logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Remaja Jilid 12


Mari kita sekarang mengikuti perjalanan Lie Siong putera Ang I Niocu, pemuda remaja yang gagah perkasa dan berwatak sukar dan aneh itu. Sebagaimana telah diketahui, Lie Siong berhasil menotok Lo Sian hingga tidak berdaya dan membawa Pengemis Sakti itu. Ia menculik Lo Sian bukan karena ia benci kepada pengemis ini, akan tetapi sebenarnya karena dia ingin sekali mengetahui keadaan ayahnya, yakni pendekar besar Lie Kong Sian.

Setelah membawa Lo Sian jauh dari Shaning malam hari itu, Lie Siong lalu menurunkan Lo Sian dari pondongannya dan meletakkannya di atas rumput. Dia tidak membebaskan Lo Sian dari totokan, sebaliknya bahkan lalu merebahkan diri di bawah pohon dan tidur. Pemuda ini telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah bangun dan ketika melihat ke arah Lo Sian, dia melihat pengemis tua itu masih berbaring tanpa dapat bergerak. Timbullah rasa kasihan dalam hatinya, maka dia lalu menghampiri Lo Sian dan melepaskan totokannya. Beberapa kali urutan dan tepukan pada tubuh pengemis itu, terbebaslah Lo Sian. Akan tetapi oleh karena selama setengah malam Lo Sian berada dalam keadaan tertotok, dia masih merasa lemas dan hanya dapat bangun duduk dengan payah sekali.

Pengemis ini segera meramkan mata bersemedhi untuk menyalurkan tenaga dalamnya dan mengatur napasnya agar supaya jalan darahnya bisa normal kembali. Lie Siong lalu menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan pengemis itu dan membantunya dengan menyalurkan hawa dan tenaga dalamnya hingga sebentar saja Lo Sian merasa tubuhnya hangat dan kuat.

Diam-diam Lo Sian merasa heran melihat pemuda ini. Baru saja menotok, menculik dan menyiksanya dengan membiarkannya dalam keadaan tertotok sampai setengah malam, akan tetapi sekarang bahkan membantunya melancarkan jalan darahnya sehingga cepat menjadi baik kembali. Sungguh pemuda yang aneh sekali!

Ia membuka matanya dan menggerakkan tangannya. Lie Siong lalu menjauhkan diri dan duduk menghadapi pengemis itu.
“Anak muda, apa maksudmu menculik kemudian membawaku ke tempat ini?” kata-kata pertama yang keluar dari mulut Lo Sian ini terdengar tenang sekali.

Pandangan mata pengemis ini yang begitu tenang dan mengandung tenaga batin yang tinggi, membuat Lie Siong tiba-tiba merasa malu kepada diri sendiri sehingga mukanya menjadi kemerah-merahan. Pandang mata ini mengingatkan dia pada ayahnya. Seperti itulah pandang mata ayahnya, kalau dia tak salah ingat.

“Maaf, Lopek. Sebenarnya aku tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan kau, dan sungguh tidak ada alasan sama sekali bagiku untuk menyusahkan kau orang tua. Akan tetapi ucapanmu yang kudengar di rumah Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu dahulu itu selalu tidak pernah dapat terlupakan olehku. Ketahuilah, terus terang saja aku adalah putera tunggal dari Lie Kong Sian, Ang I Niocu adalah ibuku, dan namaku Lie Siong. Cukup sekian keterangan mengenai diriku. Sekarang yang paling penting, apakah maksud kata-katamu dahulu itu yang menyatakan bahwa ayahku telah meninggal dunia? Ketahuilah bahwa aku sedang mencari ayahku dan di Pulau Pek-le-to aku tidak dapat menemukannya. Karena kau mengenal ayahku, maka aku ingin agar kau menceritakan apa maksud kata-katamu tentang kematian ayah itu.” Setelah berkata demikian, pemuda itu memandang tajam.

Lo Sian merasa ngeri melihat mata yang berbentuk bagus itu mengeluarkan sinar yang amat tajam, seakan-akan hendak menembus dadanya. Ia tidak tahu bahwa seperti itulah mata Ang I Niocu, Pendekar Wanita Baju Merah yang dulu telah menggemparkan dunia persilatan.

“Sayang sekali, orang muda. Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu, karena sebetulnya aku sendiri pun tidak tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu itu.”
“Lopek, harap kau orang tua jangan main-main! Kau pernah berkata bahwa Ayah mati, akan tetapi sekarang kau menyatakan tidak tahu apa-apa. Apa artinya ini?”
“Aku bicara sebenarnya, anak muda, dan sama sekali aku tidak mempermainkanmu atau juga membohong kepadamu. Aku telah kehilangan ingatan sama sekali, aku tidak tahu apa yang telah terjadi dahulu. Ingatanku hanya terbatas semenjak di tempat Thian Kek Hwesio sampai sekarang. Sebelum itu, yang teringat olehku hanya bahwa ayahmu telah meninggal dunia.”
“Di mana matinya dan bagaimana? Di mana makamnya.” Lie Kong mendesak.

Lo Sian menarik napas panjang. “Percayalah, anak yang baik. Satu-satunya hal yang akan kukerjakan pertama-tama kalau ingatanku dapat kembali adalah mengingat tentang ayahmu itu. Akan tetapi apa daya, pikiranku hampir menjadi rusak dan harapanku untuk hidup hampir musnah karena aku telah berusaha mengingat-ingat tanpa hasil sedikit pun juga. Kau tenanglah dan coba dengar penuturanku.”

Lo Sian lalu menceritakan semua pengalamannya, yaitu semenjak tahu-tahu dia merasa berada di tempat tinggal Thian Kek Hwesio yang menyembuhkannya dan menceritakan pula semua pengalamannya yang didengarnya kembali dari Lili, yaitu pada waktu ia dulu menolong Lili.

“Ahh, sampai sekarang aku tidak bisa mengingat kembali hal yang terjadi sebelum aku disembuhkan oleh Thian Kek Hwesio. Hanya ada dua hal yang masih terbayang di depan mataku, yaitu ayahmu yang telah meninggal dan ucapan pemakan jantung yang selama ini membuatku tak dapat tidur.”

Lie Siong mengerutkan alisnya. Dapatkah dia mempercaya omongan seorang yang baru saja sembuh dari sakit gila?

“Betapa pun juga, anak muda. Aku mempunyai perasaan bahwa ayahmu itu pasti mati dalam keadaan yang mengerikan, dan aku juga merasa yakin bahwa kalau aku melihat kuburannya, tentu akan mengenal tempat itu.”

Timbul kembali harapan Lie Siong. Ia berpikir sejenak, kemudian berkata,

“Kalau begitu, Lopek. Terpaksa kau harus ikut dengan aku mencari makam ayah, kalau benar-benar dia telah meninggal dunia seperti yang kau katakan tadi.”
“Boleh, boleh! Hanya saja... bagaimana dengan Lili?”
“Lili siapa?”
“Sie Hong Li, nona yang kutinggalkan seorang diri. Dia adalah anak baik, seperti anak atau keponakanku sendiri. Dia tentu akan gelisah sekali.”
“Biar saja, dia bukan anak kecil lagi dan kepandaiannya cukup tinggi untuk menjaga diri sendiri,” jawab Lie Siong tegas.
“Ke mana kita akan pergi?”
“Sudah kukatakan tadi, mencari makam ayah.”
“Setelah itu?”
“Aku akan mengantarkan seorang gadis ke utara untuk mencarikan suku bangsanya.”

Lo Sian teringat akan cerita Lili. “Ahh, gadis yang dulu kau ganggu itu?”

Merah muka Lie Siong. “Jangan berbicara sembarangan, Lopek! Gadis itu adalah Lilani, seorang gadis Haimi yang kutolong dari gangguan orang jahat. Sekarang dia menderita penyakit pikiran dan kutinggalkan di rumah Thian Kek Hwesio. Kita sekarang menuju ke sana untuk melihat keadaannya.”

Lo Sian tertegun mendengar kekerasan hati pemuda ini. Lili boleh disebut seorang gadis yang berhati keras, akan tetapi pemuda ini lebih-lebih lagi!

“Baiklah, aku menurut saja, karena aku merasa kagum dan menghormat pada ayahmu, seorang pendekar besar. Biar pun aku tidak ingat lagi, namun aku merasa yakin bahwa aku dahulu tentu pernah ditolong oleh ayahmu. Maka sudah menjadi kewajibanku kalau sekarang aku membantumu mencarikan makamnya. Jangan sekali-kali kau menganggap kepergianku denganmu ini sebagai tanda bahwa aku takut kepadamu, anak muda. Ahh, bukan sekali-kali. Biar pun kepandaianmu boleh lebih tinggi dariku, namun aku Sin-kai Lo Sian bukanlah seorang yang takut mati. Aku menuruti kehendakmu karena aku pun ingin sekali mendapatkan makam pendekar besar Lie Kong Sian ayahmu.”

Lie Siong mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat suka melihat sikap pengemis ini yang dianggapnya cukup gagah dan patut dijadikan kawan seperjalanan. Berangkatlah kedua orang ini menuju ke Ki-ciu untuk melihat keadaan Lilani gadis Haimi yang bernasib malang itu. Tentu saja sebagai seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, Lie Siong tidak menceritakan hubungannya dengan Lilani itu.

Dengan hati girang Lie Siong mendapatkan Lilani telah sembuh dari sakitnya, hanya saja gadis ini sekarang berubah menjadi pendiam sekali. Dia telah mendapat banyak nasehat dan petuah dari Thian Kek Hwesio, karena setelah diobati, gadis ini menganggap Thian Kek Hwesio sebagai satu-satunya orang yang dapat diajak bertukar pikiran. Pendeta tua yang sudah banyak sekali pengalamannya ini dan yang paham dengan bahasa Haimi, mendengarkan pengakuan dan penuturan Lilani dengan wajah tenang dan sabar.

“Itulah salahnya bila orang-orang muda kurang memperhatikan tentang kesopanan yang sudah jauh lebih tua dari pada kita umurnya. Amat tidak sempurna kalau seorang gadis seperti engkau melakukan perjalanan berdua dengan seorang pemuda seperti Lie Siong yang tampan dan gagah. Mudah sekali bagi iblis untuk mengganggu kalian.” Hwesio itu menarik napas panjang. “Akan tetapi tak perlu hal itu dibicarakan lagi. Yang terpenting sekarang, dengarlah nasehatku. Apa bila kau memang benar-benar sudah merasa yakin bahwa cintamu tidak terbalas oleh pemuda itu, jalan satu-satunya bagimu adalah kembali ke bangsamu sendiri! Kebiasaanmu dan kebiasaan Lie Siong, sebagai seorang gadis Haimi dan seorang pemuda Han tidak cocok sekali. Kau biasa hidup bebas, sedangkan orang Han selalu terikat oleh peraturan-peraturan kesusilaan dan kesopanan sehingga kalau ikatan itu terlepas sedikit saja, akan membahayakan. Memang baik sekali kalau dia mau menikah denganmu, akan tetapi kalau hal demikian tidak terjadi, jalan satu-satunya adalah seperti yang kukatakan tadi. Nah, terserah kepadamu.”

Lilani mendengarkan nasehat ini sambil meramkan mata untuk menahan air mata yang mulai mengucur. Alangkah besamya cinta hatinya terhadap Lie Siong. Akan tetapi ia juga dapat merasakan bahwa pemuda itu tidak mencintainya. Sebelum mendengar nasehat dari Thian Kek Hwesio, memang dia sudah mengambil keputusan untuk kembali kepada bangsanya, dan dia sekarang makin tetap lagi hatinya.

Demikianlah, ketika Lie Siong datang, Thian Kek Hwesio lalu memanggil pemuda itu ke dalam kamarnya dan berkata,

“Anak muda she Lie. Pinceng telah mendengar semua penuturan Lilani tentang hubungan kalian. Katakan saja terus terang kepada pinceng, apakah ada niat dalam hatimu untuk mengawininya?”

Lie Siong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali dan kemudian menggeleng kepalanya. Akan tetapi pernyataan dengan gelengan kepala ini segera disusulnya dengan berkata, “Betapa pun juga, Losuhu, aku takkan membuatnya sengsara dan meninggalkan dia begitu saja. Aku akan menjaganya, kalau perlu mengambilnya sebagai adik angkat, atau… bagaimana saja menurut sekehendak hatinya asalkan... asalkan jangan menjadi suaminya!”

“Pinceng maklum akan isi hatimu. Kau sudah bersalah, akan tetapi kalau kau sudah mau mengakui kesalahanmu dan kini mau bertanggung jawab memperhatikan nasib gadis itu, kau boleh disebut orang baik.”
“Aku akan mencari suku bangsa Haimi dan membawa Lilani kembali kepada bangsanya. Tentu saja aku tidak akan memaksanya, hanya saja inilah kehendakku.”

Thian Kek Hwesio mengangguk-angguk. “Baik, itulah jalan yang terbaik. Pinceng merasa girang sekali mendengar kau mempunyai ketetapan hati seperti itu. Dengar, anak muda. Kalau kau bukan putera pendekar besar Lie Kong Sian dan Ang I Niocu yang keduanya sudah memupuk perbuatan baik dan kebajikan, kiranya pinceng tak akan mau bersusah payah memberi nasehat dan mencampuri urusanmu. Akan tetapi, sebagai seorang lelaki yang gagah, kau harus berani bertanggung jawab atas segala perbuatanmu. Di dalam kegelapan pikiran kau sudah melakukan pelanggaran bersama Lilani dan sungguh pun kau tidak dapat mengawininya, akan tetapi kau harus penuh tanggung jawab mengatur kehidupannya dan sekali-kali jangan menyia-nyiakan dia sehingga gadis yang malang itu hidup dalam kesengsaraan. Kalau kau meninggalkannya begitu saja tanpa persetujuan hatinya, kau akan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah). Mengertikah kau?”

Kalau sekiranya yang bicara itu bukan Thian Kek Hwesio yang memiliki daya pengaruh luar biasa memancar keluar dari wajahnya yang tenang, sabar dan berwibawa itu, pasti Lie Siong akan menjadi marah sekali. Akan tetapi kali ini pemuda itu hanya menundukkan kepala dan menyatakan kesanggupannya.....

Ketika Lilani bertemu dengan Lie Siong, gadis itu memandang dengan mata sayu, lalu bertanya perlahan, “Taihiap, bilakah kita akan mencari suku bangsaku?”
“Sekarang juga, Lilani. Hari ini juga!” jawab Lie Siong dengan hati diliputi keharuan besar.

Ada pun Lo Sian begitu bertemu dengan Thian Kek Hwesio, cepat-cepat dia memberi hormat. Hwesio sangat tua itu mengangguk-angguk lagi dengan senang.

“Adanya Sin-kai Lo Sian bersama Lie Siong, menandakan bahwa pemuda itu betul-betul seorang yang boleh dipercaya,” pikir hwesio ini, karena dia tahu betul orang macam apa adanya Sin-kai Lo Sian.
“Lebih baik kita mengantar dulu Nona Lilani ke utara. Setelah kita dapat bertemu dengan rombongan suku bangsa Haimi dan mengembalikan Nona itu kepada bangsanya, baru kita mencoba untuk mencari keterangan perihal ayahmu,” kata Lo Sian sesudah mereka bertiga mulai melakukan perjalanan.

Lie Siong menyetujui pikiran ini, akan tetapi dia hendak mengetahui pendirian Lilani yang kini nampak demikian pendiam dan wajahnya selalu diliputi kemurungan.

“Taihiap tahu bahwa aku selalu hanya menurut saja. Sesuka hatimu sajalah, aku hanya ikut, karena apakah daya seorang seperti aku?” jawaban ini tak saja membuat Lie Siong menjadi amat terharu, bahkan Lo Sian yang tidak tahu apa-apa tentang urusan mereka, menjadi kasihan sekali melihat Lilani. Dia lalu bersikap ramah tamah dan baik terhadap gadis ini sehingga Lilani merasa agak terhibur dan suka kepada Pengemis Sakti ini.

Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di kota Ciang-kou, dekat dengan tapal batas Mongolia di Propinsi Ho-pak. Mereka melihat kota itu sunyi seperti kota-kota dan dusun lainnya di dekat tapal batas, karena penduduknya sebagian besar telah pergi mengungsi ke selatan, takut akan penyerbuan dan gangguan tentara-tentara.

Di sepanjang jalan, Lie Siong dan Lo Sian mendengar tentang kekacauan dan gangguan para tentara Mongol dan Tartar. Lo Sian yang berjiwa patriot itu menjadi marah sekali dan beberapa kali dia menyatakan kepada Lie Siong bahwa kalau dia bertemu dengan tentara musuh, dia tentu akan menyerang mereka! Sebaliknya, pemuda itu hanya diam saja tidak menyatakan perasaannya hingga sukar bagi Lo Sian untuk mengetahui isi hati pemuda aneh ini.

Seperti biasa, di dalam kota Ciang-kou mereka mencari tempat bermalam di dalam kuil yang sudah ditinggal pergi oleh para hwesio-nya, dan di sana hanya terdapat dua orang hwesio penjaga kuil yang ramah tamah.

“Sicu, sungguh amat berani sekali Ji-wi Sicu datang ke tempat ini. Setiap waktu kota ini dapat diserbu oleh gerombolan musuh yang jahat. Tentu saja untuk Nona ini tidak ada bahayanya.” Kedua hwesio ini memandang kepada Lilani dengan kening dikerutkan.

Betapa pun Lilani bersikap sebagai seorang gadis Han, tetap saja kecantikannya yang berbeda dengan gadis-gadis Han itu mudah menimbulkan dugaan bahwa dia bukanlah gadis bangsa Han. Kulit seorang gadis Haimi berbeda dengan gadis Han yang kulitnya kekuning-kuningan. Sebaliknya kulit tubuh gadis ini putih kemerah-merahan.

“Biarkan mereka datang, akan kami sikat!” kata Lo Sian dengan marah sekali.

Kedua orang hwesio itu diam saja, akan tetapi di dalam hatinya mengejek orang yang berpakaian pengemis itu. Siapa berani bersikap sombong terhadap gerombolan Mongol yang mempunyai banyak perwira pandai?

Akan tetapi, ketika Lie Siong minta tolong kepada hwesio itu untuk membelikan makanan dan mengeluarkan uang perak, pendeta-pendeta itu bersikap manis dan membantu serta melayani mereka dengan ramah. Lie Siong dan kawan-kawannya tidak mengira bahwa diam-diam kedua orang hwesio itu telah melaporkan hal keadaan mereka, terutama Lilani kepada seorang gagah yang selalu melakukan pengawasan terhadap mata-mata Mongol di tempat itu. Orang gagah ini bukan lain adalah Kam Wi, paman dari Kam Liong!

Di dalam usahanya mencari kawan-kawan yang hendak membantu pertahanan tapal batas dari serangan musuh, Kam Wi memisahkan diri dari suheng-nya, Tiong Kun Tojin dan pergi sampai ke kota Ciang-kou. Di sepanjang jalan dia selalu berlaku waspada. Apa bila dia melihat ada orang-orang kang-ouw yang hendak menyeberang ke utara untuk bersekutu dengan orang-orang Mongol, tentu orang-orang kang-ouw itu akan dibujuknya, baik dengan jalan halus atau pun dengan cara kasar!

Mendengar laporan kedua orang hwesio itu bahwa ada dua orang gagah yang sikapnya mencurigakan bersama seorang gadis Haimi hendak bermalam di kuil, diam-diam Kam Wi merasa curiga sekali. Pada keesokan harinya, ketika Lie Siong, Lo Sian dan Lilani melanjutkan perjalanan mereka, sebelum meninggalkan kota yang sunyi itu, tiba-tiba saja mereka sudah berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi besar yang melompat keluar dari sebuah tikungan jalan. Orang ini bukan lain adalah Kam Wi.

Begitu melihat keadaan Lilani, maka tahulah Kam Wi tokoh Kun-lun-pai itu bahwa gadis ini memang seorang gadis Haimi. Maka, untuk mencari bukti, dia segera menegur Lilani dalam bahasa Haimi,

“Apakah kau orang Haimi?”

Ditegur demikian tiba-tiba dalam bahasanya sendiri, Lilani menjadi terkejut, akan tetapi dia menjawab juga, “Betul! Saudara siapakah?”

Akan tetapi Kam Wi tak banyak cakap lagi, segera membentak dan mengulur tangannya hendak menangkap pundak kiri Lilani, “Mata-mata Mongol! Jangan harap kau akan dapat melepaskan diri dari Sin-houw Enghiong!”

Akan tetapi Lilani bukanlah seorang gadis yang lemah. Ia pun telah mendapat tambahan pelajaran silat dari Lie Siong, maka kegesitannya bertambah. Melihat betapa orang tinggi besar yang berwajah galak itu tiba-tiba menyerang dan hendak menangkap pundaknya, dia cepat mengelak dan melompat mundur.

Bukan main marahnya hati Kam Wi melihat cengkeramannya dapat dielakkan oleh gadis itu. Sekarang kecurigaannya makin bertambah. Seorang gadis Haimi dapat mengelak dari cengkeramannya pastilah bukan orang sembarangan dan patut kalau menjadi mata-mata Mongol atau setidaknya pencari orang-orang kang-ouw untuk membantu gerakan bangsa Mongol.

“Bagus, kau berani mengelak? Cobalah kau mengelak lagi kalau dapat!” Sambil berkata demikian, Kam Wi mengeluarkan kepandaiannya yang sangat diandalkan, yaitu Ilmu Silat Houw-jiauw-kang! Tangannya terulur maju merupakan cengkeraman atau kuku harimau dan dia menubruk ke depan untuk menangkap atau mencengkeram pundak gadis itu!

Lilani benar-benar menjadi bingung dan gugup. Serangan kali ini hebat bukan main dan kedua tangan Kam Wi yang merupakan kuku harimau itu betul-betul sulit untuk dielakkan lagi. Jalan ke kanan kiri atau ke belakang telah tertutup sehingga Lilani hanya akan dapat menghindarkan serangan ini kalau ia dapat ke atas atau amblas ke dalam bumi!

Tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan tahu-tahu tubuh gadis itu benar-benar mumbul ke atas! Kam Wi sampai membelalakkan matanya ketika tiba-tiba yang hendak ditangkapnya itu lenyap dari depan matanya dan telah melompati tubuhnya, melalui atas kepala dan tiba di belakangnya! Ia cepat menengok dan ternyata bahwa yang menolong gadis itu adalah pemuda yang tadi bersama gadis itu datang dengan tenangnya.

Memang sesungguhnya adalah Lie Siong yang telah menolong Lilani dari cengkeraman Kam Wi tadi. Ketika tadi pemuda itu melihat betapa Lilani terancam bahaya cengkeraman yang demikian lihainya, cepat dia melompat sambil menyambar pinggang Lilani, dibawa lompat melewati atas kepala Kam Wi dengan gerakan Hui-niau Coan-in (Burung Terbang menerjang Mega)! Dengan gerakan ginkang yang luar biasa ini ia pun berhasil menolong gadis itu sehingga kini Kam Wi memandang dengan tertegun dan penuh kekaguman.

“Siapa Saudara muda yang gagah ini? Mengapa dapat bersama dengan seorang gadis Haimi yang menjadi mata-mata Mongol? Apakah mungkin seorang enghiong yang gagah perkasa sampai tersesat dan hendak mengkhianati bangsa sendiri?”

Sebelum Lie Siong sempat menjawab, Lo Sian sudah mendahuluinya. Pengemis tua ini mengangkat kedua tangan menjura sambil berkata,
“Orang gagah, harap kau suka bersabar dahulu, agaknya kau sudah salah sangka! Kami sekali-kali bukanlah pengkhianat-pengkhianat seperti yang kau kira!”

Kam Wi berpaling kepada Lo Sian dan ketika melihat pengemis ini ia memandang penuh perhatian dan berkata,
“Ahh, bukankah aku berhadapan dengan Sin-kai Lo Sian?”

Lo Sian tertegun dan ia mengerti bahwa dulu tentu orang yang gagah ini pernah bertemu atau bahkan kenal dengannya, akan tetapi dia telah lupa sama sekali. Karena itu dengan senyum ramah ia berkata,
“Maaf, memang benar siauwte adalah Lo Sian orang yang bodoh. Akan tetapi sungguh otakku yang tumpul tidak ingat lagi siapa adanya orang gagah yang berdiri di hadapanku sekarang.”

Kam Wi tertawa bergelak. “Ah, ahh, Sin-kai Lo Sian benar-benar suka bergurau! Kini aku sudah tak ragu-ragu lagi bahwa kawan-kawanmu ini pasti bukan orang jahat, akan tetapi sungguh sangat mengherankan apa bila seorang Sin-kai Lo Sian sampai lupa kepadaku. Aku adalah Kam Wi, sudah lupa lagikah kau akan Sin-houw-enghiong dari Kun-lun-pai?”

Akan tetapi Kam Wi tidak tahu bahwa benar-benar Lo Sian tidak ingat lagi kepadanya. Bagaimanakah pengemis ini dapat ingat kepadanya sedangkan terhadap diri sendiri saja sudah lupa? Akan tetapi Lo Sian tidak mau berpanjang lebar, maka cepat ia menjura lagi sambil berkata,

“Ah, tidak tahunya Sin-houw-enghiong Kam Wi, tokoh dari Kun-lun-pai! Maaf, maaf, kami tidak tahu sebelumnya maka sudah berani bertindak kurang ajar. Harap Enghiong suka melepaskan kami, karena sesungguhnya kami bukanlah orang-orang jahat. Kami hendak mengantar Nona ini kembali ke bangsanya maka bisa sampai di tempat ini.”

Kam Wi berdiri ternganga. Lo Sian sama sekali tidak menyangka bahwa ucapannya ini benar-benar mengherankan hati Kam Wi karena dahulu Lo Sian tidak sedemikian ‘sopan santun’ sikapnya. Mengapa pengemis ini begini berubah?

“Sungguh aneh!” Kam Wi berkata. “Kalian tidak bermaksud menggabungkan diri dengan para pengkhianat bangsa, akan tetapi ingin mencari suku bangsa Haimi, sedangkan suku bangsa Haimi sudah bersekutu dengan orang-orang Mongol! Bangsa Haimi dan bangsa Mongol sudah menjadi sekutu untuk menyerang dan mengganggu negara kita!”

“Kau bohong!” tiba-tiba Lilani berseru keras. “Bangsaku tidak pernah berlaku seperti itu! Selamanya bangsaku bahkan selalu diganggu oleh orang-orang Mongol, dan sebaliknya selalu mendapat pertolongan bangsa Han. Tak mungkin sekarang bisa bersekutu dengan perampok-perampok Mongol!”
“Nona, baiknya kau datang bersama Sin-kai Lo Sian sehingga aku percaya bahwa kau bukanlah orang jahat. Apa bila tidak demikian halnya, tuduhan bohong kepada Sin-houw Enghiong Kam Wi sudah merupakan alasan yang cukup untuk membuatku turun tangan. Aku Kam Wi selama hidup tak pernah berbohong. Agaknya kau telah lama meninggalkan bangsamu sehingga kau tidak tahu betapa pemimpinmu yang bernama Saliban itu sudah membawa bangsamu bersekutu dengan orang.-orang Mongol!”

Lilani kaget sekali. Saliban adalah seorang di antara sekian banyak pamannya. Memang dia tahu bahwa di antara paman-pamannya, Saliban adalah seorang yang jahat. Menurut cerita mendiang ibunya, Meilani, dulu Saliban pernah memberontak bahkan hampir saja membunuh kakeknya karena pamannya itu ditolak cintanya oleh ibunya yang pada masa itu sudah bertunangan dengan Manako, mendiang ayahnya.

Lilani berpaling kepada Lie Siong, “Taihiap, bantulah aku untuk menolong bangsaku dan melenyapkan Saliban yang memang jahat itu! Mari kita pergi mencari mereka.”

Lie Siong tidak membantah dan kedua orang muda ini tanpa melirik lagi kepada Kam Wi lalu pergi dari situ. Ada pun Sin-kai Lo Sian cepat memberi hormat kepada Kam Wi dan berkata,

“Sin-houw-enghiong, terima kasih atas kepercayaanmu. Biarlah lain waktu kita berjumpa lagi.” Setelah berkata demikian, Sin-kai Lo Sian hendak pergi.

Akan tetapi Kam Wi menahannya dengan kata-kata, “Nanti dulu, kawan. Negara sedang terancam oleh penyerbuan pengacau-pengacau Mongol dan Tartar. Apakah kau sebagai seorang gagah mau berpeluk tangan saja?”

“Siapa bilang aku hendak peluk tangan saja? Dimana saja aku bertemu dengan mereka, aku akan mengerahkan sedikit kebodohanku untuk menghancurkan mereka.”
“Bagus, kalau begitu kau benar-benar seorang sahabat. Ketahuilah bahwa aku sedang mengumpulkan kawan-kawan seperjuangan. Jika kau bermaksud membantu, pergilah ke Gunung Alkata-san dan bantulah tentara kerajaan di sana.”
“Aku akan memperhatikan omonganmu, Sin-houw-enghiong. Akan tetapi terlebih dahulu aku akan membantu Nona Lilani mencari bangsanya!” Maka pergilah Lo Sian menyusul Lie Siong dan Lilani yang telah berangkat lebih dulu.

Setelah mengalami peristiwa yang tidak enak itu, dan yang disebabkan oleh keadaannya sebagai seorang gadis Haimi, Lilani lalu berganti pakaian. Ia merasa malu dan menyesal sekali mendengar betapa bangsanya sudah dibawa tersesat oleh Saliban sehingga suku bangsa Haimi kini dipandang sebagai musuh oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Untuk mencegah terjadinya hal seperti yang tadi dialami saat bertemu dengan Sin-houw-enghiong Kam Wi, Lilani lalu mengenakan pakaian seperti seorang gadis Han, bahkan rambutnya juga diubah susunannya sehingga kini dia benar-benar merupakan seorang gadis Han yang cantik.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan cepat, sama sekali tidak menduga bahwa diam-diam Sin-houw-enghiong Kam Wi tokoh Kun-lun-pai itu masih membayangi mereka. Kam Wi merasa curiga kepada mereka yang disangkanya mata-mata bangsa Mongol.

Kehadiran Lo Sian memang menimbulkan kepercayaannya, akan tetapi sebaliknya sikap Lo Sian yang amat berbeda dengan dahulu, mengembalikan kecurigaannya. Ia tadi telah menyaksikan kelihaian pemuda tampan yang mengawani gadis itu, maka khawatirlah dia kalau-kalau mereka itu benar-benar akan menggabungkan diri dengan kaum pengacau.

Pada suatu pagi, tibalah mereka di dusun yang berada di sebelah selatan kaki Gunung Alkata-san. Dusun itu cukup ramai dan di situ banyak sekali orang gagah dari berbagai golongan. Memang amat mengherankan apa bila melihat di tempat yang jauh di sebelah utara itu begitu banyak terdapat orang-orang dari selatan. Mereka ini adalah orang-orang yang biasa melakukan perdagangan dengan orang-orang Mongol dan biar pun keadaan amat mengkhawatirkan dengan timbulnya bahaya perang, namun orang-orang yang ulet ini masih saja mencari-cari kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar.

Pada saat Lo Sian dan kedua orang kawannya sedang enak berjalan, tiba-tiba terdengar bentakan keras,
“Ha, bangsat muda, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau di sini!” Orang ini ketika dilihat ternyata adalah Ban Sai Cinjin!

Seperti telah diketahui, Ban Sai Cinjin pernah bentrok dengan Lie Siong dan pemuda itu mengamuk dan telah membunuh beberapa orang murid dan kawan Ban Sai Cinjin ketika orang-orang muda itu mengganggu Lilani dahulu. Kini melihat pemuda ini, bukan main marahnya Ban Sai Cinjin sehingga dia langsung menegur di jalan raya.

Ban Sai Cinjin bukan seorang diri di situ, akan tetapi ditemani oleh seorang pengemis tua yang sangat menyeramkan. Rambutnya dipotong pendek dan berdiri kaku seperti kawat. Pengemis menyeramkan ini sesungguhnya bukan lain adalah Coa-ong Lojin, ketua dari perkumpulan Coa-tung Kai-pang!
Image result for PENDEKAR REMAJA
Sebagaimana sudah dituturkan, dua orang pengurus kelas satu dari Coa-tung Kai-pang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Hong Beng yang telah diangkat menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang. Dalam usahanya mencari kawan-kawan, Ban Sai Cinjin berhasil pula menempel raja pengemis yang terkenal galak dan ganas ini dan kini mereka berada di utara karena memang Ban Sai Cinjin sudah mengadakan persekutuan dengan Malangi Khan. Yang menjadi perantara adalah muridnya sendiri yaitu Bouw Hun Ti yang sudah lebih dahulu menggabungkan diri dengan tentara Mongol dan membantu mereka.

Setelah Ban Sai Cinjin tidak berhasil mengadakan persekutuan jahat dengan Perwira Bu Kwan Ji, maka kakek jahat ini lalu pergi dan langsung menuju ke utara. Dia mengubah cita-citanya.

Kini dia berusaha menggunakan kekuatan tentara Mongol dan berpura-pura membantu Malangi Khan dan kemudian setelah mendapat kemenangan, akan merampas kedudukan tinggi di kerajaan! Dia terkenal hartawan dan dengan mempergunakan hartanya, banyak orang yang gagah-gagah yang terbujuk oleh Ban Sai Cinjin untuk membantu usahanya yang penuh khianat ini.

Ketika secara tiba-tiba Ban Sai Cinjin melihat Lie Siong, maka tak tertahan lagi ia segera membentak sambil memandang dengan penuh kebencian. Demikian pula sebaliknya, Lie Siong yang sudah pernah melihat Ban Sai Cinjin juga timbul marahnya.

“Setan tua, kau berada di sini? Orang macam kau tentu tidak mempunyai maksud baik!” bentak Lie Siong sambil mencabut pedangnya.

Akan tetapi pada saat itu Ban Sai Cinjin telah melihat Lo Sian dan kakek ini memandang dengan wajah berubah. Ketika kakek mewah ini melihat betapa Lo Sian seolah-olah tidak mengenalnya, dia menjadi lega dan bertanya,

“Pengemis tua ini bukankah gurumu?” kata-kata ini mengandung sindiran sekaligus juga mencoba untuk menguji apakah Lo Sian masih belum sembuh dari pengaruh racun yang dulu ia jejalkan ke mulutnya.

“Bangsat tua tak usah banyak mulut! Minggirlah dan beri kami jalan sebelum kesabaranku habis!” kata Lie Siong.

Kalau menurutkan kata hatinya, ingin sekali Lie Siong rnenyerang saja kakek itu. Akan tetapi ia bukan seorang yang sembrono dan bodoh. Ia sudah maklum akan kepandaian Ban Sai Cinjin, dan dengan adanya Lo Sian dan Lilani di situ, maka tugasnya akan lebih berat.

Kepandaian kedua orang ini masih jauh untuk dapat menghadapi Ban Sai Cinjin dan jika kakek mewah ini mengganggu mereka, akan sukarlah baginya untuk melindungi mereka. Oleh karena ini maka Lie Siong menahan kesabarannya dan bila mana mungkin hendak segera menjauhi kakek lihai ini tanpa pertempuran.

Akan tetapi pada saat pengemis yang menyeramkan itu melihat Lo Sian, rambutnya dan jenggotnya yang kaku seakan-akan menjadi makin kaku, sepasang matanya memandang marah.

“Bukankah kau yang bernama Sin-kai Lo Sian?” dia bertanya sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Lo Sian.

Sesungguhnya pada saat itu Lo Sian sedang memandang kepada Ban Sai Cinjin dengan sepasang mata terbelalak. Ia merasa seperti pernah melihat orang tua yang berpakaian mewah dengan baju bulu itu, akan tetapi dia lupa lagi di mana. Ketika mendengar orang menyebutkan namanya, dia lalu memandang kepada pengemis yang menyeramkan itu sambil menjawab,

“Benar, kawan. Aku adalah Lo Sian.”
“Bagus!” seru Coa-ong Lojin dengan marah. “Kaulah yang menjadi biang keladi dan telah mengacau perkumpulanku ketika aku pergi. Tidak ingatkah kau?”

Memang dahulu di waktu mudanya, pernah Lo Sian mengobrak-abrik Coa-tung Kai-pang, akan tetapi tentu saja ia tidak ingat lagi akan hal itu. Dia hendak menjawab, akan tetapi tak diberi kesempatan oleh Coa-ong Lojin yang langsung menyerangnya dengan tangan kosong. Ilmu silat dari raja pengemis ini benar-benar hebat. Kedua lengannya bergerak bagaikan dua ekor ular dan mengarah kepada leher dan lambung Lo Sian.

Lie Siong melihat hebatnya serangan ini, maka cepat dia melompat dan menggerakkan pedangnya menahan serangan itu sambil membentak, “Pengemis hina, jangan berlaku sombong di depan kami!”

Coa-ong Lojin terkejut sekali melihat berkelebatnya sinar pedang di tangan Lie Siong. Sungguh pun pedang itu tidak diserangkan kepadanya, hanya digunakan untuk menjaga Lo Sian, namun lidah pedang naga yang panjang berwarna merah itu menyambar ke jurusan urat nadi tangan kanannya.

Sambil berseru keras ia menarik kembali tangannya dan kemudian menyerang Lie Siong dengan hebat. Dengan gerakan cepat sekali tahu-tahu sebatang tongkat yang bengkak-bengkok seperti ular telah berada di tangannya dan tongkat itu lalu dipergunakan untuk menyerang dada Lie Siong.

Tentu saja pemuda ini tidak berlaku lambat dan cepat menangkis dengan keras untuk mematahkan tongkat itu. Akan tetapi dia kaget sekali karena ternyata bahwa tongkat itu sama sekali tidak menjadi rusak pada saat beradu dengan pedangnya dan ketika mereka bertempur, Lie Siong mendapat kenyataan bahwa ilmu tongkat pengemis ini hebat luar biasa!

Memang, Coa-ong Lojin adalah seorang berilmu tinggi dan dia sendiri yang menciptakan Ilmu Tongkat Coa-tung-hoat ini. Seorang yang telah dapat menciptakan ilmu silat tentu dapat dibayangkan betapa tinggi dan mahir dia dalam hal ilmu silat.

Tentu saja Lie Siong tidak mau kalah, untungnya ia telah mempelajari ginkang luar biasa dari ibunya, dan dalam hal ilmu silat, ibunya sudah menggemblengnya semenjak kecil sehingga kini dia telah memiliki kepandaian yang tinggi.

Ketika melihat betapa Lie Siong telah bertempur dengan hebat, Lo Sian tidak mau tinggal diam dan demikian pula Lilani. Mereka berdua maju bersama untuk membantu Lie Siong. Akan tetapi dari samping segera berkelebat bayangan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dibarengi suaranya yang parau.

“Ha-ha-ha, Lo Sian pengemis jembel. Kau masih belum melupakan ilmu silatmu?” Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin lalu menghadapi Lilani dan Lo Sian.

Tentu saja kedua orang itu bukan lawannya dan sebentar saja ujung huncwe-nya telah dapat menotok roboh Lilani dan Lo Sian! Kemudian sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin menyerbu dan membantu Coa-ong Lojin mengeroyok Lie Siong!

Kalau hanya menghadapi Coa-ong Lojin atau Ban Sai Cinjin seorang saja Lie Siong pasti akan mampu mempertahankan diri dan belum tentu kalah. Akan tetapi kini dia dikeroyok oleh dua orang kakek yang lihai itu, tentu saja ia menjadi repot sekali. Apa lagi ia merasa amat gelisah pada saat melihat betapa Lo Sian dan Lilani telah dirobohkan oleh Ban Sai Cinjin.

Kebenciannya terhadap Ban Sai Cinjin meluap-luap dan pedang naganya ditujukan terus untuk merobohkan kakek mewah ini. Oleh karena perhatiannya terutama ditujukan untuk menghadapi kakek ini, maka setelah pertempuran berjalan hampir lima puluh jurus, ujung tongkat ular dari Coa-ong Lojin dengan tepat menotok pundaknya dari kanan. Lie Siong mengeluarkan seruan keras, tubuhnya terhuyung-huyung, lantas pedangnya terlepas dari pegangan dan robohlah dia tak sadarkan diri lagi!

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak-gelak. “Kita bawa mereka ke rumahku!” katanya setelah mengambil pedang Lie Siong, dan bersama Coa-ong Lojin lalu berlari cepat menuju ke rumah gedung milik Ban Sai Cinjin.

Di kota ini Ban Sai Cinjin amat berpengaruh. Kota ini telah ditinggalkan oleh para petugas dan penjaga, maka siapa yang berani menghalangi kakek mewah yang kaya dan lihai ini? Ketika tadi terjadi pertempuran, orang-orang sudah meninggalkan jalan itu sehingga keadaan menjadi sepi sekali.

Setelah tiba di dalam gedung, Ban Sai Cinjin lalu melemparkan tubuh Lie Siong ke dalam sebuah kamar. “Dia yang paling berbahaya,” katanya.

Kemudian dia membawa Lo Sian dan Lilani ke dalam ruang depan. Dengan sekali tepuk saja Lilani dan Lo Sian siuman kembali dari keadaan yang tidak berdaya. Lilani segera menghampiri Lo Sian dan memegang tangan kanan pengemis ini dengan wajah pucat dan penuh kekuatiran. Sebaliknya Lo Sian tetap tenang, berdiri memandang kepada Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin.

“Ban Sai Cinjin, apakah yang hendak kau lakukan kepada dua orang ini?” tanya Coa-ong Lojin sambil tertawa-tawa dan menenggak arak yang telah tersedia di atas meja. Matanya yang besar itu mengerling ke arah Lilani penuh gairah.

Ban Sai Cinjin tersenyum. “Kalau kau suka bunga Haimi ini, ambillah,” katanya kepada kawannya itu yang hanya tertawa saja. “Dia sudah menyebabkan kematian banyak orang tamuku, bahkan rumahku sampai dibakar oleh pemuda tadi! Ada pun pengemis ini... ahh, lihat, bukankah dia mirip seperti boneka hidup?” Dia mendekati Lo Sian yang menentang pandang matanya dengan berani.

“Lo Sian, kau benar-benar sudah lupa kepadaku?”

Sesungguhnya Lo Sian sama sekali tidak ingat lagi kepada Ban Sai Cinjin, akan tetapi ia telah mendengar banyak dari Lili mengenai kakek mewah ini. Karena itu dengan senyum mengejek dia pun berkata,

“Sungguh pun ingatanku sudah banyak berkurang dan aku tak pernah bertemu kau, akan tetapi aku sudah cukup banyak mendengar namamu, Ban Sai Cinjin! Kau seorang pandai yang jahat dan tidak berperi kemanusiaan. Kalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah. Akan tetapi jangan kau mengganggu Nona ini, karena dia hendak mencari dan kembali kepada bangsanya, orang-orang Haimi. Dan pula, pemuda tadi itu harap kau bebaskan, jangan kau mengganggu putera seorang pendekar besar yang berjiwa bersih. Dia adalah putera dari pendekar besar Lie Kong Sian, harap kau mengingat nama ayahnya dan suka melepaskannya!”

Tadi pada saat mendengar bahwa Lilani sedang mencari suku bangsanya, Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin saling pandang dengan muka berubah. Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda yang ditawannya itu adalah putera Lie Kong Sian, tiba-tiba wajah Ban Sai Cinjin menjadi pucat dan kaget sekali.

“Apa...? Dia putera Lie Kong Sian... Kalau begitu kau... kau ingat kembali akan peristiwa dahulu...?”

Lo Sian sebetulnya tidak mengerti maksud pertanyaan ini, akan tetapi dia adalah seorang yang banyak pengalaman dan cerdik. Sengaja dia mengangguk dan berkata, “Mengapa tidak ingat? Kau maksudkan peristiwa dulu tentang Lie Kong Sian Taihiap? Tentu saja!”

“Bangsat rendah! Jadi kau sengaja membawa puteranya untuk mencariku? Ahhh, kalau begitu kalian harus mampus!”

Kakek mewah ini bangkit berdiri dan huncwe mautnya sudah dipegang erat-erat di dalam tangannya.

“Nanti dulu, sahabat,” tiba-tiba Coa-ong Lojin mencegahnya. “Kau boleh saja membunuh Lo Sian, akan tetapi gadis ini...” dia menghampiri Lilani yang menjadi ketakutan. “Ehh, Nona, benar-benarkah kau hendak pergi mencari bangsamu?”

Lilani mengangguk tanpa dapat mengeluarkan suara jawaban.

“Kenalkah kau kepada Saliban?”
“Dia adalah pamanku.”

Kembali Coa-ong Lojin dan Ban Sai Cinjin saling pandang.

“Biar aku yang membawamu kepada pamanmu, Nona!” kata Ban Sai Cinjin. “Pamanmu itu adalah kawan baik kami, jangan kuatir, kami tidak akan mengganggumu. Akan tetapi pengemis ini dan pemuda tadi harus mampus!”
“Jangan bunuh mereka!” Lilani menjerit dengan bingung dan ia bersikap untuk melawan mati-matian guna membela Lo Sian dan Lie Siong.
“Kau tidak tahu, Nona. Mereka ini adalah orang-orang berbahaya yang kelak hanya akan menggagalkan rencana kita, rencana kami dan pamanmu. Nah, Lo Sian, kau bersiaplah untuk mampus!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menghampiri Lo Sian.

Sementara itu, Lo Sian semenjak tadi telah memutar otaknya. Ahh, pasti ada apa-apanya dalam ucapan Ban Sai Cinjin tadi. Kakek mewah ini pasti tahu akan kematian Lie Kong Sian dan menurut ucapannya tadi, sangat boleh jadi Lie Kong Sian terbunuh oleh Ban Sai Cinjin.

“Ban Sai Cinjin!” katanya sambil memandang tajam sama sekali tidak gentar menghadapi saat-saat maut iu. “Jadi kaukah yang membunuh Lie Kong Sian?”

Terdengar suara ketawa yang parau dan menyeramkan dari kakek mewah itu. “Ha-ha-ha! Kau kini berpura-pura tidak tahu? Sebentar lagi kau boleh menyusul dia!”

Huncwe-nya terayun, akan tetapi tiba-tiba Lilani menubruk Lo Sian, melindunginya dan berteriak keras, “Jangan bunuh dia!”

“Lilani, minggirlah, biar aku menghadapinya. Aku tidak takut mati,” Lo Sian berkata. “Kini puaslah hatiku karena aku sudah tahu siapa yang membunuh Lie Kong Sian Taihiap.”

Akan tetapi Lilani memegangi tangan Lo Sian dan tidak mau melepaskannya. Ban Sai Cinjin kembali mengangkat huncwe-nya, siap untuk dipukulkan. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan sesosok bayangan melompat masuk dari pintu depan.

“Ban Sai Cinjin, manusia rendah! Jadi kaukah yang mendalangi semua pemberontakan dan pengkhianatan?”

Ketika Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin menengok, mereka melihat seorang lelaki tinggi besar yang berwajah kasar berdiri sambil bertolak pinggang.

“Sin-houw-enghiong Kam Wi!” berkata Ban Sai Cinjin dengan alis dikerutkan. “Kau yang kudengar sudah bertapa mengasingkan diri di Kun-lun-san, datang ke sini mau apakah? Aku mempunyai perhitungan lama dengan Sin-kai Lo Sian, apakah kau mau mencampuri urusan orang lain?”

“Ban Sai Cinjin, janganlah kau memutar-mutar persoalan. Urusan dengan segala macam pengemis tak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, tadi mendengar bahwa kau adalah sahabat dari Saliban, maka mudah saja diduga bahwa tentu kau pula yang telah membujuk banyak orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk menjadi pengkhianat-pengkhianat yang amat rendah. Dan hal ini, aku Sin-houw-enghiong Kam Wi tidak dapat membiarkannya begitu saja!”

Sambil berkata demikian ia melirik ke arah Coa-ong Lojin, karena sesungguhnya ketika tadi menyatakan bahwa urusan ia tidak mempunyai sangkut paut dengan segala macam pengemis, diam-diam dia telah menyindir Coa-ong Lojin.

Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ucapan ini. “Kam Wi, kau manusia macam apa berani berlagak besar-besaran di hadapanku? Sepak terjangku yang mana pun juga, kau tidak boleh tahu dan tidak boleh mencampuri. Urusan hubunganku dengan Saliban, baik kita bicarakan nanti sesudah aku bikin mampus pengemis hina ini!” Dia kembali hendak menghampiri Lo Sian yang masih dipegangi lengannya oleh Lilani.

“Tahan dulu! Tidak boleh kau mengabaikan aku begitu saja, Ban Sai Cinjin! Kau kira aku orang macam apa maka tidak kau layani lebih dulu?”

Kini Ban Sai Cinjin benar-benar menjadi marah. “Kam Wi, biar pun orang lain boleh takut mendengar kepandaianmu Houw-jiauw-kang, akan tetapi aku Ban Sai Cinjin tidak takut! Sebetulnya apakah kehendakmu?”

“Kau harus ikut dengan aku ke kota raja untuk menerima hukuman atas semua perbuatan pengkhianatanmu!”
“Ho-ho-ho! Sejak kapan tokoh Kun-lun-pai menjadi kaki tangan kaisar?” Ban Sai Cinjin menyindir.
“Ban Sai Cinjin, dengan membawamu ke kota raja, berarti aku masih mau memandang mukamu sebagai orang kang-ouw. Aku selamanya tidak peduli akan urusan pemerintah, akan tetapi kalau negara sedang dikacau musuh dan timbul pengkhianat seperti engkau, aku harus turun tangan. Tinggal kau pilih, kubawa ke kota raja atau kau minta diadili oleh orang-orang kang-ouw sendiri!”

“Kalau aku memilih yang terakhir?” tantang Ban Sai Cinjin.
“Hukuman dunia kang-ouw bagi seorang pengkhianat bangsa hanyalah kematian!”
“Bagus, Kam Wi! Kau hendak menghukum mati padaku? Ha-ha-ha! Aku merasa seperti mendengar seekor kucing hendak membunuh harimau! Majulah, biar aku membereskan jiwa anjingmu dulu sebelum aku bikin mampus Lo Sian!”

Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin segera menggerakkan huncwe-nya, akan tetapi Coa-ong Lojin yang semenjak tadi sudah menjadi marah sekali kepada Kam Wi yang dia anggap sombong sekali, segera mendahuluinya berkata,
“Sahabat Ban Sai Cinjin, biarlah aku sendiri yang membereskan cacing dari bukit Kun-lun ini!”

Karena melihat bahwa Kam Wi tidak bersenjata, Coa-ong Lojin tidak mau merendahkan diri dengan menyerang dan menggunakan senjata tongkatnya. Ia maju memukul dengan tangan kosong.

Kam Wi cepat mengelak. “Ha-ha, sejak tadi aku sudah menduga bahwa kau tentulah raja pengemis Coa-tung Kai-pang yang jahat dan hina dina! Hayo keluarkan tongkatmu yang lapuk itu, hendak kulihat betapa jahatnya tongkat ularmu.”

“Bangsat she Kam! Sudah semenjak lama aku mendengar bahwa Houw-jiauw-kang dari Kun-lun-pai adalah hebat sekali. Kebetulan sekali kau datang membawa kesombonganmu di sini, biarlah kini kucoba sampai di mana sih kepandaianmu maka kau berani bersikap sesombong ini!” Setelah berkata demikian, Coa-ong Lojin lalu menyerang dengan kedua tangan dibuka dan jari-jari tangannya mengeras dan menegang.

Melihat betapa kedua tangan pengemis itu sekarang tergetar dan mengeluarkan cahaya kehitaman, tahulah Kam Wi bahwa lawannya ini memiliki ilmu pukulan yang dia dengar disebut Hek-coa Tok-jiu (Tangan Racun Ular Hitam) yang amat berbahaya. Akan tetapi ia tidak takut dan cepat dia mengelak kemudian mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya. Tangan kanannya mencengkeram ke arah lambung lawan hingga hampir saja lambung Coa-ong Lojin menjadi korban.

Harus diketahui bahwa tidak saja Ilmu Silat Houw-jiauw-kang ini amat hebat, akan tetapi juga tenaga lweekang dari Kam Wi sudah mencapai tingkat tinggi sehingga walau pun cengkeramannya tidak mengenai sasaran, akan tetapi angin pukulannya sudah membuat lawannya merasa lambungnya bagaikan terlanggar benda tajam! Coa-ong Lojin menjadi terkejut sekali dan tahulah dia bahwa tokoh Kun-lun-pai ini benar-benar tak boleh dibuat permainan! Dia lalu bersilat dengan amat hati-hati.

Namun segera ternyata bahwa kepandaian Kam Wi benar-benar lebih menang setingkat. Di samping ia menang tenaga, juga ginkang-nya amat mengagumkan. Sepasang kakinya berlompatan bagaikan seekor harimau dan kedua tangannya sangat ganas. Sekali saja Coa-ong Lojin kena sampok atau diterkam, pasti akan celakalah dia.

Hal ini dimaklumi sedalamnya oleh Coa-ong Lojin. Maka, sesudah bertempur dua puluh jurus lebih, raja pengemis yang berlaku hati-hati ini mulai terdesak dan main mundur.

“Ha-ha-ha-ha, begini sajakah kepandaian raja pengemis dari Coa-tung Kai-pang? Hayo, jembel busuk, keluarkan kepandaianmu! Mana tongkatmu pemukul anjing itu?” Kam Wi mengejek sambil menyerang makin hebat.

Sementara itu, Lo Sian dan Lilani menyaksikan pertempuran itu dengan hati gelisah. Lo Sian maklum bahwa meski pun kepandaian tokoh Kun-lun-pai ini lebih tinggi, namun apa bila Ban Sai Cinjin ikut maju mengeroyok, maka akan celakalah dia. Dia merasa bingung sekali. Untuk membantu, dia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh.

Tiba-tiba terdengar Lo Sian berseru keras, “Sin-houw-enghiong, awas belakang!”

Sebetulnya seruan ini tidak perlu lagi, karena Kam Wi yang berkepandaian tinggi sudah mendengar adanya suara angin pukulan yang sangat hebat menyambar dari belakang. Pada saat itu ia sedang mendesak Coa-ong Lojin, maka ketika mendengar suara pukulan dari belakang dan melihat berkelebatnya huncwe maut yang berkilauan, cepat ia berseru keras sekali.

Tubuhnya mumbul ke atas dan kaki kanannya menendang ke depan untuk menghalangi serangan gelap yang dilakukan Ban Sai Cinjin. Dengan lompatan tinggi yang dilakukan dengan ginkang hebat ini, selamatlah ia dari penyerangan Ban Sai Cinjin yang dilakukan dengan cara pengecut sekali itu.

Sesampainya tubuhnya di atas, Kam Wi lalu menukar kedudukan kakinya. Kaki kiri yang ditekuk ke belakang itu tiba-tiba ditendangkan pula ke arah Coa-ong Lojin, ada pun kaki kanan bagaikan halilintar menyambar dengan sepakan ke belakang sehingga kedua kaki itu menggunting dengan kaki kanannya menyerang ke arah pergelangan tangan Ban Sai Cinjin! Inilah gerakan tendangan berantai yang disebut Soan-hoang-twi yang sangat lihai karena sepasang kaki itu melakukan tendangan dengan tenaga seribu kati beratnya!

“Bangsat Ban Sai Cinjin, kau benar-benar curang sekali!” seru Kam Wi yang kini sudah turun lagi ke bawah.

Akan tetapi Ban Sai Cinjin tidak mempedulikan makian ini, Dengan muka merah saking marah dan malunya dia lalu menyerang dengan huncwe mautnya, sedangkan Coa-ong Lojin juga sudah mencabut tongkat ularnya!

Kam Wi, tokoh Kun-lun-pai itu benar-benar tangguh karena selain ilmu silatnya sudah tinggi, dia memiliki banyak sekali pengalaman bertempur melawan orang-orang pandai. Akan tetapi kali ini ia menghadapi dua orang jago kawakan yang tingkat kepandaiannya sudah sama dengan dia, karena itu dengan bertangan kosong saja menghadapi mereka, bagaimana ia dapat bertahan?

Lo Sian dan Lilani yang telah menjadi bingung itu baru teringat bahwa kalau Lie Siong dapat membantu, tentu Kam Wi akan dapat menghadapi dua orang lawan jahat itu, maka ketika melihat betapa dua orang kakek itu sedang mengeroyok Kam Wi, Lo Sian dan Lilali cepat berlari ke dalam kamar di mana Lie Siong tadi dilempar oleh Ban Sai Cinjin.

Mereka melihat pemuda ini masih rebah tak bergerak, hanya napasnya saja yang masih ada seperti orang pingsan. Cepat Lo Sian menepuk pundak pemuda itu dan mengurut jalan darahnya. Akan tetapi ia tidak dapat membebaskan Lie Siong dari totokan Coa-ong Lojin yang selain lihai, juga berbeda dengan totokan biasa.

Betapa pun Lo Sian mengurut-urut pundak Lie Siong, tetap saja pemuda itu tidak sadar dan pundaknya bahkan ada tanda titik merah sebesar kacang kedelai. Lo Sian menjadi gelisah sekali sedangkan Lilani lalu mulai menangis sambil memeluki tubuh Lie Siong.

“Mari kita bawa dia lari keluar dari sini saja!” kata Lilani.
“Kau boleh membawa dia lari, Lilani. Akan tetapi aku tak dapat meninggalkan Sin-houw-enghiong begitu saja. Aku harus membantunya, biar pun untuk usaha ini aku akan tewas. Tidak selayaknya aku meninggalkan seorang penolong begitu saja mati sendiri!”

Lilani dapat memaklumi sifat gagah dari Lo Sian ini. Dia sendiri pun apa bila tidak ingat akan keselamatan Lie Siong yang dicintanya, belum tentu sudi meninggalkan Kam Wi dalam keadaan terancam bahaya seperti itu. Maka gadis ini lalu memondong tubuh Lie Siong dan berkata, “Lo-enghiong, berlakulah hati-hati!” kemudian ia melompat keluar dari pintu belakang.

Lo Sian segera kembali ke ruang depan dan ia melihat betapa Kam Wi kini telah terdesak hebat sekali. Sungguh sangat lucu dan harus dikasihani melihat orang tinggi besar yang bertangan kosong ini melompat ke kanan kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat dan huncwe maut. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangan kedua orang lawannya.

“Sin-houw-enghiong, biar siauwte membelamu dengan nyawaku!” tiba-tiba saja Lo Sian berseru keras.

Pengemis Sakti ini telah melepaskan ikat pinggangnya dan dia menyerbu bersenjatakan ikat pinggang ini. Biar pun ikat pinggang itu hanya terbuat dari sehelai kain, akan tetapi di dalam tangan seorang ahli dapat menjadi senjata yang cukup berbahaya.

Dan sesungguhnya, kepandaian Lo Sian sudah mencapai tingkat tinggi juga, hanya saja apa bila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ban Sai Cinjin, Coa-ong Lojin, mau pun Sin-houw-enghiong Kam Wi, dia masih ketinggalan amat jauh!

Lo Sian amat benci kepada Ban Sai Cinjin, biar pun dia tidak ingat lagi akan perlakuan kejam kakek mewah ini terhadapnya belasan tahun yang lalu. Mungkin perasaan hatinya membisikkan sesuatu karena baru melihatnya saja, Lo Sian sudah merasa benci sekali. Oleh karena itu, begitu ia menyerbu ia tujukan ikat pinggangnya untuk menyerang Ban Sai Cinjin.

Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali. “Jembel kelaparan! Aku tidak akan mengampuni jiwamu untuk kedua kalinya!” Sambil berkata demikian, huncwe-nya bergerak cepat dan ia sengaja menangkis ikat pinggang itu, terus memutar huncwe-nya sedemikian rupa.

Sebenarnya ikat pinggang itu ketika digunakan oleh Lo Sian, sudah menjadi kaku seperti besi. Akan tetapi begitu beradu dengan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin, seluruh tenaga lweekang yang disalurkan oleh Lo Sian ke dalam ikat pinggangnya menjadi buyar karena dia memang kalah tenaga sehingga ikat pinggang menjadi lemas lagi.

Karena ikat pinggang itu kini telah melibat huncwe, ketika Ban Sai Cinjin mengerahkan tenaga membetotnya, terlepaslah ikat pinggang itu dari tangan Lo Sian. Dalam keadaan terhuyung-huyung Lo Sian hendak mempertahankan diri, akan tetapi tangan kiri Ban Sai Cinjin cepat meluncur maju dan sekali totok saja robohlah Lo Sian dengan tubuh lemas. Jalan darah kin-hun-hiat di bagian iganya telah kena ditotok sehingga biar pun pikirannya masih terang dan panca inderanya masih dapat dipergunakan, namun seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga lagi.

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak-gelak, akan tetapi cepat ia kembali mengeroyok Kam Wi, karena sebentar saja dia meninggalkan Kam Wi untuk menghadapi Lo Sian, keadaan Coa-ong Lojin menjadi terdesak hebat oleh jagoan dari Kun-lun-pai itu. Kini kembali Kam Wi terkurung dan jago Kun-lun yang sudah lelah ini pun akhirnya kena ditendang roboh oleh Ban Sai Cinjin!

“Ha-ha-ha!” Ban Sai Cinjin tertawa bergelak, kemudian dengan amat tenangnya dia lalu memasang tembakau pada kepala pipanya yang panjang, menyalakan tembakaunya dan mengebulkan asap yang wangi. Ia nampak puas sekali, demikian pun Coa-ong Lojin.
“Kita bereskan saja mereka sekarang juga agar jangan merupakan gangguan lagi!” kata pengemis tongkat ular itu.
“Nanti dulu, aku mau bicara sedikit kepada mereka,” jawab Ban Sai Cinjin yang segera menghampiri Kam Wi yang sekarang sudah menggeletak di lantai dengan mata melotot memandangnya penuh keberanian.

“Orang she Kam! Sesungguhnya tidak ada permusuhan di antara kita, akan tetapi kau sendiri yang datang mencari mampus, maka jangan menjadi penasaran kalau hari ini kau menemui maut. Kalau engkau mempunyai kepandaian lebih tinggi, tentu bukan engkau melainkan kami yang menggeletak di sini tak bernyawa lagi! Sebelum aku membunuhmu, ketahuilah bahwa memang sesungguhnya aku yang mengadakan persekutuan dengan bangsa Mongol! Kau tahu mengapa? Karena Kaisar amat lemah, tidak pantas menjadi seorang junjungan! Aku tahu, kau membela Kaisar karena keponakanmu, Kam-ciangkun, menjadi panglima kerajaan. Karena itu aku harus membunuhmu!”

Kemudian Ban Sai Cinjin menghampiri Lo Sian dan berkata, “Kau pengemis jembel hina dina, selalu kau mencampuri urusanku dan selalu pula kau menghalangi jalanku. Agaknya memang dulu di dalam penjelmaan yang lalu kau telah berhutang nyawa kepadaku maka sekarang kau takkan mampus kalau tidak di tanganku. Dahulu aku sudah mengampuni nyawamu dan hanya merampas ingatanmu, akan tetapi agaknya kau iri hati kepada Lie Kong Sian dan suheng-mu Mo-kai Nyo Tiang Le. Kau juga harus mampus!”

Bukan main kagetnya hati Lo Sian mendengar ini. Baru sekarang dia tahu bahwa yang membuat dia menjadi gila dan kehilangan pikiran adalah Ban Sai Cinjin, yang membunuh Lie Kong Sian. Bahkan suheng-nya, Mo-kai Nyo Tiang Le seperti yang telah diceritakan oleh Lili kepadanya, agaknya juga telah terbunuh oleh penjahat besar ini!

Akan tetapi apa dayanya? Dia telah berada di dalam tangan orang ini dan agaknya tak lama lagi dia akan mati. Maka seperti juga Kam Wi, Lo Sian hanya memandang dengan mata melotot, sedikit pun tidak merasa takut.....
“Coa-ong Lojin, kau habiskan nyawa manusia she Kam itu, biar aku bereskan pengemis jembel ini!” kata Ban Sai Cinjin sambil mengangkat huncwe-nya, hendak diketokkan ke arah kepala Lo Sian, sedangkan Coa-ong Lojin juga telah mengangkat tongkatnya untuk ditotokkan ke arah jalan darah atau urat kematian dari Kam Wi!

Akan tetapi pada saat itu dari luar berkelebat dua bayangan orang didahului oleh sinar pedang yang luar biasa sekali bagaikan halilintar menyambar dan…

“Trangg…! Trangg…!”

Tongkat dan huncwe itu telah tertangkis oleh pedang dan baik Ban Sai Cinjin mau pun Coa-ong Lojin merasa telapak tangan mereka tergetar hebat. Tak terasa lagi mereka lalu melangkah mundur sampai lima tindak.

Ketika dua orang ini mengangkat muka memandang, maka berubahlah air muka mereka, bahkan Coa-ong Lojin nampak pucat, sedangkan Ban Sai Cinjin si setan yang tak kenal takut itu kali ini nampak gentar juga.

Dua orang yang menggerakkan pedang secara luar biasa sekali dan berhasil mencegah Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin membunuh Lo Sian dan Kam Wi, adalah seorang lelaki dan seorang wanita yang berusia kurang lebih empat puluh tahun. Yang laki-laki gagah sekali, bertubuh tegap dan berwajah tampan, kedua matanya membayangkan kejujuran hati yang tulus dan pada tangannya nampak sebatang pedang yang berkilau cahayanya. Yang wanita biar pun telah setengah tua, nampak cantik sekali dengan bibir mengandung senyum jenaka dan sepasang mata bintang yang bersinar penuh keberanian.

Pantas saja Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin merasa amat gentar menghadapi sepasang orang gagah ini, karena mereka bukan lain adalah suami isteri yang amat terkenal yaitu Pendekar Bodoh dan isterinya! Sie Cin Hai Si Pendekar Bodoh bersama Lin Lin, isterinya yang berkepandaian tinggi, datang pada saat yang amat tepat untuk menolong nyawa Lo Sian dan Kam Wi.

“Pendekar Bodoh…,” dengan bibir gemetar Ban Sai Cinjin masih sempat mengeluarkan kata-kata yang membayangkan kegelisahannya.

Cin Hai terseyum, senyum yang amat dingin. “Ban Sai Cinjin, telah lama aku mendengar namamu. Dan telah lama aku ingin sekali bertemu dengan muridmu yang bernama Bouw Hun Ti untuk menagih hutang. Hari ini kebetulan sekali kami berdua sempat menghalangi terjadinya sebuah di antara kekejamanmu. Akan tetapi oleh karena aku sudah menerima tantangan suheng-mu, Wi Kong Siansu, dan karena kau tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan aku, kali ini aku tak akan mengganggumu! Pergilah!”

Bukan main malu dan marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan ini. Ia sedang berada di rumah sendiri, bagaimana Pendekar Bodoh ini berani mengusirnya begitu saja seperti seekor anjing? Biar pun dia sudah mendengar nama besar Pendekar Bodoh dan tentang kelihaiannya, akan tetapi belum pernah merasakan kelihaian itu dan lagi pula dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut, bukanlah seorang bu-beng-siauw-cut (orang rendah tak terkenal) juga bukan orang biasa.

“Pendekar Bodoh, lagakmu benar-benar sama besarnya dengan namamu, akan tetapi aku masih meragukan apakah kepandaianmu juga sebesar itu. Aku berada di rumahku sendiri, bagaimana kau bisa mengusirku?” lagak Ban Sai Cinjin menantang.
“Aku tidak mengusirmu pergi dari rumahmu, hanya minggatlah dari depan mataku. Sebal aku melihatmu!” kata Lin Lin yang mewakili suaminya.

Makin merah muka Ban Sai Cinjin. Kedua kaki tangannya berbunyi karena dia berusaha keras menahan kemarahannya sambil mengepalkan tinju hingga pipa yang digenggamnya hampir remuk!

“Kalau aku tidak mau pergi?” tantangnya.
“Mau atau tidak, pergilah!” Pendekar Bodoh membentak sambil melangkah cepat ke arah kakek mewah itu.

Ban Sai Cinjin ketika melihat betapa Pendekar Bodoh menghampirinya tanpa memegang pedang, timbul sifat pengecut dan liciknya. Tiba-tiba dia menggerakkan huncwe mautnya yang dipukulkan sehebatnya ke arah kepala Cin Hai!

Akan tetapi Ban Sai Cinjin kecelik besar kalau mengira bahwa serangan tiba-tiba secara pengecut ini akan dapat menghancurkan kepala Pendekar Bodoh. Dia tidak tahu bahwa Cin Hai telah memiliki kepandaian yang luar biasa sekali yang diwarisinya dari suhu-nya, yaitu Bu Pun Su. Kepandaian yang luar biasa sekali, yaitu pengertian tentang dasar dan pokok segala macam gerakan tubuh manusia pada waktu melakukan gerakan silat. Oleh karena itu, menyerang Pendekar Bodoh dengan tiba-tiba dan tidak tersangka, sama saja sukarnya dengan menyerang angin!

Belum juga huncwe itu bergerak, baru gerakan pundak Ban Sai Cinjin saja sudah dapat dilihat dan diketahui oleh Cin Hai, sehingga sebelum huncwe melayang ke kepalanya, dia sudah tahu bahwa huncwe itu akan melayang dan menyerangnya. Dengan tenang sekali Cin Hai mendiamkan saja. Akan tetapi setelah huncwe itu melayang dekat dan Ban Sai Cinjin sudah merasa girang sekali, mendadak terdengar seruan kaget dari Ban Sai Cinjin dan tubuh kakek ini terlempar kemudian melayang keluar dari pintu ruangan itu! Suara tubuhnya jatuh berdebuk disusul berkelontangnya huncwe yang menyusulnya!

Bukan main terkejut dan herannya hati Ban Sai Cinjin. Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu? Ia tak melihat Pendekar Bodoh bergerak, dan tadi sudah jelas sekali terlihat olehnya betapa huncwe-nya sudah mampir mengenai kepala lawannya. Ia hanya melihat tangan kiri dan kaki kanan lawannya bergerak sedikit saat huncwe-nya sudah hampir mengenai sasaran dan tahu-tahu ia telah terdorong sedemikian hebatnya!

Sebenarnya, ketika tadi Cin Hai melihat serangan Ban Sai Cinjin, ia berlaku tenang saja. Ia tahu dengan pasti bagaimana serangan itu akan dilanjutkan, maka ia mendiamkannya saja dan pada saat tangan yang memegang huncwe sudah hampir mengenai kepalanya, secepat kilat akan tetapi tetap tenang tangan kiri Cin Hai melayang dibarengi uap putih mengebul darl tangannya. Inilah sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut!

Sambaran hawa putih yang keluar dari pukulan ini lantas membuat tangan Ban Sai Cinjin terdorong sehingga pukulannya menjadi melenceng dan tidak mengenai kepala Cin Hai, dan berbareng dengan saat itu juga, kaki kanan Cin Hai telah melayang dan mendorong tubuh lawannya yang sama sekali tak mengira akan hal ini. Demikianlah, dengan mudah Cin Hai telah membuktikan omongannya tadi, yaitu memaksa Ban Sai Cinjin pergi dari hadapannya.

Sementara itu, Coa-ong Lojin melihat hal itu dengan mata terbelalak. Dia melihat dengan jelas betapa dengan mudahnya Pendekar Bodoh mengalahkan Ban Sai Cinjin. Hampir ia tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri. Akan tetapi dia dapat melihat bahwa kekalahan yang demikian mudah dari Ban Sai Cinjin terjadi karena kesalahan kakek itu sendiri.

Dalam pandang matanya, Ban Sai Cinjin terlalu mencurahkan perhatian penjagaan diri. Memang serangan balasan dari Pendekar Bodoh tadi terjadi sangat di luar sangkaan dan mungkin di sinilah letaknya kekuatan dan kelihaian Pendekar Bodoh.

Coa-ong Lojin merasa bahwa ia dapat menghadapi Pendekar Bodoh. Sungguh pun tidak akan menang, akan tetapi dia mungkin sanggup bertahan sampai beberapa lama, tidak seperti Ban Sai Cinjin, baru segebrakan saja sudah terlempar keluar pintu.

Semenjak tadi Lin Lin sudah memperhatikan Coa-ong Lojin dan juga Kam Wi yang masih menggeletak di bawah dan tadi hendak dibunuh oleh pengemis itu. Kini nyonya ini maju menghampiri Coa-ong Lojin dan berkata,

“Kalau aku tidak salah sangka, kau tentu Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kai-pang. Tongkat ularmu itu mengingatkan aku siapa adanya kau ini. Akan tetapi, mengapa kau hendak membunuh orang ini?”
“Isteriku, dia itu adalah Sin-houw-enghiong Kam Wi, tokoh besar dari Kun-lun-pai!” kata Cin Hai kepada Lin Lin.
“Hemm, Sin-houw-enghiong terkenal sebagai orang gagah yang berpribudi tinggi, kenapa hendak kau bunuh?” kembali Lin Lin bertanya kepada Coa-ong Lojin yang untuk sesaat menjadi pucat tidak dapat menjawab.
“Aku hanya terbawa-bawa oleh Ban Sai Cinjin, akan tetapi...,” dia mengangkat dadanya memberanikan hatinya, “peduli apakah kalian dengan urusanku?”

Diam-diam Ketua Coa-tung Kai-pang ini menyangka bahwa Pendekar Bodoh tentu akan membela puteranya yang sudah menjadi Ketua Hek-tung Kai-pang, padahal sebenarnya Cin Hai dan Lin Lin belum mengetahui bahwa putera mereka, Hong Beng, telah diangkat menjadi ketua Hek-tung Kai-pang dan sudah pernah menanam bibit permusuhan dengan Coa-tung Kai-pang.

“Burung gagak tentu memilih kawan burung mayat!” kata Lin Lin. “Sudahlah, kami tidak ingin lebih lama lagi bicara denganmu. Pergilah!”

Biar pun merasa mendongkol dan marah, namun Coa-ong Lojin lebih hati-hati dari pada Ban Sai Cinjin dan dia tidak berani melawan.

“Pendekar Bodoh, kali ini aku Coa-ong Lojin mengalah kepadamu, karena tak ada sebab bagiku untuk mengadu nyawa. Akan tetapi lain kali aku tidak akan sudi menelan hinaan macam ini lagi!” Setelah berkata demikian, Coa-ong Lojin lalu berjalan pergi.

Akan tetapi pada saat itu pula terdengar bentakan, “Pengemis kelaparan, jangan kau pergi dulu!”

Dari luar menyambar bayangan orang yang sekali mengulur tangan sudah menerkam ke arah pundak Coa-ong Lojin! Raja pengemis ini kaget sekali dan cepat menyabet dengan tongkatnya, akan tetapi dengan gerakan yang indah dan gesit sekali, orang itu mengelak dan sekali tangannya bergerak, tongkat ular itu telah kena dirampasnya!

Orang ini bukan lain adalah Kwee An, murid Eng Yang Cu tokoh Kim-san-pai, juga murid dari Pek Mo-ko Si Iblis Baju Putih, dan sekaligus menjadi murid dari Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng (baca cerita Pendekar Bodoh).

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Cin Hai dan Lin Lin sebelum berangkat ke utara menyusul Hong Beng dan Goat Lan, mereka lebih dulu mampir di Tiang-an dan Kwee An lalu ikut dengan mereka untuk mencari puterinya, Goat Lan. Perjalanan tiga orang pendekar besar ini dilakukan dengan cepat dan lancar sekali. Dan pada suatu hari, mereka bertemu dengan Lilani yang sedang menggendong Lie Siong sambil mengalirkan air mata!

Tentu saja melihat keganjilan ini, ketiga orang pendekar itu berhenti dan menahan Lilani. Melihat wajah Lilani, Kwee An memandang dengan bengong. Dia merasa seperti pernah melihat gadis cantik ini, akan tetapi tidak ingat lagi, entah di mana. Lin Lin segera maju menghampiri Lilani dan bertanya,
“Nona yang manis, apakah yang telah terjadi dengan pemuda itu? Siapa kau dan siapa pula dia?”

Melihat sikap dan wajah ketiga orang setengah tua yang gagah itu, Lilani merasa kagum. Akan tetapi gadis ini masih merasa ragu-ragu untuk menceritakan keadaan dirinya. Siapa tahu kalau-kalau mereka ini juga kawan-kawan dari Ban Sai Cinjin?

Pendekar Bodoh dapat melihat keraguan gadis itu, maka ia lalu berkata, “Nona tak perlu kau mencurigai kami, karena kami biasanya hanya menolong orang, dan tak pernah mau mengganggu orang.”

“Siapakah Sam-wi yang mulia? Kenapa pula menahan perjalananku? Kawanku ini sedang terluka hebat dan perlu segera dicarikan obat, maka harap Sam-wi suka melepaskan aku yang malang ini.”

Kwee An yang sejak tadi memandang kepada gadis itu dengan penuh perhatian karena merasa sudah pernah bertemu dengan muka ini, lalu maju dan begitu melihat keadaan Lie Siong dia pun berseru kaget,
“Nona, kawanmu ini terluka oleh senjata berbisa! Lekaslah kau ceritakan keadaanmu dan jangan meragukan kami. Ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan orang-orang baik. Pendekar di hadapanmu ini adalah Pendekar Bodoh dan kau tidak boleh mencurigainya lagi.”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba wajah Lilani menjadi berseri. Dia menurunkan tubuh Lie Siong yang dipondongnya, kemudian serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Cin Hai sambil berkata,
“Sie Taihiap, tolonglah aku yang sengsara ini, tolonglah aku demi orang tuaku yang telah Taihiap kenal. Aku adalah Lilani, anak dari Manako dan Meilani!”

“Kau anak Meilani...?” Kwee An yang berseru kaget dan barulah kini dia teringat bahwa wajah gadis ini bagaikan pinang dibelah dua, serupa benar dengan wajah Meilani, gadis Haimi yang dahulu telah menjadi ‘isterinya’ di luar kehendaknya itu! Juga Lin Lin dan Cin Hai terkejut dan mereka teringat akan Meilani yang pernah mereka jumpai. (baca cerita Pendekar Bodoh)

“Bangunlah, Nak. Kau kenapakah dan siapa pula kawanmu ini?” Lin Lin bertanya sambil membangunkan gadis itu. “Tentu saja kami kenal baik dengan ayah bundamu, bahkan ini adalah Kwee Taihiap saudara tuaku yang boleh kau sebut sebagai ayah tirimu!”

Sungguh keterlaluan Lin Lin, dalam keadaan begini ia masih dapat menggoda kakaknya. Tentu saja Kwee An menjadi jengah sendiri ketika Lilani mendadak menjatuhkan diri dan berlutut pula di depannya.

“Bangunlah, bangunlah, dan lekas kau bercerita. Siapa pemuda ini dan kenapa ia sampai terluka begini hebat?”
“Dia bernama Lie Siong, putera dari Lie Kong Sian Taihiap dan...”
“Apa katamu?” Lin Lin hampir menjerit. “Kau bilang pemuda ini putera Lie-suheng... jadi dia... dia putera Ang I Niocu?!”

Lilani mengangguk dan dengan singkat dia menceritakan pertemuannya dengan Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin. Ketika mendengar betapa Lo Sian dan Kam Wi masih berada di dalam bahaya hebat, Pendekar Bodoh tidak mau membuang banyak waktu lagi. Dia minta tolong kepada Kwee An untuk merawat Lie Siong karena sedikit-sedikit Kwee An juga tahu cara pengobatan orang yang terluka, sedangkan ia sendiri lalu menarik tangan isterinya dan diajak berlari cepat sekali menuju ke rumah yang ditunjuk oleh Lilani.

Ada pun Kwee An setelah memeriksa luka Lie Siong dengan teliti, dengan amat terkejut dia melihat bahwa bisa yang masuk ke dalam tubuh pemuda melalui luka kecil itu amat berbahaya dan dia tidak sanggup mengobatinya. Ia lalu bertanya lagi kepada Lilani siapa yang melukai pemuda itu, dan ketika mendengar bahwa Lie Siong terluka oleh tongkat Coa-ong Lojin, dia segera memondong tubuh Lie Siong dan berkata,

“Hayo kita kejar mereka! Hanya Coa-ong Lojin saja yang dapat menolong nyawa pemuda ini!” Dan bersama Lilani mereka kemudian berlari cepat menyusul Pendekar Bodoh dan isterinya.

Demikianlah, ketika Kwee An tiba di situ dan melihat Coa-ong Lojin hendak pergi, dia lalu memberikan Lie Siong kepada Lilani dan dia sendiri lantas menyerang Coa-ong Lojin dan berhasil merampas tongkatnya.

“Pengemis ular,” kata Kwes An dengan sikap mengancam. “Jangan kau pergi dulu. Kalau kau tidak mau memberi obat untuk menyembuhkan luka Lie Siong, jangan harap kau akan dapat pergi dari sini dengan kepala masih menempel di lehermu!”

Coa-ong Lojin berdiri bengong karena terkajut serta herannya. Bagaimana orang dapat merampas tongkatnya dengan sedemikian mudahnya?

“Siapakah kau?” tanyanya.
“Kau berhadapan dengan orang she Kwee dari Tiang-an. Sudah tak perlu banyak cakap, lekas kau keluarkan obat untuk menyembuhkan lukanya,” berkata pula Kwee An sambil menunjuk ke arah Lie Siong yang dipondong masuk oleh Lilani.
“Kalau aku tidak mau dan tidak takut mampus?” tantang Coa-ong Lojin sambil tersenyum mengejek.

Kwee An menjadi gemas. “Bangsat rendah! Tahukah kau bahwa aku pernah menerima pelajaran dari Pek Mo-ko? Tahukah kau artinya ini? Aku dapat membuat kau menderita selama hidup, hidup tidak mati pun tidak! Di samping itu, aku akan pergi mencari kawan-kawanmu, semua anggota Coa-tung Kai-pang akan kubasmi habis sampai bersih!”

“Engko An, biarkan aku mencokel kedua matanya kalau dia tidak mau menyembuhkan putera Enci Im Giok (Ang I Niocu)!” kata Lin Lin dengan gemas sekali.
“Dan aku pun harus mematahkan kedua lengannya kalau dia tetap berkukuh tidak mau mengobati Lie Siong!” kata Cin Hai.

Mau tidak mau ngeri juga hati Coa-ong Lojin mendengar ancaman-ancaman ini, apa lagi dia pernah mendengar nama Pek Mo-ko sebagai tokoh besar yang memiliki kepandaian mengerikan sekali. Tadi pun dia telah menyaksikan kepandaian Kwee An yang demikian mudah merampas tongkatnya.

Ia menarik napas panjang, merasa tidak sanggup menghadapi tiga orang pendekar besar yang lihai ini. Dikeluarnya sebungkus obat bubuk putih dari saku bajunya dan berkatalah dia dengan gemas,

“Biarlah sekali ini aku Coa-ong Lojin mengaku kalah dan menuruti kehendak orang lain. Akan tetapi lain kali aku akan membikin pembalasan!” Dia melemparkan bungkusan obat kepada Kwee An dan hendak pergi.
“Nanti dulu!” seru Cin Hai. “Obat itu belum dibuktikan kemanjurannya!” Sambil berkata demikian Pendekar Bodoh menggerakkan tubuhnya yang melesat ke arah pengemis itu dan sekali ia menggerakkan tangannya tidak ampun lagi Coa-ong Lojin roboh tertotok.

Sementara itu, Lin Lin sudah menghampiri Lo Sian dan cepat memulihkan kesehatannya setelah menotok dan mengurut pundaknya. Sin-kai Lo Sian merasa gembira sekali dan ucapan pertama yang keluar dari mulutnya adalah,
“Dia harus disembuhkan, dia adalah putera Ang I Niocu!”

Cin Hai juga membebaskan totokan pada diri Kam Wi yang cepat melompat berdiri dan tanpa berkata sesuatu, orang yang kasar dan jujur ini langsung mengangkat tangan dan memukul ke arah Coa-ong Lojin yang telah duduk bersandar tembok tanpa berdaya lagi! Akan tetapi cepat-cepat Cin Hai menangkap tangannya. Pukulan Kam Wi ini dilakukan dengan keras sekali, akan tetapi dia tertegun ketika merasa betapa dalam tangkapan Cin Hai, dia tak kuasa menggerakkan tangannya itu.

“Dia orang jahat, harus dibunuh!” katanya dengan keras.
“Sabar dulu, Sin-houw-enghiong! Dia harus membuktikan terlebih dulu bahwa obat yang diberikan untuk menyembuhkan Lie Siong benar-benar manjur,” kata Cin Hai.

Sesudah dihibur-hibur oleh Cin Hai dan Lin Lin, akhirnya Kam Wi menjadi sabar dan mereka semua lalu menyaksikan betapa Kwee An mengobati Lie Siong. Atas petunjuk dari Coa-ong Lojin yang masih dapat bicara dengan lemah, luka di pundak kanannya itu lalu dicuci bersih dan dibubuhi obat bubuk yang sudah dicairkan dengan air. Kemudian, dengan obat bubuk itu pula, Lie Siong diberi minum obat dicampur sedikit arak. Setelah pengobatan ini, semua orang berdiam, menanti hasil pengobatan itu.

“Sebentar lagi dia akan siuman dan sembuh,” kata Coa-ong Lojin dengan perlahan.
“Awas, kalau kata-katamu tak terbukti, aku sendiri yang akan memukul hancur kepalamu yang jahat!” kata Kam Wi dengan melototkan kedua matanya yang lebar.

Akan tetapi, tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Coa-ong Lojin, tidak lama kemudian terdengar Lie Siong mengeluh dan pemuda ini membuka matanya. Wajahnya yang pucat telah menjadi merah kembali, sebaliknya luka di pundak yang tadinya merah telah mulai menjadi pulih.

“Baiknya kau tidak membohong sehingga jiwamu masih tertolong!” kata Pendekar Bodoh. Sebagai seorang budiman, ia tidak mau melanggar janji dan melihat Lie Siong betul-betul dapat disembuhkan, dia lalu menghampiri Coa-ong Lojin dan membebaskan totokannya sehingga pengemis itu dapat melompat berdiri.

“Baiklah sekali ini aku Coa-ong Lojin sudah menerima penghinaan berkali-kali. Kelak di puncak Thian-san aku akan memperkuat rombongan Wi Kong Siansu untuk menghadapi kalian!”

Setelah berkata demikian, pengemis bertongkat ular ini hendak pergi. Akan tetapi Kam Wi sudah melompat ke depannya dan sekali menendang, tubuh pengemis itu terlempar keluar dari pintu.

“Ha-ha-ha! Pengemis ular, lain kali bukan pantatmu yang kutendang tetapi kepalamu!”

Setelah Coa-ong Lojin pergi, Lie Siong memandang semua orang itu dengan heran. Dia menoleh kepada Lo Sian dengan mata mengandung pertanyaan, sehingga Sin-kai Lo Sian tersenyum dan berkata,
“Lie Siong, kau berhadapan dengan orang-orang sendiri. Sungguh bagus sekali nasibmu sehingga hari ini kau dapat bertemu dan ditolong oleh mereka ini. Ketahuilah bahwa dia ini adalah Pendekar Bodoh dan isterinya, sedangkan orang gagah itu adalah Kwee An Taihiap dari Tiang-an!” Memang sebelumnya Lo Sian sudah mendapat keterangan dari Lilani yang memperkenalkan tiga orang besar itu.

Tentu saja Lie Siong menjadi terkejut bukan main. Akan tetapi pemuda ini dapat menekan perasaannya, dan tidak memperlihatkan perubahan pada wajahnya yang tampan.

“Siong-ji (Anak Siong), ayah dan ibumu adalah seperti kakak kami sendiri,” kata Lin Lin dengan terharu sambil menatap wajah yang tampan itu.

Lie Siong lalu memandang kepada Lin Lin. Alangkah cantiknya nyonya ini, hampir sama dengan Lili, yang tak pernah lenyap bayangannya dari depan matanya itu. Alangkah jauh bedanya dengan ibunya yang nampak tua. Tiba-tiba saja ia menjadi terharu sekali ketika teringat akan ibunya yang telah ditinggalkannya.

Ibunya mempunyai sahabat-sahabat baik seperti ini, mengapa ibunya hidup menderita? Mengapa ayahnya sampai mati tanpa ada pembelaan dari mereka ini? Mereka ini adalah pendekar-pendekar besar seperti yang sudah sering kali disebut-sebut oleh ibunya, akan tetapi mengapa ibunya dan dia sampai hidup di tempat asing?

Hatinya menjadi dingin sekali. Keangkuhan hati pemuda ini tersinggung karena dalam keadaan tertimpa mala petaka, justru orang-orang ini yang telah menolongnya. Alangkah bodoh, lemah, dan tak berdaya dia nampak dalam pandangan mata ketiga orang ini! Padahal dia ingin sekali memperlihatkan kepada Pendekar Bodoh dan isterinya, bahwa keturunan Ang I Niocu tidak kalah oleh mereka!

Akan tetapi oleh karena telah ditolong oleh mereka, terpaksa Lie Siong lalu maju menjura memberi hormat dan berkata,
“Sungguh siauwte harus menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Sam-wi yang gagah perkasa. Semoga Thian akan memberi kesempatan kepada siauwte untuk kelak membalas budi ini. Maafkan bahwa siauwte harus melanjutkan perjalanan mencari ayah, karena selain siauwte siapa lagi yang akan mencarinya?”

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu menoleh kepada Lilani, “Mari kita pergi!”

Gadis itu memandang dengan perasaan terheran-heran, akan tetapi bagaimana ia dapat membantah ajakan pemuda yang menjadi pujaan hatinya? Ia hanya memandang kepada Lin Lin dengan sedih, kemudian sambil menahan isak, dia lalu melompat dan menyusul Lie Siong yang sudah lari terlebih dahulu.

“Eh, ehh, Lie Siong tunggu dulu! Aku akan menunjukkan tempatnya kepadamu!” Lo Sian berseru keras dan segera mengejar pula.

Ada pun Kwee An, Lin Lin, dan Cin Hai menjadi melengak dan tak dapat mengeluarkan kata-kata saking herannya. Kemudian mereka saling pandang dengan perasaan aneh. Bagaimanakah pemuda itu dapat bersikap sedemikian dinginnya?

“Dia seperti orang marah,” kata Cin Hai.
“Tidak, seperti orang malu,” kata Lin Lin.
“Menurut pandanganku, seperti orang yang merasa sangat penasaran. Sungguh aneh!” kata Kwee An.

Selagi ketiga orang itu merasa terheran-heran, suasana yang tidak enak itu dipecahkan oteh suara Kam Wi yang keras,
“Ah, sungguh beruntung sekali hari ini aku dapat bertemu, bahkan mendapat pertolongan dari tiga orang pendekar besar! Ha-ha-ha-ha, Pendekar Bodoh, memang agaknya Thian telah menyetujui usulku. Aku memang hendak bertemu dengan kau, Sie Taihiap!”

Cin Hai membalas penghormatan tokoh Kun-lun-pai itu. “Kam-enghiong, harap kau tidak berlaku sungkan. Saling bantu dan memberantas kejahatan di antara kalangan kita telah merupakan kewajiban yang tidak perlu dikotori oleh sebutan pertolongan atau pun budi. Kehormatan apakah yang hendak kau berikan kepada kami maka kau hendak mencari kami dan usul apakah yang kau maksudkan itu?”

“Harap kau dan isterimu tidak menganggap aku berlaku kurang ajar apa bila kesempatan ini kukemukakan maksud hatiku. Ketahuilah, aku mempunyai seorang anak keponakan yang bernama Kam Liong, yang sekarang menjabat pangkat sebagai panglima muda di kerajaan. Tentu kalian masih ingat pada Kam Hong Sin saudara tuaku, nah, Kam Liong adalah putera satu-satunya.”
“Kami sudah pernah bertemu dengan Kam Liong itu, Kam-enghiong. Dia adalah seorang pemuda yang gagah dan baik.”

Berseri wajah Kam Wi mendengar ucapan Lin Lin ini. “Bagus sekali, agaknya memang Thian telah menjadi penunjuk jalan! Toanio, seperti juga kau dan suamimu, aku pun telah melihat puterimu yang bernama Sie Hong Li! Juga suheng-ku, Suhu dari Kam Liong yang kau kenal sebagai tokoh pertama dari Kun-lun-pai, yaitu Tiong Kun Tojin, sangat suka melihat puterimu yang cantik dan gagah itu! Oleh karena itu, kami sudah sependapat, yaitu aku, Kam Liong, serta suhu-nya, untuk mengajukan pinangan kepada Sie Taihiap untuk menjodohkan Kam Liong dengan Nona Sie Hong Lie!”

Mendengar pinangan yang tiba-tiba dan terus terang di tempat yang tidak semestinya ini, kedua orang tua itu terkejut dan tersipu-sipu. Wajah Lin Lin menjadi merah akibat jengah. Belum pernah terpikir olehnya akan menerima lamaran orang dan sungguh pun di dalam hatinya ia amat suka kepada Kam Liong, akan tetapi mulutnya tak dapat berkata sesuatu.

Dia hanya memandang kepada suaminya yang kebetulan juga memandang kepadanya dengan mata bodoh. Sampai lama suami isteri ini hanya saling memandang, tidak dapat menjawab, bahkan tidak berani pula memandang pada Sin-houw-enghiong Kam Wi yang masih menanti jawaban mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa geli, dan ternyata yang tertawa itu adalah Kwee An.
“Ha-ha-ha, bagaimanakah kalian ini? Anak perempuan dilamar orang, kok hanya saling pandang seperti pemuda-pemudi yang main mata?”

Kwee An biasanya pendiam dan tidak banyak berkelakar, akan tetapi sekali ini ia sedang berkumpul dengan Lin Lin yang suka menggodanya, ia selalu mencari kesempatan untuk balas menggoda adiknya ini! Tentu saja Lin Lin menjadi makin bingung dan akhirnya Cin Hai yang dapat mengeluarkan kata-kata sambil menjura kepada Kam Wi,

“Kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas kehormatan yang Kam-enghiong berikan kepada kami. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa anak kami Hong Li yang bodoh dan buruk rupa itu mendapat perhatian dari keponakanmu, juga dari Tiong Kun Tojin dan dari kau sendiri. Sesungguhnya puteri kami yang bodoh itu terlalu rendah, apa bila dibandingkan dengan Kam-ciangkun yang biar pun masih muda sudah menduduki pangkat sedemikian tingginya, selain lihai juga menjadi anak murid dari tokoh Kun-lun-pai yang terkenal.”

“Bagus, bagus! Jadi kalian sudah setuju? Kalian menerima pinanganku?” Kam Wi yang jujur dan kasar itu segera memutuskannya.
“Bukan begitu, Kam-enghiong. Harap jangan tergesa-gesa, tak dapat kami memutuskan begitu saja...” kata Cin Hai.
“Hemmm, jadi Sie Taihiap menolak?” kembali Kam Wi memutuskan omongan Pendekar Bodoh.

Cin Hai tersenyum, ia maklum bahwa Kam Wi memiliki watak yang amat kasar, polos, dan tidak sabaran.

“Tenanglah, Kam-enghiong. Urusan perjodohan bukanlah seperti urusan jual beli barang murahan saja. Hal ini tentunya harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Sekarang kami tidak dapat memberi keputusan, berilah waktu kepada kami untuk memikirkan serta mempertimbangkannya dan terlebih dulu kami harus bertemu dan bicara dengan Lili puteri kami itu.”

“Pendekar Bodoh, kita adalah golongan orang-orang yang tak pandai bicara, karena lebih mudah bicara dengan kepalan tangan dari pada dengan bibir dan lidah. Kalau kiranya kalian berdua menolak pinangan ini, tak usah banyak sungkan, nyatakan saja sekarang. Aku takkan merasa penasaran atau marah, karena sudah semestinya sesuatu pinangan akan mengalami dua hal, diterima atau tidak.”

“Bagaimana kami dapat menolak pinanganmu? Kami berlaku sombong dan kurang ajar kalau menolaknya. Sesungguhnya kami tidak melihat sesuatu yang mengecewakan pada diri Kam Liong, akan tetapi...”
“Ha-ha-ha, jadi kau suka? Bagus, aku yang menanggung bahwa Kam Liong benar-benar akan merupakan seorang suami yang baik serta bijaksana, seorang anak menantu yang berbakti! Terima kasih atas penerimaanmu, Pendekar Bodoh, segera kita akan mencari hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.”

“Nanti dulu, Kam-enghiong. Harap jangan tergesa-gesa. Jika tadi kunyatakan bahwa aku tidak menolak, itu bukan berarti bahwa aku menerimanya. Seperti telah kukatakan tadi, berilah waktu. Kita sedang menghadapi masa sulit, tugas dan kewajiban menghadang di depan mata, siapa mempunyai kesempatan untuk bicara tentang perjodohan? Tunggulah sampai musuh terusir semua, sampai kami dapat bertemu dengan putera dan puteri kami dalam keadaan selamat, barulah kita akan bicara tentang perjodohan ini!”

“Baik, baik. Betapa pun juga aku merasa yakin bahwa kau tidak menolak dan ucapan itu sudah setengah menerima. Baik, kita menanti sampai selesai tugas kami membela tanah air. Bila keadaan sudah aman, aku akan membawa Kam Liong datang ke Shaning untuk menentukan hari baik! Nah, selamat tinggal, dan terima kasih atas pertolongan kalian tadi!” Setelah berkata demikian dengan wajah berseri gembira Kam Wi lalu meninggalkan rumah itu.

Pendekar Bodoh menarik napas panjang. “Alangkah kasar dan jujurnya orang itu! Urusan perjodohan dianggap mudah begitu saja. Itulah jika orang tidak mempunyai anak sendiri, tidak merasa betapa sukarnya menetapkan jodoh bagi anak perempuan.”

“Sesungguhnya orang itu gegabah sekali,” kata Kwee An, “belum juga diberi keputusan, dia sudah menetapkan dengan yakin bahwa lamarannya diterima. Orang seperti itu kelak akan dapat menimbulkan keributan karena kebodohan, kejujuran, dan kekasarannya.”
“Terus terang saja, aku sendiri sudah setuju apa bila Lili mendapatkan jodoh seperti Kam Liong,” kata Lin Lin. “Kita sudah menyaksikan sendiri betapa pemuda itu sopan santun, lemah lembut, dan juga sudah menyatakan jasanya dengan membantu Hong Beng dan juga kita. Bukankah perbuatannya itu saja sudah memperlihatkan bahwa ia suka kepada Lili dan bahwa ia tidak hendak main-main dalam urusan perjodohan ini?”

“Betapa pun juga, keputusannya harus kau serahkan kepada Lili sendiri, karena urusan ini menyangkut kebahagiaan seumur hidupnya. Aku tidak akan merasa puas apa bila dia sendiri tidak menyetujui perjodohan ini. Dia yang akan menikah, dan dia pula yang akan menanggung segala akibatnya, dia yang akan sengsara atau senang kalau sudah terjadi perjodohan itu. Maka aku menyesal sekali kenapa Sin-houw-enghiong merasa demikian pasti dan tergesa-gesa menganggap kita sudah menerima pinangannya.”

Demikianlah, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke utara sambil tak ada hentinya membicarakan urusan pinangan yang dilakukan oleh Kam Wi dengan cara yang kasar itu…..

********************
Dengan hati mengkal Lie Siong berlari, akan tetapi dia tidak berlari terlalu cepat karena bila ia melakukan hal ini, tentu Lilani akan tertinggal jauh. Oleh karena itu, maka sebentar saja ia telah tersusul oleh Lo Sian yang mengejarnya.

“Perlahan dulu, Anak Siong!” kata Sin-kai Lo Sian sesudah dapat menyusul pemuda itu. Lie Siong berhenti karena Lilani telah mendahuluinya berhenti untuk menanti datangnya pengemis tua itu.
“Mengapa kau meninggalkan mereka begitu saja? Bukankah mereka itu kawan-kawan baik ibu dan ayahmu? Kau sudah mereka tolong, akan tetapi kau meninggalkan mereka seakan-akan seorang yang sedang marah, mengapakah?” Lo Sian menegur Lie Siong yang mendengar dengan kepala ditundukkan.

“Alangkah rendah pandangan mereka terhadapku,” hanya inilah yang diucapkan oleh Lie Siong karena sebetulnya dia tidak suka hal itu dibicarakan lagi. “Lopek, kau menyusulku ada apakah? Karena kau sendiri tidak tahu dan tidak ingat lagi apa yang sudah terjadi dengan mendiang ayahku, aku tidak perlu mengganggumu lagi. Kembalilah kau kepada mereka dan ceritakan bahwa aku adalah seorang pemuda yang tidak tahu diri dan tidak tahu menerima budi. Biarlah mereka lupakan namaku, nama ibu dan ayahku!”

Lo Sian tertegun melihat sikap yang dingin dan kaku ini. Dia benar-benar merasa heran sekali melihat keadaan dan watak pemuda yang aneh ini.

“Lie Siong, sesudah beberapa lama aku melakukan perjalanan bersamamu, belum juga aku dapat mengerti watakmu, sungguh pun harus kuakui bahwa aku suka kepadamu. Aku menyusulmu bukan untuk mengganggumu, akan tetapi karena aku kini sudah dapat menduga siapa adanya pembunuh ayahmu dan di mana kiranya kita dapat menemukan makam ayahmu.”
“Siapa pembunuhnya? Di mana makamnya?” suara Lie Siong terdengar menggetar dan wajahnya memucat. Lo Sian lalu menceritakan tentang ucapan dan sikap Ban Sai Cinjin ketika tadi hendak membunuhnya.
“Tak salah lagi,” katanya sebagai penutup ceritanya, “pembunuh ayahmu pasti bukan lain orang, akan tetapi Ban Sai Cinjin sendiri! Dan kurasa, untuk mencari jejak ayahmu atau makamnya, kita harus pergi ke tempat tinggal Ban Sai Cinjin, yaitu dusun Tong-sin-bun!”
“Di tempat di mana aku pernah membakar rumahnya?”

Lo Sian mengangguk. “Di dekat dusun itu terdapat sebuah kuil milik Ban Sai Cinjin dan kalau tidak salah, di situlah kita akan dapat menemui jejak-jejak ayahmu atau makamnya. Kalau kau kehendaki, mari kuantarkan kau ke sana untuk menyelidiki.”

“Kembali ke Tong-sin-bun?” Lie Siong berkata ragu-ragu. “Kita telah tiba sejauh ini…” Dia lalu menengok ke arah Lilani. “Kita sudah sangat dekat dengan tempat di mana kita akan menemukan rombongan suku bangsa Haimi. Lebih baik kita mencari suku bangsa itu lebih dulu untuk mengembalikan Lilani kepada bangsanya. Setelah itu, baru kita kembali ke selatan untuk menyelidiki hal ini.”

Lo Sian menyatakan setuju dan demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan ke utara menuju ke kaki Gunung Alaka-san di sebelah barat. Di sepanjang jalan Lie Siong berkata bahwa kalau memang betul ayahnya telah terbunuh oleh Ban Sai Cinjin, dia bersumpah untuk membalas dendam dan akan mencari serta membunuh Ban Sai Cinjin, walau pun untuk itu dia harus mengorbankan nyawanya sendiri…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR REMAJA : JILID-13
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger