logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Si Pedang Terbang Jilid 04


Han Lin merasa seperti melayang di angkasa! Awan berarak di sekelilingnya seperti asap putih yang tebal. Tubuhnya terasa ringan sekali. Setiap ada angin berhembus, tubuhnya hanyut dalam aliran angin itu.

Dan dia mendengar percakapan antara dua suara yang tak nampak orangnya, suara yang kecil dan suara yang parau besar. Begitu jauh bedanya antara kedua suara itu sehingga tanpa melihat si pembicara sekali pun. Han Lin bisa membayangkan bahwa sepantasnya pemilik suara kecil itu seorang yang kurus dan pemilik suara besar adalah seorang yang tinggi gemuk.

Suara kecil itu bertanya, "Tahukah engkau dengan sesungguhnya bahwa segala sesuatu adalah sama saja?"

Suara besar menjawab dengan pertanyaan pula, "Bagaimana saya bisa tahu?"
"Tahukah engkau apa yang engkau tidak tahu?"
"Bagaimana saya bisa tahu?"
"Kalau begitu tidak ada seorang pun tahu?"
"Bagaimana saya bisa tahu?" terdengar pula suara besar, lantas suara Itu melanjutkan, "Bagaimana pun juga akan saya coba menerangkan padamu. Bagaimana dapat diketahui bahwa yang saya katakan tahu itu sesungguhnya tidak tahu, dan apa yang saya katakan tidak tahu itu sebetulnya tahu? Mungkin yang dikatakan salah itu benar, sebaliknya yang dikatakan benar itu salah. Seorang manusia yang tidur di tempat basah akan jatuh sakit dan mati. Akan tetapi bagaimana dengan seekor belut? Dan hidup di atas puncak pohon adalah berbahaya dan menegangkan syaraf. Tetapi bagaimana dengan seekor monyet? Di antara manusia, belut dan monyet itu, tempat tinggal siapakah yang lebih benar dan tepat? Manusia makan daging, rusa makan rumput, burung makan ulat, kucing makan tikus. Dari mereka semua itu, selera manakah yang lebih benar dan tepat? Monyet jantan bergaul dengan monyet betina, rusa jantan dengan rusa betina, belut dengan ikan, ada pun manusia pria mengagumi Dewi Mo Ciang dan Dewi Li Ci, padahal bila melihat kedua wanita ini, ikan-ikan akan menyelam bersembunyi, burung-burung terbang ketakutan dan kijang lari ketakutan pula. Lalu siapa dapat mengatakan yang manakah ukuran kecantikan itu? Saya kira, pelajaran tentang kemanusiaan dan keadilan dan lorong-lorong dari benar dan salah demikian kacau balau sehingga tidak mungkin diselami dan diketahui."

"Kalau begitu, Manusia Sempurna juga tidak tahu akan baik dan buruk?"
"Manusia Sempurna adalah makhluk suci. Bahkan andai kata lautan mendidih, dia takkan merasa kepanasan. Apa bila sungai-sungai membeku dia takkan merasa kedinginan. Apa bila gunung-gunung dibelah halilintar dan lautan-lautan diamuk badai, dia takkan gemetar ketakutan. Maka dia seakan mendaki awan-awan di langit, menggembala matahari dan bulan di depannya, dan melewati batas-batas dari keberadaan duniawi. Mati dan hidup tak lagi menguasai dia. Sama sekali dia tidak lagi mempedulikan untung atau rugi."

Mendengar percakapan antara dua suara kecil dan besar itu, Han Lin tersenyum dan dia pun berkata, "Percakapan antara Yeh Cia dan Wang Yi, pelajaran bagi Mahaguru Juang-ce!"

Sebagai jawaban ucapannya itu, terdengar suara tawa yang aneh.
"Heh-heh-heh-ha-ha-ha-hi-hi-hik…!" Seolah yang tertawa ada beberapa orang.

Suara tawa itu seperti menyentakkan Han Lin ke alam sadar. Seperti orang baru bangun tidur dia menggosok dua matanya, membuka mata lalu bangkit duduk. Dia masih berada di depan gundukan makam Liu Ma, sementara cuaca gelap dan hanya remang-remang diterangi bintang di langit.

Han Lin segera teringat segalanya. Dia pun memutar tubuh dan nampak gundukan tanah kuburan ibu angkatnya, Liu Ma. Lantas teringatlah dia akan peristiwa di kelenteng, betapa tiga orang hwesio telah terbunuh, dan ibu angkatnya juga tewas membunuh diri ke dalam jurang ini karena melihat dia terjerumus ke dalam jurang.

Teringat akan ini, Han Lin lalu menjatuhkan diri bertiarap di depan gundukan tanah itu dan menangis lagi, menangisi kematian Liu Ma yang sudah mengorbankan nyawanya karena amat menyayangnya. Kini terkenanglah semua kebaikan hati Liu Ma yang menyayangnya seperti anak sendiri.

Tiba-tiba kembali terdengar suara tawa aneh tadi, disusul kata-kata yang lembut. "Betapa pun indahnya sangkar emas penuh makanan, burung akan tetap berusaha meloloskan diri. Setelah burung terbang bebas, lepas dari sangkarnya, pantaskah ditangisi?"

Han Lin menghentikan tangisnya, merangkak bangun kemudian membalikkan tubuh. Dia tadi tidak mimpi! Suara kecil berlawanan dengan suara besar, suara tawa aneh itu, tanya jawab seperti dua orang memainkan ajaran Juang-ce, semua itu bukan mimpi!

Dan dia pun meiihat seorang kakek berdiri di depannya! Cuaca memang remang-remang, tetapi entah bagaimana, dia dapat melihat wajah itu dengan jelas sekali. Apakah wajah itu mengandung cahaya sehingga demikian jelas? Dia tidak tahu. Wajah seorang kakek yang tinggi tubuhnya sedang namun agak kurus.

Wajah itu nampak putih kemerahan, matanya bagaikan sepasang bintang, rambut, kumis dan jenggotnya laksana benang sutera putih. Pakaiannya dari kain kasar berwarna putih kekuningan, namun bersih. Sepatunya dari kulit kayu, merupakan pelindung telapak kaki saja.

Sukar menaksir usianya. Bisa saja sudah tua sekali lebih dari seratus tahun, akan tetapi wajah dan terutama matanya seperti masih amat muda. Ketuaannya itu diperkuat dengan adanya sebatang tongkat bambu yang dipegangnya, seolah menjadi penopang tubuhnya.

"Heh-heh-heh, engkau mengenal ajaran Mahaguru Juang-ce, bagus memang, akan tetapi alangkah lebih bagusnya jika engkau tidak hafal akan semua ajaran mahaguru yang mana pun juga."

Tentu saja ucapan yang berlawanan ini membuat Han Lin mengerutkan alisnya. Dia telah duduk bersila menghadap kakek itu, seperti kalau dia sedang menghadap mendiang Kong Hwi Hosiang di kelenteng.

"Maafkan saya, locianpwe. Saya kira pendapat locianpwe tadi amat membingungkan dan berlawanan. Locianpwe mengatakan bagus bahwa saya mengenal ajaran Juang-ce, lalu menambahkan akan lebih bagus kalau saya tidak mengenal semua ajaran."

Kembali kakek itu tertawa, kini suara tawanya sangat lembut. “Memang baik sekali kalau mengenal semua ajaran para bijaksana itu dengan membaca kitabnya, tapi lebih baik lagi kalau hanya sekedar mengenal saja untuk menambah pengertian. Namun semua ujar-ujar dan nasehat yang ribuan banyaknya itu tidak ada manfaatnya kalau hahya dihafal saja."

"Maaf, locianpwe. Bukankah ajaran-ajaran itu bagus sekali untuk dijadikan pedoman hidup kita di dunia? Ajaran-ajaran itu dapat menuntun kita melalui jalan kebenaran dalam hidup, membuat kita mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah."

"Ha-ha-ha, di situlah letak kesalahannya, anak yang baik. Kalau orang menjalani hidup ini disesuaikan dengan ajaran-ajaran itu, melakukan perbuatan yang sesuai dengan petunjuk ajaran, maka kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran bahwa itu merupakan kebaikan bukanlah kebaikan lagi namanya! Perbuatan seperti itu palsu, anakku, karena perbuatan seperti itu hanya merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu, bukan merupakan suatu keadaan yang wajar, yang dengan sendirinya sudah merupakan suatu keadaan sehingga tidak membutuhkan cara untuk mencapainya lagi."

Han Lin menjadi pening tujuh keliling! "Wah, saya tidak mengerti, locianpwe. Apa artinya semua itu? Mohon penjelasan."

"Ini sudah jelas, anak baik. Perbuatan baik yang dilakukan dengan pamrih meraih sesuatu hasil dari perbuatan itu adalah perbuatan palsu, hanya merupakan suatu cara untuk bisa mendapatkan sesuatu. Perbuatan apa pun itu, dinilai baik atau pun buruk, kalau dilakukan karena digerakkan pamrih untuk memperoleh sesuatu hasil, adalah palsu! Munafik, hanya topeng kebaikan untuk mendapat keuntungan, sama seperti harimau bertopeng domba, tidak lebih baik dari pada harimau tanpa topeng. Dan ajaran-ajaran kebaikan itu sering kali menjadi topeng domba bagi harimau-harimau yang berkeliaran."

"Wah, saya menjadi semakin bingung. Bila perbuatan baik menurut ajaran para bijaksana dianggap palsu, lalu yang baik itu bagaimana, locianpwe?" Han Lin mengejar dengan hati penasaran.

Alangkah bedanya pendapat kakek aneh ini dibandingkan ajaran yang pernah dia terima dari Kong Hwi Hosiang. Mendiang gurunya itu selalu mengajarkan bahwa hidup haruslah melalui jalan kebenaran, memupuk kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat. Tapi kakek ini mengatakan bahwa perbuatan baik menurut ajaran adalah palsu dan sama saja dengan perbuatan jahat. Bagaimana ini?

"Kebaikan dan kejahatan itu sama saja, hanya penilaian, seperti siang dan malam, kanan dan kiri, benar dan tidak benar dan selanjutnya. Selama kita dikuasai oleh im-yang (positif negatif) ini, maka biduk kehidupan tak akan pernah merasakan ketenangan, dipermainkan ombak ke kanan dan kiri."

"Tetapi apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini, locianpwe?"
"Lakukan apa saja yang harus kau lakukanl Yang dinamakan kebenaran, kebajikan dan sebagainya itu, sesungguhnya merupakan suatu keadaan batin, tidak dinilai dari kata dan perbuatannya. Selama batin masih dicengkeram oleh nafsu, maka daya-daya rendahlah yang menjadi dasar setiap kata dan perbuatan, karenanya palsu."

"Lalu sikap apa yang harus kita ambil dalam hidup?"
"Lihatlah bulan, bintang, matahari, awan dan seluruh isi alam ini. Mereka semua bergerak, mereka semua bekerja, dan memang demikianlah keharusan dan keadaan mereka. Tidak baik dan tidak buruk, tidak benar dan tidak salah, dan itu adalah karena mereka itu wajar. Bunga mawar berduri dan harum, itulah kewajaran. Bunga anggrek indah dan tidak harum, itulah kewajaran. Wajar itulah indah, wajar itulah kenyataan, wajar itulah To (Jalan, atau Kekuasaan Mutlak). Seyogianya kita menjadi manusia wajar."

"Tapi dari manakah timbulnya rangsangan kejahatan yang membuat manusia melakukan perbuatan kejam dan jahat?"
"Nafsu daya rendahlah yang mendorong manusia melakukan perbuatan yang merugikan sesamanya. Nafsu selalu mendorong, ingin ini, ingin itu, berpamrih demi pemuasan diri, demi kesenangan, karena itu perbuatan yang didorongnya selalu berpamrih. Dan pamrih tetap pamrih, bisa berpakaian bersih dan indah atau berpakaian butut kotor, tetap pamrih dan selama ada pamrih, setiap perbuatan adalah palsu. Sudahlah, Han Lin, kelak engkau akan mengerti sendiri kalau mulai saat ini engkau suka menjadi temanku."

Han Lin terbelalak. "Bagaimana locianpwe dapat mengetahui nama saya?"
"Ha-ha-ha, apa artinya nama? Karena engkau bernama, maka aku mengetahuinya."
"Maksud locianpwe, mulai sekarang saya menjadi murid locianpwe?"
"Bukan murid, melainkan teman, sahabat. Di dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang menjadi guru manusia lain mengenai soal kehidupan, karena kita sendiri masing-masing adalah gurunya, sekaligus juga muridnya. Bimbingan utama datang dari dalam diri sendiri. To (Kekuasaan Tuhan) telah berada di dalam diri setiap orang manusia, dan Dialah yang menjadi Pembimbing. Bila engkau ingin mempelajari ilmu jasmaniah yang dikuasai, tentu saja engkau dapat belajar dariku."

Mendengar ini, langsung saja Han Lin menjatuhkan diri berlutut di hadapan kaki kakek itu. "Suhu yang mulia, mulai malam ini teecu (murid) Han Lin akan menaati semua petunjuk suhu!"
Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih halus dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, bukan kehendakku engkau menjadi muridku, Han Lin, bukan kehendakku, tapi sudah digariskan dari semula!" Kakek itu menengadah memandang langit, seolah hendak mencari rahasia kejadian itu di antara bintang di langit.

"Suhu, kalau boleh teecu mengetahui, siapakah suhu?"
"Heh-heh-heh, tidak tahukah engkau? Aku juga seorang manusia seperti engkau, hanya bedanya, aku lebih lama berada di dunia ini dibandingkan engkau."

Han Lin tertegun. Jawaban itu memang tentu saja benar, tetapi begitu sederhana, seperti percakapan antara kanak-kanak saja.

"Maksud teecu, suhu. Siapakah nama suhu yang mulia?"
"Hemm, apakah artinya nama? Nama tidak sama dengan yang dinamakan. Sebutan bulan bukanlah bendanya, sebutan Han Lin bukanlah orangnya."

Han Lin telah banyak membaca kitab-kitab kuno, karena itu ucapan ini tidak membuatnya heran. "Teecu mengerti, suhu. Akan tetapi, tanpa adanya nama atau sebutan, tentu tidak ada percakapan, tidak ada hubungan antar manusia. Maksud suhu, sebutan teecu dengan kata ‘suhu’ juga merupakan nama, bukan? Nah, maksud teecu bukan sebutannya, tetapi siapakah nama suhu?"
"Ha-ha-ha, kalau hendak menyebutku, sebut saja Lo-jin (Orang tua), karena memang aku seorang yang sudah tua!" Dan dia pun tertawa-tawa seperti merasa geli mendengar kata-katanya sendiri.
"Ingat, suhu. Nama Lo-jin itu pun dapat menjadi nama, dan Lo-jin bukanlah orangnya!"

Kini guru dan murid itu tertawa-tawa geli, dan sungguh aneh sekali kalau ada orang lain melihatnya. Seorang pemuda remaja dan seorang kakek, di tengah malam penuh bintang, di dasar jurang di depan gundukan tanah kuburan baru, kini tertawa-tawa seperti digelitik perutnya!

"Sudahlah, hayo ikut aku. Pegang ujung tongkatku," kata kakek itu sambil menyodorkan tongkat bambunya.

Han Lin memegang ujung tongkat bambu itu dan kakek itu lalu bergerak melangkah. Dan terjadilah sesuatu yang membuat Han Lin terbelalak dan tengkuknya terasa dingin. Dia merasa seperti dalam mimpi ketika dia setengah tertarik sambil memegang ujung tongkat, mengikuti kakek itu mendaki jurang yang sangat curam, tebing yang berlawanan dengan tebing di mana dia terjatuh.

Menurut nalar, agaknya tidak mungkin mendaki tebing secara itu, apa lagi dalam malam yang remang-remang. Akan tetapi Han Lin merasa seperti seekor cecak saja, atau lebih tepat lagi dia terbetot dan terseret naik oleh tongkat bambu itu.

Dia merasa ngeri dan memejamkan kedua matanya, menurut saja diseret ke atas, kedua kakinya pun asal melangkah saja, akan tetapi dia terus memegangi ujung tongkat dengan pengerahan seluruh tenaganya karena sekali tongkat itu terlepas dari tangannya, tentu dia akan meluncur ke bawah dan tidak akan ada yang mampu menyelamatkannya.

Akhirnya mereka tiba di atas tebing, akan tetapi kakek itu masih terus saja menariknya. Demikian kuat tenaga yang tersalur melalui tongkat bambu itu sehingga Han Lin merasa seolah-olah tubuhnya diterbangkan.

Cuaca kadang gelap kadang terang, akan tetapi mereka meiuncur terus. Han Lin merasa bagai dalam mimpi dan kembali dia memejamkan mata, menyerah saja penuh keyakinan bahwa kakek itu bukan manusia biasa, bahkan mungkin pula bukan manusia! Ataukah kakek itu petugas yang menjemputnya meninggalkan dunia ini? Apakah dia sudah mati?

Kini langit di ufuk timur mulai terbakar oleh cahaya kemerahan. Sinar cerah sang matahari mulai mengusir kegelapan meski mataharinya sendiri beium nampak. Seluruh permukaan bumi agaknya menyambut kemunculan Sang Surya ini dengan penuh kegembiraan.

Bayang-bayang hitam kegelapan mulai pudar, terganti cahaya yang.mulai menghidupkan segala sesuatu. Pohon-pohon dan semua tumbuh-tumbuhan sampai rumput, seolah baru bangkit dari tidur lelap diselimuti kegelapan malam. Burung-burung berkicau riang, ayam hutan berkokok bangga.

Kabut pagi mulai menyingkir perlahan dihembus semilir angin, dihalau sinar matahari pagi. Embun bergantungan pada pucuk daun dan rumput, di bibir bunga-bunga, seolah tak rela melepaskan pegangan terakhir sebelum akhirnya terlepas dan terhempas ke tanah pula. Segala sesuatu nampak segar gemilang.

Han Lin duduk bersila. Baru saja kakek itu menghentikan gerakannya dan melihat kakek itu duduk bersila di atas batu datar halus dia pun ikut duduk di atas rumput kering. Mereka kini berada di puncak sebuah bukit yang sepi sekali, di tengah perbukitan yang amat luas. Dia tidak berani mengganggu karena kakek itu duduk bersila dengan dua mata terpejam dan pernapasannya seperti orang yang sedang tidur.
Melihat kakek itu sedang beristirahat, Han Lin tidak berani mengganggu kemudian dia pun memperhatikan kakek aneh itu. Melihat wajah kakek itu, dia lalu teringat pada mendiang Kong Hwi Hosiang yang mempunyai wajah seperti wajah anak kecil. Wajah kakek ini pun segar kemerahan dan tidak terhias keriput walau pun tubuhnya tidak gemuk seperti Kong Hwi Hosiang. Tubuh kakek ini tegap dan kurus. Rambut, kumis dan jenggotnya berwarna putih seperti benang sutera putih.

Karena baru saja nyaris tewas, juga telah terpukul, kemudian semalam suntuk mengikuti kakek itu melakukan perjalanan seperti terbang, Han Lin merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan lelah sekali, maka dia pun mencontoh kakek di depannya. Ia lalu memejamkan mata, beristirahat.

Ketukan tongkat pada batu membangunkan Han Lin, dan ternyata hari sudah menjelang siang. Matahari sudah naik tinggi dan kakek itu memandang kepadanya dengan senyum aneh. Senyum itu seperti cahaya matahari pagi yang menghidupkan, terasa hangat dan menimbulkan gairah hidup, penuh kepasrahan, kesabaran, kewajaran.

"Suhu!" kata Han Lin dan dia pun cepat mengubah kedudukan kakinya yang tadi bersila kini berlutut.
"Han Lin, duduklah bersila seperti tadi dan sekarang ceritakan segalanya tentang dirimu," kakek yang hanya dikenalnya dengan sebutan Lo-jin (Orang tua) itu berkata dengan suara lembut. Suaranya terdengar bagaikan desir angin bermain-main di antara daun pohon dan ujung rumput.

Han Lin menaati perintah gurunya. Dia kembali duduk bersila, kemudian berkata, "Teecu kira pasti suhu telah mengetahui hal tentang diri teecu. Perlukah teecu menceritakannya lagi sendiri?"

Suara tawa kakek itu mempunyai daya tular yang kuat sehingga Han Lin juga ikut tertawa. Tawa mau pun tangis merupakan suara asli dari semua manusia di dunia ini. Walau pun bahasa antara bangsa berbeda, namun tawa dan tangis semua bangsa tidak ada bedanya karena suara tawa dan tangis itu mengandung seluruh perasaan, sehingga mudah sekali menular kepada orang lain.

Demikian pula tawa kakek itu yang amat wajar, tidak dibuat-buat, tidak pula mengandung sesuatu yang lain, seperti tawa seorang bayi yang mendatangkan rasa gembira di dalam hati setiap orang.yang mendengarnya, maka Han Lin tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut tersenyum lebar.

"Ha-ha-ha-he-heh-heh, Han Lin, orang yang mengaku tahu adalah orang yang tidak tahu! Ceritakanlah semuanya sejak engkau kecil sampai sekarang ini."

Tiba-tiba Han Lin menyadari. Kakek ini jelas bukan manusia biasa. Jika tanpa diberi tahu kakek ini sudah mengetahui namanya, tentu telah mengetahui segalanya tentang dirinya. Mengapa masih bertanya lagi dan menginginkan dia bercerita? Tentu untuk mengujinya, menguji kejujurannya!

Maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun bercerita tentang dirinya, semenjak dia hidup sebagai seorang ‘pangeran’ kecil, putera mendiang Sia Su Beng dan Yang Kui Bi hingga terjadinya penyerbuan pasukan Tang yang memasuki kota raja.

Betapa kedua orang tuanya ikut bertempur. Betapa dia lalu diungsikan oleh Liu Ma yang kemudian dianggap sebagai ibunya. Betapa dia diangkat menjadi murid Kong Hwi Hosiang di kelenteng dekat puncak Bukit Ayam Emas itu dan tentang munculnya tiga orang datuk sesat bersama seorang pemuda. Juga betapa Kong Hwi Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio terbunuh oleh para datuk sesat itu, kemudian tentang ibunya yang melempar diri ke dalam jurang menyusul dirinya yang terpukul dan terjungkal ke dalam jurang itu.

"Agaknya Tuhan belum menghendaki teecu mati, suhu, maka teecu berhasil menangkap cabang pohon sehingga tidak sampai terbanting ke dasar jurang. Akan tetapi ibu Liu Ma tewas dan teecu sudah menguburkan jenazahnya di dasar jurang itu."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Belum kau ceritakan tentang keadaan tubuhmu. Pukulan yang membuatmu terjungkal ke jurang adalah pukulan yang mengandung hawa beracun, akan tetapi engkau tidak keracunan. Nah, bagaimana hal itu dapat terjadi?"

"Ahh, maafkan teecu, suhu. Teecu sampai lupa," kata Han Lin. Padahal tadi dia sengaja melewatkan bagian itu untuk melihat apakah kakek aneh ini sudah mengetahui keadaan tubuhnya yang telah menjadi kebal terhadap racun itu.

Dengan tersipu karena ternyata kakek itu mengetahui segalanya, dia pun menceritakan dengan jelas akan peristiwa pertemuannya dengan Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong yang pertama kalinya, pada saat dia terkena pukulan dari depan dan belakang oleh kedua orang datuk itu, ditambah lagi gigitan ular senduk kepala putih yang membuat tubuhnya dimasuki tiga macam racun sekaligus.

"Menurut keterangan mendiang suhu Kong Hwi Hosiang, akibat tiga racun itu, tubuh teecu menjadi kebal terhadap segala jenis racun." Demikian dia mengakhiri ceritanya dan kakek itu pun mengangguk-angguk senang.

Demikianlah, mulai hari itu juga Han Lin menjadi murid kakek yang hanya dikenal sebagai Lo-jin. Dan ternyata kemudian oleh pemuda remaja ini bahwa kakek itu adalah seorang manusia yang sangat sederhana, juga aneh sekali. Kadang dalam satu hari hanya cukup hidup dengan beberapa helai daun dan seteguk air saja, kadang tidak ada entah ke mana sampai beberapa hari, lalu muncul kembali. Akan tetapi dia menganggap semua itu wajar saja karena memang demikianlah keadaan Lo-jin.

Dia mulai menerima gemblengan dari kakek aneh itu. Namun Lo-jin mengatakan bahwa semua ilmu yang diajarkannya adalah ilmu untuk mempertahankan keselamatan jasmani, dan ilmu-ilmu itu adalah ilmu untuk dipergunakan selagi hidup di dunia ini dan kelak ilmu-ilmu itu akan musnah bersama raga.

Karena itu dia tidak boleh terikat kepada ilmu-ilmu itu, dan untuk dapat membebaskan diri dari segala sesuatu, dia harus mempunyai dasar yang satu, yaitu kewajaran yang berarti penyerahan! Menyerah sebagai dasar dari semua ikhtiar hidup, menyerah secara mutlak kepada Sang Maha Pencipta, seperti halnya bumi, matahari, bulan, bintang dan segala makhluk di alam ini yang tidak dikuasai nafsu daya rendah dan hidup selaras dengan To (Kekuasaan Tuhan)…..

********************
Dara itu berusia delapan belas tahun. Cantik jelita laksana setangkai bunga mawar rimba. Mukanya berbentuk bulat telur dan kulit mukanya halus putih kemerahan.

Wajah yang bentuknya indah itu dihias rambut bagaikan mahkotanya, rambut yang halus lebat dan hitam mengkilat, digelung ke atas, diikat dengan pita sutera kuning dan dihias tusuk sanggul dari batu kemala. Sepasang matanya lebar dan sinarnya tajam.

Hidungnya mancung dengan cuping hidung tipis yang dapat berkembang kempis dengan lucunya. Mulutnya penuh gairah hidup dan selalu tersenyum bersama matanya, senyum yang amat manis, apa lagi kalau lesung pipit di kedua pipinya nampak.

Tubuhnya padat dan ramping, dan di balik kelembutannya sebagai seorang dara remaja, terkandung suatu kekuatan yang hebat, yang dapat terlihat dari lekukan di dagu dan tubuh yang tegak serta dada yang membusung itu. Gerak geriknya lincah, matanya memandang penuh gairah dan kejenakaan.

la berdiri di bawah sebatang pohon, pungggungnya hanya terpisah seperempaht meter saja dari batang pohon dan dia berdiri tegak dengan mata dan mulut tersenyum ke arah wanita yang berdiri dalam jarak sekitar lima puluh kaki. Di atas ubun-ubun kepalanya, di depan sanggulnya, terletak sebutir buah apel merah.

“Mei Li! Kau lepas saja sanggulmu yang tinggi itu agar jangan sampai ada yang terbabat Hui-kiam (pedang terbang)!" kata wanita yang berada di depannya dalam jarak lima puluh kaki itu.

Wanita itu berusia kurang lebih tiga puluh sembilan tahun, walau pun nampak jauh lebih muda. Pakaiannya dari sutera serba hitam, wajahnya juga cantik dan mirip sekali dengan wajah gadis itu, tubuhnya masih padat ramping dengan pinggang kecil dan pinggul besar.

Wanita cantik ini nampak gagah perkasa dan di balik kecantikannya serta kelembutannya sebagai seorang wanita tersembunyi sifat gagah yang mudah dilihat dari sinar matanya yang tajam mencorong. Dia memang bukan sembarang wanita, sebab dia adalah seorang pendekar wanita yang pernah menggegerkan dunia persilatan karena sepak terjangnya yang menggiriskan lawan mengagumkan kawan.

Namanya Can Kim Hong dan dia adalah ibu kandung gadis jelita itu yang bernama Yang Mei Li. Can Kim Hong adalah isteri Yang Cin Han, putera bangsawan tinggi yang pernah menjadi perdana menteri, yaitu mendiang Yang Kok Tiong.

Seperti isterinya, Yang Cin Han juga seorang pendekar yang tangguh karena dia adalah murid Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang datuk dunia persilatan yang terkenal. Namun isterinya, Can Kim Hong, lebih hebat lagi karena isterinya ini murid Hek-liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu, seorang pendekar sakti yang aneh, yang sudah merangkai ilmu pedang yang amat hebat, yaitu ilmu pedang Hek-liong Hui-kiam (Pedang Terbang Naga Hitam).

Dapatlah dibayangkan betapa bahagianya Yang Mei Li, gadis berusia delapan belas tahun yang suka belajar ilmu silat itu karena dia digembleng langsung oleh ayah ibunya yang keduanya mempunyai ilmu kepandaian silat yang tinggi. Pada sore hari itu mereka sedang melakukan latihan ilmu silat dan ibunya memberi petunjuk dan contoh cara menggunakan ilmu hui-kiam (pedang terbang).

Mendengar ucapan ibunya, Mei Li lalu melepas sanggulnya dan membiarkan rambutnya yang hitam lebat itu terurai lepas, panjang hingga ke pinggulnya. Kini buah apel itu terletak di atas rambut yang padat menutup ubun-ubun kepalanya.

"Jangan bergoyang!" terdengar nyonya cantik itu berseru, lalu dia menggerakkan tangan kanannya. Sebatang pedang kecil yang berada di tangannya lalu meluncur bagaikan anak panah cepatnya, berubah bentuknya menjadi sinar kilat menyambar ke atas kepala Mei Li.
"Singgg...! Cappp!"

Pedang kecil itu meluncur dan tepat sekali membabat putus buah itu pada tengah-tengah, kemudian pedangnya menancap pada batang pohon. Apel terpotong menjadi dua, bagian atasnya terlempar jatuh dan bagian bawahnya masih berada di atas kepala Mei Li!

Mei Li menggerakkan kepalanya sehingga potongan apel itu terlempar jatuh pula dari atas kepalanya, kemudian dia pun bertepuk tangan memuji.
"Hebat, ibu memang hebat!" serunya gembira.

Can Kim Hong tersenyum dan sepasang pipinya kemerahan. "Aihh, anak nakal, engkau hendak menggoda ibumu? Apa sih hebatnya memotong buah apel itu dengan hui-kiam (pedang terbang)? Aku yakin bahwa engkau pun akan sanggup melakukannya. Aku tadi hanya memberi contoh bagaimana untuk bersikap agar tanganmu mantap dan tidak ragu sedikit pun."

"Aihh, ibu! Mana aku berani menggoda ibu? Biar pun mungkin saja aku dapat melakukan seperti yang ibu lakukan tadi, tetapi biar dipaksa bagaimana pun juga, aku tak akan berani menyambit apel dengan hui-kiam kalau apel itu ditaruh di atas kepala ibu. Kalau meleset sedikit saja ke bawah... hihhh…" Gadis itu memejamkan kedua matanya dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya seperti orang yang merasa kengerian.

"Hemmm, karena itulah maka aku tadi sengaja memberi contoh kepadamu, Mei Li. Ilmu menggunakan hui-kiam bukan hanya tergantung pada kemahiran tangan saja, melainkan terutama sekali keteguhan hati. Jika hatimu seteguh baja tentu bidikanmu takkan meleset serambut pun dan jari-jari tanganmu akan mantap dan tidak tergetar sedikit pun juga."

Gadis manis itu menjulurkan lidah, ujung lidah yang merah itu mengintai dari sepasang bibirnya dan dia pun menjawab,

"Aku tahu kalau ibu memiliki ketabahan hati seteguh baja! Ayah juga sering menceritakan kepadaku dan memuji-muji ibu. Mungkin aku yang sudah berlatih dengan tekun memiliki kemahiran itu, akan tetapi keteguhan hati tidak dapat dilatih, ibu. Betapa pun keras hatiku, bagaimana mungkin aku berani membidik apel yang berada di atas kepala ibu? Sekarang tolong ibu lemparkan sebuah apel ke atas, aku akan mencoba dengan jurus Siang-liong Jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mestika) dengan sepasang pedangku."

Can Kim Hong tersenyum. Ia mengambil sebuah apel dari dalam keranjang yang memang dipersiapkan untuk latihan, kemudian dia melempar buah itu ke atas.

Dengan gerakan cepat sekali Mei Li sudah mencabut sepasang pedang yang bentuknya indah, merupakan sepasang pedang pendek yang berkilauan saking tajamnya. Pedang-pedang itu diberi tali sutera merah yang cukup panjang, yang digulung dan dibelitkan pada ujung gagang pedang. Sekali gadis itu mengeluarkan bentakan halus dan menggerakkan sepasang pedangnya, maka nampak dua sinar menyambar ke atas menyerang apel tadi dan meluncur dengan menyilang membabat buah apel.

Buah apel itu terpotong menjadi empat oleh sepasang pedang Mei Li, lantas potongannya berjatuhan di atas tanah. Ada pun sepasang pedang itu meluncur kembali ke arah kedua tangan Mei Li ketika ia menarik tali sutera itu. Dan cepat sekali, begitu sepasang pedang telah berada di kedua tangannya, sukar diikuti pandang mata saking cepatnya, sepasang pedang itu telah kembali ke dalam sarungnya, hampir berbareng saatnya dengan jatuhnya empat potong apel itu.

"Cukup baik!" puji ibunya, 'Sekarang coba perlihatkan Siang-hui Kiam-sut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang) yang sudah digabungkan dengan Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Dewi). Berlatihlah dengan sungguh-sungguh, karena aku akan menyerangmu dengan apel-apel ini, dan aku akan menyerang dengan sungguh-sungguh pula!”

Mei Li segera mencabut kembali sepasang pedangnya dan sekarang dia bersilat dengan sepasang pedang. Gerakannya indah seperti seorang dewi menari-nari dan itulah Sian-li Kiam-sut yang dia pelajari dari ayahnya, akan tetapi kadang kala pedangnya menyambar lepas dari tangan untuk cepat berputar lalu terbang kembali ke tangannya. itulah Siang-hui Kiam-sut. Dengan bantuan ayah dan ibunya, Mei Li berhasil menggabungkan kedua ilmu pedang yang dia pelajari dari ayah ibunya.

Can Kim Hong mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring dan ibu ini menyerang puterinya dengan lemparan apel-apel dari dalam keranjang. Sambitan nyonya ini bukanlah sambitan biasa, melainkan sambitan seorang ahli silat tingkat tinggi yang memiliki tenaga sinkang kuat, maka tentu saja buah-buah apel itu menyambar-nyambar seperti peluru meriam!

Tapi sepasang pedang yang digerakkan dengan indahnya itu kini bergerak cepat sehingga lenyaplah bentuk sepasang pedang itu, berubah menjadi dua sinar yang bergulung-gulung membentuk perisai sinar, dan semua buah apel yang menyambar tentu runtuh terbelah oleh sinar pedang yang amat tajam! Dalam waktu beberapa menit saja, puluhan buah apel itu habis terpotong-potong dan berserakan di atas tanah.

Can Kim Hong mengeluarkan suara melengking dan ibu ini pun sekarang menerjang maju dengan sepasang pedangnya sendiri, menyerang Mei Li dengan gerakan cepat. Terjadilah latihan pertandingan yang amat seru dan bila kebetulan ada orang lain menjadi penonton, tentu dia akan merasa tegang dan menyangka bahwa kedua orang wanita itu benar-benar sedang berkelahi mati-matian!

Memang ibu dan anak itu berlatih secara sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatan. Hal ini berani mereka lakukan karena keduanya sudah menguasai benar ilmu sepasang pedang terbang itu.

"Awas pedang!" tiba-tiba Mei Li berseru dan pedangnya yang kiri meluncur cepat ke arah leher ibunya, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.

Can Kim Hong berusaha keras untuk mengalahkan puterinya dalam latihan ini, maka dia pun menggunakan sepasang pedangnya untuk menggunting atau menjepit pedang yang terbang menyerangnya itu dengan kedua pedangnya yang bergerak cepat. Namun begitu pedang kiri itu terjepit di antara sepasang pedang ibunya, Mei Li sudah membentak lagi dan pedang kanannya kini meluncur ke arah kaki ibunya.

Can Kim Hong mengeluarkan seruan kagum lalu tubuhnya mencelat ke atas dan dengan sendirinya jepitan kedua pedangnya terlepas, kemudian sekali tarik, pedang kiri itu sudah melayang kembali kepada pemiliknya. Can Kim Hong melayang turun, lantas menyimpan kembali sepasang pedangnya sambil tersenyum.

"Thian-te Siang-liong (Sepasang Naga Langit Bumi) yang amat bagus dalam seranganmu tadi, Mei Li. Akan tetapi pedang ke dua itu agak terlambat. Kalau pedang kanan itu kau lepaskan satu detik lebih cepat, sebelum pedang kirimu terjepit, tentu akan membuat aku lebih repot."

Dara berusia delapan belas tahun itu memang telah menguasai sepasang pedang terbang dengan amat baiknya. Memang dia memiliki bakat besar dan ditambah ketekunannya dan kecerdikannya, maka dalam usia delapan belas tahun dia malah lebih mahir dibandingkan ibunya!

Hal ini tidaklah terlalu aneh. Selain ayah ibunya yang menggemblengnya sejak dia masih kecil, juga selama dua tahun terakhir ini Mei Li sudah menerima gemblengan dari kakek gurunya, yaitu Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru ibunya.

Yang Mei Li merupakan anak tunggal dari suami isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong. Ayah dari Yang Cin Han, yaitu mendiang perdana menteri Yang Kok Tiong, adalah kakak dari mendiang selir Yang Kui Hui yang amat terkenal. Yang Kok Tiong ini terlibat langsung saat terjadi pemberontakan dalam Kerajaan Tang yang dilakukan oleh An Lu Shan. Dalam keributan pemberontakan itu, yang membuat Kaisar Hsuan Tsung terpaksa melarikan diri dan diiringi pula oleh Perdana Menteri Yang Kok Tiong, perdana menteri ini tewas. Juga isterinya tewas membunuh diri ketika kota raja diserbu pemberontak.

Perdana menteri ini meninggalkan tiga orang anak, yaitu Yang Cin Han sebagai anak tertua, kemudian masih ada dua orang adiknya, keduanya wanita, yaitu Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi. Yang Kui Bi menikah dengan Sia Su Beng, pemberontak lain yang berhasil membunuh An Lu Shan dan puteranya, kemudian Yang Kui Bi, yaitu ibu kandung Sia Han Lin, gugur ketika pasukan pemerintah Tang merebut kembali kota raja. Sedangkan Yang Kui Lan yang menjadi isteri pendekar Gobi-pai yang bernama Souw Hui San kini tinggal di Wu-han di pantai Yang-ce-kiang.

Walau pun ketiga orang ini merupakan putera puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong, namun yang terlibat langsung dalam perang perebutan mahkota kerajaan hanyalah Yang Kui Bi yang menjadi isteri Sia Su Beng yang telah mengangkat diri sendiri sebagai kaisar baru menggantikan An Lu Shan. Yang Cin Han bersama adiknya, Yang Kui Lan, tak mau melibatkan diri dan ketika pasukan Tang akhirnya berhasil merebut kembali tahta kerajaan dari tangan Sia Su Beng pada tahun 766, kakak beradik ini tidak mencampuri.

Pada saat mendengar bahwa kota raja telah jatuh kembali ke tangan pasukan Tang yang dipimpin oleh Panglima Kok Cu It yang setia dan gagah perkasa, kemudian mendengar pula akan gugurnya Sia Su Beng dan adiknya, Yang Kui Bi, Yang Cin Han mencoba untuk mencari berita tentang adiknya itu di kota raja yang telah diduduki kembali oleh Kaisar Su Tsung.

Dia mendengar bahwa adiknya itu benar telah gugur, demikian pula suami adiknya. Tetapi dia tidak berhasil menemukan keponakannya, Sia Han Lin yang baru berusia lima tahun. Anak itu lenyap tak tentu rimbanya dan dia tidak bisa menemukan jejaknya. Demikianlah sedikit riwayat Yang Cin Han, ayah Yang Mei Li.

Sekarang Kerajaan Tang telah pulih kembali, telah berdiri kembali dengan tegaknya berkat kegagahan Panglima Kok Cu It. Akan tetapi, sejak Kaisar Su Tsung yang menggantikan Kaisar Hsuan Tsung merebut kembali kota raja Tiang-an pada tahun 766, telah beberapa kali terjadi penggantian kaisar.

Sejak dinobatkan untuk menggantikan ayahnya pada tahun 755, Kaisar Su Tsung hanya memerintah sampai tahun 768. Adiknya sendiri yang menjadi penggantinya, yaitu Kaisar Kui Tsung, kemudian memerintah sebagai kaisar mulai tahun 768 sampai 773. Dan baru saja beberapa bulan yang lalu Kaisar Kui Tsung meninggal dunia sehingga tahta kerajaan diserahkan kepada.puteranya, yaitu Kaisar Thai Tsung. Ketika kisah ini terjadi, kaisarnya adalah Kaisar Thai Tsung.

Karena pasukan Tang merampas kembali tahta kerajaan dengan bantuan banyak suku asing dari barat dan utara, maka sesudah kerajaan Tang dapat dibangun kembali, suku-suku bangsa yang tadinya membantu itu menuntut balas jasa. Banyak di antara mereka yang tidak mau kembali ke kampung halaman mereka karena keenakan tinggal di daerah pedalaman Kerajaan Tang.

Berbagai bangsa tinggal bertebaran di wilayah Kerajaan Tang, di antara mereka adalah bangsa Arab yang tadinya merupakan pasukan Arab yang dikirim oleh Kalif Abu Jafar al Mansur pada tahun 756 untuk pembantu Kerajaan Tang menghadapi pemberontakan yang sudah menduduki kota raja Tiang-an. Selain bangsa Arab, ada pula bangsa Nepal, Turki dan banyak suku bangsa lagi. Banyak di antara mereka telah menikah dengan wanita Han kemudian tinggal menetap di pedalaman.

Namun yang menjadi gangguan terbesar bagi Kerajaan Tang yang baru saja menguasai kembali kota raja Tiang-an adalah gerakan dari bangsa Tibet di barat dan disusul gerakan Kerajaan Nan Chao yang berkedudukan di Yunnan, sebelah selatan. Gangguan dari barat dan selatan inilah yang merongrong Kerajaan Tang sepanjang tahun-tahun mendatang.

Yang Cin Han dan keluarganya tinggal di Lok-yang, kota besar yang merupakan ibu kota ke dua setelah Tiang-an. Dia menjadi saudagar rempah-rempah yang berhasil sehingga keadaan keluarganya cukup kaya.

Biar pun dia sendiri adalah orang yang memiliki ilmu silat tinggi, demikian pula isterinya, namun suami isteri ini selalu menjaga agar mereka jangan sampai terlibat dalam urusan dunia kangouw. Juga mereka berpesan kepada Mei Li agar jangan mencari permusuhan. Gadis ini bukan saja digembleng ilmu silat tinggi, tetapi juga sastra dan kesenian lain.

Mei Li memang cantik, kecantikan yang amat menarik seperti biasanya kecantikan wanita yang berdarah campuran. Ibunya, Can Kim Hong, adalah seorang peranakan Khitan, dari ayah seorang Han dan ibu seorang Khitan. Mei Li juga mewarisi kecantikan campuran dari ibunya.

Seperti juga Cin Han, Kim Hong pun sudah yatim piatu. Ayahnya adalah seorang perwira bernama Can Bu, dan belum lama ini meninggal dunia karena terluka dalam pertempuran kemudian menderita sakit sampai berbulan-bulan.

Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru Can Kim Hong, pernah berkunjung ke rumah muridnya sekitar tiga tahun yang lalu. Atas permohonan muridnya, juga Yang Cin Han, akhirnya Si Naga Hitam ini mau tinggal di rumah muridnya selama dua tahun dan memberi bimbingan ilmu silat kepada Mei Li sehingga dara ini mendapat kemajuan pesat dalam ilmu pedang terbang.

Akan tetapi Si Naga Hitam yang memang tak ingin terikat oleh apa pun, setelah memberi bimbingan selama dua tahun kepada Mei Li, lantas meninggalkan keluarga itu untuk pergi merantau.

“Nah, sekarang kau lanjutkan sendiri latihanmu. Aku hendak bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk ayahmu yang tentu tidak lama lagi akan pulang,” Can Kim Hong berkata kepada puterinya.
“Aihh… ibu ini. Yang dipentingkan dan diperhatikan selalu ayah saja!” Mei Li mengomel manja.

Ibunya mengerling sambil tersenyum. “Kalau bukan ibu yang memperhatikan ayah, habis siapa lagi?”

“Ibu, aku pun ingin membantu ibu memasak untuk ayah! Ibu sudah mengajarkan ilmu memasak kepadaku, akan tetapi seperti juga ilmu silat, kalau mengerti saja tanpa dilatih, apa artinya? Ilmu memasak pun harus dilatih agar masakannya lezat karena penggunaan bumbu-bumbunya tepat!”

Can Kim Hong hanya tersenyum dan kedua orang wanita itu lalu berlari-lari ke dapur. Tak lama kemudian mereka betul-betul telah menjadi wanita sepenuhnya yang sibuk di dapur mempersiapkan masakan untuk suami dan ayah mereka, tidak lagi nampak kegagahan pada mereka seperti ketika berlatih silat di kebun belakang.

“Engkau memang harus pandai memasak yang lezat, Mei Li. Sebentar lagi, kalau engkau telah menjadi ibu rumah tangga, engkau harus dapat membuat masakan yang lezat untuk suamimu. Di dalam rumah tangga tidak mungkin engkau menyuguhkan pedang terbang kepada suamimu!” Can Kim Hong berkelakar. Akan tetapi sepasang alis yang hitam kecil dan panjang seperti dilukis itu berkerut.
“Aihh… ibu. Aku tidak suka bicara tentang itu!” Mei Li merajuk.
“Heii, kenapa? Bukankah sejak kecil engkau sudah kami tunangkan dengan Souw Kian Bu? Dia semakin gagah dan tampan saja. Tiga tahun yang lalu, ketika dia bersama orang tuanya datang berkunjung, usianya baru enam belas tetapi dia sudah nampak tampan dan gagah perkasa.”
“Sudahlah, ibu. Aku tidak suka bicara tentang itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang perjodohan!” Gadis itu nampak tidak senang.

Can Kim Hong yang bijaksana tidak lagi menyinggung persoalan itu. Agaknya puterinya ini tidak suka bicara tentang Souw Kian Bu. Mungkinkah puterinya tidak menyukai pemuda itu?

Padahal menurut penglihatannya dan penglihatan suaminya, Kian Bu merupakan seorang pemuda yang amat baik. Dia tampan, gagah, pandai membawa diri dan menyenangkan! Sama sekali dia tidak tahu bahwa puterinya itu merasa tidak senang karena sejak kecil telah dipilihkan jodoh, ditunangkan dengan seorang pemuda!

Ketika Yang Cin Han pulang dari berbelanja barang dagangan, kemudian mereka makan bersama, Kim Hong tidak pernah lagi menyinggung urusan pertunangan puterinya. Tetapi pada malam harinya, ketika dia rebah berdampingan dengan suaminya, dia lalu bercerita kepada suaminya tentang sikap Mei Li yang nampaknya tidak senang bicara tentang pertunangan itu.

“Engkau bersabarlah, Hong-moi. Anak kita itu baru saja dewasa dan agaknya dia belum memikirkan tentang perjodohan,” kata Cin Han.
“Belum dewasa? Usianya sudah delapan belas!” bantah Kim Hong.
“Sudahlah, kenapa sih engkau merasa gelisah? Bagiku, aku sudah merasa cukup puas dan bangga melihat betapa puteri kita, anak tunggal kita, telah menguasai ilmu yang bisa dia pergunakan untuk melindungi diri sendiri.”
“Memang, dia maju sekali. Akan tetapi…”
"Sudahlah, jangan merisaukan yang bukan-bukan," kata Yang Cin Han dan dia merangkul isterinya dengan penuh perasaan sayang. Suasana di dalam kamar itu menjadi sunyi…..

********************
Di kota Wu-han, Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, berdagang kain dan memiliki sebuah toko yang cukup besar. Mereka hidup serba kecukupan dan tenang, tidak pernah suami isteri pendekar ini menonjolkan diri sebagai jagoan. Biar pun demikian, diam-diam mereka berdua menggembleng anak tunggal mereka, yaitu Souw Kian Bu yang kini telah berusia sembilan belas tahun.

Souw Hui San sudah berusia empat puluh lima tahun. Dia seorang murid Gobi-pai yang terpandai, seorang yang sejak muda sudah yatim piatu dan bertualang di dunia persilatan sebagai seorang pendekar yang lincah jenaka dan gembira, namun cerdik dan lihai sekali.

Wajahnya cukup tampan dengan bentuk bulat, matanya membayangkan kecerdikan dan mulutnya membayangkan keramahan dengan senyum yang tampaknya penuh pengertian. Tubuhnya sedang dan kekar.

Sebagai seorang ayah, dia menurunkan semua ilmu silat yang dikuasainya kepada Souw Kian Bu, di samping mengharuskan puteranya mempelajari kesusasteraan dari seorang guru sastra yang sengaja dia bayar untuk mendidik puteranya.

Isterinya, Yang Kui Lan, juga mengajarkan ilmu-ilmunya yang dia dapatkan dari Kong Hwi Hosiang. Yang Kui Lan berusia tiga puluh sembilan tahun, akan tetapi nampak jauh lebih muda. Wanita ini memang cantik jelita, kecantikan yang lembut dan agung. Ia mirip sekali dengan bibinya yang terkenal, mendiang selir kaisar yang bernama Yang Kui Hui.

Setitik tahi lalat pada dagu kirinya menambah kemanisan wanita yang telah separuh baya ini. Dia merupakan isteri yang cocok sekali bagi Souw Hui San. Kalau suaminya seorang yang lincah jenaka dan suka bergurau, sang isteri pendiam dan agung sehingga keduanya dapat saling mengisi dan melengkapi.

Seperti juga kakaknya, Yang Cin Han, Kui Lan bersama suaminya juga merasa gelisah sekali ketika mendengar tentang gugurnya adiknya, Yang Kui Bi. Ia pun berusaha mencari keponakannya, putera adiknya yang bernama Sia Han Lin itu, akan tetapi tidak berhasil menemukan jejak anak yang hilang dalam keributan pada saat kota raja diserbu pasukan Tang.

Atas persetujuan kedua pihak, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengikat tali perjodohan putera mereka dengan puteri kakaknya. Ketika dua pasang suami isteri ini mengikat tali perjodohan anak mereka, Kian Bu berusia dua tahun dan Mei Li berusia satu tahun.

Sedikitnya setahun sekali, kedua keluarga itu saling datang berkunjung sehingga Kian Bu dan Mei Li mulai berkenalan dan bersahabat karena setiap kali datang berkunjung, tentu keluarga yang berkunjung itu akan bermalam sampai seminggu lamanya. Ketika mereka berusia lima enam tahunan, mereka diperkenalkan sebagai saudara misan, tetapi setelah mereka menginjak usia belasan tahun, barulah orang tua mereka memberi tahu bahwa keduanya sudah saling dijodohkan.

Di luar pengetahuan kedua orang tua masing-masing, ketika tiga tahun yang lalu Kian Bu bersama orang tuanya datang berkunjung, diam-diam Kian Bu dan Mei Li mengadakan pertemuan empat mata. Sambil berbisik-bisik mereka berdua menyatakan ketidak puasan hati mereka bahwa mereka itu sejak kecil sudah saling dijodohkan.

Keduanya memiliki perasaan yang sama, yaitu bahwa mereka saling menyayang sebagai kakak dan adik misan. Dan mereka pun keduanya merasa tidak bebas dan terikat oleh perjodohan yang dipaksakan di luar kehendak mereka itu. Dan sejak tiga tahun yang lalu itu, keduanya selalu menolak kalau diajak berkunjung. Baik orang tua Kian Bu mau pun orang tua Mei Li tidak memaksa dan mengira bahwa keduanya sudah mulai dewasa dan agaknya mulai merasa malu untuk berkunjung ke rumah tunangan mereka!.

Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, sudah mendengar bahwa berkat bimbingan langsung dari kakek gurunya, yaitu Si Naga Hitam, kini Mei Li sudah mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silat. Karena itu suami isteri ini berusaha keras untuk menggembleng putera mereka agar bisa mengimbangi tingkat kepandaian Mei Li. Sebagai seorang calon suami, sebaiknya kalau tingkat kepandaiannya tidak tertinggal jauh oleh calon isterinya.

Karena itu selama tiga tahun ini mereka mewariskan semua ilmu mereka kepada Kian Bu, bahkan menggabungkan iImu silat Gobi-pai dengan ilmu silat yang dikuasai Yang Kui Lan yang bersumber dari aliran Siauw-limpai.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali, sesudah mereka mengamati putera mereka berlatih silat pedang, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengajak Kian Bu untuk bicara di dalam. Toko mereka belum dibuka karena selain hari masih terlampau pagi, juga dua orang pembantu penjaga toko mereka belum datang.

"Kian Bu, bersiap-siaplah engkau. Seminggu lagi kita bertiga akan pergi berkunjung ke Lok-yang," kata Souw Hui San.

Souw Kian Bu mengangkat muka memandang ayahnya, kemudian ibunya. Namun wajah ayah dan ibunya itu tidak berbeda, keduanya memandang dengan sinar mata tajam dan sikap mereka amat meyakinkan, tanda bahwa mereka berdua serius. Kian Bu pura-pura bersikap tenang dan biasa.....
"Kalau ayah dan ibu merasa rindu kepada keluarga pek-hu (uwa) Yang Cin Han, silakan ayah dan ibu yang pergi berkunjung ke Lok-yang. Aku akan tinggal di rumah saja sambil mengurus toko."
"Tidak bisa, Kian Bu," kata Yang Kui Lan dengan suara lembut. "Sekali ini engkau harus ikut karena ada urusan yang amat penting."

Pemuda itu memandang ibunya. "Urusan amat penting apakah, ibu?"
"Kita harus memenuhi janji, Kian Bu," kata pula ibunya.
"Janji? Aku tidak merasa berjanji kepada siapa pun, ibu."
"Kian Bu, seminggu lagi Yang Mei Li tepat berusia delapan belas tahun. Tibalah saatnya bagi kita untuk memenuhi janji, yaitu membicarakan dan menentukan hari pernikahanmu dengan Mei Li. Karena yang akan dibicarakan mengenai pernikahanmu, maka tentu saja engkau harus ikut," kata ayahnya.

Sejenak Kian Bu mengangkat muka memandang ayahnya. Dua pasang mata yang sama tajamnya beradu pandang, akan tetapi Kian Bu segera menundukkan muka, tidak ingin ayahnya meiihat perlawanan dalam sinar matanya.

Agaknya Yang Kui Lan dapat merasakan isi hati puteranya, maka dia pun berkata dengan suara menghibur dan penuh kasih sayang.

"Kian Bu, ingatlah bahwa sejak engkau berusia dua tahun, engkau telah kami tunangkan dengan Mei Li yang saat itu berusia satu tahun. Sekarang dia telah berusia delapan belas tahun dan engkau sembilan belas tahun, sudah tiba waktunya memenuhi janji kita kepada pekhu-mu. Dan engkau sendiri melihat bahwa pilihan kami tak keliru. Mei Li seorang dara yang cantik jelita dan gagah perkasa, sungguh cocok bila menjadi isterimu. Kiranya akan sulit ditemukan seorang gadis yang lebih sepadan untuk menjadi jodohmu, Kian Bu!"

Kian Bu menghela napas panjang. Dia memandang bergantian kepada ayah dan ibunya, kemudian dia memberanikan diri bertanya, "Ayah dan ibu, dahulu tentu ayah dan ibu juga pernah muda seperti aku, bukan?"

Ayah dan ibunya menjawab berbareng. "Tentu saja!".dan ayahnya menambahkan sambil tertawa.

"Bukan hanya pernah muda seusiamu, Kian Bu, juga aku pernah menjadi bayi, ha-ha-ha!"
"Bukan begitu maksudku, ayah. Akan tetapi apakah ayah dan ibu dahulu juga ehh, sudah dijodohkan sejak masih kecil?"

Suami isteri itu terkejut kemudian saling pandang, tidak menyangka putera mereka akan bertanya demikian. Keduanya menggeleng tanpa menjawab.

"Atau apakah dahulu ibu adalah pilihan kakek dan nenek Yang, dan ayah adalah pilihan kakek dan nenek Souw?" pemuda itu mengejar, dan sekarang mengertilah ayah dan ibu itu ke mana arah pertanyaan Kian Bu.

"Kian Bu, kami mengerti apa yang kau pikirkan dengan pertanyaan-pertanyaanmu tadi," kata Souw Hui San, kini wajahnya yang biasanya periang itu nampak serius. "Akan tetapi, keadaanku dengan keadaanmu sungguh jauh berbeda. Ibumu dan aku memang berjodoh karena pilihan sendiri, akan tetapi ketika kami saling berjumpa dan saling jatuh cinta, kami berdua adalah yatim piatu."

"Kian Bu, kami dan pekhu-mu Yang Cin Han bersama isterinya menjodohkan engkau dan Mei Li dengan maksud yang baik sekali. Kami tidak memaksamu, akan tetapi, bukankah pilihan kami itu sangat tepat? Apakah apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain?" Kini suami isteri itu menatap.wajah putera mereka dengan pandang mata penuh selidik.

"Tidak, ibu. Hanya aku merasa... ehh, ganjil dan lucu kalau memikirkan bahwa aku harus berjodoh dengan adik Mei Li. Aku selalu merasa bahwa ia seperti adikku sendiri sehingga janggallah kalau membayangkan dia menjadi jodohku."

Pada saat itu pembantu toko datang sambil melaporkan bahwa di luar ada seorang tamu ingin bertemu dengan tuan rumah dan katanya tamu itu datang dari Lok-yang. Mendengar ini Souw Hui San segera keluar, diikuti isterinya yang ingin sekali tahu berita apa yang dibawa utusan dari Lok-yang itu, karena sudah pasti berita itu datang dari kakaknya.

Dugaannya benar. Orang itu adalah utusan dari Yang Cin Han yang mengantarkan surat. Setelah memberi upah tambahan kepada utusan itu, Souw Hui San dan isterinya segera membawa surat itu ke dalam. Utusan tadi mengatakan bahwa pengirim surat tidak minta balasan, maka dia lalu pergi lagi tanpa menanti jawaban.

Dan setelah mereka membaca isi surat, ternyata memang tidak diperlukan balasan. Surat itu menyatakan bahwa dengan minta maaf keluarga di Lok-yang itu minta agar ketentuan hari pernikahan diundur antara satu sampai dua tahun! Alasan yang dikemukakan Yang Cin Han mengenai pengunduran itu adalah karena Mei Li berkeras ingin pergi merantau mencari pengalaman sebelum menikah, dan bahwa mereka tidak bisa menahan keinginan hati puteri mereka itu.

Suami isteri itu saling pandang dan mereka berdua dapat memaklumi. Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar, maka wajar saja kalau timbul hasrat ingin merantau untuk mencari pengalaman. Ketika Kian Bu diberi tahu akan pengunduran itu, wajahnya berseri dan dia tidak menyembunyikan kegembiraannya.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga Li-moi akan melakukan hal itu!" katanya gembira.
"Ehhh? Bagaimana engkau dapat menduga?" tanya ibunya.
"Kian Bu, apa yang terjadi dengan kalian?" tanya pula ayahnya.

Kian Bu masih tersenyum. "Tidak ada apa-apa, ayah. Hanya aku dapat menduga bahwa dia pun tentu tidak suka dengan ikatan jodoh yang sudah ditentukan sejak kecil itu. Kukira perasaan kami tidak jauh berbeda, dan aku pun ingin pergi mencari pengalaman."

"Apa? Hendak ke mana engkau?" tanya ayahnya.

Kian Bu tersenyum memandang ayahnya. "Dari ayah dan dari ibu aku sering mendengar betapa ketika muda dulu, baik ayah mau pun ibu banyak melakukan petualangan di dunia kangouw. Apakah sekarang ayah dan ibu akan merasa heran kalau aku pun ingin mencari pengalaman dan meluaskan pandangan dengan merantau barang satu dua tahun? Aku ingin sekali mencari jejak kakak Sia Han Lin, puteri bibi Kui Bi yang hilang lenyap tanpa meninggalkan jejak itu. Juga aku ingin mencari dan bertemu dengan sukong (kakek guru) Kong Hwi Hosiang, dan berkunjung ke Gobi-pai, bertemu dengan para suhu di Gobi-pai."

Souw Hui San dan Yang Kui Lan tak mampu mencegah putera mereka yang hendak pergi merantau. Mereka hanya dapat memberi banyak nasehat kepada putera mereka supaya berhati-hati dan tidak menanam bibit permusuhan di dunia kangouw.

Dua hari kemudian berangkatlah pemuda yang kini nampak bergembira itu, meninggalkan Wu-han sambil membawa buntalan pakaian yang digendongnya di punggung, membawa sebatang pedang dan dengan wajah berseri-seri dia pergi menuju ke Tiang-an, kota raja di mana dia ingin mencari jejak kakak misannya, yaitu Sia Han Lin, putera mendiang bibinya, Yang Kui Bi…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-05
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger