logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Remaja Jilid 07


Di antara para pendekar remaja yang kita ikuti perjalanan dan pengalamannya hanya Sie Hong Beng, putera Pendekar Bodoh yang sulung, yang belum kita ketahui bagaimana nasibnya. Baiklah kita jangan meninggalkannya terlebih lama lagi dan mari kita mengikuti perjalanan pendekar remaja putera Pendekar Bodoh ini.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sie Hong Beng diantar oleh ayahandanya untuk belajar ilmu silat tinggi dari Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari di Beng-san. Selama sepuluh tahun, Hong Beng mendapat gemblengan ilmu silat tinggi, memperdalam ilmu lweekang dan ilmu tongkat yang luar biasa sekali.

Ilmu tongkat ini disebut Ngo-heng Tung-hwat dan masih ada semacam lagi yang disebut Pat-kwa Tung-hwat. Untuk mainkan dua macam ilmu tongkat ini saja, dibutuhkan waktu selama lima tahun oleh Hong Beng untuk dapat mempelajarinya dengan sempurna. Yang istimewa pada ilmu tongkat ciptaan Pok Pok Sianjin ini adalah bahwa untuk mainkan ilmu tongkat ini, tidak diperlukan tongkat yang khusus. Sebatang ranting pohon yang terkecil, sampai batang pohon muda yang besar, dapat pula dipergunakan sebagai senjata yang istimewa lihainya.

Sesudah menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Hong Beng, Pok Pok Sianjin lalu menyembunyikan diri di dalam goa di puncak Gunung Beng-san dan menyuruh muridnya turun gunung melakukan perjalanan merantau sarnbil mempergunakan seluruh pelajaran itu dalam praktek,

Pada waktu Hong Beng menuruni gunung di mana untuk sepuluh tahun dia berdiam dan mempelajari ilmu silat dengan tekunnya, dia telah menjadi seorang pemuda yang gagah sekali. Tubuhnya tinggi tegap, mukanya lebar dan tampan, berkulit halus. Wajah dan tubuhnya sama benar dengan ayahnya di waktu muda, demikian pula wataknya pendiam dan sabar, bahkan berpakaian sederhana seperti ayahnya pula.

Akan tetapi, kalau ayahnya, yaitu Pendekar Bodoh, di waktu mudanya sering kali suka merendahkan diri dan dalam kepandaian silat suka mengalah dan berpura-pura bodoh sehingga dijuluki Pendekar Bodoh, adalah Hong Beng mempunyai watak tidak mau kalah dalam hal kepandaian silat. Watak ini agaknya ia warisi dari ibunya, karena pada waktu mudanya, Lin Lin juga memiliki watak demikian. Bahkan pada waktu kecilnya, Hong Beng dan adiknya, Hong Li atau Lili yang memiliki pendirian sama, sering membicarakan nama julukan ayah mereka.

“Sungguh menggemaskan, ayah yang berkepandaian setinggi langit tidak ada lawannya, mengapa disebut Pendekar Bodoh?” kata Lili sambil merengut.
“Memang aku pun merasa penasaran sekali,” jawab Hong Beng. “Menurut patut, ayah harus dijuluki Pendekar Sakti, bukan Pendekar Bodoh.”

Akan tetapi, kalau keduanya mengajukan rasa penasaran ini kepada ayah mereka, Sie Cin Hai hanya terbahak-bahak saja dan menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Anak-anak bodoh, manakah yang lebih baik, gentong arak disangka penuh akan tetapi kosong melompong ataukah gentong arak yang dianggap kosong akan tetapi penuh isi?”
“Tentu saja lebih baik yang disangka kosong akan tetapi penuh isi!” Lili yang berotak terang menjawab dengan kontan.
“Nah,” jawab ayahnya masih sambil tertawa, “demikian pula soal nama julukan. Lebih baik disangka bodoh akan tetapi tidak bodoh dari pada dianggap pinter akan tetapi goblok!”

Betapa pun juga, setelah menjadi dewasa, Hong Beng masih saja tak mau merendahkan diri dan berpura-pura bodoh seperti ayahnya. Ia adalah seorang pemuda yang maklum akan kepandaian sendiri, dan hasratnya besar sekali untuk menguji ilmu kepandaiannya dengan kepandaian orang lain.

Bila orang melihat Hong Beng turun gunung dengan pakaian yang demikian sederhana, berwarna biru dengan rambut atas diikat pita kecil, warna sepatunya hitam tanpa kaos, orang tidak akan mengira bahwa dia adalah putera Pendekar Bodoh dan murid Pok Pok Sianjin yang sakti.

Pemuda ini tidak membawa senjata apa-apa, bertangan kosong dan meski pun tubuhya tinggi tegap, namun kulit mukanya putih dan halus. Pakaiannya seperti seorang petani sederhana, akan tetapi sikap dan gerak gayanya yang lemah lembut membuat ia pantas dianggap orang seperti seorang pemuda terpelajar yang lemah. Tapi, jika orang melihat betapa dia menuruni gunung yang penuh batu karang dan jurang dengan tindakan kaki yang cepat bukan main, seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah, orang akan menjadi bengong terheran-heran.

Dari Gunung Beng-san, pemuda ini menuju ke timur, melakukan perjalanan seenaknya, karena dia pun tidak tergesa-gesa. Pada suatu hari, dia tiba di kota Ta-liong di lembah Sungai Kuning dan amat heranlah ia melihat betapa kota yang besar dan ramai itu penuh dengan pengemis dan jembel! Yang amat mengherankan hatinya adalah betapa para pengemis itu, sebagian besar memegang sebatang tongkat berwarna hitam dan biar pun mereka menjalankan pekerjaan mengemis, akan tetapi gerakan tubuh mereka bagi mata Hong Beng yang awas, menunjukkan bahwa mereka itu pandai ilmu silat!

Memang sesungguhnya kota Ta-liong adalah kota pusat dari perkumpulan pengemis dari Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) yang sangat tersohor serta mempunyai cabang dan anggota sampai di kota raja! Hek-tung Kai-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis yang sudah puluhan tahun umurnya sehingga telah mengalami pergantian pimpinan sampai beberapa kali.

Tiap tiga tahun sekali, di kota Ta-liong tentu diadakan pertemuan antara para pemimpin-pemimpin cabang untuk mengangkat seorang pemimpin baru. Kebetulan sekali ketika Hong Beng tiba di kota itu, para pemimpin cabang datang berkumpul untuk mengadakan pemilihan ketua baru, maka kota itu penuh dengan pengemis bertongkat hitam.

Pada waktu itu Hek-tung Kai-pang dipimpin oleh lima orang ketua karena ketika diadakan pemilihan pada tiga tahun yang lalu pilihan jatuh kepada lima saudara yang menjadi anak murid dari Hek-tung Kai-ong (Raja Pengemis Bertongkat Hitam) pendiri dari perkumpulan itu. Baru sekarang anak murid Hek-tung Kai-ong dipilih menjadi ketua.

Beberapa tahun sudah perkumpulan itu dipimpin oleh lain orang oleh karena anak murid Hek-tung Kai-pang sendiri tiada yang mampu mengalahkan pemimpin dari luar itu. Lima saudara yang menjadi murid Hek-tung Kai-ong sendiri ini lalu melatih diri dan akhirnya berhasil mempelajari ilmu tongkat dari Hek-tung Kai-ong hingga akhirnya mereka berhasil merebut kedudukan ketua. Untuk menjaga perpecahan di antara mereka, serta untuk memperkuat kedudukan dan menjaga nama Hek-tung Kai-ong pendiri perkumpulan itu, mereka berlima bermufakat untuk memegang pimpinan bersama-sama.

Dengan demikian, maka calon pemimpin baru apa bila hendak menggantikan mereka, harus dapat mengalahkan mereka berlima! Maka, sampai tiga kali pimpinan, jadi tiga kali tiga tahun, Ngo-heng-te (Lima Saudara) dengan Hek-tung-hoat-nya (Ilmu Tongkat Hitam) ini selalu menjadi pimpinan dan tak terkalahkan!
Image result for PENDEKAR REMAJA
Seperti biasa, para pengemis telah berkumpul di sebuah tempat terbuka di sebelah utara kota, di mana terdapat padang rumput dan beberapa batang pohon besar. Mereka masih menanti di bawah pohon-pohon, ada yang sedang duduk melenggut, ada yang berbaring mendengkur, ada yang membuka bungkusan dan makan hasil mengemis, dan sebagian besar duduk bercakap-cakap mengobrol ke barat ke timur sehingga keadaan menjadi sangat ramai sekali.

Kurang lebih ada empat puluh orang pengemis berkumpul di tempat itu, dan semuanya merupakan pengemis-pengemis tua yang menjadi pimpinan berbagai cabang Hek-tung Kai-pang. Lima orang ketua mereka belum datang, maka mereka masih saja menanti.

Menurut desas-desus mereka kelima orang pangcu (ketua) itu akan datang dari kota raja di mana mereka tinggal. Biar pun ketua itu tinggal di kota raja, akan tetapi mereka tidak berani mengadakan pertemuan di sana, oleh karena tentu saja mereka akan diusir dan diserbu oleh para perwira kerajaan yang tidak memperbolehkan orang-orang kotor ini merusak pemandangan indah di kota raja!

Tiba-tiba semua pengemis itu dikejutkan oleh datangnya seorang pengemis lain yang aneh keadaannya. Pengemis ini belum tua benar, kurang lebih baru berusia empat puluh tahun, berwajah tampan dan pucat, sedangkan mukanya menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tidak beres ingatannya. Ia tertawa-tawa dan meringis sambil memutar-mutar manik matanya secara mengerikan. Tangannya memegang sebatang tongkat bambu dan pakaiannya tidak karuan, demikian pula rambutnya. Bahkan di pinggir mulutnya nampak tanah lumpur, seakan-akan dia habis makan tanah lumpur.

“Anjing-anjing berkeliaran di mana-mana, ha-ha! Anjing-anjing berkeliaran di mana-mana!” kata pengemis bertongkat bambu itu sambil menudingkan tongkatnya kepada pengemis-pengemis lain yang memandangnya heran.

Tak ada seorang pun di antara para pengemis ini mengenal orang yang baru datang dan pandang mata marah mulai nampak pada para pemimpin cabang Hek-tung Kai-pang itu. Siapakah yang begitu kurang ajar berani datang ke tempat itu dan mengganggu mereka?

“He, orang gila!” Seorang pengemis, yang pendek gemuk lalu memaki. “Apakah matamu buta? Apakah nyawa anjingmu minta diantar oleh tongkat hitam?”

Pengemis aneh ini sebenarnya Sin-kai Lo Sian. Pengemis sakti yang telah menjadi gila. Sebagaimana sudah kita ketahui, Lo Sian telah ditangkap oleh Ban Sai Cinjin sepuluh tahun yang lalu, dipaksa minum obat beracun sehingga menjadi gila. Selama itu, Lo Sian berkeliaran di mana-mana dan karena keadaannya telah berubah sedemikian rupa dan menjadi gila, tidak seorang pun dapat mengenalnya pula sehingga dahulu suheng-nya, Mo-kai Nyo Tiang Le, tak berhasil mencarinya. Di dalam perantauannya dalam keadaan tidak sadar dan tidak ingat sesuatu, Lo Sian kebetulan tiba di kota Ta-liong dan melihat banyaknya pengemis berkumpul di situ, ia menjadi tertarik dan datang pula ke tempat itu.

Mendengar teguran Si Pendek Gemuk tadi, Lo Sian hanya tertawa haha-hehe, dan dia menggunakan tongkatnya untuk mencokel tanah di depan kakinya. Begitu tongkatnya digerakkan, tanah itu tercokel terbang ke arah perut Si Pengemis Gendut. Pengemis gendut itu terkejut sekali, cepat dia mengelak akan tetapi sambaran tanah lumpur ke dua telah tiba dan tepat sekali mengenai mulutnya.

“Plak!” Pengemis gendut itu gelagapan dan sebagian besar lumpur itu telah memasuki mulutnya!
“Bangsat kurang ajar” teriak pengemis lain dan semua pengemis yang tidak tidur sudah berdiri mengepal tongkat hitamnya. “Butakah matamu bahwa kau berhadapan dengan rombongan pengurus Hek-tung Kai-pang? Ayo lekas mengaku siapakah kau dan kenapa kau datang memusuhi kami?”

Kalau otaknya tidak gila, tentu Lo Sian tahu siapa sebetulnya mereka ini, karena ia pun telah mendengar nama Hek-tung Kai-pang, bahkan dahulu dia menjadi kawan baik dari Hek-tung Kai-ong pencipta perkumpulan itu. Tetapi dalam keadaan seperti itu, jangankan mengenal orang lain, dirinya sendiri pun dia tidak kenal lagi. Maka mendengar makian pengemis yang bertubuh jangkung kurus ini, dia lalu menggerakkan tongkat bambunya mencokel tanah lagi dan beterbanganlah tanah lumpur ke arah para pengemis yang telah berkumpul itu!

“Kurang ajar, kau benar-benar ingin mampus di bawah gebukan tongkat kami!”

Maka menyerbulah sekalian pengemis itu dengan tongkat hitam terangkat, mengeroyok Lo Sian. Semua pengurus cabang Hek-tung Kai-pang telah mempelajari Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat, akan tetapi tingkat mereka apa bila dibandingkan dengan Ngo-heng-te dan Hek-tung-hoat-nya itu masih amat jauh.

Hek-tung-hoat adalah ilmu tongkat yang luar biasa sukarnya, dan amat dirahasiakan cara mempelajarinya. Inilah pula sebabnya mengapa kelima saudara itu dahulu masih belum menguasai sepenuhnya ilmu tongkat ini. Setelah mereka mendapatkan kitab pelajaran yang disembunyikan oleh Hek-tung Kai-ong, barulah mereka dapat memperdalam ilmu tongkat itu.

Ada pun Lo Sian, biar pun ingatannya telah lenyap dan dia telah menjadi seorang gila, namun ilmu silatnya masih belum lenyap. Ilmu silatnya yang berasal dari Thian-san-pai amat tinggi dan termasuk golongan atas, maka tentu saja apa bila dibandingkan dengan para pengemis itu, ia masih menang jauh.

Akan tetapi, sungguh pun sudah kehilangan pikirannya, Lo Sian masih belum kehilangan wataknya yang baik dan penuh welas asih, maka dia tidak ingin membunuh sekalian pengemis yang mengeroyoknya, ditambah lagi dengan jumlah pengeroyoknya yang amat banyak, maka sebentar saja ia dikepung oleh puluhan orang pengemis dan berkali-kali ia menerima gebukan tongkat hitam!

Pertempuran itu benar-benar ramai dan lucu. Lo Sian sambil tertawa-tawa tidak karuan, mempermainkan para pengeroyoknya, membuat para pengemis itu terjungkal dan roboh karena dikait kakinya. Mereka jatuh tidak terluka, bangun lagi dan biar pun hujan tongkat hitam itu mengenai tubuh Lo Sian sehingga pakaiannya hancur dan kulitnya ada yang pecah, namun seperti tidak terasa oleh pengemis sakti yang mempunyai kekebalan dan lweekang yang tinggi itu.

Pada saat itu, datanglah Hong Beng yang kebetulan tiba di kota itu. Pemuda ini memiliki jiwa yang gagah dan adil. Dari jauh dia telah melihat dan mendengar ribut-ribut itu dan ketika dia menghampiri tempat pertempuran ia melihat seorang pengemis dikeroyok oleh puluhan pengemis tongkat hitam. Tadinya dia mengira bahwa para pengemis itu tentulah berebut makanan, akan tetapi ketika menyaksikan cara Lo Sian main silat, dia terkejut karena mengenal ilmu silat yang tinggi dari Thian-san-pai.

“Curang!” seru pemuda ini dengan marah. “Puluhan orang mengeroyok seorang, sungguh tidak tahu malu!”

Hong Beng lalu menyerbu ke depan. Seorang pengemis tongkat hitam menyambutnya dengan tusukan tongkat pada lambungnya, akan tetapi dengan amat mudah, Hong Beng mengeluarkan tangannya dan sekali membetot, tongkat hitam itu berpindah tangan. Kaki kirinya bergerak menendang dan terlemparlah tubuh pengemis itu sampai tiga tombak lebih dan jatuh sambil berkaok-kaok kesakitan.....
Para pengemis menjadi marah dan beberapa orang maju menyerbu Hong Beng. Akan tetapi, mana mereka dapat menandingi Hong Beng yang berkepandaian tinggi? Memang keahlian pemuda ini adalah permainan tongkat, dan sekarang tangannya telah memegang sebatang tongkat yang baik, maka tentu saja ia merupakan seekor naga yang dikeroyok oleh beberapa banyak tikus! Sekali ia menggerakkan tongkatnya, langsung terdengar jerit kesakitan dan tubuh empat orang pengemis terlempar tak dapat bangun lagi karena tangan atau kaki mereka patah-patah!

Tiba-tiba terjadi suatu keanehan. Lo Sian yang sedang dikeroyok dan menghadapi para pengeroyoknya sambil tertawa-tawa gembira, menjadi marah sekali ketika melihat sepak terjang Hong Beng.

“Kau berani melukai kawan-kawanku?!” teriaknya dan tongkat bambunya dengan cepat sekali menyambar ke arah leher Hong Beng!

Pemuda ini lebih merasa heran dari pada terkejut. Mengapa ada orang yang membalas pertolongan dengan serangan demikian berbahaya? Akan tetapi dengan tenang dia lalu mengangkat tongkatnya menangkis dan terkejutlah dia pada saat merasa betapa tenaga pengemis gila ini benar-benar tidak rendah. Ia lalu mainkan tongkatnya dan sekarang ia berkelahi dengan hati-hati sekali. Barusan pengemis tongkat bambu ini menyebut para pengeroyoknya sebagai kawan-kawan, apakah dengan demikian bukan berarti bahwa ia telah mencampuri urusan dalam orang-orang golongan lain?

“Orang tua, tahan dulu. Aku tidak bermaksud jahat!” kata Hong Beng.

Akan tetapi Lo Sian tetap menyerangnya kalang kabut sambil mengeluarkan ilmu tongkat dari Thian-san-pai yang paling lihai. Sekarang para pengemis memindahkan kemarahan mereka kepada Hong Beng dan sambil berteriak-teriak mereka lalu maju membantu Lo Sian, mengeroyok Hong Beng. Kini pemuda inilah yang dikeroyok!

Melihat betapa Lo Sian tidak memperdulikannya, dan betapa para pengemis itu serentak mengeroyoknya dengan nekad, Hong Beng merasa mendongkol juga. Akan tetapi ia kini tidak mau melukai pengeroyoknya, cukup mendorong mereka roboh tumpang-tindih saja.

Pada waktu dia mengerahkan kepandaiannya, tongkat bambu di tangan Lo Sian dapat dipukulnya sehingga remuk dan dia berhasil mendorong Lo Sian sehingga terjungkal dan bergulingan beberapa kali tanpa melukainya. Tiba-tiba Lo Sian menjerit-jerit seperti orang ketakutan.

“Aduh...! Pemakan jantung...! Pemakan jantung...!” Sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan, larilah Lo Sian dengan amat cepatnya bagaikan orang dikejar setan!

Mendengar dan melihat kejadian ini, para pengemis tongkat hitam menjadi bengong dan memandang ke arah bayangan Lo Sian, untuk sementara lupa kepada Hong Beng yang dikeroyoknya! Pemuda ini pun menjadi terheran-heran dan dia pun segera membuang tongkat rampasannya lalu melompat pergi mengejar bayangan Lo Sian yang berlari-lari sambil menjerit-jerit!

Sesudah keluar dari kota Ta-liong, Hong Beng akhirnya dapat menyusul Lo Sian yang masih berlari-lari. Pemuda ini mendahuluinya, lalu membalikkan tubuh dan menghadang di tengah jalan sambil berkata,

“Perlahan dulu, Lopek!” Ia mengangkat tangan memberi isyarat agar supaya orang tua itu berhenti. “Siapakah kau dan apakah artinya sikapmu yang aneh ini?”

Lo Sian memandang Hong Beng dengan tajam, kemudian tiba-tiba pengemis ini tertawa. “Ha-ha-ha! Kau manusia berhati kejam! Kau hendak membunuhku? Bunuhlah! Kau kira aku takut mati? Ha-ha-ha!”

Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menggerakkan tangannya dan menyerang dengan gerak tipu Kumbang Jantan Menyambar Bunga. Akan tetapi dengan kedua tangan yang digerakkan cepat sekali Hong Beng berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Lo Sian.

“Orang tua, mengapa kau mengamuk dan kenapa pula kau berlari-lari seperti ketakutan? Ada apakah? Cobalah kau mengaku terus terang, siapa kau dan percayalah bahwa aku yang muda akan berusaha untuk membantumu dan menolongmu dari kesukaran!”
“Siapa aku? Tidak tahu! Tidak tahu!” Lo Sian meronta-ronta, lalu sambil membelalakkan matanya, ia berteriak-teriak lagi, “Pemakan jantung! Pemakan jantung! Hi-hi..., pemakan jantung.” Ketika Hong Beng melepaskannya, ia berlari lagi ke dalam hutan di dekat situ.

Hong Beng merasa terharu sekali. Ternyata olehnya bahwa kakek itu benar-benar gila. Tanpa disadarinya, kedua kakinya bergerak mengejar ke dalam hutan, akan tetapi oleh karena sekarang Lo Sian tak mengeluarkan teriakan-teriakan lagi, agak sukarlah baginya untuk dapat menyusul pengemis yang telah berlari ke dalam hutan belukar itu.

Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan di sebelah belakang dan ketika ia menengok, ia melihat betapa puluhan pengemis tongkat hitam tadi pun kini telah mengejarnya! Dengan mendongkol sekali karena hatinya masih merasa sangat iba kepada pengemis gila tadi, Hong Beng lalu menghadapi para pengemis itu dan mendahului memaki,

“Orang-orang berhati kejam dan jahat! Kalian ini sudah tahu bahwa pengemis tadi adalah seorang yang tidak waras pikirannya, kenapa masih saja kalian mengeroyoknya. Apakah itu dapat disebut perbuatan yang pantas?”

Seorang di antara para pengemis itu, yang bongkok tubuhnya dan yang mewakili kawan-kawannya bicara, memberi hormat dan berkata,

“Orang muda yang gagah! Kau tidak tahu bahwa si gila tadi yang mulai lebih dulu dan mengganggu kami. Kami sekali-kali bukan orang-orang yang berhati jahat dan bersikap pengecut, karena ketahuilah bahwa kami adalah anggota-anggota terpilih dari Hek-tung Kai-pang!”

Hong Beng pernah mendengar nama perkumpulan pengemis ini dari suhu-nya yang memuji perkumpulan ini sebagai perkumpulan yang berhaluan patriotik dan memusuhi para perampok dan pengacau. Pengemis-pengemis Hek-tung Kai-pang selalu merasa dirinya menjadi pelindung dari rakyat kecil yang miskin. Akan tetapi oleh karena Hong Beng tidak mempunyai urusan dengan perkumpulan ini, ia segera bertanya,

“Kalau begitu, ada maksud apakah kalian mengejarku?”
“Sayang sekali bahwa pada waktu kelima Pangcu (Ketua) kami tiba, kau telah pergi dan kini para Pangcu kami yang merasa amat tertarik mendengar kepandaianmu memainkan tongkat, mengundang padamu untuk mengunjungi perkumpulan kami dan mengajakmu berpibu (mengadu kepandaian).”

Berserilah wajah Hong Beng mendengar tantangan ini. Memang, setiap kali mendengar orang pandai, hatinya ingin sekali mencobanya, apa lagi kalau dia yang ditantang! Akan tetapi, dia masih tertarik dengan Lo Sian pengemis gila tadi dan hendak mencari serta menyelidikinya lebih dulu, maka dia lalu berkata,

“Baiklah, katakan pada Pangcu-pangcumu bahwa aku Sie Hong Beng menerima baik undangan mereka. Besok pagi-pagi aku akan datang mengunjungi tempat di mana kalian tadi berkumpul.”

Para pengemis itu tertegun ketika mendengar pemuda itu menerima tantangan kelima pangcu mereka, dan sikap mereka berubah menghormat sekali. Si Bongkok tadi menjura dan berkata,

“Orang muda yang gagah! Kami percaya bahwa seorang gagah seperti kau tentu takkan melanggar janji. Hanya harap kau berhati-hati menghadapi Hek-tung-hoat dari lima orang pangcu kami!” Dia lalu mengajak kawan-kawannya mengundurkan diri. Ada pun Hong Beng lalu melanjutkan perjalanannya mencari pengemis gila tadi.

Pada saat itu pula, di dalam hutan itu terdapat dua orang lainnya yang juga melakukan perjalanan sambil bersenda gurau. Mereka ini adalah Lili dan Goat Lan yang melakukan perjalanan menuju ke Tiang-an. Kedua orang gadis gagah ini pun mendengar teriakan-teriakan para pengemis tadi dan cepat mereka menuju ke tempat itu. Akan tetapi para pengemis itu telah pergi meninggalkan Hong Beng dan ketika Lili melihat Hong Beng, dia cepat-cepat menarik tangan Goat Lan dan bersembunyi di balik semak belukar.

“Ssstt, Goat Lan, jangan sampai terlihat oleh orang itu!” bisiknya perlahan.

Melihat sikap Lili, Goat Lan menjadi terheran dan tertarik sekali. Ia tidak mengenal siapa gerangan pemuda yang gagah dan tampan itu. Tentu saja Lili segera mengenal muka kakaknya, akan tetapi Goat Lan belum pernah bertemu muka lagi dengan Hong Beng semenjak mereka masih kecil.

“Ada apakah, Lili? Mengapa kau agaknya takut kepada pemuda itu? Siapakah dia?”
“Eh, ehh, agaknya kau tertarik padanya, Goat Lan!” Lili menegur sambil merengut. “Ingat, kau adalah tunangan kakakku.”
“Ihh, dasar kau anak gila!” Goat Lan mencubit lengan Lili, karena tahu bahwa Lili hanya menggodanya saja. “Pantasnya yang tertarik adalah engkau yang belum bertunangan!”
“Mana bisa aku tertarik kepadanya? Dia... dia telah menghinaku Goat Lan, dan sekarang aku minta kepadamu agar sukalah kau membalaskan penghinaan itu!”

Goat Lan terkejut. “Menghinamu? Dia...? Mengapa diam saja? Hayo kita menyerbunya dan memberi hajaran kepada orang kurang ajar itu! Penghinaan apakah yang telah dia lakukan kepadamu?”

“Terus terang saja aku pernah bertemu dengan dia dan melihat bahwa dia mempunyai kepandaian tinggi, aku kemudian mengajaknya pibu, akan tetapi aku... aku kalah dan ditertawakan olehnya! Aku... aku takut dan malu melihatnya, Goat Lan, maka kalau kau mau membelaku, kau keluarlah dan kau jatuhkanlah dia! Akan tetapi jangan kau katakan tentang aku karena aku merasa malu. Biarlah aku bersembunyi saja melihat betapa kau mengalahkan dan merobohkannya! Atau... barang kali kau tidak berani dan tidak mau membelaku?”
“Siapa tidak berani? Kaulihat saja. Mari kita kejar dia!”

Demikianlah, kedua orang dara jelita ini menyusup semak-semak belukar mengejar Hong Beng yang berjalan sambil memandang ke sana ke mari, mencari jejak Lo Sian.

Tiba-tiba, pemuda ini terkejut sekali ketika melihat seorang gadis cantik melompat keluar dari balik semak-semak dan memakinya, “Pemuda sombong dan kurang ajar, kau berani sekali menghina adikku? Bersiaplah untuk menerima beberapa pukulan balasan dariku!” Sambil berkata demikian, langsung saja Goat Lan menyerang Hong Beng dengan ilmu silatnya Im-yang Kun-hoat yang lihai!

Hong Beng tercengang melihat kehebatan serangan ini dan tanpa berani berlaku lamban ia cepat mengelak.

“Ehh, ehh, apakah dunia ini sudah terbalik? Mengapa kau datang-datang menyerangku?” tanyanya terheran-heran, dan juga kagum sekali melihat betapa elok dan cantik manis gadis yang menyerangnya ini.
“Tutup mulut dan bersiaplah kalau kau memang seorang laki-laki yang gagah!” Goat Lan membentak dan menyerang lagi lebih hebat!

Melihat serangan ini, maklumlah Hong Beng bahwa kini dia berhadapan dengan seorang gadis pendekar yang pandai sekali, maka cepat dia lalu mengelak lagi. Goat Lan melihat gerakan pemuda itu dan diam-diam juga terkejut karena pemuda ini benar-benar memiliki ginkang yang sempurna. Dia menyerang terus bertubi-tubi, akan tetapi Hong Beng selalu mengelak dan menangkis. Benturan lengan mereka menyatakan kepada keduanya bahwa tenaga lweekang pihak lawan benar-benar tak boleh dibuat gegabah.

“Nanti dulu, Nona, kau siapakah dan mengapa pula engkau menyerangku tanpa alasan? Apakah salahku?”
“Tak usah bertanya! Jika kau memang mempunyai kepandaian, jangan menyombongkan itu di hadapan adikku, akan tetapi lawanlah aku! Ataukah, kau tidak berani karena kau berhati pengecut?”

Ucapan ini betul-betul mengenai hati Hong Beng dan menyentuh perasaan dan wataknya yang tidak mau kalah.
“Bagus, gadis sombong dan galak. Hendak kulihat sampai di manakah kepandaianmu!”

Hong Beng lalu membalas dengan serangannya dan demikianlah, kedua orang muda itu bertempur dengan seru sekali. Mereka saling serang, saling desak, akan tetapi keduanya memang sama-sama gesit dan lihai.

Ilmu silat Hong Beng yang berdasarkan pada Pat-kwa Kun-hoat dan Ngo-heng Cio-hwat benar-benar luar biasa, akan tetapi Goat Lan adalah murid orang-orang sakti pula. Untuk menghadapi Hong Beng yang ternyata tangguh bukan main itu, dia segera mengeluarkan Im-yang Sin-na, pelajaran yang diwarisinya dari Im-yang Giok-cu.

Tubuh kedua orang muda ini sampai lenyap menjadi dua bayangan yang berkelebatan ke sana ke mari dan kadang-kadang bergulung-gulung menjadi satu. Hong Beng merasa penasaran sekali karena jangankan mengalahkan gadis ini, mendesak pun ia tidak dapat! Ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, dan berkat tenaga lweekang-nya yang lebih kuat sedikit dari pada Goat Lan, ia berhasil mendesak nona itu.

Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam urusan ginkang, nona itu masih menang darinya, sehingga betapa pun Hong Beng mendesak, dia tidak mampu menyentuh nona itu yang gesit laksana burung walet. Pertempuran dilanjutkan dengan hebat, seratus jurus lebih telah lewat sehingga keduanya makin penasaran dan juga kagum.

Goat Lan benar-benar menjadi marah sekali. Masa dia tidak dapat mengalahkan pemuda dusun ini? Sebagaimana diketahui, Goat Lan telah mewarisi kepandaian Hok Peng Taisu melalui ibunya, maka dia lalu mengeluarkan ilmu silat yang diterimanya dari ketiga guru besar itu untuk menghadapi Hong Beng.

Belum pernah Goat Lan begitu bersungguh-sungguh mengerahkan semua kepandaiannya sehingga pada jidatnya telah keluar beberapa titik peluh. Juga Hong Beng merasa pusing karena gerakan gadis itu cepat sekali.

Pada suatu saat, ketika Goat Lan telah terdesak sampai di bawah sebatang pohon, Hong Beng mengeluarkan serangan dengan gerak tipu Dewa Hutan Membelah Kayu. Dengan tangan kanan dibuka jarinya dia menubruk, lantas menyerang dengan tangan kanan itu, membuat gerakan kapak membelah kayu ke arah pundak Giok Lan, sedangkan tangan kirinya juga sudah bersiap untuk menyusul dengan serangan menotok dari bawah kiri. Ia mengembangkan tangan kirinya agar supaya gadis itu tak mengira akan gerakan susulan ini.

Akan tetapi, Goat Lan telah mendapat gemblengan yang hebat dari para gurunya. Ketika melihat serangan ini, dia hanya melangkahkan kaki kiri ke belakang, lalu membalikkan kedudukan tubuhnya sambil menekuk kaki kirinya itu yang kini berada di depan. Karena tubuhnya menjadi doyong, maka serangan Hong Beng itu kini tidak mengenai sasaran dan dengan cerdik sekali Goat Lan bersikap seolah-olah ia tidak memperhatikan tangan kiri Hong Beng yang siap menotok. Akan tetapi diam-diam gadis ini yang maklum bahwa ia telah membuka kesempatan bagi lawan untuk menyerang dan menotok punggungnya, telah mengerahkan ilmu khikang dan mengumpulkan napas memasang Ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa dan Melindungi Jalan Darah).

Benar saja, Hong Beng tidak mau melewatkan kesempatan itu dan dengan girang tangan kirinya lalu menotok jalan darah di punggung lawannya. Akan tetapi oleh karena ia tidak ingin melukai lawannya, dia hanya melakukan totokan perlahan saja yang cukup untuk membuat tubuh lawannya menjadi lemas.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa jari tangannya mengenai kulit dan daging yang lunak sekali seakan-akan tidak berurat sama sekali! Ia maklum bahwa dia sudah kena dipancing dan bahwa lawannya telah menutup jalan darahnya, maka dia cepat hendak melompat mundur. Terlambat! Tangan kiri Goat Lan sudah ‘masuk’ dari bawah lengan kanannya dan berhasil pula menotok iga di bawah pangkal lengannya.

“Dukk!”

Hong Beng masih keburu mengerahkan lweekang sehingga bagian tubuh yang tertotok menjadi sekeras batu! Namun tenaga totokan Goat Lan itu masih membuatnya terhuyung mundur tiga langkah!

“Bagus sekali! Kau sungguh lihai sekali, Nona. Aku yang bodoh mengaku kalah karena ginkang-mu yang luar biasa. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa aku kalah dalam hal kepandaian seluruhnya. Apa bila kau merasa masih sanggup menghadapiku, marilah kita menggunakan senjata!” Biar pun ia mengaku kalah akan tetapi Hong Beng masih belum puas dan menantang untuk bertempur mempergunakan senjata.

Diam-diam Goat Lan terheran. Pemuda ini cukup simpatik, karena sungguh pun tadi tak dapat dikatakan pemuda ini kalah, akan tetapi dengan jujur pemuda ini berani mengakui kekalahannya yang sedikit dan kurang berarti itu, bahkan sekarang berani secara sopan menantang untuk melanjutkan pertempuran dengan senjata! Mengapakah pemuda yang sopan santun dan halus budi bahasanya ini oleh Lili disebut kurang ajar? Namun ia tentu saja tidak mau menyerah kalah dalam hal ketabahannya, maka dia lalu tersenyum dan menjawab,

“Siapa takut kepada senjatamu? Keluarkanlah!”

Dengan rasa heran Goat Lan melihat pemuda itu mengambil sebatang ranting kayu yang tergeletak di atas tanah. Ranting ini hanya sebesar ibu jari kaki dan panjangnya paling banyak selengan orang.

Melihat senjata lawannya itu, Goat Lan diam-diam terkejut, karena hanya orang dengan kepandaian tinggi saja yang menggunakan senjata seringan itu. Makin sederhana senjata orang, maka makin berbahaya dan lihailah ilmu kepandaiannya, demikian ayah bundanya pernah berkata.

Dia menjadi malu untuk mengeluarkan sepasang bambu kuningnya, maka dia pun lalu mencari dua batang ranting yang sama besarnya dengan ranting di tangan Hong Beng, lalu sebelum lawan menyerangnya, tanpa berkata sesuatu dia segera mengirim serangan hebat dengan ranting di tangan kiri.

Tadi saat melihat Goat Lan mengambil dua batang ranting pula seperti yang dipungutnya, Hong Beng benar-benar terheran sampai dia membelalakkan matanya. Tadinya disangka bahwa gadis ini tentu akan bersenjatakan pedang atau senjata tajam lainnya.

Akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk berheran-heran sampai lama sebab laksana seekor ular, ranting di tangan nona itu telah menyerangnya dengan gerakan yang sangat luar biasa! Dia cepat-cepat menggerakkan rantingnya untuk menempel ranting lawan dan merampasnya, akan tetapi belum juga rantingnya dapat menangkis, ranting lawan sudah ditarik kembali dan kini ranting di tangan kanan gadis itu menotok ke arah lehernya!

“Hebat!” seru Hong Beng memuji ilmu silat yang luar biasa ini. Berbeda dengan dia yang memegang ranting di tengah-tengah, gadis itu memegang rantingnya pada ujungnya dan menggunakan sepasang ranting itu untuk menotok.

Setelah Hong Beng melayani Goat Lan sampai tiga puluh jurus lebih, makin lama makin terheranlah dia. Ilmu silat gadis ini benar-benar luar biasa sekali dan sungguh pun ilmu tongkatnya yang dua macam itu, yakni Pat-kwa Tung-hwat serta Ngo-heng Tung-hwat merupakan raja ilmu tongkat yang jarang bandingnya di muka bumi ini, namun ternyata bahwa menghadapi ilmu silat gadis ini ia tidak dapat banyak berdaya dan hanya mampu mengimbanginya saja, tanpa dapat mendesak meski tidak pula sampai terdesak! Saking herannya, Hong Beng lalu melompat mundur sampai dua tombak lebih dan berkata,
“Tahan, Nona! Aku harus mengetahui terlebih dahulu siapakah lawanku yang mempunyai kepandaian sedemikian hebatnya! Aku Sie Hong Beng selama hidupku belum pernah mengganggu orang, terlebih lagi orang seperti kau! Kenapakah kau memusuhiku sampai sedemikian rupa?”

Seketika itu juga lenyaplah kemarahan dari wajah Goat Lan dan gadis ini berdiri bengong seperti patung! Mendengar disebutnya nama itu, untuk sesaat wajahnya menjadi pucat, kemudian menjadi kemerah-merahan dan tanpa terasa lagi kedua ranting di tangannya terlepas dan jatuh ke atas tanah. Seakan-akan lemaslah kedua lengannya dan hatinya berdetak tidak karuan.

“Kau... kau... bernama Sie Hong Beng...?” katanya perlahan seperti berbisik.
“Ya, aku bernama Sie Hong Beng, yaitu kalau tidak ada dua Sie Hong Beng di dunia ini. Dan kau siapakah? Siapa pula adikmu yang katamu tadi pernah kuhina itu?”

Goat Lan tidak mampu menjawab, hanya mukanya saja sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba terdengar suara ketawa tidak jauh dari sana dan ketika Hong Beng menengok ternyata yang sedang tertawa itu adalah Lili adiknya! Gadis nakal ini tertawa-tawa sambil menyembunyikan tubuhnya di balik sebatang pohon besar sekali.

“Hi-hi, Enci Goat Lan!” Kini tiba-tiba ia menyebut ‘enci’. “Bagaimana kepandaian pemuda itu? Boleh juga, bukan? Apa kau sekarang sudah mulai melupakan kakakku dan tertarik oleh pemuda ini?”
“Hemm, diakah adikmu dan kau... kau bernama Goat Lan, Kwee Goat Lan?!”

Kini muka Hong Beng yang menjadi kemerah-merahan, karena ternyata bahwa gadis ini adalah tunangannya sendiri yang belum pernah dijumpainya selama ini! Dengan gemas Hong Beng lantas melemparkan rantingnya dan hampir berbareng dengan gerakan Goat Lan, dia lalu mengejar Lili yang sembunyi di balik pohon besar itu!

“Awas kutempeleng kepalamu yang penuh akal jail itu!” seru Hong Beng.
“Lili, anak nakal! Kujewer telingamu!” Goat Lan juga berkata sambil mengejar dengan cepat pula.

Hong Beng mengejar dari sebelah kiri dari pohon dan Goat Lan mengejar dari sebelah kanan pohon yang besar itu. Hampir saja kedua orang muda ini bertumbukan di belakang pohon satu sama lain, karena ternyata bahwa Lili yang nakal itu tidak ada pula di tempat itu.

Saking gugupnya, hampir saja tangan Hong Beng menangkap Goat Lan yang dikiranya Lili dan dengan mulut tersenyum malu-malu serta mata tidak berani memandang, Goat Lan berdiri di depannya. Hong Beng tercengang dan terpesona. Alangkah cantik, gagah, dan manisnya tunangannya ini.

Terdengar lagi suara ketawa dari atas dan ketika keduanya menengok ke atas, ternyata bahwa Lili sekarang telah duduk di atas cabang pohon besar itu!

“Turunlah kau, Lili! Bagus betul perbuatanmu, sesudah berpisah bertahun-tahun, masih saja kau berani mempermainkan kakakmu sendiri!” kata Hong Beng gemas.
“Aku tidak mau sebelum kau berjanji tak akan menempeleng kepalaku!” kata Lili dengan sikap manja.
“Hemm, seperti anak kecil saja kau, Lili! Biarlah, kali ini kau kuampunkan. Turunlah!”
“Tidak, Beng-ko, kalau aku turun, aku takut kepada Enci Lan!”
“Memang aku akan mencubit bibirmu!” kata Goat Lan gemas dengan muka yang masih berubah merah karena jengah.
“Nah, Engko Hong Beng. Kau dengar sendiri bagaimana galaknya calon nyonyamu! Jika kau tidak berjanji akan membalas Enci Lan dan mencubit bibirnya kalau ia menyerangku, aku tidak mau turun dan tidak mengaku sebagai adikmu!”

Digoda seperti itu, baik Hong Beng mau pun Goat Lan menjadi gemas dan malu-malu, akan tetapi tentu saja mudah diketahui bahwa di dalam dada mereka merasa bahagia sekali.

“Sudahlah, Lili, kau turunlah, tentu saja... Nona Kwee tidak akan marah kepadamu.”
“Aihh, aihh! Mengapa pakai nona-nonaan segala? Engko Hong Beng, kau benar-benar bocengli (tidak tahu aturan, tidak berbudi), mengapa menyebut calon Soso (Kakak Ipar) dengan sebutan yang bersifat sungkan-sungkan? Kau harus menyebutnya Moi-moi!”

Muka kedua orang muda itu semakin merah mendengar godaan ini dan pada saat itu, Lili melompat turun. Goat Lan segera mengulurkan kedua tangannya kepada Lili, tapi bukan untuk mencubit bibir atau menjewer telinga, melainkan untuk memeluknya.

“Lili, aku minta dengan sangat, kasihanilah aku dan jangan kau menggoda lagi. Sudah lebih dari cukup kau menggodaku!” bisiknya.
“Engko Hong Beng,” kata Lili dan ia memandang kepada kakaknya dengan bangga, “aku girang sekali menyaksikan kepandaianmu yang amat hebat! Tidak percuma kau menjadi kakakku dan menjadi calon suami Enci Goat Lan yang cantik jelita!”
“Lili!!” seru Goat Lan.
“Lili...!” bentak Hong Beng hampir berbareng. “Jangan kau menggoda saja!”

Lili yang jenaka itu kemudian menjura kepada mereka berdua. “Maaf, maaf! Aku hanya main-main saja. Engko Han Beng, mengapa kau bisa berada di tempat ini dan apakah hubunganmu dengan orang-orang pengemis yang mengerikan tadi?”

Dengan singkat Hong Beng lalu menceritakan perjalanan serta pengalamannya. Ketika mendengar tentang Lo Sian, Lili berubah air mukanya.
“Beng-ko, coba kau ceritakan bagaimana wajah orang gila itu!”

Dengan heran Hong Beng lalu menuturkan tentang wajah Lo Sian dan mendengar ini, Lili berseru,
“Suhu...!”

Baik Hong Beng mau pun Giok Lan menjadi amat terkejut dan heran mendengar seruan ini. Mereka memandang kepada Lili dengan mata mengandung penuh pertanyaan.

“Tentu dia Suhu! Siapa lagi?” Lili lalu menuturkan tentang Lo Sian, pengemis sakti yang dulu sudah menolongnya dari tangan Bouw Hun Ti dan yang kemudian bahkan menjadi suhu-nya.
“Aku pun hendak mencarinya. Kalau begitu hayo kita kejar dia!”

Tiga orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan mengejar Lo Sian yang melarikan diri. Berkat ilmu ginkang mereka yang sudah sempurna, dalam waktu sebentar saja mereka sudah dapat menyusul Lo Sian yang masih berlari-lari dan berteriak-teriak,
“Pemakan jantung...! Pemakan jantung...!”
“Suhu...!” Lili berseru memanggil dengan hati terharu sekali.

Gadis itu mendahului kedua orang kawannya dan melompat ke hadapan Lo Sian. Wajah Lo Sian yang beringas itu menghadapi Lili dan sepasang matanya yang liar memandang dengan tajam. Dengan hati ngeri Lili melihat betapa mata itu sudah menjadi merah dan amat mengerikan.

Untuk sesaat Lo Sian berdiri bagaikan patung, dan dengan perlahan ia berkata, “Kau...? Aku sudah pernah melihatmu... kau...?”

“Suhu, teecu adalah Lili, Sie Hong Li muridmu! Suhu, mengapa Suhu menjadi begini...?” Tak terasa lagi air mata mengalir turun dari sepasang mata Lili yang bagus itu.

Lo Sian tidak dapat mengingat siapa adanya Lili, akan tetapi perasaannya membisikkan kepadanya bahwa gadis ini adalah seorang yang baik kepadanya, maka dia tidak mau menyerang dan kemarahan serta ketakutannya lenyap. Akan tetapi pada saat itu pula ia melihat Goat Lan dan Hong Beng yang sudah datang dan memandangnya dengan mata berkasihan.

Tiba-tiba orang gila ini menjadi liar lagi dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung! Pemakan jantung!” Lalu ia maju menubruk dan menyerang Hong Beng dan Goat Lan.

Melihat keadaan orang itu, Goat Lan cepat turun tangan dan berhasil menotok dada Lo Sian. Pengemis gila ini roboh dengan tubuh lemas tak berdaya lagi.

“Aku harus merobohkannya supaya dapat memeriksanya!” Goat Lan berkata singkat dan tanpa menanti pendapat kawan-kawannya dia segera berjongkok dan memeriksa nadi Lo Sian.
“Keadaan jantungnya baik,” kata Goat Lan sambil memeriksa dada dan detik urat nadi.

Hong Beng memandang dengan kagum kepada tunangannya itu. Ia sendiri sedikit-sedikit sudah pernah mempelajari ilmu pengobatan dari ibunya yang belajar dari ayahnya pula, akan tetapi tentu saja kepandaiannya ini tidak ada artinya apa bila dibandingkan dengan tunangannya yang menjadi murid Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat.

“Paru-parunya agak lemah,” terdengar Goat Lan berkata pula.

Tanpa berkata sesuatu gadis ini lalu mengeluarkan bambu kuningnya, dan menggunakan ujung bambu yang runcing untuk mengerat lengan Lo Sian. Beberapa titik darah keluar dari luka kecil itu. Goat Lan menggunakan jari tangannya untuk mengambil darah ini yang segera diperiksanya dan darah itu ia tempelkan pada ujung lidahnya! Tak lama kemudian ia meludahkan darah itu dan berkata,

“Darahnya mengandung bisa yang amat aneh!” Ia lalu berpaling kepada Lili dan berkata, “Menurut perhitunganku, bila kakek ini dulunya tidak gila seperti yang kau katakan, tentu dia pernah terkena racun hebat, sehingga racun itu mengotorkan darahnya dan merusak ingatannya. Lili, kalau di dunia ini ada orang yang dapat menolongnya, maka orang itu bukan lain adalah Thian Kek Hwesio yang tinggal di kuil Siauw-lim-si di Kiciu, tidak jauh dari sini.”

“Siapakah dia dan apakah dia mau menolongku mengobati Suhu ini?” tanya Lili penuh gairah.
“Kalau aku yang minta, mungkin dia takkan menolak. Dia adalah sahabat baik mendiang Suhu dan dia terkenal sebagai ahli penyakit gila, dan ahli pula mengobati orang terkena racun. Aku pernah diajak oleh Suhu mengunjungi Thian Kek Hwesio. Kita dapat langsung menuju ke sana.”
“Sayang sekali aku tidak dapat ikut. Baiklah, aku akan menyusul setelah urusanku pibu dengan ketua-ketua dari Hek-tung Kai-pang beres.” kata Hong Beng. “Tidak patut kalau aku melanggar janji, bukan perbuatan yang patut dibanggakan apa bila seorang gagah melanggar janjinya.”

Goat Lan mengerutkan kening. Gadis ini pernah mendengar nama Hek-tung Kai-pang dan mendengar pula bahwa kelima orang kepala dari perkumpulan pengemis ini adalah orang-orang lihai yang telah mewarisi ilmu tongkat Hek-tung-hoat yang lihai.

Menurut ibunya, ilmu tongkat Hek-tung-hoat masih satu cabang dan bahkan berasal dari Ilmu Tongkat Bambu Runcing ciptaan Hok Peng Taisu karena Hek-tung Kai-ong pencipta Ilmu Tongkat Hitam itu pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Hok Peng Taisu. Maka teringat betapa tunangannya akan menghadapi lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu, hatinya menjadi gelisah sekali.

“Lima ketua dari Hek-tung Kai-pang itu amat lihai ilmu tongkatnya,” kata Goat Lan tanpa berani memandang kepada Hong Beng.
“Aku tidak takut..., Moi-moi,” kata Hong Beng sambil mengerling ke arah Lili. Akan tetapi, Lili tidak mempunyai nafsu untuk menggoda orang ketika ia melihat keadaan Lo Sian dan ia mendengarkan dengan kesungguhan hati dan penuh perhatian.
“Aku percaya, Koko (Kanda), akan tetapi... karena mereka itu bukan orang-orang jahat, maka tidak baik kalau sampai terjadi bentrok yang menimbulkan permusuhan. Kalau saja Adik Lili mau ikut dengan kau... dan biarlah aku yang mengantarkan Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) ini kepada Thian Kek Hwesio...”
“Kurasa tidak perlu, Moi-moi (Dinda). Kalau Lili ikut dengan aku, jangan-jangan aku akan dianggap takut dan dicap pengecut!”

Tiba-tiba Lili bangun dan berkata, “Biarlah aku yang mengantarkan Suhu ke Kiciu. Kiciu tak berapa jauh dari sini dan pula, perjalanan ini tidak berbahaya sama sekali. Enci Lan, kau pergilah bersama Beng-ko, dan seperti yang kau katakan tadi, lebih baik kita jangan menanam bibit permusuhan dengan Hek-tung Kai-pang. Hatiku juga tidak akan merasa tenteram jika Beng-ko pergi seorang diri saja ke sana. Nah, Enci Lan, coba kau buatkan surat untuk Thian Kek Hwesio agar dia dapat dan mau menolong Suhu.”

Goat Lan segera mempergunakan bambu runcingnya untuk mengambil kulit pohon yang lebar, kemudian dengan ujung bambunya ia menuliskan beberapa kata-kata di atas ‘surat’ istimewa ini. Melihat betapa Goat Lan setuju dengan usul Lili, Hong Beng tidak berani membantah lagi, karena siapakah orangnya yang tak akan merasa gembira dan bahagia melakukan perjalanan bersama dengan tunangannya, apa lagi bila tunangan itu secantik dan segagah Goat Lan?

Demikianlah, dengan membawa ‘surat’ dari Goat Lan, Lili hendak memulihkan keadaan suhu-nya dan ternyata Lo Sian menurut saja kepada Lili ketika Lili mengajaknya pergi! Hong Beng dan Goat Lan lalu kembali, menuju ke kota Ta-liong untuk memenuhi janji kepada Hek-tung Kai-pang pada keesokan harinya…..
********************
Thian Kek Hwesio adalah seorang pendeta Buddha yang bertubuh gemuk dan berwajah tenang dan riang. Hwesio ini telah banyak merantau dan sudah beberapa kali ia melawat ke negeri barat untuk memperdalam pengetahuannya tentang Agama Buddha. Di dalam perantauannya ke barat inilah dia mendapatkan ilmu pengobatan yang luar biasa.

Memang semenjak mudanya, Thian Kek Hwesio paling senang mempelajari ilmu ini dan ketika ia berada di negeri barat, ia bertemu dengan seorang ahli pengobatan, khususnya untuk mengobati orang-orang yang terganggu pikirannya dan orang-orang yang menjadi korban racun-racun jahat. Dia mempelajari ilmu jiwa yang sangat dalam sampai puluhan tahun lamanya sehingga ketika ia kembali ke tanah airnya, ia telah menjadi seorang ahli berilmu tinggi.

Akhirnya ia menghentikan perantauannya dan tinggal di dalam kuil Siauw-lim-si di Kiciu. Sambil memperkembangkan Agama Buddha yang dianutnya, ia pun selalu mengulurkan tangan untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

Tidak jarang, apa bila terjangkit wabah penyakit di suatu tempat, tidak peduli tempat itu letaknya amat jauh, Thian Kek Hwesio pasti akan mendatanginya kemudian mengulurkan tangan menolong orang-orang yang menjadi korban. Oleh karena ini, namanya menjadi sangat terkenal sekali.

Walau pun Thian Kek Hwesio bukan seorang ahli dalam hal ilmu silat, namun namanya tetap dihormati dan disegani oleh para tokoh kang-ouw. Banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang menjadi sahabatnya, di antaranya adalah Sin Kong Tianglo yang memiliki kepandaian tinggi tentang ilmu pengobatan.

Lili mengajak Lo Sian menuju ke Kiciu untuk mendatangi hwesio suci ini guna meminta pertolongannya mengobati Lo Sian. Di dalam perjalanan Lo Sian diam saja tak banyak berkata-kata, akan tetapi nampak lebih tenang setelah berada dekat Lili.

Beberapa kali gadis itu mencoba untuk mengingatkan bekas gurunya ini, akan tetapi Lo Sian tetap tidak dapat mengingat sesuatu, tidak dapat mengenal Lili dan tidak ingat akan namanya sendiri. Akan tetapi, dia tidak nampak gelisah, tidak berteriak-teriak lagi dan sering kali dia memandang kepada Lili dengan penuh kepercayaan dan dengan muka menyatakan ketenangan hatinya.

Meski pun Lo Sian sudah menjadi gila, namun ilmu lari cepatnya masih belum lenyap dan karenanya Lili dapat mengajaknya berlari cepat sehingga sebentar saja mereka sudah berada di dekat kota Kiciu. Ketika mereka berlari sampai di sebuah tempat yang sunyi, tiba-tiba mereka melihat dua orang sedang berkejar-kejaran.

Yang dikejar adalah seorang pemuda, ada pun yang mengejarnya seorang gadis cantik. Lili merasa heran sekali melihat gadis itu yang sambil mengejar, menangis dan berseru memanggil,
“Taihiap... jangan tinggalkan aku! Taihiap... tunggulah dan bawa aku bersamamu...!”

Pemuda itu lalu menoleh dan berkata dengan suara sedih, “Lilani, jangan kau dekati aku lagi...! Aku seorang yang jahat dan rendah budi! Jangan kau dekati lagi, Lilani...!”

“Taihiap, kalau kau tetap hendak meninggalkanku, aku akan membunuh diri! Aku tidak sanggup berpisah darimu lagi...”

Kedua orang itu adalah Lie Siong dan Lilani. Setelah pada malam hari itu di dalam hutan, akibat dorongan hati terharu, keduanya lalu saling menumpahkan perasaan hati dan lupa akan keadaan di sekelilingnya. Maka, pada esok harinya, bersama munculnya matahari, muncul pula pertimbangan dan kesadaran di hati Lie Siong.

Pemuda ini menjadi sangat terkejut dan menyesal sekali mengingat akan perbuatannya sendiri dan dia merasa sangat malu. Bagaimanakah dia, seorang pemuda yang memiliki kepandaian dan yang sering kali dapat nasehat-nasehat dari ibunya, telah menjadi mata gelap dan runtuh hatinya terhadap kecantikan dan cumbu rayu dari seorang gadis cantik seperti Lilani?

Ia menyesal sekali, akan tetapi ketika ia memandang wajah Lilani, gadis itu nampak lebih cantik dan berseri wajahnya. Sepasang mata gadis itu memandangnya dengan penuh cinta kasih sehingga Lie Siong menjadi gelisah sekali. Apakah yang sudah dia lakukan terhadap seorang gadis berhati tulus dan bersih seperti Lilani? Ah, dia berdosa, demikian pikirnya.

“Lilani...” katanya dengan suara perlahan, “aku... aku sudah berdosa kepadamu... aku... aku tak dapat lagi memandang mukamu.”

Akan tetapi Lilani menubruk dan merangkulnya. “Taihiap, mengapa kau berkata begitu? Aku, Lilani, bersumpah tak akan mencinta lain orang kecuali engkau. Engkaulah pujaanku dan hanya kepadamulah Lilani menyerahkan jiwa raganya...”

Makin perihlah perasaan hati Lie Siong mendengar ucapan dan melihat sikap gadis ini. Ia maklum dan percaya sepenuhnya bahwa Lilani benar-benar sangat mencintanya, akan tetapi dia...? Dapatkah dia selamanya harus berada di sisi Lilani? Dapatkah dia menjadi suami dari gadis ini...? Makin dipikirkan, makin gelisah dan menyesallah hati pemuda itu. Dia melanjutkan perjalanan dengan wajah muram dan Lilani mengikutinya dengan cemas dan tak mengerti.

Akan tetapi, dengan penuh kesetiaan dan kesabaran, gadis itu melayani Lie Siong dan mengikutinya ke mana saja pemuda itu pergi tanpa mau mengganggunya dan tidak pula bertanya mengapa Lie Siong berhal seperti itu.

Akhirnya mereka sampai di tempat itu dan dengan terus terang Lie Siong menyatakan bahwa dia tidak ingin melakukan perjalanan selamanya bersama Lilani.

“Lilani, dari sini ke Tiang-an tidak jauh lagi. Aku... aku tidak dapat mengantarkan kau terus ke Tiang-an. Mengapa kau tidak pergi saja seorang diri?”

Lilani menjadi pucat. “Taihiap, mengapakah kau berkata demikian? Aku... aku tidak ingin ke Tiang-an, tidak ingin ke mana pun juga kecuali ke tempat engkau berada. Aku tidak mau meninggalkan kau, Taihiap, aku ingin terus berada di sampingmu, ke mana pun juga kau pergi.”

Berkerutlah kening Lie Siong mendengar ucapan ini. “Tidak, tidak, Lilani! Aku sudah satu kali melakukan pelanggaran, melakukan perbuatan yang takkan dapat kulupakan selama hidupku. Aku tidak akan mau mengulanginya lagi. Akan tetapi... kalau kau terus berada di dekatku... aku... aku tidak dapat menanggung bahwa kegilaan tidak akan membutakan mataku lagi...”

“Kenapa pelanggaran? Mengapa hal ini kau anggap kegilaan? Taihiap, tidak percayakah kau bahwa aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku? Aku tidak mengharapkan apa pun asal dapat selalu berada di dekatmu...”
“Tidak, tidak! Tidak mungkin, Lilani!” Dan larilah Lie Siong meninggalkan gadis itu! Lilani mengejar sambil berteriak-teriak memilukan dan mereka berkejaran terus sampai terlihat oleh Lili dan Lo Sian.

Lili berdiri terheran-heran mendengar dan melihat keadaan dua orang yang berkejaran itu. Akan tetapi berbeda dengan Lo Sian. Orang tua ini masih belum kehilangan watak pendekarnya, dan kini melihat dua orang muda berkejaran, sungguh pun yang mengejar adalah yang wanita, namun karena Lilani menangis memilukan, dengan mudah saja dia dapat menduga bahwa di dalam hal itu yang bersalah tentulah laki-laki yang dikejar itu! Tubuhnya bergerak dan berkelebat cepat menghadang di depan Lie Siong!

“Orang jahat! Kau sudah berani mengganggu seorang gadis dan kemudian melarikan diri?”

Ucapan yang dikeluarkan tanpa disengaja ini telah mengenai tepat sekali pada perasaan hati Lie Siong. Ia menjadi pucat dan memandang pada orang yang menegurnya. Apakah jembel mengerikan ini telah mengetahui rahasianya pula? Apakah melihat perbuatannya di dalam hutan pada malam hari yang telah menghikmatnya kemarin?

“Jangan kau mencampuri urusanku!” seru Lie Siong dan cepat dia hendak melanjutkan larinya. Akan tetapi Lo Sian cepat-cepat menggerakkan tangannya yang diulurkan hendak mencengkeram pundak Lie Siong.

Melihat gerakan yang mendatangkan angin ini, terkejutlah Lie Siong maka ia pun cepat mengelak. Sambil miringkan tubuh ke kiri, pemuda ini cepat membalas dengan sebuah totokan ke arah pinggang kanan Lo Sian yang dapat menangkis pula. Akan tetapi ketika kakek ini menangkis, tubuhnya langsung terpental ke belakang dan terhuyung-huyung, tanda bahwa dia kalah tenaga!

“Orang kurang ajar! Kau berani mengganggu Suhu?” tiba-tiba saja nampak berkelebat bayangan merah dan angin yang dingin menyerang Lie Siong dari samping kanan.

Pemuda ini cepat melompat ke belakang dan terheranlah dia ketika melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang gadis yang cantik jelita. Serangan gadis ini jauh lebih lihai dan hebat dari pada serangan jembel tadi! Bagaimana mungkin seorang murid memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada suhu-nya?

Akan tetapi Lili tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak memusingkan hal ini. Gadis ini pun merasa kaget dan penasaran ketika ternyata serangannya tadi dapat dielakkan dengan begitu mudahnya! Tadi dia telah menyerang dengan gerak tipu Pai-bun Twi-san (Mendorong Pintu Menolak Bukit) dengan maksud mendorong pemuda itu agar terguling, akan tetapi siapa kira bahwa dengan amat mudahnya pemuda itu telah dapat melompat dengan tepat dan mudah. Sekarang dia maju menyerang lagi dengan hebat, mengambil keputusan untuk merobohkan pemuda yang telah berani melawan suhu-nya tadi!

Lo Sian berdiri bertolak pinggang sambil tertawa-tawa menyaksikan pertempuran hebat itu. Sebaliknya, Lie Siong merasa terkejut bukan main karena ternyata bahwa gerakan gadis yang menyerangnya itu benar-benar luar biasa sekali! Cepat bagai seekor burung walet dan tiap pukulan yang menyerangnya mendatangkan angin yang kuat sekali.

Diam-diam Lie Siong merasa gembira sekali karena memang demikianlah sifatnya, suka menghadapi lawan yang tangguh. Dia lalu mengeluarkan Ilmu Silat Tarian Bidadari yang dipelajarinya dari ibunya. Tentu saja oleh karena Lie Siong menerima pelajaran langsung dari Ang I Niocu, ilmu silatnya ini sempurna dan matang betul.

Kini giliran Lili yang diam-diam merasa tertegun. Dari mana pemuda lawannya ini dapat bersilat dengan ilmu silat itu demikian bagusnya? Ia pun lalu merubah gerakannya dan dengan cepat dia bersilat dengan Ilmu Silat Sian-li Utauw, sama dengan ilmu silat Lie Siong!

Pemuda ini makin kaget dan ketika ia mempercepat gerakannya, ternyata bahwa dalam hal Ilmu Silat Sian-li Utauw, ia masih menang setingkat dan berhasil mendesak Lili! Gadis ini menggigit bibir dan menjadi marah, ia berseru keras dan kini ia mengeluarkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut! Kedua lengan tangannya yang berkulit halus itu mengebulkan uap putih yang menyambar-nyambar ke arah Lie Siong.

Pemuda ini hampir berseru keras saking herannya dan cepat pula ia juga mengeluarkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut! Akan tetapi keadaannya sekarang berubah karena ternyata bahwa Lili lebih mahir bersilat dengan ilmu silat ini! Hal ini pun tak mengherankan, karena memang dalam hal ilmu ciptaan Bu Pun Su ini, kepandaian Pendekar Bodoh masih lebih lihai dari pada Ang I Niocu.

Sementara itu, Lo Sian yang gila hanya tertawa-tawa saja melihat pertempuran ini, ada pun Lilani yang sudah dapat mengejar sampai di sana, langsung memandang dengan terheran-heran melihat betapa dua orang itu bertempur seakan-akan sedang menari-nari saja! Gerakan keduanya demikian sama dan cocok, lemah lembut dan lemas, teramat indah dipandang mata.

“Tahan dulu!” seru Lie Siong yang makin lama makin terheran melihat betapa ilmu silat ini banyak sekali persamaannya dengan kepandaiannya sendiri. “Siapakah kau, Nona?”

Lili menjawab dengan mencabut pedangnya Liong-coan-kiam, lalu mencibirkan bibirnya sambil menjawab ketus, “Laki-laki mata keranjang dan kurang ajar! Apakah telah menjadi kebiasaanmu menanyakan nama setiap orang wanita yang kau jumpai?”

Tentu saja Lie Siong menjadi marah dan mendongkol sekali. Ia merasa tersindir hingga telinganya menjadi merah. Memang hatinya sedang merasa rusuh karena perbuatannya terhadap Lilani, sekarang ia dicap oleh gadis ini sebagai seorang mata keranjang! Tanpa berkata sesuatu, ia pun lalu mencabut Sin-liong-kiam dan menghadapi gadis itu dengan mata memandang tajam.

Akan tetapi, sebelum mereka bertempur mempergunakan senjata, Lilani telah melangkah maju, menghadapi Lili dengan muka merah dan mata bersinar.
“Jangan kau mengeluarkan kata-kata kotor kepada Taihiap! Dia adalah seorang pendekar gagah perkasa, sama sekali bukan mata keranjang dan kurang ajar! Jangan sekali-kali kau berani memaki padanya!”

Sikap Lilani amat galak, seperti seekor ayam biang membela anaknya.....
Melihat sikap gadis ini, Lili tersenyum menyindir, lalu memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang kembali dan berkata, “Sudahlah, jangan kau kuatir, aku tak akan melukai atau membunuh kekasihmu! Hanya ada satu hal yang sangat mengecewakan hatiku, kau adalah seorang gadis yang cantik jelita mengapa begitu tidak tahu malu mengejar-ngejar seorang pemuda? Hah, sungguh menyebalkan!” Sambil berkata demikian, Lili kemudian memegang tangan Lo Sian dan berkata,
“Suhu, mari kita pergi! Jangan melayani orang-orang ini!”

Lo Sian tertawa haha-hihi dan sebelum ikut berlari pergi bersama Lili, ia menengok pada Lie Siong dan berkata, “Orang gagah tidak akan mendatangkan air mata pada seorang gadis cantik! Ha-ha-ha!”

Ketika kedua orang itu sudah pergi merupakan dua titik bayangan yang jauh, Lie Siong masih berdiri termenung dengan pedang di tangan. Pertemuan ini berkesan dalam-dalam di hatinya. Tidak saja ia terpesona oleh kepandaian dan kecantikan Lili, akan tetapi juga kata-kata Lo Sian tadi bagaikan mengiris jantungnya.

Dia baru sadar dari lamunannya ketika Lilani memegang tangannya dan berkata dengan suara menggetar, “Taihiap, jangan kau tinggalkan Lilani!”

Lie Siong menghela napas berulang dan ketika dia memandang kepada Lilani, timbullah rasa iba yang besar.
“Lilani, aku telah melakukan dosa besar terhadapmu...”
“Bukan kau, Taihiap, akan tetapi kita berdua. Namun bagiku perbuatan kita itu bukanlah dosa…”

Memang sebetulnya hubungan antara pria dan wanita di luar perkawinan yang dirayakan, bagi Lilani bukan merupakan hal yang aneh atau melanggar. Suku bangsanya yang amat sederhana keadaan hidupnya itu tidak menitik beratkan pada upacara, akan tetapi lebih percaya kepada kesetiaan dan kasih di hati. Upacara dapat dilakukan kemudian, karena sekali dua orang telah menanam cinta kasih tak pernah ada atau jarang sekali ada yang memutuskannya atau mengingkari janjinya.”

Lie Siong dapat menduga akan hal ini, karena itu dengan hati perih dia berkata, “Lilani, ketahuilah bahwa sesungguhnya aku kasihan dan sayang kepadamu, akan tetapi... aku tidak mencintamu dan tidak mungkin menjadi suamimu!”

Ucapan ini bagaikan sebuah pedang runcing menikam ulu hati Lilani, akan tetapi gadis ini mempertahankan sakit hatinya dan sambil meramkan matanya menahan air mata, ia lalu berkata,

“Bagaimana seorang perempuan rendah dan bodoh seperti aku ini dapat mengharapkan cinta kasihmu, Taihiap? Aku sudah akan merasa bangga dan bahagia apa bila selama hidup aku dapat menjadi pelayanmu. Aku tak dapat hidup jauh darimu, dan aku tak mau ikut lain orang kecuali kalau dapat bertemu dan mengumpulkan suku bangsaku kembali!”

Berat sekali hati Lie Siong mendengar ini. “Lilani, akan kucoba untuk mengembalikan kau kepada suku bangsamu.”

“Taihiap,” mendadak saja gadis itu berkata sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang seperti bintang pagi itu, “kau tidak mencintaiku, hal ini aku dapat mengerti. Akan tetapi... bukankah kau jatuh cinta kepada... gadis tadi?”

Lie Siong meloncat mundur bagai kakinya disengat ular. “Apa maksudmu...? Dari mana kau mempunyai pikiran seperti itu? Aku tidak kenal padanya, dan sekali bertemu kami telah bertempur. Mengapa kau menyangka demikian?”

Lilani tersenyum sedih. “Orang bertempur bukan seperti yang kau lakukan tadi, Taihiap. Tadi kau dengan gadis itu bukan bertempur, akan tetapi menari-nari gembira! Alangkah indahnya tarian itu dan terus terang saja, kau memang cocok sekali dengan dia. Tadi aku merasa seolah-olah melihat sepasang dewa-dewi sedang menari!”

Hampir saja Lie Siong tertawa bergelak-gelak saking geli hatinya, sungguh pun hatinya tergerak pula oleh ucapan ini dan wajah Lili terbayang di depan matanya.

“Lilani, kau sungguh lucu! Ketahuilah bahwa ilmu silat yang kami mainkan tadi memang merupakan ilmu silat tarian yang tidak sembarang orang dapat menarikannya. Ilmu silat itu disebut ilmu Silat Sian-li Utauw (Tari Bidadari) dan aku pun masih heran memikirkan bagaimana gadis tadi sanggup memainkannya. Padahal ilmu silat itu adalah ciptaan dari ibuku sendiri!”

Dengan hati masih ingin sekali tahu siapa adanya gadis yang pandai memainkan Sian-li Utauw itu, Lie Siong melanjutkan perjalanannya bersama Lilani. Pemuda ini mengambil keputusan untuk mengikuti jejak Lili dan hendak bertanya siapa sebetulnya gadis aneh itu. Ada hubungan apakah antara gadis itu dengan ibunya? Kenapa pula gadis itu pandai memainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang lebih hebat dari pada kepandaiannya sendiri? Apakah gadis itu ada hubungannya dengan Pendekar Bodoh?

Berkali-kali Lilani berkata dengan penuh perasaan, “Taihiap, aku mempunyai perasaan bahwa kau mencinta gadis itu dan agaknya kau memang berjodoh dengan dia! Melihat kalian berdua bersilat seperti menari itu, ahhh, alangkah cocoknya!”

Diam-diam Lie Siong merasa heran sekali melihat sikap gadis ini. Baru saja menyatakan cinta kasihnya dan sekarang sudah membicarakan gadis lain tanpa ada sikap cemburu sedikit pun juga! Benar-benar gadis yang berhati putih bersih, bersikap sederhana dan harus dikasihani.

“Tidak, Lilani. Aku memang akan mencarinya untuk menantangnya bertempur lagi. Aku belum puas apa bila belum mengalahkan dia, sebagai tanda dan bukti kepadamu bahwa persangkaanmu itu tidak benar!”
“Jangan, Taihiap. Dia kelihatan galak dan lihai bukan main. Bagaimana kalau kau sampai terluka? Ahhh...”
“Aku harus menghadapinya!” kata Lie Siong berkeras. “Di samping aku hendak menguji kepandaiannya, juga ingin tahu dari mana ia mencuri Sian-li Utauw dan Pek-in Hoatsut.”

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR REMAJA : JILID-08
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger