logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Buta Jilid 02


Tiat-jiu Souw Ki memang seorang yang amat cerdik. Ketika mendengar bahwa pemuda buta ini pandai ilmu pengobatan, timbul niat hatinya untuk memaksa pemuda itu ikut ke kota raja agar dapat dipergunakan kepandaiannya itu. Tentang kepandaiannya ilmu silat yang demikian hebatnya, ah, tak usah dikhawatirkan karena betapa pun pandainya orang buta tentu mudah ditipu.

Meski kuda-kuda itu berlari tidak terlalu cepat, tapi keadaan Kun Hong yang diseret-seret cukup sengsara. Berkali-kali dia terperosok ke dalam lubang di tanah, atau tersandung batu sehingga tubuhnya terjungkal ke depan dan terseret oleh kuda.

Baiknya pemuda ini memang memiliki ginkang yang tinggi dan tubuhnya sudah memiliki hawa murni yang membuat kulitnya kebal. Biar pun tampaknya dia tersiksa sedemikian hebatnya, namun sesungguhnya dia tidak sampai menderita nyeri dan tidak terluka sama sekali.

Tadi memang dia menyerahkan diri untuk menggantikan gadis itu, dan dia juga sengaja menurut saja diseret-seret sampai beberapa jam lamanya untuk memberi kesempatan kepada gadis itu pergi menjauhkan diri. Selain itu, juga lebih mudah baginya untuk turun gunung dengan cara ‘membonceng’ seperti ini dari pada harus mencari jalan sendiri di tempat yang asing baginya. Memang cocok sekali harapannya, dia diseret turun gunung dan hari telah menjelang senja pada saat rombongan itu memasuki sebuah dusun di kaki gunung.

Bukan hal aneh pada masa itu bahwa rakyat amat takut terhadap setiap rombongan orang yang bersenjata, baik rombongan ini merupakan pasukan tentara pemerintah atau bukan. Ini terjadi akibat tekanan-tekanan dan gangguan yang selalu dilakukan oleh rombongan-rombongan macam itu untuk menyenangkan diri sendiri tiap kali mereka melewati sebuah dusun. Merampas makanan tanpa membayar, memaksa penduduk membawakan beban, merampas kaum wanita dan sebagainya.

Oleh karena itu, ketika pada sore hari itu rombongan Tiat-jiu Souw Ki memasuki dusun di kaki gunung ini, semua penduduknya sudah pada lari menyembunyikan diri, rumah-rumah sebagian besar ditutup pintunya. Rombongan itu lalu berhenti di tengah-tengah dusun, di depan sederetan rumah-rumah gubuk kecil terbuat dari pada bambu, rumah orang-orang miskin.

Juga rumah-rumah ini biar pun tidak ditutup pintunya, kelihatan sunyi tiada penghuninya. Memang perlu apa rumah-rumah ini ditutup pintunya kalau di dalamnya tiada sesuatu apa pun yang cukup berharga untuk dicuri orang?

Tiat-jiu Souw Ki yang merasa lapar dan haus, yang merasa lelah setelah tadi mengalami pertempuran, ingin beristirahat dan bermalam di kampung ini. Melihat kesunyian tempat itu, dia mengerutkan kening dan mengomel.

"Sungguh tidak sopan penduduk dusun ini!"

Ban Kwan Tojin lalu menjawab. "Memang sebagian besar dusun-dusun seperti ini selalu dikosongkan kalau ada rombongan orang-orang asing lewat, Ciangkun. Karena itu, kalau pemerintah yang baru sekarang ini benar-benar sudah lengkap, harus segera diusahakan adanya pejabat-pejabat kecil di tiap dusun sehingga segala sesuatu mengenai penghuni dusun-dusun dapat diatur sebaiknya."

Tiat-jiu melirik ke arah tosu itu dan diam-diam dia dapat menjeguk isi hati tosu ini yang seperti juga orang-orang lain ternyata memiliki ambisi untuk menjadi orang berpangkat. Dia sedang hendak memerintahkan orang-orangnya untuk mencari tempat penginapan yang baik baginya, tentu saja bukan rumah penginapan umum karena di dusun sekecil itu mana ada losmen?

Yang dia maksudkan adalah rumah terbaik, tak peduli tempat tinggal siapa pun, untuk dia mengaso malam itu. Akan tetapi tiba-tiba dari sebuah di antara rumah-rumah gubuk itu keluarlah seorang anak laki-laki kecil. Usianya paling banyak lima tahun, tubuhnya kurus kering dan setengah telanjang.

Anak ini keluar setengah berlari, akan tetapi tiba-tiba terhenyak di depan pintunya ketika dia melihat begitu banyak kuda-kuda besar ditunggangi orang sedang berkumpul di depan rumahnya. Kedua matanya yang bening itu berseri gembira dan mulutnya segera berseru,

"Kuda bagus... kuda bagus...!"
"...A Wan... A Wan..." tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil dari dalam gubuk itu, suaranya yang terdengar gemetar ketakutan.

Akan tetapi anak kecil itu berjalan tertatih-tatih menonton kuda sampai dia tiba di bagian paling belakang rombongan itu. Sejenak dia tertegun memandang kepada Kun Hong.

Pemuda buta ini berdiri dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya, ujung tambang belenggu dipegang si penunggang kuda. Pakaian si buta itu robek-robek semua di bagian punggung, di bagian lain sudah kotor oleh debu, juga mukanya berkeringat penuh debu, membuat muka itu kotor dan hitam.

Akan tetapi orang buta ini mulutnya tersenyum karena sesungguhnya Kun Hong girang juga pada saat mendapat kenyataan bahwa dia telah dapat ‘membonceng’ rombongan itu sampai ke sebuah dusun. Kalau dia sendiri yang turun dari puncak tanpa penunjuk jalan, kiranya dia akan tersesat dan entah sampai kapan baru dapat bertemu dengan dusun atau orang.

"Kasihan paman buta... lepaskan... lepas...!" Anak itu berteriak-teriak sambil mendekati Kun Hong.
"Anak baik...!" Kun Hong berkata halus, suara anak itu menggetarkan jantungnya.
"Anak haram, minggat!" seorang di antara para pengiring Souw Ki membentak dan…
"Tar! tar!" cambuknya menyambar ke tubuh anak itu.

Anak itu menjerit dan berlari mundur sambil menangis. Dari dalam gubuk berlari ke luar seorang wanita yang serta merta menubruk anaknya, lalu bersama anak itu ia berlutut.

"Ampun, Tai-ya... ampunkan kami..." Wanita itu terus memohon sambil dia mengangguk-anggukkan kepalanya sampai menyentuh tanah. Wajahnya pucat dan ketika ia melirik ke arah Kun Hong, melihat orang buta ini dibelenggu serta pakaiannya rompang-ramping dan mukanya kotor penuh debu, dia menjadi semakin ngeri dan ketakutan sampai tubuhnya menggigil!

Kun Hong tidak tahu mengapa si kejam itu tiba-tiba menahan cambuknya. Lalu terdengar orang-orang itu tertawa kecil, malah si pemegang cambuk lalu berkata perlahan, "Aiihh, cantik..."

Kemudian terdengar suara Tiat-jiu Souw Ki, "Suruh dia melayaniku nanti!"

Si pemegang cambuk mengajukan kudanya. Ia mendekati wanita yang berlutut bersama anaknya yang masih terisak-isak itu dan berkata dengan suaranya yang parau.

"He, manis, kau dengar sendiri ucapan Souw-ciangkun tadi. Sebentar malam kau diajak minum arak manis, ha-ha-ha! Hayo kau ikut sekarang juga."
"Tidak...," perempuan itu menangis.
"Apa katamu? Setan! Berani kau menolak?"
"Ampun, Tai-jin... hamba... hamba tidak bisa..."
"Tar! Tar!" Cambuk berbunyi mengerikan di udara, di atas kepala wanita itu.
"Anakmu berbuat kurang ajar, ciangkun masih mengampuni malah hendak mengajak kau minum arak, tetapi kau benar-benar kurang terima. Agaknya kau hendak melihat anakmu dibanting mampus dulu baru menurut!" Cambuk itu menyambar ke arah bocah tadi dan tahu-tahu telah melibat tubuhnya terus dihentakkan ke atas.

Berbareng dengan jerit mengerikan dari ibu muda itu, terdengar suara menggereng hebat. Sesosok bayangan menyambar ke arah si pemegang cambuk dan pada detik lainnya si pemegang cambuk itu telah terbanting jatuh dari kudanya dan anak kecil itu telah berada dalam pondongan Kun Hong!

Kiranya pendekar buta yang sakti ini tidak dapat menahan lagi hatinya mendengar semua peristiwa yang tak dapat dilihatnya itu. Karena maklum bahwa ibu dan anak itu terancam bahaya hebat, sekali renggut saja belenggu yang mengikat pergelangan tangannya putus semua dan sekali mengenjot tubuh dia telah menerjang si pemegang cambuk yang kejam, mendorongnya jatuh sambil merampas bocah tadi. Kini dengan tangan kiri memondong A Wan dan tangan kanannya memegang tongkat erat-erat, Kun Hong menggeser kakinya mendekati si wanita yang masih berlutut dan menangis.

"Tiat-jiu Souw Ki, kau sejak dahulu tak pernah mengubah watakmu yang jahat!" Kun Hong memaki, berdiri dengan tegak dan gagah. "Kau dan enam orang kawanmu benar-benar merupakan tujuh pengawal yang amat jahat. Dahulu Pangeran Kian Bun Ti yang hendak menggangu keponakan-keponakanku, sekarang kau dan para anak buahmu ternyata juga bukan manusia baik-baik. Hemmm, kalau tidak lekas-lekas membawa orang-orangmu ini pergi meninggalkan dusun ini jangan bilang aku keterlaluan kalau aku membikin kalian semua tidak dapat lagi meninggalkan tempat ini!" Sambil berkata demikian Kun Hong membuat gerakan melintangkan tongkatnya di depan dada, gerakan yang sudah dikenal baik oleh Souw Ki dan teman-temannya ketika Kun Hong mengamuk dikeroyok tadi.

Souw Ki terkejut dan pucat wajahnya. Dia memandang penuh perhatian, serasa pernah melihat orang muda yang bersikap begini tabah dan berani, malah yang sekarang berani sekali menyebut-nyebut nama kaisar baru begitu saja.

"Kau... kau siapakah? Siapa namamu...?"
"Namaku Kun Hong. Apa kau hendak laporkan kepada Kian Bun Ti yang sekarang telah menjadi kaisar? Boleh, dia sudah mengenal baik nama ini, bahkan dia pernah makan minum semeja dengan aku!"

Bukan main kaget dan herannya Tiat-jiu Souw Ki. Teringatlah ia sekarang. Tapi pemuda ini dahulu adalah seorang pemuda pelajar yang lemah, sungguh pun tak dapat disangkal memiliki keberanian yang sukar dicari bandingnya.

Di dalam cerita Rajawali Emas memang telah dituturkan betapa Kun Hong dan dua orang keponakan perempuan, yaitu Kui Eng dan Thio Hui Cu, diundang kemudian dijamu oleh Pangeran Mahkota Kian Bun Ti. Pada waktu itu, pengeran muda mata keranjang ini jatuh hati kepada dua orang nona Hoa-san-pai ini dan hendak mengganggunya, malah mereka telah ditawan. Kemudian dua orang nona itu dirampas oleh Song-bun-kwi, sedangkan Kun Hong dapat menyelamatkan diri mempergunakan ilmu sihirnya.

"Kau... kau anak Hoa-san-pai... putera ketua Hoa-san-pai...?" Dia bertanya gagap.

Kun Hong tersenyum, kemudian dia menarik napas panjang. "Cukup kau ketahui namaku, siapa menyebut-nyebut Hoa-san-pai segala? Hayo pergi!"

Tiat-jiu Souw Ki sudah maklum akan kehebatan kepandaian Kun Hong. Tadi pada waktu dikeroyok puluhan orang saja pemuda ini dapat membuat semua orang tak berdaya, apa lagi sekarang dia hanya berkawan sebanyak dua puluh orang lebih. Selain itu, sekarang mahkota sudah berada di tangannya dan kalau membawa tawanan macam pemuda buta ini, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan saja di tengah jalan. Ada pun tentang wanita itu, ahhh, dia hanya iseng-iseng saja, tidak ada harganya untuk diperebutkan.

"Pergi...!" Dia memberi aba-aba kepada para pengikutnya, lalu mengeprak kudanya.

Penunggang kuda yang tadi menyeret-nyeret Kun Hong dengan wajah pucat juga segera membalapkan kudanya pergi dari situ. Akan tetapi seorang perampok yang mendongkol hatinya dan masih memandang rendah pada seorang buta seperti Kun Hong, mengejek,

"Ho-ho, kiranya si buta juga mata keranjang! Kau hendak memiliki sendiri si manis ini, heh? Hati-hati, manis, kau tuntun si buta ini baik-baik, ha-ha-ha!"

Kun Hong cepat menggerakkan tangannya. Sebagian tambang yang tadi membelenggu tangannya dan masih menempel pada pergelangan tangannya menyambar ke arah muka penjahat itu. Terdengar suara keras dan si mulut kotor itu berteriak-teriak kesakitan.

"Aduhh... aduh... mulutku... gigiku rontok semua... aduh...!" Dan dia pun membalapkan kudanya mengejar kawan-kawannya sambil mengaduh-aduh.

Kun Hong masih berdiri tanpa bergerak. Kedua kakinya terpentang, tangan kanan masih memegang tongkat melintang di depan dadanya, sama sekali tak bergerak seperti patung sampai suara derap kaki kuda tak terdengar lagi oleh telinganya.....

Pemuda buta ini merasa betapa dada dan mukanya panas sekali, bukan main marahnya mendengar ucapan kotor penjahat tadi. Dia menahan napas dan menekan perasaannya sampai perlahan-lahan hawa panas di dalam dadanya menurun dan akhirnya kembali dan timbul pulalah senyum yang jarang meninggalkan bibirnya itu. Matanya yang berlubang itu tadi agak terbuka pelupuknya ketika dia marah, kini tertutup lagi pelupuknya dan kulit di antara kedua matanya agak berkerut.

"In-kong (tuan penolong)... terima kasih atas budi In-kong yang sudah menyelamatkan nyawa kami ibu dan anak...," dengan suara tergetar penuh keharuan wanita itu berlutut di depannya dan menyentuh kakinya yang tertutup sepatu rusak-rusak dan penuh debu.

Kun Hong kaget mendengar suara ini. Cepat-cepat dia menarik kakinya, lalu melangkah mundur dua tindak. Dia mendengar suara seorang wanita yang masih amat muda, suara wanita berusia dua puluh tahun lebih. Akan tetapi wanita ini adalah seorang ibu, seorang ibu muda.

"Jangan berlutut... jangan berlebihan, yang bisa menyelamatkan nyawa manusia hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab itu bangkitlah, Twaso (kakak), aku tak berani menerima penghormatan seperti ini."

Wanita itu bangkit sambil menahan isaknya yang masih menyesakkan kerongkongannya.

"Ibu, orang-orang nakal itu sudah pergi?" anak kecil itu bertanya, keberaniannya timbul pula setelah orang-orang berkuda itu pergi tidak tampak lagi.
"Sudah, A Wan, mereka sudah pergi. Lain kali kau jangan nakal, jangan keluar sendiri. Kau anak bandel, ibu sudah melarang tetapi kau nekat saja. Untung ada paman ini yang menolong kita..."
"Ibu, paman buta ini jagoan, ya? Orang-orang nakal itu takut!" Anak itu lalu tertawa-tawa senang dan menghampiri Kun Hong sambil meraba tangannya. "Paman buta, kenapa kau tadi diikat?"

Kun Hong tersenyum, membungkuk kemudian memondong anak itu dengan penuh kasih sayang. "Anak baik, kau sudah dapat membedakan orang jahat dan tidak, itu bagus. Kelak kau tidak boleh menjadi orang seperti mereka itu, ya!"
"Tidak!" jawab anak itu keras sambil merangkul leher Kun Hong. "Aku kelak ingin menjadi seperti Paman yang jagoan. Tapi... Paman buta..."
"Hush, A Wan, jangan lancang mulutmu!" bentak ibunya. "In-kong, mari silakan singgah di dalam gubukku, biar kita bicara di dalam."
"Tak usahlah, Twaso, terima kasih. Aku harus melanjutkan perjalananku."

Kun Hong mencegah. Dia dapat menduga bahwa ibu dan anak ini tentu keluarga miskin, terbukti dari pakaian anak itu yang kasar dan ada tambalannya, tidak bersepatu pula. Dia tidak mau mengganggu orang yang memang keadaannya sudah amat kekurangan itu.

"Jangan, In-kong. Kau harus singgah dulu. Pakaianmu robek-robek semua, lagi kotor. Aku mempunyai sestel pakaian, boleh kau pakai dan pakaianmu itu akan kucuci, kujahit. Dan... dan... kau harus makan dulu..."

Suara itu tergetar penuh keharuan dan belas kasihan. Melihat orang buta itu menggerak-gerakkan tangan seperti hendak menolak, wanita itu cepat-cepat melanjutkan, suaranya penuh permohonan,

"In-kong, tak boleh kau menolak. Kau telah menyelamatkan nyawa kami ibu dan anak, kau telah menanam budi sebesar gunung sedalam lautan, aku... aku tak dapat membalasnya. Biarlah aku menjahitkan dan mencuci pakaianmu serta memberi hidangan sekedarnya... untuk menyatakan terima kasihku. Kalau kau menolak dan pergi begitu saja... ah, In-kong, selama hidup aku akan merasa menyesal kepada diri sendiri. A Wan, kau ajak pamanmu masuk ke dalam!"

Anak itu dengan suara merdu berkata, "Paman buta, marilah kita masuk. Ibu tadi masak bubur dan ubi merah..."

"A Wan..." Dengan suara perih ibu itu mencegah anaknya membuka rahasia kemiskinan mereka.

Kun Hong merasa hatinya tertusuk. Dipeluknya anak itu dan dia berkata sambil tertawa, "Anak baik, biarlah kubikin lega hatimu dan hati ibumu. Kalian manusia-manusia baik..."

"Paman buta, mari kutuntun kau masuk." Anak itu lalu melorot turun dan menggandeng tangan Kun Hong.

Ibunya memandang dengan senyum lega menghias wajahnya karena tadinya dia sudah merasa bingung apakah dia yang harus menuntun tamunya itu memasuki rumah. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dengan mudah tamunya ini akan dapat memasuki rumah tanpa dituntun, asalkan dia berjalan terlebih dahulu karena tamunya itu dapat mengikutinya dari pendengarannya yang tajam, yang dapat mendengar tindakan kakinya.

Sambil tersenyum Kun Hong membiarkan dirinya dituntun oleh anak itu memasuki rumah yang berlantai tanah. Baru saja melangkahi ambang pintu, anak itu sudah berhenti. Hal itu berarti bahwa rumah itu benar-benar amat kecilnya.

"Mari silakan duduk, In-kong. Maaf, tidak ada apa-apa, hanya ada tikar rombeng..."

Kembali Kun Hong menangkap getaran suara yang menusuk hatinya.

"Sini, Paman, sini duduklah..." Anak itu pun mempersilakannya.

Kun Hong maju dua langkah dan ternyata di situ terbentang sehelai tikar di atas tanah! Dia lalu duduk bersila di atas tikar dan ketika tangannya meraba ternyata tikar itu rombeng dan di bawah tikar ditilami rumput kering. Kerut di antara kedua mata yang buta itu makin mendalam. Alangkah miskinnya keluarga ini.

"Silakan duduk dulu, In-kong. Aku hendak mengambil pakaian untukmu."

Kun Hong cepat menggoyang-goyang tangannya ke atas. "Tidak usah, Twaso, tidak usah. Kalau ada pakaian, biarlah dipakai oleh A Wan ini... aku... aku tak perlu berganti pakaian."

Ibu muda itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa kecil. "Pakaian yang kusimpan itu adalah pakaian orang tua, mana bisa dipakai A Wan? Tunggulah sebentar."

"Itu pakaian ayah, Paman. Kau boleh pakai!" anak itu berkata.

Hati Kun Hong tidak karuan rasanya. Terang bahwa keluarga ini miskin, mungkin pakaian itu merupakan satu-satunya yang menjadi simpanan ayah anak ini, bagaimana boleh dia pakai? Ah, dia mendapat akal.

Perempuan ini mempunyai perasaan yang halus, terdorong oleh budinya yang baik. Tidak boleh dia mengecewakan hatinya. Biarlah dia berganti pakaian dan membiarkan wanita itu mencuci kemudian menambal pakaiannya sendiri yang robek-robek. Setelah itu dia boleh memakai lagi pakaiannya sendiri kemudian mengembalikan pakaian yang dipakai untuk sementara itu. Dengan demikian, tanpa merugikan keluarga ini banyak-banyak, dia dapat memuaskan hati nyonya rumah.

Gemersik pakaian menandakan bahwa wanita itu sudah datang lagi.

"Marilah kau berganti dengan pakaian ini, In-kong, dan biarkan pakaianmu yang kotor dan robek-robek itu di sini, sebentar akan kucuci dan kujahit. Aku permisi hendak menyiapkan makanan. A Wan, kau temani pamanmu. Baik-baik jangan nakal, ya!"
"Tapi... tapi..." Kun Hong berusaha membantah.
"Harap In-kong jangan menolak, biar pun pakaian tua dan hidangan sederhana, kuharap In-kong sudi menerima tanda terima kasihku yang mendalam..." Suara itu mengandung permohonan yang mutlak dan tak dapat dia bantah lagi.
"Tapi badanku kotor semua... aku harus membersihkan badan dulu... begini kotor mana boleh memakai pakaian bersih dan makan?"

Mendengar ini, ibu muda itu tertawa. Kun Hong tertarik sekali mendengar suara ketawa ini. Merdu dan sopan. Hanya orang dengan hati putih bersih dan jiwa murni yang dapat tertawa seperti itu. Anak itu pun turut tertawa karena menganggap ucapan Kun Hong ini sebagai kelakar yang lucu.

Memang sikap dan gerak-gerik seorang buta kadang-kadang nampak amat lucu, lucu dan mengharukan hati. Mendengar ibu dan anak itu tertawa-tawa geli, mau tak mau Kun Hong tertawa pula sehingga di dalam rumah gubuk yang sepi miskin itu sekali ini penuh tawa menggembirakan, seperti cahaya matahari menyinari tempat gelap.

"A Wan, kau antarkan pamanmu ini ke anak sungai di belakang dusun!" kata wanita itu sambil pergi ke belakang dengan suara ketawanya masih terdengar.
"Hayo, Paman buta!" Bocah itu menggandeng tangan Kun Hong dan pergilah keduanya ke luar dari pondok, menuju ke anak sungai.

Ketika ke luar dari pondok dan berjalan ke anak sungai, Kun Hong mendengar bahwa di depan pondok berkumpul banyak orang, malah di tengah perjalanan dia mendengar pula orang-orang berjalan.

"Siapa mereka, A Wan?" tanya Kun Hong.
"Paman-paman dan bibi-bibi tetangga penduduk dusun, Paman," jawab anak itu dengan singkat. Agaknya anak ini mempunyai rasa tidak senang terhadap penduduk dusun dan anehnya, tak ada seorang pun di antara mereka yang menegur anak ini!

Setelah mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan segar itu, Kun Hong segera berganti pakaian bersih dan dia malah mencuci pakaiannya sendiri, dibantu oleh A Wan. Ternyata pakaian bersih yang terbuat dari pada kain kasar itu, pas betul dengan tubuhnya. Agaknya ayah anak ini sama perawakannya dengan dia.

Dalam perjalanan pulang, mereka juga bertemu dengan orang-orang dusun. Terasa amat aneh bagi pendengaran Kun Hong, orang-orang yang tengah bercakap-cakap mendadak menghentikan percakapan mereka di kala Kun Hong dan A Wan lewat.

Ketika mereka sampai di dekat pondok, tiba-tiba Kun Hong berkata kepada A Wan, "Kau diam saja, A Wan, dan jangan mengeluarkan suara."

Dia lalu bersama anak itu mendekati rumah dan terdengarlah suara ibu anak itu, suaranya marah bercampur isak tertahan.

"...peduli apa kau dengan urusan pribadiku? Baju suamiku kuberikan kepada siapa pun juga, ada sangkut pautnya apakah denganmu? Kau... kau selalu mengganggu... saudara misan yang durhaka!"
"Huh, dasar perempuan tak tahu malu! Semua orang memandangmu dengan hina, hanya aku yang masih mau mempedulikan. Semua ini karena aku masih ingat bahwa di antara kita masih ada hubungan keluarga, tahukah kau? Apa bila tidak ada aku, apakah kau dan anakmu tidak sudah kelaparan dan menjadi jembel pengemis? Awas kau, semua ini akan kulaporkan kepada Song-wangwe (hartawan Song)!" Terdengar suara laki-laki memaki.
"Pergi...! Pergi...! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lagi...!" Wanita itu berseru marah.
"Ibu...! Apakah paman Tiu mengganggumu lagi?" A Wan tidak dapat menahan suaranya dan merenggut tangannya lalu lari membuka pintu belakang.
"A Wan, kau sudah pulang?" Ibunya menegur.

Kun Hong mendengar betapa kaki seorang laki-laki dengan tergesa meninggalkan tempat itu kemudian dia mendengar tindakan kaki ibu A Wan dan anak itu sendiri menyambutnya. Langkah kaki ibu anak itu secara tiba-tiba terhenti dan tidak terdengar suaranya bergerak sedikit pun juga, sedangkan A Wan berlari menghampirinya dan memegang tangannya lagi.

Memang ibu A Wan terkejut dan memandang ke wajah Kun Hong dengan mata terbuka lebar. Setelah wajah pemuda buta itu tercuci bersih. alangkah jauh bedanya dengan tadi. Kalau tidak datang bersama anaknya dan tidak mengenakan pakaian yang sudah sangat dikenalnya, tentu ia akan pangling. Wajah si buta itu berkulit putih halus, wajah yang amat tampan, wajah seorang kongcu (tuan muda)!

Kemudian ia melihat pakaian yang sudah dicuci, maka serunya penuh penyesalan, "Aiihh, In-kong, kenapa dicuci sendiri pakaiannya? Ah, mana bisa bersih? Berikan kepadaku, biar sebentar kucuci lagi supaya bersih. Syukur, kulihat pakaian itu pas benar dengan badan In-kong."

"Terima kasih... terima kasih... aku menyusahkan saja," berkata Kun Hong dan dia tidak membantah ketika cucian itu diambil orang dari tangannya.

Kun Hong memuji bahwa ibu muda ini benar-benar seorang yang baik. Mengenal budi, peramah, dan amat pandai menyimpan penderitaan hati. Dia berpura-pura tidak tahu akan persoalan yang baru saja ia dengar tadi, dan telah mengambil keputusan bahwa ia akan segera pergi meninggalkan tempat itu setelah pakaiannya sendiri kering.

Tidak lama kemudian nyonya rumah itu datang mengantar sebuah mangkok terisi bubur hampir penuh. Dengan ujung-ujung jarinya Kun Hong dapat mengetahui bahwa mangkok itu terbuat dari pada tanah lempung dan sepasang sumpit dari bambu. Sungguh alat-alat makan yang paling sederhana dan murah yang dapat dipergunakan manusia.

"Waduh, enak, Paman buta. Buburnya pakai ubi merah! Hi-hik, kau tahu? Ubi merah ini kucuri dari kebun paman Lui.”
"A Wan!" ibunya menegurnya.
"Paman, ibu selalu bilang bahwa mencuri adalah perbuatan yang jahat. Aku tidak pernah mencuri. Tetapi paman Lui ubinya begitu banyak dan aku... aku dan ibu sudah lama tak makan ubi merah."

Hampir saja Kun Hong tersedak karena keharuan membuat hawa dari dalam dada naik ke kerongkongannya. "Ibu betul, A Wan, mencuri adalah perbuatan yang jahat. Lebih baik kau minta saja kepada pemilik ubi..."

"Minta? Uhh, pernah aku minta, tapi bukan mendapat ubi melainkan mendapat cambukan pada pantatku. Tak sudi lagi aku minta. Tapi aku pun tidak akan mencuri lagi karena ibu marah-marah," kata anak itu dengan suara manja.

Bubur yang mereka makan itu sangat encer, terlalu banyak airnya dan ini pun sekali lagi membuktikan alangkah miskinnya keluarga itu. Sesudah selesai makan, selesai sebelum kenyang, nyonya rumah menyingkirkan mangkok-mangkok itu dan menyapu tikar dengan kebutan.

Senja sudah lewat. Ibu dan anak itu menyalakan sebuah pelita kecil, dipasang pada sudut pondok. A Wan duduk di pangkuan Kun Hong dan agaknya anak ini masih menderita oleh peristiwa sore tadi. Punggungnya yang kena sambaran cambuk diurut-urut oleh Kun Hong dan sebentar saja anak itu tidur di pangkuannya.

"Dia sudah tidur, Twaso. Di mana tempat tidurnya?" tanya Kun Hong perlahan.

Sampai lama barulah terdengar jawaban lirih. "...di sini juga... disini juga…”

Kun Hong menghela napas panjang. Tangannya mengelus-elus muka anak itu, meraba dahinya, alisnya, mata, hidung, mulut dan dagu. Muka yang tampan, hidungnya mancung mulutnya kecil.

"In-kong, memang kami tidak mempunyai apa-apa. Dalam rumah ini kosong, hanya ada tikar inilah... tempat kami duduk, makan dan tidur..."
"Maaf, Twaso, sejak tadi aku belum mendengar twako (kakak) pulang. Ke manakah dia?"

Kembali sampai lama tiada jawaban, kemudian jawaban itu bercampur isak tertahan, "Dia sudah... sudah tidak ada..."

"Tidak ada? Ke mana?" Kun Hong tidak menduga buruk.
"...sudah meninggal dunia... tiga bulan yang lalu..."
"Ahhh...!" Kerut di antara kedua mata yang buta itu mendalam.

Ah, sekarang tahulah Kun Hong akan sikap para penghuni dusun itu. Kiranya ibu muda ini seorang janda muda. Dia tahu apa artinya menjadi janda di masa itu. Janda muda lagi. Betapa sukarnya hidup bagi seorang janda yang miskin.

Penghinaan akan menimpa dari segenap penjuru, penghinaan lahir batin. Semua mata wanita akan mengincarnya, penuh rasa cemburu. Setiap gerak dapat menimbulkan fitnah. Sedang mata pria akan memandangnya secara lain lagi, pandangan yang penuh nafsu mempermainkan.

Seorang janda bagaikan sebuah biduk kehilangan layar dan kemudi, terombang-ambing di tengah samudera hidup dan menjadi permainan gelombang. Janda tua tentu saja lain lagi, yang pertama mengandalkan hartanya, yang belakangan mengandalkan anak-anaknya.

Kembali jari-jari tangan Kun Hong meraba-raba muka A Wan. "Twaso, apakah wajah A Wan ini sama dengan wajahmu?"

Lama tak menjawab. Kun Hong tidak dapat melihat betapa wajah tanpa bedak yang amat manis itu menunduk dan kedua pipi yang sehat itu memerah.

"Orang-orang bilang dia mirip dengan aku."

Hemmm, tak salah dugaanku, pikir Kun Hong. Janda muda lagi cantik. Makin berbahaya kalau begini.

"Dan kau tentu belum ada dua puluh lima tahun usiamu," katanya pula.
"...baru dua puluh tiga umurku.”

Kun Hong merebahkan tubuh A Wan di atas tikar, lalu dia sendiri bangkit berlutut dan berkata, "Twaso, maaf. Tolong ambilkan pakaianku tadi, aku akan berganti pakaian dan aku harus pergi sekarang juga."
"...kenapa...? In-kong, kenapa kau hendak pergi sekarang? Bajumu masih belum kering benar, dan sedang kutambal punggungnya..."

Kun Hong menggelengkan kepala, mengulurkan kedua tangan untuk minta pakaian dan bangkit berdiri. "Aku harus pergi. Twaso, kau janda masih baru, kau berwajah cantik dan umurmu baru dua puluh tiga tahun..."

Wanita itu mengeluarkan jerit lirih dan sambil menangis ia pun menubruk kedua kaki Kun Hong! Tentu saja Kun Hong menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"In-kong... engkau juga begitu...? Ahh, kalau begitu... lekas kau pukulkan saja tongkatmu itu kepadaku... kau bunuh saja aku, In-kong ... apa artinya hidup kalau semua orang... juga kau yang kumuliakan... memandang serendah itu kepadaku...? Kau bunuhlah aku... kau bunuhlah…"

Karena tangis ini, A Wan menjadi terbangun dan begitu melihat ibunya menangis sambil merangkul kedua kaki Kun Hong yang berdiri bagaikan patung, serta merta anak itu ikut menangis sambil merangkul ibunya. "Ibu... ibu."

"In-kong... kau bunuhlah kami... biar terbebas kami dari pada penderitaan ini..."

Hancur perasaan hati Kun Hong mendengar ibu dan anak itu menangis sambil memeluki kedua kakinya.

"Kau salah sangka... kau salah mengerti...," katanya sambil duduk kembali. "Aku sama sekali tidak pernah memandang rendah atau menyangka yang bukan-bukan terhadapmu, Twaso..."
"In-kong..." wanita itu tersedu-sedu dan sejenak menangis dengan muka di atas dada Kun Hong.

Pemuda buta itu membiarkannya saja, maklum betapa hancur hati wanita itu, malah dia menepuk-nepuk bahunya dengan menghibur sambil mengusap-usap rambut A Wan yang menangis di atas pangkuannya.

"Tenanglah, duduklah Twaso, dan mari kita bicara baik-baik."

Agaknya baru wanita itu sadar akan keadaan dirinya yang menangis sambil bersandar di dada tamunya. "...ohhh... maafkan aku, In-kong..."

Ia cepat-cepat mundur dan duduk menekuk lutut, membendung air mata yang bercucuran dengan ujung lengan bajunya. A Wan diraihnya dan anak ini menidurkan kepala di atas pangkuan ibunya sekarang.

"Twaso, agaknya kau tadi salah sudah duga. Aku hendak pergi sekali-kali bukan karena memandang rendah kepadamu, sama sekali tidak. Malah sebaliknya. Aku sangat kagum kepadamu dan menghormatimu, karena itu aku hendak pergi agar jangan sampai nama baikmu dirusak orang akibat kehadiranku di sini malam ini. Lebih baik aku tidur di pinggir jalan dari pada tidur menginap di sini dengan akibat merusak namamu, Twaso!"

"Tidak ada bedanya, In-kong, sebelum kau datang, namaku sudah dirusak orang setiap hari. Peduli apa dengan omongan orang asalkan kita betul-betul bersih? Dalam beberapa bulan saja aku sudah kebal terhadap fitnah-fitnah dan omongan-omongan kotor mereka, In-kong. Kalau mereka hendak melakukan fitnah dengan kehadiranmu malam ini di sini, biarlah mereka lakukan. Aku tidak peduli karena aku yakin bahwa kau yang kuhormati dan kumuliakan mengetahui akan kebersihanku."

Kun Hong menarik napas panjang, semakin kagum. Wanita ini biar pun miskin dan janda yang tak berdaya, ternyata seorang yang berpendirian.

"Twaso, maafkan kata-kataku, akan tetapi kupikir... akan lebih baik kiranya bagimu dan bagi anakmu kalau kau... menikah lagi."
"In-kong, siapakah di dunia ini mau secara jujur menikah dengan seorang janda miskin yang mempunyai seorang anak? Kecuali laki-laki mata keranjang yang hanya bermaksud mempermainkan saja. Semua laki-laki di sekitar tempat ini memandangku seperti itu, tentu banyak yang mau memeliharaku, akan tetapi... mereka hanya ingin mempermainkan saja, In-kong. Aku tidak sudi... apa lagi Song-wangwe, aku tidak sudi. Biarlah, dia boleh suruh tukang-tukang pukulnya memaksaku."

Kun Hong harus mengakui kebenaran kata-kata ini. Memang banyak laki-laki di dunia ini yang wataknya seperti itu. Menganggap wanita hanya sebagai barang mainan, menarik hanya karena kecantikannya, suka menikah dengan janda muda yang cantik hanya untuk dipermainkan belaka. Sudah tentu tidak semua laki-laki berwatak demikian karena segala sesuatu di dunia ini tentu ada pengecualiannya, akan tetapi seperti itulah sifat dan watak sebagian besar laki-laki.

"Susah kalau begitu. Twaso, apakah kau tidak mempunyai keluarga?"
"Ada seorang pamanku yang tinggal jauh di kota Cin-an, akan tetapi aku tidak tahu betul di mana rumahnya. Satu-satunya orang yang tahu adalah saudara misanku yang jahat, si Tiu keparat yang membantu cepatnya maut merenggut nyawa suamiku dan yang selalu membujuk-bujukku untuk menuruti kehendak hartawan Song!" Suara wanita itu terdengar marah ketika menyebut-nyebut nama Tiu dan Song.
"Orang yang datang tadi? Hemmm, sebetulnya, mengapa suamimu mati di waktu masih muda? Dan apa maksud Tiu dan Song, Twaso?"

Dengan suara menyedihkan janda muda itu lalu bercerita…..
Related image
Tadinya dia hidup bahagia bersama suaminya, seorang petani muda she Yo. Walau pun keadaannya tidak dapat dikata berlebihan, namun dengan sebidang sawah milik mereka, dapatlah mereka menutupi kebutuhan hidup sederhana, bertiga dengan putera mereka, si kecil Yo Wan.

Mereka sebenarnya adalah suami isteri pendatang baru dari lain dusun di daerah banjir. Mereka merupakan korban-korban yang lari mengungsi dan akhirnya menetap di dusun itu setelah menukar seluruh barang-barang mereka dengan sebidang tanah.

Akan tetapi, malapetaka mulai mengintai mereka ketika di dusun itu datang pula Lao Tiu, saudara misan Yo Kui, petani muda itu. Lao Tiu ini orangnya licik, curang dan kerjanya hanya berjudi dan sangat terkenal sebagai seorang buaya petualang. Akhirnya si Lao Tiu ini menjadi kaki tangan tuan tanah kaya raya yang menguasai sebagian besar tanah di sekitar tempat itu dan yang pengaruh dan kekuasaannya dikenal hingga di dusun-dusun sekitarnya.

Tuan tanah hartawan ini adalah Song-wangwe (hartawan she Song). Dia seorang laki-laki setengah tua yang mata keranjang dan terkenal tak akan dapat tidur nyenyak sebelum mendapatkan wanita yang dirindukan, baik wanita itu isteri orang lain atau bukan.

Karena kelicikan dan tipu muslihat Lao Tiu ini, akhirnya Yo Kui masuk perangkap si tuan tanah. Mula-mula dia diberi hutang untuk membeli bibit padi dan kerbau, dan karena Yo Kui seorang buta huruf, maka dia tidak tahu bahwa tuan tanah dan Lao Tiu yang ‘berbudi’ itu membuat surat perjanjian jual beli kemudian menyuruh dia menanda-tangani dengan cap jempol.

Dengan ditandainya surat perjanjian yang tidak diketahui isinya itu, Yo Kui berarti sudah menjual tanahnya, atau lebih tepat, menukar tanahnya hanya dengan kerbau seekor dan bibit padi sekarung! Semenjak itu, mulailah Lao Tiu mengerjakan lidahnya yang berbisa. Malah dengan berani mati dia membujuk Yo Kui supaya ‘menyerahkan’ isteri yang cantik manis itu menjadi ‘penghibur’ tuan tanah Song, dan merelakan setiap kali hartawan itu membutuhkannya.

Tentu saja Yo Kui menjadi marah luar biasa dan serta merta menghajar Lao Tiu saudara misannya itu sampai jatuh bangun. Akan tetapi pada beberapa hari berikutnya, lima orang tukang pukul tuan tanah itu datang kepada Yo Kui dan menagih pembayaran sewa tanah.

Yo Kui memaki-maki, bilang bahwa dia mengerjakan sawahnya sendiri, mengapa harus bayar sewa? Kalau si hartawan menghendaki kembalinya kerbau dan bibit, boleh diambil kembali kerbaunya, ada pun bibitnya akan dikembalikan kelak kalau sudah panen. Terjadi keributan dan Yo Kui disiksa oleh lima orang tukang pukul itu. Pemuda tani ini jatuh sakit, muntah-muntah darah.

Namun dia masih belum mau menyerah. Setelah penyakitnya agak sembuh, dia pergi ke kota melapor kepada pembesar setempat tentang perbuatan hartawan Song dengan kaki tangannya. Apakah yang terjadi? Mudah diduga!

Di dalam negara yang masih kacau seperti Tiongkok pada masa itu, jarang ada pembesar yang betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat, terlebih lagi kepentingan rakyat kecil. Hukum diinjak-injak, peri kemanusiaan lenyap dari lubuk hati manusia, bahkan agaknya orang lupa kepada Tuhan, mengumbar nafsu sejadi-jadinya, mengandalkan setan yang di waktu itu merubah diri dalam tumpukan harta dan tingginya kedudukan dan pangkat. Yang berharta dan berpangkat, merekalah yang berkuasa, dialah yang menang, akhirnya siapa yang menang, dialah yang benar!

Oleh karena inilah maka tidak mengherankan bila pembesar yang dilaporinya itu segera turun tangan melakukan tindakan, periksa sana dan periksa sini, lalu keluarlah keputusan ‘pengadilan’, bahwa tanah itu telah menjadi milik Song-wangwe dengan sah, bahwa Yo Kui harus membayar lunas uang sewa tanah dan mengembalikan tanah itu, dan bahwa Yo Kui harus membayar biaya pengaduannya kepada pembesar itu!

Melihat dan mendengar keputusan pengadilan macam ini, kontan saja Yo Kui jatuh sakit! Memang dia sudah mendapat luka di dalam tubuhnya karena pengeroyokan para tukang pukul, ditambah lagi tekanan batin hebat membuat dia tak dapat turun dari pembaringan.

Isterinya menjadi gelisah sekali. Kerbau dan alat pertanian terpaksa dijual, sebagian untuk membayar apa yang sudah diputuskan oleh pembesar itu, sebagian lagi untuk pembeli obat dan makan.

Akan tetapi penyakit yang diderita Yo Kui makin payah. Dia sakit sampai berbulan-bulan dan sesudah semua barang yang ada di dalam rumah dijual oleh isterinya untuk obat dan makan, akhirnya dia... mati meninggalkan isterinya yang masih muda dan anaknya yang masih kecil!

"Demikianlah, In-kong..." janda muda itu mengakhiri cerita sambil menghapus air matanya yang bercucuran deras. "Penderitaanku tidak hanya sampai di situ saja... setelah suamiku meninggal, lalu bermunculan setan-setan berupa orang-orang lelaki mata keranjang yang seakan-akan bersaingan dan berebutan untuk membujuk diriku menjadi... isteri muda atau piaraan. Terutama sekali si jahat Lao Tiu itu, yang setiap hari membujuk-bujukku supaya menyerah kepada hartawan Song..."

Kun Hong menahan kemarahan yang seakan-akan hendak meledakkan dadanya setelah mendengar penuturan janda muda ini.

"…akan tetapi… aku bukanlah wanita rendah seperti yang mereka inginkan...," janda itu melanjutkan, masih terisak, "bagiku, lebih baik aku mati dari pada menuruti kehendak mesum mereka, In-kong... jika saja aku tidak melihat A Wan... ah... agaknya telah lama aku menyusul suamiku..."

Dia menangis lagi, sekarang lebih menyedihkan, sambil mendekap kepala puteranya di pangkuan.

"Besarkan hatimu, Twaso, dan percayalah bahwa Thian Maha Adil selalu akan menolong manusia yang sengsara. Kau tidurlah sekarang dan besok masih ada waktu untuk kita mencari jalan sebaiknya. Hanya satu hal ingin kuketahui. Pamanmu yang tinggal di Cin-an itu, andai kata kau dan anakmu datang kepadanya, apakah kiranya dia mau menerima kalian?"
"Dia orang baik, In-kong, dia adik mendiang ibuku, agaknya dia pasti mau menerima kami, biar aku bekerja sebagai bujang tidak mengapa..."

Percakapan terhenti dan janda muda itu biar pun berkali-kali diminta oleh Kun Hong agar supaya mengaso, tetap saja duduk di dekat lampu untuk menyelesaikan pekerjaannya menambal dan menjahit pakaian Kun Hong. Beberapa kali ia menengok dan memandang ke arah tuan penolongnya, ternyata si buta itu duduk bersila tak bergerak seperti patung.

"Inkong... kau tidurlah..."
"Biarlah, Twaso, aku biasa tidur sambil duduk. Kau mengasolah, kurasa sudah hampir tengah malam sekarang."
"Aku hendak menyelesaikan ini dulu...," jawab janda muda itu.

Akan tetapi setelah selesai menambal pakaian itu, ia duduk termenung sambil menatap wajah yang tidak dapat balas memandangnya itu. Hatinya penuh ketrenyuhan, iba hatinya melihat wajah tampan yang berkerut di antara kedua matanya itu.

Aduh kasihan, muda belia yang malang, pikir janda muda ini. Apa bedanya bagi dia siang dan malam? Ah, mengapa aku tadi menyuruh dia tidur? Bukankah selamanya dia seperti orang tidur kedua matanya? Jantungnya serasa diiris-iris kalau ia menatap kedua pelupuk mata yang tertutup rata itu, mulut yang mengarah senyum namun membayangkan bekas penderitaan batin yang hebat. Muda belia buta yang malang...!

Memang aneh! Janda muda yang sebetulnya juga amat menderita batin dalam hidupnya itu, kini duduk termenung memandang ke arah pemuda buta itu dengan hati penuh belas kasihan.

Hawa malam mulai dingin. Janda itu menyelimutkan sehelai karung tipis di atas tubuh puteranya, lalu menengok ke arah Kun Hong yang masih saja duduk seperti patung. Dia memperhatikan pernapasan Kun Hong yang rata dan panjang. Benarkah si buta ini bisa tidur sambil duduk? Orang aneh. Muda belia yang malang dan aneh.

"In-kong...?" Ia berbisik untuk meyakinkan apakah dia benar-benar tidur.

Ingin dia menawarkan selimut, selimutnya sendiri, juga sehelai karung tipis. Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak, tidak menjawab. Ah, dia sudah tidur, tak boleh diganggu. Janda muda itu meniup padam api penerangan, kemudian merebahkan diri di dekat anaknya, mendekap anaknya, meringkuk seperti udang di atas tikar rombeng yang dingin.

Kun Hong tidak tidur. Dia tengah bersemedhi. Dia mendengar suara janda itu tadi, akan tetapi sengaja tidak menjawab. Hatinya baru lega pada waktu janda itu memadamkan api penerangan yang baginya tiada bedanya itu, karena hal itu berarti si janda akan tidur dan dia dapat bersemedhi dengan bebas.

Ayam telah berkokok menyambut datangnya fajar ketika Kun Hong sadar dari tidurnya. Dia segera menggosok-gosokkan jari tangan kepada jalan darah di sekeliling kepalanya untuk menyegarkan perasaan. Pernapasan ibu beserta anak yang tidur di hadapannya itu membuktikan bahwa mereka masih pulas. Kun Hong tersenyum merasakan perbedaan keadaan mereka berdua itu antara hari kemarin dan sekarang ini.

Duka mau pun suka sebetulnya hanya bersifat sementara saja, seperti halnya hidup ini sendiri. Kedukaan yang betapa pun besarnya akan lenyap di kala tidur, seperti halnya ibu dan anak pada saat itu, tentu sama sekali lupa akan segala penderitaan hidup, lupa akan segala ancaman-ancaman bahaya, lupa bahwa mereka hidup serba kekurangan, malah kalau dikaji (dipikirkan masak-masak) benar, dalam keadan sepulas mereka itu, apa sih bedanya hidup kaya atau miskin, apa bedanya tidur di ranjang berkasur atau di atas tikar rombeng?

Kun Hong merasa badannya sangat segar. Kokok ayam jantan saling sahut menyegarkan perasaan serta membangkitkan semangatnya. Malam tadi sudah diambilnya keputusan. Dia harus menolong ibu dan anak ini dan dia harus memberi hajaran kepada orang-orang jahat yang menindas penghidupan orang-orang miskin di dusun itu.

Mendadak Kun Hong memiringkan kepalanya. Dia mendengar derap banyak kaki orang menuju ke rumah gubuk ini! Mencurigakan juga kalau sepagi itu ada serombongan orang laki-laki mendatangi tempat itu, bahkan dari suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan berat itu dapat diduga bahwa orang-orang itu sedang marah!

"Perempuan tidak tahu malu! Kau benar-benar membikin kotor dusun kami!" terdengar bentakan suara laki-laki yang segera dikenal oleh Kun Hong sebagai suara Lao Tiu yang kemarin sore diusir oleh janda muda itu.
"Dung! Dung-dung!" Pintu gubuk itu digedor-gedor dari luar.

Janda muda itu dan anaknya terkejut lalu bangun. A Wan segera menangis ketakutan. Janda muda itu pun ketakutan, akan tetapi amatlah terharu hati Kun Hong ketika janda itu berbisik.
"Celaka, In-kong..., mereka tentu akan mencelakakan kau dengan fitnah..."

Benar-benar seorang yang berpribudi, pikir Kun Hong. Terang orang-orang itu beralamat tidak baik bagi si janda itu sendiri, namun yang dikhawatirkan oleh janda itu adalah diri tamunya, bukan dirinya sendiri!

"Tenanglah, Twaso... tenang dan jangan takut. Orang yang benar akan dilindungi Thian. Nanti kalau aku berdiri dan keluar, kau gendonglah A Wan dan kau harus selalu ikut di belakangku, jangan terlalu jauh. Kau percayalah kepadaku, tak seorang pun akan berani mengganggu kau atau A Wan."
"Dung-dung-brakk!" Pintu itu hampir roboh oleh pukulan-pukulan dari luar.
"Sundal! Perempuan hina! Keluarlah bersama pacarmu, laki-laki hina si jembel buta itu... kalau tidak rumah ini akan kurobohkan!" teriakan Lao Tiu kembali terdengar. "Dipelihara Song-wangwe tidak mau, sekarang malah memasukkan jembel buta, benar-benar seperti anjing menolak roti mencari tai!"
"Kreeeeettttt...!" Pintu dibuka oleh Kun Hong dari dalam.

Semua mata mereka yang merubung di depan pintu pondok itu memandang. Si buta itu berdiri tegak di ambang pintu, tongkatnya melintang di depan dada, wajahnya tenang dan mulutnya tersenyum, akan tetapi kerut merut di antara kedua matanya makin dalam. Di belakangnya tampak janda itu berdiri sambil memondong anaknya, jelas bahwa janda itu amat ketakutan, rambutnya awut-awutan dan mukanya pucat.

"Wah, tak tahu malu... tak tahu malu... berjinah dengan jembel buta... kawan-kawan, hayo hajar mampus si buta, seret perempuan hina ini ke depan kaki Song-wangwe!"

Sementara itu tanpa mempedulikan Lao Tiu mencak-mencak, Kun Hong berbisik kepada janda tadi menanyakan siapa mereka itu.

Janda itu berbisik menjawab, "Lao Tiu dan lima orang tukang pukul Song-wangwe..."

Panas rasa seluruh tubuh Kun Hong. Apa lagi setelah Lao Tiu memberi aba-aba kepada lima orang kawannya untuk turun tangan dan kelima orang itu bergerak menyerbu. Kun Hong tak dapat menahan sabar lagi.

Keenam orang itu, yaitu Lao Tiu dan lima orang tukang pukul, hanya melihat bayangan berkelebat, sinar hitam menyambar-nyambar ke sekitar diri mereka dan tahu-tahu mereka mengalami rasa sakit yang hebat. Seorang demi seorang menjerit, roboh bergulingan di atas tanah bagai cacing yang terkena abu panas, mengaduh-aduh kesakitan tanpa dapat mengerti sebetulnya bagian mana dari tubuh mereka yang terasa nyeri.

Sungguh aneh dan lucu mereka itu, kadang-kadang menekan perut, lalu kepala, pundak, dada dan lain-lain bagai orang dikeroyok oleh ribuan ekor semut. Ada pun Lao Tiu sendiri tahu-tahu sudah dicengkeram tengkuknya oleh tangan yang sangat kuat. Dia berusaha memberontak, namun tengkuknya serasa hendak hancur dan panas seperti terbakar.

"Aduhh... a... a... aduhhh... lepaskan..." dia menjerit-jerit seperti seekor babi disembelih, mukanya menengadah dan tidak dapat ditundukkan.

Dia masih belum dapat melihat siapa orangnya yang mencengkeram tengkuknya karena dia tidak mampu menggerakkan lehernya, hanya matanya melirik ke sana ke mari penuh rasa takut karena kini dia dapat menduga bahwa yang mencekik tengkuknya pasti si buta itu, juga yang merobohkan lima orang kawan yang dia andalkan.

Sementara itu, para penduduk dusun yang tadi beramai-ramai mengikuti rombongan ini dan hendak menonton, memandang dengan mata terbelalak, malah rumah-rumah gubuk itu sekarang terbuka semua pintunya dan berbondong-bondong penghuninya keluar untuk menonton ramai-ramai di waktu fajar ini.

"Manusia berhati iblis! Manusia bermulut kotor!" Berkali-kali Kun Hong berkata perlahan, lalu memaksa Lao Tiu untuk membungkuk, terus membungkuk sampai akhirnya mukanya menyentuh tanah.

Beberapa kali Kun Hong menggosok-gosok muka itu dengan mulut di depan pada tanah, memukul-mukulkannya perlahan. Lao Tiu hanya bisa bersuara ah-ah-uh-uh saja dan pada waktu Kun Hong mengangkat dia kembali, mukanya penuh tanah dan mulutnya berdarah, beberapa buah giginya copot!

"Mulutmu harus dirobek biar lebih mudah kau buka lebar-lebar mencaci maki orang!" kata pula Kun Hong yang masih diracuni kemarahan itu. Tongkatnya digerakkan ke arah mulut Lao Tiu.
"In-kong, jangan... kasihan dia...," janda itu berseru penuh kengerian.

Kun Hong makin gemas. Tongkatnya tidak jadi merobek mulut, melainkan menampar pipi kanan kiri sehingga kedua pipi itu menggembung.

"Manusia keparat! Dengarlah kau? Dia yang kau caci maki, kau hina, kau fitnah, kau bikin sengsara hidupnya, dia malah mintakan ampun untukmu! Ah, kalau kau masih ada sedikit saja sifat manusia, tidak malukah engkau? Manusia keji, ahhh, alangkah inginku merobek mulutmu dari telinga kiri sampai ke telinga kanan!"
"Am... Am... ampun... ampun..." dengan seluruh tubuh yang menggigil ketakutan Lao Tiu meratap.

Kun Hong menengok ke kanan kiri, mengetahui bahwa orang-orang dusun itu berkumpul semua di situ, menonton.

"Dengar kalian semua, sahabat-sahabat penghuni dusun ini! Kalian adalah orang-orang bernyali kecil yang karena sifat pengecut kalian itu memang sudah patut untuk dijadikan orang-orang yang tertindas! Kalian tahu betapa jahatnya manusia-manusia macam ini dan gembongnya yang merupakan diri hartawan dan tuan tanah Song, akan tetapi kalian tidak menaruh kasihan kepada Yo-twaso yang tertindas ini, bahkan turut menghinanya hanya untuk menyenangkan hati Song-wangwe dan kaki tangannya! Hemmm, hari ini kebetulan aku lewat di sini dan mendengar urusan penasaran ini, harap kalian jadikan contoh agar di lain waktu kalian dapat bersatu padu melawan penindas yang membuat sengsara hidup kalian!"

Kun Hong menjambak rambut Lao Tiu dan didorongnya orang itu untuk berjalan. "Hayo antar aku ke rumah majikanmu!"

Kepada para penduduk yang berdiri terpaku keheranan itu Kun Hong berkata, "Kubiarkan lima orang tukang pukul ini menderita sebentar di sini, biarlah mereka merasakan betapa sakitnya orang disiksa sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk mengingat dan mengenangkan roh dari mendiang Yo Kui. Sahabat-sahabat semua tunggu saja di sini, jangan ikut aku ke rumah Song-wangwe. Aku hanya titip Yo-twaso dan anaknya!"

Setelah berkata demikian, dia mendorong tubuh Lao Tiu yang karena ketakutan kemudian mengantarkannya ke rumah gedung keluarga Song yang sangat megah dan besar. Di depan pintu gerbang gedung itu, Kun Hong memaksa Lao Tiu untuk minta menghadap Song-wangwe karena urusan yang sangat penting.

Lao Tiu sudah mati kutunya, tidak berani membantah dan minta kepada penjaga untuk menyampaikan kepada Song-wangwe bahwa dia minta bertemu untuk urusan ‘si janda Yo’! Kiranya kalau bukan urusan ini yang diajukan oleh Lao Tiu, hartawan mata keranjang itu belum tentu mau turun dari tempat tidurnya yang hangat.

Sambil mengomel panjang pendek kenapa si Lao Tiu begitu kurang ajar membangunkan dirinya sepagi itu, Song-wangwe keluar juga karena memang sudah amat lama si bandot tua ini merindukan isteri Yo Kui yang cantik manis, yang seperti bandot mengilar ingin mendapatkan daun muda yang segar kehijauan.

Akan tetapi kemarahannya lenyap seketika, terganti harapan dan kegembiraan ketika dia melihat Lao Tiu di tempat yang agak gelap itu datang bersama seorang lainnya. Keadaan masih remang-remang dan mata tuanya sudah agak lamur, karena itu hartawan mata keranjang ini menyangka bahwa Lao Tiu datang bersama si janda cantik!

"Aiih, Lao Tiu, kau pagi-pagi sudah memaksa aku meninggalkan ranjangku yang empuk. Ehh, kau datang dengan janda manis yang kurindukan? He-heh-heh, mari masuk, manis, kebetulan sekali."

Tiba-tiba kata-kata yang ramah itu terhenti, terganti seruan kaget yang hanya berbunyi "eh-eh, ah-ah, oh-oh" saja karena seperti halnya Lao Tiu tadi, tengkuknya sudah dicekik oleh Kun Hong yang bergerak cepat menyerbunya. Kun Hong menyeret Song-wangwe dan Lao Tiu dengan kedua tangannya.

Beberapa orang penjaga datang memburu dan memaki, "Penjahat kurang ajar, apakah kau sudah gila? Lepaskan Song-wangwe!”

Akan tetapi kata-kata makian ini hanya sampai di situ saja karena si pemakinya bersama seorang kawannya yang lain sudah terlempar sejauh tiga meter lebih oleh tendangan kaki Kun Hong. Penjaga-penjaga lain datang dengan senjata di tangan.

"Mundur semua!" Kun Hong membentak. "Kalau tidak, lebih dulu akan kupatahkan leher majikanmu. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan membereskan urusan penasaran janda Yo!" Setelah mengancam demikian, Kun Hong kemudian mendorong terus kedua orang tawanannya itu kembali ke tempat tinggal janda Yo Kui.

Para penjaga menjadi bingung dan tentu saja tidak berani turun tangan untuk menjaga keselamatan majikan mereka. Penjaga-penjaga itu berkumpul dan hanya berani mengikuti di belakang Kun Hong, sambil berunding bagaimana caranya harus menyerang si buta yang menawan majikan mereka.

"Jangan serang... uh-uhh... jangan serang... goblok...!" Song-wangwe berkali-kali berteriak mencegah kaki tangannya karena dia betul-betul ketakutan dan sama sekali tidak dapat berkutik dalam cengkeraman yang amat kuat dan menyakitkan leher itu.

Para penduduk dusun berseru keheranan, penuh kekagetan dan kekaguman pada waktu mereka melihat si buta itu datang lagi, kini sambil menyeret Lao Tiu dan Song-wangwe sedangkan di belakangnya berjalan banyak penjaga yang tak berani bergerak menyerang sehingga dipandang sepintas lalu seakan-akan mereka ini malah menjadi anak buah Kun Hong si buta!

Setibanya di depan pondok janda Yo, Kun Hong melemparkan tubuh Lao Tiu ke bawah. Lao Tiu bergulingan saling tindih dengan lima orang tukang pukul yang masih terdengar merintih-rintih seperti ikan dilempar ke darat.

Lao Tiu terlampau takut dan terlampau sakit-sakit mukanya, sehingga dia pun tak mampu bangkit lagi. Kedua pipinya membengkak besar membiru, matanya merah, mukanya kotor dan mulutnya berdarah, bibirnya bengkak-bengkak tebal, giginya banyak yang copot.

"Song-wangwe, apakah kau tahu apa sebabnya aku menawanmu dan menyeretmu ke tempat ini?" tanya Kun Hong, suaranya tegas berwibawa.

Hartawan itu diam saja. Maka Kun Hong memperkeras cengkeramannya dan membentak, "Hayo jawab!"

"Tidak... ti... tidak tahu...," suaranya gemetar tubuhnya menggigil.
"Hayo lekas kau ceritakan tentang urusanmu dengan mendiang Yo Kui dan juga tentang kehendakmu yang kotor terhadap nyonya janda Yo. Tentang Lao Tiu yang kau suruh membujuk-bujuk, tentang penipuanmu menggunakan surat perjanjian tanah, tentang cara kotormu menyogok pembesar yang melakukan pengadilan, tentang lima orangmu yang mengeroyok dan memukul mendiang Yo Kui. Hayo cepat ceritakan, kalau ada yang kau lewatkan satu saja... hemmm, aku benar-benar akan mematahkan batang lehermu yang lapuk ini!"

Karena nyawanya benar-benar terancam maut di tangan kuat pemuda buta itu, dengan suara yang tersendat-sendat si tua Song terpaksa menceritakan semua tipu muslihatnya terhadap mendiang Yo Kui, dan betapa dengan bantuan tukang pukulnya dan Lao Tiu, dia berusaha keras untuk menarik diri janda Yo menjadi kekasihnya.

Kata-katanya yang terputus-putus ini didengar oleh semua orang tanpa ada yang berani mengeluarkan suara, hanya terdengar isak tangis nyonya janda muda itu yang merasa terharu dan juga bangga karena sekali ini selain ia dapat membalas sakit hati, membuat roh suaminya tidak penasaran, juga sekaligus ia dapat mencuci bersih namanya di depan umum.....

Sebetulnya, hal ini bukanlah rahasia bagi para penduduk dusun itu, karena mereka semua sudah tahu macam apa adanya tuan tanah Song dengan sekalian kaki tangannya. Akan tetapi baru kali ini mereka mendengar hal ini dibongkar dan diceritakan oleh si tuan tanah sendiri. Benar-benar hal yang amat luar biasa!

Setelah selesai membuat pengakuan, dengan suara serak tuan tanah itu meratap-ratap, "...ampunkan saya, Taihiap (pendekar besar), ampunkanlah saya... saya berjanji... tidak berani lagi..."

Gatal-gatal tangan para penjaga dan kaki tangan tuan tanah itu, akan tetapi mereka tak berdaya dan tidak berani bergerak karena maklum bahwa si buta itu tak boleh dipandang ringan. Buktinya, lima orang tukang pukul yang pandai silat itu pun sekarang masih saja merintih-rintih dan tak dapat bangun. Pula, kalau mereka hendak mengeroyok, tentu tuan tanah itu akan terbunuh lebih dulu.

"Mudah saja mengampunkan orang macam kamu, tapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati karena perbuatanmu? Bagaimana dengan wanita-wanita yang sudah kau hina?" Kun Hong membentak.
"Ampun... ampun..."
"Hayo kau suruh seorang di antara kaki tanganmu untuk mengambil lima ratus tail perak untuk mengganti kerugian nyonya Yo, sediakan sebuah gerobak berikut kudanya. Cepat! Hanya itu yang akan menjadi pengganti nyawamu."

Tanpa ayal lagi tuan tanah itu menyuruh seorang kepercayaannya yang berdiri melongo di tempat itu untuk segera memenuhi permintaan Kun Hong ini.

Para penduduk ramai membicarakan hal ini, ada yang terheran-heran, ada yang kagum, juga ada yang iri hati terhadap nyonya janda yang sekarang berdiri dengan muka pucat dan bingung, terlalu terkejut menghadapi semua kejadian yang sekaligus mengubah jalan hidupnya ini.

Dengan berdiri tegak Kun Hong menanti sampai pesuruh tuan tanah itu datang kembali membawa sebuah gerobak berikut kudanya yang cukup baik, terisi lima ratus tail perak! Semua penduduk memandang dengan melongo. Selama hidupnya belum pernah mereka melihat uang perak sebanyak itu, jangankan melihat, mimpi pun belum pernah!

"Twaso, gerobak dan uang ini milikmu. Dengan gerobak ini kau dan anakmu bisa mencari pamanmu ke Cin-an dan uang ini dapat kau pakai sebagai modal hidup.”
"...ahh... terlalu... terlalu banyak untuk apa...?" Janda itu berkata gagap.

Kun Hong tersenyum. "Untuk apa, terserah kepadamu karena uang ini milikmu yang sah!"

Janda itu memandang ke kanan kiri. Dia melihat betapa para penduduk memandangnya dengan mata terbelalak, dengan wajah mereka yang kurus-kurus serta pakaian mereka yang tambal-tambalan. Mendadak janda muda itu sambil memondong anaknya berlari ke arah gerobak, melihat lima kantong uang perak bertumpuk di situ, lalu berpaling kepada seorang dusun yang sudah tua.

"Chi-lopek (uwak Chi), kau turunkan tiga karung dan kau bagi-bagikan rata kepada semua saudara penduduk dusun kita."

Hampir saja semua orang tidak dapat percaya apa yang mereka dengar ini, kemudian setelah janda itu mengulang perkataannya, serentak terdengar mereka bersorak sorai lalu memuji-muji nyonya Yo. Malah beberapa orang wanita berlari menghampiri, memeluknya, menciuminya sambil menangis. Yang lelaki pada tertawa lebar, wajah yang kurus-kurus itu berseri-seri, timbul harapan baru dengan adanya tambahan bantuan uang yang tidak sedikit itu.

Kun Hong mengangguk-angguk, diam-diam dia kagum sekali dan benar-benar dia puas telah menolong seorang yang memiliki pribudi setinggi nyonya janda itu. Biar pun seorang dusun, ternyata wanita ini benar-benar seorang bidadari, pikirnya dan terbayanglah wajah Cui Bi di depan mukanya.

Setelah selesai tiga karung diturunkan, Kun Hong lalu melepaskan tuan tanah, dengan jari tangannya dia menotok punggung dan pangkal paha. Tuan tanah itu berteriak dan roboh, dari mulutnya keluar darah.

"Kau tidak akan mati," kata Kun Hong, "akan tetapi ingat, jika sekali lagi kau melakukan gangguan kepada orang-orang yang tak bersalah, aku akan datang kembali dan membikin perhitungan yang lebih hebat denganmu. Pulanglah!"

Tuan tanah itu merangkak bangun, segera dituntun dan diangkat oleh orang-orangnya. Dia tidak tahu bahwa semenjak saat itu dia takkan dapat lagi melakukan perbuatan hina, tidak akan dapat mengganggu wanita lagi karena dengan kepandaiannya, Kun Hong telah membuatnya menjadi seorang laki-laki lemah.

Kemudian Kun Hong menyembuhkan lima orang tukang pukul tadi, akan tetapi mereka ini pun mendapat bagian. Dengan memijat urat darah terpenting Kun Hong membuat mereka berlima itu kehilangan tenaga pada kedua lengannya, sehingga selanjutnya mereka tidak akan dapat menjadi tukang pukul lagi!

"Oleh karena kau masih saudara misan Yo-twaso, kau kuampuni. Akan tetapi kau harus mengantar Yo-twaso ke Cin-an sampai dia bertemu dengan pamannya. Awas, jangan kau main-main karena sekali kau menyeleweng, nyawamu tak akan tertolong lagi," kata Kun Hong kepada Lao Tiu sambil cepat-cepat dia menyentuh jalan darah di dadanya.

Lao Tiu merintih, merasa betapa jantungnya berdetak keras dan ada rasa nyeri dan perih di dekat lehernya.

"Kau terancam maut oleh luka di dadamu," berkata Kun Hong, "dan obatnya hanya akan dimengerti oleh Yo-twaso. Kalau kau sudah mengantarkan dia dengan selamat sampai di Cin-an dan bertemu dengan pamannya, barulah dia akan memberi tahu kepadamu cara pengobatannya sampai kau sembuh. Nah, dengan jaminan ini, sekali kau menyeleweng, kau akan mampus dan tubuhmu akan menjadi busuk sebelum nyawamu melayang."

Kun Hong sengaja mengeluarkan ancaman ini, padahal yang tadi dia lakukan itu hanyalah totokan biasa saja dan sama sekali tidak ada bahayanya, dalam waktu sebulan rasa tak enak itu akan hilang sendiri. Akan tetapi dia perlu mengancam dan menakut-nakuti orang berwatak buruk seperti Lao Tiu.

"Yo-twaso, mari kita masuk pondok. Akan kuberi tahu rahasia pengobatan dia itu dan aku akan menukar pakaianku."

Dengan tongkat meraba-raba ke depan Kun Hong memasuki pondok Nyonya Janda Yo sambil menggandeng tangan A Wan yang lari mengikuti. Sampai di dalam pondok, janda muda ini tak dapat menahan lagi hatinya yang penuh perasaan haru, girang, dan bahagia. Sambil terisak menangis wanita ini menubruk Kun Hong dan merangkulnya, menangis tersedu-sedu.

"In-kong... ahhh, In-kong... kau sudah menyelamatkan hidupku... menyelamatkan nama baikku… In-kong, budimu setinggi gunung... dan... kau seorang buta...! Ah, betapa inginku membalas budimu... In-kong, andai kata dapat, aku rela untuk memberikan dua mataku untukmu!"

Dengan penuh perasaan nyonya muda itu menarik leher Kun Hong dan tanpa malu-malu karena perasaan terima kasih yang meluap-luap ia lalu menciumi kedua mata yang buta itu!

"Twaso, jangan...!" Suara Kun Hong tersedak karena dia sedang menahan perasaannya. Kedua tangannya memegang pundak wanita itu, didorong menjauh.

Sejenak wanita itu menatap wajahnya, melihat betapa mata yang buta itu bergerak-gerak, celah-celah belahan pelupuk itu membasah, hidung yang mancung itu kembang-kemping, bibirnya bergerak-gerak gemetar.

"In-kong...!" wanita itu lalu menjatuhkan dirinya, kini memeluk kedua kaki Kun Hong dan menciumi sepatunya yang kotor, membasahi dengan air mata dan menggosok-gosoknya dengan rambut.
"In-kong, selama hidupku takkan dapat aku bertemu dengan manusia seperti In-kong... apa artinya menempuh hidup baru di Cin-an kalau aku tak akan dapat bertemu dengan orang sepertimu lagi? In-kong, biarkan aku membalas budimu dengan menghambakan diriku... biarkan aku menjadi bujangmu. A Wan juga... biarkan kami berdua merawatmu, biarkan aku menuntunmu..."
"Yo-twaso, diam...!" Kun Hong mengeluarkan suara bentakan dan dengan sekali tarik dia membuat wanita itu berdiri. "Kau wanita baik-baik, kau seorang suci dan mulia hatimu. Thian pasti akan memberkatimu. Hayo kita keluar, kau harus berangkat sekarang juga. Mana pakaianku?"

Dengan masih terisak wanita itu berkata sedih, "Tidak akan kukembalikan, Inkong. Kalau tidak dapat berkumpul dengan orangnya, biarlah pakaiannya menjadi kenang-kenangan. Kuganti dengan pakaian suamiku pula... yang juga pergi meninggalkan kami berdua..." ia terisak lagi.

Kun Hong maklum bahwa paling berat adalah mempertahankan nafsu hati, oleh karena itu dia tidak mau banyak ribut tentang pakaian, segera dia menuntun tangan A Wan keluar dari pintu diikuti oleh janda itu. Sambil terisak janda itu minta diri dari semua tetangganya, lalu ia naik gerobak bersama A Wan. Lao Tiu sudah duduk di depan, orang ini sekarang taat benar.

"Aku akan mengantar sampai keluar dusun," kata Kun Hong dan berangkatlah mereka.

Gerobak ditarik kuda berjalan perlahan meninggalkan kampung. Di belakang gerobak Kun Hong berjalan sambil memegang tongkat. Di belakangnya, orang-orang dusun mengantar sampai ke pinggir dusun, melambaikan tangan kepada A Wan dan ibunya.

Setelah gerobak meninggalkan dusun itu sejauh sepuluh li dan sampai di jalan simpang empat, Kun Hong berkata, "Lao Tiu, berhenti dulu."

Gerobak berhenti dan dia berkata kepada janda Yo, "Yo-twaso, nah, sampai di sini kita berpisah. Selamat jalan dan semoga kau bahagia. A Wan, kau jaga ibumu baik-baik, ya? Sudah, Lao Tiu, sekarang kau balapkan kudamu."

"Nanti dulu...!" Nyonya janda itu melompat begitu saja turun dari gerobak, lalu berlarian menghampiri Kun Hong dan berlutut di depannya. "Sekali lagi, In-kong... bolehkan aku dan A Wan menghambakan diri padamu. Biar kami ikut ke mana kau pergi..." Suaranya penuh permohonan.
"Bodoh, kau orang baik. Aku seorang buta, seorang pengemis..."
"Tidak apa, aku masih bermata. Mataku sama dengan matamu, dan aku... aku sanggup bekerja untukmu... andai kata harus mengemis sekali pun... aku yang akan mengemis, In-kong..."
"Cukup semua ini! Twaso, jangan lemah, ingatlah anakmu. Aku berjanji, kelak akan kucari kau dan A Wan di Cin-an."
"Betulkah?" Terdengar suara mengandung harapan. "In-kong, hingga kini belum kuketahui namamu yang mulia."

Kun Hong tersenyum pahit, "Apa artinya nama? Kenalilah aku sebagai si buta... dan ehh, jangan lupa..." Ia mendekatkan mukanya sambil mengangkat janda itu bangun berdiri.

"...si Lao Tiu tidak kuapa-apakan, kelak bilang saja obatnya minum abu hio, sehari satu sendok sampai sebulan. Nah, selamat jalan!"

Kun Hong yang tak ingin wanita itu menunda-nunda perjalanannya, tiba-tiba mengangkat tubuh wanita itu dan... melontarkannya ke depan. Janda itu menjerit lirih, lalu tubuhnya melayang dan... jatuh dalam keadaan duduk tepat di atas gerobak, di dekat A Wan yang tertawa-tawa melihat ibunya ‘terbang’ tadi.

Gerobak dijalankan cepat. Kun Hong masih terus berdiri tegak sampai lama menghadap ke arah gerobak. Sudah lama gerobak itu menikung dan penumpangnya tidak melihatnya lagi, namun telinganya masih dapat mendengar derap kaki kuda yang makin menjauh. Dia menarik napas panjang, lega hatinya karena tadi ia benar-benar gelisah saat menghadapi bujukan dan permohonan janda muda itu.

"Berbahaya... !" pikirnya.

Dia masih terharu kalau mengenangkan janda muda dan puteranya itu. Akan tetapi dia segera mengusir perasaan ini dan melanjutkan perjalanannya sambil bernyanyi.

"Wahai kasih, aku di sini...! Menyongsong sinarmu yang hangat..."

Kata-kata di dalam nyanyian Kun Hong selalu berbeda, disesuaikan dengan keadaan dan perasaannya pada saat itu, namun selalu didahului dan diakhiri dengan kata-kata "wahai kasih, aku di sini...!"

Hal ini adalah karena dalam setiap nyanyian yang dibuatnya, pikirannya selalu melayang dan terkenang kepada Cui Bi, kekasihnya yang telah tiada. Baginya, sinar matahari, kicau burung, desir angin, dendang air sungai, harum bunga dan rumput, semua itu merupakan pengganti diri Ciu Bi!

Sebetulnya pada saat itu dia merasa lapar sekali. Akan tetapi setelah berjalan setengah hari lebih belum juga dia bertemu orang atau dusun, maka terpaksa dia menahan lapar dan bernyanyi-nyanyi.

"Wahai kasih aku di sini...! Dalam perjalanan nan sunyi..."

Tiba-tiba Kun Hong miringkan kepalanya seperti tak disengaja, akan tetapi sebetulnya dia mengelak sambaran sebuah benda yang menyambar kepalanya dari atas.

“Plokk!”

Benda itu jatuh ke tanah dan pecah. Kiranya yang menyambarnya tadi adalah sebutir buah apel masak, dari atas pohon di pinggir jalan. Tak mungkin buah masak jatuh seperti itu cepatnya, pasti disambitkan orang, pikir Kun Hong. Dia menghentikan langkahnya dan dengan telinga memperhatikan ke atas pohon.

"Perutku memang sangat lapar dan wangi buah masak itu sedap benar. Kuminta belas kasihan sahabat yang bermata untuk memberi beberapa butir kepadaku," akhirnya dia berkata sambil mendongak ke atas.
"Hi-hi-hik-hik!" terdengar suara seorang wanita, suara ketawa merdu yang membuat Kun Hong mengerutkan keningnya. Serasa pernah dia mendengar suara ketawa ini.

Kemudian tubuh orang itu dengan ringannya melayang dari atas pohon, turun di depannya tanpa mengeluarkan banyak suara gaduh. Ternyata ginkang (ilmu meringankan tubuh) orang ini tinggi juga.

Kembali ada benda-benda melayang ke arah Kun Hong. Pemuda buta ini menggunakan kedua tangannya menangkap dan ternyata buah-buah yang masak serta harum baunya berada di tangannya. Dia tersenyum girang, lalu makan buah yang manis dan sedap itu.

Dengan mulut penuh daging buah dia pun berkata. "Terima kasih... terima kasih..." sambil membungkuk-bungkuk ke depan, ke arah pemberi buah.

"Siapa sih yang kau rindukan sepanjang jalan itu? Ingin benar aku tahu, apakah si genit puteri Hui-hou Pangcu ataukah si janda muda tak tahu malu?"

Kun Hong merasa tersedak, cepat batuk-batuk untuk mencegah makanan memasuki jalan pernapasannya. Kiranya wanita ini adalah Bi-yan-cu, gadis lincah yang mengaku puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui!

"Ehh, kiranya kau... Bi-yan-cu, Nona? Ahh, sambitanmu tadi membikin kaget orang saja..."

Sungguh sama sekali di luar dugaannya, ucapannya ini membuat gadis itu tiba-tiba saja menjadi marah! Gadis ini membanting-banting kakinya dan berkata dengan suara penuh kejengkelan.
"Kalau lengan kananku yang terkutuk ini tidak begini nyeri, tak mungkin sambitanku tidak mengenai kepala seorang buta! Aku tidak biasa menyambit dengan tangan kiri!"

Kun Hong tersenyum, diam-diam merasa aneh dengan watak gadis ini, akan tetapi dia tak menjawab, melainkan menghabiskan dua butir buah dengan lahap dan enaknya.

Kesunyian kembali membangkitkan amarah gadis itu, ini terbukti dengan suaranya yang nyaring merdu dan penuh kejengkelan, "Ihhh, orang macam apa kau ini, tidak menjawab omongan orang hanya makan saja, tidak ingat dari siapa kau menerima buah itu!"

"Aku sudah bilang terima kasih tadi," jawab Kun Hong tenang, memasukkan sisa terakhir buah itu ke dalam mulut.
"Siapa butuh terima kasihmu? Yang kubutuhkan sekarang jawabanmu."
"Jawaban apa?"
"Siapa yang kau rindukan di sepanjang jalan, si genit puteri Hui-houw Pangcu ataukah si janda muda?"
"Bagaimana kau tahu tentang janda itu?"
"Cih, kau kira aku buta? Tentu saja aku tahu, hemm, siapa tidak melihat kau bermalam di rumahnya, menolongnya mati-matian dan siapa pula yang tidak melihat adegan sandiwara mesra di perempatan jalan tadi pagi? Hi-hi-hik, semua ditinggalkan, akan tetapi kemudian nyanyi-nyanyi seorang diri di jalan penuh rindu. Lucu benar kau!" Suara gadis itu penuh ejekan dan muka Kun Hong menjadi merah.

Namun dia tersenyum dan diam-diam dia heran sekali karena benar-benar sukar untuk dapat menyelami hati dan watak seorang gadis seperti ini. Dia tidak merasa sakit hati mendengar gadis itu bicara tentang buta, karena dari suaranya dia maklum bahwa gadis itu tidak sengaja hendak menghina atau menyakiti hatinya.

"Aku tidak merindukan siapa-siapa, tidak merasa berduka."
"Habis, siapa itu kasih?" Lalu dengan suara keras menggemaskan ia meniru suara Kun Hong bernyanyi tadi, "Wahai kasih, aku di sini...!"

Kun Hong hanya tersenyum. "Kau benar-benar hebat, bisa tahu segalanya. Masih begini muda, pandai menyelidiki keadaan orang lain. Hai, adik nakal, mengapa kau semenjak kemarin terus mengikuti aku?"

"Ih, ngawur! Dua kali ngawur! Pertama-tama, bagaimana kau berani memanggil aku adik, padahal aku jauh lebih tua dari padamu."
"Tak mungkin! Usiamu belum ada dua puluh tahun!"
"Ihhh, ngawurnya! Kau tidak bisa melihat aku, mana tahu aku tua atau muda? Umurku sudah dua kali umurmu, tahu?"

Kun Hong tertawa. Walau pun menyinggung-nyinggung kebutaannya, namun jelas bahwa dara remaja ini bukan bermaksud menyakiti hati, melainkan bermaksud mempermainkan dirinya. Hal ini dapat dia tangkap jelas pada suara gadis itu. Hemm, seorang dara remaja yang biasa dimanjakan, keras hati, keras kepala, keras segala-galanya. Tapi belum tentu jahat, buktinya pernah turun tangan menolongnya ketika dia dikeroyok.

"Kau bocah nakal! Biar pun mataku buta tak dapat melihatmu, aku berani bertaruh potong kepala bahwa usiamu belum ada dua puluh tahun dan bahwa kau seorang dara lincah yang nakal, cantik jelita, dan manja!"
"Idihhh, ngawur lagi. Bagaimana kau bisa katakan aku cantik jelita? Dasar laki-laki mata keranjang kau... ehh, tak bermata mana bisa mata keranjang? Kau... kau hidung belang, buktinya setiap bertemu wanita lantas memuji dan main gila seperti yang kau lakukan dengan puteri Hui-hou Pangcu dan janda muda."
"Bohong! Fitnah belaka itu!"
"Bohong apa? Fitnah apa? Hayo kau sangkal, bukankah puteri Lauw-pangcu yang genit itu minta kau memijatinya waktu malam? Hi-hik, meski pun matamu buta, apakah jari-jari tanganmu juga buta? Dan janda itu, kau bermalam di gubuknya, kau menolongnya, kau... sudahlah, kau menjemukan!"

Kun Hong semakin geli. Anak ini benar-benar manja. Bilang menjemukan tetapi malah mengajak dia bercakap-cakap dan tidak mau pergi dari situ.

"Yah, sudahlah. Aku ngawur, tapi baru satu kali. Yang ke dua kalinya lagi ngawur dalam hal apa?"
"Kau bilang aku mengikutimu semenjak kemarin. Cih, siapa sudi mengikutimu? Apa ingin menontonmu? Kalau orang gila, masih boleh dan menarik ditonton, tapi orang buta, apa sih menariknya untuk ditonton? Paling-paling hanya menimbulkan kasihan di hati..."
"Wah, kau berkasihan kepadaku, Bibi tua? Aku yang muda menghaturkan terima kasih atas belas kasihanmu itu dan..."
"Gila! Kau buta gelap! Kau ngawur, kau menghina, ya? Panggil bibi tua, setan...!"

Mendengar gadis itu mencak-mencak saat disebut bibi tua, Kun Hong tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha-ha!"

"Setan alas, masih tertawa lagi! Kau minta dihajar barang kali."
"Ampun, Bibi tua. Keponakanmu ini takkan berani nakal lagi. Kau tadi bilang bahwa kau dua kali lebih tua dari padaku, bukankah sudah sepatutnya kalau aku menyebutmu bibi tua? Kenapa marah-marah seperti kebakaran jenggot?"
"Gila lagi. Aku mana berjenggot?"

Kun Hong tertawa makin geli mendengar ini dan gadis itu pun tertawa kini.

"Betul juga kau, aku yang salah. Sudah, jangan sebut aku bibi tua lagi, bisa menangis aku!"
"Nona yang lucu, coba kau katakan, kalau kau tidak mengikuti aku, biar pun sebenarnya aku tidak tahu dan tidak menduga, habis bagaimana kau bisa tahu mengenai janda dan segala yang kualami itu?"
"Aku mengikuti rombongan itu untuk mengambil ini." Lupa akan kebutaan Kun Hong, gadis itu mengeluarkan sebuah barang dari dalam buntalannya, dan benda itu adalah... mahkota yang tadinya sudah dirampas oleh Tiat-jiu Souw Ki.

Biar pun Kun Hong tak dapat melihatnya, namun dia mendengar angin gerakan gadis itu yang mengeluarkan sesuatu dari buntalan, dia dapat menduga benda apa itu. Kun Hong terkejut juga, karena hal ini benar-benar tak pernah disangkanya.

"Hah, kau sudah merampasnya kembali?"
"Tentu saja! Setelah kau main gila dengan janda itu, aku lalu mengejar mereka dan apa artinya mereka bagiku?" Suaranya bernada sombong. "Kemarin aku kalah karena mereka mengeroyokku, puluhan, bahkan ratusan orang banyaknya! Dan sebenarnya kemarin itu pun aku tidak akan kalah kalau saja..."
"Kalau apa?" Kun Hong tersenyum, diam-diam geli hatinya.

Gadis ini benar-benar lincah dan lucu dan bagaikan penambah cahaya matahari mendatangkan perasaan gembira, menularkan kepadanya silat gembira dan tiba-tiba saja Kun Hong kehilangan watak pendiamnya dan jadi bersendau-gurau dengan gadis ini!

"Kalau saja aku tidak muak oleh bau keringat mereka!"
"Bau keringat? Ho-ho-ho, kok aneh amat!"
"Aneh apanya? Ratusan orang laki-laki kasar tak pernah mandi mengeroyokku, keringat mereka bercucuran, baunya melebihi biang cuka dan membuat aku sesak bernapas. Mau muntah rasanya, mana mungkin bertempur dengan baik?"

Kun Hong tak dapat menahan kegelian hatinya dan tertawalah dia terbahak-bahak, tidak tahu bahwa gadis itu sedang memandangnya dengan cemberut karena merasa ditertawai. Selama tiga tahun ini agaknya baru kali ini dia dapat tertawa seenak ini. Tapi ketika dia teringat akan kekejaman gadis ini merobohkan lawan-lawannya tiba-tiba saja ketawanya terhenti, keningnya berkerut ketika dia bertanya,

"Dan kau bunuh mereka semua dua puluh satu orang itu?"
"Hemmm, lenganku yang terkutuk inilah yang menjadi penghalang! Aku hanya sanggup merampas mahkota, merobohkan tosu bau dan anjing kaisar dengan melukai mereka. Sayang lenganku begini sakit, kalau tidak, hemmmm... mereka semua akan menjadi setan tanpa kepala!"
"Kau ganas sekali." Suara Kun Hong dingin.
"Apa, ganas? Mereka itu orang-orang jahat, membunuhi orang-orang tak berdaya dan tak berdosa, merekalah yang ganas. Aku membasmi orang-orang jahat kau sebut ganas? Kalau kau membiarkan mereka melakukan kejahatan, maka kaulah yang ganas!"

Kun Hong merasa kalah berdebat. Pengetahuan gadis ini masih dangkal sekali, mana tahu tentang perkara yang menyinggung hal pelik ini?

"Sudahlah, sekarang katakan, sesudah kau berhasil merampas mahkota, kau kemudian mengikuti aku dan bahkan menyusul, apa kehendakmu?"
"Wah, banyak sekali! Dengar baik-baik. Kau sudah menghinaku tiga kali dan kau hutang penjelasan kepadaku sebanyak dua kali."
"Waduh, berat kalau begitu perkaranya. Hemmm, coba kau sebutkan satu-satu apa yang kau maksudkan semua itu."
"Pertama, kau tadinya menolongku, itu tanda kau suka kepadaku, tapi ternyata mau main gila, memijati tubuh perempuan genit itu, ini penghinaan nomor satu. Penghinaan nomor dua, di depan mataku kau berani pula main gila dengan janda itu. Penghinaan nomor tiga, kau pura-pura berkorban untukku, menukar aku yang tertawan dengan dirimu sendiri, kiranya kau hanya main-main dan tidak sungguh-sungguh berkorban, lalu melepaskan diri dengan mudah!"

Kembali Kun Hong tertawa. Bocah ini lucu bukan main. Dia tadi sudah khawatir bahwa dia menghina orang, tidak tahunya urusan begitu dianggap penghinaan!

"Wah-wah, berat! Lalu hutang penjelasan itu bagaimana?"
"Pertama, kau harus jelaskan kepadaku mengapa kau menolongku. Ke dua kalinya, apa maksudmu menyebut-nyebut nama Tan Beng San dan apa hubunganmu dengan manusia itu!"

Ucapan terakhir ini mengejutkan hati Kun Hong. Tapi dia bersabar lalu menjawab,
"Kujawab satu demi satu. Ketiga penghinaan itu hanya dugaanmu belaka. Aku tidak main gila pada siapa pun juga. Tidak pernah memijati puteri Lauw-pangcu biar pun dia secara tak tahu malu menyebut-nyebutnya. Juga tidak main gila dengan janda itu, kau harus tahu bahwa dia seorang yang berhati putih bersih dan bermartabat tinggi. Ke tiga kalinya, aku memang menggantikan kau karena tak ingin melihat kau celaka di tangan mereka. Nah, sekarang tentang penjelasan. Tentu saja aku menolongmu, andai kata bukan kau yang terancam bahaya, aku pun pasti akan menolong siapa saja yang menghadapi bahaya maut. Tentang diri Tan Beng San taihiap, dia itu jelas adalah pamanmu kalau memang betul kau adalah puterinya Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Sedangkan hubunganku dengan beliau, beliau adalah... guruku. Nah puas?"

"Tidak puas... tidak puas... omongan orang lelaki mana bisa dipercaya?" Gadis itu diam sejenak, memandang tajam kemudian tiba-tiba ia meloncat ke atas dan…

"Srattt" pedangnya sudah dicabutnya.
"Tapi aku puas! Aku benar-benar puas!" katanya lagi, kini nada suaranya gembira sekali.

Kun Hong sampai menjadi bingung dan terpaksa harus memasang telinga baik-baik untuk dapat menangkap getaran suara itu dan untuk menyelami isi hati gadis yang aneh ini.

"Kau tidak puas dan kau puas? Bagaimana ini?"
"Aku tidak puas karena kata-katamu tidak dapat dipercaya. Siapa berani tanggung bahwa kau tidak bohong? Tetapi aku puas karena kau ternyata murid Tan Beng San. Hemmm, dengan gurunya belum juga aku dapat kesempatan mengadu kepandaian, sekarang bisa mencoba muridnya juga sudah cukup memuaskan. Orang buta, bersiaplah menghadapi pedangku!"

Bukan main mendongkolnya hati Kun Hong. Gadis manja ini benar-benar keterlaluan. Salah orang tuanya yang terlalu memanjakannya sehingga gadis ini mempunyai watak yang takabur dan tinggi hati, merasa diri paling pintar dan paling lihai. Dia segera bangkit perlahan dan dengan senyum tanpa meninggalkan bibirnya dia berkata,
"Ah, kiranya kau membenci dan memusuhi pamanmu sendiri. Adik kecil, kau menantang aku? Apa kau lupa bahwa aku hanya seorang buta yang tak dapat melihat? Masa seorang buta ditantang bertempur?"

"Kau benar buta, apa bedanya? Biar pun buta, kau lebih pandai dari pada yang tidak buta, siapa tidak tahu hal ini? Sebaliknya, aku pun terluka pada tangan kananku, gerakanku menjadi kaku, rasanya sakit sekali. Jadi keadaan kita sudah seimbang, tidak boleh kau bilang aku menggunakan kebutaanmu untuk mencari kemenangan. Hayo, siap!"

Diam-diam ingin juga hati Kun Hong untuk menguji sampai di mana kepandaian gadis ini yang begini besar hati dan besar kepala. Dia sudah tahu akan kelihaian Ilmu Pedang Sian-li Kiam-hoat, bahkan dahulu sudah pernah melihatnya sebelum dia buta. Bukankah kekasihnya dahulu juga telah mewarisi ilmu pedang itu?

Teringat akan kekasihnya ini makin besar keinginan hatinya untuk menghadapi gadis ini memainkan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-hoat. Dia lalu melintangkan tongkatnya di depan dada dan berkata tenang.

"Aku sudah siap."

Akan tetapi gadis itu tidak segera mulai, tetapi berkata dulu dengan nada suara angkuh. "Aku sudah dapat menduga bahwa di dalam tongkatmu itu tersembunyi senjata yang amat ampuh, maka jangan nanti katakan aku menyerang lawan yang hanya bertongkat. Nah, awas pedangku!"

Kun Hong tersenyum. Betapa pun juga, gadis ini selain mempunyai keangkuhan, juga jujur dan ada sifat ‘satria’ dalam hatinya.

Mendengar desir angin serangannya, Kun Hong cepat menggerakkan tongkat menangkis. Dia sengaja tidak mau menggunakan mata pedang Ang-hong-kiam karena khawatir kalau merusak pedang lawan itu. Dari samping dia menangkis, meminjam tenaga lawan karena maksudnya hanya hendak menguji tenaga.

Dalam gebrakan pertama ini dia sudah tahu bahwa gadis ini mengandalkan kepandaian pada kegesitannya. Ginkang atau ilmunya meringankan tubuh memang sudah boleh juga, hanya kalah setingkat bila dibandingkan dengan Cui Bi, mendiang kekasihnya. Akan tetapi tenaga lweekang-nya ternyata masih jauh dari pada cukup.

Dia segera melayani semua serangan gadis itu dengan tenang, mengimbangi tenaga dan kecepatannya. Hatinya amat gembira saat mendapat kenyataan bahwa Sian-li Kiam-hoat yang dimainkan gadis ini adalah ilmu pedang yang tulen.

Gerakan-gerakannya begitu halus dan lemas. Keindahannya bisa dia rasakan dari desiran anginnya. Di dalam khayalnya Kun Hong seolah-olah melihat kekasihnya sendiri bergerak menari pedang.

Hatinya terharu bukan main dan dalam kegembiraannya dia sampai lupa bahwa dia tadi hendak menguji gadis itu. Dia selalu mengimbangi gadis itu, tidak memberi kesempatan kepada gadis itu untuk bisa melukai tubuhnya, akan tetapi juga dia tidak mau mengambil kesempatan untuk merobohkannya.

Dua ratus jurus telah lewat dan tiba-tiba gadis itu menghentikan gerakannya, malah lalu tidak mau menyerang lagi. Kun Hong juga berhenti bersilat, berdiri tegak dengan muka pucat karena baru sekarang dia teringat bahwa dia sama sekali tidak sedang menari-nari dengan kekasihnya. Dia mendengar penuh perhatian dan alangkah kagetnya pada waktu mendengar gadis itu yang kini sudah duduk di atas tanah terisak menangis!

Dia pun cepat-cepat berjongkok. Permainan pedang gadis itu yang sama benar dengan mendiang Cui Bi sehingga mendatangkan rasa simpati besar dan di dalam hatinya timbul rasa sayang kepada dara lincah ini.

"Nona, kau... kenapa kau menangis? Kau tidak terluka, juga tidak kalah..."
"...tidak kalah... ! Memang tidak kalah... hu-hu... tapi juga tidak menang... u-hu-huu...!"

Tangisnya makin menjadi sehingga Kun Hong menjadi bingung sekali. Beberapa kali dia mengulur tangan hendak menghibur, tetapi ditariknya kembali. Jantungnya serasa copot dan seluruh tubuhnya serasa lemas mendengar tangis ini. Aneh bin ajaib, mengapa tangis gadis ini sama dengan tangis Cui Bi? Isaknya sama, suara sedu-sedannya juga senada.

"Jangan... jangan menangis, Nona... biarlah aku mengaku kalah kalau kau menghendaki begitu."

"Siapa sudi berlaku serendah itu? Hah, kalah sih bukan soal!" tiba-tiba saja tangisnya menghilang dan suaranya kembali nyaring. Benar-benar gadis yang aneh sehingga Kun Hong mendengarkan sambil terlongong. "Akan tetapi, hati siapa yang tidak mendongkol? Sampai hampir copot rasanya lengan kananku yang terkutuk ini, sampai sakit bukan main dan kupaksa-paksakan tadi, akan tetapi tetap saja aku tidak mampu mengalahkan kau seorang yang buta! Baru kau muridnya yang buta saja begini hebat, apa lagi gurunya yang tidak buta. Ahhh, aku berdebat dengan ayah, aku tidak menerima kata-kata ayah bahwa aku tidak akan mungkin dapat mengalahkan dia. Dan ternyata aku kalah bertaruh. Hu-hu-huu...!" Dia menangis lagi tersedu-sedu seperti anak kecil minta permen ditolak.

"Tan Beng San taihiap adalah seorang pendekar besar, Nona dan kau harusnya bangga karena dia itu pamanmu. Dia tak mungkin mau memusuhimu, selain lihai dan sakti, juga dia memiliki hati emas, pribudinya luhur dan dia seorang satria sejati."

Tiba-tiba tangis itu terhenti dan suaranya marah lagi. "Kalau hatiku berbulu, ya? Pribudiku rendah dan aku bukan bandingannya sama sekali. Hatinya emas tetapi hatiku tembaga. Begitukah? Pantas saja kau tidak peduli kepada orang rendah ini, biar tubuh hampir kaku karena... lengan terkutuk ini... aduh!"

Baru sekarang gadis itu mengeluh dengan suara rintihan lirih. Kun Hong terkejut. Dia dapat menduga tadi bahwa lengan kanan gadis ini terluka, gerakannya pun kaku, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa gadis ini masih kuat memainkan pedangnya sebegitu lama, tentu lukanya tidak hebat. Sekarang dari suara gadis ini dia terkejut karena ada tanda-tanda bahwa gadis itu terserang demam panas akibat lukanya.

"Berikan lenganmu, biar kuperiksa!" katanya.

Dan sebelum gadis itu sempat menjawab atau pun menolak, dia sudah dapat menangkap pergelangan tangannya dan meneliti detik darahnya. Setelah memeriksa beberapa menit, tiba-tiba muka Kun Hong menjadi merah sekali, melepaskan tangan itu dan berseru,

"Celaka...! Mana mungkin? Ahh...!" dan dia duduk termenung, beberapa kali menggeleng kepala.
"Bagaimana? Ada apa?" Gadis itu lenyap keangkuhannya dan memandang dengan wajah penuh kegelisahan. "Jangan bilang tanganku tak dapat sembuh dan harus dipotong."
"Bukan demikian, tapi cara pengobatannya yang sukar kulakukan..."
"Sukar bagaimana? Hayo katakan!" Gadis itu tak sabar lagi.
"Harus memperbaiki jalan darah yan-goat-hiat, mana mungkin...?"

Jalan darah itu letaknya di bawah ketiak, bagaimana dia dapat meraba bagian tubuh ini?

"Mengapa tidak mungkin? Aneh benar kau ini, apa kau kira aku tidak mempunyai jalan darah yan-goat-hiat? Bukankah ini di sini?"

Gadis itu menggunakan tangan kiri meraba sebelah bawah pangkal lengannya, tapi dia segera menjerit perlahan, "... aduuuhhh...!"

"Nah, apa kataku, tentu sakit, Nona. Kau terkena pukulan pada pangkal lenganmu. Berkat hawa murni dan lweekang dalam tubuh, kau dapat menahannya, tidak ada tulang yang patah dan kau masih dapat melakukan pertempuran merampas mahkota, itu benar-benar hebat. Akan tetapi tanpa kau ketahui, jalan darah itu menjadi buntu oleh gumpalan darah matang dan dapat menimbulkan keracunan."

"Wah, perlu apa kau berpidato? Aku tidak ingin menjadi tabib, juga tidak mau belajar mengobati. Lebih baik kau lekas mengobatinya."
"...bagaimana mungkin...?"
"Aih-aiihh, bagaimana sih orang ini? Mengapa harus pakai bagaimana mungkin segala? Pendeknya, kau becus tidak mengobatinya?"
"Tentu saja bisa..."
"Nah, sudah jangan banyak rewel, lekas obati!" Suara nona itu kehabisan sabar.

"...ya tetapi... tapi... cara mengobatinya tidak hanya dapat dengan totokan biasa, Nona. Harus diurut dan dihancurkan darah yang berkumpul di situ agar terbawa mengalir dan..."
"Aduh-aduuuuuhh, cerewetnya. Kalau harus diurut ya urutlah, kenapa sih ceriwis amat?"
"Tapi... kau tahu sendiri yan-goat-hiat terdapat di... ketiak..."
"Aduh kemaki (sombong) kau, ya? Kalau di ketiak kenapa? Apa kau kira ketiakku terlalu kotor? Cih, ketiakmu lebih kotor, dekil, tidak pernah kau gosok kalau mandi!" Nona itu suaranya marah sekali.

Kun Hong menarik napas panjang, tanpa disadarinya lagi dia menggaruk-garuk belakang telinganya, benar-benar kewalahan dan terdesak. Celaka, susahnya bicara dengan gadis liar ini, pikirnya. Gadis jujur, agaknya tidak tahu apa-apa dan masih bersih betul pikirannya akan perhubungan antara pria dan wanita, dan hal ini mungkin terpengaruh oleh cara hidupnya sebagai seorang gadis perantau.

"Ehhh, malah termenung, garuk-garuk kepala segala lagi! Hee, orang buta, apakah kau memang tidak sudi menolongku?"
"...bukan sekali-kali, Aku suka menolongmu, Nona, suka sekali. Tapi..."
"...tapi apa lagi?"
"Ehh, maaf... bagian yang diobati itu harus... harus... tidak tertutup..."

Hening sejenak. Walau pun wataknya polos, agaknya kalau harus memperlihatkan ketiak tanpa ditutup baju, membuat muka gadis itu menjadi merah sekali dan bingung. Dengan kening berkerut ia memandang Kun Hong penuh selidik.

Apakah dia sengaja hendak mempermainkan aku, pikirnya. Apakah dia seorang yang kurang ajar? Akan tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa orang di depannya ini adalah seorang buta.

"He, orang aneh. Apakah matamu betul-betul buta?"

Melengak Kun Hong mendengar pertanyaan ini. Ia tidak bermaksud menghina, suaranya jujur dan pertanyaan itu sungguh-sungguh.

"Tentu saja, masa ada buta pura-pura?"
"Sama sekali tak dapat melihat? Sedikit pun tak dapat melihat?"

Kun Hong tersinggung juga, dia menghela napas dan menjawab, "Bagiku, malam dan siang sama gelapnya..."

Namun gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh suara menyedihkan ini, tidak menjadi terharu malah segera berkata, "Kalau begitu, apa salahnya kubuka baju bagian yang diobati? Hayo lekas kau kerjakan. Nih, sudah kubuka!"

Berdebar juga jantung Kun Hong, tapi segera dia menindas perasaannya karena dia harus mengakui bahwa sifat gadis ini benar-benar masih amat kekanak-kanakan, gadis kasar, jujur, dan di dalam pikirannya masih bersih dari pada hal yang bukan-bukan. Oleh karena itu dia pun lalu menangkap lengan kanan gadis itu, terus jari-jarinya bergerak ke atas. Lengan yang kecil bulat, berisi, dengan kulit yang halus seperti sutera.

"...aduh...!" jerit gadis itu ketika ototnya di bawah pangkal lengan terpegang.
"Hemmm... ternyata bahkan lebih hebat dari pada yang kuduga. Kalau terus kuurut, kau akan banyak menderita kesakitan, Nona. Biarlah kubantu dengan tenaga lweekang agar kumpulan darah itu agak membuyar karena panas. Maaf, kendurkan tenagamu sebentar."

Kun Hong kemudian membuka tangannya dan menempelkan telapak tangannya di bawah pangkal lengan atau di ketiak kanan gadis itu. Dari tubuhnya dia mengerahkan tenaga sakti, disalurkan melalui tangan dan gadis itu dengan penuh kekaguman memandang ketika merasa betapa hawa panas sekali keluar dari telapak tangan si buta menjalar ke dalam tubuhnya melalui ketiak. Mendadak dia menggigil karena hawa panas itu berubah menjadi dingin sekali sampai membuat ia menggigil.

"Wah... gila..." bibir Kun Hong berbisik dan gadis itu merasa betapa hawa itu berubah panas kembali.
"Apa yang gila? Siapa?" tak tertahan ia bertanya mendengar bisikan tadi.

Akan tetapi ia tidak marah melihat wajah Kun Hong berkeringat. Ia tahu bahwa pemuda itu sedang mengerahkan lweekang, maka tak menjawab juga tidak mengapa. Tentu saja ia tak pernah menduga bahwa Kun Hong tadi memaki dirinya sendiri.

Ketika Kun Hong menyalurkan tenaga lweekang tadi, pikirannya melayang dan sentuhan tangannya dengan kulit halus hangat itu mendatangkan perasaan yang bukan-bukan dan yang mengacaukan pengerahan tenaga saktinya sehingga akibatnya gadis itu menggigil kedinginan. Dia memaki diri sendiri, mengusir semua perasaan, mengumpulkan panca indera dan mengerahkan tenaga.

Sepuluh menit kemudian dia melepaskan tangannya, lalu mulailah dia mengurut otot dan jalan darah yang terluka. Mula-mula gadis itu merintih perlahan karena memang masih terasa sakit. Akan tetapi lambat laun setelah darah mengental itu cair dan mengalir, rasa nyeri berubah nikmat. Akhirnya tiba-tiba dia tertawa cekikikan dan tubuhnya menggeliat-geliat.

Kun Hong terheran dan bertanya, "Kenapa, Nona...?"

"Aiiihhh... hi-hik, geli amat... jari-jarimu menggelitik..."

Cepat-cepat Kun Hong menarik tangannya dan wajahnya kembali menjadi panas. Merah sekali wajahnya, sampai ke telinga-telinganya.

"Kalau, sudah merasa geli, itu berarti sudah sembuh, Nona."

Diam-diam dia juga merasa geli hatinya karena memang sikap nona ini benar-benar lucu, jujur dan kekanak-kanakan. Tanpa disadarinya timbullah rasa sayang kepada nona ini.

Gadis itu mengenakan kembali bajunya, bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan lengan kanannya, memukul beberapa jurus. Akhirnya ia berseru girang, "Bagus! Tidak terasa sakit lagi, sembuh sama sekali. Kakak buta, aku adikmu yang bodoh sekarang merasa takluk betul. Kau hebat!"

Gadis itu memegang tangan Kun Hong dan menari-nari berputaran. Sambil tertawa Kun Hong terpaksa mengikutinya dan mengomel,

"Aih, kau benar-benar seorang adik yang nakal sekali. Perut masih lapar kau suruh aku putar-putar begini, bisa pusing tujuh keliling aku!"
"Waah, kakak buta yang baik, kau lapar? Tunggu sebentar di sini, ya? Duduklah di bawah pohon, nah di sini..." katanya sambil menuntun Kun Hong ke bawah pohon, menyuruhnya duduk di atas akar pohon yang menonjol ke luar dari tanah. "Aku takkan lama dan kau akan kenyang nanti."

Sebelum Kun Hong sempat mencegahnya, gadis itu sudah melesat cepat sekali dan tidak terdengar lagi suaranya. Belum ada setengah jam gadis itu pergi, ia sudah kembali lagi sambil tertawa-tawa girang dan kedua tangannya penuh barang-barang.

Sepanci nasi putih, semangkok besar masakan ang-sio-hi, semangkok besar pula cah udang dan semangkok lagi panggang daging ayam. Semua masakan dan nasinya masih panas mengepulkan asap sedap. Mangkok-mangkok berisi masakan ini semua dia kempit dan bawa sedapat mungkin, malah tangannya masih menggenggam sebuah guci arak, mangkok kosong dan sumpit!

"Hi-hi-hi, dasar untung kita bagus, Kakak buta! Nah, tolong nih, terima dulu guci arak dan mangkok-mangkok kosong. Awas, turunkan dahulu di atas tanah, masih banyak nih. Wah, lenganku panas semua, itu sih, ang-sio-hi-nya miring mangkoknya ketika kubawa lari, kuahnya tumpah sedikit ke lenganku!" Ribut-ribut gadis itu bicara sedangkan Kun Hong terheran-heran dari mana gadis itu memperoleh masakan sebanyak itu.

"Kan di sini tidak ada restoran besar. Dari mana kau memperoleh masakan mahal ini! Wah, araknya pun bukan arak sembarangan nih, arak wangi dan sudah disimpan lama lagi. Eh, sumpitnya ini begini halus, apakah bukan dari gading? Dari mana kau mendapat semua ini?" Kun Hong meraba sana meraba sini, kagum dan heran.

"Sudahlah, Kakakku yang baik. Kita makan dulu, sikat habis ini semua baru nanti bicara. Kalau sampai dingin masakan-masakan ini sebelum masuk ke dalam perut kita, kan sayang! Hayo makan, nih araknya untukmu sudah kusediakan!"

Dengan cekatan dan terampil gadis itu melayani Kun Hong makan. Ia sendiri pun makan, akan tetapi tiada hentinya ia menggunakan sumpitnya untuk menjapitkan daging pilihan untuk Kun Hong, berkali-kali pula mendesak supaya pemuda itu menambah lagi nasi dan araknya.

Gembira sekali mereka, apa lagi Kun Hong. Masakan-masakan itu sungguh lezat, nasi pun putih dan pulen, araknya juga tulen. Kegembiraan dan kelezatan masakan membuat mereka gembul dan menambah nafsu makan sehingga sebentar saja, sampai seperempat jam, masakan dan arak benar-benar telah disikat habis oleh keduanya!

Agaknya setelah kemasukan arak, gadis itu menjadi lebih gembira lagi, suara ketawanya bebas lepas, sikapnya terbuka. Kun Hong merasa lebih senang lagi dan rasa sayangnya bertambah.

Seorang keponakannya, yaitu Kui Li Eng, juga lincah jenaka, akan tetapi masih kalah oleh gadis ini yang benar-benar masih bersih pikirannya. Sayangnya, agaknya anak ini terlalu dimanja dan agaknya sejak kecil dipenuhi segala kehendaknya sehingga sekarang pun ia selalu ingin kehendaknya dipenuhi, menjadi orang yang sifatnya ‘ingin menang sendiri’. Akan tetapi makin lama makin kelihatan bahwa pada dasarnya anak perempuan ini tidak mempunyai watak yang ingin menang sendiri, malah sangat jujur dan cukup mempunyai pertimbangan yang adil.

Kun Hong duduk bersandar batang pohon, terengah kekenyangan. Gadis itu duduk pula di atas tanah, di depannya. Sampai lama gadis itu menatap wajah Kun Hong, melihat betapa Kun Hong meraba-raba dengan tangan ketika hendak beralih duduk ke atas akar yang lebih rata, meraba-raba pula batang pohon yang hendak disandarinya, kelihatan begitu tak berdaya.....

"Kakak buta, kau adalah seorang ahli dalam hal pengobatan. Mengapa matamu sendiri sampai bisa menjadi buta? Apakah sebabnya matamu buta?" Kali ini gadis itu berbicara tanpa nada kekanak-kanakan atau bergurau, suaranya bersungguh-sungguh.

Kun Hong terkejut mendengar pertanyaan ini, menghela napas dan menjawab, "Karena salahku sendiri..."

"Hemm, apakah ada yang membikin buta? Katakanlah siapa orangnya, adikmu ini pasti akan mencarinya dan membalas membutakan matanya!"

Kun Hong menggeleng kepala. Dia takkan merasa tersinggung kalau diejek orang tentang kebutaannya, tetapi dia merasa sedih kalau orang mengingatkan dia akan sebab-sebab kebutaan itu karena hal itu sama saja dengan memaksa dia mengenangkan Cui Bi.

"Aku sendiri yang membutakan kedua mataku."

Gadis itu meloncat ke atas, kaget sekali. "Aku tidak percaya! Masa ada orang yang mau membutakan matanya sendiri, kecuali orang gila!"

"Memang aku gila, gila pada waktu itu." Kun Hong menangkap tangan gadis itu untuk mencegahnya bicara soal ini lebih lanjut. "Adik yang baik, sudahlah, jangan kita bicara soal sebab-sebab kebutaan mataku, maukah kau?"

Baru kali ini Kun Hong merasa betapa gadis itu terdiam dalam keharuan, akan tetapi hanya sebentar karena segera terdengar lagi suaranya yang nyaring dan gembira. "Kakak buta, sebetulnya kau siapakah? Siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu?"

Kun Hong timbul kembali senyumnya. Sikap yang amat cepat dan mudah berubah dari gadis ini benar-benar menggembirakan serta mudah menular. Terhadap seorang gadis seperti ini tak perlu dia menyembunyikan diri.

"Namaku Kwa Kun Hong, Nona. Ada pun tempat tinggalku, heemm... untuk saat ini yah di sini inilah! Dan kau sendiri, siapa namamu? Apakah cukup hanya Bi-yan-cu saja?"
"Kwa Kun Hong... nama yang bagus. Eh, Kwa-twako (Kakak Kwa), bagaimana kau bisa mengenal nama ayahku dan bagaimana kau bisa tahu pula bahwa ayahku adalah kakak Tan Beng San ketua Thai-san-pai?"
"Tentu saja aku tahu. Aku memiliki hubungan baik dengan keluarga Thai-san-pai, bahkan pernah menerima pelajaran ilmu dari Tan Beng San taihiap. Aku tahu pula bahwa ayahmu selain kakaknya, juga menjadi suheng dari isteri beliau. Bukankah ayahmu adalah murid pertama dari mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan?"
"Wah, kiranya pengetahuanmu luas, Twako. Aku mendengar tentang pertempuran hebat pada pembukaan Thai-san-pai tiga tahun yang lalu di puncak Thai-san, apakah kau hadir juga?"

Berdebar rasa jantung Kun Hong. Teringat dia akan semua pengalamannya di puncak itu, tentang Cui Bi apa lagi. Dia termenung sejenak. Bagaimana dia tidak akan tahu tentang hal itu? Dia sendiri berada di sana, malah dia mengambil bagian terpenting.

"Aku tahu... aku juga hadir di sana..." Dia cepat menambah untuk menghilangkan curiga gadis itu. "Aku bersama ayah ibuku..." Akan tetapi dia segera teringat bahwa tidak perlu dia menyebut-nyebut ayah bundanya.
"Twako, siapa ayahmu? Tentu tokoh hebat..."

Sudah terlanjur bicara, Kun Hong tidak dapat mundur lagi. "Ayahku adalah Kwa Tin Siong, ketua Hoa-san-pai."

Gadis itu segera kembali meloncat ke atas. "Walah! Kiranya putera Hoa-san Ciangbunjin (ketua Hoa-san-pai)! Maaf... maaf, ya, Twako? Kiranya kau seorang besar, keturunan jagoan, putera seorang ketua Hoa-san-pai yang terkenal!"

"Hushh, jangan melebih-lebihkan, malah kuminta jangan lagi kau menyebut-nyebut nama keturunanku. Aku sudah menjadi seorang buta, miskin dan hidup sebatang-kara, aku tidak suka nama keturunanku dibawa-bawa. Kau jangan menyebutku Kwa-twako lagi."
"Habis harus menyebut apa? Namamu Kwa Kun Hong... hemm, baiknya kusebut Hong-ko (kakak Hong) saja. Bagus, kan?"

Kembali jantung Kun Hong berdebar. Mendiang Cui Bi kekasihnya dahulu juga menyebut dia Hong-ko, dan suara gadis ini begitu mirip suara Cui Bi, seakan Cui Bi belum mati dan kini berada di sampingnya!

"Sesukamulah," dia mengusir kenangan yang mengganggu hatinya itu, "tetapi kau sendiri belum memperkenalkan namamu."

Gadis itu tertawa gembira. "Hong-ko, namaku buruk sekali. Aku lebih suka kalau dipanggil Bi-yan-cu..." Nada suaranya manja.

Kun Hong juga tersenyum lebar. "Apa kulitmu hitam?"

"Siapa bilang hitam? Kulitku putih kuning, malah ayah bilang kalau kulitku amat bagus dan sehat, tidak seperti kulit gadis-gadis kota dan puteri-puteri istana yang pucat-pucat seperti kekurangan darah. Lihat lenganku ini... ehh, kau mana bisa lihat! Mengapa kau mengira kulitku hitam, Hong-ko?"

Biar pun matanya tak dapat melihat, Kun Hong dapat membayangkan betapa gadis itu memandangnya dengan bibir mungil yang cemberut.

"Aku ingat bahwa burung walet (yan-cu) bulunya hitam, dan sepanjang ingatanku, tidak ada burung walet yang cantik. Maka julukanmu Bi-yan-cu (Walet Cantik Jelita) amat tidak cocok kalau kulitmu tidak sehitam bulu burung walet. Nah, kurasa betapa pun buruknya namamu, tidak akan seburuk julukanmu."
"Wah, kau pandai mencela, Hong-ko. Awas, lain kali kuminta kau mencari julukan baru untukku. Namaku sebetulnya adalah Tan Loan Ki. Nah buruk sekali, bukan? Seperti nama laki-laki."
"Tidak buruk. Nama Loan Ki manis benar, juga julukanmu itu sebenarnya sudah tepat, mengingat bahwa kau mempunyai gerakan yang lincah dan cepat bagaikan burung walet. Siauw-moi (adik kecil), mulai sekarang aku akan menyebutmu Ki-moi (adik Ki), boleh kan?"

Tiba-tiba mereka berhenti bicara karena terdengar seruan orang dari jauh.

"Betina liar itu tentu tak akan lari jauh!" terdengar suara seorang wanita yang serak.
"Hemm, kalau ia dapat kutangkap, akan kujadikan bakso. Anak kurang ajar itu!" Sambung seorang laki-laki yang suaranya besar.

Kun Hong mengerutkan keningnya. Otaknya yang cerdas cepat menghubungkan sebutan ‘betina liar’ tadi dengan Loan Ki.

"Ki-moi, kau tertawa mengejek! Siapa mereka dan mengapa marah-marah?"
"Dasar pelit!" Gadis itu mengomel. "Baru kehilangan nasi dan masakan begitu saja sudah mencak-mencak seperti merak kehilangan ekor."
"Wah, jadi yang kita makan tadi..." Kun Hong berseru kaget.
"Heh-heh, barang curian tentu. Habis dari mana kalau tidak mencuri?" enak saja jawaban gadis ini. "Kau menyesal, Hong-ko? Nah, kau muntahkanlah kembali." Ia lalu tertawa-tawa menggoda.
"Jangan main-main, Ki-moi. Kurasa dua orang yang datang ini bukan bermaksud baik dan mereka mempunyai kepandaian yang tak boleh kau pandang ringan begitu saja!"

Baru saja Kun Hong mengeluarkan kata-kata ini, kedua orang itu sudah tiba di situ dan terdengar bentakan yang perempuan. "Nah, ini dia si bocah liar bersama seorang buta!"

Yang laki-laki membentak, "Gadis kurang ajar, kembalikan makanan dan arak tadi..." dia lalu berseru kaget melihat mangkok-mangkok dan guci arak yang sudah kosong, "Wah, celaka si keparat, sudah disikat habis!"

Karena tidak dapat melihat, Kun Hong hanya dapat menaksir keadaan dua orang yang datang itu dengan pendengarannya. Laki-laki itu paling sedikit berusia empat puluh tahun dan si wanita sukar diduga karena suaranya serak dan kasar, akan tetapi tentu tidak lebih muda dari pada yang laki-laki. Gerakan kaki si wanita itu ringan membayangkan ginkang yang tinggi sedangkan derap kaki yang laki-laki mengandung tenaga lweekang membuat tanah di sekitarnya seperti tergetar.

Akan tetapi Loan Ki yang dapat melihat kedua orang itu mendapatkan kesan yang lebih mengagetkannya.

Wanita itu berpakaian serba hitam dengan tambalan kain lebar berwarna putih ditalikan di leher menggantung ke bawah. Mukanya penuh bopeng (burik), rambutnya masih hitam serta disisir rapi. Matanya besar sebelah dengan pandangan galak.

Tangan kanannya memegang sebuah senjata besi yang agak aneh bentuknya, bergagang dua dan ujungnya runcing. Kiranya senjata itu adalah sebuah penjepit arang yang biasa dipergunakan di dapur untuk mengambil arang. Tangan kirinya memegang sebuah kipas dapur yang lebar dan bergagang besi pula. Memang aneh kedua alat dapur ini karena ukurannya selain lebih besar dari pada biasa, juga terbuat dari besi yang kelihatan kokoh kuat mengerikan.

Ada pun laki-laki itu juga berpakaian serba hitam, memakai ikat kepala kuning. Matanya sangat lebar seakan-akan hendak meloncat ke luar dari tempatnya. Tubuhnya tinggi besar dan mukanya hitam, kedua lengan tangannya yang tak berbaju penuh bulu hitam. Tangan kanannya memegang sebuah pisau pemotong babi yang lebar, yang seukuran golok tapi bentuknya persegi, dan mengkilap sekali saking tajamnya.

Loan Ki adalah seorang anak perempuan yang semenjak kecilnya hidup di dunia kangouw dan sudah banyak bertemu dengan orang-orang aneh. Karena itu munculnya dua orang ini tidak mengagetkannya, juga suara mereka tidak membuat ia gentar, bahkan ia tertawa ketika berdiri dan menyambut mereka dengan suara mengejek.

"Kalian ini dua orang kasar datang-datang marah tidak karuan lalu membuka mulut dan menyemburkan kata-kata kotor, sebetulnya hendak mencari siapakah?"

Akan tetapi dua orang itu tidak menjawab. Mereka saling pandang dan memandang ke arah mangkok-mangkok kosong, lalu membanting-banting kaki, memaki-maki,

"Keparat, anjing-anjing kelaparan! Sudah dihabiskannya semua, celaka. Toanio (nyonya) akan memukuli kepalaku sampai bengkak-bengkak karena arak seperti itu sudah habis dari simpanan. Aduh, celaka dua anjing kelaparan!"

Laki-laki muka hitam itu berteriak-teriak, matanya makin melotot ketika dia memandang ke arah Loan Ki.

"Dan aku... ahhh, aku yang kasihan... dari mana aku harus mendapatkan ikan emas itu setelah ang-sio-hi tinggal tulang-tulang ikan saja? Mampuslah aku kalau siocia memaksa aku menyelam di telaga untuk memperoleh ikan baru... celakanya, siocia tidak akan mau sudah kalau belum kudapatkan ikan yang serupa dengan yang tadi."

Setelah puas memaki-maki, wanita itu menudingkan penjepit arangnya ke muka Loan Ki. "Hayo mengaku, kau gadis busuk. Tentu kau telah mencuri makanan dari dapurku, malah menotok roboh dua orang pembantuku!"

"Dan kau yang mencuri guci penuh arak simpanan dari pembantuku!" bentak laki-laki itu sambil mengacung-acungkan golok pemotong babinya.

Loan Ki tersenyum manis. "Betul aku, Uwak dan Empek yang baik. Tapi ketahuilah bahwa tadi perutku dan perut si dia ini lapar sekali. Aku sedang mencari pengisi perut kami yang kosong, hidungku tertarik oleh bau sedap dan gurih, lalu melihat masakan-masakan itu tak dapat aku menahan keinginan hatiku lagi. Maafkan saya, Uwak dan Empek, kelak bila kalian kelaparan dan kebetulan berada di dekat rumahku, kalian boleh balas mencuri tiga kali lipat banyaknya. Aku berjanji tidak akan marah kalau kalian menyikat habis masakan-masakanku dari dapur rumahku. Nah, bukankah sudah adil janjiku ini?"

"Adil matamu...!" nenek itu memaki.
"Adil mukamu... yang jelita!" kakek itu pun memaki.

Kun Hong menggeleng-gelengkan kepala. Dua orang ini adalah orang-orang aneh, tetapi Loan Ki telah mengeluarkan janji yang sungguh-sungguh tak masuk di akal dan seenak perutnya sendiri. Mana mungkin pencuri di ‘bayar’ dengan janji kalau kelak dua orang itu kelaparan boleh balas mencuri pula di dapur rumahnya? Tidak masuk di akal dan alasan anak-anak.

Maka dia pun lalu bangkit berdiri, menjura dengan hormat kepada dua orang itu sambil berkata, "Jiwi Locianpwe harap sudi memaafkan kami berdua yang muda. Sesungguhnya, tadi siauwte yang kelaparan dan siauwte minta adik siauwte ini agar mengemis makanan. Siapa kira dia tak berani mengemis malah mencuri. Untuk hal ini, siauwte mohon sudilah kiranya jiwi Locianpwe memaafkan kami berdua."

Dua orang itu saling pandang, wajah mereka berseri. Selama hidup baru kali ini semenjak menjadi pekerja dapur mereka menerima kata-kata yang terdengar enak sekali memasuki telinga mereka. Mereka memandang Kun Hong dan mengangguk-anggukkan kepala.

"Orang muda baik, biarlah kalau memang kau kelaparan. Paling-paling aku akan dimaki oleh toanio," kata kakek itu dengan suara sabar sekali.
"Pemuda buta yang tampan, kau amat sopan. Ikan itu dapat kucarikan gantinya dengan menjala, juga daging babi dan ayam masih banyak. Siocia pun bisa kubujuk. Dua orang locianpwe harus bersikap sabar, bukan begitu, Sun-laote?" kata si nenek dan kakek itu pun mengangguk-angguk membenarkan.
"Hong-ko, mereka ini hanyalah seorang koki masak dan seorang tukang jagal, kenapa kau sebut-sebut mereka locianpwe segala? Wah, kepala mereka bisa menjadi semakin besar dan kulit muka mereka makin tebal!" tiba-tiba Loan Ki mencela Kun Hong yang menjadi kaget sekali melihat cara temannya ini ‘merusak’ suasana yang sudah begitu baik.

Celaka, pikirnya, benar-benar bocah setan, tidak mengerti siasat damai yang dia lakukan. Benar saja kekhawatirannya. Dua orang itu mengeluarkan seruan marah, memaki-maki lagi dan wanita itu menerjang maju, menyerang Loan Ki dengan penjepit arangnya.

Loan Ki tertawa mengejek, menghindarkan serangan ini dengan menggeliatkan tubuhnya ke belakang dan tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar ke arah mukanya. Kaget juga gadis ini, karena ternyata susulan serangan kipas ini amat cepatnya.

Ia menjejakkan kakinya ke atas tanah, tubuhnya mencelat ke belakang dan terhindar dari hantaman kipas. Pada lain saat dia telah menghadapi wanita galak itu dengan pedang di tangan dan senyum simpul menghias bibir.

Kun Hong sangat tidak senang melihat perkembangannya menjadi pertempuran. Namun karena dari gerakan-gerakan nenek itu dia maklum bahwa kepandaian Loan Ki masih jauh lebih tinggi, maka dia mendiamkannya saja, hanya berkata halus,

"Ki-moi, setelah mencuri, jangan kau membunuh atau melukai orang! Jika kau melanggar aku tidak mau bicara lagi denganmu!"

Loan Ki hanya tertawa lirih dan sebentar saja nenek itu menjadi bingung dan berkunang-kunang matanya. Gerakan gadis ini benar-benar lincah sehingga baginya seakan-akan gadis itu mempunyai lima buah bayangan yang mengeroyoknya dari segala penjuru! Ilmu serangannya menjadi kacau balau. Dengan nekat dan ngawur dia menyerang membabi buta, menepak-nepak dengan kipas dapurnya seperti orang berusaha menepuk lalat yang terlalu gesit.

"Sun-laote, kau bantu aku menangkap bocah liar ini!" Akhirnya nenek itu berteriak minta bantuan kepada temannya.

Agaknya kakek itu ragu-ragu, lalu mengomel, "Heran benar, masa Hek-kui-nio (Iblis Betina Hitam) tidak dapat menangkap seorang gadis cilik?" Kemudian dia menoleh kepada Kun Hong. "Orang muda, bukan aku Ban-gu-thouw (Selaksa Kepala Kerbau) dari golongan cianpwe hendak menghina yang muda, tetapi sahabatmu gadis liar itu agaknya terlalu lincah untuk Hek-kui-nio. Terpaksa aku harus menangkapnya!"

Akan tetapi pada saat itu terdengar Hek-kui-nio berteriak kesakitan dan dia berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanannya karena kakinya yang kiri kena digajul (ditendang dengan ujung sepatu) oleh Loan Ki sehingga bukan main nyerinya, ngilu sampai menusuk-nusuk tulang sumsum!

Laki-laki tinggi besar yang berjuluk Ban-gu-thouw itu dengan marah lalu memutar-mutar golok pemotong babinya, atau mungkin juga pemotong kerbau sesuai dengan julukannya. Angin menderu dan diam-diam Kun Hong menjadi terkejut dan khawatir. Jelas terdengar olehnya betapa Ban-gu-thouw ini mempunyai tenaga dahsyat yang tidak boleh dipandang ringan.

Biar pun dia maklum bahwa ilmu silat pedang yang dimiliki Loan Ki jauh lebih hebat dan mempunyai dasar yang tinggi tingkatnya, namun menghadapi seorang lawan kasar yang bertenaga besar dan memegang senjata yang agaknya amat berat itu, tetap merupakan bahaya bagi Loan Ki.

"Locianpwe, jangan memperhebat permusuhan!" Kun Hong berseru.

Tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah si tinggi besar itu, kedua tangannya bergerak dengan jari-jari tangan terbuka dan... pada lain saat Kun Hong sudah berhasil merampas golok pemotong kerbau itu!

Ban-gu-thouw berteriak keras saking kagetnya. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan memandang dengan mata terbelalak. "Heeei, kalau begitu kau tidak buta!"

"Siauwte memang seorang buta," jawab Kun Hong.
"Kalau buta bagaimana dapat merampas golokku?"

Tanpa menjawab Kun Hong mengangsurkan golok itu kepada pemiliknya. Ban-Gu-Thouw menerima kembali goloknya dan wajahnya merah sekali karena pada waktu itu Loan Ki tertawa haha-hihi.

Dia menjadi marah dan berkata, "Orang muda buta, kenapa kau merampas golokku?"

"Kuharap Locianpwe tidak melanjutkan pertempuran yang tidak ada gunanya. Makanan itu sudah masuk perutku, dan aku sudah sanggup untuk minta maaf."
"Enak saja kau bicara! Kami berdua yang akan menerima hukuman dari toanio dan siocia, namun karena omonganmu tadi enak didengar, kami akan melupakannya saja dan siap menerima hukuman. Siapa tahu sahabatmu si harimau betina itu suka menghina orang dan sekarang kau malah merampas golokku. Ban-gu-thouw dan Hek-kui-nio tidak bisa menerima hinaan orang!"

Kun Hong cepat menjura. "Harap sekali lagi kalian orang-orang tua sudi memaafkan kami orang-orang muda. Jika perlu, biarlah kami menghadap majikan kalian untuk minta maaf. Kurasa majikan kalian akan menghabiskan urusan makanan yang tak berarti ini."

Dua orang itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Kun Hong yang tak dapat melihat itu terheran-heran. Malah nenek yang sekarang sudah tidak nyeri lagi kaki kirinya itu tertawa tak kalah kerasnya oleh temannya. Kemudian Ban-gu-thouw berkata,

"Ha-ha, bagus sekali. Kalian mau menghadap toanio atau siocia? Ha-ha-ha, orang muda, sungguh-sungguh lucu bila mana ada orang berani begini tenangnya menyatakan hendak menghadap majikan kami setelah berani mencuri makanan. Tetapi agaknya kalian hendak mengandalkan kepandaian kalian, dan kau ini orang buta agaknya juga berkepandaian. Sebelum kau menghadap majikan kami, biar kucoba lebih dahulu. Bisakah kau merampas golokku sekali lagi? Awas serangan!"

Dengan gerakan kuat sekali Ban-gu-thouw membacok ke arah kepala Kun Hong. Pemuda ini dengan tenang miringkan kepala, jari tangannya meluncur ke arah pergelangan tangan disusul cengkeraman ke arah gagang golok dan... sebelum Ban-gu-thouw tahu mengapa tiba-tiba tangannya menjadi gringgingen (kesemutan), goloknya sudah pindah ke tangan orang buta itu! Tanpa berkata apa-apa kembali Kun Hong mengangsurkan golok kepada pemiliknya.

"Hek-cici, dia ini siluman, lebih baik kita pulang dan siap-siap menerima hukuman!" kata Ban-gu-thouw sambil menyambar goloknya dan berlari pergi diikuti temannya.

Loan Ki mengikuti mereka dengan suara ketawanya yang nyaring sampai mereka tidak kelihatan lagi punggung mereka.

"Hi-hi-hik alangkah lucunya dua orang badut itu!" Loan Ki berkata sambil duduk di depan Kun Hong yang sudah duduk pula di atas akar pohon.
"Apanya yang lucu?! Ki-moi, kau benar-benar keterlaluan. Sudah mencuri, memperolok mereka yang tentu akan menerima hukuman dari majikan mereka. Hanya aku amat heran, siapakah majikan yang mempunyai koki dan jagal seperti mereka itu? Kepandaian mereka itu tidak patut dimiliki seorang koki dan jagal biasa. Tentu majikan itu luar biasa pula dan bukan orang sembarangan. Sudah sepatutnya kita datang ke sana minta maaf."

Loan Ki cemberut. "Aku tidak sudi minta maaf! Apa lagi kepada toanio dan siocia yang mereka sebut-sebut tadi. Huh, lebih baik kupergunakan pedangku untuk memberi hajaran kepada mereka."

Kun Hong menghela napas. "Sudahlah, kalau begitu kita tidak usah pergi ke sana. Tapi tidak baik pula kita tinggal bersama-sama di sini. Kalau mereka datang lagi tentu hanya akan menimbulkan keributan belaka. Ki-moi, aku sungguh merasa beruntung sekali dapat berkenalan denganmu. Adik yang baik, selanjutnya kau berhati-hatilah dalam melakukan perjalanan, akan lebih baik kalau kau segera pulang dan jangan merantau seorang diri. Seorang dara remaja seperti kau ini lebih aman apa bila berada di rumah orang tuamu sendiri. Jauhkan permusuhan, jangan terlalu menurut nafsu hati. Nah, Ki-moi kita berpisah di sini. Mudah-mudahan pada lain waktu ada kesempatan bagi kita untuk saling bertemu kembali."

Kun Hong tidak tahu betapa gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak bagaikan orang kaget. Agaknya dia sama sekali tidak ingat bahwa pertemuan itu akan berakhir dengan perpisahan. Tiba-tiba ia memegang tangan Kun Hong dan ditariknya pemuda buta itu berdiri.

"Hong-ko, hayo berangkat!" ajaknya.
"Ehh, ke mana? Jalan kita bersimpang di sini."
"Iihh, siapa bilang? Kita mengejar mereka, mengunjungi majikan dua orang badut tadi."
"Heh?!" Kun Hong melengak heran, "Kau bilang tadi tidak sudi ke sana, tidak sudi minta maaf!"
"Sekarang aku ingin sekali ke sana! Ingin aku melihat si muka hitam kepala kerbau itu dipukuli kepalanya oleh toanio sampai bengkak-bengkak dan melihat si nenek setan itu menyelam di air sampai perutnya kembung, hi-hi-hik!"

Kun Hong hanya dapat menarik napas panjang karena gadis itu sudah menariknya dan mengajak lari. Sebetulnya dia tidak ingin pergi berdua lebih lama lagi dengan gadis yang merupakan penggoda batinnya ini, akan tetapi dia pun tidak tega membiarkan gadis itu pergi seorang diri menemui majikan yang aneh dan mencurigakan itu. Dia tahu dengan pasti bahwa sekali sudah menyatakan keinginan hatinya, tidak ada lautan api yang dapat menghalangi gadis kepala batu ini..

Selanjutnya baca
PENDEKAR BUTA : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger