logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Buta Jilid 06


Kita tinggalkan dulu keadaan Thai-san-pai yang rusak binasa dan ketuanya yang rusak pula ketenteraman rumah tangganya. Mari kita menengok keadaan di puncak Min-san. Telah dituturkan di bagian depan bahwa Tan Kong Bu putera Tan Beng San bersama isterinya, Kui Li Eng dan kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun, setelah menikah lalu pindah ke Min-san di mana dia dibantu oleh isterinya menerima murid-murid yang berbakat dan berusaha mendirikan sebuah perkumpulan baru, yaitu Min-san-pai.

Belum banyak murid yang diterima oleh suami isteri ini karena mereka masih muda, lagi pula mereka tidak mau menerima sembarangan murid. Kalau ada anak yang benar-benar berbakat barulah mereka mau menurunkan ilmu silat sehingga dalam waktu empat tahun, baru mempunyai murid sebanyak dua belas orang saja, terdiri dari anak-anak muda laki perempuan berusia antara sepuluh sampai lima belas tahun.

Suami isteri ini hidup rukun saling mencinta. Di samping mengajar silat kepada para murid cilik ini mereka hidup sebagai petani, bercocok tanam sayur-sayur dan buah-buahan yang dapat hidup subur di Min-san.

Song-bun-kwi juga hidup tenang tenteram di Min-san. Kakek ini sekarang menjadi gemuk dan sehat. Akan tetapi lewat empat tahun, dia mulai mengeluh dan menjadi malas karena kerjanya hanya makan tidur belaka. Berkali-kali dia mengeluh dan menyatakan ketidak puasan dan kebosanan hatinya di depan cucunya dan cucu mantunya.

Pagi hari itu dia nampak marah-marah dan gelisah. Semenjak subuh tadi Kong Bu dan isterinya melihat dengan cemas betapa kakek itu tidak hentinya berlatih silat di kebun belakang. Dan tidak seperti biasanya, terdengar suara keras.

Ketika mereka lari menengok, kiranya dua batang pohon besar sudah roboh dipukul dan ditendang kakek itu! Masih saja Song-bun-kwi bersilat. Angin pukulannya mendesir-desir dan dia sama sekali tidak mempedulikan munculnya cucu dan cucu mantunya. Wajahnya cemberut dan matanya sayu.

Kong Bu saling pandang dengan Li Eng. Dia menarik napas panjang, lalu menggandeng tangan isterinya diajak masuk rumah. Dia masgul sekali, duduk bertopang dagu, teringat akan percekcokan dengan kakek itu semalam.

Seperti biasa, malam tadi Song-bun-kwi makan bersama Kong Bu dan Li Eng yang juga melayani suami dan kakeknya. Song-bun-kwi sudah berbeda dari pada biasanya, banyak menenggak arak dan selalu minta tambah.

Dan akhirnya, selesai makan Song-bun-kwi menggebrak meja sampai mangkok-mangkok menari-nari di atas meja.

"Kau anak sial! Tidak becus!" dia memaki Kong Bu.

Tidak heran Kong Bu melihat kakeknya seperti itu. Sudah semenjak kecil dia tahu akan keanehan watak kakek ini yang mudah marah dan mudah gembira, kadang-kadang bagi yang tidak tahu tentu disangka gila. Dengan tenang dia tersenyum dan bertanya,

"Apa lagi yang tak menyenangkan hatimu, Kongkong (kakek)? Kesalahan apakah kali ini yang kulakukan?"
"Kesalahan apa? Bocah tolol! Aku ingin punya buyut, kau dengar? Aku ingin punya buyut dan kau tidak becus!"

Mendengar omongan ini seketika wajah Li Eng menjadi merah dan dengan berpura-pura membawa mangkok-mangkok kotor dia cepat-cepat lari ke belakang, namun telinga kakek dan cucu yang lihai itu masih dapat mendengar isaknya tertahan-tahan.

Kong Bu mengerutkan heningnya. Terlalu kakeknya ini. Sudah melewati batas sekarang. Sudah berkali-kali kakeknya ini marah-marah kepadanya, memakinya tidak becus, tidak mampu segala macam, hanya karena dia dan Li Eng sampai sekarang belum juga punya keturunan, belum punya anak!

Kakeknya memang orang aneh, ini dia tahu. Akan tetapi kalau sudah mencelanya tentang tak punya anak di depan Li Eng, tentu saja isterinya merasa tersinggung sekali.

"Kakek, lagi-lagi kau ribut-ribut soal cucu buyut!" tegurnya dengan suara agak kasar. "Soal keturunan adalah soal yang ditentukan oleh Thian. Manusia mana dapat menentukan? Mengapa kakek ribut-ribut saja urusan buyut? Apakah tidak tahu bahwa ucapanmu tadi amat menyakiti hati Li Eng?"
"Aaahh, dasar kau yang tidak becus! Laki-laki goblok kau, sudah menikah empat tahun belum juga punya anak. Uuhhh!" kakek itu mencak-mencak dengan amat berangnya.

Kong Bu tak dapat menahan kesabarannya. Suara kakeknya terlalu keras sehingga biar pun Li Eng berada di belakang, tentu isterinya itu dapat mendengar jelas.

"Kongkong, kau terlalu sekali! Kau ingin punya cucu buyut untuk apa sih?"
"Wah, untuk apa katanya? Tentu saja untuk kuwarisi kepandaian yang kulatih puluhan tahun ini. Untuk apa lagi? Aku tidak akan mati meram sebelum kepandaianku kuwariskan kepada buyutku. Tahu kau?"

Kong Bu tertawa, berusaha mendinginkan hati kakeknya. "Ahh, kalau hanya untuk itu saja, mengapa Kongkong harus susah-susah menanti buyut yang tak tentu kapan datangnya? Bukankah cucu muridmu ada dua belas orang di sini, boleh kau pilih mana yang kau sukai untuk dijadikan murid-muridmu. Bukankah ini baik sekali, Kongkong?"

"Murid-murid tahi kerbau!" Kakek itu makin marah. "Kalau memang mau cari murid, aku bisa cari sendiri. Ahh, sudahlah, dasar kau yang tolol dan tidak becus!"

Demikianlah keributan malam tadi, keributan berdasarkan soal yang itu-itu juga dan yang membuat Song-bun-kwi Kwee Lun murung. Pagi itu sejak subuh dia sudah bersilat dan dengan pukulan saktinya merobohkan pohon besar. Biasanya, sesudah matahari terbit, kakek ini tentu akan masuk ke ruangan depan, berjemur sinar matahari melalui jendela ruangan itu sambil menghadapi minuman hangat yang disediakan oleh Li Eng. Dia akan duduk di bangku panjang dan berbaring, meram melek nikmat seperti seekor singa tua bermalasan.

Akan tetapi pagi itu dia tidak masuk ke ruangan. Sampai matahari naik tinggi, kakek itu tidak nampak pulang. Kong Bu merasa heran dan mencari ke belakang. Tidak ada. Ke depan lalu ke sekeliling tempat itu. Tidak ada. Kakek itu tidak nampak bayangannya lagi.

Isterinya ikut mencari dan memanggil-manggil. Namun kakek itu tidak kelihatan lagi mata hidungnya. Kong Bu mendekati isterinya. Mereka saling pandang.

"Dia kumat penyakitnya, dasar berdarah perantauan!" kata Kong Bu.

Li Eng mengerutkan kening, menunduk. "Karena aku..."

Kong Bu kaget, memandang isterinya. Dilihatnya dua titik air mata membasahi pipi Li Eng. Dia merangkulnya. "Hushh, siapa bilang karena kau? Tentang itu, tak perlu kita pikirkan, isteriku. Kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha Kuasa."

Li Eng memang bukan seorang pemurung. Semenjak gadisnya, dia amat periang, kocak dan jenaka. Sekarang pun hanya sebentar ia digerumuti rasa kecewa dan duka. Di lain saat sambil tersenyum manis dia berkata, "Hemm, dunia kang-ouw tentu bakal geger dan heboh karena munculnya kakek!"

Kong Bu juga tersenyum. "Tentu saja, boleh kita pastikan itu! Kita dengar-dengar saja, tentu terjadi keonaran. Memang kakekku itu tukang mencari geger. Ha-ha-ha!" Mereka tertawa-tawa dan seketika lenyaplah awan mendung yang mengancam sinar kebahagiaan mereka.

Benar dugaan Kong Bu. Kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun memang sudah pergi dari Min-san. Kekesalan hatinya karena belum juga dia dapat menimang seorang buyut yang dinanti-nantikan, membangkitkan rindunya akan dunia ramai, membuat penyakitnya suka merantau kambuh kembali. Seperti telah menjadi wataknya semenjak dahulu, dia selalu pergi tanpa pamit dan pulang tanpa memberi tahukan.

Akan tetapi, tidak seperti dugaan Kong Bu bahwa di dunia ramai kakeknya tentu akan menimbulkan kegemparan, kali ini Song-bun-kwi melakukan perjalanan dengan tenteram, tidak mempunyai nafsu untuk mencari perkara.

Hal ini adalah karena hatinya sudah menjadi dingin karena mengingat bahwa tokoh-tokoh setingkat dengannya seperti Siauw-ong-kui, Pak-thian Lo-cu, atau Hek-hwa Kui-bo dan Toat-beng Yok-mo, semua sudah mati. Kalau ada mereka, terutama Siauw-ong-kui, tentu dia akan mencarinya dan diajak berkelahi sampai tiga hari tiga malam!

Hanya tinggal seorang tokoh yang setingkat dengannya, atau setidaknya hampir setingkat dengannya, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, itu tokoh besar dari pantai timur. Karena teringat akan orang tua inilah maka kini Song-bun-kwi melakukan perjalanan ke timur, ke pantai timur untuk mencari Tai-lek-sin.

Keperluannya hanya satu, mencari orang tua itu dan kalau sudah berjumpa, hendak diajak berkelahi mengadu ilmu.....
********************
Pada suatu hari kakek ini memasuki sebuah kota pelabuhan di pantai timur yang cukup ramai, karena kota ini selain menjadi pusat perdagangan para pedagang laut yang datang dari selatan dan utara, juga terkenal sebagai pintu keluar hasil-hasil bumi dan akar-akar obat. Sayangnya sering kali kota ini diganggu bajak laut Jepang sehingga sebagian besar pedagangnya datang dari lain kota dan jarang yang mendirikan bangunan di situ.

Sudah menjadi kebiasaan setiap orang pedagang keliling yang membawa banyak barang berharga, mesti ada saja pengawalnya yang terdiri dari jagoan-jagoan pengawal bayaran yang lajim disebut piauwsu. Pengawal-pengawal bayaran dan para pedagang inilah yang meramaikan restoran-restoran yang banyak dibuka di situ sehingga begitu memasuki kota ini, Song-bun-kwi segera mengembang kempiskan hidungnya karena mencium bau harum masakan yang sedap dan gurih.

"Gurih... gurih... wah betapa sedapnya...!" dia menggerutu berkali-kali.

Matanya kemudian mencari-cari hingga akhirnya dia melangkah lebar memasuki sebuah restoran yang paling besar dan berada di pinggir jalan besar dekat tempat pemberhentian perahu-perahu. Bau amis perahu-perahu yang membawa muatan ikan malah menambah sedap.

Kehadiran kakek ini menarik perhatian orang. Betapa tidak. Seorang kakek yang usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, rambutnya jarang-jarang dan pendek setengah gundul, kumis dan jenggot pendek-pendek pula dan kaku, sebagian besar sudah putih. Pantasnya kepala seperti ini dimiliki seorang pendeta, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian pendeta. Pakaian yang membungkus tubuh tinggi besar kokoh kuat itu adalah pakaian petani yang kumal dan longgar. Lengan bajunya lebar sekali seperti lengan baju tukang-tukang main sulap yang menyembunyikan benda-benda di dalamnya.

"Heee, pelayan!" suaranya menggeledek dan menggetarkan ruangan restoran itu. "Bawa ke sini cepat seguci besar arak baik, tiga kati mi, dua kati daging babi panggang dan tiga empat macam masakanmu yang paling terkenal. Lekas kataku, perutku lapar nih!"

Sambil menarik napas panjang dengan nikmat kakek ini menjatuhkan diri ke atas sebuah bangku yang lantas mengeluarkan bunyi mengenaskan karena hampir tak kuat menadahi tubuhnya yang besar dan berat itu, lalu jari-jari tangan kanannya mengetruk-ngetruk meja di depannya sampai meja itu bergoyang-goyang.

Semua tamu yang duduk di situ menoleh dan memandang heran. Di mana di dunia ini ada orang yang begitu gembul? Tiga kati mi dan dua kati daging ditambah lagi tiga macam masakan, masih didorong masuk oleh seguci besar arak, bukankah itu jumlahnya lebih sepuluh kati? Perut manusia biasa mana kuat dimasuki sepuluh kati makanan sekaligus?

Juga pelayan-pelayan saling pandang, tak ada yang menyanggupi karena mereka merasa ragu-ragu. Selain aneh, juga harga masakan-masakan yang dipesan itu bukanlah sedikit uangnya!

Kakek itu merasa juga akan keraguan muka pelayan ini. Dia menggereng dan tangannya menekan meja di hadapannya yang tiba-tiba ambles ke bumi sampai setengahnya lebih! "Heh, pelayan-pelayan. Kalian ini manusia-manusia ataukah patung? Kalau patung tunggu kublesekkan kalian ke dalam tanah seperti meja ini!"

Kagetlah semua orang, kaget dan jeri. Juga para pelayan berseliweran dan separuh lari menyediakan pesanan kakek itu. Mereka tak peduli lagi apakah kakek itu nanti bisa bayar atau tidak, itu urusan pengurus restoran. Paling perlu cepat-cepat sediakan pesanannya agar mereka selamat!

Dengan senyum manis dibuat-buat sehingga senyuman itu pringas-pringis mengandung perasaan takut, para pelayan lalu antri mengantarkan makanan-makanan yang dipesan Song-bun-kwi dan mengaturnya di atas meja yang rendah itu.

Begitu selesai mereka terbirit-birit menjauhkan diri. Juga para tamu yang nyalinya kurang besar, cepat-cepat menghabiskan makanan, membayar dan pergi meninggalkan tempat di mana terdapat kakek yang menyeramkan itu.

Akan tetapi yang nyalinya besar, malah menjadi girang dan diam-diam ingin menyaksikan perkembangan lebih lanjut dan menikmati keanehan yang jarang mereka lihat. Di antara mereka itu terdapat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang duduk seorang diri di sudut restoran, laki-laki yang bermata tajam berhidung betet berpakaian mentereng.

Mencium bau arak dari sebuah guci besar yang berada di atas sebuah meja di depannya, sepasang mata Song-bun-kwi bersinar-sinar. Dia telah amat rindu melihat arak, kini begitu bertemu dia segera menyambar guci, mengangkatnya ke atas maka terdengarlah suara bergelogok seperti suara air pancuran jatuh di kolam. Tak setetes pun terbuang.

Setelah agak lama mulut-mulut orang yang menyaksikan ini melongo, baru Song-bun-kwi meletakkan guci itu kembali ke atas meja dan setengah isinya sudah ia pindah ke dalam perutnya. Tanpa mempedulikan mata orang-orang yang berada di situ, dia menyambar sumpitnya dan segera menyikat masakan-masakan di depannya.

Seperti mesin saja sumpit-sumpitnya bergerak. Seperti disulap, mi, daging dan masakan-masakan itu terbang ke dalam mulutnya, dikunyah sebentar lalu masuk ke dalam lubang di kerongkongannya. Kadang-kadang masakan itu menyesakkan kerongkongan karena terlalu dijejal, dan terpaksa harus didorong arak menggelogok.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar, disusul orang lari berserabutan ke sana ke mari. Ramai orang berteriak-teriak, "Bajak laut...! Bajak laut!"

Di dalam restoran itu sendiri terjadi keributan luar biasa. Para tamu lari berserabutan ke luar, pelayan-pelayan lari pula sambil membawa barang-barang yang dianggap berharga, pengurus restoran membawa lari uang. Semua lari berserabutan meninggalkan tempat itu.

Nelayan-nelayan, pedagang-pedagang dan mereka yang merasa memiliki barang-barang berharga cepat-cepat berlarian meninggalkan tempat itu. Hanya mereka yang merasa tak mempunyai apa-apa, tidak lari, hanya bersembunyi dengan muka pucat ketakutan.

Sejenak Song-bung-kwi menengok, lalu makan terus tanpa mempedulikan kegaduhan di sekelilingnya. Restoran itu sekarang kosong, kecuali laki-laki yang berpakaian mentereng tadi. Tapi laki-laki ini pun nampak tegang dan beberapa kali meraba gagang golok yang tersembunyi di balik jubah panjangnya. Matanya memandang ke luar, ke arah laut.

Dengan kecepatan luar biasa, beberapa buah perahu kecil runcing berlayar ke pantai. Perahu-perahu ini agaknya diturunkan dari sebuah perahu besar yang berlabuh beberapa li dari pantai dan di setiap kepala perahu kecil ini berkibar bendera putih dengan gambar tengkorak hitam. Itulah perahu-perahu bajak laut yang datang menyerbu kota pelabuhan ini.

Jumlah perahu kecil ada sembilan buah, masing-masing ditumpangi lima orang anak buah bajak. Seorang lelaki gemuk pendek tampak berdiri di kepala perahu terdepan, tangannya memegang sebatang pedang yang besar dan panjang, pedang bengkok model Jepang.

"Bajak laut Jepang...!"
"Si Tengkorak Hitam...!"

Demikian telinga Song-bun-kwi mendengar teriakan mereka yang lari ketakutan. Namun dia pura-pura tidak mendengar dan makan terus.

Para pedagang besar yang membawa banyak barang dagangan dan dikawal oleh jagoan-jagoan pengawal, sibuk mengumpulkan para jagoannya untuk melindungi barang mereka. Yang berani menjaga barang yang dipercayakan mereka hanya pengawal-pengawal yang merasa dirinya berkepandaian dan memiliki banyak teman saja, sedikitnya belasan orang anak buah.

Begitu bajak-bajak itu mendarat, terdengar teriakan-teriakan mereka yang menyeramkan. Golok dan pedang mereka angkat tinggi-tinggi dan dengan pekik serta sorak-sorai, para bajak ini menyerbu ke darat.

Segera terjadi pertempuran dengan para jagoan pengawal yang jumlah semuanya tidak kurang dari tiga puluh orang. Hiruk-pikuk suara yang bertempur. Bunyi senjata tajam yang beradu mendencing-dencing, diiringi dengan pekik kesakitan dan sorak kemenangan yang mulai terdengar bersama muncratnya darah dan robohnya tubuh manusia.

Lima orang anak buah bajak lari ke dalam restoran besar. Mereka berteriak-teriak girang karena membayangkan pesta pora. Alangkah heran hati mereka ketika melihat betapa di dalam restoran besar itu terdapat dua orang tamu yang masih belum pergi.

Seorang kakek gundul berusia lanjut enak-enakan saja makan, sedikit pun tidak melirik kepada lima orang bajak yang memasuki restoran. Malah ketika seorang bajak memekik sambil menendang meja hingga terguling, ia malah mengangkat guci araknya dan minum seenaknya. Orang ke dua adalah laki-laki berpakaian mewah yang duduk tenang-tenang saja, dengan tangan di gagang goloknya.

Para bajak itu memang sudah terlalu lama berada di tengah lautan dan kini melihat kakek itu makan minum, mereka lantas menjadi mengilar. Maka berebutanlah empat orang lari menghampiri Song-bun-kwi, sedangkan seorang di antara mereka tertarik dengan pakaian mewah laki-laki yang duduk di pojok, maka dia lari kepada orang itu.

Sambil mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Song-bun-kwi, empat orang bajak itu menyerbu. Ada yang menghantam kepala gundul kakek itu, ada yang membacok lehernya dengan golok, dan ada pula yang menyambar guci arak untuk merampasnya. Kesudahannya hebat sekali.

Kakek itu tanpa menoleh barang sedikit, menggerakkan tangan yang memegang sumpit, perlahan saja namun cepat seperti kilat menyambar. Empat orang bajak seketika seperti orang terlongong, kemudian membalikkan tubuh dan berjalan terhuyung-huyung ke pintu restoran, mulut mereka bergerak-gerak hendak memekik akan tetapi yang keluar hanya suara mengorok bagai babi disembelih! Dan sebelum mereka tiba di tempat teman-teman mereka di luar, robohlah mereka, terkulai satu demi satu, dan hampir berbareng mereka mengeluarkan suara jeritan ngeri!

Kepala bajak yang gemuk pendek itu hebat sekali. Pedangnya yang panjang dan bengkok menyambar-nyambar dan banyaklah jagoan pengawal roboh dengan leher putus atau pun dada robek oleh pedangnya. Akan tetapi selagi enak dia mengamuk, seorang temannya berteriak sambil menuding ke arah empat orang anak buah yang roboh tanpa diserang lawan itu.

Si kepala bajak sekali melompat sudah tiba di situ. Dengan kaki kirinya dia membalik-balikkan tubuh empat orang anak buahnya dan... ternyata mereka telah putus nyawanya dengan mata mendelik, mulut berdarah sedangkan leher mereka nampak bolong sebesar jari tangan!

Mata kepala bajak itu menjadi merah saking marahnya. Dia juga merasa heran sebab tak melihat ada lawan di dekat empat orang anak buahnya ini. Matanya lalu mencari-cari dan terlihatlah olehnya cucuran-cucuran darah merah yang tercecer sepanjang jalan mulai dari tempat itu ke pintu restoran.

Dilihatnya seorang kakek duduk di dalam restoran. Tampak pula seorang anak buahnya tengah bertempur dengan seorang lelaki yang mainkan golok. Jelas bahwa anak buahnya itu terdesak hebat.

Sambil memekik dengan suara yang keluar dari dasar perut, kepala bajak yang berjuluk Tengkorak Hitam ini kemudian berlari, pedangnya teracung ke depan, mulutnya memekik panjang.

"Yaaaaaaa…!!"

Dua orang jagoan pengawal mengira bahwa kepala bajak itu hendak menerjang mereka, berbareng dua orang ini memapakinya dengan pedang mereka. Akan tetapi bukan main hebatnya kepala bajak ini. Tanpa menghentikan larinya ke arah restoran, pedang panjang di tangannya berkelebat dan... dua orang jagoan pengawal itu rebah dengan perut robek dan isi perutnya berantakan ke luar!

Kepala bajak terus berlari tanpa menghentikan pekiknya yang panjang menyeramkan itu. Akan tetapi begitu sampai di ambang pintu restoran, tiba-tiba dari dalam ada bayangan menubruknya. Si Tengkorak Hitam yang baru saja berhenti memekik panjang, sekarang membentak.

"Yaaaaattt…!" pedangnya yang bengkok panjang itu bergerak ke depan dan berkelebat menyilaukan mata.
"Craaaatttt!"

Pedang yang amat tajam itu membabat pinggang bayangan itu yang... putus menjadi dua. Darah menyembur-nyembur mengerikan dibarengi suara terbahak-bahak si kepala bajak yang tertawa girang.

Tiba-tiba suara ketawanya berhenti ketika dia mendengar suara mendengus penuh ejekan di dalam restoran. Ketika dia menundukkan muka memandang, tiba-tiba muka Tengkorak Hitam menjadi pucat. Kiranya bayangan yang dibacoknya putus menjadi dua tadi adalah anak buahnya sendiri yang agaknya telah dilemparkan lawan.

Dia mengarahkan pandang matanya yang berapi-api ke dalam restoran. Kakek itu masih duduk makan minum sedangkan laki-laki bergolok yang tadi bertempur melawan anak buahnya sekarang berdiri dengan golok melintang di depan dada.

Tengkorak Hitam tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali lagi dia memekik panjang dan lari menyerbu ke dalam restoran, langsung menerjang si pemegang golok. Biasanya, setiap sabetan pedangnya tidak pernah gagal, kalau tidak merobohkan lawan, sedikitnya melukai atau mematahkan senjatanya. Akan tetapi sekali ini dia salah duga.

Pedangnya bertemu dengan sebuah golok yang kuat hingga terdengar suara berdencing nyaring yang dibarengi muncratnya bunga api berhamburan. Cepat-cepat kedua lawan ini menarik senjata masing-masing, memeriksa sebentar, lega mendapat kenyataan bahwa senjata masing-masing tidak rusak.

Tengkorak Hitam lagi-lagi menerjang, sekali ini gerakannya lebih kuat dan cepat sekali. Pedangnya berkelebat tiada henti, membobat-babit dari kanan kembali ke kiri, dari atas ke bawah seperti seorang akrobat mainkan dua obor api. Laki-laki bergolok itu beberapa kali mengeluarkan seruan kaget karena hampir saja pertahanannya bobol, akan tetapi dia terus melawan sedapat mungkin dengan permainan goloknya.

Song-bun-kwi tidak pedulikan itu semua, masih saja makan minum. Melirik pun tidak dia. Akan tetapi ketika araknya habis, dia melingukan ke sana ke mari, kemudian mulutnya mendamprat, "Pelayan keparat! Ke mana kalian? Hayo tambah lagi arak seguci penuh!"

Tentu saja tidak ada setan yang menjawabnya karena semua pelayan sudah melarikan diri jauh dari tempat itu. Song-bun-kwi marah-marah, digebraknya meja sampai mangkok-mangkok yang kosong bergulingan. "Pelayan ke mana kalian pergi?"

Tiba-tiba si pemegang golok yang menjawab, "Locianpwe, semua pelayan lari ketakutan karena bajak ini!"

Baru sekarang Song-bun-kwi menengok dan melihat pertempuran itu. Dia melihat seorang laki-laki pendek gemuk berkepala botak kelimis tetapi di sebelah pinggir dan belakangnya berambut gemuk hitam. Laki-laki pendek gemuk ini tidak berbaju, hanya memakai celana panjang yang komprang (kebesaran). Tubuhnya kelihatan kuat sekali, ada pun permainan pedangnya aneh bukan main, namun tak boleh dibilang lemah.

Sepintas lalu Song-bun-kwi dapat menilai si pemegang golok memainkan ilmu golok dari selatan. Kepandaian orang ini tidak lemah, akan tetapi agaknya tidak kuat menandingi ilmu pedang aneh bajak pendek itu.

Timbul kemarahan Song-bun-kwi kepada bajak itu. Benar-benar tidak memandang mata kepadanya. Sedang enak-enak makan berani datang mengacau sampai semua pelayan lari. Dengan langkah lebar dia menghampiri tempat pertempuran.

"Heh, babi buntung! Berani kau membikin kacau sampai semua pelayan pergi, ya? Hayo kau gantikan pekerjaan mereka, layani aku baik-baik!"

Si pemegang golok yang sempat melihat cara Song-bun-kwi mengalahkan empat orang bajak tadi, dapat mengerti bahwa kakek itu adalah seorang sakti. Maka sekarang melihat kakek itu mau turun tangan, dia pun cepat memutar goloknya lalu melompat ke samping menjauhi kepala bajak yang lihai.

Tengkorak Hitam terkejut mendengar bentakan Song-bun-kwi. Agaknya dia sudah sering kali menjelajah pantai timur ini sehingga dia mengerti juga bahasa daerah itu. Dengan kaku dia membentak sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Iblis tua bangka, kau memaki siapa?!"
"Memaki kau, siapa lagi? Hayo lekas ambilkan arak seguci!" Song-bun-kwi membentak.

Bukan main marahnya Tengkorak Hitam. Dia adalah seorang kepala bajak yang sudah terkenal. Hanya di seberang sini saja dia menjadi kepala bajak, kalau sudah pulang ke seberang sana membawa barang-barang rampasan, dia adalah seorang yang mempunyai gedung indah dan dihormati semua orang. Sekarang dia dihina oleh seorang tua bangka, padahal biasanya di seberang sana dia amat ditakuti orang, tentu saja dia marah sekali. Pedangnya diobat-abitkan di atas kepala, kata-katanya tidak jelas dan tercampur bahasa Jepang,

"Bakeiroo...! Kau mau mampus, ya?"

Pedang itu menyambar ke arah leher Song-bun-kwi, agaknya hanya dengan sekali tebas saja Si Tengkorak Hitam hendak menjadikan kakek itu setan tanpa kepala. Song-bun-kwi mendengus sambil bangkit berdiri, lalu tangan kirinya membabat dari samping memapaki pedang.

"Krekkk!"

Pedang itu patah-patah menjadi tiga potong saking hebatnya gempuran tangan kakek ini. Si kepala bajak seketika pucat, terbelalak memandang pedang yang tinggal gagangnya saja itu.

Namun dia adalah seorang bajak laut yang buas dan tak kenal takut. Sambil menyumpah-nyumpah dia membanting gagang pedangnya dan segera kaki tangannya bergerak-gerak mempergunakan ilmu gulat yang sangat dia andalkan. Jari-jari tangannya terbuka seperti cengkeraman, siap untuk menangkap lawan dan diangkat serta dibantingkan.

Biasanya dia tidak pernah gagal dalam membanting lawan menggunakan ilmu ini. Malah lawan yang jauh lebih muda dan lebih tinggi besar dari pada kakek itu juga pernah dia permainkan, dia banting-banting seperti penatu membanting cuciannya.

Song-bun-kwi tidak mengenal ilmu berkelahi semacam ini, tetapi melihat kuda-kuda yang diberatkan ke bawah dan melihat pula kedua tangan yang siap mencengkeram, dia dapat menduga bahwa ilmu ini tentulah semacam Ilmu Kim-na-chiu, yaitu ilmu tangkap atau ilmu gulat. Dia terkekeh lalu mengulurkan tangan kirinya, sengaja dia berikan untuk ditangkap lawan!

Seorang ahli silat tentunya akan ragu-ragu dan tidak berani menerima umpan selunak ini. Namun Tengkorak Hitam agaknya tidak mengenal istilah umpan dalam ilmunya berkelahi, atau memang dia terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga umpan itu pun dia caplok mentah-mentah.

Cepat laksana bintang jatuh dia menerkam maju dan di lain saat lengan kiri Song-bun-kwi sudah ditangkapnya, diputar dengan gaya selicin belut, kemudian tubuhnya menyelinap dan membalik sehingga kedudukan lengan Song-bun-kwi terbalik dan dilandaskan di atas pundaknya. Dia lalu mengerahkan tenaga dari perut sambil memekik keras, menggentak lengan kiri kakek itu dengan gaya melemparkan tubuh si kakek ke atas melewati pundak dan punggungnya.

Tubuh itu terlempar ke atas sampai membentur langit-langit rumah, lalu jatuh menimpa meja makan yang belum keburu dibereskan sehingga kuah masakan di dalam mangkok memercik ke atas menyiram muka orang yang jatuh itu. Tapi bukan tubuh Song-bun-kwi yang terlempar, melainkan tubuh Tengkorak Hitam sendiri!

Kepala bajak ini gelagapan, cepat menyusuti mukanya, terengah-engah meloncat turun dari kursi. Kepalanya digoyang-goyang keras seperti laku seekor anjing habis kecemplung kolam, matanya terbeliak memandang kakek itu seakan-akan dia tidak percaya bahwa yang baru saja dia alami bukanlah mimpi buruk.

Sambil menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya kembali dia menggereng dan menubruk. Kali ini ia menangkap kaki Song-bun-kwi. Kakek itu hanya berdiri dan tunduk memandang orang pendek yang nekat itu.

Tengkorak Hitam berkutetan, mengerahkan tenaga untuk mengangkat kaki itu supaya dia mendapat peluang untuk melontarkan si kakek. Namun kaki itu tak bergeming sedikit pun juga. Sampai payah dia mengerahkan semua tenaga perut, mulutnya terengah-engah.

Mendadak kaki itu terangkat sedikit. Girang hatinya. Mampus kau sekarang tua bangka, pikirnya. Tubuhnya menyelinap ke bawah selakangan kakek itu, kaki itu di pundaknya dan kini dia mengerahkan seluruh tenaganya sambil menggentak.

"Bulllll!"

Seperti layang-layang putus talinya tubuh itu mumbul ke atas, sekali lagi menghantam langit-langit sampai jebol kemudian terbanting ke bawah membikin remuk bangku yang ditimpanya. Juga kali ini tubuh Tengkorak Hitamlah yang melayang-layang, bukan tubuh si kakek kosen.

Sakit, marah, dan malu memenuhi benak Tengkorak Hitam, apa lagi ketika dia melihat betapa mulai berdatangan orang menonton. Dia pun menjadi nekat dan sekarang hendak menggunakan ilmu pukulan. Dia menerjang lagi dengan tangan terkepal.

Tiba-tiba tubuhnya yang merunduk dengan kepala di depan seperti laku seekor domba hendak menanduk ayam, berhenti di tengah jalan, tepat di muka kakek itu. Kepalanya tertahan sesuatu. Matanya melirik dan alangkah marahnya melihat bahwa kakek itulah yang menahan kepalanya dengan telapak tangan. Dia mengumpat caci, kedua tangannya menghantam bergantian, disusul kakinya yang juga mengirim tendangan-tendangan maut.

Akan tetapi, serangan-serangannya mengenai tempat kosong belaka, atau tegasnya, tak dapat mencapai ke tubuh si kakek. Seperti diketahui, bajak laut ini bertubuh pendek, dua lengannya pun pendek-pendek sekali, demikian pula kedua kakinya. Tentu saja setelah kakek itu yang bertubuh tinggi besar dan berlengan panjang menahan kepalanya dengan lengan diluruskan, semua pukulan dan tendangannya gagal, tidak sampai ke sasarannya.

Terdengar suara ketawa di sana-sini. Bajak itu marah sekali, kini ia menghantam lengan yang menahan kepalanya. Namun sia-sia saja, malah kedua tangannya sakit-sakit seperti menghantam baja layaknya.

Tiba-tiba dia merasa betapa telapak tangan yang menahan kepalanya itu menjadi panas sekali. Dia berusaha menarik kepalanya yang botak, namun alangkah kagetnya ketika merasa betapa botaknya itu lengket pada telapak tangan lawan. Dan panasnya tak dapat dia menahannya lebih lama, seakan-akan botaknya ditempel arang merah!

Dia mulai mengerling ke luar restoran dan tanpa malu-malu lagi mulutnya berteriak-teriak memanggil anak-anak buahnya agar membantunya melawan kakek yang aneh ini. Akan tetapi, begitu matanya mengerling ke luar, seketika wajahnya pucat. Apa yang dilihatnya?

Satu pun batang hidung anak buahnya sudah tidak kelihatan, bahkan sebuah perahunya pun tidak tampak lagi. Pantas saja banyak orang berdatangan menonton pertunjukan di dalam restoran, kiranya sekarang di luar restoran sudah tidak ada bajak laut lagi!
Related image
Apakah sebetulnya yang telah terjadi di luar restoran? Seperti telah kita ketahui, pada saat kepala bajak itu beraksi di depan Song-bun-kwi, para bajak laut itu sedang bertempur menyerbu para jagoan pengawal yang melawan mati-matian. Namun karena kalah banyak jumlahnya, para pengawal itu kena desak dan mulai mundur tak teratur. Mulai banyaklah berjatuhan korban di kedua pihak, terutama sekali di pihak para pengawal.

Pada saat itu terdengar bentakan mengguntur, disusul suara nyaring, "Keparat jahanam! Beginikah perbuatan kalian di sini? Dari rumah mengaku berdagang, kiranya melakukan perampokan. Bajak-bajak keparat, membikin malu saja kalian ini. Hayo pergi!"

Yang membentak ini adalah seorang laki-laki muda yang bertubuh tegap dan kokoh kuat. Wajahnya membayangkan kegagahan, bajunya terbuat dari kain tipis sehingga terbayang dadanya yang bidang. Rambutnya hitam panjang dan gemuk, digelung ke atas dengan model yang asing, dijepit di bagian atas dengan hiasan rambut perak.

Sebatang pedang yang panjang sekali dan bentuknya agak melengkung tergantung pada pinggangnya. Pedang ini sarung dan gagangnya berukir kembang-kembang indah, merah warnanya, dengan ronce-ronce merah pula, gagangnya agak panjang.

Para bajak laut kaget sekali mendengar suara bangsanya sendiri, karena pemuda itu tadi menggunakan bahasa Jepang. Sesudah menengok, mereka lebih kaget lagi karena dari dandanan, sikap, dan pedang pemuda itu, amat mudah diterka bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar Samurai, yaitu kaum pendekar pedang yang amat terkenal di Jepang.

Akan tetapi karena pendekar itu masih amat muda, paling banyak baru dua puluh tahun usianya, apa lagi karena bajak laut itu mengandalkan banyak teman dan bukan berada di daratan sendiri, mereka tidak takut.

"Berhenti dan pulang semua kataku!" Pendekar Samurai muda itu berseru lagi, suaranya benar-benar nyaring dan wibawa.

Ketika para bajak itu tidak mempedulikannya, tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangan, sinar kemerahan berkelebat-kelebat menyambar bagaikan kilat di musim hujan. Terdengar pekik dan jerit di sana-sini dan di mana sinar kemerahan itu tiba, tentu ada bajak yang roboh dengan senjata mereka terlempar atau patah!

"Hayo siapa tidak menurut, akan kubasmi di sini juga. Memalukan orang-orang macam kalian ini!" lagi-lagi si pemuda berteriak. "Samurai Merah tak mengijinkan kalian merusak nama kehormatan bangsa!"

Melihat sepak terjang pemuda itu dan mendengar nama sebutan Samurai Merah, para bajak menjadi kaget dan ketakutan bukan main. Itulah nama pendekar yang amat terkenal kebengisannya terhadap kaum penjahat. Kawanan bajak itu segera membuang senjata masing-masing, menyambar tubuh teman-teman yang luka atau tewas, lalu berserabutan lari ke perahu masing-masing.

Dalam sekejap mata saja bajak-bajak itu sudah berlayar pergi, tidak merampok apa-apa hanya meninggalkan korban-korban di pihak pengawal dan saking bingung serta takutnya mereka tadi lupa bahwa pemimpin mereka, si Tengkorak Hitam masih tertinggal di dalam restoran!

Para pengawal kagum dan berterima kasih kepada pendekar Jepang itu. Akan tetapi berbareng dengan kaburnya para bajak laut, pendekar muda Jepang itu pun lenyap dari situ. Apakah dia ikut dengan perahu-perahu bajak atau tidak, tak seorang pun mengetahui karena tadi keadaannya kacau-balau.

Akan tetapi ketika orang-orang ini mendengar adanya pertempuran lain di dalam restoran, segera mereka mendatangi tempat ini. Ternyata mereka menjadi saksi akan pertandingan yang lebih menarik lagi karena lucu sekali. Juga para jagoan pengawal itu diam-diam kaget dan kagum ketika mengenal bahwa yang sedang dipermainkan kakek tua itu bukan lain adalah Tengkorak Hitam, si kepala bajak yang terkenal akan kekejaman, keganasan dan juga kesaktiannya.

Pertempuran di dalam restoran itu memang lucu sekali, terutama bagi para penonton yang semuanya membenci si kepala bajak. Tengkorak Hitam seperti seekor cecak terjepit pintu. Kepalanya yang botak menempel di telapak tangan kakek itu yang diluruskan ke depan.

Pukulan dan tendangannya gagal semua tidak mengenai sasaran, bahkan dia sekarang mulai meringis-ringis dan keluar air mata dari kedua matanya tanpa dia sengaja. Air mata ini keluar akibat saking nyerinya ketika dari telapak tangan itu keluar hawa panas seperti api yang membakar kepalanya yang botak. Akhirnya dia tak tahan lagi, menjerit-jerit dan melolong-lolong minta ampun dengan suaranya yang pelo (cedal).

"Ampun, orang tua gagah... ampun..."

Song-bun-kwi mendengus. Dia pun tidak suka dijadikan tontonan. "Aku sedang makan kau membikin ribut saja, menyebalkan sekali! Hayo lekas kau ambilkan tambahan arak!" Sekali dia mendorongkan lengannya, kepala bajak itu terlempar ke belakang menabrak bangku.

Dengan muka pucat serta tubuh menggigil kepala bajak yang biasanya ditakuti orang ini merangkak bangun, ada pun Song-bun-kwi dengan tenang duduk kembali ke bangkunya menghadapi meja makan. Dengan kening berkerut dia mengomel panjang pendek.

"Menyebalkan! Makanan ini sudah dingin semua, araknya sudah habis!"

Tiba-tiba saja para pelayan berdatangan membawakan arak dan masakan-masakan baru. Seperti main sulap saja tukang-tukang masak itu berlomba membuatkan masakan untuk kakek yang gagah perkasa ini.

Ada pun kepala bajak Si Tengkorak Hitam tadi sudah menjadi bulan-bulanan kemarahan para penduduk dan para jagoan pengawal. Dia diseret keluar kemudian digebuki sampai terkencing-kencing dan orang-orang baru menyudahi penyiksaan mereka setelah kepala bajak yang sudah membunuh ribuan itu tak bernapas lagi. Setelah itu barulah ramai-ramai mereka mengubur para korban dan merawat para pengawal yang terluka.

Sebentar saja kota pelabuhan itu menjadi ramai kembali seperti biasa. Kali ini memang sepatutnya mereka bergembira karena bukankah bajak laut-bajak laut yang menyerbu itu selain dapat dihancurkan, juga kepalanya sudah dapat ditewaskan? Jarang terjadi hal ini sehingga patut mereka bergembira.

Song-bun-kwi menoleh ke arah laki-laki yang tadi merupakan orang satu-satunya yang tidak lari dari restoran. Kebetulan laki-laki itu juga memandang kepadanya dan laki-laki itu cepat berdiri membungkuk dengan hormat lalu berkata,

"Saya merasa tunduk dan kagum sekali atas kegagahan locianpwe."

Song-bun-kwi mengerutkan keningnya yang mulai beruban, lalu dia melambaikan tangan, "Hayo kau ikut makan dengan aku. Meski pun kepandaianmu tidak seberapa, akan tetapi keberanianmu membikin kau cukup berharga untuk makan bersamaku."

Laki-laki itu tidak merasa tersinggung atau tak senang mendengar kata-kata yang angkuh ini. Cepat dia datang sambil membungkuk-bungkuk menyatakan terima kasihnya. Dengan lagak amat sopan dia lalu menarik bangku dan duduk di depan Song-bun-kwi.

Menyaksikan sikap merendah-rendah ini diam-diam Song-bun-kwi mendapat kesan tidak baik dan menganggap laki-laki ini sikapnya terlalu menjilat-jilat. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia lalu menyilakan laki-laki itu menikmati minuman dan masakan yang sudah disediakan oleh para pelayan yang merasa amat berterima kasih kepada dua orang itu karena sesungguhnya apa bila tidak ada dua orang tamu itu, tentu restoran mereka sudah habis dan rusak oleh para bajak.

Akhirnya Song-bun-kwi merasa kenyang juga. Dengan lengan bajunya yang lebar dia mengusapi mulutnya dan tangan kirinya mengelus-elus perut. Laki-laki di depannya itu membungkuk sambil tersenyum dan berkata,

"Locianpwe yang gagah perkasa, nama saya Teng Cun Le dari kota raja, hanya seorang pelancong biasa. Bolehkah kiranya saya mengetahui nama Locianpwe yang mulia?"

Sebal hati Song-bun-kwi mendengar ini. Dia sudah menyesal dan kecewa mengapa dia tadi mengundang orang ini yang kiranya hanya mendatangkan kesebalan di hatinya dan mengganggu ketenteramannya seorang diri. Dengan gerakan tangan seakan tidak sabar dia menjawab, "Aku she Kwee... sudahlah."

Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan cepat berkata, "Kau tentu tahu akan semua bajingan di daerah pantai timur ini, bukan?"

Orang itu terkejut, gugup bagaimana harus menjawab. Tapi segera dia dapat menguasai hatinya. "Apakah yang Locianpwe maksudkan? Jika yang dimaksudkan bangsat-bangsat cilik tiada nama, tentu saja saya tidak kenal. Akan tetapi tokoh-tokoh besar di pantai timur ini banyak juga yang saya ketahui."

Wajah Song-bun-kwi yang biasanya laksana kedok itu kini membayangkan kegirangan, "Bagus, kalau begitu, hayo lekas kau tunjukkan di mana tempat tinggal si iblis bangkotan Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang?"

"Tentu saja aku tahu, Locianpwe. Akan tetapi pada saat ini hwesio tua itu tidak berada di kelentengnya. Saya mendengar dari teman-teman bahwa dia sering kali berkunjung dan tinggal di tempat lain..."
"Sayang sekali!" Song-bun-kwi membanting kakinya sehingga tanah dalam rumah makan itu tergetar.

Kembali laki-laki yang mengaku bernama Teng Cun Le itu tercengang kagum.

"Jauh-jauh kucari iblis bangkotan itu, hendak kuajak dia bertanding selama tiga malam, kiranya dia malah minggat dan kabur! Huh, Thai-lek-sin iblis tua bangka, apa kau sudah menduga akan kunjunganku ke sini lalu kabur? Sayang...!" Sesudah berkata demikian, Song-bun-kwi bangkit dari bangkunya, kemudian tanpa pamit kepada siapa pun juga pergi meninggalkan restoran itu!

Para pelayan berikut para pengurus semua mengantar sambil membungkuk-bungkuk dan mulut mereka berdendang, "Selamat jalan, pendekar tua yang gagah perkasa!"

Namun Song-bun-kwi tidak mempedulikan mereka dan tidak peduli pula bahwa dia tidak membayar makanan, tidak peduli betapa orang-orang memandangnya dengan kagum dan penuh hormat. Dia terus saja melangkah lebar keluar dari restoran, tidak mau tahu biar pun dia bisa melihat betapa lelaki yang mengajaknya bicara tadi melemparkan beberapa keping uang perak ke atas meja makan, dan betapa para pengurus restoran berusaha menolak pembayaran yang royal ini.

Namun sebal juga hati Song-bun-kwi ketika mendapat kenyataan bahwa Teng Cun Le itu mengejarnya sambil berlari-lari cepat! Setibanya di luar kota pelabuhan itu, Song-bun-kwi membalikkan tubuh, tangannya mendorong dan... Teng Cun Le roboh terjungkal!

Baiknya, meski marah Song-bun-kwi yang berwatak aneh itu masih ingat akan kegagahan orang ini ketika melawan para bajak tadi, maka tidak bermaksud mengambil nyawanya. Maka dia hanya merasa terdorong oleh tenaga raksasa sehingga orang itu tidak mampu mempertahankan diri lagi dan roboh.

Dengan rasa kaget dan muka pucat Teng Cun Le merangkak bangun karena seketika dia merasa tubuhnya lemas dan kakinya menjadi lumpuh. Tahu-tahu kakek itu sudah berdiri di depannya dengan muka merah.

"Cacing busuk! Kau berani mengikuti dan mengganggu aku?" bentak Song-bun-kwi.

Melihat kemarahan kakek itu, Teng Cun Le tidak jadi berdiri, malah terus saja berlutut dan mengangguk-angguk. "Mohon beribu ampun, Locianpwe. Bukan sekali-kali maksud saya untuk mengikuti apa lagi mengganggu Locianpwe, hanya saya amat terdorong oleh rasa kagum… dan pula, teringat bahwa Locianpwe jauh-jauh datang mencari Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, agaknya saya dapat menunjukkan di mana adanya hwesio itu sekarang ini agaknya..."

"Hemm, kenapa tidak dari tadi kau bilang? Kalau tadi-tadi kau bilang, aku takkan curiga padamu dan takkan membikin kau roboh. Orang she Teng, mari tunjukkan aku di mana adanya hwesio bangkotan itu dan kau boleh ikut denganku untuk menonton pertempuran menarik antara aku dan dia."

Song-bun-kwi benar-benar gembira mendengar ada orang bisa mengantar dia kepada Thai-lek-sin. Bagus untungnya, baru saja makan lezat sekenyangnya dan sedikit ‘berlatih’ dengan Tengkorak Hitam bajak Jepang, dan sekarang dapat pula berkelahi sepuasnya melawan seorang tokoh setingkat!

Teng Cun Le dengan wajah berseri-seri segera bangkit dan berkata gembira, "Wah, kalau Locianpwe hanya ingin mencari lawan tangguh, kiraku kali ini Locianpwe akan mendapat kepuasan. Menurut pendengaran saya, sering kali Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang datang mengunjungi Pek-tiok-lim, tempat tinggal sahabatnya."

"Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih)? Di mana itu? Tempat tinggal siapa?" Song-bun-kwi mendesak gembira.
"Heran sekali bahwa Locianpwe belum mendengar tentang Pek-tiok-lim! Di sana adalah tempat tinggal seorang tokoh besar yang tak kalah terkenalnya bila dibandingkan dengan Thai-lek-sin. Dia itu adalah Sin-kiam-eng (Si Pendekar Pedang Sakti), ilmu pedangnya amat hebat dan anak perempuannya juga bukan main. Pendeknya, bila Locianpwe dapat bertanding melawan dia, tentu akan puas betul. Akan tetapi, saya benar-benar merasa ragu-ragu apakah saya akan mampu membawa Locianpwe ke sana."

"Kenapa?" Song-bun-kwi bertanya penasaran. Hatinya sudah panas mendengar orang ini memuji-muji majikan dari Pek-tiok-lim itu.
"Pek-tiok-lim adalah daerah yang penuh dengan rahasia. Jalan-jalannya sangat sukar dan kabarnya, orang yang memasukinya berarti mengantar nyawa karena jangan harap akan dapat keluar kembali dengan nyawa masih di badan."

Song-bun-kwi tak menjawab, tangan kanannya bergerak memukul dan kakinya menyapu. Serangan ini dia tujukan pada sebatang pohon besar, sebesar tubuh manusia batangnya dan sekali kena dihajar tangan dan kaki kakek itu, terdengar suara keras dan pohon itu seketika tumbang berikut akar-akarnya terjebol dari tanah. Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa pohon itu roboh dan orang she Teng itu buru-buru melompat jauh karena khawatir tertimpa cabang-cabang pohon itu.

"Ha-ha-ha, apakah pohon-pohon bambu putih itu kuatnya melebihi pohon ini?"

Song-bun-kwi tertawa bergelak melihat orang itu ketakutan sampai mukanya pucat dan lidahnya terjulur keluar.

"Hebat... luar biasa... Locianpwe seperti malaikat...!" Teng Cun Le memuji.

Benar-benar baru sekali ini selama hidupnya dia melihat manusia kosen ini. Diam-diam dia merasa girang. "Saya percaya bahwa Locianpwe pasti akan sanggup menggempur Pek-tiok-lim!"

Teng Cun Le dengan girang lalu mengajak kakek itu berlari cepat menyusuri pantai timur itu menuju ke utara. Pek-tiok-lim itu terletak di dekat pantai Laut Po-hai, dan memang tempat ini sudah bertahun-tahun dijadikan tempat tinggal seorang tokoh ilmu pedang yang terkenal, yaitu murid pertama dari mendiang Raja Pedang Bu-tek-kiam-ong Cia Hui Gan.

Nama tokoh ini adalah Tan Beng Kui dan mempunyai julukan Sin-kiam-eng. Seperti telah disebut di bagian depan dari cerita ini, Tan Beng Kui ini merupakan kakak kandung dari ketua Thai-san-pai, dan bukan lain adalah ayah dari pada si dara lincah Tan Loan Ki yang sudah kita kenal baik itu.

Benarkah Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang sering kali datang ke Pek-tiok-lim? Kenyataannya tidak demikian! Sebetulnya tanpa disadarinya, Song-bun-kwi si tokoh yang ditakuti dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu itu terkena bujukan halus. Apakah kehendak Teng Cun Le dan mengapa dia melakukan hal ini?

Teng Cun Le sebenarnya adalah seorang mata-mata dari istana. Dia adalah seorang di antara banyak kepercayaan kaisar baru untuk melakukan penyelidikan ke daerah-daerah melihat reaksi para tokoh daerah atas pengangkatan diri Pangeran Kian Bun Ti menjadi kaisar, menggantikan kaisar tua yang meninggal dunia. Teng Cun Le ini mendapat tugas memata-matai daerah pantai timur.

Tentu saja seorang yang sudah dipercayai tugas seperti ini mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan hal ini sudah terbukti ketika dia menyaksikan penyerbuan para bajak laut. Selain berkepandaian silat, juga orang yang diangkat menjadi mata-mata tentu saja orang yang cerdik dan memang Teng Cun Le ini cerdik sekali orangnya.

Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan seorang dara lincah yang sangat menarik perhatiannya. Dara itu bukan lain adalah Loan Ki. Melihat seorang gadis muda seorang diri melakukan perjalanan, Teng Cun Le maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang mempunyai kepandaian. Dia menjadi curiga dan diam-diam melakukan pengintaian.

Sama sekali dia tidak menduga bahwa gadis itu benar-benar amat lihai sehingga Loan Ki diam-diam tahu bahwa dirinya diintai orang! Dasar ia seorang anak yang memiliki watak nakal dan suka mempermainkan orang, maka sengaja gadis ini di dalam kamarnya membuka buntalannya, memamerkan bekal uang dan tiga buah mutiara Ya-beng-cu yang mengeluarkan cahaya di dalam gelap! Ia lakukan ini karena tahu bahwa di luar kamar ada orang itu yang selalu mengintainya selama ini!

Teng Cun Le menjadi terkejut dan gembira bukan main melihat tiga butir mutiara ini. Sebagai seorang kaki tangan kaisar, tentu saja dia mengenal mutiara itu yang tadinya menjadi penghias mahkota kuno yang telah hilang. Memang termasuk tugasnya untuk mencari jejak bekas pembesar Tan Hok karena menurut perintah rahasia yang dia terima, mahkota itu mengandung rahasia hebat dan harus dirampas kembali ke istana.

Sekarang dia melihat mutiara-mutiara itu, tentu saja girangnya bukan kepalang. Jika ada mutiara itu tentu ada pula mahkotanya, dan kalau ada mahkotanya tentu pengkhianat Tan Hok ada pula.

Loan Ki yang nakal itu pura-pura tidak tahu bahwa ia selalu diikuti. Dengan enak-enakan ia malah berjalan pulang ke Pek-tiok-lim seperti sengaja menunjukkan kepada orang itu di mana tempat tinggalnya. Melihat betapa dengan berani mati orang itu menguntitnya terus memasuki Pek-tiok-lim, diam-diam dia tertawa geli dan sebentar saja dia lenyap di jalan rahasia dalam hutan wilayah ayahnya itu.

Celakalah Teng Cun Le. Hampir saja binasa di dalam hutan ini. Untungnya dia sudah mulai curiga dan sebelumnya sudah mencari keterangan mengenai keadaan di situ. Dia sudah mendengar tentang Pek-tiok-lim, tempat kediaman tokoh besar Sin-kiam-eng dan puterinya. Maka melihat keadaan hutan yang penuh bambu putih ini, dia segera sadar dengan tengkuk meremang bahwa yang dia ikuti selama ini adalah puteri Sin-kiam-eng. Hal inilah yang menolongnya karena dia segera meninggalkan hutan itu dan kabur tanpa berani menoleh lagi.

Demikianlah pengalaman Teng Cun Le. Hatinya masih merasa penasaran. Segera dia mengadakan hubungan dengan kurir yang berkuda cepat ke kota raja. Alangkah kagetnya pada saat dia mendengar berita bahwa memang mahkota kuno itu yang tadinya sudah terampas oleh panglima istana Souw Ki, sudah dirampas kembali oleh seorang gadis liar puteri Sin-kiam-eng.

Dia girang bercampur bingung. Girang karena tahu betul bahwa mahkota itu tentu berada di Pek-tiok-lim, namun bingung bagaimana dia dapat merampasnya kembali.

Dia hendak mengirim utusan ke istana, mengusulkan agar secara resmi kaisar mengutus rombongan meminta kembali mahkota itu secara baik-baik dari Sin-kiam-eng. Kalau kaisar yang meminta, sudah tentu akan dikembalikan dan tidak akan terjadi sesuatu keributan. Andai kata Sin-kiam-eng berani menolak, berarti dia telah memberontak dan boleh saja digempur menggunakan pasukan.

Sambil menunggu keputusan, Teng Cun Le iseng-iseng mendatangi kota pelabuhan dan secara tidak disengaja bertemu dengan Song-bun-kwi. Dia masih belum dapat menduga siapa adanya kakek yang hebat ini, akan tetapi segera otaknya yang cerdik bekerja ketika mendapat kenyataan betapa kakek sakti ini seperti gatal-gatal tangannya hendak mencari lawan yang setingkat.

Maka, dia kini hendak mempergunakan kesaktian kakek ini untuk memasuki Pek-tiok-lim, menggunakan kesaktian kakek ini untuk merampas kembali mahkota itu. Dengan cara ini, selain lebih cepat juga semua pahala akan terjatuh ke dalam tangannya…..

********************
"Heh, keparat! Tua bangka gila dari mana yang berani mati merusak bambu peliharaan di Pek-tiok-lim...?!" bentak dua orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata pedang.

Tentu saja mereka ini marah sekali melihat betapa seorang kakek tinggi besar, sambil tertawa-tawa mencabut, menendang, serta melempar-lemparkan bambu-bambu putih di hutan itu begitu mudah seperti seorang mencabuti dan membuang-buang rumput kering saja!

Semenjak Pek-tiok-lim dimiliki oleh majikan mereka, jangankan manusia, malah setan pun kiranya tak akan berani merusak tanaman di situ. Ehh, tahu-tahu sekarang ada seorang kakek tua ini seperti seorang gila merusak tanaman dan di belakang kakek itu berdiri seorang laki-laki berpakaian mentereng yang tertawa-tawa juga.

Kakek itu bukan lain adalah Song-bun-kwi. Dia sudah mulai merusak bambu-bambu yang berada di luar hutan, dalam usahanya menyerbu Pek-tiok-lim untuk mencari Thai-lek-sin, menantangnya dan sekalian menantang pemilik hutan ini, yang menurut orang she Teng itu adalah seorang tokoh besar berjulukan Sin-kiam-eng. Sengaja Song-bun-kwi mencari perkara. Hatinya yang masih mengkal terbawa dari Min-san belum mencair dan dia mesti mendapatkan sesuatu untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.

Melihat munculnya dua orang penjaga yang memakinya, kakek itu diam saja seperti tak mendengar dan tetap melanjutkan pekerjaannya merusak tanaman di situ. Tentu saja dua orang penjaga itu marah sekali. Sambil membentak dan memaki mereka menerjang kakek itu dengan kepalan tangan.

Akan tetapi biar pun tak kompak kakek itu bergerak menangkis atau memukul, tahu-tahu dua orang itu sendirilah yang terjengkang ke belakang dengan kepala benjol-benjol akibat terbanting ke atas tanah yang berbatu! Mereka kaget, heran berbareng marah. Sambil mengutuk keras mereka mencabut pedang.

"Kakek gila, kau sudah bosan hidup!" teriak mereka sambil menerjang, kini dua batang pedang itu menyambar dari kanan kiri.

Namun Song-bun-kwi terus saja merobohkan dan mencabuti bambu-bambu putih tanpa mempedulikan sambaran kedua pedang. Seperti juga tadi, dia tidak kelihatan bergerak menangkis atau mengelak apa lagi memukul, tapi tahu-tahu dua orang itu terjengkang ke kanan kiri dan pedang mereka terlepas dari tangan.

Celakanya, kini mereka jatuh menyusup ke tumpukan bambu yang telah dicabut sehingga pakaian mereka menjadi robek semua. Tubuh mereka juga babak-bundas berdarah akibat tertusuk batang-batang bambu.

"Ha-ha-ha, anjing-anjing rendah. Apa mata kalian buta berani menyerang locianpwe ini? Lebih baik lekas panggil ke sini majikan kalian untuk bicara." Teng Cun Le menggunakan kesempatan ini untuk memancing keluar Sin-kiam-eng.

Dua orang itu merangkak bangun lalu tiba-tiba seorang di antara mereka meniup sebuah terompet kecil yang berbunyi nyaring. Song-bun-kwi terus saja melangkah maju sambil merusak pohon-pohon bambu di kanan kirinya. Teng Cun Le mengikuti jejak langkahnya, sama sekali tidak berani menyeleweng karena tahu bahwa di situ banyak tempat rahasia.

Sebentar saja mereka telah memasuki hutan.....

Tiba-tiba terdengar suara keras, tanah yang diinjak Song-bun-kwi melesak ke bawah dan tubuh kakek itu tergelincir masuk! Teng Cun Le menjadi pucat wajahnya. Baiknya tanah yang melesak ke bawah itu belum diinjaknya dan tepinya tepat berada di depan kakinya sehingga dia dapat menyaksikan betapa tubuh kakek tinggi besar itu tergelincir.

Hebat dan ngerinya, dari bawah tanah lantas menyambar puluhan batang bambu runcing seolah-olah dilontarkan ke atas. Tentu saja tubuh kakek yang sedang tergelincir itu seperti dihujani bambu runcing dari bawah!

Akan tetapi Song-bun-kwi sama sekali tidak kaget, malah mengeluarkan suara ketawa mengejek. Kedua kakinya menendang ke kanan kiri, lengan bajunya juga mengebut ke sekeliling tubuhnya. Ketika empat buah bambu runcing yang tepat menyambar di bawah tubuhnya sudah mendekati kaki, dia malah... menerima ujung bambu runcing itu dengan kedua kakinya!

Teng Cun Le hampir meramkan mata saking ngerinya karena apa bila kakek ini tewas, bukankah berarti dia sendiri juga terancam mala petaka? Akan tetapi, anehnya, bambu runcing empat buah itu sama sekali tidak menembus kaki si kakek, malah seperti tangan-tangan orang mendorong kakek itu mencelat kembali ke atas dan di lain saat kakek itu sudah melompati sumur besar yang terjadi karena tanah ambles itu!

Dari tepi lain, kakek itu menoleh kepadanya dan memberi isyarat supaya dia melompat. Teng Cun Le cepat menggunakan ginkang melompati sumur itu dan bergidiklah dia pada saat melihat betapa ujung-ujung bambu runcing itu tampak hitam kehijauan, tanda bahwa ujungnya sudah diberi racun!

Kini makin tebal kepercayaannya akan kelihaian si kakek. Dia kini dapat menduga bahwa kakek itu tadi sudah mempergunakan ginkang yang sangat luar biasa untuk menerima serangan bambu runcing, kemudian menggunakannya sebagai landasan untuk melompat ke atas. Betapa hebatnya! Menggunakan landasan benda runcing untuk mengenjot tubuh ke atas hanya dapat dilakukan oleh ahli-ahli silat kelas tertinggi.

Diam-diam Teng Cun Le mulai menduga-duga siapa adanya kakek yang sangat sakti ini dan kadang-kadang dia merasa bulu tengkuknya berdiri. Dia maklum bahwa kini dia telah memasuki pintu perjalanan yang amat berbahaya.

Belum seratus langkah mereka maju, dari depan dan kanan kiri muncullah belasan orang bersenjata pedang atau tombak. Mereka segera mengurung dan salah seorang di antara mereka membentak,
"Kalian berdua menyerah saja untuk kami bawa menghadap majikan kami."

Teng Cun Le melirik dan melihat betapa orang-orang itu semakin banyak saja, juga kini beberapa orang muncul di belakangnya sehingga sekejap saja mereka telah dikurung oleh lebih dari tiga puluh orang yang dikepalai oleh empat orang yang kelihatannya gagah dan kuat. Diam-diam dia bersiap sedia dan meraba gagang goloknya.

Song-bun-kwi tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Teng Cun Le sambil berkata, "Kau bilang majikan Pek-tok-lim tokoh yang gagah? Huh, agaknya dia hanya orang kaya yang memelihara banyak anjing-anjing pemakan tahi belaka!"

Hebat hinaan ini. Empat orang penjaga tanpa diperintah pemimpinnya lantas membentak marah dan mengerjakan tombak mereka. Mereka adalah pemain tombak yang kuat sebab mereka menerima latihan dari majikan mereka sendiri. Ujung tombak-tombak itu tergetar saking besarnya tenaga yang menggerakkan ketika menusuk ke arah Song-bun-kwi dari empat jurusan.

"Tua bangka mau mampus masih amat sombong!" bentak seorang di antara mereka.

Melihat cara mereka menerjang dengan tombak, Teng Cun Le masih berdebar gelisah karena benar-benar kali ini puluhan orang yang mengurung mereka adalah orang-orang yang kuat dan tidak boleh dipandang rendah seperti halnya dua orang penyerang pertama tadi. Melihat getaran ujung tombak itu dia sendiri merasa sangsi apakah dia akan dapat menangkan empat orang lawan ini sekaligus.

Akan tetapi dengan amat tenang sambil mengeluarkan suara mendengus, Song-bun-kwi menggerakkan kedua lengan bajunya. Hebat kesudahannya.

Terdengar suara pletak-pletak terpatahkannya gagang-gagang tombak itu. Mata tombak secara aneh dan cepat sekali menyambar ke arah tuan masing-masing. Empat orang itu memekik ngeri dan tak ada seorang pun di antara mereka yang dapat membebaskan diri dari serangan mata tombak mereka sendiri itu yang menancap ke dada atau perut mereka sampai tak nampak lagi. Keempatnya lalu roboh terjengkang, berkelojotan dan sebentar kemudian tak bergerak lagi untuk selamanya.

Hebat akibat sepak terjang kakek ini. Teng Cun Le sendiri sampai mengkirik ngeri dan memandang dengan mata terbelalak. Celaka, pikirnya, tidak dinyana sama sekali bahwa kakek ini begini ganas, sekali turun tangan lantas membunuh empat orang.

Maksudnya memancing kakek itu ke Pek-tiok-lim sebetulnya hanya hendak dia ‘boncengi’ saja, dan kepandaian kakek ini hendak dia gunakan untuk memaksa Sin-kiam-eng agar mengembalikan mahkota kuno. Siapa kira sekarang kakek itu agaknya hendak berpesta seperti tadi di restoran, kalau tadi berpesta makan minum, sekarang hendak berpesta membunuhi orang. Kalau begini caranya, kecil harapannya untuk minta kembali mahkota, karena perkelahian ini akan mengakibatkan permusuhan hebat dan dia mau tak mau akan terlibat di dalamnya. Celaka sekali!

Memang benar apa yang dikhawatirkan oleh Cun Le itu. Para anak buah Sin-kiam-eng menjadi kaget dan marah bukan main ketika menyaksikan tewasnya empat orang teman mereka. Sambil berteriak-teriak mereka lalu serentak menyerbu dan di lain saat terjadilah pertempuran hebat.

Song-bun-kwi dikeroyok oleh puluhan orang, dipimpin oleh empat orang gagah itu yang hebat pula ilmu pedangnya. Akan tetapi, Song-bun-kwi melayani meraka sambil tertawa bergelak-gelak seperti seorang anak kecil mendapat permainan bagus.

Harus diketahui bahwa Song-bun-kwi ini dahulu merupakan manusia berwatak iblis yang amat jahat dan kejam di samping perangainya yang aneh. Kesukaannya hanya satu, yaitu berkelahi dan mengalahkan orang lain. Maka tidak aneh kalau kini, dalam kemarahannya terhadap cucunya, dia pergi dengan tangan dan hati gatal-gatal untuk sengaja mencari permusuhan dengan siapa pun juga.

Tentu saja dia merasa kurang gembira kalau bertemu dengan lawan yang rendah tingkat kepandaiannya, dan barulah hatinya bergembira kalau bertanding melawan jagoan yang setingkat. Makin kosen lawannya, makin gembiralah hatinya. Oleh karena sifat yang aneh ini pula maka dia mati-matian mencari Thai-lek-sin.

Kasihan sekali para pengeroyok itu. Mereka seperti serombongan nyamuk menyerang api. Siapa dekat dengan kakek itu pasti roboh, kalau tidak terus tewas tentu luka-luka. Siapa yang sudah roboh tidak akan dapat bangun untuk mengeroyok kembali karena luka yang dideritanya tentu patah tulang!

Sambil dengan enaknya membabati para pengeroyoknya bagai orang membabat rumput, kakek itu berseru berulang kali, "Panggil si tua bangka Thai-lek-sin ke sini, ha-ha-ha-ha, dialah lawanku, panggil dia ke sini...!"

Sementara itu, Teng Cun Le hanya berdiri di belakang Song-bun-kwi, siap dengan golok di tangannya tapi dia tidak menggerakkan golok kalau tidak diserang orang. Akan tetapi para pengeroyok juga tidak ada yang menyerangnya karena melihat betapa orang ini tidak mengamuk seperti kakek itu.

Pada saat anak buah Pek-tiok-lim itu kocar-kacir dihajar kedua lengan baju Song-bun-kwi yang amat lihat, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang yang amat cepat dan ringan gerakannya, kemudian segulung sinar pedang menyambar ke arah Song-bun-kwi.

"Ha-ha-ha, bagus!" Kakek itu yang terkejut sedetik, tertawa sambil cepat berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri dari pada ancaman pedang yang gerakannya amat kuat ini. Girang sekali hatinya bahwa akhirnya muncul seorang lawan yang tangguh ilmu pedangnya.

Ketika dia sudah turun lagi ke atas tanah, dia memandang dan melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tegap bermuka tampan dan gagah, berdiri di depannya dengan sebatang pedang di tangan. Sikap laki-laki ini gagah dan berwibawa. Sepasang matanya mencorong laksana mata harimau, tarikan mulutnya membayangkan kekerasan dan keangkuhan hati. Pakaiannya berbentuk sederhana tapi terbuat dari pada sutera halus. Sungguh seorang yang nampak gagah perkasa dan mudah diketahui bahwa orang dengan sikap seperti ini sudah pasti memiliki ilmu silat yang tinggi.

Sebaliknya, laki-laki itu ketika melihat wajah Song-bun-kwi, segera kelihatan terkejut dan cepat menegur,
"Kiranya Song-bun-kwi Kwee lo-enghiong yang datang! Kwee lo-enghiong, apa artinya ini semua? Mengapa kau orang tua datang-datang mengamuk dan membunuh banyak anak buah dan muridku?"

Song-bun-kwi juga kaget saat mengenal majikan Hutan Bambu Putih ini. Tak disangkanya sama sekali bahwa yang berjuluk Sin-kiam-eng itu kiranya adalah Tan Beng Kui, kakak kandung Tan Beng San ketua Thai-san-pai. Akan tetapi sebagai seorang tokoh aneh yang tak mau kalah dan selalu membawa kehendak sendiri, dia tertawa bergelak dan berkata,
"Ha-ha-ha, kaukah majikan Pek-tiok-lim? Sungguh kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Hayo kau suruh Thai-lek-sim si tua bangka itu keluar, biar melayani aku bertanding seribu jurus. Atau kau juga gatal tangan hendak memamerkan ilmu pedangmu? Ha-ha-ha, kalau begitu biar aku mewakili Beng San memberi hajaran kepadamu!"

Yang amat sangat kaget hatinya adalah Teng Cun Le. Ketika mendengar bahwa kakek itu adalah Song-bun-kwi, dia merasa semangatnya seakan terbang melayang meninggalkan raganya.

Tentu saja dia sudah pernah, bahkan sering kali, mendengar nama Song-bun-kwi sebagai iblis yang ganas. Siapa kira sekarang dia telah main-main dengan iblis itu! Meremang bulu tengkuknya seketika karena maklum bahwa main-main dengan seorang terkenal sebagai iblis ini sama artinya dengan main-main dengan nyawanya sendiri!

Tapi ketika mendengar betapa iblis tua itu malah menantang Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, hatinya lega juga. Sudah terlanjur dia main-main, biarlah dia lanjutkan dan membonceng kesaktian kakek iblis itu demi keuntungannya. Sejak tadi ia berdiam diri, ini penting sekali.

Andai kata Song-bun-kwi kalah, dia akan mudah mencari alasan agar tidak dipersalahkan oleh Sin-kiam-eng berdasarkan tidak ikutnya mengamuk melawan anak buah Pek-tiok-lim. Sebaliknya kalau Song-bun-kwi menang, dia akan menggunakan kemenangan kakek itu untuk minta kembali mahkota kuno dari tangan orang gagah itu.

Sementara itu, Sin-kiam-eng sudah menjadi marah sekali begitu dia mendengar jawaban Song-bun-kwi tadi. Dengan sikap kereng dan mata berapi dia membentak.
"Tua bangka she Kwee, kau benar-benar iblis yang tidak aturan. Kalau hendak mencari Thai-lek-sin yang tidak berada di sini, atau hendak menantang aku mengadu kepandaian, kenapa mesti pakai membunuh-bunuhi orang-orangku yang tidak tahu apa-apa? Apakah ini perbuatan orang gagah?"
"Ha-ha-ha-ha, Tan Beng Kui bocah sombong. Kalau mereka tidak mengeroyok aku si tua bangka, apakah mereka itu bisa mampus sendiri? Hayo lekas keluarkan ilmu pedangmu, ha-ha-ha, sudah lama benar aku merindukan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut, ilmu pedang yang berhasil dipakai oleh murid untuk membunuh gurunya sendiri itu, ha-ha-ha!"

Ucapan Song-bun-kwi benar-benar menusuk ulu hati Beng Kui. Seperti dikisahkan dalam cerita Rajawali Emas, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini dulu adalah murid kepala dari Raja Pedang Cia Hui Gan dan raja pedang ini tewas karena pengeroyokan beberapa orang tokoh tinggi, di antaranya juga Song-bun-kwi Kwee Lun sendiri. Dan yang paling hebat, murid kepala itu juga ikut mengeroyok gurunya!

Seketika wajah Beng Kui menjadi pucat bukan main. Dengan mata berapi dia membentak, "Song-bun-kwi iblis laknat! Kaulah seorang pengeroyok guruku itu dan biarlah sekarang aku menebus dosa terhadap guru dengan membalaskan sakit hatinya kepadamu." Sinar berkilauan menyambar dan tahu-tahu pedang di tangan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui telah menyerbu ke arah Song-bun-kwi.

Kaget juga iblis tua ini menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawannya. Dalam beberapa tahun ini agaknya Tan Beng Kui tidak menganggur saja, akan tetapi memperdalam ilmu pedangnya sehingga makin cepat dan kuat, mengandung hawa serangan yang dahsyat. Song-bun-kwi cepat mengibaskan ujung lengan bajunya menangkis sinar pedang yang demikian cepat mengancam dadanya.

"Brettt!"

Ujung lengan baju itu terbabat putus, akan tetapi Sin-kiam-eng sendiri terhuyung mundur dua langkah. Dari keadaan ini saja dapat dibayangkan betapa hebatnya dua orang yang kini sedang berhadapan ini. Keduanya merupakan jago-jago tua yang tak boleh dipandang ringan.

Kaget hati Song-bun-kwi. Akan tetapi segera dia kegirangan sekali karena walau pun dia tidak bertemu dengan Thai-lek-sin, kiranya jago pedang ini cukup tangguh untuk dia ajak berlatih. Memang bagi seorang tokoh bangkotan seperti Song-bun-kwi, bertempur hanya merupakan latihan belaka dan luka atau pun tewas dalam latihan ini bukanlah apa-apa baginya, lumrah saja!

Terbabat putus ujung lengan bajunya, Song-bun-kwi malah tertawa bergelak. Tahu-tahu sebatang pedang sudah berada pada tangannya dan segera terjadilah pertandingan yang hebat bukan main.

Ilmu pedang yang dimainkan oleh Tan Beng Kui merupakan ilmu pedang keturunan yang bersumber pada Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam pula, yaitu ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (ilmu Pedang Bidadari). Akan tetapi karena ilmu pedang ini dahulunya khusus diciptakan untuk pemain wanita, maka oleh Beng Kui telah diubah dan ditambah sedemikian rupa sehingga ketika dia yang mainkan, dari sebuah ilmu pedang seperti tari-tarian yang amat indah, ilmu pedang ini berubah menjadi sebuah ilmu pedang yang sifatnya ganas serta sukar diikuti perubahan dan perkembangannya.

Pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang pecah ke sana ke mari seperti bunga api. Akan tetapi bagaikan bunga api, setiap pecahan atau letupan bunga api juga merupakan penyerangan ujung pedang yang akan dapat merobohkan lawan karena yang diserang selalu bagian-bagian tubuh yang lemah. Apa lagi kini menghadapi seorang tokoh besar seperti Song-bun-kwi, tentu saja Sin-kiam-eng Tan Beng Kui tak berani main-main. Dia sengaja mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh ilmu simpanan yang dimilikinya.

Di lain pihak, Song-bun-kwi bukan seorang jagoan baru. Siapa yang tidak mengenai Si Setan Berkabung ini? Namanya dahulu menggegerkan kolong langit, dikenal oleh semua jagoan sejagat. Selain ilmu kepandaiannya beraneka macam dan hebat-hebat, juga pada akhir-akhir ini dia telah menemukan kitab yang mengandung inti pelajaran Yang-sin-kiam sehingga kalau dia boleh diumpamakan sebagai seekor singa, dengan mendapatkan ilmu Yang-sin-kiam ini dia seakan-akan mendapat sepasang sayap menjadi singa bersayap!

Begitu hebat kepandaian kakek ini sehingga amat jarang orang di dunia persilatan melihat dia bertempur menggunakan pedangnya. Biasanya, hanya dengan menggunakan senjata berupa sepasang ujung lengan bajunya saja, sukarlah lawan mengalahkan kakek sakti ini.

Akan tetapi, menghadapi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang dimainkan oleh Tan Beng Kui sekarang ini, tidak mungkin kakek sakti ini hanya melawan dengan kedua ujung lengan bajunya. Sin-kiam-eng terlampau kuat untuk itu, dan Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang pilihan di seluruh muka bumi ini, masih merupakan pemecahan dari ilmu sakti Im-yang Sin-kiam, karenanya tidak boleh dibuat main-main. Inilah sebabnya kenapa terpaksa kali ini Song-bun-kwi mengeluarkan pedangnya dan segera pula mainkan Yang-sin Kiam-sut untuk menghadapi ilmu pedang lawan.

Sesungguhnya, Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut masih satu sumber dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut. Keduanya bersumber dari inti sari Ilmu Im-yang Sin-hoat yang ratusan tahun yang lampau dimiliki oleh Pendekar Sakti Bu Pun Su. Hanya saja Sian-li Kiam-sut adalah ciptaan Pendekar Wanita Ang I Niocu menurut sumber itu, sedangkan Yang-sin Kiam-sut langsung datang dari Pendekar Sakti Bu Pun Su.

Sayangnya, Yang-sin Kiam-sut merupakan ilmu pedang tidak lengkap, karena lengkapnya adalah Im-yang Sin-kiam yang merupakan ilmu pedang gabungan dari Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam, yang berdasarkan pada dua jenis tenaga dalam tubuh, yaitu tenaga halus dan tenaga kasar, hawa dingin dan hawa panas.

Seperti diketahui, ilmu pedang Im-yang Sin-kiam sekarang ini hanya dimiliki oleh ketua Thai-san-pai, yaitu Tan Beng San, dan malah sudah diturunkan oleh pendekar ini kepada Kwa Kun Hong setelah pemuda ini menjadi buta kedua matanya.

Agaknya karena satu sumber inilah, maka pertandingan yang terjadi antara Sin-kiam-eng Tan Beng Kui dengan Song-bung-kwi Kwee Lun hebat luar biasa. Memang harus diakui bahwa menurut pertimbangan umum, tingkat kakek ini lebih tinggi dari pada tingkat Tan Beng Kui.

Namun selama beberapa tahun menyembunyikan diri setelah kalah oleh adik kandungnya sendiri, Tan Beng San, Tan Beng Kui tidak tinggal diam dan tekun memperdalam ilmu kepandaiannya sehingga sekarang dalam menghadapi Song-bun-kwi, dia tidak kalah jauh dalam hal tenaga lweekang. Ia hanya masih kalah dalam pengalaman dan keuletan sebab jika kakek iblis ini diumpamakan daging adalah daging gerotan yang tidak akan menjadi empuk biar digodog selama tiga tahun juga!

Jurus demi jurus dikeluarkan oleh kedua orang jago kawakan itu, akan tetapi setiap jurus serangan selalu dapat dipunahkan oleh jurus pertahanan lawan. Pada mulanya Beng Kui berusaha mendobrak pertahanan lawan dengan mengandalkan tenaganya, menggunakan kekerasan untuk mencapai kemenangan. Pikirnya bahwa dia yang lebih muda tentu lebih bertenaga.

Akan tetapi melesetlah perkiraannya karena kakek itu benar-benar makin tua makin kuat tenaganya, atau setidaknya tak pernah tenaganya berkurang sehingga pada saat pedang mereka bertemu, keduanya lantas tergetar, bunga api berpijar menyambar ke sana sini, dan telapak tangan mereka terasa sakit-sakit.

Cepat mereka memeriksa pedang masing-masing. Mereka baru menjadi lega dan saling menyerang lagi setelah mendapat kenyataan bahwa pedang mereka tidak rusak karena benturan hebat itu.

Sesudah beberapa kali tenaga besarnya membentur karang, Beng Kui tidak mau lagi menggunakan kekerasan. Dia mulai main halus mengandalkan kelincahan dan keindahan Sian-li Kiam-sut sambil mencari kesempatan serta lowongan. Namun, hebat pertahanan Song-bun-kwi dengan Yang-sin Kiam-sut-nya, malah kakek ini dapat balas menyerang tak kalah hebatnya.

Setelah lewat lima ratus jurus, terasalah bagi Beng Kui bahwa betapa pun juga, ia takkan mampu menangkan kakek sakti ini. Dia berseru keras dan tiba-tiba pedangnya berubah menjadi segulung sinar yang memusat dan terbang lurus menyerang ke arah dada lawan.

Hebat sekali serangan ini yang merupakan jurus inti dari Sian-li Kiam-sut. Seakan-akan semua kehebatan dari ilmu pedang itu, semua kelincahan dan kekuatan, dipusatkan pada gerakan ini dan pedang didorong oleh tenaga serta semangat sepenuhnya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya!

"Bagus!" Song-bun-kui mau tak mau memuji lawannya karena memang jurus serangan ini hebat bukan main, hawa pedang mendahului dan terasa sangat dingin menusuk tulang sedangkan matanya sampai silau oleh sinar pedang lawan.

Untuk menyelamatkan dirinya, dia memutar pedangnya melindungi dada. Namun betapa kagetnya ketika gulungan sinar itu masih mampu menerobos perisai yang tercipta oleh pemutaran pedang itu, tahu-tahu hampir saja mencium dadanya. Cepat bagaikan kilat Song-bun-kwi membuang diri ke belakang sambil berseru keras dan mengibaskan lengan baju kiri.

"Brettttt!"

Lagi-lagi ujung lengan bajunya terbabat buntung, akan tetapi dia selamat dan mukanya berubah merah saking marahnya. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan lengking tinggi seperti orang menangis dan tahu-tahu tangan kirinya sudah mengeluarkan senjata jimatnya yang puluhan tahun tidak pernah dikeluarkan, yaitu sebatang suling. Inilah ‘suling tangis’ yang dahulu setiap kali terdengar suaranya membuat penjahat-penjahat bagaikan setan jatuh bangun dan iblis tunggang langgang.

Kini Song-bun-kwi mengamuk seperti iblis itu sendiri. Pedang dan sulingnya menyambar-nyambar merupakan dua gulungan cahaya yang kadang-kadang berkumpul menjadi satu menyelubungi Beng Kui dari segala penjuru. Makin lama penyerangannya semakin hebat dan dahsyat dan makin lemahlah pertahanan Tan Beng Kui yang merasa terkejut bukan main.

Beng Kui tak menyangka bahwa suling di tangan kiri kakek itu tak kalah hebatnya dengan pedang yang berada di tangan kanan. Dia merasa seakan-akan dikeroyok oleh dua orang lawan. Seorang Song-bun-kwi masih mampu dia hadapi, tapi dua orang Song-bun-kwi...? Terlalu banyak dan terlalu kuat baginya. Dia pun mengeluh dan maklum bahwa terhadap seorang lawan seperti kakek ini tidak ada kata ampun, tidak ada istilah mundur, yang ada hanya menang atau mati.

Tiba-tiba berkelebat bayangan yang amat ringan gerak-geriknya, disusul bentakan yang nyaring merdu, "Berhenti dulu! Tangan senjata!"

Tahu-tahu di situ sudah muncul seorang gadis muda dengan pedang di tangan, seorang gadis yang cantik manis, lincah, tabah. Dara lincah ini bukan lain adalah Loan Ki.

Namun terhadap bentakan seorang dara muda seperti Loan Ki ini, Song-bun-kwi mana mau peduli? Tentu saja Tan Beng Kui tidak dapat menahan senjata sepihak, karena hal ini berarti dia akan celaka. Kalau kakek itu tidak menghendaki berhenti, bagaimana dia bisa menghentikan pertempuran yang mati-matian itu? Memang dia ingin sekali menghentikan pertandingan, karena dia merasa lelah setelah bertanding selama lima ratus jurus lebih!

"Ihh, Kakek Song-bun-kwi ternyata namanya saja yang besar. Orangnya sih begitu-begitu saja, malah curang dan pengecut! Kalau tidak begitu masa menggunakan kesempatan menghina orang lain? Agaknya kalau berhenti sebentar saja lalu khawatir kalah. Hi-hi-hik, inikah tokoh nomor satu dari barat?"

Tan Beng Kui terkejut, juga para anak buahnya yang mendengar ucapan ini. Alangkah nekatnya Loan Ki, alangkah beraninya menghina seperti itu terhadap seorang iblis seperti Song-bun-kwi. Tentu saja kakek itu sendiri pun mendengar semua ucapan Loan Ki.

Mendadak dia mengeluarkan suara gerengan laksana harimau, tubuhnya melayang cepat sekali ke arah Loan Ki. Gadis itu kaget sekali, menggerakkan pedangnya, tapi tahu-tahu pedangnya terpental jauh dan kakek itu sudah berdiri di hadapannya sambil menodong batang lehernya dengan pedang!

"Bocah bermulut busuk!" Song-bun-kwi memaki. "Apa kau bilang tadi?"

Beng Kui pucat mukanya. Dia merasa takkan mampu melindungi puterinya yang ditodong sedemikian rupa oleh kakek yang lihai ini. Dia hanya bisa berteriak, "Song-bun-kwi, jangan layani bocah. Lepaskan anakku dan hayo kita lanjutkan pertempuran seribu jurus lagi!"

Ucapan ini benar saja membuat Song-bun-kwi meragu dan menurunkan pedang yang tadi ujungnya menodong leher Loan Ki. "Anakmu terlalu lancang mulut..." dia mengomel.

Loan Ki mencebirkan bibirnya yang kecil merah, lalu berkata, "Biarlah Ayah, biar saja dia ini mendengarkan ucapanku lebih dulu. Setelah mendengar ucapanku, baru aku tantang dia bertempur sampai sepuluh ribu jurus. Ehh, tua bangka, kau berani tidak?"

"Setan cilik! Tidak berani padamu lebih baik mampus!"
"Nah, kalau begitu mampuslah, sebab kau tidak berani mendengarkan kata-kataku. Berani tidak mendengarkan kata-kataku?"

Song-bun-kwi membanting-banting kaki. Tangannya gatal-gatal untuk sekali menggaplok menghancurkan kepala cantik yang memanaskan hatinya ini.

"Buka bacotmu, lekas kau mau bilang apa jangan banyak tingkah!"

Loan Ki tersenyum dan memainkan matanya yang jeli, mengerling ke arah Teng Cun Le yang menjadi tidak enak hatinya ketika mengenal gadis yang mempunyai mutiara-mutiara hiasan mahkota kuno itu.

"Kakek Song-bun-kwi, seorang tokoh tua macam kau ini mana pantas menurunkan tangan kepada seorang bocah seperti aku? Nah, dengarlah omonganku. Jika kau tidak menjawab dengan semestinya, mulai sekarang ini aku yang masih kanak-kanak akan menganggap bahwa semua nama besarmu kosong melompong belaka, bahwa mungkin kau Song-bun-kwi palsu karena yang tulen bukan macam begini tingkahnya..."
"Cukup, lekas bicara! Setan!" Song-bun-kwi membentak.

Loan Ki meleletkan lidahnya. "Waduh galaknya, kalau begitu kau agaknya yang tulen, bukan pengecut, bukan iblis curang. Kakek Song-bun-kwi, kau katanya seorang pendekar gagah segala jaman, kenapa hari ini melakukan perbuatan begini memalukan, menyerbu tempat tinggal ayahku dan membunuhi orang-orang kami tanpa alasan? Memusuhi orang tanpa punya alasan hanyalah perbuatan manusia rendah dan sepanjang pendengaranku, Song-bun-kwi si iblis tua sama sekali bukanlah orang rendah! Nah, jawab, mengapa kau melakukan semua ini, memusuhi ayahku tanpa sebab?"

Dengan cemberut Song-bun-kwi terpaksa menjawab karena kalau dia tidak menjawab, sama saja artinya dengan mengakui bahwa dia seorang pengecut, curang dan manusia rendah! Dia boleh jadi lihai sekali dalam ilmu silat, namun dalam hal silat kata-kata mana dia becus melawan Loan Ki si dara lincah yang amat cerdik dan nakal ini?

"Bocah setan jangan coba bicara pokrol-pokrolan kepadaku. Aku datang ke sini hendak mencari si tua bangka Thai-lek-sin, tapi orang-orangmu tidak tahu aturan mengeroyokku. Mereka mampus karena tak ada kepandaian, kenapa salahkan aku? Ayahmu merupakan lawan yang lumayan, kenapa selagi kami berdua sedang enak-enak saling gebuk untuk menentukan siapa lebih kuat, kau datang-datang mengacau? Heh, Tan Beng Kui, apa kau tidak bisa jewer telinga anakmu yang cerewet ini? Jewer dan usir ia, mari kita bertempur terus!"

Akan tetapi Loan Ki mana mau habis sampai di situ saja? Anak ini terlalu cerdik hingga ia tahu betul bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, ayahnya tentu akan celaka. Sebelum ayahnya yang juga gemar bertanding itu terbujuk oleh lawan, ia mendahului dengan suara nyaring,

"Kakek tua, kau benar-benar pandai mencari alasan! Selama hidupku belum pernah aku melihat tua bangka berjuluk Thai-lek-sin di tempat ayah ini, dan sekarang kau menyebut namanya untuk alasan perbuatanmu mengacau di sini! Huh, siapa sudi untuk kau akali? Benar-benar tak kusangka bahwa jagoan tua tenar Song-bun-kwi ternyata hanya seorang tukang bohong belaka!"

"Bocah, jangan sembarangan menuduh yang bukan-bukan! Aku tak menggunakan alasan kosong. Orang she Teng ini yang bilang bahwa aku akan dapat menemukan Thai-lek-sin di sini. Betul tidak, orang she Teng?!" bentaknya sambil menoleh ke arah Teng Cun Le yang menjadi pucat dan kedua kakinya menggigil. Akan tetapi terpaksa dia menjawab dengan kepalanya mengangguk-angguk dan bibirnya berkata lirih.

"...aku mendengar di luaran begitu... ehh... Thai-lek-sin sering ke sini..."

Tiba-tiba Loan Ki tertawa nyaring dan menudingkan telunjuknya kepada Teng Cun Le, lalu berkata kepada Song-bun-kwi, "Wah, kakek tua goblok Song-bun-kwi, kau kena dipedayai orang! Nanti dulu, aku hendak bertanya, pernahkah kau mendengar adanya anjing-anjing penjilat? Nah, manusia ini adalah seekor di antara anjing-anjing penjilat. Dia orang dari kota raja, mudah diduga. Ia selalu mengikuti aku karena tertarik akan mutiara Ya-beng-cu yang kubawa. Dan dia telah menggunakan kau orang tua goblok untuk menyerbu ke sini karena dia sendiri mana mampu? He-he, Song-bun-kwi kakek bodoh, kau diperalat anjing ini masih tidak tahu."

Teng Cun Le bukan seorang bodoh. Dia tadinya kaget setengah mati mendengar semua kata-kata Loan Ki dan diam-diam dia mengeluh. Gadis ini benar-benar pandai bicara dan kakek yang sudah setengah pikun itu kalau sampai kena diakali oleh gadis ini, dialah yang akan celaka. Cepat dia bicara,

"Locianpwe, harap Locianpwe jangan mendengarkan ocehan gadis ini. Jelas ia berusaha menolong ayahnya yang tadi hampir kalah oleh Locianpwe dan sengaja hendak mengadu domba kita. Locianpwe, mari kita gempur orang-orang ini, Locianpwe lanjutkan menghajar Sin-kiam-eng dan serahkanlah gadis itu kepada saya, saya sanggup menghajar kekurang ajarannya."

Sambil berkata demikian, Teng Cun Le menggerakkan goloknya hendak menyerang Loan Ki.

"Tunggu dulu dan dengar kata-kataku sampai habis!" Loan Ki menjerit. "Kalau tidak mau mendengarkan, itu tandanya kau sengaja memperalat Song-bun-kwi!"

Terpaksa Teng Cun Le menahan goloknya karena kalau dia teruskan khawatir kalau-kalau kakek itu kena diakali omongan pancingan ini.

"He, orang she Teng. Kau seorang laki-laki, hayo jawab betul tidak kau sudah mengikuti aku sejak beberapa hari yang lalu dan bahwa kau mengincar tiga butir mutiaraku atau... mungkin juga kau ingin mengetahui tentang sebuah mahkota? Jawab!"

Teng Cun Le sudah tak bisa mundur lagi, terutama karena dia melihat Song-bun-kwi amat memperhatikan percakapan itu.

"Memang betul. Kau telah membawa tiga butir mutiara yang tadinya menghias mahkota yang dicuri dari istana kaisar. Sudah semestinya kau mengembalikan mahkota itu padaku untuk kubawa kembali ke kota raja!"
"Bagus, manusia she Teng! Kau hendak merampas mahkota dari kami? Apa kau berani melawan ayah dan aku?" tantangnya.

Tentu saja Teng Cun Le menjadi sibuk sekali. Tak disangkanya gadis itu akan memutar mutar omongan sedemikian rupa sehingga dia selalu terdesak. Akan tetapi dia pun bukan bodoh, maka dia pun segera menjawab berani. "Tentu saja berani karena Kwee-locianpwe tentu akan membantuku menghadapi ayahmu yang memang patut menjadi lawannya."

"Uhu-hu, sekarang mengertikah kau, kakek Song-bun-kwi? Kau dengar sendiri bahwa dia ini adalah seekor anjing penjilat kaisar dan kau telah dibodohinya, diperalat olehnya. Agar kau mau diperalat dan mau menyerbu ke sini, dia membohongimu dengan pernyataan bahwa Thai-lek-sin berada di sini. Padahal tua bangka Thai-lek-sin itu melihat pun aku belum pernah. Nah, tidak benarkah aku apa bila aku bilang bahwa Song-bun-kwi si jago kawakan itu ternyata sekarang mudah saja dikempongi oleh seekor anjing penjiiat kaisar? Hi-hik!" Dengan gaya nakal sekali Loan Ki menyambung hidungnya yang kecil mancung itu dengan jari-jari tangannya untuk mengejek Song-bun-kwi.

Song-bun-kwi menjadi merah sekali mukanya. Racun yang disebar oleh Loan Ki melalui kata-katanya barusan telah mengenai hatinya. Dia seorang tokoh besar dari dunia bagian barat, dapat dengan mudah dikempongi oleh seorang anjing penjilat kaisar dan diperalat di luar kesadarannya. Benar-benar memalukan sekali. Dia menoleh dengan mata melotot kepada Teng Cun Le sambil memaki,

"Kau berani membawa aku untuk bantu menjadi perampok? Setan alas!"
"Tidak... Locianpwe... tidak...!"

Akan tetapi tangan Song-bun-kwi sudah bergerak. Teng Cun Le dalam takutnya nekat menangkis dengan goloknya, tapi akibatnya golok itu patah-patah dan tubuhnya melayang sampai sejauh lima meter lebih dan dia tak dapat bangun kembali karena dadanya sudah remuk tulang-tulangnya!

Hebat kejadian ini, namun Loan Ki memandang dengan senyum simpul saja sedangkan Tan Beng Kui yang memang wataknya angkuh tidak mau memandang siapa pun juga. Sejak tadi hanya berdiri tegak dengan pedang siap di tangan dan diam-diam dia mengatur napas serta memulihkan tenaga di dalam tubuhnya, siap menghadapi pertempuran lagi kalau perlu.

Setelah membunuh orang yang mempermainkannya dengan sekali gempur, kakek itu menoleh pada Loan Ki, sepasang matanya memancarkan ancaman yang menyeramkan. Bulu tengkuk dara lincah itu meremang, akan tetapi dengan memberanikan hati ia tetap tersenyum-senyum seakan-akan kejadian mengerikan itu ‘bukan apa-apa’ baginya.

Beginilah sikap seorang cabang atas, pikirnya, dan dia tidak mau kalah dalam berlagak. Pandang matanya pada kakek itu seolah-olah menyuarakan tantangan, "kau mau apa?"

"Bocah, jangan kau ketawa-tawa dahulu. Memang bangsat she Teng itu sudah menipuku, maka dia layak mampus. Akan tetapi kau pun telah mempermainkan aku, jangan kira aku takut untuk memberi hajaran kepadamu di depan ayahmu!"

Gadis itu tertawa mengejek. "Kakek Song-bun-kwi, kau terlalu sombong. Agaknya kau tidak mau melihat tingginya langit dalamnya lautan. Ayah adalah seorang gagah yang tak mau begitu saja menanam permusuhan, kau tahu? Ayah sudah mendengar bahwa kau adalah seorang tokoh besar kawakan, maka tadi ayah telah menjaga muka dan namamu, kau tahu? Kalau ayah mau sungguh-sungguh melawanmu, dengan mudah dia akan dapat merobohkanmu, kau tahu?"

"Loan Ki! Omongan apa yang kau keluarkan ini?" Ayahnya menegur marah karena dia merasa betapa sekali ini gadisnya benar-benar keterlaluan. Masa seorang tokoh setingkat Song-bun-kwi mau di-‘kecap’-i seperti itu?

Benar saja, Song-bun-kwi sudah tak sanggup menguasai kemarahan hatinya lagi. Sambil menggerak-gerakkan pedang dan sulingnya, dia berkaok-kaok,

"Siluman! Setan! Iblis jejadian, neraka jahanam! Ayo kalian ayah dan anak maju bersama, biar kalian buktikan macam apa adanya Song-bun-kwi Kwee Lun!" Muka kakek itu merah sekali, sepasang matanya melotot, alisnya yang sudah putih itu bergerak-gerak terangkat tinggi. Marah betul-betul dia.
"Song-bun-kwi, jangan kira aku Sin-kiam-eng takut kepadamu. Hayoh!"

Beng Kui menantang sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Dalam pertempuran tadi dia belum kalah. Memang dia agak kehabisan tenaga karena kalah ulet, akan tetapi setelah beristirahat tadi, tenaganya pulih kembali dan dia merasa sanggup menghadapi kakek yang sakti itu. Dia maklum bahwa memang sukar mencapai kemenangan, namun keangkuhannya melarang dia mengalah terhadap si kakek.

"Bagus! Mari bertanding sampai salah seorang di antara kita menggeletak!" Song-bun-kwi tertawa bergelak. "Kita berdua adalah lelaki sejati, mana sudi cerewet seperti perempuan tukang celoteh?" Dia mengejek Loan Ki dan membalikkan tubuh untuk menghampiri Tan Beng Kui.

Tetapi tiba-tiba bayangan gadis itu berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di depannya. Sampai kaget Song-bun-kwi menyaksikan kegesitan gadis ini.

"Kakek tua bangka pikun Song-bun-kwi! Kau benar-benar tidak bermalu! Takut melawan aku kau mau meninggalkan aku begitu saja dan menantang ayah. Huh, tak tahu diri. Ayah tadi mengalah dan kau masih tidak tahu? Kau tidak cukup pandai, tidak berharga menjadi lawan ayahku. Siapa orangnya yang sudah bisa mengalahkan aku, baru cukup berharga untuk bertanding sungguh-sungguh melawan ayah. Song-bun-kwi, apakah engkau berani melawan aku?"
"Loan Ki...!" mau tidak mau Beng Kui menegur puterinya.

Memang dia merasa bangga menyaksikan keberanian dan ketabahan Loan Ki, akan tetapi mendengar gadisnya itu menantang Song-bun-kwi, benar-benar keterlaluan! Apanya yang akan dibuat menang? Dia sendiri setengah mampus melawannya, masa sekarang Loan Ki hendak melawan kakek itu? Huh, biar dikeroyok sepuluh orang Loan Ki juga masih bukan lawan Song-bun-kwi!

Anaknya yang baru tiga hari pulang dari perantauannya ini memang benar-benar bersikap aneh, sama persis anehnya seperti ketika kemarin dia menegur karena gadis itu duduk termenung seperti orang kehilangan semangat!

"Biarlah, Ayah, aku tanggung kakek yang sudah dekat lubang kubur ini tak akan mampu mengalahkan aku. Hei, dengar tidak kau Song-bun-kwi kakek tua renta? Atau barang kali kau sudah agak tuli? Perlu kuulangi kembalikah? Aku tadi menantangmu, beranikah kau melawan aku?"

Memang amat pandai Loan Ki bersilat lidah. Kali ini ia benar-benar berhasil memancing Song-bun-kwi sehingga kakek ini menjadi marah bukan main. Siapa orangnya yang tidak akan dongkol dan marah sekali, seorang kakek tokoh besar seperti dia mentah-mentah ditantang oleh seorang bocah perempuan?

Dengan gemas dia menyimpan kedua senjatanya dan membentak. "Bocah neraka! Kau patut menjadi cucuku, berani menantang seorang tua seperti aku? Apa kau sudah bosan hidup? Kalau aku tidak dapat membantingmu dalam sepuluh jurus, biar aku orang tua mengaku kalah!"

Song-bun-kwi siap menubruk gadis yang memanaskan hatinya itu.

"Hee, nanti dulu!" Loan Ki menyetop dengan isyarat tangannya. "Kenapa kau menyimpan pedangmu? Kalau dalam sepuluh jurus kau tak mampu mengalahkan aku, tentu kau kelak memakai alasan bahwa kau bertangan kosong. Tak mau aku! Hayo kakek tua renta, kau boleh gunakan pedangmu dan aku akan menandingimu, bukan sepuluh jurus melainkan tiga puluh jurus. Tiga puluh jurus, kau dengar?"
"Iblis cilik, mulutmu benar jahat!" Song-bun-kwi membentak.
"Tapi kau yang menyebut diri tokoh besar dari barat, awas jangan kau menjilat ludahmu sendiri, ya? Kalau kau tidak bisa menangkan aku dalam tiga puluh jurus, kau harus pergi dari sini dan jangan mengganggu kami lagi. Ayah tidak mau bermusuh denganmu. Kalau tangan dan kepalamu merasa gatal-gatal ingin menerima gebukan, kau pergilah saja ke Ching-coa-to, nah, di sana banyak sekali setan-setan bangkotan yang sama kwalitetnya denganmu. Tetapi kau tentu tidak berani ya, memasuki Ching-coa-to. Huh, mana kau berani?"
"Cukup, jangan pentang mulut lagi, lihat seranganku!" Song-bun-kwi berseru dan mulai menyerang dengan tangan kosong.

Dia pikir sekali bergerak tentu akan berhasil menangkap gadis ini. Biar pun membunuh bagi Song-bun-kwi bukan apa-apa, namun dia tidak sudi membunuh seorang dara cilik seperti Loan Ki. Niatnya hendak menangkap gadis itu dan membantingnya di depan Tan Beng Kui sampai kelenger (pingsan) agar tidak banyak mengoceh lagi sehingga dia dapat melanjutkan pertandingannya melawan Sin-kiam-eng.

Maka, begitu menyerang dia mencengkeram dengan tangan kiri ke arah pundak gadis itu sedangkan tangan kanannya mendahului membuat gertakan memukul ke arah pusar. Pukulan ini mendatangkan angin dan tentu akan membuat gadis yang masih pelonco itu kebingungan sehingga memudahkan tangan kirinya mencengkeram pundak.

Agaknya kalau penyerangan kakek sakti ini terjadi beberapa hari yang lalu saja, kiranya akan berhasil. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa gadis lincah ini beberapa hari yang lalu telah mewarisi ilmu mukjijat dari Kwa Kun Hong, yaitu yang diberi nama dua puluh empat langkah Hui-thian Jip-te (Terbang ke Langit Ambles ke Bumi). Maka melihat datangnya serangan yang hebat ini, tubuh Loan Ki terhuyung-huyung ke belakang seperti orang kena pukul.

Tan Beng Kui kaget sekali dan siap melompat untuk melindungi anaknya. Akan tetapi dia sangat heran mendengar seruan aneh kakek Song-bun-kwi karena ternyata bahwa kedua pukulannya itu hanyalah mengenai angin belaka! Dalam terhuyung ini ternyata gadis itu sudah berhasil menghindarkan diri secara aneh sekali.

Kembali kakek Song-bun-kwi menerjang maju, kali ini malah sekaligus mengembangkan kedua lengannya hendak menerkam pinggang yang ramping itu untuk diangkat kemudian dibanting. Tapi aneh bin ajaib. Gadis yang masih terhuyung-huyung itu malah melangkah maju memapakinya. Pada saat kedua lengannya hampir berhasil menyingkap pinggang, tahu-tahu tubuh gadis itu miring seperti akan jatuh dan... sekali lagi berhasil lolos!

"Kakek tua bangka, sudah dua jurus. Hi-hik-hik!" berkata Loan Ki yang ternyata sudah melangkah ke kiri dan... berjongkok.

Kemarahan Song-bun-kwi menjadi-jadi. Dia mengira bahwa gadis itu tadi menggunakan kegesitannya dan sekarang mengejek. Mana ada orang berkelahi memasang kuda-kuda dengan berjongkok? Dia tidak mengerti bahwa memang sebetulnya begitulah kedudukan sebuah langkah dari Hui-thian Jip-te yang dipelajari Loan Ki dari Kwa Kun Hong.

Ilmu langkah ini bukan lain merupakan sebagian dari ilmu langkah ajaib Kim-tiauw-kun, maka sama sekali tak dikenal oleh Song-bun-kwi. Sambil mengeluarkan bentakan hebat dia menyerang Loan Ki yang masih berjongkok seperti orang mau buang air itu, kedua tangannya kini bergerak menjambak rambut.

Dengan tubuh masih berjongkok, kedua kaki Loan Ki main dengan gesitnya, sett-sett-sett dan... kembali Song-bun-kwi yang menerjangnya hanya dapat menjambak bau harum dari rambut hitam panjang itu.

"Jurus ke tiga, Kakek!" Loan Ki mengejek sambil tersenyum.

Kini dia sudah berdiri dengan tubuh membelakangi Song-bun-kwi, kaki kanan diangkat dengan tumit menempel paha kaki kiri, leher menoleh ke belakang dan berkedip-kediplah matanya kepada kakek itu, kedua tangannya dikembangkan, persis seperti seekor burung kuntul hendak terbang.

Tan Beng Kui kaget dan heran bukan main melihat kejadian yang berlangsung di depan matanya. Dia sendirilah yang menjadi guru anaknya ini dan dia tahu betul bahwa tidak pernah dia mengajari gerakan-gerakan menggila seperti yang sedang dilakukan anaknya sekarang ini. Mana bisa dia mengajari kalau dia sendiri tidak mengenal dan tidak tahu akan gerakan-gerakan gila itu?

Siapakah yang main gila ini, Loan Ki ataukah Song-bun-kwi? Dia tidak percaya bahwa dengan gerakan-gerakan gila itu anaknya bisa menghindarkan serangan kakek itu hingga tiga kali dan sudah tentu si kakek yang main gila, pura-pura tidak dapat mengenai tubuh Loan Ki. Kalau memang main gila, apa pula kehendaknya? Ahh, jangan-jangan kakek itu sengaja berbuat demikian sambil menanti sampai sepuluh jurus atau tiga puluh jurus, kemudian merobohkan Loan Ki untuk membuat malu.

"Loan Ki, jangan kurang ajar! Kuda-kuda jurus apa itu pakai angkat-angkat sebelah kaki segala?" Tan Beng Kui membentak keras dengan maksud supaya Song-bun-kwi mengerti bahwa bukan dia yang mengajari gadisnya menggila seperti itu, karena betapa pun juga hatinya malu menyaksikan aksi anak gadisnya yang dianggapnya kosong melompong ini.
"Ayah, memang jurus ini mesti mengangkat sebelah kaki. Habis, apa yang bisa kulakukan untuk merubahnya? Kalau kedua kakiku kuangkat semua, tentu aku akan jatuh." Terang bahwa ucapan ini hanya kelakar saja untuk lebih memanaskan hati Song-bun-kwi. "Ini namanya burung bangau tidur, tapi sebetulnya tidak tidur, melainkan sedang memancing katak tua di belakangnya."

Song-bun-kwi menggereng seperti seekor beruang. Sekarang dia betul-betul menyerang Loan Ki, tidak seperti tadi lagi. Tadi dia hanya hendak menangkap dan membantingnya kelenger di depan Tan Beng Kui, tetapi sekarang dia menyerang untuk merobohkannya dengan pukulan berbahaya. Dia menyerang dari belakang dengan sangat hebatnya dan merasa yakin bahwa kali ini dia akan berhasil merobohkan Loan Ki.

"Ki-ji (anak Ki), awas...!" Tan Beng Kui terpaksa berseru saking kaget dan khawatirnya menyaksikan penyerangan dahsyat itu.
"Tidak usah khawatir, Ayah!" Gadis itu masih sempat membuka mulut, padahal ia kaget setengah mati.

Cepat-cepat ia mengeluarkan ilmu langkah mukjijat seperti yang ia pelajari dari Kun Hong. Hebat penyerangan Song-bun-kwi kali ini sehingga Loan Ki masih merasa angin pukulan menyerempet pundaknya, membuat kulit pundak di bawah pakaian itu terasa panas. Dia sampai mengeluarkan keringat dingin, namun dasar dia nakal, masih saja dia mengejek setelah pukulan itu gagal.

"Sudah empat jurus!"

Sekarang Song-bun-kwi tak mau berlaku sungkan-sungkan lagi. Dia menerjang terus dan mengirim pukulan bertubi-tubi, malah mengisi pukulan-pukulannya dengan lweekang-nya yang dahsyat sehingga rambut dan pakaian Loan Ki berkibar-kibar seperti diserang angin besar.....

Loan Ki juga tidak berani main gila lagi. Ia cukup maklum akan kesaktian kakek ini, maka ia mengerahkan seluruh perhatiannya untuk menjalankan langkah-langkah Hui-thian Jip-te guna menyelamatkan dirinya.

Tan Beng Kui melongo sampai mulutnya terbuka lebar dan lupa ditutupnya kembali. Hebat terjangan-terjangan Song-bun-kwi yang kini benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk merobohkan Loan Ki. Akan tetapi lebih hebat pula gerakan-gerakan Loan Ki yang tetap aneh bagaikan orang mabuk atau orang menari-nari menggila namun satu kali pun juga pukulan-pukulan kakek itu tak pernah menyinggung kulitnya!

"He, kakek Song-bun-kwi! Sudah empat puluh jurus lebih kau menyerangku dan masih tak mampu merobohkan, apakah engkau tidak mau berhenti juga? Seorang kakek tua bangka mengejar-ngejar seorang gadis cilik, mau apa sih? Cih, tak tahu malu benar!"

Seketika Song-bun-kwi menghentikan serangannya. Matanya mendelik saking marahnya. Dia tahu bahwa gadis ini tak mampu menyerang kembali karena agaknya hanya memiliki ilmu mengelak yang luar biasa sekali itu.

Diam-diam dia kagum bukan main dan teringatlah dia kepada Kwa Kun Hong. Dahulu Kun Hong juga pernah membuat heran semua orang di Thai-san dengan ilmunya mengelak yang ajaib. Apakah sama dengan ilmu yang dipergunakan gadis ini? Tetapi dia malu untuk bertanya. Sambil bersungut-sungut dia membentak.

"Aku kalah janji, siapa kejar-kejar iblis cilik macammu? Tan Beng Kui, biarlah kali ini aku mengaku kalah bertaruh karena diakali anakmu si setan neraka. Tetapi lain kali aku akan mencari kesempatan untuk melanjutkan pertandingan kita sampai puas tanpa gangguan setan ini!" Dia lalu mengibaskan lengan bajunya yang buntung dan melangkah pergi dari tempat itu.

"Hee, Song-bun-kwi kakek tukang pukul! Kalau gatal-gatal kepalamu minta dijotosi orang, kau pergilah ke Ching-coa-to, tentu kau akan berubah matang biru dan bengkak-bengkak sampai puas!" teriak Loan Ki.

Song-bun-kwi tidak menoleh tidak menjawab, akan tetapi diam-diam dia mencatat nama tempat ini. Ada apa sih di Ching-coa-to, pikirnya. Agaknya gadis itu hendak memamerkan kehebatan orang-orang tertentu di pulau itu.

Hemmm, pikirnya sambil memperlebar langkahnya. Kalau aku tidak bisa mengobrak-abrik Ching-coa-to, bocah itu tentu makin memandang rendah kepadaku. Kalau yang tinggal di sana itu orang-orang yang ia andalkan, biar kuhancurkan tempat itu, baru ia tahu rasa dan mengenal kehebatanku.

Dengan pikiran ini kakek itu lalu melanjutkan perjalanannya sambil berlari cepat dan mulai mencari keterangan tentang letaknya Ching-coa-to…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR BUTA : JILID-07
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger