajah yang manis dan jenaka itu terbayang di depan matanya, dan dia pun tersenyum. Segala yang ada pada Bi Sian amat menyenangkan hatinya, mendatangkan perasaan gembira.

Dia harus pergi jauh. Dia akan pergi ke Tibet, untuk memenuhi pesan para gurunya, yaitu melakukan penyelidikan mengenai Lima Harimau Tibet yang mengaku sebagai utusan Dalai Lama dan yang berusaha keras untuk membasmi para pendeta, terutama para tosu yang melarikan diri dari Himalaya, seperti Himalaya Sam Lojin yang menjadi gurunya, juga Pek-sim Siansu, supek yang juga menjadi gurunya sendiri.

Dia harus mampu menunaikan kewajiban ini dengan berhasil. Dia juga harus mampu menjernihkan suasana dan mencari sebab yang mendorong para pendeta Lama di Tibet memusuhi para tosu di Himalaya.

Memang merupakan pekerjaan yang besar dan amat sukar, bahkan amat berbahaya, namun dia sudah mengambil keputusan untuk melaksanakan tugas itu sampai berhasil atau dia boleh mempertaruhkan nyawanya. Semua itu tiada artinya kalau dibandingkan dengan budi besar yang telah diterimanya dari para gurunya. Kalau tidak ada mereka, dia hanyalah seorang pemuda bongkok yang tidak berdaya dan tidak ada manfaatnya, tidak ada artinya hidup di dunia, hanya menjadi bahan cemoohan belaka.

Alangkah cantiknya wanita petani itu, pikirnya. Dan alangkah bahagianya orang yang menjadi suaminya. Pasti ia sudah memiliki suami, pikirnya. Mengapa wanita itu bekerja seorang diri? Mana suaminya? Betapa akan menyenangkan hati kalau suaminya juga ikut pula bekerja. Pekerjaan akan terasa ringan. Ahh, betapa bahagianya wanita itu dan suaminya!

Sie Liong merasa heran mengapa hal-hal yang sekecil ini membuat dia membuka mata bahwa kebahagiaan sesungguhnya berada di dalam diri siapa saja. Setiap orang dapat menikmati kebahagiaan hidupnya apa bila dia tidak memikirkan hal-hal lain, tidak menginginkan hal-hal lain.

Apa bila orang menyadari betapa berlimpahnya kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, apa bila dia menyerahkan segalanya kepada Tuhan, maka akan nampak bahwa hidup ini sebetulnya merupakan nikmat pemberian dan anugerah Tuhan yang tak terlukiskan besarnya. Bahkan bernapas pun mendatangkan kenikmatan dan kebahagiaan, belum lagi makan, minum dan segala kegiatan lain.

Duduk melamun di bawah pohon itu pun mengandung kenikmatan tersendiri, seperti yang sedang dirasakan oleh Sie Liong!

“Ya Tuhan, terima kasih atas segala rahmat-Mu...” Sie Liong berbisik.

Wajahnya kini cerah sekali, senyum menghias bibirnya. Pada saat itu, lupalah dia akan segala hal, akan enci-nya, Bi Sian, pembunuhan atas diri cihu-nya, bahkan dia pun lupa akan bongkoknya!

Semua begitu indah apa bila pikiran tidak dikacaukan oleh ingatan akan hal-hal yang dianggap tidak menguntungkan dan tidak menyenangkan ‘aku’.

Akan tetapi, tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada tujuh orang yang datang dari jauh menuju ke tempat itu. Mereka itu tujuh orang laki-laki yang agaknya hendak pergi ke dusun para petani. Melihat sikap mereka, diam-diam Sie Liong mengerutkan alisnya.

Mereka itu jelas bukan petani. Cara mereka berjalan melenggang, pakaian dan sikap mereka, bahkan melihat gagang golok dan pedang tersembul di balik pundak mereka, jelas bahwa mereka itu adalah golongan orang-orang persilatan, atau orang kang-ouw. Mungkinkah ada orang-orang kang-ouw yang tinggal di dusun itu? Ataukah mereka itu pendatang dari luar?

Kekhawatirannya terbukti ketika dia melihat beberapa orang petani, laki-laki dan perempuan, melarikan diri meninggalkan sawah ladang mereka. Semua petani yang tadi bekerja di ladang, melarikan diri begitu melihat tujuh orang laki-laki itu, kecuali wanita yang tadi membangkitkan rasa kekaguman di hati Sie Liong. Ia sedang asyik mencabuti rumput, dengan membungkuk membelakangi jalan sehingga ia tak melihat kedatangan tujuh orang laki-laki itu.

Sie Liong siap siaga, akan tetapi ia masih duduk di bawah pohon. Dengan duduk seperti itu, ia memang agak tersembunyi oleh semak alang-alang yang tumbuh di tepi selokan dekat ladang. Namun ia memandang penuh perhatian. Kini tidak ada lagi petani yang bakerja di ladang yang luas itu kecuali wanita tadi.

Tepat seperti yang dikhawatirkan, tujuh orang laki-laki itu berhenti melangkah ketika tiba di dekat ladang di mana wanita itu masih terus bekerja. Wanita itu menungging dengan pinggul ke arah mereka, tidak menyadari bahwa cara ia berdiri dan bekerja ini seolah memamerkan pinggulnya yang bulat dan besar itu, tidak tahu bahwa ada tujuh orang kasar sedang menikmati pemandangan yang mengagumkan mereka itu. Dan seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan agaknya menjadi pemimpin mereka, tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, sungguh indah sekali tubuh itu! Coba kulihat bagaimana wajahnya!”

Dia mengambil sebuah batu dan melempar batu itu dengan keras ke arah tanah lumpur dekat wanita itu. Air lumpur memercik dan mengotori pakaian wanita itu yang agaknya baru sadar dan ia pun cepat meluruskan tubuh, membalikkan kepala memandang.

Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga ketika ia melihat tujuh orang itu. Ia menoleh ke kanan kiri dan baru sekarang ia tidak melihat adanya mereka yang tadi bekerja di ladang. Wanita itu kini terbelalak, mukanya pucat sekali dan matanya mengingatkan Sie Liong kepada mata seekor kelinci yang sering ditangkapnya. Liar ketakutan!

“Ha-ha-ha, cantik! Manis sekali! Perempuan dusun tentu sehat dan segar, ha-ha-ha!” Si brewok itu dengan langkah lebar lalu menghampiri tepi ladang, berdiri di tepi sambil menjulurkan tangan ke arah wanita itu.
“Manis, ke sinilah dan bersihkan kaki tanganmu. Marilah engkau ikut saja dengan kami, ha-ha-ha!”

Wanita itu agaknya, seperti para petani lainnya, sudah tahu siapa adanya tujuh orang laki-laki itu. Dengan tubuh menggigil dan muka pucat ia hanya menggelengkan kepala tanda ia tidak mau, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulut yang gemetar itu.

“Ahh, manis, jangan malu-malu. Nanti kalau kami mendapatkan sumbangan yang cukup banyak dari dusun-dusun, tentu aku tidak akan melupakanmu dan akan memberi hadiah yang besar kepadamu. Hayolah, senangkan dan hibur hati kami yang sedang kesepian ini, manis. Ha-ha-ha!”

Enam orang lainnya yang menunggu di pinggir jalan ikut pula tertawa. Mereka semua senang sekali melihat wanita petani yang berwajah manis dan bertubuh padat itu.

Wanita itu tidak berani berkutik, berdiri menggigil dan terus saja menggeleng kepala tanda bahwa ia tidak sudi memenuhi permintaan si brewok itu.

Sekarang Si brewok membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa? Kau berani menolak perintah Tiat-jiauw Jit-eng (Tujuh Garuda Bercakar Besi)?” Dia memukulkan kepalan kanannya pada telapak tangan kiri sehingga mengeluarkan bunyi keras. “Apa engkau sudah bosan hidup dan memilih mampus? Sebelum mampus pun kau tidak akan lepas dari tangan kami! Apa kau lebih suka diperkosa sampai mati dari pada melayani kami dengan manis?”

Wanita itu menjadi semakin pucat dan tiba-tiba kakinya yang menggigil tak mampu lagi menahan tubuhnya. Ia jatuh berlutut di atas lumpur! Dan ia memberi hormat kepada si brewok itu.

“Ampunkan saya... saya sudah bersuami..., ampunkan saya...”
“Ha-ha-ha, lebih baik lagi! Kalau engkau sudah bersuami, lalu apa sukarnya melayani kami? Hayo, ke sinilah!” Si brewok kembali menjulurkan tangannya ke arah wanita itu.
“Tidak... tidak... tidak!” Wanita itu menjerit histeris lalu menangis.

Marahlah si brewok. Agaknya dia tidak mau turun ke lumpur karena sepatunya masih baru. Dia menengok dan memerintahkan anak buahnya. “Turun dan seret ia ke mari!”

Seorang di antara mereka, yang termuda, berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, sedangkan yang lain antara empat puluh lima tahun, segera melangkah maju dengan sikap gagah.....
Orang ini mukanya kecil sempit dan panjang, kepucatan seperti orang berpenyakitan, matanya sipit dan hidungnya pesek. Dia menyeringai ketika dia turun ke ladang untuk menghampiri wanita itu yang bangkit berdiri dan mencoba untuk melarikan diri menjauhi orang itu.

Ia adalah seorang wanita, akan tetapi sejak kecil ia bekerja di sawah ladang. Tubuhnya kuat sekali dan sudah terbiasa di lumpur, maka ia dapat berlari cepat. Berbeda dengan laki-laki yang mengejarnya.

Biar pun dia seorang kasar yang memiliki kekuatan dan kepandaian, akan tetapi belum pernah dia berjalan di dalam lumpur, apa lagi dia bersepatu, tidak seperti wanita petani itu yang bertelanjang kaki. Maka, sukarlah baginya untuk menangkap wanita itu! Semua kawan-kawannya menjadi sangat gembira dan mereka pun serentak mengepung ladang itu, menghadang wanita yang hendak melarikan diri.

Wanita itu menjadi semakin ketakutan. Hanya pinggir yang dihalangi solokan itulah yang tidak dihadang penjahat, maka ia pun lari ke situ dan meloncat ke dalam solokan, terus mendaki dan dikejar oleh tujuh orang itu yang membuat gerakan menakut-nakuti sambil tertawa-tawa. Mereka memperoleh hiburan, seperti tujuh ekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum menerkan dan mengganyangnya.

Kebetulan sekali wanita itu melihat Sie Liong yang duduk di bawah pohon, maka ia pun berlari ke arah pohon itu, lalu menubruk Sie Liong yang masih duduk bersila.

Sie Liong merasa betapa wanita itu merangkulnya, dan karena pakaian wanita itu penuh lumpur, maka pakaiannya sendiri pun terkena lumpur. Dia merasa betapa dada yang menempel pada pundaknya itu berdebar kencang dan bergelombang, dan betapa napas itu terengah-engah.

“Tolonglah... tolonglah saya... aduh, lebih baik saya mati dari pada tertawan mereka... tolonglah saya...”
“Enci, tenanglah dan duduklah di belakangku. Biar aku yang akan menghadapi mereka,” kata Sie Liong.

Kini tujuh orang itu sudah tiba di bawah pohon. Si brewok marah sekali melihat wanita itu berlutut di belakang seorang laki-laki yang duduk bersila. Dia tidak peduli apakah pria itu suami si wanita. Baginya, tidak peduli wanita itu bersuami atau tidak, kalau sudah dikehendakinya, harus diserahkan kepadanya!

“Heiii, siapa kau?!”

Mendengar bentakan yang nadanya sangat congkak ini, Sie Liong lalu bangkit berdiri. “Namaku Sie Liong. Aku melihat betapa kalian mengganggu wanita ini. Apakah kalian tidak malu? Kalian adalah tujuh orang laki-laki pengecut yang suka mengganggu wanita yang tidak berdaya. Pergilah kalian dari sini sebelum aku muak melihat tingkah kalian yang tidak senonoh seperti binatang itu!” berkata Sie Liong yang memang marah sekali melihat perbuatan mereka tadi.

Tujuh orang itu terbelalak. Keheranan melampaui kemarahan mereka sehingga mereka saling pandang. Ada seorang pemuda biasa, bongkok pula, berani berbicara seperti itu kepada mereka? Sungguh aneh, aneh sekali sehingga mereka seolah-olah lupa dengan kemarahan mereka, bahkan mereka mulai tertawa-tawa.

“Heh-heh, apakah engkau seorang pendekar?” tanya si brewok untuk mengejek.
“Seorang pendekar yang bongkok! Pendekar Bongkok! Ha-ha-ha!”
“Awas kau, Pendekar Bongkok. Nanti kupenggal punukmu untuk kubuat menjadi punuk panggang, baru tahu rasa kau!”

Si brewok melangkah maju satu langkah. “Hei, Sie Liong, apakah engkau sudah buta, ataukah memang tuli? Andai kata engkau tidak mengenal kami, tentu sudah mendengar akan nama besar Tiat-jiauw Jit-eng!”

Sie Liong tersenyum. “Tujuh Garuda Cakar Besi atau Tujuh Garuda Cakar Tahu aku tidak peduli.”
“Wah, pemuda bongkok ini memang sudah bosan hidup!” si brewok berkata sambil memberi isyarat kepada anak buahnya yang termuda, yang tadi mengejar-ngejar wanita itu tanpa hasil.

Si mata sipit hidung pesek ini, yang tadi merasa penasaran dan rugi karena tak mampu menerkam si manis, kini melangkah maju, lenggangnya dibuat-buat bagaikan seorang jagoan asli yang tidak pernah terkalahkan. Dia melenggang seperti layangan yang tak seimbang, condong ke kanan dan ke kiri, kepalanya ditegakkan, dadanya dibusungkan. Akan tetapi, karena dadanya memang tipis dan perutnya besar, maka yang menjadi busung bukan dadanya melainkan perutnya!

“Heiii, orang muda yang tolol! Engkau ini masih muda, lemah dan bongkok pula, apa engkau tidak tahu diri? Engkau berani menentang kami, hanya untuk membela seorang perempuan dusun? Apamukah perempuan itu?” tanyanya, suaranya dibesar-besarkan agar berwibawa. Akan tetapi karena suaranya memang kecil parau bagai suara seorang penderita batuk kering, maka tetap saja suara yang keluar sama sekali tidak berwibawa, malah lucu.

Biar pun di dalam hatinya Sie Liong merasa marah sekali, namun dia tetap tenang dan sabar. “Enci ini adalah kerabat yang paling dekat karena ia termasuk orang yang lemah dan tertindas, orang yang membutuhkan bantuan. Dan kalian adalah orang-orang jahat, manusia-manusia berwatak iblis yang patut ditentang!”

Si mata sipit hidung pesek mengerutkan alisnya dan membentak marah. “Wahh, engkau ini pemuda kurang ajar, aku yang akan menghajarmu, kusiksa sampai mampus!”

Setelah berkata demikian, dia pun menyerang. Meski pun tubuhnya kerempeng dan dia kelihatan berpenyakitan, ternyata si mata sipit hidung pesek ini dapat bergerak dengan cepat sekali dan sambaran tangan kanannya ketika menjotos ke arah muka Sie Liong mengandung tenaga yang terlatih.

“Wuuuuuttt...!”

Tonjokan dengan tangan terkepal itu menyambar ke arah pipi kiri Sie Liong. Akan tetapi pemuda bongkok ini tenang saja, seolah-olah tidak tahu bahwa dia diserang dengan tonjokan yang akan dapat membuat pipinya bengkak dan giginya rontok! Baru setelah kepalan itu hanya terpisah satu sentimeter saja dari pipinya, secepat kilat dia menarik kepala ke belakang, tangan kiri menyambar, menangkap lengan kanan lawan dan dia pun mendorong, menambahkan tenaga dorongan pukulan itu dengan tenaganya sendiri sehingga kepalan kanan si sipit pesek itu meluncur terus dan melingkar ke arah pipi kirinya sendiri.

“Desss...! Aughhhh...!”

Beberapa buah gigi berlompatan keluar dari mulutnya yang terbuka, dan hidungnya pun berdarah karena kepalan tangan kanannya tadi dengan kuat sekali telah menghantam ke arah mukanya sendiri!

“Auhh... auhh... auhhh...!”

Dia mengerang kesakitan, tidak mampu berkata ‘aduh’ karena mulutnya terasa seperti remuk. Dia membungkuk-bungkuk dan kedua tangannya sibuk memegang-megang dan meraba-raba mulut dan hidung.

Kembali maju seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi besar laksana raksasa. Mukanya hitam dengan kulit muka yang kaku seperti punggung buaya, agaknya muka itu memang rusak oleh penyakit kulit yang hebat. Di antara tujuh orang gerombolan itu, dia terkenal sebagai seorang yang mempunyai tenaga besar, dan juga wataknya amat sombong karena memang sulit mencari orang yang mampu mengalahkan raksasa muka hitam ini.

Agaknya dia masih terlalu mengandalkan kehebatan diri sendiri sehingga melihat Sie Liong mengalahkan kawannya, ia masih juga memandang rendah pemuda bongkok itu. Agaknya dia menganggap bahwa kekalahan si mata sipit hidung pesek itu tadi hanya karena kebodohannya sendiri, bukan karena kelihaian pemuda bongkok ini.

Bahkan dia merasa terlalu tinggi untuk berkelahi melawan seorang pemuda bongkok, maka dia ingin mengalahkan pemuda itu dengan wibawanya saja.

“Heii, bocah ingusan! Lekas engkau berlutut dan memanggil engkong (kakek) kepadaku, baru aku akan mengampunimu! Cepat...!” Kedua matanya yang hitam dan mencorong itu melotot galak.
“Engkong-ku sudah mati, akan tetapi seingatku, dia tak seburuk engkau,” kata Sie Liong dengan sikap tenang.
“Kalau begitu, aku akan memaksamu berlutut!” bentak si raksasa muka hitam.

Dia pun sudah menyerang dengan dua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan dada Sie Liong. Pada waktu pemuda ini menarik diri ke belakang, tiba-tiba kaki kanan raksasa itu menendang ke arah lututnya. Kalau sasaran tendangan itu terkena, tentu Sie Liong akan benar-benar diharuskan berlutut karena tendangan itu kuat bukan main.

Namun, tentu saja Sie Liong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, dapat melihat gerakan serangan ini dengan jelas, maka mudah saja baginya untuk mendahului lawan. Sebelum kaki yang menendang itu sampai ke tubuhnya, dia cepat-cepat merendahkan diri, menggeser kaki ke kiri dan dari samping tangannya monotok ke arah lutut kanan itu.

“Tukkk!”

Seketika kaki yang besar itu terasa lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi raksana muka hitam itu jatuh berlutut di atas kaki kanan dan kebetulan dia jatuh berlutut di depan Sie Liong! Pemuda itu tersenyum dan berkata dengan suara mengejek.

“Aku bukan engkong-mu, tidak perlu engkau berlutut memberi hormat!”

Tentu saja ucapannya ini membuat raksasa muka hitam itu menjadi marah sekali. Dia melompat berdiri, akan tetapi kembali dia terguling karena kakinya masih terasa lumpuh.

Melihat ini, kawan-kawannya menjadi amat marah, akan tetapi sekaligus maklum bahwa pemuda bongkok itu betul-betul seorang pendekar yang amat lihai! Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka mencabut senjata golok atau pedang dari punggung mereka dan di lain saat, Sie Liong telah dikepung tujuh orang yang memegang senjata tajam.

Melihat ini, wanita itu menangis ketakutan.

“Jangan bunuh dia... ahhh, jangan bunuh dia yang tidak berdosa...” ratapnya sambil menangis.

Mendengar ini, si brewok tertawa, “Ha-ha-ha, jadi engkau mau ikut denganku secara suka rela kalau kami lepaskan bocah bongkok ini?”
“Tidak, tidak... kalian boleh membunuh aku, akan tetapi... jangan bunuh dia yang tidak berdosa...”
“Enci, tenanglah. Mereka tidak akan mampu membunuhku atau membunuhmu!” kata Sie Liong kepada wanita itu.

Hatinya terasa gembira sekali karena ternyata wanita dusun yang ditolongnya itu adalah seorang wanita yang hebat! Dia berani mengorbankan nyawa untuk mempertahankan kehormatan, juga amat baik budi sehingga tidak tega melihat dia dikepung dan diancam bunuh oleh para penjahat itu.

Kini tujuh orang penjahat itu sudah menggerakkan senjata mereka dan serentak mereka menyerang. Namun, baru mereka menyerang dua tiga jurus tubuh pemuda bongkok itu sudah lenyap, berubah menjadi bayangan yang dengan cepatnya menyelinap di antara sambaran senjata mereka.

Mereka merasa terkejut, akan tetapi juga penasaran dan mereka terus mengarahkan senjata mereka, menyerang bayangan yang gesit bukan main itu. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan tahu-tahu pemuda bongkok itu sudah menyerang dari atas, bagaikan seekor naga dari angkasa saja! Dan sekali kaki tangannya bergerak, empat orang jatuh tersungkur seperti disambar petir dari atas!

Tiga orang penjahat lainnya terkejut bukan main. Akan tetapi mereka pun hanya diberi kesempatan untuk bengong sejenak, karena tiba-tiba saja mereka pun terjungkal roboh oleh tamparan tamparan tangan Sie Liong yang ampuh bukan main itu.

Tujuh orang itu baru sekarang merasa jeri. Mereka bertujuh, yang memegang senjata, roboh dalam beberapa gebrakan saja melawan pemuda bongkok itu! Tamparan yang hanya sekali itu saja sudah membuat mereka roboh dan bagian badan yang terpukul terasa seperti remuk!

Si brewok, pimpinan mereka dan merupakan orang yang paling tangguh, mampu lebih dulu bangkit dan dia sudah bersiap untuk melarikan diri meninggalkan teman-temannya. Akan tetapi, hanya dengan beberapa langkah saja Sie Liong sudah dapat menangkap pundaknya.

Tekanan tangan Sie Liong di pundak itu membuat si brewok menggigil saking nyerinya sehingga dia pun jatuh berlutut. Pundak yang dicengkeram pemuda bongkok itu seperti dibakar atau dicengkeram kaitan baja membara saja, panas dan perih, nyeri luar biasa, terasa menusuk-nusuk sampai ke tulang.

“Ampun, taihiap... ampun, saya mengaku kalah!”
“Hemmm, aku tidak membutuhkan pengakuan kalah darimu! Aku tidak membutuhkan kemenangan. Akan tetapi aku minta agar kalian suka sadar dari kelakuan jahat kalian dan bertobat!”
“Ampun, taihiap,... saya bertobat...!”
“Hemm, siapa percaya omongan orang jahat macam engkau?”
“Saya bersumpah tak akan melakukan kejahatan lagi, taihiap. Saya akan bekerja seperti dulu, yaitu memburu binatang hutan. Dahulunya kami adalah pemburu-pemburu, karena tertarik penghasilan besar lalu mulai merampok orang yang lewat di hutan...”
“Benar, engkau bertobat dan hendak kembali ke jalan benar?” tanya Sie Liong. “Aku tetap tidak percaya kalau engkau dan teman-temanmu tidak memperlihatkan buktinya. Sumpah mulut saja tidak ada artinya.” Dia lalu menggertak, “Atau aku akan membiarkan kalian mati tersiksa dengan memberi pukulan mematikan?”

Kini dia melepaskan cengkeramannya dan seketika si brewok tidak merasa nyeri lagi. Dia makin yakin bahwa pendekar muda yang bongkok itu betul-betul lihai.

“Taihiap, kami bersumpah dan inilah buktinya!”

Dia menyambar goloknya yang tadi terlempar, lalu membuka sepatu kirinya dan sekali bacok, lima buah jari kaki kirinya buntung! Darah mengalir deras dari kaki yang buntung jari-jarinya itu.

Diam-diam Sie Liong terkejut sekali, akan tetapi juga girang karena dia maklum bahwa si brewok itu bersungguh-sungguh!

“Hayo kalian buntungi jari kaki kiri masing-masing seperti aku, siapa yang tak mau, aku yang akan membuntunginya sendiri. Mulai saat ini, kita tidak akan merampok manusia lagi, melainkan memburu binatang seperti dulu lagi!”

Enam orang anak buahnya melihat bahwa pimpinan mereka bersungguh-sungguh dan mereka pun jeri terhadap Pendekar Bongkok, demikian mereka menyebut Sie Liong, oleh karena itu mereka pun mengambil senjata masing-masing yang tadi terlempar, lalu membabat buntung jari kaki kiri mereka. Melihat ini, wanita dusun itu menutupi muka karena merasa ngeri.

Sie Liong lalu menghampiri mereka seorang demi seorang, menotok kaki kiri mereka di atas bagian yang terluka, mengeluarkan obat bubuk putih yang ditaburkan pada luka di kaki.

Seketika, tujuh orang itu merasa betapa kenyerian jari yang dibuntungi itu lenyap, dan luka-luka itu pun cepat menjadi kering. Mereka menjadi makin kagum. Kiranya Pendekar Bongkok ini selain amat lihai ilmu silatnya, juga pandai ilmu pengobatan.

Hal ini sebenarnya tidaklah perlu diherankan kalau diketahui bahwa seorang di antara orang-orang sakti yang menggembleng Sie Liong adalah Pek-sim Siansu, seorang sakti yang pandai dalam ilmu pengobatan pula.

“Ingat akan sumpahmu sendiri,” kata Sie Liong ketika mereka semua sudah berdiri dan bersiap untuk pergi. “Kalau kelak kalian tetap menjadi penjahat dan mengganggu orang lain, dan aku mendengarnya, pasti akan kucari kalian sampai dapat dan bukan hanya jari kaki kalian saja yang harus dipotong. Selain itu, aku akan membangkitkan semangat para penduduk dusun supaya mereka bersatu padu dan hendak kulihat, kalau ratusan orang dusun itu bersatu padu melawan kalian, apa yang dapat kalian lakukan terhadap mereka!”

Diam-diam si brewok dan teman-temannya merasa ngeri. Bukan saja mereka ngeri terhadap kesaktian Pendekar Bongkok, akan tetapi juga ngeri kalau benar penduduk dusun sampai bangkit menentang mereka, maka tentu mereka akan dikeroyok ratusan orang dan akan dihancur lumatkan oleh mereka yang mendendam kepada mereka.

Kalau biasanya mereka itu dapat merajalela adalah karena mereka menang gertakan dan para penduduk dusun itu belum apa-apa sudah ketakutan lebih dulu, melarikan diri bersembunyi dari pada melakukan perlawanan berpadu.

Tujuh orang itu, dipimpin oleh Si Brewok, menghaturkan terima kasih kepada Sie Liong, kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu, tidak jadi mengganggu wanita petani atau dusun di dekat ladang itu.

Setelah mereka pergi, Sie Liong menghampiri wanita dusun itu dan dengan senyum kagum dia berkata sambil berlutut di dekat wanita yang masih duduk di atas rumput dengan wajah masih diliputi ketegangan itu.

“Untung bahwa engkau tabah sekali menghadapi mereka, enci...,” katanya.

Wanita itu mengangkat muka, kemudian memandang padanya dan kembali air matanya menetes-netes turun ke atas pipinya. Mulut wanita itu berkemak-kemik, namun tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Akhirnya, ia mengeluarkan jerit kecil dan merangkulkan kedua lengannya pada pundak dan leher Sie Liong sambil menangis!

Pemuda bongkok itu terkejut, akan tetapi mendiamkannya saja dan tersenyum ketika dia merasa kehangatan air mata menembus bajunya karena wanita itu menangis di atas dadanya. Bahkan dia pun lalu merangkul dan menepuk-nepuk pundak wanita itu dengan lembut.

“Tenanglah, enci, bahaya sudah lewat sekarang,” hiburnya.

Akan tetapi wanita itu bahkan mempererat rangkulannya dan terdengar bisikan lirih dari mulut yang disembunyikan di dadanya itu. “Adik yang baik, ahhh... taihiap yang gagah perkasa, engkau telah menyelamatkan diriku... terima kasih, taihiap, terima kasih...”

Suaranya mengandung isak sedangkan tubuhnya gemetar, seolah-olah ia teringat akan peristiwa tadi dan membayangkan betapa akan ngerinya apa bila ia sampai terjatuh ke tangan tujuh orang itu.

“Sudahlah, enci. Sudah semestinya aku melindungimu, dan aku kagum sekali melihat ketabahanmu tadi. Lepaskanlah rangkulanmu, lihat, di sana datang orang-orang dusun.”

Mendengar ini, wanita itu melepaskan rangkulannya dan dengan wajah masih basah air mata, ia menoleh ke kiri dan benar saja, dari arah dusun, datang berlari-larian banyak sekali penduduk dusun ke tempat itu. Dan di tangan mereka terpegang segala macam alat pertanian yang agaknya kini hendak dijadikan senjata.

Sie Liong merasa tegang dan juga malu. Dia tahu bahwa mereka yang sedang berlari dan datang itu tadi sempat melihat betapa dia dan wanita itu berpelukan-pelukan! Untuk menghilangkan rasa sungkan dan tidak enak itu, Sie Liong lalu bangkit dan memunguti potongan jari-jari kaki itu, dan mengumpulkannya di atas sehelai kain sapu tangan.

Melihat ini, wanita dusun itu bergidik.

“Taihiap, untuk apakah kau... mengumpulkan benda-benda mengerikan itu?”
“Aku akan menguburnya, enci,” kata Sie Liong sambil memunguti terus.

Tak lama kemudian, rombongan orang dusun itu tiba di situ. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang memegang sebatang tongkat panjang moloncat maju menghampiri wanita itu.

“Kui Hwa, apa yang telah terjadi?” tanyanya, suaranya mengandung kemarahan.

Wanita dusun itu menangis dan lari menghampiri laki-laki itu. “Aku... aku hampir saja celaka...!” serunya sambil menangis.

Dia hendak merangkul laki-laki yang ternyata adalah suaminya itu. Akan tetapi, laki-laki itu mendorongnya sehingga ia terpelanting.

“Jangan sentuh aku! Engkau perempuan tak tahu malu!”

Wanita dusun yang bernama Kui Hwa itu terbelalak. Saking kaget dan herannya, ia tidak merasakan kenyerian punggungnya ketika terpelanting oleh dorongan suaminya.

“Apa... apa maksudmu...?” tanyanya dengan heran.

Kui Hwa lebih heran lagi ia saat melihat betapa orang-orang lain, para pria di dusunnya, para tetangganya, memandang padanya dengan sinar mata yang mencemoohkan dan agaknya membenarkan sikap suaminya itu!

“Maksudku kau tanyakan! Maksudmulah yang ingin sekali kuketahui! Apa yang sudah terjadi di sini?”

Suaminya dengan berang melirik ke arah Sie Liong yang sudah selesai mengumpulkan potongan jari-jari kaki tadi dan kini berdiri di situ dengan muka ditundukkan. Potongan jari-jari kaki tadi berada dalam buntalan kain sapu tangan.

“Suamiku, apakah engkau tidak mendengar dari para tetangga kita tadi? Mereka itu, Tiat-jiauw Jit-eng itu datang lagi!” kata si isteri yang masih terheran-heran melihat sikap suaminya.
“Tentu saja kami semua mendengar. Lalu di mana mereka dan apa yang telah terjadi di sini?” kembali dia menoleh ke arah Sie Liong dengan wajah merah saking marahnya.
“Mereka telah dikalahkan oleh taihiap ini. Mereka sudah melarikan diri dan aku... aku diselamatkan oleh taihiap ini!” kata si isteri dengan suara gembira dan bangga.
“Bohong!” Tiba-tiba sang suami membentak dan isteri itu kembali terkejut sekali.

Kini Sie Liong mengangkat mukanya, memandang kepada suami itu dengan sinar mata mencorong. Akan tetapi, dia bersikap sabar karena dia bisa menduga apa yang menjadi sebab sang suami itu bersikap seburuk itu dan mengapa pula orang-orang dusun itu berdiri saja, agaknya membenarkan sikap suami itu.

“Suamiku, kenapa engkau mengatakan bohong? Pendekar muda ini yang bernama Sie Liong, dialah yang telah menyelamatkan aku dari gangguan mereka, bahkan pendekar perkasa ini yang memaksa mereka untuk meninggalkan pekerjaan jahat mereka, dan mereka bersumpah dengan membuntungi jari-jari kaki mereka sebelum pergi dari sini. Aihh, suamiku, pendekar muda ini sungguh perkasa dan kita sedusun patut berterima kasih kepadanya...”

“Cukup! Kui Hwa, jangan mengira bahwa kami semua adalah orang-orang buta dan bodoh, yang mudah saja kau tipu dengan kata-katamu itu! Kami melihat betapa engkau bercumbu dan berjinah dengan dia...”
“Diam...!” Kui Hwa yang lemah lembut itu kini membentak. Dia berdiri bagaikan seekor singa kelaparan atau seekor harimau betina membela anaknya. “Jangan engkau berani mengeluarkan ucapan kotor itu! Pendekar ini sudah menyelamatkan aku, bahkan juga menyelamatkan orang sedusun ini dan kalian bahkan berani menuduhnya berbuat yang bukan-bukan?”
“Phuhh!” Suami itu meludah. “Mataku masih belum buta, aku melihat betapa kalian tadi berpelukan dan berciuman!”

“Engkau yang bohong! Engkau yang kotor dan memang kalian bodoh! Aku tadi memang merangkulnya sambil menangis, terharu dan menghaturkan terima kasih, dan dia hanya menghiburku, sama sekali kami tidak berciuman... aihh, agaknya memang matamu telah buta! Taihiap ini menundukkan tujuh orang gerombolan penjahat itu, membuat mereka takluk dan bertobat, bahkan mereka sudah membuntungi jari-jari kaki sambil bersumpah dan kalian...”
“Sudah! Siapa yang percaya obrolanmu? Engkau memang perempuan tak tahu malu, mungkin dia ini anggota bahkan pemimpin perampok! Dan engkau sudah tergila-gila kepada laki-laki bongkok ini! Sungguh tak tahu malu!” Berkata demikian, laki-laki yang sedang diamuk cemburu itu lalu mengangkat tongkat kayunya dan menghantamkan tongkat kayunya kepada Sie Liong!

Pendekar ini berdiri bengong. Sungguh tak disangkanya sama sekali bahwa cemburu dapat membuat orang menjadi seperti gila! Saking herannya, ketika suami itu memukul dengan tongkat kayu, dia pun diam saja, tidak bergerak seperti patung dan pada saat kayu itu menghantam kepalanya, barulah dia mengerahkan sinkang untuk melindungi kepala yang dipukul itu.

“Krakkk!” Tongkat kayu itu patah-patah ketika bertemu dengan kepala Sie Liong.
“Ahhhh...!”

Suami wanita dusun itu terbelalak. Mukanya pucat memandang kepada tongkat yang tinggal potongan pendek di tangannya, sedangkan tongkat yang kuat itu sudah patah menjadi tiga potong! Kepala orang bongkok itu melebihi besi kerasnya!

Sie Liong mengangkat muka, memandang kepada suami itu dengan sinar matanya yang mencorong. “Hemm, engkau memang orang bodoh, keras kepala, dan memang sepatutnya kalau matamu buta! Engkau tidak patut menjadi suami dari seorang isteri yang begini baik hati, tabah dan sangat berani mempertaruhkan nyawa untuk menjaga kehormatannya. Engkau pantasnya menjadi suami seekor kambing atau seekor monyet! Huh, menjemukan sekali!” katanya dan dia pun melemparkan buntalan itu ke atas tanah, kemudian berpaling kepada wanita dusun sambil memberi hormat.

“Enci, maafkan apa bila aku hanya membikin engkau menjadi ribut dengan suamimu. Selamat tinggal, enci, semoga Tuhan akan menyadarkan suamimu ini!” Dengan sekali berkelebat, Sie Liong lenyap dari depan mereka, membuat suami wanita itu dan para penduduk dusun terkejut dan melongo.

Suami itu pun terkejut dan dia menjadi ketakutan. “Apakah dia... dia itu tadi... setan...?” tanyanya kepada isterinya.

Isterinya menjadi gemas sekali. Tangannya bergerak manampar.
“Plakkk!” pipi suami itu telah ditamparnya!
“Laki-laki yang tolol, gila oleh cemburu buta! Masih berani engkau mengatakan bahwa pendekar sakti itu setan? Engkau inilah yang setan! Kalian tidak percaya akan ceritaku tadi, ya? Kalian semua mengira bahwa aku sudah berjinah dengan dia karena kalian tadi melihat dari jauh betapa kami saling berangkulan? Ohhhh, memang kalian adalah orang-orang bodoh! Dengar baik-baik. Tujuh orang penjahat itu datang ke sini. Aku tidak tahu bahwa mereka datang maka aku tidak sempat lari seperti yang lain. Dan mereka itu mengejar-ngejarku, hendak menangkapku dan tentu saja, dengan niat yang amat kotor! Dan aku melihat pendekar itu duduk seorang diri di bawah pohon….”

Kui Hwa berhenti bicara dengan napas terengah-engah karena dibakar emosi. Setelah beberapa kali menarik napas, dia baru melanjutkan kembali.

“Tadinya aku tidak tahu bahwa ia adalah seorang pendekar, akan tetapi dalam keadaan ketakutan setengah mati itu, aku lari padanya dan mohon pertolongan. Siapa saja akan kumintai tolong dalam keadaan hampir mati ketakutan seperti itu. Dan dia bangkit, dia mengalahkan semua penjahat, kemudian memaksa mereka itu bertobat, dan mereka membuntungi jari-jari kaki kiri mereka untuk tanda bertobat. Dan kalian tidak percaya? Dan engkau, engkau sudah gila, engkau malah mencemburui kami dan engkau malah menghina pendekar itu? Masih untung hanya tongkatmu yang tadi dia patahkan, bukan lehermu! Kalau kalian tidak percaya, lihat ini buktinya!” Dia memunguti jari-jari kaki itu untuk dikuburkan. “Nah, makanlah ini!”

Wanita itu kemudian melemparkan buntalan itu ke arah suaminya, setelah membuka ikatannya. Dan potongan-potongan jari kaki, sebanyak tiga puluh lima potong, langsung berhamburan mengenai muka dan leher suaminya.

Si suami tentu saja bergidik ngeri, juga para penduduk dusun merasa ngeri ketika mereka melihat bukti itu. Jari-jari kaki yang masih berlumuran darah! Sementara itu, Kui Hwa sudah berlari pulang sambil menangis.

Barulah suami itu merasa menyesal sekali dan percaya sepenuhnya akan keterangan isterinya. Sekarang dia baru dapat membayangkan betapa takutnya isterinya tadi ketika dikejar-kejar tujuh orang penjahat keji itu, tanpa ada orang yang dapat menolongnya.

Kemudian muncul pendekar bongkok itu yang lalu mengalahkan semua penjahat, yang berarti telah menyelamatkan isterinya itu dari mala petaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Maka, kalau dalam keadaan penuh rasa syukur dan keharuan itu isterinya merangkul penolongnya dan manangis di dadanya, apakah yang aneh dalam hal itu?

Juga pendekar itu bukan golongan pemuda yang terlalu menarik hati wanita. Isterinya tidak mungkin tertarik kepada seorang yang tubuhnya bongkok seperti itu!

“Kui Hwa, tunggulah...!”

Dia berteriak berlari-lari mengejar isterinya. Di dalam hatinya yang penuh penyesalan itu kini penuh dengan harapan agar isterinya suka memaafkannya.

Sementara itu, para penduduk dusun yang lain segera mengumpulkan jari-jari kaki itu dan menguburnya dengan hati penuh rasa syukur bahwa kini Tiat-jiauw Jit-eng yang selama beberapa bulan lalu mengganas di sekitar daerah itu, kini sudah bertobat dan berarti mereka tidak akan lagi diganggu oleh mereka yang amat jahat itu. Dan semua ini berkat jasa Pendekar Bongkok, nama yang tak akan pernah mereka lupakan dan yang semenjak terjadinya peristiwa itu menjadi buah bibir mereka sehingga nama julukan pendekar baru ini mulai terkenal.

Sie Liong melarikan diri, pergi meninggalkan ladang dusun itu dengan senyum pahit di bibirnya. Ia memang telah memaklumi benar-benar keadaan dirinya, sudah diterimanya keadaan dirinya seperti apa adanya.

Memang dia berpunuk, dia bongkok dan itu merupakan sebuah kenyataan yang takkan dapat dirobah. Titik. Dia tidak akan lagi mengeluh, tidak lagi memprihatinkan keadaan tubuhnya yang sudah menjadi pemberian Tuhan dan yang diterimanya dengan penuh kepasrahan dan rasa syukur. Akan tetapi, kalau terjadi peristiwa seperti di sawah ladang tadi, bagaimana pun juga hatinya terasa seperti ditusuk.

Dia berniat baik. Dia menyelamatkan wanita dusun itu, bahkan dia menundukkan gerombolan jahat yang berarti juga menghindarkan dusun dari gangguan orang jahat. Dia melakukan hal itu tanpa pamrih, tidak minta imbalan apa pun. Akan tetapi, dia malah didakwa melakukan hal yang rendah, didakwa berjinah dengan wanita petani itu!

Sungguh menyakitkan hati memang. Bongkoknya terbawa-bawa pula, bahkan mungkin bongkoknya itulah yang sudah menimbulkan kecurigaan para penduduk dusun, yang mendatangkan kesan buruk di mata mereka dan membuat ia condong nampak sebagai orang yang jahat!

“Biarlah,” dia mengeluarkan kata-kata ini melalui mulutnya, dengan agak keras untuk melunakkan hatinya yang menjadi keras dan panas. “Biarlah mereka mengatakan apa pun juga! Yang penting, aku yakin benar bahwa aku tidak melakukan hal yang buruk, dan Tuhan mengetahui, Tuhan pun melihat dan Tuhan yang tidak akan dapat ditipu oleh kebongkokan tubuhku!”

Pikiran ini diucapkan Sie Liong keras-keras. Akhirnya hatinya menjadi dingin dan lunak kembali…..

********************
Dia berhenti di atas puncak bukit terakhir tadi, dan dari situ dia melihat ke selatan. Di sanalah terdapat propinsi Tibet! Dan kini dia telah tiba di perbatasan tiga propinsi besar. Di utara adalah Propinsi Sin-kiang. Di timur Propinsi Cing-hai, dan di selatan adalah Tibet, negara yang dikuasai para pendeta Lama itu.

Dia menuruni bukit dan menuju ke sebuah dusun yang tadi dilihatnya dari bukit itu. Daerah itu merupakan daerah yang tandus dan luas sekali, jarang terdapat dusun, maka kalau melihat sebuah dusun, maka hal itu merupakan hal yang menggembirakan bagi seorang pengelana di daerah itu.

Mungkin berhari-hari dia tak akan bertemu dusun, dan saat itu, matahari telah condong jauh ke barat. Sebentar lagi cuaca tentu akan gelap dan lebih baik melewatkan malam di dalam dusun yang hangat di mana dia dapat memperoleh makanan dan minuman dari pada bermalam di daerah terbuka yang asing baginya.

Dusun itu cukup besar dan dikurung pagar tanah liat yang dibangun seperti tembok. Di dalam dusun itu tinggal penduduk yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus keluarga! Pekerjaan mereka bercocok tanam dan berburu, ada pula yang berusaha dalam bidang peternakan kambing.

Dan melihat keadaan bangunan rumah yang cukup baik itu, Sie Liong dapat mengambil kesimpulan bahwa penghasilan penduduk dusun itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan, bahkan berlebihan. Di dusun itu terdapat pula beberapa buah warung makan, bahkan terdapat pula sebuah rumah penginapan!

Kiranya dusun ini ada pula pengunjungnya dari luar kota pikirnya. Memang demikianlah, banyak dusun di daerah itu manyediakan rumah penginapan, karena mereka maklum bahwa para pedagang dan pengelana yang lewat di dusun, dan kemalaman, tentu akan mencari rumah penginapan, mengingat bahwa dusun berikutnya amatlah jauhnya! Dan banyak pula yang membuka tempat menjual barang-barang keperluan sehari-hari.

Sie Liong segera menyewa sebuah kamar di rumah penginapan itu. Beruntung bahwa dia tidak terlambat, karena pada hari itu, banyak tamu luar kota bermalam di dusun itu. Kepala dusun itu mengadakan perayaan pesta pernikahan puteranya! Dan tentu saja dia mengundang relasi dan sahabatnya dari luar dusun.

Sesudah mandi dan makan malam, Sie Liong keluar dari kamarnya yang kecil dan berjalan-jalan di dalam dusun itu. Keadaan dusun itu tidak seperti biasanya. Kini ramai sekali. Hal ini adalah karena adanya pesta perayaan pernikahan di rumah kepala dusun.

Boleh dibilang bahwa seluruh penduduk dusun ikut pula berpesta, atau setidaknya, ikut bergembira dengan memasang banyak lampu gantung di depan rumah masing-masing sehingga keadaan di luar rumah kini menjadi terang dan gembira, tidak seperti biasa. Juga sebagian besar penduduk keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan upacara pemboyongan mempelai wanita yang kabarnya akan diambil malam hari itu.

Mempelai wanita adalah seorang gadis yang rumahnya terletak di sudut dusun. Upacara pengambilan mempelai itu dilakukan malam hari, diarak dan diikuti rombongan penari dan penabuh gamelan. Pengantin wanitanya akan naik joli yang digotong oleh empat orang, sedangkan mempelai prianya akan menunggang kuda.

Sie Liong mendengar keterangan ini dari pengurus rumah penginapan. Dia pun dengan gembira kini berjalan-jalan sebelum nanti ikut nonton arak-arakan pengantin puteri yang diboyong ke rumah mempelai pria.

Tanpa disengaja, Sie Liong berjalan-jalan menuju ke arah barat dan tak lama kemudian sampailah dia di sudut dusun itu dan berada di luar rumah kediaman pengantin wanita! Rumah itu pun dihias amat meriah, penuh daun-daunan dan bunga-bunga, di antaranya hiasan kertas dan kain warna-warni, dan dipasang banyak lampu gantung yang dihias kertas-kertas merah.

Suasana di rumah itu meriah sekali. Nampak banyak orang sedang sibuk menyiapkan joli dan semua peralatan upacara pernikahan. Melihat keadaan rumah itu, tanpa diberi tahu pun Sie Liong dapat menduga bahwa tentu di situ tempat tinggal pengantin wanita.

Karena di luar pekarangan rumah itu terdapat banyak orang yang menonton, terutama anak-anak, Sie Liong menggabung dengan mereka, berdiri di antara para penonton. Sebagian dari para penonton itu berpakaian jembel dan barulah Sie Liong tahu bahwa dia berdiri di antara para pengemis dan kanak-kanak ketika dari dalam keluar seorang yang membawa keranjang berisi makanan, lalu orang itu membagi-bagikan makanan kepada mereka. Karena dia berada di antara mereka, dia pun kebagian sepotong kueh mangkok! Hemm, dia disangka seorang jembel pula, pikirnya sambil tersenyum.

Dia tidak merasa sakit hati. Memang pakaiannya lusuh, apa lagi punggungnya bongkok. Bukankah memang di antara para pengemis terdapat banyak orang yang cacat dan tidak sempurna keadaan tubuhnya? Disangka pengemis bukanlah suatu hal yang buruk, asal jangan disangka penjahat seperti dialaminya di ladang dusun itu! Maka, seperti yang lain, dia pun makan kueh mangkok itu dengan gembira.

Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda yang baru datang menyelinap pula di antara para penonton. Dia merasa sangat curiga. Pemuda itu jelas bukan pengemis dan melihat pakaiannya, tentu dia seorang petani. Seorang pemuda tani yang bertubuh sehat dan berwajah jujur, akan tetapi pada saat itu wajahnya membayangkan kemarahan dan penasaran, bahkan masih ada bekas air mata pada kedua pipinya.

Pada saat itu, para penonton di luar halaman itu berdesakan untuk dapat melihat lebih jelas ke dalam rumah karena agaknya sedang ada upacara penghormatan mempelai puteri kepada ayah ibunya sebelum ia diboyong ke rumah calon suaminya. Upacara itu diadakan di ruangan depan, di depan meja sembahyang.

Saat itu mempelai wanita yang berpakaian indah meriah itu muncul dari dalam, menuju ke ruangan depan yang nampak dari luar, dituntun oleh dua orang nenek yang agaknya menjadi pengatur upacara itu. Karena pakaian yang longgar dan banyak hiasannya itu, juga karena muka itu tertutup tirai, maka Sie Liong tidak dapat melihat wajah pengantin itu, hanya dapat diduga bahwa ia seorang gadis yang bertubuh ramping.

Ketika gadis yang menjadi pengantin itu dituntun ke depan ayah ibunya yang sudah duduk berjajar di atas kursi, terdengar ia terisak menangis dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka. Dua orang nenek itu terkejut dan hendak menuntunnya agar ia berhati-hati dengan pakaiannya, namun mereka tak kuasa menahan gadis pengantin itu yang sudah menangis tersedu-sedu. Terdengar ucapannya di antara sedu sedannya,

“Ayah... ibu... aku tidak mau kawin... aku tidak mau menikah dengan... anak kepala dusun itu...”

Tentu saja semua orang yang berada di ruangan itu terkejut. Ayah dan ibu mempelai saling pandang dan ibunya lalu merangkulnya, menghiburnya dengan bisikan-bisikan lembut. Akan tetapi, mempelai wanita itu meronta-ronta dan tangisnya bahkan semakin menjadi-jadi.

“Lian-ji...! Hentikan tangismu itu! Jangan engkau membikin malu orang tuamu!” Ayahnya menghardik dan bentakan ini membuat pangantin wanita itu berhenti meronta, akan tetapi masih tetap menangis terisak-isak.
“Bawa ia masuk ke dalam kamarnya dan usahakan agar ia tidak menangis lagi! Anak sialan...!” Sang ayah marah-marah dan dua orang nenek itu lalu membawa pengantin wanita bangkit berdiri untuk membawanya kembali ke kamar.

Pada saat itu, terdengar teriakan nyaring dari luar. “Tidak adil...! Sungguh tidak adil dan sewenang-wenang...!”

Dan pemuda petani yang tadi menimbulkan kecurigaan dalam hati Sie Liong, nampak meninggalkan kelompok penonton dan berlari memasuki halaman, terus ke ruangan depan itu. Semua orang terkejut, juga ayah ibu mempelai wanita memandang dengan mata terbelalak.

“Lian-moi...!” Pemuda itu memanggil.

Mempelai wanita itu meronta dan membalikkan tubuhnya. Melihat pemuda itu, ia pun berseru, “Kiong-koko...!”

Dan dia pun menangis, masih berdiri karena kedua lengannya dipegang erat-erat oleh kedua orang nenek itu.

“Un Kiong! Mau apa kau? Berani kau datang ke sini dan membikin kacau? Kami tidak mengundangmu!” bentak ayah mempelai wanita itu dengan marah sekali.
“Saya datang untuk menuntut keadilan...!”

Akan tetapi, tuan rumah sudah memerintahkan beberapa orang anggota keluarga yang hadir dan merasa tidak senang dengan perbuatan pemuda itu. Mereka kini menyerang pemuda yang tadinya sudah menjatuhkan diri berlutut itu.

“Pergilah! Lekas pergi dan jangan datang lagi!” bentak tuan rumah setelah pemuda itu terjengkang dan bergulingan oleh beberapa pukulan dan tendangan.

Akan tetapi pemuda bernama Un Kiong itu tetap bangkit dan berlutut lagi.

“Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum mendapat keadilan! Meski kalian memukuli aku sampai mati, aku tidak akan pergi!” teriaknya marah. Sementara itu mempelai wanita beberapa kali memanggil namanya.
“Kiong-koko...!” akan tetapi ia sudah ditarik oleh dua orang nenek, dibantu ibu mempelai dan diseret masuk ke dalam kamar.

Mendengar kenekatan pemuda itu, para keluarga laki-laki itu menjadi marah, bahkan kini ayah mempelai ikut pula memukuli pemuda yang masih nekat berlutut.

Melihat kejadian ini, Sie Liong cepat melompat ke dalam. Begitu ia bergerak menangkis tendangan dan pukulan itu, beberapa orang lantas terjengkang dan roboh sendiri karena serangan mereka tertangkis sedemikian kuatnya. Sie Liong sudah mengangkat bangun tubuh pemuda itu yang sudah babak belur dan bengkak matang biru.

Melihat munculnya seorang pemuda bongkok yang membela Un Kiong, semua orang terkejut. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan pandai silat, merasa penasaran dan dia lalu menerjang ke depan, menghantam ke arah dada Sie Liong sambil membentak, “Mau apa kau mencampuri urusan kami?”

“Dukkk!”

Kepalan tangannya yang besar itu tepat mengenai dada Sie Liong akan tetapi akibatnya sungguh membuat orang terbelalak. Bukan Sie Liong yang roboh, namun pemukulnya sendiri yang mengaduh-aduh sambil memegangi pergelangan tangannya yang menjadi salah urat! Dia membungkuk dan menyeringai kesakitan, mengeluh.

Melihat itu, tentu saja semua orang langsung menjadi jeri dan tidak ada lagi yang berani menghalangi ketika Sie Liong memapah pemuda itu keluar dari situ. Ketika tiba di luar rumah dan melihat betapa banyak orang mengikutinya, yaitu mereka yang tadi nonton dan agaknya mereka ingin tahu ke mana dia membawa pemuda yang dipukuli itu, Sie Liong lalu memanggul pemuda itu dan berlari cepat sehingga sebentar saja dia sudah menghilang dari kejaran para penonton.

Sie Liong membawa pemuda itu ke luar dusun dan dia baru berhenti setelah tiba di tempat sunyi di luar dusun itu. Mereka berdiri di bawah sinar rembulan dan berkali-kali pemuda itu menghela napas penuh penyesalan. Dia tahu bahwa pemuda bongkok ini bukan orang sembarangan. Dia melihat pada saat pemuda itu membawanya keluar dari dalam rumah mempelai wanita, dan terutama sekali cara pemuda itu memanggulnya dan membawanya lari secepat terbang.

“Taihiap, kenapa engkau monolongku? Mengapa engkau membawaku pergi dari sana?”

Sie Liong tersenyum. Orang ini telah diselamatkan dari keadaan yang lebih parah lagi, karena mungkin dia akan mati dipukuli orang, tetapi pemuda ini tidak berterima kasih bahkan menyesal!

“Akan tetapi, kenapa engkau begitu nekat, membiarkan dirimu dipukuli orang? Kalau tidak kularikan, mungkin engkau akan dipukuli sampai mati!”
“Biar saja! Biar aku dipukuli sampai mati agar Lian-moi melihat bukti cintaku padanya!”
“Wah, sungguh aneh. Coba ceritakan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa tahu, mungkin saja aku akan dapat menolongmu.”

Pemuda itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah berumput. Sie Liong juga duduk dan pemuda itu bercerita.

Sejak kecil Un Kiong telah ditunangkan dengan Sui Lian, gadis itu. Bahkan Un Kiong sudah sering kali menyumbangkan tenaganya bekerja di sawah ladang tunangannya. Pernikahan antara mereka tinggal menanti hari, bulan dan tahun yang baik saja. Akan tetapi, secara tiba-tiba saja orang tua Sui Lian mengumumkan bahwa pertunangan itu diputuskan, dibatalkan dan tahu-tahu, sebulan kemudian Sui Lian dinikahkan dengan putera kepala dusun itu!

“Kepala dusun itu orang baru, belum setahun dia diangkat menjadi kepala dusun dan bertugas di sini. Jelaslah, dibatalkannya pertunanganku itu disebabkan oleh kehadiran putera kepala dusun itu. Seorang pemuda brengsek, pengejar perempuan, sombong dan tidak ada gunanya! Tadinya aku sudah menerima nasib, aku tidak berdaya. Tadi aku hanya ingin melihat, bersama para penonton, ingin melihat bekas tunanganku yang semenjak diputuskannya ikatan jodoh itu tidak pernah kulihat lagi. Akan tetapi, melihat ia menangis, mendengar ucapannya bahwa ia tidak mau dikawinkan dengan orang lain, aku tidak dapat menahan hatiku. Dan ia... ahhh, ia masih sempat memanggilku, dan ia... ia begitu bersedih...! Karena itu, aku ingin mati saja, biar mereka pukuli, biar aku mati di depan Lian-moi untuk membuktikan cinta kasihku kepadanya!”

Sie Liong tersenyum. “Membuktikan cinta kasih dengan membiarkan diri mati dipukuli orang? Hemm, itu bukan cara membuktikan cinta kasih yang baik! Kalau engkau mati dipukuli, apakah tunanganmu itu akan merasa gembira? Apakah perbuatanmu itu akan dapat membebaskan ia dari cengkeraman orang yang dipaksakan menjadi suaminya?”

Un Kiong menjadi bengong, lalu dia berulang-ulang menggeleng kepala dan menghela napas. “Lalu apa yang dapat kulakukan, taihiap?”

“Engkau pulanglah dan biarlah aku yang akan membantumu. Aku akan membatalkan pernikahan paksaan itu dan akan mengantarkan mempelai wanita ke rumahmu. Engkau bersiap-siaplah, besok siang mempelai wanita akan kuantarkan ke rumahmu dan harus kau sambut ia sebagai mempelaimu.”
“Tapi... tapi... tentu mereka akan marah. Aku akan ditangkap dan bahkan orang tuaku akan masuk tahanan dan dihukum!”
“Jangan khawatir. Aku yang bertanggung jawab, dan jangan takut. Aku akan menangani urusan ini sampai tuntas. Andai kata engkau ditawan, aku yang akan membebaskan engkau.”

Karena dia sendiri sudah tak berdaya dan hampir putus asa, Un Kiong menaruhkan seluruh harapannya kepada pendekar yang bongkok itu, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan Sie Liong.

“Taihiap, sebelumnya saya menghaturkan terima kasih. Sebelum saya pulang, mohon tahu nama besar taihiap, agar dapat kuceritakan kepada orang-tuaku.”

Sie Liong menggelengkan kepala. “Namaku tidak ada artinya, sobat. Kuberi tahu pun engkau tidak akan mengenalnya. Aku hanya kebetulan lewat saja di sini, dan aku selalu gatal tangan, ingin membereskan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pulanglah dan tunggulah sampai besok.”

Un Kiong memberi hormat, kemudian dia pun pergi, kembali ke dusun dan pulang ke rumahnya. Dia disambut dengan omelan ayah ibunya yang sudah mendengar beritanya bahwa putera mereka membikin ribut di rumah mempelai wanita sehingga dipukuli oleh keluarga mempelai wanita.

Ketika Un Kiong menceritakan tentang Pendekar Bongkok yang menolongnya, dan juga tentang janji pendekar itu, ayah ibunya menjadi semakin tegang dan gelisah.....
Sementara itu, Sui Lan telah dipaksa untuk menerima rombongan pengantin pria yang malam itu datang untuk menjemput mempelai puteri. Mempelai wanita masih menangis terus, akan tetapi karena ia memakai kerudung, dan karena memang sudah lajim bahwa mempelai wanita selalu menangis pada saat dinikahkan, maka ia tidak menarik banyak perhatian.

Mempelai wanita dituntun naik ke dalam joli yang dihias indah dan dipikul empat orang, sedangkan mempelai prianya menunggang seekor kuda yang besar. Mempelai pria ini nampak tampan dan gagah dalam pakaiannya yang indah dan beraneka warna. Dia tersenyum-senyum penuh lagak ketika menaiki kudanya, dibantu oleh beberapa orang. Petasan dibakar dan bunyi musik mulai mengalun mengiringi pasangan mempelai yang akan meninggalkan rumah mempelai wanita itu.

Pada saat itu, muncul seorang pemuda bongkok di depan rombongan yang sudah siap untuk berangkat! Pemuda ini bukan lain adalah Sie Liong, Si Pendekar Bongkok!

“Berhenti!” bentak Sie Liong yang berdiri di tengah jalan. “Pernikahan ini salah tempat! Mempelai prianya bukan orang itu!” Dia menuding ke arah pemuda yang menunggang kuda dengan congkaknya.

Tujuh orang pengawal yang bertugas mengawal mempelai pria menjemput mempelai wanita, segera berlari menghampiri dan mereka memandang kepada Sie Liong dengan alis berkerut dan pandang mata marah. Akan tetapi, keluarga mempelai wanita yang mengenal pemuda bongkok itu menjadi gelisah.

Komandan pasukan pengawal yang hanya tujuh orang itu, seorang berusia empat puluh tahun lebih yang kumisnya melintang kaku, maju dan menghadapi Sie Liong.

“Heiii, apakah engkau ini orang gila? Siapakah engkau dan apa artinya perbuatanmu ini?”

Sekarang semua orang sudah datang ke tempat itu, menonton dari jarak yang aman, sedangkan tujuh orang pengawal itu menghadapi Sie Liong yang bersikap tenang saja.

“Aku hanya seorang bongkok yang kebetulan lewat di dusun ini. Aku melihat peristiwa yang membuat hatiku penasaran. Mempelai wanita yang bernama Sui Lian ini sudah mempunyai seorang tunangan sejak kecil yang bernama Un Kiong. Seluruh penduduk dusun ini tentu sudah mengetahui akan hal itu. Tetapi, secara mendadak pertunangan itu dibatalkan sepihak dan Sui Lian dijodohkan dengan putera kepala dusun. Sungguh tidak adil sama sekali, apa lagi karena mempelai wanita tidak suka menjadi isteri putera kepala dusun!”

“Ehh, sungguh engkau telah menjadi gila! Pernikahan ini dilangsungkan secara sah dan menurut peraturan yang benar sebagai lanjutan dari pinangan yang telah diterima. Hayo engkau ini orang bongkok gila pergi dari sini dari pada harus kami hajar!”
“Kalianlah yang harus pergi, juga mempelai pria itu. Pulang saja dan katakan kepada kepala dusun bahwa pernikahan ini dibatalkan!”
“Kurang ajar!”

Tujuh orang pengawal itu dengan marah lalu menyerang dari sekeliling Sie Liong. Akan tetapi, sekali Sie Liong menggerakkan tubuhnya berputar, tujuh orang itu disapu roboh semua seperti tujuh helai daun kering saja! Tentu saja mereka terkejut dan mencabut senjata masing-masing.

“Sudahlah. Kalian hanya para petugas dan tidak bersalah. Yang bersalah dalam hal ini adalah orang tua mempelai wanita dan juga kepala dusun! Sebaiknya kepala dusun itu disuruh ke sini kemudian kita rundingkan bersama dengan orang tua mempelai wanita. Urusan ini dapat diselesaikan dengan cara damai!” kata Sie Liong yang sebetulnya tidak ingin mempergunakan kekerasan.
“Orang gila ini sungguh kurang ajar! Tangkap dia atau bunuh saja kalau melawan!” kini mempelai pria yang masih menunggang kuda itu membentak marah. Tentu saja dia sangat marah dan merasa malu sekali bahwa upacara pejemputan mempelai wanita itu diganggu oleh seorang laki-laki bongkok yang agaknya gila!

Tujuh orang pengawal itu sudah menyerang dengan senjata mereka. Sie Liong hanya mengelak dengan langkah-langkah dan loncatan kecil. Semua sambaran senjata tiada yang mampu menyentuh tubuhnya. Dia tak ingin melukai mereka yang mengeroyoknya sebab mereka bukanlah orang-orang jahat, tapi hanya orang-orang yang melaksanakan tugas mengawal mempelai.

Dia pun mengeluarkan bentakan nyaring, tangannya bergerak cepat dan mengeluarkan angin pukulan yang dahsyat, dan senjata di tangan tujuh orang itu lantas beterbangan dan terlepas dari tangan para pemegangnya. Tentu saja tujuh orang itu terkejut sekali, juga jeri karena kini baru mereka maklum bahwa mereka menghadapi seorang muda yang aneh dan sakti.

Mempelai pria yang melihat betapa tujuh orang pengawalnya sama sekali tidak mampu melawan orang bongkok itu, menjadi ketakutan dan dia pun melarikan kudanya sambil berteriak, “Mari kita lapor kepada ayah!”

Para pengikutnya lalu melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Ayah dari mempelai wanita yang melihat terjadinya peristiwa ini, merasa khawatir, juga penasaran sekali. Akan tetapi dia pun sudah maklum akan kehebatan orang bongkok itu, maka dia menghampiri lalu memberi hormat.

“Taihiap, apa maksudnya taihiap melakukan semua tindakan ini? Taihiap, hanya akan mendatangkan mala petaka kepada keluarga kami!”
“Hmm, semua ini adalah akibat dari kesalahan keluarga sendiri, paman. Mari kita masuk dan bicara di dalam. Akulah yang bertanggung jawab terhadap akibat dari perbuatanku tadi.”

Joli pengantin diangkut lagi memasuki rumah itu dan para pengiringnya juga masuk. Tak ada yang berani membantah Pendekar Bongkok, karena mereka kini semakin yakin bahwa pemuda bongkok ini seorang pandekar yang sakti.

Agaknya dari dalam jolinya, Sui Lian mendengarkan semua yang terjadi di luar. Ketika ia dituntun keluar dari joli untuk kembali ke kamarnya, tiba-tiba ia berlutut menghadap Sie Liong dan jelas terdengar suaranya, “Taihiap, saya berterima kasih sekali kepadamu!”

Dua orang nenek bersama ibunya mengangkatnya bangun dan membawanya masuk ke dalam kamar.

Sementara itu, ayah Sui Lian kemudian mengajak Sie Liong duduk menghadapi meja. Beberapa orang keluarganya lalu keluar dan minta kepada para penonton untuk pergi dan jangan berkerumun di depan rumah.

Para penonton bubaran dan sebentar saja peristiwa itu telah menjadi berita baru yang menegangkan seluruh penduduk dusun itu. Un Kiong dan orang tuanya mendengar pula dan mereka menanti dengan jantung berdebar tegang.

Un Kiong sendiri diam-diam merasa girang dan timbul harapan baru di dalam hatinya. Ternyata Pendekar Bongkok tidak membohonginya dan sudah mencegah terjadinya pemboyongan pengantin wanita! Tentu saja semalam itu dia sama sekali tidak dapat tidur sekejap mata pun dan kalau saja tidak ingin mentaati perintah Pendekar Bongkok agar dia menanti saja di rumah, ingin dia pergi untuk melihat sendiri apa yang terjadi selanjutnya di rumah Sui Lian, bekas tunangannya.

“Paman, benarkah bahwa sejak kecil puterimu sudah dipertunangkan dengan seorang pemuda bernama Un Kiong dari dusun ini juga?” Sie Liong bertanya dan memandang tajam kepada tuan rumah yang kini didampingi isterinya.

Petani itu mengangguk. “Benar taihiap. Akan tetapi pertalian jodoh itu telah diputuskan, telah dibatalkan, maka Un Kiong tidak berhak untuk datang ke sini dan membikin ribut...”

“Akan tetapi mengapa, paman? Apakah kesalahan Un Kiong sehingga pertunangan itu dibatalkan? Padahal, pertunangan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun, sejak keduanya masih kanak-kanak!”

Ayah dan ibu Sui Lian saling memandang dan orang tua itu tidak mampu menjawab. Karena memang calon mantunya itu tidak mempunyai kesalahan apa pun!

“Hemm, aku tahu, paman. Tentu karena datang pinangan dari kepala dusun. Karena hal itulah engkau membatalkan ikatan perjodohan itu agar angkau dapat menerima lamaran kepala dusun, bukan?”

Orang tua itu mengangkat muka memandang kepada Pendekar Bongkok, kemudian dia mengangguk membenarkan.

“Nah, aku ingin tahu sekarang. Mengapa kau lakukan hal itu? Kalau puterimu sudah bertunangan dengan Un Kiong, seharusnya kau tolak saja lamaran kepala dusun dan berkata terus terang bahwa puterimu sudah mempunyai calon suami.”
“Ahh, taihiap, mana kami berani melakukan hal itu? Kepala dusun itu baru saja menjadi kepala dusun di sini. Kami tidak berani menolak pinangan dan selain itu, tentu saja kami lebih suka melihat anak kami menjadi mantu kepala dusun karena ia akan dapat hidup mulia, terhormat, kaya raya dan...”

“Dan yang terpenting, paman dan bibi akan ikut pula naik derajatnya sebagai besan kepala dusun, begitukah?” Sie Liong menyambung dan suami isteri itu tersipu.
“Paman dan bibi, apakah ji-wi (kalian) menyayang puterimu?”
“Tentu saja!” jawab kedua orang tua itu.
“Kalau ji-wi menyayangnya, kenapa ji-wi memperlakukannya sebagai barang dagangan saja? Siapa yang berani menawar lebih tinggi akan mendapatkannya. Ia bukan benda, bukan pula binatang, melainkan seorang manusia yang berperasaan. Dia juga berhak menentukan pilihannya sendiri. Ji-wi melihat sendiri betapa ia bersedih dan tidak suka menjadi isteri putera kepala dusun, akan tetapi ji-wi memaksanya! Benarkah perbuatan itu?”

Dua orang tua itu menunduk. “Kami... kami melakukan hal itu demi kebahagiaannya, taihiap. Ia akan menjadi wanita terhormat di dusun ini dan hidup berkecukupan...”

“Itukah ukuran bahagia? Berbahagiakah seekor burung yang ada dalam sangkar, walau pun sangkar itu terbuat dari emas? Ji-wi keliru, seyogianya lebih dahulu menanyakan pendapat puteri ji-wi. Sungguh tidak adil kalau membatalkan pertunangan itu begitu saja, secara sepihak, sedangkan kedua orang muda itu sudah saling menyayang.”

“Tapi, tapi kami tidak berani menolak... dan sekarang... perjodohan itu sudah ditentukan, dan taihiap... ahhh, apa yang harus kami lakukan sekarang? Kami takut akan tindakan kepala dusun yang tentu akan marah sekali...” Suami isteri itu meratap dan ketakutan.
“Itu tanggung jawabku. Yang penting, ji-wi mengakui kesalahan ji-wi dan bersedia untuk menyambung kembali ikatan jodoh antara Sui Lian dan Un Kiong.”

Suami isteri itu saling pandang dan mereka menarik napas panjang. “Baiklah, taihiap. Kini kami dapat melihat kesalahan kami yang hendak mengorbankan perasaan hati anak kami dengan kemewahan keadaan lahiriah. Kami bersedia menyambung kembali perjodohan itu asal taihiap dapat membereskan urusan kemarahan dari pihak kepala dusun.”

“Jangan khawatir. Nah, itu agaknya mereka datang,” kata Sie Liong dengan hati lega.

Sie Liong bangkit berdiri, keluar dari ruangan itu, lalu berdiri di serambi depan. Masih terdapat penonton, akan tetapi mereka itu berdiri agak jauh, di tempat aman, bukan seperti tadi di luar pintu pagar.

Dia melihat munculnya dua orang laki-laki yang sikapnya gagah, yang diiringkan oleh tujuh orang pengawal tadi. Agaknya pihak kepala dusun sudah mengutus dua orang jagoan untuk menghadapinya.

Ketika mereka memasuki pekarangan dan langsung menghampiri Sie Liong yang berdiri di kaki tangga serambi depan, Sie Liong mengamati mereka dengan penuh perhatian. Dua orang yang sikapnya gagah sekali.

Yang seorang bertubuh tinggi besar. Mukanya persegi, jantan dan gagah. Sedangkan orang ke dua bertubuh sedang, mukanya bulat dan muka itu dipenuhi brewok lebat yang rapi. Keduanya berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, dan di balik pundak mereka nampak gagang pedang. Dua orang yang gagah.

Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia merasa sepertinya pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi dia sudah tidak ingat lagi.

Seorang di antara dua orang gagah itu, yang tinggi besar, setelah memandang tajam kepada Sie Liong, lalu menegur, suaranya keras dan berwibawa, suara yang gagah. “Apakah engkau orangnya yang tadi menghalangi pemboyongan pengantin wanita oleh pengantin pria?”

Sie Liong menghadapi mereka dengan tenang. Dia belum mendengar akan kejahatan kepala dusun dan pernikahan itu berjalan seperti lajimnya. Kepala dusun sama sekali tidak memaksakan kehendaknya, karena itu dia tahu bahwa dia bukan menghadapi golongan yang jahat. Semua keributan itu timbul hanya karena salah pengertian, karena kelemahan orang tua Sui Lian.

“Benar sekali, akulah yang tadi menghalangi pemboyongan yang tidak tepat itu.”

Dua orang gagah itu mengerutkan alisnya. “Pemboyongan tidak tepat? Apanya yang tidak tepat? Dengar, sobat yang sombong. Kami berdua adalah tamu dalam pesta itu dan sudah bertahun-tahun kami mengenal kepala dusun sebagai orang yang berwatak baik. Dia merayakan pernikahan puteranya dengan gadis dusun di sini, apa salahnya itu?”

“Mungkin dia tidak bersalah, akan tetapi sayang, yang dilamarnya itu adalah seorang gadis yang sudah mempunyai calon suami dan ikatan jodoh itu sudah berjalan sejak keduanya masih kecil. Tiba-tiba saja ikatan jodoh itu dibatalkan karena anak perempuan itu hendak dikawinkan dengan putera kepala daerah! Nah, bukankah hal itu merupakan suatu paksaan yang merugikan pihak calon suami?”

Kembali dua orang itu saling pandang dan kini si brewok yang berkata dengan suara lantang. “Semua itu merupakan urusan pribadi keluarga pengantin puteri, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan keluarga kepala dusun. Pinangan sudah diterima dan pernikahan harus dilangsungkan, siapa pun tidak berhak untuk menghalangi!”

“Maaf, akan tetapi aku berpihak kepada keluarga colon suami yang disia-siakan, maka aku yang menghalangi dilanjutkannya pernikahan paksaan ini. Harap ji-wi suka kembali saja dan minta kepada kepala dusun untuk datang ke sini agar urusan ini dapat kita bicarakan dengan penuh kebijakan!”
“Hemmm, tidak percuma apa bila sahabat kami kepala dusun itu memberi kepercayaan kepada kami untuk menghadapi pengacau! Engkau seorang pengacau, maka mari ikut dengan kami menghadap kepala dusun! Kalau engkau menyerah baik-baik, kami tidak ingin menggunakan kekerasan,” kata si tinggi besar.
“Kalau aku tidak mau?”
“Ji-wi taihiap, biar kami keroyok saja dia!” teriak si kumis melintang yang memimpin para pengawal tadi. Tujuh orang itu agaknya kini berbesar hati karena hadirnya dua orang gagah itu, lupa bahwa tadi mereka sama sekali tidak berdaya menghadapi si bongkok.

Akan tetapi, melihat mereka sudah bergerak hendak mengeroyok, dua orang gagah itu mengembangkan dua lengan dan mencegah mereka maju.

“Jangan kalian bergerak. Biarkan kami yang menghadapinya!” kata si tinggi besar.

Tujuh orang pengawal itu pun mundur kembali. Tadi mereka hendak maju hanya untuk menebus rasa malu, tetapi sesungguhnya mereka merasa jeri. Maka kini dilarang maju, mereka diam-diam merasa lega.

“Sute, biarkan aku yang mencoba kelihaian orang sombong ini!” berkata si tinggi besar yang segera melangkah maju. “Sobat, engkau sungguh tinggi hati, hendak mencampuri urusan pribadi keluarga orang lain. Agaknya engkau hendak menggunakan kepandaian untuk melakukan kekerasan dan hendak merampas mempelai wanita itu!”

Sie Liong tersenyum. “Hemm, kalau aku bermaksud demikian, apa perlunya aku berada di sini menanti datangnya jagoan-jagoan dari kepala dusun? Tentu sudah kuculik dan kularikan mempelai wanita. Tidak, dugaanmu itu menyeleweng jauh, sobat. Aku hanya ingin membenarkan yang salah, tidak ada pamrih lain.”

“Dan engkau akan mempertahankan pendirianmu dengan kekuatan dan ilmu silatmu?”
“Kalau perlu...”
“Bagus! Ingin kulihat sampai di mana kelihaianmu maka engkau sesombong ini!” bentak si tinggi besar itu dan dia membentak nyaring, “Lihat serangan!”

Sikap itu saja membuktikan bahwa dia memang seorang yang gagah, seorang pendekar yang memberi peringatan sebelum melakukan serangan. Pukulannya kuat bukan main, mendatangkan angin pukulan yang menyambar dahsyat, juga datangnya cepat sekali.

Melihat serangan ini, tahulah Sie Liong bahwa kini dia berhadapan dengan lawan yang ‘berisi’, bukan sekedar tukang pukul yang besar suaranya saja. Maka, dia pun dengan hati-hati mengelak ke kiri, kemudian dari kiri tangannya menyambar ke kanan depan, membalas dengan totokan ke arah lambung kanan yang terbuka.

Akan tetapi, lawannya sudah menarik tangan, menekuk lengan dan memutar tubuh ke kanan sambil menangkis keras. Agaknya, si tinggi besar ini hendak mencoba tenaga lawan, maka ketika menangkis totokan itu, dia mengerahkan sinkang.

“Dukkk!”

Dua lengan bertemu keras sekali dan akibatnya, si tinggi besar mengeluarkan seruan kaget. Dia merasa betapa lengannya nyeri, tulangnya seperti akan patah dan lengan kanan itu lumpuh dalam satu dua detik. Dia cepat meloncat mundur dan memandang lawan dengan sinar mata tajam, maklum bahwa si bongkok ini benar-benar hebat!

Maka dia pun lalu menerjang dengan cepat. Bagaikan serangan badai, kaki tangannya bergerak cepat, setiap pukulan dan tamparannya dilakukan dengan pengerahan tenaga.

Tetapi, dengan tenang Sie Liong selalu manghindarkan diri dengan langkah-langkahnya yang teratur. Sekali-kali dia menangkis, bahkan balas melancarkan serangan pula agar dirinya tidak menjadi terdesak.

“Hyaattttt...!”

Kini lawannya menyerang dengan lebih dahsyat lagi. Setiap pukulan telapak tangannya mengandung tenaga dahsyat yang panas!

Sie Liong maklum bahwa lawannya menggunakan semacam sinkang yang hebat, maka dia pun segera mengerahkan sinkang-nya dan memainkan ilmu silat Swat-liong-ciang (Silat Naga Salju). Ketika tangan mereka bertemu dalam benturan dahsyat, orang tinggi besar itu terhuyung ke belakang dan dia terbelalak, tubuhnya menggigil kedinginan!

Memang, Swat-liong-ciang itu merupakan ilmu silat ampuh yang mengeluarkan hawa dingin. Ilmu ini diperoleh Sie Liong dari seorang di antara guru-gurunya, yaitu Swat Hwa Cinjin, seorang di antara Himalaya Sam Lojin.

Melihat suheng-nya terhuyung dengan tubuh menggigil dan muka pucat, si brewok lalu menerjang dahsyat sambil membentak, “Lihat seranganku!”

Kedua tangan itu bergerak cepat, membentuk dua buah cakar yang mencengkeram ke bagian-bagian lemah dari tubuh Sie Liong. Serangannya bertubi-tubi dan ternyata sang sute ini tidak kalah lihainya dibanding sang suheng!

Sie Liong maklum bahwa ilmu silat yang dimainkan oleh lawannya itu adalah semacam ilmu yang meniru gerakan harimau, maka dahsyat luar biasa. Melihat kuatnya sambaran angin pukulan tentu cakar istimewa dari tangan orang itu, meski tidak berkuku panjang akan tetapi tidak kalah berbahayanya dari pada cakar seekor harimau!

Dia pun cepat berloncatan mengelak dan kini dia memainkan ilmu silat Pek-in Sin-ciang (Silat Sakti Awan Putih). Begitu ia mengerahkan tenaga sinkang, maka dari dua telapak tangannya berkepul uap putih dan semua cakaran lawannya dapat ditangkisnya dengan tepat. Dia pun membalas dengan dorongan-dorongan telapak tangannya dan akhirnya, lawan yang brewok itu pun terhuyung-huyung ke belakang, tidak kuat manahan hawa yang amat kuat menyambar dari kedua tangan Sie Liong.

Kini, dua orang gagah itu meloncat mundur dan mereka berdua mencabut pedang dari punggung! Mereka maklum bahwa dengan tangan kosong mereka tidak akan mampu mengalahkan orang bongkok itu, maka mereka mencabut senjata!

“Sobat, ternyata engkau benar amat lihai. Nah, sekarang keluarkan senjatamu, mari kita bermain-main sebentar dengan senjata!” tantang si tinggi besar dengan sikap gagah.

Sie Liong menjura kepada mereka. “Mana aku berani? Aku tidak pernah bermain-main dengan senjata, dan aku juga tak akan pernah mau mengangkat senjata untuk melawan pendekar-pendekar dari Kun-lun-pai yang gagah perkasa, karena aku tahu benar bahwa pendekar-pendekar Kun-lun-pai selalu membela yang benar dan tak pernah melakukan kejahatan!”

Kedua orang itu terbelalak. “Engkau... mengenal kami? Siapakah engkau sebenarnya?” tanya si tinggi besar. Mereka memang benar murid-murid Kun-lun-pai, yang tinggi basar bernama Ciang Sun, sedangkan sute-nya yang brewokan, bernama Kok Han.

“Tentu saja aku mengenal ji-wi, bahkan kurang lebih tujuh delapan tahun yang lalu kita pernah saling berjumpa. Pada saat itu, ji-wi berusaha menolong seorang tosu tua yang diseret oleh dua orang pendeta Lama, akan tetapi ji-wi tertotok roboh. Nah, di tempat itulah kita saling berjumpa!”
“Ahh...!” Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu berseru, kemudian mereka saling pandang. “Engkau... engkau bocah bongkok yang terpukul oleh pendeta Lama itu...? Tapi... tapi kami sangka engkau sudah mati...!”

Sie Liong tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mati, aku tertolong oleh Himalaya Sam Lojin yang menjadi guru-guruku...”

“Ahhh...! Kiranya saudara adalah murid tiga orang kakek sakti itu? Pantas begini lihai! Akan tetapi, mengapa... ehhh, mengenai urusan pengantin itu...” Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu menjadi gugup karena mereka tadi memandang rendah.
“Harap ji-wi tenang-tenang saja. Sungguh, tentu ji-wi percaya bahwa aku juga tidak akan melakukan perbuatan yang jahat, bukan? Ketahuilah, aku berjumpa dengan pemuda yang sejak kecil menjadi tunangan gadis yang sekarang menjadi pengantin. Sejak kecil bertunangan lalu mendadak dibikin putus dan tunangannya tahu-tahu akan dinikahkan dengan putera kepala dusun! Bukankah hal itu sama sekali tidak adil? Juga aku melihat sendiri bahwa pengantin wanita tidak mau dijodohkan dengan anak kepala dusun, akan tetapi dua orang tuanya yang agaknya mata duitan dan mata kedudukan, memaksanya. Itulah sebabnya aku turun tangan...”

“Ahhh, kalau begitu, lain lagi urusannya!” kata Kok Han. “Sungguh heran, mengapa bisa terjadi demikian? Padahal kepala dusun itu telah lama kami kenal sebagai orang yang baik dan bijaksana.”
“Mungkin dia tidak tahu,” kata Sie Liong. “Dia hanya tahu meminang, diterima kemudian merayakan pernikahan puteranya. Oleh karena itu, sebaiknya jika dia diajak berunding, syukur kalau dia mau datang ke tempat ini agar perundingan dapat diadakan bersama orang tua mempelai puteri. Tentu ji-wi sekarang sudah tahu akan duduknya perkara dan suka membantu agar peristiwa ini dapat diselesaikan dengan baik.”

Dua orang pendekar Kun-lun-pal itu tentu saja menyetujui usul Sie Liong. “Baik, kami yang akan menjelaskan kepada keluarga Sun, dan kami akan membujuk kepala dusun Sun agar suka datang ke sini.”

“Terima kasih, ji-wi memang bijaksana. Aku akan menunggu di sini,” kata Sie Liong.

Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu segera pergi dan mereka merasa bersyukur bahwa mereka tidak usah kehilangan muka, tidak sampai dirobohkan oleh Pendekar Bongkok. Mereka kini tahu bahwa kalau lawan tadi menghendaki, mereka tentu saja sudah roboh, bahkan mungkin tewas. Dan mereka kini tidak ragu-ragu lagi akan kebenaran apa yang sedang dilakukan oleh Pendekar Bongkok.

Benar saja seperti dugaan Sie Liong. Tidak lama kemudian kepala dusun Sun datang ke rumah calon besan itu, ditemani oleh dua orang pendekar Kun-lun-pai. Mereka disambut dan dipersilakan duduk di ruangan dalam, di mana mereka mengadakan pembicaraan. Yang hadir hanyalah suami isteri orang tua Sui Lian, kepala dusun Sun, Sie Liong dan juga dua orang pendekar itu, Ciang Sun dan Kok Han.

Dengan jelas Sie Liong lalu menceritakan tentang pemutusan pertalian jodoh antara Sui Lian dan Un Kiong, yang didengarkan oleh kepala dusun Sun dengan alis berkerut. Sie Liong lalu melanjutkan ceritanya.

“Hendaknya jung-cu (lurah) ketahui bahwa pertunangan antara dua orang muda itu telah diketahui oleh seluruh penduduk dusun ini, sudah dilakukan semenjak keduanya masih kanak-kanak. Apa bila tiba-tiba pertunangan itu dibikin putus secara sepihak, kemudian gadis itu dinikahkan dengan puteramu, bukankah penduduk akan menganggap bahwa jung-cu sewenang-wenang, mempergunakan kekuasaannya untuk merampas tunangan orang? Kalau jung-cu ingin disuka oleh seluruh penduduk dusun, ingin menjadi seorang kepala dusun yang bijaksana, kiranya tentu tidak ingin merampas tunangan orang dan memaksa gadis itu menikah dengan puteramu.”

Kepala dusun Sun lalu memandang kepada tuan rumah, yaitu ayah dari Sui Lian. “Akan tetapi, kalau memang Sui Lian sudah mempunyai tunangan, mengapa pinangan kami diterima?”

Sie Liong menoleh kepada tuan rumah dan isterinya, lalu dia berkata dengan tenang, “Kiranya paman dan bibi ini akan dapat menjawab pertanyaan itu dan sekarang inilah saat semua orang harus berterus terang dan meluruskan yang bengkok, membenarkan yang salah!”

Wajah tuan dan nyonya rumah menjadi agak pucat. Dengan suara gemetar, ayah Sui Lian lalu berkata, “Mohon ampun kepada jung-cu... saat jung-cu mengajukan pinangan, kami... kami merasa terhormat dan bahagia sekali, kami pun tidak berani menolak dan tidak berani menceritakan tentang pertunangan itu... sebab kami merasa bangga kalau menjadi besan jung-cu, maka kami diam saja dan...”

“Brakkk!”

Kepala dusun menggebrak meja dengan tangan kirinya, dan mukanya menjadi merah sekali. “Kalian kira aku ini orang macam apa? Seorang pembesar yang mengandalkan kekuasaannya untuk memaksakan kehendaknya kepada rakyat? Sungguh, itu namanya memandang rendah kepada kami!”

“Ampunkan kami... jung-cu...!” tuan dan nyonya rumah menjadi ketakutan.

Kepala dusun itu menarik napas panjang. “Sudahlah, gara-gara sikap kalian yang keliru, yang gila kehormatan dan kedudukan, kalian telah membuat kami sekeluarga menjadi malu saja. Semua tamu sudah datang dan semua peralatan upacara pernikahan telah disiapkan, bagaimana mungkin pernikahan dapat dibatalkan? Kami akan menjadi buah cemoohan dan tertawaan orang saja! Siapa nama tunangan Sui Lian itu?”

“Namanya Un Kiong...”
“Di mana dia? Panggil dia ke sini!”

Sie Liong bangkit. “Biarlah aku yang memanggil dia ke sini.”

Dan sekali berkelebat, pemuda bongkok ini pun lenyap dari situ. Tak lama kemudian dia sudah datang lagi bersama Un Kiong. Pemuda ini agak pucat. Bagaimana pun juga, dia ketakutan.

Akan tetapi, kepala dusun Sun bersikap tenang saja. “Un Kiong, mulai saat ini, engkau kuanggap sebagai anak angkatku dan besok engkau akan kunikahkan dengan Sui Lian. Sukakah kau?”

Un Kiong cepat menjatuhkan diri berlutut di depan ‘ayah angkatnya’ dan hanya mampu menangis saking gembiranya. Sie Liong bertemu pandang dengan dua orang pendekar Kun-lun-pai dan mereka tersenyum, kagum akan hasil pekerjaan Pendekar Bongkok.

Pada keesokan harinya pesta pernikahan tetap dirayakan di rumah kepala dusun, hanya saja, yang menikah bukanlah putera kandungnya, tetapi ‘putera angkatnya’. Puteranya sendiri disuruhnya pergi ke kota di selatan, untuk menghindarkan pergunjingan orang.

Pada waktu sepasang mempelai dipertemukan, Sie Liong dan kedua orang pendekar Kun-lun-pai mendapat kursi kehormatan. Tanpa diperintah, dua orang mempelai itu lalu menghampiri Sie Liong dan serta merta keduanya menjatuhkan dirinya berlutut di depan pemuda bongkok itu.

“Wah... jangan...! Tak perlu begini...!” katanya dan sekali berkelebat, Pendekar Bongkok sudah lenyap dari tempat itu, bahkan dari dusun itu yang ditinggalkannya cepat-cepat.

Peristiwa ini bukan hanya menguntungkan dua orang muda yang sudah saling mencinta itu, tapi juga mendatangkan keuntungan besar kepada kepala dusun Sun. Perbuatannya itu mendatangkan perasaan hormat dan suka sekali dalam hati para penduduk dusun itu sehingga dia menjadi seorang kepala dusun yang dihormati, disuka dan ditaati sehingga dia selalu dipilih, menjadi kepala dusun selama hidupnya!

Sie Liong sendiri kembali melanjutkan perjalanan dengan wajah cerah. Mulutnya selalu tersenyum. Gembira bukan main rasa hatinya bahwa dia sudah berhasil menyambung perjodohan yang putus itu! Dia dapat membayangkan alangkah bahagianya sepasang orang muda itu!

Akan tetapi dia pun melihat bahwa kesenangan yang dinikmati sepasang orang muda itu tidaklah kekal adanya. Seperti keadaan udara, tidak selamanya kehidupan manusia diterangi sinar matahari. Banyak sekali awan hitam berarak di angkasa, sewaktu-waktu dapat mengurangi kecerahan matahari, bahkan menggelapkannya sama sekali.

Akan tetapi, itu soal nanti! Yang penting, kini mereka berbahagia dan dia pun merasa berbahagia karena perbuatannya telah berhasil membahagiakan orang lain…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH PENDEKAR BONGKOK : JILID-08
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger