logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Buta Jilid 10


Teringat akan ini, Kun Hong berkata heran. "Ahh, mengapa A Wan begini lama belum kembali?"

Karena sejak tadi Hui Kauw asyik berceritera, nona ini pun seperti lupa kepada A Wan. Sekarang ia pun merasa heran dan curiga. "Biar aku mencarinya di belakang rumah." Ia bangkit berdiri dan melompat ke luar dari pondok itu melalui pintu belakang.

Baru beberapa menit seperginya Hui Kauw, tiba-tiba Kun Hong memiringkan kepalanya. Dia mendengar ada suara banyak kaki dengan gerakan ringan sekali di sekeliling rumah! Otomatis tangan kanannya menggenggam tongkatnya erat-erat, sedang seluruh tubuhnya tegang dalam persiapan.

Meski pun luka-lukanya masih terasa sakit, akan tetapi sudah tidak berbahaya lagi. Hanya punggungnya saja yang masih terasa kaku sekali. Dia masih tetap duduk bersila di atas tikar dengan sikap tenang namun dengan hati tegang.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang sudah amat dikenalnya, ketawa The Sun!

"Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong, kiranya benar kau yang secara pengecut bersembunyi di balik selimut janda muda, pura-pura menjadi seorang kakek. Ha-ha-ha!"

Berbareng dengan ucapan itu, tubuh The Sun melayang masuk ke dalam pondok, lalu dia tertawa-tawa lagi. "Perempuan keparat, berani kau menipuku, ya?"

Kun Hong mendengarkan penuh perhatian, namun dia sudah bersiap sedia membela diri. Terdengar The Sun hampiri jenazah janda Yo, kemudian pemuda itu menahan pekik.

"...ahhh…!"

Kun Hong tersenyum mengejek. "The Sun manusia keparat, kau lihat baik-baik wanita tak berdosa yang menjadi korbanmu!" Sehabis mengeluarkan ejekan ini, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah The Sun dan tongkatnya sudah mengirim tusukan maut.

The Sun kaget dan cepat membanting diri ke kanan sehingga dinding pondok yang tidak kuat itu menjadi jebol, terus tubuhnya menggelinding ke luar.

Kun Hong mengejar terus, juga melalui dinding yang jebol itu. Setibanya di luar pondok, Pendekar Buta ini berhenti karena dia tidak mampu mengenali lagi di mana adanya The Sun. Di depan pondok itu ternyata telah menanti banyak orang yang kini menghadapinya setengah mengurung.

"Omitohud... sayang pemuda berilmu tinggi menjadi pemberontak." Suara ini mengejutkan hati Kun Hong karena dia segera mengenalinya sebagai suara hwesio kosen yang pernah memukul punggungnya.

Tentu inilah yang oleh Hui Kauw diceriterakan sebagai Bhok Hwesio, pikirnya. Entah ada berapa orang tokoh lihai lagi di samping hwesio ini dan The Sun. Namun dia tidak takut, hanya dia amat khawatir kalau-kalau mahkota kuno yang tadi sedang diambil oleh A Wan itu dapat terampas oleh musuh.

Kun Hong tidak dapat melihat bahwa selain Bhok Hwesio dan The Sun, di situ terdapat banyak pengawal dan masih ada lagi seorang kosen, yaitu si pertapa dari Nepal bernama Bhewakala yang berdiri tegak sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang mengandung pengaruh sihir!

Mendengar pujian Bhok Hwesio kepada pemuda buta ini, Bhewakala menaruh perhatian besar karena dia sudah cukup maklum akan kesaktian Bhok Hwesio.

"Mata buta tidak mengapa, tetapi kalau hati yang buta benar-benar amat sayang sekali," katanya dengan suaranya yang besar dan bahasanya yang kaku.

Mendengar suara ini, Kun Hong dapat menduga siapa tokoh ke dua ini karena dia sudah pula mendengar nama orang itu dari penuturan Hui Kauw.

"Bhok Hwesio dan pendeta Bhewakala adalah tokoh-tokoh tua yang memiliki ilmu tinggi, sudah tahu aku seorang muda yang buta mengapa masih memusuhiku tanpa sebab? Apa perbuatan ini tidak merendahkan derajat serta mencemarkan nama besar ji-wi (kalian)?" katanya dengan suara keras.

Bhok Hwesio melengak, lebih-lebih Bhewakala yang seketika itu menjadi pucat mukanya. Pendeta Nepal ini datang dari Himalaya di mana kepercayaan akan keajaiban dan tahyul masih sangat tebal. Sekarang mendengar seorang buta mengenal namanya begitu saja, tentu dia menjadi heran dan takut-takut. Siapa tahu pemuda ini adalah sebangsa ‘dewa’ yang menjelma menjadi manusia sehingga biar pun matanya buta akan tetapi tahu akan segala kejadian di dunia ini? Hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut untuk minta maaf kalau saja The Sun tidak membentak marah.

"Kwa Kun Hong! Janganlah engkau coba-coba mempengaruhi dua orang Locianpwe yang terhormat dengan ucapanmu yang amat beracun! Kau ternyata diakui sebagai ketua oleh pemberontak-pemberontak Hwa-i Kaipang, jelas bahwa kau adalah seorang pemberontak. Lebih baik kau menyerah dan kami berjanji akan mintakan ampun kepada kaisar, asal kau suka berjanji untuk bekerja sama membela negara dari pada rongrongan musuh. Melawan pun tak ada gunanya, kau sudah terluka dan apa artinya kepandaianmu jika menghadapi kesaktian Bhok Losuhu dan Bhewakala?"

"The Sun, dalam hatimu kau maklum bahwa kalau mau bicara tentang ucapan beracun dan perangai binatang, maka kaulah orangnya yang paling tepat. Selama hidupku aku tak pernah memusuhimu, mengapa kau mendesakku dan malah kau menjadi sebab kematian seorang janda yang tak berdosa?"
"Tak usah banyak cakap lagi, lebih baik surat rahasia yang kau terima dari Tan Hok kau serahkan kepadaku, jika tidak jangan harap engkau dapat meninggalkan kota raja dalam keadaan hidup!" The Sun membentak.
"Manusia rendah, sudah kukatakan bahwa aku tidak membawa surat apa-apa. Terserah kepadamu."
"Saudara The, biarlah aku mencoba menangkap tuna netra yang amat bandel ini!" kata Bhewakala yang amat tertarik mendengar percakapan itu dan kini ingin sekali dia menguji kepandaian si buta ini yang tadi sudah dipuji-puji oleh Bhok Hwesio.

Bhok Hwesio tertawa. "Saudara Bhewakala, berhati-hatilah kau, dia benar-benar sangat lihai."

Pendeta Nepal itu tersenyum. Dia adalah seorang pertapa Himalaya yang berilmu tinggi, dalam hal kepandaian dan kesaktian, dibandingkan dengan Bhok Hwesio kiranya hanya kalah setingkat, masa dia harus merasa jeri menghadapi seorang muda lagi buta seperti Kun Hong ini?

"Orang muda, menyerahlah, atau kalau tidak, bersiaplah kau kutangkap untuk kujadikan tawananku!" katanya.

Tiba-tiba tubuh Bhewakala sudah bergerak secara aneh, dua kakinya diangkat ujungnya sehingga tubuhnya mendoyong ke belakang seperti orang akan terjengkang. Benar-benar gerakan ini merupakan kuda-kuda yang sangat aneh dan lucu, terlebih lagi karena kedua lengannya diulur ke depan bagai seorang bapak hendak memondong anaknya, atau lebih mirip seorang yang akan jatuh ke belakang sedang minta tolong.

Kun Hong tak dapat melihat gerakan ini, namun dia dapat mendengarkan dan maklum bahwa orang yang akan menangkapnya ini memiliki kepandaian luar biasa dan berbeda dengan orang-orang lain. Maka dia pun tidak mau memandang rendah, tubuhnya sudah bergerak pula dengan perlahan, memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati.

Kali ini dia tidak mau memusingkan lagi tentang kesabaran, karena maklum bahwa dia sudah terkurung dan berada dalam keadaan hidup atau mati. Apa lagi kalau teringat akan janda Yo, hatinya sakit sekali. Ingin sekali rasanya dia membunuh The Sun dengan hanya sekali pukul, ada pun semua orang yang membantu The Sun tentu saja akan dilawannya mati-matian.

Ketika Bhewakala melihat Pendekar Buta itu memasang kuda-kuda dan tidak menjawab permintaannya agar menyerah, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan panjang dalam bahasa asing. Kedua matanya menjadi lebar dan bercahaya seakan-akan mengeluarkan sinar kilat, lalu tubuh yang doyong ke belakang itu tiba-tiba bergerak maju dengan kedua tangan mencengkeram ke arah pundak dan dada Kun Hong.

Serangan ini hebat bukan main, terbukti dari hawa pukulan yang menggetarkan dada Kun Hong, jauh sebelum kedua tangan orang Nepal itu datang dekat. Bentakan Bhewakala itu juga mendatangkan perasaan aneh di kepalanya, seakan terdapat dorongan yang hendak memaksa dia menjadi lumpuh.

Kun Hong terkejut dan teringatlah dia akan ilmu ‘merampas semangat’ yang pernah dia pelajari dari paman gurunya, Sin-eng-cu Lui Bok. Dahulu sebelum dia buta, dia mampu mempergunakan ilmu ini untuk mengalahkan lawan, yaitu dengan kekuatan lweekang dan batin yang disalurkan melalui pandangan matanya. Sekarang setelah buta, tentu saja dia tidak dapat melakukan ilmu itu.

Teringat ini, dia menduga bahwa lawannya yang aneh ini agaknya menggunakan ilmu itu pula. Dia bersyukur bahwa kebutaan matanya membuat dia kebal terhadap penyerangan ilmu ini, karena ilmu ini menundukkan lawan melalui pandangan mata pula.

Dengan pengerahan tenaga batinnya, Kun Hong menghadapi serangan ini dengan jurus Sakit Hati. Tongkatnya berkelebat kemerahan dari kanan atas sedangkan tangan kirinya menyambar dengan jari-jari terbuka dari kiri bawah.

"Siuuuuuttttt!"

Inilah jurus Sakit Hati yang hebatnya bukan kepalang, sejurus ilmu pukulan gabungan dari Ilmu Silat Im-yang Sin-hoat dan Kim-tiauw Kun-hoat, gabungan aneh dari dua macam serangan yang memiliki dua tenaga gaib pula, yaitu Yang-kang dan Im-kang.

Bhewakala menjerit ngeri menyaksikan betapa serangannya dihadapi oleh Si Pendekar Buta dengan serangan pula yang luar biasa anehnya sehingga bulu tengkuknya berdiri semua karena kedua tangannya tanpa sebab telah terpental oleh semacam hawa yang tidak kelihatan, yang keluar dari gerakan Pendekar Buta itu. Tubuhnya yang tinggi kurus secepat kilat ditekuk ke kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat yang memiliki hawa panas seperti baja membara ini, sedangkan kedua tangannya cepat dia gerakkan untuk menangkis sambil mencengkeram pukulan tangan kiri lawan yang menyambar dari bawah.

"Weeerrrrr... desssss! Auuuuuhh...!"

Bagaikan sebuah layangan putus talinya, tubuh Bhewakala melayang, terlempar sampai lima meter lebih, sebagian rambut kepalanya hangus terlanggar tongkat sedangkan kedua tangannya bertemu dengan tangan kiri Kun Hong tadi, membuat tubuhnya terpental jauh.

Bhewakala roboh terguling, akan tetapi cepat bangun lagi dengan kedua mata terbelalak keheran-heranan, mukanya merah padam. Dia berusaha mempertahankan diri tetapi tidak kuat karena tiba-tiba dia muntahkan segumpal darah merah dari mulutnya. Hanya dalam satu gebrakan tadi dia telah terluka!

Melihat Pendekar Buta itu masih memasang kuda-kuda Sakit Hati, tidak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan berjungkit, kaki kiri di belakang dan ditekuk lututnya, tangan kanan memegang tongkat diangkat ke atas melintang, tangan kiri terbuka seperti cakar dan tergantung ke bawah, tokoh Nepal ini menjadi penasaran dan malu sekali.

Selama dua bulan dia berada di kota raja sebagai seorang tokoh undangan, belum pernah dia melakukan sesuatu jasa sungguh pun dia telah mendemonstrasikan kepandaiannya kepada para pengawal. Sekarang, sekali turun tangan, menghadapi seorang pengacau muda lagi buta saja, dalam segebrakan dia sudah muntah darah!

Dengan dada panas penuh hawa amarah, Bhewakala lalu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang ujungnya kecil dan panjang sekali. Cambuk ini tadinya digulung kecil dan dimasukkan saku, sekarang setelah berada di tangannya berubah menjadi cambuk panjang sekali, tidak kurang dari tiga meter panjangnya!

Dia merasa penasaran sekali dan hendak membalas kekalahannya. Sambil mengeluarkan bentakan aneh, dia sudah memutar cambuknya di atas kepala, makin lama makin cepat dan terdengarlah suara seperti suling ditiup orang. Aneh, makin cepat saja dia memutar cambuk, maka suara seperti suling itu menjadi makin keras seperti suara sirene!

Kun Hong masih memasang kuda-kuda tanpa bergerak, seluruh inderanya tegang dan dia siap menanti setiap serangan dengan jurus mautnya itu. Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut ketika ada hawa serangan ujung cambuk yang mengeluarkan suara mengaung aneh itu.

Maklum bahwa tiada gunanya menangkis serangan senjata lemas seperti ini, dia hanya menggerakkan kedua kakinya dan dengan mudah saja mengelak. Namun ujung cambuk tetap mengejarnya dengan kecepatan kilat, seakan-akan cambuk itu memiliki mata pada ujungnya, dapat mengejar ke mana jua pun dia bergerak. Hebat ilmu cambuk dari orang Nepal ini, aneh dan berbahaya.

Baiknya Kun Hong memiliki ilmu langkah ajaib yang dinamai Hui-thian Jip-te, kalau tidak, tentu dia akan celaka menghadapi penyerangan ilmu cambuk aneh itu. Tak mudah untuk membalas serangan ini dengan serangan lagi karena lawannya yang memegang cambuk berada dalam jarak tiga meter sedangkan ujung senjata itu terus mengancamnya.

Terpaksa dia menggunakan langkah ajaib dan berkali-kali orang Nepal itu mengeluarkan seruan heran dan bingung sebab melihat betapa orang yang diserangnya itu enak-enakan saja berloncatan, kadang-kadang terhuyung-huyung dan jongkok berdiri, namun semua penyerangannya tidak pernah menyentuh kulit lawan!

Saking bingung dan herannya, dia marah-marah dan mengira bahwa Pendekar Buta itu memang sengaja mengejek dan mempermainkannya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sikap Kun Hong itu sama sekali bukan mengejek, melainkan mati-matian menyelamatkan diri dari kurungan ujung cambuk, karena langkah ajaib itu memang terlihat aneh dan lucu.

Kemarahan Bhewakala membuat dirinya tidak hati-hati lagi. Dia tidak tahu bahwa dalam melakukan langkah ajaib menghindarkan ujung cambuk, Kun Hong dengan cara memutar telah makin mendekatinya dan begitu ada kesempatan, pemuda buta ini cepat membalas serangan lawan dengan jurus Sakit Hatinya.

"Haaiiiiittttt…!"

Dengan amat hebatnya Kun Hong sudah menerjang lawannya dengan jurus mautnya itu. Bhewakala kaget sekali, akan tetapi dia sudah siap sedia. Cambuknya tiba-tiba melingkar pendek untuk memapaki tongkat lawan, sedangkan tangan kirinya sengaja dia kerahkan dengan tenaga penuh untuk memapaki tangan Si Pendekar Buta.

"Saudara Bhewakala, jangan...!" terdengar Bhok Hwesio berseru kaget. Namun terlambat.
"Deeesssss…! Blukkkkk!"

Cambuk itu putus berhamburan saat bertemu tongkat dan tubuh Bhewakala untuk ke dua kalinya melayang ke belakang, lalu roboh dan kali ini sampai lama dia tidak dapat bangkit, dari mulutnya mengalir darah segar dan napasnya terengah-engah. Bhok Hwesio segera menghampirinya.

"Omitohud...!" seru hwesio Siauw-lim yang kosen ini sambil mengurut dada orang Nepal itu beberapa kali.

Diam-diam dia merasa kagum juga kepada Bhewakala karena beberapa menit kemudian tokoh Nepal ini sudah sanggup bangun dan duduk bersila untuk memulihkan tenaganya. Agaknya dia tidak terluka terlalu hebat sehingga masih tidak membahayakan keselamatan nyawanya.

"Uuhh-uuhhh... aku tak dapat mempengaruhinya dengan pandangan mataku... uh-uh-uh, dia hebat... Bhok losuhu...," katanya dengan suara bernada kecewa.

Memang hatinya kecewa bukan main karena dia harus menderita kekalahan. Andai kata lawannya itu, biar pun memiliki ilmu silat luar biasa tingginya, tidak buta seperti sekarang, belum tentu dia akan kalah seperti sekarang ini. Dengan pandangan matanya dia dapat mengerahkan kekuatan batin, dapat menggunakan ilmu sihirnya untuk membuat lawannya bertekuk lutut tanpa mengulurkan tangan. Akan tetapi, apa daya, justru lawannya tidak mempunyai mata sehingga kekuatan batinnya tidak mendapatkan ‘pintu’ untuk memasuki tubuh lawan.

Pada lain pihak, diam-diam Kun Hong mengeluh. Dia telah menderita luka dalam akibat pukulan Bhok Hwesio di punggungnya, sedangkan luka di pangkal pahanya biar pun tidak berbahaya lagi, namun belum sembuh dan masih terasa nyeri dan perih, juga sebagian tenaganya sudah banyak dipergunakan untuk mengusir racun dan untuk menambah daya tahan terhadap luka-luka itu, sekarang dia harus menghadapi lawan tangguh.

Tadi, dalam dua kali bertemu tenaga dengan Bhewakala, walau pun dia berada di pihak unggul berkat sinkang di tubuhnya dan jurus luar biasa itu, akan tetapi tenaga yang dia gunakan sangatlah merugikan dirinya sendiri. Luka dalam di punggungnya menjadi makin nyeri sampai menyesakkan dada, luka di pangkal paha mengucurkan darah baru karena dorongan dari dalam ketika dia mengerahkan tenaga.

Namun pemuda perkasa ini tidak menyatakan sesuatu, tetap memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati menghadapi segala kemungkinan, tetap tak bergerak seperti patung. Dia harus mempertahankan nyawanya dan untuk ini, mau tidak mau dia harus berani merobohkan lawan, kalau perlu membunuhnya!

Setelah banyak mengalami hal-hal penasaran di dunia kang-ouw, pengertian Kun Hong mulai terbuka mengapa banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal gagah perkasa dan dia kagumi itu sering kali melakukan pembunuhan. Kiranya di dunia ini memang terdapat banyak orang-orang yang sudah sepatutnya dibunuh sebab hidupnya hanya mengotorkan dunia dan menjadi sumber segala kejahatan!

Sekarang dia tak rela menyediakan nyawanya untuk dibunuh orang lain, karena hidupnya masih mempunyai banyak tugas yang penting sekali. Pertama, mencari musuh-musuh Thai-san-pai dan membantu paman Beng San membalas sakit hati. Ke dua, membantu mencari adik Cui Sian yang hilang diculik orang. Ke tiga, melanjutkan tugas dari paman Tan Hok untuk menyampaikan surat rahasia itu kepada yang berhak, yaitu Raja Muda Yung Lo di utara. Ke empat, mendidik A Wan sebagai muridnya agar dia dapat membalas budi mendiang Yo-twaso. Ke lima... Hui Kauw!

Ya, karena adanya Hui Kauw maka dia tidak mau mati dan harus terus mempertahankan hidupnya. Biar pun pikirannya melayang-layang seperti itu, namun Kun Hong tidak sedikit pun mengurangi kesiap siagaannya menghadapi para lawan yang sudah mengurungnya.

"Omitohud..., orang muda buta benar-benar lihai sekali. Pinceng kagum... sayang kalau harus membunuhnya. The-kongcu dan Tan-sicu, mari bersama-sama pinceng menangkap dia hidup-hidup!"

Mendengar kata-kata ini, Kun Hong mengerutkan kening. Hemmm, kiranya Sin-kiam-eng Tan Beng Kui sudah berada di situ pula. Inilah berbahaya, pikirnya. Kalau tertawan oleh orang-orang ini sama saja dengan mati. Kalau dia sudah tertawan, bagaimana mungkin melepaskan diri?

Dulu ketika dia belum buta, pernah pula dia ditawan di kota raja, akan tetapi dengan ilmu sihirnya dia berhasil melarikan diri. Sekarang, sekali dia tertawan, apa bedanya dengan mati? Tidak, dia tidak mau ditawan!

Begitu mendengar deru angin dari tiga jurusan, Kun Hong cepat menggunakan langkah-langkah ajaibnya untuk menyelamatkan diri, sedangkan kedua tangannya sudah siap dan selalu mencari kesempatan membalas. Sayang baginya, jurus Sakit Hati itu hanya sejurus saja, dan pula, hanya amat ampuh bila dipergunakan untuk menghadapi seorang lawan yang menyerang sehingga menjadi serangan balasan yang tak terhindarkan.

Sekarang, menghadapi serangan tiga orang yang demikian tinggi ilmu silatnya, Dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakan jurusnya ini. Pedang di tangan Sin-kiam-eng bagaikan seekor garuda saja, menyambar-nyambar dari tempat yang tidak terduga-duga. Bukan main hebatnya Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini sehingga pada saat menghadapinya, timbul keinginan aneh di hati Kun Hong untuk dapat mempergunakan mata melihat permainan pedang ini!

Tongkatnya sudah repot digunakan menangkis serangan Sin-kiam-eng, sehingga tinggal sedikit kesempatan untuk menangkis pedang The Sun yang juga amat ganas menyambar nyambar. Berkali-kali dia berusaha untuk memukul runtuh pedang The Sun yang dia tahu mengandung racun yang sangat berbahaya, lebih-lebih dari keinginan dan nafsu hatinya untuk mendapat kesempatan menerjang The Sun dan merenggut nyawa pemuda halus ini untuk membalas sakit hati janda Yo.

Akan tetapi baru menghadapi dua pedang ini saja dia sudah repot bukan main, ditambah lagi sambaran-sambaran aneh dan kuat bukan main dari kedua tangan Bhok Hwesio yang berusaha menangkapnya. Mana mungkin dia melakukan serangan balasan?

Jika sekarang Kun Hong kewalahan menghadapi lawan-lawannya, hal ini bukanlah terlalu aneh. Pertama, dia sudah terluka hebat sehingga tenaganya hanya tinggal tiga per empat bagian. Ke dua, dia sedang menghadapi pengeroyokan tiga orang lawan yang tergolong jagoan-jagoan kelas satu. Ke tiga, hatinya sudah gelisah sekali karena sampai saat itu dia tidak tahu ke mana perginya A Wan beserta Hui Kauw, dan apa jadinya dengan mahkota yang menyimpan surat rahasia penting itu.

Pada saat itu pedang The Sun menyambar ke arah kakinya dengan babatan cepat sekali. Kun Hong melompat ke atas dan cepat sekali menggunakan tongkatnya untuk menindih pedang ini, dengan maksud menggunakan kesempatan ini dia memukul The Sun dengan tangan kiri. Akan tetapi pada saat itu pedang Sin-kiam-eng sudah menusuknya, menusuk ke arah leher. Cepat-cepat dia miringkan tubuh dan tangan kirinya telah siap melanjutkan pukulan kepada The Sun yang masih berkutetan hendak menariknya tetapi tidak sanggup itu.

"Robohlah...!" tiba-tiba terdengar bentakan Bhok Hwesio yang mendorong dari samping.

Hebat tenaga dorongan hwesio ini, seperti angin puyuh saja datangnya. Kun Hong kaget sekali, terpaksa ia harus membatalkan pukulannya pada The Sun, dan sebaliknya ia lalu menggunakan tangan kirinya itu mendorong ke arah Bhok Hwesio.

"Deesssssss…!"

Tangan kiri Kun Hong bertemu dengan tangan Bhok Hwesio, dan dari kedua lengan ini mengalir hawa dorongan yang luar biasa saktinya. Bhok Hwesio berteriak perlahan, lalu tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang, sedangkan Kun Hong merasa dadanya sesak dan dia pun terpaksa melompat ke belakang dan berusaha memulihkan napasnya.

Akan tetapi alangkah kaget hati Kun Hong saat merasa betapa punggungnya yang masih luka itu makin nyeri, membuat dia sulit bernapas. Kun Hong gugup, bingung, kecewa dan marah bukan main. Haruskah dia mati dalam keadaan begini? Haruskah dia mati sebelum menunaikan tugasnya?

Terlintas pikiran aneh pula. Haruskah dia mati sebelum menyampaikan cinta kasihnya kepada Hui Kauw? Tidak! Sekali-kali tidak boleh!

Dan terdengarlah pekik melengking tinggi keluar dari kerongkongannya, pekik yang amat mengerikan dan mendirikan bulu roma, dibarengi dengan melesatnya tubuhnya dengan jurus Sakit Hati. Hampir saja Sin-kiam-eng Tan Beng Kui menjadi korban karena jago tua ini yang berada di tempat terdekat.

Kun Hong tidak peduli lagi siapa yang berada di dekatnya, tentu terus saja diterjangnya dengan jurus Sakit Hati sambil mengeluarkan pekik melengking tinggi itu. Tan Beng Kui terkejut dan cepat melompat jauh menghindarkan diri, juga The Sun kaget bukan main sampai mukanya menjadi pucat dan dia pun menjauhkan diri. Hanya Bhok Hwesio yang tetap berdiri di tempatnya, memandang dengan penuh kekaguman.

"Dia sudah seperti harimau luka, tinggal merobohkan saja!" kata hwesio itu membesarkan hati.

The Sun dan Tan Beng Kui mendesak maju lagi, menggerakkan pedang. Keadaan Kun Hong benar-benar terancam hebat, kalau tidak akan roboh tewas, paling sedikit tentu dia akan tertawan seperti yang dia khawatirkan.

Tiba-tiba saja terdengar lengking panjang dari atas, lengking yang hampir sama dengan pekik yang keluar dari mulut Kun Hong, akan tetapi lebih panjang dan nyaring. Mendengar ini, Kun Hong terkejut dan mukanya berubah berseri-seri.

Dia lalu memekik lagi sambil mengamuk terus, menggerakkan tongkatnya dengan cepat sehingga tubuhnya tertutup sinar pedang kemerahan. Untuk menjaga dirinya dari desakan tiga orang lawannya yang amat tangguh, tidak ada ilmu lain kecuali ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam yang dapat melindungi tubuhnya.

Lengking panjang itu makin keras dan tiba-tiba terdengar kelepak sayap di udara.

Bhok Hwesio berseru kagum, "Omitohud... apa lagi ini...?”

Kiranya yang datang ini adalah seekor burung rajawali yang besar bukan main. Indah dan gagah burung itu. Seekor burung rajawali yang jarang kelihatan oleh manusia, bulunya kuning bersih, paruh dan kuku kakinya seperti emas, matanya merah menyala.

Inilah kim-tiauw si rajawali emas yang datang karena tertarik oleh pekik melengking dari mulut Kun Hong tadi. Agaknya burung ini mengenal pekik sahabatnya dan begitu tiba di situ melihat Kun Hong dikeroyok, dia segera mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya yang keemasan itu menyambar turun dengan kekuatan ribuan kati!

"Awas...!" Bhok Hwesio memperingatkan dua orang temannya, juga para pengawal yang mengurung tempat itu.

Namun tetap saja empat orang pengawal roboh terguling terkena sambaran sayap yang memukul ke depan, dan paruh yang kuat itu menerjang Tan Beng Kui. Pendekar pedang yang berilmu tinggi ini cepat-cepat mengelak sambil membacokkan pedangnya pada leher burung.

Akan tetapi siapa kira, burung itu sama sekali tidak mengelak, melainkan menggunakan cakarnya untuk menyambar pedang yang membacoknya! Andai kata bukan Tan Beng Kui yang menyerangnya, pasti pedang itu akan terampas oleh kim-tiauw. Tetapi Sin-kiam-eng Tan Beng Kui segera menarik pedangnya, bahkan melompat mundur tiga langkah untuk menghindarkan diri dari serangan cakar kedua yang menerjangnya.

"Kim-tiauw-ko (kakak rajawali emas)!" seru Kun Hong girang ketika mendengar sepak terjang burung itu.

Burung itu bukan lain adalah burung kesayangannya, sahabat yang telah berpisah darinya lama sekali. Kegirangan mendatangkan tenaga berlipat ganda sehingga dengan bentakan hebat dia berhasil memukul pedang The Sun terlepas dari tangan pemuda itu.

"Serbu!" terdengar The Sun memberi aba-aba kepada para pengawal.

Akan tetapi burung rajawali itu sudah menyambar ke depan dan di lain detik Kun Hong telah melompat ke atas punggungnya, merangkul lehernya kemudian membiarkan dirinya dibawa terbang meninggi. Puluhan batang anak panah diiringi caci maki segera melayang mengejar burung itu, namun tak sebuah pun dapat mengenainya. Yang menyambar dekat dengan mudah diruntuhkan oleh gerakan cakar kaki yang menangkis! Benar-benar seekor burung yang amat tangguh dan kosen.

"Kim-tiauw ajaib... omitohud...!" Bhok Hwesio memuji.

Saking kagum dan herannya, kakek sakti ini tadi sampai terpesona dan tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini menguntungkan Kun Hong dan rajawali emas, karena kalau kakek ini tidak terpaku dan menjadi pikun lalu tadi sempat turun tangan, agaknya tidak semudah itu kim-tiauw dapat menolong dan melarikan Kun Hong dari tempat yang berbahaya itu.

Kun Hong hampir pingsan saking lelahnya pada saat dia duduk di atas punggung rajawali sambil memeluk lehernya. Dengan terharu dia berbisik, "Tiauw-ko... ahh, kau baik sekali, terima kasih, tiauw-ko..."

Burung itu mengeluarkan bunyi perlahan seolah-olah dapat menerima ucapan Kun Hong, dan terbangnya semakin pesat membubung tinggi di udara sampai kelihatan kecil sekali, kemudian menukik ke barat dengan kecepatan kilat.

Belasan li di sebelah barat, di luar tembok kota raja, terdapat sebuah hutan besar. Daerah ini termasuk kaki Pegunungan Tapie-san. Burung rajawali emas yang membawa terbang Kun Hong itu menukik ke bawah, ke arah hutan ini dan tak lama kemudian dia sudah turun ke atas tanah di antara pohon-pohon besar di tengah hutan itu, lalu mendekam. Kun Hong segera melompat turun dari punggung kim-tiauw.

"Bagus, A-tiauw, kau berhasil menolong Kun Hong!" terdengar suara orang, halus dan tenang.

Kun Hong tercengang, mengingat sebentar kemudian dengan girang dia menjatuhkan diri berlutut sambil berseru. "Susiok (paman guru)..."

Kakek itu tertawa. Memang dia bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok, adik seperguruan manusia sakti Bu Beng Cu, guru Kwa Kun Hong yang tak pernah dia lihat orangnya itu.

Dalam cerita Rajawali Emas dituturkan bahwa dahulu sebelum Kun Hong buta, pernah dibawa oleh rajawali emas ini ke puncak Gunung Liong-thouw-san (Gunung Kepala Naga) dan di tempat rahasia inilah dia menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng peninggalan Bu Beng Cu sehingga dengan bantuan rajawali emas, pemuda ini dapat mewarisi ilmu silat yang dia namakan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas).

Dalam ceritera Rajawali Emas pula, pernah Kun Hong bertemu dengan adik seperguruan Bu Beng Cu, seorang aneh yang sakti pula, yaitu bukan lain adalah Sin-eng-cu (Si Garuda Sakti) Lui Bok inilah yang pernah mengajarnya ilmu sihir yang disebut ilmu merampas semangat.

Pada saat itu, selagi Kun Hong berlutut penuh keharuan karena tak mengira bahwa yang menyuruh rajawali emas menolongnya ternyata adalah susiok-nya sendiri ini, terdengar kaki-kaki kecil berlari mendekati dan suara yang amat dikenalnya berseru, "Suhu...!"

"A Wan, kau di sini?" Kun Hong memeluk anak itu, girang dan juga heran.

"Dan anak ini... siapakah?" Dia menoleh ke kiri karena telinganya juga dapat menangkap gerakan seorang anak kecil lagi yang agaknya tadi digandeng oleh A Wan dan sekarang duduk pula di dekatnya.

"Suhu, dia adalah Cui Sian, adik kecil yang baik dan lucu..."
"Cui San?! Anak paman Beng San...?" Kun Hong sampai berteriak keras saking heran dan kagetnya sehingga A Wan yang tak tahu apa-apa menjadi bingung. Dengan penuh keharuan tangannya meraih dan pada lain saat anak perempuan berusia empat tahun itu telah dipeluknya.

Terdengar suara anak perempuan itu, nyaring dan jelas suaranya, tidak seperti anak-anak kecil lain yang sebaya. "Paman buta, kau ini menangis ataukah tertawa? Karena aku tidak dapat membedakannya."

Kun Hong tertawa, pertanyaan bodoh seorang kanak-kanak namun mengandung makna demikian dalamnya, sedalam lautan, meliputi rahasia hidup karena kehidupan di dunia ini memang hanya berisi dua hal, tangis dan tawa!

"Anak baik... anak baik... aku menangis dan juga tertawa saking girangku mendengar kau selamat..."

Tiba-tiba dia teringat dan setelah melepaskan Cui Sian dari pelukan, dia bangkit berdiri, menoleh ke arah Sin-eng-cu Lui Bok. Keningnya berkerut-kerut ketika dia berkata,

"Susiok... Cui Sian di sini bersama Susiok...? Bagaimanakah ini? Bukankah Cui Sian diculik orang dari Thai-san? Apakah Susiok..." dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sungguh pun hatinya penuh kecurigaan yang bukan-bukan.

Kakek itu tertawa lembut. "Kenapa tidak kau lanjutkan, Kun Hong? Tak baik mengandung curiga di dalam hati, karena kecurigaan yang dipendam dapat menimbulkan fitnah tanpa disengaja. Kecurigaanmu keliru, Kun Hong. Aku bersama kim-tiauw ingin menjengukmu di Thai-san dan kulihat Thai-san diserang banyak orang. Di puncak kulihat nyonya ketua Thai-san yang gagah perkasa dikeroyok dan bangunan dibakar. Karena anak ini terancam bahaya, maka aku berlancang tangan membawanya pergi dari sana."

Mendengar ini, merah muka Kun Hong. Tidak dapat dia sangkal lagi, sebelum mendengar penjelasan ini, tadi dia telah menaruh curiga kepada susiok-nya. Dia segera menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata, nada suaranya penuh permohonan dan juga penuh rasa dendam.

"Siapakah mereka itu, Susiok? Si...siapakah mereka yang menyerang Thai-san?"

Kembali kakek itu tertawa geli seakan-akan mendengar sesuatu yang amat lucu.

"Susiok, mengapa Susiok mentertawakan teecu (murid)?" Kun Hong merasa heran dan penasaran.

Apakah pertanyaannya itu dianggap lucu? Tak mengerti dia mengapa dalam urusan yang demikian pentingnya, orang tua itu malah tertawa-tawa dan seakan-akan mentertawakan dirinya.

"Kau hendak apakah menanyakan mereka yang menyerang Thai-san?"
"Keparat-keparat itu telah berlaku keji terhadap paman Beng San, tentu saja teecu harus membalas dendam sakit hati ini!"
"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Sudah kukhawatirkan akan beginilah jadinya. Sayang..." Kakek itu tertawa lagi. "Balas-membalas, dendam-mendendam, roda karma terus berputar tiada hentinya..."

Kun Hong terkejut, lalu cepat bertanya, "Susiok, salahkah sikap teecu ini?" Dan setelah berpikir sebentar dia melanjutkan, "Susiok sudah sampai di Thai-san dan melihat semua itu, sudah berhasil menyelamatkan adik Cui Sian, kenapa Susiok tidak membantu paman Beng San membasmi orang-orang jahat itu?"

"Hemmm, aku tidak mempunyai urusan dengan mereka semua, sudah terlalu lama aku membebaskan diri dari pada libatan karma, Anakku. Sikapmu ini tidaklah salah, hanya hatiku menjadi geli mendengar kata-kata dan melihat sikapmu ini. Agaknya kau sudah lupa sama sekali beberapa tahun yang lalu ketika kau menasehati seorang kakek seperti aku ini pada saat aku hendak mencari dan membunuh Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lokai. Ha-ha-ha!"

Kun Hong tertegun dan seketika dia termenung. Terbayanglah kini semua pengalamannya dahulu, ketika dia masih belum buta. Pertemuannya pertama dengan Sin-eng-cu Lui Bok terjadi amat aneh, yaitu kakek itu menyatakan hendak mencari dan membunuh musuh besarnya, Sin-chio The Kok yang menyembunyikan diri dan mengubah namanya menjadi Hwa-i Lokai. Dialah yang dahulu menasehati orang tua ini agar jangan membalas dan membunuh, supaya jangan terikat oleh tali-temali yang sangat kusut dan sulit, yaitu tali dendam mendendam.

Dan sekarang, persis seperti beberapa tahun yang lalu, sekarang di depan kakek itu dia bersikeras hendak membalas dendam Thai-san-pai kepada orang-orang yang menyerbu Thai-san. Seketika mukanya menjadi merah dan dia tidak dapat berkata sesuatu.

Kakek itu menarik napas panjang, maklum akan isi hati Kun Hong. "Kau masih ingatkah, Kun Hong, betapa dahulu aku pernah datang ke Thai-san dan membujuk kau supaya ikut dengan aku menjadi pertapa, hidup bahagia membebaskan diri dari pada ikatan karma? Kau tidak mau dan aku hanya dapat tunduk akan kehendak Thian. Aku tak menyalahkan engkau. Pengertianmu tentang rahasia hidup memang sudah cukup, tetapi pengertian itu hanya menjadi pengetahuan dari teori buku-buku lama saja, akan tetapi kau belum dapat menguasai ilmu yang kau ketahui teorinya itu. Betapa pun juga, teori yang pernah kau nasehatkan kepadaku dulu itu telah menolongku, sebaliknya tak mampu menolong dirimu sendiri. Ini tidak aneh oleh karena kau memang masih muda, masih suka melibatkan diri dengan dunia beserta sekalian isi dan peristiwanya, kau masih belum mampu menguasai perasaan muda."

Kun Hong menunduk dan diam-diam dia dapat menangkap kebenaran kata-kata kakek ini.

"Kau masih terlalu muda untuk dapat menyelami semua teori tentang filsafat dan rahasia kehidupan, Anakku. Karena jiwamu belum masak, belum cukup kuat menghadapi gejolak perasaan sehingga mudah terpengaruh keadaan dan hawa nafsu. Sekarang pun karena bertemu dengan anak pamanmu, seluruh perasaanmu terpenuhi oleh urusan Thai-san-pai sehingga kau lupa akan tugas yang telah kau ikatkan dengan dirimu, tentang mahkota..."

Kakek itu kembali tertawa. Suara ketawanya lebih keras ketika tiba-tiba Kun Hong seperti orang tersentak kaget meraih A Wan dan serta merta bertanya,
"A Wan, di manakah adanya mahkota itu? Sudah dapat kau ambilkah?" Suaranya penuh harapan. Seperti yang tadi dikatakan oleh Sin-eng-cu Lui Bok, kini seluruh perhatiannya terpusat kepada benda rahasia itulah sehingga boleh dibilang dia lupa sama sekali akan urusan Thai-san-pai!

Sambil berlutut anak itu berkata, suaranya takut-takut, "...ampunkan, Suhu, mahkota itu... benda itu... telah dirampas orang..."

"Apa katamu?" Kun Hong marah dan kecewa sekali, kemudian sambungnya agak tenang setelah dia ingat bahwa seorang anak kecil seperti A Wan, mana sanggup melindungi mahkota itu? 
“Siapakah yang merampasnya?"

Dengan suara mengandung takut kalau-kalau gurunya akan marah kepadanya, A Wan menuturkan pengalamannya.

"Tadinya benda itu teecu sembunyikan dan kubur di belakang rumah dekat sumur. Ketika Suhu menyuruh teecu mengambilnya, teecu segera pergi ke tempat itu dan menggalinya. Akan tetapi baru saja teecu mengambil benda itu dan teecu bersihkan dari tanah lumpur yang masuk ke dalam mahkota, teecu dibentak orang dan mahkota itu hendak dirampas."
''Hemmm, siapa dia? Laki-laki atau wanita?" tanya Kun Hong,

"Seorang laki-laki, akan tetapi karena keadaan gelap, teecu tidak mengenal wajahnya. Teecu mempertahankan mahkota itu, akan tetapi dia menggunakan kekerasan, lalu teecu didorong dan benda itu dapat dirampas. Pada saat itu muncul pula seorang wanita muda dan seorang laki-laki gagah dan masih muda pula. Serta merta orang muda itu menyerang orang yang tadi merampas mahkota tadi, ada pun wanita muda itu menolong teecu. Akan tetapi segera teecu ditinggalkan seorang diri ketika wanita itu melihat teecu tidak apa-apa, kemudian wanita itu membantu temannya mengeroyok laki-laki yang merampas mahkota. Entah bagaimana jadinya karena mereka bertempur sambil berlari dan berkejaran. Teecu ikut mengejar sambil berteriak-teriak minta agar benda itu dikembalikan. Tiba-tiba muncul banyak orang yang galak-galak. Teecu ditangkap dan dipaksa menyerahkan mahkota. Untung segera datang Kakek perkasa (Locianpwe) ini yang menolong teecu kemudian membawa teecu pergi seperti terbang cepatnya."

Kun Hong termenung mendengar ini. Kembali paman gurunya yang menolong A Wan, akan tetapi kenapa tidak sekalian merampas mahkota itu? Dia menjadi amat kecewa.

"Jadi mahkota itu dirampas orang?" katanya lambat-lambat dengan nada sedih.
"Suhu, apa sih gunanya benda mengkilap itu? Jika memang amat diperlukan dan sangat berharga bagi Suhu, biarlah teecu menyelundup masuk kembali ke kota raja dan pergi menyelidikinya." A Wan berkata dengan suara sedih pula sebab anak ini melihat suhunya demikian kecewa.

Kata-kata ini menyadarkan Kun Hong dan seketika mukanya berubah biasa lagi. "Ah, kau mana tahu, A Wan? Sebenarnya bukan benda emas itu yang berharga, melainkan surat yang tersembunyi di dalamnya..."

"Surat? Bertulis? Wahhh, kebetulan sekali Suhu! Teecu sudah menduga-duga surat apa ini. Surat yang disembunyikan di dalam mahkota ada pada teecu."

Sambil berkata demikian A Wan mengeluarkan segulung surat kekuning-kuningan dari dalam saku bajunya. Kun Hong segera menyambar surat itu dan meraba-raba dengan jari-jari tangannya, wajahnya berseri gembira dan bibirnya tersenyum.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini? Di dalam mahkota katamu?"
"Benar, Suhu, Ketika teecu membersihkan mahkota itu, teecu menggosok-gosok sebelah dalamnya yang kotor. Tiba-tiba terdengar bunyi berdetak dan tersembullah kertas di sudut dalam mahkota. Lalu ketika mahkota itu hendak dirampas orang dan teecu pertahankan, tanpa sengaja teecu yang memegangi mahkota dengan sebelah tangan di dalamnya, mencengkeram keluar kertas ini. Teecu baru mengetahui bahwa kertas ini berada dalam genggaman teecu setelah mahkota itu dibawa lari orang."

Kun Hong mengangguk-angguk, meraba-raba kertas bergulung yang kecil itu, kemudian dia menoleh ke arah Sin-eng-cu Lui Bok yang sejak tadi hanya berdiri sambil membelai leher burung rajawali, sama sekali tidak mempedulikan percakapan antara Kun Hong dan A Wan.

"Susiok, tolonglah Susiok periksa gulungan kertas ini. Betulkah ini berisi perintah rahasia mendiang kaisar?"

Terdengar kakek itu tertawa lirih, lalu bergumam, "Terlalu dalam kau terjerumus ke dalam persoalan dunia."

Akan tetapi diterimanya juga gulungan kertas kecil itu, dibukanya dan dibacanya sebentar, lalu digulung kembali dan diangkatnya tinggi-tinggi surat itu di atas kepala sambil berkata, "Memang betul dan mendiang kaisar adalah seorang manusia yang telah berbuat banyak jasa selama hidupnya untuk bangsa. Seorang pejuang perkasa, seorang manusia berjiwa besar."

Dia mengembalikan gulungan kertas itu kepada Kun Hong yang segera menyimpannya di saku bajunya sebelah dalam. Lenyap semua kekecewaannya. Mahkota kuno itu sendiri baginya tidak mempunyai harga, yang penting adalah surat rahasia inilah.

"A Wan, kau anak baik! Kau telah berjasa besar..."

Akan tetapi A Wan yang dipuji gurunya hanya sebentar saja merasa girang karena dia teringat akan ibunya dan bertanya. "Suhu, bagaimana dengan... Ibu? Siapa yang merawat jenazahnya?"

Atas pertanyaan ini Kun Hong tak mampu menjawab. Jelas tidak mungkin baginya untuk ke rumah mendiang janda Yo yang menjadi pusat perhatian para pengawal istana. Akan tetapi dia percaya bahwa Hui Kauw tidak akan membiarkan jenazah janda itu terlantar. Dia percaya bahwa Hui Kauw yang bisa bergerak secara leluasa di kota raja akan dapat mengatur sehingga jenazah itu dapat dikubur baik-baik.

"Kau jangan khawatir, A Wan. Cici Hui Kauw tentu akan mengatur penguburan jenazah ibumu."
"Teecu hendak ke sana, Suhu! Teecu harus menunggui Ibu..." Sekarang anak itu mulai menangis.

Kun Hong mengerutkan keningnya dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak bisa, A Wan. Kau sudah dikenal, kau pun terlibat dalam urusan perebutan surat rahasia, kalau kau muncul pasti kau akan ditangkap."
"Biar teecu ditangkap, biar teecu dibunuh, teecu tidak takut. Teecu harus merawat jenazah Ibu...!"

Kun Hong amat bingung mendengar tangis muridnya yang amat menyedihkan itu. Karena tidak tahu bagaimana harus menghiburnya, dia membentak keras.
"Diam kau, A Wan! Muridku tidak boleh berhati lemah seperti ini! Pantang bagi laki-laki menangis!"

Seketika A Wan berhenti menangis, air matanya masih bercucuran ke luar dari sepasang matanya, akan tetapi mata itu kini dibuka terbelalak lebar memandang gurunya dan dia menggigit bibirnya menahan tangis. Hanya pundaknya saja yang digoyang-goyang oleh isak tangis yang tak mungkin ditahannya itu.

Kalau saja Kun Hong dapat melihat sikap muridnya ini, tentu dia akan menjadi terharu dan bangga sekali. Ketaatan bocah itu bukan sekali-kali karena takut. Semenjak kecil A Wan mendapatkan cinta kasih dari ibunya yang berwatak halus, tidak pernah dia mendapat perlakuan kasar sehingga dia tidak mempunyai sifat takut-takut. Ketaatannya kepada Kun Hong berdasarkan keseganan dan kepercayaan bahwa segala apa yang diperintahkan oleh gurunya yang dicintanya sebagai ibunya sendiri itu, pastilah benar dan baik serta harus ditaatinya.

"A Wan, muridku yang baik. Pergilah kau ke sana, ajaklah adikmu Cui Sian itu mencari kembang, aku hendak bicara dengan Susiok-couw-mu (Paman kakek gurumu)," kata Kun Hong.

Kemudian A Wan segera berdiri, menuntun tangan Cui Sian dan mereka pergi menjauh. Tak lama kemudian hanya terdengar suara ketawa Cui Sian yang nyaring ketika A Wan mengajaknya menangkap kupu-kupu yang bersayap indah.

Kini kakek itu berhadapan dengan Kun Hong. Pendekar Buta ini merasa lemah seluruh anggota tubuhnya, terbawa oleh derita batin yang ditanggungnya selama ini. Semua tugas yang dipikulnya belum ada yang terpenuhi dan kini dia menjadi bingung menghadapinya. Bagaimana dia akan dapat menunaikan semua tugas itu dengan sempurna?

"Susiok, bagaimanakah pendapat Susiok? Teecu merasa bingung... teecu yang buta ini benar-benar kehabisan akal, mohon petunjuk, Susiok."

Kembali Sin-eng-cu Lui Bok tertawa geli. "Duduklah, Kun Hong, dan mari kita bercakap-cakap."

Kun Hong lalu duduk di atas tanah, bersila di depan kakek itu yang sudah duduk bersila di atas rumput tebal.....
"Kun Hong, kalau aku dahulu membujukmu supaya ikut denganku ke puncak gunung dan bertapa, sekarang sudah tak mungkin lagi. Kau telah mengikatkan dirimu dengan pelbagai urusan dunia dan sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan engkau harus terus melanjutkan semua tugasmu sampai selesai. Selama ini aku selalu mengikuti sepak terjangmu, dan jurus yang kau mainkan untuk membunuhi lawan-lawanmu itu sungguh-sungguh keji sekali!"

Kun Hong terkejut sekali, mengeluh dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. "Ahh, Susiok... berilah petunjuk..."

Diam-diam dia merasa malu terhadap diri sendiri. Kiranya susiok-nya ini sekarang sudah menjadi orang yang demikian saktinya sehingga dapat mengikuti semua pengalamannya. Benar-benar hebat.

"Dahulu teecu pernah berlancang mulut memberi nasehat kepada Susiok supaya jangan membunuh Hwa-i Lokai, sekarang teecu sendiri malah telah banyak membunuh orang."

"Kun Hong, aku tidak bisa menyalahkanmu karena perbuatanmu itu semata-mata hanya dalam tugas membela diri, sama sekali tidak ada niat sebelumnya di dalam hatimu untuk membunuh. Kau masih muda, tapi banyak kali hatimu terluka, terutama oleh peristiwa di puncak Thai-san di mana kau kehilangan kekasih dan sekaligus kehilangan sepasang mata. Semua itu terjadi karena kau terlalu diperhamba oleh perasaan dan sekarang pun masih menjadi hamba perasaanmu sendiri sehingga tanpa kau sengaja kau malah telah menghancurkan pengharapan dan kebahagiaan seorang wanita mulia seperti nona muka hitam itu."

Kakek itu menarik napas panjang dan Kun Hong tiba-tiba menjadi merah mukanya. Bukan main kakek ini. Sampai urusannya dengan Hui Kauw sekali pun sudah diketahuinya.

"Susiok, mohon petunjuk...," dia hanya dapat mengulang kata-kata ini.
"Agaknya sudah menjadi kehendak alam bahwa manusia ini hidupnya dipengaruhi dan dibimbing oleh rasa. Rasa menimbulkan kehendak dan kehendak melahirkan perbuatan. Jadi setiap perbuatan merupakan pelaksanaan dari pada kehendak yang akan menuruti dorongan rasa. Rasa ini halus sekali dan karenanya sering kali dipermainkan oleh nafsu. Nafsu inilah pokok pangkal segala peristiwa di dunia, karena nafsulah yang mendorong segala sesuatu di dunia ini sehingga dapat berputar. Nafsu ini besar kecilnya tergantung pada pihak ke’aku’an yang ada pada diri setiap manusia. Orang yang selalu memikirkan diri sendiri, orang yang selalu mementingkan diri pribadi, dialah seorang hamba nafsu dan sering sekali melakukan perbuatan yang menyeleweng dari pada kebenaran."

Kun Hong adalah seorang pemuda yang sejak kecil banyak membaca filsafat, dan filsafat di atas sudah pula diketahuinya. Akan tetapi, selama ini tidak pernah dia mendapatkan seorang teman untuk diajak berdebat tentang kebenaran filsafat-filsafat itu, maka saat ini berhadapan dengan seorang sakti, dia sengaja ingin memperdalam arti pengetahuannya dan minta petunjuk agar tidak terlalu risau hatinya.

"Susiok, kalau begitu, apakah sebaiknya kita membunuh saja nafsu diri sendiri sehingga terhindar dari pada penyelewengan dalam hidup?"

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa. "Aku tahu bahwa kau sudah mengerti akan hal ini akan tetapi agaknya menghendaki keyakinan. Baiklah, akan kucoba untuk menjelaskan. Ada orang yang bertapa dan sengaja berusaha untuk membunuh nafsunya sendiri. Sudah tentu bagi orang-orang yang melakukan hal demikian usaha ini benar. Akan tetapi bagi aku pribadi, usaha seperti itu bukanlah merupakan jalan untuk mencapai kesempurnaan. Nafsu tidak boleh dibunuh karena seperti yang sudah kukatakan tadi, nafsu adalah pendorong hidup, pendorong segala di dunia ini hingga dapat berputar dan berjalan sebagaimana mestinya menurut hukum alam. Tanpa adanya nafsu, dunia akan sunyi, akhirnya segala akan mati dan diam tak berputar lagi. Karena itulah maka kuanggap keliru bila ada yang berusaha mencari kesempurnaan dengan jalan membunuh nafsu-nafsunya sendiri."

Kun Hong mengangguk-angguk. Dia pun pernah membaca mengenai orang-orang yang berkeyakinan bahwa jalan menuju arah keutamaan dan kesempurnaan adalah membunuh nafsunya sendiri. Dan dia dapat menerima pendapat paman gurunya ini.

"Kalau begitu, bagaimana seyogyanya menghadapi nafsu-nafsu sendiri yang kadang kala menyeret kita dalam perbuatan-perbuatan maksiat itu, Susiok?"

"Nafsu adalah pelengkap yang lahir bersama hidup itu sendiri. Tubuh manusia kalau boleh diumpamakan sebuah kereta yang lengkap, maka nafsu merupakan kuda-kudanya yang dipasang di depan kereta. Si kereta tidak akan dapat bergerak maju sendiri tanpa tarikan tenaga kuda-kuda nafsu itu. Kuda-kuda nafsunya memang liar dan binal, kalau dibiarkan saja kuda-kuda itu tentu meliar dan membedal semauaya sendiri, tentu ada bahayanya kuda-kuda itu, akan dapat menjerumuskan kereta ke dalam jurang kesengsaraan hidup, mungkin berikut kusirnya sekalian karena kereta itu juga ada kusirnya, yaitu si aku yang sejati, jiwa yang menguasai seluruh kereta. Kalau kusir itu cukup pandai mengendalikan kuda-kuda liar itu dengan tali-temali berupa kesadaran, maka kuda-kuda nafsu yang liar dan binal itu dapat dipergunakan tenaganya untuk menarik maju si kereta menuju ke jalan yang benar, sesuai dengan kehendak alam. Segala sesuatu harus bergerak maju, namun kemajuan yang lurus dan benar, karena siapa yang maju dalam keadaan menyeleweng pasti akan hancur ke dalam jurang kesengsaraan. Mengertikah kau, Kun Hong?"

Kun Hong mengangguk-angguk. "Teecu mengerti, Susiok. Sungguh teecu tak menyangka bahwa Susiok tahu akan segala peristiwa yang menimpa teecu, bahkan secara kebetulan Susiok turut menyaksikan pula diserbunya Thai-san-pai oleh orang-orang jahat sehingga Susiok berhasil menyelamatkan Cui Sian. Akan tetapi, Susiok, bolehkah teecu bertanya, mengapa Susiok tidak membantu paman Beng San menghadapi orang-orang jahat yang merusak Thai-san-pai?"

"Aku tidak perlu mencampuri urusan pertempuran-pertempuran orang lain, hal itu bukan urusanku. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan seorang anak kecil seperti Cui Sian menjadi korban pertentangan orang-orang tua itu."

Kun Hong merasa tidak puas, dia mengerutkan keningnya. "Maaf, Susiok, terpaksa teecu harus membantah. Sungguh pun pertempuran itu bukan urusan Susiok, namun kiranya Susiok dapat membela kebenaran. Bukankah sikap seorang gagah harus selalu membela kebenaran dan keadilan di dunia ini?"

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, Kun Hong, kau bilang kebenaran dan keadilan, akan tetapi kebenaran yang mana dan keadilan yang mana? Kebenaran untuk siapa dan keadilan untuk siapa? Anakku, tahukah kau bahwa dunia ini menjadi kacau, manusia saling bermusuhan, tidak lain dan tidak bukan hanya karena mereka itu saling memperebutkan kebenaran? Kebenaran itu hanya satu, akan tetapi menjadi banyak sekali sifatnya karena tiap orang mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri! Benar dan adil bagi yang satu, belum tentu benar dan adil bagi yang lain. Dan apa bila ada dua orang saling bermusuhan untuk memperebutkan kebenaran, katanya, maka jelaslah bahwa keduanya sudah menyeleweng dari pada kebenaran sejati dan yang mereka perebutkan itu adalah kebenaran palsu, karena kebenaran untuk dirinya sendiri, kebenaran dan keadilan demi kepentingan masing-masing. Kalau di waktu itu aku membantu Thai-san-pai, apa kau kira mereka yang memusuhi Thai-san-pai menganggap aku benar dan adil? Ha-ha-ha, kurasa tidak, muridku."

Tentu saja Kun Kong dapat menerima ini karena dia pun sudah tahu akan filsafat tentang kebenaran ini. Akan tetapi dia masih penasaran karena dia amat yakin bahwa kebenaran berada di pihak pamannya.

"Maaf, Sosiok. Memang tepat apa yang Susiok uraikan itu, akan tetapi, Susiok, teecu yang bodoh berpendapat bahwa dengan melihat watak orangnya, mudah ditarik kesimpulan siapa yang benar di antara dua orang yang bermusuhan. Juga dengan pertimbangan dan akal, dapat pula kita menilai dari urusan-urusannya, siapa yang patut disebut berada di pihak kebenaran. Saya kira, tidak mungkin apa bila paman Tan Beng San yang terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa dan luhur budi pekertinya, tidak berada di pihak benar."

"Belum tentu juga, Kun Hong. Yang datang menyerbu adalah orang-orang yang hendak membalas dendam atas kematian orang-orang yang mereka kasihi dan dalam hal ini, isi hati mereka sama sekali tidak ada bedanya dengan isi hatimu sekarang yang hendak membalas dendam Thai-san-pai terhadap mereka yang telah merusaknya."

"Ahhh... begitukah kiranya...??" Kun Hong tercengang. "Bagaimana, Susiok apakah yang teecu harus lakukan? Harap beri petunjuk."

"Kau masih muda, Kun Hong. Kau sudah melibatkan dirimu dalam tali-temali karma, tidak mungkin kau dapat membebaskan dirimu sekarang. Akan tetapi, jalan satu-satunya untuk mendapatkan karma yang baik adalah bertindak selaras dengan kebajikan. Dengan dasar kebajikan dan kesadaran, kau boleh menentukan sendiri yang mana yang harus kau bela. Engkau berbeda dengan aku, engkau adalah seorang pendekar muda, harus melangkah atas dasar jejak satria. Aku seorang pertapa yang sudah mencuci tangan, sudah bebas dari pada ikatan duniawi, atau setidaknya, yang sedang berusaha untuk pembebasan itu. Kau lanjutkan saja pelaksanaan tugas-tugasmu karena semua itu tidak menyeleweng dari pada kebenaran. Kalau kau menimbang bahwa menyampaikan surat rahasia kepada raja muda yang berhak menerimanya itu sudah benar dan patut, kau lakukanlah itu. Kalau kau merasa bahwa orang-orang yang menyerbu Thai-san-pai itu berada di pihak keliru, kau boleh mencari dan menghajar mereka. Mereka adalah orang-orang Ching-coa-to bersama teman-temannya, hampir semuanya mempunyai dendam terhadap Thai-san Paicu (ketua Thai-san-pai). Ada pun tentang diri nona muka hitam itu, dialah wanita satu-satunya yang tepat untuk menggantikan kedudukan mendiang nona Tan Cui Bi di sampingmu."

Mendengar kata-kata ini muka Kun Hong berubah menjadi merah dan hatinya berdebar tidak karuan. Disinggung-singgungnya Hui Kauw dalam percakapan ini membuat dia tidak dapat membuka mulut lagi.

"Sekarang perhatikan baik-baik nasehatku yang terakhir, Kun Hong. Aku sudah melihat sebuah jurusmu yang sangat hebat dan keji itu, jurus perkawinan antara Im-yang Sin-hoat dan Kim-tiauw-kun. Dari dua macam ilmu kesaktian yang amat lurus dan bersih, kenapa bisa diciptakan menjadi sebuah jurus yang demikian keji? Siapa yang memberi petunjuk kepadamu?"
"Locianpwe Song-bun-kwi,” jawab Kun Hong terus terang.
"Ha-ha-ha, pantas, pantas saja kalau dia, si tua bangka dimabuk nafsunya sendiri itu! Kun Hong, seandainya gurumu, Bu Beng Cu masih hidup dan dapat melihat jurusmu itu, sudah pasti beliau akan merasa sedih dan malu sekali. Juga kalau pamanmu Tan Beng San melihatnya, kau tentu akan mendapat marah. Jurus apa itu namanya?"

Dengan perasaan sungkan dan malu Kun Hong menjawab lirih, "Locianpwe Song-bun-kwi yang memberi nama... ehh, jurus Sakit Hati..."

"Ha-ha-ha, namanya sama jahatnya dengan jurusnya. Tepat, tepat!" dia terkekeh-kekeh geli. "Tahukah engkau untuk apa gunanya orang mempelajari ilmu silat?"
"Untuk membela diri, menjaga diri dari pada serangan dari luar, dan untuk membela pihak yang tertindas, kaum lemah yang membutuhkan pertolongan, juga untuk menundukkan pihak yang mempergunakan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang, untuk membela kebenaran dan keadilan."
"Hemmm, kalau kau sudah tahu ini, kenapa menciptakan jurus yang khusus hanya untuk membunuh orang?"

Suara kakek ini demikian bengis sehingga buru-buru Kun Hong berkata, "Teecu salah... selanjutnya tidak akan berani menggunakan jurus sesat itu lagi..."

Suara kakek itu lunak kembali ketika berkata, "Bukan begitu maksudku. Kau juga berhak menggabungkan Im-yang Sin-hoat dengan Kim-tiauw-kun, apa lagi kalau diingat bahwa kedua ilmu silat itu sumbernya sama, yaitu peninggalan dari Sucouw Bu Pun Su. Tanpa dasar dendam dan sakit hati kau akan dapat menciptakan jurus-jurus sakti dari kedua ilmu itu, malah tidak terbatas hanya satu jurus saja. Biarlah aku menggunakan kesempatan sekarang ini untuk memberi petunjuk kepadamu. Nah, kau bersilatlah dengan Im-yang Sin-kiam-sut kemudian Kim-tiauw-kun agar dapat kulihat kemungkinan dan letak rahasia penggabungannya nanti."

Dengan girang Kun Hong lalu bersilat, mainkan tongkatnya dengan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut yang telah dia pelajari dari Tan Beng San. Kemudian dia bersilat lagi dengan Kim-tiauw-kun, dengan langkah-langkahnya yang ajaib beserta gerakan-gerakannya yang aneh.

Berkali-kali Sin-eng-cu Lui Bok berseru menyatakan kekagumannya dan pada akhirnya dia berkata, "Hebat sekali! Aku tua bangka Lui Bok benar-benar berbahagia sekali, mata tua ini masih dapat menyaksikan kedua ilmu silat sakti dimainkan olehmu begitu baiknya. Gurumu, mendiang Suheng Bu Beng Cu tentu akan bangga sekali bila dapat melihatmu, malah Sucouw Bu Pun Su sendiri tentu tidak pernah mengira bahwa ilmu ciptaannya akan dapat dimainkan sehebat ini oleh seorang cucu murid yang buta."

Selanjutnya kakek yang sakti ini, yang selama berdiam di puncak Liong-thouw-san sudah memperdalam ilmunya, memberi petunjuk-petunjuk kepada Kun Hong bagaimana caranya menggabungkan kedua ilmu kesaktian itu menjadi sebuah ilmu silat gabungan yang luar biasa.

Hebatnya, ilmu ini masih menggunakan tenaga yang bertentangan, yaitu tenaga Im dan tenaga Yang seperti dalam ilmu sakti Im-yang Sin-hoat, akan tetapi gerakan-gerakannya dicampur dengan Kim-tiauw-kun sehingga boleh dikatakan bahwa kalau tangan kanan yang memegang tongkat pengganti pedang mainkan Im-yang Sin-kiam-sut, adalah kedua kaki mainkan langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun dan tangan kiri juga mainkan jurus-jurus serangan Kim-tiauw-kun.

Malah jurus yang disebut jurus Sakit Hati dapat dimasukkan dalam ilmu silat gabungan ini, hanya kini lain sifatnya, tidak seganas tadinya yang sekali bergerak tentu merupakan jurus maut. Biar pun daya serangannya masih hebat, tapi sekarang gerakannya dilakukan dengan penuh kesadaran sehingga dapat digunakan menurut ukuran, tidak seperti tadinya yang gerakannya dipengaruhi perasaan sakit hati dan hawa amarah sehingga dilakukan secara membuta dengan tujuan membunuh untuk memuaskan nafsu belaka.

Dengan amat tekun Kun Hong menerima petunjuk teori penggabungan itu dan diam-diam dia mencatat semuanya dalam ingatan. Malah dia lalu bersilat dengan gerakan gabungan ini, disaksikan oleh Sin-eng-cu Lui Bok yang memberi petunjuk-petunjuk di bagian yang kurang tepat.

Sementara itu, A Wan dan Cui Sian sudah kembali ke tempat ini dan dua orang bocah itu dengan bengong duduk di atas tanah sambil menonton Kun Hong bersilat. Cui Sian adalah puteri suami isteri pendekar besar sehingga semenjak kecil dia sudah sering kali melihat orang bersilat, maka tidak mengherankan apa bila sekarang ia amat tertarik dan gembira menyaksikan Kun Hong bergerak-gerak seperti itu.

Yang mengherankan adalah A Wan. Bocah ini tak pernah melihat seorang bersilat, akan tetapi sekarang amat tertarik hatinya dan hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang berbakat dan berminat.

"Nah, sekarang kita harus berpisah, Kun Hong. Aku akan kembali ke Liong-thouw-san. A Wan akan kubawa serta karena selama kau melanjutkan usahamu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sangat penting dan berat itu, A Wan hanya akan menjadi penghalang bagimu. Lagi pula, kurang baik kalau anak ini kau bawa menempuh bahaya-bahaya dan pertempuran, karena dia belum mempunyai dasar batin yang kuat sehingga aku khawatir kalau-kalau kelak anak ini akan menjadi tukang pukul yang kerjanya hanya memamerkan kepandaian untuk memukul orang. Juga Cui Sian kubawa, kelak kalau sudah tiba saatnya akan kukembalikan kepada orang tuanya."

Kun Hong membungkam. Mendadak hatinya terasa sunyi mendengar ucapan ini. Semua akan meninggalkannya, orang-orang yang dikasihinya ini. Apa lagi ketika terdengar suara burung rajawali emas merintih perlahan. Makin sedih hatinya.

Tiba-tiba dia berkata, "Susiok, ijinkanlah kepada Kim-tiauw-ko (kakak rajawali emas) untuk menemani teecu beberapa waktu lamanya. Teecu masih amat rindu kepadanya."

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa. "Dia bebas, kalau dia mau boleh saja. Nah, selamat berpisah, Kun Hong."

Kakek itu menggandeng tangan kedua orang anak itu dan mengajak mereka pergi. A Wan beberapa kali menengok kepada gurunya, hanya kedua matanya saja yang memandang sedih, akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak kakek itu.

Yang luar biasa sekali adalah burung rajawali emas. Agaknya dia dapat menangkap arti percakapan tadi. Buktinya sesudah dia diberi kebebasan, agaknya dia suka memenuhi permintaan Kun Hong. Matanya memandang ke arah Lui Bok yang pergi bersama kedua orang bocah itu, akan tetapi dia tidak kelihatan bergerak hendak pergi.

Kun Hong bangkit berdiri dan merangkul lehernya. "Tiauw-ko, kau tentu suka menemani aku, bukan? Aku kesepian sekali, Tiauw-Ko..."

Burung itu mengeluarkan suara perlahan, paruhnya yang besar mengkilap dan kokoh kuat itu membelai jari-jari tangan Kun Hong. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan suara aneh lalu mendorong Kun Hong dengan sayapnya. Tubuh Kun Hong terpental dan burung itu sudah menyerbu dan menyerangnya!

"Ha-ha-ha-ha, Tiauw-ko, kau mengajak latihan?" Kun Hong tertawa-tawa gembira, teringat akan kebiasaan mereka dahulu di puncak Bukit Kepala Naga.

Dahulu pun burung inilah yang menjadi teman berlatih, malah boleh dibilang burung inilah yang menjadi guru pertama dalam ilmu silat! Dia sudah mengenal suara burung itu kalau mengajak berlatih dan dia tahu pula bahwa burung ini kalau mengajak latihan berkelahi, selalu berkelahi seperti sungguh-sungguh dan tidak boleh dipandang ringan sedikit pun juga!

Timbul kegembiraannya dan tiba-tiba dia teringat akan usahanya yang telah dibantu oleh Sin-eng-cu Lui Bok tadi, yaitu menggabungkan kedua ilmu silat sakti. Segera dia bergerak menghadapi dengan ilmu silat gabungan ini, menggunakan tongkatnya yang ampuh.

Kim-tiauw memang hebat luar biasa. Dari gerakan-gerakannya tahulah Kun Hong bahwa selama beberapa tahun ini, kim-tiauw sudah mendapatkan kemajuan pesat dan hebat. Kini gerakan-gerakannya jauh lebih cepat, lebih matang, sedang pancingan-pancingannya lebih bertambah.

Tetapi harus dia akui dengan hati iba bahwa dalam hal tenaga, burung ini sudah mundur banyak sekali, tanda bahwa burung ini sudah mulai tua! Sebaliknya, kim-tiauw beberapa kali mengeluarkan seruan-seruan yang bagi telinga Kun Hong terdengar seperti terkejut dan kadang-kadang kagum.

Memang baginya, dengan ilmu silat gabungan ini, amatlah mudah menghadapi kim-tiauw. Langkah ajaibnya dapat mengimbangi gerakan kim-tiauw itu, tongkatnya bisa menandingi paruh dan tangan kirinya dapat membalas semua serangan sayap. Malah, dengan amat mudahnya dapatlah dia berkali-kali menampar burung itu sebagai pengganti tusukan atau hantaman maut.

Girang hatinya bahwa kini dia dapat mempergunakan jurus Sakit Hati dengan berhasil baik tanpa membinasakan lawan. Hal ini adalah karena dia dapat menimbang tenaganya. Biar pun tenaga sakti yang amat hebat dan dahsyat itu tersalur dari dalam melalui setiap pukulannya, tetapi dia dalam keadaan sadar dan dapat mengurangi atau pun menambah tenaga, bahkan dapat menariknya kembali setiap saat dia kehendaki. Karena inilah maka kini dengan mudah dia dapat mengganti pukulan maut dengan tepukan atau tamparan tak berarti pada semua bagian tubuh rajawali emas itu tanpa melukainya.

Setelah berlatih ratusan jurus, akhirnya rajawali emas merintih perlahan lalu mendekam di atas tanah, berkali-kali mulutnya mengeluarkan suara pujian.

Kun Hong merangkulnya dan tertawa-tawa gembira. "Wah, Tiauw-ko, dengan adanya kau di sampingku, teringat aku akan masa lalu yang sangat menggembirakan. Dengan kau di sini aku tidak akan merasa kesepian lagi!"

Sehari itu Kun Hong bermain-main dengan rajawali emas yang mencarikan buah-buahan untuknya. Setelah beristirahat mereka lalu berlatih kembali. Burung itu selalu memenuhi permintaannya untuk berlatih dan makin lama makin payahlah kim-tiauw melawannya.

Bukan main girangnya hati Kun Hong dan dia amat berterima kasih kepada Sin-eng-cu Lui Bok karena berkat petunjuk kakek sakti itu, dia benar-benar telah menciptakan ilmu silat yang luar biasa, yang kehebatannya setingkat dengan jurus Sakit Hati akan tetapi tidak sekeji itu. Sehari suntuk dia berlatih dan menciptakan jurus-jurus baru yang sekiranya cocok, diambil dari pada gabungan dua ilmu silat sakti itu.

Malah sedikit banyak terdapat pula unsur saripati Ilmu Silat Hoa-san-pai yang juga dia masukkan ke dalam ilmu silat ini bila mana terdapat kecocokan. Bagaimana pun juga, Hoa-san-pai adalah partai yang dipimpin ayahnya, maka dia tidak mau meninggalkan ilmu silat partai ini.

Setelah malam tiba, Kun Hong yang sejak sore tadi beristirahat sambil bersemedhi, duduk bersila mengheningkan cipta untuk menyempurnakan hasil ciptaan ilmu silat gabungan itu sambil memulihkan tenaga dan sekalian menyembuhkan luka-lukanya, sekarang bangkit dari duduknya. Telinganya mendengar suara mengiang-ngiang dan kiranya di tempat itu terdapat banyak sekali nyamuk yang mulai beroperasi setelah sinar matahari menghilang.

Kun Hong membuat api dengan jalan mencetuskan ujung tongkatnya kepada batu hitam, membakar daun-daun kering dan sebentar kemudian di sana telah menyala api unggun. Kim-tiauw sudah biasa pula dengan pekerjaan ini, maka tanpa diperintah burung sakti ini mengumpulkan kayu-kayu kering dengan paruhnya dan menjajarkan dekat api unggun.

Setelah itu, dua orang makhluk yang bersahabat itu melayang ke atas pohon. Kun Hong duduk bersila di atas sebuah cabang pohon besar, sedangkan kim-tiauw mendekam di dekatnya. Kehangatan bulu-bulu burung itu membuat Kun Hong lebih cepat dapat terlena dalam semedhinya.

Tanpa terasa malam merayap cepat dan bulan purnama mulai muncul di ufuk timur. Api unggun masih bernyala sambil mengeluarkan bunyi gemeretak memakan kayu-kayu dan daun-daun kering.

Nyanyian burung malam yang menyambut munculnya bulan purnama menyadarkan Kun Hong dari semedhinya. Dia kemudian termenung dan diam-diam memikirkan keterangan Sin-eng-cu Lui Bok tentang orang-orang yang menyerbu Thai-san-pai.

Jadi ternyata musuh-musuh Thai-san-pai itu adalah Ching-toanio dan teman-temannya? Pantas saja mampu menyerbu Thai-san-pai, ternyata orang-orang sakti yang berada di Ching-coa-to itu adalah musuh-musuh Thai-san-pai. Dia lalu mengingat-ingat.

Menurut keterangan Hui Kauw, memang ada permusuhan antara pihak mereka dengan Thai-san-pai. Ching-toanio sendiri adalah kekasih Siauw-coa-ong Giam Kin yang tewas di Thai-san-pai, tentu nyonya galak itu memusuhi Thai-san-pai, terutama memusuhi Tan Beng San.

Orang ke dua adalah Bouw Si Ma, murid Pak Thian Lo-cu yang juga tewas di Thai-san ketika bertanding melawannya. Ada pun Ang Hwa Sam-ci-moi, tiga orang wanita sakti yang juga menjadi tamu dan sahabat Ching-toanio, adalah adik-adik seperguruan dari Hek-hwa Kui-bo yang merupakan musuh besar Tan Beng San pula.

Hanya Ka Chong Hoatsu dan Pangeran Souw Bu Lai yang tidak mempunyai permusuhan secara langsung dengan Thai-san-pai. Akan tetapi menilik hasil yang dicapai oleh para penyerbu, bukanlah hal yang dapat disangsikan lagi bahwa kakek Mongol itu tentu ikut pula membantu.
Related image
Bagaimana dengan Bun Wan putera ketua Kun-lun-pai yang dulu juga berada di Ching-coa-to? Apakah ia ikut pula membasmi Thai-san-pai? Tak mungkin dan Kun Hong menjadi lega hatinya ketika teringat bahwa ketika dia merampas kembali mahkota di Pulau Ching-coa-to bersama Hui Kauw, pemuda Kun-lun-pai itu berada di sana sedangkan Ching-toanio dan semua orang kosen tidak berada di pulau itu. Ini hanya berarti bahwa mereka sedang pergi menyerbu ke Thai-san-pai dan pemuda Kun-lun itu tidak ikut.

"Hemmm, sewaktu-waktu aku akan membalaskan penasaran ini dan akan menghadapi mereka seorang demi seorang."

Pikirannya mengingat tokoh-tokoh tadi, akan tetapi sekarang dia tak lagi dipanaskan oleh dendam dan sakit hati. Kalau dia berniat melawan mereka, adalah karena dia yakin bahwa mereka itu bukanlah orang baik-baik.

Hal ini dapat dibuktikan dari sepak terjang mereka terhadap dirinya ketika di Pulau Ching-coa-to, juga mengingat akan tokoh-tokoh yang mereka balaskan sakit hatinya adalah tokoh-tokoh jahat seperti Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-coa-ong Giam Kin. Maka tak perlu diragukan lagi bahwa mereka tentu termasuk golongan hitam yang selalu ditentang oleh para pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan, kebenaran dan keadilan.

Bulan purnama sudah mulai naik ke atas puncak pohon-pohon di sebelah timur dan hawa malam makin dingin. Api unggun yang tadi masih bernyala gembira itu mendatangkan kehangatan yang nikmat selain mengusir nyamuk.

Tiba-tiba rajawali emas mengeluarkan suara melengking. Kun Hong kaget dan biar pun dia masih duduk bersila di atas cabang, namun seluruh perhatiannya dia tujukan kepada pendengarannya. Suara burung itu menandakan bahwa dia marah dan curiga, dan hal ini hanya bisa terjadi kalau burung itu melihat orang asing mendatangi tempat itu.

Anehnya, burung itu mendadak mengubah suaranya seperti merintih dan ragu-ragu, kini berdiri di atas cabang, tidak mendekam lagi dan kedua sayapnya bergerak-gerak. Kun Hong juga sudah dapat menangkap langkah-langkah kaki dua orang mendekati tempat itu, langkah-langkah dua orang yang mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

Burung rajawali makin aneh sikapnya, sebentar marah sebentar ragu-ragu, dan pada saat itu terdengar seruan seorang wanita.

"Paman Hong...!"

Suara seorang laki-laki yang nyaring menyusul terdengar, "Betul, paman Kun Hong dan kim-tiauw...!"

Bukan main girang dan kagetnya hati Kun Hong. Dia mengenal baik suara dua orang itu. Sin Lee dan Hui Cu! Saking girangnya Kun Hong lalu melompat turun diikuti melayangnya burung rajawali itu dari atas cabang pohon.

Rajawali itu masih kelihatan curiga dan marah, akan tetapi dia tidak bergerak menyerang. Apa lagi melihat betapa Kun Hong segera berangkulan dengan Sin Lee dan memegangi tangan Hui Cu dengan girang sekali.

Tan Sin Lee, laki-laki yang tegap dan tampan ini adalah keponakannya sendiri, karena ibu Sin Lee adalah mendiang Kwa Hong, kakak perempuan lain ibu tunggal ayah. Sin Lee adalah putera tunggal Kwa Hong dan Tan Beng San.

Sedangkan Thio Hui Cu adalah puteri tunggal paman gurunya, Thio Ki dan bibi Lee Giok. Telah kurang lebih lima tahun dia tak bertemu dengan mereka, semenjak dia menghadiri pernikahan mereka di Hoa-san dahulu.

Rajawali emas ketika melihat betapa Kun Hong bersikap ramah terhadap dua orang itu, segera menghampiri Sin Lee dan mengeluarkan suara lirih sambil menggosok-gosokkan kepalanya pada pundak orang gagah itu.

Sin Lee merangkulnya dan suaranya terharu ketika berkata, "Kim-tiauw-ko, ternyata kau tidak lupa kepadaku..." Di dalam suaranya ini terkandung penyesalan besar mengingat akan sikapnya yang buruk terhadap burung ini dahulu.

Dahulu, di waktu masih kecil, burung ini adalah teman bermain Sin Lee. Malah sebelum Kun Hong bertemu dengan rajawali emas ini, lebih dahulu Sin Lee sudah menjadi teman bermain-main dan berlatih silat. Akan tetapi karena Sin Lee bersikap keras, burung ini akhirnya pergi meninggalkannya.

"Sin Lee, Hui Cu, benar-benar amat mengejutkan kedatangan kalian ini! Sama sekali tak pernah aku mimpi bertemu dengan kalian di tempat seperti ini. Kalian hendak ke manakah dan dari mana? Dan sudah berapa orangkah anak kalian?"

Sin Lee tertawa dan Hui Cu menjadi merah mukanya.

"Ahh... paman Hong...!" cela Hui Cu.
"Ha-ha-ha-ha, Hui Cu, kau masih seperti dahulu, pemalu sekali. Apa salahnya bertanya keturunan? Sudah jamak sanak keluarga mau pun handai taulan, kalau saling bertemu setelah berpisah lama, tentulah anak yang ditanyakan lebih dulu, bukannya harta benda. Anak-anaklah harta benda dunia akhirat yang paling berharga. Bukahkah begitu?"
"Ha-ha-ha, paman Hong betul sekali. Anak kami hanya satu orang, baru berusia empat tahun, laki-laki dan sehat."
"Wah, bagus! Tetapi mengapa masih begitu kecil sudah kalian tinggalkan?" Dia cepat menegur.
"Kami titipkan kepada para inang pengasuh yang sudah kami percaya penuh," jawab Hui Cu. "Terpaksa anak itu ditinggalkan setelah kami mendengar berita buruk dari locianpwe Song-bun-kwi..."

Wajah Kun Hong menjadi sungguh-sungguh. "Hemmm, jadi kalian telah mendengar akan peristiwa di Thai-san itu?"

"Betul, paman Hong. Setelah mendengar peristiwa yang menimpa keluarga ayah, kami segera meninggalkan Lu-liang-san. Aku berpendapat bahwa yang melakukan perbuatan biadab itu adalah musuh-musuh ayah dahulu dan agaknya untuk mencari jejak mereka, tempat yang paling baik adalah di kota raja. Karena itu kami akan menuju ke kota raja. Sungguh tidak kami sangka akan bertemu dengan paman Hong di sini."
"Berbesar hatilah kalian. Adikmu Cui San sudah tertolong, baru siang tadi aku bertemu dengannya."
"Benarkah? Di mana dia? Bersama siapa?" Sin Lee cepat mendesak.

Kun Hong lalu menceriterakan pertemuannya dengan kakek Sin-eng-cu Lui Bok dan Cui Sian. Dia hanya menceriterakan yang penting saja, yaitu tentang diselamatkannya Cui Sian, tidak menceriterakan tentang hal A Wan dan lain-lain.

"Cui Sian sudah selamat dan sekarang sementara dibawa pergi oleh Susiok. Kelak tentu akan dikembalikan kepada ayahmu."

Lega rasa hati Sin Lee dan Hui Cu. Akan tetapi dengan amat penasaran Sin Lee bertanya, "Dan siapakah orang-orang yang menyerbu ke Thai-san?"

Kun Hong mengerutkan kening. Dia maklum akan kepandaian dan watak Sin Lee. Orang ini kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi agaknya akan berbahaya sekali kalau diberi tahu bahwa musuh-musuh itu adalah orang-orang di Ching-coa-to, karena di tempat itu terdapat banyak sekali orang pandai. Apa lagi Sin Lee pergi bersama Hui Cu yang dia tahu tingkat kepandaiannya tidak setinggi suaminya.

Watak Sin Lee amat keras, kalau sudah tahu tentu tidak akan mau sudah kalau belum dapat membalas dendam. Maka dia segera berkata,

"Sin Lee dan Hui Cu, tentang itu, untuk sementara ini kiranya tidak perlu kalian ketahui. Serahkan saja hal itu kepadaku karena aku pun tidak akan tinggal diam sebelum memberi hajaran pada mereka. Soalnya memang berbelit-belit, berpangkal pada balas membalas urusan dahulu! Sekarang, ada tugas yang amat penting yang hendak kuserahkan kepada kalian, tugas yang lebih penting dari pada urusan balas membalas ini. Cui Sian sudah selamat, malah ayah dan ibumu sudah pergi meninggalkan Thai-san, tentu akan mencari orang-orang jahat itu pula. Kebetulan sekali kalian datang sehingga dapat mewakili aku melakukan tugas ini. Bersediakah kalian?"

Semenjak dahulu, Sin Lee sudah mempunyai hati kagum dan tunduk kepada Pendekar Buta ini. Dia maklum bahwa Pendekar Buta ini biar pun sikapnya seperti orang lemah dan bodoh, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, yang sudah dia saksikan dahulu ketika terjadi adu kepandaian di Thai-san.

Lagi pula, mereka meninggalkan Lu-liang-san terutama karena terdorong rasa khawatir akan keselamatan Cui Sian. Sekarang setelah Cui Sian berada dalam keadaan selamat, memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

"Baiklah, Paman Hong. Urusan apakah itu, lekas beri tahukan kepada kami, pasti akan kami laksanakan," jawabnya.

Dengan singkat akan tetapi jelas Kun Hong menceriterakan mengenai surat rahasia dari mendiang kaisar untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo di utara, menceriterakan pula betapa surat rahasia ini dijadikan perebutan karena amatlah penting artinya.

"Mengingat akan perjuangan Paman Tan Hok yang sampai mengorbankan nyawanya itu, aku telah mengambil keputusan akan melindungi surat ini dan menyampaikannya kepada yang berhak, walau pun untuk itu aku harus mempertaruhkan nyawaku. Akan tetapi aku seorang buta, agaknya lebih sukar bagiku untuk dapat menyampaikannya kepada yang berhak. Oleh karena itu, aku minta bantuan kalian, bawalah surat ini dan sampaikanlah kepada Raja Muda Yung Lo di utara. Tugasmu ini tidaklah ringan dan apa bila sampai terpenuhi, jasamu untuk negara bukanlah kecil. Aku yakin surat wasiat ini akan banyak mengurangi pertumpahan darah kalau sampai terjadi perang saudara, karena tentu para pembesar di selatan yang masih setia kepada mendiang kaisar, akan tunduk terhadap seluruh isi surat wasiat ini dan tidak akan membantu kaisar muda."

Sin Lee menerima surat itu, menyimpannya dan menyanggupi untuk melaksanakan tugas itu.

"Setelah selesai tugasmu, kalian kembalilah saja ke Lu-liang-san. Kasihan anak kalian ditinggal ayah bundanya terlalu lama. Kelak aku pasti akan datang ke Lu-liang-san, ingin aku memondong anakmu itu!"

Malam itu mereka bermalam di hutan, semalam suntuk tidak dapat tidur karena mereka bercakap-cakap menceriterakan pengalaman masing-masing. Terlebih lagi Hui Cu yang merasa amat kasihan kepada pamannya ini, membujuk-bujuk agar Kun Hong kembali ke Hoa-san dan suka memilih jodoh.

Bujukan ini hanya disambut dengan senyum pahit oleh Kun Hong yang sama sekali tidak berani berceritera tentang Hui Kauw. Sementara itu, Sin Lee melepaskan rindunya kepada rajawali emas dengan mengajak burung itu bercakap-cakap seperti dulu ketika dia masih kecil. Banyak dia bicara dengan burung itu yang mendengarkan dengan terharu. Karena memang sudah bertahun-tahun burung ini hidup di samping Sin Lee, maka dia dapat mengerti banyak apa yang dibicarakan pendekar ini.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Lee dan Hui Cu berangkat meninggalkan Kun Hong. Tujuan mereka adalah ibu kota di utara. Dengan terharu Hui Cu memegang tangan Kun Hong dan berkali-kali ia berkata dengan suara penuh permohonan agar sang paman ini benar-benar akan segera datang menjenguk anaknya di Lu-liang-san.

Akhirnya mereka berpisah, suami isteri itu pergi ke utara, sedangkan Kun Hong bersama rajawali berjalan perlahan keluar dari hutan, hendak pergi ke Ching-coa-to, karena Kun Hong ingin menghadapi orang-orang yang telah merusak Thai-san-pai…..

********************
Loan Ki dan Nagai Ici dengan mudah dapat memasuki kota raja. Gadis ini adalah seorang yang berwatak jujur, juga memang sedikit banyak dia sangat membanggakan ayahnya, maka siapa yang bertanya, ia pun akan mengaku terang-terangan bahwa ia adalah puteri tunggal Sin-kiam-eng Tan Beng Kui!

Justru sikapnya ini menguntungkannya, karena begitu para penjaga pintu gerbang kota raja mendengar bahwa gadis itu puteri Sin-kiam-eng dan pemuda tampan itu seorang sahabat baiknya, tanpa banyak cerewet lagi mereka mempersilakan mereka berdua masuk tanpa diperiksa lagi. Siapa orangnya di antara para penjaga tidak mengenal tokoh besar yang sekarang sudah menjadi seorang di antara para tokoh undangan The-kongcu itu?

Para mata-mata dan penyelidik pun sesudah tahu bahwa gadis ini adalah puteri tunggal Sin-kiam-eng, otomatis tidak berani sembarangan melakukan pengintaian sehingga Loan Ki dan Nagai Ici menjadi bebas dapat berkeliaran di kota raja tanpa ada yang mencurigai mereka.

Setelah melakukan perjalanan bersama Nagai Ici selama beberapa pekan ini, Loan Ki merasa makin tertarik kepada pemuda perkasa dari Jepang itu. Memang harus diakui bahwa pemuda itu adalah seorang ksatria Jepang yang berwatak gagah dan berperibudi luhur.

Meski pun seorang kesatria Samurai, akan tetapi Nagai Ici tidak seperti sebagian besar golongannya yang suka menghambakan diri sebagai tukang-tukang pukul bayaran. Dia benar-benar seorang pemuda berwatak pendekar pembela kebenaran dan keadilan.

Dia banyak berceritera kepada Loan Ki tentang negerinya sehingga gadis lincah ini tertarik sekali dan beberapa kali menyatakan keinginan hatinya hendak menyeberangi lautan dan menyaksikan negeri aneh itu dengan matanya sendiri. Tentu saja diam-diam Nagai Ici merasa berbahagia sekali. Dia sudah jatuh cinta betul-betul kepada gadis yang demikian gagahnya, yang dapat mainkan pedang sedemikian hebatnya, mampu melawan Samurai merahnya!

Juga di sepanjang perjalanan, di waktu beristirahat, keduanya bertukar ilmu dan saling mengisi sehingga bagi Nagai Ici, mulailah dia melihat kehebatan ilmu silat yang tentu saja dapat dia jadikan bahan untuk mempertinggi ilmu pedangnya.

Kedatangan Loan Ki di kota raja itu terutama sekali hendak mencari ayahnya karena ia bermaksud untuk memperkenalkan Nagai Ici kepada ayahnya dan ingin minta kepada ayahnya agar supaya suka menerima pemuda Jepang itu sebagai murid. Ketika pada hari itu ia tiba di kota raja dan mencari kamar di rumah penginapan, pelayan yang menyambut mereka dengan manis budi menyuruh mereka mengisi nama pada buku daftar tamu.

Dengan lagak gagah Loan Ki menuliskan namanya, ditambah ‘puteri Sin-kiam-eng dari Pek-tiok-lim’, sedangkan nama Nagai Ici ia tuliskan sebagai nama Han, yaitu Na Gai It!

Girang hatinya karena pengurus rumah penginapan itu serta merta memberi hormat dan berkata manis penuh hormat, "Ah, kiranya puteri dari Tan-taihiap (pendekar besar Tan)!"

Lalu pengurus ini membentak para pelayan, "He, mengapa kalian begini sembrono, tidak cepat-cepat menyambut kedatangan Tan-lihiap (pendekar wanita Tan)? Hayo lekas antar lihiap ke kamar yang paling besar! Totol kalian ini, apakah tidak tahu bahwa lihiap adalah puteri Tan-taihiap yang menjadi jagoan undangan kaisar?"

Kalau tadinya hati Loan Ki merasa girang dan bangga sekali, adalah kalimat terakhir itu menimbulkan penasaran dan tidak enak di hatinya. Ayahnya menjadi jagoan undangan kaisar. Menjadi hamba kaisar yang begitu buruk wataknya?

Ia masih teringat betapa orang-orang jahat menangkap-nangkapi gadis-gadis cantik untuk dijadikan selir kaisar baru. Malah ia bersama Nagai Ici telah membasmi orang-orang jahat yang menawan gadis-gadis itu. Di dalam hatinya, ia sudah menjadi tidak senang kepada kaisar baru, kenapa sekarang ayahnya malah membantu kaisar itu? Akan tetapi tentu saja ia tidak menyatakan sesuatu, hanya mengikuti para pelayan dan ia minta disediakan dua buah kamar.

Malam harinya, ia bersama Nagai Ici melakukan perjalanan berkeliling kota raja. Setelah mendengar bahwa ayahnya menjadi hamba kaisar, ia merasa ragu-ragu untuk menemui ayahnya di kota raja ini.

Kebetulan sekali malam hari itu dia mendengar tentang keributan yang terjadi pada hari kemarin, tentang seorang penjahat buta yang dikejar-kejar kemudian dikeroyok oleh para pengawal istana. Hatinya menjadi berdebar. Teringat ia akan Kun Hong. Kalau bukan Kun Hong, siapa lagi di dunia ini ada seorang buta yang demikian perkasa sehingga dikeroyok oleh pengawal-pengawal istana?

"Wah, agaknya gawat di kota raja ini," bisiknya kepada Nagai Ici. "Kalau benar Hong-ko (kakak Hong) orang buta yang dikeroyok itu, kita harus menyelidikinya dan kalau perlu menolongnya."

Dengan singkat dia lalu menuturkan kepada Nagai Ici tentang orang buta itu. Pemuda Jepang ini lalu bangkit semangatnya mendengar tentang diri Pendekar Buta yang gagah perkasa itu, tidak hanya ingin membantu, malah ingin bertemu dan bersahabat. Selama ini, baru sekali dia bertemu orang pandai, bukan lain gadis lincah inilah.

Demikianlah, pada keesokan malamnya, kembali Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelidiki sampai jauh malam. Kemudian secara kebetulan dia mendengar ribut-ribut pertempuran di pondok janda Yo karena ia dan Nagai Ici berada di dekat tempat itu.

Cepat dia bersama pemuda Jepang itu lari mendekati dan alangkah terkejut hati Loan Ki pada saat dia melihat bahwa orang yang dikeroyok adalah benar-benar Kun Hong sendiri. Lebih kaget lagi hatinya ketika dia melihat ayahnya adalah seorang di antara mereka yang mengeroyok Kun Hong.

"Kita bantu dia,... wah, dia hebat...!" bisik Nagai Ici.
"Sssttt..." Loan Ki menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya menyelinap ke tempat gelap, "...jangan..."

Nagai Ici terheran-heran dan Loan Ki menjadi pucat wajahnya. Tentu saja tidak mungkin dia membantu Kun Hong apa bila ayahnya pun berada di situ melawan Kun Hong. Mana mungkin dia melawan ayahnya sendiri?

Lagi pula, dia dapat melihat betapa orang-orang yang mengeroyok Kun Hong terdiri dari orang-orang yang luar biasa tinggi kepandaiannya. Pemuda berpedang itu, hwesio tinggi besar itu. Hebat mereka, tidak kalah oleh ayahnya! Membantu Kun Hong pun tidak akan ada gunanya.

"Wah-wah... celaka...," katanya, wajahnya yang pucat itu tampak bingung.
"Kenapa? Nona, kenapa kita tidak cepat membantunya? Dia hebat... luar biasa, hampir tidak dapat aku percaya seorang buta sehebat itu gerakannya..."
"Sssttttt... mari ikut aku..."

Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelinap mengitari pondok itu. Ia adalah seorang gadis cerdik dan ia ingin mencari kesempatan membantu secara menggelap. Kalau perlu, dari dalam pondok itu atau dari samping pondok dia akan mempergunakan senjata rahasia menyerang orang-orang yang mengeroyok Kun Hong biar pun ia tahu hal ini tidak akan banyak berarti karena musuh-musuh Kun Hong amat sakti, akan tetapi sedikitnya dapat menganggu mereka dan dapat merupakan hiburan hatinya bahwa ia sudah menolong.

Kalau saja di situ tidak ada ayahnya, sudah pasti ia akan langsung menyerbu dan nekat serta mati-matian mengajak Nagai Ici membantu Kun Hong. Dengan adanya ayahnya di situ, nyalinya kuncup dan ia tidak berani lagi!

Ketika dia menyelinap di belakang pondok, dia melihat bayangan seorang laki-laki sedang merampas sebuah benda dari tangan seorang anak laki-laki kecil yang mempertahankan benda itu sambil berteriak-teriak, "Lepaskan... ini punyaku, lepaskan!"

Loan Ki memandang penuh perhatian. Waktu itu fajar hampir menyingsing dan di dalam keadaan gelap, Loan Ki serasa telah mengenal laki-laki yang sedang berusaha merampas benda di tangan anak itu. Timbul amarahnya ketika orang itu mendorong si anak sampai terguling roboh.

"Serang dia, rampas benda itu!" katanya kepada Nagai Ici yang tidak menanti komando ke dua lagi, serta merta memekik dan menyerbu.

Loan Ki sendiri meloncat ke dekat anak itu. Lega hatinya ketika melihat bahwa anak itu tak terluka, hanya menderita lecet-lecet saja. Perhatiannya kembali kepada Nagai Ici yang menyerbu orang itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika melihat betapa orang itu ternyata bukanlah orang sembarangan. Buktinya Nagai Ici masih belum mampu merampas benda tadi. Jangankan merampas benda, malah kini mereka sudah bertempur mempergunakan pedang dan Si Samurai Merah nampaknya terdesak!

"Keparat, lihat pedangku!" Loan Ki marah dan serta merta mencabut pedangnya sambil menyerbu.

Orang itu kaget menyaksikan berkelebatnya pedang di tangan Loan Ki yang amat gesit. Dia bergerak miring, menyambut pedang Loan Ki dengan tangkisan.....
"Traaanggggg…!"

Loan Ki merasa tangannya tergetar dan lebih kagetlah ia pada saat mengenal muka orang itu setelah kini berdekatan. Kiranya orang itu adalah Bun Wan, pemuda Kun-lun-pai yang pernah ia lihat ketika ia menjadi tawanan di Ching-coa-to! Ia makin marah ketika sekarang mengenal pula bahwa benda yang dirampas oleh Bun Wan dari tangan anak itu ternyata adalah mahkota kuno yang dahulu diperebutkan di Ching-coa-to.

"Ehh, kiranya kau, keparat! Kembalikan mahkota itu!"

Ia menerjang marah, pedangnya menjadi sinar bergulung-gulung. Nagai Ici juga memekik dengan penasaran, menggerakkan pedang samurainya mengeroyok laki-laki itu.

Orang itu memang Bun Wan adanya, putera ketua Kun-lun-pai! Ketika dia mengenal Loan Ki dia terkejut dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat ke belakang, menggunakan ginkang-nya terus melarikan diri!

"Keparat, jangan lari!" Loan Ki membentak dan mengejar.

Nagai Ici ikut pula mengejar. Pemuda Jepang ini tertinggal jauh karena dalam hal ilmu lari cepat, dia kalah jauh oleh Bun Wan mau pun Loan Ki. Hal ini menyulitkan Loan Ki karena ia tidak ingin meninggalkan Nagai Ici di tempat asing dan berbahaya itu.

"Hayo, cepat kita kejar dia!" Loan Ki menunggu Nagai Ici, kemudian setelah temannya itu mendekat, ia menyambar tangannya dan diajaknya membalap untuk mengejar Bun Wan.
"Wah, hebat bukan main larinya. Kau kejarlah dulu, Nona, biar aku mengejar di belakang. Jangan biarkan dia minggat!"

Akan tetapi Loan Ki terpaksa memperlambat larinya. Memang ia harus mengejar Bun Wan dan merampas kembali mahkota itu yang agaknya sangat penting bagi Kun Hong. Akan tetapi sekali-kali dia tidak mau membiarkan Nagai Ici tertinggal di tempat ini, salah-salah bisa ditangkap dan didakwa mata-mata oleh para pengawal istana!

Karena waktu itu sinar matahari pagi sudah mulai mengusir kegelapan malam, maka biar pun tertinggal jauh, dapat juga Loan Ki melihat ke mana arah larinya Bun Wan. Ia terus mengajak Nagai Ici mengejar dan dengan kagum ia melihat betapa Bun Wan secara nekat sudah menerjang para penjaga pintu gerbang. Pemuda Kun-lun-pai yang berilmu pedang lihai sekali itu ternyata berhasil lolos dari pintu gerbang dan kabur keluar kota raja dengan cepat!

Pada saat Loan Ki dan Nagai Ici mengejar sampai di situ, gadis ini cepat berteriak membentak para penjaga yang agaknya hendak menghalangi mereka berdua.

"Tolol kalian semua! Tidak tahu jika aku puteri Sin-kiam-eng? Aku dan temanku bertugas mengejar bangsat yang kalian lepaskan tadi. Minggir, keparat!"

Di antara para penjaga ada yang mengenal gadis ini pada saat kemarin berjaga di pintu gerbang di mana Loan Ki masuk, maka mereka segera memberi jalan Loan Ki bersama Nagai Ici mengejar terus.

Belum lama mereka mengejar, tampak bayangan berkelebat dari sebelah kanan. Loan Ki memandang dan kagetlah dia melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah Hui Kauw, nona muka hitam yang pernah dilihatnya di Ching-coa-to.

Wah, agaknya orang-orang Ching-coa-to sudah menyelundup ke kota raja, pikirnya. Tentu nona itu bersekongkol dengan Bun Wan. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu melompat dan menerjang dengan pedangnya.

"Perempuan berhati palsu!" bentaknya karena ia lalu teringat akan semua pengalamannya ketika di Ching-coa-to, di mana wanita ini hampir dijadikan pengantin dengan Kun Hong.

Hui Kauw memang sedang mengejar Bun Wan. Seperti telah dituturkan di bagian depan, gadis ini meninggalkan Kun Hong untuk mencari A Wan yang sudah terlalu lama tak juga kembali.

Ketika mencari di belakang pondok, ia tidak dapat menemukan A Wan karena tidak tahu di mana anak itu menyimpan mahkota kuno. Dia berputar-putar mencari, lalu mendengar suara ribut-ribut dan masih sempat melihat A Wan dikurung beberapa orang pengawal. Hatinya kebat-kebit penuh kekhawatiran, kemudian terjadilah hal yang amat luar biasa.

Seorang kakek entah dari mana datangnya, dengan gerakan ringan seolah-olah bayangan sehingga bukan merupakan manusia lumrah lagi, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah tempat itu. Sekali menggerakkan tangan dan kaki, A Wan telah disambar dan dibawanya pergi seakan-akan melayang!

Para pengawal melongo menyaksikan hal ini, kemudian maklum bahwa kakek itu tentulah seorang sakti. Mereka melakukan pengejaran, tapi kakek itu telah lenyap dari pandangan mata.

Hui Kauw mengerahkan kepandaiannya, berlari cepat mengejar pula. Ia dapat mendahului para pengawal dan dengan cepatnya ia mengejar sampai ke luar pintu gerbang.

Kakek itu seperti bukan manusia, melarikan diri bukan melalui pintu gerbang, melainkan melayang naik ke atas tembok kota yang luar biasa tinggi itu! Dia sendiri dengan mudah dibiarkan lewat pintu gerbang oleh para penjaga. Akan tetapi sesampainya di luar tembok kota, ia tidak melihat lagi bayangan kakek aneh itu.

Selagi dia kebingungan, dia melihat seorang laki-laki berlari tergesa-gesa keluar dari pintu gerbang. Ketika dia mengenal bahwa orang itu adalah Bun Wan dan gerak-geriknya amat mencurigakan, dia cepat-cepat mengejar, tidak memperhatikan lagi dua orang yang sudah mengejar lebih dahulu. Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tahu-tahu Loan Ki memaki dan menerjangnya.

"Aiihhh, kiranya kau di sini?" tegurnya seraya mengelak.
"Kau dan manusia she Bun itu bersekongkol, ya? Awas, hari ini aku tak akan ampunkan kalian berdua!" seru Loan Ki mendongkol.

Memang telah menjadi kebiasaannya untuk bersikap menang-menangan sendiri sehingga ucapannya pun jumawa sekali, padahal ia tahu bahwa baik Bun Wan mau pun Hui Kauw ini memiliki kepandaian yang melebihi dirinya!

"Hee, kau jangan sembarangan menuduh!" seru Hui Kauw mendongkol. "Siapa yang sudi bersekongkol dengan dia itu? Aku pun hendak mengejarnya, karena dia kelihatan sangat mencurigakan."

Sambil berkata demikian, tanpa mempedulikan Loan Ki lagi, Hui Kauw cepat mengejar Bun Wan. Loan Ki dan Nagai Ici juga mengejar.

Dalam ilmu lari cepat, ternyata Bun Wan masih kalah setingkat oleh Hui Kauw. Memang ibu angkat nona ini, Ching-toanio, terkenal lihai ilmu lari cepatnya yang disebut Chouw-siang-hui (Terbang di Atas Rumput) dan ilmu lari cepat yang luar biasa ini juga sudah diturunkan kepada Hui Kauw. Maka sesudah lewat sepuluh li jauhnya, Hui Kauw sudah dapat menyusul Bun Wan. Sambil mencabut pedangnya Hui Kauw berseru keras,

"Berhenti dulu!" Nona ini sudah melihat betapa tangan kiri Bun Wan memegang mahkota kuno itu. "Kembalikan mahkota itu kepadaku!"

Bun Wan memandang heran dan penasaran. "Nona Hui Kauw, ketahuilah, aku merampas mahkota ini untuk ibumu!"

"Tidak peduli, kau harus serahkan kepadaku dan pergilah dengan aman."
"Tapi... bagaimanakah kau ini? Mahkota ini hendak kuserahkan ke Ching-coa-to..."
"Berikan kepadaku!"
"Nona, apakah kau sekarang membalik dan memusuhi ibumu sendiri!"
"Tak usah banyak cakap, kembalikan kepadaku!"

Bangkit kemarahan Bun Wan. Kesempatan ketika berhenti lari ini dia pergunakan untuk memasukkan mahkota kuno yang tidak besar itu ke dalam saku bajunya, kemudian dia menggerakkan pedang yang sejak tadi sudah berada di tangan kanan.

"Heemmm, banyak sekali aku mengalah kepadamu. Sekarang terpaksa aku tidak dapat menyerahkan mahkota itu kepadamu, apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"
"Pedangku akan memaksamu!" Hui Kauw membentak dan pedangnya langsung bergerak melakukan penyerangan kilat.

Bun Wan cepat menangkis dan pemuda ini maklum akan kepandaian nona yang ternyata lebih lihai dari pada Hui Siang ini, maka dia pun mengerahkan tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang kuat. Dia maklum bahwa dirinya sedang menjadi kejaran para pengawal kerajaan, maka dia tidak mau membuang banyak waktu lagi.

Semua jurus yang dimainkannya adalah jurus pilihan dari Kun-lun Kiam-sut sehingga lihainya bukan kepalang. Dia mengira bahwa dalam beberapa jurus saja, paling banyak dalam sepuluh atau belasan jurus, dia akan sudah mampu menundukkan lawannya ini.

Akan tetapi alangkah heran, kaget dan penasarannya ketika dia menghadapi ilmu pedang yang aneh dan kuat bukan main, ilmu pedang yang jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dia kenal dimiliki oleh Hui Siang dan Ching-toanio. Hebat ilmu pedang gadis muka hitam ini, malah agaknya tidak kalah oleh kepandaian Ching-toanio sendiri.

"Kau benar-benar tidak tahu orang mengalah!" bentak Bun Wan.

Pedangnya sekarang melakukan serangan kilat yang mematikan, karena dia tidak mau memberi hati lagi, apa lagi setelah melihat betapa dari jauh datang berlarian dua orang yang tadi di kota raja sudah mengeroyoknya, yaitu nona lincah galak yang dahulu pernah dia lihat di Ching-coa-to bersama Kun Hong, dan seorang pemuda yang dia tidak kenal, akan tetapi yang mempunyai pedang panjang aneh serta ilmu pedang yang ganjil pula.

Menghadapi kedua orang yang pernah mengeroyoknya tadi itu, dia tidak merasa gentar, akan tetapi ilmu pedang milik Hui Kauw ini benar-benar membuat dia pusing. Hendak lari, selain malu, juga akan percuma saja sebab tadi sudah ternyata olehnya betapa hebatnya ilmu lari cepat nona ini, sama dengan Hui Siang hebatnya.

Dengan seluruh kepandaiannya Bun Wan menyerang Hui Kauw. Terasalah oleh nona ini betapa kuat ilmu pedang pemuda Kun-lun-pai itu. Ia mulai terdesak, karena sungguh pun ilmu pedang rahasia yang dia pelajari itu adalah ilmu pedang yang aneh dan luar biasa, namun selama ini ia hanya berlatih seorang diri saja, tidak pernah ia pergunakan untuk bertempur sehingga sekarang kurang berhasil.

Tetapi betapa pun juga, daya pertahanan ilmu pedang ini jauh lebih kuat dari pada ilmu pedang yang dia pelajari dari Ching-toanio. Sungguh pun sekarang ia mulai terdesak dan jarang dapat membalas serangan lawan, namun untuk mengalahkan ilmu pedangnya ini, kiranya membutuhkan waktu yang tidak pendek...

Selanjutnya baca
PENDEKAR BUTA : JILID-11
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger