logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Pusaka Pulau Es Jilid 09


Hati Keng Han bimbang dan ragu, tegang dan penasaran. Baru saja dia mendengar cerita yang berlainan sama sekali dengan yang didengarnya dari Hartawan Ji! Haruskah dia mempercayai semua keterangan Pangeran Tao Kuang?

Akan tetapi setidaknya di sana terdapat Kwi Hong dan Cu In. Dan dia tahu bahwa dua orang gadis ini tentu tidak akan suka membohonginya. Kalau Pangeran Tao Kuang tidak berbohong, lalu apakah Hartawan Ji yang berbohong? Kenapa pula dia harus percaya kepada keterangan Hartawan Ji?

Lalu dia teringat bahwa Hartawan Ji, menurut Gulam Sang, adalah sekutu pemuda Tibet itu. Seorang pejuang yang membenci keluarga kaisar Mancu. Jadi wajar saja apa bila Hartawan Ji menghasut dan mengarang cerita bohong agar dia membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang karena hal itu akan menguntungkan perjuangannya. Apa lagi kalau Hartawan Ji itu adalah Pangeran Tao Seng yang agaknya sangat mendendam kepada Pangeran Tao Kuang.

Akan tetapi kalau dia itu Pangeran Tao Seng, tentu mengetahui bahwa dia adalah putera kandungnya! Kenapa harus berbohong kepada putera kandungnya sendiri? Demi membunuh Pangeran Tao Kuang? Akan tetapi pekerjaan itu amatlah berbahaya.

Sepatutnya Pangeran Tao Seng tak tega untuk menyuruh puteranya sendiri melakukan perbuatan yang amat berbahaya bagi nyawanya itu. Tadi pun andai kata dia berkeras hendak membunuh, menghadapi pangeran itu beserta isterinya dan Kwi Hong, Cu In, kakek pengemis dan muridnya, belum tentu dia berhasil bahkan mungkin saja dia yang roboh dan tewas.

Dengan hati kacau tidak menentu dia berkunjung ke rumah besar Hartawan Ji. Di dalam ruangan sebelah dalam, ia melihat Hartawan Ji sedang makan minum bersama seorang pemuda yang telah dikenalnya, yang bukan lain adalah Gulam Sang, bersama seorang wanita muda yang cantik manis namun wajahnya agak muram.

Gadis itu bukan lain adalah Liong Siok Hwa, gadis yang sudah dikuasai oleh Gulam Sang, dikuasai badan dan batinnya oleh pengaruh sihir sehingga dia menurut saja apa yang dikehendaki Gulam Sang darinya. Gulam Sang, setelah berhasil membujuk Liong Siok Hwa pergi meninggalkan rumah penginapan di mana ayahnya tewas terbunuh oleh Gulam Sang, lalu membawa gadis itu berkunjung ke rumah Hartawan Ji di kota raja.

Kedatangannya disambut hangat oleh Hartawan Ji yang langsung menceritakan tentang kunjungan Keng Han. Dia juga menceritakan mengenai siasatnya menyuruh Keng Han membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang.

Mendengar cerita ini, Gulam Sang lalu menitipkan Liong Siok Hwa kepada Hartawan Ji, kemudian dia sendiri segera keluar pada malam itu, menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Dengan kepandaiannya yang tinggi dia berhasil masuk ke taman dan mengintai ketika Keng Han datang.

Ia melihat apa yang terjadi, mendengarkan semua percakapan mereka dan mendahului keluar dari istana itu. Dia menceritakan kepada Hartawan Ji tentang gagalnya Keng Han membunuh Pangeran Mahkota.

Di rumah Hartawan Ji terdapat para datuk yang memang sudah lebih dulu tinggal di rumah itu, siap-siap membantu Hartawan Ji jika tiba saatnya untuk bergerak membunuh Kaisar. Mereka adalah Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Ketiga orang ini lalu dipanggil keluar oleh Ji Wan-gwe untuk diajak berunding bersama Gulam Sang.

“Kenapa mesti repot-repot? Kalau pemuda itu datang membuat ulah, ada kami di sini. Dia mau dan bisa berbuat apa terhadap Wan-gwe?” kata Lam-hai Koai-jin memandang rendah pemuda yang dibicarakan.

Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi yang pernah merasakan ketangguhan pemuda itu berkata, “Lam-hai Koai-jin harap jangan memandang rendah pemuda bernama Keng Han itu. Dia memang lihai sekali dan menguasai ilmu-Ilmu dari keluarga Pulau Es. Akan tetapi di sini terdapat pula aku dan Lo-mo, maka kalau dia membuat ribut, kita tentu akan dapat menundukkannya.”

“Sebaiknya diatur siasat untuk menghadapinya. Mula-mula harap Wan-gwe bersikap lembut terhadap dia. Siapa tahu, kalau dia mengetahui bahwa Wan-gwe itu adalah ayah kandungnya, dia akan menaati semua kehendak Wan-gwe dan dia mau membantu dengan terang-terangan. Kalau dia bersikap berlawanan, aku memiliki racun penghisap semangat yang akan kucampurkan dalam arak yang akan diminumnya. Atau kalau dia tidak mau minum arak, aku dapat menyerangnya dengan pukulan beracun atau dapat merobohkannya dengan sihir. Jika semua itu pun tidak berhasil, baru Sam-wi Locianpwe muncul dan membantu kami.”

“Bagus! Kita atur seperti yang direncakan oleh Gulam Sang,” jawab Ji Wan-gwe dengan girang.

Meski pun Keng Han itu putera kandungnya, namun dia lebih percaya kepada putera angkat ini karena sudah jelas terbukti bahwa Gulam Sang dapat dipercaya dan benar-benar telah membantunya untuk membuat gerakannya berhasil. Kalau Keng Han suka mendengarkan bujukannya, hal itu baik sekali. Akan tetapi kalau sebaliknya, dia pun tidak segan untuk membunuh putera kandung yang sejak kecil tidak pernah dikenalnya itu.

Kekuasaan merupakan sesuatu yang diperebutkan oleh setiap orang. Kekuasaan akan menjamin kehidupannya, mendatangkan kekayaan dan kesenangan sebab sekali orang memegang kekuasaan, maka segala kehendaknya pasti akan bisa tercapai. Dan untuk mendapatkan kekuasaan itu, orang yang lemah hatinya tak segan menggunakan segala macam cara.

Seperti Pangeran Tao Seng itu, atau yang sekarang memakai nama Ji Wan-gwe. Demi mencapai cita-citanya mendapatkan kekuasaan, dia tidak segan merencanakan untuk membunuh anak kandung sendiri, kalau anak itu menjadi penghalang niatnya.

Demikianlah, ketika akhirnya Keng Han muncul, dia melihat Hartawan Ji sedang makan minum bersama Gulam Sang dan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Dia tidak takut dengan adanya Gulam Sang yang dia tahu adalah sekutu Hartawan Ji. Dia melompat dan turun ke dekat meja makan, membuat tiga orang yang sedang makan minum itu menjadi terkejut.

Akan tetapi Hartawan Ji tersenyum ketika melihatnya dan berkata, “Ah, kiranya engkau sudah kembali, Tao kongcu? Silakan duduk!”

Keng Han mengerutkan alisnya, akan tetapi dia duduk pula di atas bangku dekat meja.

“Kongcu tentu belum makan juga. Mari silakan makan minum bersama kami sebelum kita bicara.”

Akan tetapi Keng Han tidak menjawab, hanya matanya memandang kepada Hartawan Ji dengan tajam dan penuh selidik. Hartawan Ji menuangkan secawan arak, kemudian memberikan kepada Keng Han.

“Ahh, lebih dulu kami mengucapkan selamat datang dengan secawan arak ini sebagai penghormatan kami. Silakan, Kongcu!”

Bagaimana pun juga, karena sikap Hartawan Ji itu baik dan menghormat sekali, juga baginya persoalannya belum jelas siapa yang bersalah, Keng Han menerima secawan arak yang tadi dituang dari guci milik Gulam Sang. Keng Han mengangkat cawan dan minum isinya sampai habis. Melihat ini, mata Gulam Sang mencorong serta mulutnya tersenyum simpul. Akan tetapi senyum itu berubah.

Kini dia menyeringai heran melihat Keng Han sama sekali tidak terkulai lemas dan tidak menjadi pingsan. Tentu saja dia tidak tahu betapa tubuh Keng Han sudah menjadi kebal akan segala macam racun karena bertahun-tahun dia makan daging ular merah setiap hari, juga jamur-jamur beracun. Karena itu sedikit racun dalam arak yang diminumnya sama sekali tidak mempengaruhinya.

“Nah, bagaimana dengan usahamu, Kongcu? Sudahkah berhasil melenyapkan musuh besarmu itu?”
“Tidak. Akan tetapi kini aku mempunyai sebuah pertanyaan yang kuharap engkau suka menjawabnya dengan terus terang,” kata Keng Han, matanya tidak berkedip menatap wajah Pangeran Tao Seng sehingga pangeran itu menjadi resah juga.
“Tentu saja. Pertanyaan apakah itu, Kongcu?”
“Bila aku katakan bahwa Hartawan Ji bukan lain adalah Pangeran Tao Seng, benarkah dugaanku ini? Engkau adalah Pangeran Tao Seng, yang kini mengubah nama menjadi Hartawan Ji! Nah, jawab sejujurnya, benarkah demikian?”

Tao Seng atau Hartawan Ji tidak merasa terkejut mendengar ini, karena dia memang sudah diberi tahu oleh Gulam Sang bahwa Keng Han telah mendengar keterangan dari Pangeran Tao Kuang. Dia hanya berpura-pura terkejut mendengar hal ini dan bertanya dengan suara heran.

“Ehh, sebetulnya hal itu sangat dirahasiakan, bagaimana engkau dapat mengetahuinya, Tao Kongcu?”
“Sudahlah, tak perlu menyebut Kongcu lagi. Engkau adalah Pangecan Tao Seng, berarti engkau adalah ayah kandungku! Juga aku pun sudah mendengar bahwa engkau sama sekali tidak difitnah oleh Pangeran Tao Kuang. Engkau dihukum buang karena usahamu membunuh Pangeran Tao Kuang mengalami kegagalan. Benarkah semua ini?”
“Benar, akan tetapi engkau tidak mengetahui semuanya, anakku.”

“Ketika aku datang menghadapmu, engkau membohongi aku dan sengaja menghasutku supaya aku membunuh Pangeran Tao Kuang. Betapa jahatnya engkau! Engkau tahu bahwa membunuh Pangeran Tao Kuang merupakan pekerjaan yang amat berbahaya. Akan tetapi engkau menyuruh anakmu sendiri menempuh bahaya besar itu. Aku merasa heran dan malu. Jauh-jauh aku pergi merantau untuk mencari ayahku, tidak tahunya ayahku begini jahat. Aku malu mempunyai ayah sepertimu!”

“Keng Han, engkau tahu satu tidak tahu dua. Akulah yang memberimu nama Keng Han. Engkau anak kandungku, maka pertimbangkanlah semua perbuatanku. Pertama, dua puluh tahun yang lalu aku memang berniat membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang karena merasa diperlakukan tidak adil oleh ayahanda Kaisar. Aku sebagai putera tertua, mengapa adinda Tao Kuang sebagai Pangeran Ketiga yang diangkat menjadi putera mahkota? Aku merasa penasaran oleh perlakuan tidak adil itu maka bersama adinda Pangeran Kedua aku merencanakan untuk membunuhnya. Bukankah itu sudah adil? Kalau dia mati tentu aku yang diangkat menjadi Putera. Mahkota. Akan tetapi usaha kami berdua itu gagal, bahkan kami ditangkap dan dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun! Bayangkan betapa sengsaranya aku, seorang pangeran yang biasanya hidup mewah dan terhormat, dibuang di tempat pengasingan selama dua puluh tahun!”

Keng Han diam saja. Walau pun di dalam hatinya dia tidak setuju dengan perbuatan ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota itu, akan tetapi kalau mengingat penderitaan ayahnya selama dua puluh tahun, dia merasa kasihan juga.

“Nah, setelah hukumanku selesai dan aku bebas, aku kembali ke kota raja. Agar rakyat tidak mengenalku, maka aku menyaru menjadi Hartawan Ji. Diam-diam aku bersekutu dengan orang-orang yang menginginkan jatuhnya kerajaan Ceng, dan aku berniat untuk membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang dan juga Kaisar! Jika mereka berdua tewas, sebagai pangeran tertua aku berhak atas tahta kerajaan! Dan kemudian aku mendengar tentang kedatanganmu dan bahwa engkau seorang yang mempunyai kepandaian tinggi. Karena itulah, aku sengaja tidak mengaku sebagai ayahmu, melainkan menghasutmu supaya engkau membenci Pangeran Mahkota dan membunuhnya. Akan tetapi ternyata usahamu itu pun gagal.”

“Hemmm, setelah mendengar duduknya perkara, bagaimana mungkin aku membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang yang tidak bersalah?” bantah Keng Han.
“Sudahlah, Keng Han. Sekali gagal tidak mengapa. Sekarang, marilah engkau bantu ayahmu untuk membunuh Kaisar dan Pangeran Tao Kuang. Kalau aku berhasil menjadi Kaisar, bukankah engkau pun akan menjadi pangeran?”
“Tidak! Aku tidak sudi terlibat dalam persekutuan jahat itu! Aku tidak mau membantumu dalam urusan itu!”

Pangeran Tao Seng mengerutkan alisnya dan matanya yang menatap wajah puteranya berubah bengis. “Dan apa maumu sekarang, Keng Han?”

“Aku minta kepadamu supaya engkau suka ikut dengan aku ke Khitan untuk menemui ibuku. Sudah terlalu lama engkau meninggalkan ibuku yang hidup merana karena selalu teringat kepadamu dan engkau tidak mempedulikannya sama sekali!”
“Bodoh kau! Kalau aku menjadi kaisar tentu ia akan segera kuboyong ke sini!” bentak Tao Seng.
“Aku tidak menghendaki engkau menjadi kaisar dengan cara yang curang itu. Aku minta engkau sekarang juga ikut denganku ke Khitan menemui ibu!”
“Kalau aku tidak mau?”
“Akan kupaksa dan kuseret kau!” Keng Han juga membentak marah.

Tiba-tiba Gulam Sang melompat ke depan Keng Han dengan dada terangkat dan sikap menantang. “Enak saja engkau bicara, Keng Han! Engkau hendak memaksa ayahku begitu saja? Kalau masih ada aku, jangan harap akan bisa melakukan itu!”

Keng Han tercengang. “Ayahmu...?”

“Ya, aku adalah anak angkat dari Pangeran Tao Seng, dan sebagai anak aku setia dan berbakti padanya, akan membelanya dengan nyawaku. Sebaliknya engkau ini seorang anak yang tidak berbakti, bahkan durhaka karena hendak memaksa ayahnya sendiri seperti itu!”
“Minggir! Ini bukan urusanmu!” bentak Keng Han dan dia pun sudah mendorong ke arah pundak Gulam Sang dengan tangan kanannya.

Dorongan itu mengandung hawa panas dan kuat sekali sehingga Gulam Sang cepat mengelak karena dia sudah mengenal kehebatan tenaga pemuda itu. Sambil mengelak dia pun membalas sambil mencabut pedangnya.

Hebat dan luar biasa dahsyat serangan Gulam Sang dengan pedangnya itu, disabetkan untuk menebas pinggang Keng Han.....

Keng Han mengelak mundur. Karena dia pun maklum akan kelihaian Gulam Sang, dia lalu mencabut pedang bengkoknya, kemudian segera menangkis ketika pedang Gulam Sang menyambar lagi ke arah lehernya.

"Trang... trang...!”

Dua kali pedang Gulam Sang bertemu dengan pedang bengkok dan yang kedua kalinya tangan Gulam Sang tergetar hebat. Gulam Sang merasa penasaran dan mengamuk. Akan tetapi Keng Han mengimbanginya dengan gerakan yang sangat cepat sehingga mereka bertempur dengan seru dan hebatnya di tempat itu.

Pangeran Tao Seng sudah bangkit dan mundur sampai mepet dinding. Demikian pula Liong Siok Hwa mundur dan gentar menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.
Image result for PUSAKA PULAU ES
Pertandingan itu memang hebat sekali. Gulam Sang adalah seorang murid dari Dalai Lama yang selain mempelajari ilmu silat tinggi juga telah memiliki tenaga sakti yang ampuh, diperkuat pula oleh ilmu sihirnya. Akan tetapi, berhadapan dengan Keng Han, dia tidak dapat menggunakan ilmu sihirnya. Orang yang sudah memiliki tenaga sinkang sekuat Keng Han tidak dapat dipengaruhi sihir lagi. Oleh karena itu, Gulam Sang hanya mengandalkan ilmu pedangnya yang cepat dan aneh gerakannya.

“Heiiiiittttt...!”

Pedang Gulam Sang menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Keng Han.

“Hemmm...!”

Keng Han mengelak ke kanan sambil menorehkan pedang bengkoknya ke arah lengan lawan yang memegang pedang. Namun Gulam Sang sudah menarik lengannya, lantas tubuhnya merendah dan pedangnya membabat ke arah kedua kaki Keng Han.

“Hiaaaaattt...!”

Gulam Sang berteriak dengan pengaruh sihir, “Robohlah engkau!”

Keng Han merasa jantungnya tergetar, akan tetapi tidak terpengaruh oleh teriakan itu. Dia meloncat tinggi ke udara untuk menghindarkan kedua kakinya yang dibabat pedang, lalu berjungkir balik dan menukik dengan kepala ke bawah, pedangnya menikam dari atas ke arah ubun-ubun kepala Gulam Sang.

“Wuttttt... tranggg...!”

Bunga api berpijar ketika pedang bertemu dan sekali ini Gulam Sang agak terhuyung, akan tetapi Keng Han juga harus berjungkir balik untuk mematahkan tenaga dorongan pedang dari bawah yang menangkisnya.

Keduanya telah berhadapan lagi dan saling menyerang dengan dahsyatnya. Akan tetapi kini Keng Han mulai memainkan ilmunya yang hebat yaitu Hong-In Bun-hoat. Pedang bengkoknya membuat coretan-coretan di udara seperti orang menulis huruf, akan tetapi akibatnya, permainan pedang Gulam Sang menjadi kacau.

Semua jurus yang dimainkan Gulam Sang dikacaukan oleh gerakan pedang di tangan Keng Han. Setiap serangannya selalu dapat ditangkis lawan, bahkan lawan membalas kontan dengan cepatnya dan dengan gerakan sambung menyambung yang aneh sekali sehingga tak lama kemudian Gulam Sang sudah terdesak hebat oleh Keng Han. Dia kini hanya mampu menangkis dan mengelak dengan repot sekali oleh permainan pedang lawan.

Pada saat itu, Pangeran Tao Seng memberi isyarat dan muncullah tiga orang datuk yang sejak tadi sudah mengintai dan menunggu isyarat dari sang pangeran. Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin tahu-tahu sudah berada di situ. Lam-hai Koai-jin yang masih memandang rendah Keng Han, bahkan sudah menerjang dengan senjata ruyungnya.

“Tranggg...!”

Pedang Keng Han dan ruyung bertemu dan akibatnya, keduanya mundur dua langkah. Baru kini Keng Han melihat adanya tiga orang kakek itu di situ.

Melihat Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-mo, barulah dia tahu benar akan kekuatan persekutuan itu. Ternyata ayahnya itu telah mempergunakan orang-orang dari golongan sesat untuk membantunya. Dan dia maklum bahwa kalau dia harus menghadapi empat orang ini sekaligus, tidak mungkin dia akan menang. Mereka terlampau kuat dan paling bisa dia melawan dua orang di antara mereka.

Pikiran Keng Han bekerja cepat dan tiba-tiba tubuhnya sudah berkelebat dan meloncat ke dekat ayahnya.

“Jangan mendekat!” bentaknya dan dia sudah menempelkan pedang bengkoknya pada leher Pangeran Tao Seng sedangkan tangan kirinya memegang lengan pangeran itu.

“Biarkan kami keluar. Awas, siapa bergerak, dia akan kubunuh lebih dulu!”

Dia teringat akan perbuatan Cu In ketika hendak membebaskan diri dari pengeroyokan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit dan anak buah Kwi-kiam-pang, yaitu dengan menyandera puteri Lo Cit. Kini dia meniru perbuatan Cu In itu dengan menyandera Pangeran Tao Seng. Ayahnya sendiri!

Memang dalam keadaan terdesak, apa lagi menghadapi pengeroyokan yang curang, ia boleh saja mempergunakan kecurangan sebagai taktik untuk menyelamatkan diri. Kini ia menangkap ayahnya sendiri bukan hanya untuk membebaskan diri dari pengeroyokan, melainkan karena dia memang hendak menangkap ayahnya dan memaksanya pergi ke Khitan bersamanya untuk menghadap ibunya!

Benar saja. Tiga orang datuk itu tidak berani bergerak ketika melihat Keng Han sudah menyandera sang pangeran. Dan Keng Han yang terus menodong Pangeran Tao Seng lalu menyeret ayahnya itu menuju ke pintu.

“Sam-wi Locianpwe (ketiga orang tua gagah), marilah kita serang dia! Dia tidak akan membunuh ayahnya sendiri!” Mendadak Gulam Sang berteriak dan menyerang dengan pedangnya.

Keng Han terkejut sekali. Tak disangkanya Gulam Sang demikian cerdiknya. Memang, bagaimana pun dia takkan mau membunuh ayahnya dan tadi hanya untuk menggertak saja.

Tung-hai Lo-mo sudah mengayun dayung bajanya. Swat-hai Lo-kwi juga menggerakkan pedangnya dan Lam-hai Koai-jin mengerahkan ruyungnya, serentak menyerang kepada Keng Han. Terpaksa Keng Han memutar pedangnya untuk menangkis dan melepaskan pegangannya pada lengan ayahnya.

Merasa dirinya dilepas, Pangeran Tao Seng cepat meloncat menjauhkan diri. Kini Keng Han sudah dikeroyok oleh empat orang yang sangat lihai sehingga dia mulai terdesak hebat.

“Jangan bunuh dia! Tangkap saja, jangan sekali-kali membunuh dia!” teriak Pangeran Tao Seng.

Pangeran Tao Seng masih sangat mengharapkan puteranya itu berubah pikirannya dan mau membantunya. Bagaimana pun, Keng Han adalah putera kandungnya dan ternyata ilmu kepandaiannya melebihi Gulam Sang!

Empat orang itu mendengar seruan ini dan mereka pun membatasi serangan mereka. Biar pun demikian, tetap saja Keng Han terkepung ketat sekali oleh empat orang itu dan setelah dia dapat membela diri sampai hampir seratus jurus, ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin mengenai punggungnya, membuat dia terhuyung.

Ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin menyerang terus dengan dorongan ke arah dada. Keng Han mengelak, akan tetapi dayung baja di tangan Tung-hai Lo-mo menghantam dari belakang mengenai pahanya dan Keng Han roboh terpelanting. Sebelum dia dapat meloncat bangun, pedang Gulam Sang sudah menempel di lehernya, juga pedang Swat-hai Lo-kwi telah mengancam dadanya.

Keng Han maklum bahwa dia telah kalah dan tertawan. Gulam Sang segera mengikat kaki tangannya dan dia pun dibawa ke dalam kamar tahanan yang berada di belakang rumah Hartawan Ji. Kamar tahanan itu kokoh kuat dan dijaga oleh belasan orang anak buah Gulam Sang.

“Ayah, Keng Han itu amat berbahaya, apakah tidak sebaiknya kalau dia dibunuh saja?” Gulam Sang bertanya kepada Pangeran Tao Seng setelah mereka semua kembali ke ruangan depan untuk berunding.
“Jangan! Aku menyayangkan ilmu kepandaiannya yang hebat. Akan kubujuk dia agar mau membantu. Dia akan merupakan tenaga bantuan yang penting sekali,” jawab sang pangeran.
“Bagaimana kalau dia tidak mau?”
“Kalau dia keras kepala dan tidak dapat dibujuk, maka kuserahkan dia kepadamu.”

Gulam Sang nampak gembira sekali. Pemuda ini ingin sekali dapat membunuh Keng Han sebab diam-diam dia merasa khawatir kalau-kalau kelak ayah angkatnya menerima Keng Han sebagai puteranya dan tentu kedudukannya akan kalah oleh anak kandung itu. Baginya, Keng Han merupakan duri dalam daging yang harus dilenyapkan.

“Tetapi aku membutuhkan bantuanmu. Kita berikan racun perampas ingatan darimu itu. Kalau sampai dia hilang ingatan, tentu dia tidak mempunyai niat macam-macam lagi dan akan tunduk kepada semua perintah kita.”

Gulam Sang mengerutkan alisnya. Dia teringat betapa Keng Han sudah minum racun itu yang dicampurkan dalam arak yang disuguhkan kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak nampak tanda-tanda bahwa pemuda itu keracunan! Ahh, mungkin racunnya kurang banyak, demikian pikirnya.

“Baik, akan saya laksanakan. Saya akan mencampurkan racun perampas ingatan itu di dalam makanan dan minumannya.”

Malam itu udara terasa amat dingin, sedingin hati mereka yang tinggal di gedung tempat kediaman Ji Wan-gwe…..
********************

Pada keesokan harinya, Keng Han duduk bersila dalam kamar tahanannya. Tangan dan kakinya tidak dibelenggu, akan tetapi kaki tangannya dipasangi rantai yang terikat pada dinding sehingga dia tidak akan dapat melarikan diri. Rantai itu terbuat dari baja dan tebal sekali sehingga tak mungkin diipatahkan.

Keng Han juga tidak bodoh untuk coba mematahkan rantai itu. Penjaga banyak terdapat di luar tahanan dan di sana masih terdapat empat orang sakti itu. Dia tidak mungkin dapat melawan mereka kalau mereka maju bersama. Dia hanya menanti saatnya untuk dapat meloloskan dirinya.

Maka, dia pun menjaga kesehatan dan tenaganya dan dia makan semua makanan dan minuman yang dihidangkan biar pun dia dapat menduga bahwa makanan dan minuman itu dicampuri racun. Dia tidak takut akan segala racun. Tubuhnya kebal terhadap segala macam racun. Asal saja mereka tidak mempergunakan asap pembius, pikirnya.

Pernah dia tertawan akibat ledakan asap pembius yang dipergunakan oleh orang-orang Kwi-kiam-pang. Akan tetapi kalau racun itu masuk ke tubuhnya melalui makanan, atau melalui luka, dia tidak akan terpengaruh. Darahnya memiliki daya menolak pengaruh racun itu.

Pada hari kedua dia ditahan, pagi-pagi sekali Pangeran Tao Seng sudah mengunjungi kamar tahanannya.

“Anakku, kenapa engkau masih berkeras hati? Aku adalah ayah kandungmu. Engkau darah dagingku. Sungguh sengsara hatiku melihat engkau tertawan seperti ini. Anakku, mengapa engkau tidak mau membantu gerakanku? Katakanlah bahwa engkau akan membantuku, maka engkau akan dibebaskan dan menjadi puteraku yang tersayang dan terpercaya.”

Hati Keng Han panas sekali mendengar ucapan ayahnya itu. Hatinya sudah kecewa sekali melihat orang yang menjadi ayah kandungnya. Ternyata orang itu amat licik dan curang bukan main.

“Aku memang puteramu dan engkau adalah ayah kandungku. Akan tetapi kalau engkau berpikir bahwa aku akan mau membantu engkau melakukan kejahatan, engkau mimpi di siang hari. Sampai mati sekali pun aku tak ingin membantumu. Sebaliknya engkau yang menyadari kekeliruan tindakanmu dan ikut dengan aku menemui ibu. Kalau engkau mau melakukan itu, tentu aku akan menganggap engkau seorang ayah yang telah bertobat dan baik, dan aku akan berbakti kepadamu.”

“Jangan khawatir, Keng Han anakku. Kalau sudah tercapai cita-citaku, pasti aku akan memboyong ibumu ke istanaku. Aku juga sangat mencinta ibumu.” Pangeran Tao Seng membujuk.
“Sudahlah, tidak perlu membujukku lebih lanjut. Akan sia-sia saja. Biar pun engkau ayah kandungku, akan tetapi bila kau lanjutkan usahamu untuk berkhianat dan memberontak, aku akan berdiri di pihak Kaisar kakekku dan Pangeran Mahkota Tao Kuang pamanku.”

Pangeran Tao Seng lalu meninggalkan tempat tahanan itu dengan muka merah karena marah, Akan tetapi dia tidak putus asa dan berharap agar racun perampas ingatan dari Gulam Sang itu akan bekerja dengan baik sehingga dia dapat membujuk puteranya itu.

Pada malam kedua, nampak sesosok bayangan putih berkelebat di atas pagar tembok di belakang rumah Hartawan Ji. Bayangan ini bukan lain adalah Cu In. Setelah gadis itu mendapatkan keterangan dari The-ciangkun di mana letak rumah Hartawan Ji, dia lalu datang berkunjung pada malam itu.

Ketika melihat ada dua orang peronda berjalan menghampiri tempat ia bersembunyi, ia meloncat dari dalam taman itu ke atas sebatang pohon. Ia berada di atas pohon, siap bertindak kalau sampai ketahuan. Dan ia mendengarkan mereka bercakap-cakap.

“Menjemukan sekali, malam-malam gelap begini harus meronda. Biasanya kita hanya berjaga di gardu dan dapat terlindung dari cuaca yang amat dingin, dapat membuat api unggun yang hangat.”
“Ahh, ini semua gara-gara pemuda yang bandel itu. Kabarnya dia berkepandaian tinggi dan tidak mau dibujuk untuk membantu Ji Wan-gwe. Heran aku mengapa ada orang tak mau bekerja kepada Ji Wan-gwe yang kaya raya dan royal.”
“Ketika hendak menangkap dia pun susah bukan main. Dari teman-teman yang melihat, kabarnya setelah tiga locianpwe dikerahkan untuk membantu Kongcu, barulah dia dapat ditawan. Kongcu sendiri kewalahan menghadapi pemuda ini.”
“Hebat. Sayang sekali kalau pemuda lihai macam itu akhirnya mesti mati karena tidak mau terbujuk.”

Percakapan itu cukup bagi Cu In. Tubuhnya melayang turun dan sekali dua tangannya menyambar, dua orang peronda itu sudah roboh tanpa dapat berteriak, roboh tertotok tidak mampu bergerak mau pun bersuara.

Ang Hwa Nio-nio memang memiliki keistimewaan dalam ilmu menotok sehingga ilmunya itu disebut Tok-ciang (Tangan Beracun) karena sekali totok saja mampu mencabut nyawa orang. Cu In juga menguasai ilmu ini dan dua orang yang ditotoknya itu sama sekali tidak mampu berkutik. Akan tetapi dara bercadar ini tidak membunuh mereka.

Cu In melolos pakaian hitam salah seorang di antara mereka dan mengenakan pakaian itu menutupi pakaiannya sendiri yang serba putih. Kemudian ia berkata kepada orang kedua. “Cepat lakukan perondaan sampai ke tempat tahanan itu. Awas, sekali saja kau berteriak, nyawamu akan melayang.”

Setelah berkata demikian dia membebaskan orang kedua dari totokan, lalu memaksa peronda itu berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Ia berjalan di belakangnya sambil menyembunyikan mukanya yang bercadar.

Peronda itu ketakutan setengah mati. Dia maklum bahwa orang yang sekarang berada di belakangnya itu tidak hanya menggertak kosong belaka. Kalau dia berteriak, tentu dia akan tewas. Dia pun masih tidak tahu bagaimana nasib temannya yang ditinggalkan di belakang semak-semak dalam keadaan tidak bergerak seperti sudah menjadi mayat.

“Bawa aku ke tempat tahanan dan berbuatlah seolah-olah engkau melakukan ronda,” desis suara Cu In di dekat telinga peronda itu.

Peronda itu hanya mengangguk, membawa lampu teng dan memukul kentungannya, lalu melangkah menuju ke bagian belakang rumah besar Ji Wangwe. Segera dua orang penjaga yang berada di luar tempat tahanan menghadap mereka.

“Kanapa engkau sampai di tempat ini?” tanya seorang diantara dua orang penjaga itu.

Pemuda yang sudah mendapat pesan dari Cu In berkata dengan suara ketakutan. “Ah, tolonglah... tadi aku melihat banyak bayangan orang di sana. Aku khawatir akan datang serangan musuh!”

Mendengar cerita ini, dua orang itu segera masuk ke dalam dan memberi tahu kepada kawan-kawannya di sana. Empat orang lain keluar dan kini enam orang itu bertanya, “Di mana bayangan-bayangan itu?”

“Di sana...!” Peronda itu menudingkan telunjuknya ke arah taman, sedangkan Cu In bersembunyi di balik tubuh peronda sehingga mukanya tidak nampak.
“Mari kita periksa tempat itu!” kata seorang di antara enam penjaga itu dan mereka, segera berlarian dengan golok di tangan memasuki taman.

Melihat ini, Cu In segera menotok peronda itu sehingga roboh tak mampu berkutik lagi. Ia pun cepat-cepat menyelinap melalui pintu dari mana enam orang penjaga tadi keluar. Ternyata di sebelah dalam masih terdapat tujuh orang penjaga lagi, dan mereka sedang bermain kartu.

Melihat bayangan memasuki tempat mereka berjaga, tujuh orang itu serentak bangkit. Melihat bahwa yang masuk adalah seorang yang menutupi tubuhnya dengan pakaian hitam dan mukanya bercadar, semua menjadi kaget dan menyambar golok mereka.

“Siapa engkau?” bentak seorang kepala jaga.

Akan tetapi Cu In tidak memberi kesempatan kepada mereka. Sabuk sutera putihnya menyambar-nyambar dengan totokan yang jitu sehingga tujuh orang itu roboh malang melintang dalam keadaan tertotok.

Dengan cepat ia dapat menemukan serangkai kunci di atas meja, dan ia segera berlari masuk. Dari sela-sela jeruji baja ia dapat melihat Keng Han yang duduk bersila dengan kaki terikat rantai.

“Keng Han...,” bisiknya.

Keng Han membuka matanya dan segera dia mengenal orang bercadar itu.

“Cu In...!” bisiknya kembali.

Cu In bekerja cepat. Sebuah kunci membuka pintu tahanan yang berat itu, kemudian dengan sebuah kunci lain ia membuka rantai yang mengikat kaki Keng Han.

“Cu In, terima kasih...” kata Keng Han girang dan juga terharu.

Lagi-lagi gadis bercadar ini yang menolongnya. Ketika dia ditawan Kwi-kiam-pang, gadis ini pula yang menyelamatkannya. Ketika dia hendak dibunuh Bi-kiam Niocu, Cu In pula yang mencegahnya.

“Ssttt, kita harus cepat pergi dari sini sebelum mereka semua datang!” kata Cu In yang segera melompat keluar dari situ, diikuti oleh Keng Han.

Baru saja mereka tiba di luar, enam orang penjaga yang tadi memeriksa dalam taman sudah kembali dan melihat bahwa tawanan mereka lolos, mereka terkejut sekali dan menggunakan golok mereka untuk menyerang Keng Han dan Cu In. Ada pula yang berteriak-teriak minta tolong sehingga ributlah keadaan di tempat itu.

“Cepat robohkan mereka dan lari!” kata pula Cu In kepada Keng Han.

Cu In sendiri sudah merobohkan tiga orang penjaga. Keng Han juga lalu menggunakan tenaganya, menampar ke sana sini dan tiga orang penjaga dapat dia robohkan dalam waktu singkat. Pada saat itu, nampak orang-orang berdatangan dengan obor di tangan.

“Cepat lari!” kata Cu In pula.

Keng Han segera mengikuti Cu In melarikan diri. Mereka memasuki taman dan keluar dari pagar tembok taman itu.

Orang-orang yang mengejar mereka, Gulam Sang dan para datuk, tidak menemukan jejak mereka berdua. Ketika mendapat kenyataan bahwa tawanan telah lolos, Gulam Sang menjadi marah sekali dan dia lantas menampari para penjaga. Sialan sekali para penjaga. Baru saja ditotok roboh oleh dua orang itu, kini ditampar lagi oleh Gulam Sang sampai pipi mereka bengkak-bengkak.

Mereka segera memberi laporan kepada Pangeran Tao Seng. Sejenak sang pangeran berpikir sambil mengerutkan alisnya, kemudian dia berkata, “Kalau begitu, pelaksanaan rencana kita harus dipercepat. Sam-wi Locianpwe harap melaksanakan pembunuhan terhadap kaisar itu selambat-lambatnya besok pagi. Aku khawatir dengan lolosnya Keng Han maka rencana kita akan menjadi kacau. Gulam Sang, malam ini juga engkau harus menghubungi Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, juga kerahkan murid-murld Bu-tong-pai untuk bersiap di luar kota raja. Dan Sam-wi Locianpwe, harap membawa orang-orang yang dapat diandalkan untuk pekerjaan membunuh Kaisar. Mereka harus orang-orang berani mati yang sudah disumpah untuk mengakui sebagai orang Thian-li-pang kalau sampai tertangkap hidup-hidup, sesuai dengan rencana kita semula.”

Setelah mengatur semuanya, Pangeran Tao Seng memberi keterangan yang lebih jelas kepada tiga orang datuk sesat yang bertugas membunuh kaisar itu.

“Seperti biasanya, sesudah persidangan Kaisar akan pergi ke taman sambil membawa laporan-laporan untuk dipelajari. Nah, saat itulah kesempatan yang terbaik untuk turun tangan. Semua menteri dan panglima sudah meninggalkan ruang sidang dan pulang ke rumah masing-masing, saat itu keadaan di istana dalam suasana tenang dan tenteram. Para pengawal tentu tidak akan ada yang menduga bahwa akan terjadi penyerangan. Untuk menyelundupkan kalian ke dalam istana, sudah kuserahkan kepada Ciu-ciangkun yang akan mengaturnya. Kalian akan diberi pakaian sebagai pengawal-pengawal istana dan dapat masuk ke dalam istana dengan leluasa. Nah, bersiaplah kalian semua. Untuk menjaga jangan sampai Keng Han bertindak terhadap diriku, aku akan mengungsi di luar kota raja, yaitu di dusun yang telah kalian ketahui sebagai tempat peristirahatanku. Mengerti semua?”

Setelah semua mengerti dan siap, mereka bubaran. Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji bersama adiknya, Pangeran Tao San, keluar dari rumah, bahkan keluar dari kota raja menunggang kereta menuju ke dusun di sebelah utara kota raja. Gulam Sang pergi pula untuk mempersiapkan pasukan, dan tiga orang locianpwe bersama selosin anak buah pergi menemui Ciu-ciangkun untuk diselundupkan pagi hari itu ke dalam istana!

Gulam Sang sendiri sudah mendapat perintah istimewa dari Pangeran Tao Seng, yaitu untuk membawa teman dan pergi melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota Tao Kuang, tentu saja sesudah dia mengumpulkan pasukan di luar kota raja yang siap untuk memasuki kota raja dan menyerbu istana, apa bila saatnya telah tiba.

Menurut rencana Pangeran Tao Seng, apa bila usaha membunuh Kaisar telah berhasil, dan juga usaha membunuh Pangeran Mahkota berhasil, dia sendiri akan menyerbu ke dalam istana, mempergunakan pasukan Panglima Ciu yang sudah berhasil dihasutnya dengan janji pangkat besar, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Andai kata rencana itu gagal, mereka akan menimpakan kesalahan pemberontakan itu kepada Thian-li-pang…..
********************

“Cu In, sekali lagi engkau menyelamatkan nyawaku. Hutang budi terhadapmu sungguh bertumpuk-tumpuk, bagaimana aku akan dapat membalasnya? Dan engkau yang sudah menyaksikan betapa aku akan membunuh Paman Tao Kuang karena aku dihasut oleh ayah kandungku sendiri, kenapa engkau masih saja mau menolong aku yang sesat ini?” Keng Han bertanya setelah dia dan Cu In lolos dari rumah Hartawan Ji.

“Tidak ada hutang piutang budi, Keng Han. Aku membantumu karena melihat bahwa engkau tak bersalah. Engkau hendak membunuh Pangeran Tao Kuang karena engkau dihasut dan mendapat keterangan yang keliru.”
“Akan tetapi bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku akan tertimpa mala petaka di rumah Hartawan Ji yang bukan lain adalah Pangeran Tao Seng itu?”

“Sudah kuduga bahwa setelah menerima keterangan dari Pangeran Tao Kuang, engkau tentu akan menuntut balik kepada ayah kandungmu sendiri yang sudah menghasutmu. Dan kalau engkau melakukan hal itu, besar sekali kemungkinan engkau akan ditentang, ditawan atau dibunuh karena Pangeran Tao Seng ternyata adalah seorang yang mabuk kedudukan dan sudah melupakan putera sendiri. Maka aku lalu mencari keterangan lebih lanjut dan sesudah merasa pasti bahwa Hartawan Ji adalah Pangeran Tao Seng, malam ini aku segera pergi ke sana. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting sekarang ini, apa yang hendak kau lakukan?”

“Aku harus menyelamatkan Sribaginda Kaisar. Beliau terancam bahaya maut!”
“Ahh, benarkah itu? Bahaya apa yang mengancamnya?”

Keng Han kemudian bercerita tentang ucapan-ucapan Pangeran Tao Seng yang akan membunuh kaisar dan pangeran mahkota, dan betapa kini di rumah pangeran itu telah berkumpul datuk-datuk sesat seperti Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo, dan Lam-hai Koai-jin. Juga di sana terdapat Gulam Sang yang lihai.

“Jika begitu, kita harus cepat memberi peringatan kepada Pangeran Tao Kuang. Hanya beliau yang dapat mengatur semua penjagaan agar jangan sampai terjadi pembunuhan itu.”
“Baik, mari kita menghadap beliau.”
“Keng Han, apa sudah kau pikirkan masak-masak semua ini? Ingat, kalau kau bertindak begini, itu berarti bahwa engkau melawan ayah kandungmu sendiri!”

“Ayah kandung atau siapa saja yang bertindak salah, harus ditentang. Ayahku itu telah menyia-nyiakan kehidupan ibuku hingga ibu hidup merana dan selalu menanti di Khitan. Kemudian ayahku itu sudah bertindak curang hendak membunuh adiknya sendiri, apa lagi sekarang dia telah bertindak sedemikian jauhnya untuk membunuh ayahnya sendiri dan juga adiknya yang menjadi pangeran mahtkota. Tentu saja aku menentangnya!”

Mendengar ini, Cu In termenung. Hampir bersamaan nasib yang dialami oleh Keng Han dan ia sendiri. Hanya bedanya, kalau yang menyusahkan hati Keng Han itu ayahnya, ia lain lagi. Ibu kandungnya yang membuatnya bersusah hati. Ibunya mendidiknya sebagai murid, menghasutnya supaya ia membunuh ayah kandungnya! Akan tetapi dapatkah ia membenci ibu kandungnya?

“Keng Han, apakah engkau membenci ayahmu itu?”
“Tidak, aku tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Maka perbuatannya itu yang kutentang.”
“Bagaimana kalau nanti ayahmu itu mau mengubah sikapnya dan tidak lagi melakukan kejahatan?”
“Aku sudah membujuknya, bahkan hendak memaksanya untuk ikut bersamaku pergi menemui ibu di Khitan. Akan tetapi semua usahaku itu dihalangi oleh para datuk. Kami berkelahi dan aku dikeroyok empat sampai akhirnya aku tertawan.”

“Jadi engkau akan memaafkan ayahmu kalau dia mengubah sikapnya?”
“Tentu saja. Kalau perbuatannya sudah benar, apa lagi dia itu ayahku, maka aku harus berbakti kepadanya.”
“Ahhh...!“
“Kau kenapakah, Cu In?” tanya Keng Han khawatir melihat gadis itu seperti tertegun.
“Tidak apa-apa. Marilah kita menghadap Pangeran Mahkota.”
“Sebetulnya aku merasa sungkan dan malu menghadap beliau. Baru dua hari yang lalu aku berusaha untuk membunuhnya!”
“Jangan khawatir. Ada aku yang akan menjelaskan kepadanya.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ketika mereka hampir tiba di istana itu, Keng Han kembali bertanya, “Cu In, mengapa engkau begini baik terhadap diriku? Kanapa engkau begini membela aku?”

“Hemmm, kenapa? Karena engkau pun baik sekali kepadaku. Ingat, engkau pun pernah menolongku, bukan?”

“Cu In, suci-mu mengatakan bahwa engkau lebih kejam dari pada ia, akan tetapi aku melihat engkau sama sekali tidak kejam, bahkan engkau lembut hati dan mulia. Aku menyebut namamu begitu saja, bukan menyebut Su-I (Bibi Guru), engkau pun tidak marah. Aku sungguh kagum kepadamu semenjak pertama kali kita bertemu, aku... aku terpesona melihat sinar matamu dan aku suka sekali kepadamu. Apakah engkau akan marah dan membunuhku kalau aku mengatakan bahwa aku suka kepadamu?”

Sepasang mata itu mencorong, namun hanya sebentar. Tadinya Cu In hendak marah sekali karena ia sudah terbiasa menganggap bahwa kalau ada pria menyatakan suka kepadanya, maka pria itu hanya merayu saja dan pernyataannya itu palsu adanya seperti yang sering kali dikatakan gurunya. Akan tetapi kemudian ia teringat bahwa gurunya atau ibunya itu bersikap demikian karena sakit hati terhadap kekasihnya, maka kemarahannya pun hilang. Ia tidak perlu percaya lagi kepada semua pendapat ibunya.

Ia sendiri tidak dapat menyangkal bahwa ia pun suka sekali kepada Keng Han. Baru sekarang ia menyadari bahwa pria pun sama saja dengan wanita, ada yang baik dan ada yang jahat. Dan Keng Han ini jelas bukan laki-laki yang jahat.

Ia menyadari bahwa kebiasaannya mengenakan cadar supaya mukanya jangan sampai terlihat laki-laki itu merupakan kebiasaan yang keliru. Tetapi sekarang sudah kepalang, bahkan hal itu dapat dipakainya untuk menguji sampai di mana rasa suka Keng Han terhadap dirinya.

“Aku tidak marah dan tidak akan membunuhmu karena pernyataan itu, Keng Han. Akan tetapi bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa engkau suka kepadaku pada hal engkau belum pernah melihat wajahku?”

“Aku tidak peduli akan wajahmu, Cu In. Bagaimana pun bentuk wajahmu aku tetap akan merasa suka padamu. Aku kagum akan kepribadianmu, watakmu, cara engkau bicara, gerak-gerikmu, dan sinar matamu.”

“Tidak, Keng Han. Jangan katakan begitu. Aku... aku tidak berharga bagimu. Aku gadis kang-ouw, petualang yang hidup menyendiri, sedangkan engkau adalah seorang putera pangeran! Tidak, aku sama sekali tidak sebanding denganmu.”

“Cu In, jangan merendahkan diri sampai demikian! Aku cinta padamu, bukan karena rupa atau kedudukan. Aku mencinta dirimu, pribadimu, tidak peduli engkau berwajah bagaimana dan dari golongan apa.”

“Ahhh, engkau akan menyesal kelak dan kalau engkau menyesal, aku kembali akan menjadi pembenci pria yang ternyata berhati palsu, kata-katanya tidak dapat dipercaya.”
“Aku tidak akan menyesal, Cu In. Aku cinta padamu dan tidak ada apa pun yang dapat mengubah cintaku.”
“Akan tetapi wajahku buruk sekali, Keng Han. Aku hanyalah seorang wanita yang cacat mukanya.”
“Aku tidak percaya! Dan andai kata benar wajahmu cacat, aku tetap akan mencintamu.”
“Benarkah? Ingin aku melihat apakah pendapat guruku tentang pria benar, bahwa pria hanya merupakan perayu besar yang tidak setia dan palsu. Kau lihatlah baik-baik, Keng Han!”

Setelah berkata demikian, Cu In menyingkap cadarnya memperlihatkan mukanya dari hidung ke bawah. Keng Han memandangnya dan pemuda itu terbelalak, terkejut dan heran.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa wajah yang di bagian atasnya demikian cantik jelita, bagian bawahnya mengerikan. Wajah itu totol-totol hitam, seperti bekas luka yang memenuhi permukaan wajahnya sehingga meski pun hidung dan mulutnya berbentuk sempurna, namun karena bertotol-totol hitam menjadi buruk untuk dipandang.

Cu In menutupkan kembali cadarnya, kemudian berkata dengan nada suara mengejek, “Engkau terkejut? Engkau ngeri? Wajahku seperti setan, bukan? Nah, apakah masih ada ada rasa cinta di dalam hatimu, Keng Han?”

Keng Han sudah dapat menyadari lagi keadaannya dan menguasai perasaannya yang terkejut. “Aku tetap mencintamu, Cu In. Biar pun wajahmu cacat, engkau tetap Cu In yang tadi, yang bercadar, yang kucinta. Akan tetapi mengapa wajahmu seperti itu, Cu In? Aku merasa iba kepadamu dan aku akan berusaha agar supaya cacat di wajahmu dapat hilang. Akan kucarikan tabib terpandai di dunia ini yang mampu menyembuhkan dirimu.”

“Kau tidak benci kepadaku? Tidak jijik melihat mukaku?” tanya Cu In, dalam suaranya mengandung keheranan.

Keng Han mendekat dan memegang kedua tangan gadis itu. “Sudah kukatakan, aku mencinta pribadimu, bukan sekedar kecantikanmu. Aku tetap mencintaimu walau pun wajahmu cacat. Jadi itulah sebabnya engkau memakai cadar selama ini! Agar mukamu yang cacat tidak kelihatan orang lain.”

“Benar, aku tidak ingin ada orang melihat mukaku dan kemudian membenciku. Engkau benar-benar tidak peduli akan cacat di mukaku?” tanya Cu In tanpa melepas pegangan Keng Han pada kedua tangannya.

“Aku bukan tidak peduli, akan tetapi aku bahkan kasihan sekali padamu dan ingin membantumu mencarikan obat untuk menghilangkan bekas luka di wajahmu itu. Akan tetapi cacat di mukamu itu tidak mengubah perasaan hatiku yang mencintamu.”

Cu In melepaskan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu. “Aku... aku tidak percaya...” suaranya mengandung isak.

“Kenapa engkau tidak percaya? Kenyataan bahwa engkau murid Ang Hwa Nio-nio dan sumoi Bi-kiam Niocu yang jahat dan kejam itu pun tidak mengubah cintaku padamu, pada hal aku sama sekali tidak menyukai watak mereka. Aku bersumpah bahwa aku tetap mencintamu Cu In.”

“Ssttt, sudahlah. Soal itu dapat kita bicarakan kemudian. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Mari kita menghadap Pangeran Mahkota Tao Kuang.”

Baru teringat oleh Keng Han betapa lama mereka berhenti di jalan yang sunyi itu. Dia tersenyum kepada Cu In dan berkata, “Perasaan hati kita lebih penting dari segala urusan, Cu In. Aku sudah mengutarakan isi hatiku dan hal ini melegakan sekali. Walau pun aku belum tahu bagaimana tanggapanmu tentang perasaanku, akan tetapi kini aku merasa lega bahwa engkau mengetaihui akan perasasn hatiku kepadamu. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita.”

Ketika mereka tiba di istana Pangeran Tao Kuang, mereka segera disambut oleh Sang Pangeran sendiri yang ditemani oleh Kwi Hong dan ibunya, juga Kai-ong dan muridnya, Yo Han Li yang masih berada di situ. Melihat munculnya Keng Han bersama Cu In, Kwi Hong segera meloncat ke depan ayahnya dengan pedang terhunus di tangan.

“Han-ko, apakah engkau hendak membunuh ayahku?!” bentaknya.

Keng Han tersenyum. Sudah lama dia mengetahui bahwa Kwi Hong itu adalah adiknya sendiri, adik sepupu dan semarga. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata. “Tidak, Hong-moi. Aku bahkan datang untuk minta maaf kepada ayahmu.”

Lega hati Kwi Hong mendengar ini. Ia pun segera melangkah ke pinggir dekat ayahnya.

“Saya datang pertama-tama untuk mohon maaf kepada Paman Pangeran!” kata Keng Han sambil memberi hormat kepada Pangeran Tao Kuang.

Pangeran itu tersenyum, kemudian berkata, “Aku maafkan engkau, Keng Han. Engkau kemarin bersikap demikian karena hasutan orang. Apakah kini engkau sudah mengerti benar akan duduknya perkara?”

“Sudah, Paman. Bahkan bukan itu saja. Kami, yaitu Cu In dan saya, mengetahui hal-hal lain yang amat membahayakan keselamatan Paduka dan juga keselamatan Yang Mulia Kaisar. Ada komplotan yang hendak membunuh Paman dan Kaisar.”

Pangeran Tao Kuang terkejut mendengar ini dan segera mengajak Cu In dan Keng Han ke ruangan dalam untuk membicarakan hal itu.

Setelah tiba di ruangan dalam, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya. Dia menceritakan pula rencana ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota dan Kaisar.

“Dia yang kini memakai nama Hartawan Ji telah mengundang datuk-datuk besar yang berilmu tinggi untuk melaksanakan pembunuhan itu. Karena itulah maka kami berdua cepat-cepat menghadap Paman untuk menghadapi komplotan pembunuh itu. Di antara mereka yang bersekutu itu terdapat pula seorang Tibet bernama Gulam Sang yang agaknya sudah mengadakan persekutuan dengan pihak Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Mungkin mereka akan mengadakan penyerbuan ke kota raja. Juga Bu-tong-pai bekerja sama dengan mereka. Keadaan ini gawat sekali kalau tidak dipersiapkan penjagaan yang ketat.” demikian antara lain Keng Han berkata.

“Untuk menjaga keselamatan Paduka, di sini sudah terdapat adik Kwi Hong, adik Han Li dan Locianpwe Kai-ong. Akan tetapi untuk menjaga keselamatan Kaisar, perlu adanya tenaga yang boleh diandalkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan,” kata Cu In.

“Wah, ini perkara penting sekati. Aku harus segera menghubungi ayahanda Kaisar dan para panglima untuk melakukan penjagaan dan untuk menyelidiki gerakan musuh di luar kota raja. Bagaimana kalau kami minta bantuan kalian, Keng Han dan Cu In, untuk ikut menjadi pengawal Kaisar untuk sementara waktu?”

“Saya bersedia, Paman.” kata Keng Han.
“Jika memang dibutuhkan, saya pun suka membantu,” kata pula Cu In penuh semangat.
“Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian berdua ikut dengan aku menghadap Kaisar. Kwi Hong, engkau menjaga di rumah dan saya mohon bantuan Locianpwe Kai-ong dan nona Yo untuk membantu Kwi Hong.”
“Baik, Ayah. Aku dan ibu akan siap siaga.”
“Ha-ha-ha, setelah siang malam makan dan tidur dengan enak di sini kami tentu saja suka membantu. Ada pekerjaan itu baik sekali, makan tidur saja setiap hari membuat aku menjadi malas!” kata Kai-ong.

Maka berangkatlah Pangeran Tao Kuang menuju ke istana Kaisar, dikawal oleh Keng Han dan Cu In. Setelah tiba di istana dan diterima oleh Kaisar, Pangeran Tao Kuang menceritakan keadaan yang berbahaya itu.

Mendengar laporan ini, Kaisar yang sudah tua itu memukul lengan kursinya.

“Aahhh, anak-anak macam apa Tao Seng dan Tao San itu? Mereka sudah dihukum, tapi tidak jera dan malah membikin ulah lagi. Kami serahkan penanggulangan pengacau ini kepadamu, Tao Kuang. Selesaikan sampai tuntas urusan ini. Aaahh, kalau kami yang harus memikirkan masalah anak-anak durhaka ini, bahkan hanya akan mendatangkan penyesalan saja di dalam hati!”

“Baik, Ayah. Serahkan saja semua ini kepada hamba. Di sini hamba mengajak dua orang pendekar yang menjadi saksi usaha pemberontakan itu dan hamba harap supaya Ayah suka menerimanya sebagai pengawal sementara untuk menghadapi mereka yang berani masuk ke Istana.”

Kaisar menerima Keng Han dan Cu In dengan senang. Akan tetapi melihat Cu In yang bercadar, Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata, “Kenapa gadis ini memakai cadar? Sebaiknya kalau cadar itu dilepas agar kami dapat melihat wajahnya.”

“Ampun, Yang Mulia. Hamba sudah bersumpah untuk tidak membuka cadar ini. Yang berhak melakukan hanya suami hamba kelak,” kata Cu In.

Keterangannya ini tidak seluruhnya bohong karena di dalam hatinya ia pun mengambil keputusan bahwa yang berhak membuka cadar adalah tangan suaminya. Mendengar ini Keng Han merasa jantungnya berdebar. Gadis ini sudah membuka cadar di depannya, bukankah itu menunjukkan bahwa gadis ini setuju dia menjadi calon suaminya?

“Hemmm, sumpah yang aneh. Tetapi sudahlah, karena putera kami yang membawamu ke sini, engkau boleh bercadar.” Akhirnya Kaisar berkata sambil mengangguk walau pun merasa heran akan sumpah yang aneh itu.

Keng Han dan Cu In ditinggalkan dalam istana untuk menjadi pengawal pribadi kaisar. Walau pun kaisar sudah mempunyai pasukan pengawal pribadi, akan tetapi hadirnya dua orang muda yang oleh puteranya diperkenalkan sebagai dua orang pendekar yang berilmu tinggi, kaisar suka menerimanya dan hal ini menambah tenang hatinya.

Pangeran Tao Kuang sendiri lalu membawa sepasukan pengawal untuk mengawalnya. Dia tidak segera pulang, akan tetapi mendatangi rumah panglima The Sun Tek yang dikenalnya sebagai Panglima besar yang memiliki ilmu silat tinggi. Kepada panglima itu dia menceritakan tentang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Pangeran Tao Seng.

Ia menyerahkan penyelidikan dan pembasmian gerombolan pemberontak yang mungkin bersembunyi dekat kota raja, supaya dapat mencegah gerombolan itu menyerbu kota raja. Sesudah Panglima The Sun Tek menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Kaisar melalui Pangeran Mahkota itu, Pangeran Tao Kuang baru pulang ke rumahnya, dikawal pasukan pengawal dengan ketat.

Panglima The Sun Tek dengan cepat mengerahkan pasukan istimewa untuk menambah kekuatan penjagaan di istana, lalu menyebar penyelidik untuk menyelidiki apakah ada gerombolan yang bersembunyi di sekitar kota raja.

Kaisar Cia Cing yang usianya sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun itu nampak tenang saja mendengar bahwa dirinya terancam bahaya maut. Apa lagi dengan adanya Keng Han dan Cu In, dia merasa aman. Ada pun penambahan pengawal istana membuat dia lebih tenang lagi karena penjagaan menjadi ketat sekali.

Keng Han dan Cu In sama sekali tidak menyangka bahwa di antara pengawal istana itu terdapat Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka ini di selundupkan oleh panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran Tao Seng, yaitu Panglima Ciu, ke dalam pasukan pengawal istana! Ada pun Swat-hai Lo-kwi oleh Panglima Ciu diselundupkan ke dalam pasukan penjaga istana Pangeran Mahkota.

Tentu saja ketiga orang datuk sesat ini menyamar sehingga kelihatan muda dan seperti anggota pasukan biasa. Dua orang datuk, yaitu Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin, bertugas untuk membunuh kaisar. Bersama dengan mereka diselundupkan pula anak buah Pek-lian-pai sebanyak selosin orang untuk membantu usaha dua orang datuk itu.

Sedangkan Swat-hai Lo-kwi dibantu oleh selosin prajurit pula, yaitu para anggota dari Pat-kwa-pai. Gulam Sang sendiri memimpin pasukan inti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai bersama para tokoh kedua gerombolan itu, mempersiapkan pasukannya di luar kota raja, siap untuk membantu apa bila saatnya tiba.

Penyerbuan itu akan dibarengi dengan gerakan pasukan Panglima Ciu dari dalam. Bila saatnya tiba, Panglima Ciu akan melepaskan anak panah berapi di udara sebagai tanda kepada gerombolan yang bersembunyi di luar kota raja. Penyerbuan akan dilakukan pada malam hari.

Pangeran Tao Kuang yang sudah menerima keterangan sejelasnya dari Keng Han dan Cu In, berhubungan terus dengan Panglima The Sun Tek. Panglima ini adalah seorang panglima perang yang telah hafal akan liku-liku siasat perang. Maka dia tidak terpancing keluar dan mengerahkan pasukannya keluar kota raja.

Ia menaruh curiga kalau-kalau pihak pemberontak justru telah menyelundupkan banyak pasukan ke dalam kota raja. Mudah saja untuk menyusup dengan menyamar sebagai pedagang atau petani yang menjual hasil ladang mereka ke kota raja. Maka dia pun membagi pasukannya menjadi dua bagian. Yang satu bagian diperuntukkan membasmi gerombolan yang berada di luar kota raja, sedangkan sebagian lagi tetap menjaga di kota raja kalau-kalau pihak musuh sudah menyelundupkan pasukan ke dalam kota raja untuk menyerbu istana. Penjagaan di istana diperketat.

Malam itu teramat indah. Biar pun tidak ada bulan di angkasa namun malam itu penuh bintang. Langit bersih sehingga semua bintang nampak di angkasa bagaikan butir-butir mutiara di hamparan beludru hitam. Apa bila ada orang yang menengadah, maka akan nampak keindahan yang luar biasa, nampak pula kekuasaan Tuhan yang tiada taranya.

Bintang-bintang itu berkelap-kelip, ada yang berkejap ada pula yang tenang diam tanpa sinar gemerlapan. Cahaya sekian banyak bintang di angkasa, tak terhitung banyaknya, membuat cuaca di bumi nampak remang-remang. Cahaya bintang-blntang itu demikian lembut sehingga malam terasa sejuk.

Kalau ada angin semilir, barulah terasa betapa dinginnya hawa udara di saat itu. Dingin dan sunyi, penuh pesona dan rahasia. Kadang nampak bintang meluncur lalu lenyap membuat kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi jauh di atas itu.

Benarkah pendapat kuno bahwa setiap bintang itu mewakili seorang manusia. Agaknya pendapat kuno ini berlebihan. Buktinya banyak bintang yang sudah beratus tahun masih nampak cemerlang di angkasa sedangkan manusia sudah berganti beberapa generasi. Apakah di bintang itu terdapat makhluk hidup? Mungkin saja, siapa tahu. Tuhan Maha Kuasa, maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Kalau Tuhan menghendaki, mungkin saja di antara bintang-bintang itu ada bintang yang seperti dunia kita ini.

Malam yang indah. Akan tetapi malam yang mencekam bagi para penjaga di istana. Beberapa orang melihat berkelebatnya bayangan orang di luar kamar tidur Kaisar. Akan tetapi ketika diperiksa, ternyata tidak ada siapa-siapa.

Ketika mendengar laporan para penjaga itu, Keng Han dan Cu In siap siaga dengan penuh kewaspadaan. Keng Han menyuruh para prajurit pengawal untuk mengepung kamar tidur kaisar, sedangkan dia sendiri bersama Cu In sudah melayang naik ke atas atap, menjaga kalau-kalau ada yang menyerbu dari atas.

Penjagaan itu demikian ketat sehingga siapa pun yang akan memasuki kamar kaisar, dari luar mau pun dari atas, pasti akan ketahuan. Kecuali kalau ada yang masuk melalui bawah tanah, suatu hal yang tidak mungkin.....

Tengah malam tiba. Bintang-bintang semakin jelas kelihatan, membuat Keng Han dan Cu In yang berada di atas atap menjadi kagum bukan main. Terutama sekali Keng Han. Sudah sering dia melihat malam penuh bintang, akan tetapi entah bagaimana, belum pernah nampak seindah malam ini.

Dia tersenyum seorang diri, maklum mengapa hatinya demikian tenteram dan bahagia, walau pun sedang menghadapi tugas yang berbahaya. Bukan lain karena Cu In berada di situ, di dekatnya!

Terdengar bunyi langkah dua losin prajurit pengawal datang dari arah luar. Mereka itu adalah satu regu prajurit pengawal yang datang untuk menggantikan para prajurit yang sudah berjaga sejak sore tadi. Komandan prajurit yang baru datang menerima laporan dari komandan prajurit yang diganti bahwa tadi nampak bayangan yang mencurigakan berkelebat, akan tetapi kini suasana aman dan tenang sedangkan bayangan itu tidak dapat ditemukan.

“Mungkin hanya bayangan burung yang terbang lewat,” akhirnya komandan itu menutup keterangannya kepada komandan yang baru. “Betapa pun juga, harap menjaga dengan hati-hati dan waspada.”

Dia tidak menceritakan bahwa Keng Han dan Cu In sedang berada di atas atap karena dia sendiri tidak tahu di mana dua orang pengawal pribadi kaisar itu bersembunyi.

Pergantian pengawal sudah dilakukan. Para prajurit pengawal yang baru nampak masih segar dan mereka mengepung kamar kaisar, bahkan kadang melakukan perondaan di sekeliling tempat itu.

Keng Han dan Cu In mendengar suara mereka dan melongok ke bawah. Mereka tahu bahwa ada pergantian pengawal, maka mereka tidak mengacuhkan lagi. Kedua orang muda ini terus bersembunyi di atas atap dengan waspada, mengawasi empat penjuru dengan tatapan tajam.

Tak lama kemudian mereka mendengar suara gedebak-gedebuk seperti orang jatuh.

“Cu In, cepat kau periksa di bawah, biar aku yang menjaga di sini!” kata Keng Han.

Cu In melayang turun. Dia kaget bukan main melihat beberapa orang prajurit pengawal menyerang kawan-kawannya sendiri! Dia sama sekali tidak tahu bahwa di antara dua losin prajurit itu, yang empat belas orang adalah anak buah Pek-lian-pai yang sekarang menyamar sebagai prajurit, termasuk juga dua orang datuk sesat, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin!

Melihat sepuluh orang prajurit diserang oleh prajurit yang lain dan empat orang sudah roboh tak bergerak lagi, Cu In berseru, “Tahan...!”

Akan tetapi, para prajurit penyerang itu bahkan menyerangnya dan seorang di antara mereka yang memegang ruyung berseru, “Lo-mo, cepat bergerak dari atas!”

Tung-hai Lo-mo mengenal Cu In yang bercadar. Karena tahu betapa lihainya wanita itu, maka dia menyerahkannya kepada Lam-hai Koai-jin dan selosin anak buah Pek-lian-pai. Maka mendengar seruan Lam-hai Koai-jin, Tung-hai Lo-mo segera meloncat naik ke atas atap. Diperhitungkannya, kalau memasuki kamar lewat atap tentu tidak ada yang tahu dan kalau dia dapat membunuh kaisar dengan tangannya sendiri, tentu pahalanya besar dan Pangeran Tao Seng akan memberi hadiah yang besar.

Namun, begitu kakinya menginjak atap, terdengar bentakan nyaring yang mengejutkan hatinya. “Berhenti, siapa engkau?!”

Kiranya Keng Han sudah berdiri di depannya. Dia segera mengenal Keng Han, akan tapi pemuda itu sendiri tidak mengenalnya karena kakek itu memakai samaran sebagai seorang prajurit biasa.

Melihat Keng Han menghadang dengan pedang bengkok di tangannya, Tung-hai Lo-mo cepat menggerakkan tombaknya. Sebagai prajurit tentu saja dia tak mungkin membawa-bawa dayungnya, maka dia memilih memegang tombak dari pada senjata lain karena tombak itu dapat dipergunakan sebagai senjata dayungnya.

Melihat prajurit itu telah menyerangnya dengan tombak, Keng Han menangkis dengan pedang bengkoknya.

“Tranggg...!”

Keduanya terdorong mundur tiga langkah. Keng Han terkejut sekali. Orang yang dikirim ayahnya untuk membunuh kaisar ini ternyata lihai dan memiliki tenaga sinkang yang kuat!

Maka dia pun mengerahkan tenaganya dan segera mainkan pedangnya dengan ilmu silat Hong-in Bun-hoat. Pedang itu menyambar-nyambar dengan gerakan aneh seperti mencorat-coret di udara membuat huruf-huruf, akan tetapi akibatnya hebat, Tung-hai Lo-mo segera terdesak mundur.

Datuk sesat ini berpikir bahwa kalau bertempur di atas, berbahaya baginya. Selain atap itu licin dan miring, juga dia tidak mempunyai kawan. Kalau di bawah terdapat selosin anak buah Pek-lian-pai dan masih ada Lam-hai Koai-jin pula.

Maka dia membabatkan tombaknya menyerampang kedua kaki lawan. Ketika Keng Han meloncat untuk menghindarkan sambaran tombak, kesempatan ini dipergunakan oleh Tung-hai Lomo untuk meloncat turun ke bawah!

“Pembunuh jahat, engkau hendak lari ke mana?” bentak Keng Han. Dia pun meloncat ke bawah melakukan pengejaran.

Melihat Keng Han meloncat turun, Tung-hai Lo-mo menggunakan tombak menyambut dengan tusukan yang cepat dan kuat sekali. Akan tetapi Keng Han sudah waspada dan pada saat melihat lawannya menyambutnya dengan tusukan, dia pun memutar pedang bengkoknya untuk melindungi tubuhnya.

“Trang-tranggg...!” Bunga api berpercikan ketika kedua senjata itu bertemu dan mereka segera bertanding lagi dengan serunya.

Sementara itu, pertandingan antara Cu In melawan Lam-hai Koai-jin juga berlangsung seru. Akan tetapi karena Cu In membantu para prajurit pengawal yang diserang oleh orang-orang Pek-lian-pai yang menyamar, ia jadi terkeroyok, apa lagi ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin membuatnya terdesak.

Akan tetapi, dengan sabuk suteranya gadis ini berhasil merobohkan lima orang anak buah Pek-lian-pai sehingga kini jumlah mereka tinggal tujuh orang lagi. Mereka itu dapat dilawan para prajurit pengawal yang tulen sehingga Cu In hanya menghadapi Lam-hai Koai-jin seorang saja!

Lam-hai Koai-jin ialah seorang datuk selatan yang bertubuh gendut pendek. Permainan ruyungnya menggiriskan. Senjata berat itu dapat dia gerakkan dengan cepat sehingga mengeluarkan suara berdesing-desing.

Namun, lawannya adalah Cu In yang mempunyai ginkang yang luar biasa. Kecepatan gerakan Cu In membingungkan Lam-hai Koai-jin. Sabuk sutera putih yang dimainkan Cu In bagaikan kilat menyambar-nyambar, atau bagaikan seekor naga bermain di angkasa. Ujungnya melecut dan menotok sehingga datuk gendut pendek itu seolah terkepung oleh belasan ujung sabuk yang menyerangnya secara bertubi-tubi.

Baik Tung-hai Lo-mo mau pun Lam-hai Koai-jin kini mulai maklum bahwa usaha mereka mengalami gangguan. Apa lagi sekarang berdatangan pasukan pengawal lainnya yang mendengar akan perkelahian itu kemudian mereka datang berbondong-bondong untuk membantu teman-teman mereka.

Melihat ini, Tung-hai Lo-mo berseru, “Lari...!”

Dia sendiri sudah meloncat jauh ke belakang untuk melarikan diri. Lam-hai Koai-jin juga meloncat jauh mengikuti jejak kawannya. Para anak buah mereka juga ingin lari, akan tetapi kini bantuan sudah datang dan mereka terkepung dengan ketat sehingga tak lama kemudian, kedua belas orang anak buah Pek-lian-pai yang menyamar sebagai prajurit pengawal itu berhasil dirobohkan. Di antara mereka ada yang belum tewas dan hanya terluka, maka yang terluka lalu ditawan.

Pintu yang menuju ke kamar tidur kaisar terbuka dari dalam. Dua orang thaikam muncul. Mereka tadi mendengar suara ribut-ribut di luar kamar, maka mereka membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi. Kaisar pun sudah terjaga dari tidur dan memerintahkan thaikam untuk memeriksa keadaan di luar.

“Para pembunuh menyamar sebagai prajurit pengawal datang menyerang, akan tetapi mereka semua sudah tertangkap!” Keng Han melapor kepada para thaikam dan mereka itu dapat melapor kepada Kaisar.
“Siapa yang menyuruh kalian? Hayo cepat katakan!” bentak Keng Han kepada empat orang penyerbu yang terluka dan sudah diikat kedua tangannya.

Akan tetapi empat orang itu diam saja tidak mau menjawab.

“Katakan kalian dari golongan apa?” tanya lagi Keng Han.

Seorang di antara mereka kini mengangkat muka memandang kepada Keng Han dan menjawab singkat. “Kami anggota Thian-li-pang!”

Keng Han dan Cu In terkejut sekali. Anggota Thian-li-pang? Mereka teringat kepada Han Li yang berada di rumah Pangeran Mahkota. Gadis itu puteri ketua Thian-li-pang!

“Mungkin mereka berbohong. Kita undang Han Li ke sini untuk mengenali mereka,” kata Cu In dan Keng Han menyetujui.

Keadaan kini sudah aman. Tidak mungkin ada pembunuh yang dapat masuk dari luar istana yang sudah dijaga ketat oleh pasukan. Kalau tadi mereka kebobolan adalah karena para penjahat itu menyamar sebagai prajurit-prajurit pengawal istana.

“Benar, sekarang di sini sudah aman. Kita serahkan kepada para prajurit untuk menjaga keamanan selanjutnya dan kita harus cepat pergi ke rumah Pangeran Mahkota. Siapa tahu mereka membutuhkan bantuan,” kata Keng Han.

Keduanya lalu pergi meninggalkan istana. Dari para penjaga di luar istana mereka mendapat kabar bahwa dua orang pembunuh yang lihai dan menyamar sebagai prajurit-prajurit itu telah berhasil lolos. Mereka tidak mempedulikannya lagi. Penjahat-penjahat itu pasti tidak berani masuk kembali ke istana, pikir mereka. Dengan cepat mereka lalu menuju ke istana Pangeran Tao Kuang.

Di istana ini pun terjadi keributan. Menjelang tengah malam, ada bayangan tiga belas orang memasuki istana lewat pagar tembok belakang taman. Mereka segera ketahuan karena penjagaan sudah diatur dengan ketat dan terjadi pertempuran antara tiga belas orang itu dengan para prajurit.

Akan tetapi tiga belas orang itu ternyata lihai, terutama sekali seorang di antara mereka, yaitu seorang kakek yang memegang pedang. Banyak prajurit penjaga roboh di tangan kakek ini yang bukan lain adalah Swat-hai Lo-kwi.

Akan tetapi Pangeran Tao Kuang segera dilapori penjaga dan Tao Kwi Hong bersama ibunya Liang Siok Cu, ditemani pula oleh Han Li dan Kai-ong Lu Tong Ki dengan cepat pergi ke tempat di mana terjadi pertempuran, yaitu di taman bunga di bagian belakang istana. Sedangkan Pangeran Tao Kuang sendiri yang nyawanya terancam, telah masuk ke dalam kamar rahasia yang tidak akan dapat ditemukan orang luar.

Swat-hai Lo-kwi mengamuk dan dia mencari kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam istana itu mencari Pangeran Tao Kuang. Pedangnya membabat ke sana sini.

“Tranggg...!”

Tiba-tiba pedangnya bertemu dengan sebatang tongkat bambu. Biar pun hanya tongkat bambu, tapi ternyata mampu membuat pedang di tangan Swat-hai Lo-kwi terpental dan tangannya terasa panas.

Datuk sesat ini segera memandang penuh perhatian pada penangkisnya. Ternyata yang menangkis pedangnya adalah seorang kakek tinggi kurus, berpakaian tambal-tambalan dan memegang sebatang tongkat bambu, berdiri sambil tertawa bergelak dan mengelus jenggotnya dengan tangan kiri.

“Ha-ha-ha-ha-ha! Kiranya Swat-hai Lo-kwi yang memimpin penyerbuan ini. Tidak aneh bila Swat-hai Lo-kwi dapat diperalat kaum pemberontak, tentu dengan janji pahala yang muluk-muluk!” kata Kai-ong Lu Tong Ki.
“Kai-ong, jangan mencampuri urusanku. Apakah engkau telah menjadi anjing peliharaan penjajah Mancu?”
“Heh-heh-heh, tidak perlu engkau berpura-pura bersikap sebagai seorang patriot yang mencinta tanah air dan bangsa. Aku, Kai-ong, sudah lama mengenal isi perutmu!”
“Keparat, mampuslah engkau!”

Swat-hai Lo-kwi menyerang dengan tangan kirinya, memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Kai-ong. Pukulan ini bukannya sembarang serangan, melainkan serangan maut karena tangan itu terisi tenaga sakti yang amat dingin.

“Haiiiiit...!” Swat-hai Lo-kwi mengeluarkan tenaga saktinya sambil memekik dahsyat.
“Hemmm...!”

Kai-ong juga mengerahkan tangan kirinya, menyambut pukulan tangan terbuka dengan tangannya sendiri.

“Desssss...!”

Dua tangan bertemu dengan dahsyatnya. Akibatnya, Swat-hai Lo-kwi terdorong mundur sampai tiga langkah, sedangkan Kai-ong yang bergoyang-goyang saja tubuhnya akan tetapi dapat bertahan sehingga tidak sampai terdorong mundur.

“Haiiiiit!” Kembali Swat-hai Lo-kwi memekik dan kini pedangnya menyambar.

Kai-ong juga menggerakkan tongkat bambunya dan kedua orang tua ini sudah saling serang dengan hebatnya. Gerakan mereka tidak cepat, bahkan nampak lamban, akan tetapi setiap gerakan mengandung tenaga sakti yang dahsyat, menyambar-nyambar, bahkan dapat terasa oleh mereka yang berada dalam jarak tiga meter dari mereka.

Sementara itu, Kwi Hong dan ibunya Liang Siok Cu, dibantu pula oleh Han Li, sudah mengamuk menghadapi dua belas orang anak buah Pat-kwa-pai yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi. Para prajurit penjaga merasa lega dengan munculnya tiga orang wanita ini dan mereka segera membantu dengan pengeroyokan.

Liang Siok Cu menggunakan senjata sebuah tongkat kecil, sebab ia adalah seorang ahli tiam-hiat-to (menotok jalan darah). Tongkatnya merupakan senjata andalannya karena tongkat itu lantas menyambar-nyambar mengarah jalan darah para lawannya. Tak lama kemudian, dua orang anak buah Pat-kwa-pai sudah roboh tak berkutik terkena totokan tongkat nyonya selir Pangeran Mahkota itu.

Kwi Hong mengamuk lebih hebat lagi. Dengan pedangnya dia cepat mainkan Ngo-heng Sin-kiam sehingga lawan-lawannya menjadi kerepotan melindungi dirinya dari sambaran pedang yang ampuh itu. Tidak lama kemudian tiga orang lawan telah dapat dirobohkan oleh pedang di tangan Kwi Hong.

Han Li memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Kwi Hong atau ibunya. Ia telah mewarisi banyak ilmu silat dari ayah dan ibunya. Akan tetapi menghadapi para penyerbu ini, ia menyerang mereka dengan setengah hati. Bahkan ia tidak mencabut pedangnya, melainkan hanya membagi-bagi tamparan dan tendangan saja. Akan tetapi, walau ia tidak bermaksud membunuh orang-orang yang menentang penjajah, tamparan dan tendangan itu sudah cukup membuat empat orang terpelanting roboh.

Para prajurit mengeroyok tiga orang sisa para penyerbu dan mereka pun roboh menjadi korban senjata para prajurit. Sekarang tinggal Swat-hai Lo-kwi seorang yang masih bertanding melawan Kai-ong. Ketika Kwi Hong hendak membantu kakek itu, lengannya dipegang Han Li.

“Jangan, Suhu tidak memerlukan bantuan. Dia tidak akan kalah.”

Mendengar ucapan Han Li itu, Kwi Hong menghentikan gerakannya. Gadis yang suka bertualang di dunia kang-ouw ini mengerti bahwa banyak tokoh besar persilatan tidak suka dibantu apa bila sedang bertanding satu lawan satu, tidak mau bersikap curang melakukan pengeroyokan. Maka, membantunya dapat juga diartikan penghinaan. Ia pun berdiri menonton pertandingan yang hebat itu.

Akan tetapi sekarang ternyata betapa perlahan-lahan Swat-hai Lo-kwi terdesak hebat oleh tongkat Kai-ong. Mereka bergerak cepat sekali. Yang nampak hanya dua gulungan sinar pedang dan sinar tongkat. 

“Tranggg…!” tiba-tiba terdengar suara nyaring.

Sesosok tubuh mencelat keluar dari medan pertandingan, dan yang meloncat itu adalah Swat-hai Lo-kwi. Dari ujung bibir sebelah kiri mengalir darah dan tangannya menekan dadanya. Jelas bahwa dia telah terkena tongkat itu pada dadanya sehingga menderita luka dalam.

“Sekarang aku memang mengaku kalah, Kai-ong. Akan tetapi akan datang saatnya aku membalas kekalahan ini!” Dan dia pun sudah melompat menjauh, melarikan diri dalam kegelapan malam.

Setelah semua musuh tidak dapat melakukan gerakan lagi, dan dua belas orang itu ada yang tewas dan ada yang hanya terluka, Pangeran Tao Kuang kemudian diberi tahu. Pangeran itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dia memerintahkan pengawal untuk menyeret seorang di antara mereka yang terluka dan dibawa ke depan Pangeran Tao Kuang.

“Kamu datang dari perkumpulan mana?”
“Dari Thian-li-pang!” jawab orang itu dengan lantang.
“Bohong!” bentak Yo Han Li sambil bergegas menghampiri orang itu. “Kalau engkau dari Thian-li-pang, coba katakan siapa aku ini!”

Orang itu hanya memandang kepada Han Li, akan tetapi tidak menjawab.

“Hayo katakan, siapa aku!” kembali Han Li membentak dan kini gadis yang marah itu telah mencabut pedangnya dan menodongkan ke dada orang itu.

Orang itu menjadi pucat wajahnya, kemudian menggeleng kepalanya dan menjawab, “Tidak... tidak tahu...”

“Nah, Paman Pangeran, jelas bahwa dia berbohong ketika mengaku sebagai anggota Thian-li-pang.” Setelah berkata demikian, pedangnya membuat gerakan.
“Bret-bret-bret...!”

Baju bagian dada orang itu terbuka sehingga di bawah sinar lampu dapat terlihat jelas di dada itu ada cacahan gambar pat-kwa (segi delapan).

“Dia dari Pat-kwa-pai!” seru Kwi Hong yang mengenal tanda gambar itu.

Han Li mengangguk. “Benar. Aku mendengar bahwa di Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai ada terdapat pasukan berani mati. Sampai mati pun mereka tidak mau mengaku bahwa mereka adalah murid Pat-kwa-pai, maka sengaja tadi dia menyebut Thian-li-pang untuk mengalihkan kesalahan kepada Thian-li-pang.”

Pangeran Tao Kuang mengangguk-angguk dan memerintahkan para pengawal untuk menyingkirkan mayat-mayat itu dan untuk menawan mereka yang masih hidup.

Pada saat itu muncul Keng Han dan Cu In. Melihat pangeran berada di taman bersama Kwi Hong, ibunya dan Han Li bersama gurunya, juga melihat banyak tubuh menggeletak berserakan di tempat itu, mereka dapat menduga bahwa penyerangan terhadap diri Pangeran Mahkota juga telah dapat digagalkan.

“Mereka mengaku dari perkumpulan apa?” tanya Keng Han.
“Ada yang mengaku dari Thian-li-pang, akan tetapi nona Yo Han Li telah membuktikan bahwa mereka adalah anak buah Pat-kwa-pai. Lihat tanda di dadanya itu.”

Keng Han dan Cu In melihat tanda gambar pada dada orang itu dan Cu In mengangguk-angguk. “Sudah kami duga! Akan tetapi kami tidak menduga bahwa ada tanda gambar perkumpulan mereka di dada. Orang-orang yang menyerbu ke istana juga mengaku dari Thian-li-pang.”
“Ahh, kita harus dapat membuktikan bahwa mereka bukan dari Thian-li-pang,” kata Han Li. “Aku harus menjadi saksi di sana.”
“Untuk itulah kami datang ke sini. Selain hendak melihat keadaan di sini juga untuk menjemput engkau adik Han Li. Hanya engkau yang dapat memastikan bahwa mereka bukan dari Thian-li-pang.”
“Baik, mari kita berangkat,” kata Han Li tegas. Gadis ini tentu saja ingin membersihkan nama perkumpulannya dari fitnah yang dilontarkan para calon pembunuh kaisar serta pangeran itu.

Setelah mereka tiba di istana, seorang penyerbu yang terluka yang tadi mengaku dari Thian-li-pang, dibawa menghadap Han Li yang telah diterima menghadap Kaisar sendiri. Orang itu didorong dan dipaksa berlutut di depan Kaisar.

Han Li lalu menghampiri orang itu dan bertanya, “Engkau dari perkumpulan apa?”
Orang itu menjawab tanpa ragu-ragu lagi. “Dari Thian-li-pang!”

Han Li lalu bertanya sambil mencabut pedangnya, ditodongkan ke arah dada orang itu. “Kalau engkau dari Thian-lipang, katakan siapakah aku?”

Orang itu berdongak memandang wajah Han Li. Akan tetapi dia tidak mengenalnya dan menggeleng kepala sambil berkata, “Saya tidak tahu.”

Han Li memberi hormat kepada Kaisar. “Nah, Yang Mulia. Orang ini jelas berbohong. Kalau dia memang orang Thian-li-pang pasti dia mengenal siapa hamba. Hamba adalah puteri ketua Thian-li-pang.”

Setelah berkata demikian, pedangnya bergerak beberapa kali dan baju di bagian dada tawanan itu pun robek-robek. Semua orang memandang dan melihat cacahan gambar berbentuk bunga teratai di dada itu.

“Dia seorang anggota Pek-lian-kauw, Yang Mulia,” kata Han Li.
“Benar, dia anggota Pek-lian-kauw!” kata Cu In.

Sekarang bagi mereka jelaslah bahwa selosin anak buah yang menyerbu istana adalah para anak buah Pek-lian-pai sedangkan selosin yang menyerbu istana pangeran adalah anggota Pat-kwa-pai! Maka terhapuslah dugaan bahwa Thian-li-pang yang mengirim orang-orangnya untuk membunuh kaisar dan pangeran mahkota.

Namun di luar istana sudah terlanjur tersiar berita yang datangnya dari para pengawal yang menjadi saksi ketika tawanan-tawanan itu mengaku bahwa mereka adalah orang Thian-li-pang. Akibatnya, umum berpendapat bahwa Thian-li-pang sudah mulai dengan pemberontakannya dan sudah pula mengutus orang-orangnya untuk membunuh kaisar dan pangeran mahkota.

Setelah membuka rahasia para penyerbu itu di depan Kaisar sendiri, Keng Han dan Cu In berpamit kepada kaisar. Kaisar hendak memberi hadiah kepada mereka dan memberi anugerah pangkat, namun keduanya dengan hormat dan halus menolaknya. Mereka keluar dari istana dan waktu itu sudah jauh lewat tengah malam.

Mendadak mereka melihat panah api diluncurkan orang di udara.

“Apa itu?” tanya Cu In.
“Panah api! Tentu menjadi suatu tanda yang dilakukan orang di dalam kota raja untuk mereka yang berada di luar kota raja. Aku khawatir penyerbuan akan dimulai.”
“Mengapa khawatir? Bukankah menurut Pangeran Mahkota, semua itu sudah diaturnya dengan baik? Kita lihat saja. Kalau memang mereka menyerbu dan kota raja terancam, kita berdua harus turun tangan membantu.”
“Kau benar, Cu In. Walau pun yang menggerakkan semua ini adalah ayah kandungku sendiri, akan tetapi terpaksa aku harus menentangnya. Dia memberontak untuk dapat merampas tahta kerajaan dengan cita-cita menjadi kaisar! Andai yang memberontak itu para pejuang bangsa Han, meski pun aku keturunan Mancu dan Khitan, aku tidak akan membantu siapa-siapa.”

Cu In mengangguk. “Aku setuju sekali dengan pendapatmu, Keng Han. Pemberontakan dilakukan oleh orang-orang yang berambisi mengangkat diri sendiri menjadi penguasa, dan mereka sudah menggunakan tokoh-tokoh sesat serta kumpulan-perkumpulan jahat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Kalau Thian-li-Pai yang bergerak, tentulah bukan menggunakan cara ini dan di belakangnya tentu mendapat dukungan rakyat jelata. Mari kita melihat lagi ke istana Pangeran Mahkota untuk mendapat petunjuk dari pangeran.”

Keduanya lalu berlari cepat menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ternyata mereka semua tidak beristirahat, melainkan berkumpul di ruangan depan, juga menanti sesuatu yang pasti akan terjadi.

“Kami melihat panah api diluncurkan ke udara,” kata Keng Han setelah mereka berdua menghadap sang pangeran.
“Kami juga sudah mengetahuinya. Tentu itu merupakan tanda bagi pemberontak yang berada di luar kota raja. Semua telah diatur oleh The Ciangkun. Dia telah mengetahui semua siasat pemberontak dan sudah siap siaga menghadapi pemberontak, baik yang di dalam kota raja mau pun yang berada di luar.”

Cu In amat kaget mendengar bahwa yang memimpin pertahanan adalah The Ciangkun. ”Apakah yang dimaksudkan itu adalah ciangkun yang bernama The Sun Tek?” tanya Cu In.

“Benar,” jawab Pangeran Tao Kuang. “Dia adalah seorang panglima besar yang pandai ilmu silat dan ilmu perang, dan juga setia. Apakah engkau mengenalnya, Nona?”
“Saya mengenalnya dengan baik, Pangeran,” kata Cu In.
“Bagus, kalau begitu kalian pergilah membantunya. Nona Yo Han Li dan Kai-ong biar tetap di sini untuk menjaga kemungkinan penyerbuan mata-mata musuh.”
“Baik,” kata Keng Han dan Cu In.

Mereka lalu keluar dari istana itu.

“Cu In, benarkah engkau mengenal Panglima The itu?”
“Tentu saja mengenalnya. Dia itu ayah kandungku,” kata Cu In terus terang.
“Ehhh...?”

Keng Han menghentikan langkahnya dan memandang Cu In. Wajah bercadar itu hanya nampak garis-garisnya saja dalam malam yang hanya diterangi bintang-bintang itu.

“Bukankah engkau pernah bercerita kepadaku bahwa ayah ibumu sudah mati terbunuh musuh, dan engkau mencari musuh itu?”
“Memang benar, akan tetapi belum waktunya aku menceritakan kepadamu. Lihat, di sana sudah terjadi pertempuran!”

Mereka berlari ke tempat itu dan ternyata yang bertempur itu adalah pasukan anak buah Panglima Ciu yang mempertahankan benteng mereka yang sudah dikepung pasukan anak buah Panglima The.

Sementara itu, tempat persembunyian pasukan inti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai di luar kota raja juga sudah ditemukan oleh para penyelidik. Dan begitu ada tanda panah api, sebagian pasukan Panglima The yang sudah mengepung tempat itu segera bertindak menyerbu.

Tiba-tiba terdengar suara lantang. “Panglima Ciu! Di sini Panglima The dengan semua pasukannya yang kuat. Lebih baik engkau menyerahlah karena semua persekutuanmu dengan pihak pemberontak telah kami ketahui. Heiii, para prajurit dalam benteng! Kalau kalian tidak menyerah, tentu kalian semua akan mati ditumpas pasukan kami!”

Mendengar seruan ini, banyak prajurit pasukan yang berlari keluar dari benteng tanpa membawa senjata sambil mengacungkan kedua tangan ke atas. Mereka membiarkan diri mereka ditangkap dan ditawan.

Panglima Ciu yang maklum bahwa terlibatnya dalam persekutuan pemberontak itu tentu tidak akan mendapat pengampunan, dengan nekat terus memimpin anak buahnya yang masih setia untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi karena kalah banyak jumlahnya, juga para anak buahnya sudah kehilangan semangat, dengan mudah pasukannya dapat dihancurkan dan Panglima Ciu sendiri dengan pedang di tangan menyerang Panglima The.

Cu In dan Keng Han melihat ini, tetapi mereka tidak memberi bantuan karena melihat bahwa pasukan Panglima The jauh lebih kuat dari pada musuh. Juga ketika Panglima Ciu bertanding melawan Panglima The, Cu In hanya menonton, tidak membantu ayah kandungnya. Memang Panglima The tidak perlu dibantu sebab belum sampai lima puluh jurus, pedangnya sudah menyambar dan memenggal leher Panglima Ciu.

Seorang pembantunya mengangkat kepala Panglima Ciu tinggi-tinggi dengan sebatang tombak dan berseru. “Hentikan perlawanan kalian. Panglima kalian telah tewas!”

Mendengar dan melihat ini, para prajurit hilang nyalinya. Mereka membuang senjata dan menjatuhkan diri berlutut tanda menyerah.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi di luar kota raja juga tidak berlangsung lama. Jumlah para pemberontak itu jauh lebih kecil dibandingkan pasukan pemerintah. Walau pun di antara mereka terdapat Gulam Sang yang dibantu Liong Siok Hwa dan beberapa orang tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, tetapi karena dikeroyok banyak sekali orang, akhirnya Gulam Sang mengajak Liong Siok Hwa untuk melarikan diri!

Demikianlah watak seorang yang licik. Demi memperoleh kedudukan tinggi dia mau melakukan perbuatan apa pun, akan tetapi begitu melihat usahanya gagal, dia lebih dulu melarikan diri.

Gulam Sang mengajak Siok Hwa melarikan diri ke Bu-tong-pai di mana dia menyamar sebagai Thian It Tosu, ketua Bu-tong-pai yang tua itu. Liong Siok Hwa yang datang bersama Gulam Sang itu, diterima oleh para tokoh Bu-tong-pai dengan hormat. Bahkan setelah Thian It Tosu keluar dari tempat pertapaannya, dia mengumumkan kepada para anggota bahwa mulai hari itu juga, Liong Siok Hwa diterima menjadi muridnya. Sebagai murid Thian It Tosu, tentu saja Siok Hwa boleh tinggal di perkampungan Bu-tong-pai sesuka hatinya.

Beberapa hari kemudian Bu-tong-pai kedatangan banyak tamu, antara lain Ji Wan-gwe, Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lomo, Lam-hai Koai-jin dan masih banyak orang lagi. Mereka semua adalah pelarian, setelah kalah dan gagal dalam usaha mereka menyerbu istana dan membunuh kaisar serta putera mahkota.

Thian It Tosu menerima mereka dengan senang hati dan mereka menjadi tamu-tamu kehormatan Bu-tong-pai. Mereka semua pergi ke Bu-tong-pai dan berkumpul di sana dengan tujuan untuk menyembunyikan diri dan agar dapat mengadakan pertemuan dan berunding.

Dalam perundingan mereka, Ji Wangwe atau Pangeran Tao Seng menyesalkan para pembantunya yang ternyata sama sekali gagal dalam tugas mereka.

“Akan tetapi semua kegagalan itu bukan kesalahan kami, melainkan karena rahasia kita telah bocor dan pihak musuh mengetahui akan semua rencana kita. Aku yakin bahwa yang mengkhianati kita adalah Tao Keng Han!”

Tung-hai Lo-mo mengangguk dan berkata, “Memang benar. Kalau tidak ada pemuda itu tentu kami telah berhasil membunuh Kaisar! Pemuda itu telah mengkhianati Pangeran, ayahnya sendiri.”

Pangeran Tao Seng mengepal tinjunya. “Jika tahu akan begini jadinya, sudah kubunuh dia ketika dulu dia tertawan!”

“Tidak ada gunanya Ayah marah-marah. Kita masih mempunyai rencana kedua. Kalau rencana ini berhasil, keadaan kita menjadi semakin kuat sehingga kita akan mampu mengobarkan pemberontakan.”
“Hemmm, rencana apakah itu, Kongcu?” tanya Swat-hai Lo-kwi dan para tokoh lainnya yang juga ingin mengetahuinya.

“Begini,” kata Pangeran Tao Seng. “Bu-tong-pai telah sepenuhnya kita kuasai. Dengan membonceng kepada nama Bu-tong-pai, kita dapat mengumumkan bahwa Bu-tong-pai mengadakan pemilihan bengcu (pemimpin rakyat) baru. Tentu saja harus kita usahakan agar Gulam Sang yang akan menang dan menjadi bengcu baru. Nah, kalau kedudukan bengcu sudah di tangan kita, kiranya akan mudah bagi kita untuk menggerakkan semua orang di dunia kang-ouw untuk mulai dengan gerakan pemberontakan yang besar.”
“Pikiran yang sangat bagus! Akan tetapi bagaimana dengan bengcu yang sekarang?” tanya Tung-hai Lo-mo.

“Dalam pemilihan bengcu pada sepuluh tahun yang lalu, sebagian besar orang memilih Pendekar Tangan Sakti Yo Han yang kini menjadi ketua Thian-li-pang. Akan tetapi dia tak bersedia menjadi ketua. Maka pilihan lalu dijatuhkan kepada Bhe Seng Kok, seorang pendekar Siauw-lim-pai. Nah, kalau kita hendak merampas kedudukan bengcu, terlebih dahulu kita harus singkirkan Bhe Seng Kok ini. Kalau bengcu yang lama sudah tewas, tentu harus diadakan pemilihan bengcu baru. Dan Bu-tong-pai yang akan mempelopori pemilihan itu,” kata Gulam Sang.

Semua orang memandang pemuda Tibet ini dengan kagum. Dia agaknya tahu akan segala peristiwa di dunia persilatan.

“Akan tetapi siapa yang akan menyingkirkan ketua Bhe Seng Kok? Aku pun mendengar bahwa murid Siauw-lim-pai itu tangguh sekali!”
“Aku yang akan melakukannya, dengan bantuan Tung-hai Lo-mo. Apa bila kita berdua yang menghadapinya, aku tanggung dia akan tewas!” kata pula Gulam Sang.

Pangeran Tao Seng mengerutkan alisnya. “Murid Siauw-lim-pai? Ahhh, kalau sampai Siauw-lim-pai mengetahuinya dan memusuhi kita, akan celakalah. Kekuatan mereka besar sekali dan nama mereka sudah terkenal sehingga lain-lain aliran tentu akan berpihak kepada Siauw-lim-pai.”

“Harap Paduka tidak khawatir. Pembunuhan itu harus dilakukan dengan menggelap dan menyamar sehingga kalau pun ada yang melihatnya mereka tentu tidak akan mengenal kami. Kami membunuh dengan alasan sebagai balas dendam musuh lama. Sebagai seorang pendekar, kalau sampai Bhe Seng Kok tewas terbunuh oleh orang-orang yang mendendam, tentu tidak mengherankan semua orang dan hal itu wajar saja terjadi,” demikian kata Gulam Sang.

Mendengar ini, Pangeran Tao Seng menjadi lega hatinya dan dia menyerahkan saja urusan itu kepada anak angkatnya yang sudah dipercaya sepenuhnya itu. Dia tidak tahu bahwa kalau Gulam Sang masih setia kepadanya, padahal perebutan tahta telah gagal, hal ini adalah disebabkan Gulam Sang masih membutuhkan harta kekayaannya untuk membiayai rencananya.

Setelah selesai perundingan itu, Swat-hai Lo-kwi dan Lam-hai Koai-jin berpamit untuk pulang ke tempat masing-masing dengan janji bahwa kelak pada pemilihan bengcu mereka pasti akan hadir dan siap membantu Gulam Sang. Tung-hai Lo-mo tinggal di situ untuk membantu Gulam Sang…..

********************
Keng Han meninggalkan istana dan kota raja bersama Cu In. Biar pun tidak berjanji keduanya ternyata melakukan perjalanan bersama. Setelah mereka berada jauh dari kota raja, Keng Han menunda langkahnya dan berhenti. Melihat ini Cu In juga berhenti melangkah. Keduanya saling pandang.

Keng Han lalu bertanya, dalam suaranya mengandung kekhawatiran kalau-kalau gadis itu akan meninggalkan dia lagi.

“Cu In, ke manakah tujuan perjalananmu kali ini?”

Cu In tidak menjawab, hanya menengok ke depan dan kanan kiri seperti orang mencari jawabannya dari pohon-pohon dan sawah ladang yang berada di kanan kirinya.

“Dan engkau sendiri, Keng Han. Engkau hendak ke manakah?” akhirnya dia bertanya kembali tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.

Keng Han menghela napas panjang. “Tujuan perjalananku meninggalkan Khitan adalah untuk mencari ayah kandungku, kemudian mengajaknya pulang ke Khitan karena ibu amat merindukannya. Tapi kenyataannya, ayahku seorang ambisius yang memberontak dan melakukan perbuatan jahat dengan usaha pembunuhan-pembunuhan itu. Bahkan sekarang ayah telah menjadi seorang pelarian dan buruan pemerintah, dan aku tidak tahu dia berada di mana. Aku tidak tahu ke mana harus pergi, dan aku akan mengikuti saja ke mana engkau pergi, Cu In.”

Gadis itu menghela napas panjang, lalu duduk di atas sebuah batu di tepi jalan. Keng Han juga mengambil tempat duduk di depannya.

“Aku sendiri belum tahu ke mana aku harus pergi,” kata Cu In.
“Cu In, bukankah engkau mempunyai ayah dan ibu? Engkau berjanji akan menceritakan kepadaku tentang pengalamanmu. Dulu engkau mengatakan bahwa engkau yatim piatu dan engkau hendak membalas dendam kepada pembunuh orang tuamu. Akan tetapi kemudian engkau mengatakan bahwa engkau sudah bertemu dengan ayah bundamu. Bagaimanakah ini?”

Cu In menghela napas panjang lagi. Kalau bukan kepada Keng Han, dia pasti segan menceritakan persoalan ayah ibunya. Akan tetapi ia amat tertarik dan percaya kepada Keng Han, maka ia merasa tidak tega untuk berbohong.

“Sejak kecil sekali aku dipelihara subo (ibu guru) dan subo selalu mengatakan bahwa ayah ibuku telah dibunuh orang. Setelah aku dewasa, subo mengatakan padaku bahwa pembunuh ayah bundaku adalah The Sun Tek yang tinggal di kota raja.”
“Ahhh...!” Keng Han berseru heran. “Kau maksudkan The Ciangkun yang memimpin pembasmian pemberontak itu?”

“Benar, dialah orangnya. Aku dapat mencarinya di kota raja dan aku sudah siap untuk membunuhnya, akan tetapi The Ciangkun menceritakan tentang hubungannya dengan Ang Hwa Nio-nio. Ternyata bahwa subo-ku adalah bekas kekasih The Sun Tek, dan bahwa aku adalah puteri mereka berdua! Muncul guruku atau ibuku yang memaksa aku harus membunuh The Sun Tek. Karena aku sudah tahu bahwa aku anak The Ciangkun, maka aku tidak mau melakukannya. Subo marah dan hendak membunuhku, akan tetapi dicegah ayahku. Hatiku demikian sakit rasanya. Kiranya ibuku mendendam sedemikian hebatnya kepada ayahku sehingga dia mendidik aku sebagai muridnya hanya dengan maksud supaya sesudah dewasa aku akan membunuh ayahku sendiri! Pembalasan dendam yang amat keji. Karena hatiku sakit, aku lalu meninggalkan mereka.”

Keng Han mendengarkan dengan penuh perhatian, menghela napas dan berulang kali menggeleng kepalanya. “Dan bagaimana engkau dapat terlibat dalam keluarga Putera Mahkota?”

“Aku bertemu dengan adik Yo Han Li yang sekereta dengan Kwi Hong. Ia memanggilku dan mereka membujuk aku agar suka berkunjung ke rumah Kwi Hong. Demikianlah, maka aku berada di sana ketika engkau hendak membunuh Pangeran Mahkota.”

Kembali Keng Han menghela napas. “Nasib kita hampir sama, Cu In. Engkau disuruh membunuh ayahmu oleh ibumu sendiri, dan aku hampir saja membunuh pangeran yang tak bersalah. Engkau mendapat kenyataan betapa kejam ibumu, dan aku pun mendapat kenyataan betapa kejam ayahku. Hemm, sekarang aku mulai mengerti kenapa Bi-kiam Niocu begitu membenci pria dan kalau ada pria mencintanya harus dibunuhnya. Tentu engkau pun demikian, bukan?”

“Memang subo-ku atau ibuku selalu mendidik kami berdua agar membenci kaum pria. Dikatakannya bahwa laki-laki itu semua palsu dan pembohong, tukang bujuk rayu yang berbahaya, maka kami diharuskan menjauhkan diri dari laki-laki dan kalau ada laki-laki yang menggoda, harus cepat dibunuh! Akan tetapi semenjak aku... bertemu denganmu, pandanganku sudah berubah. Seperti juga wanita, laki-laki itu ada yang jahat dan ada yang baik. Apa lagi setelah aku mengetahui mengapa ibu demikian membenci pria, aku tahu bahwa sebabnya hanya karena ia sakit hati dan dendam kepada seorang pria.”

“Akan tetapi, bagaimana ibumu dahulu sampai berpisah dari The Ciangkun?”
“Ayah dilarang orang tuanya mengambil ibuku yang seorang wanita kang-ouw sebagai isteri, dan dia sudah ditunangkan dengan wanita lain, seorang gadis bangsawan. Ayah membujuk ibu agar suka menjadi selir, akan tetapi ibu tidak mau dan mereka berpisah ketika ibuku sudah mengandung aku tiga bulan.”

Keng Han merasa terharu dan ikut bersedih akan nasib gadis ini.

“Ahh, sekarang aku mengerti pula mengapa engkau menutupi mukamu dengan cadar. Tentu agar tidak terlihat oleh pria sehingga tidak ada yang melihat dan menggodamu sehingga engkau akan terpaksa membunuhnya.”

Cu In mengangguk membenarkan.

Pada saat itu pula terdengar seruan orang, “Cu In...! Engkau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana, kiranya engkau berada di sini. Sungguh aku girang sekali bisa menemukan anakku di sini!”

Keng Han dan Cu In menoleh dan ternyata yang mengeluarkan ucapan itu bukan lain adalah Panglima The Sun Tek! Cu In bangkit berdiri dan Keng Han juga bangkit berdiri.

“Engkau tentu pemuda yang bernama Tao Keng Han. Aku sudah mendengar banyak tentang dirimu dan aku kagum sekali, orang muda.”

Keng Han cepat-cepat memberi hormat pula. “Sebaliknya saya pun mendengar bahwa berkat pimpinan Paman maka para pemberontak dapat diruntuhkan.”

“Dan ada urusan apakah engkau mencariku, Ciangkun?” tanya Cu In, suaranya dingin.
“Ah, Cu In. Engkau adalah puteriku. Aku ayah kandungmu! Tentu saja aku mencarimu.”
“Ibuku sendiri tidak mau mengakui aku sebagai anaknya, maka ayahku juga sebaiknya demikian. Biarlah aku menganggap diriku ini tidak memiliki ayah dan ibu lagi...” Dalam suaranya terkandung isak tangis.

“Cu In, harap engkau jangan berpendirian seperti itu. Ayahmu adalah seorang yang terhormat, gagah dan terpandang. Dan dia pun sudah bersusah payah mencarimu. Aku sendiri, kalau saja ayahku bersikap sebaik ayahmu, tentu akan menyambutnya dengan bahagia sekali,” kata Keng Han membujuk.

“Akan tetapi apa artinya seorang ayah bagiku, bila tanpa seorang ibu? Ibuku memusuhi ayah, apakah aku harus mengkhianati ibuku?” Pertanyaan Cu In ini ditujukan kepada ayahnya.
“Cu In, ketahuilah bahwa ibumu bersedia menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, tapi dengan satu syarat bahwa aku harus dapat mengajakmu pulang menemuinya. Karena itu, demi kebahagiaan kita, marilah kita pergi mengunjungi ibumu di Beng-san.”
“Ahh, itu bagus sekali! Aku ikut merasa girang, Cu In. Aku mau menemanimu ke sana.”
“Sebaiknya kita semua ke sana,” kata The Sun Tek. “Kai-ong dan muridnya juga sudah berangkat. Ketahuilah bahwa Bu-tong-pai mengundang semua orang kang-ouw untuk datang ke sana untuk mengadakan pemilihan bengcu baru.”

“Bengcu baru?” tanya Keng Han heran. “Lalu ke mana perginya bengcu yang lama?”
“Entahlah, itu pun menjadi pertanyaan di dalam hatiku. Beng-san tidak terlalu jauh dari Bu-tong-san. Setelah aku dapat memboyong isteriku, kita semua dapat singgah pula di Bu-tong-san untuk menghadiri pertemuan besar itu. Di sana tentu akan dapat terjawab mengapa diadakan pemilihan bengcu baru dan ke mana perginya bengcu yang lama. Bukankah yang menjadi bengcu adalah Bhe Seng Kok, tokoh Siauw-lim-pai?”

“Benar, Paman. Saya pun pernah mendengar bahwa bengcu yang sekarang bernama Bhe Seng Kok.”
“Kalau begitu, marilah kita berangkat, Cu In. Kita mengunjungi ibumu dan aku akan memboyongnya ke kota raja. Dari sana kita sekalian pergi ke Bu-tong-pai untuk melihat pemilihan bengcu baru.”

Akhirnya, setelah dibujuk oleh Keng Han, Cu In mau juga pergi bersama ayahnya dan Keng Han. Mereka bertiga lalu melakukan perjalanan ke Beng-san dan Cu In menjadi penunjuk jalan.

Selama dalam perjalanan ini, The Sun Tek mengerti dari sikap dan kata-kata Keng Han dan Cu In bahwa kedua orang muda ini saling menaruh hati! Akan tetapi dia diam-diam merasa girang karena diketahuinya bahwa Keng Han seorang pemuda yang baik sekali, walau pun dia itu putera Pangeran Tao Seng yang memberontak.....

********************
Selanjutnya baca
PUSAKA PULAU ES : JILID-10
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger