logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pendekar Sakti Jilid 14


Puncak Tai-hang-san merupakan dataran dari batu karang yang cukup luas. Di sana sini terdapat batu karang pendek dan lebar sehingga merupakan tempat duduk yang amat enak dan baik. Pohon-pohon menghias puncak, akan tetapi di bagian dataran itu, semua pohon telah dirobohkan dan dibuang oleh Kiam Ki Sianjin hingga dataran itu merupakan tempat yang luas, yang sekiranya cukup untuk menampung ratusan orang yang hendak mengadakan rapat raksasa.

Dari jauh sudah kelihatan bahwa orang-orang yang mendatangi puncak itu terbagi atas dua kelompok. Di bagian kiri terdapat kelompok mereka yang membantu kaisar. Di situ sudah berkumpul banyak sekali orang, sedikitnya ada seratus orang.

Di antara para pemimpin yang duduk di bagian depan, di atas batu-batu karang, terlihat Kiam Ki Sianjin, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio dari Tibet, Toat-beng Hui-houw kakek yang berkuku panjang dan berwajah seperti siluman itu. Kelihatan pula Coa-tok Lo-ong, sute dari Hek-i Hui-mo, yakni hwesio yang tinggi kurus berjubah hitam, seorang tokoh besar yang tak kalah lihainya oleh Hek-i Hui-mo, karena hwesio ini merupakan ahli racun nomor satu di dunia!

Masih banyak pula tokoh-tokoh besar, di antaranya Mo Beng Hosiang serta Mo Keng Hosiang yang keduanya lebih terkenal sebagai Bu-eng Siang-hiap, lalu Kam Cun Hong panglima dari Si Su Beng, Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Di samping tokoh-tokoh besar ini, terdapat banyak sekali anak-anak murid mereka yang bersikap gagah.

Pada bagian kanan terdapat sekelompok orang yang jauh lebih kecil jumlahnya apa bila dibandingkan dengan kelompok di sebelah kiri. Pada bagian kanan inilah kelompok dari mereka yang menentang kaisar atau mereka yang membantu perjuangan rakyat dalam melawan penjajah. Mereka ini hanya terdiri dari sepuluh orang saja!

Kwan Cu memandang penuh perhatian dan dia mengenal semua orang di golongan ini. Tiba-tiba dadanya berdebar dan panas penuh cemburu dan iri hati ketika dia melihat Bun Sui Ceng berdiri di sebelah The Kun Beng di dekat Kiu-bwe Coa-li. Tak jauh dari situ terlihat Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Gouw Swi Kiat. Di sebelah ujung berdiri pula Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang sudah amat tua usianya, disertai empat orang tosu, yakni murid-muridnya atau tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai.

Kwan Cu mencari-cari dengan matanya. Ia heran tidak melihat adanya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Dengan sikap tenang pemuda ini mengikuti Yok-ong naik ke puncak dan berdiri di sebelah timur, tidak jauh dari kedua kelompok itu. Yok-ong sengaja tidak mau mendekati sefihak karena dia mempunyai siasat lain.

Semua orang yang melihat naiknya seorang kakek bermuka hitam seperti pantat kuali serta seorang pemuda dengan muka merah tidak karuan seperti udang direbus, menjadi terheran-heran. Tak seorang pun di antara mereka mengenal dua orang ini, bahkan Sui Ceng yang berwatak jenaka itu tersenyum geli melihat dua orang ini. Ia berbisik kepada Kun Beng dan menudingkan telunjuknya ke arah Kwan Cu dan Yok-ong. Dengan hati panas Kwan Cu melihat Kun Beng tersenyum geli pula.

Akan tetapi diam-diam dia merasa sangat kagum juga melihat fihak yang anti penjajahan ini, karena sesungguhnya fihak mereka hanya ada sepuluh orang sedangkan fihak lawan ada seratus orang. Semuanya kelihatan tenang-tenang dan gembira saja, sedikit pun tak terlihat gentar. Yang lucu sekali adalah Siangkoan Hai karena kakek ini mengeluarkan kotak berisi biji catur, kemudian menggurat-gurat tanah dan mengajak Seng Thian Siansu bermain catur!

Sebagai seorang ketua Kun-lun-pai, Seng Thian Siansu sudah kenal baik dengan Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai dan Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Karena itu dia mengangguk ke arah dua orang tua itu dan berkata dengan suara nyaring.

"Bian Kim dan Bin Kong Ji-wi Beng-cu, sambil menunggu upacara dibuka marilah temani pinto main catur dengan Pak-lo-sian. Bukankah lebih menggembirakan dari pada harus menunggu-nunggu?"

Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu buru-buru membalas penghormatan itu dengan menjura kepada ketua Kun-lun-pai yang usianya lebih tua dari pada mereka dan yang biasa mereka hormati itu.

"Seng Thian Lo-siansu, pinceng menghaturkan terima kasih atas ajakan Siansu ini. Akan tetapi pinceng takut berdekatan dengan pembunuh-pembunuh keji yang tak tahu aturan, yang hanya memiliki nama besar sebagai tokoh utara, akan tetapi ternyata seorang yang biadab dan curang!"

Makian ini terang-terangan ditujukan kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai, karena tokoh besar utara adalah Pak-lo-sian. Akan tetapi yang dimaki hanya tertawa bergelak saja dan berkata kepada Seng Thian Siansu,

"Siansu, kenapa mengajak fihak yang terang-terangan menjadi penjilat kaisar? Sudahlah, mari kita bermain catur, jangan memancing datang anjing kelaparan hingga kegembiraan kita akan lenyap."

Keadaan menjadi tegang. Akan tetapi kedua fihak tak melanjutkan saling maki ini sebab pada saat itu, dari bawah gunung melayang dua bayangan orang yang gerakannya cepat sekali. Mereka ini ternyata adalah Kwa Ok Sin, ketua Bun-bu-pai ada pun orang ke dua adalah nenek yang aneh dan menyeramkan, yakni Liok-te Mo-li, ibu dari Kong Hoat yang pernah bertemu dengan Kwan Cu.

"Ha, saudara Kwa yang baik, marilah kita bermain catur!" kata Pak-lo-sian girang melihat ketua Bun-bu-pai ini, seorang yang walau pun kepandaiannya tidak seberapa tinggi, akan tetapi disegani oleh semua orang kang-ouw karena dia menjadi ketua dari perserikatan orang-orang gagah dan sastrawan, yang terkenal adil dan bijaksana.
"Kwa-enghiong, terima kasih bahwa kau sudi memenuhi undanganku," berkata Kiam Ki Sianjin sebelum Kwa Ok Sin menjawab ajakan Pak-lo-sian. "Silakan duduk di sini."

Kwan Ok Sin bingung. la lalu menggeleng-geleng kepala dan berkata,
"Tak kusangka bahwa Cu-wi sekalian telah membentuk dua kelompok hingga membuat siauwte menjadi serba salah. Biarlah siauwte berdiri di tempat yang tidak berfihak."

Tiba-tiba dia melihat kakek muka hitam dan pemuda muka merah yang duduk nongkrong di atas batu, di tengah-tengah antara dua kelompok itu, agaknya seperti dua orang dusun yang aneh sekali dan yang sikapnya seperti penonton.

"Ji-wi siapakah dan mengapa di sini?" tanya Kwa Ok Sin dengan heran.

Di antara seluruh tokoh kang-ouw, agaknya Kwa Ok Sin boleh dibilang orang yang paling dikenal dan mengenal orang. Hampir seluruh tokoh kang-ouw sudah dikenal oleh Kwa Ok Sin, baik tokoh persilatan mau pun tokoh kesusastraan, maka melihat kakek muka hitam dan pemuda muka merah itu, heranlah hati Kwa Ok Sin. Selamanya belum pernah dia bertemu muka dengan dua orang ini. Jangankan bertemu muka, mendengar pun belum pernah adanya orang-orang yang begini aneh mukanya.

Yok-ong tersenyum dan menjawab dengan suara kaku sekali, suara kasar dari orang dusun yang bodoh.

"Aku dan cucuku ini she Koai (Aneh), petani-petani di Gunung Tai-hang-san. Sekarang di atas gunung orang mengadakan keramaian, tentu saja kami datang untuk menonton." Setelah berkata demikian Yok-ong tertawa ha-ha-he-he-he dengan lagak amat lucu.

Kwa Ok Sin adalah seorang yang berpemandangan luas dan bermata tajam. Dia dapat menduga bahwa si muka hitam ini tentulah seorang kakek yang luar biasa, maka dia tidak berani berlaku lancang, lalu menoleh kepada Kwan Cu.

Akan tetapi pemuda ini juga sudah siap sedia. Begitu orang menoleh kepadanya, dia lalu meringis dan menyeringai, kemudian tertawa ha-ha-he-he-he pula seperti sikap Yok-ong.

"Cu-wi sekalian!" kata Kwa Ok Sin kepada orang-orang kedua fihak. "Kebetulan sekali di sini terdapat tempat untuk penonton, maka ijinkan siauwte berdiam di sini saja sebagai penonton."

Ia lalu duduk di atas batu hitam, dan mengajak Liok-te Mo-li duduk pula. Nenek ini melirik ke arah Yok-ong dan Kwan Cu, akan tetapi tidak berkata sesuatu, hanya menghampiri sebuah batu besar yang berada di ujung lapangan, agak jauh dari tempat itu.

Dengan tumit kakinya, dia mencongkel batu itu yang tiba-tiba saja melayang ke atas dan cepat nenek ini mengulur tangannya, menepuk batu itu sehingga mencelat ke atas lagi. Demikian sambil berjalan kembali, Liok-te Mo-li mempermainkan batu besar itu sampai ia tiba di dekat Kwa Ok Sin, lalu menurunkan batu itu untuk dipakai tempat duduk.

Semua orang, baik di fihak Kiam Ki Sianjin mau pun di fihak Pak-lo-sian Siangkoan Hai, melihat betapa nenek buruk rupa ini mempermainkan batu besar yang beratnya paling sedikit ada tiga ratus kati itu dengan demikian mudahnya, diam-diam memuji.

Nenek ini selamanya menyembunyikan diri sehingga jarang ada yang mengenal dirinya, kecuali beberapa orang tokoh besar yang berada di situ. Karenanya semua orang lalu menduga-duga, siapakah gerangan nenek yang datang bersama ketua Bun-bu-pai itu.

Setelah melihat bahwa para undangan telah mulai berkumpul dan terutama sekali semua orang terpenting sudah hadir, Kiam Ki Sianjin segera berdiri sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada seluruh yang hadir.

"Cu-wi sekalian, selamat datang di puncak dan banyak terima kasih atas perhatian Cu-wi sekalian yang sudi memenuhi undangan pinto."

Semua orang yang berada di sana segera mencurahkan perhatiannya kepada Kiam Ki Sianjin, kecuali Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Seng Thian Siansu yang masih saja asyik bermain catur.

Kiam Ki Sianjin lalu melanjutkan kata-katanya,
"Tanpa diatur terlebih dahulu, Cu-wi sekalian yang datang di sini ternyata telah memilih fihak masing-masing, dan sudah tentu saja yang berada di fihak kami adalah mereka yang membenci perang dan yang menghendaki keamanan dan perdamaian. Oleh karena itu, hendaknya dari fihak pembantu pemberontak yang pada saat ini menjadi tamu, suka mengajukan seorang ketua agar supaya dapat berunding dengan kami." Kiam Ki Sianjin menujukan kata-katanya ini kepada fihak Kiu-bwe Coa-li dan kawan-kawannya.

Kiu-bwe Coa-li hanya mengangkat cambuknya dan menggerakkannya di atas kepala.

"Tar! Tar! Tar!!"

Kiu-bwe Coa-li tak menjawab sesuatu, bahkan membuang muka tidak mau memandang kepada Kiam Ki Sianjin. Hanya terdengar bunyi ledakan cambuknya sebagai imbalan dari kata-kata yang dikeluarkan oleh Kiam Ki Sianjin tadi.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Seng Thian Siansu tertawa-tawa lalu berdiri.

"Pak-lo-sian, kau yang menang, lakukanlah tugasmu sebaiknya," kata Seng Thian Siansu yang sudah amat tua itu sambil tersenyum.

Pak-lo-sian menghadapi Kiam Ki Sianjin. Jarak antara mereka cukup jauh, ada dua puluh tombak. Sambil tertawa Pak-lo-sian berkata,
"Kiam Ki Sianjin, fihak kami tidak pandai bicara seperti kau! Kiu-bwe Coa-li hanya bicara melalui cambuknya, dan terpaksa aku dan Seng Thian Siansu tadi bertanding catur untuk menentukan siapa yang harus mewakili fihak kami. Memang benar kami telah membantu perjuangan rakyat dan bangsa kami, sekarang kami sudah datang di sini, ada omongan apa lekas keluarkan, kami mendengar!"

Sesudah berbicara demikian, Pak-lo-sian tertawa-tawa dan duduk lagi. Sikapnya seperti seorang anak kecil yang lucu.

"Tidak setuju!" tiba-tiba Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai berteriak. "Pinto tidak setuju kalau Pak-lo-sian atau Kiu-bwe Coa-li menjadi wakil fihak pembantu pejuang. Dua orang itu adalah manusia-manusia curang dan pengecut, tidak pantas menjadi wakil, tak boleh dipercaya omongannya!"
"Betul, aku pun sependapat dengan Bin Kong Toheng!" berkata Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai.

Merah wajah Kiu-bwe Coa-li, matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan api.

"Kau monyet-monyet tua dari Bu-tong-pai, datang-datang mengeluarkan hawa busuk dari mulut. Majulah kalau kalian berani!" bentak nenek ini dengan marah sekali.
"Siapa takut padamu, siluman wanita yang keji?" Bin Kong Siansu berteriak, akan tetapi Kiam Ki Sianjin cepat memegang lengannya dan berkata,
"Harap saja Siansu tidak merusak suasana dan dapat menyabarkan hati. Urusan pribadi dapat diurus kemudian, sekarang urusan negara yang harus didahulukan."

Di lain fihak, Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga menyabarkan hati Kiu-bwe Coa-li dengan kata-kata,
"Setan perempuan, apa sih sukarnya menghancurkan kepala dua orang kura-kura tua itu nanti kalau urusan besar ini sudah beres? Sabarlah, nanti kita bagi seorang satu!"

Suasana yang sudah menegang menjadi tenang kembali. Kiam Ki Sianjin lalu berkata kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
"Pak-lo-sian, bagus jika kau menjadi wakil fihakmu. Nah, dengarlah baik-baik. Fihak kami tidak menghendaki pertempuran yang terus-menerus di antara kita sendiri. Kaisar yang bijaksana sudah memberi kekuasaan kepadaku untuk memaafkan mereka yang pernah memberontak, asal saja mulai sekarang pemberontakan itu dihentikan. Bagi kami yang menyadari keadaan dan yang mentaati kehendak Thian, sangat tidak enak kalau harus membunuhi bangsa sendiri, walau pun mereka itu pemberontak-pemberontak keji. Oleh karena itulah, sengaja kami mengundang kalian datang untuk berdamai dan menghabisi pemberontakan-pemberontakan yang hanya melemahkan keadaan negara dan bangsa saja."

Ucapan ini disambut oleh tertawa mengejek dari Kiu-bwe Coa-li dan kembali pecutnya mengeluarkan bunyi bergeletar nyaring sekali. Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa sambil mendongak ke atas.

"Kiam Ki Sianjin, kau memutar balikkan kenyataan, kau bukan mentaati kehendak Thian, bahkan ingin mengingkari dan hendak memutar jalannya sejarah! Rakyat yang berjuang melawan penindasan kekuasaan penjajah asing kau sebut sebagai pemberontak! Ada pun pemberontak asing yang hendak menjajah, bahkan yang kini telah menjadi penjajah kau sebut-sebut sebagai kaisar yang bijaksana! Kiam Ki Sianjin, di manakah mukamu sebagai orang Han? Hai, saudara-saudara sekalian yang sekarang berada di fihak Kiam Ki Sianjin, apakah kalian bukan orang-orang Han? Patutkah orang-orang gagah melihat bangsa sendiri ditindas, tidak membantu perjuangan rakyat yang mulia, sebaliknya membantu kaisar asing penjajah hina dan suka menjadi anjing penjilatnya?" Pak-lo-sian Siangkoan Hai berkata dengan penuh nafsu.

"Cukup! Pak-lo-sian, kami mengundang kalian bukan untuk mengumbar nafsumu, bukan pula untuk saling memaki. Kami mengajak berunding, berdamai dan menghabisi semua pertempuran."

"Mudah saja untuk menghabiskan pertempuran, asalkan tuntutan rakyat dipenuhi," kata Pak-lo-sian.

"Apakah tuntutan rakyat itu? Coba terangkan!"

"Tuntutan rakyat ialah menyeret turun kaisar asing, mengusir semua penjajah dari tanah air dan mengangkat seorang kaisar bangsa sendiri. Kalau kalian semua yang berada di sini insyaf dan membantu perjuangan rakyat, hal ini kiranya akan mudah dilakukan dan habislah semua pertempuran!"

"Pak-lo-sian, kau terlalu sekali! Apa kau kira akan dapat memperlihatkan kekuasaanmu di sini? Kau benar-benar hanya mengeluarkan ucapan tanpa kau pikir baik-baik. Kau berani mencoba untuk menyeret kami membantu pemberontak?" Kiam Ki Sianjin marah.

"Basmi saja pentolan-pentolan pemberontak itu!" teriak seorang anak murid di fihak yang pro kaisar. Akan tetapi para tokoh besar yang menghargai kedudukan sendiri, tidak mau sembarangan mengeluarkan kata-kata.

Teriakan murid yang berangasan itu disambut oleh kawan-kawannya dan sebentar saja fihak itu menjadi ramai, senjata-senjata dihunus, siap menyerbu kalau ada perintah. Akan tetapi Kiam Ki Sianjin mengangkat tangan mencegah mereka sehingga keadaan menjadi tenang kembali.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai serta kawan-kawannya hanya tersenyum-senyum mengejek, akan tetapi Sui Ceng, Swi Kiat, Kun Beng, dan empat orang tosu dari Kun-lun-pai telah kelihatan merah mukanya akibat menahan rasa marah.

"Pak-lo-sian, kau lihat sendiri betapa pernyataanmu yang tanpa dipikir itu membangkitkan rasa marah pada kawan-kawan kami. Pertentangan faham ini kiranya hanya akan beres menurut ketentuan senjata!" kata Kiam Ki Sianjin, yang kemudian disambungnya sambil tersenyum. "Kecuali kalau kalian suka mengubah pendirian."

"Pendirian kami sudah mantap, kami membenarkan perjuangan rakyat. Ada pun tentang penggunaan senjata di sini, kau yang mengundang kami dan kami datang bukan untuk berkelahi."
"Kau takut?" Kiam Ki Sianjin mengejek.
"Siapa takut kepadamu, tua bangka? Biar ada sepuluh Kiam Ki Sianjin, aku tidak takut!" tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li membentak marah.
"Tidak ada masalah takut atau tidak takut," kata Pak-lo-sian dengan suara seperti orang bernyanyi, "yang ada hanya dua kenyataan pahit. Pertama, kami diundang ke sini untuk berunding, bukan untuk berkelahi. Ke dua, apa bila tuan rumah sudah begitu tidak tahu malu untuk mengajak berkelahi, itu pun hanya memperlihatkan betapa rendah akhlaknya. Kami hanya berkawan sepuluh orang, sedangkan fihakmu ada seratus orang!"

Merah muka Kiam Ki Sianjin. "Tidak usah banyak mulut, Pak-lo-sian, memang kita sudah menjadi musuh lama. Pendeknya, kau berani atau tidak untuk memutuskan pertentangan faham ini di ujung senjata?"

"Aku datang bukan untuk berkelahi, kalau sudah tidak ada omongan lain, aku akan pergi dengan kawan-kawanku!"

Pak-lo-sian biar pun tua dan aneh wataknya, namun dia amat cerdik. la melihat bahwa fihak lawan amat besar jumlahnya, penuh dengan orang-orang pandai pula, maka kalau sampai terjadi pertempuran, fihaknya akan menghadapi bahaya. Dia sendiri dan Kiu-bwe Coa-li agaknya akan dapat meloloskan diri, akan tetapi yang lain-lain bagaimana?

"Ha-ha-ha, Pak-lo-sian, kau hendak melarikan diri?" Kiam Ki Sianjin berteriak mengejek. "Pak-lo-sian, kalau kau lari, terpaksa kami akan mengejarmu dan mencegah kau turun gunung sebelum persoalan ini dibereskan!"

Sekarang marahlah Pak-lo-sian. "Kiam Ki Sianjin, majulah kau, biar hanya kita berdua yang memutuskan hal ini di ujung senjata!"

Keadaan menjadi amat tegang dan mendadak terdengar suara Kwa Ok Sin yang cepat berdiri dan berseru,
"Cu-wi sekalian, harap tenang dulu. Sangat memalukan apa bila kita sebagai orang yang menjunjung kegagahan, bercekcok mulut seperti anak kecil yang hendak berkelahi! Apa sudah tidak ada jalan lain ke arah perdamaian antara kedua fihak? Bagaimana pun jalan pikiran dan faham masing-masing, harus diingat bahwa kita adalah segolongan, yakni orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan."

Semua orang berdiam diri. Tiba-tiba dari bawah puncak terdengar seruan keras,
"Cocok...! Memang pertempuran tak perlu dilanjutkan!"

Dari bawah puncak ‘menggelundung’ naik tubuh seorang hwesio yang gendut dan bulat, dan ternyata dia ini bukan lain adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!

Tangan Kwan Cu kembali menggigil melihat hwesio bundar ini. Sekarang musuh besar gurunya telah lengkap berada di tempat itu. Akan tetapi dia harus menekan dulu semua perasaannya karena persoalan yang dihadapi adalah persoalan besar, persoalan yang dulu pun diributkan oleh kongkong-nya, oleh gurunya sehingga mereka berkorban jiwa.

Dengan berbisik, tadi Kwan Cu bertanya kepada Yok-ong mengenai semua orang-orang yang berada di situ. Sesudah dia tahu siapa adanya hwesio tinggi kurus berjubah hitam yang pernah dilihatnya di malam hari, yakni Coa-tok Lo-ong sute dari Hek-i Hui-mo, dan melihat pula bahwa ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai berada di fihak Kiam Ki Sianjin, terbukalah mata Kwan Cu.

Sekarang tahulah dia akan rahasia peristiwa pembunuhan di kelenteng atas diri Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu dari Kim-san-pai. Kini dia sudah dapat menduga bahwa pembunuh kedua pendeta ini pasti Coa-tok Lo-ong yang membunuh secara diam-diam, kemudian meninggalkan kesalahan itu pada pundak Kiu-bwe Coa-li beserta Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Dengan cara ini fihak Kiam Ki Sianjin tentu saja bisa menarik Bu-tong-pai dan Kim-san-pai untuk membantu mereka menghadapi Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian!

"Locianpwe, mengapa yang datang hanya mereka sepuluh orang itu? Di mana adanya tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin pejuang rakyat yang lainnya?" Kwan Cu bisik-bisik bertanya kepada Yok-ong.

Raja tabib itu tersenyum, "Kiam Ki Siajin memang sangat cerdik. Selain merencanakan untuk membasmi musuh-musuh besar di sini juga dia hendak memancing keluar semua pemimpin sehingga dengan mudah dia akan mengetahui siapa-siapa adanya pemimpin pejuang rakyat. Akan tetapi aku mendahuluinya dan aku memperingatkan mereka yang menjadi pemimpin pejuang sehingga tak seorang pun di antara mereka mau datang ke sini memperlihatkan diri."

Diam-diam Kwan Cu memuji kecerdikan Hang-houw-siauw Yok-ong. Tetapi raja tabib itu mencegah dia membuka mulut lagi, karena melihat munculnya Jeng-kin-jiu, keadaan di sana tentu menjadi lebih ramai.

Begitu tiba di puncak, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata keras,
"Cu-wi sekalian dari kedua fihak. Stop semua pertempuran yang tidak ada artinya! Untuk apa mengotorkan tangan, bertempur melawan golongan sendiri hanya karena pengaruh urusan pemerintahan yang kotor. Orang-orang macam kita ini apa perlunya mencampuri urusan kota raja? Lebih baik pulang kembali ke gunungnya masing-masing, bertapa dan memperdalam ilmu. Pinceng sendiri karena terseret oleh pengaruh busuk di kota raja, sampai bentrok dan salah tangan menewaskan seorang bekas sahabat baik. Ahhh, kalau diingat-ingat, sampai sekarang pinceng merasa menyesal setengah mati. Apakah Cu-wi hendak mengulangi kejadian seperti itu? Kaisar boleh turun dan naik, kerajaan musnah dan timbul, akan tetapi kesatuan kaum persilatan jangan sekali-kali sampai terseret dan menjadi berantakan dan pecah belah! Nah, pinceng sudah selesai bicara, harap Cu-wi suka memikirkan dengan kepala dingin."

"Jeng-kin-jiu, omongan busuk apa yang kau keluarkan itu?" tiba-tiba saja Hek-i Hui-mo melompat maju sambil melototkan matanya kepada Jeng-kin-jiu. "Dahulu kita bersama melindungi kaisar, sekarang kau akan menjadi orang yang mengkhianati kawan sendiri? Apakah kau tidak lebih baik membantu kami agar dosamu tidak bertumpuk-tumpuk?"

"Agaknya dia ketakutan melihat Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li!" mengejek Toat-beng Hui-houw sambil tertawa yang terdengar seperti ringkik kuda.
"Jeng-kin-jiu, sia-sia saja kau mencoba menginsyafkan mereka. Lebih baik jangan turut mencampuri urusan ini!" seru Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah naik darah melihat sikap fihak lawan.

Jeng-kin-jiu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu duduk di atas batu karang, kelihatannya berduka sekali. Kwa Ok Sin lalu berkata dengan keras,
"Kalau dua fihak tetap menghendaki kekerasan, siauwte sebagai ketua Bun-bu-pai hanya mengharap agar kedua fihak memperhatikan peraturan orang-orang gagah. Adu senjata ini harus dilakukan dengan cara yang adil seperti dalam pibu."

"Tentu saja," kata Kiam Ki Sianjin. "Yang mati tidak boleh dibuat dendam, yang terluka tidak boleh menyalahkan lawan. Fihak yang kalah selanjutnya harus menurut serta taat kepada fihak yang menang!"

"Bagus, Kiam Ki Sianjin. Biarlah ini hari kita mengadu kepandaian sampai seribu jurus!" bentak Kiu-bwe Coa-li sambil melompat maju dan mengayun-ayun cambuknya dengan lagak menantang.

"Nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li. Bukankah tadi sudah diusulkan oleh Kwa-enghiong agar kita menggunakan peraturan? Nah, akulah yang akan memilih kawan-kawan di fihakku, siapa yang akan maju menghadapi fihakmu."

Setelah berkata demikian, Kiam Ki Sianjin mempersilakan kawan-kawannya yang hendak turun tangan. Serentak majulah dari fihaknya para tokoh besar yang memliki kepandaian tinggi seperti Toat-beng Hui-houw, Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang, Kam Cun Hong, Hek-i Hui-mo, Bian Kim Hosiang, Bin Kong Siansu, Coa-tok Lo-ong dan masih ada beberapa orang anak murid Bu-tong-pai, Kim-san-pai dan juga murid-murid dari para tokoh itu sendiri.

Ada pun fihak Pak-lo-sian tentu saja hanya ada sepuluh orang itu yang kesemuanya siap membela nama baik mereka. Bahkan Sui Ceng lalu berkata kepada gurunya.
"Suthai, biarkan teecu yang maju lebih dahulu. Kalau teecu tidak dapat menang, barulah Suthai yang maju."

Kiu-bwe Coa-li tersenyum pahit. "Sui Ceng, apakah kau tahu bahwa pertandingan kali ini adalah untuk mempertahankan nyawa? Lawan terlalu banyak. Hanya menang lima kali saja belum ada artinya, dan kalau sekali kalah harus ditebus dengan nyawa."

"Teecu tidak takut!" kata Sui Ceng gagah. Kiu-bwe Coa-li melirik ke arah Kun Beng dan pemuda ini pun berkata gagah,
"Teecu juga tidak takut dan akan mendampingi Ceng-moi."

Mendengar ini, Swi Kiat menjadi merah mukanya. Pemuda ini gemas sekali, akan tetapi juga berduka mengingat akan adiknya, Kui Lan. Namun pada saat yang genting seperti itu, dia tidak mau memikirkan tentang urusan pribadi dan dia pun bersiap-sedia untuk menghadapi fihak lawan yang amat banyak jumlahnya itu.

Yok-ong memberi isyarat kepada Kwan Cu, lalu berkata,
"Ah, kalau akan diadakan perang, lebih baik aku pergi. Hayo cucuku, kita pergi dari sini," katanya ketakutan.

Kwan Cu tidak mengerti akan maksud Yok-ong, akan tetapi dia tidak berkata sesuatu dan mengikuti kakek itu turun dari puncak. Orang-orang merasa geli melihat mereka, akan tetapi tidak ada yang ambil peduli.

Setelah tiba di belakang batu karang besar, Yok-ong lalu berkata, "Kwan Cu, mari kita periksa jalan keluar untuk mereka, supaya nanti dapat dipergunakan dengan baik."

Raja tabib ini berlari cepat sekali, diikuti oleh Kwan Cu. Setiba mereka di lereng, Yok-ong menunjuk ke bawah, "Kau lihat, serdadu kaisar telah mengurung bukit ini."

Benar saja, di kaki bukit itu, barisan besar sedang bergerak-gerak seperti semut. Kwan Cu terkejut dan gemas sekali.

"Tak usah khawatir, aku sudah mendapatkan jalan keluar. Lihatlah goa itu, kelihatan kecil hanya dapat dimasuki orang dengan jalan merangkak. Akan tetapi di dalamnya lebar sekali dan goa itu merupakan terowongan yang menembus bukit dan keluar di sebelah selatan pegunungan ini. Kalau kita semua mengambil jalan ini, takkan ada orang yang dapat mengejar atau mencegat kita. Kau ingatlah baik-baik, seorang di antara kita harus dapat menolong mereka keluar dari sini. Mengerti?"

Kwan Cu mengangguk. Memang, melihat keadaan lawan yang demikian banyaknya dan rata-rata terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi, Yok-ong merasa gelisah dan putus asa. Biar pun di fihaknya ada Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu, akan tetapi menghadapi sekian banyaknya orang dan di sana ada pula orang-orang sakti seperti Hek-i Hui-mo, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw dan lain-lain, sudah dapat diperhitungkan bahwa fihak pembantu pejuang rakyat pasti akan kalah.

Setelah memberi petunjuk kepada Kwan Cu, mereka kembali ke puncak akan tetapi kini menonton ke tempat itu dari balik batu karang.

"Locianpwe, kita tidak dikenal, lebih baik nonton dari dekat," kata Kwan Cu.
"Begitu pun baik. Akhirnya kita harus turun tangan pula," jawab Raja Tabib itu.

Keduanya lalu duduk di tempatnya yang tadi. Semua orang memandang dan tertawa.

"Ehh, kalian berani datang lagi?" Kwa Ok Sin tidak dapat menahan keheranannya.
"Cucuku ini yang terus memaksa, katanya hendak melihat orang bermain senjata untuk menambah kegembiraan," jawab Yok-ong ketolol-tololan.
"Hemm, jangan terlalu dekat, jangan-jangan ada senjata yang mampir di lehermu," kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.

Yok-ong dan Kwan Cu memperlihatkan muka ketakutan, akan tetapi tetap saja duduk di tempat yang tadi.

Kalau di fihak Kiam Ki Sianjin semua orang sudah bersiap-siap, adalah orang-orang dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai saja yang masih kelihatan dingin saja. Bian Kim Hosiang dari Bu-tong-pai dan Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai bukanlah penjilat-penjilat kaisar. Mereka adalah orang-orang gagah yang tidak mau peduli tentang urusan kerajaan.

Mereka berdua datang hanya karena marah terhadap Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li, karena dua orang tokoh itu sudah membunuh dua orang sute mereka. Kedatangan mereka untuk membalas dendam, atau untuk membuat perhitungan dengan Ku-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, bukan untuk mengurus soal kerajaan.

Maka, melihat bahwa pertandingan yang akan diadakan adalah urusan kerajaan, kedua orang tua ini dan murid-muridnya tidak mau turun tangan dan diam menonton saja.

Ada pun tokoh-tokoh kawan-kawan Kiam Ki Sianjin, memberi kesempatan kepada para murid mereka untuk maju lebih dahulu, hitung-hitung mengukur kepandaian lawan. Akan tetapi, murid-murid yang masih rendah kepandaiannya tentu saja tidak boleh maju.

Kiam Ki Sianjin memberi tanda kepada Bu-eng Siang-hiap, dua hwesio bersaudara yang kini menjadi pembantu-pembantunya. Dengan bangga Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang melompat maju ke tengah lapangan, lalu Mo Beng Hosiang berkata,

"Pinceng dua saudara selalu maju berbareng, karena itu harap Siangkoan-lo-enghiong mengeluarkan jago-jagonya!" Sambil berkata demikian, dua saudara ini menjura kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Melihat bahwa yang maju adalah dua orang hwesio setengah tua, maka dua orang murid Kun-lun-pai yang bernama Tiong Ek Tosu dan Tong Seng Tosu minta ijin dari guru besar mereka, yakni Seng Thian Siansu yang sesungguhnya datang untuk menuntut balas atas gugurnya tiga orang muridnya, maka ia mengangguk menyetujui. Begitu pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai menyetujui.

Majulah dua orang murid Kun-lun-pai ini menghadapi Bu-eng Siang-hiap. Sesudah saling memperkenalkan nama, empat orang pendeta ini mulai saling serang dengan hebatnya.

Ilmu silat dari Kun-lun-pai memang sudah sangat terkenal, maka kepandaian dari dua orang muridnya ini juga amat lihai. Mereka mempergunakan pedang yang diputar dengan cepat dan tangguh, sesuai dengan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat.

Ada pun Mo Beng Hosiang berjuluk San-tian-jiu (Tangan Kilat) maka dalam pertempuran ini dia bertangan kosong, sedangkan adiknya, Mo Keng Hosiang berjuluk Hun-san-pian (Pian Pemecah Gunung). Sengaja mereka maju berdua karena dengan maju berdua, mereka merupakan pasangan yang benar-benar amat tangguh.

Mo Keng Hosiang bertugas menghadapi dan melindungi kakaknya dari serangan senjata lawan. Pian-nya amat kuat, dan tiap tangkisannya selalu membuat tangan lawan tergetar sehingga serangan kedua lawannya itu menjadi lambat. Di lain fihak, Mo Beng Hosiang mulai menjalankan serangan maut dengan tangan kosong!

"Celaka, dua totiang dari Kun-Iun-pai itu pasti roboh...," kata Kwan Cu perlahan kepada Yok-ong.

Diam-diam raja tabib ini memuji ketajaman mata Kwan Cu dan dia melihat pemuda itu diam-diam meraih dua butir batu kecil.

"Jangan, Kwan Cu. Di dalam pertandingan yang adil, tidak selayaknya kita turun tangan membantu, biar pun yang kita bantu adalah orang-orang yang berada di fihak benar. Ini sudah menjadi aturan kang-ouw yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun yang tidak menghendaki namanya terbenam di dalam lumpur."

Kwan Cu tertegun dan terpaksa melepaskan kembali dua butir batu kecil tadi. Hatinya penasaran dan tak senang sekali melihat fihak Pak-lo-sian dikalahkan. Dugaannya tepat karena dalam lima puluh jurus saja, terdengar suara keras disusul pekik dan robohlah Tiong Ek Tosu dengan kepala pecah terpukul oleh tangan Mo Beng Hosiang!

Murid ke dua dari Kun-lun-pai tidak menjadi gentar. Baginya adalah menang atau mati, maka dia cepat memutar pedangnya melakukan serangan nekat. Dia berhasil menusuk pangkal lengan Mo Keng Hosiang, namun hwesio ini dapat miringkan tubuh sehingga kulit lengannya saja yang tergurat pedang dan pada saat itu, Mo Beng Ho siang sudah turun tangan memukul dada Tiong Seng Tosu. Tosu ini menjerit, pedangnya terlepas dari pegangan dan dadanya pecah! Ia roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Fihak kaki tangan kaisar berseri wajahnya, bahkan ada orang-orang muda yang bersorak girang. Pak-lo-sian tersenyum pahit dan Seng Thian Siansu menjadi pucat.

Sebelum Kiu-bwe Coa-li dan yang lain-lain sempat mencegahnya, tahu-tahu bayangan Bun Sui Ceng sudah berkelebat. Kini nona ini sudah berdiri dengan pedang di tangan, menghadapi sepasang hwesio yang berdiri dengan lagak sombong dan bangga.

Pak-lo-sian tak dapat berbuat lain kecuali melompat dan menyambar dua jenazah murid Kun-lun-pai itu untuk diletakkan di atas tanah di dekat batu karang. Mereka tidak dapat ditolong lagi karena sudah tewas.

"Bu-eng Siang-hiap, aku Bun Sui Ceng maju sebagai jago dari fihak kami, kalian berdua boleh maju bersama!" tantang Sui Ceng sambil melintangkan pedang di depan dadanya.

Melihat bahwa penantangnya hanyalah seorang gadis muda yang cantik sekali, kedua orang hwesio itu saling pandang dan tertawa lebar.

"Nona, pinceng berdua tak mau berlaku licik. Biarlah kau memilih seorang di antara kami sebagai lawanmu!" kata Mo Beng Hosiang sambil tertawa menyeringai.

"Gundul sombong, kalian berdua majulah bersama, boleh ditambah lagi satu dua orang agar lebih ramai!"

Mendengar ucapan gadis ini, Bu-eng Siang-hiap menjadi naik darah.

"Semua orang yang berada di sini mendengar bahwa engkaulah yang minta kami maju bersama, kalau nanti kalah jangan bilang kami licik," kata Mo Beng Hosiang dengan mata merah.

"Tutup mulut dan majulah!" seru Sui Ceng yang sudah mulai menggerakkan pedangnya.

Mo Keng Hosiang masih merasa sayang untuk membunuh atau pun melukai gadis yang begini cantik dan muda, maka dia lalu mengeluarkan seruan keras dan pian di tangannya menyambar ke arah pedang Sui Ceng, dengan maksud membikin pedang itu terlempar dalam segebrakan saja.

Melihat datangnya gempuran pian ini yang memang bertenaga sangat kuat, Sui Ceng tersenyum dan sengaja tidak mau mengelakkan pedangnya. Alangkah kagetnya hati Mo Keng Hosiang ketika pian-nya membentur pedang gadis itu, karena dia merasa seakan pian-nya yang berat itu membentur sehelai bulu saja kemudian tenaganya lenyap dengan sendirinya.

Kekagetannya bertambah saat terdengar suara bergeletar dan pipinya lantas terasa amat pedas dan perih. Dia hanya melihat bayangan merah berkelebat di depan mukanya, dan itu adalah ujung sehelai ikat pinggang sutera berwarna merah! Sui Ceng telah mencabut senjatanya yang istimewa ini, yaitu sabuk merahnya.

Bukan main marahnya Mo Keng Hosiang ketika dia mendengar suara ketawa gadis itu. Dengan membuta dia lalu mengayun pian-nya dan menyerang bagai badai mengamuk. Juga Mo Beng Hosiang yang kini mengerti menghadapi seorang lawan tangguh, cepat maju dan melakukan pukulan-pukulan dengan kedua tangannya yang lihai.

"Ji-wi Beng-yu, hati-hatilah, kalian menghadapi murid dari Kiu-bwe Coa-li!" kata Kiam Ki Sianjin yang mengenal sabuk merah ini sebagai ilmu cambuk yang biasa dimainkan oleh Kiu-bwe Coa-li.

Bu-eng Siang-hiap terkejut dan kini mereka tak berani memandang ringan. Dengan amat hati-hati mereka lalu bergerak seperti saat menghadapi dua orang lawan dari Kun-lun-pai tadi, yakni Mo Keng Hosiang mempergunakan pian untuk mempertahankan diri mereka berdua, sedangkan Mo Beng Hosiang melakukan serangan dengan tangan kilatnya.

Akan tetapi, ilmu silat yang dimiliki oleh Sui Ceng adalah ilmu silat yang diturunkan oleh seorang ahli. Bukan main hebatnya pedang yang bergerak bagaikan hidup di tangannya, sedangkan sabuk merah di tangan kirinya lebih lihai lagi.

Dia pun menggunakan siasat untuk mengimbangi kedua orang itu. Sabuknya yang lemas menghadapi pian, berusaha menangkap dan merampas senjata itu, ada pun pedangnya menghadapi pukulan-pukulan Mo Beng Hosiang. Sebentar saja kedua orang hwesio itu terdesak hebat oleh dara perkasa ini.

"Dia hebat... dia hebat sekali...," tak terasa pula mulut Kwan Cu berbisik-bisik dan kedua matanya memandang kagum.

Melihat lagak pemuda ini, Yok-ong tersenyum. "Bagus, Kiam Ki Sianjin akan mengalami hajaran pertama!"

Belum habis kata-kata ini diucapkan, keadaan pertempuran sudah berubah sama sekali. Dengan ujung sabuknya, Sui Ceng tiba-tiba mengubah gerakan dan sekarang sabuk itu meninggalkan pian kemudian menyerang atau lebih tepat menangkis pukulan Mo Beng Hosiang.

Ujung sabuk merah ini membelit pergelangan tangan hwesio ini dan sekali disentakkan, tubuh Mo Beng Hosiang terpental ke atas. Sebelum hwesio itu sempat mengerahkan ginkang-nya, sabuk disentakkan kembali ke bawah sehingga tubuhnya terbanting ke atas lantai batu karang.

"Ngekkk!" Tubuh Mo Beng Hosiang tak dapat berkutik lagi!

Sementara itu, pedang di tangan Sui Ceng tidak tinggal diam. Ia melihat pian menyerang ke arah kepalanya, cepat ia mengerakkan tubuhnya, miring dan dari samping pedangnya menyambar. Mo Keng Hosiang menjerit kesakitan, pian-nya telah terlepas berikut tangan kanannya sebatas siku terbabat putus oleh pedang Sui Ceng!

Gadis ini tidak tega melihat penderitaan kedua lawannya. Pedangnya bergerak dua kali lagi dan putuslah urat besar di dekat leher dua orang hwesio itu yang seketika itu juga menghembuskan napas terakhir tanpa menderita lagi.

Lima orang-orang muda dari fihak Kiam Ki Sianjin melompat maju dan mengeroyok Sui Ceng. Mereka ini adalah perwira-perwira yang menjadi kaki tangannya Kam Cun Hong, panglima dari Si Su Beng.

"Curang...!" Dua orang murid Kun-lun-pai yang belum maju mencela dan cepat mereka melompat untuk membantu Sui Ceng.

Akan tetapi sebetulnya hal ini tidak perlu, karena dengan pedangnya, Sui Ceng menahan serangan lima orang perwira itu dan dalam beberapa jurus saja kembali dua orang lawan roboh mandi darah!

"Mundur!" teriak Kiam Ki Sianjin.

Tiga orang perwira itu segera melompat mundur dengan muka merah. Kiam Ki Sianjin menggerakkan tangan memberi tanda kepada orang-orangnya dan empat orang mayat kawannya itu ditarik ke belakang. Kemudian Kiam Ki Sianjin bertanya,
"Siapa di antara sahabat-sahabat yang berani menghadapi gadis liar itu?”

Terdengar suara ketawa bagaikan kuda meringkik dan tubuh Toat-beng Hui-houw yang berwajah menyeramkan itu melompat keluar.

"Kiam Ki Sianjin, biarlah aku menghadapinya. Aku sudah mengenal kuda betina liar ini!"

Melihat majunya Toat-beng Hui-houw, seketika muka Sui Ceng menjadi merah sekali. Sepasang matanya berapi-api dan bibirnya digigit untuk menahan hawa kemarahan yang naik dari dadanya.

"Toat-beng Hui-houw, siluman jahanam! Andai kata kau tidak muncul, aku pun pasti akan mencarimu untuk memenggal lehermu agar ibuku di alam baka dapat mengaso dengan tenteram!” Kedua tangan gadis ini gemetar saking hebatnya kemarahan yang menyerang dirinya.
"Sui Ceng, mundurlah, biarkan pinni menghadapi siluman ini!" seru Kiu-bwe Coa-li.

Akan tetapi mana Sui Ceng mau mendengar kata-kata guru ini? Dengan pura-pura tidak mendengar kata-kata gurunya, sambil berseru keras dan nyaring, gadis ini menyerang Toat-beng Hui-houw dengan pedangnya. Gerakannya laksana burung walet menyambar dan tubuhnya diselimuti oleh berkelebatnya sinar merah dari sabuknya.....

Sesudah dahulu dikalahkan oleh Ang-bin Sin-kai dan berjumpa dengan Kiu-bwe Coa-li, kakek yang seperti siluman ini merasa gentar, dan dia melatih diri sehingga memperoleh kemajuan pesat. Apa bila dibandingkan dengan dahulu ketika dia menewaskan Pek-cilan Thio Loan Eng ibu dari Sui Ceng, kepandaiannya sekarang sudah maju pesat dan jauh sekali.

Namun dia tidak berani memandang rendah kepada gadis ini, karena tahu bahwa gadis ini adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li. Kalau saja dia tidak berada di fihak Kiam Ki Sianjin dan tidak mengandalkan bantuan banyak kawan, sampai sekarang pun dia tidak akan berani mengganggu Sui Ceng.

Akan tetapi sekarang keadaannya lain lagi. Dalam pertempuran seperti ini, kalah menang atau kematian tidak boleh diurus panjang dan andai kata guru gadis ini akan membela, masih banyak kawan-kawannya yang gagah dan tangguh, oleh karena itu hati Toat-beng Hui-houw menjadi besar.

Serangan pedang dari Sui Ceng dielakkannya, dan ketika pedang itu bagaikan bermata terus mengejar dan menyerangnya, dia kemudian menggereng bagaikan harimau sambil menggerakkan kedua tangannya. Tiba-tiba sepuluh jari tangannya mengeluarkan kuku yang panjang-panjang seperti pisau. Tadi kuku-kuku jari ini tergulung dan hanya dengan gerakan lweekang yang amat dahsyat, kuku ini dapat menjadi kaku lantas dipergunakan sebagai senjata.

Pedang Sui Ceng menyambar lagi. Toat-beng Hui-houw menangkis dengan kukunya dan Sui Ceng merasa telapak tangannya tergetar hebat. Ia kaget dan tahu bahwa lawannya ini benar-benar tangguh. Akan tetapi ia tidak gentar. Nafsunya untuk membunuh musuh besar ini begitu memuncak sehingga ia menjadi nekat. Ujung sabuk merahnya menyusul pedangnya, menyambar dengan totokan ke arah leher Toat-beng Hui-houw.

"Pergilah!" Toat-beng Hui-houw membentak sambil menyambar ujung sabuk merah itu.
"Brettt!" sabuk itu putus menjadi dua!
"Ceng-moi, hati-hatilah...!" Kun Beng berseru dengan hati ngeri melihat betapa senjata sabuk dari tunangannya yang amat lihai itu telah dapat diputuskan.

Akan tetapi Sui Ceng masih menyerang dengan hebatnya. Sekarang ia mempergunakan pedangnya dan telah melemparkan sabuknya yang sudah tiada gunanya itu. Pedangnya dimainkan secara hebat, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk dapat mengalahkan musuh besarnya ini. Tubuh gadis itu lenyap terbungkus sinar pedang yang bergulung-gulung.

Diam-diam Toat-beng Hui-houw harus memuji kepandaian gadis muda ini. Jika sekiranya akhir-akhir ini dia tak memperdalam ilmu kepandaiannya, agaknya akan sulit dan lamalah baginya untuk mengalahkan gadis ini.

Kemarahan dan kenekatan Sui Ceng melihat musuh besar yang telah membunuh ibunya, membuat tenaganya berlipat ganda besarnya dan membuat gaya ilmu pedangnya amat ganas dan berbahaya. Karena kurang hati-hati, sebuah kuku jari kelingking dari tangan kiri Toat-beng Hui-houw kena terbabat putus ujungnya oleh pedang Sui Ceng.

Toat-beng Hui-houw marah sekali. Beberapa kali dia mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan tanah dan kini tubuhnya bergerak maju dengan serangan dahsyat sekali, menubruk ke sana ke mari tanpa mempedulikan pedang lawannya.

Memang mudah saja baginya. Hanya dengan sebuah kuku saja dia berhasil menyampok pedang lawannya, dan dengan cepat kuku-kuku jarinya menyerang tubuh gadis itu. Mau tidak mau Sui Ceng menjadi ngeri dan mulailah dia main mundur saja.

"Sui Ceng, mundurlah dan mengaku kalah!" kata Kiu-bwe Coa-li karena dia merasa ngeri dan gelisah melihat nyawa muridnya yang terkasih itu terancam.
"Biarkan teecu maju membantunya!" kata Kun Beng.

Akan tetapi Pak-lo-sian melarangnya.

"Tak boleh berlaku curang, biar pun nyawa kita akan habis semua di sini, kita harus mati sebagai orang-orang gagah!"

Terpaksa Kun Beng hanya memandang dengan hati seperti disayat-sayat melihat betapa tunangannya didesak terus.

Juga Kwan Cu yang mengerti bahwa tidak lama lagi Sui Ceng pasti akan roboh di bawah tangan Toat-beng Hui-houw yang lihai itu, berbisik kepada Yok-ong dengan hati gelisah.

"Locianpwe, andai kata nona itu terluka oleh kuku-kuku tangan Toat-beng Hui-houw yang mengandung bisa berbahaya, masih dapatkah dia tertolong?"

Yok-ong mengangguk. "Memang racun di setiap kuku jari Toat-beng Hui-houw itu dapat mematikan dan sukar diobati. Akan tetapi aku sudah mempunyai semacam obat penolak bisa yang luar biasa dan yang pasti akan dapat melawan bisa itu. Asal saja lukanya tidak amat berat."

Kwan Cu segera berdiri dari tempat duduknya dan dengan tindakan perlahan-lahan dia mendekati tempat pertempuran, agaknya tertarik sekali. Yok-ong hendak mencegah akan tetapi tidak keburu.

Orang-orang di kedua fihak juga melihat hal ini. Akan tetapi oleh karena pemuda muka merah yang mengaku petani Gunung Tai-hang-san itu bukan orang dari salah satu fihak dan dianggap sebagai petani biasa saja yang menonton, maka tak ada seorang pun yang memperhatikannya. Apa lagi keadaan sangat tegang dan semua mata memandang ke arah pertempuran yang hebat luar biasa itu.

Sui Ceng benar-benar terdesak hebat. Dia memang nekat dan biar pun dia mendengar perintah gurunya supaya mundur, namun mana bisa seorang gadis seperti Sui Ceng sudi mundur dan mengaku kalah? Apa lagi terhadap musuh besar yang sudah membunuh ibunya.

"Kalau aku tidak berhasil membalaskan dendam ibu, biarlah aku mampus di sini!" pikir gadis ini sambil memutar pedangnya yang makin kacau gerakannya.

Tiba-tiba Toat-beng Hui-houw tertawa seperti ringkik kuda, disusul oleh gerengan seperti harimau dan tangan kirinya yang penuh kuku panjang itu berhasil merampas pedang Sui Ceng. Sekali kuku-kukunya bergerak, terdengarlah suara nyaring.

"Krakkk!" dan pedang itu patah-patah menjadi tiga!

Sui Ceng masih tidak mau melompat atau mengaku kalah, bahkan dia lalu menghantam dengan tangan kiri ke dada lawan!

Toat-beng Hui-houw tertawa lebar dan sekali dia menangkis dengan tenaga sepenuhnya, Sui Ceng terhuyung ke kiri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Toat-beng Hui-houw untuk menggunakan kuku-kukunya yang berbisa mencakar kearah dada Sui Ceng!

Nona ini maklum akan datangnya serangan maut. Segera dia miringkan tubuhnya, akan tetapi kalah cepat. Terdengar baju robek dan pundaknya terkena cengkeraman itu. Sui Ceng mengerahkah lweekang, lantas meronta sehingga cengkeraman itu dapat terlepas, akan tetapi dia lalu terhuyung-huyung dan roboh. Pundaknya terasa panas sekali sampai menembus ke jantungnya. Racun-racun berbahaya dari kuku sudah memasuki luka pada pundaknya.

"Ha-ha-ha, kau boleh menyusul ibumu!" seru Toat-beng Hui-houw sambil menghampiri tubuh nona yang telentang pingsan itu, siap untuk mengirim pukulan terakhir.

Kiu-bwe Coa-li meramkan mata, dan Kun Beng sudah siap melompat untuk menolong tunangannya.

Tiba-tiba kelihatan pemuda dusun bermuka merah itu berlari-lari dan berteriak-teriak,
"Tidak adil...! Tidak adil...!"

Ia berlari terus dengan kacau, menyeruduk Toat-beng Hui-houw yang hendak membunuh Sui Ceng. Melihat datangnya pemuda dusun ini, Toat-beng Hui-houw menjadi heran dan juga marah.

"Mau apa kau?!" bentaknya sambil mendorong pundak Kwan Cu.

Pemuda ini tahu bahwa dorongan itu pasti akan melukai dirinya. Akan tetapi karena dia mengandalkan kepandaian Yok-ong, dan pula dia ingin menolong nyawa Sui Ceng, maka dia pura-pura tidak tahu.

"Reeettt!” Robeklah baju pada pundaknya dan kulit pundaknya tergores oleh kuku tangan Toat-beng Hui-houw.
"Toat-beng Hui-houw, kau sungguh terlalu! Pemuda itu adalah orang luar, mengapa kau melukainya?!" bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Sebenarnya bukan Pak-lo-sian terlalu sayang kepada pemuda yang mukanya aneh itu, akan tetapi oleh karena pemuda itulah yang sudah menolong nyawa Sui Ceng, maka dia membelanya.

Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak dan mundur, lalu menudingkan telunjuknya yang berkuku panjang kepada Kwan Cu sambil membentak,
"Ehh, kepiting rebus! Apa-apaan kau datang mencari kematian?"

Walau pun bertanya begini, di dalam hatinya Toat-beng Hui-houw merasa heran sekali. Bisa di kukunya amat hebat, sekali gurat saja orang tentu akan roboh dan pingsan atau sekaligus mampus. Akan tetapi mengapa pemuda yang terang-terangan sudah terluka pundaknya ini tidak lekas-lekas roboh pingsan?

la tidak tahu bahwa Kwan Cu telah mengerahkan tenaga dan seluruh hawa murni yang dia dapat dari latihan menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, sehingga bisa itu untuk sementara dapat tertahan oleh hawa yang mengepul naik dari pusarnya menuju ke pundak yang tergurat kuku berbisa tadi.

Dengan kedua tangan tuding sana tuding sini, Kwan Cu mengeluarkan suara mengomel panjang pendek dan berteriak-teriak, "Mana ada pertandingan macam ini? Masa seorang kakek-kakek tua melawan seorang gadis muda yang lemah? Tidak adil sekali. Harusnya, gadis melawan gadis, kakek melawan kakek, pemuda melawan pemuda dan bocah juga melawan bocah. Ini baru enak ditonton. Masa kakek yang kukunya panjang mengerikan ini harus bertanding dengan gadis yang begini halus?"

Kwan Cu menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengangkat tubuh Sui Ceng dan dengan lagak seperti orang merasa berat menggendong tubuh itu, dia cepat berlari-lari ke arah Yok-ong.

"He, kau mau bawa dia ke mana?" teriak Kun Beng yang segera mengejar.
"Dia mati, harus dikubur baik-baik," jawab Kwan Cu tanpa menoleh.

Yok-ong menyambut Kwan Cu dan tanpa dilihat orang lain, raja tabib ini segera menotok tiga jalan darah di tubuh Sui Ceng lalu menyuruh Kwan Cu memberikan tubuh gadis itu kepada Kun Beng yang datang berlari-lari.

"Berikan dia padaku!" kata Kun Beng.
"Eh, ehh, ehh, kau ini pemuda mau apakah? Kalau dia harus dibawa ke sana biarlah aku menggendongnya ke sana. Mengapa menggendong tubuhnya saja orang harus berebut? Kau agaknya ingin sekali menggendongnya!"

Kwan Cu segera membawa gadis itu berlari-larian kembali menuju ke tempat Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Semua orang memandang kepada pemuda muka merah ini dan merasa lucu juga kasihan. Bahkan Kiu-bwe Coa-li sendiri merasa terharu melihat seorang petani bodoh masih memiliki peri kemanusiaan yang begitu besar.

Kwan Cu tadi ketika membawa Sui Ceng kepada Yok-ong, memang sengaja memberi kesempatan kepada Yok-ong untuk mengobati gadis itu, kemudian tanpa diketahui oleh siapa pun juga, dia menerima sebuah pil besar berwarna putih dan mendapat bisikan dari Yok-ong. Kini pil besar itu telah dimasukkan ke dalam mulutnya. Ia menurunkan gadis itu di atas tanah.

"Kau baik sekali, orang muda," kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
"Sayang dia tak akan dapat tertolong lagi," kata Kiu-bwe Coa-li.

Suaranya tenang-tenang saja, akan tetapi kalau orang melihat matanya ia akan bergidik. Mata itu membayangkan nafsu amarah dan bayangan-bayangan maut terbayang di situ.

Akan tetapi Kwan Cu tak mempedulikan mereka semua, sekarang dia lalu mendekatkan mukanya pada leher Sui Ceng.

"Petani busuk, kau mau apa?!" Kun Beng membentak marah dan mengangkat tangan hendak memukul.
"Diamlah kau! Kenapa begitu ribut?" bentak Pak-lo-sian sambil memandang kepada anak muridnya dengan alis dikerutkan.

Kun Beng menundukkan mukanya yang menjadi sedih luar biasa. Pak-lo-sian maklum akan kedukaan hati muridnya ini, maka dia menghibur, "Lihat, petani muda ini agaknya hendak berusaha mengobatinya."

Memang benar, Kwan Cu telah menempelkan bibirnya pada luka di pundak Sui Ceng. la membuka mulutnya lalu menggunakan giginya menggigit kulit di sekitar luka! la menggigit keras-keras, kemudian mengumpulkan pil putih yang telah dihancurkannya dengan ludah dan dikumpulkan di ujung lidah, lalu sambil mengerahkan lweekang-nya, dia meniupkan hancuran obat itu ke dalam luka!

Hal ini tentu saja tak terlihat oleh siapa pun juga, bahkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai saling pandang lalu mengangkat pundak. Dalam pandangan kedua orang ini, pemuda petani yang aneh ini hanya menggigit pundak itu saja!

"Eh, apa yang kau lakukan itu?" Kembali Kun Beng bertanya sebab pemuda itu tidak kuat melihat si muka merah seakan-akan mencumbu kekasihnya dan menciumi pundaknya!

Kwan Cu mengangkat mukanya. Dengan muka yang merah ketololan itu dia tersenyum menyeringai. Orang-orang melihat betapa gigi dan bibir pemuda ini berlepotan darah!

"Aku sudah usir setannya, sudah usir setannya!"

Kun Beng tak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengira bahwa pemuda muka merah ini gila dan dalam gilanya telah menggigit dan bahkan minum darah dari Sui Ceng. Dengan pengerahan tenaga sekuatnya dia lalu menendang pantat Kwan Cu yang masih duduk berjongkok. Tubuh Kwan Cu bagaikan sebuah bal karet lalu melayang kembali ke tengah lapangan di mana Toat-beng Hui-houw masih berdiri memandang semua itu.

Tubuh Kwan Cu yang melayang-layang tadi kini turun dan seperti yang tidak disengaja, tubuh pemuda muka merah ini melayang turun tepat di atas kepala Toat-beng Hui-houw. Sebetulnya kakek bermuka harimau ini mendongkol sekali dan jika menurutkan hatinya, sekali pukul saja dia dapat menghancurkan tubuh pemuda yang dianggapnya tolol itu.

Akan tetapi tadi dia sudah mendengar celaan dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ketika dia melukai pemuda muka merah itu, maka kini dia tidak mau melanjutkan perbuatannya. Lagi pula dia memang melihat sendiri betapa pemuda tani ini terlempar kepadanya bukan karena kehendak sendiri, melainkan karena ditendang oleh pemuda murid Pak-lo-sian itu.

Maka dia lalu mengulurkan tangan. Sekali sambar dia sudah memegang leher baju Kwan Cu dan melontarkan tubuh pemuda itu ke tempatnya yang tadi, yakni di dekat Yok-ong, juga dekat Kwa Ok Sin, Jeng-kin-jiu, dan Liok-te Mo-li.

Sambil berteriak-teriak ketakutan tubuh Kwan Cu terputar-putar di udara dan meluncur ke dekat Liok-te Mo-li. Nenek ini mengulur tangan dan menangkapnya, lalu melepaskannya di dekat Yok-ong sambil berkata,

"Orang muda, kau bersemangat besar. Aku kagum sekali!"

Kwan Cu tidak banyak cakap, segera duduk di dekat Yok-ong, diam-diam menerima obat pemunah bisa dan menelannya menurut petunjuk Yok-ong.

"Kau lancang sekali, hampir-hampir terbuka rahasia kita," kata Yok-ong.
"Teecu tidak bisa membiarkan Sui Ceng tewas," jawab Kwan Cu.

Sementara itu, Pak-lo-sian menegur muridnya.
"Kun Beng kau benar-benar tidak tahu budi. Lihat, nona Bun tertolong nyawanya karena perbuatan pemuda muka merah tadi, dan kau bahkan menendangnya. Sungguh sangat memalukan aku yang menjadi gurumu!"

Kun Beng terkejut dan ketika dia melihat, benar saja, Sui Ceng telah siuman kembali dan warna biru hitam pada pundaknya telah lenyap! Kiu-bwe Coa-li sedang memeriksa jalan darah muridnya dan dia pun mengangguk puas.

"Aneh sekali, nyawamu tertolong oleh suatu keajaiban, Sui Ceng." kata nenek ini sambil memandang ke arah Kwan Cu yang masih duduk merengut.

Kun Beng menjadi girang dan juga amat malu. Ia lalu melompat ke tengah lapangan dan menghadapi Toat-beng Hui-houw.

"Sahabatku kalah olehmu, marilah kau coba mengalahkan aku!"

Pak-lo-sian mengomel, "Kun Beng benar-benar berani mati dan gegabah sekali. Mana dia bisa menangkan siluman itu? Swi Kiat, suruh dia kembali!"

Gouw Swi Kiat cepat mentaati perintah suhu-nya dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat di sebelah Kun Beng. Akan tetapi sebelum dia sempat menyampaikan pesan suhu-nya, Toat-beng Hui-houw yang menyangka bahwa dia hendak dikeroyok dua, telah tertawa bergelak dan siap untuk menyerang. Dia tidak gentar menghadapi kedua orang pemuda ini dan dia dapat menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

"Toat-beng Hui-houw, kau mundurlah. Jasamu sudah cukup. Karena sekarang yang maju adalah murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, biarkan pinceng yang menghadapinya." Yang berkata demikian ini adalah Bian Kim Hosiang, ketua Bu-tong-pai.

Kata-kata ini sungguh sangat mengherankan oleh karena biasanya, seorang ciangbunjin (ketua partai) tidak mau turun tangan dengan begitu mudahnya, apa lagi menghadapi seorang anak murid partai lain, kecuali kalau menghadapi ketua lain partai.

Akan tetapi dalam hal ini, tindakan Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong pai ini dapat pula dimengerti. Ia merasa sakit hati sekali terhadap Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang disangka membunuh sute-nya secara pengecut sekali. Maka kini dia hendak membalas dendam, hendak mengalahkan murid Pak-lo-sian dan kemudian sesudah itu, kalau Pak-lo-sian merasa sakit hati baru dia akan melayani Dewa Utara itu.

"Benar, pinto juga ingin merasai kelihaian murid Pak-lo-sian!" kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai.

Seperti halnya Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, juga ketua Kim-san-pai ini berpikiran sama. Melihat bahwa yang maju adalah dua orang murid Pak-lo-sian, maka dia juga ikut maju untuk memberi hajaran sebagai pembalasan.

Swi Kiat menjadi bingung ketika tiba-tiba dua orang pendeta dari fihak lawan itu tiba-tiba melayang dan menghadapi dia serta sute-nya. Dia tidak keburu menyampaikan pesanan suhu-nya, karena kalau fihak lawan sudah keluar dan dia bersama sute-nya kembali, hal itu akan mendatangkan rasa malu yang luar biasa. Tentu saja dia dan sute-nya dianggap takut dan melarikan diri dari dua orang pendeta ini.

Swi Kiat yang menjadi bingung itu melirik ke arah suhu-nya dan Pak-lo-sian mengerti akan kebingungan hati muridnya. Kakek ini belum tahu duduknya perkara. Biar pun tadi beberapa kali dua orang ketua dari Bu-tong dan Kim-san itu menyindir dan memakinya, namun dia tidak sekali-kali mengira bahwa dia disangka membunuh murid-murid mereka secara curang. Dia sudah kenal kepada dua orang ketua ini dan tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang jahat dan kejam. Maka dia lalu berkata sambil tersenyum.

"Anak-anak bodoh! Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai hendak memberi pelajaran pada kalian, mengapa tidak lekas-lekas menerimanya?"

Mendengar ini, Swi Kiat lenyap keraguannya dan dia lalu siap sedia dengan senjatanya yang lihai, yaitu sepasang kipas yang disebut Im-yang Siang-san. Murid pertama dari Pak-lo-sian ini memang sudah mewarisi keahlian bersilat kipas dengan Ilmu Silat Im-yang San-hoat yang amat lihai. Ada pun Kun Beng memang sejak tadi sudah mengeluarkan tombaknya.

Bian Kim Hosiang tertawa mengejek. "Biar pun murid-murid kami terbunuh secara curang mempergunakan ilmu kotor atau ilmu siluman, akan tetapi kami tidak serendah itu dan kami akan merobohkan kalian secara jujur."

Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai ini mengeluarkan sehelai sapu tangan yang panjang. Ia menggulung-gulung sapu tangan itu menjadi gulungan kain, kemudian sekali dia menggerakkan tangan, gulungan kain itu menjadi kaku seperti sebatang toya!

Benar-benar seperti Kauw-ce-thian (raja monyet dalam dongeng kuno yang mempunyai wasiat tongkat kim-kauw-pang) memainkan tongkat wasiatnya! Dengan senjata buatan sendiri ini, ternyata bahwa Bian Kim Hosiang tidak saja telah memandang ringan kepada lawannya, juga dia telah memperlihatkan bahwa tenaga lweekang-nya besar bukan main. Sambil memutar toya kain ini Bian Kim Hosiang menghadapi Kun Beng yang bersenjata tombak.

Sedangkan Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai, orangnya lebih sabar dari pada ketua Bu-tong-pai, juga kepandaiannya tidak kalah. Bin Kong Siansu terkenal sebagai tokoh besar yang telah memperkembangkan dan memperbaiki Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat yang sudah tersohor lihai itu sehingga sekarang Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat boleh direndengkan dengan ilmu-ilmu pedang dari partai-partai besar, bahkan ada pula yang menyatakan bahwa ilmu pedang ini satu sumber dengan ilmu pedang dari Thian-san-pai yang banyak dikagumi orang. Tosu ini lantas menghadapi Swi Kiat dan mengulur tangan mencabut keluar sebatang pedang tipis.

"Orang muda, majulah untuk menerima hukuman dari dosa yang diperbuat oleh gurumu," katanya perlahan.

Swi Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata-kata ini, akan tetapi melihat betapa Kun Beng sudah mulai bertanding melawan Bian Kim Hosiang, dia pun menjura kepada ketua Kim-san-pai itu, lalu dengan sepasang kipasnya dia melakukan serangan hebat.

Bin Kong Siansu menggerakkan pedangnya dan sekali saja pedangnya itu bergerak, dua sinar berkelebat ke arah sepasang kipas di tangan Swi Kiat. Tentu saja pemuda ini amat terkejut dan tidak membiarkan kipasnya rusak dalam segebrakan saja.

Sebagai seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya, dia pun sudah dapat melihat bahwa pedang lawannya tadi melakukan semacam gerak tipu yang mirip Goat-kan Ji-jit (Bulan Mengejar Dua Matahari) dan hendak menusuk bolong sepasang kipasnya. Maka cepat dia mengelak dan kini sepasang kipasnya mulai digerakkan dalam permaianan silat kipas yang amat lihai dari suhu-nya, yakni Im-yang San-hoat.

Sepasang kipas ini dimainkan dengan gerakan yang saling bertentangan, misalnya kalau kipas kanan menyambar dari kanan, maka kipas kiri menyambar dari kiri, atau kalau yang pertama menyambar dari atas, yang ke dua menyusul dengan serangan dari bawah dan sebagainya. Yang amat menyulitkan adalah betapa lawan tidak dapat menduganya, yang kanan ataukah yang kiri yang menjadi penyerang sesungguhnya dan mana pula yang hanya pancingan belaka.

Namun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Tingkatnya masih melebihi Swi Kiat, demikian pula ginkang serta lweekang-nya. Oleh karena itu, dengan pedangnya yang digerakkan secara cepat dan kuat, dia dapat menggagalkan semua serangan balasan dari pemuda itu, bahkan sebaliknya dia segera menggencet lawannya.

Bagaimana dengan Kun Beng? Sama saja keadaannya dengan suheng-nya. Kepandaian ketua Bu-tong-pai sudah sejajar dengan kepandaian tokoh-tokoh besar lainnya. Biar pun Bian Kim Hosiang hanya mempergunakan toya terbuat dari pada kain, akan tetapi setiap kali tombak di tangan pemuda itu terpukul oleh senjata yang aneh ini, Kun Beng merasa telapak tangannya sakit-sakit.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tahu benar bahwa kedua orang muridnya tidak akan sanggup mencapai kemenangan. Hal ini pun tidak dianggap memalukan, karena dia sudah tahu bahwa dia sendiri kiranya tidak akan mudah mengalahkan ketua-ketua dari Kiam-san-pai dan Bu-tong-pai itu, apa lagi kedua muridnya itu boleh dibilang sudah patut dipuji, karena menghadapi dua orang ciangbunjin itu mereka masih dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus!

Lagi pula, semenjak tadi sebagai guru, Pak-lo-sian memperhatikan semua gerakan ilmu silat dua muridnya dan dia tidak melihat adanya kesalahan-kesalahan. Mereka terdesak bukan karena kalah lihai ilmu silat yang mereka pelajari, hanya karena tingkat mereka masih kalah tinggi, baik dalam hal tenaga dalam mau pun kecepatan atau pengalaman bertempur.

Ia pun tidak gelisah ketika pada saat hampir yang bersamaan pundak Swi Kiat tersabet pedang sehingga pemuda ini terhuyung-huyung lalu roboh mandi darah dan Kun Beng mengeluh kesakitan ketika pangkal pahanya terpukul oleh toya kain yang kadang-kadang keras seperti baja itu sehingga pemuda ini pun roboh. Pak-lo-sian dapat melihat bahwa luka-luka yang diderita oleh dua orang muridnya itu tidak berbahaya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat dua orang pendeta itu memburu maju sambil mengangkat senjata untuk membinasakan kedua orang muridnya. Pucatlah wajah Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Dia adalah seorang tokoh besar yang tak mau berlaku curang atau menyalahi peraturan. Meski pun kedua orang muridnya terancam bahaya maut, akan tetapi baginya lebih baik kematian dua orang muridnya atau walau pun dia sendiri akan mati, dia tidak nanti akan melanggar peraturan yang jujur.

Kwan Cu melihat kedua orang pemuda itu menghadapi bahaya maut, otomatis hendak bergerak. Akan tetapi dia kalah dulu oleh Liok-te Mo-li, wanita seperti setan yang pernah dijumpainya, yakni ibu dari Kong Hoat, nelayan muda yang ‘cengeng’ itu.

Nenek ini melompat dan ginkang-nya memang amat hebat sehingga sekali melompat dia telah berada di tengah lapangan.

"Traaang!"

Pedang di tangan Bin Kong Siansu sampai mengeluarkan bunga api ketika terbentur oleh tongkat hitam yang dipegang Liok-te Mo-li ketika nenek ini menangkis tusukan pedang ketua Kim-san-pai yang diarahkan ke tenggorokan Swi Kiat, sedangkan tongkat itu lantas bergerak lagi amat cepatnya menangkis toya kain di tangan Bian Kim Hosiang!

Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai terkejut sekali. Tenaga nenek ini ternyata bukan main hebatnya dan melihat wajah nenek ini, mereka merasa bulu tengkuk mereka berdiri.

Memang Liok-te Mo-li berwajah menyeramkan, apa lagi pada saat itu ia sedang marah, maka wajahnya menjadi lebih hebat lagi. Kedua orang tokoh besar dunia kang-ouw itu terheran-heran karena selamanya mereka belum pernah melihat nenek aneh ini.

"Siapakah kau dan kenapa kau mencampuri urusan pertandingan yang dilakukan secara jujur?" membentak Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai dengan marah.

Liok-te Mo-li tertawa. Suara tawanya juga amat menyeramkan, karena biar pun perlahan saja namun amat menusuk anak telinga.

"Hi-hi-hi! Aku mendengar bahwa kalian adalah ketua-ketua partai besar Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, mengapa seganas itu hatimu? Aku tidak peduli tentang pertempuran antara kedua fihak dan kedatanganku ini adalah karena undangan dari Kiam Ki Sianjin. Akan tetapi, biar pun di dalam undangan disebutkan akan diadakan musyawarah besar, namun kenyataan apa yang kulihat? Pertandingan-pertandingan yang berat sebelah! Tadi kulihat kakek seperti siluman yang kukunya panjang itu menghina seorang nona muda, dan kini kulihat pula dua ekor monyet tua menghina dua orang muda dan hendak membunuhnya! Aku tidak memihak kepada siapa pun, akan tetapi melihat orang-orang muda dihina oleh orang-orang tua bangka, aku Liok-te Mo-li tidak nanti tinggal diam saja!"

Dua orang ketua partai ini terkejutlah mendengar nama ini. Nama ini sudah amat terkenal sebagai nama yang amat menakutkan karena sepak terjang Liok-te Mo-li memang aneh dan kadang-kadang mendirikan bulu roma saking hebatnya.

Sebelum mereka sempat membuka mulut, mendadak dari rombongan Kiam Ki Sian-jin melompat dua orang, yakni Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong. Dua orang kakak beradik seperguruan dari Tibet ini memandang dengan marah. Terdengar suara Kiam Ki Sianjin yang memang menyuruh dua orang kawannya ini maju.

"Ji-wi Bengcu (dua ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai harap mengundurkan diri dan biarkan Hek-i Hui-mo dan sute-nya menghadapi nenek yang usil tangan dan gatal mulut ini!"

Karena kedatangan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ke tempat itu memang hanyalah bertujuan membalaskan sakit hati mereka atas kematian murid mereka dan mereka tidak ingin melibatkan diri dalam permusuhan dengan golongan atau orang-orang lain, maka keduanya lalu mengangkat pundak dan mengundurkan diri.

Ada pun Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempergunakan kesempatan itu untuk melompat ke depan dan menyambar tubuh dua orang muridnya yang terluka untuk dirawat.

Hek-i Hui-mo sudah pernah bertemu dengan Liok-te Mo-li, bahkan dulu dia juga pernah bertempur dengan nenek ini pada saat Liok-te Mo-li membasmi gerombolan perampok di daerah Tibet dan karena kepala perampok itu terhitung ‘anak buah’ dari Hek-i Hui-mo maka terjadi bentrok di antara mereka. Namun pertempuran itu masih belum diketahui mana yang kalah dan siapa yang menang karena Liok-te Mo-li sudah keburu melarikan diri setelah melihat fihak Hek-i Hui-mo mengerahkan seluruh anak buahnya untuk maju mengeroyoknya.

"Hemm, Hek-i Hui-mo, siluman jahat! Dengan adanya kau di sini, mudah sekali diambil kesimpulan fihak mana yang tidak benar! Manusia macam kau tentu selalu membantu yang jahat," kata Liok-te Mo-li. "Kau hendak mengeroyokku seperti dulu? Kau sekarang sudah mengekor kepada bala tentara kerajaan? Nah, terimalah hadiahku ini!"

Sambil berkata demikian, Liok-te Mo-li yang tiba-tiba naik darahnya melihat Hek-i Hui-mo, menggerakkan kedua tangannya sambil mengempit tongkatnya. Sinar lembut melayang dari kedua tangannya dan langsung menyerang Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong dan para kawan mereka yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin.

Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong, dan para tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin dan lain-lain cepat mengebutkan ujung lengan baju dan ada yang mengelak ketika jarum-jarum halus itu menyambar. Akan tetapi ada beberapa orang yang kurang tinggi kepandaiannya tidak sempat lagi menghindarkan diri.

Tiga orang perwira pengikut Kiam Ki Sianjin menjerit dan roboh dengan muka berubah pucat. Nyawa mereka sukar ditolong karena jarum-jarum ini sudah memasuki tubuh dan bergerak melalui jalan darah, langsung menyerang urat-urat nadi yang berbahaya!

"Aduh celaka, Liok-te Mo-li tidak dapat menahan nafsu dan membuat gara-gara!" kata Kwa Ok Sin sambil berdiri dan membanting-banting kakinya.

Jeng-kin-jiu juga menggeleng-gelengkan kepala, akan tetapi tidak dapat berbuat sesuatu karena hal itu sudah terjadi tanpa dapat dicegah lagi.

"Tiga orang itu takkan dapat diselamatkan lagi," kata Yok-ong perlahan kepada Kwan Cu.

Pemuda ini sudah hendak bangun dan membantu Liok-te Mo-li ketika melihat nenek ini dikeroyok oleh Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya sudah dipegang oleh Yok-ong yang berbisik,

"Kau jangan bergerak. Mereka itu terlalu lihai, aku sendiri pun tidak berani sembarangan bergerak. Liok-te Mo-li mencari penyakit sendiri dan memperbesar permusuhan. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti."

Walau pun Kwan Cu tidak takut sedikit pun juga menghadapi tokoh-tokoh besar di fihak Kiam Ki Sianjin, akan tetapi dia pikir bahwa omongan Yok-ong ini benar juga, maka dia berdiam diri saja. Betapa pun juga, sepak terjang Liok-te Mo-li tidak dia setujui, biar pun nenek ini membela keadilan, akan tetapi dia terlalu ganas sehingga sekali turun tangan ia telah menewaskan tiga orang perwira yang sebetulnya tidak tahu apa-apa.

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong telah maju dan ikut mengeroyok Liok-te Mo-li. Tentu saja nenek ini menjadi sibuk sekali. Memang kepandaiannya sudah tinggi, akan tetapi kepandaian Hek-i Hui-mo juga tidak boleh dibuat main-main. Apa lagi selama beberapa tahun ini kepandaian Hek-i Hui-mo sudah meningkat tinggi sekali, setelah dia mempelajari ilmu silat aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu seperti yang dia dengar dibacakan oleh pujangga Tu Fu.

Selain itu, dia dibantu oleh Coa-tok Lo-ong yang tingkat kepandaiannya juga tidak lebih rendah dari pada suheng-nya dan Liok-te Mo-li. Kalau hanya menghadapi salah seorang di antara dua tokoh Tibet ini, agaknya pertandingan akan berjalan lebih seimbang dan ramai, akan tetapi dikeroyok dua seperti itu, Liok-te Mo-li benar-benar amat terjepit dan terdesak.

Sepasang senjata Hek-i Hui-mo amat berbahaya, yakni seuntai tasbih di tangan kiri dan sebatang Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) di tangan kanan. Dia lalu melakukan serangan bertubi-tubi dengan kedua senjatanya, dan setiap serangan cukup keras untuk menghancurkan batu karang.

Ada pun Coa-tok Lo-ong mainkan senjatanya yang mengerikan, yakni sebatang tongkat yang sebetulnya adalah seekor ular berbisa yang masih hidup! Ular hidup ini tadinya dia simpan di dalam saku bajunya yang lebar dan ular itu tak bisa bergerak karena memang pusat tulang belakangnya sudah ditekan sebelum digulung dan dikantongi.

Sekarang dia buka totokan pada tubuh ular itu dan dengan memegangi ekornya dia lalu memainkan ular itu dengan hebatnya! Dapat dibayangkan sendiri betapa berbahayanya senjata seperti ini karena selain dikerahkan dengan penyaluran tenaga lweekang hingga dapat dipakai untuk memukul serta menotok, juga ular itu sendiri bergerak-gerak sambil mengeluarkan semburan bisa sehingga sukar sekali dihadapi.

Baiknya tenaga Liok-te Mo-li amat besar sehingga ketika dia memutar tongkatnya, angin menderu dan debu beterbangan, tubuhnya terbungkus oleh sinar tongkat dan debu. Akan tetapi dia sudah amat tua, keuletan tenaganya terbatas dan sebentar saja setelah dapat mempertahankan diri selama delapan puluh jurus, ia mulai terengah-engah.

Liok-te Mo-li terkejut menghadapi kenyataan betapa majunya kepandaian Hek-i Hui-mo dan bahwa sute dari pendeta Tibet ini pun lihai sekali. Ia maklum bahwa akhirnya ia akan kalah dan roboh juga, maka diam-diam ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.

Tanpa terasa lagi Kwan Cu memegangi tangan Yok-ong yang dekat dengan lengannya. Kwan Cu memandang ke arah Liok-te Mo-li dengan wajah ngeri, sebaliknya Yok-ong terkejut bukan kepalang ketika merasa betapa tangannya diremas oleh tangan Kwan Cu.

Ia merasa betapa tulang-tulang tangannya seperti akan remuk. Dari tangan pemuda itu keluar hawa yang luar biasa sekali sehingga raja tabib ini merasa seluruh lengannya lumpuh, sebentar panas sekali dan sebentar pula dingin bukan main.

Dia melongo dan memandang kepada Kwan Cu, lalu dia mencoba mengerahkan seluruh hawa murni dan tenaga lweekang dari tubuhnya untuk melawan tenaga yang keluar dari tangan Kwan Cu. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika lweekang-nya tidak kuat menghadapi tekanan itu!

Akan tetapi perlawanannya menginsyafkan Kwan Cu bahwa tanpa disengaja dia sudah memijit tangan Yok-ong dengan pengerahan tenaga sakti Im-yang Bu-tek Sinkang yang dia pelajari dari kitab rahasia itu, maka cepat-cepat dia melepaskan pegangannya. Untuk mengalihkan perhatian Yok-ong, dia segera berbisik,

"Locianpwe, apakah yang dikeluarkan oleh Liok-te Mo-li itu?"

Sebenarnya dia sudah melihat nyata bahwa nenek itu mengeluarkan daun Liong-cu-hio, daun aneh yang amat mengerikan itu, daun yang mengandung bisa luar biasa sekali dan boleh disebut raja dari sekalian bisa!

Benar saja, perhatian Yok-ong tertuju kepada nenek itu dan sekali pandang saja muka Yok-ong menjadi pucat.

"Ahhh, mungkinkah dia memegang Liong-cu-hio? Celaka sekali...!"

Dia hendak melompat dan mencegah nenek itu mempergunakan daun itu, namun sudah terlambat. Sambil tertawa-tawa aneh Liok-te Mo-li tiba-tiba melontarkan belasan helai daun itu ke arah lawannya dan orang-orang yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin!

Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo adalah tokoh-tokoh kenamaan yang sudah tidak asing lagi dengan segala macam bisa, maka mencium bau aneh dari daun-daun itu, mereka cepat melompat tinggi untuk menghindarkan diri. Kemudian, dengan tongkatnya, Hek-i Hui-mo mengemplang dari atas, tepat mengenai pergelangan tangan kiri nenek itu.

"Krakk!" remuklah pergelangan lengan itu sedangkan ular di tangan Coa-tok Lo-ong juga berhasil memagut leher nenek itu.

Liok-te Mo-li menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi jeritnya lalu disusul oleh suara ketawanya yang mendirikan bulu roma dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyebarkan beberapa helai daun lagi sambil menggigit tongkatnya! Lalu, dibarengi suara ketawanya yang menyayat hati, sebelum dua orang lawannya sempat menyerang, secepat kilat dia mengemplang kepalanya sendiri dengan tongkat yang dipegangnya. Dia roboh dengan kepala pecah dan tidak bernyawa lagi.

Akan tetapi, akibat dari penyebaran daun-daun itu hebat bukan main. Teriakan-teriakan ngeri terdengar ramai sekali di rombongan Kiam Ki Sianjin. Belasan orang perwira serta anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai roboh dengan tubuh hangus!

Sekali terkena sambitan daun itu, hanguslah bagian tubuh yang terkena dan sebentar kemudian seluruh tubuh menjadi hangus bagaikan terbakar! Yang hebat lagi, orang lain yang hendak menolong, baru saja menjamah tubuh kawan yang hangus itu, menjerit dan tangannya menjadi hangus pula!

Tentu saja para tokoh yang berkepandaian tinggi, dapat menyelamatkan diri dan dapat mengelak dari sambaran daun-daun itu, akan tetapi kali ini kerugian mereka benar-benar hebat sekali sehingga di fihak Kiam Ki Sianjin menjadi gempar. Kiam Ki Sianjin sendiri marah bukan main. Ia menantang pihak Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

"Pak-lo-sian jangan enak-enakan mengandalkan campur tangan dari luar! Hayo lekas keluarkan lagi jago-jagomu!"

Coa-tok Lo-ong kemudian mempergunakan sebatang pisau kecil untuk menusuk-nusuk daun-daun Liong-cu-hio itu, lalu daun-daun itu dibungkus dengan hati-hati dan disimpan dalam saku baju. Ia kelihatan girang sekali mendapatkan daun-daun yang berbahaya ini.

"Lebih celaka lagi kalau daun-daun itu disimpan oleh manusia seperti itu," kata Yok-ong perlahan. Wajah orang tua ini kelihatan gelisah sekali melihat akibat pertempuran yang demikian mengerikan.

Pak-lo-sian sudah menanggalkan baju luarnya. Dia melihat betapa dua orang muridnya telah terluka. Sui Ceng sudah terluka pula. Dua orang murid Kun-lun-pai yang masih ada tidak boleh diandalkan, maka dia hendak maju sendiri.

"Nanti dulu, Pak-lo-sian. Ingat bahwa kau adalah wakil kami, sebab itu kau harus maju terakhir. Biarkan pinto maju lebih dulu untuk membalas kematian murid-murid pinto," kata Seng Thian Siansu.

Pak-lo-sian menggeleng kepalanya. "Tidak bisa, Siansu. Kau adalah orang tertua, maka berilah kesempatan kepadaku yang lebih muda."
"Omongan apa yang kalian keluarkan ini? Akulah yang akan maju lebih dahulu," berkata Kiu-bwe Coa-li.
"Tidak bisa!" bantah Pak-lo-sian.
"Tar! Tar! Tarrr!" Cambuk Kiu-bwe Coa-li berbunyi.
"Aku maju lebih dulu dan habis perkara!" Kata-katanya ini disusul oleh gerakannya yang amat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di tengah lapangan.

Melihat majunya Kiu-bwe Coa-li yang dianggap sebagai pembunuh murid mereka, naik darah Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu dan serentak mereka maju lagi sebelum didahului oleh orang lain. Hal ini amat menggirangkan hati Kiam Ki Sianjin sehingga dia memberi isyarat mencegah Hek-i Hui-mo yang hendak maju. Memang inilah maksud dari Kiam Ki Sianjin, yakni hendak mengadukan mereka. Ia tahu betul akan kelihaian Kiu-bwe Coa-li.

"Bagus, sekarang kami mendapat kesempatan membalas kematian murid-murid kami!" seru Bian Kim Hosiang yang cepat menyerang.

Kini Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai ini tidak lagi menggunakan toya yang dibuatnya dari kain, melainkan dia menyambar sebuah toya kuningan yang asli, yakni senjatanya yang sejak tadi dibawa-bawa oleh seorang muridnya. Serangan toyanya amat hebat dan sambaran senjatanya ini mendatangkan angin yang berbunyi mengaung.

Namun Kiu-bwe Coa-li tidak menjadi gentar, bahkan sambil mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, dia mengelak dan membalas. Sembilan ekor cambuknya menari-nari di udara, masing-masing mengeluarkan suara yang nyaring dan mengurung tubuh ketua Bu-tong-pai itu dari segala jurusan dengan totokan-totokan mautnya! Sebentar saja dua orang tokoh besar itu sudah saling menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan semua kepandaian mereka yang amat tinggi.

Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai juga amat benci pada Kiu-bwe Coa-li yang dianggap membunuh sute-nya secara curang, karena itu dia pun lantas menggerakkan pedangnya mengeroyok.

Perlu diketahui bahwa dua orang pendeta yang tewas secara aneh, yakni Bin Hong Siansu adalah sute dari Bin Kong Siansu, sedangkan yang kedua, yakni Bian Ti Hosiang adalah murid kepala dari Bian Kim Hosiang. Mereka merupakan orang-orang penting dari kedua partai persilatan itu, karena itu kematian mereka mendatangkan kegemparan dan dendam yang hebat.

Sejak tadi, Pak-lo-sian sudah beberapa kali mendengar ucapan kedua orang ketua partai persilatan itu, maka diam-diam dia merasa sangat heran dan tidak mengerti mengapa mereka menyebut dia dan Kiu-bwe Coa-li sebagai pernbunuh-pembunuh curang. Kini dia melihat Kiu-bwe Coa-li dikeroyok dua orang, maka dia menjadi penasaran dan cepat dia melompat ke dalam gelanggang pertempuran, menggunakan kipasnya untuk menangkis pedang di tangan Bin Kong Siansu sambil berseru.

"Bin Kong Siansu, tahan dulu!"

Bin Kong Siansu menjadi makin marah melihat majunya Pak-lo-sian. Memang Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dicari-carinya maka dia bersama ketua Bu-tong-pai datang di situ.

"Kebetulan sekali, kau harus mampus bersama siluman wanita itu!" bentaknya sambil menyerang.
"Nanti dulu, Siansu. Kau dan Bian Kim Hosiang agaknya amat membenci kami berdua, ada apakah?"
"Masih berpura-pura? Benar-benar tua bangka jahanam tak tahu malu. Kau dan Kiu-bwe Coa-li secara curang dan tak bermalu sudah membunuh sute-ku dan murid kepala dari Bu-tong-pai, sekarang masih pura-pura bertanya lagi?" jawab ketua Kim-san-pai sambil menyerang terus.

"Ehh, ehh, omongan kosong apa yang kau keluarkan ini?" tanya Pak-lo-sian dan lagi-lagi dia menangkis.
"Kami ada bukti dan saksi, tak perlu banyak mulut lagi. Kalau kau berani, terimalah ini!" Bin Kong Siansu menyerang untuk ketiga kalinya dan kali ini serangannya sangat hebat sehingga terpaksa Pak-lo-sian melayaninya.
"Kalau kau menyerangku sebagai seorang yang berfihak kepada penjilat kaisar, aku akan mengadu nyawa denganmu. Akan tetapi kau menyerangku karena salah sangka, aku tak mau melayanimu." Sambil berkata begitu, Pak-lo-sian hendak meninggalkan lawannya.

"Pengecut tua bangka, kau hendak mempermainkan orang dengan siasatmu! Bin Kong Siansu, jangan percaya mulut tua bangka yang memang ahli siasat dan akal bulus ini!" tiba-tiba terdengar suara yang amat tinggi dan tahu-tahu seekor ular melayang langsung menyerang ke arah kepala Pak-lo-sian.

Tokoh utara ini cepat mengebut dengan kipasnya sehingga kepala ular itu terdorong oleh angin kipas dan dia cepat melanjutkan dengan menotokkan ujung gagang kipas ke arah penyerangnya. Coa-tok Lo-ong, penyerang itu, cepat mengelak karena dia maklum akan kelihaian lawannya.

Bin Kong Siansu tadinya juga merasa heran mendengar penyangkalan Pak-lo-sian. Akan tetapi ucapan dari Coa-tok Lo-ong ini membuat dia tidak ragu-ragu lagi dan segera dia membantu Coa-tok Lo-ong, memutar pedang kemudian menyerang Pak-lo-sian. Dengan demikian, Siangkoan Hai dikeroyok dua!

Bagaimana Bin Kong Siansu bisa ragu-ragu lagi? Surat peninggalan yang ditandatangani oleh sute-nya dan murid kepala Bu-tong-pai sudah menjadi bukti yang nyata, apa lagi masih ada saksi hidup yang kini pun berada dan hadir di tempat itu, yakni Siok Tek Tojin. Maka dia percaya penuh akan kata-kata Coa-tok Lo-ong dan menganggap bahwa orang yang begitu curang membunuh sute-nya, tentu takkan segan-segan untuk menggunakan siasat guna mencoba menyangkal perbuatannya itu.

Melihat Pak-lo-sian telah dikeroyok dua oleh Bin Kong Siansu dan Coa-tok Lo-ong, Hek-i Hui-mo lalu melompat pula dan membantu Bian Kim Hosiang ikut mengeroyok Kiu-bwe Coa-li. Pertempuran menjadi makin ramai dan hebat dengan masuknya Hek-i Hui-mo ini.

"Tidak adil...! Sungguh tak adil...!" bentak Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang cepat-cepat ‘menggelundung’ naik dan menyerbu ke tempat pertempuran. "Adu kepandaian macam apa ini? Sungguh tak tahu malu, kiranya hanya main keroyokan saja."
"Ehh, Jeng-kin-jiu, kau mau apakah?" tiba-tiba berkelebat bayangan dan di hadapannya sudah menghadang Kiam Ki Sianjin dan Toat-beng Hui-houw. "Apa kau mau membantu fihak pemberontak yang mengacaukan negara?"

"Aku tidak membantu mana-mana! Aku hanya menghendaki agar supaya pertempuran-pertempuran yang berat sebelah ini dihentikan! Aku sudah menyesal sekali dahulu dapat diperkuda oleh An Lu Shan sehingga aku kesalahan tangan membunuh Ang-bin Sin-kai sahabat baikku. Sekarang ini, kalian tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, yang mewakili semua orang gagah di dunia, yang katanya memiliki kedudukan batin lebih tinggi dari pada orang biasa, apakah hanya untuk seorang raja saja kalian sampai mengadu nyawa mati-matian?"

"Habis apa kehendakmu?" tanya Kiam Ki Sianjin sambil tersenyum mengejek.
"Kiam Ki Sianjin, pada saat kau masih mengeram di dalam goa di gunungmu, aku sudah berada di istana. Akan tetapi kau sekarang bersikap seakan-akan engkau sudah menjadi seorang jenderal! Alangkah sombongmu. Dengarlah baik-baik, jika memang kau seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Kalau saja pibu (adu kepandaian) ini memang akan diteruskan, berlakulah jujur dan tidak secara pengecut. Biarkan seorang lawan seorang, jangan main keroyokan. Aku sudah ribuan kali bertempur dan ratusan kali menghadapi pibu, akan tetapi selama hidupku baru kali ini menyaksikan pibu yang demikian tidak tahu malu!"

"Jeng-kin-jiu, kau adalah orang luar. Walau pun aku sudah memanggilmu ke sini, akan tetapi ternyata kau menarik diri sendiri dan menjadi penonton dan orang luar. Kau peduli apa? Kau lihat sendiri, mereka bertempur atas kehendak mereka, tidak ada orang yang memaksa. Kalau mereka memang suka berdamai, mengapa mereka memaksa hendak mengadakan adu kepandaian? Sudahlah, kami juga tidak mau menyeret engkau dalam pertandingan ini, lebih baik kau keluar dan turun dari gunung ini."

"Tak mungkin! Aku bisa membiarkan kalian bertanding kalau memang adil, akan tetapi aku paling benci kecurangan dan ketidak adilan. Tidak boleh aku berpeluk tangan saja melihat hal ini terjadi di depan mataku!" Sambil berkata demikian, Jeng-kin-jiu siap untuk menyerang dan membantu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dikeroyok dan didesak hebat oleh para pengeroyoknya.

Akan tetapi, pada saat itu pula terdengar dua kali ledakan dan asap tebal sekali berwarna hitam campur putih segera memenuhi tempat itu.....

Jeng-kin-jiu yang berada agak jauh dari ledakan ini, kaget dan cepat melompat mundur ke dekat Kwa Ok Sin kembali karena mencium bau yang amat keras. Akan tetapi semua orang yang berada di dekat gelanggang pertempuran, kecuali Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo, menjadi terhuyung-huyung dan bernapas terengah-engah lantas roboh terguling! Mereka yang roboh adalah Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu!

Apakah yang terjadi? Tidak seorang pun mengetahuinya, bahkan Yok-ong hanya berseru perlahan kepada Kwan Cu. "Itulah asap berbisa obat pembius yang sering dipergunakan oleh penjahat dari See-than (negeri barat)! Heran, dari mana datangnya asap itu?"

Akan tetapi meski pun Kwan Cu juga tidak melihat siapa yang mempergunakannya, dia telah tahu dengan baik bahwa yang mengeluarkan obat bius itu tentulah Coa-tok Lo-ong, sute dari Hek-i Hui-mo sebab dulu di kuil tempat tinggal Siok Tek Tojin, dia sudah pernah mencium bau asap itu.

Hek-i Hui-mo tertawa bergelak ada pun Coa-tok Lo-ong cepat menciumkan obat penawar di depan hidung Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dalam beberapa detik saja mereka ini telah siuman kembali dan menjadi amat terheran-heran.

Akan tetapi, Hek-i Hui-mo cepat menghampiri tubuh Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, lalu menotok mereka sehingga sebelum orang lain bisa mencegahnya, kedua tulang pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sudah terlepas sambungannya! Mereka untuk beberapa lama tidak akan dapat bersilat sebelum tulang itu disambung kembali!

"Ji-wi Pai-cu dari Bu-tong dan Kim-san, sekarang musuh-musuh besar Ji-wi sudah roboh. Tidak membalas dendam sekarang, Ji-wi mau tunggu kapan lagi?" kata Kiam Ki Sianjin kepada ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Akan tetapi kedua orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam partai mereka ini, tentu saja merasa malu untuk membinasakan lawan yang sudah roboh karena pengaruh obat bius. Melakukan hal itu dianggap amat rendah. Akan tetapi jika tidak membunuh mereka sekarang, bukanlah hal yang mudah untuk merobohkan dua orang tokoh besar itu selagi mereka sadar. Karenanya, dua orang ketua partai ini menjadi ragu-ragu dan bersangsi.

"Kalau Ji-wi tidak tega, biarlah aku yang membunuh mereka!" Coa-tok Lo-tong berkata sambil melompat maju ke arah Kiu-bwe Coa-li dan serentak dia menggerakkan ularnya ke arah tenggorokan Kiu-bwe Coa-li!
“Bangsat rendah, pergilah kau!"

Tiba-tiba Coa-tok Lo-ong merasa ada sambaran angin yang dahsyat sekali dari samping. Karena dia tidak dapat mengelak lagi, dia membatalkan serangannya terhadap Kiu-bwe Coa-li dan mempergunakan tangan kirinya untuk menangkis.

"Dukkk!"

Dua tangan beradu dan Coa-tok Lo-ong terlempar sampai dua tombak lebih, akan tetapi Jeng-kin-jiu yang menyerangnya juga terpental ke belakang sampai empat kaki! Ternyata bahwa kehebatan tenaga dua orang tokoh ini hampir sama, akan tetapi ternyata bahwa tenaga raksasa dari Jeng-kin-jiu masih lebih unggul. Berkat tingginya lweekang mereka, adu tenaga tadi tidak mendatangkan luka di dalam tubuh.

"Jeng-kin-jiu, kau bukan orang luar lagi sekarang, akan tetapi pembantu pemberontak!" bentak Hek-i Hui-mo yang segera mengayun tongkat kepala naga dan menyerang kepala Jeng-kin-jiu.
"Bangsat Hek-i Hui-mo, apakah kau lupa akan perundingan kita dulu?" seru Jeng-kin-jiu sambil menangkis ayunan tongkat itu dengan toyanya.

Pertemuan tongkat dan toya yang digerakkan dengan tenaga raksasa ini menimbulkan suara keras hingga orang-orang yang berada di dekat situ merasai getaran yang hebat.

Seperti diketahui, dulu memang Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu keduanya membantu An Lu Shan. Bahkan ketika tokoh-tokoh besar yang berjiwa patriot seperti Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian dan yang lain-lain datang menyerbu istana, mereka inilah yang melindungi An Lu Shan dan menyelamatkan nyawa kepala pemberontak itu.

Akan tetapi kemudian, melihat betapa rakyat Han berjuang terus, bahkan dipimpin oleh orang-orang pandai, mata Jeng-kin-jiu baru terbuka bahwa hal yang ia lakukan bukanlah main-main belaka. Ia boleh disuruh menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw yang bagaimana pandai pun, akan tetapi menghadapi gelombang perjuangan rakyat bangsanya sendiri, dia bergidik dan merasa ngeri.

Oleh karena ini dia lalu mengadakan perundingan dengan kawan-kawannya, yakni Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw serta yang lain-lain, menyatakan kekhawatirannya karena ternyata bahwa yang mereka lindungi adalah musuh rakyat jelata, bukan musuh Kaisar Tang sebagaimana yang tadinya mereka kira.

Jeng-kin-jiu semenjak itu lalu mengasingkan diri di atas gunung, menyesali perbuatannya yang sudah membikin banyak orang gagah gugur termasuk Ang-bin Sin-kai. Sebaliknya, Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw dan yang lain-lain kembali kena dibujuk oleh Kiam Ki Sianjin sehingga mereka kini kembali membantu kaisar asing. Hal ini adalah karena Hek-i Hui-mo memang berdarah Tibet, maka dia tidak peduli akan perjuangan bangsa Han.

Kini dua orang tokoh besar yang sama gemuknya dan sama pula lihainya itu bertanding. Jika tadinya Kwan Cu sudah mau melompat maju melihat Coa-tok Lo-ong menggunakan asap obat bius, kini dia mengurungkan niatnya lagi. Kejadian itu semua terjadi demikian cepat dan kini pundak Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertotok, menggeletak dalam keadaan masih pingsan.

Melihat betapa fihak Pak-lo-sian kini tinggal Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang amat tua itu, Kwan Cu sudah ingin sekali membantu mereka, akan tetapi kembali niatnya ini terpaksa dia tunda karena kini dia asyik menyaksikan pertarungan antara Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo. Hatinya berdebar tegang.

Dua orang ini juga termasuk pengeroyok-pengeroyok dan pembunuh-pembunuh Ang-bin Sin-kai. Apa lagi dia masih ingat betul bagaimana ketika dia masih kecil, dua orang tokoh besar ini pun pernah menawan dan ikut menyiksanya saat mereka memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Akan tetapi tiba-tiba terasa olehnya semacam perasaan yang aneh. Walau pun dia akui bahwa dua orang yang bertempur itu adalah musuh-musuh dan pembunuh gurunya, jadi keduanya juga musuh yang harus dia balas, namun melihat mereka berdua saling serang itu hati Kwan Cu condong kepada Jeng-kin-jiu dan dia mengharapkan kemenangan bagi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!

Hal ini sebetulnya tidak mengherankan bagi kita, karena ketika pertama kali muncul di dunia ramai, memang anak ini ditemukan oleh Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai, sebagai satu-satunya orang yang selamat dari kapal yang tenggelam oleh badai dan ombak. Lalu, bahkan Jeng-kin-jiu yang memberi nama Kwan Cu padanya sedangkan Ang-bin Sin-kai yang memberi nama keturunan Lu.

Biar pun tokoh-tokoh aneh itu tidak menyatakan, akan tetapi setidaknya Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai adalah seperti ‘ayah-ayah angkat’ bagi Kwan Cu. Tentu saja dia lebih sayang kepada Ang-bin Sin-kai karena pengemis sakti ini selain menjadi gurunya, juga sikapnya lebih baik terhadapnya.

Pada waktu Kwan Cu memperhatikan jalannya pertempuran, ternyata bahwa betapa pun lihainya Jeng-kin-jiu dengan toyanya, akan tetapi tongkat dan tasbih Hek-i Hui-mo masih lebih lihai lagi. Memang, dulu ketika mereka masih memperebutkan Kwan Cu dan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tingkat atau ketangguhan ilmu silat mereka seimbang.

Akan tetapi, semenjak mendengar isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng salinan yang dibaca oleh pujangga Tu Fu, Hek-I Hui-mo lalu mendapat kemajuan yang hebat dan juga aneh, seperti halnya Kiu-bwe Coa-li yang juga ikut mendengarkan. Tadi ketika dikeroyok kalau saja tidak keburu Coa-tok Lo-ong melepaskan asap berbisa yang amat ampuh, agaknya tidak akan ada yang sanggup mengalahkan atau merobohkan Kiu-bwe Coa-li.

Kwan Cu yang melihat betapa Jeng-kin-jiu ternyata masih kalah setingkat, menjadi ikut penasaran. Dalam hal tenaga, agaknya Jeng-kin-jiu tidak kalah, akan tetapi ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo benar-benar aneh dan ditambah pula dengan tasbihnya yang laksana tangan maut menyambar-nyambar, keadaan Jeng-kin-jiu menjadi amat terdesak.

Tiba-tiba Kwan Cu mengeluarkan seruan tertahan, seruan yang mengandung kemarahan besar. Akan tetapi dia tidak berbuat sesuatu, karena kesadarannya mengingatkan bahwa yang bertempur adalah musuh-musuh besar gurunya.

Dia mengeluarkan seruan ketika melihat kecurangan yang terjadi dalam pertempuran itu. Tanpa disangka-sangka, Coa-tok Lo-ong menyerang Jeng-kin-jiu dengan senjata rahasia yang amat halus dan tidak dapat dilihat oleh mata.

"Itu jarum-jarum Coa-tok-ciam...," Yok-ong juga berseru perlahan.

Jeng-kin-jiu bukanlah seorang yang disebut tokoh nomor satu di selatan kalau dia tidak tahu akan serangan gelap ini. Biar pun jarum-jarum itu sangat halus dan tidak kelihatan oleh mata, akan tetapi dia masih dapat mendengar suara angin senjata rahasia ini dan cepat-cepat dia mengebutkan tangan baju sebelah kiri. Ia tidak dapat berbuat lain karena pada saat itu, Hek-i Hui-mo sedang melakukan serangan yang hebat dan mendesaknya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyingkirkan diri.

Oleh karena ini, biar pun dia dapat mempergunakan ujung lengan baju menyampok jatuh banyak jarum-jarum Coa-tok-ciam (Jarum Racun Ular) tetapi sama sekali dia tidak dapat membebaskan diri dari ancaman jarum-jarum yang dilontarkan dalam gelombang ke dua. Tiga batang jarum hitam yang amat halus sudah mengenai tubuhnya, sebatang di paha, sebatang di pundak dan sebatang lagi merasuki punggungnya.

Kalau orang lain yang terkena jarum-jarum ini, tentu akan roboh pada saat itu juga. Akan tetapi Jeng-kin-jiu adalah seorang yang tubuhnya sudah dipenuhi oleh hawa murni dan tenaga lweekang-nya sudah dapat dia salurkan sampai ke ujung-ujung kuku. Karena itu, begitu merasa tiga bagian tubuhnya itu gatal-gatal dan sakit, dia cepat mempergunakan Ilmu Pi-khi Koan-hiat (Menutup Hawa Menghentikan Jalan Darah) sehingga racun dari Coa-tok-ciam yang memasuki tubuhnya tidak dapat menjalar, namun hanya mengeram di sekitar jarum itu saja.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa terkurung, Jeng-kin-jiu lalu memutar toyanya dengan tenaga raksasa, segera maju dan menyerang membabi-buta. Terutama sekali dia mengejar Coa-tok Lo-ong yang sudah melukainya dengan cara sangat curang itu.

Coa-tok Lo-ong terkejut sekali karena tahu-tahu hwesio gemuk bundar itu sudah tiba di depannya dan memukul dengan kerasnya. Dia mengelak dan berbareng dari samping menyabetkan ularnya ke arah dada Jeng-kin-jiu.

Akan tetapi, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mengulur tangan kiri, menangkap kepala ular itu dan sekali remas saja, hancurlah kepala ular itu! Berbareng dengan itu, kembali dia mengirim serangan dengan toyanya.

Coa-tok Lo-ong cepat menyingkir dan sebentar saja Jeng-kin-jiu yang mengamuk seperti singa gila itu telah dikurung oleh Hek-i Hui-mo dan lain-lain. Bahkan kini para perwira ikut pula mengepungnya. Akan tetapi ternyata mereka ini mengantar nyawa secara sia-sia saja karena hanya dalam sekejap mata tangan Jeng-kin-jiu telah menghancurkan kepala beberapa orang pengeroyok.

"Mundur semua...!" berseru Kiam Ki Sianjin yang kini ikut mengepung pula. "Biarkan para cianpwe yang membunuh anjing gila ini!"

Akan tetapi semua keributan ini sebetulnya tak ada gunanya. Pada saat dia mengamuk, terpaksa untuk menyalurkan tenaga lweekang pada gerakan-gerakannya, kadang kala Jeng-kin-jiu harus melepaskan Ilmu Pi-khi Koan-hiat sehingga racun itu mulai menjalar di tubuhnya.

Maka tiba-tiba dia merasa kedua matanya gelap. Sambil meramkan mata, hwesio yang kosen ini masih saja mengamuk terus, dan dia hanya melindungi tubuh dan melakukan serangan semata-mata menurutkan pendengaran telinganya saja.

Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Racun telah sampai di jantungnya dan tanpa mengeluarkan keluhan sedikit pun, Jeng-kin-jiu lalu roboh dan tewas dengan toya masih berada dalam genggaman tangannya! Melihat hal ini, semua orang tertegun dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi.

"Inilah orang yang benar-benar gagah perkasa, patut ditiru oleh kita semua. Demikianlah hendaknya sikap seorang gagah dan namanya takkan terlupa oleh keturunan kita!" kata Kwa Ok Sin sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

Pada saat pertempuran tadi terjadi, Sui Ceng telah menghampiri gurunya dan berlutut di depan tubuh gurunya dengan muka sedih. Demikian pula Kun Beng dan Swi Kiat telah berlutut di depan Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Dua tokoh besar ini sudah siuman dari pingsannya dan kini mereka hanya memandang murid-murid mereka dengan senyum tawar. Mereka tak berdaya, dan meski pun mereka dengan bantuan murid-murid mereka dapat duduk, akan tetapi kedua pundak mereka tak dapat digerakkan lagi sehingga tak mungkin mereka sanggup menghadapi lawan dalam pertempuran.

"Sekarang boleh dilakukan hukuman terhadap Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang telah membunuh murid-murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!" Coa-tok Lo-ong berkata nyaring tanpa mengenal malu sambil memandang pada dua orang ketua partai Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

"Asal mereka telah mengaku dan memberi tahu kenapa mereka melakukan pembunuhan secara curang terhadap muridku, pinto sudah puas dan bersedia memaafkan mereka," kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Mendengar ucapan ini, Bian Kim Hosiang juga mengangguk-anggukkan kepalanya.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang mendengar omongan itu lalu tertawa bergelak. Biar pun kedua pundak dan lengannya tidak dapat digerakkan lagi, namun tubuhnya masih kuat dan sekali menggerakkan kaki, dia sudah melompat berdiri, kedua muridnya berdiri di kanan-kirinya. Sikapnya masih gagah, hanya kedua lengannya saja yang tergantung tak berdaya.

"Kedua orang Ciangbunjin dari Bu-tong serta Kim-san agaknya sudah gila, buta atau memang sudah kembali menjadi anak-anak kecil. Aku Siangkoan Hai, selama hidup tidak pernah berbuat curang, sungguh pun sudah berkali-kali aku dicurangi orang seperti yang baru saja kualami ini. Maka dua orang Ciangbunjin harap membuka mata lebar-lebar dan mempergunakan pula otaknya!"

"Benar, kalian sudah ditipu oleh jahanam-jahanam tak tahu malu seperti Coa-tok Lo-ong, tapi masih keenakan saja, mana orang-orang macam kalian ini pantas menjadi ketua dari partai-partai besar?" kata Kiu-bwe Coa-li yang juga sudah berdiri.

Sui Ceng berdiri di sebelahnya dan kini cambuk berekor sembilan itu dipegang oleh Sui Ceng. Biar pun gadis ini masih agak lemah dan pundaknya masih terasa sakit, ia dengan gagah berdiri di samping gurunya, siap membelanya mati-matian.

Mendengar kata-kata Kiu-bwe Coa-li yang tanpa disengaja mendakwa kepada Coa-tok Lo-tong, sute dari Hek-i Hui-mo ini berubah mukanya. Akan tetapi Kiam Ki Sianjin yang mendalangi semua itu, menjadi khawatir sekali. Tokoh-tokoh besar yang pro rakyat kini sudah tidak berdaya, tidak membasmi mereka sekarang mau tunggu kapan lagi? Kalau mereka ini sudah tewas, berapa besar kekuatan pemberontak?

"Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, biar pun kalian sekarang sudah dikalahkan, aku masih membuka kesempatan bagimu. Apa bila kalian suka tunduk dan berjanji akan membantu kami atau akan membujuk agar supaya para pemimpin pemberontak mengundurkan diri, kami akan memberi ampun kepada kalian dan murid-murid serta kawan-kawanmu."

"Bangsat tua, siapa sudi mendengar omongan-omonganmu? Mau bunuh lekas bunuh, habis perkara!" kata Kiu-bwe Coa-li dan biar pun kedua lengannya sudah lumpuh dan tak dapat digerakkan lagi, namun sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat, ada pun sepasang kakinya siap pula untuk mengirim tendangan maut.

"Kiam Ki Sianjin, anjing penjilat belang! Apa sih sayangnya kalau tulang-tulangku yang keropos ini dihancurkan? Aku akan mati sebagai seorang gagah, bukan seperti kau yang kelak mampus seperti anjing penjilat kelaparan yang tidak dipakai lagi oleh majikanmu, penjajah asing!" Pak-lo-sian Siangkoan Hai mencaci.

Mendengar ini, naik darah Kiam Ki Sianjin dan dia lalu mencabut pedangnya. Dia adalah seorang tokoh besar yang berjulukan Pak-kek Sian-ong, bagaimana dia dapat menelan mentah-mentah hinaan ini?

"Kalau begitu mampuslah kalian!" bentaknya.

Akan tetapi tiba-tiba Seng Thian Siansu melompat dan pedangnya menangkis pedang di tangan Kiam Ki Sianjin.

"Nanti dulu, Kiam Ki Sianjin. Biar pun kawan-kawanku telah kalah oleh akal busuk, akan tetapi di fihakku masih ada aku orang tua. Kalau aku sudah kalah, boleh kalian berbuat sesuka hatimu terhadap kami. Hayo, majulah, aku menyediakan selembar nyawaku yang tidak berharga!"

Walau pun sudah sangat tua dan lemah, ketua Kun-lun-pai ini berdiri dengan gagahnya. Pedangnya sudah siap di tangan, melakukan gerakan Sian-jin Tit-louw (Dewa Menunjuk Jalan), membuka kuda-kudanya dengan tenang sekali.

Seng Thian Siansu adalah ketua Kun-lun-pai, yaitu seorang tua yang banyak dikenal dan disegani orang. Sebagai seorang ciangbunjin dari partai yang amat besar, dia dihormati sekali dan karenanya kali ini setelah dia yang maju, dari fihak Kiam Ki Sianjin tidak ada yang berani mengeroyok.

Akan tetapi mereka ini tidak menjadi gentar, karena para tokoh ini maklum bahwa Seng Thian Siansu yang sekarang berbeda dengan Seng Thian Siansu sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Kakek ini sudah terlalu tua dan kabarnya sudah beberapa kali menderita sakit tua sehingga amat lemah dan tidak memiliki tenaga besar lagi.

Toat-beng Hui-houw hendak mencari jasa, maka sambil tertawa-tawa dia melompat maju menghadapi Seng Thian Siansu.

"Aku mohon pengajaran dari Siansu yang namanya tersohor di kolong langit," katanya sambil menyeringai dan menggerakkan kedua tangan sehingga sepuluh kukunya terulur panjang.

Kemudian dengan gerakan cepat sekali dia maju menyerang dengan kedua tangannya yang digerakkan seperti seekor harimau mencakar. Tak ketinggalan pula kedua kakinya mengirim tendangan bertubi-tubi sehingga dia betul-betul terlihat seperti seekor harimau menyerang.

Seng Thian Siansu adalah seorang ketua dari partai besar, tentu saja kepandaiannya amat tinggi. Dia adalah ahli waris dari ilmu silat Kun-lun-pai dan tentang kepandaian, dia jauh lebih menang dari pada Toat-beng Hui-houw. Akan tetapi sayang sekali, sudah ada belasan tahun dia termakan oleh usia tua sehingga tenaganya sebagian lenyap dan juga kegesitannya berkurang banyak. Bagaikan sebatang pedang pusaka yang ampuh, apa dayanya kalau sudah dimakan karat?

Maka begitu pedangnya yang menangkis serangan Toat-beng Hui-houw terbentur oleh kuku tangan kakek seperti siluman ini, dia lantas merasa telapak tangannya tergetar dan pedangnya terpental. Dengan cepat Seng Thian Siansu terkurung dan terdesak hebat oleh Toat-beng Hui-houw yang menyerang sambil tertawa-tawa mengejek.

Akan tetapi dia salah kira kalau dapat dengan mudah mengalahkan kakek yang usianya sudah tinggi sekali itu. Ilmu pedang dari Seng Thian Siansu sudah mencapai tingkat yang mendekati kesempurnaan, maka daya tahannya juga sangat luar biasa.

Sayang sekali, seperti sudah dituturkan di atas, tenaga kakek ini sudah amat terbatas, demikian pula kecepatannya. Sebentar saja dia sudah mulai terengah-engah, akan tetapi dengan semangat penuh dia masih terus mempertahankan diri.

Kwan Cu sudah bergerak hendak melompat, akan tetapi kembali Yok-ong mencegahnya.

"Bagaimana kita bisa membantu kalau mereka bertempur satu lawan satu?" katanya.

Kwan Cu menjadi bingung. Semenjak tadi dia hendak membantu fihak Pak-lo-sian, akan tetapi kesempatan baik belum ada. Tentu saja dia pun harus tunduk pada Yok-ong yang mengemukakan alasan-alasan kuat. Sebagai orang gagah dia pun harus bisa memegang aturan.

Sekarang Seng Thian Siansu benar-benar terdesak hebat. Pada suatu saat, Toat-beng Hui-houw yang merasa penasaran sekali mengapa sebegitu lama belum juga dia mampu mengalahkan kakek tua renta itu, membentak keras dan tahu-tahu kedua tangannya bisa menangkap tangan ketua Kun-lun-pai itu yang memegang pedang.

Seng Thian Siansu merasa tangan kanannya sakit sekali bagaikan terjepit oleh jepitan baja. Kuku-kuku kedua tangan Toat-beng Hui-houw amblas ke dalam tangannya dan menghancurkan tangan itu. Akan tetapi, sambil menahan sakit, ketua Kun-lun-pai ini lalu menggunakan tangan kirinya untuk memukul sambil mengerahkan seluruh sisa tenaga terakhir ke arah dada Toat-beng Hui-houw.

"Blekkk!"

Toat-beng Hui-houw mengeluarkan gerengan seperti seekor macan terpukul. Tubuhnya terhuyung dan dia muntahkan darah segar. Biar pun tenaga kakek Kun-lun-pai itu tidak begitu besar, akan tetapi karena rasa sakit pada tangan kanannya, tenaganya bertambah dan pukulan itu hebat sekali.

Akan tetapi, dia sendiri terpaksa harus melepaskan pedangnya dan tangan kanannya sudah bukan berupa tangan lagi. Jari-jemarinya putus dan tangan itu hancur! Seng Thian Siansu maklum bahwa selain tangan kanannya hancur, juga darahnya telah kemasukan racun yang keluar dari kuku-kuku tangan Toat-beng Hui-houw, karena itu dia lalu duduk bersila meramkan mata, menanti datangnya maut dengan tenang.

Sebaliknya, Toat-beng Hui-houw akhirnya roboh pingsan. Pada saat semua orang masih bengong melihat pertempuran yang berakibat hebat itu, mendadak Sui Ceng melompat, menyambar pedang Seng Thian Siansu yang jatuh di atas tanah dan sebelum ada orang yang dapat mencegahnya, gadis ini mengayun pedang itu dan putuslah leher Toat-beng Hui-houw!

Sesaat semua orang terkesima, akan tetapi segera gegerlah orang-orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin. Beberapa orang melompat maju, bahkan Kiam Ki Sianjin sendiri berseru,

"Curang sekali...!"

Setelah memenggal kepala Toat-beng Hui-houw, Bun Sui Ceng lalu tertawa nyaring dan berkata, "Ibu, terbalaslah sudah dendam hatimu terhadap siluman ini!" Kemudian dengan air mata mengucur gadis ini berdiri dengan gagahnya menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya.

"Bukan Seng Thian Siansu yang curang, akan tetapi aku sendiri, Bun Sui Ceng, yang sengaja memenggal kepala siluman ini untuk membalas sakit hati ibuku yang dulu tewas di tangannya. Siapa yang tidak terima, boleh maju! Untuk perbuatanku tadi, aku sanggup menghadapi segala akibatnya!"

"Tangkap dia!"
"Bunuh dia!"
"Basmi semua pemberontak!"

Teriakan-teriakan ini terdengar saling susul dan semua orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin, kecuali orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, serentak bergerak hendak menggempur Sui Ceng dan yang lain-lain.

"Tahan dulu...!"

Tiba-tiba ada bayangan yang melayang dan menyambar-nyambar amat cepatnya, diikuti oleh bayangan lain yang juga amat gesitnya. Bayangan pertama adalah Kwan Cu yang tidak dapat menahan hatinya lagi, apa lagi ketika melihat betapa Sui Ceng berada dalam bahaya hendak dikeroyok.

Begitu tiba di tempat itu, Kwan Cu segera menggerakkan kedua tangannya ke arah para pengeroyok. Dengan amat cepat, tanpa dapat terlihat oleh lain orang, dia telah memukul mundur semua orang dengan pukulan-pukulan Pek-in Hoat-sut.

Kiam Ki Sianjin beserta kawan-kawannya hanya merasa adanya angin yang kuat sekali mendorong mereka mundur beberapa tindak dan ternyata tahu-tahu pemuda dusun yang tadi dianggap tolol telah berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang.

Ada pun bayangan kedua adalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Berbeda dengan Kwan Cu, raja tabib ini dengan cepat luar biasa bagaikan burung menyambar-nyambar, telah dapat menyambar tubuh Thian Seng Siansu, kemudian berturut-turut ia juga menyambar tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li, dibawa ke belakang, kemudian tanpa mempedulikan sesuatu dia mengobati tokoh-tokoh yang terluka ini.

Pertama-tama dia mempergunakan obat untuk mengobati luka pada tangan Seng Thian Siansu karena keadaan kakek ini yang paling hebat. Sesudah menotok beberapa jalan darah, Yok-ong cepat memberi obat pada tangan yang rusak itu dan memasukkan pil ke dalam mulut kakek ini yang memandangnya dengan penuh keheranan dan kekaguman.

Setelah itu, barulah Yok-ong memeriksa pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Karena dia sangat lihai dalam ilmu pengobatan, tulang pundak yang sudah terlepas dan kalau menurut ahli pengobatan lainnya baru akan sembuh sedikitnya dua pekan, sebentar saja Yok-ong sudah dapat menyambungnya dengan baik!

"Sayang masih tidak boleh mengerahkan tenaga lweekang di kedua lengan pada hari ini, harus menanti sampai dua hari," kata Yok-ong kepada dua orang tokoh itu.
"Ehh, muka hitam! siapakah kau yang sudah berpura-pura dungu dan bodoh, menyamar sebagai petani ini?" tanya Kiu-bwe Coa-li dengan heran sekali.

Pak-lo-sian tertawa. "Ha-ha-ha, di dunia ini yang sanggup mengobati orang dengan cara seperti ini hanyalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Bukankah kau Yok-ong?"

Akan tetapi Yok-ong tak menjawab, hanya menudingkan telunjuk ke depan dan mukanya berubah terheran-heran sehingga dia menjadi bengong. Pak-lo-sian serta Kiu-bwe Coa-li juga memandang ke depan. Mereka melihat betapa Sui Ceng sudah mundur, juga kini Sui Ceng, Kun Beng, Swi Kiat dan dua orang anak murid Kun-lun-pai, juga memandang dengan bengong ke tengah lapangan adu silat tadi. Memang apa yang mereka lihat amat mengherankan hati mereka.

Kwan Cu dengan tangan bertolak pinggang sedang menghadapi Kiam Ki Sianjin beserta kawan-kawannya. Pemuda ini kelihatan marah sekali, akan tetapi mukanya terlihat amat lucu karena muka yang berwarna merah seperti udang direbus itu tidak dapat digerakkan sehingga seperti topeng saja.

"Kalian ini para pengkhianat bangsa dan anjing-anjing penjilat selalu memutar balikkan duduknya perkara. Diri sendiri pengecut dan curang mengatakan orang lain yang curang. Sungguh tak tahu malu!"

Karena Kwan Cu sengaja mengubah suaranya, Kiam Ki Sianjin tidak mengenalnya. Akan tetapi karena melihat betapa pukulan anak muda ini benar-benar lihai, dia berlaku sangat hati-hati dan menjawab,

"Bocah dusun! Bagaimana kau dapat berkata begitu? Memang fihak Pak-lo-sian curang sekali, jika tidak curang, kenapa gadis itu membunuh Toat-beng Hui-houw yang sedang tak berdaya?"

"Nona itu membunuh siluman Toat-beng Hui-houw bukan untuk mengeroyok dan bukan untuk berlaku curang. Kalian sudah mendengar sendiri bahwa ibunya dulu terbunuh oleh Toat-beng Hui-houw! Pembalasan dendam tidak boleh dicampur-aduk dengan perbuatan curang. Andai kata kalian menganggapnya mengeroyok, biarlah hal itu dianggap sebagai pembalasan pula karena bukankah kalian tadi juga mengeroyok ketika kedua locianpwe Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian maju?"

"Setan kecil! Apa bila kau memang murid seorang pandai dan mengaku sebagai seorang gagah atau pendamai, ternyata kau berat sebelah! Mungkin sekali Toat-beng Hui-houw membunuh ibu gadis itu, namun siapa tahu kalau memang ibu gadis itu ternyata adalah penjahat besar?"

Kwan Cu tertawa dan dia menjura kepada Kiam Ki Sianjin dengan penghormatan yang sifatnya mengejek.
"Harap Locianpwe suka mendengarkan dongenganku sebentar. Toat-beng Hui-houw itu adalah suheng dari Tauw-cai-houw, saikong yang berwatak keji dan suka makan daging anak-anak kecil. Maka, pada suatu hari pendekar wanita Pek-cilan Thio Loan Eng yang namanya sudah tersohor di seluruh penjuru dunia, menewaskan bangsat keji itu dengan pedangnya. Bukankah hal itu telah cukup adil? Lalu siluman tua ini, Toat-beng Hui-houw, melakukan pembalasan terhadap Pek-cilan Lihiap. Ini pun boleh-boleh saja karena dia memang suheng dari Tauw-cai-houw. Akan tetapi tahukah Locianpwe bagaimana cara Toat-beng Hui-houw membalas dendam? la menawan Pek-cilan Lihiap, kemudian selagi pendekar wanita itu masih hidup, dia menggigit lehernya dan mengisap darahnya sampai habis!"

Terdengar seruan-seruan kaget. Dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai beserta anak murid mereka bergidik mendengar perbuatan yang sangat keji dan di luar batas peri kemanusiaan ini! Bun Sui Ceng menjadi pucat dan dia mengeluarkan pertanyaan tanpa disadarinya.
"Siapa dia yang mengerti semua peristiwa itu?"

Pertanyaan ini terdengar pula oleh Kiam Ki Sianjin yang juga menjadi penasaran, maka tanyanya.
"Orang muda, siapakah namamu dan apa kehendakmu sekarang?"
"Namaku? Namaku ialah Ang-bin Siauw-bu-beng (Si Kecil Tak Bernama Yang Bermuka Merah). Dan kehendakku? Tak lain kedatanganku ini untuk mendongeng!"

Semua orang, baik dari fihak Kiam Ki Sianjin mau pun dari fihak Pak-lo-sian Siang-koan Hai, tak ada seorang pun yang pernah mendengar nama julukan Ang-bin Siauw-bu-beng, maka mereka memandang dengan heran. Apa lagi ketika Kwan Cu menyatakan bahwa kedatangannya untuk mendongeng!

Sui Ceng hampir tak dapat menahan ketawanya karena ia merasa amat lucu. Bagaimana bisa di tengah-tengah medan pertandingan mati-matian yang telah mengorbankan begitu banyak nyawa orang, pemuda muka merah yang buruk rupa ini bahkan datang hendak mendongeng? Sungguh menggelikan.

Akan tetapi Kiam Ki Sianjin marah bukan main. Dia adalah seorang ahli silat kelas satu, masa sekarang dia boleh dipermainkan begitu saja oleh seorang badut muda?

"Jangan kau main-main, lekas pergi kalau kau tidak ingin remuk tulang-tulangmu. Siapa sudi mendengar ocehan dan dongenganmu?"

Sambil berkata demikian, dia mendorong dengan kedua tangannya dengan sikap seperti orang mau mengusir. Akan tetapi, sebenarnya dalam dorongannya ini dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang luar biasa dahsyatnya.

Kwan Cu hanya merendahkan sedikit tubuhnya dan dari bawah kedua tangannya lantas diangkat seperti orang yang mencegah orang lain hendak memukulnya.

Kiam Ki Sianjin terkejut bukan main. Tadi dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang dan dia tahu bahwa jangankan pemuda aneh ini, walau pun batu yang beratnya beribu kati akan terguling bila terkena dorongannya ini. Baru angin dorongannya saja sudah mengandung tenaga sedikitnya tiga ratus kati.

Akan tetapi, pemuda itu dengan merendahkan tubuh sambil mengangkat kedua tangan, ternyata dari angkatan tangan ini keluar sebuah tenaga tersembunyi yang dari bawah mendorong tangan Kiam Ki Sianjin ke atas sehingga dorongan tenaga Jian-mo-kang lewat di atas kepala Kwan Cu mengenai angin kosong! Daun-daun pohon yang berada di sebelah belakang Kwan Cu seperti tertiup angin pada waktu terkena sambaran tenaga Jian-mo-kang yang menyeleweng ke atas ini sehingga rontoklah banyak daun pohon itu!

"Locianpwe, ampunkan selembar nyawaku. Jangan bunuh aku dahulu sebelum boanpwe (aku yang rendah) selesai mendongeng," kata Kwan Cu sambil tersenyum. "Tadi sudah kuceritakan dongeng mengenai Toat-beng Hui-houw sehingga kita semua kini tahu akan macam orang itu dan kiranya sudah sepatutnya kalau nona yang lihai itu membunuhnya. Sebelum mendongeng mengenai para locianpwe yang kini masih hidup, aku akan mulai dengan yang sudah tewas, yakni Jeng-kin-jiu Locianpwe. Dia itu sekarang memang telah tewas sebagai seorang gagah, akan tetapi sangat disayangkan bahwa kematiannya itu merupakan penebusan dosa dari penyelewengan hidupnya. Sungguh amat disayangkan. Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu merupakan seorang tokoh besar dari selatan yang biar pun amat aneh akan tetapi belum pernah berlaku curang dan jahat. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh guru besar Khong Cu, musuh manusia yang paling berbahaya adalah diri sendiri! Melihat kehidupan mulia dan enak, Jeng-kin-jiu sudah kena dibujuk dan menjadi kaki tangan An Lu Shan, bahkan mengajar para pangeran, sama sekali tak peduli bahwa majikannya itu adalah penindas bangsanya. Kemudian, lebih celaka lagi, dengan kawan-kawannya yang sama-sama menyeleweng batinnya, dia melakukan pengeroyokan dan membunuh seorang pendekar besar yang namanya akan tetap wangi selama dunia ini berkembang, yaitu Ang-bin Sin-kai Lu Sin! Ada pun Liok-te Mo-li nenek yang aneh itu, memang dia gagah perkasa dan lihai sekali, juga di waktu lampau dia selalu membasmi orang-orang jahat. Sayang dia terlalu ganas dan kejam, menyebar maut seenaknya saja, maka akhirnya ia pun tewas akibat kecurangan orang-orang jahat pula!"

Mendengar ucapan-ucapan Kwan Cu semakin mengacau, apa lagi melihat betapa kedua musuh besarnya, yakni Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertolong dan telah diobati oleh seorang kakek muka hitam yang aneh, Bian Kim Ho siang dan Bin Kong Siansu menjadi marah dan keduanya melompat maju.

"Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dua manusia durhaka! Jangan kalian bersembunyi di balik kegilaan badut kecil ini. Kalian sudah sembuh? Hayo kita bertanding lagi sampai salah seorang di antara kita mampus!" bentak Bian Kim Hosiang.
"Fihak Pak-lo-sian sudah kalah semua, di sana tidak ada jagonya lagi. Menurut perjanjian mereka harus mengaku kalah kemudian mentaati perintah dan kehendak kami!" Kiam Ki Sianjin berkata keras, tanpa mempedulikan lagi kepada pemuda muka merah itu.

Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu saling pandang, lalu tersenyum pahit.
"Kiam Ki Sianjin, kami adalah orang-orang gagah yang sekali mengeluarkan ludah takkan dijilat lagi!"

Seng Thian Siansu mengangguk-anggukkan kepalanya yang semua rambutnya sudah putih. Mereka memang sudah tidak berdaya.

Kiu-bwe Coa-li sudah tak dapat menggerakkan dua lengannya, demikian pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Seng Thian Siansu sendiri tangannya sudah remuk, tak mungkin mampu berkelahi lagi. Murid-murid Pak-lo-sian juga terluka, demikian pula Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li. Ada pun dua orang murid Kun-lun-pai kepandaiannya masih sangat jauh di bawah tingkat lawan. Mereka terpaksa harus mengaku kalah.

"Jadi kau sudah mengaku bahwa fihakmu kalah, Pak-lo-sian?" Kiam Ki Sianjin bertanya dengan muka kegirangan.
"Memang... kami..."

Tiba-tiba Kwan Cu melanjutkan kata-kata Pak-lo-sian ini dengan cepat.
"Kami belum lagi kalah! Aku Ang-bin Siauw-bu-beng mewakili fihak Pak-lo-sian Cianpwe menjadi jagonya!"

Mendadak Yok-ong melompat di dekat Kwan Cu. Semua orang lagi-lagi tertegun karena gerakan kakek muka hitam itu sedemikian cepatnya sehingga sekali melihat saja tahulah semua orang bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

"Siauw-bu-beng, tak boleh kau meninggalkan Lohu! Kalau kau yang muda berani maju, mengapa aku tidak?"

Yok-ong adalah seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah hampir sempurna, maka tentu saja dia pun dihinggapi penyakit ‘gatal tangan’ seperti ahli-ahli silat lainnya apa bila melihat adu kepandaian, apa lagi menghadapi begitu banyak jago-jago silat. Maka dia tak dapat menahan hatinya untuk ‘main-main’ sebentar, dan di samping ini dia juga merasa khawatir melihat Kwan Cu menghadapi para tokoh besar itu. Dia tahu bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi berapa tinggikah kepandaian seorang bocah yang masih belum matang?

Yok-ong lalu menjura kepada Kiam Ki Sianjin setelah mengejapkan mata kepada Kwan Cu.
"Kiam Ki Sianjin, sudah lama sekali aku mendengar namamu yang menjulang setinggi awan. Sekarang, sungguh amat menyenangkan bertemu dengan kau yang hadir sebagai kaki tangan kaisar. Aku tak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, dan mohon petunjukmu dalam ilmu pukulan."

Kwan Cu maklum akan ‘penyakit’ ahli silat yang menghinggapi diri Yok-ong, maka sambil memainkan mata kepada dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, dia berkata,
"Ji-wi Locianpwe harap mundur dulu, nanti saja kalau tiba giliran kita, Ji-wi maju lagi!"

Kata-kata ini memanaskan perut Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai. Kalau saja yang mengeluarkan kata-kata main-main ini bukan seorang bocah, tentu dia sudah mengirim serangan. Akan tetapi Bin Kong Siansu sudah menarik tangannya diajak mundur.

Kwan Cu juga mundur. Akan tetapi dia berdiri tidak jauh di belakang Yok-ong, karena dia merasa curiga dan khawatir kalau-kalau Yok-ong akan dicurangi pula.
Walau pun Kiam Ki Sianjin dapat menduga bahwa kakek muka hitam ini lihai, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar dia tidak sudi bertanding melawan orang yang tak terkenal, maka dia lalu menjura dan berkata,

"Sahabat telah mengetahui namaku yang rendah, tapi sebaliknya aku belum tahu dengan siapa aku berhadapan. Ini tidak adil sekali."

Yok-ong tertawa, suara ketawanya halus dan merdu seperti ketawa seorang yang amat sopan.
"Kiam Ki Sianjin, yang akan bergerak adalah tangan kaki kita, perlu apa memperkenalkan nama? Akan tetapi karena kau mendesak, baiklah. Namaku adalah Hek-bin Lo-bu-beng (Si Tua Tak Bernama Yang Bermuka Hitam)!"

Kwan Cu tertawa geli. Kiranya kakek Raja Tabib ini meniru dia, menambah kata-kata Muka Hitam di depan nama julukan baru, yakni Lo-bu-beng.

Kiam Ki Sianjin menjadi merah mukanya. "Hemm, kau dan bocah itu sengaja tidak mau memperkenalkan nama. Akan tetapi tak apalah. Apakah kau maju sebagai jago dari fihak pemberontak?"

"Sesukamu, boleh saja kau menganggap begitu. Akan tetapi sebetulnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa aku maju sebagai wakil dari mereka yang tertindas. Kiam Ki Sianjin, keluarkanlah pedangmu, aku sudah lama mendengar bahwa kau adalah seorang ahli pedang yang jempolan!"

Kiam Ki Sianjin diam-diam berpikir dan mencari akal. Kalau orang ini sudah tahu bahwa dia pandai main pedang, tentulah orang ini sudah bersedia terlebih dahulu menghadapi pedangnya, dan boleh dipastikan bahwa kakek muka hitam ini tentulah seorang ahli pula dalam penggunaan senjata pula.

"Tak perlu menggunakan senjata," katanya, "mari kita mengadu tenaga lweekang saja. Apakah kau berani menerima?"

Kiam Ki Sianjin adalah seorang yang semenjak muda meyakinkan ilmu lweekang sampai tingkat tinggi dan dalam hal kepandaian ini, kiranya dia tidak usah kalah oleh lima tokoh besar, yakni Pak-lo-sian, Jeng-kin-jiu, Ang-bin Sin-kai, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li. Karena itu, mengira bahwa Si Muka Hitam ini ahli senjata, dia lalu memilih adu tenaga lweekang supaya mendapat kemenangan dengan mudah.

Yok-ong pura-pura terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Ayaaa... mengapa kau mengajak yang aneh-aneh?"
"Berani tidak?" tanya Kiam Ki Sianjin mendesak.

Kiam Ki Sianjin merasa girang karena melihat si muka hitam kelihatannya ragu-ragu dan terkejut. Jika si muka hitam menolak, berarti orang itu mengaku kalah dan boleh dihukum menurut sesuka hati yang menang.

"Apa boleh buat, kau tuan rumah dan aku tamu yang harus menghormati kehendak tuan rumah. Dengan cara bagaimana kau hendak mengajakku mengadu kekuatan itu?" tanya Yok-ong.
"Tidak berbahaya, sama sekali tidak berbahaya! Kita mengadu telapak tangan dan saling mendorong, siapa yang jatuh di atas tanah dia yang kalah!" kata Kiam Ki Sianjin sambil tertawa-tawa.

Semua orang terkejut. Memang ada banyak cara mengadu lweekang, akan tetapi yang paling berbahaya adalah adu lweekang dengan menempelkan telapak tangan dan saling mendorong. Dalam adu lweekang semacam ini, sembilan bagian orang yang kalah akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang hebat sekali.

Akan tetapi anehnya, si muka hitam agaknya tidak mengerti akan bahaya itu dan dengan tertawa-tawa dia berkata,
"Aha, tidak tahunya kau akan mengajak aku main-main seperti anak kecil saja. Baiklah, memang aku pun tidak mempunyai niat buruk di dalam hatiku. Kalau menang baik, kalau kalah paling-paling hanya terdorong jatuh, apa susahnya?"
"Sahabat Lo-bu-beng, hati-hatilah! Dia memiliki tenaga Jian-mo-kang!" kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang juga merasa khawatir kalau-kalau si muka hitam yang amat pandai mengobati itu akan binasa di bawah tangan Kiam Ki Sianjin yang lihai.

Yok-ong menoleh dan tersenyum kepada jago tua dari utara itu.
"Biarlah, kami hanya bermain-main dan saling dorong saja, bukan saling pukul. Apa sih bahayanya?"

Akan tetapi pada waktu dia menoleh, Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga dan meluruskan kedua lengan ke depan, lalu membentak,
"Lo-bu-beng, bersiaplah!"

Yok-ong memutar tubuhnya dan bukan hanya dia, juga tokoh-tokoh lain yang hadir di situ maklum bahwa kembali Kiam Ki Sianjin sudah menggunakan kesempatan untuk mencari kedudukan yang lebih menguntungkan.

Dalam adu tenaga seperti ini, siapa yang mengerahkan tenaga dan meluruskan lengan terlebih dulu, dia berada dalam kedudukan menyerang, sedangkan yang menempelkan tangan dan meluruskan lengan terakhir berada dalam kedudukan menahan.

Akan tetapi agaknya si muka hitam ini tidak tahu akan hal ini, bahkan tanpa menarik napas panjang seperti orang yang hendak mengumpulkan tenaga lweekang, akan tetapi sambil tertawa-tawa dia lantas memasang kuda-kuda dengan tumit diangkat, kemudian meluruskan tangan menempelkan telapak tangan ke telapak tangan Kiam Ki Sianjin.

Begitu kedua telapak tangan menempel, Kiam Ki Sianjin lalu mengempos semangat dan napasnya, segera mendorong sambil mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang dahsyat. Tadi sudah dituturkan mengenai kehebatan tenaga Jian-mo-kang ini, yang hanya angin pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan batu seberat tiga ratus kati dan kalau tangan itu menempel pada batu yang beratnya seribu kati, batu itu akan terdorong roboh.

Akan tetapi, pada saat tangannya menempel pada telapak tangan Yok-ong, dia merasa betapa telapak tangan si muka hitam itu lunak dan halus sekali seperti kapas! Ia terkejut dan tahu bahwa lawannya menggunakan Bian-ciang-kang (Telapak Tangan Kapas) yang menggunakan tenaga ‘lemas’ untuk menghadapi tenaga ‘keras’.

Menghadapi tenaga ini, Kiam Ki Sianjin kehilangan kekuasaan tenaganya, seakan-akan semua tenaga Jian-mo-kang yang dikerahkan itu ‘amblas’ dalam telapak tangan lawan, atau seperti sepotong besi yang berat masuk ke dalam air!

Cepat dia hendak menarik kembali telapak tangannya untuk mengubah gencetan dari arah lain. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika telapak tangannya itu telah ‘menempel’ pada telapak tangan si muka hitam, tidak dapat ditarik lepas! Telapak tangan lawannya itu seakan-akan mengeluarkan daya luar biasa yang menyedot kulit telapak tangannya sendiri.....

Sebagai seorang ahli silat dan ahli lweekeh, Kiam Ki Sianjin maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli dalam menggunakan tenaga ‘Im-kang’, maka kalau dia melanjutkan usahanya menarik kembali tangannya, dia malah akan kehilangan keseimbangan tenaga dalamnya.

Dengan nekat dia kemudian mendorong lagi. Kini dia mengimbangi kekuatan lawan, jika lawan menggunakan tenaga Yang-kang, dia pun mengerahkan tenaga Yang-kang, kalau tenaga Im-kang, dia pun mengerahkan lweekang mempergunakan tenaga Im-kang.

Sebaliknya, diam-diam Yok-ong juga memuji bahwa tenaga lweekang dari lawannya itu benar-benar hebat dan sudah tinggi sekali, tidak kalah jauh oleh tenaganya sendiri. Maka dia segera mengerahkan tenaganya dan menggunakan tenaga yang mendorong lawan.

Kini tenaga Yang dari kedua fihak bertanding hebat, disalurkan melalui lengan tangan, terus ke telapak tangan sehingga dari keempat telapak tangan yang beradu itu mengepul uap putih, sedangkan masing-masing merasa betapa telapak tangan mereka menjadi panas sekali!

Keringat dingin memenuhi dahi Kiam Ki Sianjin, sedangkan Yok-ong hanya merah saja wajahnya. Dari sini saja sudah dapat dilihat bahwa tenaga si muka hitam itu sudah lebih tinggi. Apa lagi kalau orang lain yang melihatnya, karena wajah Yok-ong yang tertutup warna hitam itu tidak berubah sama sekali!

Memang, Kiam Ki Sianjin sudah merasa betapa telapak tangannya seakan-akan terbakar dan kalau dia teruskan, tentu kedua telapak tangannya akan hangus. Akan tetapi, untuk menarik mundur sudah tidak ada waktu lagi, maka dia berlaku nekat dan mengerahkan seluruh tenaga Jian-mo-kang.

Hek-i Hui-mo melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, menjadi gelisah sekali. Ia lalu melangkah maju kemudian dengan tangan kirinya dia mendorong punggung Kiam Ki Sianjin. Dengan perbuatannya ini, biar pun dia membantu, namun dia sama sekali tidak menyentuh lawan atau si muka hitam, sehingga dia tidak akan disebut curang.

Akan tetapi, bantuannya ini bagi orang lain akan kelihatan aneh dan bahkan merugikan Kiam Ki Sianjin, namun sesungguhnya dari telapak tangannya yang menempel punggung Kiam Ki Sianjin, dia menyalurkan tenaga lweekang-nya yang setingkat dengan Kiam Ki Sianjin, membantu orang tua ini menghadapi si muka hitam.

Akibat bantuan ini segera kelihatan. Tubuh Yok-ong terdorong ke belakang seperti sudah terdorong oleh tenaga raksasa! Juga dia merasa telapak tangannya panas sekali.

Ada pun Kiam Ki Sianjin menjadi lega sekali karena rasa panas di tangannya berkurang banyak. Tentu saja Yok-ong tidak kuat menahan serangan dua tenaga ahli lweekeh yang dipersatukan atau disambung ini dan dia tahu bahwa dia akan kalah.

Kwan Cu menjadi mendongkol dan merasa marah sekali. Ia melangkah maju dan hendak mendorong punggung Yok-ong seperti yang sudah dilakukan oleh Hek-i Hui-mo, namun Yok-ong menggerakkan kepalanya, digelengkan berkali-kali sehingga Kwan Cu terpaksa mundur kembali.

Tiba-tiba saja terdengar Yok-ong berseru keras dan nyaring sekali. Dengan pengerahan tenaga seadanya, dalam sedetik ia dapat mendorong tangan Kiam Sianjin.

Memang hebat sekali tenaga lweekang dari raja tabib ini, karena biar pun yang menahan di depannya ada dua orang, akan tetapi pengerahan seluruh tenaganya ini untuk sesaat dapat membuat Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo terdorong ke belakang! Sesungguhnya hal ini adalah berkat obat-obat penguat tubuh yang diminum oleh raja tabib ini, sehingga dia memang mempunyai kekuatan tubuh luar biasa sekali.

Akan tetapi, pengerahan tenaga tadi hanyalah siasat belaka dari Yok-ong karena dia pun maklum bahwa kalau terus dilanjutkan, akhirnya dia akan kalah juga. Setelah dia berhasil mendorongkan kedudukan lawan dan kini kedua lawannya mengerahkan seluruh tenaga, tiba-tiba dia mengarahkan kedua tangan ke bawah lalu melepaskan tempelan tangannya dan tubuhnya mengelak ke bawah terus ke kanan.

Hebat luar biasa akibat akal ini. Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga sebesarnya, dibantu pula oleh Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya. Sekarang dilepas secara tiba-tiba, tak dapat dicegah lagi dia terdorong ke depan. Apa lagi masih ada Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya, maka di lain saat kedua orang tokoh besar ini terjungkal ke depan, jatuh bangun dan saling tindih!

Baiknya mereka adalah ahli-ahli yang berkepandaian tinggi, maka cepat mereka dapat menarik kembali tenaga mereka dan hanya mengalami benjut-benjut saja. Namun semua batu yang tertimpa tangan mereka pada remuk!

Kwan Cu bertepuk tangan gembira dan sebentar saja Pak-lo-sian juga terkekeh-kekeh, diikuti pujian dari semua orang di fihaknya.

"Kiam Ki Sianjin sudah kalah...!" Kwan Cu berseru berulang-ulang sambil bertepuk-tepuk tangan.

Dengan muka merah sekali Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo bangun berdiri mengibas-ngibaskan pakaian mereka yang terkena debu, untuk beberapa lama tak mampu bicara. Kemudian Hek-i Hui-mo melangkah maju dan dengan alis berdiri dia menudingkan jari telunjuknya kepada Yok-ong.

"Siluman muka hitam! Tidak bisa kau dibilang menang, karena kemenanganmu itu hanya karena siasat busukmu belaka!"

Yok-ong tidak meladeninya karena raja tabib ini adalah seorang yang sangat berhati-hati menjaga kesehatannya. Setelah mengalami adu tenaga yang sedemikian hebatnya, dia tidak mau banyak bicara, hanya berdiri diam dan mengatur pernapasan mengumpulkan kembali tenaganya.

Melihat ini, Kwan Cu maklum bahwa kakek sakti ini perlu diberi waktu untuk beristirahat lebih dulu karena fihak lawan masih amat kuat. Ia yang segera maju dan mencela Hek-i Hui-mo.

"Locianpwe, kau disebut ahli silat nomor satu dari barat, akan tetapi mengapa kau tadi membantu Kiam Ki Sianjin dan sekarang bahkan menyalahkan kakekku? Sudahlah, nanti akan datang giliranmu, sekarang lebih baik kau tiru perbuatan kakekku, mengumpulkan tenaga untuk pertandingan selanjutnya. Sekarang aku akan melanjutkan pembicaraanku dengan kedua ciangbunjin (ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai."

Hek-i Hui-mo sudah mengertak gigi dan hendak menyerang Kwan Cu, akan tetapi kedua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai sudah melompat maju dan berkata kepada Hek-i Hui-mo,

"Memang benar apa yang dikatakan oleh Siauw-ang-mo (Setan Kecil Merah) ini. Biarkan kami berdua mendengarkan kata-katanya lebih lanjut," kata Bin Kong Siansu. Kemudian dia menghadapi Kwan Cu dan berkata,

"Anak muda, kau tadi bilang mewakili Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian musuh besar kami, sebenarnya bagaimana maksudmu? Kami jauh-jauh datang sengaja hendak memberi hukuman kepada mereka yang secara curang dan terlalu telah membunuh dan menghina orang dari partai kami, apakah kau hendak menghalangi?"

Kwan Cu tersenyum dan menjura dengan hormat. "Mana berani boanpwe menghalangi niat dari Ji-wi Ciangbun yang lihai? Boanpwe sekali-kali tak akan merintangi apa bila Ji-wi hendak membunuh atau membalas dendam kepada Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian dua Cianpwe itu. Hanya saja, hukuman itu hendaknya dilaksanakan setelah boanpwe selesai mendongeng."

"Keparat! Kau berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, tapi masih berani melawak dan hendak mempermainkan kami?" bentak Bian Kim Hosiang yang adatnya memang keras.
"Sama sekali tidak melawak apa lagi mempermainkan, akan tetapi dengarlah saja, Ji-wi Locianpwe tentu akan suka mendengar dongeng ini." Sebelum orang membantah pula, Kwan Cu cepat melanjutkan omongannya,

"Kurang lebih sebulan yang lalu, di sebuah kuil di selatan kota raja terjadi hal yang amat aneh. Kuil itu dijaga oleh seorang tojin yang bernama Siok Tek Tojin, dan pada hari itu di dalam kuil datanglah seorang hwesio pendek bundar membawa pedang beserta seorang tosu. Mereka bermalam di kuil itu."

"Dia adalah Bian Ti Hosiang murid kepala Bu-tong-pai!" seru Bian Kim Hosiang.
"Tosu itu tentulah sute-ku Bin Hong Siansu!" Bin Kong Siansu juga berseru.
"Kebetulan sekali terkaan Ji-wi Locianpwe memang sangat tepat," Kwan Cu melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum. "Pada malam hari, dua orang pendeta itu terbunuh orang di dalam kamarnya."
"Benar! Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang membunuh mereka secara pengecut!" teriak Bian Kim Hosiang dengan mata merah memandang kepada dua orang tokoh besar itu.

Kwan Cu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Memang pembunuhnya mengaku bahwa mereka adalah Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li."

Kiu-bwe Coa-li melompat dengan marah. "Buang kentut busuk! Kalau kedua tanganku dapat digerakkan, kepala kalian sudah hancur!"

Juga Pak-lo-sian melompat dan berkata marah, "Bohong sama sekali!"

Kwan Cu menengok dan berkata, "Sabar... sabar... boanpwe belum lagi habis bercerita. Memang pembunuh-pembunuh keji itu telah mengaku bernama Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Mereka membunuh secara curang sekali, dan menggunakan obat bius sehingga dua orang pendeta itu pingsan lalu mereka dibunuh. Kebetulan sekali, pembunuh yang aslinya melarikan diri di dalam gelap dan kehilangan sepotong jubah hitamnya! Ada pun orang kedua adalah Siok Tek Tojin yang bersekongkol dengan penjahat jubah hitam itu."

Terdengar seruan kaget di antara orang-orang yang berdiri dekat Kiam Ki Sianjin. Siok Tek Tojin melompat maju dengan golok di tangan.

"Jahanam kau! Kau berani membawa-bawa nama pinto dengan obrolan kosong itu?"

Tanpa menanti apa-apa lagi Siok Tek Tojin menusukkan goloknya ke arah dada Kwan Cu. Tusukan ini cepat sekali dan kuat. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengelak mau pun menangkis, hanya memandang dengan mulut tersenyum bodoh.

Semua orang di fihak Pak-lo-sian terkejut, bahkan Sui Ceng mengeluarkan jerit tertahan karena disangkanya bahwa pemuda muka merah yang membantu fihaknya itu pasti akan terkena tusukan. Jangankan Sui Ceng, bahkan Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sendiri menyangka bahwa pemuda aneh itu tentu akan tertusuk golok.

Siok Tek Tojin sudah gembira sekali. Apa lagi melihat pemuda itu menoleh kepada Sui Ceng sambil berbareng mengeluarkan kata didahului dengan bentakan,
"Aha! Nona, kau baik sekali mengkhawatirkan keselamatanku!"

Kalau dibicarakan memang sungguh aneh sekali dan semua orang yang berada di situ tentu tidak akan percaya kalau tidak melihat dengan mata mereka sendiri. Pemuda itu tidak mengelak, bahkan kini kepalanya menengok ke belakang dan dadanya terbentang tanpa perlindungan menerima tusukan golok.

Yok-ong makin membelalakkan matanya dan menahan napas. Akan tetapi, setelah ujung golok dekat dengan dada Kwan Cu, tiba-tiba berbareng dengan bentakan.
"Aha!" tadi, dan golok itu lalu menyeleweng ke pinggir seolah-olah terdorong oleh tenaga tidak kelihatan yang menyampoknya dari samping!

Siok Tek Tojin merasa heran bukan main dan dia juga penasaran. Apakah dia diserang penyakit demam sehingga tangannya lemah dan menggigil? Sekarang dia menyerang lagi, bukan menusuk, bahkan membacokkan goloknya yang menyeleweng tadi ke arah leher Kwan Cu.

Pemuda ini sekarang sudah memandangnya kembali dan sambil tersenyum, Kwan Cu lagi-lagi tidak mengelak, hanya mengeluarkan seruan kaget.
"Ayaaa...! Kau galak sekali!"

Dan kembali terjadi keanehan. Mata golok yang sudah menyambar dekat dengan leher, tiba-tiba menyeleweng dan bahkan membalik hendak menyerang pundaknya sendiri!

"Ilmu siluman...!" beberapa orang berbisik.

Akan tetapi hanya Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Kiam Ki Sianjin beserta Hek-i Hui-mo saja yang setengah dapat menduga akan tetapi mereka masih sangsi mengenai semacam ilmu sinkang (tenaga dalam yang sakti) yang pernah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan, yakni tentang lweekang yang dapat disalurkan melalui suara sehingga dengan bentakan-bentakan saja orang yang mempunyai kepandaian ini dapat merobohkan lawan atau menangkis pukulan!

Benar-benarkah pemuda ini dapat memiliki kepandaian seperti itu? Hanya seorang yang sudah yakin, yakni Yok-ong. Dia menduga bahwa pemuda yang dia kenal sebagai Kwan Cu adanya itu, tentu telah mewarisi kepandaian dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan kalau hal ini betul, maka tidak heran kalau Kwan Cu memiliki sinkang sehebat itu.

Siok Tek Tojin masih penasaran dan hendak menerjang lagi akan tetapi tiba-tiba saja Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai melompat maju dan menahannya.

"Siok Tek Toyu biarkan pemuda itu melanjutkan dongengannya agar supaya kita dapat mendengar baik-baik." Ketua Kim-san-pai ini menahan sambil memegang lengannya.

Siok Tek Tojin langsung merasa lengannya lumpuh dan menggigil ketika terpegang oleh ketua Kim-san-pai ini, maka tahulah dia bahwa pencegahan itu bukan main-main. Ia lalu menjura dan mengundurkan diri.

Kwan Cu tertawa. "Tentu Cu-wi Locianpwe ingin sekali mendengar siapa orangnya yang berjubah hitam dan yang sebenarnya merupakan pembunuh tulen dari Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu. Sebelum boanpwe menyebutkan namanya, baiklah boanpwe lebih dahulu melanjutkan dongeng ini. Siok Tek Tojin yang sudah bersekongkol, lalu pura-pura menolong dua orang pendeta yang sudah hampir tewas itu, menceritakan bahwa dia pun diserang oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Karena dua orang pendeta itu memang mendengar percakapan antara Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian di luar jendela yang tentu sudah diatur pula oleh si jubah hitam dan Siok Tek Tojin, maka mereka percaya penuh dan tidak ragu-ragu membuat sehelai surat yang ditujukan kepada fihak Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tentu saja mereka menulis bahwa mereka terbunuh oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian!"

Kiam Ki Sianjin membentak, "Orang muda, jangan kau sembarangan bicara! Bagaimana kau berani mengacaukan urusan ini? Sudah ada bukti surat dan saksinya Siok Tek Tosu bahwa Kiu-bwe Coa-li berdua Pak-lo-sian membunuh Ji-wi Beng-yu dari Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Bagaimana kau dapat mengarang cerita busuk tanpa bukti-bukti?"

"Bukti? Locianpwe menghendaki bukti? Belum selesai ceritaku! Setelah si jubah hitam itu lari di malam gelap, dia bertemu dengan seorang yang berhasil mencuri sedikit kain dari jubahnya. Inilah sobekan kain itu!"

Kwan Cu mengeluarkan kain yang dahulu dia ambil dari jubah Coa-tok Lo-ong, kemudian kembali berkata lagi sambil tersenyum sindir, "Orang berjubah hitam itu sekarang hadir di sini! Tanyakan padanya apakah ini bukan kain dari jubahnya! Dan bukti ke dua, ketika dia mengeluarkan asap obat bius di kelenteng itu sama benar dengan obat bius yang tadi merobohkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, kedua Locianpwe yang mulia. Nah, dialah orangnya yang telah membunuh dua orang tokoh Kim-san-pai dan Bu-tong-pai kemudian menggunakan nama kedua orang Locianpwe itu dengan maksud mengadu domba!"

Baru saja ucapan ini habis dikatakan, Coa-tok Lo-ong mengeluarkan seruan keras,
"Jadi kaukah orang muda yang kurang ajar itu?" Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan asap hitam mengebul di dekat Kwan Cu.
"Para Locianpwe, awas!"

Dengan cepat sekali Kwan Cu mendorong tubuh Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dua orang ketua itu segera terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Mereka mengalami kekagetan hebat, akan tetapi mereka selamat, terbebas dari pengaruh asap hitam yang jahat. Ada pun Yok-ong yang melihat ini, cepat membagi-bagi pil penawar racun di antara Pak-lo-sian sekawanannya sehingga mereka tak usah takut menghadapi serangan asap itu.

Kwan Cu sendiri segera menahan napas, kemudian meniupkan hawa murni dari tenaga sinkangnya sehingga dia tidak sampai mengisap asap, dan di samping itu, dia pun lalu menggunakan tenaga dari Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut sehingga seluruh bagian tubuhnya mengebulkan uap putih yang menolak asap hitam ini.

Cepat Kwan Cu melompat dan tahu-tahu sudah berada di depan Coa-tok Lo-ong.

"Kau sudah mengaku sendiri? Bagus!" bentak pemuda ini.

Coa-tok Lo-ong marah luar biasa, cepat dia lalu memukul dengan tangannya. Ia merasa menyesal sekali kenapa ular hidupnya sudah mati diremas oleh Jeng-kin-jiu tadi. Dengan mati-matian dia lalu menyerang Kwan Cu dengan tangan kosong.

Akan tetapi tentu saja Kwan Cu tak mau memberi kesempatan lagi. Ia mainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang lihai itu dan dalam beberapa jurus saja, sebuah pukulan tangan kiri Kwan Cu tanpa mengenai kulit dadanya telah membikin Coa-tok Lo-ong terlempar dalam keadaan pingsan! Kwan Cu melompat dan menangkap lehernya, lalu melontarkan tubuh penjahat itu ke arah Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu.

"Ji-wi Locianpwe, inilah pembunuh dari orang-orangmu!"

Bin Kong Siansu dan Bian Kim Hosiang kini tidak ragu-ragu lagi. Cepat sekali keduanya bergerak, dan dalam sekejap mata saja tubuh Coa-tok Lo-ong menjadi sasaran senjata mereka hingga tewas pada saat itu juga!

Hek-i Hui-mo menggereng keras melihat sute-nya tewas dan ia lantas menyerang kedua ciangbunjin ini. Karena marahnya, Hek-i Hui-mo segera menggerakkan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan kebutannya, yang satu menyerang Bian Kim Hosiang, yang ke dua menyerang Bin Kong Siansu.

Kedua orang ciangbunjin ini adalah tokoh-tokoh besar yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja mereka cepat menangkis. Akan tetapi tangkisan mereka membuat keduanya terjengkang. Demikian hebat dan luar biasa tenaga dari Hek-i Hui-mo!

Hek-i Hui-mo membentak, "Kalian membunuh sute-ku, harus membayar kembali dengan nyawa!"

Akan tetapi mendadak ada angin besar yang datang dari pukulan luar biasa, menahan sepasang senjata yang hendak membunuh kedua ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ini. Pukulan ini datangnya dari Kwan Cu yang sudah menghadang di depannya.

"Hek-i Hui-mo, kau masih ada perhitungan denganku!" kata Kwan Cu.

Hek-i Hui-mo marah sekali. Ingin dia sekali serang menghancurkan kepala pemuda yang sudah membuka rahasia sute-nya, bahkan yang sudah merobohkan sute-nya sehingga sute-nya itu tewas di dalam tangan kedua ciangbunjin dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Akan tetapi dia pun ingin sekali tahu siapa adanya pemuda muka merah yang aneh ini.

"Kau siapakah? Mengapa memusuhi kami?"
"Dengarlah dulu aku mendongeng!" kata Kwan Cu dengan suara keras hingga terdengar oleh banyak orang. "Hek-i Hui-mo ini semenjak dahulu terkenal sebagai seorang pendeta Tibet yang selalu menimbulkan kekacauan. Di Tibet sendiri dia telah mengacau agama di sana, bahkan mendirikan golongan yang disebut Golongan Jubah Hitam, dibantu oleh sute-nya Coa-tok Lo-ong yang jahat. Dahulu pernah dia mengancam jiwa seorang anak kecil untuk memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kemudian dia pernah pula menawan pujangga besar Tu Fu untuk dipaksanya membaca kitab kuno Im-yang Bu-tek Cin-keng. Baiknya kitab itu palsu, sama palsunya dengan hatinya sendiri. Kemudian, sebagai anjing penjilat pemberontak she An, bersama-sama Jeng-kin-jiu dan Toat-beng Hui-houw, dia membunuh pendekar besar Ang-bin Sin-kai secara curang."
"Dia itu murid Ang-bin Sin-kai! Dia Lu Kwan Cu !" tiba-tiba Kiam Ki Sianjin berseru keras dan kaget.

Memang pada saat tadi Kwan Cu memainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut dan tubuhnya mengebulkan uap putih, Kiam Ki Sianjin sudah curiga. Kini mendengar omongan Kwan Cu, dia tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda ini tentulah Kwan Cu adanya!

Mendengar ini, Kwan Cu tersenyum. Dia merogoh saku dan mengeluarkan seguci kecil arak yang tadi memang telah dia terima dari Yok-ong. Dituangnya arak ini di tangan, lalu dibuat mencuci mukanya yang sebentar saja berubah, tak lagi kemerahan seperti udang direbus, melainkan menjadi muka seorang pemuda yang tampan dan gagah.

"Memang aku Lu Kwan Cu, datang untuk membalas dendam!" katanya.
"Kwan Cu...!" terdengar teriakan kaget dan ini adalah suara Sui Ceng.

Gadis ini menjadi bengong dan tanpa terasa lagi matanya basah oleh air mata. Hatinya tidak karuan rasanya. Tidak disangka-sangkanya bahwa Kwan Cu-lah pemuda itu, tidak dinyana-nyana bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Dan dia pernah memandang rendah kepada Kwan Cu, dan... dan Kwan Cu pernah menyatakan cinta kasih hatinya secara terang-terangan!

Teringatlah Sui Ceng akan pengalaman yang sudah-sudah dan tahulah dia bahwa ketika mereka ditawan oleh bajak sungai, Kwan Cu sengaja berlaku ketolol-tololan. Tak terasa lagi merahlah mukanya dan hatinya berdebar tidak karuan.

Hek-i Hui-mo menjadi pucat, akan tetapi dia tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Jadi bocah gundul yang dulu menjadi permainan para tokoh besar itu, sekarang sudah menjadi seorang pemuda yang demikian lihainya? Dia mengeluarkan seruan keras dan kedua senjatanya cepat menyerang Kwan Cu.

Kali ini Kwan Cu tidak mau main-main lagi. Sekali tangannya bergerak cepat, tercabutlah Liong-coan-kiam, pedang peninggalan Menteri Lu Pin. Dengan pedang ini dia bersumpah hendak membalas dendam.

Jeng-kin-jiu sudah tewas oleh bekas kawan-kawannya sendiri dan hal ini menggirangkan hatinya, karena Kwan Cu memang menaruh hati sayang terhadap hwesio itu. Dia girang karena pada akhir hidupnya, Jeng-kin-jiu membuktikan bahwa sesungguhnya ia memiliki dasar watak yang gagah perkasa dan baik.

Toat-beng Hui-houw sudah tewas di tangan Sui Ceng, hal ini pun menyenangkan hatinya karena memang gadis itu lebih berhak membalaskan sakit hati ibunya. Sekarang musuh besar gurunya tinggal Hek-i Hui-mo.

Maka, sesudah mencabut pedangnya dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat sambil mulutnya berbisik,
"Suhu, dengan ilmu pedang Suhu, teecu akan membalaskan sakit hati suhu! Saksikanlah dari tempat istirahatmu, Suhu!"

Tentu saja Hek-i Hui-mo sudah tahu dan kenal akan ilmu pedang peninggalan Ang-bin Sin-kai ini, maka dia memandang rendah. Betul bahwa tingkat kepandaiannya dahulu setingkat dengan Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi setelah pemuda itu mainkan pedangnya, dia kaget setengah mati. Baru beberapa gebrakan saja, sinar pedang Liong-coan-kiam sudah berhasil membabat putus sebagian dari rambut kebutannya.

Bukan main! Meski pun ilmu pedang ini tidak ada bedanya dengan yang dimainkan oleh Ang-bin Sin-kai, akan tetapi gerakannya jauh berlainan. Gerakan ilmu pedang di tangan pemuda ini jauh lebih cepat dan kuat, berlipat ganda kuatnya sehingga biar pun Hek-i Hui-mo sudah mengerahkan tenaganya, namun tetap saja tangannya tergetar setiap kali tongkatnya terbentur oleh pedang itu yang cepatnya bukan main sehingga beberapa kali hampir saja Hek-i Hui-mo terlambat mengelak atau menangkis!

"Eh, eh, ehh, kiranya kau benar-benar Hang-houw-siauw Yok-ong!" terdengar Pak-lo-sian berseru dan tertawa bergelak.

Mendengar ini, Kiam Ki Sianjin cepat menengok dan ternyata bahwa kakek muka hitam yang amat lihai dan yang tadi mengalahkan Kiam Ki Sianjin dalam mengadu lweekang, sekarang seperti Kwan Cu telah mencuci bersih mukanya dan dia itu bukan lain adalah Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Tabib!

Gentarlah hati Kiam Ki Sianjin melihat ini. Pemuda itu saja sudah amat lihai dan sukar dikalahkan, sekarang di fihak musuh ada pula Yok-ong, maka kalau pertempuran tetap dilakukan seorang melawan seorang, fihaknya tentu akan kalah.

Apa lagi pada saat itu dia melihat Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu tengah berlari menghampiri Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li. Dua orang ciangbunjin ini lalu berkata dengan muka merah,

"Kami berdua yang bermata buta dan bertelinga tuli telah salah sangka, mendakwa Ji-wi yang putih bersih sehingga kami patut dihukum mampus."
"Ah, tidak apa, Ji-wi Bengyu. Kalian menjadi korban tipu muslihat dari para penjilat," kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li mengejek,
"Sungguh memualkan perut, dua ciangbunjin yang bernama besar ternyata masih mudah saja diberi makan tai oleh anjing-anjing itu!"

Mendengar ini, dua orang tua ini menjadi pucat dan kemudian, makin merah wajahnya. Mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Semua anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai melihat ini, beramai-ramai lalu datang dan ikut berlutut pula!

"Kami orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, bersedia menerima binasa untuk dapat menebus dosa!" kata kedua orang ketua ini.

Melihat ini, Kiu-bwe Coa-li merasa terharu. "Ji-wi jangan seperti anak kecil. Orang-orang yang berdosa adalah penjilat-penjilat penjajah, mereka berada di depan kita dan secara terang-terangan mereka memusuhi kita. Mengapa tidak lekas-lekas memukul mereka?"

Serentak orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai bangkit berdiri dan memandang pada Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya dengan mata penuh kemarahan. Melihat ini, Kiam Ki Sianjin lalu mengeluarkan sebuah terompet dari tanduk dan meniupnya keras sekali. Itulah tanda bagi semua tentara yang memasang baihok (barisan sembunyi) untuk mulai bergerak!

Maka keluarlah barisan yang mengepung bukit itu dari segenap jurusan. Dengan senjata di tangan mereka berbaris rapi dan mulai menyerbu ke atas. Kiam Ki Sianjin dibantu oleh kawan-kawannya juga segera mencabut senjata dan turut menyerbu!

Kwan Cu masih bertempur ramai dengan Hek-i Hui-mo. Melihat hal ini dia lalu berseru,
"Yok-ong Locianpwe, harap jangan melawan dan segera menyelamatkan kawan-kawan berlari lebih dulu. Biar teecu yang menahan mereka!"

Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, dia lalu menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali dan tangan kirinya juga mainkan Pek-in Hoat-sut dengan jurus-jurus yang paling berbahaya.

Mana Hek-i Hui-mo kuat menahan serangan dari seorang yang sudah mengisap semua pelajaran tinggi dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Tenaga yang digunakan oleh Kwan Cu pada saat itu adalah tenaga sepenuhnya, maka terdengarlah suara keras. Tongkat Kepala Naga putus oleh pedang Liong-coan-kiam yang terus menyabet hingga pinggang Hek-i Hui-mo terbabat putus menjadi dua!

Kemudian Kwan Cu mengamuk hebat. Pertama-tama yang diserbunya adalah Kiam Ki Sianjin karena di antara semua lawan, yang terberat adalah kakek ini. Kiam Ki Sianjin dibantu oleh banyak kawannya lalu mengurung Kwan Cu dan sebagian pula menyerbu kepada Yok-ong dan kawan-kawannya.

Akan tetapi, Yok-ong cepat memberi tanda kepada Pak-lo-sian dan yang lain-lain untuk mengikuti dia mundur. Sambil mundur, mereka ini tidak tinggal diam saja.

Yok-ong menggunakan kaki dan tangannya merobohkan setiap orang yang berani dekat. Pak-lo-sian Siangkoan Hai sambil tertawa terbahak-bahak menggunakan kedua kakinya. Biar pun kedua tangannya tak dapat digerakkan, namun sepasang kakinya berpesta-pora dan menendang para pengeroyok. Siapa pun juga yang kena tendangannya pasti lantas terpental jauh untuk bangun di depan Giam-lo-ong (Raja Maut)! Demikian pula Kiu-bwe Coa-li yang mengamuk dengan sepasang kakinya.

Seng Thian Siansu yang sudah tua dan remuk tangan kanannya, hanya menggunakan tangan kirinya menangkap-nangkapi para pengeroyok dan melempar-lemparkan mereka. Sedangkan Sui Ceng, Kun Beng dan Swi Kiat juga mengamuk hebat membabati para tentara yang tentu saja bukan menjadi lawan mereka yang seimbang. Dua orang murid Kun-lun-pai juga mengamuk, demikian pula Bian Kim Hosiang, Bin Kong Siansu, beserta para murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Akan tetapi jumlah tentara yang naik banyak sekali sehingga apa bila pertempuran itu diteruskan, tenaga mereka pasti akan kalah juga.

"Lari, ikut padaku!" kata Yok-ong.

Raja Tabib ini lalu membawa semua kawannya menuju ke jalan rahasia yang tadi pernah dia perlihatkan kepada Kwan Cu. Karena mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan ilmu lari cepat, apa lagi para tentara juga gentar menghadapi mereka, sebentar saja Yok-ong sudah dapat membawa mereka memasuki goa dan melarikan diri melalui jalan terowongan di bawah tanah.

Kwan Cu masih mengamuk hebat. Tidak terbilang banyaknya orang yang roboh di bawah amukan pedangnya. Lama-lama dia merasa tidak tega melihat banyaknya orang tewas. Entah sudah berapa puluh musuh yang binasa, mayat mereka bertumpuk-tumpuk dan bergelimpangan. Darah membanjir membuat hatinya ngeri. Akan tetapi dia tidak sempat merobohkan Kiam Ki Sianjin yang amat kosen.

"Untuk apa membunuhi orang-orang yang hanya menjadi alat?" pikirnya, maka dia mulai mundur. Akan tetapi, di mana-mana dia terkurung oleh tentara yang banyaknya seperti semut itu.

Di bawah hujan senjata yang luar biasa banyaknya itu, mendadak meluncur anak-anak panah yang cepat sekali datangnya. Kwan Cu salah hitung.

Dia mengira bahwa semua panah itu datang dari tentara biasa yang memang semenjak tadi kalau ada kesempatan lalu menghujankan anak panah mereka. Akan tetapi semua anak panah itu dengan hanya sekali sampok saja dengan tangan kirinya, sudah runtuh berhamburan.

Kali ini, dia pun menggunakan tangan kirinya menyampok. Namun alangkah terkejutnya ketika dia merasa kulit lengan kirinya sakit dan berdarah, tanda bahwa yang melepaskan adalah orang-orang pandai yang bertenaga besar.

Lebih kaget lagi ketika anak-anak panah seperti itu makin gencar datangnya. Pada saat Kwan Cu melihat ke arah pelepas anak-anak panah itu, dia melihat bahwa pelepas anak panah itu adalah Kiam Ki Sianjin dan Kam Cun Hong, perwira tinggi kepercayaan Si Su Beng. Memang dalam hal ilmu silat, kepandaian panglima she Kam ini tidak terlalu hebat, akan tetapi dalam ilmu memanah, dia ahli dan lihai sekali.

Kwan Cu sibuk menangkis, akan tetapi tetap saja ada sebatang anak panah meleset dari lengannya dan menancap di dadanya sebelah kiri dekat pundaknya! Baiknya tubuhnya telah terisi oleh sinkang yang luar biasa, maka dia masih keburu menolak anak panah itu sehingga menancap tidak sampai menembusi dagingnya dan tak melukai anggota tubuh sebelah dalam.

Namun, ini sudah cukup mengejutkan Kwan Cu yang cepat melompat dan menggunakan ilmu ginkang-nya. Dia melompati kepala para pengeroyoknya dan sebentar saja dia telah lenyap!

Kiam Ki Sianjin memimpin teman-teman dan anak-anak buahnya melakukan pengejaran, namun pemuda itu tidak kelihatan lagi karena dia telah masuk ke dalam jalan terowongan di bawah tanah, mengejar rombongan Yok-ong yang sudah lari terlebih dulu.

Dengan amat berang dan kecewa, Kiam Ki Sianjin mengobrak-abrik hutan, membakari alang-alang, dan akhirnya menjelang senja dia menarik mundur pasukannya dan kembali ke kota raja dengan hati penasaran, kecewa, dan juga gentar…..

********************
Yok-ong berhasil membawa rombongannya keluar dari kurungan tentara kerajaan dan mereka muncul di dalam sebuah hutan yang besar di sebelah kiri Bukit Tai-hang-san, sebelah selatan kota Tai-goan. Setelah menghaturkan terima kasih, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu memimpin anak murid masing-masing untuk pulang ke Bu-tong-san dan Kim-san.

Ada pun Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Bun Sui Ceng, The Kun Beng, dan Gouw Swi Kiat masih menanti di situ dengan hati gelisah karena Kwan Cu belum juga muncul. Setelah menanti beberapa lama, Seng Thian Siansu bersama dua orang muridnya juga berangkat, dan menerima obat dari Yok-ong.

Seng Thian Siansu merasa amat terharu dan berterima kasih sekali, lalu pulanglah dia ke Kun-lun-san. Tiga orang ketua partai besar ini berjanji akan mendidik anak-anak murid mereka, karena negara membutuhkan orang-orang gagah untuk menghadapi keganasan penjajah.

Di antara mereka yang menunggu munculnya Kwan Cu, yang kelihatan gelisah sekali adalah Yok-ong karena kakek ini merasa suka sekali terhadap Kwan Cu. Akan tetapi sebenarnya, hati Sui Ceng lebih gelisah dari pada Yok-ong, cuma saja gadis ini tentu saja menyembunyikan perasaannya.

Mereka menanti munculnya Kwan Cu sambil tiada hentinya memuji dan membicarakan murid Ang-bin Sin-kai itu. Tahulah mereka semua bahwa pemuda itu tentu telah mewarisi ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Tak lama kemudian, muncullah Kwan Cu dari goa itu.

"Kwan Cu... kau terluka...?" Sui Ceng berseru lebih dulu tanpa dapat menahan mulutnya ketika melihat baju pemuda itu penuh darah dan sebatang anak panah menancap pada dada kirinya. Juga Yok-ong menghampiri dan hendak memeriksa lukanya.

Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya.
"Tidak apa... tidak apa, hanya luka sedikit. Biarlah sementara waktu anak panah ini tidak dicabut dulu."

Ucapan ini cukup memberi tahukan bahwa anak panah itu mengandung racun. Memang, jika dicabut maka racun yang berada di ujung anak panah akan lebih lekas menjalarnya dan berbahaya sekali, akan tetapi kalau dibiarkan dulu dan dengan pengerahan tenaga lweekang, racun itu tidak mudah menjalar.

Yok-ong merasa heran mengapa pemuda itu belum mau diobati. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengacuhkan lukanya, bahkan lalu berkata,
"Aku telah khawatir sekali jika Cu-wi telah pergi dari sini. Aku ingin sekali menyampaikan sesuatu mengenai diri Sui Ceng."

Semua orang melongo. Sui Ceng menjadi merah mukanya dan Kun Beng memandang dengan rasa cemburu.

"Apa kehendakmu mengenai diri muridku?" Kiu-bwe Coa-li bertanya dengan marah.
"Suthai, aku pernah ditinggali pesan oleh ibu dari Sui Ceng, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, bahwa aku harus melindungi Sui Ceng. Sekaranglah waktunya aku harus mentaati pesan itu. Terang-terangan kukatakan bahwa perjodohan antara Sui Ceng dan Kun Beng harus dibatalkan!"

Sui Ceng menjadi pucat, juga Kun Beng menjadi pucat, sedangkan Swi Kiat memandang dengan mata bersinar-sinar sambil menduga-duga mengapa Kwan Cu mengemukakan hal yang memang menjadi isi hatinya.

"Kwan Cu, sepak terjangmu tadi sungguh mengagumkan hatiku, akan tetapi omonganmu sekarang ini benar-benar membikin aku marah sekali," kata Kiu-bwe Coa-li. "Katakanlah alasan-alasannya mengapa kau bicara begitu."

Melihat Kwan Cu ragu-ragu, Pak-lo-sian yang juga merasa tersinggung karena Kun Beng adalah anak muridnya, mendesak, "Kwan Cu, lekas ceritakan kenapa kau menghendaki demikian."

Kwan Cu memandang kepada Kun Beng, lalu kepada Swi Kiat, kemudian dia berbicara dengan suara lantang, "Bukan hak dan kewajiban teecu untuk menceritakan alasan itu. Lebih baik Kun Beng dan Swi Kiat yang bercerita tentang diri Kun Beng dan Gouw Kui Lan."

Pucatlah wajah Kun Beng dan tubuhnya gemetar. Melihat hal ini, hati Sui Ceng menjadi berdebar. Ia sudah jatuh cinta pada tunangannya ini dan sekarang hal apakah yang akan didengarnya?

Swi Kiat menggigit bibirnya, karena hal ini menodakan nama baik adiknya, nama baik keluarganya. Sakit hatinya mendengar Kwan Cu membongkar rahasia ini. Tadinya dia hendak mengurus hal ini dengan Kun Beng secara diam-diam, jangan sampai terdengar oleh orang lain.

Pak-lo-sian membanting kakinya di atas tanah. "Kalian muridku berdua! Mengapa diam saja? Hendak menyembunyikan rahasia dari gurumu?"

Kun Beng hanya menundukkan kepalanya, tidak berani bergerak. Swi Kiat lalu menelan ludah beberapa kali, kemudian terpaksa dia menuturkan dengan suara gemetar tentang perbuatan Kun Beng terhadap Kui Lan, adiknya.

Mendengar ini, semua orang merasa kaget bukan main. Sui Ceng menjadi pucat sekali dan air matanya mengalir turun membasahi pipinya.

Kiu-bwe Coa-li lalu bangkit dan berkata, "Sui Ceng, tidak ada apa-apa lagi yang perlu dibicarakan. Perjodohanmu putus sampai di sini! Hayolah kita pergi!" Kiu-bwe Coa-li lalu melompat dan berlari pergi dari situ.

Sui Ceng ragu-ragu, lalu menghampiri Kwan Cu. Sambil menggigit bibir dia berkata, "Kau iri hati, kau... kau...!" Tangannya menampar dan…
"Plakk!" pipi Kwan Cu sudah ditamparnya.

Pemuda itu hanya memandangnya dengan tenang. Dengan terisak Sui Ceng lalu berlari mengejar gurunya.

Pak-lo-sian marah bukan main. "Kun Beng, murid semacam engkau ini harus binasa, sungguh memalukan nama baik gurumu!"

Kakinya menendang, akan tetapi bukan Kun Beng yang terjungkal, melainkan Swi Kiat! Pemuda ini sudah menubruk sambil memasang dirinya sehingga dia mewakili sute-nya. Tubuhnya terlempar bergulingan. Pak-lo-sian terkejut sekali, akan tetapi Swi Kiat yang patah tulang pundaknya terkena tendangan, telah maju berlutut,

"Suhu, mohon mengampuni nyawa sute. Dia… dia adalah suami adik teecu, dia harus mengawini Kui Lan!"

Melihat ini semua, Kun Beng tiba-tiba berdiri dan sambil tertawa bergelak, dia melompat dan sebentar kemudian lenyap dari situ. Mendengar suara ketawa ini, semua orang jadi bergidik, dan Yok-ong berkata seorang diri,
"Kasihan... suara ketawa itu menunjukkan bahwa batinnya terpukul hebat dan mungkin otaknya terkena getaran."

Ini hanya berarti bahwa ada kemungkinan Kun Beng menjadi gila!
Pak-lo-sian marah dan mengejar Kun Beng, diikuti oleh Swi Kiat. Akan tetapi mereka tak dapat menemukan jejak Kun Beng lagi.

Yok-ong lalu menghampiri Kwan Cu dan alangkah kagetnya ketika dia melihat pemuda itu menangis terisak-isak. Ternyata bahwa Kwan Cu merasa menyesal setengah mati melihat akibat dari pada pembongkaran rahasia itu. Ia dapat merasa betapa Sui Ceng terluka hatinya, Kiu-bwe Coa-li kecewa, Pak-lo-sian Siangkoan Hai malu dan marah, Swi Kiat berduka dan Kun Beng mungkin... gila!

"Locianpwe... aku... aku berdosa besar..."
"Sudahlah, hati yang menanggung cinta kasih memang membikin orang menjadi buta dan sembrono. Biar kuobati lukamu."

Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya dan pergi sambil menundukkan mukanya. Yok-ong tahu akan kekerasan hati pemuda ini, maka dia lalu memasukkan sebungkus obat di kantong pemuda itu sambil berkata,
"Pakai obat ini pada lukamu, pasti akan sembuh."

Akan tetapi Kwan Cu tidak menjawab dan terus berjalan dengan kepala tunduk. Mukanya pucat dan kakinya limbung. Yok-ong menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera pergi karena tahu bahwa dia tidak dapat menghibur pemuda yang luka hatinya itu.

Kwan Cu berjalan terus tanpa tujuan, memasuki hutan yang besar itu. Dadanya yang terluka sakit sekali rasanya, akan tetapi dia tidak ambil peduli. Kematian bukan apa-apa baginya pada saat itu. Rasa panas di pipinya lebih menyakitkan hati dari pada rasa panas pada luka di dadanya. Anak panah itu masih menancap pada dadanya, tapi tidak dipedulikannya pula.

"Kwan Cu...!"

Ia menengok dan melihat Sui Ceng berdiri di depannya.

"Kau... kau kenapa?"

Kwan Cu melihat air mata mengalir di pipi gadis itu. la menarik napas panjang, "Kau tentu tak mau mengampuni aku...," katanya lemah.

"Lukamu itu...! Mengapa belum diobati?"

Kwan Cu menundukkan mukanya dan tiba-tiba saja timbul pikiran yang sangat aneh di kepalanya. Dengan tangan dia menekan anak panah itu yang tentu saja masuk semakin dalam ke dadanya! Ia merasa sakit sekali, akan tetapi dengan senyum aneh dia berkata, "Lebih baik aku mati saja."

Rasa sakit tak tertahankan lagi dan Kwan Cu roboh terguling dalam keadaan pingsan! Tubuhnya sebetulnya kuat sekali dan biar pun anak panah itu menancap makin dalam, dia takkan apa-apa kalau batinnya tidak menerima pukulan hebat akibat peristiwa tadi.

Ketika siuman kembali, dia melihat dirinya duduk dan bersandar pada pohon. Bajunya yang atas sudah tidak ada, entah ke mana. Ia bertelanjang sebatas pinggang ke atas. Akan tetapi dia tidak memperhatikan semua ini, karena dia melihat Sui Ceng telah duduk di depannya dan sedang merawat luka di dadanya. Anak panah itu telah dicabut dari dadanya dan kini dengan sapu tangannya, Sui Ceng tengah membersihkan lukanya.

Darah muda Kwan Cu memanaskan seluruh tubuhnya. Alangkah cantiknya wajah yang berada dekat di depannya. Alangkah indahnya rambut yang terurai itu, bibir yang merah dan penuh, mata yang masih membayangkan tangis.

"Sui Ceng... kau baik sekali..."

Gadis itu tidak menjawab, hanya menggigit bibir sambil menahan isak. Akan tetapi kedua tangannya masih tetap bekerja membersihkan darah dari luka yang membiru itu.

"Sui Ceng... alangkah... alangkah cantiknya engkau..."

Dua tetes air mata mengalir di pipi gadis ini, matanya dikejap-kejapkan sebab pandangan matanya terganggu dan bibirnya gemetar.

"Sui Ceng, sekali lagi... aku... aku cinta kepadamu...," suara Kwan Cu menjadi bisik-bisik akibat kepalanya sudah berdenyut-denyut pula, pandangan matanya berkunang-kunang. "Kau... kau ampunkan aku, Sui Ceng, aku... aku berdosa besar..."

Air mata dari mata gadis itu turun semakin banyak dan kini bukan hanya bibirnya yang gemetar, bahkan sepuluh jari tangannya yang merawat luka ikut menggigil. Akan tetapi ia tetap membungkam dan matanya tak pernah melirik wajah Kwan Cu.

"Sui Ceng...," suara Kwan Cu lemah dan lirih sekali, "biarkan... aku mati... aku lebih suka mati dari pada menyakiti hatimu..."

Dan tiba-tiba kepala Kwan Cu terkulai, dia pingsan lagi untuk kedua kalinya!

Melihat ini, Sui Ceng menjadi kaget setengah mati. Dia memeluk tubuh pemuda itu dan menggoyang-goyangnya.

"Kwan Cu... dengarlah... aku! Jangan mati, Kwan Cu...!"

Namun Kwan Cu tetap tidak bergerak.

Tanpa dia ketahui sendiri, tubuh Kwan Cu sudah memiliki kekuatan yang aneh berkat latihan-latihan lweekang menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Racun yang dipasang pada ujung anak panah yang dilepaskan oleh Kiam Ki Sianjin, adalah racun pemberian dari Coa-tok Lo-ong dan sangat ganas. Kalau saja di dalam tubuh Kwan Cu tidak mengalir hawa murni dari sinkang yang sudah dilatihnya, pasti racun itu akan cepat menjalar dan menewaskannya.

Berkat kekuatan ini Kwan Cu siuman kembali. Dia mendengar suara orang memanggil-manggil namanya dari jauh. Suara itu makin lama makin dekat dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Sui Ceng menangis sambil memanggil-manggil namanya.

Ia tidak tahu bahwa tadi wajahnya sudah pucat seperti mayat dan detak nadinya sudah berhenti, maka gadis itu mengira bahwa dia sudah mati! Padahal, hentian detak nadi ini adalah akibat dari pengerahan lweekang yang sudah tak dapat diukur tingginya lagi. Tadi sebelum pingsan Kwan Cu menahan sakit dan mengerahkan lweekang-nya sehingga dia berhasil menghentikan jalan darahnya, maka pada saat Sui Ceng meraba urat nadi, tidak merasa ada detaknya lagi.

"Sui Ceng, terima kasih... kau...kau menangis untukku...," katanya.

Sui Ceng memandang muka yang tadinya berada di atas pangkuannya itu. Melihat Kwan Cu ‘hidup kembali’ dia pun cepat-cepat menurunkan kepala pemuda itu di atas tanah dan berkata, "Kwan Cu, jangan kau mati..."

Kwan Cu tersenyum. "Tidak, Sui Ceng. Kalau kau menghendaki aku hidup, katakanlah bahwa kau memaafkan aku."

"Aku... aku maafkan kau, Kwan Cu."

Sinar gembira membayang pada wajah Kwan Cu. Dia mengerahkan tenaga dan berhasil bangkit duduk. Dirogohnya saku bajunya dan dikeluarkannya bungkusan obat pemberian dari Yok-ong.

"Yok-ong locianpwe memberikan obat ini untukku. Campurlah dengan air dan masukkan ke dalam luka di dadaku."

Sui Ceng cepat menerima bungkusan itu dan pergi mencari air yang mudah didapat di dalam hutan itu, lalu tanpa banyak cakap ia mengobati luka di dada Kwan Cu.

Luar biasa manjurnya obat dari Yok-ong ini, karena begitu obat itu dijejalkan ke dalam luka, rasa panas lenyap dan obat yang tadinya berwarna putih bersih setelah terkena air itu, kini perlahan-lahan berubah hitam.....
Tidak lama kemudian, darah kehitaman keluar dari luka itu. Kwan Cu bersila, meramkan mata sambil mengempos semangatnya, mempergunakan hawa murni dalam tubuh untuk mendorong keluar semua racun yang mengotori darahnya sehingga darah hitam yang keluar dari lukanya makin deras. Akhirnya keluarlah darah merah. Setelah ini baru Kwan Cu menghentikan penggunaan tenaga dalamnya, lalu membuka matanya dan memakai pakaiannya lagi.

Sejak tadi Sui Ceng memandang kepada pemuda itu dengan air muka sebentar kagum sebentar duka.

"Sui Ceng, kau benar-benar berhati mulia seperti ibumu. Tadi kau sudah pergi dengan gurumu, mengapa bisa datang di tempat ini?"

Sui Ceng menjawab dengan kepala tunduk. " Aku... aku merasa menyesal sekali sudah berlaku kasar padamu, telah... telah menampar mukamu. Kau maafkan aku, Kwan Cu."

Kwan Cu tertawa bergelak. "Sepatutnya kau membunuhku, Sui Ceng, tak hanya sekedar menamparku. Kalau ada orang yang minta maaf, akulah orangnya, bukan kau."

Hening sesaat. Keduanya duduk di bawah pohon dan setelah kini sembuh dari sakitnya, Kwan Cu merasa sungkan dan kikuk. Merah mukanya kalau dia teringat betapa tadi dia kembali mengeluarkan kata-kata menyatakan cinta kasih kepada gadis ini. Keheningan suasana itu membuat Kwan Cu lebih kikuk, maka agar jangan sampai Sui Ceng merasa kikuk pula, dia mulai membuka percakapan,

"Sui Ceng, bagaimana kau bisa memisahkan diri dari gurumu?"
"Aku sengaja meninggalkan suthai dan sudah mendapat perkenannya. Suthai kembali ke gunung dan kelak aku akan menyusulnya."
"Jadi kau sengaja pergi dari Kiu-bwe Coa-li suthai untuk menyusulku?"

Sui Ceng mengangguk. Hening lagi sesaat. Beberapa kali Kwan Cu menggerakkan bibir, akan tetapi sukarlah kata-kata keluar dari mulutnya. Akhirnya dia memberanikan diri dan bertanya,
"Sui Ceng, setelah kini kau menyusulku, apakah yang hendak kau katakan? Kita terlibat dalam urusan yang amat tidak enak, dan aku... aku..."
"Kwan Cu, bagaimana kau bisa tahu tentang... Kun Beng dan adik Swi Kiat?" tiba-tiba Sui Ceng bertanya sambil memandang tajam.
“Untuk inikah kau menyusulku, Sui Ceng?"
"Ya, untuk mengajukan pertanyaan ini. Aku penasaran sekali dan ingin mendengar kisah itu sejelasnya."

Untuk beberapa lama Kwan Cu menatap wajah gadis yang kemerah-merahan dan mata yang berkaca-kaca itu, maka tertusuklah hatinya. Dengan suara perlahan dia bertanya,
"Sui Ceng, kau... kau amat mencinta Kun Beng...?"

Merah sekali wajah Sui Ceng. Gadis ini tahu bahwa Kwan Cu sangat mencintanya dan tentu saja akan hancur hati pemuda ini kalau ia mengaku bahwa ia mencinta Kun Beng. Akan tetapi tidak ada lain jalan bagi Sui Ceng untuk menyangkal dan pula ia tidak suka menyangkal, karena gadis ini berwatak jujur.

Dengan air mata berlinang dan suara terputus-putus Sui Ceng menjawab,
"Bagaimana aku tidak... tidak akan mencintanya? Dia adalah tunanganku, dan dia adalah jodohku yang dipilih sendiri oleh mendiang ibu, akan tetapi dia... dia..." Sampai di sini Sui Ceng tak dapat melanjutkan kata-katanya, tubuhnya lemas dan tiba-tiba ia sudah berada dalam pelukan Kwan Cu.

Karena amat berduka dan patah hati, Sui Ceng merasa mendapatkan hiburan dan dia menyandarkan kepalanya di dada Kwan Cu sambil menangis. Usapan tangan Kwan Cu pada kepalanya mendatangkan hiburan besar baginya seakan-akan ia sedang berada di pangkuan ibunya sendiri.
Kwan Cu merasa sangat terharu dan kasihan sekali, "Sui Ceng, jangan berduka, adikku, tenangkanlah hatimu... kau sekarang bukan tunangan Kun Beng lagi, tak perlu lagi kau memikirkan dia. Dia tidak berharga bagimu dan aku... aku mencintamu dengan segenap jiwaku, Sui Ceng. Jangan engkau khawatir, marilah kita membangun hidup baru, rumah tangga bahagia, dan menjauhkan diri dari segala hal yang menjengkelkan hati. Aku akan selalu melindungimu Sui Ceng..."

Tubuh gadis itu tersentak, akan tetapi dia tidak mengangkat kepalanya dari dada Kwan Cu. Untuk sesaat pikirannya bekerja keras. Harus dia akui bahwa kalau sekiranya tidak ada Kun Beng di dunia ini, dia akan menerima pernyataan cinta kasih Kwan Cu dengan hati terbuka.

Dia sudah mengetahui bahwa pemuda ini amat gagah perkasa dan mulia, bahkan jauh lebih baik dari pada Kun Beng. Akan tetapi, hati Sui Ceng sudah tertambat kepada The Kun Beng tunangannya itu. Dia amat mencinta Kun Beng dan pula, bukankah pemuda itu pilihan ibunya sendiri?

"Sui Ceng, jangan kau takut." Kwan Cu menghibur karena dia mengira bahwa gadis itu berdiam diri dengan hati takut menghadapi kemurkaan gurunya. "Jangan kau takut pada siapa pun juga. Biar pun Kiu-bwe Coa-li suthai akan marah kepadamu, akulah yang akan bertanggung jawab. Akulah orangnya yang sanggup membelamu dengan taruhan nyawa. Tak seorang pun di dunia ini akan dapat mengganggumu selama aku masih hidup!"

Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng melepaskan diri dari pelukan Kwan Cu dan memandang kepada pemuda itu dengan muka pucat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.

"Tidak! Tidak...! Jangan begitu, Kwan Cu. Janganlah kau menyeretku ke dalam lembah kehinaan!"

Kwan Cu terkejut sekali. Ia mengulur tangan hendak memegang lengan Sui Ceng, akan tetapi gadis itu menarik tangannya.

"Jangan sentuh aku lagi. Tidak patut kita bersentuhan, kau tidak berhak dan aku... aku harus menjaga kesusilaan. Memang aku tidak takut pada suthai, akan tetapi, aku harus mentaati kehendak ibuku. Apakah kau ingin melihat aku mengingkari pesan ibu? Tidak, Kwan Cu. Bagiku, aku adalah jodoh dan tunangan Kun Beng, pilihan ibu. Kalau sampai terjadi perpecahan sehingga ikatan itu putus, aku bersumpah selamanya tidak akan mau menikah. Kecuali... kecuali kalau Kun Beng sudah menikah dengan orang lain." Kembali Sui Ceng menangis dengan sedih.

Kwan Cu menarik napas panjang. "Betapa pun juga, aku kagum kepadamu, Sui Ceng. Cinta kasihmu terhadap Kun Beng benar-benar tulus dan murni, hanya pemuda itu yang tidak tahu diri. Kau amat setia dan mulia, maka aku kembali telah merusak kesucianmu. Dengarlah, Sui Ceng, sekali-kali aku tidak membuka rahasia Kun Beng karena iri hati kepadanya. Memang aku ingin melihat kau berbahagia. Kalau Kun Beng tidak melakukan perbuatan terkutuk itu, akulah orangnya yang akan membantu perjodohan kalian. Akan tetapi, ternyata Kun Beng memperlihatkan bahwa dia tidak patut menjadi suamimu, maka aku kasihan kepadamu dan berusaha menggagalkan perjodohan itu."

Sui Ceng mengangguk-angguk terharu. "Aku tahu, Kwan Cu, dan karena itu aku datang mencarimu. Sekarang ceritakanlah bagaimana kau bisa mengetahui akan hal itu?"

Kwan Cu lalu menuturkan pengalamannya saat dia menolong Kui Lan dari cengkeraman An Kong dan menceritakan pula bahwa kini Kui Lan berada di kelenteng Kwan-im-bio di dusun Kau-ling di sebelah utara Tang-shan, yakni kelenteng yang diketuai oleh Ngo Lian Suthai.

Sebagaimana sudah dituturkan pada bagian depan, Ngo Lian Suthai kenal baik dengan Kwan Cu dan ketua nikouw itu terluka oleh bajak sungai yang mencuri patung. Semua ini diceritakan dengan sejujurnya oleh Kwan Cu hingga akhirnya dia berkata dengan suara penuh kedukaan dan kehancuran hati,

"Sui Ceng, sebelum aku tahu bahwa kau telah dijodohkan dengan Kun Beng, aku sudah menaruh hati suka kepadamu. Kau sudah mendengar semua ceritaku, maka tentu kau juga menaruh hati kasihan kepada Kui Lan gadis yang malang itu."

"Kasihan? Dia adalah seorang gadis lemah iman yang bodoh! Gadis seperti itu tidak ada harganya!"

Apa bila lain orang yang mendengar omongan ini, tentu hanya akan menuduh bahwa Sui Ceng merasa sakit hati kepada Kui Lan karena tunangannya direbut. Akan tetapi Kwan Cu lain lagi dan dia dapat melihat kebenaran kata-kata ini.

"Memang, Kui Lan terlampau lemah, mudah sekali menuruti ajakan iblis yang menggoda. Betapa pun juga, keadaannya harus dan patut dikasihani."

Tiba-tiba Sui Ceng bangkit berdiri. "Selamat tinggal, Kwan Cu. Mungkin selamanya kita tak akan bertemu lagi."

"Ehh, kau hendak ke mana?"
"Aku akan menemui Kui Lan dan akan kuusahakan supaya Kun Beng mengambilnya sebagai isteri yang sah!"

Kwan Cu semakin kagum. "Kau hebat sekali, Sui Ceng. Benar-benar kau berbudi luhur seperti ibumu."

Tiba-tiba saja pemuda ini teringat akan kata-kata Sui Ceng tadi yang menyatakan bahwa gadis ini dapat mengambil keputusan lain mengenai perjodohannya kalau saja Kun Beng menikah dengan orang lain. Dengan demikian berarti bahwa kalau sampai terjadi Kun Beng menikah dengan Kui Lan, maka dia memiliki banyak harapan terhadap Sui Ceng! Karena itu cepat-cepat dia berkata,
"Tunggu dulu, aku pun akan pergi ke sana! Aku yang mula-mula menolong Kui Lan dan aku pula yang berkewajiban untuk menolongnya mendapatkan Kun Beng kembali. Awas kepala Kun Beng kalau dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak mau mengawini Kui Lan."

Kedua orang muda itu lalu berangkat dengan cepat, menuju ke kuil Kwan-im-bio di dusun Kau-ling. Karena kedua orang muda yang perkasa ini mempergunakan ilmu lari cepat, tidak sampai lama mereka tiba di dusun itu. Akan tetapi mereka kecewa karena ternyata bahwa Ngo Lian Suthai telah pergi merantau membawa Kui Lan yang diakuinya sebagai muridnya.

"Ehh, bagaimana mungkin?" tanya Kwan Cu kepada nikouw yang menyambut mereka. "Aku tahu benar bahwa Ngo Lian Suthai terluka hebat, bagaimana dia bisa pergi?"

Nikouw itu tersenyum. "Taihiap, manusia yang baik selalu mendapat perlindungan Thian. Ngo Lian Suthai telah mendapat penyembuhan, berkat pertolongan Yok-ong locianpwe."

Kwan Cu melengak. Jadi sebelum bertemu dengan dia di Tai-hang-san, Yok-ong malah sudah menyembuhkan Ngo Lian Suthai? Aneh sekali kakek Raja Tabib itu, di mana saja dan pada waktu tenaganya diperlukan selalu muncul akan tetapi tidak banyak bicara.

"Ke mana perginya Ngo Lian Suthai?"
"Sukar untuk menentukan tempatnya. Akan tetapi kalau tidak salah, dulu Ngo Lian Suthai pernah menyatakan bahwa sahabat-sahabatnya membantu perjuangan rakyat di wilayah Pao-ting. Dan suthai selalu merasa sejiwa dengan mereka itu, maka tidak akan meleset jauh kalau kiranya Taihiap menyusul ke sana."

Kwan Cu menghaturkan terima kasih, lalu bersama Sui Ceng menuju ke Pao-ting yang pada waktu itu memang menjadi sebuah di antara pusat-pusat pasukan pejuang rakyat yang berusaha menggulingkan pemerintah Tartar. Pao-ting letaknya di sebelah selatan kota raja, maka kedua orang muda itu melakukan perjalanan yang cukup lama, sampai makan waktu sebulan lebih. Hal ini adalah karena di tengah perjalanan, mereka sering kali berhenti untuk membantu perjuangan rakyat.

Makin kagumlah hati Sui Ceng melihat sepak terjang Kwan Cu. Sekarang gadis ini tahu betul bahwa kepandaian Kwan Cu benar-benar luar biasa hebatnya, malah jauh melebihi kepandaian tokoh-tokoh besar, di antaranya gurunya sendiri, Kiu-bwe Coa-li! Diam-diam dia mengharapkan supaya Kun Beng suka menikah dengan Kui Lan, karena hal ini akan memungkinkan hatinya menyetujui pinangan Kwan Cu terhadapnya.

Dia memang mencinta Kun Beng. Akan tetapi kalau tunangannya itu memang sudah menikah dengan Kui Lan, tentu dia akan dapat melupakannya dan kiranya tak akan sulit baginya untuk membalas cinta kasih seorang pemuda seperti Kwan Cu…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR SAKTI : JILID-15
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger