logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Sakti Jilid 02


Lu Pin, seorang sastrawan yang amat pandai, juga terkenal sebagai seorang ahli pahat atau ahli ukir patung yang luar biasa, berkat jasa-jasanya dalam urusan pemerintahan, telah diangkat menjadi menteri oleh kaisar. Sesuai dengan bakatnya, ia dijadikan menteri urusan kebudayaan, dan karena jasa Lu Pin inilah maka pada masa itu, kebudayaan di Tiongkok dikembangkan serta dipupuk. Seni-seni ukir, seni lukis dan lain-lain mendapat perhatian pemerintah.

Dilihat dari luar, nampaknya penghidupan Menteri Lu Pin ini makmur dan senang. Akan tetapi kalau orang melihat menteri itu duduk di dalam kamarnya seorang diri, orang itu akan melihat betapa menteri yang pandai dan berwatak jujur dan adil ini sering kali duduk termenung dan menghela nafas berulang-ulang.

Pada wajahnya yang bersinar agung dan keningnya yang lebar itu terbayang kemuraman dan kedukaan hati yang besar sehingga biar pun usianya baru empat puluh tahun lebih, namun dia nampak lebih tua. Apakah yang menindih perasaan menteri yang memperoleh kedudukan tinggi ini? Banyak sekali!

Menteri Lu Pin berasal dari keluarga rakyat biasa saja, akan tetapi berkat kemauan besar dan keuletannya, dia dapat melanjutkan pelajarannya sampai mendapat gelar siucai, dan bakatnya yang memang luar biasa membuat dia menjadi seorang satrawan dan seniman yang tinggi kepandaiannya. Akan tetapi pada waktu muda dia sudah banyak menderita, bergaul dengan orang-orang senasib sependeritaan, yaitu seniman-seniman yang hidup terlantar dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

Kini setelah menjadi menteri, teringatlah dia akan nasib kawan-kawannya, nasib saudara saudaranya yang masih amat sengsara. Oleh karena itu, maka sering kali dia termenung dan bersedih hati.

Yang lebih-lebih membuat hatinya sakit adalah keadaan kakaknya. Di dalam dunia ini dia hanya memiliki kakaknya itu sebagai saudara satu-satunya, karena keluarga lain sudah tidak ada lagi. Akan tetapi berbeda dengan dia, kakaknya ini menuntut penghidupan yang jauh berlainan.

Kakaknya semenjak kecil biar pun bersama dia mempelajari kesusastraan, namun bakat kakaknya bukan di sana letaknya, melainkan dalam ilmu silat! Juga watak kakaknya ini berbeda jauh dengan dia. Kalau Lu Pin bercita-cita tinggi untuk mencapai kedudukan dan kemuliaan, adalah kakaknya itu tidak peduli akan semua ini. Bahkan akhir-akhir ini dia mendengar kakaknya itu merantau bagaikan seorang pengemis jembel! Inilah yang amat mengganggu hatinya, akan tetapi dia tidak berdaya.

Selain memiliki kepandaian tinggi sekali dalam hal ilmu silat, kakaknya juga mempunyai watak yang aneh. Sebelum Lu Pin diangkat menjadi menteri, pernah dia mencari dan bertemu dengan kakaknya. Ketika kakak ini di bujuk-bujuknya untuk mencari kedudukan, baik dalam hal pembesar sipil mau pun militer karena kakaknya mempunyai kepandaian bun (silat), kakaknya bahkan menjadi marah dan memaki-makinya!

“Pin-te (adik Pin), apakah matamu sudah buta? Kalau mata lahirmu buta, tidak mungkin mata batinmu buta pula! Tidak dapatkah kau melihat betapa negara kita ini dipegang oleh orang-orang yang tak patut disebut manusia pula? Tak dapatkah kau melihat kaisar dan seluruh anggota pemerintahan hanyalah orang-orang yang mengutamakan kesenangan belaka, yang melakukan korupsi besar-besaran dan menginjak-injak rakyat sendiri? Apa kau mengajak aku membantu manusia-manusia macam begitu? Cih, lebih baik aku mati saja!” demikian kakaknya ini mengakhiri kata-katanya lalu pergi meninggalkannya.

Memang, sejak kecil kakaknya yang bernama Lu Sin itu beradat keras, tinggi hati, dan kasar. Akan tetapi Lu Pin maklum sedalam-dalamnya bahwa di dunia ini tidak ada orang yang lebih mulia batinnya dari pada kakaknya itu! Inilah hal pertama yang membuat Lu Pin merasa menderita batinnya, walau pun sekarang dia sudah menjadi seorang menteri berkedudukan tinggi dan dimuliakan orang senegerinya.

Masalah kedua yang menekan batinnya adalah rumah tangganya. Menteri Lu Pin hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan puteranya ini pun sudah menikah pula dan telah menjabat sebagai pembesar bagian sipil. Karena rumah Lu Pin besar sekali dan menteri ini tak mau berpisah dari puteranya, dia minta agar supaya puteranya sekeluarga tinggal bersama dia. Akan tetapi puteranya akhirnya pindah juga ke rumah lain karena mantu perempuan selalu bercekcok dengan ibu mertua!

Inilah yang memberatkan hati Menteri Lu Pin. Meski rumah gedung baru milik puteranya itu berada di kota raja pula dan tidak jauh, namun melihat isterinya tidak akur dengan anak mantunya, sungguh merupakan hal yang sangat mengecewakan. Dan karena isteri puteranya adalah puteri dari seorang berpangkat pangeran, tentu saja dia makin merasa tidak enak.

Lu Pin sangat sayang kepada cucu laki-laki yang bernama Lu Thong. Anak ini tampan, bermata lebar, tidak kalah bagusnya dengan putera-putera pangeran, selalu berpakaian mewah dan sangat manja. Kadang-kadang, diam-diam Lu Pin mengakui bahwa cucunya berwatak kurang baik, pemarah seperti ibunya dan pengecut seperti ayahnya, akan tetapi karena dia hanya cucu satu-satunya, maka Lu Pin amat sayang kepadanya. Sering kali menteri ini menyuruh datang cucunya itu, atau bahkan dia sendiri memerlukan datang ke rumah puteranya untuk mengunjungi dan melihat Lu Thong.

Pada suatu hari, ketika kebetulan sedang berada di rumah puteranya, Lu Pin mendengar Lu Thong menangis dan rewel. Ia lalu bertanya dan mendapat jawaban dari puteranya bahwa anak itu rewel sekali minta dipanggilkan guru silat yang pandai karena anak ini ingin belajar ilmu silat!

Menteri Lu Pin menghela napas. Sambil mengelus-elus kepala Lu Thong yang menangis, dia berkata, “Cucuku yang tampan. Kenapa kau ingin mempelajari ilmu kepandaian yang kasar serta mengerikan itu? Dari pada kau memegang golok atau pedang yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah, hatiku akan merasa lebih girang dan tenteram apa bila melihat kau menggerakkan alat tulis membuat syair yang baik atau lukisan yang indah!”

“Tidak, Kongkong, aku ingin belajar silat. Ketika bermain-main, jika berkelahi aku selalu kalah. Aku mau menjadi pendekar, mau menjadi orang gagah yang ditakuti semua orang karena kepandaianku, bukan karena harta dan kedudukan Ayah atau Kongkong!” anak itu merengek-rengek dengan manja.

“Anak manja!” Ayahnya membentak marah-marah. “Apakah kau hendak menjadi seorang petualang yang liar?” kemudian dia menepuk kepalanya sendiri sambil berkata, “Hemm, celaka betul. Agaknya darah Pek-hu (Uwa) yang kotor, darah petualang yang memalukan mengalir pula dalam darah anak ini!”

Tiba-tiba saja menteri Lu Pin memandang puteranya dengan marah. “Tutup mulutmu dan jangan kau berani mengeluarkan kata-kata kotor terhadap Sin-ko (Kakak Sin)!”

Lu Seng Hok, putera dari Lu Pin itu, memandang kepadanya dan menghela napas. “Ayah memang aneh sekali. Pek-hu Lu Sin sudah terang sekali mencemarkan nama keluarga Lu. Ia beberapa kali mengacau, mengganggu pembesar-pembesar tinggi, bahkan pernah mengacau dalam dapur istana menghabiskan makanan kaisar. Bukankah orang seperti itu hanya membikin malu kepada kita saja? Celakanya, banyak orang-orang besar yang mengetahui hubungan kita dengan dia.”

“Sudah, Hok-ji (Anak Kok), jangan kita bicara lagi mengenai Pek-hu-mu itu. Betapa pun juga, dia adalah seorang yang budiman, jauh lebih dari aku atau kau.”

Seng Hok tidak berani membantah ayahnya, akan tetapi di dalam hatinya dia mengejek dan diam-diam dia berkata di dalam hati, “Huhh, manusia macam itu! Jembel tua yang memalukan, kerjanya hanya mengacau mengandalkan silatnya.” Kemudian, karena tidak berani membantah ayahnya, dia menimpakan kemarahannya kepada anaknya, yang lalu dimaki-maki lagi.

“Kau tak perlu membuka mulut minta belajar silat lagi. Pendeknya, kau tidak boleh belajar silat!”

Akan tetapi kini perhatian Lu Thong menjadi tertarik pada saat mendengar nama Lu Sin disebut-sebut. “Kongkong, apakah kakek Lu Sin itu benar-benar lihai ilmu silatnya? Aku pernah mendengar orang bilang bahwa seluruh bala tentara kerajaan tidak akan dapat menangkap dan melawan dia.”

Menteri Lu Pin mengangguk-angguk sambil memeluk cucunya yang terkasih.

“Cucuku, kakekmu Lu Sin itu biar pun hidup sebagai petualang, namun dia seorang yang luar biasa sekali. Kepandaian silatnya pada waktu ini sukar dicari tandingannya, dan dia dijuluki Ang-bin Sin-kai. Memang, kalau orang memiliki kepandaian silat seperti dia itu, barulah orang-orang tidak berani main-main terhadapnya, dan kalau saja adatnya tidak begitu kukuh dan aneh, kalau saja dia menerima pangkat, tentu dengan mudah dia akan diberi pangkat tinggi dalam bidang kemiliteran kaisar. Bahkan kaisar pernah menawarkan kedudukan Koksu (Guru Negara) kepadanya. Sayang... dia lebih senang merantau.”

“Menjadi pengemis kotor!” Lu Seng Hok menambahkan. “Anak rewel, apa kau juga ingin mempunyai kepandaian silat tinggi dan kemudian menjadi seorang pengemis jembel?”

Akan tetapi Lu Thong tampak diam saja. Anak kecil ini biar pun manja dan rewel, namun harus diakui bahwa dia memiliki pikiran yang sangat cerdik. Dia lalu memandang kepada ayahnya dan berkata,

“Ayah, kalau kau berhasil membujuk kakek Lu Sin untuk tinggal di sini dan mengajar ilmu silat kepadaku, bukankah itu baik sekali? Selain dia tidak mengembara dan memalukan ayah, juga aku bisa mendapat pimpinan dari seorang ahli.”
“Kau tidak akan belajar silat!” kata Lu Seng Hok dengan kukuh.
“Ayah, bagaimana pun juga kakek Lu Sin adalah keluarga kita. Dia masih tetap saja menggunakan nama keturunan Lu! Kalau kita mempunyai orang tua yang berkepandaian tinggi itu, apakah akan kata orang kalau aku sebagai keturunan Lu tunggal, tetapi sama sekali tidak mengerti ilmu silat dan sangat lemah? Kongkong terkenal sebagai ahli bu. Ini merupakan dwi tunggal yang baik sekali dan kalau aku dapat mempelajari bun dan bu di bawah pimpinan dua orang tua ini bukankah aku akan menjadi seorang bun-bu cwan-jai (ahli satra dan ahli silat)?”

Ketika ayah dan anak ini bersitegang mempertahankan pendirian masing-masing, Lu Pin mendengarkan saja dan mendengar ucapan Lu Thong dia menjadi girang sekali. Wajah orang tua ini berseri-seri dan dia lalu bertepuk tangan.

“Bagus, bagus sekali! Lu Thong, agaknya kaulah yang akan dapat mengharumkan nama keluarga Lu! Hok-ji, ucapan puteramu itu betul sekali. Kini kita harus mencari Pek-hu-mu Lu Sin dan kita membujuknya untuk melatih Lu Thong. Bagus sekali!”

Setelah berpikir-pikir, akhirnya Seng Hok juga menyetujui kehendak ayahnya ini. Ia pikir bahwa tentu saja amat baik kalau Lu Thong menjadi seorang ahli sastra merangkap ahli silat pula. Ayah mana yang tidak akan suka melihat puteranya menjadi seorang bun-bu cwan-jai?

Akan tetapi mencari Ang-bin Sin-kai Lu Sin tidaklah semudah mencari orang lain. Nama Ang-bin Sin-kai memang sudah amat terkenal, dari seorang pengemis yang paling jembel sampai kaisar sendiri mengenal nama tokoh besar yang luar biasa ini. Akan tetapi di mana adanya kakek aneh ini, tak seorang pun mengetahuinya!

Karena sekarang telah menyetujui untuk memberi kesempatan kepada Lu Thong belajar ilmu silat, maka Lu Seng Hok mulai mengundang guru silat untuk memberi pelajaran dasar kepada puteranya. Akan tetapi, hati Lu Thong tidak demikian mudah dipuaskan. Segala macam guru silat saja, dia tidak sudi mengangkat menjadi gurunya.

Anak ini paling suka memelihara anjing dan di halaman depan gedung ayahnya penuh dengan anjing-anjing yang galak, besar dan juga bagus. Ia selalu dimanja oleh ayahnya yang sengaja membeli anjing-anjing besar dan bagus. Lu Thong memelihara lebih dari sepuluh ekor anjing!

Ia pernah mendengar tentang kakak kongkong-nya yang bernama Ang-bin Sin-kai Lu Sin itu, dan juga pernah mendengar cerita bahwa kakeknya ini pernah memukul mati seekor harimau tanpa menyentuh kulitnya! Oleh karena itu tiap kali ada guru silat yang diundang oleh ayahnya datang hendak mengajarnya, dia minta pada guru silat ini untuk memukul anjingnya tanpa menyentuh kulitnya!

Dan akibatnya, banyak sudah guru silat yang tidak mampu merobohkan anjing itu tanpa menyentuh kulitnya, sebaliknya ada beberapa orang di antara guru-guru silat itu yang menjadi korban gigitan anjing galak! Oleh karena itu, sebegitu jauh Lu Thong masih juga belum mempunyai guru yang pandai dalam ilmu silat dan dia masih belum mau belajar silat. Ayahnya menjadi bingung dan juga bohwat (kehabisan akal) menghadapi anaknya yang terus rewel minta supaya kakeknya, Ang-bin Sin-kai Lu Sin, dipanggil datang!

Pada suatu hari, masih pagi sekali, Lu Thong sudah bermain-main di pekarangan gedung ayahnya. Tiga ekor anjing yang terbesar dan terbaik menemaninya di situ. Dia sedang mengajar anjing-anjingnya melompat, mencari barang yang disembunyikan, dan lain-lain.

Tiba-tiba tiga ekor anjing ini menggonggong keras dan berlari ke arah pintu. Dari pintu gerbang masuk seorang pengemis tua yang pakaiannya sudah penuh tambal-tambalan, rambutnya awut-awutan, dan kulit tubuhnya kotor serta ada penyakit gatal di sana-sini, terutama sekali pada kakinya. Ketika dia datang memasuki pintu gerbang, banyak lalat mengerubung dan mengikutinya.

Melihat pengemis ini, Lu Thong segera memanggil anjing-anjingnya dan tiga ekor anjing yang sudah mengerti akan perintah majikan mudanya ini lalu berlari mendekati Lu Thong. Anak ini memandang tajam.

Ketika melihat sikap pengemis itu berani sekali, tidak seperti pengemis biasa, diam-diam dia menaruh perhatian dan dadanya berdebar. Inikah kakeknya, Ang-bin Sin-kai Lu Sin? Mukanya tidak kemerah-merahan, pikirnya.

Menurut penuturan kongkong-nya, juga melihat dari nama julukan ‘Ang-bin’ atau muka merah, tentu kakek yang menjadi ahli silat itu bermuka merah. Bagaimana pun juga dia hendak bersikap hati-hati dan agar jangan disangka kurang sopan, dia bertanya dengan halus kepada pengemis tua itu.

“Kakek tua, kau masuk ke sini ada keperluan apakah?”

Pengemis itu memandang. Wajahnya nampak berseri-seri mendengar suara dan melihat sikap yang manis dari Lu Thong ini.

“Ah, ah, benar! Pohon baik berbuah manis. Kakeknya terpelajar cucunya pun tahu sopan santun. Bagus sekali! Siauw-kongcu (Tuan Kecil), bukankah kau adalah putera dari Lu Seng Hok?”

Semakin bergairahlah hati Lu Thong. Siapa lagi kalau bukan Ang-bin Sin-kai yang berani memanggil nama ayahnya begitu saja? Maka dia lalu mengangguk.

Pengemis itu memandang lagi penuh perhatian dan kini dia melihat ke arah pakaian Lu Thong serta hiasan rambutnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi, “Betapa pun juga merak tak mungkin beranak garuda! Sayang sekali, kemewahan kakeknya menurun padanya!”

Lu Thong adalah seorang anak yang cerdik dan terpelajar. Ia tahu bahwa peribahasa yang menyatakan bahwa merak tak dapat beranak garuda menyindirkan bahwa seorang pesolek anaknya pun pesolek pula. Akan tetapi karena dia menduga bahwa pengemis ini adalah kakeknya yang selama ini dicari-cari, yaitu Lu Sin, anak ini tidak menjadi marah, bahkan berkata,

“Kakek yang baik, ayahku sedang pergi ke kantornya. Siapakah kau dan ada keperluan apakah mencari ayah?”
“Siapa mencari ayahmu? Aku datang hendak mengobrol dengan Lu Pin, kakekmu.”

Hampir Lu Thong berjingkrak saking girangnya. Tidak bisa salah lagi, ini tentulah Ang-bin Sin-kai Lu Sin, kakak dari kongkong-nya itu! Akan tetapi anak ini masih menahan gelora hatinya dan bertanya lagi, pura-pura tidak tahu,

“Kongkong Lu Pin tidak tinggal di sini, akan tetapi di gedung menteri di sebelah kanan istana! Kakek, siapakah namamu?”

Kakek itu nampak amat kecewa. ”Hemm, aku sudah pergi ke sana, akan tetapi penjaga mengusirku. Kukira melalui ayahmu aku akan lebih mudah bertemu Lu Pin. Namaku? Ah, aku sendiri sudah tidak tahu lagi siapa namaku, Siauw-kongcu.”

Dengan mata bersinar-sinar Lu Thong kemudian berkata, “Kakek yang baik, bukankah kau adalah Ang-bin Sin-kai Lu Sin?”

Pengemis itu nampak sangat terkejut. “Kau sudah mendengar nama itu? Hmm, Ang-bin Sin-kai barulah patut disebut seekor garuda. Garuda sakti yang terbang di angkasa raya, bebas lepas tidak terikat oleh sesuatu. Dia seorang yang patut dikagumi!”

Sehabis berkata demikian pengemis itu merangkapkan kedua tangannya ke dada dan memberi hormat ke atas.....

Lu Thong terheran-heran. Pengemis ini terang sekali bukan orang sembarangan. Sikap dan kata-katanya bahkan membayangkan bahwa pengemis ini adalah seorang terpelajar pula. Akan tetapi, jawabannya tadi membikin dia ragu-ragu. Jika kakek ini adalah Ang-bin Sin-kai, mungkinkah ia memuji-muji nama Ang-bin Sin-kai dan bahkan memberi hormat? Adakah kakek sakti itu demikian sombongnya?

Tiba-tiba Lu Thong mendapat sebuah pikiran yang bagus. Ia lantas bersuit keras sambil menunjuk ke arah kakek itu, dan tiga ekor anjing serentak menyalak kemudian menubruk ke arah pengemis tadi! Pengemis tua itu terkejut bukan main dan dengan mata terbelalak ketakutan dia melangkah mundur.

“Siauw-kongcu, tahan anjing-anjingmu! Suruh mereka mundur, lekas!”

Lu Thong tersenyum geli, “Ang-bin Sin-kai, kau adalah kakekku sendiri, siapa yang mau menakut-nakutimu? Kau bunuhlah anjing-anjing busuk itu, aku tidak akan menyesal. Aku sengaja hendak melihat kelihaianmu, Kongkong!”

“Hushh... siapa bilang aku Ang-bin Sin-kai? Aku bukan... bukan...!” akan tetapi dia segera roboh terguling karena ditubruk oleh tiga ekor anjing yang galak-galak itu!
“Siauw-kongcu, aku adalah sahabat Lu Pin. Bagaimana kau berani menghinaku? Panggil anjing-anjingmu, lekas!”

Alangkah kecewanya hati Lu Thong melihat keadaan itu. Dengan jelas sekali dia melihat betapa kakek ini amat lemah. Jika tadinya dia merasa girang, sekarang dia amat merasa amat kecewa dan marah.

“Jadi kau bukan Ang-bin Sin-kai? Itu lebih baik lagi, biar anjing-anjingku mengantar kau keluar sebagai hukuman atas kelancanganmu masuk ke sini tanpa ijin!” Dia lalu memberi aba-aba kepada anjing-anjingnya untuk menyeret kakek itu keluar dari halaman.

Sungguh kasihan sekali kakek pengemis itu. Dia hanya dapat menjaga lehernya dengan kedua tangan, karena merasa takut kalau-kalau lehernya digigit anjing-anjing yang galak itu. Tiga anjing itu menggigit lengannya, kakinya, bajunya dan mencoba untuk menyeret keluar dari situ. Akan tetapi tubuh pengemis ini tinggi dan tentu saja dia terlalu berat bagi tiga ekor anjing itu.

“Siauw-kongcu... kau kejam... kau jahat! Lu Pin tak seperti ini... lepaskan aku!” pengemis ini berteriak-teriak kesakitan dengan lengan dan kakinya telah berdarah.

Akan tetapi Lu Thong bahkan tertawa bergelak melihat kejadian yang dianggapnya lucu ini.

“Ha-ha-ha-ha! Orang macam ini kuanggap Ang-bin Sin-kai! Ha-ha-ha-ha! Merangkaklah... merangkaklah keluar! Ha-ha-ha coba kau berlomba dengan anjing-anjing itu keluar!”

Karena tidak tahan lagi digigit oleh anjing-anjing itu, pengemis tadi sambil mengeluh lalu merangkak-rangkak keluar! Dia hendak berdiri, akan tetapi tiap kali berdiri dia lalu roboh kembali karena terkaman anjing-anjing itu. Baiknya dia selalu melindungi lehernya, sebab bila mana lehernya sampai kena digigit, pasti dia akan tewas! Baru saja dia merangkak beberapa jauhnya, dia diterkam dan diseret kembali oleh tiga ekor anjing itu.

Lu Thong tertawa terkekeh-kekeh melihat permainan baru ini. Seakan-akan dia melihat seekor tikus besar sekali sedang dipermainkan oleh tiga ekor kucing yang tidak hendak membunuhnya lebih dulu sebelum puas bermain-main!

Keadaan pengemis itu makin payah. Sekarang ia tidak minta dilepaskan, bahkan ia lalu melawan dan memukul, menggigit serta menjewer anjing-anjing itu sambil memaki-maki, “Lu Pin kau manusia durhaka! Tidak ingat kau betapa dahulu kau belajar syair dari aku! Tidak ingat kau betapa dulu beberapa cawan arakku memasuki perutmu! Dan sekarang cucumu berlaku begini? Ahhh...”

Akan tetapi Lu Thong tak mau mempedulikan omongan yang dianggapnya hanya ocehan belaka dari seorang pengemis yang ingin berpura-pura menjadi sahabat kongkong-nya. Kongkong-nya, menteri Lu Pin, menteri yang mulia dan berkedudukan tinggi, belajar syair dari pengemis ini? Bah, sungguh menggelikan dan menggemaskan!

“Kau menghina kongkong dan memasuki rumah ini seperti maling. Kau patut dihukum!” katanya.

Pada saat itu, dari luar pintu gerbang berlari masuk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, sebaya dengan Lu Thong. Anak ini berpakaian seperti pengemis dan kepalanya gundul.

“Sungguh biadab! Kejam sekali!” anak itu datang-datang berseru marah.

Anak itu kemudian memungut batu-batu untuk disambitkan pada anjing-anjing itu.

“Bukk!” terdengar suara ketika sambitannya mengenai tubuh anjing.

Anjing itu berkuik-kuik kesakitan, lalu menjauhkan diri dari kakek pengemis. Sambitan itu cukup bertenaga dan membuat anjing itu merasa kesakitan. Akan tetapi Lu Thong yang telah melihat perbuatan ini menjadi marah sekali. Ia berseru beberapa kali dan memberi aba-aba kepada ketiga ekor anjingnya sehingga binatang-binatang ini kembali menyerbu kakek itu.

Anak jembel yang gundul itu menjadi marah. Karena sambitannya tidak dapat menolong kakek pengemis, dia lalu melompat ke arah Lu Thong dengan beberapa lompatan yang jauh sehingga Lu Thong menjadi kaget sekali.

“Orang kejam, hayo kau panggil anjing-anjingmu!” anak gundul itu membentak dan selain suaranya nyaring sekali, juga dari sepasang matanya bersinar api, sikapnya amat kereng dan berpengaruh.

Lu Thong memang mempunyai sifat pengecut. Melihat sikap anak gundul itu dan melihat lompatannya yang kuat tadi dia telah menjadi takut. Kini melihat anak gudul itu berdiri di depannya dengan sikap mengancam dan memerintah, hatinya menjadi gentar. Cepat dia memanggil ketiga ekor anjingnya yang segera meninggalkan kakek jembel tadi, berlarian menghampiri Lu Thong dengan ekor digerak-gerakkan ke kanan kiri.

Anak gundul itu lari menghampiri pengemis tua yang sudah payah, lalu menolongnya.

“Kasihan sekali kau, orang tua,” katanya menghibur sambil membantu kakek itu berdiri.

Kakek pengemis itu memandang kepada anak gundul ini dengan mata terheran, penuh kekaguman.

“Siapa kau?” tanyanya sambil meringis kesakitan karena kakinya yang penuh koreng itu kulitnya sudah banyak yang pecah-pecah tergigit anjing-anjing yang galak tadi.
“Aku? Namaku Lu Kwan Cu.”

Mendadak jembel tua itu merenggutkan tangan Kwan Cu yang memegangnya. “Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi ditolong oleh seorang she Lu lagi!” katanya

Kwan Cu tersenyum. “Orang tua, tidak baik menilai pribadi orang dari she dan namanya! Bukankah peribahasa dahulu kala menyatakan bahwa menilai pribudi seseorang lihatlah hati dan perbuatannya, jangan melihat nama, pakaian, dan mulutnya?”

Mata kakek yang tadi memandang penuh kebencian, kini tiba-tiba memandang dengan kagum dan terbelalak lebar. “Ehh, anak siapakah kau? Murid siapa?”

Kwan Cu tersenyum. “Aku tidak tahu siapa orang tuaku, dan aku bukan murid siapa pun.”

Kakek itu tersenyum, dan ini mengherankan Kwan Cu. Bagaimana dengan tubuh penuh luka-luka itu orang ini masih dapat tersenyum? Ia lalu membantu kakek itu berdiri dan kini pengemis tua itu tidak lagi menolak bantuannya.

Bagaimana Kwan Cu tahu-tahu datang ke tempat itu? Memang, anak ini telah melakukan perjalanan jauh sekali sampai ke kota raja, tanpa ada tujuan yang tetap. Ketika dia tiba di pintu gerbang kota raja, dan ketika matanya terbelalak kagum sekali dan terheran-heran menyaksikan bangunan-bangunan yang demikian megah dan besarnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara terkekeh-kekeh yang sudah di kenalnya.

Ia cepat menengok dan tampaklah olehnya seorang hwesio gundul yang tubuhnya bulat seperti bola berdiri di bawah pintu gerbang itu sambil memandangnya. Hwesio ini sedang makan makanan dari sebuah mangkok butut, yaitu mangkok yang biasanya dibawa oleh seorang hwesio untuk minta makanan dari siapa saja yang dijumpainya saat dia merasa lapar. Mangkok itu dipegang di tangan kiri, tangan kanannya menjumputi makanan, ada pun di bawah lengan kanannya itu terjepit sebatang tongkat hwesio yang panjang.

“Ehh, losuhu berada di sini?” tanya Kwan Cu sambil buru-buru maju menjura.
“Ha-ha-ha, Kwan Cu, kau masih ingat kepadaku?” kata hwesio itu yang bukan lain adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang dulu dijumpainya di tepi laut, hwesio yang bertempur mati-matian melawan Ang-bin Sin-kai karena memperebutkan dia!

Kak Thong Taisu kemudian melemparkan mangkoknya yang butut sehingga makanan itu tumpah di atas tanah. “Makanan busuk, diberi oleh seorang yang pelit!”

Kemudian ia memukulkan tongkatnya ke mangkok itu, dan aneh sekali! Mangkok itu tidak menjadi hancur, bahkan lalu mencelat ke atas yang segera diterima dengan tangannya, dan mangkok itu kini telah menjadi bersih seperti dicuci saja.

“Hm, orang-orang kota raja ini semuanya kaya-kaya dan pelit-pelit, menyebalkan sekali!”
“Losuhu, kalau teecu boleh bertanya, Losuhu datang dari manakah dan hendak pergi ke mana?” tanya Kwan Cu
“Pinceng datang dari belakang dan hendak menuju ke depan,” hwesio tua itu menjawab seperti orang berkelakar. “Sekarang telah bertemu dengan kau, muridku, maka aku tidak khawatir lagi akan kelaparan, karena sudah ada orang yang akan mencarikan makanan untukku!”
“Teecu bukan murid Losuhu, tetapi tentu saja teecu mau mencarikan makanan untuk Losuhu, yaitu kalau Losuhu merasa lapar.”

Kak Thong Taisu nampak amat terkejut. “Apakah kau sudah bertemu Ang-bin Sin-kai dan sudah diambil murid olehnya?”

Kwan Cu menggelengkan kepalanya. ”Tidak, teecu tidak bertemu dengan Locianpwe itu. Akan tetapi seandainya bertemu, teecu juga tidak akan menjadi muridnya.”

“Ha-ha-ha-ha, kepalamu yang gundul itu keras juga kiranya!” Setelah berkata demikian, dengan tongkatnya Kak Thong Taisu mengemplang kepala Kwan Cu.
“Plakk!” ujung tongkat itu mengenai kepala yang gundul itu.

Akan tetapi biar pun ia merasa sakit sekali dan kepalanya tiba-tiba menjadi benjol, Kwan Cu tidak menaruh hati sakit atau pun marah. Dia hanya mengejapkan matanya tiga kali untuk menahan sakit. Diam-diam dia malah merasa geli mendengar kata-kata hwesio ini.

Hwesio ini sendiri mempunyai kepala yang gundul, bundar, besar, juga amat licin, akan tetapi masih memaki dirinya sebagai kepala gundul! Sungguh cocok kata-kata kuno yang menyatakan bahwa mencari keburukan orang lain sama mudahnya seperti kita mencari kerbau di ladang, sebaliknya untuk mengetahui keburukan sendiri sama sulitnya dengan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan rumput kering!

“Bagaimana, apakah kau masih tidak mau menjadi muridku?”

Kwan Cu menggeleng kepala dan dia teringat akan pengalaman-pengalamannya selama ini. Dia menarik kesimpulan bahwa hanya orang-orang ahli silat yang selalu menimbulkan keributan dan kerusuhan, serang-menyerang atau bunuh-membunuh.

“Mengapa kau tidak mau menjadi muridku? Hayo jawab dan beri penjelasan yang betul, bila tidak akan kuketok kepalamu sampai pecah!” Hwesio gemuk itu nampak tidak sabar dan mendongkol sekali. Orang-orang muda sedunia akan berebut menjadi muridnya, dan anak gundul jembel ini, dia bahkan menampik!

“Mengapa?” Kwan Cu mengerutkan kening, mengingat-ingat lalu berkata dengan suara tetap, “Karena teecu teringat akan peribahasa kuno yang menyatakan bahwa, binatang menggunakan kekerasan karena dia tidak berakal, maka seorang manusia lebih rendah dari pada binatang apa bila dia melakukan kekerasan. Nah, oleh karena itu, teecu tidak suka belajar ilmu silat, Losuhu. Teecu anggap peribahasa itu tepat sekali. Binatang yang tidak berakal, mempergunakan kekerasan tanpa kesadaran, sebaliknya kalau manusia melakukan kekerasan, dia sadar sepenuhnya kalau kelakuannya itu salah dan jahat!”

Hwesio itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar, lalu dia memandang ke atas sambil tertawa bergelak-gelak. Suara ketawa ini keras dan hebat sekali sehingga Kwan Cu merasa tanah yang diinjaknya sampai tergetar akibat gema suara tertawa itu.

Ada pun orang-orang yang lewat di situ, menjadi kaget sekali, akan tetapi ketika mereka memandang dan mencoba mendekati, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu lantas memandang kepada mereka dengan mata dipelototkan. Mereka menjadi sangat ketakutan dan pergi lagi cepat-cepat!

“Ha-ha-ha! Lucu, lucu, lucu! Ehhh, Kwan Cu, kata-katamu itu membuat mataku melihat seekor lembu yang baru lahir menyusui seekor lembu tua yang menjadi neneknya!”
“Mana, Losuhu?” tanya Kwan Cu yang merasa heran. “Mana ada anak lembu yang baru terlahir dapat menyusui lembu lain, neneknya pula?”

Hwesio itu menudingkan jarinya kepada Kwan Cu. “Kaulah anak lembu itu! Kau hendak memberi pelajaran kepadaku tentang filsafat, bukankah itu sama saja dengan seekor anak lembu hendak menyusui neneknya? Ha-ha-ha, kau tahu satu tidak tahu lima, tahu lima tidak tahu sepuluh! Kwan Cu, tidak ada sesuatu di permukaan bumi ini yang memiliki sifat tunggal, semua tentu memiliki dua sifat yang bertentangan, dua sifat yang bagi kita manusia biasa disebut menguntungkan dan merugikan! Apakah kau pernah mendengar orang mengeluh karena hari sedang hujan yang lain mengeluh karena tidak ada hujan? Pernahkah kau mendengar munculnya matahari disambut dengan senyum oleh seorang akan tetapi sebaliknya disambut dengan muka cemberut oleh orang lainnya? Semua hal mempunyai dua sifat, tergantung pada yang menghadapinya. Kekerasan tak terkecuali, memiliki dua sifat menguntungkan dan merugikan. Hee, anak gundul goblok, tahukah kau sekarang bahwa belum tentu kekerasan itu salah dan jahat seperti anggapanmu tadi?”

Kwan Cu mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tertarik sekali karena memang dia suka akan filsafat-filsafat kebatinan. Dia sudah terlalu banyak membaca buku kuno dan semenjak belajar membaca, otaknya sudah dijejali oleh segala macam filsafat ini.

“Benar-benarkah semua hal di dunia ini mempunyai dua sifat baik dan buruk, Losuhu?”

Hwesio itu mengangguk-anggukkan kepalanya yang bundar. “Tentu! Coba kau sebutkan sesuatu sebagai contoh.”

Kwan Cu menengok ke sana ke mari, dan tiba-tiba dia menunjukkan telunjuk ke arah tahi kuda yang bertumpuk di pinggir jalan. “Apakah barang kotor itu juga memiliki sifat baik? Teecu menganggapnya kotor dan hanya merugikan saja, mengotori jalan, menimbulkan bau tak sedap dan menjijikkan kalau di pandang.”

“Anak bodoh, itu karena kau memandangnya dari segi yang merugikan saja. Tahukah kau bahwa keluarnya benda itu dari perut kuda mendatangkan dua macam keuntungan? Pertama, keuntungan bagi si kuda sendiri karena kalau tidak bisa keluar perutnya akan kembung dan dia akan mati! Kedua, tahi kuda itu kalau sudah meresap ke dalam tanah akan menjadi pupuk yang amat baik dan menyuburkan tanah. Bukankah itu keuntungan-keuntungan belaka dan termasuk sifat-sifat baik?”

Kwan Cu melengak dan terpaksa dia tersenyum geli. Sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu bergerak ke kanan kiri, menandakan bahwa otaknya yang cerdik tengah bekerja keras. Dia mencari akal untuk mengalahkan hwesio gemuk ini dengan pendirian yang aneh itu.

“Losuhu, ada satu hal lagi. Apakah kejahatan juga mempunyai sifat baik?”

Sekarang Kak Thong Taisu yang melengak. Dia merasa seperti dadanya di todong oleh senjatanya sendiri. Senjata makan tuan! Akan tetapi hwesio ini adalah seorang manusia yang sudah matang luar dalam, tentu saja tidak mau kalah. Sambil menggerak-gerakkan kedua matanya yang seperti kelereng itu, dia berkata,

“Tentu saja bocah tolol! Kalau saja tidak ada kejahatan di dunia ini, mana mungkin ada kebaikan? Siapa mau bicara kebaikan bila tidak ada kejahatan? Siapa bisa mengatakan baik kalau tidak ada buruk dan mana di dunia ini ada orang berbudi kalau tidak ada orang jahat? Kejahatan merupakan imbangan dari pada kebajikan seperti Im (positif) menjadi imbangan dari pada Yang (negatif), kalau salah satu tidak ada mana mungkin dunia bisa berputar dan matahari bisa terbit dan tenggelam?”

Filsafat ini terlalu berat bagi otak Kwan Cu yang masih kecil, maka untuk beberapa lama dia bengong saja.

Sebaliknya setelah berkata demikian Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, anak bodoh, anak tolol!”

“Losuhu,” Kwan Cu mendapatkan bahan pula pada saat mendengar makian ini. “Apakah kebodohan juga mempunyai sifat baik?’
“Tentu saja, jika tidak bodoh dulu, mana bisa menjadi pintar? Tanpa adanya kebodohan, mana manusia mengenal kepintaran?”

Dibalik seperti ini, Kwan Cu mulai dapat menangkap dan dia tertawa bergelak, menimpali suara ketawa hwesio gemuk itu sehingga dua orang ini tertawa-tawa, membikin semua orang yang lewat di situ memandang terheran-heran.

”Orang-orang miring otaknya…” demikian mereka berbisik.
“Kwan Cu, kau ini terlalu sekali. Perutku menjadi lapar karena kau mengajakku bercakap-cakap saja. Hayo cepat kau carikan makanan untukku. Makanan enak hanya terdapat di rumah-rumah para bangsawan.”

Hwesio gemuk ini mengajak Kwan Cu memasuki kota raja. Kak Thong Taisu menyuruh Kwan Cu berjalan lebih dulu dan menyuruh anak ini minta makanan dari rumah gedung bangsawan. Kwan Cu menurut dan kebetulan sekali dia memasuki halaman gedung dari pembesar Lu di mana dia melihat Lu Thong sedang menyuruh tiga ekor anjing-anjingnya mengeroyok seorang kakek pengemis itu sebagaimana telah di tuturkan di bagian depan dari cerita ini.

“Lopek, marilah kita keluar dari halaman orang kaya ini,” kata Kwan Cu sambil menolong pengemis tua yang terluka oleh gigitan-gigitan anjing tadi.

Dengan susah payah pengemis itu berdiri, dan merangkulkan lengan kirinya pada leher Kwan Cu. Kemudian terseok-seok mereka keluar dari tempat itu.

Akan tetapi, setelah kini anak gundul itu tidak berada di dekatnya lagi, Lu Thong timbul keberaniannya. Dia berseru keras dan tiga ekor anjing itu kembali menyalak-nyalak dan menyerbu Kwan Cu dan pengemis tua yang sedang berjalan terpincang-pincang hendak keluar!

Kwan Cu tidak berdaya karena dia sedang menggandeng kakek itu keluar. Pengemis itu demikian lemah sehingga kalau dia di lepaskan pegangannya, tentu orang tua itu akan roboh! Sebaliknya pengemis tua itu tak mempedulikan sama sekali tiga ekor anjing yang menggonggong-gonggong dan mengurungnya. Wajah pengemis tua ini menjadi terang berseri dan dia bahkan bernyanyi dengan suara yang tinggi!

Alam hidup bukan untuk diri pribadi,
karenanya dapat kekal abadi!
Tidak seperti Lu manusia hina (siauw jin),
lupa akan asal usulnya!
Setelah hidup mewah dan kaya,
si miskin ia hina!
Mana dia akan dapat tahan lama?

Nyanyian ini terus diulang-ulanginya dan diam-diam Kwan Cu merasa kagum. Susunan kata-katanya amat indah dan dia puji kakek ini yang dapat menghubungkan ujar-ujar Lo Cu dengan kata-kata lain yang isinya menyinggung-nyinggung orang she Lu yang dia tidak tahu entah siapa! Ia masih ingat bahwa bait pertama yaitu, ‘Alam hidup bukan untuk diri pribadi, karenanya dapat kekal abadi’ merupakan ujar-ujar dari nabi Lo Cu mengenai pelajaran To.

Tiga ekor anjing itu mengejar terus. Pada saat mereka hendak menubruk dan menyerang dua orang yang keluar itu, tiba-tiba dari atas menyambar turun tubuh dengan kepalanya yang gundul kelimis.

Kak Thong Taisu telah berada di situ, tertawa bergelak sambil berkata, “Nyanyian orang edan!”

Akan tetapi biar pun dia tujukan ucapannya ini kepada kakek pengemis tadi, sebetulnya dia sama sekali tidak memperhatikan kakek pengemis dan Kwan Cu.

“Cocok betul dia dengan bocah tolol.”

Kemudian, ketika Kak Thong Taisu melihat tiga anjing yang mengejar-ngejar pengemis itu dan Kwan Cu, matanya berseri-seri.

“Ahh, anjing bagus, daging gemuk!”

Sambil berkata demikian, hwesio ini melangkah dua tindak sambil menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu dia sudah dapat menangkap tiga ekor anjing itu pada ekornya! Benar-benar hebat tenaga Si Tangan Seribu Kati ini, karena dia memegang buntut tiga ekor anjing itu hanya dengan tangan kiri dan sekali lagi tangan kanannya mengayun…

“Prakk!” terdengar suara dan pecahlah kepala tiga ekor anjing itu menghantam lantai!

Lu Thong memandang peristiwa ini dengan mata terbuka lebar. Dia tidak marah melihat tiga ekor anjingnya dibunuh orang, bahkan dia lalu menghampiri hwesio itu dan berkata, “Losuhu, agaknya kau lebih hebat dari pada Ang-bin Sin-kai!”

Kak Thong Taisu membalikkan tubuh, melempar mayat tiga ekor anjing tadi, kemudian memandang pada anak itu. Ia menatap wajah Lu Thong dari kepala sampai ke kakinya, penuh perhatian dan diam-diam dia mengakui bahwa anak ini pun memiliki tulang dan bakat yang baik sekali, sungguh pun tidak sebaik Kwan Cu.

“Kau tahu apa tentang Ang-bin Sin-kai?” tanyanya.
“Dia adalah kakak dari kongkong-ku, kenapa aku tidak tahu? Dia lihai sekali, akan tetapi melihat kepandaian losuhu, kau berani bertaruh bahwa Losuhu tentu lebih lihai!”
“Hemm, jadi kau cucu dari Lu Pin?”

Lu Thong mendongkol sekali. Sudah dua kali dalam satu hari ini orang menyebut nama kakeknya begitu saja. Kakeknya Lu Pin adalah seorang menteri, bagaimana ada seorang pengemis tua dan seorang hwesio menyebut namanya begitu saja. Akan tetapi kali ini Lu Thong tidak mau memperlihatkan muka marah. Ia cerdik sekali dan dia ingin belajar ilmu silat, maka dia lalu menjura dan berkata,

“Betul sekali, Losuhu. Teecu yang rendah dan bodoh adalah cucu dari orang tua itu. Tapi sayang sekali… teecu bernasib buruk .”

Hwesio ini mengangkat alis dan memandang penuh perhatian, ”Apa katamu? Bernasib buruk sesudah kau mengenakan pakaian demikian indahnya, tinggal di gedung demikian mewahnya?”

Mendengar ini, tiba-tiba Lu Thong menangis, menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu dan merenggutkan hiasan rambut serta pakaiannya sehingga sobek-sobek. “Buat apa semua kemewahan ini, Losuhu? Teecu ingin sekali belajar ilmu silat yang tinggi.”

“Kau masih cucu Ang-bin Sin-kai, apa susahnya untuk memenuhi keinginan itu?”
“Losuhu, inilah yang membuat hati teecu selalu tidak senang. Ang-bin Sin-kai tidak mau mengajar silat kepada teecu!”

Diam-diam Kak Thong Taisu berpikir. Anak ini cukup cerdik dan berbakat baik, dia telah dikecewakan oleh Kwan Cu yang tidak mau menjadi muridnya, sekarang ada anak ini yang ditolak oleh Ang-bin Sin-kai! Mengapa dia tidak mau mengambilnya sebagai murid? Hendak dia lihat bagaimana Ang-bin Sin-kai kelak apa bila melihat keturunannya belajar ilmu silat dari padanya!

“Ehh, anak, siapa namamu?”
“Teecu bernama Lu Thong.”

Girang hati Kak Thong Taisu, karena nama anak ini ada persamaan dengan namanya .

“Kalau aku mengajar silat kepadamu bagaimana?”

Bukan main girangnya hati Lu Thong. Serta merta dia lalu menjatuhkan diri dan berlutut di depan hwesio itu, “Suhu, teecu akan belajar dengan giat!”

“Akan tetapi kau harus ikut aku merantau, menjadi pelayanku, juga mengemis makanan untukku dan hanya boleh makan sisa makananku. Sangggupkah?”

Tentu syarat-syarat ini amat berat, bahkan terdengar sangat mengerikan di dalam telinga Lu Thong. Akan tetapi, oleh karena anak ini memang cerdik, dia tidak mau menurutkan perasaannya.

”Teecu hanya akan tunduk kepada semua perintah Suhu. Akan tetapi teecu mendengar suhu tadi memuji anjing-anjing itu sebagai daging-daging gemuk, apakah Suhu suka bila teecu menyuruh orang memasaknya?”

Berseri wajah Kak Thong Taisu. “Tentu saja, aku sampai lupa! Sangat disayangkan kalau daging-daging gemuk itu dibuang begitu saja.”

Pada saat itu, beberapa orang muncul dari dalam dan mereka ini terkejut sekali ketika melihat Lu Thong berlutut di depan seorang hwesio gemuk. Mereka adalah Lu Seng Hok dan istrinya yang diikuti oleh beberapa pelayan. Tadi Lu Thong memang telah berbohong kepada pengemis tua itu ketika dia mengatakan bahwa ayahnya tidak berada di rumah.

“Thong-ji, kau sedang apa di situ? Siapakah hwesio ini?” Lu Seng Hok bertanya kepada anaknya dengan kening di kerutkan.
“Ayah, dia ini adalah suhu-ku, bernama...” Lu Thong menengok kepada Kak Thong Taisu karena dia memang belum mengetahui nama suhu-nya.
“Kak Thong Taisu, berjuluk Jeng-kin-jiu!” hwesio itu berkata sambil tertawa dan matanya memandang kepada Seng Hok dengan sikap menggoda.

Hwesio ini memang adatnya aneh sekali. Jika orang biasa, melihat sikap kurang senang dari tuan rumah, tentu akan segera pergi. Akan tetapi dia sebaliknya. Dia malah sengaja mempermainkan tuan rumah dan pada saat itu pun dia telah mengambil keputusan untuk tinggal di gedung ini!

Ada pun Lu Seng Hok yang mendengar nama yang amat terkenal ini, diam-diam merasa makin tak senang. Nama Jeng-kin-jiu sudah amat terkenal sebagai orang yang berwatak aneh dan ditakuti orang.

“Bukankah kau ingin berguru kepada Ang-bin Sin-kai?” tanya Seng Hok karena dia tidak berani melarang begitu saja atau mengusir hwesio ini.
“Ayah, Suhu jauh lebih lihai dari pada Ang-bin Sin-kai. Lihat saja ketiga ekor anjing itu. Sekali tangkap dan sekali banting, tiga ekor anjing itu sudah mampus! Suhu ingin makan daging anjing, harap ayah menyuruh tukang masak segera memasaknya!”

Kak Thong Taisu tertawa bergelak. “Tak disangka-sangka pinceng akan berada di antara keluarga Lu Pin. Aha, bila saja Ang-bin Sin-kai melihat ini. Ha-ha-ha!” kemudian dengan langkah lebar dia mengikuti muridnya dan tuan rumah memasuki gedung yang indah itu.

Demikianlah, mulai hari itu Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu tinggal di rumah Lu Seng Hok, hidup senang, setiap hari minta disediakan makanan yang paling enak. Ia juga mengajar ilmu silat kepada Lu Thong dan semakin gembira melihat betapa anak ini benar-benar berbakat baik.

Akan tetapi, orang seperti hwesio ini mana betah tinggal terus-terusan di dalam rumah? Sering kali dia pergi tanpa bilang terlebih dahulu dan datang pula tanpa memberi tahu. Kadang-kadang mengajak muridnya, kadang-kadang sendiri dan semua orang, termasuk Lu Thong yang sudah mengetahui watak luar biasa dari Kak Thong Taisu, tidak berani menegur.

Pendeknya, Kak Thong Taisu ini boleh berbuat apa saja yang ia suka di dalam rumah itu dan semenjak di situ ada Kak Thong Taisu, menteri Lu Pin tidak mau datang ke rumah puteranya. Hal ini untuk mencegah kejadian yang tidak enak oleh karena sikap hwesio ini memang sangat kasar dan tidak mau menghormat sama sekali…..

********************
Kwan Cu berjalan bersama kakek pengemis yang luka-luka dan di sepanjang jalan kakek pengemis itu masih bernyanyi-nyanyi. Kwan Cu seorang anak yang cerdik, mendengar nyanyian yang isinya memaki-maki dan mencela orang she Lu, dia tahu bahwa kakek ini tentu dibikin sakit hati oleh she Lu.

“Lopek, apakah anak bangsawan tadi she Lu?”

Kakek itu berhenti bernyanyi, kemudian memandang padanya. Akan tetapi sebelum dia menjawab, tiba-tiba kakek itu meramkan matanya. Wajahnya semenjak tadi sudah pucat dan sekarang matanya berkunang. Tubuhnya lemas dan dia lalu terkulai, pingsan dalam dekapan Kwan Cu. Ternyata bahwa kakek ini telah kehilangan banyak darah dan karena semenjak tadi dia menahan sakit dengan nyanyiannya, kini setelah ia berhenti bernyanyi, rasa sakit itu datang menyerang dirinya bagaikan gelombang besar yang menelannya!

Kwan Cu cepat menarik tubuh kakek ini dan karena anak itu diam-diam telah mempunyai tenaga besar, dengan mudah dia mengangkat dan memondong tubuh yang kurus kering ini ke pinggir jalan. Dia meletakkan tubuh pengemis tua itu di bawah pohon, lalu cepat pergi ke sebuah kedai yang ramai.

Pelayan kedai itu baik hati. Ketika Kwan Cu menceritakan keadaan pengemis tua yang sengsara, diberinya anak ini semangkok bubur hangat dan sedikit sisa arak. Kwan Cu menghaturkan terima kasih dan cepat kembali ke tempat dia meletakkan tubuh pengemis tua tadi. Setelah dia menuangkan sedikit arak ke dalam mulut kakek itu, maka pengemis tua ini siuman kembali dan dia menerima bubur yang disuapkan ke dalam mulutnya oleh Kwan Cu.

“Anak, kau baik sekali. Baru sekarang aku orang she Gui bertemu dengan seorang yang menaruh perhatian kepada lain orang yang sengsara,” katanya. Dengan bantuan Kwan Cu, dia lalu duduk bersandar kepada sebatang pohon.

Sementara itu, hari telah menjadi panas dan hawa di bawah pohon besar itu sejuk benar.

“Kita mengaso di sini dulu, ehh, siapa pula namamu tadi? Kau she Lu dan namamu?”
“Kwan Cu,” jawab anak gundul itu sambil menahan perutnya yang terasa perih saking laparnya.
“Lu Kwan Cu, nama yang cukup baik, sayang she-nya itu! Ehhh, anak, bagaimana kau sampai bisa mempunyai she Lu?” kakek itu bertanya.

“Entahlah, Gui-lopek. Aku sendiri tidak tahu kenapa namaku Lu Kwan Cu. Aku mendapat nama ini begitu saja, dan kupikir, betapa pun buruknya nama ini masih lebih baik dari pada yang tidak bernama sama sekali. Pula, apakah artinya nama? Waktu lahir manusia tidak bernama, dan kalau sudah mati, namanya lenyap pula bersama tubuhnya ke dalam tanah.”

Kakek itu membelalakkan matanya. “Ah, benar-benar ajaib! Dari mana kau mendapatkan semua pengertian itu? Kau murid siapa?”

“Bukan murid siapa-siapa, Lopek, juga bukan anak siapa-siapa. Aku tahu semua itu dari buku-buku kuno.”
“Hm, lebih aneh lagi. Seorang anak pengemis yang jembel dan miskin dapat membaca kitab...”
“Masih kalah aneh dengan seorang kakek pengemis yang ternyata ahli sastra dan syair!” kata Kwan Cu. Mereka saling pandang, lalu tertawa.
“Bagus, Kwan Cu. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan! Ketahuilah olehmu, dahulu Menteri Lu Pin yang mulia itu pernah belajar ilmu kesusastraan padaku! Pernah pula dia tinggal di rumahku dan makan dari mangkokku. Aku adalah ahli sastra, ahli bahasa kuno dan namaku Gui Tin. Gui-siucai bukanlah nama yang tak dikenal orang!”
“Sayang aku tidak mengenalnya, Lopek,” kata Kwan Cu.

Untuk sesaat kakek ini nampak kecewa dan marah akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang Kwan Cu yang mengandung kejujuran, kakek ini lalu tertawa terbahak-bahak sampai keluar air matanya!

“Aahh, memang lebih mudah memaki orang dari pada memaki diri sendiri! Aku tidak lebih baik dari pada manusia she Lu itu. Aku masih saja di kotori oleh kesombongan dan ingin namaku dikenal oleh semua orang! Hanya kesombongan dan impian kosong belaka. Kau benar, Kwan Cu. Nama Gui-siucai memang nama kosong belaka. Apa anehnya pada diri seorang pengemis kelaparan yang dikeroyok anjing? Ha-ha-ha! Akan tetapi pertemuan kita ini bukan kebetulan saja, tentu sudah diatur oleh Thian yang maha adil! Kau cerdas dan suka dengan kesusastraan. Maukah kau mengoper pengetahuan yang memberatkan jiwaku ini?”

Kwan Cu memang cerdik, akan tetapi mendengar ucapan ini, dia masih ragu-ragu akan maksudnya. “Apa kau maksudkan bahwa kau hendak mengajarkan semua pengetahuan sastramu, Lopek?”

Gui Tin mengangguk. “Apa kataku! Kau memang cerdas dan hanya kaulah yang akan mewarisi pengetahuanku.”

Kwan Cu merasa girang sekali. Memang dia paling senang akan kesusastraan, maka mendengar ini dia berlutut di depan kakek pengemis tadi, menyatakan kesediaan untuk ‘mengoper’ semua pengetahuan dari Gui-siucai.

Gui Tin puas sekali. Sambil mengurut-urut kedua kakinya yang sakit-sakit, dia berkata, “Kwan Cu, setelah sekarang kita menjadi guru dan murid, ada baiknya kalau kau berterus terang. Siapakah sebetulnya orang tuamu dan kau datang dari mana?”

Mendengar pertanyaan ini Kwan Cu menjawab sejujurnya, ”Lopek sesungguhnya aku tak berbohong ketika aku berkata bahwa aku tak tahu siapa orang tuaku dan dari mana aku datang. Seingatku tahu-tahu aku telah berada di pantai Laut Po-hai dan melihat Ang-bin Sin-kai berkelahi dengan Kak Thong Taisu, karena mereka berdua memperebutkan aku untuk menjadi muridnya! Akan tetapi aku tidak mau menjadi murid mereka.”

Mendengar ini, Gui Tin membelakkan matanya. ”Aduh, aduh! Kalau tidak mendengar dari mulutnya sendiri, siapa yang sudi percaya? Tidak mau menjadi murid Ang-bin Sin-kai? Benar-benar aneh pernyataan ini. Akan tetapi sudahlah, kau memang seorang sin-tong (anak ajaib) dan agaknya kau akan lebih berhasil dari pada aku. Kita anggap saja bahwa kau memang sengaja diturunkan oleh Thian untuk menguras dan mengoper semua apa yang pernah kupelajari. Sekarang, kau dengarlah riwayatku agar kau tahu orang macam apa yang sekarang menjadi gurumu.”

Sampai matahari terbenam ke kaki langit sebelah barat, pengemis itu bercerita mengenai riwayat hidupnya. Dia memang seorang terpelajar yang sejak kecilnya hanya bergulung dengan kitab-kitab saja. Selain ahli sastra dan telah lulus dalam ujian kota raja sehingga berhak menyandang gelar siucai, Gui Tin ini juga tekun sekali mempelajari kitab-kitab kuno sehingga dia berhasil memecahkan segala macam tulisan-tulisan kuno yang tidak dapat di baca oleh para sastrawan lain!

Ketika dia masih muda, banyak sekali kaum sastrawan datang padanya untuk menerima wejangan-wejangan atau menghisap sedikit ilmu sehingga tidak ada orang yang tidak mengenal Gui Tin yang disebut Gui-siucai. Akan tetapi, watak dari Gui Tin amat aneh.

Ia benci akan kedudukan dan pangkat. Karena itu, ketika kaisar yang mendengar akan kepandaiannya memanggilnya untuk diberi kedudukan tinggi, Gui Tin menolaknya secara keras! Tentu saja kaisar merasa tersinggung dan terhina, lalu menitahkan pasukan untuk menangkap Gui Tin!

Akan tetapi, para pembesar yang merasa sangat kagum kepada sastrawan yang pandai ini, mencegah dan mintakan ampunan kepada kaisar sehingga hukuman kepada Gui Tin diubah, dari hukuman mati kepada hukuman buang! Ia dilarang tinggal di kota raja dan harus keluar dari situ!

Gui Tin menjadi marah dan penghinaan ini membuat perubahan hebat dalam hidupnya. Ia menjadi seperti gila dan sambil berteriak-teriak memaki-maki kaisar, dia lalu keluar dari kota raja!

Sudah tentu saja perbuatannya ini membikin marah orang banyak. Gui Tin tentu sudah terbunuh mati kalau saja dia tidak ditolong oleh dua orang gagah yang menangkap dan membawanya pergi ke utara. Dua orang gagah ini ternyata adalah putera-putera Kaisar Mongol!

Ketika itu, pemerintahan Mongol memperluas kebudayaan mereka dengan mempelajari kitab-kitab dari Tiongkok yang dapat mereka rampas dari perpustakaan Kaisar Han. Akan tetapi karena banyak terdapat kitab-kitab yang kuno dan sulit sekali dibaca, maka setelah melihat keadaan Gui Tin, dua orang putera kaisar yang ternyata perkasa sekali itu lalu menolong Gui-siucai dan membawanya ke Mongol!

Kaisar mendengar tentang hal ini. Gui Tin kemudian dianggap sebagai pengkhianat yang melarikan diri ke daerah asing, maka seluruh keluarganya lalu ditangkap dan dihukum mati!

Sampai belasan tahun Gui Tin tinggal di Mongolia, di mana dia bekerja menterjemahkan kitab-kitab kuno yang sangat sukar dibaca. Dalan kesempatan ini Gui Tin memperdalam pengetahuannya dengan mempelajari bahasa-bahasa daerah yang banyaknya puluhan macam. Juga dia menemukan kitab-kitab kuno yang ternyata berisikan pelajaran penting sekali mengenai ilmu perang, ilmu silat dan lain-lain. Akan tetapi sebagai seorang ahli sastra, Gui Tin tidak suka mempelajari tentang ilmu silat.

Kembali Gui Tin menghadapi bahaya hebat ketika Kaisar Mongol minta agar supaya dia menterjemahkan kita-kitab ilmu perang serta ilmu silat. Tadinya Gui Tin memang mau mengerjakan perintah itu, akan tetapi ketika dia mendengar bahwa bala tentara Mongol makin maju dalam ilmu perangnya, dan bahkan kini mempunyai niat hendak menyerang ke selatan, dia menjadi terkejut dan gelisah sekali.

Tidak, betapa pun juga, dia tidak mau menjadi pengkhianat! Biar kaisar memperlakukan dirinya secara tidak adil, betapa pun dia tidak suka kepada para pembesar-pembesar di negaranya sendiri yang amat korup dan lalim, namun dia masih mencinta tanah airnya, masih menjunjung tinggi negaranya sendiri!

Oleh karena itu, dia lalu menghentikan segala penterjemahan kitab-kitab perang dan ilmu silat! Biar pun demikian, telah banyak ilmu perang yang di terjemahkan dan telah banyak pula ilmu silat yang tinggi-tinggi dia terjemahkan, sehingga sekarang banyak tokoh-tokoh besar di kalangan bangsa Mongol memiliki ilmu silat yang luar biasa!

Menghadapi pemogokan yang dilakukan oleh Gui Tin dalam menterjemahkan ilmu silat dan ilmu perang, Kaisar Mongol menjadi marah dan hampir saja Gui Tin dibunuh kalau tidak di halangi oleh dua orang pangeran yang dahulu menolongnya. Sebaliknya, Gui Tin hanya diusir dari Mongol! Untuk kedua kalinya satrawan ini diusir oleh kaisar dan kini dia pergi dengan penuh perasaan jemu menghadapi manusia.

Beberapa tahun kemudian, orang melihat seorang kakek pengemis yang kurus kering. Tidak seorang pun mengetahui bahwa dia ini adalah Gui Tin atau Gui-siucai yang dahulu namanya begitu dimuliakan orang, bahkan sangat dikagumi oleh kaisar dan juga kaisar Mongol!

Hancur hati Gui Tin ketika dia mendengar betapa keluarganya sudah dimusnahkan dan semua dijatuhi hukuman mati. Makin rusak batinnya, dan dia merantau ke sana ke mari seperti seorang edan.

Kemudian dia tiba di kota raja dan teringat akan Lu Pin, seorang kawannya yang paling baik, atau boleh juga dibilang seorang bekas muridnya yang paling dia sayang. Dia juga kagum melihat bakat luar biasa dari Lu Pin dalam hal seni ukir, maka dia ingin sekali bertemu dan mengunjungi rumah Lu Seng Hok saat mendengar bahwa Seng Hok adalah putera dari Lu Pin.

Tidak tahunya, di halaman gedung ini dia dihina dan hampir saja mati digigit anjing-anjing yang dikerahkan oleh Lu Thong, cucu dari Lu Pin bekas sahabat baiknya itu! Tentu saja hatinya menjadi sakit sekali dan makin bencilah dia kepada manusia, kepada dunia dan kepada diri sendiri.

"Demikianlah Kwan Cu. Kalau tidak bertemu dengan engkau, agaknya aku tidak melihat sesuatu lagi untuk lebih lama tinggal di dunia ini. Dengan adanya kau, aku masih ingin hidup beberapa tahun lagi untuk menumpahkan semua yang telah kupelajari kepadamu."

Kwan Cu merasa terharu sekali, dan semenjak saat itu dia memandang kepada gurunya ini dengan penuh penghormatan, penuh kasih sayang dan dia merawat Gui Tin dengan penuh kesabaran dan kesetiaan. Dia tidak ragu-ragu untuk mengemiskan makanan untuk gurunya ini, atau menggendong tubuh gurunya yang lemah bila perjalanan jauh membuat kaki Gui Tin pecah-pecah dan tulangnya sakit-sakit.

"Kwan Cu, aku heran sekali melihat engkau. Bagaimana kau bisa berlari secepat ini dan tubuhmu begitu kuat? Bukankah kau belum mempelajari ilmu silat?" tanya Gui Tin ketika pada suatu hari Kwan Cu berlari cepat sambil menggendongnya.

"Belum pernah, Suhu. Sebenarnya, aku hanya pernah mendapat petunjuk dari Pek-cilan Thio Loan Eng tentang cara bersemedhi dan mengatur napas, juga tentang menyalurkan hawa dari tian-tan ke seluruh tubuh untuk menguatkan urat-urat dan melancarkan jalan darah. Entahlah, semenjak aku membiasakan diri siulian, aku merasa tubuhku kuat dan ringan sekali pada waktu berlari."
"Hm, itulah pelajaran pokok dari ginkang dan lweekang! Anak yang baik, aku sendiri pun telah banyak menterjemahkan ilmu-ilmu itu, sayangnya dulu aku tidak menaruh perhatian sehingga aku sudah lupa lagi dengan isinya dan tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi."
"Mengapa, Gui-lopek? Bagiku mempelajari ilmu silat sama halnya dengan mendatangkan bencana terhadap diri sendiri. Aku tidak suka belajar silat!"
"Ha-ha-ha-ha, kesukaan kita sama dan pendapat kita sama pula. Sayangnya Kwan Cu, pendapat ini salah sama sekali!"

Saking herannya Kwan Cu segera berhenti berlari. Kemudian gurunya minta diturunkan dari gendongan. Mereka berhenti dan duduk di pinggir jalan yang berumput.

"Mengapa begitu, Suhu?"

Gui Tin menarik napas panjang. "Memang kita kaum sastrawan memandang dunia dari segi keindahan. Kita adalah pencinta damai dan suka akan ketentraman, sesuai dengan kehendak alam yang suci. Akan tetapi kita lupa bahwa dalam keadaan negara kacau, justru ilmu silat jauh lebih penting dan lebih cocok untuk dipergunakan bagi kebaikan seluruh manusia! Kita lupa bahwa hidup ini memang perjuangan, ada pun perjuangan itu tergantung dari keadaan. Bila mana negara sedang dalam keadaan makmur dan damai, memang ilmu silat hanyalah mendatangkan kekacauan saja, dan ilmu kesusastraan dan kesenianlah yang diperlukan untuk memperkembangkan kebudayaan. Akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini..." Kembali Gui Tin menarik napas panjang. "Apakah artinya kepandaian seorang ahli sastra? Lihatlah saja Lu Pin itu biar pun dia seorang ahli sastra, namun dalam keadaan kacau ini apa yang dapat ia perbuat? Melainkan kekacauan yang keluar dari otaknya, buktinya cucunya sudah menjadi jahat karena selalu terbenam dan mabuk akan kemewahan dan kemuliaan dunia!"

"Akan tetapi, Gui-lopek. Bukankah ilmu silat itu adalah ilmu yang berdasarkan kekerasan, kasar, dan termasuk kepandaian yang jahat saja? Coba saja dipikir, untuk apa ilmu silat selain menggunakan pukulan untuk menghantam orang lain, mempergunakan tendangan menyerang orang lain, mainkan senjata tajam untuk melukai dan membunuh? Nabi-nabi seperti Khong Cu, Lo Cu dan yang lainnya, pernahkah mereka itu menggunakan pedang untuk mengalahkan orang?"

"Memang benar, akan tetapi mereka itu pun tidak dapat mendatangkan damai di dalam negeri. Pula, kita sudah melupakan bahwa yang bersifat jahat itu bukanlah ilmu silatnya, melainkan orang-orang yang mempunyai ilmu itu. Ilmu kepandaian apa saja, baik bun(kesusastraan) mau pun bu (ilmu silat), tetap merupakan ilmu yang tidak mempunyai sifat baik mau pun buruk. Baik atau buruknya tergantung dari orang yang memilikinya! Segala apa yang sudah ada di dunia ini sudah ada, dan kekal sifatnya, hanya yang tidak kekal saja yang dipengaruhi oleh baik mau pun buruk. Seperti air tenang, baru bergerak kalau ada angin lalu atau sesuatu jatuh ke dalamnya."

Kwan Cu berpikir. Ada persamaan dalam ucapan gurunya ini dengan ucapan Kak Thong Taisu.....

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak dan muncullah seorang bertubuh tinggi besar, entah dari mana datangnya. Orang ini ternyata memiliki ginkang yang luar biasa sekali dan tahu-tahu dia berkelebat berdiri di depan Gui Tin dan Kwan Cu.

Orang ini kulitnya putih, tubuhnya tegap dan nampak kuat sekali. Yang paling aneh ialah pakaiannya, karena pakaian yang menempel di tubuhnya berbeda dengan pakaian orang biasa.

Kepalanya tertutup oleh topi kain yang di depannya terdapat bentuk seperti tanduk. Pada luar bajunya yang berlengan panjang itu ditutupi dengan baju rompi lengan pendek yang indah sekali. Di luar celananya yang panjang itu tertutup pula oleh baju rok sebatas lutut.

Sungguh aneh sekali orang ini. Mukanya sama saja dengan orang Han, hanya hidungnya yang agak panjang dan bengkok ke bawah. Ia tidak berkumis namun memelihara jenggot model kambing. Pada punggungnya tergantung sepasang siang-kek (tombak bercabang) yang runcing.

Gui Tin memandang tajam. Kakek pengemis yang pengalamannya sudah banyak ini tahu dengan orang macam apa dia berhadapan, maka segera dia bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak di mengerti oleh Kwan Cu. Ternyata Gui Tin telah bicara dalam bahasa Tartar.

"Siapakah tuan dan mengapa datang menjumpai kami?"

Mendengar pertanyaan ini, orang Tartar itu tertawa lagi dan sekarang sepasang matanya bersinar-sinar girang.

"Tidak salah lagi!" katanya dalam bahasa Han sehingga Kwan Cu dapat mengerti. "Kau tentu Gui-siucai bukan? Bagus, bagus! Tadi aku merasa heran sekali dan bertanya-tanya dalam hati apakah aku bertemu dengan dewa atau setan di tempat ini, ketika mendengar kalian ini pengemis-pengemis tua dan muda bicara tentang filsafat-filsafat yang demikian tingginya. Sekarang aku mengerti, kau tentu Gui-siucai. Siapa lagi kalau bukan Gui Tin si ahli sastra?"

Gui Tin cepat bangkit dan menjura seperti laku seorang yang tahu akan sopan santun. "Memang tidak salah. Aku yang bodoh adalah Gui Tin, dan ini adalah muridku Kwan Cu. Tidak tahu siapakah Tuan?"

Orang Tartar itu tersenyum dan nampaklah giginya yang berbaris rapi dan putih sekali. Kalau saja hidungnya tidak demikian bengkok, dia benar-benar tampan sekali, pikir Kwan Cu sambil memandang heran. Ia menaksir usia orang ini antara tiga empat puluh tahun.

"Gui-siucai, baru melihat sepintas saja kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang Tartar, ini menandakan ketajaman matamu dan bahwa kau memang sudah amat matang dalam pengalaman. Juga bahasa Tartar yang kau ucapkan tadi, amat halus. Sungguh-sungguh aku sangat kagum sekali. Ketahuilah, aku bernama An Lu Kui, adik dari perwira An Lu Shan yang sudah banyak berjasa kepada negara."

Ketika itu nama An Lu Shan sudah terkenal sekali, karena panglima ini memang sangat gagah perkasa dan telah banyak membuat jasa dalam membasmi serangan kecil-kecilan dari musuh di utara dan barat. Akan tetapi, sebagai seorang yang sudah jemu terhadap para pembesar baik sipil mau pun militer, Gui Tin bersikap dingin saja.

"Ah, kiranya Tuan adalah adik dari An-ciangkun yang ternama. Tidak tahu ada keperluan apakah Tuan menjumpai aku, seorang jembel miskin?"
"Ah, Gui-siucai, engkau terlalu merendahkan diri. Sebenarnya, aku sengaja datang untuk mengundangmu supaya datang ke perbatasan utara atas perintah An-cingkun, terutama sekali atas petunjuk dari Li Kong Hoat-ong yang menjadi penasihat dari An-ciangkun."

Gui Tin berpikir sebentar dan diam-diam dia terkejut. "Kau maksudkan Li Kong Hoat-ong bekas raja dari suku bangsa Yu-yan? Apakah sekarang dia sudah menjadi penasihat dari An-ciangkun?"

"Gui-siucai betul-betul mengenal orang-orang besar. Memang tepat sekali apa yang kau duga itu."

Meski pun dia sendiri belum pernah memangku jabatan, akan tetapi Gui Tin telah banyak menterjemahkan buku-buku tentang ilmu perang. Maka, kini timbullah semacam dugaan yang menggelisahkan hatinya.

Di bawah pimpinan Li Kong Hoat-ong, bangsa Yu-yan telah banyak sekali mengacaukan negara Tiongkok, dan setelah bangsa itu dikalahkan, sekarang Li Kong Hoat-ong menjadi penasihat dari An Lu Shan. Benar bahwa An Lu Shan merupakan seorang perwira yang banyak berjasa dan tenaganya terpakai sekali oleh pemerintah, akan tetapi tetap saja An Lu Shan adalah seorang bangsa Tartar, siapa tahu isi hati dari orang itu?

"Tidak, tidak. Aku tidak dapat pergi ke perbatasan utara. Aku sudah tua, tubuhku sudah lemah, tulang-tulangku sudah rapuh, tak mungkin aku bisa melakukan perjalanan sejauh itu. Harap saja tuan tidak mengganggu lagi." Sambil berkata demikian kemudian Gui Tin menggandeng tangan Kwan Cu dan diajak pergi dari situ.

Akan tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan sekali melompat, An Lu Kui telah berada di depan mereka. Orang Tartar ini mendorong sebatang pohon besar yang mengeluarkan suara keras dan lantas tumbang, melintang serta menghalang perjalanan Gui Tin dan Kwan Cu!

Kwan Cu meleletkan lidah saking merasa kagum dan terheran. Bagaimana orang dapat mendorong roboh sebatang pohon besar sedemikian mudahnya?

Sedangkan Gui Tin yang melihat ini, lalu memandang tajam dan bertanya, “Hemm, kau berkepandaian tinggi! Pernah apa kau dengan Li Kong Hoat-ong?”

An Lu Kui tersenyum. “Dia adalah guruku, juga guru dari kakakku, An-ciangkun.”

Makin tercekat hati Gui Tin mendengar ini. Lebih hebat lagi kalau raja Yu-yan itu menjadi guru dari An Lu Shan! Mengapa kaisar tidak mengetahui akan hal ini?

“Jadi kau hendak menggunakan kekerasan, tetap hendak membawaku ke utara?”

An Lu Kui menggeleng kepala sambil tersenyum. “Tidak sama sekali, kami mengundang Gui-siucai dengan hormat. Harap Gui-siucai sudi meluluskan permintaan kami.”

Setelah berkata demikian, An Lu Kui bersuit keras dan tiba-tiba dari hutan kecil tak jauh dari situ muncullah lima orang yang membawa delapan ekor kuda yang besar dan kuat! Ternyata bahwa lima orang ini pun orang-orang Tartar pula.

“Gui-siucai, silakan naik kuda, kau juga!” kata An Lu Kui kepada Kwan Cu.

Gui Tin hendak membantah, akan tetapi Kwan Cu berkata, “Gui-lopek, tidak ada gunanya membantah. Biarlah kita ikut pergi dan menyerahkan nasib kepada Tuhan.”

Mendengar ini, An Lu Kui tertawa. “Anak baik, siapa namamu?”
“Aku Lu Kwan Cu, murid dari Gui-lopek.”

Salah seorang kawan An Lu Kui berkata, ”Ah, untuk apa kita membawa-bawa bocah ini? Tinggalkan saja!”
“Tidak!” Gui Tin membentak marah. “Kalau Kwan Cu ditingggalkan, biar pun kalian akan membunuhku, aku tak sudi pergi!”

Demikianlah, Gui Tin lalu naik kuda dan Kwan Cu juga naik kuda itu di belakang gurunya, karena inilah kehendak Gui Tin yang tidak mau berpisah dari muridnya yang tercinta. Kuda-kuda itu kemudian dikeprak dan berlarilah binatang-binatang tunggangan yang kuat ini menuju ke utara. Rombongan ini dipimpin sendiri oleh An Lu Kui yang di perjalanan bersikap sangat ramah tamah terhadap Gui Tin.

Perjalanan dilakukan cepat sekali. Mereka tidak pernah berhenti di satu kota atau dusun karena bekal makanan mereka ternyata cukup banyak. Bahkan anehnya, selalu An Lu Kui memilih jalan sunyi dan menghindari tempat-tempat ramai.

Mereka melewati Propinsi Shan-si dan ketika telah melalui kota Ta-tung, pada suatu pagi mereka melewati padang rumput yang sunyi. Di situ hanya nampak beberapa beberapa batang pohon yang tumbuhnya berjauhan dan keadaan benar-benar sunyi.

An Lu Kui nampaknya takut-takut melewati tempat ini dan beberapa kali dia menengok ke arah barat di mana nampak pegunungan kecil.

“Hayo kita percepat kuda karena sudah dekat!” katanya memberi perintah.

Kuda dilarikan semakin cepat. Keadaan sunyi sekali, kecuali hanya suara kaki kuda yang berderap-derap dan bergema di empat penjuru. Memang aneh sekali bagi Kwan Cu yang baru pertama kali datang di tempat ini. Tempat itu terbuka dan hanya terkurung oleh pohon-pohon yang tumbuh di sana-sini seperti raksasa berdiri megah, akan tetapi suara kaki kuda itu bergema sehingga kalau didengar-dengar, seakan-akan ada banyak sekali kuda berlari datang dari segenap penjuru.

Mendadak delapan ekor kuda itu, terutama seekor yang membawa perbekalan dan tidak ditunggangi orang, hanya dituntun oleh seorang anak buah An Lu Kui, mengangkat dua kaki depan sambil meringkik ketika tiba-tiba terdengar suara nyaring dan dua orang anak laki-laki tahu-tahu telah melompat dari atas pohon dan kini berdiri menghadang di tengah jalan!

Ketika itu, Kwan Cu yang duduk sekuda dengan gurunya, menjalankan kudanya di dekat An Lu Kui. Melihat betapa kuda yang di tungganginya dan kuda An Lu Kui menyeruduk maju dan pasti akan menubruk dua orang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan dia itu, Kwan Cu tak terasa pula menjerit, “Celaka…!”

Setelah berkata demikian, Kwan Cu memondong gurunya dan mengerahkan tenaganya melompat dari atas kuda yang sedang berlari cepat. Memang dia sudah memiliki ginkang di luar kesadarannya sehingga tubuhnya dapat mencelat dari atas kuda. Akan tetapi oleh karena dia tidak pernah melatih ilmu melompat, dia tidak tahu cara bagaimana harus mengatur tubuhnya saat melayang itu sehingga ia jatuh dengan kacau bersama gurunya.

Namun Kwan Cu memang berhati setia. Melihat bahwa dia dan gurunya jatuh ke tanah, dia lalu berguling dan mengatur sedemikian rupa sehingga pada saat jatuh dia berada di bawah dan gurunya menimpa dadanya! Kepala anak ini membentur tanah kering hingga debu mengebul, akan tetapi gurunya selamat!

Ada pun An Lu Kui yang melihat kudanya menubruk seorang di antara kedua orang anak laki-laki itu, membentak marah, “Anak gila, apakah kau ingin mampus?!”

Akan tetapi, terjadilah hal yang luar biasa sekali. Kuda yang tadi ditunggangi oleh Kwan Cu akan menubruk anak yang lebih kecil, namun ketika kedua kaki depan kuda itu sudah terangkat akan menimpa anak itu, dia lalu menggerakkan kedua tangannya, secepat kilat menangkap kedua ujung kaki dan dengan sekali gentak saja kuda itu sudah melompat ke atas melewati kepalanya sehingga dia selamat!

Anak ini tertawa-tawa geli, sama sekali tak mempedulikan kuda tadi, tetapi menudingkan jari telunjuknya ke arah Kwan Cu yang jatuh bergulingan. “Ha-ha-ha, Suheng, kau lihat! Bocah gundul itu main komidi, lucu sekali!”

Ada pun An Lu Kui yang kudanya menubruk anak ke dua yang lebih besar, tidak keburu mencegah sehingga kudanya itu dengan kedua kakinya menendang ke arah dada anak tadi. Akan tetapi, dengan cepat dan tenang, anak yang besar ini lalu menusuk lutut kaki depan kuda yang sebelah kanan, yakni kaki yang berada di depan.

Kuda itu mengeluarkan ringkik kesakitan dan tiba-tiba kedua kaki depannya tertekuk dan kuda itu jatuh berlutut! Baiknya An Lu Kui adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka cepat dia dapat melayang ke atas dan berpoksai (membuat salto) beberapa kali sehingga dapat turun dengan selamat!

"Sute, kau lihat. Bukankah kuda ini lebih lucu lagi? Datang-datang dia malah berlutut dan memberi hormat kepadaku. Bagus, bagus!"

An Lu Kui adalah seorang yang sudah lama merantau di dunia kang-ouw dan tahulah dia bahwa dua orang anak yang usianya sekitar enam tujuh tahun ini tentulah murid-murid dari orang pandai. Maka dia tidak berani berlaku sembarangan sungguh pun dia merasa mendongkol sekali.

"Kalian ini bocah-bocah kecil murid siapakah? Mengapa kalian menghadang perjalanan kami?"

Akan tetapi kedua orang anak kecil itu tidak menjawab dan pada saat itu terdengar suara yang membuat kuda-kuda menjadi terkejut dan gelisah. Itulah suara ketawa yang sangat menyeramkan dan ketika An Lu Kui mendengar ini, mendadak dia menjadi pucat sekali. Suara ketawa itu seperti suara harimau mengaum dan disusul dengan suara ketawa ini lalu terdengarlah kata-kata yang jauh sekali namun cukup membuat telinga merasa sakit saking nyaringnya.

"Heh-heh-heh! Swi Kiat dan Kun Beng, kalian berada di manakah?"

Anak yang lebih kecil, yaitu yang tadi melontarkan kuda tunggangan Kwan Cu ke atas kepalanya, segera meruncingkan mulutnya dan keluarlah teriakan yang kecil akan tetapi cukup nyaring, "Teecu berdua berada di sini, Suhu!"

Kembali An Lu Kui menjadi amat terkejut sekali. Ternyata bahwa khikang dari pada anak kecil ini sudah demikian hebatnya!

Baru saja gema suara jawaban anak ini lenyap, nampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang laki-laki berusia sedikitnya enam puluh tahun yang tubuhnya membuat Kwan Cu hampir tertawa. Orang ini pendek dan kecil, sama sekali tidak membayangkan tanda-tanda bahwa dia adalah seorang pandai.

Akan tetapi, ketika melihat orang ini, serta merta An Lu Kui segera melangkah maju dan menjura dengan sikap hormat sekali.

"Siauwte An Lu Kui mohon maaf apa bila telah melanggar wilayah Pak-lo-sian Cianpwe," katanya.

Akan tetapi kakek itu tidak menghiraukan sama sekali, sebaliknya lalu menoleh kepada Gui Tin dan terdengar dia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnnya, "Hemm, apakah si bangkotan Li Kong Hoat-ong itu telah benar-benar mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?"

Setelah berkata demikian tiba-tiba dia menoleh kepada An Lu Kui dan pandang matanya yang tadinya suram-muram itu mendadak menjadi tajam luar biasa sehingga An Lu Kui terkejut sama sekali karena pandang mata itu seakan-akan menembusi dadanya!

An Lu Kui sesungguhnya tidak mengerti tentang kitab itu, maka dengan terus terang dia berkata, "Locianpwe (sebutan untuk orang tua yang tingkatnya jauh lebih tinggi), siauwte sama sekali tidak tahu tentang kitab itu. Mendengar pun baru sekarang. Sesungguhnya siauwte sudah diutus oleh suhu Li Kong Hoat-ong untuk mengundang Gui-siucai karena suhu amat mengaguminya."

Pandangan mata kakek itu benar-banar mengancam sekali. Keningnya yang keriputan itu menjadi makin nyata garis-garis keriputnya.

"Ehh, kau hendak mengandalkan nama An Lu Shan dan suhu-mu Li Kong Hoat-ong dan tidak mau mengaku? Hayo bicara terus terang!"
"Sungguh, Locianpwe, siauwte… siauwte tidak tahu…" An Lu Kui yang tadinya galak itu kini nampak ketakutan.

Tiba-tiba tubuh kakek itu bergerak dan tahu-tahu dia melompat ke dekat orang Tartar itu. Pada saat lain, sebelum An Lu Kui sempat mengelak, kakek ini telah menangkap batang lehernya dan sekali menggentak, tubuh orang Tartar ini terlempar ke atas, tinggi sekali!

Bagaikan sekarung beras tubuh An Lu Kui terlempar dan dari atas jatuh pula ke bawah tanpa berdaya sedikit pun. Ternyata tangkapan pada lehernya tadi sekaligus juga sudah merupakan tekanan pada jalan darahnya yang membuat dia menjadi lumpuh!

Kebetulan sekali tubuh orang Tartar itu menimpa Swi Kiat, murid terbesar dari kakek itu. Anak ini usianya paling banyak delapan tahun, akan tetapi kepandaiannya sudah hebat. Dia menerima tubuh orang Tartar itu dengan kedua tangannya, lalu sambil tertawa lebar dia melemparkan tubuh itu kepada adik seperguruannya, yaitu yang bernama Kun Beng.

Anak ini lebih muda dari Kwan Cu, usianya paling banyak enam tahun, serta wajahnya tampan dan periang. Sambil tertawa geli anak ini kemudian menggunakan tangan kanan menahan punggung An Lu Kui yang terlempar ke arahnya. Kemudian, sekali tangan kiri anak ini menepuk tubuh belakang orang Tartar itu, An Lu Kui mencelat lagi ke atas dan kini melayang ke arah kakek tadi.

Kakek itu lalu menerimanya dengan menotok pundak An Lu Kui yang jatuh berdebuk di depan kakinya. Akan tetapi orang Tartar itu kini sudah terbebas dari totokan dan dapat bergerak. Ia segera menjatuhkan diri berlutut dengan muka pucat sekali.

"Locianpwe, biar pun siauwte dibunuh memang benar-benar siauwte tidak tahu tentang kitab itu," katanya dengan suara gemetar.

Kwan Cu paling tidak suka kalau orang menggunakan kekerasan, apa lagi melihat kakek dan dua orang muridnya itu mempermainkan An Lu Kui yang tidak berdaya sama sekali, timbulah rasa penasaran dalam dadanya.

"Menggunakan kepandaian untuk menghina orang, sungguh tak patut sekali. Menangkan orang lain hanya memiliki tenaga besar, menangkan diri sendiri barulah betul-betul patut disebut kuat!"

"Hushh, Kwan Cu…" Gurunya mencegah dan memandang khawatir.

Kakek itu cepat menengok. Ketika melihat Kwan Cu, nampak kekaguman membayang di dalam sinar matanya.

"Hemm, kau murid Gui-siucai? Tidak patut, tidak patut!"
"Suhu, segala kutu buku macam ini apa gunanya? Biarlah teecu menghajar sedikit adat padanya!" berkata Kun Beng dengan marah, akan tetapi Swi Kiat mencegahnya.
"Kalau kau sudah katakan dia kutu buku, untuk apa melawan segala kutu buku, Sute? Tulang-tulangnya terlalu lemah, jangan-jangan dia akan mati dalam tanganmu!"
"Diamlah kalian berdua. Kulihat ada apa-apanya dalam diri anak ini." Kakek ini kemudian berpaling kepada An Lu Kui. "Biarlah, memandang ucapan anak ini aku percaya padamu. Pergilah!"

Dengan tergesa-gesa dan juga lega sekali, An Lu Kui lalu mengajak kawan-kawannya, juga Kwan Cu dan Gui Tin, untuk pergi dari situ cepat-cepat.

Ketika mereka telah membalapkan kuda dan pergi jauh sehingga kakek dan dua orang muridnya tidak nampak lagi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu. Biar pun orangnya tidak kelihatan, namun suaranya terdengar dekat sekali,

"Gui Tin, lain kali pada waktunya, akulah yang benar-benar akan membutuhkan bantuan darimu. Selamat jalan!"

Kwan Cu terheran-heran dan sejak pertemuan tadi, berubahlah pandangannya terhadap ilmu silat. Sebenarnya sejak Gui Tin bicara tentang ilmu silat dan kegunaannya, dia telah tertarik sekali, akan tetapi tetap saja hasrat di dalam hatinya untuk belajar ilmu silat masih amat lemah. Kini, menyaksikan kelihaian kedua orang anak kecil itu, dia menjadi tertarik dan ingin sekali memiliki kepandaian seperti mereka! Inilah sifat anak-anak yang betapa pun juga masih melekat di dalam hatinya.

"An-sianseng (Tuan An), sebetulnya siapakah kakek yang luar biasa sekali itu?"

Diam-diam Kwan Cu lalu membandingkan kakek tadi dengan dua orang luar biasa yang pernah dijumpainya, yakni Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Bila melihat keadaan, keanehan dan kelihaian mereka, agaknya ketiga orang itu mempunyai tingkat yang sudah tinggi sekali.

Sebenarnya An Lu Kui sedang marah, mendongkol dan penasaran sekali. Oleh seluruh barisan di bawah kakaknya, dia dianggap sebagai seorang gagah yang disegani dan juga dihormati. Tidak tahunya, di sini dia telah mengalami penghinaan dari seorang kakek dan dua orang anak-anak. Akan tetapi, oleh karena menganggap Kwan Cu sudah berjasa di hadapan kakek tadi, dia menjawab juga.

"Dia adalah seorang sakti bernama Siangkoan Hai yang berjuluk Pak-lo-sian (Dewa Tua dari Utara). Untuk daerah utara boleh dibilang dia menjadi tokoh terbesar. Biasanya biar pun orang menduga bahwa dia berada di daerah utara, dia tidak pernah muncul kecuali terjadi perkara-perkara besar dan biasanya dia tidak mau mencampuri segala urusan dunia. Kita benar-benar sial sekali bertemu dengan dia."

Akan tetapi, Gui Tin berkata perlahan kepada Kwan Cu, "Kita benar-benar beruntung bertemu dengan dia. Aku pun baru kali ini melihat wajahnya, walau pun namanya sudah lama kudengar. Kwan Cu, perhatikanlah, di dalam dunia persilatan, terdapat lima orang yang paling terkenal. Mereka itu adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang merajai daerah utara, ke dua adalah Ang-bin Sin-kai yang menjagoi di pantai timur, ke tiga hwesio tibet bernama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Jubah Hitam) yang menjadi tokoh terbesar bagian barat. Ada pun orang ke empat dan ke lima merajai daerah selatan, yakni yang seorang Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang sudah kau kenal dan orang ke dua adalah seorang wanita tua yang terkenal dengan julukan Kiu-bwe Coa-li (Ular Betina Buntut Sembilan)! Menurut berita yang pernah kudengar, mereka berlima ini kepandaiannya seimbang dan kini mereka sedang berusaha untuk memperebutkan sebuah kitab ilmu perang dan ilmu silat yang disebut Im-yang Bu-tek Cin-keng. Tadinya kuanggap hal ini hanya kabar angin belaka, akan tetapi setelah sikap Dewa Tua Utara tadi, agaknya betul juga kabar itu."

"Gui-lopek, apakah sesungguhnya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang diperebutkan oleh orang-orang luar biasa itu? Dan apakah selain lima orang tokoh itu, di dunia ini tidak ada orang-orang pandai ilmu silat yang lain lagi?"

Pada saat itu An Lu Kui mendekatkan kudanya. Gui Tin memberi tanda dengan matanya agar Kwan Cu tak banyak bicara lagi, kemudian kakek pengemis itu berkata seakan-akan menjawab pertanyaan Kwan Cu,

"Kau tanyakan tentang nama-nama tokoh besar? Ahh, menyebut yang lain-lain tidak ada artinya. Kalau Pek-cilan Thio Loan Eng barulah seorang wanita pendekar berilmu tinggi!"

Mendengar ini, An Lu Kui mengejek dan tersenyum. "Gui-siucai, kau orang bun mana tahu tentang tokoh-tokoh besar dalam ilmu persilatan? Walau pun aku belum tentu dapat menandingi kepandaian Pek-cilan, akan tetapi kalau dibandingkan dengan suhu Li Kong Hoat-ong, bukankah itu sama saja dengan membandingkan sebuah bukit anakan dengan Gunung Thai-san?"

Akhirnya perjalanan mereka tiba di benteng penjagaan di mana An Lu Shan memimpin barisannya untuk menjaga tapal batas utara. Benteng ini besar sekali, merupakan suatu perkampungan tersendiri yang dikelilingi dusun-dusun yang penduduknya campur aduk, ada orang Mongol, ada suku bangsa Uigur, Cou, dan lain-lain.

Ketika Gui Tin ditinggalkan di ruangan tamu berdua dengan Kwan Cu, kakek ini berkata, "Kwan Cu, tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tokoh-tokoh persilatan yang kau tanyakan itu, nanti saja kalau kita sudah dapat meninggalkan tempat ini, kau kuberi tahu. Sebetulnya, di dalam tangankulah rahasia untuk mendapatkan kitab kuno itu!"

Kwan Cu amat terkejut. Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, Gui Tin memberi tanda dengan telunjuk di depan mulut, dan dari dalam terdengar tindakan kaki mendatangi.

Setelah pintu terbuka, ternyata yang masuk adalah An Lu Kui sendiri bersama dua orang lain. Seorang adalah seorang berpakaian perwira yang bertubuh gagah, sedangkan yang lain adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi besar, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan sikapnya agung sekali. Dia berjalan dengan tubuh tegak dan dada terangkat, bagai sikap seorang raja besar. Inilah Li Kong Hoat-ong, bekas raja bangsa Yu-yan yang kini menjadi guru dari An Lu Shan dan An Lu Kui!.

An Lu Shan, panglima yang sudah banyak membuat jasa bagi negara itu, berlaku hormat kepada Gui Tin. Ia menjura lalu berkata,

“Kami harap Gui-siucai tidak mendapat banyak kaget dan mengalami banyak kesukaran karena undangan kami ini. Telah lama kami mendengar nama besar Gui-siucai, dan biar pun selama ini pemerintah tidak memperhatikanmu, akan tetapi karena aku pun seorang panglima negara, maka biarlah kau anggap sekarang aku sedang mewakili pemerintah dan menebus kelalaian pemerintah. Gui-siucai akan hidup kecukupan di tempat kami ini.”

Gui Tin adalah seorang terpelajar tinggi yang telah banyak pengalaman dan mempunyai kecerdikan luar biasa. Akan tetapi dia adalah seorang yang jujur dan tidak suka memutar balikkan omongan. Sebab itu, mendengar ucapan yang dia tahu hanya merupakan siasat untuk membela hatinya belaka ini, dia menjawab,

“An-ciangkun, aku dan muridku sudah dibawa ke sini dengan paksa, lebih baik sekarang lekas katakan, pekerjaan apakah yang harus kami lakukan? Kami ingin membereskan urusan ini secepatnya, karena kami ibarat burung-burung yang terbang bebas di udara. Pernahkah kau mendengar akan burung-burung yang merasa suka di kurung, biar dalam kurung emas sekali pun?”

Kini Li Kong Hoat-ong yang tertawa bergelak mendengar kata-kata sastrawan terpelajar tinggi itu. Pada saat ketawa, Li kong Hoat-ong menutup mulutnya dengan tangan kanan, agaknya dia hendak menjaga peraturan serta kesopanan dirinya, untuk memperlihatkan bahwa dia adalah berbeda dari pada orang lain, bahwa ia memiliki keistimewaan khusus, karena bukankah dia bekas raja?

“Gui-siucai, inilah yang dibilang bahwa makin tinggi pengertian orang, semakin poloslah wataknya!” Bekas raja bangsa Yu-yan ini lalu berpaling kepada An Lu Shan dan berkata, “Muridku, terhadap seorang terpelajar tinggi seperti Gui-siucai ini, tak perlu kita bicarakan yang lain lagi. Kau lebih baik menerangkan saja maksud kita.”

Merahlah wajah An Lu Shan saking jengah dan malunya. Benar-benar seorang yang luar biasa sekali Gui Tin ini, pikirnya. Pakaiannya seperti pengemis, akan tetapi sikapnya agung-agungan seperti seorang pembesar tinggi saja! Akan tetapi oleh karena dia amat membutuhkan tenaga bantuan Gui-siucai, An Lu Shan menahan sabar.

Komandan ini memberi perintah agar semua penjaga pergi dari ruangan itu, lalu Gui Tin bersama muridnya diajak masuk ke dalam sebuah kamar. Hanya lima orang yang berada di kamar itu, yakni An Lu Shan, An Lu Kui, Li Kong Hoat-ong dan Gui Tin bersama Kwan Cu saja.

“Gui-siucai, sebelumnya harap kau suka bersumpah bahwa kau takkan bercerita kepada lain orang tentang hal yang akan kita bicarakan ini,” kata An Lu Shan.

Gui Tin tersenyum. “Aku tak pernah bersumpah, dan tidak mau bersumpah. Kalau orang tidak percaya padaku, mengapa aku dibawa ke sini? An-ciangkun, bicaralah. Aku Gui Tin bukanlah orang yang biasa berpanjang mulut.”

“Gui-siucai, kami hanya minta padamu untuk menterjemahkan sebuah kitab untuk kami. Kitab itu kitab kuno sekali dan hanya kaulah orang yang akan dapat menterjemahkannya. Kami tidak akan mau memeras tenaga orang secara sia-sia, maka kau boleh tetapkan sendiri biayanya, asal kau suka mengerjakannya cepat-cepat, lebih cepat lebih baik.”

Gui Tin mengerling ke arah An Lu Kui dan berkata perlahan. “Hm, agaknya benar dugaan kakek pendek kecil dulu itu?”

Sesungguhnya, di dalam hatinya Gui Tin terkejut sekali mendengar ucapan An Lu Shan tadi, akan tetapi secara pandai sekali dia dapat menguasai debar jantungnya.

An Lu Kui menjawab, “Memang betul Gui-siucai. Kitab itulah yang berada di tangan kami. Oleh karena itulah kau tidak boleh membocorkan rahasia ini supaya jangan sampai ada orang jahat datang merampasnya.”

Gui Tin mengangguk-angguk, hatinya pun berdebar-debar. Sudah belasan tahun ia ingin sekali melihat kitab ini, kitab yang diperebutkan oleh semua orang gagah di dunia, karena di dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng ini selain terdapat ilmu-ilmu silat yang tinggi, juga di situ terdapat ilmu perang, ilmu pengobatan, dan perbintangan!

“Akan kucoba menterjemahkan, sungguh pun aku tidak berani memastikan apakah aku bisa melakukan hal itu. Bolehkah aku melihat kitabnya sekarang juga?”

Li Kong Hoat-ong bertukar pandang dengan An Lu Shan.

“Mari ikut dengan aku untuk mengambilnya,” kata komandan ini.

Beramai-ramai mereka lalu memasuki kamar komandan ini yang berada di tengah-tengah benteng. Kamar ini terjaga kuat-kuat dan agaknya tidak akan mudah bagi siapa pun juga untuk menyerbu masuk ke dalam kamar An Lu Shan.

Setelah berada di kamar, An Lu Shan merapatkan daun pintu, bahkan menguncinya dari dalam. Kemudian dia menghampiri pembaringannya dan sesudah dia menarik gantungan kelambu tiga kali, terdengarlah suara keras kemudian pembaringan itu terangkat naik! Di bawahnya terdapat lubang yang terbuka sendiri di lantai yang tadinya berada di kolong pembaringan, dan di dalam lubang ini terdapat sebuah peti kecil.

An Lu Shan mengambil peti itu dan berkata kepada Gui Tin sambil tersenyum, “Kitab yang banyak diinginkan oleh banyak orang jahat, apa bila tidak disimpan baik-baik, tentu akan mudah hilang.”

Gui Tin mengangguk-angguk. Sambil memandang ke arah peti itu dengan penuh gairah, dia pun berkata memuji, "An-ciangkun benar-benar teliti. Setan pun agaknya akan sukar mendapatkan kitab itu di sini!"

An Lu Shan tertawa, kemudian setelah menutup kembali pembaringan, dia menghampiri meja dan menaruh peti kecil berwarna hitam itu ke atas meja. Ketika dia membukanya, nampak sebuah kitab yang sudah tua sekali dan kertasnya berwarna kekuning-kuningan, terbungkus oleh sutera putih yang bersih.

Debar jantung Gui Tin semakin menghebat dan sastrawan ini bagaikan orang kelaparan melihat paha babi panggang. Tak terasa pula dia maju mendekat.

An Lu Shan tertawa lagi, lalu mengambil kitab itu. "Kau lihat sebentar, dan coba kenali kitab apa ini!"

Gui Tin menerima bungkusan sutera putih itu, lalu membukanya. Dia tidak cepat-cepat membuka kitab itu, akan tetapi memandang sampulnya dahulu dengan penuh perhatian, lalu menimbang-nimbang berat kitab itu di atas tangannya. Kemudian dia mencium kitab itu dengan hidungnya yang dikembang-kempiskan.

Setelah itu dia memandang agak ragu-ragu ke arah kitab itu. Dibacanya beberapa baris tulisan kuno yang tak karuan bentuknya, dan menurut penglihatan Kwan Cu yang selalu berada di sisi gurunya, itu bukanlah tulisan, melainkan gambaran-gambaran yang buruk sekali!

Mendadak Gui Tin tertawa geli. "Ahh, orang telah main-main, An-ciangkun! Orang mau meniru, akan tetapi alangkah bodohnya! Kertas ini biar pun sudah kuno namun tulisan-tulisan dan gambar-gambarnya dilakukan dengan penggunaan tinta baru! Ini adalah kitab palsu sama sekali!"

Untuk sesaat hening di dalam kamar itu, kemudian terdengar Li Kong Hoat-ong memuji, "Gui-siucai benar-benar bermata tajam. Sungguh mengagumkan sekali!"

An Lu Shan juga merasa kagum maka dia lalu menjura kepada Gui Tin. "Gui siucai sekali melihat saja tahu perbedaan, sungguh lihai. Sekarang aku percaya benar-benar bahwa kitab itu tidak akan dapat diterjemahkan orang melainkan Gui-siucai seorang. Tunggulah, aku akan mengambil aslinya!"

Setelah berkata demikian, An Lu Shan lalu menekan sesuatu di tembok dan terbukalah dinding itu, memperlihatkan satu pintu rahasia. Kali ini dia sendiri yang memasuki pintu rahasia itu, bahkan guru dan adiknya sendiri tidak ikut masuk! Setelah dia keluar kembali, dia sudah membawa keluar sebuah peti yang lebih kecil dari pada peti yang palsu tadi. Juga peti ini berwarna hitam, akan tetapi kelihatannya berat sekali. Ia menaruh peti ini di atas meja, kemudian menyimpan kembali kitab dan peti palsu yang tadi.

An Lu Kui sendiri baru pertama kali ini melihat kitab yang asli itu, karena yang pernah melihatnya hanya An Lu Shan berdua Li Kong Hoat-ong. Oleh karena itu dengan suara memohon dia berkata kepada kakaknya. "Shan-heng, bolehkah aku membukanya?"

Sambil berkata demikian, dia segera mengulurkan tangan kanannya hendak membuka tutup peti. Akan tetapi cepat sekali An Lu Shan menampar tangan adiknya dan berkata,

"Hati-hati! Jangan sembarangan menjamah peti ini, Kui-te!" Lalu dia melanjutkan dalam bahasa Tartar. "Peti ini telah dilaburi racun yang berbahaya sekali!" Tentu saja Kwan Cu tidak mengerti, akan tetapi Gui Tin mengerti baik kata-kata ini.

An Lu Shan lalu meminta semua orang untuk mundur, kemudian dengan tangan kirinya dia mengambil sebuah bantal dari pembaringannya, dipegang di atas peti, antara dia dan peti itu sebagai perisai. Kemudian dengan tangan kanannya dia membuka tutup peti.

“Ser! Ser! Ser!” terdengar suara dan dari dalam peti itu dengan cepat dan tidak terduga sekali menyambar tujuh batang anak panah kecil yang ujungnya kehitaman karena telah direndam racun ular berbisa! Tujuh anak panah ini kesemuanya menancap pada bantal yang dipegang oleh An Lu Shan.

An Lu Kui menjadi pucat. Kalau dia yang membukanya, tentu akan celakalah dia! Tidak saja tangannya akan terkena racun yang dipulaskan di luar peti, juga anak-anak panah itu tak mungkin dielakkan oleh orang yang membuka peti, kalau tidak mengetahui lebih dahulu!

"Lihai sekali kau, An-ciangkun!" Gui Tin juga memuji sedangkan Kwan Cu meleletkan lidahnya saking ngerinya.

An Lu Shan hanya tersenyum.

"Untuk menjaga tangan jahil," katanya sambil mengeluarkan kitab itu.

Kitab yang ini lebih kecil bentuknya, akan tetapi amat berat dan ternyata kertasnya amat tipis-tipis sehingga isinya banyak sekali. Ketika Gui Tin membuka kitab itu dia tertegun.

Benar saja, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sebagaimana yang pernah dibacanya dalam buku-buku sejarah kuno. Inilah kitab yang semenjak ribuan tahun dipakai rebutan dan siapa yang memegang kitab ini, kalau perorangan merupakan jago terlihai di muka bumi, kalau negara menjadi negara yang kuat sekali.

Inilah dia kitab yang selama ini diimpi-impikan oleh semua orang gagah, oleh tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, oleh negara-negara di seluruh dunia. Dan kini kitab ini berada di tangan An Lu Shan, seorang komandan militer yang bersemangat dan gagah!

Gui Tin merasa betapa tangannya tergetar. Berbahaya kalau sampai isi kitab ini diketahui oleh An Lu Shan. Dan dia percaya bahwa yang mampu menterjemahkan kitab ini hanya dia seorang! Kitab ini ditulis di jaman kerajaan Shia, ribuan tahun yang lalu.

Tiba-tiba Gui Tin teringat sesuatu dan ia meraba-rabakan jari-jari tangannya di atas kitab itu. Hemm, aneh, pikirnya! Pada masa itu, belum ada kertas!

Lalu dia mengerutkan keningnya untuk mengingat-ingat kembali tentang apa yang sudah dibacanya mengenai kitab rahasia ini. Kalau tidak salah ingat, kitab aslinya ditulis di atas sutera! Dan dia membaca sudah beribu kali orang memalsukan kitab itu supaya aslinya tidak mudah dicuri orang. Hm, apakah yang dipegangnya ini pun sebuah dari pada kitab tiruan dan palsunya?

Melihat Gui Tin mengerutkan kening dan diam seperti patung, An Lu Shan lalu berkata, “Gui-siucai, apa yang kau pikirkan? Sanggupkah kau menterjemahkannya?” Semua mata memandang kepada Gui Tin dengan sinar tajam mengancam.

Sastrawan ini maklum kalau dia mengatakan dia tidak sanggup, dia tidak akan diampuni. Sebaliknya kalau dia sampai menterjemahkan kitab ini, juga tidak ada harapan baginya untuk bisa pergi dari tempat ini dalam keadaan hidup! Dia yang telah menterjemahkan, kelak tentu akan dianggap berbahaya oleh An Lu Shan, dan tentu akan dibinasakan agar jangan sampai membuka rahasia isi kitab itu kepada orang lain.

Sebelum menjawab, Gui Tin mengelus-elus kepala Kwan Cu yang berdiri di dekatnya, lalu dia menatap wajah An Lu Shan sambil berkata, “Biar pun kitab ini sukar sekali untuk diterjemahkan, akan tetapi aku sanggup mengerjakan asalkan ciangkun dapat bersabar menanti. Akan tetapi, hanya satu saja permintaanku sebagai biaya penterjemahan, yaitu, kau lepaskan dan bebaskan muridku ini untuk pergi dari sini dan jangan mengganggu padanya!”

“Tidak, Gui-lopek! Aku tidak mau meninggalkan kau orang tua. Siapa yang akan merawat dirimu, juga siapa yang akan menggosokkan bak untukmu, dan siapa pula yang akan kau suruh-suruh pada waktu kau mengerjakan semua ini? Gui-lopek, jangan suruh aku pergi meninggalkanmu!” tiba-tiba Kwan Cu berkata.

Sementara itu, An Lu Shan yang cerdik sekali ketika melihat betapa Gui Tin amat sayang kepada muridnya, timbullah sebuah pikiran yang amat cerdik.

“Gui-siucai, aku berjanji tak akan mengganggu muridmu. Akan tetapi, dia baru kubiarkan pergi bila mana kau sudah selesai menterjemahkan kitab ini. Ingat, semakin cepat kau menterjemahkannya, semakin cepat pula aku melepaskan anak ini. Sementara itu, siapa lagi yang akan melayanimu selain anak ini? Orang lain tidak boleh melihat kitab ini. Kau tentu mengerti maksudku, bukan?”

Gui Tin mengerti baik sekali. Siapa saja yang sudah melihat kitab ini harus mati, temasuk pula Kwan Cu! Maka sastrawan ini menjadi gelisah dan berduka sekali, akan tetapi dia dapat menindas perasaanya dan menyatakan kesanggupannya.

“Baik, akan kukerjakan mulai hari ini juga. Akan tetapi aku tak mau diganggu dan biarkan aku dilayani oleh muridku di dalam kamar tertutup.”

An Lu Shan mengangguk. “Baik, Gui-Siucai. Kau akan bekerja di dalam kamarku ini dari pagi sampai petang. Setiap pagi kau masuk ke sini dan sesudah petang kau keluar dari kamar ini, meninggalkan terjemahan dan kitab aslinya.”

Demikianlah, mulai hari itu juga Gui Tin mengerjakan terjemahan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dilayani oleh Kwan Cu. Karena maklum dia dan muridnya diintai dari luar dan diawasi, Gui Tin tidak berani bicara sembarangan terhadap Kwan Cu, dan dia melakukan terjemahan itu selambat mungkin.

Isi kitab ini benar-benar hebat. Di situ tertulis aturan-aturan dan cara-cara melatih tentara, membentuk barisan, dan mengatur serangan secara lihai sekali. Selain itu, terdapat pula latihan-latihan ilmu silat yang aneh-aneh, cara untuk semedhi dalam bentuk yang paling istimewa, kemudian ada pula ilmu pukulan yang hebat-hebat sehingga baru membaca sebentar saja Gui Tin sudah merasa pening kepala dan juga ngeri.

Diaa pikir bahwa kalau dia menterjemahkan ilmu silat itu, apa bila sampai dipelajari oleh orang jahat, maka kelak orang itu akan menjadi manusia berkepandaian iblis yang sukar ditekan. Sebaliknya, bila dia menterjemahkan ilmu perang, tidak ada jahatnya. Bukankah An Lu Shan seorang perwira dari kerajaan yang sudah terbukti membela negara. Kalau perwira itu mendapatkan pelajaran ilmu perang ini, bukankah hal ini baik sekali dan tidak merugikan rakyat mau pun tidak membahayakan negara?

Oleh karena inilah, maka Gui Tin kemudian mulai dengan terjemahannya. Dia sengaja mendahulukan terjemahan ilmu perang yang aneh-aneh dan lihai itu, yang dia lakukan sedikit demi sedikit. Ada pun terhadap Kwan Cu, dia memiliki sebuah cita-cita yang baik sekali.

Kitab ini adalah kitab tiruan atau kitab palsu, ini Gui Tin yakin betul. Sayang dia sudah banyak lupa tentang sejarah yang dulu pernah dibacanya mengenai kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi kitab sejarah itu masih bertumpuk pada suatu tempat di mana dia menyimpan kitab-kitab kunonya. Kalau kelak kitab aslinya bisa didapat, mungkin dia telah tewas, dan muridnya inilah yang menjadi orang satu-satunya yang dapat membacanya!.

Oleh karena itu, maka Gui Tin lalu memberi pelajaran tentang bahasa tulisan kuno itu kepada Kwan Cu. Ia mengajar sedikit demi sedikit, secara lisan, karena kalau tertulis, ia khawatir akan terlihat oleh orang lain. Ia minta kepada Kwan Cu supaya mencatat dan menghafal di dalam otaknya.

Anak ini memang cerdik sekali. Apa yang sekali terdengar olehnya, seolah-olah langsung menempel pada otaknya dan tidak mudah terlupa kembali. Oleh karena itu, semua yang dipelajarinya dapat dihafalnya dengan mudah.

Pada keesokan harinya, setelah melihat hasil terjemahan Gui Tin, bukan main girangnya hati An Lu Shan. Ia membaca siasat-siasat kemiliteran yang rumit-rumit dan hebat-hebat, cara mengatur barisan, mengatur penyerangan dan mengatur penjagaan.

Hebat! Inilah yang dicari-cari, inilah yang diimpi-impikannya! Maka serentak mulailah dia mempraktekkan semua siasat beserta tata peraturan melatih tentara yang dibacanya dari terjemahan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu.

Tiga bulan terlewat cepat sekali dan selama tiga bulan ini, Gui Tin baru menterjemahkan setengah dari pada ilmu perang itu! Akan tetapi hasilnya bagi An Lu Shan bukan main besarnya! Kini bala tentara yang dipegangnya merupakan barisan yang kuat dan memiliki pendidikan militer yang lain dari pada yang lain! Semua ini berkat pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tentu saja An Lu Shan merasa bangga dan puas sekali.

Ada pun dalam waktu tiga bulan itu, Kwan Cu dengan penuh ketekunan mencurahkan segenap tenaga, otak, dan perhatian untuk menghafal dan mempelajari bahasa tulisan kuno yang dipergunakan untuk menuliskan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu. Dan ketika tanpa sengaja dia melirik ke arah kitab yang sedang diterjemahkan oleh gurunya, hampir dia berseru girang karena dia dapat membacanya dengan mudah!

"Gui-lopek! Bukankah baris paling atas bunyinya, ‘Barisan Kwan-im Pouwsat menyebar biji teratai’…?
"Sstttt!" Gui Tin cepat menutup mulut Kwan Cu, lalu berkejap mata.

Kwan Cu cerdik. Dia tahu bahwa sesungguhnya bukan karena terjemahan itu sukar bagi gurunya, melainkan karena gurunya sengaja memperlambat terjemahan itu!

"Lopek, mengapa tidak cepat-cepat menyelesaikan saja agar kita dapat segera pergi dari sini?"

Gui Tin menggelengkan kepala dan menarik napas panjang. Sukar baginya untuk bicara karena dia tahu bahwa selalu ada penjaga yang mengawasi mereka di luar kamar dan mendengarkan percakapan mereka. Karena itu dia sengaja berkata keras-keras sambil memberi kedipan mata kepada muridnya itu,

"Enak saja kau bicara! Apa kau kira menterjemahkan kitab seperti ini sama mudahnya dengan makan bakso?"

Demikianlah, dua orang guru dan murid ini main sandiwara. Diam-diam Gui Tin menunjuk ke arah kitab bagian pelajaran ilmu silat dan minta Kwan Cu membacanya.....

Anak ini menurut saja dan ketika dia mulai membaca pelajaran itu, dia merasa kepalanya sampai berdenyutan saking merasa aneh dan terheran-heran! Dulu dia pernah menerima pelajaran siulian (semedhi) dari Pek-cilan Thio Loan Eng, juga sudah pernah menerima pelajaran melatih napas, akan tetapi apa yang dia baca di kitab ini benar-benar luar biasa sekali!

Dulu ketika dia belajar siulian dari Loan Eng, dia diharuskan duduk dengan sikap tegak, kedua kaki bersila dengan mata diarahkan kepada ujung hidung sendiri sambil mengatur pernapasan dan mengosongkan pikiran. Sekarang apa yang dibacanya?

Beraneka macam aturan tentang semedhi terdapat dalam kitab ini. Ada semedhi dengan berdiri jungkir balik, yaitu kepala di atas lantai dan kedua kaki diangkat ke atas, ada pula yang menggantung di atas pohon, dan berbagai macam cara yang aneh-aneh lagi! Dan latihannya bernapas juga luar biasa anehnya!

Menurut pelajaran yang diterima dari Loan Eng dulu, menyedot dan mengeluarkan napas harus selambat-lambatnya dan sepanjang-panjangnya, pada waktu meyedot hawa harus dikumpulkan di dada sehingga dada mengembung dan perut menipis, kemudian di waktu mengeluarkan napas, dada harus dikosongkan dan seluruh hawa murni dari dada harus ditarik ke dalam perut untuk memperkuat tian-tan sehingga dada mengempis dan perut mengembung. Akan tetapi di dalam Im-yang Bu-tek Cin-keng ini bahkan sebaliknya!

Kwan Cu benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi dasar dia berbakat baik sekali dalam ilmu silat, maka ketika dia membaca ini, malam harinya ketika Gui Tin telah mendengkur, anak ini lalu bersemedhi dengan cara yang tadi dibacanya di dalam kitab itu, juga melatih pernapasan seperti yang dibacanya siang tadi!

Hasilnya bukan main! Kwan Cu hampir gila karenanya! Jika saja dia tidak memiliki tulang yang baik dan bahan bersih dalam dirinya, mungkin otaknya sudah menjadi miring. Pada saat dia bersemedhi menurut kedudukan yang dipelajari dari dalam kitab, yakni dengan kepalanya yang gundul di atas lantai dan kedua kakinya di atas bersandar tembok, dia merasa kepalanya berdenyut-denyut karena semua darah mengalir ke bawah dengan cepat.

Kemudian, pada waktu dia hendak mengosongkan pikiran serta mengheningkan panca inderanya, beraneka macam bayangan setan terbayang di depan matanya, dan berbagai macam hal yang ngeri-ngeri teringat olehnya. Juga latihan pernapasan dengan cara itu membuat perutnya merasa muak dan dadanya sakit.

Akan tetapi karena dia memang keras hati, dia melanjutkan latihannya sampai beberapa hari. Terjadilah hal yang aneh dalam dirinya. Ia merasa ada tenaga saling tarik-menarik di dalam dadanya dan perjalanan darahnya mengalir sebentar cepat sebentar lambat.

Ketika dia telah melatih selama sebulan, dia sudah dapat membiasakan diri dengan cara baru ini dan pada suatu tengah malam, dia mendengar buku-buku tulang pada seluruh tubuhnya berbunyi keletak-keletuk! Dia tidak tahu bahwa karena latihannya ini, dia sudah melenyapkan hasil latihannya yang dahulu.

Perasaan tidak enak dan tarik menarik tenaga di dalam dadanya adalah pertempuran antara tenaga latihan yang berlawanan. Dan ternyata bahwa cara latihan menurut kitab rahasia itu lebih kuat sehingga dalam waktu beberapa hari saja tenaga latihan cara baru ini dapat mengalahkan tenaga latihan yang dahulu!

Karena tiada waktu untuk melatih diri dengan ilmu silat seperti yang diuraikan di dalam kitab itu, maka Kwan Cu lalu membaca saja kitab itu seperti orang membaca buku cerita! Akan tetapi dia membaca tidak sembarang membaca, melainkan menghafal isi kitab itu sedikit demi sedikit....

Selanjutnya baca
PENDEKAR SAKTI : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger