logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pedang Awan Merah Jilid 08


Sam Mo-ong pernah mencoba untuk mengacau dunia persilatan, mengadu domba antara partai-partai besar, namun akhirnya semua usaha itu mengalami kegagalan. Mereka juga gagal menyerang Beng-kauw, maka kini mereka melakukan usaha lain untuk melemahkan Kerajaan Tang.

Mereka menyebar orang-orang mereka untuk memimpin gerombolan para penjahat dalam melakukan perampokan atau lain kejahatan. Pendeknya untuk mengacaukan rakyat agar keadaan menjadi tidak aman sehingga kelak kalau tiba saatnya, rakyat akan setuju untuk mengganti Kaisarnya yang dianggap tidak becus mengatur pemerintahan.

Pada suatu pagi nampak seorang gadis cantik jelita berjalan seorang diri di luar kota Lok-yang. Dia masih muda, usianya tidak akan lebih dari sembilan belas tahun. Langkahnya gontai bagai seekor harimau betina, tubuhnya langsing dengan pinggang kecil dan pinggul besar, wajahnya bundar dengan kulit putih mulus. Sikapnya gagah dan berwibawa. Gadis cantik manis ini bukan lain adalah Yap Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kiok Hwi yang cantik ini jatuh hati kepada Han Lin dan ketika pemuda itu pergi, dia memberikan kalungnya kepada Han Lin dengan dalih bahwa kalau pemuda itu kehabisan biaya di perjalanan maka kalung itu dapat dijual untuk penambah biaya.

Sesudah Han Lin pergi, Kiok Hwi merasa kesepian. Semangatnya seakan-akan terbawa pergi oleh pemuda yang dikaguminya itu. Dia bisa bertahan sampai setengah tahun, akan tetapi sesudah selama itu tidak ada berita apa-apa dari pemuda yang dikasihinya, dia lalu mengambil keputusan untuk pergi merantau.

Kepada ayahnya dia menyatakan hendak mengunjungi seorang pamannya yang tinggal di Lok-yang. Pamannya itu bernama Yap Gun dan membuka toko obat di sana karena selain ahli dalam ilmu silat, Yap Gun juga seorang ahli pengobatan.

Demikianlah, ia meninggalkan Cin-ling-san melakukan perjalanan jauh seorang diri. Berkat ilmu silatnya yang tinggi, dia mampu mengatasi segala gangguan di dalam perjalanannya. Akan tetapi tentu saja dia tidak pernah berhenti bertanya-tanya orang tentang Sia Han Lin karena sebenarnya kepergiannya ini untuk mencari pria yang dirindukannya itu! Dia sama sekali tak pernah bermimpi bahwa pemuda yang amat dirindukannya itu telah mengalami berbagai macam pengalaman hebat, bahkan terpaksa menikah di utara dengan Mulani, puteri Ku Ma Khan, kepala suku bangsa Mongol!

Pada pagi hari itu dia berjalan dengan santai menuju kota ke Lok-yang dengan hati lemas karena selama ini dia tidak pernah mendengar sesuatu tentang Han Lin. Dia memasuki daerah yang berhutan, sementara kota Lok-yang masih berjarak sekitar dua puluh li dari tempat itu. Dia tidak tahu bahwa di tempat itu bersembunyi segerombolan penjahat yang merupakan salah satu di antara gerombolan bentukan Sam Mo-ong! Dan kebetulan sekali yang dipimpin oleh Tee-kui, orang kedua dari Thian-te Siang-kui yang kini sudah berhasil ditarik oleh Sam Mo-ong untuk bekerja kepada mereka.

Ketika Kiok Hwi sedang berjalan dengan santainya, tiba-tiba dari balik pohon dan semak belukar berlompatan tiga belas orang yang nampaknya buas dan liar. Mereka itu rata-rata bertubuh tinggi besar kokoh, tanda bahwa mereka memiliki tenaga yang kuat, berpakaian ringkas dan di punggung mereka nampak gagang golok.

Ketika tiga belas orang ini melihat bahwa yang mereka hadang adalah seorang gadis yang cantik jelita, mereka semua segera tertawa-tawa menyeringai dengan sikap yang kurang ajar dan menjemukan sekali.

“Aduh, cantiknya seperti bidadari!”
“Ahh, toako tentu akan senang sekali melihatnya!”
“Wah, kalau sudah jatuh ke tangan toako, kita tidak mungkin kebagian!”
“Ha-ha, nona manis membawa pedang di punggung, sungguh berani sekali mengadakan perjalanan seorang diri. Jangan-jangan dia lihai sekali!”
“Ha-ha-ha, makin lihai semakin menarik. Aku tidak suka dengan wanita yang lemah.”
“Kalau yang ini agaknya kuda liar, tentu toako akan gembira sekali.”
“Hayo tangkap gadis ini! Toako tentu akan memberi hadiah.”

Kiok Hwi mendiamkan saja mereka itu. Dia sudah terbiasa dengan godaan dari kaum pria, dan tidak gentar menghadapi orang-orang kasar yang dia duga tentu golongan perampok itu. Namun dia tidak tergesa-gesa menghajar mereka karena kelancangan mulut mereka yang tidak sopan, karena ia ingin mendengar kalau-kalau mereka itu mengetahui tentang Han Lin.

“Ehh, sobat, perlahan dulu. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian tahu di mana adanya seorang pemuda bernama Sia Han Lin?”
“Heiii, nona manis. Mengapa mencari yang namanya Sia Han Lin? Cari saja aku, namaku Bouw Mo Sin!” semua orang tertawa-tawa sampai bergelak.

Kiok Hwi mengerutkan alisnya. Orang-orang seperti ini tidak mungkin diajak bicara secara baik-baik. “Kalau tidak ada yang tahu, sudahlah. Kalian pergilah, jangan mengganggu aku atau aku akan marah dan tidak mengampuni kalian lagi!”

Ucapan ini mengandung ancaman, akan tetapi tiga belas orang yang biasa menggunakan kekerasan terhadap siapa pun juga itu, mana takut menghadapi ancaman seorang gadis jelita berusia kurang dari sembilan belas tahun? Mereka menganggap gadis itu membual dan bergurau saja, maka mereka pun terkekeh-kekeh.

“Aduh, bidadari manis. Kami minta ampun!”
“Minta cium... ha-ha-ha!”

Maka marahlah Kiok Hwi.

“Singgg...!”

Kini pedang telah terhunus di tangannya dan pedang yang terbuat dari baja yang baik itu berkilauan saking tajamnya.

“Wah-wah-wah, perempuan ini benar-benar berani. Hendak melawan kita? Ha-ha-ha! Hayo kawan, kita berlomba menangkap dan serahkan kepada toako!”

Tiga belas orang itu segera mengepung. Karena melihat pedang gadis itu demikian tajam berkilauan, untuk berjaga diri mereka pun cepat menghunus golok masing-masing lantas mengepung dengan sikap mengancam sekali.

“Kalian sendiri mencari mampus!” tiba-tiba Kiok Hwi berseru dan ketika dia menggerakkan pedangnya, namapk sinar berkelebat. Dia membalik dan menyerang orang yang berada di belakangnya, yang tidak menyangka-nyangka bahwa dialah yang akan diserang terlebih dulu. Karena itu tanpa dapat dihindarkan lagi pedang itu melukai pahanya. Dia mengaduh lantas terjengkang, darah mengucur dari pahanya yang tersayat pedang!

Semua orang menghentikan tawa mereka dan memandang marah karena seorang kawan mereka sudah dilukai. Salah seorang di antara mereka segera membentak.
“Perempuan setan, berani engkau melukai teman kami?!”

Dua belas orang itu lalu menyerang dengan golok mereka. Melihat darah membasahi paha seorang rekan agaknya telah membuat mereka lupa akan kecantikan gadis itu dan sekarang golok mereka menyambar-nyambar dahsyat laksana sekumpulan burung elang menyambari seekor kelinci yang diperebutkan.

Akan tetapi ternyata Kiok Hwi bukan kelinci melainkan seekor harimau betina. Segera dia mainkan ilmu pedang Cin-ling-pai yang sangat indah. Gerakannya lincah sekali, tubuhnya bagaikan seekor burung walet beterbangan ke sana sini, pedangnya menyambar-nyambar dan setelah lewat belasan jurus, sudah ada tiga orang yang terluka oleh sabetan pedang gadis ini sehingga tidak mampu melanjutkan pengeroyokan.

Sembilan orang penjahat sisanya menjadi marah dan juga berhati-hati. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang cukup lumayan, maka setelah mereka berhati-hati dan melakukan pengeroyokan dengan teratur, mulailah Kiok Hwi terdesak. Akan tetapi gadis ini memutar pedang melindungi tubuhnya sehingga seluruh sambaran golok itu berhasil ditangkis oleh sinar pedangnya.

Pada saat itu mendadak terdengar bentakan nyaring, “Segerombolan laki-laki mengeroyok seorang gadis, sungguh tak tahu malu!” kemudian melompatlah seorang pemuda bertubuh sedang yang berpakaian serba biru

Begitu melompat pemuda ini segera menggerakkan pedangnya dan ternyata gerakannya mengandung tenaga yang cukup kuat. Tanpa banyak cakap lagi dia langsung mengamuk dan membantu Kiok Hwi yang tentu saja menjadi tambah bersemangat.

Mereka berdua mengamuk dan kembali tiga orang roboh akibat sabetan pedang Kiok Hwi dan pemuda itu. Enam orang yang masih dapat melanjutkan pengeroyokan mulai menjadi gentar karena kepandaian pemuda berbaju biru itu ternyata tidak kalah lihainya dibanding kepandaian si gadis cantik.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara tawa yang mengandung gema keras kemudian muncullah seorang pendek kurus yang memegang sepasang golok.
“Mundurlah kalian! Biarkan aku saja menghadapi mereka berdua!” teriak si cebol ini yang tak lain adalah Tee-kui, orang kedua dari Thian-te Siang-kui (Sepasang Iblis Langit Bumi).

Tee-kui atau iblis bumi ini bertubuh pendek kurus, akan tetapi ilmu kepandaiannya cukup tinggi dan dia pun seorang laki-laki yang cabul. Begitu melihat Kiok Hwi yang cantik jelita, mulutnya segera mengilar dan dia pun mengacungkan goloknya.

“Nona manis, siapakah engkau dan siapa pula pemuda ini?”

Timbul pula harapan di hati Kiok Hwi untuk dapat memperoleh keterangan tentang Han Lin dari si katai ini. Kalau anak buahnya tidak pernah mendengar tentang Han Lin, barang kali si katai yang menjadi pimpinan mereka ini pernah mendengarnya.

“Paman, kebetulan saja aku lewat di sini kemudian diganggu oleh anak buahmu. Saudara ini juga kebetulan saja datang menolong karena kami tidak saling mengenal. Paman, aku hanya ingin mengetahui apakah engkau mengenal seorang bernama Sia Han Lin dan tahu di mana dia sekarang?”

Tentu saja Tee-kui tahu siapa Sia Han Lin, Si Pendekar Pedang Awan Merah. Akan tetapi dia tidak mau mengakui, karena dia pun tidak tahu di mana adanya Han Lin.

“Heh-heh-heh, Sia Han Lin sudah mampus. Mengapa mencari dia? Lebih baik ikut dengan aku dan menjadi isteriku, pasti engkau akan senang!”
“Jahanam busuk!” bentak Kiok Hwi marah sekali bukan hanya karena ucapan kurang ajar itu, melainkan karena kata-katanya bahwa Han Lin telah tewas. Mendadak dara itu sudah menggerakkan pedangnya menyerang.
“Tranggg...!”

Tee-kui menangkis dan Kiok Hwi merasa betapa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa si katai ini biar pun badannya kecil namun tenaganya besar sekali. Mereka lalu bertanding dan sepasang golok di tangan Tee-kui segera mengepung gadis itu.

Melihat ini, pemuda berpakaian biru itu sudah menggerakkan pedangnya pula membantu Kiok Hwi. Melihat Tee-kui dikeroyok dua, anak buahnya yang tinggal enam orang karena yang lainnya telah terluka itu segera maju membantu Tee-kui. Sekarang berbalik Kiok Hwi dan pemuda baju biru itu yang dikeroyok.

Kiok Hwi dan pemuda itu segera terdesak hebat. Baru menghadapi Tee-kui saja mereka sudah kalah tingkat, apa lagi Tee-kui dibantu oleh enam orang anak buahnya. Akan tetapi Kiok Hwi dan pemuda itu mengamuk dengan hebatnya, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan segenap kepandaiannya. Namun tetap saja mereka terdesak dan keadaan mereka sudah gawat.

“Bunuh pemuda ini akan tetapi jangan lukai gadis ini. Aku membutuhkannya, ha-ha-ha!” Tee-kui sudah tertawa-tawa girang, membayangkan betapa akan senangnya dia nanti jika mendapatkan gadis yang cantik jelita ini.

Akan tetapi pada saat itu pula muncul seorang pria muda bercaping lebar. “Setan katai di mana-mana selalu membikin kacau saja!” bentaknya dan dia sudah mencabut pedangnya lalu menerjang ke arah Tee-kui.

Tee-kui terkejut bukan main mengenal Souw Kian Bu yang pernah membantu ketika dia menyerang Can Kok Han. Dengan masuknya Souw Kian Bu yang lihai, dia merasa gentar maka dengan sigapnya dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri. Anak buahnya tentu saja melarikan diri pontang panting ketika melihat pimpinan mereka sudah lebih dulu melarikan diri, termasuk mereka yang terluka, segera terseok-seok melarikan diri.

Kian Bu dan Kiok Hwi juga tidak mengejar, demikian pula pemuda berpakaian biru. Kiok Hwi mengangkat tangan memberi hormat kepada Kian Bu dan pemuda baju biru.

“Ji-wi sudah datang menolongku, sungguh merupakan budi yang besar sekali. Karena itu aku menghaturkan terima kasih.”
“Nona, tidak perlu berterima kasih. Sudah selayaknya kalau kita saling tolong menghadapi penjahat, bukan?” kata si baju biru. “Perkenalkan, nona, aku Ting Bun, secara kebetulan saja lewat di sini lalu melihat nona dikeroyok banyak orang. Dan saudara ini, siapakah?”
“Aku juga kebetulan sedang lewat di sini sehingga dapat membantu kalian. Namaku Souw Kian Bu. Tidak tahu siapakah nona yang kalau tidak salah, mempunyai ilmu pedang yang mirip ilmu pedang Cin-ling-pai?”
“Aku memang murid Cin-ling-pai!” Kiok Hwi berkata dengan gembira. “Ketua Cin-ling-pai adalah ayahku.”
“Ahh, jadi nona adalah puteri Bu-eng Kiam-hiap? Pantas saja ilmu pedang nona demikian bagus!” kata Souw Kian Bu memuji.
“Harap Souw-taihiap tidak terlalu memuji. Apa bila taihiap tidak keburu datang membantu, tentu aku dan Ting-taihiap akan kalah melawan si katai tadi. Entah siapa dia yang begitu lihainya.”
“Dia? Dia adalah Tee-kui, orang kedua dari Thian-te Siang-kui,” kata Souw Kian Bu.
“Ahh, pantas saja ilmu kepadaiannya demikian hebat!” seru Kiok Hwi terkejut dan kini dia teringat kepada Han Lin, maka kepada kedua orang itu dia bertanya. “Sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan, barang kali ji-wi bisa menjawabnya. Aku sedang mencari seorang bernama Sia Han Lin, apakah ji-wi mengetahui dia berada di mana?”

Ting Bun menggelengkan kepalanya. Pemuda yang berpakaian serba biru sederhana ini bertubuh sedang, berwajah tampan dan pendiam. Dia belum pernah mendengar nama Sia Han Lin, maka dia menggeleng kepala dengan hati kecewa karena dia ingin sekali dapat membantu nona yang sejak pertama kali melihatnya telah membuat hatinya jatuh bangun ini.

“Sia Han Lin? Nona, jika boleh aku bertanya, apakah hubunganmu dengan Sia Han Lin?”

Kiok Hwi memandang tajam, jantungnya berdebar kencang. Dari pertanyaan ini saja jelas bahwa pemuda bercaping ini sudah mengenal Han Lin.

“Aku sahabatnya, taihiap. Apakah taihiap mengenalnya? Di mana dia sekarang?”

Kian Bu adalah seorang laki-laki yang sudah berpengalaman. Dari sikap dan pertanyaan itu saja dia sudah dapat menduga bahwa Kiok Hwi tentu telah jatuh cinta kepada saudara misannya itu. Dia pun teringat kepada Can Bi Lan. Gadis puteri ketua Pek-eng Bu-koan itu juga jatuh cinta kepada Han Lin!

“Tentu saja aku mengenalnya karena dia adalah kakak misanku sendiri.”
“Ahhh... ohhh...!” Kiok Hwi menjadi girang sekali sampai ber-ah-oh-oh, “dapatkah engkau mengatakan di mana dia berada sekarang?”
“Aku sendiri juga sedang mencarinya, nona. Aku hendak menyampaikan berita yang amat buruk baginya.”

Wajah Kiok Hwi berubah. “Berita buruk? Apakah itu, taihiap? Boleh aku mengetahui berita buruk apa yang hendak kau sampaikan kepada Lin-koko?”

“Berita bahwa isterinya telah tewas,” kata Souw Kian Bu sambil memandang tajam.

Seketika itu pula wajah Kiok Hwi berubah menjadi pucat. “Is... isterinya...? Sejak kapan dia menikah, taihiap?”

“Dia sudah menikah dengan seorang gadis Mongol.”
“Ahh…, dan isterinya itu... tewas...?” suara Kiok Hwi bercampur isak. “Kasihan sekali, Lin-ko...”

Kian Bu menjadi lega. Bagaimana pun juga gadis ini berhati baik. Tidak memperlihatkan cemburu dan tidak marah, malah mengatakan kasihan. Tidak pencemburu, tidak seperti... dia!

“Nona, mati hidup seseorang telah ditentukan oleh Thian, karena itu tak perlu disesalkan,” kata Ting Bun dengan nada suara menghibur. “Harap nona tidak terlalu sedih mendengar nasib sahabatmu itu, nona.”

Mendengar ucapan itu, Kian Bu menghela napas panjang. “Benar yang dikatakan saudara Ting Bun ini. Segala sesuatu yang menimpa kehidupan setiap manusia sudah ditentukan sesuai dengan keadilan Thian, tidak perlu disesalkan. Akan tetapi betapa sukarnya... ahh, sudahlah, aku harus melanjutkan perjalananku. Nona, kalau sekali waktu engkau bertemu dengan Han Lin, tolong sampaikan pesanku kepadanya bahwa isterinya sudah tewas dan kalau dia hendak mengetahui lebih banyak agar mencari aku di Wu-han.”

“Baiklah, taihiap.”
“Nona, karena engkau adalah sahabat kakak misanku, maka engkau sahabatku pula dan tidak semestinya menyebut aku taihiap. Namaku Souw Kian Bu. Engkau dapat kuanggap seperti adikku.”
“Terima kasih, Bu-ko. Kelak pesanmu pasti akan kusampaikan kepada Lin-ko, kalau saja aku dapat bertemu dengannya.”
“Nah, selamat tinggal, Hwi-moi dan selamat tinggal, saudara Ting Bun.”
“Selamat jalan,” kata mereka berdua.

Sesudah Kian Bu pergi, barulah Kiok Hwi dan Ting Bun menyadari bahwa semenjak tadi mereka berdua diam saja, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara.

Akhirnya Kiok Hwi yang bicara, “Taihiap...”

“Sudah sepatutnya kalau engkau juga jangan menyebut taihiap kepadaku, nona. Engkau dapat menyebut koko (kakak) kepada saudara Souw Kian Bu, kenapa kepadaku tidak?”

Kiok Hwi tersenyum. “Aku tidak berani, akan tetapi kalau engkau menghendaki...”

“Tentu saja, moi-moi, sebab bukankah kita telah menjadi sahabat setelah pertemuan yang kebetulan ini?”
“Baiklah, Bun-ko.”
“Hwi-moi, sekarang engkau hendak ke mana?”
“Aku hendak mengunjungi pamanku di Lok-yang.”
“Aihh, kebetulan sekali, Hwi-moi. Aku pun hendak pergi ke Lok-yang mencari saudaraku. Kalau begitu, jika engkau tidak berkeberatan, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama ke Lok-yang?”
“Tentu saja aku tidak keberatan, Bun-ko, bahkan girang sekali karena dengan melakukan perjalanan berdua, maka kita tidak perlu khawatir kalau seandainya Tee-kui menghadang dan mengganggu lagi.”
“Tepat sekali ucapanmu, Hwi-moi. Mari kita berangkat.”

Mereka kemudian melakukan perjalanan bersama. Dalam kesempatan ini mereka saling mempererat persahabatan dengan menceritakan keadaan diri masing-masing. Kiok Hwi bercerita bahwa dia hendak mengunjungi pamannya yang sudah lama tidak dijumpainya, sekalian merantau untuk meluaskan pengalamannya.

“Pamanku bernama Yap Gun. Dia membuka toko obat di Lok-yang dan sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan paman dan bibi.”

Ting Bun juga menceritakan keadaan dirinya. Pemuda ini telah yatim piatu dan sejak kecil menjadi murid Bu-tong-pai bersama adiknya yang bernama Ting Bu. Adiknya itu pergi ke Lok-yang dan sekarang dia sedang menyusulnya.

“Kami berdua juga sedang merantau untuk meluaskan pengalaman,” kata Ting Bun. “Dan adikku itu memang bandel, ingin berpisah supaya dapat memperoleh pengalaman hebat.” Dia tersenyum. “Karena itu, dari Tiang-an dia lalu berangkat mendahului aku ke Lok-yang. Kalau sekali ini dia tersusul olehku, maka takkan kubiarkan dia meliar sendiri. Ternyata di daerah ini terdapat banyak penjahat yang lihai dan berbahaya sekali.”
“Kalau adikmu juga menjadi murid Bu-tong-pai seperti engkau sendiri, kurasa tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia pasti mampu menjaga diri.”
“Benar juga katamu, Hwi-moi. Akan tetapi engkau melihat sendiri, gerombolan perampok yang mengganggu kita tadi amat berbahaya dan lihai sekali.”
“Aku pun heran, Bun-ko. Sekarang keadaan malah bertambah parah, dan di mana-mana bermunculan gerombolan perampok yang lihai.”

Ting Bun menghela napas panjang. “Demikianlah kalau pemerintah lemah. Para pejabat hanya berkorupsi tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat. Penjagaan keamanan amat kurang, maka para penjahat berani merajalela dan keamanan hidup rakyat tidak terjamin.”

Mereka memasuki kota Lok-yang lantas berkunjung ke rumah Yap Gun, yaitu paman Kiok Hwi, adik dari Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sing.

Yap Gun seorang lelaki berusia empat puluh enam tahun, tinggal di kota Lok-yang berdua dengan isterinya karena dia tidak memiliki keturunan. Tubuhnya tinggi tegap, akan tetapi ilmu silatnya tidaklah sehebat ilmu kakaknya yang menjadi ketua Cin-ling-pai, sebab sejak muda dia lebih tekun mempelajari obat-obatan dan ilmu pengobatan dari pada ilmu silat. Yap Gun menerima kunjungan Kiok Hwi dan Ting Bun dengan alis terangkat karena dia merasa tidak mengenal dua orang muda itu.

“Gun-siok (paman Gun), lupakah paman kepadaku? Aku adalah Yap Kiok Hwi dari Cin-ling-pai!” seru Kiok Hwi yang geli melihat pamannya tidak mengenalnya.

Barulah lelaki itu bangkit dengan wajah berseri-seri. “Ahh, Kiok Hwi! Bagaimana aku dapat mengenalmu? Engkau sudah dewasa sekali sekarang!” lalu orang itu berteriak memanggil isterinya. Seorang wanita setengah tua muncul dan berbeda dengan suaminya, wanita ini segera mengenal Kiok Hwi dan langsung merangkulnya.

“Kiok Hwi, ahh…, betapa kami merindukanmu!” kata bibi itu yang memang sangat sayang kepada Kiok Hwi karena dia sendiri tidak mempunyai anak.
“Kiok Hwi, siapakah pemuda ini?” tanya Yap Gun.
“Oh ya, paman. Ini adalah saudara Ting Bun, seorang sahabatku yang kebetulan bertemu di jalan. Dia sudah membantuku ketika aku menghadapi serombongan perampok dan dia adalah murid Bu-tong-pai, paman.”
“Ahh, bagus. Aku mendengar bahwa Bu-tong-pai banyak mempunyai murid yang menjadi pendekar yang pandai.”
“Paman terlalu memuji,” kata Ting Bun merendah.

Mereka berempat kemudian masuk ke dalam. Yap Gun menyuruh para pegawainya untuk menjaga toko, sedangkan dia bersama isterinya lantas bercakap-cakap dengan Kiok Hwi dan Ting Bun di ruangan belakang.
Image result for pedang awan merah
Sesudah ditanya tentang perampokan itu dan Kiok Hwi menceritakan semuanya, gadis itu berbalik bertanya. “Bagaimana keadaan di Lok-yang sendiri, paman? Di luar kota banyak perampok, bagaimana dengan di dalam kota?”

“Ahh, sekarang di sini juga banyak sekali terjadi hal-hal yang amat menggelisahkan. Baru satu pekan yang lalu terjadi geger di tempat tinggal Kwan-ciangkun, panglima yang paling berkuasa di Lok-yang.”
“Apa yang terjadi?”
“Putera Kwan-ciangkun sakit parah. Aku juga pernah dipanggil, akan tetapi dengan terus terang aku mengatakan bahwa aku tidak mampu mengobatinya karena penyakitnya amat parah. Dan apa yang dilakukan Kwan-ciangkun? Dia menghukum aku dengan tiga puluh cambukan! Akhirnya terpaksa aku memberi tahu bahwa di Nan-yang terdapat sahabatku yang lebih ahli dalam hal pengobatan, yaitu Thian-te Yok-sian, dan agar puteranya dibawa ke situ untuk minta Thian-te Yok-sian mengobatinya. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Kwan-ciangkun? Dia mengirim pasukan memaksa dan menculik sahabatku itu dibawa ke sini dan disuruh mengobati, bahkan kalau gagal akan dibunuh!”

“Hemm, sungguh sewenang-wenang!” kata Kiok Hwi dan Ting Bun hampir berbareng.
“Seperti yang sudah kuduga, Thian-te Yok-sian sendiri agaknya tidak sanggup mengobati penyakit yang parah itu, penyakit kotor yang menjijikkan. Dengan dikawal pasukan, Thian-te Yok-sian lalu mengunjungi aku untuk mencari obat-obat yang paling manjur. Namun itu hanya bisa menolong sementara saja, tetapi keselamatan nyawa Thian-te Yok-sian tetap terancam. Akan tetapi, sepekan yang lalu muncullah muridnya bersama seorang pemuda yang kabarnya bernama Sia Han Lin...”
“Lin-ko...!” Kiok Hwi berseru girang.
“Engkau mengenalnya?”
“Tentu saja, paman. Dia pernah membersihkan nama baik Cin-ling-pai yang tercemar.”
“Karena kelihaian pemuda itu serta murid Thian-te Yok-sian, maka dewa obat itu berhasil dibawa menyingkir, dilarikan oleh kedua orang itu. Menurut desas-desus, mereka bahkan mengancam Kwan-ciangkun dan akan membunuhnya kalau tidak membebaskan si dewa obat.”

“Hebat!” seru Kiok Hwi gembira. “Dan sekarang mereka berada di mana, paman?”
“Kukira mereka tidak akan berani kembali ke Nan-yang karena tentu Kwan-ciangkun tidak akan tinggal diam. Tapi aku tahu bahwa Thian-te Yok-sian berasal dari daerah Huang-ho. Besar kemungkinan dia diantar ke Huang-ho oleh murid dan penyelamatnya.”
“Kalau begitu aku akan menyusul ke Huang-ho. Bun-ko, maukah engkau menemani aku pergi ke Huang-ho untuk menyusul mereka? Aku ingin sekali bertemu dengan Lin-ko!”

Ting Bun menghela napas panjang. Dia teringat kepada adiknya, akan tetapi dia pun lebih berat kepada Kiok Hwi biar pun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Kiok Hwi begitu ingin bertemu dengan Han Lin.

“Kalau memang penting sekali pergi ke Huang-ho...”
“Bun-ko, apakah engkau lupa akan pesan dari Souw Kian Bu koko? Bukankah ada berita penting tentang kematian isterinya...”

Wajah pemuda itu tiba-tiba saja berseri. Kalau itu kepentingannya, tentu saja dia senang untuk menemani. Tadinya dia amat khawatir kalau-kalau Kiok Hwi hendak menyusul Han Lin karena mencinta pemuda itu.

Dia tidak tahu bahwa memang tadinya Kiok Hwi mencinta Han Lin, akan tetapi semenjak mendengar bahwa Han Lin telah menikah dengan gadis Mongol yang kemudian terbunuh, cintanya juga sudah menghilang, bahkan perhatian hatinya kini beralih kepada Ting Bun.

Malam itu mereka bermalam di rumah Yap Gun dan semalam itu dimanfaatkan oleh Ting Bun untuk berkeliaran di Lok-yang mencari adiknya. Akan tetapi usahanya sia-sia belaka, dia tidak berhasil menemukan adiknya itu. Maka pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia dan Kiok Hwi pergi meninggalkan Lok-yang menuju ke daerah Huang-ho.

Kiranya takkan mungkin dapat mencari seseorang yang tinggal di daerah Huang-ho kalau tidak diberi tahu daerah mana dan apa nama dusunnya. Panjang Huang-ho beribu-ribu mil dan daerahnya sangat luas meliputi beberapa propinsi. Tetapi Kiok Hwi sudah mendapat keterangan yang jelas dari pamannya. Thian-te Yok-sian berasal dari daerah Tong-beng, di lembah Huang-ho tak jauh dari Lok-yang, yaitu di sebelah timurnya. Maka mereka pun melakukan perjalanan cepat menuju ke Tong-beng.

Baru saja mereka tiba kurang lebih sepuluh li di sebelah barat Tong-beng, pada pagi hari itu selagi berjalan dengan Ting Bun, tiba-tiba Kiok Hwi berseru. “Lin-ko...!”

Ting Bun segera mengangkat muka memandang dan melihat dua orang sedang berjalan mendatangi dari depan. Seorang pemuda dan seorang gadis!

“Lin-ko...! Lin-ko...!” Kiok Hwi berlari menyambut pemuda dan gadis itu sehingga Ting Bun terpaksa mengikuti dari belakang.

Pemuda dan gadis itu memang benar Han Lin dan Lie Cin Mei adanya. Mereka baru saja mengantar guru Lie Cin Mei ke dusun kampung halamannya dan kini hendak melanjutkan perjalanan menuju kota raja. Tentu saja Han Lin segera mengenal gadis yang berteriak-teriak memanggilnya itu dan dia terheran-heran melihat Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai itu berada di situ, datang bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

“Hwi-moi...! Kau di sini? Hendak ke mana dan dari manakah engkau, Hwi-moi?”
“Aihh, Lin-ko… susah payah aku mencarimu. Ada berita penting yang harus kusampaikan kepadamu dan betapa girang hatiku dapat bertemu dengan engkau di sini...” akan tetapi Kiok Hwi memandang gadis jelita di samping Han Lin itu dengan penuh keraguan.

Han Lin menyadari akan kehadiran Cin Mei, maka dia cepat memperkenalkan, “Hwi-moi, perkenalkan. Ini adalah adik Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli, murid dari paman Thian-te Yok-sian. Adik Cin Mei, dia adalah Yap Kiok Hwi, puteri dari Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin, ketua Cin-ling-pai.”

Dua orang gadis yang sama cantik jelita itu saling memberi hormat, kemudian Kiok Hwi juga teringat akan kehadiran Ting Bun, maka dia pun memperkenalkan. “Lin-ko, ini adalah saudara Ting Bun, murid Bu-tong-pai yang membantuku ketika aku diserang oleh Tee-kui dan anak buahnya. Bun-ko, inilah kakak Sia Han Lin yang kucari-cari.”

“Hwi-moi, berita penting apakah yang katanya hendak kau sampaikan kepadaku?”
“Boleh aku bicara sekarang?” tanya Kiok Hwi sambil melirik ke arah Cin Mei.

Gadis yang perasaannya halus ini lalu berkata lirih. “Kalau ingin bicara penting, lebih baik aku menjauhkan diri dari sini...” kemudian dia hendak melangkah pergi akan tetapi Han Lin segera memegang tangannya.

“Siauw-moi, jangan begitu. Tentu saja engkau boleh mendengarkan apa saja yang akan disampaikan oleh Kiok Hwi. Hwi-moi, katakanlah apa yang hendak kau bicarakan dengan aku.”
“Hal ini mengenai isterimu, Lin-ko,” kata Kiok Hwi lalu memandang tajam.
“Isteriku...?” Han Lin berseru heran karena dia sendiri merasa tidak pernah beristeri. Dia hampir lupa akan keadaan Mulani yang sudah menjadi isterinya.
“Perempuan Mongol itu…!” kata Kiok Hwi memperingatkan.
“Perempuan Mongol? Engkau sudah tahu tentang itu? Ada apakah dengannya, Hwi-moi?”
“Dia... dia telah tewas, Lin-ko.”

Han Lin terkejut setengah mati. Sungguh pun dia tidak mencinta Mulani sebagai seorang suami, akan tetapi dia sayang kepada gadis Mongol itu dan bagaimana pun juga gadis itu sudah menikah dengannya, walau pun hanya menikah upacara saja.

“Apa...? Apa yang telah terjadi dan bagaimana engkau dapat mengetahuinya? Dia berada di utara dan kau...”
“Lin-ko, aku pun hanya mendengar dari pemberi tahuan orang. Bun-koko ini yang menjadi saksi. Lin-ko, kenalkah engkau dengan orang yang bernama Souw Kian Bu?”
“Souw Kian Bu? Dia adalah saudara misanku.”
“Nah, kalau begitu benar sudah. Souw Kian Bu yang menceritakan kepadaku, memesan bahwa jika aku bertemu denganmu maka aku harus menyampaikan berita bahwa isterimu telah meninggal dunia, Lin-ko.”

Wajah Han Lin berubah layu. Kalau Souw Kian Bu yang menceritakan, tentu tidak dapat diragukan lagi. “Akan tetapi mengapa? Apa yang telah terjadi dengannya?”

Melihat ini Kiok Hwi merasa sangat iba. Wajah Han Lin nampak terkejut dan juga sedih. “Maafkan kalau aku membawa berita yang begini buruk bagimu, Lin-ko. Aku sendiri tidak tahu mengapa, karena kakak Souw Kian Bu juga tidak memberi tahu padaku. Dia hanya berpesan agar jika bertemu dengan Lin-ko, aku harus mengabarkan tentang kematian itu dan kalau Lin-ko ingin tahu lebih jelas lagi, katanya agar Lin-ko pergi menyusul dia ke Wu-han.”

“Wu-han?” Han Lin teringat bahwa orang tua Souw Kian Bu tinggal di Wu-han. “Baik, dan terima kasih banyak, Hwi-moi. Sekarang juga aku hendak menyusul ke Wu-han. Selamat berpisah, Hwi-moi, jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal, saudara Ting Bun.”
“Selamat jalan, Lin-ko, engkau juga jaga dirimu baik-baik!”
“Mari, siauw-moi,” ajak Han Lin kepada Cin Mei dan mereka bergegas pergi dari situ.

Kiok Hwi dan Ting Bun saling pandang. “Hwi-moi, engkau pernah sangat sayang kepada pemuda itu, bukan?” Ting Bun bertanya dengan jujur.

Melihat kejujuran pemuda ini dalam mengajukan pertanyaan, Kiok Hwi mengangguk. “Dia pernah menyelamatkan nama Cin-ling-pai, menyelamatkan kehormatan serta nama baik Cin-ling-pai. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepadanya, juga mengaguminya, akan tetapi sebelum aku mendengar bahwa dia telah menikah dengan wanita Mongol...”

“Aku girang sekali mendengar ini, Hwi-moi.”
“Ehh, kenapa girang?”
“Entahlah, tetapi aku merasa gembira sekali mendengar bahwa engkau tidak memikirkan dan mengharapkan dia lagi.”

Wajah Kiok Hwi menjadi merah sekali karena dia dapat merasakan apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu. “Bun-ko, sekarang engkau hendak pergi ke manakah? Mungkin kita harus berpisah di sini.”

“Ahh! Kenapa begitu? Engkau sendiri hendak ke mana, Hwi-moi?”
“Untuk sementara aku akan tinggal di rumah paman Yap Gun, untuk beberapa hari atau beberapa pekan.”
“Bagus, aku pun hendak ke Lok-yang karena aku belum berhasil menemukan adikku. Lagi pula, apakah engkau tidak tertarik akan halnya Kwan-ciangkun yang bertindak sewenang-wenang? Aku hendak melakukan penyelidikan dan kalau perlu menambah ancaman yang diberikan oleh saudara Sia Han Lin kepadanya. Orang semacam itu harus diberi hajaran, kalau tidak dia akan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata.”

“Aku setuju sekali, Bun-ko. Aku akan minta kepada paman Yap Gun agar membolehkan engkau sementara tinggal di rumahnya.”
“Ah, tidak, Hwi-moi. Hal itu akan amat mengganggu beliau, dan juga tidak pantas karena aku bukan sanak keluarganya. Biarlah aku mencari adikku lebih dahulu dan mudah bagiku untuk mencari tempat penginapan bersama adikku.”

Mereka lalu kembali ke Lok-yang. Tentu saja Yap Gun girang sekali menerima keponakan yang tersayang itu, begitu pula isterinya. Ting Bun tidak tinggal di situ dan segera mencari adiknya, akan tetapi hampir setiap hari dia datang berkunjung sehingga hubungan mereka semakin akrab.

Biar pun keduanya tidak pernah menyatakan cinta, namun keduanya sudah maklum akan isi hati masing-masing karena segala kemesraan itu dapat mudah dilihat dari pandangan mata mereka, dari suara mereka dan senyum mereka. Bila dua hati telah saling mencinta, maka dua orang itu mudah saja mengetahuinya sehingga tidak dibutuhkan lagi kata-kata yang hanya pandai merayu…..

********************
Souw Kian Bu sudah tiba di rumah orang tuanya. Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan tentu saja merasa girang akan tetapi juga heran sekali melihat putera mereka datang berkunjung seorang diri saja.

“Kian Bu, mana isterimu? Kenapa tidak ikut bersamamu berkunjung ke sini?” tanya ibunya heran.
“Dia sibuk dengan urusan Kim-kok-pang, ibu.”
“Ahh, Kian Bu, seharusnya engkau datang berkunjung bersama isterimu. Bagaimana bisa engkau meninggalkan dia begitu saja?” tanya ayahnya.
“Ayah, sudah kukatakan dia sibuk sekali, sedangkan aku sudah rindu sekali kepada ayah dan ibu, maka aku datang seorang diri saja.”

Akan tetapi suami isteri itu adalah dua orang yang sudah berpengalaman. Mereka segera saling pandang dan merasa tidak enak hati. Mereka khawatir kalau terjadi sesuatu antara putera dengan mantunya, setidaknya ada percekcokan. Walau pun hati mereka menduga demikian tetapi mereka tidak bertanya apa-apa lagi.

Kecurigaan mereka makin mendalam ketika mereka melihat sikap putera mereka selama berhari-hari tinggal di situ. Pada dasarnya Kian Bu adalah seorang muda yang berwatak periang, namun selama berada di situ selalu nampak murung, kalau pun memperlihatkan wajah gembira maka kegembiraan itu kelihatan dibuat-buat. Kerut di antara kedua alisnya tidak pernah hilang dan sinar matanya juga nampak muram.

Pada suatu pagi Kian Bu duduk termenung di pekarangan rumah yang berada di samping toko kain ayahnya. Dia tidak membantu toko, hanya termenung memandang pekarangan yang ditumbuhi bermacam bunga tanaman ibunya. Sementara itu ayah dan ibunya sibuk melayani pembeli di toko kain mereka.

“Bu-te (Adik Bu)...!”

Kian Bu terkejut mendengar panggilan lalu mengangkat mukanya. Di pekarangan itu telah masuk dua orang muda, yang seorang langsung dikenalnya sebagai Sia Han Lin saudara misannya, sedangkan yang kedua adalah seorang gadis cantik jelita yang sikapnya lemah lembut.

“Lin-toako...!” serunya girang dan dia pun bangkit berdiri lalu berlari menyongsong mereka di pekarangan.
“Bu-te, perkenalkan, dia adalah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei, dan adik Cin Mei, ini adalah adik misanku Souw Kian Bu.”

Kedua orang yang diperkenalkan itu saling memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada. Akan tetapi mereka berdua segera dicekam perasaan hati masing-masing.

“Lin-toako, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa sekarang aku sedang berada di rumah orang tuaku?” tanya Kian Bu.
“Bu-te, aku sudah berjumpa dengan Kiok Hwi. Dia yang mengatakan bahwa... Bu-te, apa yang telah terjadi?”
“Lin-ko, mari kita bicara di taman saja agar jangan ada orang lain mendengarnya. Nona, silakan nona duduk menanti di kamar tamu sementara aku dan Lin-toako...”
“Bu-te, tidak mengapa kalau adik Cin Mei mendengarnya. Dia sudah mengetahui semua. Ceritakan saja, aku tidak mempunyai rahasia apa pun terhadap adik Cin Mei.”

Ucapan Han Lin ini sudah cukup jelas bagi Kian Bu akan perasaan hati Han Lin terhadap Kwan Im Sianli, maka dia pun berkata, “Baiklah, mari kita masuk ke taman.”

Kian Bu lalu mendahului kedua tamunya memasuki taman bunga yang berada di sebelah kiri rumah itu, sebuah taman yang cukup indah karena terawat oleh tangan Yang Kui Lan yang memang mencintai bunga. Mereka duduk di bangku panjang dekat kolam ikan emas di tengah taman.

“Peristiwanya terjadi di kota Souw-ciu,” Kian Bu mulai bercerita. “Ketika sedang berada di rumah makan, aku melihat Thian-kui berkelahi dengan seorang pemuda yang belakangan kuketahui bernama Can Kok Han. Mereka bertanding akan tetapi keadaan mereka tidak seimbang.”
“Tentu saja, Can Kok Han tidak mungkin mampu menandingi Thian-kui yang lihai itu,” kata Han Lin.
“Tiba-tiba Kok Han melemparkan sesuatu yang meledak hingga membuat Thian-kui roboh pingsan. Kok Han hendak membunuhnya akan tetapi muncul Tee-kui yang menyerangnya dengan hebat sehingga Kok Han tidak sempat lagi menggunakan bahan peledaknya yang lihai itu. Aku lalu muncul membantunya dan Tee-kui segera lari membawa tubuh Thian-kui yang pingsan. Dan kau tahu bagaimana sikap Can Kok Han? Dia malah marah dan tidak senang terhadap bantuanku. Pemuda itu sungguh angkuh luar biasa.”

“Hemm, pemuda itu memang memiliki watak sombong,” kata Han Lin yang teringat akan pengalamannya dengan Bi Lan. “Lalu bagaimana, Bu-te?”
“Ketika aku hendak pergi, muncul seorang wanita Mongol...”
“Mulani...!”
“Benar, Lin-ko. Yang muncul adalah Mulani yang menegur Kok Han karena menggunakan obat pembius yang meledak itu, lalu menuduhnya dahulu juga melakukannya terhadap dia dan engkau. Kok Han mengakuinya dan pada saat itu pula, tanpa disangka-sangka Mulani menghujamkan pedangnya ke dada Kok Han sehingga tewas seketika.”
“Ahh...! Kiranya Kok Han pelakunya...!” Han Lin mengepal tinju dan dapat membayangkan betapa Kok Han melempar bahan peledak yang membius, kemudian pada waktu dia dan Mulani pingsan, pemuda itu memperkosa Mulani lalu menelanjangi dia dan Mulani untuk memberi kesan bahwa dialah yang memperkosa Mulani.

“Pada saat itu pula terdengar ledakan lain, lalu muncullah seorang gadis yang belakangan kuketahui bernama Can Bi Lan, adik dari Can Kok Han itu dan ketika Mulani terpengaruh peledak yang membius, Bi Lan menyerangnya dengan tusukan pedang.”
“Ahhh..., jadi Bi Lan yang membunuhnya!”

“Tenang, Lin-ko. Menurut aku, Can Bi Lan itu tidak dapat disalahkan. Dia tidak tahu duduk perkaranya dan melihat kakaknya dibunuh orang, wajar saja bila dia membalas kematian kakaknya itu. Setelah Mulani menceritakan semuanya, barulah Bi Lan sadar kemudian dia merasa menyesal sekali sudah membunuh Mulani, apa lagi ketika kakaknya sendiri yang mengaku telah memperkosa Mulani dan menjatuhkan fitnah kepadamu.”
“Ahh, Mulani...”
“Ketika itu Mulani masih sempat meninggalkan pesannya kepadaku bahwa dia minta maaf karena memaksamu menikahinya dan dia mengatakan bahwa engkau sudah bebas, tidak lagi menjadi suaminya karena bukan engkau yang melakukan perbuatan terkutuk itu.”
“Ahhh, Mulani...”

Melihat Han Lin seperti orang yang menyesal sekali, Kwan Im Sianli Lie Cin Mei berkata, “Lin-koko, tak perlu disesalkan lagi. Bagaimana pun juga mereka meninggal dunia setelah mengetahui duduk persoalannya. Engkau tidak bersalah, dan yang bersalah sudah tewas. Ada pun kematian Mulani, kurasa hal itu bahkan lebih baik baginya. Jika dia masih hidup dan mengetahui aib yang sudah menimpa dirinya itu, tentu hidupnya akan penuh dengan kegetiran dan kedukaan. Semuanya telah terjadi, koko, dan yang terpenting engkau tidak melakukan suatu kesalahan.”

“Adik ini berkata tepat sekali, toako. Kiranya tidak bijaksana apa bila engkau mendendam kepada Can Bi Lan.”
“Aku tidak mendendam kepada siapa pun, Bu-te, hanya aku kasihan sekali pada Mulani. Biar pun dia puteri kepala suku Mongol, harus diakui bahwa dia memiliki watak yang amat baik.”

Pada saat itu, asyik-asyiknya mereka membicarakan soal kematian Mulani, mereka tidak tahu bahwa ada seseorang laki-laki memasuki taman itu dan dia berseru, “Souw Kian Bu, aku hendak bicara denganmu!”

Semua orang menengok dan setelah Kian Bu mengenal siapa orang yang memanggilnya, dia pun langsung meloncat berdiri. Mukanya berubah merah sekali dan matanya melotot memandang pemuda yang datang itu, kemudian terdengar suaranya membentak nyaring.

“Engkau...?! Berani benar engkau datang ke sini! Apa maumu?”

Pemuda itu bukan lain adalah Gu San Ki, suheng isterinya yang dicemburuinya itu.

Gu San Ki tidak gentar menghadapi bentakan ini. “Souw Kian Bu, aku datang ke sini untuk membawamu pulang ke Kim-kok-pang, sekarang juga!”

“Apa?! Beraninya engkau berkata begitu! Dasar manusia kurang ajar, pengkhianat cabul, kembalilah engkau kepada kekasihmu itu, jahanam!”

Han Lin dan Cin Mei sampai kaget setengah mati melihat sikap Kian Bu. Pemuda periang yang selalu bersikap ramah dan sopan itu saat ini nampak seperti setan, begitu marahnya sampai memaki-maki orang yang baru datang.

Pada saat itu terdengar suara melengking nyaring. “Aihh, inikah orangnya yang bernama Souw Kian Bu? Pantas, sikapnya begini tengik dan tidak tahu diri!” dan muncullah Jeng-i Sianli Cu Leng Si di situ.

“Enci Leng Si...!” seru Han Lin.
“Suci...!” teriak Cin Mei.
“Han Lin, Cin Mei, jangan kalian berani ikut mencampuri. Aku harus membereskan lelaki sombong, suami yang tidak tahu diri ini!” bentak Leng Si dan dia pun sudah menghampiri Kian Bu yang menjadi semakin marah.
“Siapa engkau, wanita, yang datang-datang memaki orang?!” bentaknya marah.
“Dan kau kira engkau ini siapa begitu San Ki muncul lalu kau maki-maki seenak perutmu sendiri? Engkau suami pencemburu yang sudah tidak ketolongan lagi. Engkau berpikiran kotor, buruk, suka membayangkan yang bukan-bukan, mengukur baju orang lain dengan tubuh sendiri dan mengira semua laki-laki sebusuk engkau! Engkau mencumburui Gu San Ki dengan isterimu, bukan?”

Kian Bu demikian marahnya sehingga hampir dia tidak mampu menahan diri lagi. “Kalau memang benar demikian, engkau mau apa? Aku memiliki alasanku sendiri mencemburui dia! Engkau ini siapakah hendak mencampuri urusan kami?”

“Ketahuilah olehmu, Souw Kian Bu. Gu San Ki tidak perlu kau cemburui karena dia adalah tunanganku! Dan aku tidak rela tunanganku kau cemburui!”

Kian Bu terkejut sekali. Gu San Ki sudah mempunyai tunangan dan agaknya wanita galak ini dikenal baik oleh Han Lin dan bahkan disebut suci oleh Cin Mei?

“Enci Leng Si, harap bersabar dahulu!” kata Han Lin. “Souw Kian Bu adalah adik misanku, mengapa engkau caci maki seperti itu?”
“Sia Han Lin, tadi kau mendengar atau tidak? Dia yang lebih dulu memaki-maki Gu San Ki yang datang dengan baik-baik hendak mengajaknya pulang kepada isterinya.”

Souw Kian Bu yang biasanya pandai bicara, sekali ini merasa tidak berdaya menghadapi Leng Si yang galak seperti kucing sedang beranak itu. Pada saat itu pula ramai-ramai itu sudah terdengar dari luar taman, lantas muncullah Souw Hui San dan Yang Kui Lan.

“Kian Bu, ada apa ramai-ramai ini? Heiii, bukankah itu Sia Han Lin? Kapan kau datang?” tegur Yang Kui Lan.

Han Lin cepat memberi hormat kepada paman dan bibinya. “Paman dan bibi, maafkan jika saya belum sempat menghadap paman dan bibi, dan lebih dulu bercakap-cakap dengan Bu-te.”

“Tidak apa, Han Lin. Siapakah mereka semua ini? Dan ada apa ramai-ramai tadi? Kami masih sempat mendengar nona ini memaki-maki, siapa yang dimakinya?” tanya Souw Hui San.
“Apakah paman dan bibi ini orang tua Souw Kian Bu? Kalau begitu harap paman dan bibi dapat mengatur putera paman dan bibi ini yang telah bertindak keterlaluan!” kata Leng Si, kini mengatur kata-katanya dengan sopan.

Yang Kui Lan yang berwatak lembut itu mengerutkan alisnya. “Apa sebetulnya yang telah terjadi? Kian Bu, kenapa engkau diam saja? Katakan, apa yang telah terjadi?”

Han Lin segera berkata, “Bibi, agaknya persoalan ini memerlukan keterangan kedua belah pihak dan kurasa amat tidak baik bila kita bicara di tempat terbuka seperti ini. Bagaimana kalau kita semua bicara di dalam rumah?”

“Tepat sekali,” kata Souw Hui San. “Marilah, mari kalian semua ikut kami masuk ke dalam rumah dan bicara baik-baik seperti orang sopan.”

Mereka semua ikut masuk ke dalam rumah, kemudian memasuki ruangan belakang yang luas dan tertutup pintu dan jendelanya. Setelah semuanya duduk mengelilingi meja besar barulah Souw Hui San berkata, “Nah, sekarang harap kalian jelaskan, apa sesungguhnya yang telah terjadi.”

“Semua ini terjadi karena gara-gara kehadiran saya, oleh karena itu, kalau Souw Kian Bu mengijinkan, biarlah saya yang akan menceritakan semua. Kalau saya bicara salah, nanti Kian Bu boleh saja menyanggahnya. Apakah ini disetujui?” kata Gu San Ki.

Kian Bu mengerutkan keningnya namun tidak membantah. Kemudian Gu San Ki mulai bercerita. “Nama saya Gu San Ki dan saya masih terhitung suheng dari isteri Souw Kian Bu karena saya adalah murid subo Pek Mau Siankouw.”
“Ahh, kalau begitu masih terhitung suheng-ku sendiri!” kata Cin Mei. “Sekarang aku ingat, engkau adalah murid bibi guru Pek Mau Siankouw yang dahulu pernah datang berkunjung ke rumah kami!”

“Benar, sumoi,” kata San Ki. “Selama lima tahun saya belajar ilmu sambil tinggal di rumah subo bersama sumoi Ji Kiang Bwe, sebab itu saya dan sumoi Ji Kiang Bwe sudah seperti kakak beradik sendiri saja. Tetapi sejak sumoi meninggalkan perguruan, kami tak pernah saling jumpa lagi. Beberapa bulan yang lalu saya mendengar bahwa sumoi sudah menjadi ketua Kim-kok-pang dan sudah menikah, maka saya pun datang berkunjung. Pertemuan antara sumoi dengan saya terjadi penuh kegembiraan kedua pihak dan sumoi yang sudah menganggap saya sebagai kakak sendiri begitu gembira sampai sumoi memegang kedua tangan saya. Pada saat itulah muncul suaminya ini yang kemudian menjadi marah-marah, menyangka yang bukan-bukan lalu malah pergi meninggalkan isterinya. Sumoi menangis sedih sekali sehingga saya merasa sangat bersalah. Karena itu saya lalu berjanji kepada sumoi untuk mencari Souw Kian Bu sampai dapat kemudian membawanya pulang kepada isterinya!”

“Begitu Ki-koko muncul di sini, dia segera disambut dengan caci-maki oleh Souw Kian Bu, maka saya menjadi marah dan membalas memaki-maki dia. Sebagai tunangan Ki-koko saya tidak terima mendengar tunangan saya dicemburui dan dimaki-maki,” sambung Leng Si.

Han Lin dan Cin Mei memandang kepadanya dengan hati terheran-heran. Leng Si sudah bertunangan? Luar biasa sekali dan yang merasa paling gembira adalah Han Lin. Pemuda ini tahu bahwa kakak angkatnya dulu pernah menyatakan cinta kepadanya, maka kini dia gembira bahwa kakak angkatnya itu sudah mendapatkan seorang kekasih yang demikian gagah.

“Han Lin, benarkah engkau juga menyaksikan bahwa Kian Bu memaki-maki Gu San Ki ini sehingga dia dibalas makian oleh nona ini?” demikian Souw Hui San bertanya, karena dia hendak bersikap seadilnya.
“Betul sekali, paman. Hendaknya paman ketahui pula bahwa enci ini adalah kakak angkat saya sendiri. Dia adalah Jeng-i Sianli Cu Leng Si, murid dari Wi Wi Siankouw, dan adik ini adalah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei, puteri dari Wi Wi Siankouw. Memang enci Leng Si tak berbohong, demikian pula tunangannya.”
“Kian Bu, apa artinya semua ini? Benarkah engkau mencemburui isterimu dengan Gu San Ki ini? Dan benarkah engkau lari dari rumah meninggalkan isterimu sesudah menuduhnya berbuat yang bukan-bukan?”

Kian Bu menundukkan mukanya, merasa malu sekali dan kini barulah dia melihat bahwa sikapnya memang amat keterlaluan. Cemburunya memang tidak beralasan dan sekarang dia melihat dengan jelas bahwa cemburunya terhadap Gu San Ki itu hanyalah merupakan perkembangan atau kelanjutan saja dari rasa cemburunya pada malam pertama!

Kini dia bisa membayangkan betapa duka dan sengsara rasa hati isterinya yang tercinta. Padahal di lubuk hatinya dia percaya penuh akan kesetiaan isterinya dan percaya penuh bahwa isterinya dahulu belum pernah melakukan perbuatan yang mendatangkan aib.

“Aku memang bersalah, ibu. Aku terburu nafsu menuduh isteriku berbuat yang tidak-tidak. Gu-toako, di sini aku mohon maaf kepadamu. Aku sudah menuduhmu berbuat yang tidak benar, pada hal semua itu hanya terdorong nafsu cemburuku semata.”

Wajah Gu San Ki menjadi berseri. “Souw-te, sungguh bahagia rasanya hatiku. Ketahuilah bahwa isterimu merasa sangat berduka, maka kuharap engkau segera pulang dan minta maaf kepadanya.”

“Akan kulakukan itu. Ayah dan ibu, aku akan mengajak Bwe-moi datang ke sini, harap ibu suka menambahkan permintaan maafku kepadanya.”
“Bagus, kalau begitu semuanya beres. Ternyata kita berada di antara orang-orang sendiri dan hanya terjadi sedikit kesalah pahaman. Han Lin, ternyata sahabatmu ini, nona Lie Cin Mei, nona Cu Leng Si dan Gu San Ki masih terhitung saudara-saudara seperguruan dari mantuku. Maka pertemuan ini patut dirayakan!” kata Yang Kui Lan dengan gembira dan dia menahan orang-orang muda itu agar suka makan bersama.

Pesta kecil-kecilan ini bagi Souw Kian Bu juga terasa menggembirakan karena ganjalan hatinya karena cemburu itu telah lenyap sama sekali dan dia berjanji pada diri sendiri tidak akan lagi mencurigai atau mencemburukan isterinya yang tercinta.

Setelah selesai makan, empat muda-mudi itu lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanan. Mereka diantar oleh Kian Bu sampai di luar kota Wu-han dan setelah mereka melanjutkan perjalanan, Leng Si bertanya,
“Han Lin dan sumoi, kalian sebetulnya hendak pergi ke manakah?”
“Kami hendak pergi ke kota raja, enci Leng Si,” kata Han Lin.
“Ahh, pedang pusaka itu belum juga kau kembalikan kepada Kaisar?”
“Belum, enci. Baru saja kami harus menolong dulu guru adik Cin Mei yang dipaksa Kwan-ciangkun di Lok-yang untuk mengobati puteranya.”
“Guru sumoi?”

Cin Mei lalu menceritakan tentang gurunya, yaitu Thian-te Yok-sian yang sekarang sudah diamankan dan kembali ke kampung halamannya di lembah Huang-ho.

“Dan engkau sendiri hendak pergi ke mana, suci?”
“Kami berdua juga hendak pergi ke kota raja. Kami telah bekerja kepada Gubernur Coan di Nan-yang.”
“Ehhh? Sungguh aneh kalau engkau bekerja pada gubernur di Nan-yang, enci Leng Si.”
“Kami hanya berpura-pura saja. Sebenarnya kami hendak menyelidiki karena Gubernur itu sudah menjadi anggota persekutuan yang dipimpin oleh Kui-thaikam dan mereka hendak memberontak.”
“Ahhh...!”
“Bahkan Sam Mo-ong juga sudah ikut menyusup ke sana, sebagai utusan Ku Ma Khan. Persekutuan itu bekerja sama pula dengan orang Mongol.”
“Wah, gawat kalau begitu,” kata Han Lin.

“Kebetulan kita dapat bekerja sama. Han Lin, sebaiknya engkau pergi menghadap Kaisar, menyerahkan pusaka kemudian mintalah kedudukan seperti yang dijanjikan, sebab hanya dengan memiliki kedudukan engkau akan dapat melindungi Kaisar. Sebaiknya kalau kalian bisa memperoleh kedudukan di dalam istana sehingga dapat langsung melindungi Kaisar. Kami yang akan menyelidiki perkembangan persekutuan itu dengan berpura-pura menjadi anak buah Gubernur Coan,” kata Leng Si.
“Baik sekali kalau begitu. Kami setuju,” kata Han Lin.
“Sebaiknya kita jangan masuk secara bersama-sama. Orang lain tidak boleh tahu bahwa kita saling mengenal, karena hal itu dapat membuka rahasia kami,” kata pula Leng Si.

Sebelum mereka berpisah, Cin Mei menggandeng tangan suci-nya kemudian diajak bicara menjauh dari Han Lin dan San Ki. “Eh, eh, engkau kenapa, sumoi. Mau bicara saja pakai menarik orang pergi menjauh. Ada rahasia apa sih?”

“Tidak ada apa-apa, suci. Aku hanya ingin menyampaikan terima kasihku atas usahamu mendekatkan aku dan Lin-koko.”

Leng Si tertawa dan mencubit lengan adiknya. “Aku juga ingin melihat kalian berbahagia, sumoi. Engkau memang merupakan satu-satunya wanita yang pantas untuk menjadi isteri adikku Han Lin dan aku pujikan semoga engkau berbahagia.”

“Terima kasih, suci. Dan aku juga menghaturkan selamat kepadamu atas pertunanganmu dengan kakak Gu San Ki yang gagah itu.”

Wajah Leng Si menjadi sedikit kemerahan. “Ahh, pernyataan tadi kukatakan hanya untuk memperkuat kedudukannya yang dituduh oleh Souw Kian Bu saja.”

“Tidak sungguh-sungguh? Tidak mungkin! Kalau berpura-pura engkau tentu tak akan sudi mengakui menjadi tunangannya. Dan agaknya Gu-toako juga tenang-tenang saja. Tidak, kalian tentu telah bersepakat untuk berjodoh. Kionghi (selamat), suci yang baik!”

Kembali Leng Si mencubit lengan sumoi-nya. “Sudahlah, engkau hendak menggoda orang tua?”

Dua pasang orang muda itu lantas melakukan perjalanan terpisah. Mereka tidak mau ada orang yang melihat bahwa mereka melakukan perjalanan bersama karena hal ini sungguh berbahaya sekali. Terutama bagi Leng Si dan San Ki yang sudah diterima menjadi ‘orang kepercayaan’ Gubernur Coan…..
********************
Yap Kiok Hwi berjalan-jalan di tengah kota Lok-yang. Sudah seminggu lamanya dia tinggal di rumah pamannya dan baru hari ini dia keluar dari rumah pamannya pergi berjalan-jalan. Sebetulnya dia bermaksud mencari Ting Bun, karena seharian kemarin pemuda itu tidak datang berkunjung ke rumah pamannya seperti biasa. Baru satu hari tidak dikunjungi dia sudah merasa tidak enak, merasa rindu! Maka, pagi itu dia pun berpamit kepada paman dan bibinya untuk pergi berjalan-jalan, tentu saja tanpa bilang bahwa dia hendak mencari sahabatnya itu.

Setelah berputar-putar sejak pagi, menjelang tengah hari dia telah merasa lelah, haus dan lapar, maka dimasukinya sebuah rumah makan besar untuk memesan makanan. Hatinya berdebar tegang ketika dia melihat Ting Bun. Pemuda itu tidak melihatnya karena duduk membelakanginya, namun dia segera mengenalnya. Dia sudah begitu hafal akan pemuda itu sehingga melihat dari jauh saja, meski pun dari belakang atau samping, dia akan dapat mengenalnya.

Yang membuat hatinya merasa tegang dan berdebar adalah ketika melihat seorang gadis cantik duduk berhadapan dengan Ting Bun. Dia lalu memandang penuh perhatian.

Usia gadis itu sebaya dengannya, berpakaian merah muda dan cantik sekali. Sepasang matanya lebar dan bersinar jeli, hidungnya mancung dan mulutnya selalu terenyum manis. Sebatang pedang berada pada punggungnya. Nampak mereka berdua sedang bercakap-cakap dengan demikian mesranya, berbisik-bisik dan diseling senyum manis.

Hatinya terasa panas bukan main, seperti dibakar! Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menegur, merasa malu karena dia tidak berhak melarang Ting Bun yang hanya sahabat biasa itu bergaul dengan siapa pun. Dia hanya memperkeras suaranya ketika memesan makanan dan minuman untuk menarik perhatian.

Usahanya berhasil. Ting Bun menoleh dan memandang kepadanya. Jelas Ting Bun orang itu, akan tetapi hanya sebentar saja memandang kepadanya lantas membuang muka lagi, pura-pura tidak mengenalnya! Hal ini yang membuat Kiok Hwi semakin panas. Mengapa harus pura-pura tidak melihatnya?

Hidangan itu menjadi tidak enak rasanya sehingga dia hanya makan sedikit saja. Sesudah minum tehnya, Kiok Hwi pun mengambil keputusan untuk pergi mendahului mereka. Akan tetapi dia sengaja berjalan memutari meja mereka sehingga mau tidak mau Ting Bun pasti melihatnya.

Dan benar saja! Pemuda itu mengangkat muka memandangnya, akan tetapi masih tetap berpura-pura tidak mengenalnya! Bahkan dia lalu mendengar pemuda itu berbisik kepada temannya.

“Lan-moi, engkau sungguh lucu... ha-ha!” dan keduanya tertawa, seolah menertawainya.

Ingin Kiok Hwi menendang meja mereka, akan tetapi dia masih dapat menguasai dirinya, bahkan masih dapat menggigit bibir menahan tangisnya yang sudah akan meledak-ledak. Dia segera kembali ke rumah pamannya, mengurung diri di dalam kamar untuk menangis sepuasnya. Dia merasa terhina sekali.

Kalau Ting Bun mencinta gadis lain, maka dia pun tidak mampu berbuat apa-apa. Antara dia dan Ting Bun, walau pun ada tanda-tanda saling jatuh hati, namun masih belum saling menyatakan cinta. 

Jika tadi Ting Bun memperkenalkan gadis itu kepadanya, hal itu masih wajar. Akan tetapi Ting Bun tidak menghiraukannya, seolah-olah tidak mengenalnya, bahkan menertawainya bersama gadis cantik berpakaian merah muda itu! Hati siapa yang tidak menjadi mengkal dan kesal.....?
Sore itu Ting Bun datang berkunjung. Pada waktu Kiok Hwi diberi tahu bahwa pemuda itu datang, tadinya dia ingin menolak untuk menemuinya, akan tetapi lalu timbul penasaran di hatinya. Setidaknya dia akan membalas penghinaan pemuda itu atau menegurnya dengan keras. Sungguh tidak tahu diri dan tidak tahu malu, baru siang itu menghinanya, sorenya sudah berani muncul!

Dengan dada seperti terisi api membara dia membedaki mukanya yang pucat, kemudian sambil membusungkan dada dia melangkah keluar seperti orang yang akan menghadapi musuh besarnya!

Kalau menurutkan kata hatinya, ingin dia menangis, ingin dia berteriak, akan tetapi semua itu ditahannya karena pada dasarnya Kiok Hwi memiliki watak pendiam. Ia harus menjaga kewibawaannya dan dengan pandang mata dingin dia memandang kepada pemuda yang segera bangkit berdiri ketika melihat gadis itu keluar.

“Hwi-moi, baru sekarang aku datang dan... ehh, Hwi-moi, mengapa matamu kemerahan? Apakah engkau habis menangis dan apakah yang telah terjadi, Hwi-moi?”

Alangkah palsunya! Masih berpura-pura lagi. Agaknya pemuda itu sudah nekat dan tidak tahu malu sama sekali. Baik, dia pun akan bersandiwara dan pura-pura tidak tahu saja.

“Aku tidak apa-apa, Bun-koko. Engkau dari manakah, dan kenapa kemarin seharian tidak datang ke sini?” suaranya terdengar kering walau pun telah diusahakan supaya terdengar biasa.
“Aku mencari adikku hingga ke luar kota, Hwi-moi. Di luar kota aku memperoleh petunjuk, akan tetapi setelah kuikuti dan kususul, aku gagal mendapatkannya.”

Hati Kiok Hwi terasa semakin panas. Betapa enaknya orang ini berbohong, pikirnya. “Dan siang tadi engkau berada di manakah?”

“Aku masih berada di luar kota, baru saja aku masuk kota kemudian langsung saja ke sini karena tentu engkau bertanya-tanya kenapa aku tidak datang menjengukmu.”
“Siang ini engkau tidak pergi ke rumah makan?”
“Rumah makan? Tidak, apa maksudmu, Hwi-moi?”

Kiok Hwi tidak dapat menahan kemarahannya lagi. “Bun-ko, selama ini kuanggap engkau adalah seorang sahabat yang baik dan jujur, akan tetapi tidak kusangka engkau seorang pembohong besar dan seorang yang sombong dan pengecut. Aku melihat sendiri engkau bersama seorang wanita berpakaian merah muda di rumah makan, bahkan aku sengaja lewat di depanmu dan engkau melihatku, tetapi engkau pura-pura tidak melihat. Sekarang engkau malah menyangkal pergi ke rumah makan! Apakah begini sikap seorang sahabat baik? Kalau engkau sudah tidak ingin menjadi sahabatku, katakan saja terus terang!”

Ting Bun terbelalak, tidak marah bahkan kelihatan gembira. “Engkau melihatku di rumah makan bersama seorang wanita berpakaian merah? Cocok! Aku pun mendengar tentang wanita berpakaian merah muda itu. Hwi-moi, mari bawa aku ke rumah makan itu. Cepat, atau aku akan kehilangan jejaknya lagi!”

Ting Bun memegang tangan gadis itu kemudian ditariknya keluar, diajaknya berlari pergi ke rumah makan yang dimaksudkan Kiok Hwi tadi. Gadis ini merasa bingung, akan tetapi dia terpaksa mengikuti.

“Apa artinya ini, Bun-ko?”
“Yang kau lihat itu adikku!”

Jawaban singkat ini membuka semua kegelapan. Akan tetapi, jika benar adiknya, kenapa dapat begitu persis? Mereka berlari ke rumah makan itu, akan tetapi tentu saja yang dicari sudah tidak ada karena peristiwa pertemuan itu terjadi siang hari tadi, padahal sekarang sudah sore.

Akan tetapi Ting Bun tidak kehilangan akal. Dia menemui seorang pelayan dan bertanya, “Paman, apakah tadi paman melihat seorang yang mirip seperti aku datang berbelanja di sini bersama seorang nona berpakaian merah muda?”

Pelayan itu terbelalak. “Ehh, apakah bukan tuan sendiri yang datang tadi? Tadi memang ada, siang tadi, tetapi... kukira tuan sendiri.”

“Tahukah engkau ke mana mereka pergi?”
“Aku tidak tahu, tuan. Hanya tadi mereka sempat menanyakan rumah penginapan yang baik kepadaku, dan aku tunjukkan rumah penginapan Lok-an.”

Ting Bun langsung mengajak Kiok Hwi pergi untuk mencari ke rumah penginapan Lok-an. Kini Kiok Hwi bertambah yakin bahwa Ting Bun tidak berbohong. Dari keterangan pelayan rumah makan itu tadi saja menunjukkan bahwa siang tadi memang ada seorang pemuda yang persis Ting Bun datang ke situ bersama seorang gadis berpakaian merah muda.

Pada saat mereka memasuki halaman rumah penginapan itu, kebetulan sekali dari dalam keluar seorang pemuda yang amat persis dengan Ting Bun, hanya warna pakaiannya saja yang berbeda sehingga membuat Kiok Hwi bengong terlongong. Orang itu begitu persis Ting Bun, bagaikan pinang dibelah dua. Di sampingnya berjalan seorang gadis berpakaian merah muda, seperti yang dilihatnya di rumah makan tadi.

Ting Bun girang bukan main. “Bu-te...!” teriaknya.

“Bun-ko! Kau baru datang?”
“Wah, sudah kucari ke mana-mana baru sekarang bertemu. Mengapa engkau terlambat? Ke mana saja engkau dan siapakah nona ini?”
“Mari kita masuk dan bicara di dalam, Bun-ko. Ada urusan penting yang ingin kubicarakan denganmu.”

Mereka memasuki rumah penginapan itu. Pemuda yang diaku adik oleh Ting Bun itu lalu mengajak mereka semua memasuki kamarnya di mana mereka duduk mengelilingi meja setelah pintu dan jendela ditutup rapat-rapat.

“Bun-ko, ini adalah nona Can Bi Lan, puteri ketua Pek-eng Bu-koan, sahabat baikku. Lan-moi, inilah kakak kembarku seperti yang kuceritakan kepadamu.”
“Bu-te, ini adalah nona Yap Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai. Kami juga kebetulan saja bertemu saling bantu menghadapi penjahat kemudian menjadi sahabat baik.”

Mereka yang diperkenalkan lalu saling memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan dada. Dengan singkat Ting Bun bercerita kepada adiknya tentang pertemuannya dengan Kiok Hwi yang kini menjadi sahabat baiknya.

“Dan bagaimana denganmu, Bu-te? Di mana engkau bertemu dengan nona Can Bi Lan ini dan urusan penting apakah yang hendak kau bicarakan?”

Ting Bu lalu bercerita. Dia adalah adik kembar dari Ting Bun dan memang kedua orang ini memiliki wajah dan bentuk tubuh yang mirip sekali sehingga kalau orang tidak mengenal mereka dengan akrab sekali tentu tak akan dapat memperbedakan mereka.

Kedua kakak beradik kembar ini menjadi murid Bu-tong-pai dan sesudah mereka selesai belajar, dua orang muda yang berusia dua puluh tiga tahun ini meninggalkan Bu-tong-pai untuk pulang ke rumah. Kemudian mereka mengambil keputusan hendak memanfaatkan ilmu silat yang mereka kuasai untuk memperoleh pekerjaan di kota raja, mengabdi kepada kerajaan. Untuk itulah mereka pergi ke Lok-yang dan kemudian kalau ternyata di tempat ini tidak berhasil, maka mereka akan melanjutkan ke ibu kota Tiang-an.

Untuk menghindari agar tidak selalu menjadi perhatian orang karena persamaan mereka, juga karena ingin menikmati perjalanan seorang diri, Ting Bu lalu meninggalkan kakaknya dan mereka melakukan perjalanan berpisah dengan janji akan bertemu di Lok-yang. Kalau Ting Bun mengambil jalan raya biasa, sebaliknya Ting Bu mengambil jalan pintas melalui gunung-gunung.

Pada suatu hari ketika baru saja tiba di luar kota Lok-yang, Ting Bu melihat seorang gadis berpakaian merah muda yang amat lihai tengah dikeroyok belasan orang yang berpakaian seperti orang Mongol. Para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu golok yang hebat juga sehingga gadis yang mengamuk dengan pedangnya itu terdesak.

Melihat ini, tanpa diminta Ting Bu segera mencabut pedangnya lalu membantu gadis itu. Betapa pun juga yang dikeroyok itu seorang gadis Han, sedangkan para pengeroyoknya adalah orang-orang Mongol, maka tanpa ragu lagi dia segera membantu gadis itu. Andai kata para pengeroyoknya bukan orang Mongol, tetap saja dia akan membantu gadis itu. Tidak pantas belasan orang laki-laki mengeroyok seorang gadis muda.

Majunya Ting Bu membuat gadis itu mendapat semangat baru dan mereka berdua dapat membuat para pengeroyok kocar-kacir. Mereka lantas melarikan diri, tetapi ada dua orang yang justru melarikan diri menuju ke kota Lok-yang karena mereka telah salah mengambil langkah dan jurusan. Melihat ini, Ting Bu dan gadis itu kemudian melakukan pengejaran. Mereka ingin menangkap dua orang itu lantas menguras keterangan dari mereka.

Mereka merasa heran sekali bagaimana kedua orang itu dapat memasuki Lok-yang tanpa menimbulkan kecurigaan kepada para prajurit penjaga di pintu gerbang. Mereka mengejar terus dan di dalam keremangan senja dapat melihat kedua orang itu malah lari memasuki benteng pasukan! Tentu saja mereka tidak dapat masuk, terhalang oleh pasukan jaga.

“Sungguh luar biasa! Mereka memasuki benteng!” seru Ting Bu kepada gadis berpakaian merah itu ketika mereka meninggalkan benteng itu. “Mungkinkah mereka adalah pasukan yang menyamar?”
“Tidak mungkin, mereka memang orang Mongol asli, akan tetapi anehnya, mereka seolah mempunyai hubungan baik dengan pasukan di benteng itu.”
“Nona, engkau siapakah dan mengapa sampai dikeroyok mereka? Perkenalkan, namaku Ting Bu dan aku adalah murid Bu-tong-pai yang kebetulan lewat di sini kemudian melihat engkau dikeroyok tadi.”

Gadis itu memberi hormat. “Saudara Ting Bu, terima kasih atas bantuanmu tadi. Pantas saja engkau lihai, kiranya engkau adalah murid Bu-tong-pai yang besar. Aku sendiri hanya puteri seorang guru silat Pek-eng Bu-koan di kota raja, namaku Can Bi Lan.”

“Nona Bi Lan, atau boleh aku menyebut adik saja?”
“Tentu saja boleh, Bu-ko. Bukankah sebetulnya kita ini masih satu golongan, yaitu orang-orang yang menjunjung tinggi serta membela kebenaran dan keadilan?”
“Lan-moi, kenapa engkau sampai dikeroyok oleh orang-orang Mongol itu?”

Bi Lan menarik napas panjang. “Panjang ceritanya, Bu-ko, tapi biarlah kupersingkat saja. Aku mempunyai seorang kakak bernama Can Kok Han. Aku melihat kakakku itu terbunuh oleh seorang puteri Mongol, lantas aku membalaskan kematiannya dan puteri Mongol itu kubunuh. Orang-orang Mongol itu tentulah utusan raja Mongol untuk membalas kematian puterinya. Tadi mereka menghadangku dan sesudah tahu aku bernama Can Bi Lan, tanpa banyak cakap lagi mereka hendak menangkapku. Tentu saja aku melawan dan terjadilah pertempuran itu.”

“Ahh, begitukah kiranya? Akan tetapi bagaimana mungkin mereka itu memasuki Lok-yang tanpa dicurigai, bahkan kemudian menghilang di dalam benteng?”
“Ini memang aneh sekali, Bu-ko, karena itu sebaiknya kalau kita melakukan penyelidikan di kota Lok-yang ini. Agaknya aku mencium bau yang tidak enak, siapa tahu panglimanya mempunyai hubungan dengan orang Mongol?”

Demikianlah pengalaman Ting Bu yang bertemu lantas berkenalan dengan Bi Lan, seperti yang dia ceritakan kepada kakaknya.

“Dan siang tadi engkau bersama nona Bi Lan ini makan di rumah makan, Bu-te?”
“Benar, Bun-ko, bagaimana engkau dapat tahu?”
“Bukan aku yang melihatnya, melainkan Hwi-moi. Dia mengira bahwa engkau adalah aku sehingga dia merasa penasaran karena engkau tidak mengenalnya, seolah-olah aku yang pura-pura tidak mengenalnya.”

Kakak beradik itu lantas tertawa, juga Bi Lan ikut tertawa, sedangkan sepasang pipi Kiok Hwi menjadi kemerahan. Untuk menghilangkan rasa malu dan rikuh, ia lalu berkata,

“Sudahlah, sekarang kita perlu sekali membicarakan mengenai orang-orang Mongol yang menghilang ke dalam benteng pasukan kerajaan itu. Mungkin saja di situ dijadikan tempat rahasia untuk mereka, juga perlu sekali kita menyelidiki panglimanya. Aku menjadi curiga sekali kepada panglima yang mengepalai benteng itu.”
“Engkau benar, enci Kiok Hwi. Kalau tidak diselidiki dan hal ini dibiarkan saja, tentu akan sangat berbahaya. Siapa tahu panglima di sini mempunyai hubungan dengan orang-orang Mongol dan hendak melakukan pemberontakan,” kata Bi Lan.
“Sebaiknya nanti malam kita berempat melakukan penyelidikan. Tentu saja tidak mungkin menyelidiki benteng yang terjaga ketat di mana berdiam ribuan orang pasukan. Sekarang kita menyelidiki di mana rumah gedung panglimanya dan kita selidiki rumah panglima itu.”

Bi Lan dan Ting Bu mengajak Kiok Hwi dan Ting Bun bermalam saja di rumah penginapan itu, tak perlu menambah kamar karena Ting Bun dapat tinggal bersama adiknya, ada pun Kiok Hwi tinggal bersama Bi Lan. Karena mereka sekamar, tentu saja kedua orang gadis itu segera menjadi akrab sekali.

Ketika Ting Bun kembali dari penyelidikannya, dia memberi tahu bahwa rumah panglima itu berada di luar benteng dan bahwa yang menjadi komandan benteng Lok-yang adalah Kwan-ciangkun.

Malam hari itu mereka mengenakan pakaian hitam dan begitu mereka bertemu di luar, Bi Lan dan Kiok Hwi terkejut sekali karena sepasang saudara kembar itu kini mengenakan pakaian yang sama benar sehingga mereka tidak tahu lagi mana Ting Bun dan mana Ting Bu.

“Yang mana Bu-koko?” tanya Bi Lan.

Seorang di antara mereka tertawa dan menjawab. “Akulah, Lan-moi.”

“Ahh, Bu-ko, engkau harus memakai tanda khusus. Kalau tidak maka aku dan enci Kiok Hwi tentu menjadi bingung tidak dapat membedakan kalian karena kalian persis sama.”

Ting Bun tertawa. “Begini saja, Bu-te. Engkau memakai kain yang dilibatkan pada lengan kananmu.”

Ting Bu mengambil sapu tangan hitam lantas mengikatkan sapu tangan itu di lengannya, pada pergelangan, sehingga kini kedua orang gadis itu merasa lega karena mereka dapat membedakan dan mengenal mana kakaknya dan yang mana adiknya. Setelah itu mereka lalu menggunakan kepandaian mereka berkelebatan lenyap ditelan kegelapan malam dan melakukan perjalanan cepat menuju ke rumah Kwan-ciangkun.

Rumah gedung besar itu sangat sepi karena malam sudah larut. Empat sosok bayangan orang berada di atas genteng dan berindap-indap merayap menuju ke belakang. Setelah jelas tidak ada orang di sana, mereka lantas berlompatan, melayang masuk sehingga tiba di taman kecil di bagian belakang. Dari ruangan di belakang itu mereka melihat ada sinar terang menerobos dari jendela ruangan itu. Mereka saling memberi tanda lalu menyelinap mengintai dari balik jendela karena mendengar suara orang bercakap-cakap.

Ketika mereka mengintai ke dalam, di ruangan itu nampak ada belasan orang Mongol dan seorang berpakaian panglima. Mereka segera menduga bahwa panglima itu tentu Kwan-ciangkun. Akan tetapi yang membuat Bi Lan terkejut bukan main adalah ketika dia melihat Sam Mo-ong berada di situ pula.

“Itu Sam Mo-ong...!” bisiknya kepada Ting Bu yang berada di dekatnya.

Ting Bu lalu membisikkan pula kepada kakaknya dan Kiok Hwi. Tentu saja mereka kaget bukan main mendengar disebutnya nama tiga datuk yang sakti itu. Karena kaget mereka membuat sedikit gerakan dan ini sudah cukup bagi Sam Mo-ong untuk mendengarnya.

“Siapa di sana?!” bentak Kwi-jiauw Lo-mo dan tubuhnya sudah melayang keluar jendela, diikuti oleh Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong. Juga semua orang Mongol serta Kwan-ciangkun berbondong-bondong keluar dari ruangan itu, bahkan Kwan-ciangkun kemudian membunyikan peluit sehingga dari luar berlarian masuk pasukan pengawal!

Empat orang itu terkejut sekali. Bi Lan yang maklum betapa lihainya Sam Mo-ong, terlebih lagi di situ terdapat belasan orang Mongol dan pasukan pengawal, sudah berteriak.

“Kita lari...!”
“Kejar...!” teriak Kwi-jiauw Lo-mo.

Namun pada saat itu Bi Lan sudah melemparkan bahan peledaknya yang mengeluarkan asap tebal. Ketika para pengejarnya menyingkir kemudian memutari asap, keempat orang itu sudah lenyap dari situ.

“Wahh berbahaya sekali...!” kata Bi Lan kepada tiga orang kawannya setelah mereka tiba kembali ke kamar rumah penginapan. “Sam Mo-ong itu luar biasa saktinya. Aku pernah hampir tewas oleh seorang di antara mereka, yaitu Hek-bin Mo-ong. Pukulan beracunnya ampuh bukan main. Untung tadi aku masih memiliki sebuah alat peledak itu, kalau tidak, sukar bagi kita untuk menyelamatkan diri.”

“Ah, kalau begitu jelas bahwa Kwan-ciangkun bersekongkol dengan orang-orang Mongol,” kata Ting Bu.
“Itu jelas karena Sam Mo-ong adalah pembantu utama Ku Ma Khan, raja bangsa Mongol. Akan tetapi kita berempat saja tidak akan dapat berbuat apa-apa,” kata Bi Lan.
“Bagaimana kalau kita lapor kepada pemerintah?” tanya Ting Bun.
“Lapor kepada siapa? Kwan-ciangkun adalah komandan di sini, siapa yang lebih berkuasa darinya?” bantah Bi Lan.
“Bagaimana kalau kita melapor ke kota raja?” tanya Yap Kiok Hwi.
“Satu-satunya jalan tentu demikian. Akan tetapi karena kita tidak mempunyai bukti, maka kita harus menghubungi pembesar tinggi yang kiranya akan dapat mempercayai laporan kita untuk disampaikan kepada Kaisar,” kata Bi Lan. “Sebagai guru silat Pek-eng Bu-koan ayahku memiliki banyak kenalan pejabat yang berguru kepadanya. Mungkin ayahku dapat memberi jalan.”

“Bagus, kalau begitu sebaiknya kita minta bantuan ayahmu, Lan-moi,” kata Ting Bu. “Aku akan menemanimu ke kota raja.”
“Dan aku akan melapor kepada ayahku. Kurasa Cin-ling-pai dapat membantu pemerintah dalam menghalau orang-orang Mongol yang hendak membikin kacau,” kata Yap Kiok Hwi. “Kekuatan mereka terlampau besar kalau hanya kita yang menentangnya.”
“Engkau benar, Hwi-moi. Aku akan menemanimu ke Cin-ling-pai,” kata Ting Bun dengan cepat.

Demikianlah, pada keesokan paginya dua pasang orang muda itu lalu meninggalkan Lok-yang. Mereka maklum bahwa peristiwa semalam tentu akan berekor dan Kwan-ciangkun tentu akan menyebar anak buah untuk mencari mereka…..

********************
Selanjutnya baca
PEDANG AWAN MERAH : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger