logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pedang Awan Merah Jilid 03


Can Kok Han melangkah seorang diri meninggalkan rumah penginapan itu. Adiknya masih marah-marah dan tidak mempedulikan dia, karena itu dia juga marah dan kini dia hendak keluar dari kota untuk mencari Sia Han Lin! Ia ingin menumpahkan kemarahannya kepada pemuda itu dan dia tidak takut. Bila perlu akan ditantangnya pemuda itu! Dengan langkah lebar dia keluar dari pintu gerbang kota, tidak tahu bahwa semenjak dari pintu gerbang itu sampai keluar kota, dia dibayangi orang.

Yang membayanginya adalah Mulani. Dara ini segera mengenalnya sebagai pemuda yang bersama adik perempuannya sudah menghajar pemuda berandalan anak buah Thian-te Siang-kui di rumah makan. Dia tertarik sekali.

Bukankah Thian-te Siang-kui tadinya mencari hendak menghajar pemuda ini dan adiknya, akan tetapi kemudian mereka dibela oleh Sia Han Lin? Siapa tahu pemuda baju putih ini hendak menemui Sia Han Lin. Maka dia lalu mambayangi.

Kok Han yang penasaran dan marah itu tiba di pinggir sebuah hutan. Tiba-tiba muncullah Thian-te Siang-kui yang berloncatan tiba di hadapannya. Thian-kui yang tubuhnya tinggi jangkung itu tertawa girang ketika melihat dan mengenal pemuda itu.

“Ha-ha-ha, ini namanya kelinci menyerahkan diri kepada harimau, ha-ha-ha!” kata Thian-kui.
“Orang muda, sekarang engkau tak akan dapat terlepas dari tangan kami. Engkau harus menebus perlakuanmu terhadap anak buah kami,” kata Tee-kui.

Kok Han terkejut sekali melihat mereka. Melawan seorang dari mereka saja dia kalah, apa lagi kini harus melawan keduanya. Akan tetapi dia adalah pemuda yang tinggi hati, tidak pernah mau mengaku kalah dan juga pemberani.

“Thian-te Siang-kui, mau apa kalian menghadangku?!” bentaknya, sedikit pun tidak terlihat takut.
“Ha-ha-ha, tadi aku hanya menghendaki engkau dan adikmu berlutut minta ampun kepada kami,” kata Thian-kui, “Akan tetapi sekarang, selain menyerah dan minta ampun, engkau juga harus mengatakan di mana kami dapat menemukan Sia Han Lin.”
“Persetan dengan Sia Han Lin! Aku tidak tahu dia berada di mana!” kata Kok Han yang masih mendongkol kepada Han Lin karena pemuda itulah yang membuat adiknya marah-marah kepadanya. Lagi pula, andai kata dia tahu, dia tidak akan memberi tahu karena dia khawatir kalau-kalau Pedang Awan Merah akan dirampas oleh sepasang siluman ini.
“Hemm, lagakmu sombong sekali!” kata Tee-kui pula. “Hayo cepat engkau menyerah dan berlutut!” Tee-kui memegang gagang sepasang goloknya dengan sikap mengancam.

Akan tetapi mendengar bentakan ini, Kok Han membusungkan dadanya. “Menyerah? Aku tidak memiliki kesalahan apa pun juga terhadap kalian. Yang bersalah adalah anak buah kalian, mengapa aku harus berlutut dan menyerah? Selama nyawaku masih terkandung di badan, aku tak akan sudi menyerah!” berkata demikian, Kok Han juga memegang gagang pedangnya, siap melawan.

Mulani bersembunyi sambil mengintai dari balik semak-semak, dan dia pun memandang kagum. Boleh juga pemuda itu, pikirnya. Demikian gagah berani.

Thian-te Siang-kui marah sekali melihat sikap Kok Han. Tee-kui lalu mencabut goloknya dan berkata, “Orang muda sombong, engkau memang sudah bosan hidup!”

Melihat ini Kok Han juga segera mencabut pedangnya. “Lebih baik mati sebagai harimau yang melawan sampai titik darah terakhir dari pada hidup seperti babi yang diperlakukan sesukanya olehmu!”

“Sombong...!” Thian-kui berteriak. “Tee-kui, tangkap dia hidup-hidup. Aku ingin memaksa dia untuk berlutut dan menyiksanya!”

Tee-kui lantas menyerang dengan goloknya. Kok Han menggerakkan pedangnya dan siap melawan mati-matian. Terjadilah pertandingan yang berat sebelah. Bagaimana pun juga tingkat kepandaian Kok Han masih terlalu jauh untuk dapat mengimbangi permainan golok lawannya. Bukan saja permainan pedangnya belum mampu mengimbangi, juga terutama sekali dalam adu kekuatan, tenaganya jauh kalah kuat oleh si katai ini setiap kali senjata mereka bertemu.

Belum sampai dua puluh jurus pedangnya sudah terpental lepas dari tangannya, disusul sebuah tendangan kaki kecil itu yang membuatnya jatuh terjengkang di dekat Thian-kui. Si jangkung ini cepat menyambutnya dengan totokan dan tubuh Kok Han lemas tak berdaya lagi.

Dua orang itu tertawa bergelak. Akan tetapi Kok Han yang rebah terlentang memandang dengan mata terbelalak penuh keberanian.

“Hayo cepat kau minta ampun, barang kali kami akan dapat mengampunimu!” kata Thian-kui sambil tertawa mengejek.
“Tidak sudi, lebih baik mati!” jawab Kok Han dengan nekat.
“Uh, orang sombong macam ini memang tidak ada gunanya dibiarkan hidup!” bentak Tee-kui dan dia mengangkat goloknya untuk membacok.
“Siang-kui, tahan dulu!” tiba-tiba Mulani muncul sambil berseru nyaring.

Golok yang sudah diangkat itu perlahan-lahan diturunkan kembali. Tentu saja dua orang datuk itu tidak takut kepada Mulani, akan tetapi karena gadis ini murid Sam Mo-ong, mau tidak mau mereka harus menghargainya.

“Nona, mengapa engkau menahan kami yang hendak membunuh si sombong ini?” tanya Tee-kui, nadanya memprotes.
“Thian-te Siang-kui, saudara ini adalah seorang pendekar yang gagah berani. Habiskan saja kesalah pahaman di antara kalian dan serahkan dia kepadaku. Biarlah aku saja yang menanganinya. Nah, tinggalkan kami!” nada suaranya memerintah.

Thian-te Siang-kui saling pandang. Kalau saja mereka tidak takut kepada Hek-bin Mo-ong yang mungkin berada tak jauh dari situ, tentu gadis ini akan mereka lawan. Akan tetapi akhirnya mereka pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menelan saja kedongkolan hati mereka.

Sesudah mereka berdua pergi, Mulani menghampiri Kok Han lalu menotok kedua pundak pemuda itu, membebaskannya. Kok Han cepat bangkit berdiri kemudian memberi hormat kepada Mulani.

“Nona, terima kasih atas pertolonganmu tadi,” katanya dengan kagum karena dia melihat betapa gadis ini dapat mengusir kedua orang datuk itu dengan begitu saja!
“Ahh, kongcu, harap jangan sungkan. Agaknya sudah ditakdirkan agar kita bekerja sama. Pertama kali berjumpa kita juga sudah bekerja sama ketika menghadapi pemuda-pemuda berandalan di dalam rumah makan itu, bukan?”

Kok Han terbelalak dan pandang matanya semakin kagum. “Ah, kiranya engkaukah yang menghajar kedua orang berandalan di rumah makan itu, nona? Senang sekali aku dapat berkenalan dengan nona.” Kok Han memberi hormat lagi, lantas melanjutkan. “Namaku Can Kok Han, putera ketua Pek-eng Bu-koan di kota raja. Bolehkah mengetahui namamu, nona?”

“Aihh, sungguh tidak enak bicara sambil berdiri saja. Mari kita duduk di sana,” ajak Mulani dan mereka pun kemudian duduk di atas batu-batu di bawah pohon.
“Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu, nona. Siapa namamu, dari mana engkau datang dan bagaimana dua orang datuk seperti Thian-te Siang-kui begitu tunduk kepadamu?”

Mulani menghela napas panjang. “Sebelum aku menjawab, katakan dulu apakah engkau seorang dari mereka yang memandang rendah suku bangsa lain? Kalau begitu halnya, lebih baik kita tak usah saling berkenalan. Banyak orang memandang rendah sesamanya hanya karena dia memiliki suku bangsa yang berbeda.” Gadis itu nampak bersedih.

Kok Han yang sejak pertama kali tadi sudah merasa amat tertarik kepada Mulani, cepat-cepat menjawab. “Tidak, nona. Aku memandang seseorang dari pribadinya, bukan dari suku bangsanya atau pun kedudukannya.”

“Ahh, sudah kusangka. Engkau seorang pendekar budiman!” kata Mulani dengan girang. “Ketahuilah, kongcu, aku adalah seorang peranakan Mongol dan namaku adalah Mulani,” dia berhenti sebentar untuk melihat wajah pemuda itu. “Engkau tidak memandang rendah suku bangsa Mongol?”

Ternyata wajah pemuda itu tidak membayangkan perubahan sama sekali.

“Ahh, tidak, nona Mulani. Bukankah bangsa Mongol bahkan pernah membantu Kerajaan Tang mengusir pemberontak?” jawabnya tenang.
“Terima kasih! Ahh, engkau memang baik sekali. Nah, setelah kita berkenalan, kau sebut saja namaku Mulani, jangan sungkan-sungkan.”

Kok Han memandang kagum dan girang. Gadis ini sungguh ramah dan baik hati, pikirnya. “Baiklah, Mulani, kalau engkau memang suka bersahabat denganku.”

“Tentu saja aku suka bersahabat denganmu, Kok Han. Nah, lebih enak dan akrab kalau memanggil nama masing-masing, bukan? Siapa tidak suka bersahabat dengan seorang pendekar budiman seperti engkau ini?”
“Ahh, engkau terlalu memuji. Kalau tidak ada engkau, tentu aku sudah tewas di tangan Thian-te Siang-kui? Ini saja sudah menunjukkan bahwa tingkat kepandaianmu lebih tinggi dari pada mereka.”
“Mereka itu orang-orang sakti, walau pun belum pernah aku bertanding melawan mereka, akan tetapi belum tentu aku dapat menandingi mereka.”
“Akan tetapi mereka begitu tunduk padamu, kau dapat mengusir mereka begitu saja!”
“Hal ini adalah karena mereka itu sungkan dan takut kepada guruku. Kok Han, tadi aku mendengar mereka bertanya tentang Sia Han Lin kepadamu. Apakah engkau mengenal orang yang bernama Sia Han Lin itu?”

Kok Han mengerutkan alisnya. “Aku tidak bersahabat dengannya. Kami hanya kebetulan saja bertemu di rumah makan itu. Kenapa engkau menanyakan dia, Mulani?”

“Aku mendengar bahwa Sia Han Lin itu memiliki Ang-in Po-kiam, benarkah?”
“Itulah yang membuat aku benci kepadanya! Ternyata dia yang mencuri Ang-in Po-kiam, dan aku memang sedang mencarinya untuk merampas pedang itu dari tangannya.”
“Hemm, kalau sudah dapat kau rampas, untuk apa?” Mulani memandang tajam
“Tentu saja untuk dikembalikan kepada Sribaginda Kaisar yang berhak,” kata Kok Han.
“Kalau begitu, aku akan membantumu, Kok Han.”
“Benarkah?” Kok Han memandang gembira. Dia menduga bahwa tentu ilmu kepandaian gadis ini hebat dan kalau membantunya tentu dia akan dapat mengalahkan Sia Han Lin. “Terima kasih, Mulani. Akan tetapi aku tidak tahu di mana si sombong itu berada.”
“Aku tahu, Kok Han. Aku mendengar bahwa dia berada di kuil tua dalam hutan di luar kota Han-cung sebelah barat.”
“Bagus! Kalau begitu, mari kita berangkat ke sana,” ajak Kok Han penuh semangat.

Mereka lalu berlari meninggalkan tempat itu. Kok Han sengaja menggunakan ilmu berlari cepat. Para murid Pek-eng Bu-koan memang mempunyai kepandaian khusus dalam ilmu meringankan tubuh sehingga Kok Han dapat berlari cepat sekali.

Akan tetapi dengan kagum dan girang dia mendapatkan kenyataan bahwa gadis Mongol itu dapat mengimbangi kecepatan larinya dengan santai saja. Tak salah dugaannya. Dara ini lihai sekali dan tentu akan menjadi pembantu yang amat baik dalam mengalahkan Han Lin dan merampas Ang-in Po-kiam.

Tak lama kemudian mereka telah tiba di depan kuil tua itu. Mulani hendak memasuki kuil, akan tetapi dicegah oleh Kok Han yang sudah tahu akan kelihaian Han Lin. Kemudian dia berteriak lantang.
“Sia Han Lin, keluarlah! Kami ingin bicara denganmu!”

Mereka tidak menanti lama. Han Lin melangkah keluar dari dalam kuil itu dengan tongkat butut di tangannya, dan dia pun tersenyum heran melihat pemuda berbaju putih itu sekali ini datang bersama gadis yang tadi dilihatnya bersama Hek-bin Mo-ong. Adik perempuan pemuda itu malah tidak nampak.

“Hemm, kiranya saudara Can Kok Han,” kata Han Lin dengan sikap tenang. “Ada urusan apakah engkau memanggilku keluar? Apa yang hendak kau bicarakan, saudara Can Kok Han?”
“Sia Han Lin, serahkan Ang-in Po-kiam kepadaku!” bentak Kok Han dengan suara ketus.
“Hemm, ada urusan apakah engkau dengan pedang itu? Dan alasan apa yang akan kau pakai untuk minta pedang itu kuserahkan kepadamu?” Han Lin tetap tersenyum.

Wajah Can Kok Han berubah merah. Tentu saja dia tidak mau menceritakan sebab yang sebenarnya, tidak dapat dia berterus terang mengatakan bahwa dia ingin mengembalikan pedang itu kepada Kaisar agar mendapatkan pahala besar!

“Pedang itu milik Kaisar dan engkau sudah mencurinya, maka aku harus merampasnya darimu supaya dapat kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar,” jawabnya karena merasa tersudut oleh pertanyaan itu.
“Can Kok Han, aku yang menemukan pedang ini, karena itu aku pula yang berhak untuk mengembalikannya kepada Kaisar. Aku akan mengembalikan sendiri.”
“Hemm, siapa percaya omonganmu? Kalau engkau memang hendak mengembalikannya, tentu sudah lama kau lakukan. Tidak, kau harus menyerahkan kepadaku, atau aku akan menggunakan kekerasan!”

Han Lin tersenyum. Orang tak tahu diri saking sombongnya, pikirnya. Kalau adik orang ini, Can Bi Lan, berada di situ, tentu gadis itu akan menegur kakaknya.

“Hemm, lalu dengan apa engkau hendak memaksaku?”
“Dengan ini!” Kok Han menggerakkan tangannya dan dia sudah mencabut pedangnya.
“Bagus, silakan!” kata Han Lin menantang, kemudian dia melintangkan tongkat bututnya di depan dada, pandang mata dan senyumnya seperti sikap seorang dewasa menghadapi seorang anak-anak yang nakal dan bandel.

Kok Han menoleh kepada Mulani lalu berkata, “Serang...!”

Kemudian dia sendiri telah menggerakkan pedangnya menyerang dengan sekuat tenaga. Mulani juga mencabut pedangnya pada saat Han Lin menangkis pedang Kok Han dengan tongkatnya yang membuat Kok Han terhuyung ke belakang.

“Lihat pedang...!” Mulani membentak dan dia pun menyerang dengan dahsyat.

Melihat gerakan gadis itu, tahulah Han Lin bahwa tingkat kepandaian gadis ini jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Kok Han. Dia pun segera mengelak dan kembali Kok Han menyerangnya dari belakang. Dengan mudah Han Lin mengelak pula.

Ketika Mulani menghujankan serangan bertubi-tubi, dia pun dapat menduga bahwa tentu gadis ini murid Hek-bin Mo-ong atau bahkan murid Sam Mo-ong karena ilmu silatnya tidak berselisih jauh dari tingkat para datuk sesat itu! Sayang sekali bahwa gadis begini cantik manis menjadi murid tiga orang datuk sesat yang amat jahat itu, pikirnya.

Han Lin mulai memutar tongkatnya dengan ilmu tongkat Badai dan Kilat. Begitu ilmu Liu-tay-hong-tung dimainkan, maka angin pukulan tongkat itu menyambar-nyambar bagaikan badai dan sinar tongkat kadang mencuat bagaikan kilat. Hanya dalam beberapa gebrakan saja pedang di tangan Kok Han terpental dan terlepas dari tangannya yang terasa panas dan pedih. Dia mundur untuk mengambil pedangnya yang terlempar jauh.

Mulani kagum bukan kepalang! Selama ini belum pernah dia bertemu dengan lawan yang sehebat ini. Gerakan pedangnya seolah terserap oleh angin badai itu, dan dia pun menjadi silau oleh sinar tongkat. Telinganya mendengar suara menderu keras sedangkan matanya berkunang melihat tongkat itu seperti berubah menjadi puluhan batang banyaknya.

Tapi tongkat itu tidak pernah menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya mendesaknya. Maka tahulah dia bahwa pemuda di depannya yang bernama Sia Han Lin itu sama sekali tidak ingin melukainya. Mulailah dia merasa curiga dengan keterangan Kok Han. Pemuda seperti ini mana mungkin menjadi pencuri?

Kembali Kok Han nekat membantu tetapi untuk kedua kalinya pedangnya terlempar. Juga Mulani menerima tangkisan sehingga membuat pedangnya nyaris terlepas dari tangannya yang terasa amat panas. Mulani terkejut sekali lalu meloncat jauh ke belakang, dekat Kok Han yang sudah memungut kembali pedangnya.

“Kita tidak mampu menandinginya!” kata Mulani.

Gadis ini lalu meloncat jauh meninggalkan Han Lin, diikuti oleh Kok Han yang tahu benar bahwa kalau Mulani sudah mundur, dia pun tidak mungkin akan berhasil menandingi Han Lin, bahkan dia hanya akan menderita malu kalau nekat melawannya sendiri.

Han Lin menghela napas panjang. Diam-diam dia merasa kagum. Gadis tadi lihai sekali, bahkan jauh lebih lihai kalau dibandingkan Can Bi Lan. Sesudah melihat kedua orang itu menghilang di balik pohon-pohon di hutan itu, dia pun masuk ke dalam kuil tua lalu duduk melamun di lantai.

Pertemuannya dengan gadis murid Sam Mo-ong itu sudah membuatnya terkenang akan pertemuannya dengan Sam Mo-ong di masa lalu. Guru pertamanya, Kong Hwi Hosiang, tewas di tangan Sam Mo-ong. Pengasuh yang menjadi pengganti ibunya, Liu Ma, tewas pula akibat perbuatan Sam Mo-ong. Dan masih banyak lagi perbuatan tiga datuk sesat itu yang menimbulkan sakit hati.

Mengenang segala kejahatan yang dilakukan Sam Mo-ong, perbuatan yang menyakitkan hatinya, maka timbullah kebencian dalam hati pemuda ini. Han Lin mengepalkan tinjunya sambil menggigit giginya, dan api kemarahan mulai membakar hatinya.

Daya-daya rendah sering kali menyusup ke dalam hati akal pikiran, dan dari pikiran inilah timbulnya segala macam perasaan suka duka, malu dan marah. Tanpa adanya pikiran yang mengingat-ingat, mengenang, maka nafsu amarah pun tak akan muncul. Demikian pula, kedukaan datang mencengkeram perasaan hati kalau pikiran sudah mengenangkan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu, atau yang sudah terlewat.
Image result for pedang awan merah blogspot
Demikian pula halnya Han Lin. Ketika dia duduk melamun sambil mengenangkan semua peristiwa yang terjadi akibat perbuatan Sam Mo-ong, lalu timbullah amarah dan dendam.

Sebaliknya kenangan akan perbuatan orang lain yang menguntungkan kita menimbulkan perasaan berhutang budi. Namun dendam kebencian ini jauh lebih kuat dari pada hutang budi. Kadang-kadang seribu satu budi kebaikan yang dilimpahkan orang lain kepada kita dapat terhapus dalam sekejap oleh sebuah dendam sakit hati. Kalau dendam kebencian sudah mencengkeram hati kita, maka yang timbul hanyalah keinginan untuk membalas, keinginan untuk menyakiti orang yang dibencinya.

Han Lin seolah tenggelam ke dalam lautan dendam. Wajah Kong Hwi Hosiang dan wajah inang pengasuhnya bergantian muncul di depan matanya, terkenang dia ketika mengubur jenazah mereka, ketika menangisi kematian mereka.

Selagi kemarahan dan kebencian mengamuk di dalam hatinya, tiba-tiba saja seperti sinar mentari yang menerobos ke dalam awan gelap, ingatan Han Lin mendatangkan bayangan Lo-jin, gurunya yang kedua. Terngianglah suara gurunya ini yang menasehatinya bahwa musuh utamanya adalah pikirannya sendiri. Dia harus hati-hati dan waspada meneliti jalan pikirannya.

“Sudah menjadi tugasmu untuk menentang kejahatan, akan tetapi bila engkau menentang kejahatan dengan perasaan benci dan dendam di hati, maka berarti bahwa engkau pun jahat. Benci dan dendam membuat seseorang menjadi jahat dan perbuatanmu menentang kejahatan itu berubah menjadi pembalasan dendam semata. Ingatlah ini selalu!”

Bagaikan air hujan menyiram api, seketika rasa benci dan marah yang mengamuk di hati Han Lin juga padam seketika. Dia terkejut mendapatkan dirinya dalam lautan dendam dan kebencian itu, maka dia pun segera bersila dan melakukan siu-lian untuk menenteramkan hatinya.

Sampai berjam-jam Han Lin melakukan semedhi dan dia baru membuka matanya ketika pendengarannya yang amat tajam terganggu oleh langkah ringan seseorang yang datang dari depan kuil itu. Dia menjadi waspada dan siap menghadapi pendatang itu. Sementara itu matahari sudah mulai condong ke barat, tengah hari telah lewat tanpa dia rasakan.

“Han Lin, aku ingin bicara denganmu,” terdengar suara seorang wanita.

Han Lin terkejut dan terheran. Bukan suara Can Bi Lan, lantas suara siapa? Wanita mana yang menyebut namanya begitu saja dan datang hendak bicara dengannya? Karena ingin tahu sekali, Han Lin meloncat keluar dan kini dia telah berhadapan dengan Mulani!

“Hemm, engkau...?” Han Lin menegur sangsi dan ragu.

Tadi gadis ini datang bersama Kok Han dan sudah membantu pemuda sombong itu untuk mencoba merampas Ang-in Po-kiam dari tangannya. Kenapa dia datang kembali? Tentu saja dia merasa curiga, maka Han Lin memandang ke kanan kiri penuh kewaspadaan.

Mulani tertawa. “Tidak perlu mencari, tidak ada orang lain datang bersamaku. Aku datang seorang diri dan sengaja datang untuk bicara denganmu.”

Han Lin mengerutkan sepasang alisnya. “Nona, siapakah engkau dan keperluan apakah yang membawamu ke sini?” tanyanya.

Mulani tersenyum. “Aku tidak menyalahkanmu jika engkau merasa curiga dan tak senang padaku. Baru saja tadi aku membantu Can Kok Han untuk mengeroyokmu, dan sekarang aku muncul lagi. Akan tetapi, Han Lin, percayalah bahwa aku datang bukan dengan niat buruk. Perkenalkan, namaku Mulani, aku gadis Mongol, puteri kepala suku Ku Ma Khan.”

“Dan murid Sam Mo-ong!” sambung Han Lin.

Gadis itu mengangguk-angguk. “Pantas suhu Hek-bin Mo-ong nampak gentar kepadamu, ternyata engkau memang lihai dan cerdik. Benar, Sam Mo-ong adalah pembantu ayahku, maka mereka mengajarkan ilmu silat kepadaku. Han Lin, aku kagum melihat kepandaian dan sikapmu. Maukah engkau menganggap aku sebagai sahabatmu?”

Han Lin masih tetap curiga. Dara ini demikian lincah dan ramah, tampak cerdik sekali. Dia harus berhati-hati menghadapi gadis seperti ini.

“Mulani, baru beberapa jam yang lalu engkau datang bersama Kok Han dan mengeroyok aku. Bila aku tidak memiliki sedikit kepandaian mungkin sekarang aku telah menggeletak di sini dalam keadaan tidak bernyawa. Akan tetapi sekarang engkau mengatakan hendak bersahabat denganku! Apa artinya semua ini?”

“Aku tidak menyalahkanmu kalau engkau merasa curiga padaku, Han Lin. Ketahuilah, aku mendengar bahwa engkau telah mencuri pedang pusaka dari istana kaisar, yaitu Pedang Awan Merah. Mendengar ini aku menjadi tertarik dan bermaksud untuk merampas pedang yang diperebutkan seluruh tokoh dunia persilatan itu. Dalam perjalanan mencarimu, aku bertemu dengan Can Kok Han yang juga sedang mencarimu. Karena kami setujuan, yaitu mencarimu dan merampas pedang, maka kami pun bekerja sama. Akan tetapi kami telah gagal. Namun melihat cara engkau menghadapi kami, tidak ingin melukai kami, maka aku yakin bahwa engkau adalah seorang pendekar yang budiman, dan tidak mungkin menjadi pencuri pedang pusaka. Oleh karena itulah maka aku datang seorang diri ingin berkenalan denganmu, Han Lin.”

“Hemm, aku tidak pernah menolak persahabatan, dari mana pun juga datangnya, Mulani. Sekarang engkau sudah berhadapan dengan aku, katakanlah apa yang ingin kau katakan dan bicarakan.”
“Han Lin, aku percaya bahwa engkau tidak mencuri pedang itu. Akan tetapi bagaimana Pedang Awan Merah dapat jatuh ke tanganmu? Ingin aku mengetahui, kalau saja engkau tidak berkeberatan untuk memberi tahu kepadaku.”
“Pencuri pedang pusaka ini adalah mendiang Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw dan aku mengambil pedang ini darinya.”

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Han Lin harus mengakui bahwa gadis itu memang manis sekali. “Aku percaya kepadamu, Han Lin. Tetapi kenapa engkau tidak mengembalikan pedang itu kepada Kaisar Kerajaan Tang? Apakah engkau ingin pedang itu menjadi milikmu selamanya?”

Pertanyaan itu diajukan dengan suara yang wajar, tak mengandung ejekan atau tuntutan, oleh karena itu Han Lin mau menjawabnya. “Pedang ini pasti akan kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar, tetapi aku mendengar bahwa Cin-ling-pai dikabarkan mencuri pedang ini, maka aku hendak lebih dahulu menghadiri pertemuan di Cin-ling-san untuk memberi tahu kepada semua orang dan membersihkan nama baik Cin-ling-pai.”

“Ahhh, begitukah? Sudah kuduga bahwa engkau tentu seorang pendekar gagah perkasa yang budiman.”
“Bagaimana dengan engkau sendiri, Mulani? Bagaimana seorang gadis cantik manis yang menjadi puteri kepala suku seperti engkau ini mau menjadi murid Sam Mo-ong, tiga orang datuk sesat yang jahat itu?”
“Aku hanya mempelajari ilmu silat dari mereka, bukan belajar kejahatan, Han Lin. Karena mereka itu membantu ayah, dengan sendirinya aku menjadi murid mereka.”
“Hemm, betapa pun juga, kalau guru-gurumu datuk-datuk sesat yang jahat, tentu engkau pun tak mungkin dipercaya orang. Katakan saja terus terang, apakah sekarang ini engkau hendak memancingku agar aku masuk perangkap? Sesungguhnya apa yang hendak kau lakukan?”

Sepasang mata itu bercahaya. “Han Lin, apakah kau kira aku serendah itu? Aku tidak...” gadis itu tak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu pula muncul tiga orang yang bukan lain adalah tiga orang gurunya, yaitu Hek-bin Mo-ong yang gendut bundar pendek, Pek-bin Mo-ong yang tinggi kurus dan Kwi-jiauw Lo-mo yang pendek gendut pula seperti bola. Sam Mo-ong lengkap kini berdiri di depan Han Lin sambil tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, bagus sekali engkau sudah dapat menemukannya, Mulani!” kata Hek-bin Mo-ong girang.

Han Lin memandang kepada Mulani dengan sinar mata tajam penuh teguran. Walau pun Han Lin tidak mengeluarkan ucapan, namun Mulani merasa benar pandang mata itu dan dia cepat-cepat menggeleng kepalanya,

“Tidak! Tidak! Aku tidak tahu... ahh, suhu sekalian, harap jangan ganggu Han Lin!” Mulani berteriak-teriak.

Akan tetapi tentu saja tidak dipedulikan oleh tiga orang datuk itu yang menganggap Han Lin sebagai musuh besar mereka.

“Mulani, seorang murid tentu tak akan jauh bedanya dengan guru-gurunya,” kata Han Lin sambil tersenyum mengejek. “Pergilah menjauh, aku tidak ingin membunuhmu. Engkau masih terlalu muda dan masih banyak kesempatan untuk mengubah jalan hidupmu yang sesat.”
“Han Lin, aku tidak... ahh, engkau takkan percaya...” gadis itu lalu mundur dan menangis.

Sekarang tiga orang datuk itu menghampiri Han Lin. Seperti diceritakan di bagian depan, Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui pergi dibantu Pek-bin Mo-ong untuk membalas dendam atas kematian cucunya yang bernama An Seng Gun yang tewas di tangan Sie Kwan Lee ketua Beng-kauw. Dua orang datuk itu datang mengamuk di Beng-kauw, namun balas dendam mereka itu gagal karena mendapat perlawanan gigih dari ketua Beng-kauw, Sie Kwan Lee bersama isterinya yang juga sangat lihai, yaitu Si Pedang Terbang Yang Mei Li, dibantu pula oleh tokoh-tokoh Beng-kauw yang cukup tangguh.

Kedua orang datuk itu dengan penasaran dan kecewa terpaksa meninggalkan Beng-kauw kemudian menuju ke Han-cung untuk menyusul rekannya, Hek-bin Mo-ong yang hendak menghadiri pertemuan di Cin-ling-pai itu. Dari Hek-bin Mo-ong mereka lantas mendengar bahwa musuh besar mereka, Sia Han Lin, berada di Han-cung, bahkan lebih menarik lagi, pemuda itu membawa Ang-in Po-kiam, pedang pusaka yang dijadikan rebutan itu. Tentu saja mereka tertarik, bukan saja untuk membalas dendam kekalahan mereka dari pemuda ini, akan tetapi juga untuk merampas Pedang Awan Merah.

Han Lin sudah dapat melenyapkan kebencian dan dendamnya terhadap tiga orang datuk yang menyebabkan kematian gurunya dan inang pengasuhnya ini. Kini dengan tenang dia menghadapi mereka, menegur lantang.
“Sam Mo-ong, ada urusan apakah kalian datang mencariku?”

Tiga orang datuk itu agak tertegun melihat ketenangan pemuda itu. Mereka tahu bahwa Han Lin amat lihai, namun kalau mereka bertiga mengeroyoknya, tidak mungkin pemuda itu akan mampu bertahan.

“Ha-ha-ha, Han Lin, engkau masih bertanya apa urusannya? Engkau telah menggagalkan semua usaha kami dan Hoat-kauw, maka untuk itu engkau sudah layak mampus!” kata Hek-bin Mo-ong sambil tertawa-tawa seperti biasa.
“Dan ternyata engkau pun telah merampas Ang-in Po-kiam dari tangan Hoat Lan Siansu, maka engkau harus menyerahkan pedang itu kepada kami!” kata Kwi-jiauw Lo-mo sambil menggerakkan kedua tangannya yang sudah disambung sepasang cakar setan.

“Hemm, kalian bertiga ini orang-orang tua masih juga belum jera. Kalian mengira aku yang menggagalkan semua usaha jahat kalian? Bukan aku, melainkan semua usaha yang jahat pasti akan hancur. Yang menghancurkan kalian adalah kejahatan kalian sendiri. Ternyata kalian masih belum jera dan sekarang masih melanjutkan kesesatan kalian. Pedang Ang-in Po-kiam adalah milik Sribaginda Kaisar, tidak akan kuserahkan kepada siapa pun juga kecuali kepada Sribaginda Kaisar.”
“Bocah setan, berani engkau menghadapi kami bertiga?!” bentak Pek-bin Mo-ong yang bermuka putih seperti kapur itu.
“Aku tak akan pernah mundur dalam menentang kejahatan!” jawab Han Lin dengan tegas dan tenang.

Dia tahu bahwa tiga orang ini berbahaya sekali. Jika melawan seorang dari mereka, atau paling banyak dua orang, mungkin dia masih dapat menandinginya. Akan tetapi tiga orang maju bersama? Sungguh merupakan lawan yang berat sekali. Tapi bagaimana pun juga dia tidak gentar karena sekarang dia sudah memiliki ilmu baru, yaitu ilmu pedang Ang-in Kiam-hoat (Ilmu Pedang Awan Merah) yang dia rangkai dari penggabungan inti sari Lui-tai-hong-tung dan Khong-khi-ciang.

“Sia Han Lin, sekali ini engkau tidak akan lepas dari kematian di tangan kami!” kata Hek-bin Mo-ong dan dia sudah mendahului rekan-rekannya, mengirim pukulan dingin beracun jari hitam. Terdengar angin bercicit ketika pukulan itu menerjang ke arah Han Lin.

Namun dengan gesitnya Han Lin meloncat ke samping, mengelak. Dia disambut pukulan jari merah oleh Pek-bin Mo-ong. Hawa panas beracun itu menyambar dengan hebatnya. Han Lin kembali mengelak.

Ketika sepasang cakar setan mengejarnya, dia tahu bahwa Kwi-jiauw Lo-mo juga sudah turun tangan. Tubuhnya mencelat ke atas belakang lantas dia bersalto tiga kali. Ketika dia turun lagi, tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang dan sinar merah nampak menyilaukan. Itulah Ang-in Po-kiam! Sedangkan tangan kirinya masih memegang tongkat butut yang tak pernah terpisah darinya itu.....

Dengan pedang di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri, Han Lin berdiri dikepung tiga orang lawan itu dari tiga jurusan. Han Lin berdiri tak bergerak, pedang di tangan kanannya melintang di atas kepala dan tongkat butut di tangan kirinya melintang di depan dada, siap untuk menyerang atau menangkis.

Dengan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, Kwi-jiauw Lo-mo menerjang bagaimana seekor biruang kelaparan.

“Tranggg…! Tranggg...!”

Nampak bunga api berhamburan ketika cakar-cakar setan itu bertemu pedang dan Kwi-jiauw Lo-mo melompat ke belakang dengan kaget sekali. Tangannya tergetar hebat oleh pertemuan cakar dengan pedang itu.

Dari kanan kiri Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong kembali mengirim pukulan beracun. Han Lin memutar pedang dan tongkat sehingga dua pukulan itu terpaksa ditarik kembali. Perkelahian yang berat sebelah pun segera berlangsung.

Memang hebat permainan pedang Han Lin yang kadang dibantu tongkatnya. Akan tetapi ketiga lawannya juga sangat kuat. Sekali saja terkena pukulan dingin beracun atau panas beracun dari Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong dapat mengakibatkan celaka bagi Han Lin. Juga sepasang cakar itu selain bergerak cepat dan kuat, juga mengandung racun.

Memang Han Lin tidak gentar menghadapi racun karena tubuhnya sudah kebal terhadap segala macam racun. Dahulu ketika kecil dia pernah menerima pukulan dingin beracun dari Hek-bin Mo-ong dan pukulan panas beracun dari Pek-bin Mo-ong secara berbareng. Pada waktu dia sedang sekarat akibat dua macam hawa beracun itu, kakinya digigit ular beracun pula. Dan sungguh ajaib, kumpulan tiga macam racun yang masing-masing dapat mematikan itu berubah menjadi obat kuat yang sangat hebat, yang selain membuat tubuh Han Lin menjadi kebal terhadap segala macam racun, juga mendatangkan tenaga sinkang yang amat kuat.

Walau pun kebal terhadap racun, namun serangan tiga orang itu masih amat berbahaya karena tenaga sinkang ketiga orang lawannya itu sudah hampir setingkat dengan tenaga sinkang-nya sendiri. Han Lin segera mengandalkan kegesitannya, berkelebatan di antara tiga orang itu. Namun tetap saja dia hampir tidak bisa mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

“Suhu, hentikan...! Hentikan serangan itu...!” Berkali-kali Mulani berteriak, akan tetapi tiga orang datuk itu seakan tidak mendengar teriakannya, bahkan menyerang semakin hebat.

Tiba-tiba saja berkelebat sesosok bayangan, dan seorang gadis dengan pedang di tangan muncul di situ. “Lin-toako, aku datang membantumu!”

Ternyata gadis itu adalah Can Bi Lan, dan dengan nekat dia sudah memutar pedangnya menyerang Hek-bin Mo-ong dengan tusukan ke arah lambungnya.

“Lan-moi, jangan...! Mundurlah...!” Han Lin berseru kaget, namun terlambat sudah. Bi Lan sudah menusukkan pedangnya ke arah lambung Hek-bin Mo-ong.
“Tukk...!”

Alangkah terkejutnya hati Bi Lan ketika pedangnya bertemu lambung yang keras dan kuat seperti baja. Pedangnya melengkung dan tidak dapat menembus kulit lambung lawan.

“Pergilah! Ha-ha-ha!” Hek-bin Mo-ong membentak, kemudian sekali tangannya menampar pundak, tubuh Bi Lan segera terlempar dan terguling-guling, tak mampu bergerak lagi.
“Lan-moi...!” Han Lin berseru sambil pedangnya bergerak sedemikian hebatnya sehingga ketiga orang pengeroyoknya terpaksa mundur.

Pada saat itu pula dengan pedang di tangan Mulani sudah melompat dan menghadang di tengah, menggerakkan pedangnya mengancam tiga orang gurunya.

“Suhu bertiga, hentikan serangan suhu atau terpaksa aku akan membelanya!”
“Mulani, apa yang kau lakukan ini?!” bentak Kwi-jiauw Lo-mo marah.
“Aku tidak suka melihat ketidak adilan ini. Suhu bertiga melakukan pengeroyokan, benar-benar merendahkan martabat. Biarkan dia pergi, atau aku akan melawan suhu bertiga!”
“Mulani, akan kulaporkan kepada ayahmu!” ancam Kwi-jiauw Lo-mo.
“Silakan, kalau ayah mendengar, suhu bertiga yang akan menerima teguran. Suhu bertiga sudah bertindak pengecut dan ayah paling tidak suka dengan orang yang pengecut. Han Lin, cepat pergi dari sini!” kata Mulani yang dengan pedang terhunus menghalangi ketiga orang datuk itu.

Karena melihat Bi Lan diam tidak bergerak, Han Lin menganggap yang terpenting adalah menolong gadis itu lebih dulu. Dia segera menghampiri dan ternyata Bi Lan masih hidup, biar pun hanya dapat merintih lirih. Pundaknya yang terpukul nampak menghitam, bajunya robek dan hangus. Dia memondong tubuh itu lalu menoleh.

“Terima kasih, Mulani.” Dan sekali meloncat dia pun lenyap dari situ.

Tiga orang datuk itu marah sekali. “Mulani, engkau membiarkan dia pergi, berarti Pedang Awan Merah tidak dapat kami rampas,” kata Pek-bin Mo-ong.

“Masih ada lain waktu untuk merampasnya, suhu, tapi bukan dengan cara pengeroyokan. Harus dengan adu kepandaian. Siapa yang lebih kuat dialah yang berhak memiliki Pedang Awan Merah,” kata Mulani yang diam-diam merasa tidak senang hatinya melihat betapa Han Lin tadi menolong dan memondong gadis yang terpukul pingsan oleh Hek-bin Mo-ong itu…..

********************
Bi Lan merintih lirih, maka Han Lin berhenti lalu merebahkan gadis itu di atas rumput.

“Bagaimana, Lan-moi? Apakah terasa nyeri sekali? Engkau terkena pukulan beracun dari Hek-bin Mo-ong.”
“Aduh, nyeri sekali, toako. Dingin sekali, ahh...” Gadis itu menggigil kedinginan. 

Memang Hek-bin Mo-ong memiliki ilmu pukulan beracun yang dingin. Padahal tamparan pada pundak Bi Lan itu perlahan saja, tetapi racunnya telah menyerang pundak dan terus masuk ke dalam dada.

“Lan-moi, aku khawatir sekali. Luka pukulan itu amat berbahaya. Jika tidak cepat diobati maka hawa beracun ini akan menjalar masuk dan kalau sudah meracuni jantungmu, akan sukar menolongmu lagi.”
“Aku... aku tidak takut mati...”
“Tidak, engkau tidak akan mati, Lan-moi. Aku tidak akan membiarkan engkau mati karena engkau terluka ketika engkau mencoba menolongku dari pengeroyokan Sam Mo-ong. Aku masih dapat mengobatimu, Lan-moi. Akan tetapi...” Han Lin merasa ragu, bahkan untuk mengatakannya saja dia merasa sungkan.

“...bagaimana..., toako...?” suara itu mulai terengah.
“Begini, Lan-moi. Untuk mengusir hawa beracun itu maka aku harus menempelkan kedua telapak tanganku pada punggungmu, akan tetapi... harus langsung... tidak boleh tertutup kain...” Han Lin merasa mukanya panas karena malu.

Dia tidak berbohong. Tanpa menempel langsung pada punggung, maka penyaluran hawa murni dari tubuhnya tidak akan sempurna dan dia tidak akan dapat melihat apakah racun itu sudah menipis atau menghilang, atau belum.

“...kenapa ragu..., toako..., ahh...” gadis itu terkulai pingsan.

Sungguh kebetulan, pikir Han Lin. Sebaiknya begitu sehingga dia tidak akan merasa malu ketika mengobatinya, karena gadis itu tidak akan mengetahuinya.

Dengan hati-hati dia membalikkan tubuh gadis itu menelungkup, kemudian perlahan-lahan membuka bajunya dengan jari-jari tangan gemetar. Selama hidup belum pernah Han Lin berdekatan dengan wanita, apa lagi membuka bajunya!

Nampak kulit punggung yang putih mulus dan halus hangat. Gadis ini harus cepat-cepat ditolongnya, pundak itu telah menghitam dan sebagian punggungnya sudah dijalari warna kehitaman.

Dia duduk bersila dekat tubuh tertelungkup itu, lalu menempelkan kedua tangannya pada punggung Bi Lan. Merasa betapa telapak tangannya bertemu kulit yang halus hangat itu, Han Lin terkejut dan cepat mengangkat kembali kedua tangannya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Punggung itu nampak lebih putih lembut lagi, begitu bersi dan membuat dia tiba-tiba saja timbul keinginan untuk meraba dan menciumnya.

Di kepalanya dia mendengar suara parau, “Ingin raba, raba saja, cium saja, dia tidak akan tahu, tak seorang pun akan tahu!”

“Gila!” bentak Han Lin. “Aku bukan seorang yang berwatak bejat, kurang ajar dan tidak bersusila.”
“Hemm, kalau tidak ada orang melihat, siapa akan mengatakan engkau kurang ajar dan tidak bersusila? Lagi pula hanya meraba dan mencium saja apa salahnya? Dia tidak akan rugi apa-apa. Lihat, betapa mulusnya punggung itu, hemm, tentu sedap baunya...,” suara parau di kepalanya semakin mendesak sehingga tak tertahankan oleh Han Lin.

“Plakk!” Han Lin menampar kepalanya sendiri, seolah hendak memukul si suara parau itu. “Gila seribu kali gila! Kau bilang tidak ada orang melihat? Dan apakah kau anggap aku ini bukan orang? Juga Tuhan akan melihatnya. Setan kau! Iblis kau! Tidak, lekas pergi kau, iblis bedebah!” Han Lin menyumpah-nyumpahi diri sendiri.

Akhirnya suara parau itu seperti tertawa akan tetapi dari jauh dan hanya terdengar lapat-lapat. Dia menurunkan kedua tangannya, menempelkan pada punggung yang lembut itu sambil memejamkan kedua matanya agar tidak usah melihat punggung yang putih mulus itu. Hanya kadang-kadang saja dia membuka mata untuk melihat apakah pada punggung dan pundak itu masih ada warna menghitam.

Ketika mula-mula mengerahkan sinkang-nya, dia disambut hawa yang dingin sekali. Akan tetapi begitu dia mengerahkan tenaga, dengan cepat hawa dingin itu pun dapat diusirnya. Setelah menempelkan kedua tangannya di punggung Bi Lan selama hampir dua jam, dia merasa tubuh itu bergerak dan dia pun membuka kedua matanya. Ternyata warna hitam di pundak telah lenyap sama sekali, tanda bahwa gadis itu sudah terbebas dari pengaruh hawa beracun.

Akan tetapi dia harus yakin benar bahwa gadis itu sudah sembuh, maka dengan lirih dia berkata, “Lan-moi, engkau sudah hampir sembuh, rebahlah sebentar lagi agar sisa hawa beracun benar-benar bersih.”
“Terima kasih, Lin-toako. Engkau baik sekali...,” kata gadis itu dengan suara terharu.

Pada saat itu pula terdengar makian nyaring. “Sia Han Lin, manusia biadab! Apa yang kau lakukan terhadap adikku? Engkau memperkosanya!”

Pedang di tangan Kok Han itu meluncur menusuk ke arah punggung Han Lin. Pemuda ini yang sedang bersila dan menggunakan kedua tangan untuk tetap mengobati Bi Lan, tidak sempat menangkis. Dia hanya mengerahkan sinkang melindungi punggungnya.

“Brettt…!” robeklah baju di punggung Han Lin.
“Han-koko, engkau keterlaluan!” Bi Lan menjerit dan dia pun pingsan.

Han Lin menoleh dan berkata tenang, “Saudara Kok Han, tenanglah, adikmu terluka oleh pukulan beracun yang hampir merenggut nyawanya.”

Mendengar ini Kok Han terbelalak dan wajahnya menjadi agak pucat. Dia menyarungkan pedangnya kemudian berlutut di dekat tubuh adiknya. Akan tetapi alisnya masih berkerut melihat betapa kedua tangan Han Lin menempel di punggung adiknya yang tidak berbaju. Hal ini dianggapnya keterlaluan dan melanggar susila. Tetapi karena dia mengkhawatirkan adiknya, maka dia pun menahan kemarahannya.

“Siapa yang melukai adikku?” tanyanya dingin.
“Hek-bin Mo-ong,” jawab Han Lin singkat dan dia memusatkan perhatiannya pada kedua tangannya yang masih menempel di punggung gadis itu.

Kok Han terpaksa hanya menonton saja dan tidak mengganggu lagi biar pun dari kerutan alisnya menunjukkan bahwa dia tidak senang. Tak lama kemudian Han Lin menghentikan pengobatannya lalu bangkit berdiri.

“Sekarang bahaya telah lewat, adik Bi Lan telah sembuh, ketika siuman kembali pasti dia sudah sehat,” katanya.
“Sia Han Lin, bagaimana pun juga cara pengobatanmu ini sudah melanggar batas-batas kesopanan. Sekarang pergilah sebelum kesabaranku hilang. Jika tidak mengingat bahwa engkau sudah mengobati adikku, tentu aku tidak akan melepasmu begitu saja!”

Han Lin tersenyum. Pemuda putera ketua Pek-eng Bu-koan ini terlalu memandang tinggi diri sendiri dan suka meremehkan orang lain. Inilah yang membuat dia bersikap tinggi hati. Kelak kalau sudah banyak tersandung dan terjungkal karena sikap sendiri, apa bila sudah mengalami banyak hal, tentu dia akan berubah sendiri, pikirnya. Pikiran ini mendatangkan kesabaran sehingga meski pun dia diusir, dia tersenyum saja lantas pergi dari situ tanpa sepatah pun kata keluar dari mulutnya.

Sesudah Han Lin pergi, tidak lama kemudian Bi Lan membuka matanya. Ketika melihat kakaknya duduk tak jauh dari situ, dia lalu memandang ke kanan kiri, mencari-cari.

“Han-ko, ke mana dia?” tanyanya.
“Dia siapa?” tanya kakaknya dingin.
“Kakak Han Lin, tadi dia mengobati aku, menyelamatkan aku. Ke mana dia?”
“Hemm, dia sudah pergi,” jawab kakaknya dingin.

Bi Lan bangkit duduk dan kini dia teringat akan tuduhan kakaknya terhadap Han Lin yang bukan-bukan. Dia membetulkan bajunya dan berkata marah. “Han-ko, tentu engkau yang telah mengusirnya. Kalau tidak demikian, tentu dia menanti sampai aku terbangun.”

“Memang aku menyuruhnya pergi. Habis, ada urusan apa lagi bocah sombong itu?”
“Koko, sungguh engkau telah bersikap amat keterlaluan terhadap Han Lin koko. Dia telah menyelamatkan aku dari kematian di tangan Sam Mo-ong, bahkan sudah melarikan aku kemudian mengobati aku sampai sembuh. Tetapi engkau telah begitu tega menuduhnya melakukan perbuatan keji, bahkan telah mengusirnya!”

“Kenapa engkau sampai bertanding melawan Sam Mo-ong?” tanyanya. Dia teringat akan pengakuan Mulani sebelum berpisah darinya bahwa gadis Mongol itu adalah murid Sam Mo-ong. “Mana mungkin engkau mampu menandingi datuk-datuk sakti itu?”
“Bukan aku yang berkelahi dengan mereka, akan tetapi Lin-koko yang kulihat dikeroyok tiga orang datuk sesat itu. Melihat perkelahian tidak adil itu, Lin-ko dikeroyok tiga, aku lalu membantu Lin-ko. Akan tetapi aku terpukul dan kalau Lin-ko tidak menolongku, tentu aku sudah mati sekarang.”
“Celaka, lagi gara-gara anak jahat itu sampai engkau terluka! Dia berkelahi dengan Sam Mo-ong, mengapa engkau ikut-ikutan membantunya? Dia adalah pencuri pedang pusaka, tentu semua orang kang-ouw memusuhinya untuk merampas pedang itu.”

“Koko, engkaulah yang sombong, engkaulah yang jahat! Lin-ko bukan pencuri melainkan seorang pendekar budiman yang gagah...!”
“Bi Lan...!”
“Sudahlah, aku tidak mau lagi melakukan perjalanan denganmu. Kita ambil jalan sendiri-sendiri!”
“Lan-moi, nanti akan kuberi tahukan ayah!”
“Sesukamu, ayah tentu akan dapat mempertimbangkan dan tidak akan membelamu yang sombong dan jahat!” gadis itu lantas pergi meninggalkan kakaknya yang membanting kaki dengan marah…..

********************
Han Lin mendaki pegunungan Cin-ling-san. Dia hendak melihat-lihat keindahan alam di sekitar pegunungan itu sambil menanti saat diadakannya pertemuan Cin-ling-pai di kota Han-cung besok pagi. Dia berjalan dan lupa akan maksudnya untuk menikmati keindahan alam karena dia berjalan sambil melamun. Beberapa kali dia menghela napas panjang.

Dia teringat akan peristiwa ketika dia mengobati luka di pundak Bi Lan, diikuti munculnya kakak gadis itu. Can Kok Han tidak bersalah, pikirnya. Cara pengobatan seperti yang dia lakukan terhadap Bi Lan tadi memang tidak patut dan melanggar kesopanan. Buktinya, keadaan itu hampir saja menyeretnya pada perbuatan yang sesat. Membangkitkan nafsu dan kalau saja dia menuruti godaan setan, tentu dia sudah melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan lebih lagi dari sekedar meraba dan mencium.

Dia menghela napas panjang. Memang Bi Lan seorang gadis cantik jelita sehingga mudah sekali membuat hati pria tertarik dan jatuh cinta.

Mendadak wajah Mulani juga muncul menggantikan wajah Bi Lan. Heran dia memikirkan gadis Mongol itu. Tadinya dia menyangka bahwa gadis yang tadinya membantu Kok Han mengeroyoknya itu datang dengan siasat halus untuk merampas pedang, apa lagi ketika Sam Mo-ong muncul, dia mengira bahwa gadis itu sengaja datang bersama guru-gurunya. Tetapi ketika gadis itu menggunakan pedang menentang guru-gurunya sendiri, mencegah guru-gurunya mendesak kemudian memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan Bi Lan yang terluka, baru dia tahu bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk terhadap dirinya. Kenapa Mulani begitu nekat mati-matian membelanya?

Han Lin menghela napas panjang. Dulu pernah dia jatuh cinta pada seorang gadis, yaitu kepada Yang Mei Li yang kini menjadi nyonya ketua Beng-kauw, menjadi isteri Sie Kwan Lee yang gagah perkasa. Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan karena gadis itu lebih mencinta Sie Kwan Lee. Semenjak itu dia merasa betapa pahit dan getirnya akibat cinta yang gagal, maka dia selalu menjaga diri agar tidak jatuh cinta kembali.

Pada keesokan paginya Han Lin telah hadir di antara banyak orang-orang kang-ouw yang memenuhi undangan ketua Cin-ling-pai. Banyak tokoh kang-ouw dari berbagai golongan yang datang untuk sekedar mendengar penjelasan mengenai Ang-in Po-kiam yang sangat menggemparkan itu.

Han Lin segera menyelinap di antara kerumunan pengunjung sehingga dia bisa setengah bersembunyi, ada pun Pedang Awan Merah dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian yang digendongnya. Dari tempat dia duduk, dia memperhatikan ke atas panggung.

Nampak olehnya seorang pria berusia lima puluh tahun, tubuhnya tegap dan gagah sekali. Kumis serta jenggotnya terpelihara baik-baik dan masih hitam, sinar matanya tajam dan sikapnya berwibawa. Maka tahulah dia bahwa orang itu tentulah ketua Cin-ling-pai yang dia tahu bernama Yap Kong Sin dan berjuluk Bu-eng Kiam-hiap (Pendekar Pedang Tanpa Bayangan). Dari julukannya saja dia pun bisa menduga bahwa tentu ketua Cin-ling-pai itu seorang ahli pedang yang memiliki ginkang yang sudah sempurna sehingga dijuluki Tanpa Bayangan, tentu saking cepatnya gerakan silatnya.

Di sebelah kiri orang gagah ini duduk pula seorang gadis yang cantik dan gagah sekali. Usianya paling banyak delapan belas tahun, kulitnya putih dan tubuhnya langsing padat dengan wajah bundar seperti bulan purnama. Gadis cantik ini juga bersikap pendiam dan penuh wibawa. Sebatang pedang tergantung pada punggungnya. Dari seorang tamu yang duduk di dekatnya, Han Lin mendapat keterangan bahwa gadis itu bernama Yap Kiok Hwi, puteri dan anak tunggal dari Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin.

Para murid Cin-ling-pai yang rata-rata bersikap gagah perkasa itu berjaga di depan untuk menyambut tamu dan melayani mereka, dan ada pula sekelompok tokoh Cin-ling-pai yang tingkatnya sudah tinggi berkerumun di belakang tempat duduk guru mereka. Mereka itu berdiri dengan teratur dan sopan, membentuk barisan dengan kaki agak dipentangkan dan kedua tangan di belakang tubuh.

Sesudah semua tamu memperoleh tempat duduk dan ruangan yang disediakan itu sudah hampir penuh, ketua Cin-ling-pai lalu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah maju ke tengah-tengah panggung yang tingginya sekitar satu setengah meter sehingga dia dapat terlihat jelas oleh semua yang hadir, baik yang duduk di bawah panggung mau pun yang mendapat kehormatan duduk di atas panggung, yaitu para ketua partai persilatan besar.

“Saudara sekalian yang terhormat,” demikian Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin membuka dengan suaranya yang mantap dan lantang. “Terima kasih atas kedatangan cu-wi (anda sekalian) memenuhi undangan kami. Maksud undangan kami kepada cu-wi, selain untuk mempererat persahabatan, juga yang terpenting sekali kami hendak membersihkan nama Cin-ling-pai dari desas-desus yang amat merugikan kami. Desas-desus yang memancing permusuhan dan hal ini harus dibersihkan sekarang juga. Desas-desus itu adalah bahwa pedang pusaka dari istana, yaitu Pedang Awan Merah, yang hilang dari gedung pusaka itu, dikabarkan dicuri oleh Cin-ling-pai. Di sini kami menyatakan bahwa desas-desus itu hanya fitnah dan bohong belaka. Agar para saudara di dunia persilatan dapat memaklumi bahwa kami orang-orang Cin-ling-pai bukanlah sebangsa maling dan perampok dan kami tidak pernah melakukan pencurian itu.”

Para tamu menyambut ucapan itu dengan saling bicara sehingga suasana menjadi gaduh. Terdengar teriakan-teriakan dari sana sini.

“Kalau ada asap tentu ada apinya. Kalau ada desas-desus tentu ada penyebabnya!”
“Mana ada di dunia ini pencuri yang mengaku pencuri?”
“Memang mudah melontarkan kepada orang lain, maling teriak maling!”

Bermacam-macam suara teriakan yang datangnya dari rombongan para tamu sehingga suasana menjadi gaduh dan panas. Agaknya banyak orang tak percaya akan keterangan ketua Cin-ling-pai itu.

“Omitohud...!” kata tokoh Siauw-lim-pai yang hadir dan duduk di tempat kehormatan atas panggung. “Yap-pangcu agaknya harus dapat meyakinkan hati mereka dengan bukti yang jelas!”

Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin sendiri kelihatan bingung melihat tanggapan para tamu yang agaknya tidak percaya kepadanya itu. Maka mendengar ucapan hwesio itu, dia pun berbalik tanya, “Kalau kami tidak mencurinya, bagaimana dapat membuktikannya?”

Gadis cantik yang tadi duduk di sebelahnya, yaitu Yap Kiok Hwi, mendadak meloncat ke dekat ayahnya lalu dengan suara melengking nyaring gadis itu berseru, “Cu-wi yang hadir jangan seenaknya saja menuduh orang! Tuduhan tanpa bukti merupakan fitnah keji, dan aku menantang siapa saja yang mencoba untuk memburukkan nama Cin-ling-pai! Kami minta bukti dan saksi!” tegas sekali ucapan gadis itu.

Ayahnya hanya mengangguk-angguk saja karena meski pun dia merasa betapa kata-kata puterinya itu terlalu keras, namun memang cocok dengan suara hatinya. Dia pun sangat mendongkol mendengar teriakan-teriakan tadi dan karena puterinya sudah mengambil alih pembicaraan, maka dia sengaja mundur untuk melihat perkembangan selanjutnya.

Han Lin memandang penuh kagum. Gadis itu mempunyai semangat dan keberanian yang luar biasa. Dia pun menahan diri, hendak melihat perkembangan terlebih dahulu sebelum tampil untuk mengakui bahwa pedang itu berada padanya, bahwa benar Cin-ling-pai tidak melakukan pencurian.

Mendadak terdengar suara lantang dari bawah panggung. “Saya bersedia menjadi saksi!” kemudian nampak orang meloncat ke atas panggung menghadapi Kiok Hwi.

Gadis itu memandang penuh perhatian. Pria itu berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya kuning, di punggungnya terselip sebatang golok besar.

“Siapa engkau, sobat? Dan apa maksudmu mengatakan bersedia menjadi saksi?” tanya Kiok Hwi yang memaksa diri menghormati orang yang bagaimana pun juga menjadi tamu Cin-ling-pai itu.
“Saya bernama Gak Toan. Demi kelancaran persoalan ini, dan sama sekali bukan hendak memusuhi, nona, saya menjadi saksi bahwa pedang pusaka Ang-in Po-kiam itu memang berada di Cin-ling-pai!”

Maka gaduhlah para tamu, saling bicara sendiri ketika mendengar ada saksi mengatakan demikian. Kiok Hwi menjadi merah mukanya, akan tetapi dengan tenang gadis itu segera mengangkat kedua tangannya ke atas minta agar tamu yang hadir tidak membuat gaduh. Setelah suara berisik itu mereda, dara itu menghadapi Gak Toan dan memandang penuh selidik.

“Saudara Gak Toan, apakah engkau bersedia disumpah bahwa engkau benar-benar telah menyaksikan keberadaan pedang pusaka itu di Cin-ling-pai?”
“Saya bersumpah demi kehormatan saya, dan biarlah saya mati di ujung pedang apa bila saya berbohong!” jawab Gak Toan dengan suara lantang sambil membusungkan dadanya menghadap para tamu.
“Hemm, sekarang ceritakan di mana engkau melihat pedang itu, saudara Gak Toan!” kata pula Kiok Hwi dengan sikap menantang karena dia merasa yakin bahwa pedang itu tidak berada di Cin-ling-pai. Hanya ada dua kemungkinan, pikirnya. Orang ini berbohong atau dia sudah salah lihat.

Gak Toan memberi hormat kepada Kiok Hwi lantas berkata lantang, “Sudah saya katakan bahwa saya tak bermaksud untuk memusuhimu, nona. Saya katakan dengan sebenarnya saja. Kemarin, ketika saya tiba di sini, saya iseng-iseng naik ke Cin-ling-san lalu di suatu tempat saya melihat nona Yap Kiok Hwi sedang berlatih silat pedang. Dan pedang yang dipergunakan itu adalah jelas Ang-in Po-kiam!”

Gegerlah semua tamu mendengar ini dan Kiok Hwi sendiri memandang orang itu dengan mata terbelalak dan muka merah. Kembali dia mangangkat tangan minta agar para tamu menjadi tenang. Setelah suara gaduh itu mereda, dara itu segera mencabut pedang dari punggungnya, mengangkat pedang itu tinggi-tinggi dan berkata,
“Saudara Gak Toan, lihat baik-baik. Inilah pedangku yang biasa kupakai latihan!”

Pedang itu adalah sebatang pedang yang baik, akan tetapi mengeluarkan sinar putih pada saat dia gerakkan.

Gak Toan memandang, kemudian menggelengkan kepala. “Kemarin yang kulihat engkau tidak menggunakan pedang ini, nona. Jelas pedang itu adalah Ang-in Po-kiam sebab saya melihat sinarnya kemerahan.”

Kiok Hwi menjadi marah. “Saudara Gak Toan, hanya ada dua kenyataan dari ucapanmu itu. Engkau ngawur atau engkau berbohong, melempar fitnah kepadaku. Sekarang begini saja, karena saksinya hanya engkau seorang sedangkan ucapanmu berlawanan dengan pendapatku, maka siapa yang benar dan tidak berbohong akan kita tentukan dengan cara mengadu ilmu di sini, disaksikan oleh semua orang. Beranikah engkau mempertahankan tuduhanmu itu dengan senjata?”

Gak Toan tertawa kemudian berkata dengan suara dingin. “Nona, aku telah bicara dengan sesungguhnya dan tentu saja aku berani mempertanggung jawabkan kesungguhanku itu. Aku bukan orang yang lari menghadapi tantangan!”

“Bagus, keluarkan senjatamu!” tantang Kiok Hwi.

Memang merupakan pantangan bagi seorang ahli silat untuk menolak tantangan mengadu ilmu silat dari siapa pun, apa lagi kalau ditantang di depan para tokoh kang-ouw sebanyak itu, karena hal itu mempertaruhkan nama serta kehormatan. Maka orang yang bernama Gak Toan itu pun tidak menolak dan sekali tangannya meraba punggung, golok besarnya sudah terhunus.

Yap Kiok Hwi sudah marah sekali karena merasa difitnah oleh orang itu, maka dia segera berseru nyaring. “Lihat pedang!” dan pedangnya langsung meluncur dalam serangan yang cukup dahsyat.

Lawannya menggerakkan goloknya menangkis dan terdengar suara nyaring ketika kedua senjata itu bertemu di udara, menimbulkan percikan bunga api. Keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar, bahkan Kiok Hwi terdorong mundur dua langkah. Ternyata dalam hal tenaga, orang she Gak itu lebih kuat dibandingkan lawannya, seorang gadis berusia delapan belas tahun.

Kiok Hwi membuka serangan lagi dengan jurus Sian-jin Hoan-eng (Dewa tukar bayangan), gerakannya cepat dan ringan sekali. Menghadapi serangan yang amat cepat ini, Gak Toan cepat membela diri dengan jurus Hwai-tiong Po-gwat (Peluk bulan depan dada), goloknya memukul pedang hingga terpental kemudian dia mendesak dengan balasan serangannya dengan jurus Coan-jiu Ciong-to (Luruskan tangan sembunyikan golok). Dengan jurus ini, bukan mata goloknya yang menyerang, namun tangan yang menggenggam gagang golok menghantam dengan kuat sekali.

Kiok Hwi meloncat ke belakang untuk mengelak, lalu mengelebatkan pedangnya dengan tubuh berputar dalam jurus serangan Sin-liong Tiauw-bwe (Naga sakti sabetkan ekornya). Namun lawannya juga dapat meloncat ketika kakinya diserampang pedang itu.

Mereka saling serang dan yang paling terkejut adalah Han Lin karena dia mengenal ilmu golok yang dimainkan Gak Toan itu. Tak salah lagi, itulah ilmu golok dari partai Hoat-kauw yang pernah dilihatnya dimainkan oleh mendiang Ang-sin-liong Yu Kiat, orang pertama Bu-tek Ngo-sin-liong dari Hoat-kauw!

Jelas Gak Toan ini murid Hoat-kauw, maka mengertilah dia sekarang mengapa Gak Toan mati-matian menuduh Kiok Hwi memegang Ang-in Po-kiam. Kini dia mengerti pula bahwa yang telah menyebarkan desas-desus bahwa Cin-ling-pai mencuri pedang pusaka adalah sisa orang-orang Hoat-kauw! Tentu dilakukan untuk mengadu domba antara orang-orang kang-ouw yang dulu tidak mau tunduk kepada Hoat-kauw seperti halnya Cin-ling-pai.

Dia melihat bahwa Gak Toan ini cukup lihai, tentu dia seorang murid dari Bu-tek Ngo-sin-liong atau mungkin murid dari mendiang Hoat Lan Siansu sendiri. Seorang anggota Hoat-kauw yang sudah tinggi tingkatnya. Kalau perkelahian itu dilanjutkan, meski pun Kiok Hwi juga lihai, akan tetapi gadis itu tentu akan kalah. Maka, tanpa menanti sampai Kiok Hwi kalah, Han Lin melompat dengan gerakan indah, membuat salto beberapa kali lalu tiba di atas panggung.....

Begitu tongkat hitamnya bergerak, sinar hitam yang dahsyat menyambar di antara kedua orang yang tengah bertanding sehingga memaksa keduanya mundur dengan kaget sekali. Kiok Hwi memandang heran dan marah, akan tetapi Han Lin cepat berkata kepadanya,

“Nona, jangan layani dia. Dia ini seorang saksi palsu yang membuat kesaksian bohong!” suaranya lantang sehingga terdengar oleh semua orang. Kiok Hwi terkejut dan mundur.

Gak Toan tertawa mengejek. “Ha-ha-ha, agaknya ada orang yang takut kalau nona muda itu kalah maka sengaja membikin kacau. Orang muda, siapakah engkau dan apa maksud kata-katamu tadi?”

Han Lin tidak mempedulikan orang itu, justru menghadap kepada ketua Cin-ling-pai sambil berkata, “Pangcu, saya datang bukan untuk mengacau pertemuan yang diadakan Cin-ling-pai, tetapi untuk memberi kesaksian bahwa saksi ini adalah seorang pembohong besar, maka tidak perlu melayani dia.”

Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin tadi telah melihat gerakan tongkat Han Lin dan mengenal orang pandai, maka dia segera membalas penghormatan Han Lin sambil berkata, “Sobat muda, coba jelaskan kenapa engkau mengatakan dia pembohong besar. Kami juga tahu bahwa dia adalah pembohong besar, sayang kami tidak mempunyai bukti.”

“Ha-ha-ha, kalian menuduh aku berbohong, tetapi mana buktinya bahwa aku berbohong? Kalau Cin-ling-pai tidak dapat membuktikan bahwa mereka tidak mencuri Ang-in Po-kiam, maka itu hanya berarti bahwa desas-desus itu memang benar adanya!” kata Gak Toan dengan suara nyaring.

Agaknya banyak orang yang menyatakan setuju dengan pendapat Gak Toan ini sehingga Yap-pangcu nampak bingung kemudian memandang kepada Han Lin penuh harapan.

“Jelas bahwa Gak Toan ini pembohong besar kalau mengatakan telah melihat Yap-siocia memainkan ilmu dengan Pedang Awan Merah!” Han Lin berseru dengan nyaring. “Karena pedang pusaka itu selama ini berada di tanganku! Kalian lihat baik-baik, bukankah ini yang dinamakan Pedang Pusaka Awan Merah?” dia meraba buntalannya, lantas nampak sinar merah berkelebat ketika dia mencabut Ang-in Po-kiam.

Kembali orang-orang menjadi berisik akan tetapi semua orang mengakui bahwa itu adalah Pedang Pusaka Awan Merah. Melihat bahwa kebohongannya terbongkar, Gak Toan yang baru sekarang ingat bahwa pemuda ini dulu ikut menyerbu Hoat-kauw bersama pasukan pemerintah, segera mendapat akal baru.

“Saudara-saudara sekalian! Kalau begini buktinya, hanya ada dua kemungkinan! Pertama, mungkin pihak Cin-ling-pai sudah menitipkan pedang pusaka itu kepada pemuda ini, atau pemuda inilah yang sebenarnya menjadi pencuri pedang itu!”

Karena semua orang melihat bahwa pedang berada di tangan pemuda itu, maka ucapan ini agaknya dapat mereka terima. Kini mereka tampak bergerak dan agaknya siap hendak menerjang Han Lin.

“Omitohud...!” kata tokoh Siauw-lim-pai. Biar pun suaranya lembut tetapi bisa menembus suara kegaduhan yang kacau itu sehingga semua orang segera terdiam mendengarkan. “Orang muda, bagaimana pedang pusaka itu dapat berada di tanganmu? Jelaskanlah bila engkau tidak mau dituduh sebagai pencurinya dari gudang pusaka istana.”
“Benar…!” kata tosu tokoh Hoa-san-pai. “Harus dijelaskan benar siapa sebetulnya pencuri pedang dari kota raja supaya nama dunia persilatan tidak menjadi cemar. Harus diketahui dengan jelas siapa yang bersalah dalam peristiwa ini!”

“Saudara-saudara sekalian yang gagah perkasa,” kata Han Lin. “Pedang ini kudapatkan dari seseorang yang telah mencurinya dari gudang pusaka istana. Sebetulnya aku sedang dalam perjalanan menuju kota raja untuk menyerahkan kembali pedang pusaka ini kepada pemiliknya, yaitu Sribaginda Kaisar. Akan tetapi dalam perjalanan aku mendengar tentang desas-desus bahwa Cin-ling-pai yang mencuri pedang ini, dan bahwa Cin-ling-pai hari ini akan mengadakan pertemuan dengan para tokoh kang-ouw untuk membicarakan desas-desus itu. Mendengar ini aku sengaja datang ke sini untuk membantu Cin-ling-pai supaya dapat membersihkan namanya. Tidak kusangka muncul Gak Toan ini yang menceritakan kebohongan besar. Aku tahu kenapa dia berbuat demikian. Saudara sekalian, ketahuilah bahwa desas-desus untuk melakukan fitnah kepada Cin-ling-pai ini dilemparkan oleh pihak Hoat-kauw karena pencuri pedang yang sesungguhnya adalah mendiang Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw yang sudah dibasmi oleh pasukan pemerintah karena bersekutu dengan bangsa Mongol untuk memberontak. Dan siapakah Gak Toan ini? Aku tadi sudah melihat permainan goloknya dan aku yakin dia pun seorang murid Hoat-kauw!”

Gak Toan yang tadi masih berdiri di atas panggung, tiba-tiba saja sudah melompat jauh kemudian menyusup di antara tamu, terus melarikan diri. Semua orang masih tercengang mendengar ucapan Han Lin sehingga tidak seorang pun yang sempat menghalangi larinya Gak Toan.

Ributlah semua orang setelah mendengar keterangan Han Lin ini. Akan tetapi masih ada juga yang merasa penasaran. “Bagaimana kita tahu bahwa cerita itu tidak bohong? Tadi pun cerita Gak Toan terdengar meyakinkan tapi ternyata dia berbohong. Lalu bagaimana dengan cerita yang ini? Tanpa saksi bagaimana kita dapat menerimanya begitu saja?”

Tiba-tiba terdengar suara dari bagian para tamu kehormatan di atas panggung. Seorang tosu tinggi kurus bermata sipit bangkit berdiri. “Siancai...! Pinto Tiong Sin Tojin dari Kun-lun-pai menjadi saksi akan kebenaran ucapan taihiap (pendekar besar) Sia Han Lin tadi!”

“Aku juga menjadi saksi akan kebenaran ucapannya!” terdengar suara melengking, lantas seorang pendeta wanita, yaitu Lian Hwa Siankouw wakil ketua dari Kwan-im-pai bangkit berdiri.
“Siancai! Pinto juga menjadi saksi. Apa yang dikatakan Sia-taihiap itu semuanya benar!” kini Thian Gi Tosu yang tinggi besar bermuka kehitaman, tokoh Go-bi-pai berseru dengan suaranya yang besar.

Melihat betapa tiga orang tokoh besar dunia persilatan ini memberikan kesaksian mereka, semua orang menjadi percaya dan kini lenyaplah keraguan mereka.

Yang paling gembira tentu saja pihak Cin-ling-pai. Ketua Cin-ling-pai sendiri, Bu-eng-kiam-hiam Yap Kong Sin segera menghampiri Han Lin lalu menarik tangan pemuda itu diajak duduk di tempat kehormatan. Semua orang mengelu-elukan Han Lin dan ketika pesta itu bubar, Han Lin ditahan oleh keluarga Cin-ling-pai, menjadi tamu terhormat di Cin-ling-pai.

“Kami seluruh keluarga Cin-ling-pai dibikin pusing oleh fitnah itu dan kami juga tidak tahu bagaimana cara membersihkan nama kami. Agaknya kami harus mempertahankan nama kami dengan pertumpahan darah kalau saja tidak muncul Sia-sicu yang membersihkan kembali nama kami. Tidak tahu bagaimana kami harus membalas budi kebaikan Sia-sicu,” kata ketua Cin-ling-pai itu ketika dia menjamu Han Lin. Para tokoh Cin-ling-pai yang hadir dalam pesta kecil itu menganggukkan kepala sambil memandang kagum kepada Han Lin.

“Ah, Paman Yap, harap jangan banyak sungkan. Perbuatan saya ini memang merupakan kewajiban yang harus saya lakukan, sama sekali bukan budi kebaikan. Semua orang yang menjunjung tinggi kegagahan tentu akan bertindak seperti saya, membersihkan nama Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan yang gagah perkasa.”
“Aku kagum sekali melihat gerakan Sia-taihiap ketika melerai pertandinganku melawan Gak Toan itu!” tiba-tiba Kiok Hwi berkata dengan gembira. “Karena itu aku mohon kepada Sia-taihiap untuk memberi petunjuk sejurus dua jurus dalam ilmu pedang!”

Han Lin berusaha untuk menolak halus, akan tetapi Yap-pangcu sendiri lalu bangkit dan memberi hormat kepada Han Lin.

“Harap Sia-sicu tidak terlalu pelit untuk memberi petunjuk kepada puteri kami.”

Terpaksa Han Lin melayani. Mereka semua lantas pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) milik Cin-ling-pai yang luas. Ketika berita ini terdengar oleh para anak buah Cin-ling-pai, berbondong-bondong mereka pun datang ke lian-bu-thia untuk menonton pertandingan untuk menguji ilmu silat itu dengan gembira.

Mereka semua maklum akan lihainya sumoi mereka, yaitu Yap Kiok Hwi yang menerima gemblengan khusus dari Yap-pangcu. Dan semua orang ingin melihat sendiri bagaimana hebatnya pemuda yang telah membersihkan nama Cin-ling-pai itu.

Dengan gembira Kiok Hwi mencabut pedangnya kemudian memasang kuda-kuda. Han Lin memegang tongkat bututnya dan melihat ini gadis itu lalu berkata, “Sia-taihiap, mengapa engkau tidak mencabut Ang-in Po-kiam?”

“Nona, kita hanya hendak main-main saja, bukan? Biarlah, aku rasa sudah cukup kalau aku menggunakan tongkatku ini. Jangan pandang rendah tongkatku ini, nona. Ini tongkat wasiat peninggalan guruku!”

Karena pada saat mengatakan ini suara Han Lin sungguh-sungguh, maka Kiok Hwi tidak merasa dipandang rendah dan ia mulai menggerakkan pedangnya dengan gerakan indah dari ilmu pedang Cin-ling-pai.

“Lihat pedang!” teriaknya dan dia pun mulai membuka serangan dengan tusukan pedang ke arah dada Han Lin.

Pemuda ini miringkan tubuhnya lalu tongkatnya meluncur ke arah lengan tangan gadis itu yang memegang pedang. Kiok Hwi mempunyai gerakan yang cukup gesit. Begitu melihat serangannya luput malah sebaliknya lengan kanan yang memegang pedang terancam, dia segera menarik kembali tangannya ke belakang, memutar tubuh ke kanan lalu pedangnya berkelebat menyambar, kini membacok ke arah leher Han Lin dengan kecepatan kilat.

Han Lin kagum bukan main. Ilmu pedang Cin-ling-pai memang hebat dan gadis itu sudah menguasainya dengan baik, juga memiliki kecepatan yang mengagumkan. Hanya dalam tenaga sinkang, gadis itu masih harus memperkuatnya lagi. Dia cepat menangkis dengan tongkatnya kemudian balas menyerang.

Namun Kiok Hwi juga dapat menghindarkan diri. Ketika tongkat Han Lin menyerampang ke arah kedua kakinya, gadis itu melompat ke atas, berjungkir balik dan ketika tubuhnya menukik turun, laksana seekor rajawali dia menyerang dari atas, pedangnya diputar cepat dan setelah dekat lantas menyambar ke arah dahi Han Lin!

“Bagus!” Han Lin cepat melempar tubuh ke samping dan berjungkir balik miring, kemudian tongkatnya diputar dan tepat dapat menangkis pedang gadis itu yang sudah berdiri sambil menyabetkan pedangnya.
“Tranggg...!”

Tampak bunga api terpercik dari pedang itu ketika tertangkis tongkat dan gadis itu merasa tangannya tergetar hebat. Namun dia masih belum puas dan kembali menyerang, kali ini mengandalkan kecepatannya sehingga nampaknya Han Lin terdesak hebat dan terhimpit oleh gulungan sinar pedang itu.

Tentu saja Han Lin sengaja mengalah. Dia bergerak mengimbangi gadis itu, dia tidak ingin mengalahkannya dalam waktu singkat agar tidak menyinggung harga diri nona itu. Maka pertandingan itu tampak seru dan seimbang hingga membuat girang hati Kiok Hwi karena dia merasa dapat mengimbangi penolong Cin-ling-pai. Hanya ayahnya yang tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah. Para murid Cin-ling-pai pun tidak ada yang mengetahui dan memuji ilmu pedang sumoi mereka.

Sesudah merasa cukup, Han Lin ingin mengakhiri adu ilmu itu akan tetapi dia tidak ingin mengalahkan gadis itu secara mutlak. Maka dia pun mengubah ilmu tongkatnya dengan memainkan Lui-tai-hong-tung (Tongkat Kilat dan Badai) sehingga tiba-tiba saja tongkat itu mengeluarkan angin menderu-deru. Bukan hanya Kiok Hwi yang terkejut, juga ketua Cin-ling-pai terbelalak dan para murid Cin-ling-pai terkejut sekali.

Kiok Hwi mencoba menahan diri dan memutar pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu membentuk gulungan sinar yang seolah menjadi perisai baginya. Namun angin badai itu masih menembus perisai sinar itu sehingga membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir saja terjengkang. Pada saat itu Yap-pangcu meloncat ke tengah di antara mereka dan dia pun harus mengerahkan sinkang-nya agar tidak sampai terdorong oleh angin yang menderu itu.

“Cukup, Sia-sicu...!” katanya akan tetapi Han Lin telah menghentikan gerakan tongkatnya sehingga angin menderu itu pun lenyap.
“Wah, sungguh luar biasa sekali ilmu tongkatmu tadi, sicu!” Yap-pangcu memuji sambil memberi hormat.
“Sia-taihiap, ilmu aneh apakah yang kau mainkan tadi? Menimbulkan angin badai!” kata pula Kiok Hwi kagum.
“Ahh, Yap-siocia telah mengalah kepadaku. Terima kasih.”
“Mari kita lanjutkan dengan makan minum, sicu,” kata ketua itu dengan girang sekali dan mereka kembali ke ruangan tamu. Di situ Yap-pangcu sendiri menuangkan anggur untuk memberi selamat dan hormat kepada tamunya.

Sementara itu secara diam-diam Kiok Hwi merasa tertarik sekali. Dia tahu bahwa pemuda itu hendak menjaga namanya, maka tongkatnya sama sekali tidak menyentuhnya ketika mengalahkannya. Pemuda itu mengalahkannya hanya dengan angin pukulan tongkatnya saja. Bagaimana kalau menyerang dengan tongkatnya, menyerang sehingga tongkat itu mengenai tubuhnya? Dia bergidik. Baru angin pukulannya saja sudah begitu hebat! Dia tertarik sekali dan ketika matanya memandang, dari matanya terpancar sinar yang aneh, bahkan dia nampak tersipu kalau kebetulan Han Lin memandang kepadanya.

Pernah satu kali Yap-pangcu memergoki puterinya tersipu, maka dia pun tersenyum. Dia adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berwatak jujur. Ketika timbul gagasan untuk menjodohkan puterinya dengan pemuda yang telah menolong Cin-ling-pai itu, segera saja dia mengajukan pertanyaan bertubi kepada Han Lin untuk mengetahui keadaannya.

“Sicu, kalau aku boleh bertanya, siapakah guru sicu yang sudah menurunkan ilmu-ilmu hebat itu?”

Han Lin sudah dipesan oleh Lo-jin agar jangan memperkenalkan namanya kepada orang lain, walau pun hanya Lo-jin (Orang Tua) saja, maka dia menjawab, “Mendiang suhu saya adalah Kong Hwi Hosiang.”

“Ahh…, hwesio pengembara itu. Aku pernah mendengar namanya yang terkenal sebagai seorang locianpwe yang sakti. Dan siapakah orang tuamu, sicu?”

Han Lin tersenyum untuk menutupi pedihnya hati mendengar ketua Cin-ling-pai bertanya tentang orang tuanya. “Ayah dan ibu saya telah tiada, paman. Saya seorang yatim piatu dan sebatang kara.”

“Maafkan aku, sicu, kalau aku bertanya tentang mereka sehingga membuatmu sedih.”

Han Lin tersenyum. “Tidak mengapa, paman. Kematian merupakan peristiwa yang sudah menjadi takdir, saya tidak lagi menyedihkan kematian mereka.”

“Dan... berapakah usiamu, sicu?” ketua Cin-ling-pai mulai memancing.

Han Lin masih menganggap pertanyaan itu wajar saja yang timbul dari keakraban, maka dia pun menjawab, “Dua puluh satu tahun lebih, paman.”

“Sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, dalam usia demikian tentu sicu sudah berumah tangga, bukan? Di mana tempat tinggal sicu, dan apakah sicu sudah mempunyai putera?” pancingan itu semakin jelas.

Akan tetapi Han Lin yang belum mempunyai pengalaman dalam urusan ini, masih belum mengerti. Wajahnya berubah sedikit kemerahan ketika dia menjawab, “Paman Yap Kong Sin, saya belum mempunyai anak, bahkan belum menikah.”

“Kenapa, sicu? Seorang pendekar seperti sicu, sudah sepantasnya berumah tangga dan membentuk keluarga agar kelak ada yang melanjutkan perjuangan sicu.”

“Aihh, paman. Saya seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai apa-apa, bagaimana saya berani memikirkan tentang perjodohan?”

Girang bukan main perasaan hati ketua Cin-ling-pai itu. Dia mengerling ke arah puterinya dan melihat dara itu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan. Semua tokoh Cin-ling-pai yang hadir di situ tersenyum-senyum. Semua orang sudah tahu arah pembicaraan itu, kecuali Han Lin sendiri.

“Sia-sicu, maafkan ucapanku ini. Aku memang orang yang biasa bicara secara terbuka, maka biarlah percakapan ini disaksikan dan didengar pula oleh para murid kepala serta sute-ku yang hadir di sini. Sicu, kami hanya mempunyai seorang anak, yaitu puteri kami Yap Kiok Hwi yang sekarang sudah berusia delapan belas tahun dan masih belum terikat perjodohan dengan siapa pun juga. Nah, kalau sicu setuju, maka kami bermaksud untuk menjodohkan kalian, yaitu sicu dan puteri kami.”

“Aihh, ayah...!” Kiok Hwi bangkit berdiri lalu tersipu-sipu lari ke dalam mencari ibunya.

Semua orang yang hadir di sana tersenyum melihat sikap Kiok Hwi. Dari sikap gadis itu saja sudah dapat diketahui bahwa Kiok Hwi tidak berkeberatan. Apa bila keberatan tentu gadis yang juga jujur dan terbuka itu seketika sudah menyatakan penolakannya atas usul perjodohan ayahnya. Akan tetapi dia berlari sambil tersipu malu, itu tidak lain artinya tentu bahwa gadis itu juga menyetujui.

“Bagaimana, Sia-sicu?” tanya Yap Kong Sin yang tadi tertawa gembira ketika melihat ulah puterinya. “Harap engkau tidak merasa sungkan dan malu-malu, kami sudah biasa untuk bicara secara terbuka begini.”

Tentu saja Han Lin tersipu dan merasa serba salah. Harus diakui bahwa Kiok Hwi adalah seorang gadis yang tak ada cacat celanya sebagai seorang calon isteri. Dia masih muda, cantik jelita, gagah perkasa, puteri seorang ketua perkumpulan para pendekar pula. Apa lagi yang kurang? Mau mencari yang bagaimana lagi? Dan gadis itu agaknya juga tertarik kepadanya. Betapa akan bahagianya menerima kasih sayang seorang gadis jelita seperti Kiok Hwi.

“Harap paman sekalian sudi memaafkan saya. Saya merasa sangat berterima kasih dan terharu sekali atas maksud hati paman yang baik dan merasa amat terhormat. Seorang yatim piatu dan miskin seperti saya telah mendapat kehormatan dan penghargaan paman. Akan tetapi, paman, perjodohan adalah suatu peristiwa yang amat suci dan penting sekali dalam kehidupan seorang manusia, karena itu harus dilakukan dengan keputusan hati yang bulat. Tetapi pada saat ini saya sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, dan sama sekali belum ingin terikat tali kekeluargaan. Maka, maafkanlah saya yang tidak dapat menerima kehormatan besar ini.”

Yap Kong Sin menghela napas panjang. “Engkau benar, sicu. Agaknya kami yang terlalu tergesa-gesa. Karena itu biarlah kami tangguhkan dahulu hasrat hati kami ini sampai nanti pada saat sicu sudah benar-benar siap. Akan tetapi kami harap sicu tidak melupakan usul perjodohan kami ini sehingga kalau sicu sudah mengambil keputusan untuk berjodoh, sicu dapat mempertimbangkan keinginan kami.”

“Tentu saja, paman. Akan tetapi, saya harap paman tidak menganggap ini sebagai suatu ikatan. Kalau sampai nona Yap menemukan jodohnya, harap paman tidak ragu-ragu untuk menjodohkannya tanpa memikirkan saya. Dan sekarang saya kira telah cukup lama saya menunda keberangkatan saya, paman. Saya akan langsung ke kota raja menyerahkan Ang-in Po-kiam kepada Sribaginda Kaisar. Selamat tinggal.”

Han Lin bangkit lalu memberi hormat kepada tuan rumah, dan kepergiannya diantar oleh ketua itu sampai ke pintu gerbang depan.

Han Lin berjalan menuruni lereng meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai. Dari puncak bukit dia memandang ke bawah. Pagi hari itu matahari bersinar cerah dan pemandangan alam amatlah indahnya terbentang luas di bawah sana. Di sekitarnya nampak bukit-bukit menonjol dalam berbagai bentuk yang aneh-aneh. Di sana sini nampak kabut tipis yang membuat warna hijau pegunungan berubah menjadi kebiruan.

“Taihiap...!”

Seruan ini membuat Han Lin berhenti menahan langkahnya kemudian menoleh. Nampak olehnya Kiok Hwi berlari-larian menuruni lereng itu. Ketika tiba di depannya, gadis itu agak terengah-engah, mukanya menjadi kemerahan karena berlarian itu, rambutnya agak awut-awutan tertiup angin.

Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan Han Lin bertanya. “Nona Yap, mengapa engkau menyusulku? Apakah ada pesan yang kau bawa dari Paman Yap?”

Gadis itu menggeleng kepalanya, dan belum dapat menjawab.
“Lalu, apakah yang menyebabkan nona berlarian menyusulku?”

Gadis itu nampak tersipu. “Tidak ada yang menyuruh aku, taihiap.”

“Nona, tidak enak rasanya mendengar engkau menyebutku dengan sebutan taihiap. Aku sudah bersahabat dengan Cin-ling-pai, maka jangan engkau menggunakan sebutan yang sungkan itu.”
“Baiklah, Lin-ko (kakak Lin), akan tetapi engkau pun jangan menyebutku dengan sebutan nona seperti kita ini orang yang asing satu dengan yang lain.”
“Baik, Hwi-moi. Nah, katakan mengapa engkau menyusulku? Ada kepentingan apakah?”
“Tidak ada kepentingan apa-apa, Lin-ko. Tadi aku berada di kamar ibu ketika ayah datang memberi tahukan bahwa engkau sudah pergi meninggalkan Cin-ling-pai. Aku terkejut lalu segera menyusulmu. Aku tidak mengira bahwa engkau akan terus pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku.”

Han Lin tersenyum lalu memberi hormat dengan kedua tangan di depan dada. “Maafkan aku kalau aku tidak sempat berpamit kepadamu, Hwi-moi. Aku agak tergesa karena harus cepat mengembalikan pedang pusaka kepada Sribaginda Kaisar, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan lagi atas diriku.”

“Aku tidak menyangka bahwa kita akan berpisah demikian cepatnya, Lin-ko.”

Han Lin tersenyum. “Setiap pertemuan pasti diakhiri perpisahan, Hwi-moi. Sekarang kita telah bertemu, maka aku ingin mengucapkan selamat tinggal dan berpamit kepadamu.”

“Lin-ko, aku... aku ingin sekali ikut bersamamu ke kota raja untuk mengembalikan pedang pusaka itu ke istana. Aku... aku khawatir kalau terjadi apa-apa denganmu dan aku ingin membantu. Biarkan aku menemanimu, Lin-ko.”

Han Lin mengerutkan alisnya. Dia terkejut sekali mendengar ucapan gadis itu. “Ahh, Hwi-moi, bagaimana mungkin itu? Orang tuamu tentu akan marah kepadaku kalau engkau ikut denganku.”

“Aku yang bertanggung jawab!”
“Tidak, Hwi-moi. Ini tidak baik. Seorang gadis seperti engkau pergi bersamaku, lalu apa kata orang terhadap diriku? Lagi pula aku tidak memerlukan bantuan, dan aku… aku tidak sanggup melindungimu. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan dirimu? Ayahmu tentu akan menyalahkan aku.”

“Lin-ko, engkau... menolak permintaanku? Apakah engkau tidak sayang padaku, Lin-ko?”

Han Lin tersenyum dan jantungnya berdebar. Salahkah perkiraannya bahwa dengan kata-kata itu Kiok Hwi menghendaki bahwa dia sayang kepadanya?

“Bukan soal tidak sayang, Hwi-moi, tetapi soal kepantasan dan tanggung jawab. Maafkan aku, Hwi-moi, aku sungguh tidak dapat membawamu pergi bersama. Selamat tinggal dan terima kasih atas budi kebaikan keluargamu selama ini!” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi Han Lin mempergunakan kepandaiannya untuk meloncat kemudian lenyap dari situ.

“Lin-ko...! Tunggu...!”

Terpaksa Han Lin menahan langkahnya lantas kembali ke depan gadis itu. “Ada apakah, Hwi-moi?”

Kiok Hwi melepaskan seuntai kalungnya yang terbuat dari emas dan digantungi mainan seekor burung Hong emas yang dihias permata indah. “Toako, kalau engkau tidak mau membawa diriku, kau bawalah kalungku ini.”

“Ehhh? Kalung? Untuk apa kalung itu bagiku?” tanyanya heran dan dia belum menerima kalung itu karena merasa bingung.
“Lin-ko, perjalananmu amat jauh sehingga membutuhkan biaya besar. Aku hanya mampu membekali perhiasan ini agar dapat kau jual untuk keperluanmu kalau engkau kekurangan biaya.”

Terpaksa Han Lin menerima kalung itu. Dia sudah menolak keinginan gadis itu untuk pergi menemaninya, jika sekarang dia menolak pula pemberiannya, tentu akan membuat gadis itu merasa kecewa.

“Terima kasih, Hwi-moi. Engkau sungguh terlalu baik untukku.”
“Baik? Aihh, Lin-ko. Kalau mau bicara tentang kebaikan, engkaulah yang sudah berbuat kebaikan yang tak ternilai harganya bagi Cin-ling-pai. Engkau sudah membersihkan nama dan kehormatan kami.”
“Sudah cukup, Hwi-moi, sekali lagi selamat tinggal dan sampaikan hormatku kepada ayah ibumu.” Setelah memberi hormat Han Lin membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi.

Kiok Hwi mengikuti langkahnya dengan pandang mata sayu dan sepasang mata gadis itu menjadi basah. Ah, dia tidak bisa menipu diri sendiri. Dia telah jatuh cinta kepada pemuda sederhana itu…..

********************
Selanjutnya baca
PEDANG AWAN MERAH : JILID-04
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger