logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Si Pedang Terbang Jilid 07


Pemuda itu berlatih ilmu silat yang aneh. Gerakan-gerakannya lambat dan seolah gerakan memukul atau menendang dari kaki tangannya hanya main-main saja, tidak mengandung tenaga, tidak terlihat cepat mau pun kuat. Akan tetapi anehnya, pohon besar yang berada dalam jarak tiga meter di hadapannya bergoyang-goyang. Cabangnya yang sebesar tubuh manusia, cabang ranting dan daun-daunnya yang lebat bergoyang-goyang seperti dilanda angin besar sehingga banyak daun pohon yang telah kuning dan setengah kuning rontok, gugur berhamburan!

Sesudah berlatih selama setengah jam, bersilat dengan tangan kosong, pemuda itu lantas menyambar sebuah tongkat bambu di bawah pohon dan kini dia bersilat mempergunakan tongkat bambu yang panjangnya sekitar satu setengah meter.

Kalau tadi ketika bersilat tangan kosong gerakannya nampak sangat lamban dan lemah, kini setelah bersilat tongkat, gerakannya cepat bukan main sehingga lenyaplah bayangan pemuda itu dibungkus gulungan sinar tongkat dan terdengar bunyi mengaung saking kuat dan cepatnya tongkat bambu itu bergerak.

Kemudian gulungan sinar itu tiba-tiba melayang ke atas pohon, bagaikan seekor burung mengelilingi pohon dan nampak daun-daun pohon jatuh berhamburan, bukan hanya yang kuning, melainkan juga yang hijau dan ranting-rantingnya.

Tidak lama kemudian, ketika pemuda itu melayang turun, pohon itu telah berubah seperti kepala seorang yang tadinya berambut lebat tapi kini dicukur pendek dengan bentuk bulat! Ternyata tongkat itu mampu membabat ranting dan daun pohon sehingga menjadi gundul, padahal tongkat itu sama sekali tidak tajam karena terbuat dari bambu!

Setelah selesai bersilat tongkat yang aneh sekaligus juga menggiriskan itu, dia lalu duduk beristirahat di atas sebongkah batu di bawah pohon, sambil memandangi daun-daun yang berserakan dan melamun, membiarkan peluh membasahi lehernya.

Daun-daun gugur, manusia mati. Teringatlah dia akan semua orang yang dikasihinya tapi seorang demi seorang sudah meninggalkan dirinya karena mati. Mula-mula ayah ibunya tewas. Lalu orang yang mengasuhnya sejak dia kecil, yang kemudian menjadi pengganti ayah ibunya, juga mati! Demikian pula gurunya yang pertama kali, guru yang dikasihinya dan dihormatinya, mati pula terbunuh orang!

Sia Han Lin termenung, tenggelam dalam kenangan duka. Teringatlah dia akan keadaan dirinya yang kini hidup sebatang kara di dunia ini. Sejak berusia lima tahun dia terpaksa berpisah dari ayah ibunya yang berperang melawan serbuan musuh, ketika dia dilarikan mengungsi oleh Liu Ma, pengasuhnya.

Kemudian ternyata ayah ibunya itu tewas dalam perang sehingga selanjutnya dia diasuh sebagai putera Liu Ma. Cinta kasihnya kepada ayah ibunya berpindah kepada Liu Ma, dan ketika dia menjadi murid Kong Hwi Hosiang, dia menemukan lagi seorang yang dihormati dan disayangnya, yaitu gurunya itu. Akan tetapi mala petaka datang menimpa.

Liu Ma dan Kong Hwi Hosiang tewas di tangan tiga orang Raja Iblis yang kejam. Bahkan dia sendiri tentu sudah tewas pula kalau tidak ditolong oleh gurunya yang sekarang, yaitu kakek yang hanya dia kenal sebagai Lo-jin (Orang Tua). Akan tetapi gurunya ini seorang manusia yang aneh dan agaknya tidak mungkin dapat mempunyai perasaan kasih sayang terhadap manusia aneh ini seperti yang dirasakan terhadap mendiang Kong Hwi Hosiang dan Liu Ma.

Lo-jin seolah tidak terikat oleh apa pun juga, tidak membutuhkan kasih sayang, juga tidak pernah menunjukkan kasih sayang, tetapi setiap gerak geriknya tak pernah menyusahkan apa dan siapa pun. Ilmu-ilmu yang diajarkan kepadanya selama lima tahun ini pun ilmu yang aneh, namun karena yakin bahwa Lo-jin adalah seorang manusia seperti dewa, Han Lin menaati semua petunjuknya dan selama lima tahun ini berlatih dengan amat tekunnya.

Teringat akan semua keadaan dirinya, timbul perasaan iba diri dan terbenamlah Han Lin ke dalam duka. Hatinya bagaikan diremas-remas. Dia adalah putera seorang yang pernah menjadi raja, hidup bergelimang kemuliaan dan kehormatan, lalu tiba-tiba saja dia menjadi yatim piatu, bahkan sekarang dia tidak memiliki apa-apa lagi kecuali dirinya sendiri!

Dan gurunya, satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya, yaitu Lo-jin, jarang berada di puncak itu, membiarkan dia seorang diri saja. Bahkan kini, sudah dua minggu gurunya itu pergi entah ke mana. Pergi tidak pernah pamit, datang tidak pernah memberi tahu, seperti angin saja.

Ketika Han Lin duduk termenung bertopang dagu itu, murung dan perasaannya tertekan, dia tidak merasakan bahwa ada angin lembut bertiup dan bayangan seorang kakek yang rambutnya seperti benang sutera putih sudah berdiri di belakangnya. Andai kata Han Lin tidak sedang tenggelam dalam lamunan, tentu pendengarannya yang terlatih dan tajam itu dapat menangkap gerakan seringan daun kering itu.

Tetapi sekarang dia sedang tenggelam dalam kedukaan, maka dia sama sekali tidak tahu bahwa gurunya, Lo-jin, kini telah berdiri di belakangnya. Kakek bertubuh tinggi agak kurus dengan wajah putih kemerahan, matanya berbinar-binar laksana bintang, kumis, jenggot serta rambutnya sudah putih semua itu, kini berdiri dan mengelus jenggotnya, tersenyum dan mengangguk-angguk. Tongkat bambu di tangannya kemudian digerakkan melintang di depan dadanya sehingga terdengarlah suara mengaung.

Mendengar suara ini barulah Han Lin sadar dari lamunannya dan sebelum membalikkan tubuh, dia sudah tahu siapa yang datang. Karena itu dia segera menjatuhkan diri berlutut dan membalik, memberi hormat kepada gurunya.

"Suhu," suaranya masih mengandung duka, walau pun dia berusaha menekannya.
"Han Lin, apakah jurus-jurus terakhir dari Khong-khi-ciang (Tangan Udara Kosong) dan Pek-lui-tai-hong-tung (Tongkat Petir Badai) sudah dapat kau kuasai dengan baik?"
"Sudah, suhu. Apakah suhu menghendaki agar teecu memainkannya?"
"Tidak, aku sudah percaya bahwa engkau telah menguasainya dengan baik. Akan tetapi kenapa engkau berduka?"

Han Lin maklum bahwa dia tidak mungkin dapat membohongi gurunya, maka dia pun lalu berkata,
"Suhu, tadi teecu teringat akan kematian orang-orang yang teecu sayang sehingga teecu merasa berduka sekali. Maaf, suhu, teecu mengerti benar bahwa duka adalah sia-sia dan timbul dari iba diri, bahwa sesungguhnya amat tidak baik dan tidak sehat membiarkan diri tenggelam di dalam duka. Akan tetapi pengertian teecu itu tidak banyak menolong, suhu. Teecu tetap berduka. Beruntung sekali bahwa suhu kembali pada saat teecu dilanda duka nestapa yang amat menekan hati, maka teecu mohon petunjuk. Suhu, mohon teecu diberi petunjuk bagaimana teecu akan dapat menguasai hati dan mengendalikan nafsu supaya teecu tidak dicengkeram duka."

Kakek itu tersenyum. Senyumnya mendatangkan kelembutan yang sangat mengharukan karena wajah itu persis wajah seorang bayi yang suka tertawa-tawa sendiri secara wajar. Kemudian dia ber kata dengan suara halus.

"Han Lin, segala macam jalan atau cara untuk mengendalikah nafsu juga merupakan ulah nafsu itu sendiri, karena cara didorong oleh suatu keinginan untuk mencapai sesuatu dan ini hanyalah ulah nafsu yang pandai mengubah bentuk dan ragam. Sesungguhnya usaha untuk melenyapkan duka tak ada bedanya dengan duka itu sendiri, keduanya bersumber kepada si-aku yang menjadi duka karena terkenang akan sesuatu, dan si-aku pula yang menginginkan agar tidak berduka. Karena itu, usaha apa pun yang bersumber dari si-aku, tidak akan dapat berhasil dengan sempurna."

"Kalau begitu apa yang dapat teecu lakukan, suhu? Teecu paham benar, menurut ajaran kitab-kitab agama, juga menurut petuah-petuah yang teecu dapatkan dari mendiang suhu Kong Hwi Hosiang dan dari suhu, sungguh tidak baik bila kita membiarkan diri tenggelam di dalam duka, akan tetapi pengetahuan teecu itu tidak menolong melenyapkan duka dari hati teecu. Teecu menjadi bingung, suhu. Mohon petunjuk."

Kakek itu menghela napas panjang. Bukan karena sedih dan bukan pula karena kecewa. "Apa pun yang engkau lakukan atau tidak lakukan, kalau itu bersumber dari si-aku, maka akan sama saja palsunya dan sia-sianya. Bersikaplah wajar-wajar saja, Han Lin. Jangan menentang segala yang kau lakukan sendiri. Bila engkau dilanda duka, maka bedukalah, kenapa mesti dipersoalkan lagi? Selama kita masih hidup di dalam jasmani ini, kita tidak akan terlepas dari segala macam perasaan susah senang puas kecewa dan sebagainya. Tetapi yang paling penting adalah menyadari akan semua itu, mengamati setiap gejolak nafsu yang menguasai hati akal pikiran dan yang mengemudikan semua gerak gerik kita. Menyadari sepenuhnya bahwa semua itu adalah ulah si-aku, yaitu nafsu yang mengaku-aku. Yang berduka itu adalah hati dan pikiranmu. Seperti juga yang marah, yang kecewa, yang iri, yang diserang penyakit, semuanya itu hanyalah alat-alat atau anggota tubuhmu. Kesadaran yang sepenuhnya ini akan membuat kita yakin bahwa semuanya itu hanyalah permainan nafsu belaka. Bahkan kalau kematian tiba, yang mati hanyalah tubuh jasmani belaka. Selama nafsu daya rendah menguasai hati akal pikiran, maka di dalam kehidupan ini kita akan selalu menjadi permainannya, dan semua yang kita lakukan dikemudikan oleh nafsu daya rendah. Bahkan usaha kita untuk mengendalikan atau menguasai nafsu juga datang dari nafsu daya rendah. Karenanya, biar pun kita mengerti akan suatu perbuatan yang tidak benar, kita tetap saja tidak mampu menghentikan perbuatan itu."

"Suhu, kalau begitu alangkah celakanya hidup ini. Kita dibiarkan menjadi korban, setiap saat dicengkeram dan diperhamba nafsu tanpa kita mampu membebaskan diri!"
"Tidak, Han Lin. Di samping nafsu daya rendah yang diikut sertakan di dalam kehidupan kita, masih ada sesuatu yang berkat Kasih Sang Maha Pencipta, disertakan pula kepada kita. Sesuatu yang biar pun nampak tipis dan hampir tidak nampak, namun selalu ada dan tidak pernah meninggalkan manusia, sesuatu yang menjadi bukti dan saksi betapa Tuhan Maha Kasih dan Maha Pengampun. Sesuatu inilah yang merupakan tali yang tidak pernah terputuskan, yang menghubungkan manusia kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Tinggal terserah kepada manusia sendiri, apakah akan mengabaikanNya dan menyerah kepada nafsu, atau memperkuat ikatan yang akan menghubungkan manusia dengan kekuasaan Tuhan yang selalu bersemayam di dalam dan luar diri setiap orang manusia itu."

"Lalu bagaimana caranya agar ikatan itu dapat diperkuat, suhu?"
"Usaha manusia tidak akan membawa hasil. Hanya Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu mengaturnya. Apa bila Kekuasaan Tuhan sudah bekerja, maka dengan sendirinya nafsu daya rendah akan kembali ke tempat mereka semula, menjadi hamba yang baik, bukan menjadi majikan yang kejam. Dan supaya Kekuasaan Tuhan dapat bekerja, maka semua daya kerja hati akal pikiran haruslah berhenti. Kalau kita hidup selaras dengan To, maka To yang akan bekerja mengatur segalanya dan apa pun yang diatur oleh To sudah pasti sempurna. Kekuasaan Tuhan bekerja dengan sempurna, Maha Murah, Maha Kasih, Maha Adil , Maha Pengampun dan.Maha Kuasa. Satu-satunya yang dapat kita kerjakan hanyalah menyerah, dengan penuh keikhlasan, penuh kepasrahan, penuh ketawakalan."

"Tetapi, suhu. Bukankah menyerah ini pun merupakan suatu usaha dari hati akal pikiran?"
"Bukan, Han Lin. Usaha selalu mengandung pamrih uncuk mendapatkan sesuatu. Tetapi menyerah dengan kepasrahan tidak mengandung usaha apa pun dan tidak menginginkan apa pun, karena kalau ada keinginan mendapatkan sesuatu, itu bukan pasrah namanya. Pasrah dalam arti kata yang sesungguhnya sama dengan mati, seperti orang yang dalam tidur, apa pun yang akan tiba menimpa dirinya, terserah kepada Tuhan. Andai kata pada waktu itu Tuhan hendak mencabut nyawanya, dia pun akan menyerah tanpa membantah, ikhlas, pasrah, tawakal."
"Kalau begitu bukankah kita lalu menjadi malas dan hanya menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan saja, suhu?"

"Sama sekali tidak, Han. Lin. Itu bukan menyerah dengan kepasrahan, ketawakalan dan keikhlasan namanya, melainkan ingin mempersekutu Tuhan, bahkan ingin enaknya sendiri saja. Tuhan sudah menciptakan kita lengkap dengan segala alat yang ada pada diri kita, dan semua itu diciptakan bukan percuma, melainkan diciptakan untuk digunakan, untuk dimanfaatkan. Kalau tidak kita pergunakan, tidak kita manfaatkan, itu berdosa namanya, dan penggunaannya, pemanfaatannya haruslah untuk kebaikan, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain, selaras dengan To, berarti membantu pekerjaan Kekuasaan Tuhan. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan di alam maya pada ini bekerja, bergerak, dan itu berarti bekerja. Bahkan bintang matahari dan bulan pun bekerja bergerak tiada hentinya. Kita yang dlberi perlengkapan yang sempurna, tentu saja harus bekerja, berusaha demi memenuhi semua keperluan dan kebutuhan hidup di dunia. Kita harus makan agar tidak mati kelaparan, kita membutuhkan pakaian agar tidak mati kedinginan, kita membutuhkan tempat tinggal untuk berlindung dari binatang buas, angin dan panas atau hujan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, tentu saja kita harus mencarinya dengan berusaha dan bekerja! Tetapi semua pekerjaan itu barulah benar kalau didasari kepasrahan, didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga apa pun yang kita lakukan, akan sejalan dengan To."

Han Lin mengangguk-angguk. Dia mengerti benar apa yang dimaksudkan oleh gurunya. "Mudah-mudahan teecu tidak terlalu dipermainkan nafsu daya rendah dan semoga teecu akan mendapat pengampunan dan bimbingan Tuhan dengan iman dan penyerahan, suhu."

"Semoga Tuhan memberi jalan kepadamu, Han Lin. Tetapi sekarang aku ingin memberi tahu kepadamu bahwa sudah tiba saatnya bagi kita untuk berpisah. Aku akan melanjutkan perjalananku dan engkau pun harus melanjutkan jalan hidupmu sendiri. Sekali lagi ingat, dengan ilmu yang kau pelajari, berarti engkau menjadi abdi keadilan dan kebenaran, tetapi bukan keadilan dan kebenaran bagi pribadimu. Semua perasaan pribadi ini harus engkau singkirkan, kalau tidak engkau tidak akan mungkin dapat bertindak adil. Cari dan mintalah petunjuk dari Tuhan, maka engkau pasti akan menerima petunjukNya."

"Suhu…!" Han Lin terkejut.

Tentu saja dia merasa terpukul. Baru saja dia menyusahkan kematian orang-orang yang dikasihinya dan kini gurunya, orang terakhir yang terdekat dengannya, menyatakan bahwa mereka harus berpisah.

"Han Lin, lupakah engkau bahwa justru keterikatan itulah yang menjadi penyebab utama dari duka? Mempunyai namun tidak memiliki, itulah seyogianya. Secara lahiriah kita boleh mempunyai apa pun juga, namun secara batiniah kita tidak memiliki apa-apa. Nah, cukup sudah, tongkatku ini boleh kau miliki, benda ini sudah puluhan tahun tak pernah lepas dari tanganku." Nampak bayangan berkelebat dan yang kini tinggal di depan Han Lin hanyalah sebatang tongkat bambu yang menancap di atas tanah. Lo-jin telah lenyap seperti ditelan bumi.

Han Lin memberi hormat ke arah berdirinya gurunya tadi sambil berlutut sampai delapan kali, kemudian dia bangkit, mencabut tongkat bambu yang biasa dipegang oleh gurunya, mencium gagang tongkat itu dan berbisik. "Suhu, terima kasih!"

Setelah itu Han Lin menuruni puncak, menggendong buntalan pakaian pada punggungnya dan membawa sebatang tongkat bambu yang selama ini tidak pernah terpisah dari tangan Lo-jin. Lima tahun lamanya dia menerima gemblengan kakek sakti yang luar biasa itu, dan kini dia sudah dewasa, sudah berusia dua puluh tahun!

Ke mana dia harus pergi? Teringat akan ini, setibanya di puncak sebuah lereng dia lantas berhenti kemudian memandang ke sekeliling Alam di bawah sana seolah tengah menanti, menggapaikan tangan kepadanya.

Akan tetapi ke arah mana dia harus pergi dan apa atau siapa yang menantinya di sana? Dia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Liu Ma telah tewas, juga Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio para pembantu Kong Hwi Hosiang.

Mengunjungi kuburan mereka? Tidak banyak artinya. Pernah Lo-jin bicara dengan lembut mengenai hal itu. Mengunjungi kuburan orang tua hanyalah merupakan kewajiban untuk menjaga agar kuburan mereka itu bersih dan terawat, tapi bukan sebagai bukti kebaktian.
Kebaktian terhadap orang tua yang sebenarnya bukan dilihat dari pemeliharaan kuburan, melainkan dalam sepak terjang kita sehari-hari, dalam kelakuan kita. Kelakuan yang baik akan mengangkat nama baik orang tua, sebaliknya kelakuan buruk akan menodai nama orang tua, walau pun orang tua sudah meninggal.

Teringat akan kata-kata gurunya itu, Han Lin tidak lagi ingin berkunjung ke kuburan orang-orang yang dulu disayangnya itu. Akan tetapi ada hal lain yang mendorongnya untuk pergi ke dusun Libun.

Dia harus melihat apa yang terjadi dengan penduduk dusun itu semenjak lima tahun yang silam Sam Mo-ong mengganas di sana. Sudah menjadi kewajibannya untuk turun tangan menolong bila penduduk dusun itu tertindas oleh perbuatan sewenang-wenang tiga orang datuk iblis itu.

Ya, dia akan pergi ke dusun Libun, Setelah itu baru dia akan melanjutkan perjalanannya, mencari keluarga ibunya! Kenapa dia harus merasa tidak mempunyai keluarga dan hidup sebatang kara? Di sana.masih ada dua orang kakak mendiang ibunya!

Kakak perempuan ibunya bernama Yang Kui Lan dengan suaminya yang bernama Souw Hui San, ada pun kakak laki-laki ibunya bernama Yang Cin Han dengan isterinya Can Kim Hong. Dia mengenai nama-nama itu dari mendiang ibunya dan tak pernah dia melupakan nama-nama itu. Juga tempat tinggal mereka.

Menurut ibunya, pamannya Yang Cin Han tinggal di Lok-yang, dan bibinya Yang Kui Lan tinggal di Wu-han. Kelak dia akan mengunjungi mereka. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana paman dan bibinya itu akan menerimanya, dan ketika membayangkan segala kemungkinan mengenai penyambutan itu, timbullah ketegangan dan kegembiraan dalam hatinya.

Dengan jantung berdebar karena tegang Han Lin memasuki dusun Libun. Alangkah dekat dusun ini dengan hatinya, baru sekarang dia merasakannya. Semua benda yang terdapat di sana, pohon-pohon, rumah-rumah dusun, batu-batu besar, selokan-selokan, semua itu begitu ramah menyambutnya dengan kenangan manis, membuat dia merasa bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama.

Hal ini tidaklah aneh karena selama sepuluh tahun dia tinggal di dusun Libun. Akan tetapi agaknya tidak ada seorang pun penduduk dusun itu yang mengenalnya. Ketika dia pergi, kepergiannya dianggap sebagai kematian oleh para penduduk yang mendengar bahwa dia sudah terlempar ke dalam jurang bersama ibunya, yaitu Liu Ma, dan ketika itu, lima tahun yang lampau, dia adalah seorang pemuda remaja, sedangkan sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa.

Akan tetapi dia masih dapat mengenali wajah-wajah tua yang tidak mengalami perubahan, hanya wajah-wajah itu sekarang nampak muram, tidak seperti dahulu. Dia tidak mengenal wajah-wajah muda penduduk Libun, karena seperti juga dia, orang-orang muda itu dahulu masih kanak-kanak atau remaja ketika dia pergi.

Agaknya tidak ada seorang pun di antara penduduk dusun Libun yang menaruh perhatian terhadap Han Lin. Dia hanya seorang pemuda berpakaian sederhana yang menggendong buntalan pakaian dan membawa tongkat bambu. Siapakah yang akan menaruh perhatian terhadap seorang pemuda sesederhana ini?

Satu hal yang agak menghibur hati Han Lin adalah melihat betapa para penghuni dusun Libun itu, tua muda, nampak rajin bekerja. Mereka berlalu-lalang dengan langkah tergesa-gesa, membawa alat pertanian atau alat-alat untuk menangkap ikan. Hal ini berarti bahwa penghuni dusun Libun masih memiliki penghasilan yang cukup baik. Hanya saja, mengapa wajah-wajah itu nampak demikian muram?

Han Lin menuju ke rumah di mana dulu dia tinggal bersama Liu Ma. Dan hatinya sangat terharu ketika melihat rumah itu masih seperti dulu, terpelihara baik-baik, pekarangannya disapu bersih dan semua pohon yang tumbuh di pekarangan masih seperti dahulu, hanya sudah tumbuh menjadi lebih besar.

Jantungnya berdebar tegang, seolah dia akan melihat ibunya muncul dari pintu depan lalu menyambutnya. Dia merasa seperti dahulu kalau pulang ke rumah itu. Sebenarnya masih samakah keadaannya? Apakah semua yang dialami lima tahun ini hanya mimpi belaka?

Dia bahkan merasa betapa hatinya mengharapkan bahwa Liu Ma betul-betul akan muncul menyambutnya dengan senyuman serta pandang matanya yang khas, yang penuh kasih sayang kepadanya! Ketika dia naik ke beranda depan, hampir saja mulutnya memanggil Liu Ma seperti dahulu, dengan sebutan ibu.

Dia cepat menahan suaranya karena pada saat itu dari pintu depan muncul seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun. Pria ini nampak tua dan lemah, namun Han Lin segera mengenalnya.

“Paman Akui!" serunya gembira.

Lima tahun yang lalu laki-laki ini adalah seorang pembantu rumah tangga, terutama dalam mengurus kebon. Dia sangat dipercaya oleh ibunya karena memang jujur dan setia walau pun buta huruf.

Akui memandang pemuda itu dengan alis berkerut. "Siapakah engkau?" katanya meragu. "Dan ada keperluan apa berkunjung ke sini?"

Pandang matanya jelas membayangkan keheranan bahwa pemuda yang tidak dikenalnya itu mengetahui namanya. Dia merasa pernah mengenal pemuda Ini, akan tetapi lupa lagi entah di mana.

"Paman, apakah paman sudah lupa kepadaku? Aku Han Lin, paman."

Sepasang mata itu terbelalak dan tampak ketakutan, lalu orang itu terhuyung ke belakang seperti telah didorong. "Tidak… tidak..." dia menggeleng-geleng kepala dan mengangkat kedua tangannya seperti hendak melindungi dirinya. "Setan kau... roh penasaran…"

Han Lin merasa kasihan, akan tetapi juga geli. Dia tersenyum kemudian berkata lembut. "Paman Akui, apakah aku kelihatan seperti setan? Lihatlah baik-baik, aku adalah Han Lin yang lima tahun lalu tinggal bersama mendiang ibu di sini. Aku sudah pulang, paman. Aku masih hidup, belum mati dan bukan roh penasaran.."

Akui dapat menenangkan hatinya lantas dia memandang penuh perhatian, agaknya mulai percaya bahwa yang berdiri di hadapannya bukan setan, bukan roh penasaran, melainkan seorang pemuda dari darah daging dan kini dia mulai mengenali wajah itu!

"Tapi... bukankah lima tahun yang lalu engkau telah mati, terlempar ke dalam jurang dan tewas bersama ibumu? Lihat, itu di dalam ada meja sembahyang untuk menyembahyangi arwah ibumu dan arwahmu "
'Tidak, Paman. Ibu memang tewas terjatuh ke dalam jurang, akan tetapi aku tidak mati. Tuhan masih melindungi dan menghendaki aku masih hidup."
"Tapi kalau memang begitu, kenapa sampai lima tahun baru engkau pulang? Selama lima tahun ini, engkau di mana saja...?" Agaknya Akui belum yakin benar bahwa pemuda yang berdiri di depannya adalah Han Lin.
"Panjang ceritanya, paman. Marilah kita bicara di dalam saja. Selain banyak yang hendak kuceritakan, juga banyak yang hendak kutanyakan kepadamu. Jangan ragu, paman Akui, aku benar-benar Han Lin yang ketika berusia enam tahun pernah jatuh dari atas pohon di pekarangan depan itu dan untung ada paman di bawah pohon sehingga tubuhku menimpa paman dan tidak cedera."

Mendengar ini barulah Akui yakin. Bagaimana mungkin pemuda ini dapat mengetahui apa yang terjadi belasan tahun yang lalu itu kalau pemuda ini bukan Han Lin yang asli? Lagi pula kini dia dapat melihat bahwa wajah Han Lin tidak berubah dari wajahnya lima tahun yang lalu, walau pun kini dia lebih tinggi dan tegap.....
"Kongcu, benar-benar engkaukah ini?" Suaranya menjadi serak dan dua matanya basah ketika Akui memegang tangan Han Lin. "Aihh, kongcu betapa mala petaka telah menimpa kita bersama, seluruh warga dusun kita menderita sengsara."

Han Lin tidak ingin orang lain mendengar ucapan ini, maka dia lalu menggandeng tangan Akui dan diajaknya orang tua itu masuk ke rumah lalu duduk di ruangan dalam. Ternyata perabot rumah itu pun masih seperti dahulu, tidak diubah sama sekali dan agaknya yang mengurus rumah itu hanya Akui seorang karena tidak terdapat orang lain di situ. Setelah duduk, agar meyakinkan hati Akui bahwa dia benar Han Lin, pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya secara singkat.

"Memang benar bahwa lima tahun yang lalu orang-orang jahat itu membuat aku terjungkal ke dalam jurang, paman. Akan tetapi aku dapat berpegang kepada pohon yang tumbuh di dinding jurang sehingga nyawaku selamat. Ibu tewas di dasar jurang dan sudah kukubur jenazahnya. Biar pun aku terluka, tetapi aku diselamatkan seorang kakek yang kemudian menjadi guruku dan aku dibawa pergi untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Setelah lewat lima tahun barulah aku diperkenankan untuk pulang ke sini.”

Akui menyusut air matanya karena merasa sedih dan terharu. "Ahh, ternyata Tuhan telah melindungi orang yang tidak berdosa. Tidak sia-sialah selama lima tahun ini aku merawat rumah ini, menjaga dan membersihkannya sungguh pun semua orang menertawakan aku dan mengatakan bahwa engkau dan ibunya telah tewas. Aku mengambil keputusan untuk merawat terus rumah ini sampai aku mati, ternyata kini tiba-tiba engkau pulang, kongcu, seperti seorang bangkit kembali dari kuburan."

"Aku berterima kasih sekali kepadamu, paman Akui, tapi sekarang aku ingin mendengar, apa yang terjadi di dusun ini sejak aku pergi. Bagaimana pula dengan kuil di bukit itu!"
"Kongcu, tiga orang losuhu di kuil itu telah terbunuh pula."
"Aku tahu, paman. Aku sempat menguburkan jenazah mereka. Yang ingin kuketahui, apa yang terjadi selanjutnya setelah ketiga orang suhu itu tewas?"

"Yang terjadi adalah bencana bagi dusun kita, bahkan juga dirasakan dusun-dusun lain di sekitar sini, kongcu. Kuil itu dijadikan sarang mereka... dan sampai sekarang kehidupan para penghuni dusun ini seperti dicekam ketakutan dan tersiksa. Banyak yang diam-diam melarikan diri mengungsi. Yang tetap tinggal terpaksa harus tahan menderita penghinaan dan pehindasan. Mereka menganggap seluruh penghuni dusun sebagai pelayan. Semua kebutuhan makan mereka harus kita sediakan, bahkan banyak pula gadis dusun ini yang mereka tawan, juga gadis-gadis dari dusun lainnya. Banyak pula penduduk yang mereka pukuli, mereka rampas hartanya, ada pula yang mereka bunuh karena berani melawan Dan semua peninggalan ibumu yang disimpan dalam kamar ibumu… ahh, semua sudah dirampas tanpa aku dapat mencegahnya, kongcu."

"Tidak mengapa, paman. Barang yang hilang sudahlah, jangan dipikirkan lagi," kata Han Lin akan tetapi hatinya terasa nyeri dan panas, bukan karena barang-barang peninggalan Liu Ma dirampas orang, melainkan karena mendengar akan perbuatan sewenang-wenang dan kejam dari gerombolan penjahat itu.

Seingatnya, yang muncul dan mengacau kuil di puncak Bukit Ayam.Emas hanyalah tiga orang Sam Mo-ong serta seorang pemuda bersuling yang kejam dan licik, yang dia lupa lagi siapa namanya.

"Paman, apakah sampai sekarang mereka itu masih tinggal di kuil di puncak Bukit Ayam Emas, dan kalau masih, berapa banyaknya mereka yang bersarang di sana?"
"Banyak sekali, kongcu. Dan menurut desas-desus para penduduk, lima orang pemimpin mereka berjuluk Bu-tek Ngo-sin-liong. Anak buah mereka banyak sekali, antara dua puluh sampai tiga puluh orang dan aku mendengar mereka itu adalah para anggota Hoat-kauw, kongcu. Entah aliran apa itu, yang jelas mereka semua suka mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka. Mereka membangun pondok-pondok di sekitar kuil yang dijadikan tempat tinggal para anggota. Dan para anggota itulah yang suka membikin kacau, merampok, menculik wanita, menyiksa dan membunuh!"

Han Lin mengepal tinju. Tak mungkin dia mendiamkan saja kejahatan itu melanda daerah yang demikian indah. Hatinya langsung terbakar setelah mendengar betapa gerombolan itu tidak pantang melakukan kejahatan yang bagaimana pun juga, bukan hanya menculik gadis-gadis dusun, bahkan isteri orang pun mereka rampas!

"Paman Kui, terima kasih atas kebaikanmu selama lima tahun merawat rumah ini. Mulai sekarang engkau boleh tinggal di sini selama hidupmu dan anggap saja rumah ini adalah milikmu sendiri. Dan sekarang aku mohon kepadamu, rahasiakan kedatanganku. Jangan ceritakan kepada siapa pun juga bahwa aku masih hidup dan sudah datang kembali ke rumah ini. Aku hanya akan tjnggal beberapa hari saja di sini, paman, kemudian aku akan pergi lagi sehingga tidak perlu menggegerkan penduduk dusun Libun."

Akui mengangguk-angguk maklum lalu berbisik, "Aku tahu, kongcu. Bukan hanya kongcu yang takut, aku pun takut kalau sampai mereka mengenal kongcu. Memang sebaiknya kalau kongcu bersembunyi dan cepat meninggalkan tempat yang tidak aman ini. Aku akan menjaga rumah ini sampai kelak keadaan kembali aman dan kongcu pulang ke sini."

Tentu saja Han Lin menyuruh pelayan itu merahasiakan kehadirannya bukan karena dia takut. Dia akan menentang gerombolan itu, namun hal ini harus dia lakukan sendiri tanpa setahu penduduk dusun Libun sehingga kelak tidak akan ada akibat yang buruk bagi para penduduk karena dia seorang yang bertanggung jawab. Akan tetapi biarlah Akui mengira dia takut, hal itu lebih baik lagi supaya Akui benar-benar merahasiakan bahwa dia masih hidup dan kembali ke situ.

"Memang benar, paman, aku takut kalau mereka mengetahui aku berada di sini. Tetapi selama lima tahun ini, apakah kepala dusun Libun mendiamkan saja semua kejahatan itu terjadi? Bukankah dahulu Lurah Can dari dusun ini terkenal mempunyai keberanian dan berwatak adil?"

"Aihh, kongcu. Lurah Can memang pernah mengumpulkan para muda lalu menyerbu ke sana, akan tetapi akibatnya, lurah Can berikut beberapa orang tewas dan sejak itu tidak ada lagi yang berani melawan untuk mati konyol. Sesudah Lurah Can tewas, mereka lalu mengangkat seorang di antara mereka menggantikan kedudukan kepala dusun, dan kami semua semakin tidak berdaya."

"Hemm, siapa lurah baru itu?"
"Dia Lurah Ouw yang tinggal bersama keluarganya di rumah lurah lama."
"Baiklah, paman. Sekarang paman boleh melanjutkan pekerjaan sehari-hari seperti biasa. Aku akan beristirahat. Apakah kamarku masih terpelihara?"

Wajah Akui berseri. "Masih, kongcu. Biar pun tadinya aku sudah yakin bahwa kongcu dan nyonya telah meninggal dunia, tapi kedua kamar itu setiap hari kubersihkan dan pintunya selalu kututup dan kukunci. Tidak ada seorang pun boleh mengganggu kedua kamar itu. Bahkan pakaian kongcu juga masih ada dalam almari. Yang tidak ada hanyalah barang-barang berharga yang telah diambil oleh mereka, kongcu."

Han Lin memasuki kamarnya dan dia benar-benar merasa terharu. Kamar itu semuanya masih seperti dahulu, mengingatkan dia akan masa lalu. Pada saat dia membuka almari, pakaiannya juga masih lengkap, akan tetapi tentu saja sekarang pakaian itu tidak dapat dipakainya, terlampau kecil. Hari ini sampai malam dia berdiam saja di dalam rumahnya seperti orang bersembunyi, dilayani oleh Akui yang kini nampak berseri wajahnya, seperti tanaman yang hampir mengering mendapatkan siraman air hujan.

Sesudah malam tiba Han Lin mengatakan kepada Akui bahwa malam itu dia tidak ingin diganggu, lalu dia menutupkan pintu kamarnya dan mengunci dari dalam. Tanpa diketahui siapa pun, dia lalu keluar dari kamarnya melalui jendela.

Gerakan Han Lin sudah cepat bukan main, ringan dan cepat seperti seekor burung walet. Kini ditambah kegelapan malam, tidak ada orang akan mampu melihat gerakannya ketika dia berlari dalam kegelapan menuju ke rumah kepala dusun, yaitu Lurah Ouw seperti yang dia dengar dari Akui tadi. Menurut Akui, lurah baru itu tinggal di rumah besar bekas rumah keluarga Lurah Can, bersama keluarganya, yaitu tiga orang isteri dan lima orang anak.

Semua anggota keluarga di rumah Lurah Ouw telah tidur nyenyak. Rumah itu sudah sepi ketika bayangan hitam itu berkelebat cepat ke atas wuwungan rumah, lalu melayang turun ke dalam. Tak lama setelah Han Lin mencari-cari di mana kiranya sang lurah berada, dia mendengar suara dua orang peronda yang agaknya bertugas jaga di rumah kepala dusun itu. Dia segera menyelinap ke balik sudut tembok.

"Wah, yang paling senang di sini adalah Ouw-toako, ya? Menjadi lurah, isterinya banyak, mendapat kehormatan."
"Ssttt, hati-hati kau bicara. Kalau terdengar olehnya, engkau tentu akan dihajar."
"Dia tidak akan mendengar. Dia sedang terlelap di dalam pelukan isterinya yang terbaru, isteri yang ke empat dan kamarnya di ujung belakang. Tidak akan dapat mendengar suara kita."
"Sudahlah, jangan mengiri. Bila engkau ingin mendapatkan tempat yang enak, bekerjalah lebih keras, membuat jasa sebesar-besarnya, dan tentu pemimpin kita akan memberimu kenaikan pangkat."

Han Lin membiarkan mereka lewat dan setelah mereka jauh, baru dia keluar dari tempat sembunyinya kemudian cepat menuju ke kamar di ujung belakang. Dari sinar Iampu kecil yang remang-remang, dia melihat dalam intaiannya seorang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh lima tahun tidur mendengkur di samping seorang wanita muda yang cantik, dan wanita itu nampak menangis lirih, hampir tanpa suara. Han Lin dapat menduga bahwa wanita muda itu adalah selir ke empat dan agaknya diselir oleh sang lurah secara paksa, mungkin direnggut secara paksa dari tunangannya, atau bahkan suaminya, atau mungkin orang tuanya.

Tanpa mengeluarkan suara dia membuka jendela, melompat masuk dan sebelum wanita itu tahu apa yang terjadi, tangan Han Lin telah cepat menyambar sehingga wanita itu pun terdiam, langsung pingsan tanpa melihat apa pun sebelumnya.

Agaknya gerakannya itu sudah menimbulkan sedikit goncangan sehingga sang lurah yang sedang mendengkur itu langsung menghentikan dengkurnya. Tetapi dia pun tidak sempat membuka mata karena begitu tangan Han Lin bergerak, dia sudah tidak tahu apa-apa lagi karena telah pingsan.

Han Lin menyambar pakaian sang lurah yang berserakan, membungkus tubuh lurah yang pendek gendut itu sejadinya, kemudian dia pun sudah meninggalkan kamar itu, kini sambil memanggul tubuh sang lurah. Tak seorang pun penjaga tahu bahwa lurah mereka sudah meninggalkan rumah di atas pundak seorang yang bergerak amat cepat dan ringan bagai seekor burung walet.

Pagi-pagi sekali Han Lin membebaskan totokannya dari tubuh sang lurah yang sebetulnya adalah seorang tokoh Hoat-kauw bernama Ouw Tit, yang oleh para pimpinan Hoat-kauw ditugaskan untuk menjadi lurah di dusun Libun.

Mereka berada di sebuah lereng dekat sebuah pondok bambu. Sejak ditotok pingsan Ouw Tit tidak tahu apa yang terjadi, dan kini begitu totokannya bebas, dia terkejut, membuka mata dan melihat dirinya berada di dekat pondok di lereng bukit yang sunyi, ada pun hari masih pagi sekali, matahari baru memancarkan sinarnya sebagai tanda bahwa fajar telah menyingsing.

Dia merasa tubuhnya yang semalam tidak mmpu bergerak itu kaku-kaku. Begitu melihat dirinya setengah telanjang dengan pakaiannya hanya dibungkuskan di tubuhnya, dia kaget sekali kemudian cepat dia mengenakan pakaiannya sehingga kini nampak patut, baru dia memandang kepada pemuda itu dan nampaklah sikapnya yang jagoan dan sudah biasa memerintah.

"Heiii, apakah yang terjadi? Di mana aku dan bagaimana dapat berada di siini? Siapa pula engkau? Hayo mengaku sejujurnya!”

Dalam hatinya Han Lin merasa muak sekali melihat sikap ini. Sungguh merupakan orang yang berwatak amat buruk dan jelas orang macam ini tentu jahat dan kejam.

"Orang she Ouw, akulah yang membawamu ke sini. Aku mengambilmu dari tempat tidur di kamarmu," katanya tenang.

Orang pendek gendut itu langsung melotot dan mukanya menjadi merah karena marah. "Apa?! Berani kau! Sudah ingin mampus, ya?"

Dia pun telah menerjang maju dan kedua tangannya bergerak cepat melakukan serangan. Bagaimanapun juga dia adalah seorang anggota Hoat-kauw yang sudah memiliki tingkat, maka tentu saja dia pandai ilmu silat. Serangannya dengan kedua tangan bertubi-tubi itu juga mengandung tenaga besar dan cepat.

"Plakkk! Dukkk!"

Penyerang itu mengaduh-aduh dan mengguncang-guncang kedua lengannya yang terasa seperti patah-patah tulangnya ketika bertemu dengan lengan Han Lin. Akan tetapi dasar orang tak tahu diri, setelah rasa nyeri agak berkurang, dia menyerang lagi semakin ganas, bahkan kini menyusuli pukulannya dengan tendangan kakinya yang pendek tetapi besar.

Han Lin tidak sabar lagi. Dia menangkap kaki kanan yang menendang, mendorong kaki itu ke atas sehingga tubuh Ouw Tit terlempar ke atas.

“Bukkk!"

Pantat yang gemuk itu terbanting keras, membuat pemiliknya menyeringai kesakitan. Dia bangkit lagi, menyerang lagi hanya untuk roboh lagi karena terkena tamparan tangan kiri Han Lin. Pemuda ini hendak menaklukkan dan menundukkan, bukan hendak membunuh, maka tenaga pukulannya juga terkendali, tidak terlalu keras namun cukup membuat lawan terpelanting keras.

Dasar orang bandel yang sudah mempunyai kedudukan sehingga merasa paling menang, Ouw Tit bangkit lagi lantas mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas. Karena ketika dibawa ke situ dia tidak bersenjata, maka melihat sebuah dahan kering di bawah pohon, dia segera menyambar dahan kering itu lalu mempergunakannya sebagai senjata, menyerang lagi dengan membabi-buta.

Akan tetapi, begitu dia menghantamkan dahan kering itu, Han Lin segera mendahuluinya. Tongkat bambunya menyambar dan menotok pundak, membuat Ouw Tit terpelanting lagi dan tidak mampu bangkit kembali, hanya dapat melotot marah.

Han Lin maklum bahwa dia menghadapi seorang yang kasar dan bandel, maka dia cepat menggunakan ujung tongkatnya menotok beberapa kali ke arah tubuh si pendek gendut. Kini tubuh itu bergulingan di atas tanah sambil berteriak mengaduh-aduh, berkelojotan dan dalam kesakitan yang hebat.

"Aduhh mati aku… aduhhh aughh... ampun, ampunkan aku.” Akhirnya dia menangis dan minta minta ampun.

Karena memang bukan niat Han Lin untuk menyiksa orang, maka begitu orang itu minta ampun, hal yang diharapkan dengan menotok mendatangkan kenyerian itu, dia pun cepat membebaskan totokannya. Kini Ouw Tit tidak menderita nyeri lagi, hanya tubuhnya masih lemas dan panas dingin karena dia telah mengerti bahwa dia sedang menghadapi seorang yang amat lihai.

"Nah, sekarang apakah engkau masih hendak melawan? Jika engkau masih membandel, bukan saja aku akan membuat engkau tersiksa seperti tadi, hidup tidak mati pun tidak, aku akan menyiksa pula empat orang isterimu dan semua anak-anakmu. Bagaimana?"
"Ampun, taihiap, aku menyerah kalah... aku minta ampun. Tapi rasanya aku tidak pernah mengenal taihiap dan tidak ada urusan di antara kita, kenapa taihiap memperlakukan aku seperti ini?"
"Aku tahu, engkau lurah Ouw dari dusun Libun dan engkau adalah anggota Hoat-kauw."
"Benar, benar sekali, taihiap. Aku memang lurah Ouw dari dusun Libun dan aku adalah seorang anggota Hoat-kauw. Karena itu, dengan memandang Hoat-kauw tentu taihiap tak akan membunuhku, bukan?"
"Hemm, justru karena engkau orang Hoat-kauw, aku ingin sekali menyiksamu, menyiksa seluruh keluargamu!" Han Lin membentak dan si pendek gendut itu menjadi pucat.
"Ampun, taihiap... ampunkan aku, anakku masih kecil-kecil…" dia meratap.
"Baik, aku akan mengampuni dan juga mengampuni semua anak isterimu asalkan engkau suka menurut semua kehendakku. Nah, sekarang ceritakan tentang Hoat-kauw yang telah menduduki kuil di Bukit Ayam Emas. Ada hubungan apa antara Hoat-kauw dengan Sam Mo-ong? Ceritakan semua dengan sejujurnya!"

Karena sudah tak berdaya sama sekali dan takut kalau-kalau dia dan seluruh keluarganya dibasmi oleh pemuda yang lihai bukan main ini, Ouw Tit lalu membuat pengakuan. Andai kata dia belum pernah dijadikan kepala dusun, belum pernah mengenyam kesenangan dan kemuliaan sebagai kepala dusun dengan banyak isteri dan anak, mungkin dia akan berkeras tidak mau mengaku, malah mungkin memilih mati seperti banyak dilakukan para anggota Hoat-kauw yang fanatik. Tetapi kesenangan duniawi telah mengikatnya erat-erat, dan karena ingin selamat sekeluarga, maka dia pun membuat pengakuan dengan suara tersendat-sendat.

Dari mulut Ouw Tit, Han Lin pun mendengar semuanya. Kiranya Sam Mo-ong adalah kaki tangan bangsa Mongol yang ingin menguasai Kerajaan Tang, dan Sam Mo-ong mengajak Hoat-kauw bersekutu untuk bersama-sama menggulingkan Kerajaan Tang! Kuil di Bukit Ayam Emas itu dijadikan semacam sarang oleh Hoat-kauw untuk mengadakan hubungan dengan para utusan Mongol.

Kalau Hoat-kauw membuat gerakan dari pusat atau cabang, tentu akan terlalu menyolok dan diketahui pemerintah, maka tempat di Bukit Ayam Emas itu menjadi semacam sarang rahasia.

Han Lin mengangguk-angguk. Kiranya mereka itu bukannya memusuhi penduduk dusun Libun atau membunuhi para hwesio di kuil karena permusuhan pribadi, melainkan karena gerakan yang lebih besar lagi, yaitu hendak memberontak terhadap kerajaan. Ini sungguh berbahaya sekali, terutama bagi penduduk dusun Libun, karena mungkin saja pemerintah akan menganggap bahwa seluruh penduduk dusun Libun menjadi anggota pemberontak.

"Sekarang ceritakan, siapa saja yang tinggal di puncak Bukit Ayam Emas, berapa orang dan siapa pemimpinnya?!" kata pula Han Lin dengan suara tetap tegas dan penuh wibawa karena secara diam-diam dia mengerahkan kekuatan batin seperti pernah dia pelajari dari mendiang Kun Hwesio yang ahli sihir.

Pengaruh sikap dan suara Han Lin itu sungguh kuat dan pada saat itu, Ouw Tit melihat Han Lin sebagai seorang yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Karena itu dia pun dengan terus terang menceritakan bahwa anak buah Hoat-kauw yang tinggal di puncak Bukit Ayam Emas ada kurang lebih lima puluh orang dan yang memimpin mereka adalah Bu-tek Ngo-sin-liong, lima orang tokoh besar Hoat-kauw.

"Tetapi saat ini Bu-tek Ngo-sin-liong tidak berada di sana, karena mereka sedang pergi ke Bukit Harimau, di luar kota An-king untuk menghadiri ulang tahun Hoat-kauw yang akan dirayakan besar-besaran dan mengundang semua partai persilatan dan aliran."

Han Lin tertarik. "Kapan perayaan itu akan diadakan?"

"Bulan depan."

"Nah, sekarang engkau harus ikut denganku ke kota Nam-san. Di sana, di depan kepala daerah, engkau harus membuat pengakuan seperti yang kau ceritakan kepadaku."

Ouw Tit terbelalak, mukanya menjadi pucat. "Tapi… tapi, taihiap aku tentu akan ditangkap dan dihukum!"

"Hemm, jadi engkau memilih kusiksa bersama seluruh keluargamu, mati perlahan-lahan? Begitukah?" Han Lin mengangkat tongkat bambunya mengancam.

"Ampun…! Tidak, tidak, taihiap."
"Kalau begitu engkau harus membuat pengakuan di hadapan kepala daerah dan mungkin keluargamu akan terhindar dari hukuman. Hayo!" Han Lin menarik tangan orang itu lantas dibawanya berlari cepat menuju ke kota Nam-sam yang merupakan kota kabupaten yang membawahi dusun Li bun.

Para penjaga di kantor Bupati Cu segera membawa Han Lin dan Ouw Tit menghadap pembesar itu. Cu-taijin (pembesar Cu) memandang kepada mereka dengan heran, lalu menegur sambil menudingkan telunjuknya kepada Ouw Tit.

"Bukankah engkau Ouw Tit, lurah dusun Libun yang menggantikan Lurah Can yang tewas oleh gerombolan penjahat itu?"
"Ampun, taijin,” kata Han Lin lantang, "saya ingin melaporkan keadaan di Libun. Dahulu, lima tahun yang silam, Lurah Can tewas di tangan gerombolan penjahat, dan Ouw Tit ini adalah orangnya gerombolan itu yang memang sengaja diselundupkan. Dengan memaksa penduduk akhirnya dia dapat dipilih menjadi lurah baru. Seluruh dusun dan wilayah Libun kini telah dikuasai gerombolan yang sangat berbahaya karena mereka berniat melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Tang, taijin."

Tentu saja Bupati Cu terkejut bukan main. "Siapakah engkau, orang muda?"
"Nama saya Sia Han Lin, penduduk dusun Libun, taljin." Kemudian Han Lin menghardik Ouw Tit. "Hayo engkau cepat membuat pengakuan di hadapan Taijin!"

Bupati Cu memberi isyarat dan lima orang prajurit pengawal segera datang ke ruangan itu dengan golok di tangan untuk menjaga segala kemungkinan karena tentu saja hati bupati itu merasa khawatir bahwa lurah dusun Libun itu dikatakan sebagai anggota gerombolan penjahat yang mempunyai niat memberontak.

"Ceritakan semuanya dengan sejujurnya!" bentaknya kepada Ouw Tit.

Ouw Tit merasa terjepit. Menghadapi Han Lin saja dia sudah tidak berdaya dan dia lebih ngeri menghadapi ancaman pemuda tampan yang nampaknya lemah lembut itu dari pada lima orang prajurit pengawal yang memegang golok. Dia tahu bahwa kalau dia memang menghendaki, dia akan mampu mengalahkan lima orang prajurit itu. Akan tetapi dia sama sekali tidak berdaya menghadapi Han Lin yang lihai. Dia hanya mengharapkan pemuda itu tak akan mengganggu keluarganya seperti yang dijanjikan tadi, maka dia pun mengulang ceritanya yang tadi sudah dia ceritakan kepada Han Lin.

Mendengar bahwa di dusun Libun, tepatnya di puncak Bukit Ayam.Emas terdapat sarang gerombolan pemberontak, Cu-taijin terkejut bukan kepalang. Libun termasuk wilayahnya, maka kalau sampai terdapat gerombolan pemberontak di sana, itu merupakan tanggung-jawabnya. Dialah yang akan ditegur oleh atasannya apa bila gerombolan pemberontak itu semakin mengganas dan semakin kuat.

"Jebloskah dia dalam tahanan dan cepat hubungi Un-ciangkun (perwira Un)!" kata bupati kepada pengawalnya.

"Taijin, harap hati-hati menghadapi penjahat ini. Dia cukup lihai, maka sebaiknya kalau dia dibelenggu saja!" Berkata demikian, Han Lin menggerakkan tangannya menotok pundak Ouw Tit yang langsung terkulai lumpuh. "Memang sebaiknya taijin cepat memerintahkan pasukan untuk menyerbu dan menangkapi gerombolan itu. Mereka telah menguasai Libun dan menekan penduduk, menyengsarakan mereka. Saya mohon diri dan terserah kepada taijin."

"Tunggu dulu, Han Lin!" kata bupati itu. "Kalau gerakan kami ternyata berhasil menumpas gerombolan pemberontak, engkau sudah berjasa dan kami tidak akan melupakan jasamu. Di mana engkau tinggal?"

"Saya tidak mengharapkan imbalan, taijin, saya melakukan ini untuk membela penduduk Libun di mana saya tinggal. Selamat tinggal, taijin!" karena tidak ingin diganggu lagi, Han Lin lantas mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat lenyap dari depan pembesar itu yang langsung tercengang.

Akan tetapi menyadari gawatnya urusan, Bupati Cu segera memerintahkan petugas untuk membelenggu kaki tangan Ouw Tit yang sudah tertotok lumpuh itu lantas menyeretnya ke dalam tahanan dengan pesan supaya dijaga ketat. Kemudian dia mengadakan hubungan dengan komandan pasukan di benteng terdekat sehingga tak lama kemudian, sepasukan prajurit yang terdiri dari dua ratus orang bergerak menuju ke dusun Libun, dipimpin oleh beberapa orang perwira…..

********************
Sementara itu di rumah tinggal lurah Ouw sudah terjadi kegemparan ketika isteri dan para selirnya tidak dapat menemukan suaminya. Mereka segera memanggil para penjaga dan para jagoan yang tadi malam bertugas menjaga rumah mereka. Tentu saja mereka amat terkejut mendengar laporan itu karena selama semalaman tadi suasana aman tenteram saja tanpa ada suatu kejadian pun.

Beramai-ramai mereka kemudian mencari di dalam rumah itu, setiap kamar dan ruangan digeledah, akan tetapi batang hidung lurah Ouw tidak nampak sama sekali. Pencarian lalu dilanjutkan di luar rumah, setiap sudut pekarangan dan taman diperiksa, namun hasilnya tetap sia-sia belaka.

Demikianlah, selagi mereka kebingungan dan sudah mengambil keputusan bahwa kalau sampai sore hari Lurah Ouw belum juga pulang mereka akan melapor ke kuil di puncak Bukit Ayam Emas, maka mereka melihat seorang pemuda memasuki pekarangan rumah dan dari luar berdatangan pula sepuluh orang pemuda dusun di luar pekarangan.

"Haiii, kalian mau apa?! Siapa engkau, orang muda? Apa perlumu masuk ke pekarangan ini?!" bentak seorang di antara sepuluh jagoan pembantu Lurah Ouw itu dengan sikapnya yang galak. Sembilan kawannya juga sudah maju mengepung Han Lin dengan setengah lingkaran.

Han Lin yang memegang tongkatnya, bersikap tenang saja ketika sepuluh orang jagoan itu memperlihatkan sikap mengancam. Dia pun segera maju menyambut mereka dengan bentakan nyaring.

"Kami adalah penghuni dusun Libun yang sudah muak melihat kekejaman kalian dan tidak ingin lagi melihat kalian mengacau di dusun kami!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja sepuluh orang anggota Hoat-kauw itu menjadi terkejut, terheran, marah dan juga geli.

"Bocah gila, engkau sudah bosan hidup!" bentak seorang di antara mereka yang segera menggerakkan goloknya membacok leher Han Lin, sedangkan yang lain hanya menonton saja karena mereka mengira bahwa seorang kawan mereka saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh pemuda yang lancang itu.

Akan tetapi mereka terbelalak ketika melihat teman mereka yang menyerang itu tiba-tiba saja terjengkang, goloknya terlepas dan dia tak mampu bangkit kembali. Tahulah mereka bahwa pemuda ini tidak seperti pemuda dusun yang lain, tetapi memiliki kepandaian maka berani bersikap menantang seperti itu.

Sambil berteriak-teriak ganas sembilan orang menyerang Han Lin dengan golok mereka. Serangan mereka ganas dan semua golok menyambar laksana tangan maut. Akan tetapi mereka terkejut ketika pemuda yang mereka serang itu lenyap dan yang nampak hanya bayangannya berkelebat, kemudian tahu-tahu ada tongkat menyambar-nyambar dari arah belakang mereka.

Mereka segera membalik dan menggerakkan golok untuk menangkis, namun terlambat. Ujung tongkat bambu yang gerakannya bagai kilat menyambar-nyambar itu telah menotok mereka satu demi satu dan robohlah mereka seperti rumput dibabat pedang.

Sepuluh orang dusun itu kini telah menjadi lebih dari tigapuluh orang. Mereka berdatangan dan menjadi penonton saja di luar halaman sebab mereka semua merasa gentar terhadap sepuluh orang tukang pukul lurah Ouw itu. Tetapi ketika melihat betapa dalam beberapa menit saja Han Lin telah merobohkan sepuluh orang yang ditakuti itu, orang-orang dusun lalu bersorak dan mereka segera menyerbu ke dalam pekarangan, mengangkat senjata di tangan mereka yang bermacam-macam bentuknya, ada kapak, arit, cangkul, garu, palu dan berbagai macam perkakas lagi,

Han Lin maklum bahwa orang yang mendendam dapat menjadi amat kejam, juga bahwa orang yang merasa menang bisa mabok kemenangan sehingga bisa melakukan apa saja yang dirasakan menjadi haknya karena menang. Karena itu dia cepat menghadang sambil mengangkat kedua tangan ke atas.

"Berhenti dan tahan senjata!" Bentakannya mengandung wibawa kuat sehingga tiga puluh orang lebih itu berhenti dan memandang kepada Han Lin dengan heran. Mereka hendak membantu pemuda itu membantai sepuluh orang jagoan dan menyerbu rumah lurah Ouw yang selama ini menjadi seperti raja lalim di dusun itu, namun mengapa Han Lin menahan mereka?

"Biarkan kami bunuh mereka semua!" terdengar beberapa orang berteriak.
"Tidak!" bentak Han Lin. "Kita tidak suka melihat kekejaman mereka, berarti kita bukan orang-orang kejam seperti mereka! Mari kita buktikan bahwa kita tidak seperti mereka. Kalau sekarang kita bertindak kejam, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita?"

Dia teringat akan kenyataan yang pernah dipaparkan oleh Lojin bahwa di dalam diri setiap orang manusia terdapat nafsu yang sama. Kalau seseorang mencela orang lain berbuat sewenang-wenang, adalah karena di pencela itu tidak mempunyai kesempatan melakukan hal yang sama. Kalau sekali dia mendapatkan kesempatan, mungkin dia akan lebih jahat dari pada yang dicela! Hanya orang yang tidak diperbudak nafsu-nafsunya saja yang akan selalu ingat dan waspada, tidak menuruti bisikan atau perintah nafsu-nafsunya sendiri.....

"Akan tetapi selama ini mereka bertindak kejam terhadap kita!" terdengar bantahan.
"Lantas kalian ingin membalas dendam dan bertindak kejam pula terhadap mereka? Kalau demikian kalian berubah menjadi orang-orang kejam dan aku tidak sudi membantu orang-orang kejam dan pengecut! Kenapa tidak dari dulu kalian melawan tindakan mereka yang kejam? Kenapa baru sekarang, sesudah melihat mereka tidak berdaya, lalu kalian hendak membantai mereka? Dengar, bila kalian tidak menurut kepadaku, aku akan pergi dan biar kalian sendiri menghadapi gerombolan yang berada di kuil puncak bukit Ayam Emas!"

Mendengar ucapan pemuda ini, wajah semua orang menjadi pucat dan semangat mereka yang menggebu-gebu didorong dendam itu pun langsung mengempis. Kini mereka seperti sekelompok anak-anak yang ketakutan. Han Lin merasa kasihan juga menyaksikan sikap mereka itu. Memang mereka nampak seperti anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan pengawasan.

"Aku ingin melihat kalian menggunakan semangat kalian untuk membela diri, bukan untuk bertindak sewenang-wenang dan kejam. Jika melihat pihak musuh sudah tak berdaya lalu hendak membantai mereka, itu perbuatan kejam dan sewenang-wenang. Juga kalian tidak boleh menyerang keluarga lurah Ouw yang tak bersalah apa-apa. Ketahuilah bahwa lurah Ouw kini sudah kutawan dan kuserahkan kepada yang berwajib. Tidak lama lagi pasukan akan menyerbu sarang gerombolan di puncak Bukit Ayam Emas, dan kita harus menjaga agar jangan sampai ada orang dari rumah ini yang lolos kemudian memberi kabar kepada gerombolan di sana. Mengertikah kalian? Tugas kalian hanya menjaga di sini, mengepung rumah ini supaya tidak ada yang dapat keluar, akan tetapi kalian tidak boleh membunuh orang yang tidak menyerang kalian. Mengerti?"

Mendengar ini semua orang bersorak gembira. Dusun mereka akan segera terbebas dari cengkeraman gerombolan penjahat setelah lima tahun!

"Kami mengerti, kongcu!" Tiba-tiba Akui berseru dan menghadap ke arah orang banyak. "Kita harus menaati perintah Sia-kongcu kalau ingin dusun kita diselamatkan!"

Orang-orang menyambutnya dengan sorakan setuju. Han Lin mengangkat tangan hingga semua orang terdiam dan mendengarkan ucapan pemuda itu.

"Saya senang sekali melihat sikap kalian. Sekarang dengar baik-baik. Sepuluh orang ini harus dibelenggu kaki tangannya dan dibawa ke dalam rumah. Aku akan mengumpulkan semua penghuni rumah ini. Hayo sepuluh orang pemuda yang pertama datang ke sini ikut bersamaku, tetapi ingat, jangan membunuh orang. Aku hanya ingin agar semua keluarga Ouw Tit dikumpulkan di ruangan dan diawasi agar jangan seorang pun di antara mereka dapat mengirim berita ke sarang gerombolan. Apa bila ada yang berbuat kejam dan jahat, pasti akan kuhajar sendiri!"

Dengan semangat besar dan sikap seperti jagoan, sepuluh pemuda itu segera mendekati Han Lin dan mengikuti pemuda ini memasuki rumah lurah Ouw. Sedangkan yang lain-lain segera menyerbu pekarangan dan sebentar saja sepuluh orang itu sudah ditelikung dan diikat seperti ayam-ayam yang hendak dipanggang!.

Saking benci dan dendamnya, biar pun tidak ada di antara mereka yang berani menyiksa apa lagi membunuh, tidak urung sepuluh orang tukang pukul yang sudah tidak berdaya itu menjadi korban caci-maki, diludahi dan diolok-olok yang bagi mereka rasanya jauh lebih menyakitkan dari pada kalau digebuki.

Biasanya mereka seperti penguasa-penguasa di dusun itu, tidak ada seorang pun berani memandang kepada mereka, apa lagi bicara kasar. Namun sekarang orang-orang dusun itu meludahi mereka, mencaci maki mereka!

Han Lin serta sepuluh orang pemuda dusun menyerbu memasuki rumah. Ternyata tidak ada tukang pukul lain kecuali hanya empat orang isteri sang lurah dan anak-anak mereka, juga ada beberapa orang pelayan wanita. Mereka semua sudah ketakutan dan berkumpul di sebuah ruangan terbesar di rumah itu, karena itu mudahlah bagi Han Lin dan kawan-kawannya untuk menawan mereka.

Mereka semua dikumpulkan di dalam sebuah ruangan, dilarang meninggalkan ruangan itu dan pintunya dijaga oleh sepuluh orang pemuda dusun. Kemudian Han Lin meninggalkan rumah itu sesudah berpesan kepada Akui supaya mengawasi orang-orang dusun itu agar jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang jahat seperti menyiksa, membunuh, apa lagi merampok.

Sejak lima tahun yang lalu, kuil di puncak Bukit Ayam Emas sudah dijadikan sarang oleh Hoat-kauw yang bertugas mengadakan hubungan dengan pihak Mongol yang diwakili oleh utusan mereka, yaitu Sam Mo-ong, tiga orang datuk besar yang sakti. Selama lima tahun ini mereka sudah melakukan banyak hal yang bagi mereka merupakan kemajuan dalam kerja sama mereka.

Pihak Sam mo-ong membantu orang-orang Mongol menaklukkan semua saingan-saingan mereka, yaitu suku-suku bangsa lain yang juga ingin meluaskah kekuasaannya di wilayah Kerajaan Tang, juga memaksa suku-suku bangsa yang lebih kecil untuk bergabung dan membantu orang Mongol. Sedangkan pihak Hoat-kauw yang diwakili oleh Bu-tek Ngo-sin-liong, lima orang tokoh Hoat-kauw, bergerak menaklukkan partai-partai persilatan beserta aliran-aliran lain untuk menguasai dunia kangouw.

Kalau kerja sama ini berhasil, maka Kerajaan Tang akan menghadapi pasukan Mongol yang dibantu oleh suku-suku bangsa lain dan dunia kangouw! Untuk hubungan kerja sama di antara mereka, pihak Sam Mo-ong mewakilkan kepada An Seng Gun, putera mendiang An Lu Shan yang diaku anak oleh kakeknya sendiri, yaitu Kwi-jiauw Lo-mo, salah seorang di antara Sam Mo-ong. Seng Gun ini juga diperuntukkan kepada pihak Hoat-kauw agar hubungan dengan pihak Mongol dapat selalu terjalin, juga Seng Gun seolah-olah menjadi pengamat yang mengikuti perkembangan gerakan Hoat-kauw.

Pada waktu Han Lin kembali ke Libun, kebetulan sekali sarang Hoat-kauw di puncak Bukit Ayam Emas itu sedang ditinggalkan para pemimpin besarnya. Lima orang Bu-tek Ngo-sin-liong tidak berada di sana karena mereka sedang sibuk membantu pimpinan Hoat-kauw yang hendak mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang semua partai dan aliran. Perayaan akan diadakan di Bukit Harimau, di luar kota An-king, yang merupakan pusat cabang terbesar dari Hoat-kauw saat itu. Seng Gun sendiri sejak dua tahun ini tidak pernah nampak di kuil itu karena dia melaksanakan sebuah tugas rahasia yang diberikan kepadanya oleh Sam Mo-ong.

Han Lin menyelinap di luar perkampungan gerombolan di puncak Bukit Ayam Emas itu. Kuil yang dahulu menjadi tempat di mana dia belajar ilmu silat dari Kong Hwi Hosiang kini telah menjadi perkampungan gerombolan dan dipagari, juga di sekitar kuil di dalam pagar itu dibangun beberapa buah rumah untuk tempat tinggal anggota gerombolan.

Karena agaknya mereka semua merasa yakin tak akan ada seorang pun berani mengusik mereka, maka perkampungan gerombolan itu tidak terjaga ketat. Dengan mudah saja Han Lin melompati pagar bambu dan memasuki perkampungan tanpa terlihat siapa pun, lantas dia menyelinap antara pondok-pondok itu.

Ketika mendengar isak tangis wanita dari sebuah pondok, dia pun segera mendekati dan mengintai. Pondok-pondok darurat itu terbuat dari kayu dan bambu sebab itu amat mudah bagi Han Lin untuk mengintai.

Seorang wanita muda, usianya tidak akan lebih dari enam belas tahun, tampak menangis terisak-isak di atas pembaringan. Seorang lelaki yang usianya sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar bermuka hitam, duduk di atas kursi dekat pembaringan dan nampak marah-marah.

"Sudahlah, kau jangan menangis saja, sungguh menyebalkan!" bentak laki-laki itu sambil melotot kepada wanita muda yang menangis. “Apa sih maumu?"
"Pulangkan aku,” kata wanita itu sambil terisak, "Kembalikan aku ke rumah orang tuaku, aku ingin kembali kepada mereka."
"Sialan! Engkau telah menjadi isteriku, sudah lima belas hari di sini, tapi setiap hari hanya menangis minta pulang!"
"Aku bukan isterimu! Engkau… engkau menculik dan memaksaku hu-hu-huhh, pulangkan aku... pulangkan aku…"
"Engkau menjemukan!” bentak laki-laki muka hitam itu, kemudian dia bangkit berdiri dan tangannya menampar.
"Plakk...!"

Tamparan itu keras bukan main hingga wanita itu menjerit kemudian terjengkang ke atas pembaringan, pipinya yang kiri membengkak biru dan dia menangis semakin sedih.

Melihat ini, Han Lin tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Kalau saja mereka itu suami isteri, tentu dia tidak berhak mencampuri urusan mereka. Akan tetapi dari tangis wanita tadi dia tahu bahwa wanita yang masih remaja itu diculik dan dipaksa menjadi isteri orang itu, maka jelas dia adalah seorang di antara banyak korban, yaitu wanita-wanita di Libun dan sekitarnya yang diculik oleh para anggota gerombolan itu lantas dipaksa menjadi isteri mereka. Dari wanita inilah dia akan mendapat keterangan banyak dan penting, dan semua keterangannya tentu akan dapat dipercaya.

Melihat wanita itu ditampar, Han Lin lalu menerobos masuk melalui pintu depan yang tidak dikunci. Tanpa mengeluarkan suara berisik dia sudah berada dalam pondok dan langsung memasuki kamar.

Laki-laki tinggi besar muka hitam itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja ada seorang pemuda memasuki kamarnya. Dia sedang kesal dan marah sekali terhadap wanita yang dipaksanya menjadi isterinya. Sudah lima belas hari wanita itu dikeram dalam pondoknya, tetapi setiap hari hanya menangis dan merengek minta dipulangkan saja. Kini, melihat ada pemuda memasuki kamarnya, kemarahannya langsung memuncak.

"Jahanam! Siapa kau yang berani memasuki pondokku?!" teriaknya dengan kedua tangan dikepal siap untuk memukul, ada pun wanita muda itu terbelalak ketakutan dengan pipinya yang masih lebam.
"Engkau yang jahanam, laki-laki kejam tak berperi-kemanusiaan!" Han Lin balas menegur.
"Kau sudah bosan hidup!" bentak laki-laki itu dan dia pun sudah menerjang dengan kedua kepalan tangan menyambar-nyambar dalam serangan bertubi-tubi.

Tetapi setelah menghindar dengan langkah mundur, sekali Han Lin menggerakkan tangan dia berhasil menangkap dua pergelangan tangan si tinggi besar itu. Si tinggi besar muka hitam itu mengerahkan tenaganya untuk melepaskan kedua tangannya yang tertangkap. Betapa pun dia mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka karena kedua lengannya itu seperti terjepit besi sehingga sama sekali dia tak mampu menggerakkan dua lengannya.

Tiba-tiba Han Lin menggerakkan tangan kiri si tinggi besar yang dipegangnya. Maka tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi besar itu menampar mukanya sendiri, disusul tangan ke dua sampai berkali-kali.

"Plak-plak-plak-plak...!"

Kedua pipinya menjadi bengkak dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Kemudian Han Lin menotoknya sehingga si tinggi besar itu roboh tak berkutik lagi.

Han Lin menoleh kepada wanita muda yang masih menangis di atas pembaringan, yang kini memandang kepadanya dengan sinar mata ketakutan.

"Jangan takut, nona. Aku datang untuk menolongmu serta semua wanita yang diculik dan dipaksa ke tempat ini. Untuk itu aku sangat membutuhkan keterangan serta petunjukmu, maka marilah ikut denganku meninggalkan neraka ini."

Mendengar bahwa pemuda yang amat lihai itu hendak membebaskannya, tentu saja gadis ini segera mengangguk-angguk kemudian cepat mengenakan baju rangkap dan sepatunya karena selama dikeram di pondok. itu dia tidak pernah diperbolehkan mengenakan sepatu untuk menjaga agar dia tidak melarikan diri.

Han Lin mengajaknya keluar, lalu memondong tubuhnya dan berloncatan, menyelinap di antara pondok-pondok dan akhirnya dia berhasil meloncati pagar bambu tanpa ada orang yang dapat melihatnya. Dia mengajak gadis itu ke sebuah hutan di lereng bukit, lalu minta keterangan tentang sarang gerombolan itu. Ia pun menjadi girang sekali ketika mendapat keterangan bahwa pada saat itu semua pimpinan Hoat-kauw tidak berada di sana karena semua pergi entah ke mana gadis itu tidak mengetahuinya.

"Yang berada di situ kurang lebih lima puluh orang anggota gerombolan. Lima orang yang biasanya menjadi pimpinan di sana, yaitu Bu-tek Ngo-sin-liong, telah pergi sejak beberapa hari yang lalu.”
"Ada berapa banyak wanita yang seperti engkau, diculik dan dipaksa tinggal di sana?"
"Banyak sekali...! Hampir semua anggota gerombolan menculik wanita dan memaksanya menjadi isterinya. Bahkan ada pula yang telah mempunyai anak. Ada pula belasan orang gadis muda yang diculik kemudian disekap dalam sebuah pondok yang dijadikan tempat tahanan para gadis itu, Ahh, sungguh buruk nasib kami wanita-wanita dusun yang lemah dan bodoh. Kami bagaikan sekawanan domba yang berada di tengah-tengah gerombolan serigala...," gadis itu meratap sambil menangis.

"Sudahlah, nona, jangan menangis lagi. Mari kuantar engkau ke dusun Libun dan untuk sementara tinggallah dulu di sana. Kelak engkau dan para wanita itu akan diantar pulang."

Han Lin lalu mengantar wanita itu ke dusun Libun dan Akui menerimanya dengan ramah. Setelah menceritakan mengenai wanita itu kepada Akui dan menyuruh Akui menyediakan kamar untuknya, membiarkan gadis itu untuk sementara tinggal di situ, Han Lin lalu pergi menemui penduduk Libun. Dia menceritakan segalanya kepada mereka, lantas mengajak mereka untuk bersiap ikut menyerbu sarang gerombolan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sekitar dua ratus orang pasukan dari Nam-san telah tiba di Libun. Atas nama penduduk Libun, Han Lin lalu menemui komandannya untuk memberi tahu bahwa penduduk akan membantu gerakan pasukan itu dan bahwa wanita-wanita yang berada di sarang gerombolan adalah penduduk dusun yang diculik karena itu mereka tak berdosa. Dia berharap agar pasukan tidak mencelakai mereka dan penduduk dusun akan membebaskan mereka. Komandan pasukan dapat mengerti dan menyetujui permintaan itu.

Demikianlah, malam tadi berlalu tanpa ada prasangka buruk dari para anggota Hoat-kauw, maka tentu saja mereka menjadi panik ketika pagi-pagi sekali pasukan berjumlah besar datang menyerbu. Han Lin memimpin penduduk Libun menyerbu melalui bagian belakang dengan membobol pagar, lalu mereka membebaskan para wanita dan anak-anak.

Tapi tidak semua wanita mau dibebaskan. Bahkan ada di antara mereka yang membantu suami mereka melakukan perlawanan sehingga turut gugur! Mereka adalah wanita-wanita yang sudah jatuh cinta kepada penculik mereka. Akan tetapi sebagian besar para wanita dengan gembira turut membebaskan diri. Ada puluhan orang wanita dan anak-anak yang kemudian melarikan diri.

Sementara itu para anggota Hoat-kauw melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi karena pihak pasukan jauh lebih besar jumlahnya, dan mereka diserbu dengan mendadak sehingga tidak siap sedia, akhirnya kedudukan mereka berantakan. Sebagian besar dari mereka terbunuh dan hanya sedikit saja yang berhasil lolos dari maut, padahal mereka adalah anggota-anggota Hoat-kauw yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan.

Pasukan lalu membakar sarang gerombolan itu sampai rata dengan tanah, sementara itu penduduk Libun mengatur pemulangan para wanita itu ke rumah keluarga masing-masing. Han Lin menyerahkan pekerjaan ini kepada penduduk Libun karena dia sendiri langsung berangkat ke Bukit Harimau untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-08
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger