logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Bodoh Jilid 11


Berkat kecerdikannya dan kepandaian supek-nya yang gagu, Hai Kong Hosiang berhasil melarikan diri dari Pulau Kim-san-to dan karenanya ia terhindar dari bahaya maut. Ketika perahunya mendarat, ia pun dapat melihat pula pertempuran yang terjadi antara Nalayan Cengeng yang dibantu Biauw Suthai dan Toanio melawan Hek Pek Mo-ko.

Akan tetapi, oleh karena melihat bahwa yang bertanding itu adalah tokoh-tokoh ternama yang memiliki kepandaian tinggi sekali, terutama Hek Pek Mo-ko yang sudah dia ketahui memiliki ilmu kepandaian luar biasa, Hai Kong Hosiang segera mengajak supek-nya yang gagu untuk terus berlari dan jangan mencampuri urusan mereka.

Hatinya merasa mendongkol dan marah sekali oleh karena kembali dia sudah mengalami kesialan. Pertama, dia telah kena dibujuk oleh Pangeran Vayami, kedua ia telah bertemu dengan Balutin dan bertempur tanpa bisa merobohkan pendeta asing itu, dan ketiganya ia hampir saja mendapat celaka besar di pulau yang terbakar dan meledak.

Di sepanjang jalan Hai Kong Hosiang terus menyumpahi Cin Hai. Dia merasa menyesal sekali mengapa dulu ketika Cin Hai terjatuh ke dalam tangan Pangeran Vayami, ia tidak lekas-lekas membunuh anak muda itu.

Sekarang anak muda itu tentu masih hidup dan selanjutnya akan merupakan penghalang besar baginya oleh karena bahwa Cin Hai bersama beberapa orang kawannya tentu tak akan tinggal diam saja dan akan terus mengejar-ngejarnya untuk membalas dendam atas kematian keluarga Kwee! Sedangkan kepandaiannya sendiri yang tadinya dia banggakan itu, baru menghadapi Balutin saja belum mampu mengalahkannya!

Maka ia lalu mengajak supek-nya, yakni Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu untuk bersembunyi di atas sebuah gunung yang sunyi, lalu mengerahkan seluruh perhatiannya untuk memperdalam ilmu silatnya di bawah pimpinan Kiam Ki Sianjin yang lihai! Dengan bujukan-bujukan dan pujian-pujian, ia berhasil mengeduk semua ilmu yang dimiliki Kim Ki Sianjin yang lihai, sehingga kepandaian Hai Kong Hosiang sudah meningkat tinggi sekali, bahkan dia dengan giatnya meyakinkan ilmu lweekang yang berdasarkan ilmu yoga dari barat.

Lweekang ini dilatih secara terbalik, yaitu mengatur pernapasan dan pergerakan tenaga dalam secara jungkir balik, kepala di bawah dan dua kaki di atas. Berkat latihan ini, maka Hai Kong Hosiang mempunyai ilmu silat yang diajarkan oleh supek-nya, yakni Ilmu Silat Kalajengking yang amat lihai.

Ilmu silat ini bukan digerakkan dengan tubuh dalam keadaan biasa, akan tetapi dalam keadaan kaki di atas dan kepala di bawah! Dengan kepala di atas tanah, kedua kaki Hai Kong Hosiang bisa bergerak secara lihai sekali, mengirim serangan-serangan maut yang tidak terduga datangnya. Oleh karena tenaga kaki memang lebih besar dari pada tenaga tangan maka kedua kaki yang menendang-nendang dan menyerang secara hebat itu sulit ditahan oleh lawan.

Ini masih belum begitu hebat, akan tetapi kedua tangannya pun tidak tinggal diam dan melancarkan serangan-serangan dari bawah dengan secara tiba-tiba dan sukar dilawan. Kalau lawan sampai kena terpegang kakinya oleh tangan Hai Kong Hosiang yang berada di bawah, maka celakalah dia!

Ilmu kepandaian Kiam Ki Sianjin lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaian Hek Pek Mo-ko. Dalam usia yang sangat tua saja ia masih amat lihai, maka kini setelah Hai Kong Hosiang dapat mewarisi seluruh kepandaiannya dapatlah dibayangkan betapa hebatnya kelihaian Hai Kong Hosiang yang masih kuat dan bertenaga besar itu!

Selain Ilmu Silat Kalajengking yang lihai ini, juga Hai Kong Hosiang mempelajari Ilmu Kebal Kim-ciong-ko yang membuat kulit dan dagingnya dapat menahan serangan senjata tajam. Kim-ciong-ko yang dapat dipelajari oleh Hai Kong Hosiang ini bukan Kim-ciong-ko yang biasa dipelajari dalam dunia persilatan, oleh karena didasarkan khikang yang dilatih secara jungkir balik sehingga dia bisa menyalurkan tenaga dalamnya disertai hawa dalam badan yang membuat kulitnya dapat melembung dan mengempis laksana karet. Karena itu, jangankan pedang biasa, bahkan pedang pusaka yang tajam pun apa bila digunakan oleh orang yang memiliki tenaga biasa tidak akan dapat melukainya!

Setelah merasa bahwa kepandaiannya sudah sempurna betul, Hai Kong Hosiang turun dari gunung dan bersama supek-nya lalu pergi ke kota raja. Di situ ia mendengar tentang terbunuhnya perwira Boan Sip. Maka kebencian dan kemarahannya kepada Cin Hai dan kawan-kawannya makin meluap dan bersumpah hendak membunuh mereka ini semua!

Nama-nama Cin Hai, Kwee An, Lin Lin, Nelayan Cengeng, Ma Hoa, Biauw Suthai, serta Pek I Toanio termasuk dalam daftarnya dan dia hendak mencari orang-orang ini untuk dibinasakan! Tentu nama Bu Pun Su juga tak pernah terlupa olehnya walau pun ia masih merasa jeri dan ragu-ragu apakah ia akan dapat menghadapi kakek jembel yang sangat kosen itu!

Pada suatu hari, Hai Kong Hosiang dalam perantauannya tiba di sebuah dusun kecil dan oleh karena di dusun itu tak ada penginapan, ia lalu memilih sebuah rumah yang terdekat dan masuk saja tanpa permisi kepada tuan rumah.

Seorang petani tua yang mendiami rumah itu menjadi marah sekali saat melihat seorang gundul memasuki rumahnya begitu saja, maka ia lalu membentak,

“Eh, ehh, hwesio dari manakah dan perlu apa memasuki rumahku tanpa permisi.”

Hai Kong Hosiang memandang kepada petani tua itu dengan mendelik, dan sekali dia mengulurkan tangan, pundak petani itu telah kena dipegangnya dan ia lalu melemparkan tuan rumah itu keluar jendela. Tubuh petani itu jatuh berdebuk di luar rumah, kemudian bergulingan beberapa kali. Untung sekali Hai Kong Hosiang tidak berniat membunuhnya dan ia terbanting di atas rumput tebal, kalau tidak tentu ia akan tewas seketika itu juga.

Petani ini menjadi marah sekali. Dia lalu memaki-maki sambil berlari ke dalam kampung dan memberi tahukan kepada semua tetangga. Beberapa orang laki-laki yang mendengar kekurang ajaran ini, segera membawa senjata hendak mengusir Hai Kong Hosiang, akan tetapi baru saja mereka tiba di muka rumah kecil itu, Hai Kong Hosiang telah melompat keluar dengan bertolak pinggang.

“Kalian ini orang-orang dusun mau apakah?” tanyanya dengan muka bengis.
“Hwesio kurang ajar! Mengapa kau merampas rumah orang begitu saja?”
“Siapa merampas rumah? Aku hendak meminjamnya sebentar untuk beristirahat. Kalian orang-orang kampung sungguh tak tahu aturan. Sepatutnya kalian cepat menghidangkan makanan dan minuman untukku seperti layaknya tuan rumah menghormati tamunya.”
“Mana ada aturan macam itu?” berkata seorang petani lain yang menjadi marah melihat sikap dan mendengar perkataan yang keterlaluan ini. “Kau bukanlah seorang tamu, akan tetapi kau masuk rumah orang seperti perampok, bahkan sudah berani melempar tuan rumah yang mempunyai rumah ini.”
“Sudahlah, jangan banyak cakap lagi. Kalian mau memberi hidangan cepat keluarkan dan jangan banyak mengobrol karena aku menjadi tidak sabar lagi.”
“Hweso jahat!” teriak orang-orang kampung itu kemudian menyerbu hendak memukul dan mengusir Hai Kong Hosiang.

Akan tetapi, orang-orang kampung yang lemah dan yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini mana dapat menghadapi orang kosen seperti Hai Kong Hosiang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ketika berbagai senjata menyambar ke tubuhnya, Hai Kong Hosiang lalu menggunakan lengan kiri untuk menangkis senjata-senjata itu, ada pun tangan kanannya tetap bertolak pinggang. Semua petani berteriak kesakitan saat senjata-senjata mereka beradu dengan lengan tangan Hai Kong Hosiang, karena senjata-senjata itu terpental dan terlepas dari pegangan, sedangkan telapak tangan mereka menjadi perih dan sakit.

Beberapa orang yang berhati tabah masih merasa penasaran dan maju memukul. Akan tetapi pada saat kepalan tangan mereka mengenai dada Hai Kong Hosiang yang bidang, mereka kembali menjerit-jerit kesakitan dan tangan mereka menjadi bengkak-bengkak.

“Ha-ha-ha-ha! Cacing tanah busuk! Hayo kalian lekas ambil pergi semua makanan yang enak untukku, kalau tidak mau, semua orang kampung ini akan kubikin mampus semua!” Sesudah berkata demikian, Hai Kong Hosiang bergerak cepat dan melempar-lemparkan orang-orang yang terdekat dengannya seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja.

Orang-orang kampung berteriak-teriak kesakitan. Mereka merasa terkejut sekali dan juga takut menghadapi hwesio yang jahat seperti setan dan yang mempunyai ilmu kepandaian mukjijat yang belum pernah mereka saksikan selama hidupnya. Maka sambil berteriak-teriak mereka lalu melarikan diri dan sekali lagi Hai Kong Hosiang membentak,

“Tidak lekas kau sediakan makanan enak dan arak yang baik? Atau kalian menunggu sampai aku membikin dusun ini hancur lebur?”

Takutlah orang-orang kampung itu mendengar ancaman ini oleh karena mereka percaya bahwa hwesio jahat ini pasti sanggup membuktikan ancamannya itu. Maka mereka lalu cepat mengeluarkan semua hidangan yang ada pada mereka dan menyuguhkan kepada Hai Kong Hosiang.

Akan tetapi, demi melihat suguhan-suguhan yang terdiri dari sayuran-sayuran dan hanya sedikit terdapat daging, Hai Kong Hosiang menjadi marah dan sekali dia menggerakkan kakinya, semua hidangan melayang dan hancur berantakan di atas tanah. Orang-orang kampung mundur ketakutan dan hwesio jahat itu lalu membentak,

“Bawa ke sini seekor babi. Hayo cepat!”
“Kami...kami orang sedusun tidak mempunyai babi seekor pun,” jawab seorang petani mewakili kawan-kawannya.
“Tidak ada babi? Awas, jangan kau membohong! Kalau kau membohong, kau sendirilah yang kujadikan babi dan kupanggang tubuhmu!”
“Benar-benar kami tidak mempunyai babi, Losuhu,” kata seorang petani lain.

Hai Kong Hosiang baru mau percayai keterangan mereka. “Kalau begitu, bawalah seekor kerbau ke sini!”

Orang-orang kampung itu menjadi pucat. “Kami hanya mempunyai beberapa ekor kerbau yang kami pekerjakan sebagai penggarap sawah ladang. Kalau Losuhu mengambilnya, bagaimana nasib kami?”

“Tutup mulut kalian dan lekas bawa seekor kerbau yang paling gemuk! Awas, aku sudah lapar sekali dan kalau aku habis sabar, mungkin kau yang akan kumakan!”

Tentu saja semua orang terkejut dan ngeri mendengar ancaman ini dan mereka terpaksa lalu menuntun kerbau tergemuk di kampung itu ke hadapan Hai Kong Hosiang. Hwesio itu memandang tubuh kerbau yang gemuk ini dan mulutnya tersenyum lebar.

“Nah, ini pun boleh!”

Secepat kilat ia merampas sebatang golok dari tangan seorang petani dan sekali saja tangannya bergerak, leher kerbau itu telah putus. Darah menyembur-nyembur keluar dari dalam perut binatang itu melalui lehernya yang berlubang dan kedua mata binatang itu masih terbuka lebar. Keempat kakinya berkelojotan lalu terdiam.

Terdengar pekik seorang kanak-kanak dan mendadak dari rombongan para petani yang memandang penyembelihan kerbau secara istimewa ini dengan wajah pucat dan mata terbelalak, keluar berlari seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun lebih. Anak ini segera menubruk tubuh kerbau yang telah mati itu sambil menangis keras.

“Heii, siapakah anjing kecil ini?” Hai Kong Hosiang bertanya kepada seorang wanita yang menarik-narik anak itu sambil mengeluarkan kata-kata hiburan.
“Dia... dia ini adalah anakku dan kerbau itu… adalah kerbau kesayangannya. Semenjak kecil dia bersama-sama kerbau ini, maka ia menjadi sayang sekali. Maafkan dia Losuhu, karena dia tidak tega melihat kawan bermainnya itu terbunuh.”
“Ha-ha-ha! Anak goblok! Anak bodoh! Apakah dia belum tahu bagaimana rasanya daging sahabatnya itu? Kalau sudah tahu, ha-ha-ha! Tentu ia akan senang melihat sahabatnya disembelih! Hayo anak kau ikut aku pesta dan menikmati daging sahabatmu ini!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang memegang tangan anak itu dan menariknya masuk ke dalam rumah. Ketika ibunya hendak mengejar, Hai Kong Hosiang membentak,
“Aku hendak mengajak anakmu makan besar, apa salahnya?! Kalau kau mengganggu, aku akan bunuh kamu berdua!”

Terpaksa ibu ini melangkah mundur dengan muka pucat, kemudian ia menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Seorang tetangganya lalu menariknya pergi dari sana oleh karena merasa khawatir kalau hwesio jahat itu akan marah dan benar-benar melakukan pembunuhan.

“Hayo lekas masak daging ini!” Hai Kong Hosiang memerintah sambil minum arak yang disuguhkan di atas meja dalam rumah itu.

Anak yang tadi ditariknya kini didudukkan di depannya dan sambil memandang anak itu, Hai Kong Hosiang tiada hentinya minum arak sambil terus tertawa-tawa. Anak itu duduk dengan muka pucat dan tubuh menggigil, tetapi ia tidak berani berteriak!

Setelah masakan daging kerbau sudah matang dan disuguhkan di atas meja depan Hai Kong Hosiang dan anak itu, Hai Kong Hosiang lalu mulai makan dengan enaknya.

“Hayo kau makan daging kawanmu ini. Enak dan lezat sekali rasanya!” berkata Hai Kong Hosiang kepada anak itu. Akan tetapi sambil menggigit bibirnya dan menahan runtuhnya air mata yang mengembeng di bulu matanya, anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hayo makan!” teriak Hai Kong Hosiang dengan suara yang menggeledek laksana guntur hingga semua orang tani yang berada di luar rumah itu menjadi terkejut dan kuatir sekali.

Akan tetapi, sekali lagi anak itu menggelengkan kepala karena jangankan harus makan daging kerbaunya yang dikasihinya itu, baru melihat saja betapa daging kawan baiknya kini sudah dimasak dan dimakan oleh hwesio itu, hatinya telah terasa perih dan hancur sekali.

Melihat kekerasan anak ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah dan penasaran. Dia lalu mengambil sepotong daging dengan tangannya dan begitu ia mengulurkan tangan, maka tangan kirinya sudah menangkap mulut anak itu hingga dipaksa menyelangap dan lalu memasukkan daging itu ke dalam mulut anak tadi! Anak itu membelalakkan matanya dan ketika merasa betapa daging itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lantas tiba-tiba dia pun muntah-muntah!

Bukah main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini. Ingin dia memukul mati anak di depannya ini, akan tetapi baru saja ia mengangkat tangannya untuk memukul, ia teringat bahwa jika membunuh anak ini, maka setidaknya tentu akan terjadi heboh dan ribut yang hanya akan mengganggu istirahatnya saja. Karena itu dia tidak jadi memukul, akan tetapi memegang batang leher anak itu dan sekali ia menggerakkan tangan, anak itu menjerit karena tubuhnya terlempar keluar pintu!

Baiknya di luar pintu itu orang-orang tani sedang duduk berkumpul dengan hati berdebar penuh kekhawatiran, karena itu tubuh anak kecil itu jatuh menimpa mereka hingga tidak mengalami luka hebat. Anak itu jatuh pingsan karena sedih, ngeri dan rasa takutnya, dan orang-orang kampung itu cepat menggotongnya pulang sambil menghela napas, bahkan ada yang mengucurkan air mata karena merasa sedih, dan tak berdaya!

Hai Kong Hosiang melanjutkan makan-minumnya seakan-akan tak pernah ada gangguan apa-apa. Nafsu makannya besar sekali dan sebentar saja hidangan yang disuguhkan di atas meja itu habis bersih!

Memang hwesio ini mempunyai sifat aneh. Dia dapat bertahan tidak makan sampai tiga hari tiga malam, dan sekali dia makan, agaknya dia hendak menebus hutangnya kepada perutnya itu dan takaran makan yang tiga hari itu dirangkap menjadi sekali makan!

Setelah hidangan itu habis semua, ia lalu merebahkan dirinya di atas sebuah balai-balai reyot di dalam rumah petani itu dan sebentar lagi terdengar suaranya mendengkur keras, seolah-olah kerbau yang dagingnya telah memasuki perutnya itu tiba-tiba bangkit kembali di dalam perut dan menguak-uak!

Semalam suntuk itu Hai Kong Hosiang tertidur tanpa berkutik dari tempat tidurnya. Telah beberapa pekan dia meninggalkan kota raja dan supek-nya ditinggalkan di kota raja, oleh karena supek-nya yang sudah tua itu menyatakan lelah dan bosan merantau, hingga Hai Kong Hosiang pergi seorang diri.

Pada keesokan harinya, kebetulan sekali Biauw Suthai bersama Pek I Toanio yang pergi mencari jejak Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf tiba di dusun itu. Kedua orang ini merasa heran melihat kelesuan muka orang-orang kampung itu ketika pada pagi hari itu mereka pergi ke ladang sambil memanggul cangkul mereka.

Pek I Toanio lalu bertanya kepada seorang petani tua yang bertemu di jalan,
“Lopek (Uwa), agaknya kalian penduduk desa ini sedang berduka dan kebingungan. Mala petaka apakah gerangan yang menimpa desamu?”

Tadinya si petani ini tak berani banyak bicara. Akan tetapi ketika melihat gagang pedang yang tergantung di punggung Pek I Toanio, segera timbul kepercayaannya, bahkan ia lalu berharap kalau-kalau dua wanita yang nampak gagah ini akan dapat menolong desanya.

“Ketahuilah, Toanio. Desa kami baru saja kedatangan seorang hwesio jahat sekali yang mengganggu kami dan bahkan merampok kami. Itu masih belum seberapa, bahkan dia berani memukul dan melukai orang.”

Bangkitlah semangat pendekar dalam dada Pek I Toanio ketika mendengar penuturan ini, ada pun Biauw Suthai yang lebih sabar lalu minta kepada petani tua itu untuk menuturkan sejelasnya. Petani itu lalu menceritakan tentang kejahatan Hai Kong Hosiang dan Biauw Suthai menjadi marah sekali, apa lagi saat mendengar betapa hwesio jahat itu memaksa anak kecil itu makan daging kerbaunya sendiri dan kemudian melempar tubuh anak itu keluar ketika dia tidak mau makan daging kerbau kesayangannya.

“Hwesio bangsat yang kurang ajar! Hendak kulihat siapakah dia yang begitu jahat dan tak mengenal kemanusiaan itu.”

Sesudah berkata demikian, dengan tindakan kaki lebar dan diikuti oleh muridnya, Biauw Suthai langsung pergi menuju ke rumah yang diceritakan oleh petani tadi. Sementara itu, petani tua itu lalu menceritakan kepada kawan-kawannya dan sebentar saja semua orang tahu bahwa ada dua orang wanita gagah yang hendak mengusir dan menghukum hwesio jahat yang mengganggu mereka. Semua orang lalu meninggalkan pekerjaan mereka dan beramai-ramai menuju ke rumah itu. Akan tetapi mereka tidak datang mendekat, hanya memandang dari jauh dengan perasaan tegang.

Ketika melihat bahwa pintu rumah itu masih tertutup, Biauw Suthai dan Pek I Toanio lalu melompat ke atas genteng dan membuka dua genteng untuk mengintai ke dalam. Dan mereka melihat pemandangan yang aneh.

Seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis menakutkan, sedang berdiri dengan kepala di tanah dan kedua kakinya di atas. Hwesio ini menaruh kedua tangannya di belakang kepala dan saat itu sedang memutar-mutar tubuhnya sedemikian rupa sehingga dari atas kelihatan bagaikan sebuah gangsingan atau semacam barang permainan yang terputar-putar. Di dekatnya kelihatan menggeletak sebuah topi bambu yang lebar.

Ketika Biauw Suthai dan muridnya memandang dengan penuh perhatian, mereka terkejut sekali karena mengenal hwesio itu yang bukan lain adalah Hai Kong Hosiang. Ternyata bahwa Hai Kong Hosiang sedang melatih lweekang-nya yang hebat dan aneh. Kepalanya dapat berloncat-loncat dan berpindah-pindah dengan cepat tanpa mengeluarkan suara, ada pun sepasang kakinya bergerak-gerak sehingga di dalam kamar itu berkesiur angin yang kuat.

Tiba-tiba terdengar Hai Kong Hosiang tertawa bergelak dan tahu-tahu sepasang kakinya ditendangkan ke atas. Angin hebat menyerang ke atas genteng di mana Biauw Suthai dan Pek I Toanio sedang mengintai.

“Awas!” seru Biauw Suthai dan untung ia masih keburu membetot lengan muridnya, oleh karena tiba-tiba genteng di mana mereka tadi berdiri tiba-tiba pecah dan terpental ke atas tinggi sekali sebagai akibat pukulan angin tendangan Hai Kong Hosiang yang dahsyat.
”Hai Kong pendeta bangsat!” Biauw Suthai memaki keras dan tiba-tiba tubuh Hai Kong Hosiang sudah berada di luar dan berdiri sambil tertawa berkakakan dan memandang ke atas genteng di mana Biauw Suthai dan Pek I Toanio masih berdiri.

Biauw Suthai menjadi marah sekali dan sambil mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu merah, dia lalu melayang turun dari genteng diikuti oleh Pek I Toanio yang juga telah mencabut keluar pedangnya.

“Ha-ha-ha, tokouw mata satu yang buruk! Akhirnya aku dapat bertemu dengan engkau. Dan agaknya engkaulah orang pertama yang akan mampus dalam tanganku, mendahului anjing-anjing lain yang hendak kubasmi semua. Dan muridmu yang cantik ini pun takkan ketinggalan dan akan mengiringkan kau! Ha-ha-ha!”
“Hai Kong Hwesio keparat yang patut mampus. Memang sudah sejak lama pinni hendak menyingkirkan kau dari muka bumi ini oleh karena kedosaanmu telah melewati takaran. Bersedialah untuk mati!” Sambil berkata demikian Biauw Suthai lalu menggerak-gerakkan hudtim-nya yang lihai.

Kalau dulu sebelum memperdalam ilmu silatnya, jika ia harus berhadapan dengan Biauw Suthai, tentu Hai Kong Hosiang akan merasa jeri oleh karena ia pun telah maklum akan ketangguhan tokouw mata satu ini, dan karena ia maklum akan kelihaian para musuhnya, maka ia lalu mengajak supek-nya untuk menemaninya dalam perantauan.
Akan tetapi, sekarang setelah mempelajari banyak macam ilmu silat yang lihai-lihai dari Kiam Ki Sianjin, ia memandang rendah kepada musuh-musuhnya, dan berani melakukan perjalanan seorang diri tanpa dikawani supek-nya.

Memang Hai Kong Hosiang mempunyai dasar watak yang sombong dan tinggi hati serta memandang rendah kepandaian orang lain, akan tetapi harus diakui bahwa dia memang mempunyai dasar atau bakat yang baik sekali. Jarang ada orang yang dapat mempelajari ilmu silat sebaik dan secepat dia.

Ilmu Silat Kalajengking yang aneh gerakannya dan dilakukan secara berjungkir balik itu telah dapat dimainkannya dengan sempurna dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan saja. Juga di samping ilmu silat ini dia telah meyakinkan ilmu-ilmu silat lain dan bahkan sudah mendapat kemajuan ilmu lweekang yang berdasarkan yoga dari Barat.

Kini melihat betapa Biauw Suthai sudah menggerak-gerakkan ujung kebutan yang lihai hingga bulu-bulu halus kebutan itu mulai menggetar dan seakan-akan menjadi hidup oleh karena tenaga dalam tokouw itu telah disalurkan ke dalam senjatanya untuk menghadapi hwesio yang sangat tangguh ini, Hai Kong Hosiang kembali tertawa bergelak-gelak dan tiba-tiba ia menyerang dengan tangan kosong.

Serangan ini berarti penghinaan serta memandang rendah terhadap Biauw Suthai yang memegang kebutan, maka tokouw ini menjadi marah sekali. Benar-benarkah hwesio ini mengangap ia begitu ringan sehingga tak perlu dilawan dengan senjata? Ia berseru keras dan menggerakkan kebutannya dalam tipu gerakan Angin Badai Memutar Ombak.

Terdengar angin bersuitan ketika hudtim berkelebat merupakan cahaya merah dan dalam segebrakan saja ujung hudtim-nya menyambar-nyambar ke tiga tempat, pertama ke arah pelipis kepala Hai Kong Hosiang lalu ke dua meluncur terus ke arah jalan darah di leher untuk melakukan totokan maut dan terus disambung lagi dengan serangan ke tiga yaitu mengebut ke arah ulu hati hwesio itu.

Akan tetapi Hai Kong Hosiang memang lihai sekali. Melihat gerakan serangan yang sekali serang mengancam tiga tempat yang berbahaya dan yang membawa hawa maut ini, dia tidak menjadi gugup. Dia gunakan kedua tangannya yang dibuka untuk digerak-gerakkan ke arah ujung kebutan dan ternyata tenaga khikang yang kuat sekali itu berhasil memukul buyar ujung hudtim sebelum senjata itu mengenai tubuhnya.

Biauw Suthai terkejut bukan main. Tak pernah disangkanya bahwa kepandaian Hai Kong Hosiang telah maju sedemikian hebatnya dan diam-diam ia maklum bahwa tenaga dalam hwesio ini telah maju pesat dan telah berada di tingkat yang lebih tinggi dari pada tenaga dalamnya sendiri.

Akan tetapi, Hai Kong Hosiang terlampau memandang rendah Biauw Suthai. Ia tidak tahu bahwa tokouw ini adalah tokoh persilatan yang boleh dibilang ‘kawakan’ atau jago tua yang telah malang melintang dalam dunia kang-ouw sampai puluhan tahun lamanya dan jarang menemui tandingan.

Biauw Suthai telah terlalu sering menghadapi orang-orang pandai dan lawan-lawan yang tangguh, hingga ia tidak menjadi jeri menghadapi Hai Kong Hosiang, biar pun ia maklum bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi sekali. Ia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang terlihai dan sekarang kebutannya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk dan semua serangannya ditujukan ke arah urat-urat kematian Hai Kong Hosiang agar supaya dapat mempertahankan nyawanya lagi.

Sesudah bertempur dengan hebatnya sampai lima puluh jurus lebih, Hai Kong Hosiang terpaksa mengakui keunggulan permainan silat Biauw Suthai dalam lima puluh jurus lebih itu. Telah beberapa kali ia mengeluarkan keringat dingin dan menjadi pucat sebab hampir saja ia menjadi korban senjata hudtim lawannya. Maka ia segera berseru keras,

“Biauw Suthai, rasakan kerasnya senjataku!” dan ia lalu mencabut keluar tongkat ularnya yang terkenal ganas dan ampuh.
“Hai Kong manusia sombong! Hayo kau keluarkan semua kesaktianmu, dan jangan kira aku takut kepadamu!”
“Ha-ha-ha! Biauw Suthai, kematian sudah di depan mata tapi kau masih berani berlagak. Sungguh-sungguh tua bangka tak tahu diri. Muridmu yang cantik itu telah menjadi pucat dan tidak berani bergerak, maka jagalah dirimu baik-baik!” Sambil berkata demikian, Hai Kong Hosiang menubruk maju sambil menggerakkan tongkatnya yang istimewa sehingga Biauw Suthai harus berlaku hati-hati karena maklum akan berbahayanya tongkat ini.

Sementara itu, Pek I Toanio mendengar penghinaan Hai Kong Hosiang yang mengatakan bahwa mukanya pucat dan takut bergerak menjadi marah sekali. Sambil melompat maju dia menyerang dengan pedangnya dan membentak, “Hwesio gundul keparat! Aku Pek I Toanio tidak takut iblis macam kau!”

“Jangan maju!” teriak Biauw Suthai memperingatkan muridnya, akan tetapi terlambat.

Ketika pedang Pek I Toanio menusuk dada Hai Kong Hosiang, pendeta gundul ini sama sekali tidak menangkis karena maklum bahwa tenaga Pek I Toanio tidak perlu dia takuti, maka sengaja ia memasang dadanya untuk menerima tusukan itu. Terdengar bunyi kain terobek pedang!

Akan tetapi Pek I Toanio terkejut sekali karena di balik pakaian itu, ujung pedangnya membentur kulit dan daging yang keras dan dapat membuat pedangnya terpental kembali seakan-akan dia menusuk sebuah benda yang keras dan licin. Sebelum hilang kagetnya, ujung tongkat Hai Kong Hosiang yang sebenarnya adalah seekor ular kering dan berbisa itu telah menyambar dan tepat mengenai lehernya.

Pek I Toanio memekik perlahan sambil memegangi lehernya. Tubuhnya terhuyung-huyung kemudian roboh dan tewas dengan muka serta leher berubah menjadi hitam karena pengaruh bisa yang keluar dari tongkat itu.

“Ha-ha-ha-ha, Biauw Suthai, lihatlah! Muridmu yang cantik sudah berubah buruk seperti mukamu!”

Bukan main marah dan sedihnya hati Biauw Suthai melihat hal ini. Dia berubah menjadi buas dan liar karena marahnya.

“Hai Kong, kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang tewas saat ini!”

Lalu hudtim-nya diputar hebat dan ia pun menyerang dengan mati-matian! Belum pernah selama hidupnya Biauw Suthai marah seperti ini dan tentu saja serangannya menjadi ganas dan berlipat ganda lebih hebat dari pada biasa.

Hai Kong Hosiang terkejut dan diam-diam dia mengakui bahwa ilmu kepandaian Biauw Suthai benar-benar hebat. Dia memainkan tongkatnya dengan hati-hati dan tidak berani berlaku sembrono, sebab maklum bahwa serangan-serangan tokoh yang disertai dengan kemarahan hebat dan penuh dendam ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan!

Setelah mereka bertempur seratus jurus lebih dengan ramai dan hebat sekali sehingga orang-orang kampung yang tadinya menonton dari jauh dan takut melihat betapa Pek I Toanio tewas, kini tidak berani bergerak atau mengeluarkan suara melihat pertempuran yang luar biasa ramainya itu, tiba-tiba Biauw Suthai lalu merubah gerakannya dan kini ia menujukan perhatian serta mencurahkan tenaganya untuk merampas tongkat Hai Kong Hosiang yang lihai.

Pada suatu ketika ujung kebutan Biauw Suthai berhasil membelit ujung tongkat ular itu dengan erat sekali. Hai Kong Hosiang mengerahkan tenaganya untuk menarik kembali tongkatnya, akan tetapi tidak berhasil.

Tiba-tiba Hai Kong Hosiang mengeluarkan seruan aneh dan menyeramkan dan tahu-tahu tubuhnya berjungkir balik, kepalanya di atas tanah dan pada saat itu juga, kedua kaki dan tangannya bergerak menyerang Biauw Suthai!

Gerakan ini sungguh-sungguh diluar dugaan Biauw Suthai. Tadi setelah ujung hudtim-nya berhasil membelit, Hai Kong Hosiang berusaha membetot tongkatnya, karena itu ia cepat mengerahkan lweekang-nya untuk menahan dan pada waktu Hai Kong Hosiang tiba-tiba melepaskan pegangan, tongkat itu tertarik oleh hudtim dan melayang kepadanya, maka cepat-cepat Biauw Suthai mengelak. Akan tetapi dia tidak menyangka sama sekali bahwa sesudah melepaskan tongkatnya, Hai Kong Hosiang lalu berjungkir balik dan menyerang dirinya dalam keadaan yang aneh sehingga dia menjadi bingung.

Sebagaimana sudah jadi watak wanita, dia paling takut diserang dari bawah, maka Biauw Suthai terlalu mencurahkan perhatian pada dua tangan Hai Kong Hosiang yang bergerak menyerang dari arah bawah! Ia menggerakkan hudtim-nya untuk menyapu ke bawah dan menangkis pukulan-pukulan itu, akan tetapi tahu-tahu sepasang kaki Hai Kong Hosiang bergerak bagaikan dua batang cangkul ke arah pundaknya di kanan kiri dengan tenaga yang hebat sekali!

Biauw Suthai terkejut hingga mengeluarkan seruan kaget serta cepat miringkan tubuh. Ia dapat mengelak dari serangan pada pundak kanannya, akan tetapi secara telak pundak kirinya telah kena terpukul oleh ujung sepatu dari kaki Hai Kong Hosiang. Terdengar jerit perlahan dan tubuh Biauw Suthai terhuyung-huyung ke belakang.

Tokouw bermata satu ini telah menderita pukulan maut yang hebat sekali dan kalau lain orang yang terkena pukulan ini, pasti pada saat itu juga telah roboh tak bernyawa! Biauw Suthai yang telah menderita luka dalam yang hebat oleh karena totokan keras di pundak ini tidak saja membuat tulang punggungnya remuk, akan tetapi hawa pukulan juga telah menyerang jantungnya, masih kuat melayangkan kebutannya dengan gerakan terakhir yang hebat ke arah tubuh Hai Kong Hosiang.

Akan tetapi, biar pun keadaannya berjungkir dengan kepala di atas tanah dan kedua kaki di atas, tapi gerakan pendeta gundul ini tidak kalah cepatnya. Kepalanya cepat membuat gerakan dan tubuhnya tiba-tiba saja rebah di atas tanah hingga sambitan hudtim itu tidak mengenai sasaran.

Hudtim itu melayang cepat dan menghantam sebuah batu besar di belakang Hai Kong Hosiang. Terdengar suara keras karena sebagian besar batu itu hancur terpukul hudtim! Dapat dibayangkan bahwa apa bila hudtim itu mengenai tubuh manusia maka tentu akan hancur lebur. Demikian hebatnya tenaga sambitan yang dilakukan dengan menggunakan tenaga terakhir itu.

Setelah menyambit dengan hudtim-nya, Biauw Suthai lantas roboh dan ternyata dia telah menghembuskan napas terakhir. Tubuhnya menggeletak di samping tubuh Pek I Toanio.

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak, akan tetapi sesudah melakukan pembunuhan hebat ini ia merasa lebih aman untuk segera meninggalkan tempat itu, oleh karena siapa tahu kalau-kalau kawan-kawan tokouw itu berada di dekat tempat itu. Bukan karena dia takut kepada mereka, akan tetapi oleh karena dalam pertempuran dengan Biauw Suthai tadi dia sudah mengerahkan banyak sekali tenaga dan sudah menjadi lelah, maka kalau sekarang harus menghadapi musuh tangguh yang lain lagi, hal ini akan berbahaya. Maka dia segera angkat kaki dan meninggalkan tempat itu.

Sesudah melihat bahwa hwesio jahat itu benar-benar telah pergi meninggalkan kampung mereka, para petani baru berani beramai-ramai menghampiri dua mayat yang tergeletak di situ. Mereka merasa terharu sekali oleh karena kedua wanita itu binasa dalam tugas membela mereka sekampung.

Karena itu kedua jenazah Biauw Suthai dan muridnya lalu diurus baik-baik, ditangisi dan dikabungi, kemudian dikebumikan dengan penuh penghormatan. Bahkan petani tua yang rumahnya dirampas oleh Hai Kong Hosiang, lalu menyimpan hudtim Biauw Suthai dan pedang Pek I Toanio yang dipasangnya di dinding rumahnya sebagai perhormatan dan setiap orang kampung apa bila melihat kedua senjata ini, mereka menundukkan kepala kepada dua senjata itu untuk memberi hormat…..

********************
Perahu yang ditumpangi oleh Yousuf, Lin Lin dan Ma Hoa bergerak maju dengan cepat meninggalkan pulau yang telah berkobar dan dimakan api. Tak lama kemudian, terdengar suara burung merak sakti dan Lin Lin menjadi girang sekali melihat merak sakti melayang turun kemudian berdiri di atas perahu. Akan tetapi dia merasa kuatir karena tidak melihat Nelayan Cengeng. Juga Ma Hoa semenjak tadi melihat ke arah air oleh karena maklum bahwa suhu-nya tentu akan menyusul dengan berenang.

“Kong-ciak-ko, di mana Kong Hwat Lojin?” tanya Lin Lin sambil memegang leher merak sakti.

Binatang sakti itu hanya mengeluarkan suara perlahan dan memandang ke arah pulau, seolah-olah hendak mengatakan bahwa tadi mereka berpisah di pantai Pulau Kim-san-to. Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gelisah sekali, demikian pula Yousuf. Mereka bertiga lalu berdiri di pinggir perahu sambil memandang ke air. Tiba-tiba, di bawah cahaya api yang berkobar besar, mereka melihat bayangan hitam bergerak di permukaan air.

“Itu tentu Suhu!” kata Ma Hoa dengan girang sekali dan dia merasa yakin bahwa yang begerak-gerak itu tentu suhu-nya yang berenang cepat laksana seekor ikan. Mendengar seruan ini, Lin Lin dan Yousuf juga ikut bergirang hati.

Tiba-tiba terdengar letusan hebat dari pulau itu sehingga ketiganya terhuyung dan jatuh di dalam perahu. Bukan main terkejut hati mereka dan sebelum mereka sempat melihat di mana adanya Nelayan Cengeng, tiba-tiba datang lagi gelombang sebesar gunung yang membawa perahu mereka terlempar jauh sekali.

Dengan dibantu dua orang gadis itu, Yousuf mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk mencegah perahu mereka terbalik dan dalam keadaan tidak berdaya itu mereka terpaksa mengikuti kemana ombak besar membawa perahu mereka. Jika perahu itu kecil, mungkin mereka masih sanggup menguasainya di antara permainan ombak, akan tetapi perahu mereka besar dan berat sehingga mereka benar-benar tak berdaya.

Ombak demi ombak datang menyerbu dan membawa perahu mereka semakin jauh dari tempat yang mereka tuju. Perahu itu terus terbawa menuju ke utara. Sampai satu malam penuh mereka terbawa semakin jauh dan pada keesokan harinya barulah ombak menjadi lemah sehingga mereka dapat mendayung perahu itu ke arah pantai. Akan tetapi mereka maklum bahwa mereka telah terdampar jauh sekali dari pantai yang hendak mereka tuju.

Ketika mereka telah mendarat dan beristirahat oleh karena lelah sekali, mendadak datang barisan besar ke tempat itu. Kagetlah Yousuf ketika mendapat kenyataan bahwa barisan ini adalah tentara Turki yang sengaja datang menyusul rombongan pertama. Pada saat melihat Yousuf, pemimpin barisan itu lalu berseru,
“Tangkap pengkhianat itu!”

Banyak anggota tentara lalu menyerbu hendak menangkap Yousuf. Akan tetapi beberapa orang di antara mereka jatuh tunggang langgang karena dihantam dengan sengit oleh Lin Lin dan Ma Hoa.

Pemimpin barisan merasa kaget dan heran sekali, kenapa Yousuf dibela oleh dua orang gadis Han yang cantik jelita. Maka dia lalu tertawa menghina dan memaki,

“Bagus sekali, Yousuf! Kau tidak saja pandai mengkhianati kerajaan dan menipu kami, akan tetapi juga pandai membujuk dua orang gadis Han yang cantik untuk menjadi bini muda dan pembela. Ha-ha-ha...!”
“Bangsat anjing bermulut jahat!” Lin Lin memaki sengit sebab gadis ini sedikit-sedikit telah mempelajari bahasa Turki dari Yousuf maka ia dapat mengerti ucapan pemimpin itu.

Dalam kemarahannya, Lin Lin mencabut pedang dan menyerang pemimpin barisan itu. Akan tetapi, puluhan tentara Turki lalu maju mengeroyok karena agaknya mereka ini suka sekali untuk menghadapi dua orang gadis cantik itu. Mereka berniat mempermainkan dua dara jelita ini, tidak tahunya, begitu Lin Lin bergerak diikuti oleh Ma Hoa, beberapa orang serdadu terguling mandi darah.

Kini mereka baru tahu bahwa kedua orang gadis itu adalah pendekar pedang yang luar biasa, maka sambil berteriak-teriak marah, Lin Lin dan Ma Hoa dikeroyok oleh puluhan orang, sedangkan ratusan tentara berteriak-teriak di belakang mereka yang mengeroyok. Yousuf marah sekali dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah berhasil menangkap dua orang tentara yang diputar-putar di sekelilingnya dan digunakan sebagai senjata.

Tentara Turki terkejut sekali dan mereka menjadi jeri karena sudah tahu bahwa Yousuf merupakan seorang jagoan terkenal di negeri mereka, maka dengan amukan Yousuf ini, kepungan mengendur dan pengeroyok-pengeroyok berkelahi dengan hati-hati.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari angkasa dan tahu-tahu seekor burung merak yang indah dan besar, menyambar-nyambar turun dan setiap kali sayapnya menyampok, maka seorang Turki segera terpukul roboh tanpa dapat bangun kembali. Amukan burung merak ini ternyata lebih hebat dari pada amukan Yousuf.

Menghadapi empat orang lawan yang tangguh luar biasa ini, pengeroyokan tentara Turki menjadi kacau balau dan Yousuf yang tidak saja segan untuk melawan serta mengamuk bangsa sendiri akan tetapi juga berpikir bahwa tidak mungkin mereka harus menghadapi jumlah lawan yang sedikitnya ada lima ratus orang itu, lalu berseru,

“Mari kita pergi!”

Lin Lin dan Ma Hoa mengerti pula bahwa jumlah musuh terlalu banyak, karena itu tanpa membantah, mereka cepat-cepat ikut melompat pergi, melalui kepala pengeroyok sambil menggulingkan tiap penghalang. Juga Sin-kong-ciak lalu memekik nyaring dan mengikuti ketiga orang itu. Sebenarnya burung merak ini merasa kecewa karena baru enak-enak membabat lawan-lawannya yang empuk itu, kini diperintahkan untuk pergi.

Ilmu berlari cepat dari ketiga orang itu cukup tinggi untuk memungkinkan mereka segera lari meninggalkan mereka yang mengejar sambil berteriak-teriak, dan tak lama kemudian mereka bertiga tak mendengar lagi suara teriakan barisan Turki yang mengejar itu. Merak sakti tetap terbang di atas mereka dan ketika Yousuf berhenti, merak itu pun melayang turun dan membelai-belai tangan Lin Lin dengan leher dan kepalanya.

“Lin Lin dan Ma Hoa,” kata Yousuf yang kini juga menyebut nama Ma Hoa biasa saja oleh karena orang tua ini sudah menganggap dia sebagai keluarga sendiri. “Kalian tahu bahwa aku dikejar-kejar dan dimusuhi, oleh karena dianggap menipu dan mengkhianati mereka.” Ia menghela napas panjang. “Maka, demi keselamatan kalian berdua, kalian kembalilah ke pedalaman Tiongkok untuk mencari kawan-kawanmu dan Nelayan Cengeng. Biarkan aku melarikan diri dan bersembunyi di gunung sebelah utara itu. Kalau kalian bersama dengan aku maka kalian hanya akan menghadapi bahaya saja.”

“Ayah, janganlah kau berkata begitu,” bantah Lin Lin. “Bagiku, kau adalah ayahku sendiri, dan ke mana kau pergi, aku sudah sewajarnya ikut.”
“Yo-peh-peh,” kata Ma Hoa yang kini menyebut peh-peh atau uwa kepada Yousuf, “benar seperti yang dikatakan Lin Lin. Semenjak berlayar kita telah bersama-sama dan aku pun menganggap kau sebagai orang tua sendiri, maka kenapa sedikit bahaya saja membuat kita harus berpisah? Marilah Peh-peh bersama aku dan Adik Lin Lin kembali ke selatan kemudian mencari Suhu dan kawan-kawan lainnya. Ada pun tentang segala bahaya yang menyerang dirimu, akan kita hadapi bertiga, bahkan berempat dengan Sin-kong-ciak.”

Yousuf merasa terharu sekali. Dia lalu menggunakan kedua tangannya untuk memegang tangan Lin Lin dan Ma Hoa.

“Kalian memang anak-anak baik dan berhati mulia. Semenjak dahulu aku hidup sebatang kara, setelah bertemu dengan kalian, seakan-akan mendapat kurnia besar sekali. Takkan ada di dunia ini perkara yang lebih kusukai dari pada hidup di dekat kalian dan sahabat-sahabat baik seperti Kong Hwat Lojin, akan tetapi kalian anak-anak muda harus tahu pula bahwa aku adalah seorang Turki. Apakah mungkin aku harus melawan serta membunuh tentara bangsaku sendiri? Ahh, itu tidak mungkin. Lebih baik untuk sementara waktu aku bersembunyi di tempat sunyi dan kelak apa bila tentara Turki sudah kembali ke negeriku dan keadaan sudah aman kembali, barulah aku menyusul ke selatan dan mencari kalian.”

Akan tetapi Lin Lin merasa tidak tega untuk meninggalkan Yousuf dalam keadaan sedang dikejar-kejar itu. Bagaimana kalau dia diketemukan dan akhirnya sampai mati?

“Tidak, Ayah. Biarlah aku ikut kau bersembunyi untuk sementara waktu, dan nanti kalau keadaan telah aman kembali, kita bersama menuju ke selatan mencari kawan-kawan.”

Ma Hoa yang berpikir bahwa keadaan itu tak akan berlangsung lama, oleh karena setelah ternyata bahwa Pulau Kim-san-to terbakar habis, tentu tentara Turki itu tidak mau tinggal berlama-lama di tempat yang bukan menjadi daerah mereka ini, maka ia segera berkata,

“Memang demikian sebaiknya, Yo-peh-peh. Lin Lin dan aku akan ikut kau bersembunyi untuk beberapa pekan, atau beberapa bulan kalau memang keadaan menghendaki.”

Yousuf merasa girang sekali dan wajahnya yang agak kecoklat-coklatan itu berseri-seri gembira. “Bagus, anak-anakku, kalian benar-benar membuat aku merasa bahagia sekali. Jangan kalian kuatir, di lereng salah satu bukit dekat tapal batas Tiongkok, aku dulu telah meninggalkan sebuah rumah yang mungil dan indah. Mari kita pergi ke sana dan untuk sementara waktu kita tinggal di tempat itu, di mana pemandangannya indah dan hawanya sejuk. Tentang biaya, jangan kuatir!” Sambil berkata demikian Yousuf pun mengeluarkan sekantung emas yang disimpan di dalam saku dalam bajunya.

Demikianlah, ketiganya, berempat dengan Merak Sakti, lalu segera menuju ke bukit yang dimaksudkan oleh Yousuf.....
Benar saja sebagaimana kata Yousuf, keadaan di sana menyenangkan sekali. Tamasya alam indah dan mengagumkan, hawa pegunungan segar dan menyehatkan. Orang-orang yang tinggal di sekitar bukit itu adalah orang-orang petani yang ramah tamah dan hidup sederhana.

Rumah Yousuf masih ada dan bagus, hanya agak kotor karena tidak terawat. Ketiganya lalu bekerja keras membereskan rumah itu. Lin Lin dan Ma Hoa lalu mengatur taman di sekitar rumah, oleh karena di bukit itu terdapat banyak kembang-kembang yang indah.

Dan beberapa hari kemudian, para petani yang lewat di depan rumah itu, tidak habisnya mengagumi keindahan tempat itu dan mereka merasa seakan-akan tempat ini berubah semenjak rombongan ini tiba. Memang, siapa yang tidak kagum? Rumah itu kecil namun indah bentuknya, dikelilingi oleh kembang-kembang tanaman kedua gadis itu, dan rumah ini ditinggali oleh seorang bangsa Turki yang bersikap halus dan ramah tamah, bersama dua orang gadis yang cantik jelita bagaikan dua orang bidadari dari kahyangan, ditambah lagi dengan adanya seekor merak yang berbulu bagus sekali!

Yousuf dengan hati sungguh-sungguh lalu melatih ilmu silat kepada Lin Lin dan Ma Hoa dan oleh karena ilmu silat Turki jauh berbeda dalam gaya dan variasi jika dibandingkan dengan ilmu silat Tiongkok walau pun pada dasarnya tak berbeda jauh, maka Lin Lin dan Ma Hoa merasa suka sekali mempelajari ilmu silat ini.

Tingkat kepandaian Yousuf memang masih lebih tinggi dari pada tingkat kedua gadis itu sehingga berkat latihan-latihan ini, kepandaian kedua orang gadis ini maju pesat. Oleh karena tiap hari belajar ilmu silat, ketiga orang itu tidak merasa sunyi dan bahkan merasa betah dan senang tinggal di tempat itu. Hanya, kadang-kadang saja, Lin Lin dan Ma Hoa terkenang kepada pujaan hati masing-masing yang membuat mereka termenung, akan tetapi pikiran ini segera terhibur apa bila mereka mengingat bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali.

Sementara itu, Merak Sakti yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, setiap hari hanya berjalan-jalan di dalam taman atau kadang-kadang ia terbang tinggi sekali berputar-putar sehingga mengagumkan orang-orang yang melihatnya. Merak ini agaknya juga merasa senang sekali tinggal di situ dan bulunya makin indah mengkilap.

Pada suatu pagi yang cerah, di kala matahari dengan sinarnya yang nakal mengusir awan dan halimun pagi dari udara dan muka bumi dan burung-burung menyambut kedatangan Raja Siang itu dengan nyanyian dan pujian yang merdu dan sedap didengar, Lin Lin dan Ma Hoa sudah berada di taman bunga mereka dan mencabuti rumput-rumput liar yang hendak mengganggu keindahan bunga. Mereka bekerja sambil bersenda gurau karena memang hawa pagi itu membuat dan memaksa orang untuk bergembira.

“Lin Lin,” kata Ma Hoa sambil tersenyum manis. “Alangkah senangnya hatimu kalau pada saat yang indah ini Saudara Cin Hai berada di sini!”

Menghadapi serangan godaan ini, Lin Lin yang pandai bicara serta lincah itu juga segera tersenyum dan memandang tajam, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan menjawab, “Memang betul, tentu saja hatimu akan merasa senang sekali, akan tetapi kau bersabar saja, kawan! Tak lama lagi tentu kau akan dapat bertemu kembali dengan dia itu!”

Ma Hoa melengak dan tidak mengerti. “Ih, eh, apa maksudmu? Siapa yang kau maksud dengan dia itu?”

Lin Lin berpura-pura memandang heran. “Siapa lagi, bukankah yang tadi kau maksudkan adalah Engko Kwee An?”

“Eh, anak bengal! Apakah telingamu sudah menjadi tuli? Kau dengar aku bilang apakah tadi?”

Lin Lin memandang kepada Ma Hoa dengan wajah berseri. “Enci Hoa, bukankah kau tadi berkata begini. Alangkah senang hatiku kalau pada saat yang indah ini Kanda Kwee An berada di sini?”

Ma Hoa memandang dengan gemas dan mengulurkan tangan hendak mencubit Lin Lin, akan tetapi gadis itu segera mengelak.

“Lin Lin, jangan kau bicara tak karuan! Aku tidak pernah mengeluarkan ucapan itu dari mulutku.”
“Tapi siapakah yang mendengar ucapan mulutmu? Aku tadi justru mendengar suara yang keluar dari hatimu sehingga aku tidak mendengar jelas suara yang keluar dari mulutmu! Bukankah hatimu tadi berkata seperti yang kuulangi tadi?”

Ma Hoa mengerling tajam dengan bibir menyatakan kegemasan hatinya. Memang walau pun mulutnya menyatakan dan menyebut-nyebut nama Cin Hai, akan tetapi tepat sebagai mana godaan Lin Lin, hatinya memaksudkan Kwee An! Maka karena malu dan gemas, Ma Hoa lalu mengejar Lin Lin dan hendak dicubitnya, akan tetapi Lin Lin berlari mengitari bunga-bunga sambil tertawa-tawa dan berkata,
“Awas, Enci Hoa, apa bila engkau mencubit aku, kelak aku akan minta Engko An untuk membalasnya.”

Ma Hoa makin gemas dan sambil tertawa, mereka berkejaran di dalam taman bunga itu, bagaikan dua ekor kupu-kupu yang cantik dan indah.

Mendadak keduanya berhenti tertawa, bahkan lalu berdiri diam sambil memasang telinga dengan penuh perhatian. Di antara kicau burung yang bermacam-macam itu, terdengar Merak Sakti yang memekik-mekik aneh sekali karena mereka belum pernah mendengar suara merak itu memekik seperti ini sehingga mereka tidak tahu apakah merak itu sedang marah atau sedang bergirang.

Biasanya kedua orang gadis ini telah hafal akan tanda-tanda yang dikeluarkan oleh suara Merak Sakti, akan tetapi kali ini mereka saling pandang dengan hati heran dan terkejut. Kemudian, serentak mereka lalu melompat dan berlari cepat ke arah suara tadi.

Pada waktu mereka tiba di sebuah lereng yang penuh rumput hijau, mereka menyaksikan pemandangan yang membuat mereka segera tertegun dan berhenti dengan tiba-tiba. Di atas rumput yang tebal itu, tampak Sin-kong-ciak sedang mendekam seperti berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya ke bawah sambil mengeluarkan pekik yang aneh itu, sedangkan seorang kakek yang tua sekali dan yang memakai pakaian penuh tambalan dan butut, sedang membelai-belai leher dan kepala merak itu.

Yang membuat Lin Lin dan Ma Hoa terheran sekali adalah sikap merak itu. Kedua orang gadis ini cukup kenal adat Merak Sakti yang angkuh dan tidak mau tunduk kepada siapa pun juga, maka melihat betapa merak itu sekarang berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala, mereka menjadi heran sekali.

Tiba-tiba saja kakek itu memegang kedua kaki Merak Sakti, lalu melemparkannya ke atas sambil tertawa-tawa. Merak itu menurut saja dan membiarkan dirinya untuk dilemparkan tanpa mengembangkan sayap untuk terbang. Saat burung itu jatuh kembali, dua kakinya lalu diterima oleh tangan kiri kakek itu, kemudian dilempar lagi ke atas berulang-ulang.

Permainan ini dilakukan oleh kakek itu sambil tertawa-tawa girang. Ada pun Merak Sakti juga mengeluarkan suara yang dikenal oleh kedua orang gadis itu sebagai pernyataan hatinya yang senang dan gembira.

Meski pun mendengar suara gembira dari merak itu, namun Lin Lin menjadi marah sekali dan mengira bahwa kakek ini tentu menggunakan kepandaiannya yang membuat Merak Sakti tidak berdaya kemudian mempermainkan burung itu. Gadis ini melompat maju dan membentak,
“Kakek jahat, lepaskan burung merakku!”

Akan tetapi jangankan mentaati perintah Lin Lin, bahkan kakek itu menengok pun tidak, terus melempar-lemparkan tubuh burung itu ke atas sambil tertawa-tawa dan kemudian bertanya kepada Merak Sakti,

“Kong-ciak, apakah kau sudah puas?”

Lin Lin marah sekali, lalu maju menyerang dan memukul dengan tangan kanan ke arah dada kakek itu untuk mendorongnya roboh. Akan tetapi alangkah terkejut dan herannya ketika ia merasa betapa kepalan tangannya seakan-akan memukul kapas hingga tenaga pukulannya menjadi lenyap sendiri, sedangkan kakek tua itu tetap saja sama sekali tidak memandangnya seakan-akan Lin Lin tidak ada di situ.

Ma Hoa yang melihat Lin Lin mulai menyerang kakek itu, lalu membantu dan kedua orang gadis ini lalu menyerang berbareng kepada si kakek tua itu. Sementara itu, Merak Sakti yang agaknya telah merasa puas dengan permainannya lalu mengembangkan sayapnya dan terbang ke atas cabang pohon, bertengger di situ sambil menonton pertempuran.

Sesungguhnya ucapan ini saja sudah cukup bagi kedua gadis itu untuk menyadari bahwa kakek tua ini tak bermaksud jahat. Akan tetapi karena Lin Lin dan Ma Hoa merasa marah dan penasaran, maka mereka lalu maju berbareng dan menyerang dengan hebat.

Akan tetapi, biar pun kakek tua itu agaknya tak berpindah dari tempatnya, namun pukulan kedua orang dara muda itu satu kali pun tak pernah berhasil mengenai tubuhnya. Lin Lin merasa penasaran sekali, demikian pula Ma Hoa, karena mengira bahwa kakek ini tentu mempergunakan ilmu sihir. Semakin besar dugaan mereka ketika mereka merasa telah hampir mengenai tubuh orang tua itu, tiba-tiba saja tangan mereka melesat ke samping seakan-akan didorong oleh tangan kuat yang tidak kelihatan.

Mereka ini keduanya sama sekali tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan tokoh persilatan tertinggi yang bukan lain orang adalah Bu Pun Su sendiri. Sebenarnya, Bu Pun Su tidak menggunakan ilmu sihir, hanya mengerahkan tenaga khikang-nya yang sudah sempurna itu sehingga hawa yang keluar dari kedua tangannya cukup kuat untuk menangkis tiap pukulan Lin Lin dan Ma Hoa.

Pada saat kedua orang gadis itu menjadi sibuk serta makin terheran dan marah, tiba-tiba terdengar bentakan orang,
“Kakek tua! Jangan kau mengganggu kedua anakku!”

Ternyata yang datang ini adalah Yousuf sendiri. Lin Lin dan Ma Hoa merasa girang sekali dan Lin Lin segera berteriak,
“Ayah, kau usir kakek yang pandai sihir ini!”

Juga Ma Hoa berkata, “Dia telah menyihir dan mempermainkan Sin-kong-ciak!”

Yousuf menjadi marah sekali, lalu membentak dua gadis itu, “Kalian minggirlah, biarkan aku menghadapinya!” Kemudian ia meloncat ke depan Bu Pun Su dan membentak,
“Kakek tua! Memalukan sekali untuk mengganggu seekor burung merak dan dua orang anak yang masih bodoh. Marilah kita tua lawan tua!”

Tiba-tiba Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh sehingga Yousuf cepat-cepat menggunakan tenaga dalamnya untuk menolak tenaga yang keluar dari suara ketawa ini.

“Hi-hi-hi, kau orang Turki ini benar-benar berbeda dengan yang lain! Kau benar-benar lain daripada yang lain. Bagus, bagus! Kau lucu sekali! Usiamu paling banyak hanya setengah umurku, tapi kau bilang tua lawan tua! Eh, kakek-kakek tua bangka, mari kita main-main sebentar.”

Ucapan Bu Pun Su ini mendapat sambutan suara Merak Sakti yang mengeluarkan suara terkekeh-kekeh pula, suara yang dikenal oleh Lin Lin dan Ma Hoa apa bila merak sakti itu sedang merasa gembira. Sungguh aneh. Lin Lin masih mengira bahwa merak itu masih terkena sihir, maka ia segera menghampiri di bawah pohon di mana merak itu bertengger dan memanggil,

“Kong-ciak-ko, kau turunlah ke sini!”

Akan tetapi Merak Sakti itu sama sekali tidak mau turun. Hal ini semakin mempertebal dugaan Lin Lin dan Ma Hoa bahwa kakek luar biasa itu tentu telah menyihir Merak Sakti, karena biasanya merak itu sangat taat terhadap perintah Lin Lin.

“Ha-ha-ha-ha! Nona, jangan kau heran, kong-ciak itu bukannya bersifat palsu dan karena mendapat kawan baru lalu melupakan kawan lama. Akan tetapi adalah bertemu majikan lama melupakan majikan baru.”
“Kakek tua, majulah dan hendak kulihat sampai di mana kesaktianmu!” Yousuf berteriak melihat betapa kakek itu memandang ringan kepada mereka semua.

Sambil berkata demikian, Yousuf lalu menyerang dengan kedua tangannya dengan ilmu silat Turki yang paling lihai. Kedua tangannya ini yang kanan memukul, sedang yang kiri mencengkeram ke arah lambung lawan, dan kaki kirinya juga menendang ke arah depan dengan cepat.

“Ha-ha-ha! Bagus, aku mendapat kesempatan menyaksikan ilmu silat Turki yang lihai!” kata kakek itu yang masih tertawa haha-hihi sambil mengelak perlahan.

Sungguh aneh sekali, agaknya kakek itu sudah tahu bahwa di antara ketiga serangan ini, yang sungguh-sungguh adalah serangan kaki, oleh karena dua tangan yang menyerang hanya untuk menarik dan mengalihkan perhatian lawan saja. Bu Pun Su sama sekali tak mengelak dari serangan kedua tangan, hanya mengelak dari tendangan kaki Yousuf.

Ketika tidak mengenai sasaran, tendangan ini tidak ditarik mundur sebagaimana biasanya tendangan dalam ilmu silat Tiongkok, akan tetapi lalu diteruskan dan dibanting ke pinggir terus memutar ke belakang hingga tubuh Yousuf terputar di atas sebelah kaki dan sekali putaran dia lantas mengayun lagi kaki itu menendang, dibarengi dengan serangan kedua tangan lagi! Ini adalah gerak tipu yang luar biasa dan tidak terduga, dan biasanya dengan gerakan ini, Yousuf dapat menjatuhkan lawannya.

Akan tetapi, kali ini dia benar-benar kecele, karena Bu Pun Su agaknya sudah tahu akan maksud dan gerakannya sehingga dapat mengelak pada waktu yang tepat. Bahkan pada saat kakek jembel ini balas menyerangnya, Yousuf langsung melengak sebab Bu Pun Su menggunakan serangan yang persis seperti yang telah dilakukannya tadi. Malah gerakan kakek jembel ini lebih cepat dan lebih hebat dari pada gerakannnya sendiri.

Yousuf penasaran sekali, lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Akan tetapi, makin lama ia menjadi makin heran sehingga dia bertempur dengan mata terbelalak dan mulut menyelangap oleh karena makin banyak ia mengeluarkan kepandaiannya, makin banyak pula gerakan-gerakannya ditiru dengan tepat oleh Bu Pun Su!

Juga Lin Lin dan Ma Hoa ketika melihat betapa kakek itu melawan Yousuf dengan ilmu silat Turki yang sama, tak terasa pula saling pandang dengan terheran-heran.

“Ayah, ia tentu sudah menggunakan ilmu sihir!” Lin Lin memberi peringatan kepada ayah angkatnya.

Yousuf teringat dan timbul persangkaan demikian pula, maka tiba-tiba saja orang Turki ini mengheningkan cipta, mengumpulkan tenaga di dalam pusar dan setelah mengerahkan seluruh tenaga batinnya ke mulut, dia membentak sambil menunjuk ke arah dada kakek jembel itu dan kedua matanya yang amat tajam dan hitam itu menatap mata kakek itu,

“Kau berlututlah!”

Ini adalah sejenis ilmu sihir yang didasarkan tenaga batin untuk mempengaruhi semangat dan kemauan lawan yang disebut Ilmu Penakluk Semangat. Bahkan Lin Lin dan Ma Hoa yang tidak diserang langsung oleh ilmu ini, akan tetapi karena mereka memperhatikan dan turut mendengar bentakan yang memerintah dan berpengaruh itu, tanpa terasa pula mendapat desakan hebat dan tiba-tiba tanpa disadarinya lagi mereka lalu menjatuhkan diri berlutut!

Akan tetapi sesudah Yousuf mengeluarkan bentakan tadi, bukan kakek jembel itu yang berlutut, bahkan Yousuf sendiri yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel!

“Ha-ha-ha! Aku jembel tua bangka tidak layak menerima penghormatan ini!” kata Bu Pun Su sambil tertawa bergelak dan suara ketawanya ini agaknya sudah membuyarkan ilmu sihir Yousuf sehingga ketiga orang itu sadar bahwa mereka sedang berlutut di depan Si Kakek jembel!

Yousuf kaget sekali oleh karena yang dapat melawan ilmunya ini adalah gurunya sendiri, seorang pertapa tua yang sakti di Turki dan ia ingat gurunya pernah menerangkan bahwa apa bila Ilmu Penakluk Semangat ini digunakan untuk menyerang orang yang mempunyai ilmu batin lebih tinggi dan kuat, maka akibatnya dapat terbalik karena tenaga itu terpental dan memukul dirinya sendiri!

Yousuf cepat melompat bangun dengan muka merah, sedangkan kedua orang gadis itu pun dengan malu lalu mencabut pedang mereka. Yousuf juga mencabut pedangnya dan ketiga orang ini lalu menyerbu dan menyerang Bu Pun Su!

Tiba-tiba terdengar pekik marah dari atas dan Merak Sakti sambil mengibaskan sayapnya lalu menangkis pedang ketiga orang itu! Karena Merak Sakti itu pun mempunyai tenaga besar, maka ia berhasil menangkis senjata Yousuf dan Lin Lin, bahkan pedang di tangan Lin Lin terpental jauh sekali! Akan tetapi, ternyata bahwa Merak Sakti itu tidak berniat jahat dan hanya ingin mencegah ketiga orang itu menyerang Bu Pun Su dengan senjata tajam dan setelah menangkis satu kali, merak itu lalu terbang lagi ke cabang tadi!

“Ha-ha-ha, bagus, Kong-ciak! Tak percuma aku memeliharamu sejak kecil!” kata kakek jembel itu sambil tertawa girang.

Yousuf dan Ma Hoa tercengang mendengar ini, akan tetapi Lin Lin yang merasa marah sekali karena pedangnya dibikin terpental oleh Merak Sakti, lalu tak terasa lagi mencabut keluar pedang karatan yang dulu dia ambil dari goa di pulau Kim-san-to. Dengan pedang buntung yang bobrok ini ia maju lagi menyerang.

Tiba-tiba wajah Bu Pun Su berubah pada saat dia melihat pedang itu dan cepat sekali tangannya bergerak ke depan. Lin Lin tidak tahu bagaimana kakek itu bergerak karena tahu-tahu pedangnya telah berpindah tangan.

“Han Le... betul-betulkah kau telah mendahului aku?” kata Bu Pun Su sambil memandang pedang itu dengan muka berduka dan kepalanya yang putih tiada hentinya menggeleng-geleng. “Han Le Sute... mengapa kau mendahului Seheng-mu? Ahhh…, aku Bu Pun Su benar-benar telah tua sekali dan sudah cukup lama hidup di dunia ini...” setelah berkata demikian, ia menghela napas panjang.

Bukan main terkejutnya Lin Lin, Ma Hoa dan Yousuf, mendengar bahwa kakek luar biasa ini adalah Bu Pun Su, guru dari Cin Hai. Yousuf pernah diceritakan oleh Lin Lin tentang kehebatan kepandaian Cin Hai, dan menceritakan pula bahwa suhu pemuda itu bernama Bu Pun Su, tokoh yang namanya telah terkenal di seluruh penjuru.

Lin I Lin dan Ma Hoa cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Pun Su, sedangkan Yousuf segera membungkuk dalam-dalam hingga jidatnya hampir menyentuh tanah, satu cara penghormatan yang paling besar dari bangsa Turki.

“Locianpwe, mohon beribu ampun bahwa teecu telah berani berlaku kurang ajar,” kata Lin Lin dengan hormat.

Bu Pun Su menghela napas. “Sudahlah, aku orang tua tak tahu diri ini yang harus minta maaf. Ketahuilah, kadang-kadang aku mempunyai keinginan untuk menjadi kanak-kanak kembali dan ingin mempermainkan orang. Agaknya aku sudah pikun dan sudah terlalu tua...” Kemudian ia berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Aku tahu siapa kalian ini. Kau tentu Lin Lin tunangan muridku Cin Hai. Syukur bahwa kau sudah bisa terlepas dari cengkeraman Boan Sip si jahat itu. Dan kau ini tentu Ma Hoa murid Nelayan Cengeng. Hm, kepandaianmu yang kau keluarkan tadi jelas menunjukkan bahwa kau adalah murid Si Cengeng itu. Dan kau, Sahabat, kau tentulah Yo Su Pu yang terkenal.” Memang, nama Yousuf apa bila diucapkan oleh lidah orang Han akan berubah, ada yang menyebut Yo Suhu, Yo Se Fei, Yo Su Pu dan lain-lain.

Yousuf kembali menjura, “Saya yang bodoh dan rendah memperoleh kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan Lo-suhu yang sakti.”

Bu Pun Su lalu berkata lagi, “Apakah artinya kesaktian dan kepandaian? Hanya sepintas lalu saja. Siapa yang mau belajar dia tentu akan menjadi pandai. Tidak dengan sengaja aku bertemu dengan Kong-ciak di tempat ini, maka aku merasa ingin tahu siapa yang membawa Kong-ciak ke sini? Dan melihat pedang ini di tangan Lin Lin, tahulah aku tadi bahwa kalian tentu telah mengunjungi pulau itu. Pedang inilah yang menceritakan padaku bahwa Sute-ku yang tinggal di pulau itu telah meninggal dunia, karena ini adalah pedang miliknya! Coba kau tuturkan pengalamanmu mendapatkan pedang dan burung merak ini,” perintahnya kepada Lin Lin.

Sementara itu, Merak Sakti telah terbang turun dan dan hinggap di atas pundak Bu Pun Su.

Dengan singkat Lin Lin menuturkan pengalaman mereka di Pulau Kim-san-to dan ketika ia menceritakan betapa pulau itu terbakar musnah, Bu Pun Su mengangguk-angguk.

“Ya, ya, ya. Aku kemarin aku sudah melihat dari pantai bahwa pulau itu telah lenyap dari permukaan laut. Dan harimau bertanduk serta rajawali emas tentu telah tewas pula.”

Kakek ini menghela napas dan pada waktu mendengar disebutnya kedua binatang itu, Si Merak Sakti lalu mengeluarkan keluhan panjang, kemudian dua butir air mata runtuh dari sepasang matanya yang indah. Kemudian merak ini terbang ke atas dan berputar-putar di udara.

“Hmm, kong-ciak itu memang perasa sekali. Tentu dia bersedih mendengar nasib kedua kawannya. Ketahuilah, merak itu dan dua binatang lain di atas pulau yang musnah adalah binatang-binatang peliharaanku. Terutama merak ini, semenjak kecil dia telah ikut aku di pulau itu. Sesudah aku meninggalkan pulau, maka sute-ku yang bernasib malang itu tinggal di pulau dan bertapa di sana. Tidak tahunya sekarang ia telah menjadi rangka dan pedangnya pun telah tinggal sepotong. Hm, demikianlah nasib manusia. Kepandaiannya yang luar biasa pun turut lenyap tak berbekas. Manusia... manusia... kau calon rangka dan debu ini, masih mau mengagulkan apamukah...?”

Kata-kata ini diucapkan oleh kakek itu sambil memandang ke atas dan Yousuf merasa terkena sekali hatinya sehingga dia menundukkan muka dengan penuh khidmat.

“Lin Lin,” Bu Pun Su berkata, “Kau memang berjodoh dengan pedang ini, maka Sute-ku sengaja memilih kau untuk memilikinya. Ketahuilah, pedang ini bukan sembarang pedang dan yang tinggal sepotong ini adalah sari pedang itu. Tadi kulihat ketika kau memegang pedang pendek ini, agaknya kau lebih pandai menggunakan pedang pendek, karena itu biarlah pedang buntung ini kubuat menjadi pedang pendek untukmu.”

Lin Lin merasa girang sekali dan dia cepat menghaturkan terima kasih pada Bu Pun Su. Kakek tua itu lalu tinggal di atas bukit itu selama tiga pekan untuk menggembleng dan membuat pedang pendek dari sisa pedang berkarat itu. Kemudian dia berikan pedang yang menjadi sebatang belati panjang kepada Lin Lin sambil berkata,

“Terimalah pedang pendek ini yang kuberi nama Han-le-kiam untuk memperingati nama Sute-ku Han Le. Dan untuk memperlengkapi kehendak Sute-ku yang memberi pedang ini kepadamu, kau berhak menerima pelajaran ilmu silat dari persilatan kami.”

Bukan main girangnya hati Lin Lin yang segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek sakti itu.

“Akan tetapi bukan aku si tua bangka yang hendak menurunkan kepandaian ini padamu. Aku sudah satu kali menerima murid dan itu sudah lebih dari cukup. Cin Hai atau calon suamimu itulah yang akan bertugas menurunkan ilmu kepandaian padamu. Jangan kau anggap aku main-main, akan tetapi tanpa perkenanku, tidak nanti dia berani menurunkan ilmu kepandaian yang dipelajarinya dariku, biar kepada isterinya sekali pun.”

Lin Lin segera bertanya dengan berani, “Akan tetapi, Locianpwe, teecu masih belum tahu di mana adanya... dia!” Ma Hoa dan Yousuf diam-diam tersenyum dan Bu Pun Su tertawa bergelak,

“Seperti juga tidak ada persatuan yang tidak berakhir, demikian pun tidak ada perceraian yang kekal. Kelak tentu tiba saatnya kau bertemu kembali dengan Cin Hai dan Ma Hoa dengan Kwee An. Dan bila mana kau sudah bertemu calon suamimu itu, sampaikanlah pesanku supaya kau diberi pelajaran pokok yang telah kuajarkan kepadanya, kemudian memberi pelajaran ilmu pedang yang baru diciptakannya kepadamu.”

Kemudian sambil memandang kepada Yousuf, Bu Pun Su berkata pula,
“Kau tidak salah memilih Saudara Yo Su Pu ini sebagai ayah angkatmu karena memang dia ini orang baik dan berhati mulia. Saudara Yo, akan lebih baik lagi kalau mimpi buruk yang mengganggu hatimu itu dapat dilenyapkan sama sekali.”

Yousuf terkejut sekali, oleh karena mendengar ucapan ini dia dapat mengetahui bahwa kakek sakti ini ternyata telah dapat membaca isi hatinya yang bercita-cita menjadi kaisar di negerinya. Dia lalu tersenyum dan menjura sambil berkata,

“Lo-suhu, terima kasih atas nasehatmu ini. Memang, semenjak bertemu dengan anakku ini, cita-cita gila itu telah kubuang jauh-jauh.”
“Bagus sekali, itu hanya menambah tebal keyakinanku bahwa kau memang mempunyai kebijaksanaan besar yang jarang dimiliki oleh sembarangan orang.”

Kemudian Bu Pun Su pergi dari tempat itu sesudah membelai leher dan kepala Merak Sakti yang nampak sedih ditinggalkan oleh majikan lamanya ini…..

********************
Oleh karena menyangka kalau-kalau Lin Lin dan Ma Hoa sudah mendahului pulang ke kampung Lin Lin, maka Kwee An dan Cin Hai lalu menuju ke selatan untuk kembali ke daerah Tiang-an.

Ketika mereka sampai di rumah Kwee An, ternyata bahwa rumah itu masih tertutup dan ketika mereka bertanya kepada orang di kampung itu yang menyambut kedatangan Kwee An dengan girang, mereka mendapat keterangan bahwa Lin Lin belum pernah kembali ke situ, dan bahwa Kwee Tiong masih tetap tinggal di kelenteng Ban-hok-tong di Tiang-an, dan bahwa Kwee Tiong sekarang bahkan telah mencukur rambutnya dan masuk menjadi hwesio!

Hal ini mengejutkan hati Kwee An, maka ia lalu mengajak Cin Hai mengunjungi kakaknya itu di Kelenteng Ban-hok-tong di kota Tiang-an. Pada waktu mereka sampai di kelenteng Ban-hok-tong yang mengingatkan Cin Hai akan pengalamannya ketika masih kecil dan mempelajari ilmu kesusasteraan dari Kui-sianseng guru sasterawan yang kurus kering itu, mereka pun disambut oleh seorang hwesio tua yang bertubuh tegap dan sikapnya masih gagah.

Hwesio ini adalah Tong Kak Hosiang, hwesio perantau yang dahulu mengajar silat pada putera-putera Kwee Ciangkun, seorang pendeta yang selain mempunyai ilmu silat cukup tinggi dari cabang Kun-lun-pai, juga mempunyai pengertian yang dalam mengenai Agama Buddha serta menjalankan ibadat dengan sungguh-sungguh.

Pada saat Tong Kak Hosiang mendengar pengakuan Kwee An bahwa pemuda ini adalah putera termuda dari Kwee In Liang, dia menyambut dengan girang sekali.

“Ahh, ternyata Kwee-kongcu! Silakan masuk!” Hwesio ini memandang kepada Kwee An dengan mata kagum karena Kwee Tiong sering kali menceritakan mengenai kegagahan serta ketinggian ilmu silat adiknya ini.
“Lo-suhu, teecu mohon bertemu dengan kakakku Kwee Tiong.”

Tong Kak Hosiang tersenyum, “Baik, baik, tentu saja, Kwee-kongcu. Tiong Yu memang telah lama merindukan kau. O ya, hampir lupa pinceng memberi tahukan bahwa kakakmu kini bernama Tiong Yu Hwesio.”

Ketika hwesio tua itu mengantar mereka masuk ke ruangan dalam, mereka mendengar suara Kwee Tiong yang amat lantang membaca liamkeng (kitab suci yang dibaca sambil berdoa) diiringi suara kayu yang dipukul-pukulkan untuk mengikuti irama doa dan untuk menghalau segala gangguan yang memasuki pikiran di waktu membaca liamkeng.

“Tiong-ko!” Kwee An memanggil dengan suara di kerongkongan.

Suara liamkeng berhenti dan Kwee Tiong berpaling. Alangkah bedanya wajah pemuda ini dibandingkan dengan dahulu dan hal ini pun dilihat jelas oleh Cin Hai. Pada wajah yang cakap itu kini terbayang kesabaran dan ketenangan yang besar sehingga diam-diam Cin Hai merasa kagum sekali dan juga girang melihat perubahan besar ini.

Ketika melihat Kwee An, Kwee Tiong segera bangkit berdiri dengan tenang dan keduanya lalu berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Agaknya dalam pelukan mesra ini keduanya telah saling mencurahkan keharuan di hati masing-masing.

Pada saat Kwee Tiong melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Kwee An sambil memandang wajah adiknya, ia melihat dua butir air mata membasahi mata Kwee An. Kwee Tiong lalu tersenyum untuk membesarkan hati adiknya sambil mengguncang-guncangkan pundak adiknya dan berkata lantang,

“An-te, kau kelihatan semakin gagah dan tampan saja!” Sambil berkata demikian, Kwee Tiong cepat menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus dua tetes air mata yang telah menetes di atas pipi adiknya.
“Tiong-ko, kau...”

Akan tetapi Kwee Tiong tidak memberi kesempatan kepada adiknya untuk melanjutkan kata-katanya dan untuk melampiaskan keharuan hatinya, maka dengan muka girang dia kemudian menarik tangan adiknya itu ke ruang tamu, sedangkan gerakan kakinya masih menunjukkan kegagahan dan kejantanannya seperti yang dulu.

Ketika melihat Kwee Tiong, Cin Hai yang menunggu di ruang tamu lalu menjura dengan hormat.

”Eh, ehh, Pendekar Bodoh ikut datang pula! Kau memang hebat sekali, Cin Hai adikku. Tiada habisnya aku mengagumi kau.” Ucapan ini keluar dari hatinya yang tulus sehingga Cin Hai merasa girang dan terharu, maka dia lalu angkat kedua tangan memberi hormat lagi.
“Tiong Yu Hwesio saudaraku yang baik. Kebijaksanaanmu yang sudah mengambil jalan suci ini membuat aku yang bodoh dan kasar menjadi malu saja.”

Kwee Tiong menghampiri Cin Hai dan menepuk-nepuk pundaknya. “Ahh, jangan begitu, Cin Hai! Aku masih Kwee Tiong bagimu, seperti dulu. Hanya saja bedanya, kini kedua mataku telah terbuka dan aku benar-benar girang bertemu dengan kau. O ya, di mana Lin Lin adikku yang manis?” Matanya mencari-cari dan mengharapkan munculnya Lin Lin di situ.

Sesudah duduk menghadapi meja, Kwee An lalu menceritakan pengalamannya, bahwa kini mereka berdua sedang mencari Lin Lin. Ketika mendengar tentang pembalasan sakit hati yang hampir selesai dan tinggal Hai Kong seorang itu, pada wajah Kwee Tiong tidak tampak kegirangan sebagaimana yang diduga semula, bahkan pemuda yang kini menjadi hwesio itu menghela napas dan merangkapkan kedua tangan, lalu berkata,

“Ah, inilah yang membuat aku mengambil keputusan untuk menjadi orang yang beribadat. Tadinya aku selalu merasa takut kepada musuh, sedih karena kehilangan orang tua dan saudara-saudara, dan penasaran karena ingin membalas dendam. Tetapi apakah artinya semua perasaan yang hanya mengganggu batin itu? Setelah aku mendapat petunjuk dari Tong Kak Suhu dan masuk menjadi hwesio, baru terbukalah mataku. Aku kini merasa berbahagia dan tidak menakuti sesuatu oleh karena di dalam hatiku memang tidak ada perasaan bermusuh kepada siapa pun juga. Tentang pembalasan sakit hati itu, Adikku, biarlah kau yang memiliki kepandaian tinggi dan yang merasa sakit hati, kau perjuangkan sebagai sebuah tugas suci berdasarkan kebaktian. Sedangkan aku yang tiada memiliki kepandaian ini, biarlah aku setiap waktu berdoa untuk keselamatanmu, keselamatan Lin Lin, dan keselamatan semua kawan-kawan baik.”

Cin Hai yang mendengar ucapan ini, mengangguk-angguk dan dia maklum sepenuhnya bahwa memang jalan yang diambil oleh Kwee Tiong itu dianggapnya tepat sekali.

Sesudah saling menuturkan pengalaman masing-masing dan melepas kerinduan dengan mengobrol semalam penuh, pada keesokan harinya Kwee An dan Cin Hai meninggalkan Kelenteng Ban-hok-tong.

“Kwee An marilah kita mampir sebentar di Tiang-an, karena sudah lama aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota itu. Sering kali aku terkenang kepada kota di mana aku tinggal ketika kita masih kecil.”

Juga Kwee An ingin melihat kota kelahirannya, maka ia menyetujui ajakan Cin Hai ini dan keduanya lalu memasuki kota Tiang-an yang berada di dekat Kelenteng Ban-hok-tong itu. Mereka lalu berjalan-jalan di dalam kota itu sampai sore. Dan ketika mereka berjalan sampai di ujung timur, tiba-tiba saja mereka mendengar suara yang lantang dari dalam sebuah rumah. Mendengar suara ini, Cin Hai menyentuh tangan Kwee An dan berbisik,

“Coba, kau dengarkan itu, apakah kau masih mengenalnya?”

Kwee An segera memasang telinga dengan penuh perhatian, dan dari jendela rumah itu terdengar suara yang jelas sekali.

“Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-yaaaa...”

Kwee An hampir tertawa bergelak, tapi cepat-cepat ia menggunakan tangan kanan untuk menutup mulutnya dan menahan ketawanya. “Itulah Kui Sianseng!” katanya.

Cin Hai tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kalau tidak salah tentu dia. Siapa lagi yang dapat mengucapkan ujar-ujar itu demikian bagusnya? Tahukah kau berapa kali dia dulu pernah memukul dan mengetok kepalaku yang dulu gundul?”

Kwee An hampir tertawa keras-keras dan dia lalu membelalakkan mata kepada Cin Hai sambil tersenyum lebar. “Kau juga?”

Cin Hai bertanya heran, “Apa maksudmu?”
“Kau juga menjadi korban kesukaannya memukul kepala murid-muridnya? Ha-ha, jangan kata kau yang dulu memang banyak orang membenci, sedangkan aku sendiri pun entah sudah berapa kali merasakan ketokan di kepalaku.”

Cin Hai benar-benar tak pernah menyangka hal ini dan sedikit kebencian yang berada di hatinya terhadap Kui Sianseng lenyap seketika.

“Kalau begitu, Si Tua itu tentu masih saja mengobral hadiah ketokan kepala itu kepada anak-anak yang sekarang menjadi murid-muridnya. Hayo, kita mengintai dia!”

Bagaikan dua orang anak-anak nakal, Cin Hai dan Kwee An menghampiri rumah kecil itu dengan perlahan dan mengintai dari balik jendela. Benar juga dugaan mereka, di dalam rumah itu Kui Sianseng yang tampak sudah tua sekali dan tubuhnya makin kurus kering, sedang berdiri dengan tangan kanan di belakang punggung dan tangan kiri memegang sebuah kitab yang dikenal baik sekali oleh Cin Hai dan Kwee An, oleh karena kitab yang terbungkus kulit kambing itu adalah kitab yang dulu dipakai untuk mengajar mereka pula.

Di hadapan kakek sastrawan ini duduk di bangku dengan kedua tangan bersilang, tiga orang anak laki-laki yang mengerutkan kening seperti kakek-kakek yang sedang berpikir keras.

“Kalian anak-anak goblok, bodoh dan tolol! Dengarkan sekali lagi! Seng-cia-cu-seng-ya. Ji-to-cu-to-ya! Apakah artinya, siapa tahu?”

Kwee An dan Cin Hai mengintai dan menahan geli hatinya, dan Cin Hai lalu teringat akan segala yang dialaminya di waktu kecil, karena sifat dan sikap Kui Sianseng sama sekali tidak berubah seperti dulu.

Seorang di antara para murid yang jumlahnya tiga orang anak-anak itu bangkit berdiri dan mengacungkan tangan, lalu berkata dengan suara lantang,

“Seng-cia-cu-seng-ya. Ji-to-cu-to-ya, artinya: kesempurnaan hati suci murni harus dicapai sendiri dengan penyempurnaan watak pribadi. Jalan kebenaran yang menjadi sifat setiap orang harus diajukan dalam perbuatan sendiri.”

Kakek kurus kering itu mengangguk-anggukkan kepala bagai burung sedang makan padi. “Bagus, bagus! Begitulah sifat seorang kuncu (budiman) tulen!” ia memuji. “Kok-ji, kitab apa yang mengandung ujar-ujar itu dan fasal ke berapa?”

Anak yang tadi menjawab dengan lagak bagaikan seorang ahli pikir yang sudah seumur kakek-kakek itu, menjawab lantang,

“Terdapat di dalam kitab Tiong-yong, fasal... fasal...,” anak ini tidak mampu melanjutkan jawabannya dan memandang ke kanan kiri dengan bingung.
“Anak bodoh dan tolol!” gurunya memaki.

Cin Hai baru melihat bahwa makian ini agaknya memang telah menjadi kembang bibir Kui Sianseng. Baru saja anak itu dipuji-pujinya, sekarang sudah dimaki tolol. Kemudian Kui Sianseng berkata lagi,
“Dengarlah, ujar-ujar itu terdapat dalam... fasal...” Ia juga lupa dan mencari-cari di dalam kitabnya, membuka-buka buku kitab itu dengan bingung.

Sambil menahan rasa geli yang membuat perutnya kaku, Cin Hai lalu menjawab dari luar, “Dalam fasal dua puluh lima ayat pertama!”

Kui Sianseng terkejut sekali dan menoleh ke arah jendela yang rendah, dan nampak dua sosok bayangan masuk ke dalam kamar. Kedua anak muda itu lalu menjura dan memberi hormat kepada Kui Sianseng. Cin Hai berkata,
“Kui Sianseng, hakseng berdua menghaturkan hormat.”

Kui Sianseng terheran dan ragu-ragu. “Jiwi ini siapakah?”
“Kui Sianseng,” kata Kwee An, “sudah lupakah kepadaku? Aku adalah Kwee An, putera Kwee-ciangkun!”

Kui Sianseng melengak, kemudian setelah teringat, ia lalu tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri. Kelihatan sekali kebanggaannya melihat betapa muridnya kini sudah menjadi dewasa, gagah, dan cakap! Dia lalu memegang lengan Kwee An dan dengan muka yang terang berkata kepada ketiga anak muridnya,

“Nah, kalian lihatlah! Kwee-kongcu ini dulu adalah muridku yang baik dan pandai. Kalau kalian belajar baik-baik dari aku, kelak kau pun akan menjadi seorang berguna seperti dia ini!”

Kemudian dia teringat kepada Cin Hai yang sudah dapat menemukan fasal dalam kitab Tiong Yong, maka dia lalu menjura dengan hormat kepada Cin Hai dan bertanya, “Dan kongcu yang cerdik pandai serta hafal akan fasal dan ayat di dalam kitab Nabi kita ini, siapakah namamu yang mulia?”

Cin Hai menahan geli hatinya, lalu menjawab sambil menjura, “Sianseng, sudah lupakah kepada hakseng yang tolol dan bodoh?”

Selagi Kui Sianseng memandang heran dan mengingat-ingat, Kwee An yang tidak dapat menahan kegembiraan hatinya lalu berkata, “Kui Sianseng, ini adalah Cin Hai, juga salah seorang muridmu yang dulu belajar darimu di Kelenteng Ban-hok-tong!”

Cin Hai tertawa bergelak. “Kui Sianseng, sekarang hakseng tak berani lagi menggunduli kepala, supaya jangan dijadikan sasaran pukulan dan ketokan!”

Merahlah muka Kui Sianseng dan ia merasa betapa ia dulu memang sering kali memukul kepala anak gundul ini. Akan tetapi, sebagaimana sudah lazimnya sifat manusia yang selalu teringat adalah sifai-sifat keburukan orang lain, maka Kui Sianseng lalu memegang tangan Cin Hai dan kini dengan suara sungguh-sungguh berkata kepada para muridnya,

“Lihatlah Kongcu ini, begitu gagah dan tampannya! Ketahuilah, dulu dia ini juga seorang muridku! Aku sayang sekali kepadanya maka tidak heran sekarang dia menjadi seorang pandai dan sekali mendengar saja sudah dapat menjawab pertanyaan tentang fatsal tadi! Kalian tadi mendengar bahwa dahulu aku sering mengetok kepalanya? Nah, jangan dikira bahwa ketokan kepalanya tidak ada gunanya! Tanpa diketok kepalanya, seorang murid tak akan menjadi pandai!”

Hati Cin Hai yang dulu sering kali mengenangkan guru ini dengan benci dan mendongkol, kini menjadi lemah, bahkan dia merasa kasihan sekali melihat betapa pakaian guru ini butut dan tambal-tambalan, tanda bahwa keadaannya miskin sekali, sedangkan tubuhnya makin kurus kering dan lemah bagaikan mayat hidup!

Betapa pun juga, guru-guru yang pandai ujar-ujar akan tetapi tak mampu melaksanakan ini patut dikasihani oleh karena dia adalah seorang jujur dan rela hidup dalam kemiskinan dan masih tekun menurunkan ilmu-ilmu batin yang hanya dikenal di bibir saja itu kepada anak-anak dengan menerima upah kecil! Ia mengerti bahwa segala penderitaan, makian, pukulan yang diterima dari guru ini dalam waktu mengajar, bukan tak ada gunanya! Sakit dan derita merupakan obat pahit yang dapat menguatkan batin dan meneguhkan iman.

Maka teringatlah ia kepada ucapan Bu Pun Su dulu,
“Segala apa di dunia ini mempunyai dua muka yang berlainan dan baik buruknya muka itu terpandang oleh seseorang, hal ini tergantung sepenuhnya pada orang itu sendiri, oleh karenanya banyak pertentangan di dunia ini yang terjadi karena perbedaan pandangan ini!”

Dan ia merasa betapa tepatnya ucapan ini. Dulu ia memandang perbuatan Kui Sianseng kepadanya amat buruk dan kejam sehingga menimbulkan rasa benci dan sakit hati. Akan tetapi sekarang, dia telah mempunyai pandangan lain dan menganggap bahwa perbuatan Kui Sianseng itu sudah menjadi watak guru ini dan bukan timbul karena membencinya, maka dia bahkan menganggap semua siksaan itu besifat baik, sehingga sebaliknya kini menimbulkan rasa terima kasih!

Cin Hai lalu memberi isyarat dengan matanya kepada Kwee An dan ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa potong uang emas yang ada padanya. Ia masukkan uang itu ke dalam saku Kui Sianseng tanpa dilihat oleh guru ini, kemudian setelah mereka berkelebat maka lenyaplah keduanya dari depan Kui Sianseng. Tentu saja hal ini tak terduga sama sekali oleh guru itu, juga oleh anak anak tadi yang menganggap kedua pemuda ini main sulap.

“Hebat, hebat... mereka sudah menjadi orang-orang gagah yang memiliki kepandaian luar biasa,” katanya. Kemudian dia berkata keras-keras agar terdengar oleh murid-muridnya yang kecil-kecil. “Mereka hebat luar biasa dan mereka itu adalah murid-muridku. Kalian bertiga yang bodoh ini jika mau belajar sungguh-sungguh, kelak pun tentu akan menjadi seperti mereka.”

Ketika seorang muridnya menjatuhkan kitab ke atas tanah karena terheran-heran melihat lenyapnya Kwee An dan Cin Hai hingga tanpa disengaja kitab yang dipegangnya jatuh, Kui Sianseng marah sekali dan melangkah maju, siap dengan jari-jarinya untuk mengetuk kepala yang gundul itu. Akan tetapi tiba-tiba bayangan Cin Hai kembali muncul dan guru ini teringat akan kejadian dulu-dulu, maka ia lalu menahan tangannya, dan sebaliknya ia lalu mengetok kepalanya sendiri yang sudah botak.

“Jangan kau lakukan kepada orang lain apa yang kau sendiri tidak mau diperlakukan oleh orang lain kepadamu,” kata-kata Cin Hai yang dulu bergema di dalam telinganya.

Sejak saat itu Kui Sianseng memiliki kebiasaan baru, yaitu setiap kali ia mengetok kepala muridnya, tentu ia juga menambahkan sebuah ketokan kepada kepalanya sendiri…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR BODOH : JILID-12
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger