logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Pendekar Bongkok Jilid 13


Mereka memasuki kota Lhasa sambil menuntun kuda tunggangan mereka yang nampak lelah sekali. Sie Lan Hong memandang ke kanan kiri, mengagumi bangunan-bangunan kuno yang kokoh dan megah di lereng bukit-bukit itu.

Sungguh sebuah kota yang aneh dan juga asing baginya. Melihat daerah yang luas itu, perumahan yang berada di lereng-lereng bukit, orang-orang yang berlalu lalang di jalan-jalan lebar, ia pun mengerutkan alisnya dan merasa khawatir.
“Lie-toako, di tempat besar seperti ini, ke mana kita harus mencari puteriku dan adikku?”

Lie Bouw Tek tersenyum. Dia memandang wanita itu dengan sinar mata lembut dan menghibur.
“Jangan khawatir, Hong-moi. Yang kita cari adalah dua orang Han, maka tentu tidak akan begitu sukar. Tidak banyak orang Han di sini, maka kalau mereka berada di sini, tentu ada yang melihat mereka.”
“Sekarang, kita ke mana toako?”
“Kita mencari tempat penginapan dahulu, menyewa dua buah kamar, dan membiarkan kuda kita mendapat perawatan, kemudian kita membersihkan diri, lalu makan. Setelah itu, baru kita pergi menghadap atau berusaha supaya dapat diterima menghadap Dalai Lama.”

“Menghadap Dalai Lama? Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa kedudukan Dalai Lama amat tinggi, hampir seperti kaisar kita, dan tidak akan mudah menghadap beliau.”
“Benar, akan tetapi aku yakin akan dapat diterimanya, Hong-moi. Aku mengenal beliau pribadi, karena aku pernah membantu beliau ketika ada segerombolan penjahat hendak membunuh beliau.”
“Akan tetapi, adikku Sie Liong mungkin pergi mencari Tibet Ngo-houw, kenapa engkau hendak mengajak aku menghadap Dalai Lama?”

“Begini, Hong-moi. Aku sendiri sesungguhnya sedang menerima tugas dari Kun-lun-pai untuk menyelidiki kenapa Tibet Ngo-houw memusuhi para tosu, bahkan memusuhi pula Kun-lun-pai. Di sepanjang perjalanan kita sudah mendengar akan adanya perkumpulan Kim-sim-pai yang kabarnya hendak memberontak. Maka, kupikir sebaiknya kalau aku langsung saja bertanya kepada Dalai Lama tentang sikap Tibet Ngo-houw itu. Aku yakin di sana aku akan bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas. Dan tentang mencari adikmu dan puterimu, kukira orang-orang Dalai Lama akan lebih tahu, atau setidaknya akan lebih mudah menemukan kedua orang itu kalau Dalai Lama membantu, menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki dan mencari.”

Sie Lan Hong mengangguk-angguk. Ia memang telah tahu bahwa Lie Bouw Tek adalah seorang pria yang hebat, yang gagah perkasa, cerdik dan juga amat berpengalaman. Ia merasa lemah dan bodoh sekali berada di samping pria ini, dan ia merasa aman dan terlindung.

Alangkah bedanya ketika ia masih menjadi isteri Yauw Sun Kok. Ia tak pernah merasa tenteram, tak pernah merasa aman bahkan selalu merasa gelisah, takut dan juga sakit hati. Lie Bouw Tek yang bukan apa-apanya, tidak ada hubungan apa pun antara mereka telah bersikap demikian baiknya!

Begitukah sikap setiap orang pendekar, ataukah ada sesuatu yang istimewa di dalam hubungan di antara mereka? Mengingat akan hal ini, sering kali Lan Hong tersipu malu. Tidak, bantahnya kepada diri sendiri. Ia hanya seorang janda yang mempunyai seorang puteri lagi. Ia bukan seorang gadis muda!

Sedangkan Lie Bouw Tek adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal! Betapa mungkin... ah, ia telah mengharapkan terlalu jauh, sungguh tidak tahu malu!

Lan Hong menurut saja ketika Lie Bouw Tek mengajaknya mencari rumah penginapan. Mereka menyewa dua buah kamar yang letaknya berdampingan dan menyerahkan dua ekor kuda mereka kepada pelayan untuk diberi makan.

Setelah mandi, dengan tubuh terasa segar dan pakaian bersih menggantikan pakaian mereka yang penuh debu, keduanya lalu pergi ke rumah makan. Mereka tidak terlalu menarik perhatian, seperti sepasang suami isteri saja.

Lie Bouw Tek sendiri biar pun dia seorang pendekar besar, tetapi dia tidak menonjolkan diri dan pedang pusakanya selalu tersembunyi di balik baju luarnya. Atas nasehat Lie Bouw Tek pula, Sie Lan Hong juga menyembunyikan pedangnya sehingga tidak terlalu menyolok. Pedang Lan Hong memang hanya pedang pendek, maka setelah diselipkan di ikat pinggang, ujung sarung pedang masih tertutup baju, dan gagangnya juga tidak nampak walau pun ada kalanya ujung itu menonjol keluar.

Setelah makan, pada pagi hari itu juga, mereka pun pergi menuju ke istana Dalai Lama di lereng bukit. Suasana di bukit itu sungguh nyaman. Terdapat beberapa buah taman bunga yang amat indah, dengan suasana yang aman dan tenteram. Para pendeta Lama yang kadang-kadang bersimpang jalan dengan mereka, bersikap hormat dan ramah.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang memasuki daerah istana itu, beberapa orang pendeta Lama menghadang mereka. Biar pun sikap mereka sangat hormat, akan tetapi dengan tegas mereka mengatakan bahwa orang luar tak diperbolehkan memasuki daerah itu tanpa ijin.

“Harap kalian memaafkan kami,” kata kepala jaga dengan sikap hormat. “Kalau hendak berjalan-jalan dan menikmati keadaan, harap lakukan itu di luar daerah istana. Tidak seorang pun diperbolehkan memasuki daerah dalam pintu gerbang tanpa ijin.”

Lie Bouw Tek tersenyum dan menjura dengan hormat, diikuti pula oleh Sie Lan Hong. “Harap saudara sekalian suka memaafkan saya. Saya sengaja datang ke Lhasa untuk menghadap Dalai Lama. Harap saudara sudi melaporkan ke dalam dan mengatakan bahwa kami berdua ingin menghadap Dalai Lama karena ada suatu keperluan yang amat penting.”

“Omitohud...!” Kepala jaga itu berseru. “Apakah sicu (tuan yang gagah) mengira akan demikian mudah saja bertemu dengan beliau? Tanpa panggilan bagaimana sicu dapat diperkenankan menghadap? Pinceng (saya) sungguh tidak berani lancang mengganggu beliau di pagi hari ini, tanpa alasan yang cukup kuat.”

“Sahabat, harap sampaikan saja ke dalam bahwa saya adalah utusan dari Kun-lun-pai yang ingin menyampaikan sesuatu yang teramat penting untuk Dalai Lama,” kata pula Lie Bouw Tek dengan sikap dan suaranya yang tenang berwibawa.

Mendengar disebutnya Kun-lun-pai, sikap para pendeta penjaga itu berubah dan kepala jaga memandang dengan sikap lebih hormat.

“Omitohud, kiranya sicu adalah utusan dari Kun-lun-pai? Harap sicu menyampaikan surat dari ketua Kun-lun-pai lebih dahulu kepada Dalai Lama melalui kami. Setelah surat itu kami sampaikan, tentu sicu diperkenankan masuk menghadap.”

Akan tetapi Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya. “Sobat, sampaikan saja kepada Dalai Lama bahwa saya, Lie Bouw Tek murid Kun-lun-pai, hendak mohon menghadap. Kalau mendengar nama saya, tentu beliau akan sudi menerimaku.”

Pada saat itu, seorang pendeta Lama yang usianya sudah lebih dari lima puluh tahun berjalan tenang dari sebelah dalam. Begitu melihat Lie Bouw Tek, dia pun cepat-cepat menghampiri dan menjura dengan sikap hormat.

“Omitohud... kiranya Lie Taihiap yang sedang berada di sini! Selamat datang, taihiap. Ada keperluan apakah gerangan yang membawa taihiap datang berkunjung ke Lhasa?”

Lie Bouw Tek tidak mengenal pendeta Lama itu, akan tetapi dia tahu bahwa pendeta ini tentu seorang di antara mereka yang dulu tahu akan bantuan yang dia berikan kepada Dalai Lama. Dia pun cepat memberi hormat dan berkata dengan lembut.

“Selamat bertemu, losuhu. Saya datang untuk mohon menghadap Dalai Lama karena ada sesuatu hal yang sangat penting harus saya sampaikan kepada beliau. Tolonglah, harap mintakan ijin kepada beliau agar saya diperkenankan menghadap sekarang juga.”

“Baik, taihiap. Tunggulah sebentar di sini!” kata pendeta itu yang bergegas masuk ke arah bangunan istana yang megah itu.

Kini para pendeta jaga bersikap hormat dan ramah, bahkan mempersilakan Bouw Tek dan Lan Hong untuk duduk menanti di dalam gardu penjagaan.

Tidak lama kemudian, muncullah enam orang pendeta Lama yang merupakan sebuah pasukan kecil berbaris menghampiri tempat itu. Mereka ditemani oleh pendeta Lama yang tadi menegur Bouw Tek, yang kini tersenyum ramah.

“Silakan, taihiap. Dalai Lama yang agung mengundang taihiap.”
“Akan tetapi, saya datang bersama Sie-toanio ini, harap supaya ia pun diperkenankan menemani saya untuk menghadap Dalai Lama.”

Pendeta itu mengerutkan alisnya. “Tidak biasanya Dalai Lama mau menerima tamu wanita. Akan tetapi karena toanio ini datang bersamamu, maka silakan masuk. Terserah kepada Dalai Lama sendiri nanti setelah ji-wi (kalian berdua) tiba di luar ruangan tamu, apakah toanio ini diperkenankan turut masuk ataukah dipersilakan menunggu di luar ruangan.”

Lie Bouw Tek mengangguk dan bersama Lan Hong, dia lalu mengikuti enam orang pendeta itu yang mengawal dan menjadi penunjuk jalan. Setelah mereka memasuki istana, tidak seperti Lie Bouw Tek yang pernah satu kali masuk ke istana ini, Lan Hong memandang ke kanan kiri dengan bengong.

Ia terpesona menyaksikan segala keindahan yang terdapat di istana itu. Ukir-ukiran yang indah sekali, marmer, emas, perak, sutera beraneka warna! Ia merasa seperti memasuki sebuah istana dalam mimpi! Patung-patung logam, marmer, perak atau emas yang ukirannya sangat indahnya, lukisan-lukisan. Pendeknya, selama hidupnya belum pernah Lan Hong menyaksikan keindahan seperti itu.

Ketika mereka sampai di luar sebuah pintu besar yang terjaga, enam orang pendeta pengawal itu mempersilakan mereka menanti sebentar. Seorang di antara mereka memasuki ruangan di balik pintu besar itu, dari mana keluar keharuman cendana yang nyaman. Tak lama kemudian, pendeta itu keluar lagi dengan wajah cerah.

“Taihiap dan toanio dipersilakan masuk untuk menghadap Yang Agung Dalai Lama!”

Dengan wajah gembira Lie Bouw Tek lalu mengajak Sie Lan Hong memasuki ruangan itu. Akan tetapi Sie Lan Hong sendiri agak gemetar ketika melangkah masuk.

Ruangan itu luas dan nampak sunyi karena kosong. Di sudut paling belakang, nampak ada seorang pria duduk di atas sebuah kursi yang besar dan terukir indah, mengenakan jubah dan kepalanya tertutup topi pendeta.

“Selamat datang, pendekar perkasa Lie Bouw Tek dan toanio! Silakan duduk!”

Lie Bouw Tek cepat maju memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada dan membungkuk sampai dalam. Sie Lan Hong juga memberi hormat, akan tetapi dia merasa heran bukan main.

Tadinya ia membayangkan bahwa Dalai Lama yang mengepalai para pendeta Lama di Tibet, tentu seorang kakek yang tua renta keriputan dan buruk. Akan tetapi ternyata sama sekali tidak demikian!

Pendeta yang duduk menyendiri itu usianya hanya beberapa tahun saja lebih tua dari Lie Bouw Tek, dan wajahnya tampak bersih! Wajah yang cerah dengan sepasang mata yang terang dan jernih, senyum yang terbuka dan seluruh gerak geriknya menyiratkan kesabaran, keagungan dan kebesaran hati.

Setelah Bouw Tek dan Lan Hong duduk di atas kursi yang agaknya sudah disediakan untuk mereka, menghadap ke arah Dalai Lama, nampaklah oleh mereka berdua bahwa di belakang Dalai Lama terdapat sehelai kain sutera putih dan di balik kain sutera itu berdiri beberapa orang pendeta Lama yang tak bergerak bagaikan arca-arca mati saja. Bouw Tek maklum bahwa sedikitnya sepuluh orang pendeta Lama berdiri di sana, dan mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, yang merupakan pasukan pengawal yang melindungi keselamatan Dalai Lama.

Dalai Lama sendiri memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ditambah penjagaan pasukan pengawal pribadi ini, dan adanya ratusan orang pendeta Lama di kompleks istana itu, maka tentu saja tempat itu amatlah kuatnya. Apa lagi di benteng yang setiap waktu siap mentaati perintah Dalai Lama.

“Nah, menurut laporan tadi engkau datang sebagai seorang utusan Kun-lun-pai, maka katakanlah semua keperluanmu berkunjung ke sini, taihiap.”

Dari tempat duduknya, Bouw Tek memberi hormat kepada orang pertama yang paling berkuasa di Tibet itu. “Mohon dimaafkan atas kelancangan saya. Karena para pimpinan Kun-lun-pai yang mengutus saya itu hanya menyampaikan pesan melalui beberapa orang murid yang menyusul saya, maka saya tidak membawa surat perintah tertulis. Sebetulnya, tugas saya dari Kun-lun-pai adalah untuk menyelidiki Tibet Ngo-houw, akan tetapi karena saya merasa yakin akan dapat paduka terima dengan baik, maka saya langsung saja menghadap paduka untuk mohon pertimbangan dan kebijaksanaan.”

Dalai Lama masih tersenyum walau pun pandang matanya sejenak kehilangan cahaya kelembutannya ketika mendengar disebutnya nama Tibet Ngo-houw tadi.

“Tibet Ngo-houw? Taihiap, ada urusan apakah dengan Tibet Ngo-houw?”

Jelas bagi Bouw Tek bahwa pertanyaan itu memancing. Dia merasa heran. Semenjak dahulu semua orang juga tahu bahwa Tibet Ngo-houw adalah lima orang pendeta Lama yang terkenal sebagai pembantu-pembantu Dalai Lama yang dipercaya. Dan mungkin saja mereka kini pun berada di balik sutera putih di belakang Dalai Lama itu. Mengapa Dalai Lama masih bertanya lagi?

“Ampunkan saya, bukan maksud saya untuk mengadu, hanya saya diutus oleh para pimpinan Kun-lun-pai untuk menyelidiki kenapa Tibet Ngo-houw datang ke Kun-lun-san, bukan hanya mencari dan menyerang dengan maksud membunuhi para pertapa dan tosu yang berasal dari Himalaya dan kini bertapa di sana, akan tetapi juga bahkan mereka berlima itu memusuhi Kun-lun-pai. Karena mereka itu mengaku sudah diutus oleh paduka, maka saya kira lebih baik saya langsung saja bertanya kepada paduka mengenai sepak terjang Tibet Ngo-houw itu.”

Dalai Lama mengangguk-angguk, agaknya dia sama sekali tidak heran apa lagi terkejut mendengar ucapan Bouw Tek ini, bahkan terdengar dia berkata lirih, seperti kepada diri sendiri. “Hemm, sampai begitu jauh mereka berusaha memburukkan nama kami?”

Dalai Lama bertepuk tangan dua kali dan muncullah seorang pendeta Lama dari balik kain sutera putih. Dia seorang pendeta yang bertubuh tinggi besar, bersikap agung dan usianya sudah enam puluh tahun lebih. Mukanya berbentuk persegi seperti muka singa, membayangkan kekerasan dan kekokohan, akan tetapi sinar matanya sangat lembut. Dia menjura di depan Dalai Lama, menanti perintah.

“Lie-taihiap, engkau tentu masih ingat kepada Kong Ka Lama yang bijaksana dan sakti ini. Nah, dialah yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Maafkan, sekarang tiba saatnya bagi saya untuk melakukan meditasi, maka urusan selanjutnya, rundingkanlah segalanya dengan Kong Ka Lama ini.” Setelah berkata demikian, Dalai Lama bangkit berdiri.

Bouw Tek cepat bangkit berdiri diikuti oleh Lan Hong dan setelah sedikit mengangguk kepada mereka, Dalai Lama lalu melangkah masuk dari pintu di belakang sutera putih, meninggalkan Bouw Tek dan Lan Hong berdua dengan pendeta Lama yang bernama Kong Ka Lama itu.

Setelah Dalai Lama dan para pendeta yang mengawalnya memasuki pintu yang segera tertutup kembali, Kong Ka Lama baru menghadapi Bouw Tek dan Lan Hong, membuat gerakan dengan tangan menunjuk pintu samping dan berkata, “Taihiap dan toanio, mari kita bicara di ruangan sebelah.”

Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, melalui pintu samping mereka memasuki sebuah ruangan lain yang tidak begitu besar. Ruangan ini pun kosong dan hanya ada sebuah meja dan beberapa buah kursi. Kong Ka Lama mempersilakan dua orang tamu itu untuk duduk dan dia sendiri pun duduk menghadapi mereka.

Tentu saja Lie Bouw Tek masih ingat kepada pendeta Lama ini. Kong Ka Lama atau artinya Lama Salju Putih adalah seorang di antara jagoan Tibet yang mengawal Dalai Lama. Bahkan dulu, ketika Dalai Lama dalam perjalanan keluar Lhasa dihadang para pemberontak yang menyerangnya, Kong Ka Lama ini yang mengepalai para pengawal melakukan perlawanan dan melindungi Dalai Lama yang berada di dalam tandu. Pada waktu itulah kebetulan dia melakukan perjalanan dan melihat peristiwa itu, lalu dia turun tangan membantu para pendeta Lama, menghalau para penghadang sehingga akhirnya Dalai Lama dapat diselamatkan.

Kong Ka Lama adalah seorang pendeta Lama yang berilmu tinggi dan masih saudara seperguruan dengan lima orang Tibet Ngo-houw, maka bisa dibayangkan kelihaiannya.

“Taihiap, pinceng (saya) memenuhi perintah Dalai Lama untuk memberi keterangan dan penjelasan kepada taihiap tentang sepak terjang Tibet Ngo-houw terhadap para tosu yang berasal dari Himalaya dan yang kini telah mengungsi ke Kun-lun-san itu. Mungkin taihiap sudah mendengar betapa yang mulia Dalai Lama dahulunya terlahir di sebuah dusun dan melihat bahwa beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang tua, maka para pendeta Lama yang ketika itu dipimpin oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama mengambil calon Dalai Lama baru itu secara paksa. Hal ini diketahui oleh seorang pertapa Himalaya, dan terjadilah bentrokan ketika pertapa itu membela orang-orang dusun yang hendak mempertahankan anak itu sehingga akibatnya, tiga orang pendeta Lama tewas. Akan tetapi anak itu dapat dibawa ke sini. Kemudian, dengan bimbingan Kim Sim Lama, anak itu diangkat menjadi Dalai Lama.”

Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong mendengarkan dengan penuh perhatian. Lie Bouw Tek tidak merasa heran karena dia pernah mendengar sendiri dari Dalai Lama, yaitu ketika dia menolongnya beberapa tahun yang lalu, bahwa Dalai Lama ketika kecilnya pernah menimbulkan keributan karena dia dipaksa oleh para pendeta Lama ke Tibet sehingga timbul pertempuran antara para pendeta Lama dan orang-orang dusun yang hendak mempertahankannya.

“Itulah yang aneh, losuhu,” katanya. “Kalau sedikit banyak para tosu Himalaya sudah berjasa membela Dalai Lama ketika masih kecil, mengapa sekarang Dalai Lama yang mulia dan adil bahkan menyuruh Tibet Ngo-houw untuk membunuhi para tosu dari Himalaya, bahkan juga memusuhi para tosu Kun-lun-pai?”

Kong Ka Lama menarik napas panjang. “Omitohud... memang demikianlah agaknya yang dikehendaki mereka yang hendak merusak nama baik yang mulia Dalai Lama. Dengarkan, taihiap, akan pinceng lanjutkan penjelasan itu….” Kong Ka Lama berhenti sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.

“Karena ketika diangkat menjadi Dalai Lama, pemimpin kami itu masih belum dewasa, maka kekuasaan dipegang sementara oleh wakil Dalai Lama, yaitu Kim Sim Lama yang sudah berpengalaman. Adalah Kim Sim Lama ini yang dahulu mengamuk, mengirim para pendeta Lama ke Himalaya dan menyerang para tosu dan pertapa Himalaya. Tindakan itu dia lakukan karena dendam, yaitu karena kematian tiga orang pendeta Lama ketika terjadi pertempuran untuk memperebutkan Dalai Lama ketika masih kecil. Perbuatan itu mendatangkan keributan dan banyak para tosu dan pertapa tewas, terluka dan lebih banyak lagi yang melarikan diri meninggalkan Himalaya. Di antaranya banyak yang mengungsi ke Kun-lun-san.”

Lie Bouw Tek mengangguk-angguk. “Akan tetapi, kiranya peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pihak Kun-lun-pai, losuhu.”

“Omitohud, memang tidak ada hubungannya. Harap taihiap dengarkan selanjutnya, dan nanti taihiap akan mengerti. Beberapa tahun kemudian, setelah Dalai Lama menjadi dewasa dan mengerti, beliau mendengar tentang segala sepak terjang Kim Sim Lama yang menjadi wakil, juga pembimbingnya pada waktu beliau masih kecil. Beliau terkejut sekali. Pertama, beliau adalah penjelmaan Dalai Lama yang selalu hidup suci, maka tentu saja beliau sangat tidak suka mendengar tentang permusuhan, apa lagi dendam kebencian dan bunuh membunuh. Apa lagi yang dikejar-kejar adalah para pertapa, para tosu karena dahulu seorang di antara mereka pernah membantu penduduk dusun yang mempertahankan dirinya yang hendak dibawa dengan paksa oleh para pendeta Lama. Juga masih banyak kebijaksanaan yang diambil Kim Sim Lama tapi tidak disetujuinya. Beliau menegur Kim Sim Lama dan terjadilah bentrokan!”

“Hemm, terjadi pemberontakan, begitukah maksud losuhu?”

Pendeta Lama itu mengangguk. “Semacam itulah. Dalai Lama tidak suka meributkan peristiwa itu, karena hanya akan memukul nama baik Tibet sendiri. Kim Sim Lama dapat ditundukkan dan dia pun meninggalkan Lhasa, tidak mau lagi membantu Dalai Lama. Bahkan dia membentuk suatu perkumpulan yang disebut Kim-sim-pai yang berpusat di sekitar Telaga Yam-so, di sebelah selatan Lhasa. Akan tetapi, karena sampai sekarang mereka tak pernah melakukan gerakan pemberontakan, Dalai Lama mendiamkan saja, bahkan memesan kepada kami semua supaya tidak membuat keributan dengan pihak Kim-sim-pai, apa lagi mengingat bahwa Kim Sim Lama adalah seorang tokoh tua di sini dan sudah banyak jasanya dahulu ketika menjadi wakil Dalai Lama.”

“Akan tetapi, bagaimana dengan Tibet Ngo-houw yang mengamuk di Kun-lun-san?”
“Omitohud...! Benar-benar hal itu sama sekali tidak kami ketahui sebelumnya, taihiap. Agaknya, Yang Mulia Dalai Lama terlalu memberi hati kepada mereka dan agaknya sudah tiba waktunya untuk menghentikan nafsu mereka yang merajalela. Hendaknya taihiap ketahui bahwa Tibet Ngo-houw merupakan tokoh-tokoh Tibet yang juga menjadi anak buah Kim Sim Lama. Jelas bahwa perbuatan Tibet Ngo-houw itu sengaja mereka lakukan, sekarang bukan lagi untuk membalas dendam, namun terutama sekali untuk memburukkan nama baik Dalai Lama, atau untuk mengadu domba agar para tosu, dan juga Kun-lun-pai, supaya memusuhi Dalai Lama.”

“Ah, betapa liciknya!” Bouw Tek berseru. “Sekarang baru saya mengerti, losuhu. Untung bahwa saya langsung datang menghadap Dalai Lama sehingga mendapat keterangan yang teramat penting ini.”
“Omitohud, syukurlah kalau sekarang taihiap sudah dapat mengerti. Harap taihiap sudi menyampaikan maaf kami kepada Kun-lun-pai, juga para tosu di daerah pegunungan Kun-lun-san, dan suka memberi tahukan kenyataan yang sesungguhnya. Bahwa Dalai Lama sama sekali tidak memusuhi para tosu, dan bahwa semua itu, semenjak dahulu, adalah tindakan yang diambil oleh Kim Sim Lama.”

“Akan tetapi, apakah perbuatan itu harus didiamkan saja? Jelas bahwa Kim Sim Lama telah melakukan perbuatan menyeleweng dan jahat terhadap nama baik Dalai Lama...”

“Lie-taihiap, hal itu merupakan urusan dalam kami sendiri. Tentu saja Dalai Lama akan mengambil kebijaksanaan, dan apa pun yang diambilnya, kebijaksanaan itu tidak ada hubungannya dengan pihak luar. Oleh karena itu, kami harap supaya taihiap juga tidak mencampuri. Bahkan pinceng yakin bahwa yang mulia Dalai Lama sendirilah yang akan bertindak. Nah, kiranya cukup jelas, taihiap. Sekarang kami persilakan ji-wi kembali ke luar istana, dan kalau mungkin secepatnya meninggalkan Lhasa supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

Pendeta Lama itu bangkit berdiri. Bouw Tek dan Lan Hong juga ikut bangkit berdiri.

“Maaf, losuhu. Ada sedikit lagi pertanyaan dari kami. Harap saja losuhu suka membantu kami.”
“Hemm, urusan apakah itu, taihiap?”
“Sie-toanio ini datang ke Lhasa untuk mencari dua orang, losuhu. Yang pertama adalah puterinya, seorang gadis bernama Yauw Bi Sian yang berusia kurang lebih delapan belas tahun, dan yang ke dua adalah adiknya yang bernama Sie Liong dan terkenal dengan julukan Pendekar Bongkok. Kami perkirakan mereka pun datang ke Lhasa. Kalau barangkali losuhu dapat memberi keterangan tentang mereka...”

Pendeta Lama itu mengelus jenggotnya yang dibiarkan memanjang, alisnya berkerut dan dia mengangguk-angguk sambil memandang kepada Sie Lan Hong.

“Hemm, jadi toanio ini kakak dari Pendekar Bongkok yang terkenal itu? Toanio, tentang puteri toanio ini, kami memang tidak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau Pendekar Bongkok... hemm, namanya sudah sampai pula ke dalam istana ini. Memang dia pernah berada di Lhasa, kabarnya bersama seorang gadis peranakan Tibet Han. Dan kebetulan pula menurut kabar yang kami dengar, dia pernah bentrok dengan seorang anggota Kim-sim-pai.”

“Aihh, terima kasih, losuhu. Dapatkah losuhu memberi tahu, di mana dia sekarang?” tanya Lan Hong yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara.
“Menurut penyelidikan para anak buah kami yang diam-diam kami taruh di mana-mana untuk menjaga keamanan Lhasa, ada yang melihat PendeKar Bongkok mendatangi sarang Kim-sim-pai. Akan tetapi karena anak buah kami itu dipesan dengan keras agar jangan sampai terlibat dengan urusan Kim-sim-pai, dan karena tak ada sangkut pautnya dengan kami, maka kami pun tidak tahu apa yang terjadi di sana. Nah, kiranya cukup keterangan kami, taihiap dan toanio.”

Lie Bouw Tek tidak berani mengganggu lagi. Dia pun menghaturkan terima kasih, lalu meninggalkan istana itu bersama Lan Hong. Wanita itu menahan-nahan perasaannya, dan baru setelah mereka keluar dari istana itu, Lan Hong berkata dengan suara yang mengandung kekhawatiran.

“Aihh, toako. Apa yang hurus aku lakukan sekarang? Aku ingin cepat menyusul dan mencari Sie Liong. Aku harus lebih dahulu bertemu dia sebelum Bi Sian mendahuluiku. Aih, ngeri aku membayangkan mereka saling bertemu sebelum aku menemui adikku...”

“Tenanglah, Hong-moi. Biar aku yang akan melakukan penyelidikan ke daerah Telaga Yam-so untuk mencari Pendekar Bongkok, dan aku akan mengajaknya ke sini untuk menemuimu.”
“Tidak! Aku harus ikut, toako. Aku harus cepat menemukannya. Sekarang juga.”
“Akan tetapi hal itu berbahaya sekali, Hong-moi. Tentu engkau tadi sudah mendengar keterangan Kong Ka Lama. Daerah telaga Yam-so itu menjadi sarang Kim-sim-pai dan mereka adalah para pendeta Lama yang memberontak. Banyak terdapat orang sakti di sana, Hong-moi. Lebih baik engkau menanti saja di rumah penginapan dan biarlah aku yang akan mencari adikmu di sana.”

“Toako, tidak boleh begitu. Yang mempunyai kepentingan adalah aku, lalu bagaimana mungkin engkau yang bersusah payah menempuh bahaya sedangkan aku enak-enak menanti sambil tiduran di kamar? Tidak, aku harus ikut! Aku tidak takut menghadapi bahaya dan aku juga dapat menjaga diriku sendiri, toako!”
“Akan tetapi, sungguh aku amat mengkhawatirkan keselamatan dirimu, Hong-moi. Bagai mana kalau sampai datang ancaman bahaya dan aku sampai tidak mampu melindungi dirimu? Aihh, Hong-moi, tak dapat aku membayangkan hal itu terjadi...”

Suara pendekar perkasa itu tiba-tiba agak gemetar. “... tidak, aku tak dapat membiarkan engkau terancam bahaya. Aku... aku akan merasa menyesal selama hidupku!”

Melihat pendekar itu bicara seperti itu, seperti tanpa disadarinya bahwa dia membuka rahasia hatinya, tiba-tiba wajah Lan Hong berubah merah dan ia pun tersipu. Kalau saja tidak sedang menghadapi keadaan yang menegangkan, tentu ia akan semakin tersipu malu, walau pun ada rasa bahagia dan bangga menyelinap di dalam hatinya.

“Toako, banyak terima kasih atas perhatianmu kepada diriku, akan tetapi sebaliknya, toako. Kalau engkau pergi sendiri meninggalkan aku untuk mencari adikku, kemudian terjadi sesuatu dengan dirimu, maka aku pun akan merasa menyesal selama hidupku, bahkan tak mungkin lagi aku menghadapi kehidupan yang kejam ini seorang diri saja...”

Keduanya menunduk dan dalam saat seperti itu, biar pun mereka tidak secara langsung mengucapkan pengakuan, akan tetapi keduanya merasa benar betapa keduanya saling membutuhkan, saling menyayang, saling mencinta dan merasa ngeri kalau-kalau saling kehilangan!

“Baiklah, Hong-moi. Kita pergi bersama, akan tetapi kita harus berhati-hati dan membuat persiapan. Aku akan melakukan penyelidikan yang lebih seksama dulu. Besok baru kita berangkat ke Telaga Yam-so.”
“Terima kasih, toako. Selama hidupku, aku tidak akan pernah dapat melupakan semua budi kebaikanmu ini,” kata Lan Hong lirih dengan suara mengandung isak haru.

Keduanya lalu terdiam, terbenam dalam lamunan masing-masing…..

********************
Telaga Yam-so adalah sebuah telaga yang besar dan luas di sebelah selatan. Orang Tibet menyebut danau ini dalam Bahasa Tibet sebagai Yamzho Yumco (Telaga Yam-so). Letaknya di sebelah selatan sungai besar Brahmaputra yang amat panjang.
Yamzho Yumco (Telaga Yam-so)

Sungai Brahmaputra mengalir di sepanjang negara Tibet sampai membelok ke selatan dan berakhir di selatan negara Bangladesh, di sebelah timur laut India. Daerah inilah, mulai dari Sungai Brahmaputra sampai ke Telaga Yamso, menjadi daerah yang dikuasai Kim-sim-pai!

Daerah ini amat sunyi, penuh dengan hutan-hutan belantara yang liar, yang sambung menyambung sampai ke selatan, hingga ke Pegunungan Himalaya. Dusun-dusun hanya dihuni orang-orang pribumi Tibet, dan ada pula peranakan Tibet Bhutan dan beberapa orang peranakan India.

Namun mereka adalah orang-orang gunung yang sederhana, dan agaknya Kim-sim-pai tidak mengusik mereka yang hidup tenang dan damai karena setiap harinya mereka hanya mengurus mencari makan dengan jalan berburu, beternak kecil-kecilan, dan ada pula yang menjadi penangkap-penangkap ikan di sepanjang Sungai Brahmaputra atau Telaga Yamso.

Akan tetapi, akhir-akhir ini bermunculan banyak orang Nepal di daerah itu dan mulailah terdapat gangguan-gangguan yang mengusik kehidupan yang tadinya aman damai dari para penghuni dusun di daerah itu. Orang-orang Nepal ini adalah anak-anak buah dari pangeran Nepal pelarian yang kini telah bersekutu dengan Kim-sim-pai.

Pangeran itu, Janghar Singh, sudah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan dia berjanji untuk membantu gerakan para pendeta Lama yang memberontak terhadap Dalai Lama. Sedangkan pihak Kim-sim-pai juga berjanji bahwa kelak, kalau mereka telah menguasai Tibet, mereka akan membantu Pangeran Janghar Singh yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Nepal.

Gangguan para orang Nepal itu kadang amat menggelisahkan penduduk. Kalau mereka itu kadang hanya minta dengan paksa beberapa ekor hewan ternak, hal itu masih dapat diberikan dengan hati sabar oleh para penghuni dusun. Tetapi ada kalanya, orang-orang Nepal itu mengganggu wanita! Karena itu, maka banyaklah wanita muda yang cantik atau bersih, diungsikan keluarga mereka ke tempat yang jauh dari daerah itu, terutama mereka yang tinggal di lereng Pegunungan Himalaya yang menjadi perbatasan antara Tibet dengan Nepal.

Pada suatu pagi yang cerah, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang menunggang kuda tiba di lereng bukit dekat Telaga Yam-so.

“Sute, berhenti dulu!” kata Bi Sian menahan kendali kudanya. Bong Gan juga menahan kudanya dan menoleh, lalu menghampiri suci-nya.
“Ada apakah, suci?” tanyanya, sambil memandang ke sekeliling dengan khawatir.
“Lihat, sute, betapa indahnya pemandangan di sini. Lihatlah telaga di bawah itu, airnya seperti permadani biru dikelilingi bukit menghijau. Indah sekali!”

Bong Gan menarik napas lega. Dia sudah mengatur rencana bersama Pek Lan dan menurut rencana itulah pada pagi ini ia dan Bi Sian tiba di lareng bukit itu. Tadinya, ketika Bi Sian minta berhenti, dia khawatir kalau-kalau suci-nya itu mencurigai sesuatu. Kiranya gadis itu hanya mengagumi alam yang memang amat indah itu.

“Memang indah sekali tempat ini, suci. Hawanya pun nyaman dan sejuk sekali. Ahhh, alangkah senangnya kalau kita dapat tinggal beberapa lamanya di tempat seindah ini!”

Bi Sian menoleh dan memandang pemuda itu yang mengembangkan kedua lengannya sambil menghirup udara yang amat menyegarkan itu. Ia tersenyum.

“Ihhh, sute. Apakah engkau lupa bahwa kita datang ke tempat ini bukan untuk pesiar melainkan untuk mencari musuh besarku?”
“Wah, memang kadang-kadang aku lupa, suci. Perjalanan ini demikian menyenangkan bagiku. Siapa tahu, kita dapat lebih cepat lagi menemukan musuhmu dan membereskan perhitungan, agar kita mempunyai banyak waktu untuk menikmati tempat indah ini.”

Mendadak sepasang mata Bi Sian terbelalak. Bukan hanya matanya yang menangkap berkelebatnya banyak bayangan orang, akan tetapi juga pendengaran telinganya sudah menangkap gerakan banyak orang di sekitar tempat itu.

“Ada orang...!” bisiknya.
“Mereka mengepung kita!” Bong Gan juga berbisik dan pemuda ini kelihatan terkejut.

Padahal, di dalam hatinya dia bersyukur karena dia tahu bahwa ini merupakan siasat yang dijalankan oleh Pek Lan. Maka, dia pun hanya berpura-pura ketika kelihatan kaget, tidak seperti Bi Sian yang merasa benar-benar terkejut karena melihat bahwa mereka telah dikepung oleh sedikitnya tiga puluh orang.

Mereka bukan orang Han, bukan pula orang Tibet, melainkan orang-orang yang aneh. Orang-orang itu rata-rata berkulit kehitaman dan gelap, bentuk tubuh mereka tinggi dan sebagian besar dari mereka menggunakan penutup kepala berupa sorban putih yang tebal.

“Mereka orang-orang asing...,” kata pula Bong Gan. Padahal dia sudah mendengar dari Pek Lan yang mengatur siasat itu, bahwa yang akan mengepung mereka adalah orang-orang Nepal.

Melihat banyak orang mengepung dan maju mendekat, kedua ekor kuda yang mereka tunggangi menjadi panik. Bi Sian lalu melompat turun dari atas punggung kudanya dan berkata kepada Bong Gan, “Sute, turun saja dari atas kuda agar kita dapat membela diri lebih leluasa!”

Keduanya sudah melompat turun dari atas punggung kuda dan dengan sikap tenang akan tetapi penuh kesiap siagaan, kakak adik seperguruan ini lalu berdiri dengan saling membelakangi.

“Sute, biarkan aku yang bicara dengan mereka,” bisik Bi Sian dan diam-diam Bong Gan tersenyum. Memang sebaiknya begitu agar tidak akan terdengar suaranya yang pasti akan terdengar sumbang.

Kini, tiga puluh orang lebih prajurit Nepal itu sudah datang dekat dan seorang di antara mereka, yang melihat pakaiannya tentu merupakan komandannya berdiri di depan Bi Sian. Dia seorang pria berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus, matanya cekung ke dalam dan hidungnya yang panjang itu agak membengkok ke kiri sehingga mulutnya kelihatan seperti mengejek selalu.

“Hei, kalian dengarlah baik-baik!” Bi Sian berseru dengan suara lantang. “Kami dua orang pelancong dari timur, tidak ingin bermusuhan dengan penduduk pribumi. Kenapa kalian menghadang dan mengepung kami yang tidak bersalah?”

Orang tinggi kurus itu memandang tajam, kemudian menjawab. Dia dapat bicara dalam Bahasa Han, walau pun logatnya aneh dan lucu.

“Kami biasa menghormati tamu yang datang diundang. Akan tetapi kalian berdua tidak diundang, tapi telah melanggar wilayah kami. Sudah sepatutnya kalau kami membunuh kalian, akan tetapi mengingat kalian dua orang muda, dan seorang di antaranya bahkan wanita, kami tidak akan bersikap keras. Orang-orang muda, menyerahlah kalian dengan baik, agar kami tawan dan kami hadapkan kepada pemimpin kami!”

Bi Sian menatap orang itu. Sikap mereka cukup gagah, pikirnya, tidak mirip gerombolan perampok atau penjahat yang kejam. Maka, dia pun berkata lantang. “Maafkan apa bila tanpa disengaja kami melanggar wilayah kalian. Akan tetapi kami tidak bersalah, harap biarkan kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak suka untuk ditawan.”

Pemimpin tinggi kurus itu mengerutkan alisnya yang tebal, lalu dia mencabut sebatang golok yang bentuknya melengkung panjang, dan dia berkata dengan tegas, “Di wilayah ini, kami yang berkuasa! Mau atau tidak mau, kalian harus menyerah untuk menjadi tawanan kami. Harap kalian menyerah dengan damai!”

“Kalau kami tidak mau menyerah?” tanya Bi Sian yang mulai marah dan penasaran.
“Terpaksa kami menggunakan kekerasan untuk menangkap kalian!”
“Singgg...!” Nampak sinar putih berkilauan ketika dia mencabut pedang Pek-lian-kiam (Pedang Teratai Putih).
“Bagus! Andai kata aku mau menyerah pun, pedang ini yang tidak membolehkannya. Karena tidak merasa bersalah, tentu saja aku tidak mau menyerah dan kalau kalian hendak memaksaku dan menggunakan kekerasan, jangan salahkan aku kalau kalian menjadi korban pedangku!”

Bong Gan juga telah menyambar sebatang dahan pohon di atasnya, membuangi ranting dan daunnya sehingga kini dia sudah memegang sebatang tongkat.

“Kalau kalian memaksa, kami akan melawan!” Dia pun membentak dan sambil berdiri saling membelakangi dengan suci-nya, ia melintangkan tongkatnya dan siap melakukan perlawanan.
“Kami tidak akan membunuh kalian, akan tetapi terpaksa harus menangkap kalian!” bentak pemimpin rombongan itu dan dia pun lalu mengeluarkan aba-aba dalam bahasa Nepal. Tiga puluh orang lebih itu, dengan senjata tombak atau golok dan perisai, kini mengepung ketat dan kepungan itu makin mendesak.
“Sute, sedapat mungkin robohkan mereka akan tetapi jangan bunuh!” kata Bi Sian.

Dara itu menganggap mereka itu bukan orang jahat, hanya akan menangkap dan tidak membunuh. Oleh karena itu ia pun tak ingin sute-nya melakukan pembunuhan sehingga menanam permusuhan yang semakin dalam.

“Baik, suci,” kata Bong Gan.

Pada saat kepungan itu sudah makin dekat dan dua orang murid Koay Tojin itu siap bergerak menyerang pengeroyok terdekat, tiba-tiba saja terdengar seruan nyaring suara seorang wanita.

“Tahan...! Jangan bertempur!”

Para pengepung itu menahan senjata mereka dan segera mundur. Bi Sian dan Bong Gan menoleh ke arah suara wanita itu dan mereka melihat seorang wanita yang berusia dua puluh empat tahun lebih, cantik manis dengan muka lonjong dan kulit putih mulus berambut keemasan, muncul bersama seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang berkepala gundul, berjubah pendeta dengan gambar Teratai Putih di dadanya. Kakek itu masih nampak muda dan tampan, dengan tubuh yang tinggi besar. Begitu dua orang ini mendekat, semerbak bau keharuman bunga mawar.

Tentu saja Bong Gan mengenal wanita itu, wanita yang baru beberapa hari yang lalu, semalam suntuk berada dalam pelukannya. Wanita itu adalah Pek Lan dan kakek yang nampak muda itu adalah Thai Yang Suhu, tokoh Pek-lian-kauw. Akan tetapi Bi Sian tidak mengenalnya.

Melihat para pengepung itu mundur, Bi Sian mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan pemimpin gerombolan orang asing yang menghadangnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dua orang itu telah bersekutu dengan Kim Sim Lama dan kini menjalankan siasat untuk menjebaknya! Dan para pengepung itu adalah orang-orang Nepal yang digunakan untuk membantu siasat itu, yang juga sudah diketahui oleh Bong Gan.

Sambil memandang tajam wanita cantik yang sikapnya genit itu, pedang Pek-lian-kiam masih melintang di depan dadanya, Bi Sian berkata, “Hemm, kiranya kalian berdua, seorang gadis cantik dan seorang pendeta, yang memimpin gerombolan ini. Apa alasan kalian menghadang perjalanan kami dan kenapa orang-orangmu yang mengepung kami ini hendak menawan kami?” Suara Bi Sian penuh wibawa, tanda bahwa ia sama sekali tidak merasa gentar.

Diam-diam Pek Lan kagum. Pantas Bong Gan tergila-gila kepada suci-nya sendiri dan ingin memperisterinya. Memang manis dan jelita sekali! Dan diam-diam Thai Yang Suhu mengamati pedang di tangan gadis itu.

Pedang itu bersinar putih dan ada ukiran bunga teratai. Pedang Teratai Putih! Sungguh merupakan pedang yang cocok sekali apa bila menjadi miliknya, bahkan kalau menjadi pusaka dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sekiranya bila pedang itu memang sebuah pusaka yang ampuh, bukan pedang biasa saja.

Pek Lan tersenyum dan memang ia memiliki deretan gigi yang rapi dan putih sehingga nampak menarik sekali ketika tersenyum, dan kerling matanya ke arah Bong Gan penuh daya pikat. Diam-diam Bong Gan membandingkan dua orang wanita itu.

Memang, biar pun Bi Sian amat manis, namun ia tidak mampu bergaya seperti Pek Lan sehingga daya tariknya tidak sekuat Pek Lan. Bagaimana pun juga, kalau harus memilih keduanya untuk menjadi isterinya, tanpa ragu-ragu dia akan memilih Bi Sian.

Bi Sian seorang gadis yang masih perawan dan hatinya juga bersih, sebaliknya Pek Lan adalah seorang wanita yang matang dan juga genit sehingga sukar diharapkan dapat menjadi seorang isteri yang setia. Akan tetapi kalau untuk bersenang-senang, tentu Pek Lan akan lebih memuaskan dan menyenangkan.

“Adik yang baik, engkau sungguh cantik jelita dan gagah berani. Jangan salah mengerti, kalau anak buah kami melakukan penghadangan, hal itu terjadi karena kalian sudah melanggar wilayah kekuasaan kami. Akan tetapi, kami dapat menghargai orang-orang gagah. Melihat kalian berdua yang tidak gentar menghadapi pengepungan orang-orang kami, tentu kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kami ingin sekali berkenalan melalui adu silat. Jika memang kalian pantas menjadi kenalan kami, tentu akan kami persilakan untuk menjadi tamu dari Sang Pangeran yang menjadi tuan rumah kami. Suhu, engkau ujilah kepandaian adik manis ini, biar aku yang menguji pemuda ini,” katanya kepada Thai Yang Suhu.

Memang Pek Lan cerdik. Ia sudah mendengar dari Bong Gan bahwa tingkat kepandaian Bi Sian bahkan lebih tinggi bila dibandingkan pemuda itu, padahal baginya, menghadapi Bong Gan saja ia hanya mampu mengimbangi. Berbahaya kalau ia menghadapi Bi Sian kemudian sampai kalah!

Maka ia sengaja menyuruh Thai Yang Suhu yang menghadapi gadis itu sedangkan ia akan menghadapi Bong Gan yang tentu saja hanya akan main-main, tidak bertanding sungguh-sungguh. Biar pun ilmu kepandaian silat dari tokoh Pek-lian-kauw itu pun tidak jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri, namun setidaknya pendeta itu mempunyai kekuatan sihir untuk melindungi diri.

Thai Yang Suhu memang sudah tertarik sekali, bukan kepada Bi Sian saja, melainkan terutama sekali tertarik melihat pedang di tangan gadis itu. Sekarang dia memperoleh kesempatan untuk menguji apakah pedang Teratai Putih itu sebuah pedang pusaka ampuh ataukah pedang biasa saja.

Dia tidak menurunkan sepasang pedangnya karena sepasang pedangnya merupakan pedang yang baik dan dia khawatir bila pedangnya akan menjadi rusak kalau pedang di tangan gadis itu benar pedang pusaka yang ampuh. Maka dia pun meminjam sebatang pedang yang dipegang oleh seorang prajurit Nepal, kemudian menghampiri Bi Sian.

“Siancai... harap maafkan pinto (saya), nona. Kami memang hanya ingin menguji, sebab hanya melalui pertandingan silat maka perkenalan menjadi erat. Nah, silakan, nona!”

Melihat sikap dua orang itu cukup hormat dan sopan, Bi Sian juga merasa tidak enak kalau ia bersikap keras. Biar pun tadi pasukan itu mengepungnya, namun mereka belum melakukan penyerangan.

“Aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapa pun juga, dan aku pun tidak sengaja melanggar wilayah siapa pun juga. Wilayah ini bukan pekarangan, juga tidak dipagari, melainkan pegunungan dan telaga. Bagaimana aku tahu bahwa tempat ini ada orang yang memilikinya? Akan tetapi, biar pun tidak mau bermusuhan, kalau dimusuhi, jangan dikira aku takut!”
“Siancai...! Nona memang seorang gagah perkasa, karena itu pinto ingin sekali menguji kepandaianmu, bukan berkelahi atau bermusuhan. Nona, lihat pedang!” kata Thai Yang Suhu sambil menggerakkan pedang pinjamannya, mengirim serangan gertakan ke arah kepala gadis itu.

Dengan cepat Bi Sian mengelak. Dan ketika tangannya bergerak, pedang Pek-lian-kiam sudah lantas menyambar ke depan, menusuk ke arah dada lawan sehingga merupakan sinar putih berkelebat.....

Thai Yang Suhu terkejut. Cepat dia juga melompat ke belakang untuk menghindarkan diri, kemudian menyerang lagi dengan berhati-hati sebab biar pun pertarungan ini hanya menguji kepandaian, kalau ilmu pedang lawan itu terlalu berat, mungkin saja dia akan terluka. Dia tidak berani memandang ringan lawannya yang dapat membalas serangan sedemikian cepat dan kuatnya.

Sementara itu, Bong Gan juga sudah menggerakkan ranting di tangannya dan dia pun menyerang Pek Lan yang menyambut pula dengan pedangnya. Mereka pun bertanding dengan seru, tapi tentu saja hanya nampaknya demikian karena hati mereka yang tahu bahwa mereka hanya bersandiwara dan tidak sungguh-sungguh bertanding.

Thai Yang Suhu segera mendapatkan kesempatan untuk menguji keampuhan pedang di tangan Bi Sian. Ketika pedang bersinar putih itu menyambar dengan bacokan ke arah lehernya, dia memutar tubuhnya sambil mengerahkan tenaga sekuatnya, menggunakan pedang pinjaman itu untuk menangkis.

“Trangggg...!”

Terdengar bunyi nyaring disusul pijaran bunga api dan... pedang di tangan pendeta dari Pek-lian-kauw itu tinggal sepotong! Pedang itu patah di tengah-tengah, padahal pedang prajurit Nepal itu merupakan pedang melengkung yang cukup berat dan tajam.

Thai Yang Suhu berseru. “Lihai sekali!” dan dia pun melempar gagang pedangnya dan memberi hormat kepada Bi Sian. “Nona yang lihai, pinto kagum sekali kepadamu!”

Pada saat itu pula, Pek Lan juga mengeluarkan jerit tertahan dan ia pun melompat ke belakang, lalu memberi hormat kepada Bong Gan. “Saudara sungguh gagah, membuat kami kagum luar biasa. Perkenalkanlah, kami berdua adalah sahabat-sahabat baik dari Pangeran Maranta Sing yang menguasai daerah lembah ini. Namaku Pek Lan dan suhu ini adalah Thai Yang Suhu. Kalau kami boleh mengetahui, siapakah ji-wi (anda berdua) dan apa yang anda berdua cari di tempat ini? Ataukah sekedar melancong saja?”

Sebelum Bi Sian sempat menjawab, dengan cepat sesuai dengan rencana Bong Gan telah menjawab, “Kami kakak beradik seperguruan. Namaku Coa Bong Gan dan suci ini bernama Yauw Bi Sian. Kami datang ke tempat ini bukan sekedar melancong, tetapi hendak mencari seorang musuh besar kami yang bernama Sie Liong dan mempunyai julukan Pendekar Bongkok...!”

Bi Sian memberi isyarat kepada sute-nya agar diam, akan tetapi sudah terlambat karena sute-nya telah memperkenalkan nama mereka, bahkan juga menyebut nama Pendekar Bongkok. Dan tiba-tiba saja sikap kedua orang itu berubah, alis mereka berkerut akan tetapi sikap mereka bahkan semakin ramah.

“Aih, kiranya ji-wi musuh Pendekar Bongkok? Kalau begitu, di antara kita terdapat ikatan yang amat kuat karena kami pun menganggap Pendekar Bongkok sebagai musuh besar kami! Adik Bi Sian dan adik Bong Gan, aku akan merasa senang sekali untuk bekerja sama dengan kalian menghadapi Pendekar Bongkok yang amat lihai itu!”

Akan tetapi Bi Sian mengerutkan alisnya. Biar pun Pek Lan dan Thai Yang Suhu telah memperlihatkan sikap yang ramah dan bersahabat, namun di dalam hatinya ia merasa tidak suka kepada mereka.

“Enci Pek Lan,” kata Bong Gan yang agaknya hendak bersikap ramah karena Pek Lan menyebut adik kepadanya dan kepada Bi Sian, “Kami tidak ingin bekerja sama dengan kalian, dan kami akan cukup berterima kasih kalau engkau dapat memberi tahu kepada kami di mana adanya Pendekar Bongkok. Tahukah engkau di mana dia?”

Pertanyaan ini berkenan di hati Bi Sian dan dia pun mengangguk, menyatakan setuju dengan pertanyaan sute-nya itu.

Akan tetapi Pek Lan tersenyum manis sekali. “Kalian ini adik-adik yang gagah perkasa, mengapa sungkan dan ingin enak sendiri saja? Kalau kita hendak bekerja sama, tentu sebaiknya kalau ji-wi menerima undangan kami untuk mempererat perkenalan. Kalau kita sudah menjadi sahabat yang akrab, tentu kami tidak akan ragu lagi untuk membagi semua rahasia, juga termasuk di mana adanya Pendekar Bongkok sekarang. Nah, kami ulangi undangan kami kepada ji-wi.”

Bong Gan menoleh kepada suci-nya seperti orang minta pertimbangan, lalu terdengar dia berkata, “Suci, kita tidak mengenal daerah ini, maka kalau enci Pek Lan ini sudah berbaik hati hendak menunjukkan di mana adanya musuh besar itu, kurasa tidak ada salahnya kalau kita memenuhi undangannya. Tidak tahu bagaimana pendapatmu?”

Bi Sian tidak melihat pilihan lain kecuali mengangguk. Ia lalu menyarungkan pedangnya kembali.

Thai Yang Suhu segera memberi hormat kepadanya. “Nona yang masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga sebatang pedang pusaka yang ampuh sekali. Kalau boleh pinto mengetahui, apa nama pedang pusaka itu, nona?”

Bi Sian merasa sangat bangga dengan pedangnya. Ia pun menepuk gagang pedang di pinggangnya dan menjawab, “Totiang, pedangku ini adalah Pek-lian-kiam peninggalan ayahku.”

Makin giranglah rasa hati Thai Yang Suhu. Pek-lian-kiam, sebatang pedang yang patut menjadi miliknya, bahkan menjadi lambang dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw! Akan tetapi dia menyembunyikan kegirangan ini di dalam hatinya saja. Bagaimana pun juga, pedang itu harus dapat menjadi miliknya!

Bong Gan dan Bi Sian merasa kagum sekali pada saat memasuki gedung besar yang didirikan di antara pohon-pohon dalam hutan di lereng bukit itu. Sebuah gedung yang besar dan di dalamnya mewah sekali, seperti rumah raja-raja saja layaknya.

Di sekeliling gedung itu terdapat banyak rumah-rumah, merupakan perkampungan yang dikelilingi tembok seperti sebuah benteng saja. Itulah tempat tinggal Pangeran Maranta Sing, pangeran Nepal yang menjadi buruan pemerintahnya karena sudah memberontak itu. Dia tinggal di perbatasan itu bersama anak buahnya, yaitu sisa-sisa para prajurit anggota pasukan pemberontakan yang dipimpinnya dan telah gagal itu.

Bong Gan dan Bi Sian dijamu oleh Pangeran itu yang menyambut mereka dengan amat ramah dan hormat. Bong Gan memperlihatkan kegembiraannya dan Bi Sian akhirnya juga merasa gembira karena pihak tuan rumah sungguh ramah kepadanya.

“Harap ji-wi jangan khawatir tentang Pendekar Bongkok,” kata Pangeran Maranta Sing sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih di balik mukanya yang kehitaman, dan kumisnya yang melintang panjang itu bergerak-gerak ketika dia bicara. “Kalau dia berani datang ke daerah ini, sudah pasti kami dapat menangkapnya. Daerah ini sudah kami kuasai bersama Kim-sim-pang, maka harap ji-wi tenang saja. Kita pasti akan dapat menangkapnya.”

“Apa yang diucapkan Pangeran Maranta Sing ini benar, adik-adikku yang baik,” berkata Pek Lan. “Betapa pun lihainya Pendekar Bongkok, dia tidak akan mampu menandingi Kim Sim Lama, apa lagi di sini terdapat ji-wi yang bekerja sama dengan kami. Nah, mari kita minum demi berhasilnya kita menangkap Pendekar Bongkok!”

Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dengan gembira. Dari percakapan itu tahulah Bong Gan dan Bi Sian bahwa Pangeran Maranta Sing ini adalah seorang pangeran dari Nepal yang bersekutu dengan Kim-sim-pang, dan betapa Kim-sim-pang menentang pemerintah Dalai Lama di Tibet.

Apa bila diam-diam Bong Gan merasa sangat tertarik oleh janji-janji dan harapan yang dibayangkan dalam percakapan itu oleh pangeran Nepal itu mau pun Thai Yang Suhu dan Pek Lan, Bi Sian sendiri sama sekali tidak tertarik. Bahkan ia tidak ingin melibatkan diri di dalam pemberontakan itu, karena yang terpenting adalah menemukan Pendekar Bongkok dan membalas kematian ayahnya!

“Nona, cicipilah masakan ini!” kata Pangeran Nepal itu ketika melihat Bi Sian belum mencicipi masakan yang warnanya merah. Bong Gan sudah memakannya, akan tetapi gadis itu agaknya tidak mau mencicipi masakan yang asing baginya itu.
“Ini adalah masakan asli dari Nepal, lezat sekali dan merupakan masakan kehormatan bagi tamu yang diagungkan!”

Bi Sian tertarik, dan merasa tidak enak untuk tidak memperhatikan karena dikatakan bahwa masakan itu adalah masakan kehormatan bagi tamu yang diagungkan!

“Pangeran, masakan ini terbuat dari apakah?” tanyanya, masih merasa ragu-ragu untuk mencicipinya karena warnanya yang merah seperti darah walau pun baunya sedap dan masih mengepul panas.
“Bahan masakan ini amat langka dan amat sukar diperoleh karena ini adalah sumsum di dalam tulang punggung beruang salju yang besar, kuat dan ganas! Karena merupakan sumber kekuatan dari seekor binatang raksasa, maka masakan ini selain lezat, juga mengandung khasiat yang luar biasa untuk kekuatan dan kesehatan. Marilah nona, sebagai tamu agung, nona harus mencicipinya!”

Pangeran itu mempergunakan sebuah sendok yang bersih, mengambilkan masakan itu dan menaruhnya ke dalam mangkok di depan Bi Sian. “Dan engkau juga, saudara Coa Bong Gan, mari ambil lagi masakan ini.”

Bong Gan tersenyum. “Sudah sejak tadi saya memakannya dan memang lezat sekali, suci. Rasanya seperti otak, akan tetapi masakannya memakai bumbu yang aneh dan sedap bukan main. Juga terasa hangat di dalam dada dan perut. Cobalah, suci!”

Bi Sian semakin tertarik, juga untuk menghormati tuan rumah yang demikian ramah dan hormat, ia lalu mencoba mencicipi masakan itu. Memang lezat!

“Adik Yauw Bi Sian, harap jangan sungkan atau pun ragu. Ketahuilah bahwa Pangeran Maranta Sing ini adalah seorang ahli obat sekaligus ahli memasak! Masakan sumsum tulang punggung beruang itu memang hebat dan aku sendiri pun sudah merasakan khasiatnya!” kata Pek Lan.
“Siancai, memang tepat sekali,” kata pula Thai Yang Suhu. “Pinto yang makan masakan itu merasa bagaikan muda kembali! Masakan itu tentu dapat membuat orang berumur panjang, dan dapat memperkuat tenaga sinkang!”

Mendengar ucapan kedua orang itu, Bi Sian semakin tertarik dan sekarang ia pun tidak berkeberatan lagi untuk makan masakan itu cukup banyak. Karena dia dan Bong Gan yang sedang menjadi tamu kehormatan, maka semangkok besar masakan merah itu diperuntukkan bagi mereka berdua dan mereka pun memakannya sampai habis!

Bi Sian mulai merasa gembira. Ia merasa mendapat teman-teman yang menyenangkan. Maka ia pun minum arak lebih banyak dari biasanya. Apa lagi arak yang disuguhkan itu manis dan harum, terbuat dari anggur Nepal yang baik.

Setelah makan minum sampai kenyang, wajah Bi Sian yang cantik itu sudah berubah kemerahan dan bibirnya pun hampir tak pernah berhenti tersenyum manis. Akan tetapi, ketika dia memegang kepalanya, kepala itu langsung terkulai ke atas meja. Bong Gan cepat bangkit dari tempat duduknya dan menghampirinya.

“Suci, kau kenapa...?” katanya lembut sambil menyentuh pundak gadis itu.

Bi Sian mengangkat muka sambil tersenyum. Dari pandang matanya saja sudah jelas menunjukkan bahwa dia mabok! Dan juga pandang matanya itu aneh, begitu sayu dan penuh gairah.

“Sute... aku... ahhh, agaknya terlalu banyak minum anggur, kepalaku agak pening...”

Pek Lan memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Bong Gan, lalu berkata, “Adik Bong Gan, kasihan itu adik Bi Sian mabok. Ia butuh istirahat. Mari kuantar kalian ke kamar kalian.”

Pek Lan bangkit berdiri dan membantu Bong Gan memapah Bi Sian menuju ke sebelah dalam gedung itu, diikuti pandang mata Pangeran Maranta Sing yang tersenyum lebar dan Thai Yang Suhu yang mengangguk-angguk puas. Tak percuma saja ia merupakan seorang ahli sihir dan ahli ramuan obat beracun. Ia telah mencampurkan pembius yang lembut pada anggur yang diminum Bi Sian, dan masakan yang disuguhkan Pangeran Maranta Sing itu mengandung pula obat perangsang yang amat kuat!

Pek Lan membawa mereka ke sebuah kamar yang besar dan mewah, di mana terdapat sebuah tempat tidur yang lebar. Kembali Pek Lan memberi isyarat kedipan mata kepada Bong Gan dan pemuda ini mengerti.

“Nah, inilah kamar kalian, adik Bong Gan. Biarkan adik Bi Sian beristirahat dan tidur, nanti peningnya tentu akan hilang. Dan engkau juga perlu beristirahat, engkau pun telah minum terlalu banyak, adik Bong Gan. Kalian mengasolah!”
“Tapi, enci Pek Lan!” Bong Gan membantah. “Mengapa hanya satu kamar? Kamar ini untuk suci saja, akan tetapi di mana kamarku?”
“Pangeran hanya memberikan sebuah kamar saja untuk kalian berdua, namun kurasa kamar ini pun cukup besar, tempat tidurnya pun cukup luas untuk kalian berdua. Nah, selamat tidur.” Pek Lan menutupkan daun pintu kamar itu dari luar sambil tersenyum kepada Bong Gan.

Bi Sian hanya mendengar sayup-sayup saja apa yang mereka bicarakan. Ia telah terlalu pening sehingga tidak peduli lagi bahwa ia berada sekamar dengan sute-nya.

“Aku... aku pening... mau tidur...!” katanya.

Bi Sian hendak melangkah ke arah pembaringan, akan tetapi ia terhuyung dan tentu akan jatuh kalau tidak segera dirangkul oleh Bong Gan.

“Marilah, suci, mari kubantu engkau... aku pun agak pening... mari kita beristirahat...!”

Bong Gan memapah tubuh suci-nya ke tempat tidur, lalu membantu suci-nya berbaring. Dengan hati-hati dia lalu meraba kaki suci-nya untuk melepaskan sepasang sepatunya. Bi Sian terbelalak ketika merasa kakinya diraba sute-nya dan sepatunya dilepaskan.

“Sute... kenapa... kau di sini...? Aku mau tidur, pergilah...”

Akan tetapi Bong Gan tidak mau tidur, bahkan dia lalu duduk di tepi pembaringan sambil menatap wajah suci-nya yang rebah telentang.

“Suci, kita hanya mendapatkan satu kamar saja. Kamar ini untuk kita berdua.”

Dengan mata sayu Bi Sian menatap wajah pemuda itu. Gairah yang tidak wajar sudah membakar dirinya sehingga wajah sute-nya itu tampak tampan luar biasa.

“... kenapa begitu... ahhh... sudahlah, aku mau tidur...”

Tiba-tiba Bi Sian membuka matanya lagi karena merasa betapa wajahnya dibelai oleh tangan orang. Ketika ia melihat tangan sute-nya meraba dan membelai kedua pipi dan dagunya, ia tidak meronta hanya menegur lembut.

“Sute... jangan begitu...”
“Suci, alangkah cantiknya engkau. Aihhh, suci, aku cinta sekali kepadamu, suci!” Dan Bong Gan sudah memeluk, mendekap dan menciumi muka gadis itu.

Bi Sian dalam keadaan setengah sadar, akan tetapi obat perangsang sudah semakin dalam menguasai dirinya. “Jangan, sute... jangan...” mulutnya mendesah, akan tetapi kedua lengannya balas merangkul leher pemuda itu.

Dan terjadilah apa yang selalu diharapkan dan dirindukan oleh Bong Gan. Dia berhasil menguasai diri suci-nya, berhasil menggaulinya berkali-kali tanpa gadis itu menolak atau memberontak, bahkan di luar kesadarannya, gadis yang diidamkan itu sudah membalas semua kemesraannya dengan penuh gairah. Akhirnya, jauh lewat tengah malam, kedua saudara seperguruan ini tidur pulas kelelahan, masih saling rangkul.

Pada keesokan harinya, ketika pengaruh obat bius dan obat perangsang meninggalkan kepala dan tubuh Bi Sian, dan ketika gadis itu terbangun dari tidurnya, bisa dibayangkan betapa kagetnya Bi Sian melihat dirinya dalam keadaan bugil tidur berangkulan dengan sute-nya yang juga berbugil! Seketika terasalah olehnya kelainan dalam dirinya, tahulah ia apa yang telah terjadi!

Ia telah melakukan hubungan dengan sute-nya, hubungan suami isteri! Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, ia segera mengenakan pakaiannya, lalu meloncat turun dari atas pembaringan.

Sekali tendang, pembaringan itu roboh dan Bong Gan terbangun gelagapan. Dia melihat suci-nya sudah berpakaian dan kini sedang berdiri membelakanginya, dengan pedang Pek-liam-kiam terhunus di tangannya.

“Sute, kenakan pakaianmu. Cepat!” Suara suci-nya membentak dan dari nadanya jelas bahwa suci-nya marah bukan main.
“Ehh... kenapa kita... kenapa aku di sini... kenapa tidur di sini dan... ehh, apa yang telah kita lakukan ini...?” Bong Gan bersandiwara, bicara dengan gagap dan gelisah.
“Cepat pakai pakaianmu kataku!” Bi Sian membentak lagi.

Bong Gan segera mengenakan pakaiannya dan turun dari atas pembaringan. “Sudah... sudah kupakai, suci...”

Bi Sian membalik dan sekali pedangnya menyambar, tahu-tahu telah menempel di leher Bong Gan. Pemuda itu terbelalak dan wajahnya pucat.

“Suci... kenapa... kau hendak membunuhku...?”
“Coa Bong Gan!” Bi Sian membentak marah. “Apa yang sudah kau lakukan terhadap diriku selagi aku mabok? Hayo katakan! Apa yang telah kau lakukan? Keparat engkau!”
“Suci! Apa... apa yang telah kulakukan...? Suci, seharusnya suci bertanya apa yang kita lakukan! Aku... aku sendiri tidak tahu, suci, aku tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada kita...,” lalu dengan hati-hati dia menambahkan, “... suci, sayup-sayup aku teringat... bukankah engkau pun... ehh, mendukung terjadinya peristiwa itu semalam...?”

Wajah yang cantik itu menjadi merah sekali dan kini dari sepasang matanya mengalir beberapa butir air mata. Akan tetapi pedangnya masih menempel di leher Bong Gan.

“Aku... aku berada di dalam pengaruh obat bius dan obat perangsang, hal itu kini aku yakin sekali. Dan kau... kau menggunakan kesempatan itu untuk... untuk...”
“Suci, engkau sungguh-sungguh tidak adil! Apa bila aku sejahat itu, tanpa perlu menanti kemarahanmu, aku akan membunuh diriku sendiri! Akan tetapi, suci, kalau engkau bisa terbius, kenapa aku tidak? Aku pun sama saja seperti keadaanmu, suci. Aku tidak ingat apa-apa lagi, dan dalam keadaan setengah sadar seperti dalam mimpi saja semua itu terjadi. Suci, kenapa engkau menyalahkan aku bila keadaan kita sama? Kita berdualah yang bertanggung jawab, dan aku... ehhh, cinta padamu, suci...”
“Jangan sentuh aku!” Bi Sian membentak ketika tangan Bong Gan hendak menyentuh lengannya.

Ia pun kini menangis terisak-isak. Ia kini melihat kenyataan itu. Sute-nya tidak bersalah. Sute-nya juga minum pembius dan obat perangsang yang sama! Pek Lan! Ini semua gara-gara Pek Lan, wanita genit itu!

“Hemm, perempuan jahat itu harus mampus!” katanya dan dia pun melompat ke arah pintu, mendorong daun pintu dan berlari keluar.
“Suci...!” Bong Gan berseru dan mengejar dari belakang.

Akan tetapi Bi Sian tidak berhenti, tidak menoleh dan pada saat itu, kebetulan sekali ia melihat Pek Lan melangkah dengan tenangnya menuju ke arah mereka. Sepagi itu, Pek Lan sudah nampak rapi dan cantik sekali, sudah mandi dan mengenakan pakaian bersih seperti baru. Ketika melihat Bi Sian dan Bong Gan, Pek Lan tersenyum dan wajahnya berseri.

“Ah, ji-wi (kalian) sudah bangun? Selamat pagi...!” katanya dengan suara merdu dan gembira.
“Manusia jahat, cabut senjatamu dan lawanlah aku!” bentak Bi Sian dengan pedang melintang di depan dada.

Pek Lan terbelalak. “Adik Bi Sian, ada apakah ini? Apa artinya sikapmu ini?”

Bi Sian menudingkan pedangnya ke arah muka Pek Lan. “Tidak perlu berpura-pura lagi. Keluarkan senjatamu atau kalau tidak, aku akan membunuhmu begitu saja!”

“Tapi... tapi kenapa, adik Bi Sian? Adik Bong Gan, kenapa kalian bersikap seperti ini terhadap aku? Bukankah sejak saling berkenalan, aku selalu bersikap baik terhadap kalian?” Pek Lan bertanya lagi, kini mendesak Bong Gan untuk memberi keterangan.

Bong Gan segera berkata, “Enci Pek Lan. Siapa orangnya tidak akan menjadi marah? Kemarin kami kau undang untuk makan minum. Setelah makan minum, kami berdua... kemudian kehilangan kesadaran, terbius dan terangsang, sehingga... kami melakukan pelanggaran...”

Bi Sian memandang dengan mata mencorong penuh kemarahan. “Pek Lan, engkau sudah menipu kami, engkau membius kami, penghinaan ini hanya dapat ditebus dengan nyawa!” Ia sudah siap bergerak mengangkat kedua tangan ke atas.

“Nanti dulu, kedua orang adikku yang baik! Bi Sian, jangan terburu nafsu dan menuduh yang bukan-bukan padaku. Ingatlah, bahwa aku dan guruku Thai Yang Suhu juga hanya merupakan dua orang tamu saja di sini! Bagaimana mungkin kami yang melakukan itu? Makanan dan minuman itu bukan dari kami. Dan apa gunanya kami melakukan hal yang membuat kalian berdua melakukan hubungan suami isteri di luar kesadaran kalian ini? Jelas, yang memberi obat bius dan obat perangsang ke dalam makanan dan minuman kalian bukan kami.”

“Maranta Sing! Dialah yang melakukan itu, suci! Bukan enci Pek Lan. Sekarang aku yakin, Pangeran Nepal itulah yang meracuni kita!” kata Bong Gan kepada suci-nya.

Bi Sian termenung, lalu dia pun mengangguk-angguk, dan berkata, “Maafkan aku, enci Pek Lan. Kalau begitu, pangeran keparat itu yang harus kubunuh! Aku akan mencarinya dan...”

Pek Lan menggeleng kepala. “Tahan dulu, adikku yang baik. Mari kita bicara di dalam kamarku. Harap jangan terburu nafsu. Ingatlah, bahwa kita sekarang sedang berada di dalam benteng di mana terdapat ratusan orang prajurit Nepal! Mari, mari, di kamarku kita dapat bicara dengan leluasa,” kata Pek Lan dan ia mendahului mereka menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari situ.

Terpaksa Bi Sian menahan kemarahannya dan bersama Bong Gan dia pun mengikuti Pek Lan masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar itu tidak seluas kamar mereka, akan tetapi juga mewah dan perabot kamarnya serba indah. Begitu memasuki kamar, Bong Gan dan Bi Sian mencium bau semerbak harum.

Setelah mempersilakan kedua orang itu duduk, Pek Lan lalu duduk di tepi pembaringan, menghadapi mereka. “Ketahuilah kalian bahwa Pangeran Maranta Sing menyuguhkan makanan yang mengandung obat perangsang itu, bukan suatu kejahatan, bahkan dia sengaja melakukan hal itu untuk menyenangkan kalian yang dianggap sebagai tamu agung yang dihormati.”

Dua orang kakak beradik seperguruan itu terbelalak, kemudian mereka saling pandang dengan penuh keheranan. “Akan tetapi, enci Pek Lan!” seru Bong Gan.

“Bagaimana mungkin kami dapat percaya soal itu? Memberi obat bius dan perangsang kepada kami sehingga kami berdua melakukan pelanggaran? Dan itu merupakan suatu penghormatan? Mustahil...”
“Aku tidak percaya!” Bi Sian juga berseru.

Pek Lan tersenyum. “Akan tetapi, sesungguhnyalah begitu, Memang lain bangsa lain pula kebiasaannya, lain negara lain pula peraturannya, dua orang adikku yang manis. Ketahuilah bahwa masakan sumsum tulang punggung beruang itu merupakan makanan langka yang luar biasa, dan memang makanan itu mengandung daya rangsangan yang kuat. Biasanya hidangan ini hanya diberikan kepada sepasang pengantin keluarga raja saja! Dan anggur merah itu pun amat keras, hanya bekerjanya amat halus seperti obat bius. Akan tetapi keduanya juga merupakan hidangan-hidangan yang mahal dan langka, hanya diperuntukkan tamu kehormatan.”

“Akan tetapi, kalau pangeran itu sudah tahu akan pengaruh makanan dan minuman itu, mengapa dia tetap menyuguhkan kepada kami? Dan kami diberi satu kamar pula? Apa maksudnya kalau bukan hendak menjerumuskan kami dan menghina kami?”

Pek Lan menggelengkan kepalanya. “Sama sekali dia tak bermaksud menghina kalian. Karena kalian merupakan dua orang muda yang melakukan perjalanan bersama, maka dia menganggap bahwa tentu kalian berdua memiliki hubungan yang lebih erat. Kalian dianggapnya sebagai suami isteri atau dua orang yang sedang berpacaran, sehingga hidangan itu bahkan dianggapnya membantu dan menyenangkan kalian.”

“Akan tetapi dia sudah tahu bahwa kami adalah kakak dan adik seperguruan!” Bi Sian berseru. “Kami belum menikah...!”
“Itu menurut pendapat dan kebiasaan kalian! Akan tetapi menurut kebiasaan di Nepal, kalau ada seorang pemuda dan seorang gadis melakukan perjalanan bersama selama berbulan-bulan, maka tidak ada pendapat lain kecuali bahwa mereka adalah sepasang suami isteri, baik sudah menikah atau belum. Oleh karena itu, adik-adikku, harap kalian tenang. Pangeran Maranta Sing tidak bermaksud buruk. Pula semua itu sudah terjadi, dan kalau kulihat, kalian memang pantas untuk menjadi jodoh masing-masing. Apa bila memang kalian saling mencinta, apa salahnya peristiwa yang terjadi semalam?”

“Tidak! Penghinaan ini hanya dapat ditebus dengan nyawa! Noda ini hanya dapat dicuci dengan darah! Pangeran Maranta Sing harus mempertanggung jawabkannya! Aku mau mencarinya!” Bi Sian berteriak. Ia sudah bangkit berdiri dan meraba gagang pedangnya.
“Sabar dan ingatlah, adik Bi Sian! Selain pangeran itu tidak memiliki niat jahat menurut pendapatnya, bahkan ingin berbuat untuk menyenangkan tamu, juga kita berada di sini, di dalam bentengnya! Bagaimana mungkin engkau akan melawan ratusan orang prajurit Nepal? Bukankah itu sama halnya dengan bunuh diri?”
“Aku tidak peduli! Aku tidak takut! Bagiku, kehormatan lebih penting dari pada nyawa!” Bi Sian berkata dengan air mata bercucuran kembali karena ia teringat akan nasibnya yang telah menderita aib.
“Suci... ahhh, harap dengarkan apa yang dikatakan enci Pek Lan, suci. Kita berada di tengah-tengah benteng mereka, kita tak mungkin mampu melawan mereka...” Bong Gan berkata.

Tiba-tiba Bi Sian membalik dan menghadapinya dengan mata berapi saking marahnya. “Sute! Engkau masih berani berkata demikian? Engkau takut mati?! Huh, enak saja engkau. Engkau adalah seorang laki-laki, tentu tidak akan dapat merasakan penderitaan seorang wanita yang telah menderita aib dan noda seperti aku! Kalau engkau takut mati, biarlah aku sendiri yang akan menuntut kepada pangeran itu!”

Melihat sikap suci-nya itu, mendadak saja Bong Gan menjatuhkan diri berlutut di depan suci-nya sambil menangis!

“Suci, semua ini akulah yang bersalah! Aku sudah menodaimu, aku mendatangkan aib bagimu. Akulah yang membikin celaka sehingga kini suci menghadapi bahaya maut. Aku sudah menghancurkan kehidupanmu, suci. Sungguh aku merasa menyesal sekali. Engkau adalah satu-satunya orang yang kumiliki, juga satu-satunya orang yang sudah menolongku, dan baik kepadaku. Engkau satu-satunya orang yang kucinta sepenuh jiwa ragaku dan sekarang... aku pula yang mencelakakanmu. Aih, suci, kalau begitu, engkau bunuhlah aku lebih dulu agar aku tidak lagi melihat penderitaanmu.”

“Sute, cukup...!” Bi Sian berseru dan tangisnya semakin menjadi-jadi.

Melihat ini, Bong Gan maklum bahwa siasatnya berhasil dengan baik, maka dia pun lalu memperkuat tangisnya. “Suci, bagaimana mungkin aku dapat hidup jika melihat engkau sengsara karena aku? Sudahlah, kalau engkau tidak mau membunuhku, biar aku sendiri yang akan menghabiskan nyawaku supaya rasa penaaaran di hatimu berkurang, suci. Suci, selamat tinggal, suci...!”

Bong Gan menyambar pedang milik Pek Lan di atas meja, kemudian mencabutnya dan menggerakkan pedang menggorok leher sendiri! Tentu saja semua hal ini sudah diatur sebelumnya dan merupakan siasat belaka.

Pek Lan diam-diam sudah siap siaga mencegahnya kalau Bi Sian diam saja. Andai kata Bi Sian mendiamkan saja sute-nya membunuh diri, demikian siasat yang mereka atur sebelumnya, maka Pek Lan yang akan turun tangan mencegah sehingga bunuh diri itu nampak sungguh-sungguh.

Akan tetapi, permainan sandiwara itu ternyata berhasil pula mengelabui mata Bi Sian. Melihat kenekatan sute-nya yang dalam hal ini juga sama-sama menjadi korban obat bius dan perangsang, cepat Bi Sian menendang ke arah pergelangan tangan sute-nya yang memegang pedang. Pedang itu terlepas dari pegangan dan Bong Gan menutupi mukanya sambil menangis.

“Suci, kalau engkau tak dapat mengampuni aku, kenapa engkau tidak membiarkan saja aku membunuh diri?” ratapnya.

Bi Sian tidak menjawab, hanya menangis sesenggukan, hatinya bagaikan ditusuk-tusuk rasanya. Ia memang suka sekali pada sute-nya ini, bahkan mungkin juga ada peraaaan cinta, karena sute-nya pandai mengambil hati.

Ia pun tahu bahwa sute-nya amat mencintanya dan kini, sute-nya telah memperlihatkan perasaan cintanya yang amat mendalam. Ia merasa terharu sekali dan agak meredalah kemarahannya.

Bagaimana pun juga, yang menodai dirinya adalah sute-nya sendiri, orang yang amat mencintanya, dan yang besar kemungkinan akan menjadi suaminya kelak. Kini, setelah peristiwa itu, bukan mungkin lagi bahkan sudah pasti bahwa pemuda ini akan menjadi suaminya kelak.

“Aih, betapa mengharukan. Sudahlah, adik Bi Sian. Aku ikut terharu melihat besarnya cinta di antara kalian, terutama sekali apa yang sudah dibuktikan oleh adik Bong Gan. Sungguh, dia mencintamu dan biar pun dia itu sute-mu, akan tetapi aku melihat bahwa dia lebih tua darimu dan kalian memang cocok sekali untuk menjadi suami isteri kelak. Sebaiknya kalian berdua ikut bersama kami menghadap Kim Sim Lama. Kalau kalian bekerja sama dengan Kim-sim-pang, aku yang tanggung bahwa dalam waktu singkat kalian akan dapat bertemu dengan Pendekar Bongkok.”

Bong Gan sendiri terkejut mendengar ini. Apakah Pek Lan sudah mendengar dari para anak buahnya tentang Pendekar Bongkok? Nada suara Pek Lan demikian meyakinkan seolah-olah Pendekar Bongkok sudah berada dalam kekuasaannya!

“Jangan main-main, enci!” berkata Bi Sian sambil mengerutkan alisnya. “Aku baru mau bekerja sama denganmu atau rekan-rekanmu apa bila benar kalian dapat menemukan Pendekar Bongkok. Benarkah engkau berani tanggung? Aku tidak mau tertipu!”

Pek Lan tersenyum manis. Tentu saja dia berani bertanggung jawab karena dia sudah mendengar dari orang-orangnya bahwa Pendekar Bongkok sudah menjadi tawanan Kim Sim Lama!

“Aku tanggung. Bahkan aku pun berani menanggung bahwa kami akan dapat menawan Pendekar Bongkok untukmu, adik Bi Sian.”

Bi Sian memandang Bong Gan yang masih berlutut sambil menutupl mukanya. “Sute, bangunlah. Memang benar, semua nasib manusia telah digariskan Thian. Aku tak dapat mengingkari dan tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah lalu. Baiklah, kini tidak mungkin lagi aku dapat menolak cintamu, menolak pinanganmu. Aku bersedia menjadl isterimu...”

“Suci! Terima kasih...!” Bong Gan berseru gembira walau pun mukanya masih basah air mata. Dia masih berlutut akan tetapi tidak lagi menutupi mukanya.
“Hemm, sudah sewajarnya kalau kita menjadi suami isteri. Akan tetapi tidak sekarang! Kelak, bila kita sudah berhasil membunuh Pendekar Bongkok, baru kita melangsungkan pernikahan. Akan tetapi sebelum itu, engkau tidak boleh menjamahku. Mengerti?”
“Baik... baik...” Bong Gan kini bangkit berdiri dan menatap wajah suci-nya itu dengan pandang mesra. “Akan tetapi, setelah kini kita bertunangan, bolehkah aku menyebutmu Sian-moi (dinda Sian)? Dan maukah kau menyebut aku Gan-koko (kanda Gan)?”

Wajah Bi Sian menjadi kemerahan, akan tetapi untuk mencegah agar persoalan itu tidak diperpanjang, ia pun mengangguk.

Melihat ini, Pek Lan girang bukan main. Ia pun cepat memberi hormat kepada mereka bergantian sambil berseru, “Kionghi, kionghi (selamat, selamat)!”

Biar pun wajahnya berubah kemerahan, Bi Sian terpaksa menerima pemberian selamat itu sambil menggumamkan terima kasih. Dan dengan wajah gembira bukan main Bong Gan juga menghaturkan terima kasih, ucapan terima kasih yang bukan hanya sebagai basa-basi belaka karena dia bersungguh-sungguh merasa berterima kasih kepada Pek Lan.

Pek lan yang telah mengatur semuanya itu, sehingga dia berhasil memiliki diri Bi Sian. Dia pun berjanji di dalam hatinya untuk membalas jasa Pek Lan itu dengan pelayanan semesra mungkin.

“Nah, marilah kita berangkat sekarang juga. Untuk mencegah suasana tidak enak, ji-wi (kalian berdua) tidak perlu berpamit dari Pangeran Maranta Sing, biar kupamitkan nanti. Kalian bersiaplah, kita berangkat sekarang bersama suhu.”

Bi Sian merasa senang bahwa ia tidak perlu berpamit lagi dari Pangeran Maranta Sing, karena biar pun ia dapat mengerti bahwa pangeran itu tidak dapat terlalu dipersalahkan karena memang tidak berniat buruk, tetapi tetap saja kalau ia bertemu dengan pangeran itu, tentu ia akan sukar menahan kemarahannya.

Mereka berdua berkemas dan tak lama kemudian Pek Lan dan Thai Yang Suhu datang menjemput mereka. Berangkatlah mereka meninggalkan istana dalam benteng di lereng bukit dekat telaga Yam-so.

Mereka menunggang empat ekor kuda. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam yang amat indah membuat Bi Sian perlahan-lahan dapat melupakan peristiwa semalam yang dianggapnya sebagai mala petaka. Dia mulai dapat menerima kenyataan itu dan menganggap bahwa memang sudah menjadi jodohnya untuk bersuamikan Coa Bong Gan maka terjadi peristiwa memalukan itu.

Tak sedikit pun pernah terlintas di dalam pikirannya bahwa semua peristiwa itu adalah hasil rencana siasat yang sudah diatur oleh Pek Lan dan Bong Gan, dibantu oleh Thai Yang Suhu dan Pangeran Maranta Sing…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH PENDEKAR BONGKOK : JILID-14
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger