logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Remaja Jilid 02


Di kota Tiang-an, kota di sebelah kota raja terdapat sebuah rumah gedung kuno yang besar. Rumah ini dikenal sebagai tempat tinggal keluarga Kwee, yang dahulu ditinggali oleh Kwee-ciangkun (Perwira Kwee), seorang pembesar millter yang gagah perkasa.

Akan tetapi, kini rumah itu ditinggali oleh seorang putera dari mendiang Kwee-ciangkun yang bernama Kwee An. Bagi para pembaca yang pernah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu tahu bahwa Kwee An ini adalah kakak dari Kwee Lin atau Lin Lin yang menjadi nyonya Sie Cin Hai.

Kwee An memiliki ilmu silat yang tinggi, karena orang muda ini adalah murid tersayang dari jago tua Eng Yang Cu, seorang tosu tokoh dari Kim-san-pai yang termasyhur. Selain mendapat gemblengan ilmu silat dari tokoh Kim-san-pai ini, Kwee An pernah menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Kong Hwat Lojin si Nelayan Cengeng, bahkan pernah pula menerima gemblengan ilmu silat yang ganas dan aneh dari seorang penjahat besar yang bernama Hek Moko. Oleh karena itu, ilmu silat Kwee An amat tinggi dan namanya pun amat terkenal di kalangan kang-ouw.

Isteri dari Kwee An juga seorang puteri dari seorang pembesar kerajaan, dan isterinya ini bernama Ma Hoa, seorang wanita yang cantik manis. Dalam hal kepandaian ilmu silat, Ma Hoa ini tidak berada di sebelah bawah suaminya, karena selain mendapat pelajaran ilmu silat dari suhunya yang juga dianggap sebagai ayah angkat sendiri, yaitu Nelayan Cengeng, juga Ma Hoa pernah menerima pelajaran Ilmu Silat Bambu Runcing yang amat luar biasa dari Hok Peng Taisu, orang ajaib yang dianggap menjadi tokoh nomor satu dari daerah timur!

Saudara kandung dari Kwee An yang masih ada hanyalah Lin Lin yang kini tinggal bersama suaminya di Propinsi An-hui dan seorang kakak yang bernama Kwee Tiong dan yang kini hidup sebagai seorang hwesio di Kelenteng Ban Hok Tong, sebuah kelenteng kuno di luar tembok kota Tiang-an di sebelah barat.

Kwee An hanya mempunyai seorang anak perempuan yang pada waktu itu telah berusia sembilan tahun. Anak ini diberi nama Kwee Goat Lan yang berarti Anggrek Bulan. Goat berarti bulan dan Lan berarti bunga anggrek. Nama ini diberikan kepada anak itu oleh karena ketika mengandung, Ma Hoa bermimpi melihat bunga anggrek pada waktu terang bulan!

Dalam usia sembilan tahun, telah kelihatan bahwa kelak Goat Lan akan menjadi seorang gadis yang amat manis dan jenaka. Sebagai seorang anak tunggal, Goat Lan dimanja sekali oleh kedua orang tuanya, maka dia menjadi nakal sekali.

Semenjak kecil dia telah mendapat latihan dasar-dasar ilmu silat tinggi dari kedua orang tuanya, bahkan ia telah dapat mainkan sepasang bambu runcing seperti ibunya, sungguh pun permainannya baru merupakan ilmu silat kembangan belaka. Akan tetapi, anak ini memiliki dasar-dasar yang amat luar biasa dalam hal ilmu ginkang (meringankan tubuh) sehingga dalam usia sembilan tahun dia telah dapat melompat tinggi dan sering kali dia berlari di atas genteng atau melompat naik ke cabang pohon-pohon tinggi!

Yang mengherankan adalah kesukaannya akan ilmu kesusastraan, sehingga sering kali dua orang tuanya saling pandang dengan heran karena baik Kwee An mau pun Ma Hoa kurang suka mempelajari ilmu menulis dan membaca. Mengapakah anak tunggal mereka begitu tekun dan rajin mempelajari ilmu sastera?

“Agaknya ia telah mendapat warisan dari Cin Hai yang juga menjadi seorang kutu buku!” pernah Kwee An berkata secara berkelakar kepada isterinya.
“Tidak mungkin!” bantah Ma Hoa. “Kita jarang bertemu dengan Cin Hai, bahkan anak kita hampir tak mengenalnya. Kurasa ia mewarisi kesukaan ini dari kakeknya sebab mendiang ayahku memang suka sekali akan kesusastraan.”

Memang anak itu sangat suka membaca buku-buku kesusastraan kuno serta sajak-sajak baru, dan selain itu ia pun amat suka melukis. Maka tidak heran apa bila Goat Lan suka sekali pergi ke Kelenteng Ban-hok-tong mengunjungi pekhu-nya, oleh karena Kwee Tiong memang semenjak menjadi hwesio, kesukaannya tiada lain hanya membaca kitab-kitab dan memperdalam pengetahuannya dalam hal kesusastraan.

Dari Kwee Tiong dia mendapat tambahan pengetahuan yang tak sedikit, dan tiap kali dia datang ke kuil itu, selalu pekhu-nya itu pandai sekali mendongengkan sejarah kuno atau mengajarnya sajak-sajak baru yang amat indah.

Kwee An maklum bahwa kakaknya yang telah menjadi hwesio itu amat sayang kepada Goat Lan, dan di dalam hatinya, Kwee An merasa kasihan kepada kakaknya, maka untuk menghibur hati Kwee Tiong, dia membiarkan saja anaknya sering mengunjungi pekhu-nya itu, bahkan tidak jarang Goat Lan bermalam di kelenteng itu.

Dahulu Kelenteng Ban-hok-tong yang besar dan kuno ini tidak banyak penghuninya dan ditinggalkan terlantar. Tapi semenjak diketuai oleh Tong Kak Hosiang yang menjadi guru Kwee Tiong dalam pelajaran Agama Buddha, maka banyak sekali murid-muridnya yang menjadi hwesio.

Ketika Tong Kak Hosiang meninggal dunia dan kedudukan ketua diserahkan pada Kwee Tiong, maka Ban-hok-tong telah mempunyai penghuni yang sangat banyak. Tidak kurang dari dua puluh lima orang hwesio tinggal di kelenteng itu di bawah pimpinan Kwee Tiong yang kini menjadi penganut Agama Buddha yang amat setia.

Sesudah menjadi ketua kelenteng, namanya yang tadinya diubah oleh suhunya menjadi Tiong Yu Hwesio itu, kini kembali diubah menjadi Thian Tiong Hosiang. Dengan bantuan Kwee An, Thian Tiong Hosiang memperbaiki bangunan Kelenteng Ban-hok-tong dan di bawah bimbingannya, perkembangan Agama Buddha di daerah Tiang-an makin meluas.

Semua hwesio yang berada di kelenteng itu, tua muda, sangat suka dan sayang kepada Goat Lan yang mungil dan cerdik, dan di antara mereka ini, banyak terdapat orang-orang yang mempunyai ilmu kesusastraan tinggi. Maka, di bawah petunjuk-petunjuk mereka itu, pengetahuan Goat Lan makin maju saja.

Selain kesusastraan dan melukis, Goat Lan ternyata mempunyai kecerdikan luar biasa dalam hal permainan catur. Seorang hwesio ahli catur di kelenteng itu yang mengajarkan dia bermain catur, sekarang bahkan merasa sangat sukar untuk menjatuhkan muridnya yang baru berusia sembilan tahun ini!

Pada suatu hari, Goat Lan seperti biasa bermain-main di dalam Kelenteng Ban-hok-tong. Ketika dia seorang diri memasuki halaman kelenteng, dia disambut oleh seorang hwesio pembersih halaman yang segera berkata,
“Kwee-siocia, baik sekali sekarang kau datang! Siang tadi datang dua orang tamu aneh di kelenteng kita, dan semenjak tadi mereka berdua bermain catur tiada hentinya!”

Goat Lan memang paling suka menonton orang bermain catur, maka ia segera bertanya,
“Thian Seng Suhu, siapakah mereka dan dari mana datangnya?”
“Entahlah, mereka memang aneh seperti yang telah pinceng katakan tadi. Kalau ditanya nama dan tempat tinggal mereka, keduanya hanya tertawa-tawa saja. Begitu memasuki kelenteng, mereka terus saja bertanya apakah di kelenteng ini ada alat bermain catur, kemudian dari siang tadi sampai senja mereka tidak pernah berhenti main. Aneh, aneh! Akan tetapi Losuhu memesan agar supaya kami jangan mengganggu mereka karena betapa pun juga, tamu-tamu tidak boleh diganggu dan harus dihormati.”

“Aku mau nonton mereka bertanding catur!” kata Goat Lan.
“Akan tetapi Siocia...”
“Ah, Pekhu tidak akan marah kepadaku!” Goat Lan memotong. “Lagi pula, aku pun tidak hendak mengganggu mereka, hanya menonton saja, apakah salahnya?”

Sambil berkata demikian, Goat Lan lalu berlari-lari memasuki ruang tamu yang berada di sebelah kiri. Baru saja tiba di luar ruangan itu, dia telah mencium bau arak yang sangat wangi dan suara parau seorang berkata,

“Tianglo, kudamu sudah terjebak! Ha-ha-ha!” Kemudian suara ini tertawa terbahak-bahak menyatakan kegirangan hati yang luar biasa sekali seperti seorang anak-anak menang dalam sebuah permainan.
“Hemm, jangan bergirang-girang dulu, Im-yang Giok-cu, biar kukorbankan kuda kurus ini, mendapat ganti seorang prajuritmu pun lumayan juga!” Terdengar suara lain yang tinggi kecil.

Goat Lan tidak sabar lagi dan cepat memasuki ruangan itu. Ia melihat dua orang sedang duduk bersila menghadapi papan catur dan keadaan mereka memang aneh, tepat benar seperti penuturan Thian Seng Hwesio tadi.

Orang pertama adalah seorang kakek gundul bertubuh gemuk tinggi bermuka merah, di dekatnya terletak sebuah keranjang kecil berwarna hitam. Melihat bentuk keranjang yang ada gantungannya ini, Goat Lan pun maklum bahwa inilah sebuah keranjang yang biasa dipergunakan oleh para hwesio untuk mencari dan mengumpulkan daun-daun obat, dan di samping keranjang obat ini, nampak juga sebuah pisau pemotong daun dan akar yang bentuknya panjang dan tipis.

Orang ke dua juga aneh, tubuhnya kecil pendek dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang penganut Agama Tao. Seperti orang pertama, kakek ini pun usianya kurang lebih lima puluh tahun. Sambil menghadapi papan catur, tiada hentinya tosu ini minum arak dari sebuah ciu-ouw (tempat arak) yang bentuknya seperti buah labu, akan tetapi guci arak ini terbuat dari logam yang kekuning-kuningan seperti emas. Dari sinilah bau arak wangi tadi tersiar.

Melihat bentuk tubuh orang-orang ini, Goat Lan menduga bahwa yang suaranya kecil tentu Si Tosu Pendek ini. Akan tetapi dia salah duga dan menjadi terheran dan juga geli ketika mendengar hwesio tinggi besar itu bicara dengan suara yang amat kecil dan tinggi.

“Im-yang Giok-cu, kalau kau tidak mengurangi kesukaanmu minum arak, tentu kelak kau akan menderita penyakit dalam perutmu.”

Tosu itu tertawa dan menjawab dengan suaranva yang parau.
“Sin-kong Tianglo, kau boleh memberi nasehat kepada pemabok-pemabok yang lemah, akan tetapi apa bila kau memberi nasehat tentang minum arak kepadaku, sungguh lucu!” Kembali dia tertawa.
“Aku tahu bahwa kau berjuluk Ciu-cin-mo (Iblis Arak), akan tetapi bagaimana pun juga, kau hanyalah seorang manusia biasa dengan perut biasa pula. Memang agaknya kau tak menghendaki usia panjang.”

Mendengar percakapan serta melihat sikap mereka, agaknya permainan catur itu sudah mempengaruhi mereka sehingga mereka menjadi panas!

“Sin-kong Tianglo, kau tukang obat tua! Sudah kukatakan, aku tak butuh pertolongan dan nasehatmu. Lebih baik kau curahkan perhatianmu kepada rajamu. Nah, lihat, rajamu kini terancam bahaya maut, Ha-ha-ha!” Sambil berkata demikian, dia menggerakkan sebuah biji caturnya dan memang benar, kedudukan raja dari barisan catur hwesio itu terancam bahaya dan terdesak sekali.

Mereka kembali memperhatikan papan catur dengan penuh ketekunan hingga keadaan menjadi sunyi dan bunyi pernapasan kedua orang itu terdengar nyata. Goat Lan merasa heran sekali mengapa bunyi pernapasan kedua kakek itu demikian panjang dan lama!

Memang kedudukan raja hitam dari hwesio itu sangat terdesak dan terancam sehingga hwesio itu menatap papan caturnya dengan jidat dikerutkan. Sampai lama ia tidak dapat menjalankan biji caturnya untuk melindungi atau menolong rajanya, sedangkan Si Tosu memandang dengan bibir tersenyum mengejek, akan tetapi dia juga tidak melepaskan pandang matanya dari papan catur. Nampaknya kedua orang itu sedang asyik sekali dan sama sekali tidak mempedulikan kedatangan Goat Lan yang kini sudah mendekat dan menonton permainan itu sambil duduk bersila pula.

“Gerakkan benteng melindungi raja!” tiba-tiba suara Goat Lan yang nyaring dan merdu terdengar.

Melihat betapa raja hitam terdesak, tanpa terasa pula anak ini membuka mulut memberi jalan. Hwesio itu yang tadinya tak bergerak bagaikan patung, kini bibirnya bergerak-gerak dan meski pun dia masih tidak tahu apakah baiknya gerakan ini karena dengan demikian bentengnya akan terancam dan dimakan oleh kuda lawan, akan tetapi oleh karena dia telah kehabisan jalan, ia kemudian menggerakkan tangannya dan menggeser kedudukan benteng menutup rajanya. Ia melakukan ini tanpa menoleh sedikit pun kepada Goat Lan.

Tosu itu tercengang ketika Si Hwesio benar-benar menggerakkan bentengnya, kemudian sambil tertawa bergelak ia lalu makan benteng itu dengan kudanya.

“Benteng telah kurampas! Ha-ha-ha, kini kedudukanmu makin lemah, Tianglo! Ha-ha-ha!” Tosu kate itu tertawa senang.

Akan tetapi suara tawanya itu diputus oleh suara Goat Lan yang berseru girang, “Berhasil jebakan memancing kuda keluar kandang! Lekas geser menteri menyerang kedudukan raja musuh!”

Bukan main girangnya hati hwesio itu. Tadinya dia memang sama sekali tidak mengerti apa kebaikannya memajukan benteng yang hanya diberikan secara cuma-cuma kepada kuda lawan, tidak tahunya bahwa dengan gerakan memancing itu membuat kuda lawan meninggalkan depan raja hingga kedudukan raja merah menjadi terbuka, memungkinkan menterinya untuk menyerang!

“Bagus, bagus!” katanya gembira sambil mengajukan menterinya yang kini seakan-akan menodong dada raja lawan dengan pedang. “Rajamu sekarang terjepit, Im-yang Giok-cu. Bagus!”

Wajah tosu yang tadinya tersenyum-senyum girang itu tiba-tiba saja menjadi masam dan dengan mulut cemberut dia menundukkan kepala, menatap papan catur dengan bingung karena kini benar-benar kedudukan rajanya menjadi terdesak hebat!

Hingga beberapa lama ia diam tak bergerak, bahkan lupa untuk minum araknya. Memang sesungguhnya kepandaian bermain catur kedua kakek ini masih sangat rendah sehingga setiap kali raja mereka terancam bahaya, mereka langsung menjadi bingung, tidak tahu harus menggerakkan biji catur yang mana!

“Ha, Im-yang Giok-cu, hayo gerakkan biji caturmu! Atau kau menerima kalah saja dan memberi Im-yang Sin-na (nama ilmu silat) kepadaku?” hwesio gemuk itu berkata dengan wajah girang.

Tosu itu tak menjawab, hanya mencurahkan seluruh perhatian kepada papan catur, terus memutar otak mencari jalan keluar bagi rajanya.

“Menteri setia bergerak melindungi raja, bila perlu mengadu jiwa dengan menteri musuh!” tiba-tiba Goat Lan berkata lagi sekarang membantu tosu itu!

Anak ini merasa tak sabar sekali kenapa kedua kakek ini begitu bodoh dalam permainan catur hingga serangan yang demikian ringan saja sudah membuat mereka tak berdaya!

Bercahayalah wajah tosu kecil itu. “Ha-ha-ha, benar! Itulah jalan terbaik. Ha-ha-ha! Hayo, Tianglo, kalau berani, kita bersama korbankan menteri!” Ia lalu menggeser menterinya ke kiri dan melindungi raja merah dari pada ancaman menteri hitam.

Hwesio itu menjadi sangat penasaran dan mengerling ke arah Goat Lan tanpa menoleh. Kemudian dia memandang ke arah papan catur lagi dan berkata dengan suaranya yang tinggi.

“Memang jaman sekarang ini jaman yang buruk sekali! Anak-anak saja sudah kehilangan kesetiaannya, suka mengkhianati ke sana ke mari! Sungguh sayang!”

Goat Lan adalah seorang anak yang berotak cerdik dan dia telah banyak membaca-baca kitab-kitab kuno yang berisi filsafat-flisafat dan kata-kata yang bermaksud dalam. Maka ucapan hwesio itu sungguh pun hanya menyindir, akan tetapi Goat Lan bisa menangkap maksudnya dan tahu bahwa dialah yang dianggap tak setia karena baru saja membantu hwesio itu, kini berbalik membantu Si Tosu!

Dia lalu menggunakan pikirannya mengingat-ingat dan mencari-cari kata-kata yang tepat untuk menjawab sindiran ini, kemudian dia berkata dengan suara nyaring, seakan-akan membaca kitab dan tidak ditujukan kepada siapa pun juga.

“Membantu yang terdesak, ini baru adil namanya! Berlaku lurus tidak berat sebelah, ini baru bijaksana!”

Ini adalah ujar-ujar kuno yang hanya dikenal oleh mereka yang sudah pernah membaca kitab-kitab peninggalan para pujangga jaman dahulu. Mendengar ujar-ujar ini diucapkan oleh seorang anak perempuan kecil, dua orang kakek itu tercengang dan keduanya lalu mengerling ke arah Goat Lan dan untuk beberapa lama mereka melupakan pemainan caturnya dan melirik dengan penuh perhatian.

“Otak yang baik!” Si Hwesio memuji. “Sayang agak lancang!” Sambil berkata demikian, tiba-tiba tanpa menggerakkan tubuh, duduknya telah menggeser dan sekarang ia duduk membelakangi Goat Lan!
“Benar-benar pandai!” Si Tosu juga memuji. “Sayang dia perempuan!” Dan tosu ini pun tanpa menggerakkan tubuh, tahu-tahu telah menggeser pula menghadapi hwesio itu.

Melihat gerakan mereka ini, Goat Lan menjadi bengong. Bagaimana orang dapat pindah duduknya tanpa menggerakkan tangan dan kaki? Seakan-akan mereka itu duduk di atas roda-roda yang dapat menggelinding dengan sendirinya.

Akan tetapi, anak yang cerdik ini dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang pandai yang mempergunakan semacam tenaga dalam yang luar biasa sehingga tubuh mereka itu dalam keadaan bersila dapat pindah tempat. Dan di samping kecerdikannya, Goat Lan memang nakal dan memiliki watak yang tak mau kalah.

Kini ia duduk di belakang hwesio yang gemuk itu sehingga tak dapat melihat papan catur. Untuk bangun dan berpindah tempat, ia merasa malu. Maka ia lalu mengendurkan kedua kakinya menempel pada lantai. Kemudian ia menggerakkan tenaga pada kedua kaki dan mengerahkan ginkang-nya, maka tiba-tiba saja tubuhnya yang kecil itu mencelat naik dan turun di sebelah kanan hwesio itu sehingga kedudukannya menjadi seperti tadi dan dia kembali dapat melihat papan catur itu seperti tadi!

“Ahh, tidak jelek!” kata hwesio gemuk itu.
“Bagus!” Si Tosu juga memuji.
“Inilah murid yang pantas untukku!” kata pula hwesio itu.
“Tidak! Sudah lama aku ingin mendapatkan murid, dia inilah orangnya!”

Kini kedua orang kakek itu saling pandang dan kembali mereka menjadi panas hati. Apa bila tadi mereka panas karena permainan catur, kini hati mereka menjadi panas karena hendak memperebutkan Goat Lan sebagai murid. Sementara itu Goat Lan hanya diam saja seakan-akan tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang kakek itu.

“Im-yang Giok-cu, mari kita lanjutkan permainan catur ini dan siapa yang menang, dia berhak mendapatkan murid ini.”
“Boleh, boleh! Sekarang giliranmu, hayo kau teruskan!”

Sin Kong Tianglo lantas menggerakkan biji caturnya, dan Goat Lan mulai memperhatikan lagi, siap membantu yang terdesak. Akhirnya kedua orang kakek itu selalu mendapat petunjuk dari Goat Lan dan setelah biji-biji catur mereka tinggal sedikit dan pertandingan itu makin sulit dan ramai, mereka keduanya hanya merupakan tukang menggerakkan biji catur saja dan yang menjadi pengaturnya adalah Goat Lan!

Memang anak ini ahli dalam main catur, maka ia dapat mengatur siasat yang amat baik sehingga pertandingan itu berjalan ramai, saling mendesak dengan hebat. Kedua orang kakek itu merasa tegang karena sering kali raja mereka terkurung, akan tetapi sering kali juga mendesak lawan sehingga seakan-akan merekalah yang bertanding, bukan biji-biji catur.

Betapa pun juga, yang menjadi pengatur adalah Goat Lan yang benar-benar tidak berat sebelah. Karena itu, setelah bertanding sampai hari menjadi gelap dan malam telah tiba, keadaan pertandingan itu masih sama kuatnya!

Mereka bertiga, hwesio, tosu dan anak perempuan itu, demikian asyik dan tekun hingga mereka tidak melihat bahwa ruang itu telah penuh dengan para hwesio yang menonton pula pertandingan catur aneh itu! Tiada seorang pun di antara mereka berani menegur, hanya Thian Tiong Hosiang yang memandang khawatir kepada keponakannya. Sebagai seorang yang berpengalaman, ia dapat menduga bahwa kedua orang kakek itu bukan sembarang orang, dan ia takut kalau-kalau seorang di antara mereka yang kalah akan menjadi marah.

Akan tetapi Goat Lan benar-benar pandai. Ia mengatur sedemikian rupa sehingga pada akhlr pertandingan, kedudukan keduanya sama lemah sama kuat, yakni yang tinggal hanyalah si raja merah dan si raja hitam! Hal ini berarti bahwa pertandingan itu berakhir dengan sama kuat, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang!

Thian Tiong Hosiang menarik napas lega dan hendak menghampiri mereka, akan tetapi tiba-tiba Si Tosu Kate itu melompat berdiri dan berkata,
“Sin Kong Tianglo, kau harus mengalah dan biarkan aku mendidik anak ini.”

Hwesio gemuk itu bangun berdiri dengan tenang dan mengambil keranjang obat serta pisaunya, lalu berkata, “Enak saja kau bicara, Im-yang Giok-cu. Bukankah kita berjanji bahwa siapa yang menang dia berhak menjadi guru anak ini?”

“Akan tetapi dalam permainan catur kita tidak ada yang kalah dan yang menang!” seru Si Tosu.

Hwesio itu tersenyum. “Apakah kita hanya bisa bermain catur dan tidak mempunyai ilmu kepandaian lain? Kita belum mencoba kepandaian lain untuk menentukan kemenangan.”

“Ho-ho! Kau mau mengajak main-main? Baiklah, mari kita mencari penentuan di luar!” kata tosu itu sambil melangkah keluar dan membawa guci araknya.
“Aku ingin merasakan kelihaianmu!” kata hwesio itu yang juga bertindak keluar sambil membawa keranjang obat dan pisaunya.

Sementara itu, ketika mendengar kedua orang kakek itu menyebut nama masing-masing, Thian Tiong Hosiang menjadi terkejut sekali. Ia segera melangkah maju dan memegang lengan Goat Lan sambil berkata,
“Goat Lan kau sudah mendatangkan onar! Lekas kau pulang dengan cepat, biar diantar oleh seorang Suhu!”
“Tidak, Pekhu, aku mau nonton mereka bertanding!”
“Ehh, anak nakal!” kata Thian Tiong Hosiang dengan bingung, karena tadi ia mendengar betapa dua orang kakek yang lihai ini sedang memperebutkan Goat Lan untuk diambil murid. “Kau harus pulang, biar aku sendiri mengantarmu!”

Akan tetapi tiba-tiba Goat Lan membetot tangannya dan lari melompat ke dalam gelap!

Thian Tiong Hosiang yang merasa sangat khawatir kalau-kalau keponakannya itu akan menimbulkan keributan, dan juga tidak ingin melihat ia pulang seorang diri ke dalam kota pada malam hari yang gelap itu, lalu berkata kepada para hwesio yang berada di situ, “Cari dia dan antarkan pulang ke kota!” Sedangkan ia sendiri dengan langkah lebar lalu keluar hendak melihat apakah yang dilakukan oleh kedua orang kakek itu.

Karena malam amat gelap sedangkan pekarangan di sekeliling kelenteng itu sangat luas dengan kebun bunga dan kebun-kebun sayurnya, maka para hwesio yang mencari Goat Lan menggunakan obor. Akan tetapi dicari-cari kemana pun juga, bayangan Goat Lan tetap tidak nampak!

Ketika para pencari yang memegang obor itu tiba kembali di halaman tengah, mereka melihat betapa dua orang kakek itu sedang bertanding di dalam gelap, maka mereka menjadi tertarik dan berkerumun menonton pertandingan itu sehingga keadaan di tempat itu menjadi terang sekali. Mereka telah lupa untuk mencari anak nakal tadi!

Thian Tiong Hosiang sendiri ketika melihat betapa kedua orang kakek itu bertempur, telah berkali-kali berseru kepada mereka agar supaya menghentikan pertempuran itu. Akan tetapi kedua orang kakek itu sama sekali tidak mau mendengarnya.

Thian Tiong Hosiang menjadi bingung sekali. Hendak turun tangan memisah, biar pun ia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, akan tetapi dia juga maklum bahwa kepandaiannya itu dapat disebut amat rendah apa bila dibandingkan dengan kedua orang kakek itu. Apa lagi pada waktu dia mendengar dari para hwesio bahwa Goat Lan tidak dapat ditemukan, kebingungan dan kegelisahannya makin bertambah, maka dia lalu keluar dari kelenteng, lalu mempergunakan ilmu lari cepat menuju ke Tiang-an, mencari adiknya, Kwee An atau ayah Goat Lan!
Image result for PENDEKAR REMAJA
Sementara itu, Goat Lan yang tadi melarikan diri pada saat hendak dipaksa pulang oleh pekhu-nya, sebetulnya tidak pergi jauh. Anak yang nakal ini mempergunakan kegelapan malam untuk cepat bersembunyi di belakang batang pohon besar yang banyak tumbuh di sekitar kelenteng itu, kemudian ketika banyak hwesio mencarinya, dia memanjat pohon besar dan melompat ke atas genteng. Dengan bersembunyi di atas genteng, ia mengintai ke bawah, melihat kesibukan orang-orang di bawah dan melihat pula pertempuran antara kedua orang kakek itu yang berlangsung dengan amat ramainya, jauh lebih ramai dari pada pertandingan catur tadi!

Sebetulnya, siapakah kedua orang kakek itu dan mengapa Thian Tiong Hosiang terkejut mendengar nama mereka?

Tidak heran bahwa Thian Tiong Hosiang merasa amat terkejut, oleh karena nama-nama itu adalah nama-nama tokoh besar dunia persilatan yang tak asing lagi bagi orang-orang yang hidup di dunia kang-ouw.....
Sin Kong Tianglo, hwesio yang gemuk tinggi itu, adalah seorang tokoh besar yang amat terkenal dari Pegunungan Gobi-san. Selain ilmu silatnya yang amat tinggi dan lihai, dia juga terkenal dengan kepandaiannya sebagai seorang ahli pengobatan sehingga untuk kepandaian ini ia mendapat julukan Yok-ong (Raja Obat).

Biar pun tempat pertapaannya di Pegunungan Gobi-san, akan tetapi jarang ada orang yang dapat bertemu dengannya, karena ia banyak merantau ke gunung-gunung mencari daun-daun dan akar-akar obat yang kemudian digunakan untuk menolong orang-orang yang menderita sakit. Ke mana saja dia pergi, tentu dia akan mempergunakan ilmunya untuk menolong orang sakit sehingga namanya sebagai ahli pengobatan lebih terkenal dari pada namanya sebagai seorang ahli silat.

Tosu yang pendek kecil itu, Im-yang Giok-cu, tidak kalah ternamanya. Dia seorang tokoh besar dari Pegunungan Kunlun dan ilmu kepandaiannya telah amat dikenal. Tokoh besar ini pun jarang menampakkan diri di dunia ramai dan biar pun dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap dan lebih suka merantau ke mana-mana, akan tetapi dia jarang sekali memperkenalkan diri.

Oleh karena itu, munculnya dua orang tokoh besar ini tentu saja amat mengejutkan hati Thian Tiong Hosiang. Sebetulnya, bukan sengaja dua orang tokoh besar ini mengadakan pertemuan di Tiang-an.

Sudah lama sekali Sin Kong Tianglo mendengar nama Pendekar Bodoh sebagai seorang pendekar terbesar di masa itu dan ketika mendengar bahwa Pendekar Bodoh adalah murid terkasih dari mendiang Bu Pun Su, jago tua tanpa tandingan itu, dia merasa amat gembira dan ingin sekali mencoba kepandaian Pendekar Bodoh.

Dahulu pernah dia berhadapan dengan Bu Pun Su dan sesudah mengadakan pibu (adu kepandaian) sampai seratus jurus lebih, akhirnya dia tidak tahan menghadapi Bu Pun Su dan berjanji hendak mencoba kepandaian lagi sepuluh tahun kemudian. Sayang bahwa setelah dia melatih diri dan menciptakan ilmu silat yang hebat, dia mendengar bahwa Bu Pun Su telah meninggal dunia, maka kini perhatiannya beralih kepada Pendekar Bodoh yang menjadi murid Bu Pun Su.

Akibat keinginan hati inilah, maka Sin Kong Tianglo pergi meninggalkan daerah Gobi-san yang luas itu dan turun ke dunia ramai. Ia mendengar bahwa Pendekar Bodoh berada di kota Tiang-an, maka dia lalu menuju ke kota itu.

Di tengah jalan, ketika dia melalui sebuah dusun, dia mendengar suara orang bernyanyi-nyanyi dengan suara yang keras dan parau. Dia merasa heran sekali karena di sekitar tempat itu tidak terdapat orang, dari manakah datangnya suara nyanyian yang hebat ini. Ia melihat beberapa orang berlari-lari seakan-akan ketakutan dan ketika ia menghampiri mereka dan bertanya, seorang di antara penduduk kampung itu menjawab dengan muka pucat.

“Apakah Losuhu tidak mendengar suara nyanyian yang hebat itu?”
“Pinceng mendengar. Siapakah gerangan yang bernyanyi dengan suara seburuk itu?”
“Yang bernyanyi adalah seorang iblis!”

Tentu saja Sin Kong Tianglo menjadi heran mendengar ini dan dia minta penjelasan lebih lanjut. Ternyata bahwa menurut cerita orang itu, di kampung tersebut muncul seorang kakek yang tiba-tiba saja berada di atas jembatan kampung dan memenuhi jembatan kecil itu.

Kakek ini terus menerus minum arak sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara yang dapat membuat anak telinga serasa mau pecah. Karena dengan adanya dia yang merebahkan diri sambil bernyanyi-nyanyi di atas jembatan yang kecil itu, lalu lintas menjadi terhalang. Orang-orang telah membujuknya, bahkan berusaha menggusurnya dari jembatan itu!

Sin Kong Tianglo menjadi tertarik hatinya dan segera menuju ke tempat itu. Benar saja, dia melihat seorang kakek kate sedang rebah miring di atas jembatan dengan guci pada tangan kanan dan bernyanyi-nyanyi.

Akan tetapi, wajahnya berubah girang ketika dia melihat Si Kate itu karena dia mengenal orang ini sebagai seorang yang dulu telah dikenalnya baik, yaitu Im-yang Giok-cu! Maka ia lalu menegur dan kakek kate itu ketika melihat Sin Kong Tianglo, lalu melompat berdiri dan berkata,
“Ha-ha-ha-ha! Sungguh untungku baik sekali! Aku sedang kesepian dan merasa jengkel, kebetulan kau datang! Ehh, Tianglo! Beranikah kau main catur denganku?”

Demikianlah, keduanya lalu bercakap-cakap sambil meninggalkan dusun itu dan Im-yang Giok-cu yang mendengar bahwa hwesio itu ingin mencari Pendekar Bodoh untuk diajak pibu, dia pun menyatakan keinginannya bertemu dengan pendekar muda yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan itu!

Akan tetapi, karena sudah merasa sangat kangen dengan permainan catur, mereka lalu menunda perjalanan dan ketika melihat Kelenteng Ban-hok-tong, mereka lalu masuk ke dalam dan minta pinjam papan catur, terus saja bertanding catur!

Goat Lan yang bersembunyi di atas genteng mengintai pertempuran di bawah dengan muka senang sekali. Memang ia pun amat suka akan ilmu silat meski pun kesukaannya akan ilmu silat tidak sebesar kesukaannya membaca kitab, melukis atau bermain catur!

Keadaan di bawah amat terang karena belasan orang hwesio dengan obor bernyala di tangan, berdiri berkelompok menonton pertandingan, sehingga kegelapan malam terusir pergi, terganti cahaya terang bagaikan siang, sungguh pun kalau orang melihat ke atas, langit hitam kelam tak berbintang sedikit pun.

Menurut pandangan Goat Lan yang menonton di atas genteng, dua kakek itu melakukan pertandingan dengan cara yang sangat aneh. Nampaknya mereka seperti bukan sedang bertempur atau bersilat, akan tetapi seperti dua orang pelawak yang sedang menari-nari dengan lucunya!

Im-yang Giok-cu menari dengan guci araknya di tangan kanan yang digerakkan perlahan dan lambat bagai orang menyerang, sementara itu Sin Kong Tianglo juga menggerakkan pisau pemotong daun di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang keranjang obat, seakan-akan ia sedang menggunakan pisaunya untuk mencari daun-daun obat!

Akan tetapi, sesungguhnya kedua orang kakek itu bukan sedang main-main, juga bukan sedang menari atau melawak! Oleh karena, biar pun mereka itu bergerak dengan amat lambat seakan-akan bukan sedang bertempur, namun obor yang dipegang tinggi-tinggi oleh para hwesio itu apinya bergerak-gerak bagaikan tertiup angin besar, padahal pada saat itu daun-daun di atas pohon tak bergerak sama sekali, tanda bahwa tidak ada angin! Kalau saja Goat Lan tidak berada di atas genteng, tentu dia akan merasakan pula apa yang dirasakan oleh para hwesio itu, yaitu angin sambaran dari kedua orang itu sampai mendatangkan hawa dingin pada muka mereka!

Lama juga dua orang itu bertempur berputar-putaran, tipu dilawan tipu, gerakan-gerakan dilawan gerakan. Sebetulnya, kedua orang itu tidak bertempur untuk saling merobohkan, hanya mengadu kepandaian saja dan oleh karena mereka maklum akan kelihaian lawan masing-masing, maka tanpa dijanjikan lebih dahulu, mereka membatasi gerakan mereka dengan tipu-tipu gerakan yang dikeluarkan untuk kemudian dipecahkan oleh yang lain. Dengan demikian, mereka hanya saling serang dengan angin pukulan saja dan siapa yang tak dapat memecahkan sesuatu serangan, berarti kalah tinggi kepandaiannya.

Telah lima puluh jurus lebih kedua orang kakek itu mengeluarkan ilmu kepandaian, akan tetapi keduanya sama pandai dan sama tangguhnya. Im-yang Giok-cu terkenal dengan ilmu silat Im-yang Kim-na-hwat yang permainannya berdasarkan pada gerak berlawanan dari Im dan Yang, maka tenaga serangannya merupakan perpaduan dari tenaga kasar dan lemas dan lweekang-nya telah mencapai puncak yang amat tinggi.

Sebaliknya, sejak dikalahkan oleh Bu Pun Su, Sin Kong Tianglo juga terus melatih diri sehingga tidak saja tenaga lweekang-nya tidak berada di sebelah bawah tingkat Im-yang Giok-cu, akan tetapi ilmu silatnya juga telah maju amat hebatnya. Ilmu silatnya berbeda dengan ilmu silat cabang persilatan Gobi-pai dan bahkan dia telah menciptakan berbagai ilmu pukulan yang belum pernah dilihat orang lain.

Ketika itu, Goat Lan yang sedang menonton dengan hati kurang tertarik karena gerakan kedua orang kakek itu sangat lambat, mendadak mendengar suara ayahnya dari sebelah belakang,

“Goat Lan, kau sedang berbuat apakah?”

Ia cepat menengok ke belakang dan alangkah heran dan juga girangnya ketika ia melihat bahwa ayah dan ibunya juga sudah berdiri di atas genteng, tidak jauh di belakangnya! Agaknya ayah ibunya telah semenjak tadi berdiri di situ.

Memang benar, sebenarnya Kwee An dan Ma Hoa telah semenjak tadi berdiri di tempat itu, dan secara diam-diam memperhatikan jalannya pertempuran sambil melihat ke arah anak mereka dengan hati geli. Tadinya mereka merasa gelisah juga ketika Thian Tiong Hosiang datang memberi tahu bahwa Goat Lan sudah menimbulkan keributan di antara dua orang kakek yang ternama sekali itu dan bahwa kedua kakek itu hendak mengambil murid anak mereka, bahkan kini sedang bertempur karena memperebutkan Goat Lan.

Mereka merasa gelisah kalau-kalau mereka terlambat dan anak mereka sudah dibawa pergi oleh kedua orang tua aneh itu. Akan tetapi, ketika mereka menuju ke Ban-hok-tong dengan berlari cepat sekali hingga Thian Tiong Hosiang tertinggal jauh, mereka melihat Goat Lan sedang mengintai ke bawah dari atas genteng dengan muka terlihat jemu dan bosan!

Kedua suami isteri ini menjadi lega dan mereka lalu mencurahkan perhatian mereka ke arah dua orang kakek yang masih saling serang itu. Bukan main terkejut hati Kwee An dan Ma Hoa melihat gerakan-gerakan mereka itu.

“Kepandaian mereka benar-benar hebat!” kata Kwee An kepada isterinya.

Ma Hoa mengangguk dan menarik napas panjang. “Memang benar, nama kedua tokoh ini bukan nama kosong belaka.”

Goat Lan bangun berdiri dan menghampiri ayah ibunya. Mendengar ucapan ayah ibunya yang memuji kepandaian dua orang kakek itu, dia berkata mencela,

“Apanya sih yang hebat? Kepandaian mereka bahkan lebih jelek dari pada permainan catur mereka!”

Kwee An dan Ma Hoa sudah mendengar dari penuturan Thian Tiong Hosiang betapa Goat Lan memberi petunjuk-petunjuk kepada dua orang kakek itu ketika bermain catur, maka mereka tersenyum geli.

“Anak bodoh, ilmu silat yang kau lihat amat lambat itu merupakan ilmu silat yang jarang terdapat di dunia ini! Mari kita turun untuk lebih mengenal dua orang tokoh besar itu!”

Kwee An memegang lengan tangan anaknya lalu dia melompat turun ke bawah bagaikan seekor burung alap-alap sedang menyambar mangsanya, diikuti oleh Ma Hoa yang juga melompat turun dengan indah dan cepatnya.

Baik Im-yang Giok-cu mau pun Sin Kong Tianglo yang memiliki kepandaian tinggi, dapat melihat berkelebatnya dua bayangan orang ini, maka dengan heran mereka lalu berhenti bertempur dan memandang kepada Kwee An dan Ma Hoa yang telah berdiri di hadapan mereka.

Kwee An dan Ma Hoa menjura kepada mereka dan Kwee An berkata, “Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), kami berdua suami isteri yang bodoh sudah mendengar bahwa anak kami telah mengganggu Ji-wi, maka sengaja datang menghaturkan maaf!”
“Aha, pantas saja anak ini demikian baik, tidak tahunya ayah ibunya lihai dan mempunyai kepandaian tinggi!” kata Sin Kong Tianglo sambil memandang kagum.

Tiba-tiba Im-yang Giok-cu teringat akan sesuatu dan bertanya,
“Apakah kau yang bernama Pendekar Bodoh?” Pertanyaan ini dia tujukan kepada Kwee An sambil memandang tajam.

Kwee An tersenyum dan diam-diam ia memuji nama Cin Hai yang sudah begitu terkenal sehingga tokoh besar ini pun sampai mengenalnya pula.

“Bukan, Locianpwe. Pendekar Bodoh adalah adik iparku dan kini dia tinggal di Propinsi An-hui. Siauwte bernama Kwee An sedangkan Suhu adalah mendiang Eng Yang Cu dari Kim-san-pai.”

Tosu kate itu mengangguk-angguk, “Hemm, aku kenal baik kepada Eng Yang Cu ketika dia masih hidup. Bagus, sebagai murid Kim-san-pai, kepandaianmu tak mengecewakan!”

Diam-diam Im-yang Giok-cu terheran karena melihat gerakan melompat turun dari Kwee An tadi, agaknya tingkat kepandaian pemuda ini tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Eng Yang Cu. Tentu saja dia tidak tahu bahwa setelah menerima pelajaran silat dari Eng Yang Cu, Kwee An masih menerima gemblengan-gemblengan ilmu silat tinggi dari mendiang Kong Hwat Lojin si Nelayan Cengeng, dan juga dari mendiang Hek Moko si Iblis Hitam. Maka apa bila dibandingkan, memang ilmu kepandaiannya sudah lebih tinggi dari mendiang suhu-nya itu!

“Sayang sekali bahwa ternyata Pendekar Bodoh tidak tinggal di sini lagi,” kata pula Sin Kong Tianglo sambil menarik napas panjang. “Biarlah kususul dia ke An-hui, akan tetapi, melihat bakat anakmu yang amat baik, kuharap kau berdua suami isteri rela memberikan anakmu untuk menjadi muridku.”
“Nanti dulu, Tianglo!” Im-yang Giok-cu berkata. “Aku pun berhak menjadi guru anak ini, karena pertandingan tadi pun tak dapat dianggap bahwa kau telah menang dariku!”
“Eh, ehh, kalau begitu mari kita lanjutkan pertandingan tadi,” mengajak Sin Kong Tianglo yang tak mau kalah.
“Ji-wi Locianpwe!” mendadak terdengar seruan Ma Hoa yang merasa mendongkol sekali melihat betapa anaknya diperebutkan oleh kedua orang kakek itu. “Anakku tidak akan menjadi murid siapa pun juga, maka tidak seharusnya Ji-wi memperebutkannya!”

Kedua orang kakek itu tercengang mendengar ucapan ini dan mereka lalu memandang kepada Ma Hoa dengan heran. “Ah, kau betul-betul seorang Ibu yang tidak sayang pada anak! Anakmu akan diberi pelajaran ilmu kepandaian tinggi, kenapa kau malah ribut-ribut menolaknya? Ketahuilah, andai kata kau hendak mencarikan guru bagi anakmu itu, biar pun kau mengelilingi dunia ini, belum tentu akan mendapatkan guru seperti aku atau Sin Kong Tianglo ini!” jawab Im-yang Giok-cu dengan penasaran. Memang adat Si Kate ini agak keras.

Kwee An merasa serba salah. Ia maklum akan kekerasan hati isterinya dan tadinya ia memang hendak menggunakan jalan atau cara yang halus untuk menolak maksud kedua orang kakek yang hendak mengambil Goat Lan sebagai murid itu. Akan tetapi, siapa tahu isterinya telah mendahuluinya! Ia segera menjura kepada mereka dan berkata halus,

“Harap Ji-wi sudi memaafkan. Sesungguhnya kami, terutama isteriku, sangat berat untuk berpisah dengan anak kami yang hanya satu-satunya ini.”

Akan tetapi Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu tidak mau mempedulikannya, bahkan hwesio itu lalu bertanya kepada Ma Hoa.

“Apa bila kau menolak maksud kami mengangkat murid kepada anakmu, habis siapakah yang akan menjadi guru anak ini dan yang akan melatihnya ilmu silat?”

Karena merasa dirinya dipandang rendah, Ma Hoa mengangkat kepalanya dan segera menjawab, “Kami sendiri yang akan mendidiknya dan kami sendiri yang akan menjadi gurunya!”

Tiba-tiba kedua orang kakek itu saling pandang dan tertawa bergelak.
“Im-yang Giok-cu, lihatlah! Kalau ibunya demikian bersemangat, apa lagi anaknya! Anak itu sungguh bernasib baik mempunyai seorang ibu seperti ini!” kata hwesio itu.

Kemudian Im-yang Giok-cu memandang kepada Ma Hoa, lantas berkata dengan muka sungguh-sungguh, “Nyonya muda, kau harus sadar bahwa jaman ini adalah jaman yang buruk. Kekacauan terjadi di mana-mana sedangkan anakmu ini bertulang baik dan patut menjadi calon pendekar! Apakah kau ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik ini? Apakah kau kira akan dapat memberi pelajaran ilmu silat yang lebih baik dari pada kami kepada anakmu ini?”

Melihat suasana yang panas itu, Kwee An hendak maju menengahi, akan tetapi kembali dia didahului oleh isterinya yang berkata marah, “Locianpwe berdua terlalu memandang rendah orang lain. Mengenai ilmu kepandaian, siapakah yang belum mendengar nama Ji-wi? Aku yang muda memang hanya memiliki sedikit kebodohan, akan tetapi kalau Ji-wi merasa penasaran dan kurang percaya, boleh kita coba dan uji!”

Ucapan ini merupakan tantangan halus! Kwee An merasa menyesal sekali, akan tetapi ucapan telah dikeluarkan dan tak mungkin ditarik kembali!

Kedua orang kakek itu kembali saling pandang dan mereka tertawa gembira.

“Bagus, bagus!” kata Im-yang Giok-cu. “Tianglo, kita sudah bertemu dengan orang-orang yang bersemangat! Mari kita mencoba kepandaian orang-orang muda yang bersemangat besar ini!”
“Nanti dulu,” kata hwesio itu, “tantangan orang muda sekali-kali tidak boleh ditolak. Akan tetapi, lebih baik diatur begini saja!” Sambil berkata demikian dia memandang pada Kwee An dan Mai Hoa. “Kalian berdua main-main sebentar dengan kami orang-orang tua, bila kalian anggap bahwa kepandaian kami cukup berharga, kalian harus merelakan anakmu ini menjadi muridku!”
“Ehh, bukan! Menjadi muridku!” kata tosu itu.

Kembali mereka bercekcok dan berebutan! Ma Hoa merasa mendongkol sekali.

“Kalau begini, takkan ada habis-habisnya,” kemudian Sin Kong Tianglo yang lebih sabar berkata, “Baiklah diatur begini, Im-yang Giok-cu. Jika nanti kita berdua dapat dikalahkan oleh orang-orang muda ini, berarti memang kepandaian kita masih rendah dan tak patut menjadi guru. Akan tetapi kalau kita menang, kita berdua menjadi guru anak ini! Bagai mana?”
“Baik sekali!” kata Si Kate yang segera berkata kepada Ma Hoa.
“Nah, kalian boleh maju, hendak kami lihat sampai di mana kepandaianmu hingga berani menolak kami sebagai guru-guru anakmu!”

Kedua orang kakek itu segera bersiap dan mereka memang memandang ringan karena Kwee An hanyalah murid Eng Yang Cu sedangkan Ma Hoa hanya isteri dari jago muda itu, mana bisa memiliki kepandaian tinggi yang menyamai tingkat mereka?

Ma Hoa lalu memberi tanda kepada suaminya yang masih nampak ragu-ragu dan dari pandangan mata isterinya ini Kwee An dapat menerka maksud isterinya. Pertama, kedua orang kakek ini memang memandang rendah kepada mereka, ke dua, jika anak tunggal mereka harus menjadi murid orang lain, terlebih dahulu ia harus membuktikan sampai di mana kelihaian orang itu.

Maka berbareng dengan isterinya, dia pun lantas maju menyerang Sin Kong Tianglo, ada pun Ma Hoa dengan gerakan cepat telah mencabut senjatanya yang aneh, yaitu dua batang bambu kuning yang panjangnya sama dengan lengannya dan besarnya sebesar ibu jari tangannya!

Begitu sepasang suami isteri itu menyerang, kedua orang kakek itu berseru karena heran dan terkejut. Terutama Im-yang Giok-cu yang menghadapi Ma Hoa, karena nyonya muda itu dengan sangat cepatnya sudah menggerakkan sepasang bambu runcingnya, yang kiri menyambar arah leher sedangkan yang kanan melesat menuju ke pusar. Dua serangan yang luar biasa sekali karena yang diarah adalah jalan-jalan darah yang berbahaya.

Juga Sin Kong Tianglo yang diserang oleh Kwee An dengan mempergunakan ilmu silat warisan Hek Moko, menjadi terkejut melihat betapa tangan kanan Kwee An melancarkan pukulan ke arah lambung, sedangkan tangan kiri pemuda itu diulur dengan jari terbuka mencengkeram pundak!

Keduanya cepat mengelak dan mengebutkan lengan baju untuk menolak dan membikin terpental tangan pasangan suami isteri itu, akan tetapi ternyata bahwa Kwee An yang ditangkis hanya miring sedikit kedudukan kuda-kudanya sedangkan Ma Hoa bahkan tak terpengaruh oleh tangkisan ujung baju Im-yang Giok-cu.

“Hebat sekali!” seru Im-yang Giok-cu yang segera menurunkan guci araknya yang tadi digantungkan di punggung, dan kini dia lantas menyerang dengan guci araknya ke arah kepala Ma Hoa!
“Lihai juga!” Sin Kong Tianglo juga berseru memuji dan kakek ini kemudian melanjutkan kata-katanya. “Orang muda, cabutlah pedangmu itu, hendak kulihat sampai di manakah kelihaianmu!”

Kwee An tidak ragu-ragu lagi dan segera mencabut pedangnya yang luar biasa, yaitu pedang Oei-kang-kiam yang bersinar kekuning-kuningan karena terbuat dari logam yang disebut baja kuning, karena itulah diberi nama Oei-kang-kiam (Pedang Baja Kuning). Pedang ini adalah pemberian puteri kepala suku bangsa Haimi yang bernama Meilani, yang pernah jatuh cinta kepadanya sebelum dia menikah dengan Ma Hoa. Kemudian dia kembali menyerang yang disambut oleh Sin Kong Tianglo dengan pisau dan keranjang obatnya.

Pertempuran berjalan berat sebelah dan sefihak, oleh karena ternyata bahwa dua orang kakek itu sama sekali tidak balas menyerang, hanya mempertahankan diri saja, karena memang mereka hanya bermaksud menguji kepandaian suami isteri itu. Namun setelah bertempur beberapa puluh jurus lamanya, makin heranlah mereka berdua.

Sin Kong Tianglo mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang milik Kwee An benar-benar luar biasa dan tingkat kepandaian orang muda ini tak kalah oleh tingkat kepandaian Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai. Juga ilmu pedang Kwee An meski sebagian menunjukkan pelajaran Kim-san-pai, akan tetapi sudah tercampur dengan ilmu pedang lain yang amat aneh dan dahsyat! Memang Kwee An telah mencampur adukkan ilmu pedangnya dengan pelajaran-pelajaran yang dia terima dari Nelayan Cengeng dan Hek Moko.

Yang lebih-lebih merasa heran adalah Im-yang Giok-cu. Begitu tadi Ma Hoa menyerang dengan sepasang bambu kuning dia langsung merasa heran dan terkejut, karena senjata macam ini setahunya hanya dimiliki oleh seorang tokoh besar dari timur, yakni Hok Peng Taisu. Akan tetapi dia masih meragukan dugaannya ini dan melayani nyonya muda itu dengan guci araknya.

Tidak disangkanya, permainan bambu kuning yang ada di kedua tangan nyonya muda ini demikian hebatnya sehingga ia harus berlaku cepat dan gesit karena tubuhnya terkurung oleh ujung-ujung bambu kuning yang sekarang agaknya sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya itu!

“Tahan dulu!” Im-yang Giok-cu berseru sambil melompat mundur, diturut oleh Sin Kong Tianglo.

Biar pun baru bertempur puluhan jurus, baik Kwee An mau pun Ma Hoa maklum bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek ini benar-benar hebat dan masih lebih tinggi dari pada tingkat mereka. Buktinya, selama itu mereka sama sekali tidak pernah membalas, dan hanya menangkis atau mengelak saja, namun pertahanan mereka begitu kuat biar pun gerakan mereka nampak lambat sehingga pedang di tangan Kwee An dan bambu kuning di tangan Ma Hoa seakan-akan menghadapi benteng baja yang kuat! Maka mendengar seruan Im-yang Giok-cu, mereka pun menahan senjata masing-masing.

Para hwesio dan juga Thian Tiong Hosiang yang semenjak tadi menonton dan berdiri di situ, merasa kagum dan tidak ada yang mengeluarkan suara.

“Toanio, apakah kau murid Hok Peng Taisu?”

Ma Hoa menjura dan menjawab, “Benar Locianpwe, Hok Pek Taisu adalah Suhu-ku.”

Im-yang Giok-cu tiba-tiba saja tertawa bergelak dengan suaranya yang parau dan besar. “Ha-ha-ha, inilah yang disebut kalau belum bertanding belum kenal dan tahu! Ketahuilah, bahwa aku adalah Sute (Adik Seperguruan) dari Suhu-mu!”

Ma Hoa terkejut sekali, sebab memang suhu-nya tak pernah mau menuturkan riwayatnya sehingga dia belum pernah tahu bahwa suhu-nya itu mempunyai seorang sute, bahkan sebenarnya Hok Peng Taisu mempunyai pula seorang suheng (kakak seperguruan). Dia percaya penuh kepada orang tua ini karena tak mungkin orang berilmu tinggi seperti dia itu mau mendusta.

Namun, Im-yang Giok-cu tersenyum dan melanjutkan, “Tentu kau kurang percaya kalau belum dibuktikan. Memang ilmu bambu kuning yang kau mainkan itu merupakan ciptaan suheng-ku sendiri sehingga aku tak dapat memainkannya. Akan tetapi ketahuilah bahwa dasar-dasar ilmu silat bambu runcing itu adalah ilmu silat Im-yang Kun-hwat dari cabang kami. Sekarang marilah kita main-main sebentar, jika dalam sepuluh jurus aku tak dapat mengalahkan kau, jangan kau mau percaya bahwa aku adalah Susiok-mu (Paman Guru) sendiri!”

Ma Hoa sebenarnya sudah percaya, tetapi mendengar ucapan ini, dia mau mencobanya juga. Masa dalam sepuluh jurus ia akan dikalahkan? Ia lalu berkata,
“Maafkan kelancangan teecu (murid)!” lalu ia maju menyerang dengan bambu kuningnya.

Im-yang Giok-cu mempergunakan gucinya menangkis ada pun tangan kirinya menyerang dengan cengkeraman ke arah pergelangan tangan Ma Hoa. Gerakannya otomatis dan cepat sekali sehingga Ma Hoa menjadi amat terkejut, akan tetapi nyonya muda ini masih terlampau gesit untuk dapat dikalahkan dalam segebrakan saja.

Ia cepat menarik kembali tangannya yang dicengkeram lantas melanjutkan serangannya dengan jurus kedua. Kini Im-yang Giok-cu membalas setiap serangan dan gerakannya yang lambat itu sebetulnya tak dapat dikata lambat. Memang aneh, jika tangan kanannya menangkis dengan lambat, tangan kirinya menyusul cepat sekali melakukan serangan, seolah-olah bahkan mendahului gerakan tangan kanan, dan demikian sebaliknya hingga Ma Hoa menjadi bingung.

Tepat pada jurus ke sepuluh, ketika Ma Hoa menyerang dengan tusukan bambu kuning di tangan kanan pada leher kakek itu sedangkan tangan kiri menotokkan bambu kuning itu pada jalan darah hong-hut-hiat di dada, tiba-tiba Im-yang Giok-cu memiringkan kepala dan secepat kilat menggigit bambu kuning yang tadinya menyerang leher itu, sedangkan ketika bambu kuning yang kedua menotok dadanya, dia cepat menggunakan ilmu Pi-ki Hu-hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) sehingga saat bambu itu menotok jalan darahnya, Ma Hoa merasa betapa dada itu menjadi keras bagaikan batu karang dan sebelum dia hilang kagetnya, tangan kiri kakek itu telah menangkap bambunya! Dengan bambu kuning di tangan kiri terpegang, maka berarti ia telah kalah!

Ma Hoa melepaskan kedua senjatanya lalu berlutut dan menyebut, “Susiok!”
Im-yang Giok-cu melepaskan kedua bambu kuning itu dan tertawa bergelak.
“Aduh, sungguh berbahaya! Hampir saja aku mendapat malu dan terpaksa kau tak akan mengakui aku sebagai Paman Gurumu! Sungguh tak mengecewakan kau menjadi murid Suheng-ku, sayang bahwa kau agaknya belum cukup lama belajar dari Suheng-ku itu!” Memang kata-kata ini benar karena sesungguhnya, Ma Hoa hanya belajar silat kepada Hok Peng Taisu selama tiga atau empat bulan saja.

Kwee An juga memberi hormat dengan menjura kepada susiok dari isterinya itu.

“Dengarlah, Kwee An dan kau juga, ehhh, siapa pula namamu?” tanya kakek itu kepada Ma Hoa.
“Teecu bernama Ma Hoa.”
“Hemm, bagus, dengarlah. Kalau kalian memang sayang kepada anakmu yang berbakat baik itu biarlah dia kalian serahkan kepada kami untuk dididik selama empat atau lima tahun. Kami akan membawanya ke Bukit Long-ki-san yang tak berapa jauh letaknya dari sini. Kawanku ini, Sin Kong Tianglo, adalah seorang tokoh besar dari Gobi-san dan ilmu kepandaiannya tak boleh disebut lebih rendah dari pada kepandaianku, sungguh pun tak mudah pula baginya untuk mengalahkan aku. Kalau kalian rela melepas anakmu, maka itu berarti bahwa nasib anakmu memang baik. Tapi, kalau kalian tidak membolehkannya, setelah kini aku mengetahui bahwa kau adalah murid Suheng-ku, tentu saja aku takkan memaksa.”

Sebenarnya Ma Hoa merasa berat sekali jika harus berpisah dari puterinya, akan tetapi karena dia maklum bahwa apa bila puterinya menjadi murid kedua orang tua itu kelak akan menjadi orang yang tinggi kepandaiannya, ia menjadi ragu-ragu untuk menolaknya. Ia memandang kepada suaminya dengan mata mengandung penyerahan.

“Ji-wi Locianpwe,” kata Kwee An dengan hormat, “teecu berdua tentu saja merasa amat berbahagia apa bila anak teecu menerima pelajaran dari Ji-wi. Akan tetapi oleh karena teecu hanya memiliki seorang anak, maka perkenankanlah teecu berdua sewaktu-waktu datang menengok anak kami itu.”
“Boleh, boleh...,” Im-yang Giok-cu berkata sambil tertawa, “tentu saja hal itu tidak ada halangannya.”
“Goat Lan, kau tentu suka menjadi murid kedua Locianpwe ini, bukan?” tanya Ma Hoa kepada anaknya. “Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dari pada ayah bundamu sendiri, dan ketahuilah bahwa Locianpwe ini adalah Susiok-kongmu sendiri.”

Semenjak tadi, Goat Lan telah mendengarkan percakapan orang-orang tua dengan amat teliti, maka sebagai seorang anak yang cerdik sekali dia segera maklum bahwa tidak ada guru-guru yang lebih sempurna baginya dari pada dua kakek yang aneh dan yang bodoh kepandaian caturnya itu. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
“Teecu merasa suka sekali menjadi murid Ji-wi Suhu (Guru Berdua).”

Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo saling pandang dan tertawa bergelak dengan hati puas, akan tetapi Goat Lan lalu berdiri dan memeluk ibunya.

“Ibu, kalau kau lama sekali tidak datang mengunjungi tempatku, aku akan minggat dari tempat tinggal Suhu dan pulang sendiri!”

Semua orang tertawa mendengar ucapan yang nakal ini.

“Jangan khawatir, Goat Lan. Kami juga tak akan merasa senang kalau terlalu lama tidak bertemu dengan kau,” kata Kwee An.

Kedua orang kakek itu lalu mengajak Goat Lan pergi dari sana, tidak mau ditahan-tahan lagi. Karena maklum bahwa mereka adalah orang-orang berwatak aneh, maka Kwee An dan Ma Hoa juga tidak berani memaksa dan menahannya. Setelah memeluk ayah ibunya dengan mesra, dan mendengar bisikan ibunya, “Goat Lan, jangan menangis dan jangan nakal!” Goat Lan lalu dituntun oleh kedua suhu-nya di kanan kiri dan sekali kedua kakek itu berkelebat, maka anak perempuan itu telah dibawa lompat dan lenyap dari situ!

Kwee An dan Ma Hoa saling pandang. Terharulah hati Kwee An melihat betapa kedua mata isterinya yang tercinta itu menjadi basah, maka dia lalu mengajak isterinya pulang dan menghiburnya…..

********************
Kita tinggalkan dahulu Goat Lan yang sedang dibawa oleh kedua orang suhu-nya untuk berlatih silat di atas puncak Bukit Liong-ki-san, sebuah bukit yang puncaknya nampak di sebelah selatan kota Tiang-an. Dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Lili atau Sie Hong Li, puteri dari Pendekar Bodoh yang ikut merantau bersama suhu-nya, yaitu Sinkai Lo Sian si Pengemis Sakti itu.

Karena Lili tidak pernah mau mengaku setiap kali ditanya tentang orang tuanya, lambat laun Lo Sian tak mau bertanya lagi dan ia pun telah merasa suka sekali kepada muridnya yang jenaka ini. Dia merasa hidupnya berubah menjadi penuh kegembiraan sesudah dia mendapatkan murid ini dan ia membawa Lili ke tempat-tempat yang indah dan kota-kota yang besar sambil memberi latihan silat kepada muridnya.

Lili juga terhibur dan merasa suka kepada suhu-nya yang ramah tamah dan tidak galak. Di dekat suhu-nya ia merasa seakan-akan dekat dengan engkongnya (kakeknya), Yousuf atau Yo Se Fu. Kadang-kadang memang amat rindu kepada ayah bundanya dan kepada kakeknya, akan tetapi anak yang memiliki kekerasan hati luar biasa ini mampu menekan perasaannya dan sama sekali tak pernah memperlihatkan kelemahan hati dan perasaan rindunya.

Lo Sian membawa muridnya merantau ke barat, dan pada suatu hari mereka masuk ke dalam sebuah hutan yang belum pernah dimasuki Lo Sian. Hutan itu besar sekali, penuh dengan pohon-pohon yang ratusan tahun usianya.

“Lili, mari kita mempercepat perjalanan kita,” ajaknya kepada Lili yang sebentar-sebentar berhenti untuk memetik kembang.

Dia tertawa geli dan juga kagum melihat Lili memetik setangkai kembang mawar yang lalu ditancapkan di atas telinga kanan. Bunga itu berwarna putih sehingga pantas sekali dengan bajunya yang merah.

“Hayo kita berlari cepat, Lili. Hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi malam akan tiba. Kalau kita kemalaman di hutan ini, tentu terpaksa kita harus tidur di atas pohon!”
“Tidak apa, Suhu,” jawab Lili sambil tertawa. “Teecu tidak akan jatuh lagi.”

Suhu-nya tertawa. Muridnya ini memang luar biasa tabahnya. Beberapa hari yang lalu ketika mereka kemalaman dalam sebuah hutan dan tidur di atas cabang pohon besar, di dalam tidurnya Lili bermimpi dan ngelindur sehingga terpelanting jatuh dari atas pohon!

Akan tetapi, anak ini benar-benar mempunyai ketenangan dan hati yang berani sehingga sebelum tubuhnya terbanting ke atas tanah, dia telah sadar dan dapat mempergunakan ginkang-nya yang sudah baik sekali itu untuk mengatur keseimbangan tubuh dan dapat melompat turun dengan baik. Kalau ia tidak tenang dan berlaku cepat, setidaknya tentu akan menderita tulang patah! Akan tetapi, Lili tidak menjadi pucat atau ketakutan sedikit pun, bahkan tertawa-tawa ketika suhu-nya melompat ke bawah dan bertanya kepadanya.

“Suhu, aku bermimpi berkelahi dengan monyet di atas pohon dan aku tergelincir jatuh!” katanya sambit tertawa!

Kini mereka mempergunakan kepandaian berlari cepat dan dalam kepandaian ini, Lili benar-benar memiliki kecepatan yang mengagumkan. Sebelum menjadi murid Lo Sian, gadis cilik ini memang sudah memiliki ginkang luar biasa berkat latihan ayah bundanya. Oleh karena ia telah memiliki dasar-dasar untuk pelajaran ilmu silat tinggi, maka dengan mudah Lo Sian menambah pengetahuan serta kepandaian muridnya itu yang mampu menangkap dan mempelajari serta melatih dengan lancar dan mudah sekali.

Pada waktu mereka hampir keluar dari hutan, tiba-tiba saja Lo Sian menahan larinya dan memandang ke kiri. Lili juga menahan tindakannya dan turut memandang karena wajah suhu-nya memperlihatkan keheranan. Memang sungguh aneh, di tempat yang sunyi itu dan tersembunyi di balik pohon-pohon besar, kelihatan sebuah bangunan kelenteng yang mentereng dan bersih sekali. Lantainya mengkilap dan temboknya terkapur putih bersih. Benar-benar mengherankan sekali.

“Ehh, Suhu. Rumah siapakah begini indah di dalam hutan ini?”
“Sstt, aku pun sedang heran memikirnya. Mari kita menyelidiki, aku ingin sekali tahu.”

Lo Sian dengan diikuti oleh Lili lalu menyelinap di antara pohon-pohon itu dan mendekati bangunan yang besar dan indah tadi. Karena di bagian depan nampak kosong dan sunyi, mereka lalu mengitari rumah itu dan akhirnya tiba di sebelah belakang.

Lo Sian mengajak Lili mendekati kelenteng itu dan mendadak mereka mendengar suara anak kecil tertawa-tawa penuh ejekan. Lo Sian dan Lili menghampiri lantas bersembunyi di balik daun-daun pohon. Alangkah terkejut dan heran hati mereka ketika melihat dua orang anak laki-laki di ruangan belakang yang berlantai mengkilap itu.

Seorang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan Lili nampak tangannya terikat ke belakang dan bajunya terbuka sehingga nampak dadanya yang kurus dan perutnya yang gembung. Melihat wajahnya yang pucat serta perutnya yang gembung itu dapat diduga bahwa ia adalah seorang anak miskin yang sering kali menderita kelaparan dan agaknya perutnya yang gendut itu penuh dengan cacing!

Di depan anak kecil yang tangannya terikat itu, tampak berdiri seorang hwesio kecil yang berkepala gundul licin. Hwesio kecil ini memegang sebatang pisau belati dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menuding ke arah anak yang terikat itu. Suara ketawa tadi adalah suara ketawa dari si hwesio itu.

“Ha-ha-ha! Hendak kulihat kebenaran ucapan Suhu,” terdengar hwesio kecil itu berkata. “Kalau orang kurus perutnya gendut, itu berarti bahwa perutnya penuh cacing! Aku tidak percaya keterangan Suhu ini karena biasanya cacing berada di dalam tanah, mana bisa berada di dalam perutmu? Kau datang hendak mencuri makanan dan sudah sepatutnya mendapat sedikit hukuman. Aku tidak akan membinasakanmu, hanya akan membuktikan kebenaran ucapan Suhu. Kalau betul di dalam perutmu terdapat banyak cacing, betapa lucunya! Ha-ha-ha, biarlah aku menolongmu dan hanya melenyapkan cacing-cacing dari dalam perutmu. Aku adalah ahli bedah yang pandai!”

Sambil berkata demikian, hwesio kecil itu menunjuk-nunjuk perut yang gendut dari anak yang terikat kedua tangannya itu. Sungguh mengagumkan sekali bahwa anak kecil yang terikat itu tidak menjadi ketakutan mendengar ini, bahkan lalu tertawa!

“Kau hwesio gila, persis seperti gurumu! Memang kau dan gurumu orang-orang gila yang pura-pura menjadi hwesio. Aku memang hendak mencuri makanan karena perutku lapar. Sekarang kau telah menangkapku, mau bunuh mau sembelih, atau pun mau membedah perutku, terserah. Aku tidak takut!”
“Bagus, maling hina dina! Sekarang juga aku hendak mengeluarkan cacing dari perutmu yang buncit ini!”

Hwesio kecil itu melangkah maju dan dengan tangan kirinya dia meraba-raba perut anak kecil yang terikat tangannya, seakan-akan hendak memilih dulu tempat yang tepat untuk dibelek!

“Suhu…,” dengan mata terbelalak Lili menoleh kepada suhu-nya dan menunjuk ke arah kedua anak itu, “hwesio gila itu hendak membunuhnya!”

Lo Sian juga merasa terkejut bukan main melihat kelakuan hwesio itu dan diam-diam dia mengagumi anak miskin itu, maka ia mengambil keputusan hendak menolongnya. Pohon di belakang mana mereka bersembunyi mempunyai banyak buah-buah kecil dan cukup keras. Ia memetik sebutir buah yang tergantung paling rendah dan ketika hwesio kecil itu hendak mulai dengan perbuatannya yang keji, Lo Sian menggerakkan tangannya. Buah kecil itu lalu meluncur cepat sekali dan dengan cepat menghantam ke arah pergelangan hwesio kecil yang memegang pisau!

Akan tetapi, ternyata hwesio yang masih kecil dan usianya sebaya dengan anak miskin itu, amat lihai dan agaknya dapat mendengar suara sambaran buah itu. Ia cepat menarik tangannya dan buah itu kini menyambar ke arah pisau yang dipegangnya!

“Trangg...!” Pisau itu jatuh di atas lantai mengeluarkan suara nyaring dan hwesio kecil itu melompat mundur dengan cepat dan kaget.

Pada saat itu, Lo Sian dan Lili melompat keluar dari tempat persembunyian mereka dan berlari ke dalam ruang itu. Hwesio kecil yang berhati kejam itu ketika melihat dua orang muncul dari balik pohon, segera membungkuk dan memungut pisaunya tadi. Dia melihat kepada Lo Sian dan dengan berani sekali, dia menyambut kedatangan Lo Sian dengan serangan pisaunya!

Si Pengemis Sakti terkejut juga melihat betapa serangan ini cukup hebat dan berbahaya, maka ia lalu miringkan tubuhnya dan mengulur tangan hendak merampas pisau itu. Akan tetapi, alangkah herannya ketika hwesio kecil itu dapat mengelak pula!

Sementara itu, Lili segera menghampiri anak yang terikat tangannya dan cepat membuka ikatan tangan. Anak itu memandang kepadanya dengah mata mengandung rasa terima kasih, akan tetapi mereka berdua lalu berpaling menonton pertempuran antara Lo Sian dan hwesio kecil tadi.

Sebetulnya tidak tepat kalau disebut pertempuran, oleh karena Lo Sian sebetulnya hanya ingin mencoba sampai di mana kelihaian anak ini dan sengaja tidak ingin membalas. Dia memperhatikan gerakan hwesio itu dan diam-diam merasa amat terkejut ketika mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh hwesio kecil itu.

Ia cepat mengulur tangan dan dengan gerakan kilat berhasil menotok pundak hwesio itu yang segera roboh dengan tubuh lemas. Ternyata bahwa Lo Sian sudah menotok jalan darahnya yang membuatnya menjadi lemas dan tidak berdaya, sungguh pun totokan itu tidak mendatangkan rasa sakit.

“Hayo kita cepat pergi dari sini!” kata Lo Sian kepada Lili dan anak itu.

Karena maklum bahwa anak miskin itu tidak dapat berlari cepat, Lo Sian lalu memegang tangannya dan sebentar kemudian anak itu merasa terheran-heran sebab kedua kakinya tidak menginjak tanah dan tubuhnya melayang-layang ditarik oleh pengemis aneh yang menolongnya.

Lili merasa heran sekali melihat betapa suhu-nya berlari seolah-olah takut pada sesuatu. Akan tetapi melihat kesungguhan wajah suhu-nya, ia tak banyak bertanya dan mengikuti suhu-nya dengan cepat.

Setelah senja berganti malam dan keadaan menjadi gelap, mereka pun tiba di luar dusun yang berdekatan dengan hutan itu, dan ketika itu barulah Lo Sian menghentikan larinya. Akan tetapi pengemis sakti itu masih nampak gelisah dan berkata,

“Kita bermalam di sini saja.” Lalu dia mengajak Lili dan anak miskin itu duduk di tempat yang jauh dari jalan kecil menuju ke kampung, bersembunyi di balik gerombolan pohon.
“Mengapa kita tidak mencari tempat penginapan di dusun, Suhu?”

Suhu-nya menggelengkan kepala. “Terlalu berbahaya.”

“Suhu, mengapa Suhu melarikan diri? Apakah yang ditakutkan? Hwesio kecil itu sudah kalah dan kenapa kita harus berlari-lari ketakutan?” tanya Lili dengan suara mengandung penuh penasaran.
“Kau tidak tahu, Lili. Melihat dari gerakan ilmu silatnya, hwesio kecil itu tentu seorang pelayan atau murid dari seorang tua yang sangat jahat dan lihai. Kalau betul dugaanku, maka berbahayalah apa bila kita bertemu dengan dia!”
“Siapakah orang jahat itu, Suhu?”

Lo Sian menghela napas. “Dia itu adalah Ban Sai Cinjin, seorang pertapa yang sangat sakti dan tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga amat jahat dan kejam. Aku sama sekali tak kuat menghadapinya. Kepandaiannya sangat tinggi dan ilmu silatnya luar biasa sekali. Pernah aku melihat ia menghajar lima orang kang-ouw yang gagah, dan karena itu ketika aku melihat gerakan hwesio kecil tadi, aku dapat menduga bahwa kepandaian hwesio kecil itu tentu datang dari Ban Sai Cinjin!”

“Akan tetapi, Suhu...”

Tiba-tiba Lo Sian menggunakan tangannya untuk menutup mulut muridnya.
“Ssshhh...” bisiknya. Lili menjadi heran, dan anak miskin itu pun diam tak berani berkutik sedikit pun.

Tak lama kemudian, di dalam gelap terlihat bayangan orang yang bergerak cepat sekali. Bayangan itu setelah dekat ternyata adalah bayangan seorang tua yang gemuk sekali, agak pendek dan gerakan dua kakinya ketika berlari di atas jalan kecil menuju ke dusun itu benar-benar hebat!

Lili melihat betapa kedua kaki orang tua gemuk pendek itu seakan-akan tidak menginjak tanah, akan tetapi jelas sekali kelihatan betapa tanah yang dilalui oleh orang itu melesak ke dalam karena injakan kakinya ketika berlari.....
Ketika orang yang berlari itu berkelebat di dekat tempat mereka sedang bersembunyi, Lili mendengar suara yang parau dari orang itu berkata-kata seorang diri bagaikan sedang berdoa,

“Siauw-koai (Setan Kecil), Lo-koai (Setan Besar), semuanya harus tunduk kepadaku!” Ucapan ini terdengar berkali-kali, makin lama makin perlahan sehingga akhirnya lenyap bersama bayangan orang gemuk yang luar biasa itu! Ternyata bahwa ia lari menghilang ke dalam dusun di depan.

Barulah Lo Sian bergerak dan menghela napas ketika orang itu sudah pergi dan lenyap. “Hebat...!” bisiknya.

“Suhu, dia itukah orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin?”

Gurunya mengangguk di dalam gelap. “Sekarang dia sedang mencari kita di dusun itu dan kalau kita tadi bermalam di sana, tentu kita semua akan tewas di dalam tangannya yang kejam.”

“Akan tetapi, Suhu. Ia kelihatan bukan seperti seorang hwesio. Kepalanya biar pun botak, akan tetapi tidak gundul dan pakaiannya mewah sekali!”
“Memang aneh. Dulu ia gundul dan berpakaian seperti hwesio. Heran benar, sekarang ia agaknya telah menjadi orang biasa dan bajunya yang dari bulu itu menandakan bahwa ia benar-benar seorang kaya raya! Aneh!”

Kalau Lili dan Lo Sian dapat melihat keadaan orang yang lewat tadi dengan jelas, adalah anak miskin itu hanya melihat bayangannya yang berkelebat saja.

“Memang Ban Sai Cinjin seorang kaya!” katanya. “Kaya raya, kejam, dan gila!”

Setelah mendengar suara ini, barulah Lo Sian agaknya teringat bahwa ada orang lain di situ. Ia memandang kepada anak miskin itu dan bertanya, “Anak yang malang, siapakah kau dan coba ceritakan pula keadaan Ban Sai Cinjin yang kau ketahui.”

Anak itu lalu menceritakan bahwa ia bernama Thio Kam Seng, yatim piatu semenjak kecil karena ayah bundanya meninggal dunia akibat sakit dan kelaparan. Semenjak usia enam tahun ia hidup seorang diri sebagai seorang pengemis, merantau dari kota ke kota dan dari dusun ke dusun. Akhirnya ia sampai di dusun Tong-sim-bun di depan itu dan telah setahun lebih ia tinggal di dusun itu dan hidup sebagai seorang pengemis.

Ia mengetahui tentang Ban Sai Cinjin yang dikatakan sebagai seorang hartawan besar, memiliki banyak rumah dan toko di dusun itu, bahkan telah mendirikan sebuah kelenteng besar di dalam hutan sebagai tempat pertapaannya! Watak dari Ban Sai Cinjin yang kejam dan aneh itu memang telah terkenal, akan tetapi oleh karena orang tua ini amat kaya, dan pula tinggi kepandaiannya, tak seorang pun berani mencelanya.

“Aku mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hidup mewah di dalam kelentengnya itu, bahkan sering mendatangkan penyanyi-penyanyi dari kota dan sering pula memesan masakan-masakan mewah. Karena aku merasa amat lapar, aku mencoba untuk mencuri makanan di kelenteng itu. Sungguh celaka aku terlihat oleh hwesio kecil yang kejam itu dan hampir saja celaka kalau tidak mendapat pertolongan In-kong (Tuan Penolong).”

Lo Sian si Pengemis Sakti tidak mengira sama sekali bahwa Ban Sai Cinjin adalah guru dari orang yang menculik Lili! Memang, sesungguhnya Ban Sai Cinjin ini adalah pertapa sakti yang pernah memberi pelajaran silat kepada Bouw Hun Ti atau penclilik Lili itu.

Kepandaian Ban Sai Cinjin memang sangat hebat dan sesudah merasakan kesenangan dunia, pertapa ini sekarang menjadi seorang yang suka mengumbar nafsunya. Dia dapat mengumpulkan harta kekayaan dan menjadi seorang hartawan besar, hidup mewah dan suka mengganggu anak bini orang.

Akan tetapi, untuk menutupi mata umum, ia mendirikan sebuah kelenteng besar di mana katanya digunakan sebagai tempat ‘menebus dosa’ dan bersemedhi. Padahal sebetulnya tempat ini merupakan tempat persembunyiannya di mana ia menghibur diri dengan cara yang amat tidak mengenal malu. Di tempat inilah dia dapat berlaku leluasa, jauh dari mata orang dusun atau orang kota.

Ban Sai Cinjin sangat terkenal akan kelihaiannya dalam hal ginkang dan lweekang, juga senjatanya amat ditakuti orang. Senjata ini memang istimewa sekali, karena merupakan huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan terbuat dari pada logam yang keras diselaput emas!

Pada waktu-waktu biasa, ia menggunakan huncwe-nya ini sebagai pipa biasa yang diisi dengan tembakau-tembakau yang paling mahal dan enak, juga kantong tembakaunya yang tergantung pada gagang huncwe ini terisi penuh dengan tembakau yang kekuning-kuningan bagaikan benang emas.

Akan tetapi pada saat dia menghadapi musuh, kantong itu akan berganti dengan sebuah kantong lain yang berisikan tembakau luar biasa sekali yang berwarna hitam. Dan apa bila ia mengambil tembakau ini lalu dinyalakan di dalam pipanya, maka akan tercium bau yang sangat tidak enak dan keras sekali. Asap tembakau ini saja sudah cukup membuat lawannya menjadi pening dan pikirannya kacau karena sebetulnya asap ini mengandung semacam racun yang berbahaya dan melemahkan semangat.

Apa lagi kalau ia sudah mainkan senjata istimewa ini yang terputar cepat dan dari mulut pipa itu menyembur bunga api karena tembakau yang masih terbakar itu tertiup angin, bukan main berbahayanya. Oleh karena ini pula, maka Ban Sai Cinjin mendapat julukan Si Huncwe Maut!

Lo Sian yang berhati budiman itu menjadi tergerak hatinya ketika mendengar penuturan anak miskin itu. Ia memandang kepada Thio Kam Seng yang kurus dan pucat, dan biar pun ia maklum bahwa anak ini tidak memiliki cukup bakat dan kecerdikan untuk menjadi seorang ahli silat, namun dia tadi telah menyaksikan sendirl bahwa anak ini cukup tabah dan berjiwa gagah. Tadi sudah disaksikannya betapa anak ini menghadapi maut di ujung pisau hwesio kecil itu dengan berani.

“Kam Seng, apakah kau suka ikut padaku dan belajar silat agar kelak jangan sampai kau terhina orang?”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba saja anak itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambil menangis! Saking girang dan terharunya, ia sampai tak dapat mengeluarkan satu patah pun kata, hanya berkata terputus-putus,

“Suhu..., Suhu...”

Setelah pada malam hari itu bersembunyi di sana, keesokan harinya pagi-pagi sekali Lo Sian mengajak kedua orang muridnya untuk melanjutkan perjalanan. Dia menggandeng tangan Kam Seng agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.

Beberapa hari lewat tanpa terasa dan mereka telah memasuki Propinsi Sensi. Pada saat mereka lewat kota Tai-goan, Lo Sian sengaja mampir di kota yang besar dan ramai itu. Kota Tai-goan terkenal dengan araknya yang terbuat dari pada buah leci, dan karena Lo Sian adalah seorang yang suka sekali minum arak, maka sampai beberapa hari ia tidak mau tinggalkan kota itu dan memuaskan dirinya dengan minuman yang enak ini.

Pada suatu hari, ketika ia dan kedua orang muridnya keluar dari sebuah rumah makan di mana ia telah menghabiskan banyak cawan arak, ia mendengar orang berseru keras dan tiba-tiba orang itu menyerangnya dengan pukulan hebat ke arah dadanya.

Lo Sian cepat mengelak dan alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa yang menyerang dirinya ini bukan lain adalah orang brewok yang dahulu menculik Lili! Memang orang ini bukan lain adalah Bouw Hun Ti yang sedang berusaha mencari gurunya dan karena dia melakukan perjalanan berkuda dengan cepat, maka dia telah sampai di tempat itu lebih dulu dan kini ia hendak kembali ke timur setelah mendengar bahwa suhu-nya kini tinggal di dusun Tong-sim-bun.

Kebetulan sekali di kota Tai-goan ini dia bertemu dengan Lo Sian, pengemis yang sudah merampas Lili dari padanya itu! Tanpa menunggu lagi dia segera mengirim pukulan maut yang baiknya masih dapat dikelit oleh Lo Sian.

Lo Sian maklum bahwa orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dia segera mencabut pedangnya yang selalu disembunylkan di dalam bajunya. Bouw Hun Ti tertawa bergelak melihat ini dan segera mencabut goloknya.

“Jembel hina dina! Hari ini kau pasti akan mampus di ujung golokku!” serunya keras sambil menyerang.

Lo Sian menangkis dan mereka lalu bertempur hebat di depan rumah makan itu. Semua orang yang menyaksikan pertempuran ini tidak ada satu pun yang berani turut campur, bahkan mereka lari cerai berai karena takut melihat dua orang itu mainkan senjata tajam secara demikian hebatnya.

Sementara itu, ketika melihat bahwa yang menyerang suhu-nya adalah penculik brewok yang dibencinya, seketika Lili menjadi pucat karena terkejut sekali. Akan tetapi anak ini memang hebat sekali keberaniannya. Ia tidak melarikan diri, bahkan lalu mengumpulkan batu-batu kecil dan mulai menyambit ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari Bouw Hun Ti.

Sungguh pun sambitan batu yang dilepas oleh Lili ini apa bila ditujukan kepada orang biasa akan merupakan serangan yang amat berbahaya, akan tetapi terhadap Bouw Hun Ti sama sekali tidak ada artinya. Tidak saja semua batu itu terlempar ketika terpukul oleh sinar goloknya, biar pun andai kata mengenai tubuhnya pun tak akan terasa olehnya!

Kam Seng yang melihat suhu-nya bertempur melawan seorang laki-laki brewok yang berwajah galak menyeramkan, dan juga melihat betapa Lili menyambit dengan batu, tak mau tinggal diam dan ia pun mulai menyambit pula! Akan tetapi, ia segera menghentikan bantuannya ini karena pandangan matanya telah menjadi kabur dan silau, ketika kedua orang yang bertempur itu kini telah lenyap terbungkus oleh sinar senjata. Kam Seng tidak dapat membedakan lagi mana gurunya dan mana lawan gurunya!

Akan tetapi, Lili yang sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi dan sepasang matanya yang bening sudah terlatih baik semenjak kecil oleh ayah ibunya, masih dapat melihat gerakan suhu-nya dan gerakan musuh itu, maka masih saja ia melanjutkan sambitannya, kini lebih hati-hati dan membidik dengan baik. Sungguh pun serangan Lili ini tidak berarti baginya, namun cukup membikin gemas hati Bouw Hun Ti.

“Setan kecil, lebih dulu kubikin mampus kau!” serunya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat menyambar Lili dan goloknya membacok ke arah kepala anak kecil itu!

Lili memiliki ketenangan ayahnya dan kegesitan ibunya. Melihat sinar golok menyambar ke arah kepalanya, dia cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah lantas bergulingan menjauhkan diri. Akan tetapi, Bouw Hun Ti yang merasa penasaran terus mengejarnya setelah menangkis serangan Lo Sian yang menyerangnya dari samping dalam usahanya menolong muridnya.

Lili bergulingan terus sampai tiba-tiba dia merasakan bahwa tubuhnya berguling ke atas pangkuan seorang yang duduk di bawah pohon dekat situ. Dia memandang dan ternyata bahwa ia telah berada di atas pangkuan seorang pengemis yang tinggi kurus dan berbaju penuh tambalan dan buruk sekali.

Melihat betapa anak itu kini berada di atas pangkuan seorang pengemis, Bouw Hun Ti melanjutkan serangannya. Akan tetapi tiba-tiba dia berseru keras dan goloknya terpental hampir terlepas dari pegangan pada waktu golok itu telah mendekati tubuh Lili. Ternyata bahwa pengemis jembel itu telah mengangkat tongkatnya dan menangkis golok itu!

“Hemm, manusia kejam! Apakah kau masih mau menjual lagak di hadapan Mo-kai Nyo Tiang Le?”

Bouw Hun Ti makin terkejut karena ia sudah mendengar nama Pengemis Setan ini yang amat lihai! Tadi ketika menghadapi Lo Sian, walau pun dia yakin akan bisa mendapatkan kemenangan, akan tetapi kepandaian Lo Sian sudah cukup kuat sehingga ia tak mungkin menjatuhkannya dalam waktu pendek. Apa lagi sekarang ditambah pula dengan seorang pengemis aneh yang dari tangkisan tongkatnya tadi saja sudah menunjukkan bahwa ilmu kepandaiannya amat tinggi!

Bagaimana sebatang tongkat bambu dapat menangkis goloknya yang terkenal tajam dan yang digerakkan dengan tenaga luar biasa? Bouw Hun Ti menjadi gentar juga kemudian dengan marah sekali ia lalu melarikan diri! Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan gurunya untuk minta pertolongan dan bantuan.

Lo Sian yang baru dapat mengenali pengemis itu, cepat-cepat menghampiri dan berseru girang. “Suheng! Kau di sini?”
“Sute, dari mana kau mendapatkan anak ini?” Mo-kai Nyo Tiang Le balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan adik seperguruannya.

Mendengar pertanyaan ini, barulah Lo Sian teringat kepada Bouw Hun Ti yang sudah melarikan diri. Ia menghela napas dan berkata,

“Sayang sekali Suheng. Orang yang dapat menjawab pertanyaanmu itu sudah melarikan diri. Aku sendiri tidak tahu siapa sebetulnya anak ini.” Ia lalu menuturkan pengalamannya pada waktu merampas Lili dari tangan Bouw Hun Ti, kemudian menuturkan pula tentang pengalamannya menolong Thio Kam Seng.

Si Pengemis Setan itu tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Lo Sian. Ia segera memandang kepada Lili yang kini sudah berdiri, lalu berkata kepadanya, “Hemm, anak nakal! Kau tidak mau menceritakan siapa ayah ibumu? Ha-ha-ha, tak perlu kau bercerita lagi! Aku sudah tahu, siapa ayahmu! Dia adalah seorang maling, seorang tukang colong ayam! Karena itulah maka kau malu untuk mengaku! Ha-ha-ha!”

Bukan main marahnya hati Lili mendengar ucapan ini. Gadis cilik ini berdiri tegak dengan kepala dikedikkan, dadanya diangkat dan pandang matanya bersinar-sinar seakan-akan mengeluarkan cahaya api. Kalau ada orang yang telah mengenal ibunya, dan melihat Lili bersikap seperti itu, tentulah akan mengatakan bahwa anak perempuan ini persis sekali seperti ibunya kalau sedang marah.

“Kau... kau berani menghina ayahku? Jika Ayah mendengar hal ini, biar pun kau berada di ujung dunia, Ayah pasti akan mematahkan batang lehermu! Ayahku adalah seorang gagah perkasa tanpa tandingan! Orang macam kau, biar ada seratus pun akan dapat dia patahkan batang lehernya dengan mudah!” Lili betul-betul marah bukan main mendengar ayahnya disebut tukang colong ayam!

Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. Agaknya dia geli sekali sehingga sambil tertawa dia meraba-raba perutnya. “Ha-ha-ha-ha! Pandai sekali kau menutupi keadaan ayahmu! Ha-ha-ha, ayahmu hanya seorang maling kecil. Memang dia bisa mematahkan batang leher, akan tetapi hanyalah batang leher ayam. Tentu saja dia kuat mematahkan batang leher seratus ekor ayam yang dicurinya! Ha-ha-ha!”

“Orang tua kurang ajar!” Lili semakin marah hingga ia membanting-banting kakinya yang kecil.

Dia lupa bahwa suhu-nya tadi menyebut suheng kepada jembel ini. Namun, jangankan baru supek-nya yang baru dikenal sekarang, walau pun siapa juga tidak boleh menghina ayahnya!

“Hati-hatilah kau! Beritahukan siapa namamu supaya dapat kuberitahukan kepada Ayah. Kau pasti akan dipukul mati! Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa Ayah...” tiba-tiba Lili terhenti karena ia teringat bahwa ia tidak ingin memberitahukan nama orang tuanya, bahkan ia belum pernah mengaku kepada suhu-nya.

“...bahwa ayahmu hanyalah seorang tukang colong ayam...!” Pengemis tua itu langsung melanjutkan kata-katanya yang terhenti sambil tertawa bergelak.

“Bukan!” Lili menggigit bibirnya dengan hati gemas. “Nah, biarlah aku mengaku! Ayahku adalah Sie Cin Hai yang berjuluk Pendekar Bodoh! Ibuku adalah Kwee Lin yang terkenal gagah perkasa! Siapa yang tidak kenal kepada ayah ibuku yang menjadi murid terkasih dari Sukong Bu Pun Su?”

Sambil berkata demikian, Lili memandang dengan tajam kepada pengemis itu dan juga kepada gurunya. Ia merasa bangga dan girang sekali ketika melihat betapa pengemis itu yang tadinya tengah tertawa, kini membuka mulutnya dengan melongo, ada pun suhu-nya sendiri pun memandangnya dengan mata terbelalak heran!

Lo Sian lalu mengelus-elus kepala Lili dan berkata, “Ah, anak baik, kenapa tidak dulu-dulu kau katakan kepadaku? Jika aku tahu, tentu kau sudah kuantarkan kepada orang tuamu! Aku tahu siapa adanya ayah ibumu itu dan ketahuilah bahwa Suhu-mu dan Supek-mu ini masih orang-orang segolongan dengan ayahmu!”

“Akan tetapi, mengapa Supek tadi menghina ayahku? Mengapa ayahku disebut tukang colong ayam?”

Nyo Tiang Le tertawa bergelak dan Lo Sian juga tersenyum. “Lili, Supek-mu tadi hanya bergurau. Pada waktu ia mengatakan bahwa ayahmu seorang maling ayam, ia tidak tahu bahwa ayahmu adalah Sie Taihiap! Kalau ia tidak mempergunakan akal ini, apakah kau akan suka menyebutkan nama ayahmu?”

Lili memang cerdik. Kini ia tahu bahwa ia telah kena diakali, maka sambil tersenyum ia berkata kepada Nyo Tiang Le, “Supek sudah menipuku! Akan tetapi, kalau Supek tidak menarik kembali ucapannya tadi, aku selamanya akan benci kepada Supek!”

Suara tawa Mo-kai Nyo Tiang Le makin keras. “Ha-ha-ha! Siapa bilang bahwa Pendekar Bodoh pencuri ayam? Apa bila ada orang yang mengatakan demikian di depanku, mulut orang itu tentu akan kuhajar dengan seratus kali pukulan tongkatku! Tidak, anak manis, ayahmu bukan pencuri ayam akan tetapi dia adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa!”

Berserilah wajah Lili mendengar pujian terhadap ayahnya ini.
“Suheng, kalau begitu, aku hendak mengantarkan anak ini pulang kepada Sie Taihiap di Shaning.”

Nyo Tiang Le menggelengkan kepalanya. “Berbahaya sekali, Sute! Kau tentu telah dapat menduga siapa adanya orang brewok tadi?”

Lo Sian menggelengkan kepalanya. “Sungguh pun ilmu silatnya sangat lihai dan gerakan goloknya mengingatkan aku akan ilmu kepandaian golok milik Ban Sai Cinjin, akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu siapa adanya orang itu.”

“Dia adalah murid dari Ban Sai Cinjin, seorang peranakan Turki. Apakah kau masih ingat pada Balutin yang dulu memimpin barisan Turki ke pedalaman dan menimbulkan banyak kerusakan!”

Lo Sian mengangguk karena dahulu ia memang membantu tentara kerajaan menghadapi perwira yang amat tangguh itu.

“Nah, orang tadi adalah putera dari Balutin itulah! Namanya Bouw Hun Ti dan dia amat lihai, apa lagi setelah mendapat latihan dari Ban Sai Cinjin. Entah mengapa dia menculik anak Pendekar Bodoh ini, akan tetapi sudah jelas bahwa kalau ia melihat kau mengantar anak ini pulang, tentu ia akan turun tangan dan hal ini berbahaya sekali.”

Lo Sian menundukkan kepalanya karena dia juga maklum bahwa kepandaian Bouw Hun Ti masih lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri sehingga ia tidak dapat melindungi keselamatan Lili dengan baik.

“Habis, bagaimana baiknya, Suheng?”
“Aku sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin di puncak Beng-san. Biarlah kubawa kedua anak ini bersamaku ke sana. Kau pergilah seorang diri mencari Pendekar Bodoh dan memberi tahu bahwa puterinya sudah selamat dan sedang bersama dengan aku. Kam Seng ini nasibnya buruk dan patut ditolong. Sedangkan dulu aku pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su, maka sekarang sudah selayaknyalah apa bila aku membalas dan menolong cucu muridnya ini! Nona kecil, kau tentu mau ikut dengan aku, bukan?”

Lili memandang kepada suhu-nya dan berkata, “Suhu, teecu memang tidak mau pulang. Teecu baru mau pulang kalau Ayah dan Ibu menyusul teecu! Akan tetapi, bila selamanya teecu harus ikut Supek, teecu tidak suka.”

“Mengapa begitu, Lili?” tanya Lo Sian sambil tersenyum.
“Supek seorang pengemis!”
“Hussh!” kata Lo Sian mencela. “Aku pun seorang pengemis!”
“Benar, akan tetapi Suhu berbeda dengan Supek. Suhu adalah pengemis bersih, akan tetapi Supek...”
“Hussh, Lili!” Menegur suhu-nya.

Akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le bahkan tertawa geli dan berkata, “Biarlah, Sute. Sudah sewajarnya apa bila seorang anak perempuan suka akan kebersihan dan keindahan. He, Lili anak nakal, kau lihatlah baik-baik, apakah aku masih nampak kotor dan menjijikkan?”

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya kedua tangan Pengemis Setan itu bergerak dan tahu-tahu jubah luarnya yang butut itu telah terlepas sehingga Lili dan juga Thio Kam Seng, anak piatu itu memandang dengan mata terbelalak heran.

Setelah jubah butut kotor dan penuh tambalan itu terlepas, kini pengemis tua itu nampak bersih dan gagah sekali. Tubuhnya tertutup oleh pakaian warna putih bersih dari sutera halus, sebatang pedang tergantung di pinggang kirinya! Dan sikap pengemis tua itu pun berubah sama sekali, wajahnya yang tadi tertawa-tawa bagaikan orang gila itu menjadi sungguh-sungguh dan nampak kereng sekali!

“Bagaimana, apakah kau masih merasa jijik untuk ikut Supek-mu?” tanya Nyo Tiang Le dengan suara kereng.

Lili merasa heran dan tertegun sehingga dia memandang dengan mata tak berkedip, lalu menggelengkan kepalanya. Pengemis tua yang aneh itu kemudian mengenakan kembali pakaian bututnya dan wajahnya kembali berseri-seri. Kini Lili baru merasa lega, karena sebenarnya hatinya lebih enak dan senang menghadapi pengemis tua yang berpakaian butut dan yang tertawa-tawa ramah ini dari pada menghadapinya dalam pakaian gagah dan sikap kereng tadi!

“Kenapa pakaian bersih dan indah ditutupi oleh pakaian yang demikian kotor dan buruk?” kini ia berani membuka mulut bertanya.

Nyo Tiang Le tertawa bergelak, seperti tadi sebelum memperlihatkan pakaiannya yang dipakai di sebelah dalam.

“Ha-ha-ha, anak baik! Banyak sekali orang yang di luarnya mengenakan pakaian-pakaian indah dan mahal, memakai baju kebesaran dan tanda pangkat, akan tetapi coba bukalah pakaian yang indah-indah itu, kau akan melihat sesuatu yang kotor, seperti sebutir buah yang kulitnya merah kekuningan dan nampak segar akan tetapi apa bila dikupas kulitnya akan terlihat isinya busuk! Bagiku, aku lebih suka yang sebaliknya, dari luar tampak kotor akan tetapi di sebelah dalam bersih! Ha-ha-ha!”

Lili tidak percuma menjadi puteri Pendekar Bodoh, seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan yang terkenal ahli dalam hal filsafat hidup dan hafal akan semua ujar-ujar kuno. Telah sering kali ayahnya memberi pelajaran budi pekertiepadanya dan sering kali pula dia mendengar ayahnya mengucapkan ujar-ujar kuno mengenai filsafat hidup. Dan kini, mendengar ucapan Nyo Tiang Le itu, anak yang berotak tajam ini dapat menangkap maksudnya, maka dia lalu membantah,

“Supek, betapa pun juga aku lebih suka lagi kalau yang bersih itu tidak hanya dalamnya saja, akan tetapi luar dalam! Biar pun isinya sama bersih dan sama enak, kalau disuruh memilih, aku lebih suka buah yang kulitnya menarik dan bersih dari pada yang kulitnya kotor!”

Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Benar benar! Kau memang seorang perempuan, sudah seharusnya tahu merghargai keindahan, luar mau pun dalam!”

Demikianlah, sesudah memesan kepada Lili dan Kam Seng supaya patuh kepada supek mereka, dan memberi janji kepada Lili bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali, Lo Sian lalu meninggalkan mereka menuju ke timur untuk mencari Pendekar Bodoh di Shaning dan mengabarkan tentang keadaan Lili kepada pendekar besar itu.

Nyo Tiang Le juga segera membawa kedua anak itu melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Beng-san. Pengemis Setan ini sungguh pun menjadi suheng dari Lo Sian, akan tetapi apa bila dibandingkan dengan Pengemis Sakti itu, kepandaiannya jauh lebih tinggi, juga usianya berbeda jauh sekali. Lo Sian baru berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le usianya sudah lima puluh tahun lebih.

Bahkan kepandaian Lo Sian sebagian besar terlatih oleh Nyo Tiang Le dan suhu mereka hanya memberi pelajaran-pelajaran dasar saja kepada Sin-kai Lo Sian. Kepandaian Nyo Tiang Le ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan tingkat kepandaian empat besar di timur, barat, selatan, dan utara, yakni Hok Peng Taisu guru Ma Hoa, Pok Pok Sianjin di Beng-san yang kini menjadi guru dari Sie Hong Beng putera Pendekar Bodoh, mendiang Bu Pun Su, guru dari Cin Hai si Pendekar Bodoh dan isterinya, dan Swi Kiat Siansu, tokoh di utara yang terkenal dengan senjatanya kipas maut itu! Kepada empat orang tokoh besar ini, Nyo Tiang Le telah kenal baik, bahkan dia pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su yang terkenal paling lihai di antara para tokoh besar itu.

Mo-kai Nyo Tiang Le suka sekali melihat Lili dan karena ia tidak mempunyai murid, maka melihat murid sute-nya ini tergeraklah hatinya. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mewariskan ilmu pedangnya kepada Lili yang ia tahu memiliki bakat yang baik sekali. Dia memang sedang menuju ke Beng-san untuk bertemu dengan Pok Pok Sianjin, seorang di antara tokoh-tokoh besar dunia persilatan masih hidup.

Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang bernasib malang itu, benar-benar telah mendapat karunia besar dan agaknya nasibnya telah mulai bersinar terang saat ia bertemu dengan Lo Sian, karena tak disangka-sangkanya bahwa ia akan terjatuh ke dalam tangan orang luar biasa sehingga ia dapat menjadi murid seorang gagah seperti Lo Sian, bahkan kini ia ikut melakukan perjalanan dengan Nyo Tiang Le dan ikut pula mendapat latihan ilmu silat tinggi…..

********************
Mari sekarang kita mengikuti perjalanan Cin Hai dan Lin Lin yang meninggalkan rumah mereka di Shaning untuk pergi mencari puteri mereka yang lenyap terculik orang.

Semenjak Kong Hwat Lojin atau Nelayan Cengeng yang menjadi guru dan ayah angkat Ma Hoa meninggal dunia pada dua tahun yang lalu, belum pernah Pendekar Bodoh dan isterinya mengunjungi Tiang-an. Maka setelah mereka tiba di perbatasan kota Tiang-an, mereka berhenti sebentar dan memandang tembok kota itu dengan pikiran yang penuh kenangan masa lampau. Bagi Lin Lin, kota ini adalah kota kelahirannya dan bagi Cin Hai, kota ini pun merupakan kota di mana dia pernah mengalami banyak sekali penderitaan hidup pada waktu dia masih kecil.

Mereka memasuki kota dan mengunjungi rumah Kwee An. Rumah ini adalah rumah tua, gedung besar dan kuno yang dulu menjadi tempat tinggal mendiang Kwee In Liang, yaitu ayah Kwee An dan Kwee Lin. Kedatangan mereka mendapat sambutan yang hangat sekali dari Kwee An dan Ma Hoa. Ma Hoa merangkul Lin Lin dan sampai lama mereka saling peluk dan mencium dengan hati girang sekali.

“Enci Ma Hoa, sekarang kau makin gemuk dan makin cantik saja!” Lin Lin berkata sambil memandang kepada soso (kakak iparnya) itu. Oleh karena sudah terbiasa sejak belum menikah dulu, Lin Lin tidak menyebut soso pada iparnya ini, akan tetapi masih menyebut enci.
“Lin Lin, kaulah yang semakin cantik, akan tetapi mengapakah kau kelihatan agak pucat? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu ke sini?”

Cin Hai dan Kwee An yang saling berpegang tangan dengan perasaan gembira itu juga mengucapkan kata-kata ramah tamah.

“Ahhh, kami mendapat kesusahan,” kata Lin Lin sambil menghela napas lalu menggigit bibirnya untuk menahan jangan sampai meruntuhkan air mata. “Lili telah terculik orang!”

Pucatlah wajah Ma Hoa dan Kwee An mendengar berita hebat ini.
“Apa...?!” Ma Hoa melompat bangun dan memegang lengan tangan Lin Lin. “Siapa orang yang demikian berani mampus melakukan hal itu? Lin Lin, beritahukan siapa orangnya, akan kuhancurkan kepalanya!” Ma Hoa benar-benar marah sekali mendengar berita ini dan sepasang matanya berkilat.

Kwee An juga marah sekali dan kedua tangannya dikepal, akan tetapi ia lebih tenang dan sabar dari pada isterinya. Ia memegang tangan adiknya dan berkata,
“Ahh, bagaimana bisa terjadi hal itu? Lin Lin, marilah kita semua masuk ke dalam dan ceritakanlah hal itu sejelasnya.”

Suara yang lemah lembut dan sikap mencinta dari kakaknya ini lebih tajam menyentuh perasaan Lin Lin dari pada sikap Ma Hoa yang menunjukkan pembelaannya dengan hati marah. Tak terasa lagi Lin Lin meramkan mata menahan keluarnya air mata yang tetap saja menembus celah-celah bulu matanya lantas mengalir turun ke atas pipinya. Sambil menyandarkan kepalanya di pundak Kwee An, Lin Lin menangis dan menurut saja ditarik oleh Kwee An menuju ke ruang dalam, diikuti oleh Cin Hai dan Ma Hoa.

Setelah mereka duduk di atas kursi dan Lin Lin sudah dapat menekan perasaan gelisah dan sedihnya, maka berceritalah Lin Lin dan Cin Hai mengenai penculikan terhadap Lili, dan juga tentang terbunuhnya Yousuf. Mendengar bahwa Yousuf terbunuh pula dalam keadaan yang sangat mengerikan dan menyedihkan, yaitu dipenggal kepalanya, Ma Hoa menjerit dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia berdiri dan dengan tangan terkepal ia berkata keras,

“Lin Lin, kita harus mencari jahanam itu sampai dapat! Hatiku belum puas kalau belum menusuk mata jahanam itu dengan senjataku!”

Juga Kwee An merasa marah dan sedih sekali mendengar berita ini. Ketika mendengar dari Cin Hai bahwa menurut orang-orang yang melihatnya, pembunuh Yousuf itu adalah seorang Turki, Kwee An berkata,

“Tidak mungkin salah lagi, tentu pembunuhnya adalah utusan Pangeran Muda dari Turki yang semenjak dahulu memusuhi Yo-pekhu!”
“Kami pun menduga demikian,” kata Cin Hai. “Oleh karena itu, kami hendak menyusul ke barat, hendak mencari keterangan dan menyelidiki ke Kansu di mana banyak terdapat orang-orang Turki baik pengikut Pangeran Muda mau pun pengikut Pangeran Tua.”
“Betul sekali,” kata Kwee An mengangguk-anggukkan kepala. “Di sana banyak terdapat kawan-kawan baik dari Yo-pekhu, dan kurasa dari mereka ini kau akan bisa mendapatkan keterangan.”
“Aku ingin sekali ikut pergi,” tiba-tiba saja Ma Hoa berkata, “aku ingin mendapat bagianku menghajar penculik Lili!”

Kwee An memandang kepada isterinya, kemudian sambil tersenyum dia berkata, “Dalam keadaanmu sekarang ini lebih baik jangan melakukan perjalanan sejauh itu.”

Ma Hoa membalas pandangan suaminya dan tiba-tiba mukanya berubah merah. Lin Lin mengerti akan maksud ucapan itu, maka dia merangkul Ma Hoa sambil berkata, “Enci yang baik! Sudah berapa bulankah?”

Makin merahlah muka Ma Hoa dan dengan suara perlahan ia berkata, “Dua...”

Cin Hai sama sekali tidak mengerti apakah maksud pembicaraan antara isterinya dan Ma Hoa, maka ia memandang kepada mereka dengan sinar mata bodoh. Melihat wajah dan pandangan mata bodoh dari Cin Hai ini, tak tertahan pula Ma Hoa dan Lin Lin tertawa geli, bahkan Kwee An juga tersenyum, teringat akan peristiwa dulu-dulu tentang Cin Hai yang dalam beberapa hal memang agak bodoh. Pandangan mata seperti itulah yang lalu membuat ia mendapat julukan Pendekar Bodoh!

“Eh, eh, kalian mengapakah?” Cin Hai tidak merasa aneh melihat isterinya tertawa-tawa, oleh karena memang demikianlah sifat Lin Lin. Dalam keadaan bersedih dia bisa tertawa gembira, sebaliknya dalam kegembiraan tiba-tiba murung!
“Jangan tanya-tanya, ini urusan wanita. Laki-laki tahu apa!” kata Lin Lin.

Akhirnya bisa juga Cin Hai menduga bahwa yang dimaksudkan tentu Ma Hoa kini dalam keadaan mengandung dua bulan. Akan tetapi karena merasa jengah dan malu, dia diam saja.

Dua pasang suami isteri itu lalu bercakap-cakap melepaskan rindu.

“Eh, sampai lupa aku! Mana si cantik Goat Lan? Kenapa semenjak tadi aku tidak melihat dia?” kata Lin Lin.
“Ah, dia telah dibawa oleh dua orang kakek yang kalian tentu sudah kenal namanya.”
“Dibawa? Apa maksudmu? Siapakah mereka?” tanya Cin Hai.
“Goat Lan telah diambil murid oleh Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo dan dibawa ke Liong-ki-san untuk dilatih ilmu silat.”

Cin Hai dan Lin Lin merasa girang mendengar ini dan keduanya lalu memberi selamat. Ma Hoa menceritakan peristiwa tentang kedatangan kedua orang kakek gagah itu di Kuil Ban-hok-tong.

“Enci Hoa,” kata Lin Lin yang mendadak teringat akan sesuatu, “aku sudah mengadakan pembicaraan dengan suamiku mengenai anakmu itu. Kau tentu dapat menduga maksud kami, yaitu tentang anakmu dan anak kami Hong Beng.”

Wajah Ma Hoa berseri. “Ahh, bagaimana dengan puteramu yang elok itu?”

Lin Lin lalu menceritakan bahwa Hong Beng sudah diantarkan ke Pok Pok Sianjin untuk menerima latihan ilmu silat.

“Kiranya tidak ada jodoh yang lebih tepat bagi Hong Beng selain anakmu yang cantik itu. Bagaimana kalau kita resmikan pertunangan itu sekarang?”
Kwee An tertawa. “Kedua anak itu baru berusia sepuluh tahun, bagaimana pertunangan mereka harus diresmikan?”
“Maksudku, pertunangan ini disahkan di antara kita, orang-orang tua mereka. Kau tentu menerima pinanganku, bukan?” menegaskan Lin Lin.
“Lin Lin, kau masih saja tidak sabar seperti dulu!” kata Ma Hoa tertawa. “Dulu pernah kita bicarakan hal ini dan sudah saling setuju. Tentu saja, kami setuju sekali dan menerima pinanganmu dengan kedua tangan terbuka. Memang selain putera kalian siapa lagi yang patut menjadi mantu kami?”

Demikianlah, di antara tawa dan sendau gurau, mereka meresmikan pertunangan Hong Beng dan Goat Lan. Dengan amat mudahnya Lin Lin telah lupa kesedihannya kehilangan Lili. Cin Hai yang pendiam tidak dapat melupakan nasib puterinya, akan tetapi tidak tega untuk mengingatkan isterinya mengenai hal yang tidak menyenangkan ini, maka dia diam saja.

Sesudah mengunjungi Kwee Tiong atau Thian Tiong Hosiang, ketua Kuil Ban-hok-tong, kakak tertua dari Lin Lin yang kini menjadi hwesio alim itu, Lin Lin dan Cin Hai segera melanjutkan perjalanannya ke barat. Mereka hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An. Ma Hoa dan suaminya mengantarkan mereka sampai di luar batas kota dan mereka lalu berpisah.

Cin Hai dan Lin Lin melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat dan sesudah berpisah dari Ma Hoa, seluruh perhatian Lin Lin kembali tercurah kepada puterinya dan timbul lagi kegelisahannya. Perjalanan mereka amat jauh, dan beberapa pekan kemudian setelah melaksanakan perjalanan cepat sekali, barulah mereka tiba di Kansu dan menuju ke kota Lancouw. Pada sepanjang perjalanan mereka teringat akan segala pengalaman mereka yang penuh bahaya pada sepuluh tahun lebih yang lampau pada waktu mereka dengan kawan-kawan lain mengunjungi propinsi ini.

Cin Hai dan Lin Lin lalu masuk ke perkampungan orang Turki di mana dahulu Yousuf tinggal. Orang-orang Turki yang tinggal di sana ternyata masih ingat kepada mereka, karena pada saat mereka masuk ke kampung itu, mereka disambut dengan girang sekali oleh para kawan dari Yousuf itu. Cin Hai segera dihujani pertanyaan mengenai keadaan Yousuf.

Ketika mendengar bahwa bekas pemimpin mereka itu telah tewas dengan keadaan amat menyedihkan, dipenggal kepalanya oleh seorang Turki lain yang brewok, maka sedihlah hati mereka.

“Bouw Hun Ti!” seru seorang di antara mereka yang sudah lanjut usianya. “Tentu Bouw Hun Ti si anjing pengkhianat yang melakukan hal itu.”

Cin Hai dan Lin Lin segera mendesak orang tua itu.

“Sahabat,” kata Cin Hai, “sesungguhnya kami datang dari tempat yang amat jauh, tak lain maksud kami hanyalah hendak menemui saudara-saudara dan minta pertolongan untuk menduga siapa adanya bangsat yang telah membunuh Yo Se Fu dan yang telah berani menculik puteri kami itu. Tadi kami mendengar disebutnya nama Bouw Hun Ti, siapakah gerangan dia itu dan mengapa kalian mengira bahwa dialah yang melakukan perbuatan itu?”

Orang Turki tua itu baru saja datang dari Turki dan ia tahu akan keadaan Bouw Hun Ti, maka dia lalu menceritakan sejelasnya kepada Cin Hai dan Lin Lin. Ketika mendengar bahwa Bouw Hun Ti diutus oleh Pangeran Muda untuk membawa Yousuf dengan paksa ke Turki dan bahwa Bouw Hun Ti adalah putera dari Balutin dan terkenal jahat kejam dan berkepandaian tinggi.

Cin Hai dan Lin Lin tidak ragu-ragu lagi bahwa memang dialah orang yang dicari-carinya. Mereka lalu mengambil keputusan untuk menunggu di Lancouw, menghadang perjalanan Bouw Hun Ti yang tentunya akan pulang ke Turki dengan membawa Lili yang diculiknya, karena menurut keterangan orang-orang Turki itu, Bouw Hun Ti sampai saat itu belum kembali dari timur.

Akan tetapi, setelah menanti dua pekan belum juga kelihatan penculik dan pembunuh itu datang, Cin Hai dan Lin Lin menjadi kecewa dan gelisah bukan main. Betapa pun lambat musuh itu melakukan perjalanan, tidak mungkin akan makan waktu selama itu. Akhirnya Cin Hai dan Lin Lin mengambil keputusan untuk kembali ke timur, mencari musuh yang membawa lari puteri mereka itu.

Kepada orang-orang Turki yang ada di situ mereka minta tolong agar supaya mengamat-amati, jika melihat Bouw Hun Ti dan seorang anak perempuan, agar berusaha merampas anak perempuan itu. Orang-orang Turki itu maklum bahwa Lin Lin adalah anak angkat Yousuf, sehingga dengan demikian anak perempuan yang diculik oleh Bouw Hun Ti itu adalah cucu dari Yousuf, maka tentu saja mereka bersedia untuk membantu suami isteri itu dan menolong Lili. Mereka maklum bahwa di antara mereka tidak seorang pun dapat melawan Bouw Hun Ti yang lihai, akan tetapi dengan akal dan tipu, mereka merasa yakin akan dapat menculik kembali anak itu dari tangan Bouw Hun Ti dan mengantarkannya kepada suami isteri itu.

Maka berangkatlah Cin Hai dan Lin Lin kembali ke timur. Sungguh pun mereka merasa kecewa dan gelisah, akan tetapi ada juga sedikit kegembiraan karena sudah mengetahui nama dan keadaan musuh besar mereka.

Kini mereka kembali ke timur tidak melalui jalan yang mereka lalui ketika mereka menuju ke Lancouw, yakni jalan sebelah selatan, akan tetapi mereka melalui jalan sebelah timur, di sepanjang perbatasan Mongolia Dalam. Mereka mengambil keputusan hendak mampir di tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menengok Hong Beng yang belajar ilmu silat di situ…..

********************
Mo-kai Nyo Tiang Le bersama dua orang anak-anak murid sute-nya, yakni Lili dan Kam Seng, sampai di Gunung Beng-san. Dengan perlahan Nyo Tiang Le mengajak dua orang anak-anak itu mendaki bukit yang indah sambil menikmati pemandangan alam yang luar biasa mengagumkan.

Setelah jatuh ke tangan orang-orang yang bisa ia percaya, Kam Seng kini timbul kembali sifat-sifat aslinya, yaitu pemberani, bersemangat, dan jenaka. Lili merasa suka kepada kawan ini dan ketika mendaki bukit yang indah itu, Lili dan Kam Seng mendahului supek mereka sebab Pengemis Setan ini sebentar-sebentar berhenti untuk menikmati keindahan pemandangan alam.

Lili dan Kam Seng sudah diberi tahu oleh supek ini bahwa tuiuan mereka adalah puncak bukit di sebelah utara itu. Maka mereka tidak sabar menunggu supek mereka yang dapat berdiri diam bagaikan patung sampai lama sekali untuk menikmati tamasya alam.

“Supek benar-benar aneh,” kata Kam Seng sambil tertawa dan napas tersengal karena ia harus mengikuti Lili yang gerakannya lebih gesit dan sangat cepat itu, “apakah indahnya pohon-pohon dan rumput di bawah gunung?”

Lili hanya tersenyum sambil berkata, “Hayo cepat kita naik. Itu di atas banyak kembang merah yang indah!”

Dia lalu melompat ke depan dengan cepat bagaikan seekor anak kijang. Tentu saja Kam Seng tak bisa menyusulnya, dan anak yang sudah terengah-engah akibat telah mendaki bukit itu mencoba untuk mempercepat langkahnya sambil bersungut-sungut,

“Supek aneh, Lili juga aneh. Kembang macam itu saja, apa sih indahnya?”

Memang, Kam Seng yang sejak kecil selalu menderita lahir batin, perasaannya menjadi acuh tak acuh, hingga tak dapat merasai atau menikmati sesuatu yang sedap dipandang. Matanya telah terlampau banyak melihat hal-hal yang menimbulkan rasa sedih dan putus harapan, bahkan dulu ketika ia menderita kelaparan dan kesengsaraan, segala sesuatu yang betapa indah pun nampak buruk dan menjemukan.

Karena Lili berhenti dan mengagumi bunga-bunga yang tumbuh di pinggir jalan kecil itu, maka Kam Seng dapat menyusulnya juga. Lili meraba bunga itu, dan nampaknya girang bukan main. Kedua pipinya bersinar kemerahan, matanya berseri gembira. Ia memetik beberapa tangkai bunga yang terindah, diikat menjadi satu kemudian dibawanya dengan hati-hati dan penuh rasa sayang.

Pada saat itu dari sebuah lereng bukit berlari turun seorang anak laki-laki yang sangat gesit gerakannya. Anak ini berwajah tampan dan gagah sekali. Sepasang alisnya hitam tebal, kelihatan jelas kulit mukanya yang putih kemerahan. Rambutnya juga tebal dan hitam, diikat di atas kepala dengan sehelai pita kuning. Tubuhnya tegap hingga nampak telah hampir dewasa, biar pun usianya sebenarnya baru sebelas tahun kurang. Matanya lebar dan bersinar terang, membayangkan bahwa dia mempunyai watak yang jujur.

Anak laki-laki ini berlari turun dengan muka mengandung kemarahan. Ia melihat ada dua orang anak yang berada di taman bunga itu dan melihat pula seorang anak perempuan memetiki kembang yang menjadi kesayangan gurunya, maka dia menjadi marah sekali.

“Hai! Jangan sembarangan memetik dan merusak kembang!” tegurnya dari jauh sambil berlari cepat menghampiri Lili dan Kam Seng.

Lili dan Kam Seng terkejut, lalu memandang. Kam Seng diam saja karena merasa bahwa jika taman bunga ini kepunyaan seseorang, memang mereka berdua telah berlaku salah. Akan tetapi Lili yang berwatak keras tentu saja tidak mau mengaku salah begitu saja. Ia memutar tubuh menanti kedatangan anak laki-laki itu dan berteriak,
“Turunlah! Apa kau kira aku takut padamu? Kembang indah memang sudah seharusnya dipetik, mengapa kau bilang merusak?”

Anak laki-laki yang berlari turun itu ketika mendengar suara Lili dan setelah berada lebih dekat, berubah menjadi girang sekali dan seketika itu juga lenyaplah kemarahannya.
“Lili...!” serunya girang dan dia mempercepat larinya.

Lili tertegun mendengar suara ini. Tadi ia memang tak dapat melihat jelas, karena senja kala telah mulai tiba dan udara menjadi kurang terang. Kini mendengar suara panggilan itu, dia jadi tertegun dan akhirnya berlari menyambut anak laki-laki itu sambil berseru,
“Hong Beng...!”

Memang semenjak kecil Lili menyebut kakaknya dengan memanggil namanya begitu saja tanpa diberi tambahan kakak atau engko. Biar pun berkali-kali ayah-bundanya menyuruh dia menyebut Hong Beng kakak, akan tetapi anak yang bandel ini tetap saja tak pernah mentaatinya dan tetap menyebut kakaknya Hong Beng saja!

Segera kedua orang anak itu berhadapan dan dengan girang. Hong Beng memegang kedua tangan adiknya.

“Lili... dengan siapa kau datang? Mana Ayah dan Ibu? Dan siapakah Siauwko (Engko Kecil) itu?”
“Aku datang bersama Supek. Ayah dan Ibu tentunya berada di rumah, dan dia ini adalah Kam Seng, anak yatim piatu yang diambil murid oleh Suhu.”

Hong Beng tercengang mendengar keterangan singkat ini. “Ehh, siapakah Supek-mu dan siapa pula Suhu-mu? Mengapa kau meninggalkan rumah?”

Memang seperti telah dituturkan di bagian depan, Hong Beng dibawa oleh ayahnya ke puncak Beng-san untuk berguru kepada Pok Pok Sianjin, seorang tua berilmu tinggi yang menjadi tokoh besar di barat. Pada waktu dia pergi, adiknya berada di rumah dan tidak mempunyai guru karena seperti juga dia sendiri, adiknya pun belajar silat dari ayah dan ibu mereka. Mengapa tiba-tiba saja adiknya itu mempunyai seorang suhu dan supek dan meninggalkan rumah?

Lili hendak menuturkan pengalamannya, akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara suling yang amat nyaring dari atas puncak.

“Ah, Suhu sedang berlatih. Mari kau kubawa menghadap Suhu. Kau juga ikutlah Saudara Kam Seng. O ya, mana itu Supek-mu yang kau katakan datang bersamamu?”
“Supek sedang tergila-gila kepada pohon dan kembang, maka tertinggal di belakang.” Lili menerangkan sambil tertawa. Dia telah memungut kembangnya kembali dan memegang kembang itu dengan rasa sayang.

Akan tetapi Hong Beng meminta kembang itu dan berkata, “Lili, Suhu akan marah kalau melihat kembangnya dipetik orang.”
“Mengapa?” tanya Lili dengan heran.
“Menurut penuturan Suhu, kembang juga memiliki semangat seperti orang, maka memetik kembang yang sedang mekar berarti sama dengan membunuh orang muda seperti kita!”

Lili memandang kakaknya dengan mata terbelalak penuh rasa sesal. Akan tetapi sambil tertawa Hong Beng lalu menggandeng tangannya, kemudian mengajaknya berlari naik ke puncak dari mana terdengar suara tiupan suling yang aneh itu.

“Hayo, Kam Seng. Larilah yang cepat!” ajak Lili sambil menoleh ke belakang.

Dan merahlah muka Kam Seng karena mana bisa ia berlari cepat di jalan menanjak yang sukar itu? Terpaksa ia menguatkan kaki dan tubuhnya yang sudah lelah untuk mengikuti mereka, akan tetapi dia tetap tertinggal jauh.....
Setelah suara suling itu makin terdengar jelas karena sudah dekat, tiba-tiba Hong Beng menahan langkah kakinya dan berkata, “Ahh, orang yang tidak tahu diri itu datang lagi rupanya!”

Lili tidak sempat bertanya karena kakaknya menggandeng tangannya dan diajak berlari cepat menuju ke puncak dari mana terdengar suara suling yang makin nyaring menusuk telinga itu.

Ketika mereka tiba di tempat itu, Lili memandang ke depan dengan penuh keheranan. Di atas tanah yang rata nampak dua orang sedang bergerak cepat dan aneh.

Yang satu adalah seorang kakek berambut serta berjenggot putih yang bergerak-gerak sambil meniup suling, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang setengah tua yang bergerak menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda menyambar kelinci.

Dengan kedua tangan Lili menutup telinganya karena suara suling yang amat nyaring itu benar-benar membuat telinganya terasa sakit. Ada pun Kam Seng yang datang sambil terengah-engah kelelahan, memandang pula dengan terheran-heran dan melongo, akan tetapi Hong Beng berdiri diam dan matanya memandang tajam ke arah dua orang yang sedang bertempur itu.

Kakek tua itu bukan lain adalah Pok Pok Sianjin sendiri. Memang kelihatannya sangat aneh. Sungguh pun kakek itu meniup suling dengan enaknya dan lagu yang tertiup dari sulingnya terdengar merdu, akan tetapi suara suling itu sangat nyaring dan seakan-akan mengandung tenaga gaib yang mengeluarkan hawa pukulan.

Buktinya, sungguh pun orang yang meloncat-loncat menyerang itu menggunakan seluruh kepandaiannya untuk memukul atau menendang, akan tetapi dia selalu terpental kembali sebelum dapat menyentuh tubuh Pok Pok Sianjin. Hawa yang keluar dari tiupan suling itu mengandung tenaga lweekang dan khikang yang membuatnya tertangkis dan terdorong oleh tenaga yang tidak kelihatan!

“Orang itu adalah seorang jago silat yang mahir ilmu silat Pek-eng Kun-hoat (Ilmu Silat Garuda Putih). Telah beberapa kali ia datang minta berpibu (mengadu ilmu silat) dengan Suhu, akan tetapi Suhu tidak mau meladeninya. Ternyata sekarang dia datang kembali, benar-benar orang tak tahu diri!”

Baru saja Hong Beng berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak dan tahu-tahu tubuh orang yang menyerang Pok Pok Sianjin itu terlempar ke belakang, jatuh bergulingan. Akan tetapi dia cepat melompat bangun kembali dan memandang ke arah orang yang tertawa tadi. Ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Mo-kai Nyo Tiang Le yang entah kapan sudah berada di tempat itu pula! Tentu saja Lili merasa heran karena tadi supek-nya tertinggal di belakang, mengapa sekarang telah mendahuluinya berada di tempat itu?

Orang yang terguling tadi setelah memandang kepada Mo-kai Nyo Tiang Le, lalu menjura dan berkata, “Mo-kai (Pengemis Setan), aku telah menerima pengajaran darimu, lain kali pasti bertemu pula!” Setelah berkata demikian, dia lalu melompat jauh dan menghilang di bawah gunung!

Nyo Tiang Le bergelak-gelak dan Pok Pok Sianjin lalu menyimpan kembali sulingnya.
“Mo-kai, kau masih saja bertangan jail, pukulanmu Soan-hong-jiu (Pukulan Kitiran Angin) telah membuat dia menjadi gentar dan pergi dengan hati mendendam kepadamu!”

Tadi Nyo Tiang Le memang sudah melancarkan dorongan dari jauh, dan hanya dengan angin pukulannya saja telah berhasil mendorong orang tadi hingga roboh, sungguh dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian Pengemis Setan ini! Ia tersenyum dan berkata sambil menghela napas,

“Pok Pok Sianjin, kenapa kau suka melayani segala macam orang seperti dia? Bukankah dia adalah sute dari Ban Sai Cinjin? Aku pernah melihat orang tadi, karena itu aku berani mendorongnya agar dia jangan mengganggu kau orang tua lebih lanjut.”

Pok Pok Sianjin mengangguk-angguk, “Memang, dia adalah adik seperguruan Ban Sai Cinjin dan namanya Lu Tong Kui. Ia menjagoi di Lok-yang dan telah beberapa hari ini ia merengek-rengek dan mendesak untuk mengadakan pibu. Tentu saja aku menolaknya, akan tetapi ia mendesak terus dan menyatakan bahwa jauh-jauh dari Lok-yang ia datang untuk menguji kepandaianku. Aku tidak tega maka terpaksa melayaninya bermain-main sebentar.”

Nyo Tiang Le kembali tertawa, kini makin keras. “Ha-ha-ha, kau orang tua benar-benar keterlaluan! Kau bilang tidak tega akan tetapi kau telah mainkan Seng-im-khikang. Kalau aku tidak buru-buru mendorongnya roboh dengan Soan-hong-jiu, apakah dia tidak akan menderita luka-luka hebat di dalam tubuhnya akibat kena serangan hawa dari sulingmu? Ha-ha-ha!”

Pok Pok Sianjin juga tertawa. “Apa kau kira aku sekejam itu? Aku baru mempergunakan Seng-im Khikang setelah yakin bahwa dia cukup kuat untuk menghadapi itu! Ehh, Setan Tua, kau baik sekali. Telah lama aku merasa rindu padamu, apakah kau datang hendak menantangku main catur?”

Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Asal bertaruh minum arak baik, siapa takut akan kepandaian caturmu?”

Pada saat itu, Hong Beng menarik lengan tangan adiknya dan diajak berlutut di hadapan Pok Pok Sianjin. “Suhu, ini adalah adik teecu yang bernama Lili!”

Pok Pok Sianjin memandang kepada Lili, mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian berkata, “Seperti ibunya... seperti ibunya...!”

Sementara itu, Nyo Tiang Le memandang kepada Hong Beng dan berkata, “Inikah putera Pendekar Bodoh? Pantas sekali! Jadi kau orang tua sudah menerima kehormatan untuk mendidik putera Pendekar Bodoh? Satu kehormatan besar dan kau beruntung sekali Pok Pok Sianjin!”

Mendengar ini, Hong Beng cepat membantah, “Bukan Suhu yang mendapat kehormatan besar dan keberuntungan, Locianpwe, akan tetapi adalah teecu yang mendapat karunia besar!”

Nyo Tiang Le mengangkat alisnya dengan heran dan kemudian tertawa dengan senang. “Anak ini pandai membawa diri seperti ayahnya!”

Pengemis Setan itu menuturkan kepada Pok Pok Sianjin tentang pertemuannya dengan sute-nya Lo Sian dan menceritakan pula pengalaman Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti. “Kini sute-ku sedang menuju ke timur untuk memberi kabar kepada Pendekar Bodoh. Sementara itu, aku akan menanti di sini dan melatih anak ini, sambil menanti datangnya orang tuanya yang tentu akan menjemputnya.”

Bukan main girangnya hati Hong Beng mendengar bahwa adiknya akan tinggal di sana untuk beberapa lama dan ayah ibunya akan datang pula ke sana. Ketika Nyo Tiang Le menceritakan pula mengenai riwayat Kam Seng, Pok Pok Sianjin merasa kasihan juga. “Biar pun bakatnya kurang, namun ia cocok menjadi murid Sute-ku,” kata Nyo Tiang Le.

Kemudian dua orang tua itu lalu masuk ke dalam pondok dan bermain catur, sedangkan Hong Beng bersama Lili dan Kam Seng lalu bermain-main di sekitar puncak Beng-san itu. Kam Seng merasa kagum dan tunduk kepada Hong Beng yang selain berkepandaian tinggi juga amat ramah kepadanya.

Sejak hari itu juga, Lili tinggal di puncak Beng-san dan mendapat latihan ilmu silat dari Nyo Tiang Le. Dasar otaknya terang dan dia memang sudah memiliki dasar kepandaian yang diajarkan oleh ayah ibunya semenjak dia masih kecil, maka sebentar saja dia telah mendapat kemajuan yang amat cepat.

Juga Kam Seng mulai menerima latihan-latihan atas petunjuk Lili dan Hong Beng, karena Nyo Tiang Le hanya memberi petunjuk-petunjuk teorinya saja sehingga anak yatim piatu itu berlatih di bawah pengawasan Hong Beng dan Lili!

Hong Beng sendiri dengan amat tekun dan rajinnya mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin, terutama sekali ilmu silat tongkat yang sudah menjadi keahlian Pok Pok Sianjin dan sudah menjunjung tinggi namanya sebagai ahli silat kelas satu dan tokoh terbesar dari dunia persilatan sebelah barat!

Oleh karena mendapat didikan ilmu silat dari seorang ahli, dan pula karena kini tinggal bersama kakaknya, Lili sampai lupa bahwa ayah ibunya yang ditunggu-tunggu ternyata belum juga datang, biar pun dia telah berada di atas puncak Beng-san sampai berbulan lamanya!

Kenapa sampai demikian lama Cin Hai dan Lin Lin tidak menyusul anaknya di Beng-san, padahal sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, pasangan suami isteri pendekar ini dalam perjalanannya kembali dari Kansu, hendak mampir dulu dan menengok putera mereka di puncak bukit itu?

Sesungguhnya, Pendekar Bodoh dan isterinya sudah menemui peristiwa yang hebat dan yang membuat mereka belum juga tiba di Beng-san…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR REMAJA : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger