logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Mestika Burung Hong Kemala Jilid 09


Berkat usaha Gui-thaikam, kepala dayang sahabat Ji Siok yang banyak makan sogokan dari hartawan itu sehingga Kui Bi dapat menyusup sebagai dayang istana, maka dapatlah Kui Bi memenuhi panggilan Pangeran An Kong untuk mengadakan pembicaraan penting di pondok kecil dalam taman istana. Percakapan rahasia itu terjadi di malam hari, antara Kui Bi dengan Pangeran An Kong yang ditemani Bouw Koksu. Percakapan mereka hanya singkat saja.

"Kui Bi, katakan terus terang, bersediakah engkau bila kusuruh mengerjakan suatu tugas penting untukku?"
"Ampun, Pangeran. Harap paduka katakan dulu, tugas apakah itu dan apa pula imbalan yang akan hamba peroleh?" kata Kui Bi dengan cerdk.

Pangeran An Kong tersenyum dan saling pandang dengan Bouw Koksu.

"Sudah kukatakan kepadamu bahwa aku cinta padamu, Kui Bi, dan kalau engkau berhasil melaksanakan tugas yang kuperintahkan padamu, maka aku akan mengambilmu sebagai isteri."
"Akan tetapi paduka pernah mengatakan bahwa paduka akan mengangkat hamba menjadi permaisuri kalau paduka kelak menjadi kaisar, Pangeran."

Bouw Koksu mengerutkan alisnya dan matanya bersinar marah, akan tetapi pangeran itu cepat-cepat memberi isyarat dengan kedipan matanya sehingga Guru Negara ini tidak jadi memperlihatkan kemarahan hatinya.

"Menjadi isteriku berarti menjadi permaisuri, Kui Bi. Karena sekarang aku belum menjadi kaisar, maka tentu saja engkau belum dapat menjadi permaisuri."
"Hamba akan melakukan perintah apa pun dari paduka kalau paduka suka berjanji bahwa kelak setelah paduka menjadi kaisar, hamba diangkat menjadi permaisuri”
"Baik! Aku berjanji, Kui Bi. Paman Bouw ini yang menjadi saksi."
"Terima kasih, Pangeran. Akan tetapi sebelum paduka menjadi Kaisar, hamba tetap akan menjadi dayang istana sebab hamba tidak berani meninggalkan tempat pekerjaan hamba. Sekarang harap paduka jelaskan, tugas apakah yang harus hamba lakukan?"
"Tugasmu adalah membunuh Sribaginda Kaisar."
"Ihhhh...!" Kui Bi pura-pura terkejut dan membelalakkan matanya.


"Bagaimana... bagaimana mungkin? Hamba hanya seorang dayang lemah... tak mungkin hamba dapat melaksanakan..!"
"Kami pun tidak bodoh, Kui Bi. Bukan membunuh dengan cara kasar, engkau tidak perlu menyerangnya, melainkan dengan cara halus. Engkau menyelundup ke dapur, kemudian mencampurkan bubukan merah ini ke dalam masakan kegemaran Sribaginda, dan ketika engkau ikut melayani Sribaginda dahar, usahakan agar sayur itu dimakan olehnya. Mudah saja, bukan?"
"Akan tetapi bagaimana mungkin Pangeran? Pertama, hamba tak pernah mendapat tugas melayani Sribaginda makan. Ke dua, hamba tak akan diijinkan memasuki dapur sehingga tidak akan ada kesempatan untuk mencampur racun dalam makanan, dan ke tiga, hamba takut karena hamba tentu akan ditangkap dan dijatuhi hukuman berat” kata Kui Bi dengan meratap.

Tentu saja tugas itu malah menyenangkan hatinya karena tanpa diperintah pun dia ingin membunuh kaisar baru yang tadinya berpangkat panglima itu. Kalau saja tidak ada Sia-ciangkun yang melarangnya, mungkin dia sudah mengambil jalan pintas, dengan nekat mendekati dan mencoba membunuh kaisar.....

Kalau sekarang dia berpura-pura ketakutan, hal itu dilakukan hanya untuk melihat apakah pangeran ini benar-benar merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, dan apa rencana mereka. Dia harus yakin sepenuhnya bahwa dia sendiri tidak terancam bahaya dalam pelaksanaan tugas itu.

"Semua kesulitanmu itu bisa diatasi dengan mudah. Kami akan mengatur supaya engkau dapat diperbantukan ke dapur, kemudian ke ruangan makan melayani Kaisar, dan tentang kekhawatiranmu ditangkap, jangan khawatir. Kami yang bertanggung jawab, karena kalau Kaisar tewas, akulah yang akan menggantikannya dan engkau pun bisa kuangkat menjadi permaisuri."
"Aihh, benarkah itu, Pangeran? Kalau begitu, harap berikan racun itu kepada hamba dan hamba akan melaksanakan sebaik mungkin!" katanya dengan girang.

Tiba-tiba Bouw Koksu berkata, suaranya garang penuh ancaman. "Akan tetapi ingat baik-baik, dayang. Kalau engkau membocorkan rahasia ini kepada siapa pun juga, kami malah berbalik akan menuduhmu sebagai mata-mata pemberontak yang akan membunuh kaisar dan engkau akan dihukum berat!'"

Kui Bi memandang ketakutan, kemudian sambil menerima bungkusan kecil dari pangeran An Kong, dengan gemetaran dia berkata lirih,
"Hamba mengerti... hamba akan melaksanakan perintah..."

Sesudah Kui Bi mengundurkan diri, Pangeran An Kong dan Bouw Koksu saling pandang. Wajah mereka berseri.

"Hamba kira rencana ini akan berhasil baik, Pangeran," kata Bouw Koksu.
"Selelah Kaisar tewas, paduka dapat mengangkat diri menjadi kaisar baru."
"Akan tetapi bagaimana kalau gadis tadi gagal dan perbuatan itu ketahuan?"
"Aihh, itu hanya soal kecil. Kita tuduh dia mata-mata seperti yang hamba ancamkan tadi. Mana mungkin orang lebih mempercayai omongan seorang dayang dari pada keterangan paduka dan hamba.”
"Bagaimana kalau para pejabat tinggi menolak aku menggantikan ayah?”
"Ada Giok-hong-cu di tangan paduka, Pangeran. Mestika Burung Hong Kemala itu yang akan menentukan sebagai lambang kekuasaan seorang kaisar. Mereka pasti tidak akan ada yang berani menentang paduka kalau paduka memperlihatkan pusaka itu."

Sang pangeran mengangguk-angguk, dan sambil tertawa keduanya meninggalkan taman itu. Mereka tidak tahu bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang tajam mengintai tak jauh dari pondok itu di balik semak bunga. Mata itu adalah mata Sia Su Beng, panglima muda yang tampan dan cerdik itu…..

********************
Di sudut taman itu mereka bertemu. Sia Su Beng dan Kui Bi. Mereka bicara berbisik-bisik. Kui Bi menceritakan semua pembicaraan yang dilakukan dengan Pangeran An Kong dan Bouw koksu.

"Ahh, sungguh kebetulan sekali kalau begitu!" kata Sia Su Beng.
"Ini merupakan kesempatan yang baik sekali untuk membunuh An Lu Shan dengan aman. Sebaiknya kau laksanakan semua perintahnya itu, membantu di dapur sampai di ruangan makan kaisar. Akan tetapi, sesudah engkau melihat kaisar makan sayur beracun itu dan roboh, engkau harus cepat pergi dan masuk ke taman ini."
"Kenapa begitu?"
"Bi-moi, apakah kau sangka Bouw Koksu demikian bodoh dan Pangeran An Kong benar-benar hendak mengangkatmu menjadi permaisuri kalau dia menjadi kaisar? Tidak, Bi-moi. Setelah engkau berhasil membantu mereka membunuh kaisar, engkau justru merupakan bahaya besar bagi mereka karena hanya engkau yang mengetahui rahasia mereka."

Kui Bi mengangguk. "Tentu kemudian mereka akan berusaha menyingkirkan aku, bukan? Engkau benar, twako. Aku pun tak sudi menjadi isteri pangeran yang begitu jahat hendak membunuh ayah kandungnya sendiri. Kalau sudah berhasil aku akan cepat-cepat datang ke sini."

"Begitulah sebaiknya. Aku bakal menyembunyikanmu di antara pasukan, mempersiapkan pakaian seragam untuk kau pakai agar engkau tidak dapat mereka temukan."

Pertemuan itu berlangsung tidak terlalu lama, karena mereka harus bersikap hati-hati dan waspada. Lenyapnya seorang thaikam muda yang tempo hari dibunuh dan dibawa keluar dari taman oleh Sia Beng menimbulkan kecurigaan para pewira istana, akan tetapi karena thaikam itu tidak meninggalkan bekas, mereka lantas menduga bahwa diam-diam thaikam itu melarikan diri dan minggat dari istana, mungkin melarikan barang-barang berharga dari istana…..

********************
Pada malam itu mereka mengadakan pembicaraan yang serius di dalam rumah Hartawan Ji. Mula-mula Cin Han menceritakan tentang pertemuannya dengan Can Kim Hong yang ternyata bukan menjadi lawan yang berbahaya, bukan pembantu Bouw Koksu yang lihai, melainkan juga sorang pendekar wanita yang setia kepada Kerajaan Tang dan ditugaskan gurunya untuk membantu Kerajaan Tang, terutama untuk mencari Mestika Burung Hong Kemala dan menyerahkan pusaka itu kepada baginda Kaisar Beng Ong.

"Kalau memang demikian, sungguh menyenangkan dan menguntungkan perjuangan kita," kata Hartawan Ji dengan sikap ragu, "akan tetapi jika dia hendak melaksanakan perintah gurunya itu, kenapa dia membiarkan saja Mestika Bung Hong Kemala terjatuh ke tangan Bouw Koksu? Kenapa tidak dirampasnya ketika mereka menemukannya?"

"Aku pun tadinya meragu dan menanyakan langsung kepadanya, dan aku mendapatkan keterangan yang sama sekali tidak kita sangka, paman. Menurut Kim Hong, pusaka yang ditemukan Bouw-ciangkun itu adalah Mestika Burung Hong Kemala yang palsu."
"Ahhhh...!"' kata Kui Lan dan Hartawan Ji berseru kaget.

"Ketika menemukan peti berisi pusaka itu, Kim Hong melihat bahwa peti kecil itu bersih tanpa debu dan tidak basah, tanda bahwa kotak itu baru saja ditaruh orang di sana. Juga saat memasuki goa sebagai orang terdepan dia melihat tapak kaki. Maka dia mengambil kesimpulan bahwa sudah ada orang yang mendahului mereka memasuki goa mengambil pusaka aslinya dan menukarnya dengan pusaka yang palsu."

"Aih, kalau begitu semakin sukar untuk mendapatkan benda itu, karena kita tidak tahu lagi siapa yang mengambilnya...," kata Kui Lan kecewa.
"Ada petunjuk dari Kim Hong. Gadis itu memang luar biasa sekali, cantik jelita, lihai sekali ilmu silatnya, cerdik bukan main, baik budinya, dan gagah perkasa..."
"Aihh, aihh... rupanya kakak sedang dimabok asmara!" kata Kui Lan sambil tersenyum.

Cin Han menyeringai. "Mungkin… mungkin sekali, Lan-moi."

"Kongcu, petunjuk apakah yang diberikan gadis itu?"
"Ketika rombongan hendak mengambil pusaka, di tengah jalan mereka bertemu Lan-moi dan hendak menangkapnya. Lalu muncullah seorang pemuda yang seperti sinting. Orang itulah yang dicurigai keras oleh Kim Hong, karena hanya dia yang nampak ketika itu dan dia pun seorang yang aneh dan mencurigakan."
"Ahh…, benar juga! Aku sendiri merasa terheran-heran melihat betapa pemuda sinting itu mempermainkan rombongan dengan sikapnya yang gila-gilaan. Yang aneh adalah ketika buntalan pakaiannya digeledah terdapat sebatang pedang yang baik. Bagaimana mungkin seorang gila membawa-bawa pedang? Akan tetapi dia kelihatan begitu lemah."
"Pendapatmu itu persis sekali dengan pendapat Kim Hong, Lan-moi. Akan tetapi dia tetap curiga dan dia menduga bahwa tentu pemuda itu berpura-pura saja. Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh pada diri pemuda itu, Lan moi?"

Gadis itu menggigit-gigit bibir sambil memejamkan mata, membayangkan dan mengingat-ingat kembali peristiwa ketika dia dikeroyok oleh rombongan Bouw-ciangkun itu.

"Seorang pria yang masih muda, dan sinar matanya tajam mencorong, hemm... wajahnya tampan, dan memang dia tidak pantas menjadi orang gila."
"Nah, demikianlah, paman Ji. Sebaiknya kalau paman menyebar teman-teman kita untuk mencari pemuda yang pura-pura gila itu. Lan-moi, engkau yang pernah melihatnya, coba gambarkan bagaimana wajah dan bentuk badannya."
"Bentuk tubuhnya sedang dan tegap mirip tubuhmu, Han-ko. Wajahnya bulat, cerah dan... ehh, tampan. Matanya mencorong dan mulutnya selalu mengarah senyum. Tidak nampak kegilaan pada wajahnya, hanya sikapnya yang membuat orang menganggapnya sinting. Suaranya lantang."

Ji wangwe mengangguk-angguk. "Gambaran itu tidak begitu jelas, akan tetapi kami akan mencoba mencarinya."

"Aku mempunyai berita yang lebih penting lagi, Han-ko dan Paman Ji. Tadi ketika menuju ke sini, aku bertemu kembali dengan Sia Su Beng!"

Cin Han nampak kaget juga, "Kau maksudkan panglima yang diam-diam berpihak kepada Sribaginda Kaisar Beng Ong itu?"

"Benar, dan dia sudah tahu tentang Kui Bi yng menyelundup ke istana. Dia berjanji akan mengamati dan melindungi Kui Bi.”

Ji-wangwe tersenyum. "Maafkan, kongcu dan nona, aku belum memberi tahu tentang dia kepada kalian, sebab urusan ini memang harus dirahasiakan benar, jangan sampai bocor. Panglima Sia Su Beng adalah harapan kita semua sebab pada saatnya yang tepat, dialah yang dapat membantu Sribaginda merebut kembali tahta kerajaan karena kedudukannya sangat penting. Dia seorang panglima yang dipercaya oleh An Lu Shan, juga mengepalai pasukan besar. Karena itu pada saatnya yang tepat dia dapat bergerak dari dalam, lantas bersama pasukannya dia dapat menguasai istana. Syukurlah kalau nona sudah mendapat penjelasan dari dia sendiri."

"Sekarang aku minta agar Paman Ji suka membantu nona Can Kim Hong. Gadis itu sejak kecil sudah ditinggalkan ayah kandungnya, dan sekarang dia dipertemukan dengan ayah kandungnya oleh Bouw Koksu. Akan tetapi dia merasa curiga dan sangsi apakah Can Bu yang menjadi perwira di bawah perintah Panglima Bouw Koksu adalah benar ayahnya.”
"Apa yang dapat kami bantu, kongcu?”
"Coba selidiki siapa sebenarnya orang yang mengaku bernama Can Bu, perwira yang kini tinggal bersama nona Can Kim Hong itu."

Ji-wangwe mengangguk-angguk. Cin Han lalu berpamit kepada adiknya dan Hartawan Ji.

"Lan-moi, engkau tinggal saja di sini membantu Paman Ji dan bersiap membantu kawan-kawan yang bergerak di kota raja. Aku sendiri hendak pergi menemui Sribaginda Kasar di barat, menceritakan semua persiapan kita di sini supaya pasukan beliau dapat dikerahkan untuk menyerbu dan merampas kembali tahta kerajaan."

Pada hari itu juga Cin Han meninggalkan kota raja. Dia menunggang kuda dan melakukan perjalanan cepat ke arah Barat.

Beberapa hari kemudian Hartawan Ji mendapat keterangan dari pembantunya mengenai orang bernama Can Bu yang kini tinggal bersama nona Can Kim Hong yang membantu Bouw Koksu. Dia segera mengundang Kui Lan ke dalam ruangan tertutup.

"Nona, sayang sekali Yang-kongcu telah pergi. Kami telah mendapat berita tentang orang yang mengaku sebagai ayah kandung nona Kim Hong. Ternyata kecurigaannya memang benar, orang itu sama sekali bukan Can Bu, bukan ayah kandung gadis itu. Dia bernama Ciang Kui, seorang perwira yang tadinya merupakan seorang perampok tunggal kemudian ditarik oleh Bouw Koksu menjadi pembantunya."
"Ahh, kasihan Kim Hong..." kata Kui Lan. "Memang sungguh sayang Han-ko sudah pergi. Sebaiknya aku yang menggantikannya untuk memberi tahu kepada Kim Hong."
"Tapi itu berbahaya sekali, nona."

Kui Lan tersenyum lantas menggelengkan kepalanya. "Tidak ada bahayanya, paman. Kim Hong sudah mengenalku. Lagi pula, setelah aku mendengar tentang dia dari Han-ko, jelas bahwa dia adalah teman seperjuangan kita, bukan lagi musuh."

"Maksudku, berbahaya sekali kalau sampai ketahuan Bouw Koksu, Bouw-ciangkun atau anak-buah mereka."
"Aku akan berhati-hati, paman. Lagi pula Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun pun tidak tahu siapa aku. Bila aku tidak melakukan sesuatu yang merupakan pelanggaran, tentu mereka pun tidak akan mengganggu aku."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pergilah Kui Lan meninggalkan rumah Hartawan Ji dan berjalan di jalan raya menuju ke rumah gedung yang menjadi tempat tinggal Bouw koksu. Tentu saja dia tahu benar di mana rumah itu, sebab rumah itu adalah bekas rumah orang tuanya! Di rumah itulah dia dilahirkan dan dibesarkan!

Akan tetapi, ketika dia melewati jalan raya di depan rumah gedung itu, dia melihat betapa rumah itu dijaga ketat seperti penjagaan di depan istana saja. Dia lantas mengambil jalan memutar, melalui jalan kecil di samping gedung dan mendapat kenyataan bahwa di empat sudut tempat itu terdapat sebuah gardu tinggi di mana nampak para penjaga melakukan penjagaan. Bukan main! Akan sukarlah memasuki gedung itu pada siang hari.

Kui Lan berjalan mondar-mandir di depan gedung itu, berharap Kim Hong akan keluar dari gedung sehingga dapat dia jumpai. Akan tetapi harapannya sia-sia sehingga terpaksa dia meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah Hartawan Ji dan mengambil keputusan untuk memasuki gedung bekas tempat tinggalnya itu pada malam hari nanti untuk menemui Kim Hong.

Malam hari itu bulan bersinar terang. Kui Lan mengenakan pakaian serba hitam sehingga gerakannya yang amat gesit itu membuat tubuhnya berkelebatan dan sukar dilihat dalam bayang-bayang pohon ketika dia menghampiri gedung Bouw Koksu dari arah belakang. Ia masih ingat benar bahwa di dekat pagar tembok sebelah kiri belakang tumbuh sebatang pohon yang cabang-cabangnya terjulur ke dekat tembok sehingga akan memudahkan dia memasuki kebun belakang melalui pohon itu.

Ketika melihat bahwa bagian itu cukup gelap, Kui Lan lalu mengayun tubuhnya meloncat ke atas pagar tembok. Hanya sekejap saja tubuhnya hinggap di atas pagar tembok sebab dia segera melanjutkan loncatannya ke dalam pohon itu. Kalau pun ada penjaga di gardu atas, tentu dia tidak akan dapat melihat jelas.

Beberapa menit lamanya Kui Lan berada di pohon itu. Sesudah yakin bahwa gerakannya meloncati pagar tembok tadi tidak menimbulkan akibat apa-apa, berarti tidak ada orang yang melihatnya, barulah dia meloncat turun. Dia menyelinap antara pohon dan semak di kebun itu, memasuki taman mendekati rumah gedung.

Hatinya terharu karena dia merasa seolah-olah kembali ke masa kanak-kanak ketika dia bermain-main bersama kakaknya dan adiknya. Mereka sering kali bermain-main di taman dan kebun ini, bersembunyi dan saling mencari. Dia mengenal setiap semak, setiap pohon di taman itu.

Akan tetapi Kui Lan terlampau memandang rendah Bouw Koksu. Kalau Bouw Hun bekas kepala suku Khitan ini tidak memiliki kecerdikan yang tinggi, tidak mungkin dia akan dipilih An Lu Shan menjadi seorang koksu (guru negara) yang selalu mengatur siasat bagi bekas panglima yang kini menjadi kaisar itu.

Para penjaga di gardu itu rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan di antara mereka ada yang merasa curiga melihat kelebatan bayangan hitam di atas pagar tembok. Akan tetapi, sesuai dengan perintah Bouw Koksu, mereka tidak membuat ribut melainkan diam-diam mereka mengamati bayangan itu, membayangi dan melaporkan kepada Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun.

Maka kedatangan Kui Lan itu sudah mereka ketahui dan diam-diam Bouw Koksu bersama puteranya, para pembantunya, tidak ketinggalan Kim Hong yang mereka andalkan, sudah keluar dan mengepung semak-semak di mana Kui Lan bersembunyi.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kui Lan ketika tiba­tiba terdengar bentakan orang di belakangnya.
"Maling kecil, keluar engkau!"

Setelah dia menoleh, dia melihat di belakangnya sudah berdiri lima orang yang dia kenali sebagai Bouw-ciangkun dan Can Kim Hong, lalu seorang lelaki besar hitam brewok yang nampak bengis dan usianya lebih dari lima puluh tahun yang dia duga tentu Bouw Koksu, bersama dua orang lagi yang berpakaian seperti panglima. Dia sudah ketahuan!

Maklum bahwa dia berhadapan dengan banyak orang lihai, maka Kui Lan cepat meloncat keluar lalu menggunakan ginkang-nya untuk melarikan diri. Akan tetapi agaknya Bouw Ki tidak ingin melihat dia lolos, apa lagi setelah melihat bahwa orang yang memasuki taman itu adalah gadis yang pernah mereka jumpai pada saat rombongannya hendak mengambil pusaka Mestika Burung Hong Kemala.

"Kejar! Tangkap!" teriaknya.

Dan mereka semua, termasuk juga Can Kim Hong, langsung berloncatan dan mengepung sehingga kembali Kui Lan terkepung oleh lima orang itu.


"Ayah, inilah gadis yang kami temui ketika mengambil pusaka itu. Kita harus menangkap dia hidup­hidup!" teriak Bouw Ki.

Sejenak Kui Lan saling pandang dengan Kim Hong, lalu dia pun berseru dengan lantang, "Kim Hong, kakak Cin Han minta aku menyampaikan kepadamu. Orang yang mengaku ayah kandungmu itu adalah palsu, namanya Ciang Kui. Engkau telah ditipu mereka!”

Ucapan itu mengejutkan Kim Hong, juga mengejutkan Bouw Hun dan Bouw Ki. Rahasia mereka telah diketahui!

"Maling betina, jangan sembarang bicara! Engkau sudah menghina kami, karena itu harus mati!" bentak Bouw Koksu dan dia pun telah menggerakkan pedangnya yang melengkung dan amat tajam,
"Singgg...!"

Dengan mudah Kui Lan mengelak karena gadis ini sudah memiliki keringanan tubuh yang luar biasa, berkat gemblengan Pek Lian Nikouw kepala kuil Thian-bun-tang. Pedang yang melengkung itu menyambar luput, namun pada saat itu Bouw Ki juga sudah menyerang dengan sebatang pedang melengkung seperti yang dipegang ayahnya.

"Tranggg...!" Kui Lan menangkis dengan pedangnya dan Bouw Ki merasa betapa telapak tangan kanannya tergetar hebat sehingga ha mpir saja pedangnya terlepas.

Dua orang panglima pembantu Bouw Koksu juga telah menyerang dengan pedang mereka dan ternyata mereka itu juga lihai sehingga kini Kui Lan dikeroyok empat orang. Namun gadis ini tidak merasa gentar dan dia sudah memainkan pedangnya dengan ilmu Hong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan), ilmu tongkat tetapi dimainkan dengan pedang. Ilmu ini adalah ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Kong Hwi Hosiang, ditambah ginkang yang membuat tubuhnya berkelebatan amat cepatnya.

"Kim Hong, cepat bantu kami!" bentak Bouw Koksu berulang kali.

Akan tetapi Kim Hong masih berdiri bengong. Dia terlalu kaget mendengar keterangan Kui Lan tadi bahwa lelaki yang selama ini dianggap ayah kandungnya itu bernama Ciang Kui. Berarti bahwa Bouw koksu telah menipunya! Dia pun tidak ingin melihat adik dari Cin Han celaka tempat itu, maka tentu saja dia tidak mau membantu Bouw Koksu.

Terdengar bunyi peluit dan kentongan, tanda bahwa pasukan keamanan akan berdatangan dan tentu Kui Lan akan dikeroyok banyak orang. Kui Lan mengamuk, pedangnya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk di angkasa dan dua orang perwira yang tadi membantu Bouw Koksu, telah roboh mandi darah.

Akan tetapi segera terdengar suara gaduh, dan sedikitnya dua puluh lima orang penjaga berikut beberapa orang perwira datang mengurung kemudian mengeroyok gadis perkasa itu. Biar pun maklum bahwa dia berada dalam bahaya maut, Kui Lan tidak menjadi gentar dan dia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai titik darah terakhir.

Melihat ini Kim Hong lalu mengeluarkan teriakan melengking panjang dan tubuhnya telah berkelebat dan menerjang ke arah pertempuran. Ketika dua tangannya bergerak, nampak dua sinar bergulung-gulung kemudian terdengar teriakan yang disusul robohnya dua orang pengeroyok. Kiranya dia sudah menggerakkan sepasang pedang kecilnya yang lihai, yang ujungnya bertali.

Melihat betapa gadis yang dicinta kakaknya itu sekarang telah membantunya, bangkitlah semangat Kui Lan dan dia pun mengamuk semakin hebat.

"Kim Hong, engkau pengkhianat!" bentak Bouw Koksu. Pedangnya meluncur deras dan menyerang gadis yang tadinya pernah menjadi murid dan anak angkatnya sendiri.
"Trangggg…!"

Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari tangannya ketika ditangkis pedang kiri Kim Hong.

"Engkau telah menipuku!" bentak Kim Hong.
"Tidak ada yang menipumu. Dia memang ayahmu! Gadis inilah yang menipumu!" bentak pula Bouw Koksu.

Tentu saja Kim Hong menjadi ragu. Dia hanya mendengar keterangan Kui Lan bahwa pria yang diperkenalkan sebagai ayahnya itu palsu, tetapi apa buktinya? Sementara itu Bouw-ciangkun yang mengepung dan mengeroyok Kui Lan telah berteriak memerintahkan anak buahnya untuk memanggil bala bantuan,

Karena Kim Hong meragu dan menghentikan gerakannya, kini Kui Lan terdesak, dikepung ketat dan dihujani senjata. Walau pun gadis ini sudah mewarisi ilmu silat yang tinggi dan hebat, tetapi dia masih kurang pengalaman dan pihak musuh terlampau banyak. Dia telah merobohkan enam orang pengeroyok, namun dia pun menerima dua kali bacokan pedang yang menyerempet paha dan pundaknya, meski tidak parah tetapi paha dan pundaknya terluka dan berdarah!

Salah seorang di antara para prajurit itu, yang tadi hanya menonton sambil mengacung-acungkan pedangnya, tiba-tiba saja menyerang Bouw Ki. Serangan pedangnya demikian cepat sehingga leher Bouw Ki hampir tertusuk dan ketika pemuda itu mengelak, pedang prajurit itu menyambar ke bawah dan pahanya pun terbacok hingga terluka dan membuat dia berteriak kesakitan kemudian cepat meloncat ke belakang.

"Heii, gilakah kau?!" teriak Bouw Ki.

Prajurit itu tidak peduli, bahkan kini membuang topi prajuritnya lantas mengamuk dengan pedangnya membantu Kui Lan hingga membuat pengeroyokan ketat tadi menjadi buyar. Ketika Kui Lan memandang, jantungnya segera berdebar tegang karena mengenal mata yang mencorong dan bibir yang tersenyum-senyum itu. Tidak salah lagi, dialah si pemuda sinting tempo hari!

"Kau…?!" serunya dan dia pun memutar pedang ke kiri, merobohkan seorang pengeroyok dengan tusukan.
"Nona, kita mundur... cepat kau pergi dulu ke pagar tembok!" kata prajurit itu yang bukan lain adalah Souw Hui San.

Dengan cerdik, tentu saja dengan cara menyogok, akhirnya pemuda ini berhasil diterima sebagai seorang prajurit penjaga keamanan di rumah Bouw Koksu. Dengan cara demikian akan mudah baginya untuk menyelidiki keadaan pembesar ini dan mencari rahasia yang berguna bagi perjuangan para pendukung kerajaan Tang.

Tadi dia merasa bimbang ketika melihat Kui Lan dikeroyok. Akhirnya dia tak tahan melihat gadis yang dikaguminya itu terluka. Karena itu terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan membantu. Dia pun segera mengamuk dengan ilmu pedang Gobi-pai yang lihai, membuat Kui Lan tidak terhimpit lagi.

Sementara itu, melihat munculnya pemuda yang juga dikenalnya sebagai pemuda sinting, Kim Hong segera berkelebat meninggalkan tempat itu. Dia percaya bahwa pemuda yang gerakannya sangat lihai itu akan mampu menolong Kui Lan. Dia sendiri cepat memasuki gedung dan menyerbu ke dalam kamar di mana ayahnya berada.

Orang yang mengaku sebagai Can Bu itu terkejut sekali ketika melihat puterinya masuk ke kamar dengan sepasang mata mencorong penuh kemarahan.

”Kim Hong, apa yang terjadi?” tanyanya heran.

Akan tetapi gadis itu melompat dan sekali tangannya bergerak, jari tangan kanannya telah mencengkeram pundak orang itu. Orang yang mengaku sebagai ayahnya itu amat terkejut karena cengkeraman itu membuat pundaknya seperti remuk rasanya.

"Ada apa? Kenapa kau ini?"
"Katakan, namamu Ciang Kui, kan? Hayo mengaku terus terang atau akan kuhancurkan pundakmu!"

Wajah itu berubah pucat. "Aku... aku…”

"Hayo katakan terus terang bahwa engkau bukan ayahku, engkau bukan Can Bu. Awas kalau berbohong, akan kusiksa hingga mati!" cengkeraman pada pundak itu semakin kuat sehingga wajahnya yang pucat kini mandi peluh.
"Aku... aku... hanya di perintah Bouw Koksu...," akhirnya orang berterus terang.
"Keparat busuk!"

Saking marahnya Kim Hong mengerahkan tenaga sinkang yang didapatnya dari ular hitam kepala merah. Hawa beracun yang amat dahsyat keluar dari tangannya memasuki tubuh orang itu melalui pundak dan orang itu hanya menjerit satu kali lalu tewas dengan seluruh tubuhnya menjadi hitam.

Kim Hong mengangkat mayat itu berlari keluar, lalu memasuki taman, melihat Kui Lan dan pemuda sinting itu masih dikepung ketat meski pun keduanya kini sudah sampai di dekat pagar tembok. Nampaknya tidak mudah bagi mereka untuk lolos karena kini sudah datang bala bantuan yang banyaknya tidak kurang dari lima puluh orang.....!

Kim Hong mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuh tak bernyawa yang sudah kehitaman itu kemudian dia lontarkan ke arah Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun yang ikut mengeroyok Kui Lan dan Hui San.

Bouw Koksu terkejut melihat sosok tubuh melayang ke arahnya. Dia menyambut dengan bacokan pedangnya dan tubuh itu pun roboh.


Ketika dia melihat melalui penerangan obor yang dibawa para prajurit, dia melihat wajah Ciang Kui yang mukanya berubah menghitam dan matanya terbelalak. Tahulah dia bahwa Kim Hong telah mengetahui rahasia kebohongannya.

Kim Hong mengamuk dengan sepasang pedangnya. Sebentar saja gadis ini telah berhasil membuyarkan kepungan dan mendekati Kui Lan. "Kui Lan, engkau sudah terluka, cepat keluar dari sini, aku yang menahan mereka!"

"Aku tidak mau meninggalkan engkau sendiri, Kim Hong!" kata Kui Lan tegas.

Diam-diam Kim Hong kagum, senang sekali mempunyai sahabat seperti Cin Han dan Kui Lan ini, demikian gagah dan setia kawan.

"Kalau begitu, mari kita lari bersama!" katanya dan dia pun mempercepat gerakan kedua pedangnya.

Melihat betapa gadis perkasa itu kini membalik dan membantu musuh, anak buah Bouw Koksu yang sudah tahu akan kelihaiannya menjadi gentar. Kepungan menjadi longgar dan kesempatan itu cepat digunakan oleh Kim Hong, Kui Lan, dan Hui San untuk meloncat ke pohon, lalu dari situ meloncat ke atas pagar tembok dan dilanjutkan meloncat keluar.

Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun mengerahkan para prajurit untuk melakukan pengejaran, akan tetapi tiga orang itu telah menghilang dan beberapa menit kemudian mereka bertiga telah berada di dalam rumah Hartawan Ji, dengan aman mereka duduk di dalam ruangan rahasia di mana mereka bicara dengan Hartawan Ji. Tanpa diminta Souw Hui San sudah mengeluarkan obat luka dan menolong Kui Lan yang terluka pundak dan pahanya, dibantu oleh Kim Hong yang membalut luka di paha gadis itu.

Meski pun tiga orang muda itu baru sekarang berkenalan, namun hubungan mereka telah akrab sekali, mereka merasa cocok dan seakan sudah saling berkenalan bertahun-tahun lamanya. Setelah luka-luka pada pundak dan paha Kui Lan diobati, luka yang tidak parah, mereka lalu duduk menghadapi meja dan sambil makan hidangan malam yang disediakan oleh pembantu Hartawan Ji, mereka pun bercakap-cakap.

"Ternyata benar seperti dugaanku tempo hari, engkau hanya berpura-pura sinting," kata Kim Hong kepada Hui San yang tersenyum.

"Aku pun sudah merasa curiga. Mana ada orang sinting yang membawa-bawa pedang bagus?" kata pula Kui Lan.

"Dan engkau melemparkan pedangku membuat dahiku benjol sehingga menyempurnakan penyamaranku, nona Can Kim Hong," kata Hui San tertawa. "Dengan peristiwa benjolnya dahiku itu, Bouw-ciangkun dan yang lain-lain percaya bahwa aku adalah seorang sinting, ha-ha-ha!"

"Siapakah sebenarnya engkau ini? Mengapa engkau dapat muncul mengacau rombongan Bouw-ciangkun ketika mereka mencari pusaka, kemudian bagaimana pula engkau tiba-tiba menjadi seorang prajurit anak buah Bouw-ciangku dan tadi menolongku?"
"Wah, ceritanya panjang, nona Yang Kui Lan."
"Engkau sudah mengenal kami semua, akan tetapi kami tidak mengenalmu! Ini tidak adil. Perkenalkan dulu dirimu baru kita bicara lagi," kata Hartawan Ji yang bagaimana pun juga masih menaruh perasaan curiga terhadap pemuda yang tidak dikenalnya itu.
"Paman Ji Siok, apakah paman dan semua kawan paman tidak dapat mengetahui siapa aku? Dan paman juga tidak mengenal mendiang Paman Souw Lok?"
"Souw Lok? Bukankah pemilik toko yang baru saja meninggal dunia secara aneh tanpa ada yang mengetahui sebabnya itu?" Hartawan Ji memandang penuh perhatian. "Orang muda, agaknya engkau mengetahui tentang diriku dan tentang teman-teman, akan tetapi kami belum mengetahui siapa engkau."
"Paman, jelas dia adalah orang yang telah mengambil Mestika Burung Hong Kemala dan menukarnya dengan yang palsu. Tidak benarkah dugaanku itu, sobat?" tanya Kim Hong.

Kini Souw Hui San menjadi tertegun dan memandang kagum. "Ehh, bagaimana engkau dapat mengetahui hal itu, nona?"

"Tak perlu bertanya, yang jelas sekarang kami telah tahu bahwa engkau yang mengambil Mestika Burung Hong Kemala, karena itu engkau harus menyerahkan kepada kami atau terpaksa kami akan menganggap engkau sebagai musuh," kata pula Kim Hong.
"Sabar dulu, Kim Hong. Aku yakin bahwa saudara ini bukan seorang musuh, dan tentu dia mengambil pusaka itu dengan niat baik. Bukankah engkau juga seperti kami, menentang pemberontak An Lu Shan dan mendukung Kerajaan Tang, sobat?" kata Kui Lan.
"Yang penting, perkenalkan dulu dirimu, orang muda," kata pula Hartawan Ji.

Souw Hui San tertawa. "Aihh, kalian sungguh-sungguh mendesakku. Tiga orang dengan tiga macam tuntutan, akan tetapi hanya nona Yang Kui Lan yang bersikap baik kepadaku. Terima kasih nona"

Wajah Kui Lan menjadi kemerahan, maka dia pun merasa perlu untuk membela diri agar tidak disangka yang bukan-bukan.

"Tentu saja aku bersikap baik kepadamu, sobat, karena bukankah engkau sudah berulang kali berusaha menolongku? Tempo hari, dengan berpura-pura sinting engkau mencegah rombongan Bouw-ciangkun mengeroyokku, kemudian tadi apa bila tidak ada engkau yang menolong, mungkin aku sudah tewas di tangan mereka,"
"Baiklah, aku pun tidak merasa perlu untuk merahasiakan diriku. Namaku Souw Hui San dan mendiang Souw Lok yang mati terbunuh adalah pamanku. Sejak kecil aku berada di pegunungan, menjadi murid para suhu di Gobi-pai. Baru beberapa bulan aku datang ke kota raja, ke rumah paman dan aku melihat bahwa paman Souw Lok yang dahulu bekerja menjadi pembantu Menteri Yang Kok Tiong, sudah berada di kota raja dan menjadi orang kaya yang membuka sebuah toko."

"Bukankah Souw Lok turut pula bersama Menteri Yang mengawal rombongan Sribaginda Kaisar yang mengungsi ke barat?" tanya Hartawan Ji yang banyak mengetahui keadaan di kota raja.
"Benar, paman menceritakan kepadaku bahwa dia pun telah sampai ke Secuan. Di tengah perjalanan itu paman Souw Lok telah membantu Menteri Yang menyembunyikan Mestika Burung Hong Kemala, bahkan oleh Menteri Yang peta dari tempat penyimpanan itu lalu diserahkan kepada Paman Souw Lok dengan pesan bahwa kalau terjadi sesuatu dengan beliau, peta itu harus diserahkan kepada seorang di antara putera-puterinya."

"Ahh, agaknya ayah sudah merasakan sesuatu, seakan dia telah merasa bahwa dia akan tewas dalam perjalanan itu, maka dia menyerahkan peta kepada orang kepercayaannya," kata Kui Lan dengan suara sedih.
"Mungkin juga," kata Ji Siok "Ayahmu adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Tang, nona. Sekarang harap lanjutkan ceritamu, Souw-taihiap."

"Wah, sebutan taihiap (pendek besar) itu hanya membuat kepalaku mekar, paman. Sebut saja namaku, Hui San tanpa embel-embel pendekar segala macam. Nah, sesudah tiba di kota raja, paman Souw Lok mempunyai pendapat yang amat berani. Dia pikir bahwa biar pun kecil, terdapat kemungkinan bahwa rahasianya diketahui orang, yaitu bahwa dia telah menerima peta penyimpanan pusaka itu dari Menteri Yang. Oleh karena itu lebih baik dia mengakuinya saja, bahkan berusaha untuk mendapatkan harta dari rahasia itu. Maka dia lalu menjual peta itu kepada Bouw Koksu.”
"Ihhh…!" Kim Hong dan Kui Lan berseru.

"Ahh...!" Hartawan Ji juga mengeluarkan seruan kaget dan tak senang mendengar tentang pengkhianatan Souw lok itu. "Mengapa paman mu melakukan itu?”
"Sabar, paman, dan harap mendengarkan dulu, nona-nona yang kuhormati! Sungguh aku berani mengatakan bahwa paman bukan seorang pengkhianat. Dia melakukan penjualan peta itu dengan dua perhitungan. Pertama, untuk menghilangkan dugaan bahwa dia yang mengetahui mengenai rahasia penyimpanan pusaka itu, dan ke dua, dan hal ini akhirnya menjerumuskannya ke tangan maut, dia ingin mendapatkan harta agar di hari tuanya bisa hidup santai dan cukup. Dia memang menjual peta itu seharga sepuluh ribu tail kepada Bouw Koksu, lalu sesudah menyerahkan peta dia menerima uang muka lima ribu tail yang dia gunakan untuk membeli rumah dan membuka toko, sedangkan yang lima ribu tail lagi akan dia terima setelah pusaka itu bisa diambil. Akan tetapi yang dia berikan adalah peta palsu! Dia pun diam-diam membuatkan pusaka tiruan. Kemudian, ketika aku datang dan dia mengetahui bahwa aku memiliki kepandaian silat, dia menyuruh aku untuk mengambil pusaka yang asli dan menaruh pusaka tiruan ke dalam goa yang disebutkan di dalam peta palsu itu."

"Hemm, ternyata pamanmu itu sangat cerdik, Hui San!" kini hartawan Ji memuji. “Dengan perbuatan itu, selain semua orang akan tahu bahwa pusaka itu berada di tangan Bouw Koksu, juga dia berhasil menyembunyikan pusaka aslinya tanpa ada yang mengetahui, dan dia masih mendapatkan banyak uang lagi!"

"Sayangnya paman Souw Lok tidak tahu betapa licik dan curangnya orang macam Bouw Koksu itu. Setelah semua berhasil baik dan pusaka itu berhasil diambil Bouw Koksu, dia datang mengunjung paman, bukan untuk membayar yang lima ribu tail lagi seperti yang diharapkan paman, melainkan membunuh paman untuk menutup rahasia bahwa Mestika Buru Hong Kemala berada di tangannya. Aku datang terlambat beberapa jam saja, akan tetapi paman masih sempat mengatakan siapa yang membunuhnya. Suatu saat jahanam Bouw Koksu itu pasti akan tewas di tanganku!"

Hening sejenak. Semua orang agaknya tercekam oleh kisah yang diceritakan pemuda itu.

"Ahh, aku mengerti sekarang. Engkau tentu telah mendahului rombongan, lalu mengambil pusaka asli dan memasukkan pusaka palsu ke dalam goa seperti yang disebutkan dalam peta palsu, kemudian engkau menyembunyikan pusaka itu entah dimana dan ketika kami bertemu dengan enci Kui Lan, engkau lalu keluar dan pura-pura sinting untuk mengganggu kami, bukankah begitu?" kata Kim Hong.

Hui San tertawa. "Ha-ha, semua itu benar. Pusaka itu memang lebih dulu kusembunyikan dalam sebuah pohon besar. Karena melihat engkau demikian cerdik, maka aku lalu pergi dan tidak berani sembarang main-main. Orang seperti engkau terlampau berbahaya untuk dipermainkan. Tentu saja aku tidak tahu bahwa engkau sesungguhnya satu golongan dan seperjuangan denganku, nona."

"Souw-toako, kalau begitu pusaka itu sekarang berada di tanganmu?" tanya Kui Lan yang agak ragu ketika menyebut pemuda itu, tetapi melihat sikap yang polos dan bersahaja itu, dia pun menyebutnya toako, sebutan yang akrab.

Hui San tersenyum sambil matanya bersinar-sinar memandang kepada Kui Lan. "Benar, non... ehh, siauw-moi (adik), boleh aku menyebutmu Lan-moi (adik Lan)? Engkau puteri Menteri sedangkan aku anak gunung.”

"Ah, perlukah kita merendahkan diri dan menggunakan banyak peraturan yang tidak layak lagi itu, twako? Katakanlah, sekarang Mestika Burung Hong Kemala itu berada di mana?"
"Kusimpan baik-baik, Lan-moi. Andai kata aku ditawan musuh, disiksa dan dibunuh sekali pun, jangan harap musuh akan dapat memaksaku untuk menyerahkan pusaka itu kepada mereka. Tak seorang pun akan tahu di mana pusaka itu kusembunyikan. Tetapi sekarang sesudah bertemu dengan engkau, aku siap memenuhi pesan mendiang paman Souw Lok untuk menyerahkan pusaka itu kepada seorang di antara para putera mendiang Menteri Yang Kok Tiong. Apakah engkau bersedia menerima pusaka itu dariku?"
"Ahh, aku... apa bedanya kalau berada di tanganmu, twako?"

Hartawan Ji segera berkata, "Memang tidak ada bedanya. Kita semua memiliki kesetiaan yang sama, dan tentu semua bermaksud untuk menyerahkan pusaka itu kembali kepada Sri baginda Kaisar. Karena itu aku mengusulkan, biar pusaka itu tetap disimpan oleh Hui San, tapi dia harus memberi tahukan tempat penyimpanannya kepada nona Kui Lan. Kita semua sedang berjuang, tidak tahu apakah kelak akan dapat lolos dari kematian. Karena itu sebaiknya kalau tempat penyimpanan itu selalu diketahui oleh dua orang "

"Maksudmu agar bila yang seorang meninggal, yang lain harus memberi tahukan kepada seorang sahabat lain lagi?" tanya Hui San.
"Apakah tidak sebaiknya kalau sekarang juga diantarkan ke barat lantas serahkan kepada Sribaginda Kaisar? Pusaka itu sangat dibutuhkan agar dapat mendatangkan kepercayaan dari mereka yang mendukung beliau, bukan?" tanya Kim Hong.

"Dugaanmu tadi benar, Hui San. Pusaka itu teramat penting, karena itu harus selalu kita ketahui di mana tempat penyimpanannya. Dan saat ini tidak perlu kita antarkan ke barat, nona Kim Hong, karena kami mendengar bahwa Sribaginda telah berhasil membujuk para kepala suku di barat untuk membantu pasukan beliau sesudah memperlihatkan Mestika Burung Hong Kemala. Agaknya Sri baginda yang kehilangan pusaka sudah membuatkan pula tiruannya. Jadi sekarang ada tiga buah pusaka, dua yang palsu dipegang oleh Bouw Koksu dan Sri baginda, sedangkan yang asli kita simpan. Kalau saatnya sudah tiba, kita akan serahkan kepada Sri baginda Kaisar."

Semua orang merasa setuju dengan pendapat ini. Hui San menuliskan beberapa huruf di atas kertas, lalu memberikan tulisan itu kepada Kui Lan yang membacanya. Membaca isi tulisan ini Kui Lan tertegun. Betapa berani dan cerdiknya pemuda murid Gobi-pai itu.

Dia sudah menyimpan pusaka itu di tempat yang takkan pernah disangka oleh siapa pun juga, terutama sekali tidak oleh pihak musuh karena pusaka itu berikut petinya ditanam di bawah pohon dekat pagar tembok kebun belakang dari gedung yang kini ditinggali Bouw Koksu Pantas saja pemuda itu dapat menolongnya. Kiranya sedang mencuri masuk dan menanam pusaka itu di bawah pohon yang dia pergunakan untuk memasuki kebun pada malam hari itu.

Memang kelihatan mengkhawatirkan menyimpan pusaka di sana, akan tetapi tempat yang begitu dekat dengan Bouw Koksu justru merupakan tempat yang aman karena tidak akan disangka sama sekali. Gedung itu dapat saja diserbu orang dan seluruh isinya dirampok habis, bahkan boleh jadi gedung itu sendiri dibakar habis. Akan tetapi siapakah yang ingin mengganggu sebatang pohon di sudut kebun? Dia memandang pemuda yang tersenyum itu, kemudian mengangguk dan merobek-robek kertas itu sampai menjadi potongan kecil-kecil.

Kim Hong teringat akan ayah kandungnya yang belum juga dapat dia temukan, maka dia segera bertanya kepada Hartawan Ji, "Paman Ji, engkau sudah berhasil menyelidiki dan mengetahui bahwa orang yang mengaku ayahku itu adalah palsu. Apakah engkau dapat menolongku memberi tahu siapa sebenarnya ayah kandungku yang bernama Can Bu itu dan apakah dia masih hidup? Kalau dia masih hidup, di mana dia sekarang?"

"Pada waktu Yang-kongcu minta kepada kami untuk menyelidiki tentang Ciang Kui yang mengaku sebagai Can Bu, dengan sendirinya kami pun menyelidiki tentang ayah kandung nona itu. Kami bertanya-tanya kepada para prajurit dan perwira yang dulu berada dalam satu kesatuan dengan perwira Can Bu."

"Dan bagaimana hasilnya, paman?” tanya Kim Hong penuh harap.
“Setelah berhasil lolos dari Khitan dan kembali ke kota raja, ternyata ayahmu itu, perwira Can Bu, lantas diangkat menjadi seorang panglima yang membantu Panglima Besar Kok Cu It dan tentu saja dia ikut pula mengawal Sribaginda Kaisar ke barat. Apa lagi karena ayahmu sudah mengenal daerah barat dengan baik, maka tenaganya sangat dibutuhkan Kaisar."
"Jadi ayahku mengawal Sribaginda kaisar ke barat? Jadi benar bahwa ayah kandungku itu masih ada?" wajah gadis itu berseri dan matanya bersinar-sinar. ”Kalau begitu aku akan menyusulnya dan mencarinya ke sana, kemudian aku akan membantunya memperkuat pasukan Sribaginda."

Hartawan Ji mengangguk-angguk. Dahulu sebelum An Lu Shan merebut tahta Kerajaan Tang, hartawan ini sudah bekenja sebagai seorang penyelidik yang cerdik. Karena itu kini dia dapat bekerja dengan tenang tanpa takut dikenal orang, karena dahulu pun tidak ada yang tahu bahwa dia adalah seorang perwira tinggi yang mempunyai jaringan penyelidik. Banyak anak buahnya yang disebar di mana-mana sehingga dia bisa mengetahui dengan baik keadaan di dalam dan di luar istana,

"Memang sebaiknya begitu, nona. Kami kira Sribaginda membutuhkan banyak pembantu yang lihai seperti nona, dan besar sekali harapannya nona akan dapat bertemu dengan perwira Can Bu di sana."
”Kebetulan sekali kakakku Cin Han juga baru saja berangkat ke sana, adik Kim Hong," kata Kui Lan. “Kalau engkau melakukan perjalanan dengan cepat, mungkin engkau akan dapat mengejarnya dan lebih menyenangkan kalau kalian melakukan perjalanan bersama, bukan?"

Wajah gadis itu berubah kemerahan, akan tetapi tak dapat disangkal di dalam hatinya dia merasa girang sekali, Sejak tadi pun dia sudah bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa dia tidak melihat Cin Han di situ.

"Aku akan melakukan perjalanan secepat mungkin," katanya, dan dia pun tidak menolak ketika Hartawan Ji menyerahkan seekor kuda kepadanya, berikut beberapa potong perak untuk bekal perjalanan.

Gadis ini meninggalkan rumah gedung Bouw Koksu tanpa membawa apa pun sehingga pakaian pun hanya yang berada di tubuhnya. Dia pun menerima ketika Kui Lan memberi beberapa potong pakaian untuknya, dan memang bentuk tubuh mereka satu ukuran.

Sesudah Kim Hong berangkat meninggalkan kota raja dengan cara sembunyi-sembunyi, yaitu melalui pintu gerbang selatan dengan menyamar sebagai seorang nenek-nenek, dan diantar oleh Ji Siok yang telah menyogok para penjaga agar dibolehkan keluar mengantar bibinya yang telah tua dan sakit­sakitan ke desa, maka Hui San juga meninggalkan rumah Hartawan Ji. Dia pun menyamar karena kini dia juga menjadi seorang buronan.

Dia menghubungi seorang tetangganya dan minta bantuan tetangga itu untuk menjualkan rumah dan toko pamannya. Karena mendapatkan keuntungan besar, tetangga itu dengan senang hati melakukannya dan dala m waktu beberapa hari saja rumah itu sudah terjual sehingga Hui San mempunyai uang dua ribu tail hasil penjualan itu. Seperti Kui Lan, dia pun tinggal di rumah Hartawan Ji.

Pada keesokan harinya, Hartawan Ji menerima seorang tamu dan setelah tamu itu pergi, dia segera mengumpulkan para pembantunya di mana hadir pula Hui San dan Kui Lan. Dari wajah pemimpin jaringan mata-mata itu dapat diduga bahwa ada masalah penting.

"Ada berita penting sekali dari Sia-ciangkun," kata hartawan itu.
"Dari twako Sia Su Beng? Berita apakah itu, paman?" Kui Lan bertanya penuh gairah. Dia tidak tahu betapa diam-diam Hui San mengerling kepadanya dengan penuh perhatian dan menatap wajahnya dalam kerlingan itu.
"Sia-ciangkun memberi kabar bawa usaha nona Kui Bi di istana berhasil mengadu-domba antara An Lu Shan dan puteranya, An Kong. Bahkan An Kong yang disebut pangeran itu mempercayai nona Kui Bi dan minta kepada nona Kui Bi untuk meracuni An Lu Shan…'
"Ahh, itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau ketahuan?" kata Kui Lan, mengkhawatirkan adiknya.

"Semuanya telah diatur oleh Bouw Koksu yang mendukung Pangeran An Kong. Malam ini nona Kui Bi berhasil diselundupkan ke dapur dan ditunjuk sebagai seorang dayang untuk melayani kaisar An Lu Shan makan malam menggantikan seorang dayang lain yang sakit. Saat inilah yang akan dipergunakan oleh nona Kui Bi untuk meracuni makanan yang akan disantap kepala pemberontak itu."

"Akan tetapi, tentu akan ketahuan dan adikku akan terancam bahaya," kata pula Kui Lan.
"Menurut pesan Sia-ciangkun, bahaya yang datang justru bukan dari pengikut An Lu Shan melainkan dari Pangeran An Kong dan Bouw Koksu yang mendukungnya. Dari mereka inilah datangnya bahaya yang mengancam nona Kui Bi"
"Akan tetapi bagaimana mungkin Itu, paman?"' tanya Hui San. "Bukankah nona Yang Kui Bi hanya melaksanakan perintah Pangeran An Kong?"

"Menurut Sia-ciangkun, itulah sebabnya keadaan nona Kui Bi terancam bahaya. Sesudah rencana itu dilaksanakan dan An Lu Shan mati keracunan, tentu para pejabat tinggi ingin mencari siapa pelakunya. Dan untuk menutupi kenyataan bahwa An Kong yang meracuni ayahnya, maka tentu mereka akan berusaha untuk menangkap nona Kui Bi dan menuduh dia sebagai pelakunya. Akan tetapi harap jangan khawatir. Sia-ciangkun sudah mengatur kesemuanya. Dia yang akan melindungi nona Kui Bi dan menyelundupkannya keluar, dan kita yang harus membantunya, menerima nona Kui Bi lalu membawanya dengan cepat ke sini."

"Akan tetapi, peristiwa itu tentu akan menimbulkan geger di istana, paman. Apakah tidak akan terjadi keributan yang ditimbulkan oleh mereka yang setia kepada An Lu Shan?"
"Ini pun akan ditanggulangi oleh Bouw-ciangkun yang sudah mempersiapkan pasukannya di luar istana, dan dibantu oleh Sia-ciangkun yang akan bergerak ke dalam istana."

Kui Lan membelalakkan matanya. "Paman Ji, benarkah itu? Rasanya tidak mungkin Sia-toako akan bekerja sama dengan Bouw Koksu, apa lagi membantunya."

"Nona, ini adalah siasat Sia-ciangkun yang bagus sekali. Menghadapi Pangeran An Kong yang didukung Bouw Koksu tidaklah seberat kalau menghadap An Lu Shan. Oleh karena itu, ayah dan anak pemberontak itu sengaja dibiarkan saling hantam. Dan Sia-ciangkun memang sengaja berpihak pada Pangeran An Kong. Kalau An Lu Shan sudah tewas dan para pengikutnya bisa dilumpuhkan, maka kelak menghadapi Pangeran An Kong tidaklah terlalu berat."

Kui Lan mengerti, akan tetapi tetap saja dia mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Dia tahu bahwa Kui Bi bermain api. Tugas yang hendak dilaksanakan adiknya malam ini amat berbahaya. Meracuni An Lu Shan. Membayangkan saja Kui Lan sudah merasa ngeri dan jantungnya berdebar keras.

Bagaimana jika ketahuan sebelum An Lu Shan makan hidangan beracun itu? Bagaimana jika hidangan itu tidak dimakan atau dimakan orang lain sehingga bukan An Lu Shan yang mati tetapi orang lain? Apa yang dapat dilakukan Kui Bi kalau sampai ketahuan? Dia tahu akan keberanian dan kenekatan adiknya itu.

Kalau sampai ketahuan sebelum hidangan dimakan, Kui Bi pasti akan bertindak nekat dan mencoba untuk membunuh saja An Lu Shan. Akan tetapi tanpa adanya bantuan, agaknya mustahil adiknya akan mampu meloloskan diri dengan selamat keluar dari istana kalau dia dikejar-kejar sebagai pembunuh.

Biar pun dia tahu di sana terdapat Sia Su Beng pria yang dikaguminya itu, tetap saja dia masih merasa gelisah. Ketika Ji Siok mengatakan bahwa pertemuan berakhir dan semua orang sudah bangkit, dia sendiri berdiri dan menuju ke kamarnya dengan tubuh lemas…..

********************
Selanjutnya baca
MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-10
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger