logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Kisah Si Pedang Terbang Jilid 10


Sinar mata penuh kemarahan bagaikan sepasang bintang berapi itu membuat pemuda itu menundukkan pandang matanya ke bawah, seperti orang yang merasa bersalah. Namun Seng Gun sebaliknya mengerutkan alisnya mendengar ucapan itu.

"Hemm, kiranya engkau juga seorang gadis sesat! Kalau begitu, baik kuantar kau sekalian bersama mereka ke neraka!"

Mei Li tersenyum. "Agaknya engkau telah berlangganan dengan neraka sehingga engkau tahu jalannya dan dapat menjadi petunjuk jalan. Baguslah, engkau sendiri telah mengakui bahwa engkau langganan neraka "

Mei Li melihat betapa sinar mata pemuda pendiam itu kini bercahaya menyembunyikan kegelian hatinya. Akan tetapi Seng Gun sudah marah sekali, sambil mengeluarkan seruan nyaring dia segera menyerang dengan goloknya.

Mei Li menangkis dan pada saat itu juga pedang ke dua sudah menyambar ke arah leher Seng Gun. Tentu saja Seng Gun terkejut sekali dan dia pun segera memainkan ilmu yang baru saja dilatihnya dengan sempurna, yaitu Thian-te To-hoat yang ampuh. Dari segenap anggota Nam-kiang-pang hanya ada tiga orang saja yang menguasai ilmu ampuh ini, yaitu Tio-pangcu, Ciu Kang Hin, dan dia sendiri.

Akan tetapi sekali ini Seng Gun harus kecelik. Dia menemukan tanding yang tidak kalah hebatnya. Sepasang pedang yang beterbangan bagai dua ekor naga sakti itu benar-benar membuat dia menjadi bingung. Dia telah mengerahkan tenaganya, namun ternyata tangan yang menggerakkan pedang terbang itu pun kuat luar biasa, bahkan dalam hal kecepatan dia harus mengakui keunggulan lawan.

Sementara itu tiga orang penyerbu, yaitu Ang-sin-liong Yu Kiat, Tiat-sin-liong Lai Cin, dan Pek-kong Sengjin dari Kong-thong-pai, juga terdesak hebat oleh kakak beradik Sie yang sudah menguasai Matahari Merah dan Salju Putih, bahkan semakin lama gerakan kakak beradik itu semakin dahsyat sebab mereka sudah mulai terbiasa sehingga tidak kaku lagi. Warna yang merah pada muka Kwan Lee dan warna putih pucat pada muka Kwan Eng juga sudah mulai menjadi normal kembali.

Melihat ini Ciu Kang Hin mengambil keputusan tetap. Dia bersedih melihat betapa Nam-kiang-pang sudah menjadi gerombolan kejam, bahkan tokoh-tokoh pendekar dari berbagai partai persilatan kini ikut-ikutan hendak membasmi Beng-kauw. Dia merasa sedih apa bila harus terlibat.

Biar pun dia tahu pahwa Beng-kauw adalah aliran sesat dan di antara para anggotanya mungkin banyak yang jahat, namun dia tidak percaya bahwa mereka semua itu jahat dan harus dibasmi habis, berikut anak-anak dan isteri mereka. Seperti sekarang ini, dua orang putera dan puteri ketua Beng-kauw sedang melakukan tapa untuk melatih ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, namun dalam keadaan seperti itu, para pendekar menyerbu dan hendak membunuh mereka semua yang sedang tidak berdaya karena sedang latihan!.

"Sute, cuwi enghiong, larilah! Biar aku yang menahan mereka!”

Kang Hin sudah melihat robohnya dua orang, yaitu tokoh Siauw-lim-pai dan Butong-pai. Kalau dilanjutkan, setelah pemuda dan pemudi yang sudah memiliki ilmu Matahari Merah dan Salju Putih itu muncul, tentu sute-nya dan tiga orang tokoh lainnya akan tewas pula. Dari pada mereka yang tewas, biarlah dia yang akan mengorbankan diri dari pada hidup dalam keadaan tersiksa batinnya. Apa lagi kalau dia nanti menjadi ketua Nam-kiang-pang yang harus memimpin para anggota membasmi Beng-kauw!

Dia lalu memutar otaknya dengan hebat, menahan sepasang pedang terbang. Dia kagum bukan main melihat kemunculan gadis ini dan dia sama sekali tidak percaya bahwa gadis ini seorang jahat! Apa lagi mendengar pembicaraan antara sute-nya dan gadis itu. Sute-nya agaknya sudah mengenalnya dan gadis yang berjuluk Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang) itu sama sekali tidak menunjukkan watak jahat, walau pun dia pemberani bukan main.

Seng Gun terkejut namun girang melihat kenekatan suheng-nya. Inilah kesempatan yang baik baginya. Biarlah Kang Hin sendiri menghadapi lawan tangguh dan tewas, sedangkan dia dapat meloloskan diri. Maka dia pun segera berseru,

"Cukup, kita pergi sekarang, biar suheng menahan mereka!" setelah berkata demikian dia meloncat meninggalkan Kang Hin dan membantu tiga orang yang sedang menahan Kwan Lee dan Kwan Eng.

Tiga orang ini tentu saja merasa lega. Bagaimana pun juga mereka sudah merasa bahwa mereka tak akan mampu menandingi dua orang pemuda dan gadis yang mempunyai ilmu aneh itu. Maka ketika mendengar ucapan Seng Gun, mereka langsung memutar senjata dengan dahsyat, memaksa Kwan Lee dan Kwan Eng mundur, lantas mereka meloncat ke belakang dan bersama Seng Gun mereka melarikan diri.

Kwan Lee dan Kwan Eng tidak mengejar karena mereka telah menghampiri ayah mereka yang terluka parah dan sekarang sudah bangkit duduk bersila untuk mengerahkan tenaga terakhir melawan maut yang hendak merenggut nyawanya.

"Ayah!" mereka berlutut di dekat ayah mereka. Keduanya ingin membantu ayah mereka dengan menempelkan telapak tangan pada punggung. Akan tetapi Sie Wan Cu tersenyum mencegah mereka.
"Jangan, tidak ada gunanya lagi… aku akan mati... akan tetapi aku puas, aku puas... ha-ha-ha! Kalian telah berhasil. Dan gadis itu, dia baik sekali… ahh, Dewi Pedang Terbang… kalian bantu dia, lawannya juga amat lihai."

Kwan Lee dan Kwan Eng menengok. Mereka melihat Mei Li sedang bertanding melawan seorang pemuda yang bersenjatakan sebatang golok dan mereka benar-benar merasa kagum sekali. Pemuda itu tegap dan tampan, dan ilmu goloknya amat aneh.

Golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung bagaikan tirai sinar yang menyelubungi seluruh tubuhnya. Biar pun sepasang pedang Mei Li beterbangan menyambar tapi selalu dapat tertahan oleh gulungan sinar golok. Dua pedang itu bagaikan dua ekor burung walet emas yang menyambar-nyambar, akan tetapi tidak dapat menembus tirai sinar. Sungguh merupakan pertandingan yang sangat hebat karena golok itu pun tidak mampu melewati dua batang pedang.

"Ilmu golok yang hebat!" seru Kwan Lee.
"Itulah Thian-te To-hoat yang amat terkenal," kata ayah mereka. "Dan pemuda itu ahh…, agaknya... dialah yang bernama Ciu Kang Hin..."
"Keparat!" Mendengar nama itu Kwan Eng segera meloncat untuk mengeroyok Kang Hin.

Kwan Lee cepat bertanya kepada ayahnya, "Apakah ayah menghendaki agar pemuda itu kita bunuh?"

Sie Wan Cu masih memandang pemuda itu dengan sinar mata tertarik, lalu berkata lirih, "Jangan... jangan bunuh... sayang kalau ilmu golok itu dibawa mati... tangkap saja, Kwan Lee. Tangkap dia hidup-hidup untukku..."

Biar pun merasa heran dan tidak mengerti kenapa ayahnya memerintahkan begitu, Kwan Lee segera meloncat maju kemudian dia pun ikut pula mengeroyok Kang Hin yang sudah terdesak hebat ketika Kwan Eng melancarkan pukulan Salju Putih itu.

Sesungguhnya hati Mei Li sudah tidak senang dengan adanya Kwan Eng yang melakukan pengeroyokan. Biar pun dia tidak dapat dibilang menguasai pertempuran dan keadaannya masih berimbang dengan golok pemuda perkasa itu, namun dia juga tidak kalah dan tidak membutuhkan bantuan. Apa lagi dia tadi melihat sendiri betapa lawannya itu hanya ingin menghalangi mereka mengejar teman-temannya.

Pemuda itu mengorbankan diri bagi teman-temannya. Bahkan pemuda itu tidak sungguh-sungguh menyerang ketika melawannya, hanya lebih banyak menangkis dan menutup diri dengan sinar golok.

Kang Hin sendiri kagum bukan main melihat sepasang pedang terbang itu, maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang gadis yang sangat lihai. Dan selagi dia mencari kesempatan untuk melarikan diri, ada angin dingin menyambar dari kiri. Dia terkejut dan cepat membuang diri ke belakang.

Ternyata yang menyerangnya adalah seorang gadis cantik yang wajahnya agak kepucat-pucatan dan tangannya juga putih sekali. Dia teringat akan percakapan sute-nya dengan rekan-rekannya tadi bahwa puteri ketua Beng-kauw tengah berlatih ilmu Salju Putih, maka dia dapat menduga bahwa inilah agaknya puteri Beng-kauw itu. Dia pun segera memutar goloknya lebih cepat untuk melindungi dirinya.

Akan tetapi ilmu yang baru saja disempurnakan Kwan Eng itu memang hebat bukan main. Kini pertempuran itu menjadi pertempuran yang amat hebat karena tiga macam ilmu yang pada waktu itu dapat dibilang merupakan tiga di antara ilmu-ilmu yang tertinggi di dunia persilatan, saling bertemu.

Namun, karena Kang Hin dikeroyok, apa lagi karena dia memang tidak bermaksud untuk membunuh seorang di antara kedua gadis cantik itu, maka dia mulai terdesak hebat dan pada saat Kwan Lee datang melompat ke situ, dari belakang Kwan Eng melancarkan satu pukulan jarak jauh dengan tenaga Salju Putih sepenuhnya sehingga membuat tubuh Kang Hin terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Mei Li untuk menendang kakinya.

Tanpa dapat dicegah lagi tubuh Kang Hin terpelanting, lalu tusukan pedang terbang pada pergelangan tangannya membuat goloknya terlepas dan pada waktu itu Kwan Eng sudah meloncat dekat kemudian menggerakkan tangan untuk mengirim pukulan maut.

"Jangan bunuh dia!" Mei Li berseru, tetapi agaknya seruannya itu terlambat karena Kwan Eng sudah mengayun tangannya.
"Dukkk...!"

Kwan Eng meloncat ke belakang dengan mata terbelalak melihat bahwa yang menangkis pukulan mautnya itu bukan lain adalah Kwan Lee.

"Koko, kenapa kau melarangku? Gilakah kau?"
"Hushh, moi-moi, ayah melarang kita."

Kwan Eng menjadi semakin heran. Sementara itu Kang Hin bangkit duduk, pergelangan tangannya sedikit terluka oleh ujung pedang Mei Li.

"Aku sudah kalah, bunuhlah aku!" katanya dengan suara datar.

Entah mengapa suara itu begitu mengharukan hati Mei Li sehingga dia cepat maju lantas menggerakkan tangannya. Sekali totok saja tubuh itu langsung terkulai karena memang Kang Hin tidak bermaksud untuk mengelak atau menangkis. Dia sudah pasrah.

Kwan Lee lalu mengeluarkan sabuk sutera yang kuat dan mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang, kemudian membebaskan totokan Mei Li.

"Kenapa engkau menangkap aku? Mengapa tidak kau bunuh saja aku?" tanya Kang Hin kepada Kwan Lee.
"Tidak perlu banyak bertanya. Engkau sudah menjadi tawanan kami dan hanya ayah yang akan memutuskan apa yang akan kami lakukan terhadap dirimu."

Dengan kasar Kwan Lee menyeret tubuh Kang Hin, dibawa menghadap ayahnya. Ketua Beng-kauw memandang dengan penuh perhatian kepada Kang Hin, dari kepala sampai ke kaki.

"Heii, orang muda, apakah engkau yang bernama Ciu Kang Hin?"
"Benar, pangcu. Sesudah sekarang saya tertawan, cepat bunuh saja aku," kata Kang Hin dengan suara dan sikap tenang.

Memang dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Kematian tidak berarti meninggalkan sesuatu yang berharga baginya. Dan kedudukan ketua di Nam-kiang-pang sama sekali tidak dianggapnya sebagai suatu yang membahagiakan dan membanggakan, bahkan menjadi beban yang amat berat.

"Engkau yang dijuluki pembasmi Beng-kauw nomor satu?" tanya pula ketua Beng-kauw dengan suara lirih karena keadaannya sudah payah.
"Benar sekali."
"Ayah, biar kuhancurkan kepalanya dengan tanganku!" Kwan Eng berseru marah.
"Mengapa?" Sie Wan Cu mendesak, memaksa diri, "Mengapa engkau begitu membenci kami?"
"Aku tidak membenci Beng-kauw, hanya menentang semua perbuatan jahat, tidak peduli dilakukan oleh siapa pun."
"Tapi engkau membunuh orang Beng-kauw, bahkan wanita dan anak-anak."
"Aku tidak pernah membunuh wanita dan anak-anak. Aku hanya mengalahkan orang yang bertanding denganku. Aku bukan pembunuh."
"Bohong!" Bentak Kwan Eng. "Ayah, dia bohong, dia pengecut, tidak berani bertanggung jawab, tidak berani mengakui perbuatahnya sendiri!"

Sie Wan Cu menyeringai menahan sakit. Dia lalu menguatkan dirinya karena agaknya dia merasa tertarik sekali.

"Tetapi orang menganggap dirimu sebagi pembunuh nomor satu, pembasmi Beng-kauw, engkau calon ketua Nam-kiang-pang."
"Itu adalah fitnah, bohong. Kalau aku membunuh orang, tentu tidak akan kusangkal. Aku memang ditunjuk oleh suhu sebagai calon ketua Nam-kiang-pang, dan memang suhu dan semua suheng sute bertekad untuk membasmi Beng-kauw. Akan tetapi aku tidak setuju. Terserah kalian percaya atau tidak, mau bunuh boleh bunuh, akan tetapi aku tidak pernah mengingkari setiap perbuatanku."
"Jahanam!" Kwan Eng sudah mengayun tangannya, akan tetapi ayahnya membentaknya sehingga gadis itu dengan merengut membatalkan niatnya.
"Ciu Kang Hin, apa hubunganmu dengan Ouw-sin-houw (Harimau Sakti Hitam) Ciu Teng?" tiba-tiba ketua Beng-kauw itu bertanya sambil memandang tajam.

Pemuda itu nampak terkejut sekali, lalu dia pun mengangkat muka memandang kepada si penanya. "Mengapa pangcu bertanya demikian? Sebaiknya pangcu lekas berobat dan beristirahat, keadaan pangcu telah berbahaya sekali..." Kang Hin melihat betapa ketua itu menahan rasa sakit dan mukanya sudah mulai pucat, keringatnya membasahi muka dan leher.
"Jawab, apa hubunganmu dengan Ciu Teng?" ketua Beng-kauw mengulang.

Kwan Lee ikut mendesak, "Lebih baik kau cepat menjawab, Ciu Kang Hin!"

Pemuda itu menundukkan mukanya yang berubah muram. "Mendiang Ouw-sin-houw Ciu Teng adalah ayah kandungku," katanya dengan suara sedih.

Sie Wan Cu terkejut, sepasang matanya terbelalak, mulutnya ternganga, lalu dia tertawa. Keras sekali tawanya.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga… sudah kuduga! Wajahmu mirip sekali dengan dia. Ciu Kang Hin, tahukah engkau dengan siapa kau berhadapan? Aku Sie Wan Cu adalah pamanmu, paman angkat. Ayahmu adalah kakak angkatku, apakah dia tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu?"

Pemuda itu memandang heran. "Paman? Ayah meninggal sejak aku masih kecil sekali, berusia tiga empat tahun. Ibu sudah meninggal lebih dulu ketika melahirkan aku dan sejak kecil aku sebatang kara."

Mei Li menekan perasaannya yang merasa kasihan sekali kepada pemuda sederhana itu. Ketua Beng-kauw itu memaksa diri berkata, "Ketika ayahmu muda, persis seperti engkau. Kami bersumpah mengangkat saudara, lalu kami saling berpisah dan tak pernah bertemu lagi karena ayahmu tidak setuju kalau aku menjadi ketua Beng-kauw. Jadi semenjak kecil engkau menjadi murid di Nam-kiang-pang? Dan engkau memusuhi Beng-kauw?"

"Pangcu…"
"Panggil aku paman agar arwah ayahmu tidak menjadi penasaran."

"Paman, terus terang semenjak kecil aku menjadi murid Nam-kiang-pang. Perkumpulan itu selalu membela kebenaran dan keadilan, bahkan aku ditunjuk oleh suhu untuk kelak menggantikan suhu. Akan tetapi kemudian muncul peristiwa yang membuat Nam-kiang-pang berhadapan sebagai musuh Beng-kauw. Banyak anggota kami terbunuh oleh Beng-kauw sehingga timbullah dendam sakit hati mendalam di Nam-kiang‑pang. Kemudian aku ditunjuk oleh suhu untuk memimpin para anggota agar memusuhi Beng-kauw. Apa yang dapat kulakukan dalam hal ini, paman? Aku sendiri, demi Tuhan, tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berdaya, tetapi karena akulah yang memimpin permusuhan itu, tentu saja aku yang dituding sebagai pembunuh nomor satu dari Beng-kauw."

"Bohong! Ayah, dia tentu bohong. Mana ada pencuri mengaku mencuri, atau pembunuh mengaku pembunuh? Tadi saja entah berapa banyak anggota kita yang sudah terbunuh olehnya. Itu mayat mereka masih berserakan!" kata Kwan Eng.
"Tidak, dia tidak berbohong!" tiba-tiba Mei Li berkata penuh keyakinan.
"Mei Li! Apa yang kau katakan ini? Baru saja engkau bertanding mati-matian melawan dia dan kini engkau malah membela dia? Apa artinya ini?"

"Artinya, Kwan Eng, bahwa aku bicara sejujurnya. Pada saat terjadi pertempuran tadi, aku cukup lama menjadi penonton. Kulihat dia ini bersama pemuda yang lain itu menyerang orang-orang Beng-kauw di depan goa. Yang menyebar maut adalah pemuda yang sudah melarikan diri itu, pemuda berpakaian sastrawan berwarna putih. Ada pun dia ini, biar pun merobohkan pula banyak lawan, tapi satu kali pun tidak melakukan pembunuhan. Bahkan ketika melawan aku tadi, dia lebih banyak melindungi diri saja."
"Aughhh…!"
"Ayah!" Kwan Lee dan Kwan Eng cepat menubruk ayahnya. Agaknya terlalu lama ketua Beng-kauw ini menahan diri dan kini dia sudah hampir tidak kuat bertahan lagi.

"Kwan Lee, Kwan Eng, penuhilah pesanku yang terakhir ini." Dia menuding ke arah Kang Hin dengan telunjuk gemetar. "aku pernah berhutang nyawa kepada ayahnya. Karena itu kalian harus... membebaskan dia…"
"Ayah!" Kwan Eng mulai menangis.
"Dan kau Dewi Pedang Terbang," dia mencoba tersenyum.

Mei Li berlutut mendekatinya. Hati gadis ini pun rasanya seperti ditusuk karena dia sudah merasa suka sekali kepada ketua Beng-kauw yang jujur dan bicara secara terbuka itu.

"Ya pangcu," katanya lirih.

Sie Wan Cu tertawa, "Heh-heh, aku... ahh… aku masih mau menikah denganmu... ha-ha-ha, tetapi sayang nyawaku hampir putus.... tetapi, Mei Li, maukah kau berjanji akan tetap bersahabat dengan Beng-kauw?"

Mei Li menundukkan kepalanya dan dua titik air jatuh dari matanya. Ia mengangguk. “Aku berjanji, pangcu."

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Ehh, Kwan Lee, kalau kelak engkau tidak dapat menikah dengan seorang seperti Mei Li ini, engkau adalah seorang pria yang bodoh sekali. Dan kau Kwan Eng, Kang Hin ini adalah seorang yang sungguh patut menjadi suamimu."
"Ayah!" Anak-anaknya cepat menubruk karena tiba-tiba saja ketua Beng-kauw itu terkulai dan ketika mereka memeriksa, ternyata dia sudah meninggal.

Kwan Eng menjerit-jerit menangis sehingga Mei Li terbawa keharuan dan menangis pula, lalu dia merangkul dan menghibur Kwan Eng.

Mei Li dan Kang Hin terpaksa ikut berkabung ke rumah ketua Beng-kauw. Dan malam itu terjadi peristiwa yang sungguh menusuk perasaan Mei Li.

Ketika keluarga sedang bersembahyang sambil menangis, tiba-tiba saja sepuluh orang wanita cantik yang menjadi isteri ketua Beng-kauw itu, mencabut pedang lalu menggorok leher sendiri di depan peti jenazah suami mereka! Mereka melakukan bunuh diri bersama, hal yang agaknya sudah mereka sepakati bersama. Mereka semua amat mencinta suami mereka dan agaknya tidak sanggup hidup lagi setelah ditinggal mati suami itu.

Sesudah pemakaman jenazah yang kini menjadi sebelas buah banyaknya itu selesai, Ciu Kang Hin lantas berpamit dan pergi meninggalkan tempat itu dengan hanya meninggalkan kata-kata kepada Kwan Lee dan Kwan Eng,

"Aku berjanji akan membantu kalian membikin terang urusan ini, dan akan membersihkan kembali nama Beng-kauw yang terkena fitnah." Dan dia memberi hormat pula kepada Mei Li, kemudian pergi dengan meninggalkan kesan mendalam di hati dua orang gadis tanpa diketahui orang lain.

Terutama sekali Kwan Eng. Tadinya dia memang sangat membenci Ciu Kang Hin. Akan tetapi setelah bertemu orangnya dan mendengar pesan ayahnya, rasa benci itu hilang dan sebagai gantinya, kata-kata ayahnya selalu terngiang di hatinya. Ayahnya menghendaki dia menjadi jodoh Ciu Kang Hin! Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi, berulang kali dia membantah suara hati sendiri.

Ada pun Mei Li diam-diam juga merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda pendiam itu. Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi suheng dari Seng Gun yang demikian keras hati dan kejam? Akan tetapi karena Kang Hin seorang pendiam dan agak murung, dia pun tidak sempat bercakap-cakap ketika selama beberapa hari mereka berdua menjadi tamu di Beng-kauw.

Tidak lama setelah Kang Hin pergi, Mei Li juga berpamit kepada kedua kakak beradik itu. Mereka mencoba untuk menahannya, akan tetapi Mei Li berkeras mengatakan bahwa dia harus melanjutkan perjalanannya. Akhirnya mereka melepas gadis itu pergi dan sekali ini Kwa Lee yang merasa semangatnya terbawa pergi…..
********************
Mereka berempat berlari sampai cukup jauh dari puncak Tanduk Rusa di mana orang-orang Beng-kauw berkumpul. Seng Gun memimpin di depan dan sesudah yakin tidak ada yang mengejarnya, barulah ia berhenti. Kawan-kawannya juga ikut berhenti dan sekarang mereka duduk di bawah pohon sambil memandang ke kiri dari arah mana mereka datang.

Sejenak keempatnya berdiam diri hingga akhirnya Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai membuka mulut. Agaknya kakek pendek ini yang paling payah saat melarikan diri. Perut gendutnya memaksa larinya membutuhkan banyak tenaga sehingga sekarang napasnya agak memburu.

“Kita menanti Ciu-taihiap di sini?”

Seng Gun mengangguk. “Benar, totiang. Mudah-mudahan suheng dapat meloloskan diri dan cepat menyusul kita.”

Pek Kong Sengjin menyusut keringatnya. “Wah, berbahaya sekali! Pemuda dan gadis itu sudah memiliki ilmu yang amat mengerikan. Apakah ilmu itu yang disebut Matahari Merah dan Salj Putih?”

“Kiraku demikian, totiang. Dan agaknya puteri dan putera Sie-pangcu itu bahkan lebih lihai dari pada ayah mereka. Yang menyebalkan adalah Si Pedang Terbang itu. Mengapa dia bisa muncul dan secara tak terduga dia membantu orang-orang Beng-kauw?”
“Pedang Terbang?” tanya Ang-sin-liong Yu Kiat.
“Dia Hui-kiam Sian-li, namanya Mei Li. Ilmu pedang terbangnya amat mengerikan, sampai aku bersama suheng yang mengeroyoknya tak mampu mengalahkannya. Akan tetapi kita sudah boleh puas karena telah berhasil menewaskan Se Wan Cu!”

“Ya, untung sekali, biar pun untuk itu kita harus mengorbankan Ho Jin Hwesio dan Kiang Cu Tojin,” kata pula Pek Kong Sengjin.
“Siauw-lim-pai dan Butong-pai tentu akan marah sekali. Biarkan mereka yang membuat perhitungan dengan Beng-kauw kelak,” kata Seng Gun. “Akan tetapi aku juga heran sekali melihat sikap suheng. Dia seperti tidak bersungguh-sungguh dalam pertempuran tadi…”

“Ahh, jangan kau berkata demikian, Tong-taihiap. Tidak perlu mencurigai suheng sendiri karena menurut pinto, Ciu-taihiap sudah berjasa sekali. Kalau tidak ada dia yang membela kita, membiarkan kita melarikan diri, kukira belum tentu kita bisa lolos begini mudah!” kata Pek Kong Sengjin tak senang. “Ciu-taihiap memang pendekar tulen, tidak mau sembarang membunuh kalau tidak ada bukti bahwa lawan itu seorang jahat yang sudah selayaknya dibasmi.”

Seng Gun mengerutkan alisnya dan bertukar pandang dengan kedua rekannya dari Hoat-kauw. Kemudian dia menghampiri tepi jurang yang amat curam, agaknya dia termenung. Tiba-tiba dia berkata kaget,

“Heiii, bukankah itu seorang berpakaian pendeta yang sedang naik ke sini?” Dia menuding ke bawah.

Mendengar ada pendeta naik, tentu saja yang paling ingin tahu adalah Pek Kong Sengjin. Dia segera mendekati Seng Gun di pinggir jurang sambil bertanya, “Mana dia?”

“Itu, totiang, yang berpakaian kuning di sana!” Seng Gun mendekati sambil menudingkan telunjuknya.

Dengan seksama tosu itu memandang ke arah yang ditunjuk oleh Seng Gun. Tetapi pada saat itu pula, tanpa disangka-sangka dan datangnya dari belakang secara tidak terduga sama sekali, Seng Gun telah menggerakkan tangannya memukul dengan sekuat tenaga. Tentu saja pendeta gendut itu tidak sempat mengelak lagi.

"Dukkk!" dan dia hanya mampu melengking panjang ketika tubuhnya melayang ke bawah.

Seng Gun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, mampus kau, pendeta tolol!"

Ang-sin-liong Yu Kiat menghampiri rekannya itu. "Aku tidak melihat perlu dan untungnya kau melakukan hal itu, Tong-taihiap."

"Ha-ha-ha, engkau tidak melihatnya, paman? Aneh sekali, padahal alasannya demikian jelas. Kau lihat tadi dia membela suheng? Dia memuji-muji suheng, dan hal itu amat tidak menguntungkan kita! Lagi pula dua yang lain telah tewas, tinggal dia. Jika dibiarkan hidup, bagaimana kita dapat melempar fitnah terhadap suheng? Tentu dia akan membela nama baik suheng mati-matian. Akan tetapi sekarang, kalau kita katakan bahwa kematian orang Siauw-lim pai, Butong-pai dan Kong-thong-pai ini adalah karena perbuatan suheng yang tidak bersungguh-sungguh melawan Beng-kauw, tentu tidak akan ada yang menyangkal."

"Akan tetapi bagaimana kalau dia tidak mati?" bantah Tiat-sin-liong Lai Cin.
"Tidak mati? Siapa yang mampu bertahan hidup kalau terjungkal di jurang ini? Ha-ha-ha! Jangan takut, paman Lai Cin. Apa lagi, andai kata dia tidak mati, aku dapat mengatakan bahwa aku tidak sengaja mendorong dia ke dalam jurang. Kalian berdua dapat menjadi saksinya, bukan? Apa artinya keterangan dia melawan keterangan kalian berdua?"

Demikianlah, dengan hati gembira mereka bertiga lantas meninggalkan tempat itu setelah Seng Gun berkata, "Kalau suheng mampus, itu baik sekali. Andai kata dia berhasil lolos, lebih baik lagi. Kita dapat menyebar fitnah bahwa dia memang tidak bersungguh-sungguh memusuhi Beng-kauw, buktinya dia dapat meloloskan diri, berarti orang-orang Beng-kauw sengaja melepaskannya!”

Mereka kemudian pergi dengan hati gembira, tidak tahu bahwa ada yang mendengarkan percakapan mereka itu…..!
********************
Pada saat tubuh Pek Kong Sengjin melayang jatuh ke dalam jurang dan nyaris menimpa batu-batu di dasar jurang, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat lantas dua buah lengan menyambar tubuh itu sehingga tak sampai terbanting. Pek Kong Sengjin terbelalak ketika melihat tubuhnya selamat dalam pondongan seorang pemuda. Pemuda Itu lalu tersenyum kepadanya dan berbisik.

"Harap totiang tunggu sebentar, ingin aku melihat apa yang terjadi di sana!"

Bagaikan seekor kera saja pemuda itu lalu memanjat tebing jurang. Tidak lama kemudian dari baiik sebuah batu dia sudah mengintai di tepi jurang sehingga dia dapat mendengar percakapan yang terjadi antara Seng Gun, Yu Kiat dan Lai Cin. Sesudah ketiga orang itu pergi barulah dia merayap turun kembali dengan cepat sekali.

Ketika tiba di bawah ia melihat Pek Kong Sengjin telah duduk bersila dan mengumpulkan tenaga sakti untuk mengobati lukanya. Tanpa diminta pemuda itu segera duduk bersila di belakangnya lalu menempelkan tangan kanannya di punggung Pek Kong Sengjin. Hawa hangat mengalir dari telapak tangan itu, dan sebentar saja kesehatan pendeta itu sudah pulih kembali.

Pek Kong Sengjin lalu bangkit berdiri dan memberi hormat. "Engkau telah menyelamatkan aku untuk kedua kalinya dalam waktu singkat, sobat muda. Entah bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu."

Pemuda itu tersenyum dan Pek Kong Sengjin merasa kagum. Pemuda itu masih muda, paling banyak berusia dua puluh satu tahun. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dan jantan, dengan rahang dan dagu yang membayangkan kekerasan hati. Rambutnya hitam lebat, matanya tajam seperti mata naga dan mulut itu selalu tersenyum. Pakaiannya amat sederhana.

"Totiang, mengapa harus berterima kasih? Kita sama-sama saling memberi bantuan. Aku membantumu mencegah engkau terbanting, dan engkau membantu memberi kesempatan kepadaku untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Nah, kita sudah sama-sama memberikan sesuatu, bukan?"
'Siancai..., engkau pemuda aneh. Bolehkah aku mengetahui namamu, taihiap (pendekar besar)?"
"Aduh, harap jangan menyebut taihiap kepadaku, totiang. Cukup kalau totiang memanggil namaku, yaitu Han Lin." Pemuda itu memang Han Lin dan kini dia sudah tidak ragu lagi menggunakan nama keluarga aslinya, yaitu Sia. "Dan paman tentulah Pek Kong Sengjin. Aku telah mendengar dari percakapan mereka di atas sana."
"Benar, Han Lin," kata pendeta itu dan dia pun kini menyebut nama pemuda itu dengan akrab sekali. "Pinto sendiri tidak menyangka bahwa pemuda itu akan berbuat seaneh dan sejahat itu." Dia lalu menceritakan tentang semua yang terjadi. Sejak penyerbuan mereka terhadap Beng-kauw dan sampai mereka terpaksa melarikan diri dari sana. Hati Han Lin tertarik sekali.

"Sudah banyak aku mendengar betapa Beng-kauw dimusuhi orang, totiang. Sebaiknya sekarang totiang segera pulang, aku ingin melihat bagaimana nasib pemuda bernama Ciu Kang Hin yang tertinggal seorang diri menghadapi orang-orang Beng-kauw yang lihai itu." Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu berkelebat kemudian lenyap.
"Heii, nanti dulu! Siapa gurumu, Han Lin?"

Dari atas terdengar suara yang jelas. "Guruku langit dan bumi!"

Ini adalah kata-kata pesanan Lojin kepadanya. Dulu Lojin berpesan bahwa kalau ada yang menanyakan siapa gurunya, agar dijawab bahwa gurunya adalah langit dan bumi.

"Jawaban ini bukan ngawur," demikian gurunya berkata. "Segala macam ilmu kepandaian didapat dari anugerah Tuhan melalui pengalaman, dan pengalaman manusia baru terjadi setelah manusia berada di antara Langit dan Bumi. Jadi guru kita adalah Langit dan Bumi, yang memberi kita.segala macam pengalaman hidup."

Pek Kong Sengjin tertegun dan akhirnya dia pun menarik napas panjang, mengukir nama Sia Han Lin di dalam lubuk hatinya. Dia dapat menduga bahwa dia telah bertemu dengan seorang pemuda murid orang sakti dan mengharapkan dapat bertemu kembali.

Juga dia harus berhati-hati karena sikap Tong Seng Gun amat mencurigakan. Dia belum dapat menduga apa yang menyebabkan pemuda itu berbuat seperti itu kepadanya. Dan dia harus segera melapor kepada para pimpinan Kong-thong-pai tentang pengalamannya itu. Dengan hati-hati dia lalu mencari jalan keluar dari dasar jurang itu…..
********************
Dengan muka ditundukkan Ciu Kang Hin berjalan menuruni puncak Tanduk Rusa sambil merenung. Dia merasa gelisah sekali teringat akan ucapan terakhir ketua Beng-kauw.

Di antara ketua Beng-kauw dan mendiang ayahnya terdapat hubungan yang amat dekat. Ketua Beng-kauw itu adalah adik angkat ayahnya, jadi masih pamannya sendiri! Dan dia mendapat tugas dari gurunya untuk membasmi Beng-kauw, bahkan tadi ia melihat sendiri ketika ketua Beng-kauw tinggal menunggu saat ajal datang menjemput sampai saat ketua itu tewas dalam keadaan yang menyedihkan. Dan ketua itu memesan untuk menjodohkan puterinya dengannya!

Lalu apa yang akan dikatakan kepada gurunya nanti? Mampukah dia melanjutkan tugas membasmi orang-orang Beng-kauw? Agaknya tidak mungkin lagi! Apa yang disaksikan di puncak bukit Tanduk Rusa itu sudah mencapai puncaknya. Ini keliru, pikirnya. Nam-kiang-pang sedang menyusuri jalan yang keliru.

Menentang kejahatan, dari mana pun datangnya dan oleh siapa pun dilakukannya, adalah tugas murid Nam-kiang-pang. Akan tetapi membasmi sekelompok orang tanpa pandang bulu dan tanpa alasan, sungguh merupakan penyelewengan ke jalan sesat.

Tiba-tiba saja telinganya yang tajam mendengar suara orang dan ketika dia mengangkat mukanya, dia pun menjadi lega. Ternyata Seng Gun, Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin yang muncul dan menghadang di depannya.

"Ahh, sute!” katanya girang. "Syukurlah engkau dapat meloloskan diri! Tetapi di mana Pek Kong Sengjin?"
"Suheng, tidak perlu lagi engkau berpura-pura!"

Mendengar ucapan sute-nya itu Kang Hin cepat memandang. Alangkah kagetnya melihat wajah tiga orang itu berbeda dari pada biasanya. Wajah mereka kelihatan keruh, murung dan jelas nampak marah.

"Sute, apa maksud kata-katamu itu?" tanyanya,
"Hemm, ternyata selama ini engkau amat pandai bersandiwara, berpura-pura. Pantas saja hanya lahirnya engkau disebut pembasmi Beng-kauw nomor satu, padahal sesungguhnya engkau tidak dapat memusuhi mereka, bahkan engkau menyayangi mereka."

Kang Hin terkejut. Apakah sute-nya sudah tahu akan peristiwa tadi?

"Sute, aku akui bahwa aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, baik dia itu orang Beng-kauw atau pun bukan. Dan aku pun tidak pernah mengaku sebagai pembasmi Beng-kauw nomor satu. Akan tetapi, apa hubungannya hal itu dengan sikapmu ini? Mana Pek Kong Sengjin?"
"Engkau tentu sudah mengetahuinya. Ketika kami lari dan engkau berpura-pura menahan mereka, ternyata mereka masih dapat mengejar kami. Kami sudah melawan mati-matian, akan tetapi Pek Kok Sengjin terbunuh, terlempar ke dalam jurang."
"Ahhh…!"
"Tidak perlu berpura-pura, justru engkaulah yang mengatur agar mereka dapat mengejar kami!"
"Sute, omongan apa itu? Aku bertempur melawan mereka hingga tertawan!"

Seng Gun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, engkau boleh menjual omongan itu kepada anak kecil. Kalau memang engkau sampai tertawan oleh mereka, bagaimana mungkin engkau dapat meloloskan diri dan tidak terbunuh? Kecuali kalau engkau secara diam-diam sudah bersekongkol dengan mereka!"

Kang Hin menghela napas panjang. Dia maklum bahwa kalau dia menceritakan peristiwa yang sebenarnya, sute-nya dan dua orang Hoat-kauw itu tentu tak akan percaya, bahkan semakin mencurigainya.

"Terserah padamu, sute. Percaya atau tidak, akan tetapi aku benar-benar telah bertempur melawan mereka hingga tertawan, tetapi akhirnya dibebaskan kembali. Biarlah aku akan melapor kepada suhu dan terserah kepada suhu, kalau hendak menghukum aku, terserah kepada suhu."
"Enak saja! Kau kira akan dapai mengelabui kami lagi, pura-pura hendak melapor kepada suhu, akan tetapi diam-diam bersekongkol dengan Beng-kauw!"

"Sute, tutup mulutmu! Kau kira engkau boleh sembarangan menuduh aku?" kini Kang Hin hilang kesabarannya.
"Hemm, Ciu Kang Hin, kita sama-sama murid Nam-kiang-pang, tapi bedanya aku adalah seorang murid yang setia sebaliknya engkau murid pengkhianat. Engkau belum menjadi ketua, tidak perlu kuhormati murid yang mengkhianati Nam-kiang pang. Hayo kita tangkap pengkhianat ini!" Dia mengamangkan goloknya.

Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin tentu saja sudah maklum mengapa Seng Gun bersikap seperti itu. Yu Kiat segera menggerakkan golok gergajinya, sedangkan Lai Cin memainkan tombak cagaknya. Seng Gun sendiri sudah menerjang maju menyerang dengan goloknya yang memainkan ilmu golok Thian-te To-hoat.

"Trang…! Trangg…! Tranggg…!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika Kang Hin menangkis ketiga senjata lawan itu dengan goloknya, kemudian dia pun membalas. Maka terjadi pertempuran yang seru!

Namun tentu saja Kang Hin langsung terdesak hebat karena ilmu kepandaiannya hampir setingkat dengan tingkat Seng Gun, bahkan mungkin Seng Gun lebih unggul karena Seng Gun menguasai pula ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Apa lagi di situ juga ada dua orang tokoh utama dari Bu-tek Ngo-sin-liong, maka dengan sendirinya dia merasa sibuk sekali harus menghadapi permainan senjata mereka. Akan tetapi berkat tubuhnya yang kuat karena hidupnya bersih, maka dia masih mampu melindungi dirinya dengan baik sehingga tidak mudah bagi tiga orang itu untuk merobohkannya.

Seng Gun menjadi penasaran. Dia harus mengakui bahwa dalam hal ilmu golok Thian-te To-hoat, dia masih kalah sedikit dibandingkan suheng-nya itu. Hal ini adalah karena Kang Hin menjadi murid Nam-kiang-pang sejak kecil, sedangkan dia baru empat tahun ini.

Karena ingin membunuh saingannya ini, maka dia lalu mengeluarkan senjata andalannya sebelum menjadi murid Nam-kiang-pang, yaitu suling peraknya yang mengandung racun! Suling itu dipegangnya dengan tangan kiri dan begitu suling menyambar, terdengar suara melengking yang mengejutkan hati Kang Hin.

Pemuda ini segera mengelak. Melihat bahwa sute-nya dapat menggunakan senjata suling itu dengan amat mahirnya, dia pun terkejut dan heran. Namun dia tidak sempat menegur atau bertanya karena Seng Gun sudah menggerakkan golok dan sulingnya, ada pun dua orang rekannya juga telah mengeroyok dengan gencar.

Saat Kang Hin menangkis suling Seng Gun sambil mengerahkan tenaga untuk membuat suling itu patah, mendadak dari dalam suling itu menyambar jarum-jarum hitam. Kang Hin yang sedang sibuk menghadapi senjata para pengeroyoknya tidak sempat mengelak lagi sehingga dua batang jarum mengenai dahinya! Dia pun terhuyung lalu terguling roboh.

Tiga orang lawannya dengan girang menubruk untuk menghabisinya, akan tetapi tiba-tiba datang angin bertiup bagaikan ada badai, dan ketika tiga orang itu terkejut melihat pohon-pohon meliuk keras, ada bayangan berkelebat menyambar tubuh Kang Hin. Tiga orang itu memandang penuh perhatian, dan ternyata Kang Hin sudah lenyap dari situ.

"Celaka, dia melarikan diri. Kejar!" teriak Ang-sin-liong Yu Kiat.
"Ha-ha-ha," Seng Gun tertawa dengan sombongnya. "Apa sih yang perlu dikhawatirkan? Paman sendiri tadi melihat bahwa dahinya sudah terkena jarum sulingku. Tentu akibatnya hebat bukan main, paman. Racun jarumku akan membuat dia mati atau gila. Ingat, yang terkena adalah dahinya!" Pemuda itu tertawa-tawa dan dua orang rekannya menjadi lega.

"Akan tetapi, apakah yang terjadi? Kenapa dia bisa melarikan diri dan angin topan tadi... apakah artinya itu?" tanya Lai Cin.
"Paman, kenapa khawatir? Orang Beng-kauw memang memiliki ilmu sihir maka tak aneh kalau tadi mereka dapat melarikan Kang Hin. Akan tetapi jangan harap mereka sanggup menyelamatkan Kang Hin dari racun jarumku!"

Akan tetapi bagaimana pun juga, peristiwa lenyapnya tubuh Kang Hin tadi mendatangkan perasaan tidak nyaman di dalam hati mereka, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu. Mereka saling berpisah, kedua orang tokoh Hoat-kauw kembali ke pusat Hoat-kauw yang akan mengadakan perayaan di Bukit Harimau, sedangkan Seng Gun akan melapor dulu ke Nam-kiang-pang…..
********************
Dengan dilengkapi berbagai macam bumbu dan minyak, Seng Gun menghidangkan cerita tentang ‘pengkhianatan’ Kang Hin sehingga semua tokoh Nam-kiang-pang menjadi marah bukan main.

"Anak tak tahu diuntung! Tak mengenal budi!" kata beberapa orang tokoh tua. "Sejak kecil ketua telah memelihara dan mendidiknya, begitukah balasannya?"

Akan tetapi Tio Hui Po sendiri hanya berdiam diri dan sepasang alisnya bekerut. Dia lebih merasa terpukul dan kecewa dari pada marah, juga merasa amat heran. Sukar dia dapat percaya bahwa muridnya itu, yang semenjak kecil merupakan anak yang patuh sekali, kini dapat bersekutu dengan Beng-kauw!

"Seng Gun, yakin benarkah engkau bahwa suheng-mu bersekorigkol dengan Beng-kauw dan mengkhianati kita?"
"Suhu, tidak ada yang lebih penasaran dari pada teecu. Teecu paling sayang dan paling hormat terhadap suheng, akan tetapi tak dinyana sama sekali suheng tega sekali, sampai hati dia berkhianat. Hampir saja teecu menjadi korban dari pengkhianatannya. Untunglah teecu bersama dua orang rekan dari Hoat-kauw sempat melarikan diri. Akan tetapi Ho Jin Hwesio, Pek Kok Sengjin, dan Kiang Cu Tojin... Ahhh..."

"Mengapa mereka? Hayo ceritakan, apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, Butong-pai, dan Kong-thong-pai itu?"
"Mereka telah tewas oleh Ciu Kang Hin dan orang-orang Beng-kauw..."
"Jahanam!" Kini Tio Hui Po marah sekali.
"Akan tetapi harap suhu tenangkan diri. Pengkhianat itu telah terluka oleh senjata rahasia beracun dari tokoh Hoat-kauw. Jarum beracun itu telah memasuki dahinya, pasti dia akan tewas atau gila!"
“Mati atau hidupnya harus dapat kita pastikan. Jadi kalau ada aliran yang menuntut, maka kita dapat memperlihatkan bukti kematiannya," kata Tio Hui Po.

Agaknya semangat Tio Hui Po menjadi patah mendengar akan pengkhianat Ciu Kang Hin itu. Dia lalu mengumpulkan semua tokoh Nam-kiang-pang dan mengadakan rapat besar.

"Perkumpulan kita menghadapi beberapa hal yang penting dan besar. Permusuhan Beng-kauw dengan kita belum selesai, kini muncul pula pengkhianatan murid yang tadinya akan kuangkat menjadi calon ketua. Dan aku sudah lelah, agaknya aku sudah terlalu tua untuk memimpin kalian. Oleh karena itu, hari ini aku mengumpulkan kalian di sini untuk menjadi saksi. Aku menetapkan Tong Seng Gun menjadi ketua Nam-kiang-pang!”

Di antara para tokoh Nam-kiang-pang, jarang yang tidak setuju, karena mereka maklurn bahwa pemuda yang sangat pandai membawa diri ini memang merupakan orang kedua yang telah menguasai Thian-te To-hoat.

Akan tetapi serta merta Seng Gun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya sambil menangis. Tentu saja gurunya terkejut dan bertanya,
"Seng Gun kenapa engkau menangis?"

Setelah menyusut air matanya, Seng Gun menjawab, "Suhu, teecu menangis karena haru atas budi kebaikan suhu kepada teecu, dan mengingatkan teecu kepada bibi teecu. Akan tetapi suhu, di Nam-kiang-pang ini terdapat banyak murid yang lebih tua dan lebih pandai dari teecu, kenapa suhu memilih teecu? Tugas itu terlalu berat bagi teecu yang bodoh.”

"Seng Gun, jangan berkata begitu. Semua anggota Nam-kiang-pang tentu sudah tahu pula bahwa engkau adalah calon kedua. Karena itu aku mengajarkan Thian-te To-hoat kepada engkau dan suheng-mu yang keparat itu. Sekarang tak perlu ditunda-tunda lagi, aku akan mengundang wakil semua partai dunia persilatan untuk menjadi saksi dalam merayakan pengangkatanmu.

Seng Gun kelihatan terharu dan sama sekali tidak nampak bergembira, padahal di dalam hatinya dia bersorak karena tujuannya telah tercapai dengan baik. Sesuai dengan rencana yang diatur oleh Sam Mo-ong yang dipimpin kakeknya atau ayahnya, dia dapat menyusup ke Nam-kiang-pang dan berhasil pula menguasai partai itu. Juga dia berhasil menghasut semua partai persilatan untuk memusuhi Beng-kauw. Di samping semua hasil itu, dia pun berhasil mewarisi ilmu golok Thian-te To-hoat yang merupakan satu di antara ilmu langka pada jaman itu.
Maka mulailah para anggota Nam-kiang-pang sibuk. Ada yang membersihkan bangunan-bangunan dan halaman untuk menyambut pesta, dan ada yang mengantar undangan ke segala penjuru. Hari sudah ditetapkan dan semua orang sudah siap menerima datangnya para tamu di pagi hari itu.

Setelah matahari naik tinggi, mulai berdatanganlah para tamu. Tidak kurang dari dua ratus orang hadir dan pesta pun dimulai. Pertama-tama upacara pengangkatan ketua dilakukan. Bagaikan pengantin saja, dengan baju kebesarannya dari dalam keluar ketua Nam-kiang-pang yang tua, yaitu Tio Hui Po, diiringkan tujuh tokoh tua Nam-kiang pang. Kemudian muncul calon ketua, Tong Seng Gun dan di belakangnya berjalan sute-nya, Tio Ki Bhok putera Tio Hui Po yang diaku sebagai keponakannya.

Para tamu bangkit berdiri untuk menghormati rombongan ketua ini, dan musik dimainkan perlahan-lahan. Rombongan itu menghampiri meja sembahyang yang sudah dipersiapkan di tengah ruangan.

Ketika rombongan lewat di depan Bu-tek Ngo Sin-liong yang juga hadir, terdengar suara tawa cekikikan dari Bi-sin-liong Kwa-lian yang pernah menjadi kekasih Seng Gun, dibalas dengan senyum oleh pemuda itu. Akan tetapi Tio Ki Bhok yang ketololan mengira bahwa wanita cantik itu tertawa kepadanya, maka dia pun mengangguk sambil menyerigai lebar. Hal ini dilihat banyak tamu yang segera tertawa geli, dan melihat keadaan ini, wajah Seng Gun berubah merah. Akan tetapi Tio Hui Po tidak melihatnya.

Upacara sembahyang segera dilakukan dan Seng Gun disuruh bersumpah di depan meja sembahyang para leluhur pimpinan Nam-kiang-pang, bahwa mulai hari itu akan memimpin Nam-kiang-pang dengan kesungguhan hati, penuh kesetiaan dan akan mengangkat nama perkumpulan itu.

Sesudah upacara itu selesai, Tio Hui Po lalu melepas sabuk emas yang menjadi lambang ketua, kemudian mengenakan sabuk emas itu ke pinggang Seng Gun. Pada sabuk emas itu terdapat sebatang golok yang gagangnya terukir indah. Setelah itu Tio Hui Po memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Pangcu, mulai hari ini kita semua anggota Nam-kiang-pang menaati semua perintahmu."

Dengan tersipu Seng Gun cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, harap suhu tidak berkata demikian."

"Hushh, ini adalah upacara yang tidak boleh dilanggar," kata Tio Hui Po.

Sesudah itu satu demi satu para tokoh Nam kiang-pang memberi hormat kepada ketua muda itu. Sesudah semua orang memberi hormat, barulah tiba giliran para tamu, seorang demi seorang maju memberi ucapan selamat.

Seorang hwesio Siauw-lim-pai segera maju bersama dua orang tosu, yaitu seorang tosu dari Butong-pai serta seorang lagi dari Kong-thong-pai. Agaknya hwesio Siauw-lim-pai itu menjadi juru bicara kedua orang rekannya.

"Omitohud, pinceng bersama dua orang totiang ini juga ingin mengucapkan selamat untuk ketua baru Nam-kiang-pang. Semoga dengan pangcu yang duduk memimpin Nam-kiang-pang, hubungan dan kerja sama antara kita menjadi semakin baik. dan kami yakin pangcu akan bersikap jujur terhadap kami sebagai kawan."

Seng Gun cepat membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tangan di depan dada. "Terima kasih banyak, suhu dan ji-wi totiang. Tentu saja kami akan meningkatkan kerja sama di antara kita. Dan bukankah selama ini kami bersikap jujur terhadap sam-wi?"
"Omitohud, pinceng mendengar berita buruk sekali. Bukankah dahulu yang menjadi calon ketua Nam-kiang-pang adalah Ciu Kang Hin! Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak ikut hadir? Saudara-saudara, hendaknya diketahui bahwa Ciu Kang Hin yang dahulu pernah dicalonkan menjadi ketua Nam-kiang-pang itu telah bersekutu dengan Beng-kauw dan dia juga telah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai, seorang tosu Butong-pai dan seorang tokoh Kong-thong-pai!"

Berita ini langsung disambut dengan suara berisik dari para tamu karena hal itu memang merupakan berita yang mengejutkan sekali. Mereka semua sudah mengetahui siapa Ciu Kang Hin yang tadinya disohorkan sebagai pembasmi Beng-kauw nomor satu.

Mendengar ucapan ini dan melihat semua orang ribut-ribut, dengan tenang Seng Gun lalu mengangkat dua tangannya ke atas sehingga keributan itu mereda. Dengan suara lantang dia bertanya kepada hwesio itu.

"Maaf, losuhu. Berita itu memang benar dan baru saja kami hendak mengumumkannya. Akan tetapi dari siapakah losuhu mendengarnya? Kami tak ingin ada berita yang simpang siur."
"Kami mendengar dari saksi mata yang hidup, yaitu dua orang tokoh dari Bu-tek Ngo-sin-liong!"

Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin melangkah maju dengan gagah, kemudian keduanya mengangkat tangan, "Benar, kami melihat sendiri kejadian itu, karena kami juga melawan Beng-kauw bersama-sama Tong-pangcu."

"Saudara-saudara sekalian, harap tenang dan dengarkan penjelasanku," kata Seng Gun dengan sikap berwibawa. “Seperti yang dikatakan dua orang locianpwe dari Bu-tek Ngo-sin-liong tadi, memang benar kami bertujuh menyerang Beng-kauw di Bukit Tanduk Rusa. Kita bertujuh adalah aku sendiri, suheng Ciu Kang Hin, kedua locianpwe dari Bu-tek Ngo-sin-liong, Ho Jin Hwesio dari Siauw-lim-pai, Kiang Cu Tojin dari Butong-pai dan Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai. Ketika kami sedang bertanding, dikeroyok oleh banyak orang Beng-kauw, dan kami sudah merobohkan banyak lawan, mendadak suheng Ciu Kang Hin yang sekarang bukan suheng-ku lagi, membalik membantu Beng-kauw lantas menyerang kami cara mendadak sehingga tiga orang tokoh yang disebutkan tadi tewas! Kami bertiga juga nyaris celaka, akan tetapi beruntung dapat meloloskan diri. Dalam peristiwa itu dua orang locianpwe dari Bu-tek Ngo-sin-liong ini berhasil melukai Ciu Kang Hin sehingga kami kira dia tidak akan dapat hidup lagi."

"Omitohud…! Kami juga sudah mendengar mengenai hal itu, tetapi kami tidak puas hanya mendengar Ciu Kang Hin terluka saja. Karena itu kami menuntut kepada Nam-kiang-pang supaya menghadapkan Ciu Kang Hin kepada kami, hidup atau mati, agar arwah saudara kami yang tewas tidak menjadi penasaran!"

Terdengar teriakan di sana sini tanda setuju.

Kembali Seng Gun mengangkat kedua tangannya. "Baik, baik, kami berjanji dalam waktu satu bulan kami akan menghadapkan Ciu Kang Hin, hidup atau mati kepada cuwi sekalian untuk diadili. Nah, sekarang marilah kita mulai perayaan ini untuk menghormati cuwi yang terhormat."

Pesta dimulai dan para tamu rata rata merasa senang dan puas dengan sikap ketua baru yang tegas. Pesta itu baru bubar sesudah senja hari dan banyak tamu yang pulang dalam keadaan puas dan mabok. Hanya ada beberapa orang tamu dekat yang masih tinggal di sana untuk bermalam satu malam, di antara mereka tentu saja Bu-tek Ngo-sin-liong!

Seng Gun sendiri sudah setengah mabok. Dalam keadaan seperti itu dia tak begitu ingat lagi. Dia berani bercanda dengan Bi-sin-liong Kwan Lian bermain tebak jari dengan taruhan minum sehingga kedua orang ini menjadi mabok dan tertawa cekikikan, ditonton oleh Bu-tek Ngo-sin-liong dan yang lain.

Melihat ulah muridnya yang kini menjadi ketua baru itu, Nam-kiang-pangcu yang lama, Tio Hui Po, mengerutkan alisnya lantas pergi ke dalam kamarnya. Dia merasa kecewa sekali, maka di dalam kamarnya dia termenung dan mulai meragukan kebijaksanaannya.

Murid utamanya telah hilang, bahkan menjadi pengkhianat. Puteranya sendiri tidak becus. Dan sekarang yang diangkatnya sebagai ketua sesungguhnya orang yang baru dia kenal empat lima tahun yang lalu. Timbul perasaan sedih dan khawatir di hatinya.

Terbayang sikap Ciu Kang Hin yang lembut dan taat, yang sopan dan pandang matanya yang jujur. Kemudian terbayanglah dia betapa Seng Gun secara tidak tahu malu bercanda dengan si cantik Bi-sin-liong Kwa Lian di depan banyak orang…..
********************
Sementara itu para tamu telah memasuki kamar mereka masing-masing yang disiapkan untuk mereka. Jumlah para tamu yang menginap hanya ada belasan orang.

Dengan langkah semoyongan Seng Gun juga memasuki kamarnya, tetapi tidak sendirian melainkan bersama Kwa Lian. Dia tidak menyadari bahwa Tio Ki Bhok dengan bersungut-sungut mengikutinya dan pemuda ini mengintai dari jendela kamarnya ketika mendengar suara cekikikan dari dalam kamar itu. Ternyata pemuda tolol itu sudah jatuh cinta kepada Kwa Lian!

Ketika Tio Ki Bhok mengintai ke dalam dan melihat betapa Seng Gun bermesraan dengan Kwa Lian, dia terbelalak dan mukanya menjadi merah. Tanpa pikir panjang lagi ditolaknya daun jendela lantas ia pun melompat masuk. Tentu saja Seng Gun dan Kwa Lian terkejut sekali, maka Seng Gun segera melompat turun dari pembaringan sambil membentak,

"Sute, mau apa engkau memasuki kamarku seperti ini?!”
"Suheng, nona ini adalah kekasihku. Aku cinta kepadanya… aku akan minta ayah untuk melamarnya."
"Sute, pergilah dan jangan ganggu aku!"
"Ahh, suheng, engkau telah mempunyai banyak kekasih. Kalau engkau tidak memberikan kepadaku maka akan kulaporkan kepada ayah!"
"Bocah tolol! Mau lapor apa kau?!"
"Akan kulaporkan bahwa dulu engkau pernah menangkap enci ini, lalu dijadikan tawanan, akan tetapi kau bebaskan pada malam harinya. Malah topengnya kau lemparkan di luar kamar Ciu Suheng. Nona ini melepaskan topeng dan melepaskan penyamarannya, maka aku mengenalnya benar. Hayo... aku melihat sendiri, kalian tidak dapat menyangkal!"

Seng Gun dan Kwa Lian terbelalak, dan muka Seng Gun berubah pucat. Akan tetapi Kwa Lian yang mempunyai banyak pengalaman, tidak membuang waktu. Dia melihat adanya bahaya bahwa rahasia mereka akan terbuka, sebab itu secepat kilat wanita cantik jelita ini sudah menggerakkan kepalanya. Sejak tadi rambutnya memang telah terlepas dan terurai panjang ketika dia bermesraan dengan Seng Gun. Sekarang rambut panjang itu meluncur ke arah tubuh Tio Ki Bhok.

Kasihan sekali pemuda tolol ini. Dia memang mempunyai ilmu silat yang dapat dikatakan amat tangguh bagi orang awam, akan tetapi menghadapi seorang datuk sesat seperti Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian, dia bukan apa-apa.

Dia bingung melihat lembaran rambut halus itu menyambar, kemudian bagaikan ular saja rambut harum itu sudah membelit lehernya! Dia berusaha untuk melepaskan, akan tetapi tidak mungkin lagi. Rambut itu seperti menembus kulitnya dan membuat dia tidak dapat bernapas. Akhirnya dia berkelojotan kemudian pingsan.

"Jangan bunuh dia!" kata Seng Gun.

Kwa Lian melepaskan rambutnya lalu menyanggulnya. Manisnya bukan kepalang gerakan Kwa Lian ketika menyanggul rambutnya. Entah mengapa, gerakan wanita yang sedang menyanggul rambutnya selalu mendatangkan gairah tersendiri dalam hati pria!

Kwa Lian memandang kekasihnya. "Kenapa, Seng Gun? Orang ini berbahaya sekali. Jika dia bicara dan orang lain mendengarkan omongannya, semua rencana kita bisa celaka."

"Justru itu tidak boleh dibunuh. Akan tetapi kalau dia dibuat tidak mampu bicara dan tidak mampu mendengar, juga tidak mampu melihat, tidak akan ada yang percaya padanya."
"Maksudmu?" Kwa Lian memandang, lalu maklum dan dia pun menubruk dan merangkul, lalu mencium pemuda itu dengan girang. "Ahh, engkau memang cerdik bukan main!"

Seng Gun hanya tertawa ha-ha-he-he, lalu menghampiri Tio Ki Bhok. Agaknya pemuda tolol ini dapat menduga bahaya apa yang mengancam dirinya karena ketika itu dia sudah siuman kembali. Dia menjadi pucat, terbelalak dan menggeleng-geleng kepala.

Akan tetapi sekali tangan Seng Gun bergerak, jari-jari tangannya sudah menusuk ke arah tenggorokan. Hanya terdengar bunyi ‘krok’ dan tulang tenggorokan sudah menjadi remuk sehingga membuat pemuda itu tidak dapat mengeluarkan suara lagi.

Dia membuka mulut lebar-lebar untuk menjerit, namun tidak mampu mengeluarkan suara. Seng Gun lalu mengelebatkan golok sambil menangkap lidah Tio Ki Bhok, lantas lidah itu pun putus! Dua kali lagi tangannya bergerak, sekali ke arah mata dan sekali lagi ke arah bawah telinga, maka pemuda itu kini sudah menjadi seorang tapadaksa yang paling tidak berguna di dunia. Dia tidak mampu lagi bicara, tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat melihat. Darah membasahi mulut, mata yang berlubang dan telinga, lalu dia pun pingsan.

Pada saat itu hati Tio Hui Po merasa tidak enak. Tadi dia teringat akan puteranya, satu-satunya orang di dunia ini yang terdekat dengannya, biar pun bodoh. Kemudian dia keluar dari kamarnya dan memanggil-manggil. Ketika tiba di dekat kamar Seng Gun, pintu kamar itu terbuka dan Seng Gun muncul. Cepat dia memberi hormat kepada gurunya.

"Suhu, suhu mencari siapakah?"
"Pangcu, kau melihat Ki Bhok?"
"Sute? Ada teecu melihatnya, suhu. Mari teecu antar, kalau tidak salah tadi dia berada di bangunan bawah tanah."
"Kenapa berada di sana?"
"Entahlah, suhu. Akhir-akhir ini dia sering termenung di ruang tahanan kosong di bawah tanah itu."
"Aneh..." kata Tio Hui Po akan tetapi dia mengikuti Seng Gun menuju bangunan bawah tanah.

Bangunan ini berada di belakang, dan biasanya dipergunakan untuk mengeram tawanan yang berbahaya. Akan tetapi sudah lama tidak ada tawanan yang dikeram di tempat itu.

Mereka menuruni lorong yang menurun ke bawah tanah. Tempat itu amat menyeramkan, diterangi dengan obor-obor yang dipasang pada dinding, dan dinding batu itu lembab dan dingin. Sesudah tiba di ruangan paling dalam, Seng Gun berjalan di belakang membiarkan gurunya berjalan di depan.

Tio Hui Po melihat puteranya berada di dalam ruang tahanan, bersandar pada dinding dan keadaannya sangat menyedihkan. Wajahnya penuh darah yang keluar dari hidung, mulut, mata dan telinga! Dan puteranya itu agaknya pingsan.

"Ki Bhok!" Tio Hui Po masuk ke ruangan itu kemudian cepat menghampiri puteranya.
"Klikk!" Daun pintu besi ruangan yang luas itu tertutup.

Tio Hui Po cepat menengok dan melihat Seng Gun sudah berdiri di dalam ruang tahanan itu bersama seorang wanita yang dikenalnya sebagai Bi-sin-liong Kwa Lian, yaitu orang termuda dari Bu-tek Ngo-sin-liong, Mereka berdiri sambil tersenyum mengejek.

"Seng Gun, apa artinya semua ini?! Kenapa Ki Bhok menjadi luka begini?”
"Tanyakan saja kepadanya!" kata Seng Gun dengan suara mengejek.

Tio Hui Po mengguncang-guncang pundak puteranya. "Ki Bhok, kau kenapa? Siapa yang melukaimu?"

Pemuda itu menggerakkan tubuhnya. Matanya telah buta, mulutnya tak dapat bicara dan telinganya tuli. Dia hanya bisa menggerakkan telunjuknya, menuding ke arah Seng Gun.

Tio Hui Po memeriksa keadaan puteranya dan dia mengeluarkan jerit ngeri ketika melihat keadaan puteranya yang sesungguhnya. Puteranya ini lebih banyak mati dari pada hidup! Dia meloncat ganas dan memandang kepada Seng Gun dengan mata memancarkan api kemarahan.

"Seng Gun, apa yang terjadi dengan keponakanku?”
"Ha-ha-ha, keponakan? Tio Hui Po, Ki Bhok itu bukanlah keponakanmu, melainkan anak gelapmu dengan Ang-lian-pangcu yang bernama Siang-cu Sian-li..."
"Tapi bukankah dia bibimu?"
"Bibi apa? Dia mati karena kami yang membunuhnya dan kami sudah mengetahui rahasia busukmu dengannya."

Tio Hui Po terbelalak, marahnya sudah sampai ke ubun-ubun, akan tetapi dia pun merasa penasaran dan ingin tahu.

"Tapi… tapi... kau masuk ke Nam-kiang-pang, malah engkau menerima warisan Thian-te To-hoat dan engkau… Ahh… kalau begitu Ciu Kang Hin juga hanya menjadi korban fitnah yang kau buat!"
"Ha-ha-ha, engkau pintar, akan tetapi terlambat, Tio Hui Po. Sekarang aku yang menjadi ketua Nam-kiang-pang, dan kau boleh tinggal di sini selamanya bersama anakmu, ha-ha-ha-ha…!"
"Tapi... tapi... mengapa? Siapakah engkau sebenarnya?"

"Ha-ha, sekarang tidak ada persoalan kalau engkau mengenalku, Tio Hui Po. Aku adalah putera An Lu Shan, namaku An Seng Gun. Aku cucu Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Aku ingin mendirikan kembali kejayaan ayahku yang sudah runtuh. Dan karena aku membutuhkan nama Nam-kiang-pang maka aku ingin menguasainya. Ang-lian-pang kami basmi karena tidak mau tunduk terhadap kami, sedangkan Hoat-kauw adalah sekutu kami. Juga kami akan menggunakan Nam-kiang-pang untuk membasmi Beng-kauw dan mengadu domba semua perkumpulan yang tidak mau bekerja sama dengan kami!"
"Jahanam keparat...! Kau adalah iblis!" Tio Hui Po mencabut goloknya lantas menyerang bekas murid itu dengan jurus dari Thian-te To-hoat.

Akan tetapi Seng Gun baru saja menamatkan ilmu golok itu, maka tentu saja dia mampu menangkis, apa lagi di tangannya terdapat golok pusaka yang turun temurun dimiliki para ketua Nam-kiang-pang. Biar pun demikian, andai kata Seng Gun tidak sudah mempelajari ilmu dari kakeknya dan di ruang itu tidak ada Kwa Lian, maka belum tentu dia akan berani menandingi gurunya yang telah banyak pengalaman dan terkenal sebagai seorang gagah di dunia kangouw.

Tio Hui Po mengamuk dengan goloknya, dikeroyok dua oleh Seng Gun dan Bi-sin-liong Kwa Lian. Baru tingkat kepandaian Kwa Lian saja telah sebanding dengan tingkatnya, apa lagi di sana ada Seng Gun yang mengenal semua jurus gerakan goloknya. Maka, setelah mengamuk selama tiga puluh jurus, akhirnya Tio Hui Po terkena sabetan pedang beronce merah dari Bi-sin-liong Kwa Lian.

Sabetan pedang Bi-sin-liong itu tepat mengenai pergelangan tangan kanannya sehingga membuat lengan itu buntung dan goloknya terlepas! Lalu serangan susulan dari suling dan golok di tangan Seng Gun membuat bekas ketua Nam-kiang-pang ini terjungkal dengan luka di pundak oleh bacokan golok dan tusukan suling perak pada lambungnya. Dia tidak mampu bangkit lagi.

Seng Gun tertawa. "Ha-ha-ha-ha, tinggallah kau di sini menemani puteramu, Tio Hui Po. Jangan khawatir, setiap hari akan kusuruh orang mengantar makanan untukmu!" Sesudah berkata demikian dia menggandeng Kwa Lian keluar dari ruangan itu lantas menguncikan pintunya dari luar.

Dapat dibayangkan hebatnya penderitaan Tio Hui Po. Derita yang dialami itu amat berat, bukan hanya derita lahir melainkan derita batin. Nyeri badan dapat ditanggung oleh lelaki yang gagah perkasa ini, akan tetapi nyeri di hatinya membuat dia hampir putus asa. Akan tetapi dia mempunyai semangat besar.

Dia menggunakan tangan kirinya untuk merawat luka-lukanya, kemudian melihat keadaan puteranya, dia tahu bahwa jalan satu-satunya bagi puteranya hanyalah kematian. Dia pun menyambar goloknya dengan tangan kiri, kemudian memejamkan mata ketika goloknya menyambar ke depan dan menembus jantung puteranya. Sesudah puteranya roboh tidak bernyawa lagi, barulah dia berlutut sambil menangis dan menciumi muka puteranya yang masih berlumuran darah itu.

Dia duduk bersila. Terbayang olehnya semua sikapnya yang keliru terhadap Ciu Kang Hin selama ini. Ah, betapa buta dia! Percaya sepenuhnya kepada Seng Gun dan sebaliknya malah mencurigai Kang Hin! Dia merasa menyesal bukan main.

Penyesalan selalu kasep datangnya. Penyesalan baru datang setiap kali perbuatan telah menimbulkan akibat buruk. Kalau tidak berakibat buruk, betapa pun jeleknya perbuatan itu maka tidak akan mendatangkan penyesalan. Sesal tak ada gunanya, karena sesal hanya menunjukkan kekecewaan dari tidak tercapainya keinginan.

Penyesalan tidak mendidik dan tidak membangun kesadaran. Apakah artinya kesadaran setelah perbuatan dilakukan? Perbuatan itu akan terulang kembali lantas penyesalan pun akan terulang kembali. Tetapi bagi orang yang waspada akan tindakannya sendiri setiap saat, bagi orang yang selalu bersandar pada kekuasaan Tuhan, kesadaran akan datang sebelum dia berbuat, sehingga tidak menimbulkan penyesalan yang sudah terlambat.

Semenjak hari itu pula Seng Gun sepenuhnya berkuasa atas Nam-kiang-pang. Ia bahkan membasmi orang-orang yang tak mau tunduk dan yang masih terus menanyakan tentang Tio Hui Po sehingga akhirnya di Nam-kiang-pang hanya tinggal orang-orang yang tunduk dan sepenuhnya berada dalam kekuasaan Seng Gun. Dan tentu saja hubungan dengan Hoat-kauw menjadi makin erat, bahkan Hoat-kauw yang tadinya berpusat di Bukit Ayam dekat dusun Libun, yang telah diobrak-abrik oleh pasukan, sekarang dipindahkan ke Nam-kiang-pang.....!

********************
Ciu Kang Hin merasa seperti dalam mimpi. Kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri dan panas dan tadi ketika dia roboh, tiba-tiba saja tubuhnya terangkat tanpa dia berdaya untuk melawan, kemudian tubuh itu diterbangkan orang tanpa dia dapat melihat jelas bagaimana caranya dan siapa orang itu.

Dia telah pingsan dalam pondongan orang ini dan tidak tahu bahwa dia dibawa pergi jauh sekali dari tempat itu. Orang yang memondongnya baru berhenti ketika mereka sampai di atas sebuah bukit bambu yang sunyi. Pemondongnya menurunkan tubuhnya di atas petak rumput yang bersih tebal lalu memeriksa dirinya.

Ketika mendapat kenyataan bahwa ada dua bintik kecil berwarna hitam pada dahi pemuda itu, si penolong lalu membungkuk, menggunakan mulutnya untuk mengecup bintik di dahi dan menggunakan tenaga saktinya untuk menyedot. Setelah beberapa lamanya, berhasil juga dia menyedot keluar dua batang jarum hitam halus.

Dia masih terus menyedot hingga darah yang keluar dari dahi itu berwarna merah. Lalu dia menggunakan dua telapak tangannya, ditempelkan pada dada Kang Hin dan menyalurkan tenaga sinkang ke dalam dada pemuda itu untuk membantu membersihkan tubuhnya dari hawa beracun.

Pada saat matahari sudah mulai terbenam akhirnya Kang Hin tersadar. Dia mendapatkan dirinya tergantung di pohon bambu besar, tergantung pada kedua kakinya dengan kepala di bawah! Kang Hin terkejut, tetapi dia masih nanar sehingga belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya. Kepalanya masih terasa pening sekali.

Perlahan-lahan dia membuka kedua matanya. Tak salah lagi. Dia sudah digantung orang di pohon itu dengan kedua kaki di atas dan kedua tangannya diikat! Ketika dia melihat ke bawah, dia melihat seorang pemuda duduk dekat api unggun sedang makan paha ayam hutan bakar! Lezatnya baunya ayam panggang itu. Biar pun tubuhnya terasa sakit-sakit, namun mengilar juga Kang Hin mencium bau yang sedap itu.

Kang Hin seorang pemuda yang cerdik. Biar pun masih pening namun dia masih mampu menggunakan otaknya untuk menimbang keadaan dan mengambil kesimpulan. Pemuda itu tidak dikenalnya, bukan salah seorang di antara para pengeroyoknya tadi. Pakaiannya sederhana dan bersih, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya jantan, rahang dan dagunya keras tetapi matanya lembut dan kocak, mulutnya selalu terhias senyum. Bukan wajah seorang jahat!

Tadi mestinya dia telah mati karena sudah terluka oleh senjata rahasia. Namun kenyataan bahwa dia berada di sini, biar pun tergantung tetapi belum mati, membuktikan bahwa dia tentu sudah ditolong orang. Siapa lagi orangnya kalau bukan pemuda itu? Kalau pemuda itu orang jahat yang memusuhinya, perlu apa bersusah payah lagi? Membunuh dia akan mudah sekali. Tidak, pemuda ini bukan orang jahat dan tidak bermaksud membunuhnya. Kang Hin yakin akan hal ini.

"Sobat, ayammu gurih sekali baunya. Boleh aku minta sedikit?"

Pemuda itu nampak terkejut.

"Hehh...? Hah...? Apa... apa kau kata?" Dia menoleh ke kanan kiri seperti orang bingung.

Pemuda itu menengadah, lantas bangkit berdiri. Ternyata tubuhnya tegap sekali, dadanya bidang dan matanya mencorong. Pemuda itu adalah Sia Han Lin!

Dia sedang menuju Bukit Harimau untuk menyelidiki Hoat-kauw yang akan mengadakan pertemuan dan pesta ketika dia lewat di tempat itu, dan secara kebetulan sekali melihat Kang Hin terancam maut di tangan tiga orang yang lihai bukan main. Meski pun dia belum mengenal Kang Hin, namun tak mungkin dia dapat membiarkan saja orang dikeroyok dan dibunuh, apa lagi orang yang memiliki kepandaian hebat seperti pemuda itu. Maka dia pun mempergunakan ilmu sihirnya mendatangkan angin, lalu menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menyambar dan melarikan tubuh Kang Hin yang setengah pingsan.

Memang Han Lin terkejut bukan main. Dia tidak mengira bahwa pemuda yang ditolongnya itu akan menegur minta ayam panggang. Alangkah lucunya! Maka dia pun tertawa.

Tadi setelah menyedot keluar dua batang jarum beracun, ia melihat betapa kuatnya racun itu yang kalau dibiarkan akan dapat mengganggu kewarasan otak pemuda itu. Maka dia lalu menggantung Kang Hin dengan kepala di bawah untuk memberi kesempatan kepada darah di tubuh Kang Hin agar mengalir sebanyaknya ke kepala dan darah itu akan dengan sendirinya melawan pengaruh racun yang dapat merusak jaringan otak. Siapa kira begitu siuman pemuda itu minta bagian ayam panggangnya karena lapar! Benar-benar seorang pemuda yang menyenangkan, pikir Han Lin, dan jelas bukan orang jahat.

"Sobat, sayang sekali engkau terpaksa berpuasa semalaman ini. Tahukah kau, kalau aku memberimu paha ayam ini sama saja aku membunuhmu? Engkau keracunan hebat, dan bergantung terbalik itulah satu-satunya jalan untuk menyembuhkanmu. Engkau tak boleh banyak bergerak, apa lagi makan. Besok pagi sesudah matahari terbit baru engkau boleh turun dan engkau akan sembuh sama sekali. Aku akan membuatkan sarapan yang lezat untukmu. Nah, sekarang kau boleh tidur!"

Kang Hin tertegun. Ahh, jadi inikah cara pengobatan itu. "Kawan, siapa namamu?"

"Hei, engkau pun dilarang untuk banyak bicara. Tentang nama, besok pagi kita berkenalan juga belum terlambat, bukan? Nah, istirahatlah, bungkus pikiranmu di dalam keheningan malam."

Kang Hin dapat merasakan kesungguhan di balik kata-kata yang seperti kelakar itu, maka dia pun mematuhinya. Dia segera menenteramkan hatinya, membenamkan diri di dalam keheningan.

Keruyuk ayam jago membangunkan Kang Hin dari tidurnya. Kepalanya berdenyut-denyut akan tetapi tidak terasa nyeri lagi dan begitu sadar hidungnya mencium bau yang sangat sedap sehingga dia membuka matanya. Matahari telah mulai nampak cahayanya dan dia melihat pemuda yang menolongnya sedang memanggang seekor rusa kecil yang ditusuk dari mulut ke ekornya. Panggang rusa itulah agaknya yang mengeluarkan bau sedap tadi, yang membangunkannya bersama keruyuk ayam jantan.

Han Lin mendongak dan memandang, kemudian tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya engkau telah bangun. Alangkah tajam penciuman hidungmu!"

"Dan engkau! Alangkah kejamnya hatimu. Engkau adalah orang yang sejahat-jahatnya!" terdengar bentakan nyaring tetapi lembut, kemudian bagaikan seekor garuda menyambar seorang wanita telah menerjang dan menempeleng kepala Han Lin.
"Wahh!” Han Lin menjatuhkan diri lalu bergulingan di atas rumput, menghindarkan diri dari serangan itu. "Jangan galak-galak, nona."

Akan tetapi wanita itu yang ternyata seorang gadis cantik jelita dan berusia tak lebih dari sembilan belas tahun, menjadi penasaran ketika tamparannya tadi luput. la membalik dan kini menyerang lagi dengan tendangan kaki. Han Lin dapat merasakan betapa tendangan itu mengandung tenaga sinkang yang sangat dahsyat. Maka dia pun mengerahkan tenaga dalamnya dan menangkis.

"Dukkk!"

Akibatnya dua orang itu terdorong ke belakang dan merasa tubuh mereka tergetar hebat. Keduanya berdiri tertegun dan baru maklum bahwa lawan adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Maka gadis yang bukan lain adalah Yang Mei Li itu menjadi penasaran sekali, kemudian mencabut sepasang pedang terbangnya.

"Ehh, nanti dulu, aku tidak ingin berkelahi denganmu!" kata Han Lin sambil duduk kembali ke depan panggang rusanya.

Akan tetapi hal ini dianggap sebagai sikap memandang rendah oleh Mei Li, maka dia pun mengelebatkan pedangnya.

"Hayo bangkit dan lawanlah, atau aku akan menggunduli kepalamu!"

Mendengar ini Han Lin terbelalak. Setelah gadis itu mengeluarkan ancaman, suasananya terasa begitu lucu oleh Han Lin sehingga dia tertawa. Mana ada lawan yang mengancam musuh dengan menggunduli rambut?

"Ha-ha-ha-ha, engkau hendak menggunduli rambutku? Berapa biayanya? Apakah engkau tukang cukur?"

Sejenak Mei Li terbelalak, kemudian mukanya menjadi merah. Dia menganggap pemuda itu mempermainkannya, maka dia menggerakkan pedang kirinya. Pedang itu menyambar, Han Lin mengelak, pedang mengejar dan benar-benar mengancam kepalanya. Terpaksa dia berloncatan.

"Ehh! Ohh! Nanti dulu, rusa panggangku… wah, wah celaka, bisa hangus…"

Akan tetapi kini Mei Li sudah marah dan terus mendesak. Karena Mei Li bukan ahli silat biasa, maka betapa pun lihainya tentu saja Han Lin tidak bisa hanya main mengelak saja. Terpaksa dia menyambar tongkat yang tadinya dia letakkan di atas tanah.

Akan tetapi dia tidak ingin memamerkan iImu tongkat Lui-tai-hong-tung yang dia pelajari dari Lojin karena iImu tongkat itu terlalu dahsyat. Maka dia lalu menggerakkan tongkatnya memainkan ilmu Hong-in Sin-pang untuk menangkis sepasang pedang yang mengaung-ngaung dan menyambar-nyambar seperti dua ekor burung garuda itu.

Akan tetapi semua gerakan tongkatnya itu seperti terkepung dan terdesak oleh sepasang pedang, maka dia pun mengubah lagi permainan tongkatnya. Biar pun tahu bahwa lawan amat hebat, namun dia masih belum mau mengeluarkan Lui-tai-hong-tung, melainkan kini memainkan tongkatnya seperti memainkan pedang saja dengan ilmu pedang Sian-li Kiam-sut. Setelah dia memainkan beberapa jurus, Mei Li meloncat ke belakang sambil berseru,

"Tahan...!

Mei Li memandang heran namun Han Lin tidak peduli. Dia segera membuang tongkatnya kemudian lari menghampiri panggang rusa, memutarnya agar tidak hangus dan akhirnya tersenyum puas.

"Dari mana engkau mempelajari Sian-li Kiam-sut?!" bentak Mei Li sambil menatap tajam.

Han Lin tersenyum lantas menjawab, "Nona, apakah nona ini seorang puteri kaisar, atau puteri raja di hutan ini?"

"Ehh! Kenapa?"
"Nona bersikap seperti puteri yang memerintah, menuntut dan memeriksa tahanan. Nona puteri dari mana?" tanya Han Lin sambil tetap melanjutkan pekerjaannya memutar-mutar daging rusa sehingga dapat terpanggang rata.

Karena perhatian Han Lin kini sepenuhnya tertuju kepada panggang rusa, mau tidak mau Mei Li juga memandang kepada panggang rusa itu dan dia pun menelan ludah. Sungguh pemandangan yang menimbulkan selera!

Daging itu meneteskan lemak dan harumnya membuat perutnya mendadak terasa lapar sekali. Dia merasa betapa sayangnya kalau panggang rusa itu sampai hangus, maka dia pun menahan diri dan membiarkan pemuda itu menyelesaikan pekerjaannya.

"Ditanya belum menjawab malah balas bertanya. Engkau selain kejam dan cerewet, juga pengecut!"

Han Lin membelalakkan matanya, lantas tersenyum kepada panggang rusa di depannya. "Ehh, rusa yang baik, apakah memang wanita cantik itu selalu galak? Nona, kau datang-datang memaki aku sebagai orang yang sekejam-kejamnya, apa kesalahanku kepadamu sehingga nona menganggap aku kejam? Apa karena aku menyembelih dan memanggang rusa ini?"

"Kau masih pura-pura bertanya?" Mei Li menoleh dan memandang kepada Kang Hin yang masih tergantung di pohon dengan kepala di bawah. "Kau menyiksa orang seperti itu dan masih bertanya mengapa kau kumaki kejam?!"

Han Lin menoleh dan merasa geli. Kiranya itu yang menyebabkan gadis ini marah-marah lantas menyerangnya kalang kabut. Hal ini mendatangkan kesan baik di hatinya. Seorang gadis yang memiliki watak gagah dan suka membela orang yang tertindas, pikirnya.

Karena mendapat kesan baik maka timbullah keinginan hatinya untuk menguji kepandaian gadis itu. Kebetulan panggang rusanya juga telah matang, tinggal tunggu agak mendingin saja kemudian siap dimakan.

Dia menaruh panggang rusa itu di atas tonggak kayu, kemudian dia menghadapi Mei Li, memandang penuh perhatian dan mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang cantik jelita luar biasa. Dia lalu bertanya dengan nada suara menantang.

"Wahai paduka puteri yang mulia, apakah gerangan dosa hamba maka paduka semarah ini? Datang-datang menyerang hamba, hendak menggunduli kepala hamba. Kalau hamba menggantung orang ini, apa sangkut pautnya dengan paduka?"
"Kurang ajar! Engkau jahat, engkau perlu dihajar!" Sekali ini Mei Li marah bukan main dan segera mencabut sepasang pedang terbangnya. Nampak kilat menyambar ketika dara ini mencabut senjatanya.
"Hemm, hendak kulihat, aku atau engkau yang perlu dihajar," kata Han Lin, sengaja untuk membuat gadis itu semakin marah.

Dan memang usahanya berhasil. Mei Li menjadi merah mukanya dan berseru melengking nyaring sambil menggerakkan pedang kirinya.

"Sambut pedangku!"

Han Lin tidak berani main-main. Dia pun menyambar tongkat wasiatnya yang dia peroleh dari gurunya, menangkis kemudian balas menyerang. Namun karena dia tidak bermaksud buruk, dia masih belum mau memainkan Liu-tai-hong-tung melainkan memainkan Sian-li Kiam-sut yang pernah dia pelajari dari mendiang ibunya ketika dia masih kecil.

Biar pun Mei Li menjadi semakin heran dan amat penasaran bagaimana pemuda ini dapat memainkan Sian-li Kiam-sut, ilmu pedang dari ayahnya, tetapi dia tidak mau bertanya lagi. Dia harus mengalahkan dulu pemuda jahat ini. Nanti pun belum terlambat untuk memaksa pemuda ini mengaku dari mana dia mempelajari ilmu pedang itu.

Akan tetapi ternyata pemuda itu lihai sekali. Bahkan dia menduga bahwa ayahnya sendiri tidak akan mampu memainkan Sian-li Kiam-sut dengan sebatang tongkat sebaik pemuda itu! Maka dia pun mendesak sambil mengerahkan tenaganya untuk meraih kemenangan.

Sementara itu, sejak tadi Kang Hin hanya menjadi penonton. Girang sekali hatinya melihat gadis perkasa itu membelanya mati-matian, akan tetapi dia pun khawatir melihat mereka berkelahi begitu serunya, makin lama semakin hebat. Seorang di antara mereka bisa saja terluka parah dalam perkelahian seperti itu.

"Nona, hentikan seranganmu. Dia bukan orang jahat, dia malah menolongku!" teriaknya.

Setelah dua tiga kali berteriak barulah Mei Li menghentikan serangannya dan meloncat ke belakang. Tadi dia telah mulai menggunakan ilmu pedang terbangnya sehingga sepasang pedangnya itu laksana sepasang garuda menyambar-nyambar membuat Han Lin terkejut dan kagum sekali. Kini, melihat gadis itu melompat mundur, dia pun memuji.

“Sepasang pedang terbang, sungguh hebat bukan main!”

Sementara itu Mei Li mengangkat muka memandang Kang Hin dengan penasaran. “Ciu Kang Hin, kenapa engkau menahan aku untuk membunuh orang jahat ini?”

“Nona, dia bukan orang jahat dan dia tidak menyiksa aku. Bahkan dia sudah menolongku dan menyelamatkan nyawaku. Ini adalah cara pengobatan untuk membebaskan aku dari racun!”

Mendengar ini Mei Li terbelalak lantas tersipu, kedua pipinya berubah merah akan tetapi sinar matanya berkilat karena marah dan merasa dipermainkan. Melihat sikap gadis itu, Han Lin tersenyum dan dia pun berkata kepada Kang Hin,

“Sobat, mengapa engkau tidak lekas turun dan malah banyak omong saja? Apa perutmu tidak merasa lapar?”

Mendengar ucapan Han Lin itu, Kang Hin merasa girang sekali. Dia sudah merasa sangat tersiksa karena digantung terbalik sepanjang malam, akan tetapi karena hal itu amat perlu untuk menyelamatkan nyawanya, maka dia tidak banyak membantah.

“Ahh, sudah bolehkah…?” katanya, lantas dia pun mengerahkan tenaganya, mengangkat kepala ke atas dan sekali menggerakkan tangan, maka tali pengikat kedua kakinya sudah putus. Dengan ringan tubuhnya melayang turun, membuat poksai (salto) satu lingkaran kemudian kakinya hinggap di tanah, berhadapan dengan Mei Li.
“Engkau sudah salah sangka, nona. Aku terluka oleh sute-ku sendiri yang mengeroyokku bersama dua orang Hoat-kauw. Kalau tidak ada dia yang menolongku, tentu saat ini aku sudah menjadi mayat. Dia membawaku ke sini dan mengobatiku.”

Mei Li mengerutkan alis ketika menghadapi Han Lin yang kini mulai memanggang rusanya karena sudah menjadi terlalu dingin sehingga perlu dipanasi lagi.

“Hemm, mengapa engkau tadi tidak berterus terang dan membiarkan aku salah sangka? Engkau hendak mempermainkan aku, ya?” Mei Li mengambil sikap menantang. “Engkau hendak pamer kepandaian, ya? Mentang-mentang bisa ilmu Sian-li Kiam-sut, engkau lalu sombong dan mempermainkan aku?”

Diserang kata-kata yang keluar seperti rangkaian peluru itu, Han Lin menjadi kewalahan. Setiap kali Mei Li berhenti bicara, selagi dia hendak membantah, tahu-tahu gadis itu telah mendahului dengan berondongan kata-kata lainnya. Karena itu dia diam saja, menunggu sampai gadis itu kehabisan kata.

Akhirnya tibalah saat yang dinantikan Han Lin. Mei Li benar-benar sudah kehabisan kata sehingga kini dia hanya mampu berdiri sambil bertolak pinggang dengan napas terengah-engah. Han Lin tidak mau melewatkan kesempatan ini, maka cepat dia mengangkat dua tangannya ke depan dada lalu berkata,

“Maafkan, nona. Kalau aku boleh mengetahui, siapakah nona? Dan siapa pula sobat ini?”

Sejak tadi Kang Hin sudah ingin memperkenalkan diri, karena dia merasa berhutang budi dan ingin sekali tahu nama pemuda penolongnya ini. Akan tetapi berondongan kata-kata Mei Li tadi memaksanya untuk menunda keinginannya sehingga dia hanya berdiri sambil tersenyum-senyum melihat penolongnya kebingungan menghadapi gadis ini. Maka, ketika pemuda penolongnya bertanya, dia pun segera menjawab,

“Dia adalah Yang Mei Li berjuluk Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang), sedangkan aku bernama Ciu Kang Hin. Bolehkah kami mengetahui nama sobat yang terhormat?”

Akan tetapi, kalau tadi Han Lin bersikap gembira dan jenaka, kini tiba-tiba saja wajahnya berubah agak pucat, matanya terbelalak dan dia memandang Mei Li seperti melihat setan di tengah hari. Namun wajahnya yang mengandung kekagetan besar itu hanya sebentar, dan segera menjadi wajah yang gembira bukan main. Matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum lebar sehingga sikap ini tentu saja mengejutkan Kang Hin dan terutama sekali Mei Li karena pemuda itu terus memandangnya tanpa berkedip.

Setelah memandang cukup lama dalam suasana hening, akhirnya Han Lin berkata, “Aihh, pantas saja wajahmu mirip benar dengan wajah ibuku. Kiranya engkau anak bibi Can Kim Hong dan paman Yang Cin Han? Memang kata orang wajah ibuku sama benar dengan wajah ayahmu!"

Mei Li terbelalak, mukanya berubah pucat lantas menjadi kemerahan. Kemudian, seperti didorong oleh sesuatu, entah siapa yang lebih dahulu bergerak, kedua orang muda itu lalu saling tubruk dan saling rangkul. Mei Li menangis saking terharu dan girang. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan kakak misannya!

"Sia Han Lin! Engkau tentu kakak Sia Han Lin! Ahh, Lin-koko betapa kami semua selalu memikirkan dan mengkhawatirkan dirimu!"

Han Lin bisa menguasai perasaan hatinya. Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya, memegang kedua pundak gadis itu lalu mendorongnya ke depan untuk dilihat lebih jelas. Kedua matanya sendiri menjadi basah, akan tetapi mulutnya tersenyum.

"Terima kasih, adikku Mei Li, terima kasih. Tak kusangka bahwa paman sekeluarga selalu mengkhawatirkan dan memikirkan diriku. Dipikirkari seorang gadis sehebat engkau benar-benar sangat menyenangkan hati. Akan tetapi kebetulan sekali, mari kita bertiga makan bersama. Rusa ini sudah masak benar, masih muda, tentu dagingnya lunak dan gurih."
"Koko, engkau hebat. Perutku memang lapar sekali."
"Ha-ha-ha, jadi agaknya engkau membuat ulah dan ribut-ribut tadi untuk merampas daging rusaku, ya?" Han Lin mengamangkan telunjuknya sambil tertawa.

Mei Li yang wataknya memang lincah jenaka ini, kini tertawa juga mendengar itu. "Habis, dari jauh saja panggang rusamu sudah tercium olehku! Cuma aku tadi kaget bukan main dan mengira engkau orang jahat karena engkau membuat saudara Kang Hin tergantung seperti orang disiksa."

"Saudara Kang Hin! Aihh…, aku hampir lupa kepadamu. Maafkan, jadi namamu Ciu Kang Hin? Aku pernah mendengar nama itu. Bukankah engkau adalah tokoh besar dari Nam-kiang-pang? Kenapa tadi dikeroyok oleh orang-orang Hoat-kauw?."

Kang Hin menghela napas panjang. Dia tadi ikut tertegun menyaksikan pertemuan antara kakak dan adik itu, dan ikut merasa terharu karena dia sendiri adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai keluarga lagi.

"Ahh, saudara Sia Han Lin, panjang ceritanya...," katanya sambil duduk dekat api unggun seperti kedua orang kakak beradik itu.
"Ya, Lin-ko, ceritanya panjang dan memang nasib yang menimpa diri Ciu-koko ini sangat buruk," kata Mei Li.
"Agaknya kalian sudah saling mengenal dengan baik," kata Han Lin.
"Tidak, koko. Kami baru saja berkenalan, bahkan sebelum berkenalan kami pun sempat saling serang dengan hebat. Aku tidak tahu akan keadaan yang sesungguhnya, maka aku menyerangnya dan berusaha untuk membunuhnya."

"Memang nasibku yang amat buruk dan semua ini karena perbuatan Seng Gun yang licik. Untuk melawan nona Yang, bagaimana mungkin aku dapat menang?"
"Ahh, engkau terlalu merendahkan diri, twako. Lin-ko, ketahuilah bahwa twako Ciu Kang Hin ini adalah pewaris ilmu Thian-te Sin-to yang terkenal. Ia lihai sekali dan aku bukanlah lawannya.”
"Bagus, kalian berdua dapat saling merendahkan diri, itu menunjukkan watak yang baik. Sekarang marilah kita makan dahulu, saudara Kang Hin perlu makan untuk memperkuat tubuhnya yang lemah. Nanti saja kita saling menceritakan pengalaman masing-masing," kata Han Lin.

Kang Hin dan Mei Li tidak membantah, maka mereka bertiga segera mulai makan daging rusa yang amat sedap dan gurih, padahal bumbunya hanya garam dan bawang putih saja. Memang daging itu lunak dan dimakan selagi masih panas, tentu saja terasa lezat. Mei Li pun memuji kepandaian kakaknya memanggang daging rusa. 

Mereka makan hingga kenyang. Seekor rusa muda itu hampir habis dimakan oleh mereka bertiga. Setelah kenyang dan minum anggur yang disediakan pula oleh Han Lin, mereka pun pindah duduk ke tempat yang bersih lalu bercakap-cakap.

Mula-mula Kang Hin menceritakan riwayatnya, sebagai seorang yatim piatu yang menjadi murid Tio Hui Po, ketua Nam-kiang-pang yang sangat baik kepadanya. Dia menjadi murid kesayangan, murid kepala yang dipercaya, juga mewarisi ilmu simpanan Thian-te Sin-to-hoat.

Akan tetapi kemudian datang pula Tong Seng Gun yang juga menarik perhatian dan rasa sayang ketua Nam-kiang-pang sehingga Tong Seng Gun menjadi murid ke dua sesudah dia yang menerima warisan ilmu Thian-te To-hoat. Diceritakan pula tentang sepak terjang Tong Seng Gun yang ternyata palsu, bahkan pemuda itu ternyata adalah seorang tokoh Hoat-kauw yang menyusup ke Nam-kiang-pang. Sekarang jelas baginya bahwa Seng Gun sengaja hendak mengadu domba antara Nam-kiang-pang dan Beng-kauw, juga dengan perkumpulan-perkumpulan persilatan lain.

"Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang palsu yang amat jahat, tentu keadaan Nam-kiang-pang menjadi berbahaya sekali. Aku harus memberi tahu kepada suhu!" kata Kang Hin.
"Jangan tergesa-gesa, Ciu-twako. Seng Gun sangat licik dan tanpa bukti, mana mungkin Tio-pangcu akan percaya kepadamu? Tentu dia lebih percaya kepada Seng Gun."

"Benar sekali. Orang yang bernama Seng Gun itu berbahaya sekali. Bukan saja dia tokoh Hoat-kauw, tetapi agaknya dia bekerja sama dengan orang Mongol untuk membikin kacau dan lemah dunia kangouw agar mereka dapat menguasainya. Aku melihat sendiri betapa dia dan kawan-kawannya hampir saja membunuh Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai.
"Ahh, benarkah itu?" Kang Hin berseru kaget sekali.
"Lin-koko, kini tiba giliranmu. Ceritakanlah riwayatmu sejak engkau lenyap dari kota raja itu. Ke mana saja engkau pergi? Ayahku khawatir bukan main bila bicara tentang dirimu. Ceritakan sampai engkau melihat Seng Gun hendak membunuh Pek Kong Sengjin."

Han Lin melirik kepada Kang Hin, lantas berkata, "Li-moi, akan kuceritakan tentang Seng Gun itu, akan tetapi mengenai riwayatku merupakan cerita panjang yang akan kuceritakan kepadamu lain waktu saja."

Kang Hin maklum bahwa dalam riwayat pribadi pemuda aneh yang menolongnya itu tentu ada sebuah rahasia yang hanya boleh diketahui keluarga sendiri, maka dia cepat berkata, "Saudara Han Lin, tentang riwayatmu, tidak perlu diceritakan. Aku hanya ingin sekali tahu tentang Seng Gun sebab dia adalah adik seperguruanku yang ternyata merupakan musuh yang menyusup ke Nam-kiang-pang."

Han Lin lalu bercerita tentang pengalamannya. Betapa secara kebetulan sekali dia melihat Seng Gun dan dua orang sekutunya menyerang Pek Kong Sengjin tokoh Kong-thong-pai itu dan mendengar percakapan mereka.

"Seng Gun secara curang sudah memukul dan mendorong Pek Kong Sengjin ke dalam jurang. Untunglah secara kebetulan aku berada di sana sehingga berhasil menyelamatkan nyawa tokoh Kong-thong-pai itu. Kemudian aku sempat pula mendengarkan percakapan antara Tong Seng Gun dengan dua orang tokoh Hoat-kauw. Dari percakapan itu ternyata mereka memang sengaja hendak menguasai Nam-kiang-pang dan akan mempergunakan perkumpulan itu untuk mengadu domba antara Beng-kauw dengan perkumpulan dan aliran lain. Agaknya mereka hendak menghancurkan semua aliran dan perkumpulan agar Hoat-kauw menjadi penguasa. Dalam memusuhi Beng-kauw ini mereka menggunakan namamu untuk mengacaukan, saudara Kang Hin."

Kang Hin mengangguk-angguk, agaknya hal itu memang sudah diduganya. Tiba-tiba saja dia mengepal tinju kemudian bangkit berdiri.

"Celaka, pasti sekarang suhu sedang terancam bahaya. Mereka tentu mengandung niat busuk terhadap suhu, aku harus menolong suhu!"
"Ciu-twako, aku akan membantumu dan menjadi saksi tentang kejahatan Seng Gun!" kata Mei Li. "Kalau sekarang engkau pulang sendiri, tentu gurumu tidak akan percaya karena dia sudah dipengaruhi oleh Seng Gun."
"Akan tetapi mereka sudah melihat engkau membela Beng-kauw, nona, tentu suhu akan lebih marah kepadaku dan kepadamu."
"Aku tidak peduli, aku tidak takut! Kalau suhu-mu tidak percaya, dia bodoh!"

Kang Hin mengerutkan alisnya. Baginya, suhu-nya adalah satu-satunya orang yang ditaati dan dihormatinya, dan biar pun suhu-nya sudah bersikap tidak adil kepadanya, namun dia yakin bahwa hal.itu dilakukan suhu-nya karena suhu-nya sudah dipengaruhi oleh kelicikan Seng Gun.

"Nona, suhu tidak bodoh, akan tetapi Seng Gun yang terlalu licik dan jahat seperti iblis."

Melihat Kang Hin tersinggung, Han Lin lalu berkata, "Sebenarnya aku sedang menuju ke Bukit Harimau untuk menyelidiki tentang Hoat-kauw yang akan mengadakan pesta ulang tahun dan mengumpulkan semua aliran dan perkumpulan besar, tetapi melihat gawatnya persoalan yang melanda Nam-kiang-pang, juga masih cukup waktu untuk kelak pergi ke Bukit Harimau, maka biarlah aku menemani kalian ke sana.”

Girang bukan main hati Kang Hin mendengar ini karena dia yakin bahwa kalau dua orang muda sakti seperti Mei dan Han Lin membantunya, kiranya gurunya dan Nam-kiang-pang akan dapat diselamatkan dari tangan orang-orang Hoat-kauw.

"Terima kasih... terima kasih," hanya kata-kata itu yang dapat diucapkannya berulang kali sambil mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat sehingga mengharukan hati Han Lin dan Mei Li.

"Aihh, Ciu-twako, di antara kita sendiri mengapa harus bersikap sungkan? Mari sekarang juga kita berangkat!" Tiga orang muda itu lalu menggunakan ilmu berlari cepat, melesat di antara pohon-pohon dalam hutan dan Kang Hin menjadi penunjuk jalan…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-11
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger