logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Remaja Jilid 15


Sesudah Malangi Khan menyatakan damai dengan bala tentara Kaisar, perdagangan di tapal batas utara menjadi ramai lagi, bahkan lebih ramai dari pada sebelum terjadinya perang. Kota-kota di utara yang tadinya kosong dan sunyi karena ditinggalkan oleh para penduduknya yang pergi mengungsi, sekarang menjadi penuh lagi, bahkan bertambah pula oleh orang-orang Han dan orang Mongol yang datang untuk mencari untung dalam perdagangan di tempat itu.

Kota Kun-lip juga menjadi ramai sekali. Kota ini terletak di sebelah selatan tembok besar dan perdagangan di situ ternyata maju sekali. Oleh karena itu, tidak heran apa bila kota ini banyak dikunjungi orang dan karenanya, hotel dan restoran menjadi subur dan maju.

Setelah mendengar bahwa peperangan telah selesai dan semua orang itu telah kembali ke selatan, Lili tidak segera kembali ke Shaning karena dia masih belum menghabiskan tapa gagunya. Dia merasa amat tidak enak untuk berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya, terutama keluarganya, dalam keadaan bertapa gagu dan tidak boleh bicara ini!

Sekarang ia maklum kenapa gurunya yang aneh itu melarangnya bicara selama sebulan dalam waktu ia masih melatih diri dengan Hang-liong Cap-it Ciang-hoat. Selain tapa gagu ini merupakan ujian yang berat bagi kekerasan hatinya untuk bertekun mempelajari ilmu silat yang aneh dan sukar itu, juga pada waktu melatih ilmu silat ini, tenaga lweekang selalu terkumpul di dalam dadanya sehingga dengan mudah disalurkan ke arah kedua tangannya. Kalau ia membuka mulut bicara, maka itu berarti perhatiannya akan terpecah dan hawa yang terkumpul itu bisa buyar atau membocor keluar. Memang, untuk berlatih Hang-liong Cap-it Ciang-hoat dibutuhkan perhatian yang khusus dan pengerahan tenaga dalam yang sepenuhnya.

Pada pagi hari itu, sudah genap dua puluh hari dia bertapa gagu. Ilmu Silat Hang-liong Cap-it Ciang-hoat telah hampir sempurna dilatih. Tiga hari lagi dia sudah dapat membuka pantangan bicara, dan hari itu dia berjalan-jalan di dalam kota Kun-lip. Ketika ia berjalan sampai di depan sebuah restoran besar, tiba-tiba ada orang memanggilnya,
“Lili...!”

Ia cepat menengok dan melihat Song Kam Seng tengah duduk di belakang sebuah meja di halaman luar restoran itu sambil menghadapi hidangan.

“Nona Hong Li, kau hendak kemanakah? Silakan duduk dan mari kita bercakap-cakap. Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan kedua orang tuamu?” Kam Seng bertanya dengan ramah dan nyata sekali kegembiraannya bertemu dengan nona ini.

Akan tetapi, biar pun di dalam hatinya Lili tidak marah lagi kepada Kam Seng yang telah memperlihatkan jasa-jasanya dalam keadaan perang yang lalu, namun tentu saja ia tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini karena dia masih sedang berpantang bicara. Maka dia berpura-pura tidak melihat, cepat membuang muka dan hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan pemuda itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Gadis liar, baru sekarang aku mendapat kesempatan melunaskan perhitungan!”

Tiba-tiba dari belakangnya, Lili merasa sambaran angin hebat dan cepat ia lalu miringkan tubuh melompat ke kanan. Ternyata yang baru menyerangnya itu adalah Ban Sai Cinjin dengan huncwe mautnya!

Kakek ini memang sedang berada di kota itu dan tadi ketika Kam Seng duduk seorang diri, sebetulnya kakek itu sedang memesan masakan ke meja pengurus restoran, maka Lili tidak melihatnya. Ketika kakek ini melihat Lili, timbullah marahnya karena dia teringat betapa gadis ini pernah menghina dan mengganggunya, dan betapa ayah gadis ini juga sudah menghinanya secara luar biasa sekali.

Karena Lili tidak bisa membalas dengan kata-kata, gadis ini hanya berdiri dan menatap ke arah Ban Sai Cinjin dengan alis berkerut dan mata bernyala. Ia tidak ada nafsu untuk berkelahi oleh karena ia sedang melatih ilmu silatnya yang sebentar lagi akan sempurna. Kalau ia pergunakan dalam pertempuran, maka akan banyak hawa dipergunakan dan ini berarti ia menderita rugi sebelum ilmu silatnya tamat. Kalau saja ia sudah tamat, tentu dengan gembira gadis yang suka berkelahi ini akan melayani dan menghajarnya.

“Bocah, bersedialah untuk mati!” kembali Ban Sai Cinjin membentak sambil sekaligus dia mengirim dua macam serangan.

Tangan kanannya memukulkan huncwe maut ke arah kepala Lili sedangkan kaki kirinya diangkat untuk mengirim tendangan yang menjaga kalau-kalau gadis itu akan melompat ke belakang.

Melihat gerakan kakek ini, Lili segera tahu bahwa dibandingkan dengan dahulu, kakek ini telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Memang benar, Ban Sai Cinjin yang telah mengalami kekalahan berkali-kali, dan bahkan telah dihajar setengah mati oleh Pendekar Bodoh, menjadi sakit hati dan dengan prihatin dia lalu memperdalam ilmu silatnya atas bantuan suheng-nya, yaitu Wi Kong Siansu yang lihai dan yang berjuluk Toat-beng Lomo (Iblis Tua Pencabut Nyawa ).

Menghadapi serangan Ban Sai Cinjin yang hebat ini, Lili lalu merendahkan tubuhnya dan menekuk lutut, mengelak dengan gerakan dari Ilmu Silat Sian-li Utauw, karena ia masih belum mau mempergunakan ilmu silatnya yang baru.

“Susiok, jangan ganggu Nona Sie!” Kam Seng berkali-kali berseru mencegah susiok-nya, sedangkan orang-orang yang makan di restoran itu terutama yang dekat dengan tempat pertempuran, pada melarikan diri dengan ketakutan.

Delapan jurus sudah dimainkan oleh Ban Sai Cinjin untuk merobohkan Lili. Akan tetapi setelah melatih Ilmu Silat Hang-liong Cap-it Ciang-hoat, ternyata gadis ini telah mendapat kemajuan yang sangat luar biasa dalam ilmu ginkang sehingga tubuhnya menjadi ringan dan gesit sekali. Sambaran-sambaran huncwe maut dari Ban Sai Cinjin itu seakan-akan menyerang sehelai bulu yang sedemikan ringan sehingga yang diserang telah melayang pergi sebelum pukulannya tiba.

“Susiok, jangan berlaku kejam!” tiba-tiba saja Kam Seng yang semenjak tadi memandang dengan penuh kegelisahan, kini mendadak meloncat maju dan…
“Tranggg…!” terdengar suara nyaring ketika huncwe itu tertangkis oleh pedang di tangan Kam Seng!

Lili menggunakan kesempatan ini untuk melompat jauh dan berdiri memandang kepada kedua orang yang kini saling berhadapan itu. Sepasang mata Ban Sai Cinjin mendelik dan terputar-putar saking marahnya, dan karena pipi kanannya masih ada tanda bekas luka-luka goresan yang dihadiahkan oleh Pendekar Bodoh kepadanya di benteng orang Mongol, maka ia terlihat menyeramkan sekali. Seakan-akan apilah yang keluar dari mulut dan hidungnya dan ia seolah-olah hendak menelan pemuda yang berdiri di depannya itu.

“Bangsat terkutuk! Jadi kau hendak membalas budi kami dengan pengkhianatan? Kau hendak membela orang yang menjadi musuh kami, menjadi musuhku sekaligus musuh gurumu? Kau berani melawan Susiok-mu, anjing tak kenal budi?”
“Susiok, kalau kau menyerang orang lain, aku masih dapat melihatnya, akan tetapi Nona itu... ? Tidak, Susiok, biar pun aku harus mati, aku akan membelanya!”
“Bangsat, kau cinta padanya, ya? Kau jatuh cinta kepada anak musuh besarmu ini? Kau benar-benar anjing pengecut, karena itu kau harus mampus!” Dengan kemarahan yang meluap-luap, Ban Sai Cinjin menyerang murid keponakannya sendiri.

Song Kam Seng cepat menangkis dengan pedangnya, akan tetapi walau pun dia sudah memperoleh warisan ilmu silat yang tinggi dari Wi Kong Siansu, bagaimana dia dapat melawan susiok-nya (paman gurunya)? Sebentar saja ia telah terdesak hebat sekali dan hanya dapat menangkis sambil mundur.

Sementara itu, Lili berdiri dengan sepasang mata menjadi basah. Dia teringat pula akan pengalamannya dahulu ketika ia tertawan oleh Ban Sai Cinjin. Betapa pemuda itu telah menciumnya dan hampir saja mencemarkan namanya. Betapa pemuda itu hampir saja membunuhnya dan semua itu hanya dicegah oleh perasaan cinta kasih dari pemuda itu.

Ia maklum bahwa Kam Seng amat membenci ayahnya dan juga tentu sudah berusaha membencinya karena ayah Kam Seng tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, akan tetapi ternyata pemuda itu tetap tidak mampu membencinya, bahkan sampai sekarang cintanya terhadap dirinya masih amat besar sehingga pemuda itu sampai berani melawan paman guru sendiri dan berani pula mengorbankan nyawa. Mengingat sampai di sini, Lili segera melompat maju hendak membantu Kam Seng, akan tetapi terlambat!

Dengan satu serangan secepat kilat, Ban Sai Cinjin telah berhasil mengemplang kepala pemuda itu yang terhuyung-huyung ke belakang dan pedangnya terlepas dari tangannya! Ban Sai Cinjin memburu maju hendak memberi pukulan maut, akan tetapi tiba-tiba dia merasa iganya disambar oleh angin pukulan yang hebat sekali! Ia cepat-cepat memutar tubuhnya dan mengelak dari pukulan Lili ini, kemudian ia mengayun huncwe-nya ke arah kepala gadis ini.

Lili menyambutnya dengan gerakan dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat dan dengan amat mudah huncwe itu terampas olehnya, ditekuk di antara jari tangannya dan…
“Pletak!” patahlah huncwe maut dari Ban Sai Cinjin yang diandal-andalkan itu!

Terbelalak mata Ban Sai Cinjin memandang ke arah Lili karena tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini mampu merampas huncwe-nya dengan tangan kosong. Ia segera melompat ke belakang dan melarikan diri!

Lili hendak mengejarnya akan tetapi dia mendengar keluhan perlahan, maka dia teringat kembali kepada Kam Seng. Cepat-cepat ia menghampiri pemuda yang merintih-rintih itu. Bukan main mencelos dan terheran hatinya ketika melihat kepala pemuda itu telah retak dan berlumur darah!

Lili berlutut dan mengangkat kepala pemuda itu, kemudian dipangkunya dan dengan sapu tangannya, dia menyusuti darah yang mengalir ke arah mata Kam Seng. Pemuda itu membuka matanya dan tersenyum!

“Lili... akhirnya aku dapat menebus dosaku kepadamu... aku sudah tersesat... aku salah duga... ayahmu seorang pendekar besar, seorang budiman, ada pun ayahku... ayahku... dia... dia seperti aku... tersesat…” sampai di sini kedua mata pemuda itu mengalirkan air mata.

Lili tidak dapat menahan keharuan hatinya dan dia mendekap muka Kam Seng dengan kedua tangannya sambil menangis terisak-isak! Walau pun tidak boleh bicara, gadis ini masih boleh menangis atau tertawa, demikian pesan gurunya.

“Lili... kau menangis...? Kau menangisi aku? Terima kasih! Kau memang gadis baik... tak pantas menangisi seorang siauw-jin (orang rendah) seperti Song Kam Seng... Lili, terima kasih... sampaikan hormatku kepada ayah bundamu..., dan salamku kepada... kepada... semua keluargamu juga kepada Kam-ciangkun... tunanganmu...”

Maka habislah napas Kam Seng, pemuda bernasib malang itu yang pada saat terakhir dapat menghembuskan napas penghabisan dalam pangkuan dara yang dicinta sepenuh hatinya!

Lili menggunakan tulisan untuk menyuruh pengurus restoran membeli peti mati. Gadis ini masih memiliki banyak potongan uang emas, maka segala urusan penguburan jenazah Kam Seng dapat dilakukan dengan baik. Orang-orang yang berada di situ menganggap bahwa dia adalah seorang gadis gagu, maka tak seorang pun merasa heran bahwa dia tidak dapat bicara.

Setelah beres mengurus pemakaman dan bersembahyang di depan makam Song Kam Seng, Lili lalu melanjutkan perjalanannya. Sekarang kebenciannya kepada Ban Sai Cinjin bertambah lagi, dan dia berjanji di dalam hati untuk membalaskan sakit hati Song Kam Seng, pemuda yang malang itu.

Hatinya berdebar tidak enak kalau dia teringat akan kata-kata terakhir dari Kam Seng, yang menyebut-nyebut Kam-ciangkun sebagai tunangannya. Sampai di mana kebenaran ucapan ini? Ia tidak merasa bertunangan dengan Kam Liong, sungguh pun paman dari Kam Liong, yaitu Sin-houw-enghiong Kam Wi yang kasar dan sembrono itu dulu pernah membikin dia marah karena hendak menjodohkannya dengan Kam Liong secara begitu saja!

Juga diam-diam ia merasa girang karena di dalam usahanya menolong Kam Seng tadi, ia sudah mempergunakan sejurus dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat dan yang sejurus itu telah membuat ia berhasil merampas dan mematahkan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin!

Dia maklum bahwa sebelum dia memiliki ilmu silat ini dengan sempurna, meski pun dia memegang pedang dan kipas, belum tentu ia akan dapat mengalahkan kakek itu secepat dan semudah tadi! Maka ia lalu melatih diri dengan amat tekun dan rajinnya dan tiga hari kemudian ia telah berani mengakhiri pantangannya bicara.

Dari kota Kun-lip, Lili kemudian menuju ke selatan dan di dalam perjalanannya pulang ke Shaning, ia bermaksud untuk singgah terlebih dulu di dusun Tong-sin-bun, untuk mencari kalau-kalau Ban Sai Cinjin berada di tempat itu. Dia teringat pula bahwa Ang I Niocu juga menuju ke tempat itu dalam usahanya mencari pembunuh suaminya, maka dia kemudian mempercepat perjalanannya sebab ia pun merasa kuatir apa bila Ang I Niocu mengalami kecelakaan pula.

Menghadapi orang-orang seperti Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang selain lihai juga amat curang dan licik, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya, walau yang menghadapi mereka itu seorang pendekar wanita hebat seperti Ang I Niocu sekali pun!

Ketika dia tiba di dusun Tong-sin-bun menuju ke rumah Ban Sai Cinjin, sebuah gedung besar dan mewah, dia terkejut sekali karena gedung itu kini sudah lenyap, rata dengan bumi dan menjadi abu! Ia pernah mendengar bahwa Lie Siong dahulu pernah membakar bagian dari rumah ini, akan tetapi sekarang rumah ini betul-betul telah habis dan menjadi abu. Perbuatan siapakah ini?

Agar jangan menarik perhatian orang dan membuat pihak Ban Sai Cinjin bersiap-siap, ia diam-diam lalu meninggalkan Tong-sin-bun dan masuk ke dalam hutan di mana terdapat kelenteng tempat Ban Sai Cinjin bersama kawan-kawannya bersembunyi itu. Dia sengaja menunggu sampai hari menjadi gelap, baru ia menggunakan kepandaiannya jalan malam dan masuk ke dalam hutan dengan cepat.

Ketika dia tiba di sebuah hutan pohon pek di mana di tengahnya terdapat sebuah bukit kecil, tiba-tiba ia menahan langkah kakinya. Ia mendengar suara orang menangis di atas bukit kecil itu!

Kalau saja Lili bukan seorang yang berhati tabah, tentu ia akan merasa ngeri dan seram mendengar suara orang menangis di dalam hutan yang gelap, liar, dan sunyi itu. Akan tetapi, puteri Pendekar Bodoh ini tidak menjadi takut, bahkan cepat menghampiri tempat itu!

Malam hari itu bulan muncul setelah hampir tengah malam, akan tetapi cahayanya masih terang dan permukaannya masih lebih dari separuhnya. Oleh karena sinar bulan memang mengandung sesuatu yang romantis akan tetapi sekaligus juga menyeramkan, tergantung dari tempat di mana bulan mematulkan cahayanya, maka di dalam hutan itu kelihatan benar-benar mengerikan.

Pohon-pohon pek yang besar itu kini di bawah sinar bulan nampak laksana setan-setan raksasa sedang menjulurkan lengannya yang panjang hendak menangkap orang. Setiap rumpun merupakan binatang berbentuk aneh yang berwarna hitam, yang bersiap untuk menyeruduk siapa saja yang lewat di hutan itu.

Semua keseraman ini ditambah lagi oleh suara binatang hutan. Sudah sepatutnya kalau orang akan merasa lebih ketakutan dan bulu tengkuknya berdiri apa bila pada saat dan di tempat seperti itu, tiba-tiba mendengar pula suara tangis orang!

Akan tetapil Lili yang sangat tabah hatinya, bahkan menjadi penasaran dan ingin sekali tahu siapa orangnya yang menangis di dalam hutan itu dan mengapa pula ia menangis. Ketika ia menyusup-nyusup di antara pohon-pohon pek dan tiba di bukit kecil itu, tiba-tiba ia terkejut sekali oleh karena kini orang yang menangis itu mengeluarkan kata-kata yang amat jelas terdengar dan yang membuat wajahnya menjadi pucat sekali. Ia masih belum percaya dan memperhatikan baik-baik suara itu sambil menahan tindakan kakinya.

“Ang I Niocu... tidak kusangka akan begini jadinya nasibmu dan nasib suamimu yang gagah perkasa. Ahh, kini aku teringat... aku teringat akan semua hal yang mengerikan itu...”
“Suhu...!” Lili berteriak pada saat mengenal suara Sin-kai Lo Sian, Pengemis Sakti yang tadinya berada di benteng Alkata-san ketika ia meninggalkan benteng itu dahulu.

Gadis ini melompat dan setelah sampai di puncak bukit kecil di mana terdapat tanaman bunga mawar hutan yang amat lebat, ia melihat Sin-kai Lo Sian itu sedang berlutut dan di depannya menggeletak tubuh Ang I Niocu yang berlumuran darah dan tubuhnya penuh luka-luka!

“Ie-ie Im Giok...!” jeritan Lili ini terdengar amat nyaring dan sambil tersedu-sedu gadis ini menubruk Ang I Niocu dan mengangkat kepala wanita itu yang terus dipangkunya.

Ang I Niocu ternyata masih belum mati dan ketika dia memandang kepada Lili, bibirnya tersenyum! Karena cahaya bulan hanya suram-suram, maka sekarang wajah Ang I Niocu nampak cantik luar biasa dan senyumnya manis sekali, memlbuat hati Lili menjadi makin terharu.

“Ie-ie Im Giok, mengapa kau sampai menjadi begini? Suhu, apakah yang terjadi dengan Ie-ie Im Giok??” tanyanya kepada Ang I Niocu dan juga kepada Sin-kai Lo Sian.
“Lili anak manis... tenanglah dan biarkan Sin-kai menceritakan tentang... suamiku…” Ang I Niocu sukar sekali mengeluarkan kata-kata karena lehernya telah mendapat luka hebat pula. Kemudian wanita itu memandang kepada Lo Sian memberi tanda supaya Lo Sian menceritakan pengalamannya dahulu.

Karena maklum bahwa nyawa Ang I Niocu tak akan tertolong lagi, maka Lo Sian segera menuturkan dengan singkat pengalamannya dahulu di tempat ini bersama Lie Kong Sian, peristiwa yang sudah lama dilupakannya akan tetapi yang sekarang tiba-tiba saja telah kembali dalam ingatannya.

“Aku ingat betul...” ia mulai dengan wajah pucat. “Lie Kong Sian Taihiap mengejar Bouw Hun Ti murid Ban Sai Cinjin di kuil itu karena Lie Kong Sian Taihiap hendak membalas dendam kepada Bouw Hun Ti yang sudah menculik Lili dan juga telah membunuh Yo-lo-enghiong (Yousuf). Akan tetapi di kuil, ia dihadapi oleh Wi Kong Siansu. Pertempuran itu hebat sekali dan agaknya Lie Kong Sian Tai-hiap tidak akan kalah kalau saja pada saat itu Ban Sai Cinjin tidak berlaku curang. Dengan amat licik kakek mewah itu menyerang dengan huncwe mautnya, dan Bouw Hun Ti menyerang pula dengan tiga batang panah tangan beracun. Akhirnya Lie Kong Sian Taihiap terkena pukulan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dan akhirnya tewaslah dia!” Lo Sian berhenti sebentar, sedangkan Ang I Niocu yang mendengarkan nampak gemas sekali dan mengerutkan giginya sehingga berbunyi.

“Kemudian dengan sedikit akal, yaitu menakut-nakuti murid Ban Sai Cinjin si hwesio kecil kepala gundul Hok Ti Hwesio yang hendak membelek dada Lie-taihiap karena hendak mengambil jantungnya, akhirnya aku dapat merampas jenazahnya dan menguburkannya di tempat ini.”

Demikianlah, Lo Sian kemudian menuturkan pengalamannya seperti yang telah dituturkan dengan jelas di dalam jilid terdahulu dari cerita ini.

Berkali-kali Ang I Niocu mengertak gigi saking gemasnya, kemudian ia berkata, “Bangsat terkutuk Ban Sai Cinjin! Sayang aku tak memiliki kesempatan lagi untuk menghancurkan batok kepalanya! Akan tetapi, sedikitnya aku sudah membalaskan dendam suamiku dan aku puas telah dapat membunuh Hok Ti Hwesio serta menghancurkan kuil itu.” Setelah mengeluarkan ucapan ini dengan penuh kegemasan, kembali napasnya menjadi berat dan keadaannya payah sekali.

“Suhu, mengapa tidak merawat Ie-ie lebih dulu? Keadaannya demikian hebat....”

Lo Sian menggeleng kepalanya, dan terdengar Ang I Niocu berkata lagi dengan kepala masih di pangkuan Lili, “Percuma, Lili... percuma... luka-lukaku amat berat... aku tak kuat lagi...!”
“Ie-ie Im Giok! Jangan berkata begitu, Ie-ie!” Lili menangis!
“Anak baik, setelah suamiku meninggal dan aku... aku sudah mendapatkan makamnya... apakah yang lebih baik selain... menyusulnya? Kuburkanlah jenazahku nanti di dekatnya, Hong Li, dan kau... sekali lagi kutanya... apakah kau membenci Siong-ji...?”

Bukan main terharunya hati Lili. Dia tidak kuasa menjawab dengan mulut, hanya mampu menggelengkan kepalanya saja. Ia sendirl tak pernah dapat menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri apakah ia sesungguhnya membenci Lie Siong. Memang kadang-kadang timbul rasa gemasnya terhadap pemuda itu, akan tetapi kegemasan ini adalah karena ia teringat akan hubungan pemuda itu dengan... Lilani! Lebih tepat disebut cemburu dari pada gemas.

“Kalau begitu... Hong Li, berjanjilah bahwa kau… kau akan suka menjadi isterinya! Aku... aku akan merasa gembira sekali, dan juga ayahnya akan... puas melihat kau sebagai... mantunya! Sukakah kau, Hong Li...!”

Lili tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan ini, meski pun ia dapat mengerti bahwa pertanyaan ini keluar dari mulut seorang yang sudah mendekati maut dan yang harus dijawab.

“Ie-ie Im Giok, kenapa kau tanyakan hal ini kepadaku? Bagaimana aku harus menjawab, Ie-ie? Urusan pernikahan tentu saja aku hanya menurut kehendak orang tuaku.”
“Cin Hai dan Lin Lin tentu akan setuju…,” kemudian dengan napas makin berat, Ang I Niocu berkata kepada Lo Sian, “Lo-enghiong, kau... kuserahi kekuasaan untuk... menjadi wakilku... untuk menjadi wali dari Siong-ji... engkaulah yang akan mengajukan lamaran kepada Pendekar Bodoh...”
“Tentu, Ang I Niocu, tentu aku suka sekali. Aku merasa sangat terhormat untuk menjadi wakilmu dalam hal ini,” jawab Lo Sian dengan terharu.

Keadaan Ang I Niocu makin lemah dan setelah memanggil-manggil nama Lie Kong Sian serta menyebut nama Lie Siong, akhirnya wanita pendekar yang gagah perkasa, yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan ini, menghembuskan napas terakhir di dalam pangkuan Lili, diantar oleh tangis dara itu.

Setelah menangisi kematian Ang I Niocu sampai malam terganti pagi, Lili dan Lo Sian lalu menguburkan jenazah Ang I Niocu di sebelah kiri makam Lie Kong Sian. Kemudian mereka duduk menghadapi makam dan dalam kesempatan ini, Lo Sian lalu menuturkan keadaan dan pengalaman Ang I Niocu seperti yang ia dengar dari penuturan Ang I Niocu sendiri sebelum Lili datang.

Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, sesudah berkumpul sebentar dengan Lili, Ang I Niocu dengan hati marah sekali pergi mencari pembunuh suaminya dan menyusul puteranya. Dari gadis inilah pertama kali dia mendengar bahwa suaminya telah terbunuh orang, dan bahwa Lie Siong telah melakukan penyelidikan untuk mencari pembunuh itu.

Sampai beberapa lamanya dia merantau ke selatan, sehingga akhirnya pergilah dia ke Tong-sin-bun, karena dari Lili dia mendengar Lie Siong pernah ke sana. Juga dia ingin sekali bertemu dan memberi hajaran kepada Ban Sai Cinjin, juga hendak mendapatkan Bouw Hun Ti yang sudah berani menculik Lili di waktu kecil.

Ketika ia tiba di luar dusun Tong-sin-bun, tiba-tiba saja ia melihat seorang pengemis yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali, tengah duduk di pinggir jalan dan memandang kepadanya dengan mata penuh perhatian. Melihat keadaan pengemis tua ini, Ang I Niocu berpikir-pikir sebentar, dan teringatlah ia bahwa yang berada di depannya ini tentulah Sin-kai Lo Sian, Si Pengemis Sakti yang menurut penuturan Lili menjadi guru gadis itu dan juga telah diculik oleh puteranya! Akan tetapi, sebelum Ang I Niocu sempat menegurnya, Sin-kai Lo Sian telah mendahuluinya menegur sambil berdiri dan memberi hormat,

“Bukankah Siauwte berhadapan dengan Ang I Niocu yang terhormat?”
“Sin-kai Lo-enghiong, kau mempunyai pandangan mata yang tajam,” jawab Ang I Niocu. “Di manakah puteraku?”
“Siauwte tidak tahu, Niocu, semenjak kami berpisah di Alkata-san, kami tak pernah saling bertemu lagi.”

Ang I Niocu mengerutkan keningnya, kemudian ia lalu menghampiri Lo Sian dan berkata, “Menurut penuturan Hong Li, katanya puteraku sudah berlaku kurang ajar dan menculik Lo-enghiong, sebetulnya apakah kehendak anak itu? Apakah betul kau mengetahui siapa pembunuh suamiku?”

Lo Sian mengangguk. “Tidak salah lagi, Niocu. Yang membunuh Lie Kong Sian Taihiap adalah Ban Sai Cinjin.”

Kemudian Pengemis Sakti ini lalu menuturkan pengalamannya, ketika dia dan Lie Siong tertangkap oleh Ban Sai Cinjin dan betapa kakek mewah itu mengaku sudah membunuh Lie Kong Sian.

“Jadi kau sendiri tidak ingat lagi bagaimana suamiku dibunuhnya dan di mana pula dia dikubur?” Ang I Niocu menahan gelora hatinya yang kembali diserang oleh gelombang kedukaan dan kemarahan.

Lo Sian menggeleng kepalanya dengan sedih. “Itulah, Niocu, sampai sekarang pun aku belum mendapatkan ingatanku kembali. Aku sengaja datang ke sini untuk menyegarkan ingatanku dan siapa tahu kalau-kalau aku akan teringat kembali. Akan tetapi, kalau kau datang hendak menuntut balas...”

“Tentu saja aku hendak menuntut balas! Di mana adanya bangsat besar Ban Sai Cinjin?” Ang I Niocu memotong dengan tak sabar lagi.
“Nanti dulu, Niocu, kau harus berlaku hati-hati di tempat ini, karena Ban Sai Cinjin bukan seorang diri saja. Dia sendiri mempunyai kepandaian yang luar biasa dan biar pun aku percaya penuh bahwa kau tentu akan sanggup mengalahkannya, akan tetapi di dalam rumah atau kuilnya berkumpul orang-orang yang pandai. Di sana ada Wi Kong Siansu yang menjadi suheng-nya dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada Ban Sai Cinjin sendiri. Ada pula Hok Ti Hwesio yang walau pun hanya menjadi muridnya, akan tetapi hwesio ini memiliki hoatsut (ilmu sihir) yang mengerikan. Bahkan di situ sekarang telah berkumpul pula Hailun Thai-lek Sam-kui atas undangan Wi Kong Siansu, dan masih ada beberapa orang tokoh kang-ouw lagi yang tidak kukenal namanya. Oleh karena itu, kalau toh Niocu hendak menyerbu ke sana, harap suka berlaku hati-hati.”

“Lekas katakan, di mana letak rumahnya dan di mana pula kuilnya? Aku hendak mencari Ban Sai Cinjin!” bentak Ang I Niocu dengan muka merah karena ia sudah menjadi marah sekali dan sekian nama-nama besar tadi sama sekali tidak masuk ke dalam telinganya.

Lo Sian menjadi heran sekali, dan melihat kemarahan orang dia tidak berani membantah lagi. Dia telah cukup banyak mendengar tentang watak Ang I Niocu yang luar biasa dan keras, dan kalau dia sampai membuat Ang I Niocu jengkel, salah-salah dia bisa dipukul roboh, maka dia lalu cepat-cepat memberi petunjuk di mana adanya rumah gedung Ban Sai Cinjin dan di mana pula letak kuil di dalam hutan dekat dusun Tong-sin-bun itu.

Setelah mendapat keterangan yang jelas dari Lo Sian, Ang I Niocu tanpa mengucapkan terima kasih segera menggerakkan tubuhnya dan lenyap dari depan Lo Sian. Pengemis Sakti ini mengerutkan keningnya.

Ia percaya penuh akan kelihaian Ang I Niocu yang sudah disaksikan pula kesempurnaan ginkang-nya sehingga dapat melenyapkan diri demikian cepatnya, akan tetapi tetap saja dia merasa sangsi apakah pendekar wanita itu mampu mengalahkan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang benar-benar merupakan lawan yang tak mudah untuk dikalahkan. Sedangkan Lie Kong Sian, suami pendekar wanita itu yang mempunyai kepandaian lebih tinggi dari pada Ang I Niocu, juga roboh oleh Ban Sai Cinjin, apa lagi Ang I Niocu! Maka dengan hati gelisah dia lalu mengejar ke dalam dusun itu.

Ternyata oleh Ang I Niocu bahwa di dalam gedung yang mewah itu tidak terdapat Ban Sai Cinjin atau pun tokoh-tokoh lainnya, kecuali hanya beberapa belas orang anak buah dan murid-murid baru, juga beberapa orang wanita muda yang menjadi selirnya.

Di dalam kemarahan dan kebenciannya, Ang I Niocu membunuh semua orang di dalam rumah ini dan kemudian membakar gedung mewah itu! Kini kebakaran lebih hebat dari pada perbuatan Lie Siong satu tahun yang lalu, karena sekarang yang terbakar adalah seluruh gedung sehingga tempat yang tadinya mewah itu kini menjadi tumpukan puing! Hal ini dapat terjadi karena Ang I Niocu membakar gedung itu lalu menjaganya di depan, melarang orang-orang yang hendak memadamkannya.

Kemudian pendekar wanita yang marah ini lalu menuju ke kuil di dalam hutan! Hari telah menjadi gelap dan pada waktu dia tiba di dekat kuil, di dalam rumah kelenteng itu telah dipasang api yang terang.

Ada pun Lo Sian dengan hati merasa ngeri melihat sepak terjang pendekar wanita ini dari jauh, melihat betapa rumah gedung itu dimakan api dan tak seorang pun penghuninya dapat berlari keluar! Diam-diam dia menarik napas panjang menyesali perbuatan Ban Sai Cinjin yang mengakibatkan kekejaman yang demikian luar biasa dari pendekar wanita yang murka itu.

Kemudian, setelah melihat bayangan merah itu berlari cepat sekali menuju ke hutan, dia pun lalu menggunakan kepandaiannya berlari cepat menyusul. Lo Sian maklum bahwa menghadapi Ang I Niocu, dia sama sekati tidak berdaya. Hendak menolong, tentu takkan diterima, pula kepandaiannya sendiri dibandingkan dengan Ang I Niocu, masih kalah jauh sekali. Maka ia hanya menonton saja dari jauh, siap untuk menolongnya apa bila perlu dan tenaganya mengijinkan.....

Sebagaimana telah dikuatirkan oleh Lo Sian, ternyata benar saja kedatangan Ang I Niocu ini sudah diduga lebih dulu oleh Ban Sai Cinjin, dan ketika pendekar wanita itu sampai di depan kuil yang terang sekali karena di sana dipasang banyak penerangan, dari dalam muncullah Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kai-pang, kedua saudara Can jago-jago dari Shan-tung yakni Can Po Gan dan Can Po Tin, dan masih ada tiga orang hwesio gundul pula yang bukan lain adalah tiga orang tokoh dari Bu-tong-san!

Melihat asap hitam yang mengepul dari huncwe Ban Sai Cinjin, Lo Sian segera maklum bahwa kakek mewah itu telah bersiap sedia untuk bertempur dan ini membuktikan bahwa dia sudah menanti kedatangan Ang I Niocu!

Akan tetapi Ang I Niocu tidak merasa takut seujung rambut pun, bahkan kemudian dia menudingkan pedang yang bersinar-sinar ke arah dada Ban Sai Cinjin.
“Apakah engkau yang bernama Ban Sai Cinjin, orang yang telah membunuh suamiku Lie Kong Sian?”

Mendengar pertanyaan yang sifatnya langsung ini, Ban Sai Cinjin tersenyum mengejek untuk menghilangkan kegelisahannya melihat wanita yang sangat hebat ini. “Ang I Niocu, suamimu tewas ketika mengadakan pibu dengan kami, mengapa kau harus penasaran? Sebaliknya kaulah yang sudah melakukan perbuatan keterlaluan sekali, yaitu membakar gedungku dan membunuh keluargaku. Patutkah itu dilakukan oleh seorang gagah?”

“Bangsat terkutuk! Mana suamiku bisa kalah olehmu kalau benar-benar bertempur dalam pibu yang adil? Kau tentu sudah melakukan kecurangan seperti yang biasa kau lakukan. Kau mengira aku belum mendengar namamu yang buruk dan kotor? Majulah kau, hendak kulihat bagaimana kau sampai mampu mengalahkan suamiku!” Sambil berkata demikian dengan mata menyala-nyala Ang I Niocu kemudian melompat mundur dan melambaikan pedangnya pada Ban Sai Cinjin dengan sikap menantang sekali.

Hati Ban Sai Cinjin menjadi gentar juga melihat pedang Liong-cu-kiam, yakni pedang ke dua dari sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam yang dahulu ditemukan oleh Cin Hai dan Ang I Niocu. Pedang itu mencorong dan mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Cahaya lampu yang banyak itu membuat pedang itu semakin berkilauan lagi. Oleh karena itu, dia merasa ragu-ragu untuk melayani tantangan Ang I Niocu.

Mendadak terdengar suara ketawa, ternyata yang ketawa itu adalah Hok Ti Hwesio yang baru saja keluar dari kuil diikuti oleh beberapa orang hwesio muda yang menjadi kawan-kawannya. Memang akhir-akhir ini di dalam kuil itu telah berkumpul beberapa belas orang hwesio muda yang diaku menjadi murid Hok Ti Hwesio, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan sekumpulan penjahat cabul yang berkedok kepala gundul dan jubah pendeta!

“Lihat, orang macam itu hendak melawan Suhu!” Hok Ti Hwesio berkata kepada kawan-kawannya atau boleh juga disebut murid-muridnya yang juga pada tertawa menyeringai.

Melihat rombongan hwesio muda ini, teringatlah Ang I Niocu akan cerita Lo Sian tentang seorang hwesio yang menjadi murid Ban Sai Cinjin, maka dengan suara dingin sekali dia bertanya sambil memandang ke arah mereka,
“Aku pernah mendengar nama Hok Ti Hwesio, entah siapakah di antara kalian bernama begitu?”

Hok Ti Hwesio memperkeras suara tawanya, lalu berkata, “Ang I Niocu, kau disohorkan orang sebagai seorang pendekar wanita baju merah yang cantik bagai bidadari. Sekarang kau datang menanyakan Hok Ti Hwesio, apakah kau jatuh hati kepadaku? Hemm, akulah yang tidak mau, Niocu, karena biar pun bajumu masih merah, akan tetapi mukamu sudah amat tua, terlalu tua...”

Belum sempat Hok Ti Hwesio menutup mulutnya, tampaklah berkelebat bayangan merah yang didahului oleh sinar putih menyambar ke arah Hok Ti Hwesio.

“Awas...!” teriak Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin berbareng.

Dengan kaget sekali Hok Ti Hwesio masih sempat menjatuhkan diri ke belakang hingga terhindar dari sambaran pedang Liong-cu-kiam di tangan Ang I Niocu. Dengan gerak tipu Trenggiling Menggelinding dari Puncak, Hok Ti Hwesio langsung bergulingan menjauhkan diri. Akan tetapi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya, Ang I Niocu terus mengejarnya!

Dua orang hwesio murid Hok Ti Hwesio mencoba menghadang, akan tetapi begitu Liong-cu-kiam menyambar, terbabat putuslah leher kedua orang hwesio sial ini! Hwesio-hwesio muda yang lain menjadi ngeri dan mundur, ada pun Hok Ti Hwesio telah melompat berdiri.

Hwesio ini telah mempunyai kepandaian tinggi, maka dia tidak takut. Dia mencabut pisau terbangnya dan begitu Ang I Niocu menyerang, dia cepat menyambut dengan pisaunya yang lihai. Akan tetapi terdengar suara nyaring dan pisaunya telah terbabat putus!

Hok Ti Hwesio membaca mantera dan matanya terbelalak lebar memandang wajah Ang I Niocu, lalu membentak sambil mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada Ang I Niocu. Inilah ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang dipergunakan untuk mendorong roboh lawan.

Ang I Niocu merasa ada tenaga yang mukjijat menyambarnya dari arah depan. Cepat dia menggerakkan lengan kirinya, maka mengepullah uap putih menolak pengaruh jahat itu ketika dia mengerahkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang dia pelajari dari Bu Pun Su.

“Suhu... tolong...!” Akhirnya Hok Ti Hwesio berseru minta tolong karena dia benar-benar telah terdesak hebat.

Memang semenjak tadi Ban Sai Cinjin sudah hendak menolongnya dan sekarang hwesio mewah ini lalu mengayun huncwe menghantam kepala Ang I Niocu dari belakang! Ang I Niocu yang sudah menjadi marah sekali lalu mengayun pedangnya ke belakang kepala tanpa menengok lagi sambil mengirim pukulan Pek-in Hoat-sut dengan tangan kirinya ke arah Hok Ti Hwesio.

Sungguh gerakan yang sangat luar biasa sekali, karena sambil menangkis serangan dari belakang tanpa menengok ia masih dapat mengirim pukulan maut ke depan. Kalau orang tidak mempunyai tubuh yang lemas lincah serta tidak memiliki Ilmu Silat Sian-li Utauw yang mahir, tidak mungkin dapat melakukan gerakan ini.

“Traaang…!”

Ujung huncwe itu, yakni pada bagian kepalanya yang mengeluarkan asap hitam, terbabat rompal oleh pedang Liong-cu-kiam sehingga Ban Sai Cinjin lantas melompat ke belakang dengan kaget.

Ada pun Hok Ti Hwesio yang mengandalkan ilmu kebalnya yang lihai, hanya miringkan tubuhnya sambil membalas menyerang dengan pukulan tangan kiri. Akan tetapi bukan main kagetnya ketika dia merasa betapa dadanya yang sudah miring itu tetap terdorong oleh tenaga raksasa dari pukulan lawan ini. Ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya lagi dan terlemparlah dia ke belakang!

Akan tetapi, dengan heran dan makin marah Ang I Niocu melihat betapa hwesio muda itu sama sekali tidak kelihatan sakit dan telah berdiri kembali. Namun Ang I Niocu tidak mau memberi kesempatan lagi kepadanya dan cepat pedangnya digerakkan secara luar biasa sekali ke arah tubuh hwesio itu.

Hok Ti Hwesio masih berusaha mengelak dan melompat, akan tetapi sinar pedang itu terus mengurungnya dari segenap penjuru sehingga tidak ada jalan keluar lagi baginya. Sesudah tiga kali dia berhasil mengelak, pada kali ke empat Liong-cu-kiam menembus pahanya sehingga dia roboh terguling bermandikan darah dan berkaok-kaok seperti babi disembelih! Akan tetapi sekejap kemudian, mulutnya tak dapat mengeluarkan suara lagi karena pedang Liong-cu-kiam secepat kilat telah menembus jantungnya!

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin melihat muridnya yang tersayang sudah binasa di tangan Ang I Niocu. Maka, sambil berseru bagaikan guntur, dia menyerang lagi dengan huncwe-nya yang ujungnya telah gompal. Ada pun Wi Kong Siansu juga merasa sangat penasaran melihat sepak terjang Ang I Niocu yang tidak mengenal ampun.

“Ang I Niocu, sepak terjangmu bukan seperti seorang gagah, tapi lebih pantas seperti iblis wanita!” seru Wi Kong Siansu sambil melompat maju karena ia maklum bahwa sute-nya, Ban Sai Cinjin, agaknya bukan lawan wanita gagah ini.
“Wi Kong, tua bangka tak tahu malu! Kau juga sudah mengotorkan tanganmu dan turut membantu sute-mu membunuh suamiku. Tua bangka sesat, majulah kau untuk menerima hukuman dari Ang I Niocu!” seru Ang I Niocu dengan marah sekali.

Muka Wi Kong Siansu menjadi merah dan dia cepat mencabut pedangnya Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam) maka sebentar saja Ang I Niocu telah dikeroyok dua oleh Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.

Tingkat kepandaian Wi Kong Siansu memang lebih tinggi dari pada Ban Sai Cinjin dan hal ini diketahui dengan cepat oleh Ang I Niocu. Gerakan pedang pada tangan Wi Kong Siansu selain sangat cepat dan berbahaya, juga tenaga lweekang dari tosu ini pun jauh lebih kuat dari pada Ban Sai Cinjin.

Akan tetapi, kalau saja Ang I Niocu hanya menghadapi Wi Kong Siansu seorang, dia tak akan kalah dan agaknya sulit bagi tosu itu untuk dapat mengimbangi permainan pedang yang luar biasa hebatnya dari pendekar wanita baju merah itu. Namun, dengan adanya Ban Sai Cinjin yang memainkan huncwe-nya secara hebat pula, Ang I Niocu menghadapi lawan yang amat tangguh.

Betapa pun juga, Ang I Niocu pun tidak memperlihatkan perasaan jeri, bahkan karena dia sedang marah dan sakit hati sekali, maka gerakan pedangnya adalah gerakan dari orang yang nekat dan hendak mengadu jiwa, maka masih kelihatan betapa Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin yang masih menyayangi jiwa sendiri itu selalu terdesak mundur!

Tentu saja hal ini mengagetkan orang-orang gagah yang berada di sana. Orang yang masih mampu mendesak mundur Wi Kong Siansu beserta Ban Sai Cinjin, sukar dicari keduanya di dunia ini!

Diam-diam Hailun Thai-lek Sam-kui menjadi amat gembira. Tangan mereka telah merasa gatal-gatal karena makin tangguh lawan, makin besar keinginan mereka untuk mencoba kepandaiannya.

Akhirnya, tiga orang kakek ini tak dapat menahan keinginannya lagi dan sambil berseru keras mereka lalu menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, sehingga kini Ang I Niocu dikeroyok lima!

Melihat hal ini, Lo Sian menjadi bingung sekali. Kalau ia maju membantu Ang I Niocu, hal itu takkan ada artinya sama sekali. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dan bantuannya tidak akan menolong Ang I Niocu, bahkan jangan-jangan malah akan menghancurkan daya tahan dari pendekar wanita baju merah itu. Akhirnya ia mendapat akal dan larilah Pengemis Sakti ini ke belakang kuil itu.

Karena semua orang telah berlari ke depan, maka keadaan di belakang kuil sunyi sekali. Dengan enaknya Lo Sian lalu menurunkan lampu dan menggunakah minyak serta api untuk membakar kuil. Ia membakar bagian yang terisi banyak kertas maka sebentar saja kuil itu menjadi lautan api yang mengamuk dari bagian belakang!

Ketika itu Ang I Niocu sudah mulai terdesak hebat, sungguh pun pedang Liong-cu-kiam sudah membabat putus rantai besar milik Lak Mau Couwsu dan sudah melukai pundak Bouw Ki sehingga orang ke tiga dan ke dua dari Hailun Thai-lek Sam-kui tidak dapat lagi mengeroyok. Sebagai gantinya, kedua saudara Can kini telah maju mengeroyok.

Ang I Niocu mengertak gigi kemudian memutar pedangnya lebih hebat lagi. Karena dia tidak mudah merobahkan para pengeroyoknya, kini dia mulai mengincar hwesio-hwesio yang menjadi murid Hok Ti Hwesio dan yang masih merubung mayat Hok Ti Hwesio dengan muka pucat. Begitu ia mendapat kesempatan, Ang I Niocu melompat keluar dari kepungan lima orang pengeroyoknya dan menerjang kawanan hwesio itu yang menjadi geger. Kembali tiga orang hwesio telah roboh mandi darah dalam keadaan mati!

“Ang I Niocu manusia kejam!” Wi Kong Siansu membentak marah.

Akan tetapi pada saat itu Ang I Niocu telah mengejar dua orang hwesio lain yang lantas dibabatnya sehingga tubuh kedua orang ini putus menjadi dua! Diam-diam kelima orang pengeroyok ini menjadi ngeri juga menyaksikan keganasan Ang I Niocu yang betul-betul seperti telah berubah menjadi kejam itu. Dengan sepenuh tenaga, mereka mengerahkan kepandaian mereka untuk merobohkan Ang I Niocu.

Para pengeroyok Ang I Niocu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yan menduduki tingkat atas. Wi Kong Siansu mendapat julukan Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa), seorang tokoh dari Hek-kwi-san yang di samping memegang pedang Hek-kwi-kiam, juga mainkan ilmu pedang Hek-kwi Kiam-hoat. Ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang tidak kalah oleh Ang I Niocu sendiri.

Juga Ban Sai Cinjin tadinya sudah amat lihai, dan akhir-akhir ini dia memperdalam ilmu silatnya lagi sehingga dia memperoleh kemajuan besar. Ilmu tongkatnya yang dimainkan dengan sebatang huncwe itu benar-benar merupakan tangan maut yang siap menjangkau nyawa lawan.

Pengeroyok ke tiga adalah Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Tiga Iblis Geledek dari Hailun. Baru julukannya saja sudah Thian-he Te-it Siansu (Manusia Dewa Nomor Satu di Kolong Langit), maka sudah dapat dibayangkan betapa lihainya payung yang dia mainkan!

Pengeroyok ke empat dan ke lima adalah Can Po Gan dan Can Po Tin, kakak beradik jago dari Shan-tung yang memiliki kepandaian tinggi pula. Maka tentu saja setelah dapat mempertahankan diri sampai seratus jurus lebih, akhirnya Ang I Niocu menjadi repot dan terdesak hebat sekali.

Beberapa kali dia telah menderita luka-luka hebat, akan tetapi berkat latihan-latihan dan pengalaman-pengalamannya, maka pendekar wanita ini masih mampu mempertahankan diri dan pada saat ia menerima sambaran senjata lawan yang mengenai dekat lehernya, ia telah dapat menancapkan pedangnya di lambung Can Po Tin hingga orang ini menjerit keras lalu roboh tak bernyawa pula!

Ang I Niocu terhuyung-huyung akan tetapi ia masih dapat melawan dengan nekat. Ketika Can Po Gan yang menjadi marah menerjangnya, pendekar wanita ini kembali menerima pukulan pada pundaknya, akan tetapi sekali tangan kirinya melancarkan pukulan Pek-in Hoat-sut ke arah dada Can Po Gan, orang ini langsung memekik keras dan terlempar ke belakang dengan dada pecah!
Image result for PENDEKAR REMAJA
Pada saat itu juga nampak cahaya api dan kagetlah para pengeroyok Ang I Niocu ketika melihat betapa kuil itu kini telah menjadi lautan api! Ban Sai Cinjin adalah orang pertama yang merasa paling kaget dan marah. Ia sudah mendengar betapa rumah gedungnya di Tong-sin-bun telah menjadi abu, dan sekarang kembali kuilnya yang indah mentereng ini hendak dimakan api!

Maka dia lalu melompat meniggalkan Ang I Niocu untuk mengusahakan pemadaman api yang membakar kuil. Akan tetapi sia-sia belaka karena api telah menjalar dan nyalanya telah terlampau besar untuk dapat dipadamkan lagi.

Sementara itu, Ang I Niocu yang merasa betapa kepungannya kini agak longgar, lalu melompat ke belakang. Dia sudah terlalu letih dan merasa bahwa dia tidak kuat untuk melawan lagi. Dia melarikan diri ke belakang, dikejar oleh Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu, dua orang yang memiliki kepandaian paling tinggi. Kedua orang tosu ini hendak menangkap Ang I Niocu yang dianggapnya terlalu ganas dan kejam itu.

Sungguh pun Ang I Niocu memiliki ginkang yang luar biasa dan kalau sekiranya dia tidak terluka, kedua orang tokoh besar ini pun belum tentu bisa mengejarnya. Akan tetapi pada saat itu pendekar wanita ini sudah terluka hebat dan tubuhnya telah mandi darah yang mengucur dari luka-lukanya.

Ia mencoba untuk menguatkan tubuhnya, berdiri tegak menunggu kedatangan dua orang pengejarnya untuk dilawan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba sepasang matanya menjadi gelap, kepalanya pening dan robohlah dia tidak sadarkan diri lagi! Dari belakang pohon melompat keluar Lo Sian yang cepat memondong tubuh Ang I Niocu, lalu dibawa lari ke dalam hutan.

Melihat hal ini, Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu menjadi marah sekali dan mengejar makin cepat. Sin-kai Lo Sian menjadi sibuk sekali karena bagaimana ia dapat melepaskan diri dari kejaran dua orang yang memiliki kepandaian berlari cepat jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya?

Dalam gugupnya, Lo Sian lalu lari sejadi-jadinya sehingga dia menubruk rumpun berduri dan terus saja jatuh bangun serta bergulingan sambil memondong tubuh Ang I Niocu! Betapa pun juga, tetap saja dia mendengar suara dua orang pengejarnya yang lihai.

Ketika Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu sudah hampir dapat menyusul Lo Sian, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan di dalam hutan itu muncul seorang kakek kate yang memegangi sebuah guci arak dan sebentar-sebentar menenggak isi ciu-ouw itu sambil melenggang dan kemudian bernyanyi-nyanyi riang! Kakek kate ini berjalan tepat di tengah lorong menghadang kedua orang tosu yang mengejar Lo Sian dan ketika mereka sudah berhadapan, kakek kate itu dengan suara masih dinyanyikan lalu menegur,

“Dua orang tua bangka mengejar-ngejar orang dengan senjata di tangan dan hawa maut terbayang di mata, sungguh mengerikan!”

Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu cepat memandang dan bukan main kaget hati mereka ketika melihat bahwa yang menghadang di depan mereka itu adalah Im-yang Giok-cu, tokoh besar di Pegunungan Kun-lun-san yang jarang sekali memperlihatkan diri di dunia ramai!

Sebagaimana para pembaca tentu masih ingat, Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak ini dahulu bersama Sin Kong Tianglo yang berjuluk Yok-ong (Si Raja Obat) pernah menjadi guru dari Goat Lan. Pada saat itu, dalam perantauannya Im-yang Giok-cu mendengar bahwa kitab obat Thian-te Ban-yo Pit-kip peninggalan sahabatnya, Sin Kong Tianglo yang dulu oleh dia sendiri diberikan kepada Goat Lan, telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin, maka malam hari ini ia memang sengaja hendak mencari Ban Sai Cinjin untuk urusan itu.

Kebetulan sekali di dalam hutan ini melihat Wi Kong Siansu dan Thian-te Te-it Siansu sedang mengejar-ngejar seorang pengemis yang membawa lari tubuh seorang nenek tua. Ia tidak mengenal Lo Sian, juga tidak tahu bahwa nenek tua yang dibawa lari oleh Lo Sian itu adalah Ang I Niocu, akan tetapi ia cukup tahu akan Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu yang kabarnya memusuhi muridnya, Goat Lan! Oleh karena inilah maka Im-yang Giok-cu sengaja menghadang mereka untuk menolong orang yang dikejar itu.

Wi Kong Siansu cepat mengangkat dua tangan memberi hormat lalu berkata, “Apa bila tidak salah, kami sedang berhadapan dengan sahabat dari Kun-lun-san Im-yang Giok-cu. Tidak tahu malam-malam begini hendak pergi ke manakah, Toyu (sebutan untuk kawan seagama To)?”

Karena Im-yang Giok-cu tidak mengenal Lo Sian dan mengerti bahwa kini orang yang dikejar itu sudah lari jauh dan di dalam gelap ini tidak mungkin dapat disusul lagi, ia pun tidak mau mencampuri urusan orang, hanya berkata,
“Wi Kong Siansu, aku hendak mencari sute-mu yang kabarnya sudah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari mendiang Sin Kong Tianglo sahabat baikku. Sute-mu harus mengembalikan kitab itu dengan baik-baik kepadaku untuk kukembalikan kepada muridku Kwee Goat Lan. Harap sute-mu suka memandang mukaku dan jangan main-main dengan seorang anak-anak seperti muridku itu.” Setelah berkata demikian, Si Kate ini kemudian menenggak guci araknya.

Thian-he Te-it Siansu yang memang suka sekali berkelahi dan sekarang sedang marah sekali karena dua orang sute-nya tadi sudah dikalahkan oleh Ang I Niocu, dengan sikap menantang, kakek yang sama katenya dengan Im-yang Giok-cu ini lalu melompat maju sambil menggerak-gerakkan payungnya dan berkata,
“Im-yang Giok-cu, kau minggirlah dulu agar aku dapat menangkap setan wanita tadi! Ada urusan boleh diurus nanti.”

Akan tetapi Im-yang Giok-cu juga menggerak-gerakkan guci araknya dan berkata, “Tidak bisa, tidak bisa! Urusanku lebih penting lagi, urusanmu mengejar-ngejar dan mengeroyok orang yang sudah berlari, sungguh tidak patut dan dapat dihabiskan saja!”

Thian-he Te-it Siansu marah sekali dan cepat payungnya bergerak menyambar ke dada Im-yang Giok-cu. Akan tetapi Si Dewa Arak ini menggerakkan guci araknya menangkis.

“Krakk!”

Terdengar suara dan patahlah ujung payung orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, sedangkan beberapa tetes arak melompat keluar dari guci itu dan tepat sekali dua tetes di antaranya menyambar lurus ke arah kedua mata Thian-he Te-it Siansu! Orang cebol ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur.

Wi Kong Siansu yang cerdik segera melerai. Dia lebih maklum bahwa tokoh besar dari Pegunungan Kun-lun ini adalah suhu dari Kwee Goat Lan dan tentu saja boleh disebut berpihak kepada Pendekar Bodoh besertas kawan-kawannya, dan dia maklum pula akan kelihaian kakek ini, maka dia lalu berkata,

“Im-yang Giok-cu, kau tidak tahu bahwa kuil sute-ku telah terbakar, maka marilah kita bersama ke sana dan tentang kitab obat itu boleh kau tanyakan kepada sute-ku. Di antara kita sendiri, mengapa saling serang?”

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak, lalu menjawab, “Bagus, inilah baru ucapan seorang cerdik! Urusan harus diselesaikan dahulu, untuk pibu...” dia melirik Thian-he Te-it Siansu, “puncak Thian-san masih cukup luas, ada pun musim chun memang selalu menimbulkan kegembiraan pada semua orang untuk main-main!”

Mendengar sindiran ini, Wi Kong Siansu segera maklum bahwa kakek kate yang lihai ini sudah mendengar pula tentang tantangan pibu antara dia melawan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, maka diam-diam dia mengeluh.

Akan tetapi ketika mereka bertiga mendapatkan Ban Sai Cinjin di depan kuil, ternyata bahwa kuil itu semua telah dimakan api. Tak sepotong pun barang dapat diselamatkan, termasuk kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip juga ikut musnah terbakar.

Untuk membuktikan bahwa kitab itu betul-betul terbakar, Ban Sai Cinjin lalu minta kepada Im-yang Giok-cu untuk menanti sampai api betul-betul padam, kemudian ia membongkar tempat di mana kitab itu tadinya disimpan yaitu dalam sebuah peti. Peti itu telah menjadi abu dan pada waktu dibongkar, benar saja di dalamnya terdapat abu sebuah kitab yang samar-samar masih dapat dilihat tulisannya!

Im-yang Giok-cu menarik napas panjang dan berkata, “Kitab ini telah menyusul pemilik dan penulisnya. Sudahlah, aku tak dapat berkata apa-apa lagi!” Ia lalu melenggang pergi sambil menenggak araknya, tak seorang pun berani mencegah atau mengganggunya.

Ada pun Lo Sian yang dapat melarikan diri sambil memondong tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah, tanpa disengaja telah lari ke atas bukit di tengah hutan di mana dahulu dia mengubur jenazah Lie Kong Sian! Bagaikan ada dewa yang menuntunnya, di dalam kebingungannya melarikan diri dari kedua orang pengejarnya, Lo Sian naik terus dan di antara pohon-pohon pek itu dia melihat ada serumpun bunga mawar hutan yang sedang berkembang. Maka saking lelahnya, ia lalu meletakkan tubuh Ang I Niocu di atas rumput.

Kemudian, pemandangan di sekitarnya serta keharuan hatinya melihat keadaan Ang I Niocu yang sudah tak mungkin dapat ditolong lagi itu, membuka matanya dan teringatlah ia akan pengalamannya dahulu. Melihat rumpun bunga mawar hutan itu, Lo Sian tiba-tiba lalu menubruk ke arah rumpun itu dan dibuka-bukanya rumpun itu seperti orang mencari sesuatu, dan nampaklah olehnya gundukan tanah di bawah rumpun itu.

Lo Sian mengeluh dan menangis karena sekarang dia teringat bahwa inilah kuburan Lie Kong Sian! Teringat pula dia ketika dahulu dia melarikan diri membawa jenazah Lie Kong Sian seperti yang dilakukannya dengan membawa tubuh Ang I Niocu tadi, dan betapa ia mengubur jenazah Lie Kong Sian di tempat itu.

Dan pada saat Lo Sian menangisi nasib Ang I Niocu dan suaminya itulah, Lili mendengar suaranya dan datang ke tempat itu. Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lo Sian dan Lili akhirnya mengubur jenazah Ang I Niocu, pendekar wanita yang gagah itu, di sebelah makam suaminya yang telah meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun yang lalu…..

********************
Beberapa kali Ban Sai Cinjin membanting kakinya dan wajahnya menjadi sebentar pucat sebentar merah. Dia merasa marah dan sakit hati betul. Telah berkali-kali dia menerima penghinaan dan kekalahan hebat dari pihak Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan kali ini ia menerima hinaan yang paling hebat.

Gedungnya habis, kuilnya musnah, semua barang-barangnya menjadi abu, dan muridnya yang terkasih, Hok Ti Hwesio tewas bersama beberapa orang hwesio lainnya dan juga kedua saudara Can dari Shan-tung itu tewas dalam membelanya. Bagaimana dia tidak menjadi sakit hati dan marah?

Juga Wi Kong Siansu menjadi marah dan penasaran sekali. Dia sudah mendengar dari sute-nya bahwa muridnya, yaitu Song Kam Seng, juga sudah tewas di dalam tangan Pendekar Bodoh! Tentu saja ia tidak tahu bahwa Kam Seng terbunuh oleh Ban Sai Cinjin sendiri yang dengan pandainya telah rnemutar balik duduknya perkara dan menyatakan bahwa Kam Seng terbunuh oleh Pendekar Bodoh ketika membantu orang-orang Mongol di utara!

Kini melihat sepak terjang Ang I Niocu, Wi Kong Siansu menjadi semakin marah karena menurut anggapannya, Ang I Niocu telah berlaku kejam dan ganas sekali.

“Orang yang membawa lari Ang I Niocu tentulah pengemis hina dina itu,” kata Wi Kong Siansu, “dan tentu Lo Sian pula yang membakar kuil ini!”

“Sayang dahulu tidak kuhancurkan kepalanya!” kata Ban Sai Cinjin gemas. “Akan tetapi, sambil membawa orang luka, dia pasti tidak dapat lari jauh dan tidak mungkin keluar dari hutan sambil membawa-bawa Ang I Niocu. Mari kita mencari dia!”

Demikianlah, dengan hati penuh geram, Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, diikuti pula oleh ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui yang juga merasa penasaran, pada pagi hari itu juga lalu melakukan pengejaran.

Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Lo Sian ketika tiba-tiba lima orang kakek yang tangguh itu tahu-tahu telah berdiri di depannya di dekat makam Ang I Niocu dan Lie Kong Sian!

“Ha-ha-ha, pengemis jembel, apa kau kira akan dapat melarikan diri dari sini?” Ban Sai Cinjin tertawa bergelak karena girang dapat menemukan orang yang dibencinya. Apa lagi ia melihat Lili berada di situ dan melihat gadis musuh besarnya ini, timbullah harapannya untuk membalas penghinaan yang telah ia derita dari Pendekar Bodoh. “Di mana Ang I Niocu siluman wanita?”

“Ban Sai Cinjin, harap kau suka mengingat akan peri kemanusiaan. Kau telah membunuh Lie Kong Sian, dan sekarang kau telah menewaskan Ang I Niocu pula. Apakah hatimu masih belum puas? Mereka sudah tewas dan sudah kukubur baik-baik, harap kau jangan mencari urusan lagi,” kata Lo Sian yang merasa kuatir kalau-kalau lima orang kakek yang tangguh ini akan mengganggu Lili.

Akan tetapi Ban Sai Cinjin berseru marah, “Pengemis bangsat! Kau kira aku tidak tahu bahwa kau yang membakar kuilku? Kau enak saja bicara untuk membujukku agar jangan mengganggumu dan mengganggu setan perempuan ini. Kau kira aku akan melepaskan anak Pendekar Bodoh begitu saja tanpa membalas penghinaan-penghinaannya?” Sambil berkata demikian Ban Sai Cinjin melangkah maju dan menggenggam huncwe-nya lebih erat lagi.

Akan tetapi Lili sama sekali tidak merasa jeri, bahkan kini kedua matanya yang bening itu mengeluarkan cahaya berapi dan wajahnya yang cantik itu sudah menjadi merah sekali. Sungguh pun dia kini tidak memegang senjata apa-apa karena kipas dan pedang Liong-coan-kiam telah rusak ketika ia bertemu dengan nenek luar biasa yang menjadi gurunya itu, namun dia tidak merasa jeri sama sekali, bahkan lebih tabah dari pada dahulu ketika menghadapi Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.

“Ban Sai Cinjin manusia binatang! Kau bilang takkan melepaskan anak Pendekar Bodoh, akan tetapi apakah kau kira aku Sie Hong Li akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi setelah kita bertemu di sini?” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan dengan tangan kirinya ia menyerang ke arah leher Ban Sai Cinjin. Begitu bertemu, gadis ini langsung menyerang dengan tipu dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat yang lihainya luar biasa!

Saat melihat gadis itu menyerangnya dengan tangan kosong, Ban Sai Cinjin memandang rendah sekali dan cepat dia mengulur tangan kiri untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu, sedang tangan kanan menggerakkan huncwe untuk mengetok kepala Lili! Akan tetapi dia belum lagi kenal kelihaian ilmu pukulan Hang-liong Cap-it Ciang-hoat yang baru pertama kali ini dipergunakan oleh orang di dunia ramai!

Pada saat tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan kiri Lili, Ban Sai Cinjin berteriak kaget dan cepat-cepat dia menarik kembali tangannya karena merasa betapa telapak tangannya seakan-akan menyentuh api membara! Dan Lili hanya menundukkan sedikit kepalanya untuk menghindarkan serangan huncwe dari lawannya, akan tetapi tangan kirinya tetap meluncur ke arah leher Ban Sai Cinjin!

Kakek mewah ini terkejut bukan main dan cepat dia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, akan tetapi masih saja tangan kanan Lili yang menyambar lagi mengenai kepala huncwe-nya.

“Prakk!” kepala huncwe-nya itu hancur lebur dan api tembakaunya berhamburan!

Ban Sai Cinjin bergulingan menjauh kemudian melompat berdiri dengan muka pucat dan memandang ke arah gadis itu dengan kedua mata terbelalak! Juga Wi Kong Siansu dan ketiga tokoh dari Hailun itu berdiri bengong. Mereka belum pernah menyaksikan ilmu silat yang sedemikian hebatnya.

Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar saja, oleh karena Wi Kong Siansu segera mencabut Hek-kwi-kiam dari punggungnya. Telunjuk kirinya menuding ke arah Lili dan jidatnya berkerut ketika dia berkata dengan garang,
“Sie Hong Li, hari ini terpaksa pinto akan mengambil nyawamu untuk membalas dendam muridku, Song Kam Seng!”

Lili mendengar ini menjadi makin marah. Ia melirik ke arah Ban Sai Cinjin dan maklum bahwa kakek mewah itu telah memutar balikkan kenyataan, maka ia tersenyum sindir. Ia tahu bahwa tiada gunanya untuk membantah dan ribut mulut membela diri, dan dengan suara lantang ia menjawab,

“Wi Kong Siansu, dahulu kau pernah membantu Ban Sai Cinjin merobohkan aku dengan curang, kemudian kau berani pula menentang Ayahku. Hemm, pendeta yang bermata buta seperti kau ini mana bisa membedakan mana salah mana benar, mana baik mana jahat? Majulah, kau kira aku takut kepadamu?”

Wi Kong Siansu lalu menerjang dengan pedangnya yang bercahaya kehitaman, mainkan Ilmu Pedang Hek-kwi Kiam-hoat dengan sangat marah. Akan tetapi segera dia menjadi terkejut sekali karena benar-benar gadis itu jauh sekali bedanya dengan dahulu.

Dahulu pun Lili sudah merupakan seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi sekali, seorang gadis muda yang sudah menerima warisan ilmu-ilmu silat tinggi seperti San-sui San-hoat dari Swi Kiat Siansu, juga telah mahir sekali mainkan Ilmu Pedang Liong-coan Kiam-sut, juga ilmu-ilmu pukulan yang lihai dari Bu Pun Su seperti Kong-ciak Sin-na dan Pek-in Hoat-sut.

Kini gadis itu seakan-akan harimau yang tumbuh sayapnya sesudah memiliki ilmu silat yang gerakannya amat luar biasa dan yang mendatangkan hawa pukulan hebat sekali ini. Bahkan Wi Kong Siansu tiap kali tergetar tangannya bila mana hawa pukulan dari tangan nona itu menyambar ke arahnya!

Saat melihat Wi Kong Siansu agaknya tidak bisa mendesak Lili, Hailun Thai-lek Sam-kui segera berseru dan maju mengeroyok. Luka Bouw Ki di pundaknya ketika ia mengeroyok Ang I Niocu telah diobati, sedangkan Lak Mau Couwsu sudah membikin betul rantainya, maka kini tiga iblis ini dengan lengkap dapat mengurung Lili.

Akan tetapi gadis ini benar-benar luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan bagaikan kilat menyambar-nyambar dan setiap serangan senjata lawan bisa dielakkannya dengan gesit sekali atau ditangkisnya dengan kedua lengannya yang mengandung tenaga luar biasa. Bahkan serangan gadis ini benar-benar membuat empat orang pengeroyoknya terkejut dan harus berlaku hati-hati sekali. Ternyata bahwa sebelas jurus dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat ini luar biasa sekali daya tahan dan daya serangnya.

Ada pun Ban Sai Cinjin setelah melihat Lili dikurung oleh suheng-nya dan Hailun Thai-lek Sam-kui, lalu mendelik menghampiri Lo Sian dengan huncwe-nya yang sudah terpotong tidak berkepala lagi itu! Sin-kai Lo Sian melihat nafsu membunuh di mata Ban Sai Cinjin, maka Pengemis Sakti ini lalu bersiap sedia untuk membela diri mati-matian.

“Lo Sian, dahulu aku sudah berlaku salah karena tidak terus membunuhmu sehingga kau mendatangkan banyak urusan. Sekarang harus kuhancurkan kepalamu!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menyerang dengan gagang huncwe-nya itu.

Biar pun huncwe-nya telah hilang kepalanya, akan tetapi gagang huncwe itu terbuat dari baja tulen yang keras sehingga kini merupakan tongkat atau toya pendek yang masih cukup berbahaya.

Lo Sian yang selama ini tak pernah terpisah dari tongkatnya, cepat mengangkat tongkat itu untuk menangkis. Terdengarlah suara keras dan terpaksa Lo Sian melompat mundur dengan telapak tangan tergetar dan panas!

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Kakek mewah ini timbul kesombongannya kalau sudah menang, maka sambil menyeringai ia lalu mendesak Lo Sian yang memang masih kalah jauh tingkat kepandaiannya.

Dengan nekat dan mati-matian Lo Sian berusaha mempertahankan diri sambil membalas serangan Ban Sai Cinjin, akan tetapi beberapa jurus kemudian terdengar suara keras dan tongkat di tangan Lo Sian patah menjadi dua oleh gagang huncwe di tangan Ban Sai Cinjin. Ban Sai Cinjin tertawa bergelak lalu menubruk maju.

Lo Sian mengelak ke kanan, akan tetapi sebuah tendangan dari Ban Sai Cinjin mengenai betisnya sehingga membuat Lo Sian terjungkal. Ban Sai Cinjin melangkah maju dengan gagang huncwe terangkat dan dengan sekuat tenaga ia menimpakan gagang huncwe itu ke arah kepala Lo Sian!

“Prakk!” Bunga api berpijar dan gagang huncwe itu untuk kedua kalinya patah dan tinggal sedikit saja.

Ban Sai Cinjin kaget sekali dan cepat melompat ke belakang. Ternyata bahwa pada saat yang amat berbahaya bagi nyawa Lo Sian itu, sebatang pedang berbentuk ular dengan gerakan cepat sekali telah menangkis gagang huncwe itu dan menyelamatkan nyawa Lo Sian.

“Lie Siong...!” Lo Sian berseru girang sekali ketika melihat pemuda yang baru datang ini.
“Lo-pek, minggirlah dan biarkan aku membunuh tikus busuk ini!” berkata Lie Siong sambil memutar pedangnya dan menyerang Ban Sai Cinjin dengan hebatnya.

Seperti ketika ia menghadapi Lili tadi, kini Ban Sai Cinjin juga merasa heran dan terkejut sekali. Hanya dengan sekali serang saja pemuda ini sudah dapat mematahkan gagang huncwe-nya! Alangkah jauh bedanya dengan dulu ketika ia bertempur melawan pemuda ini.

Padahal dulu dia sendiri betum semaju ini ilmu kepandaiannya dan akhir-akhir ini ia telah melatih diri dan memperoleh kemajuan pesat. Namun dibandingkan dengan kedua orang muda ini, dia telah tertinggal jauh!

Tentu saja Ban Sai Cinjin tidak tahu bahwa Lili telah mendapat gemblengan luar blasa dari seorang nenek di dalam sumur yang mengajarnya Hang-liong Cap-it Ciang-hoat, dan bahwa Lie Siong juga telah bertemu dengan seorang kakek luar biasa yang mengajarnya bermain gundu!

Karena gagang huncwe-nya kini sudah tak dapat digunakan lagi, Ban Sai Cinjin terpaksa menghadapi Lie Siong dengan kedua tangannya yang juga tidak boleh dipandang ringan. Dia langsung melancarkan pukulan-pukulan disertai ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang selain mengandung tenaga luar biasa juga disertai bentakan-bentakan yang pengaruhnya dapat melumpuhkan semangat lawannya.

Akan tetapi Lie Siong hanya mengeluarkan suara menyindir. Tangan kirinya mainkan Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang mengeluarkan uap putih untuk menolak pengaruh ilmu hitam lawannya, sedangkan pedangnya tetap mengurung Ban Sai Cinjin dengan rapat.

“Ban Sai Cinjin, engkau harus membayar nyawa ayahku!” bentaknya berulang-ulang dan pedangnya yang berbentuk naga itu menyambar-nyambar dekat sekali dengan dada dan leher Ban Sai Cinjin.

“Suheng, bantulah aku merobohkan setan ini!” terpaksa Ban Sai Cinjin berseru kepada Wi Kong Siansu. Tubuhnya sampai mandi keringat dingin karena ia merasa bahwa kalau dilanjutkan, sebentar lagi ia pasti akan roboh binasa oleh pemuda yang luar biasa ini.

Pada waktu mendengar seruan ini, Wi Kong Siansu cepat menengok dan terkejutlah dia melihat betapa sute-nya berada dalam keadaan amat berbahaya. Cepat ia melompat dan pedangnya Hek-kwi-kiam segera meluncur dan melakukan serangan kilat ke arah tubuh Lie Kong. Pemuda ini maklum akan kelihaian Wi Kong Siansu, karena itu dia menangkis sambil mengerahkan tenaga lweekang-nya yang baru diperkuat dengan latihan yang dia terima dari gurunya yang aneh.

“Traaang…!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua pedang itu beradu.

Pedang Hek-kwi-kiam juga sebatang pedang pusaka yang ampuh, maka tidak sampai patah. Namun Wi Kong Siansu diam-diam terkejut sekali karena baru sekali ini dalam beradu pedang dia merasa tangannya tergetar hebat!

Kedatangan Wi Kong Siansu membuat Ban Sai Cinjin bernapas lega, meski pun mereka berdua juga tidak berdaya mendesak Lie Siong. Tapi sebaliknya, Hailun Thaitek Sam-kui menjadi sibuk sekali karena setelah ditinggalkan oleh Wi Kong Siansu, mereka sekarang terdesak hebat oleh Lili.

“Siong-ko (Kakak Siong), hayo kita bikin mampus lima ekor anjing ini. Ie-ie Im Giok telah terbunuh oleh mereka ini!” seru Lili kepada Lie Siong.

Mendengar seruan ini, serangan Lie Siong bukannya lebih cepat, bahkan tiba-tiba daya serangnya banyak berkurang. Pemuda ini menerima pukulan batin yang amat hebat saat mendengar warta tentang kematian ibunya ini. Ia menjadi demikian marah, sedih, gemas, dan menyesal sekali sehingga tubuhnya terasa lemas dan dia tidak dapat mengerahkan lweekang-nya dengan sempurna lagi.

Hal ini tentu saja menggirangkan hati Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin karena tadinya mereka berdua sudah menjadi gelisah sekali. Hailun Thai-lek Sam-kui terdesak hebat sedangkan mereka juga agaknya tak akan mampu mengalahkan pemuda ini. Kini melihat kesempatan ini, Ban Sai Cinjin lalu berkata,
“Jangan layani mereka lagi, belum tiba waktunya mengadu kepandaian! Kita telah berjanji musim chun di puncak Thian-san!”

Ucapan ini hanya untuk menutup rasa malu saja, akan tetapi membuat Hailun Thai-lek Sam-kui ‘ada muka’ untuk mengundurkan diri. Bagaikan sedang berlomba, mereka semua cepat memutar tubuh lalu melarikan diri dari tempat itu!

“Bangsat rendah, hendak lari kemana kau?” Lili yang menjadi gemas lalu mengejarnya. Juga Lie Siong mengejar, akan tetapi pemuda ini tak dapat melampaui Lili karena kedua kakinya menggigil.

Tiba-tiba lima orang kakek itu membalikkan tubuh dan ketika tangan mereka bergerak, banyak sekali am-gi (senjata gelap) menyambar ke arah Lili dan Lie Siong! Lili segera melompat ke atas dan ketika kaki tangannya bergerak, dia telah dapat menangkap dua batang panah tangan beracun sedangkan kedua kakinya telah berhasil menendang jauh empat butir peluru besi!

Yang hebat adalah Lie Siong. Pemuda ini baru saja digembleng oleh seorang kakek aneh yang ternyata seorang ahli lweekeh dan juga seorang ahli senjata rahasia. Melihat datangnya senjata-senjata gelap itu, biar pun tubuhnya sudah gemetar dan lemah karena luka di dalam batinnya yang terpukul oleh berita kematian ibunya, dengan tenang Lie Siong lalu berjongkok dan pedangnya disabetkan ke atas hingga semua senjata rahasia itu terpukul ke atas. Berbareng dengan itu, tangan kirinya sesudah mencengkeram ke bawah lalu bergerak dan bagaikan kilat menyambar, batu-batu kerikil dari tangan kirinya itu meluncur ke arah lima orang kakek itu!

Inilah serangan gelap yang luar biasa dari Lie Siong. Batu-batu kerikil itu dipegangnya seperti kalau ia bermain gundu dengan gurunya dan kini batu-batu itu meluncur dengan luar biasa cepatnya ke arah tubuh lima orang lawan itu, tepat ke arah jalan-jalan darah di tubuh mereka!

Lima orang kakek itu sambil berseru kaget lalu bergerak mengelak, akan tetapi Bouw Ki dan Lak Mao Couwsu kurang cepat gerakannya sehingga biar pun batu-batu kerikil itu tidak tepat mengenai jalan darah yang dapat mengirim nyawa mereka ke tangan maut, namun tetap saja kulit mereka pecah-pecah terkena kerikil-kerikil itu! Dengan berlumur darah, kedua orang ini cepat menyeret tubuh mereka mengikuti jejak tiga orang kawan lainnya yang sudah melarikan diri terlebih dulu!

Lili hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba saja ia melihat Lie Siong terhuyung-huyung ke depan dan roboh! Gadis ini kaget sekali dan cepat menubruk tubuh Lie Siong, kemudian diangkatnya. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu menderita luka di dalam tubuh, maka ia menjadi amat berkuatir. Ketika ia mengangkat Lie Siong hendak dibawa lari ke makam Ang I Niocu, Lo Sian yang mengejar sudah sampai di situ dan orang tua ini dengan kaget lalu minta tubuh Lie Siong itu dan dipondongnya sendiri.

“Terlukakah dia, Lili?”

Gadis itu hanya memandang sedih. “Entahlah, Suhu, aku tidak melihat dia terpukul, juga tidak ada tanda darah. Akan tetapi tahu-tahu dia hendak roboh.”

Mereka lalu mengangkat tubuh Lie Siong dan meletakkannya di atas rumput di depan makam kedua orang tua pemuda itu. Lili tanpa diminta lalu pergi mencari air, dan setelah kembali dia lalu menyusuti muka Lie Siong dengan sapu tangannya yang sudah basah, kemudian dia mengucurkan air di kepala pemuda itu.....
Tak lama kemudian Lie Siong membuka kedua matanya dan cepat sekali dia melompat bangun. Kedua matanya memandang beringas bagaikan seekor harimau lapar mencium darah.

“Mana mereka? Mana pembunuh-pembunuh ibuku? Lili, katakan, mana mereka? Hendak kucekik semua batang lehernya!” Sambil membelalakkan sepasang matanya Lie Siong memandang ke sana ke mari dengan mata jelalatan.

Lili melompat bangun dan tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi dia memegang tangan Lie Siong.
“Siong-ko, tenanglah. Di mana kegagahanmu? Atur napasmu dan tenangkan batinmu, baru kita bicara lagi.”

Bagaikan seekor kambing jinak, Lie Siong menurut saja pada saat dipimpin oleh Lili dan disuruh duduk di atas tanah. Sambil berpegangan tangan, sepasang orang muda ini lalu duduk meramkan mata dan mengatur napas mengumpulkan tenaga.

Dengan setia Lili menyalurkan hawa dan tenaga dalam tubuhnya melalui telapak tangan Lie Siong untuk membantu pemuda ini. Ia sekarang tahu bahwa pemuda ini tadi pingsan karena pukulan batin yang berduka.

Pikiran Lie Siong kacau tidak karuan. Tadinya dia sudah dapat mengatur napasnya dan menentramkan pikiran dan batinnya yang tergoncang, akan tetapi, pada waktu ia merasa betapa dari dua telapak tangan Lili itu mengalir hawa hangat yang membantu peredaran darahnya, dia menjadi demikian terheran-heran, girang, terharu, sedih, semua tercampur aduk menjadi satu sehingga kembali tubuhnya menjadi panas dingin. Hawa Im dan Yang mengalir di tubuhnya saling bertentangan dan karena tidak seimbang, sebentar tubuhnya menjadi panas dan sebentar dingin sekali!

Lili dapat merasakan ini, maka dia lalu menghentikan emposan semangat dan hawa, lalu melepaskan tangannya dan berkata perlahan,
“Siong-ko, jangan kau kacaukan pikiran sendiri. Tenanglah dan ingat bahwa hidup atau mati bukan berada di tangan manusia.”

Akhirnya Lie Siong dapat menenangkan batinnya, kemudian dia membuka matanya dan dengan pandangan sayu dan muka pucat, dia bertanya,
“Di mana... dia? Mana ibuku?”

Lili menuding ke arah dua gunduk tanah di depan mereka, dan berkata perlahan, “Kami telah menguburnya baik-baik, di samping kuburan ayahmu.”

Lie Siong menoleh cepat dan melihat dua gundukan tanah. Yang satu sudah lama, akan tetapi yang ke dua masih baru sekali. Ia lalu menubruk dan menangis terisak-isak di atas kuburan ayah bundanya itu!

Lili tak dapat menahan keharuan hatinya dan ikut pula mengucurkan air mata, sedangkan Sin-kai Lo Sian berulang-ulang menarik napas panjang. Dia memberi tanda kepada Lili agar supaya mendiamkan saja pemuda itu, karena sewaktu-waktu air mata sangat baik sekali untuk penawar hati yang duka.

Setelah agak lama Lie Siong menangis sambil memeluk gundukan tanah itu, Lili berkata perlahan, “Tak baik bagi orang-orang gagah menumpahkan air matanya.”

Lie Siong mendengar ucapan ini dan terbangun semangatnya. Dia menyusut air matanya hingga kering dan kini matanya menjadi merah. Ia berlutut di depan gundukan-gundulcan tanah itu dan berkata dengan suara menyeramkan,
“Ayah, Ibu, anakmu bersumpah bahwa sebelum aku berhasil membunuh Ban Sai Cinjin, aku tak akan mau berhenti berusaha.”

Setelah berkata demikian, ia lalu bangun berdiri dan menoleh kepada Lo Sian, katanya, “Lo-pek, bagaimanakah terjadinya hal ini?”

Lo Sian kemudian menceritakan sejelasnya tentang sepak terjang Ang I Niocu, juga dia menceritakan pula tentang Lie Kong Sian yang tewas di tangan Ban Sai Cinjin karena dia sudah dapat mengingat itu semua. Setelah mendengar penuturan kakek pengemis yang budiman ini, Lie Siong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian.

“Lopek, kau benar-benar telah melakukan pembelaan hebat sekali terhadap kedua orang tuaku. Aku Lie Siong bersumpah bahwa selama hidup aku akan menganggapmu sebagai orang tuaku sendiri. Lo-pek, terimalah hormatku dan rasa terima kasihku yang tulus.”

Lo Sian menjadi terharu. “Lie Siong, sudah sepatutnya kau menganggap aku sebagai pengganti orang tuamu, oleh karena, dengan disaksikan oleh Hong Li, pada saat hendak menutup mata, ibumu berpesan agar supaya aku suka menjadi walimu. Oleh karena itu, mulai sekarang aku menganggap kau sebagai puteraku sendiri, Siong-ji.”

“Terima kasih, Lo-pek, terima kasih banyak,” kata Lie Siong dengan hati terharu sekali. “Dan sekarang maafkanlah, aku akan cepat menyusul dan mencari Ban Sai Cinjin. Kalau tugasku ini telah berhasil, barulah aku akan mencarimu dan selanjutnya kita hidup seperti ayah dan anak.” Setelah berkata demikian, Lie Siong hendak pergi.
“Tunggu dulu, aku pun hendak membalas dendamku kepada Ban Sai Cinjin. Marilah kita gempur dia bersama!” tiba-tiba Lili berkata sambil melangkah maju.

Lie Siong menengok ke arah dara itu. Tadinya ia tidak pernah mempedulikan kepada Lili oleh karena sebenarnya dia merasa amat jengah dan malu. Tadi gadis ini telah bersikap begitu lembut dan baik terhadapnya, sedangkan ia pernah melakukan hal-hal yang cukup dapat membuat gadis itu merasa marah dan sakit hati. Bahkan sepatu gadis itu hingga kini masih berada di saku bajunya!

“Nona, harap kau jangan menyusahkan diri sendiri. Biarlah urusan balas dendam ini aku lakukan sendiri karena ini sudah menjadi tugasku yang suci.”
“Kau pikir hanya kau saja seorang yang menaruh hati dendam kepada kakek jahanam itu? Dengarlah, sebelum kau mengetahui nama Ban Sai Cinjin, muridnya sudah pernah menculikku di waktu aku masih kecil, bahkan telah membunuh mati kakekku! Kemudian aku juga pernah bertempur melawan Ban Sai Cinjin dan dirobohkan dengan cara curang. Apakah itu bukan perbuatan yang harus dibalas? Belum diingat lagi betapa dia sudah mengajak kawan-kawannya memusuhi kakakku Hong Beng dan calon iparku Goat Lan!”
“Aku telah mendengar akan hal itu, Nona. Akan tetapi perjalanan ini jauh dan sukar sekali karena aku sendiri belum tahu di mana adanya Ban Sai Cinjin. Tadi pun sudah terlihat betapa Ban Sai Cinjin mempunyai kawan-kawan yang berkepandaian tinggi, maka dapat dibayangkan betapa sukar dan berbahayanya pekerjaan ini.”
“Kau kira hanya kau sendiri saja yang memiliki keberanian? Kau kira aku takut kepada Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya?” Dengan wajah merah ia menegakkan kepala dan mengangkat dada, sepasang matanya bersinar marah. Timbul sifat-sifat keras dari dara yang seperti ibunya ini.

Sebetulnya, tak dapat disangkal lagi Lie Siong akan merasa girang dan suka sekali bila melakukan perjalanan bersama gadis yang setiap saat menjadi kenangannya ini. Akan tetapi apa yang ia katakan tadi memang keluar dari hatinya yang tulus. Ia merasa kuatir kalau-kalau gadis yang dicintainya ini akan menghadapi mala petaka kalau ikut mencari Ban Sa Cinjin dan kawan-kawannya yang berbahaya dan berkepandaian tinggi.

Ia ingin membereskan musuh besarnya ini seorang diri saja dan kemudian, barulah dia akan mendekati gadis ini. Baginya sendiri, tidak usah takut karena dia sudah menerima gemblengan hebat dari gurunya yang baru, akan tetapi Lili...?

Tentu saja dia tidak tahu bahwa Lili juga berpikir sebaliknya! Gadis ini pernah bertempur melawan Lie Siong dan meski pun dia tahu bahwa kepandaian pemuda ini tidak rendah, akan tetapi apa bila menghadapi keroyokan Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu dan yang lain-lain, bisa berbahaya.

Dia sendiri sudah membuktikan bahwa walau pun dengan tangan kosong, Ilmu Pukulan Hang-liong Cap-it Ciang-hoat sudah cukup hebat untuk digunakan menjaga diri. Pendek kata, kedua orang muda ini saling memandang ringan karena tidak tahu bahwa masing-masing telah menemukan guru baru.

“Harap kau bersabar, Nona...,” Lie Siong berkata pula.
“Sungguh menyebalkan!” Lili berseru marah.
“Apa yang menyebalkan?” Lie Siong mengerutkan kening dan bertanya tak senang pula. Kalau dia dianggap menyebalkan...
“Sebutanmu dengan nona-nonaan itu! Kau adalah putera dari Ie-ie Im Giok, walau pun bukan keluarga kita sudah seperti saudara saja, atau tepatnya, kita orang segolongan. Kenapa mesti berpura-pura sheji (sungkan) seperti orang asing? Tadi kau bisa menyebut namaku, apakah sekarang sudah lupa lagi? Namaku Sie Hong Li atau seperti sebutanmu tadi cukup dengan Lili saja. Siapa sudi kau panggil nona?”

Merah muka Lie Siong mendengar ini dan untuk sesaat ia hanya menundukkan mukanya saja seperti seorang anak kecil dimarahi ibunya! Lo Sian hampir tidak dapat menahan gelak tawanya melihat sikap kedua orang muda yang sama-sama keras hati ini.

“Lili,” kata Lie Siong dengan lidah berat karena sesungguhnya dia merasa sungkan dan malu-malu untuk menyebut nama ini dengan mulutnya, sungguh pun nama ini setiap saat disebut-sebutnya dengan suara hatinya, “harap kau jangan main-main dan suka berpikir masak-masak. Tentu saja aku maklum bahwa kau memiliki keberanian dan tidak takut menghadapi Ban Sai Cinjin. Akan tetapi… urusan membalas dendam kedua orang tuaku ini biarlah kau serahkan saja kepadaku sendiri. Hanya akulah seorang yang berhak untuk menuntut pembalasan, karena dua orang tuaku hanya mempunyai aku seorang! Lili... maukah kau memberi sedikit kelonggaran padaku dan tidak akan merampas harapanku ini? Jangan kau mendahului aku menewaskan Ban Sai Cinjin!”

Lili tertegun. Hemm, jadi demikiankah gerangan maksud hati pemuda ini? Dia tak dapat menjawab lagi hanya memandang dengan sepasang matanya yang bening.

“Siong-ji, kau keliru!” tiba-tiba Lo Sian berkata dan kedua orang muda itu terkejut karena tadi keduanya telah lupa sama sekali akan orang tua ini! “Sebagai calon mantu, Lili juga berhak penuh seperti engkau pula untuk membalas sakit hati ayah bundamu!” Sesudah ucapan ini keluar, barulah Lo Sian sadar bahwa dia telah bicara terlalu banyak dan tak terasa lagi dia menutup mulutnya dengan tangan.

Tiba-tiba Lili merasa mukanya panas dan menjadi merah sekali, karena itu dia kemudian menundukkan mukanya. Kenapa Lo Sian membuka rahasia ini? Sungguh terlalu, pikirnya dengan gemas, akan tetapi juga girang.

Ada pun Lie Siong yang mendengar ucapan ini otomatis lalu menengok ke arah Lili dan ketika melihat gadis itu menundukkan mukanya, ia menjadi makin tak mengerti. Tadinya ia menganggap Lo Sian hanya bergurau saja untuk menggoda dia dan Lili, akan tetapi mengapa Lili gadis galak itu tidak menjadi marah, bahkan kelihatan malu-malu?

“Lo-pek, mengapa kau main-main dalam keadaan seperti ini? Mengapa Lo-pek menyebut Lili sebagai calon mantu ayah bundaku? Apakah artinya ini?”

Lo Sian sudah mengenal watak Lie Siong, pemuda yang tidak suka banyak bicara, akan tetapi yang berhati keras dan jujur. Setelah terlanjur bicara, dia tidak dapat menutupinya lagi, maka ia lalu menceritakan dengan jelas betapa Ang I Niocu telah menganggapnya sebagai wali dan telah menetapkan perjodohan antara Lie Siong dan Lili!

“Nah, setelah sekarang kau mengetahui bahwa menurut pesan ibumu, Lili adalah calon jodohmu biar pun belum diajukan pinangan resmi kepada Sie Taihiap, apakah kau pikir tidak sepatutnya kalau Lili memperlihatkan baktinya kepada mendiang calon mertuanya? Ingatlah, Siong-ji, kau mengaku aku sebagai pengganti orang tuamu dan aku pun sudah menganggap engkau sebagai puteraku sendiri. Kau harus tahu bahwa lawan-lawan yang akan kau hadapi adalah orang-orang yang selain lihai juga amat cerdik dan curang. Ban Sai Cinjin kiranya tidak perlu kau takuti kepandalan silatnya, akan tetapi kau benar-benar harus awas dan waspada menghadapi siasatnya yang licin dan curang. Dengan adanya Lili membantumu, bukankah kalian akan menjadi lebih kuat dan lebih berhasil membalas dendam? Tidak saja tenagamu akan menjadi berlipat dua kali sebab kepandaian Lili juga tidak rendah, bahkan kalian bisa saling menjaga dan saling bela.”

Lili yang mendengarkan semua ucapan ini sekarang tidak berani mengangkat mukanya yang kemerahan. Setelah kini rahasia itu dibuka kepada Lie Siong, entah mengapa, dia tidak berani memandang pemuda itu dengan langsung.

Ada pun Lie Siong juga menjadi merah mukanya, sebentar dia menoleh kepada makam ibunya dengan hati terharu, kemudian kadang-kadang dia mengerling ke arah Lili dengan hati berdebar tidak karuan. Juga pemuda ini tidak dapat menjawab ucapan Lo Sian tadi sehingga orang tua itu tersenyum, lalu menganggap bahwa kedua orang muda itu kini sudah setuju untuk melakukan perjalanan bersama.

“Lie Siong, dan kau Lili. Berhati-hatilah kalian melakukan tugas yang berat ini. Aku akan kembali ke rumah Sie Taihiap untuk melaporkan semua hal ini agar mereka pun segera beramai-ramai menyusulmu untuk memberi bantuan.”

Setelah berkata demikian, Lo Sian kemudian meninggalkan dua orang muda itu dengan tindakan kaki cepat.
********************
Sepasang remaja itu berdiri saling berhadapan. Sampai lama sunyi saja, bibir serasa terkunci rapat-rapat karena malu untuk mengeluarkan suara. Lucu sekali kalau dilihat. Lili menundukkan mukanya yang kemerahan ada pun Lie Siong memandang ke lain jurusan tanpa bergerak.

Pemuda ini mengerutkan keningnya. Dia seharusnya berterima kasih kepada mendiang ibunya yang demikian tepatnya memilihkan calon isteri untuknya. Ia mencintai Lili, ini ia tidak ragu-ragu lagi. Bayangan gadis itu tidak pernah meninggalkan cermin hatinya. Akan tetapi pada saat itu teringatlah dia kepada Lilani.

Lili adalah seorang gadis yang cantik dan pandai, puteri dari Pendekar Bodoh, seorang gadis terhormat yang pasti akan didatangi oleh peminang-perninang dari kalangan tinggi. Bagaimana ia dapat menjadi suami Lili padahal ia yang telah melakukan perbuatan amat memalukan dengan Lilani? Dia yang sudah melanggar kesusilaan, yang menyia-nyiakan cinta Lilani dan yang mencemarkan kepercayaan gadis Haimi itu padanya? Apakah kelak Lili takkan hancur hatinya kalau mendengar tentang dia dan Lilani?

Dia tahu bahwa tak mungkin selama hidup ia akan merahasiakan hal itu dari Lili, karena dengan menyimpan rahasia itu berarti bahwa ia akan menyiksa batin sendiri selamanya, akan selalu merasa sebagai seorang yang berdosa dan tidak bersih terhadap Lili!

“Siong-ko, mengapa kau diam saja. Aku merasa seakan-akan telah menjadi patung, kau juga!” tiba-tiba Lili gadis yang lincah gembira ini lebih dulu memecahkan kesunyian. Tidak kuatlah gadis seperti Lili harus berdiam seperti itu lebih lama lagi.

Lie Siong terkejut dan terbangun dari lamunannya. Ia mengangkat muka dan bertemulah dua pasang mata. Lili memandang dengan jujur dan terang, membuat Lie Siong merasa makin kotor dan tak berharga pula.

“Lili... aku... aku merasa tidak pantas...,” dia menghentikan kata-katanya.
“Tidak pantas bagaimana, Siong-ko? Lanjutkanlah!” dengan kening berkerut Lili bertanya, hatinya merasa tidak enak.
“Tidak pantas seorang pemuda seperti... aku melakukan perjalanan bersama seorang dara seperti... engkau! Sudahlah, Lili, lebih baik kau pulang saja, biar aku sendiri mencari dan menghancurkan kepala Ban Sai Cinjin. Kau tunggu saja di rumah dan kelak... kelak mungkin kita akan bertemu lagi, bila aku tidak roboh di tangan musuh-musuhku. Selamat berpisah!” Tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu melompat jauh dan pergi meninggalkan tempat itu.

Lili membanting-banting kakinya dengan gemas. Dia merasa tidak dipandang mata dan diremehkan sekali. Dengan marah dia pun cepat berkelebat mengejar.

Lie Siong heran sekali melihat betapa gadis itu sudah dapat menyusulnya, padahal dia sudah mempergunakan ilmu ginkang-nya yang paling tinggi dan tadinya dia merasa pasti bahwa gadis itu tidak mungkin dapat menyusulnya. Saking herannya dia menghentikan larinya dan menengok.

“Orang she Lie! Kalau kau tidak sudi melakukan tugas ini bersamaku, apakah kau kira aku Sie Hong Li tak dapat melakukannya sendiri? Kita sama-sama lihat saja siapa nanti yang akan lebih cepat berhasil membasmi Ban Sai Cinjin!” Setelah berkata demikian, Lili lalu mengerahkan ilmu lari cepat dan membelok ke kiri meninggalkan Lie Siong!

Lie Siong tertegun, tidak hanya melihat kemarahan gadis itu akan tetapi melihat betapa ginkang dari gadis ini benar-benar telah demikian hebatnya sehingga belum tentu kalah olehnya! Ia ingat betul bahwa dahulu ketika bertempur dengan dia, kepandaian Lili belum setinggi ini. Bagaimana gadis ini demikian cepat majunya? Apakah ia khusus dilatih dan digembleng oleh Pendekar Bodoh?

Betapa pun juga, Lie Siong masih belum tahu bahwa gadis ini bahkan sudah mahir Ilmu Pukulan Hang-liong Cap-it Ciang-hoat yang sangat lihai, dan mengira bahwa Lili hanya mendapat kemajuan dalam hal ginkang saja. Kini melihat kenekatan gadis itu mencari Ban Sai Cinjin dan tidak mau pulang, ia menjadi terkejut dan gelisah.

Apa bila sampai gadis itu berhasil bertemu dengan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya, bukankah itu berbahaya sekali? Tanpa terasa lagi, dia pun lalu mengubah arah tujuannya dan dia berlari cepat mengejar ke arah kiri.

Lili melakukan perjalanan cepat dengan tujuan Pegunungan Thian-san. Gadis ini teringat bahwa karena musim chun yang dinanti-nantikan untuk memenuhi tantangan Wi Kong Siansu dan kawan-kawannya tak lama lagi tiba, paling banyak tiga puluh lima hari lagi, maka tentu Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, dan yang lain telah menuju ke sana.

Beberapa hari kemudian dia sampai di kota Kun-lin-an. Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya juga sudah berada di kota ini, bahkan telah bertemu dengan Bouw Hun Ti di tempat ini.

Sebagaimana dituturkan pada bagian depan, Bouw Hun Ti pergi mencari jago-jago silat yang suka membantu mereka untuk menghadapi Pendekar Bodoh sekeluarga. Dan pada waktu itu, Bouw Hun Ti sudah berada di Kun-lin-an bersama tiga orang tosu tua yang bertubuh kurus kering, akan tetapi tiga orang tosu ini sesungguhnya adalah tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi.

Ketika Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, dan ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui melarikan diri dari kejaran Lili dan Lie Siong, mereka tiba di kota ini dan bertemu dengan Bouw Hun Ti. Segera mereka membuat rencana untuk membikin pembalasan. Dengan adanya ketiga orang tosu itu, mereka merasa cukup kuat untuk menghadapi Pendekar Bodoh.

Memang, tiga orang tosu itu bukanlah orang-orang sembarangan saja, mereka adalah ketua dari Pek-eng-kauw (Perkumpulan Agama Garuda Putih) dari barat, bernama Thai Eng Tosu, Sin Eng Tosu, dan Kim Eng Tosu. Mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hendak menghadapi Pendekar Bodoh, tiga orang ketua Pek-eng Kauw-hwe ini dengan senang hati sanggup membantu dan ikut pergi bersama Bouw Hun Ti.

Memang tiga orang kakek ini mempunyai dendam terhadap Pendekar Bodoh. Sebetulnya bukan kepada Cin Hai mereka menaruh dendam, melainkan kepada Bu Pun Su yang telah menewaskan guru mereka. Akan tetapi oleh karena Bu Pun Su sudah meninggal dunia, maka dendam mereka itu kini hendak mereka balaskan terhadap murid dari Bu Pun Su!

Oleh karena Lili telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali, setelah makan dan membersihkan tubuh serta berganti pakaian, dara perkasa ini lalu masuk ke dalam kamarnya di sebuah hotel untuk beristirahat. Saking lelahnya maka sebentar saja ia telah pulas dan di dalam tidurnya bermimpi. Dalam mimpinya ia bertemu dengan Lie Siong dan bertengkar urusan sepatunya yang dirampas dulu, kemudian mereka saling menyerang dengan hebat!

Lili tertegun dengan hati terkejut karena ia benar-benar mendengar suara senjata beradu nyaring sekali dan suara orang bertempur hebat! Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia hendak melompat turun dari pembaringan, tubuhnya tidak dapat digerakkan! Ia hendak mengerahkan tenaga, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa dia sudah menjadi korban totokan yang luar biasa sekali sehingga ia menjadi lumpuh kaki tangannya. Sementara itu, suara pertempuran di atas genteng makin menghebat dan dengan bingung serta tak berdaya Lili berpikir-pikir apakah yang sesungguhnya telah terjadi.

Sebagaimana diketahui, setelah ditinggalkan oleh Lili di tengah hutan itu, Lie Siong lalu mengejar dan secara diam-diam dia mengikuti perjalanan gadis yang dikasihinya itu. Dia tak berani memperlihatkan muka karena dia merasa malu dan kuatir kalau-kalau Lili akan menjadi marah.

Untuk melepaskan gadis itu begitu saja dan mencari jalan sendiri, dia tidak tega karena maklum betapa lihainya lawan-lawan yang mereka kejar-kejar. Maka secara diam-diam ia hendak melindungi gadis itu dan bila sampai mereka bertemu dengan musuh, bukankah mereka akan dapat menghadapi dengan lebih kuat?

Demikianlah, ketika Lili bermalam di hotel di kota Kun-lin-an, secara diam-diam Lie Siong mengintai dan setelah melihat gadis itu memasuki kamarnya, ia pun kemudian menyewa sebuah kamar di hotel itu juga! Dia sudah mengambil keputusan untuk besok pagi-pagi menjumpai Lili dan menyatakan terus terang kehendaknya, yaitu melakukan perjalanan bersama. Dia sudah nekat dan bersedia untuk ditertawakan atau bahkan dimaki, karena melakukan perjalanan macam ini sungguh tidak enak baginya.

Malam itu Lie Siong tidak dapat pulas. Kalau dia memikirkan hidupnya, dia menjadi amat gelisah. Kedua orang tuanya telah tewas dalam keadaan amat menyedihkan, yaitu terbunuh oleh orang jahat. Kemudian di dalam perantauannya dia telah bertemu dengan Lilani yang membuat ia selalu menyesali pertemuan itu, dan akhirnya ia bertemu dengan Lili yang sudah membetot sukmanya serta menguasai cinta kasihnya, bahkan mendiang ibunya telah berniat menjodohkan dia dengan Lili.

Akan tetapi kalau dia teringat akan Lilani, hatinya menjadi perih sekali. Memang betul bahwa dia telah memenuhi kewajibannya seperti yang telah dinasehatkan oleh Thian Kek Hwesio, orang tua bijaksana ahli pengobatan yang tinggal di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu itu. Yaitu kewajiban untuk mengantar Lilani sampai dapat bertemu dengan suku bangsanya kembali.

Kini Lilani telah berkumpul dengan suku bangsanya dan urusannya dengan Lilani telah beres. Akan tetapi betulkah urusan itu telah beres? Kalau sampai Lili mengetahui hal itu bukankah akan terjadi ribut besar?

Benar-benar Lie Siong menjadi pusing memikirkan hal ini. Tiba-tiba dia mendengar suara di atas genteng dan terheranlah hatinya. Itu bukan suara orang berjalan, pikirnya. Lebih pantas kalau suara seekor burung besar mengibaskan sayapnya dan turun dengan kaki hampir tak bersuara di atas genteng!

Kalau saja ia melakukan perjalanan seorang diri, tentu pemuda ini akan terus berbaring di atas tempat tidurnya, menanti saja apa yang akan terjadi. Akan tetapi pada waktu itu, pikirannya penuh dengan penjagaan terhadap Lili, maka dia lantas cepat-cepat memakai sepatunya dan menyambar Sin-liong-kiam. Setelah itu, dia lalu membuka daun jendela dan secepat kilat dia melompat keluar, terus melayang naik ke atas wuwungan rumah hotel itu.

Alangkah terkejutnya ketika ia melihat tiga orang tosu tinggi kurus berdiri di atas genteng tepat di atas kamar Lili dan seorang di antara mereka meniupkan asap hijau ke dalam kamar. Pada waktu Lie Siong menengok, selain tiga orang tosu ini masih nampak pula bayangan seorang gemuk memegang huncwe. Ban Sai Cinjin! Bukan main marahnya Lie Siong dan tanpa banyak cakap lagi ia segera menerjang dengan pedangnya, menyerang tiga orang tosu yang sedang mempergunakan obat pulas untuk mencelakai Lili!

Memang yang datang adalah tiga orang ketua Pek-eng Kauw-hwe yang dibawa oleh Ban Sai Cinjin. Kakek berhuncwe ini telah melihat Lili berada di dalam kota ini pula. Sesudah menyelidiki dan mengetahui bahwa gadis musuhnya itu bermalam di hotel itu, dia lalu mengajak kawan-kawannya untuk menawan gadis itu.

Wi Kong Siansu mula-mula menyatakan tidak setuju, karena perbuatan ini dianggapnya terlalu memalukan mereka sebagai orang-orang gagah dan tokoh-tokoh terkemuka. Akan tetapi Ban Sai Cinjin lalu menyatakan bahwa ia sama sekali tidak hendak mencelakai Lili, hanya hendak menawannya saja sebagai tanggungan kalau-kalau mereka kelak kalah oleh Pendekar Bodoh! Biar pun kalah, apa bila mereka menguasal Lili, tentu Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya tidak berani membunuh atau mencelakai mereka.

Alasan-alasan yang cerdik dari Ban Sai Cinjin membuat Wi Kong Siansu tidak mampu membantah, akan tetapi tetap saja kakek kosen ini tak mau ikut turun tangan melakukan penangkapan itu. Juga Hailun Thai-lek Sam-kui walau pun paling doyan berkelahi tetapi tidak suka untuk turut membantu penangkapan ini. Oleh karena itu Ban Sai Cinjin lalu minta pertolongan tiga orang ketiga Pek-eng-kauw itu.

Kepandaian tiga orang kakek ini memang sangat hebat, kiranya tidak di sebelah bawah kepandaian Wi Kong Siansu. Selain Ilmu Silat Garuda Putih yang khusus mereka miliki, juga cara mereka melompat adalah seperti gerakan burung garuda, dengan dua lengan dipentang dan lengan baju yang lebar seperti sayap.

Selain ini, Kim Eng Tosu yang termuda di antara mereka, juga merupakan seorang ahli dalam hal penggunaan obat tidur dan racun-racun yang lihai untuk merobohkan lawan. Memang, Kim Eng Tosu ini pada waktu mudanya terkenal sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang amat ditakuti orang.

Pada saat tiga orang kakek ini sedang melakukan usaha mereka menangkap Lili dengan menggunakan asap memabukkan, Lie Siong lantas menerjang mereka dan mengerjakan Sin-liong-kiam dengan hebatnya. Dia tidak menerima pelajaran khusus dari gurunya yang baru, kecuali permainan gundu. Akan tetapi, gurunya itu telah banyak memberi perbaikan terhadap ilmu pedangnya dan ilmu silatnya. Setiap kali ia berlatih silat di depan gurunya, selalu gurunya itu mencela ini dan memperbaiki itu sehingga ilmu pedang dan ilmu silat pemuda ini mendapat kemajuan yang luar biasa sekali, di samping kemajuan-kemajuan dalam ginkang dan lweekang-nya.

Akan tetapi ketika dia menyerang tiga orang orang tosu itu dengan marah, ketiga ketua Pek-eng-kauw itu hanya mengebutkan lengan baju mereka yang lebar dan mereka sudah dapat mengelak dengan cepat sekali. Bahkan Kim Eng Tosu dan Sin Eng Tosu segera menggerakkan tangan mereka dan meluncurlah ujung lengan baju yang panjang-panjang itu melakukan serangan pembalasan yang hebat.

Lie Siong kaget sekali melihat kelihaian mereka, akan tetapi ia lalu memutar pedangnya sedemikian rupa dan melawan mereka dengan sepenuh tenaga. Kim Eng Tosu dan Sin Eng Tosu juga tertegun menyaksikan seorang pemuda yang memiliki kepandaian selihai ini, maka mereka berlaku hati-hati sekali.

Lie Siong belum pernah menghadapi ilmu sesat seperti yang mereka mainkan itu, yaitu dengan kedua lengan terbuka dan ujung lengan baju menyambar-nyambar, persis seperti dua ekor burung garuda besar yang menyabet-nyabet dengan sayap dan kadang-kadang menendang dengan kaki.

Ada pun Ban Sai Cinjin setelah melihat bahwa yang datang adalah Lie Siong, menjadi marah sekali dan sambil tertawa bergelak dia pun maju mengurung.

“Ji-wi Toyu, pemuda ini jahat seperti serigala, harus dibunuh!”

Sementara itu, Thai Eng Tosu mempergunakan kesempatan itu untuk melompat masuk ke dalam kamar Lili yang belum terkena pengaruh asap tadi karena keburu datang Lie Siong. Akan tetapi dalam keadaan masih tidur ia telah ditotok oleh Thai Eng Tosu yang lihai sehingga ketika ia terbangun dengan kaget, ia telah tak berdaya lagi.

Thai Eng Tosu memang cerdik sekali. Pada saat tadi dia menyaksikan gerakan seorang pemuda yang demikian cepat dan lihainya, dia pikir lebih baik membuat gadis di dalam kamar tidak berdaya karena dia telah mendengar dari Ban Sai Cinjin bahwa gadis itu pun lihai sekali. Bila sampai gadis itu bangun dan maju berdua dengan pemuda ini, agaknya tidak akan mudah menangkapnya! Maka setelah membuat Lili tidak berdaya, barulah dia melompat lagi ke atas genteng untuk mengeroyok Lie Siong!

Sebetulnya dalam hal kepandaian, kalau diadakan perbandingan, meski pun dengan Ban Sai Cinjin seorang saja, Lie Siong sudah tentu kalah latihan serta kalah pengalaman. Pemuda ini dapat mengatasi Ban Sai Cinjin hanya karena dia menang tenaga, menang semangat, dan juga pemuda ini semenjak kecilnya mempelajari ilmu silat yang bermutu tinggi.

Terutama sekali karena akhir-akhir ini, biar pun dalam waktu singkat, Lie Siong menerima gemblengan yang amat hebat dari orang luar biasa, tokoh persilatan tersembunyi seperti kakek tukang main kelereng itu. Maka, dalam hal ginkang dan lweekang, dia sekarang tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Ban Sai Cinjin!

Namun, tetap saja Ban Sai Cinjin merupakan seorang lawan berat baginya. Apa lagi sekarang di situ terdapat tiga orang tosu yang kepandaiannya rata-rata lebih tinggi dari pada kepandaian Ban Sai Cinjin.

Lie Siong melakukan perlawanan secara nekad. Dia memutar pedang naganya dengan secepat kilat dan mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaiannya untuk merobohkan empat orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, diam-diam Lie Siong harus mengakui bahwa selamanya belum pernah dia menghadapi lawan-lawan yang berat seperti empat orang kakek ini. Terutama sekati Thai Eng Tosu yang bersenjatakan sebatang suling kecil. Bukan main lihai dan berbahayanya sehingga beberapa kali Lie Siong hampir saja terkena totokan suling ini kalau dia tidak cepat-cepat membuang diri ke samping.

Melihat betapa Lie Siong sukar sekali dirobohkan, Ban Sai Cinjin menjadi gemas. Maka tiba-tiba sekali, di luar dugaan ketiga orang tosu kawannya dan juga Lie Siong, Ban Sai Cinjin melepaskan tiga batang jarum beracun ke arah pemuda itu.

Lie Siong sedang sibuk menahan serangan tiga orang ketua Pek-eng-kauw yang lihai, maka tentu saja dia tidak bersiap sedia menghadapi serangan gelap ini. Tetapi dia dapat melihat menyambarnya tiga sinar hitam ke arah tubuhnya. Cepat ia menangkis dengan kebutan tangan kiri yang menggunakan hawa pukulan Pek-in Hoat-sut, namun sebatang jarum hitam tetap saja menancap pada paha kirinya di atas lutut.

Lie Siong menggigit bibir dan menahan sakit, akan tetapi seketika itu juga dia merasa betapa separuh tubuhnya seakan-akan mati. Dia terkejut sekali dan maklum bahwa dia telah terkena jarum berbisa, maka dia kemudian melompat ke bawah dan melarikan diri secepatnya.

Diam-diam Ban Sai Cinjin merasa girang dan juga kagum karena sedikit pun juga tidak terdengar keluhan sakit dari mulut pemuda itu, padahal dia maklum bahwa jarumnya itu mendatangkan rasa sakit yang luar biasa dan di dalam waktu tiga hari, pemuda itu tentu akan mati!

Dengan cepat ia lalu melompat turun dan memondong tubuh Lili yang tak berdaya lagi itu keluar dari kamar dan dibawa pergi bersama tiga orang tosu lihai itu! Kedatangan mereka disambut oleh Wi Kong Siansu dan Hailun Thai-tek Sam-kui yang diam-diam merasa girang juga bahwa dua orang di antara calon lawan mereka yang tangguh telah berhasil dikalahkan.

“Bagaimana pun juga harap kau berlaku hati-hati dan jangan sekali-kali mencemarkan namaku dengan perbuatan hina, Sute!” Wi Kong Siansu berkata kepada Ban Sai Cinjin sambil melirik ke arah tubuh Lili yang masih setengah pingsan.

Ban Sai Cinjin tersenyum. “Jangan kuatir, Suheng. Maksudku pun hanya untuk mencegah Pendekar Bodoh berlaku kejam terhadap kita.”

Dia lalu menghampiri Lili, menotok jalan darah Koan-goan-hiat dan Kian-ceng-hiat pada kedua pundak, kemudian dia membebaskan gadis itu dari keadaannya yang lumpuh. Lili terbebas dari totokan Thai Eng Tosu tadi, akan tetapi sepasang lengannya tidak dapat dipergunakan karena kedua lengan itu telah menjadi lemas tidak bertenaga lagi sebagai akibat dari totokan Ban Sai Cinjin tadi.

Gadis ini berdiri dengan tegak dan tiba-tiba kedua kakinya menendang ke arah Ban Sai Cinjin dengan tendangan Soan-hong-lian-hoat-twi, yaitu kedua kakinya secara bertubi-tubi mengirim tendangan berantai yang amat berbahaya!

Ban Sai Cinjin terkejut sekali dan cepat dia melompat pergi, lalu berkata dengan gemas, “Lihat, Suheng, betapa jahatnya gadis liar ini. Hmm, ingin aku menghancurkan kepalanya dengan sekali ketuk agar ia tidak dapat menimbulkan kepusingan lagi!” Ia menggenggam huncwe-nya erat-erat.

Wi Kong Siansu melompat maju dan menghadapi Lili yang memandang dengan mata mendelik. Sedikit pun gadis ini tidak takut biar pun dengan kedua tangan lumpuh ia telah tak berdaya sama sekali.

“Nona Sie, kenapa kau begitu bodoh? Kami tidak akan mengganggumu, hanya kau harus tahu bahwa di antara keluargamu dengan kami timbul permusuhan. Dengan menawan kau, Nona, kami berusaha untuk meredakan permusuhan ini. Bulan depan akan diadakan pertemuan pibu dan dengan kau berada di pihak kami, pinto akan berusaha agar supaya ayahmu dan kawan-kawannya tidak berlaku kejam. Betapa pun juga, kita semua masih orang-orang segolongan, maka lebih baik kita menghabisi segala permusuhan yang telah lewat.”

“Enak saja kau bicara, tosu murah!” bentak Lili dengan marah sekali. Kemudian ketika melihat Bouw Hun Ti berdiri di dekat Ban Sai Cinjin sambil memandang dirinya dengan senyum sindir, ia lalu mengertak gigi dan berkata, “Dengarlah, Wi Kong Siansu! Aku tidak tahu mengapa seorang seperti kau membela orang-orang berhati iblis macam Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin! Dengan kau dan yang lain-lainnya boleh saja aku menghabiskan permusuhan, akan tetapi aku tak akan pernah memberi ampun kepada dua ekor binatang bermuka manusia ini!”

“Suheng, biar kubunuh gadis liar ini!” Ban Sai Cinjin berseru marah.
“Majulah, binatang! Kedua kakiku pun masih sanggup memecahkan dadamu!” teriak Lili menantang.
“Sabar, Sute, mengapa mengumbar nafsu? Nona Sie, sikapmu ini benar-benar hanya akan menyusahkan dirimu sendiri saja. Kalau kau menurut saja ikut dengan kami ke Thian-san, kami tak akan mengganggumu. Akan tetapi kalau kau menimbulkan kesulitan, agaknya terpaksa kau harus dibikin lumpuh dan hal ini tentu tak kau kehendaki, bukan?”

Biar pun dia merasa amat mendongkol dan ingin memaki-maki semua orang itu, tetapi ia merasa bahwa ucapan Wi Kong Siansu ini ada benarnya juga. Ia sudah tak berdaya lagi, maka meski pun ia akan mengamuk dengan kedua kakinya, tetap saja ia takkan sanggup menang. Kalau sampai dia dibikin lumpuh seperti tadi, lebih tidak enak lagi, maka dia lalu diam saja sambil menundukkan mukanya.

Gadis ini tidak takut sama sekali. Ia diam saja untuk memutar otak mencari jalan bagai mana agar ia dapat melepaskan diri dari kekuasaan orang-orang ini. Ia telah mendengar pertempuran-pertempuran di atas genteng dan menduga-duga siapakah orangnya yang bertempur melawan Ban Sai Cinjin. Ia tidak tahu bahwa tadi Lie Siong sudah berusaha menolongnya, dan bahwa pemuda itu kini sudah melarikan diri dengan menderita luka hebat oleh panah beracun dari Ban Sai Cinjin…..

********************
Lie Siong melarikan diri dengan hati gelisah sekali. Rasa sakit yang hebat pada kakinya tidak melebihi sakit hatinya, karena ia selalu berkuatir memikirkan nasib Lili. Kalau saja ia tidak memikirkan Lili, tadi pun dia tentu akan menerjang mati-matian dan biar pun sudah terluka hebat, dia lebih baik mati dari pada melarikan diri. Akan tetapi dia harus menolong Lili, oleh karena itu dia harus hidup untuk dapat menyusul dan menolong Lili.

Ia telah berlari jauh sekali dan perbuatannya ini menghebatkan pengaruh bisa di luka itu. Dia kini merasa seluruh tubuhnya panas dan pandang matanya berkunang-kunang. Dia memang hendak mempertahankan diri, akan tetapi pandangan matanya makin gelap dan akhirnya dia terhuyung-huyung dan roboh di atas rumput tak sadarkan diri lagi.

Ban Sai Cinjin tidak akan sedemikian tersohor namanya apa bila tidak sangat lihai dalam menggunakan huncwe maut dan kalau saja senjata rahasianya tidak amat ganas. Kakek ini memang seorang ahli dalam penggunaan racun yang amat ganas dan jahat, maka dia merasa pasti bahwa pemuda putera Ang I Niocu yang sudah terkena racun pada panah hitamnya tentu akan mati dalam waktu tiga hari.

Memang keadaan Lie Siong mengerikan sekali. Kaki kirinya dari batas paha ke bawah telah berwarna kehitam-hitaman dan tubuhnya panas sekali. Ia pingsan dan menggeletak di atas rumput sampai fajar mendatang.

Tapi Ban Sai Cinjin agaknya lupa bahwa mati hidup seseorang tak dapat ditentukan oleh manusia yang mana pun juga. Apa bila Thian (Tuhan) menghendaki, seseorang boleh hidup walau pun nampaknya tidak mungkin bagi pendapat seorang manusia, sebaliknya seorang yang nampak sehat segar boleh mati di saat itu juga apa bila telah dikehendaki oleh Thian.

Demikianlah, ketika Lie Siong rebah seperti mati di atas rumput dan tubuhnya diselimuti embun pagi, datanglah dua sosok bayangan orang yang melalui tempat itu. Dua orang ini gerakannya cepat sekali dan ketika melihat seorang pemuda menggeletak di tempat itu, mereka lalu mendekati dan memeriksa.

“Dia adalah putera Ang I Niocu...!” seru suara seorang laki-laki.
“Betul, Koko, dia adalah Lie Siong penolong dari Adik Cin!” seru yang wanita, seorang gadis yang cantik jelita. Mereka ini bukan lain adalah Goat Lan dan Hong Beng yang kebetulan sekali lewat di tempat itu dan mendapatkan Lie Siong menggeletak di jalan.
“Aduh, panas sekali tubuhnya!” Hong Beng berseru ketika dia meraba jidat Lie Siong.
“Lihat, Koko, pahanya terluka dan tentu terkena serangan senjata beracun. Mari, angkat dia ke tempat yang lebih baik, Koko. Aku harus cepat-cepat mencoba menolongnya!” kata Goat Lan, murid dari mendiang Yok-ong Sin Kong Tianglo Raja Tabib!

Hong Beng lalu memondong tubuh Lie Siong yang amat panas itu dan mereka membawa pemuda itu masuk ke dalam sebuah hutan kecil dan meletakkan pemuda itu di bawah pohon besar, di atas tanah yang bersih dan kering.

Goat Lan menurunkan buntalan pakaiannya, menggulung lengan baju dan mengeluarkan obat-obat penolak racun yang selalu dibekalnya. Kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi dan sangat cekatan, menjadikan kekaguman Hong Beng yang membantunya, Goat Lan lalu menyingsingkan pakaian Lie Siong dari bawah sehingga nampak paha yang terluka oleh panah tangan itu. Tanpa ragu-ragu lagi gadis ini lalu menggunakan bambu runcing itu untuk ditusukkan ke luka yang telah membengkak dan berwarna merah kehitaman itu.

Darah hitam mengalir keluar dari luka tusukan bambu runcing ini dan Goat Lan segera menggunakan jari telunjuknya untuk menotok pangkal paha dan beberapa bagian jalan darah di kaki kiri Lie Siong. Kemudian ia mengurut kaki itu, menghalau darah yang sudah terkena racun supaya keluar dari paha itu hingga Hong Beng sendiri diam-diam merasa ngeri dan mengutuk orang yang menggunakan panah tangan.

Kemudian Goat Lan lalu menempelkan obat pada luka di paha itu, minta supaya Hong Beng membereskan pakaian Lie Siong. Setelah kepala Lie Siong dibasahi air dan sedikit arak dimasukkan ke dalam mulutnya, pemuda ini siuman kembali. Akan tetapi ia masih menutup kedua matanya dan bibirnya bergerak, “Lili... Lili...!”

Goat Lan dan Hong Beng saling pandang penuh arti dan keduanya tersenyum kecil. Goat Lan lalu mencairkan tiga butir pil merah ke dalam arak dan menyuruh tunangannya agar meminumkannya.kepada Lie Siong.

Barulah Lie Siong membuka matanya dan ia memandang kepada mereka dengan mata mengandung keheranan. Akan tetapi dia segera meramkan kedua matanya kembali dan mengeluh. Kakinya terasa sakit bukan main.

“Jangan bergerak dulu, Saudara Lie Siong dan minumlah obat ini segera,” Hong Beng berkata dengan ramah.

Lie Siong kembali membuka mata dan sambil menatap wajah Hong Beng, ia lalu minum obat itu yang terasa pahit akan tetapi berbau harum itu. Sesudah obat itu memasuki perutnya, ia merasa betapa panas di dalam dada dan perutnya berangsur-angsur mulai menghilang. Kemudian, tiba-tiba ia tak dapat lagi menahan rasa kantuknya dan tubuhnya menjadi lemas, terus dia tertidur nyenyak. Memang ini adalah akibat khasiat dari obat yang diberikan oleh Goat Lan itu.

“Tidak lama lagi dia akan sembuh,” kata Goat Lan kepada Hong Beng. “Kalau dia terus pulas itu berarti bahwa racun di dalam tubuhnya telah bersih, kalau dia tidak dapat pulas, agaknya terpaksa aku harus mengeluarkan banyak darahnya lagi. Sekarang dia hanya memerlukan obat penambah darah saja.” Hong Beng mengangguk-angguk dan kembali ia memandang pada tunangannya dengan penuh kekaguman sehingga Goat Lan menjadi merah mukanya.

“Mengapa kau memandangku seperti itu?” tegurnya.
“Lan-moi, kau... hebat sekali!”
“Hushh, aku hanya murid yang bodoh dari Yok-ong guruku,” kata gadis ini.

Dengan kata-kata ini Goat Lan seakan-akan hendak mengingatkan kepada Hong Beng bahwa yang patut mendapat pujian ialah mendiang gurunya. Memang demikianlah watak yang sangat baik dari Goat Lan. Tidak suka sombong dan selalu merendahkan diri, biar terhadap tunangan sendiri sekali pun.

Mereka tidak merasa heran pada waktu tadi Lie Siong menyebut-nyebut nama Lili dalam igauannya, karena kedua orang muda ini belum lama yang lalu telah berjumpa dengan Lo Sian. Dari Sin-kai Lo Sian mereka telah mendengar tentang kematian Ang I Niocu dan mendengar akan pesan Ang I Niocu untuk menjodohkan Lie Siong dengan Lili. Kemudian Sin-kai Lo Sian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pendekar Bodoh.

Ada pun Goat Lan dan Hong Beng melanjutkan perjalanan untuk mencari Ban Sai Cinjin. Memang, kedua orang muda ini meninggalkan tempat tinggal mereka dengan dua tujuan. Pertama-tama untuk mencari Lili yang belum juga pulang, kedua kalinya untuk mencari Ban Sai Cinjin, karena Goat Lan ingin minta kembali Thian-te Ban-yo Pit-kip yang telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin.

Orang tua mereka berpesan agar mereka berhati-hati, kemudian Pendekar Bodoh bahkan berpesan agar supaya mereka terus saja menuju ke Thian-san, karena tidak lama lagi Pendekar Bodoh sendiri pun akan menuju ke sana untuk menyambut tantangan pibu dari Wi Kong Siansu dan kawan-kawannya. Oleh karena itulah, maka Goat Lan dan Hong Beng mengambil jalan ini dan bertemu dengan Lie Siong.....

Setelah hari menjadi senja, barulah Lie Siong bangun dari tidurnya. Begitu bangun dia segera bertanya kepada Hong Beng,
“Siapakah Ji-wi (Saudara berdua) yang telah menolong siauwte yang bodoh?”

Hong Beng dan Goat Lan tersenyum. “Saudara Lie Siong,” kata Hong Beng, “kami bukan orang-orang lain, aku adalah Sie Hong Beng dan dia ini adalah Kwee Goat Lan.”

Lie Siong benar-benar terkejut. Ketika dia bersama gurunya mengirim kembali Kwee Cin ke benteng Alkata-san, dia tidak memperhatikan semua orang, maka dia tidak melihat mereka ini.

“Ahh...” katanya dengan tercengang, kemudian wajahnya yang tampan nampak gembira. Akan tetapi segera dia menjadi pucat ketika teringat kepada Lili, maka dia lalu melompat berdiri. “Celaka... kita harus cepat kejar mereka!”
“Saudara Lie Siong, tenanglah. Walau pun lukamu sudah sembuh, akan tetapi lukamu masih lemah dan kegugupanmu itu amat tidak bagi kesehatanmu,” kata Goat Lan sambil memandang tajam penuh perhatian seperti layaknya seorang tabib memandang kepada pasiennya.

Mendengar omongan ini, Lie Siong baru sadar. Dia pun sudah mendengar bahwa Kwee Goat Lan yang menjadi tunangan Sie Hong Beng adalah seorang gadis ahli pengobatan, maka dia lalu menjura memberi hormat sambil berkata,

“Siauwte memang seorang bodoh dan kasar, sampai-sampai lupa untuk menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Lihiap. Tanpa pertolonganmu, agaknya nyawaku sudah lenyap dalam tangan Ban Sai Cinjin.”
“Lie Siong, jangan main sandiwara! Namaku Goat Lan, panggil saja namaku karena Lili biasanya juga memanggil namaku begitu saja!” Kegembiraan Goat Lan timbul kembali, akan tetapi segera disusulnya kelakarnya ini dengan kata-kata sengit, “Di mana Ban Sai Cinjin si keparat? Apakah dia pula yang melukai pahamu?”

Lie Siong senang sekali melihat sikap Goat Lan ini, seorang gadis yang lincah dan yang mengingatkan dia akan kejenakaan dan kegalakan Lili. Akan tetapi pada saat itu hatinya penuh oleh kekuatiran terhadap nasib Lili, maka ia lalu berkata,

“Celaka sekali. Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang amat lihai sudah menculik Lili! Ketika aku hendak menolong, mereka mengeroyokku dan secara curang sekali Ban Sai Cinjin telah melukaiku dengan panah beracun.”

Lie Siong lalu menuturkan dengan singkat tentang peristiwa itu. Goat Lan dan Hong Beng menjadi marah sekali.

“Ban Sai Cinjin manusia curang dan pengecut!” terdengar Hong Beng menggeram. “Awas saja kepalamu, kakek jahanam, akan kuhancurkan kepalamu kalau sampai kau berani mengganggu adikku.”
“Kau baru sehari semalam meninggalkan mereka. Mereka itu tentu takkan lari jauh. Mari kita mengejar mereka,” kata Goat Lan.

Maka berangkatlah tiga orang muda yang perkasa ini menuju ke Thian-san sambil di jalan mencari keterangan mengenai Ban Sai Cinjin dan rombongannya. Memang tidak salah, menurut petunjuk dari penduduk kampung yang mereka lalui, Ban Sai Cinjin mengambil jalan ini dan agaknya rombongan itu pun sedang menuju ke Thian-san pula.

Sayangnya bahwa Lie Siong belum boleh menggunakan terlalu banyak tenaga sehingga pengejaran itu tidak dapat dilakukan dengan cepat-cepat. Sedikitnya lima hari Lie Siong harus memulihkan tenaganya kembali, kata Goat Lan dan pemuda itu tentu saja menurut nasehat nona penolongnya…..

********************
Tiga orang muda itu benar-benar gagah. Melihat mereka berjalan cepat mendaki gunung melompati jurang, sungguh membuat orang merasa kagum sekali. Hong Beng nampak gagah dengan tubuhnya yang tegap dan wajahnya tampan. Lie Siong berpakaian kuning, pedang naganya menempel di punggungnya, tubuhnya lebih kecil dari pada Hong Beng, akan tetapi ia tampan sekali. Ada pun Goat Lan benar-benar nampak cantik jelita dan gagah. Sepasang bambu runcingnya tergantung di punggung seperti pedang.

Sambil berlari cepat, mereka saling menuturkan riwayat dan pengalaman masing-masing dan makin lama Lie Siong semakin suka kepada sepasang orang muda ini. Ia diam-diam menyesal kenapa tidak sejak kecil dia bersahabat dengan orang-orang ini, dan secara diam-diam ia merasa girang bahwa dahulu ibunya adalah sahabat baik dari orang-orang tua Goat Lan dan Hong Beng. Bahkan ada rasa bangga dalam hatinya karena mereka membicarakan ibunya dengan kekaguman, apa lagi Goat Lan yang pernah ditolong oleh ibunya.

Beberapa hari kemudian mereka telah sampai jauh di barat dan tiba di daerah bergunung yang gundul tiada pohon. Tiba-tiba mereka melihat bayangan seorang kakek melompat-lompat di atas batu yang jika dilihat dari jauh orang itu seperti seekor garuda putih saja, karena kedua ujung lengan bajunya yang lebar dan panjang itu berkibar di kanan kirinya seperti sayap dan ujung baju di belakang terbawa angin seperti ekornya.

“Dia adalah Thai Eng Tosu pembantu Ban Sai Cinjin!” tiba-tiba Lie Siong berseru.

Tahu-tahu dia telah meninggalkan kedua orang kawannya dan mengejar ke atas dengan pedang Sin-liong-kiam di tangan. Melihat gerakan dari Lie Siong yang demikian cepatnya ini, Goat Lan dan Hong Beng terkejut dan kagum sekali. Memang selama ini Lie Siong belum pernah memperlihatkan kepandaiannya.

“Tosu keparat, ke mana kau hendak pergi?!” Lie Siong membentak sambil mengejar.

Memang tosu itu adalah Thai Eng Tosu, orang tertua dari ketiga ketua Pek-eng-kauw. Mendengar seruan ini, kakek ini berhenti dan menengok, kemudian dia tersenyum ketika mengenal pemuda ini. “Jadi kau sudah sembuh? Baguslah, memang orang yang benar selalu dilindungi oleh Thian.”
“Jangan berpura-pura alim, siapa tidak tahu bahwa kau adalah kawan dari Ban Sai Cinjin yang jahat?” bentak Lie Siong sambil memutar pedangnya.
“Anak muda, memang sudah sepatutnya aku dimaki. Aku dan adik-adikku sudah terbujuk oleh Ban Sai Cinjin. Akan tetapi semenjak dia merampas puteri Pendekar Bodoh itu, aku mencuci tangan dan meninggalkan rombongannya. Hanya dua orang adikku yang masih ikut.” Ia menarik napas panjang tanda bahwa hatinya kesal.
“Ke mana rombongan itu membawa Lili?” Lie Siong bertanya dengan suara mengancam. “Katakanlah, baru aku akan mengampuni jiwamu.”
“Kau kira aku demikian busuk hati untuk mengkhianati mereka? Carilah sendiri!”

Lie Siong marah. “Bagus, kalau begitu kau harus mampus!”

Thai Eng Tosu mengeluarkan suling bambunya yang kecil. “Majulah, anak muda, mari kita main-main sebentar. Apa bila betul-betul kau mampu mengalahkan sulingku ini, aku berjanji akan memberi tahu dirimu ke mana mereka itu membawa puteri Pendekar Bodoh!”

Lie Siong sudah merasa gemas sekali dan cepat menyerang dengan pedangnya. Tosu itu menangkis dan segera mereka bertempur dengan serunya di atas tempat yang penuh batu karang itu.

Sementara itu, Goat Lan beserta Hong Beng juga sudah mengejar sampai di tempat itu, akan tetapi melihat betapa pedang Lie Siong bergerak hebat sekali, Hong Beng berkata, “Biarlah, kita menonton dari dekat saja dan jangan dibantu bila Lie Siong tidak terdesak. Dia keras hati, kalau kita bantu, jangan-jangan dia akan merasa tak senang.”

“Seperti Lili...,” kata Goat Lan.
“Memang mereka cocok sekali seperti kita...” kata Hong Beng.
Kerling mata Goat Lan menyambar dan keduanya tersenyum bahagia.

Gerakan ilmu silat tosu itu memang betul-betul lihai sekali dan makin lama ia bertempur, makin nampak nyata bahwa ilmu silatnya itu mempunyai gerakan-gerakan seperti seekor burung garuda. Akan tetapi kini ia menghadapi Lie Siong yang di samping berkepandaian tinggi juga sedang marah dan sakit hati sekali sehingga pedang naganya bergerak cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar.

Pada jurus ke lima puluh, setelah Lie Siong mulai mendesak lawannya, tiba-tiba pemuda itu menyambarkan pedangnya dan membabat ke arah leher Thai Eng Tosu. Pendeta ini membungkuk dan merendahkan tubuhnya sehingga sambaran pedang itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi ia tahu bahwa lidah naga yang merah itu tidak tinggal diam dan tahu-tahu sulingnya yang berada di tangan kanannya telah terlibat dan terbetot oleh lidah naga itu. Sekali Lie Siong membentak sambil menendang, tosu itu terpaksa mengelakkan diri dan otomatis sulingnya kena dirampas oleh Lie Siong!

“Sudahlah, sudahlah, memang orang yang benar selalu menang!” tosu itu berkata sambil menghela napas ketika melihat betapa sulingnya hancur dibanting oleh Lie Siong. “Baru tiga hari yang lalu mereka meninggalkan tempat ini menuju ke Thian-san. Lekaslah kau menyusul ke barat, anak muda yang gagah.”

Lie Siong segera memberi tanda kepada Goat Lan dan Hong Beng dan mereka bertiga berlari cepat sekali meninggalkan Thai Eng Tosu yang memandang dengan bengong. Ia menggeleng-geleng kepalanya dan berkata seorang diri, “Keturunan Bu Pun Su memang lihai... lihai sekali...”

Sepekan kemudian, sampailah mereka di kota Hami dan setelah bertanya-tanya mereka dapat mendengar berita tentang Ban Sai Cinjin dan rombongannya, bahkan mendengar pula cerita tentang Lili yang amat menarik hati sekali.

Ternyata bahwa rombongan Ban Sai Cinjin yang terdiri dari Lili, Wi Kong Siansu, Bouw Hun Ti, Hailun Thai-lek Sam-kui dan kedua tosu dari Pek-eng-kauw, setelah tiba di kota Hami, lalu mereka berhenti pada sebuah kuil di mana Ban Sai Cinjin sudah kenal baik dengan pengurusnya.

Lili masih tetap dalam keadaan tak berdaya dan biar pun gadis ini selalu berusaha untuk melepaskan diri, namun tidak ada kesempatan sama sekali baginya. Gadis ini tidak putus harapan, maka dia pun menjaga kesehatannya dengan baik, tidak pernah menolak untuk makan dan minum, akan tetapi sama sekali tidak mau bicara dengan mereka.

Ban Sai Cinjin menderita kepusingan pertama saat Thai Eng Tosu ‘mogok’ di pegunungan itu dan tidak mau melanjutkan perjalanannya karena tidak setuju dengan ditawannya Lili. Kemudian ia menjadi makin pusing karena nampaknya Kim Eng Tosu dan juga Bouw Ki, orang termuda dari Hailun Thai-tek Sam-kui, sudah tergila-gila kepada Lili dan beberapa kali mencoba mengganggunya.

Setelah sampai di kuil itu, Bouw Hun Ti lalu mengajukan usulnya kepada Ban Sai Cinjin, yakniu agar supaya Lili dikawinkan saja kepadanya dengan upacara yang sah! Ban Sai Cinjin melotot dan hendak memakinya, akan tetapi dengan sungguh-sungguh Bouw Hun Ti berkata,

“Suhu, ada tiga hal penting sekali yang mendorong teecu mengajukan usul ini. Pertama, biar pun teecu telah berusia empat puluh lebih akan tetapi teecu masih belum menikah, dan seorang isteri Nona Sie itu sudah cukup memenuhi syarat. Ke dua, kalau Nona Sie sudah menjadi isteri teecu, kiranya Pendekar Bodoh beserta kawan-kawannya akan suka menghabiskan perkara permusuhannya dengan kita, oleh karena adanya ikatan keluarga dengan teecu, dan lagi pula kalau Nona Sie sudah menjadi isteri teecu tentu akan suka mencegah orang tuanya mengganggu kita. Ke tiga, kita semua akan terbebas pula dari gangguan-gangguan kawan-kawan sendiri yang tergila-gila kepada Nona Sie!”

Mendengar ini Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk girang. Memang betul sekali alasan-alasan muridnya ini, maka dia lalu minta pendapat dari semua orang. Seperti biasanya, Wi Kong Siansu tidak peduli akan urusan yang dianggapnya remeh ini, ada pun Hailun Thai-lek Sam-kui juga tidak berani mencegahnya. Demikian juga kedua orang tosu dari Pek-eng-kauw.

“Kalau saja Nona Sie suka, tentu tidak ada orang yang berkeberatan,” kata Bouw Ki, orang ke tiga dari Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menyembunyikan kecewanya.

Ban Sai Cinjin tersenyum. Untuk ini ia sudah pikirkan baik-baik. “Tentu saja ia akan suka. Cu-wi lihat saja sendiri nanti.”

Dan pada keesokan harinya, kuil itu dihias meriah dan penduduk yang mendengar kabar bahwa di situ akan dilangsungkan pernikahan antara dua orang-orang pelancong, segera berduyun datang menonton. Dan benar saja, tidak seperti biasanya, Lili kini menurut saja pada saat dirias seperti pengantin dan dipertemukan dengan Bouw Hun Ti di depan meja sembahyang!

Tentu saja Hailun Thai-lek Sam-kui dan yang lain-lain merasa heran sekali. Sebenarnya tidak usah dibuat heran, kalau orang sudah mengenal betul siapa adanya Ban Sai Cinjin. Seperti juga pernah dia lakukan kepada Sin-kai Lo Siang, kini dia pun mempergunakan pengaruh obat beracun yang dicampur di dalam makanan yang dimakan oleh Lili malam tadi.

Hanya bedanya, kalau Sin-kai Lo Sian dahulu menjadi gila dan terampas ingatannya, kini Lili hanya terampas ingatannya dan lumpuh kemauannya saja. Dia seakan-akan menjadi seorang tanpa semangat dan menurut saja apa yang orang perintahkan kepadanya!

Akan tetapi, selagi hwesio penjaga kelenteng itu akan melakukan upacara sembahyang bagi sepasang pengantin, tiba-tiba dari antara penonton muncul seorang kate kecil yang bernyanyi sambil menenggak araknya, kemudian ia melangkah ke depan dan mendorong hwesio itu sehingga terjungkal!

“Enak saja orang mengawinkan anak orang tanpa bertanya kepada orang tuanya!” seru orang tua kate itu sambil menggandeng tangan Lili. “Lebih baik dikawinkan dengan aku Si Tua Bangka!”

Bouw Hun Ti marah sekali. Akan tetapi ketika ia memandang seperti juga Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain, dia pun menjadi kaget sekali karena kakek kate ini bukan lain adalah Im-yang Giok-cu! Kedua tokoh Pek-eng-kauw yang tidak kenal siapa adanya kakek kate ini, menjadi marah melihat kekurang ajarannya, maka cepat sekali Sin Eng Tosu dan Kim Eng Tosu menyerang dengan ujung lengan baju mereka.

“Enyahlah kau orang kate!”

Akan tetapi bukan main hebatnya akibat dari hinaan dan serangan ini. Orang tidak tahu bagaimana kakek itu bergerak namun tahu-tahu kedua orang tosu berpakaian putih itu sudah jatuh tersungkur ke kolong meja dalam keadaan pingsan!

Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan sebelum Ban Sai Cinjin sempat mencegah, Bouw Hun Ti telah melakukan serangan kilat yang hebat sekali ke arah kepala orang kate yang tertawa-tawa itu! Im-yang Giok-cu mendengar sambaran angin dari belakang dan tanpa menengok lagi lalu mengangkat guci araknya yang kehijauan itu.

“Traaaaang…!”

Golok yang dipegang oleh Bouw Hun Ti lantas terpental dari pegangan saking kerasnya benturan kedua macam benda ini. Dan sebelum Bouw Hun Ti sempat mengelak, tangan Im-yang Giok-cu sudah ‘masuk’ ke dalam iganya. Bouw Hun Ti mengeluh panjang, lalu tubuhnya terkulai ke atas lantai!

Orang-orang yang menonton pengantin menjadi panik dan berserabutan melarikan diri sehingga tempat itu sebentar saja menjadi sunyi, hanya tersisa Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Im-yang Giok-cu, beserta Lili saja yang masih berdiri, karena dua orang tosu Pek-eng-kauw dan Bouw Hun Ti masih belum dapat bangun. Ada pun hwesio yang tadi melakukan upacara sembahyang ternyata sudah lari bersembunyi entah ke mana.

Ketika melihat orang kate yang datang-datang mengamuk, Hailun Thai-lek Sam-kui yang doyan berkelahi segera mencabut senjata mereka masing-masing. Akan tetapi Ban Sai Cinjin segera memberi tanda dengan tangannya, mencegah kawan-kawannya itu turun tangan.

Mata Im-yang Giok-cu yang lihai melihat gerakan mereka ini, karena itu setelah tertawa bergelak ia lalu berkata menantang, “Ha-ha-ha, Sam-kui (Tiga Setan), mengapa tidak jadi mencabut senjata? Kalau kalian hendak meramaikan pesta perkawinanku, marilah maju!”

Ban Sai Cinjin buru-buru maju dan menjura di depan Im-yang Giok-cu. “Totiang, belum lama ini kita saling bertemu dan tidak ada urusan sesuatu di antara kita. Tapi mengapa Totiang hari ini menggagalkan pernikahan yang sah dan baik-baik?”

Im-yang Giok-cu menjemput cawan arak di atas meja yang masih penuh, kemudian dia menenggaknya. Akan tetapi dia lalu menyemburkan arak itu ke arah Ban Sai Cinjin yang walau pun sudah cepat mengelak, masih saja ujung bajunya terkena arak dan baju itu menjadi bolong-bolong! Ia kaget sekali dan pucatlah mukanya.

“Arak busuk, seperti orangnya!” Im-yang Giok-cu memaki. “Ban Sai Cinjin, kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk. Kau kira aku tidak dapat melihat bahwa nona ini terpengaruh oleh obatmu yang jahat? Hayo kau lekas memberi obat penawarnya, kalau tidak, jangan bilang Im-yang Giok-cu keterlaluan kalau aku membunuh muridmu dan juga kau dan kawan-kawanmu di tempat ini juga tanpa menanti sampai di puncak Thian-san!”

Mendengar ucapan sombong ini, dengan marah Wi Kong Siansu bangun berdiri. Akan tetapi Ban Sai Cinjin cepat melangkah maju dan berkata dengan hormatnya,

“Totiang, ternyata matamu tajam sekali. Akan tetapi sayang, aku tidak mempunyai obat penawarnya! Biarlah kau boleh mengamuk, belum tentu kami kalah, akan tetapi Nona ini selamanya akan menjadi seorang boneka hidup!” Ban Sai Cinjin yang cerdik ini hendak menggunakan keadaan Lili sebagai kunci mencapai kemenangan!

Im-yang Giok-cu menjadi ragu-ragu, kemudian ia berkata, “Ban Sai Cinjin, buku Thian-te Ban-yo Pit-kip berada bersamamu, bukalah lembarannya dan carilah di dalamnya, tentu ada obat penawar untuk racunmu yang keji ini.”

Ban Sai Cinjin menjadi pucat dan melangkah mundur dua tindak. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya. “Kitab itu sudah terbakar...”

“Sudahlah, jangan seperti anak kecil! Dahulu Sin Kong Tianglo pernah memperlihatkan kepadaku bahwa kitab itu terbuat dari kertas yang tidak dapat terbakar karena sudah direndam dengan obat. Jangan kau bermain gila di hadapanku. Sekarang begini sajalah, kau kembalikan kitab itu kepadaku agar Nona ini dapat ditolong, dan aku melepaskan muridmu dan takkan turun tangan, baik di sini mau pun di Thian-san. Nah, bagaimana? Apakah kau memilih kekerasan?”

Setelah berpikir-pikir sejenak, Ban Sai Cinjin akhirnya mengalah. Dikeluarkannya kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip yang memang disimpannya sebab dahulu yang terbakar adalah kitab tiruannya saja. Bersama-sama mereka segera mencari obat penawar untuk Lili dan ternyata obat itu mudah saja. Ban Sai Cinjin lalu menyediakan obat itu.

Setelah Lili disuruh meminumnya yang dilakukan dengan taat, gadis itu lalu jatuh pulas. Setengah hari Lili tidur, ditunggui oleh Im-yang Giok-cu dan semua orang tidak ada yang berani turun tangan. Kemudian, menjelang senja Lili sadar dan ternyata dia telah sembuh kembali!

Ia hendak mengamuk, akan tetapi Im-yang Giok-cu mencegahnya dan memperkenalkan diri sebagai guru Goat Lan. “Kau pergilah dan bawalah kitab ini, kembalikan kepada Goat Lan.”

Lili tidak membantah. Setelah menghaturkan terima kasihnya ia kemudian melompat dan menghilang di dalam gelap.

Tentu saja Ban Sai Cinjin menjadi marah sekali ketika melihat Lili melarikan diri sambil membawa kitab itu. Ia hendak mengejar, akan tetapi Im-yang Giok-cu menghadangnya,

“Kitab itu adalah milik Yok-ong, harus dikembalikan kepada muridnya.”
“Im-yang Giok-cu, kau terlalu sekali! Kau sudah berjanji takkan menggunakan kekerasan, akan tetapi tidak saja kau menghina kami, bahkan kitab itu pun kau suruh bawa pergi.”
“Tenang, Ban Sai Cinjin. Tadi aku hanya berjanji bahwa aku tidak akan menggunakan kekerasan dan tidak ikut bertempur di sini mau pun di Thian-san. Aku tidak berjanji apa pun tentang kitab itu, dan tentang gadis itu. Dia puteri Pendekar Bodoh, harus dihormati dan ditolong.”
“Keparat!” seru Ban Sai Cinjin dan dengan gemas dia kemudian memberi isyarat kawan-kawannya untuk mengeroyok.

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak-gelak, lalu cepat memutar guci araknya menghadapi keroyokan banyak orang. Hebat sekali sepak terjang kakek kate ini, akan tetapi jumlah pengeroyoknya terlalu banyak. Ia dikepung oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi, yaitu oleh Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, tiga kakek Hailun Thai-lek Sam-kui, Sin Eng Tosu, Kim Eng Tosu dan juga Bouw Hun Ti!

Betapa pun lihainya Im-yang Giok-cu, tentu saja ia tidak tahan menghadapi lawan yang tak seimbang ini. Kepandaiannya hanya setingkat lebih tinggi dari pada Wi Kong Siansu, sedangkan para pengeroyoknya, kecuali Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin, mempunyai kepandaian setingkat dengan Wi Kong Siansu.

Beberapa kali kakek kate ini telah menerima pukulan senjata lawan dan biar pun tidak mendatangkan luka hebat, tetap saja semakin melemahkan tenaganya. Akhirnya, ujung payung yang lihai dari Thian-te Te-it Siansu telah berhasil menotok iganya dengan telak dan keras sehingga kakek kate ini terhuyung-huyung sambil tertawa bergelak.

Dia lalu melontarkan guci araknya sedemikian kerasnya dan orang yang sial menerima hantaman guci arak ini adalah Bouw Hun Ti sendiri! Guci arak itu melayang dengan kecepatan yang tidak dapat dielakkan lagi dan dengan mengeluarkan suara keras, guci arak dan kepala Bouw Hun Ti menjadi remuk dan orang jahat itu telah menghembuskan napas terakhir sebelum tubuhnya roboh ke lantai! Ternyata bahwa maut telah meminjam tangan Im-yang Giok-cu untuk membalaskan dendam orang-orang yang dibikin sakit hati oleh Bouw Hun Ti.

Melihat muridnya binasa, Ban Sai Cinjin memekik marah dan ia lalu melompat mendekati Im-yang Giok-cu yang terluka hebat. Sekali huncwe-nya terayun, terdengar suara pletak, dan retaklah kepala Im-yang Giok-cu yang membuat nyawanya melayang meninggalkan raganya.

Ban Sai Cinjin merasa menyesal sekali. Tidak saja ia kehilangan Lili, bahkan juga sudah kehilangan kitab obat itu. Hanya sedikit keuntungannya, di samping kerugian kehilangan murid, mereka telah berhasil membunuh Im-yang Giok-cu, karena kalau kakek kate ini ikut membantu Pendekar Bodoh, ia merupakan tenaga yang amat menguatirkan.

Ketika Goat Lan mendengar berita tentang kematian Im-yang Giok-cu, ia menangis sedih sekali dan mengajak Lie Siong serta Hong Beng untuk mengunjungi kuburan Im-yang Giok-cu di belakang kelenteng. Jenazah kakek kate ini telah diurus oleh hwesio-hwesio dan dimakamkan di belakang kelenteng, bersama dengan jenazah Bouw Hun Ti yang juga dimakamkan di bagian lain di belakang kelenteng.

Goat Lan menangis dan bersembahyang di hadapan kuburan gurunya, bersumpah untuk membalaskan dendam kepada Ban Sai Cinjin beserta kawan-kawannya. Malam harinya mereka bertiga bermalam di kelenteng itu dan alangkah girangnya hati mereka ketika Lili tiba-tiba muncul dari dalam gelap!

Goat Lan menubruk dan memeluk Lili, lalu beramai-ramai empat orang muda itu saling menuturkan pengalaman mereka. Ternyata sesudah ditolong oleh Im-yang Giok-cu, Lili bersembunyi di dalam sebuah hutan di dekat kota itu. Kemudian, pada keesokan harinya ia mendengar tentang kematian Im-yang Giok-cu, maka menyesallah dia mengapa dia tidak dapat membantu kakek penolongnya itu. Ia pikir bahwa masanya untuk mengadu kepandaian di Thian-san sudah tiba, maka lebih baik ia menanti di situ untuk mencari kawan-kawan guna menghadapi Ban Sai Cinjin yang benar-benar amat curang dan lihai.

“Dan bagaimana kalian bertiga bisa bersama-sama?” Lili bertanya sambil mengerling ke arah Lie Siong yang semenjak tadi hanya diam saja, hanya kadang-kadang memandang kepada Lili dengan hati bersyukur bahwa gadis yang dicintainya itu telah terhindar dari bahaya hebat.

Pada waktu Lie Siong menceritakan pengalamannya dan betapa ia terluka ketika hendak menolong Lili, gadis ini melirik dan dengan cemberut dia lantas berkata, “Selama itu kau melakukan perjalanan mengikuti dan tidak memperlihatkan diri? Mengapa begitu?”

Merahlah wajah Lie Siong dan sambil menundukkan muka ia berkata, “Aku takut kalau ternyata kau... kau tidak suka berjalan bersamaku.”

“Apa-apaan pula ini, Song-ko?” tegur Lili dengan sepasang mata terbelalak. “Kau sendiri yang tidak mau melakukan perjalanan bersamaku, dan tahu-tahu kau mengikutiku tanpa memperlihatkan diri... aneh... aneh...!”

Lie Siong makin merah mukanya dan terdengar Goat Lan tertawa geli. “Sekarang kita berempat sudah bertemu dan berkumpul, maka yang sudah biarlah lalu, sekarang kita melakukan perjalanan bersama menuju ke Thian-an. Dengan berempat kita akan lebih kuat menghadapi mereka,” kata Hong Beng.

“Enci Lan,” kata Lili tiba-tiba, “kitabmu masih kusimpan, takkan kuberikan sekarang. Nanti saja kalau kau dan Beng-ko kawin, akan kuberikan sebagai... hadiah perkawinan!”

Timbul kembali kenakalan Lili, karena itu Goat Lan juga menjadi gembira, terhibur dari kesedihan hatinya mendengar tentang kematian gurunya. “Eh, katamu betul, Lili. Aku jadi teringat akan Sin-kai Lo Sian yang berjumpa dengan kami di jalan. Katanya dia hendak mengajukan pinangan kepada orang tuamu, meminang engkau untuk... untuk siapa, ya?” Sambil berkata demikian, dengan penuh arti Goat Lan mengerling ke arah Lie Siong.

Lili menjadi jengah dan merah sekali mukanya. Ia mengulurkan tangan hendak mencubit Goat Lan, akan tetapi Goat Lan cepat mengelak, dan Hong Beng lalu menyela,

“Sudahlah, kalian ini bersenda gurau saja. Urusan itu sudah bukan rahasia lagi bagi kita semua, dan urusan itu akan dapat terjadi dengan lancar tanpa ada halangan apa-apa lagi.”

Maka berangkatlah dua pasangan muda yang gagah perkasa ini. Di sepanjang jalan, Lili dan Goat Lan bersenda gurau sehingga Hong Beng dan Lie Siong turut menjadi gembira pula.

Empat orang pendekar remaja ini menuju Thian-san di mana mereka hendak mengukur kepandaian dengan tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Sedikit pun mereka tidak merasa gentar dan takut sesudah mereka berkumpul menjadi satu. Dengan seorang yang dicinta di sebelahnya siapakah yang akan merasa takut…..?
********************
Musim chun (semi) sudah tiba. Puncak Thian-san nampak kehijauan dan pemandangan alamnya indah sekali. Di puncak itu terdapat sebuah kuil besar yang kuno dengan ukiran-ukiran indah, akan tetapi kuil ini tidak terurus oleh karena penghuninya telah berpuluh tahun yang lalu mengosongkan tempat ini.

Dahulu, kuil ini adalah pusat dari partai persilatan Thian-san-pai yang besar. Akan tetapi akhir-akhir ini habislah orang yang tadinya masih suka mengurus kuil ini, karena semua anak murid Thian-san-pai lebih suka berkelana di dunia bebas.

Akan tetapi pagi hari itu di dalam kuil ini tidak sunyi seperti biasanya. Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya telah berada di tempat itu sedang berunding dengan kawan-kawannya. Betapa pun juga, setelah Im-yang Giok-cu tewas, mereka tidak berapa takut menghadapi Pendekar Bodoh. Mereka telah memperhitungkan bahwa untuk menghadapi teman-teman Pendekar Bodoh, kepandaian mereka masih sanggup mengimbangi, ada pun Pendekar Bodoh sendiri akan dilawan oleh Wi Kong Siansu.

Tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara nyaring yang menantang mereka, “Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu! Kami sudah datang untuk memenuhi tantanganmu!”

Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Thian-te Te-it Siansu, Lak Mou Couwsu, Bouw Ki, dan Coa Ong Lojin serta beberapa orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang sudah datang terlebih dulu di tempat itu, keluar dari kuil itu dan ketika tiba di luar, dengan tercengang mereka melihat empat orang muda yang bukan lain adalah Goat Lan, Lili, Lie Siong dan Hong Beng!

Hati Ban Sai Cinjin berdebar. Ia tidak melihat Pendekar Bodoh, orang yang paling ditakuti dan dibencinya, maka untuk menetapkan hatinya dia bertanya, “Mana Pendekar Bodoh? Apakah dia takut datang ke sini sehingga mewakilkannya kepada anak-anaknya?”

“Ban Sai Cinjin, jangan membuka mulut sombong!” Lili berseru marah. “Orang macam kau tidak pantas untuk dilawan oleh ayahku. Kami orang-orang muda sudah cukup untuk membuktikan bahwa kepandaian kami tidak kalah olehmu.”

“Cu-wi-enghiong,” kata Hong Beng yang lebih tenang dan sabar sambil menjura kepada pihak tuan rumah, “kedatangan kami berempat mengandung dua maksud. Pertama untuk memenuhi tantangan Wi Kong Siansu yang telah menantang ayah untuk datang berpibu di sini pada waktu ini. Dan kedua kalinya, kami harus membalas dendam dan sakit hati kepada Ban Sai Cinjin yang telah membunuh Lie Kong Sian supek, Ang I Niocu bibi kami dan juga Im-yang Giok-cu suhu dari Nona Kwee. Nah, terserah kepada Wi Kong Siansu hendak memulai pibu itu atau memberikan kesempatan kepada kami membunuh Ban Sai Cinjin lebih dulu.”

Wi Kong Siansu tak dapat menjawab dan hanya saling pandang dengan Ban Sai Cinjin. Dibandingkan dengan yang lain, sebetulnya Wi Kong Siansu lebih gagah, karena dalam beberapa pertempuran keroyokan sebelumnya, tosu ini sengaja tidak mau mengeluarkan seluruh kepandaiannya, karena ia merasa malu untuk mendapatkan kemenangan sambil mengeroyok. Kini melihat empat orang muda itu menantang, tentu saja dia merasa malu pula untuk maju mengeroyok.

"Sute, apakah kau merasa tidak kuat menghadapi seorang di antara mereka?” tanyanya kepada Ban Sai Cinjin perlahan sekali.

Ban Sai Cinjin sudah mengenal kehebatan empat orang muda itu, akan tetapi akhir-akhir ini dia sudah memperdalam ilmu silatnya dan kalau bertempur satu lawan satu, agaknya sukar sekali dipercaya kalau dia akan kalah. Lagi pula, tentu saja dia merasa malu kalau menyatakan takut.

Maka dia kemudian melompat maju dan berkata menantang. “Orang-orang muda yang sombong! Siapa sih takut padamu? Majulah, mana saja, atau kalian hendak mengeroyok aku?” sambil berkata demikian, dia mengisi huncwe baru yang berwarna hitam dengan tembakau hitamnya yang terkenal, bahkan lalu mempersiapkan sepuluh batang panah tangan di saku bajunya.

Kemudian terjadi hal yang lucu. Empat orang muda itu saling berebut untuk menghadapi Ban Sai Cinjin!

“Dia membunuh guruku Im-yang Giok-cu, akulah yang berhak untuk membalasnya!” kata Goat Lan.
“Tidak, Goat Lan. Dia telah menewaskan ayah bundaku, akulah yang lebih berhak pula!” kata Lie Siong sambil mengeluarkan pedangnya.
“Aku yang paling tua, biar aku saja menghancurkan kepalanya!” kata Hong Beng.
“Tidak, tidak! Akulah yang akan membunuh anjing tua ini, Enci Lan, kau mengalah sajalah kepadaku. Siong-ko, biar aku yang membalaskan sakit hati orang tuamu dan Beng-ko, kau harus mengalah terhadap adikmu!” kata Lili dan sekali menggerakkan dua kakinya, gadis ini telah melompat menghadapi Ban Sai Cinjin!
“Lili, kau tidak boleh bertangan kosong saja!” kata Hong Beng yang amat mengkuatirkan keselamatan adiknya, karena ia maklum bahwa kelihaian Lili tergantung dari kipas dan pedangnya.
“Lili, kau pakailah bambu runcingku!” kata Goat Lan.

Ada pun Lie Siong segera melompat mengejar dan menyerahkan pedangnya kepada Lili. “Kau pakailah ini, Lili.”

Lili menatap dengan mesra dan berterima kasih. “Tak usah, Siong-ko, jangan membikin kotor pedangmu, kedua tanganku cukup untuk menghadapinya.”

Lie Siong melompat mundur kembali dan diam-diam tiga orang muda itu merasa gelisah. Bagaimana Lili demikian sembrono untuk menghadapi Ban Sai Cinjin yang lihai dengan bertangan kosong saja?

Akan tetapi Ban Sai Cinjin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Dia berseru keras dan segera menyerang Lili dengan huncwe-nya. Gadis itu tersenyum mengejek dan begitu dia mengeluarkan Ilmu Pukulan Hang-liong-cap-it-ciang, tidak saja Ban Sai Cinjin yang menjadi terkejut sekali, bahkan Lie Siong, Hong Beng, dan Goat Lan juga memandang dengan mata terbelalak. Belum pernah mereka menyaksikan ilmu pukulan seperti itu dan seingat Hong Beng, ayahnya sendiri pun tidak pernah memberi pelajaran ilmu silat seperti yang dimainkan oleh Lili ini.

Namun hasilnya luar biasa sekali. Dalam jurus-jurus pertama saja Ban Sai Cinjin sudah amat terdesak. Huncwe-nya terbentur dengan tenaga pukulan yang lebih berbahaya dari pada senjata tajam. Memang hebat sekali Hang-liong-cap-it-ciang ini dan kalau Lili mau, setelah menyerang selama tiga puluh jurus lebih, dia dapat membinasakan lawannya.

Akan tetapi, di samping kegalakan dan kelincahannya, tabiat ayahnya menempel gadis ini. Ia pemurah dan mudah memberi ampun. Ketika mendapat kesempatan, ia mengirim pukulan dengan kedua tangan bahkan kaki kirinya juga mendupak ke arah dada lawan.

Terdengar bunyi keras dan kembali untuk kedua kalinya huncwe maut dari Ban Sai Cinjin pecah terkena hawa pukulan Hang-liong-cap-it-ciang, dan walau pun kakek itu hendak menangkis, tetap saja dadanya terkena pukulan hingga dia menjerit dan terlempar roboh sambil memuntahkan darah segar! Walau pun Lili tidak membunuhnya, namun dia telah menderita luka berat dan untuk sementara waktu takkan dapat bergerak!

Wi Kong Siansu melompat ke depan hendak menantang, akan tetapi pada saat itu pula berkelebat bayangan tujuh orang dan muncullah Cin Hai, Kwee An, Lin Lin, Ma Hoa, yang dikawani oleh Kam Liong, Kam Wi, dan Tiong Kun Tojin!

“Kami datang atas perintah Kaisar menangkap pengkhianat dan pemberontak Ban Sai Cinjin, Coa Ong Lojin dan pengemis-pengemis Coa-tung Kai-pang!” seru Kam Wi sambil mengeluarkan lengki (bendera titah raja). Melihat bendera ini, Wi Kong Siansu dan ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui lalu berlutut.

Coa Ong Lojin hendak melarikan diri, akan tetapi sekali menggerakkan tangannya, Tiong Kun Tojin sudah berhasil menangkapnya dan menotok punggungnya! Kam Wi tertawa bergelak, lalu berpaling kepada Pendekar Bodoh sambil berkata,
“Urusan kami sudah beres, beberapa hari lagi kami akan datang ke Shaning mengurus perjodohan!”

Ia lalu menyeret Coa Ong Lojin, Ban Sai Cinjin dan beberapa orang pengemis Coa-tung Kai-pang, lalu menjura dan meninggalkan tempat itu bersama Kam Liong dan Tiong Kun Tojin sambil membawa tawanan-tawanan mereka.

Pendekar Bodoh tersenyum, lalu menjura kepada Wi Kong Siansu. “Wi Kong Siansu, sekarang kau melihat sendiri betapa jahatnya sute-mu itu. Ia sudah bersekongkol untuk membunuh putera Kaisar dan bahkan ia membantu pula pergerakan orang-orang Mongol yang lalu. Nah, karena kita berhadapan sebagai musuh hanya karena gara-gara Ban Sai Cinjin, perlukah permusuhan ini dilanjutkan lagi?”

Wi Kong Siansu dan Hailun Thai-lek Sam-kui saling pandang. Terang bahwa keadaan pihak mereka jauh kalah kuat. Akan tetapi untuk menutup rasa malu, Wi Kong Siansu lalu berkata. “Pendekar Bodoh, orang-orang seperti kita hanya punya satu macam kesukaan, yaitu memperdalam pengertian ilmu silat. Kini setelah kita bertemu, mengapa kita tidak main-main sebentar?”

Cin Hai menghela napas. “Baiklah, orang tua. Kau boleh menyerangku tanpa kubalas, dan bila mana dalam sepuluh jurus kau dapat membuatku menggerakkan kaki selangkah saja, aku mengaku kalah padamu!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu berdiri tegak dan menundukkan kepalanya. Dia memegang sebatang suling dan meramkan matanya seperti tidur!

“Pendekar Bodoh, agaknya kau benar-benar sudah mewarisi kepandaian Bu Pun Su. Biarlah aku mencobanya!” Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu segera mencabut Hek-kwi-kiam, lalu berseru, “Lihat pedang!”

Dia membuka serangan dengan sebuah tusukan ke arah dada Cin Hai. Namun Pendekar Bodoh tetap tidak membuka matanya, hanya pada saat pedang itu sudah dekat dengan dadanya, dia baru mengangkat sulingnya menangkis. Wi Kong Siansu merasa telapak tangannya tergetar, lalu ia menerjang kembali sampai tiga kali, namun tetap saja sia-sia, karena selalu suling di tangan Cin Hai dapat menangkis dengan tepat.

Saat Wi Kong Siansu hendak menyerang untuk yang ketujuh kalinya tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Lie Siong telah menangkis dengan Sin-liong-kiam.

“Wi Kong Siansu, sungguh tidak tahu malu sekali kau menyerang seorang lawan yang tidak membalas, bahkan melihatmu pun tidak. Kalau kau memang orang gagah, lawanlah pedangku!” Tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu menyerang.

Wi Kong Siansu kaget sekali melihat gerakan pedang pemuda ini benar-benar luar biasa sekali. Semua orang lalu menonton karena pertempuran ini jauh lebih menarik dan ramai.

“Heran sekali...” Cin Hai yang sudah membuka matanya berkata perlahan. “Dari mana ia memperoleh gerakan-gerakan ini?”

Memang matanya yang tajam melihat gerakan-gerakan ilmu pedang yang aneh dan lihai, yang membuat sinar pedang hitam di tangan Wi Kong Siansu makin lama makin kecil.

“Siong-ji, tahan! Jangan mendesak orang tua!” Cin Hai berseru dan sekali ia melompat, ia telah berada di antara ke dua orang yang bertempur itu.

Wi Kong Siansu menyimpan pedangnya dan menarik napas panjang kemudian berkata, “Hebat, memang hebat! Keturunanmu memang hebat, Pendekar Bodoh. Pinto mengaku kalah.” Ia hendak pergi setelah menjura.

Akan tetapi Lili lalu berkata kepadanya, “Totiang, jangan kau salah sangka. Pembunuh muridmu, Song Kam Seng, adalah Ban Sai Cinjin. Aku sendirilah yang sudah mengurus pemakamannya!”

Wi Kong Siansu amat terkejut dan menoleh. Gadis itu dengan singkat lalu menceritakan peristiwa itu. Wi Kong Siansu kembali menarik napas panjang lalu pergi dari situ dengan hati terpukul.

Dengan lega dan girang, Pendekar Bodoh lalu mengajak semua orang kembali ke timur. Di sepanjang jalan tiada hentinya saling menuturkan pengalaman masing-masing…..

********************
Rumah Pendekar Bodoh dihias indah. Tidak heran karena pada hari itu dilangsungkan pernikahan dua orang anak mereka, Hong Beng dengan Goat Lan dan Hong Li dengan Lie Siong!

Tamu-tamu sudah memenuhi ruangan dan di antara mereka terdapat pula tokoh-tokoh persilatan baik kawan mau pun bekas lawan seperti Hailun Thai-lek Sam-kui dan lainnya! Pasangan Hong Beng dan Goat Lan diperkenalkan kepada tamu-tamu lebih dahulu dan sesudah mendapat sambutan dan pemberian selamat, mereka lalu mengundurkan diri, diganti oleh pasangan Lie Siong dan Hong Li.

Akan tetapi, ketika sepasang pengantin ini sedang menerima penghormatan dan ucapan selamat dari para tamu, tiba-tiba seorang tinggi besar bangkit berdiri dari bangkunya dan dengan suara keras berkata, “Cu-wi, sekalian! Sebagai sama-sama orang kang-ouw, biarlah pada saat ini aku menyampaikan perasaan tidak enak hatiku kepada sepasang pengantin dan juga tuan rumah!”

Semua orang segera memandang dan ternyata yang berbicara itu adalah Kam Wi, tokoh Kun-lun-pai, paman dari Panglima Kam Liong!

“Sebelum Nona Sie dipinang orang lain, aku telah meminangnya lebih dulu untuk putera keponakanku, Kam Liong. Biar pun belum resmi, pihak keluarga Sie sudah menyatakan cocok, bahkan keponakanku sudah mengadakan perjalanan bersama dengan Nona Sie. Akan tetapi siapa kira pada hari ini aku melihat Nona Sie menjadi isteri Lie Siong yang sesungguhnya telah menjadi suami dari seorang gadis Haimi bernama Lilani!”

Terdengar teriakan nyaring. Pengantin wanita, yaitu Lili, merenggut hiasan kepala yang menutupi mukanya dan membanting hiasan itu hingga terdengar suara keras.
“Bangsat tua, apakah kau sengaja datang untuk mengantarkan nyawa?” teriaknya dan ia hendak menyerang Kam Wi yang telah tertawa bergelak-gelak.

Akan tetapi Lie Siong memegang tangannya sambil berbisik, “Sudahlah, Li-moi, dia itu orang mabuk!”

Mendengar cegahan ini, Lili makin gemas, merenggutkan tangannya dan berkata, “Orang lemah, lebih baik kau kembali kepada Lilani!” Setelah berkata demikian, dengan isak di tenggorokan ia lalu melompat keluar dari rumah dan melarikan diri!

Lie Siong menjadi bingung, membanting topi pengantinnya lalu menyusul dan mengejar Lili yang berlari seperti terbang cepatnya! Gegerlah keadaan di sana dan Kam Wi yang masih tertawa-tawa itu ditarik tangannya oleh Tiong Kun Tojin yang cepat mintakan maaf kepada Pendekar Bodoh untuk sute-nya yang kasar.

Lili berlari terus, dan ketika ia tahu bahwa Lie Siong mengejarnya, ia berlari makin cepat. Berhari-hari mereka kejar mengejar dan akhirnya Lili tiba di dekat sumur rahasia tempat tinggal nenek aneh yang menjadi gurunya. Ia lalu terjun ke dalam sumur itu.

Lie Siong terkejut sekali, akan tetapi pemuda ini pun ikut pula terjun ke dalam sumur. Di dalam kamar di goa yang aneh itu, Lili dan Lie Siong melihat nenek yang gagu itu tengah duduk bersila dan di pangkuannya terbaring kepala seorang kakek.

Alangkah terkejut hati Lie Siong ketika melihat bahwa kakek itu adalah... gurunya yang mengajarnya bermain gundu! Nenek itu keadaannya sudah sangat lemah, kurus kering dan pucat, ada pun kakek itu ternyata telah menjadi mayat! Mendengar gerakan Lili dan Lie Siong, nenek yang lihai itu membuka matanya.

“Suthai, kau kenapakah...?” Lili bertanya sambil berlutut.

Nenek itu mencoret-coret di atas tanah. Lili dan Lie Siong lalu membaca tulisan-tulisan itu yang ternyata menceritakan riwayat nenek itu bersama kakek yang kini dipangkunya dan yang telah mati. Ternyata keduanya memiliki riwayat yang ada hubungan dekat dengan penghidupan Bu Pun Su, guru dari Pendekar Bodoh!

Setelah selesai menuturkan riwayatnya dengan tulisan, nenek itu tak kuat lagi dan ketika kedua orang muda itu memandang, ternyata bahwa nenek itupun telah menghembuskan napas terakhirnya! Dengan penuh khidmat, Lie Siong dan Lili lalu meninggalkan goa itu, menutupnya dengan batu besar, kemudian keluar dari sumur itu dan menimbuni sumur itu dengan pepohonan sehingga tempat itu merupakan sebuah makam yang luar biasa. Kemudian mereka berjalan sambil bergandengan tangan.

“Li-moi, aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tergantung dari keputusanmu sekarang, hanya inilah tanda bahwa semenjak dahulu aku mencintamu.” Lie Siong mengeluarkan sepatu yang dulu dirampasnya dari saku bajunya.

Lili menerima sepatu itu dengan terharu. Setelah membaca riwayat nenek yang menjadi gurunya itu, lenyaplah marah dan cemburunya terhadap Lie Siong.

“Hemm, kalian ini laki-laki di seluruh dunia sama saja!” katanya cemberut akan tetapi kerling matanya membesarkan hati Lie Siong. “Kalau Sucouw Bu Pun Su sendiri sampai terjerumus, biarlah aku maafkan kau yang satu kali masuk dalam perangkap nafsu. Akan tetapi, awas, jangan sampai terulang lagi!”

Lie Siong memegang tangan Lili dengan penuh kasih sayang. “Tidak akan terulang lagi sampai aku mati, Li-moi. Pula, harap kau ingat bahwa peristiwa antara aku dengan Lilani itu terjadi sebelum aku berjumpa dengan kau! Sejak aku bertemu dengan kau... isteriku, jangankan Lilani, biar ada bidadari dari kahyangan menggodaku, hatiku tetap tidak akan tergoncang!”

Lili mencibirkan bibirnya sambil merenggutkan tangannya. “Cih, mulut laki-laki memang manis, pandai membujuk merayu. Siapa dapat percaya?”

Setelah berkata demikian dia segera melarikan diri, dikejar oleh Lie Siong! Akan tetapi mereka kini berkejar-kejaran sambil tertawa-tawa dan juga mereka mengarahkan tujuan kembali ke Shaning di mana menanti semua keluarga dengan hati gelisah…..

********************
Bagaimanakah riwayat nenek dan kakek guru-guru yang aneh dari Lili dan Lie Siong itu? Mengapa riwayat mereka sampai mengharukan hati Lili hingga membuat gadis ini dapat memaafkan kesalahan Lie Siong yang sudah bertindak salah sebelum bertemu dengan dia?

Untuk mengetahui ini, dipersilakan untuk membaca cerita PENDEKAR SAKTI (Bu Pun Su Lu Kwan Cu), di mana akan muncul tokoh-tokoh besar seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Swi Kiat Siansu, Pok Pok Sianjin, di waktu tokoh-tokoh ini masih muda! Bacalah riwayat Bu Pun Su di waktu kanak-kanak sampai menjadi seorang pendekar muda yang sakti dan luar biasa…..

T A M A T

>>>>   RAJA PEDANG   <<<<
LANJUTAN DARI SERIAL BU PUN SU
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger