logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Si Pedang Terbang Jilid 02


Kuil tua itu ternyata masih mempunyai dinding yang kokoh, hanya lantai dan atapnya saja yang membutuhkan perbaikan. Liu Ma menjual beberapa buah perhiasan yang dia terima dari orang tua Han Lin, dijualnya ke kota lalu ia pun memperbaiki kuil itu sehingga menjadi perhatian yang menggembirakan bagi para penduduk Libun.

Akan tetapi, ketika perbaikan atap mulai dilakukan, terjadilah hal-hal yang mendatangkan perasaan seram dan takut kepada para pekerja yang terdiri dari penduduk dusun Libun sendiri. Memang terjadi hal-hal yang amat aneh. Begitu atap dipugar, dua orang pekerja jatuh dari atas atap dan keduanya menceritakan pengalamannya yang sama, yaitu bahwa mereka didorong dari atas atap oleh seorang berpakaian tosu.

Untung mereka hanya menderita patah tulang kaki saja, tidak sampai tewas. Mula-­mula peristiwa itu masih dianggap sebagai hal yang terjadi karena kekurang hati-hatian kedua orang pekerja itu, Akan tetapi, pada waktu mereka hendak memasang atap baru, seorang pekerja tiba-tiba saja terkulai dan berkelojotan seperti orang sedang sekarat.

Ketika teman-temannya datang menolong, orang itu menjadi beringas, matanya melotot, mututnya berbuih dan dia pun berteriak-teriak kacau, dan suaranya terdengar parau.

"Pergi kalian semua! Pergi, jangan mengganggu tempatku! Akan kucekik kalian semua!" demikian orang itu berteriak-­teriak sambil meronta-ronta karena kaki tangannya dipegangi banyak orang.

Para penduduk dusun yang masih mudah sekali dipengaruhi tahyul itu menjadi ketakutan, maka mereka segera mengundang Kong Hwi Hosiang. Hwesio itu datang diikuti oleh Liu Ma dan juga Han Lin.

Sesudah Kong Hwi Hosiang memasuki kuil itu dan melihat seorang pekerja rebah di atas lantai, kaki tangannya dipegangi banyak orang dan semua pekerja sudah berhenti bekerja dan merubung orang itu yang berteriak-teriak mengusir mereka, dia lalu mendekati, diikuti oleh Liu Ma yang takut-takut dan Han Lin yang terheran-heran.

"Omitohud...! Saudara sekalian, harap lepaskan saja dia," katanya dengan lembut.

Para pekerja melepaskan orang itu, kemudian cepat mundur ketakutan. Mereka khawatir kalau orang yang mereka tahu kesurupan (kemasukan roh jahat) itu akan mengamuk.

Ketika orang itu dilepaskan, dia pun meloncat bangkit dengan mata melotot liar, mulutnya berbuih, dan dia memandang kepada Kong Hwi Hosiang lalu bertolak pinggang, sikapnya menantang!

"Huh, kiranya ini biang keladinya. Hwesio gendut tua bangka, engkau menggunduli kepala dan mengenakan jubah kuning, akan tetapi masih bertindak semena-mena, mengganggu dan hendak merampas tempatku, ya?"

Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan di depan dada dan berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran,

"Omitohud, tuduhaninu itu menjadi kebalikan dari kenyataannya. Tidak ada seorang pun manusia yang mengganggumu, juga bangunan ini sama sekali bukan merupakan tempat tinggalmu. Bangunan ini adalah tempat tinggal manusia yang masih mempunyai jasmani. Engkaulah yang salah memilih tempat. Sebaiknya engkau mencari tempat yang jauh dari manusia dan mohon ampunlah kepada Yang Maha Kasih agar engkau dapat memperoleh kebebasan dan kesempurnaan."

Akan tetapi pekerja yang masih muda dan tubuhnya kekar itu kelihatan semakin marah. Dia mengeluarkan suara serak yang tak begitu jelas, kemudian membuat gerakan seolah-olah hendak mencekik Kong Hwi Hosiang.

Melihat ini, Liu Ma yang berada di belakang hwesio itu menjadi gemetar ketakutan, dan Han Lin memegang tangannya. Anak ini juga merasa ngeri, akan tetapi dia tidak takut. Ia percaya bahwa gurunya tentu akan mampu menundukkan iblis yang sedang memasuki tubuh pekerja itu.

Dengan sikap tenang Kong Hwi Hosiang memandang wajah pekerja itu. Suaranya masih lembut, namun menggetar penuh kewibawaan ketika dia berkata,

"Roh penasaran! Perbuatanmu ini hanya akan menambah dosamu dan juga memberatkan penderitaanmu. Pergilah engkau!"

Kong Hwi Hosiang lalu membaca mantera dan menggerakkan kedua tangannya seperti mendorong, dan pekerja itu mengeluarkan teriakan nyaring kemudian terkulai roboh.


Akan tetapi, begitu roboh dia segera bangkit duduk lalu memandang ke kanan kiri dengan keheranan.

"Aihh, apa yang telah terjadi? Kenapa aku? Dan mengapa kalian berhenti bekerja?"

Setelah melihat bahwa pekerja itu sudah bersikap biasa kembali, menunjukkan bahwa roh penasaran yang tadi menyusup ke dalam dirinya sudah pergi, kini teman-temannya berani menghampiri, malah ada yang memberinya minum sebelum menceritakan bahwa dia tadi kesurupan.

Pekerja kuil itu bergidik, kemudian meninggalkan pekerjaannya itu, pulang dan tak berani kembali lagi. Perbuatannya ini segera diikuti beberapa orang yang merasa ketakutan.

“Biarkan mereka pulang,” Kong Hwi Hosiang berkata kepada Li Ma yang hendak menegur mereka. “Kalau mereka memang takut, lebih baik tidak usah ikut membantu. Kita mencari orang-orang yang tidak takut saja.”

Demikianlah, perbaikan kuiI itu lalu dilanjutkan dan yang bekerja adalah orang-orang yang tidak gentar terhadap gangguan roh jahat. Dan anehnya, sejak peristiwa itu, tidak ada lagi gangguan sampai pembangunan itu selesai.

Berdirilah sebuah kelenteng baru di dekat puncak itu, kemudian Kong Hwi Hosiang mulai menyebarkan agama. Kelenteng itu mulai dikunjungi orang, untuk mempelajari agama dan untuk bersembahyang. Han Lin tinggal di kelenteng itu sebagai murid Kong Hwi Hosiang.

Anak ini ingin mengetahui tentang peristiwa kesurupan yang dulu membuat banyak orang menjadi ketakutan, maka pada suatu hari dia pun bertanya,

"Suhu, apa sih artinya peristiwa itu? Benarkah roh halus bisa memasuki tubuh manusia?"

Kong Hwi Hosiang tersenyum, girang bahwa biar pun masih kanak-kanak, muridnya tidak takut dan tidak dicengkeram tahyul, hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang memiliki dasar watak yang kuat.

"Engkau telah melihat sendiri, Han Lin. Orang itu jelas tidak berpura-pura, dan tidak pula sakit. Dia memang sudah dirasuki roh penasaran yang tidak ingin kuil itu diperbaiki karena kuil itu telah menjadi tempat tinggalnya."
"Suhu, apakah setiap orang manusia dapat dimasuki roh seperti itu?"

Kong Hwi Hosiang menggelengkan kepala.

"Omitohud, tidak begitu mudah bagi roh jahat untuk memasuki diri seorang manusia, Han Lin. Hanya manusia yang batinnya lemah, manusia yang percaya dan mau tunduk kepada kekuasaan setan, dan manusia yang batinnya sedang dalam keadaan lemah seperti kalau sedang dikuasai nafsu, sedang marah, sedang bersedih, pendeknya dicengkeram nafsu, maka dialah yang seolah-olah terbuka bagi roh jahat untuk memasukinya. Sebaliknya dia yang batinnya kuat, yang sedikit pun tak mau menyerah terhadap kekuasaan nafsu, tidak tunduk terhadap pengaruh roh jahat, dia yang menyadari bahwa kedudukan manusia lebih tinggi dari pada roh-roh jahat, dia yang menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kasih, tidak mungkin dapat dimasuki roh jahat."

"Suhu, apakah mantera-mantera itu dapat mengusir roh jahat?" tanya pula Han Lin.

"Mantera adalah doa keyakinan manusia terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa, namun bukan manteranya itu yang ampuh, melainkan batin manusianya. Segala kekuatan datang dari kekuasaan Yang Maha Kuasa. Kalau kita menyerah dengan penuh kepasrahan, kita akan terlindung oleh kekuasaan itu, dan tidak ada kekuasaan gelap mana pun yang akan mampu mengganggu kita."

Dengan penuh kasih sayang Kong Hwi Hosiang mulai mengajarkan iImu kepada Han Lin yang baru berusia tujuh tahun. Dia digembleng dengan dasar ilmu silat tinggi, dilatih cara menghimpun tenaga sinkang tanpa paksaan agar tidak menghambat pertumbuhan tubuh anak itu, juga disuruh membaca banyak kitab kuno. Dan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya memperdalam pengetahuannya tentang sastra.

Dan seperti yang nampak oleh hwesio tua itu pada pertemuan pertama, benar saja bahwa Han Lin memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu silat. Dia memiliki keluwesan gerakan, kelincahan dan mudah menangkap inti suatu gerakan.

Meski pun Han Lin tinggal di kelenteng, namun Liu Ma tidak merasa kehilangan. Dia dapat bertemu dengan anak itu kapan saja dia kehendaki. Dia sering datang berkunjung, bahkan Han Lin selalu mendapat perkenan suhu-nya setiap kali dia hendak turun bukit menengok ibunya.

Tiga tahun kemudian, pada suatu pagi Kong Hwi Hosiang telah keluar dari kelenteng dan berjalan-jalan ke puncak. Kini usianya sudah tujuh puluh tiga tahun lebih, dan biar pun dia masih kelihatan segar, namun harus diakuinya bahwa usia sudah menggerogoti kekuatan tubuhnya.

SegaIa sesuatu pada permukaan bumi ini akhirnya akan menyerah kalah terhadap waktu, pikirnya sambil tersenyum ketika dia melangkah mendaki ke puncak bukit. Akan tetapi dia tidak pernah mau menyerah terhadap waktu, karena dia mengenal waktu.

Baginya yang ada hanyalah saat ini, sekarang, tidak mau dipengaruhi waktu lalu atau pun waktu mendatang. Waktu lalu hanya mendatangkan kenangan, waktu mendatang hanya menimbulkan bayangan. Waktu lalu sudah mati dan waktu mendatang hanya mimpi. Saat ini yang penting, saat ini yang menentukan.

Ketika akhirnya tiba di puncak, dia melihat muridnya telah berada di puncak pula, agaknya sudah selesai mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Kong Hwi Hwesio melihat muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak­-gerakkan ranting itu seperti orang sedang bersilat, akan tetapi bukan gerakan silat dasar seperti yang telah dia ajarkan, melainkan gerakan silat yang membuat hwesio tua itu terbelalak.

Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu silatnya sendiri yang dia andalkan. Kong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan)! ltulah gerakan yang dilakukan Han Lin, walau pun hanya sepotong-sepotong dan tidak sempurna!

Bagaimana mungkin anak itu bisa melakukan gerakan itu? Padahal dia ingat betul bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu tongkat itu, walau pun sedikit, dan dia tidak percaya kalau di daerah itu ada yang mampu memainkan ilmu silat tongkat itu.

Ketika Han Lin kebetulan membalikkan tubuhnya sehingga melihat gurunya, dia langsung melepaskan rantingnya kemudian berlari menghampiri kakek itu.

"Suhu...! Sepagi ini suhu sudah mendaki ke puncak?"

Dengan ujung lengan bajunya yang lebar Kong Hwi Hosiang mengusap peluh dari dahinya, kemudian dia pun tersenyum,

"Omitohud....! Kalau usia sudah tua, hanya mendaki sebegini saja sudah berkeringat. Han Lin, apakah engkau sudah cukup mengumpulkan kayu bakar?"
"Sudah, suhu. Itu sudah teecu (murid) ikat semuanya.” Dia menuding ke arah seikat besar ranting-ranting kering.
“Bagus, dan pinceng tadi melihat engkau bersilat dengan ranting kayu. Dari mana engkau mempelajarinya?” Hwesio itu bertanya sambil lalu, seolah tidak menaruh perhatian. Wajah anak itu berubah kemerahan dan dia tersenyum.
”Aihh, suhu, teecu hanya main-main sembarangan saja.”
"Han Lin, gerakanmu tadi jelas bukan main-main, melainkan semacam ilmu tongkat. Nah, katakan saja sejujurnya, dari siapa engkau mempelajari ilmu tongkat itu? Atau jika engkau meniru gerakan orang lain, siapa yang kau lihat memainkan ilmu tongkat itu?"

Han Lin nampak salah tingkah sehingga diam-diam hwesio tua itu merasa heran. Selama tiga tahun ini belum pernah dia melihat muridnya bersikap seperti itu, penuh keraguan dan penuh kepanikan.

"Teecu… ahh… teecu…"
"Han Lin, tentu kau masih ingat bahwa di antara kita tidak boleh ada rahasia, dan bahwa amat tidak baik untuk berbohong, apa lagi terhadap pinceng, bukan?"

Sekarang Han Lin mengambil sikap tegas. Dengan berani dia menentang lagi sinar mata suhu-nya.

"Tentu teecu masih ingat dan teecu tidak akan pernah melanggarnya, suhu. Tetapi teecu juga ingat bahwa seorang laki-laki haruslah selalu memegang teguh janjinya. Mengingkari janji merupakan perbuatan yang pengecut, dan teecu yakin bahwa tentu suhu tidak ingin melihat teecu melanggar janji."

Hwesio itu mengangguk-angguk. Anak ini memang hebat, pikirnya. Dan kepada siapa lagi anak ini berjanji, kalau bukan kepada dirinya sendiri atau kepada ibunya? Hanya mereka berdua saja yang agaknya patut menerima janji Han Lin. Dan agaknya memang terdapat suatu rahasia antara Han Lin dan ibunya itu.

Kini dia mulai melihat betapa pandang mata nyonya janda itu terhadap puteranya, selain pandang penuh kasih sayang, juga pandang yang mengandung penghormatan! Pasti ada suatu rahasia di antara mereka, dan rahasia itu ada hubungannya dengan gerakan ilmu tongkat tadi!

"Sudahlah, Han Lin, tidak mengapa bila engkau tidak bisa menceritakan kepada pinceng. Memang seorang laki-laki harus memegang teguh janjinya, karena itu mengenai martabat dan kehormatan. Nah, sekarang mari kita kembali ke kelenteng."

Kong Hwi Hosiang yang bijaksana tidak pernah bertanya lagi kepada muridnya mengenai ilmu tongkat itu, akan tetapi ketika dia mendapat kesempatan bertemu dengan Liu Ma dan bicara empat mata, dia pun mengajukan pertanyaan kepada Liu Ma.

“Beberapa pekan yang lalu pinceng memergoki Han Lin bermain silat tongkat di puncak bukit dan pinceng heran sekali karena mengenal ilmu tongkat itu. Ketika pinceng bertanya dari mana dia mempelajari ilmu silat tongkat itu, dia tidak berani mengaku, mengatakan bahwa dia tidak boleh melanggar janjinya. Nah, sekarang pinceng mohon kepadamu agar suka berterus terang kepada pinceng. Pinceng tahu bahwa nyonya amat menyayangnya, seperti juga pinceng menyayangnya. Akan tetapi sungguh tidak baik bila terdapat rahasia di antara kita, seolah-olah ada jurang yang memisahkan. Lagi pula pinceng yakin bahwa nyonya tentu percaya kepada pinceng."

Liu Ma menundukkan mukanya, Terjadi perang di dalam hatinya. Tentu saja dia percaya sepenuhnya terhadap Kong Hwi Hosiang. Selama tiga tahun ini Kong Hwi Hwesio sudah menunjukkan bahwa dia seorang yang berhati baik, bijaksana dan penuh belas kasihan terhadap orang lain. Sudah banyak sekali orang sakit yang diobatinya, dan dia tak pernah mau menerima imbalan apa pun.

Juga menurut pengakuan Han Lin, hwesio itu amat sayang kepada Han Lin, dan anak itu pun memperoleh banyak ilmu darinya. Dia tak perlu khawatir lagi tentang pendidikan anak itu! Akan tetapi haruskah dia membuka rahasia anak itu kepada hwesio ini? Liu Ma masih bimbang ragu.

"Memang dalam diri Han Lin terdapat rahasia besar, losuhu. Akan tetapi perlukah losuhu mengetahuinya? Selama ini rahasia itu hanya terpendam di dalam lubuk hati kami berdua dan sudah kami anggap terkubur. Apa gunanya kalau saya ceritakan kepada losuhu? Dan apa perlunya pula losuhu mengetahui rahasia pribadi Han Lin? Bukankah selama ini dia sudah menjadi murid yang baik dan patuh? "

'Omitohud, pinceng bukanlah orang yang suka usil mencampuri urusan orang lain, bukan pula orang yang suka mengetahui urusan pribadi orang lain. Akan tetapi di dalam urusan yang menyangkut pribadi Han Lin terdapat sesuatu yang pinceng yakin ada hubungannya dengan pinceng. Sebaiknya kalau pinceng katakan terus terang kenapa tiba-­tiba pinceng ingin mengetahui latar belakang kehidupan atau rahasia Han Lin, nyonya Liu. Ketahuilah bahwa selama hidupku, pinceng hanya mempunyai dua orang murid dan hanya kepada mereka berdua itu saja pinceng mengajarkan ilmu tongkat pinceng. Karena itu tentu saja pinceng merasa heran sekali ketika melihat betapa Han Lin memainkan ilmu tongkat itu, biar pun tidak sempurna. Nah, pinceng yakin bahwa anak itu mempunyai hubungan, atau setidaknya pernah melihat salah seorang di antara kedua orang murid pinceng itu."

Liu Ma memandang heran. Kini usia wanita ini sekitar lima puluh tahun, namun dia terlihat lebih tua karena selama ini dia mengalami hal-hal yang menyedihkan dan menegangkan.

"Losuhu, bolehkah saya mengetahui nama kedua orang murid losuhu itu?"
"Tentu saja boleh. Mereka adalah dua orang bersaudara, enci dan adik, puteri mendiang Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Utama Kaisar Beng Ong, yang dulu melarikan diri ke barat. Mereka bernama Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi dan ehh, ada apakah, nyonya?" Kong Hwi Hosiang memandang penuh perhatian melihat betapa wanita itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar dan mukanya menjadi pucat.
"Nyonya Liu, tenanglah. Ada apakah?"

Akan tetapi wanita itu kini menangis, menutupi mukanya dengan dua tangan lalu dia pun terisak-isak. Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan di depan dada lantas berkemak-kemik, membiarkan wanita itu menangis dulu sepuasnya untuk mencairkan sesuatu yang membeku dan mengganjal di hatinya.

Setelah hatinya terasa ringan karena bebannya telah disalurkan lewat tangisnya, akhirnya Liu Ma dapat menghapus air matanya. Dengan mata kemerahan dia memandang kepada hwesio itu.

"Losuhu, ternyata dugaan losuhu memang benar. Ketahuilah, losuhu, bahwa sebenarnya Han Lin adalah Pangeran Sia Han Lin yang lolos dari istana ketika istana diserbu musuh. Ayahnya adalah mendiang Sia Su Beng dan ibunya adalah mendiang Permaisuri Yang Kui Bi!"
"Omitohud!" Kong Hwi Hosiang berseru keheranan.

Dia bukan hanya terheran mendengar bahwa Han Lin ternyata putera kandung muridnya sendiri, Yang Kui Bi, akan tetapi juga heran mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi isteri pemherontak Sia Su Beng yang sudah mengangkat diri menjadi kaisar akan tetapi kemudian kekuasaannya dirobohkan dan dia pun tewas dalam pertempuran.

"Jadi, kalau begitu Han Lin adalah putera murid pinceng sendiri…? Akan tetapi dia sudah ikut denganmu, bagaimana dapat memainkan ilmu tongkat itu?"
“Kami melarikan diri dari istana ketika Han Lin masih berusia lima tahun, losuhu. Agaknya dia masih ingat kepada ibunya kalau ibunya berlatih silat dan sekarang, setelah dia belajar silat kepada losuhu, dia mencoba untuk memainkan ilmu silat yang dulu pernah dilihatnya ketika dimainkan oleh ibunya."
“Omitohud… tidak salah lagi, benar seperti yang nyonya katakan itu.” Dia termenung dan merasa semakin kagum.

Tentu Han Lin sudah mengetahui bahwa dia adalah bekas seorang pangeran! Akan tetapi anak itu begitu pandai membawa diri, bahkan sikapnya begitu hormat dan sayang kepada Liu Ma, memegang janji dengan teguh dan sama sekali tidak nampak congkak.

"Sebelum ayah ibunya maju berperang, mereka menitipkan Han Lin kepada saya, losuhu. Saya adalah pelayan pengasuh keluarga itu, dan sayalah yang mengasuh Han Lin sejak dia kecil. Saya mengajak Han Lin melarikan diri, mengungsi dan tinggal di dusun Libun ini, dusun yang menjadi kampung halaman saya.” Dengan jelas Liu Ma lalu menceritakan semua yang telah dialaminya semenjak dia membawa Han Lin melarikan diri dari kota raja Tiang-an dan mengungsi ke dusun itu.

Hwesio itu menghela napas panjang, "Betapa aneh jalan hidup anak itu. Tanpa disengaja seolah dia dipertemukan dengan pinceng. Engkau telah melaksanakan tugas dengan baik, nyonya. Sebaiknya kita biarkan saja keadaan tetap seperti sekarang, tidak perlu memberi tahu kepada Han Lin bahwa pinceng telah mengetahui riwayatnya. "

Demikianlah, mulai hari itu pula dengan tekun Kong Hwi Hosiang mengajarkan ilmu silat tongkat Hong-in Sin-pang kepada Han Lin. Tentu saja anak ini gembira bukan main ketika mengenaI ilmu tongkat seperti yang dahulu sering dia lihat dimainkan oleh ibunya, namun tentu saja ilmu ini lebih lengkap dan lebih dahsyat.

Disamping menggembleng muridnya dengan ilmu silat, juga Kong Hwi Hosiang lebih tekun mengajarkan sastera dan terutama mengenai inti pelajaran agama. Baik dengan dongeng, perumpaan mau pun contoh-contoh kehidupan para bijaksana di jaman dahulu, Kong Hwi Hosiang berusaha untuk menghapus dendam dari hati muridnya itu.

"Ingat baik-baik, Han Lin. Musuh utama bagi seorang pendekar adalah perasaan dendam. Akan tetapi perasaan ini memang amat sulit untuk dikalahkan, karena dendam timbul dari berkembangnya rasa diri. Begitu rasa diri disinggung dan terasa dirugikan, disakiti, dihina atau dibikin sedih karena kehilangan, maka akan timbul dendam yang meracuni hati dan pikiran. Dan kalau dendam sudah mencengkeram hati dan pikiran, maka tindakanmu tidak mungkin lurus di atas jalan yang seharusnya dilalui oleh seorang pendekar. Dendam akan menyeretmu ke arah perbuatan yang semata-mata didorong kebencian dan sakit hati, dan kalau sudah begitu, maka sama sekali sudah tidak adil dan tidak benar lagi. "

Mendengar kata-kata gurunya itu, Han Lin segera teringat akan kematian ayah bundanya. Sering kali, kalau dia terkenang akan kematian mereka, timbul dendamnya kepada Kaisar, bahkan kepada kerajaan. Kini, mendengar ucapan gurunya dia pun mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, suhu, kalau kita tidak membenci penjahat, bagaimana kita dapat membasmi mereka yang jahat? Bukankah menurut dongeng sejak jaman dahulu, orang bijaksana dan para pendekar selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan? Kalau kita tidak boleh mendendam dan membenci terhadap para penjahat, bagaimana kita dapat bertindak terhadap mereka?"
"Omitohud! Bila hati sudah diracuni dendam, bagaimana mungkin kita membela keadilan? Dendam dan kebencian menghapus keadilan, karena perbuatan yang didasari kebencian, bagaimana mungkin bisa adil lagi? Kebencian akan melenyapkan pertimbangan sehingga satu-satunya keinginan hanyalah melampiaskan dendam kebencian."
"Kalau begitu, kita tidak boleh memusuhi siapa pun, suhu?"
"Omitohud, pertanyaanmu itu tepat sekali. Kita memang tidak boleh memusuhi siapa pun! Yang ditentang seorang pendekar bukanlah manusianya, tetapi kejahatannya. Perbuatan jahat sewenang-wenang yang mengganggu orang lain patut kita tentang, tetapi dasarnya bukan kebencian terhadap siapa pun. Mengertikah engkau?"

Melihat anak berusia belasan tahun itu masih juga belum mengerti betul, perlahan-lahan Kong Hwi Hosiang lalu memberi penjelasan tentang dendam kebencian.

Dendam kebencian dapat membuat orang kehilangan pertimbangan. Dendam kebencian merupakan nafsu yang selalu hanya ingin mendapat kepuasan, dan kepuasan dari nafsu dendam hanyalah membalas dan mencelakai orang yang dibenci dan didendamnya.

Dendam timbul karena adanya aku yang merasa dirugikan. Aku dipukul balas memukul, aku dibenci balas membenci, malah biasanya pembalasan harus lebih berat, lebih hebat dari pada penyebab dendam itu. Lantas timbullah dendam mendendam, balas membalas yang tiada berkesudahan, kebencian yang mendarah-daging, kemudian terjadilah perang, pembunuhan, pembantaian dan segala macam kekejaman yang tak layak dilakukan oleh manusia, makhluk yang katanya memiliki derajat paling sempurna dan tinggi itu.

Mata kita selalu ditujukan pada orang lain, menilai perbuatan orang lain sehingga segala kesalahan orang lain, seberapa kecil pun, akan kelihatan oleh kita. Kalau saja kita mau membalikkan pandangan kita, mengamati diri sendiri, maka akan nampak bahwa kita ini tidaklah lebih baik dari pada orang lain yang kita anggap jahat atau buruk itu.

Pengamatan ini akan menyadarkan kita bahwa kita pun bukan manusia yang sempurna, bahwa kita pun tidak lepas dari pada dosa. Kalau kita sudah merasa kotor, maka melihat orang lain kotor, tentu kita tidak akan memandang jijik. Kalau kita sudah melihat jelas bahwa kita sendiri penuh dosa, ketika melihat orang lain berdosa, tentu akan mudah sekali bagi kita untuk memaafkan orang lain.

Kita tidaklah lebih baik dari orang lain, dan dunia ini menjadi kacau balau bukan hanya karena ulah orang lain, melainkan karena ulah kita bersama! Kita sendiri, masing­-masing dari kita turut bertanggung jawab. Hanya orang yang mau mengamati diri sendiri, hanya orang yang tahu bahwa dirinya kotor, timbul usaha dalam dirinya untuk membersihkan diri dari kekotoran itu.

Sebaliknya, orang yang hanya melihat kekotoran pada diri orang lain dan merasa dirinya sendiri bersih, orang seperti ini tidak akan pernah mau melakukan usaha membersihkan dirinya dari kekotoran dan di luar kesadarannya, dia terus menumpuk kekotoran di dalam dirinya sendiri.

Kalau ada orang memukul kita lalu kita membalas dan memukulnya, lalu apa bedanya antara kita dan orang itu? Kalau ada orang membunuh, lalu kita balas membunuh, berarti kita semua sama-sama menjadi pembunuh Kalau orang menipu kita kemudian kita balas menipu, berarti kita sama-sama menipu.

Dendam membuat kita lupa diri, kehilangan pertimbangan dan kehilangan keseimbangan sehingga tidak dapat membedakan lagi mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Waktu bergerak seperti siput. Jika kita perhatikan, merangkak lambat sekali, akan tetapi kalau tidak kita perhatikan, tahu-tahu sudah jauh! Kalau tidak kita perhatikan, bertahun tahun lewat seperti beberapa hari saja rasanya, sebaliknya kalau kita menunggu sesuatu dan selalu memperhatikan waktu, maka beberapa jam rasanya seperti beberapa tahun.

Lima tahun lewat bagaikan terbang saja semenjak Kong Hwi Hosiang mendengar tentang riwayat Han Lin dari Liu Ma. Dia menggembleng muridnya dengan penuh kesungguhan, dan Han Lin juga belajar dengan tekunnya, sehingga kini Han Lin sudah menjadi seorang remaja berusia lima belas tahun yang gagah tegap dan mempunyai ilmu kepandaian yang hebat! Berkat pertemuan hawa beracun dingin dan panas, kemudian ditambah racun ular senduk kepala putih, sekarang di dalam tubuhnya terkandung kekuatan yang aneh, dan tubuhnya pun kebal terhadap racun.

Keadaan muridnya ini dimanfaatkan oleh Kong Hwi Hosiang yang mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya, termasuk Hong-in Sin-pang, ilmu silat tangan kosong Pat-kwa kun dan juga ilmu menghimpun tenaga sakti Im-yang Sin-kang. Karena dia masih amat muda, biar pun dia sudah menguasai semua ilmu itu dengan baik sekali, namun latihannya masih belum matang, apa lagi dia masih belum mempunyai pengalaman bertanding dengan orang lain.

Apa bila Han Lin tumbuh semakin besar dan semakin kuat, sebaliknya Kong Hwi Hosiang menjadi semakin tua dan semakin lemah. Proses menjadi tua ini melanda seluruh umat manusia di dunia ini.

Tidak ada seorang pun manusia, betapa pun kuatnya, yang akhirnya tidak tunduk kepada ketuaan dan kelemahan. Demikian pula dengan Kong Hwi Hosiang. Dalam usianya yang hampir delapan puluh tahun, dia mulai lemah meski pun semangatnya tak pernah nampak merosot.

Wajahnya masih terlihat segar, senyumnya pun masih selalu membuat wajahnya berseri. Namun di waktu dia mengajak Han Lin berlatih silat, muridnya itu melihat betapa gerakan gurunya kini semakin lambat dan tenaganya pun berkurang, terutama tenaga otot.....

Pada suatu pagi yang cerah! Seperti biasa, semenjak subuh Han Lin sudah bangun dari tidurnya. Gurunya mengajarkan bahwa mengawali hari sebaiknya dimulai dengan bangun yang pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, pada waktu ayam jantan mulai berkokok.

Sejak pagi tadi Han Lin telah bangun tidur, berlatih silat lalu mandi dan kini dia telah sibuk membantu dua orang hwesio lain yang sibuk di dapur. Sudah dua tahun ini di kelenteng itu terdapat dua orang hwesio lain, pendatang dari tempat lain yang kemudian menetap di situ menjadi pembantu Kong Hwi Hosiang. Cun Hwesio dan Kun Hwesio adalah dua orang hwesio berusia lima puluhan tahun yang rajin.

Dari dua orang hwesio ini Han Lin juga mendapatkan dua macam iImu yang amat berguna baginya. Meski pun kedua orang hwesio itu tidak mempunyai ilmu silat yang terlalu tinggi, tetapi Cun Hwesio adalah seorang ahli ginkang sehingga dalam hal ilmu berlari cepat dan berloncat tinggi, dia masih lebih lihai dibandingkan Kong Hwi Hosiang sekali pun.

Sedangkan Kun Hwesio adalah seorang hwesio yang mempunyai keahlian dalam hal ilmu menolak dan mengusir setan, juga pandai menggunakan kekuatan sihir. Dari kedua orang hwesio ini, yang juga merasa sayang kepada Han Lin, pemuda ini menerima gemblengan pula.

Melihat persediaan kayu bakar menipis, tanpa diperintah lagi Han Lin lari keluar dari dapur lalu menuruni puncak menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia tidak tahu betapa tak lama sesudah dia meninggalkan kuil, di pekarangan kelenteng itu muncul tiga orang laki-laki berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun.

Seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek gendut seperti katak, mukanya kuning seperti dicat, yang tertua di antara mereka, berseru dan suaranya parau lantang seolah menggetarkan atap kelenteng itu.

"Heiii… para hwesio penghuni kelenteng! Keluarlah kalian, kami ingin bicara!"

Sikap serta kata-katanya sungguh kasar memerintah, tidak memakai tata susila. Ada pun dua orang temannya yang juga berdiri di sana, hanya menunggu dengan sikap congkak. Seorang di antara mereka juga gendut pendek bermuka hitam, sedangkan orang ke dua tubuhnya tinggi kurus bermuka putih dan usia mereka lima puluh lebih, agak lebih muda dibandingkan si gendut muka kuning.

Begitu mendengar teriakan itu, Cun Hwesio dan Kun Hwesio bergegas keluar dan mereka berdua terheran-heran melihat tiga orang asing yang berdiri di pekarangan kelenteng itu. Akan tetapi sebagai pendeta-pendeta yang sopan dan lembut, mereka cepat mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat, kemudian Cun Hwesio menyambut dengan kata­-kata halus.

"Omitohud..., siapakah sam-wi (anda bertiga) dan ada keperluan apa kiranya berkunjung ke kelenteng kami yang buruk?”

Si gendut muka kuning menyeringai. "Hemm, kami ingin bicara dengan ketua kelenteng. Siapa di antara kalian yang menjadi ketua kelenteng ini?"

"Ketua kami sedang bersembahyang dan bersemedhi," jawab Cun Hwesio.
"Ha-ha-ha, para hwesio gundul ini memang orang-orang pemalas. Selalu menggunakan doa dan semedhi sebagai alasan, padahal dia itu tidur mendengkur, ha-ha-ha!" Dua orang iainnya juga ikut tertawa.

Cun Hwesio saling pandang dengan Kun Hwesio akan tetapi mereka masih bersabar.

"Omitohud, pinceng tidak tidur, sudah bangun sejak pagi tadi," mendadak terdengar suara ketua mereka, membuat kedua orang hwesio pembantu itu bernapas lega.

Tiga orang itu kini berhadapan dengan Kong Hwi Hosiang yang bertopang pada tongkat bambu ular kuningnya. Karena yang berdiri paling dekat dengannya adalah lelaki gendut bermuka hitam arang, Kong Hwi Hosiang lalu bertanya sambil memandang kepadanya.

"Siapakah sam-wi dan kepentingan apakah yang membuat sam-wi datang berkunjung?”

Si gendut muka hitam arang itu segera memperkenalkan diri dengan sikap angkuh. "Aku disebut orang Hek-bin Mo-­ong!"

"Omitohud…!" Kong Hwi Hosiang berseru heran, lalu memandang kepada mereka bertiga bergantian. "Kalau begitu apakah pinceng sedang berhadapan dengan Sam Mo-ong (Tiga Raja IbIis)? Dulu pinceng pernah berjumpa dengan Hek-bin Mo-ong, akan tetapi seingat pinceng, Hek-bin Mo-ong adalah seorang yang bertubuh tinggi besar, tidak seperti engkau yang bertubuh pendek."

'Hwesio sombong! Kau kira tubuhmu itu tinggi ramping? Engkau pun tak banyak bedanya dengan aku, pendek dan gendut!" Hek-bin Mo-ong berkata marah.

"Omitohud…!" Kong Hwi Hosiang yang memang biasanya selalu tersenyum, kini tertawa gembira. "Bagaimana pun juga pinceng pernah bertemu dengan Sam Mo-ong, tetapi jelas mereka itu bukan sam-wi."
"Hwesio, ketahuilah bahwa memang kami bukan Sam Mo-­ong, akan tetapi Sam Mo-ong adalah guru-guru kami bertiga. Orang-orang menyebutku Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan), dan aku murid mendiang suhu Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa)."

"Dan aku disebut Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih), guruku adalah mendiang Siauw-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Tertawa)," kata orang yang bertubuh tinggi kurus muka putih kapur dengan mulut mewek-mewek seperti hendak menangis. Sungguh aneh orang yang mukanya seperti selalu menangis ini dapat menjadi murid Raja Iblis Muka Tertawa yang selalu tertawa itu.
"Mendiang guruku adalah Hek-bin Mo-ong dan untuk menghormati beliau, maka aku pun menggunakan nama julukan guruku itu!" kata yang gendut bermuka hitam arang.
"Omitohud, sekarang pinceng mulai mengerti. Ternyata sam-wi adalah murid-murid Sam Mo-ong,” kata Kong Hwi Hosiang sambil mengangguk-angguk.

Diam-diam hwesio ini merasa terkejut dan heran. Kalau dia tidak salah ingat akan cerita muridnya, dua orang aneh yang pernah menyerang muridnya itu agaknya adalah Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong, yaitu dua orang di antara mereka bertiga ini. Dan mereka semua mengaku murid-murid Sam Mo-ong. Akan tetapi kenapa ilmu kepandaian mereka begitu hebat bahkan melebihi tingkat Sam Mo-ong yang pernah dikenal kepandaiannya?!

"Hwesio tua, siapakah engkau dan apakah engkau ketua kelenteng ini?" tanya Kwi-jiauw Lo-mo.

Kong Hwi Hosiang tidak mau memperkenalkan namanya sebab bagaimana pun namanya sudah dikenal di dunia persilatan dan dia tidak ingin dikenal oleh tiga orang ini.

"Pinceng memang pengurus kelenteng ini bersama dua orang saudara pinceng ini. Kami bertiga adalah pengurus kelenteng ini. Akan tetapi, ada keperluan apakah sam-wi datang berkunjung?"

"Hwesio tua, kami bertiga sedang membutuhkan kelenteng ini, maka kami harap kalian bertiga suka pergi meninggalkan kelenteng ini. Kami memerlukan tempat, dan kelenteng ini memenuhi syarat," kata Kwi-jiauw Lo-mo tanpa sungkan­-sungkan lagi.

Cun Hwesio dan Kun Hwesio mengerutkan alis, akan tetapi Kong Hwi Hosiang bersikap tenang dan tetap sabar.

"Tiga orang sahabat yang baik, bila kalian bertiga hendak tinggal di kelenteng ini sebagai tamu kami, silakan. Di bagian belakang masih terdapat kamar-kamar yang boleh sam-wi tempati. Kami selalu menerima tamu dengan hati dan tangan terbuka."
"Hemm, kami tidak ingin menjadi tamu, melainkan ingin mengambil kelenteng ini sebagai tempat tinggal kami. Kalian bertiga harus pergi dari sini, sekarang juga!"
"Omitohud…! Kenapa sam-wi bersikap begini? Kelenteng ini bukan milik kami, melainkan milik penduduk dusun Libun, kami bertiga hanya sekedar menjadi pengurus kelenteng."

"Hwesio tua, karena melihat kalian adalah kaum hwesio maka kami masih berlaku ramah dan lembut, dan dengan baik­-baik meminta kalian pergi. Apakah kalian menghendaki kami bersikap keras dan melempar kalian bertiga keluar dari tempat ini?!" bentak Pek-bin Mo-ong yang selalu berwajah muram.
"Omitohud, kiranya kalian ini bukan hanya manusia-­manusia yang mempergunakan nama julukan iblis, namun iblis sendiri yang menyamar sebagai manusia. Jahat sekali!" bentak Cun Hwesio yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Pek-bin Mo-ong. Sementara itu, Kun Hwesio yang juga sudah merasa penasaran sekali, diam-diam mengerahkan kekuatan sihirnya sambil melangkah maju.

"Hei, kalian bertiga murid Sam Mo-ong!" teriakan Kun Hwesio melengking penuh wibawa, membuat tiga orang itu mau tidak mau terpaksa menengok dan memandang kepadanya. Kun Hwesio menggerakkan dua tangannya ke atas kemudian dihadapkan kepada mereka sambil berseru lagi, kini suaranya menggetar kuat,
"Kalian bertiga berlututlah!”

Terjadilah keanehan. Tiga orang yang tadinya bersikap bengis dan galak itu, tiba-tiba saja menekuk kedua lutut kaki mereka dan mereka berlutut menghadap Kun Hwesio! Biar pun mereka bertiga kelihatan terkejut dan heran, terbelalak, namun mereka tetap saja berlutut dengan sikap hormat.

Kalau saja Kong Hwi Hosiang dan kedua orang pembantunya ini merupakan orang-orang yang mencari kemenangan, ketika tiga orang itu sedang berlutut, tentu akan mudah sekali untuk menyerang dan merobohkan mereka. Akan tetapi Kong Hwi Hosiang dan dua orang pembantunya adalah tiga orang pendeta yang menaati hukum agama mereka.

Mereka memang tidak meninggalkan kewajiban membela diri, namun mereka sama sekali tidak berani melanggar pantangan membunuh. Membunuh hewan pun mereka pantang, apa lagi membunuh manusia.

Di samping hukum agama, juga mereka tidak mau melanggar hukum tak tertulis dari para pendekar yang pantang menyerang lawan yang tidak dapat melawan. Melihat betapa tiga orang itu berada di bawah pengaruh kekuatan sihir dari Kun Hwesio, Kong Hwi Hosiang laIu berkata lembut.

"Nah, harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami lagi."

Akan tetapi tiga orang datuk itu sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi dan mereka pun memiliki sinkang (tenaga sakti) yang sangat kuat. Kalau tadi mereka dapat dipengaruhi kekuatan sihir Kun Hwesio, hal itu adalah karena mereka sama sekali tidak menyangka dan mereka tidak bersiap menyambut serangan kekuatan sihir itu. Maka hanya sebentar mereka terpengaruh dan ucapan lembut Kong Hwi Hosiang sudah menyadarkan mereka kembali.

Hek-bin Mo-ong yang bertubuh gendut dan mukanya hitam masih berlutut, tetapi matanya terangkat ke atas dan dia melirik ke arah Kun Hwesio yang tadi membentak agar mereka berlutut. Dia tahu bahwa hwesio itulah yang menyerang dengan sihir, maka tiba tiba saja kedua tangannya yang pendek besar itu didorongkan ke arah Kun Hwesio kemudian dia mengeluarkan bentakan nyaring.

"Hyaaaaahhhh...!"

Pada detik berikutnya Kwi-jiauw Lo-mo telah meloncat dan menyerang Kong Hwi Hosiang dengan senjatanya yang sungguh menyeramkan, yaitu sepasang cakar setan yang telah disambungkan dengan kedua tangannya, ada pun Pek-bin Mo-ong juga sudah menyerang Cun Hwesio. Tentu saja kedua orang hwesio itu tidak sempat menolong Kun Hwesio yang diserang oleh si muka hitam.

"Desss…!"

Tubuh Kun Hwesio terlempar ke belakang ketika terkena hantaman kedua telapak tangan Hek-bin Mo-­ong. Dalam hal iImu silat memang dua orang hwesio pembantu itu kalah jauh dibandingkan para penyerang itu yang kesemuanya adalah datuk-datuk sesat yang tentu saja amat lihai. Begitu terkena hantaman dua tangan Hek-bin Mo-ong, tubuh Kun Hwesio langsung terbanting keras dan tubuh itu kini menggigil kedinginan, lalu tubuh itu menjadi kaku dan dia pun tewas seketika karena darah di tubuhnya menjadi beku!

Tidak seperti Kun Hwesio, Cun Hwesio yang ahli ginkang tidak mudah dirobohkan Pek-bin Mo-ong. Biar pun si kurus muka putih kapur itu menghujankan serangan, namun dengan lincah sekali Cun Hwesio dapat berloncatan ke sana sini dan selalu dapat menghindarkan diri dari semua serangan itu! Tubuhnya bagaikan seekor burung walet saja, gerakannya amat ringan dan cepat berkelebatan sehingga mengejutkan Pek-bin Mo-ong yang mengira bahwa lawannya ini mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Kalau melihat ginkang-nya, tentu hwesio ini jauh lebih lihai darinya.

Akan tetapi, sesudah diserang bertubi-tubi tetapi Cun Hwesio hanya mengelak saja tanpa pernah menangkis apa lagi balas menyerang, Pek-bin Mo-ong pun dapat menduga bahwa hwesio ini hanya seorang ahli ginkang saja akan tetapi bukan ahli silat tinggi. Maka dia pun menyerang terus dengan gencarnya.

Yang mampu mengimbangi serangan lawan hanyalah Kong Hwi Hosiang. Dengan tongkat bambunya hwesio tua renta ini ternyata masih tangguh bukan kepalang. Ilmu tongkatnya Hong-in Sin-pang membuat sepasang cakar setan di tangan Kwi-jiauw Lo-mo tak pernah berhasil mengenai sasaran, bahkan hwesio tua itu juga membalas tak kalah dahsyatnya sehingga membuat Kwi­-jiauw Lo-mo harus berhati-hati.

Tak disangkanya bahwa hwesio tua itu demikian lihainya. Kalau saja dia tahu bahwa yang dilawannya adalah Kong Hwi Hosiang, tentu dia tidak akan merasa heran dan tidak berani memandang rendah.

Hek-bin Mo-ong tertawa melihat lawannya yang pandai sihir tadi sudah tewas sedemikian mudahnya di tangannya. Dia melihat betapa lawan Pek-bin Mo-ong memiliki ginkang yang istimewa, akan tetapi dia pun tidak bodoh. Melihat hwesio itu hanya berloncatan ke sana sini tanpa membalas, dia pun bisa menduga bahwa hwesio itu hanya pandai ginkang saja tetapi tidak memiliki ilmu silat yang bisa membahayakan rekannya. Sebaliknya dia melihat Kwi-jiauw Lo-mo agak kerepotan menghadapi Kong Hwi Hosiang, maka dia pun meloncat ke depan membantu rekan ini mengeroyok Kong Hwi Hosiang..

Tentu saja Kong Hwi Hosiang menjadi semakin repot. Melawan Kwi­-jiauw Lo-mo saja, dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbanginya, apa lagi dikeroyok oleh Hek-bin Mo­-ong yang memiliki kepandaian setingkat dengan datuk pertama itu.

Dia sudah tua, tenaganya telah banyak berkurang dan napasnya juga sudah tidak setahan dahulu. Namun hwesio tua ini memang hebat. Karena ilmu kepandaiannya sudah matang, sudah mendarah daging, biar pun dikeroyok dua orang datuk yang demikian tangguhnya, dia masih mampu membela diri. Tongkatnya yang berbentuk ular kuning dari bambu yang khas itu selalu dapat menangkis sepasang cakar setan milik Kwi-jiauw Lo-mo dan pukulan tangan dingin Hek-bin Mo-ong.

Sampai belasan jurus Cun Hwesio masih mampu menghindarkan diri dari serangan Pek-bin Mo-ong yang bertubi-tubi. Karena serangannya selalu luput, Pek-bin Mo-ong merasa penasaran sekali sehingga dia memperhebat serangan pukulan yang berhawa panas itu.

Akan tetapi, ketika melihat betapa Kun Hwesio telah tewas sedangkan Kong Hwi Hosiang dikeroyok dua dan keadaannya juga terdesak, maka Cun Hwesio merasa khawatir sekali. Kegelisahannya ini, ditambah lagi kini dia memecah perhatian untuk melihat ke arah Kong Hwi Hosiang, membuat Cun Hwesio kurang waspada dan lambungnya terkena sambaran pukulan Pek-bin Mo-ong.

“Plakkk!"

Sekali saja terkena pukulan ampuh itu pada lambungnya, Cun Hwesio segera terpelanting dan roboh berkelojotan sebentar, lalu tewas dengan tubuh kehitaman seperti terbakar!.

Pek-bin Mo-ong tidak lagi mempedulikan lawan yang dia yakin tentu telah tewas. Dia lalu menoleh ke arah rekan-rekannya dan mendengus marah melihat betapa dua rekan yang mengeroyok hwesio itu masih juga belum mampu merobohkannya. Dia pun meloncat dan dengan bentakan nyaring dia pun terjun ke dalam perkelahian, ikut mengeroyok Kong Hwi Hosiang!

Kong Hwi Hosiang mencoba untuk melawan sekuatnya, namun dia sudah tua dan tingkat kepandaian tiga orang itu tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya, maka dikeroyok tiga, tentu saja dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sebuah tamparan tangan beracun dingin dari Hek-bin Mo-ong segera mengenai punggungnya.

Dia terhuyung dan menggigil kedinginan, kemudian datang pukulan Pek-bin Mo-ong yang berhawa panas. Selagi Kong Hwi Hosiang terhuyung, cakaran tangan kiri Kwi-jiauw Lo-mo mengenai dadanya sehingga hwesio tua itu pun roboh dan tidak bergerak lagi, mukanya hitam keracunan dan dia pun tewas seketika.

Tiga orang datuk itu memeriksa ketiga hwesio dan sesudah merasa yakin bahwa mereka telah tewas semua, mereka lalu menyerbu ke dalam kelenteng mencari kalau-kalau masih terdapat penghuni kelenteng yang lain. Akan tetapi ternyata di dalam kelenteng itu tidak ada orang lain lagi.

"Hemmm, di mana Seng Gun?" tiba- tiba Kwi-jiauw Lo-mo bertanya kepada kedua orang rekannya.
"Bukankah tadi dia naik ke puncak?! " kata Pek-bin Mo-ong.
"Pemandangan alam di sini sangat indahnya, tentu dia pergi berjalan-jalan. Biar aku yang pergi mencarinya!" kata Hek-bin Mo-ong.

Ketika Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk, Hek-bin Mo-ong tertawa lalu tubuhnya yang gendut bundar itu seperti menggelinding pergi dengan cepat sekali.

Dewa maut berpesta pora di pekarangan kelenteng itu dan mengambil korban nyawa tiga orang hwesio yang selama ini hidup tenteram penuh damai. Pekerjaan mereka hanyalah berdoa dan menolong para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah Itu, tetapi mengapa mereka bertiga mengalami nasib sedemikian buruknya?.

Sejak jaman dulu orang selalu bertanya-tanya tentang kenyataan ini, yaitu bahwa betapa banyaknya manusia yang semasa hidupnya nampak begitu baik hati, dermawan, selalu menolong sesamanya, juga rajin beribadat, namun kenyataannya tertimpa mala petaka. Malah banyak pula yang tewas secara menyedihkan, baik melalui kecelakaan yang amat mengerikan, bencana alam, atau juga dibunuh orang.

Banyak orang yang hidupnya nampak baik dan saleh, semua orang menganggap bahwa dia seorang budiman, namun hidupnya miskin, berpenyakitan, dan tertimpa mala petaka pula sehingga mengalami kematian yang menyedihkan. Namun sebaliknya, banyak pula orang yang pada umumnya dianggap jahat, kejam, kikir, tidak pernah menolong sesama, bahkan mengingkari Tuhan, tapi hidupnya nampak bergelimang kekayaan, selalu terlihat senang dan bahkan berumur panjang!

Kenyataan ini merupakan salah satu di antara rahasia-rahasia kehidupan yang tak dapat dimengerti manusia, meski banyak yang mencoba untuk mengungkap rahasia ini dengan berbagai teori dan dalih.

Ada yang menganggap bahwa hal itu merupakan hukum karma atau hukum sebab akibat atau hukum menanggung akibat perbuatan sendiri, memetik buah dari pohon yang sudah ditanamnya sendiri. Tanaman pohon ini mungkin dilakukan dalam kehidupan masa silam, atau ditanam oleh orang tua, nenek moyang dan selanjutnya. Ada pula yang berpendapat bahwa semua keadaan yang tidak menyenangkan itu adalah perbuatan setan yang selalu berusaha untuk menyengsarakan manusia.

Namun semua itu hanyalah anggapan dan perkiraan belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Hati akal pikiran manusia terlampau terbatas untuk dapat mengungkap pekerjaan Tuhan yang maha besar dan maha rumit.

Ada orang berpendapat bahwa segala yang menyengsarakan manusia adalah pekerjaan setan yang selalu ingin menyengsarakan manusia. Benarkah pendapat ini? Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin karena bukankah penyakit disebabkan kuman-kuman, dan kuman adalah makhluk hidup yang berarti ciptaan Tuhan pula? Kalau Tuhan Maha Pencipta, berarti bahwa semua kuman serta apa saja yang dapat menyebabkan manusia sakit, baik itu hewan mau pun tanaman, adalah ciptaan Tuhan. Berarti bahwa semua yang menimpa manusia dapat terjadi kalau sudah dikehendaki Tuhan.

Benarkah ini? Tidak ada yang akan dapat menjawab, karena semua jawaban pun, seperti semua perkiraan tadi, hanya merupakan pendapat belaka, hanya perkiraan yang tak akan dapat dibuktikan. Pengertian manusia amat terbatas, hanya terbatas untuk melayani dan mencukupi kebutuhan manusia hidup di dunia saja, maka alat berupa hati akal pikiran tidak dapat kita pergunakan untuk menguak dan menjenguk rahasia yang lebih dari pada kebutuhan kita.

Pendapat kita, betapa pun indah mengemukakannya, betapa pun kuat alasan-alasannya, tetap saja hanya berupa pendapat. Dan pendapat itu sudah pasti dilandasi perhitungan untung rugi.

Kita mengutuk binatang ular, terutama yang berbisa, sebagai makhluk yang paling jahat, bahkan alat setan, kita kutuk dan kita menasehati anak cucu kita untuk memusuhinya dan membunuhnya setiap kali melihatnya. Namun sesudah kini diketahui kegunaan racun ular untuk pengobatan, bahkan mungkin dapat menyelamatkan nyawa manusia, sesudah kini daging ular dimasak dan dimakan, kulit ular dibuat dompet, tas dan sebagainya, masihkah kita mengumpat dan mengutuk binatang itu?

Semua pendapat memang tak lepas dari pada perhitungan untung rugi bagi kita. Hujan pun akan dianggap baik bila menguntungkan tetapi buruk bila merugikan, demikian pula panasnya matahari dan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan kita…..

********************
Pembantaian yang dilakukan tiga orang datuk murid dari mendiang Sam Mo-ong itu tidak diketahui oleh Han Lin yang sedang mengumpulkan kayu bakar di hutan. Kini dia sudah mengumpulkan dengan cukup dan mengikatnya.

Ketika dia sudah bersiap untuk kembali ke kelenteng, tiba-tiba saja terdengar suara suling ditiup orang. Suara suling itu begitu indah, merdu dan melengking-lengking, tanda bahwa peniupnya sangat ahli. Datangnya suara suling itu dari puncak bukit.

Han Lin tertarik sekali dan segera dia mendaki puncak untuk melihat siapa gerangan yang meniup suling seindah itu. Setahunya, di sekitar situ tidak ada orang yang pandai meniup suling seperti itu. Setelah tiba di puncak, Han Lin pun tertegun.

Dia melihat seorang anak laki-laki remaja yang sebaya dengannya, mengenakan pakaian sutera putih-putih dengan pita rambut warna merah dan ikat pinggang sutera biru, nampak anggun dan tampan sekali, seperti seorang putera bangsawan atau hartawan. Wajahnya bundar dengan hidung mancung besar, matanya lebar dan dia sedang meniup sebatang suling perak yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Pantas saja suara suling itu begitu nyaring melengking, tidak lembut seperti suara suling bambu, pikir Han Lin. Dia sendiri senang meniup suling, dan dia sudah mahir pula, akan tetapi biasanya dia meniup sebatang suling bambu. Melihat pun baru sekarang sebatang suling perak seperti yang sedang ditiup pemuda remaja itu. Karena tertarik maka dia pun mendekat. akan tetapi tidak menegurnya karena pemuda itu masih asyik meniup suling.

Sesudah lagu yang dimainkan pemuda itu selesai dan dia menghentikan tiupan sulingnya, barulah Han Lin bertepuk tangan memuji. Pemuda yang tadinya duduk di atas batu itu kini bangkit berdiri kemudian memandang kepada Han Lin. Pemuda itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya yang tampan itu dihias senyum dingin dan pandangan matanya membayangkan ketinggian hati.

"Bagus sekali sobat,” kata Han Lin kagum. “Tiupan sulingmu sungguh bagus dan merdu sekali!”

Sepasang mata yang lebar dan tajam itu mengamati Han Lin mulai dari kepala sampai ke kakinya yang mengenakan sepatu kasar, alisnya berkerut, matanya yang lebar tajam itu nampak tidak senang.

“Tidak pantas engkau menyebut aku sobat, sebut aku kongcu (tuan muda)!” bentaknya.

Han Lin tersenyum. Kiranya di dusun ini ada tuan muda? Akan tetapi sebagai murid Kong Hwi Hosiang yang telah mempelajari banyak kitab tentang filsafat, agama dan tata susila, dia tidak merasa marah, bahkan segera mengangkat tangan di depan memberi hormat.

“Harap kongcu maafkan, maksud saya hendak bersikap ramah. Tiupan suling kongcu tadi memang indah sekali, saya merasa kagum.”
“Hemm, kau bocah dusun, tahu apa tentang musik?”

Han Lin merasa tidak senang. Semua perasaan kagumnya kini mencair oleh sikap yang amat sombong itu. Menurut penuturan kitab yang dibacanya, seorang kun-cu (bijaksana) adalah seorang terpelajar yang tahu tentang sopan santun, menghormati siapa saja, tidak memandang rendah orang lain. Namun dia telah dilatih oleh Kong Hwi Hosiang sehingga memiliki kesabaran yang besar.

“Aku memang tidak tahu banyak tentang musik, akan tetapi kalau hanya suara suling, aku dapat menilainya.”
“Berani engkau mencela tiupan sulingku?” mata itu kini mencorong.
“Maaf, kongcu. Aku tidak mencela tiupan sulingnya, hanya menyayangkan bahwa suling itu terbuat dari perak, bukan suling bambu biasa sehingga sukarlah menilai tinggi rendah keseniannya.”
“Engkau petani busuk, pemuda yang tolol tetapi hendak bicara tentang kesenian? Sudah, pergilah, engkau memuakkan perutku saja!” kata pemuda pesolek itu sambil mengibaskan tangannya seperti orang mengusir seekor anjing saja.

Wajah Han Lin berubah kemerahan. Ini sudah keterlaluan, pikirnya. Pemuda itu bersikap seolah-olah bukit ini menjadi miliknya sehingga boleh mengusir siapa saja dari tempat ini.

“Kongcu, aku penduduk daerah ini sedangkan engkau adalah pendatang baru. Engkau tak berhak mengusirku dari puncak ini. Puncak bukit ini adalah milik semua orang, terutama penduduk daerah ini yang lebih berhak dari pada engkau.”
“Petani busuk keparat! Berani engkau membantah perintahku? Pergi kau sekarang juga, atau…”

Han Lin adalah seorang pemuda remaja. Sesabar-sabarnya, tentu ada batasnya.

“Atau apa? Kalau aku tidak mau pergi, habis engkau mau apa?” tanyanya dengan suara mengandung tantangan. Dia menganggap bahwa yang kini dihadapinya hanyalah seorang bangsawan kaya raya yang sombong dan tinggi hati karena biasa dimanja dan semua kehendaknya selalu dituruti.

Sepasang mata yang lebar itu terbelalak marah dan penasaran, seolah dia tidak percaya ada seorang bocah dusun yang berani bicara seperti itu kepadanya.

“Mau apa? Mau menghancurkan kepalamu dengan sulingku ini!” Pemuda itu lalu memutar sulingnya.

Suling itu hilang bentuknya dan yang nampak hanya segulungan sinar perak saja disertai suara mendengung-dengung, lantas dari gulungan sinar itu tiba-tiba mencuat sinar yang menyambar ke arah kepala Han Lin.

Barulah Han Lin terkejut. Serangan ini luar biasa dan sungguh berbahaya, menunjukkan bahwa pemuda sombong ini bukan orang sembarangan melainkan memiliki ilmu silat yang hebat. Bila sambaran suling itu mengenai kepalanya, bukan tak mungkin kepalanya akan benar-benar hancur seperti yang diancamkan tadi.

Dan alangkah kejamnya pemuda ini, tanpa sebab yang jelas demikian mudah menyerang orang. Bila yang diserangnya benar-benar pemuda dusun yang tidak memiliki kepandaian silat, tentu kepalanya hancur dan akan tewas seketika.

“Aihhh...!” Dia berseru kemudian cepat mengelak ke belakang sehingga sambaran suling itu lewat di depannya.

Akan tetapi elakan Han Lin justru membuat pemuda itu menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang lagi, kini sulingnya menotok ke arah leher, lalu menurun ke dada dan perut! Sungguh merupakan jurus serangan maut yang amat dahsyat. Namun Han Lin juga memperlihatkan kemahirannya. Dengan mudah dia dapat mengelak, ada pun totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping.


Keduanya terkejut karena masing-masing merasa betapa tangan mereka tergetar

”Aha! Kiranya engkau bukan bocah dusun petani busuk biasa! Engkau pandai iImu siIat, keparat!” bentak pemuda itu.

'Dan engkau adalah seorang pemuda sombong yang kejam!” kata Han Lin yang sudah mulai marah.

"Mampuslah!" Pemuda itu membentak dan kembali dia menyerang dengan sulingnya, kini dia menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus maut yang berbahaya karena dia tahu bahwa yang diserangnya bukan bocah dusun sembarangan.
"Engkau patut dihajar!" kata Han Lin dan dia pun mengelak, lalu membalas dengan jurus pukulan dari ilmu silat Pat-kwa-­kun (Silat Segi Delapan).

Namun pemuda itu pun dapat mengelak, lantas dengan marah sekali dia menggerakkan sulingnya sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia bukan hanya memegang sebatang, melainkan belasan batang suling yang menyerang Han Lin bertubi-tubi.

Walau pun Han Lin mampu menghindarkan semua serangan dengan langkah-langkah dari Pat-kwa-kun, namun dia kewalahan juga. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri bergulingan, terus dikejar oleh lawannya. Ketika Han Lin meloncat berdiri lagi, tangannya sudah memegang sebatang ranting kayu dan inilah senjatanya yang istimewa.

Ketika dilatih Hong-in Sin-pang oleh gurunya, memang ia dibiasakan untuk menggunakan segala macam ranting kayu sebagai pengganti tongkat. Ranting atau cabang kayu yang bagaimana pun menjadi senjata ampuh di tangan Han Lin yang sudah menguasai Hong-in Sin-pang cukup baik.

Segera terdengar suara nyaring berulang kali ketika suling bertemu ranting dan sekali ini pemuda itu yang terkejut bukan main. Ranting kayu di tangan bocah dusun itu lihai bukan main, membuat permainan sulingnya menjadi kacau.

”Singg…! Singgg...!"

Beberapa kali pemuda itu meniup dan dari suling peraknya meluncur banyak jarum halus yang menyambar ke arah seluruh tubuh Han Lin. Namun Han Lin yang sudah waspada cepat memutar tongkatnya sambil melompat ke atas sehingga jarum-jarum itu pun runtuh ke atas tanah.

Dari atas tubuh Han Lin menukik turun dan rantingnya bergerak cepat, berhasil menotok pundak pemuda itu yang mengeluarkan seruan kaget lantas terpelanting, Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali dengan muka berubah pucat karena kini dia tahu bahwa lawannya si bocah dusun itu benar-benar lihai bukan main.

Selagi dengan rantingnya Han Lin menyambut serangan suling yang semakin ganas itu, pada saat itu pula muncul angin dahsyat menyambar. Han Lin meloncat untuk mengelak dari serangan gelap yang dilakukan orang dari arah belakangnya itu, namun terlambat.

Serangan itu dahsyat dan cepat bukan kepalang sehingga punggung pemuda ini terkena sambaran hawa yang dingin sekali. Han Lin langsung roboh terjengkang dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya sudah ditotok orang dan dia pun tak mampu bergerak lagi!

Begitu melihat Han Lin tidak mampu bergerak lagi, pemuda yang memegang suling cepat menggerakkan sulingnya menghantam ke arah kepala Han Lin. Pemuda ini tidak mampu bergerak, maka dia pun hanya dapat memandang dengan sepasang mata melotot, siap menghadapi kematian. Dia sudah digembleng matang oleh Kong Hwi Hosiang sehingga tidak gentar menghadapi kematian yang dengan penuh keyakinan dikatakan gurunya itu bahwa kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan di dunia ini.....

"PIakk!”

Suling itu terpental dan hampir terlepas dari tangan pemuda itu ketika tertangkis ujung lengan baju Hek-­bin Mo-ong. Kiranya Hek-bin Mo-ong yang tadi datang dan merobohkan Han Lin dan kakek gendut muka hitam arang ini yang mencegah si pemuda membunuh Han Lin.

"Susiok Hek-bin (Paman Guru Muka Hitam), mengapa engkau mencegah aku membunuh jahanam dusun ini?" Pemuda itu bertanya penuh penasaran.
"Seng Gun, bagaimana pun juga golongan kita pantang membunuh orang yang sudah tak berdaya seperti pemuda dusun ini. Lagi pula dia masih kita perlukan. Kau kira siapa yang akan menjadi pelayan kita untuk menjamu para tamu nanti? Siapa yang akan mencarikan tenaga pelayan dan mencarikan semua keperluan kita?"

"Hek-bin Susiok, apakah kita telah mendapatkan tempat yang baik untuk..."
"Sudah, mari kita pergi, ayahmu dan Pek-bin Susiok telah menunggu di sana," kata pula Hek-bin Mo-ong.

Kemudian Hek­-bin Mo-ong memandang kepada Han Lin. Semenjak tadi pemuda ini telah mengenalnya. Seorang di antara dua orang aneh yang pernah memukulnya tujuh delapan tahun yang lalu, pikirnya. Dan orang itu tadi menyebut-nyebut nama Pek-bin Susiok untuk pemuda itu, tentu yang dimaksudkan orang bermuka putih kapur itu. Ternyata pemuda ini adalah murid keponakannya.

"Susiok, pemuda ini cukup Iihai, dia akan membahayakan kita kalau tidak dibunuh," kata Seng Gun.

Pemuda ini memang cerdik sekali. Namanya Tong Seng Gun dan dia adalah putera dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui, datuk tertua di antara tiga datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu.

"Tentu saja dia mempunyai sedikit kepandaian karena dia tentulah murid hwesio pengurus kelenteng di bawah puncak itu. Bukankah benar begitu, orang muda?"

Di dalam hatinya Han Lin marah sekali kepada mereka ini dan tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat sekali. Akan tetapi dia teringat akan semua nasehat gurunya. Dia harus mengetahui keadaan dan bertindak sesuai dengan keadaan itu, demikian antara lain nasehat gurunya.

Seorang pendekar haruslah tabah dan berani, akan tetapi bukan berani secara nekat saja, melainkan berani dengan perhitungan. Nekat melawan secara membuta dan mati konyol bukanlah keberanian namanya, melainkan kebodohan.

Dan sekarang dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tidak akan mampu dia kalahkan. Berusaha menyelamatkan diri dalam keadaan seperti saat ini bukan merupakan suatu tindakan pengecut, melainkan suatu kecerdikan dan tahu diri.

"Benar, locianpwe. Memang Kong Hwi Hosiang adalah guruku," jawabnya, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, juga tidak membayangkan kemarahan. Akan tetapi dia merasa heran juga melihat betapa orang gendut muka hitam arang itu menjadi terkejut mendengar jawabannya.
"Kong Hwi Hosiang, katamu? Aha, jadi dia adalah Kong Hwi Hosiang yang amat terkenal itu? Pantas dia lihai, sayang sudah tua renta, ha-ha-ha! Siapakah namamu?"
"Namaku Han Lin," kata Han Lin sejujurnya. Hatinya berdebar tegang mendengar ucapan si muka hitam ini tentang gurunya.
”Nah, Han Lin, engkau belum bosan hidup, bukan? MuIai sekarang engkau harus menaati perintah kami dan tidak melawan, dan kami tak akan membunuhmu. Bangunlah.”

Tangan Hek-bin Mo-ong menyambar ke arah pundaknya sehingga Han Lin mengeluarkan seruan tertahan. Rasa nyeri yang amat sangat menusuk pundaknya. Kini dia sudah dapat bergerak, akan tetapi perasaan nyeri di pundaknya itu seperti menembus ke jantungnya. Dia memejamkan matanya dan seperti dalam mimpi mendengar suara Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha, Han Lin. Pukulanku tadi adalah pukulan yang memasukkan hawa beracun ke dalam tubuhmu. Engkau sudah keracunan dan kalau tidak kuberi obat, maka dalam waktu sebulan engkau akan mati! Kalau engkau bersikap baik, mau menaati semua perintahku, sebelum sebulan tentu engkau akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau engkau melarikan diri atau membangkang, maka engkau akan kubunuh. Kalau engkau dapat lolos sekali pun, tentu engkau akan mati karena selain aku, tidak akan ada orang yang mampu mengobatimu sampai sembuh."

Akan tetapi dari bawah pusar muncul hawa yang hangat di perut Han Lin dan sebentar saja rasa nyeri di pundaknya itu lenyap. Han Lin adalah seorang yang sangat cerdik. Dia sudah mendengar keterangan gurunya bahwa tubuhnya kebal terhadap racun, maka dia pun tahu kalau hawa beracun itu hanya sebentar saja mempengaruhinya. Akan tetapi dia pura-pura masih kesakitan, masih menyeringai kesakitan.

"Aku... aku akan taat," katanya lirih.

Bagi dia, bahaya yang mengancam bukan datang dari hawa beracun dalam tubuhnya itu, melainkan dari orang-orang jahat ini. Sekali dapat meloloskan diri, tentu dia akan selamat. Yang penting dia harus menunjukkan ketaatan agar dipercaya, karena dia pun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan orang-orang jahat yang aneh ini.

“Han Lin, hayo kau ikut kami ke kelenteng,” kata Hek-bin Mo-ong.

Han Lin mengangguk, lalu mengikuti mereka kembali ke kelenteng. Hatinya terasa tidak enak dan berdebar tegang. Apa yang telah terjadi dengan suhu-nya?

Begitu mereka sampai di depan kelenteng dan memasuki pekarangan, Han Lin terbelalak melihat Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio serta Kun Hwesio sudah menggeletak menjadi mayat, berserakan di pekarangan itu.

"Suhu…!" Dia berlari menubruk jenazah suhu-nya.
"Suhu...! Cun Suhu…! Kun Suhu…!" Dia meratap dan menangis.
"He-heh-heh, Han Lin, hentikan tangismu. Engkau seperti anak perempuan yang cengeng saja. Bila engkau tidak menaati kami, maka engkau pun akan segera menyusul mereka!" kata Seng Gun.

Han Lin mengepal tinju dan harus menekan gerahamnya supaya jangan sampai terdorong menjadi nekad oleh kemarahan dan dendam. Tidak, pikirnya. Sekarang bukan waktunya untuk melawan mereka. Pasti dia akan kalah. Amukannya tidak akan ada gunanya, sama saja dengan bunuh diri.

Tiga orang hwesio itu sudah dibunuh mereka, hal ini saja membuktikan bahwa mereka adalah lawan yang sangat tangguh. Dia bukan takut melawan mereka, bukan takut mati, hanya tidak ingin mati konyol dan sia-sia. Dia harus memperkuat dirinya agar kelak dapat menentang kejahatan yang luar biasa kejamnya ini.

"Cukup, Han Lin. Tak perlu banyak menangis lagi. Sekarang angkatlah ketiga jenazah itu dan bawa ke kebun belakang. Kita kubur mereka di sana," kata Hek-bin Mo-ong dan pada saat itu pula muncullah Pek-bin Mo-ong yang segera dikenal oleh Han Lin.

Orang yang kurus tinggi bermuka putih kapur itu adalah orang kedua yang dahulu pernah menyerangnya bersama Hek-bin Mo-ong. Yang seorang lagi, lebih tua dan juga tubuhnya pendek gendut seperti katak, tidak dikenalnya, akan tetapi melihat sikapnya, agaknya dia menjadi pimpinan mereka berempat. Dia pun dapat menduga bahwa Seng Gun tentulah putera dari si katak gendut itu.

”Hemm, siapakah bocah itu dan mengapa engkau bawa dia ke sini, Hek-bin sute?" tanya Kwi-jiauw Lo-mo sambil mengerutkan alisnya.

Mereka mempunyai tugas rahasia yang penting, maka sungguh bodoh kalau sute-nya itu membawa seorang pemuda asing ke situ.

"Ayah, tadi aku sudah ingin membunuh bocah ini, tapi Hek-bin Susiok melarangku," kata Seng Gun kepada ayahnya. Dari sikap ini saja telah menunjukkan bahwa dia seorang anak yang manja dan terlampau mengandalkan ayahnya sehingga dia tidak menghormati susiok-nya.
"Twa-suheng (Kakak seperguruan yang tertua)," kata Hek-bin Mo­-ong sambil tersenyum menyeringai. "Dia adalah murid hwesio tua itu dan tahukah twa-suheng siapa hwesio tua yang baru saja tewas di tangan kita ini? Dia adalah Kong Hwi Hosiang!”
”Ahhhh…!" Kwi-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong mengeluarkan seruan kaget.
"Kalau begitu, lebih perlu lagi anak itu harus segera dibunuh!” kata Kwi-jiauw Lo-mo yang merasa jeri juga setelah mendengar bahwa korban mereka adalah Kong Hwi Hosiang yang mempunyai hubungan luas dan nama besar di dunia persilatan. Dia khawatir kalau banyak pendekar akan membela kematian tokoh itu.

Hek-bin Mo-ong tertawa. ”Ha-ha-ha, jangan khawatir. Dia sudah kupukul dengan pukulan beracun. Jika dia membangkang dan melawan maka dia akan mati keracunan. Kita dapat mempergunakan dia untuk keperluan kita di sini, twa-­suheng.”

Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk-angguk. ”Baiklah, tetapi engkaulah yang bertanggung jawab untuk mengawasi dia, Hek-bin sute."

Han Lin tidak mempedulikan mereka lagi, tidak mempedulikan apa-apa kecuali mengurus jenazah tiga orang hwesio itu. Mula-mula dia memondong jenazah Kong Hwi Hosiang dan sambil terisak-isak dia membawa jenazah itu ke dalam kelenteng, terus menuju ke kebun belakang seperti yang diperintahkan oleh Hek-bin Mo-ong.

Tanpa banyak cakap dia pun menggali tiga buah lubang, ditonton dan dijaga oleh Hek-bin Mo-ong dan Tong Seng Gun yang tidak mau membantunya sama sekali. Akan tetapi Han Lin justru merasa lebih senang kalau tidak dibantu mereka. Sebaiknya dia sendiri, dengan kedua tangannya sendiri yang menggali lubang kuburan untuk tiga orang hwesio itu, tidak dikotori tangan orang-orang jahat itu.

Tanpa mengenal lelah dia menggali lubang. Kadang-kadang dengan sengaja dia merintih seperti menahan sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan kedua orang itu yang mengira bahwa dia masih dipengaruhi hawa beracun akibat pukulan Hek-bin Mo-ong tadi. Akhirnya dia mengubur tiga jenazah itu dan setelah menguruk lubang-lubang itu dengan tanah, dia lalu berlutut sampai lama di depan kuburan gurunya.

"Sudah, cukup! Hayo ikut dengan kami ke kelenteng. Engkau harus membuat makanan untuk kami berempat,” kata Hek-bin Mo-ong. "Setelah itu kau carikan tenaga bantuan dari dusun di bawah sana sebanyak lima hingga sepuluh orang. Malam ini kita akan menerima beberapa orang tamu penting di kelenteng!"

Han Lin tidak menjawab, akan tetapi dia pun menurut saja, memberi hormat untuk yang penghabisan kepada makam gurunya lalu dia bangkit dan mengikuti dua orang itu kembali ke kelenteng.

Ketika mereka memasuki kelenteng dari pintu belakang, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Han Lin mendengar suara gaduh di ruangan depan, dan terdengar pula suara Liu Ma! Sebelum melihat mereka Han Lin dapat menduga bahwa tentu ibunya itu bersama beberapa penduduk dusun Libun, datang ke kelenteng untuk bersembahyang seperti yang kadang mereka lakukan pada hari-hari tertentu. Dia pun bergegas menuju ke ruang depan dan di situ memang sedang terjadi keributan.

"Siapakah kalian?” terdengar suara Ibunya berkata dan agaknya sembilan orang penghuni dusun itu tadi bercekcok dengan Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo.
"Kelenteng ini adalah milik kami penduduk dusun. Sekarang kami ingin bersembahyang, mengapa kalian melarang dan menghalangi? Biarkan kami bertemu dengan losuhu, kami hendak bicara dengan dia!”

Ucapan ini dibenarkan oleh yang lain sehingga suasana kembali menjadi gaduh. Melihat betapa di antara para pendatang itu ada seorang wanita muda yang cukup manis, Hek-bin Mo-ong lalu cepat-cepat menghampiri mereka dan dengan mukanya yang selalu tertawa lebar itu dia bertanya,

"Heii, ada apa sih ribut-ribut ini?” Dia menoleh kepada kedua orang rekannya dan berkata, "Sungguh kebetulan sekali. Kita sedang membutuhkan bantuan tenaga, dan kini mereka datang secara suka rela! Dan nona manis ini dapat menemaniku minum arak. He-he-heh!” Sesudah berkata demikian, sekali menggerakkan tangan kirinya, tubuh wanita itu seperti terbetot dan tahu-tahu telah terhuyung ke arah Hek-bin Mo-­ong kemudian dirangkulnya!

Wanita muda itu menjerit-jerit dan meronta hendak melepaskan diri, menggunakan kedua tangannya untuk memukul dan mencakar ketika sambil terkekeh-kekeh Hek-bin Mo-ong mendekatkan mukanya hendak menciuminya begitu saja di depan banyak orang! Melihat ini Liu Ma menjadi marah sekali dan dia pun telah mendekati si gendut bundar muka hitam itu.

"Engkau ini laki-laki biadab dan jahat! Lepaskan wanita ini! Dia sudah mempunyai suami, lepaskan!"

Liu Ma hendak menarik lepas wanita muda itu, dan teman-temannya yang tadinya gentar menjadi berani. Mereka pun mendekati Hek-bin Mo-ong untuk memaksanya melepaskan wanita muda yang dirangkulnya itu.

Melihat kenekatan ibunya, Han Lin terbelalak dengan wajah pucat karena dia tahu bahwa ibunya sedang terancam bahaya maut karena berani menentang Hek-bin Mo-ong seperti itu. Maka dia pun cepat melompat mendekati ibunya.

"Ibu, jangan...!” Dan dia menyambar tubuh ibunya lantas dipondongnya tubuh Liu Ma dan dibawanya keluar dari kelenteng itu. Ia harus menyelamatkan ibunya, harus membawanya lari jauh-jauh dari manusia-manusia berwatak iblis itu.

Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya sehingga semua orang tertegun. Tiga orang datuk itu sendiri tidak menyangka bahwa Han Lin akan berani melarikan wanita Itu.

"Hek-bin, mereka adalah tanggung jawabmu!" kata Kwi-jiauw Lo-mo marah.

Mendengar ini Hek-bin Mo-ong segera melepaskan wanita muda yang dirangkulnya tadi dan dia pun melakukan pengejaran keluar kelenteng, diikuti pula oleh Seng Gun yang juga merasa penasaran melihat perbuatan Han Lin tadi.

Han Lin maklum bahwa ibunya terancam bahaya maut, hanya itu saja yang dia perhatikan maka dia harus dapat mengajak ibunya melarikan diri. Sesudah tiba di luar kelenteng dia baru menurunkan ibunya yang berkeras minta diturunkan.

"Han Lin, apa-apaan engkau ini? Kenapa engkau?"
"Nanti saja penjelasannya, ibu, sekarang kita harus melarikan diri. Hayo cepat, bahaya maut sedang mengancam kita," katanya.

Lalu dia menggandeng tangan ibunya, diajak lari sekuatnya melalui kebun dan memasuki hutan yang berada di dekat situ. Dia sudah hafal dengan keadaan di sana, maka dia tidak mengambil jalan umum, melainkan menerobos semak-semak dan hutan sehingga Liu Ma beberapa kali mengaduh dan mengeluh karena kakinya tertusuk duri semak belukar.

"Han Lin, berhenti kau, keparat!" terdengar teriakan di belakang mereka. Itu adalah suara Seng Gun yang sudah dekat di belakang, kemudian disusul suara tawa Hek-bin Mo-ong.
"Ha-ha-ha, bocah tolol, engkau hendak lari ke mana?"

Mendengar suara mereka, Liu Ma berbisik kepada anaknya,

"Han Lin, mereka siapa dan mau apa...?"
"Sstttt, ibu, orang-orang jahat itu telah membunuh ketiga suhu."

Liu Ma terbelalak. Mukanya menjadi pucat sekali dan ketakutan hebat membuat wanita ini seperti mendapatkan tenaga baru untuk berlari cepat. Han Lin yang menggandeng tangan ibunya segera menariknya, dan mereka mengambil jalan dekat jurang yang tertutup oleh alang-alang tinggi.

Akan tetapi dengan cepat dua orang pengejarnya itu dapat menyusul dan sekarang sudah berada di belakangnya. Han Lin maklum bahwa tidak mungkin ibunya mampu meloloskan diri, maka dia pun berkata,

"Ibu, cepat ibu menyusup terus, melarikan diri dan bersembunyi, biar aku yang menahan mereka."

Pemuda itu lalu melepaskan tangan ibunya dan segera membalik, memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang secara nekat agar ibunya dapat lolos.

"Han Lin," ibunya berbisik.

"Pergilah, ibu. Dan cepat!"

Pada saat itu Hek-bin Mo-ong telah datang mendekat dan di belakangnya nampak Seng Gun yang tersenyum mengejek.

Han Lin tidak banyak cakap lagi, segera maju menerjang dan menyerang Hek-bin Mo-ong dengan menggunakan sebatang ranting yang tadi telah dipungutnya dalam pelarian untuk dipakai sebagai senjata.

Ilmu tongkat Hong-in Sin-pang yang dikuasai Han Lin memang hebat, bahkan tadi sudah membuat Seng Gun kewalahan. Akan tetapi kepandaiannya itu belum ada artinya untuk menghadapi seorang datuk seperti Hek-bin Mo­-ong. Serangan tongkat Han Lin disambut tangan kiri Hek-bin Mo-ong yang tertawa-tawa.

"Krakkk!"

Ranting itu patah-patah dan sebelum Han Lin dapat menghindar, si gendut muka hitam itu telah menggerakkan tangan kanan sehingga hawa dingin yang amat dahsyat menyambar ke arah Han Lin. Pemuda ini tidak mampu bertahan lagi dan dia pun terlempar kemudian terjungkal ke dalam jurang!

Pada saat itu pula, ketika melihat Han Lin terjungkal ke dalam jurang, Liu Ma yang tidak mau pergi meninggalkan anaknya begitu saja melainkan terus mengintai dari balik ilalang segera berlari keluar dan menuju tepi jurang.

"Han Liiiinnn... anakkuuu...!"

Dan wanita itu pun melompat ke dalam jurang menyusul pemuda yang sangat dikasihinya dan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu. Terdengarlah lengkingan teriakan Liu Ma yang panjang bergema, kemudian terdiam dan disusul kesunyian yang mencekam.

Pek-bin Mo-ong dan Seng Gun menjenguk ke bawah jurang, kemudian mereka tertawa. Mereka yakin sekali bahwa dua orang itu pasti sudah tewas dengan tubuh remuk karena jurang itu amat dalam dan curam. Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke kelenteng…..

********************
Jauh di bawah, di lereng jurang yang curam, Han Lin bergantung pada sebatang pohon. Dia menggigit bibir sambil memejamkan matanya ketika Liu Ma meloncat ke dalam jurang. Air matanya bercucuran melalui kedua pipinya, akan tetapi dia menahan diri agar tidak mengeluarkan suara tangis. Sesudah menunggu agak lama barulah dia menuruni lereng jurang yang curam itu, berpegangan pada batu-batu dan akar-­akar yang menonjol keluar hingga akhirnya dia tiba di dasar jurang.

Dia menubruk tubuh Liu Ma yang sudah menjadi mayat di dasar jurang itu dan menangis. Kadang-kadang dia mengepal tinju, atau mengeluarkan suara geraman penuh kedukaan, kemarahan, sakit hati dan dendam.

Tiga orang hwesio itu telah dibunuh, dan sekarang wanita yang sudah dianggap sebagai pengganti orang tuanya, dibunuh pula. Meski pun dia tahu bahwa ibunya mati membunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, tapi penyebab kematiannya adalah manusia-manusia iblis itu.

Akan tetapi dalam keadaan amarahnya berkobar seperti api itu, terngianglah di telinganya nasehat-nasehat Kong Hwi Hosiang bahwa dendam kebencian dan kemarahan merupakan racun bagi diri sendiri. Dendam kebencian dan kemarahan adalah nafsu yang mendorong orang melakukan perbuatan kejam demi membalas dendam, dan perbuatan yang kejam, yang didasari oleh kebencian, adalah perbuatan jahat. Perbuatan jahat bagian bibit pohon beracun yang kelak buahnya akan dimakan sendiri oleh si pembuat!

"Tidak, aku tidak boleh mendendam… ahh, ibu... ibuuuu..." dia meratap-ratap.

Dengan menggunakan batu yang runcing dia lalu memaksa diri untuk menggali lubang di dasar jurang itu. Dia menguburkan jenazah Liu Ma secara sederhana tapi penuh khidmat, dengan cucuran air mata, kemudian dia berlutut di depan makam yang hanya merupakan segundukan tanah berbatu-batu.

"Liu Ma yang setia, engkau telah menjadi ibu bagiku, ibu yang penuh kasih sayang, penuh kesetiaan, semoga engkau mendapatkan tempat yang layak di sana."

Sesudah penguburan itu selesai barulah dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit. Lengan kanannya nyeri bukan main kalau dia gerakkan, agaknya lengan itu terkilir. Ketika tadi tubuhnya melayang ke bawah jurang, entah bagaimana, kebetulan sekali tangannya mencengkeram ke sana sini lalu tangan kanannya berhasil mencengkeram batang pohon yang tumbuh di lereng tebing jurang sehingga tertahan dan dia selamat. Kini baru terasa betapa lengan kanannya itu agak membengkak dan terasa amat nyeri, terutama di bagian sambungan lengan di pundak.

Pukulan Hek-bin Mo-ong tadi juga masih terasa sehingga membuat dadanya terasa sesak dan dingin. Semua itu ditambah lagi pengerahan tenaganya ketika menggali tanah berbatu di dasar jurang untuk membuat lubang kuburan. Kini dia kehabisan tenaga dan mengeluh panjang, lalu terkulai pingsan di depan gundukan tanah kuburan Liu Ma…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger