logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Buta Jilid 04


Pemilik Ching-coa-to adalah seorang wanita setengah tua yang terkenal dengan sebutan Ching-toanio. Nama ini hanya sebutan saja, mungkin sengaja ia pakai untuk disesuaikan dengan nama pulaunya dan memang nyonya ini selalu berpakaian hijau (ching).

Biar pun usianya sudah hampir lima puluh tahun, namun jelas kelihatan bahwa dahulunya Ching-toanio adalah seorang wanita yang cantik manis. Memang demikianlah, dulu ketika ia masih bernama Liu Bwee Lan, wajahnya cantik, bentuk tubuhnya menarik serta ilmu silatnya juga tinggi.

Sayang bahwa anak yang cantik dan sangat cerdik ini semenjak kecilnya tidak mendapat pendidikan yang baik karena memang dia hidup di lingkungan keluarga penjahat. Ayah bundanya merupakan perampok yang terkenal dan semenjak kecil sudah tertanam bibit kejahatan dalam batin Liu Bwee Lan.

Dua puluh tahun yang lalu, ketika dia berusia dua puluh tahun lebih dan sudah menjadi seorang nona dewasa yang cantik dan garang, Liu Bwee Lan lalu berdikari dan menjadi perampok tunggal. Pada suatu hari, seorang diri dia melakukan perampokan di kota raja, suatu perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang penjahat yang berkepandaian tinggi karena sangatlah berbahaya melakukan perampokan di kota raja di mana banyak terdapat jagoan-jagoan pandai.

Liu Bwee Lan ini dengan nekat dapat merampok rumah gedung keluarga hartawan. Malah karena amat tertarik melihat seorang anak kecil berusia kurang lebih satu tahun, dia lalu membawa atau menculik bayi ini pula!

Akan tetapi hampir saja ia celaka ketika beberapa orang penjaga keamanan kota yang berilmu tinggi mengejar dan mengepungnya. Baiknya pada saat itu muncul seorang tokoh kang-ouw yang namanya amat terkenal, seorang tokoh muda yang berwajah tampan dan berwatak seperti iblis.

Tokoh muda ini bukan lain adalah Siauw-coa-ong Giam Kin.....

Karena dasar kedua orang muda ini memang sama, keduanya adalah golongan hitam, pertemuan yang didahului dengan pertolongan Giam Kin yang menyelamatkan dirinya, disambung dengan jalinan cinta kasih dan terjadilah hubungan gelap antara kedua orang ini. Giam Kin amat mencinta Liu Bwee Lan dan begitu pula sebaliknya.

Meski Liu Bwee Lan sadar setelah terlambat bahwa ia hanya dijadikan barang permainan tokoh itu, namun ia dengan cerdik mengeduk keuntungan sebanyaknya dari hubungannya dengan Giam Kin. Ia minta diberi pelajaran silat dan mengeduk semua kepandaian suami tak sah ini, malah mewarisi pula ilmu memelihara dan menguasai ular-ular berbisa.

Dalam kemanjaannya karena Giam Kin sedang tergila-gila padanya, Liu Bwee Lan malah berhasil dengan permintaannya yang gila-gilaan, yaitu dia minta dibuatkan tempat tinggal dengan memiliki sebuah pulau yang penuh rahasia dan penuh pula dengan ular-ular hijau berbisa!

Demikianlah, sampai Giam Kin menjadi seorang yang cacat, kemudian tewas di puncak Thai-san, Liu Bwee Lan akhirnya menjadi pemilik Pulau Ching-coa-to. Semenjak menjadi pemilik pulau itu, wanita ini berganti nama menjadi Ching-toanio.

Hubungannya Liu Bwee Lan dengan Giam Kin menghasilkan seorang anak perempuan. Dengan demikian ia mempunyai dua orang anak perempuan, yang pertama adalah anak yang ia culik dari rumah keluarga hartawan di kota raja dan yang ia beri nama Hui Kauw, sedangkan anaknya sendiri ia beri nama Hui Siang. Untuk nama keturunan, ia memakai she Giam untuk kedua anaknya itu.

Orang berwatak seperti Ching-toanio ini tentu saja kasih sayangnya yang sesungguhnya hanya terjatuh pada anak kandungnya, Hui Siang. Ada pun kasih sayangnya kepada Hui Kauw hanya pulasan atau palsu belaka dan seberapa dapat dia akan mempergunakan anak pungut ini demi keuntungan diri sendiri.

Malah ketika Hui Kauw baru belasan tahun usianya dan Giam Kin belum tewas, ia selalu dikejar-kejar dan diancam oleh kekejian Giam Kin yang hendak menjadikan anak pungut yang amat cantik jelita ini menjadi korban keganasannya. Baiknya ada Ching-toanio yang karena cemburu, selalu menghalangi maksud ini.

Malah kemudian karena dorongan iri hati terhadap kecantikan anak pungut yang melebihi anak sendiri, atau mungkin juga karena cemburu melihat suami tidak sah itu tergila-gila, Ching-toanio melakukan perbuatan yang amat keji, yaitu malam-malam ia menggunakan bedak berbisa melabur muka Hui Kauw yang sudah dipulaskan dengan obat tidur. Dapat dibayangkan betapa hancur hati gadis cilik itu ketika pada keesokan harinya, pada waktu bangun tidur, ia merasa mukanya sakit-sakit, gatal-gatal dan perih dan kemudian setelah sembuh, muka yang semula putih kemerahan dan halus seperti sutera itu telah berubah menjadi hitam seperti pantat kuali!

Dalam hal ilmu silat, Ching-toanio menurunkan kepandaiannya kepada dua orang anak perempuan itu tanpa ada perbedaan, karena memang ia ingin melihat Hui Kauw menjadi pandai pula agar dapat dipergunakan tenaganya. Dan memang tidak aneh bila Hui Kauw menjadi lebih maju dalam segala macam kepandaian jika dibandingkan dengan Hui Siang karena otaknya memang lebih cerdik.

Karena tekunnya Ching-toanio mengajar, kepandaian dua orang gadis itu selisihnya tidak banyak dengan si ibu sendiri. Akan tetapi, tentu saja di luar dugaan Hui Siang dan ibunya bahwa secara rahasia, Hui Kauw telah mempelajari ilmu silat sakti yang ia dapat baca dari sebuah kitab kuno, kitab yang dia temukan di antara kitab-kitab hasil rampasan ibunya dahulu ketika menjadi perampok ganas.

Ibunya sendiri tidak suka akan bacaan, malah tidak mempelajari kesusasteraan sampai mendalam. Berbeda dengan Hui Kauw yang mempelajari dengan amat tekun, malah pada waktu kecil ia merengek-rengek minta kepada ibunya untuk mendatangkan guru sastera yang pandai dan hal ini pun dipenuhi oleh ibunya yang memaksa datang seorang guru sastera terkenal untuk melatih sastera kepada Hui Kauw. Inilah keuntungan Hui Kauw dan agaknya karena gadis ini pun merasa betapa ia dibedakan, diam-diam ia merahasiakan ilmu silat sakti yang ia pelajari secara diam-diam dari kitab kuno itu.

Demikianlah sedikit keterangan tentang keadaan para penghuni pulau Ching-coa-to, yaitu Ching-toanio dan dua orang gadisnya. Tentu saja di samping tiga orang majikan ini, di situ terdapat banyak pembantu dan pelayan, karena Ching-toanio memiliki harta benda yang amat banyak, simpanan dari hasil rampokan dahulu ditambah pemberian Giam Kin ketika masih tergila-gila kepadanya.

Sekarang kita ikuti pengalaman Loan Ki. Seperti telah kita ketahui di bagian depan, gadis lincah ini terjerumus ke dalam jurang pada saat ia sedang mencari jalan menuruni lembah curam dan pinggir jurang yang diinjaknya longsor.

Tanah longsor ini bukan merupakan hal kebetulan. Memang semua tempat di dalam pulau itu sudah dipasangi alat-alat jebakan dan rahasia sehingga tempat ini merupakan daerah yang sukar dan berbahaya bagi orang-orang luar yang berniat akan mengganggu. Tempat ini merupakan hasil dari pada pemikiran orang-orang luar biasa, yaitu Giam Kin sendiri, Ching-toanio serta dibantu oleh orang-orang pandai seperti guru Giam Kin yang berjuluk Siauw-ong-kwi, Pak-thian Lo-cu dan lain-lain.

Loan Ki menjerit minta tolong ketika tiba-tiba tanah yang diinjaknya runtuh dan tubuhnya melayang amat cepat ke bawah. Ia berusaha menggunakan ginkang-nya untuk mengatur tubuh dan tangannya meraih ke sana ke mari, namun percuma. Batu atau tanaman yang dapat dicengkeramnya terlepas dari dinding karang sehingga tubuhnya terus melayang ke bawah dengan amat cepatnya!

"Byurrr!" Air muncrat tinggi ketika tubuh gadis itu menimpa permukaan air yang membiru saking dalamnya.

Untuk sedetik Loan Ki gelagapan, kepalanya masih merasa pening karena kejatuhannya dari tempat sedemikian tingginya ditambah kengerian hati karena tidak mengira bahwa di bawahnya adalah air. Andai kata ia tahu bahwa ia akan terjatuh ke dalam air, kiranya ia takkan gelisah tadi ketika jatuh. Air merupakan tempat ia berkecimpung semenjak kecil.

Ayahnya tinggal di pantai dan laut adalah tempat ia bermain, ombak merupakan kawan ia bermain-main. Begitu tubuhnya tenggelam saking kerasnya ia jatuh dan ia menutup mulut serta hidungnya, kesadaran segera kembali ke dalam pikiran Loan Ki. Cepat tangan dan kakinya bergerak secara otomatis dan tubuhnya yang ramping itu meluncur naik seperti seekor ikan hiu.

Akan tetapi begitu kepalanya muncul di permukaan air, Loan Ki melihat ada enam orang laki-laki di tepi air, dipimpin oleh seorang nenek yang ia kenal sebagai koki yang kemarin menyerangnya! Nenek itu tadinya memandang dengan mata terbelalak, agaknya terkejut dan heran luar biasa betapa ada seorang manusia jatuh dari angkasa, akan tetapi segera tersenyum lebar ketika mengenal muka Loan Ki.

Ia menudingkan telunjuknya dan berteriak kepada orang-orang yang berada di situ, "Nah, itu dia iblis betina yang kita cari-cari! Heh-heh-heh, mencari ganti ikan untuk siocia, kini mendapat ganti begini besarnya. Heh-heh, lucu... lucu... tangkap ia dan sebelum diseret ke depan toanio, biar ia merasakan beberapa pukulan tanganku di tubuh belakangnya biar kapok anak setan ini!"

Loan Ki melihat enam orang laki-laki seperti berlomba melempar diri ke dalam air, sinar mata mereka kurang ajar. Agaknya perintah itu sangat menyenangkan hati mereka dan setelah tiba di air, mereka berenang cepat-cepat ke arahnya sambil tertawa-tawa. Tadi Loan Ki sengaja beraksi seperti tidak pandai berenang, malah sekarang ia sengaja seperti orang ketakutan dan tenggelam perlahan-lahan.

"Heiii, tunggu, aku akan menolongmu, Nona manis!" teriak seorang lelaki yang berenang cepat sekali.
"Sam-ko, biarkan aku yang pondong dia!" orang ke dua memburu sambil tertawa-tawa.
"Hayo, kita berlomba, siapa yang dapat menjamahnya lebih dahulu dialah yang berhak mendapat upah, memondongnya ke tepi!" kata orang yang ke tiga dan ramailah mereka berlomba dan mulai menyelam.

Akan tetapi sama sekali tidak pernah mereka membayangkan bahwa kali ini benar-benar mereka akan menghadapi seorang ‘iblis air’. Begitu mereka menyelam dan meluncur ke sana ke mari untuk menangkap gadis yang ‘tenggelam’ tadi, tiba-tiba saja di depan mata mereka meluncur bayangan seperti ikan hiu, demikian cepatnya bayangan ini meluncur lewat.

Kagetlah mereka, mengira bahwa ada ikan besar yang sangat berbahaya. Mereka mulai hendak timbul kembali ke permukaan air, menjauhi bahaya pada waktu ‘ikan besar’ itu menyerang mereka.

Jika saja peristiwa itu terjadi di darat, tentu akan terdengar ribut-ribut mereka mengaduh-aduh. Akan tetapi karena terjadinya di dalam air, hanya si nenek koki itu saja yang melihat betapa permukaan air bergelombang seakan-akan di bawahnya terjadi pergumulan hebat.

Tak lama kemudian, tampaklah kepala enam orang pembantunya tersembul ke luar, lalu berenang ke pinggir secepat mungkin sambil berteriak-teriak kesakitan. Nenek itu sibuk membantu mereka, menyeret mereka yang datang lebih dulu ke darat karena mereka sendiri agaknya sudah tidak kuat untuk naik sendiri.

Bukan main keheranan nenek itu ketika melihat betapa setiap orang pembantunya tentu patah tulang lengan, pundak, atau kakinya dan bermacam-macam ikan menggigit mereka. Ada yang digigit udang besar telinganya, ada yang pantatnya dicapit kepiting besar yang masih bergantungan, ada yang pahanya ditusuk ikan cucut, malah seorang di antara mereka hidungnya masih dicapit seekor udang yang macamnya menakutkan!

"Eh-ehh-ehhh, kalian ini kenapakah? Kenapa begini...?"
"Celaka... anak iblis itu... agaknya ia anak siluman telaga... ikan-ikan mengeroyok kami... waduh, celaka...!" seorang di antara mereka menyumpah-nyumpah sambil melepaskan kepiting yang mencapit pantatnya lalu dibanting sampai hancur berkeping-keping.

Nenek itu marah-marah kepada para pembantunya, memaki-maki mereka penakut, tolol, goblok dan lain-lain, lalu menyumpah-nyumpah. Pada saat itu, tanpa di ketahui, di tepi telaga muncul kepala Loan Ki dan tangan gadis itu bergerak cepat sekali. Sebuah benda melayang dan tepat sekali menghantam muka nenek itu.

Merasa ada sesuatu memasuki mulutnya yang sedang memaki, nenek itu cepat menutup mulut menggunakan gigi menggigit. Bau amis memuakkannya dan cepat ia membetot ke luar benda yang lunak-lunak alot dari dalam mulutnya. Apakah benda itu? Kiranya seekor haisom (lintah laut) yang masih hidup, sebesar lengan tangan, menggeliat-geliat kehitam-hitaman. Nenek itu mengeluarkan keluhan panjang dan terguling roboh, pingsan saking ngeri dari jijiknya!

Sudah tentu saja semua itu adalah perbuatan Loan Ki dan sekarang gadis yang nakal ini telah mendarat agak jauh dari tempat itu. Pakaiannya basah kuyup, tetapi dia selamat, tidak terluka dan buntalan pakaian berikut mahkota kuno itu masih berada padanya. 

Sambil memeras pakaian serta rambutnya, dia mengenangkan semua kejadian tadi dan tertawa-tawa seorang diri dengan hati puas. Kalau saja ia tidak ingat kepada Kun Hong sahabat baru buta yang anti pembunuhan, agaknya tadi ia akan membunuh semua orang itu. Entah bagaimana, ketika mempermainkan enam orang laki-laki di dalam air tadi, ia teringat kepada Kun Hong dan tidak berani melakukan pembunuhan, takut kalau kelak ditegur oleh pemuda buta itu!

Hatinya girang bukan main karena sekarang dia sudah sampai di tepi telaga. Kalau ada perahu, ia akan dapat menyeberang ke darat. Tetapi, bagaimana ia dapat meninggalkan Kun Hong begitu saja? Orang buta itu datang ke pulau ini atas desakannya dan sekarang ia tidak tahu di mana adanya Kun Hong. Aku harus mencari dia dan mengajaknya ke luar dari tempat berbahaya ini, pikirnya!

Ia mendongak memandang tebing yang tinggi, akan tetapi tak melihat bayangan pemuda buta itu. Di depannya adalah sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon buah. Amat girang hatinya melihat beberapa pohon penuh dengan buah yang sudah matang. Segera ia meloncat memetik buah lalu makan sekenyangnya sambil duduk di atas cabang pohon yang tinggi.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara terbawa angin. Cepat ia menengok dan dilihatnya dua orang laki-laki berjalan sambil bercakap-cakap. Mereka berjalan di belakang seorang wanita berpakaian pelayan yang agaknya menjadi petunjuk jalan.

Seorang di antara mereka adalah seorang kakek tinggi besar yang berpakaian pendeta berwarna kuning dan kepalanya gundul, membawa sebatang tongkat hwesio yang berat. Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bertubuh kekar tinggi besar bermuka kehitaman bermata lebar. Pakaiannya mewah sekali dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang dengan sarung pedang terukir indah. Gerak-gerik dua orang ini jelas membayangkan kekuatan besar dan berkepandaian tinggi.

Akan tetapi Loan Ki tidak gentar. Malah gadis ini menjadi girang sekali. Ia maklum bahwa pulau ini mengandung banyak rahasia, sulit baginya untuk dapat mencari Kun Hong. Akan tetapi dengan adanya tiga orang di depan itu, ia akan dapat mengikuti mereka memasuki pulau tanpa khawatir akan terjebak dalam perangkap.

Cepat ia merosot turun, hati-hati dan tidak menimbulkan suara karena ia pun tahu bahwa dua orang laki-laki itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan, lalu menyelinap di antara pepohonan mengikuti ketiga orang itu dengan hati-hati. Karena ia tidak berani mengikuti dari jarak dekat, ia tak dapat mendengar jelas apa isi percakapan dua orang itu.

Dengan melalui jalan yang berbelit-belit dan yang tidak mungkin akan dapat ditemukan sendiri oleh Loan Ki, orang-orang itu akhirnya memasuki sebuah bangunan kecil yang bentuknya mungil dan bercat merah seluruhnya. Pelayan yang menjadi petunjuk jalan itu dengan senyum ramah mempersilakan dua orang ini memasuki bangunan itu dan mereka bertiga menghilang di balik pintu.

Loan Ki menanti sampai beberapa lama. Setelah mendapat kenyataan bahwa keadaan di situ sunyi dan tidak ada orang yang keluar dari rumah itu, tidak ada pula tampak penjaga, ia lalu berindap-indap mendekati bangunan, mengambil jalan memutar dan akhirnya ia bisa bersembunyi di balik jendela dan dapat mengintai serta mendengarkan percakapan di dalam.

Kiranya bangunan itu hanya mempunyai sebuah ruangan saja yang bentuknya bundar, ruangan yang bersih dihias kembang-kembang yang hidup dan sengaja ditanam di sana. Sedikitnya ada lima belas kursi yang terukir indah dipasang mengitari sebuah meja yang besar serta berukir dan pula, disulami sutera tebal berwarna kuning emas. Pada dinding ruangan itu terhias lukisan-lukisan kuno yang amat mahal dan indah serta tulisan-tulisan bermacam gaya, kesemuanya membayangkan kemewahan tempat kediaman orang kaya.

Akan tetapi semua kemewahan itu sama sekali tidak menarik perhatian Loan Ki. Tempat tinggal ayahnya pun tak kalah mewahnya dengan tempat ini. Yang menarik perhatiannya adalah orang-orang yang duduk di situ. Ia melihat betapa di samping dua laki-laki yang baru datang ini, di situ sudah duduk empat orang.

Seorang di antaranya adalah laki-laki berusia empat puluh tahunan. Tubuhnya kecil kurus seperti cecak kering, kumisnya seperti kumis tikus dan kopiahnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang Bangsa Mancu.

Yang tiga orang adalah wanita-wanita yang berpakaian serba merah berkembang dengan perawakan yang ramping menarik. Kulitnya kehitaman namun manis, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Dari senyum dan lirikan mata mereka pada saat menyambut kedatangan dua orang ini, mudah diduga bahwa mereka adalah golongan orang-orang ‘besar’ dalam arti kata berpengaruh di dunia kang-ouw sehingga sikap mereka tidak malu-malu, malah membayangkan sifat sombong.

Berbeda dengan sikap tiga orang wanita yang dengan tenang tersenyum-senyum duduk di tempatnya ini, si kurus berkumis tikus cepat-cepat bangkit berdiri serta membungkuk menyambut kedatangan hwesio tua dan pemuda tinggi besar tadi.

"Selamat datang... selamat datang... Tai-hoatsu (guru besar) dan Pangeran Sublai!" Dia menjura dengan sikap menghormat.
"Oho, kiranya saudara Bouw Si Ma sudah hadir pula di sini. Bagus!" hwesio itu tertawa bergelak dan dinding ruangan seakan-akan tergetar oleh suara ketawanya.

Laki-laki tinggi besar muka hitam itu rnemandang tajam, membalas penghormatan Bouw Si Ma sambil berkata, suaranya tenang dan sikapnya dingin, "Saudara Bouw Si Ma, aku adalah Souw Bu Lai, harap kau orang tua tidak berkelakar tentang pangeran segala."

Bouw Si Ma tersenyum lebar, mengangguk-angguk lalu berkata, "Orang sendiri... orang sendiri... di antara orang sendiri, mana perlu sungkan-sungkan? Mari kuperkenalkan..."

Akan tetapi hwesio tua itu segera memotong dengan gerakan tangan yang menyatakan ketidak sabaran hatinya.

"Bouw-sicu, pinceng (aku) datang ke sini atas undangan majikan Ching-coa-to. Mengapa sekarang Ching-toanio tidak kelihatan mata hidungnya malah mengajukan orang-orang lain untuk menyambut pinceng? Apa artinya penghormatan seperti ini?"

Jelas bahwa biar pun dia seorang pendeta, namun sikapnya sombong sekali dan dia tidak memandang sebelah mata kepada orang lain. Terang terhadap Bouw Si Ma tidak, juga terhadap tiga orang wanita baju merah berkembang itu pun tidak. Sebagai seorang tokoh besar yang diundang oleh Ching-toanio untuk membicarakan urusan rahasia yang sangat besar, agaknya dia merasa kecewa sekali tahu-tahu kini di tempat itu dia bertemu dengan orang-orang asing.

Kalau Ching-toanio membawa-bawa orang seperti Bouw Si Ma masih mending karena dia mengetahui orang macam apa adanya Si Mancu murid Pak-thian Lo-cu ini. Akan tetapi tiga orang wanita ini, yang sikapnya sombong dan juga mudah diduga bahwa mereka itu orang-orang undangan atau tamu, benar-benar membuat hwesio itu merasa tak senang hatinya.

Tiga orang wanita itu tersenyum lebar dan saling pandang, kemudian seorang di antara mereka yang mempunyai tahi lalat di ujung hidungnya, orang yang tertua, berkata,
“Taisu tentulah Ka Chong Hoatsu dan tuan muda itu tentu Pangeran Souw Bu Lai seperti tadi telah diberi tahukan kepada kami oleh Bouw Si Ma-enghiong. Jiwi adalah orang-orang besar dan ternama, mana bisa disamakan dengan kami ketiga enci adik yang tidak ada kepandaian, juga tidak ada kedudukan? Akan tetapi, betapa rendah pun, kami adalah undangan dari Ching-toanio, maka berhak berada di sini. Kurasa yang tidak berhak hadir adalah yang tidak diundang, bukankah begitu anggapanmu, Taisu? Hemm, dia itulah yang tidak diundang, maka wajib disingkirkan."

Loan Ki kaget bukan main ketika tiba-tiba ada angin berbunyi sampai berciutan di dalam ruangan itu. Ia tadinya menyangka bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tamu tak diundang’ oleh wanita itu tentulah ia dan ia sudah siap menghadapi serangan. Akan tetapi serangan yang dilakukan oleh wanita itu benar-benar membuat sepasang matanya terbelalak heran dan hatinya berdebar-debar.

Ia tidak tahu pukulan apakah itu, yang dilihatnya hanya lengan tangan wanita itu bergerak ke depan dengan telunjuk menuding, kemudian terdengar angin kecil kuat menyambar ke depan, mengeluarkan bunyi mengerikan. Loan Ki lega hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan dia yang diserang, melainkan seekor cecak yang tadinya merayap di atas jendela.

Ketika ia memandang lebih teliti ke arah cecak itu, ia bergidik. Cecak itu masih berada di tempat semula, akan tetapi sudah tidak bergerak lagi dan dua titik darah menetes dari perutnya!

"Omitohud...! Bukankah itu ilmu yang disebut Hui-seng Kiam-sut (Ilmu Pedang Bintang Terbang)?"

Kemudian hwesio tua itu berpaling kepada Souw Bu Lai, pangeran yang sudah menjadi muridnya sambil berkata, "Ilmu pedang ini datangnya dari seorang hoan-ceng (pendeta asing) di Thian-tiok (India). Ilmu pedang yang dicampur dengan hoat-sut (ilmu sihir), amat berbahaya dan jika tingkatnya sudah tinggi, hawa pukulannya sudah dapat dipakai untuk merobohkan lawan tanpa perlu menggunakan pedang sekali pun. Melihat toanio ini dapat menggunakan hawa pukulan tanpa pedang, sungguh-sungguh mengagumkan dan sudah sepantasnya kalau mereka bertiga juga turut diundang oleh Ching-toanio. Aha, siapa kira orang-orang muda kini mendapat kemajuan begini hebat? Pinceng orang tua benar-benar sudah pikun, tidak sadar bahwa dunia ini semakin lama tentu akan dikuasai oleh yang muda-muda... ha-ha-ha-ha!"

Melihat perubahan sikap ini, Bouw Si Ma girang sekali. Dia lalu berkata sambil tersenyum, "Benar pendapat Taisu. Sam-wi Lihiap ini bukan lain adalah Ang Hwa Sam-cimoi (Tiga Enci Adik Bunga Merah)."

"Benarkah? Oho, pinceng girang sekali. Pernah mendengar bahwa Ang Hwa Sam-cimoi adalah sumoi (adik seperguruan) dari Hek-hwa Kui-bo yang pinceng kenal baik. Sayang Hek-hwa Kui-bo telah terbang terlampau tinggi sehingga tersandung puncak Thai-san dan roboh."

Orang tertua dari Ang Hwa Sam-cimoi mengerutkan keningnya. "Suatu saat kami bertiga yang bodoh hendak berusaha menggugurkan puncak Thai-san yang sudah merobohkan mendiang Hek-hwa suci (kakak seperguruan)."

Ka Chong Hoatsu, hwesio itu, hanya terbahak-bahak lalu bersama muridnya mengambil tempat duduk. Di luar jendela, Loan Ki memandang serta mendengar semua ini dengan hati berdebar.

Setelah mereka duduk, dia memandang penuh perhatian pada enam orang itu yang mulai minum-minum, dengan dilayani oleh pelayan-pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik serta berpakaian sutera seragam berwarna indah. Dia tahu bahwa di dalam ruangan itu terdapat orang-orang lihai dan makin khawatirlah dia karena sekarang makin sulit baginya untuk dapat mencari Kun Hong dan bersama pemuda buta itu pergi meninggalkan pulau berbahaya ini.

Kekhawatiran Loan Ki memang beralasan sekali. Enam orang itu memang merupakan tokoh-tokoh besar yang sangat tinggi ilmu kepandaiannya. Bouw Si Ma orang Mancu itu bukanlah orang sembarangan karena dia adalah murid dari tokoh nomor satu di utara, yaitu Pak-thian Lo-cu yang juga menemui kematiannya di puncak Thai-san.

Seperti Ang Hwa Sam-cimoi yang mendendam atas kematian suci mereka, juga Bouw Si Ma ini menaruh dendam terhadap Thai-san-pai atas kematian gurunya. Sebagai murid Pak-thian Lo-cu, tentu saja dia mengenal Giam Kin yang menjadi murid Siauw-ong-kwi karena Siauw-ong-kwi adalah sute (adik seperguruan) Pak-thian Lo-cu sehingga antara Bouw Si Ma dan Giam Kin terhitung saudara seperguruan pula.

Sebagai saudara tingkat tua di dalam perguruan, tentu saja Bouw Si Ma mengenal pula Ching-toanio dan sering kali mengunjungi pulau ini, apa lagi semenjak Giam Kin tewas di puncak Thai-san. Dalam banyak hal terdapat persesuaian faham antara Bouw Si Ma dan Ching-toanio. Mereka sama-sama menaruh dendam terhadap Thai-san-pai, dan keduanya adalah orang-orang yang memiliki ambisi yang tinggi maka sering kali mereka mengincar kedudukan di kota raja semenjak terjadinya kerusuhan dan perebutan kekuasaan setelah kaisar pertama dari Ahala Beng meninggal dunia.

Tiga orang wanita itu, Ang Hwa Sam-cimoi, juga merupakan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Mereka ini tergolong tokoh-tokoh dari ilmu golongan hitam dan selama belasan tahun mereka merantau ke See-thian (dunia barat) sehingga mereka tidak tahu akan nasib suci mereka yaitu Hek-hwa Kui-bo yang tewas pula di Thai-san.

Kini ketiga orang enci adik ini pulang dari See-thian dengan kulit agak kehitaman. Akan tetapi selain mereka pelajari ilmu kepandaian yang hebat, seperti juga halnya Hek-hwa Kui-bo, tiga orang wanita yang usianya sudah mendekati lima puluhan tahun ini masih nampak cantik manis dan muda-muda tidak lebih dari tiga puluh tahun!

Setelah merantau ke See-thian dan bertemu dengan guru mereka, yaitu seorang pendeta di Thian-tiok yang bertapa di Pegunungan Himalaya, kini kepandaian Ang Hwa Sam-cimoi meningkat hebat sehingga melampaui tingkat kepandaian Hek-hwa Kui-bo sendiri. Mereka she Ngo dan nama mereka adalah Kui Ciau, Kui Biau, dan Kui Sian.

Bouw Si Ma yang mewakili Ching-toa-nio dalam hal mencari orang pandai untuk sekutu, dengan amat cerdiknya segera menggandeng tiga orang enci adik ini. Apa lagi mengingat bahwa mereka bertiga juga memiliki dendam yang sama di Thai-san atas kematian kakak seperguruan mereka.

Tentang kelihaian tiga orang wanita ini, tadi baru saja didemonstrasikan ilmu pukulan yang amat hebat. Ilmu ini merupakan inti dari pada Ilmu Pedang Hwa-seng Kiam-sut, yang telah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dengan kekuatan hoat-sut, hawa pukulannya saja sudah sama bahayanya dengan sambaran pedang.

Orang berusia tiga puluhan tahun yang disebut pangeran itu sebetulnya memang masih keturunan Pangeran Mongol. Di dalam cerita Raja Pedang terdapat seorang Pangeran Mongol bernama Souw Kian Bu yang tampan dan cabul, mengandalkan kekuasaan dan kepandaian melakukan pelbagai kejahatan. Pangeran Mongol yang kini berada di ruangan itu adalah seorang keturunan dari Pangeran Souw Kian Bu ini.

Ia bernama Sublai dalam Bahasa Mongol, dan dalam dunia kang-ouw dia menggunakan nama Han dan disebut Souw Bu Lai. Kepandaiannya juga tinggi, malah lebih tinggi kalau dibandingkan dengan orang-orang Mongol kebanyakan, karena gurunya merupakan tokoh Mongol nomor satu.

Sebagai orang yang bercita-cita tinggi untuk memulihkan kembali kekuasaan bangsanya atas daratan Tiongkok, Souw Bu Lai tekun mempelajari segala ilmu silat sehingga dia sekarang menjadi seorang yang luas pengalamannya dalam ilmu silat, pandai memainkan delapan belas macam senjata, pandai pula menunggang kuda melepaskan anak panah dan senjata-senjata rahasia, sedangkan tenaganya pun besar.
cerita silat online karya kho ping hoo
Pendeta tinggi besar itulah guru Souw Bu Lai, berjuluk Ka Chong Hoatsu, yaitu seorang pendeta Buddha yang pernah merantau ke Thian-tiok dan malah pernah menerima hadiah tongkat kependetaannya di Tibet. Sayang seribu kali sayang bahwa Ka Chong Hoatsu yang puluhan tahun mempelajari ilmu dan agama, ternyata mengandung cita-cita duniawi yang membikin kotor semua usaha.

Dulu dia bercita-cita menjadi orang yang tertinggi kedudukannya di samping kaisar melalui keagamaan. Sekarang melihat betapa Kerajaan Mongol sudah jatuh, dia lalu bercita-cita untuk membangunnya kembali bersama Pangeran Souw Bu Lai yang menjadi muridnya.

Sering kali dia bermimpi betapa akan tinggi kedudukannya di dunia ini kalau muridnya itu menjadi kaisar. Tentu dia akan menjadi guru besar negara dan mempunyai kekuasaan yang malah melebihi kaisar sendiri!

Pendeta ini mempunyai kepandaian yang hebat, kiranya tidak akan kalah tinggi dari pada tingkat si empat besar yang dulu ditonjolkan di dunia kangouw, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun si tokoh barat, Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang si tokoh timur, Siauw-ong-kwi si tokoh utara, dan Hek-hwa Kui-bo si tokoh selatan. Tongkat pendeta di tangannya itulah yang merupakan senjata utamanya, ampuhnya bukan kepalang, sukar ditandingi karena selain terbuat dari pada baja pilihan di Himalaya, juga amat berat tapi kalau dia yang mainkan seakan-akan bulu ringannya, maka dapat bergerak cepat sekali!

Pokoknya, enam orang yang tengah berkumpul di pulau Ching-coa-to itu telah mempunyai kepentingan bersama, termasuk Ching-toanio sendiri, yaitu berusaha membalas dendam kepada Thai-san-pai dan usaha untuk membangun kembali Kerajaan Mongol yang sudah runtuh.

Setelah beberapa lama enam orang itu makan minum di ruangan itu sambil menunggu datangnya Ching-toanio yang sudah diberi tahu oleh salah seorang pelayan, muncullah Ching-toanio dari pintu depan. Begitu masuk wanita berpakaian hijau ini segera menjura dengan hormat sekali sambil berkata,

"Harap cu-wi (anda sekalian) sudi memaafkan atas kelambatanku menyambut cu-wi. Ada sedikit gangguan di pulau ini. Dua orang yang belum diketahui betul maksudnya sudah mencuri masuk dan membikin kacau anak buahku. Mereka adalah seorang laki-laki dan seorang gadis muda, dan aku amat khawatir kalau-kalau mereka itu adalah mata-mata pihak musuh yang menaruh curiga kepada kita."

Mendengar ucapan nyonya rumah ini, otomatis keenam orang itu mengerling ke sana ke mari dengan pandang mata penuh selidik.

"He-he-he, gadis cilik berpakaian basah?" tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata.
"Iblis betina berambut kusut?" kata pula Ngo Kui Biau sambil tersenyum mengejek.

Sebelum yang lainnya tahu apa yang mereka maksudkan itu, tiba-tiba Ka Chong Hoatsu mendorongkan tangan kanan ke arah jendela diikuti gerakan Ngo Kui Biau yang mencelat ke arah jendela pula.

"Brakkkkk!"

Angin dorongan tangan hwesio itu membuat daun jendela menjadi pecah dan di lain saat Ngo Kui Biau sudah meloncat masuk kembali sambil melemparkan tubuh seorang gadis yang pakaiannya basah dan rambutnya kusut, bukan lain orang adalah Loan Ki!

Gadis ini berjungkir balik dengan gerakan indah sehingga tubuhnya tidak terbanting di atas lantai, lalu berdiri tegak memandang penuh ketabahan, sungguh pun kedua matanya masih terbalalak lebar saking heran dan kagetnya. Tadi ia mendengar pula ucapan dua orang itu dan tiba-tiba ada angin besar menyambar ke arah jendela.

Cepat ia merendahkan diri untuk mengelak, akan tetapi angin pukulan itu membuat daun jendela pecah dan tiba-tiba saja ada berkelebat bayangan merah menyambarnya. Loan Ki berusaha mengelak, akan tetapi gerakan bayangan itu bukan main cepatnya sehingga tahu-tahu tengkuknya telah ditangkap kemudian ia merasa tubuhnya melayang ke dalam ruangan! Dari dua kejadian itu saja sudah dapat dibayangkan betapa lihainya orang-orang di dalam ruangan itu.

Loan Ki maklum bahwa tak mungkin ia dapat menang menghadapi tujuh orang kosen ini. Akan tetapi dia tidak memperlihatkan muka takut, malah tersenyum-senyum kecil dengan mata bermain, menatap wajah mereka seorang demi seorang dengan nakal.

"Bocah liar, siapa yang suruh kau memata-matai pulau kami?!" Ching-toanio menghardik, suaranya penuh ancaman.

Loan Ki mengerling kepada nyonya baju hijau itu dan tersenyum. "Aku bukan mata-mata. Aku sengaja datang ke Ching-coa-to untuk bertemu dengan pemiliknya, tidak punya niat buruk. Yang mana di antara kalian pemilik pulau ini?"

Pertanyaan itu dia ajukan dengan suara ringan dan wajar, membuat Ka Chong Hoatsu terkekeh kagum. Bukan main bocah ini, pikir pendeta itu, masuk ke sarang harimau goa naga masih saja begitu tenang dan berani. Dari sikap ini saja dia dapat menduga bahwa tentu gadis ini puteri seorang tokoh besar atau setidaknya murid orang pandai.

"Akulah pemilik pulau ini. Kau mau apa?!" Ching-toanio membentak.
"Wah, tentu kau yang disebut toanio. Kau cantik, Toanio, tetapi galak. Pantas saja semua orang-orangmu takut setengah mampus kepadamu. Dengar, Toanio. Aku datang bersama seorang temanku perlu bertemu denganmu untuk minta maaf karena kelaparan aku telah merampas makanan dan minuman dari tangan orang-orangmu. Nah, sudah kulaksanakan desakan temanku yang buta itu. Ada pun aku sendiri ingin sekali melihat kau memaksa kokimu menyelam untuk mencari ikan yang kurampas dan melihat kau memukuli kepala jagalmu. Hi-hik!"

Tiga orang laki-laki yang berada di sana tersenyum, bahkan Ka Chong Hoatsu tertawa bergelak. Akan tetapi Ang Hwa Sam-cimoi yang merasa bahwa kedatangan gadis lincah dan cantik ini telah menyuramkan ‘sinar’ mereka, memandang acuh tak acuh, sedangkan Ching-toanio marah sekali.

"Budak! Kau berani kurang ajar di hadapan nyonya besarmu, apakah kau sudah bosan hidup?" teriak Ching-toanio.

Bagaikan seekor harimau nyonya ini menerjang maju, menggunakan kedua tangan untuk mencengkeram muka dan memukul ulu hati. Serangan ini hebat bukan main, langsung mendatangkan sambaran angin yang dari jauh sudah terasa oleh Loan Ki.

Hampir saja Loan Ki tak dapat menghindarkan diri bila ia tidak cepat-cepat menggunakan gerakan Bidadari Turun ke Bumi, suatu gerakan yang amat sulit dari ilmu silat keturunan Sian-li-kun-hoat. Tubuhnya mencelat seperti dilemparkan ke atas, lalu menukik ke bawah sambil mengembangkan kedua lengannya.

Gerakan yang cepat ini menyelamatkannya, akan tetapi angin pukulan yang dilontarkan nyonya itu tetap saja menyerempet buntalan pakaian yang berada pada punggungnya.

“Brettt!”

Terdengar suara dan buntalan pakaian itu terlepas dari punggung, jatuh ke atas tanah, terbuka dan tampaklah pakaian gadis itu dan sebuah mahkota indah. Akan tetapi dengan amat cepatnya pula Loan Ki sudah menyambar bungkusan itu dan menutupkan kainnya kembali.

"Oho! Bukankah itu mahkota yang dikabarkan hilang dibawa kabur oleh pembesar she Tan?" terdengar suara parau dari Souw Bu Lai.

Sebagai seorang keturunan pangeran dia pernah melihat mahkota ini di gudang pusaka kerajaan, maka sekali melihat dia telah mengenalnya, apa lagi karena hilangnya mahkota kuno itu sudah terdengar oleh dunia kang-ouw.

Akan tetapi gurunya, Ka Chong Hoat-su, lebih terheran-heran ketika melihat cara Loan Ki bergerak menyelamatkan diri dari terjangan Ching-toanio tadi. Maka, ketika dia melihat Ching-toanio yang merasa penasaran hendak menyerang pula, pendeta ini cepat berseru, "Toanio, tahan dulu!"

Tentu saja nyonya itu tidak melanjutkan serangannya dan memandang heran dengan alis berkerut.

Ka Chong Hoatsu melangkah setindak maju dan bertanya kepada Loan Ki, "Nona cilik, bukankah gerakanmu tadi jurus dari Sian-li Kun-hoat (Ilmu Silat Bidadari)?"

"Hemmm, bagus jika kau mengenal jurusku yang lihai, hwesio tua! Maka lebih baik kau menyuruh nyonya galak ini mundur dan biarkan aku pergi dengan aman sebelum kalian berkenalan dengan ilmu pedangku Sian-li Kiam-sut dan kemudian menyesal pun sudah terlambat!"

Loan Ki sengaja membuka mulut besar karena ia maklum bahwa betapa pun juga ia tak akan mampu melawan. Baru seorang nyonya galak itu saja sudah begitu hebat, apa lagi yang lain-lain dan terutama hwesio tua ini yang sekali lihat sudah mengenai jurusnya. Dari pada terhina kemudian kalah, lebih baik menghina dan memandang rendah dahulu, jadi menang angin, demikian pikir dara lincah yang berhati baja ini.

"Aha, bagus!" Ka Chong Hoatsu berseru. "Kalau begitu, kau masih ada hubungan apakah dengan mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan?"

Dara itu makin angkuh. Sambil mengangkat dada dan mengedikkan kepala serta meraba gagang pedangnya, ia memandang mereka seorang demi seorang dengan pandang mata seakan-akan berkata, "Huh, kalian ini orang-orang tingkatan rendah mana bisa disamakan dengan aku?"

Akan tetapi mulutnya berkata bangga. "Hwesio tua, masih baik kau mengetahui nama mendiang kakek guruku. Dengan mengingat nama besar beliau yang kau kenal, biarlah nona kecilmu mengampunimu satu kali ini."

Souw Bu Lai tertawa bergelak menyaksikan sikap gadis ini dan hatinya yang memang berwatak mata keranjang sejak tadi sudah berdebar penuh birahi.

Tetapi alangkah kagetnya hati Loan Ki ketika dia melihat berkelebatnya senjata-senjata yang menyilaukan mata, membuatnya berkejap beberapa kali. Ketika ia membuka mata, kiranya Ching-toanio, Bouw Si Ma dan Ang Hwa Sam-cimoi tiga wanita itu sudah berdiri di depannya dengan senjata masing-masing di tangan, sikap mereka penuh ancaman.

"Budak liar! Hayo lekas katakan, kau ini apanya ketua Thai-san-pai?" bentak Ching-toanio, suaranya mengandung ancaman maut.

Biar pun lincah jenaka, Loan Ki bukanlah seorang anak bodoh, malah ia tergolong cerdik dan otaknya tajam. Dia sering kali mendengar dari ayahnya tentang pamannya Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai itu, tahu pula bahwa ketua Thai-san-pai itu banyak dimusuhi orang-orang kangouw, apa lagi dari golongan hitam.

Setelah berpikir beberapa detik lamanya, dia lantas tertawa dengan nada sombong sekali.

"Hi-hi-hik, biar pun nama Raja Pedang Tan Beng San ketua Thai-san-pai membuat kalian ketakutan setengah mampus, aku tidak sudi mempergunakan namanya untuk menakut-nakuti kalian dengan namanya. Dengarlah baik-baik, aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia, malah dia masih hutang beberapa jurus serangan dengan pedangku. Belum tiba saatnya aku akan berhadapan dengan dia mengadu nyawa di ujung pedang. Kenapa kalian ini menodongkan senjata kepada seorang muda sepertiku? Apakah kalian hendak mengeroyokku? Cih, tidak tahu malu!"

Kembali Ka Chong Hoatsu yang tertawa bergelak dan Souw Bu Lai tersenyum-senyum, makin tertarik kepada dara lincah yang tabah dan cantik ini.

"He, bocah nakal! Kalau begitu tentu kau ada hubungan dengan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui?" Tanya Ka Chong Hoatsu.
"Hemm, hwesio tua. Kaulah seorang di antara mereka ini yang paling cerdik. Majikan yang menjadi raja di pantai Po-hai, si Pendekar Pedang Sakti Tan Beng Kui adalah ayahku, dan nonamu Tan Loan Ki ini adalah puteri tunggalnya. Hayo, siapa yang berani menentang ayahku?"
"Ha-ha-ha, Ching-toanio dan saudara-saudara yang lain, simpan senjata kalian. Kiranya nona cilik ini adalah orang segolongan sendiri. Ha-ha-ha!" kata hwesio tua itu dan semua orang yang berada di situ memang sudah mengenal Tan Beng Kui.

Mereka menarik napas lega kemudian menyimpan senjata masing-masing sambil mundur. Ching-toanio mengerutkan alisnya karena ia masih marah dan penasaran, akan tetapi ia juga tidak mau memusuhi puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Tentu saja ia tidak mau bukan karena takut, melainkan karena pada waktu itu ia membutuhkan orang-orang kosen yang sehaluan dan boleh dibilang Tan Beng Kui mempunyai kepentingan serupa dengan dia.

Pertama, dia tahu persis bahwa Tan Beng Kui menaruh dendam sakit hati terhadap adik kandungnya sendiri, Tan Beng San yang juga menjadi musuh besarnya. Ke dua, dalam urusan usaha merebut kekuasaan, kiranya Tan Beng Kui boleh diakui bersekutu.

Sebagai seorang yang amat cerdik, ia segera dapat menangkap maksud hati Ka Chong Hoatsu, maka ia segera memaksa senyum manis kepada Loan Ki sambil berkata, "Nona cantik, hampir saja kita saling bentrok. Akan tetapi tidak mengapa, bukankah orang bilang bahwa kalau tidak bertempur dulu takkan saling mengenal? Ayahmu dengan kami adalah segolongan, karena itu tidak bisa kami memusuhimu. Soal makanan dan minuman boleh dihabiskan sampai di sini saja. Nona Tan, bagaimana kau bisa mendapatkan mahkota kuno itu?"

Loan Ki tidak goblok untuk mempertahankan sikap bermusuhan. Ia pun tersenyum ramah dan berkata, "Wah, ayah tentunya girang sekali kalau mendengar bahwa anaknya sudah berkenalan dengan orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Bagus, dan karena cuwi (tuan sekalian) adalah orang-orang sendiri, maka biarlah aku mengaku terus terang. Mahkota ini telah dirampas oleh Hui-houw-pang dari tangan si pembesar yang mencurinya dari istana, kemudian aku merampasnya dari Hui-houw-pang untuk kuberikan kepada ayah yang suka mengumpulkan barang-barang kuno seperti ini. Mereka itu beramai-ramai mengeroyokku dan mengejar, tapi mana mereka mampu merampas kembali dari tanganku? Hemm, biar jumlah mereka ditambah sepuluh kali, tidak akan sanggup mereka itu! Aku lari sampai di daerah sini dan karena sudah kesalahan merampas makanan, maka aku akhirnya masuk ke Ching-coa-to."

Bagai lagak seorang anak kecil Loan Ki menyombongkan hal yang sebetulnya tak pernah terjadi, yaitu tentang pengeroyokan. Padahal kalau tak ada Kun Hong, mana mungkin ia bisa mendapatkan mahkota itu?

"Ho-ho, memang tidak mudah, tapi bolehkah pinceng melihat sebentar?" Tongkat hwesio itu menyelonong ke depan.

Loan Ki kaget sekali dan cepat miringkan tubuhnya. Celaka, tahu-tahu tangan kiri hwesio itu diulur maju dan di lain detik buntalan pakaian sudah berpindah tangan!

"Ha-ha-ha, tenanglah, Nona. Pinceng hanya ingin melihat sebentar, untuk membuktikan apakah benar-benar ini mahkota yang asli."

Dengan enak hwesio itu mengambil mahkota, lalu melihat-lihat dan bergantian dengan orang-orang yang berada di situ, mengagumi keindahan mahkota kuno ini.

Loan Ki hanya berdiri dengan muka merah dan mata berapi-api penuh kemendongkolan hati. Akan tetapi diam-diam ia pun kaget sekali karena ternyata hwesio tua itu sepuluh kali lipat lebih lihai dari padanya.

Setelah semua orang melihat, buntalan dan mahkota dikembalikan kepada Loan Ki oleh hwesio itu. Loan Ki menerimanya, mengikatkan buntalan kembali ke punggungnya dengan muka cemberut.

"Orang tua mengakali anak muda, awas kau hwesio, lain kali aku balas!"

Ka Chong Hoatsu hanya tertawa bergelak. Souw Bu Lai sambil cengar-cengir mendekati Loan Ki, sepasang matanya yang lebar itu seakan-akan hendak menelan bulat-bulat gadis ini. Loan Ki mengerutkan kening menyaksikan mata seperti mata harimau kelaparan itu.

"Kau mau apa?" tanya Loan Ki dengan alis berkerut.

Souw Bu Lai tersenyum, giginya yang putih berkilat di balik kumis panjang, kumis model Mongol. "Nona manis namanya pun manis. Aku tidak akan menyusahkanmu, sudah lama kudengar nama besar ayahmu. Perkenalkan aku..."
"...kau Sublai, mengaku-aku Pangeran Mongol, ya? Tapi aku masih belum mau percaya!" tukas Loan Ki galak.

Souw Bu Lai tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya kau tadi sudah mengintai cukup lama? Memang, aku bernama Souw Bu Lai, seorang pangeran yang berasal dari Mongol. Ayahmu adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, pantas puterinya seperti kau, Nona."

"Wah, sudahlah, aku tak ingin mendengar pidatomu. Toanio, aku pamit hendak pergi dari sini, mencari sahabatku kemudian kuharap kau suka memberi pinjam sebuah perahumu untuk mengantar kami berdua menyeberang, pulang kembali ke darat."
"Kau datang tanpa diundang, pulang pun tidak usah minta diantar," jawab Ching-toanio cemberut.
"Hi-hi-hik, kalau begitu biar aku pergi sendiri. Kalau butuh perahu, tak boleh pinjam, curi pun masih bisa."

Dengan lagak seperti kanak-kanak Loan Ki melambaikan tangan ke arah orang-orang itu lalu kakinya melangkah hendak keluar dari pondok itu.....

Hampir saja ia bertumbukan dengan seorang yang berlari-lari dari luar dan yang sangat cepat gerakannya. Loan Ki meliukkan tubuhnya ke kiri sedangkan orang yang lari itu pun tiba-tiba berhenti, begitu mendadak dan cepat berhentinya sehingga Loan Ki memandang heran dan kagum karena cara berhenti seperti itu hanya sanggup dilakukan oleh orang pandai.

Keduanya berpandangan sejenak dan tanpa terasa lagi mulut Loan Ki berseru memuji, "Aduh cantiknya..."

Orang yang berlari itu bukan lain adalah Giam Hui Siang, gadis cantik jelita yang usianya sebaya dengan Loan Ki, yaitu antara tujuh belas dan delapan belas tahun.

Memang Hui Siang luar biasa cantik jelitanya, ditambah orangnya pesolek lagi. Wajahnya terawat baik atas bantuan pelayan-pelayan ahli. Pakaiannya selalu mentereng sehingga biar pun ia puteri seorang pemilik pulau, akan tetapi sekali melihat orang akan menyangka bahwa ia tentulah seorang puteri keluarga kaisar di istana!

Maka tidaklah heran apa bila Loan Ki segera memujinya, sungguh pun dia sendiri adalah seorang gadis lincah yang cantik manis pula. Mungkin Loan Ki sendiri tak akan kalah baik bentuk wajah mau pun bentuk tubuhnya jika dibandingkan dengan Hui Siang. Akan tetapi oleh karena Loan Ki adalah seorang dara pendekar yang suka merantau sehingga kurang memperhatikan perawatan badannya, tentu saja kulitnya kalah putih dan kalah halus, juga pakaiannya kalah baik.

Hui Siang adalah seorang dara manja dan wataknya sangat galak dan sombong. Karena hampir saja bertumbukan dengan Loan Ki, ia amat marah dan segera memaki,

"Budak hina! Apakah matamu buta? Ehhh, apakah kau pelayan baru? Belum pernah aku melihatmu. Minggir kau, aku ada urusan penting!"

Loan Ki mendongkol sekali. Ia meloncat ke pinggir akan tetapi mulutnya sudah siap untuk balas memaki.

Pada saat itu Hui Siang sudah lari ke depan dan berkata, "Ibu, celaka sekali, Ibu. Enci Hui Kauw sudah membikin malu kita, sekali ini kalau Ibu tidak turun tangan, bisa-bisa nama keluarga kita terseret ke dalam lumpur!" Gadis ini mengerling ke kanan kiri seakan-akan tidak mempedulikan orang-orang yang berada di situ.

Sekali lagi sepasang mata Souw Bu Lai berkilat-kilat ketika dia melihat Hui Siang.

"Hui Siang, kau bicara apa? Apa yang telah terjadi?" Ching-toanio berkata, kemarahannya terhadap Hui Kauw yang tadi belum padam sekarang bangkit dan bernyala kembali.
"Ibu ingat tentang dua orang asing yang memasuki pulau ini? Nah, yang seorang kudapati berada di taman, dia seorang laki-laki jembel buta, akan tetapi celakanya... ia berpacaran dengan enci Hui Kauw!"
"Hui Siang! Jangan sembarangan bicara! Bohong kau!" ibunya membentak marah.

Biar pun di dalam hatinya ia tidak suka kepada anak pungutnya itu, akan tetapi ia cukup mengenal tabiat Hui Kauw dan ia rasa tak mungkin Hui Kauw berpacaran dengan seorang jembel buta.

Hui Siang cemberut dan mendengus, agaknya ngambek karena dikata-katai kasar oleh ibunya yang biasanya memanjakan. "Ibu, apakah anakmu ini biasa membohong? Biar aku mampus kalau aku bohong. Enci Hui Kauw memberikan sapu tangan suteranya kepada si jembel buta itu, dan kulihat dengan kedua mataku sendiri si jembel menciumi sapu tangan itu. Aku marah dan menyerangnya, ehhh... kiranya dia pandai dan dapat menghindarkan seranganku. Kemudian muncul enci Hui Kauw, dan enci Hui Kauw malah membela jembel buta itu. Coba, apakah ini bukan merupakan bukti-bukti yang cukup jelas...?"

"Waahhh, mata keranjang! Tidak punya mata tetapi bisa mata keranjang, apa yang lebih aneh dari pada ini? Dasar laki-laki!" Yang berkata demikian adalah Loan Ki yang segera melompat keluar hendak mencari Kun Hong.

Hatinya mendongkol sekali mendengar penuturan nona cantik tadi dan ia sendiri pun tidak mengerti mengapa ia merasa iri, gemas, dan marah sekali mendengar betapa Kun Hong berpacaran dengan seorang gadis di dalam taman. Menciumi sapu tangan sutera?

Terbayanglah di depan mata Loan Ki semua pengalamannya dengan Kun Hong di dalam sumur, teringat betapa dalam keadaan bahaya maut dan setengah pingsan ia dipeluk oleh pemuda buta itu, dihibur, dielus-elus rambutnya, diciumi rambutnya...

"Dasar tukang cium...!" Terloncat kata-kata ini keluar langsung dari hatinya yang mengkal.

Tiba-tiba ada angin berkesiur di sebelahnya, tahu-tahu di depannya sudah menghadang tubuh laki-laki tinggi besar. Kiranya Souw Bu Lai Pangeran Mongol itu yang memandang dirinya sambil tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang putih dan besar.

"Nona, kau tak boleh pergi. Kau harus bersama kami untuk membicarakan hal yang amat penting," katanya sambil mendekat.

Loan Ki yang sedang jengkel terhadap Kun Hong itu sudah hendak menyerangnya. Akan tetapi ketika ia melirik, ia melihat betapa semua orang tadi kini sudah keluar dan berada di belakangnya.

"Aku tidak sudi!" katanya setengah membentak. "Biarkan aku jalan sendiri!"
"Tidak bisa, Nona. Kami sudah mengambil keputusan untuk menahanmu karena kau yang akan menghubungkan kami dengan ayahmu," kata pula Souw Bu Lai.

Sebelum Loan Ki menjawab, tiba-tiba dia mendengar sambaran angin dari belakangnya. Cepat ia miringkan tubuh membalik, kiranya tongkat Ka Chong Hoatsu yang menyambar dan menyerangnya. Ia kaget sekali, menggerakkan kaki meloncat, akan tetapi tiba-tiba saja kedua lengannya sudah ditangkap orang dan ditelikung ke belakang lalu dibelenggu!

Gerakan Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu yang melakukan penangkapan ini cepat dan hebat luar biasa, membuat seorang gadis berkepandaian hebat seperti Loan Ki sekali pun sama sekali tidak berdaya, seperti anak kecil di tangan seorang dewasa.

"Monyet-monyet tua muda, kalian ini mau apa membelenggu dan menangkap aku? Kalian curang, pengecut, tak tahu malu! Kalau berani, hayo bertempur sampai seribu jurus!" dia memaki-maki.
"Cih, budak hina macam ini kenapa tidak dilempar ke dalam sumur untuk makan ular-ular kita, Ibu?" Hui Siang berkata sambil memandang Loan Ki dengan mata mendelik.

Bergidik juga Loan Ki mendengar ini. Ia memang tidak takut mati, akan tetapi kalau harus dijadikan umpan atau kurban di dalam sumur dikeroyok oleh ratusan ular, dia benar-benar merasa ngeri. Kali ini ia tidak berani banyak bicara lagi, takut kalau-kalau ia benar-benar dilempar ke dalam sumur penuh ular yang amat menjijikkan!

"Ha-ha-ha-ha, dia puteri Sin-kiam-eng, mana boleh dibunuh?" Ka Chong Hoatsu berkata. "Pinceng sangat curiga terhadap sahabat yang buta itu, karena itu sementara ini pinceng membelenggunya agar nanti dia tidak menimbulkan kerewelan. Ching-toanio, mari kita ke taman menemui orang buta itu."

Beramai mereka lari ke taman bunga, mengambil jalan rahasia yang berliku-liku. Loan Ki tadinya membandel tidak mau turut, akan tetapi ketika ujung tali pengikat dua tangannya diseret oleh Souw Bu Lai, terpaksa ia ikut lari juga sambil mengomel dan menyumpah-nyumpah Pangeran Mongol itu yang hanya tertawa saja. Diam-diam gadis ini mengagumi jalan rahasia di pulau ini, akan tetapi karena hatinya lagi jengkel sekali, ia hanya ikut lari tanpa memperhatikan kanan kiri.

Kejengkelan bertumpuk di hati Loan Ki. Pertama karena mendengar berita bahwa Kun Hong berpacaran dan menciumi sapu tangan seorang gadis bernama Hui Kauw. Ke dua kalinya karena dia merasa kecil tak berdaya menghadapi orang-orang di dalam pulau ini, dan ke tiga kalinya sekarang dia menjadi seorang tawanan, dibelenggu layaknya seekor domba!

Awas kalian semua, demikian ia menyumpah-nyumpah, sekali ayahku kuberi tahu tentang penghinaan ini, pulau ini akan diobrak-abrik, dihancurkan, dan dibasmi oleh ayah! Kalian semua berikut ular-ular laknat akan dibasmi habis, pulau ini dibumi hanguskan, tidak ada seorang pun manusia atau seekor pun makhluk yang dibiarkan hidup! Akan tetapi, di balik ancamannya ini, dia sendiri ragu-ragu apakah ayahnya akan sanggup menang melawan musuh-musuh yang begini tangguh, terutama sekali hwesio tua itu.

Akhirnya mereka tiba di taman bunga itu dan begitu melihat Kun Hong berdiri berhadapan dengan seorang gadis bermuka hitam, Loan Ki tidak dapat menahan mulutnya lagi yang lantas berteriak-teriak! Seperti telah dituturkan di bagian depan, Loan Ki berseru menegur Kun Hong,

"Haaiii, Hong-ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang, akan tetapi kali ini kau salah pilih, Hong-ko!"

Tentu saja Kun Hong menjadi girang dan lega bukan main hatinya mendengar suara Loan Ki ini. Ia tidak pedulikan ocehan dara nakal itu tentang mata keranjang, melainkan segera melangkah maju dan berkata dengan wajah berseri-seri,

"Ki-moi! Kau selamat? Syukurlah!"
"Hong-ko, kau benar-benar tak punya liangsim (pribudi)! Aku terjerumus ke dalam jurang, hampir mampus, menerima hinaan orang, akan tetapi kau... kau malah berpacaran dan enak-enak senang-senang di sini. Wah, sahabat macam apa kau ini?"

Muka Kun Hong merah sekali sampai ke telinganya. "Ki-moi, jangan kau percaya akan fitnah orang. Tidak ada yang berpacaran di sini! Dan kau, siapakah orangnya yang berani menghinamu?"

Sebelum Loan Ki dan Kun Hong dapat melanjutkan percakapan mereka, terdengar suara bentakan marah dari Ching-toanio yang mengagetkan mereka hingga memaksa mereka mengalihkan perhatian. Ching-toanio ternyata telah memaki-maki Hui Kauw dengan suara penuh kemarahan.

"Bocah keparat! Semenjak kecil aku bersusah-payah memeliharamu, beginikah sekarang balasanmu terhadapku? Berjinah dengan seorang jembel buta, mengotorkan taman dan mencemarkan nama baik keluargaku? Keparat, perempuan hina!"
"Plak-plak-plak!"

Terdengar oleh Kun Hong suara tiga kali, diikuti keluhan perlahan. Meski pun tidak dapat melihat, dia dapat menduga bahwa muka dara bersuara bidadari itu sudah ditampar tiga kali oleh si ibu yang galak.

"Ibu... maafkan. Aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu dan... dan aku sama sekali tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan. Hanya kebetulan saja saudara yang buta ini telah memasuki taman dan menemukan sapu tanganku yang tertinggal di sini. Harap ibu jangan mempercayai segala fitnah keji..."
"Setan, kau malah balik menuduh Hui Siang membohong? Perempuan tak bermalu kau! Adik sendiri bertempur dengan si buta ini, kenapa kau malah membela si buta memusuhi adikmu? Hui Kauw, aku tidak terima! Hari ini kau akan membayar lunas hutang-hutangmu kepadaku, hutang budi yang hanya dapat kau bayar dengan nyawamu!"
"Srrrrrttt! Singgggg!"

Bunyi pedang berdesing memecah angin, menyambar ganas dan menimbulkan cahaya berkilauan. Tak seorang pun di antara para tamu berani mencampuri urusan antara ibu dan anak.

Loan Ki membelalakkan matanya yang lebar, ngeri betapa pedang di tangan nyonya yang galak dan lihai itu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah leher si nona muka hitam yang hanya menundukkan muka, sedikit pun tak bergerak seakan-akan sudah rela untuk menerima hukuman itu dan menanti datangnya pedang yang akan memenggal lehernya serta maut yang akan merenggut nyawanya.

Pada detik berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Kauw itu, tiba-tiba sinar kemerahan berkelebat.

"Criinggggg!"

Pedang di tangan Ching-toanio tahu-tahu sudah buntung, ujung pedang melayang ke atas entah ke mana sedangkan sisanya masih terpegang oleh Ching-toanio, menggetar dan mengeluarkan bunyi!

Ching-toanio berdiri laksana patung, terbelalak kaget, juga orang-orang yang berada di situ, kecuali Loan Ki yang memandang marah, mengeluarkan seruan heran dan terkejut.
"Wah, kau betul-betul membelanya, Hong-ko! Celaka, kau telah tergila-gila oleh seorang gadis muka hitam!" Loan Ki berteriak-teriak penuh kegemasan.

Akan tetapi Kun Hong yang sudah mendekati Hui Kauw, tidak mempedulikan teriakan Loan Ki ini, melainkan dia berkata halus kepada gadis yang masih berdiri menundukkan mukanya itu. "Nona, kenapa kau diam saja membiarkan orang sewenang-wenang hendak membunuhmu?"

Ucapan Kun Hong selain mengandung perasaan kasihan, sekaligus merupakan teguran. Memang jantung Kun Hong masih berdebar kalau teringat betapa gadis bersuara bidadari ini hampir saja tewas. Ngeri dia memikirkan ini. Baiknya tadi dia bertindak cepat.

"Saudara Kwa, dia... dia ibuku..." jawab nona itu dengan suara lemah mengandung isak tertahan.

Kagum hati Kun Hong. Nona ini sekuat tenaga menahan tangisnya. Nona berbudi mulia, berhati baja. Tapi dia penasaran, mengapa ibunya seperti itu?

"Dia bukan ibumu!" Suaranya ketus dan tiba-tiba karena meluapnya perasaan hatinya.
"Heeee? Saudara Kwa... bagaimana kau bisa tahu akan hal ini...?"
"Dia tidak mungkin ibumu! Seekor harimau atau binatang yang paling liar sekali pun tak akan mungkin membunuh anaknya, apa lagi seorang ibu. Akan tetapi ia tadi benar-benar hampir membunuhmu. Ia bukan ibumu!" suara Kun Hong lantang.

Sementara itu, cara Kun Hong menangkis dan sekaligus mematahkan pedang di tangan Ching-toanio dengan tongkatnya, benar-benar membuat semua orang melongo. Bahkan Ka Chong Hoatsu sendiri terheran-heran.

Kakek ini maklum sampai di mana kelihaian ilmu pedang Ching-toanio yang sudah jarang dapat ditandingi oleh kebanyakan ahli silat ternama. Akan tetapi orang muda itu yang buta matanya lagi, dengan sekali tangkis dapat mematahkan pedang Ching-toanio, sungguh hal ini membuat hwesio tua ini benar-benar tidak mengerti.

Padahal yang dipakai untuk menangkis tadi hanyalah sebatang tongkat, dan gerakannya ketika menangkis tadi pun hanya cepat saja, tidak ada yang terlalu luar biasa. Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar.

Ching-toanio sudah dapat menguasai kekagetannya dan mukanya berubah merah saking malu dan marahnya. Dibuntungkannya pedang di tangannya dengan sekali tangkis oleh orang muda buta itu, benar-benar merupakan penghinaan yang tiada taranya bagi nyonya jagoan ini. Masa ia kalah oleh seorang muda yang buta? Benar-benar tak masuk di akal.

Ia tidak tahu bagaimana caranya pedangnya sampai patah tadi. Akan tetapi ia tidak peduli dan mengira hal itu hanya kebetulan saja, atau mungkin sekali memang pedangnya yang sudah bercacat di luar pengetahuannya.

Dengan mata mendelik ia membentak dan melangkah maju, "Jembel buta, kau siapakah berani mencampuri urusanku?"

Kun Hong menarik napas panjang. Dia maklum bahwa wanita ini adalah seorang tokoh besar yang berkepandaian tinggi, bahkan kalau dia tidak keliru, menurut pendengarannya, orang-orang yang ikut datang bersama nyonya ini juga orang-orang yang berkepandaian tinggi. Dengan hormat dia menjura ke depan, lalu berkata halus,

"Harap Toanio dan Cu-wi sekalian sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak berani turut mencampuri urusan orang lain, hanya saja, sebagai seorang manusia biasa, mana bisa aku membiarkan seorang ibu membunuh anaknya sendiri? Toanio harap insyaf sebelum bertindak gegabah. Sesungguhnya nona Hui Kauw ini sama sekali tak pernah melakukan perbuatan seperti yang difitnahkan tadi."
"Ching-moi (adik Ching), kenapa banyak memberi hati kepada seorang buta macam ini? Biarlah kuwakili kau membereskannya!" bentak Bouw Si Ma yang juga ikut marah sekali karena wanita bekas kekasih sute-nya ini tadi mengalami penghinaan.

Dia adalah seorang Mancu yang berangasan. Dia pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi, malah lebih tinggi dari pada Ching-toanio, dan dia murid dari Pak-thian Lo-cu, tentu saja dia memandang rendah kepada Kun Hong seorang muda buta.

"Bocah buta, kau benar-benar tak tahu diri, sudah lancang memasuki tempat tinggal orang masih berani bertingkah dan menjual lagak. Hayo kau mengaku siapa kau dan siapa pula ayah atau gurumu sebelum aku Bouw Si Ma Si Tangan Maut mengambil nyawamu!"

Kun Hong cepat menjura. Gerakan orang ini mengandung tenaga berat dan dia maklum bahwa orang ini tentu lebih lihai dari pada Ching-toanio, maka dia berhati-hati.

"Bouw-enghiong harap suka bersabar. Siauwte (aku yang muda) bernama Kwa Kun Hong, tentang orang tua dan guru tak usah dibawa-bawa dalam urusan ini. Aku mengakui bahwa aku telah lancang memasuki Ching-coa-to, akan tetapi aku menyangkal kalau dianggap bertingkah atau menjual lagak. Sesungguhnya, aku tidak mempunyai niat yang tidak baik dan apa bila kalian sudi memaafkan, biarlah sekarang juga aku pergi dan tidak akan lagi mencampuri urusan orang lain."

Ucapan ini amat merendah, dan oleh Bouw Si Ma dianggap bahwa orang buta itu menjadi jeri dan ketakutan mendengar namanya dengan julukan Si Tangan Maut. Dia lalu tertawa menyeringai dan membentak lagi, "Kau memperlihatkan kepandaian tadi, apa kau kira di sini tidak ada orang yang mampu memberi hajaran kepadamu? Nah, kau rasakan pukulan Si Tangan Maut merenggut nyawamu!"

Serta merta Bouw Si Ma menerjang. Pukulannya lambat dan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan menderu menyerang ke arah dada Kun Hong.

Orang muda ini sudah siap, maklum akan kehebatan pukulan itu. Hal ini tidak membuat dia jeri atau bingung. Yang membuat dia bingung adalah bahwa dia kini sudah terlibat dalam urusan besar, mendatangkan permusuhan pada orang-orang lihai penghuni Pulau Ching-coa-to. Inilah yang membingungkannya, karena sesungguhnya tiada niat di hatinya meski sedikit juga untuk bermusuhan dengan siapa pun juga. Sekarang karena menuruti Loan Ki, memasuki pulau ini dia bertemu dengan Hui Kauw yang menarik hatinya dan karena dia ingin melindungi nona bidadari itu, dia terseret dalam pertempuran.

Dengan hati sedih ia menggunakan langkah-langkah rahasia dari Kim-tiauw-kun sehingga lima kali pukulan bertubi dari Bouw Si Ma hanya mengenai angin belaka. Bouw Si Ma berhenti sebentar sambil melongo. Pukulan-pukulannya tadi bertingkat, makin lama makin berat dan hebat. Akan tetapi, orang yang diserangnya itu bergerak aneh dan dia merasa seakan-akan menyerang bayangan sendiri saja, sudah tentu tidak berhasil.

"Bouw-loenghiong, aku tidak ingin berkelahi..."

Terpaksa Kun Hong mengelak lagi karena belum juga dia habis bicara, lawannya sudah mengirim penyerangan lagi sebanyak tujuh jurus menggunakan pukulan-pukulan tangan serta tendangan-tendangan kaki yang lebih gencar dan berat lagi. Setiap pukulan atau tendangan ini mengandung tenaga lweekang tersembunyi dan cukup kuat untuk mengirim nyawa lawannya ke akhirat.

Kun Hong mengerutkan keningnya. Kejam sekali orang ini. Untuk urusan kecil saja sudah menurunkan tangan maut, menghendaki nyawa orang. Untuk memberi peringatan, pada jurus ke tujuh selagi kepalan tangan Bouw Si Ma berkelebat ke dekat lehernya, Kun Hong menyentil dengan telunjuk kanannya ke arah belakang atau punggung kepalan kiri orang Mancu itu.

"Aduh... keparat...!"

Orang-orang yang berada di situ, kecuali Ka Chong Hoatsu, terheran-heran karena tidak ada yang dapat melihat perbuatan Kun Hong ini. Mereka hanya melihat pemuda buta itu terhuyung ke sana ke mari dengan kedua tangannya bergerak-gerak seperti mengimbangi badan agar tidak jatuh. Kenapa Bouw Si Ma yang penuh semangat menyerang membabi buta itu malah mengaduh-aduh sendiri dan tubuhnya mendadak menggigil seperti orang terserang demam malaria?

Akan tetapi karena Bouw Si Ma memang seorang ahli silat tingkat tinggi, hanya sebentar saja dia menggigil. Segera dia bisa menguasai dirinya kembali dengan jalan menyalurkan lweekang untuk melawan getaran hebat akibat sentilan si buta yang tepat menyinggung jalan darahnya itu.

"Bocah buta she Kwa, kau sudah bosan hidup!" teriaknya sambil mencabut pedangnya yang berwarna hitam, terus saja menyerang hebat.

Kun Hong kaget sekali. Desing pedang ketika dicabut dan desir angin serangan senjata itu membuat dia maklum bahwa ternyata dalam hal ilmu pedang, orang Mancu ini jauh lebih lihai dari pada ilmu silat tangan kosongnya. Pedang yang digunakannya pun sebatang pedang yang ampuh, sedangkan tenaga lweekang yang terkandung di dalam gerakan pedang amat kuat dan matang.

Kiranya orang Mancu ini seorang ahli pedang, pikirnya. Dia tidak berani gegabah, tidak mau memandang rendah dan sambil memiringkan tubuh dan menekuk lutut ke belakang, cepat tongkatnya dia gerakkan untuk menghalau serangan lawan. Benar saja dugaannya, ketika tongkatnya terbentur dengan pedang lawan, pedang itu tergetar dan dari getaran ini langsung menyeleweng menjadi serangan lanjutan yang lebih ganas!

Kun Hong berlaku hati-hati sekali. Gerakan lawan ini selain cepat dan bertenaga, juga sangat aneh, belum dikenalnya karena merupakan ilmu pedang dari utara yang beraneka ragam. Dengan Kim-tiauw-kiam-hoat, yaitu Ilmu Pedang Rajawali Emas yang gerakannya amat gesit dan kelihatan aneh pula, dia selalu berhasil menghindarkan diri menggunakan langkah-langkah rahasia sambil menggerakkan tongkat untuk membentur pedang lawan.

Orang-orang di situ menjadi makin terheran-heran. Pemuda buta ini terhuyung ke sana ke mari seperti orang mabuk, cara dia menghadapi serangan-serangan Bouw Si Ma amat aneh dan kacau, tidak seperti ilmu silat, akan tetapi mengapa semua serangan Bouw Si Ma selalu mengenai tempat kosong belaka?

Lebih heran lagi adalah Ka Chong Hoatsu, karena hwesio tua ini melongo menyaksikan Kim-tiauw-kun, lalu terdengar dia berbisik, "Apa setan tua Bu Beng Cu sudah menurunkan ilmunya kepada bocah buta ini?"

Pikirannya melayang-layang ke masa lampau. Ketika masih muda dia pernah bertempur melawan kakek Bu Beng Cu sampai ribuan jurus, namun akhirnya dia harus menerima kekalahan dengan tulang pundak patah saat Bu Beng Cu menggunakan ilmu silat seperti gerakan burung yang amat aneh.

Semenjak itu dia tak pernah bertemu pula dengan kakek Bu Beng Cu, bahkan selama berpuluh tahun merantau, belum pernah dia melihat ilmu silat aneh itu dimainkan orang. Kenapa sekarang tiba-tiba bocah buta ini bisa mainkan ilmu membela diri yang tampaknya sama benar dengan gerakan-gerakan Bu Beng Cu dahulu?

Sementara itu, ketika melihat betapa Bouw Si Ma masih belum juga mampu menjatuhkan si buta, Souw Bu Lai si Pangeran Mongol mengeluarkan gerengan keras dan menerjang maju sambil membentak, "Setan buta, kau benar-benar hendak menjual lagak di sini!"

Sekaligus Pengeran Mongol ini menggerakkan senjatanya yang paling dia andalkan, yaitu sehelai sabuk baja yang digandeng-gandeng serta saling mengait dan setiap mata kaitan mengandung duri-duri meruncing. Inilah senjata semacam joan-pian baja yang berbahaya sekali karena lawan yang terkena ujungnya saja tentu akan terluka hebat!

Sambaran senjata mengerikan itu lewat di atas kepala Kun Hong ketika pemuda buta itu mengelak sambil merendahkan tubuh. Dari suara desir anginnya Kun Hong tahu bahwa penyerangnya yang baru ini memiliki tenaga gajah sehingga sekali lagi hatinya mengeluh. Dia kini harus menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh, dan siapa tahu kalau pertempuran ini tidak akan menjadi makin hebat jika yang lain-lain maju pula.

"Aku tidak ingin berkelahi... ahhh, kenapa kalian berdua mendesakku?"
"Sublai, gunakan Liok-coa-kun!" tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata kepada muridnya.

Souw Bu Lai menyanggupi dan segera ruyung lemas di tangannya bergerak cepat sekali, menyambar-nyambar seperti enam ekor ular yang mengeroyok seekor katak.

Liok-coa-Kun atau Ilmu Silat Enam Ekor Ular adalah ciptaan Ka Chong Hoatsu sendiri yang berdasarkan penyerangan dan mempertahankan dari enam penjuru, yaitu dari kanan kiri muka belakang dan atas bawah. Gerakan-gerakannya meniru gaya gerakan ular yang sukar sekali diduga oleh lawan, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat ini.

Ka Chong Hoatsu yang merasa curiga menyaksikan gerakan permainan silat Kun Hong sengaja menyuruh muridnya menggunakan ilmu simpanan itu sebab dia hendak memaksa Kun Hong mengeluarkan kepandaiannya sehingga dia dapat mengenal betul dari aliran manakah bocah buta yang amat lihai dan masih muda sudah memiliki ilmu kesaktian ini.

Tingkat kepandaian Pangeran Souw Bu Lai sebetulnya tidak lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Bouw Si Ma. Malah boleh dibilang orang Mancu murid Pak-thian Lo-cu ini lebih matang dan lebih banyak pengalamannya karena memang lebih tua. Akan tetapi karena senjata yang dipergunakan oleh pangeran itu lebih jahat dan amat ganas, maka bantuannya ini memiliki daya penyerangan yang tidak kalah hebatnya sehingga Kun Hong terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya.

Kini lebih banyak lagi jurus-jurus Kim-tiauw-kun harus ia keluarkan untuk menyelamatkan dirinya, sebab dua orang ini benar-benar mengarah nyawanya. Tongkatnya berkelebatan, kadang-kadang tampak cahaya kemerahan dari pedang Ang-hong-kiam yang tersembunyi di dalam tongkat.

Sementara itu, Ching-toanio menjadi makin marah melihat betapa dua orang tamu yang amat diandalkan itu tetap juga belum dapat merobohkan si buta yang telah mendatangkan kekacauan di pulau. Ia menoleh ke arah Hui Kauw dan makin panas hatinya melihat anak pungutnya ini memandang penuh kagum dan kekhawatiran pada Kun Hong yang sedang dikeroyok. Malah ia mendengar suara gadis itu perlahan.
"Curang... curang... matanya sudah buta masih dikeroyok..."

Ching-toanio meloncat ke depan Hui Kauw, matanya menyinarkan cahaya bengis. "Hui Kauw, betul-betulkah kau tidak main gila dan berjinah dengan bocah buta itu?"
"Tidak, Ibu."
"Kalau begitu, hayo kau bantu Pangeran Souw dan pamanmu Bouw untuk merobohkan dan membikin mampus setan buta itu!"

Hening sejenak, kecuali suara beradunya senjata-senjata mereka yang tengah bertempur. Lalu lirih terdengar "tapi... dua orang yang begitu lihai masih tak mampu mengalahkan dia, apa lagi aku, Ibu? Kepandaianku amat rendah, mana bisa menangkan dia..."

"Peduli amat dengan kepandaianmu! Aku hanya ingin melihat apakah kau ini benar-benar pacarnya atau bukan. Apa bila kau berani mengeroyoknya dan kemudian membunuhnya dengan pedangmu, aku baru mau percaya bahwa kau bukan pacar si buta itu!"

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Hui Kauw mendengar ini. Sebetulnya, di luar tahu ibunya, ia telah mempunyai ilmu silat yang amat tinggi yang ia pelajari secara rahasia. Ia dapat mengira-ngira bahwa apa bila dibandingkan dengan ibunya sendiri, bahkan dengan Pangeran Sublai atau malah dengan Bouw Si Ma kiranya ia tak akan kalah!

Dan melihat ilmu silat aneh dari Kun Hong, biar pun amat lihai akan tetapi kalau ia maju lagi mengeroyok, orang buta itu takkan mampu menahan lagi. Akan tetapi, orang buta itu tak mempunyai dosa. Malah ialah orangnya yang berdosa, karena si buta ini menghadapi bahaya maut karena dia!

"Tidak, Ibu," jawabnya dengan suara tetap, "Dia tidak bersalah apa-apa, aku tidak mau mengeroyoknya. Malah kuharap Ibu suka membebaskan saja dia dan gadis temannya itu agar keluar dari pulau dengan aman. Mereka berdua itu tidak mempunyai kesalahan apa pun."
"Anak setan kau! Kau malah memihak musuh?"
"Mereka bukan musuh..."
"Kalau begitu kau ingin mampus!"
"Terlalu besar budi yang dilimpahkan Ibu sejak aku kecil, kalau Ibu kehendaki, nyawaku boleh untuk membalas budi itu..."
"Keparat...!"

Terdengar oleh Kun Hong yang sejak tadi mendengarkan suara bidadari itu, suara yang sangat mengejutkan hatinya. Suara pukulan-pukulan yang dilakukan bertubi-tubi kepada tubuh Hui Kauw yang agaknya tidak mau membalas atau mengelak, hanya mengeluh lirih menahan nyeri.

Meluap amarah di hati Kun Hong dan gerakan tongkatnya serentak berubah. Segulung sinar merah berkelebat disusul teriakan kaget Pangeran Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma yang terhuyung mundur sambil memegangi lengan kanan yang luka-luka berdarah. Saat itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk mencelat ke arah Hui Kauw, kakinya menendang dan... tubuh Ching-toanio terlempar sampai lima meter jauhnya!

Kun Hong meraba-raba dengan tangannya, membungkuk kemudian memondong tubuh Hui Kauw yang sudah lemas dan pingsan. Terkejut sekali hati Kun Hong ketika rabaan tangannya mendapat kenyataan betapa nona itu terluka hebat sekali, tubuhnya terserang pukulan beracun dengan beberapa tulang rusuknya patah! Saking marahnya Kun Hong merasa betapa mukanya menjadi panas sekali.

"Ching-toanio...!" Dia berteriak dengan suara agak gemetar. "Alangkah kejamnya hatimu! Kau mengaku bahwa nona ini adalah puterimu, akan tetapi perbuatanmu terhadap dia sama sekali bukan sikap seorang ibu sejati. Perbuatanmu biadab dan tak patut dilakukan oleh seorang wanita kepada anaknya. Sebab itu, jelaslah bahwa nona ini bukan anakmu! Seekor harimau betina yang bagaimana liar dan ganas sekali pun takkan makan anaknya sendiri, betapa seorang manusia bisa membunuh anaknya?"
"Jembel buta setan alas!" Ching-toanio memekik dan memaki-maki.

Malunya bukan main bahwa ia seorang tokoh dunia kangouw, majikan dari Ching-coa-to yang tersohor, kini hanya dengan sekali tendang saja telah dibikin terlempar oleh seorang pengemis muda dan buta lagi!

"Keparat tak bermalu, urusan antara ibu dan anak, kau orang luar berani mencampuri?"

Kun Hong tersenyum pahit, lalu terdengar suaranya dingin, "Alasan seorang iblis di dalam tubuh seorang ibu. Meski pun mataku buta, hatiku tidak sebuta hatimu. Aku masih dapat membedakan siapa yang berhak ditolong dan siapa pula yang wajib diberantas! Nona ini terang tak berdosa, kalian menjatuhkan fitnah hanya untuk dalih agar dapat menyiksanya, dapat membunuhnya! Tapi, selama Kwa Kun Hong masih hidup dan berada di sini, jangan harap kau akan dapat mengganggu selembar rambutnya!"

Dengan tangan kirinya mengempit tubuh Hui Kauw yang pingsan, Kun Hong berdiri sambil melintangkan tongkatnya, bersiap menanti serbuan orang-orang itu. Dia bertekad untuk melindungi nona itu.

"Hong-ko, mengapa engkau mencampuri urusan orang lain?" Mendadak suara Loan Ki mencelanya dan gadis ini sudah meloncat ke depannya. "Hong-ko, kau sudah membikin ribut dan kacau di sini, membikin urusan menjadi makin besar saja. Kau lepaskan si muka hitam itu dan mari kita ke luar dari pulau ini."
"Ki-moi, mana bisa aku membiarkan saja orang membunuh dia yang sama sekali tidak bersalah atas dasar fitnah yang begitu keji?"
"Hong-ko, kau sudah mati-matian membelanya... apakah... apakah kau sudah jatuh cinta kepadanya...?"
"Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, aku... aku..." Tiba-tiba tubuh Kun Hong menjadi lemas dan dia roboh.

Kiranya Loan Ki yang tadi memegang-megang tangannya itu secara mendadak menotok jalan darah di punggungnya yang membuat Kun Hong menjadi lemas kehilangan tenaga. Dia masih berusaha memulihkan kekuatan, akan tetapi yang mampu dia lakukan hanya mencengkeram tongkatnya saja, malah tubuh Hui Kauw dalam kempitannya juga terlepas dan jatuh bergulingan, saling tindih dengan tubuhnya sendiri.

Bagaimana Loan Ki yang tadinya dibelenggu bisa mendekati Kun Hong dan melakukan pengkhianatan ini? Gadis ini tadinya memang dibelenggu, akan tetapi ia dilepaskan oleh Souw Bu Lai ketika pangeran ini maju menyerang Kun Hong. Karena ujung tali itu tidak dipegangi orang, dengan mudah Loan Ki dapat sedikit demi sedikit meloloskan kedua tangannya sehingga ia menjadi bebas.

Tidak ada orang yang memperhatikannya, apa lagi dia merupakan tawanan yang tidak penting karena tadi orang mengikatnya hanya untuk menjaga kalau-kalau sahabatnya yang buta itu benar-benar amat lihai dan mengamuk, maka ia dibelenggu untuk dijadikan jaminan. Siapa kira si buta itu benar-benar mengamuk, tetapi bukan karena tertawannya Loan Ki, melainkan karena soal lain, yaitu soal nona Hui Kauw.

Ada pun Loan Ki sendiri sejak tadi hatinya telah panas dan iri menyaksikan betapa Kun Hong membela Hui Kauw secara mati-matian. Gadis ini masih terlalu muda untuk dapat menafsirkan tentang cinta kasih. Ia tidak ingat bahwa untuk dirinya sendiri pun Kun Hong membela mati-matian.

Sekarang, melihat Kun Hong membela seorang gadis lain, ia pun menjadi iri hati, bukan cemburu karena pada saat itu ia tidak tahu apakah ia mencinta si buta ini ataukah tidak. Pendeknya, hatinya tidak senang melihat Kun Hong membela Hui Kauw, apa lagi melihat betapa si buta itu memondong tubuh nona yang sudah pingsan itu.

Oleh karena itu ia lalu mendekati, menegur dan menotok roboh Kun Hong dengan maksud menghentikan usaha Kun Hong membela Hui Kauw. Tentu saja Kun Hong terkejut bukan main. Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa Loan Ki akan berbuat seperti itu dan inilah sebabnya pula dia mudah dirobohkan.

Dia sama sekali tidak pernah menduga dan karena itu tidak berjaga diri terhadap Loan Ki. Kini setelah roboh dan tidak berhasil memulihkan tenaga, dia terkejut dan terheran-heran, namun tidak khawatir karena maklum bahwa tidak akan ada hal yang lebih hebat dari pada kematian, sedangkan kematian itu baginya bukan apa-apa, seperti air sungai yang mengalir kembali ke laut di mana dia akan bersatu dengan Cui Bi!

Ternyata Ching-toanio yang ditendang sampai mencelat lima meter oleh Kun Hong tadi tidak terluka berat, hanya mendapat luka ringan berupa benjol-benjol dan barut-barut saja. Hal ini adalah karena Kun Hong memang sengaja tidak mengarah nyawa orang, hanya melakukan tendangan tanpa disertai tenaga dalam yang dapat mengakibatkan luka hebat. Malah kedua orang pengeroyoknya tadi, Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma, hanya terluka di lengan kanannya dengan goresan-goresan yang tidak dalam, hanya mengeluarkan darah akan tetapi ternyata merupakan luka kulit belaka.

Sekarang ketika melihat betapa Kun Hong sudah roboh, Ching-toanio masih tak mampu mempertahankan kemarahannya. Ia segera mencabut pedang dan melompat maju untuk membacok putus leher pemuda buta yang sudah banyak membikin malu kepadanya itu.

"Tranggg!"

Bunga api berpijar saking kerasnya bentrokan pedang ini.

"Ching-toanio, tak boleh kau membunuh Hong-ko!" teriak Loan Ki yang menangkis pedang Ching-toanio dengan pedangnya sendiri. "Kau boleh membunuh mampus anakmu si muka hitam, tapi Hong-ko tidak bersalah, kau tidak boleh membunuhnya."

Ching-toanio memandang dengan mata mendelik. "Dia berani mencemarkan nama baik Ching-coa-to, tampan dan berkepandaian tinggi, tidak tahu malu merayu dan melakukan perbuatan jinah, masih kau bilang dia tidak berdosa?"

"Ihh, kau keliru besar toanio. Hong-ko adalah seorang buta, mana dia bisa melihat tentang cantik tidaknya wanita? Mana bisa dia mampu menarik hati wanita? Tentu anakmu yang tak tahu malu itu yang sengaja menarik hati dan memikatnya dengan kata-kata halus. Hong-ko memang seorang muda yang tampan dan berkepandaian tinggi, tidak heran anakmu itu jatuh cinta. Hong-ko sendiri karena buta mudah saja dipikat, coba dia dapat melihat, apa dia sudi melayani seorang gadis yang mukanya seperti pantat kuali?"
"Keduanya harus mampus!" Ching-toanio kembali menggerakkan pedangnya.

Akan tetapi kembali Loan Ki menangkis, biar pun dua kali tangkisan itu sudah membuat telapak tangannya lecet-lecet.

"Ching-toanio, apa kau sebagai golongan lebih tua tidak malu? Kau berani turun tangan karena Hong-ko sudah kurobohkan. Hemm, andai kata aku tidak merobohkannya dengan totokan tanpa dia menduga, apa kau kira kau akan mampu bersikap segalak ini terhadap dia? Hi-hi-hik, benar-benar orang di Ching-coa-to tidak punya sopan santun persilatan!"

Bukan main tajamnya ucapan ini, melebihi tajamnya ujung seribu pedang. Ching-toanio menjadi pucat mukanya dan menahan pedangnya, matanya mendelik dan muka yang pucat itu berubah merah. Ia adalah seorang kang-ouw yang sudah memiliki nama besar, tentu saja sekarang mendengar ucapan ini, ia tidak ada muka untuk nekat menyerang Kun Hong yang sudah tak berdaya itu.

Semua orang di situ tahu belaka bahwa robohnya Kun Hong si buta itu adalah karena serangan gelap yang dilakukan Loan Ki, sama sekali bukan roboh oleh Ching-toanio atau yang lain. Kemarahannya meluap-luap akan tetapi tertahan sehingga kini kemarahannya ini ditumpahkan kepada Hui Kauw seorang!

Hanya gadis inilah yang dapat menjadi bulan-bulanan kemarahannya tanpa ada seekor setan pun yang berani menghalanginya. Tadi pun hanya si buta itu yang membelanya dan sekarang setelah si buta roboh, siapa lagi akan membela anak angkat yang menimbulkan kemarahan dan kebencian ini?

"Anak keparat, kaulah gara-garanya!"

Ia menggerakkan pedangnya sambil melompat ke dekat Hui Kauw yang ternyata sudah sadar dari pingsannya, akan tetapi karena tubuhnya terluka hebat oleh pukulan-pukulan ibu angkatnya tadi, dia masih belum sanggup bangun. Kini melihat betapa Kun Hong tak berdaya, rebah dalam keadaan tertotok, hatinya terkejut bukan main.

Timbul kekhawatirannya untuk keselamatan si buta ini, dan sekaligus timbul ingatannya untuk menolong Kun Hong. Maka begitu melihat sambaran pedang di tangan ibunya ke arah leher, Hui Kauw menggulingkan tubuhnya. Pedang itu meluncur menghantam tanah dan gadis itu dengan pengerahan tenaga yang luar biasa telah dapat bangun dan duduk.

Pedang itu, yang dikendalikan tangan Ching-toanio yang marah mengejar dan menyerang lagi, namun kini dalam keadaan duduk Hui Kauw lebih mudah mengelak. Semua orang terheran-heran, terutama sekali Ching-toanio dan Hui Siang.

Bagaimana mendadak Hui Kauw yang sudah terluka hebat itu memiliki gerakan-gerakan aneh sehingga dalam keadaan seperti itu bisa menghindarkan serangan pedang? Dengan penuh keheranan yang berubah menjadi penasaran dan malu, Ching-toanio memperhebat serangannya, bertubi-tubi mengirim tusukan dan bacokan ke arah tubuh anak angkatnya.

Akan tetapi, kemudian benar-benar terjadi keanehan bagi nyonya galak ini. Hanya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya secara aneh, kadang rebah dan ada kalanya meloncat ke atas dan duduk kembali, Hui Kauw dapat menyelamatkan diri dari semua serangan itu, sungguh pun makin lama gerakannya makin lemah dan lambat karena memang luka-luka di tubuhnya sudah parah. Kalau saja tidak sedemikian parah luka-luka di tubuhnya, tentu dengan kepandaiannya yang masih dirahasiakan itu ia dapat menyelamatkan diri dengan mudah.

Sementara itu, Kun Hong yang tadinya terkejut dan heran, juga maklum bahwa dia telah dikhianati Loan Ki dan tinggal menanti datangnya maut ketika dia roboh tertotok oleh Loan Ki tanpa dia dapat mencegahnya karena sebelumnya dia tidak berjaga lebih dahulu dan tidak pernah menduga akan mendapat penyerangan gelap dari gadis ini.

Tetapi dasar memang di tubuhnya sudah terisi hawa murni yang amat kuat, sedangkan tenaga dalamnya adalah tenaga dalam yang dilatih menurut ilmu silat tinggi yang bersih, maka pengaruh totokan Loan Ki yang bagi orang lain tentu akan dapat melumpuhkan sampai berjam-jam itu, ternyata bagi Kun Hong hanya melumpuhkannya beberapa menit saja! Dengan mengerahkan tenaga berulang-ulang, akhirnya Kun Hong dapat membobol kemacetan jalan darahnya dan tenaganya pulih kembali seperti sebelum tertotok.

Kun Hong tidak marah kepada Loan Ki, hanya heran karena dia masih belum mengerti mengapa gadis lincah itu merobohkan dirinya. Makin besar keheranannya pada saat dia mendengar betapa secara mati-matian Loan Ki menolong dirinya dari serangan-serangan Ching-toanio, malah membelanya dengan omongan-omongan pedas.

Tentu saja keheranan ke dua ini disertai kegirangan hati bahwa terbukti Loan Ki tidak memusuhinya, malah melindunginya. Akan tetapi mengapa tadi menotoknya roboh? Dan bagaimana pula setelah menotok roboh dengan serangan gelap, sekarang membela dan melindunginya mati-matian pula?

Benar-benar aneh sekali gadis lincah ini. Kun Hong merasa seperti menghadapi sebuah teka-teki yang sangat kuat. Dia sengaja berpura-pura tak berdaya dan membiarkan saja Loan Ki bersitegang dengan Ching-toanio, tetapi ketika mendengar betapa Ching-toanio menyerang Hui Kauw secara hebat dan membabi buta, dia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Tiba-tiba dia meloncat bangun, sekali mengenjot tubuh dia telah menyambar ke arah Ching-toanio.

Ching-toanio mendengar seruan kaget dari semua orang yang tiba-tiba melihat gerakan Kun Hong yang tadinya lumpuh itu. Pada saat ia melihat betapa si buta itu menerjang ke arahnya, ia menjadi marah sekali dan pedangnya memapaki dengan sebuah tusukan kilat ke arah ulu hati. Dalam penyerangan ini, Ching-toanio menggunakan semua tenaganya karena ia memang marah sekali dan ingin menebus kekalahan dan semua penghinaan yang dia alami tadi.

Sinar pedang di tangan Ching-toanio berkelebat menusuk. Kun Hong miringkan tubuhnya dan... pedang itu lantas ambles di bagian dada sampai menembus punggung si buta itu. Terdengar jeritan-jeritan keluar dari mulut Hui Kauw dan Loan Ki sekaligus. Akan tetapi kedua orang nona ini yang merasa ngeri dan terkejut sekali, tidak berusaha untuk maju menolong karena mereka kini, seperti yang lain-lain, berdiri bengong penuh keheranan.

Biasanya kalau orang terkena tusukan pedang, apa lagi sampai menembus punggung, tentu akan mengeluh, atau roboh, setidak-tidaknya darah tentu akan mengalir ke luar. Akan tetapi si buta ini lain lagi reaksinya. Dia berdiri tegak dengan pedang lawan masih menancap di bagian pinggir dada, mulutnya tersenyum, sikapnya tenang dan tidak ada setetes pun darah mengalir ke luar.

Ching-toanio mengerahkan tenaganya menarik ke luar pedangnya dan... tiba-tiba saja ia terhuyung ke belakang dan mukanya menjadi pucat. Pedang itu tinggal gagangnya saja, selebihnya masih ‘menancap’ di dada Kun Hong.

Ketika pemuda buta itu menggerakkan lengan kanan, terdengar suara…

"Krekk!" dan jatuhlah sebatang pedang tanpa gagang, sudah patah menjadi tiga potong!

Kiranya pemuda itu bukan tertusuk pedang, melainkan senjata itu ketika tadi menusuk ulu hatinya dia miringkan tubuh dan secara cepat dan lihai sekali sampai dapat mengelabui mata banyak orang-orang pandai, dia berhasil menjepit pedang itu di bawah ketiaknya!

Kun Hong tidak pedulikan lagi Ching-toanio yang masih bengong keheranan, dia malah menghampiri Hui Kauw, membungkuk dan sekali bergerak gadis itu sudah dipondongnya lagi.

"Saudara Kwa... jangan... kau lepaskanlah aku...," Hui Kauw berkata lemah.

Hatinya tidak karuan rasanya dan dia merasa amat malu dipondong oleh seorang laki-laki muda, biar pun buta, di depan banyak orang itu…..

"Sshhh, diamlah, Nona. Kau tidak boleh banyak bergerak, kau tidak boleh mengeluarkan suara dan tenaga... lukamu amat hebat... kurasa sedikitnya sebuah tulang rusukmu patah, jantungmu tergoncang, hawa beracun telah memasuki darahmu, aku harus mengobatimu, jangan kau banyak bergerak, kau menurutlah saja..."

Pada waktu itu ada angin menyambar dari arah depan dan suara yang hampir tak dapat ditangkap pendengaran Kun Hong menunjukkan betapa orang yang meloncat dan turun di depan Kun Hong benar-benar memiliki kepandaian yang amat tinggi tingkatnya. Kun Hong maklum akan hal ini, dia bersiap-siap sambil memondong Hui Kauw, keningnya berkerut karena dia benar-benar merasa serba susah bagaimana harus melindungi gadis ini dari ancaman sekian banyaknya orang pandai.

Pada saat itu terdengar suara Hui Kauw mengeluh panjang dan tubuh gadis itu menjadi lemas. Kiranya gadis ini kembali jatuh pingsan setelah tadi mengeluarkan banyak tenaga dalam menghadapi ibu angkatnya untuk mengelak dari bahaya maut.

Kun Hong merasa lega. Dengan pingsannya gadis ini, akan lebih leluasa baginya untuk bergerak. Sekarang dia dapat mengempit tubuh itu tanpa sungkan-sungkan dan tak akan mendatangkan rasa malu kepada gadis itu.

Dia cepat mengubah caranya memondong tubuh Hui Kauw, kini dia menggunakan lengan kirinya memeluk pinggang gadis yang pingsan itu dan mengempitnya. Tangan kanannya yang memegang tongkat siap menghadapi serbuan lawan.

Terdengar oleh Kun Hong suara yang tenang dan berat, suara yang mengandung tenaga dalam yang amat hebat.
"Omitohud, pinceng sebetulnya harus malu menghadapi seorang pemuda yang tak dapat melihat lagi. Orang muda, kau benar-benar hebat sekali. Kelihaianmu telah mengalahkan banyak orang pandai membuat pinceng mengesampingkan rasa malu dan ingin pinceng mencoba kehebatan kepandaianmu yang sangat aneh. Akan tetapi sebelumnya pinceng ingin sekali tahu, siapakah gurumu yang mewariskan ilmu-ilmu aneh ini kepadamu?"

Kun Hong kaget dan maklum bahwa yang berada di depannya adalah seorang hwesio yang berilmu tinggi. Cepat dia menjura dan menjawab, "Syukurlah bahwa di sini terdapat Lo-suhu yang saya percaya mempunyai pertimbangan adil dan pemandangan yang luas. Lo-suhu, tentang riwayat saya bukanlah hal penting, malah tidak berharga untuk didengar oleh orang lain. Lo-suhu, kedatangan saya ini sesungguhnya sama sekali bukan ingin bermusuhan atau berkelahi, oleh karena itu harap Lo-suhu sudi melimpahkan kemurahan hati dan dapat menghentikan perkelahian-perkelahian yang tidak saya kehendaki ini. Terhadap seorang suci seperti Lo-suhu, mana berani saya yang muda dan bodoh berlaku kurang ajar?"

Pendeta itu tertawa bergelak. Kun Hong tentu saja tidak tahu betapa hwesio ini dengan kedipan matanya memberi isyarat kepada orang-orang yang berada di sana. Kemudian bertanya, "Orang muda, meski pun matamu buta tapi hatimu melek. Tentu saja pinceng tidak mau memaksa kalau kau tidak menghendaki perkelahian. Akan tetapi kau datang di sini menimbulkan keributan, apa sih yang kau inginkan sekarang?"

"Maaf, Lo-suhu. Sama sekali saya tidak bermaksud mengadakan keributan. Semua yang dilontarkan kepada saya dan nona Hui Kauw ini hanyalah fitnah belaka. Tidak ada yang saya kehendaki kecuali agar orang tidak membunuh nona Hui Kauw, membiarkan saya mengobatinya sampai sembuh kemudian memberi kebebasan kepada saya beserta nona Loan Ki untuk meninggalkan pulau ini dengan aman."

Kembali Ka Chong Hoatsu mengedipkan matanya kepada Ching-toanio dan yang lain-lain, kemudian dia tertawa lagi. "Omitohud, kiranya sahabat muda yang lihai pandai pula ilmu pengobatan. Nona itu kulihat menderita luka-luka amat berat akibat pukulan, sanggupkah kau menyembuhkannya?"

"Jika Thian menghendaki, tentu dapat. Saya yang buta sedikit banyak paham akan ilmu pengobatan."
"Hwesio tua, jangan kau memandang rendah kepadanya. Orang sakit apa pun juga asal belum mampus tentu dapat dia sembuhkan. Dia adalah murid Toat-beng Yok-mo, masa tidak bisa mengobati?"

Ucapan Loan Ki ini membuat Kun Hong mengerutkan kening dan dia tidak tahu bahwa gadis nakal itu tentu pernah mendengar dia menyebut nama Toat-beng Yok-mo, kalau tidak salah ketika dia mengobati orang-orang Hui-houw-pang di mana gadis itu diam-diam sudah lama bersembunyi dan mengintai.

Tidak hanya Kun Hong yang mengerutkan kening, bahkan semua orang di situ, terutama sekali Ka Chong Hoatsu, menjadi heran dan kaget sekali. Tentu saja semua orang pernah mendengar nama Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa), siapa orangnya yang belum pernah mendengar nama tabib iblis yang luar biasa pandai mengobati, akan tetapi selalu membunuh orang yang telah diobatinya sampai sembuh itu?

Seketika pandangan mereka terhadap Kun Hong berubah, karena boleh dibilang bahwa Toat-beng Yok-mo adalah orang ‘segolongan’ dengan mereka.

"Omitohud! Betulkah kau adalah murid Yok-mo, orang muda?" Ka Chong Hoatsu akhirnya bertanya.

Kun Hong adalah seorang yang jujur dan tak suka membohong, maka dengan suara biasa dia menjawab, "Diangkat murid sih tidak, akan tetapi mendiang Yok-mo pernah memberi ijin kepadaku untuk membaca kitab-kitabnya tentang ilmu pengobatan, entah hal ini boleh dianggap saya sebagai muridnya ataukah tidak terserah."

"Oho!" Ka Chong Hoatsu kembali memberi isyarat kepada yang lain, maju ke depan dan menyentuh pundak Kun Hong. "Kiranya kau masih orang sendiri! Kwa-sicu, kalau begitu tidak ada urusan lagi di antara kita dan soal pertempuran tadi kita anggap saja sebagai kunci perkenalan. Ching-toanio, pinceng harap kau sudi menghabiskan urusan dan biarlah diberi tempat untuk Kwa-sicu mengobati puterimu."

Kun Hong menjadi melengak ketika urusan berbalik secara demikian. Semua orang, termasuk juga Hui Siang gadis yang galak itu, mengucapkan maaf kepadanya, juga Bouw Si Ma, Pangeran Souw Bu Lai, dan Ching-toanio. Malah terdengar suara Ngo Kui Ciau, orang pertama dari Ang Hwa Sam-cimoi yang bersuara kecil melengking,

"Pantas saja lihai, kiranya murid si tua bangka Yok-mo. Hi-hi-hik, tak perlu ribut-ribut, biar buta tapi amat tampan dan gagah, lagi lihai dan murid Yok-mo. Toanio, kurasa pantas dia menjadi mantumu, hi-hi-hik!"

Mendongkol sekali Kun Hong, akan tetapi juga wajahnya berubah merah tanpa dapat dia cegah, karena mendengar ucapan seperti itu, entah mengapa, jantungnya berdebar tidak karuan. Dia tidak banyak bicara dan menurut saja ketika dia diajak ke dalam bangunan itu yang untuk sementara diserahkan kepadanya sebagai tempat untuk mengobati Hui Kauw.

"Tidak lama... tidak lama..." katanya gugup. "Sebentar saja akan kupulihkan kedudukan urat-uratnya, kusambung tulangnya dan kubersihkan hawa beracun yang menyerangnya. Besok ia sudah pulih kembali, hanya tinggal memperkuat pertumbuhan tulang-tulang yang disambung. Aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini dan akan segera keluar dari pulau ini bersama nona Loan Ki."

Dia merasa heran sekali mengapa Loan Ki diam saja, tidak ada suaranya sama sekali. Dia tidak melihat betapa nona ini biar pun berada pula di situ, mukanya murung dan cemberut terus. Pangeran Souw Bu Lai yang beberapa kali berusaha untuk memikatnya dengan omongan-omongan manis, tidak diacuhkannya sama sekali. Akhirnya pangeran itu bosan sendiri dan nampak mendekati Hui Siang, bercakap-cakap gembira dan disambut manis oleh nona cantik jelita yang galak itu.

Orang-orang menjadi kagum menyaksikan cara Kun Hong mengobati Hui Kauw. Dengan tusukan-tusukan jarum perak dia dapat memulihkan kesehatan nona ini, mengusir ke luar hawa beracun akibat pukulan-pukulan Ching-toanio yang ampuh.

Kemudian dia meminta semua orang laki-laki keluar dari kamar karena dia hendak mulai menyambung tulang, dan untuk keperluan ini terpaksa baju nona Hui Kauw harus dibuka. Hanya Ching-toanio, Loan Ki, Ang Hwa Sam-cimoi, Hui Siang dan tiga orang pelayan wanita yang masih berada di kamar. Biar pun maklum di situ terdapat banyak orang pula yang menyaksikan, tangan Kun Hong sedikit gemetar juga ketika dia meraba kulit dada dan punggung yang halus pada waktu dia menyambung tulang iga yang patah!

Setengah hari dia bekerja keras dan akhirnya dia selesai, kemudian duduk bersila dan menempelkan dua tangannya ke pundak Hui Kauw dekat leher untuk menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh nona itu dan membantunya sekuat tenaga. Sejam dia melakukan ini dan mulailah pernapasan nona itu normal kembali dan mukanya menjadi merah sehat.

Pada saat itu Ching-toanio memberi isyarat kepada semua orang untuk meninggalkan kamar itu. Loan Ki tadinya hendak tinggal di situ, akan tetapi Ching-toanio berkata lirih,
"Nona Tan, setelah sekarang kita menjadi sahabat, perlu kita bicara tentang urusan yang juga menyangkut ayahmu. Marilah, biar Kwa-sicu mengaso dulu, kulihat Hui Kauw sudah sembuh kembali."

Tak enak juga hati Loan Ki untuk membandel. Ia mengerling dengan mata ragu ke arah Kun Hong yang masih duduk bersila, lalu sinar matanya menyambar seperti kilat ke arah muka Hui Kauw yang hitam, setelah itu ia mendengus marah dan ikut keluar pula.

Kamar itu sunyi. Suara orang-orang di luar bercakap-cakap tidak dapat terdengar jelas oleh karena daun pintu kamar itu ditutup dari luar. Kun Hong melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak nona itu, kemudian dengan perlahan dia mengurut jalan darah di punggung dan belakang leher. Terdengar nona ini mengerang perlahan. Kun Hong cepat menarik kembali tangannya dan melompat turun dari pembaringan, berdiri menanti.

"Uuuhhh, panas...," nona itu merintih.
"Tidak apa-apa, Nona. Hawa panas itu kau perlukan untuk mendorong peredaran darah di tubuhmu sehingga engkau akan menjadi sembuh benar-benar."

Hui Kauw membuka matanya, kaget melihat betapa tubuhnya bagian atas tidak berbaju, apa lagi melihat Kun Hong berdiri di situ dengan kepala tunduk. Dia cepat bangun dan menyambar bajunya yang berada di dekatnya, terus digunakan untuk menutupi tubuhnya.

"Bagaimana ini... apa yang terjadi... kau mengapa berada di sini...?" pertanyaan yang terputus-putus ini diajukan dengan suara gemetar.

Kun Hong dapat menangkap perasaan sedih, malu dan terhina dalam suara itu, maka dia membungkuk dengan hormat, kemudian berkata, "Kau menderita luka-luka, aku berusaha mengobatimu, disaksikan oleh keluargamu, Nona. Kini kau sudah selamat, perkenankan aku keluar dari tempat ini."

Tanpa menanti jawaban, dengan cepat Kun Hong lalu melangkah ke arah pintu, membuka daun pintu dan keluar dari situ.

Ka Chong Hoatsu sendiri menyambutnya. "Bagaimana Kwa-sicu, berhasilkan usahamu?"

"Dengan berkah Thian ia dapat pulih kembali kesehatannya," jawab Kun Hong sederhana.

Ching-toanio lantas berlari memasuki kamar dan Kun Hong masih mendengar suaranya, "Aduh, kasihan anakku..."

Kun Hong mengerutkan kening. Suara Ching-toanio ini adalah suara palsu. Hemm, akan berbuat apa lagikah wanita majikan pulau ini yang jahat dan palsunya sama saja dengan ular-ular hijaunya yang berbisa? Bukan urusanku, pikirnya, aku harus segera pergi dari tempat ini.

"Ki-moi, hayo kita pergi..."

Tidak ada jawaban.

"Di mana nona Loan Ki?" tanyanya kepada Ka Chong Hoatsu.

Hwesio tua itu tertawa. "Semua orang termasuk sahabatmu itu lagi berkumpul di ruangan sembahyang. Mari, Kwa-sicu, oleh karena pada saat ini kau pun menjadi seorang tamu terhormat, kau pun dipersilakan untuk ikut berpesta sambil ikut pula merayakan pelepasan perkabungan keluarga Ching-toanio."

"Pesta apa? Sembahyangan apa?" Kun Hong tak mengerti.
"Suaminya meninggal tiga setengah tahun yang lalu. Hari ini kebetulan sedang diadakan sembahyangan lalu diadakan sedikit pesta untuk merayakan pelepasan perkabungan ibu dan kedua anak."
"Maaf, Lo-suhu, aku... aku akan pergi saja. Tolong kau panggilkan nona Tan Loan Ki..."
"Ha-ha-ha, Kwa-sicu, apakah kau sebagai seorang yang sudah banyak merantau di dunia kangouw, tidak mau mengindahkan peraturan? Kau dianggap tamu terhormat, keluarga Ching-toanio hendak menyampaikan terima kasih, dan di sini sedang dilakukan upacara sembahyangan pula. Masa kau akan pergi begitu saja?"

Kun Hong menarik napas panjang. Memang betul juga ucapan hwesio itu. Apa lagi Loan Ki agaknya juga sudah berbaik dengan orang-orang itu, maka dia terpaksa mengangguk lemah.

"Baiklah, setelah sembahyang aku akan mengajak Loan Ki segera pergi. Tidak usah ikut berpesta, makanan dan arak yang dicuri Loan Ki dari sini sudah cukup mengakibatkan heboh!"

Hwesio itu tertawa lalu berjalan, sengaja memberatkan kakinya agar mudah diikuti oleh Kun Hong yang berjalan di belakangnya sambil meraba jalan dengan tongkatnya. Kiranya tidak jauh dari situ mereka sudah sampai di tempat yang dimaksudkan. Sebuah bangunan yang agak besar.

Telinga Kun Hong menangkap suara banyak sekali orang di situ, banyak suara wanita dan agaknya orang-orang pada sibuk bekerja, mungkin mengatur meja sembahyangan karena dia mendengar suara mangkuk-mangkuk ditaruh di atas meja dan tercium bau lilin besar dinyalakan di samping dupa harum memenuhi ruangan itu. Ia segera duduk pada sebuah kursi yang sudah disediakan untuknya.

Karena tempat itu ramai dengar suara orang, dia tidak dapat tahu apakah Loan Ki berada di situ ataukah tidak, untuk bertanya dia merasa kurang enak. Tentu saja dia tidak dapat melihat betapa di sudut ruangan itu Loan Ki duduk menyendiri dengan muka pucat dan sepasang mata gadis itu memandang ke arahnya dengan melotot penuh kemarahan!

Dugaannya memang benar. Di tempat itu selain orang-orang kosen yang telah disebutkan tadi berkumpul, makan minum sambil tertawa-tawa di ruangan itu bagian tengah, juga di sana terdapat belasan orang pelayan wanita berpakaian serba indah sedang mengatur meja sembahyang yang besar dan megah. Dua batang lilin naga warna merah dinyalakan di atas meja sembahyang yang dihias seperti meja sembahyang pengantin saja!

Kemudian terdengar suara Ka Chong Hoatsu berkata kepadanya, "Kwa-sicu, silakan kau melakukan sembahyang untuk menghormat abu jenazah mendiang suami Ching-toanio."

Pendeta itu menyerahkan beberapa batang hio (dupa batang) kepada Kun Hong. Pemuda buta ini bingung, akan tetapi merasa tidak enak untuk menolak. Penghormatan kepada abu jenazah merupakan syarat kesopanan yang tidak mungkin ditolak. Dia menurut saja ketika dituntun ke depan meja sembahyang.

"Bersembahyang di depan abu jenazah seorang yang tinggi tingkatnya, harus berlutut,"' Ka Chong Hoatsu berbisik.

Kun Hong yang pada dasarnya berwatak sopan dan suka merendahkan diri, kali ini juga tidak membantah, lalu berlutut, menyelipkan tongkat di pinggang dan memegangi batang-batang hio itu di antara tangannya.

Pada saat itu dia mendengar suara banyak kaki secara halus melangkah datang. Di sana sini lalu terdengar suara wanita tertawa tertahan, kemudian dia mendengar suara orang berlutut di samping kirinya. Lalu kagetlah dia ketika dia mencium bau harum yang sudah amat dikenalnya, keharuman yang sama benar dengan ganda yang diciumnya ketika dia mengobati Hui Kauw di dalam kamar tadi.

Tidak dapat diragukan lagi, Hui Kauw tentu orangnya yang sekarang berlutut di sebelah kirinya! Apa artinya semua ini? Kenapa ia harus bersembahyang di depan abu jenazah itu berdampingan dengan Hui Kauw? Dia menjadi ragu-ragu dan menahan diri, tidak segera bersembahyang.

Pada saat itu, di antara suara hiruk-pikuk para pelayan, dia mendengar suara Loan Ki, penuh ejekan, penuh kebencian. "Hah, yang lelaki buta, yang perempuan bermuka hitam. Belum pernah selama hidupku melihat sepasang pengantin begini buruk!"

Kun Hong terkejut setengah mati. Tangan kirinya bergerak meraba dan... dia mendapat kenyataan bahwa Hui Kauw memakai pakaian pengantin, dengan muka berkerudung!

"Apa artinya ini?" Dia berseru dan bangkit berdiri membuang hio-nya ke samping.

Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menekan pundaknya, jari-jari tangan yang amat kuat itu mencengkeram jalan darahnya di pundak yang mengancam, karena begitu diremas dia akan menjadi lumpuh! Lalu terdengar bisikan suara Ka Chong Hoatsu,

"Orang she Kwa, jangan menolak! Kau sudah mencemarkan nama baik nona Giam Hui Kauw, kau malah sudah mengobatinya sampai sembuh. Untuk membalas budimu, dan untuk membersihkan namanya, kau sudah dipilih untuk menjadi suami yang sah. Nona Hui Kauw sendiri sudah setuju. Bagaimana kau dapat menolaknya?"

Muka Kun Hong sebentar merah sebentar pucat. Dia tidak mengerti bagaimana urusan berbalik menjadi begini. Dia memang suka kepada Hui Kauw, suka dan menaruh simpati besar, juga sangat berkasihan menghadapi nasib buruk nona bersuara bidadari ini. Baru suaranya saja sudah mampu merampas rasa kasih sayangnya.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dijodohkan secara begini, secara paksa dan tiba-tiba. Juga, di lubuk hatinya tidak ada sedikit pun niat untuk menikah dengan wanita lain setelah dia kehilangan Cui Bi. Orang buta seperti dia mana mampu mendatangkan kebahagiaan bagi seorang isteri?

"Tidak... tidak...! Aku bukan boneka yang boleh kalian permainkan begitu saja! Aku adalah seorang manusia!" bantahnya, tidak peduli betapa tekanan pada pundaknya terasa makin menghebat yang berarti hwesio itu memperhebat pula ancamannya.
"Orang she Kwa, kau tidak boleh menolak! Tidak ada pilihan lain bagimu, menerima dan menjadi mantu Ching-toanio untuk membersihkan nama baik nona Hui Kauw yang kau cemarkan kemudian membantu semua usaha kita bersama, atau sekarang juga kau harus mati!" Kemudian dengan suara lebih perlahan di dekat telinga Kun Hong, "Bocah tolol, tak usah kau berpura-pura. Kau mencinta dia, bukan? Nah, apa lagi soalnya?"
"Tidak! Sekali lagi tidak. Tak sudi aku dijadikan begini...!" Kun Hong berteriak lagi dengan marah sekali, seluruh urat-urat di tubuhnya telah menegang untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi terpaksa dia menahan kemarahannya karena ancaman pada jalan darah di pundaknya itu benar-benar berbahaya sekali.

Tiba-tiba Hui Kauw yang berlutut di sampingnya itu terisak-isak menangis, lalu terdengar gadis itu menjerit tinggi satu kali, disusul kata-kata yang memilukan, "Ya Tuhan... apa dosaku sehingga kalian menghina aku begini rupa?"

Setelah itu, cepat laksana kilat gadis ini menerjang ke kanan dan menyerang Ka Chong Hoatsu dengan pedangnya yang tadi dia sembunyikan di balik pakaian pengantin yang longgar. Kini kerudung kepalanya sudah dibuka dan wajahnya yang berkulit hitam itu jelas nampak agak pucat dan basah air mata. Serangan ini hebat bukan main karena Hui Kauw mempergunakan jurus dari pada ilmu pedangnya yang ia rahasiakan.

Ka Chong Hoatsu adalah seorang tokoh besar yang amat lihai, namun dia terkesiap juga menghadapi serangan luar biasa ini, yang seperti halilintar menyambar ke arah dadanya. Terpaksa dia melepaskan cengkeramannya pada pundak Kun Hong dan berjungkir balik ke belakang sambil mengibaskan ujung lengan bajunya yang panjang.

Hampir terpental lepas pedang di tangan Hui Kauw ketika dikebut oleh ujung lengan baju ini. Akan tetapi Hui Kauw tidak menyerang terus, melainkan terisak-isak dan meloncat jauh, berlari sambil menangis lenyap dalam gerombolan pohon di hutan. Dari jauh masih terdengar suara tangisnya yang kian menghilang.

Kun Hong merasa amat bersyukur. Ia maklum bahwa tadi gadis itu menyerang Ka Chong Hoatsu dengan maksud menolongnya terlepas dari pada cengkeraman yang membuat ia tidak berdaya.

Pada saat itu terdengar Loan Ki berseru. "Bagus, Hong-ko. Jangan takut, aku bantu kau!" Dan gadis ini pun sudah meloncat ke tengah ruangan itu, di depan meja sembahyang, berdiri tegak dengan pedang di tangan di sebelah Kun Hong!

Kembali Kun Hong melengak heran. Bagaimana sih gadis lincah ini? Sebentar membantu dirinya, sejenak kemudian mencelakainya, kadang-kadang membelanya, tapi ada kalanya mengkhianatinya. Tadi baru saja dia mencemooh dan dengan ucapan mengandung suara menghina telah mengejeknya, tetapi sekarang suaranya berbeda sekali ketika menyebut ‘Hong-ko’ dan sekarang malah siap membantunya.

Dia benar-benar bingung, apa lagi mengingat perbuatan Hui Kauw tadi. Mengapa gadis yang sudah bisa dia kenal watak perangainya yang halus dan murni itu mau saja disuruh bersembahyang sebagai pengantin dengannya, kemudian kenapa pula gadis itu menangis sedih dan malah menerjang Ka Chong Hoatsu untuk menolongnya, tapi setelah itu malah melarikan diri? Benar-benar dia tidak mengerti akan sikap gadis-gadis ini.

Akan tetapi dia juga merasa khawatir sekali. Dia maklum betapa lihainya orang-orang di pulau ini dan kepandaian Loan Ki masih jauh dari pada cukup untuk menghadapi mereka. Dia sendiri pun belum tentu akan dapat menangkan mereka yang lihai-lihai itu, apa lagi Ka Chong Hoatsu si hwesio tua yang tadi mencengkeram pundaknya. Andai kata Hui Kauw tidak lari dan mau membantunya, gadis bersuara bidadari itu memiliki kepandaian hebat dan boleh diandalkan. Tadi saja dengan sekali gebrakan, sejurus serangan saja, gadis itu telah mampu memaksa Ka Chong Hoatsu melepaskan cengkeramannya.

"Orang muda, kau benar-benar sombong. Orang telah memperlakukan kau dengan baik, sungguh pun kau telah menimbulkan keributan. Kau dimaafkan, bahkan kelakuanmu yang merusak dan mencemarkan nama baik seorang gadis sudah dimaafkan, sebaliknya dari pada dihukum, kau malah diangkat pula menjadi mantu. Akan tetapi dengan sombong kau menolak, ini bukan saja merupakan penghinaan terhadap nyonya rumah, akan tetapi juga kau telah menghancurkan perasaan seorang gadis dan kau telah menghina pinceng (aku) pula yang bertindak sebagai perantara! Dosamu bertumpuk dan sekarang pinceng takkan sudi lagi memandang kebutaan matamu atau wajah mendiang gurumu, Yok-mo."

Kun Hong melangkah maju, sengaja agar Loan Ki berada di belakangnya untuk menjaga kalau hwesio yang lihai itu mengirim serangan, jangan sampai Loan Ki menjadi korban. Kemudian dia tersenyum sinis dan menegur,

"Lo-suhu, kalau aku tidak salah menduga, kau adalah seorang hwesio, pemeluk Agama Buddha yang luhur serta mulia. Lo-suhu, apakah kau lupa akan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab Buddha? Lupakah engkau akan ayat-ayat dalam kitab misalnya Dhammapada yang mengingatkan manusia sewaktu hidup akan segala maksiat yang akan merugikan diri sendiri?"

Sampai di sini Kun Hong lalu mendongak. Suaranya yang nyaring itu melagukan nyanyian yang merupakan doa dari kitab Agama Buddha.

Dia yang dapat menahan kemarahan,
seperti seorang menahan kaburnya kereta,
dialah patut disebut seorang kusir sejati.
Kalahkan amarah dengan kasih,
tundukkan kejahatan dengan kebajikan,
kerakusan dengan kerelaan,
dan kebohongan dengan kebenaran.

Sampai di sini Ka Chong Hoatsu sudah tertawa bergelak sehingga Kun Hong cepat-cepat menghentikan nyanyiannya. "Ha-ha-ha, bocah buta masih ingusan, kau berani mengajari pinceng tentang ayat kitab Dhammapada? Ha-ha-ha, seperti orang mengajar ikan tentang caranya berenang!"

"Kalau perlu boleh saja, Lo-suhu, Sungguh pun ikan pandai berenang, kadang-kadang dia akan tersesat karena tertarik oleh kemilaunya kotoran-kotoran di permukaan air sehingga tanpa disadari ikan itu akan berenang menentang arus dan menemui kehancurannya."

"Huh, bocah she Kwa. Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk bersikap kurang ajar dan sombong di depan pinceng. Hemm, bocah buta, Yok-mo sendiri yang kau sebut sebagai gurumu masih tidak berani memandang rendah terhadap pinceng. Majulah dan coba perlihatkan kepandaianmu!"

Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak. "Lo-suhu, aku tak ingin berkelahi dengan siapa pun juga..."

"Ha, kau jeri kepada Ka Chong Hoatsu?" hwesio itu mengejek.
"Aku pun tidak jeri atau takut kepada siapa pun juga."
"Kalau begitu majulah, hayo perlihatkan kepandaianmu!"
"Lo-suhu, aku tidak ingin berkelahi, hanya ingin supaya aku dan nona ini dibolehkan pergi dengan aman. Kami tidak bermaksud mengganggu kalian penghuni pulau ini..."
"Taisu, mengapa berdebat dengan setan kurang ajar itu? Tolong kau tangkap dia untukku, biar puas aku memberi hukuman kepadanya!" kata Ching-toanio dengan suara gemas.
"Bocah Kwa, lihat tongkat!" bentak Ka Chong Hoatsu.

Kun Hong cepat-cepat mendorong Loan Ki ke belakang agak jauh karena dia mendengar ada sambaran angin yang dahsyat sekali menyambar ke arahnya. Bukan main hebatnya serangan ini dan Kun Hong memusatkan pikiran dan perasaannya, mengumpulkan hawa murni dan tenaga dalam di tubuhnya.

Dia tahu bahwa angin dahsyat itu menyembunyikan tongkat yang menyambar ke arah pinggangnya. Sengaja dia melambatkan gerakannya. Begitu tongkat itu telah menyambar dekat, dengan pengerahan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dia lalu meloncat ke atas.

Tongkat itu mendesing di bawah kakinya, tidak lebih dari sepuluh senti jaraknya, namun angin pukulan tongkat itu telah membuat Kun Hong seperti didorong dari bawah sehingga tubuhnya mumbul lagi belasan senti tingginya. Dia makin kagum dan maklum bahwa kali ini dia menghadapi seorang lawan yang luar biasa tangguhnya, malah mungkin tak kalah lihai kalau dibandingkan dengan lawan yang paling ampuh yang pernah dihadapinya, yaitu pada tiga tahun yang lalu di puncak Thai-san, si tua bangka Pak-thian Lo-cu, guru dari Si Tangan Maut Bouw Si Ma, orang Mancu yang sekarang hadir di sini.

Kekaguman tidak hanya berada di pihak Kun Hong. Juga Ka Chong Hoatsu kagum bukan main. Cara pemuda buta itu menghadapi serangannya tadi betul-betul di luar dugaannya, dan cara ini sekaligus membingungkannya karena sama sekali bukan ilmu silat seperti yang pernah dia lihat dimainkan oleh Bu Beng Cu.

Memang, Kun Hong tadi tidak menggunakan jurus dari Kim-tiauw-kun dalam menghadapi penyerangan ini, akan tetapi dia mempergunakan sebuah jurus pertahanan dari Ilmu Silat Im-yang Kun-hoat yang dia terima dari Si Raja Pedang Tan Beng San.

Jurus tadi lewat cepat sekali seperti menyambarnya halilintar. Kini Kun Hong sudah berdiri tegak, kaki kanannya ditekuk dengan ujung berdiri dan tumit menempel di kaki kiri, tangan kanan yang memegang tongkat ditaruh di depan dada dan tongkatnya tegak lurus ke atas menempel ujung hidung, tangan kiri dengan jari-jari terbuka lurus ke depan seperti sedang menunjuk. Seluruh tubuh tak bergerak, semua urat dalam tubuh menegang serta segenap perhatian dicurahkan ke depan dan sekelilingnya dalam sikap menjaga diri.

Ka Chong Hoatsu juga memasang kuda-kuda, akan tetapi dia meragu dan tidak segera menjatuhkan serangannya. Betapa pun juga, dia masih sungkan untuk menyerang secara sungguh-sungguh.

Dia adalah seorang yang memiliki kedudukan besar dan dipandang tinggi di utara, sejajar dengan Pak Thian Locu, hanya kalau Pak-thian Lo-cu menganut aliran Agama To adalah dia merupakan wakil dari golongan Buddha. Sudah jauh dia merantau, bahkan belasan tahun dia berada di India. Sejak pulang dari India, dia makin dipandang dan merupakan orang yang paling berkuasa di samping kepala suku di antara bangsanya, yaitu Bangsa Mongol yang sudah kalah perang dan kehilangan kedudukan itu.

Bahkan dia merupakan orang yang dipilih untuk mendidik Pangeran Souw Bu Lai yang dipandang menjadi seorang bangsawan yang memiliki harapan untuk merampas kembali kerajaan yang hilang. Kedudukannya demikian besar dan tinggi, masa sekarang dia harus menggunakan kepandaiannya untuk bertempur sungguh-sungguh melawan pemuda yang usianya dua puluh lima tahun paling banyak, yang buta kedua matanya lagi?

Inilah yang membuat Ka Chong Hoatsu ragu-ragu karena dalam pertempuran ini, kalau dia menang takkan berarti apa-apa akan tetapi kalau sampai kalah namanya akan hancur luluh sekaligus! Dia pun maklum bahwa pemuda buta ini benar-benar memiliki simpanan rahasia ilmu yang tak boleh dipandang ringan.

Dua jagoan ini sudah saling berhadapan memasang kuda-kuda, seperti dua buah patung tak bergerak sama sekali. Ka Chong Hoatsu biar pun sudah tua namun tubuhnya tinggi besar dan kuda-kudanya gagah, kedua kaki terpentang, tubuh agak direndahkan, tongkat yang panjang dan amat berat itu melintang di depan dada, kedudukannya membayangkan tenaga yang dahsyat sekali. Kun Hong sebaliknya tenang, namun kokoh kuat seperti batu karang menghadapi serbuan ombak samudera.

"Bun-taihiap dari Kun-lun-pai yang terhormat sudah tiba untuk bertemu dengan toanio...!" terdengar seruan wanita penjaga dari jauh.

Belum lenyap gema suara itu, berkelebat bayangan putih dan seperti sehelai daun kering yang tertiup angin, melayanglah turun seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali, berpakaian serba putih dan pada punggungnya tergantung sebatang pedang yang tertutup sarung pedang terukir indah. Begitu tiba di situ pemuda ini melihat keadaan Ka Chong Hoatsu, memandang heran lalu mengerling ke arah Kun Hong yang buta.

"Ah, kiranya Ka Chong Hoatsu sedang memberi pelajaran, sungguh kedatanganku sangat kebetulan!" kata pemuda itu.

Ka Chong Hoatsu sudah semenjak tadi membatalkan serangannya, lalu dia mengetukkan tongkatnya di atas tanah dan tertawa bergelak.

"Sungguh tidak tahu malu pinceng yang sudah tua bangka mau melayani seorang bocah buta, menjadikan buah tertawaan Bun-sicu dari Kun-lun-pai saja. Ha-ha-ha!"

Akan tetapi pemuda baju putih itu tidak memperhatikan Ka Chong Hoatsu karena pada saat itu dia sedang memandang ke arah Kun Hong dengan bengong, malah dia segera melangkah mendekati dan mengamat-amati wajah Kun Hong dengan pandang matanya yang penuh selidik. Suaranya berubah ketika dia bertanya.

"Ka Chong Hoatsu, mau apakah dia datang ke sini dan kenapa pula hendak bertempur melawanmu?"

Ka Chong Hoatsu tertawa lagi. Dia pernah beberapa kali datang ke Kun-lun-san dan dia mengenal pemuda Kun-lun yang lihai ini, yang selalu bersikap terbuka serta bersahaja terhadapnya, tidak menjilat-jilat akan tetapi amat jujur.

"Ha-ha, Bun-sicu, sebetulnya pinceng malu karena harus turun tangan terhadap seorang bocah buta. Tapi dia ini memang menjemukan, bermain gila dengan nona Hui Kauw..."

Pemuda baju putih itu mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan. "Hemmm, kiranya sesudah kedua matanya buta, Kwa Kung Hong masih sama saja merupakan seorang pemuda hidung belang yang suka merayu dan menundukkan hati wanita. Lucu sekali! Kwa Kun Hong, apakah kau tidak kenal padaku?"

Tentu saja Kun Hong mengenalnya. Biar pun dahulu belum mendapat kesempatan untuk berkenalan secara mendalam, namun mana bisa dia melupakan pemuda putera ketua Kun-lun-pai yang dahulu menjadi tunangan dari kekasihnya, Tan Cui Bi?

Dia tahu bahwa pemuda ini adalah Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai yang biar pun dahulu lantas pulang dengan marah bersama ayahnya dari puncak Thai-san, dan tidak menjadi saksi atas peristiwa mengerikan yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya namun agaknya pemuda ini sudah mendengar tentang kebutaannya.

Dia menjura dengan hormat, mengangkat kedua tangan yang memegang gagang tongkat ke depan dada.
"Tentu saja aku ingat dan mengenal suara Bun-enghiong dari Kun-lun-pai. Tetapi sayang sekali semenjak bertahun-tahun ini pandanganmu masih sesempit dulu, terutama dalam menilai watak seseorang. Sayang..."

Kembali Bun Wan, pemuda itu, mendengus mencemooh atas ucapan ini. Kemudian dia menoleh ke arah Ching-toanio dan berkata, "Toanio, karena aku telah datang di sini, aku harap Toanio suka mengampuni dia dan membebaskannya. Harap Toanio ketahui bahwa antara ayahnya dan ayahku ada hubungan persahabatan di waktu muda, oleh karena itu amatlah tidak enak kalau dia ini menerima hukuman di mana aku hadir. Tentu ayah akan menegurku."

Ching-toanio menggerutu, "Dia ini terlalu kurang ajar, terlalu menghina kami, mana bisa aku memberi ampun?"

Akan tetapi Ka Chong Hoatsu cepat-cepat berkata, "Ching-toanio, biarlah, melihat muka Bun-sicu yang terhormat, biarlah kita mengampuninya dan membiarkan si buta ini pergi dari pulau. Apa lagi bila mengingat akan nama besar Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pai, ayah Bun-sicu yang kita hormati."

Melihat kesempatan yang baik ini, Loan Ki segera menggandeng tangan Kun Hong dan berkata, "Hayo, Hong-ko, kita pergi dari tempat terkutuk ini!" Ia lalu menarik tangan Kun Hong dari situ sambil menjebirkan bibir dan melerok ke sana ke mari kepada orang-orang yang berada di situ!
"He-he-he-he, bocah nakal. Kau tidak boleh pergi! Masih ada urusan yang akan pinceng bicarakan denganmu sebagai wakil ayahmu, urusan penting sekali. Si buta ini boleh pergi sekarang juga, tapi kau tidak. Kembalilah!" kata Ka Chong Hoatsu.

Mendengar ini Ching-toanio tersenyum dan tahulah ia sekarang mengapa hwesio yang menjadi tamu agung dan orang andalannya ini tadi membiarkan Kun Hong dibebaskan. Kiranya hwesio itu bermaksud supaya si buta itu mencari jalan ke luar dari pulau itu seorang diri dan hal ini terang tidak mungkin dan akhirnya tentu akan membuat pemuda buta itu terjeblos ke dalam perangkap-perangkap rahasia dan tak akan terlepas dari pada hukuman dan pembalasannya juga!

"Betul, Nona. Setelah menjadi tamu kami, kau tak boleh pergi dulu dari sini. Kami hendak mengadakan hubungan dengan ayahmu melalui kau!" katanya.

Loan Ki memutar otaknya. Dia maklum bahwa jumlah lawan yang banyak ini amat sukar dilawan, biar oleh Kun Hong sekali pun. Dia melepaskan tangan Kun Hong dan berjalan dengan langkah lebar ke dekat Ka Chong Hoatsu, langsung ia menegur,

"Hwesio tua, kau benar-benar mau mempermainkan aku seorang bocah perempuan? Aku tidak suka berada di sini, di dekat kalian ini, dan aku mau pergi sekarang juga. Apa bila nonamu ini mau pergi, siapa yang sanggup melarang? Aku berani bertaruh, kalau aku sungguh-sungguh menghendaki pergi, tongkatmu yang panjang dan tiada gunanya ini tak akan mampu menghalangiku, Hwesio tua!"

Ka Chong Hoatsu tertawa, juga orang-orang yang berada di situ semua tertawa mengejek mendengar kata-kata itu. Sebaliknya Kun Hong diam-diam mengeluh. Benar-benar Loan Ki adalah seorang bocah yang tidak genah (normal), pikirnya, tak mengerti tingginya langit dalamnya lautan. Sudah terang bahwa tingkat kepandaiannya masih kepalang tanggung, matang tidak mentah pun tidak, jika dibandingkan dengan kepandaian Ka Chong Hoatsu masih tertinggal jauh sekali. Bagaimana sekarang berani mengucapkan tantangan yang begitu menggelikan? Seperti katak dalam tempurung!

"Ha-ha-ha-ha, pinceng kagum akan ketabahannmu, Nona cilik. Betulkah tongkat pinceng yang butut ini tidak akan mampu menghalangi kau pergi?"
"Tentu saja tidak mampu. Berani aku bertaruh! Kau boleh jadi lebih kuat dan lebih matang ilmu silatmu dibandingkan dengan aku karena kau sudah tua, akan tetapi aku menang muda sehingga aku lebih cepat dari padamu. Kalau aku berlari cepat, mana kau mampu mengejarku?"

Kembali ucapan ini menggelikan dan Ka Chong Hoatsu juga tertawa bergelak. Dia merasa malu untuk berdebat dengan seorang bocah, apa lagi dalam soal kepandaian silat, maka biar pun hatinya mendongkol, dirinya tertawa dan diam-diam ingin mengalahkan bocah ini biar kapok dan tidak membuka mulut besar.

"Tentu saja, pinceng sudah tua mana dapat berlari cepat? Akan tetapi, agaknya kau ini seorang bocah perempuan cilik, juga tidak akan dapat melangkah lebar seperti pinceng, ha-ha-ha!"
"Ehh, Hwesio tua, jangan pandang rendah padaku, ya? Berani kau bertaruh dengan aku berlomba lari cepat? Mana kau berani. Huh, kau hanya berani menghina seorang bocah perempuan mengandalkan kepandaian dan usia tua. Hayo, kalau kau berani berlomba lari cepat, biar kita bertaruh. Bila kau kalah, kau dan semua orang ini tak boleh menghalangi aku pergi dari pulau ini, kalau aku yang kalah, terserah kepadamu. Berani tidak?"

Sekali lagi Kun Hong mengeluh. Mengapa Loan Ki begitu goblok? Kalau tadi tidak usah banyak cakap, tetap berada di dekatnya, tentu dia kan dapat melindungi nona cilik nakal itu. Sekarang nona itu malah mencari penyakit sendiri. Mana mungkin menang berlomba lari cepat melawan hwesio yang sakti itu?

"Ha-ha-ha, kau lucu sekali, Nona cilik. Masa orang tua diajak balap lari. Tapi biarlah, kalau tidak dituruti kehendakmu, aku khawatir kau akan rewel dan ngambek, bisa gagal maksud pinceng menghubungi ayahmu. Ha-ha-ha!"
"Bagus, kau lihat bunga bwee yang tumbuh di sana itu?"

Ka Chong Hoatsu mengangguk sambil tersenyum lebar. Pohon bunga bwee itu tumbuh di sebelah kiri bangunan, kurang lebih dua ratus meter jaraknya dari tempat itu. Bagi kakek ini, beberapa belas kali lompatan saja di sudah akan sampai di sana!

"Nah, kita berlomba lari cepat sampai di tempat itu. Siapa yang dapat memegang bunga bwee itu lebih dulu, dia menang. Setuju?"
"Ha-ha-ha setuju, setuju!" jawab hwesio tua.
"Nah, kau bersiaplah, Hwesio. Aku akan menghitung sampai tiga, dan sebelum hitungan sampai tiga kau tidak boleh mulai lari. Jangan curang!"
"Ha-ha-ha, boleh... boleh..." Ka Chong Hoatsu menjawab, gembira juga dia menyaksikan permainan kanak-kanak ini.

Akan tetapi Loan Ki tidak segera menghitung, melainkan berdiri saja sambil mengerutkan keningnya yang bagus.

"Hayo lekas mulai!" tegur Ka Chong Hoatsu.

Loan Ki menggeleng kepalanya. "Percuma... aku masih belum percaya benar kepadamu, jangan-jangan setelah kalah kau masih curang dan menjilati janji sendiri. Kau benar-benar berjanji akan membebaskan kami berdua tanpa mengganggu pula kalau kalah balapan lari denganku?"

Ka Chong Hoatsu memandang dengan mata melotot besar. "Bocah kurang ajar, pinceng Ka Chong Hoatsu mana sudi menjilat ludah sendiri? Hayo mulai!"

"Orang gagah lebih baik mati dari pada menjilat ludah sendiri tidak menepati janji. He, Ka Chong Hoatsu, kau berjanji akan membebaskan kami dan membiarkan kami pergi dari pulau ini kalau kau kalah balapan lari dengan aku?"
"Pinceng berjanji, gadis liar!"

Loan Ki tersenyum, manis sekali. "Dan kau berjanji takkan berlaku curang dalam balapan lari ini, tidak akan mulai lari sebelum aku menghitung sampai tiga?"

"Setan cilik, siapa sudi bermain curang? Tak usah bermain curang, lebih baik pinceng tak akan lari selamanya kalau kalah cepat lariku dari pada larimu. Hayo mulai!"
"Betulkah itu? Hi-hik, coba kita lihat dan saksikan bersama."

Gadis ini memasang kuda-kuda, siap untuk balapan lari, seperti orang hendak merangkak, berdiri dengan kaki dan tangan di atas tanah, tubuh belakangnya sengaja ditonjolkan ke atas sehingga ia nampak lucu sekali.

"Ha-ha-ha, kau seperti seekor kuda betina tanpa ekor!" Ka Chong Hoatsu tertawa geli.

Loan Ki tidak peduli, malah bicara dengan nyaring kepada semua orang yang berada di sana, "Kalian semua mendengar janji hwesio tua bangka ini! Sebelum aku menghitung sampai tiga, dia tidak boleh mulai lari!"

Kemudian ia mulai menghitung dengan suara lantang, "Satu..."

Suasana menjadi tegang dan sunyi karena biar pun semua orang yakin bahwa gadis itu tentunya akan kalah, akan tetapi menyaksikan sikap bersungguh-sungguh dari Loan Ki, mereka menduga-duga dengan ilmu apa gadis ini akan menghadapi kecepatan Ka Chong Hoatsu. Juga hwesio itu yang tadinya menganggap ringan dan sudah merasa yakin akan menang, melihat sikap ini dan mendengar suara aba-aba, menjadi tegang juga dan tanpa disadarinya dia sendiri pun sudah siap memasang kuda-kuda untuk segera ‘tancap gas’ kalau hitungan itu sudah sampai tiga.

"Dua..."

Urat-urat di tubuh Ka Chong Hoatsu semakin menegang, tumitnya sudah diangkat untuk segera melompat. Akan tetapi hitungan ‘tiga’ tidak keluar-keluar dari mulut Loan Ki, malah sekarang gadis itu berdiri dan berjalan cepat ke depan tanpa melanjutkan hitungannya. Semua orang terheran, juga Ka Chong Hoatsu yang mengira bahwa gadis itu tentu akan mengatur sesuatu maka berjalan ke depan ke arah bunga bwee itu.

Akan tetapi setelah berada dekat sekali, kurang lebih dua meter dari pohon bunga bwee itu, tiba-tiba saja Loan Ki berteriak nyaring sekali, "... tiga...!" dan dia pun berlari maju memegang kembang itu sambil tertawa-tawa dan bersorak-sorak ''Aku menang...! Hi-hik hwesio tua, kau kalah!"

Ka Chong Hoatsu melengak. Tentu saja tadi dia tidak sudi lari, karena kalau lari pun tak mungkin dapat menangkan Loan Ki yang sudah berada di dekat pohon itu, hanya tinggal mengulur tangan saja. Dari heran dia menjadi marah sekali.

"Gadis liar! Kau curang! Mana ada aturan begitu?" bentaknya.

Loan Ki meloncat dengan gerakan ringan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah berada di depan Ka Chong Hoatsu, menudingkan telunjuknya dengan marah.

"Ka Chong Hoatsu, kau seorang hwesio tua, seorang yang namanya sudah terkenal di seluruh kolong langit, apakah hari ini engkau hendak menjilat ludah sendiri dan berlaku curang? Ingat baik-baik bagaimana janji kita tadi. Bukankah kau sudah setuju dan berjanji takkan lari sebelum aku menghitung sampai tiga? Perjanjian menunggu sampai hitungan ke tiga ini tadi hanya dikenakan kepadamu, tidak kepadaku. Siapa yang berjanji bahwa aku juga harus menanti sampai hitungan ke tiga? Aku tidak melanggar janji siapa-siapa, juga aku tidak curang, dan kau sudah kalah, kalah mutlak. Coba katakan apa kau berani melanggar janjimu sendiri?"

Ka Chong Hoatsu terkesima. Untuk beberapa lama dia tidak mampu bicara. Kemudian dia membanting-banting tongkatnya hingga tanah yang bercampur batu di depannya menjadi bolong-bolong seperti agar-agar ditusuki biting saja.

"Bocah liar, kau memang menang, akan tetapi bukan menang karena kecepatan berlari, melainkan menang karena akal bulus!"

Loan Ki tersenyum manis dan menjura sampai dahinya hampir menyentuh tanah. "Terima kasih, Ka Chong Hoatsu hwesio tua yang manis! Kau telah menyatakan sendiri sekarang bahwa aku menang. Nah, memang aku menang dalam balapan ini dan karenanya juga aku menang dalam taruhan, bukan? Soal menang menggunakan akal bulus atau pun akal udang, itu tidak diadakan larangan dalam perjanjian tadi. Nah, selamat tinggal, Hoatsu."

Dengan langkah manja gadis ini lalu berjalan menghampiri Kun Hong.....

Selanjutnya baca
PENDEKAR BUTA : JILID-05
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger