logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Bodoh Jilid 18


Pertempuran di dalam ruangan itu makin menghebat, dan kini mereka bertempur bukan untuk mengadu kepandaian lagi, akan tetapi mengadu jiwa! Ternyata bahwa sorakan tadi datang dari kawan-kawan Sahimba yang memang sudah direncanakan untuk menyerbu masuk. Jumlah mereka sangat besar sehingga orang-orang kampung pengikut Pangeran Tua yang dikepalai oleh Yousuf langsung terdesak. Para penyerbu itu telah tiba di depan pintu Yousuf dan sebentar lagi mereka menyerbu ke dalam, hendak membantu Sahimba dan kawan-kawannya!

Siok Kwat Mo-li dilawan oleh Ang I Niocu, Lok Kun Tojin dilawan oleh Nelayan Cengeng sedangkan Kanglam Sam-lojin bertempur melawan Ma Hoa dan Kwee An. Kepandaian mereka berimbang dan pertempuran pasti akan berjalan seru dan lama kalau saja pihak Sahimba tidak mempergunakan kecurangan.

Terdengar seruan Siok Kwat Mo-li dan iblis wanita ini lalu menyebar jarum-jarumnya yang berbahaya. Ada pun Wai Sauw Pu kembali mengeluarkan hui-to-hui-to yang tidak kurang berbahayanya pula.

Tidak lama kemudian, selagi Yousuf dan kawan-kawannya terdesak karena pihak lawan menyebar senjata-senjata rahasia yang lihai itu, dari luar masuklah para penyerbu yang ternyata telah berhasil menembus pertahanan para anak buah Yousuf. Pengikut-pengikut Pangeran Muda lebih ganas dan lebih banyak jumlahnya sehingga banyak sekali anggota pengikut Pangeran Tua kena dilukai atau dibinasakan.

Melihat itu, Ibrahim segera berseru nyaring bagaikan seorang berdoa,
“Ampunkan hamba, Tuhan! Bukan maksud hamba ingin mengotorkan tangan membunuh, akan tetapi demi keselamatan semua kawan ini!” ia lalu mengerahkan kesaktiannya dan tiba-tiba dia mementangkan kedua lengannya ke depan dengan mata memandang penuh kekuatan batin.
“Sahimba... serta enam orang kawanmu... dengarlah... aku perintahkan kalian berlutut... berlutut... berlutut...!”

Hal yang aneh terjadi. Sahimba serta kawan-kawannya tiba-tiba merasa kepala mereka pening dan tak dapat menguasai diri sendiri lagi. Akhirnya, seorang demi seorang segera menjatuhkan diri berlutut dan melempar senjata! Hanya Wai Sauw Pu yang juga memiliki ilmu sihir itu masih kuat mempertahankan diri.

“Ha-ha-ha... tua bangka... kau harus mampus...” Dan secepat kilat dia mengayun enam batang hui-to ke arah Ibrahim yang masih berdiri diam dengan tangan terpentang laksana patung.

Enam batang hui-to itu menancap dengan jitu pada sasarannya sehingga tubuh Ibrahim terhuyung-huyung lalu roboh. Wai Sauw Pu tertawa bergelak-gelak, akan tetapi pada saat itu sebatang dayung di tangan Nelayan Cengeng menghantamnya dan biar pun ia masih mencoba mengelak, akan tetapi dayung itu tetap masih menghantam dadanya sehingga beberapa tulang iganya patah-patah dan ia roboh di dekat mayat Ibrahim dalam keadaan tidak bernyawa pula!

Sementara itu, karena tewasnya Ibrahim maka pengaruh sihirnya pun lenyap sehingga Sahimba beserta kawan-kawannya menjadi sadar kembali. Akan tetapi, sebelum mereka sempat mengambil kembali senjata-senjata mereka, Yousuf yang marah sekali telah maju menyerang Sahimba sehingga tembuslah punggung Sahimba oleh pedang Yousuf.

Juga Ang I Niocu dan kawan-kawannya lalu menyerang lawan-lawannya yang sekarang melakukan perlawanan dengan tangan kosong. Akan tetapi, para penyerbu yang terdiri dari anak buah Sahimba, sudah masuk dan mengeroyok, sehingga Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin serta ketiga Kanglam Sam-lojin telah mendapat kesempatan untuk mengambil senjata mereka kembali.

Pertempuran hebat berlangsung terus dan kini Yousuf dan kawan-kawannya mengamuk seperti harimau-harimau berebut daging. Terutama sekali Nelayan Cengeng yang sambil tertawa bergelak dengan mata mengalirkan air mata, memutar-mutar dayungnya secara dahsyat sehingga tidak saja para penyerbu menjadi gentar, akan tetapi juga Siok Kwat Moli dan kawan-kawannya menjadi jeri juga.

Dalam perkelahian itu, Siok Kwat Mo-li mendapatkan luka akibat tusukan pedang Ang I Niocu pada pundaknya, sedangkan sebuah roda milik Lok Kun Tojin sudah terampas oleh bambu runcing Ma Hoa. Oleh karena ini, mereka semakin cemas dan lenyaplah nafsu perlawanan mereka, apa lagi karena kini Sahimba yang mereka bantu telah tewas dan anak buahnya mulai melarikan diri pula.

Dengan teriakan keras, Siok Kwat Mo-li lantas mengajak kawan-kawannya untuk kabur. Yousuf tidak mengejar mereka, bahkan dia mencegah kawan-kawannya yang hendak mengejar,

“Biarlah, sudah terlalu banyak orang binasa dalam perang saudara yang terkutuk ini!”

Yousuf cepat mengumpulkan anak buahnya yang masih ada dan mereka lalu merawat semua orang, baik kawan mau pun lawan yang terluka di dalam pertempuran itu, serta mengurus yang telah tewas.

Ang I Niocu, Nelayan Cengeng, Kwee An dan Ma Hoa tidak mau mengganggu Yousuf yang sedang berduka dan sedang sibuk mengurus semua itu, maka mereka kemudian beristirahat dalam sebuah rumah di dalam kampung itu yang disediakan untuk mereka.

Sesudah mereka berempat ramai membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi serta mengambil keputusan untuk membantu Yousuf selama para pengacau dari Turki masih mengganggunya, tiba-tiba Ma Hoa lalu berkata kepada Kwee An.

“An-ko, mengapa kita lupa untuk memberi selamat kepada Enci Im Giok?” gadis ini bicara sambil tersenyum gembira sehingga Ang I Niocu menjadi terheran. Apa lagi ketika dia melihat Kwee An memandangnya dengan tersenyum pula.

Selagi dia hendak bertanya, tiba-tiba Nelayan Cengeng tertawa girang dan berkata, “Tadi kita tidak ada kesempatan. Sekarang akulah orang pertama yang harus memberi selamat kepadanya!” Kemudian dia menghadapi Ang I Niocu lalu mengangkat kedua lengannya memberi selamat sambil berkata keras-keras,

“Ang I Niocu, kionghi... kionghi… (selamat, selamat)!”

Ucapan ini diturut oleh Kwee An dan Ma Hoa yang juga berdiri memberi selamat.
Ang I Niocu memandang berganti-ganti kepada mereka bertiga lalu katanya gagap,
“Nanti dulu...! Memberi selamat sih mudah, akan tetapi terangkanlah dulu, untuk apakah kalian memberi selamat...?”
“Ha, masih berpura-pura lagi! Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu!” Ma Hoa menggodanya sambil memegang lengan Ang I Niocu. “Enci Im Giok, kau memang tidak ingat kepada kawan. Mengapa urusan itu kau rahasiakan saja?”
“Adik Hoa, kalau kau tidak mau lekas menceritakan padaku apa maksud kalian ini, tentu akan kucubit bibirmu!” kata Ang I Niocu dengan gemas sambil memandang kepada Ma Hoa dengan mata dipelototkan.
“Ha-ha-ha!” Nelayan Cengeng tertawa bergelak. “Urusan pertunangan dan jodoh adalah hal biasa saja, mengapa harus dirahasiakan terhadap kawan-kawan?”
“Pertunangan...? Jodoh... ?” Ang I Niocu memandang heran.
“Enci Im Giok, janganlah kau berpura-pura lagi. Kami tanpa disengaja sudah mengetahui rahasiamu!” kata Ma Hoa, sedangkan Kwee An hanya tersenyum saja karena ia merasa malu dan tidak berani menggoda Ang I Niocu.
“Nanti dulu, Adik Hoa, aku masih belum mengerti. Urusan pertunangan yang manakah kau maksudkan?”
“Aduh, pandainya bermain sandiwara!” Ma Hoa menggunakan telunjuknya yang runcing menuding ke arah muka Ang I Niocu. “Siapa lagi kalau bukan urusan pertunanganmu? Jangan kau menyangkal bahwa kau telah bertunangan, Enci Im Giok! Buktinya nampak di depan mata!”
“Apa buktinya?”

Ma Hoa menuding ke arah pedang yang tergantung di pinggang Dara Baju Merah itu. “Bukankah pedang yang kau pakai itu adalah Cian-hong-kiam pemberian tunanganmu?”

Mulai berdebar dada Ang I Niocu.
“Dari mana kau dapat mengetahui hal ini?” tanyanya.
“Dari siapa lagi kalau bukan dari Lie-taihiap!”

Ang I Niocu bangkit berdiri dari tempat duduknya. “Di... di mana dia...?”
Ma Hoa bertepuk tangan. “Nah, nah... sekarang kau mencari-carinya. Kau mencari dia... siapakah, Enci...?”

Dengan gemas Ang I Niocu mengulurkan tangan hendak mencubit pipi Ma Hoa. “Jangan main-main, Adik Hoa. Benar-benarkah kau bertemu dengan dia?”
“Ehh... dia siapakah...? Jelaskan namanya, ahhh...” Ma Hoa menggoda lagi.

Akan tetapi Kwee An merasa kasihan pada Ang I Niocu maka ia berkata, “Kami memang telah bertemu dengan taihiap Lie Kong Sian.”
“Di mana? Dan bagaimana kalian bisa bertemu dengan dia?” tanya Ang I Niocu dengan heran.
“Sabar, Enci Im Giok. Sabar dan tenang. Kau duduklah baik-baik dan dengarlah ceritaku bagaimana kami bertemu dengan... calon suamimu yang gagah perkasa itu!”

Dengan muka merah karena jengah dan malu, Ang I Niocu yang ‘mati kutunya’ terhadap godaan Ma Hoa itu, lalu duduk dan mendengarkan penuturan Ma Hoa.

Sesudah berpisah dengan Ang I Niocu di dalam hutan, Ma Hoa, Kwee An, serta Nelayan Cengeng lantas melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat. Tujuan mereka adalah Propinsi Kansu dan ibu kotanya, yakni Lan-couw. Mereka bertiga kini lebih bergembira melanjutkan perjalanan, oleh karena kenyataan bahwa Ang I Niocu benar-benar masih hidup membuat mereka merasa gembira sekali, lebih-lebih Ma Hoa yang merasa suka sekali kepada Dara Baju Merah yang lihai itu.

Gadis ini merasa betapa beruntungnya hidup ini. Dia dan kekasihnya selamat, bahkan mendapat guru baru yang lihai, dan kini mendapat kenyataan bahwa Ang I Niocu juga selamat pula. Dan dia merasa yakin bahwa Lin Lin dan Yousuf tentu akan terhindar dari bahaya pula. Alangkah akan senangnya kalau dia dapat bertemu dengan Lin Lin lagi.

Kegembiraannya membuat ia merasa seakan-akan seekor burung yang terbang bebas di udara, sehingga sering kali ia mendahului Kwee An dan Nelayan Cengeng, berlari-lari di depan. Kwee An dan Nelayan Cengeng hanya tertawa saja melihat kegembiraan gadis itu.

Mereka berdua dalam hati serta dengan cara masing-masing mengagumi Ma Hoa dan memandang rambut gadis yang terurai dan berkibar-kibar di belakang leher itu. Kwee An merasa terharu melihat kesetiaan Ma Hoa yang untuk menyenangkan hatinya, benar saja menepati janjinya dan selalu membiarkan rambutnya terurai indah.

Ketika Ma Hoa sedang berlari-lari seorang diri di depan dan Kwee An bersama Nelayan Cengeng berjalan di belakang seenaknya, mendadak gadis itu mendengar teguran suara halus,

“Aduh, alangkah indah dan jelitanya bidadari berambut panjang.”

Ketika dia memandang, dia melihat seorang pemuda yang tampan dan yang berpakaian indah mewah sedang duduk di atas cabang pohon di atasnya sambil memandang dengan kagum dan tersenyum kepadanya.

“Laki-laki ceriwis! Tutup mulutmu yang lancang!” kata Ma Hoa dan ia tidak mau terganggu kegembiraannya, karena di dalam hatinya ia merasa bangga dan girang mendapat pujian itu.

Wanita manakah yang tidak suka menerima pujian tentang kecantikannya, apa lagi kalau yang memuji itu seorang pemuda tampan? Ma Hoa melanjutkan perjalanannya, akan tetapi dia menahan tindakan kakinya karena pemuda, itu berkata lagi sambil tertawa.

“Bidadari manis! Hatimu gembira menerima pujianku, kenapa kau tidak membentangkan sayapmu dan terbang melayang ke sini, duduk di atas cabang yang enak ini di sisiku, menikmati angin yang bersilir di pohon?”

Kini marahlah Ma Hoa. “Bangsat bermulut lancang! Apakah kau sudah ingin mampus?”
“Ehh, ehhh, makin manis saja kalau lagi marah-marah. Jarang aku melihat seorang gadis semanis kau! Tapi sayang sekali rambut itu terlalu liar dan seharusnya diikat dengan pita merah ini!” Sambil berkata demikian, pemuda itu lalu mengeluarkan sehelai pita merah dan sekali dia mengayun tangannya, pita merah itu meluncur ke bawah dan menyambar kepala Ma Hoa!

Ma Hoa mengelak dan miringkan kepalanya. Akan tetapi agaknya pemuda itu memang telah memperhitungkan hal ini, karena itu ia menyambit ke arah belakang kepala, karena ketika Ma Hoa miringkan kepala, rambutnya terbawa angin gerakan ini kemudian terurai di belakangnya sehingga dengan tepat pita merah itu mengenai rambutnya dan secara aneh sekali pita merah itu betul-betul membelit rambutnya, seakan-akan dipasang oleh tangan seorang ahli!

Ma Hoa marah sekali. Ia merenggutkan pita merah itu, membantingnya ke atas tanah dan menginjak-injaknya!

“Bangsat liar! Kau betul-betul sudah bosan hidup!” teriaknya sambil meloloskan sepasang bambu runcingnya dan dengan gerakan kilat ia melompat ke atas sambil menyerang!

Pemuda itu terkejut juga karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis yang digodanya itu pandai ilmu silat yang luar biasa ini. Maka dia lalu menggerakkan tubuh dan mengelak sambil melayang turun, lalu berdiri dan bertolak pinggang.

“Ahh, ahhh, tidak tahunya bidadari rambut panjang ini lihai juga! Mari, kau majulah untuk main-main denganku sebentar!”

Ma Hoa tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi saking marahnya. Dia lalu menyerang dengan gesit dan sengit sehingga pemuda tampan itu terpaksa harus berlaku waspada. Akan tetapi, begitu ia bergerak, Ma Hoa merasa kaget. Sambaran angin yang keluar dari kebutan tangan pemuda itu telah berhasil membuat serangan bambu runcingnya menjadi miring! Alangkah hebatnya tenaga ini. Maka dia lalu menyerang lagi bertubi-tubi dengan ganas dan penasaran.

Pada saat itu, datanglah Kwee An dan Nelayan Cengeng. Melihat betapa Ma Hoa sedang menggunakan sepasang bambu runcing menyerang seorang laki-laki yang hebat sekali gerakannya, mereka lalu berlari cepat menghampiri.

“Tahan...!” kata Nelayan Cengeng hingga Ma Hoa meloncat mundur dengan taat.

Pemuda tampan itu memandang kepada Nelayan Cengeng dan Kwee An, kemudian dia mengernyitkan hidungnya dengan pandang menghina dan bertanya.

“Tuan besarmu sedang main-main dengan gadis cantik, mengapa kalian ini budak-budak hina berani mengganggu?”

Merahlah wajah Kwee An mendengar ini, karena itu dia segera mencabut pedang dan membentak, “Dari mana datangnya bajingan yang kurang ajar?”

Sementara itu, Nelayan Cengeng yang menerima hinaan ini balas mengejek,

“Eh, ehh! Ma Hoa, Kwee An, kalian lihatlah baik-baik. Manusia ini bukan seorang laki-laki asli, juga bukan seorang wanita.”

Kwee An tidak tahu bahwa kakek ini sedang berolok-olok, karena itu dengan heran ia pun bertanya, “Kalau bukan laki-laki juga bukan wanita, habis apa?”
“Banci…! Dia seorang banci...! Ha-ha-ha!” dan Nelayan Cengeng tertawa bergelak-gelak sehingga bercucuranlah air matanya. Juga Ma Hoa dan Kwee An ikut pula tertawa.

Akan tetapi, laki-laki tampan itu dengan masih bertolak pinggang, lalu bertanya, “Kakek gila, dengan alasan apakah kau menyebutku banci?”
“Tidak ada laki-laki yang membedaki mukanya dan tidak ada perempuan yang berlagak seperti ini, akan tetapi kau tidak hanya membedaki mukamu, bahkan kulihat memakai yancu dan pemerah bibir! Ha-ha-ha!”

Memang laki-laki itu pesolek bukan main sehingga mukanya sampai dibedaki dan diberi merah-merah. Akan tetapi ketika mendengar kata-kata ini ia menjadi marah dan berkata,
“Kakek gila, kau belum lagi tahu siapa adanya orang yang kau hina ini, maka kau berani membuka mulut secara sembrono. Ketahuilah, aku Song Kun yang berjuluk Kwie-eng-cu Si Bayangan Iblis, tidak biasa memberi ampun kepada orang yang telah menghinaku!”

Setelah berkata demikian, secara tiba-tiba pemuda itu lalu menggerakkan tangannya dan memukul kepada Nelayan Cengeng. Melihat pukulan ini, terkejutlah Nelayan Cengeng karena pukulan itu luar biasa sekali dan dari tangan yang melakukan pukulan mengepul uap putih! Inilah Pek-in Hoat-sut yang pernah ia mendengarnya dan yang dimiliki oleh Cin Hai!

Dia cepat melompat jauh untuk menghindarkan diri dari serangan itu dan karena maklum bahwa pemuda ini tangguh sekali, sambil melompat dia langsung mengayun dayungnya, memukul dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, pemuda itu memang pantas diberi gelar Si Bayangan Iblis, oleh karena gerakan tubuhnya luar biasa cepatnya dan hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata!

Melihat kelihaian pemuda ini, Kwee An tak mau tinggal diam dan lalu menyerang dengan pedangnya, juga Ma Hoa maju pula mengerjakan sepasang bambu runcingnya.

Pemuda itu memang benar Song Kun adanya, murid dari Han Le Sianjin yang lihai. Inilah sute dari Lie Kong Sian yang menjalani kesesatan dan yang telah bertemu dan bertempur dengan Cin Hai!

Tadinya Song Kun memandang rendah tiga lawannya, akan tetapi sesudah menyaksikan gerakan pedang Kwee An dan gerakan dayung di tangan Nelayan Cengeng, diam-diam ia terperanjat dan mengeluh bahwa ia ternyata telah ‘salah tangan’ dan mencari perkara dengan orang-orang yang berilmu tinggi!

Akan tetapi, ilmu silatnya memang hebat dan sesudah beberapa lama dia menghadapi mereka dengan tangan kosong, akhirnya dia mencabut pedang Ang-ho Sian-kiam yang mengeluarkan cahaya merah berapi-api dan berhawa panas itu!

Nelayan Cengeng terkejut sekali melihat pedang itu dan dia berseru kepada Ma Hoa dan Kwee An, “Hati-hati terhadap pedangnya!”

Song Kun tertawa mengejek dan ia lalu memutar-mutar pedangnya dengan gerakan luar biasa cepat dan hebatnya sehingga sibuklah ketiga orang itu mengeroyok dari kanan kiri! Biar pun tidak berani mengadu pedangnya, namun Kwee An yang mempergunakan ilmu silat yang diwarisinya dari Hek Mo-ko, cukup hebat dan berbahaya.

Sementara itu, Ma Hoa juga merupakan pengeroyok yang berbahaya oleh karena gadis ini selain memiliki Ilmu Silat Bambu Runcing yang aneh, juga tidak takut untuk mengadu senjata, oleh karena bambu lemas kecil itu tidak takut terkena pedang tajam.

Di samping kedua orang anak muda yang tangguh ini, masih ada lagi Nelayan Cengeng yang mempunyai ilmu silat tinggi dan tenaganya luar biasa sehingga Song Kun sendiri merasa ragu-ragu untuk mengadu pedangnya dengan dayung yang besar serta berat itu, takut kalau-kalau pedangnya akan menjadi rusak!

Oleh karena ini, maka pertempuran berjalan seru dan ramai. Akan tetapi mereka lebih banyak bertempur dari jarak jauh dan berlaku amat hati-hati sehingga bisa diduga bahwa pertempuran itu akan berjalan lama sekali.

Song Kun memaklumi hal ini dan karena itu dia lalu mendesak maju. Pada saat dayung Nelayan Cengeng menyambar, dia memapaki dengan pedangnya yang disabetkan dan putuslah ujung dayung itu! Nelayan Cengeng terkejut dan hampir saja dia menjadi korban sabetan pedang pada pinggangnya kalau saja Ma Hoa yang telah menjadi nekat itu tidak melakukan serangan kilat dari belakang, menotok ke arah kedua iga lawan itu!

Song Kun menarik kembali pedangnya dan kalau ia mau, ia akan dapat menjatuhkan Ma Hoa dengan serangan pedang. Akan tetapi Song Kun memang mempunyai kelemahan terhadap wanita cantik. Dia tidak tega melukai Ma Hoa, maka dia hanya menahan kedua bambu runcing itu dengan pedangnya di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya dia ulur ke depan untuk mengusap pipi Ma Hoa!

Gerakannya ini adalah pecahan dari limu Silat Kong-ciak Sin-na, dan kecepatannya luar biasa sehingga colekan itu pun berhasil! Ma Hoa yang merasa betapa pipinya diusap oleh tangan Song Kun, menjerit marah dan menyerang lebih seru!

Namun dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, Song Kun mampu menjaga diri dan kini bahkan melancarkan serangan-serangan yang mematikan ke arah Nelayan Cengeng dan Kwee An! Dia mengambil keputusan untuk membunuh dua orang laki-laki itu untuk dapat melarikan gadis muda berambut panjang ini!

Pada saat itu, terdengarlah bentakan keras.
“Song Kun...! Janganlah kau terjerumus ke jurang makin dalam saja!”

Mendengar suara ini, Song Kun terkejut sekali dan melompat jauh ke belakang.
“Suheng...!” katanya.

Nelayan Cengeng, Kwee An, dan Ma Hoa lalu memandang. Ternyata yang datang adalah seorang lelaki yang berusia tiga puluh lebih, bermuka bundar dan gagah, bersikap tenang dengan kumis kecil menghias di atas bibirnya. Tubuhnya tegap dan bidang, sedangkan sepasang matanya bercahaya tajam dan berpengaruh.

“Song Kun, sesudah berpisah bertahun-tahun, setiap hari aku mengharapkan dan berdoa supaya kau dapat insyaf akan kesesatanmu. Tidak kusangka bahwa kau semakin dalam terjerumus ke dalam jurang kejahatan!” orang itu yang bukan lain adalah Lie Kong Sian adanya, berkata dengan suara mengandung penuh penyesalan.

Song Kun mengeluarkan suara ketawa mengandung ejekan. “Lie Kong Sian! Tadi sempat aku menyebut Suheng kepadamu oleh karena kukira kau hendak berbaik, tidak tahunya datang-datang kau memaki orang! Apakah kau masih merasa penasaran karena dahulu kalah olehku? Jangan kau kira aku takut akan kedatanganmu ini, dan segala perbuatanku adalah aku sendiri yang melakukan dan aku sendiri pula yang menanggung jawabnya! Kau peduli apakah?”
“Dasar batinmu yang amat rendah! Jika begitu, terpaksa sekali lagi aku harus memenuhi perintah mendiang Suhu dan menghajarmu dengan kekerasan.”
“Ha-ha-ha, majulah! Hendak kulihat sampai di mana kemajuanmu!”

Ucapan ini bagi seorang sute terhadap suheng-nya memang amat kurang ajar, maka Lie Kong Sian lantas menerjang sambil mencabut pedangnya. Song Kun mengelak dan balas menyerang dan sebentar saja kedua orang itu bertempur hebat.....
Tingkat pelajaran mereka memang berimbang, dan dulu ketika mereka bertempur, Lie Kong Sian dapat dikalahkan oleh sute-nya yang memang memiliki bakat yang luar biasa sekali. Sekarang, sungguh pun Lie Kong Sian telah melatih diri dengan keras hingga ilmu kepandaiannya sudah meningkat tinggi, akan tetapi di lain pihak Song Kun telah memiliki pedang Ang-ho Sian-kiam yang luar biasa sehingga Lie Kong Sian tidak berani mengadu pedangnya karena takut kalau-kalau pedang pemberian Ang I Niocu itu akan putus.

Karena ini, untuk kedua kalinya dia terdesak hebat oleh serangan adik seperguruannya yang menyerang sambil tertawa mengejek, walau pun diam-diam dia mengakui kelihaian suheng-nya dan maklum bahwa biar pun suheng-nya tidak berani beradu pedang, namun agaknya tidak akan mudah baginya untuk menjatuhkan suheng itu.
Image result for Pendekar Bodoh
Sementara itu, Nelayan Cengeng, Kwee An, dan Ma Hoa menyaksikan pertandingan itu dengan penuh kekaguman. Tadi mereka sudah merasa terkejut, heran dan kagum sekali menyaksikan kepandaian Song Kun yang sanggup mendesak mereka, dan kini mereka melihat seorang pemuda lainnya yang seimbang kepandaiannya dengan pemuda pesolek yang lihai itu. Sesudah Cin Hai dan Bu Pun Su, belum pernah mereka menyaksikan ilmu kepandaian orang-orang muda selihai itu.

Melihat bahwa Lie Kong Sian datang dan membela mereka, maka mereka bertiga tentu saja tak mau tinggal diam dan dengan seruan keras, Nelayan Cengeng lalu mengerjakan dayungnya diikuti oleh Ma Hoa dan Kwee An. Kini Song Kun menjadi sibuk. Karena harus menghadapi keroyokan empat orang yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi itu, tentu saja ia merasa kewalahan sekali. Setelah bertahan sampai puluhan jurus, terpaksa ia lalu melompat jauh dan berkata,

“Lie Kong Sian! Lain kali bila mana kita bertemu berdua saja dan kau tidak mengandalkan keroyokan, tentu aku akan menebas batang lehermu!” Kemudian kepada Ma Hoa dia menyeringai dan berkata. “Sayang, bidadari rambut panjang, kita belum berjodoh!”

Keempat orang itu marah sekali, akan tetapi dengan sekali berkelebat saja Song Kun telah lari jauh dan meninggalkan tempat itu.

“Lihai sekali!” kata Nelayan Cengeng dengan kagum.
“Memang Sute-ku itu lihai sekali dan jahat,” kata Lie Kong Sian menarik napas panjang. “Lo-enghiong, melihat dayungmu yang hebat itu, apa bila tidak salah dugaanku tentu kau adalah Kong Hwat Lojin si Nelayan Cengeng. Betulkah?”

Nelayan Cengeng menjura, kemudian ia menjawab, “Benar, Taihiap. Dari mana kau tahu namaku?”
Lie Kong Sian tersenyum. “Dan kalau tidak salah, Saudara yang gagah ini tentulah Kwee An dan Nona ini Ma Hoa.”

Ketiga orang itu memandangnya dengan heran. “Lie-taihiap, dari mana kau bisa tahu?” tanya Kwee An, sedangkan Ma Hoa tiba-tiba berkata sambil menuding kepada pedang yang dipegang oleh Lie Kong Sian.
“Ehh, bukankah pedang itu pedang milik Ang I Niocu?”

Kini Lie Kong Sian tersenyum dan mengangguk, “Memang ini pedang Kiang Im Giok, dan aku adalah tunangan Ang I Niocu!”

Kemudian Lie Kong Sian yang jujur itu lalu mengaku dan menceritakan pengalamannya betapa dia menolong Ang I Niocu dan akhirnya menjadi calon jodohnya. Lie Kong Sian suka sekali melihat sikap tiga orang yang telah lama dikenal dari penuturan Ang I Niocu itu dan yang dipuji oleh kekasihnya, maka dia kemudian mengaku terus terang mengenai pertunangannya itu dan demikianlah maka mereka tahu akan pertunangan Ang I Niocu dengan Lie Kong Sian yang gagah perkasa. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan terpisah, karena Lie Kong Sian hendak mengejar dan menyusul sute-nya untuk memenuhi syarat Ang I Niocu, yaitu merobohkan sute-nya yang ternyata bukan insyaf, bahkan semakin jahat itu.

Setelah Ma Hoa menceritakan semua pengalamannya kepada Ang I Niocu, tahulah Nona Baju Merah itu bagaimana mereka dapat mengetahui hal pertunangannya hingga mereka tadi menggodanya. Terutama Ma Hoa menggodanya sehingga muka Ang I Niocu menjadi semerah bajunya. Ia tidak dapat marah karena maklum bahwa Ma Hoa menggoda karena rasa girangnya.

“Ma Hoa, sudahlah jangan kau menggodaku lebih lanjut. Kalau menggoda terus, aku tak akan menceritakan kepadamu perihal Lin Lin.”

Ma Hoa memegang lengan tangan Ang I Niocu dan bertanya, “Lin Lin? Apakah kau telah bertemu dengan dia, Cici yang baik? Bagaimana keadaannya? Selamatkah ia dan bagai mana dengan Cin Hai?” Dihujani pertanyaan ini, Ang I Niocu tersenyum dan sengaja berlaku lambat-lambatan sehingga tidak saja Ma Hoa menjadi tidak sabar, bahkan Kwee An dan Nelayan Cengeng juga mendesaknya untuk segera menceritakan hal Lin Lin.

“Maka jangan suka menggoda orang,” kata Ang I Niocu. “Baikiah, aku akan menceritakan pengalamanku.”

Kemudian tiba giliran Ang I Niocu untuk menuturkan semua pengalamannya, betapa dia bertemu dengan Cin Hai dan mendapatkan sepasang pedang Liong-cu-kiam serta harta pusaka di dalam Goa Tung-huang dan pengalaman-pengalaman lainnya. Dan juga dia menceritakan betapa Lin Lin sudah dibawa oleh Bu Pun Su untuk diberi pelajaran silat sebagaimana yang ia dengar dari Cin Hai.

Mendengar penuturan ini, bertitik air mata dari kedua mata Ma Hoa karena terharu dan girangnya. Sekarang harapannya sudah terkabul semua. Seluruh kawan-kawannya telah selamat dan terlepas dari bahaya. Begitu pula Kwee An dan Nelayan Cengeng. Mereka berempat itu sama sekali tidak tahu bahwa telah terjadi peristiwa hebat di Goa Tengkorak yang membuat Lin Lin terluka dan terancam jiwanya!

“Sekarang tugas kita cari-mencari ini telah selesai karena orang-orang yang dicari telah ditemukan,” kata Nelayan Cengeng. “Akan tetapi kita harus melindungi Yo Se Pu dari bahaya dan juga, oleh karena menurut penuturan Ang I Niocu tadi bahwa Cin Hai akan kembali ke sini dan Ang I Niocu sendiri ditugaskan menjaga goa tempat harta pusaka, kita semua lebih baik untuk sementara waktu tinggal di sini, menanti datangnya Cin Hai untuk kemudian bersama-sama kembali ke timur.”

Semua orang menyetujui usul ini dan sesudah Yousuf selesai mengurus semua kawan dan lawan yang terluka dan tewas, dia pun lalu datang dan mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing. Nelayan Cengeng bersama yang lain-lain mencoba sedapat mereka untuk menghibur hati Yousuf yang masih berduka karena kematian gurunya dan banyak kawan-kawannya.

“Sebenarnya, tentang kematian tak perlu kusedihkan benar karena soal itu bukanlah soal yang aneh dan harus disesalkan. Yang sekarang membuat hatiku berduka ialah adanya perpecahan dan permusuhan di antara bangsa sendiri. Baiknya kalian membawa berita bahwa anakku Lin Lin telah diselamatkan dan bahkan kini memperdalam ilmu kepandaian di bawah pimpinan Bu Pun Su, kalau tidak, tentu aku akan semakin gelisah dan cemas saja.”

Demikianlah, mereka berempat lalu tinggal di kampung Yousuf dan kawan-kawannya itu sehingga pengikut Pangeran Muda tidak berani datang untuk bermain gila lagi. Hampir tiga atau empat kali dalam sehari Ang I Niocu menyelidiki keadaan goa itu, menjaga dan memeriksa kalau-kalau ada orang yang mengetahui tempat itu. Kadang-kadang ia pergi seorang diri, tapi tidak jarang ditemani oleh Ma Hoa, bahkan beberapa kali Kwee An dan Nelayan Cengeng juga ikut…..

********************
Sementara itu, Cin Hai dan Lin Lin masih terus melakukan perjalanan menuju ke barat, menyusul Bu Pun Su yang menjadi ‘tawanan’ Wi Wi Toanio beserta kawan-kawannya.

Ternyata bahwa Balaki semenjak dikalahkan oleh Cin Hai, lalu melarikan diri dari Yagali Khan dan kemudian ia bergabung dengan Hai Kong Hosiang dan seorang pendeta Sakya Buddha. Ia maklum akan kelihaian Hai Kong Hosiang maka ia lalu menceritakan tentang harta pusaka di daerah Kansu itu dan mengusulkan untuk pergi mencari bersama.

Hai Kong Hosiang yang cerdik itu telah mendapat tahu tentang riwayat Bu Pun Su ketika mudanya, maka mereka lalu mencari dan menjumpai Wi Wi Toanio yang sudah menjadi janda. Melihat bahwa Wi Wi Toanio ternyata juga lihai sekali ilmu kepandaiannya, maka mereka lalu membujuk nyonya tua itu untuk ikut pula mencari harta pusaka dan kemudian atas rencana dan siasat Hai Kong Hosiang yang licin, mereka berhasil menundukkan Bu Pun Su untuk dipergunakan kepandaiannya mencari harta itu!

Cin Hai tidak berani melakukan perjalanan terlalu cepat sehingga ia dan Lin Lin tidak bisa mengejar rombongan yang menawan Bu Pun Su. Maka beberapa hari kemudian, setelah mereka mendekati batas Propinsi Kansu dan beristirahat dalam sebuah hutan menikmati hawa yang nyaman dan buah-buahan yang lezat, tiba-tiba dari jauh mendatangi seorang laki-laki dan ketika orang itu datang mendekat, Cin Hai merasa terkejut sekali hingga tak terasa lagi ia memegang tangan Lin Lin. Ia mengenal baik muka laki-laki yang datang itu, laki-laki muda pesolek yang tampan.

“Song Kun...,” katanya dengan dada berdebar karena dia maklum bahwa pertemuan ini tentu akan menjadi pertempuran hebat!

Sementara itu, Song Kun sudah melihat mereka pula. Mula-mula wajahnya yang tampan melihat dengan terheran-heran karena dia sendiri tidak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis yang membuatnya tergila-gila itu bersama Cin Hai, pemuda yang sangat dibencinya dan yang hendak dibunuhnya! Ia memandang ke kanan kiri, kuatir kalau-kalau Bu Pun Su supek-nya itu berada pula di situ, akan tetapi ketika melihat bahwa tidak ada orang lain di situ, bibirnya tersenyum girang dan ia segera menghampiri.

“Ha-ha-ha! Pendekar Bodoh, Pendekar Tolol dan goblok! Sute-ku yang baik budi, kekasih Supek Bu Pun Su! Agaknya kau berdua saja dengan bidadari yang telah lama kurindukan ini. Atau, membawa juga anjing penjagamu yang tua itu?”

Cin Hai dapat menduga bahwa yang dimaki ‘anjing penjaga tua’ itu adalah Bu Pun Su suhu-nya, maka bukan kepalang marahnya hingga debar hatinya yang tadi agak kuatir itu lenyap, terganti dengar debar marah.

“Song Kun! Siapakah yang kau maki itu?”
“Siapa lagi kalau bukan Suhu-mu yang tua dan lebih goblok dari padamu itu?”
“Kurang ajar! Kau kira aku takut kepadamu?”
“Cin Hai, kau telah merasakan kelihaianku, apakah kau belum kapok? Dengarlah, bocah sombong. Aku mempunyai hati yang lemah dan suka menaruh kasihan pada anak-anak kecil. Aku masih ingat bahwa kau adalah Sute-ku sendiri, karena itu aku akan memberi ampun padamu. Pergilah kau dengan aman, dan tinggalkan kekasih hatiku ini. Aku akan menjaganya dan mencintanya dengan baik, lebih baik dari pada kalau kau menjaganya. Kelak bila mana kau ingin menikah, katakan saja kepada Seheng-mu ini gadis mana yang kau sukai, tentu aku membantumu sehingga kau berhasil mendapatkannya!” Ucapan ini dikeluarkan dengan muka sungguh-sungguh sehingga Cin Hai hanya dapat memandang dengan melongo dan tak dapat mengeluarkan kata-kata!

Akan tetapi, sementara itu Lin Lin sudah tidak dapat menahan marahnya lagi. Gadis ini mukanya sampai menjadi pucat karena marahnya hingga dia memandang kepada Song Kun seakan-akan ia hendak meremukkan kepala pemuda pesolek itu dengan pandangan matanya kalau mungkin.

“Bangsat rendah, keparat jahanam! Aku bersumpah hendak membunuh kau!” seru Lin Lin sambil melompat dan mencabut pedang Han-le-kiam, terus menyerang dengan hebatnya!

Song Kun mengelak dengan mudah sambil berkata, “Sayang, jangan kau marah-marah, karena dengan setulus hati aku mencintaimu. Salahkah hatiku kalau tertarik dan runtuh melihat kecantikanmu? Lin Lin, ahhh, namamu indah sekali. Janganlah kau menurunkan tangan kejam kepadaku, sayang!”

Bukan main marahnya Lin Lin mendengar kata-kata ini hingga ia menjerit dan menyerang semakin hebat sambil mengucurkan air mata karena marah dan mendongkol tidak dapat membikin mampus orang itu dengan sekali tusuk! Cin Hai merasa khawatir sekali melihat keadaan Lin Lin, karena dia maklum bahwa kemarahan dan perkelahian akan membuat keadaan Lin Lin makin memburuk saja.

“Lin-moi, mundurlah. Tak perlu kau mengotorkan tanganmu dengan bedebah itu. Biarkan aku yang mengadu jiwa dengan bajingan ini!”

Sambil berkata demikian, Cin Hai lalu mencabut sebatang dari pada sepasang pedang Liong-cu-kiam yang panjang lalu melompat dan menyerang dengan hebat! Sementara itu, dengan hati membakar panas Lin Lin terpaksa melompat mundur lantas berdiri dengan mata berapi.

Song Kun kaget melihat bahwa pedang di tangan Cin Hai mengeluarkan sinar gemilang, maka tanpa membuang waktu lagi ia segera mencabut keluar pedang pusakanya Ang-ho Sian-kiam yang mengeluarkan cahaya merah seperti api itu! Ketika Cin Hai menyerang hebat, Song Kun lalu menyabet dengan pedangnya dengan maksud hendak membuat pedang Cin Hai terbabat putus sekaligus!

“Tranggg…!”

Kedua pedang beradu dan berpancaranlah bunga-bunga api yang menyilaukan mata. Cin Hai merasa betapa telapak tangannya tergetar maka menarik pulang pedang cepat-cepat dan memeriksanya. Dia merasa lega karena pedang Liong-cu-kiam tidak menjadi rusak karena peraduan itu.

Sementara itu, Song Kun yang juga merasa tergetar telapak tangannya, merasa kaget sekali karena pedangnya ternyata tak dapat memutuskan pedang Cin Hai. Ia memandang dengan mata terbelalak marah dan kemudian ia menjadi marah sekali.

“Bangsat! Agaknya kau sudah dapat mencuri pedang pusaka! Baik, jangan kira pedang yang baik saja akan dapat melindungi jiwamu! Hari ini tentu kau akan mampus dalam tanganku!”

Sesudah berkata demikian, Song Kun tiba-tiba menggerakkan pedangnya secara hebat dan ganas sekali sehingga lenyaplah bayangan tubuhnya, menjadi satu dengan cahaya pedangnya yang bercahaya merah api bagaikan segulung api yang dahsyat menyambar-nyambar ke arah tubuh Cin Hai dengan gerakan yang cepat dan luar biasa sekali!

Cin Hai maklum bahwa baru kali ini dia menghadapi lawan yang betul-betul tangguh dan yang kepandaiannya tak berada di sebelah tingkat kepandaiannya sendiri! Bahkan dasar pelajaran mereka datang dari satu sumber. Dia kalah pengalaman, kalah lama berlatih dan dalam hal ginkang, mungkin ia masih kalah cepat oleh Song Kun yang benar-benar memiliki kecepatan yang membuat bayangannya tepat disebut Bayangan Iblis itu!

Akan tetapi Cin Hai tidak menjadi gentar. Betapa pun juga, intisari kepandaian silat belum pernah diturunkan kepada siapa juga oleh Bu Pun Su dan kepandaian itu hanya dimiliki oleh Bu Pun Su sendiri, bahkan sute dari Bu Pun Su yaitu Han Le Sianjin yang menjadi guru Song Kun, juga tidak mempunyai pengetahuan ajaib ini. Maka, pengetahuan tentang dasar-dasar dan pokok-pokok pergerakan ilmu silat inilah yang membuat Cin Hai berhati tenang dan tetap, karena pengetahuan ini dapat menutup kekurangan dan kekalahannya dalam hal ginkang dan pengalaman tadi.

Song Kun merasa penasaran dan marah melihat betapa Cin Hai dapat menahan semua penyerangannya, maka sambil berseru gemas ia pun menggerakkan pedangnya laksana halilintar menyambar-nyambar, dan tangan kirinya juga tidak tinggal diam, akan tetapi ikut mengirim serangan-serangan maut dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut dan lain-lain ilmu pukulan yang mengarah jiwa lawannya.

Akan tetapi Cin Hai tetap berlaku tenang dan mengembalikan setiap pukulan lawannya dengan hati-hati. Dia cukup maklum akan berbahayanya Song Kun, dan maklum pula bahwa sekali saja serangan lawan ini mengenai tubuhnya, maka nyawanya berada dalam bahaya besar. Oleh karena itu, ia berlaku hati-hati sekali dan selain mempertahankan diri, ia juga mengirim serangan balasan yang cukup membuat Song Kun berlaku hati-hati.

Demikianlah, kedua orang muda itu saling serang dan saling gempur bagaikan dua ekor naga sakti saling menyerang dengan mati-matian. Tubuh mereka tak tampak lagi, dan hanya cahaya pedang mereka yang saling gulung dan saling desak dengan hebatnya.

Song Kun memang amat lincah dan cepat, akan tetapi menghadapi Cin Hai yang tenang dan kuat serta yang telah tahu akan semua gerakannya, ia merasa tak berdaya, sungguh pun untuk mengalahkan Song Kun, bagi Cin Hai bukanlah merupakan hal yang mudah. Baik Song Kun mau pun Cin Hai merasa betapa baru sekali itulah selama hidup mereka menghadapi lawan yang benar-benar tangguh dan berimbang, baik kepandaian mau pun tenaga.

Lin Lin memandang pertempuran itu dengan hati kagum sekali. Bagi matanya yang telah terlatih dan menjadi tajam sekali penglihatannya, ia masih dapat melihat gerakan-gerakan kedua orang itu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa gerakan Song Kun masih lebih lincah dan cepat, sungguh pun Cin Hai tidak menjadi terdesak karenanya.

Song Kun yang merasa amat penasaran karena setelah bertempur puluhan jurus belum juga dapat mendesak Cin Hai, lalu berseru keras dan tangan kirinya bergerak. Sebuah cahaya merah meluncur dari tangannya itu dan Cin Hai melihat betapa sehelai sabuk merah bergerak bagaikan hidup menyambar ke arah lehernya. Cin Hai cepat mengelak ke kiri, akan tetapi sabuk merah itu dengan lihainya bergerak juga ke kiri seakan-akan bernyawa dan kini mengebut ke arah matanya.

Inilah semacam ilmu kepandaian yang istimewa dari Han Le Sianjin dan sudah diturunkan kepada muridnya itu. Cin Hai belum pernah mempelajari, dan juga karena pergerakan sabuk ini bukan mengandalkan gerakan lengan, akan tetapi mengandalkan pergerakan pergelangan tangan, maka sukar bagi Cin Hai untuk dapat melihat dan mengikuti gerakan lawannya ini.

Setiap pukulan selalu berpusat kepada pundak yang menjadi pangkal lengan. Akan tetapi sabuk ini digerakkan oleh Song Kun dengan cara menggerakkan pergelangan tangannya tanpa mempengaruhi lengan, sehingga kali ini Cin Hai benar-benar tidak dapat menduga lebih dahulu ke mana sabuk lawan itu akan meluncur!

Song Kun maklum pula bahwa Cin Hai tentu sudah mewarisi ilmu kepandaian Bu Pun Su yang sakti, yakni ilmu kepandaian mengenal serta mengetahui segala pokok-pokok dan dasar pergerakan ilmu pukulan, karena itu dia sengaja mengeluarkan sabuknya itu untuk mencapai kemenangan.

Dulu suhu-nya, Han Le Sianjin pernah berkata kepadanya bahwa ilmu kepandaian Bu Pun Su tak ada lawannya di dunia ini oleh karena Bu Pun Su telah memiliki pengetahuan tentang pokok dan dasar ilmu silat, akan tetapi apa bila Bu Pun Su menghadapi senjata yang digerakkan dengan pergelangan tangan seperti senjata sabuk yang lihai itu, tentu Bu Pun Su sendiri tidak akan dapat menduga sebelumnya ke arah mana sabuk itu akan diserangkan!

Cin Hai betul-betul terkejut ketika tahu-tahu sabuk itu telah mengejarnya dan mengancam matanya. Ia tidak mau mengelak lagi, akan tetapi segera mengerjakan Liong-cu-kiam di tangannya untuk membuat putus sabuk yang berbahaya itu. Akan tetapi tiba-tiba saja dia berseru terkejut karena bukan saja pedangnya tidak mampu membabat putus sabuk itu, bahkan sabuk merah itu lalu membelit pedangnya sehingga tak dapat digerakkan lagi!

Lin Lin melihat pula hal ini dengan jelas, maka bukan main kuatir rasa hatinya melihat keselamatan kekasihnya terancam bahaya. Ia menjerit keras dan roboh pingsan! Dalam keadaan seperti itu, Lin Lin lupa akan pantangannya dan menjadi kuatir sehingga racun di dalam tubuhnya menyerang jantung dengah hebat yang membuatnya roboh pingsan.

Sementara itu, ketika sabuk merahnya telah berhasil membelit pedang Cin Hai, Song Kun sambil tertawa mengejek segera menyerang dengan pedang Ang-ho Sian-kiam di tangan kanannya ke arah dada Cin Hai!

Sebetulnya bukan karena pedang Liong-cu-kiam kurang tajam maka tak dapat membabat putus sabuk itu, akan tetapi oleh karena sabuk itu terbuat dari sutera lemas dan sangat ulet hingga tentu saja kalau berada di tangan seorang ahli yang tinggi ilmu lweekang-nya, pedang yang bagaimana tajam pun akan kehilangan dayanya dan takkan bisa membabat putus sabuk itu, biar pun pedang Liong-cu-kiam itu akan membabat putus segala macam senjata besi atau baja.

Biar pun berada dalam keadaan yang amat berbahaya, namun murid Bu Pun Su ini tidak menjadi bingung atau gentar. Secepat kilat dia mencabut pedang Liong-cu-kiam pendek yang masih terselip di punggungnya dan dengan pedang ini di tangan kiri dia menangkis tusukan pedang Song Kun pada dadanya, kemudian dia menggunakan pantulan pedang untuk membabat sabuk yang masih melibat pedang di tangan kanan.

Sekali sabet saja, sabuk itu terputus menjadi dua potong! Ini dapat terjadi oleh karena setelah melibat pedang maka sabuk itu menjadi tertarik dan tertahan oleh pedang yang dilibatnya dan tangan Song Kun yang memegangnya, maka dalam keadaan merentang ini tentu saja dengan mudah sabuk itu dapat dibabat putus!

Song Kun terkejut sekali, akan tetapi, pada saat itu terdengar jeritan Lin Lin yang roboh pingsan. Cin Hai cepat melompat dan setelah melihat kekasihnya roboh pingsan, ia lalu menyimpan pedangnya dan menubruk kekasihnya itu dengan bingung dan cemas.

“Lin Lin... Lin-moi... ahhh, mengapa kau berkuatir...?”

Melihat betapa Cin Hai dengan wajah pucat memeluk Lin Lin dan melihat pula muka gadis itu yang menjadi pucat bagaikan mayat, Song Kun merasa heran dan juga kaget. Ia tadi merasa terkejut sekali melihat betapa dalam keadaan sesulit itu Cin Hai masih dapat menyelamatkan diri bahkan berhasil pula membabat putus pedangnya, maka diam-diam ia merasa amat kagum dan juga sedikit jeri. Kini melihat Lin Lin roboh pingsan bagaikan telah mati, ia merasa kasihan dan berkuatir. Memang di dalam hatinya, ia amat mencinta gadis itu.

“Dia kenapakah...?” tanyanya terheran.
Tanpa menengok, Cin Hai lalu menjawab, “Dia telah terkena racun jahat dari Hai Kong Hosiang, dan dalam seratus hari dia akan mati.”
“Apa...?! Dia tidak boleh mati. Apakah tidak ada obatnya?” tanya Song Kun dengan hati berdebar cemas.

Cin Hai mengangguk. “Hanya ada satu macam obat dan obat itu berada di tangan Hai Kong Hosiang. Untuk itulah maka kami berdua menuju ke barat.”
“Racun apakah itu?”
“Racun Ular Hijau yang jahat dari yang hanya terdapat di daerah Mongol, maka obatnya pun harus dari sana.”
“Tidak, dia tidak boleh mati! Dia harus menjadi isteriku, karenanya dia tidak boleh mati! Cin Hai, biar aku titipkan dulu dia kepadamu dan karena itulah maka kau tidak kubunuh sekarang dan kuberi ampun. Aku hendak mencari obat untuknya dan setelah dapat, aku akan datang menjemput calon isteriku ini!”

Song Kun lalu menyimpan pedangnya dan melompat pergi lalu lari cepat sekali. Cin Hai tidak mempedulikannya, bahkan menengoknya pun tidak oleh karena dia merasa gelisah sekali melihat betapa wajah Lin Lin menjadi agak kebiru-biruan.

Akan tetapi ternyata bahwa serangan racun itu hanya berlangsung sebentar saja dan tak lama kemudian Lin Lin telah siuman kembali. Cahaya merah kembali ke mukanya dan ia membuka matanya. Ketika dia melihat bahwa dia berada dalam pelukan Cin Hai, dia lalu merangkul leher pemuda itu dan terisak menangis.

“Lin-moi, mengapa kau melanggar pantanganmu?”
“Hai-ko, aku tidak ingat akan hal itu, tadi aku terlalu kuatir melihat kau terancam bahaya sehingga aku terlupa bahwa aku tidak boleh berkuatir.”

Cin Hai tersenyum. “Jangan kuatir, Moi-moi. Walau pun harus kuakui bahwa Song Kun memang lihai, akan tetapi aku takkan kalah terhadapnya. Lihat sajalah kalau lain kali dia berani mengganggu kita lagi, akan kuhabiskan nyawanya!”
“Dia di mana, Koko?”

Cin Hai hendak menceritakan apa yang telah terjadi, akan tetapi ia takut kalau-kalau Lin Lin akan merasa berkuatir mendengar betapa pemuda pesolek itu hendak mencari obat baginya dan hendak kembali menjemputnya kelak! Maka dia lalu menjawab, “Setelah aku berhasil membabat putus sabuk merahnya, agaknya dia menjadi jeri dan lalu melarikan diri.”

Lin Lin menarik napas lega dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa…..
********************
Pada suatu hari, seperti biasa, Ang I Niocu berjalan-jalan di depan goa-goa Tung-huang untuk memeriksa keadaan goa tempat harta pusaka itu tersembunyi, dan sekali ini dia dikawani oleh Ma Hoa.

Tiba-tiba dia merasa terkejut sekali ketika melihat beberapa orang Mongol berkerumun di depan goa itu! Dia pun berseru,
“Ma Hoa, celaka, agaknya mereka telah menemukan tempat itu.”

Maka berlari-larilah Ang I Niocu dan Ma Hoa ke tempat itu dan ketika mereka tiba di situ, ternyata bahwa orang-orang itu dipimpin oleh Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, Bo Lang Hwesio, dan lain-lain perwira Mongol!

Melihat pihak lawan yang berat dan cukup banyak ini, Ang I Niocu tidak ingin berlaku sembrono, karena ia menduga bahwa biar pun goa itu telah mereka temukan, akan tetapi belum tentu mereka dapat mencari tahu tentang rahasia untuk membuka lubang tempat penyimpanan harta pusaka. Ia lalu menarik tangan Ma Hoa dan diajaknya bersembunyi di balik sebuah gunung karang yang kecil dan mengintai dari situ.

Tidak lama kemudian, dari jurusan lain datanglah serombongan orang yang bukan lain adalah rombongan perwira kerajaan yang dipimpin oleh Kam Hong Sin! Selain panglima yang lihai ini, tampak juga Ceng Tek Hosiang, Ceng To Tosu dan banyak perwira-perwira tinggi lainnya yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang.

Pihak Mongol yang melihat kedatangan para perwira kerajaan itu, segera maju menyerbu sehingga terjadilah pertempuran hebat di depan goa rahasia itu. Ang I Niocu dan Ma Hoa memandang dengan penuh kekuatiran sebab dengan adanya dua fihak yang sama-sama menghendaki harta pusaka itu, maka keadaan lawan makin bertambah berat saja.

“Biar...” bisik Ang I Niocu sambil menggenggam tangan Ma Hoa, “biarkan mereka saling gempur hingga binasa seluruhnya!”

Pertempuran berjalan ramai sekali, karena kedua fihak sama kuat. Kam Hong Sin yang tangguh itu mendapat lawan berat, yaitu Thai Kek Losu, sedangkan Ceng To Tosu harus melawan Sian Kek Losu, dan Ceng Tek Hwesio melawan Bo Lang Hwesio!

Sesungguhnya, di antara ketiga pasangan ini, fihak Mongol lebih kuat, akan tetapi oleh karena pada fihak tentara kerajaan masih terdapat beberapa orang perwira yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mengeroyoknya, maka keadaan mereka menjadi seimbang.

Pada saat Ang I Niocu dan Ma Hoa sedang menonton dengan hati tegang, tiba-tiba saja datang rombongan lain dan ketika mereka memandang, mereka menjadi gembira sekali, karena di dalam rombongan orang itu terdapat Bu Pun Su!

Akan tetapi, kegembiraan mereka segera berubah menjadi keheranan dan kekhawatiran karena ternyata bahwa yang datang bersama Bu Pun Su adalah seorang nenek yang bertelanjang kaki, seorang pendeta Mongol, seorang perwira Mongol, dan juga Hai Kong Hosiang! Melihat Hai Kong Hosiang yang jahat dan yang sangat mereka benci ini berjalan bersama Bu Pun Su, sungguh membuat kedua orang gadis itu berdiri bengong saking herannya!

Melihat pertempuran hebat itu, Bu Pun Su lalu menghampiri mereka dan berseru keras, “Tahan pertempuran ini!”

Suaranya amat nyaring dan berpengaruh hingga Ang I Niocu dan Ma Hoa sendiri yang berdiri di tempat agak jauh juga terkena getaran suara dan terpengaruh oleh gema suara itu. Apa lagi mereka yang sedang bertempur, mendengar suara ini mereka tak terasa lagi segera melompat mundur sambil menahan senjata masing-masing. Mereka memandang kepada kakek itu dengan terheran-heran.

Thai Kek Losu beserta kawan-kawannya yang melihat Balaki datang bersama kakek itu menjadi terkejut, akan tetapi sebelum mereka bertanya, Bu Pun Su telah mendahuluinya dengan ucapan yang halus,

“Kalian ini bertempur bukankah memperebutkan harta pusaka yang tersimpan di dalam goa ini? Bodoh amat! Untuk apa bertempur mengadu jiwa hanya untuk setumpuk harta yang tidak berharga dan yang hanya mendatangkan kekacauan belaka?”

Biar pun sikap Bu Pun Su lemah lembut dan kelihatannya seperti seorang lemah, namun menyaksikan pengaruh yang keluar dari bentakannya tadi, baik pihak Mongol mau pun pihak perwira kerajaan dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang berilmu tinggi.

“Kami yang lebih dahulu mendapatkan tempat ini, akan tetapi perwira-perwira kerajaan hendak merampasnya dari kami!” kata Thai Kek Losu sebagai pembelaan diri.
“Tempat ini termasuk wilayah kerajaan, tidak boleh orang lain memiliki harta pusaka itu selain Kaisar!” kata Kam Hong Sin dengan suara garang.

Bu Pun Su tersenyum kemudian menjawab, “Semua salah! Yang mendapatkan tempat ini bukan orang-orang Mongol dan yang berhak memiliki harta ini bukanlah Kaisar, karena harta ini berasal dari milik rakyat yang dulu dirampok! Dari pada bersitegang dan mencari kebenaran sendiri dengan berperang dan mengorbankan nyawa secara sia-sia, lebih baik diatur begini saja. Kita mengajukan jago-jago untuk mengadu kepandaian dan siapa yang paling pandai, dialah yang berhak memiliki tempat ini!”

“Boleh, bolehl” kata Thai Kek Losu yang merasa bahwa pihaknya lebih banyak memiliki orang-orang lihai. “Kita majukan tiga orang jago masing-masing, dan dari pihak kami, aku majukan tiga orang, yaitu aku sendiri, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio.”

Sambil berkata demikian, Thai Kek Losu menunjuk kepada Sian Kek Losu dan kepada Bo Lang Hwesio, akan tetapi ia merasa heran sekali melihat betapa Bo Lang Hwesio sedang memandang kepada Bu Pun Su dengan wajah pucat!

“Dia... dia adalah Bu Pun Su yang lihai...!” kata Bo Lang Hwesio dengan berbisik hingga Thai Kek Losu yang pernah mendengar nama ini pun menjadi gentar sekali.
“Kam Hong Sin, kau boleh majukan tiga orang jago-jagomu!” Thai Kek Losu menantang kepada perwira itu, akan tetapi Kam Hong Sin membentak marah.
“Aku tidak mau mentaati perintah siapa juga selain perintah dari Kaisar! Betapa pun juga, tak boleh orang-orang menggunakan aturan sendiri seakan-akan di negara ini tidak ada pemerintah!”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan Hai Kong Hosiang maju ke depan. “Tidak menurut pun tak apa! Pendeknya masing-masing fihak harus mengajukan paling banyak tiga orang jagonya. Fihakku hanya cukup mengajukan seorang jago saja! Ha-ha-ha! Yang tidak merasa gembira untuk ikut dalam pertandingan ini boleh cepat mundur dan jangan mengganggu orang lain!”

Dengan tangannya Thai Kek Losu memberi isyarat kepada Balaki dan memanggil perwira Mongol itu agar datang mendekat. Akan tetapi Balaki hanya tertawa mengejek saja tanpa mempedulikannya.

“Balaki, kau tidak menurut perintahku'?” teriak Thai Kek Losu dengan marah dan heran.

Balaki tertawa. “Siapa yang sudi menurut perintahmu? Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi denganmu!”

Thai Kek Losu dan kawan-kawannya tercengang mendengar ini. “Balaki, kau hendak menjadi pemberontak?”
“Tutup mulutmu!” bentak Hai Kong Hosiang dengan marah.

Pada saat itu, kembali muncul serombongan orang dan ternyata yang kini muncul adalah rombongan orang-orang Turki pengikut Pangeran Muda dengan dipimpin oleh Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan ketiga saudara Kanglam Sam-lojin, diikuti pula oleh beberapa orang perwira lain.

Ternyata bahwa Siok Kwat Mo-li beserta kawan-kawannya masih merasa penasaran dan melanjutkan usaha mereka mencari harta pusaka itu dengan mengerahkan orang-orang Turki dan membohongi mereka dengan janji bahwa setelah harta pusaka bisa diperoleh, harta pusaka itu akan diberikan kepada mereka dan dibagi-bagi. Padahal dalam hatinya, Siok Kwat Mo-li dan juga kawan-kawannya itu sama sekali tidak mempunyai niat untuk membagi harta pusaka itu kepada orang-orang Turki.

Melihat kedatangan mereka, Hai Kong Hosiang berkata sambil tertawa,
“Nah, sekarang lebih ramai lagi! Siok Kwat Mo-li, kau datang bersama orang-orang Turki ini hendak melakukan apakah?”

“Suheng, aku bersama Lok Kun Tojin, juga kawan Wai Sauw Pu tadinya sengaja datang memenuhi undanganmu hendak membantu, akan tetapi karena kami tidak dapat bertemu dengan kau, maka terpaksa kami mengambil jalan kami sendiri, dan dalam usaha kami itu ternyata bahwa kawan Wai Sauw Pu telah terbinasa dalam tangan pengikut Pangeran Tua dari Turki dan kawan-kawannya.”

“Dan sekarang, kau membawa orang-orang Turki ini dengan maksud apakah? Apa kalian juga hendak mencari harta pusaka itu? Kalau memang demikian kehendakmu, lebih baik kau pulang saja dan bawa kawan-kawanmu itu pergi dari sini, karena harta itu adalah bagianku dan kawan-kawanku, dan kau tidak boleh mengganggu!”

Mendengar ucapan suheng-nya itu, Siok Kwat Mo-li merasa penasaran sekali sebab dulu suheng-nya minta pertolongan dan bantuannya untuk menghadapi lawan-lawannya dan juga untuk mencari harta pusaka itu dengan janji hendak dibagi-bagi, akan tetapi tidak tahunya sekarang suheng-nya itu telah memilih kawan-kawan lain.

Akan tetapi, oleh karena maklum akan kelihaian Hai Kong Hosiang, ia diam saja dan tidak berani membantah. Hanya Lok Kun Tojin yang merasa penasaran dan tentu saja ia tidak mau menerima dengan demikian saja. Ia segera melompat maju menghadapi Hai Kong Hosiang dan membentak keras,

“Hai Kong! Mengingat akan persahabatan di kalangan kang-ouw aku sudah turut turun gunung dengan Sumoi-mu ini karena hendak membantumu untuk sama-sama mencari pusaka berharga. Akan tetapi sekarang kedatangan kami ini tidak kau hargai, bahkan kau hendak mengusir kami. Kau anggap kami ini orang macam apakah? Apakah tanpa kau kami tak dapat mencari sendiri dengan menggunakan kepandaian kami?”

“Ha-ha-ha! Lok Kun Tojin, jangan kau menyombong di hadapanku! Apa bila kau hendak mencari harta pusaka itu, siapakah yang sudi melarangmu? Bahkan kuanjurkan supaya kalian turut pula dalam pertandingan memperebutkan harta itu. Lihatlah, kini semua telah berkumpul dan kita semua telah bermufakat untuk mengajukan masing-masing tiga orang jago. Pihak Mongol telah mengajukan jago-jago mereka, yaitu Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio. Fihak kami mengajukan seorang jago, yaitu kakek jembel ini!” Ia menuding ke arah Bu Pun Su yang berdiri sambil menundukkan kepala. “Akan tetapi sayangnya di fihak perwira kerajaan agaknya tidak berani mengajukan jago-jago mereka. Ha-ha-ha!”

“Hai Kong, jangan kau sombong!“ Kam Hong Sin berteriak dengan muka merah karena marahnya. “Hendak kulihat kalian ini pemberontak-pemberontak rendah hendak berbuat kurang ajar sampai seberapa jauh. Aku tidak sudi mengadakan segala macam perjanjian dengan kalian, dan hendak kulihat siapa yang akan berkeras mengambil harta pusaka itu, pasti akan kuhadapi dengan taruhan jiwaku sebagai seorang petugas setia dari Kaisar!”

Hai Kong Hosiang tertawa bergelak dan berkata, “Kam Hong Sin, baru menjadi panglima besar Kaisar saja kau telah berkepala batu! Kalau saja aku tidak teringat bahwa semua orang telah menyetujui untuk mengajukan jago-jago masing-masing, tentu akan kuhadapi sendiri orang macam kau! Akan tetapi biarlah aku bersabar dulu, dan kalau tidak mau ikut dalam pertandingan ini, biarlah kau menjadi penonton dan boleh kami anggap sebagai saksi! Ha-ha-ha!”

Sementara itu, Lok Kun Tojin dan Siok Kwat Mo-li berbisik-bisik sedang mengadakan perundingan, akhirnya Lok Kun Tojin barkata, “Baik, kami ikut dalam pertandingan ini dan kami mengajukan tiga jago kami, yaitu Siok Kwat Mo-li, aku sendiri, dan Sahali.” Sambil berkata demikian dia menunjuk ke arah Siok Kwat Mo-li dan seorang Perwira Turki yang bertubuh pendek kecil dan berkulit hitam.

“Bagus, bagus! Sekarang akan menjadi ramai!” kata Hai Kong Hosiang sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu Bu Pun Su berpikir bahwa gara-gara Hai Kong Hosiang, maka bila mana dilanjutkan, tentu akan terjadi pertandingan hebat dan hal ini tidak dia kehendaki, oleh karena tentu akan banyak terjatuh korban yang terluka hebat atau bahkan binasa. Maka dia segera berkata kepada semua orang dengan suara sembarangan,

“Aku tua bangka jembel hendak bicara dan kalian semua jika akan menganggap bicaraku sebagai suatu kesombongan, apa boleh buat. Dengarkan baik-baik. Untuk menyingkat waktu, kupersilakan semua fihak maju seorang demi seorang dan menghadapi aku orang tua. Kalau saja aku sampai dirobohkan, terluka mau pun binasa, maka kuanggap bahwa pihakku kalah, dan tidak berhak lagi untuk mendapatkan harta benda itu!”

Tentu saja ucapan ini dianggap sombong sekali sehingga semua mata memandangnya dengan penasaran dan marah, kecuali Bo Lang Hwesio yang sudah cukup maklum akan kelihaian Bu Pun Su.

“Kakek tua! Alangkah sombongmu! Kau seorang diri hendak menghadapi jago-jago dari Mongol dan Turki sebanyak enam orang. Meski pun kau tangguh dan lihai, patutkah bagi seorang yang berkepandalan tinggi untuk bersikap sesombong ini?”

Juga Siok Kwat Mo-li yang marah sekali membentak, “Kakek yang mau mampus! Belum pernah selama hidupku mendengar bual seorang sesombong kau! Kau tidak memandang mata kepada kami sekalian!”

Memang, menurut kebiasaan di kalangan kang-ouw, orang-orang yang kepandaiannya sudah tinggi biasanya merendahkan diri, oleh karena mereka selalu berhati-hati menjaga kalau-kalau akhirnya dia kena dijatuhkan orang lain sehingga kesombongannya itu hanya akan menjatuhkan namanya belaka. Makin tinggi kepandaian seseorang, makin pendiam maka makin merendahlah dia.

Karena ini, ucapan Pun Su tadi tentu saja dianggap keterlaluan sekali sehingga membuat mereka merasa penasaran dan marah. Akan tetapi mereka belum mengenal adat Bu Pun Su yang kukoai (ganjil), atau yang sudah pernah mengenalnya juga tak mengetahui betul adatnya itu.

Bu Pun Su tidak biasa menyombongkan kepandaiannya. Baru nama yang dipilihnya saja, yaitu Bu Pun Su yang berarti Tiada Berkepandaian, sudah menunjukkan bahwa dia tidak suka akan segala macam nama kosong belaka. Kalau kali ini ia mengucapkan tantangan yang bersifat sombong, bukanlah semata timbul dari watak sombong, akan tetapi karena ia mengandung semacam maksud, yaitu ingin mencegah terjadinya pertumpahan darah hanya karena memperebutkan harta pusaka belaka!

Melihat kemarahan orang-orang itu, diam-diam Bu Pun Su menjadi gembira sekali karena bahwa maksudnya berhasil baik, maka untuk menambah ‘minyak’ supaya api yang mulai membakar hati mereka itu menjadi makin berkobar dan agar persoalan itu cepat selesai, maka dia lalu menambahkan ucapannya tadi sambil tersenyum,

“Kalau kalian menganggap aku sombong, biarlah, kuakui bahwa aku memang sombong. Kesombonganku barusan itu masih belum seberapa hebat apa bila dibandingkan dengan usulku yang berikut ini. Oleh karena dari pihak kami hanya maju seorang jago dan dari pihak Mongol mau pun pihak Turki diajukan tiga orang jago, maka aku menantang kalian untuk maju berbareng, yaitu tiga orang sekaligus!”

Benar saja, ucapan ini membuat semua orang menjadi bengong sehingga untuk sejenak mereka tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya Thai Kei Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio maju berbareng dengan marah dan mereka ini memandang kepada Bu Pun Su dengan muka merah.

“Bu Pun Su! Aku mendengar namamu dari Bo Lang Hwesio dan sudah sejak lama aku mendengar bahwa Bu Pun Su adalah seorang berilmu tinggi yang sakti dan yang patut disebut Lo-cianpwe (Orang Tua Gagah). Akan tetapi, tidak tahunya Bu Pun Su hanyalah seorang tua bangka yang sudah pikun dan yang telah menjadi gila dan sombong sekali! Baiklah, kau sendiri yang menantang untuk dikeroyok tiga, dan kalau kau tewas di tangan kami, janganlah merasa penasaran karena kau sendiri yang minta mati!”

Dimaki sehebat itu, Bu Pun Su hanya memandang dengan senyum simpul dan dia lalu menjawab,
“Baiklah, Robot. Kalau sampai aku Si Tua Bangka ini terbunuh mati di tangan kalian, tak usah kalian memasang meja sembahyang!”

Thai Kek Losu marah sekali dan sekali tangannya bergerak, maka ia telah mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu tengkorak anak-anak yang dipasang tali. Tengkorak itu diputar-putar sehingga dalam pandangan banyak orang seperti kepala seorang anak kecil yang meringis dan suara angin yang masuk dan keluar dari lubang-lubang tengkorak itu terdengar bagaikan suara tangis. Semua orang langsung bergidik dan merasa ngeri melihat kehebatan senjata ini, akan tetapi Bu Pun Su tersenyum dan berkata,

“Losu, mengapa bukan kepalamu sendiri yang kau ikat itu?”

Sementara itu, Sian Kek Losu juga mengeluarkan senjatanya yang tidak kalah lihainya, yaitu sebuah gendewa bertali, senjata yang jarang sekali dapat dimainkan oleh ahli silat, oleh karena memang amat sukar untuk mainkan senjata ini. Akan tetapi apa bila orang sudah dapat memainkan, senjata itu merupakan senjata yang amat sukar dilawan karena lihainya.

Juga Bo Lang Hwesio ikut menarik keluar senjatanya, yaitu sepasang poan-koan-pit yang berbentuk pensil bulu kecil saja, namun sepasang senjata ini merupakan penyambung tangan untuk melakukan serangan tiam-hoat (ilmu menotok jalan darah) kepada lawan dan kelihatan sepasang poan-koan-pit ini memang sudah amat ditakuti orang.

Memang biasanya Bo Lang Hwesio jarang mempergunakan senjata dalam perkelahian, cukup dengan sepasang tangannya ditambah ujung lengan bajunya saja, karena dengan ilmu pukulan tangan kosong saja memang sudah sangat sukar mengalahkan dia. Akan tetapi sekarang ia maklum bahwa biar pun mengeroyok tiga, ia menghadapi seorang sakti yang tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi, maka ia pun sengaja mengeluarkan senjatanya itu.

“Sudah siap?” tanya Bu Pun Su dengan tenang. “Nah, mari kita mulai!”
“Keluarkan senjatamu!” bentak Thai Kek Losu yang sebagai orang berilmu tinggi merasa segan untuk menyerang seorang yang bertangan kosong.
“Eh, Thai Kek Losu, bukalah matamu baik-baik. Bukankah aku sudah siap dengan empat buah senjataku ini?” sambil berkata demikian dia menggerak-gerakkan kedua tangan dan dua kakinya. “Thian telah memberi senjata-senjata yang tiada bandingannya di dunia ini kepada kita, akan tetapi kalian masih saja menanyakan senjata, bukankah itu kurang berterima kasih kepada Thian namanya?”

Bukan main mendongkolnya hati Thai Kek Losu mendengar ini. Ia anggap kakek jembel ini menghina sekali.

“Kau mencari mampus sendiri!” teriaknya dan tengkorak kecil di tangannya itu tiba-tiba menyambar ke arah muka Bu Pun Su dengan cepatnya.

Akan tetapi baru saja tengkorak itu bergerak, tubuh Bu Pun Su sudah menyingkir terlebih dulu sehingga serangannya mengenai angin saja. Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio juga maju menyerbu dan sebentar saja Bu Pun Su dihujani serangan-serangan kilat yang amat berbahaya dari tiga orang ahli dan tokoh besar itu.....

Bu Pun Su maklum bahwa ketiga orang lawannya ini merupakan orang-orang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya dan tidak boleh dilawan dengan sembrono, maka dia segera mengerahkan ilmu kepandaiannya yang luar biasa dan menghadapi mereka dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang dimainkan secara luar biasa sekali.

Kalau Cin Hai yang mainkan ilmu silat ini, maka hanya pada dua lengan tangannya saja yang mengebulkan uap putih. Akan tetapi ketika Bu Pun Su yang mengerahkan tenaga dalamnya mainkan ilmu silat itu, tidak hanya kedua lengannya bahkan seluruh tubuhnya mengebulkan uap putih yang melindungi tubuhnya sehingga setiap kali ada senjata lawan mendekati tubuhnya dalam serangan yang dilakukan oleh lawan itu, maka senjatanya itu seakan-akan tertahan oleh semacam tenaga yang luar biasa kuatnya!

Ketiga orang pengeroyok itu menjadi terkejut dan kagum sekali oleh karena selama hidup belum pernah mereka menghadapi seorang lawan yang demikian tangguh, yang dengan bertangan kosong sanggup menghadapi mereka bertiga dan kini ternyata dapat melawan senjata-senjata mereka dengan baiknya. Jangankan menghadapi, bahkan menyaksikan kepandaian yang seperti ini pun baru sekali ini mereka alami.

Akan tetapi, sebagai tokoh-tokoh besar yang berilmu tinggi, mereka merasa malu apa bila memperlihatkan rasa ketakutan, maka mereka memperhebat serangan dan mengerahkan seluruh kepandaian. Tenaga lweekang mereka juga sudah sampai di tingkat yang tinggi, karena itu biar pun beberapa kali senjata mereka kena terbentur dan terpental oleh hawa yang keluar dari gerakan kedua tangan Bu Pun Su, akan tetapi ada beberapa kali pula senjata mereka berhasil memecahkan pertahanan itu dan hanya berkat kelincahan serta ginkang-nya yang luar biasa saja maka Bu Pun Su dapat terhindar dari bahaya maut!

Kalau dia menghendaki, dengan sekali pukulan tangannya yang ampuh, Bu Pun Su akan sanggup menghancurkan tengkorak itu. Akan tetapi oleh karena kakek yang telah banyak pengalaman ini tahu pula bahwa di dalam tengkorak itu tersimpan senjata-senjata rahasia yang mengandung racun berbahaya sehingga kalau tengkorak terpecah, biar pun ia tidak kuatir akan keselamatan dirinya sendiri, akan tetapi takut kalau-kalau senjata rahasia itu akan menewaskan orang-orang lain di sekitar tempat itu, karena itu maka dia tidak berani memukulnya.

Keraguan ini membuat Thai Kek Losu mendapat hati, bahkan menyangka bahwa kakek jembel itu benar-benar merasa gentar terhadap senjatanya. Karena itu ia memutar-mutar senjata lihai itu makin cepat mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Bu Pun Su!

Ada pun senjata gendewa di tangan Sian Kek Losu menyambar-nyambar dari atas bagai seekor burung garuda yang menyerang kepala dan tubuh bagian atas. Gendewa itu berat dan menyambar dengan dorongan tenaga yang bukan main besarnya sehingga biar pun Bu Pun Su sudah sangat lihai, akan tetapi sekali saja terkena pukulan gendewa itu pada kepalanya, tentu ia akan mengalami celaka!

Bo Lang Hwesio juga tidak kurang berbahaya. Sepasang poan-koan-pit pada tangannya adalah senjata kecil yang dapat digerakkan cepat sekali mengarah jalan-jalan darah yang paling berbahaya dari tubuh kakek jembel itu.

Melihat kelihaian tiga orang lawannya, Bu Pun Su mengambil keputusan untuk bertindak cepat dan menyingkirkan lawan-lawan ini agar dia tidak membuang waktu terlalu banyak. Tiba-tiba saja dia berseru keras hingga ketiga orang lawannya itu menjadi terkejut karena jantung mereka tergetar oleh gema suara yang hebat ini.

Pada saat itu, tengkorak di tangan Thai Kek Losu sedang melayang dan mengarah ke kepala Bu Pun Su, senjata gendewa Sian Kek Losu dengan gerakan yang hebat sekali menusuk ke arah ulu hatinya, ada pun kedua poan-koan-pit di tangan Bo Lang Hwesio menotok ke arah iganya! Akan tetapi, perasaan kaget tadi sudah membuat mereka agak tercengang sehingga gerakan mereka menjadi lambat.

Bu Pun Su lantas memperlihatkan kelihaiannya yang benar-benar hebat dan sukar untuk dipercaya oleh orang-orang yang menyaksikannya! Kakek jembel itu tidak mengelak dari sambaran tengkorak ke arah kepalanya, bahkan dia lalu mengulurkan tangan kanan serta menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk menjepit serta menggunting tali pengikat tengkorak itu hingga dengan mengeluarkan suara nyaring tali itu putus dan tengkorak itu telah berpindah ke dalam tangannya!

Pada waktu itu pula sepasang poan-koan-pit sudah mencapai sasarannya dan menotok tepat di bagian iga Bu Pun Su. Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya hati Bo Lang Hwesio ketika dia merasa betapa sepasang poan-koan-pit-nya itu mengenai tempat yang lunak, seakan-akan dia telah menusuk air saja! Dia cepat menarik kembali poan-koan-pit itu dan dengan mata terbelalak dia melihat betapa kedua poan-koan-pit-nya sudah patah dua!

Gendewa di tangan Sian Kek Losu yang lebih berat itu datang paling akhir dan dengan kekuatan luar biasa menyambar ke arah ulu hati Bu Pun Su! Kakek jembel ini sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak, dan agaknya ulu hatinya pasti akan tertembus oleh ujung gendewa yang keras dan kuat itu! Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu meniup ke arah muka Sian Kek Losu.

Pada saat angin tiupan yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang hebat luar biasa itu menyambar mukanya, Sian Kek Losu merasa betapa kulit mukanya menjadi perih dan matanya tak dapat dibuka lagi ! Terpaksa ia memejamkan matanya dan karena terkejut dan sakit, gerakan tusukannya mengendur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Bu Pun Su untuk menjatuhkan diri ke belakang dan berjungkir balik dengan kaki di atas dan kepala di bawah lalu berdiri lagi dan terlepaslah ia dari ancaman senjata gendewa itu. Sebelum Sian Kek Losu dapat membuka mata, Bu Pun Su sudah melompat maju dan sekali dia mengebutkan tangan ke arah tengah-tengah gendewa itu, patahlah gendewa di tangan Sian Kek Losu!

Bu Pun Su tidak berhenti sampai di situ saja dan sekali tubuhnya berkelebat ke arah tiga orang lawannya, mereka merasa ada tenaga yang besar menyambar ke arah dada, maka mereka terpaksa mengangkat tangan menangkis. Akan tetapi, dengan hati heran mereka melihat Bu Pun Su melompat mundur lagi sambil tertawa girang, sedangkan mereka tidak merasa mendapat pukulan.

Selagi tiga orang itu memandang heran, tiba-tiba saja Hai Kong Hosiang yang tadi berdiri bengong dan bergidik melihat demonstrasi kepandaian yang hebat itu, tertawa bergelak-gelak.

“Ha-ha-ha! Dengan mudah jago kami sudah menjatuhkan ketiga jago dari Mongol! Thai Kek Losu, kau dan kawan-kawanmu telah kalah, maka kalian harus mundur dan memberi kesempatan kepada jago-jago lain untuk mencoba kepandaian mereka!”

Thai Kek Losu memandang dengan marah, “Kami memang sudah kehilangan senjata, akan tetapi itu bukan berarti bahwa kami telah kalah, karena kami belum dirobohkan!”

Hai Kong Hosiang kembali tertawa bergelak. “Manusia goblok dan tidak tahu kebodohan sendiri! Kalian telah mendapat ampun dari jago kami, akan tetapi masih belum mengakui kebodohan sendiri? Lihatlah dadamu, Thai Kek Losu dan kalian juga, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio!”

Tiga orang pendeta itu melihat ke arah dadanya, dan terkejutlah mereka oleh karena baju mereka pada bagian dada sebelah kiri ternyata sudah berlubang! Mereka menjadi pucat dan bergidik oleh karena ternyata bahwa setelah membalas dengan sekali serangan saja, kakek jembel itu telah berhasil membuat baju mereka berlubang dan kalau saja kakek itu menghendaki, maka untuk membunuh mereka bagi kakek itu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan sendiri!

“Hebat, hebat sekali!” Thai Kek Losu menarik napas panjang. “Bu Pun Su, kepandaianmu membuat aku merasa takluk dan aku mengaku kalah.”

Sesudah berkata demikian, Thai Kek Losu lantas memberi perintah kepada semua anak buahnya untuk mundur dan dia bersama kawan-kawannya lalu pergi dari situ.

“Thai Kek Losu, kau bawalah senjatamu ini dan jangan gunakan lagi senjata itu karena akhirnya tentu akan mencelakakan dirimu sendiri!” Bu Pun Su berteriak sambil melempar tengkorak itu ke arah Thai Kek Losu.

Thai Kek Losu mengulurkan tangan menyambut tengkorak kecil itu dan berkata sambil tersenyum, “Biar pun aku sudah kalah olehmu, akan tetapi kau tak berhak melarang aku mempergunakan senjata buatanku sendiri!”

Setelah berkata demikian, dengan hati penuh dendam, Thai Kek Losu lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dia telah merasa putus harapan oleh karena menghadapi kakek jembel itu dia tak berdaya dan percuma saja kalau dia hendak melanjutkan usaha mencari harta pusaka. Karena itu dia lalu memimpin anak buahnya untuk kembali kepada Yagali Khan membuat laporan.

“Sekarang jago-jago Turki dipersilakan untuk memperlihatkan kepandaiannya,” kata Hai Kong Hosiang yang merasa gembira sekali karena sebagaimana telah dia duga, dengan adanya Bu Pun Su di pihaknya, maka dengan sangat mudah mereka mengalahkan pihak lawan yang hendak memperebutkan harta pusaka itu.

Memang, biar pun tanpa bantuan dari Bu Pun Su, belum tentu dia dan kawan-kawannya yang cukup lihai akan dapat dikalahkan oleh pihak lawan, akan tetapi hal itu merupakan hal yang belum pasti dan juga amat berbahaya.

Siok Kwat Mo-li, Lo Kun Tojin, dan Perwira Turki yang bernama Sahali itu, turut merasa terkejut sekali melihat betapa hebat sepak terjang Bu Pun Su tadi. Akan tetapi sebagai orang-orang berilmu tinggi, tentu saja mereka pun tak sudi menyerah sebelum mencoba.

Sekarang, mendengar ucapan suheng-nya yang telah menipunya, Siok Kwat Mo-li lantas mencabut keluar senjatanya yang sangat lihai, yakni sebatang tongkat hitam, diikuti oleh Lok Kun Tojin yang mengeluarkan sepasang rodanya dan Perwira Turki itu mengeluarkan sepasang golok (siang-to) yang tajam mengkilap.

“Bu Pun Su, jagalah serangan kami!” seru Siok Kwat Moli dengan keras sambil memutar-mutarkan tongkat hitamnya.
“Majulah, majulah!” jawab Bu Pun Su tenang.

Sementara itu, Ang I Niocu dan Ma Hoa yang tadi bersembunyi dan mengintai, ketika menyaksikan pertandingan antara Bu Pun Su dan tiga orang jago tadi, saking tertariknya mereka sudah keluar dari tempat persembunyian dan memandang penuh kekaguman, akan juga dengan keheranan besar mengapa Bu Pun Su bekerja sama, bahkan membela Hai Kong Hosiang yang jahat! Hal ini sungguh-sungguh membuat Ang I Niocu heran dan juga amat penasaran. Akan tetapi ia memang sudah maklum akan adat aneh dari susiok-couwnya itu, maka ia hanya menonton dan tidak berani mengganggunya.

Sebenarnya, kalau mau dibuat pertandingan tentang ilmu kepandaian, maka tingkat ilmu kepandaian jago-jago yang berdiri di pihak Turki ini dengan jago-jago Mongol yang telah dikalahkan tadi, mungkin masih lebih tinggi kepandaian jago-jago Turki ini karena di situ terdapat Siok Kwat Mo-li yang amat lihai, apa lagi senjata Lok Kun Tojin yang merupakan sepasang roda itu sangat berbahaya sekali. Juga Sahali bukanlah seorang lemah karena dia adalah jago yang sudah sangat disegani di Turki dan merupakan tangan kanan yang mendapat kepercayaan penuh dari Pangeran Muda.

Maka mengingat akan kepandaian sendiri, ketiga orang ini tidak menjadi gentar bahkan mempunyai harapan untuk merobohkan Bu Pun Su dan mendapatkan harta pusaka yang belum pernah mereka lihat itu. Hasil penyelidikan mata-mata mereka membuat mereka tahu bahwa goa tempat di mana harta pusaka disembunyikan itu sudah didapatkan oleh orang-orang Mongol, maka mereka lalu menyerbu ke situ hingga secara kebetulan semua pihak dapat bertemu di depan goa di mana tersembunyi harta pusaka yang diperebutkan.

Bu Pun Su menghadapi ketiga orang lawannya yang baru ini dengan ketenangan yang amat mengagumkan. Dari gerakan-gerakan senjata ketiga lawannya yang mewakili pihak Turki ini, dia segera dapat memaklumi bahwa ilmu silat mereka ini tak kalah lihainya dari kepandaian ketiga lawan yang telah dikalahkan tadi, maka dia berlaku amat hati-hati.

Siok Kwat Mo-li adalah sumoi dari Hai Kong Hosiang yang jahat dan lihai, maka tongkat hitam di tangannya pun berbahaya sekali. Ketika dia membuat gerakan menyerang maka tongkat itu seolah-olah berubah menjadi banyak bagai ular-ular hidup berlenggak-lenggok menyambar ke arah tubuh Bu Pun Su. Ternyata bahwa seperti halnya Hai Kong Hosiang, ilmu tongkatnya berdasarkan ilmu tongkat Jeng-coa Tung-hoat atau Ilmu Tongkat Seribu Ular yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya.

Lok Kun Tojin memiliki sepasang senjata roda bertali yang jarang dapat dimainkan orang karena memang amat sukar untuk memainkan senjata macam itu. Akan tetapi di tangan pendeta itu sepasang roda bertali merupakan senjata yang amat ampuh dan berbahaya, yang menyambar-nyambar bagaikan mustika-mustika naga bermain-main di udara.

Perwira Turki bernama Sahali itu adalah tangan kanan Pangeran Muda dan ilmu golok sepasang yang dimainkannya ini hebat dan berbahaya. Dia mempunyai cara bertempur yang aneh dan ilmu silatnya pasti akan membingungkan lawannya karena di Tiongkok tidak terdapat ilmu golok seperti itu. Akan tetapi kini dia menghadapi Bu Pun Su yang mengenal ilmu silat bukan berdasarkan permainannya, akan tetapi berdasarkan gerakan kaki tangan yang bagaimana pun juga mempunyai dasar-dasar yang sama.

Sebagaimana diketahui, rombongan ini tadinya dibantu oleh Wai Sauw Pu yang lihai dan juga Kanglam Sam-lojin. Akan tetapi Wai Sauw Pu sudah tewas di dalam tangan Ibrahim, sedangkan Kam-lam Sam-lojin yang merasa gentar menghadapi lawan-lawannya, sudah melarikan diri dan kembali ke timur, lenyap nafsu mereka untuk ikut mencari harta pusaka itu karena maklum bahwa mereka akan menghadapi lawan-lawannya yang tangguhnya luar biasa. Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li dan Lok Kun Tojin yang berilmu tinggi, tidak putus harapan meski pun ditinggalkan oleh kawan-kawannya ini, apa lagi ketika dari pihak Turki yang mereka bantu itu datang pula Sahali yang lihai.

Tadi ketika Bu Pun Su dikeroyok bertiga oleh Thai Kek Losu dan kawan-kawannya, Siok Kwat Mo-li sudah melihat dengan penuh perhatian. Permainan silat Pek-in Hoat-sut yang hebat itu terlihat amat kuat menghadapi lawan dari depan mau pun dari belakang, karena pergerakan kaki tangan secara otomatis berpindah-pindah dan setiap kali bahaya datang dari belakang, tubuh kakek itu dengan mudah membalik ke belakang.

Dalam permainannya, seakan-akan kakek itu mempunyai empat mata, di depan serta di belakang! Dan Thai Kek Losu serta kawan-kawannya yang mengeroyok dari depan dan belakang menjadi tidak berdaya! Siok Kwat Mo-li yang cerdik itu dapat melihat hal ini dan kini dia telah mendapat cara untuk mengeroyok kakek jembel itu maka ia berbisik kepada dua kawannya,

“Kalian menyerang dari sisi kanan dan kirinya, sedangkan aku akan menghadapinya dari depan!”

Kini Bu Pun Su dikeroyok oleh lawan yang mempergunakan bentuk segitiga, yakni dari depan, kanan dan kiri, tidak menyerang dari belakang! Serangan yang dilakukan dari tiga jurusan ini jauh lebih berbahaya dari pada serangan yang dilakukan hanya dari depan dan belakang, karena hanya datang dari dua jurusan, maka diam-diam ia merasa kagum dan memuji kecerdikan nenek bongkok itu. Memang benar, ketika dikeroyok dengan cara demikian, ia akan menderita lelah sekali karena sekarang ia harus membuat lebih banyak gerakan untuk menghadapi ketiga orang lawan itu.

Bu Pun Su adalah seorang sakti yang pada masa itu sukar dicari bandingannya, maka tentu saja tipu muslihat ini tak membuatnya menjadi bingung. Tiba-tiba dia berseru,
“Siok Kwat Mo-li, kau betul-betul cerdik. Akan tetapi aku Si Tua Bangka ini tidak memiliki banyak waktu dan tenaga untuk melayani kalian bermain-main!”

Sesudah berkata demikian, Bu Pun Su mengambil sepotong gendewa yang sudah patah milik dari Sian Kek Losu tadi yang kini panjangnya hanya tinggal satu kaki lebih. Biar pun benda itu hanya merupakan sepotong baja bengkok, akan tetapi setelah berada di tangan Bu Pun Su akan merupakan sebuah senjata yang luar biasa ampuhnya. Kakek jembel ini berseru keras dan baja bengkok itu lantas menyambar hebat, merupakan gulungan sinar yang panjang dan dahsyat.

“Lepaskan senjata!” terdengar teriakan nyaring Bu Pun Su dari dalam gulungan sinar itu, sedangkan tubuh kakek itu sendiri lenyap ditelan gulungan sinar senjatanya yang diputar secara luar biasa itu.

Terdengar suara logam beradu keras sekali dan segera disusul oleh pekik kesakitan dan terkejut oleh tiga buah mulut pengeroyoknya. Sepasang golok di tangan Sahali terpental dan melayang ke atas sedangkan dua buah roda dari Lok Kun Tojin juga melayang ke kanan kiri karena talinya telah putus.

Ada pun Siok Kwat Moli yang mempunyai lweekang lebih tinggi dari pada kedua orang kawannya itu, masih sanggup mempertahankan senjatanya sehingga tidak terlepas dari tangannya walau pun kulit telapak tangannya serasa akan pecah. Namun ternyata bahwa tongkatnya itu tak sekuat tangannya sehingga pada saat ia memandang, ternyata bahwa tongkatnya itu sudah putus di tengah-tengah dan kini hanya merupakan sebatang tongkat yang amat pendek saja.

Ternyata bahwa tadi Bu Pun Su telah mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang sangat dahsyat, yang disebutnya Gerakan Halilintar Menyambar Bumi. Kehebatan gerakan ini memang luar biasa sehingga jangankan baru ada tiga orang lawan yang bersenjata, biar pun ada puluhan lawan agaknya takkan ada yang dapat mempertahankan sambarannya ini yang dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya!

Siok Kwat Mo-li dan kedua orang kawannya berdiri bengong karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara kakek itu membuat senjata mereka terpental dan patah-patah. Akan tetapi, nenek bongkok itu menjadi marah sekali dan ketika melihat Bu Pun Su berdiri di depannya dengan tenang, akan tetapi nyata bahwa kakek itu sedang mengatur kembali pernapasannya yang agak tersengal karena tadi telah menggunakan tenaga sepenuhnya sedangkan usianya sudah sangat tua, maka sambil memekik keras Siok Kwat Mo-li lalu mengayun tangannya dan berhamburanlah jarum-jarum hitam ke tubuh Bu Pun Su!

Ang I Niocu dan Ma Hoa terkejut sekali melihat hal ini. Sebagai orang-orang yang sudah mempelajari ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa pada waktu itu Bu Pun Su sedang mengatur napas dan karenanya dilarang membuat gerakan-gerakan besar karena hal ini akan membahayakan keselamatannya.

Ma Hoa dan Ang Niocu memang sangat tertarik melihat pertandingan ke dua yang lebih hebat itu, maka tak terasa pula mereka telah mendekat, dan bahkan Ma Hoa telah berdiri dekat Bu Pun Su, sedangkan Ang I Niocu yang masih merasa takut-takut kepada Bu Pun Su, berdiri agak jauh.

Melihat keadaan Bu Pun Su yang sangat berbahaya itu, Ma Hoa cepat melompat dengan sepasang bambu runcingnya di tangan. Dia melompat ke depan Bu Pun Su dan cepat sekali dia memutar-mutar dua batang bambu runcing itu menangkisi jarum-jarum hitam sehingga semua jarum dapat dipukul runtuh ke atas tanah.

“Ehh, anak lancang, lekas kau mundur! Im Giok, jangan perbolehkan kawanmu ini maju!” kata Bu Pun Su dengan suara perlahan, akan tetapi berpengaruh hingga Ma Hoa menjadi terkejut dan segera melompat kembali ke dekat Ang I Niocu.

Bu Pun Su memandang kepada Siok Kwat Mo-li sambil tersenyum. “Apa bila kau masih merasa penasaran, kau boleh menyerang lagi dengan jarum-jarummu!”

Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li yang melihat betapa Ma Hoa dan Ang I Niocu yang telah ia kenal kelihaiannya itu berdiri di situ dan agaknya akan membantu pula kepada Bu Pun Su, merasa bahwa perlawanan dari pihaknya takkan ada gunanya, maka ia memandang dengan mata mengandung penuh kebencian ke arah Ma Hoa, kemudian tanpa berkata sesuatu ia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari pergi, diikuti oleh kawan-kawannya dan semua anak buah Turki.

Sekarang keadaan di situ makin sunyi dan hanya tinggal Kam Hong Sin seorang bersama anak buahnya yang masih berdiri di tempat semula. Kam Hong Sin menyaksikan semua pertandingan itu dan diam-diam dia pun sangat kagum terhadap Bu Pun Su. Dia maklum bahwa kepandaiannya sendiri belum ada sepersepuluh bagian kepandaian kakek itu.

Akan tetapi Kam Hong Sin juga terkenal sebagai seorang panglima gagah yang pantang mundur dalam melakukan tugasnya. Sebelum ia dikalahkan, betapa pun juga ia tak mau mengalah begitu saja. Maka ia segera melangkah maju dan menjura kepada Bu Pun Su.

“Locianpwe, sungguh hebat kepandaianmu dan selama hidupku baru kali ini aku melihat kesaktian yang sedemikian hebatnya. Akan tetapi, sebagai seorang utusan Kaisar yang berkuasa, aku melarangmu mengambil harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan itu!”

Bu Pun Su tersenyum dan di dalam hatinya ia mengagumi dan memuji sikap yang gagah berani dari perwira ini.

“Dan bagaimana kalau aku tetap hendak mengambil harta pusaka itu?” tanyanya dengan tenang.
“Terpaksa aku harus menangkap dan menawanmu untuk dibawa ke kota raja!”

Terdengar suara tertawa riuh rendah. Ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, perwira serta pendeta Mongol yang menjadi kawan-kawannya. Hai Kong Hosiang berkata kepada Balaki, perwira Mongol yang kini menjadi kawannya itu.

“Balaki, kaulihat bagaimana sombongnya perwira yang masih kanak-kanak itu, ha-ha-ha!”

Tiba-tiba Bu Pun Su berpaling kepada mereka dan membentak, “Diam! Perwira ini lebih gagah dan jantan dari pada kalian semua, mengapa mentertawakannya?”

Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya tercengang mendengar bentakan ini karena mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Bu Pun Su akan menjadi demikian marah. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya, di dalam hatinya Bu Pun Su merasa segan untuk melawan perwira yang gagah perkasa dan yang setia akan tugasnya ini.

“Kam-ciangkun,” kata kakek itu kemudian, “lebih baik Ciangkun kali ini mengalah saja dan kembali ke Kota Raja. Biarlah lain kali bila mana ada ketika, aku orang tua akan datang menyatakan maaf.”
“Tidak mungkin, Locianpwe. Tugas kewajiban harus dilaksanakan, biar pun aku terpaksa mempertaruhkan jiwaku. Apa bila Locianpwe hendak melanjutkan usaha mengambil harta pusaka itu, betapa pun juga terpaksa aku harus turun tangan dan menangkapmu.”
“Hmm, kalau begitu, silakan kau maju dan menangkapku kalau kau sanggup, Ciangkun, dan bukalah matamu baik-baik supaya kau tidak melewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia!”

Kam Hong Sin tak mengerti akan maksud ucapan ini, akan tetapi ia tidak merasa gentar dan ketika Bu Pun Su menantangnya untuk menangkap, ia segera mempergunakan ilmu tangkapan tangan yang dulu dia pernah pelajari dari seorang perantau dari seberang laut timur.

Perantau itu datang dari seberang timur dan dalam perantauannya ke daratan Tiongkok, dia sudah bertemu dengan Kam Hong Sin dan memberinya pelajaran silat yang sifatnya seperti Sin-na-hoat. Oleh karena itu, ia memiliki kepandaian yang luar biasa dan sekali ia dapat menangkap kedua lengan orang, maka sukarlah bagi orang itu untuk melepaskan dirinya lagi!

Ketika Kam Hong Sin melangkah maju hendak menangkapnya, Bu Pun Su hanya berdiri tersenyum dan bahkan mengulurkan kedua lengannya untuk ditangkap! Kam Hong Sin merasa heran dan segera menyambar kedua lengan itu untuk terus diputar ke belakang tubuh Bu Pun Su dalam pegangan yang kuat sekali! Gerakan ini demikian cepat hingga tahu-tahu kedua lengan tangan kakek itu telah ditekuk ke belakang punggung dan ikatan belenggu besi pun tidak akan lebih kuat dan meyakinkan dari pada pegangan ini.

“Ciangkun, perhatikan baik-baik!” kata Bu Pun Su.

Kam Hong Sin segera maklum bahwa kakek itu tentu akan menggunakan ilmunya untuk melepaskan diri, maka cepat-cepat ia lalu mempererat pegangannya dan menekuk kedua lengan kakek itu semakin tinggi di atas punggungnya!

Bu Pun Su mengangkat sebelah kakinya lalu ditendangkan ke belakang dengan perlahan sehingga Kam Hong Sin yang berdiri di belakangnya itu tentu saja harus mengelak dari tendangan yang mengarah ke bagian berbahaya dari tubuhnya. Dia miringkan tubuh dan mengganti kedudukan kakinya dan saat inilah yang dipergunakan oleh Bu Pun Su untuk melepaskan diri. Saat Kam Hong Sin mengangkat kaki untuk membuat perobahan posisi kakinya, tiba-tiba Bu Pun Su membungkuk dan sekali Bu Pun Su berseru keras maka tubuh Kam Hong Sin itu terpelanting melewati kepala Bu Pun Su hingga jatuh tunggang langgang!

Sampai tiga kali Kam Hong Sin mencoba menangkap Bu Pun Su dengan mengeluarkan berbagai ilmu menangkap, akan tetapi selalu akibatnya terpelanting dan terbanting jatuh di depan kakek itu. Dan anehnya, ketika terbanting itu, Kam Hong Sin tidak merasa sakit karena tidak terbanting keras dan tiap kali melakukan gerakan untuk melepaskan diri dari tangkapan, Bu Pun Su sengaja berlaku lambat sehingga Kam Hong Sin dapat mengikuti gerakannya dan dapat memahami ilmu gerakan itu hingga seakan-akan mereka bukan sedang bertanding sungguh-sungguh, akan tetapi hanya merupakan latihan saja, yaitu Kam Hong Sin mendapat latihan tiga macam ilmu gerakan yang hebat dari Bu Pun Su!

“Terima kasih atas pengajaran Locianpwe. Saya mengaku kalah dan biarlah kekalahan ini kulaporkan ke Kota Raja.”

Setelah berkata demikian, Kam Hong Sin lalu memimpin anak buahnya untuk kembali ke timur, memberi laporan tentang gagalnya tugas yang dijalankannya! Walau pun ia merasa penasaran dan kecewa, namun diam-diam dia merasa girang karena menerima pelajaran tipu gerakan yang lihai dari kakek sakti itu!

Hai Kong Hosiang tertawa dan sambil menuding ke arah Ang I Niocu dan Ma Hoa, ia pun berkata keras, “Kalian apakah hendak merebut harta pusaka pula? Jika demikian halnya, boleh kalian maju melawan jago kami. Ha-ha-ha,”

Walau pun merasa gemas dan marah, akan tetapi Ang I Niocu dan Ma Hoa tidak berani berlaku sembrono di depan Bu Pun Su. Mereka hanya berdiri bingung dan memandang ke arah kakek itu. Pada waktu Bu Pun Su berpaling kepada mereka, Ang I Niocu segera menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi sambil mengerutkan keningnya, Bu Pun Su membuat gerakan dengan tangan mengusir mereka dan berkata, “Pergilah, pergilah...”

Ang I Niocu dan Ma Hoa tidak berani membantah dan terpaksa mereka pergi dari sana tanpa berani bertanya apa-apa lagi. Mereka cepat-cepat pulang ke rumah Yousuf untuk menceritakan peristiwa mengherankan ini kepada Nelayan Cengeng dan Yousuf.

Sementara itu, setelah berhasil mengusir semua pihak yang ingin mencari harta pusaka itu, Bu Pun Su lalu membawa kawan-kawannya masuk ke dalam goa itu.

“Inilah goa penyimpanan harta-pusaka itu.” katanya.
“Bu Pun Su, kau berjanji untuk mendapatkan harta pusaka itu, bukan hanya goanya,” kata Hai Kong Hosiang dengan senyum menyeringai.
“Kita harus mencari rahasianya,” keluh kakek jembel itu yang segera mencari-cari.

Ia adalah seorang yang sudah memiliki pengalaman luas, maka meski pun tanpa bantuan peta, dia dapat menduga bahwa patung yang berdiri di dekat dinding itu tentulah bukan sengaja dipasang di sana, karena biasanya patung Buddha itu selalu dipasang di tengah dan di tempat yang khusus untuk menjadi pujaan.

Maka ia lantas menggerak-gerakkan patung itu dan benar saja, terdengar bunyi di bagian atas dan segera tampaklah lubang tempat persembunyian harta itu. Bu Pun Su kemudian menggerakkan tubuhnya dan memasuki lubang kecil itu sebagaimana dilakukan oleh Cin Hai dahulu. Tak lama kemudian, ia turun kembali dan berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio,

“Harta ada di dalam sana, kalian boleh mengambilnya dan sekarang lekas keluarkanlah obat untuk muridku itu!”
“Obat itu tidak ada padaku,” jawab Hai Kong Hosiang.

Bu Pun Su memandang dengan mata bersinar-sinar sehingga Hai Kong Hosiang menjadi takut dan mundur dua langkah.
“Aku tidak membohongimu, Bu Pun Su. Obat itu memang ada, yaitu dalam tangan dukun tua dari Mongol yang juga sudah kami ajak ke tempat ini dan kami sembunyikan di dalam sebuah tempat rahasia di dalam hutan.”
“Lebih dulu bawa aku ke sana untuk mengambil obat, setelah itu kau serahkan kepadaku, barulah kalian boleh mengambil semua harta ini!” Sambil berkata demikian, Bu Pun Su lalu menggerakkan kembali patung itu sehingga lubang tadi tetutup kembali.
“Benarkah harta itu berada di tempat itu?” tanya Wi Wi Toanio kepada Bu Pun Su.
“Wi Wi, aku adalah seorang lelaki sejati. Pernahkah aku membohong?” Bu Pun Su amat mendongkol dan ia kembali menggerakkan patung untuk membuka. “Kau lihatlah sendiri, perempuan curang!”

Wi Wi Toanio tertawa menjemukan lantas melompat ke atas dan memasuki lubang itu. Sampai lama dia tidak keluar hingga Hai Kong Hosiang terpaksa berseru memanggilnya. Akhirnya kepala perempuan itu muncul kembali dan sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan seorang yang merasa girang sekali.

“Aduhhh, bukan main hebatnya!” katanya sehingga ucapan yang pendek itu sudah cukup menyakinkan hati Hai Kong Hosiang, Balaki dan kawan-kawannya.

Bu Pun Su menutup kembali lubang itu dan berkata, “Hayo cepat antar aku ke dukun itu untuk mengambil obatnya!”

Mereka lalu membawa Bu Pun Su ke dalam sebuah hutan di luar kota, di mana terdapat sebuah pondok yang terjaga oleh beberapa orang Mongol kawan-kawan Balaki. Namun ketika mereka datang, para penjaga lalu menyambut mereka dengan muka pucat.

“Celaka, baru saja ada seorang muda yang mengacau di sini. Kami semua tidak berdaya terhadapnya, karena ia lihai sekali!”

Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya, juga Bu Pun Su menjadi terkejut sekali dan mereka segera memburu ke dalam pondok. Dukun tua yang kurus itu sedang duduk di atas bangku sambil menundukkan kepala seperti orang yang mengantuk.

“Muhambi, apakah yang terjadi?” teriak Hai Kong Hosiang dengan kuatir.
“Tak ada apa-apa, hanya seorang pemuda yang memaksaku menyerahkan obat penolak racun dari kembang semut merah itu.”

Hai Kong Hosiang menjadi pucat. “Celaka! Justru obat itulah yang kami butuhkan! Siapa orangnya yang berani merampasnya?”
“Entahlah,” jawab Mahambi, dukun itu. “Ia adalah seorang pemuda tampan yang mengaku bernama Song Kun!”

Mendengar ini, Bu Pun Su menjadi pucat dan ia pun segera berkata, “Wi Wi, dan kau Hai Kong! Aku telah memenuhi janjiku untuk mengusir semua lawan dan mendapatkan tempat disimpannya harta pusaka, akan tetapi ternyata kalian tidak dapat memenuhi janjimu!”
“Sabar dulu, Bu Pun Su,” kata Hai Kong Hosiang yang segera memegang pundak dukun itu sambil mengancam, “Buatkan lagi obat itu untuk kami!”

Mahambi menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah penuh uban. “Aku harus menanti berkembangnya kembang semut merah itu kira-kira setengah tahun lagi.”
“Aku pergi!” kata Bu Pun Su. “Jangan harap kalian akan dapat membawa harta pusaka itu!” Setelah berkata demikian, kakek itu melompat keluar pondok dan lenyap.

Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio sejenak tertegun. Alangkah ingin mereka mengejar dan memaksa Bu Pun Su agar mengambilkan harta pusaka itu. Akan tetapi, apakah daya mereka terhadap kakek sakti itu…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR BODOH : JILID-19
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger