logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Mestika Burung Hong Kemala Jilid 08


Ji Siok atau Ji-wangwe (Hartawan Ji) membelalakkan matanya memandang kepada gadis yang duduk di depannya. Baru saja Cin Han meninggalkan mereka dan gadis ini, Kui Bi, menyatakan suatu keinginan yang membuat dia terkejut setengah mati dan terbelalak.

"Nona, keinginanmu itu tidak mungkin! Terlalu berbahaya itu!"
"Paman Ji," kata Kui Bi dengan sikap tenang. "Kenapa tidak mungkin? Bukankah paman juga mengetahui bahwa mendiang Bibi Yang Kui Hui dahulu pernah saling menjalin cinta dengan An Lu Shan? Dan paman tahu bahwa wajahku mirip mendiang Bibi Yang Kui Hui. Dengan sedikit hiasan maka aku akan menjadi Yang Kui Hui muda dan aku yakin An Lu Shan seolah menemukan kembali kekasihnya."
"Akan tetapi itu sungguh berbahaya sekali! Bagaimana mungkin nona bisa membunuhnya kemudian meloloskan diri? Nona akan ditangkap! Andai kata berhasil membunuhnya pun, nona akan dihukum dan dibunuh pula."

"Paman, mana ada perjuangan yang tidak mengandung bahaya? Resiko perang hanyalah menang atau kalah. Orang tuaku tewas karena ulah An Lu Shan, bahkan Kerajaan Tang runtuh oleh pengkhianat itu. Bukankah sudah sepatutnya kalau aku membalas dendam? Dengan cara itu aku akan dapat mendekatinya dan mencoba membunuhnya. Tentang aku akan berhasil meloloskan diri atau tidak, itu adalah urusan ke dua. Belum tentu aku tidak akan mampu meloloskan diri, paman!"

"Tapi... mengorbankan seorang gadis muda seperti nona...," kata hartawan itu meragu.
"Tak ada kata pengorbanan bagi seorang pejuang, paman. Andai dianggap pengorbanan sekali pun, aku rela mengorbankan nyawa demi membalas kematian ayah ibuku dan demi Kerajaan Tang. Tak perlu berpanjang kata, paman. Sekarang maukah paman membantu agar aku dapat masuk ke dalam kalangan istana sehingga aku mempunyai kesempatan untuk mendekati An Lu Shan?"

Hartawan itu menghela napas panjang. "Sebaiknya kita menanti dahulu sampai kakakmu datang..."

"Itu terlalu lama, paman. Dan Han-koko juga tidak akan bisa membantuku. Ini merupakan usaha pribadiku untuk bertindak. Kalau paman tidak mau membantu, biarlah aku mencari jalan lain."

Menghadapi gadis yang bersikap keras itu, Ji-wangwe hanya dapat menghela napas dan mengangguk-angguk.

"Baiklah, nona. Tetapi harus diatur sebaik mungkin. Kalau hendak mendekati An Lu Shan tanpa dicurigai, satu-satunya cara adalah menjadi seorang dayang istana. Kebetulan aku mempunyai hubungan dengan seorang thaikam (sida-sida) yang menjadi kepala dayang. Kurasa dia akan dapat memasukkan nona ke istana sebagai dayang baru. Tentu saja jika ada permintaan dayang baru dari istana."

Dan kebetulan sekali, atas permintaan permaisuri ternyata memang ada permintaan dari istana agar Gui-thaikam memasukkan lagi tujuh orang dayang baru untuk istana. Dengan sendirinya tiga hari kemudian Kui Bi telah berhasil diselundupkan sebagai seorang dayang baru.

Ketika tujuh orang dayang baru itu dihadapkan kepada Kaisar An Lu Shan, di situ hadir pula Pangeran An Kong di samping permaisuri dan para selir kaisar. Juga ada beberapa orang panglima yang sedang menghadap untuk urusan tugas keamanan. Di antara para panglima juga terdapat Sia-ciangkun, yaitu Panglima Sia Su Beng yang pernah bertemu dengan Yang Kui Lan.

Panglima inilah yang seketika menjadi bengong dan jantungnya berdebar-debar ketika dia ikut melihat masuknya tujuh orang calon dayang baru itu. Yang membuat dia kaget bukan main adalah melihat dayang yang berjalan dalam urutan nomor tiga. Hampir dia berteriak memanggil.

Bagaimana dia tidak akan terkejut melihat Kui Lan berada di antara tujuh orang dayang itu! Kui Lan, gadis perkasa yang katanya hendak menyusul ayahnya yang ikut rombongan Kaisar yang melarikan diri ke barat, gadis yang menjadi pejuang membela Kerajaan Tang, sekarang berada di sini sebagai calon dayang!

Tentu saja dia merasa khawatir bukan main, maklum akan niat gadis itu. Agaknya gadis itu hendak nekat, hendak membunuh An Lu Shan dengan menyusup sebagai dayang! Dia harus mencegah ini, karena melakukan perbuatan itu sama saja dengan membunuh diri! Akan tetapi, apa yang dapat dia lakukan? Dia akan mencari jalan!

Bukan hanya Sia Su Beng yang menjadi bengong ketika melihat Kui Bi yang disangkanya Kui Lan karena memang enci adik itu memiliki wajah yang mirip sekali. Juga An Lu Shan dan Pangeran An Kong memandang dengan mata yang tak pernah berkedip. An Lu Shan menatap dengan jantung berdebar keras. Dia seperti melihat Yang Kui Hui hidup kembali, dalam tubuh yang jauh lebih muda.

Namun tak salah lagi, wajah gadis dayang itu serupa benar dengan wajah mendiang Yang Kui Hui yang dahulu menjadi kekasihnya! Dia tidak akan pernah melupakan selir kaisar itu, karena harus diakuinya bahwa berkat bantuan Yang Kui Hui itulah dia mendapatkan kedudukan dan kepercayaan kaisar Kerajaan Tang dan akhirnya sekarang bahkan dapat merebut tahta Kerajaan Tang.

Sementara itu, Pangeran An Kong yang terkenal mata keranjang, juga sangat terpesona oleh kecantikan Kui Bi. Terlebih lagi ketika dengan sikap malu-malu, dengan kerling mata tajam serta senyum manis sekali, Kui Bi yang melakukan penghormatan sambil berlutut kepada keluarga An Lu Shan, mengerling ke arah An Lu Shan dan Pangeran An Kong.

Pangeran mata keranjang itu begitu tertarik oleh kerling mata dan senyum Kui Bi sehingga dengan tak sabar dia lalu berkata kepada Permaisuri,
"Ibunda, saya ingin agar calon dayang yang berbaju biru itu menjadi dayang saya!"

Mendengar ucapan yang terang-terangan menunjukkan betapa pangeran itu terpikat oleh dayang itu, semua orang tersenyum, maklum akan watak mata keranjang pangeran itu.

"Aihh, engkau begitu tergesa-gesa! Akan tetapi bolehlah..."
"Tidak!" terdengar suara Kaisar menggeledek.

Memang sudah timbul perasaan tidak senang di antara ayah dan anak ini. Pertama pada saat mereka saling memperebutkan seorang wanita istana Kerajaan Tang yang kemudian bunuh diri, kemudian sekali karena dengan dukungan banyak pejabat tinggi, Pangeran An Kong minta kepada ayahnya agar dia diangkat menjadi Pangeran Mahkota.

"Engkau ini anak macam apa, An Kong! Tujuh orang calon dayang ini dipesan Permaisuri atas perintahku, tetapi begitu mereka muncul, enak saja engkau hendak memilih seorang di antara mereka? Akulah yang memutuskan, dan aku memerintahkan agar para calon ini menjadi dayang istana dan tidak boleh kau ambil begitu saja!"

Wajah Pangeran An Kong menjadi merah sekali, matanya mencorong penuh kebencian kepada ayahnya. Hanya karena urusan seorang dayang saja, ayahnya tidak segan-segan menegurnya sedemikian kasarnya, di depan banyak orang pula.

Ayahnya sudah mempermalukan dia di depan orang banyak, seperti pernah dilakukannya pada waktu dia mohon untuk diangkat menjadi pangeran mahkota. Kebencian menyesak dadanya, akan tetapi dia tidak berani banyak cakap lagi, hanya menundukkan mukanya dengan hati panas seperti dibakar. Terlebih lagi ketika dia bertemu pandang dengan Bouw Koksu yang dengan pandang mata memberi isyarat kepadanya, maka dia pun tak berani membantah lagi.

Peristiwa kecil ini tidak luput dari pengamatan Kui Bi. Gadis yang cerdik ini segera dapat mengetahui bahwa ada ketegangan dan kebencian di antara An Lu Shan dan An Kong, maka dia harus dapat memanfaatkan keadaan ini. Dia pun mengerling ke arah pangeran itu yang kebetulan mengangkat muka memandang kepadanya dan sebuah kedipan halus diisyaratkan oleh Kui Bi kepada sang pangeran, disusul senyum manis sekali.

Melihat keadaan yang tidak mengenakkan hati itu, sang permaisuri segera mengutus Gui-thaikam untuk menggiring tujuh orang dayang itu ke dalam istana.

Semua yang terjadi itu tidak luput dari perhatian mata Sia Su Beng. Bahkan dia sempat melihat kedipan mata gadis yang disangkanya Kui Lan tadi. Dia merasa tidak enak sekali dan menduga-duga, apa yang akan dilakukan gadis itu.

Kemudian dia teringat akan tekad Kui Lan untuk membantu Kerajaan Tang, maka dia pun mulai bisa menduga bahwa agaknya gadis pejuang itu sengaja menimbulkan ketegangan yang lebih hebat antara An Lu Shan dengan An Kong, untuk mengacaukan istana melalui rusaknya hubungan keluarga An Lu Shan. Dia merasa semakin tidak enak dan khawatir.

Kui Bi menjadi dayang permaisuri dan dia amat pandai membawa diri sehingga permaisuri merasa sayang kepadanya. Tetapi secara diam-diam permaisuri juga khawatir kalau-kalau dayang baru ini akan dipilih suaminya untuk menjadi selir. Dia tidak peduli kalau suaminya mengangkat selir baru berapa pun banyaknya, akan tetapi dia tidak rela kalau An Lu Shan menarik Kui Bi sebagai selir, karena dia tahu bahwa puteranya, Pangeran An Kong, amat menghendaki gadis cantik ini.

Maka kepada Kui Bi permaisuri sengaja memberi tugas yang selalu menjauhkan dayang ini dari kaisar, bahkan sejak berada di istana, Kui Bi tidak pernah dapat bertemu dengan kaisar. Hal ini amat mengesalkan hatinya, karena kalau tidak dapat bertemu degan kaisar, tidak pernah dapat berdekatan, lalu bagaimana mungkin dia mendapat kesempatan untuk membunuh An Lu Shan?

Beberapa hari kemudian, pada suatu malam setelah dia tidak mempunyai tugas apa pun, dan permaisuri telah memasuki kamarnya, tidak membutuhkan tenaganya, perlahan-lahan Kui Bi menyelinap keluar dan memasuki taman istana yang luas dan indah. Wajah gadis ini agak murung karena dia sama sekali tak melihat kesempatan untuk melaksanakan niat hatinya, yaitu membunuh An Lu Shan.

Untuk nekat saja mencari kamar kaisar baru itu dan mencoba membunuhnya, merupakan perbuatan yang nekat dan dia dapat mati konyol sedangkan hasilnya belum tentu ada. Dia teringat kepada Pangeran An Kong. Pangeran itu jelas tertarik kepadanya. Kalau saja dia dapat mendekati pangeran itu, mungkin akan terbuka jalan baginya untuk melaksanakan niatnya.

Kui Bi melamun sambil berjalan-jalan di dalam taman yang hanya diterangi lampu-lampu gantung di sana sini. Malam itu langit gelap, dan penerangan seperti itu membuat taman nampak semakin indah.

Tiba-tiba pendengarannya menangkap gerakan orang. Ia menahan langkah dan membalik ke kiri.

"Siapa...?" tegurnya.
"Sssttt..., siauw-moi... ini aku, Sia Su Beng," terdengar suara lirih seorang pria kemudian orangnya muncul dari baik semak-semak.

Sinar lampu yang lemah menerangi muka pemuda yang tampan gagah itu. Begitu melihat pakaiannya, teringatlah Kui Bi akan seorang di antara para panglima yang hadir ketika dia bersama para dayang lainnya dihadapkan kepada kaisar dan keluarganya. Tentu saja dia terheran-heran mendengar suara yang nampak akrab itu, yang menyebutnya siauw-moi.

"Kau... siapakah dan ada apakah...?" tanyanya gagap.
"Aih, Lan-moi, apakah engkau lupa kepadaku? Aku Sia Su Beng dan kita pernah bertemu. Adik Kui Lan, sungguh aku amat mengkhawatirkan niatmu ini. Engkau hendak membunuh An Lu Shan, bukan? Jangan begitu gegabah, Lan-moi. Semua harus diperhitungkan baik-baik. Aku tidak ingin kehilangan engkau. Tunggulah saatnya tiba setelah aku siap dengan pasukanku. Aku sudah menghubungi para pejuang dan mereka pun siap membantu. Kita akan serbu istana dan kita basmi keluarga An Lu Shan kemudian menguasai istana. Para pengikutnya akan kita buat tidak berdaya dengan kepungan pasukan. Percayalah, jangan sembarangan bertindak menyerangnya dan mengorbankan dirimu..."

Kini mengertilah Kui Bi. Kiranya panglima ini seorang pembela Kerajaan Tang yang entah bagaimana telah berhasil menyusup menjadi seorang panglima pengikut An Lu Shan, dan agaknya panglima yang bernama Sia Su Beng ini sudah bertemu dan berkenalan dengan Kui Lan, kakaknya! Panglima muda ini tentu mengira dia adalah kakaknya.

Sebenarnya terdapat perbedaan antara wajah enci-nya dan wajahnya. Enci-nya, Kui Lan, yang wajahnya mirip sekali dengan mendiang Yang Kui Hui. Akan tetapi berkat usahanya untuk membuat wajahnya agar mirip Yang Kui Hui, maka dengan sendirinya kini wajahnya serupa benar dengan wajah enci-nya.

"Maaf, ciangkun. Engkau keliru. Aku bukan Kui Lan..."

Di bawah penerangan lampu yang suram, sepasang mata panglima itu terbelalak, akan tetapi dia tersenyum.

"Aihh, adik Kui Lan, harap jangan main-main. Ketika dihadapkan di depan keluarga kaisar, aku telah mengamatimu. Dan aku tahu pula bahwa engkau sengaja bermain mata dengan Pangeran An Kong. Tentunya untuk mengadu antara ayah dan anak itu, bukan? Engkau harus hati-hati, Lan-moi. Aku tetap yakin bahwa engkau adalah Lan-moi. Wajahmu, sinar matamu, suaramu, tidak dapat membohongaku. Jangan bermain api sendiri, Lan-moi, apa lagi terhadap Pangeran An Kong. Dia memiliki pendukung yang sangat kuat. Bouw Koksu dan banyak orang mendukungnya, banyak orang lihai di sekelilingnya. Agaknya dia sudah siap untuk menjatuhkan ayahnya sendiri dan merebut tahta."

Sekarang Kui Bi tidak ragu-ragu lagi. Panglima ini bukan sedang menjebaknya, melainkan benar-benar seorang pejuang dan benar-benar sudah mengenal baik enci-nya.

"Kui Lan itu enci-ku, ciangkun. dan dia sedang pergi ke barat untuk menyusul rombongan Sribaginda Kaisar. Namaku Kui Bi dan aku ini adiknya."
"Ahhh...! Pantas saja kalau begitu. Lan-moi bilang bahwa dia hendak menyusul ayahnya yang ikut rombongan Sribaginda. Karena itu aku merasa terkejut dan heran sekali ketika melihat engkau berada di antara tujuh dayang itu, heran mengapa Lan-moi yang pergi ke barat tiba-tiba muncul sebagai dayang di istana. Kiranya engkau adiknya?"

"Aku senang sekali dapat bertemu denganmu, Sia-ciangkun..."
"Adik Ku Bi, Kui Lan selalu menyebutku toako."
"Baiklah, Sia-toako. Karena kita sepaham, maka aku merasa tenang dan tahu bahwa ada teman seperjuangan di dekatku. Aku tahu bahwa aku tidak boleh bertindak tergesa-gesa dalam melaksanakan niatku. Aku harus menunggu kesempatan yang baik."

"Bagus, Bi-moi. Aku akan selalu mengamati dan melindungimu. Jangan bergerak sebelum ada tanda dariku. Bila semuanya telah dipersiapkan, barulah kita bergerak. Engkau akan bertindak dari dalam istana sebab engkaulah yang paling mudah melaksanakannya. Akan tetapi... ehh, maaf, apakah engkau juga selihai enci-mu?"

Kui Bi tersenyum. Ia merasa suka sekali kepada panglima ini. Tampan, gagah dan tegas! "Jangan khawatir, toako. Enci Kui Lan itu juga kakak seperguruanku."

"Bagus kalau begitu..."
"Ssstttt...!"' Kui Bi memperingatkan dan Sia Su Beng cepat menyelinap ke balik semak-semak tadi.

Seorang thaikam muda muncul dan tangannya membawa sebatang pedang. Ia termasuk thaikam yang ditugaskan melakukan penjagaan, maka dengan sendirinya dia bukanlah seorang yang lemah.

"Hemm, kiranya engkau dayang baru itu! Di mana pria yang berbicara denganmu tadi?!" bentak thaikam itu dengan nada bengis.
"Pria? Apa yang kau maksudkan?" Kui Bi pura-pura tidak mengerti dan sikapnya menjadi seperti orang ketakutan.
"Tak perlu berpura-pura dan berdusta! Tadi aku sudah melihatnya sendiri. Ada bayangan seorang pria bercakap-cakap denganmu di sini! Hayo katakan, siapa dia dan di mana dia sekarang? Kalau tidak mengaku, engkau akan kuseret dan kulaporkan kepada komandan pasukan keamanan dan engkau akan disiksa agar mau mengaku!"

Kui Bi merasa serba salah. Akan tetapi dia langsung teringat bahwa Sia Su Beng adalah seorang panglima yang tentu kekuasaannya jauh lebih besar kalau dibandingkan seorang prajurit pengawal thaikam biasa. Maka dia pun segera menjawab.

"Ahh…, kau maksudkan Sia-ciangkun tadi? Memang benar aku tadi bertemu dengan Sia-ciangkun di sini. Dia bertanya apa yang sedang kukerjakan di sini dan kujawab bahwa aku mencari hawa sejuk. Dia lalu pergi dan...”
"Siapa Sia-ciangkun? Jangan bohong kau!" Pengawal itu melangkah dekat dengan sikap mengancam.
"Aku tidak berbohong, yang bicara denganku tadi adalah Sia-ciangkun," kata Kui Bi. "Sia-ciangkun adalah panglima yang terkenal.”
"Tidak mungkin. Engkau hanya seorang dayang baru, bagaimana mungkin panglima Sia bicara denganmu di taman? Jangan melempar fitnah. Engkau harus kutangkap dan..."

Tangan kiri Kui Bi bergerak cepat sekali dan tangan itu sudah menyambar ke arah dada thaikam itu. Thaikam itu ternyata lihai, dia sempat meloncat ke belakang sehingga walau pun pukulan itu mengenai dadanya, akan tetapi tidaklah kuat benar, hanya membuat dia terhuyung.

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan dengan cepat sinar pedang berdesing menyambar, maka robohlah thaikam itu dengan dada tertembus pedang. Penyerangnya adalah Sia Su Beng.


Pada saat itu pula terdengar teriakan Gui-thaikam dari pintu taman. "Nona Kui Bi, engkau di mana? Ke sinilah cepat, engkau dicari Yang Mulia Pangeran!"

Wajah Kui Bi berubah agak pucat karena kalau sampai ketahuan thaikam muda itu tewas di dekatnya dengan berlumuran darah, tentu dia akan celaka.

"Tenang, kusembunyikan dia," terdengar Sia Su Beng berkata lirih. Panglima itu menyeret mayat thaikam itu ke balik semak-semak. Sesudah panglima dan mayat itu tidak kelihatan lagi, barulah Kui Bi menjawab dengan teriakan.
"Aku berada di sini...!” Dan da pun menghampiri ke arah pintu taman.

Gui-thaikam nampak berlari-lari menghampiri.

"Aihh, apa saja yang kau lakukan malam hari di taman? Cepat, Yang Mulia Pangeran An Kong mencarimu, beliau akan marah kalau engkau tidak cepat menghadap."

Mendengar ini, Kui Bi mengerling sekali lagi ke arah semak-semak.Tentu Sia Su Beng juga mendengar ucapan itu, pikirnya.

Hatinya merasa agak lega karena dia tahu bahwa panglima itu tentu akan melindungi dan membantunya kalau ada bahaya mengancam. Dan entah bagaimana, dia merasa bahwa bahaya itu akan datang dari sang pangeran yang secara terus terang menyatakan terpikat olehnya dan menghendaki dirinya.

"Aku hanya mencari hawa segar di taman," katanya dan dia pun mengikuti thaikam yang menjadi kepala dayang itu keluar taman menuju ke gerbang taman.

Di sana telah menanti Pangeran An Kong bersama dua orang pengawal pribadinya. Kui Bi cepat melangkah maju lalu meniru Gui-thaikam memberi hormat kepada sang pangeran yang tersenyum melihatnya.

"Kui Bi, engkau memang cantik jelita," kata pangeran itu dengan rasa kagum ketika dia memandang wajah manis itu di bawah sinar lampu gantung kemerahan.
"Terima kasih, Pangeran. Hamba hanya seorang gadis dusun yang bodoh," kata Kui Bi merendah.
"Aku mendengar bahwa engkau disia-siakan ayahanda kaisar, tidak pernah diperhatikan dan hanya mendapat tugas di luar kamar yang tidak penting. Hemm, untuk apa ayahanda mempertahankan engkau dariku? Aku suka kepadamu, Kui Bi. Lebih baik engkau menjadi dayangku dan kalau engkau menyenangkan hatiku, engkau akan menjadi selirku."

Berdebar rasa jantung Kui Bi, berdebar karena marah, juga karena khawatir. Tentu saja dia tidak ingin menjadi selir pangeran itu atau selir kaisar sekali pun. Memang dia bersedia mengorbankan nyawa dalam perjuangan, tapi mengorbankan kehormatannya? Tidak! Dia akan mempertahankan kehormatannya, dengan nyawanya!

"Ampun, paduka Pangeran. Hamba tidak berani. Tanpa ijin Yang Mulia Sribaginda Kaisar, bagaimana hamba berani? Hamba akan menerima hukuman berat..." dia berkata dengan nada ketakutan.

Pangeran An Kong memberi tanda pada dua orang pengawalnya untuk meninggalkannya, demikian pula Gui thaikam karena ia ingin bicara berdua dengan Kui Bi dan tidak didengar orang lain. 

Dua orang pegawal itu meninggalkan mereka akan tetapi tetap mengamati dari jauh untuk menjaga keselamatan sang pangeran, biar pun mereka maklum pula bahwa pangeran itu bukan orang yang lemah, bahkan ilmu silatnya lebih lihai dari pada mereka. Gui-thaikam juga meninggalkan tempat itu dengan taat, bahkan kembali memasuki bangunan belakang istana.

"Nah, sekarang kita hanya berdua saja, Kui Bi. Katakanlah, bukankah engkau lebih suka menjadi dayangku dari pada menjadi dayang Sribaginda? Aku sempat melihat kerling dan senyummu ketika itu "

Kui Bi berlagak tersipu malu. ”Ahh, Pangeran. Tentu saja hamba akan lebih senang kalau bisa menjadi dayang paduka..., akan tetapi Sribaginda memutuskan lain dan hamba tidak berani menentangnya."

"Tidak ada yang menentang. Akan tetapi katakan dulu, apakah engkau akan senang bila menjadi selirku, bahkan mungkin kelak menjadi isteriku berarti engkau menjadi permaisuri kalau aku menjadi kaisar?"
"Ahh... tentu... tentu saja Pangeran. Hamba akan... senang sekali...," kata Kui Bi biar pun di dalam hatinya dia memaki pangeran mata keranjang yang merayunya itu.
"Dan engkau akan suka membantu melakukan apa saja untukku agar kelak engkau dapat menjadi permaisuriku?"

Kui Bi memutar otaknya. Kalau pangeran ini menghendaki tubuhnya, tentu tidak demikian pertanyaannya. Pangeran ini tentu sedang merencanakan sesuatu dan kini membutuhkan bantuannya!

"Hamba akan berbahagia sekali, akan tetapi bagaimana mungkin hamba melayani paduka sebelum mendapatkan ijin Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri? Kecuali..."
"Ya? Lanjutkan, jangan takut-takut."
"Kecuali paduka sudah menjadi kaisar, tentu tidak ada yang akan membantah kehendak paduka."
"Bagus, agaknya engkau cerdik seperti yang sudah kuduga. Kami membutuh bantuanmu, Kui Bi. Nanti pada saatnya akan kami beri tahu bantuan apa yang kami harapkan darimu. Tugas yang hendak kami berikan itu teramat penting. Kalau berhasil, sebagai imbalannya aku berjanji engkau akan kami angkat jadi permaisuri kami."

"Hamba siap membantu paduka, Pangeran," kata Kui Bi, hatinya lega karena jelas bahwa setidaknya pada saat itu pangeran itu tidak menginginkan tubuhnya melainkan tenaganya untuk membantunya melakukan sesuatu yang masih dirahasiakan. "Tugas apakah yang dapat hamba lakukan? Apa yang harus hamba kerjakan? Mohon paduka memerintahkan sekarang juga."

Pangeran itu tersenyum. "Tidak sekarang, Kui Bi. Sekarang aku hanya ingin mendengar kesanggupanmu dulu. Besok atau lusa baru aku akan menjelaskan apa yang harus kau kerjakan." Setelah berkata demikian, sang pangeran meninggalkannya.

Kembali Kui Bi menoleh ke arah semak di tengah taman yang berada agak jauh dari situ. Dia mengharapkan Sia Sun Beng sudah menyingkirkan mayat thaikam tadi.

Ketika Gui-tahikam bertanya kepadanya apa saja yang dikehendaki Pangeran An Kong, Kui Bi tak berani berterus terang. Ia maklum bahwa thaikam yang menjadi kepala dayang ini mempunyai hubungan dengan Ji-wangwe, dan mungkin juga pendukung gerakan para pejuang pembela Kerajaan Tang, namun dia tidak merasa yakin. Dia harus menimbulkan kesan baik kepada pangeran yang sudah menaruh kepercayaan kepadanya.

"Ahh, beliau tidak bermaksud apa apa. Hanya karena sejak aku datang ke istana, beliau memang menaruh perhatian kepadaku, maka beliau bertanya apakah aku sudah senang tinggal di sini dan hanya itulah yang kami bicarakan. Pangeran An Kong itu baik sekali, beliau ramah dan sopan, sungguh aku amat terkesan dengan sikapnya."
"Sstttt, berhati-hatilah dengan beliau," kata Gui-thaikam.

Kui Bi senang karena kepala dayang itu tidak mencurigainya. Sejak malam itu dia sering membicarakan sang pangeran dengan para dayang lain, juga dengan para thaikam. Dia memuji-muji keramahan sang pangeran.....

Tujuannya dengan puji-pujiannya ini ternyata akhirnya berhasil karena di antara mereka yang mendengar pujiannya terdapat kaki tangan pangeran yang tentu saja menyampaikan hal itu kepada sang pangeran.

"Paman Bouw Hun, kurasa gadis itu memang orang yang tepat untuk kita gunakan," kata sang pangeran dalam suatu pertemuan rahasianya dengan Bouw Hun atau Bouw Koksu.
"Kalau begitu kita boleh melanjutkan rencana kita, pangeran. Kita hubungi pembantu kita di dapur istana, juga kepala pelayan di ruang makan agar mulai sekarang gadis itu dapat diperbantukan di situ. Setelah kesempatan tiba, kita suruh dia yang menaruh racun. Andai kata usaha ini gagal dan ketahuan, gadis itulah yang akan dituduh dan kita boleh turun tangan membunuhnya karena dia berani mencoba meracuni Sribaginda."

Dua orang itu lalu berbisik-bisik mengatur siasat yang mereka rencanakan masak-masak. Kemudian Bouw Hun melihat pintu ruangan yang sudah tertutup, memeriksanya kembali dan setelah merasa yakin bahwa tidak mungkin ada orang lain yang dapat mengintai atau mendengarkan, dia pun berkata dengan wajah gembira.

"Pangeran, kita telah berhasil. Bouw Ki telah berhasil mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala itu."
"Bagus! Mana pusaka itu paman?"

Dari balik jubahnya Bouw Koksu mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning yang terisi sebuah kotak kecil berwarna hitam. Diletakkannya kotak kecil itu di atas meja, kemudian dibukanya.

"Inilah Mestika Burung Hong Kemala itu, pangeran."

Pangeran An Kong menghampiri meja, mengambil benda pusaka itu dari dalam kotak, lalu mengamatinya dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, lambang kekuasaan Kaisar telah berada di tanganku. Paman, kita akan berkuasa. Sekarang tiba saatnya kita merebut kekuasaan dari tangan ayah yang tidak adil, dan dengan pusaka ini, semua pejabat tinggi tentu akan tunduk kepada kita."

"Benar sekali, Pangeran. Tetapi akan lebih baik dan tidak mendatangkan kekacauan kalau Sribaginda tewas karena sakit lalu paduka menggantikan beliau sebagai puteranya."

Dua orang sekutu itu lalu mengatur siasat lagi. Akhirnya pertemuan itu bubar ketika Bouw Koksu berpamit.

"Sebaiknya hamba yang menyimpan pusaka ini, Pangeran. Amat berbahaya bila paduka yang menyimpannya. Di istana ini terdapat banyak orang dan kalau ada yang tahu bahwa Giok-hong-cu berada di tangan paduka, tentu banyak yang ingin mencuri atau merampas pusaka ini. Bila hamba yang menyimpan maka takkan ada yang menduga sehingga akan lebih aman."

Pangeran An Kong mengangguk-angguk, kemudian dengan wajah sungguh-sungguh dia berkata, "Paman Bouw, percayalah, aku tidak akan melupakan semua jasa-jasamu kalau sampai usaha kita berhasil."
"Hamba percaya sepenuhnya kepada paduka, Pangeran. Dan sekarang lebih dulu hamba harus membereskan urusan hamba dengan Souw Lok."
"Benar, dia harus dibereskan supaya tidak membocorkan rahasia tentang Mestika Burung Hong Kemala."

Bouw Koksu memberi hormat lalu keluar dari kamar rahasia itu, meninggalkan Pangeran An Kong yang duduk termenung sambil tersenyum-senyum, membayangkan keberhasilan rencana siasatnya…..
********************
Dengan tergopoh dan muka tersenyum cerah, Souw Lok sang pemilik toko itu menyambut tamunya. Tamu agung yang baru saja turun dari keretanya itu adalah Bouw Koksu, guru negara yang tentu saja harus dihormatinya karena tokoh ini merupakan orang yang besar kekuasaannya, mungkin hanya di bawah kekuasaan kaisar dan pangeran saja. Apa lagi Souw Lok maklum bahwa kunjungan orang penting ini mendatangkan rejeki kepadanya.

Bukankah Bouw Koksu sudah berjanji bahwa kalau pusaka itu sudah ditemukan, dia akan memenuhi harga peta yang ditentukan? Dia baru menerima lima ribu tail, tentu sekarang pembesar itu datang untuk membayar kekurangannya yang lima ribu lagi.

Sebelum pergi mengambil pusaka itu, keponakannya Souw Hui San sudah berulang kali membujuk agar dia segera meninggalkan kota raja dan puas dengan hasil yang lima ribu tail itu saja.

"Amat berbahaya berurusan dengan orang seperti Bouw Koksu itu, paman," kata pemuda itu. "Bukankah sudah lumayan mendapatkan lima ribu tail? Paman sudah berhasil meraih keuntungan karena kecerdikan paman, akan tetapi harap jangan terlampau murka untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi."

Souw Lok menertawakan keponakannya itu. "Aihh, Hui San, lima ribu tail itu telah berada di depan mata, seolah daging sudah berada di mulut, tinggal kunyah dan telan. Mengapa mesti ditinggalkan? Dia akan merasa puas mendapatkan pusaka tiruan itu, maka aku pun harus dapat menikmati hasilnya. Engkau saja yang berhati-hati dengan tugasmu. Setelah berhasil, serahkan pusaka itu kepada seorang di antara putera Menteri Yang Kok Tiong seperti yang dipesankan beliau kepadaku. Dengan begitu aku tetap setia kepadanya, tidak melanggar sumpahku kepadanya, dan aku pun dapat menikmati hari tuaku."

Hui San hanya menggeleng kepala saja lalu pergi.

Ahh, anak yang bodoh, pikirnya senang melihat Bouw Koksu turun dari keretanya. Kalau saja Hui San sudah pulang, dan melihat dia nanti menerima uang sebanyak lima ribu tail dari Bouw Koksu, tentu dia akan dapat menggoda dan menertawakan keponakannya itu.

"Selamat siang dan selamat datang, taijin. Mari silakan masuk dan silakan duduk." Sambil berbongkok-bongkok Souw Lok mempersilakan Bouw Koksu memasuki tokonya.

Bouw Koksu melangkah masuk sambil berkata, “Souw Lok, aku ingin bicara denganmu, di dalam saja agar tidak terdengar orang lain."

Souw Lok mengangguk-angguk mengerti. Pembayaran uang sebanyak lima ribu tail tentu saja tidak boleh dilihat orang lain karena akan menimbulkan keheranan dan kecurigaan.

"Saya mengerti, Taijin, saya mengerti. Mari, silakan masuk, di dalam rumah ini tidak ada orang lain kecuali saya."

Dia lalu menyuruh pembantunya menjaga toko sendirian, dan dia mengiringkan pembesar itu memasuki ruangan dalam rumahnya.

"Souw Lok, engkau sudah menipu kami!" Bouw Koksu berkata setelah berada di ruangan dalam rumah itu. Seketika wajah Souw Lok berubah pucat karena dia menyangka bahwa pembesar itu sudah tahu akan perbuatannya memalsukan Mestika Burung Hong Kemala.
"Ehh? Apa... apa... maksud Taijin...?" katanya gagap.
"Engkau telah memberikan peta yang palsu kepadaku!"

Tentu saja Souw Lok menjadi semakin ketakutan.

"Mana saya berani, Taijin? Mana saya berani menipu Taijin? Bila saya menipu, tentu saya sudah melarikan diri, tidak tetap tinggal di sini. Saya benar-benar menerima peta itu dari mendiang Menteri Yang sendiri, kemudian peta itu tidak pernah terpisah dari badan saya. Bagaimana mungkin bisa palsu?"
"Hemmm, benda pusaka itu tidak berada di tempat yang ditunjukkan peta! Engkau sudah menipuku, karena itu, engkau harus mati di tanganku!"
"Tidak... ahh, Taijin... saya tidak menipu, saya hanya menerima peta itu dan... dan Taijin boleh mengambil kembali semua milik saya..."
"Hemm, mampuslah kau!" Bouw Koksu menggerakkan tangan kirinya ke arah dada Souw Lok.
"Plakkk!"

Tubuh Souw Lok terjengkang dan dia tidak bergerak lagi, bahkan tidak sempat mengeluh. Pukulan itu merupakan pukulan beracun tangan kiri Bouw Hun yang dengan sekali pukul saja dia yakin akan mampu menewaskan Souw Lok.

Dengan sikap tenang Bouw Koksu meninggalkan rumah itu. Dia tidak mempedulikan uang lima ribu tail yang oleh Souw Lok telah dipakai sebagai modal toko. Dia membunuh Souw Lok untuk menutup mulut orang itu agar rahasia mengenai Mestika Burung Hong Kemala tidak diketahui orang lain, bukan karena harus membayar lima ribu tail lagi.

Bouw Koksu pergi naik keretanya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa tak lama setelah dia pergi, seorang pemuda tiba di toko Souw Lok itu. Pemuda itu, Souw Hui San, juga tidak tahu bahwa baru saja Bouw Koksu mengunjungi pamannya

"Souw-kongcu, engkau baru pulang?" tanya pembantu yang berjaga toko.
"Di mana Paman Souw Lok?" tanya Souw Hui San yang tidak melihat pamannya berjaga toko.
"Dia berada di dalam," kata penjaga itu dengan sikap dan suara wajar. Dia tadi melihat majikannya memasuki rumah bersama tamunya, dan melihat tamu itu baru saja pergi tadi. Tentu majikannya masih berada di dalam rumah karena dia tidak melihatnya keluar.

Dengan gembira dan sambil bersiul-siul Souw Hui San memasuki rumah. Hatinya gembira karena tugas yang dilaksanakannya berhasil baik, dan dia yang dalam perjalanan selalu mencari keterangan, mendengar keterangan bahwa Kui Lan dan pemuda itu juga pergi ke kota raja. Ada harapan baginya untuk dapat bertemu lagi dengan Kui Lan, dara yang telah mencuri dan membawa lari hatinya itu.

"Paman...! Di mana kau, paman?" Dia berseru memanggil dengan nada suara gembira.
"Paman...!" Dia memasuki ruangan dalam dan tiba-tiba langkahnya tertahan dan matanya terbelalak memandang ke bawah. Di lantai ruangan itu nampak Souw Lok menggeletak, telentang dengan muka pucat.
"Paman..., kau kenapa, paman?"

Dia segera meloncat mendekat lantas berjongkok, memeriksa keadaan pamannya. Bukan main kagetnya ketika melihat napas pamannya telah empas-empis. Ketika dia memeriksa dan menyingkap bajunya, pada dada pamannya itu jelas nampak tapak tangan membiru. Pamannya telah terkena pukulan ampuh dan jelas tak mungkin dapat ditolong lagi. Tentu isi dada itu sudah remuk.

"Paman, siapa yang melakukan ini?" pemuda itu mengguncang pundak pamannya dan menotok beberapa jalan darah untuk memungkinkan pamannya memperoleh aliran darah ke kepala sehingga dapat berbicara.


"Bouw Koksu... dia...dia..." Souw Lok terkulai dan tewas.

Hui San menggunakan tangannya untuk menutup mulut dan mata jenazah pamannya, lalu dia bangkit berdiri dan mengepal tinju.

"Jahanam engkau, Bouw Koksu! Tenanglah, paman, kelak aku pasti akan membalaskan kematianmu!"

Jenazah Souw Lok dimakamkan tanpa banyak ribut-ribut dan dikabarkan bahwa orang itu meninggal dunia secara mendadak akibat penyakit berat yang menyerangnya secara tiba-tiba. Pada jaman itu, orang yang meninggal secara mendadak seperti itu dikatakan mati angin duduk.

Sesudah pemakaman selesai, seluruh harta dan toko itu dijual oleh Souw Hui San dengan harga murah, kemudian tak ada orang yang melihatnya lagi. Padahal Hui San tak pernah meninggalkan kota, bahkan dengan uang peninggalan pamannya, dia berhasil menyogok panglima pasukan istana dan masuk menjadi prajurit pasukan istana.

Tentu saja hal ini dia lakukan dengan dua maksud. Pertama, agar dia dapat memperoleh kesempatan mendekati Bouw Koksu dan membalaskan kematiannya pamannya, dan ke dua, agar dia dapat membantu dari dalam kalau Kerajaan Tang datang menyerbu untuk merebut kekuasaan kembali dari tangan An Lu Shan…..
********************

Kakak beradik Yang Cin Han dan Yang Kui Lan memasuki kota raja dengan menyamar. Kui Lan menyamar sebagai seorang pemuda, dan mereka berdua mengenakan pakaian petani-petani muda yang amat sederhana. Untuk mengurangi ketampanan wajah Kui Lan, dia membuat sebuah tanda luka pada pipinya dengan campuran gandarukem dan malam sehingga wajah yang terlalu tampan itu kini berubah jelek.

Pada malam itu Ji Siok menerima kedatangan Cin Han dan Kui Lan dengan hati gembira. Apa lagi ketika dia diperkenalkan kepada Kui Lan yang ternyata adalah puteri mendiang Menteri Ya Kok Tiong, pemimpin jaringan mata-mata mereka yang mendukung Kerajaan Tang itu merasa gembira sekali. Biar pun dahulu Menteri Yang Kok Tiong memiliki banyak musuh atau orang-orang yang tidak suka karena dia seorang penjilat kaisar, namun pada akhirnya mereka semua harus mengakui bahwa Yang Kok Tiong adalah seorang menteri yang setia sampai mati kepada kaisarnya.

Dan kini, melihat betapa ketiga orang putera menteri itu menjadi orang-orang yang gagah perkasa dan bertekad untuk membantu Kerajaan Tang merebut kembali kekuasaan, tentu saja dia merasa gembira dan kagum sekali.

"Bagaimana hasilnya dengan penyelidikanmu terhadap rombongan Bouw Ciangkun yang mengambil Mestika Burung hong Kemala itu, kongcu?" tanya Ji-wangwe.

Cin Han menceritakan semua yang dialami, juga tentang pertemuannya dengan adiknya dan betapa mereka berdua lolos dari ancaman bahaya di tangan rombongan itu.

"Paman, aku ingin sekali mendapat keterangan mengenai gadis lihai yang turut mengawal rombongan Bouw-kongcu itu. Gadis itu penuh rahasia."
"Saya mendengar bahwa dia bernama Kim Hong dan kabarnya ilmu silatnya lihai bukan main, kongcu. Benarkah itu?"
"Benar sekali. Ilmu silatnya hebat bukan kepalang, bahkan aku sendiri merasa kewalahan menandinginya. Akan tetapi ada yang aneh, paman."
"Apa maksud kongcu?"
"Ketika kami bertanding, aku mendapat kesan seolah-olah dia tidak menyerangku dengan sungguh-sungguh. Hal ini benar-benar mendatangkan perasaan aneh dan curiga di dalam hatiku. Karena itu aku ingin supaya paman menyuruh kawan kita yang bertugas di dalam rombongan mereka untuk menyelidiki siapa sesungguhnya Can Kim Hong itu, keterangan yang selengkapnya kalau mungkin. Dia puteri siapa dan murid siapa."
"Itu mudah saja, kongcu. Nanti saya akan minta keterangan dari kawan-kawan kita yang bertugas di sana."
"Paman, di mana adik Kui Bi?" tanya Kui Lan.

Ji Siok lantas menceritakan perbuatan gadis itu yang nekat minta diselundupkan ke istana sebagai seorang dayang.

"Ahhh...! Itu berbahaya sekali, paman!" kata Cin Han. "Kenapa paman memperbolehkan dia mengambil tindakan senekat itu?"
"Sudah, kongcu. Saya sudah mencegah dan menahannya, akan tetapi dia memaksa dan akhirnya saya tidak berani melarangnya."
"Jadi sekarang ini adik Kui Bi tinggal di dalam istana sebagai seorang dayang?" tanya Kui Lan.
"Benar, nona. Menurut berita yang kami peroleh, nona Kui Bi sudah diterima dan menjadi dayang permaisuri. Bahkan ada berita bahwa dia sedang diperebutkan oleh Kaisar An Lu Shan dan puteranya, An Kong."
"Sesungguhnya apa sih maksud adik Kui Bi menyelundup masuk ke dalam istana?" tanya pula Kui Lan.
"Aihh, Lan-moi, engkau seperti tidak mengenal watak Bi-moi saja. Tentu dia ingin secepat mungkin dapat membunuh An Lu Shan."
"Itu berbahaya sekali!" seru Kui Lan. "Andai kata pun dia berhasil membunuhnya, tentu dia akan dikepung dan dikeroyok, tidak mungkin dapat meloloskan diri dari istana! "
"Tenanglah, Lan-moi. Aku percaya bahwa Paman Ji akan dapat mengaturnya agar hal itu tidak akan teriadi," kata Cin Han.

"Memang benar demikian, harap kongcu dan siocia tenang, karena kami telah mendapat hubungan dengan seorang panglima yang diam-diam berpihak kepada Kerajaan Tang dan bahkan secara diam-diam dia telah mempersiapkan diri, menghimpun pasukan yang setia kepada Kerajaan Tang dan sewaktu-waktu dia akan membasmi keluarga pemberontak An Lu Shan berikut penguasa istana. Menurut berita yang kuperoleh dari pembantu kami di istana, panglima itu telah mengetahui akan rencana Nona Kui Bi yang hendak membunuh An Lu Shan, dan dia pun sudah siap untuk melindungi nona Kui Bi."

"Bagus sekali kalau begitu!" kata Cin Han gembira.
"Siapakah panglima itu? Aku ingin mengenalnya, paman."
"Dia adalah seorang panglima yang semenjak dahulu bertugas di utara menjadi bawahan Jenderal An Lu Shan, tetapi dia tidak setuju dengan tindakan An Lu Shan yang berkhianat dan memberontak. Tapi karena dia hanya menjadi bawahan maka dia tidak berdaya untuk mencegahnya. Kini diam-diam dia sedang menghimpun pasukan untuk kelak melawan An Lu Shan..."

"Bukankah dia bernama Sia Su Beng?" tiba-tiba Kui Lan memotong sehingga hartawan Ji terbelalak.
"Ahh..., jadi nona sudah mengenalnya?" katanya heran.
"Lan-moi, benarkah engkau sudah mengenal panglima itu?" tanya pula Cin Han sambil mengamati wajah adiknya penuh selidik.

"Peristiwa itu terjadi di Liu-ba," kata Kui Lan. "Dalam sebuah rumah makan aku diganggu oleh tiga orang perwira yang kurang ajar. Kemudian mereka bertiga dengan anak buahnya menghadangku di luar kota. Kami berkelahi dan aku dikeroyok, kemudian muncul seorang perwira tinggi yang menghajar dan memarahi mereka. Orang itu berpakaian preman, akan tetapi para perwira mengenalnya dan dia bernama Sia Su Beng, seorang panglima muda yang ternyata mempunyai semangat dan tujuan yang sama dengan kita, yaitu mengusir An Lu Shan dan membantu kerajaan Tang berkuasa kembali."

"Kalau begitu bagus sekali, Paman Ji!" kata Cin Han. "Akan baik sekali kalau kami dapat bertemu dengan panglima Sia untuk membicarakan usaha perjuangan kita bersama. Juga tentang keadaan Sribaginda di barat, tentang Mestika Burung Hong Kemala yang terjatuh ke tangan Bouw-koksu."

"Benar, paman. Kami harus dapat bertemu dan bicara dengan panglima Sia Su Beng itu. Aku pun ingin bicara dengan dia tentang adikku Kui Bi."
"Itu dapat diatur, kongcu dan siocia. Kami juga sedang menanti datangnya kawan-kawan yang bertugas melindungi Sribaginda di Se-cuan. Sesudah mereka tiba, kita mengadakan rapat pertemuan dengan Panglima Sia supaya lebih lengkap dan sekaligus kita mengatur rencana siasat yang akan kita ambil dalam perjuangan membantu Kerajaan ini, bila mana saatnya tiba untuk merebut kembali kekuasaan."

Ucapan Ji Siok itu melegakan hati Cin Han dan Kui Lan.

Dengan diantar oleh kakaknya, malam itu Kui Lan berkunjung ke tanah kuburan di mana jenazah ibunya dikubur. Gadis ini menangis di depan makam ibunya dan dihibur oleh Cin Han. Setelah keduanya bersembahyang di depan makam ibu mereka, Cin Han mengajak adiknya untuk kembali ke rumah Ji-wangwe, akan tetapi Kui Lan menolaknya.

"Engkau kembalilah lebih dahulu, Han-ko. Aku ingin berdiam lebih lama di depan makam ibu. Nanti aku akan menyusul kembali ke sana."
"Baiklah, memang tidak menguntungkan bila kita berdua berada di sini karena akan lebih mudah dilihat orang. Akan tetapi berhati-hatilah engkau dan jangan terlalu lama di sini."

Cin Han lalu meninggalkan Kui Lan yang masih berlutut di hadapan kuburan ibunya yang sangat sederhana itu. Setelah Cin Han pergi, kembali Kui Lan menangis, meratapi ibunya yang tewas dalam keadaan amat menyedihkan dan kini dikubur secara sederhana seperti itu, seolah tidak terawat sama sekali.

Bulan sudah naik tinggi dan cuaca cukup terang, bahkan cahaya bulan yang terasa sejuk mendatangkan suasana yang indah sekali. Dengan bantuan cahaya bulan, Kui Lan dapat membersihkan makam Ibunya dan mencabuti alang-alang liar yang tumbuh di sana. Dia mengerjakan ini sambil masih terisak menangis.

"Malam-malam menangis seorang diri di sini sungguh menarik perhatian orang dan amat mencurigakan."

Kui Lan terkejut bukan main dan ketika dara ini memutar tubuh, dia melihat sesosok tubuh seorang pria berdiri tak jauh di belakangnya. Dia pun segera menerjang dengan dahsyat. Dengan menggunakan ginkang-nya yang sangat tinggi tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah meloncat bagaikan terbang, tangannya mendorong ke arah dada orang itu.

"Plakkk!"

Orang itu menangkis. Tangan mereka tergetar dan keduanya terdorong mundur.

"Lan-moi, tahan dulu... ini a..." kata pria itu ketika Kui Lan hendak menyerang lagi.
"Ahh...! Kau Sia-twako!" kata Kui Lan dan wajahnya berubah kemerahan.

Kini dia mengenal pemuda itu yang berpakaian seperti seorang panglima, nampak gagah dan tampan di bawah cahaya bulan. Mereka berdiri saling pandang dan akhirnya Sia Su Beng yang berkata dengan lirih.

"Lan-moi, sungguh berbahaya sekali engkau berani muncul di sini. Sejak tadi aku melihat dan mengintaimu dari jauh dan sekarang baru aku tahu bahwa sebenarnya engkau adalah Yang Kui Lan dan pemuda tadi tentu kakakmu Yang Cin Han, bukan?"

Kui Lan melangkah menghampiri "Twako, engkau sudah tahu?"

Panglima itu mengangguk, "Aku sudah mendengar dari rekan kita, yaitu Ji-wan-gwe. Aku semakin kagum bahwa putera dan puteri mendiang Menteri Yang ternyata menjadi orang-orang muda yang gagah perkasa dan setia kepada Kerajaan Tang."

"Twako, apakah engkau telah bertemu dengan adikku di istana?"
"Ahh…, maksudmu adikmu Yang Ku Bi? Tentu saja sudah, bahkan tadi dia pun mengaku bernama Kui Bi dan mengaku sebagai adikmu. Tadinya aku mengira bahwa kalian kakak beradik bermarga Kui, akan tetapi sesudah aku teringat betapa wajah kalian mirip sekali dengan wajah mendiang selir Sribaginda Yang Kui Hui, lantas aku pun mendengar bahwa mendiang Menteri Yang Kok Tiong memiliki dua orang anak perempuan, aku pun dapat menduganya. Aku semakin yakin setelah aku mendapat keterangan dari Ji-wangwe."

"Bagaimana keadaan adikku, twako? Aku khawatir sekali mendengar dia begitu nekat."
"Adikmu seorang pemberani yang amat mengagumkan, Lan-moi, dan aku yakin dia akan berhasil. Akan tetapi harap engkau tidak khawatir karena dia tak akan bertindak gegabah, dan aku akan selalu melindunginya. Sudah kupesan kepada anak buahku yang bertugas di istana agar selalu mengamati dan melindunginya kalau perlu."

"Terima kasih, twako. Aihh, hatiku menjadi lega sekali setelah mendengar ucapanmu itu. Aku bersama Han-koko tinggal di rumah Ji-wangwe. Bukankah engkau akan mengadakan pertemuan dengan para rekan di sana?"

"Ssstt, Lan-moi. Sebaiknya sekarang engkau segera pulang ke sana. Tak baik bila terlihat orang di sini, apa lagi dengan aku, akan menimbulkan kecurigaan. Nanti kita akan saling jumpa dalam pertemuan itu. Nah, selamat malam, Lan-moi, cepatlah kau pulang." Setelah berkata demikian, panglima itu menyelinap lenyap di dalam bayang-bayang pohon yang gelap.

Kui Lan berdiri termenung, jantungnya masih berdebar keras. Ahh, dia sudah jatuh cinta pada pemuda itu. Apa lagi setelah kini yakin bahwa pemuda yang mengagumkan hatinya itu ternyata adalah seorang tokoh yang memegang peran penting untuk menumbangkan kekuasaan An Lu Shan dan membangkitkan kembali kejayaan Kerajaan Tang.

Dia pun tesenyum-senyum bahagia ketika melangkah meninggalkan tanah kuburan, untuk kembali ke rumah Ji Siok. Dalam keadaan segembira itu karena pertemuannya dengan Sia Su Beng, lupalah sudah dia akan kedukaannya yang tadi di depan makam ibunya.

Pikiran kita memang tiada hentinya dipermainkan gelombang pertentangan antara suka dan duka, gembira dan sedih, puas dan kecewa. Setiap saat berubah-ubah dipengaruhi keadaan yang kita nilai sebagai menguntungkan atau merugikan, menyenangkan atau menyusahkan.

Tadi ketika ia menangis terisak-isak di depan makam ibunya, pikiran Kui Lan sepenuhnya membayangkan betapa dirinya ditinggal mati ibunya, betapa dia merasa kehilangan orang yang disayangnya, betapa orang yang disayangnya itu meninggal dunia dalam keadaan yang tidak menyenangkan dan sekarang dikubur dalam cara yang tidak menyenangkan pula.

Kemudian kemunculan Sia Su Beng bagaikan datangnya gelombang dari arah lain yang menelan gelombang pertama, membuat dia lupa akan keadaannya yang tadi, terganti oleh perasaan gembira karena munculnya pemuda yang dicintanya itu dirasakan benar-benar menyenangkan. Setiap hari kita pun berada dalam keadaan yang sama dengan apa yang dialami Kui Lan.

Kita lupa sudah bahwa benda apa pun, orang mana pun, peristiwa apa pun yang terjadi, semua hanya selewat saja, hanya sementara saja, sama sekali tidak kekal. Karena itu, benda atau orang atau peristiwa yang hari ini mendatangkan perasaan suka, di lain hari mungkin akan menimbulkan perasaan duka, yang kemarin menimbulkan duka, mungkin hari ini mendatangkan rasa suka. Semua diukur dengan bagaimana kita menerimanya. Kalau kita merasa diuntungkan, kita senang, sebaliknya kalau dirugikan, kita susah!

Yang menjadi biang keladi semua kesengsaraan ini, semua permainan suka duka, bukan lain adalah nafsu yang telah menguasai hati akal pikiran kita. Nafsu yang mendorong kita untuk mengejar kesenangan, dan sekali dikejar, maka takkan ada batasnya, takkan ada habisnya bahkan makin dituruti nafsu yang menguasai diri, semakin murka dan tamak.

Nafsu bagaikan api. Kalau terkendali merupakan alat yang paling penting bagi kita, tetapi sebaliknya, kalau tidak terkendali dan nafsu yang menguasai kita, bagaikan api yang liar, maka nafsu akan menelan segalanya, semakin banyak yang dimakan, semakin laparlah dia!

Namun, di samping merupakan penggoda terbesar yang dapat menyeret kita ke lembah kesengsaraan, nafsu juga merupakan peserta yang mutlak diperlukan dalam kehidupan kita. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia seperti sekarang ini.

Nafsu adalah pemberian Tuhan yang diikut sertakan pada kita sejak lahir. Nafsulah yang mendatangkan kenikmatan, lewat penglihatan, penciuman, pendengaran dan semua alat atau anggota tubuh kita. Nafsu yang mendorong otak dan akal budi kita untuk membuat apa saja demi kenikmatan hidup di dunia, nafsu yang menimbulkan semangat dan gairah hidup, malah yang mendatangkan kemajuan-kemajuan seperti yang kita alami sekarang. Tanpa adanya nafsu, mungkin kehidupan manusia masih seperti binatang, tak mengenal kenikmatan hidup melalui panca indera. Jelas bahwa kita tidak bisa meninggalkan nafsu.

Nafsu adalah kawan terbaik, sekaligus juga lawan terjahat. Lalu bagaimana ini? Dibuang tak mungkin, dirangkul berbahaya. Pikiran hanya merupakan gudang berisi pengalaman-pengalaman masa lalu seperti pita yang penuh rekaman, yang dinamakan pengetahuan.

Bagaimana mungkin pengetahuan dapat meredakan bersimaharaja lelanya nafsu? Pikiran dan hati akal pikiran, batin ini telah bergelimang nafsu, lalu bagaimana mungkin hati akal pikiran itu menguasai diri sendiri? Tak mungkin sama sekali, dan kalau pun diusahakan, hasilnya hanyalah semu dan palsu.

Nafsu yang mendatangkan kemarahan di dalam hati mendorong kita untuk marah-marah, melakukan pemukulan atau caci maki. Pikiran atau pengetahuan dalam pikiran kita tahu belaka bahwa amarah itu tidak baik, namun apakah pengetahuan ini mampu meredakan amarah itu sendiri? Mungkin menekan dapat, namun, amarah yang ditekan dan disabar-sabarkan, bagaikan api yang ditutup sekam, nampaknya saja padam namun ternyata di sebelah dalam masih membara dan sedikit saja ada angin bertiup, maka akan bernyala lebih besar lagi dari pada sebelum ditutup sekam.

Pertanyaan abadi kita selalu bergema di sepanjang masa. Apa yang harus kita lakukan? Nafsu tidak dapat dibuang, karena menyebabkan kematian. Nafsu tidak boleh dibiarkan meliar, karena bisa menyebabkan kesesatan. Sementara hati akal pikiran juga tak dapat mengendalikannya. Lalu bagaimana? Seperti menghadapi buah simalakama, dimakan ibu mati tak dimakan bapak mati.

Lalu bagaimana kita harus menghadapi nafsu kita sendiri yang oleh para bijak dianggap sebagai musuh yang paling berbahaya?

Seperti segala apa pun di dunia ini, yang nampak atau pun tidak, segala sesuatu ini ada karena diadakan oleh kekuasaan Tuhan! Kalau kita memang sudah yakin mengenai hal ini, maka kenapa kita bingung menghadapi nafsu kita sendiri. Kita serahkan saja kepada penciptanya.

Hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan dapat menanggulangi nafsu, hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan dapat mengatur nafsu, seperti kekuasaan yang mengatur denyut jantung kita, mengatur pergerakan bintang-bintang di langit, mengatur segala sesuatu, dari yang terkecil sampai yang terbesar!

Apa bila kita sudah menyerah kepada Tuhan dengan segala ketawakalan, kepasrahan, kesabaran, keikhlasan, secara mutlak, lahir batin, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja dan tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kekuasaan Tuhan sudah bekerja!

Hanya kuasa Tuhan saja yang akan dapat mengembalikan nafsu dalam kedudukannya semula, dari fungsinya semula, yaitu sebagai peserta dan alat dari kita untuk melayani kebutuhan hidup kita ini, menjadi abdi kita, bukan majikan kita.....

********************
Cin Han meninggalkan pekuburan itu dan dengan hati-hati dia melangkah, hendak kembali ke rumah Ji Siok melalui jalan yang sunyi agar tidak dikenal orang yang berlalu-lalang di jalan. Malam itu bulan hampir penuh, udara cerah dan hawanya sejuk sekali, cuaca yang remang terang itu mendatangkan suasana yang sangat romantis. Cahaya bulan nampak kuning kehijauan, dan pohon-pohon nampak seperti raksasa di tepi-tepi jalan.

Malam itu banyak orang keluar dari rumah untuk menikmati malam terang bulan. Jika bagi kebanyakan orang sang surya di siang hari melambangkan kejantanan dan kegagahan, keperkasaan dan kekuasaan, sebaliknya bulan melambangkan kelembutan, keayuan dan keindahan. Surya selalu melotot marah, sebaliknya bulan selalu tersenyum ramah.

Cin Han menyelinap ke jalan kecil di dekat persimpangan, mengambil jalan agak memutar menuju rumah Ji Siok. Kanan kiri jalan kecil ini ditumbuhi pohon-pohon sehingga jalan itu sendiri lebih banyak digelapkan bayangan pohon-pohon. Dia merasa lebih aman melalui jalan ini.

Ketika dia sedang berjalan dengan hati hati, tiba-tiba dia menahan langkahnya dan tangan kanannya yang memegang sebatang ranting pohon lantas menggenggam ranting itu erat-erat. Sesosok bayangan berkelebat di arah kirinya.

Akan tetapi karena tidak ada serangan atau gerakan lain, dia pun melanjutkan langkahnya dengan penuh kewaspadaan. Mungkin tadi dia salah lihat, pikirnya. Akan tetapi tiba-tiba di sebelah kanannya ada pula bayangan berkelebat.

Tempat itu amat sunyi dan tak nampak seorang pun pejalan kaki, maka dia tidak khawatir menunjukkan ketajaman matanya sehingga dia pun berseru,

"Sobat manakah yang hendak bermain-main dengan aku?"
"Seorang sobat lama," terdengar suara lirih dan lembut, suara seorang wanita.

Kemudian muncullah seorang gadis yang bertubuh ramping. Di bawah cahaya bulan yang lembut, wajah itu nampak seperti wajah bidadari, karena kebetulan sekali sinar bulan tepat menimpa wajah yang berbentuk buiat telur.

Rambutnya lebat berombak, matanya lebar dengan kedua ujungnya menjulang, mata itu sendiri nampak indah menantang dan mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Mulutnya tersenyum manis, dengan bibir yang merah sehat dan lesung pipit di sebelah kiri bibirnya. Senyum dan sinar matanya jelas membayangkan bahwa dia adalah seorang gadis yang ramah, lincah jenaka. Usianya sekitar sembilan belas tahun lebih.

Begitu melihat wajah gadis itu, seketika Cin Han teringat. Selama ini wajah itu bahkan tak pernah meninggalkan benaknya, setiap waktu selalu terbayang. Wajah gadis cantik yang sangat lihai, yang ikut dalam rombongan Bouw-cingkun ketika mengambil Mestika Burung Hong Kemala tempo hari.

Baru tadi dia minta kepada Ji Siok untuk menyelidiki gadis lihai yang tidak menyerangnya dengan sungguh-sungguh itu, dan saat ini dia sudah berhadapan dengannya. Jelas bahwa gadis ini sengaja menghadangnya, berarti gadis inilah yang mempunyai keperluan untuk bertemu dengan dia.

"Ahh, kiranya engkau, nona Can Kim Hong yang terhormat!" Cin Han tersenyum.

Sepasang mata yang indah itu terbelalak sehingga Cin Han merasa betapa hatinya jungkir balik!

"Ehh…, bagaimana engkau dapat mengetahui namaku?" tanya gadis itu yang bukan lain adalah Can Kim Hong.

Cin Han masih tersenyum dan ada kebanggaan dalam senyumnya itu karena keheranan gadis itu sama dengan kekaguman.

"Nona, siapa yang tidak tahu akan keadaan diri nona yang amat lihai, bahkan merupakan pembantu utama dari pasukan istana? Nona sudah membuat jasa besar terhadap Bouw Koksu!"

Akan tetapi Kim Hong mengerutkan alisnya. "Tidak perlu menyindir!" katanya galak.

"Ketahuilah bahwa Bouw Koksu adalah bekas guruku, juga keluarganya yang merawatku sejak aku kecil. Sudah sepatutnya kalau aku membantu Panglima Bouw Ki yang terhitung kakak seperguruanku sendiri. Tetapi ketahuilah bahwa aku sama sekali tidak membantu An Lu Shan."

"Aku sudah dapat menduganya, nona, karena bila engkau benar-benar membantu An Lu Shan, tentu saat ini aku sudah tidak ada lagi, sudah tewas di tanganmu. Akan tetapi apa bedanya. Biar pun engkau mengatakan bahwa engkau tidak membantu An Lu Shan, akan tetapi engkau sudah membantu dia mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala. Hal itu telah merupakan bantuan yang amat besar pula.'"
"Hemm, engkau menyindir lagi, betapa sombongnya engkau. Apa kau sangka di dunia ini hanya engkau saja yang setia pada Kerajaan Tang, Yang Cin Han?"

Kini Cin Han yang terkejut bukan main, terbelalak memandang kepada gadis itu.

"Ehh... dari mana kau tahu…"

Gadis itu tersenyum sehingga untuk kedua kalinya hati Cin Han jungkir balik dibuat salto beberapa kali dan jatuh terbalik di tempatnya.

"Hemm, kau kira hanya engkau saja yang pandai menyelidiki orang? Apakah aku percaya begitu saja sesudah engkau muncul sebagai pengemis tempo hari. Pakaianmu memang seperti pengemis, akan tetapi muka serta kulit lehermu, juga tanganmu, terlampau bersih bagi seorang pengemis. Dan ilmu silatmu lihai sekali. Tadinya aku hanya menduga bahwa engkau tentulah seorang pendekar yang menyamar. Tetapi sesudah aku melihat engkau dan adikmu bersembahyang di depan makam tadi, mudah saja mengetahui siapa engkau karena aku tahu bahwa makam itu adalah kuburan mendiang Nyonya Menteri Yang Kok Tiong."

"Bukan main! Celakalah aku kalau engkau benar-benar antek pemberontak An Lu Shan!" kata Cin Han, tidak main main lagi dan telah siap menghadapi serangan. "Tentu engkau akan menangkapku, bukan?"
"Salah! Aku hanya ingin memberi tahu kepadamu bahwa kalian putera puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong bermain dengan api yang sangat berbahaya. Bukankah adikmu yang seorang lagi sudah menyusup ke dalam istana sebagai seorang dayang"

"Nona, engkau sudah tahu pula tentang hal Itu? Sudahlah, aku benar-benar takluk dengan kecerdikanmu. Sekarang apa kehendakmu menghadangku? Menangkapku, atau bahkan membunuhku?"
"Bila itu yang kukehendaki, sudah sejak tadi aku menyerangmu, bukan? Atau kulaporkan saja kepada suheng-ku, Bouw-ciangkun dan engkau bersama dua adik perempuanmu dan juga Ji-Wangwe berikut semua temannya akan ditangkap!"
"Ahh... kau... kau agaknya sudah mengetahui segalanya!"
"Kau kira kalian saja yang pandai? Kalian saja yang berhak membela Kerajaan Tang? Aku pun telah menerima tugas dari guruku untuk membela Kerajaan Tang dan menentang An Lu Shan."

Bukan main girangnya hati Cin Han mendengar ucapan ini. "Sungguhkah? Aihh, alangkah lega dan gembira hatiku mendapatkan seorang teman seperjuangan sepertimu, nona Can Kim Hong! Akan tetapi..." Sejenak Cin Han meragu, "jika benar seperti yang kau katakan bahwa engkau juga membela Kerajaan Tang, mengapa engkau malah membantu mereka mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala, lambang kekuasaan kaisar?"

"Yang Cin Han, tak perlu engkau berpura-pura lagi. Engkau dan adikmu itulah yang sudah mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala yang asli lantas menukar dengan yang palsu sehingga kini Bouw-koksu mendapat yang palsu, bukan? Engkau memang cerdik. Diam-diam aku kasihan sekali melihat mereka tidak sadar bahwa mereka menemukan pusaka yang palsu."

"Sungguh aku tak mengerti apa yang kau maksudkan ini, nona. Kami tidak tahu menahu tentang pusaka itu, kami hanya mendengar bahwa peta penyimpanan pusaka itu terjatuh ke tangan Bouw-koksu dan aku bertugas untuk membayangi dan menyelidiki pengambilan pusaka itu. Dalam tugas itu aku lalu bertemu adikku Yang Kui Lan, dan bentrok dengan rombonganmu. Apa yang terjadi? Jadi rombongan Bouw-ciangkun mendapatkan pusaka yang palsu? Lalu siapa yang mengambil pusaka aslinya?"

Kini Kim Hong yang tertegun. Nampak beberapa orang lewat sehingga Kim Hong segera memberi tanda kepada Cin Han agar mengikutinya. Dia meninggalkan jalan kecil itu lalu menyelinap ke dalam tanah kuburan yang sepi, diikuti oleh Cin Han. Mereka pun duduk di bangku yang terdapat di luar sebuah makam yang mewah, kemudian bercakap-cakap.

"Sekarang kita dapat bicara secara leluasa di sini, nona..."
"Kita adalah orang dari satu golongan, tidak perlu engkau bernona-nona kepadaku. Atau engkau ingin kusebut tuan?" Kim Hong memotong sambil cemberut. Cin Han tersenyum.

"Baiklah, Kim Hong, memang tidak ada gunanya berbasa-basi. Tentu engkau sudah tahu mengenai keadaan kami. Ayahku mengikuti Sribaginda Kaisar mengungsi ke barat. Ibuku tidak mau ikut dan ingin menanti kami pulang, akan tetapi ibu menjadi korban penyerbuan gerombolan An Lu Shan. Ibu membunuh diri. Kami bertiga sedang pergi berguru, kedua orang adikku terpisah dariku dan baru sekarang kami saling jumpa kembali. Aku menjadi murid Sin-tung Kai-ong, sedangkan kedua orang adikku menjadi murid Kong Hwi Hosiang. Sekarang aku dan adikku Kui Lan tinggal di rumah Hartawan Ji, sedangkan Kui Bi, seperti sudah kau ketahui, di luar pengetahuanku telah menyusup ke dalam istana. Nah, semua sudah jelas, bukan? Sekarang giliranmu, aku ingin sekali mengetahui tentang dirimu agar tidak timbul kesalah pahaman lagi di antara kita."

Gadis itu menarik napas panjang. "Aku bukan keturunan bangsawan seperti engkau. Aku hanya orang biasa..."

"'lhhh! Kenapa kata-katamu begitu cengeng?" Cin Han mencela. "Aku bosan mendengar kata bangsawan. Aku dan kedua orang adikku sudah lama muak dengan kebangsawanan itu. Kami melihat segala macam kepalsuan di istana dan hal itulah yang mendorong kami untuk pergi merantau dan berguru. Bahkan dulu aku sering ribut mulut dengan mendiang ayah karena aku tidak suka dijadikan pejabat. Kami bahkan lebih senang memilih menjadi rakyat biasa, tidak terlampau banyak peraturan, tidak hidup dengan banyak adat istiadat palsu. Nah, lanjutkan keterangan mengenai dirimu, Hong-moi (adik Hong). Aku tentu lebih tua darimu, maka aku akan menyebutmu Hong-moi."

"Engkau pemuda yang luar biasa, Han-ko. Engkau keturunan menteri besar, bangsawan tinggi, akan tetapi lebih suka menjadi rakyat biasa, engkau lihai dan pandai bicara. Tidak ada yang istimewa di dalam hidupku. Sejak kecil aku dirawat dan dididik oleh guru, yaitu Bouw-koksu sekarang ini. Ibuku seorang suku bangsa Khitan..."

Gadis itu berhenti, kemudian dengan teliti mencoba untuk mengamati wajah pemuda itu di bawah terang cahaya bulan yang tidak terhalang awan.

"Kenapa berhenti, Hong-moi? Lanjutkan..."
"Engkau tidak terkejut? Ataukah tidak jelas mendengar ucapanku tadi bahwa ibuku adalah seorang wanita Khitan..."
"Habis, kenapa? Kenapa aku harus terkejut? Wanita Khitan itu seorang manusia, bukan? Kalau engkau ceritakan bahwa ibumu seekor naga atau seekor burung Hong, barulah aku akan terkejut," kata Cin Han sambil tertawa.

Kim Hong tertawa juga, akan tetapi tawanya mengadung kepahitan. "Han-ko, bukankah kaum bangsawan bangsa Han selalu memandang rendah kepada suku bangsa lain yang dianggap sebagai bangsa liar? Engkau tidak memandang rendah kepadaku karena ibuku seorang Khitan?"

"Wah, kalau begitu engkau sudah keliru menilai diriku, Hong-moi. Bagiku, bangsa apa pun di dunia ini, asal dia manusia, maka dia sama saja dengan kita. Baik buruknya seseorang bukan dinilai dari kebangsaannya, atau kepintarannya, kedudukannya atau kekayaannya, melainkan dari perbuatannya. Tidak, Hong moi, aku tidak memandang rendah kepadamu atau ibumu!"

"Terima kasih, Han-ko. Ibuku sudah meninggal dunia dan ketika masih hidup, ibu pernah berpesan supaya aku mencari ayah kandungku, seorang Han… Ayahku seorang perwira pasukan Tang yang pernah menyerbu ke daerah Khitan dan tertawan oleh bangsa Khitan. Ayah kemudian menikah dengan ibu dan lahirlah aku. Pada saat mendapat kesempatan, ayah kandungku itu lalu melarikan diri dan kembali ke timur. Nah, ibu memesan agar aku mencari ayah kandungku. Aku lalu meninggalkan Khitan dengan diam-diam, tetapi guruku dulu yang sekarang menjadi Bouw Koksu dan puteranya, suheng Bouw Ki mengejar. Aku tentu sudah ditangkap dan dipaksa pulang kalau saja tidak ditolong oleh seorang sakti yang kemudian menjadi guruku."

"Siapakah penolong yang kemudian menjadi gurumu itu, Hong-moi?"
"Sebetulnya dia tidak ingin namanya kusebut, akan tetapi karena engkau sudah berterus terang mengenai dirimu, dan entah mengapa aku percaya kepadamu, maka biarlah kau mengetahui. Guruku itu berjuluk Si Naga Hitam bernama Kwan Bhok Cu..."
"Hebat! Aku pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh suhu-ku. Bukankah gurumu itu mengasingkan diri di Bukit Nelayan?"

"Benar, Han-ko. Setelah selesai mengajarkan ilmu kepadaku, suhu lantas memberi tugas kepadaku untuk membantu Kerajaan Tang, dan terutama sekali mencari Mestika Burung Hong Kemala untuk diserahkan kepada Sribaginda Kaisar Beng Ong. Aku menyelidiki ke kota raja kemudian bertemu dengan suheng-ku, Bouw Ki yang kini telah menjadi seorang panglima. Karena kuanggap dengan mendekati istana aku dapat lebih banyak membantu gerakan pendukung Kerajaan Tang, maka aku mau diminta tinggal di rumah mereka."

"Engkau ikut rombongan mengambil pusaka itu dengan maksud untuk merampasnya?"
"Kalau ada kesempatan, mengapa tidak? Suhu menugaskan aku untuk mencari pusaka itu dan mengembalikannya kepada Sribaginda Kaisar."
"Dan apa pula maksudmu dengan mengatakan bahwa Mestika Burung Hong Kemala yang didapatkan rombongan itu palsu?"

"Aku sendiri selama hidup belum pernah melihat pusaka itu, akan tetapi melihat peti kecil berikut tanda-tanda yang kutemukan, aku yakin bahwa ada orang yang telah mendahului rombongan, mengambil pusaka asli dan menukarnya dengan yang palsu. Hanya aku yang melihat adanya bekas tapak kaki di dalam goa, dan peti Itu pun bersih, tidak berdebu dan tidak basah seperti yang seharusnya, tanda bahwa peti itu baru saja diletakkan orang di sana. Akan tetapi rahasia ini kusimpan sendiri, dan tadinya kukira engkaulah yang sudah mendahului rombongan"

"Sama sekali tidak, Hong-moi. Ahh, kalau begitu ada orang lain yang kini telah menguasai pusaka aslinya. Ini bahkan jauh lebih sukar dari pada kalau pusaka itu berada di tangan Bouw Koksu, karena setidaknya kita mengetahui di mana adanya pusaka itu. Sekarang kita tidak tahu siapa yang memilikinya, lantas bagaimana mungkin kita bisa mencarinya?" Dalam suara Cin Han terkandung penyesalan.

"Aku mendapat petunjuk, Han-ko. Ini hanya dugaan, akan tetapi tidak ada orang lain yang patut dicurigai." Dia lalu menceritakan tentang pemuda berotak miring yang muncul ketika rombongan Bouw Ki mengepung Kui Lan.
"Baru setelah rombongan menemukan pusaka palsu, aku mengenang kembali pemuda itu dan sekarang aku mengerti kenapa seorang pemuda sinting berkeliaran di tempat kering kerontang seperti itu. Apa yang dicarinya? Dan ketika dia bicara mengacau tentang Kaisar Li Si Bin yang sakti, mengenai Tatmo Couwsu, sekarang aku mengerti bahwa dia sengaja mempermankan rombongan. Aku yakin bahwa dia seorang yang menentang An Lu Shan dan berpihak kepada adikmu Kui Lan itu, tapi dia hendak merahasiakan dirinya maka dia bersembunyi. Andai kata engkau dan adikmu terancam bahaya, aku yakin si gila itu akan muncul lagi. Juga sekarang aku ingat. Wajahnya tampan dan sinar matanya mencorong. Siapa lagi kalau bukan dia yang telah mengambil pusaka asli sesudah menggantikannya dengan yang palsu?"
"Memang dia mencurigakan sekali. Apakah dia memiliki ilmu silat yang tinggi?"

Kim Hong mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepala penuh keraguan. "Aku sudah memeriksa buntalan pakaiannya, tetapi tidak menemukan benda pusaka. Aku juga sudah mengujinya dengan serangan, ternyata dia tidak bisa bersilat. Ketika aku mengembalikan pedangnya, aku sengaja melemparkan pedang itu sehingga pedang mengarah kepalanya dan dia tidak mampu mengelak, bahkan dahinya menjadi benjol."

"Pedang? Orang gila yang tidak pandai silat membawa pedang? Sungguh aneh."
"Sekarang barulah hal itu kelihatan aneh. Alangkah bodohnya aku! Kami semua memang telah curiga, tetapi dia berkata bahwa pedang itu milik kakeknya yang katanya merupakan seorang tokoh besar dunia persilatan. Dia bilang jika aku tidak mengembalikan pedangnya maka dia akan menyiarkan ke seluruh dunia persilatan bahwa pedangnya dicuri seorang gadis... ehh, jelita dengan lesung pipit d pipi kiri..." Kim Hong agak tersipu.

"Dia memang benar sekali!" Cin Han terkejut sendiri karena suara hatinya itu begitu saja tercetus keluar.
"Apa maksudmu?" Kim Hong membelalakkan mata bertanya.
"Maksudku... ehh, bahwa dia tidak bohong... ehh, dia benar karena engkau memang jelita dan lesung itu... ehh, maksudku dia memang benar aneh.”

Cin Han benar-benar gagap dan salah tingkah menyadari kata-katanya yang seharusnya disimpan di hati saja menerobos keluar.

Kim Hong merasa betapa wajahnya panas. Warna kemerahan naik memenuh leher serta mukanya. Dara ini merasa heran sendiri. Mengapa mendengar pujian kacau balau itu dia tidak merasa marah bahkan menjadi tersipu malu? Padahal biasanya, kalau ada pria yang memuji kecantikannya, maka akan dianggapnya kurang ajar lalu dia akan marah-marah.

"Hemm, apakah sekarang orang sintingnya menjadi dua?" katanya mengejek dan Cin Han menjadi semakin gugup.
"Ehh... ohhh..., maafkan, ehh, maksudku…, harap teruskan ceritamu, Hong-moi."
"Semua keadaan diriku telah kuceritakan, Han-ko. Sekarang lebih baik kita berbagi tugas. Aku yang berada di dalam akan mengawasi adikmu Kui Bi dan kalau perlu membantunya, sedangkan engkau yang berada di luar menyebar kawan-kawan untuk menyelidiki tentang pemuda sinting itu. Kita harus dapat menemukan pusaka yang asli dan membiarkan Bouw Koksu memiliki suatu rencana gelap bersama Pangeran An Kong. Aku ingin sekali melihat mereka berdua mengadakan pertemuan rahasia."

"Itu baik sekali, Hong-moi. Aku juga mendengar bahwa di antara Pangeran An Kong dan ayahnya, An Lu Shan, sudah terjadi ketegangan. Dan engkau sendiri, bagaimana mungkin engkau menentang orang yang pernah menjadi gurumu, yang memelihara dan mendidik engkau sejak kecil? Maaf kalau aku menanyakan hal ini, karena aku yakin seorang gadis yang gagah perkasa seperti engkau tentu tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar kebenaran dan keadilan."

Gadis itu menghela napas panjang. "Dahulu memang Bouw Koksu adalah guruku dan dia amat sayang kepadaku sehingga aku pun sayang dan taat kepadanya. Juga dahulu Bouw Ki merupakan suheng-ku dan kawanku bermain. Akan tetapi semenjak aku meninggalkan mereka, semua kesan baik atas diri mereka sudah terhapus. Mereka hendak memaksaku untuk menjadi selir Bouw Ki. Itulah sebabnya aku meninggalkan mereka. Ketika mereka hendak memaksaku pulang, muncullah suhu Hek-liong Kwan Bhok Cu yang menolongku. Sejak itu aku tidak mengakui mereka sebagai guru dan suheng. Tetapi ketika aku bertemu dengan Bouw Ki, sikapnya telah berubah dan agaknya mereka tidak berani memaksaku, bahkan membantuku sehingga aku dapat bertemu dengan ayah kandungku."

"Ahhh…! Ayah kandungmu yang melarikan diri dari Khitan itu?"
"Benar, ayahku bernama Can Bu. Dia adalah seorang perwira yang... ahh, hal inilah yang meresahkan aku. Ayahku menjadi anak buah Bouw Koksu dan agaknya dia sangat setia kepada bekas guruku itu."
"Apakah engkau tidak dapat menyadarkan dia, Hong-moi? Bukankah dahulu dia seorang perwira kerajaan Tang. Apakah dia tidak bisa melihat bahwa Bouw Koksu dan An Lu Shan hanya pemberontak yang merampas tahta kerajaan?"
"Sebenarnya sudah kucoba, akan tetapi agaknya tidak ada hasilnya. Hal ini benar-benar amat membingungkan hatiku. Aku harus menaati perintah suhu, yaitu membantu kerajaan Tang, akan tetapi ayah kandungku sendiri berpihak pada An Lu Shan." Gadis itu menarik napas panjang, nampaknya bingung dan kecewa sekali.

Cin Han dapat memaklumi hal itu. Apa bila gadis itu menaati gurunya, membela kerajaan Tang, hal itu berarti bahwa dia akan bertentangan dengan ayah kandung sendiri. Cin Han ikut merasa penasaran dan ingin sekali rasanya dia bertemu dengan ayah kandung gadis ini untuk mencoba ikut menyadarkannya.

"Hong-moi, bagaimana engkau dapat menemukan ayah kandungmu begitu mudahnya?"

Gadis itu memandang kawan barunya dengan wajah muram. "Justru Bouw Koksu beserta puteranya yang mencarikan ayahku itu dan menemukannya. Dia ternyata seorang perwira yang berada dalam pasukan yang dipimpin suheng Bouw Ki”

"Hemm… maafkan aku, Hong-moi, bukan maksudku hendak menyinggung hatimu, tetapi bagaimana engkau mengetahui dengan pasti bahwa dia adalah ayahmu, ayah kandungmu yang sedang kau cari?"

Mendengar pertanyaan ini, Kim Hong nampak terkejut. "Wah, Han-ko engkau menyentuh hal yang selalu mengganggu hatiku! Sejak bertemu ayah kemudian dia merangkulku, aku sendiri merasa dia seperti orang asing bagiku. Sering aku termenung dan menduga-duga apakah dia benar ayah kandungku, tetapi pikiranku segera membantah dan mengatakan bahwa tentu dia ayah kandungku karena hanya Bouw Koksu yang mengenalnya"

"Jadi engkau hanya percaya dengan keterangan Bouw Koksu dan pengakuan orang itu? Sama sekali tidak yakin karena tidak ada bukti?"
"Memang tidak ada bukti, akan tetapi ada saksinya, yaitu bekas guruku, Bouw Hun atau Bouw Koksu."
"Hemmm..." Cin Han meraba-raba dagunya, berpikir.
"Engkau dipertemukan dengan ayah kandungmu oleh Bouw Koksu, dan kebetulan sekali ayah kandungmu itu menjadi anak buah Bouw-ciangkun. Hemm, sungguh suatu kebetulan yang luar biasa..."

Kembali dia menundukkan kepala, berpikir dan tanpa disadarinya meraba-raba dagu yang sudah menjadi kebiasaannya. Pada saat yang sama Kim Hong juga menundukkan muka dengan sepasang alis berkerut. Gadis ini meraba-raba dan menarik-narik telinga kirinya, suatu kebiasaan kalau dia sedang berpikir keras.

Tiba-tiba Cin Han mengangkat muka dan berseru, "Ahhh...!"

Pada saat yang sama gadis itu pun mengangkat muka sambil mengeluarkan seruan yang sama. Agaknya mereka berdua mendapat pemikiran yang sama pada waktu yang sama pula. Mereka saling pandang kemudian Cin Han berkata,

"Hong-moi, agaknya keadaan ayahmu itu meragukan sekali, belum tentu dia adalah ayah kandungmu yang sebenarnya."
"Mungkin sekali, aku pun berpikir begitu. Coba engkau katakan, Han-ko, apakah alasan keraguanmu sama dengan alasan dugaanku. "
"Menurut ceritamu, ayah kandungmu pernah menjadi tawanan di Khitan sampai bertahun-tahun, maka tentu saja telah mengenal baik Bouw Koksu yang dahulunya menjadi kepala suku. Tetapi mengapa Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun tidak tahu bahwa selama ini ayah kandungmu menjadi perwira bawahan Bouw-kongcu? Mereka baru menemukan ayahmu setelah engkau datang mencarinya. Seharusnya mereka mengenal ayah kandungmu, dan sebaliknya ayahmu juga mengenal mereka."

"Tepat sekali, Han-ko. Aku pun berpikir demikian. Menurut ibu kandungku, dahulu ayahku seorang gagah yang tidak mau tunduk, bahkan berhasil melarikan diri dari Khitan. Kalau benar yang diperkenalkan kepadaku itu ayah, tentu dia tidak akan sudi menjadi anak buah mereka."

Kim Hong lalu teringat akan sikapnya yang manis dan manja terhadap ayah yang sudah ditemukannya itu. Kalau orang itu bukan ayahnya yang sesungguhnya, berarti dia sudah dipermainkan orang.

"Hemm, kalau benar begitu, akan kuhajar orang yang berani mempermainkan aku itu!"
"Sabarlah, Hong-moi. Sebaiknya kalau engkau pura-pura tidak mencurigainya. Lagi pula semua ini baru dugaan kita, belum jelas dan kita belum yakin benar. Dengan pura-pura tidak curiga engkau akan dapat melakukan penyelidikan dengan lebih seksama. Aku akan minta kepada Ji Siok untuk melakukan penyelidikan pula. Dalam waktu beberapa hari ini tentu kita sudah tahu dengan pasti siapa orang yang sekarang mengaku sebagai ayahmu itu."

Kim Hong mengangguk setuju. "Sekarang aku harus pulang dulu, Han-ko. Jika terlampau malam, tentu mereka akan mencurigai aku. Apa lagi kalau orang yang kuanggap sebagai ayahku itu adalah palsu. Tentu dia adalah mata-mata mereka yang memata-mataiku."

"Wah, jika benar dugaan kita bahwa dia itu palsu, dan dia bersamamu dalam satu rumah, sungguh berbahaya bagimu, Hong-moi"
"Akan kuperhatikan dia dan aku akan berhati-hati. Untunglah bahwa selama ini aku masih merasa asing padanya sehingga aku tidak menceritakan isi hatiku. Dia tentu menganggap bahwa aku benar-benar membantu Pangeran An Kong dan bekas guruku Bouw Koksu."
"Bagus, tetaplah bersikap wajar sebagai anak yang baik, Hong-moi. Jadi bukan engkau yang membuka rahasia, malah dia sendiri yang akan terbuka kedoknya.'"

Mereka lalu berpisah, masing-masing merasakan sesuatu yang aneh terjadi di dalam hati. Terutama sekali Cin Han. Jantungnya berdebar penuh keriangan kalau dia teringat bahwa gadis yang semenjak pertemuan pertama, ketika mereka bertanding, sudah amat menarik hatinya, akan tetapi yang membuatnya kecewa karena gadis itu menjadi pembantu Bouw Koksu, kini ternyata bahwa gadis itu sama sekali tidak membantu Bouw Koksu, bahkan menentangnya, menentang An Lu Shan, dan setia terhadap kerajaan Tang…..

********************
Selanjutnya baca
MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger