logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pedang Awan Merah Jilid 02


Pada keesokan harinya, sesudah membersihkan badan di anak sungai yang airnya jernih, tak jauh dari kuil tua, Han Lin pun memasuki dusun. Tidak sukar baginya mencari tahu di mana rumahnya Ouw Ji Sun.

“Ahh, rumah Ouw-siucai? Itu, di ujung timur dusun,” kata seorang yang dia tanyai.

Dusun itu kecil saja dan sunyi sekali sehingga amat mengherankan mengapa seorang pria yang disebut siucai (pelajar) dapat tinggal di tempat yang sesunyi itu. Rumah di ujung itu pun terpencil, agak jauh dari tetangga.

Ketika Han Lin menghampiri rumah itu, dia mendengar suara gerakan orang bersilat yang datangnya dari belakang rumah itu. Dengan sangat hati-hati dia segera menghampiri dan melihat seorang pria sedang berlatih silat seorang diri. Orang itu mempergunakan senjata yang aneh, yaitu sebatang mouw-pit (pena bulu) bergagang panjang. Dia memperhatikan dan merasa yakin bahwa inilah orangnya yang dicarinya.

Usianya sekitar empat puluh lima tahun, wajahnya halus tanpa kumis dan jenggot, bentuk wajahnya bulat dan terang, matanya sipit namun cukup lebar dan daun telinganya besar. Wajah yang cukup tampan. Perawakannya juga gagah, tinggi besar, ada pun pakaiannya seperti pakaian sasterawan yang berlengan lebar.

Han Lin lalu memperhatikan gerakan silat orang itu. Ilmu silatnya jelas bersumber kepada ilmu silat Siauw-lim-pai, akan tetapi sudah bercampur dengan aliran lain. Hanya dasar dan gerakan kakinya saja yang menunjukkan ilmu silat Siauw-lim-pai. Gerakannya cukup gesit dan tusukan mouw-pit itu juga mengandung tenaga.

Han Lin membuat perbandingan dan tahulah dia bahwa Sim Ling Si tidak membual. Pria ini tidak akan pernah menang kalau bertanding melawan wanita itu, seperti juga wanita itu tidak akan pernah menang bila mengadu ilmu pengetahuan. Sebagai seorang siucai, tentu saja dia menimba banyak ilmu pengetahuan dari buku.

Sesudah orang itu selesai berlatih dan menghentikan gerakan silatnya, Han Lin bertepuk tangan memuji. “Ilmu silat yang bagus sekali!”

Orang itu membalikkan tubuhnya. Melihat seorang pemuda yang tidak dikenalnya berada di situ memuji permainan silatnya, dia pun agak tersipu.

“Aihhh, sobat muda. Aku baru belajar dan ilmu silatku masih rendah, bagaimana engkau memujinya? Belum berharga untuk dipuji.”

Mendengar ucapan itu dan melihat sikapnya, Han Lin merasa senang. Orang tinggi besar yang lembut ini ternyata seorang yang rendah hati, bukan dibuat-buat.

Dia lalu sengaja menyerang dengan kata-kata untuk menjajagi watak orang itu. “Engkau benar, bagaimana pun juga ilmu silatmu itu tidak akan pernah menang dibandingkan ilmu silat nona Sim Ling Si.”

Pria itu terbelalak, kaget dan heran, akan tetapi tidak menjadi marah seperti yang diduga Han Lin. “Engkau mengenal Sim Ling Si? Apa yang kau ketahui tentang dia?” tanyanya heran sekali.

Han Lin tersenyum. Hatinya merasa senang karena kalau orang ini berwatak buruk tentu sudah marah sekali mendengar ucapannya tadi.

“Aku tahu bahwa apa bila nona Sim Ling Si tidak dapat menebak dua teka-tekimu dalam waktu tiga bulan lagi, maka dia harus menerima pinanganmu. Akan tetapi kalau dia dapat menebak maka engkau harus mengalahkannya dalam ilmu silat. Seperti yang kusaksikan tadi, jangankan tiga bulan lagi, biar engkau belajar tiga tahun lagi pun engkau tidak akan menang melawannya, Ouw-toako.”
“Sobat muda, apakah engkau datang atas suruhan Sim Ling Si untuk mengejekku?” Ouw Ji Sun mengerutkan alisnya. “Bagaimana engkau bisa mengetahui namaku?”
“Sama sekali tidak, Ouw-toako. Aku tidak diutus oleh enci Ling Si, melainkan datang atas kehendakku sendiri. Engkau yang bernama Ouw Ji Sun, siucai yang meminang enci Ling Si dan memberinya soal hitungan dan catur, bukan?”

Ouw Ji Sun menjadi semakin heran. “Semua itu benar, sobat muda. Siapakah engkau dan apa sebenarnya maksud kedatanganmu?”

“Namaku Sia Han Lin dan kunjunganku ini tak lain dengan niat untuk menolongmu dalam perjodohanmu dengan nona Sim Ling Si.”

Ouw Ji Sun tertegun lalu tergopoh mempersilakan. “Kalau begitu sebaiknya kita bicara di dalam saja, Sia-te (Adik Sia),” katanya.

Han Lin mengangguk, kemudian mengikuti orang itu memasuki rumah dari pintu belakang. Melihat rumah itu cukup rapi dan sepi, Han Lin bertanya. “Apakah rumah ini kosong, tidak ada orang lain selain engkau, toako?”

“Benar, aku hanya hidup seorang diri dan sebatang kara. Sejak isteriku meninggal dunia lima tahun yang lalu tanpa meninggalkan anak, aku hidup seorang diri di dusun sunyi ini, mengajarkan ilmu membaca dan menulis kepada anak-anak di sini untuk mengisi waktu luangku. Mari silakan duduk, Sia-te.”

Mereka duduk di ruangan dalam, kemudian Ouw Ji Sun menyuguhkan sepoci teh. Setelah menuangkan teh pahit dan diminum tamunya, Ouw Ji Sun lantas berkata, “Nah, sekarang ceritakanlah apa dan bagaimana engkau hendak menolongku.”

“Kalau aku tidak salah duga, engkau sengaja memberikan dua soal yang sulit itu kepada enci Ling Si dengan tujuan agar selama setengah tahun ini engkau memiliki kesempatan untuk melatih ilmu silatmu agar engkau dapat keluar sebagai pemenang pada saat kalian harus bertanding. Benarkah demikian?”

Wajah tuan rumah itu berubah merah. “Agaknya engkau telah mengetahui semuanya dan dapat menduga maksud hatiku, Sia-te. Sekarang katakan, mengapa engkau mencampuri urusan kami dan apa hubunganmu dengan Sim Ling Si?”

Han Lin menghela napas panjang. “Sesungguhnya keterlibatanku dengan urusan kalian ini terjadi secara kebetulan saja, toako. Aku tersesat masuk ke dalam hutan bambu milik enci Ling Si...”

“Ahh...! Pertemuanku dengannya juga dimulai dengan aku terjebak di dalam hutan bambu itu!”
“Kami berkenalan ketika aku melihat dia tekun menghadapi papan catur dan katanya telah tiga bulan lamanya setiap malam dia menekuni papan catur untuk mencari jawabannya namun tidak juga bisa didapatkan.”

Ouw Ji Sun tersenyum. “Sungguh kasihan Ling Si. Memang aku sudah tahu bahwa wanita yang cerdik dan mampu membuat hutan bambu seperti itu biasanya sangat lemah dalam soal hitungan dan permainan catur. Karena itulah aku memberi soal catur dan hitungan agar dia pecahkan selama enam bulan. Lalu, bagaimana?”

“Aku memberi petunjuk kepadanya sehingga dia berhasil memecahkan rahasia permainan catur itu dan menyelamatkan Raja Putih...”
“Ahh...! Sia-te, berarti engkau hendak mencelakakan aku. Dan hitungan itu...”
“Dia sudah memberi tahukan kepadaku. Hitungan itu pun tak dapat dia menjawabnya. Aku minta waktu tiga hari untuk memberikan jawabannya.”
“Tiga hari? Kurasa engkau pasti mampu menjawab seketika.”
“Tentu saja, toako. Aku sengaja minta waktu tiga hari supaya dapat berkunjung kepadamu dan mengenalmu.”

“Aihh, Sia-te. Celakalah aku kalau begini. Tiga hari lagi dia akan mampu menjawab kedua persoalan itu, kemudian dia akan menantangku seperti yang telah kami janjikan. Padahal selama tiga bulan ini ilmuku belum memperoleh banyak kemajuan, bagaimana aku dapat menang? Ah, harapanku akan musnah, pinanganku pasti ditolak karena selain dia mampu menjawab dua persoalan yang kuajukan, juga dia akan menang dalam pertandingan kami. Ahh...”
“Tenanglah, Ouw-toako. Setelah sekarang mengenalmu, aku sudah mengambil keputusan untuk membantumu seperti yang kukatakan tadi.”
“Bagaimana engkau akan membantuku, Sia-te? Dengan tidak memberikan jawaban soal hitungan itu?”

“Bukan. Aku sudah berjanji, tentu harus kupenuhi. Jawaban itu akan kuberikan. Benarkah engkau mencintanya, toako?”
“Kalau aku tidak mencintanya, untuk apa aku meminangnya?”
“Kurasa dia tidak akan menolak, toako. Hanya saja enci Ling Si memiliki keangkuhan. Dia ingin menjaga harga dirinya, maka dia ingin sekali menang dalam teka-teki itu. Kalau dia sudah dapat menjawab keduanya dan berarti menang dalam syarat itu, tentu dia tak akan berkeras ingin menang pula dalam pertandingan silat.”

“Akan tetapi ilmu silatnya tinggi, sedangkan aku...”
“Selisihnya tak terlalu banyak, toako. Aku akan mengusahakan agar dalam pertandingan silat itu engkau yang keluar sebagai pemenang.”
“Hemm, mungkinkah itu?” tanya Ouw Ji Sun dengan ragu. “Bagaimana caranya?”
“Mari kita ke belakang, aku ingin mengajakmu berlatih dan mencari jalan agar engkau bisa menang. Bawa mouw-pitmu itu.”

Sekarang Han Lin mendahului bangkit dan keluar melalui pintu belakang, diikuti oleh Ouw Ji Sun yang merasa bimbang dan ragu. Namun melihat sikap Han Lin yang tegas seolah-olah akan mampu membantunya, timbul pula sedikit harapan di hatinya.

Sesudah berdiri saling berhadapan di kebun belakang, Han Lin lantas berkata, “Sekarang seranglah aku dengan mouw-pitmu itu. Ingat, keluarkan semua kepandaian dan tenagamu dan jangan ragu-ragu menyerangku. Mulailah!”

Ouw Ji Sun menurut lantas mulai menyerang. Mula-mula memang serangannya asal saja dan hanya dengan tenaga terbatas karena dia tidak ingin melukai pemuda itu yang belum diketahuinya apakah akan dapat mengatasi ilmu silatnya. Bagaimana pun juga tingkatnya masih jauh lebih tinggi kalau hanya dibandingkan dengan guru silat kebanyakan,.

Tetapi alangkah kagumnya ketika dengan amat mudahnya pemuda itu mengelak, apa lagi sesudah dia mulai mendesaknya, bahkan ketika dia menangkis, hampir saja mouw-pitnya terlepas dan tubuhnya terhuyung. Kini maklumlah dia bahwa pemuda itu bukan sekedar membual, maka dia pun menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus simpanan sambil mengerahkan sinkang sekuatnya.

Akan tetapi pemuda yang mempergunakan tongkat bambu itu sama sekali tidak terdesak olehnya. Dengan jalan mengelak ke sana sini dan kadang saja menangkis, Han Lin dapat menghindarkan diri dari semua serangan sambil meneliti dan membandingkan ilmu silat Ouw Ji Sun dengan ilmu silat Sim Ling Si.

“Cukup, toako!” akhirnya dia berkata sambil melompat ke belakang.
“Hebat sekali! Ilmu silat dengan tongkat butut itu membuat aku sama sekali tak berdaya. Nah, kau lihat sendiri betapa rendahnya ilmu silatku, Sia-te. Bagaimana aku akan mampu menandingi Sim Ling Si?”

“Selisihnya tidak terlalu banyak. Seperti kukatakan tadi, enci Ling Si yang sudah menang dalam menjawab soal catur dan hitungan itu tentu tak akan begitu bersemangat lagi untuk mendapatkan kemenangan mutlak pula dalam ilmu silat. Aku akan melatihmu serangan-serangan yang tentu akan dapat mengalahkannya. Meski pun hanya tiga jurus saja, akan tetapi harus kau kuasai benar-benar agar tidak sampai gagal. Dan serangkaian serangan ini baru boleh kau lakukan setelah kalian bertanding lewat tiga puluh jurus.”

“Wah, bagaimana kalau sebelum tiga puluh jurus aku telah dirobohkannya?”
“Jangan khawatir, aku akan membujuknya agar jangan merobohkan engkau sebelum tiga puluh jurus. Nah, perhatikan baik-baik, toako. Engkau memegang mouw-pitmu begini, lalu memasang kuda-kuda begini, melompat ke arah kirinya dan menyerang begini.” Han Lin lalu memberi petunjuk dengan mouw-pit sambil dituruti oleh Ouw Ji Sun.

Demikianlah, mulai hari itu juga Han Lin mengajarkan tiga jurus gerakan silat yang sudah diperhitungkan tak akan dapat dipertahankan oleh Sim Ling Si yang sudah dia kenal pula ilmu dan titik-titik kelemahannya. Selama tiga hari itu Ouw Ji Sun berlatih dengan tekun, sementara Han Lin tinggal di rumah siucai tinggi besar itu.

Pada hari ketiga Han Lin meninggalkan Ouw Ji Sun, setelah yakin benar bahwa siucai itu sudah menguasai jurus-jurus barunya, lalu dia pergi ke lereng tempat tinggal Sim Ling Si. Dia meloncati rumpun bambu pertama, kedua dan ketiga, sehingga tibalah dia di depan pintu belakang rumah itu. Ternyata Sim Ling Si sudah menunggu di situ karena wanita itu sudah melihat dia datang dari luar hutan bambunya.

“Bagaimana, Han Lin? Sudahkah kau dapatkan...?” tanyanya penuh harap.

Han Lin tersenyum. “Jangan khawatir, enci. Sudah kudapatkan dengan mudah sekali.”

“Cepat beri tahukan kepadaku bagaimana cara menghitungnya!” kata wanita itu gembira, lalu dia menarik tangan Han Lin dan setengah berlari memasuki rumahnya. Mereka duduk menghadapi meja dan Ling Si sudah membawa catatan soal hitungan itu ke atas meja.

“Jawabannya begini, enci. Dua macam binatang itu berbaur dalam kandang. Kaki kambing berjumlah empat, sedangkan kaki bebek berjumlah dua. Seluruh binatang itu kakinya ada dua ratus empat puluh enam dan kepalanya delapan puluh delapan, bukan? Seandainya binatang itu kesemuanya kambing, maka kakinya akan berjumlah delapan puluh delapan kali empat, yaitu tiga ratus lima puluh dua. Padahal jumlah kakinya hanya ada dua ratus empat puluh enam, jadi selisihnya 352-246 sebanyak 106. Nah, selisih ini kita bagi dengan selisih antara kaki kedua binatang, yaitu 106:2=53. Karena perumpamaan tadi kita ambil dari kambing, maka yang 53 ini adalah bebeknya. Dan tentu saja kambingnya adalah 88-53=35. Atau kalau kita ambil perhitungan dari bebek, andai kata semua bintang itu bebek, maka kepala yang 88 itu dikalikan 2, jadi 176. Nah, selisihnya jadi 246-176=70. Karena tadi dihitung dari perumpamaan bebek, maka selisih yang 70 itu dibagi 2, sama dengan 35 dan itulah jumlah kambing.”

“Ahh, begitu mudahnya!” Sim Ling Si terheran-heran akan tetapi juga girang sekali.
“Sesungguhnya tidak ada persoalan sukar atau mudah, enci. Bagi yang belum tahu, tentu saja suatu persoalan dianggap sukar. Akan tetapi bagi yang sudah tahu, dianggap mudah. Juga tidak ada yang pandai atau bodoh karena yang sudah tahu tentu bisa, dan yang belum tahu tentu tidak bisa. Demikianlah keadaan di dunia ini, enci.”

“Kalau begitu sekarang juga aku mau menemui Ouw Ji Sun! Akan kupecahkan kedua soal yang dia ajukan itu sekarang juga, kemudian dia harus bertanding ilmu silat melayaniku!” Wanita itu nampak penuh semangat dan sangat bergembira. “Engkau harus ikut, Han Lin. Engkau harus menjadi saksinya bahwa akulah yang menang!”

Dengan gembira seperti seorang gadis remaja dia memasuki kamarnya, lalu berdandan! Han Lin tersenyum saja. Dia segera keluar dari pintu, mengagumi susunan hutan bambu yang aneh itu. Sukar dipercaya bahwa susunan rumpun bambu itu dapat membuat orang tersesat dan tidak mampu keluar lagi kalau sudah terjebak di dalamnya.

Sampai agak lama juga ia menanti, baru Sim Ling Si muncul dan begitu melihat gadis itu, hati Han Lin merasa geli. Wanita itu mengenakan pakaian baru, berbedak dan bergincu, rambutnya disisir dan digelung rapi. Seperti orang yang hendak bertemu dengan pacarnya saja, bukan orang yang hendak pergi bertanding melawan musuh. Maka dia pun semakin yakin bahwa diam-diam Sim Ling Si juga menaruh hati kepada Ouw Ji Sun.

“Mari kita berangkat!” kata Ling Si yang sudah membawa sepasang pedangnya.

Ling Si menyusup ke dalam hutan bambu, diikuti oleh Han Lin. Ia berkeliling beberapa kali dengan belokan-belokan aneh dan tahu-tahu mereka sudah berada di luar hutan bambu! Setelah berada di luar hutan bambu, keduanya lalu menggunakan ilmu lari cepat menuruni lereng menuju ke dusun kecil yang terletak di sebelah utara itu.

Penduduk dusun kecil itu terheran-heran melihat wanita cantik memasuki dusun mereka. Di antara mereka ada yang ingin tahu dan diam-diam mengikuti dari jauh ke mana wanita itu hendak pergi. Maka ketika Ling Si dan Han Lin tiba di depan rumah Ouw Ji Sun, ada beberapa orang yang melihatnya dan menonton dari kejauhan.

“Ouw Ji Sun, keluarlah! Aku datang untuk memenuhi syaratmu!” Ling Si berseru dengan suara lantang.

Ketika daun pintu terbuka dan sasterawan tinggi besar itu muncul, untuk kedua kalinya Han Lin merasa geli. Ouw Ji Sun juga mengenakan pakaian baru yang rapi, sama sekali bukan seperti orang yang hendak menemui musuh! Keduanya nampak seperti sepasang pengantin yang hendak melaksanakan pernikahan saja, pakaian mereka bagus-bagus!

“Sim Ling Si, benarkah engkau sudah dapat menjawab kedua pertanyaanku, sudah dapat memecahkan dua persoalan itu?”

Ling Si tersenyum mengejek. “Hemm, apa sukarnya dua persoalan yang amat sederhana itu? Keluarkan papan caturmu!”

“Baik, kau tunggu sebentar.” Ouw Ji Sun memasuki kembali rumahnya.
“Enci, aku ada permintaan lagi,” kata Han Lin lirih.
“Apa itu?”
“Karena aku yang telah memberi tahu jawaban itu kepadamu, berarti engkau telah berlaku tidak adil kepada Ouw Ji Sun. Oleh karena itu, kalau terjadi pertandingan, aku minta agar enci suka mengalah dan tidak mengalahkan dia kurang dari tiga puluh jurus. Bagaimana?”

Wanita itu tersenyum. Baginya jika dapat menjawab saja sudah merupakan kemenangan, tidak dianggap bodoh oleh sasterawan itu. Maka dia tidak keberatan atas permintaan itu. “Baik, aku akan mengalahkannya setelah lewat tiga puluh jurus.”

Agak lama Ouw Ji Sun mengambil papan catur karena bukan hanya itu yang dikerjakan. Dia juga membasahi bulu penanya dengan tinta kental hitam, kemudian membawa keluar pula senjatanya yang istimewa itu dengan memasang penutup pada kepala bulu penanya.

“Ini dia papan caturnya dan akan kupasang bidak-bidaknya sesuai dengan persoalan itu.” Dia meletakkan papan catur di atas tanah, lalu meletakkan bidak-bidak catur seperti yang diajukan kepada Ling Si tempo hari.

Ling Si tersenyum mengejek. “Soal yang kau ajukan ini terlampau mudah!”

“Sim Ling Si, sebaiknya kau coba pecahkan persoalan ini. Bagaimana langkahmu untuk dapat menyelamatkan Raja Putih yang sudah terkepung dan tinggal menanti kematiannya itu?” tantang Ouw Ji Sun, tentu saja sikapnya ini hanya pura-pura karena dia sudah tahu dari Han Lin bahwa Ling Si sudah dia beri tahu jalannya.
“Hemmm, Menteriku akan mengorbankan diri dengan nekat membunuh Panglima Hitam, maka dengan demikian kepungan akan terlepas dan Raja Putih dapat selamat!” katanya gembira sambil menjalankan bidak Menterinya mencaplok Panglima Hitam.

Ouw Ji Sun pura-pura terbelalak heran dan akhirnya dia hanya menghela napas berulang kali.

“Bagaimana, Ouw Ji Sun? Hayo jalankan bidak hitammu, aku hendak melihat bagaimana engkau akan menjatuhkan Rajaku!” Ling Si menantang.
“Hemm, memang inilah satu-satunya jalan yang tepat untuk menyelamatkan Raja Putih. Engkau sungguh pandai, Ling Si. Jawabanmu benar, tetapi masih ada satu soal lagi, yaitu mengenai hitungan itu. Kambing dan bebek berbaur menjadi satu. Jumlah kepala mereka semua delapan puluh delapan dan jumlah kaki mereka dua ratus empat puluh enam. Nah, berapa jumlah bebeknya dan berapa pula jumlah kambingnya?”

Ling Si tertawa sambul menutupi mulutnya, gayanya tertawa itu amat manis. “Hik-hik, apa sih sulitnya hitungan macam itu? Anak kecil pun bisa menjawabnya. Jawabannya adalah: jumlah kambingnya tiga puluh lima ekor dan jumlah bebeknya lima puluh tiga ekor. Betul tidak?”

Kembali Ouw Ji Sun nampak kaget. “Jawaban itu benar, akan tetapi bagaimana jalannya? Jangan main tebak secara ngawur saja.”

“Ihh, siapa ngawur? Apa sukarnya sih? Lihat ini!” Dia membuat coret-coret di atas tanah seperti yang telah dia pelajari dari Han Lin. Sesudah selesai dia memandang kepada Ouw Ji Sun dengan wajah berseri penuh kebanggaan.
“Nah, benar tidak begini?”

Ouw Ji Sun menghela napas. “Engkau menang lagi, Ling Si. Sekarang terserah padamu.”

“Sesuai perjanjian kita, kita harus bertanding ilmu silat. Ingin kulihat apakah engkau akan mampu menandingi aku dalam ilmu silat.”
“Baiklah, aku sudah siap!” katanya sambil mengambil mouw-pitnya lantas membuka tutup kepala mouw-pit itu.
“Hemm, apa artinya senjata seperti itu dibandingkan siang-kiamku?” Ling Si mengejek dan mencabut sepasang pedangnya.
“Kita lihat saja siapa yang lebih lihai, Ling Si. Mulailah!” tantang Ouw Ji Sun.

Wanita itu lalu menyerang dengan cepat, dihindarkan oleh Ouw Ji Sun dengan lompatan ke samping dan dia pun balas menyerang dengan mouw-pitnya yang juga ditangkis oleh pedang Ling Si. Demikianlah, disaksikan oleh Han Lin yang berdiri di bawah pohon, serta oleh beberapa penduduk dusun yang menonton dari jarak agak jauh, kini kedua orang itu saling serang.

Dari permulaan saja Han Lin tahu bahwa seperti yang diduga dan diharapkannya, Ling Si banyak mengalah. Agaknya wanita itu memegang janjinya dan tidak akan mengalahkan Ouw Ji Sun sebelum lewat tiga puluh jurus.

Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, tiba-tiba saja Ji Sun mengubah gerakan mouw-pitnya dan Ling Si terkejut sekali karena totokan mouw-pit itu demikian dahsyat, memilih titik-titik lemah dalam ilmu silatnya! Totokan mouw-pit yang pertama nyaris saja mengenai lehernya, bahkan totokan kedua lebih hebat lagi dan hampir mengenai pelipis kepalanya.

Ia tahu bahwa jika dilanjutkan serangan-serangan hebat itu akan membahayakan dirinya. Maka ketika melihat kekosongan pada gerakan lawan, cepat sekali pedangnya membuat gerakan menggunting dan pedang itu sudah menempel di kanan kiri leher Ouw Ji Sun. Akan tetapi tepat pada saat itu, seperti yang diajarkan oleh Han Lin, mouw-pit itu sudah menyambar dan membuat coretan pada dada kiri Ling Si, demikian halus sehingga tidak terasa oleh gadis itu bahwa baju di bagian dada kirinya telah terkena coretan tinta hitam!

Ling Si tersenyum mengejek. “Ouw Ji Sun, engkau kalah lagi. Dengan sepasang pedang menempel di kanan kiri lehermu, berarti engkau sudah kalah mutlak!”

Han Lin melangkah maju menghampiri mereka. “Enci Ling Si, jangan tergesa mengaku menang. Engkau tidak menang, akan tetapi kalah.”

Ling Si menarik sepasang pedangnya dan memandang pemuda itu dengan alis berkerut. “Han Lin, apa katamu? Bagaimana aku bisa kalah kalau pedangku sudah membuat dia tidak berdaya?”

“Enci yang baik, tengoklah baju di dadamu!” kata Han Lin sambil menunjuk dan tertawa.

Ling Si menunduk dan melihat betapa pada bajunya di dada kiri, tepat di atas buah dada kiri, terdapat coretan hitam yang jelas sekali.

“Enci, sebelum sepasang pedangmu membuat gerakan menggunting, lebih dulu mouw-pit Ouw-toako telah mencoret dadamu. Bila mana dia menghendaki, tentu mouw-pit itu bukan sekedar mencoret, akan tetapi menotok dan engkau tentu akan roboh. Tusukan mouw-pit itu tepat pada jantungmu, enci.”
“Ahh...!” Ling Si berseru dan wajahnya berubah merah sekali.
“Maafkan aku, Ling Si,” kata Ouw Ji Sun lirih karena dia merasa kasihan kepada wanita yang dicintanya itu.
“Aku... kau... telah menang...,” kata Ling Si sambil menundukkan mukanya. Sungguh tak disangkanya bahwa sasterawan itu memiliki jurus-jurus simpanan yang demikian dahsyat.

“Ouw-toako dan enci Ling Si, kalian sudah saling mengalahkan dan dikalahkan. Ini berarti bahwa agaknya Tuhan memang telah menjodohkan kalian. Dan aku sendiri melihat bahwa kalian berdua memang cocok sekali menjadi suami isteri. Enci Ling Si cantik dan pandai, juga Ouw-toako gagah perkasa dan ahli sastera. Kurasa kelak kalian akan dapat mendidik anak-anak kalian menjadi seorang pendekar yang juga sasterawan!”
“Ihh..., Han Lin!” bentak Ling Si tersipu.

Ouw Ji Sun tersenyum dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Silakan kalian masuk, kita bicara di dalam. Lihat, banyak orang menonton di sana.”

Dengan masih tersipu malu Ling Si mengikuti Ouw Ji Sun setelah ditarik oleh Han Lin dan mereka duduk di ruangan dalam. Sesudah menghidangkan teh, Ouw Ji Sun lalu bertanya langsung kepada Sim Ling Si.

“Adik Ling Si, kita berdua sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, tidak ada yang dapat menjadi wakil pembicara. Karena itu maafkanlah kelancanganku kalau aku hendak mohon keputusanmu. Bagaimana, apakah engkau dapat menerima pinanganku kepadamu?”

Ling Si tidak menjawab. Kepalanya semakin menunduk.

Melihat ini, Han Lin berkata, “Enci Ling Si, bagaimana kalau aku menjadi juru bicaramu? Kalau engkau tidak setuju dengan jawabanku, kau boleh melarangku atau membantah.”

Ling Si tersenyum-senyum malu dan mengangguk tanpa berani mengangkat mukanya.

“Ouw-toako, enci Ling Si merasa terharu dan berterima kasih sekali atas pinanganmu. Dia menerimanya dengan baik dan berharap supaya kalian berdua kelak akan dapat menjadi suami isteri yang berbahagia. Bukankah begitu, enci Ling Si?”

Muka itu semakin merah, akan tetapi kepala yang ditundukkan dan senyum malu-malu itu menunjukkan bahwa dia tidak membantah. Tentu saja Ouw Ji Sun merasa gembira sekali.

“Terima kasih, adik Ling Si. Kalau engkau sudah menyetujui, lalu kapan pernikahan kita akan dilangsungkan dan di mana?”

Sim Ling Si masih menunduk dan beberapa lamanya tidak mampu menjawab, akan tetapi dua titik air mata menetes turun ke atas pipinya. Ditanya demikian, dia teringat bahwa dia sebatang kara dan tidak mempunyai keluarga seorang pun. Akhirnya sengan suara parau dia menjawab lirih, “Terserah kepadamu...”

Han Lin ikut terharu dengan pinangan dan penerimaan yang amat bersahaja itu, dilakukan dua orang yang hidup menyendiri. Karena merasa ikut terlibat dengan perjodohan mereka, bahkan dia sudah membantu sehingga pejodohan itu berjalan lancar, Han Lin lalu berkata dengan gembira.

“Bagaimana kalau sekarang juga dilaksanakan? Kalian berdua telah mengenakan pakaian yang amat indah. Tinggal mencari pendetanya saja untuk mengesahkan dan mengundang penduduk dusun ini untuk merayakan!”

Kedua orang itu kelihatan berseri wajahnya dan Ouw Ji Sun berkata, “Aku mengenal Tong Hwi Hwesio di kuil tak jauh dari dusun ini. Dia tentu mau membantu kami setiap saat.”

“Aku juga mempunyai beberapa ekor babi dan ayam, cukuplah untuk pesta kecil-kecilan,” kata Sim Ling Si.
“Bagus!” Han Lin setengah bersorak. “Mau tunggu apa lagi? Mari kita bertiga pergi ke kuil itu dan aku yang akan menjadi saksinya, Ouw-toako dan enci Ling Si!”

Dua orang itu setuju dan dengan gembiranya tiga orang itu pergi ke kuil di luar dusun. Dan benar saja, Tong Hwi Hwesio yang menjadi sahabat baik sasterawan itu dengan senang hati melaksanakan upacara sembahyang pengantin. Mereka berdua bersembahyang dan berlutut, mengucapkan sumpah setia sebagai suami isteri, sambil disaksikan oleh Han Lin dan disahkan oleh pendeta Tong Hwi Hwesio.

Sesudah selesai melaksanakan upacara sembahyang pengantin, Han Lin menjadi orang pertama yang memberi selamat kepada mereka.

“Ouw-toako dan enci Ling Si, kionghi (selamat) atas pernikahan kalian, mudah-mudahan kalian akan hidup berbahagia dan mempunyai banyak anak!”

Suami isteri itu membalas penghormatan itu, kemudian Ouw Ji Sun merangkul Han Lin. “Terima kasih sekali, Sia-te, engkau telah melimpahkan budi yang tak ternilai kepada kami berdua, semoga kelak kami berkesempatan untuk membalasnya.”

Juga Tong Hwi Hwesio memberi selamat kepada temannya dan memberi doa restu untuk sepasang pengantin. Kemudian mereka bergegas kembali ke rumah Ouw Ji Sun untuk mengundang para tetangga atau seluruh penduduk dusun itu yang jumlahnya tidak lebih dari seratus orang untuk merayakan pesta pernikahan itu.

Pesta pernikahan dirayakan secara meriah. Semua wanita dusun itu terjun ke dapur untuk menyiapkan masakan. Perayaan itu berlangsung sampai malam dan setelah semua tamu pulang, Han Lin juga pamit dari sepasang suami isteri itu untuk melanjutkan perjalanan.

Suami isteri itu berusaha menahan, tetapi dengan lembut Han Lin menyatakan bahwa dia harus melanjutkan perjalanan malam itu juga. Ouw Ji Sun dan Sim Ling Si menghaturkan terima kasih lagi kepada penolong mereka yang masih muda ini, lalu mengantar kepergian Han Lin sampai di luar pekarangan rumah mereka.

Han Lin memanggul pedang dan buntalan pakaiannya, memegang tongkat bututnya, dan malam itu juga dia keluar dari dalam dusun…..

********************
Kaisar Thai Tsung (773-779) baru setahun lebih menduduki tahta kerajaan. Namun ketika Kaisar ini bertahta, keadaan negeri sudah lemah dan parah akibat keruntuhan Kerajaan Tang ketika pada tahun 755 An Lu Shan melakukan pemberontakan dan bahkan berhasil menduduki Tiang-an dan mengusir kaisar yang melarikan diri ke barat. Semenjak saat itu sampai direbutnya kembali kekuasaan oleh kaisar kerajaan Tang, kerajaan itu sudah tidak seperti dulu lagi.

Kerajaan Tang pernah cemerlang ketika masih dipimpin oleh Kaisar Beng Ong (712-755). Akan tetapi kekuasaannya semakin menurun semenjak pemberontakan An Lu Shan pada akhir kedudukan Kaisar Beng Ong itu.

Bukan saja suku-suku yang dianggap liar dan biadab seperti suku bangsa Uigur dari barat dan suku bangsa Khitan dari utara semakin merajalela di daerah Tang bagian barat dan utara, akan tetapi para kepala daerah yang jauh letaknya dari kota raja, masing-masing juga menjadi raja-raja kecil yang mengacuhkan kekuasaan Kaisar Thai Tsung. Semua ini masih ditambah lagi dengan merajalelanya kekuasaan para thai-kam (Sida-sida, pria yang dikebiri) dan para pembesar tinggi yang palsu dan berwatak menjilat ke atas menekan ke bawah.

Kaisar Thai Tsung seolah boneka saja yang tanpa disadarinya dipermainkan oleh orang-orang ini. Lalu terjadilah sogok menyogok, para pembesar yang haus harta mengadakan hubungan rahasia dengan suku asing, dan penindasan terhadap rakyat terjadi di berbagai tempat sehingga menimbulkan dendam dan kekerasan di antara rakyat.

Karena para pembesar hanya mementingkan harta dunia, berenang dalam kemewahan, pesta-pesta makan enak, bermabok-mabokan di dalam rangkulan gadis-gadis jelita, tidak peduli akan keamanan rakyat, maka dengan sendirinya kejahatan tumbuh laksana jamur di musim hujan. Dalam keadaan seperti itu maka berlakulah hukum rimba. Siapa kuat dia yang menang, siapa yang menang dia berkuasa, dan yang berkuasa itu selalu benar.

Uang menjadi alat kekuasaan, karena dengan uang segalanya dapat dibeli! Setiap orang pejabat, baik besar mau pun kecil, semuanya memelihara tukang pukul. Juga setiap tuan tanah dan hartawan mempunyai gerombolan tukang pukul untuk melindungi mereka dan melaksanakan pemaksaan kehendak mereka, terutama terhadap rakyat bawahan.

Dalam keadaan rakyat sengsara ini, yang menonjol hanyalah perkembangan pada bidang kesenian, terutama sastera. Banyak bermunculan penyair-penyair besar seperti Li Tai-po, Tu Fu, Wang Wei dan lain-lain yang menjerit dalam syair mereka menyuarakan jeritan hati rakyat jelata.

Empat tahun yang lampau, ketika yang menjadi kaisar masih Kaisar Kui Tsung (768-773), terjadi pencurian pedang Ang-in Po-kiam sehingga gemparlah seluruh istana dan sebentar saja berita itu telah tersiar ke seluruh negeri. Kaisar Kui Tsung kemudian memerintahkan jagoan-jagoan istana untuk mencari pencuri itu, namun sia-sia belaka.

Pencuri itu sangat lihai, tanpa meninggalkan bekas, bahkan empat orang penjaga gedung pusaka yang dibuat tidak berdaya dengan totokan, tidak mampu menceritakan bagaimana macamnya pencuri itu sebab mereka dirobohkan tanpa terlihat siapa yang melakukannya. Karena Ang-in Po-kiam merupakan sebuah di antara pusaka lambang kekuasaan kaisar, Kaisar Kui Tsung yang merasa penasaran lalu mengumumkan bahwa barang siapa dapat menemukan kembali pedang pusaka itu, akan diberi hadiah harta benda dan kedudukan tinggi kalau dikehendaki.

Itulah sebabnya mengapa para tokoh kang-ouw membuka mata lebar-lebar dan membuka telinga untuk mendengar berita kalau-kalau dapat membawa mereka kepada pencurinya untuk merampas kembali pusaka istana itu. Namun semua itu tidak berhasil. Tak seorang pun mengetahui bahwa pencurian itu dilakukan oleh Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw. Sesudah Kaisar Thai Tsung menjadi kaisar, dia pun mengumumkan agar orang mencari pusaka yang hilang, bahkan menambah besarnya hadiah yang dijanjikan.

Para tokoh kang-ouw akhirnya mendengar bahwa pusaka itu dicuri oleh tokoh Cin-ling-pai dan berita ini sebetulnya didesas-desuskan oleh bekas anak buah Hoat-kauw yang sudah dibasmi pasukan pemerintah. Cin-ling-pai merupakan sebuah perkumpulan yang kuat dan yang tidak mau tunduk kepada Hoat-kauw, bahkan dalam bentrokan, banyak anak buah Hoat-kauw yang tewas. Karena itu, ketika sisa anak buah Hoat-kauw cerai berai, mereka lantas menyebarkan berita itu dengan maksud untuk melakukan fitnah agar Cin-ling-pai dimusuhi para tokoh kang-ouw lainnya.

Mendengar desas-desus ini, ketua Cin-ling-pai, Yap Kong Sin yang berjuluk Bu-eng Kiam-hiap (Pendekar Pedang Tanpa Bayangan) menjadi marah. Untuk membersihkan nama Cin-ling-pai, dia lalu mengundang para tokoh kang-ouw untuk mengadakan pertemuan di kota Han-cung yang terletak di kaki pegunungan Cin-ling-san, di tepi sungai Han. Kota ini memang menjadi cabang terbesar dari Cin-ling-pai yang pusatnya berada di lereng puncak Cin-ling-san.

Kota Han-cung cukup besar dan ramai karena dari kota itu orang dapat mengirim barang-barang hasil sawah ladang dan hutan pegunungan melalui jalan air menuju ke kota-kota besar di timur karena sungai Han ini menjadi anak sungai Yang-ce.

Pada suatu pagi yang cerah Han Lin memasuki kota Han-cung. Pada saat dia memasuki pintu gerbang kota itu, dari arah belakangnya datang dua orang penunggang kuda yang menarik perhatiannya. Mereka adalah seorang pemuda gagah perkasa berpakaian putih-putih yang indah bersih, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, beserta seorang gadis cantik jelita yang berpakaian merah muda dan usianya sekitar delapan belas tahun.

Baik pemuda mau pun gadis itu jelas memperlihatkan bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw yang sudah biasa melakukan perjalanan. Hal ini dapat dilihat dari pedang yang tergantung di punggung mereka dan dari cara mereka menunggang kuda. Pakaian mereka yang terbuat dari sutera mahal indah itu juga berpotongan ringkas seperti biasa pakaian orang kang-ouw ahli silat. Kedua orang itu tidak memperhatikan Han Lin.

Memang pemuda ini tidak ada istimewanya sehingga tidak menarik perhatian. Pakaiannya sangat sederhana dan berjalan kaki, dengan buntalan pakaian di gendongannya. Pedang Ang-in Po-kiam selalu dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian, ada pun yang berada di tangannya hanyalah sebatang tongkat bambu butut menghitam.

Dia lebih mirip seorang pemuda dari dusun yang memasuki kota dan tidak akan menarik perhatian orang. Tidak ada yang mengira sama sekali bahwa dia adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan dialah yang memegang Ang-in Po-kiam, pedang pusaka istana yang lenyap dicuri orang sehingga menggemparkan seluruh kalangan kang-ouw itu.

Memang Han Lin sedang melakukan perjalanan ke Tiang-an, dan kota Han-cung sudah tak begitu jauh lagi dari kota raja. Ketika dalam perjalanan dia mendengar bahwa Cin-ling-pai mengundang orang kang-ouw pada umumnya, dia merasa tertarik dan ingin menonton untuk meluaskan pengalamannya.

Dia pernah mendengar dari Kong Hwi Hosiang mengenai perkumpulan-perkumpulan dan aliran-aliran persilatan yang terkenal, dan Cin-ling-pai adalah sebuah di antara perguruan besar yang mempunyai banyak murid pendekar. Bahkan gurunya pernah menyebut nama ketuanya, yaitu Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin sebagai seorang jago pedang yang amat tangguh.
Image result for pedang awan merah
Pagi itu sudah banyak rumah makan buka, melayani orang-orang yang hendak sarapan. Han Lin merasa lapar dan ketika dia melihat dua ekor kuda besar ditambatkan di depan sebuah rumah makan, dia segera teringat akan pemuda serta gadis yang elok dan gagah tadi, maka dia pun memilih rumah makan itu untuk membeli sarapan.

Rumah makan itu cukup besar dan luas. Ketika dia masuk nampak olehnya pemuda baju putih dan gadis baju merah muda telah duduk di situ. Di satu sudut duduk serombongan orang muda berusia antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun sebanyak lima orang dan mereka itu ternyata sudah setengah mabok. Sepagi itu sudah mabok-mabokan, dari kebiasaan ini saja sudah dapat dinilai orang-orang macam apa mereka itu.

Namun melihat pakaian mereka yang ringkas dengan lengan baju digulung, menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, tenaga dan ilmu silat. Mereka itu makan minum sambil tertawa-tawa dan mata mereka melirik secara kurang ajar kepada gadis berpakaian merah muda.

“Hemm, kalian mencari penyakit,” pikir Han Lin yang dapat menduga bahwa pemuda dan gadis itu bukanlah orang sembarangan. Apa bila kelima orang pemuda berandal itu berani mencari perkara dengan mereka berdua, maka berarti mencari penyakit sendiri.

Dia menoleh ke kiri dan melihat seorang gadis yang wajahnya berseri, cantik manis dan matanya kocak. Gadis ini berpakaian mewah, akan tetapi kecantikannya itu tampak aneh dan terasa asing bagi Han Lin. Biar pun pakaian dan tata rambut gadis itu seperti seorang gadis Han biasa, namun Han Lin dapat menduga bahwa dia bukanlah gadis Han. Matanya terlalu lebar dan hidungnya terlalu mancung untuk seorang gadis Han. Bentuk mulutnya yang selalu senyum itu juga nampak asing namun indah menarik. Seorang kakek duduk di samping gadis itu dan melihat kakek itu, Han Lin terbelalak heran.

Kakek itu berusia sekitar lima puluh enam tahun, pendek gendut bundar. Perutnya yang gendut kelihatan karena kancing bajunya sengaja dibuka seolah dia selalu merasa panas. Kulit mukanya hitam seperti arang, matanya lebar dan bibirnya tersenyum-senyum sendiri kadang setengah tertawa tanpa sebab seperti orang yang kurang waras.

Itulah Hek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Hitam), kata Han Lin dalam hatinya. Tidak salah lagi. Seorang di antara Sam Mo-ong (Tiga Raja Iblis) yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw!

Bahkan dia pernah bentrok dengan mereka pada saat dia membantu pasukan pemerintah dalam membasmi orang-orang Hoat-kauw yang bersekutu dengan bangsa Mongol hendak melakukan gerakan memberontak. Dan Sam Mo-ong adalah kaki tangan orang Mongol.

Kenapa Hek-bin Mo-ong berada pula di kota Han-cung? Dan siapa pula gadis cantik yang bersamanya itu? Ketika mereka makan minum, Hek-bin Mo-ong nampak bersikap sangat hormat kepada gadis itu. Han Lin yang kebetulan duduk agak di belakang sebelah kanan Hek-bin Mo-ong, mengerahkan pendengarannya dan dia dapat menangkap bahwa gadis itu menyebut suhu kepada kakek muka hitam itu.

“Suhu, kapan kita akan berkunjung ke sana?”
“Besok pesta itu baru dimulai. Ssstt, sudahlah, Mulani, jangan bicara mengenai itu,” kata kakek itu lirih dan perhatian mereka kini ditujukan ke arah meja pemuda dan gadis yang gagah itu.

Perhatian Han Lin juga beralih ke sana karena seperti yang sudah diduganya, gerombolan pemuda berandal itu kini telah mulai beraksi. Mereka memecah gerombolan menjadi dua, yang tiga orang menghampiri pemuda dan gadis perkasa itu, ada pun yang dua orang lagi menghampiri gadis manis yang duduk bersama Hek-bin Mo-ong! Mereka berjalan sambil menyeringai kurang ajar dan melihat ini, Han Lin pun tersenyum. Kalian mencari penyakit, pikirnya.

Dua orang pemuda yang menghampiri meja gadis dan kakek itu sudah tiba dekat mereka, kemudian seorang di antara mereka berkata, “Nona tentu kesepian hanya duduk makan bersama seorang kakek, bagaimana kalau kami berdua menemanimu?” Orang bermuka kuning itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang lebih kuning lagi.

“He-he-heh, engkau manis sekali, nona. Kami akan bersenang-senang denganmu...,” kata orang kedua yang bertubuh pendek.

Kakek itu tersenyum lebar, dan gadis manis itu juga tersenyum lalu berkata, “Ihhh, kalian mengingatkan aku akan dua ekor anjingku. Aku mempunyai dua ekor anjing di rumah dan lagaknya persis kalian. Hayo jongkok dan aku akan memberimu makan...!” Dia menjentik-jentikkan jarinya seperti kalau memanggil anjing-anjingnya.

Dua orang lelaki muda itu terbelalak, muka mereka menjadi merah karena marah. Mereka telah dihina seperti anjing! Mereka hendak memaki lagi, tapi baru saja mereka membuka mulut, sepotong daging telah menyambar kemudian tepat memasuki mulut mereka.

Han Lin melihat betapa dengan gerakan cepat sekali gadis itu menggunakan sumpitnya mengambil potongan daging lantas menyambitkan dua kali berturut-turut ke mulut mereka dan tepat memasuki mulut yang sedang terbuka itu.

Tentu saja dua orang itu menjadi gelagapan dan semakin marah. Agaknya mereka adalah jenis orang-orang yang tidak tahu diri, selalu mengandalkan diri dan kawan-kawan berbuat sesukanya. Mereka meludahkan keluar daging yang memasuki mulut mereka, kemudian seperti dua ekor biruang, mereka mengembangkan tangan untuk menangkap gadis yang telah menghina mereka itu.

Kembali Han Lin melihat gerakan yang sangat cepat dari gadis itu. Hanya satu kali saja tangan kirinya bergerak melemparkan sepasang sumpit, akan tetapi akibatnya dua orang itu menjerit sambil memegangi tangan kanan dengan tangan kiri mereka. Ternyata tangan kanan mereka telah tertusuk sumpit tepat di tengah-tengah telapak tangan hingga sumpit itu tembus! Mereka berjingkrak kesakitan sambil mundur, terbelalak ketakutan. Terdengar Hek-bin Mo-ong dan gadis itu tertawa senang.

Sementara itu, tiga orang pemuda yang menghampiri meja di mana pemuda berpakaian putih dan gadis berpakaian merah muda duduk, juga mengalami nasib sial.

Sambil cengar-cengir ketiga orang pemuda ini menghampiri mereka dan berkata kepada si gadis. “Nona, agaknya nona berdua hendak mengunjungi pesta Cin-ling-pai besok pagi. Mari nona, kita bersama-sama, dan malam ini nona boleh bermalam di rumah kami.”

Melihat ada tiga pemuda berandal merubung adiknya, pemuda berpakaian putih menjadi marah sekali. Dialah yang bangkit berdiri kemudian menggebrak meja.

“Kawanan berandal berani kurang ajar terhadap adikku? Menggelindinglah dari sini atau terpaksa aku akan menghajar kalian seperti anjing!”

Tiga orang itu memang hendak mencari perkara. Mereka ingin memisahkan pemuda itu dari si gadis manis, karena itu serentak mereka berbalik menghadapi pemuda baju putih. Seorang di antara mereka yang matanya juling dan menjadi pimpinan mereka, bertolak pinggang.

“Ahh, engkau ini manusia tak tahu terima kasih. Kami menawarkan jasa-jasa baik, tetapi engkau malah memaki kami? Kami hanya membutuhkan nona ini, tidak punya keperluan dengan kamu dan untuk makianmu itu kamu harus dihajar! Hayo lempar dia keluar rumah makan!” katanya kepada dua orang kawannya.

Mereka serentak maju untuk menangkap pemuda baju putih itu. Akan tetapi begitu tangan dan kaki pemuda baju putih itu bergerak, tiga orang itu terlempar ke belakang lantas jatuh menimpa meja kursi.

Tiga orang itu tidak terluka parah, tetapi mereka benar-benar tak tahu diri karena mereka menjadi semakin marah. Mereka mencabut golok yang tergantung di pinggang, kemudian mereka maju pula hendak menyerang pemuda berpakaian putih itu. Kali ini gadis berbaju merah muda yang berseru,

“Koko, biarkan aku yang menghajar mereka!”

Tiba-tiba saja tubuhnya mencelat dari atas kursinya. Bagaikan seekor burung garuda dia melayang ke arah tiga orang berandalan itu yang menyambut tubuhnya dengan bacokan golok mereka.

Akan tetapi gerakan gadis itu gesit bukan kepalang. Tubuhnya dapat menyelinap di antara bacokan golok, kaki tangannya bergerak lalu untuk kedua kalinya tiga orang itu terlempar dan terjengkang. Dengan ringan tubuh gadis itu sudah turun kembali, dan tanpa memberi kesempatan kepada ketiga orang itu untuk menyerangnya lagi, kakinya telah berloncatan dan diayun keras membagi tendangan sehingga tiga orang itu bergulingan, golok mereka terlepas dari tangan, serta muka mereka babak belur dan benjol-benjol.

Barulah mereka sadar bahwa mereka tak akan menang. Mereka merangkak bangun dan melihat dua orang kawan mereka mendatangi sambil merintih-rintih dengan tangan kanan terpaku sumpit, maka lenyaplah semangat mereka dan kelimanya lalu berlari keluar.

Semua tamu di rumah makan itu menjadi ketakutan. Pemilik rumah makan segera maju, lalu memberi hormat kepada pemuda dan adiknya itu sambil berkata, “Kongcu dan siocia, harap segera meninggalkan tempat ini. Gerombolan itu memiliki banyak kawan dan kalau pemimpin mereka datang...”

“Kami tidak takut!” gadis baju merah muda memotong. “Jika mereka datang akan kuhajar semua!”
“Tetapi, nona... tempat kami ini... bisa hancur berantakan. Tadi saja sudah merusakkan meja kursi dan mangkok piring, belum lagi mereka itu tidak membayar...”

“Paman, kau hitung semua kerugianmu, nanti akan kuganti,” kata pemuda pakaian putih itu. “Dan jangan khawatir, kalau pemimpin gerombolan itu datang, akan kubasmi mereka semua. Ketahuilah, kami dua bersaudara datang dari Pek-eng Bu-koan (Perguruan Silat Garuda Putih) dari kota raja, dan sudah menjadi tugas kami untuk membasmi gerombolan berandal!” ucapan ini amat lantang sehingga dapat terdengar oleh semua orang.

Diam-diam Han Lin menyesalkan kenapa kegagahan pemuda baju putih itu mengandung ketinggian hati.

Sementara itu, kebetulan Hek-bin Mo-ong memandang ke sekeliling dan biar pun Han Lin telah membuang muka, namun tetap saja Hek-bin Mo-ong dapat mengenalnya. Kakek itu nampak terkejut kemudian dia berbisik kepada gadis di sebelahnya, lalu membayar harga makanan dan tergesa-gesa pergi dari rumah makan itu.

Han Lin membiarkannya saja, karena memang dia tidak ingin bentrok lagi dengan datuk yang jahat dan sakti itu. Dia ingin melihat perkembangan peristiwa di rumah makan, dan melihat apa yang akan dilakukan muda-mudi tokoh Pek-eng Bu-koan itu.

Pemuda itu memang tinggi hati, akan tetapi adiknya nampaknya lincah jenaka dan tidak sombong seperti kakaknya. Bahkan gadis itu tadi sudah memperlihatkan kelincahan yang mengagumkan, agaknya lebih lincah dibandingkan gerakan kakaknya.

Demikianlah, setelah menanti beberapa lama akhirnya Han Lin melihat pemuda dan gadis itu meninggalkan rumah makan sesudah membayar semua kerugian yang diderita pemilik rumah makan. Han Lin segera membayangi dari jauh.

Tergesa-gesa Hek-bin Mo-ong meninggalkan rumah makan itu bersama gadis yang cantik manis itu. Hek-bin Mo-ong adalah seorang di antara Sam Mo-ong (Tiga Raja Iblis). Tokoh yang lain adalah Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih) yang tinggi kurus bermuka pucat seperti kapur dan matanya sipit seakan menangis terus. Akan tetapi dia juga lihai sekali, memiliki sinkang panas beracun sehingga tubuh orang yang terkena pukulan lihai ini akan hangus. Dia selalu memakai baju mantel seakan-akan selalu kedinginan. Datuk sesat ini sebenarnya adalah seorang peranakan suku bangsa Hui, dan bila mana dia mengerahkan sinkang-nya yang panas beracun, jari tangannya berubah merah seperti membara.

Orang ketiga adalah Kwi-jiauw Lo-mo yang merupakan orang tertua sekaligus pemimpin dari Sam Mo-ong. Orangnya berusia enam puluh enam tahun, tubuhnya pendek gendut seperti katak dan kalau berkelahi dia dapat menggelinding seperti peluru berputar. Kedua tangannya disambung dengan sepasang cakar setan yang amat ampuh dan mengandung racun mematikan. Kwi-jiauw Lo-mo ini peranakan Mongol, mukanya kuning dan dia masih mertua dari mendiang An Lu Shan, pemberontak yang sudah menjatuhkan Kerajaan Tang itu.

Gadis cantik dan lincah yang berjalan bersama Hek-bin Mo-ong bernama Mulani. Gadis ini berusia delapan belas tahun dan dia adalah puteri Ku Ma Khan, kepala suku Mongol yang menjadi atasan Sam Mo-ong. Mulani juga merupakan murid dari Sam Mo-ong, maka di bawah gemblengan tiga orang guru yang sakti ini dia menjadi seorang gadis yang sangat lihai seperti diperlihatkan ketika dia menggunakan sumpit menembus telapak tangan dua orang pemuda berandal yang berani kurang ajar kepadanya. Mulani adalah anak tunggal, maka dia agak dimanja dan sekali ini ayahnya tidak dapat melarang ketika dia merengek kepada ayahnya untuk ikut Hek-bin Mo-ong melakukan penyelidikan ke selatan,.

Sebetulnya ketiga Sam Mo-ong semua melakukan perjalanan ke selatan, namun mereka membagi tugas. Hek-bin Mo-ong bertugas untuk mengunjungi pesta ulang tahun Cin-ling-pai sambil melihat keadaan, dan puteri Mulani turut dengannya. Ada pun Kwi-jiauw Lo-mo sedang pergi mengunjungi Beng-kauw dalam usahanya hendak membalas dendam atas kematian cucunya An Seng Gun, putera mendiang An Lu Shan dan mendiang Kiauw Ni puteri Kwi-jiauw Lo-mo.

Setahun yang lalu, An Seng Gun ini mewakili Sam Mo-ong bersekutu dengan Hoat-kauw dan membantu Hoat-kauw dengan cara menyelundup ke dalam perkumpulan Nam-kiang-pang sehingga menguasai perkumpulan itu. Tetapi akhirnya An Seng Gun dan sekutunya, yaitu Hoat-kauw, digempur pasukan pemerintah yang dibantu oleh para pendekar.

Dalam pertempuran yang seru, An Seng Gun tewas di tangan seorang tokoh besar Beng-kauw, yaitu putera mendiang Sie Wan Cu ketua Beng-kauw yang bernama Sie Kwan Lee, yang sekarang menggantikan kedudukan ayahnya dan menjadi ketua Beng-kauw. Karena itu Kwi-jiauw Lo-mo mendendam kepada ketua Beng-kauw yang baru ini. Kepergiannya membalas dendam ke Beng-kauw ini ditemani oleh rekannya, yaitu Pek-bin Mo-ong. Dia tahu bahwa Beng-kaiw adalah perkumpulan yang kuat, mempunyai banyak orang pandai, maka dia mengajak rekannya.

Demikianlah, dengan tergesa-gesa Hek-bin Mo-ong bersama Mulani meninggalkan rumah makan. Dia terkejut sekali melihat Han Lin, pemuda yang dia tahu amat tangguh itu, maka dia segera meninggalkan pemuda itu.

“Suhu, kenapa begini tergesa-gesa?”
“Hayo cepatlah, Mulani. Aku tidak ingin terlibat dalam keributan di sana tadi, hanya akan mengganggu tugas kita saja,” kata Hek-bin Mo-ong sambil melangkah cepat diikuti gadis itu.

Karena tergesa inilah, ketika sampai di satu tikungan, dia hampir bertabrakan dengan dua orang yang diikuti beberapa orang lain, yang juga berjalan dengan setengah berlari. Untuk menghindarkan tabrakan, Hek-bin Mo-ong cepat mendorongkan kedua tangannya ke arah dua orang itu.

Dia tahu bahwa dorongan itu akan membuat kedua orang itu terjengkang dan dia sendiri akan terbebas dari tabrakan. Akan tetapi betapa kagetnya ketika kedua orang itu melesat ke kanan kiri bagaikan terbang saja, sehingga dorongan kedua tangannya luput! Ternyata kedua orang itu memiliki ginkang yang hebat!

Hek-bin Mo-ong siap menghadapi dua orang lawan yang dia tahu bukan sembarang lawan itu. Juga Mulani maklum bahwa dua orang itu lihai. Dapat mengelak dari dorongan kedua tangan Hek-bin Mo-ong saja sudah hebat, apa lagi elakan itu dilakukan dengan meloncat sedemikian cepat dan tingginya seperti terbang saja, kemudian kedua orang itu tahu-tahu telah berada di atas pohon di kanan kiri jalan!

Belasan orang yang tadi berjalan di belakang dua orang itu, termasuk tiga orang yang tadi dihajar oleh kakak beradik ketika berada di rumah makan, sebab dua orang lainnya tidak dapat ikut karena tangan mereka yang tertembus sumpit itu terasa nyeri sekali, sekarang bergerak maju untuk mengeroyok kakek dan gadis cantik itu. Hek-bin Mo-ong dan Mulani sudah siap untuk menghajar mereka.

“Tahan…!” terdengar teriakan dari kanan kiri dan kedua orang yang tadi mengelak sambil berlompat ke atas pohon, kini melayang turun dengan gerakan indah dan cepat. Mereka kini berdiri di depan Hek-bin Mo-ong.

Kakek ini memandang penuh perhatian dan siap melawan. Akan tetapi ketika dia melihat siapa adanya kedua orang itu, mulutnya yang selalu menyeringai itu terbuka lebar.

“Ha-ha-ha! Kiranya kalian Thian-te Siang-kui (Sepasang Siluman Langit Bumi)!” katanya sambil tertawa.

Dua orang itu memang aneh. Yang seorang tubuhnya tinggi kurus, lebih tinggi sekepala dibandingkan orang yang tingginya seukuran umum. Dan yang seorang lagi kecil pendek, bahkan agak lebih pendek dibandingkan Hek-bin Mo-ong yang sudah pendek itu.

Kedua orang yang usianya sekitar lima puluh tahun itu lantas memberi hormat. Thian-kui (Siluman Langit) yang bertubuh tinggi berkata, “Harap maafkan kami, Mo-ong. Kami tidak tahu sama sekali bahwa Mo-ong yang akan lewat di sini sehingga hampir bertabrakan.”

“Agaknya Mo-ong hendak mengunjungi Cin-ling-pai besok pagi?” tanya Tee-kui (Siluman Bumi) setelah memberi hormat. “Dan siapakah nona ini, Mo-ong?”

Mulani yang melihat betapa kedua orang aneh itu agaknya sudah berkenalan baik dengan gurunya, bertanya. “Suhu, siapakah mereka ini?”

Hek-bin Mo-ong menjawab pertanyaan muridnya lebih dahulu. Ini berarti bahwa dia lebih mementingkan muridnya dan tidak terlalu sungkan terhadap dua orang itu. “Mereka inilah yang disebut Thian-te Siang-kui, dua orang datuk yang berkuasa di seluruh lembah sungai Han. Mereka adalah sekutu kita, Mulani.”

“Ahh, begitukah? Bagus sekali kalau begitu,” kata gadis itu.

Kini barulah Hek-bin Mo-ong menjawab pertanyaan kedua orang itu. “Aku beserta muridku Mulani memang akan berkunjung dan menghadiri undangan Cin-ling-pai.”

“Akan tetapi seyogianya kalau Mo-ong menyamar, karena para utusan serta wakil partai-partai akan hadir dan tentu akan terjadi keributan kalau melihat hadirnya Mo-ong di sana,” kata Thian-kui.
“Tentu saja, jangan khawatir. Akan tetapi kalian ini begitu tergesa-gesa hendak pergi ke manakah?” tanya Hek-bin Mo-ong.

Dia teringat bahwa kedua orang ini amat lihai sehingga tidak mudah bagi dia dan Pek-bin Mo-ong menundukkan mereka dahulu ketika Sam Mo-ong bersekutu dengan Hoat-kauw untuk menguasai dunia kang-ouw. Tapi akhirnya Thian-te Siang-kui tunduk juga dan mau bersekutu dengan mereka. Dua orang ini adalah kepala semua golongan hitam di semua kota dan dusun sekitar lembah sungai Han.

“Kami hendak memberi hajaran kepada dua orang yang mengaku tokoh Pek-eng Bu-koan sebab mereka berani menghajar tiga orang kami. Juga terhadap dua orang, yaitu seorang kakek dan seorang nona...” Thian-kui berhenti bicara melihat Mulani memandang dengan marah dan sekarang dia teringat laporan kedua orang anak buahnya bahwa yang melukai tangan mereka adalah seorang gadis cantik yang berpakaian mewah dan seorang kakek pendek gendut! “Ahh, kiranya Mo-ong dan nona yang telah memberi hajaran kepada dua orang anak buah kami yang bersikap kasar,” dia melanjutkan.

“Mereka bukan hanya kasar, mereka kurang ajar!” kata Mulani ketus.
“Sudahlah, salah pengertian di antara kita tidak perlu dibicarakan lagi. Tetapi kalau kalian hendak mencari muda-mudi itu di rumah makan, berhati-hatilah kalian terhadap seorang pemuda berpakaian sederhana yang membawa tongkat butut. Nah, sampai jumpa, Siang-kui!” Hek-bin Mo-ong melanjutkan perjalanannya, diikuti oleh Mulani.

Thian-te Siang-kui melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah makan itu dengan cepat. Melihat sepasang siluman ini memasuki kota bersama sepuluh orang anak buahnya dan wajah mereka terlihat bengis, maka semua orang yang sudah tahu siapa mereka seketika menjadi cemas.

Setiap kali muncul sepasang siluman ini pasti mendatangkan kekacauan, malah petugas keamanan agaknya jeri terhadap mereka yang dikabarkan memiliki ilmu kepandaian tinggi dan biasa membunuh orang tanpa berkedip. Seluruh penjahat besar atau kecil di daerah itu, bahkan di sepanjang lembah sungai Han, menjadi anak buah mereka, atau setidaknya menyatakan takluk dan selalu membagi rejeki yang mereka dapatkan…..

********************
Pemuda baju putih dan gadis baju merah muda yang tadi menghajar tiga orang pemuda berandal masih duduk di rumah makan. Agaknya mereka sengaja menunggu kalau-kalau kepala berandal akan datang untuk membuat perhitungan dan mereka sudah mengambil keputusan untuk membasmi mereka.

Mereka adalah pendekar-pendekar gagah, putera dan puteri ketua Pek-eng Bu-koan yang amat terkenal sebagai perguruan silat besar di kota raja. Bahkan banyak putera pembesar tinggi sampai pangeran menjadi murid bu-koan (perguruan silat) ini.

Pemuda itu bernama Can Kok Han, berusia dua puluh lima tahun. Dia tampan dan gagah, dan mungkin karena dia adalah putera dari ketua Pek-eng Bu-koan, dan saudara-saudara seperguruannya adalah pangeran-pangeran dan pemuda-pemuda bangsawan, maka Can Kok Han memiliki watak yang angkuh dan tinggi hati di samping kegagahannya.

Berbeda dengan kakaknya, gadis itu, Can Bi Lan yang berusia delapan belas tahun sama sekali tidak angkuh bahkan dia ramah sekali. Gadis yang selalu berpakaian merah muda ini memang cantik jelita, dengan mata lebar seperti bintang, hidungnya kecil mancung dan mulutnya selalu dihias senyum manis. Sepasang matanya menjadi daya tarik paling kuat karena mata itu seolah selalu tersenyum memancarkan cahaya kehidupan yang gembira.

Kedatangan mereka di kota Han-cung adalah untuk mewakili Pek-eng Bu-koan menghadiri pertemuan yang akan diadakan oleh Cin-ling-pai. Ketika bertemu dengan pemuda-pemuda berandalan di rumah makan, tentu saja mereka turun tangan memberi hajaran dan kini mereka masih menanti ancaman yang dilontarkan anak-anak berandal itu ketika mereka hendak pergi.

Mendadak pemilik rumah makan tergopoh menghampiri mereka sambil berkata, “Kongcu! Siocia! Celaka, mereka datang... harap ji-wi (kalian berdua) keluar dari sini supaya rumah makan kami tidak hancur berantakan!”

Sepasang muda-mudi itu bangkit berdiri.

“Baiklah, kami akan menyambut mereka di luar!” kata gadis itu lantas bersama kakaknya mereka keluar rumah makan.

Para tamu menjadi panik, namun mereka juga ingin menonton perkelahian maka dengan sembunyi-sembunyi mereka mengintai. Han Lin yang masih berada di sana juga tertarik sekali. Dia berjalan keluar sampai ambang pintu depan, berdiri di situ sambil memandang kagum kepada kakak beradik yang sudah berdiri tegak siap menanti datangnya lawan.

Tak lama kemudian tampaklah rombongan orang itu. Melihat dua orang aneh yang berada di depan, Han Lin dapat menduga bahwa tentu mereka inilah pemimpinnya. Yang seorang amat tinggi kurus, sedangkan seorang lagi kecil pendek, merupakan pasangan yang tidak seimbang. Di belakang mereka terdapat sepuluh orang laki-laki termasuk tiga orang yang tadi sudah dihajar oleh kakak beradik itu. Tiga orang inilah yang menuding-nuding ke arah kakak beradik itu untuk memberi tahu kawan-kawannya dan kedua orang pemimpinnya bahwa kakak beradik itu yang telah menghajar mereka tadi.

Si tinggi kurus dan si pendek kecil menggerakkan kakinya dan seperti terbang saja tahu-tahu mereka telah berhadapan dengan Can Kok Han dan Can Bi Lan. Dua orang muda ini melihat gerakan lawan ini bukanlah orang lemah, bahkan lihai sekali. Melihat perawakan dua orang itu serta gerakan mereka yang seperti terbang, maka teringatlah kakak beradik itu akan nama besar Thian-te Siang-kui sebagai datuk golongan hitam di seluruh lembah sungai Han. Akan tetapi sepasang siluman itu kabarnya jarang sekali keluar sendiri kalau tidak menghadapi urusan besar.

Mereka tidak tahu bahwa kebetulan sekali sepasang siluman itu sedang berada di Han-cung sehubungan dengan undangan Cin-ling-pai kepada tokoh-tokoh kang-ouw. Karena mereka berdua kebetulan berada di Han-cung, maka mendengar ada anak buah mereka dihajar, mereka sendiri lalu berangkat untuk menegakkan wibawa.

Thian-kui si tinggi kurus itu menuding ke arah Kok Han dan Bi Lan. “Hei, dua orang muda. Benarkah kalian yang telah memukul tiga orang anak buah kami ini? Siapakah kalian yang begitu berani berlagak jagoan di kota Han-cung ini?”

“Kalau tidak salah kami sedang berhadapan dengan Thian-te Siang-kui, benarkah?” tanya Can Kok Han dengan sikap tenang walau pun di dalam hatinya dia merasa tegang.

Dua orang datuk sesat itu tertawa. “He-heh-heh, kalau sudah tahu siapa kami, hayo cepat berlutut minta ampun karena kalian sudah memukuli orang-orang kami. Barang kali saja kami akan memaafkan kalian!” kata Tee-kui yang katai.

Tersinggung rasa harga diri Kok Han mendengar dia dan adiknya disuruh berlutut minta ampun.

“Hemm,” jawabnya dengan tegas. “Ketahuilah, aku bernama Can Kok Han dan ini adikku Can Bi Lan. Kami adalah putera-puteri ketua Pek-eng Bu-koan. Kami bukan orang-orang yang suka memukul orang lain tanpa sebab. Kalau tiga orang itu sampai bentrok dengan kami adalah karena mereka berani bersikap kurang ajar terhadap adikku.”
“Ahh, kalau laki-laki menegur wanita cantik, hal itu sudah biasa terjadi di dunia mana pun. Tetapi mengapa kalian main pukul? Berarti kalian tidak memandang mata kepada kami!” kata Thian-kui yang tinggi.

“Thian-te Siang-kui!” kata Can Bi Lan sambil tersenyum mengejek. “Aku telah mendengar banyak tentang kalian sebagai datuk-datuk yang berkedudukan tinggi, tapi pandanganmu ternyata masih sempit. Kami tidak tahu bahwa pemuda-pemuda berandalan itu anak buah kalian, dan kalau mereka kurang ajar kepadaku, apakah aku harus diam saja? Bagaimana kalau puteri kalian dikurang ajari laki-laki? Sepantasnya kalian menegur anak buah sendiri yang bersalah, bukan menyalahkan kami!”

Diam-diam Han Lin kagum. Gadis itu bukan main. Berani dan pandai bicara pula sehingga dengan ucapannya itu, yang didengar oleh banyak orang biar pun secara sembunyi, telah menyudutkan sepasang siluman itu.

Dengan marah Tee-kui mengacungkan kepalan tangan lalu berkata, “Dua bocah sombong, kalau tidak lekas berlutut minta ampun, apakah kalian berani menentang kami?”

“Kami tidak menentang, akan tetapi kami juga tidak pernah menolak tantangan!” kembali Can Bi Lan yang menjawab dengan tak kalah sengitnya. Dara ini memang pemberani dan sedikit pun tidak merasa gentar menghadapi datuk-datuk yang tersohor itu.
“Baik, kalau begitu kami berdua menantang kalian! Hayo, kita main-main sebentar!” kata si katai sambil maju menghampiri Bi Lan, sedangkan rekannya yang jangkung itu segera menghampiri Kok Han.

Kakak beradik ini maklum akan kelihaian dua orang datuk itu, maka sambil melangkah ke belakang mereka mencabut pedang yang tergantung di punggung untuk membela diri.

“Thian-te Siang-kui, di antara Pek-eng Bu-koan dan kalian tidak pernah ada permusuhan, tapi kalau sekarang kami yang muda-muda berani bersikap keras, ini adalah karena kalian yang tua terlampau mendesak dan menantang!” kata Kok Han yang bagaimana pun masih bimbang untuk melawan datuk tinggi kurus itu.
“Jangan banyak bicara. Kalau kalian ada kepandaian, majulah!” bentak Thian-kui dan dia pun sudah melolos senjatanya, yaitu sabuk rantai baja yang panjangnya ada dua meter. Begitu diayun, sabuk rantai itu menyambar dan mengeluarkan suara mengaung nyaring.

Kok Han maklum betapa besar tenaga yang terkandung pada rantai ini, karena itu dia pun tidak berani menangkis, khawatir kalau pedangnya rusak. Dia menggunakan ginkang-nya yang memang rata-rata dimiliki murid Pek-eng Bu-koan, bagaikan seekor burung garuda tubuhnya meloncat ke atas menghindarkan diri dari sambaran rantai, kemudian dia balas menyerang dengan pedangnya sambil berjungkir balik dan menukik ke arah lawan.

“Bagus!” kata Thian-kui.

Akan tetapi dengan mudahnya dia mengelak, lalu memegangi rantai dengan kedua tangan sehingga merupakan sepasang senjata yang panjangnya seperti pedang. Lantas terjadilah pertempuran yang seru di antara mereka.

Sementara itu Tee-kui telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang golok dan ternyata si katai ini memiliki gerak yang gesit sekali, dapat mengimbangi gerakan Bi Lan yang juga sangat cepat. Pedang gadis itu bergerak membentuk gulungan sinar yang membungkus tubuhnya dan kadang dari gulungan sinar itu mencuat sinar pedang menyerang lawan.

Namun lawannya sangat lihai, dan setiap serangannya tentu bertemu dengan golok yang mengandung tenaga begitu kuatnya sehingga Bi Lan merasa pedangnya tergetar hebat. Hanya dalam waktu belasan jurus saja gadis ini sudah terdesak hebat sehingga terpaksa memutar pedangnya untuk melindungi dirinya.

Demikian pula dengan Kok Han. Lewat belasan jurus dia hanya mampu memutar pedang menangkis sambil terus bergerak mundur karena desakan lawannya yang tinggi kurus itu.

Han Lin yang menonton pertandingan itu, mengerutkan alisnya dengan khawatir, karena dia tahu bahwa kakak beradik itu bukanlah lawan sepasang siluman yang ternyata lihai sekali! Tingkat kepandaian kedua orang itu sudah mencapai tingkat para datuk, dan tidak lama lagi dua orang muda Pek-eng Bu-koan itu pasti akan kalah.

Dugaan Han Lin itu terbukti ketika sebuah tendangan kaki si jangkung membuat Kok Han terlempar walau pun dia masih memegangi pedangnya. Dan si katai itu sudah menangkis pedang Bi Lan ke samping lalu secepat kilat dia membalikkan gagang golok dan menotok tubuh Bi Lan sehingga tidak bergerak lagi.

“He-he-he, gadis nakal. Engkau harus menjadi tawanan kami sebelum kalian berdua mau berlutut minta ampun.” Si katai hendak menangkap gadis yang sudah tak dapat bergerak itu. Melihat ini Kok Han yang sudah bangkit kembali, meloncat dengan pedang di tangan, hendak menolong adiknya yang akan ditangkap.
“Lepaskan adikku!” Dia membentak sambil pedangnya menyambar ke arah si katai. Tee-kui tertawa dan goloknya menangkis keras sekali, membuat pedang pemuda itu terpental dan orangnya terhuyung.
“Kau ingin mampus...?!” bentak si katai dan dia mengejar untuk memberi bacokan kepada Kok Han. Dia mengayun golok kirinya.
“Tranggg...!”

Tee-kui terkejut sekali melihat sinar hitam menangkis goloknya dan membuat tangannya tergetar hebat. Dia melihat pemuda berpakaian sederhana dan memegang tongkat hitam, mengingatkan dia pada pesan Hek-bin Mo-ong agar dia berhati-hati menghadapi pemuda itu.

“Hemm, dua orang tua menghina orang-orang muda. Sungguh tidak tahu malu!” kata Han Lin. “Yang salah adalah anak-anak buah kalian, kenapa kalian malah membela anak buah yang berandalan suka menghina kaum wanita itu?”

Thian-te Siang-kui marah sekali. Biar pun mereka sudah mendapat peringatan dari Hek-bin Mo-ong agar berhati-hati menghadapi pemuda berpakaian sederhana yang membawa tongkat butut, akan tetapi sebagai datuk-datuk golongan hitam tentu saja mereka berdua memandang rendah seorang pemuda seperti Han Lin.

“Kurang ajar! Siapa engkau yang berani mencampuri urusan kami?!” bentak Thian-kui.

Sementara itu Kok Han cepat membebaskan totokan pada tubuh adiknya sehingga Bi Lan dapat bergerak kembali. Melihat seorang pemuda bertongkat menghadapi dua orang yang lihai itu, mereka lantas mundur sampai ke pinggiran dan berbalik menjadi penonton, akan tetapi mereka bersiap-siap untuk membantu pemuda yang membantu mereka.

“Siapa aku tidak penting dibicarakan,” kata Han Lin dengan tenang. “Yang perlu dibahas adalah sikap kalian yang sungguh tak sesuai dengan sikap datuk-datuk persilatan. Kalian hendak memaksa dua orang muda yang sama sekali tidak bersalah untuk berlutut minta ampun, padahal sepatutnya kalian yang minta maaf kepada mereka, mintakan maaf untuk anak buah kalian yang sudah berbuat kurang ajar. Aku sendiri saksi akan kekurang ajaran anak buahmu yang berandalan itu.”

“Bocah sombong! Kalau begitu biarlah engkau mampus tanpa nama!” bentak Thian-kui sambil memutar rantainya yang panjang.

Karena sudah mendapat peringatan dari Hek-bin Mo-ong dan merasakan sendiri hebatnya tenaga yang membuat tangannya sampai terpental hebat, Tee-kui juga tidak tinggal diam. Bagi dua orang datuk golongan hitam ini, tidak ada sesuatu apa pun yang dipantang. Biar mengeroyok seorang pemuda pun mereka tidak malu melakukannya.

“Haiiittttt...!”

Thian-kuo menerjang dengan rantai bajanya yang menyambar ganas ke arah kepala Han Lin. Pemuda ini meloncat ke samping untuk mengelak, akan tetapi sepasang golok Tee-kui menyambutnya sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan. Ketika dia bangkit kembali, dia maklum bahwa dilihat dari hebatnya serangan kedua orang itu, dia sekarang berhadapan dengan dua orang yang benar-benar lihai. Agaknya tingkat kepandaian mereka tidak kalah banyak dibandingkan dengan tingkat Sam Mo-ong!

Oleh karena itu, untuk menguji ilmu pedang yang baru saja dirangkainya dari sari seluruh ilmunya, dia meloncat bangun sambil mencabut pedangnya. Pedang itu diambilnya dari buntalan pakaiannya, dan kini dia lemparkan buntalan pakaian ke samping, lalu meloncat ke atas. Dengan lengkingan panjang dia menukik sambil pedangnya menyambar-nyambar ke arah kedua orang lawannya.

Dua orang itu terkejut sekali karena gulungan sinar pedang kemerahan itu mengeluarkan bunyi mendesir dan mendatangkan angin seperti badai menerpa mereka. Keduanya cepat menggerakkan senjata untuk menangkis dengan sekuat tenaga.

“Tranggg...! Trakkk...!”

Thian-kui melompat ke belakang ketika melihat rantai bajanya terputus sepotong, ada pun si katai itu menggelinding laksana bola ketika golok tangan kirinya patah disambar sinar merah. Han Lin melayang turun dan dua orang lawannya kini memandang dengan heran dan gentar.

“Ang-in Po-kiam...!” seru mereka hampir berbareng.
“Pedang Awan Merah...?” Kok Han dan Bi Lan juga berseru kaget dan heran.

Akan tetapi Thian-te Siang-kui telah menerjang lagi dengan penasaran. Thian-kui memutar rantai bajanya yang sudah terpotong ujungnya dan Tee-kui memutar goloknya yang tinggal sebuah.

Han Lin menyambut serangan mereka dengan tenang dan kini kedua orang lawan dibuat terkejut oleh gerakan pedang itu. Kalau tadinya pedang bergerak dahsyat mengeluarkan angin dan suara berdesir, kini pedang itu menyambar-nyambar tanpa suara sama sekali, tidak pula mendatangkan angin. Akan tetapi walau pun nampak bergerak perlahan, setiap kali bertemu senjata mereka mengandung kekuatan yang menggetarkan tangan mereka! Mereka mengeroyok dengan mengerahkan seluruh tenaga sinkang dan mempergunakan kecepatan gerakan mereka yang didukung ginkang yang sudah tinggi tingkatnya.

Namun Han Lin bersilat dengan hati-hati. Ke mana pun senjata lawan menyerang, selalu dapat dihindarkannya dengan elakan atau tangkisan. Dua orang itu sudah merasa gentar sekali terhadap pedang bersinar merah sehingga setiap kali mengadu senjata, mereka tak berani menggunakan tenaga karena khawatir senjata yang tinggal setengahnya itu akan rusak pula.

Karena itu mereka berdualah yang terdesak dan sesudah lewat dua puluh jurus, mereka berseru keras lantas berloncatan pergi, diikuti oleh sepuluh orang anak buah mereka yang lari ketakutan. Baik Han Lin mau pun dua kakak beradik itu tidak melakukan pengejaran.

Han Lin menyarungkan kembali pedangnya lalu mengambil buntalan pakaian dan tongkat bambunya, memasukkan pedang bersama sarungnya ke dalam buntalan. Pada saat itu pula Can Kok Han mendekatinya dan pemuda berpakaian putih itu menegur dengan alis berkerut,

“Jadi engkaukah pencuri pedang pusaka dari istana itu?”

Han Lin merasa heran. Maka dia menalikan buntalan pakaiannya di punggung kemudian bertanya, “Apa yang kau maksudkan?”
“Engkau yang mencuri Pedang Awan Merah dari gudang pusaka kerajaan di kota raja!” kembali Can Kok Han menuduh. Han Lin hanya tersenyum dan menoleh kepada Bi Lan yang juga menghampirinya.
“Koko, jangan sembarangan menuduh!” cela Bi Lan kepada kakaknya, lalu ia menghadapi Han Lin dan mengangkat kedua tangan depan dada.
“Sobat, banyak terima kasih atas bantuanmu tadi. Aku Can Bi Lan dan kakakku Can Kok Han berhutang budi kepadamu.”
“Aihh, nona, hutang pihutang budi hanya mendatangkan ikatan yang memusingkan. Dua orang datuk itu memang berlaku tidak pantas sehingga harus ditentang oleh siapa pun.”
“Akan tetapi, moi-moi, dia harus menerangkan dari mana dia mendapatkan Pedang Awan Merah yang dicuri dari gudang pusaka kerajaan itu!” Kok Han membantah dengan suara mengandung penasaran. “Kita harus setia kepada Kaisar dan berusaha mengembalikan pedang itu!”

Han Lin memandang kepada pemuda itu. Sungguh congkak, pikirnya. Akan tetapi adiknya begini ramah. Luar biasa sekali betapa dua kakak beradik ini mempunyai watak yang jauh berbeda.

“Lantas dengan cara bagaimana engkau hendak mendapatkan pedang ini? Apakah kalian berdua akan merampasnya dariku dengan kekerasan?”
“Kalau perlu...!”
“Koko, engkau sungguh tidak adil! Setidaknya biarkan dia menerangkan dulu bagaimana pedang pusaka itu berada padanya, bukannya mendesak dan menuduhnya!” kata pula Bi Lan membela Han Lin.

“Siauw-moi, kita harus mendahulukan kepentingan kerajaan daripada kepentingan pribadi. Demi nama dan kehormatan kerajaan kita harus dapat merampas kembali pedang pusaka itu kemudian mengembalikan ke istana!” Can Kok Han berkata ketus.

Han Lin memandang Bi Lan dengan sinar mata berterima kasih. “Aku tidak menghiraukan tuduhan siapa pun juga, nona. Akan tetapi dengan senang hati aku bersedia menceritakan kepadamu tentang pedang ini, kalau nona menghendaki.”

“Terima kasih kalau engkau percaya kepadaku. Terus terang saja, aku pun ingin sekali mengetahui, siapakah engkau yang sudah menolong kami dan bagaimana pula engkau dapat memiliki Pedang Awan Merah yang sudah menghebohkan seluruh dunia kang-ouw dan menggegerkan kota raja karena kehilangannya itu?”
“Namaku Sia Han Lin, nona Can Bi Lan. Aku sama sekali tidak pernah mencuri pedang atau mencuri apa pun...”
“Lalu bagaimana pedang yang lenyap dicuri orang bisa berada di tanganmu kalau engkau bukan pencurinya?” tanya Kok Han dengan nada suara tidak percaya.

“Aku tidak memberi keterangan kepadamu dan tidak akan menjawab pertanyaanmu,” kata Han Lin dan kemudian dia menghadapi Bi Lan kembali. “Nona, pedang ini kurampas dari mendiang ketua Hoat-kauw ketika aku membantu pasukan pemerintah menyerangnya. Kurasa orang-orang Hoat-kauw yang telah mencurinya dari gudang pusaka kerajaan dan aku baru mengambil darinya setelah dia roboh dan tewas.”
“Lantas memilikinya untuk dirimu sendiri? Itu sama saja dengan mencuri. Merampas dari pencuri lalu dimiliki sendiri sama saja dengan tukang tadah!”
“Koko, engkau benar-benar tak tahu malu! Saudara Sia Han Lin sudah mengatakan tidak mau bicara denganmu, akan tetapi engkau terus saja bicara ngaco tidak karuan. Di mana kehormatanmu?”

Wajah Can Kok Han berubah merah dan dia melotot kepada adiknya, mendengus marah lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan adiknya dan Han Lin memasuki rumah makan kembali. Adiknya tidak mempedulikan, kemudian bertanya kepada Han Lin,

“Saudara Sia Han Lin, bolehkah aku menyebutmu toako (kakak) saja? Usiaku delapan belas tahun, tentu lebih muda darimu.”
“Tentu saja boleh, siauw-moi,” kata Han Lin sambil tersenyum.
“Toako, kami berdua datang ke Han-cung untuk menghadiri undangan Cin-ling-pai yang pada esok hari akan mengadakan pertemuan penting. Apakah engkau juga datang untuk menghadiri pertemuan itu?”
“Terus terang saja aku sedang ke kota raja, tapi ketika lewat di sini aku mendengar akan pertemuan orang-orang kang-ouw itu. Aku tertarik dan ingin menonton pertemuan.”

Gadis itu menatap tajam. “Toako, tahukah engkau apa maksud Cin-ling-pai mengundang tokoh-tokoh dunia persilatan?”

Han Lin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”

Bi Lan berkata, “Sungguh aneh. Engkau yang menguasai pedang itu, akan tetapi engkau justru tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Ketua Cin-ling-pai yang melakukan pencurian Pedang Awan Merah itu sebagaimana didesas-desuskan dengan ramainya di dunia kang-ouw.”

“Ahh...! Ternyata pedang ini telah mendatangkan kehebohan yang luar biasa. Pantas saja kakakmu bersikap seperti itu.”
“Jangan hiraukan dia. Dia memang keras kepala sekali. Toako, Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan pendekar yang terhormat, karena itu tuduhan dan desas-desus bahwa Cin-ling-pai yang mencuri pedang, amat menjatuhkan nama besarnya. Maka besok pagi ketua Cin-ling-pai hendak menyangkal semua tuduhan di depan para tokoh kang-ouw.”
“Hemm, kalau begitu kebetulan sekali aku singgah di kota ini. Tadinya aku berniat pergi ke kota raja untuk...”
“Mengembalikan pedang kepada Kaisar?” sambung Bi Lan.
“Betul sekali. Setelah aku mendengar dari beberapa orang kang-ouw bahwa pedang yang tadinya kukira milik ketua Hoat-kauw ini ternyata pedang pusaka kerajaan, aku mengambil keputusan untuk mengembalikan ke istana.”
“Wah, tentunya engkau akan menerima hadiah besar sekali, toako. Kaisar yang sekarang juga sudah menjanjikan bahwa siapa yang dapat mengembalikan pedang itu, selain diberi harta benda yang banyak sekali, juga akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Engkau beruntung sekali, toako!” kata Bi Lan gembira.

Kini mengertilah Han Lin mengapa pedang itu dijadikan perebutan di antara orang-orang kang-ouw. Kiranya ada hadiahnya yang amat besar. Agaknya Can Kok Han juga merasa iri kepadanya dan ingin merampas pedang untuk mendapatkan hadiah itulah!

“Hemm, Lan-moi, kau kira aku terpikat oleh hadiah-hadiah itu? Kalau aku mengembalikan pedang itu, semata-mata adalah karena aku merasa bahwa yang berhak memiliki adalah kerajaan. Jadi bukan karena hadiah itu, sama sekali tidak, aku tidak mengharapkan itu.”

Gadis itu terbelalak. “Mengapa, toako? Bukankah itu adalah suatu kesempatan yang baik sekali untuk menjadi pejabat tinggi yang kaya raya?”

“Tidak, menjadi pejabat tinggi haruslah disesuaikan dengan kepandaian dan kemampuan, bukan dihadiahkan begitu saja. Dan untuk bisa mendapatkan harta benda yang berjumlah besar, orang harus berusaha, bekerja, bukan menuntut dari sesuatu yang sudah menjadi kewajibannya.”

“Wah, engkau orang yang aneh, toako. Akan tetapi pendapat dan pendirianmu ini menarik sekali, karena tidak lumrah, tidak biasa, tidak sama dengan pendirian orang lain.” Gadis itu memandang kagum.

Han Lin tersenyum. “Apa anehnya dengan pendirian seperti itu? Setiap orang seharusnya berpendirian begitu. Sudahlah, Lan-moi, kita berpisah di sini, sampai jumpa pula, mudah-mudahan.”

“Sampai jumpa pula di tempat pertemuan Cin-ling-pai, toako,” kata gadis itu penuh harap. Ingin dia berbicara panjang lebar dengan pemuda yang menarik perhatiannya itu, namun tidaklah pantas kalau sebagai gadis yang baru saja berkenalan dia menahan pemuda itu.

Setelah Han Lin pergi jauh sampai tak nampak lagi, baru Bi Lan memasuki rumah makan mencari kakaknya. Kok Han yang duduk di atas kursi menyambutnya dengan pandangan mata tak senang dan mulut cemberut.

“Koko, sikapmu tadi sungguh tidak patut sekali. Saudara Han Lin telah menolong bahkan menyelamatkan kita, akan tetapi engkau malah menghinanya. Dia merampas pedang itu dari pencurinya dan kini bermaksud hendak mengembalikan kepada Kaisar, tidak seperti yang kau tuduhkan.”

Kok Han tersenyum mengejek. “Hemm, siapa percaya omongan seorang yang tidak jelas asal usulnya? Engkau saja yang mudah percaya obrolannya.”

“Koko, kau terlalu...!”
“Sudahlah, kita sudah cukup membuat ribut. Mari kita mencari penginapan untuk menanti sampai besok. Kita membawa berita yang sangat baik untuk Cin-ling-pai dan para tokoh kang-ouw, yaitu kita telah mengetahui siapa pencuri pedang itu.”

Bi Lan menatap kakaknya dengan pandangan mata mengandung kemarahan, lalu tanpa menjawab dia membalikkan tubuhnya keluar dari rumah makan.

“Lan-moi...!” teriak Kok Han mengejar.

Namun Bi Lan berjalan terus tanpa menjawab dan tidak mau menoleh karena dia sudah marah sekali. Dia mencari rumah penginapan, tanpa mempedulikan kakaknya yang terus mengikutinya. Sesudah menemukan rumah penginapan yang cukup besar, dia memesan sebuah kamar dan seolah tidak mengenal kakaknya yang berada di belakangnya.

Terpaksa Kok Han juga memesan kamar di sebelah kamar adiknya itu. Dia maklum akan kekerasan hati Bi Lan. Kalau sudah mengambek begitu, adiknya tak akan mau bicara dulu kalau tidak ditegur.

Sementara itu Thian-te Siang-kui bersama sepuluh orang anak buahnya yang melarikan diri segera mencari Hek-bin Mo-ong dan Mulani yang juga bermalam pada sebuah rumah penginapan. Mudah bagi Thian-te Siang-kui untuk mengetahui di mana adanya Hek-bin Mo-ong.

Hek-bin Mo-ong menyambut mereka dengan heran ketika melihat kedua orang itu datang dengan napas terengah-engah dan wajah membayangkan ketegangan.

“Apa yang terjadi? Apakah kalian dikalahkan oleh pemuda yang memegang tongkat butut itu?” dia menduga, karena dia yang sudah tahu akan kelihaian Han Lin tidak akan merasa heran kalau Siang-kui dikalahkan oleh pemuda itu.
“Pemuda itu memang amat lihai, Mo-ong, akan tetapi dia belum sampai merobohkan kami dan bukan karena itulah kami mencarimu untuk melapor. Ada hal yang jauh lebih penting pula.”
“Hemm, apa itu?” tanya kakek gendut itu, matanya memandang penuh selidik.
“Pedang Awan Merah...” kata Thian-kui.
“Ang-in Po-kiam? Kenapa? Katakanlah yang jelas!”
“Pedang pusaka itu ternyata ada pada pemuda yang memegang tongkat butut itu. Ketika kami mengeroyoknya, dia telah mengeluarkan pedang itu sehingga mengejutkan kami dan senjata kami rusak oleh pedang itu!”
“Hemm, sudah kuduga tentu bocah setan itu yang mengambil Ang-in Po-kiam,” kata Hek-bin Mo-ong lirih.
“Suhu, bagaimana pusaka itu dapat terjatuh ke tangan pemuda itu? Siapa dia dan kenapa Ang-in Po-kiam dapat berada di tangannya? Bukankah kabarnya pedang pusaka kerajaan itu lenyap dicuri orang?”

Hek-bin Mo-ong mengangguk. “Tadinya aku pun tidak tahu siapa pencuri pedang pusaka istana. Ketika kami membantu Hoat-kauw menghadapi serbuan pasukan, baru kemudian diketahui bahwa pedang pusaka itu dimiliki oleh mendiang Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw. Kiranya dialah yang telah mencuri pedang itu dan merahasiakan hal ini. Kalau tidak dirahasiakan, tentu sudah lama dia diserbu banyak tokoh kang-ouw. Ketika dia bertanding melawan Sia Han Lin, dia terpaksa menggunakan Pedang Awan Merah itu. Tapi dia kalah dan tewas, Hoat-kauw dibasmi dan kami terpaksa menyelamatkan diri. Kemudian tak ada lagi kabar tentang pedang pusaka itu, dan aku sudah menduga bahwa pedang pusaka itu tentu diambil dan dibawa oleh bocah setan itu.”

“Akan tetapi suhu, kalau pedang itu diambil oleh... siapa nama pemuda itu?”
“Sia Han Lin,” kata gurunya.
“Kalau diambil olehnya, tentu Sia Han Lin sudah mengembalikan kepada Kaisar, karena seperti yang kudengar, bukankah kabarnya Kaisar Kerajaan Tang akan memberi hadiah besar dan kedudukan tinggi kepada siapa saja yang bisa mengembalikan pedang pusaka itu?”
“Pemuda itu memang aneh. Mungkin dengan bantuan pedang itu dia ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan,” kata Hek-bin Mo-ong.
“Aihh, menarik sekali. Aku ingin sekali bertemu pemuda itu!”
“Tadi dia duduk di rumah makan...”
“Jadi inikah sebabnya suhu tergesa-gesa pergi dari rumah makan itu? Suhu jeri bertemu dia...”
“Hushh, bukan jeri. Aku takut kalau dia membuka mulut sehingga semua tahu bahwa aku sekutu Hoat-kauw yang dimusuhi pemerintah.”
“Aku ingin bertemu dengannya, suhu. Aku ingin merampas Pedang Awan Merah!” Mulani berkata penuh semangat.

“Hemm, jangan gegabah, Mulani. Pemuda itu lihai sekali. Pedang itu memang harus kita rampas, akan tetapi lebih baik kita tunggu sampai kedua orang suhu-mu tiba di sini. Kalau kami bertiga maju bersama, kita tidak takut menghadapi Sia Han Lin itu. Kurasa hari ini mereka akan tiba di sini seperti yang telah kita rencanakan.”
“Bagaimana macamnya pemuda yang bernama Sia Han Lin itu, Siang-kui?” tanya Mulani kepada sepasang siluman itu.
“Dia seorang pemuda tampan, tinggi tegap dan jantan, rambutnya hitam lebat, mata tajam dan wajahnya selalu tersenyum. Pakaiannya seperti orang dusun biasa, sederhana sekali. Akan tetapi dia tidak pernah meninggalkan tongkatnya, tongkat butut warna hitam.” Thian-kui menerangkan. “Dan usianya sekitar dua puluh satu tahun.” Dia menambahkan.

“Suhu, aku harus mencarinya, aku akan merampas Pedang Awan Merah.”
“Dia berbahaya sekali, Mulani.”
“Aih, suhu. Dia belum pernah melihatku, apa bahayanya? Aku dapat mendekatinya tanpa dia menyangka buruk karena dia belum pernah mengenal aku.”

Biar pun Sam Mo-ong adalah gurunya, akan tetapi tiga orang datuk ini tidak pernah dapat mengendalikan Mulani yang tidak dapat dilarang lagi kalau sudah menghendaki sesuatu. Hek-bin Mo-ong juga tidak dapat melarang, hanya berpesan supaya muridnya itu berhati-hati.

Mulani kemudian meninggalkan suhu-nya, sesudah berjanji bahwa dia akan pergi mencari Pedang Awan Merah dan ketika hari mulai gelap dia tentu akan kembali…..

********************
Selanjutnya baca
PEDANG AWAN MERAH : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger