logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Remaja Jilid 08


Sementara itu, Lili dan Lo Sian sudah memasuki kota Kiciu dan dengan mudah mereka mencari kuil Siauw-lim-si yang besar. Lili sudah tidak memikirkan lagi keadaan pemuda dan gadis yang dijumpainya di jalan, sungguh pun di dalam perjalanan tadi ia tidak habis merasa heran bagaimana Ilmu Silat Sian-li Utauw pemuda itu sedemikian hebatnya dan betapa pemuda itu dapat juga mainkan Pek-in Hoat-sut.

Ia pun ingin sekali melanjutkan pertempuran dengan pemuda itu, sebab ia masih merasa penasaran apa bila belum dapat mengalahkan pemuda yang dianggapnya sombong itu. Walau pun wajah pemuda yang elok dan gagah itu mengganggunya, namun dia berhasil mengusir bayangan itu dengan anggapan bahwa pemuda itu tidak ada harganya untuk diingat lagi, karena tentu pemuda itu adalah seorang kurang ajar dan pengganggu anak gadis!

Memikirkan halnya gadis cantik yang mengejar pemuda itu sambil menangis, Lili menjadi gemas sekali. Gemas dan benci terhadap pemuda itu, karena dia dapat menduga bahwa gadis itu tentulah korban permainan pemuda mata keranjang itu!

Thian Kek Hwesio menyambut kedatangan Lili dengan ramah tamah. Sesudah menerima ‘surat’ dari Goat Lan, pendeta gemuk itu tertawa gembira dan berkata kepada Lili,

“Nona, tentu saja aku suka berusaha menolongmu. Apa lagi kalau ada surat dari Kwee Lihiap yang kukenal baik. Tidak tahu siapakah Nona dan siapa pula orang tuamu?”
“Teecu (murid) adalah puteri dari Sie Cin Hai,” jawab Lili.

Hwesio itu mengangkat alisnya dan kedua matanya terbelalak girang.

“Ah, puteri Pendekar Bodoh? Betul-betul merupakan kehormatan besar dan kebahagiaan bahwa aku masih berkesempatan melihat keturunan Pendekar Bodoh. Masuklah Nona, dan siapakah sahabat ini?” Dia menudingkan telunjuknya kepada Lo Sian yang berdiri bagaikan patung.
“Dia adalah Sin-kai Lo Sian yang kini berada dalam keadaan sakit, Losuhu. Kedatangan teecu adalah untuk mohon pertolongan Losuhu agar suka memeriksa dan memberi obat kepadanya. Dahulu ketika teecu masih kecil, teecu adalah murid dari Sin-kai Lo Sian dan entah mengapa, setelah sekarang bertemu lagi, teecu mendapatkan Suhu berada dalam keadaan seperti ini.”

Thian Kek Hwesio yang memiliki sepasang mata bersinar sabar, tenang, halus dan juga berpengaruh itu, lalu memandang kepada Lo Sian dengan tajam, kemudian dia maju dan menghampiri pengemis gila itu.

“Sahabat, kau kenapakah?”

Akan tetapi, begitu melihat hwesio gemuk itu menghampirinya, Lo Sian tiba-tiba langsung menyerangnya dengan pukulan keras mengarah dadanya. Lili terkejut sekali dan untung bahwa dia berlaku cepat. Ia melompat menangkis pukulan Lo Sian ini, lalu menangkap lengannya.

“Suhu, jangan begitu, Losuhu ini adalah Thian Kek Hwesio yang hendak menolongmu.”

Akan tetapi, Lo Sian tiba-tiba justru memandang kepada Thian Kek Hwesio dengan mata mengandung ketakutan dan dia berteriak-teriak, “Pemakan jantung...! Tolong, pemakan jantung...!”

Agaknya melihat hwesio gundul ini, ia teringat kepada Hok Ti Hwesio dan melihat tubuh gemuk dari Thian Kek Hwesio, agaknya teringat kepada tubuh Ban Sai Cinjin, maka dia berteriak-teriak ketakutan.

“Nona, tolong bikin dia tak berdaya lebih dulu, agar mudah pinceng (aku) memeriksanya,” kata Thian Kek Hwesio dengan muka masih tenang saja.

Lili lalu mengulur tangannya dan menotok pundak Lo Sian. Karena orang gila ini memang percaya penuh kepada Lili, maka ketika ditotok, dia diam saja tidak melawan sehingga tubuhnya menjadi lemas dan ia lalu dibaringkan di atas pembaringan.

Thian Kek Hwesio lalu memeriksa seluruh tubuhnya, terutama sekali ia mempergunakan jari-jari tangannya untuk memijit-mijit bagian kepala Lo Sian, lalu dia pun menggunakan cara Goat Lan memeriksa, yaitu mengeluarkan sedikit darah dari tubuh orang gila itu.

Lili mengikuti semua pemeriksaan ini dengan penuh perhatian dan kecemasan. Akhirnya, hwesio itu menggelengkan kepalanya dan berkata sungguh-sungguh,

“Hebat sekali! Dia telah terkena racun jahat selama sepuluh tahun lebih sehingga seluruh darahnya sudah menjadi kotor. Agaknya masih mungkin bagi pinceng menghilangkan kegilaannya, karena hanya urat di kepalanya yang terganggu, akan tetapi sulit membuat ia kembali teringat akan segala kejadian yang lalu.”
“Tolonglah, Losuhu. Tolonglah sembuhkan penyakit gilanya, biarlah ia tidak bisa teringat sesuatu asalkan dia tidak gila seperti sekarang ini. Mungkin lambat laun ia akan dapat mengingat-ingat lagi.”
“Tentu saja pinceng akan berusaha menolongnya, dan mudah-mudahan Thian (Tuhan) membantu pinceng.”

Hwesio gendut itu lalu mengeluarkan beberapa puluh batang jarum yang berwarna putih dan ada pula yang kuning. Itulah gin-ciam (jarum perak) dan kim-ciam (jarum emas), alat pengobatan yang sudah amat terkenal di seluruh permukaan bumi Tiongkok.

“Nona Sie,” kata hwesio itu, “coba tolong kau ikat kaki tangannya yang kuat, kemudian kau buka kembali jalan darahnya, karena dalam keadaan terpengaruh tiam-hoat (ilmu totokan), tak mungkin pinceng dapat menolongnya.”

Lili melakukan apa yang diminta oleh Thian Kek Hwesio. Ia segera membuka bungkusan pakaiannya, mengambil ikat pinggang dan mengikat kedua kaki dan tangan Lo Sian pada kaki pembaringan, lalu ia menepuk pundak Lo Sian untuk membebaskan totokannya tadi.

Begitu terbebas, Lo Sian segera meronta-ronta dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung! Pemakan jantung! Tolong… tolong!”

Thian Kek Hwesio tersenyum dan mulailah dia bekerja dengan jarum-jarumnya. Dengan gerakan yang tenang dan tepat tanpa keraguan sedikit pun, ia mulai menusukkan jarum putih ke leher belakang Lo Sian sementara Lili memegangi kepala pengemis gila itu. Tiga jarum ditusukkan dan tiba-tiba lemahlah tubuh Lo Sian, suaranya makin mengecil dan akhirnya dia jatuh pingsan atau pulas!

Delapan belas jarum sudah ditusukkan oleh Thian Kek Hwesio. Tiga di belakang leher, tiga di pundak kanan, tiga di pundak kiri dan sembilan jarum lain ditusukkan pada sekitar kepalanya! Mau tidak mau Lili merasa ngeri juga melihat cara pengobatan yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya ini. Bagaimanakah orang bisa tetap hidup setelah leher dan kepalanya ditusuk oleh sekian banyak jarum? Yang sangat luar biasa adalah bahwa tidak ada setitik pun darah mengalir keluar dari jarum-jarum yang ditusukkan itu.

“Biarlah dia mengaso dulu dan sementara menanti, ceritakanlah pengalamanmu, Nona. Terutama sekali pinceng ingin sekali mendengar tentang keadaan orang tuamu.”

Dengan jelas tapi singkat, Lili menuturkan keadaan orang tuanya dan betapa ia bertemu dengan Lo Sian ketika dia dulu diculik Bouw Hun Ti. Ketika dia telah selesai menuturkan pengalamannya dan ketika hwesio tua itu mendengar nama Ban Sai Cinjin sebagai guru Bouw Hun Ti, Thian Kek Hwesio mengerutkan keningnya.

“Hemm, disebutnya nama Ban Sai Cinjin membuat pinceng merasa curiga, Nona Sie. Ketahuilah bahwa Sin-kai Lo Sian ini terkena racun yang amat berbahaya yang sungguh pun tidak sampai menewaskan nyawanya, tetapi membuat seluruh isi kepalanya menjadi kotor dan pikirannya tidak dapat bekerja baik. Pinceng sekarang hanya dapat menolong dia dari gangguan ketakutan sehingga ia tidak akan menjadi gila lagi. Agaknya, ketika ia minum racun atau dipaksa minum racun, ia berada dalam keadaan yang amat ketakutan atau ngeri. Entah apa yang terjadi dengan dia, akan tetapi nama Ban Sai Cinjin membuat pinceng hampir berani menuduh, kakek mewah itu yang menjadi biang keladi. Bagi Ban Sai Cinjin, segala macam kekejian di dunia ini mungkin dilakukan olehnya!”

Pada saat itu terdengar Lo Sian merintih perlahan. Lili cepat melompat untuk memegangi kepalanya, karena bila kepalanya bergerak-gerak ia kuatir kalau-kalau jarum yang masih menancap di lehernya itu akan melukainya. Thian Kek Hwesio juga menghampirinya dan melihat sebentar ke arah muka Lo Sian, membuka pelupuk matanya yang masih tertutup, lalu mengangguk puas.

“Syukurlah, baik hasilnya,” hwesio itu berkata perlahan, lalu ia mencabuti jarum-jarum itu.

Lili melihat dengan hati ngeri betapa jarum perak yang tadi menancap, sesudah dicabut ujungnya berwarna kehitam-hitaman, sedangkan jarum emasnya berwarna kehijauan!

Thian Kek Hwesio lalu memasukkan tiga butir pil merah ke dalam mulut Lo Sian dan memberi minum secawan arak sehingga obat itu dapat memasuki perut pengemis itu. Sampai lama terdengar Lo Sian mengeluh kesakitan, kemudian keluhannya berhenti dan jalan napasnya nampak tenang. Peluh memenuhi mukanya dan akhirnya dia membuka matanya.

“Di mana aku...?” tanyanya seperti orang baru bangun tidur.
“Buka ikatannya,” kata Thian Kek Hwesio kepada Lili yang segera membuka ikatan kaki tangan orang tua itu.

Lo Sian bangun dan duduk dengan pandang mata yang bingung dan Lili dengan girang sekali mendapat kenyataan bahwa pandang mata Lo Sian kini telah waras kembali, tidak liar seperti tadi.

“Ehh, siapakah kalian dan di manakah aku berada?” kembali Lo Sian bertanya sambil memandang kepada Thian Kek Hwesio dan Lili berganti-ganti.

Lili lalu maju dan memegang tangannya. “Suhu, lupakah kau kepadaku? Aku adalah Sie Hong Li atau Lili, anak Pendekar Bodoh! Aku muridmu, Suhu!”

Terbelalak mata Lo Sian memandang kepada gadis jelita yang berdiri di depannya sambil tersenyum itu. “Lili...? Siapakah Lili? Dan siapa pula Pendekar Bodoh? Aku.. serasa aku pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi sudah lupa sama sekali!”

“Suhu, kau telah minum racun berbahaya dan berada dalam keadaan tidak sadar sampai sepuluh tahun. Inilah penolongmu, yaitu Thian Kek Losuhu.”

Kini Lo Sian memandang kepada hwesio itu yang masih tersenyum kepadanya. Biar pun Lo Sian masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Lili, namun mendengar bahwa hwesio gendut itu sudah menolongnya, maka dia lalu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu.

“Omitohud!” Thian Kek Hwesio menyebut nama Buddha sambil cepat-cepat mengangkat bangun Pengemis Sakti, itu. “Tak percuma pinceng mengeluarkan tenaga membantumu, Sicu, ternyata kau adalah seorang yang berpribudi tinggi. Akan tetapi, ketahuilah bahwa semua orang yang baik hati tentu akan mendapat pertolongan Yang Maha Kuasa, biar pun dia tidak akan terlepas dari hukum karma. Marilah kita bicara di ruang depan, terlalu sempit di kamar ini.”

Ketiga orang itu lalu berjalan keluar dan ternyata bahwa pengobatan itu sama sekali tidak mempengaruhi keadaan kesehatan Lo Sian. Dia kini tidak gila lagi, akan tetapi dia juga tidak ingat akan kejadian di masa lampau.
Image result for PENDEKAR REMAJA
Setelah mereka berada di ruang depan, Thian Kek Hwesio lalu duduk di atas sebuah bangku dan Lo Sian berdiri di depannya. Lili lalu menceritakan keadaan Lo Sian dahulu untuk membantu bekas suhu-nya itu teringat kembali.

Akan tetapi betapa pun Lo Sian mengerahkan pikirannya, ia tidak dapat mengingat-ingat lagi! Tiba-tiba matanya terbelalak dan Lili merasa terkejut sekali, takut kalau-kalau bekas gurunya ini kumat lagi penyakit gilanya. Akan tetapi Thian Kek Hwesio memberi isyarat dengan tangannya agar supaya gadis itu tetap tenang.

Berkali-kali Lo Sian memijit-mijit kepalanya seakan-akan hendak membantu semua urat syarafnya agar bekerja kembali, dan tiba-tiba ia berkata keras, “Ah... yang teringat olehku hanya Lie Kong Sian...! Lie Taihiap itu telah... mati! Benar, Lie Kong Siang telah tewas... ahh, hanya itu yang teringat olehku. Lie Kong Sian telah tewas!” Dan Sin-kai Lo Sian lalu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya lalu ia menangis tersedu-sedu!

Lili hendak menghampirinya, akan tetapi dicegah oleh Thian Kek Hwesio, maka gadis itu hanya bertanya, “Suhu, kau maksudkan bahwa Lie-supek telah meninggal dunia?”

Suaranya terdengar gemetar, karena gadis ini sering kali mendengar dari ayah-bundanya bahwa Lie Kong Sian adalah suami dari Ang I Niocu dan bahwa pendekar besar she Lie itu adalah suheng dari ayahnya.

Lo Sian mengangguk-angguk sambil menahan tangis. “Benar, dia telah meninggal dunia. Lie Kong Sian yang gagah perkasa, yang berbudi mulia, telah mati...!”

Pada saat itu pula terdengar bentakan hebat dari atas dan nampak berkelebat bayangan orang yang maju menerkam tubuh Lo Sian dari atas!

“Pengemis gila! Jangan kau mengacau dengan omongan bohong! Ayahku tidak meninggal dunia!” Bayangan itu ternyata adalah Lie Siong.

Dengan hati tak karuan rasa karena kaget dan tidak percaya, pemuda ini yang semenjak tadi mengintai dari atas genteng, kemudian menubruk hendak menangkap Lo Sian. Dia melompat dengan gerakan yang disebut Harimau Menubruk Kambing dan langsung jari tangan kanannya meluncur hendak menotok pundak Lo Sian.

“Suhu, awas serangan!” Lili berseru kaget.

Baiknya Lo Sian masih belum kehilangan kegesitannya. Dia cepat memutar tubuh sambil miringkan pundak, menarik kaki kanan ke belakang dan dengan demikian ia terluput dari totokan itu. Sebelum Lie Siong menyerangnya lebih lanjut, bayangan Lili telah berkelebat dan berdiri menghadapi pemuda itu.

“Hem, kiranya kau!” seru gadis itu sambil mencibirkan bibirnya ketika ia mengenal bahwa pemuda ini adalah pemuda yang tadi bertempur dengan dia. “Kau datang mau apakah?”
“Suhu-mu yang gila ini sudah berbicara tidak karuan dan dia telah menghina ayah ketika menyatakan bahwa ayah telah mati! Ayah masih hidup di Pulau Pek-le-to dengan sehat, bagaimana dia berani mengatakan bahwa ayah telah mati?”
“Siapa bilang bahwa ayahmu mati, anak muda?” Lo Sian berkata dengan sabar. “Yang mati adalah Lie Kong Sian, bukan ayahmu...”
“Orang gila! Lie Kong Sian adalah ayahku!” sambil berkata demikian, Lie Siong kembali maju hendak menyerang Lo Sian.

Sementara itu, Lili memandang dengan bengong. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini adalah putera Lie Kong Sian, yang berarti putera Ang I Niocu pula! Timbul kegembiraannya tercampur kekecewaan. Ia gembira dapat bertemu dengan putera Ang I Niocu yang sudah sering kali disebut-sebut oleh ayah bundanya, akan tetapi dia kecewa karena tadi melihat pemuda itu mempermainkan seorang gadis cantik!

Juga di dalam hatinya tiba-tiba timbul niat ingin menguji kepandaian putera Ang I Niocu ini. Maka tanpa banyak cakap, ketika melihat betapa pemuda itu hendak menyerang Lo Sian, Lili segera bergerak maju menangkis pukulan itu. Sepasang lengan tangan beradu keras dan keduanya terhuyung mundur tiga langkah.

“Bagus, gadis liar!” Lie Siong membentak. “Agaknya kau masih belum mau mengaku kalah.”
“Aku mengaku kalah? Terhadap engkau? Hemm, bercerminlah dulu, manusia sombong. Kau mengaku putera pendekar besar Lie Kong Sian? Siapa sudi percaya? Putera Ang I Niocu tak mungkin sesombong engkau dan mata keranjang pula. Hah, tak tahu malu!”

Terbelalak mata Lie Siong memandang kepada Lili. Bagaimana gadis ini seakan-akan mengenal keadaan ayah-bundanya?

“Kau siapakah?” dia mengulang lagi pertanyaannya yang diajukan siang tadi, akan tetapi kembali Lill mengejek dengan bibirnya yang manis.
“Apa kau kira dengan mengaku sebagai putera Ang I Niocu, kau akan dapat menipuku untuk memperkenalkan nama? Hah, manusia rendah, biar kucoba dulu sampai di mana sih kepandaianmu!” Sesudah berkata demikian, Lili kemudian mencabut keluar pedang Liong-coan-kiam yang tajam.
“Bagus, gadis liar! Aku pun ingin sekali menyaksikan sampai di mana kepandaianmu maka kau berani membuka mulut besar!” Lie Siong juga mengeluarkan pedangnya yang aneh, yaitu Sin-liong-kiam. Maka tanpa dapat dicegah lagi kedua orang muda ini lantas melanjutkan pertempuran mereka yang siang tadi dilakukan dengan mati-matian!

Lili mempunyai Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-hoat yang luar biasa, yaitu ilmu pedang yang berdasarkan pada Ilmu Pedang Daun Bambu ciptaan ayahnya, sebab itu tentu saja ilmu pedangnya ini hebat bukan main. Begitu gadis ini menggerakkan pedangnya maka lantas berkelebatlah bayangan merah dari pakaiannya, sedangkan pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang putih menyilaukan mata!

Baik Lo Sian yang berdiri di sudut ruangan yang luas itu, mau pun Thian Kek Hwesio yang masih tetap duduk di bangku dengan sikap tenang, terpesona menyaksikan ilmu pedang yang hebat ini. Bahkan Thian Kek Hwesio biar pun tidak pandai ilmu silat akan tetapi yang sudah banyak sekali menyaksikan kepandaian orang-orang berilmu tinggi, menjadi kagum sekali hingga berkali-kali menyebut nama Buddha, “Omitohud! Alangkah hebatnya ilmu pedang ini!”

Akan tetapi, ketika Lie Siong juga menggerakkan tubuh dan pedangnya, maka silaulah mata mereka berdua memandang. Tubuh Lie Siong berubah menjadi bayangan putih, sedangkan pedangnya menjadi segulung sinar keemasan yang cukup hebat menyilaukan pandangan mata.

Begitu kedua sinar itu bertemu, terdengarlah suara nyaring dari beradunya kedua pedang dan berpijarlah bunga api yang indah sekali. Makin lama makin cepat kedua orang muda itu menggerakkan senjata mereka sehingga gulungan pedang berwarna putih dan kuning emas itu menjadi satu, bergulung-gulung saling membelit seolah-olah ada dua ekor naga sakti yang sedang bertempur seru.

Api lilin di atas meja yang terdapat di ruangan itu bergerak-gerak hampir padam karena tiupan angin senjata mereka berdua. Saking gembiranya dapat menyaksikan permainan pedang ini, Thian Kek Hwesio segera bangkit berdiri, mengambil tiga batang lilin lagi dan memasangnya semua di atas meja. Di dalam penerangan tiga batang lilin tambahan ini, nampak makin indahlah sinar pedang kedua orang muda keturunan orang-orang pandai itu.

Diam-diam kedua orang muda itu terkejut sekali. Baik Lili mau pun Lie Song amat kagum menyaksikan kehebatan kepandaian lawan. Kini Lili diam-diam percaya bahwa pemuda ini tentulah putera Ang I Niocu, oleh karena dia mengenal Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan Kiam-hwat dari Ang I Niocu yang pernah diturunkan oleh ayahnya, bahkan ayahnya pun dulu pernah memberi penjelasan kepadanya tentang ilmu pedang itu. Apa bila diadakan perbandingan, memang ilmu pedang dari Lili masih menang lihai, akan tetapi dalam hal ginkang dan tenaga lweekang, dia agaknya masih kalah latihan.

Sebaliknya, Lie Siong menjadi makin kagum melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh lawannya. Benar-benar ilmu pedang yang belum pernah disaksikannya selama hidupnya. Dulu ibunya pernah memberitahukan kepadanya tentang ilmu pedang ciptaan Pendekar Bodoh yang amat lihai dan agaknya inilah ilmu pedang itu!

Apakah gadis ini puteri Pendekar Bodoh? Ia menduga-duga dengan hati berdebar-debar dan makin tertariklah hatinya kepada gadis yang cantik jelita, manis, dan juga galak ini. Ia diam-diam harus mengakui bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis itu amat luar biasa perubahannya dan beberapa kali hampir saja ia menjadi korban.

Akan tetapi, yang membuat hatinya berdebar-debar aneh, adalah cara Lili mainkan ilmu pedangnya. Ia setengah dapat menduga bahwa bila lawannya mau, tentu ia sudah dapat dirobohkan! Akan tetapi tiap kali ujung pedang lawannya yang tajam itu telah mendekati tubuhnya, tiba-tiba gerakan pedang diubah sedemikian rupa sehingga tidak melukainya!

Ia menjadi marah, malu dan penasaran sekali. Sambil mengertak giginya, Lie Siong yang berwatak keras dan tak mau kalah ini lalu memutar pedangnya, mengirim totokan-totokan dengan lidah pedang naga dan menusuk dengan tanduk pedang naganya. Dia berusaha untuk membalas setiap serangan dengan pembalasan tak kalah lihainya.

Sudah tiga empat kali lawannya ‘mengampuni’ dirinya dengan merubah jalan pedangnya, maka dia pun ingin sekali mendesak lawannya dan kemudian memberi kesempatan pula pada lawannya untuk melepaskan diri dari ancaman pedangnya. Akan tetapi bagaimana ia dapat mendesak lawan yang mainkan ilmu pedang sehebat itu?

Ia tidak diberi kesempatan sama sekali bahkan pedang Lili makin gencar mengurungnya sehingga gulungan sinar kuning keemasan kini semakin mengecil, sebaliknya gulungan sinar pedang yang putih makin membesar dan menghebat gerakannya.

Lebih hebat lagi ketika Lili mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tahu-tahu tangan kiri gadis itu mengeluarkan sebuah kipas yang kecil dan indah. Lie Siong tadinya merasa heran dan menduga bahwa gadis itu hendak mempermainkannya dan menyombongkan diri dengan melayaninya sambil mengebut-ngebut kipas. Tidak tahunya begitu kipas itu mengebut, ia hampir berseru karena kaget dan heran.

Angin kipas itu menyambar sehingga membuat lidah pedang naganya terbentur kembali, disusul dengan pukulan kipas yang mempergunakan ujung gagangnya untuk menotok ke pundaknya. Lie Siong benar-benar merasa terkejut.

Tak pernah diduganya bahwa gadis lawannya itu demikian lihainya. Baru ilmu pedangnya saja sudah demikian hebat dan sukar baginya untuk mengalahkannya, apa lagi sekarang setelah gadis itu menggunakan sebuah kipas pula yang juga luar biasa. Siapakah gadis ini?

Dengan pedang dan kipasnya, Lili makin mengurung dan kini gadis ini menjadi bangga karena dapat mendesak pemuda itu. Kelak ia akan menceritakan kepada ayah bundanya betapa ia telah dapat mengalahkan putera dari Ang I Niocu! Dan tentu saja ia tidak mau melukai pemuda itu karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah putera dari Ang I Niocu. Ia hanya ingin mendesak kemudian memaksa pemuda itu untuk mengakui keunggulannya.

Akan tetapi, Lili sama sekali tidak tahu bahwa Lie Siong adalah seorang pemuda yang keras hati seperti ibunya dan tidak nanti pemuda ini mau mengaku kalah begitu saja! Rasa penasaran dan malu membuat Lie Siong menjadi marah dan nekad.

Ia pikir bahwa bila ia terlalu mengarahkan perhatian dan kepandaiannya pada penjagaan diri terhadap desakan gadis yang lihai itu, tentu ia takkan mampu membalas. Maka ia lalu memilih jalan nekad. Biarlah aku dirobohkan dan tewas, pikirnya, asal saja aku mampu membalasnya!

Sesudah berpikir demikian, dia lalu mencari kesempatan baik. Pada saat itu, tiba-tiba Lili menyerang dengan kedua senjata secara berbareng. Pedang Liong-coan-kiam meluncur cepat ke arah tenggorokannya dan kipas itu kini tertutup, dipergunakan untuk menotok lambungnya! Serangan berganda yang amat berbahaya dan agaknya sangat sukar untuk ditangkis atau dielakkan lagi.

Akan tetapi, Lie Siong tidak mau mempedulikan dua senjata lawannya yang mengancam dirinya ini, sebaliknya dia lalu mempergunakan Sin-liong-kiam untuk menyapu kedua kaki Lili! Pikirnya, kalau senjata-senjata lawannya diteruskan, tentu sedikitnya dia akan dapat mematahkan sebuah kaki lawan!

Lili merasa terkejut sekali. Tidak pernah disangkanya bahwa lawannya mengambil jalan nekad seperti itu! Dia lalu berseru keras dan kedua kakinya melompat ke atas. Dengan sendirinya kipasnya tidak mengenai sasaran dan pedangnya yang tak dapat ditariknya kembali itu tidak mengenai leher lawan, akan tetapi hanya menyerempet pundak kanan Lie Siong!

Lie Siong merasa betapa pundaknya menjadi perih dan sakit sekali, juga melihat darah mengalir dari pundaknya. Akan tetapi ia tidak mempedulikan hal ini dan saat pedangnya dapat dielakkan oleh kaki Lili yang melompat ke atas, dia lalu menggerakkan pedang itu sehingga lidah dari pedang naga itu dengan gerakan yang amat tak terduga telah melibat sepatu kiri di kaki Lili!

Gadis itu terkejut dan hendak menarik kakinya. Akan tetapi pada saat ia menggerakkan kaki kirinya, Lie Siong telah membetot sehingga sepatu kiri itu terlepas dari kaki Lili dan masih terlibat oleh lidah pedang naga itu!

“Bangsat! Kembalikan sepatuku!” Lili berseru keras.

Akan tetapi Lie Siong yang merasa sudah mampu membalas hinaan yang diterimanya dalam pertempuran itu, yaitu hinaan yang berupa ‘pengampunan’ berkali-kali dari desakan pedang, segera membawa sepatu itu dan melompat keluar dari situ.

Lili hendak mengejar, akan tetapi tanpa sepatu, kaki kirinya terasa sakit sekali menginjak lantai yang kasar. Pada saat itu, dari luar rumah kuil itu terdengar seruan Lie Siong,

“Kau harus membayar penghinaan dan kesombonganmu dengan sepatumu! Tak mudah mendapatkan sepatu yang masih dipakai dari puteri Pendekar Bodoh yang ternyata tolol dan bodoh melebihi ayahnya dan sombong pula!”

Lili hampir menangis saking jengkelnya dan melompat keluar.

“Kubunuh kau, bangsat rendah!” makinya, akan tetapi begitu kakinya menginjak batu-batu tajam, ia mengeluh, melompat kembali ke ruang itu, duduk di atas sebuah bangku dan... menangis!

Thian Kek Hwesio datang menghampiri Lili dan menghiburnya, “Nona Sie, mengapa kau menangis? Bukankah kau telah dapat mengusirnya?”
“Dia... manusia kurang ajar itu... dia sudah membawa pergi sebuah sepatuku!” jawab Lili masih menangis.

Sesungguhnya, kejadian perampasan sepatu tadi sangat cepatnya sehingga mata Thian Kek Hwesio yang tidak terlatih itu sama sekali tidak melihatnya. Kini dia memandang ke arah kaki kiri Lili dan dia berseru kaget,

“Omitohud...! Bagaimana ada laki-laki yang begitu kurang ajar? Nona Sie, apakah betul ucapanmu tadi bahwa dia adalah putera Ang I Niocu? Pinceng pernah mendengar nama Ang I Niocu yang terkenal sekali.”

Akan tetapi Lili tidak dapat menjawab, hanya melanjutkan tangisnya. Hatinya mangkel sekali dan ingin dia dapat menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya!

“Aku tidak tahu siapa Ang I Niocu dan siapa pula pemuda itu, tetapi ilmu kepandaiannya memang hebat,” tiba-tiba Lo Sian berkata. “Aku masih ingat kepada Lie Kong Sian dan agaknya pemuda itu memang patut menjadi putera Lie Kong Sian. Ilmu sitatnya tinggi dan tadi dia merampas sepatumu hanya untuk membalas penghinaan yang berkali-kali kau lakukan kepadanya.”

Thian Kek Hwesio memandang heran kepada pembicara ini, “Eh, Sicu, apa maksudmu? Mengapa kau menyatakan bahwa Nona Sie telah menghinanya berkali-kali?”

Lo Sian yang telah waras pikirannya dan memiliki pandangan yang lebih awas dari Thian Kek Hwesio berkata tenang, “Lo-suhu, di dalam pertempuran tadi, Nona ini memang selalu menjadi pendesak dan lebih lihai kepandaiannya. Akan tetapi Nona ini sengaja tak mau melukai dan merobohkan lawan, malah selalu memberi ampun dan menarik kembali serangannya pada saat pedangnya akan mengenai sasaran. Di dalam sebuah pibu, tentu saja hal ini dianggap gerakan yang amat menghina dan merendahkan lawan. Bagi orang gagah, lebih baik dirobohkan dari pada diberi ampun dan diberi kesempatan melepaskan diri dari ancaman senjata!”

Merahlah wajah Lili sesudah mendengar ucapan Lo Sian ini. Tidak disangkanya bahwa suhu-nya masih bermata setajam itu dan dapat melihat semua gerakannya! Akan tetapi, hwesio gendut itu menggeleng-geleng kepala dan menghela napas berkati-kali.

“Kalian orang-orang dunia persilatan ini benar-benar aneh sekali! Untung pinceng tidak pernah mempelajari ilmu silat, karena kalau pinceng dulu mempelajarinya, entah sudah berapa kali pinceng harus berkelahi seperti binatang buas!”

Terpaksa Lili menerima pemberian Thian Kek Hwesio, yaitu sepasang sepatu hwesio yang besar. Dia memotong dan menjahit lagi sepatu itu, dikecilkan untuk dapat dipakai oleh sepasang kakinya yang kecil mungil. Kemudian ia membujuk kepada Lo Sian untuk ikut dengan dia ke rumah ayah-bundanya di Shaning.

“Aku tidak kenal siapa adanya ayahmu yang bernama Pendekar Bodoh itu, akan tetapi oleh karena aku yakin bahwa dahulu tentu aku pernah mengenalmu dan tahu bahwa kau adalah seorang yang mulia, maka biarlah aku ikut dengan kau, Nona.”
“Suhu, mengapa kau menyebutku nona saja? Sungguh tidak enak bagiku. Sebutlah saja namaku seperti dulu, yaitu Lili!” kata Lili cemberut.

Lo Sian tersenyum. Air mukanya mulai berseri dan bercahaya seakan-akan kehidupan baru memasuki tubuhnya. Ia merasa gembira dapat melihat kejenakaan, kemanjaan, dan kegagahan nona ini, maka ia lalu menjawab,

“Baiklah, Lili, walau pun aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau menyebutku Suhu, padahal kalau melihat kepandaianmu, lebih patut akulah yang menjadi muridmu!”

Demikianlah, setelah menanti sampai tiga hari akan tetapi tidak melihat kedatangan Hong Beng dan Goat Lan, Lili menjadi hilang kesabaran dan ia mengajak Lo Sian menuju ke Shaning kembali ke rumah orang tuanya.

Di sepanjang jalan tiada hentinya Lili menuturkan hal-hal yang terjadi pada waktu dahulu kepada Lo Sian, namun, Sin-kai Lo Sian mendengar semua ini sebagai hal yang baru sama sekali dan ia tidak ingat apa-apa melainkan kematian Lie Kong Sian! Ini pun tak ia ketahui sebab-sebabnya. Lupalah dia akan nama-nama seperti Ban Sai Cinjin, Hok Ti Hwesio, Mo-kai Nyo Tiang Le dan yang lain-lain.

********************
Mengapa Hong Beng dan Goat Lan yang sedang dinanti-nanti oleh Lili tidak juga datang menyusul ke kota Ki-ciu seperti yang telah mereka janjikan? Mari kita ikuti pengalaman mereka. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kedua orang muda ini menuju ke kota Ta-liong untuk memenuhi undangan pibu yang diterima oleh Hong Beng dari kelima ketua dari Hek-tung Kai-pang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hong Beng bersama Goat Lan sudah menuju ke tempat terbuka di mana kemarin harinya Hong Beng sudah menolong Lo Sian dari keroyokan para anggota Hek-tung Kai-pang. Ternyata ketika mereka tiba di tempat itu, di sana sudah berkumpul puluhan orang pengemis anggota Hek-tung Kai-pang dan semua orang itu telah membuat lingkaran.

Di tengah-tengah lingkaran, nampak sebuah meja butut dan beberapa buah bangku butut pula. Di belakang meja, lima orang nampak menduduki lima buah bangku, duduk berjajar bagaikan arca batu. Kelima orang ini bukan lain adalah lima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang yang sesungguhnya bukanlah saudara-saudara sekandung melainkan saudara-saudara angkat yang telah bersumpah sehidup semati. Selain dari pada ini, mereka juga merupakan saudara seperguruan, karena kelimanya adalah murid dari Hek-tung Kai-ong, pencipta dari Hek-tung Kai-pang dan ilmu tongkat hitam yang amat lihai.

Lima orang ketua ini kesemuanya berpakaian tambal-tambalan dan usia mereka antara empat puluh sampal lima puluh tahun. Setelah mengangkat saudara menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang, mereka sudah memakai nama baru dengan she (nama keturunan) Hek pula yaitu Hek Liong, Hek Houw, Hek Pa, Hek Kwi dan Hek Sai.

Semenjak lima saudara ini menemukan buku pelajaran silat dari guru mereka yang telah meninggal dunia, dan bersama-sama melatih lagi Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat dari kitab ini, kepandaian mereka meningkat tinggi sekali dan tiap kali ada pemilihan pengurus baru tiada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka! Baru menghadapi seorang di antara mereka saja sudah amat berat, apa lagi kalau menghadapi mereka berlima sekaligus!

Bagaimana pun juga, Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam ini mendapat nama baik di kalangan kang-ouw. Juga Ngo-hek-pangcu (Lima Ketua Hek) ini tidak tercela namanya, karena selama memegang pimpinan, mereka selalu berlaku adil dan juga melakukan perbuatan-perbuatan gagah.

Akan tetapi, tentu saja sebagai ketua-ketua dari perkumpulan seperti Hek-tung Kai-pang yang amat terkenal, mereka juga mempunyai keangkuhan. Ketika mereka tiba di Ta-liong dari kota raja dan mendengar bahwa anak buah mereka yaitu para kepala ranting dan cabang yang sudah berkumpul di situ, telah dihajar oleh seorang pemuda yang membela seorang pengemis golongan lain yang datang mengacau, mereka menjadi penasaran sekali. Maka diutuslah anak buah mereka untuk menantang pibu kepada pemuda itu.

Kini, pagi-pagi sekali Ngo-hek-pangcu telah bersiap sedia menunggu kedatangan orang yang ditantangnya. Melihat kedatangan dua orang muda, seorang pemuda tampan dan gagah bersama seorang gadis cantik jelita, maka kelima orang pangcu ini merasa heran dan juga secara diam-diam mereka merasa kagum. Inikah orangnya yang sudah dapat mengocar-ngacirkan para pemimpin ranting? Hampir tak dapat dipercaya!

Namun, sebagai orang-orang kang-ouw yang ulung, mereka tidak berani memperlihatkan sikap memandang rendah dan segera mereka bangun berdiri ketika melihat Hong Beng dan Goat Lan menghampiri mereka.

“Maafkan kami, sahabat muda yang gagah. Kami sebagai pengemis-pengemis hina dina dan miskin tentu saja tidak dapat menyambut kedatanganmu sebagai mana layaknya seorang tamu agung dihormati,” kata Hek Liong, ketua yang paling tua di antara kelima orang itu.

Merahlah telinga Hong Beng mendengar ucapan dan melihat sikap ini. Ia merasa betapa ‘tuan rumah’ ini terlalu berlebih-lebihan merendahkan diri dan mengangkatnya sebagai tamu agung. Akan tetapi Hong Beng memang berwatak sabar dan tenang, maka dia menjawab sambil menjura pula.

“Akulah yang minta maaf, Pangcu (Ketua)! Aku sebagai orang luar yang masih hijau dan bodoh, berani datang mengganggu ketenanganmu. Memang serba sulitlah kedudukanku, Pangcu. Tidak datang memenuhi panggilanmu, tentu akan mengecewakan hati Ngo-wi yang gagah, sebaliknya memenuhi undangan, berarti mengganggu rapat ini!”

Mendengar ucapan yang panjang lebar ini, serta melihat sikap pemuda yang tenang sekali itu, kelima ketua itu diam-diam makin mengindahkan sikap Hong Beng. Pemuda dengan sikap seperti ini tak boleh dipandang ringan, pikir mereka.

“Dan bolehkah kiranya kami bertanya, dengan keperluan apakah Nona ini ikut datang ke sini?”

Goat Lan tersenyum dan dengan jenaka sekali dia tersenyum kemudian menjura sambil menjawab, “Ngo-wi Pangcu (Lima Tuan Ketua), aku hanyalah seorang perantau yang menjadi sahabat baik orang muda ini. Ketika mendengar sahabat baikku ini mendapat undangan dari perkumpulan Hek-tung Kai-pang, hatiku amat tertarik sekali. Aku bersama kedua suhu-ku, Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, sudah sering kali mengunjungi orang-orang besar di dunia kang-ouw dan mengunjungi perkumpulan-perkumpulan orang gagah di dunia ini yang banyak macamnya. Akan tetapi, sungguh aku belum pernah bertemu dengan Perkumpulan Hek-tung Kai-pang yang sudah sangat tersohor di empat penjuru ini!”

Goat Lan sengaja memperkenalkan diri sebagai murid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, karena ia mengharapkan nama-nama kedua orang gurunya dapat melemahkan hati kelima orang pangcu itu sehingga permusuhan dapat dicegah. Memang gadis yang cantik ini tepat sekali perhitungannya, karena saat mendengar nama kedua orang tokoh persilatan yang tinggi dan tersohor namanya ini, kelima orang pangcu itu lalu berdiri dari tempat duduk mereka dan menjura ke arah Goat Lan.

“Ahh, sungguh mata kami seperti buta saja, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Silakan duduk, Lihiap (Pendekar Wanita), dan perkenalkan nama kami lima pangcu dari Hektung Kai-pang.” Kelima orang raja pengemis itu lalu memperkenalkan nama mereka seorang demi seorang.

Hong Beng juga memperkenalkan nama demikian pula Goat Lan. Berbeda dengan Goat Lan, Hong Beng tidak mau menceritakan siapa gurunya dan siapa pula orang tuanya. Ia ingin melihat bagaimana sikap raja-raja pengemis itu.

Akan tetapi setelah mempersilakan kedua orang tamunya itu mengambil tempat duduk, agaknya kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu tidak mempedulikan mereka lagi dan melayani orang-orang yang mulai datang, dan di antara para pendatang baru itu, nampak pula tiga orang pengemis yang membawa tongkat berbentuk ular. Mereka ini adalah para ketua Coa-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Ular) dari timur yang besar juga besar pengaruhnya.

Selain tiga orang ketua Coa-tung Kaipang ini, nampak juga seorang tosu tinggi kurus, dan seorang laki-laki setengah tua yang rambutnya dikuncir panjang ke belakang dan memakai topi bundar, sikapnya kasar dan berlagak. Tosu ini adalah seorang ahli silat yang bernama Beng Beng Tojin, seorang tokoh Bu-tong-san yang suka merantau. Ada pun orang bertopi bundar itu adalah seorang kasar yang terkenal sebagai ahli gwakang (tenaga kasar) dan ahli tiam-hoat (menotok jalan darah). Namanya Cong Tan dan dia memiliki julukan It-ci-sinkang (Si Jari Tangan Lihai).

Kelima saudara Hek yang menjadi ketua Hek-tung Kai-pang itu menyambut kedatangan lima orang ini dengan penuh penghormatan pula, akan tetapi mereka tidak dipersilakan duduk seperti Hong Beng dan Goat Lan.

Hong Beng dan Goat Lan saling pandang dan keduanya merasa heran mengapa tuan rumah tidak mempedulikan mereka lagi, dan bagaimanakah dengan pibu yang diajukan oleh kelima orang ketua itu? Bagi Hong Beng dan Goat Lan, memang mereka berharap supaya tidak terjadi salah paham atau permusuhan, akan tetapi mereka pun, terutama Hong Beng tidak akan merasa puas sebelum mencoba kepandaian kelima orang tokoh Hek-tung Kai-pang yang terkenal itu.

Setelah menyambut tamu-tamu yang baru datang, Hek Liong, saudara tertua dari kelima orang itu, lalu berkata dengan suara keras kepada para pemimpin Hek-tung Kai-pang yang hadir di situ.

“Kawan-kawan sekalian! Sebagaimana telah ditentukan kemarin, maka pemilihan ketua akan dilakukan hari ini. Oleh karena hari ini sudah tiba waktunya bagi kami yang sudah memenuhi tugas sebagai ketua, maka dengan ini kami menyatakan turun dari kedudukan ketua untuk menghadapi pemilihan baru. Nah, silakan kawan-kawan yang mempunyai calon untuk mengajukan calonnya!”

Setelah ketua mereka membuka rapat istimewa itu, maka ramailah suara para anggota perkumpulan pengemis itu. Ternyata bahwa kelima orang tamu yang datang itu, yaitu ketiga ketua Coa-tung Kai-pang, Beng Beng Tojin, dan Cong Tan, datang atas kehendak mereka sendiri dengan niat hendak mencoba merobohkan ketua lama untuk menduduki kedudukan ketua baru dari Hek-tung Kai-pang. Semua yang hadir dengan suara bulat memilih kelima saudara Hek sebagai ketua lagi.

“Kami memilih Ngo-hek-pangcu agar tetap menjadi ketua kami!” seru suara para hadirin dengan serentak.

Mendengar seruan para anggota Hektung Kai-pang ini, ketiga ketua Coa-tung Kai-pang itu segera berdiri dengan senyum mengejek. Mereka ini adalah ketua tingkat dua dari Coa-tung Kai-pang, dan usia mereka baru tiga puluh tahun lebih. Sikap mereka amat tinggi dan memandang rendah sedangkan mulut mereka selalu tersenyum seolah-olah menghadapi perkumpulan yang jauh lebih kecil dari pada perkumpulan mereka sendiri. Juga pakaian tambal-tambalan yang mereka pakai jauh berbeda dengan pakaian para pemimpin Hek-tung Kai-pang, karena biar pun pakaian mereka penuh tambalan, namun baik pakaian dasar mau pun tambalannya amat bersih!

“Cu-wi sekalian,” kata yang tertua di antara mereka, yaitu seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, “kami adalah anggota-anggota dewan pimpinan dari Coa-tung Kai-pang di timur yang mewakili perkumpulan kami. Kedatangan kami ini membawa maksud yang amat mulia. Menurut hasil perundingan dewan pengurus kami, maka sungguh tidak layak kalau di negeri ini terdapat terlalu banyak perkumpulan seperti yang kita sekalian dirikan. Mungkin Cu-wi sekalian juga pernah mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) dari Secuan bersama Lo-kai Hwe-koan (Rumah Perkumpulan Pengemis Tua) dari Shantung, keduanya sudah bergabung dan melebur perkumpulan mereka menjadi cabang dari perkumpulan kami Coa-tung Kai-pang yang terbesar dan jaya! Oleh karena itu, maka kedatangan kami ini merupakan wakil dari pada perkumpulan kami untuk minta Cu-wi sekalian menginsyafi hal ini dan melebur perkumpulan Hek-tung Kai-pang menjadi cabang pula dari Coa-tung Kai-pang kami!”

Ucapan ini menyatakan betapa sombongnya Si Muka Hitam itu. Kalau dia dengan suara membujuk minta agar supaya Perkumpulan Tongkat Hitam itu suka menggabungkan diri dengan Perkumpulan Tongkat Ular, ini masih bisa diterima. Akan tetapi ia menggunakan ucapan agar supaya Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam insyaf dan mau melebur diri menjadi cabang Coa-tung Kai-pang! Sungguh-sungguh tak melihat muka para pemimpin Hek-tung Kai-pang.....
Dengan wajah berubah merah, Hek Pa, yaitu orang ketiga dari kelima Ketua Hek-tung Kai-pang, bangkit berdiri dan menudingkan jari tangan kirinya kepada ketiga orang tamu itu sambil berkata,

“Orang-orang Coa-tung Kai-pang sombong amat! Siapakah yang tak mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang dan Lo-kai Hwe-koan menggabungkan diri karena kalian paksa dengan kekerasan? Dan siapa pula yang tidak mendengar bahwa Coa-tung Kai-pang mempunyai banyak anggota yang sering melakukan pelanggaran dan kejahatan, tidak patut sebagai perkumpulan pengemis pendekar? Orang lain boleh kalian gertak, akan tetapi kami para pengurus Hek-tung Kai-pang tak gentar menghadapi tongkat ularmu!”

Setelah mendengar ucapan Sam-pangcu (Ketua ke Tiga), para pengemis tongkat hitam yang berjumlah empat puluh orang lebih itu serentak berseru, ”Betul! Usirlah orang-orang Coa-tung Kai-pang ini!” Dan dengan tongkat hitam diangkat tinggi-tinggi mereka serentak maju mengurung!

Akan tetapi ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu masih saja bersikap tenang, bahkan kini senyum mereka melebar sombong.

“Hemm, begitukah kegagahan Hek-tung Kai-pang? Hendak mengandalkan jumlah besar mengeroyok kami tiga orang? Alangkah rendah dan pengecutnya!”

Mendengar ejekan ini, Hek Liong lalu berdiri dan dengan gerak tangannya dia meminta kepada semua anak buahnya untuk mundur. Sesudah keadaan menjadi reda, dia lalu menghadapi Si Tinggi Besar itu sambil menantang,

“Dengarlah, kawan! Kami seluruh anggota dan pengurus Hek-tung Kai-pang, tidak mau menerima usulmu supaya menggabungkan perkumpulan kami dengan perkumpulanmu. Habis, kau mau apa?”
“Hek-pangcu,” kata Si Muka Hitam yang tinggi besar itu, “apakah kau lupa bahwa hari ini adalah hari pemilihan pengurus baru perkumpulanmu? Aku mendengar bahwa siapa saja yang dapat mengalahkan Hek-tung-hoat, maka dialah yang berhak menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang. Nah, kami bertiga juga hendak mencoba-coba kelihaian Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat!”
“Bagus!” Tiba-tiba Beng Beng Tojin melangkah maju. “Inilah baru ucapan orang gagah. Untuk apa bertengkar mulut seperti wanita? Aturan harus dijalankan dan dipegang teguh. Kedatangan pinto juga ingin menguji kehebatan Hek-tung-hoat dan jika pinto beruntung, pinto akan merasa senang menjadi pangcu!”
“Aku pun datang untuk mencoba peruntungan menjadi ketua perkumpulan ini!” tiba-tiba It-ci-sinkang Cong Tan menyela.

Diam-diam Hong Beng dan Goat Lan saling pandang dengan perasaan geli dan heran. Bagaimanakah ada begitu banyak orang yang memperebutkan kedudukan sebagai ketua perkumpulan para pengemis? Apakah enaknya menjadi ketua pengemis?

Ada pun kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang ketika mendengar ucapan ini, lalu berdiri merupakan sebuah barisan dan Hek Liong sebagai orang tertua berkata keras,

“Bagus sekali! Kalian semua telah mendengar pilihan para pemimpin cabang bahwa kami berlima masih tetap dikehendaki untuk memimpin Hek-tung Kai-pang. Nah, siapa yang menyatakan tidak setuju boleh maju ke muka!”

Melihat sikap kelima orang yang maju bersama ini, Beng Beng Tojin mengerutkan kening dan berkata lemah, “Apa...? Kalian berlima maju berbareng?”

Juga It-ci-sinkang CongTan memperlihatkan rasa gentarnya. “Ah, ini tidak adil!” katanya.

Hek Liong lalu tersenyum mengejek, “Ketahuilah bahwa kami berlima merupakan saudara seperguruan yang sudah bersumpah sehidup semati, senasib sependeritaan. Dan kalian tadi mendengar sendiri bahwa yang diangkat menjadi pangcu adalah kami berlima, maka andai kata seorang di antara kalian ada yang dapat mengalahkan aku masih ada empat orang saudaraku yang harus dikalahkan pula. Oleh karena itu, kami merupakan sebuah kelompok yang tak dapat dipisah-pisahkan. Terserah siapa yang ingin merobohkan kami, boleh maju. Yang merasa takut tak usah mencari penyakit!”

Ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu tadinya memandang kepada Beng Beng Tojin dan Cong Tan dengan senyum menghina, akan tetapi tiba-tiba Si Muka Hitam itu mendapat akal baik.

Ia dan kawan-kawannya hanya tiga orang sedangkan pihak lawan ada lima orang, belum ditambah dengan para pemimpin-pemimpin cabang Hek-tung Kai-pang yang nampaknya berpihak kepada lima orang ketua mereka. Mengapa dalam keadaan kalah tenaga ini dia tidak menarik tangan kedua orang ini?

“Ji-wi Eng-hiong,” katanya kepada tosu serta orang bertopi bundar itu, “Ji-wi jauh-jauh sudah datang ke sini dan biar pun antara Ji-wi dengan kami bertiga tidak ada hubungan, namun maksud kedatangan kita di sini adalah sama. Sekarang dengan secara licik tuan rumah hendak maju berlima, kenapa kita tidak bergabung saja sehingga kita pun menjadi lima orang? Bila kita menang, percayalah bahwa kami bertiga tidak akan berlaku curang seperti tuan rumah dan kita kelak boleh menentukan siapa di antara kita yang paling cakap untuk menjadi ketua!”

Tosu dan orang bertopi itu saling pandang, kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus, memang demikianlah baru adil!”

Sementara itu, kelima orang she Hek itu telah dapat mengerti kecerdikan pihak Coa-tung Kai-pang, namun mereka tidak takut.

“Baiklah, lekas kalian memperlihatkan kepandaian, banyak bicara tak ada guna!” Setelah berkata demikian, secara otomatis ia beserta kawan-kawannya kemudian berpencar dan membentuk sebuah barisan segi lima.
“Hayo serang!” kata Si Muka Hitam, pemuka dari pemimpin Coa-tung Kai-pang sambil menggerakkan tongkat ularnya.

Beng Beng Tojin tertawa bergelak, lantas mengeluarkan senjatanya yang istimewa yaitu sepasang sumpit gading yang panjang dan berujung runcing, sedangkan It-ci-sinkang Cong Tan juga mengeluarkan senjatanya yang berupa golok. Dengan berbareng, kelima orang tamu ini menyerang pihak Hek-tung Kai-pang.

Indah sekali gerakan kelima saudara Hek itu ketika mereka menyambut lawan-lawannya. Tubuh mereka bergerak secara amat teratur dan begitu tongkat hitam mereka menangkis senjata lawan, mereka lalu menggerakkan kaki dengan gerakan yang sama dan dengan teratur sekali mereka lalu menyerang lawan di sebelah kiri masing-masing, bukan lawan yang rnenyerang tadi!

“Moi-moi,” kata Hong Beng perlahan kepada Goat Lan yang duduk di sebelah kanannya, “perhatikan baik-baik. Lima saudara Hek itu menggunakan barisan yang teratur sekali.”

Goat Lan mengangguk sambil memandang penuh perhatian. “Memang dugaanmu tepat, Koko. Mereka tidak mau melayani lawan yang menyerang, sebaliknya menyerang orang di sebelah kiri sehingga pihak lawan menjadi kacau dan perhatian mereka pecah. Lihat, benar-benar mereka lihai dan sukar dilawan! Meski pun lima orang melawan lima, namun pihak lawan selalu akan merasa terkurung dan terkeroyok!”

“Aku pernah mendengar dari Suhu mengenai Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat, dan melihat pergerakan barisan mereka, kalau tidak salah mereka itu mempergunakan barisan yang hampir sama dengan Ngo-bun-tin.”
“Apakah ada persamaannya dengan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Anasir)?” tanya Goat Lan sambil menonton pertempuran yang kini berjalan seru itu.
“Tidak sama,” jawab Hong Beng. “Ngo-bun-tin (Barisan Lima Pintu) memiliki lima pintu, yaitu Thian-bun (Pintu Langit), Tee-bun (Pintu Bumi), Hai-bun (Pintu Laut), Hong-bun (Pintu Angin) dan In-bun (Pintu Awan). Kedudukan mereka kuat sekali karena tiap kali seorang di antara mereka diserang dan menangkis, maka kawan di sebelah kanan atau kirinya lalu maju menyerang lawan yang menyerangnya itu, dengan demikian serangan lawan dapat langsung diputuskan.”

Kedua orang muda itu lalu memperhatikan jalannya pertempuran. Ternyata bahwa Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat memang hebat sekali. Tongkat hitam di tangan kelima orang itu bergerak bagaikan lima ekor naga hitam yang mengamuk dan setiap kali tongkat mereka beradu dengan senjata lawan, tentu terjadi benturan yang amat keras dan jelas nampak bahwa tenaga kelima ketua Hek-tung Kai-pang itu masih menang setingkat.

Kecuali apa bila yang ditangkis itu adalah golok di tangan It-ci-sinkang Cong Tan, karena ternyata bahwa Si Jari Lihai ini benar-benar kuat sekali tenaganya. Hampir saja karena kurang hati-hati, tongkat di tangan Hek Sai saudara termuda dari lima ketua itu, terlepas dari pegangan ketika ia menangkis golok Cong Tan!

“Ngo-hek-pangcu tentu akan menang,” Goat Lan berkata setelah menonton pertempuran yang sudah berjalan dua puluh jurus lebih itu.

“Memang, kepandaian pihak tamu masih belum dapat menyamai kelihaian tuan rumah, akan tetapi kulihat Ilmu Tongkat Coa-tung-hoat tidak kalah lihai dari pada Hek-tung-hoat, hanya saja gerakan tiga orang itu masih kurang sempurna. Mereka itu hanya tokoh-tokoh kedua saja, kalau ketua-ketua dari Coa-tung Kai-pang tentu akan hebat sekali permainan tongkatnya,” kata Hong Beng.

Memang kedua orang muda ini mempunyai pandangan yang amat tajam dan awas, hal ini mungkin disebabkan kepandaian mereka masih jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaian mereka yang sedang bertempur. Tepat seperti yang mereka duga, kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang mulai mendesak lawan mereka dan yang pertama kali terkena pukulan adalah It-ci-sinkang Cong Tan.

Pada satu saat yang amat tepat, yaitu ketika goloknya menyambar ke arah leher Hek Kwi, orang ke empat dari Ngo-pangcu ini segera menangkis dan menggunaan tongkat hitamnya untuk menempel golok. Hal ini dapat terjadi oleh karena dalam tangkisan ini ia menggunakan gerakan coan (memutar) sehingga Cong Tan merasa sukar untuk menarik kembali goloknya.

Pada saat itu, bagaikan telah diatur sebelumnya, tongkat hitam Hek Pa sudah meluncur dan menotok pundak Cong Tan pada jalan darah Keng-hin-hiat! Cong Tan lalu memekik kesakitan dan merasa betapa seluruh tubuhnya terlepas dari pegangan dan sekali Hek Kwi menendang, tubuhnya terlempar keluar dari kalangan pertempuran dan tidak dapat bergerak pula!

Tidak lama setelah Cong Tan roboh, kembali Beng Beng Tojin menjadi korban di tangan Hek Liong, saudara yang paling lihai ilmu tongkatnya. Pada saat Hek Liong menusukkan tongkatnya ke dada tosu itu, Beng Beng Tojin kemudian menggerakkan sepasang sumpit gadingnya untuk menjepit dan menggunting tongkat lawan. Jepitan sumpitnya ini sangat keras, disertai tenaga lweekang yang hebat, akan tetapi ternyata bahwa ia masih kalah tenaga.

Hek Liong membuat tongkat dalam tangannya tergetar dan begitu tongkat tadi bergetar keras, maka jepitan itu dengan sendirinya terlepas. Akan tetapi tongkat itu masih terus bergetar di antara kedua sumpit itu sehingga Beng Beng Tosu tidak berani sembarangan menarik sumpitnya karena takut kalau-kalau dia kalah cepat dan kalau-kalau tongkat itu akan mendahuluinya dengan serangan hebat. Akan tetapi, pada saat itu, Hek Houw yang sudah menduduki Tee-bun (Pintu Bumi) dengan cepat sudah mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambungnya. Beng Beng Tojin menjatuhkan diri ke belakang dan…

“Brettt!”

Jubahnya yang lebar itu tertusuk oleh tongkat hingga robek lebar sekali, sedangkan kulit pahanya ikut pula robek dan terluka! Masih untung baginya bahwa kedua saudara Hek ini tidak bermaksud mencelakakannya dan tidak mengejarnya dengan serangan lain.

Tosu ini melompat ke belakang, mengebut-ngebutkan bajunya dengan muka merah, lalu berkata, “Pinto mengaku kalah!” Kemudian tubuhnya berkelebat cepat dan lenyap dari situ!

Kini tinggallah ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang melakukan perlawanan hebat dan mati-matian. Memang betul seperti yang dikatakan oleh Hong Beng tadi. Ilmu tongkat mereka benar-benar lihai dan ganas sekali. Tongkat berbentuk ular pada tangan mereka itu nampak seakan-akan hidup dan tongkat itu seperti ular asli yang bergerak melenggak-lenggok dengan gerakan amat tak terduga-duga.

Namun, tadi dibantu oleh orang lain yang cukup tinggi kepandaiannya, mereka masih tak sanggup mengalahkan kelima ketua Hek-tung Kai-pang, apa lagi sekarang, mereka yang hanya bertiga itu terkurung oleh kelima orang lawannya yang tangguh. Mereka terdesak hebat dan terkurung rapat sehingga mereka hanya dapat memutar tongkat mereka untuk mempertahankan diri tanpa diberi kesempatan membalas serangan.

Ketika Hong Beng dan Goat Lan mengerling ke arah para anggota Hek-tung Kai-pang, pada wajah mereka terbayang kegembiraan besar melihat kemenangan ketua mereka, akan tetapi tak seorang pun yang menggetarkan suara mau pun gerakan. Wajah mereka tetap tegang dan siap siaga seperti tadi sehingga diam-diam dua orang muda ini menjadi kagum. Hal ini membuktikan pula bahwa Hek-tung Kai-pang memang benar merupakan perkumpulan yang berdisiplin baik.

Tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang sudah sangat terdesak itu semakin lama semakin lemah gerakan tongkat mereka. Memang harus dipuji keuletan mereka karena sampai sebegitu lama belum juga kelima orang lawan mereka bisa merobohkan mereka. Pertahanan mereka kuat sekali.

Tiba-tiba Si Muka Hitam berseru keras, “Robohkan mereka!”

Dan komando ini diikuti oleh gerakan mereka menuju ke arah para lawan dengan tongkat mereka dan tiba-tiba saja dari kepala tongkat itu menyambar keluar senjata rahasia yang berwarna hitam!

“Celaka, Koko!” seru Goat Lan yang hendak melompat, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Hong Beng.
“Tenanglah, Moi-moi,” kata pemuda itu. Karena sangat tegang, maka Hong Beng tanpa disadarinya pula telah memegang lengan tunangannya sehingga ketika Goat Lan merasa betapa lengannya dipegang dan tidak segera dilepaskan pula, tiba-tiba mukanya berubah merah sekali!
“Koko, lepaskan,” bisiknya, “tak malukah dilihat orang?”

Barulah Hong Beng sadar bahwa semenjak tadi dia telah memegang lengan orang yang berkulit halus dan hangat itu, maka dengan muka kemerahan dan mulut tersenyum malu dia cepat melepaskan lengan tunangannya. Sepasang mata mereka bertemu untuk saat pendek, karena keduanya segera kembali melihat ke tempat orang-orang bertempur.

Dari sikap kedua orang muda tadi, ternyata bahwa watak Hong Beng lebih tenang dan ketenangannya ini membuat pandangannya lebih awas dari pada Goat Lan. Goat Lan yang merasa tegang dan kuatir, menyangka bahwa ketua-ketua Hek-tung Kai-pang akan terkena celaka, akan tetapi Hong Beng yang melihat sikap Ngo-hek-pangcu itu maklum bahwa mereka telah siap dan tidak akan mudah diserang dengan senjata rahasia begitu saja.

Memang betul, pada waktu kelima orang ketua she Hek itu melihat benda-benda hitam menyambar, serentak mereka segera mendekam ke bawah, lantas dengan gerakan yang berbareng bagaikan telah diatur lebih dahulu, tongkat-tongkat mereka menyapu ke arah kaki ketiga lawan itu.

Terdengar suara bak-buk dah terjungkallah tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu! Tulang kaki mereka sudah terpukul hebat dan walau pun tenaga lweekang mereka telah mencegah tulang kaki itu remuk, akan tetapi pukulan itu cukup keras sehingga untuk beberapa lama mereka takkan dapat bangun karena tulang kaki mereka terasa sakit dan linu sekali. Senjata rahasia yang keluar dari tongkat mereka tadi adalah jarum-jarum berbisa yang amat berbahaya!

Setelah dapat berdiri lagi, ketiga orang itu lalu memungut tongkat ular yang tadi terlepas dari pegangan, kemudian mereka berkata kepada tuan rumah, “Kami sudah menerima kalah, akan tetapi harap kalian siap menghadapi pembalasan ketua-ketua kami!” Setelah demikian, dengan terpincang-pincang ketiga orang itu lalu pergi dari situ.

Barulah terdengar sorak-sorai dari para anggota Hek-tung Kai-pang karena kemenangan mutlak dari ketua-ketua mereka ini. Akan tetapi Hek Liong kemudian mengangkat tangan memberi tanda kepada mereka agar supaya diam.

“Kawan-kawan,” katanya dengan wajah muram, “hari ini adalah hari yang sial bagi kita, tidak boleh kita bersuka-ria karenanya. Ketahuilah bahwa baru tiga orang dari Coa-tung Kai-pang tadi saja sudah demikian lihai, padahal mereka itu adalah orang-orang dari tingkat kedua. Apa bila ketua mereka yang datang, belum tentu kami berlima akan kuat menghadapinya. Sekarang akibat kekalahan mereka tadi, pihak Coa-tung Kai-pang tentu tidak akan tinggal diam. Oleh karena itu, kita harus berjaga-jaga dan betapa pun juga dari pada harus tunduk kepada Coa-tung Kai-pang yang jahat, lebih baik kita hancur lebur!”
“Setuju! Setuju!” terdengar jawaban para pengemis yang bersemangat gagah itu.

Kemudian, Hek Liong berpaling kepada Hong Beng dan dengan suara kereng ia berkata, “Orang muda, tadi kami tak berani menantangmu oleh karena kami tadi untuk sementara meletakkan jabatan. Setelah sekarang kami diangkat kembali, maka menjadi kewajiban kamilah untuk menegurmu! Kau kemarin telah melukai orang-orang kami dan setelah kau melihat kelihaian kami tadi, apakah kau tidak lekas-lekas minta maaf? Ketahuilah, bahwa kami bukanlah orang-orang yang suka menaruh dendam, asal saja kau suka minta maaf, kami akan memandang muka Lihiap murid Sin Kong Tianglo yang menjadi sahabatmu ini untuk memaafkan kau dan melupakan segala peristiwa kemarin.”

Mendengar ucapan yang mengandung sedikit kebanggaan atas kemenangan tadi, Hong Beng tersenyum. Akan tetapi ia tidak menjawab, sebaliknya, ia menunjuk ke arah tubuh It-ci-sinkang Cong Tan yang masih rebah di atas tanah tak bergerak.

“Ehh, Hek-pangcu, apakah kau lupa orang itu? Apakah kau akan membiarkan dia mati di situ?”

Barulah Hek Liong beserta adik-adiknya teringat akan Cong Tan yang tadi sudah terkena totokan, maka cepat mereka menghampiri Cong Tan.

“Pergilah kau dari sini!” kata Hek Liong sambil menepuk pundak orang itu.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa tubuh Cong Tan masih saja kaku tak dapat bergerak dengan kedua mata melotot! Dia mengira bahwa tepukannya untuk membebaskan totokannya sendiri tadi kurang tepat, maka dia lalu menepuk lagi, bahkan mengurut urat pundak bekas lawan itu. Akan tetapi sia-sia belaka, tubuh Cong Tan tetap kaku tak dapat bergerak.

Lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu menjadi terheran-heran sekali dan seorang demi seorang mereka lalu turun tangan untuk membebaskan Cong Tan dari pengaruh totokan. Namun percuma saja, tak seorang pun di antara mereka dapat menolong.

“Celaka!” terdengar Hek Liong berkata. “Yang tadi terkena totokan adalah jalan darahnya Keng-hin-hiat, kalau tidak dapat dilepaskan ia akan mati dalam waktu setengah hari!”

Tiba-tiba terdengar angin menyambar dan ketika lima orang itu menengok, ternyata Goat Lan telah melompat ke tempat itu. Gadis ini amat tertarik melihat keadaan yang aneh itu, dan sebagai seorang ahli pengobatan murid Sin Kong Tianglo, tentu saja ia amat tertarik dan ingin menyaksikan dengan mata sendiri.

“Ngo-wi harap mundur dan biarkan aku memeriksanya!” kata gadis ini dan kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu lalu melangkah mundur karena mereka maklum bahwa dara jelita ini adalah seorang ahli pengobatan yang amat terkenal di dunia kang-ouw.

Goat Lan segera berjongkok dan memeriksa keadaan tubuh Cong Tan yang masih kaku. Beberapa kali ia memijit pundak yang tertotok itu dan akhirnya ia tersenyum, lalu berkata kepada para ketua yang masih merubungnya dengan muka heran.

“Ngo-wi Pangcu, ketahuilah bahwa orang ini sudah pernah meyakinkan Ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah), akan tetapi pelajaran yang dilatihnya itu belum sempurna benar. Ia telah mempelajari ilmu itu di bagian penggunaan hawa tubuh untuk membuyarkan totokan pada jalan darah. Maka pada waktu tadi tertotok roboh, dia telah berusaha mengumpulkan hawa di tubuhnya untuk membuka totokan itu, akan tetapi oleh karena ia belum paham betul, maka penggunaannya salah, tidak diatur bersama dengan pernapasannya. Karena itu maka sekarang hawa itu berkumpul di pundaknya, menutup jalan darahnya yang masih tertotok sehingga ketika Ngo-wi mencoba melepaskannya, tentu saja terhalang oleh hawa tubuh yang berkumpul ini!”

Sesudah berkata demikian, Goat Lan lalu mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari perak dan dengan gerakan cepat sekali dia menusukkan ujung tusuk konde yang runcing itu pada pundak Cong Tan yang tertotok.

“Aduuuh...!”

It-ci-sinkang Cong Tan pulih kembali. Orang ini lalu bangun berdiri, memandang kepada Goat Lan dengan mata melotot lalu memaki,

“Perempuan kurang ajar! Kau sudah melukai serta mempermainkan aku dalam keadaan aku tidak berdaya! Kau harus menebus kekurang ajaranmu itu!” Sambil berkata demikian Cong Tan yang galak segera menyerang Goat Lan dengan jari tangan terbuka, menotok dada gadis itu! Goat Lan sempat melompat ke belakang sambil memandang heran.

Kelima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang itu menjadi marah dan mendongkol sekali. Ditolong orang tidak berterima kasih, bahkan lalu menyerang penolongnya, aturan dari manakah ini? Akan tetapi melihat gerakan mereka, Goat Lan tersenyum dan berkata, “Biarlah Ngo-wi Pangcu, biar ia melepaskan kemarahannya kepadaku!”

Maka terpaksa kelima orang she Hek itu lalu mundur, membiarkan Goat Lan menghadapi It-ci-sinkang Cong Tan yang marah-marah. Memang Cong Tan tadi merasa mendongkol dan malu sekali karena dia yang tadinya menyombongkan kepandaiannya dan hendak merebut kedudukan pangcu dari Hek-tung Kai-pang, baru beberapa jurus saja telah kena tertotok seperti arca bergelimpangan!

Dan pada saat Goat Lan menolongnya, dia sebetulnya sama sekali tidak mengerti bahwa dirinya ditolong dan dikiranya bahwa nona itu mempermainkannya dan sengaja melukai pundaknya, maka ia pun menjadi semakin marah. Untuk melampiaskan kedongkolannya kepada para ketua Hek-tung Kai-pang, ia tak berani karena merasa tidak dapat menang, maka kini dia sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya dengan menyerang gadis ini. Mustahil ia akan kalah menghadapi seorang gadis muda seperti ini!

“Rasakanlah pembalasan dari It-ci-sinkang Cong Tan!” serunya sambil menyerbu Goat Lan yang berdiri dengan tenang itu.

Cong Tan memang bertenaga besar, ia ahli tenaga gwakang dan setiap hari melatih diri di rumahnya dengan mengangkat dan mempermainkan batu-batu besar yang beratnya ratusan kati, juga dia telah melatih jari-jari tangannya sehingga jari-jari tangan itu dapat memukul hancur batu! Yang paling hebat adalah dua jari tangan kanan dan kirinya, yaitu telunjuk dan jari tengah, karena dia bersilat dengan jari-jari ini terbuka, digunakan untuk menotok jalan darah lawan!

Akan tetapi, segera ia mendapat kenyataan bahwa bertempur melawan gadis cantik jelita yang mengeluarkan aroma harum seperti kembang ini, sama halnya dengan bertempur melawan bayangannya sendiri pada waktu terang bulan. Ke mana juga ia menubruk dan menyerang, selalu yang tertangkap dan terpukul olehnya hanyalah angin belaka!

Dia bagaikan seekor kerbau gila yang menyerang kain merah yang diikatkan di depan tanduknya. Menubruk sana menyerang sini, tapi selalu mengenai angin. Goat Lan sambil tersenyum-senyum mempermainkan orang ini. Hitung-hitung latihan, pikirnya!

Tiga puluh jurus telah lewat dengan cepat dan karena setiap pukulan yang dikeluarkan oleh Cong Tan disertai tenaga gwakang yang besar, maka setelah menyerang tiga puluh jurus, tubuh orang ini telah basah kuyup oleh peluhnya sendiri.

Hong Beng menonton pertempuran itu dengan tersenyum simpul karena dia merasa geli melihat lagak Cong Tan, juga diam-diam dia menggelengkan kepala melihat kejenakaan tunangannya yang mempermainkan orang besar itu.

Ada pun kelima orang ketua she Hek itu berdiri menonton sambil membelalakkan mata. Baru sekarang mereka menyaksikan ginkang yang luar biasa lihainya. Hampir mereka tak dapat percaya betapa dengan hanya mengandalkan keringanan tubuh nona itu dapat menghindarkan seluruh penyerangan Cong Tan.

Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dari Goat Lan dan tubuhnya lenyap dari pandangan mata lawannya. Karuan saja Cong Tan menjadi terkejut sekali. Terdengar suara tertawa di sebelah belakang dan telinganya mendapat sentilan yang keras hingga terasa pedas sekali.

Cepat ia mengayun kedua tangan ke belakang, memukul lawannya yang ternyata sudah berada di belakangnya itu. Akan tetapi, hanya nampak bayangan berkelebat dan gadis itu tahu-tahu sudah berada di belakangnya pula, kini mengirim tendangan perlahan ke arah punggungnya sehingga dia merasa tulang punggungnya sakit sekali serasa hampir patah-patah!

Demikianlah, dengan mengeluarkan ginkang-nya yang paling tinggi, Goat Lan melompat-lompat dan membuat lawannya berputar-putar mengejar angin! Akhirnya saking jengkel, pening dan lelah, It-ci-sinkang Cong Tan Si Jari Lihai tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Bumi yang dipijaknya serasa berputar-putar, matanya melihat ribuan bintang sedang menari-nari, dan akhirnya robohlah dia bagaikan orang mabuk!

Setelah peningnya lenyap, tanpa peduli dengan suara tawa yang riuh dari para pengemis Tongkat Hitam, It-ci-sinkang Cong Tan lalu melompat dan berlari bagaikan seekor anjing terkena pukulan.

Kini kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu kembali menghadapi Hong Beng, dan Hek Liong berkata,

“Bagaimana, orang muda? Sebagaimana sudah kukatakan tadi sebelum ada gangguan dari si sombong itu, di antara kami Hek-tung Kai-pang dan kau orang muda she Sie tidak ada permusuhan sesuatu. Akan tetapi, kau telah menghina kami dan melukai beberapa orang anggota kami, maka kami harap kau suka minta maaf supaya kami tidak terpaksa melanjutkan pertikaian kecil yang tidak ada artinya ini.”

“Maaf, Pangcu,” Hong Beng menjawab dengan tenang sekali. “Aku bersedia minta maaf andai kata kedatanganku ini dianggap lancang dan ikut mencampuri urusan kalian. Akan tetapi untuk satu hal itu, sukarlah bagiku untuk minta maaf. Ketahuilah Pangcu, kemarin ketika aku datang ke tempat ini, aku melihat kawan-kawanmu telah mengeroyok seorang pendekar budiman sehingga tentu saja aku tak dapat membiarkan begitu saja satu orang dikeroyok demikian rupa oleh kawan-kawanmu. Dalam hal ini, kawan-kawanmulah yang bersalah dan sudah sepatutnya bila kawan-kawanmu itu yang minta maaf pada pendekar yang sedang menderita sakit itu!”

Hek Liong mengerutkan keningnya, tanda bahwa ia tidak puas mendengar jawaban ini.

“Saudara Sie! Kami dapat menerima ucapanmu tadi. Menurut penuturan kawan-kawan kami, orang gila kemarin itu sudah mengacau dan menghina kawan-kawan kami, dan dia dikeroyok oleh karena kepandaiannya lebih tinggi dari pada kepandaian kawan-kawan kami. Kau sebagai orang luar, sudah membantu sepihak tanpa melihat dulu sebab-sebab pertempuran. Dan sekarang, karena kau telah datang ke sini dan untuk mempertahankan nama serta kehormatan kami, kami ingin sekali menerima pelajaran darimu!”

Sambil tersenyum tenang Hong Beng bangun berdiri dari tempat duduknya. Memang inilah maksud kedatangannya, untuk mencoba kepandaian lima orang ketua itu. Memang mungkin dia dapat mencegah pibu ini dengan memberi penjelasan dan memperkenalkan siapa adanya pengemis yang dianggap gila itu. Akan tetapi ia bersabar dulu dan sebelum memperkenalkan Lo Sian, ia hendak lebih dulu merasai bagaimana lihainya kelima orang pangcu itu.

“Pangcu,” katanya dengan mulut masih tersenyum, “kini aku sudah datang dan menurut kata-kata orang, perkenalan akan menjadi lebih erat sesudah dua pihak mengadu tenaga dan mengukur kepandaian masing-masing. Maka, sebelum kita melanjutkan percakapan ini, marilah kita main-main sebentar!”

Lima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang itu lalu berdiri dan bersiap menanti di lapangan pertempuran yang tadi. Semua pengemis segera mengurung lapangan itu dan memilih tempat duduk, dengan wajah tegang akan tetapi dengan sinar mata gembira mereka siap menonton pertandingan ilmu silat yang ramai!

Para ketua mereka tadi sudah memperlihatkan kepandaian mereka, dan pemuda yang tampan itu sudah menyaksikannya pula, tetapi sekarang pemuda itu berani menghadapi lima orang ketua itu, mudah saja diduga oleh para pengemis yang kesemuanya memiliki ilmu silat itu bahwa pemuda ini tentulah memiliki kepandaian tinggi!

Ada pun Goat Lan yang tadi pun telah menyaksikan kepandaian dari kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu, merasa ragu-ragu apakah Hong Beng akan mampu menandingi mereka. Biar pun gadis ini tidak ragu-ragu lagi akan kelihaian tunangannya, akan tetapi menghadapi lima orang ketua itu pun bukanlah hal yang ringan.

Betapa pun juga, lima orang ketua itu telah merasa jeri kepadanya, dan kalau dia turut mencampuri urusan ini, tentu akan berkurang kegagahan serta kejantanan Hong Beng dalam pandangan mata mereka. Maka dia diam saja, duduk sambil tersenyum manis.

“Silakan, Ngo-wi Pangcu, terserah pada Ngo-wi apakah hendak maju menyerang dengan tangan kosong ataukah dengan senjata!” kata Hong Beng dengan sikapnya yang tenang.
“Kami adalah pihak tuan rumah,” jawab Hek Liong, “dan kau adalah tamu kami. Sudah sepatutnya bila tuan rumah melayani kehendak tamu. Silakan kau saja yang menentukan, Sie-enghiong, kami hanya melayani saja.”

Hong Beng berpikir cepat. Dalam hal pibu, orang tidak boleh berlaku sungkan-sungkan, apa lagi menghadapi keroyokan lima orang seperti Ngo-hengte ketua Hek-tung Kai-pang ini. Kalau ia menghadapi mereka mengandalkan tangan kosong, meski pun ia tidak takut dan merasa yakin takkan kalah, namun selain agak sukar mengalahkan mereka, juga ia tidak dapat memperlihatkan kelihaian ilmu tongkatnya.

Ia tahu bahwa kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang ini mengandalkan kehebatan ilmu tongkat mereka. Maka jalan yang paling tepat untuk membuat mereka tunduk betul-betul adalah mengalahkan Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat mereka dengan ilmu tongkat pula.

Hong Beng lalu membungkuk untuk mengambil sebatang cabang kering yang besarnya selengan orang saja dan panjangnya hanya dua kaki lebih, kemudian sambil menjura ia berkata,

“Siauwte sudah mendengar mengenai kehebatan Hek-tung-hoat, dan karena kebetulan sekali siauwte pernah mempelajari sedikit ilmu tongkat yang masih sangat rendah, maka siauwte akan merasa gembira dan berterima kasih sekali apa bila dapat menambah pengetahuan ilmu tongkat dan menerima sedikit pelajaran ilmu tongkat dari Ngo-wi untuk membuka mata siauwte!”

Hek Liong dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran dan tersenyum. Mereka menganggap pemuda ini terlalu lancang dan terlalu berani. Ia telah diberi kesempatan untuk memilih, kenapa justru memilih hendak mengadu ilmu tongkat? Pemuda ini terang mencari penyakit, pikir mereka. Hek Liong yang berpikiran adil, lalu berkata,

“Sie-enghiong, karena kau hanya memegang sebuah tongkat kayu yang kecil dan lemah, kami merasa malu untuk maju berbareng. Biarlah aku seorang saja yang mencoba dan main-main sebentar dengan ilmu tongkat itu.”

Panas hati Hong Beng mendengar ucapan ini. Terang sekali bahwa ia dipandang ringan sekali oleh ketua ini. Maka sambil tersenyum ia berkata manis, akan tetapi mengandung tantangan,

“Pangcu, sudah kudengar tadi bahwa untuk menghadapi ketua dari Hek-tung Kai-pang, orang harus menghadapi kelimanya sekaligus. Oleh karena adanya ketentuan itu, mana siauwte berani melanggarnya? Harap saja Ngo-wi tidak berlaku sungkan-sungkan dan persilakan maju berbareng, karena bukankah siauwte dianggap sebagai tamu yang harus dilayani oleh semua tuan rumah?”

“Hemm, jangan anggap kami keterlaluan, orang muda, kau sendiri yang minta kami maju berbareng!” seru Hek Liong dengan mendongkol.

Nyata sekali bahwa pemuda ini tidak mau menerima kebaikannya. Kepandaian apakah yang diandalkan hingga anak muda ini berani bersikap begini sombong? Ia lalu memberi tanda kepada empat orang adiknya dan berbareng mereka mengeluarkan tongkat hitam mereka.

“Awas serangan!” seru Hek Liong.

Bagaikan lima ekor ular hitam, tongkat di tangan kelima orang ketua itu lalu menyambar ke arah tubuh Hong Beng dari lima jurusan. Cepat dan kuat sekali gerakan serangan tongkat-tongkat itu sehingga angin menyambar ke arah Hong Beng dari segala jurusan.

Akan tetapi, dengan memutar cabangnya, sekaligus Hong Beng telah dapat menangkis sehingga tongkat-tongkat hitam itu terpental kembali. Barulah kelima orang ketua yang tadinya memandang rendah itu menjadi terkejut setengah mati. Mereka merasa betapa dari cabang kecil di tangan pemuda itu yang membentur tongkat-tongkat hitam mereka, seorang demi seorang merasa betapa telapak tangan mereka seperti digurat pisau tajam rasanya!

Setelah dapat menduga bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan, Hek Liong lalu berseru keras dan ia cepat memutar-mutar tongkat hitamnya sedemikian rupa sehingga lenyaplah tongkat itu, berubah menjadi segulung sinar hitam yang amat mengerikan dan dahsyat sekali datangnya. Juga keempat saudaranya tidak mau kalah, mengikuti gerakan kakak mereka ini dan sebentar lagi nampaklah lima gulungan sinar hitam bagaikan lima ekor naga sakti menyerang dan mengurung tubuh Hong Beng!

“Bagus, lihai sekali Hek-tung-hoat!” terdengar pemuda itu berseru, dan belum juga habis ucapannya itu, mendadak lenyaplah tubuhnya, terbungkus oleh sinar putih kehijauan dari tongkat cabangnya yang diputar secara luar biasa sekali!

Semua pengemis anggota Hek-tung Kai-pang menahan napas dan hampir tidak percaya kepada mata sendiri. Kalau mereka sudah biasa melihat gerakan tongkat-tongkat hitam pangcu mereka, kini mereka melihat gulungan sinar yang lebih hebat lagi. Lebih panjang, lebar dan mendatangkan angin keras hingga semua pengemis yarig duduk di atas tanah mengelilingi tempat adu kepandaian itu, merasa muka mereka tertiup oleh angin yang dingin sekali!

Pakaian mereka berkibar-kibar dan yang aneh sekali adalah hawa yang keluar dari sinar putih kehijauan itu karena sebentar terasa dingin sekali dan sebentar pula terganti oleh hawa yang panas! Inilah Ngo-heng Tung-hoat yang mengeluarkan hawa-hawa Im dan Yang, ilmu tongkat warisan dari Pok Pok Sianjin yang dimainkan oleh Hong Beng dengan amat hebatnya, oleh karena pemuda ini memang hendak menundukkan lima orang ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam yang tadinya memandang rendah kepadanya!

Apa bila tadi ketika merasakan tangkisan tongkat ranting di tangan Hong Beng, kelima orang ketua itu merasa terkejut, adalah sekarang mereka tidak saja menjadi kaget, akan tetapi merasa amat terheran-heran! Seujung rambut pun mereka tidak pernah mengira bahwa pemuda itu selihai ini dan tak pernah pula bermimpi bahwa di dunia ini ada ilmu tongkat sehebat ini! Mereka berusaha untuk memperhebat gerakan tongkat mereka, mengurung dan menyerbu bayangan Hong Beng dengan seluruh tenaga, akan tetapi tiap kali tongkat mereka terbentur oleh sinar putih kehijauan itu, tongkat mereka kembali dan memukul diri sendiri!

Sampai empat puluh jurus lebih Hong Beng hanya mempertahankan dirinya saja dan tidak membalas sama sekali. Akan tetapi, tetap saja lima orang lawannya tidak berdaya sama sekali dan tidak pernah dapat menyentuhnya dengan senjata mereka.

Sesudah Hong Beng merasa puas menunjukkan kehebatan Ngo-heng Tung-hoat, secara tiba-tiba dia lalu merubah gerakan tongkatnya dan mulai memainkan Pat-kwa Tung-hoat. Maka lebih hebat lagilah akibatnya! Karena pemuda itu bersilat dengan gerakan kaki atau kedudukan sesuai dengan aturan pat-kwa (segi delapan), maka lima orang lawannya itu seolah-olah menghadapi delapan orang pemuda! Bukan mereka berlima yang mengurung, bahkan kini mereka merasa seperti terkurung oleh delapan orang!

Mereka kaget sekali dan gerakan mereka menjadi kacau balau. Nampaknya lawan muda itu berada di depan akan tetapi baru saja mau diserang, dari belakang telah menyambar angin cabang dari pemuda itu, seakan-akan pemuda itu dapat memecah dirinya menjadi delapan orang!

Sekarang para pengemis yang menonton sudah melupakan peraturan saking kagumnya. Mereka bergerak dan memuji dengan kata-kata keras, bahkan Goat Lan sendiri setelah menyaksikan ilmu tongkat tunangannya, menjadi bengong! Ia merasa bangga sekali dan diam-diam dia mengakui bahwa kalau tunangannya itu mau bermain sungguh-sungguh, sepasang tombak bambu runcing sekali pun belum tentu akan dapat mengalahkannya!

“Sie-enghiong, bukalah mata kami dengan seranganmu!” Hek Liong berkata keras sebab dia belum pernah melihat serangan pemuda itu. Dia merasa amat penasaran dan hendak melihat bagaimana hebatnya pemuda itu kalau menyerang.
“Maafkan, Pangcu!” terdengar Hong Beng berseru.

Seruan ini lantas disusul oleh teriakan kelima orang ketua itu dan terdengar suara keras. Tahu-tahu lima batang tongkat hitam itu sudah terlepas dari pegangan masing-masing dan melayang ke atas! Mereka cepat melompat mundur, dan melihat dengan melongo betapa Hong Beng menggerakkan tongkatnya ke atas, diputar sedemikian rupa sehingga ia dapat mengelilingi kelima batang tongkat hitam itu, ‘menangkap’ lima batang tongkat itu dengan putaran cabangnya sehingga tongkat-tongkat itu terkumpul menjadi satu dan ketika ia mengeluarkan tangan kiri ke depan, lima tongkat hitam itu telah berada dalam pegangannya. Sambil tersenyum dan menjura, dia maju memberikan tongkat-tongkat itu kepada pemiliknya!

Untuk beberapa lama, kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu memandang pemuda ini dengan bengong, masih belum dapat mempercayai pengalaman mereka sendiri. Akan tetapi, tiba-tiba Hek Liong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu, diikuti oleh keempat orang adiknya! Terdengar sorak-sorai para pengemis dan kelima orang ketua itu memimpin orang-orangnya berseru ramai,

“Hidup pangcu (ketua) yang baru! Hidup Sie-pangcu yang gagah!”

Bukan main kagetnya Hong Beng mendengar kata-kata ini dan melihat betapa semua pengemis sudah berlutut mengelilingi dirinya!

“Ehh, ehhh, apa-apaan ini? Kuharap kalian tidak main-main dengan aku!” katanya gagap dengan muka berubah merah, karena ia maklum bahwa ia telah dipilih dan diangkat oleh mereka menjadi pangcu!

Akan tetapi Hek Liong yang masih berlutut berkata dengan suara penuh permohonan, “Kami harap Taihiap tidak menolak. Dengan setulusnya kami mengangkat Taihiap menjadi pangcu kami, karena selain Taihiap seorang, tidak ada lagi orang di dunia ini yang patut menjadi pemimpin kami! Harap Taihiap sudi memperkenalkan diri, siapakah sebenarnya Taihiap ini dan murid orang sakti dari mana?”

Hong Beng menjadi serba salah. Melihat ketulusan hati mereka, untuk menolak begitu saja dia tidak tega, akan tetapi kalau dia menerima, bagaimana ia bisa menjadi pemimpin rombongan pengemis? Dia lalu memandang ke arah tunangannya.

Dengan senyum lebar yang menambah keayuan, tahu-tahu Goat Lan telah melompat ke dekat Hong Beng. Sambil memandang kepada tunangannya, gadis ini kemudian berkata, “Mereka bersungguh-sungguh, tidak baik kalau menolak maksud jujur dari perkumpulan Hek-tung Kai-pang yang terkenal gagah dan budiman ini!”

Sorak-sorai gembira menyambut ucapan gadis ini dan Hong Beng merasa seakan-akan tubuhnya terbenam makin dalam lagi. Tiada harapan untuk keluar sesudah tunangannya sendiri bahkan menghendaki dia menjadi pemimpin pengemis.

“Baiklah, baiklah, harap kalian semua suka bangun berdiri dahulu. Hal pertama yang tak kusukai adalah supaya aku jangan terlalu dipuji-puji dan disanjung-sanjung. Aku bukan seorang raja, dan apa bila aku mau menerima jabatan ketua, ini hanya terpaksa karena melihat kebaikan perkumpulan ini.”

Semua orang berdiri dengan sikap hormat dan diam, menunggu ucapan ketua baru itu selanjutnya.

“Aku maklum bahwa kalian tentulah mengharapkan bantuanku untuk menghadapi bahaya yang mungkin datang dari pihak Coa-tung Kai-pang,” kata pemuda yang cerdik ini. “Dan aku menerima pengangkatan ini hanya saja dengan beberapa macam syaratnya.”
“Silakan Pangcu menentukan syarat-syarat itu, kami sekalian tentu saja bersedia untuk mematuhinya, karena setiap syarat dan usul dari pangcu kami, merupakan perintah yang akan kami jalankan dengan taruhan nyawa kami!”

Terharulah hati Hong Beng mendengar kata-kata ini. Dia menghela napas panjang dan berkata, “Tentu kalian harus mengetahui keadaanku. Biarlah aku berterus terang kepada kalian karena kita adalah orang-orang sendiri, orang-orang sehaluan yang bertujuan ingin memberantas dan membasmi kejahatan! Namaku Sie Hong Beng dan aku adalah putera dari pendekar besar Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh!”

Semua pengemis, terutama sekali Ngo-hengte, menahan napas dan bukan main terkejut serta girangnya hati mereka. Kalau tadi mereka berlima masih merasa penasaran karena kalah sedemikian mudahnya oleh pemuda ini, sekarang rasa penasaran itu lenyap sama sekali. Pantas saja pemuda itu lihai bukan main karena tidak tahunya dia adalah putera dari Pendekar Bodoh yang namanya telah menggemparkan kolong langit!

“Suhu-ku yang mengajar ilmu tongkat adalah Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari barat!”

Kembali semua orang tertegun. “Nona ini tadi telah memperkenalkan diri sebagai murid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, akan tetapi tentu kalian belum tahu bahwa dia sesungguhnya adalah puteri dari pendekar besar Kwee An di Tiang-an. Dan perlu pula kuberitahukan bahwa dia adalah... tunanganku!”

Merahlah wajah Goat Lan mendengar keterangan ini. Ingin ia mencubit tunangannya itu yang dianggapnya berlebihan telah memperkenalkan dirinya pula.....
“Nah, setelah kalian mengenal keadaan kami berdua, maka sekarang akan kukemukakan syarat-syaratku. Biar pun aku menerima jabatan ketua, akan tetapi tidak mungkin bagiku untuk selalu berada di tempat perkumpulan kalian ini. Aku mengangkat kelima Saudara Hek sebagai wakil. Segala sesuatu mengenai perkumpulan kuserahkan kepada mereka berlima untuk mengurusnya. Dan aku pun tidak mau menurut kebiasaan kalian, tak mau memakai pakaian sebagai pengemis. Akan tetapi aku telah menerima jabatan ini, maka aku bersumpah hendak membela serta melindungi Hek-tung Kai-pang dan bertanggung jawab apa bila ada sesuatu yang mengancam dan yang mengganggu perkumpulan kita!”

Ramailah sorak-sorai para pengemis mendengar kesanggupan ini. Inilah yang mereka harapkan. Dengan adanya pemuda putera Pendekar Bodoh ini menjadi ketua mereka, maka mereka tidak takut menghadapi penjahat yang bagaimana pun juga. Juga mereka kini tidak kuatir lagi akan serbuan atau gangguan Coa-tung Kai-pang!

Kemudian Hek Liong berkata kepada Hong Beng, “Pangcu, kami mempersilakan Pangcu bersama Lihiap untuk datang ke tempat pertemuan kita yang kita sebut Istana Pengemis untuk merayakan pengangkatan ini, juga untuk mengesahkannya!”

Beramai-ramai semua pengemis itu lalu mengiringkan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke sebuah hutan di sebelah utara tempat itu. Hutan ini besar sekali dan ketika sampai di tengah hutan, Hong Beng dan tunangannya melihat sebuah kuil kuno yang baru saja diperbaiki. Sungguh pun dari luar nampak sangat miskin, akan tetapi huruf-huruf yang dipasang di luar kuil amat gagah dan angker. Huruf-huruf itu berbunyi: Istana Pengemis HEK TUNG KAI PANG.

Ketika kedua orang muda itu diarak masuk, Hong Beng dan Goat Lan terkejut sekali karena di sebelah dalam sungguh amat berbeda dengan keadaan di luar. Di situ sangat indah dan mewah. Meja dan kursi serta perabot-perabot lain terdiri dari barang-barang pilihan yang mahal, terukir indah dan serba baru! Benar-benar patut menjadi perabot dan isi ruang sebuah istana kaisar!

Tahulah kini Hong Beng dan Goat Lan mengapa banyak yang berhati serakah hendak menduduki jabatan ketua dari perkumpulan pengemis ini. Tidak tahunya keadaan mereka begitu kaya raya.

Memang sesungguhnya para pengemis itu yang hidupnya hanya bekerja mengemis dan juga menerima upah dari pekerjaan kasar atau membantu orang menjaga keamanan, selalu mengumpulkan hasil pekerjaan mereka kemudian menyerahkannya kepada pusat sehingga dapatlah dibangun isi istana yang mewah ini. Di samping perabot-perabot yang indah itu, ternyata banyak pula terdapat harta simpanan yang besar jumlahnya.

Setelah bercakap-cakap lebih mendalam, tahulah kedua orang muda itu bahwa harta benda itu bukannya disimpan begitu saja, akan tetapi digunakan untuk menolong rakyat miskin dengan jalan menderma dan lain-lain. Maka semakin kagumlah mereka terhadap perkumpulan pengemis ini dan semakin yakinlah hati Hong Beng bahwa menjadi ketua perkumpulan macam ini sekali-kali bukanlah hal yang merendahkan namanya!

Ketika mereka duduk bercakap-cakap, masuklah pengemis-pengemis yang masih muda, yaitu anggota-anggota yang ditugaskan untuk mengeluarkan hidangan dan kembali Hong Beng dan Goat Lan tercengang karena hidangan yang dikeluarkan merupakan hidangan-hidangan yang mewah dan mahal, sedangkan araknya pun adalah arak Hangciu yang lezat dan harum, bukan arak sembarang arak.

Pesta berjalan secara amat meriah dan dua orang muda itu mendapat kenyataan bahwa pengemis-pengemis itu makan hidangan mereka dengan cara yang amat beraturan dan sopan. Benar-benar mengagumkan sekali!

Pada saat pesta berjalan ramai, tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara bentakan parau dan keras, “Hek-tung Kai-pang Pangcu, sambutlah kami!”

Belum lenyap gema suara itu, orangnya sudah melayang masuk dan tahu-tahu di tengah ruangan itu telah berdiri dua orang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali dan mereka memegang tongkat ular! Ternyata mereka ini adalah dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang tingkat satu!

Coa-tung Kai-pang mempunyai banyak sekali pengurus. Pengurus yang bertingkat satu saja ada tujuh orang, dan mereka ini adalah murid dari seorang tosu tua yang menjabat kedudukan pemimpin besar dan bernama Coa Ong Lojin.

Ada pun dua orang pengurus tingkat satu yang datang ini bernama Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin. Mereka ini mendapat laporan dari tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang telah roboh di tangan Ngo-hengte dari Hek-tung Kai-pang pagi tadi. Dengan marah Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin segera mendatangi istana pengemis di dalam hutan itu dengan maksud untuk merobohkan lima orang ketuanya.

Dengan tindakan kaki berlagak sekali kedua orang tua itu sambil menggerak-gerakkan tongkat ular di tangannya menghampiri meja Hek Liong dan adik-adiknya yang duduk di sebelah kiri Hong Beng dan Goat Lan. Kim Coa Jin tertawa bergelak di depan lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang itu lalu berkata,

“Pangcu-pangcu dari Hek-tung Kai-pang benar-benar tak memandang mata kepada kami dari Coa-tung Kai-pang. Mengadakan perjamuan minum arak sedemikiah ramainya sama sekali tidak mengundang! Ha-ha-ha, benar-benar tidak memandang mata kepada orang segolongan.”

Hek Liong maklum bahwa dua orang tua ini memang datang hendak membuat ribut dan melihat sikap mereka yang kasar ia tidak mau membiarkan pangcu-nya yang baru untuk menghadapinya. Karena itu ia sendiri lalu berdiri bersama empat orang adiknya, menjura sebagai penghormatan sambil berkata,

“Maaf, Ji-wi datang tanpa kami ketahui sehingga tidak semenjak siang-siang mengatur penyambutan. Silakan duduk dan minum arak kami yang murah!” Sambil berkata begini Hek Liong lalu mengeluarkan dua buah cawan, kemudian mengisi sendiri cawan-cawan itu sampai penuh dengan arak harum.
“Ha-ha-ha-ha-ha!” Bhok Coa Jin tertawa bergelak, lalu dengan gerakan cepat sekali dia mengulur tongkat ularnya sambil berkata, ”Biarlah tongkatku mencoba dahulu bagamana rasanya arakmu!”

Sambil berkata demikian, sekali tongkatnya bergerak ke depan, kedua cawan arak yang disuguhkan itu terguling di atas meja dan araknya tumpah membasahi meja! Kemudian ujung tongkatnya yang berkepala ular itu meluncur memasuki mulut guci, dari mulut guci itu keluarlah uap hijau bergulung ke atas!

“Ha-ha-ha! Ternyata arakmu cukup baik!” kata Bhok Coa Jin kepada lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang itu. “Marilah kita minum arak dari guci yang sudah dicoba isinya oleh tongkatku tadi!”

Tanpa diketahui oleh orang lain, Goat Lan membisikkan sesuatu kepada Hong Beng sambil memberikan tiga buah pil merah kepada tunangannya itu. Hong Beng lalu berdiri dan mendahului kelima saudara Hek itu berkata kepada dua orang tamu yang aneh ini,

“Ji-wi Lo-kai (Dua Tuan Pengemis Tua), melihat bentuk tongkatmu, aku dapat menduga bahwa kalian tentulah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang! Pertunjukanmu tadi lucu sekali dan kebetulan aku adalah seorang yang paling doyan arak beruap! Marilah aku menemani kau berdua minum arak!”

Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban tamunya, Hong Beng mengambil guci arak tadi dan mengisikan arak ke dalam cawan-cawan tamunya yang tadi terguling, juga dia mengisi cawannya sendiri sampai penuh.

Semua orang melihat betapa arak yang keluar dari guci itu telah berwarna hijau, padahal tadinya berwarna kemerahan! Lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang menjadi pucat karena mereka maklum bahwa arak itu telah dicampuri racun!

“Arak itu beracun!” seru Hek Liong marah.
“Ha-ha-ha! Ternyata ketua dari Hek tung Kai-pang berhati pengecut! Kalah oleh orang muda berhati tabah dan gagah ini!” Kim Coa Jin berkata sambil tertawa bergelak-gelak. “Siapakah pemuda ini yang menantang kami minum arak? Kami tidak sudi minum arak dengan segala orang tak ternama!”

Makin marahlah Hek Liong mendengar ucapan ini. “Bukalah matamu baik-baik karena kau sedang berhadapan dengan pangcu kami yang baru!”

Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin melengak dengan hati heran. Kini mereka memandang kepada Hong Beng dengan penuh perhatian. Kemudian mereka menjura ke arah Hong Beng sebagai penghormatan yang dibalas oleh Hong Beng dengan sepatutnya.

“Tidak tahu siapakah nama Pangcu yang terhormat?” tanya Kim Coa Jin.
“Siauwte bernama Sie Hong Beng dan secara kebetulan saja siauwte telah dipilih menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang yang mulia. Tidak tahu siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah dua orang penting dari Coa-tung Kai-pang datang ke sini?”
“Hemm, kami adalah pengurus-pengurus Coa-tung Kai-pang, namaku Kim Coa Jin dan ini adalah adikku Bhok Coa Jin. Kami tidak tahu bahwa Hek-tung Kai-pang telah berganti pengurus. Bagus, bagus, kami harap saja biar pun kau masih muda, akan tetapi sudah terbuka pikiranmu untuk menggabungkan perkumpulanmu yang kecil ini pada Coa-tung Kai-pang yang besar sehingga tak perlu ada pertikaian lagi.”

“Ji-wi Lo-kai, hal itu tak mungkin dilakukan. Setiap perkumpulan tentu mempunyai tujuan sendiri-sendiri, dan biarlah kita melakukan tugas kita masing-masing tanpa harus saling mengganggu, bukankah dengan demikian akan lebih baik lagi dan tidak ada pertikaian? Aku akan memberi nasehat kepada semua anggota perkumpulan kami supaya jangan mengganggu perkumpulanmu, dan sebaliknya aku juga mengharapkan dari pihakmu ada kebijaksanaan seperti itu.”

Tiba-tiba Kim Coa Jin tertawa bergelak dengan suara menghina dan memandang rendah sekali.
“Pangcu, kau ternyata masih hijau seperti usiamu. Marilah kita minum arak hijau ini untuk menambah pengalamanmu. Beranikah kau?”
“Mengapa aku tidak berani?” kata Hong Beng yang sudah menelan tiga butir pil ang-tan pemberian tunangannya tadi.

Ia percaya penuh akan kelihaian tunangannya yang paham betul akan segala macam racun dan pengobatannya, maka ketika tadi Goat Lan menyerahkan pil itu sambil berbisik bahwa itulah pil penawar dan penolak racun hijau, ia segera menelannya dan bertindak seperti yang dituturkan di atas.

Sekarang dia mengangkat cawan araknya, diturut pula oleh kedua orang tamu itu yang memandangnya dengan mata heran akan tetapi mulut tersenyum mengejek. Mereka lalu minum arak itu. Sekali tenggak saja arak hijau itu lenyap dalam perut Hong Beng.

Sekarang barulah kedua orang pengemis tua itu terheran-heran. Biasanya, racun hijau yang dimasukkan di dalam arak itu amat keras. Jangankan menghabiskan secawan, baru minum beberapa tetes saja cukup untuk membakar isi perut orang dan menewaskannya seketika itu juga.

Akan tetapi, pemuda yang tampan dan tenang ini setelah minum secawan tidak kelihatan terpengaruh sama sekali, seakan-akan arak itu tidak ada apa-apanya! Mereka menjadi penasaran dan Kim Coa Jin sendiri kini memasukkan kepala tongkatnya ke dalam guci, menambah racun itu dan menuangkan isi guci ke dalam tiga cawan yang sudah kosong, memenuhinya kembali.

“Kau kuat minum secawan lagi, Pangcu?” tanyanya menantang.

Hong Beng tersenyum. “Mengapa tidak kuat? Marilah kita minum untuk kesejahteraan Hek-tung Kai-pang!”

Kembali mereka minum dan sekali lagi Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin saling pandang dengan heran. Jangankan menjadi mabuk atau roboh binasa, muka pemuda tampan itu merah pun tidak.

“Secawan lagi, Ji-wi Lokai?” Kini Hong Beng yang menantang!

Dua orang pengemis tua itu menjadi bingung. Obat penawar yang tadinya sudah mereka telan hanya cukup kuat untuk menolak racun dua cawan arak, maka kalau harus minum secawan lagi, mungkin mereka takkan kuat menahan dan akan roboh binasa dengan isi perut terbakar!

“Cukup, cukuplah, Pangcu!” berkata Kim Coa Jin sambil menggerakkan tongkat ularnya. “Sudah terbuka mata kami bahwa biar pun masih muda, ternyata kau adalah seorang yang kuat minum. Tidak tahu apakah ilmu tongkatmu sekuat kemampuan minummu!”

Pada saat itu pula Hek Liong melangkah maju menghadap Hong Beng dan menyerahkan sebatang tongkat hitam dengan sikap menghormat sekali. Tongkat ini baru saja ia ambil dari dalam sebuah kamar dan ternyata bahwa tongkat ini luar biasa sekali. Memang warnanya hitam seperti tongkat-tongkat yang dipegang oleh semua anggota Hek-tung Kai-pang, akan tetapi tongkat ini mengeluarkan cahaya mengkilap dan ternyata dapat digulung.

“Tongkat ini adalah peninggalan sucouw kami Hek-tung Kai-ong. Sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang dapat mempergunakan tongkat lemas ini, maka sekarang kami serahkan kepada Pangcu!”

Hong Beng menerima tongkat itu dengan girang dan ketika ia memegang tongkat itu, ia merasa kagum dan juga girang sekali. Ternyata bahwa senjata luar biasa ini terbuat dari logam yang amat kuat dan merupakan sebatang tongkat pusaka yang ampuh sekali. Ia segera turun dari tempat duduknya dan menghadapi kedua orang tamunya itu dengan sikap tenang.

“Ji-wi Lo-kai, kami telah cukup maklum bahwa kalian dari Coa-tung Kai-pang ingin sekali memperlebar pengaruhmu, akan tetapi caramu ini benar-benar kurang sempurna. Apa kau kira bahwa di kolong langit ini tidak ada orang-orang yang lebih pandai dari pada pemimpin-pemimpin Coa-tung Kai-pang? Tanpa kusengaja, aku yang muda dan bodoh telah terpilih menjadi pemimpin Hek-tung Kai-pang, betapa pun juga, aku akan membela perkumpulan ini dengan tongkat yang sudah dipercayakan kepadaku. Nah, silakan Ji-wi maju mencoba kekerasan tongkat ini!”

Kim Coa Jin biar pun merasa amat kagum melihat betapa orang muda ini dapat minum racun dari tongkat ularnya tanpa akibat sesuatu, tetap saja ia masih memandang rendah kepada Hong Beng. Tidak mungkin pemuda ini mempunyai kepandaian silat yang dapat mengimbangi kepandaiannya sendiri.

Dia dan Bhok Coa Jin adalah dua orang di antara tujuh orang Pengemis Tongkat Ular tingkat satu. Kepandaian mereka ini sudah sangat tinggi, oleh karena mereka merupakan murid-murid yang menerima pelajaran langsung dari Coa Ong Lojin, datuk dari Coa-tung Kai-pang! Mereka telah mewarisi delapan puluh bagian dari ilmu silat dan ilmu tongkat dan telah bertahun-tahun mereka merantau di seluruh permukaan bumi Tiongkok.

Oleh karena memandang rendah dan tak ingin disebut licik, Kim Coa Jin berkata kepada Bhok Coa Jin, “Sute, harap kau berdiri di pinggir saja dan biar aku sendiri yang mencoba kekuatan pangcu muda ini!” Ucapannya ini dikeluarkan dengan mulut tersenyum.

Bhok Coa Jin juga tersenyum, lalu dia menancapkan tongkat ularnya di atas lantai dan duduk di atas tongkat itu! Demonstrasi kekuatan lweekang ini saja sudah hebat sekali, karena lantai itu amat keras namun dapat tertusuk oleh tongkat itu seakan-akan lantai itu terdiri dari tanah lumpur belaka!

“Silakan, Suheng, aku hendak menonton saja,” katanya.
“Nah, Sie-pangcu, marilah kita mulai!” kata Kim Coa Jin menantang.
“Majulah Kim-lokai. Sebagai tamu kau turun tangan lebih dulu,” jawab Hong Beng sambil memegang tongkat hitamnya dengan cara sembarangan saja.

Ia memegang kepala tongkatnya sehingga tongkat itu tergantung lurus ke bawah, seperti seorang kakek yang meminjam tenaga tongkat untuk membantu menunjang tubuhnya yang sudah lemah. Bagi orang yang tidak tahu, tentu mengira bahwa pemuda ini tidak pandai ilmu silat dan bahwa caranya memasang kuda-kuda itu tidak ada artinya sama sekali.

Akan tetapi pada saat Kim Coa Jin melihat cara Hong Beng memegang tongkat, hatinya tertegun. Itulah kuda-kuda yang disebut Dewa Bumi Menangkap Ular, yakni semacam kuda-kuda yang tidak sembarang orang berani menggunakannya untuk memulai sebuah pertempuran, karena kuda-kuda seperti ini amat sukar dibuka dan dikembangkan.

“Awas serangan!” serunya dan Kim Coa Jin cepat menyerang dengan hebat.

Dia sengaja menyerang dengan gerakan yang paling hebat dan lihai, karena dia hendak merobohkan ketua Hek-tung Kaipang ini dengan sekali gerakan saja! Tongkat ularnya dengan cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya menusuk ke arah dada Hong Beng, sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, melainkan meluncur pula di belakang tongkatnya untuk mengirimkan pukulan susulan yang dilakukan dengan tenaga lweekang sehingga angin pukulan ini saja sudah cukup untuk merobohkan lawan!

Akan tetapi Hong Beng dengan gerakan Hek-hong Koan-goat (Bianglala Hitam Menutup Bulan) menggerakkan tongkat hitamnya dengan putaran cepat sekali. Ketika tongkatnya bertemu dengan tongkat ular lawannya, kedua tongkat itu menempel dan tongkat ular itu ikut pula terputar karena pemuda yang lihai ini telah menggerakkan lweekang-nya untuk ‘menyedot’ dan menempel senjata lawan.

Karena kedua tongkat itu terputar cepat di depan mereka, otomatis pukulan tangan kiri pengemis tua itu tertolak kembali! Kim Coa Jin mengerahkan tenaganya untuk membetot kembali tongkatnya dari tempelan tongkat hitam lawannya akan tetapi ternyata tongkat itu seakan-akan telah berakar pada tongkat Hong Beng. Ia merasa penasaran sekali dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya dia berseru keras sekali dan tiba-tiba tubuhnya terjengkang ke belakang dan hampir saja dia jatuh ketika secara mendadak Hong Beng melepaskan tempelannya!

Bukan main kagetnya hati Kim Coa Jin merasakan kelihaian pangcu muda dari Hek-tung Kai-pang ini. Sambil menggereng laksana seekor harimau terluka ia lalu menerjang maju, memutar-mutar tongkatnya dengan hebat bagaikan angin puyuh dan kini benar-benar dia mengeluarkan ilmu tongkatnya yang lihai, karena dia sudah maklum sepenuhnya bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan, melainkan murid orang pandai!

Akan tetapi Hong Beng tetap saja berlaku tenang. Dengan puas dan gembira sekali dia mendapat kenyataan bahwa tongkat hitam yang lemas pada tangannya itu benar-benar merupakan senjata istimewa. Walau pun tongkat itu lemas, akan tetapi dapat menerima saluran tenaga lweekang dengan baik sekali, sehingga tidak kalah ‘enaknya’ dipakai dari pada sebatang ranting kecil!

Dia lalu memainkan Ngo-heng Tung-hoat dan melayani lawannya dengan gerakan yang membuat lawannya menjadi pening kepala. Ngo-heng Tung-hoat adalah semacam ilmu silat yang mengambil sari dari lima anasir atau lima sifat, bisa sekuat baja, selemah air, sepanas api! Juga gerakan tubuh Hong Beng yang lincah dan gesit membuat tubuhnya lenyap dari pandangan mata, terbungkus oleh gulungan sinar tongkat yang menghitam!

Kim Coa Jin sebagai tokoh tingkat satu dari Coa-tung Kai-pang, tentu saja memiliki ilmu silat yang sudah sangat tinggi. Akan tetapi harus dia akui bahwa selama hidupnya, baru sekarang dia bertemu dengan tandingan yang demikian tangguhnya.

Ilmu Tongkat Coa-tung-hoat bukanlah ilmu silat sembarang saja, tetapi memiliki sifat-sifat tersendiri yang sangat kuat dan berbahaya. Gaya Ilmu Tongkat Coa-tung-hoat ini amat ganas dan kejam serta memiliki tipu-tipu yang licik dan berbahaya sekali karena ilmu ini tercipta di antara jalan hitam, di antara orang-orang yang memiliki pikiran dan tabiat yang kurang baik.

Tongkat yang berbentuk ular itu saja mengandung bagian-bagian rahasia sehingga dapat mengeluarkan senjata-senjata rahasia berupa jarum-jarum berbisa. Malah dari mulut ular itu, apa bila dikehendaki oleh pemakainya, dapat mengeluarkan semacam uap berbisa yang berbahaya sekali.

Hong Beng sengaja tidak mau melukai Kim Coa Jin dan hanya mendesaknya dengan ilmu tongkat yang memang lebih tinggi tingkatnya. Pemuda ini biar pun masih muda dan mempunyai darah panas namun ia memang cerdik sekali, dan ia maklum bahwa kalau ia sampai melukai orang ini, maka permusuhan antara kedua partai pengemis akan menjadi semakin mendalam. Pihak Coa-tung Kai-pang tentu akan menjadi makin sakit hati dan menaruh dendam hati yang maha berat. Dia ingin menghindarkan hal ini, maka ia hanya mendesak lawannya dengan tongkat hitamnya, berusaha untuk mengalahkan Kim Coa Jin dengan serangan-serangan yang tidak membahayakan jiwanya.

Bhok Coa Jin yang menonton pertandingan itu menjadi marah serta penasaran sekali. Bhok Coa Jin mempunyai watak yang lebih berangasan dan keras dari pada suheng-nya. Melihat betapa suheng-nya tidak dapat menangkan pemuda itu bahkan terdesak hebat sekali, tiba-tiba dia berseru keras dan membantu suheng-nya menyerang Hong Beng.

“Pengemis curang, perlahan dulu!” Mendadak terdengar bentakan merdu dan tahu-tahu tongkat yang diputar oleh Bhok Coa Jin itu telah terpental mundur karena tertangkis oleh sebatang tongkat bambu runcing yang digerakkan secara luar biasa.

Bhok Coa Jin terkejut dan lebih-lebih kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menangkis tongkatnya itu adalah nona cantik yang tadi ia lihat duduk di dekat Hong Beng.

“Bocah kurang ajar!” seru pengemis tua ini dengan marah. “Siapakah kau, berani sekali menghalangi Bhok Coa Jin?”
“Hemm, agaknya kau terlalu sombong dan menganggap diri sendiri paling hebat,” Goat Lan menyindir. “Kau mau tahu siapa aku? Namaku Kwee Goat Lan dan kalau lain orang takut mendengar namamu, aku bahkan merasa muak karena nama besarmu itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatmu yang pengecut!”
“Kurang ajar!” Bhok Coa Jin memaki dan tongkatnya segera meluncur cepat mengarah tenggorokan nona itu.

Akan tetapi cepat sekali sepasang tongkat bambu runcing di tangan gadis itu bergerak dan menjepit tongkat ular Bhok Coa Jin sehingga tak dapat dicabut kembali. Betapa pun Bhok Coa Jin membetot tongkatnya, tetap saja tongkatnya itu bagaikan terjepit oleh dua potong besi yang kuat sekali. Barulah dia merasa amat terkejut dan heran. Bagaimana gadis muda ini dapat memiliki tenaga yang demikian hebatnya?

Juga Goat Lan merasa gemas sekali terhadap pengemis tua yang berangasan dan kasar ini. Dia sudah menggerakkan sepasang bambu runcingnya yang lihai ketika Hong Beng berkata mencegahnya,

“Lan-moi, jangan layani dia. Biarkan saja dia mengeroyokku agar mereka tahu kelihaian Hek-tung Kai-pang!”

Walau pun hatinya mendongkol dan tidak puas, Goat Lan maklum akan maksud ucapan tunangannya ini dan ia melompat mundur. Dia tahu kalau ia turun tangan, maka hal ini akan mengurangi keangkeran Hek-tung Kai-pang.

Sebaliknya, diam-diam Bhok Coa Jin merasa lega melihat gadis yang lihai itu melompat mundur. Tak banyak cakap lagi ia lalu menyerbu dan menyerang Hong Beng, membantu suheng-nya.

Jika sekiranya keadaan Hong Beng berbahaya apa bila dikeroyok dua, tentu betapa pun juga Goat Lan akan memaksa turun tangan. Akan tetapi ia maklum bahwa menghadapi dua orang pengemis Coa-tung Kai-pang itu, tunangannya takkan kalah sebab kepandaian Hong Beng masih lebih tinggi tingkatnya. Dia lalu duduk kembali dan menonton dengan sikap tenang. Sebaliknya, para anggota Hek-tung Kai-pang merasa kuatir juga melihat betapa ketua mereka dikeroyok dua oleh lawan-lawan yang amat tangguh itu.

Menghadapi keroyokan dua orang lawan yang tidak boleh dipandang ringan itu, Hong Beng memperlihatkan kehebatan ilmu tongkatnya. Dia segera merubah gerakan tongkat hitamnya dan kini dia mainkan Ilmu Tongkat Pat-kwa Tung-hoat yang gerakannya jauh lebih cepat dari pada Ngo-heng Tung-hoat.

Sebentar saja, seperti halnya lima saudara Hek pada waktu menghadapi pemuda ini, dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang ini merasa pening serta pandangan mata mereka menjadi kabur. Mereka merasa heran dan juga penasaran sekali karena selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan ilmu tongkat yang seperti itu. Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat pernah mereka lihat, akan tetapi ilmu silat tongkat yang dimainkan oleh ketua baru dari Hek-tung Kai-pang ini benar-benar tidak mereka kenal.

Sebaliknya, bagi Hong Beng juga tak mudah untuk mengalahkan kedua lawannya tanpa menggunakan serangan kilat yang sedikitnya akan melukai mereka. Maka terpaksa, biar pun dia tidak ingin melukai kedua lawan ini, dia harus memperlihatkan kepandaiannya.

Sekali dia mengerahkan tenaga, maka terdengar suara keras sekali dan dua batang tongkat ular itu patah di tengah-tengah. Berbareng dengan patahnya kedua tongkat itu, dari dalam tongkat menyembur keluar banyak sekali jarum hitam ke arah Hong Beng. Akan tetapi pemuda ini dengan mudah saja lalu memukul semua sinar hitam itu dengan tongkatnya dan sebagai pembalasan, dua kali tongkatnya bergerak ke bawah dan kedua orang lawannya itu terjungkal tanpa dapat mengelak lagi!

Untung bahwa Hong Beng hanya mempergunakan sedikit tenaga, karena kalau pemuda ini berlaku kejam, meski pun kedua orang pengemis tua itu memiliki kekebalan, mereka tentu akan patah-patah tulang kakinya. Kini mereka hanya merasa kedua kaki mereka sakit sekali dan untuk beberapa lama mereka tidak mampu berdiri. Mereka hanya duduk memandang dengan mata terbelalak, lebih merasa heran dari pada merasa marah.

“Kau... kau siapakah? Dan ilmu sihir apakah yang sudah kau gunakan untuk merobohkan kami?” Akhirnya Kim Coa Jin dapat juga berkata sambil merangkak mencoba bangun. Begitu pula Bhok Coa Jin dengan muka meringis menahan sakit mencoba untuk bangun berdiri.
“Tadi sudah kukatakan bahwa namaku Sie Hong Beng dan aku telah diangkat menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang!” jawab Hong Beng sederhana. “Kalian datang dan roboh bukan karena kehendak kami, akan tetapi kalian sendiri yang mencari penyakit. Harap kalian jangan persalahkan kami.”

Akan tetapi jawaban ini tidak memuaskan hati mereka, dan Hek Liong yang juga merasa tidak puas mendengar jawaban pangcu-nya, kemudian berdiri dan berkata dengan suara lantang,

“Bukalah matamu baik-baik, kalian orang-orang Coa-tung Kai-pang! Pangcu kami adalah putera dari Pendekar Bodoh dan murid dari Pok Pok Sianjin! Dan pendekar wanita yang kalian pandang rendah ini, dia adalah tunangan pangcu kami yang gagah dan Lihiap adalah murid dari Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu! Apakah keterangan ini masih belum cukup?”

Pucatlah muka kedua orang pengemis tua itu ketika mendengar nama-nama besar dari para pahlawan dan tokoh dunia persilatan itu. Akhirnya Kim Coa Jin pun menarik napas panjang dan berkata, “Dasar nasib kami yang sial, bertemu dengan keturunan Pendekar Bodoh! Buah yang jatuh tidak akan menggelinding jauh dari pohonnya!” Setelah berkata demikian, dengan terpincang-pincang Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin pergi meninggalkan tempat itu.
“Tahan...!” seru Hong Beng dan tubuhnya berkelebat mendahului kedua orang itu. Ia kini berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang dan matanya memandang tajam penuh ancaman. “Apa maksud kata-katamu tadi? Apa maksudmu berkata bahwa buah tidak akan jatuh menggelinding jauh dari pohonnya?”

Kim Coa Jin tersenyum mengejek “Watak anak takkan berbeda jauh dengan bapaknya. Suhu-ku pernah menceritakan bahwa Pendekar Bodoh adalah seorang yang selalu turut mencampuri urusan orang lain, seorang yang selalu turun tangan dan bertindak dengan sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya. Dan kau agaknya tidak berbeda jauh dengan ayahmu itu!”

“Siapakah suhu-mu?” tanya Hong Beng.
“Suhu kami adalah pendiri dari Coa-tung Kai-pang, yang bernama Coa Ong Lojin!”

Sambil berkata demikian Kim Coa Jin memandang tajam karena mengharapkan pemuda itu akan menjadi terkejut mendengar nama suhu-nya. Akan tetapi ternyata Hong Beng menerima keterangan ini dengan dingin saja, sungguh pun dia pernah mendengar nama orang tua yang sakti itu.

“Pernahkah suhu-mu bentrok dengan ayahku?”
“Belum, belum pernah. Akan tetapi Suhu sudah cukup banyak mendengar dari kawan-kawannya, dan Suhu ingin sekali bertemu dengan ayahmu untuk melihat sampai di mana sih kepandaiannya maka dia dan puteranya sesombong ini!”

Tiba-tiba muka Hong Beng menjadi merah sekali, tanda bahwa ia marah.

“Jahanam berlidah busuk!” makinya sehingga Goat Lan yang sudah berdiri di dekatnya menjadi terkejut, karena tak disangkanya sama sekali bahwa tunangannya yang lemah lembut dan sopan santun ini sekarang begitu marah sampai memaki orang. “Kau pandai benar memutar balik duduknya perkara! Pantas saja kau menjadi pengurus Perkumpulan Tongkat Ular sebab watakmu seperti ular, lidahmu berbisa. Kalian yang datang mengacau di perkumpulan kami akan tetapi kalian yang menuduh kami suka mencampuri urusan orang lain! Memang ayahku suka mencampuri urusan orang lain, urusan orang jahat macam engkau yang suka mengganggu orang, dan hal seperti itu tentu saja ayahku dan aku tak akan tinggal diam memeluk tangan!”

Hampir saja Hong Beng mengangkat tangan menjatuhkan pukulan, kalau saja Goat Lan tidak menyentuh pundaknya sambil memandang dengan senyum menghibur. Pemuda ini menjadi marah sekali karena mendengar ayahnya dicela oleh dua orang jahat seperti Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin.

Kedua orang pengemis dari Coa-tung Kai-pang itu segera pergi dengan muka pucat dan tak berani menengok lagi. Goat Lan lalu menghibur tunangannya dengan kata-kata yang halus,

“Sudahlah, Koko, untuk apa mencurahkan kemarahan terhadap orang-orang macam itu? Mereka sudah dikalahkan dan tentu mereka sudah merasa kapok.”
“Mudah-mudahan begitu,” jawab Hong Beng. “Akan tetapi aku masih merasa amat kuatir kalau-kalau mereka akan datang lagi bersama kawan-kawan mereka untuk mengganggu Hek-tung Kai-pang.”
“Kalau begitu, lebih baik kita menanti dahulu sampai beberapa hari di sini, untuk menjaga keselamatan perkumpulan. Memang sudah menjadi kewajibanmu untuk melindunginya dari serangan orang-orang jahat. Biarlah mereka mendatangkan suhu mereka, aku pun sudah pernah mendengar nama Coa Ong Lojin yang terkenal jahat. Betapa pun lihainya, kita pasti akan dapat mengalahkannya.”

Demikianlah, dua orang muda ini terpaksa menunda keberangkatan mereka dan berjaga di tempat itu bersama para pengurus Hek-tung Kai-pang sampai sepekan lamanya. Dan ini pulalah sebabnya maka mereka tidak cepat menyusul Lili dan Lo Sian yang pergi ke rumah Thian Kek Hwesio sehingga setelah menanti tiga hari lamanya, Lili menjadi hilang kesabaran dan mengajak bekas suhu-nya itu pergi ke Shaning, ke rumah orang tuanya sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR REMAJA : JILID-09
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger