logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Sakti Jilid 12


Bun Sui Ceng sebenarnya telah lebih dulu sampai di kota raja dari pada Kwan Cu. Akan tetapi gadis ini tidak segera mencari keluarga An Lu Shan untuk dibasminya sebagai mana sudah dipesankan oleh Menteri Lu Pin. Dia seorang gadis yang amat hati-hati.

Setelah dia kehilangan pedangnya, gadis ini ingin mencari senjata lebih dulu, akan tetapi bukan sembarang pedang. Untuk keperluan ini, beberapa malam dia telah menggeledah rumah-rumah bangsawan di kota raja untuk mencari kalau-kalau di antara mereka ada yang mempunyai pedang pusaka. Usahanya sia-sia belaka dan sampai lima hari ia tidak berhasil.

Hatinya sangat kesal dan pada hari ke lima itu, dia memasuki sebuah restoran besar. Sambil makan masakan mahal yang dipesannya, ia mendengar dari seorang pelayan tua yang senang mengobrol mengenai keadaan di kota raja, terutama sekali mengenai diri keluarga istana.

Terkejutlah Sui Ceng ketika mendengar bahwa putera An Lu Shan sudah tewas dan kini yang menjadi orang paling berkuasa di kota raja adalah Si Su Beng. Kemudian secara halus dan tidak kentara, Sui Ceng dapat memancing pelayan itu untuk bercerita tentang gudang senjata di mana tersimpan banyak senjata-senjata pusaka dari Kerajaan Tang.

Girang hati Sui Ceng bukan kepalang. Malamnya ia lalu pergi masuk ke dalam istana dan berhasil mencuri sebilah pedang dari gudang senjata. Biar pun pedang ini bukan pusaka yang ampuh, akan tetapi merupakan pedang panjang yang amat baik, terbuat dari pada logam putih seperti perak.

Dengan amat girang ia lalu membawa pedang itu dan cepat didatanginya seorang tukang pandai besi pembuat pedang untuk membeli sarung pedang baru. Dia bukanlah seorang bodoh dan tidak nanti dia mau menggunakan sarung pedang aslinya karena hal ini tentu hanya akan mendatangkan keributan belaka. Setelah dimasukkan dalam sarung pedang baru, dia pun berani menggantungkan pedang itu di pinggangnya.

Pada keesokan harinya, kembali dia mendatangi rumah makan itu untuk mendengarkan berita. Benar saja, pelayan tua itu sudah siap pula dengan cerita barunya, yakni tentang keributan di istana karena ada pedang yang tercuri.

Pelayan itu tidak mencurigai Sui Ceng, karena dia sudah dapat menduga bahwa gadis ini adalah seorang gadis pendekar yang sikapnya halus serta sopan, jadi terang seorang pendekar budiman. Lagi pula, tentang pencurian dari gedung senjata bukan merupakan hal yang aneh.

"Sudah sering kali terjadi senjata-senjata lenyap dari gedung senjata itu, Nona. Padahal jendela dan pintunya tak terbuka." Kemudian disambungnya dengan suara berbisik-bisik. "Dan kabarnya, senjata-senjata itu kemudian terlihat digunakan oleh pemimpin-pemimpin pejuang rakyat!"

Kata-kata ini membuat Sui Ceng suka sekali kepada pelayan tua itu, karena ia maklum bahwa biar pun bekerja di rumah makan kota raja, di dalam hatinya kakek ini bersimpati terhadap perjuangan rakyat!

Tiba-tiba terdengar suara orang di pintu luar.
"He, pelayan, sediakan meja dan masakan yang paling enak di rumah makan ini. Perutku lapar sekali!"

Pelayan tua itu menengok dan dia tertegun, demikian pula Sui Ceng. Yang baru datang itu bukanlah tamu kaya atau pun seorang bangsawan, melainkan seorang pemuda yang berpakaian seperti pengemis. Celananya dipenuhi tambal-tambalan, bajunya sudah butut sekali, rambutnya dipotong pendek sehingga berdiri bagaikan rambut landak, begitu pula jenggotnya dipotong pendek dan kelihatan keras seperti jarum-jarum.

Apa bila pelayan itu tercengang melihat seorang berpakaian miskin seperti itu memesan masakan yang paling enak, adalah Sui Ceng yang lalu tertegun melihat sikap orang ini. Baru keadaan luarnya saja sudah aneh. Orangnya begitu muda, wajahnya tampan sekali.

Akan tetapi rambut dan jenggotnya betul-betul mengerikan dan tak terasa pula Sui Ceng meraba pipi dan dagunya. Melihat cambang seperti itu dia merasa mukanya gatal-gatal dan geli. Akan tetapi kedua mata pemuda aneh itu bersinar-sinar mengeluarkan cahaya, tanda bahwa dia memiliki kepandaian tinggi.

Pelayan tua itu, tepat seperti dugaan Sui Ceng, merupakan seorang yang simpati kepada perjuangan rakyat. Melihat pemuda ini, setelah ragu-ragu sebentar, dia lalu cepat-cepat maju menghampiri dan dengan hormat dia menjura.

"Sicu, selamat datang dan silakan duduk. Aku akan segera memesankan masakan untuk Sicu. Perlukah aku mengeluarkan arak wangi? Akan tetapi harganya agak mahal, seguci harganya...”
"Tak peduli berapa harganya, keluarkan saja. Ini cukup untuk membayarnya?" Pemuda itu lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong uang emas yang besarnya hampir sama dengan tiga jari tangan.

Pelayan itu tertegun dan wajahnya berseri-seri. la tadinya khawatir kalau-kalau orang ini adalah seorang kang-ouw kasar yang akan makan tanpa membayar sehingga takut kalau terjadi keributan di situ. Akan tetapi melihat uang emas ini, lenyaplah kecurigaannya dan cepat-cepat dia berkata,

"Sicu, simpan kembali uangmu. Aku percaya kepadamu. Memperlihatkan emas di muka umum hanya memancing datangnya pencopet dan perampok."

Pemuda itu menyimpan emasnya dan tersenyum menyindir. "Segala macam pencopet, maling dan perampok kecil, siapakah yang takut? Nona itu biar pun hanya seorang gadis, tidak takut rampok, apa lagi aku seorang jantan!" katanya sambil mengerling seleretan ke arah Sui Ceng lalu membuang muka lagi.

Sui Ceng mengerutkan kening. Tadinya dia mengira bahwa pemuda ini kurang ajar, akan tetapi karena pemuda itu tidak terus memandangnya, ia tak jadi marah dan perhatiannya tercurah kepada pemuda aneh ini.

Tidak lama kemudian, pelayan tua mengeluarkan hidangan yang serba enak. Pemuda seperti pengemis itu segera makan dan minum dengan lahapnya. Pelayan tua melayani tamu-tamu lain yang duduk pada meja yang jauh dari tempat itu.

Sambil makan minum, pemuda pengemis itu mengegerutu seorang diri,
"Tunggulah saja, jahanam she Lu! Kau boleh pergi bersembunyi akan tetapi besok pagi tentu kepalamu akan hancur oleh pukulanku! Tunggu saja, pasti aku akan menenggak darahmu seperti ini!" Ia minum arak dari cawannya. "Aku akan menusuk matamu seperti ini!" Dan ditusukkan sumpitnya pada bakso besar lalu dimasukkan ke dalam mulut.

Kalau saja pemuda aneh itu tidak menyebut nama orang she Lu, tentu Sui Ceng akan merasa geli dan lucu melihat perbuatan dan mendengar kata-katanya. Akan tetapi she yang disebut oleh pemuda itu membuat hatinya berdebar. Bukankah yang dimaksudkan oleh pemuda itu adalah Lu Kwan Cu?

Dengan hati tertarik sekali, setelah pemuda itu membayar makanan dan meninggalkan restoran, gadis itu pun membayar dan cepat ia mengikuti pemuda itu. Dari jauh ia melihat pemuda itu menuju ke luar kota raja melalui pintu barat dan segera berjalan masuk ke dalam sebuah kelenteng kuno yang sudah rusak yang berada di pinggir jalan.

Di depan kelenteng itu banyak sekali terdapat pengemis-pengemis dan melihat pemuda ini masuk, para pengemis tua muda lalu bangun berdiri dan memberi hormat. Pemuda itu mengangguk ke kanan kiri, lalu mengeluarkan uang perak pengembalian uang emasnya dan melemparkan uang itu kepada mereka. Para pengemis lalu membagi rata uang itu dengan wajah girang.

"Hmm, siapakah dia? Sikapnya mencurigakan sekali, akan tetapi aku tidak dapat berbuat sesuatu sebelum dia melakukan apa-apa. Benarkah dia tadi mengancam Kwan Cu? Aku harus mengawasi orang ini," pikir Sui Ceng.

Malam itu kembali Sui Ceng menganggur saja. Dia sudah mendapatkan pedang yang cukup lumayan, akan tetapi karena ia amat tertarik oleh pemuda jembel itu, ia menunda maksudnya untuk memasuki istana. Dia pun sudah mendengar bahwa keluarga An Lu Shan yang masih ada hanyalah Panglima An Lu Kui dan Pangeran An Kong. Akan tetapi baginya, pemuda jembel itu lebih menarik untuk diselidiki, karena siapa tahu kalau-kalau pemuda jembel itu merupakan ancaman bagi Kwan Cu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Sui Ceng sudah berada di luar kota raja. Cepat-cepat dia bersembunyi ketika melihat pemuda jembel itu keluar dari kelenteng dan berjalan dengan gagahnya ke arah kota raja, lalu langsung menuju ke restoran besar. Sui Ceng mendahului dan masuk ke dalam restoran, memesan teh hangat.

Seperti kemarin, pemuda jembel itu memesan makanan dan arak. Ketika pemuda jembel itu tengah makan minum, Sui Ceng yang sengaja duduk di pojok agak jauh, mendengar berita baru yang amat menggemparkan dari pelayan tua.

"Semalam terjadi hal yang amat aneh, An-ciangkun dan An-siauw-ongya sudah dibunuh orang!"

Sui Ceng hampir melompat dari bangkunya. "Kau maksudkan An Lu Kui dan An Kong?"

Kakek itu mengangguk-angguk. "Jangan keras-keras, Nona. Kalau terdengar orang lain kita bisa celaka."

Tiba-tiba terdengar suara ketawa berkakakan. Ternyata pemuda jembel itu yang tertawa. Akan tetapi dia tidak menengok ke arah Sui Ceng yang duduk di belakang.
"Anjing-anjing penjilat mampus! Ha-ha-ha-ha, kalau daging mereka itu dimasak, biar pun semangkok harganya seribu tail akan kubeli juga. Ha-ha-ha!"

Sui Ceng memberi tanda kepada pelayan tua untuk pergi dan ia lalu keluar dari restoran itu. Akan tetapi gadis ini menyelinap dan bersembunyi di balik sebuah rumah yang tidak berjauhan dari restoran itu. Setelah melihat pemuda jembel itu berjalan keluar, cepat dia mengikutinya dari jauh.

Pemuda itu berjalan terus, menuju ke timur dan setelah sampai di depan sebuah rumah gedung yang sangat besar dan mentereng, dia lalu masuk ke dalam pekarangan rumah dengan langkah lebar dan muka berseri seakan-akan dia memasuki rumahnya sendiri!

Sui Ceng terheran-heran. Ia melihat tiga orang pelayan memburu keluar dan membentak.

"Pengemis jembel, sudah berkali-kali kami katakan bahwa majikan kami sedang keluar. Hayo pergi sebelum kami menyeretmu keluar!"

Pengemis muda itu tertawa bergelak. "Sekarang aku tidak percaya. Pergilah kalian!"

Sambil berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan tahu-tahu tiga orang pelayan itu terlempar tiga tombak lebih dan jatuh dengan kepala benjut dan tulang patah. Mereka tak dapat berdiri lagi, hanya mengaduh-aduh dan mengelus-elus kepala serta bagian tubuh yang terbanting keras.

Sui Ceng cepat menyelinap ke belakang gedung dan sekali dia menggerakkan tubuh, dia sudah melayang naik ke atas genteng. Dia hendak mengintai apa yang akan terjadi di rumah gedung itu dan ia merasa kagum melihat kelihaian pengemis muda itu yang sekali bergerak telah dapat melontarkan tiga orang pelayan yang tinggi besar itu!

"Dia lihai sekali. Siapakah dia dan apa yang dicarinya di gedung ini?"

Tidak lama kemudian Sui Ceng melihat ada dua orang mendatangi ke rumah itu dari dua jurusan berbeda. Yang pertama adalah seorang pemuda gagah dan tampan yang datang dari sebelah kiri rumah. Kedatangannya amat mencurigakan sebab pemuda ini melompat turun dari sebuah pohon yang tumbuh di pinggir rumah! Agaknya, seperti juga Sui Ceng, telah semenjak tadi pemuda itu mengintai di situ.

Orang ke dua adalah seorang laki-laki muda pula, tubuhnya nampak kuat dan dadanya bidang, kepalanya besar dan sikapnya angkuh. Pemuda ini datang dari luar pintu dan di belakangnya ikut tiga orang pelayan yang jalan terpincang-pincang.

Pada saat itu terdengar suara bentakan keras dan dari dalam rumah keluarlah pemuda jembel dengan sikap mengancam. Mukanya menjadi keras dan menyeramkan, kemudian dengan tindakan lebar dia langsung menghampiri pemuda yang baru datang dari luar.

Sui Ceng berdebar hatinya. Apakah yang akan terjadi? Siapakah tiga orang muda yang kelihatannya lihai-lihai dan yang sama sekali belum dikenalnya itu? Gadis ini karena tahu bahwa orang-orang yang di bawah sangat lihai, dengan hati-hati lalu mendekam di atas genteng dan mengintai dari wuwungan. Orang yang melihat gadis itu mendekam di situ tentu akan merasa ngeri kalau-kalau ia akan jatuh dari tempat yang amat tinggi itu.

"Hemm, inikah perampok jembel yang telah mengacau rumahku?!" bentak pemuda yang bertubuh gagah.

Pengemis muda itu kini sudah berdiri berhadapan dengan pemuda tuan rumah. Mereka saling pandang seperti dua ekor jago berlaga hendak bertanding.

"Ha-ha-ha, kaukah yang bernama Lu Thong? Pantas saja, sesuai dengan mukamu yang seperti anjing, ternyata kau memang anjing penjilat, tidak malu menjilati darah keluarga sendiri dan pantat dari bangsat penjajah. Sekarang aku datang, mukamu yang seperti anjing itu harus dibikin rusak!"

Terdengar suara ketawa dan ternyata pemuda tampan yang tadi melayang turun dari atas pohon tertawa sambil mendekap mulutnya.

"Ha-ha, tepat sekali makian itu...," katanya perlahan, akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh pemuda jembel, tuan rumah yang bukan lain adalah Lu Thong sendiri, dan juga oleh Sui Ceng. Akan tetapi oleh karena pemuda jembel dan Lu Thong sudah berhadapan, mereka tidak menghiraukan ejekan pemuda tampan itu.

"Bangsat busuk, siapakah kau? Kau kira akan mudah saja berlagak di depan Lu Thong? Kau sudah bosan hidup agaknya!"
"Kau mau tahu namaku? Aku adalah Han Le, murid dari Ang-bin Sin-kai! Aku mendengar tentang nasib keluarga Menteri Lu Pin, akan tetapi sebagai keturunan terakhir bukannya kau bersakit hati terhadap penjajah, bahkan menjilat-jilat untuk mendapat sesuap nasi. Benar-benar anjing busuk!" kata pemuda pengemis itu yang bernama Han Le.
"Aha, kiranya Ang-bin Sin-kai masih mempunyai murid lain. Kau memang patut menjadi murid jembel itu. Agaknya dia sudah memberi pelajaran kepadamu bagaimana caranya menjadi jembel busuk!" Lu Thong memaki lalu menyerang dengan hebatnya.

Lu Thong adalah murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dia memiliki tenaga besar sekali. Akan tetapi karena dia pernah menerima ilmu pukulan yang hebat dari Ang-bin Sin-kai, yakni Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa), segera dia menggunakan ilmu silat ini untuk menyerang pemuda jembel yang mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai.

Han Le cepat mengelak sambil memaki, "Berani kau menggunakan Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng? Sungguh tidak tahu malu!" Pemuda ini pun lalu mempergunakan ilmu silat itu untuk menghadapi lawannya.

Segera mereka bertempur hebat sekali. Kepandaian mereka berimbang, demikian pula tenaga dan kegesitan mereka. Sungguh hebat gerakan tiap serangan mereka sehingga Sui Ceng yang berada di atas genteng masih dapat merasakan sambaran angin pukulan yang dahsyat.

Hati Sui Ceng berdebar-debar. Tanpa sengaja ia telah menyaksikan pertempuran antara murid-murid dua orang tokoh besar. Memang, baik Lu Thong mau pun Han Le sudah mewarisi seluruh kepandaian guru mereka sehingga mereka itu kini seolah-olah mewakili Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai untuk melanjutkan pertempuran-pertempuran antara dua orang kakek itu yang dahulu sering kali dilakukan, akan tetapi keduanya sama kuat dan tidak ada yang pernah kalah.

Sayangnya, akhirnya Ang-bin Sin-kai terpaksa tewas karena keroyokan. Apa bila hanya Jeng-kin-jiu yang menyerangnya, agaknya sehari semalam keduanya tidak akan kalah atau menang.

Seratus jurus telah berlalu dan keduanya masih belum ada yang dapat mendesak lawan.
Dari atas genteng, Sui Ceng tidak ada habisnya mengagumi pertempuran di bawah itu. Memang jembel itu adalah seorang ahli lweekang dan ilmu silatnya selalu berdasarkan tenaga dalam yang dahsyat.

Sebaliknya, Lu Thong memiliki ilmu silat yang amat kuat, dan ia merupakan seorang ahli gwakang yang telah mencapai tingkat tinggi sehingga dia bisa mengimbangi kepandaian lawannya. Sistem yang dipergunakan oleh Lu Thong adalah tenaga keras menindih yang lemah, sebaliknya Han Le mempergunakan kehalusan dan kelemasan lweekang untuk memunahkan tenaga kasar.

Akan tetapi, biar pun kedua orang muda itu belum dikenalnya, tetapi sekali mendengar percakapan antara mereka tadi, simpati Sui Ceng terjatuh kepada pemuda jembel itu. Betapa tidak? Han Le adalah murid dari Ang-bin Sin-kai, seorang tokoh besar yang telah tewas sebagai seorang gagah pembela perjuangan rakyat.

Ada pun Lu Thong adalah murid Jeng-kin-jiu yang sudah membantu penjajah. Apa lagi kalau diingat bahwa Lu Thong, adalah cucu dari Lu Pin yang telah dibinasakan seluruh keluarganya oleh penjajah, kini pemuda mewah ini bahkan menjadi kaki tangan penjajah.

Tiba-tiba Han Le mengubah ilmu silatnya dan sekarang gerakannya amat aneh dan sulit diduga terlebih dulu. Benar saja, setelah pemuda jembel ini mengeluarkan ilmu silatnya yang sangat aneh itu, Lu Thong terdesak hebat dan selalu menangkis atau mengelak, main mundur terus.

Sui Ceng merasa girang melihat ini dan yang lebih aneh lagi, pemuda tampan yang juga menonton seperti dia dan semenjak tadi tersenyum-senyum sekarang bertepuk tangan memuji,

"Bagus sekali! Ilmu silat seperti itu selama hidup belum pernah aku melihatnya! Saudara Sin-kai (pengemis sakti), terus hajar dia. Bunuh saja orang tidak berbudi itu"

Lu Thong yang terdesak hebat itu, tiba-tiba lalu berjongkok dan sekali dia menggerakkan kedua tangan ke depan sambil membentak, "Hah!"

Kedua tangan itu mendorong ke depan dengan tubuhnya berjongkok. Inilah semacam sinkang yang luar biasa sekali, yang merupakan kepandaian simpanan dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Hebatnya pukulan ini luar biasa sekali.

Han Le merasa betapa dari kedua tangan lawan itu menyambar tenaga yang bukan main hebatnya, yang mendorongnya dengan amat hebat. Terkejutlah dia dan pemuda ini cepat melompat ke atas berpoksai di udara. Biar pun dia dapat menggagalkan serangan lawan ini, namun tetap saja hawa pukulan itu membuat dia terlempar sampai tiga tombak lebih!

Pemuda tampan yang menjadi penonton melakukan gerakan berbarengan dengan Sui Ceng. Keduanya melompat dan menghadapi Lu Thong, terus menyerang tanpa bertanya lagi! Pemuda tampan itu menyerang dengan pukulan hebat ke arah lambung Lu Thong dari sebelah kanan, sedang Sui Ceng yang menyambar bagaikan seekor burung garuda, memukul pula dari atas sebelah kiri dengan tangan kanannya menotok pundak!

Lu Thong terkejut sekali. Gerakan dua orang ini tidak kalah cepatnya dari pada gerakan Han Le, maka diam-diam dia mengeluh dan secepat kilat dia menggulingkan diri, terus bergulingan sehingga terhindar dari pukulan-pukulan itu. Kemudian dia melompat cepat dan dengan marah membentak,

"Kalian ini anjing-anjing pengecut hendak melakukan pengeroyokan. Jangan kau kira aku takut. Tunggu aku mengambil senjataku!"

Setelah berkata demikian, Lu Thong lari memasuki gedungnya dan tidak lama kemudian dia telah keluar lagi sambil menyeret sebuah toya yang besar, panjang dan berat.

Sementara itu, dengan muka terheran-heran Han Le memandang kepada Sui Ceng dan pemuda tampan itu. Tak disangkanya bahwa dua orang ini memiliki ilmu silat tinggi pula. Memang dia sudah dapat menduga bahwa Sui Ceng, gadis yang dua kali dijumpainya di dalam restoran, adalah seorang kang-ouw, akan tetapi tak disangkanya bahwa gadis itu memiliki gerakan yang demikian cepatnya ketika tadi menyerang Lu Thong.

Ada pun Sui Ceng dan pemuda tampan itu saling memandang, agaknya mereka seperti pernah saling bertemu, namun lupa lagi entah di mana dan bila mana. Sebelum mereka keburu membuka mulut, Lu Thong sudah keluar pula dan dengan amat marahnya dia lalu menyerang Han Le.

Pemuda jembel ini mengelak dengan lompatan jauh sambil merogoh ikat pinggangnya yang tertutup oleh baju luar dan tahu-tahu di tangannya telah kelihatan sebatang pedang yang berkilauan sinarnya. Ternyata bahwa dia telah membawa sebilah po-kiam (pedang pusaka) yang disembunyikan di belakang baju luarnya.

Pertempuran hebat terjadi lagi antara Han Le dan Lu Thong. Kini bahkan lebih seru dari pada tadi karena keduanya mempergunakan senjata. Namun, seperti juga tadi, Lu Thong menunjukkan bahwa dia benar-benar patut menjadi murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, karena ilmu toyanya memang kuat sekali.

Sungguh pun permainan pedang Hun-khai Kiam hoat dari Han Le juga hebat, akan tetapi pertahanan Lu Thong tidak dapat dibobolkan. Berkali-kali Han Le mengeluarkan tipu-tipu yang amat aneh, bukan Hun-khai Kiam-hoat dan juga bukan dari cabang persilatan lain, amat aneh gerakannya dan setiap kali pemuda jembel itu mengeluarkan serangan yang aneh ini, Lu Thong menjadi bingung dan terpaksa melompat mundur sambil memutar toya menjaga diri.

la benar-benar tidak dapat menghadapi ilmu pedang yang aneh sekali, yang digerakkan dengan membuat lingkaran-lingkaran besar kecil, nampaknya kacau namun berisi tenaga yang sangat kuat dan sinar pedangnya menyilaukan mata. Akan tetapi, setelah lawannya mundur, Han Le tidak dapat melanjutkan ilmu pedangnya yang aneh ini dan kembali lagi melawan dengan Hun-khai Kiam-hoat, seakan-akan dia memiliki semacam ilmu pedang aneh yang belum dipelajarinya sampai hafal benar.

Sementara itu, pemuda tampan yang tadi ikut menyerang Lu Thong, kini setelah melihat Sui Ceng, terus memandang seperti orang terkena pesona. Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata, kemudian dengan hati berdebar-debar dia melangkah maju, menghadapi Sui Ceng lalu menegur halus,

"Nona, kalau aku tidak salah duga, bukankah Nona adalah nona Bun Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li?”

Sui Ceng terkejut. Memang sejak tadi pun ia merasa sudah kenal pemuda ini, akan tetapi dia lupa lagi. Mendengar pemuda itu menyebut namanya, ia lalu berkata,
"Bagaimana saudara bisa tahu bahwa aku adalah Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li? Siapakah saudara?"

Mendengar ini, tiba-tiba wajah yang tampan itu berseri gembira dan sepasang matanya bersinar-sinar, membuat wajah itu nampak semakin tampan.

"Sekali bertemu aku sudah menduga! Apa lagi ketika menyaksikan cara kau menyerang bangsat she Lu itu! Nona, aku adalah The Kun Beng…”

Seketika itu juga, wajah Sui Ceng menjadi merah sekali sampai ke telinganya. Dia hanya dapat membuka mulut dan dari bibirnya keluar kata-kata, “Ah… ahhh…"

Bagaimana dia takkan merasa jengah dan gugup bertemu dengan pemuda yang ternyata adalah tunangannya itu!

Kun Beng mengerti bahwa tunangannya itu tentu jengah dan malu-malu, maka dia cepat mencari jalan untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak ini. Katanya dengan wajah berseri,

"Ceng-moi, marilah kita membantu pemuda itu untuk membinasakan jahanam Lu Thong. Mari kita bertiga berlomba, siapa yang akan dapat merobohkan dia lebih dahulu!" Sambil berkata demikian, Kun Beng lalu mencabut senjatanya, yakni sebatang tombak pendek.

Sui Ceng kembali berani mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu. Empat mata bertemu pandang dan keduanya mendapat kenyataan yang amat menyenangkan, yakni bahwa orang yang dipastikan menjadi jodoh masing-masing itu bukan orang yang tidak menyenangkan hati.

Kun Beng tersenyum, Sui Ceng tersenyum pula. Sambil mengangguk dia lalu mencabut pedangnya. Keduanya segera melompat dan menyerbu Lu Thong yang masih bertempur ramai menghadapi Han Le.

Kepandaian Sui Ceng dan Kun Beng sudah tinggi bukan main, tidak kalah dengan tingkat kepandaian dua orang muda yang sedang bertempur itu atau setidaknya berimbang. Maka menyerbunya dua orang ini membuat Lu Thong menjadi sibuk sekali.

Menghadapi pedang di tangan Han Le saja sudah berat baginya, apa lagi kini ditambah dengan pedang Sui Ceng dan tombak Kun Beng. Mereka bertiga adalah murid-murid dari tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, maka betapa pun tangguh ilmu toyanya, dia lantas terdesak hebat sekali.

"Kalian curang! Main keroyokan!" bentaknya berulang-ulang sambil memutar toyanya dengan nekat.
"Membunuh seekor anjing jahat atau ular keji tidak perlu menggunakan aturan lagi. Kau lebih jahat dari pada anjing penjilat atau ular!" Kun Beng berseru sambil mempercepat permainan tombaknya. Sui Ceng juga mempercepat gerakan pedangnya.

"Traaang! Traaang!"

Lu Thong mengeluh dan roboh. Ia berhasil menangkis pedang Sui Ceng dan tombak Kun Beng, akan tetapi karena datangnya serangan itu cepat dan kuat sekali, toyanya sudah terlepas dari tangannya. Tepat pada saat itu, Han Le dapat mengirim tendangan yang mengenai lututnya sehingga Lu Thong pun terlempar dan roboh dengan sambungan lutut terlepas!

Lu Thong tak berdaya lagi. Ia meramkan mata sambil menggigit bibir, menanti datangnya senjata lawan yang akan menamatkan riwayatnya.

"Tahan dulu! Jangan bunuh dia!!" tiba-tiba terdengar suara orang berseru.

Nampaklah bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di depan Lu Thong sudah berdiri seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan bersikap tenang sekali.

Sui Ceng berubah air mukanya ketika mengenal bahwa pemuda yang datang ini bukan lain adalah Kwan Cu! Akan tetapi, di depan tunangannya, dia diam saja karena merasa malu untuk menegur pemuda ini, apa lagi kedatangannya demikian aneh, seakan-akan hendak membela Lu Thong, manusia yang dianggap tidak berbudi dan patut dibunuh itu.

"Hemm, siapakah kau dan kenapa kau menahan kami yang hendak membunuh bangsat ini?” tanya Han Le penasaran.

Sepasang matanya yang amat tajam menentang pandang mata Kwan Cu. Akan tetapi yang dipandang tidak menjadi gentar, bahkan dengan suara bersungguh-sungguh dan kening dikerutkan dia berkata,

"Aku tahu bahwa sesungguhnya kalian berhak membunuhnya, karena dia memang telah tersesat dan melakukan hal yang amat tidak patut. Aku percaya bahwa kalian hendak membunuh dia karena kalian adalah pejuang-pejuang rakyat yang membenci penjajah yang menguasai tanan air kita. Akan tetapi ada satu hal yang kuminta kalian ingat, yakni bahwa pemuda ini adalah keturunan terakhir dari pada Menteri Lu Pin!"
"Kau mengoceh! Justru karena dia keturunan Menteri Lu Pin maka harus dibinasakan!" seru Han Le yang sudah marah sekali.

Pedangnya berkelebat membacok ke arah Lu Thong.....

Akan tetapi tiba-tiba saja dia merasa ada sambaran angin dari sisinya dan pedang serta tangannya yang sedang menyerang Lu Thong itu terpental ke samping. Pemuda jembel ini marah bukan main. Ia cepat melompat dan membalikkan tubuh menghadapi Kwan Cu.

"Kau agaknya juga kaki tangan penjajah, patut dibikin mampus lebih dahulu!" Segera dia menyerang dengan pedangnya, mainkan ilmu Hun-khai Kiam-hoat yang amat berbahaya.

Kwan Cu cepat mengelak dan tertegun menyaksikan ilmu pedang pemuda jembel yang gagah perkasa ini. Oleh karena dia merasa tidak mungkin pemuda ini mainkan Hun-khai Kiam-hoat yang dikenalnya baik, ia sengaja mengelak terus sambil tetap memperhatikan gerakan-gerakan pemuda itu.

Ada pun Sui Ceng memandang dengan bengong. Pemuda jembel itu mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai, kenapa dengan Kwan Cu mereka tak saling mengenal? Bukankah Kwan Cu juga murid Ang-bin Sin-kai? Gadis ini benar-benar merasa heran sehingga ia hanya berdiri seperti patung dan menonton mereka yang sedang bertempur.

Kun Beng juga tidak ingat lagi siapa adanya pemuda yang datang melindungi Lu Thong itu, maka dengan tersenyum dia lalu menggerakkan tombaknya dan berkata kepada Sui Ceng.

"Ceng-moi, biar aku binasakan dahulu pengkhianat itu, kemudian kita membantu Han Le membikin mampus pengkhianat yang baru datang." Cepat tombaknya bergerak menusuk dada Lu Thong.
"Tranggg…!"

Tombaknya terpental dan Kun Beng memandang kepada Sui Ceng dengan muka pucat dan mata terbelalak.

"Ceng-moi, mengapa kau menangkis tombakku? Apa artinya ini?"
"Dia itu adalah Lu Kwan Cu, seorang murid dari Ang-bin Sin-kai, bukan pengkhianat. Kita dengarkan lebih dulu apa yang hendak dia katakan maka dia mencegah kita membunuh pengkhianat ini.”

Kun Beng terkejut dan cepat dia memandang kepada Kwan Cu yang dengan tangan kosong selalu mengelakkan diri dari serangan pedang Han Le.

"Lu Kwan Cu bocah gundul dahulu itu...?" tanyanya seperti kepada diri sendiri.

Sementara itu, Kwan Cu menjadi makin terheran-heran karena pada saat Han Le yang pandai mainkan Hun-khai Kiam-hoat itu tidak berhasil merobohkannya, lalu tiba-tiba Han Le mengubah ilmu pedangnya, mengeluarkan ilmu pedang yang aneh bukan main, yakni dengan membuat lingkaran-lingkaran dengan pedangnya, mengurung tubuh Kwan Cu.

"Heeeeei...! Berhenti dulu! Siapakah kau yang sanggup mainkan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat dan ilmu pedang menurut Ilmu Silat Thian-te Sin-coan (Lingkaran Sakti Langit Bumi) ini?"

Han Le juga terkejut mendengar seruan Kwan Cu, akan tetapi pemuda ini sudah terlalu panas perutnya karena sampai begitu jauh dia belum berhasil merobohkan pemuda yang bertangan kosong itu. Tanpa menjawab dia mempercepat gerakan pedangnya.

Akan tetapi dia terkejut sekali karena lawannya lalu bergerak mengikuti serangannya dan tiba-tiba saja lawannya itu mendahului gerakannya yang agaknya sudah dimengerti betul oleh lawannya, lalu tahu-tahu gagang pedangnya kena dicengkeram dan dirampas!

"Nanti dulu, kau siapakah? Dan dari mana kau bisa mendapatkan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat? Dari mana pula engkau dapat memainkan ilmu pedang berdasarkan Thian-te Sin-coan? Hayo jawab!" Muka Kwan Cu menjadi tegang.

Han Le kaget bukan kepalang melihat betapa setelah membalas serangan-serangannya, lawannya dengan satu kali gebrakan saja telah berhasil merampas pedangnya. Ia masih penasaran, maka cepat tangan kanannya memukul dada Kwan Cu. Pukulan ini dahsyat sekali dan hawa pukulan ini pun menurut petunjuk dari pada ukiran-ukiran di dalam goa Pulau Pek-hio-to! Kwan Cu cepat melompat ke belakang beberapa kaki jauhnya.

"Kau pernah apakah dengan suhu Ang-bin Sin-kai? Dan bagaimana kau bisa memainkan ilmu silat yang terdapat di Pulau Pek-hio-to?" Kembali Kwan Cu mendesak.

Mendengar ini Han Le menjadi pucat. Dia berdiri seperti patung dengan mata terbelalak.

"Kau... kau siapakah?”
"Aku murid Ang-bin Sin-kai, Lu Kwan Cu namaku."

Han Le mengeluarkan teriakan girang lalu dia menubruk dan berlutut di depan Kwan Cu, memeluk kedua kaki pemuda itu.
"Aduh, Suheng! Suheng Lu Kwan Cu yang sudah lama kucari-cari! Tidak kusangka dapat bertemu di sini. Harap Suheng mengampunkan kekurang ajaranku," katanya.

Kwan Cu memegang kedua pundak Han Le dan sekali dia menggerakkan tangannya, meski pun Han Le sudah mengerahkan lweekang-nya, tetap saja pemuda jembel ini kena ditarik naik dan terpaksa berdiri.

"Hayo bilang, kau siapa? Jangan main-main!" seru Kwan Cu.
"Siauwte adalah murid Ang-bin Sin-kai pula. Setelah Suheng pergi, suhu mengambil aku bocah sengsara sebagai murid, kemudian suhu yang menyuruh aku menyusul Suheng ke Pek-hio-to!"

Kwan Cu tercengang dan tak dapat berkata-kata saking herannya.
"Kwan Cu, apa kau sudah lupa pula kepadaku?" tiba-tiba pemuda tampan yang dia lihat berdiri di dekat Sui Ceng berkata. "Aku adalah The Kun Beng, murid Pak-lo-sian!"

Air muka Kwan Cu kembali berubah dan dia memandang kepada Sui Ceng, hatinya tidak karuan rasanya.

"Dia ini Bun Sui Ceng yang dulu itu, dia tunanganku," Kun Beng memperkenalkan.
"Koko !" Sui Ceng menegur tunangannya itu.

Hati Kwan Cu terpukul. Panggilan gadis itu terhadap Kun Beng dengan sebutan ‘koko’ terdengar begitu manis dan mesra, namun sangat menusuk jantungnya. Dia memandang kepada Kun Beng dengan wajah dingin karena dia teringat akan nasib Gouw Kui Lan.

Tanpa berkata sesuatu Kwan Cu menghampiri Lu Thong, lalu dia segera mengetuk dan mengurut kaki kakak angkatnya ini sehingga lutut yang tadi terlepas tersambung kembali.

"Suheng, mengapa kau mencegah siauwte membunuhnya?" Han Le bertanya.
"Dia ini patut dikasihani. Seluruh keluarganya sudah musnah, dan dia tersesat karena berada di lingkungan orang-orang yang berhati khianat. Lu Thong, apakah kau sekarang sudah insyaf? Lihatlah mereka ini, mereka ini adalah orang-orang muda yang membantu rakyat. Kau sebagai seorang pemuda Han yang mempunyai kepandaian tinggi, mengapa kau tidak dapat mencontoh mereka? Mengapa kau tidak mau menyumbangkan tenaga untuk tanah air dan bangsa? Ingatlah, kongkong Lu Pin sudah meninggal dunia dalam keadaan amat mengenaskan. Seluruh keluargamu telah terbinasa pula. Tak ingatkah kau kepada ayah bundamu yang menjadi korban jahanam An Lu Shan?”

Menitik air mata dari kedua mata Lu Thong.

"Aku... tadinya aku bermaksud hendak mencapai kedudukan tinggi, sebagai kaisar akan lebih mudah bagiku membalas musuh-musuhku… menjunjung tinggi nama keluarga, dan mencuci noda mereka yang dianggap sebagai pemberontak..."
"Kau keliru! Mereka bukan pemberontak, akan tetapi mereka tewas sebagai pahlawan-pahlawan bangsa! Dan ke mana larinya cita-citamu yang terlalu muluk itu? An Lu Shan terbunuh oleh puteranya sendiri, kemudian puteranya terbunuh pula oleh Si Su Beng. Dan kau... apakah kau kira akan dapat mengharapkan kurnia dari Si Su Beng?"

Pada saat itu, terdengar derap kaki banyak orang dan terdengar Sui Ceng berseru,
"Pasukan Gi-lim-kun (pasukan pengawal kaisar) datang menyerbu!"

Empat orang muda itu bersiap-siap. Sui Ceng melintangkan pedangnya di depan dada. Han Le memegang kembali pedangnya yang dia terima dari Kwan Cu. Kun Beng juga memegang tombaknya erat-erat dan Kwan Cu bertolak pinggang dengan kedua matanya yang bersinar-sinar.

Sesudah menepuk-nepuk lututnya dan merasa bahwa lututnya dapat digerakkan biar pun masih agak sakit, Lu Thong lalu mengambil toyanya yang tadi terlepas dari tangannya.

"Kau mau apa?!" bentak Sui sambil menodongkan pedangnya di dada Lu Thong.

Akan tetapi yang ditodong tidak menghiraukannya dan masih terus mengambil toyanya. "Hendak kulihat apakah yang akan mereka lakukan di sini," katanya dengan suara dingin dan matanya mengeluarkan sinar yang amat berlainan dari tadi.

"Lu Thong, keturunan pemberontak, menyerahlah! Kami datang atas nama kaisar untuk menangkapmu!" terdengar teriakan komandan barisan Gi-lim-kun yang sudah datang di luar pekarangan rumahnya.
"Apa kataku, Lu Thong? Kaisar begitukah yang hendak kau bela dengan mempertaruhkan nyawa bangsamu?" kata Kwan Cu perlahan, akan tetapi cukup membakar isi dada Lu Thong.

Dengan muka merah dan mata melotot, toya dipegang erat-erat, Lu Thong lalu berteriak kepada barisan yang terdiri dari tiga puluh orang itu,

"Anjing-anjing keparat! Dengarlah baik-baik. Sekarang baru terbuka mataku dan kulihat kepalamu semua bukan kepala manusia, melainkan kepala anjing-anjing penjilat. Dan aku Lu Thong keturunan Lu Pin dan Ang-bin Sin-kai Lu Sin, mulai sekarang tugasku ialah menghancurkan kepala-kepala anjing!" Sambil berkata demikian, dia memutar toyanya dan berlari terpincang-pincang menyerbu barisan Gi-lim-kun.

Kwan Cu segera menyusulnya, setelah melirik ke arah Sui Ceng, Han Le, dan Kun Beng dengan pandang mata penuh arti.

Ketiga orang muda ini saling pandang dan diam-diam mereka membenarkan pembelaan Kwan Cu terhadap Lu Thong tadi, karena sekarang ternyata Lu Thong yang khianat telah sekaligus berubah menjadi Lu Thong yang mengandung penuh dendam terhadap kaum penjajah yang sudah memusnahkan seluruh keluarga! Mereka pun lalu berlari menyusul kemudian memutar senjata mengamuk dan menyerbu barisan Gi-lim-kun!

Mana bisa barisan Gi-lim-kun kuat menghadapi lima orang muda ini? Mereka ini adalah orang-orang muda murid tokoh-tokoh yang sakti, yang mempunyai kepandaian luar biasa sekali.

Biar pun barisan Gi-lim-kun terdiri dari ahli-ahli silat yang pandai, akan tetapi menghadapi serbuan lima orang muda yang sakti ini, sekejap saja mereka menjadi kocar-kacir. Mayat bergelimpangan di sana sini, sungguh amat mengerikan.

Yang paling hebat amukannya adalah Lu Thong. Toyanya menyambar-nyambar dengan ganas dan sedikitnya ada lima orang anggota Gi-lim-kun yang pecah kepalanya terkena pukulan toyanya!

Di antara mereka semua, hanya Kwan Cu seorang yang lain lagi sepak terjangnya. Dia tidak tega menjadi pembunuh para alat negeri ini. Entah karena terdorong oleh keinginan mendapatkan harta, atau pun terkena tipuan dan bujukan maka mereka menjadi barisan Gi-lim-kun. Oleh karena itu, pemuda ini hanya bergerak dengan tangan kosong saja dan dia cukup puas asalkan dapat menotok roboh mereka itu tanpa membahayakan nyawa mereka.

Han Le agaknya juga tidak begitu kejam sebab pedangnya hanya merobohkan orang dan melukainya tanpa mematikan lawan. Sebaliknya, Sui Ceng benar-benar seperti gurunya. Setiap kali pedangnya bergerak, seorang anggota Gi-lim-kun menjerit kesakitan dengan lengan putus, kaki putus, bahkan ada yang lehernya putus! Demikian pula Kun Beng. Dia juga mengamuk, akan tetapi pemuda ini tidak seganas Sui Ceng atau Lu Thong.

Akan tetapi, lima orang jago muda ini mengamuk di tengah-tengah kota raja dan hal ini bukanlah merupakan pekerjaan main-main yang mudah saja. Tak lama kemudian, di situ telah datang barisan baru yang jauh lebih kuat dari pada barisan Gi-lim-kun yang sudah dapat diobrak-abrik, sebab barisan ini adalah barisan Si-wi, yaitu pengawal pribadi kaisar dan dipimpin pula oleh Kiam Ki Sianjin bersama panglima-panglima yang berkepandaian tinggi!

Pertempuran berjalan semakin hebat. Kwan Cu mengetahui bahwa bagi keempat orang kawannya, Kiam Ki Sianjin terlampau tangguh. Maka dia segera mencabut sulingnya dan menghadapi kakek ini. Akan tetapi tetap saja empat orang kawannya menjadi terkurung seperti tadi, dan terpaksa bersilat cepat untuk melindungi tubuh dari pada hujan senjata lawan yang amat banyak jumlahnya itu.

Akan tetapi, sebagai ahli-ahli silat tinggi, mereka otomatis tahu bagaimana caranya untuk melayani keroyokan yang demikian banyaknya. Tanpa ada yang mengomando, mereka otomatis berkelahi berdekatan satu sama lain, bahkan lalu membuat lingkaran dengan punggung dihadapkan kepada kawan sendiri sehingga mereka merupakan lingkaran segi empat yang tak dapat diserang dari belakang! Dengan jalan ini, Lu Thong, Sui Ceng, Kun Beng dan Han Le mampu mempertahankan diri dengan kuatnya, bahkan kadang-kadang terdengar pekik orang dan terjungkalnya seorang anggota Si-wi.

Namun, Sui Ceng amat kecewa tidak melihat Kwan Cu berada di lingkaran mereka itu. Hal ini adalah karena Kwan Cu sengaja menghadapi Kiam Ki Sianjin, mencegah kakek ini ikut menyerang empat orang kawannya.

Sui Ceng mengira bahwa karena kepandaiannya tidak tinggi, Kwan Cu sudah tertawan atau melarikan diri. Dia menggigit bibir dengan gemas kalau memikirkan bahwa pemuda itu sudah melarikan diri meninggalkan kawan-kawannya.

Dia tidak tahu bahwa kepandaian Kwan Cu sudah tinggi sekali. Kemenangan Kwan Cu atas Han Le tadi tidak membikin dia merasa heran karena sebagai murid-murid seguru, tentu saja Kwan Cu sudah mengetahui semua cara bersilat dari Han Le sehingga dapat memenangkannya!

Demikian pula Kun Beng yang sama sekali tidak mengira bahwa Kwan Cu mempunyai kepandaian tinggi. Hanya Han Le dan Lu Thong yang mengetahuinya baik-baik.

Lu Thong yang sudah pernah merasai kelihaian Kwan Cu, ada pun Han Le lebih-lebih lagi. Tidak saja dia telah dapat menduga bahwa suheng-nya yang sudah tinggal di Pulau Pek-hui-to itu telah mempelajari ilmu kesaktian yang luar biasa, juga tadi dia sempat merasakan sendiri kehebatan kepandaian suheng-nya.

Makin lama kurungan itu makin rapat. Pihak pengeroyok memang luar biasa banyaknya. Roboh satu datang dua, roboh lima datang sepuluh. Empat orang jago muda itu sudah bertempur tiga jam lebih dan mereka mulai lelah sekali.

Apa lagi Lu Thong. Lututnya terasa sakit sehingga gerakannya menjadi semakin lambat. Akhirnya sebuah tusukan tombak melukai pahanya dan dia pun terhuyung-huyung roboh. Baiknya Han Le cepat-cepat menyambar tangannya dan menariknya ke dalam lingkaran, sehingga tubuh Lu Thong terlindung oleh tiga orang muda itu.

Di lain fihak, Kwan Cu yang tadinya menghadapi Kiam Ki Sianjin, sekarang ternyata telah dikeroyok tiga orang, yakni Kiam Ki Sianjin sendiri beserta dua orang panglima yang lihai sekali ilmu goloknya. Kwan Cu terus melayani mereka dengan gagah dan sedikit pun tak terdesak, bahkan pada jurus ke lima puluh lebih, dia berhasil merobohkan salah seorang panglima dengan pukulan-pukulan Pek-in Hoat-sut.

Akan tetapi, sebagai gantinya datang pula dua orang panglima lain, sedangkan Kiam Ki Sianjin masih terus melawannya dengan amat kuatnya. Kali ini agaknya tak mudah bagi Kwan Cu untuk mengalahkan Kiam Ki Sianjin.

Sui Ceng, Kun Beng dan Han Le sudah lelah dan mulai terdesak. Biar pun korban fihak musuh yang jatuh tidak terhitung banyaknya, namun setiap kali ada yang jatuh, mereka yang jatuh diangkat pergi dan sebagai gantinya datang pengeroyok-pengeroyok lain yang masih segar dan memiliki kepandaian silat tinggi juga.

Tiga orang muda ini maklum bahwa kalau diteruskan, mereka pasti akan celaka semua. Sekarang mereka tidak begitu mudah lagi menjatuhkan lawan, karena para pengeroyok kini terdiri dari orang-orang yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat lumayan.

Kwan Cu maklum pula akan hal ini. Tiba-tiba saja pemuda ini menyimpan sulingnya dan ketika dua orang panglima menyerang dari kanan kiri dan Kiam Ki Sianjin mendesak dari depan, dia melayani dua orang panglima yang bergolok itu dengan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na, sedangkan terhadap Kiam Ki Sianjin dia melancarkan beberapa pukulan Pek-in Hoat-sut.

Tosu itu sudah cukup mengenal kelihaian lengan tangan yang mengebulkan uap putih itu. Maka, cepat-cepat dia menjatuhkan diri untuk menyimpan napas dan mengerahkan lweekang agar dia cukup kuat menghadapi serangan ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut.

Akan tetapi, dua orang panglima itu yang belum mengenal Kwan Cu secara baik, terus mendesak pemuda itu. Dan sebelum mereka tahu bagaimana terjadinya, pundak mereka telah terkena cengkeraman IImu Silat Kong-ciak Sin-na dan golok mereka terlempar pula.

Kwan Cu tidak mau berlaku kepalang tanggung. Ia lalu mengangkat tubuh dua orang ini, yang seorang dia lemparkan ke arah Kiam Ki Sianjin dan menggunakan kesempatan itu untuk memutar-mutarkan orang ke dua dan membobolkan kepungan yang mengurung tiga orang kawannya yang masih melawan mati-matian.

"Kawan-kawan, mari kita lekas pergi!" katanya setelah berhasil menyerbu dan memasuki kurungan.

Sui Ceng dan Kun Beng tertegun melihat bahwa Kwan Cu ternyata masih hidup dan berada di situ, dan diam-diam Sui Ceng merasa girang sekali. Ternyata pemuda ini tidak melarikan diri seperti yang tadi dia khawatirkan.

Kemudian Kwan Cu melihat Lu Thong yang terduduk dan luka kakinya. Cepat Kwan Cu melemparkan panglima itu kepada Kun Beng dan berkata,
"Kun Beng, kau terimalah ini dan pergunakan sebagai senjata mencari jalan keluar. Aku akan menggendong Lu Thong!"

Kun Beng menyambut datangnya tubuh panglima itu dengan tangan kiri dan sekali dia mengulur tangan, dia sudah berhasil membekuk batang leher panglima itu yang masih hidup akan tetapi sudah tidak berdaya karena jalan darahnya telah ditotok oleh Kwan Cu.

"Lebih baik kalian juga menangkap seorang lawan untuk dijadikan senjata!" berkata Kun Beng kepada Sui Ceng dan Han Le.

Sui Ceng dan Han Le bisa mengerti apa yang dikehendaki oleh kawan ini. Dengan cepat mereka mendesak maju dan sebentar saja Han Le serta Sui Ceng juga sudah berhasil menangkap masing-masing seorang pengeroyok. Tiga orang ini pun mengamuk mencari jalan keluar, membobolkan kurungan sambil memutar-mutar tubuh lawan yang kakinya mereka pegang!

Dalam pengamukan ini, Sui Ceng, Han Le dan Kun Beng lagi-lagi kehilangan Kwan Cu. Ke manakah perginya pemuda itu? Setelah mengempit tubuh Lu Thong dengan tangan kirinya, Kwan Cu melompat cepat melalui kepala para pengurung itu dan sengaja dia melarikan diri di dekat Kiam Ki Sianjin yang sedang menyumpah-nyumpah marah melihat kawan-kawannya dibikin kocar-kacir oleh tiga orang muda itu.

"Bodoh, goblok! Menghadap tiga orang saja tidak becus menangkap dan mengalahkan." Tosu ini memaki-maki anak buahnya.
"Locianpwe, mereka menggunakan teman-teman kami sebagai senjata buat mengamuk," jawab seorang perwira Si-wi.
“Bodoh! Bacok mampus saja semuanya, meski kawan sendiri tetapi kalau sudah mereka tangkap, perlu apa takut membacoknya?"

Demikianlah, para Si-wi itu segera mengepung kembali dan kini mereka menggunakan senjata untuk menangkis dan membacok ketiga orang muda itu sehingga senjata mereka tentu saja mengenai kawan sendiri yang diputar-putarkan oleh tiga orang muda perkasa itu.

Melihat kenekatan para pengeroyok ini, Sui Ceng dan kawan-kawannya menjadi terkejut. Tentu saja mereka lalu melemparkan orang yang mereka pegang karena tubuh orang itu sudah hancur terkena hujan senjata kawan-kawan sendiri dan mulailah menangkap lain orang untuk dijadikan senjata. Biar pun mereka agak lambat maju, namun mereka dapat juga menipiskan kepungan sehingga keadaan mereka tidak terlalu terdesak seperti tadi. Apa lagi sekarang mereka tidak perlu melindungi Lu Thong seperti tadi.

"Ehh, mana Kwan Cu…?” tanya Sui Ceng yang merasa heran sekali.

Tadi Kwan Cu berada di dalam kepungan, jadi ada di belakangnya, juga di belakang Kun Beng dan Han Le, karena ketika itu Kwan Cu menghampiri Lu Thong yang berada di tengah-tengah. Akan tetapi kenapa sekarang Kwan Cu dan Lu Thong sudah lenyap dari situ?

Juga kedua orang kawannya tidak tahu ke mana perginya Kwan Cu mengempit tubuh Lu Thong. Akan tetapi, oleh karena mereka selalu menghadapi keroyokan musuh, mereka tadi tidak sempat melihat Kwan Cu yang melompat cepat sekali melalui kepala mereka dan para pengeroyok!

Ada pun Kwan Cu, sebagaimana dituturkan di atas, sengaja lari membawa Lu Thong mendekati Kiam Ki Sianjin. Tentu saja melihat pemuda itu mengempit tubuh Lu Thong, Kiam Ki-Sianjin cepat mengejar dengan pedang di tangan.

“Bangsat Lu Kwan Cu, ternyata engkau hendak mati-matian membela pemberontak itu!” serunya.

Kwan Cu tersenyum sindir. “Kiam Ki Sianjin, orang ini adalah keturunan menteri Lu Pin, bagaimana aku tak akan membelanya?”

Pemuda ini menyimpan sulingnya dan sekarang tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang pedang yang bersinar gemilang. Inilah Liong-coan-kiam, pedang peninggalan Menteri Lu Pin yang sengaja diberikan kepadanya.

Kiam Ki Sianjin tertegun dan merasa agak jeri. Baru sekarang dia melihat pemuda ini memegang pedang. Biasanya, hanya dengan tangan kosong atau paling-paling dengan sebatang suling di tangan, pemuda itu sudah terlampau tangguh baginya, apa lagi kalau sekarang memegang sebatang pedang mustika!

"Kiam Ki Sianjin, apakah kau tidak melihat siapa adanya pendekar-pendekar muda itu? Lihatlah baik-baik, gadis perkasa itu adalah murid tunggal dari Kiu-bwe Coa-li, pemuda bertombak itu adalah murid terkasih dari Pak-lo-sian Siang-koan Hai, ada pun pemuda sederhana itu adalah sute-ku! Aku tanggung bahwa kalau kau terus mengurung mereka, semua anak buahmu akan hancur lebur. Dan bukan itu saja, kalau saja mereka sampai terluka, tentu para Locianpwe itu akan bersumpah membalas dendam kepadamu."

"Habis, apa kehendakmu?" tanya Kiam Ki Sianjin memandang tajam.
"Kalau kau hendak menghalangi mereka lari, kau tahu bahwa aku akan menyerangmu mati-matian dan mungkin sekali aku akan dapat menewaskan engkau. Akan tetapi kalau kau mau melepaskan mereka lari, kita kelak akan dapat bertemu pula dan aku tak akan melupakan maksud baikmu hari ini."

Sampai beberapa lama Kiam Ki Sianjin terdiam saja, matanya memandang ke arah tiga orang muda yang tengah mengamuk hebat mencari jalan keluar. Memang sepak terjang mereka hebat luar biasa dan sekarang pun para anak buahnya sudah mulai kocar-kacir. Akhirnya dia mengangguk dan Kwan Cu girang sekali.

"Terima kasih, Kiam Ki Sianjin. Kau ternyata berpemandangan jauh.” Dia lalu membawa Lu Thong melompat ke barat!
"Sui Ceng, Kun Beng dan Sute! Lari melalui pintu barat!"

Pada waktu mendengar seruan Kwan Cu yang tiba-tiba ini, tiga orang muda itu menjadi terheran. Akan tetapi mereka segera memutar senjata memaksa para Si-wi yang masih berani mengeroyok untuk mundur dan berlarilah mereka ke barat. Kwan Cu sudah tidak kelihatan lagi oleh mereka.

Aneh sekali, setelah mereka sampai di dinding sebelah barat, di situ tidak kelihatan ada musuh, maka mudah saja mereka melompati tembok itu. Dan ternyata bahwa Kwan Cu sudah berada di bawah tembok sambil mengempit tubuh Lu Thong.

"Kau sudah di sini?" tanya Kun Beng tak mengerti.

Juga Sui Ceng terheran, akan tetapi Han Le diam-diam makin kagum akan kepandaian suheng-nya itu.

Kiam Ki Sianjin memenuhi janjinya. Ia tidak memberi perintah kepada para anak buahnya untuk mengejar, melainkan menyuruh mereka merawat kawan-kawannya yang luka serta mengurus mayat mereka yang tewas. Oleh karena itu, kawanan orang muda perkasa itu dengan mudah dapat melarikan diri keluar dari kota raja dan memasuki hutan sebelah barat.

Dengan Kwan Cu di depan, mereka berlari terus sampai jauh dari kota raja. Kemudian mereka berhenti dan Kwan Cu segera mengambil sapu tangan untuk membalut luka di paha Lu Thong dan setelah mengurut serta menotok jalan darah di kaki pemuda ini, Lu Thong dapat berdiri dan berjalan pula, meski pun pahanya yang terluka itu masih terasa amat sakit.

"Kwan Cu, kau cerdik sekali, dapat mencarikan jalan keluar yang tak terjaga untuk kita," kata Kun Beng memuji dan bibirnya tersenyum kalau dia mengingat alangkah bodohnya pemuda itu pada waktu masih kecilnya. "Kwan Cu, pertemuan kita dalam keadaan yang menguntungkan sudah membuat kita bertemu sebagai sahabat, aku senang sekali akan hal ini. Sekarang biar kita berpisah, dan kelak aku sangat mengharapkan kedatanganmu untuk menghadiri... pernikahan kami.” Sambil berkata demikian, pemuda yang tampan itu melirik ke arah Sui Ceng.

Gadis itu menjadi jengah dan malu, mengerling tajam dan menegur tunangannya dengan pandangan matanya itu.

Akan tetapi tak seorang pun tahu betapa mendongkol dan marah hati Kwan Cu terhadap Kun Beng. Ingin sekali dia menceritakan tentang Gouw Kui Lan, ingin pula dia menampar muka pemuda yang tampan itu. Akan tetapi Kwan Cu dapat menekan nafsunya dan dia hanya tersenyum dan mengangguk tanpa menjawab sesuatu.

“Ceng-moi, marilah kita pergi,” ajak Kun Beng kepada Sui Ceng dengan suara mesra.
“Ke... manakah? Aku... aku hendak kembali mencari Suthai.”
“Hendak menemui Kiu-bwe Coa-li Suthai? Baiklah, marilah kita bersama menjumpainya, memang perlu kita memberitahukan kepada gurumu tentang penetapan hari pernikahan.”

Sui Ceng makin merah mukanya. Untuk sekejap dia melirik ke arah Kwan Cu dan bukan main heran hatinya melihat pandangan mata Kwan Cu yang berapi-api ditujukan kepada Kun Beng, yang begitu mengerikan dan membuat dia bergidik. Alangkah anehnya Kwan Cu setelah dewasa, aneh dan menarik hati. Akan tetapi pandang mata itu mengandung kebencian yang hebat dan Sui Ceng merasa tidak enak hati.

"Marilah," katanya perlahan dan ia lalu melompat tanpa berpamit kepada Kwan Cu atau yang lain-lain, sedangkan Kun Beng juga melompat menyusul dengan wajah berseri-seri.

Kwan Cu menggigit bibirnya dan mengepal tinjunya, memandang ke arah perginya kedua orang itu tanpa bergerak seperti patung. Lu Thong yang kini sudah terbuka matanya dan sadar akan kesesatannya, duduk memisahkan diri di bawah pohon. Dia merenung sambil kadang-kadang menggigit bibir atau mengepalkan tinju. Wajahnya pucat laksana seorang yang kehilangan semangatnya.

"Suheng." Han Le menegur Kwan Cu yang masih berdiri seperti patung itu.

Kwan Cu tersadar dan cepat menoleh. Wajahnya amat merah ketika dia melihat pandang mata pemuda itu. Mata itu seakan-akan dapat membaca isi hatinya.

"Suheng, mengapa kau kelihatan berduka?"

Kwan Cu benar-benar menjadi sadar dan dengan tersenyum dia lalu memegang lengan pemuda itu.

"Tidak apa-apa, Sute. Sekarang kau ceritakanlah bagaimana kau dapat menjadi murid suhu, semenjak kapan kau belajar ilmu silat kepada suhu dan bagaimana pula kau bisa memainkan ilmu silat yang hanya terdapat di atas Pulau Pek-hui-to?"

Karena melihat Lu Thong masih duduk melamun seorang diri, kedua orang pemuda ini lalu duduk di atas batu dan berceritalah Han Le.

"Aku adalah seorang anak sengsara. Kedua orang tuaku menjadi korban perang dan mereka tewas oleh bala tentara pemberontak An Lu Shan. Baiknya ketika aku sedang dikeroyok oleh bala tentara pemberontak dan hampir mengalami kebinasaan, datanglah suhu yang menolongku. Hal itu terjadi tidak lama setelah kau berpisah dari suhu. Suhu lalu mengambil murid kepadaku. Sebelum itu aku adalah anak murid dari Kun-lun-pai, dan karena semenjak kecil aku sudah belajar ilmu silat, tidak sulit bagiku untuk menerima gemblengan dari suhu. Kemudian, suhu mendengar tentang jatuhnya pemerintahan Tang dan didudukinya kerajaan oleh An Lu Shan. Suhu marah dan hendak memberi hajaran kepada orang-orang kang-ouw yang membantu pemberontak itu. Aku hendak ikut, akan tetapi dilarangnya dengan alasan bahwa kepandaianku masih jauh dari pada mencukupi untuk berhadapan dengan para tokoh kang-ouw itu. Bahkan suhu lalu menyuruhku untuk menyusulmu ke Pulau Pek-hui-to. Akan tetapi ketika tiba di pulau itu, kau tidak ada dan aku mendapatkan ukiran-ukiran di dalam goa. Karena tertarik aku lalu berlatih seorang diri mempelajari semua ukiran itu dan mendapat kenyataan bahwa semua itu merupakan pelajaran ilmu silat yang luar biasa sekali, akan tetapi sukar sekali dipelajarinya. Suheng, melihat ilmu silatmu, agaknya kau sudah bisa memecahkan semua rahasia dari pelajaran itu, bukan?"

Kwan Cu mengangguk. "Sute, ilmu silatmu sendiri sudah sangat tinggi dan baik. Tidak mudah untuk memecahkan rahasia ilmu silat itu, karena ketahuilah bahwa lukisan-lukisan itu merupakan petunjuk dari ilmu-ilmu silat yang terdapat di dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng."

Berseri wajah Han Le yang tampan. "Ahhh, kalau begitu benar kata suhu. Suheng telah mewarisi ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng!" Wajahnya bersinar penuh kekaguman.

Kwan Cu menarik napas panjang. "Ilmu kepandaian itu tiada batasnya, Sute. Sepandai-pandainya orang, masih ada yang melebihinya, akhirnya dia akan mengaku bahwa dia amat lemah apa bila menghadapi musuh yang berada di dalam hati sendiri."

Kwan Cu termenung dan dia teringat akan Sui Ceng. Dia benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu, akan tetapi gadis itu telah bertunangan dengan Kun Beng. Hal inilah yang amat menyakitkan hatinya.

Andai kata gadis itu bertunangan dengan pemuda lain, agaknya akan mudah baginya untuk menyerah dan berusaha melupakan gadis itu. Akan tetapi Kun Beng? Nama ini membuat dia otomatis teringat akan Kui Lan dan timbullah penasaran dan sakit hatinya. Tidak, Sui Ceng tidak boleh menikah dengan pemuda itu!

"Han Le, kau tentu akan membantu perjuangan rakyat bukan?”
"Tentu saja, Suheng. Orang tuaku tewas oleh penjajah dan aku belum puas kalau para penjajah belum terusir dari negara kita."
"Bagus, kalau begitu kau bawalah Lu Thong. Obat satu-satunya bagi dia adalah berjuang membela tanah air dan bangsanya untuk menebus kesesatannya."

Kwan Cu lalu menghampiri Lu Thong, diikuti oleh sute-nya.

Lu Thong sudah sadar dari lamunannya dan dia memandang kepada Kwan Cu dengan bibir tersenyum pahit.

"Kwan Cu, kau tentu cinta kepada Sui Ceng, bukan?"

Bukan main kagetnya Kwan Cu mendengar ucapan ini. Memang, berbeda dengan Kwan Cu atau Han Le, Lu Thong sudah kenyang dengan pengalaman mengenai hubungan pria dan wanita, tentang kasih asmara dan tanda-tandanya. Biar pun dia hanya sekelebatan saja melihat semua pertemuan dan percakapan itu, akan tetapi dia telah dapat menduga dengan tepat sekali.

"Lu Thong, omongan apakah yang kau keluarkan ini? Sekarang bukan waktunya bicara yang bukan-bukan. Sebaliknya aku hendak bertanya kepadamu, apakah sekarang kau sudah insyaf betul-betul dan sadar bahwa yang sudah-sudah kau telah tersesat sangat jauh?"

Lu Thong menarik napas panjang. "Memang aku bodoh dan mudah sekali tertarik oleh kedudukan dan harta, Kwan Cu. Akan tetapi, apa lagi yang mampu kulakukan sekarang? Keluargaku sudah terbinasa semua, dan kalau kuingat-ingat aku adalah anak yang paling puthauw (tidak berbakti), anak durhaka." Tiba-tiba Lu Thong menangis sambil menutupi kedua matanya dengan tangan.

Kwan Cu terharu. "Lu Thong, sudah menjadi kewajibanmu untuk menebus dosa itu dan membalaskan sakit hati orang tuamu."

Lu Thong menurunkan tangannya, air matanya mengalir perlahan melalui pipinya.

"Apa dayaku? Musuh-musuhku adalah pemerintah penjajah dan mereka amat kuat. Baru menghadapi pasukan Si-wi saja, aku sudah terluka, apa lagi kalau menghadapi barisan penjajah? Lagi pula, di sana ada orang-orang sakti seperti Kiam Ki Sianjin dan lain-lain."

"Kau tidak berdiri sendirian, Lu Thong. Di fihak kita pun ada ratusan laksa rakyat yang berjuang dengan penuh dendam terhadap penjajah. Sukakah kau membantu perjuangan mereka?"
"Membantu para pemberontak?"
“Nah, itulah kepicikanmu, Lu Thong. Memang, pejuang-pejuang itu disebut pemberontak oleh penjajah, akan tetapi bagaimana mungkin orang-orang gagah yang membela tanah air dan bangsa dari tindasan penjajah asing disebut pemberontak? Insyaflah bahwa para pejuang rakyat itu sudah dibikin sakit hati oleh penjajah."

Lu Thong melompat bangun. "Kau benar, Kwan Cu. Baik, aku bersedia untuk membantu perjuangan rakyat dengan taruhan nyawaku."

Kwan Cu sebaliknya menjadi gembira sekali. "Bagus, kalau begitu kau sungguh-sungguh saudaraku! Kau ikutlah dengan sute-ku ini dan dia akan membawamu ke tempat rakyat yang sedang menyusun kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan penjajah. Kelak aku akan menyusul."

Maka berangkatlah Lu Thong dan Han Le, menuju markas pasukan pejuang rakyat yang terdekat, karena sebelum pergi ke kota raja, memang Han Le sudah dengan aktif sekali membantu para pejuang ini.

Ada pun Kwan Cu sendiri, tadinya dia berniat untuk menyusul perjalanan Sui Ceng dan Kun Beng. Ingin sekali dia mencegah mereka melakukan perjalanan bersama. Dia ingin sekali membongkar rahasia Kun Beng di depan Sui Ceng, agar gadis yang dicintanya itu tahu betapa buruk watak tunangannya, yang sudah merusak kehormatan seorang gadis yang menjadi adik dari suheng-nya sendiri! Akan tetapi, dia teringat akan tugas-tugasnya, yakni membalas sakit hati guru dan kongkong-nya.

"Urusan pribadi harus dikesampingkan," pikirnya dengan hati getir. "Lebih dulu aku harus mencari mereka yang sudah menewaskan suhu, kemudian aku akan mencari keturunan An Lu Shan yang tinggal seorang itu, yakni An Kai Seng."

Kwan Cu teringat akan tantangan Pek-eng Sianjin, maka dia segera berangkat menuju ke Bukit Leng-san. Tadinya memang dia sudah mengeluarkan nama Pek-eng Sianjin dari daftar orang-orang yang hendak dibalasnya karena membunuh suhu-nya. Hal ini karena dia sudah mendengar sumpah Pek-eng Sianjin bahwa tosu ini tidak turut mengeroyok dalam pembunuhan Ang-bin Sin-kai.

Akan tetapi, sebaliknya Pek-eng Sianjin merasa terhina dan menantangnya untuk datang ke Leng-san. Jika dia tidak meladeni tantangan yang diucapkan di hadapan tokoh-tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin, Bian Ti Hosiang, dan Bin Ti Siansu, tentu namanya akan jatuh sebagai seorang muda pengecut.

"Aku harus memenuhi tantangannya lebih dulu, barulah aku akan mencari tempat tinggal Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, dan siluman Toat-beng Hui-houw," pikimya.

Selesai berpikir demikian, Kwan Cu lalu berlari cepat sekali ke selatan…..

********************
Di Bukit Leng-san, Pek-eng Sianjin sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Kwan Cu, pemuda yang telah menghinanya di depan para tokoh besar. Di pegunungan ini, Pek-eng Sianjin sudah kehilangan empat orang saudaranya yang terbunuh mati oleh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Ang-bin Sin-kai Lu Sin, dan sekarang sudah membentuk pula sebuah perkumpulan yang diberi nama Pek-eng Kauw-hwe (Perkumpulan Agama Garuda Putih)!

Dia mendapatkan tiga orang kawan, yakni dua orang tosu dan seorang hwesio yang kini dikumpulkan di situ, selain untuk bersama-sama mengurus perkumpulan itu, juga untuk menjadi kawannya menghadapi Kwan Cu.

Dua orang tosu itu memang telah mengangkat saudara dengan dia dan mengganti nama menjadi Thian-eng Sianjin dan Te-eng Sianjin. Dua orang saudara ini memang tadinya adalah orang-orang kang-ouw dari kalangan jalan hitam, karena itu cocok sekali dengan Pek-eng Sianjin. Mereka adalah pelarian dari Thian-san-pai, yang diusir dan tidak diakui lagi karena mereka telah melakukan perbuatan jahat. Setelah bertemu dengan Pek-eng Sianjin, mereka lalu menerima pelajaran ilmu silat baru dan menjadi saudara angkat yang sehidup semati.

Ada pun hwesio itu adalah Loan Kek Hosiang, merupakan seorang hwesio pelarian dari Siauw-lim-pai. Juga seperti dua orang tosu tadi, hwesio ini sudah melarikan diri karena terancam oleh fihak Siauw-lim-pai yang hendak menghukumnya sesudah dia melakukan perbuatan terkutuk, yakni mengganggu anak bini orang!

Selain empat orang yang lihai ini, Pek-eng Sinjin menerima pula murid-murid yang juga menjadi pembantu-pembantunya. Akan tetapi yang paling mereka sayangi adalah tiga orang anak-anak yang usianya baru delapan sembilan tahun. Tiga orang anak kecil inilah mereka harapkan untuk menggantikan kedudukan mereka kelak, maka mereka bertiga, yakni Pek-eng Sianjin dan dua orang tosu lain, masing-masing mengambil seorang anak menjadi muridnya dan melatih ilmu silat kepada mereka ini.

Pek-eng Sianjin ialah seorang ahli pedang Sin-eng Kiam-koat, ada pun Thian-eng Sianjin mempunyai ilmu pedang Thian-san Kiam-hoat yang kini dia gabung pula dengan Sin-eng Kiam-hoat, Te-eng Sianjin memiliki ilmu tombak yang lihai dari Thian-san-pai pula. Ada pun Loan Kek Hosiang juga memiliki ilmu pedang dari Siauw-lim-pai yang kini dia tukar atau saling pelajari dengan ilmu pedang dari Pek-eng Sianjin. Kini mereka selalu berlatih dengan giatnya, terutama sekali sesudah mendengar bahwa tidak lama lagi akan datang seorang musuh besar dari Pek-eng Sianjin, ketua dari Pek-eng Kauw-hwe.

Ketika Kwan Cu mendaki Bukit Leng-san, dari kaki bukit itu kelihatannya sunyi saja. Akan tetapi setelah dia mendekati puncak dari bukit yang tidak seberapa tinggi itu, dia melihat sepasukan orang muda yang bertubuh kuat, terdiri dari dua puluh orang, menghadang di tengah jalan.

"Apakah yang datang ini bernama Lu Kwan Cu?" terdengar seorang di antara pasukan itu bertanya dengan suara heran.

Mereka adalah sebagian dari murid-murid Pek-eng Kauw-hwe yang ditugaskan menjaga dan menangkap musuh yang baru datang. Melihat bahwa musuh suhu mereka ternyata hanya seorang pemuda sederhana yang bertangan kosong, berpakaian sederhana serta kelihatannya lemah, orang-orang muda ini memandang ringan.

"Betul, aku adalah Lu Kwan Cu dan aku datang untuk memenuhi undangan dari Pek-eng Sianjin. Apakah dia berada di puncak bukit?"

Para orang muda itu saling pandang, kemudian terdengar gelak tawa mereka. Hampir mereka tidak percaya bahwa inilah musuh yang agaknya ditakuti oleh guru mereka. Apa sih anehnya orang muda yang tubuhnya kelihatan lemah itu?

"Kau yang bernama Lu Kwan Cu?" tanya seorang pemuda bermuka hitam dengan tubuh seperti raksasa sambil melangkah maju menghadapi kwan Cu. "Kalau begitu, menurutlah saja kami rantai untuk dihadapkan kepada suhu. Lebih baik kau menurut dari pada kami harus menggunakan kekerasan dan ada tulang-tulangmu yang patah!" katanya mengejek dan kembali terdengar suara ketawa di sana-sini.

Kwan Cu tidak marah, bahkan merasa kasihan terhadap mereka. Ia tahu bahwa memang banyak orang muda yang tingkahnya seperti mereka ini. Baru mempelajari sejurus dua jurus ilmu silat saja, lalu merasa diri terpandai dan kuat, siap untuk mencari keributan dan memukul orang untuk memamerkan kepandaiannya.

Beginilah contoh orang yang masih dangkal ilmu pengetahuannya dan belum mengerti benar bahwa hakekat dari pada ilmu silat yang sesungguhnya bukan dipergunakan untuk menyombongkan diri. Bahkan sebaliknya, makin tinggi ilmu yang telah dipelajarinya akan merasa bahwa dia masih belum mengerti apa-apa sehingga selalu berlaku merendah.

"Sahabat, aku datang bukan untuk mencari permusuhan, akan tetapi untuk memenuhi undangan Pek-eng Sianjin. Mengapa kau bersikap begini kasar?"

Si muka hitam itu tertawa mengejek. "Ha-ha-ha-ha! Kami mendengar bahwa orang yang bernama Lu Kwan Cu akan datang untuk mengadakan pibu (mengadu kepandaian silat) dengan suhu. Akan tetapi kalau orangnya ternyata hanya seperti engkau saja, untuk apa suhu harus melelahkan diri? Dari pada kau susah-susah menemui kematian di puncak, lebih baik sekarang saja aku yang akan menghajarmu!"

Setelah berkata demikian, si muka hitam kemudian memasang kuda-kuda dan kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu menyambar ke arah dada Kwan Cu. Dengan tenang Kwan Cu menanti datangnya pukulan tanpa mengelak sedikit pun.

"Bukkk!"

Pukulan itu dengan kerasnya tiba pada dada Kwan Cu, akan tetapi pendekar muda ini berkedip pun tidak. Bahkan sebaliknya, si muka hitam itu lalu terlempar ke belakang dan tulang-tulang jari tangannya patah-patah! Dia bergulingan di atas tanah mengaduh-aduh karena rasa sakit membuat dia lupa malu. Jantungnya terasa ditusuk-tusuk ribuan jarum.

Gegerlah keadaan di situ. Para muda itu cepat mencabut senjata sehingga sebentar saja hujan senjata menjatuhi tubuh Kwan Cu. Tapi pemuda ini tidak mau berurusan dengan anak-anak muda yang dianggapnya masih hijau dan tolol itu. Sekali tubuhnya berkelebat, para pengeroyok itu melongo karena tahu-tahu pemuda yang akan dikeroyoknya itu telah lenyap dari situ.

Pada saat mereka menengok, ternyata bahwa Kwan Cu sudah berlari cepat menuju ke puncak bukit! Barulah mereka kemudian beramai-ramai mengejar sambil berteriak-teriak. Akan tetapi, mana bisa mereka menyusul larinya pemuda sakti itu?

Sesudah mendekati puncak, Kwan Cu melihat bangunan tembok di atas puncak gunung itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia mendengar suara angin yang aneh dan tahulah dia bahwa banyak sekali senjata gelap menyambar ke arah dirinya.

Mendengar suara angin sambaran itu, Kwan Cu pun tahu bahwa yang menyambar hanya senjata-senjata yang digerakkan oleh orang-orang yang masih lemah tenaganya. Maka dia hanya memutar kedua lengannya sambil mengerahkan tenaga sedikit saja. Semua anak panah yang ratusan banyaknya itu runtuh, tak dapat melukainya, bahkan sebatang pun tidak ada yang bisa merobek bajunya!

Dia berlari terus dan berseru, "Pek-eng Sianjin, bagus benar kau menyambut datangnya tamu yang kau undang sendiri!"

Hati pemuda ini mulai panas dan biar pun tadinya dia tidak mengandung maksud buruk terhadap Pek-eng Sianjin, namun sekarang pandangannya lain. Orang seperti Pek-eng Sianjin yang ternyata curang sekali itu amat berbahaya bagi keamanan umum dan perlu disingkirkan.

Belum juga dia sampai di depan bangunan itu, dari atas pohon menyambar turun tubuh empat orang yang gerakannya amat gesit. Mereka ini adalah Pek-eng Sianjin, Thian-eng Sianjin, Te-eng Sianjin dan Loan Kek Hosiang, semuanya siap dengan senjata.

"Lu Kwan Cu, sekarang rasakan pembalasan dendamku!" berseru Pek-eng Sianjin yang cepat menyerang dengan pedangnya, disusul oleh tiga orang saudaranya.

Kwan Cu marah bukan main, akan tetapi dia tetap mengelak dan menyabarkan hatinya. Sambil meloncat ke sana ke mari mengelakkan diri dari sambaran empat senjata lawan, dia berkata keras,

"Pek-eng Sianjin, insyaflah kau! Aku telah mengampuni nyawamu karena kau bersumpah tidak ikut membunuh guruku. Sekarang aku datang sebagai tamu yang kau undang untuk mengadakan pibu. Mengapa kau berlaku curang, telah menyuruh orang mengeroyok dan melepas anak panah, sekarang kau mengeroyok pula? Apa kehendakmu?"

"Bangsat rendah! Gurumu telah membunuh empat orang adikku, kemudian kau pun telah menghinaku. Apa kau kira kini aku mau melepaskan engkau dari sini? Bersiaplah untuk mampus!"

Serangan mereka itu dipercepat dan terpaksa Kwan Cu mencabut keluar sulingnya. Dia mengerahkan tenaga lantas menangkis sekaligus serangan empat batang senjata. Akan tetapi, meski dia berhasil membikin terpental senjata-senjata itu, dia tidak bisa membikin senjata itu terlepas dari pegangan lawan-lawannya. Mengertilah Kwan Cu bahwa para pengeroyoknya memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

"Pek-eng Sianjin, sekali lagi kuharap kau mau sadar dan tahu akan kesopanan di dunia kang-ouw. Kalau mau berpibu secara baik, pergunakanlah aturan. Kecuali kalau memang kau sengaja mau mengadu nyawa!"

"Hari ini kalau bukan kau tentu aku yang mati di sini!" jawab Pek-eng Sian-jin sambil menyerang dengan buasnya.

Mulai timbul amarah Kwan Cu. Sudah nyata sekarang bahwa tosu ini memang berakhlak bejat, menurutkan nafsu hati dan dendam tanpa mengingat bahwa fihaknya sendirilah yang salah besar.....


Empat orang adik seperguruannya tidak akan binasa di tangan Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Ang-bin Sin-kai kalau tidak melakukan kejahatan luar biasa, dan Pek-eng Sianjin sendiri pun tidak akan mengalami hinaan dari Kwan Cu kalau saja dia bertindak di atas jalan yang benar. Sekarang, sebaliknya dari pada menginsyafi kedosaannya, kakek ini bahkan secara amat curang dan tidak tahu malu telah mengeroyok Kwan Cu dan sudah terang menghendaki kematian pemuda ini.

"Kau mencari penyakit sendiri!" seru Kwan Cu dan dia pun mulai melakukan serangan balasan.

Pek-eng Sianjin adalah seorang tokoh kang-ouw dan ilmu silatnya sudah cukup tinggi, demikian pula tiga orang kawannya yang mengeroyok. Mereka mengurung Kwan Cu dari empat jurusan dan melakukan serangan-serangan hebat.

Tetapi Kwan Cu yang gesit dan tingkat ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi itu, melayani mereka dengan amat tabah. Sulingnya bergerak-gerak bagai naga menyambar sehingga setiap serangan lawan kalau tidak dielakkannya tentu dapat ditangkis. Sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, dia bergerak menurut Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na dan mencoba untuk merampas senjata lawan.

Namun keempat orang lawannya itu dapat bergerak gesit dan mereka lebih berhati-hati sekali ketika Pek-eng Sianjin berseru,
“Awas, jangan membiarkan dia merampas senjata. Awas terhadap tangan kirinya!"

Kwan Cu mendongkol sekali. Sampai sebegitu jauh dia belum dapat merampas senjata mereka. Bila dia memang mempunyai niat untuk menyebar maut, kiranya dengan mudah dia akan dapat menggulingkan para pengeroyok ini dengan menggunakan ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut atau pun dengan sulingnya untuk menotok jalan darah di tubuh lawan.

Akan tetapi, Kwan Cu tidak mau sembarangan membunuh. Ia belum kenal siapa adanya tiga orang kawan Pek-eng Sianjin ini dan tidak tega menjatuhkan tangan kejam terhadap orang-orang yang belum diketahui kejahatannya.

Karena kepungan mereka makin rapat dan desakan mereka makin menghebat, Kwan Cu berseru keras dan tiba-tiba saja lawannya menjadi bingung. Tubuh pemuda ini sekarang bergerak sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata mereka.

Sebentar Kwan Cu mendesak Pek-eng Sianjin, sebentar pula berganti lawan dan bahkan kadang-kadang melompat tinggi sekali untuk turun di sebelah belakang seorang di antara mereka. Pemuda ini mengeluarkan kepandaiannya dan menggunakan ginkang-nya yang paling tinggi.

Pengepungan itu menjadi kacau balau dan permainan senjata mereka kini tidak teratur lagi. Mereka membacok dan menusuk ke mana saja bayangan pemuda itu berkelebat, akan tetapi tidak pernah mendapatkan sasaran.

Pek-eng Sianjin yang sudah menjadi penasaran dan amat marah tiba-tiba saja menubruk dengan pedangnya dari belakang, dibarengi dengan tangan kirinya yang mencengkeram hendak memeluk leher. Inilah suatu serangan yang disebut Pek-mo Jio-beng (Iblis Putih Merebut Nyawa), hebatnya bukan main.

Pedang itu digerakkan dengan khikang sepenuhnya sehingga ujung pedang jadi tergetar, selain cepat juga amat kuatnya dapat menembus dinding baja. Sedangkan tangan kiri itu mencengkeram dengan gerakan Kin-na-jiauw yang dilakukan melalui pengerahan tenaga lweekang sepenuhnya. Jangan kata kulit atau daging manusia, bahkan batu karang yang keras juga akan hancur terkena cengkeraman ini.

Walau pun amat lihai, sesungguhnya ilmu serangan ini adalah semacam gerak tipu yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah nekat dan hendak mengadu jiwa dengan lawannya. Gerakan Pek-mo Jio-beng ini tidak dapat ditarik kembali, sekali dikeluarkan, kalau lawannya tangguh tentu akan kena dipeluk untuk mati bersama, kalau lawannya kurang tangguh pasti takkan dapat mengelakkan diri dari dua serangan yang merupakan sepasang tangan maut itu!

Kwan Cu mendengar suara angin serangan yang amat dahsyat ini, yang dilakukan oleh Pek-eng Sianjin dari belakang. Pemuda ini pun tahu bahwa lawan ini telah berlaku nekat dan telah mengeluarkan serangan dari kepandaian simpanan. Biar pun pemuda ini tidak melihat dengan matanya, namun telinga dan perasaannya yang amat tajam sudah dapat membedakan bahwa Pek-eng Sianjin melakukan serangan dengan pedang serta tangan kiri.

Kwan Cu tidak menjadi gugup. Pada saat itu, tombak di tangan Te-eng Sianjin menusuk perutnya dari depan. Kwan Cu yang lebih memperhatikan serangan dari arah belakang, mengangkat kaki kanan memapaki tombak ini dari samping. Gerakan semacam ini tidak sembarang ahli silat tinggi berani melakukannya, karena kalau meleset sedikit saja, tentu kaki akan beradu dengan ujung tombak dan betapa pun kuatnya, sepatu berikut kulit kaki tentu akan tertembus atau terluka.

Namun tendangan Kwan Cu ini tepat sekali datangnya, mengenai bawah mata tombak sehingga tombak itu terpental. Dengan meminjam tenaga tusukan tombak, Kwan Cu lalu membanting kaki ke kanan sehingga tubuhnya juga miring ke kanan, berbareng dia juga memukulkan sulingnya ke belakang punggung hingga tepat menangkis serangan pedang di tangan Pek-eng Sianjin. Ada pun pukulan tangan kiri Pek-eng Sian-jin hanya lewat di samping tubuhnya sebelah kiri.

Akan tetapi keadaan Kwan Cu yang tubuhnya miring dan kelihatannya berada dalam kedudukan berbahaya ini tidak mau disia-siakan oleh tiga orang kawan Pek-eng Sianjin. Te-eng Sianjin sudah menggerakkan tombaknya pula, menusuk dengan sekuat tenaga. Thian-eng Sianjin membacok dengan pedangnya, demikian pula Loan Kek Hosiang yang melakukan bacokan hebat dengan pedangnya! Agaknya sudah tidak ada harapan bagi Kwan Cu untuk menghindarkan diri dari tiga serangan hebat ini.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan seruan terkejut dari tiga orang itu yang wajahnya menjadi pucat sekali. Apa yang terjadi? Kwan Cu yang tubuhnya sudah miring itu, secepat kilat menangkap tangan kanan Pek-eng Sian-jin, lalu memencet keras hingga pedang lawannya terlepas.

Kemudian, sekaligus Kwan Cu mengerahkan tenaga lweekang sehingga badan Pek-eng Sianjin diangkat oleh tangan kirinya, langsung dibanting ke depan menjadi perisai yang menangkis semua serangan tiga orang itu!

Tombak Te-eng Sianjin tepat sekali menancap di perut Pek-eng Sianjin sampai tembus, pedang Thian-te Sianjin melukai pundaknya dan yang lebih lagi, pedang di tangan Loan Kek Hosiang membabat putus lengan kanan yang dipegang oleh Kwan Cu! Seketika itu juga tewaslah Pek-eng Sianjin, setelah mengeluarkan pekik yang menyeramkan tadi!

Sesudah melepaskan lengan yang sudah putus, Kwan Cu tidak mau berbuat kepalang tanggung. Tubuhnya bergerak cepat, suling di tangannya menyambar-nyambar, lantas robohlah tiga orang kawan Pek-eng Sianjin tadi dalam keadaan tertotok jalan darahnya!

Para anak murid Pek-eng Kauw-hwe yang kini sudah datang mendekat berdiri dengan wajah pucat, sama sekali tak berani bergerak atau bersuara. Tak pernah mereka sangka bahwa pemuda itu ternyata demikian lihainya!

"Kalian lihat, beginilah nasib orang yang berhati curang dan jahat. Pek-eng Sianjin telah mencari kematiannya sendiri. Aku masih tidak tega untuk membunuh orang-orang lain dan biarlah kematian Pek-eng Sianjin ini menjadi peringatan bagi kalian semua supaya mengubah watak dan berbuat kebaikan sesuai dengan jalan kebenaran. Rakyat sedang membutuhkan bantuan orang-orang pandai untuk mengusir penjajah, kenapa kalian tidak membantu perjuangan suci itu bahkan sebaliknya menimbulkan kekacauan? Pikirkanlah kata-kataku ini baik-baik!" Sesudah berkata demikian, tubuh pemuda ini berkelebat dan dalam sekejap mata lenyap dari situ.

Setelah terlongong-longong untuk beberapa waktu dan tidak berani bergerak atau pun membuka suara, barulah para anggota Pek-eng Kauw-hwe itu beramai-ramai menolong tiga orang tua yang lumpuh tertotok dan mengurus jenazah Pek-eng Sianjin yang amat mengerikan itu. Lengannya putus, isi perutnya berantakan keluar dan pundaknya hampir putus pula…..

********************
Kiam Ki Sianjin yang menjadi pembantu utama dari Si Su Beng yang kini menduduki istana kerajaan, dapat melihat bahwa perjuangan rakyat amat kuatnya dan mengancam kedudukan yang dipertuan. Dia tahu bahwa kekuatan perjuangan rakyat itu karena rakyat dari segala lapisan serentak bangkit dan dipimpin serta dibantu pula oleh orang-orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi.

Oleh karena itu, dia mendapatkan sebuah pikiran yang sangat baik. Dia mengirim surat kepada semua partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Thian-san-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai dan lain-lain. Juga dia mengundang tokoh-tokoh besar seperti Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Seng Thian Siansu dari Kun-lun-pai dan fihak-fihak lain yang kelihatannya anti kaisar penjajah.

Undangan itu untuk mengadakan pertemuan atau yang disebutnya musyawarah besar di Bukit Tai-hang-san pada Gouw-gwe Cap-gouw (Bulan lima tanggal lima belas), di mana akan dirundingkan dan diperdebatkan pendirian mereka yang bertentangan.

Tentu saja secara diam-diam Kiam Ki Sianjin mengumpulkan tokoh-tokoh yang sekiranya akan berdiri pada fihaknya, yakni seperti Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Toat-beng Hui-houw, Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang yang disebut Bu-eng Siang-hiap dan yang tadinya membantu putera An Lu Shan dan sesudah putera mahkota itu dibinasakan oleh Si Su Beng, kemudian menyerah serta membantu pula kepada Si Su Beng.

Masih banyak tokoh-tokoh berkepandaian tinggi yang berdiri di fihaknya, maka sekali ini Kiam Ki Sianjin bermaksud mengundang semua tokoh dan apa bila fihak yang anti kaisar masih tak mau mengalah, di puncak Tai-hang-san itu akan dijadikan tempat pembasmian bagi mereka!

Banyak para ketua partai persilatan dan tokoh-tokoh besar sengaja datang kepada Kiam Ki Sianjin untuk meminta penjelasan setelah menerima surat itu. Di antara mereka yang datang adalah Bian Ti Hosiang tokoh ke dua dari Bu-tong-pai dan Bin Hong Siansu tokoh ke dua dari Kim-san-pai.

Sebagaimana sudah dituturkan pada bagian depan, dua orang tokoh ini kebetulan sekali bertemu dengan Kwan Cu di gedung Kiam Ki Sian-jin dan sudah mencoba kepandaian pemuda itu pula. Kini mereka pergi dari istana untuk kembali ke tempat masing-masing, menyampaikan hasil penyelidikan mereka setelah bertemu dengan Kiam Ki Sianjin.

Meski pun mereka keluar dari istana tidak bersama-sama, namun setelah tiba di luar kota raja, mereka bertemu dan melakukan perjalanan bersama.

"Bin Hong Toyu, bagaimana pendapatmu mengenai bocah yang mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai itu?" di tengah perjalanan Bian Ti Hosiang bertanya.

Mereka melakukan perjalanan sambil mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga tubuh mereka bergerak bagaikan terbang saja, akan tetapi mereka tidak kelihatan lelah, bahkan masih bisa bercakap-cakap. Ini menunjukkan betapa tingginya ilmu kepandaian mereka.

Bin Hong Siansu menghela napas panjang. "Kita harus mengakui bahwa kita sudah tua dan ketinggalan jaman. Secara jujur harus kuakui bahwa selama hidup aku belum pernah melihat seorang pemuda yang demikian lihainya."

"Kalau begitu, fihak yang anti kaisar tentu jauh lebih kuat dari pada fihak yang membantu kaisar," kata pula Bian Ti Hosiang tokoh ke dua dari Bu-tong-pai itu.
"Belum tentu demikian. Biar pun pemuda itu lihai, tak mungkin kepandaiannya akan bisa mengatasi Hek-i Hui-mo atau Toat-beng Hui-houw, Kiam Ki Sian-jin juga belum tentu kalah, tadi kelihatan kalah karena mereka bertempur menggunakan meja, hal yang amat aneh!" jawab Bin Hong Siansu. "Bagiku sendiri, kurasa pendirian Kiam Ki Sianjin lebih benar. Kalau orang kang-ouw tidak mau membantu kaisar, hal itu berarti bahwa mereka akan mendatangkan bencana yang lebih besar kepada rakyat. Apa bila pemberontakan-pemberontakan itu dapat ditindas dan keadaan negara aman kembali, tentu rakyat hidup tenang dan damai. Kaisar adalah pilihan Yang Maha Kuasa, jatuh bangunnya sebuah kerajaan, menang kalahnya perebutan kedudukan kaisar, semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Mengapa harus membangkang terhadap keputusan nasib yang telah ditentukan oleh Thian?"

Bian Ti Hosiang mengerutkan kening. "Pinceng masih belum bisa mengambil keputusan, terserah kepada suheng Bian Kim Hosiang saja."

Memang di dalam hatinya, hwesio Bu-tong-pai ini masih ragu untuk menyetujui pendapat tosu dari Kim-san-pai itu. Dia pun terpengaruh oleh bujukan Kiam Ki Sianjin, akan tetapi karena dia juga tahu bahwa suheng-nya sering kali menyatakan tidak sukanya terhadap pemerintah penjajah, maka dia sendiri tidak berani mengambil keputusan.

Perjalanan dilanjutkan cepat sekali dan tahu-tahu siang telah berganti senja dan angkasa gelap sekali, agaknya akan turun hujan.

"Kita harus mencapai tempat bermalam," kata Bin Hong Siansu kepada kawannya.
"Benar, agaknya akan turun hujan dan kita masih berada di dalam hutan. Apakah ada goa untuk berlindung di hutan ini?"
"Jangan khawatir," kata Bin Hong Siansu, "di luar hutan ini terdapat sebuah hutan dan di situ ada seorang kenalanku. Dia adalah Siok Tek Tojin yang mengepalai sebuah kuil."

Mereka lalu mempercepat larinya dan tak lama kemudian benar saja, setelah keluar dari hutan mereka tiba di sebuah dusun. Bin Hong Siansu membawa kawannya ke sebuah kuil yang cukup besar, disambut oleh seorang tosu bertubuh tinggi kurus dan bermata seperti mata burung.

Bian Ti Hosiang yang berpandangan awas dapat menduga bahwa tosu yang menyambut mereka ini berhati kejam. Akan tetapi karena tuan rumah adalah kawan dari Bin Hong Siansu, apa lagi menyambut mereka dengan amat ramah, dia pun tidak memperlihatkan kecurigaannya.

Dengan ramah Siok Tek Tojin menyambut dua orang tamunya, mengeluarkan hidangan dan bercakap-cakaplah mereka dengan asyiknya. Dari percakapan dengan tuan rumah, Bian Ti Hosiang segera tahu bahwa tosu ini adalah seorang yang memuji-muji kaisar dan memuji-muji Kiam Ki Sianjin pula.

Malam hari itu, Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu menginap di kamar yang berlainan. Hal ini adalah atas kehendak tuan rumah yang ingin menghormati kedua tamunya dan ingin menyediakan tempat yang enak bagi para tamunya.

"Di sini ada banyak kamar, harap Ji-wi Beng-yu (dua sahabat) jangan sungkan-sungkan," katanya berkali-kali sambil tersenyum.

Menjelang tengah malam, pada waktu Bian Ti Hosiang masih duduk bersemedhi di atas tempat tidurnya, tiba-tiba dia mendengar suara dari arah jendela dan ketika dia membuka mata dan memandang, terkejutlah dia melihat asap bergulung-gulung masuk dari jendela itu! Dia cepat melompat turun, akan tetapi segera terguling karena tercium olehnya bau yang harum dan keras sekali. Ia pun maklum bahwa asap itu adalah asap beracun yang dapat membius orang, akan tetapi sebentar saja dia telah roboh pingsan.

Ketika dia sadar kembali, dia mendapatkan dirinya masih rebah di atas lantai dengan kedua tangan ke belakang dan ketika dia hendak mengerahkan lweekang-nya, ternyata bahwa seluruh tubuhnya sudah lemas, tanda bahwa jalan darahnya telah ditotok orang secara lihai sekali. Asap telah menghilang, akan tetapi hwesio ini masih merasa pening. Dengan tubuhnya yang sangat lemah karena jalan darahnya tidak lancar, dia bergulingan dan dengan susah payah dapat juga dia duduk dan menyandarkan punggungnya pada tiang pembaringan. Kemudian dia berseru,

"Penjahat manakah yang begitu curang menyerang orang tanpa memberi tahu terlebih dahulu?" Dari luar jendela terdengar suara orang ketawa mengejek,
"Kiu-bwe Coa-li, apakah kau sudah membereskan Siok Tek Tojin?" suara itu bertanya, kemudian dijawab oleh suara wanita yang kecil tinggi melengking.
"Sudah, hanya tosu dari Kim-san-pai itu yang masih harus kita bereskan. Bagaimana, Pak-lo-sian, apakah babi gemuk itu sudah dapat dibikin beres?"
"Ha-ha-ha, sudah heres, dia sudah tidak berdaya. Marilah kita bekuk Bin Hong Siansu," kata suara pertama yang besar dan parau.

Diam-diam Bian Ti Hosiang tertegun dan terheran. Benarkah pendengarannya? Apakah betul dua orang yang berada di luar jendela itu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Kalau memang benar, mengapa dua orang tokoh besar yang luar biasa lihainya itu melakukan perbuatan seperti ini terhadap dia? Ia teringat akan sahabatnya yang menurut pembicaraan tadi belum tertawan, maka sambil mengerahkan lweekang-nya dia cepat berseru,

"Bin Hong Toyu! Hati-hatilah, ada dua orang jahat di tempat ini...!"

Belum lama gema suaranya lenyap, pintu kamamya ditendang orang dan masuklah Bin Hong Siansu.

"Bian Ti Hosiang, ada terjadi apakah…?" Tosu dari Kim-san-pai ini bertanya.

Akan tetapi sebagai jawaban pertanyaan ini, mendadak dari jendela menghembus asap tebal, asap hitam dan putih yang sebentar saja memenuhi kamar itu.
"Bin Hong Siansu, berhati-hatilah terhadap asap beracun itu. Cepatlah kau pergi!" teriak Bian Ti Hosiang.

Mendengar ini Bin Hong Siansu terkejut sekali dan cepat melompat keluar dari kamar itu. Akan tetapi baru saja dia sampai di pintu yang sudah penuh oleh asap hitam, dia roboh terkena pukulan yang amat dahsyat, tepat pada dadanya. Pemukul yang tidak kelihatan karena terhalang oleh asap hitam itu tentu mempunyai kepandaian tinggi sekali karena pukulannya jatuh tanpa dapat ditangkis atau dielakkan lagi.

Bin Hong Siansu terhuyung-huyung dan tanpa disadarinya mengisap asap itu, lalu roboh pingsan. Demikian pula Bian Ti Hosiang, biar pun sudah berusaha dengan merebahkan tubuhnya di atas lantai supaya jangan kena mengisap asap itu, akhirnya dia pun pingsan karena tidak tahan pula dengan asap yang ternyata bisa mengapung rendah itu.

Di dalam kamar yang penuh asap itu lantas berkelebat bayangan yang berbaju hitam. Ia menghampiri Bian Ti Hosiang, memukul pelipis hwesio ini dengan perlahan kemudian dia melakukan hal yang sama kepada Bin Hong Siansu. Setelah melakukan hal ini, dia lalu tertawa bergelak dan sekali berkelebat saja, dia telah menghilang keluar dari kamar itu, masuk di dalam gelap.

Akan tetapi belum lama dan belum jauh dia meninggalkan rumah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan lain di depannya dan tahu-tahu seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana telah berdiri menghadangnya. Pemuda itu menegurnya.

"Siapakah Losuhu ini dan mengapa malam-malam berlari-larian seperti dikejar orang?" Pemuda itu bukan lain adalah Lu Kwan Cu yang kebetulan pada malam hari itu tiba di dusun ini sepulangnya dari Leng-san dan hendak memulai perjalanannya untuk mencari musuh-musuh besar gurunya.

Dia memandang dengan penuh perhatian dan melihat bahwa orang yang berlari dengan gerakan luar biasa cepatnya itu ternyata adalah seorang hwesio yang tubuhnya tinggi kecil, bermuka amat menyeramkan dan berpakaian serba hitam, mengingatkan dia akan pakaian Hek-i Hui-mo!

Ketika hwesio ini menjawab, hati Kwan Cu berdebar. Suara hwesio ini demikian tinggi dan kecil, lebih mirip seperti suara wanita!

"Bedebah, perlu apa kau bertanya-tanya? Minggirlah!"

Tangan hwesio itu segera mencengkeram ke arah pundaknya. Inilah ilmu silat semacam Eng-jiauw-kang (Pukulan Kuku Garuda) yang lihai sekali!

Kwan Cu tidak berani berlaku lambat karena ketika angin pukulan ini datang menyambar, ia mencium bau yang amat amis. Ia menduga dengan hati bergidik bahwa tangan hwesio ini tentulah mengandung racun berbahaya pula.

Dengan sigapnya Kwan Cu mengelak dan sebelum dia menegur, hwesio itu yang juga tercengang melihat betapa pemuda yang dikiranya pemuda dusun ini dapat mengelakkan diri dari pukulannya, cepat berlari pergi. Kwan Cu diam-diam menggunakan kegesitannya dan sekali mengulur tangan dia sudah berhasil menjambret baju hitam yang panjang itu sehingga sepotong kain hitam tertinggal di dalam tangannya.

Kwan Cu hendak mengejar, akan tetapi malam gelap sekali dan hwesio itu dapat berlari cepat. Dia tidak mengenal hwesio itu dan tidak tahu urusannya, tidak enaklah kalau dia terus mengejar. Maka dia lalu melompat ke arah kuil yang berada di dekat situ, dari mana hwesio yang aneh itu tadi melarikan diri. Robekan kain hitam itu dikantonginya dan dia melakukan ini tanpa disadarinya.

Dengan hati-hati Kwan Cu melakukan penyelidikan dan dia masih mencium bau harum yang menyesakkan dada ketika dia mendekati kuil itu. Cepat pemuda ini mengatur napas dan mengerahkan tenaga lweekang yang didapatinya ketika bersemedhi di atas Pulau Pek-hui-to untuk mengusir racun dan ‘menyaring’ napas yang memasuki paru-parunya, kemudian dia melakukan pengintaian. Dan dia melihat pemandangan yang amat aneh di dalam sebuah kamar di kuil itu.

Setelah Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu sadar dari pingsannya, mereka merasa betapa kepala mereka seperti akan pecah. Karena totokan yang membikin tubuh Bian Ti Hosiang lumpuh telah bebas dan ikatan tangannya juga telah dilepaskan orang, maka dia bisa mengerahkan lweekang dan alangkah terkejutnya ketika dia merasa kepalanya sakit sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, tahulah dia bahwa dia telah menderita luka yang luar biasa hebatnya dan bahwa nyawanya tak akan tertolong lagi. Demikian pula dengan Bin Hong Siansu!

Tiba-tiba masuklah Siok Tek Tojin. Sebelah tangan kirinya lumpuh dan dia masuk sambil terpincang-pincang.

"Aduh, Ji-wi Bengyu, celaka..." katanya terengah-engah. "Hampir saja pinto sendiri tewas oleh dua orang siluman itu! Entah apa sebabnya Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li datang menyerbu dan menyebar kebinasaan!"
"Kau... juga bertemu dengan mereka…?" Bian Ti Hosiang yang masih merasa ragu-ragu bertanya sambil menahan sakit.
"Tentu saja! Lihat, pundak kiriku ditotok dan sampai sekarang pinto masih belum dapat membebaskannya dan separuh tubuhku lumpuh. Pak-lo-sian yang melakukan ini sambil berkata bahwa dosa pinto tak terlalu besar maka pinto diampuni. Kesalahan pinto hanya karena berani menerima Ji-wi sebagai tamu!"

"Apakah mereka juga bilang mengapa mereka menyerang kami?" tanya Bin Hong Siansu penasaran sambil memegangi kepalanya yang seperti mau pecah itu. Kemudian tiba-tiba dia muntahkan darah hitam dan jatuh pingsan pula!

Siok Tek Tojin menjadi bingung. Dengan tangan kanannya dia mencoba menyadarkan tosu dari Kim-san-pai itu. Akhimya dengan napas terengah-engah Bin Hong Siansu dapat sadar juga, akan tetapi dia sudah tidak kuat duduk lagi. Ada pun Bian Ti Hosiang sambil meramkan mata bersandar pada tiang pembaringan, lalu berkata terengah-engah,

"Lekas ceritakan... apa yang mereka katakan..."

Dengan suara hampir menangis Siok Tek Tojin berkata,
"Kiu-bwe Coa-li yang berkata bahwa Ji-wi harus dibunuh karena Ji-wi telah mengadakan hubungan dengan Kiam Ki Sianjin di istana."

Akan tetapi keadaan kedua orang pendeta itu sudah payah sekali sehingga sukar untuk mendengarkan dengan jelas. Hal ini diketahui pula oleh Siok Tek Tojin, maka pendeta ini cepat-cepat pergi mengambil kertas, pit dan tinta bak lalu berkata,

"Ji-wi, harap sudi menuliskan sedikit kata-kata keterangan tentang peristiwa pembunuhan ini agar pinto bisa membawanya ke Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tanpa ada penjelasan Ji-wi, pinto khawatir sekali kalau-kalau ada salah sangka terhadap diri pinto."

Kedua orang pendeta ini segera maklum akan maksud Siok Tek Tojin. Karena luka yang diderita oleh Bin Hong Siansu jauh lebih hebat dari pada Bian Ti Hosiang, maka hwesio Bu-tong-pai itulah yang menggerakkan tangan menerima pit itu dan dengan pelayanan Siok Tek Tojin, dia kemudian menuliskan beberapa huruf di atas kertas dengan tangan gemetar.

TEECU BERDUA DISERANG OLEH KIU-BWE COA-LI DAN PAK-LO-SIAN

Kemudian tulisan itu ditanda tangani oleh Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu. Setelah menanda tangani surat itu, keduanya lalu mengeluh dan akhirnya roboh pingsan tanpa pernah siuman kembali!

Ada pun Kwan Cu yang mengintai dari luar, melihat dan mendengar semua ini. Dari jauh dia pun tahu bahwa dua orang pendeta yang terluka itu tidak akan tertolong lagi, karena sinar mukanya sudah suram, tidak ada cahaya lagi. Ia teringat akan hwesio tinggi kurus yang berpakaian hitam tadi, maka dia tidak menanti sampai Bian Ti Hosiang menuliskan keterangan, cepat dan tanpa terdengar oleh siapa pun juga dia lalu meloncat keluar dan mengejar ke arah bayangan hitam yang telah melarikan diri.

Pemuda ini merasa terheran-heran. Dia mengenal dua orang pendeta itu yang pernah dijumpainya di rumah tinggal Kiam Ki Sianjin. Memang mereka itu mencurigakan dengan kunjungan mereka di rumah Kiam Ki Sianjin, pembantu utama kaisar penjajah, namun mengapa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian membunuh mereka?

Ia telah mengenal watak dua orang tokoh besar itu, yang kebesaran namanya berendeng dengan mendiang suhu-nya, yang termasuk dalam Lima Tokoh Besar di dunia kang-ouw. Kenapa sekarang mereka melakukan pembunuhan secara curang? Kenapa pula mereka mempergunakan asap beracun?

Bagaikan kilat menyambar masuklah dugaan di dalam hati Kwan Cu bahwa agaknya ada orang yang hendak merusak nama baik Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Jika dugaannya benar, maka yang hendak merusak nama mereka itu bukan lain adalah hwesio berjubah hitam tadi! Dia harus dapat mengejar dan menyusulnya untuk mencari keterangan lebih jelas!

Akan tetapi dia sudah tertinggal jauh. Selain malam gelap sekali, dia juga tidak tahu arah mana yang kemudian diambil oleh hwesio aneh itu. Sampai fajar menyingsing Kwan Cu mengejar dengan cepat, akan tetapi sia-sia. Dia tidak melihat bayangan hwesio aneh itu dan dengan putus asa dia lalu menghentikan pengejarannya.

Ketika dia mengenangkan kembali apa yang telah terjadi dan dilihatnya di dalam kuil tua itu, dia terkejut. Tosu yang menjadi tuan rumah itu berkata bahwa dia menjadi saksi dan sudah bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian! Bahkan dia sendiri juga ditotok oleh Pak-lo-sian. Inilah aneh sekali!

Benarkah hal itu terjadi? Kalau tidak benar, ini hanya berarti bahwa tosu itu juga menjadi anggota komplotan hwesio jubah hitam dan dia sengaja berpura-pura untuk memperkuat usaha memburukkan nama dua orang tokoh besar itu!

Mendapat pikiran ini, Kwan Cu tidak mempedulikan bahwa tubuhnya sudah mulai lelah, bukan karena setengah malam mengejar-ngejar bayangan yang tak tentu arahnya, akan tetapi karena dia kurang tidur. Ia berlari-lari lagi, kini lebih cepat, kembali ke kuil di mana dia menyaksikan peristiwa yang aneh itu.

Setelah tiba di kuil dan masuk ke dalam kamar yang pernah dilihatnya, Kwan Cu hanya mendapatkan jenazah Bian Ti Ho-siang dan Bin Hong Siansu, sudah dingin dan dengan wajah membayangkan penasaran. Ada pun tosu yang menjadi pengurus kuil sudah tidak kelihatan mata hidungnya.

Dia memasuki kamar-kamar lain, memanggil-manggil, akan tetapi tidak seorang pun ada yang menjawab. Saat dia melakukan pemeriksaan, ternyata bahwa semua pakaian tosu itu tidak ada di kamar, tanda bahwa tosu itu telah pergi membawa semua pakaiannya.

Ini berarti bahwa tosu itu bukan sekedar pergi keluar ke tempat yang dekat, tetapi tentu akan melakukan perjalanan jauh. Tentunya untuk menyampaikan warta pembunuhan ini ke Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!

Kwan Cu menghadapi urusannya sendiri yang dianggap lebih penting dari pada urusan ini. Urusan ini hanya merupakan teka-teki yang membingungkannya, akan tetapi tak ada sangkut-pautnya dengan dia. Maka dia lalu mengurus dua jenazah itu, mengubur mereka dengan baik-baik di halaman kuil, lalu melanjutkan perjalanannya sambil mengenangkan tugas-tugasnya yang amat berat yang masih harus dilaksanakannya.

Pertama-tama ia harus mencari musuh besar kongkong-nya yang hanya tinggal seorang lagi saja, yakni An Kai Seng, keturunan An Lu Shan yang masih belum dia ketahui di mana tempat tinggalnya. Ada pun musuh besar gurunya adalah Jeng-kin-jiu, Toat-beng Hui-houw, dan Hek-i Hui-mo, tiga orang tokoh besar yang tidak boleh dipandang ringan dan yang masih selalu meragukan hatinya apakah dia akan sanggup menghadapi dan mengalahkan mereka.

Di antara tiga orang tokoh besar ini, ia merasa paling benci kepada Toat-beng Hui-houw. Tidak saja kakek yang seperti siluman ini juga mengeroyok dan ikut membunuh Ang-bin Sin-kai, akan tetapi dia mendengar pula akan kejahatan kakek ini dan terutama sekali karena dia masih ingat betapa Pek-cilan Thio Loan Eng, wanita gagah yang dia kasih sayangi seperti kepada ibu sendiri, telah menjadi korban keganasan kakek itu. Dia harus membalas dendam dan membunuh Toat-beng Hui-houw, tidak saja untuk membalaskan kematian suhu-nya, akan tetapi juga untuk membalaskan dendam Pek-cilan Thio Loan Eng.

Teringat akan Pek-cilan Thio Loan Eng, terbayanglah wajah Sui Ceng di depan matanya dan Kwan Cu menghela napas. Otomatis kedua kakinya mogok berjalan dan dia malah menjatuhkan diri di bawah pohon, beristirahat dan melanjutkan lamunannya tentang Sui Ceng.

Selain mencari musuh-musuh besar gurunya, kongkong-nya serta Pek-cilan Thio Loan Eng, juga dia masih menghadapi urusan ini yang baginya tidak kalah pentingnya. Dia harus mencegah berlangsungnya perjodohan antara Kun Beng dan Sui Ceng. Dia harus melakukan ini demi kebaikan Sui-Ceng, demi kebaikan Kui Lan yang disia-siakan oleh Kun Beng dan demi kebaikan... dirinya sendiri.

"Aku cinta kepadanya... ahhh, gila benar, aku cinta mati-matian kepada Bun Sui Ceng!" Kwan Cu menggaruk-garuk kepalanya.

Dahulu dia tidak mempunyai perasaan seperti ini, akan tetapi semenjak dia bersumpah di depan gadis raksasa secara main-main untuk menghindarkan desakan gadis itu, bahwa dia sudah mempunyai seorang gadis pujaan, yakni yang bernama Bun Sui Ceng, sejak itu entah mengapa dia selalu terkenang kepada Sui Ceng.

Selalu terbayang gadis cilik yang lincah, jenaka dan manis itu. Sekarang, sesudah dia bertemu muka dengan Sui Ceng yang sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, hatinya jatuh betul-betul.

Akan tetapi helaan napasnya makin berat ketika dia teringat bahwa gadis itu bagaimana pun juga sudah bertunangan dengan Kun Beng, pertunangan yang sah karena disahkan oleh mendiang Pek-cilan Thio Loan Eng ibu dari Sui Ceng dan Pak-lo-sian Siang-koan Hai guru dari Kun Beng! Kalau menghalangi perjodohan itu berarti dia akan berhadapan dengan Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dan mungkin juga dengan Kiu-bwe Coa-li yang tentu akan melindungi nama baik muridnya!

"Beraaaaat...!" pikir pemuda ini sambil menarik napas panjang dengan wajah berduka, "Kenapa begitu memasuki dunia ramai aku harus berhadapan dengan tokoh-tokoh besar yang dahulu pun sudah membikin susah padaku ketika aku masih kecil?"

Lamunannya semakin menjauh. Kenangannya membawanya kepada masa kecilnya dan ketika dia teringat betapa Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, serta Kiu-bwe Coa-li mengurungnya, mendesaknya dan memaksanya serta menghinanya, Kwan Cu tersenyum gembira dan matanya bersinar-sinar.

"Biarlah, biar aku mencoba kepandaian mereka semua itu, hitung-hitung untuk menagih hutang mereka dahulu ketika aku masih kecil. Hitung-hitung aku mengangkat nama suhu Ang-bin Sin-kai yang patut disebut jago nomor satu di antara Lima Tokoh Besar dunia kang-ouw!"

Dengan adanya pikiran ini, Kwan Cu menjadi gembira kembali dan dia lalu melanjutkan perjalanannya, mencari keterangan mengenai An Kai Seng, musuh besar kongkong-nya atau keturunan terakhir An Lu Shan, pemberontak yang sudah banyak menghancurkan kehidupan rakyat jelata itu…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR SAKTI : JILID-13
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger