logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Mestika Burung Hong Kemala Jilid 10


Karena memang sudah diatur oleh kaki tangan Bouw Koksu, maka dengan mudah Kui Bi mendapat kepercayaan untuk membantu di dapur, lalu dia menggantikan seorang dayang pelayan di ruangan makan yang sedang sakit. Semua ini sudah diatur oleh Bouw Koksu, melalui kaki tangannya yang banyak terdapat di dalam istana.

Mudah sekali bagi Kui Bi untuk mengetahui sayur masakan mana yang menjadi kesukaan An Lu Shan, kemudian mudah pula dia membawa hidangan itu menuju ke kamar makan, menaruh bubukan racun di dalam masakan. Racun itu tidak mengeluarkan bau, juga tidak ada rasanya, maka tidak akan diketahui bahwa masakan itu mengandung racun.

Akan tetapi hati Kui Bi berdebar juga pada saat An Lu Shan yang berpakaian sebagai raja itu memasuki ruangan makan lalu duduk menghadapi semeja besar penuh masakan yang masih mengepulkan uap yang sedap, ditemani tiga orang selir dan lima orang dayang. Dia melihat selosin prajurit pengawal pribadi yang membawa tombak, berdiri berjajar di pintu ruangan. Dan dia tahu bahwa di luar pintu terdapat pula banyak prajurit pengawal.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan hatinya karena sebelumnya Bouw Koksu memang telah memberi tahu kepadanya dan mengatakan bahwa mereka itu adalah pasukan pengawal yang telah menjadi anak buahnya! Yang menjadi pengawal setia dari An Lu Shan hanya terdiri dari dua belas orang pengawal pribadi saja.

Menurut petunjuk Bouw Koksu, kalau nanti An Lu Shan sudah makan dan keracunan, dia harus cepat-cepat menerobos keluar melalui pintu, bila perlu merobohkan para pengawal pribadi yang menghalangi dan kalau sudah tiba di luar, pasukan anak buah Pangeran An Kong atau Bouw Koksu akan melindunginya. Akan tetapi Kui Bi sudah mendapat pesan dan petunjuk lain dari panglima muda yang di kaguminya, yaitu Sia Su Beng.

Menurut Sia Su Beng, sesudah berhasil dia harus melarikan diri melalui jendela ruangan makan itu yang terbuka sehingga tiba di taman di luar ruangan makan, lantas mengambil jalan melalui atas wuwungan menuju ke dalam taman istana yang besar. Di sana Sia Su Beng dan pasukannya akan menyambut dan menyembunyikannya.

Tentu saja dia memilih untuk menaati pesan pujaan hatinya itu, karena menurut Sia Su Beng, bila dia menaati petunjuk Bouw Koksu, dia seperti seperti burung masuk kurungan, akan ditangkap dan besar sekali kemungkinan dituduh sebagai pembunuh tunggal An Lu Shan kemudian akan dijatuhi hukuman berat.

Ruangan makan itu luas sekali. Di sudut ruangan, dekat dinding, para dayang ahli musik telah memainkan yangkim dan suling, dan ada pula yang bernyanyi dengan suara lembut dan merdu. Meja makan itu sendiri berbentuk bundar dan An Lu Shan duduk di atas kursi istimewa, dikelilingi para dayang. Sedangkan tiga orang selirnya duduk di kanan kiri dan depannya.

Masakan kesukaannya adalah kaki biruang yang dimasak dengan rebung (bambu muda). Inilah masakan kegemarannya pada saat dia menjadi panglima pasukan di utara, di mana terdapat banyak biruang. Biar pun kini dia berada di selatan dan kaki biruang merupakan bahan masakan yang langka dan karenanya mahal sekali, dia tetap minta dicarikan kaki biruang. Masakan inilah yang tadi dihidangkan Kui Bi di atas meja, paling dekat dengan kursi sang kaisar baru.

Supaya tidak menarik perhatian, dalam kesempatan ini Kui Bi tidak berdandan. Dia hanya berperan sebagai pelayan yang mengambilkan masakan dari dapur dan ketika sang kaisar makan bersama selirnya sambil dilayani oleh lima orang dayang, tugasnya hanya berdiri di samping bersama ketiga orang rekannya, dan menunggu perintah para dayang pelayan kalau­kalau dibutuhkan bumbu atau masakan tambahan.

An Lu Shan terlihat gembira ketika duduk di depan meja makan. Perutnya terasa semakin lapar ketika dia mencium bau masakan khas kegemarannya yang berada paling dekat di depannya. Dia menerima suguhan arak dari selir yang duduk di sebelah kanannya, minum dengan sekali tuang dari cawannya, lalu menerima sepasang sumpit yang disodorkan selir yang berada di sebelah kirinya.

Diam-diam Kui Bi mengikuti semua gerakan kaisar dengan jantung berdebar tegang. Akan berhasilkah usahanya dalam melaksanakan perintah Pangeran An Kong? Sedikit pun dia tidak menyesal melaksanakan perintah meracuni An Lu Shan, karena andai kata perintah itu tidak ada sekali pun, dengan segala kenekatannya ia akan mencari kesempatan untuk membunuh orang yang sudah mengakibatkan ayah ibunya meninggal ini, menyebabkan keluarganya berantakan dan Kerajaan Tang jatuh.

Agaknya perhitungan Bouw Koksu dan Pangeran An Kong memang tepat. Tanpa melihat ke arah masakan lain, sepasang sumpit di tangan An Lu Shan langsung saja ditujukan ke arah masakan kaki biruang itu, kemudian sepasang sumpit itu menjepit sepotong daging kaki biruang dan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Nampak sedap dan nyaman sekali dia mengunyah daging kaki biruang yang bergajih itu. Memang tukang masak sudah mendapat pesan dari Pangeran An Kong sendiri agar hari itu memasak kaki biruang yang seenak­enaknya. Bahkan dia pun sudah memerintahkan untuk mencarikan kaki biruang yang masih muda agar terasa lebih lunak dan lezat.

Makin tegang rasa hati Kui Bi ketika An Lu Shan terus saja makan masakan itu dengan sumpitnya, hanya diselingi minum arak dengan sekali dua kali tegukan. Agaknya tidak ada pengaruh apa­apa! Kaisar makan dengan lahapnya dan belum menyentuh masakan lain. Timbul perasaan gelisah di dalam hati Kui Bi kemudian dia pun mengingat-ingat.

Tidak salahkah dia tadi menaruhkan racun itu? Jangan-jangan dia keliru memasukkan ke dalam masakan lain! Namun rasanya tidak mungkin. Dia yakin benar sudah menuangkan racun itu ke dalam masakan kaki biruang itu.....

Suara musik masih terdengar mengiringi suara nyanyian merdu. Tiga orang selir seperti berebut menarik perhatian kaisar dengan ucapan manis dan menyuguhkan arak, ada pula yang karena desakan kaisar mulai ikut makan. Akan tetapi melihat betapa lahapnya kaisar makan masakan kaki biruang, mereka tidak berani ikut mengambilnya. Kalau An Lu Shan tidak mengambilkan untuk mereka, tiga orang selir itu tak akan berani lancang mengambil sendiri hidangan yang menjadi kegemaran An Lu Shan itu.

Bekas panglima yang kini mengangkat diri menjadi kaisar ini memang terkenal galak dan keras kalau ada orang berani mendahului kehendaknya, apa lagi menentangnya. Karena itulah, ketika pangeran An Kong mohon agar diangkat menjadi putera mahkota, dia marah dan membenci puteranya sendiri, karena merasa didahului!

"Ahh, aku haus, minta araknya!" kata An Lu Shan.

Tiga orang selir itu seperti berebut memegang guci arak dan menuangkan arak ke dalam cawan arak dari emas yang telah kosong. An Lu Shan mengambil cawan itu, menuangkan isinya ke dalam mulutnya yang ternganga dan mendadak cawan kosong itu terlepas dari tangannya kemudian dia pun terkulai!

"Dukk!”

Kepalanya terantuk meja lantas tubuhnya berkelojotan. Tiga orang selir itu menjerit, diikuti lima orang dayang dan semua orang yang berada di situ terkejut.


Para pemain musik langsung menghentikan permainan mereka dan dengan wajah pucat mereka memandang terbelalak ke arah kaisar. Dua belas orang pengawal pribadi segera berloncatan mendekat.

Kui Bi maklum bahwa racun itu telah bekerja. Dia pun segera menyelinap dan mendekati jendela, terus melompat keluar.

"Heii, tahan! Semua orang tidak boleh meninggalkan tempat ini!" salah seorang pengawal pribadi berteriak. Ketika melihat Kui Bi tidak berhenti, dia pun cepat mengejar, diikuti oleh sembilan orang pengawal lain, sedangkan dua orang tinggal di situ, menolong kaisar dan mengamati setiap orang.

Kui Bi berlari ke dalam taman kecil di luar ruangan makan itu, dan ketika pengawal pribadi kaisar yang ternyata mempunyai ginkang yang cukup hebat itu berloncatan mengejarnya, tiba-tiba saja Kui Bi membalikkan tubuhnya. Tadi dia sudah menyambar sebatang ranting kayu dari taman itu dan kini tiba­tiba ranting itu mencuat lalu dengan dahsyat menyambut pengejarnya dengan tusukan ke arah kedua matanya.

Melihat ranting itu menusuk ke arah matanya dengan kecepatan kilat, pengawal itu amat terkejut kemudian cepat menggerakkan tombaknya menangkis melindungi matanya. Akan tetapi ilmu Hong-in Sin-pang dari Kui Bi memang hebat sekali. Ranting yang menusuk mata itu tidak menanti sampai ditangkis tombak tahu-tahu sudah meluncur ke bawah dan menotok dada lawan.

"Tukk!"

Walau pun hanya sebatang ranting sebesar ibu jari, akan tetapi di tangan Kui Bi menjadi senjata ampuh. Pengawal itu roboh dengan tubuh kaku!

Kui Bi tidak menanti lebih lama. Dia terus berloncatan melintasi taman dan meloncat naik ke atas genteng seperti petunjuk yang didapatnya dari Sia Su Beng. Di belakangnya ada sembilan orang pengawal yang mengejar dan ternyata mereka memang merupakan orang-orang pilihan yang memiliki kepandaian tinggi.

Kalau yang pertama tadi sampai dapat dirobohkan Kui Bi, karena dia memandang rendah kepada seorang gadis dayang, apa lagi kalau yang digunakan untuk menyerangnya hanya sebatang ranting. Karena memandang rendah maka dia lengah sehingga bisa dirobohkan dengan sekali totokan saja.

Pada saat melihat betapa sembilan orang pengawal itu dapat terus mengejarnya dengan berlompatan ke atas wuwungan pula, Kui Bi mempercepat larinya dan akhirnya dia dapat meloncat turun di dalam taman istana, meski pun tetap dikejar oleh sembilan orang itu.

Hati Kui Bi menjadi lega ketika melihat pasukan yang puluhan orang banyaknya berbaris di taman itu. Cepat dia meloncat mendekat dan tangannya segera ditarik Sia Su Beng dan sekejap kemudian dia sudah menyusup masuk ke dalam barisan itu.

Dengan bergegas dia mengenakan pakaian seragam prajurit yang diberikan oleh seorang prajurit, menutupi pakaian wanitanya. Beberapa detik saja Kui Bi telah menjadi seorang di antara pasukan itu, berpakaian prajurit berikut topinya yang khas.

Di bawah sinar lampu-lampu gantung taman itu Sia Su Beng menyambut sembilan orang pengawal pribadi kaisar itu, kemudian dia menegur.

"Bukankah kalian ini prajurit-prajurit pengawal pribadi Yang Mulia Kaisar? Kenapa malam-malam berlarian ke sini? Apa yang telah terjadi?"
"Ahh, ternyata Sia-ciangkun dan pasukannya. Kenapa pula ciangkun membawa pasukan memasuki taman istana?" pemimpin pasukan pengawal itu bertanya.

Para prajurit pengawal pribadi kaisar adalah orang-orang kepercayaan kaisar, maka meski pun hanya prajurit tetapi mereka berani bersikap angkuh terhadap panglima yang berada di luar istana.

"Kami menerima perintah Bouw Koksu untuk berjaga-jaga sebab ada desas-desus bahwa mata-mata musuh hendak menyerang Yang Mulia. Apa yang telah terjadi sehingga kalian berlarian ke sini?"
"Kami sedang mengejar pembunuh! Apakah tadi pasukanmu melihat seorang gadis yang berlari ke dalam taman ini?"
"Tidak, kami tidak melihatnya," kata Sia Su Beng.
"Mustahil," para prajurit pengawal pribadi kaisar itu berseru heran, 'kami mengejarnya dan kami melihat jelas ketika dia meloncat turun dari wuwungan lalu masuk ke taman ini!"
"Hemmm, apakah itu berarti kalian tidak percaya dengan keterangan kami? Kalau begitu silakan menggeledah dan periksa sendiri apakah gadis yang sedang kalian cari itu berada di antara kami ataukah tidak!" kata Sia Su Beng dengan suara kereng.
"Maafkan kami, ciangkun. Karena telah terjadi peristiwa hebat, maka terpaksa kami akan melakukan penggeledahan, ini tugas kami!"

Sembilan orang itu lalu menyusup-nyusup ke dalam pasukan itu, tetapi tentu saja mereka tidak menemukan seorang gadis dayang di antara mereka. Semua adalah pasukan yang berpakaian seragam. Kalau ada gadis dayang tentu akan mudah terlihat di antara mereka yang memakai seragam itu. Sesudah merasa yakin bahwa tidak ada gadis yang mereka cari, mereka kembali berhadapan dengan Sia Su Beng.

"Sebetulnya apa yang terjadi? Siapa gadis dayang itu dan kenapa kalian mengejarnya?"
"Dia langsung melarikan diri sesudah melihat Yang Mulia keracunan! Kami mencurigai dia ada kaitannya dengan peristiwa itu."
"Yang Mulia keracunan? Lalu bagaimana keadaan beliau?" tanya Sia Su Beng, pura-pura kaget.
"Kami tidak tahu, sekarang juga kami akan ke sana!" kata sembilan orang itu, kemudian mereka pun berserabutan lari meninggalkan taman.

Pada saat itu terdengar bunyi canang dipukul bertalu-talu, tanda bahaya sehingga seluruh isi istana menjadi gempar. Hanya dalam waktu beberapa menit saja semua orang sudah tahu bahwa kaisar telah tewas akibat keracunan hidangan makan malam!

Pasukan yang dipimpin oleh Bouw Ki telah dipersiapkan dan sudah berada di luar istana, sedangkan pasukan yang dipimpin Sia Su Beng juga sudah siap dan berada di sebelah dalam, mengepung istana dan menguasai semua tempat. Melihat ini para panglima yang setia terhadap An Lu Shan tidak dapat berbuat sesuatu, apa lagi karena kematian An Lu Shan karena keracunan makanan. Mereka hanya dapat segera datang ke ruangan makan lalu menahan semua dayang, selir dan thaikam, termasuk semua juru masak yang malam itu bertugas memasak makanan dan melayani keluarga kaisar makan malam.

Ketika Bouw Koksu bergegas datang bersama Bouw­ciangkun, juga Pangeran An Kong, kemudian menyusul pula Sia Su Beng serta para panglima dan menteri yang memenuhi ruangan makan, tubuh kaisar An Lu Shan sedang diperiksa secara teliti oleh tiga orang tabib istana. Akan tetapi semua usaha tiga orang tabib itu lewat pengurutan, tusuk jarum, dan cekokan obat anti racun sia-sia saja karena ketika tiga orang tabib itu datang, nyawa An Lu Shan memang telah putus.

Jerit tangis para isteri dan selir memenuhi ruangan itu. Akan tetapi dengan cekatan Bouw Koksu lalu mengatur agar jenazah kaisar segera diangkat ke ruangan dalam untuk dirawat sebagaimana mestinya.

Bouw Koksu sendiri yang memeriksa para pembantu yang masih ditahan di ruang makan untuk ditanya. Tapi dia dan Bouw Ki merasa heran sekali karena tidak melihat Kui Bi. Dari para petugas di luar ruangan makan mereka mendengar bahwa gadis itu tidak lari melalui pintu. Padahal sudah direncanakan bahwa kalau dia keluar dari pintu maka para petugas akan menangkap dan rnenahannya.

Kemudian terdengar keterangan dari para pengawal pribadi kaisar bahwa gadis dayang itu melarikan diri melalui jendela dan meski pun mereka telah berusaha mengejarnya, namun gadis yang amat lihai itu berhasil melarikan diri. Mendengar ini Bouw Koksu mengerutkan alisnya. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dayang baru itu memiliki ilmu silat yang tinggi. Tentu dia sangat lihai sehingga mampu meloloskan diri dari pengejaran para pengawal pribadi kaisar yang lihai itu.

Karena merasa khawatir gadis itu akan membocorkan rahasia bahwa Pangeran An Kong yang merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya, Bouw Koksu segera memerintahkan para panglima untuk menangkap dayang itu. Juga Panglima Sia Su Beng diminta untuk menggeledah seluruh kota untuk menangkapnya.

"Dia pasti masih berada di kota raja. Geledah semua rumah dan tangkap gadis itu! Tentu dialah yang membunuh dan meracuni Sribaginda!" perintahnya.

Semua panglima, termasuk Sia Su Beng, lalu meninggalkan istana. Kalau para pangIima memerintahkan anak buah mereka agar melakukan pencarian, Sia Su Beng sendiri cepat menuju ke rumah Hartawan Ji. Tidak lama kemudian dia sudah berada di kamar rahasia bersama Hartawan Ji, Kui Lan, Kui Bi, dan Hui San.

Begitu melihat kemunculan Sia Su Beng, Kui Bi segera lari menyambutnya dan bertanya, "Twako, bagaimana? Berhasilkah kita sesuai rencana? Apakah dia sudah tewas?" Gadis itu merasa tegang dan saking tegangnya, dia memegang kedua lengan panglima itu.

Sia Su Beng tersenyum dan mengangguk. "Berhasil baik sekali, Bi-moi. Engkau memang tabah dan cerdik. An Lu Shan telah tewas, dan tentu An Kong yang akan mengangkat diri menjadi gantinya seperti mereka rencanakan. Akan tetapi sekarang timbul masalah baru, engkau berada dalam bahaya, Bi-moi!"

"Hemm, aku tidak takut, twako,” kata gadis itu dengan sikap gagah.
"Aku percaya engkau tidak takut, tapi aku yang tidak mau melihat engkau ditangkap. Kau tahu, Bouw Koksu akan berusaha keras untuk mencari dan menangkapmu. Tepat seperti yang kuduga, tentu dia ingin menangkapmu supaya dapat menjatuhkan semua kesalahan kepadamu, menceritakan bahwa engkau yang meracuni kaisar sehingga dia dan An Kong bebas dari tuduhan."

"Akan tetapi aku dapat membantah dan mengatakan bahwa merekalah yang menyuruhku. Aku tidak takut, twako. Selama engkau di sampingku, aku tidak takut apa pun!"
"Aku berjanji akan membantumu dengan taruhan nyawaku, Bi-moi. Akan tetapi sungguh tidak bijaksana kalau kita menggunakan kekerasan melawan musuh yang jauh lebih kuat dari pada kita. Sekarang belum tiba saatnya kita melawan dengan kekerasan. Kita tunggu waktunya. Setidaknya sekarang musuh yang paling berbahaya, An Lu Shan, sudah tidak ada. Kalau kita sudah berhasil menyusun kekuatan, kurasa bukan hal yang terlampau sulit untuk menghancurkan kekuatan Pangeran An Kong dan Bouw koksu."

Sejak tadi Kui Lan melihat sikap adiknya dan sikap panglima itu, dan dia merasa hatinya tertusuk. Maka tahulah dia bahwa adiknya sangat mencinta panglima itu dan agaknya Sia Su Beng juga rnencintai adiknya. Dia harus melepaskan harapannya, dia harus mengalah terhadap adiknya.

"Bi-moi, ucapan Sia-ciangkun tadi benar sekali. Kita tidak boleh menggunakan kekerasan saja dan nekat tanpa perhitungan. Kita harus menaati semua petunjuk Sia-ciangkun yang lebih berpengalaman dan lebih mengetahui keadaan. Katakan, ciangkun, apa yang harus kami lakukan sekarang?"

Sia Su Beng memandang kepada Souw Hui San. Dia tentu saja mengenal Kui Lan dan Ji Siok dan percaya terhadap mereka, akan tetapi baru sekarang dia melihat pemuda yang tersenyum-senyum itu. Melihat pandangan mata Sia Su Beng, Souw Hui San melangkah maju.

"Ciangkun, telah lama aku mendengar nama besarmu dan mengagumimu. Namaku Souw Hui San dan Paman Ji mau pun nona Yang Kui Lan tentu berani menanggung bahwa aku adalah seorang rekan seperjuangan sehingga tidak perlu kau curigai."
"Benar sekali, Sia-ciangkun, Souw-toako ini adalah sahabat baik yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawaku dari tangan Bouw Ki dan kaki tangannya," kata Kui Lan.
"Kami pun berani bertanggung jawab bahwa dia adalah seorang pejuang sejati, ciangkun," kata pula Ji Siok.
"Dia murid Gobi-pai yang berilmu tinggi,” tambah pula Kui Lan.

Sia Su Beng mengangguk-angguk, ”Bagus kalau begitu, hatiku lebih tenteram karena baik Lan-moi mau pun Bi-moi mendapatkan pengawal yang dapat diandalkan. Malam ini juga kalian bertiga harus keluar dari kota raja, karena mulai besok seluruh rumah di kota raja akan digeledah. Bouw Koksu bersikeras untuk menangkap Bi-moi."

"Tetapi bagaimana kami dapat keluar dari kota raja, ciangkun?" tanya Hui San. "Dengan terjadinya peristiwa ini, tentu Bouw Koksu akan mengerahkan pasukannya untuk menjaga seluruh pintu gerbang dan akan memeriksa setiap orang yang lewat, apa lagi yang akan ke luar pintu gerbang."

Panglima itu menunjuk buntalan yang tadi dibawanya, yang sejak tadi sudah diletakkan di atas meja.

"Aku sengaja membawa tiga stel pakaian tentara. Tadinya kubawakan untuk nona Yang Kui Lan, Bi-moi dan Paman Ji Siok untuk mereka pakai. Aku yang akan mengatur kalian keluar kota raja dengan aman. Aku tidak tahu bahwa di sini terdapat Saudara Souw Hui San."
"Ciangkun, sebaiknya saya berada di sini saja. Saya memiliki hubungan baik dengan para panglima dan pejabat. Andai kata mereka melakukan penggeledahan di sini pun, mereka tidak akan menemukan apa-apa. Tidak seorang pun yang dapat menduga bahwa kedua orang nona ini pernah berada di rumah ini, ciangkun. Karena itu sebaiknya kalau pakaian untukku itu dipakai oleh Hui San dan saya akan tetap tinggal di sini menjadi penghubung bagi para kawan sambil melihat keadaan."
"Baiklah kalau begitu, Paman Ji. Akan tetapi berhati-hatilah, karena Bouw Koksu adalah seorang yang lihai, cerdik dan kejam," kata Sia Su Beng.

Sementara itu tanpa diperintah lagi Kui Lan, Kui Bi dan Hui San sudah cepat mengenakan pakaian tentara. Yang dipakai kedua orang gadis itu pas, hanya kebesaran sedikit karena memang Sia Su Beng sudah memilihkan yang paling kecil, akan tetapi yang dipakai Hui San agak kekecilan, terutama pada bagian dada.

Tidak lama kemudian Sia Su Beng sudah memimpin dua losin prajurit berkuda menuju ke pintu gerbang sebelah barat. Para penjaga dan komandan mereka tentu saja tidak berani menghalangi, justru memberi hormat kepada Sia Su Beng, apa lagi ketika dengan singkat Sia Su Beng memberi tahu bahwa dia bersama pasukannya akan melakukan pengejaran ke luar kota terhadap kawanan pembunuh kaisar, maka mereka semua gembira karena merasa yakin bahwa kalau panglima yang lihai ini yang melakukan pengejaran, tentu akan berhasil.

Pasukan itu terus menjalankan kuda sampai jauh meninggalkan kota raja. Setelah malam lewat dan matahari mulai memuntahkan cahayanya di langit timur, barulah Sia Su Beng memberi isyarat agar pasukannya berhenti dan beristirahat, juga membiarkan kuda-kuda mereka makan dan minum. Ia sendiri mengajak Kui Lan, Kui Bi dan Hui San menjauhkan diri, kemudian mengajak mereka bercakap-cakap.

"Nah, sekarang kurasa kalian bertiga sudah aman untuk melanjutkan perjalanan ke barat, menyusul rombongan Sribaginda Kaisar Beng Ong di Se-cuan."
"Terima kasih, ciangkun. Engkau memang hebat dan cerdik sekali. Mulai sekarang biarlah aku yang akan mengawal kedua enci dan adik ini sampai mereka tiba di Se-cuan dengan selamat," kata Hui San penuh semangat.
”Aku pun mengucapkan terima kasih kepadamu, Sia­ciangkun," kata Kui Lan, kini sengaja menyebut ciangkun kepada panglima muda itu. Dia tidak bisa lagi bersikap akrab kepada panglima yang pernah dikaguminya itu sesudah mengetahui bahwa ternyata panglima itu akrab sekali dengan adiknya.

"Engkau sudah menyelamatkan adikku, juga berhasil membawa kami bertiga keluar dari kota raja dengan selamat."
"Tidak, aku tidak mau pergi!" tiba-tiba saja Kui Bi berkata sambil mendekati Sia Su Beng. "Twako, bagaimana mungkin aku pergi bila engkau masih tinggal di kota raja? Tidak, aku bukan pengecut yang bisa pergi begitu saja. Aku tidak mau pergi. Kalau engkau kembali ke kota raja, aku pun harus kembali ke sana!"

"Bi-moi, jangan bicara begitu,” kata enci-nya. "Kita bukan pengecut kalau pergi dari kota raja. Kita bukan sekedar melarikan diri karena takut, tetapi kita akan bergabung dengan kakak Cin Han di sana. Sia-ciangkun harus kembali ke kota raja di mana dia bertugas dan kita harus berbagi pekerjaan, yaitu kita membantu pasukan Sribaginda dan Sia-ciangkun membantu dari dalam.”
"Benar, Bi-moi. Jasamu sudah cukup besar dengan membunuh An Lu Shan. Sementara ini engkau memang harus meninggalkan kota raja."
"Sekali lagi tidak, twako. Aku harus ikut engkau kembali ke kota raja untuk membantumu. Bahaya kita tempuh bersama. Apa bila engkau tidak mau menyelundupkan aku ke dalam kota raja, aku dapat menyusup sendiri," kata Kui Bi dengan nekat.

Gadis yang keras hati ini tahu benar bahwa kalau dia harus berpisah dari pria yang amat dikasihinya ini, maka hatinya akan selalu merasa sengsara karena pria itu berada di kota raja, tempat yang amat berbahaya dengan segala pergolakannya.

Sia Su Beng menghela napas panjang, bukan karena penyesalan, melainkan karena lega dan senang. Dia sendiri sudah jatuh cinta kepada Kui Bi dan dia sedang merencanakan cita-cita besar. Akan lebih mantap hatinya kalau dia dekat dengan gadis yang dikasihinya, apa lagi dia memang membutuhkan tenaga seorang gadis perkasa seperti Kui Bi.

"Baiklah, Bi-moi. Bila itu kehendakmu, engkau boleh ikut aku kembali ke kota raja dengan menyamar sebagai prajurit."

Bukan main girangnya hati Kui Bi. Sambil memegangi kedua tangan panglima itu, dia lalu berseru, "Koko, terima kasih! Aku akan membantumu dengan taruhan nyawaku!" lalu dia menghampiri dan merangkul enci-nya.
"Enci Lan, bila engkau bertemu dengan kakak Cin Han, ceritakan semuanya, bahwa aku berada di kota raja membantu perjuangan dari dalam bersama Sia-koko." Kemudian dia menambahkan bisikan di dekat telinga enci-nya, "Enci, aku cinta padanya…"

Kui Lan mencium pipi adiknya dan matanya menjadi basah. Dia terharu dan juga bahagia bahwa adiknya telah menemukan cintanya. Dia mengenal adiknya yang berhati keras dan sekali jatuh cinta maka dia akan mempertahankannya mati-matian.

"Pergilah, adikku. Kita akan berkumpul kembali dalam keadaan yang lebih baik."

Sia Su Beng lalu membawa pasukannya kembali. Pasukan itu kini sudah berkurang dua orang, tinggal dua puluh dua orang. Akan tetapi Sia Su Beng tidak membawa pasukannya langsung pulang ke kota raja, melainkan mengajak mereka menyerbu sebuah bukit kecil penuh hutan yang dia tahu benar merupakan sarang gerombolan perampok.

Gerombolan perampok yang diserbu dengan tiba-tiba itu menjadi panik. Mereka mencoba melakukan perlawanan, akan tetapi Sia Su Beng dan Yang Kui Bi mengamuk sehingga para perampok terdesak, banyak yang tewas atau terluka dan sisanya melarikan diri. Sia Su Beng menawan empat orang anggota perampok yang terluka dan bersama Kui Bi dia mengajak empat orang ini ke pinggir.

"Sekarang terserah kepada kalian, masih ingin hidup ataukah memilih mati. Kalau kalian ingin hidup, setelah tiba di kota raja kalian harus menaati perintahku," kata Sia Su Beng.

Empat orang perampok yang luka-luka ringan itu tentu sudah menganggap bahwa mereka akan dibunuh. Kini mendengar bahwa ada harapan bagi mereka untuk tinggal hidup, tentu saja mereka cepat menyambar harapan itu, betapa pun kecilnya.

"Kami minta hidup, ciangkun!" kata mereka.
"Baiklah. Mulai sekarang kalau ada orang bertanya, siapa pun dia, kalian harus mengakui bahwa kalian adalah kaki tangan Bouw Koksu dan kalian mendapat perintah serta tugas dari Bouw Koksu untuk membunuh kaisar."
"Wah, kalau begitu kami tentu akan dihukum berat!"
"Tidak, kami yang akan melindungi dan membebaskan kalian dari hukuman. Akan tetapi kalau kalian tidak mau, sekarang juga kalian akan kami bunuh. Bagaimana?"

Terpaksa empat orang itu menyanggupi dan Sia Su Beng memberi tahu apa yang harus mereka jawab kalau datang pertanyaan-pertanyaan tentang usaha pembunuhan kaisar An Lu Shan. Mereka diberi tahu nama-nama kaki tangan Bouw Koksu yang bekerja di dapur, juga yang menjadi dayang dan yang menjadi thaikam. Mereka harus menghafalkan semua jawaban itu.

Dalam perjalanan menuju ke kota raja, Sia Su Beng diam­diam menyuruh beberapa orang prajuritnya menguji keempat orang itu, mengajukan pertanyaan di luar tahu Sia Su Beng. Ada yang bertanya sambil menggertak dan mengancam, ada pula yang bertanya dengan bujukan dan janji hadiah dan kebebasan.

Di antara empat orang itu ternyata hanya ada dua orang yang tetap mengatakan bahwa mereka adalah kaki tangan Bouw Koksu, sedangkan yang dua orang lagi ragu-ragu. Maka tanpa banyak cakap lagi, di depan dua orang yang lain, Sia Su Beng membunuh mereka dengan pedangnya! Hal ini tentu saja membuat dua orang anggota perampok itu menjadi semakin ketakutan sehingga mereka bertekad hendak menaati perintah panglima itu, apa pun yang terjadi nanti pada diri mereka.

Kui Bi dapat memaklumi kekejaman Sia Su Beng yang membunuh dua orang perampok itu, karena jika mereka dibebaskan, mereka tentu akan membocorkan rahasia siasat yang sedang dilakukan Sia Su Beng.

Pada sore harinya pasukan yang membawa dua tawanan itu memasuki pintu gerbang dan Sia Su Beng segera mengundang para panglima agar datang ke markasnya. Kemudian ia mengadakan pertemuan rahasia dengan para panglima, baik panglima yang mendukung An Lu Shan mau pun para panglima yang diam-diam secara rahasia mendukung Kerajaan Tang. Hanya panglima-panglima yang menjadi kaki tangan Bouw Koksu dan Pangeran An Kong saja yang tidak diundang dalam rapat rahasia itu.

Oleh karena semua orang masih dalam keadaan tegang dan panik akibat kematian An Lu Shan, para panglima itu bergegas datang karena mereka maklum bahwa tentu ada berita penting yang akan disampaikan Panglima Sia Su Beng yang selain menjadi kepercayaan An Lu Shan juga agaknya dekat dengan Bouw Koksu itu.

"Para rekan panglima yang terhomat, saya mengundang anda sekalian berkumpul untuk menyampaikan berita yang teramat penting dan juga tentu akan mengejutkan hati cu-wi (anda) sekalian. Berita itu ada kaitannya dengan kematian Sribaginda yang keracunan..."

Dia sengaja berhenti sebentar untuk memberi tekanan pada ucapannya tadi. Benar saja, semua panglima yang jumlahnya tujuh orang itu menjadi amat tertarik lalu dengan gaduh mereka pun bertanya apa yang telah terjadi dan apakah berita itu.

"Ketika terjadi peristiwa kematian Sribaginda kemarin malam, saya mendapat keterangan dari para penyelidik saya bahwa pelaku pembunuhan dapat melarikan diri keluar kota raja. Kemudian mereka bergabung dengan kawan-kawan mereka, yaitu gerombolan perampok di Bukit Bambu Kuning. Malam tadi juga saya langsung membawa dua losin prajurit untuk melakukan pengejaran. Tadi pagi kami berhasil menyerbu, menewaskan beberapa orang dan menawan dua orang, meski dua orang prajurit kami gugur. Dari pengakuan dua orang tawanan kami itu, ternyata bahwa mereka adalah kaki tangan Bouw Koksu dan Pangeran An Kong. Mereka hanya menerima perintah dari kedua orang itu yang mengatur semua rencana untuk meracuni kaisar."

"Ahhhh…!" Para panglima itu mengeluarkan seruan kaget dan juga heran.
"Bagaimana mungkin itu? Bouw Koksu adalah seorang kepala suku Khitan yang berjasa dan telah mendapat anugerah Kaisar dengan pangkat tertinggi sebagai Guru Negara. Ada pun Pangeran An Kong, untuk apa dia membunuh ayahnya sendiri? Bagaimana pun juga, kelak dialah yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya," beberapa orang meragu.

"Kalau tidak mendengar sendiri dari tawanan anak buah gerombolan itu, tentu kami sendiri pun takkan percaya," kata Panglima Sia Su Beng. "Akan tetapi hendaknya diingat bahwa memang telah terjadi ketegangan antara Kaisar dan Pangeran An Kong. Pertama urusan perebutan selir itu, dan kedua, permintaan pangeran yang tergesa ingin diangkat menjadi Pangeran Mahkota. Bagaimana pun juga, sebaiknya kalau kita bersama mendengarkan sendiri keterangan dua orang tawanan itu."

Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyeret kedua orang tawanan itu ke dalam ruangan rapat. Tidak lama kemudian dua orang tawanan itu didorong masuk dan mereka cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut dengan wajah pucat ketakutan begitu melihat para panglima memandang kepada mereka dengan sinar mata penuh selidik.

"Heiii, sekarang di depan para panglima ini kalian berdua harus menjawab dengan benar. Kalau tidak maka kalian akan disiksa sampai mati!" bentak Sia-ciangkun..
"Coa-ciangkun, harap suka mengajukan pertanyaan kepada mereka," kata Sia-ciangkun kepada seorang panglima tinggi besar yang terkenal setia kepada An Lu Shan dan yang paling meragukan keterangannya tadi.

Coa-ciangkun adalah panglima tinggi besar yang berwatak keras. Dia duduk menghadapi dua orang yang berlutut itu dan membentak, "Angkat muka kalian dan pandang padaku!"

Dua orang anak buah gerombolan perampok itu mengangkat muka mereka memandang dan wajah mereka menjadi ketakutan, jelas terbayang dari mata mereka yang terbelalak liar. Padahal biasanya mereka adalah para perampok yang amat ganas, mudah menyiksa dan membunuh orang sambil tertawa.

Kini nampak jelas bahwa orang-orang yang suka berbuat kejam itu pada dasarnya adalah orang-orang yang pengecut dan penakut kalau berhadapan dengan kekuasaan yang lebih besar, kalau berada dalam ancaman maut.

"Ampun, ampunkan kami, thai-ciangkun...," mereka meratap.
"Ceritakan, apa yang sudah kalian lakukan sehubungan dengan kematian Kaisar?! Jawab sejujurnya atau kupatahkan kaki tanganmu!"

Dua orang anggota perampok itu gemetar. Mereka memandang kepada panglima Sia Su Beng dan panglima ini segera membentak, "Hayo cepat jawab dan ceritakan seperti yang sudah kalian ceritakan kepadaku!"

"Ampun, ciangkun…, kami... kami hanya diperintah. Kami diperintah untuk menghubungi rekan-rekan kami di dapur istana, untuk menyerahkan sebungkus racun dan menaruhnya di masakan khas kegemaran Sribaginda. Ampun… kami hanya melaksanakan perintah."
"Perintah dari siapa?!" bentak Coa-ciangkun.
"Perintah... perintah Bouw Koksu dan Pangeran…"
"Siapa saja rekan-rekan kalian yang menjadi anak buah Bouw Koksu dan bekerja di dekat Sribaginda? Jawab?!" Kini Sia Su Beng yang membentak.

Secara bergantian kedua orang itu menyebutkan nama beberapa orang dayang, thaikam dan juru masak yang menjadi kaki tangan Bouw Koksu dan telah diselundupkan ke dalam istana, seperti yang sudah mereka hafalkan dari pemberi tahuan Sia Su Beng.

Para panglima menjadi marah sekali. Kini keraguan mereka mulai menipis.

"Jahanam busuk! Kalian sudah berani melaksanakan perintah Bouw Koksu dan Pangeran untuk meracuni Sribaginda!" Sia Su Beng membentak marah sekali.
"Ampun... hamba berdua hanya melaksanakan perintah... hamba mohon ampun...”
"Keparat!" Tiba-tiba tangan Sia Su Beng bergerak. Dua orang itu terpelanting roboh lantas tewas seketika karena kepala mereka telah menerima pukulan maut panglima itu. Semua panglima terkejut.
"Ahh, mengapa engkau membunuh mereka, Sia-ciangkun? Bukankah mereka itu menjadi saksi dan bukti bahwa pembunuhan itu direncanakan oleh Bouw Koksu dan Pangeran?" Para panglima menegur
"Hemm, untuk apa menyiarkan rahasia busuk ini kepada orang luar? Bukankah itu hanya akan memalukan saja? Pangeran yang kita anggap sebagai calon pengganti Kaisar kelak, ternyata adalah orang anak yang tega membunuh ayah sendiri! Dan Bouw Koksu ternyata adalah seorang hamba pengkhianat dan tidak setia. Bagaimana kita dapat membiar berita busuk ini terdengar orang?"
"Tapi besok pagi Pangeran An Kong akan mengumumkan bahwa dia menjadi Kaisar baru menggantikan Sribaginda yang wafat!" kata Coa-ciangkun.
"Coa-ciangkun, apakah kita akan membiarkan saja hal itu terjadi? Bagaimana mungkin kita membela seorang kaisar yang tega membunuh ayah kandung sendiri? Kalau dia tega terhadap ayah kandung sendiri, apa lagi terhadap kita orang-orang lain. Selama kita dapat dipergunakan, dia akan bersikap baik, tetapi sesudah kita tidak dibutuhkan, tentu kita pun akan dibunuh dengan kejam seperti yang dia lakukan terhadap ayahnya."

Mendengar ucapan Sia Su Beng itu, semua panglima menjadi tertegun. Sekarang mereka dapat melihat alangkah suramnya masa depan mereka kalau pangeran An Kong dibiarkan menjadi kaisar. Apa lagi di antara para panglima itu banyak yang berdarah Han. Karena pendukung utama Pangeran An Kong adalah Bouw Koksu, tentu orang Khitan inilah yang akan memegang peranan penting, dan mereka semua hanya akan menjadi bawahannya saja.

"Benar! Kita tidak boleh membiarkan Pangeran durhaka itu menjadi kaisar!" akhirnya Coa-ciangkun berkata.

Semua panglima setuju. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Sia-ciangkun?"

"Kalau cu-wi ciangkun percaya kepadaku, serahkan saja urusan ini kepadaku. Aku yang akan bertindak mencegah pangeran menjadi kaisar."
"Tentu saja kami percaya kepadamu, Sia-ciangkun. Akan tetapi bagaimana jika pasukan pendukung pangeran menggunakan kekerasan?"
"Kita hadapi mereka. Kita harus mempersiapkan pasukan secara diam-diam, membuat barisan mengepung istana, menjaga bila mereka hendak menggunakan kekerasan," kata Sia­ciangkun dan semua orang setuju.

Demikianlah, dengan amat cerdiknya Sia Su Beng telah berhasil membuat para panglima menentang Pangeran An Kong dan Bouw Koksu, bahkan menunjuk dia sebagai panglima pimpinan…..

********************
"Ehh? Mengapa melamun dan memandang saja ke arah perginya Sia-ciangkun bersama pasukannya? Wah, agaknya kau merasa kehilangan sesudah ditinggalkan panglima yang gagah itu, ya?" Hui San menggoda.

Kui Lan membalik, lantas memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata marah. "Souw-twako, aku tahu bahwa engkau hanya main-main, akan tetapi jangan keterlaluan kalau main-main. Engkau tahu sendiri betapa adikku Kui Bi saling mencinta dengan Sia-ciangkun, bagaimana engkau sekarang berani menggodaku seperti itu?"

"Maaf, seribu kali maaf, Lan-moi. Tadi aku aku hanya main-main. Habis, engkau nampak melamun seperti itu, bukannya cepat-cepat mulai melakukan perjalanan kita yang sangat jauh ke barat!"

Karena pemuda itu minta maaf dengan wajah yang sungguh-sungguh untuk menyatakan penyesalannya, Kui Lan yang lembut hati sudah melupakan singgungan itu.

"Twako, aku tidak akan pergi ke barat."
"Ehh?" Wajah yang tadinya penuh senyum itu kini terbelalak dan melongo.
"Apa maksudmu? Kenapa, Lan-moi?"

Di dalam sinar mata pemuda itu terbayang sesuatu yang membuat hati Kui Lan mengkal lagi. Pandang mata cemburu!

"Kenapa kau masih bertanya lagi? Twako, bagaimana mungkin aku pergi dan membiarkan adikku sendirian saja kembali ke kota raja?"
"Aihh, bukankah kita semua sudah membagi tugas, Lan­moi? Dan adikmu tidak kembali ke sana sendirian, melainkan bersama Sia-ciangkun yang dicintanya. Sia-ciangkun akan melindunginya, maka kukira engkau tidak perlu khawatir."

"Bukan hanya karena adikku Kui Bi saja, twako. Juga kita tidak mungkin pergi ke barat dengan meninggalkan sesuatu yang teramat penting. Apakah engkau lupa bahwa Mestika Burung Hong Kemala masih berada di kebun rumah yang sekarang ditempati oleh Bouw Koksu? Hanya kita berdua yang mengetahui tempat itu, bagaimana mungkin kita berdua pergi meninggalkan pusaka itu di sana? Tidak, twako. Sebaiknya kita membagi tugas lagi. Engkau saja yang pergi ke barat dan melapor kepada Sribaginda dan kakakku Cin Han, sedangkan aku akan kembali ke kota raja. Kalau ada kesempatan, aku akan mengambil Mestika Burung Hong Kemala itu dan setelah aku mendapatkan pusaka itu, barulah aku akan menyusul ke barat. Apa artinya kita menghadap Sribaginda di barat kalau kita tidak membawa pusaka itu?"

Hui San mengerutkan alisnya, wajahnya yang tampan kehilangan kecerahannya. Sejenak kemudian dia mengangguk-angguk, "engkau memang seorang gadis yang sangat hebat, Lan-moi. Engkau cantik jelita, lembut, lihai dan juga cerdik bukan main. Aku benar-benar kagum! Mari kita kembali ke kota raja. Engkau benar sekali!"

"Kita? Maksudku kita membagi tugas, engkau tetap melanjutkan perjalanan ke barat dan aku kembali ke kota raja..."
"Tidak mungkin aku membiarkan engkau kembali seorang diri ke kota raja, Lan-moi. Aku belum sinting! Ke mana pun engkau pergi, aku harus menemani, Lan-moi... yaitu... kalau engkau suka tentu saja. Aku tidak ingin engkau terancam bahaya, hidupku tidak akan beres lagi kalau kita berpisah dan aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu."

Kui Lan menatap wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dan selalu nampak riang, dihias senyum yang sukar meninggalkan bibir itu, dan sepasang mata yang selalu memandang jenaka, wajah yang nampaknya tidak bisa susah, tidak bisa marah dan tidak bisa serius. Baru sekarang, atau sejak hatinya melepaskan Sia Su Beng karena perwira itu mencinta dan dicinta adiknya, dia memperhatikan pemuda ini.

"Souw-twako, kita baru saja berkenalan, kenapa engkau begini memperhatikan aku?"
"Baru berkenalan? Aihh, Lan-moi, semenjak aku berpura-pura sinting menganggu dahulu itu, aku merasa sudah mulai mengenalmu dengan baik, dan biar pun akhirnya kita belum berkenalan, namun dalam batinku, engkau telah menjadi seorang sahabatku terbaik."
"Tapi mengapa engkau begini mempedulikan aku, mengkhawatirkan keselamatanku? Kita tidak mempunyai kaitan apa pun, hanya orang lain dan tidak ada hubungan apa-apa..."
"Lan-moi, bukankah kita sama-sama berjuang untuk kebangkitan kembali kerajaan Tang? Kita seperjuangan! Walau pun bagimu di antara kita tidak ada kaitan apa pun, bagiku ada kaitan yang erat sekali. Lan-moi, maafkan aku bila aku berterus-terang kepadamu. Sejak aku melihatmu, aku aku tahu bahwa hidupku tidak ada artinya lagi tanpa adanya engkau di dekatku. Aku... agaknya seperti inilah rasanya cinta seperti yang pernah kubaca dalam dongeng, yakni kalau boleh aku lancang mulut mengaku cinta padamu..."

Pemuda yang biasanya lincah jenaka dan pandai bicara itu kini mendadak saja menjadi gagap gugup dan salah tingkah, bahkan tidak berani memandang langsung kepada gadis itu!

Melihat ini Kui Lan lantas tersenyum geli. Betapa mudahnya untuk menyukai pemuda ini, pikirnya. Memang tidak seperti Sia Su beng yang gagah dan berwibawa, juga mempunyai kekuasaan. Akan tetapi Souw Hui San ini tidak kalah tampan walau nampak ugal-ugalan dan sederhana. Juga ia merasa yakin bahwa dalam hal ilmu silat, pemuda murid Gobi-pai ini tak kalah lihai dibandngkan Sia Su Beng. Akan tetapi baru saja dia seperti kehilangan Sia Su Beng, mengalah terhadap adiknya, bagaimana dia dapat begitu cepat membalas cinta seorang pemuda ini?

"Souw-twako, engkau adalah seorang yang gagah dan baik sekali, bahkan telah berulang kali menolongku. Terima kasih atas perhatianmu kepadaku. Tapi, twako, dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana tugas menanti kita, bagaimana kita dapat berbicara tentang perasaan hati pribadi kita? Maafkan kalau aku belum dapat menanggapi dan menjawabmu sekarang. Akan tetapi aku senang sekali bekerja sama denganmu, twako. Kalau memang engkau menghedaki kita kembali bersama ke kota raja, demi adikku dan demi pusaka itu, maka aku pun akan merasa senang sekali."

Wajah itu menjadi segar kembali, sepasang matanya berkilat dan bersinar-sinar, mulutnya dihiasi senyumnya yang riang. "Wahh, apa lagi yang kuinginkan? Kalau memang engkau tidak marah oleh ucapanku tadi, dan kalau engkau membiarkan aku menemanimu, hal itu sudah merupakan berkah yang membahagiakan hatiku, Lan-moi. Engkau benar, aku yang lancang mulut, belum tiba saatnya kita bicara mengenai... ehh, itu...! Mari kita kembali ke kota raja!"

Akan tetapi tiba-tiba saja mereka menghentikan percakapan dan memandang arah barat. Telinga mereka menangkap derap kaki kuda yang datangnya dari arah barat. Tidak lama kemudian, muncul dari balik tikungan jauh di depan, nampak dua orang penunggang kuda sedang membalapkan kuda mereka. Debu mengepul tinggi ketika dua ekor kuda besar itu semakin mendekat.

"Heiii… itu Han-koko!" kata Kui Lan.
"Benar, dan bukankah itu nona Can Kim Hong?" teriak pula Hui San. 

Karena tadinya mereka sengaja bersembunyi di balik pohon karena curiga dan belum tahu siapa yang datang, kini mereka pun cepat keluar lalu berteriak-teriak memanggil.

"Han-koko! Heii, Han-koko..!”
"Nona Kim Hong...!"

Mendengar panggilan mereka, dua orang penunggang kuda yang tadinya sudah lewat itu cepat menahan kuda yang sedang membalap. Kuda berhenti dengan mengangkat kedua kaki depan ke atas sambil meringkik sebab penunggangnya menahan tali kendali. Mereka membalik dan melihat Kui Lan dan Hui San.

"Lan-moi...! Saudara Hui San...!" Cin Han berseru gembira melihat mereka berdua.

Dia dan Kim Hong segera berlompatan turun dari atas kuda, menambatkan kuda di pohon kemudian mereka pun disambut oleh Hui Lan dan Hui San dengan gembira sekali. Empat muda-mudi itu kini sudah duduk di atas batu di tepi jalan itu.

"Eh, kenapa kalian berdua berada di sini? Dan mana Kui Bi? Apa saja yang terjadi di kota raja?" Cin Han bertanya.

Dihujani pertanyaan seperti itu, Kui Lan pun tersenyum. "Wah, banyak sekali yang terjadi di sana, koko. Tadi baru saja Bi-moi ikut pasukan Sia-ciangkun kembali ke kota raja, dan kami pun hendak kembali ke sana. Kau tahu, Han-ko, Bi-moi telah berhasil membunuh An Lu Shan!"

"Ahhh...!" Kim Hong dan Cin Han berseru hampir berbareng karena mereka terkejut dan juga gembira mendengar berita itu.
"Bukan main adik kita itu! Ia memang penuh keberanian. Ceritakan, bagaimana terjadinya, Lan-moi?" tanya Cin Han.

Kui Lan dan Hui San lalu menceritakan tentang semua yang terjadi, betapa Kui Bi berhasil menyusup sebagai dayang, kemudian ia malah dipergunakan oleh Pangeran An Kong dan Bouw Koksu untuk meracuni An Lu Shan. Kemudian mereka menuturkan betapa mereka semua bisa diselundupkan keluar dari kota raja dengan menyamar sebagai prajurit­prajurit dalam pasukan Sia Su Beng.

"Ah, bagus sekali kalau begitu! Dan di mana Bi­moi sekarang? Aku ingin memberi selamat atas keberhasilannya!" kata Cin Han gembira dan bangga karena adiknya sudah berhasil membunuh An Lu Shan, hal ini merupakan suatu jasa yang amat besar.
"Setelah pasukan yang dipimpin Sia Su Beng sampai di sini dan kami dianjurkan pergi ke barat, Bi-moi tidak mau ikut dengan kami dan memaksa hendak ikut Sia Su Beng kembali ke kota raja. Kau tahu, koko, adik kita itu tidak dapat berpisah dari Sia Su Beng, mereka berdua saling mencinta.”

Cin Han mengangguk-angguk. Ia tak merasa heran. Sia Su Beng adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, juga seorang pendekar dan seorang pejuang yang setia kepada Kerajaan Tang. Sudah sepantasnya kalau pemuda seperti itu mendapatkan kasih sayang Kui Bi.

"Dan kalian hendak melakukan jalan ke barat?'" tanyanya sambil memandang kepada Hui San.

Kui Lan memandang kepada Hui San dan pemuda ini yang menjawab sambil tersenyum.

"Tadinya memang kami akan menyusul ke barat, akan tetapi kami berdua lalu mengambil keputusan untuk kembali saja ke kota raja setelah keadaan aman. Pertama, adik Kui Lan tidak tega meninggalkan adiknya di kota raja yang masih berbahaya ini, dan ke dua, kami juga tidak mungkin meninggalkan Mestika Burung Hong Kemala yang kami sembunyikan itu. Kami harus mengambilnya dulu dan mengeluarkannya dari kota raja."

"Kalau begitu bagus sekali. Kami juga hendak ke kota raja. Kita semua harus membantu Sia-ciangkun dan juga adik Kui Bi," kata Cin Han.
"Koko, bagaimana engkau dan enci Kim Hong dapat cepat kembali ke sini? Bagaimana keadaan di barat sana?" tanya Kui Lan dan sekarang giliran Cin Han dan Kim Hong yang menceritakan pengalaman mereka.

"Di sana juga telah terjadi banyak hal, tetapi yang paling penting adalah bahwa sekarang Sribaginda Hsuan Tsung telah menyerahkan mahkota kaisar kepada Pangeran Mahkota, sehingga yang menjadi kaisar adalah Kaisar Su Tsung. Kami telah menghadap kaisar dan bertemu dengan Panglima Kok Cu It. Kami melaporkan semua yang sudah terjadi di kota raja. Biar pun Panglima Kok Cu It juga sudah banyak mendengar laporan dari para mata-mata yang dikirim ke sana, tetapi laporan kami banyak gunanya, terutama tentang usaha Bi-moi menyusup ke istana untuk membunuh An Lu Shan. Kaisar dan panglima Kok amat menghargai bantuan kita.”

"Bagaimana dengan kekuatan pasukan kerajaan Tang di barat?" tanya Hui San.
"Baik sekali, Panglima Kok Cu It dan Kaisar telah berhasil menghimpun kekuatan di sana. Dengan menunjukkan Mestika Burung Hong Kemala, yang kita ketahui adalah palsu akan tetapi tidak diketahui oleh para kepala suku di barat, mereka berhasil mendapat bantuan rakyat berbagai suku. Baik pribumi Han sendiri, mau pun suku-suku lain, dibantu pula oleh bangsa Turki. Bahkan ada pasukan yang dikirim oleh kepala bangsa itu, yaitu Caliph yang mengirimkan sepasukan bangsa Arab untuk membantu gerakan pasukan Kerajaan Tang yang hendak merebut kembali tahta kerajaan yang telah dirampas An Lu Shan."

"Ahh, bagus sekali kalau begitu, kapan mereka bergerak?" tanya Hui San.
"Mereka sudah siap bergerak, oleh karena itu kami diperintahkan untuk mendahului agar dapat mempersiapkan bantuan bersama Sia-ciangkun.”
"Enci Hong, bagaimana dengan usahamu mencari ayah kandungmu? Apakah berhasil?" tanya Kui Lan.

Kim Hong tersenyum manis dan mengerling kepada Cin Han. "Berkat bantuan kakakmu, aku berhasil bertemu dengan ayah kandungku yang asli. Ayahku memang bernama Can Bu dan sampai kini dia masih seorang perwira kepercayaan Panglima Kok Cu It."

"Wah, ayahnya seorang perwira yang gagah perkasa, sama sekali tidak seperti Ciang Kui yang mengaku-aku ayahnya itu!" kata Cin Han tertawa. "Ayahnya seorang perwira yang lihai, juga setia kepada kerajaan. Aku ikut merasa bangga dan kagum dapat bertemu dan berkenalan dengan ayahnya"
"Maksudmu dengan calon ayah mertuamu, koko?" Kui Lan menggoda.
"Ihhh, Kui Lan!" Kim Hong mendengus dan mukanya berubah kemerahan.

Cin Han hanya tersenyum sambil mengeling ke arah Hui San. Biar pun dia belum jelas, namun dia dapat menduga bahwa adiknya ini pun agaknya akrab dengan pendekar muda Gobi-pai ini. Namun dia tahu bahwa watak Kui Lan halus dan pendiam, tidak seperti Kui Bi, maka tidak baik menggoda adiknya yang satu ini.

"Sudahlah, sekarang kita berempat berangkat ke kota raja, tetapi harus diatur bagaimana baiknya karena sesudah terjadi peristiwa pembunuhan An Lu Shan, tentu di sana dalam keadaan geger dan kota raja pasti dijaga ketat sekali," kata Cin Han.
"Memang sebaiknya kita berhati-hati," kata Hui San. "Kita bersembunyi dulu di luar kota raja sambil mencoba untuk menghubungi Sia-ciangkun. Hanya dia yang dapat mengatur apa yang harus kita lakukan untuk membantunya di kota raja."
"Benar, tanpa petunjuk Sia-ciangkun maka sukarlah bagi kita untuk memasuki kota raja," kata Kui Lan.

Demikianlah, empat orang muda-mudi itu lalu menunggang kuda mereka menuju ke kota raja. Namun mereka tidak langsung memasuki kota raja yang terjaga ketat seperti yang mereka sangka, melainkan berhenti di sebuah dusun yang berada sekitar dua puluh li dari kota raja.

********************
Selanjutnya baca
MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-11
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger